Hukum Memakai Kaos Tangan Bagi Wanita

Bagaimana hukum memakai quffaz (kaos tangan)?
08xxxxxxxxxx

Dijawab oleh al-Ustadz Muhammad as-Sarbini

Hukum memakai kaos tangan, seperti kata Ibnu ‘Utsaimin t dalam Majmu’ah As’ilah Tuhimmu al-Usrah al-Muslimah (hlm. 44), “Memakai sesuatu yang menutup kedua tangan di hadapan ajnabi (lelaki selain mahram), yang dikenal dengan kaos tangan, adalah hal yang baik. Sepantasnya seorang wanita mengenakannya agar tidak tampak kedua telapak tangannya. Bisa jadi, sabda Rasulullah n,
وَلاَ تَنْتَقِبِ الْمَرْأَةُ الْمُحْرِمَةُ وَلاَ تَلْبَسِ الْقُفَّازَيْنِ.
“Jangan pula seorang muhrimah (wanita berihram) memakai cadar1 dan kaos tangan.”2
menunjukkan adanya kebiasaan kaum muslimah mengenakan kaos tangan di masa itu3. Lagi pula, mengenakan kaos tangan lebih menutup kedua tangannya dan lebih menjauhkannya dari godaan. Akan tetapi, tidak boleh menggunakan kaos tangan yang indah/cantik yang dapat menarik perhatian lelaki.”
Wallahu a’lam.

Buah Keimanan (bagian ke 5)

(ditulis oleh:  Al-Ustadz Abdul Jabbar)

Dengan sebab keimanan, seorang hamba akan mendapatkan kabar gembira di dunia berupa pujian yang baik, dicintai oleh orang-orang yang beriman, mimpi yang baik, dan diperbagus amalan serta akhlaknya. Demikian pula kabar gembira di akhirat berupa jannah (surga) yang penuh dengan kenikmatan dan aman dari azab yang pedih.
Allah l berfirman tentang orang-orang yang beriman,
“Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat.” (Yunus: 64)
Orang yang beriman akan mendapatkan hidayah dan keberuntungan akan meraih semua cita-citanya dan selamat dari segala perkara yang dia takutkan, sebagaimana Allah l menyebutkan mereka di dalam surat al-Baqarah ayat 5,
“Mereka itulah yang tetap mendapatkan petunjuk dari Rabb mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.”
Nasihat, peringatan, dan ayat-ayat Allah l akan berguna bagi orang-orang yang beriman.
“Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” (adz-Dzariyat: 55)
“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman.” (al-Hijr: 77)
Sebab, keimanan akan membawa pemiliknya untuk berpegang mengikuti dan mengamalkan al-haq. Keimanan akan membawa pemiliknya untuk selalu bersyukur kala mendapatkan kegembiraan, bersabar kala ditimpa kesusahan, dan selalu mengusahakan kebaikan pada setiap waktunya. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh sebuah hadits yang sahih dari Nabi n bahwasanya beliau n bersabda (yang artinya), “Sangat menakjubkan urusan seorang mukmin, karena sesungguhnya semua urusannya merupakan kebaikan baginya. Jika ia mendapatkan kebaikan ia bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya. Jika ia tertimpa musibah ia bersabar, itu adalah kebaikan baginya. Yang demikian itu tidaklah dimiliki selain oleh seorang mukmin.” (HR. Muslim dari sahabat Abu Yahya Suhaib Ibnu Sinan z)

(diringkas dari Risalah at-Taudhih wal Bayan li Syajaratil Iman karya asy-Syaikh Abdurrahman ibnu Nashir as-Sa’di t hlm. 52—56)

Tata Cara Sujud Rasulullah (sifat Shalat Nabi bagian ke 20)

(ditulis oleh: Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq)

Telah kita lewati lima poin tata cara sujud dalam shalat yang dilakukan oleh Rasulullah n. Berikut ini poin selanjutnya.

6. Rasulullah n melarang orang yang sujud mengikat rambutnya ke belakang.
إِنَّمَا مَثَلُ هَذَا مَثَلُ الَّذِي يُصَلِّي وَهُوَ مَكْتُوْفٌ
“Permisalan orang yang demikian hanyalah seperti orang yang shalat dalam keadaan terikat kedua tangannya.”
Demikian yang ditunjukkan oleh hadits Abdullah ibnu Abbas c. Suatu ketika ia melihat Abdullah ibnul Harits shalat dalam keadaan rambut kepalanya terikat ke belakang. Ibnu Abbas bangkit melepaskan ikatan tersebut. Ketika Abdullah ibnul Harits selesai shalat, ia menghadap Ibnu Abbas seraya bertanya, “Ada apa Anda dengan rambutku?” Ibnu Abbas c pun menyampaikan hadits di atas yang pernah didengarnya dari Rasulullah n. (HR. Muslim no. 1101)
Rasulullah n juga menyatakan,
ذَلِكَ كِفْلُ الشَّيْطَانِ
“Ikatan rambut seperti itu (di saat shalat) adalah tempat duduk setan.” (HR. Abu Dawud no. 646 dan at-Tirmidzi no. 384, dinyatakan sahih dalam Shahih Abi Dawud dan Shahih at-Tirmidzi)
At-Tirmidzi t mengatakan, “Yang diamalkan oleh ahlul ilmi adalah mereka membenci seseorang shalat dalam keadaan rambutnya terikat.” (Sunan at-Tirmidzi, 1/238)
Ibnul Atsir t berkata, “Makna hadits ini adalah apabila orang yang shalat rambutnya digerai (tidak diikat) maka rambut tersebut akan jatuh ke tanah di saat sujud sehingga pemiliknya akan diberikan pahala sujud dengan rambutnya. Namun, apabila rambutnya terikat, jadilah ia termasuk dalam makna orang yang tidak sujud. Ia diserupakan dengan orang yang terikat kedua tangannya, karena kedua tangan tersebut tidak bisa menyentuh tanah di saat sujud (sebagaimana rambut yang diikat ke belakang tidak dapat menyentuh tanah saat sujud, -pent.).” (an-Nihayah fi Gharibil Hadits)

Mengikat Rambut Bagi Wanita dalam Shalat
Diperkenankan dan diizinkan bagi wanita untuk mengikat rambutnya dalam shalat. Al-Imam al-’Iraqi asy-Syafi’i t mengatakan, “Larangan mengikat rambut itu khusus bagi lelaki dan tidak berlaku bagi wanita karena rambut wanita adalah aurat yang wajib ditutup saat shalat. Apabila dilepas ikatan rambutnya, bisa jadi tergerai (sampai keluar dari kerudung shalatnya karena panjangnya rambut atau karena rambutnya terhambur sehingga ada yang keluar di sela-sela kerudung/mukenanya –pent.) dan tidak bisa ditutup sehingga bisa membatalkan shalatnya. Selain itu, melepaskan ikatan rambut untuk mengerjakan shalat akan menyulitkan mereka. Di saat mandi saja Rasulullah n memberikan keringanan bagi mereka untuk tidak melepas ikatan rambut, padahal ketika itu ada kebutuhan untuk membasahi seluruh rambut. (Nailul Authar, 2/228)
Selain larangan mengikat/mengumpulkan rambut, dilarang pula mengikat pakaian yang dikenakan sebagaimana hal ini ditunjukkan oleh hadits Ibnu Abbas c,
وَنُهِيَ أَنْ يَكُفَّ شَعْرَهُ أَوْ ثِيَابَهُ
“Nabi n dilarang menahan rambut atau pakaiannya (di saat sujud).” (HR. Muslim no. 1095)
Dengan demikian, saat sujud pakaian dibiarkan jatuh/mengenai tempat sujud, tidak boleh ditahan dengan tangan atau diikat atau dikumpulkan. Termasuk pakaian di sini adalah lengan baju, tidak boleh digulung. Larangan ini hanya saat sedang shalat. Apabila seseorang mengikat rambutnya dan menggulung pakaiannya sebelum shalat lalu ia mengerjakan shalat dalam keadaan demikian, ia termasuk dalam larangan menurut jumhur ulama. Ini yang rajih (kuat). Yang memperkuat hal ini adalah tindakan Nabi n melarang seseorang yang hendak melakukan shalat dalam keadaan rambutnya terikat. Hal ini menyelisihi pendapat yang mengatakan bahwa perbuatan tersebut hanya khusus saat shalat sebagaimana dinukil dari al-Imam Malik t. (al-Mudawwanah 1/186, al-Majmu’ 4/30)
Ulama berselisih pendapat tentang orang yang mengikat rambut atau menahan bajunya ketika shalat, apakah shalatnya sah (tidak batal) atau tidak.
Mayoritas mereka, di antaranya ‘Atha dan asy-Syafi’i mengatakan sah, dan ini adalah pendapat yang rajih (kuat), walaupun telah dinukilkan dari al-Imam Muhammad ibnu Ja’far ath-Thabari t adanya kesepakatan tentang sahnya shalat orang yang melakukan hal tersebut.
Pendapat yang mengatakan tidak sah dan shalatnya harus diulang. Hal ini dinukil dari al-Hasan al-Bashri t. (al-Isyraf ‘ala Madzahibil Ulama li Ibnil Mundzir 2/34, al-Majmu’ 4/30)
Dikatakan bahwa di antara hikmah pelarangan tersebut adalah ketika seseorang menahan baju dan rambutnya agar tidak menyentuh tanah berarti ia serupa dengan orang yang sombong.

7. Rasulullah n tidak meletakkan kedua lengan bawahnya di atas tanah di saat sujud, namun beliau mengangkatnya.
Hal ini disebutkan oleh hadits Abu Humaid z,
فَإِذَا سَجَدَ وَضَعَ يَدَيْهِ غَيْرُ مُفْتَرِشٍ وَلاَ قَابِضِهُمَا
“Apabila sujud, Nabi n meletakkan kedua tangan beliau tanpa meletakkan (kedua lengan bawahnya) dan tidak pula mengepitnya/menempelkannya (ke rusuk).” (HR. al-Bukhari no. 828)
Selain itu, ada pula hadits yang menyatakan larangan berbuat demikian. Di antaranya adalah hadits Anas bin Malik z, Rasulullah n bersabda,
وَلاَ يَبْسُطْ أَحَدُكُمْ ذِرَاعَيْهِ انْبِسَاطَ الْكَلْبِ
“Janganlah salah seorang dari kalian membentangkan kedua lengan bawahnya sebagaimana anjing meletakkan (dua kaki depannya).” (HR. al-Bukhari no. 822 dan Muslim no. 1102)

