Akhlak Pengusung Islam Nusantara

Tiada hentinya umat Islam diterpa beragam ujian dan fitnah yang bisa menggerogoti keimanan mereka. Isu-isu murahan sengaja diembuskan oleh orang-orang kafir, para munafik, dan yang tertipu dengan mereka.

Di antara yang mereka opinikan bahwa ajaran Islam sudah tidak selaras dengan perkembangan zaman dan tidak cocok dipraktikkan di Indonesia. Menurut mereka, berkomitmen dengan ajaran Islam akan menghambat kemajuan, bahkan bisa memicu tindak terorisme. Seabrek jurus mereka munculkan agar umat ini takut menampakkan identitas keislamannya, bahkan muncul keraguan terhadap kebenaran Islam.

Apabila kita cermati, propaganda-propaganda tersebut bukanlah sesuatu yang baru. Sebelum cahaya Islam datang, bumi dipenuhi oleh gelapnya kekafiran dan kebodohan. Ketika Islam datang, muncul beragam perlawanan untuk meredupkan cahaya ini. Seorang muslim yang mencium sedikit saja aroma harumnya Islam akan bisa mengetahui murahnya propaganda tersebut.

Namun, tentu tidak boleh kita lalaikan bahwa pukulan lawan yang bertubi-tubi tentu memberikan pesan. Di antaranya:

  1. Akan diketahui siapa yang tulus keimanannya dan yang berdusta dan gampang terseret ombak fitnah.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلَقَدۡ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡۖ فَلَيَعۡلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُواْ وَلَيَعۡلَمَنَّ ٱلۡكَٰذِبِينَ ٣

“Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sungguh Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sungguh Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (al-‘Ankabut: 3)

  1. Menggugah seorang muslim untuk mempersenjatai diri dengan ilmu yang memadai dan amal saleh yang membentengi diri.
  2. Seorang muslim hendaknya semakin mantap berpegang dengan agamanya.

Dia semakin tahu bahwa timbangan kebenaran adalah firman Allah dan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sesuai dengan yang dipahami dan dipraktikkan oleh generasi awal umat ini.

 Keharusan Tunduk pada Syariat Allah subhanahu wa ta’ala

Sesungguhnya, Allah subhanahu wa ta’ala yang mencipta alam semesta dan mengatur jagat raya. Dialah yang berhak untuk menentukan syariat-Nya dan memilih hamba-Nya yang akan memikul amanat risalah-Nya.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَرَبُّكَ يَخۡلُقُ مَا يَشَآءُ وَيَخۡتَارُۗ

“Dan Rabbmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya.” (al-Qashash: 68)

Oleh karena itu, kita harus menerima ketentuan yang Allah subhanahu wa ta’ala tetapkan dengan sepenuh penerimaan. Tidak ada penolakan dan penentangan, karena Allah lebih tahu maslahat hamba-Nya.

Al-Imam az-Zuhri rahimahullah mengatakan bahwa risalah itu datang dari Allah subhanahu wa ta’ala, dan tugas rasul hanya menyampaikan. Kewajiban kita hanyalah menerima. (Siyar A’lam an-Nubala, 5/346)

 Kesempurnaan Islam

Tidaklah Allah subhanahu wa ta’ala mewafatkan Nabi-Nya kecuali Islam telah sempurna, tidak memerlukan penambahan ataupun pengurangan. Sungguh, sempurnanya Islam merupakan nikmat bagi umat ini yang menjadikan orang-orang kafir iri.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَٰمَ دِينٗاۚ

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam menjadi agama bagimu.” (al-Maidah: 3)

Disebutkan dalam Shahih al-Bukhari bahwa orang-orang Yahudi berkata kepada Khalifah Umar radhiallahu ‘anhu, “Sesungguhnya kalian membaca suatu ayat yang seandainya ayat itu turun kepada kami, niscaya akan kami jadikan sebagai perayaan.” (Shahih al-Bukhari, no 4606)

Yang mereka maksud adalah ayat ketiga surat al-Maidah.

Apabila orang-orang Yahudi tahu besarnya arti kesempurnaan Islam, mengapa sebagian kaum mulimin tidak mengerti kemuliaan agama ini, justru terkadang minder dengan agamanya?!

Sungguh, kemerosotan yang dialami oleh kaum muslimin dalam berbagai bidang terjadi karena mereka meninggalkan sumber kemuliaannya, yaitu ajaran Islam.

Apabila ingin mengetahui indahnya Islam dipraktikkan di alam nyata, kita perlu membuka lembaran sejarah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat, dan generasi awal umat ini. Mereka telah memenuhi bumi dengan keadilan, kedamaian, kemakmuran, dan kemajuan di berbagai bidang dan disiplin ilmu.

Kalau kita mencari perwujudan keindahan Islam di tengah-tengah masyarakat muslimin dewasa ini, barangkali kita sulit menemukannya dari sebagian muslimin. Sebab, kaum muslimin sekarang telah jauh dari pengajaran dan pengamalan terhadap Islam.

Islam Nusantara dalam Sorotan

Luka yang dirasakan oleh umat akibat serangan-serangan orang kafir berupa penistaan terhadap Islam belumlah pulih. Tiba-tiba umat Islam dikejutkan oleh munculnya gagasan Islam Nusantara. Terlepas dari motif digulirkannya isu ini, sungguh gagasan ini telah menjadi tugas tersendiri yang menyibukkan.

Apabila dicermati, gagasan ini sangat membahayakan keutuhan agama Islam, mengotak-ngotak muslimin, dan rentan memunculkan konflik di tengah–tengah umat. Terlebih lagi, beberapa pengusungnya adalah para penganut paham liberalis yang sering menyudutkan Islam dan muslimin. Jelas, pemahaman seperti ini merupakan bentuk mengada-adakan perkara baru dalam agama.

Munculnya pemahaman yang menyimpang dari Islam disebabkan oleh dua faktor utama.

  1. Ketidaktahuan tentang keindahan Islam.

Faktor ini menjadi sebab dilahapnya pemikiran-pemikiran sesat yang indah menawan secara lahiriah, padahal kenyataannya sangat menghancurkan.

  1. Mengikuti hawa nafsu.

Hal ini lebih parah. Sebab, tidak mustahil para pengusung pemahaman tersebut tahu bobroknya pemahaman ini. Akan tetapi, mereka getol menyebarkannya karena dengki dengan kelompok tertentu, ras tertentu, tekanan dari pihak tertentu, atau bahkan membalas budi pihak tertentu.

 Akhlak Pengusung Islam Nusantara

Serapat-rapat bangkai disembunyikan, akhirnya tercium juga. Dalam pepatah Arab disebutkan,

كُلُّ إِنَاءٍ بِمَا فِيْهِ يَنْضَحُ

“Setiap bejana (wadah air) akan menumpahkan apa yang menjadi isinya.”

Hari-hari ini, sebagian pengusung Islam Nusantara mempertontonkan dangkalnya pemahaman keislaman mereka dan ketidakhormatannya terhadap kemuliaan Islam.

Di antara kebobrokan mereka adalah:

  1. Lancang berbicara tentang hal yang gaib, padahal hanya Allah subhanahu wa ta’ala yang tahu perkara yang gaib.

Misalnya, seorang tokoh utama Islam Nusantara mengatakan bahwa Malaikat Munkar dan Nakir masih antri untuk menanyai Gus Dur di kuburannya, karena kuburannya selalu ramai dengan para pengunjung.

Pantaskah ucapan seperti ini keluar dari seorang kiai haji?!

 

  1. Mencaci maki

Seorang muslim yang sejati tidak suka mencela dan mencaci maki. Lebih-lebih apabila cacian tidak pada tempatnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

سِبَابُ الْمُسْلِم فُسُوْقٌ وَقِتَالُهُ كُفْرٌ

“Mencerca seorang muslim adalah tindak kefasikan dan memeranginya adalah kekufuran.” (Muttafaqun ‘alaih dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu)

Repotnya, mereka lontarkan celaan terhadap pihak yang menjalankan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Misalnya, salah seorang tokoh mereka mencela orang yang berjenggot. Dia menghukumi orang yang berjenggot sebagai orang yang goblok. Padahal itu adalah sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan beliau memerintahkan untuk memelihara jenggot.

Di sisi lain, mereka mengagungkan orang yang mengerok jenggotnya. Dia menilai bahwa orang yang pintar itu tidak memiliki jenggot. Padahal kepintaran yang bermanfaat adalah yang menjadikan pemiliknya tunduk dan menghormati syariat, tidak menyelisihinya. Sungguh, vonis goblok lebih tepat diberikan kepada orang yang merendahkan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Tentang perintah memelihara jenggot, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَعْفُوا اللِّحَى وَجُزُّوا الشَّوَارِبَ وَغَيِّرُوا شَيْبَكُمْ وَلَا تَشَبَّهُوا بِالْيَهُودِ وَالنَّصَارَى

“Biarkan (pelihara) jenggot, pangkaslah kumis, dan ubahlah uban kalian. Janganlah kalian menyerupai orang Yahudi dan Nasrani.” (HR. Ahmad dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Shahih al-Jami’ no. 1067)

Kata al-Munawi, membiarkan jenggot ialah memperbanyaknya dan menguranginya. (Faidhul Qadir, 4/417)

Jadi, memelihara jenggot adalah sunnah Nabi yang diperintahkan, bukan tradisi Arab. Ia adalah upaya tampil berbeda dengan Yahudi dan Nasrani. Sebab, di antara tuntutan menelusuri jalan yang lurus adalah dia harus menyelisihi cara dan jalan orang kafir.

Ucapan dan pernyataan siapapun, apabila bertentangan dengan bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak dianggap dan tidak ada nilainya.

“Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak rambut jenggotnya.” ( HR. Muslim dari Jabir bin Samurah radhiallahu ‘anhu)

 

  1. Merendahkan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Ini tentu kejahatan yang luar biasa terhadap syariat. Sopan santun terhadap orang lain menjadi tidak ada nilainya, apabila disertai sikap melecehkan syariat. Setinggi apapun kedudukan seseorang di mata manusia, ia tetap menjadi orang rendahan apabila mengolok-olok sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Al-Imam al-Barbahari rahimahullah berkata, “Apabila engkau mendengar seseorang mencela hadits, menolak hadits, atau menginginkan (dalil) selain hadits, ragukan keislamannya. Tidak diragukan bahwa dia adalah pengikut hawa nafsu dan ahli bid’ah.” (Syarhus Sunnah)

Di antara yang mereka perolok-olokan adalah merapatkan barisan shalat (shaf) dan pakaian cingkrang, yakni seorang memakai pakaian di atas mata kaki. Padahal telah jelas hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَا أَسْفَلَ الْكَعْبَيْنِ مِنَ الْإِزَارِ فَفِي النَّارِ

“Kain yang menjulur sampai bawah mata kaki tempatnya di neraka.” (HR. al-Bukhari dan an-Nasai dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Mengangkat kain di atas mata kaki, di samping bentuk ketundukan kepada bimbingan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam juga lebih menunjukkan ketakwaan seorang kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan menjadikan pakaian tidak cepat kotor dan rusak.

 

  1. Tidak ilmiah

Misalnya, mereka menyatakan bahwa cadar (hijab) adalah budaya Arab, dan kita tidak perlu meniru orang Arab. Padahal budaya wanita bangsa Arab sebelum Islam datang ialah tidak menutup aurat.

Perintah bagi wanita untuk menutupi wajahnya juga bukan di awal-awal Islam. Jadi, dari sisi mana memakai cadar bisa disebut budaya Arab?!

Saat mereka mengomentari wanita pemakai cadar yang menutup auratnya, mereka tutup mulut dari para wanita yang membuka auratnya. Mereka tak ubahnya seperti kaum Khawarij yang membunuhi kaum muslimin, namun membiarkan para penyembah berhala.

 

  1. Tidak menghargai keragaman

Para pengusung Islam Nusantara kurang suka yang berbau kearab-araban, dalam hal berpakaian, penamaan, bahkan masalah isi hati seseorang. Misalnya, mereka menyatakan bahwa orang yang berjubah tidak boleh merasa lebih baik daripada yang tidak berjubah. Padahal, kapan orang-orang yang berjubah pernah menyatakan demikian?!

Kalau seseorang ingin meniru pakaian seperti pakaian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam—meskipun katakanlah itu adat orang Arab—apakah patut dicela?

Di sisi lain, yang memakai jins, dasi, dan rok mini yang merupakan budaya pakaian Barat sama sekali tidak disindir? Ada apa di balik ini?

Menurut Islam, tidak mengapa seseorang memakai pakaian yang biasa dipakai oleh penduduk negerinya, selama memenuhi kriteria pakaian yang tidak melanggar aturan syariat.

 

  1. Mereka anggap bahwa Islam yang santun adalah yang menghargai kearifan lokal dan membiarkan budaya masyarakat untuk dilestarikan.

Padahal, masalah ini perlu dirinci. Sebab, ada budaya yang berbenturan dengan ajaran Islam yang mulia dan harus ditinggalkan. Ada juga budaya yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai agama sehingga boleh dilestarikan.

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus, bangsa Arab memiliki sekian budaya, seperti menyembah berhala, yang kuat mencaplok yang lemah, membunuh bayi perempuan, dan seabreg budaya lain. Apakah karena ingin menjaga budaya itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melarang hal-hal tersebut?!

Tentu saja Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberantasnya dan menggantinya dengan yang lebih baik.

 

  1. Sombong

Konsep Islam Nusantara dianggap oleh para pengusungnya sebagai konsep yang terbaik. Mereka membanggakannya dan menganggap bahwa konsep inilah yang akan mendunia serta bisa menjadi contoh bagi negara lain.

Alih-alih negara lain akan mencontohnya, masyarakat di negeri ini saja banyak yang menentang karena bertentangan dengan konsep Islam rahmatan lil ’alamin!

Sungguh, para pengusung konsep Islam Nusantara adalah orang-orang yang sok pintar; padahal bodoh, sok ilmiah, dan sok rasional di hadapan orang awam.

Di hadapan para ulama, mereka orang yang serampangan. Mereka menafsirkan agama semaunya, meremehkan syariat, para pengagung syariat, serta menistai agama; tetapi mereka tidak merasa.

Wallahu a’lam.

 Ditulis oleh al-Ustadz Abdul Mu’thi Sutarman, Lc

Islam Nusantara dan Ahmadiyah

Ahmadiyah adalah aliran sesat yang ditolak oleh umat Islam dunia. Walau demikian, ia dapat tumbuh dan berkembang di Indonesia.

Aliran sesat ini lahir pada tahun 1889 di kota kecil Qadian, Punjab, Pakistan (dulu masuk wilayah India). Kemunculannya tak bisa dipisahkan dari kolonial Inggris yang sedang menjajah. Karena itu, tak berlebihan bila ada yang mengatakan bahwa ia bentukan kolonial Inggris. Targetnya, untuk memecah-belah kekuatan umat Islam India (baca: Pakistan) yang sedang berjuang melawan penjajah Inggris dan menginginkan kemerdekaan kala itu.

Ahmadiyah mempunyai kitab suci sendiri bernama Tadzkirah yang pada hakikatnya adalah bajakan dari ayat-ayat yang terdapat dalam Kitab Suci al-Qur’an.

Modusnya ialah dengan melakukan perubahan, penambahan, dan pengurangan, lalu dirangkaikan menjadi ayat-ayat. Setelah itu, diklaim sebagai wahyu suci (wahyu muqaddas) yang diwahyukan Allah subhanahu wa ta’ala kepada nabi palsu mereka, Mirza Ghulam Ahmad al-Qadiyani.

Ahmadiyah meyakini bahwa Mirza Ghulam Ahmad al-Qadiyani, pendiri aliran sesat tersebut, sebagai al-Masih dan al-Mahdi yang dijanjikan kemunculannya pada akhir zaman. Lebih dari itu, mereka meyakininya sebagai nabi yang memegang tongkat estafet kenabian setelah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Padahal hakikatnya adalah nabi palsu.

Dalam akidah Islam, keberadaan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai nabi terakhir adalah harga mati. Demikian pula agama Islam yang dibawa beliau, sebagai agama terakhir nan paripurna.

Barang siapa meyakini bahwa setelah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam masih ada nabi berikutnya, dan masih ada pula suatu agama yang menyempurnakan agama Islam yang dibawa beliau, dia telah kafir, keluar dari Islam. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

مَّا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَآ أَحَدٖ مِّن رِّجَالِكُمۡ وَلَٰكِن رَّسُولَ ٱللَّهِ وَخَاتَمَ ٱلنَّبِيِّ‍ۧنَۗ وَكَانَ ٱللَّهُ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٗا ٤٠

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kalian, tetapi Dia adalah Rasulullah dan penutup para nabi, dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (al-Ahzab: 40)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَإِنَّهُ سَيَكُونُ فِي أُمَّتِي ثَلَاثُونَ كَذَّابُونَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ نَبِيٌّ وَأَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّينَ لَا نَبِيَّ بَعْدِي

“Sesungguhnya akan ada di tengah-tengah umatku tiga puluh orang pendusta, semuanya mengaku nabi. Aku adalah penutup para nabi, tidak ada lagi nabi setelahku.” (HR . at-Tirmidzi no. 2145, dari Tsauban radhiallahu ‘anhu, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih wa Dhaif Sunan at-Tirmidzi no. 2219, al-Misykah no. 5406, dan ash-Shahihah no. 1683)

Atas nama Pemerintah Indonesia, Menteri Agama, Menteri Dalam Negeri, Jaksa Agung Indonesia, pada tanggal 9 Juni 2008 telah mengeluarkan Surat Keputusan bersama (SKB), yang memerintahkan penganut Ahmadiyah untuk menghentikan kegiatannya yang bertentangan dengan Islam itu.

Tahukah Anda, sikap para pegiat Islam Nusantara terhadap aliran sesat ini? Simak penuturan mereka berikut ini,

  • Gus Dur berkata,

“Selama saya masih hidup, saya akan mempertahankan gerakan Ahmadiyah.” (https://youtu.be/1uzROyY61gE)

  • Ulil Abshar Abdalla berkata,

“Ahmadiyah memang Islam. Syarat Islam kan bersyahadat, salat, puasa, zakat, haji. Mereka melakukan semuanya.” (m.republika.co.id 7/8/2015. Twitternya @ulil)

  • Said Aqil Siradj

“Ahmadiyah itu mau dibagaimanakan lagi? Itu kan saudara kita sebangsa setanah air.”

“Ini ukhuwah wathoniyah. Yang terpenting tidak melanggar undang-undang.” (m.okezone.com 14/11/2013)

Demikianlah sikap Islam Nusantara terhadap aliran sesat Ahmadiyah yang diwakili oleh tiga orang pegiat sejatinya.

Gus Dur akan terus mempertahankan Ahmadiyah, selama masih hidup. Allahul Musta’an.

Ulil Abshar Abdalla dengan entengnya mengatakan, “Ahmadiyah mmg Islam. Syarat Islam kan bersyahadat…..,” tanpa memperhitungkan sama sekali pembatal-pembatal keislaman. Seperti keyakinan adanya nabi baru setelah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan keyakinan adanya kitab suci baru setelah al-Qur’an.

Adapun Said Aqil Siradj, dengan pasrah berkata, “Ahmadiyah itu mau dibagaimanakan lagi?” Dalihnya, saudara sebangsa setanah air alias ukhuwah wathaniyah.

