Surat Pembaca edisi 41

Musik & Dongeng untuk Pendidikan
Ana pernah baca artikel bahwa menggunakan gambar dan boneka untuk media pembelajaran itu boleh asal tujuannya hanya untuk pendidikan. Bagaimana dengan musik dan dongeng untuk mengajar anak-anak?

Akhwat
081328xxxxxx

Masalah boneka mungkin bisa dilihat lagi pada majalah kita ini, edisi 07/I, dalam rubrik Permata Hati.
Pembahasan musik alhamdulillah baru saja kita lewati pada edisi 40.
Khusus tentang dongeng atau cerita bagi anak-anak, diangkat dalam rubrik Permata Hati edisi ini. Silakan menyimak.
Poligami
Kapan membahas poligami…syarat adab, syubhat yang dilontarkan oleh musuh-musuh Islam. Banyak yang berpendapat tidak usah poligami takut tidak bisa adil, benarkah pendapat yang demikian? Mohon dimuat di majalah.

Abu Abdillah – Solo
081323xxxxxx
Isbal dan Jenggot
Tolong dibahas masalah hukum isbal/musbil (celana/kain di bawah mata kaki, red.) dan jenggot secara lengkap. Karena masalah tersebut sering dihinakan masyarakat umum.

Abu ‘Ady – Kebumen
08112xxxxxx

Masalah yang Tengah Marak
Bagaimana kalau Asy-Syariah membahas masalah yang sedang marak/akan semarak di tengah masyarakat. Agar masyarakat tahu, mana yang sunnah dan mana yang bid’ah, contohnya Maulid Nabi.

Hasan Mubarok – Sidayu Gresik
085230xxxxxx
Tips-tips Kesehatan
Kalau bisa di dalam majalah Asy-Syariah disertakan juga rubrik masalah-masalah tips kesehatan, pada edisi yang awal pernah ada kok edisi sekarang dihilangkan.

As’ad – Kendari
085241xxxxxx

Tentang rubrik yang berisi tips-tips kesehatan, untuk sementara ini memang kami “istirahat”-kan. Pertimbangannya, banyak rubrik-rubrik utama (kajian agama) sendiri yang kadang harus “naik turun” untuk menyiasati keterbatasan halaman. Sehingga rubrik lain tentu harus kami kalahkan. Rencana tambah halaman sendiri ternyata juga tidak sederhana karena harus mempertimbangkan banyak faktor.
Untuk edisi ini, rubrik Info Praktis bisa tampil sebagaimana harapan Anda. Jazakumullahu khairan atas masukannya.

Salah Cetak
Pada Kajian Utama edisi 39 hal. 28 terdapat kesalahan cetak. Di sana tertulis Nabi k, yang seharusnya Nabi n.

085240xxxxxx

Anda benar. Jazakumullahu khairan atas koreksinya.