8. Rasulullah n menjauhkan kedua lengan atasnya dari kedua rusuk1, sampai-sampai terlihat dari belakang putihnya kedua ketiak beliau2.
Cara ini dinukilkan secara mutawatir dari Rasulullah n. Sejumlah sahabat meriwayatkannya seperti Abdullah bin Malik ibnu Buhainah z, ia berkata,
أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ n كَانَ إِذَا صَلَّى فَرَّجَ بَيْنَ يَدَيْهِ حَتَّى يَبْدُوَ بَيَاضُ إِبْطَيْهِ
“Apabila Nabi n shalat, beliau menjauhkan kedua lengannya (dari rusuk) hingga tampak putihnya kedua ketiak beliau.” (HR. al-Bukhari no. 390 dan Muslim no. 1105)
Demikian pula riwayat Maimunah bintu al-Harits x, ia berkata,
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ n إِذَا سَجَدَ خَوَّى بِيَدَيْهِ حَتَّى يُرَى وَضَحُ إِبْطَيِهْ مِنْ وَرَائِهِ
“Apabila Rasulullah n sujud, beliau menjauhkan kedua lengannya hingga tampak dari belakang putihnya kedua ketiak beliau.” (HR. Muslim no. 1108)
Sahabat lain yang meriwayatkan tata cara seperti ini adalah Ibnu Abbas, al-Bara’ ibnu Azib, Abdullah ibnu Arqam al-Khuza’i, Abu Hurairah, Jabir bin Abdillah, Abu Sa’id al-Khudri, ‘Adi bin Umairah, dan Abu Humaid as-Sa’idi g.
Karena tingginya Rasulullah n menegakkan kedua lengannya dari tanah dan menjauhkannya dari rusuknya sampai-sampai apabila ada seekor anak kambing ingin lewat di bagian bawah kedua lengan beliau yang diangkat tersebut niscaya bisa lewat. Maimunah bintu al-Harits x, istri beliau, yang menyampaikan hal ini. Katanya,
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ n إِذَا سَجَدَ لَوْ شَاءَتْ بَهْمَةٌ أَنْ تَمُرَّ بَيْنَ يَدَيْهِ لَمَرَّتْ
“Apabila Nabi n sujud, beliau mengangkat dan menjauhkan kedua lengan beliau (dari perut/rusuk beliau) hingga jika ada seekor anak kambing ingin lewat di bagian bawah kedua lengan beliau yang diangkat tersebut niscaya bisa lewat.” (HR. Muslim no. 1107)
Rasulullah n bersungguh-sungguh melakukan hal ini sehingga sebagian sahabatnya mengatakan,
إِنْ كُنَّا لَنَأْوِي لِرَسُوْلِ اللهِ n مِمَّا يُجَافِي بِيَدَيْهِ عَنْ جَنْبَيْهِ إِذَا سَجَدَ
“Sungguh, kami merasa iba melihat Rasulullah n karena beliau begitu menjauhkan kedua lengan beliau dari kedua rusuknya di saat sujud.” (HR. Abu Dawud no. 900 dan Ibnu Majah no. 886, hadits ini dinyatakan hasan sahih dalam Shahih Abi Dawud dan Shahih Ibni Majah)
Rasulullah n memerintahkan orang yang shalat untuk berbuat demikian,
إِذَا سَجَدْتَ فَضَعْ كَفَّيْكَ وَارْفَعْ مِرْفَقَيْكَ
“Apabila engkau sujud, letakkanlah kedua telapak tanganmu (di tanah/tempat sujud) dan angkatlah kedua sikumu.” (HR. Muslim no. 1104 dari al-Bara’ ibnu Azib z)

Faedah
Fadhilatusy Syaikh Saleh bin Fauzan al-Fauzan t menyatakan, menjauhkan anggota-anggota sujud sebagaimana disebutkan di atas hukumnya sunnah. Oleh karena itu, apabila ada orang shalat melekatkan/merapatkan sebagian anggota sujudnya dengan yang lain, shalatnya sah. Hanya saja, ia telah meninggalkan salah satu sunnah shalat. Lebih-lebih lagi jika ia shalat bersama imam yang memperlama sujud, ia bisa melakukan seperti yang diajarkan oleh Rasulullah n kepada para sahabat beliau saat mereka mengadu pada beliau tentang lamanya sujud dalam shalat malam. Rasulullah n memberikan solusi,
اسْتَعِيْنُوْا بِالرُّكَبِ
“Jadikan lutut sebagai penolong kalian.”3
Maksudnya, orang yang sujud meletakkan dua sikunya di atas kedua lututnya. Apabila orang yang sujud melakukannya karena ada kebutuhan, hilanglah kemakruhan. Berbeda halnya apabila ia melakukannya tanpa sebab.4
Demikian pula ketika menjauhkan kedua tangan di saat sujud ternyata mempersempit orang yang ada di sampingnya, hendaknya ia tidak melakukannya. Ia hendaknya merapatkan anggota tubuhnya guna menghilangkan kesempitan orang yang di sampingnya. Ia boleh pula merapatkan kedua tangannya dengan tujuan merapatkan shaf.
Dengan demikian, menjauhkan anggota-anggota sujud hukumnya sunnah, diamalkan dengan syarat tidak berlebih-lebihan, tidak menyempitkan, tidak menyulitkan dan mengganggu orang lain. (Tashilul Ilmam bi Fiqhil Ahadits min Bulughil Maram, 2/254)
Fadhilatusy Syaikh al-Imam Ibnu Utsaimin t menyatakan, ketika seseorang meninggalkan sunnah dalam rangka menolak mafsadah/kerusakan, hal ini akan dicatat sebagai pahala untuknya karena andai tidak ada mafsadah tentunya tidak ada yang menghalangi Anda menegakkan sunnah tersebut. Apabila seseorang meninggalkan sebuah amalan karena Allah l, Allah l akan menggantikan untuknya, bahkan sekalipun ia meninggalkan amalan tersebut bukan karena kehendaknya. Rasulullah n bersabda,
إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيْمًا صَحِيْحًا
“Apabila seorang hamba sakit atau safar, akan dicatat baginya semisal apa yang biasa dia amalkan saat tidak safar dan saat sehat.” (HR. al-Bukhari no. 2996) (asy-Syarhul Mumti’, 3/120)
(insya Allah bersambung)

Catatan Kaki:

1 Maknanya, tidak ada anggota tubuh tersebut yang menempel dengan yang lain.
2 Hikmah cara seperti ini adalah meringankan tumpuan wajah, tidak menyakiti hidung dan dahi, serta tidak merasa sakit saat menempel ke bumi. Di samping itu, cara seperti ini lebih mendekati sikap tawadhu dan lebih kokoh saat menempelkan dahi dan hidung ke bumi serta berbeda dengan keadaan orang yang malas. Ada pula yang mengatakan bahwa dengan cara seperti ini, semua anggota sujud menjadi tempat bertumpu sehingga tumpuan tidak hanya dibebankan pada sebagian anggota. Adapun orang yang meletakkan lengannya ke bumi serupa dengan anjing, seakan-akan ia meremehkan shalat yang sedang dikerjakannya, kurang perhatian, dan tidak sepenuhnya berkonsentrasi pada amalan shalatnya. (Fathul Bari 2/380, Subulus Salam, 2/220)

3 HR. Abu Dawud no. 902 dan at-Tirmidzi no. 286, namun hadits ini dinyatakan lemah oleh al-Imam al-Albani t dalam Dha’if Abi Dawud dan Dha’if at-Tirmidzi.
4 Hal ini dilakukan apabila ia shalat bersama imam yang sujudnya lama, sementara itu ia kesulitan dengan sujud yang lama tersebut. Adapun apabila ia shalat sendirian, hendaknya ia tidak memaksakan diri. Ketika ia merasa lelah/kesulitan hendaknya ia bangkit, karena Allah l menginginkan kemudahan bagi para hamba-Nya. (asy-Syarhul Mumti’, 3/123)

Pelajaran Penting Buat Para Hartawan (bagian 3)

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits Abrar Thalib)

Melihat kejadian ini, orang-orang yang lemah iman dan akalnya, serta berangan-angan memiliki kekayaan seperti Qarun, sadar. Allah l berfirman,
“Aduhai, benarlah Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya dan menyempitkannya. Kalau Allah tidak melimpahkan karunia-Nya atas kita, benar-benar Dia telah membenamkan kita (pula). Aduhai benarlah, tidak beruntung orang-orang yang mengingkari (nikmat Allah).” (al-Qashash: 82)
Mereka pun sadar bahwa apa yang diterima Qarun bukanlah tanda keridhaan Allah l kepadanya. Mereka mengakui pula kesalahan ucapan dan keinginan mereka.
Allah l berfirman,
Adapun manusia apabila Rabbnya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata, “Rabbku telah memuliakanku.” Adapun bila Rabbnya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata, “Rabbku menghinakanku.” (al-Fajr: 15—16)
Itulah sebagian watak asli manusia yang sangat jahil lagi zalim. Manusia itu menyangka bahwa kemuliaan dan kenikmatan yang Allah l berikan kepadanya di dunia ini menunjukkan kemuliaan dirinya di sisi Allah l dan kedekatan kepada-Nya.
Akan tetapi jika; ﮣ ﮤ ﮥ (Dia [Allah] membatasi rezekinya); maksudnya, menyempitkannya, sekadar menjadi makanan pokoknya, tidak ada sisa yang disimpan, menurut dia, berarti Allah l menghinakannya.
Oleh karena itu, Allah l membantah sangkaan mereka ini dengan firman-Nya, ﮪ (Sekali-kali tidak).
Seolah-olah Allah l menyatakan bahwa tidaklah setiap orang yang Aku beri nikmat di dunia ini, maka dia adalah mulia di sisi-Ku. Tidak pula setiap orang yang Aku sempitkan rezekinya, berarti dia hina di hadapan-Ku. Tetapi kaya, miskin, kelapangan, dan kesempitan adalah ujian dari Allah l yang diberikan kepada hamba-hamba-Nya. Hal ini agar Allah l melihat siapa yang bersyukur kepada-Nya dan bersabar, sehingga Dia memberinya balasan yang besar atas sikap sabar dan syukur ini.1
Pada hakikatnya, inilah keadaan orang-orang kafir. Cinta, benci, kemuliaan, dan kehinaan hanya diukur dengan banyak sedikitnya harta. Adapun orang-orang yang beriman, kemuliaan itu ialah kalau dia dimuliakan oleh Allah l dengan bertambahnya ketaatan kepada-Nya. Kalau dia diberi kelapangan dalam urusan dunia atau apa pun juga, dia bersyukur dan memuji Allah l yang telah melimpahkan karunia kepadanya. Seorang mukmin menyadari segala kemudahan dan kesenangan itu, bahkan setiap kesulitan yang dirasakannya adalah berasal dari Allah l.
Allah l berfirman,
“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya).” (an-Nahl: 53)
Jadi, Allah l lah yang memberi kesenangan kepada seseorang atau menahannya.
Akan tetapi, kebanyakan manusia lupa keadaan masa lalunya setelah dia merasa berkecukupan. Bahkan, ada yang marah ketika diingatkan kembali kepada hal itu. Seandainya dia tidak senang jika diingatkan akan kesengsaraannya, lalu berdoa agar tidak mengalami kepahitan seperti dahulu dan banyak berbuat baik kepada sesama sebagai rasa syukur terlepas dari kesusahan di masa lalu, itu jauh lebih baik.
Orang-orang yang beriman memandang segala kesenangan—bahkan setiap kesusahan—adalah kenikmatan dari Allah l, karena mereka tahu kesusahan, kesedihan, ataupun kesempitan itu akan menjadi pembasuh dosa dan kesalahan mereka. Demikianlah keadaan seorang mukmin.
Rasulullah n bersabda,
عَجَباً لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيسَ ذَلِكَ لِأَحَدٍ إلاَّ لِلْمُؤْمِنِ: إنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكانَ خَيْراً لَهُ، وَإنْ أصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ
“Sangat menakjubkan urusan seorang mukmin. Sungguh, semua urusannya adalah baik. Kalau dia ditimpa kesenangan dia bersyukur, hal itu menjadi kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan, dia bersabar, hal itu pun menjadi kebaikan baginya. Hal itu tidak dirasakan selain oleh seorang mukmin.”2