Yang cukup mengherankan, Jemaat Ahmadiyah Indonesia mendapat undangan istimewa dalam acara Silaturahmi dan Dialog Kultural Jaringan Lintas Iman Nusantara yang diadakan pada tanggal 1 Agustus 2015 di arena Muktamar NU ke-33, De-Nala Foodcourt, Jombang, Jawa Timur.

Apakah acara tersebut sebagai salah satu refleksi dari Islam Nusantara, yang kala itu dijadikan tema utama muktamar? Wallahu a’lam, yang jelas acara ini dipelopori dan dimoderatori oleh Aan Anshari, seorang aktivis muda NU Jombang sekaligus ketua Gusdurian Jawa Timur. Tema yang diangkat adalah “Meneguhkan Indonesia Sebagai Rumah Bersama.” (NU online/www.gusdurianmalang.net)

Pada acara itu hadir perwakilan dari lintas agama, termasuk utusan Ahmadiyah yang diwakili oleh Syaeful Uyun, didampingi Basuki Ahmad dan 12 anggota jemaat lainnya.

Uniknya, Syaeful Uyun menjadi salah satu narasumber pada acara tersebut. Orang-orang Ahmadiyah pun ramai mengeksposnya dalam beberapa media sosial mereka, antara lain wartaahmadiyah.org.

Bahkan, dengan bangga mereka unggah dalam akun twitter Ahmadiyah Indonesia @AhmadiyahID (4/8/2015), “Ahmadiyah menjadi pembicara dalam Silaturahmi dan Dialog Kultural Jaringan Lintas Iman Nusantara.”

Demikianlah sikap para pegiat Islam Nusantara terhadap Ahmadiyah yang jelas-jelas sesat. Betapa lemahnya sikap al-bara’ (berlepas diri) mereka terhadap aliran-aliran sesat. Wallahul Musta’an.

Ditulis oleh al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi, Lc.

Islam Nusantara Pro Syi’ah?

Para ulama yang mulia rahimahumullah, sejak dahulu sudah melakukan kajian yang panjang dan cermat tentang Syi’ah. Hasilnya, Syi’ah adalah kelompok sesat yang telah menyimpang dari kebenaran.

Mereka berambisi untuk menghancurkan Islam dengan cara menghujat al-Qur’an, menjatuhkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan mengafirkan para sahabat beliau yang mulia. Tiga pilar utama dalam agama Islam. Tanpa ketiganya, agama seseorang menjadi rapuh dan sekejap akan runtuh. Mereka beragama dengan perkataan dusta dan persaksian palsu (taqiyah). Simaklah keterangan para ulama berikut ini,

  1. Al-Imam Amir asy-Sya’bi rahimahullah berkata, “Aku tidak pernah melihat kaum yang lebih dungu dari Syi’ah.” (as-Sunnah karya Abdullah bin al-Imam Ahmad 2/549)
  2. Al-Imam Sufyan ats-Tsauri rahimahullah ketika ditanya tentang seseorang yang mencela Abu Bakr dan Umar (Syi’ah, pen.) berkata, “Ia telah kafir kepada Allah subhanahu wa ta’ala.”

Kemudian beliau ditanya, “Apakah kita menyalatinya (bila meninggal dunia)?”

Beliau berkata, “Tidak, tiada kehormatan (baginya)….” (Siyar A’lamin Nubala karya al-Imam adz-Dzahabi 7/253)

  1. Al-Imam Malik bin Anas rahimahullah berkata, “Mereka itu adalah suatu kaum yang berambisi untuk menjatuhkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun tidak mampu. Akhirnya mereka mencela para sahabatnya agar dikatakan bahwa beliau (Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam) seorang yang jahat. Sebab, kalau memang beliau orang saleh, niscaya para sahabatnya adalah orang-orang saleh.” (ash-Sharimul Maslul ‘ala Syatimirrasul karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hlm. 580)
  2. Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Aku belum pernah tahu ada yang melebihi Rafidhah (Syi’ah) dalam persaksian palsu.” (Mizanul I’tidal karya al-Imam adz-Dzahabi 2/27—28)
  3. Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata, “Aku tidak melihat dia (orang yang mencela Abu Bakr, Umar, dan Aisyah) sebagai orang Islam.” (as-Sunnah karya al-Khallal 1/493)
  4. Al-Imam al-Bukhari rahimahullah berkata, “Bagiku sama saja shalat di belakang Jahmi (seorang penganut akidah Jahmiyah) dan Rafidhi (Syi’ah) atau di belakang Yahudi dan Nasrani. Mereka tidak boleh diberi salam, tidak boleh pula dikunjungi ketika sakit, dinikahkan, dijadikan saksi, dan dimakan sembelihannya.” (Khalqu Af’alil ‘Ibad, hlm. 125)

Bisa jadi, Anda terheran terhadap kesimpulan para ulama terkemuka di atas. Sejauh itukah kesimpulan mereka? Apa yang melandasi berbagai kesimpulan itu? Mengapa Syi’ah bisa seperti itu? Dan berbagai pertanyaan lainnya yang menggelitik di hati Anda.

Jawaban ringkasnya, karena Syi’ah adalah sekte (baca: agama) tersendiri yang sangat bertolak belakang dengan Islam.

Bukankah mereka amat berambisi untuk merobohkan tiga pilar utama agama dalam Islam, yang tanpa ketiganya agama seseorang menjadi rapuh dan sekejap akan runtuh? Tiga pilar utama itu adalah al-Qur’an, Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan pemahaman para sahabat (salaful ummah).

Al-Qur’an yang merupakan Kitab Suci umat Islam tak lagi dianggap suci oleh mereka, bahkan tidak sah dan kurang dari yang aslinya.

Disebutkan dalam kitab al-Kafi (yang kedudukannya menurut Syiah Rafidhah seperti Shahih al-Bukhari bagi kaum muslimin) karya Abu Ja’far Muhammad bin Ya’qub al-Kulaini (2/634) dari Abu Abdillah (Ja’far ash-Shadiq), dia berkata, “Sesungguhnya al-Qur’an yang dibawa Jibril kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam itu (ada) 17.000 ayat.”

Pada (1/239—240) disebutkan dari Abu Abdillah, dia berkata, “Sesungguhnya di sisi kami ada mushaf Fatimah ‘alaihas salam, mereka tidak tahu apa mushaf Fatimah itu.

Abu Bashir berkata, ‘Apa mushaf Fatimah itu?’

Dia (Abu Abdillah) berkata, ‘Mushaf yang isinya 3 kali lipat dari yang ada di mushaf kalian. Demi Allah, tidak ada padanya satu huruf pun dari al-Qur’an kalian’.” (Dinukil dari kitab asy-Syi’ah wal Qur’an karya Dr. Ihsan Ilahi Zhahir, hlm. 31—32)

Adapun Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka merobohkannya dengan berbagai cara. Di antaranya,

  1. Mengklaim bahwa para istri Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia adalah pelacur, agar timbul kesan bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang tidak baik, sehingga sunnahnya tak bisa diamalkan.

Disebutkan dalam kitab mereka Ikhtiyar Ma’rifatir Rijal karya ath-Thusi, hlm. 57—60, menukilkan (secara dusta) perkataan sahabat Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhu terhadap Ummul Mukminin Aisyah, “Kamu tidak lain adalah seorang pelacur dari sembilan pelacur yang ditinggalkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Dinukil dari kitab Daf’ul Kadzibil Mubin al-Muftara Minarrafidhati ‘ala Ummahatil Mukminin karya Dr. Abdul Qadir Muhammad ‘Atha, hlm. 11)

  1. Mengafirkan para sahabat kecuali beberapa orang saja dari mereka. Dengan pengafiran para sahabat, berarti gugur pula semua Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan melalui mereka.[1]

Disebutkan dalam kitab mereka Rijalul Kisysyi (hlm. 12—13) dari Abu Ja’far Muhammad al-Baqir, dia berkata, “Manusia (para sahabat) sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan murtad kecuali tiga orang.”

Aku (perawi) berkata, “Siapa tiga orang itu?”

Dia (Abu Ja’far) berkata, “Al-Miqdad bin al-Aswad, Abu Dzar al-Ghifari, dan Salman al-Farisi…” kemudian menyebutkan surah Ali Imran ayat 144. (Dinukil dari asy-Syi’ah al-Imamiyyah al-Itsna ‘Asyariyyah fi Mizanil Islam, hlm. 89)

Adapun sahabat Abu Bakr ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu dan Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu, dua manusia terbaik setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka cela dan laknat.[2] Bahkan, berlepas diri dari keduanya merupakan bagian dari prinsip agama mereka. Tak heran apabila didapati dalam kitab bimbingan doa mereka (seperti dalam Miftahul Jinan, hlm. 114), wirid laknat untuk keduanya,

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ، وَالْعَنْ صَنَمَيْ قُرَيْشٍ وَجِبْتَيْهِمَا وَطَاغُوْتَيْهِمَا وَابْنَتَيْهِمَا

“Ya Allah, semoga shalawat selalu tercurahkan kepada Muhammad dan keluarganya. Laknatlah kedua berhala Quraisy (Abu Bakr dan Umar), setan dan thaghut keduanya, serta kedua putri mereka…(yang dimaksud adalah Ummul Mukminin Aisyah dan Hafshah).(Dinukil dari kitab al-Khuthuth al-‘Aridhah karya as-Sayyid Muhibbuddin al-Khatib, hlm. 18)

Dengan robohnya pilar kepercayaan kepada para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan roboh pula pilar kepercayaan kepada al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebab, melalui merekalah keduanya sampai kepada kita.

Al-Imam Abu Zur’ah ar-Razi rahimahullah berkata, “Jika Anda melihat orang yang mencela salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketahuilah bahwa ia zindiq (seorang yang menampakkan keislaman dan menyembunyikan kekafiran). Sebab, bagi kita, Rasul adalah haq dan al-Qur’an adalah haq. Sesungguhnya yang menyampaikan al-Qur’an dan as-Sunnah adalah para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka (kaum Syi’ah pen.) mencela para saksi kita (para sahabat) dengan tujuan untuk meniadakan al-Qur’an dan as-Sunnah. Mereka lebih pantas untuk dicela dan mereka adalah zanadiqah.” (al-Kifayah karya al-Khathib al-Baghdadi, hlm. 49)

Satu hal penting yang tak boleh dilupakan, Syi’ah kerap kali melakukan pengkhianatan terhadap umat Islam. Mereka telah berkhianat terhadap Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, Khalifah Hasan bin Ali radhiallahu ‘anhu, dan Husain bin Ali radhiallahu ‘anhu.[3] Sejarah pun mencatat bahwa runtuhnya Daulah Abbasiyah (tahun 656 H) yang mengendalikan kepemimpinan umat Islam dalam skala internasional, adalah karena pengkhianatan sang Perdana Menteri, Muhammad Ibnul Alqami yang beragama Syi’ah.

Akibatnya, Khalifah Abdullah bin Manshur yang bergelar al-Musta’shim Billah dan para pejabat pentingnya tewas mengenaskan dibantai oleh pasukan Tartar yang dipimpin oleh Hulaghu Khan. Kota Baghdad (ibu kota Daulah Abbasiyah) porak-poranda. Kebakaran terjadi di mana-mana. Umat Islam yang tinggal di Kota Baghdad dibantai secara massal; tua, muda, anak-anak, laki-laki, perempuan, orang awam, dan ulama.

Selama 40 hari pembantaian terus-menerus terjadi. Kota Baghdad bersimbah darah. Tumpukan mayat umat Islam berserakan di mana-mana. Bau mayat yang sudah membusuk, semakin menambah duka nestapa. Nyaris sungai Tigris menjadi merah karena simbahan darah umat Islam, sementara sungai Dajlah nyaris menjadi hitam karena lunturan tinta kitab-kitab berharga umat Islam yang mereka buang ke dalamnya.[4] Wallahul Musta’an.

Bagaimanakah sikap Islam Nusantara terhadap Syiah? Apakah mereka berada satu barisan dengan para ulama terkemuka semisal al-Imam asy-Syafi’i, al-Imam Malik, al-Imam al-Bukhari, dan yang lainnya tersebut? Simaklah penuturan mereka berikut ini.

 Ulil Abshar Abdalla

Dalam akun twitternya @ulil, 26/6/2015 berkata, “Ciri Islam Nusantara: tidak memusuhi Syi’ah. Dan menganggap mereka bagian sah dari umat Islam. Beda dengan Islam Wahabi atau simpatisannya.”

  • Perkataan Ulil Abshar Abdalla, “Ciri Islam Nusantara: tidak memusuhi Syi’ah.

Tanggapan:

  1. Ini menunjukkan bahwa Jaringan Islam Liberal (JIL), Islam Nusantara, dan Syi’ah adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan. Karena itu, mereka tidak saling memusuhi.
  2. Fakta di lapangan membuktikan kebenaran perkataan Ulil tersebut. Tak heran apabila mereka saling mendukung dan membela.
  3. Hal ini semakin memperjelas betapa buruknya wajah Islam Nusantara.
  • Perkataan Ulil Abshar Abdalla, “Dan menganggap mereka bagian sah dari umat Islam.”

Tanggapan:

  1. Ini merupakan legitimasi dan rekomendasi bahwa Syi’ah bukan aliran sesat.
  2. Betapa nekatnya Ulil menabrak fatwa sesat Syi’ah yang dikeluarkan oleh ulama terkemuka umat Islam; al-Imam asy-Sya’bi, al-Imam Sufyan ats-Tsauri, al-Imam Malik, al-Imam asy-Syafi’i, al-Imam Ahmad bin Hanbal, al-Imam al-Bukhari, dan yang lainnya rahimahumullah. Tidakkah Ulil mengerti kapasitas dirinya?!
  3. Faktor penyebab kenekatan Ulil di atas, bisa jadi karena mengekor hawa nafsu, bisa jadi pula karena kebodohannya. Kedua-duanya tercela. Namun, lebih tercela lagi apabila penyebabnya adalah keduanya, yaitu mengekor hawa nafsu ditambah kebodohan.
  4. Jika fatwa ulama terkemuka di atas tidak dia hiraukan, sudah barang tentu fatwa orang yang di bawah mereka pun akan dicampakkan. Wallahul Musta’an.
  • Perkataan Ulil Abshar Abdalla, “Beda dengan Islam Wahabi atau

Tanggapan:

  1. Ini merupakan agresi verbal yang dilancarkan oleh Ulil terhadap pihak yang tak sependapat dengannya. Itu kerap kali terjadi, baik di akun twitternya maupun yang lainnya.
  2. Begitulah “orang-orang” Islam Nusantara. Mereka kerap kali mengangkat tentang etika sosial, keramahan-tamahan, sikap santun, antiradikalisme, cinta damai, dan lain-lain, namun kenyataannya justru merekalah yang kerap berkonfrontasi, mencerca, menghina, dan “menyerang” pihak yang tak disukai melalui media-media yang ada. Justru mereka mendukung kelompok radikal, yaitu Syiah. Fakta dan data di lapangan cukup menjadi bukti.
  3. Islam Wahabi atau simpatisannya memang meyakini bahwa Syi’ah itu sesat, berbeda dengan Islam Nusantara. Lantas, apa yang dipermasalahkan? Bukankah dengan itu berarti Islam Wahabi atau simpatisannya sejalan dengan fatwa para ulama terkemuka di atas? Sungguh, ini suatu kemuliaan, bukan kehinaan.
  4. Islam Wahabi (baca: Dakwah Salafiyah), selalu buruk di mata pegiat-pegiat Islam Nusantara dan konco-konconya. Mereka menjadikan dakwah Salafiyah yang dibawa asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah sebagai musuh bersama. Bahkan, sering kali dijadikan tumbal untuk meraih berbagai kepentingan. Itulah salah satu dari fenomena sosial keberagamaan di Tanah Air kita.

Apabila seseorang mengetahui Islam Wahabi (baca: Dakwah Salafiyah) yang sebenarnya, sungguh tak akan sanggup lisan dan pena mengumpatnya. Untuk mengetahui lebih lanjut, silakan membaca Majalah Asy-Syari’ah, edisi 22, “Konspirasi Meruntuhkan Dakwah Islam”.

  1. Bagi Ulil Abshar, mengkritisi Kitab Suci al-Qur’an saja enteng, apalagi mengkritisi Islam Wahabi!

Simaklah perkataannya berikut ini, “Alkitab memiliki kekuatan yang tak saya temukan di Qur’an, yaitu narasi atau kisah. Di Qur’an, kita jumpai banyak qasas atau kisah. Tetapi kisah-kisah di Qur’an diceritakan tidak secara urut, lengkap, dengan ‘drama’ yang memikat pembaca. Di Alkitab, kisah-kisah tentang bangsa Israel diceritakan dengan cara yang sangat menarik. Saya bisa menyebut bahwa Alkitab mungkin adalah salah satu kitab suci yang terbaik dari segi ‘story telling’.” (Pengalaman Saya Dengan Alkitab-islamlib.com 31/10/2015)

 Said Aqil Siradj

Dalam sambutannya pada peringatan hari Asyura yang diunggah di Youtube, https://youtu.be/bW-S9ch8Slk, pada 14 Desember 2013, dia berkata,

“Nah, kita yang mencintai Ali, kita yang mencintai Rasulillah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mari kita pertahankan ini, keyakinan yang benar ini. Mari kita pertahankan baqiyyah min baqaya al-a’mal ash-shalihah. Sedikit saja amal saleh mari kita pertahankan, yaitu ihya’i Asyura’, ihya’il Arba’in, ihya’i syuhada’i Karbala.

Mari kita hidupkan tragedi Karbala dengan pertemuan seperti ini, syukur-syukur lebih dari ini, syukur-syukur lebih besar lagi.

Mari kita pertahankan shautul haq ini, suara kebenaran, mari kita pertahankan. Nggak apa-apa lah sekarang orang sedikit, insya Allah yang penting harus ada tidak dilupakan, insya Allah lama-kelamaan akan dipahami oleh orang banyak.

Di kalangan NU sendiri masih banyak yang belum paham. Nggak apa-apa maklum belum ngerti, Allahummahdihim fainnahum laa ya’lamuun. Berilah kepengertian kepada orang-orang yang belum paham dengan peringatan Asyura’, peringatan Arba’in.

Ya Allah berilah petunjuk kepada umat Islam warga Nahdhiyyin, pesantren-pesantren yang belum mengerti apa itu yaumu Asyura, apa itu yaumul Arba’in. Maafkan mereka ya Pak, ya. Karena mereka fainnahum laa ya’lamuun karena belum mengerti.

Kata Imam Ali Zainal Abidin, “Alhamdulillah alladzi ja’ala a’da-ana humaqo’.” Alhamdulillah…musuh-musuh saya itu goblok-goblok semua, kira-kira itu gitu. Orang yang dungu-dungu, ahmaq-ahmaq.”

  • Perkataan Said Aqil Siradj, “Nah, kita yang mencintai Ali, kita yang mencintai Rasulillah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mari kita pertahankan ini, keyakinan yang benar ini. Mari kita pertahankan baqiyyah min baqaya al-a’mal ash-shalihah. Sedikit saja amal saleh mari kita pertahankan, yaitu ihya’i Asyura’, ihya’il Arba’in, ihya’i syuhada’i Karbala. Mari kita hidupkan tragedi Karbala dengan pertemuan seperti ini, syukur-syukur lebih dari ini, syukur-syukur lebih besar lagi. Mari kita pertahankan shautul haq ini, suara kebenaran, mari kita pertahankan. Nggak apa-apa lah sekarang orang sedikit, insya Allah yang penting harus ada tidak dilupakan, insya Allah lama-kelamaan akan dipahami oleh orang banyak.”

