Makna Thaghut

“Pemerintah itu thaghut.” Ungkapan ini mungkin pernah kita dengar. Mengapa ada sebagian orang yang menyebut pemerintah sebagai thaghut? Menurut mereka, pemerintah adalah thaghut karena tidak menerapkan hukum Islam. Benarkah demikian? Simak bahasan berikut supaya kita tidak terjatuh dalam pemahaman yang salah tentang thaghut.

Dakwah semua Rasul yang Allah subhanahu wa ta’ala utus adalah menyeru umatnya untuk beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan kafir terhadap thaghut. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُواْ ٱلطَّٰغُوتَۖ

Dan telah Kami utus seorang Rasul pada setiap umat, (untuk menyeru), “Beribadahlah kalian kepada Allah dan jauhilah oleh kalian thaghut.” (an-Nahl: 36)

Kufur kepada thaghut adalah syarat sahnya ibadah seseorang, sebagaimana wudhu merupakan syarat sah shalat.

Pengertian Thaghut

Secara bahasa, kata thaghut diambil dari kata طَغَى, artinya melampaui batas.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّا لَمَّا طَغَا ٱلۡمَآءُ حَمَلۡنَٰكُمۡ فِي ٱلۡجَارِيَةِ

“Sesungguhnya ketika air melampaui batas, Kami bawa kalian di perahu.” (al-Haqqah: 11)

Adapun secara syariat, definisi thaghut yang terbaik adalah yang disebutkan oleh Ibnul Qayyim,

“(Thaghut) adalah setiap sesuatu yang melampui batasannya, baik yang disembah (selain Allah azza wa jalla), atau diikuti, atau ditaati (jika dia ridha diperlakukan demikian).”

Ibnul Qayyim berkata, “Jika engkau perhatikan thaghut-thaghut di alam ini, tidak akan keluar dari tiga jenis golongan tersebut.”

Definisi lain, thaghut adalah segala sesuatu yang diibadahi selain Allah (dalam keadaan dia rela).

Wajibnya Mengingkari Thaghut

Allah subhanahu wa ta’ala mewajibkan kepada seluruh hamba-Nya untuk mengingkari thaghut dan beriman kepada Allah. Dasarnya adalah,

  1. Allah subhanahu wa ta’ala mengutus Rasul-Nya untuk mendakwahkan masalah ini.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُواْ ٱلطَّٰغُوتَۖ

Dan telah Kami utus pada setiap umat seorang rasul, (yang menyeru umatnya), “Beribadahlah kalian kepada Allah dan jauhilah oleh kalian thaghut.” (an-Nahl: 36)

  1. Kufur kepada thaghut merupakan syarat sah iman.

Dengan demikian, tidak sah iman seseorang hingga dia mengingkari thaghut. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَمَن يَكۡفُرۡ بِٱلطَّٰغُوتِ وَيُؤۡمِنۢ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱسۡتَمۡسَكَ بِٱلۡعُرۡوَةِ ٱلۡوُثۡقَىٰ

“Barang siapa yang kufur kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka dia telah berpegang dengan tali yang kokoh.” (al-Baqarah: 256)

  1. Kandungan makna lafaz La ilaha illallah.

“Ilallah” adalah iman kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan kufur kepada thaghut. “Laa ilaha” menafikan semua peribatan kepada selain Allah. Jadi, kalimat “laa ilaha illallah” maknanya ialah menetapkan ibadah hanya untuk Allah azza wa jalla.

Bentuk Pengingkaran Terhadap Thaghut

Para ulama menerangkan bahwa mengingkari thaghut terwujud dengan enam hal yang ditunjukkan oleh Al-Qur`an:

  1. Meyakini batilnya peribadatan kepada selain Allah subhanahu wa ta’ala.

  2. Meninggalkan thaghut dan meninggalkan peribadahan kepada selain Allah subhanahu wa ta’ala dengan hati, lisan, dan anggota badan.

  3. Membenci thaghut dengan hati dan mencercanya dengan lisan.

Cercaan dengan lisan terwujud dengan cara menunjukkan dan menerangkan bahwa sembahan selain Allah adalah batil dan tidak bisa memberikan manfaat.

