Bukan dengan Liberalisasi, Terorisme Dibasmi

Radikalisme dalam kehidupan beragama amat berbahaya. Modusnya adalah bersikap ekstrem dalam menjalankan agama hingga melampaui batas-batas yang ditentukan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya.

Radikalisme menyentuh sebagian lapisan umat, termasuk di bumi Nusantara ini. Sebagian mereka ada yang jatuh dalam perangkap orang-orang radikal. Tak mengherankan apabila fenomena takfir (mudah mengafirkan) merebak. Akibatnya, pemerintah dan orang-orang yang terkait dengan pemerintahan dikafirkan. Bahkan, berbagai teror pun kerap terjadi dan banyak memakan korban.

Di sisi lain, beberapa pihak melawan fenomena sikap ekstrem radikalisme tersebut dengan sikap ekstrem lainnya, yaitu liberalisme. Sebuah sikap bermudah-mudahan dalam kehidupan beragama yang bertolak belakang secara total dengan radikalisme.

Akibatnya, bermunculan paham bahwa semua agama benar dan semuanya “memusuhi” radikalisme. Akibatnya pula, muncul pernyataan-pernyataan bahwa “semua agama sama”, “semua menyembah Tuhan yang sama walaupun masing-masing agama menyebutnya dengan nama berbeda”. “Jangan terikat dengan simbol-simbol, tetapi perhatikan esensi maknanya.” Kemudian muncul istilah Universal God.

Bahkan, kaum liberalis menuding, keyakinan bahwa agama Islam sebagai satu-satunya agama yang benar adalah penyebab munculnya radikalisme-terorisme. Laa haula wa laa quwwata illaa billaah.

Sungguh, semua itu adalah penistaan terhadap agama Islam yang dibawa oleh Baginda Rasul yang mulia shallallahu alaihi wa sallam. Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman,

وَمَن يَبۡتَغِ غَيۡرَ ٱلۡإِسۡلَٰمِ دِينًا فَلَن يُقۡبَلَ مِنۡهُ وَهُوَ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ

“Barang siapa mencari selain Islam sebagai agama maka tidak akan diterima darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.” (Ali ‘Imran: 85)

Ayat ini dengan tegas menunjukkan bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar. Selain agama Islam adalah tidak sah, batil, dan bukan agama yang benar.

Semua rasul utusan Allah subhanahu wa ta’ala mengajak umatnya untuk beribadah hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala, dan meninggalkan segala sesuatu yang diibadahi selain-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman tentang kisah dakwah para rasul tersebut,

يَٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرُهُۥ

“Wahai kaumku beribadahlah kalian kepada Allah, tidak ada bagi kalian sembahan yang haq selain-Nya.”

Para rasul tersebut datang kepada kaum yang menyembah tuhan sesuai dengan agamanya masing-masing. Para rasul itu tidak mengatakan bahwa tuhan pada semua agama itu hakikatnya satu. Namun, mereka memerintahkan agar meninggalkan tuhan-tuhan tersebut, dan hanya beribadah kepada Allah satu-satu-Nya, tiada sekutu bagi-Nya.

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman,

ذَٰلِكَ بِأَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدۡعُونَ مِن دُونِهِۦ هُوَ ٱلۡبَٰطِلُ وَأَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡعَلِيُّ ٱلۡكَبِيرُ

“Hal itu karena sesungguhnya Allah, Dialah (sembahan) yang haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah, itu adalah batil, dan sesungguhnya Allah Dialah yang Mahatinggi lagi Mahabesar.” (al-Hajj: 62)

Jadi, semua sembahan selain Allah adalah batil. Semua agama selain Islam tidak beribadah kepada Allah, tetapi beribadah kepada tuhan mereka selain Allah. Atau beribadah kepada Allah, tetapi juga beribadah kepada selain-Nya. Itu semua batil dan hanyalah nama-nama yang diklaim sebagai tuhan, padahal tidak pantas sebagai tuhan.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنۡ هِيَ إِلَّآ أَسۡمَآءٌ سَمَّيۡتُمُوهَآ أَنتُمۡ وَءَابَآؤُكُم مَّآ أَنزَلَ ٱللَّهُ بِهَا مِن سُلۡطَٰنٍۚ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا ٱلظَّنَّ وَمَا تَهۡوَى ٱلۡأَنفُسُۖ وَلَقَدۡ جَآءَهُم مِّن رَّبِّهِمُ ٱلۡهُدَىٰٓ

“Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kalian dan bapak-bapak kalian mengadakannya; Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk (menyembah) nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, padahal sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Rabb mereka.” (an-Najm: 23)

Teror Pemikiran Lebih Berbahaya

Berbagai aksi kekerasan dan teror, berupa pengeboman, pembunuhan, dan lainnya yang terus marak terjadi, bahkan berhasil menjaring anak-anak muda kaum muslimin menjadi pelaku-pelaku utama dan militan, tidaklah terjadi begitu saja secara tiba-tiba. Ia telah melalui propaganda dan penyebaran pemikiran melalui berbagai cara dan media dengan proses yang panjang. Inilah yang disebut dengan teror pemikiran, dan ini lebih berbahaya daripada teror fisik.