Tanggapan:

  1. Said Aqil Siradj secara terang-terang membela kegiatan keagamaan Syi’ah, dalam hal ini peringatan hari Asyura untuk mengenang tragedi terbunuhnya Husain bin Ali radhiallahu ‘anhuma di Karbala dan hari Arbain untuk mengenang 40 hari setelah kematian beliau.

Peringatan batil ini berisi ratapan tangis, bahkan adakalanya (di luar Indonesia) sambil melukai diri dengan senjata tajam: pedang, pisau, rantai, dan yang semisalnya. Ini dilakukan oleh laki-laki, wanita, bahkan anak-anak.

Tak seorang pun dari as-Salaf ash-Shalih yang membenarkannya, apalagi melakukannya. Mereka memvonis Syi’ah itu sesat, sebagaimana imam-imam terkemuka di atas, maka bagaimana mungkin mereka melakukan kegiatan keagamaan Syi’ah yang sesat itu?!

  1. Said Aqil Siradj melegitimasi dan merekomendasi kegiatan keagamaan Syi’ah yang batil tersebut dengan beberapa pernyatannya, “keyakinan yang benar”, “baqiyyah min baqaya al-a’mal ash-shalihah”, “shautul haq, suara kebenaran.”

Padahal kegiatan tersebut mungkar, suara kebatilan, dan bukan baqiyyah min baqaya al-a’mal ash-shalihah.

  1. Said Aqil Siradj mengasung kaum Syi’ah agar peringatan hari Asyura, mengenang tragedi terbunuhnya Husain bin Ali radhiallahu ‘anhuma di Karbala dan hari Arbain dipertahankan, tidak dilupakan, dan supaya terus dihidupkan. Bahkan, membesarkan hati mereka manakala orang yang hadir pada kegiatan batil itu berjumlah sedikit.

Tampak sekali kesan bahwa dia ikut memiliki kegiatan keagamaan Syi’ah tersebut. Bukankah ini pertanda kuat bahwa Said Aqil Siradj hatinya dekat dengan kaum Syi’ah?!

  1. Apabila ditarik mundur, ternyata kedekatan Said Aqil Siradj dengan kaum Syi’ah sudah terjalin lama. Terkhusus dengan Negara Iran yang merupakan markas Syi’ah terbesar di dunia saat ini. Setidaknya sejak tahun 2005 (10 tahun yang lalu), ketika dia menjadi Ketua Biro Urusan Kerjasama Beasiswa PBNU untuk Timur Tengah.

Di masa jabatannya itu, untuk pertama kalinya pendaftaran beasiswa program S2 di Iran dibuka. Jurusan yang dapat diambil adalah filsafat dan agama. Adapun universitas tujuan ada beberapa, seperti Universitas Qum. Sebagaimana pula ada model pendidikan ala pesantren yang dipromosikan lebih bagus kualitasnya. (m.nu.or.id, 15/4/2005)

  • Perkataan Said Aqil Siradj, “Di kalangan NU sendiri masih banyak yang belum paham. Nggak apa-apa maklum belum ngerti, Allahummahdihim fainnahum laa ya’lamuun. Berilah kepengertian kepada orang-orang yang belum paham dengan peringatan Asyura’, peringatan Arba’in.

Ya Allah berilah petunjuk kepada umat Islam warga Nahdhiyyin, pesantren-pesantren yang belum mengerti apa itu yaumu Asyura, apa itu yaumul Arba’in. Maafkan mereka ya Pak, ya..karena mereka fainnahum laa ya’lamuun karena belum mengerti.

Kata Imam Ali Zainal Abidin, “Alhamdulillah alladzi ja’ala a’da-ana humaqo’.” Alhamdulillah… musuh-musuh saya itu goblok-goblok semua, kira-kira itu gitu. Orang yang dungu-dungu, ahmaq-ahmaq.”

Tanggapan:

  1. Said Aqil Siradj berkesimpulan bahwa umat Islam, terkhusus warga Nahdhiyyin dan pesantren-pesantren yang tidak mengikuti atau menolak kegiatan keagamaan kaum Syi’ah yaumu Asyura dan yaumul Arba’in, sebagai orang-orang yang belum mengerti, goblok-goblok, dungu-dungu, dan ahmaq-ahmaq. Maka dari itu, perlu didoakan, Allahummahdihim fainnahum laa ya’lamuun. Ya Allah berilah petunjuk kepada Umat Islam, maklum mereka belum mengerti.

Silakan pembaca yang menilai, apakah itu merangkul atau memukul? Membina atau menghina? Memakai hati atau memaki-maki?

  1. Jika Said Aqil Siradj menyebutkan perkataan Imam Ali Zainal Abidin yang mendiskreditkan kaum Sunni, maka Imam Ali Zainal Abidin juga pernah berkata tentang Syi’ah sebagai berikut, “Mereka (Syi’ah) bukan dari kami, dan kami pun bukan dari mereka.” (Lihat Rijalul Kisysyi, hlm. 111, dinukil dari asy-Syi’ah Wa Ahlul Bait karya Dr. Ihsan Ilahi Zhahir, hlm. 303)
  2. Jika Said Aqil Siradj menyebutkan perkataan al-Imam Ali Zainal Abidin bahwa musuh-musuhnya (baca: Sunni) humaqa’ yaitu goblok-goblok, dungu-dungu, dan ahmaq-ahmaq, al-Imam Muhammad al-Baqir yang juga diklaim sebagai imam oleh Syi’ah berkata, “Seandainya semua manusia ini Syi’ah, niscaya tiga perempatnya adalah orang-orang yang ragu dengan kami, dan seperempatnya adalah orang-orang dungu.” (Lihat Rijalul Kisysyi, hlm. 179, dinukil dari asy-Syi’ah Wa Ahlul Bait karya Dr. Ihsan Ilahi Zhahir, hlm. 303)

Dari sini, dapat diambil kesimpulan bahwa Islam Nusantara tak bisa dipisahkan dari Syi’ah, sebagaimana tak bisa dipisahkan dari Islam Liberal. Mereka adalah satu kesatuan yang sulit dipisahkan: Jaringan Islam Liberal-Islam Nusantara-Syi’ah (JIS).

Setelah penjelasan ini, para pembaca tentu tidak tidak kesulitan lagi menjawab pertanyaan pada judul artikel ini, “Islam Nusantara Pro Syi’ah?”

Sebagai penutup, simaklah kembali mutiara kata Al-Imam Abu Zur’ah ar-Razi rahimahullah berikut ini, semoga menjadi pelengkap jawaban untuk pertanyaan di atas.

“Jika Anda melihat orang yang mencela salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketahuilah bahwa ia zindiq (seorang yang menampakkan keislaman dan menyembunyikan kekafiran). Sebab, bagi kita Rasul adalah haq dan al-Qur’an adalah haq. Sesungguhnya yang menyampaikan al-Qur’an dan as-Sunnah adalah para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka (kaum Syi’ah, -pen.) mencela para saksi kita (para sahabat) dengan tujuan untuk meniadakan al-Qur’an dan as-Sunnah. Mereka lebih pantas untuk dicela dan mereka adalah zanadiqah.” (al-Kifayah karya al-Khathib al-Baghdadi, hlm. 49)

Ditulis oleh al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi, Lc.

[1] Untuk mengetahui kemulian sahabat dan pembelaan terhadap mereka, silakan membaca Majalah Asy-Syari’ah Vol. II/No. 17 “Membela Kemuliaan Sahabat Nabi” dan Majalah Asy-Syari’ah Vol. VII/No. 78 “Sahabat Nabi Dihujat, Pembelaan Terhadap Mu’awiyah.”

[2] Lebih dari itu, mereka menjadikan Abu Lu’lu’ al-Majusi, si pembunuh Khalifah Umar bin al-Khaththab, sebagai pahlawan yang bergelar “Baba Syuja’uddin” (seorang pemberani dalam membela agama). Bahkan, hari kematian Umar dijadikan sebagai hari “Idul Akbar”, hari kebanggaan, hari kemuliaan dan kesucian, hari berkah, serta hari suka ria. (al-Khuthuth al-‘Aridhah, hlm. 18)

[3] – Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu berdoa, “Ya Allah, aku telah bosan dengan mereka (Syi’ah) dan mereka pun telah bosan denganku. Gantikanlah untukku orang-orang yang lebih baik dari mereka, dan gantikan untuk mereka seorang yang lebih jelek dariku mereka seorang yang lebih jelek dariku….” (Nahjul Balaghah, hlm. 66—67, dinukil dari asy-Syi’ah wa Ahlul Bait karya Dr. Ihsan Ilahi Zhahir, hlm. 300)

– Sahabat Hasan bin Ali radhiallahu ‘anhu berkata, “Demi Allah! Menurutku Mu’awiyah lebih baik daripada orang-orang yang mengaku sebagai Syi’ah-ku. Mereka berupaya membunuhku dan mengambil hartaku.” (al-Ihtijaj, karya ath-Thabrisi hlm. 148, dinukil dari asy-Syi’ah wa Ahlul Bait karya Dr. Ihsan Ilahi Zhahir, hlm. 300)

– Sahabat Husain bin Ali radhiallahu ‘anhu berdoa, “Ya Allah, jika Engkau memberi mereka (Syi’ah) kehidupan hingga saat ini, porak-porandakan mereka dan jadikan mereka berkeping-keping. Janganlah Engkau jadikan para pemimpin (yang ada) ridha kepada mereka (Syi’ah) selama-lamanya. Sebab, kami diminta membantu mereka, namun akhirnya mereka justru memusuhi kami dan menjadi sebab kami terbunuh.” (al-Irsyad, karya al-Mufid hlm. 341, dinukil dari asy-Syi’ah wa Ahlul Bait karya Dr. Ihsan Ilahi Zhahir, hlm. 302)

[4] Untuk lebih rinci, silakan membaca al-Bidayah wan Nihayah karya al-Imam Ibnu Katsir, 13/200—211, Tarikhul Islam wa Wafayatul Masyahir wal A’lam karya al-Imam adz-Dzahabi 48/33—40, dan Tarikhul Khulafa’ karya al-Imam as-Suyuthi, hlm. 325—335

Yahudi dan Nasrani dalam Perspektif Islam Nusantara

Judul di atas mungkin membuat heran sebagian orang. Pasalnya, setiap muslim sejati pasti meyakini kebatilan agama Yahudi dan Nasrani. Dalam sanubarinya terpatri hanya Islamlah satu-satu agama yang diridhai Allah subhanahu wa ta’ala. Islam yang mana? Tentu, Islam yang dibawa Nabi Besar Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّ ٱلدِّينَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلۡإِسۡلَٰمُۗ

“Sesungguhnya agama (yangdiridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (Ali Imran: 19)

وَمَن يَبۡتَغِ غَيۡرَ ٱلۡإِسۡلَٰمِ دِينٗا فَلَن يُقۡبَلَ مِنۡهُ وَهُوَ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ ٨٥

“Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.” (Ali Imran: 85)

Amat banyak dalil dari al-Qur’an dan as-Sunnah yang menjelaskan kebatilan agama Yahudi dan Nasrani baik darisisi tauhid, ibadah, maupun muamalah. Mengingat orang-orang Yahudi dan Nasrani sangat getol menjajakan kebatilan dan kesesatannya maka Allah subhanahu wa ta’ala memperingatkan umat Islam dari makar mereka. Firman-Nya subhanahu wa ta’ala,

        وَلَن تَرۡضَىٰ عَنكَ ٱلۡيَهُودُ وَلَا ٱلنَّصَٰرَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمۡۗ قُلۡ إِنَّ هُدَى ٱللَّهِ هُوَ ٱلۡهُدَىٰۗ وَلَئِنِ ٱتَّبَعۡتَ أَهۡوَآءَهُم بَعۡدَ ٱلَّذِي جَآءَكَ مِنَ ٱلۡعِلۡمِ مَا لَكَ مِنَ ٱللَّهِ مِن وَلِيّٖ وَلَا نَصِيرٍ ١٢٠

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah, ‘Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar).’ Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (al-Baqarah: 120)

وَدَّت طَّآئِفَةٞ مِّنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ لَوۡ يُضِلُّونَكُمۡ وَمَا يُضِلُّونَ إِلَّآ أَنفُسَهُمۡ وَمَا يَشۡعُرُونَ ٦٩ يَٰٓأَهۡلَ ٱلۡكِتَٰبِ لِمَ تَكۡفُرُونَ بِ‍َٔايَٰتِ ٱللَّهِ وَأَنتُمۡ تَشۡهَدُونَ ٧٠

“Segolongan dari ahli kitab ingin menyesatkan kalian, padahal mereka (sebenarnya) tidak menyesatkan melainkan dirinya sendiri, dan mereka tidak menyadarinya. Hai ahli Kitab, mengapa kalian mengingkari ayatayat Allah, padahal kalian mengetahui (kebenarannya).” (Ali Imran: 69—70)

Berbeda halnya dengan Islam Nusantara. Justru sikap “toleransi” yang lebih dikedepankan. Seakan ayat-ayat peringatan itu berlalu begitu saja. Tak mengherankan apabila di antara pegiat sejatinya ada yang berposisi sebagai penasihat Perhimpunan Mahasiswa Katholik Republik Indonesia (PMKRI).

Bagaimanakah sejatinya sikap mereka terhadap agama Yahudi dan Nasrani? Simaklah pernyataan berikut ini.

  • Ulil Abshar Abdalla berkata, “Semua agama sama. Semuanya menuju jalan kebenaran.” (Gatra, 21 Desember 2002)

“Bagi saya Yahudi, Kristen, Islam adalah agama tauhid. Tetapi tauhid dengan versi yang berbeda-beda.” (icrponline.org)

  • Said Aqi Siradj berkata, “Agama yang membawa misi tauhid adalah Yahudi, Nasrani, dan Islam. Ketiga agama tersebut datang dari Tuhan melalui nabi dan rasul pilihan. Yahudi diturunkan melalui Musa, Nasrani diturunkan melalui Isa, dan Islam diturunkan melalui Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kedekatan ketiga agama samawi yang sampai saat ini dianut manusia semakin tampak jika dilihat dari genealogi ketiga utusan (Musa, Isa, Muhammad) yang bertemu pada Ibrahim. Ketiga agama tersebut mengakui Ibrahim sebagai the Founding Father’s bagi agama tauhid. Jadi, ketiga agama tersebut sama-sama memiliki komitmen untuk menegakkan kalimat tauhid….” (Menuju Dialog Teologis Kristen Islam karya Bambang Noorsena)

Terkait Kristen Ortodoks Syria (KOS), Said Aqil Siradj berkata, “Dari ketiga macam tauhid di atas (tauhid al-rububiyyah, tauhid al-uluhiyyah dan tauhid asma’ wa shifat), maka tauhid Kanisah Ortodoks Syria jelas mengakui bahwa Allah adalah Tuhan sekalian alam yang wajib disembah. Secara al-uluhiyyah, ia juga mengikrarkan Laa ilaaha illallah, “Tiada tuhan (ilah) selain Allah”, sebagai ungkapan ketauhidannya. Sementara dari sisi tauhid sifat dan asma Allah, secara substansial tidak jauh berbeda. Hanya ada perbedaan sedikit tentang sifat dan asma Allah tersebut…

Walhasil, keyakinan Kristen Ortodoks Syria dengan Islam (Sunni) walaupun berbeda dalam hal peribadatan (syariah), pada hakikatnya memiliki persamaan yang sangat substansial dalam bidang tauhid.” (Menuju Dialog Teologis Kristen Islam karya Bambang Noorsena, hlm. 165)

Dari pernyataan-pernyataan di atas dapat diambil beberapa kesimpulan tentang pandangan mereka, antara lain:

  1. Semua agama sama. Semuanya menuju jalan kebenaran.
  2. Yahudi, Nasrani, dan Islam adalah agama tauhid.
  3. Ketiga agama tersebut sama-sama memiliki komitmen untuk menegakkan kalimat tauhid.
  4. Ketiga agama tersebut mengakui Ibrahim sebagai the Founding Father bagi agama tauhid.
  5. Kristen Ortodoks Syria dengan Islam (Sunni) walaupun berbeda dalam hal peribadatan (syari’ah), pada hakikatnya memiliki persamaan yang sangat substansial dalam bidang tauhid.

Para pembaca yang semoga dirahmati Allah subhanahu wa ta’ala, apakah semua agama sama, dan semuanya menuju jalan kebenaran?

Kalau yang dimaksud adalah sebagaimana yang diturunkan pada setiap rasul, sebelum terjadinya penyimpangan dan penyelewengan pada agama-agama tersebut, termasuk Yahudi dan Nasrani, pernyataan di atas dapat dibenarkan dalam hal tauhid.

Namun, tidaklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus ke muka bumi ini melainkan setelah terjadinya penyimpangan dan penyelewengan pada kedua agama tersebut, baik dalam masalah tauhid, pengubahan kitab suci, maupun yang lainnya.

Allah subhanahu wa ta’ala mengutus Nabi Besar Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk membawa Islam kepada segenap umat manusia sebagai satu-satunya agama yang benar sekaligus menggantikan semua agama yang ada kala itu dalam semua aspek keberagamaan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

هُوَ ٱلَّذِيٓ أَرۡسَلَ رَسُولَهُۥ بِٱلۡهُدَىٰ وَدِينِ ٱلۡحَقِّ لِيُظۡهِرَهُۥ عَلَى ٱلدِّينِ كُلِّهِۦ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡمُشۡرِكُونَ ٩

“Dialah (Allah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan (membawa) petunjuk dan agama yang benar, agar Allah memenangkan agama tersebut atas semua agama yang ada, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukainya.” (ash-Shaf: 9)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلَا نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah mendengar tentangku seseorang dari umat ini dari kalangan Yahudi atau Nasrani kemudian meninggal dunia dalam keadaan belum beriman terhadap agama yang aku diutus dengannya, melainkan dia tergolong dari penduduk neraka.” (HR . Muslim no. 218, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Tak mengherankan, pada 6 H, tepatnya setelah Perundingan Hudaibiyah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggencarkan dakwah kepada mereka. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajak mereka kepada Islam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melayangkan surat kepada Raja Romawi Heraclius yang beragama Kristen, mengajaknya dan segenap rakyat Romawi kepada Islam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga melayangkan surat kepada raja-raja besar dunia lainnya; Persia dan Mesir, mengajak mereka semua kepada Islam.

Adapun Yahudi, sudah terlebih dahulu diajak kepada Islam, karena memang mereka hidup berdampingan di Kota Madinah. Namun, Yahudi menentang keras ajakan tersebut, bahkan menyeret kaum muslimin kepada pertempuran fisik. Tak urung, meletuslah pertempuran dengan Yahudi Bani Qainuqa’, Yahudi Bani Quraizhah, dan Yahudi Bani Nadhir di waktu yang berbeda-beda. Mereka semua porak-poranda dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala.

Pada awal tahun 8 H meletus pertempuran dahsyat melawan Kerajaan Romawi di Mu’tah. Gugur sebagai syahid tiga orang panglima umat Islam: Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abi Thalib, dan Abdullah bin Rawahah radhiallahu ‘anhum. Pasukan pun berhasil dikendalikan oleh Panglima Besar Khalid bin al-Walid radhiallahu ‘anhu.