Dunia Bukan Ukuran
Itulah sekelumit kisah Qarun, seorang Yahudi. Kebersamaan dan kekerabatannya dengan Nabi Musa q tidak berguna sama sekali bagi dirinya. Kedekatan-kedekatan seperti ini, banyak diceritakan oleh Allah l di dalam Kitab-Nya yang mulia. Tidak ada yang bermanfaat kedekatan itu selain ketakwaan.
Renungkanlah keadaan Azar, ayahanda Nabi Ibrahim q, salah seorang putra Nabi Nuh q, dan istri beliau. Demikian pula istri Nabi Luth q, bahkan paman Rasulullah n, Abu Thalib, juga tidak memetik manfaat dari hubungan dekatnya dengan Rasulullah n.
Di sini terlihat pula salah satu bahaya kesenangan (nikmat), karena bisa jadi Allah l melimpahkan nikmat kepada seseorang, tetapi justru menjadi sebab kehancurannya. Artinya, kenikmatan itu hanya menjadi ganti atau imbalan atas amalan saleh (kebaikan) yang dikerjakannya di dunia. Lalu, ketika dia menghadap Allah l, tidak ada kebaikan sedikit pun pada dirinya. Na’udzu billah min dzalik.
Banyak pula di antara kita melihat orang-orang yang kaya di sekitarnya, lalu berangan-angan seandainya memiliki kekayaan seperti itu. Bisa bersenang-senang sebagaimana mereka, berbuat seperti mereka, dan seterusnya. Inilah yang diucapkan orang-orang yang jahil di antara Bani Israil yang melihat kekayaan Qarun.
Demikianlah jiwa (nafsu) para pecinta dunia, yang selalu terikat bersama hal-hal yang sifatnya lahiriah atau kebendaan, sehingga merasa takut akan keadaan yang buruk. Lain halnya dengan ahli ilmu (agama), jiwa mereka ini terikat pada hal-hal yang bersifat hakiki dan batin.
Sungguh, ujian yang diberikan Allah l dapat berupa kesulitan dan kebinasaan. Namun, tak sedikit pula yang berupa kesenangan. Betapa banyak kita jumpai orang-orang yang diuji dengan kesulitan hidup, mereka mampu bertahan dan sabar. Tetapi, giliran diuji dengan kesenangan, mereka berguguran. Jatuh terempas dan hilang dari percaturan hidup, lalu menjadi pelajaran bagi orang yang datang belakangan, bukan teladan yang harus ditiru. Wallahul Musta’an.
Allah l berfirman,
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya); dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (al-Anbiya’: 35)
Mereka yang mengaku beriman pasti menerima ujian sesuai dengan kadar keimanannya. Allah l berfirman,
“Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi?” (al-‘Ankabut: 1—3)
Rasulullah n pernah ditanya tentang siapa yang paling berat menerima cobaan, lalu beliau n bersabda,
الْأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ، فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاؤُهُ، وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ
“(Yang paling berat menerima cobaan) adalah para nabi, kemudian yang paling serupa dengan mereka, lalu yang paling serupa dengan mereka. Seseorang akan diuji sesuai dengan kadar imannya. Kalau agama (imannya) kokoh, ujiannya pun semakin berat. Dan kalau agamanya rapuh/lemah, dia diuji sesuai dengan kadar keimanannya.”3
Sungguh, seandainya dunia yang menjadi tolok ukur kemuliaan dan keberhasilan, maka Qarun adalah orang yang paling mulia di dunia ini. Siapa pun yang saat ini demikian besar kekayaannya, belumlah mampu menyamai Qarun.
Coba perhatikan cerita ‘Umar bin al-Khaththab z tentang kejadian Rasulullah n menjauhi istri-istrinya selama satu bulan.
“Ketika Nabi Allah n mengasingkan diri dari para istri beliau, saya masuk ke masjid dan melihat kaum muslimin mempermainkan kerikil sambil mengatakan bahwa Rasulullah n telah menceraikan istri-istri beliau. Dan itu terjadi sebelum ada perintah hijab….”
‘Umar pun menemui Hafshah, putrinya dan berkata, “Wahai Hafshah, sudah sebegitu rupa engkau menyakiti Rasulullah n. Demi Allah, engkau sudah tahu bahwa Rasulullah n tidak mencintaimu. Kalau bukan karena aku, tentu Rasulullah n sudah menceraikanmu.”
Mendengar hal ini, semakin hebat tangis Hafshah.
Saya bertanya kepada Hafshah, “Di mana Rasulullah n?”
“Di loteng tempat penyimpanan beliau,” kata Hafshah.
Kemudian saya mendatangi tempat itu dan melihat Rabah, pelayan Rasulullah n, sedang duduk di depan pintu loteng tersebut sambil menjulurkan kakinya ke anak tangga tempat naik turun Rasulullah n.
“Hai Rabah, mintakan izin agar aku masuk menemui Rasulullah n.”
Rabah hanya melihat ke arah kamar lalu menoleh kepada saya tanpa berkata apa-apa.
Kemudian saya datang lagi memanggil Rabah sampai tiga kali. Pada yang ketiga saya mengeraskan suara, “Hai Rabah, mintakan izin agar aku masuk menemui Rasulullah n, karena mungkin Rasulullah n mengira aku datang karena Hafshah. Demi Allah, seandainya Rasulullah n memerintahkan aku memenggal lehernya, pasti kupenggal.”
Akhirnya Rabah mengisyaratkan agar saya naik ke loteng itu.
Saya pun naik menemui Rasulullah n yang sedang berbaring di atas sehelai tikar. Kemudian saya duduk. Sementara itu, beliau mendekatkan sarungnya. Tidak ada yang lain selain itu. Ternyata, tikar itu membekas di lambung beliau.
Saya mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan kecil itu. Saya melihat ada satu sha’ (kira-kira 544 gram) gandum dan qardh (dedaunan yang dihaluskan) sebanyak itu juga, di sudut kamar. Ada juga kulit yang belum selesai disamak.
Tak terasa, air mata saya bercucuran.
Rasulullah n melihat dan bertanya, “Mengapa engkau menangis, hai putra al-Khaththab?”
“Wahai Nabi Allah, mengapa saya tidak menangis. Tikar ini membekas begitu rupa di lambungmu. Simpananmu tidak lain hanya ini. Sementara itu, di sana, Kaisar dan Kisra bergelimang dengan buah-buahan dan sungai-sungai yang jernih. Padahal, engkau adalah Rasul Allah, dan pilihan-Nya, tetapi hanya ini simpananmu.”
Beliau pun berkata, “Hai putra al-Khaththab, tidakkah engkau ridha akhirat bagian kita, sedangkan untuk mereka hanya dunia?”
“Tentu,” kata saya.

Yang menjadi pelajaran bagi kita dalam kisah ini adalah penggalan yang terakhir ini. Artinya, kalau kemuliaan, keberhasilan, dan kebahagiaan diukur dengan harta, kedudukan, dan urusan dunia lainnya, tentu yang paling bahagia dan mulia adalah orang-orang semacam Fir’aun, Haman, Qarun, Heraklius, Hurmuzan, Abu Jahl, Abu Lahab, dan orang-orang kafir lainnya.
Ibnu Sa’d (ath-Thabaqat 1/465), dan Abu Ya’la dalam Musnad-nya (3/1203), meriwayatkan dari ‘Aisyah x bahwa Rasulullah n pernah berkata kepadanya,
يَا عَائِشَةُ، لَوْ شِئْتُ، لَسَارَتْ مَعِي جِبَالُ الذَّهَبِ
“Hai ‘Aisyah, seandainya aku mau, pasti gunung-gunung emas akan berjalan bersamaku.”4
Dalam sebuah riwayat disebutkan, Rasulullah n pernah mengutus Abu ‘Ubaidah ibnul Jarrah z ke Bahrain, kemudian dia pulang membawa jizyah penduduk negeri itu. Orang-orang Anshar pun mendengar kedatangan Abu ‘Ubaidah, lalu mereka menyengaja shalat subuh bersama Rasulullah n.
Seusai shalat, Rasulullah n berpaling. Para sahabat Anshar menampakkan diri kepada beliau. Begitu melihat mereka, Rasulullah n tersenyum, lalu berkata, “Saya kira kalian sudah mendengar bahwa Abu ‘Ubaidah datang membawa sesuatu dari Bahrain?”
“Betul, wahai Rasulullah,” jawab mereka.
Rasulullah n pun bersabda,
أَبْشِرُوا وَأَمِّلُوا مَا يَسُرُّكُمْ، فَوَاللهِ مَا الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ، وَلَكِنِّي أَخْشَى أنْ تُبْسَطَ الدُّنْيَا عَلَيْكُمْ كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا، فَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُم
“Gembiralah, dan bayangkanlah apa yang menyenangkan kalian. Demi Allah, bukan kemiskinan yang aku khawatirkan menimpa kalian, melainkan aku khawatir dunia dibentangkan kepada kalian, sebagaimana dibentangkan terhadap orang-orang yang sebelum kalian, lalu kalian berlomba-lomba meraihnya. Kemudian dunia itu membinasakan kalian sebagaimana dia telah membinasakan mereka.”5
Ternyata, dunia yang kita kejar justru akan menghancurkan kita.
Lantas, apakah tidak boleh kita menjadi orang kaya? Tidak boleh berusaha?
Bukan tidak boleh kita menjadi orang kaya. Bukan pula tidak boleh berusaha. Para nabi saja ada di antara mereka yang jadi wirausahawan. Ada yang menjadi tukang kayu, seperti Nabi Zakariya q; pembuat baju besi, seperti Nabi Dawud q, padahal beliau seorang raja besar. Dan Nabi kita Muhammad n sebelum menjadi rasul adalah seorang penggembala kambing yang menerima upahan dan pedagang yang sukses.
Siapa yang tak kenal ‘Utsman bin ‘Affan z, saudagar besar di kalangan sahabat?
Siapa pula yang tak kenal ‘Abdurrahman bin ‘Auf z? Sahabat ini datang ke Madinah sebatang kara tanpa membawa harta. Setiba di Madinah, dipersaudarakan oleh Rasulullah n dengan Sa’id bin Rabi’ z dari kalangan Anshar.
Melihat keadaan ‘Abdurrahman bin ‘Auf yang tidak punya apa-apa untuk hidup di Madinah, Sa’id menawarkan separuh hartanya untuk ‘Abdurrahman bin ‘Auf. Tidak hanya itu, dia juga menawarkan agar ‘Abdurrahman memilih salah seorang istrinya, mana yang dia sukai, akan dia ceraikan dan apabila telah habis iddahnya, silakan dinikahi oleh ‘Abdurrahman.
Akan tetapi, ‘Abdurrahman hanya minta ditunjukkan di mana pasar penduduk Madinah. Tak lama sesudah itu, beliau sudah kembali membawa minyak samin, gandum, dan barang lain untuk hidup sehari-hari di Madinah. Selang beberapa waktu, ‘Abdurrahman terlihat oleh Rasulullah n seolah-olah sudah menikah. Ketika ‘Abdurrahman menerangkan bahwa dia memang sudah menikah, Rasulullah n mendoakan keberkahan baginya lalu menyuruhnya mengadakan walimatul ‘urs (pesta pernikahan) walaupun dengan seekor kambing.6
Jadi, bukan tidak boleh kaya dan berusaha, tetapi jangan jadikan semua itu buah mimpi dan angan-angan kita. Jangan jadikan dunia, cita-cita dan tujuan hidup kita yang utama. Jangan berikan cinta sedikit pun terhadap dunia, karena cinta dunia adalah pangkal kesalahan.
Oleh sebab itu, Rasulullah n mengingatkan,
مَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللهُ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ، وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهُ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا قُدِّرَ لَهُ
“Siapa yang akhirat menjadi tujuannya, Allah l pasti meletakkan rasa kaya (cukup) di dalam hatinya, menyatukan urusannya, dan dunia datang kepadanya padahal dia (dunia itu) tidak menyukainya. Sebaliknya, siapa yang dunia menjadi tujuannya, Allah pasti meletakkan kemiskinan di depan matanya, dan mencerai-beraikan urusannya, sementara itu dunia tidak mendatanginya selain apa yang sudah ditentukan baginya.”7
Alhasil, orang-orang yang beriman hanya sibuk mengabdikan diri kepada Allah l dengan menaati-Nya serta menjaga diri dari syubhat dan hal-hal yang menjauhkannya dari Allah l, sementara itu dunia tetap berada dalam genggamannya. Dia merasakan nikmatnya sesuap nasi yang ditelannya, seteguk air yang diminumnya, tanpa dia harus pusing memikirkan apa lagi usaha yang harus dilakukannya, bagaimana dia harus menjaga agar usaha itu tetap lancar dan berkembang. Waktunya 24 jam terasa kurang untuk merasakan rindu dan berbincang dengan Allah l. Dia tidak risau, apalagi iri (ghibthah).8
Wallahu a’lam.