AGAMA BARU, NABI PALSU

Dengan alasan melindungi keragaman, beberapa pihak berupaya melakukan pembiaran terhadap tumbuh dan berkembangnya Ahmadiyah saat isu terkait aliran itu memuncak beberapa waktu silam. Setiap manusia, dalih mereka, mempunyai hak untuk meyakini ajaran yang dianutnya, bahkan setiap orang punya hak untuk tidak beragama sekalipun. Dengan cara pandang ini, para tokoh pembela (yang sayangnya sebagian dari mereka disebut tokoh Islam) hendak menyatakan bahwa hak hidup hanya dimiliki oleh kalangan sesat serta kaum atheis.
Entah lupa atau pura-pura lupa (atau bisa jadi memang bodoh), para pembela Ahmadiyah seakan menafikan hak umat Islam untuk hidup tanpa diganggu berbagai ajaran yang merusak, sesat serta menyesatkan. Lebih-lebih aliran seperti Ahmadiyah dan juga Salamullah, Al-Qiyadah Al-Islamiyah, Baha’iyah, dll, semuanya mengatasnamakan Islam, menggunakan simbol Islam serta mendakwahkan agamanya kepada umat Islam. Lantas bagaimana bisa kita bicara “hak” sementara apa yang disebut “hak” itu justru merupakan pelanggaran hak (baca: penistaan) pihak lain?
Arah dari tuntutan nyeleneh yang didesakkan para pengusung pluralisme itu sesungguhnya bisa ditebak, umat Islam diajak untuk meragukan finalitas kenabian Muhammad n. Bahwa ayat atau hadits yang menyebut bahwa Rasulullah n sebagai penutup para nabi masih perlu ditafsir ulang. Karena, menurut kalangan Islam Liberal, klaim tentang nabi terakhir bisa dilakukan siapa saja.
Betapa lancangnya omongan semacam itu. Kalau logika seperti ini kita amini, maka kita pun akan membenarkan bahwa “siapa tahu” Allah l pun, selain mengutus Mirza Ghulam Ahmad, juga benar-benar mengutus Mirza Hussein (pengikutnya menyebut dia Baha’ullah), Lia Aminudin, Ahmad Mushaddeq, Ahmad Sayuti (“nabi” palsu asal Bandung), Rusmiyati (“nabi” asal Madiun), Djanewar (“nabi” kepala sekolah asal Jambi) dan “nabi-nabi” lainnya.
Kalau kita hanya bicara kemungkinan dan tanpa dalil, mengapa tidak mengatakan “siapa tahu” para nabi palsu yang disebut di atas tak lebih dari orang-orang yang mengalami delusi atau waham kebesaran (delusion of grandiosty), gangguan jiwa yang ditandai dengan pengakuan sebagai nabi, malaikat, Imam Mahdi, atau tokoh-tokoh yang dianggap berpengaruh?
Mirza Ghulam Ahmad dengan Ahmadiyah-nya mungkin sudah besar dan tersebar di berbagai belahan dunia, sehingga sudah demikian kabur antara paham dan waham. Namun bayangkan jika “Ahmadiyah” itu masih berupa tunas atau bibit sekelas ajarannya Ahmad Sayuti, Rusmiyati, Djanewar, Lia Aminudin, dan yang agak besar sebangsa Ahmad Mushadeq? Tentu hanya orang-orang yang minim akal sehat saja yang meyakini atau (dengan berlagak moderat) membela ajaran mereka.
Namun bagaimanapun, fenomena bermunculannya nabi-nabi palsu itu telah menjadi keniscayaan. Sebagaimana ini telah disebut dalam hadits sendiri. “Tidak tegak hari kiamat hingga dimunculkan para dajjal dan pendusta yang berjumlah kurang lebih tiga puluh yang seluruhnya mengaku bahwa dia adalah utusan Allah.” (HR. Al-Bukhari no. 3413, Muslim no. 2923)
Makanya sebagai muslim, kita mesti menyikapi fenomena itu secara ilmiah (baca: dengan ilmu), bukan secara emosional, terlebih berujung pada tindak anarkis. Tindakan anarkis hanya justru menyuburkan pembelaan dan simpati, serta memperkokoh eksistensi mereka. -Meski tentu tak menutup kemungkinan ada pihak-pihak yang mengatasnamakan Islam kemudian melakukan aksi-aksi perusakan-.
Tegasnya, ilmu akan menjadi benteng yang kokoh untuk membendung ajaran mereka. Agar kita pun bisa berakal sehat, sehingga tidak mempan dibodohi oleh ajaran orang-orang yang tidak sehat. Dan juga jika berbenteng ilmu agama, tentu segala “pengakuan nabi” itu menjadi lelucon belaka. Namun jika kaum muslimin tidak berbekal ilmu, tentu hanya soal waktu bertumbuhnya agama baru dan nabi palsu!

PERTAHANKAN ILMU DENGAN MENINGGALKAN MAKSIAT

Ibnu Mas’ud z berkata: “Sesungguhnya aku memandang bahwa seseorang yang dilupakan dari suatu ilmu yang sebelumnya telah diketahuinya adalah karena kesalahan yang telah dilakukannya.”

Al-Imam Waki’ t berkata: “Minta tolonglah (kepada Allah l) untuk menjaga hafalanmu dengan cara meninggalkan maksiat.”

Al-Imam Malik t berkata kepada Al-Imam Asy-Syafi’i t di awal perjumpaan beliau dengannya: “Sesungguhnya aku melihat bahwasanya Allah l telah memberikan cahaya ke dalam hatimu, maka janganlah engkau padamkan dengan kegelapan maksiat.”

Al-Imam Asy-Syafi’i t berkata: “Barangsiapa yang ingin agar Allah l membukakan pintu hati dan menyinari lubuk kalbunya, dia wajib meninggalkan perkataan yang tidak berguna, meninggalkan perkara-perkara dosa, serta menjauhi berbagai bentuk kemaksiatan. Seyogianya juga dia melakukan amalan-amalan shalih secara tersembunyi antara dirinya dengan Allah k saja. Sungguh, apabila dia telah berbuat demikian niscaya Allah l bukakan untuknya suatu ilmu yang membuatnya sibuk sehingga lupa terhadap selainnya. Dan sesungguhnya di dalam al-maut (kematian) itu terdapat kesibukan yang sangat banyak.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah t berkata: “Allah l telah menjadikan di antara cara-Nya dalam menghukum anak manusia lantaran dosa-dosa yang telah mereka lakukan adalah dengan mencabut hidayah (petunjuk)-Nya serta mencabut ilmu yang bermanfaat (dari mereka).”

(An-Nubadz fi Adabi Thalabil ‘Ilmi, hal. 14-15)