Pada tahun 9 H, berdasarkan informasi intelijen yang valid, diketahui bahwa Kerajaan Romawi sedang mempersiapkan pasukan besar untuk menyerang Kota Madinah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengumpulkan para sahabat agar mempersiapkan segala sesuatunya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertindak langsung sebagai Panglima Perang. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam membawa pasukan Islam menuju wilayah Tabuk, guna menyongsong kedatangan pasukan Romawi di wilayah tersebut.

Mendengar pasukan Islam sudah siap menyongsong di Tabuk, kegentaran pun menghantui pasukan Romawi. Akhirnya, mereka urungkan operasi yang telah dirancang secara matang itu.

Pada tahun 11 H, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyiapkan pasukan besar untuk menggempur salah satu wilayah strategis Kerajaan Romawi di Syam dan menunjuk Usamah bin Zaid radhiallahu ‘anhuma sebagai panglima perangnya. Pasukan bergerak sampai di wilayah Jurf, hingga terdengar berita kematian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Abu Bakr ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu selaku khalifah pertama yang menggantikan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, melanjutkan misi mulia itu dan berhasil meraih target yang diinginkan.

Episode ini terus berlanjut, hingga berkecamuk perang terdahsyat dalam sejarah perang Islam-Romawi di wilayah Yarmuk pada akhir masa kekhalifahan Abu Bakr ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu dan awal masa kekhalifahan Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu. Kemenangan akhir pun berada di tangan pasukan Islam. Dengan itu, runtuhlah Kerajaan Romawi yang telah menguasai belahan dunia bagian barat selama berabad-abad.

Sekiranya agama Yahudi dan Nasrani masih terhitung di atas tauhid dan memiliki komitmen untuk menegakkan kalimat Tauhid setelah kedatangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, niscaya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak lagi mengajak mereka kepada Islam dan tidak akan terjadi pula episode pertempuran yang memakan waktu panjang.

Adapun klaim Yahudi dan Nasrani bahwa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam adalah the founding fathers (pendiri) dari agama (baca: tauhid) mereka, Allah subhanahu wa ta’ala telah mendustakan klaim tersebut di satu sisi, dan di sisi yang lain meneguhkan agama Islam yang dibawa Nabi Besar Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

مَا كَانَ إِبۡرَٰهِيمُ يَهُودِيّٗا وَلَا نَصۡرَانِيّٗا وَلَٰكِن كَانَ حَنِيفٗا مُّسۡلِمٗا وَمَا كَانَ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ٦٧ إِنَّ أَوۡلَى ٱلنَّاسِ بِإِبۡرَٰهِيمَ لَلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُ وَهَٰذَا ٱلنَّبِيُّ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْۗ وَٱللَّهُ وَلِيُّ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ٦٨

“Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, melainkan seorang yang lurus (jauh dari syirik) lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.

Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), beserta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah pelindung semua orang-orang yang beriman.” (Ali Imran: 67)

Adapun pernyataan bahwa Kristen Ortodoks Syria dengan Islam (Sunni) walaupun berbeda dalam hal peribadatan (syariah), pada hakikatnya memiliki persamaan yang sangat substansial dalam bidang tauhid. Jadi, pernyataan tersebut tidak dapat dibenarkan. Ia justru sebuah penyimpangan yang nyata.

Kristen Ortodoks Syria meyakini bahwa Tuhan mereka adalah Isa al-Masih. Berbeda halnya dengan Islam, Isa al-Masih tidak lain adalah hamba Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya.

Apabila dikatakan bahwa Kristen Ortodoks Syria mengikrarkan Laa ilaaha illallah, “Tiada tuhan (ilah) selain Allah,” ketahuilah bahwa yang dimaksud dengan Allah menurut mereka adalah Isa al-Masih.

Berbeda halnya dengan Islam, manakala mengikrarkan Laa ilaaha illallah, yang dimaksud dengan Allah adalah Allah yang menciptakan Isa al-Masih. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

ذَٰلِكَ عِيسَى ٱبۡنُ مَرۡيَمَۖ قَوۡلَ ٱلۡحَقِّ ٱلَّذِي فِيهِ يَمۡتَرُونَ ٣٤ مَا كَانَ لِلَّهِ أَن يَتَّخِذَ مِن وَلَدٖۖ سُبۡحَٰنَهُۥٓۚ إِذَا قَضَىٰٓ أَمۡرٗا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ ٣٥ وَإِنَّ ٱللَّهَ رَبِّي وَرَبُّكُمۡ فَٱعۡبُدُوهُۚ هَٰذَا صِرَٰطٞ مُّسۡتَقِيمٞ ٣٦

“Itulah Isa putra Maryam, yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya. Tidak layak bagi Allah mempunyai anak, Mahasuci Dia. Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya, “Jadilah,” maka jadilah ia. Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu, maka beribadahlah kalian semua hanya kepada-Nya. Ini adalah jalan yang lurus.” (Maryam: 34—36)

Kristen Ortodoks Syria meyakini bahwa Maryam adalah walidatul ilah (Bunda Tuhan). Berarti, Tuhan diperanakkan. Berbeda halnya dengan Islam yang meyakini bahwa Allah tidak beranak dan tidak pula diperanakkan.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

لَمۡ يَلِدۡ وَلَمۡ يُولَدۡ ٣

“Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan.” (al-Ikhlas: 3)

Demikian gamblangnya perbedaan antara Kristen Ortodoks Syria dan Islam dalam substansial tauhid. Kristen Ortodoks Syria menjadikan Isa al-Masih sebagai Rabb yang diibadahi (baca: syirik), sedangkan Islam menjadikan Allah subhanahu wa ta’ala (bukan Isa al-Masih, melainkan yang menciptakan Isa al-Masih) sebagai satu-satu-Nya Dzat yang dibadahi (baca: tauhid). Janganlah Anda tertipu oleh orang-orang yang menyamakan keduanya.

Akhir kata, demikianlah sajian pencerahan Islam yang dapat kami sampaikan, semoga menjadi pelita dalam kegelapan dan embun penyejuk bagi pencari kebenaran.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Ditulis oleh al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi, Lc.

Islam Nusantara dan Kultur Budaya

Indonesia tergolong negara yang besar. Wilayahnya terbentang lebar dari Sabang sampai Merauke. Lautannya amat luas, sepadan dengan kepulauannya yang amat banyak berjajar. Itu artinya, betapa banyak jumlah penduduknya dan betapa banyak pula kultur budaya yang dimilikinya. Kemajemukan masyarakat dan kultur budaya inilah salah satu keunikan Indonesia.

Dalam pandangan Islam, kultur budaya tak bisa dipisahkan dari kehidupan seorang muslim. Di mana pun seorang muslim hidup, pasti bersentuhan dengan kultur budaya setempat. Islam amat bijak. Islam tidak memberangus budaya secara total, sebagaimana pula tidak melestarikannya secara total.

Islam datang memilah dan memilih budaya. Yang sesuai dengan norma-norma syariat, dijaga dan dihormati. Sedangkan yang tidak sesuai dengan norma-norma syariat, ditinggalkan dan tidak digandholi (bhs jawa: dipegangi).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam momentum Hajjatul Wada’,

أَلَا كُلُّ شَيْءٍ مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ تَحْتَ قَدَمَيَّ مَوْضُوعٌ

“Ingatlah, segala sesuatu dari perilaku jahiliah terhinakan di bawah kedua telapak kakiku ini.” (HR. Muslim no. 2137, dari Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhuma)

Itulah islamisasi, bukan asimilasi. Itulah akurasi, bukan akulturasi.

Bagaimanakah halnya dengan Islam Nusantara? Islam Nusantara amat memerhatikan kultur budaya atau kearifan lokal. Bahkan, sisi inilah yang menjadi salah satu ikonnya yang paling terkenal. Walaupun kalau ditarik ke belakang, sesungguhnya tak beda jauh dengan jargon kaum liberaris: Human Right, Freedom, and Local Wisdom (HAM, Kebebasan, dan Kearifan Lokal).

Said Aqil Siradj, seorang pegiat sejati Islam Nusantara berkata, “Islam Nusantara adalah gabungan nilai Islam teologis dengan nilai-nilai tradisi lokal, budaya, dan adat istiadat di Tanah Air. Ini bukan barang baru di Indonesia.” (m.republika.co.id. Selasa 9/3/2015)

Dalam kesempatan lain dia berkata, “Islam Nusantara adalah Islam dengan cara pendekatan budaya, tidak menggunakan doktrin yang kaku dan keras. Islam Nusantara ini didakwahkan merangkul budaya, melestarikan budaya, menghormati budaya, tidak malah memberangus budaya. Berbeda dengan Islam Arab yang selalu konflik dengan sesama Islam dan perang saudara.”

(http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/06/150614_indonesia_islam-nusantara)

Para pembaca yang semoga diberkahi Allah tabaraka wa ta’ala. Sejauh manakah aplikasi dari perkataan Said Aqil Siradj, “…merangkul budaya, melestarikan budaya, menghormati budaya, tidak malah memberangus budaya?” Berikut ini penjelasannya.

Menurut Said Aqil Siradj, pada zaman Wali Songo, perpaduan tradisi lokal dengan ajaran Islam mulai dikembangkan. Salah satu contohnya adalah tradisi sesajen yang dulu dianut oleh nenek moyang Indonesia dari ajaran Hindu-Budha.

Akan tetapi, oleh para Wali Songo, sesajen ditransformasikan menjadi tradisi selametan. Bila sesajen awalnya diniatkan mempersembahkan makanan kepada roh-roh gaib, namun dalam tradisi selametan, makanan justru diberikan kepada seluruh umat Islam untuk kemudian diminta mendoakan pihak yang mengadakan selametan.

Jadi tradisi sesajen, diganti dengan selametan. Sesajen kan untuk usir roh jahat. Kalau selametan, masyarakat diajak makan bersama, untuk kemudian minta mendoakan agar yang mengadakan selametan ini selamat dunia akhirat. (m.republika.co.id 9/3/2015)

Kalau kita perhatikan penjelasan Said Aqil Siradj di atas, sungguh mirip dengan penjelasan salah satu pegiat liberalisme di Tanah Air ini, Abdul Moqsith Ghazali. Berikut ini pernyataannya tentang sesajen dan nadran.

“Tradisi sesajen yang sudah

berlangsung lama dibiarkan berjalan untuk selanjutnya diberi makna baru. Sesajen dimaknai sebagai bentuk kepedulian kepada sesama bukan sebagai pemberian terhadap dewa. Begitu juga tradisi nadran dengan mengalirkan satu kerbau ke pantai Jawa tak dihancurkan, melainkan diubahnya hanya dengan membuang kepala kerbau atau kepala sapi ke laut.” (Dakwah Islam Nusantara, islamlib.com)

Ini semakin menguatkan adanya benang merah antara Islam Liberal dengan Islam Nusantara, sebagaimana telah dibahas pada artikel Kajian Utama sebelumnya. Peleburan (asimilasi) antara agama dengan budaya merupakan salah satu noktah tebal yang mempertemukan ide, visi, dan misi mereka.

Dahulu, pada tahun 1980-an peleburan (asimilasi) antara agama dengan budaya pernah muncul dengan istilah “Pribumisasi Islam” oleh Gus Dur. Disusul dengan istilah “Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam” oleh Ulil Abshar Abdalla. Kini dengan istilah “Islam Nusantara” oleh Said Aqil Siradj dan kawan-kawan.

Tampaknya istilah Islam Nusantara ini lebih menarik untuk dijadikan gerbong bersama. Mungkin karena lebih familiar dan lebih mengikat emosional elemen anak bangsa. Tiga kekuatan inilah yang paling berambisi meneguhkan Islam Nusantara; Gusdurian, para pengikut Said Aqil Siradj (sebagai catatan, tidak sedikit para tokoh NU yang mengingkarinya), dan Jaringan Islam Liberal (JIL) atau orang-orang berpaham liberal yang bukan dari JIL.

Para pembaca yang semoga dirahmati Allah ‘azza wa jalla… Merupakan satu kata sepakat bahwa Indonesia dahulu tidak mengenal Islam. Masyarakatnya hidup dalam kultur budaya animisme[1] dan dinamisme.[2] Keyakinan Hindu-Budha cukup dominan dalam kehidupan beragama mereka. Peninggalan-peninggalan kuno seperti candi dan prasasti merupakan salah satu bukti terkuatnya. Lebih dari itu, sejarah telah mencatatnya. Demikianlah kira-kira gambaran global tentang kultur budaya masyarakat Indonesia tempo dulu.

Kemudian datanglah Islam ke bumi persada, dibawa oleh para da’i (pendakwah) yang berasal dari bangsa Arab. Melalui jalur Gujarat dan Champa mereka datang. Berawal dari interaksi dagang berlanjut pada perkawinan, mereka dapat berdakwah dan membaur di tengah-tengah masyarakat.

Berkat kemudahan dari Allah subhanahu wa ta’ala kemudian keluhuran budi pekerti mereka, dakwah Islam dapat diterima oleh individu-individu masyarakat. Tak ketinggalan pula para keluarga kerajaan yang notabene Hindu-Budha. Proses dakwah secara damai dan alami berjalan dengan lancar, hingga akhirnya dapat mengislamkan mayoritas penduduk negeri.

Hal penting yang patut dicatat, bahwa proses islamisasi manusia Hindu-Budha oleh para da’i (pendakwah) pelopor penyebaran Islam di Indonesia hingga menjadi insan muslim dalam jumlah yang besar, merupakan nikmat Allah subhanahu wa ta’ala yang patut disyukuri.

Selain itu, menurut hemat kami, para da’i (pendakwah) pelopor penyebaran Islam di Indonesia, pada awal masa dakwahnya tak bisa menghindar total dari gesekan-gesekan budaya jahiliah masyarakat dominan Hindu-Budha kala itu, sehingga perubahan pun dilakukan dengan perlahan dan bertahap. Mereka menempuh strategi akulturasi budaya, dengan maksud agar masyarakat Indonesia yang awalnya memang beragama Hindu-Budha dapat lebih mudah menerima ajaran Islam. Namun, strategi dakwah tersebut, tentu tidak berhenti sampai di situ. Masih diperlukan proses penyempurnaan (baca: pemurnian) sebagai kelanjutan dari proses dakwah yang telah dilakukan kala itu.

Alhamdulillah, kini mayoritas penduduk negeri ini telah beragama Islam. Sudah lepas dari “kungkungan” tradisi Hindu-Budha. Untuk menghindar dari gesekan-gesekan budaya jahiliah ala mereka pun tak serumit dulu. Terlebih berbagai fasilitas modern di zaman ini sangat mendukung untuk berkemajuan mendalami agama Islam dan menjalaninya semaksimal kemampuan.

Lantas, mengapa kita harus mundur ke belakang, mempertahankan kisi-kisi lama sejarah yang masih membutuhkan penyempurnaan atau pemurnian itu, sebagaimana yang digagas Islam Nusantara?! Bukankah lebih baik bagi kita menata kembali kehidupan beragama yang lebih sempurna (baca: murni) dan terlepas dari ikatan buhul-buhul budaya Hindu-Budha?!

Tentu, dengan cara berpijak di atas al-Qur’an dan as-Sunnah dengan pemahaman Salaful Ummah.

Para pembaca yang semoga diridhai Allah ‘azza wa jalla… Apabila kita mengkaji sirah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat yang mulia, akan terasa segar pemahaman Islam kita. Semua aspek kehidupan akan cerah dan terang. Termasuk dalam aspek kultur budaya atau kearifan lokal ini.

Mengingat, kondisi masyarakat Indonesia pasca kedatangan Islam pada pertama kalinya, tak jauh berbeda dengan kondisi masyarakat Makkah pasca kedatangan Islam yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Di masa jahiliah, masyarakat Makkah amat mengagungkan berhala-berhala mereka, bahkan menyembahnya. Memberikan sesajen kepada berhala, merupakan acara adat dan tradisi sakral yang diwarisi turun-temurun dari nenek moyang mereka. Saat terjadi penaklukan Kota Makkah (Fathu Makkah) pada 8 H, masyarakat Makkah masuk ke dalam Islam berbondong-bondong.

Dari sini muncul pertanyaan, “Apakah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membiarkan berhala-berhala itu dengan alasan karena mereka baru masuk Islam, atau mentransformasikan menjadi monumen-monumen?”

Tidak. Ternyata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membiarkan berhala-berhala itu dan tidak pula mentransformasikan menjadi monumen-monumen.

Justru Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menghancurkan berhala-berhala yang mengelilingi Ka’bah dengan tangan beliau yang mulia. Jumlahnya 360 berhala, bukan main banyaknya. Lebih dari itu, beliau memerintah tiga orang sahabat untuk menghancurkan tiga berhala terkemuka di kalangan kaum musyrikin.

Ali bin Thalib radhiallahu ‘anhu diperintah untuk menghancurkan berhala Manat yang berada di daerah Qudaid (antara Makkah dan Madinah). Khalid bin al-Walid radhiallahu ‘anhu diperintah untuk menghancurkan berhala Uzza yang berada di daerah Nakhlah (antara Makkah dan Thaif). Berikutnya, al-Mughirah bin Syu’bah radhiallahu ‘anhu diperintah untuk menghancurkan berhala Laata yang berada di daerah Thaif. (ar-Rahiq al-Makhtum, hlm. 383 dan Fathul Majid, hlm. 155—157)

Pertanyaan berikutnya, “Apakah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mentransformasikan sesajen yang merupakan acara adat dan tradisi sakral yang diwarisi turun-temurun dari nenek moyang kaum musyrikin tersebut menjadi selametan?”

Tidak. Ternyata beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melakukannya.

Apakah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengeluarkan kebijakan agar unta-unta sesajen yang awalnya dipersembahkan kepada berhala, disembelih dan dibagi-bagikan kepada masyarakat pada acara selametan, untuk kemudian diminta mendoakan agar pihak yang mengadakan selametan itu selamat dunia akhirat?

Ternyata beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melakukannya. Demikian pula para sahabat beliau yang mulia. Padahal tradisi sejajen itu sudah mendarah daging dan menjadi bagian dari kehidupan mereka. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

مَا جَعَلَ ٱللَّهُ مِنۢ بَحِيرَةٖ وَلَا سَآئِبَةٖ وَلَا وَصِيلَةٖ وَلَا حَامٖ وَلَٰكِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ يَفۡتَرُونَ عَلَى ٱللَّهِ ٱلۡكَذِبَۖ وَأَكۡثَرُهُمۡ لَا يَعۡقِلُونَ ١٠٣ وَإِذَا قِيلَ لَهُمۡ تَعَالَوۡاْ إِلَىٰ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ وَإِلَى ٱلرَّسُولِ قَالُواْ حَسۡبُنَا مَا وَجَدۡنَا عَلَيۡهِ ءَابَآءَنَآۚ أَوَلَوۡ كَانَ ءَابَآؤُهُمۡ لَا يَعۡلَمُونَ شَيۡ‍ٔٗا وَلَا يَهۡتَدُونَ ١٠٤

“Allah sekali-kali tidak pernah mensyariatkan adanya bahirah, saibah, washilah, dan ham. Akan tetapi orang-orang kafir membuat-buat kedustaan terhadap Allah, dan kebanyakan mereka tidak mengerti.