Catatan Kaki:

1 Lihat Tafsir as-Sa’di tentang ayat ini.
2 HR. Muslim no. 2999.

3 HR. at-Tirmidzi (2/64), dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani (ash-Shahihah, 1/225).

4 Dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam ash-Shahihah (2484) dengan syawahid-nya.
5 HR. al-Bukhari no. 3158 dan Muslim no. 2961.

6 Kisah ini diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 5155 dan Muslim no. 1427.
7 HR. at-Tirmidzi no. 2465, Ibnu Majah no. 4105, dan dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam Shahihul Jami’ (5/351), dan ash-Shahihah no. 950.
8 Merasa senang dengan nikmat yang ada pada orang lain tanpa ada keinginan nikmat itu hilang dari orang tersebut.

Menyongsong Datangnya Pertolongan Allah

Kita telah mendengar peristiwa yang menimpa saudara-saudara kita di Dammaj, Provinsi Sha’dah, Yaman, yakni saat ini mereka sedang menghadapi serangan-serangan bersenjata dari Syi’ah Rafidhah sejak beberapa bulan terakhir. Walaupun peristiwa itu sudah pernah terjadi dalam beberapa tahun belakangan, namun pada saat kondisi pemerintah Yaman melemah seperti sekarang, serangan pemberontak Syi’ah Rafidhah kepada Ahlus Sunnah di Dammaj semakin gencar dan dahsyat.

Di saat kondisi pemerintah yang lemah seperti ini, para pemberontak dan para demonstran bermunculan, menyampaikan berbagai tuntutan duniawi, seperti tuntutan keadilan, tuntutan kesejahteraan, dan berbagai tuntutan duniawi lainnya. Hampir tidak didapati tuntutan para pemberontak dan para demonstran tersebut yang berorientasi agama. Pemberontak dari kalangan Khawarij, al-Qaeda, yang berada di Yaman bagian selatan melakukan penyerangan-penyerangan, pengeboman-pengeboman, peledakan, dan yang semisalnya.
Persaingan di arena politik dan perebutan kekuasaan di negeri tersebut menjadikan negeri Yaman lemah. Kondisi ini diperparah dengan adanya intervensi kaum kuffar (kafir) asing, yang dipimpin langsung oleh Amerika Serikat (AS), ikut campur urusan dalam negeri kaum muslimin. Hal ini disebabkan kaum muslimin dalam keadaan lemah iman. Amaliah mereka berorientasi pada kehidupan dunia. Ambisi mereka adalah dunia. Mereka beranggapan bahwa suatu negeri akan sejahtera apabila perekonomiannya meningkat, lapangan pekerjaan luas dan banyak. Akibatnya, wibawa kaum muslimin menjadi lemah di hadapan musuh-musuh muslimin, Yahudi, Nasrani, dan yang lainnya. Mereka semakin berani terhadap umat muslim.
Di Yaman bagian utara, kaum Syi’ah Rafidhah menggunakan kesempatan ini sebagai peluang emas untuk memisahkan diri dari negeri Yaman. Mereka berupaya mendirikan negara Syiah Rafidhah. Bantuan moral, material, dan persenjataan dari Iran terus mengalir kepada kaum pemberontak Syi’ah Rafidhah yang ada di daerah Khuts, Yaman bagian utara.
Sejarah menunjukkan bahwa Syi’ah Rafidhah tidak akan berhenti memerangi Ahlus Sunnah, sampai mereka mampu menumpas habis Ahlus Sunnah. Sejarah memberi pelajaran bahwa kita bukan generasi pertama yang menghadapi Syi’ah Rafidhah. Telah berlalu generasi-generasi sebelum kita, maka ambillah ibrah/pelajaran dari generasi sebelum kita.
Seandainya pendahulu kita hidup kembali, mereka akan memberi wasiat kepada kita terkait dengan makar Syi’ah Rafidhah yang mereka alami di masa lalu. Kita yang hidup di masa ini harus pandai-pandai mengambil pelajaran, bagaimana Syi’ah Rafidah membantai umat Islam, membantai Ahlus Sunnah, menyembelih para ulama Ahlus Sunnah pada masa lalu. Maka dari itu, apa yang terjadi di Yaman saat ini adalah salah satu contoh fakta sejarah yang akan terus tertulis untuk generasi berikutnya. Ahlus Sunnah harus mengambil pelajaran dari peristiwa ini.
Ma’had Dammaj, yang didirikan oleh asy-Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i t, yang penuh dengan ilmu, tauhid, dan penegakan sunnah, yang telah melahirkan para ulama yang membina dan membimbing kaum muslimin di Yaman dan di luar Yaman, menjadi incaran AS dan orang-orang kafir. Sekarang orang-orang kafir menemukan kesempatan dan alat untuk menyerang ma’had Dammaj, melalui serangan-serangan bersenjata kaum Syi’ah Rafidhah.
Dalam beberapa bulan ini, ma’had Dammaj dikepung dan diboikot oleh Syi’ah Rafidhah, sehingga para penuntut ilmu yang tinggal di sana tidak mampu melakukan aktivitas sebagaimana biasanya. Pasokan logistik, makanan, dan minuman untuk mereka terputus atau tertahan. Serangan-serangan bersenjata, tembakan-tembakan, mortir-mortir, dan semisalnya terus diarahkan ke ma’had Dammaj sehingga memakan banyak korban.
Atas dasar itu, asy-Syaikh Shalih Fauzan, asy-Syaikh Rabi’, asy-Syaikh Ubaid al-Jabiri, asy-Syaikh Muhammad bin Hadi hafizhahumullah dan masyayikh yang lainnya memfatwakan kepada kaum muslimin untuk berta’awun, membantu saudaranya di negeri Yaman, terkhusus kepada penuntut ilmu yang ada di Dammaj, dengan berbagai bantuan yang mampu mereka berikan.
Setidaknya, kita bersungguh-sungguh berdoa dalam kesempatan sujud kita atau di antara waktu azan dan iqamah. Kita memohon pertolongan untuk saudara kita Ahlus Sunnah di Dammaj, semoga Allah l melindungi mereka, semoga Allah l menjaga mereka, semoga Allah l memelihara ma’had Dammaj agar senantiasa di atas sunnah, di atas ukhuwah, di atas tauhid, dan di atas manhaj. Semoga Allah l menghancurkan Syi’ah Rafidhah dan mencerai-beraikan persatuan mereka. Semoga Allah l menghinakan kaum yang mencaci sahabat g, kaum yang menghina para sahabat Rasulullah n.
Kemudian, bentuk ta’awun yang kedua yang disebutkan oleh para ulama yang mungkin kita lakukan adalah berta’awun dalam bentuk materi. Apa yang bisa kita perbuat untuk Ahlus Sunnah di Dammaj, mari kita lakukan, sebagai bentuk kepedulian seorang mukmin kepada mukmin lainnya. Ini adalah bentuk pengamalan sabda Rasulullah n,
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
“Perumpamaan kaum mukminin dalam hal kecintaan, sikap saling menyayangi, dan saling peduli di antara mereka bagaikan satu jasad. Apabila satu anggota jasad itu merasa sakit, seluruh jasad yang lainnya ikut merasakan dengan tidak bisa tidur dan demam.” (HR. Muslim)
Saudara kita yang ada di Dammaj adalah bagian dari tubuh kita. Malam hari mereka tidak bisa tidur dengan tenang. Di malam hari mereka terancam oleh mortir, ledakan amunisi, dan serangan mendadak. Bayi-bayi mereka, kaum wanita mereka, dan orang-orang tua di kalangan mereka terancam nyawanya. Kita di sini bisa istirahat dengan nyaman, tidur dengan tenang dan nyenyak, sementara itu saudara kita di sana dalam keadaan yang mencekam dan menakutkan.
Maka dari itu, mereka adalah bagian dari jasad kita. Seorang mukmin adalah sebagaimana diperumpamakan oleh Rasulullah n dalam hadits lainnya,
إِنَّ الْمُؤْمِنَ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا
“Seorang mukmin terhadap mukmin lainnya bagaikan bangunan yang saling menguatkan.” (HR. al-Bukhari)
Di saat ada satu bangunan yang melemah, perlu diperkuat dengan bangunan yang ada di sebelahnya. Demikian seharusnya sebagai seorang mukmin.
Maka dari itu, kami para asatidzah berusaha menyampaikan kepada Ahlus Sunnah di berbagai kota untuk bahu-membahu, menolong, dan membantu saudara kita yang ada di Dammaj dalam bentuk materi. Apa saja yang bisa kita perbuat untuk mereka, lakukanlah!
Walhamdulillah, teman-teman kita—melalui majalah Asy Syariah dan Situs Salafy or.id—telah berupaya memberikan jalan itu dan mengumpulkan bantuan untuk disalurkan kepada yang bertanggung jawab di daerah Dammaj Yaman, bi idznillah, insya Allah.
Semoga Allah l menjadikan amalan kita diterima di sisi-Nya. Semoga Allah l menjadikan majelis kita yang berisi berbagai kajian yang kita lakukan, diterima Allah l sebagai ibadah yang mendatangkan manfaat yang besar bagi kita dan umat ini.
Amin ya Rabbal ‘alamin.
(disampaikan oleh al-Ustadz Luqman bin Muhammad Ba’abduh hafizhahullah, pada 21 Muharram 1433 H, dalam kajian rutin Ahad pagi)

Upaya Salaf dalam Menyucikan Jiwa

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abdul Mu’thi, Lc)

Membersihkan jiwa dari kotoran yang melekat adalah misi utama diutusnya Nabi Muhammad n. Allah l berfirman,
“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, serta mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan al-Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (Ali Imran: 164)
Oleh karena itu, apabila kita cermati agama Islam yang mulia ini, dari akidah, ibadah, akhlak, perintah, dan larangannya, semua mengarah kepada pembersihan jiwa.
Akidah tauhid misalnya. Apabila telah tertanam kokoh dalam kalbu seseorang, niscaya najis kesyirikan akan lenyap dari dirinya. Dia tidak akan menggantungkan nasibnya dan menyandarkan urusannya selain kepada Allah l. Dirinya ridha dengan keputusan Allah l. Hatinya pun tenteram dengan mengingat-Nya. Dia akan selalu berhati-hati ketika akan bertindak dan berucap, karena yakin akan pemantauan Allah l.
Demikian pula amalan shalat dan zakat, Allah l syariatkan untuk mewujudkan kesucian jiwa. Allah l berfirman,
“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.” (al-‘Ankabut: 45)
Di samping itu, shalat juga membersihkan dosa, sebagaimana sabda Nabi n,
أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهْرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ فِيهِ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ، مَا تَقُولُونَ ذَلِكَ يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ؟ قَالُوا: لاَ يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَيْئًا. قَالَ: فَذَلِكَ مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ يَمْحُو اللهُ بِهِنَّ الْخَطَايَا
“Apa pendapat kalian apabila ada sebuah sungai di (hadapan) pintu salah seorang kalian yang ia mandi padanya sehari lima kali, apa yang kalian katakan tentang hal itu, (apakah) masih tersisa kotorannya?” Mereka (para sahabat) menjawab, “Tidak tersisa kotorannya sedikit pun.” Nabi n bersabda, “Seperti itulah perumpamaan shalat lima waktu, Allah l menghapus dengannya dosa-dosa.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Adapun yang berkaitan dengan zakat, Allah l mengatakan,
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka.” (at-Taubah: 103)
Jadi, dengan mengeluarkan zakat dan sedekah, seseorang akan dibersihkan dari dosa dan sifat-sifat yang tercela. Inilah sekelumit contoh yang menegaskan bahwa syariat Islam datang untuk membersihkan jiwa-jiwa dari beragam kotoran yang melekat pada dirinya. Bahkan, di antara faedah pelaksanaan hukuman had atas pelaku kejahatan adalah sebagai penghapus dosa kejahatan yang dilakukannya. Di samping itu, akan menimbulkan efek jera bagi pelakunya dan sebagai peringatan bagi orang yang tergerak ingin melakukan kejahatan serupa. Nabi n bersabda,
مَنْ أَصَابَ ذَنْبًا فَأُقِيمَ عَلَيْهِ حَدُّ ذَلِكَ الذَّنْبِ فَهُوَ كَفَّارَتُهُ
“Barang siapa melakukan dosa lalu ditegakkan atasnya hukuman had terhadap dosa tersebut, hal itu adalah penebus dosanya.” (HR. Ahmad dalam al-Musnad dan al-Bukhari dalam at-Tarikh dari Khuzaimah bin Tsabit z. Asy-Syaikh al-Albani t menyatakannya sahih dalam ash-Shahihah no. 2317)

