Ulama Pelita dalam Kegelapan

Ulama adalah manusia yang memiliki kedudukan demikian mulia. Ia merupakan pembimbing bagi segenap manusia menuju jalan lurus. Ia juga penerang di saat manusia berada di kegelapan. Bila keberadaan mereka semakin sedikit, semakin kacaulah kehidupan manusia. Seperti keadaan sekarang, kekacauan terjadi di mana-mana karena semakin sedikit orang berilmu ada di tengah manusia.

Waktu senantiasa mengikuti perjalanan umat manusia. Termasuk di dalamnya adalah umat Islam, yang kini telah sampai pada perjalanan yang demikian panjang. Hari demi hari, minggu berganti bulan dan bulan berganti tahun, jarak antara mereka dengan zaman risalah semakin jauh. Jarak antara mereka dengan zaman keemasan umat ini telah demikian panjang, sehingga kualitas mereka dengan kualitas umat yang hidup di masa keemasan itu pun demikian jauh berbeda. Sungguh, melihat keadaan umat ini sekarang, benar-benar membuat hati pilu dan dada sesak.

Kebodohan demikian merajalela, para ulama Rabbani semakin langka, dan semakin banyaknya orang bodoh yang berambisi untuk menjadi ulama. Keadaan ini merupakan peluang besar bagi pelaku kesesatan untuk menjerumuskan umat ke dalam kebinasaan.

Dahulu, di saat ilmu agama menguasai peradaban manusia dan ulama terbaik umat memandu perjalanan hidup mereka, para pelaku kesesatan dan kebatilan seolah-olah tersembunyi di balik batu yang berada di puncak gunung dalam suasana malam yang gelap gulita. Namun ketika para penjahat agama tersebut melihat peluang, mereka pun dengan sigap memanfaatkan peluang tersebut, turun dari tempat “pertapaan” mereka dan menampilkan diri seakanakan mereka adalah para “penasihat yang terpercaya.”

Sekarang adalah waktu yang tepat bagi mereka untuk mengobrak-abrik kekuatan dan keyakinan kaum muslimin. Mereka menggelar permainan cantik, saling mengoper kesesatan mereka. Kaum muslimin yang mayoritas kini berada dalam keterlenaan, menjadi mangsa yang empuk buat mereka. Satu demi satu sampai akhirnya menjadi banyak, gugur dalam amukan kesesatan tersebut. Para guru dengan merasa aman menggandeng tangan murid-muridnya menuju kegagalan hidup. Sementara itu, orang tua dengan bangga melihat anaknya berjalan di tepi jurang menuju kehancuran dan kebinasaan.

Di masa-masa sekarang ini, gambaran kebenaran menjadi kejahatan yang harus dilabrak dan dihanguskan, sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi bid’ah yang harus di kubur dan dimumikan. Tauhid menjadi lambang kesyirikan yang harus ditumbangkan dengan segala cara. Situasi dan kondisi kini telah berubah. Para pengikut kebenaran menjadi asing di tengah-tengah kaum muslimin. Kebatilan menjadi al-haq, sedangkan al-haq menjadi batil, berikut terasingnya orang yang bertauhid dan mengikuti sunnah. Di sinilah letak ‘kehebatan’ para penyesat dalam mengubah kebenaran hakikat agama, sehingga kaum muslimin menjalankan agama ini bagaikan robot yang berjalan membawa anggota badannya.

Namun Allah subhanahu wa ta’ala Maha Penyayang terhadap hamba-hamba-Nya dan tidak akan membiarkan para pelaku dan penyebar kesesatan itu merusak agama dan menyesatkan mereka secara menyeluruh. Allah subhanahu wa ta’ala telah berjanji di dalam Kitab-Nya dan di dalam Sunnah Rasul-Nya untuk menjaga agama-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

        إِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا ٱلذِّكۡرَ وَإِنَّا لَهُۥ لَحَٰفِظُونَ ٩

“Sesungguhnya Kami yang telah menurunkan ad-Dzikri (al-Qur’an) dan Kami pula yang menjagannya.” (al-Hijr: 9)

يُرِيدُونَ لِيُطۡفِ‍ُٔواْ نُورَ ٱللَّهِ بِأَفۡوَٰهِهِمۡ وَٱللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِۦ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡكَٰفِرُونَ ٨

“Mereka berkeinginan memadamkan cahaya (agama) Allah dan Allah tetap akan menyempurnakannya walaupun orang-orang kafir itu benci.” (ash- Shaff: 8)