Apabila dikatakan kepada mereka, ‘Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul.’ Mereka menjawab, ‘Cukuplah bagi kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya.’ Dan, apakah mereka itu akan mengikuti nenek-moyang mereka walaupun nenek-moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?!” (al-Maidah: 103—104)

Disebutkan dalam Shahih al-Bukhari (no. 4257),

  • Bahirah ialah unta betina yang air susunya tidak boleh diperah oleh seorang pun karena dikhususkan untuk sesajen berhala-berhala mereka saja.
  • Saibah ialah unta betina yang dibiarkan bebas pergi ke mana saja demi berhala-berhala mereka, tidak boleh seorang pun mempekerjakannya serta memberinya muatan apa pun.
  • Washilah ialah unta betina yang dilahirkan oleh induknya sebagai anak pertama, kemudian anak keduanya betina pula, jika antara anak yang pertama dan yang kedua tidak diselingi dengan unta jenis jantan. Mereka menjadikannya sebagai unta saibah, dibiarkan bebas untuk berhala-berhala mereka.
  • Ham ialah unta pejantan yang berhasil membuntingi beberapa ekor unta betina dalam jumlah tertentu. Apabila telah mencapai bilangan yang ditargetkan, mereka membiarkannya hidup bebas dan membebaskannya dari semua pekerjaan, tidak lagi dibebani apa pun, dan mereka menamakannya al-hami.

Apakah dengan itu, bisa dikatakan bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat yang mulia memberangus budaya? Jawabannya, “Tentu tidak bisa.”

Apakah dengan itu, bisa dikatakan bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat yang mulia sangat tekstual dan tidak kontekstual? Jawabannya, “Tentu tidak bisa. Bahkan, itulah contoh kontekstual yang tepat.”

Ada satu hal mendasar yang patut diperhatikan bersama, bahwa teladan kita semua dalam seluruh aspek kehidupan beragama baik akidah, ibadah, akhlak, muamalah, dan dakwah adalah Nabi Besar Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Siapapun selain beliau dari kalangan umat ini harus tunduk kepada bimbingan dan keteladanan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

لَّقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِي رَسُولِ ٱللَّهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ لِّمَن كَانَ يَرۡجُواْ ٱللَّهَ وَٱلۡيَوۡمَ ٱلۡأٓخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرٗا ٢١

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (al-Ahzab: 21)

Para pembaca yang semoga dimuliakan Allah ‘azza wa jalla

Keteladanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menyikapi berbagai budaya jahiliah benar-benar mewarnai para sahabat beliau yang mulia.

Disebutkan dalam Shahih al-Bukhari (no. 4136), Ashim bin Sulaiman berkata, “Aku bertanya kepada Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu tentang Shafa dan Marwah (sa’i padanya, -pen.). Beliau menjawab, ‘Dahulu kami berpendapat bahwa sa’i pada keduanya termasuk perilaku jahiliah, sehingga tatkala Islam datang kami pun tidak melakukan keduanya.

Allah subhanahu wa ta’ala pun menurunkan firman-Nya,

  ۞إِنَّ ٱلصَّفَا وَٱلۡمَرۡوَةَ مِن شَعَآئِرِ ٱللَّهِۖ فَمَنۡ حَجَّ ٱلۡبَيۡتَ أَوِ ٱعۡتَمَرَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيۡهِ أَن يَطَّوَّفَ بِهِمَاۚ

“Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah termasuk dari syi’ar Allah. Maka barang siapa yang beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya.(al-Baqarah: 185)

Di dalam Sunan Abu Dawud no. 2881 dari sahabat Tsabit bin adh-Dhahhak radhiallahu ‘anhu, berkata, “Seorang lelaki bernazar di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembelih seekor unta di daerah Buwanah. Dia pun mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya mengatakan, ‘Sesungguhnya aku bernazar untuk menyembelih seekor unta di daerah Buwanah.’

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah dahulu di tempat itu ada berhala dari berhala-berhala jahiliah yang disembah?’

Para sahabat menjawab, ‘Tidak ada.’

Beliau lanjut bertanya, ‘Apakah dahulu di tempat itu ada perayaan dari perayaan jahiliah?’

Para sahabat menjawab, ‘Tidak ada.’

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Penuhilah nazarmu, sesungguhnya tidak ada pemenuhan nazar dalam hal kemaksiatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan dalam hal yang di luar batas kemampuan anak cucu Adam’.” (Dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih wa Dhaif Sunan Abi Dawud no. 3313 dan al-Misykah no. 3437)

Yang menarik dicermati dari riwayat di atas adalah kehati-hatian dan ketegasan para sahabat dalam menyikapi sesuatu yang diyakini atau diduga termasuk perilaku jahiliah. Mereka siap menahan diri darinya hingga syariat membolehkannya atau mendapatkan kejelasan fatwa dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Tak mengherankan apabila mereka dijuluki oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai generasi terbaik umat ini. Melalui merekalah Islam yang murni sampai kepada umat manusia di penjuru dunia.

Sebagai kilas balik terhadap penyikapan budaya jahiliah Hindu-Budha ala Islam Nusantara dalam kasus sesajen, nadran, dan yang lainnya, marilah kita perhatikan realitas yang ada di tengah-tengah masyarakat sebagai berikut.

Gunung Kemukus yang terletak di Desa Pendem, Kecamatan Sumberlawang, Sragen, Jawa Tengah merupakan tempat yang kerap kali dilakukan acara sinkretisme antara Islam dan budaya jahiliah Hindu-Budha.

Pada malam Jum’at Pon, manusia berdatangan dalam menjalani laku tirakat ngalap berkah di makam yang ada di tempat itu. Makam di perbukitan yang berada di tengah waduk Kedungombo ini, konon merupakan makam Pangeran Samodera dan Nyai Ontrowulan.

Ritual ngalap berkah di Gunung Kemukus di awali dengan prosesi penyucian di Sendang Ontrowulan. Setelah itu, dipandu juru kunci, para peziarah dibimbing guna melakukan ritual sajen. Yaitu, menyerahkan uborampe (perlengkapan sajen) dalam bentuk sebungkus kembang telon, dupa ratus atau kemenyan, dan uang wajib. Dengan uborampe inilah juru kunci akan memohon kepada yang mbaurekso (penguasa) di Gunung Kemukus. (Majalah Asy-Syari’ah, Edisi Antara Tradisi & Sendi Tauhid Vol. VI/No. 67/1432 H/2010)

Di Yogyakarta, ada upacara Labuhan. Ia adalah sesaji ritual bertujuan melestarikan hubungan yang telah lama terjalin antara beberapa pihak dan penguasa laut selatan, Kanjeng Ratu Kidul. Sesaji untuk penguasa laut selatan diadakan di Parangkusumo.

Sesaji diletakkan pada satu tempat yang disebut petilasan, yaitu tempat terjadinya pertemuan antara Panembahan Senopati dan Kanjeng Ratu Kidul yang memiliki patih bernama Nyai Rara Kidul. Antara Panembahan Senopati dan Kanjeng Ratu Kidul terjalin perjanjian bahwa Kanjeng Ratu Kidul akan melindungi Panembahan Senopati beserta seluruh keturunannya.

Pelaksanaan doa dilakukan di tempat tersebut dan sesaji pun ditaruh di tempat itu. Juru kunci Parangkusumo mengucapkan, “Perkenankanlah saya, Kanjeng Ratu Kidul untuk menyampaikan sesaji Labuhan kepada Paduka,… untuk keselamatan hidup, kehormatan, kerajaan, dan keselamatan rakyat serta negeri Ngayogyakarta Hadiningrat.”

Setelah mengucapkan mantra, sesaji itu pun dibawa ke laut. Beberapa sesaji diempaskan ombak kembali ke pantai dan diperebutkan oleh masyarakat. Mereka berkeyakinan bahwa sesaji tersebut memiliki daya untuk memberikan keselamatan, kesehatan, dan kehidupan yang lebih baik bagi mereka yang mendapatkannya.

Ritual labuhan lainnya dilaksanakan setiap tanggal 30 Rejeb (penanggalan Jawa). Upacara ritual ini banyak dikunjungi oleh orang guna ngalap berkah. Sesaji ditujukan kepada Eyang Kanjeng Pangeran Sapujagat, Pangeran Anom Suryangalam, Eyang Kyai Udononggo, Nyai Udononggo, dan Kyai Jurutaman. Tempat tinggal mereka ada di beberapa tempat di Merapi, seperti di Turgo, Plawangan, dan Wukir Rinenggo di dekat Selo.

Upacara doa dilakukan di Kinahrejo dipimpin oleh abdi dalem Keraton, Mas Ngabehi Suraksohargo alias Mbah Maridjan. Sesaji diletakkan di satu tempat bernama Kendit, letaknya di lereng selatan Gunung Merapi. Uborampe (perlengkapan sesaji) terdiri dari kain, setagen, minyak wangi, kemenyan, dan lain-lain.

Ritual Labuhan lainnya dilakukan di desa Nano, letaknya di lereng Gunung Lawu. Sesaji dikirim di desa tersebut lalu dibawa oleh delapan orang penduduk asli daerah tersebut. Dipilihnya delapan orang dari penduduk asli daerah itu karena mereka memiliki hubungan spiritual dengan yang mbaurekso (penguasa) Gunung Lawu. (Majalah Asy-Syari’ah, Edisi Antara Tradisi & Sendi Tauhid Vol. VI/No. 67/1432 H/2010)

Itulah empat dari sekian banyak contoh sinkretisme antara Islam dan budaya jahiliah Hindu-Budha yang masih mengakar di tengah-tengah masyarakat kita. Empat contoh di atas merupakan potret sebagian masyarakat Nusantara di Pulau Jawa, Yogyakarta, dan sekitarnya, yang notabene dekat dengan ilmu, pondok pesantren, dan pusat informasi publik lainnya.

Bagaimanakah halnya dengan masyarakat Nusantara yang berdomisili di luar Pulau Jawa, lebih-lebih di daerah-daerah pelosok dan terpencil yang notabene jauh dengan ilmu, pondok pesantren, dan pusat informasi publik lainnya?!

Kalau mau jujur, problem semacam ini ternyata telah lama mengganjal bagi warga Nahdhiyyin, sehingga dibahas dalam Muktamar Nahdhatul Ulama (NU) ke-5 di Pekalongan, pada tanggal 13 Rabiul Tsani 1349 H/ September 1930 M.

Pertanyaan: Bagaimana hukumnya mengadakan pesta dan perayaan guna memperingati jin penjaga desa (Jawa: Mbaureksa) untuk mengharapkan kebahagiaan dan keselamatan dan kadang terdapat hal-hal yang mungkar? Perayaan tersebut dinamakan “Sedekah Bumi” yang biasa dikerjakan penduduk desa (kampung) karena telah menjadi adat kebiasaan sejak dulu kala.

Jawab: Adat kebiasaan sedemikian itu haram.

Dari sini, menurut hemat kami, konsep Islam Nusantara tentang sesajen, nadran, dan semacamnya yang ditransformasikan menjadi ini dan itu, hanyalah teori belaka. Fakta di lapangan, amat sulit untuk lepas dari ikatan buhul-buhul jahiliah Hindu-Budha, disadari atau tidak.

Kondisi mayoritas masyarakat yang notabene awam dari nilai-nilai ketauhidan, tidak mendukung untuk “berselancar” di atas riak-riak budaya yang seperti itu. Tak mengherankan apabila keputusan fatwa Muktamar NU ke-5 di Pekalongan tidak merekomendasi transformasi. Dengan tegas dikatakan, “Haram.”

Di sisi lain, bukankah tidak sedikit dari nilai-nilai Islam yang luntur manakala bertaut dengan budaya? Sebut saja jilbab, diartikan dengan pakaian yang pantas, sehingga pakaian wanita apa saja (tidak harus berbentuk jilbab) yang dipandang pantas oleh suatu masyarakat maka itulah jilbab. Jenggot pun demikian, diklaim dapat mengurangi kecerdasan, sehingga semakin panjang jenggot seseorang maka semakin goblok; dan masih banyak yang lainnya.

Lebih dari itu, budaya atau kearifan lokal di Tanah Air kita ini amat banyak. Adat-istiadat dan tradisi masyarakatnya pun amat beragam. Budaya atau kearifan lokal manakah yang dijadikan standar oleh Islam Nusantara? Bukankah di negeri ini masih ada suku yang mengenakan koteka dan mempunyai budaya atau kearifan lokal?!

Dari sini dapat disimpulkan bahwa tanpa panduan yang jelas, ilmu yang memadai, batasan dan aturan yang tepat, niscaya amat sulit menggabungkan nilai Islam teologis dengan nilai-nilai tradisi lokal, budaya, dan adat istiadat sebagaimana yang digagas Islam Nusantara. Kasus sesajen dan nadran yang terjadi di masyarakat, sebagai salah satu buktinya. Praktik haram pun sulit dihindarkan.

Oleh karena itu, tak bisa disalahkan apabila ada yang mengatakan, “Islam Nusantara hanyalah sebuah wacana yang diusung oleh pihak tertentu, dengan tujuan tertentu, dan cepat atau lambat akan berlalu.”

Wallahul Musta’an

Ditulis oleh al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi, Lc.

[1] Kepercayaan kepada roh yang mendiami benda.

[2] Kepercayaan bahwa segala sesuatu mempunyai tenaga atau kekuatan yang dapat memengaruhi keberhasilan atau kegagalan usaha manusia dalam mempertahankan hidup.

Islam Nusantara dan Rahmatan lil Alamin

Rahmatan lil alamin adalah sebuah istilah yang berasal dari al-Qur’an dan as-Sunnah. Secara lafadz, maknanya adalah kasih sayang (rahmat) bagi alam semesta. Rahmatan lil alamin adalah misi utama pengutusan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam di muka bumi ini. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ إِلَّا رَحۡمَةٗ لِّلۡعَٰلَمِينَ ١٠٧

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi alam semesta.” (al-Anbiya’: 107)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنِّي لَمْ أُبْعَثْ لَعَّانًا وَإِنَّمَا بُعِثْتُ رَحْمَةً

“Sesungguhnya aku tidaklah diutus sebagai tukang laknat, tetapi sebagai rahmat.” (HR. Muslim no. 4704)

Al-Imam ath-Thabari rahimahullah ketika menjelaskan kalimat rahmatan lil alamin menukilkan tafsir dari Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma sebagai berikut,

“Allah subhanahu wa ta’ala mengutus Nabi-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai rahmat bagi alam semesta, baik yang mukmin maupun yang kafir.

Adapun yang mukmin, rahmat-Nya dalam bentuk Allah subhanahu wa ta’ala memberinya hidayah melalui Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan memasukkannya ke dalam al-Jannah (surga) karena beriman kepadanya dan mengamalkan segala kewajiban yang datang dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Adapun yang kafir, rahmat-Nya dalam bentuk Allah subhanahu wa ta’ala menunda penyegeraan azab kepadanya sebagaimana yang telah menimpa umat terdahulu para pendusta rasul. Semua itu, dengan sebab kerasulan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Tafsir ath-Thabari, 18/551)

Dari penjelasan di atas dapat diambil beberapa kesimpulan, antara lain;

  1. Pengutusan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ke muka bumi ini sebagai rahmat bagi alam semesta, baik yang mukmin maupun yang kafir.
  2. Bentuk rahmatan lil alamin bagi orang mukmin adalah Allah subhanahu wa ta’ala memberinya hidayah melalui Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan memasukkannya ke dalam al-Jannah (surga) karena beriman kepadanya dan mengamalkan segala kewajiban yang datang dari Allah subhanahu wa ta’ala.
  3. Bentuk rahmatan lil alamin bagi orang kafir adalah Allah subhanahu wa ta’ala menahan penyegeraan azab kepadanya dengan sebab kerasulan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan makna rahmatan lil alamin dari dua dimensinya.

  1. Seluruh yang ada di alam semesta ini mendapatkan manfaat dengan kerasulan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  • Orang-orang yang mengikuti beliau, mendapatkan kemuliaan di dunia dan di akhirat.
  • Musuh-musuh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang Allah subhanahu wa ta’ala segerakan tewas terbunuh, itu lebih baik bagi mereka daripada menjalani kehidupan. Sebab, semakin lama menjalani kehidupan, semakin dahsyat pula siksanya di akhirat. Mereka adalah orang-orang yang telah ditentukan kebinasaannya oleh Allah subhanahu wa ta’ala, sehingga kematian yang segera lebih baik bagi mereka daripada berkepanjangan di atas kekufuran.
  • Orang-orang kafir mu’ahad (yang terikat perjanjian damai dengan beliau), mereka dapat hidup aman di bawah naungan, perjanjian, dan jaminan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tentu kondisi ini lebih menguntungkan mereka daripada kondisi orang-orang kafir yang mengobarkan api peperangan terhadap beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  • Orang-orang munafik, dengan sebab menampakkan keimanan kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, terjagalah darah, harta, dan keluarga mereka. Masih dihormati dan diberlakukan hukum Islam terhadap mereka dalam hal pembagian warisan dan lainnya.
  • Adapun bangsa-bangsa yang jauh dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah subhanahu wa ta’ala meniadakan bencana (azab) global bagi penduduk bumi dengan sebab kerasulan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jadi, semua yang ada di alam semesta ini mendapatkan manfaat dari kerasulan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

  1. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri menjadi rahmat bagi siapa saja.

Orang-orang yang beriman mau menerima rahmat ini dan dapat merasakan kemanfaatannya di dunia dan di akhirat. Adapun orang-orang kafir menolaknya, dan ini tidak mengeluarkan beliau sebagai rahmat bagi mereka, hanya saja mereka tidak mau menerimanya. (Jala’ul Afham, hlm. 98—99)

Dari penjelasan di atas dapat diambil beberapa kesimpulan, antara lain;

  1. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan syariat Islam yang dibawa oleh beliau adalah rahmat bagi alam semesta.
  2. Semua yang ada di alam semesta ini mendapatkan kemanfaatan (baca: rahmat) dari kerasulan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hanya saja jenis dan tingkat kemanfaatan yang dirasakan setiap pihak berbeda-beda.
  3. Rahmatan lil alamin tidak bertentangan dengan pengklasifikasian manusia menjadi mukmin, kafir, dan munafik.
  4. Rahmatan lil alamin tidak menafikan ajakan kepada kebenaran, peringatan dari kebatilan, dan pengingkaran terhadap kemungkaran.
  5. Rahmatan lil alamin tidak menafikan permusuhan, bahkan pertempuran dengan orang-orang kafir saat dibutuhkan.

Karena itu, ada istilah kafir mu’ahad (kafir yang terikat perjanjian damai dengan umat Islam), kafir dzimmi (kafir yang hidup di tengah-tengah umat Islam dan mendapatkan jaminan keamanan), dan kafir harbi atau muharib (kafir yang mengobarkan peperangan dengan umat Islam).

  1. Bentuk rahmat bagi orang mukmin yang mengikuti Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan syariat beliau adalah mendapatkan kemuliaan di dunia dan di akhirat.
  2. Bentuk rahmat bagi orang kafir yang tewas terbunuh saat menghadapi pasukan Islam adalah tidak berkepanjangan hidup di atas kekufuran yang berkonsekuensi kedahsyatan siksa baginya.
  3. Bentuk rahmat bagi orang kafir mu’ahad (yang terikat perjanjian damai dengan umat Islam) adalah dapat hidup aman di bawah naungan, perjanjian, dan jaminan umat Islam.
  4. Bentuk rahmat bagi orang munafik adalah terjaganya darah, harta, dan keluarga serta pemberlakuan hak-hak muslim kepadanya.
  5. Bentuk rahmat bagi bangsa-bangsa yang tak bersentuhan langsung dengan umat Islam adalah tidak adanya bencana (azab) yang bersifat global bagi penduduk bumi ini.