Agar Dekat dengan Allah l dan Meraih Harapan
Jiwa tidak akan meraih cita-citanya yang mulia, yaitu surga dengan beragam kenikmatan yang ada di sana, sampai ia bersih dan baik. Hal itu karena Allah Mahabaik dan tidak menerima selain yang baik. Demikian pula, surga adalah tempat yang baik dan diperuntukkan bagi orang-orang yang baik.
Allah l menyebutkan sambutan para malaikat terhadap penghuni surga tatkala mereka memasukinya,
Dan orang-orang yang bertakwa kepada Rabb mereka dibawa ke dalam surga berombong-rombongan (pula). Hingga apabila mereka sampai ke surga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka, berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya, “Kesejahteraan (dilimpahkan) atas kalian. Kalian telah baik, maka masukilah surga ini, sedangkan kamu kekal di dalamnya.” (az-Zumar: 73)
Apabila jiwa telah baik dan bersih, ia akan dekat dengan Allah l sehingga beragam penghambaan yang tulus akan muncul dari dirinya. Hatinya akan terpenuhi kecintaan kepada Allah l. Lisannya tak terputus dari menyebut nama-Nya, hatinya tak pernah berhenti mengingat-Nya. Anggota tubuhnya pun selalu terlihat tunduk dan patuh kepada-Nya. Orang yang melihatnya akan tenteram dan dipenuhi perasaan cinta kepadanya karena sesungguhnya tenteramnya manusia pada seseorang itu sesuai dengan tenteramnya orang tersebut dengan Allah l. Inilah sesungguhnya kenikmatan dunia yang tak bisa ditandingi oleh kenikmatan apa pun.
Buah yang indah tersebut tidak akan didapat oleh orang yang bermaksiat kepada Allah l dan merendahkan dirinya dengan menyimpang dari syariat. Orang seperti ini justru akan dijauhkan dari sisi Allah l sebatas penyimpangannya. Oleh karena itu, muncullah kesenjangan antara dia dan Allah l, demikian pula antara dia dan manusia yang lain. Andaikata dia meraih seluruh kenikmatan duniawi, niscaya belumlah mampu untuk menggantikan kesenjangan ini.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t menerangkan, “Orang yang terpenjara adalah yang hatinya terpenjara dari (cinta dan mengenal) Rabbnya, dan orang yang tertawan adalah yang ditawan oleh hawa nafsunya.” (al-Wabilush Shayyib)
Tidaklah seorang hamba mendapat hukuman yang lebih berat daripada kekakuan hati dan jauhnya dari Allah l.

Salafush Shalih dan Kesucian Jiwa
Pendahulu umat ini yang saleh tahu persis bahwa kebahagiaan yang hakiki terjaminkan dengan usaha pembersihan jiwa. Allah l berfirman,
“Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (asy-Syams: 9—10)
Dengan demikian, beragam upaya dilakukan demi tercapainya tujuan yang mulia ini. Akan tetapi, upaya tersebut tidak keluar dari batasan yang telah diajarkan oleh Rasulullah n. Di antara usaha tersebut adalah:

1. Menyucikan jiwa dengan mentauhidkan Allah l dan membuang segala macam kesyirikan.
Ini tentu saja upaya yang paling wajib karena di atasnya dibangun kokohnya keislaman seseorang. Jiwa yang telah suci dengan tauhid akan selalu terbimbing. Sikap mawas diri akan tumbuh, pengagungan kepada Allah l selalu mewarnai kehidupannya. begitu pula kecintaan kepada-Nya akan tampak dalam segala gerak-geriknya.
Demikian pula membersihkan jiwa dari kesyirikan, karena apabila kesyirikan melekat pada seseorang, hatinya menjadi sarang berbagai ketakutan dan keyakinan yang tidak mendasar serta menjadi rapuh karena ketergantungannya kepada selain Allah l.
Adalah Rasulullah n selalu membersihkan jiwa para sahabat dari kesyirikan hampir dalam setiap kesempatan. Pernah, pada suatu hari yang malamnya turun hujan, Nabi n bersabda kepada para sahabat,
“Tahukah kalian apa yang dikatakan oleh Rabbmu tadi malam?” Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Nabi bersabda bahwa Allah l berfirman, “Hamba-Ku di pagi hari ada yang beriman dan ada yang kafir kepada-Ku. Orang yang mengatakan, ‘Kami diberi hujan karena keutamaan dan rahmat dari Allah l’, maka dia telah beriman kepada-Ku dan mengingkari (pengaruh) bintang-bintang (terhadap turunnya hujan). Adapun yang mengatakan, ‘Kami diberi hujan karena munculnya bintang ini dan itu’, ia telah kafir kapada-Ku dan memercayai bintang-bintang.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

2. Menyucikan diri dengan mengerjakan yang diwajibkan dan meninggalkan yang diharamkan.
Upaya ini adalah yang paling utama yang dilakukan oleh seorang setelah mentauhidkan Allah l. Landasan hal ini adalah hadits qudsi dalam Shahih al-Bukhari, Rasulullah n bersabda, “Allah l berfirman,
وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ
‘Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang Aku wajibkan atasnya’.”
Umar bin al-Khaththab z berkata, “Amalan yang paling utama adalah mengerjakan apa yang diwajibkan oleh Allah l dan menahan diri dari apa yang diharamkan oleh Allah l, dan niat yang baik terhadap apa yang di sisi Allah l.” (at-Tazkiyah baina Ahlis Sunnah wash Shufiyah)
Telah dimaklumi, di antara keutamaan amal-amal kebaikan yang dilakukan oleh hamba adalah menyebabkan dosa diampuni. Allah l berfirman,
“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk.” (Hud: 114)
Demikian pula, meninggalkan dosa-dosa besar akan menyebabkan dosa seseorang diampuni, sebagaimana firman Allah l,
“Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga).” (an-Nisa: 31)

3. Mengerjakan amalan-amalan sunnah
Ini juga jalan yang lebar untuk meraih kesucian jiwa setelah seseorang melaksanakan kewajiban-kewajiban. Adalah Salaf ash-Shalih sangat menjaga amalan-amalan sunnah dengan beragam bentuknya. Mereka tidak mencukupkan diri dengan mengerjakan yang wajib saja. Sebagian mereka, saking nikmatnya shalat malam, sampai mengatakan, “Tidaklah tersisa dari kelezatan dunia selain tiga hal: shalat malam, bertemu dengan saudara-saudara (seiman), dan shalat berjamaah.”
Salah seorang sahabat menangis ketika hendak meninggal. Ketika ditanya sebabnya, dia menjawab, “Demi Allah, aku tidaklah menangis karena dunia kalian dan tidak pula karena berpisah dengan kalian. Namun, aku menangis karena (berpisah dengan) lamanya haus di saat musim panas dan shalat (malam) di saat malam dingin yang panjang.” (at-Tazkiyah baina Ahlus Sunnah wash Shufiyyah hlm. 13)
Maksudnya, ia menangis sedih karena akan berpisah dengan kebiasaan beramal puasa di siang yang terik dan shalat di malam-malam yang dingin.

4. Selalu berzikir kepada Allah l
Ini adalah amalan yang tidak mengenal waktu, tempat, dan bilangan tertentu, selain zikir ba’da shalat, zikir pagi petang, dan semisalnya yang memiliki ketentuan. Amalan zikir, meskipun ringan di lisan, namun berat pada timbangan di hari kiamat.
Ibnul Qayyim t berkata, “Tidak diragukan bahwa kalbu itu bisa berkarat seperti tembaga, perak, dan logam lainnya, sedangkan pembersihnya adalah zikir. Dengan zikir, kalbu akan seperti cermin yang putih mengilap. Apabila meninggalkan zikir, kalbu akan berkarat.” (al-Wabil ash-Shayyib, Ibnul Qayyim)

5. Istighfar (meminta ampun) kepada Allah l
Nabi n bersabda,
إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا أَذْنَبَ كَانَتْ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فِي قَلْبِهِ فَإِنْ تَابَ وَنَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ صُقِلَ قَلْبُهُ …
“Sesungguhnya apabila seorang mukmin melakukan dosa, ada titik hitam pada kalbunya. Jika ia bertobat, mencabut diri (dari dosa), dan beristighfar, kalbunya dibersihkan….” (Dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih Sunan Ibnu Majah no. 3441)
Al-Hasan al-Bashri t berkata, “Perbanyaklah beristighfar di rumah-rumah, di majelis-majelis, dan di mana pun kalian berada. Sesungguhnya kalian tidak tahu di mana ampunan itu turun.” (Tafsir Surat an-Nashr karya Ibnu Rajab al-Hanbali t)

6. Berdoa
Di antara petunjuk Nabi n demi tercapainya kebersihan jiwa adalah berdoa sebagai berikut.
اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُمَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا
“Wahai Allah, berilah ketakwaan pada diriku dan sucikanlah ia, Engkaulah sebaik-baik yang menyucikannya. Engkaulah yang mengurusinya dan memilikinya.” (HR. Muslim dari Zaid bin Arqam z)

Walhasil, kesucian jiwa akan didapat dengan menjalankan ketentuan syariat, yaitu mengerjakan perintah, menjauhi larangan dengan hati yang tulus, serta mengikuti petunjuk Rasulullah n dan generasi salaf ash-shalih, bukan dengan perkara-perkara bid’ah yang bertentangan dengan agama. Hal ini seperti yang dilakukan oleh kelompok Sufi yang membuat-buat berbagai wirid, zikir, amalan, dan aturan dalam ibadah yang sama sekali jauh dari petunjuk Nabi n.
Al-Imam Ibnul Jauzi t dalam kitabnya Talbis Iblis telah mengupas tuntas tentang kesesatan kaum Sufi dan jauhnya mereka dari ilmu yang haq. Padahal beberapa tokoh besar yang diklaim bagian dari kelompok mereka, seperti al-Junaid, Abu Sulaiman ad-Darani, dan semisalnya, dengan tegas telah mengharuskan berpegang teguh dengan al-Qur’an dan as-Sunnah dalam segala hal. Al-Junaid berkata, “Ilmu kita terkait dengan al-Kitab dan as-Sunnah. Barang siapa tidak menghafal al-Kitab, tidak menulis hadits, dan tidak mempelajari fikih, ia tidak bisa dijadikan teladan.”
Abul Husain an-Nuri berkata kepada sebagian temannya, “Barang siapa engkau lihat dia mengaku berada pada sebuah keadaan bersama Allah k, yang keadaan itu mengeluarkannya dari batasan ilmu syariat, jangan engkau dekati.” (Ringkasan Talbis Iblis)
Wallahu’alam.