  1. Mengafirkan pengikut dan penyembah thaghut.

  2. Memusuhi mereka secara lahir dan batin, dengan hati dan anggota badan.

  3. Menghilangkan sembahan-sembahan selain Allah subhanahu wa ta’ala dengan tangan, jika ada kemampuan.

Keenam perkara ini telah dilakukan oleh Nabi Ibrahim alaihis salam. Sementara itu, kita diperintah untuk meneladani beliau. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

قَدۡ كَانَتۡ لَكُمۡ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٌ فِيٓ إِبۡرَٰهِيمَ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ

“Telah ada bagi kalian teladan yang baik pada diri Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya.” (al-Mumtahanah: 4)

Nabi Ibrahim alaihis salam meyakini batilnya peribadahan kepada selain Allah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَٱتۡلُ عَلَيۡهِمۡ نَبَأَ إِبۡرَٰهِيمَ ٦٩ إِذۡ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِۦ مَا تَعۡبُدُونَ ٧٠ قَالُواْ نَعۡبُدُ أَصۡنَامًا فَنَظَلُّ لَهَا عَٰكِفِينَ ٧١ قَالَ هَلۡ يَسۡمَعُونَكُمۡ إِذۡ تَدۡعُونَ ٧٢ أَوۡ يَنفَعُونَكُمۡ أَوۡ يَضُرُّونَ ٧٣

Bacakanlah kepada mereka kisah Ibrahim. Ketika ia berkata kepada bapak dan kaumnya, “Apakah yang kalian sembah?” Mereka berkata, “Kami menyembah patung dan kami akan terus mengibadahinya.” Maka Ibrahim berkata, “Apakah (patung-patung tersebut) mendengar ketika kalian berdoa? Apakah dia bisa memberikan manfaat atau menimpakan mudarat?” (asy-Syu’ara: 69—73)

Nabi Ibrahim alaihis salam meyakini batilnya sembahan mereka, yaitu bahwa sembahan mereka tidak bisa memberikan manfaat atau menimpakan mudarat.

Beliau meninggalkan dan menjauhi sembahan mereka, kemudian berhijrah kepada Allah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَقَالَ إِنِّي ذَاهِبٌ إِلَىٰ رَبِّي سَيَهۡدِينِ

 (Ibrahim) berkata, “Aku akan pergi kepada Rabbku, dan Dia akan memberikan hidayah kepadaku.” (ash-Shaffat: 99)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman tentang mengisahkan ucapan Ibrahim alaihis salam,

إِنَّنِي بَرَآءٌ مِّمَّا تَعۡبُدُونَ ٢٦ إِلَّا ٱلَّذِي فَطَرَنِي فَإِنَّهُۥ سَيَهۡدِينِ ٢٧

“Aku berlepas diri dari apa yang kalian sembah, kecuali Dzat yang telah menciptakanku karena sungguh Dia akan memberikan hidayah kepadaku.” (az-Zukhruf: 26—27)

Baca juga: Mendulang Mutiara Hikmah dari Perjalanan Hidup Nabi Ibrahim

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman tentang ucapan Ibrahim alaihis salam,

وَأَعۡتَزِلُكُمۡ وَمَا تَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَأَدۡعُواْ رَبِّي

“Aku akan menjauhi kalian dan apa yang kalian sembah selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Rabbku.” (Maryam: 48)

Nabi Ibrahim alaihis salam membenci sembahan mereka dengan hatinya dan menjelekkannya dengan lisan. Allah subhanahu wa ta’ala memberitakan bahwa Ibrahim berkata,

أُفٍّ لَّكُمۡ وَلِمَا تَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِۚ

“Celakalah kalian dan apa yang kalian sembah selain Allah.” (al-Anbiya: 67)

Nabi Ibrahim alaihis salam mengingkari mereka dan mengabarkan bahwa mereka adalah kafir. Beliau juga mengumumkan bahwa dirinya berlepas diri dari mereka. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

كَفَرۡنَا بِكُمۡ وَبَدَا بَيۡنَنَا وَبَيۡنَكُمُ ٱلۡعَدَٰوَةُ وَٱلۡبَغۡضَآءُ أَبَدًا حَتَّىٰ تُؤۡمِنُواْ بِٱللَّهِ وَحۡدَهُۥٓ