Dengan demikian, rahmatan lil alamin, tidak berarti menafikan ajakan kepada kebenaran, peringatan dari kebatilan, dan pengingkaran terhadap kemungkaran. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ إِلَّا كَآفَّةٗ لِّلنَّاسِ بَشِيرٗا وَنَذِيرٗا وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ ٢٨

“Dan Kami tidak mengutusmu (Muhammad) melainkan kepada seluruh umat manusia sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.”  (Saba’: 28)

Rahmatan lil alamin tidak berarti pula liberal, bebas tanpa batas, toleran tanpa aturan, damai tanpa dalil, dan semisalnya. Rahmatan lil alamin itu terkadang dengan memboikot, terkadang dengan memberi peringatan keras. Bahkan, terkadang dengan perang.

Semua diletakkan pada situasi dan kondisinya yang tepat. Tidak serampangan dan asal-asalan. Sudah barang tentu, yang dikedepankan adalah kasih sayang dan kelemahlembutan. Demikianlah yang terpancar dari kehidupan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sang teladan terbaik umat manusia.

Disebutkan dalam Shahih Muslim no. 1435, Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu berkata, “Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah, kedua matanya memerah, suaranya lantang, dan semangatnya berkobar-kobar bagaikan panglima perang yang sedang memberikan peringatan kepada bala tentaranya. Beliau bersabda, ‘Hendaknya kalian selalu waspada di waktu pagi dan petang. Aku diutus, sementara antara aku dan hari kiamat seperti dua jari inibeliau merekatkan antara jari telunjuk dan jari tengahnya.

Beliau melanjutkan sabdanya, ‘Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, seburuk-buruk urusan adalah yang diada-adakan dalam agama, dan setiap yang bid’ah itu sesat’.”

Disebutkan pula dalam Shahih al-Bukhari no. 4066 dan Shahih Muslim no. 4973, kisah pemboikotan tiga orang sahabat yang tidak ikut dalam Perang Tabuk, oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antara mereka adalah sahabat Ka’b bin Malik al-Anshari radhiallahu ‘anhu.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengucapkan salam kepada mereka dan tidak pula menjawab salam mereka. Beliau memerintahkan seluruh sahabat agar menjauhi mereka bertiga. Bahkan, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar berpisah dengan istri-istri mereka untuk sementara waktu.

Peristiwa itu berlangsung selama 50 hari hingga Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan QS. at-Taubah: 118 yang menjelaskan ampunan Allah subhanahu wa ta’ala untuk ketiganya.

Adapun perang di medan laga melawan orang-orang kafir, baik dari kalangan musyrikin Quraisy dan sekutunya, Yahudi, Nasrani, maupun Majusi, semuanya pernah terjadi dan dicatat rapi dalam sejarah. Melawan musyrikin Quraisy dan sekutunya, Yahudi, serta Nasrani telah terjadi di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun melawan Majusi terjadi pada masa kekhalifahan Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu.

Itulah makna rahmatan lil alamin yang sebenarnya. Mengandung dua sisi yang tak bisa ditinggalkan salah satu dari keduanya; kelembutan dan ketegasan. Masing-masing diterapkan sesuai dengan situasi dan kondisinya yang tepat.

 Rahmatan lil Alamin Ala Islam Nusantara

Tak bisa dimungkiri bahwa istilah rahmatan lil alamin pun ramai dipakai oleh pegiat Islam Nusantara. Bagaimana hakikatnya dalam perspektif mereka? Berikut ini penuturan para pegiatnya.

  • Dr. Said Aqil Siradj berkata, “Islam Nusantara adalah Islam dengan cara pendekatan budaya, tidak menggunakan doktrin yang kaku dan keras. Islam Nusantara ini didakwahkan merangkul budaya, melestarikan budaya, menghormati budaya, tidak malah memberangus budaya. Berbeda dengan Islam Arab yang selalu konflik dengan sesama Islam dan perang saudara.” (http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/06/150614_indonesia_islam-nusantara)
  • Ali Masykur Musa berkata, “Hal inilah yang menjadikan pesantren sebagai pelopor Islam yang rahmatan lil alamin sebagai wajah Islam Nusantara yang cinta kedamaian dan menolak kekerasan.”

“Tidak boleh lagi ada nyawa yang hilang sebagai korban perjuangan beragama. Islam yang santun dan moderat itulah substasi Islam Nusantara sebagai wajah Islam dunia ke depan yang penuh kebajikan dan kedamaian.” (http://m.republika.co.id/berita/koran/opinikoran/15/07/09/nr7nka17-etikasosial-islam-nusantara)

  • Zainul Milal Bizawie berkata, “Pesan rahmatan lil alamin menjiwai karakteristik Islam Nusantara, sebuah wajah Islam yang moderat, toleran, cinta damai, dan menghargai keberagaman. Islam yang merangkul bukan memukul, Islam yang membina bukan menghina, Islam yang memakai hati bukan memakimaki, Islam yang mengajak taubat bukan menghujat, dan Islam yang memberi pemahaman bukan memaksakan.” (muktamar.nu.or.id)

Dari perkataan tiga pegiat Islam Nusantara di atas dapat diambil kesimpulan bahwa makna rahmatan lil alamin adalah sebagai berikut.

  1. Toleran, tidak menggunakan doktrin yang kaku dan keras, cinta kedamaian, menolak kekerasan, moderat, santun, dan menghargai keberagaman.
  2. Merangkul bukan memukul, membina bukan menghina, memakai hati bukan memaki-maki, mengajak taubat bukan menghujat, dan memberi pemahaman bukan memaksakan.
  3. Merangkul budaya, melestarikan budaya, menghormati budaya, tidak malah memberangus budaya.
  4. Berbeda dengan Islam Arab yang selalu konflik dengan sesama Islam dan perang saudara.
  5. Tidak boleh ada nyawa yang hilang sebagai korban perjuangan beragama.

 Tanggapan

  1. Poin ke-1 dan ke-2, sesungguhnya bukan ciri khas rahmatan lil alamin ala Islam Nusantara saja.

Pihak di luar Islam Nusantara pun tidak sedikit yang mempunyai konsep seperti itu, bahkan jauh lebih bagus dari sisi teori maupun aplikasi. Mengingat dalam beberapa hal, Islam Nusantara manis di teori, tetapi sepah pada penerapannya. Termasuk dalam mengaplikasikan makna rahmatan lil alamin.

Sebut saja Said Aqil Siradj, pegiat sejati Islam Nusantara. Lihat ucapannya tentang jenggot yang senyatanya syariat Islam yang mulia, tentang tahlilan, dan merapatkan shaf dalam shalat yang merupakan tuntunan syariat yang mulia, sebagaimana bisa dibaca pada hlm. 15 edisi ini.

Para pembaca yang mulia, apabila perkataan-perkataan di atas dicermati secara saksama, teori rahmatan lil alamin Islam Nusantara hanyalah tinggal teori. Tak berakar sama sekali.

Mengapa demikian? Sebab, perkataan-perkataan di atas hakikatnya memukul bukan merangkul, menghina bukan membina, memaki-maki bukan memakai hati, menghujat bukan mengajak taubat, dan memaksakan bukan memberi pemahaman!

Contoh yang lain adalah Ulil Abshar Abdalla. Pada hari Ahad (3/8/2014) melalui akun twitternya, dia mengomentari sebuah foto di mana ada seorang ibu dan putri muslimah bercadar beserta dua kantong plastik besar berwarna hitam berisi sampah,

Take care of your trashes. Cleanliness is part of faith. Wait, which one is the trash?”

Artinya, “Urus sampahmu. Kebersihan sebagian dari iman. Tunggu, yang mana sampahnya?

(http://2.bp.blogspot.com/-9Y8DWqMJVIQ/U95-zid_al/AAAAAAAAAKI/QRAidd2UcYg/s1600/tweet+ulil+abshar+abdalla.jpg)

Para pembaca yang mulia, perhatikanlah perkataan Ulil, “Tunggu, yang mana sampahnya?

Bukankah itu memukul bukan merangkul, menghina bukan membina, memaki-maki bukan memakai hati, menghujat bukan mengajak tobat, dan memaksakan bukan memberi pemahaman?

Apakah itu aplikasi dari sikap toleran, tidak menggunakan doktrin yang kaku dan keras, cinta kedamaian, menolak kekerasan, moderat, santun, dan menghargai keberagaman?!

Jauh panggang dari api. Tak mengherankan apabila muktamar ke-33 salah satu ormas besar di Tanah Air ini yang bertemakan “Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia” diwarnai kericuhan. Sejak awal muktamar, saat registrasi, ketegangan dan aksi saling dorong sudah terjadi. Pada pertengahan acara, nyaris muncul muktamar tandingan. Bahkan, seusai muktamar sekalipun berbagai konflik internal masih sempat terjadi.

Sekiranya untuk internal ormas yang ketika itu dihadiri oleh para kader pilihan, ulama, dan cerdik cendekia saja, Islam Nusantara tak mampu menciptakan rahmatan lil alamin sebagaimana yang dipromosikan, lantas bagaimanakah untuk peradaban Indonesia dan dunia?!

  1. Poin ke-3 menyebutkan bahwa di antara bentuk rahmatan lil alamin ala Islam Nusantara adalah merangkul budaya, melestarikan budaya, menghormati budaya, tidak malah memberangus budaya.

Di mana pun hidup, seseorang tak bisa lepas dari budaya atau kearifan lokal setempat. Namun, sebagai muslim, sudah sepatutnya selalu berpijak di atas rambu-rambu agama Islam saat menjalani kehidupan sosial kemasyarakatan.

Islam datang memilah dan memilih budaya. Yang sesuai dengan norma-norma syariat, dijaga dan dihormati. Adapun yang tidak sesuai dengan normanorma syariat, ditinggalkan dan tidak digandholi (Jawa: dipegangi).

Lebih dari itu, budaya atau kearifan lokal di Tanah Air kita ini amat banyak. Adat-istiadat dan tradisi masyarakatnya pun amat beragam. Budaya atau kearifan lokal manakah yang dijadikan standar oleh Islam Nusantara? Bukankah di negeri ini masih ada suku yang mengenakan koteka dan mempunyai budaya atau kearifan lokal juga?!

Di sisi lain, tidak sedikit dari nilai-nilai Islam yang luntur manakala bertaut dengan budaya. Sebut saja jilbab, diartikan oleh salah seorang pegiat Islam Nusantara dengan “pakaian yang pantas”. Maka dari itu, pakaian wanita apa saja (tidak harus berbentuk jilbab) yang dipandang pantas oleh suatu masyarakat, itulah jilbab.

Jenggot pun demikian, diklaim dapat mengurangi kecerdasan, sehingga semakin panjang jenggot seseorang maka semakin goblok. Masih banyak yang lainnya.

Sampai-sampai salah satu KBIH asal Pati, Jawa Tengah menerapkan untuk jamaahnya agar mengenakan blangkon (tutup kepala ala Jawa) saat berada di Tanah Suci dalam setiap kegiatan yang dilakukan kecuali saat ihram. Alasannya, karena terinspirasi dari Islam Nusantara. (m.nu.or.id 30/8/2015, kabarseputarmuria.com)

  1. Poin ke-4 menyebutkan bahwa rahmatan lil alamin ala Islam Nusantara berbeda dengan Islam Arab yang selalu konflik dengan sesama Islam dan perang saudara.

Penilaian tentang Islam Arab di atas, tak didukung data statistik yang valid. Apa dan siapa yang dimaksud dengan Islam Arab itu? Arab Saudi, Yaman, Kuwait, Uni Emirat Arab, Bahrain, Qatar, Irak, atau yang mana?

Dari sejumlah negara-negara Arab, berapa persenkah yang selalu konflik dengan sesama Islam dan perang saudara? Bukankah Arab Saudi, Kuwait, Emirat, Qatar, Bahrain, dan yang semisalnya termasuk dari negara-negara maju dunia baik dari sisi sosial ekonomi maupun stabilitas keamanannya?

Mereka adalah ladang-ladang minyak dunia yang tidak pelit menggelontorkan bantuan dana kemanusiaan untuk masyarakat internasional, termasuk Indonesia. Sebut saja Arab Saudi, menggelontorkan dana 806,6 miliar rupiah untuk bantuan korban tsunami Aceh. (m.antaranews.com 22/4/2014) Belum lagi bantuan dana dari individu warga Arab Saudi untuk pembangunan masjid, pondok pesantren, sarana pendidikan, dan lain-lain, di banyak pelosok negeri ini.

Bisa jadi, yang dimaksud Islam Arab yang selalu konflik dengan sesama Islam dan perang saudara itu adalah Yaman, Irak, Syria, Palestina, dan yang semisalnya. Jika demikian, tidaklah tepat untuk dimutlakkan sebagai Islam Arab, karena tak semua negara Arab seperti itu.

Lebih dari itu, konflik yang terjadi itu tak lepas dari intervensi negara-negara kafir Yahudi Israel dan Amerika Serikat. Tak luput pula campur tangan dari Negara Syi’ah, Iran. Timur Tengah sedang menjadi bidikan mereka semua. Kondisi darurat alias tidak stabil ini tentu tak bisa dijadikan barometer keislaman.

Mari koreksi ke dalam. Bukankah sebelum Indonesia merdeka kondisi kita benar-benar darurat alias tidak stabil? Hal itu tidak lain karena intervensi penjajah yang sangat kuat terhadap negeri ini. Di antara strategi jitu penjajah adalah mengadu-domba antar kelompok masyarakat, sehingga terjadilah perang saudara. Bahkan, setelah Indonesia merdeka sekalipun, terjadi beberapa pemberontakan yang alhamdulillah dapat dipadamkan.

Maaf saja, bukankah dalam muktamar yang mengusung tema utama Islam Nusantara itu juga terjadi konflik dengan sesama Islam dan “perang saudara”?!

  1. Poin ke-5, menyebutkan bahwa rahmatan lil alamin ala Islam Nusantara adalah tidak boleh ada nyawa yang hilang sebagai korban perjuangan beragama.

Perlu diketahui, hidup ini adalah perjuangan. Perjuangan menggapai ridha Allah subhanahu wa ta’ala. Secara sunnatullah, perjuangan selalu beriringan dengan pengorbanan. Di antara perjuangan yang paling mulia adalah jihad fi sabilillah (berperang di jalan Allah subhanahu wa ta’ala).

Allah subhanahu wa ta’ala memerintah Rasul-Nya yang mulia dan orang-orang yang beriman untuk berjihad di jalan-Nya dengan mempertaruhkan harta dan jiwa. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِيُّ جَٰهِدِ ٱلۡكُفَّارَ وَٱلۡمُنَٰفِقِينَ وَٱغۡلُظۡ عَلَيۡهِمۡۚ وَمَأۡوَىٰهُمۡ جَهَنَّمُۖ وَبِئۡسَ ٱلۡمَصِيرُ ٧٣

“Hai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah Jahannam dan itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.” (at-Taubah: 73)

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ هَلۡ أَدُلُّكُمۡ عَلَىٰ تِجَٰرَةٖ تُنجِيكُم مِّنۡ عَذَابٍ أَلِيمٖ ١٠ تُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَتُجَٰهِدُونَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ بِأَمۡوَٰلِكُمۡ وَأَنفُسِكُمۡۚ ذَٰلِكُمۡ خَيۡرٞ لَّكُمۡ إِن كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ ١١

“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kalian Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa kalian. Itulah yang lebih baik bagi kalian, jika kalian mengetahui.” (ash-Shaf: 10—11)

Sejarah Islam dipenuhi oleh kisah-kisah perjuangan yang heroik membela agama Allah subhanahu wa ta’ala melawan orang-orang kafir. Sejak masa Baginda Rasul yang mulia, al-Khulafa’ ar-Rasyidin, dan masa setelah mereka. Perjalanan Islam tak bisa dipisahkan dari itu semua.

Pertempuran demi pertempuran, yang tak jarang didahului oleh perang tanding. Sudah barang tentu, akan ada korban yang berjatuhan. Hal itu satu kemuliaan, bukan kerugian. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

۞إِنَّ ٱللَّهَ ٱشۡتَرَىٰ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ أَنفُسَهُمۡ وَأَمۡوَٰلَهُم بِأَنَّ لَهُمُ ٱلۡجَنَّةَۚ يُقَٰتِلُونَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ فَيَقۡتُلُونَ وَيُقۡتَلُونَۖ وَعۡدًا عَلَيۡهِ حَقّٗا فِي ٱلتَّوۡرَىٰةِ وَٱلۡإِنجِيلِ وَٱلۡقُرۡءَانِۚ وَمَنۡ أَوۡفَىٰ بِعَهۡدِهِۦ مِنَ ٱللَّهِۚ فَٱسۡتَبۡشِرُواْ بِبَيۡعِكُمُ ٱلَّذِي بَايَعۡتُم بِهِۦۚ وَذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ ١١١

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan al-Qur’an. dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual-beli yang telah kalian lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (at-Taubah: 111)

Dari sini, jelaslah kebatilan perkataan Ali Masykur Musa, “Tidak boleh ada lagi nyawa yang hilang sebagai korban perjuangan beragama.”

Akan tetapi, perlu diingat bahwa jihad bukan terorisme dan terorisme bukan jihad. Jihad membutuhkan ilmu dan tidak dilakukan serampangan. Sikap mudah mengafirkan bukan prinsip Ahlus Sunnah wal Jamaah yang dibawa oleh Rasulullah. Gerakan teror dengan bom atau selainnya, bukan dari Islam. Al-Qaeda, ISIS, dan kelompok radikal semisal, baik dari unsur Islam, Kristen, Hindu, maupun selainnya adalah teroris.

Umat Islam harus waspada terhadap semua itu. Jangan sampai radikalisme dibendung dengan liberalisme, apapun namanya. Jangan pula liberalisme dibendung dengan radikalisme, apapun namanya.

Wallahu a’lam.

Ditulis oleh al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi, Lc.

Islam Nusantara, Disintegrasi Kehidupan Beragama

Tak bisa dimungkiri bahwa Islam merupakan agama yang paling banyak penganutnya di gugusan kepulauan Nusantara ini. Para penganutnya berasal dari banyak suku, ras atau etnis. Masing-masing mempunyai budaya dan adat-istiadat yang berbedabeda. Dari Sabang sampai Merauke, komunitas muslim berjajar seiring dengan berjajarnya pulau-pulau. Sambung-menyambung menjadi satu oleh ikatan persaudaraan Islam (ukhuwah islamiyah).

Di belahan bumi lainnya pun demikian adanya. Sejak berabad-abad lamanya mereka saling terikat dengan ikatan persaudaraan Islam (ukhuwah islamiyah). Sekalipun berasal dari suku bangsa yang berbeda, namun semuanya terayomi dengan Islam dan syariatnya yang rahmatan lil alamin.

Itulah Islam. Ia bukan milik orang Arab, orang Barat, orang Indonesia, orang Pakistan, orang Afrika, dan yang lainnya. Islam milik semuanya. Islam tak dikotak-kotak oleh ras, suku, etnis, atau wilayah teritorial tertentu. Justru, Islam yang menyatukan segala perbedaan ras, suku, etnis atau wilayah teritorial itu.

Semakin kuat umat Islam dalam berpegang-teguh dengan norma-norma Islam, semakin kuat pula persatuan dan persaudaraan di antara mereka. Semakin taat menjalankan segala tuntunannya, maka semakin mulia pula di sisi Allah subhanahu wa ta’ala.