Tazkiyatun Nufus Hanyalah dengan Tauhid dan amal Shalih

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abdurrahman Mubarak)

Tazkiyatun nafs adalah memperbaiki jiwa dan membersihkannya dengan ilmu yang bermanfaat dan amal saleh, serta melaksanakan perintah Allah l dan menjauhi larangan-Nya.
Rasulullah n pernah menjelaskan makna tazkiyatun nafs dan keutamaannya. Beliau n bersabda,
ثَلَاثٌ مَنْ فَعَلَهُنَّ فَقَدْ ذَاقَ طَعْمَ الْإِيْمَانِ: مَنْ عَبَدَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ وَحْدَهُ بِأَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ، أَعْطَى زَكَاةَ مَالِهِ طِيْبَةً بِهَا نَفْسُهُ فِي كُلِّ عَامٍ، وَلَمْ يُعْطِ الْهرمَةَ وَلاَ الدرنَةَ وَلاَ الْمَرِيضَةَ، وَلَكِنْ مِنْ أَوْسَطِ أَمْوَالِكُمْ، فَإِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لَمْ يَسْأَلْكُمْ خَيْرَهَا وَلَمْ يَأْمُرْكُمْ بِشَرِّهَا ،َوزَكَّى نَفْسَهُ. فَقَالَ رَجُلٌ: وَمَا تَزْكِيَةُ النَّفْسِ؟ فَقَالَ: أَنْ يَعْلَمَ أَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ مَعَهُ حَيْثُ كَانَ
“Tiga perkara yang apabila seseorang melakukannya, dia akan merasakan manisnya iman: (1) Seseorang beribadah kepada Allah l saja, tidak ada sesembahan yang haq selain Dia, (2) Seseorang mengeluarkan zakat malnya setiap tahun, tidak mengeluarkan yang tua, yang jelek, atau yang sakit. Namun, dibayarkan dari harta kalian yang tidak terlalu mahal, karena Allah l tidak meminta yang terbaik kepada kalian, juga tidak memerintah yang terjelek. (3) Seseorang membersihkan jiwanya.” Ada yang bertanya, “Apakah yang dimaksud membersihkan jiwanya?” Rasululllah n menjawab, “Dia meyakini bahwa Allah l bersamanya (mengawasi dan mengetahui) di mana pun ia berada.” (HR. ath-Thabarani dan al-Baihaqi, dinyatakan sahih oleh al-Albani. Lihat penjelasannya dalam ash-Shahihah pada pembahasan hadits no. 1046)
Asy-Syaikh al-Albani t mengatakan bahwa asy-Syaikh Muhammad bin Yahya adz-Dzuhli t menerangkan, “Makna ‘Dia meyakini bahwa Allah l bersamanya (mengawasi dan mengetahui) di mana pun ia berada,’ yakni ilmu Allah l meliputi segala sesuatu dan Allah l tetap berada di atas Arsy.”

Pentingnya Tazkiyatun Nufus
Di antara bukti yang menunjukkan pentingnya masalah ini, Allah l berulang kali bersumpah untuk menegaskan bahwa baiknya hamba tergantung pada pembersihan jiwanya. Allah l berfirman,
“Demi jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (asy-Syams: 7—10)
Allah l berfirman,
“Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan jiwa (dengan beriman). Dan dia ingat nama Rabbnya, lalu dia melaksanakan shalat.” (al-A’la: 14—15)
Qatadah dan Ibnu Uyainah rahimahumallah berkata, “(Yakni) telah bahagia seseorang yang telah menyucikan jiwanya dengan ketaatan kepada Allah l dan amal-amal saleh.”
Tazkiyatun nufus adalah sebab seseorang mendapatkan derajat yang tinggi dan kenikmatan yang kekal. Allah l berfirman,
“Barang siapa datang kepada Rabbnya dalam keadaan beriman lagi sungguh-sungguh telah beramal saleh, mereka itulah orang-orang yang memperoleh tempat-tempat yang tinggi (mulia), (yaitu) surga ‘Adn yang mengalir sungai-sungai di bawahnya. Mereka kekal di dalamnya. Dan itu adalah balasan bagi orang yang bersih (dari kekafiran dan kemaksiatan).” (Thaha: 75—76)
Maksudnya, surga ‘Adn adalah balasan bagi orang yang membersihkan jiwanya dari kotoran dan kesyirikan, bagi yang beribadah kepada Allah l saja, tidak menyekutukan-Nya, kemudian yang melakukan kebaikan yang dibawa oleh para rasul.

Para Nabi Menyeru Umatnya untuk Membersihkan Jiwa Mereka
Allah l memerintahkan Nabi Musa q untuk berkata kepada Fir’aun,
Katakanlah (kepada Fir’aun), “Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan). Dan engkau akan kupimpin ke jalan Rabbmu agar engkau takut kepada-Nya?” (an-Nazi’at: 18—19)
Allah l berfirman tentang Nabi-Nya Muhammad n,
“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka, serta mengajari mereka al-Kitab dan al-Hikmah (as-Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (al-Jumu’ah: 2)
Di antara doa Rasulullah n,
اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا، أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا
“Ya Allah, berikanlah kepada jiwaku ketakwaannya, sucikanlah jiwaku, karena Engkau adalah sebaik-baik Dzat yang membersihkannya. Engkau adalah wali dan maulanya.” (HR. Muslim)
Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim t berkata, “Di antara kaidah umum yang disepakati dalam kitab para nabi adalah masalah tazkiyatun nufus dan penjelasan bahwa kebahagiaan yang hakiki tidak akan terwujud selain dengan menyucikan jiwa melalui ketaatan kepada Allah l, beribadah hanya kepada-Nya, dan mengutamakan akhirat daripada dunia. Allah l berfirman,
“Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman). Dan dia ingat nama Rabbnya, lalu dia melaksanakan shalat. Tetapi, kalian (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi, padahal kehidupan akhirat lebih baik dan lebih kekal. Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu,
(yaitu) kitab-kitab Ibrahim dan Musa.” (al-A’la: 14—19)
(Diringkas dari Rasail asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim, saat menjelaskan beberapa sisi persamaan kitab yang dibawa oleh para rasul, di antaranya adalah masalah kaidah umum seperti tazkiyatun nufus)

Tazkiyatun Nufus Hanya dengan Jalan Rasulullah n
Sesungguhnya, tazkiyatun nufus diserahkan kepada para rasul karena Allah l mengutus mereka hanyalah untuk ini. Allah l menugaskan mereka untuk melakukan tazkiyatun nufus dan menyerahkan tugas ini kepada mereka, dalam hal mengajarkan, menjelaskan, dan memberikan bimbingan kepadanya, bukan dalam hal mencipta dan memberi ilham. Para rasul diutus untuk mengobati jiwa umat.
Allah l berfirman,
“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka, serta mengajari mereka al-Kitab dan al-Hikmah (as-Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (al-Jumu’ah: 2)
Allah l berfirman,
“Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepada kalian), Kami telah mengutus kepada kalian Rasul di antara kalian yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kalian dan menyucikan kalian serta mengajarkan kepada kalian al-Kitab dan al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kalian apa yang belum kalian ketahui.” (al-Baqarah: 151)
Menyucikan jiwa lebih sulit daripada mengobati jasmani. Barang siapa membersihkan jiwanya dengan riyadhah, mujahadah, dan menyepi, yang tidak pernah dilakukan dan diajarkan oleh para rasul, dia seperti orang sakit yang mengobati dirinya dengan pendapat sendiri, padahal dia tidak mengetahui ilmu kedokteran.
Para rasul adalah dokter hati. Tidak ada jalan untuk menyucikan dan memperbaiki hati selain dengan jalan mereka dan melalui bimbingan mereka, diiringi dengan ketundukan yang murni dan berserah diri kepada Allah l. (Diringkas dari Madarijus Salikin)
Syariat Islam Datang untuk Tazkiyatun Nufus
Syariat semuanya adalah tazkiyah (pembersih) jiwa hamba-hamba Allah l, hingga mereka pantas masuk ke surga-Nya.
Tauhid adalah tazkiyah, menyucikan jiwa hamba Allah l. Allah l berfirman,
Katakanlah, “Aku hanyalah seorang manusia seperti kalian, diwahyukan kepadaku bahwasanya Rabb kalian adalah Rabb Yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya. Dan kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya, (yaitu) orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka kafir akan adanya (kehidupan) akhirat.” (Fushshilat: 6—7)
Ibnu Katsir t berkata, “Ali bin Abi Thalhah t menukil dari Ibnu Abbas c bahwa beliau berkata, ‘Maksudnya, mereka tidak mengucapkan La ilaha illallah’.”
Demikian juga pendapat Ikrimah t.
Ibadah shalat adalah tazkiyah pula. Shalat adalah penyuci jiwa. Allah l berfirman,
“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu al-Kitab (al-Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.” (al-Ankabut: 45)
Nabi n bersabda,
مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ كَمَثَلِ نَهَرٍ جَارٍ غَمْرٍ عَلَى بَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ مِنْهُ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ
“Permisalan shalat lima waktu adalah seperti sungai yang banyak airnya di pintu rumah salah seorang kalian. Dia mandi di sungai tersebut lima kali setiap harinya.” (HR. al-Bukhari no. 1555)
Sedekah juga menjadi penyuci jiwa. Allah l berfirman,
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka….” (at-Taubah: 103)
Haji adalah penyuci jiwa. Allah l berfirman,
“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barang siapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik, dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji….” (al-Baqarah: 197)
Allah l menetapkan syariat kepada kita agar jiwa kita suci, demi kebaikan agama dan dunia kita. Allah l tidak mengambil manfaat sedikit pun dari ketaatan hamba dan tidak termudarati sedikit pun oleh kemaksiatan hamba. Justru amal saleh itu bermanfaat bagi hamba sendiri, sebagaimana firman Allah l,
“Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (an-Nahl: 97)
Kebahagiaan hakiki adalah kebahagiaan hati, dan hati seseorang tidak akan merasa bahagia selain dengan karunia Allah l. Hati tidak akan tenteram selain dengan berzikir kepada Allah l. Allah l berfirman,
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allahlah hati menjadi tenteram.” (ar-Ra’d: 18)
Jadi, semakin hamba membersihkan dirinya dengan tauhid dan amal saleh, niscaya ia akan merasa semakin bahagia. Sebaliknya, seseorang yang mengotori jiwanya dengan kemaksiatan, akan merasakan akibat jelek perbuatannya. Allah l berfirman,
“Turunlah kalian berdua dari surga bersama-sama, sebagian kalian menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Jika datang kepada kalian petunjuk dari-Ku, lalu barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (Thaha: 123—124)

Kesimpulan
1. Tazkiyatun nufus adalah amalan yang dianjurkan dalam Islam.
2. Hal utama yang harus dibersihkan dari jiwa adalah kesyirikan.
Ibnu Taimiyah t berkata, “Syirik adalah hal terbesar yang mengotori (menajisi) jiwa. Tazkiyatun nufus dan pembersihan jiwa yang paling agung adalah menyucikan dan membersihkannya dari syirik.” (Majmu Fatawa, juz 16)
3. Tazkiyatun nufus yang dimaksud adalah melaksanakan ibadah hanya kepada Allah l.
Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan berkata, “Tazkiyatun nufus yang pelakunya dipuji oleh Allah l dalam firman-Nya,
‘Telah beruntung orang yang membersihkan jiwanya.’ (asy-Syams: 9)
adalah menyucikan jiwa dan membersihkannya dengan amal saleh dan meninggalkan amalan-amalan jelek. Inilah tazkiyatun nufus yang sesungguhnya, yakni menyibukkan jiwa dengan amalan-amalan saleh dan menjauhkannya dari amalan-amalan jelek.” (I’anatul Mustafid)
Beliau juga mengatakan, “Jalan untuk tazkiyatun nufus adalah memaksa jiwa untuk taat kepada Allah l, mencegahnya dari maksiat dan syahwat-syahwat yang haram.” (Muntaqa Fatawa no. 253)

Jalan Meraih Manisnya Iman

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Isma’il Muhammad Rijal, Lc.)