هُوَ ٱلَّذِيٓ أَرۡسَلَ رَسُولَهُۥ بِٱلۡهُدَىٰ وَدِينِ ٱلۡحَقِّ لِيُظۡهِرَهُۥ عَلَى ٱلدِّينِ كُلِّهِۦ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡمُشۡرِكُونَ ٩

“Dia-lah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar untuk Allah menangkan atas seluruh agama.” (ash-Shaff: 9)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan kepada Khabbab bin Art radhiallahu ‘anhu,

وَاللهِ لَيُتِمَّنَّ اللهُ هَذَا الْأَمْرَ حَتَّى يَسِيرَ الرَّاكِبُ مَا بَيْنَ صَنْعَاءَ وَحَضْرَمُوتَ مَا يَخَافُ إِلَّا اللهَ وَالذِّئْبَ عَلَى غَنَمِهِ وَلَكِنَّكُمْ تَسْتَعْجِلُونَ

“Demi Allah, Allah subhanahu wa ta’ala akan benar-benar menyempurnakan urusan-Nya (agama) sehingga orang yang berkendaraan dari Shan’a[1] menuju Hadhramaut (Yaman) tidak takut melainkan hanya kepada Allah atau kepada serigala yang akan menerkam kambingnya, akan tetapi kalian tergesagesa.” (HR. al-Bukhari)

 

Bentuk Pemeliharaan Allah subhanahu wa ta’ala Terhadap Agama-Nya

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Segala puji bagi Allah, tidaklah seseorang melakukan kebid’ahan melainkan Allah subhanahu wa ta’ala dengan pemberian nikmat-Nya membangkitkan orang yang akan membongkar kebid’ahan tersebut dan akan melumatkan dengan kebenaran. Ini merupakan perwujudan dari firman-Nya, “Sesungguhnya Kami yang telah menurunkan adz-Dzikr dan Kami pula yang akan menjaganya.” Inilah bentuk pemeliharaan Allah terhadapnya.” (Syarh al-‘Aqidah al-Wasithiyyah, hlm. 25)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللهَ يَبْعَثُ لِهَذِهِ الْأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِينَهَا

“Sesungguhnya Allah akan membangkitkan di setiap awal seratus tahun orang yang akan memperbarui agama umat ini.” (HR. Abu Dawud dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 1874)

Dari sini diketahui bahwa Allah subhanahu wa ta’ala menjaga kemurnian agama-Nya dari rong-rongan para perusak agama dengan mengangkat ulama pada tiap generasi yang akan menjadi pembimbing umat ini.

Abu Muslim al-Khaulani rahimahullah mengatakan, “Ulama di muka bumi ini bagaikan bintang-bintang di langit. Apabila muncul, manusia akan diterangi jalannya dan bila gelap manusia akan mengalami kebingungan.” (Tadzkiratus Sami’, hlm. 34)

Al-Imam adz-Dzahabi rahimahullah mengatakan, “Telah sampai kepada kami bahwa Abu Dawud adalah termasuk ulama dari ulama-ulama yang mengamalkan ilmunya. Karena itu, sebagian imam mengatakan bahwa Abu Dawud serupa dengan Ahmad bin Hanbal dalam hal bimbingan dan kewibawaan. Dalam hal ini Ahmad menyerupai Waki’, dalam hal ini pula Waki’ menyerupai Sufyan dan Sufyan menyerupai Manshur dan Manshur menyerupai Ibrahim, Ibrahim serupa dengan ‘Alqamah dan ‘Alqamah dengan Abdullah bin Mas’ud. ‘Alqamah berkata, “Ibnu Mas’ud menyerupai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam bimbingan dan arahannya.” (Tadzkiratul Huffadz, 2/592, lihat Wujub Irtibath bil ‘Ulama)

Dalam setiap generasi dan zaman, Allah subhanahu wa ta’ala memilih sejumlah orang yang dikehendaki-Nya sebagai pelita dan lentera kegelapan serta perahu dalam mengarungi lautan yang diliputi guncangan ombak dahsyat sebagai tali penghubung antara diri-Nya dengan para hamba-Nya. Sebagai penunjuk jalan dan pemandu dalam perjalanan setiap insan menuju Allah subhanahu wa ta’ala. Mereka adalah ulama.

 

Kedudukan Ulama

Pembahasan ulama, kedudukan mereka dalam agama berikut di hadapan umat, merupakan permasalahan yang menjadi bagian dari agama. Mereka adalah orang-orang yang menjadi penyambung umat dengan Rabb-nya, agama dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka adalah sederetan orang yang akan menuntun umat kepada cinta dan ridha Allah subhanahu wa ta’ala, menuju jalan yang dirahmati yaitu jalan yang lurus.