Tidak seperti yang dikatakan oleh salah seorang pegiat Islam Nusantara, Luthfi Asysyaukanie dalam akun facebooknya, “Engkau ingin jadi orang jahat yang mudah membunuh dan memprovokasi? Beragamalah. Agama mempermudah jalanmu untuk menjadi penjahat tanpa engkau merasa sebagai penjahat. Agama yang merasa paling benar lebih pas lagi untukmu menjadi penjahat. Engkau akan dilatih menghasut dan membenci orang lain, setiap hari. Beragamalah jika engkau ingin jadi penjahat.”

Subhanallah… semakin beragama semakin jahat?! Mudah membunuh dan memprovokasi?! Akan dilatih menghasut dan membenci orang lain, setiap hari?! Sungguh, ini merupakan kebohongan yang nyata!

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّ أَكۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَىٰكُمۡۚ

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kalian.” (al-Hujurat: 13)

مَنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا مِّن ذَكَرٍ أَوۡ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤۡمِنٞ فَلَنُحۡيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةٗ طَيِّبَةٗۖ وَلَنَجۡزِيَنَّهُمۡ أَجۡرَهُم بِأَحۡسَنِ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ٩٧

“Barang siapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (an-Nahl: 97)

Nilai-nilai persatuan dan persaudaraan sangat diperhatikan oleh Islam, terkhusus dalam kehidupan beragama. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَٱعۡتَصِمُواْ بِحَبۡلِ ٱللَّهِ جَمِيعٗا وَلَا تَفَرَّقُواْۚ

“Dan berpeganglah kalian semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai berai.” (Ali Imran: 103)

وَلَا تَكُونُواْ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ٣١ مِنَ ٱلَّذِينَ فَرَّقُواْ دِينَهُمۡ وَكَانُواْ شِيَعٗاۖ كُلُّ حِزۡبِۢ بِمَا لَدَيۡهِمۡ فَرِحُونَ ٣٢

“Janganlah kalian termasuk orangorang yang mempersekutukan Allah. Yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka[1] dan mereka menjadi beberapa golongan, tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (ar-Rum: 31—32)

Demikianlah Islam yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Universal dan rahmatan lil alamin. Mengayomi tidak mengebiri. Lantas, bagaimanakah halnya dengan Islam Nusantara?

Tak dapat disangkal, kemunculan Islam Nusantara di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini cukup “meresahkan”. Terbukti, kemunculannya menuai banyak kritikan, baik dari kalangan atas maupun bawah. Kasusnya mulai ramai disoroti sejak adanya pembacaan ayat suci al-Qur’an dengan langgam jawa.

Penamaan Islam Nusantara itu sendiri kontradiktif dengan keuniversalan Islam yang tidak dibatasi oleh masa, suku bangsa, dan tempat tertentu. Terlepas maksud dan tujuan para penggagasnya yang mungkin tak bermaksud membatasi keuniversalan Islam, namun nama Islam Nusantara sudah menunjukkan adanya pembatasan, disadari maupun tidak.

Lebih dari itu, istilah Islam Nusantara membuka penilaian bahwa ada eksklusivitas dan kotak-kotak pada Islam. Apabila pintu ini dibuka, bahkan ditawarkan kepada dunia sebagaimana cita-cita para pegiatnya, tidak mustahil akan bermunculan nama-nama yang lainnya. Ada Islam Malaysia, Islam Singapura, Islam India, Islam Arab Saudi, Islam Pakistan, Islam Amerika, Islam Inggris, dan lain-lain. Padahal Islam hanya satu, yaitu yang dibawa oleh Nabi Besar Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Islam Nusantara tak ubahnya tunggangan baru bagi Jaringan Islam Liberal (JIL) atau orang-orang berpaham liberal yang telah lama ditinggalkan umat. Mengingat, para tokoh liberal mempunyai peran besar dalam mempromosikan Islam Nusantara tersebut, semisal Ulil Abshar Abdalla, Azyumardi Azra, Luthfi Asysyaukanie, dan Zuhairi Misrawi.

Melalui klaim pendekatan psikologi kenusantaraan dan ortodoksi kalam Asy’ari, fikih mazhab Syafi’i, dan tasawuf Ghazali yang tidak asing bagi masyarakat muslim Indonesia, mereka bergerak. Bisa jadi, itulah strategi yang dianggap jitu untuk menyukseskan program mereka, sekaligus dapat meredam berbagai gejolak yang diperkirakan muncul. Akan tetapi, kenyataannya, mereka kerap kali melakukan pelanggaran.

Terlepas apakah ia sebuah paham, ajaran, mazhab, atau bukan; yang jelas, nama Islam Nusantara terus menggelinding di tengah publik. Semakin besar gaungnya, manakala salah satu ormas besar menjadikannya sebagai tema utama dalam Muktamar ke-33 bulan Agustus lalu.

Kesan rasisme atau kedaerahan pun tampak pada penamaan IslamNusantara. Seakan-akan mengebiri cakupan Islam yang bersifat universal untuk seluruh umat manusia. Walaupun ditampik oleh para pegiatnya, tetapi setidaknya doktrin-doktrin rasisme atau kedaerahan itu terselip dalam berbagai kesempatan ceramah atau tulisan para pegiatnya.

Cobalah perhatikan dengan seksama doktrin-doktrin berikut ini,

“Islam bukan Arab dan Arab bukanIslam.”

“Ambil Islamnya, buang Arabnya.”

“Islam Nusantara lebih sesuai dengan masyarakat Indonesia, bukan Islam Arab.”

“Berbeda halnya dengan Islam arab yang kaku, penuh teror, dan kekerasan.”

Bukankah tampak nuansa anti-Arab? Ada apa Islam Nusantara dengan Arab?! Memang benar, Islam bukan Arab, karena Islam adalah agama, sedangkan Arab adalah etnis. Arab pun belum tentu Islam, karena ada orang Arab yang nonmuslim. Akan tetapi, diakui ataupun tidak, Islam tak bisa dipisahkan dengan Arab. Sebab, Islam muncul di negeri Arab. Al-Qur’annya berbahasa arab. Haditsnya berbahasa Arab. Nabinya dari bangsa Arab dan berbahasa Arab. Para sahabat Nabi, baik dari kalangan Muhajirin maupun Anshar, mayoritasnya dari bangsa Arab. Kitab-kitab ternama dalam khazanah keilmuan Islam pun mayoritasnya berbahasa Arab.

Doktrin anti Arab ini sangat mengkhawatirkan, minimalnya dari dua sisi:

  1. Menjadi sebab kebencian kepada Islam.

Sebab, Islam tak bisa dipisahkan dengan Arab. Strategi inilah yang pernah digunakan oleh Mustafa Kemal Pasha Atta Turk untuk mengubur nilai-nilai keislaman di Turki, sampai-sampai azan pun menggunakan bahasa Turki.

  1. Kekhawatiran adanya pengaruh dari Barat (baca: Yahudi dan Nasrani) dan Syi’ah Rafidhah (baca: Iran) yang notabene anti-Arab.

Akan tetapi, mudah-mudahan tidak! mengingat di antara para pegiat Islam Nusantara adalah jebolan universitas-universitas barat dan hubungan pun masih terajut rapi. Sebagian yang lain dekat dengan Syi’ah Rafidhah (baca: Iran) dan berupaya membawa gerbong ormasnya ke sana, walaupun banyak ditentang oleh anggotanya.

Anehnya, yang jebolan barat pun menjadikan kedekatan dengan Syi’ah sebagai ciri Islam Nusantara. Sebut saja Ulil Abshar Abdalla, dalam akun twitternya (27/6/2015) berkicau, “Ciri Islam Nusantara: tidak memusuhi Syiah. Dan menganggap mereka bagian sah dari umat Islam. Beda dengan Islam Wahabi dan simpatisannya.”

Dari sini diketahui bahwa Islam Nusantara mempunyai rasa sentimen terhadap Arab dan segala hal yang berbau Arab. Tidak sadarkah mereka bahwa Islam datang dari negeri Arab? Tidak sadarkah bahwa tak sedikit tokoh, dai, kiai, dan ustadz di negeri ini yang beretnis Arab?

Kalau boleh tersinggung, merekalah orang yang pertama kali tersinggung terhadap doktrin-doktrin anti-Arab ala Islam Nusantara tersebut. Disintegrasi kehidupan beragama, berbangsa, dan bernegara pun terjadi.

Seiring dengan perjalanan waktu, Islam Nusantara semakin menciptakan suasana tak nyaman dalam kehidupan beragama. Simaklah pernyataan pegiat sejati Islam Nusantara Said Aqil Siradj berikut ini, “Pokoknya yang tahlilan, mantap sekali Pancasilanya. Kalau anti-tahlilan maka kita ragukan Pancasila-nya.” (Pancasila Rumah Kita: Perbedaan adalah Rahmat, Rabu 26/08/2015)

“Orang berjenggot itu mengurangi kecerdasan, jadi syaraf yang sebenarnya untuk mendukung kecerdasan otak, ketarik oleh, untuk memanjangkan jenggot…. Tapi kalau berjenggot, emosinya saja yang meledak-ledak, geger otaknya. Karena syaraf untuk mensupport otak supaya cerdas, ketarik oleh jenggot itu. Semakin panjang, semakin goblok! (https://youtu.be/MrXNQGGX1Ew)

“Kakinya harus ketemu satu sama lain, nggak boleh ada ruang antar kaki, kenapa? Nanti iblis di situ katanya tempatnya. Kalau saya Alhamdulillah, iblis bisa ikut shalat.” (https://youtu.be/ILwY4Eeeynw)

Ketiga pernyataan Said Aqil Siradj di atas, di samping banyak komentarnya yang lain, sangat kontroversial. Tak mengherankan, apabila dia menuai banyak kritikan, bantahan, dan peringatan. Tak terlewat, dari para kiai yang Said Aqil Siradj sendiri menjadi pimpinan ormasnya.

Jangan salahkan apabila ada yang mengatakan, “Suasana kondusif dalam kehidupan beragama di negeri ini akhir-akhir terganggu oleh para pegiat Islam Nusantara. Bahkan, kemunculan Islam Nusantara yang menimbulkan pro dan kontra merupakan bagian dari disintegrasi kehidupan beragama.”

Wallahu a’lam.

Ditulis oleh al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi, Lc.

[1] Maksudnya, meninggalkan agama tauhid dan menganut pelbagai kepercayaan menurut hawa nafsu mereka.

Islam Nusantara Penerus Islam Liberal

Umat Islam di Indonesia yang masih mencintai al-Qur’an dan as-Sunnah, kian dibuat sakit hati dengan munculnya orang-orang yang memiliki keyakinan bebas berbicara atas nama agama seenaknya. Merekalah orang-orang liberal yang tergabung dalam Jaringan Islam Liberal (JIL).

Para liberalis seperti mereka memiliki pemikiran bahwa agama Islam bisa dibuat warna-warni, tergantung pada penafsirnya. Menurut mereka, kita bisa menafsirkan agama sesuai dengan akal dan pemikiran yang kita miliki. Semua orang tidak boleh mengklaim bahwa penafsirannya paling benar.

Jika demikian yang mereka inginkan, sungguh hal ini mengerikan. Orang bisa menafsirkan agama Islam sesuai selera masing-masing; sementara semua orang wajib saling menghormati penafsiran setiap individu. Artinya, kebenaran yang diyakini oleh seseorang bisa jadi benar, bisa jadi pula salah. Lebih parah lagi: agama Islam belum tentu benar, karena agama lain bisa jadi memiliki kebenaran.

Astaghfirullah. Mereka tidak meyakini bahwa agama Islam adalah agama yang paling benar. Jika pernyataan di atas dilontarkan oleh nonmuslim, bisa dimaklumi. Akan tetapi, mereka menyatakan diri sebagai muslim. Sebagian mereka membanggakan diri sebagai anggota salah satu ormas Islam besar di Indonesia.

Berawal dari obrolan di Jl. Utan Kayu No. 68H, Jakarta Timur, mereka membuat sebuah forum sederhana. Tokoh liberal pun bermunculan, seperti Goenawan Mohamad (redaktur senior Majalah “Tempo”), Akhmad Sahal, Nong Darol Mahmada (aktivis perempuan), M. Luthfi Assyaukani, dan Ulil Abshar Abdalla—yang sebenarnya diharapkan menjadi tokoh kiai Nahdhatul Ulama (NU).

Forum tersebut pada hakikatnya adalah kumpulan pegandrung sastra, seni, teater, musik, film, dan seni rupa. Awalnya mereka berbicara di dunia maya lewat milis (mailing list). Kemudian berlanjut di radio-radio dengan tema “Agama dan Toleransi”. Jalur media cetak juga mereka tempuh dengan menulis bahasan “Kajian Islam”.

Melalui media cetak, muncul tokoh seperti Nurcholish Madjid, Azyumardi Azra, Jalaludin Rakhmat, Masdar F. Mas’udi, dll. Mereka selalu membahas pengutakatikan masalah agama yang tidak perlu dibahas, di antaranya tentang emansipasi wanita, perbandingan antaragama, dan kebebasan dari kungkungan agama tertentu. Sebuah harian yang terbit di Surabaya menampilkan rubrik khusus satu halaman yang menampilkan kajian liberal. Demikian pula beberapa harian lokal di bawah manajemennya.

Berikutnya, muncul secara resmi situs liberal www.islamlib.com yang dipublikasikan pada akhir Juli 2001. Dengan situs tersebut, kaum liberalis menegaskan bahwa mereka mengusung pemikiran Islam liberal.

Tentu saja, pihak yang diuntungkan dalam kondisi ini adalah para musuh Islam dari kalangan kaum kafir Yahudi dan Nasrani, para politikus dan orang-orang yang hanya memiliki pemikiran nasionalis tanpa berpikir tentang agama.

Upaya yang dilakukan oleh JIL sudah pernah dilakukan oleh sekian banyak pihak, tetapi tidak berhasil. Di antaranya Musthafa Kemal Ata Turk yang dikenal sebagai “Bapak Turki”. Dia berupaya menjadikan Islam memiliki warna budaya Turki murni, seperti azan dengan bahasa Turki. Siapa pendukungnya? Michel Aflaq, seorang Nasrani.

Demikian pula Islam Liberal. Mereka didukung oleh penyandang dana asing sehingga jaringannya semakin besar. Sebagian pihak yang merasa diuntungkan oleh adanya Islam Liberal memberi bantuan dana lantaran khawatir akan munculnya “Islam Radikal” atau Islam fundamentalis. Sebenarnya, yang mereka maksud adalah kekhawatiran munculnya Islam yang bersungguh-sungguh mengamalkan agamanya.

Ini adalah hal yang aneh. Jika mereka adalah orang kafir, kemudian takut dengan Islam yang sesungguhnya, itu wajar. Namun, jika mereka juga sesama muslim, apa yang dikhawatirkan? Sebab, jika Islam ditegakkan, sungguh kehidupan akan damai, indah, dan mengayomi seluruh masyarakat, bahkan nonmuslim sekalipun. Jika Islam ditegakkan, nonmuslim mendapatkan perlindungan sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ قَتَلَ مُعَاهِدًاوَفِي رِوَايَةٍ: ذِمِّيًّالَمْ يَرِحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ

“Barang siapa membunuh seorang kafir mua’had, tidak akan mencium wangi surga.”

Mengapa harus khawatir dan takut dengan agama Allah subhanahu wa ta’ala yang sempurna, lengkap, dan penuh rahmat?

Mereka khawatir, jika Islam fundamentalis bangkit, akan membahayakan dan membantai mereka. Padahal, yang mereka khawatirkan tidak muncul dari Islam, tetapi dari pemikiran sesat, baik Syiah maupun Khawarij yang ekstrem dan ghuluw.

Demikian sekilas perkembangan kaum Islam liberal. Bermula dari obrolan, siaran, tulisan, pembentukan jaringan, hingga pemaksaan pemikiran dengan menuduh orang-orang yang bersemangat belajar agama Islam dengan tuduhan yang buruk.

Ada sedikit perbedaan antara kaum liberal di Indonesia dan di negeri Barat. Kaum liberalis di negeri barat diisi oleh orang-orang kafir yang tidak mau mengikuti ajaran agama mana pun, baik Nasrani, Yahudi, maupun Islam. Sampai-sampai mereka berupaya untuk melegalkan pernikahan sesama jenis dan menyerukan penerimaan terhadap Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT).

Adapun kaum liberal di Indonesia masih menggunakan nama Islam, Islam liberal. Akan tetapi, pemikiran yang mereka serukan mirip: reaktualisasi Islam, persamaan gender, dan lainnya. Menurut pikiran mereka, al-Qur’an tidak adil. Aturan hukum waris harus diubah karena dianggap tidak adil.

Setelah itu, muncul M. Quraish Shihab dengan bukunya, Membumikan Al-Qur’an, yang bertujuan memunculkan Islam yang sesuai dengan budaya bumi persada Indonesia. Berikutnya, muncul Islam Nusantara, bentuk Islam khusus yang dirombak dan disesuaikan agar sesuai dengan kondisi di Nusantara, Indonesia.

Sekian banyak kelompok di atas memiliki tujuan yang sama, yaitu ingin menunjukkan Islam toleran, Islam yang lembut, Islam yang mengayomi; bukan Islam yang kaku, Islam Arab, Islam yang hanya bertujuan untuk perang. Mereka menginginkan agama Islam sesuai dengan budaya Indonesia yang lembut. Padahal dengan melihat berita, kita tahu bahwa hampir setiap hari di Indonesia terjadi pembunuhan, pemerkosaan, mutilasi, pembakaran, dan kasus kriminalitas yang lain.

Demikianlah keadaan umum sebuah negara, ketika tidak dibimbing oleh agama, ia akan hancur. Namun, ketika dibimbing oleh agama, negara itu akan aman, tenteram, damai, dan sejahtera.

Oleh karena itu, jangan menyalahkan dan menuduh bahwa agama menyebabkan negara menjadi kacau sehingga muncul keinginan untuk merombak agama.

Orang kafir di Amerika saja punya slogan, “Kita cinta damai, tetapi kita lebih cinta kemerdekaan.” Maksudnya, mereka mencintai kedamaian, tetapi siap berperang untuk mempertahankan kedamaian tersebut.

Jadi, sebenarnya mereka sepakat bahwa perang diperlukan untuk menegakkan kedamaian. Jika kaum liberalis Indonesia menentang peperangan, lantas bagaimana cara pemerintah memerangi para pemberontak? Karena itulah, jihad diperlukan. Inilah yang disyariatkan oleh Islam yang sempurna dan lengkap.

Said Agil Siraj pada awal kepulangannya ke Indonesia dari studinya sempat mengatakan bahwa Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu pikun. Mulai dari situ, disinyalir bahwa orang ini akan menjadi orang berbahaya pemikirannya. Akhirnya, saat ini, setelah menjadi pemimpin ormas besar di Indonesia, dia mulai berbicara hal-hal yang aneh.

Di antara pernyataannya ialah Islam Nusantara lebih sesuai dengan kondisi masyarakat Indonesia, bukan Islam Arab. Apa yang dimaksud Islam Arab oleh Said? Apakah Islam yang menggunakan al-Qur’an yang berbahasa Arab? Ataukah agama Islam yang diajarkan oleh orang Arab?

Padahal sudah kita ketahui, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang Arab, dari suku Quraisy, bani Hasyim, keturunan Nabi Ismail q. Lantas, apa yang dipermasalahkan?