“Kami ingkar terhadap kalian, dan telah tampak antara kami dan kalian permusuhan dan kebencian, hingga kalian beriman kepada Allah saja.” (al-Mumtahanah: 4)

Baca juga: Keharusan Membenci dan Berlepas Diri dari Orang Kafir

Nabi Ibrahim alaihis salam memusuhi mereka dan menghancurkan sesembahan mereka. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَجَعَلَهُمۡ جُذَٰذًا إِلَّا كَبِيرًا لَّهُمۡ

“(Ibrahim) menjadikannya hancur berkeping-keping kecuali patung yang terbesar….” (al-Anbiya: 58)

Tokoh-Tokoh Thaghut

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah berkata, “Tokoh thaghut ada lima:

  • Iblis la’natullah ‘alaih,
  • orang yang disembah dan dia ridha diperlakukan demikian,
  • orang yang menyeru orang lain agar menyembah dirinya,
  • yang mengaku mengetahui ilmu gaib, dan
  • orang yang berhukum selain dengan hukum Allah.”

 

  1. Iblis

Dia adalah setan yang terkutuk dan dilaknat. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman tentangnya,

وَإِنَّ عَلَيۡكَ لَعۡنَتِيٓ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلدِّينِ

“Sesungguhnya laknat-Ku atas kamu sampai hari kiamat.” (Shad: 78)

Awalnya, Iblis bersama malaikat. Akan tetapi, dia enggan bersujud kepada Adam alaihis salam. Ketika diperintah untuk sujud kepada Adam alaihis salam itulah, tampak kesombongan Iblis.

  1. Orang yang disembah dalam keadaan ridha.

Adapun yang orang yang tidak ridha disembah bukanlah thaghut.

  1. Orang yang menyeru orang lain untuk menyembah dirinya.

Dia termasuk thaghut, baik ada orang lain yang mengikuti dakwahnya maupun tidak. Dia sudah menjadi thaghut dengan semata menyeru orang untuk menyembah dirinya. Termasuk dalam golongan ini adalah Firaun dan para syaikh tarekat Sufi yang menyeru pengikutnya untuk menyembah mereka.

  1. Orang yang mengaku mengetahui sesuatu tentang ilmu gaib.

Ilmu gaib (yang mutlak) adalah kekhususan Allah subhanahu wa ta’ala. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

قُل لَّا يَعۡلَمُ مَن فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ٱلۡغَيۡبَ إِلَّا ٱللَّهُۚ

“Katakanlah, tidak ada yang mengetahui perkara gaib di langit dan bumi kecuali Allah.” (an-Naml: 65)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menyatakan,

مِفْتَاحُ الْغَيْبِ خَمْسٌ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا اللهُ؛ لَا يَعْلَمُ أَحَدٌ مَا يَكُونُ فِي غَدٍ، وَلَا يَعْلَمُ أَحَدٌ مَا يَكُونُ فِي الْأَرْحَامِ، وَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا، وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ، وَمَا يَدْرِي أَحَدٌ مَتَى يَجِيءُ الْمَطَرُ

“Kunci-kunci perkara gaib ada lima, tidak ada yang mengetahuinya selain Allah:

  • Tidak ada seorang pun yang tahu apa yang akan terjadi besok;
  • Tidak ada seorang pun yang tahu apa yang ada di dalam rahim-rahim;
  • Suatu jiwa tidak mengetahui apa yang akan ia lakukan besok;
  • Suatu jiwa tidak mengetahui di negeri mana dia akan mati;
  • Tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan hujan turun.” ( al-Bukhari, “Kitabul Jum’ah”, “Bab La Yadri Mata Yaji`ul Mathar illallah”)

Maka dari itu, barang siapa mengaku mengetahui perkara gaib berarti dia telah kafir. Sebab, dia telah mendustakan apa yang telah diterangkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya.

Termasuk golongan thaghut yang keempat adalah tukang sihir dan dukun-dukun.