Dari Anas bin Malik z, Nabi n bersabda,
ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيْمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللهُ وَرَسُولُهُ أحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سَوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إلاَّ لِلهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللهُ مِنْهُ، كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ
“Tiga sifat yang jika ada pada diri seseorang, ia akan meraih manisnya iman: (1) Allah l dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya, (2) ia mencintai seseorang, tidaklah mencintainya melainkan karena Allah l, (3) ia membenci untuk kembali kepada kekafiran—setelah Allah l menyelamatkannya darinya—sebagaimana ia benci apabila dilempar ke dalam api.”
Takhrij Hadits
Hadits Anas bin Malik z muttafaqun ‘alaihi. Al-Bukhari t meriwayatkan dalam “Kitabul Iman” bab “Halawatil Iman (Manisnya Iman)” (1/60 no. 16), dan dalam “Kitab al-Ikrah” bab “Man Ikhtara adh-Dharb wal Qatl wal Hawan ‘alal Kufri (Orang yang Lebih Memilih Pukulan, Bunuh, atau Kebinasaan daripada Kekafiran)” (16/315 no. 6941).
Al-Imam Muslim t meriwayatkan hadits Anas z di atas dalam “Kitabul Iman”, bab “Khishal man Ittashafa Bihinna Wajada Halawatal Iman (Sifat-Sifat yang Dengannya Seseorang Merasakan Manisnya Iman)” no. 163.
Hadits Anas z diriwayatkan pula oleh para imam ahlul hadits lain dengan beberapa perbedaan lafadz.
Al-Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubra, demikian pula an-Nasai, meriwayatkan dengan lafadz,
ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ وَطَعْمَهُ: أَنْ يَكُونَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ فِي اللهِ وَأَنْ يَبْغُضَ فِي اللهِ، وَأَنْ تُوقَدَ نَارٌ عَظِيمَةٌ فَيَقَعَ فِيهَا أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ أَنْ يُشْرِكَ بِاللهِ شَيْئًا
“Tiga hal yang jika ada pada seseorang, ia akan merasakan manis dan lezatnya iman: (1) Allah l dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya; (2) ia mencintai karena Allah l dan membenci karena Allah l; dan (3) seandainya api yang sangat besar dinyalakan lalu ia dilemparkan ke dalamnya, itu lebih ia sukai daripada menyekutukan Allah l.”
Iman, Pokok Kebahagiaan
Kebahagiaan adalah sesuatu yang dicari oleh setiap manusia. Mereka siap mengorbankan apa pun yang berharga—termasuk jiwa—demi memperoleh kebahagiaan itu.
Banyak manusia mendefinisikan kebahagiaan, namun yang pasti kebahagiaan hakiki bukan pada banyaknya harta, tingginya kedudukan atau status sosial, walaupun kebanyakan manusia menilai kebahagiaan dengan banyaknya dunia yang dikumpulkan.
Dunia memang dijadikan indah dalam pandangan manusia hingga banyak manusia tertipu dengan hijau dan gemerlapnya dunia. Allah l berfirman,
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (Ali Imran: 14)
Dunia memang indah, namun benarkah anggapan kebanyakan manusia bahwa dunia adalah kebahagiaan dan puncak keberuntungan? Mari kita tadabburi firman Allah l berikutnya,
Katakanlah, “Maukah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?” Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Rabb mereka ada surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya. Dan (mereka dikaruniai) istri-istri yang disucikan serta keridhaan Allah, dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. (Yaitu) orang-orang yang berdoa, “Ya Rabb kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka.” (Ali Imran: 15—16)
Ayat ini menunjukkan bahwa kebahagiaan yang sesungguhnya adalah dengan iman dan amalan saleh, dengan bertakwa kepada-Nya. Dalam ayat lain, Allah l berfirman,
“Barang siapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sungguh akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sungguh akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (an-Nahl: 96)

Hakikat Iman
Iman bukan sekadar keyakinan atau pengakuan semata. Al-Hasan al-Bashri t berkata,
لَيْسَ الْإِيْمَانُ بِالتَّحَلِّي وَلَا باِلتَّمَنِّي وَلَكِنْ مَا وَقَرَ فِي الْقَلْبِ وَصَدَّقَتْهُ الْأَعْمَالُ
“Sesungguhnya iman bukanlah angan-angan atau pengakuan semata, namun iman adalah keyakinan yang tertancap dalam hati dan dibuktikan dengan amalan-amalan.” (Diriwayatkan oleh Ibnul Mubarak dalam az-Zuhd dan al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman [1/80])
Ya, iman bukan sekadar angan-angan. Iman adalah keyakinan yang kokoh dalam hati yang dibuktikan dengan ucapan lisan dan amal perbuatan. Hal ini sebagaimana ditunjukkan oleh dalil-dalil al-Kitab dan as-Sunnah. Allah l berfirman,
“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, serta orang-orang yang menunaikan zakat….” (al-Mu’minun: 1—4)
Saudaraku, rahimakumullah. Iman dimisalkan sebagai sebuah pohon yang sangat indah sebagaimana dalam firman Allah l,
“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Rabbnya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.” (Ibrahim: 24—25)
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di t berkata, “Dalam ayat ini, Allah l memisalkan kalimat iman—kalimat yang paling indah—dengan sebuah pohon yang paling indah dengan sifat-sifatnya yang terpuji. Akar-akarnya kokoh, tumbuh dengan sempurna, terus-menerus mengeluarkan buah-buahnya setiap saat dan waktu. Manfaat-manfaatnya pun terus dirasakan pemiliknya dan orang lain. Pohon ini berbeda-beda keadaannya sesuai dengan perbedaan kalbu orang-orang yang beriman perbedaan yang disebutkan oleh Allah l sifat-sifatnya.
Maka dari itu, seorang hamba yang mendapatkan taufik seharusnya terus berupaya mengenali pohon iman itu, mengenali sifat-sifat dan sebab-sebabnya, pokok-pokok dan cabang-cabangnya, kemudian mencurahkan segala kemampuannya untuk mewujudkan pohon iman itu dengan ilmu dan amal. Sesungguhnya, bagian kebaikan dan keberuntungan seseorang di dunia dan akhirat itu sesuai dengan keadaan pohon iman tersebut.” (at-Taudhih wal Bayan li Syajaratil Iman)

Manisnya Iman
Jika iman terus dipupuk dengan amalan saleh dan dijaga dari segala hal yang merusaknya, yaitu syirik, bid’ah, dan maksiat1, sebagaimana seseorang memelihara pohon kurma yang sangat ia sayangi, setiap pagi dan sore ia sirami, tidak lupa ia memupuknya dan menjauhkannya dari hama dan penyakit, sungguh orang tersebut akan senantiasa mendapatkan kebahagiaan, kedamaian, ketenteraman yang tidak bisa dilukiskan. Ia akan mendapatkan manisnya iman sebagaimana hadits Anas bin Malik z,
ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ
“Ada tiga hal yang ada pada diri seseorang, dia akan merasakan manisnya iman.” (al-Hadits)
Asy-Syaikh al-Allamah Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di t menerangkan, “Dalam hadits ini, Rasulullah n mengabarkan bahwa iman memiliki rasa manis dalam kalbu. Jika seorang hamba telah merasakan manisnya iman, manisnya iman akan menghiburnya dari segala kesenangan duniawi (yang tidak ia peroleh, -pen.) dan (menyelamatkannya dari) berbagai dorongan hawa nafsu, serta akan mewujudkan kehidupan yang thayyibah (penuh kebahagiaan). Karena, seseorang yang mencintai Allah l dan Rasul-Nya pastilah ia akan selalu berzikir kepada Allah l—demikianlah keadaan orang yang mencintai sesuatu pasti akan banyak menyebutnya. Ia juga akan bersungguh-sungguh dalam mengikuti Rasul n dan lebih mendahulukan ketaatan kepada beliau n daripada ucapan orang lain. Ia pun lebih mendahulukan beliau n daripada kehendak hawa nafsunya.
Orang yang demikian keadaannya, akan tenteram dan selalu dihiasi dengan ketaatan. Dadanya menjadi lapang untuk Islam. Ia pun berada di atas cahaya dari Rabbnya. Namun, kebanyakan orang yang beriman belum mencapai derajat yang sangat tinggi ini. Allah l berfirman,
ﭑ ﭒ ﭓ ﭔﭕ ﭖ ﭗ ﭘ ﭙ ﭚ ﭛ
“Dan setiap orang memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya. Dan Rabbmu tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.” (al-An’am: 132) (at-Taudhih wal Bayan li Syajaratil Iman hlm. 56)
Dalam hadits lain, Rasulullah n juga menyebutkan tentang manisnya iman. Al-Abbas bin Abdil Muththalib z meriwayatkan dari Nabi n bahwasanya beliau n bersabda,
ذَاقَ حَلَاوَةَ الْإِيْمَانِ مَنْ رَضِيَ بِاللهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِيْناً وَمُحَمَّدٍ رَسُولاً
“Akan merasakan manisnya iman, seorang yang ridha Allah l sebagai Rabbnya, Islam sebagai agamanya, dan Muhammad sebagai rasul.” (HR. Muslim no. 150 dan at-Tirmidzi no. 2623)

Atsar Salaf Tentang Manisnya Iman
Pembaca, rahimakumullah. Sebagai generasi terbaik, para sahabat telah merasakan lezatnya iman. Kebahagiaan pun telah mereka raih bersama bimbingan Rasulullah n. Mari kita simak beberapa atsar sahabat tentang halawatul iman.
Sahabat Ubadah bin ash-Shamit z pernah berwasiat kepada putranya,
يَا بُنَيَّ، إِنَّكَ لَنْ تَجِدَ طَعْمَ حَقِيقَةِ الْإِيمَانِ حَتَّى تَعْلَمَ أَنَّ مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ وَمَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ، سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ n يَقُولُ : إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللهُ الْقَلَمَ، فَقَالَ لَهُ: اكْتُبْ. قَالَ: رَبِّ، وَمَاذَا أَكْتُبُ؟ قَالَ: اكْتُبْ مَقَادِيرَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى تَقُومَ السَّاعَةُ. يَا بُنَيَّ إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ n يَقُولُ: مَنْ مَاتَ عَلَى غَيْرِ هَذَا فَلَيْسَ مِنِّي.
Wahai anakku, sungguh engkau tidak akan mendapatkan kelezatan hakikat iman hingga engkau meyakini bahwasanya apa yang telah ditakdirkan oleh Allah l akan menimpamu tidak akan luput darimu, dan apa yang ditakdirkan tidak menimpamu tidak mungkin mengenai dirimu. Aku mendengar Rasulullah n bersabda, “Sesungguhnya, yang pertama kali diciptakan oleh Allah l adalah qalam (pena), lalu Allah l berfirman kepadanya, ‘Tulislah!’ Pena berkata, ‘Wahai Rabbku, apa yang aku tulis?’ Allah l berfirman, ‘Tulislah takdir-takdir segala sesuatu hingga tegak hari kiamat’.”
Wahai anakku, sungguh aku mendengar Rasulullah n bersabda, “Barang siapa mati tidak di atas keimanan kepada takdir, ia bukan dari golonganku.” (Sunan Abu Dawud no. 4078, dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud)
Ammar bin Yasir z, salah seorang sahabat peraih janji surga berkata,
ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيْمَانِ: الْإِنْفَاقُ مِنَ الْإِقْتَارِ، وَإِنْصَافُ النَّاسِ مِنْ نَفْسِكَ، وَبَذْلُ السَّلَامِ لِلْعَالَمِ
“Tiga hal yang jika ada pada seseorang, ia akan merasakan manisnya iman: berinfak di masa sempit, bertindak adil kepada manusia, dan menebarkan salam kepada manusia.” (Riwayat Abdurrazaq dalam al-Mushannaf no. 19439 dari Ma’mar, dari Abu Ishaq, dari Shilah bin Zufar, dari Ammar bin Yasir z)
Abdullah bin Mas’ud al-Hudzali z berkata,
ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ يَجِدُ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيْمَانِ: تَرْكُ الْمِرَاءِ فِي الْحَقِّ، وَالْكَذِبِ فِي الْمِزَاحَةِ، وَيَعْلَمُ أَنَّ مَا أَصَابَهُ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَهُ وَأَنَّ مَا أَخْطَأَهُ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَهُ
“Tiga hal yang jika itu ada pada seseorang, niscaya ia akan meraih manisnya iman: meninggalkan perdebatan dalam keadaan ia benar, meninggalkan dusta meskipun dalam gurauan, serta ia yakin bahwa apa yang ditakdirkan pasti tidak akan luput darinya, dan apa yang tidak ditakdirkan tidak akan menimpanya.” (Diriwayatkan oleh ath-Thabarani dalam al-Kabir [9/157 no. 8790] dan Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf no. 20082)