Jika orang Indonesia beragama Islam, orang Arab beragama Islam, orang dari negara lain juga beragama Islam, seharusnya orang Islam di dunia seperti ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

كُلُّكُمْ مِنْ آدَمَ وَآدَمُ مِنْ تُرَابٍ

“Kalian semua dari Adam, sedangkan Adam dari tanah.”

Tidak ada keutamaan orang Arab di atas ajam, tidak ada keutamaan orang ajam di atas orang Arab kecuali dengan ketakwaan.

Oleh karena itu, hendaknya jangan kita permasalahkan beda Islam Arab, Islam Indonesia, ataupun Islam Turki. Yang dipertanyakan, apakah sebuah amalan berasal dari agama Allah subhanahu wa ta’ala, al-Qur’an, dan as-Sunnah? Jika ya, amalan tersebut berlaku untuk seluruh bangsa dan negara di dunia.

Kalimat dan tuduhan seperti di atas yang sejatinya menjadi pemicu perpecahan. Dampaknya, orang yang tidak mendalami agama Islam mulai meragukan dan mempertanyakan syariat Islam. Salah satunya menyatakan bahwa hijab muslimah adalah budaya Arab sehingga tidak perlu digunakan oleh bangsa lain. Padahal, jika ditelisik lebih dalam, ditemukan bahwa hijab juga bukan budaya Arab. Budaya Arab dalam berpakaian sebelum Islam datang adalah penggunaan pakaian yang terbuka. Dengan datangnya Islam, Allah subhanahu wa ta’ala memerintah para wanita menutup aurat.

Agama Allah subhanahu wa ta’ala itu dari Allah subhanahu wa ta’ala, disampaikan oleh utusan-Nya, tidak bisa ditambah atau dikurangi. Ibnul Qayyim rahimahullah menyatakan dalam ash-Shawa’iq al-Mursalah (hlm. 113), “Allah subhanahu wa ta’ala telah menyempurnakan agama ini dengan Nabi-Nya, dan Allah subhanahu wa ta’ala menyempurnakan agama-Nya lewat ajaran Nabi-Nya. Agama ini sudah sempurna, tidak perlu tambahan untuk Islam dan umatnya, baik dari akal, nukilan, pendapat, mimpi, maupun kasyaf siapa pun.”

Agama Islam sudah sempurna. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَٰمَ دِينٗاۚ

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (al-Maidah: 3)

Jika Islam harus mengikuti budaya setiap negeri, akan jadi berapa macam agama Islam ini?

 

Di antara prinsip kaum liberalis adalah membuka pintu ijtihad pada semua dimensi Islam.

Mereka menganggap bahwa ijtihad adalah penalaran rasional. Jadi, semua orang boleh berijtihad. Jika demikian adanya, konsekuensinya seluruh kitab para ulama dan kitab tentang kaidah penafsiran tidak perlu dibaca. Sebab, setiap orang boleh menafsirkan ayat al-Qur’an sesuai dengan kehendaknya. Ujung-ujungnya, agama akan hancur dengan dibukanya pintu ijtihad bagi setiap orang.

Kita meyakini bahwa para kiai di belakang mereka mengetahui kaidah tafsir bahwa ayat ditafsirkan dengan ayat, dengan hadits, dan dengan ucapan para sahabat radhiallahu ‘anhum. Kita meyakini pula bahwa para kiai mereka tahu—sesuai dengan ajaran al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah—tentang siapa saja yang boleh berijtihad, yaitu yang mengetahui bahasa Arab, tafsir, kaidah ilmu tafsir, hadits, dan penjelasannya. Jadi, ijtihad harus berdasarkan ilmu, bukan lamunan.

Bermula dari lamunan, ada liberalis yang menyatakan bahwa manusia berasal dari monyet. Hal itu didukung oleh Nurcholis Majid. Dia menguatkan pendapat itu dengan dalih ayat al-Qur’an, “Inni ja’ilun fil ardhi khalifah.” Ja’ilun berasal dari kata ja’ala, yang membutuhkan dua maf’ul, sedangkan Allah subhanahu wa ta’ala hanya menyebutkan satu saja. Jadi, perlu satu maf’ul lagi dalam ayat, “Sesungguhnya Aku menjadikan …. sebagai khalifah.” Titik-titik yang masih kosong itu menurut kaum liberalis bisa jadi monyet.

Kebebasan berpikir yang mereka serukan seperti ini bertujuan untuk merusak agama, baik sengaja maupun tidak. Akibatnya, semua orang, dengan latar pendidikan apa pun, berani berbicara masalah agama. Mereka membahas agama dari sisi sosial, ekonomi, dan ritual seenaknya.

Akan tetapi, ketika dibalik, apakah mereka mau menerimanya? Jika para kiai turut berbicara tentang ilmu yang mereka bidangi, apakah mereka mau menerima? Tentu jawabnya tidak boleh, karena setiap ilmu itu ada ahli yang membidanginya. Sungguh, pemikiran mereka itu sangat tidak adil.

 

Kaum liberal lebih mengutamakan semangat religio-etik (penafsiran baru yang universal), bukan makna literal-teks (penafsiran lama yang telah ditetapkan).

Mereka menafsirkan ayat al-Qur’an tidak tekstual, tetapi kontekstual; sehingga mereka memutarbalikkan ayat dan hadits. Mereka sebut hal ini sebagai tafsir. Memang benar bahwa ada beberapa ayat yang memang perlu dijelaskan secara kontekstual, tetapi dengan qarinah; tidak sembarangan sabagaimana halnya penafsiran kaum liberal. Semua hal ini diterangkan dalam ilmu ushul tafsir.

Masuknya pemikiran liberal ke beberapa ormas Islam di Indonesia adalah musibah besar. Kericuhan pada Muktamar NU 2015 memberi sinyalemen bahwa masih ada para kiai yang membaca kitab para ulama Ahlus Sunnah sehingga kaum liberal tidak mudah memasuki organisasi NU.

 

Di antara prinsip kaum liberal ialah meyakini bahwa kebenaran itu relatif.

Padahal dalam al-Qur’an dan as-Sunnah disebutkan bahwa meragukan kebenaran agama Allah subhanahu wa ta’ala adalah kekafiran.

Dinukil dari ucapan salah seorang liberalis yang mempermainkan dan mendustakan perkara agama, Muhammad Amin, “Nanti, akan ketemu Muhammad, Yesus, dan Gusdur. ‘Muhammad, maaf ya. Kemarin umat saya membakar masjid umatmu,’ Kata Yesus. ‘Oh, ndak apa-apa kok. Umat saya juga pernah membakar gereja umatmu,’ Jawab Muhammad. Gusdur menyahut, ‘Sudah, dibuat saja Gerejid (Gereja-Masjid). Jadi kalau hari Ahad dipakai Misa, hari Jumat dipakai Jumatan. Kan beres, gitu aja kok repot.’

Dinukil pula dari orang yang sama, “Nanti ketika laporan di hari kiamat, Allah cuma tersenyum dan melihat surga sangat luas. Begitu dia melihat surga, di sana ada Muhammad, Yesus, Mahatma Gandhi, Martin Luther, dan Bunda Theresa.

Penyimpangan kaum liberal yang semakin jelas ini semoga membuat para kiai semakin berpikir untuk kembali kepada agamanya, membuka kembali kitab para ulama, seperti an-Nawawi, Ibnu Hajar, dan al-Imam asy-Syafi’i rahimahumullah sehingga mengetahui agama Islam sebenar-benarnya.

 

Di antara pemikiran liberalisme adalah berpihak kepada minoritas yang tertindas, baik dalam hal agama, etnik, ras, gender, budaya, politik, maupun ekonomi.

Padahal, jika mengaku beragama Islam, seharusnya mereka berpihak kepada yang benar. Kita harus mengakui bahwa seluruh manusia tidak tahu hal terbaik untuk manusia sendiri. Namun, Allah subhanahu wa ta’ala mengetahui kebaikan yang paling baik untuk umat manusia.

Allah subhanahu wa ta’ala telah menggariskan wahyu-Nya sejak diturunkan kepada Nabi Musa ‘alaihissalam sampai Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dalam bentuk al-Qur’an lengkap 30 juz dan diajarkan dengan sempurna. Al-Qur’an sudah memberi solusi terhadap hal yang mereka khawatirkan berupa peperangan, perpecahan, pertikaian, dan kekacauan.

Munculnya kaum liberal semacam ini bermula dari adanya kaum radikal dan ekstrem yang mengafirkan pemerintah dan kaum muslimin. Akan tetapi, keekstreman dilawan dengan keekstreman pula.

Mereka selalu meneriakkan pembelaan terhadap kaum minoritas. Kaum Kristiani yang membakar masjid dibela. Kaum perempuan dibela karena dianggap minoritas. Mereka terus meneriakkan emansipasi wanita. Padahal Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلَيۡسَ ٱلذَّكَرُ كَٱلۡأُنثَىٰۖ

“Dan tidaklah laki-laki itu sama dengan perempuan.” (Ali Imran: 36)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa wanita itu kurang akal dan agamanya. Semestinya para liberalis berpikir bahwa para wanita yang lemah itu perlu dilindungi oleh kaum lelaki, karena mereka lemah agama dan lemah akalnya. Para wanita perlu dibimbing dan dijaga. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

ٱلرِّجَالُ قَوَّٰمُونَ عَلَى ٱلنِّسَآءِ

“Kaum laki-laki itu pemimpin bagi kaum wanita.” (an-Nisa’: 34)

Mereka meneriakkan emansipasi agar para wanita dianggap sejajar dengan para lelaki. Mereka menganggap wanita boleh menjadi pemimpin atau khatib. Di Amerika, pernah terjadi shalat Jumat dengan khatib seorang perempuan, dan jamaah laki-laki bercampur dengan perempuan tanpa hijab.

Kebebasan berpikir ala kaum liberal dikhawatirkan juga akan mengarah ke dalam masalah pemerintahan. Mereka akan bebas berbicara dan berkomentar tentang masalah pemerintahan.

Jika pemikiran liberal yang diterapkan di Barat benar-benar diterapkan di Indonesia, seharusnya tidak muncul istilah Islam Nusantara. Akan tetapi, mestinya dinamakan Islam Barat atau bahkan sama sekali tanpa embel-embel Islam. Sebab, jika dinamakan Islam Nusantara, seharusnya tidak boleh meniru cara orang kafir di negeri Barat. Inilah keanehan yang mereka buat, mereka menamakan Islam, tetapi liberal. Dua hal yang tak bisa disatukan.

 

Kaum liberal meyakini kebebasan memeluk agama. Hal ini didasarkan pemikiran mereka yang menyatakan bahwa kebenaran itu relatif. Padahal Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّ ٱلدِّينَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلۡإِسۡلَٰمُۗ

“Sungguh, agama yang diterima di sisi Allah adalah Islam.” (Ali ‘Imran: 19)

Ketika kaum muslimin menyebut kaum Nasrani, Yahudi, Hindu, dan Budha adalah kafir, apakah bisa disebut Islam mengajarkan permusuhan, perpecahan, dan pertikaian? Jawabnya, tidak.

Kaum muslimin harus membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Menurut kaum muslimin, orang yang masuk surga adalah yang beramal berdasarkan al-Qur’an dan as-Sunnah. Orang yang berjalan di agama lain adalah penduduk neraka.

Islam tidak memaksa orang yang beragama lain untuk memeluk agama Islam. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

لَآ إِكۡرَاهَ فِي ٱلدِّينِۖ

“Tidak ada paksaan dalam agama.” (al-Baqarah: 256)

Toleransi yang diberikan kaum muslimin kepada nonmuslim adalah memberikan keleluasaan bagi mereka untuk memilih menjadi mukmin atau kafir tanpa paksaan. Kaum muslimin hanya menjelaskan mana yang benar mana yang salah, dan mana agama yang lurus mana agama yang kafir. Toleransi kaum muslimin juga berarti bahwa mereka tidak mengganggu kaum Nasrani di gereja-gereja.

Jika kaum muslimin di Indonesia berpegang al-Qur’an dan as-Sunnah, Indonesia akan menjadi baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur (negeri yang baik yang diampuni oleh Rabb) yang diturunkan berkah dari langit dan bumi. Namun, jika kita berdusta, yang datang dari langit dan bumi adalah azab.

Di Indonesia, pernah dicetuskan bahwa tidak akan bisa menjadi persatuan dalam perbedaan kecuali jika ditanamkan pemikiran bahwa semua agama sama. Padahal, hal itu justru menjadi pemicu perpecahan. Biarkan setiap pemeluk agama mengamalkan ajaran masing-masing dan tidak saling mengganggu. Al-Qur’an menyebutkan,

قُلۡ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡكَٰفِرُونَ ١  لَآ أَعۡبُدُ مَا تَعۡبُدُونَ ٢  وَلَآ أَنتُمۡ عَٰبِدُونَ مَآ أَعۡبُدُ ٣  وَلَآ أَنَا۠ عَابِدٞ مَّا عَبَدتُّمۡ ٤ وَلَآ أَنتُمۡ عَٰبِدُونَ مَآ أَعۡبُدُ ٥  لَكُمۡ دِينُكُمۡ وَلِيَ دِينِ ٦

Katakanlah, “Hai orang-orang yang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Rabb yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Rabb yang aku sembah. Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku.” (al-Kafirun: 1—6)

Jika kandungan surat ini diajarkan di Indonesia, niscaya negeri ini akan aman. Toleransi melebihi batasan syariat justru akan mendatangkan kerusakan dan azab Allah subhanahu wa ta’ala.

 

Di antara pemikiran kaum liberal ialah memisahkan antara otoritas duniawi dan ukhrawi, otoritas keagamaan dan politik.

Mereka meyakini bahwa kekuasaan keagamaan dan politik harus dipisahkan. Mereka melarang pembicaraan agama disangkutpautkan dengan politik, sosial, bahkan dunia. Jadi, ketika ada yang mencoba membahas salah satu isu di atas dengan sisi pandang agama, mereka akan menjulukinya sektarian.

Inilah yang menyebabkan kaum muslimin tidak mau berpegang dengan ajaran agama pada bidang-bidang yang dianggap terpisah dari agama menurut kaum liberal.

Hal semacam ini pernah terjadi pada agama Nasrani beberapa abad yang lalu. Saat itu para pendeta gereja bertentangan dengan para ilmuwan di universitas. Perseteruan itu berujung pada perdebatan yang memberi solusi agar ilmu agama dipisahkan dengan ilmu pengetahuan alam.

Akan tetapi, itu adalah agama Nasrani, yang berbeda dengan agama Islam. Agama Islam adalah agama yang sempurna dan mencakup segala urusan manusia di dunia. Allah subhanahu wa ta’ala menjamin akan menjaga agama Islam sampai hari akhir. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا ٱلذِّكۡرَ وَإِنَّا لَهُۥ لَحَٰفِظُونَ ٩

“Kami yang menurunkan adz-Dzikr, kami yang akan menjaganya.” (al-Hijr: 9)

Dari pemaparan di atas, bisa kita nyatakan bahwa Islam liberal sebenarnya mencampurkan beberapa pemikiran sesat sekaligus: sekularisme, pluralisme, dan liberalisme.

 

Di antara yang didengungkan sebagai ciri Islam Nusantara adalah:

  1. Sifat rahmatan lil alamin.

Said Aqil Siraj menyebutnya sebagai salah satu ciri Islam Nusantara. Berbeda halnya dengan “Islam Arabyang kaku, penuh teror, dan kekerasan.

Pernyataan ini sudah dibahas di atas.

  1. Tidak memusuhi Syiah.

Ciri ini disebutkan oleh Ulil Abshar Abdalla. Menurutnya, Islam Nusantara menganggap Syiah sebagai bagian yang sah dari umat Islam. Tentu saja, ini adalah cerminan prinsip liberalisme: kebenaran itu relatif dan kebebasan berpikir & berpendapat.

Akan tetapi, Ulil ternyata tidak konsekuen. Ia tidak mau mengatakan Islam “Wahabisebagai bagian yang sah dari umat Islam.

  1. Mengikuti budaya setempat.

Misalnya, tradisi sesajen yang merupakan warisan budaya Hindu. Islam Nusantara mengikuti alur budaya tersebut dengan memberi makna baru, yaitu kepedulian terhadap sesama. Ini diucapkan oleh Abdul Muqsith Gazali, seorang tokoh Islam liberal.

Jadi, yang mereka gambarkan tentang Islam Nusantara ialah Islam yang sejuk dan lembut, tidak pernah keras dan berkonfrontasi. Namun, ironisnya, ketika muktamar membahas Islam Nusantara, terjadi keributan dan kericuhan (baca: konfrontasi, kekerasan, dan caci maki). Jadi, ketika di satu sisi mencerca “Islam Arab, mereka sendiri terjatuh dalam hal yang mereka sematkan dan tuduhkan terhadap “Islam Arab.

Tentu saja, hal ini tidak luput dari pengamatan para kiai sepuh mereka. Mereka pun mengungkapkan keprihatinan dan rasa malu atas apa yang terjadi pada muktamar tersebut.

 

Himbauan & Seruan

Kita yakin bahwa selama mengaku muslimin, tentu mereka memiliki pegangan dan anutan yang sama. Kita berpegang dengan al-Qur’an dan as-Sunnah. Kita menjadikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai anutan.

Oleh karena itu, tidak perlu dibuat hal-hal baru dalam agama hanya karena ingin menampakkan wajah Islam yang lebih toleran, lebih sejuk. Seakan-akan dia bisa membuat yang lebih bagus dari apa yang ada dalam al-Qur’an dan yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Sunnah beliau. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

أَوَ لَمۡ يَكۡفِهِمۡ أَنَّآ أَنزَلۡنَا عَلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ يُتۡلَىٰ عَلَيۡهِمۡۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَرَحۡمَةٗ وَذِكۡرَىٰ لِقَوۡمٖ يُؤۡمِنُونَ ٥١

“Apakah tidak cukup bagi mereka bahwa Kami telah menurunkan kepadamu al-Kitab (al-Qur’an) sedangkan dia dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya dalam (al-Qur’an) itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman.” (al-Ankabut: 51)

Sikap keras dan marah pada keadaan tertentu diperlukan sebagai bentuk sikap rahmat (kasih sayang). Kita bersikap keras terhadap kelompok yang menyimpang sebagai sikap rahmat kita terhadap mereka agar berhenti, dan terhadap kaum muslimin agar tidak mendapatkan keburukannya.

Ingatlah ucapan al-Imam al-Barbahari rahimahullah dalam Syarhus Sunnah,

إِنَّ الدِّينَ إِنَّمَا جَاءَ مِنْ قِبَلِ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، لَمْ يُوْضَعْ عَلَى عُقُولِ الرِّجَالِ وَآرَائِهِمْ، وَعِلْمُهُ عِنْدَ اللهِ وَعِنْدَ رَسُولِهِ، فَلاَ تَتَّبِعْ شَيْئًا بِهَوَاكَ فَتَمْرُقَ مِنَ الدِّينِ فَتَخْرُجَ مِنَ الْإِسْ مَالِ

“… Sungguh, agama ini hanyalah datang dari Allah subhanahu wa ta’ala, tidak dibuat dan diada-adakan oleh akal manusia. Ilmunya ada di sisi Allah subhanahu wa ta’ala dan di sisi Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka dari itu, janganlah engkau mengikuti hawa nafsu sehingga keluar dari agama Islam….”

Wallahul Mustaan.

 Ditulis oleh al-Ustadz Muhammad Umar as-Sewed