  1. Orang yang berhukum dengan selain hukum Allah.

Berhukum dengan hukum yang Allah subhanahu wa ta’ala turunkan termasuk tauhid uluhiyah. Adapun meyakini bahwa Allah azza wa jalla adalah hakim yang sebenar-benarnya termasuk tauhid rububiyah. Oleh karena itu, Allah subhanahu wa ta’ala menyebut orang yang diikuti oleh pengikut mereka—dalam hal yang menyelisihi apa yang Allah turunkan—sebagai rabb bagi pengikut mereka.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

ٱتَّخَذُوٓاْ أَحۡبَارَهُمۡ وَرُهۡبَٰنَهُمۡ أَرۡبَابًا مِّن دُونِ ٱللَّهِ

“Mereka menjadikan pendeta-pendeta dan tukang ibadah mereka sebagai rabb selain Allah.” (at-Taubah: 31)

Berhukum dengan selain hukum Allah subhanahu wa ta’ala bisa termasuk kufur akbar yang mengeluarkan seorang dari Islam. Namun, bisa pula termasuk kufur ashghar yang tidak mengeluarkan seseorang dari Islam. Hal ini sesuai dengan keyakinan pelakunya. Sebab, orang yang berhukum dengan selain hukum Allah subhanahu wa ta’ala ada beberapa jenis.

  • Orang yang berhukum dengan selain hukum Allah karena merendahkan dan membenci hukum Allah subhanahu wa ta’ala.

Ini termasuk kufur akbar yang mengeluarkan pelakunya dari Islam. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمۡ كَرِهُواْ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ فَأَحۡبَطَ أَعۡمَٰلَهُمۡ

Hal itu karena mereka membenci apa yang Allah turunkan maka Allah menggugurkan amalan mereka.” (Muhammad: 9)

  • Orang yang berhukum dengan selain hukum Allah, dengan keyakinan bahwa hukum selain Allah lebih afdal dan lebih baik dari hukum Allah.

Ini juga merupakan kufur akbar yang bisa mengeluarkan pelakunya dari Islam. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَنۡ أَحۡسَنُ مِنَ ٱللَّهِ حُكۡمًا لِّقَوۡمٍ يُوقِنُونَ

“Siapakah yang lebih baik hukumnya daripada hukum Allah, bagi orang-orang yang yakin?” (al-Maidah: 50)

  • Orang yang berhukum dengan selain hukum Allah dengan keyakinan bahwa hukum selain Allah tersebut sama dengan hukum Allah subhanahu wa ta’ala.

Ini pun merupakan kufur akbar.

  • Orang yang berhukum dengan selain hukum Allah karena meyakini tentang boleh dan halalnya berhukum dengan selain hukum Allah.

Ini pun pelakunya kafir karena telah menghalalkan apa yang Allah subhanahu wa ta’ala haramkan.

  • Orang yang berhukum dengan selain hukum Allah dalam keadaan masih meyakini bahwa hukum Allah subhanahu wa ta’ala lebih afdal.

Dia tidak menyamakan hukum selain Allah dengan hukum-Nya. Bahkan, dia mengatakan bahwa hukum Allah subhanahu wa ta’ala lebih afdal dan lebih tinggi. Dia tidak menghalalkan tindakan berhukum dengan selain hukum Allah. Hanya saja, dia berhukum dengan selain hukum Allah tidak lain karena syahwat, jabatan, dan kepentingan pribadi, dalam keadaan yakin bahwa dirinya salah dan sedang berbuat maksiat.

Yang semacam ini termasuk kufur ashghar, pelakunya tidak keluar dari Islam. Inilah penafsiran Ibnu Abbas radhiallahu anhuma.

Penutup

Inilah macam-macam thaghut di alam ini. Jika Anda mengamatinya dan mengamati keadaan manusia, Anda akan lihat kebanyakan manusia telah berpaling dari ibadah kepada Allah menuju ibadah kepada thaghut. Mereka berpaling dari ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya menuju ketaatan kepada thaghut dan mengikutinya.

Mudah-mudahan Allah subhanahu wa ta’ala memberikan taufik-Nya kepada kaum muslimin untuk mengkufuri thaghut dan mentauhidkan Allah subhanahu wa ta’ala. Dan, upaya terpenting untuk mendapatkannya adalah dengan menyebarkan dakwah tauhid kepada umat ini.

Wallahu a’lam bish-shawab.

(Ustadz Abdurrahman Mubarak)