Al-Azhim

Al-Azhim adalah salah satu asma Allah subhanahu wa ta’ala yang agung. Al-Azhim, Yang Mahaagung, berulang kali Allah Subhanahu wata’ala menyebutkan nama ini dalambeberapa ayat, di antaranya,

اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِندَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۖ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

“Allah, tidak ada Rabb (yang berhak disembah) kecuali Dia Yang Mahahidup lagi terus-menerus mengurus (makhluk- Nya), tidak mengantuk, dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi, dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Mahatinggi lagi Mahabesar.” (al-Baqarah: 255)

فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيمِ

“Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang Mahabesar.” (al-Waqi’ah: 96)

إِنَّهُ كَانَ لَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ الْعَظِيمِ

“Sesungguhnya dia dahulu tidak beriman kepada Allah Yang Mahabesar.” (al-Haqqah: 33)

Demikian pula Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menyebut nama itu dalam doanya di saat datang kesusahan, Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan,

كَانَ يَقُولُ عِنْدَ الْكَرْبِ: لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ الْعَظِيمُ الْحَلِيمُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ ا رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ ا رَبُّ السَّمَوَاتِ وَرَبُّ الأَرْضِ
الْكَرِيمِ وَرَبُّ الْعَرْشِ

“Dahulu Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa saat ditimpa kesusahan, (artinya), ‘Tiada sesembahan yang benar selain Allah Yang Mahaagung,Yang Maha Penyabar, tiada sesembahan yang benar selain Allah Rabb Arsy yang agung, tiada sesembahan yang benar selain Allah, Rabb langit-langit dan Rabb bumi, dan Rabb Arsy yang mulia’.” (Sahih, HR . al-Bukhari dan Muslim)

Al-Azhim, Allah Mahaagung. Dia memiliki tiap sifat yang mengharuskan untuk diagungkan. Tidak ada satupun makhluk yang mampu menyanjung- Nya sebagaimana mestinya. Bahkan, Allah Subhanahu wata’ala adalah seperti yang Ia sifati diri-Nya dengannya dan di atas segala pujian hamba-Nya.

Perlu diketahui bahwa makna Al-Ustadz Qomar Suaidi keagungan AllahSubhanahu wata’ala  yang hanya merupakan hak-Nya adalah dua macam.

1. Allah l disifati dengan segala sifat kesempurnaan, dan kesempurnaan yang Allah Subhanahu wata’ala miliki adalah kesempurnaan yang paling puncak, paling agung, dan paling luas. Milik-Nyalah ilmu yang meliputi segala sesuatu, kemampuan yang tidak bisa dihalangi, kesombongan dan keagungan.

Di antara keagungan Allah Subhanahu wata’ala adalah bahwa langit-langit dan bumi di tangan Allah Subhanahu wata’ala lebih kecil daripada biji sawi, sebagaimana diucapkan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma dan yang lainnya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ ۚ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ

 “Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Mahasuci dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.” (az-Zumar: 67)

إِنَّ اللَّهَ يُمْسِكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ أَن تَزُولَا ۚ وَلَئِن زَالَتَا إِنْ أَمْسَكَهُمَا مِنْ أَحَدٍ مِّن بَعْدِهِ ۚ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا

 “Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya tidak lenyap, dan sungguh jika keduanya akan lenyap, tidak ada seorang pun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (Fathir: 41)

Dia Mahatinggi lagi Mahaagung,

لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۖ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

“Kepunyaan-Nya lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan Dialah Yang Mahatinggi lagi Mahaagung.” (asy-Syura: 4)

Dalam kitab Shahih disebutkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ اللهَ يَقُولُ: الْكِبْرِياَءُ رِدَائِي وَالْعَظَمَةُ إِزَارِي، فَمَنْ نَازَعَنِي وَاحِداً مِنْهُمَا عَذَّبْتُهُ

“Allah berfirman, ‘Kesombongan adalah selendang-Ku dan keagungan adalah sarung-Ku. Orang yang merebut dari-Ku salah satunya, maka Aku akan meyiksanya’.”

2. Allah Subhanahu wata’alal lah yang berhak terhadap segala macam pengagungan yang dengannya seorang hamba mengagungkan dan tidak seorang pun dari mahluk berhak untuk diagungkan sebagaimana Allah Subhanahu wata’alal diagungkan. Allah Subhanahu wata’ala berhak atas hamba-Nya untuk mereka agungkan, dengan kalbu, lisan, dan anggota badan mereka. Hal itu diwujudkan dengan cara mengerahkan segala kemampuan untuk mengenal-Nya, mencintai-Nya, dan menghinakan diri di hadapan-Nya.

Inkisar (luluh, remuk redam) di hadapan-Nya, tunduk di hadapan kesombongan-Nya, takut kepada-Nya, menggunakan lisan untuk memuji-Nya, menggunakan anggota badan untuk mensyukuri-Nya dan melaksanakan peribadatan kepada-Nya. Di antara bentuk pengagungan kepada-Nya adalah dengan bertakwa kepada-Nya, sehingga Dia ditaati tidak dimaksiati, diingat tidak dilupakan, disyukuri tidak dikufuri. Di antara bentuk pengagungan kepada-Nya adalah mengagungkan apa yang disyariatkan-Nya dan apa yang diharamkan-Nya baik berupa waktu, tempat, maupun perbuatan. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

ذَٰلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى الْقُلُوبِ

 “Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (al-Hajj: 32)

ذَٰلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ حُرُمَاتِ اللَّهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَّهُ عِندَ رَبِّهِ ۗ

 “Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Rabbnya.” (al-Hajj: 30)

Di antara bentuk pengagungan kepada-Nya adalah tidak menentang apa yang disyariatkan-Nya dan apa yang diciptakan-Nya. (Penjelasan as-Sa’di dan Muhammad Khalil Harras, Tafsir Asmaillah dan Syarah Nuniyyah)

Buah Mengimani Nama Allah Subhanahu wata’ala al-Azhim

Buahnya, kita lebih mengenal keagungan dan kebesaran-Nya, serta menyadari segala kekurangan kita. Kita hanyalah hamba Allah Subhanahu wata’ala yang kecil, yang hina, yang lemah, dan yang serbaterbatas dari segala sisinya. Ini menuntut kita untuk lebih banyak mengagungkan-Nya dengan berbagai ucapan, amalan, dan keyakinan.

Menuntut kita untuk menjauhi sifat sombong, takabur, bangga diri, serta lupa akan pertolongan Allah Subhanahu wata’ala dan keagungan-Nya. Sebanyak apa pun yang kita miliki berupa harta, kedudukan, kehormatan, pangkat, atau kekuasaan, itu tidak berarti apa-apa di hadapan keagungan-Nya.

Di samping itu, mengimaninya juga membuahkan pengetahuan lebih dalam tentang batilnya segala sesembahan selain Allah Subhanahu wata’ala. Ternyata, apa pun sesembahan itu, tidak berarti apa-apa di hadapan keagungan-Nya. Lantas atas dasar apa tuhan-tuhan palsu itu disembah?

Manfaat apa yang diperoleh darinya? Apa yang dijanjikan oleh tuhan-tuhan palsu tersebut? Bahkan, semua itu hanya kepalsuan dan penipuan setan. Karena itu, setan ‘menertawakan’ para penyembah selain Allah Subhanahu wata’ala tersebut. Kelak, setan pun akan cuci tangan dari perbuatan mereka itu.

Ditulis oleh Al Ustadz Qomar Suadi