Oleh karena itu, ketika seseorang melepaskan diri dari mereka berarti dia telah melepaskan dan memutuskan tali yang kokoh dengan Rabb-nya, agama dan Rasul-Nya. Ini semua merupakan malapetaka yang dahsyat yang akan menimpa individu ataupun sekelompok orang Islam. Berarti siapa pun atau kelompok mana pun yang mengesampingkan ulama pasti akan tersesat jalannya dan akan binasa.

Al-Imam al-Ajurri rahimahullah dalam muqaddimah kitab Akhlaq al-Ulama mengatakan, “Amma ba’du, sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala dengan nama-nama-Nya Yang Mahasuci telah mengkhususkan beberapa orang dari makhluk yang dicintai-Nya lalu menunjuki mereka kepada keimanan. Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala juga memilih dari seluruh orang-orang yang beriman yaitu orang-orang yang dicintai-Nya dan setelah itu memberikan keutamaan atas mereka dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab (al-Qur’an) dan as-Sunnah, mengajarkan kepada mereka ilmu agama dan tafsir al-Qur’an yang jelas. Allah subhanahu wa ta’ala utamakan mereka di atas seluruh orang-orang yang beriman pada setiap zaman dan tempat.

Allah subhanahu wa ta’ala mengangkat mereka dengan ilmu, menghiasi mereka dengan sikap kelemahlembutan. Dengan keberadaan mereka, diketahui yang halal dan haram, yang haq dan yang batil, yang mendatangkan mudarat dan yang mendatangkan manfaat, yang baik dan yang jelek. Keutamaan mereka besar, kedudukan mereka mulia. Mereka adalah pewaris para nabi dan pemimpin para wali. Semua ikan yang ada di lautan memintakan ampun buat mereka, malaikat dengan sayap-sayapnya menaungi mereka dan tunduk. Para ulama pada hari kiamat akan memberikan syafaat setelah para nabi, majelis-majelis mereka penuh dengan ilmu, dan dengan amal-amal, mereka menegur orang-orang yang lalai.

Mereka lebih utama dari ahli ibadah dan lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang zuhud. Hidup mereka merupakan harta ghanimah bagi umat dan mati mereka merupakan musibah. Mereka mengingatkan orang-orang yang lalai, mengajarkan orang-orang yang jahil. Tidak pernah terlintas bahwa mereka akan melakukan kerusakan dan tidak ada kekhawatiran mereka akan membawa menuju kebinasaan. Dengan kebagusan adab mereka, orang-orang yang bermaksiat terdorong untuk menjadi orang yang taat. Dengan nasihat mereka, para pelaku dosa bertaubat.

Seluruh makhluk membutuhkan ilmu mereka. Orang yang menyelisihi ucapan mereka adalah penentang, ketaatan kepada mereka atas seluruh makhluk adalah wajib dan bermaksiat kepada mereka adalah haram. Barang siapa yang menaati mereka akan mendapatkan petunjuk, dan barang siapa yang memaksiati mereka akan sesat. Dalam perkara-perkara yang rancu, ucapan para ulama merupakan landasan mereka berbuat. Kepada pendapat mereka akan dikembalikan segala bentuk perkara yang menimpa pemimpin-pemimpin kaum muslimin terhadap sebuah hukum yang tidak mereka ketahui. Dengan ucapan ulama pula mereka berbuat dan kepada pendapat ulama mereka kembali. Segala perkara yang menimpa para hakim umat Islam maka dengan hukum para ulamalah mereka berhukum, dan kepada ulamalah merekalah kembali.

Para ulama adalah lentera hamba-hamba Allah subhanahu wa ta’ala, lambang[2] sebuah negara, lambang kekokohan umat, sumber ilmu dan hikmah, serta mereka adalah musuh setan. Dengan ulama akan menjadikan hidupnya hati para ahli haq dan matinya hati para penyeleweng. Keberadaan mereka di muka bumi bagaikan bintang-bintang di langit yang akan bisa menerangi dan dipakai untuk menunjuki jalan dalam kegelapan di daratan dan di lautan. Ketika bintang-bintang itu redup (tidak muncul), mereka (umat) kebingungan. Bila muncul, mereka (bisa) melihat jalan dalam kegelapan.”

Dari ucapan al-Imam al-Ajurri rahimahullah di atas jelas bagaimana kedudukan ulama dalam agama dan butuhnya umat kepada mereka serta betapa besar bahayanya meninggalkan mereka.