Jika pada teror fisik dampaknya adalah terbunuhnya jiwa, hilang harta, dan rusaknya bangunan serta fasilitas, teror pemikiran lebih kejam lagi. Sebab, korbannya adalah matinya hati, akidah sesat dan menyimpang, serta lahirnya para teroris yang kejam dan militan. Bahkan, semua aksi teror, pengeboman, pengkafiran terhadap sesama muslimin, tega menumpahkan darah sesama muslim, menghancurkan masjid, pemberontakan/kudeta bersenjata terhadap pemerintah yang sah, dll., tidak lain merupakan hasil teror pemikiran yang gencar ditebarkan.

Menangani Terorisme Bukan dengan Liberalisme

Di sisi lain, dengan maksud memberantas terorisme, ada pihak menggencarkan kampanye bahwa “semua agama sama”, “jangan meyakini Islam sebagai satu-satunya agama yang benar”. Cara ini merupakan liberalisasi. Kata-kata tersebut jelas kata-kata yang melecehkan syariat Islam, menghujat Nabi shallallahu alaihi wa sallam, bahkan menghujat Allah.

Jika pemberantasan terorisme dilakukan dengan cara seperti ini, justru akan memicu kemarahan umat Islam. Sebab, itu semua adalah penistaan akidah dan menghancurkan sendi-sendi dan fondasi iman dan agama. Wajar apabila umat Islam akan tersinggung.

Apa yang tengah dikampanyekan oleh kalangan liberal ini sesungguhnya lebih berbahaya daripada penghancuran bangunan dan pembunuhan jiwa. Di sisi lain, cara itu juga termasuk salah satu bentuk teror pemikiran. Cara seperti itu tidak akan mengobati, tetapi justru meracuni. Bahkan, bisa jadi berbagai pernyataan atau tulisan tokoh-tokoh liberal yang terus dipampang di berbagai media, justru semakin memicu emosi kaum radikalis teroris untuk melakukan aksinya. Kaum teroris-radikalis pasti akan merespon kemungkaran yang diucapkan atau dilakukan oleh tokoh-tokoh liberal tersebut dengan cara ekstrem.

Maka dari itu, hendaknya para pengusung radikalisme dan liberalism itu takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Hentikanlah perbuatan merusak agama dan umat. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلَا تُفۡسِدُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ بَعۡدَ إِصۡلَٰحِهَا

“Janganlah kalian berbuat kerusakan di muka bumi setelah bumi itu diperbaiki.” (al-A’raf: 56)

Menanggulangi Radikalisme dan Liberalisme

Memang benar, radikalisme adalah penyimpangan dan kesesatan. Akan tetapi, ia tidak bisa ditanggulangi dengan liberalisme. Menanggulangi radikalisme dengan jalan liberalisasi tidak menyelesaikan masalah, tetapi justru menambah masalah.

Sungguh, liberalisme telah menampilkan Islam jauh dari yang sebenarnya, sebagaimana yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam  dan diwariskan oleh para sahabat Nabi radhiyallahu anhum. Apabila radikalisme mencoreng nama Islam dan menyebabkan kerusakan di muka bumi, liberalisme juga tidak kalah menghancurkan fondasi Islam.

Maka dari itu, kedua paham menyimpang tersebut—radikalisme dan liberalisme—harus ditanggulangi secara bersamaan. Caranya adalah dengan kembali kepada al-Qur’an dan as-Sunnah sebagaimana yang telah diamalkan oleh Salaful Ummah (para sahabat Nabi, tabi’in dan tabi’ut tabi’in). Hal ini akan terwujud dengan cara:

  1. Melakukan pembinaan kepada umat, termasuk kaum mudanya.

Hal ini dilakukan di atas prinsip at-Tashfiyah dan at-Tarbiyah.

At-Tashfiyah maknanya adalah membersihkan dan melindungi umat dari berbagai paham menyimpang dan merusak, seperti Ahmadiyah, Syiah, Gafatar, NII, ISIS, al-Qaeda, dsb., termasuk radikalisme dan liberalism itu sendiri.

Termasuk bentuk at-tashfiyah adalah membantah berbagai propaganda yang ditebarkan oleh kelompok-kelompok tersebut. Demikian pula memperingatkan umat dari bahaya tokoh-tokoh yang menebarkan paham-paham sesat di atas dan para pembelanya, serta menebarkan paham takfir (mengkafirkan sesama kaum muslim), mengkritisi pemerintah yang sah secara terbuka, dan menistakan agama.

Termasuk at-tashfiyah pula adalah meluruskan propaganda-propaganda kaum liberal, yang terus aktif menebarkan doktrin-doktrin atau pernyataan-pernyataan yang menghina dan melecehkan sendi-sendi akidah Islam.