 

Dalil-Dalil Tentang Keutamaan Ilmu dan Ulama

  1. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَرۡفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَٰتٖۚ

“Allah mengangkat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberikan ilmu ke beberapa derajat.” (al-Mujadalah: 11)

Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata, “(Kedudukan) ulama berada di atas orang-orang yang beriman sampai 100 derajat, jarak antara satu derajat dengan yang lain seratus tahun.” (Tadzkiratus Sami’, hlm. 27)

  1. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

شَهِدَ ٱللَّهُ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ وَأُوْلُواْ ٱلۡعِلۡمِ قَآئِمَۢا بِٱلۡقِسۡطِۚ

“Allah telah mempersaksikan bahwa tidak ada sesembahan yang benar melainkan Dia dan para malaikat dan orang yang berilmu (ikut mempersaksikan) dengan penuh keadilan.” (Ali ‘Imran: 18)

Al-Imam Badruddin rahimahullah berkata, “Allah subhanahu wa ta’ala memulai dengan dirinya (dalam persaksian), lalu malaikat-malaikat-Nya, lalu orang-orang yang berilmu. Cukuplah hal ini sebagai bentuk kemuliaan, keutamaan, keagungan dan kebaikan (buat mereka).” (Tadzkiratus Sami’, hlm. 27)

Asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah dalam Tafsir-nya mengatakan, “Di dalam ayat ini terdapat penjelasan tentang keutamaan ilmu dan ulama karena Allah subhanahu wa ta’ala menyebut mereka secara khusus dari manusia lain. Allah subhanahu wa ta’ala juga menggandengkan persaksian mereka dengan persaksian diri-Nya dan malaikat-malaikat-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala juga menjadikan persaksian mereka (ulama) sebagai bukti besar tentang ketauhidan Allah subhanahu wa ta’ala, agama, dan balasan-Nya. Wajib atas setiap makhluk menerima persaksian yang penuh keadilan dan kejujuran ini. Dalam kandungan ayat ini pula terdapat pujian kepada mereka (ulama) bahwa makhluk harus mengikuti mereka dan mereka (para ulama) adalah imam-imam yang harus diikuti. Semua ini menunjukkan keutamaan, kemuliaan dan ketinggian derajat mereka, sebuah derajat yang tidak bisa diukur.” (Tafsir as-Sa’di, hlm. 103)

Al-Qurthubi rahimahullah dalam Tafsirnya mengatakan, “Di dalam ayat ini ada dalil tentang keutamaan ilmu dan kemuliaan ulama. Jika ada yang lebih mulia dari mereka, niscaya Allah subhanahu wa ta’ala akan menggandengkan nama mereka dengan nama–Nya dan nama malaikatmalaikat-Nya sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala menggandengkan nama ulama.” (Tafsir al-Qurthubi, 2/27)

  1. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

قُلۡ هَلۡ يَسۡتَوِي ٱلَّذِينَ يَعۡلَمُونَ وَٱلَّذِينَ لَا يَعۡلَمُونَۗ

“Katakan (wahai Nabi) apakah sama antara orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu.” (az-Zumar: 9)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Allah subhanahu wa ta’ala menafikan unsur kesamaan antara ulama dengan selain mereka sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala menafikan unsur kesamaan antara penduduk surga dan penduduk neraka. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, ‘Katakan, tidaklah sama antara orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu.’ (az-Zumar: 9), sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala,

لَا يَسۡتَوِيٓ أَصۡحَٰبُ ٱلنَّارِ وَأَصۡحَٰبُ ٱلۡجَنَّةِۚ

‘Tidak akan sama antara penduduk neraka dan penduduk surga.’ (al- Hasyr: 20)

Ini menunjukkan tingginya keutamaan ulama dan kemuliaan mereka.” (Miftah Dar as-Sa’adah, 1/221)

  1. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَسۡ‍َٔلُوٓاْ أَهۡلَ ٱلذِّكۡرِ إِن كُنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ ٤٣

“Maka bertanyalah kalian kepada ahli zikir (ahlinya/ilmu) jika kalian tidak mengetahui.” (an-Nahl: 43)

Asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah dalam Tafsir-nya mengatakan, “Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala telah memerintahkan kepada siapa saja yang tidak mengetahui untuk kembali kepada mereka (ulama) dalam segala hal. Dalam kandungan ayat ini, terdapat pujian terhadap ulama dan rekomendasi untuk mereka dari sisi yang Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan untuk bertanya kepada mereka.” (Tafsir as-Sa’di, hlm. 394)

  1. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَا يَعۡقِلُهَآ إِلَّا ٱلۡعَٰلِمُونَ ٤٣

“Dan tidak ada yang mengetahuinya (perumpamaan-perumpamaan yang dibuat oleh Allah subhanahu wa ta’ala) melainkan orangorang yang berilmu.” (al-‘Ankabut: 43)

Asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah dalam Tafsir-nya mengatakan, “Melainkan orang-orang yang berilmu secara benar di mana ilmunya sampai ke lubuk hatinya.” (Tafsir as-Sa’di, hal 581)

  1. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّمَا يَخۡشَى ٱللَّهَ مِنۡ عِبَادِهِ ٱلۡعُلَمَٰٓؤُاْۗ

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah dari hamba-hamba-Nya hanyalah ulama.” (Fathir: 28)

Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu mengatakan, “Sesungguhnya aku mengira bahwa terlupakannya ilmu karena dosa, kesalahan yang dilakukan. Orang alim itu adalah orang yang takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala.” (Ta’liq kitab Tadzkiratus Sami’, hlm. 28)

Abdurrazaq mengatakan, “Aku tidak melihat seseorang yang lebih bagus shalatnya dari Ibnu Juraij. Ketika melihatnya, aku mengetahui bahwa dia takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala.” (Ta’liq kitab Tadzkiratus Sami’, hlm. 28)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Allah subhanahu wa ta’ala memberitakan bahwa mereka (para ulama) adalah orang-orang yang takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala, bahkan Allah subhanahu wa ta’ala mengkhususkan mereka dari mayoritas orang. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّمَا يَخۡشَى ٱللَّهَ مِنۡ عِبَادِهِ ٱلۡعُلَمَٰٓؤُاْۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ ٢٨

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah dari hamba-hamba-Nya adalah ulama, sesungguhnya Allah Maha mulia lagi Maha Pengampun.” (Fathir: 28).

 Ayat ini merupakan pembatasan bahwa orang yang takut kepada Allah adalah ulama.” (Miftah Dar as-Sa’adah, 1/225)

  1. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

جَزَآؤُهُمۡ عِندَ رَبِّهِمۡ جَنَّٰتُ عَدۡنٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدٗاۖ رَّضِيَ ٱللَّهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُواْ عَنۡهُۚ ذَٰلِكَ لِمَنۡ خَشِيَ رَبَّهُۥ ٨

“Ganjaran mereka di sisi Allah adalah jannah Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dan mereka kekal di dalamnya. Allah meridhai mereka dan mereka ridha kepada Allah, demikian itu adalah bagi orang yang takut kepada Rabb-nya.” (al-Bayyinah: 8)

Badruddin al-Kinani rahimahullah berkata, “Kedua ayat ini (Fathir ayat 28 dan al-Bayyinah ayat 8) mengandung makna bahwa ulama adalah orangorang yang takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Orang-orang yang takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala adalah sebaik-baik manusia. Dari sini disimpulkan bahwa ulama adalah sebaik-baik manusia.” (Tadzkiratus Sami’ hlm. 29)

Ucapan yang serupa dan semakna dibawakan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitabnya Miftah Dar as-Sa’adah, jilid 1 hlm. 225.

  1. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَ اْريً يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

“Barang siapa yang dikehendaki oleh Allah subhanahu wa ta’ala untuk mendapatkan kebaikan, maka Allah subhanahu wa ta’ala akan mengajarinya ilmu agama.”

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Hadits ini menunjukkan, barang siapa yang tidak dijadikan Allah subhanahu wa ta’ala faqih dalam agama-Nya, menunjukkan bahwa Allah tidak mengizinkan kepadanya kebaikan.” (Miftah Dar as-Sa’adah, 1/246)

  1. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ

“Ulama adalah pewaris para nabi.” (HR. at-Tirmidzi dari Abu ad-Darda radhiallahu ‘anhu)

Badruddinal-Kinani rahimahullah mengatakan, “Cukup derajat ini menunjukkan satu kebanggaan dan kemuliaan. Martabat ini adalah martabat yang tinggi dan agung. Sebagaimana tidak ada kedudukan yang tinggi daripada kedudukan nubuwwah, begitu juga tidak ada kemuliaan di atas kemuliaan pewaris para nabi.” (Tadzkiratus Sami’ hlm. 29)

Masih banyak dalil yang menjelaskan tentang kedudukan mereka dalam agama dan peran mereka dalam kehidupan umat. Wallahu a’lam.

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah


[1] Sebagian ulama mengatakan bahwa yang dimaksud adalah Shan’a di Syam, dan sebagian yang lain mengatakan Shan’a di Yaman. Adapun Ibnu Hajar menguatkan pendapat yang kedua, yaitu yang dimaksud adalah Shan’a di Yaman.

[2] Maksudnya sebagai penerang sebuah negara (ed).

kemuliaan ulamaulama sunnah