At-Tarbiyah maknanya adalah mendidik umat dengan ilmu agama yang benar. Ilmu yang bersumber dari al-Qur’an dan Sunnah Nabi shallallahu alaihi wa sallam berdasarkan prinsip para Salaful Ummah.

  1. Mendekatkan umat ini dengan para ulama Sunnah

Mereka adalah ulama yang senantiasa konsisten berpegang di atas agama yang benar, memiliki akidah dan tauhid yang bersih dan murni, serta berjalan di atas prinsip Salaful Ummah, termasuk para imam yang empat: Abu Hanifah, Malik, asy-Syafi’i, dan Ahmad.

  1. Menghentikan segala bentuk tindakan kritik terbuka terhadap pemerintah muslim yang sah.

Sebab, hal itu akan menimbulkan dampak negatif yang banyak, salah satunya akan menimbulkan sikap radikal.

Sebaliknya, salah satu prinsip penting dalam agama harus ditanamkan kepada umat ini, yaitu ketaatan kepada pemerintah muslim dalam perkara yang makruf, bukan dalam kemaksiatan. Tidak boleh dilakukan pemberontakan, apabila itu adalah pemerintah muslim.

  1. Menghentikan segala bentuk pemikiran, ucapan, atau perbuatan yang menghujat agama dan menistakannya.

  2. Memahami Islam dari sumber yang benar, berdasarkan metodologi generasi terbaik umat (as-Salafush Shalih).

Bersih dari paham dan literatur-literatur liberal dan radikal. Waspada menafsirkan ayat atau hadits sesuai dengan selera, atau menggunakan metodologi baru yang tak dikenal oleh as-Salafush Shalih.

  1. Mewaspadai gerakan Syiah yang merupakan gerakan radikal yang sangat ekstrem.

Perjalanannya selalu diwarnai kekerasan dan aksi-aksi berdarah. Syiah Rafidhah selalu menebarkan ujaran kebencian kepada para sahabat Nabi yang mulia dan menistakan agama Islam.

Sangat disesalkan, kaum liberal selalu membela, memuji, dan menebarkan simpati terhadap Syiah.

  1. Menanamkan kepada umat bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar, yang membawa misi rahmatan lil ‘alamin; memiliki sifat wasathiyah (pertengahan), tidak ekstrem, tidak pula meremehkan.

 

Islam Sebagai Rahmatan Lil ‘Alamin

Allah subhanahu wa ta’ala  mengutus Nabi-Nya Muhammad shallallahu alaihi wa sallam membawa Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi alam semesta). Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

ووَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ إِلَّا رَحۡمَةً لِّلۡعَٰلَمِينَ

“Tidaklah Kami mengutusmu kecuali sebagai rahmat bagi alam semesta.” (al-Anbiya’: 107)

Al-Imam al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir meriwayatkan bahwa sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhuma, pakar tafsir umat ini, menjelaskan ayat tersebut,

“Barang siapa mengikuti (ittiba’) beliau (Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam), itu menjadi rahmat baginya di dunia dan di akhirat. Barang siapa tidak mau mengikuti beliau, dia akan dihukum dengan hukuman yang menimpa umat-umat sebelumnya, yaitu ditenggelamkan dan dilempari batu.”

Jadi, misi Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin akan terwujud dengan mengikuti segala ajaran dan bimbingan (sunnah) Nabi shallallahu alaihi wa sallam dalam segala aspek, baik akidah, ibadah, muamalah, akhlak, politik, ekonomi, maupun yang lain.

Ia tidak akan terwujud dengan menanggalkan ajaran Nabi shallallahu alaihi wa sallam karena menganggapnya radikal atau dengan alasan budaya nasional, inklusif, atau dituduh menyulut konflik SARA dan dinyatakan intoleran, bahkan dianggap melanggar ideologi negara. Subhanallah.

Menganggap berpegang teguh terhadap ajaran Islam sebagai sikap radikal adalah musibah yang bisa merusak tatanan agama dan negara. Fakta sejarah membuktikan, kemerdekaan Republik Indonesia diraih dengan peran umat Islam serta para ulama. Mereka memperjuangkan kemerdekaan dengan semangat jihad, yakni jihad yang sesuai syariat, bukan jihad ala kaum teroris.

Kalimat “Allahu Akbar” adalah kalimat yang menjiwai perjuangan bangsa Indonesia dalam meraih kemerdekaan dan mempertahankannya. Maka dari itu, sangat disayangkan apabila berpegang teguh dan ketaatan terhadap ajaran Islam dianggap berseberangan dengan NKRI.

Islam bukan radikal, bukan pula liberal.

 

Ditulis oleh Ustadz Abu Amr Ahmad Alfian

cara menghadapi terorismemelawan terorismemenghadapi liberalismerahmatan lil alaminteror pemikiran