Berlomba Meraih Manisnya Iman
Hadits-hadits dan atsar sahabat di atas menunjukkan bahwa manisnya iman bisa dirasakan oleh seorang mukmin. Namun, kelezatan dan manisnya iman tersebut tentu bertingkat-tingkat, berbeda antara seorang mukmin dan mukmin lainnya.
Kelezatan iman dalam kalbu seorang mukmin yang kokoh adalah kenikmatan yang agung, melebihi kenikmatan-kenikmatan dunia, bahkan tidak bisa dibandingkan. Bisa jadi, seseorang mengalami kekurangan dari sisi duniawi, namun sesungguhnya ia orang yang berada di puncak kebahagiaan karena iman yang tertanam dalam kalbunya.
Suatu saat, Ibrahim bin Adham2 t—salah seorang ulama ahlul hadits dan ahli zuhud di zamannya—berjalan dalam sebuah safar bersama sahabat-sahabatnya. Dalam perjalanan tersebut, mereka beristirahat untuk menikmati bekal berupa potongan roti kering—bukan daging dan roti basah dari tepung gandum halus yang biasa dihidangkan di meja para raja. Kemudian Ibrahim turun ke sungai. Dia ambil air dengan tangannya, meneguknya dengan menyebut Asma Allah l, lantas berkata,
لَوْ عَلِمَ الْمُلُوكُ وَأَبْنَاءُ الْمُلُوكِ مَا نَحْنُ فِيهِ لَجَالَدُونَا عَلَيْهِ بِالسُّيُوفِ
“Seandainya para raja dan para pangeran mengetahui (kebahagiaan dan kelezatan) yang sedang kita rasakan, niscaya mereka akan berebut dengan kita dengan pedang-pedang (karena iri dan tidak mendapatkan kebahagiaan itu, –pen.).” (Hilyatul Auliya 7/370)
Subhanallah, demikianlah kebahagiaan meliputi kalbu manakala iman telah mendarah daging. Sebuah kebahagiaan yang tidak bisa dicapai oleh para penguasa dunia.
Sebagian salaf mengungkapkan kelezatan iman dengan ucapannya,
مَسَاكِيْنُ أَهْلِ الدُّنْيَا خَرَجُوا مِنْهَا وَمَا ذَاقُوا أَطْيَبَ مَا فِيهَا. قِيلَ: وَمَا أَطْيَبُ مَا فِيهَا؟ قَالَ: مَحَبَّةُ اللهِ وَمَعْرِفَتُهُ وَذِكْرُهُ
“Sesungguhnya orang-orang miskin dari ahli dunia adalah mereka yang meninggalkan dunia, namun belum merasakan apa yang terlezat di dunia.” Ditanya, “Kenikmatan apakah yang paling lezat di dunia?” Dijawab, “Kecintaan kepada Allah l, mengenal-Nya dan mengingat-Nya.”
Kelezatan iman adalah surga di dunia ini. Sebagian ulama berkata,
إِنَّ فِي الدُّنْيَا جَنَّةً، مَنْ لَمْ يَدْخُلْهَا لاَ يَدْخُلُ جَنَّةَ الْآخِرَةِ
“Sungguh, di dunia ada surga, siapa yang belum memasuki surga di dunia itu, ia tidak akan masuk surga di akhirat.” (Surga yang dimaksud adalah kelezatan iman yang berupa kecintaan Allah l, –pen.)
Di muka bumi ini ada manusia yang mencapai puncak-puncak keimanan hingga kelezatan iman ia rasakan. Ada pula yang hanya memiliki iman seberat dzarrah atau lebih ringan. Bahkan, kebanyakan manusia tidak mau masuk ke dalam keimanan, wal-‘iyadzu billah.

Cara Meraih Manisnya Iman
Dalam hadits Anas bin Malik z, Rasulullah n menyebutkan tiga sifat yang dengannya seorang mukmin mendapatkan manisnya iman. Tiga sifat inilah yang seharusnya diminta oleh setiap insan muslim kepada Allah l dan mereka berlomba menggapainya. Allah l berfirman,
“… dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.” (al-Muthaffifin: 26)
Sifat pertama yang harus dimiliki guna meraih manisnya iman adalah mencintai Allah l dan Rasul-Nya, serta mendahulukan keduanya daripada kecintaan terhadap yang lain. Rasulullah n bersabda,
لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
“Tidak akan sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga aku lebih ia cintai daripada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia.”
Cinta kepada Allah l dan Rasul-Nya bukan sekadar pengakuan. Ia harus dibuktikan, sebagaimana Allah l firmankan,
Katakanlah, “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Ali Imran: 31)
Adalah dusta jika seseorang yang mengaku mencintai Allah l dan Rasul-Nya, namun ia tidak mengikuti akidah Rasulullah n, dan yang dia ikuti justru kesyirikan atau khurafat. Adalah dusta jika seseorang yang mengaku dirinya lebih mencintai Allah l dan Rasul-Nya dari segala sesuatu, namun ketika beribadah lebih memilih kebid’ahan-kebid’ahan. Demikian pula, adalah dusta jika seseorang mengaku mencintai Allah l dan Rasul-Nya, namun berpaling dari ilmu syariat.
Kecintaan kepada Allah l, demikian pula sebaliknya kecintaan Allah l kepada hamba-Nya, hanya diperoleh dengan ittiba’ (mengikuti petunjuk) Rasulullah n.
Barang siapa mentadabburi ayat ini, niscaya ia akan sadar bahwa cinta kepada Allah l dan sebaliknya, kecintaan Allah l kepadanya, akan diperoleh manakala seorang terus menapaki jejak Rasulullah n dalam segala sisi kehidupan.
Jika seorang mencintai Allah l dan Rasul-Nya melebihi kecintaan atas segala sesuatu, kebahagiaan dan kelezatan iman akan mengiringi perjalanan hidupnya. Apa pun yang dihadapi dalam perjalanan hidupnya tidaklah menambah selain kebahagiaan, kebaikan, serta ketinggian derajat di dunia dan di akhirat. Namun, apabila seseorang lebih mengutamakan kecintaan yang lain di atas kecintaan Allah l dan Rasul-Nya, tunggulah datangnya ancaman Allah l,
Katakanlah, “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. (at-Taubah: 24)
Sebuah kejadian tertulis dalam referensi-referensi sirah Nabi n, menunjukkan betapa sahabat adalah orang-orang yang sangat bahagia dengan kelezatan iman yang menghiasi diri mereka, dengan mendahulukan kecintaan Allah l dan Rasul-Nya.
Dikisahkan, seusai Perang Uhud, pasukan Rasulullah n memasuki Madinah. Seorang wanita dari Bani Dinar mendapatkan kabar kematian ayah, saudara kandung, dan suaminya sekaligus. Sungguh, berita yang sangat menyedihkan. Namun, wanita itu terus bertanya tentang Rasulullah n, bagaimana keadaan beliau? Begitu ia mendengar dan melihat Rasulullah n selamat, kesedihan itu sirna. Dari lisannya mengalir ucapan,
كُلُّ مُصِيبَةٍ بَعْدَكَ جَلَلٌ
“Semua musibah (yang menimpaku) tidak ada artinya setelah engkau (mendapatkan keselamatan).”
Ketenangan dan kebahagiaan di saat musibah karena kecintaan kepada Allah l dan Rasul-Nya, dan jihad, melebihi segala sesuatu.
Sifat kedua yang menyebabkan seorang mukmin merasakan manisnya iman adalah mencintai karena Allah l. Demikian pula dalam membenci, membela, dan memerangi, semua karena Allah l.
Cinta dan benci karena Allah l adalah tali iman yang paling kokoh, sebagaimana ditunjukkan oleh sabda Rasulullah n,
أَوْثَقُ عُرَى الْإِيْمَانِ الْمُوَالَاةُ فِي اللهِ وَالْمُعَادَاةُ فِي اللهِ وَالْحُبُّ فِي اللهِ وَالْبُغْضُ فِي اللهِ
“Tali iman yang paling kokoh adalah memberikan loyalitas karena Allah l, memusuhi karena Allah l, mencintai karena Allah l, dan membenci karena Allah l.” (HR. ath-Thabarani dari Ibnu Abbas c, dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam ash-Shahihah [2/734 no. 998])
Cinta dan benci karena Allah l adalah konsekuensi kecintaan seseorang kepada Allah l. Seseorang yang jujur cintanya kepada Allah l akan mencintai apa yang dicintai-Nya l, juga membenci apa yang dibenci-Nya l.
Oleh karena itu, di antara doa Rasulullah n—bahkan beliau mewasiatkan umatnya untuk berdoa dengannya—adalah,
أَسْأَلُكَ حُبَّكَ، وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُنِي إِلَى حُبِّكَ
“Ya Allah, aku memohon agar aku mencintai-Mu dan mencintai orang-orang yang mencintai-Mu serta mencintai semua amalan yang mendekatkanku kepada cinta kepada-Mu.” (HR. at-Tirmidzi dan Ahmad, dinyatakan dha’if oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Dha’if al-Jami’, kemudian beliau menyatakannya sahih dalam Sunan at-Tirmidzi no. 3235 dan al-Misykah no. 747)
Ibnu Rajab al-Hanbali t berkata, “Dalam doa ini, selain meminta kecintaan kepada-Nya, Rasulullah n juga memohon dua hal lainnya. Pertama, memohon untuk mencintai orang-orang yang mencintai Allah l. Demikianlah, orang yang mencintai Allah l, pasti mencintai mereka yang dicintai oleh Allah l dan membenci musuh-musuh Allah l…. Dan manusia termulia yang wajib dicintai karena Allah l adalah para nabi dan rasul-Nya, lebih-lebih Nabi Muhammad n, nabi yang Allah l telah mewajibkan manusia mengikuti jalan beliau…. (Kedua), mencintai amalan yang mendekatkan diri kepada Allah l.” (Syarah hadits Ikhtisham al-Mala’il A’la)
Cinta dan benci karena Allah l sendiri semakin terkikis di akhir zaman. Lihatlah, betapa banyak manusia mengikat kecintaannya bukan karena Allah l. Mereka mengikat kecintaan dengan tarekat sufi, klub suporter sepak bola, geng motor, atau partai-partai yang mencerai-beraikan kaum muslimin. Saudaranya muslim dia benci hanya karena berbeda partai, sementara itu seorang fasik atau kafir dia sayangi karena satu partai.3
Abdullah bin al-Abbas bin Abdil Muththalib c berkata,
وَقَدْ صَارَتْ عَامَّةُ مُؤَاخَاةِ النَّاسِ عَلَى أَمْرِ الدُّنْيَا، وَذَلِكَ لاَ يُجْدِي عَلَى أَهْلِهِ شَيْئًا
“Sungguh, kebanyakan persaudaraan manusia karena urusan dunia (bukan lagi karena Allah), dan yang seperti itu tidaklah memberi manfaat sedikit pun padanya.”
Sebab ketiga adalah membenci kesyirikan dan kekafiran sebagaimana ia benci untuk dilemparkan ke dalam api.
Kebencian terhadap kesyirikan dan segenap bentuk kekafiran diwujudkan dengan senantiasa memohon kepada Allah l agar diselamatkan dari kekufuran dan agar hatinya selalu dikokohkan di atas keimanan. Hal itu diwujudkan pula dengan berusaha mengenali kekafiran agar ia bisa menghindarinya.
Bilal bin Rabah z, salah seorang sahabat peraih surga, adalah salah satu sosok teladan dalam mempertahankan iman. Hatinya diliputi kecintaan kepada iman dan kebencian kepada kekufuran. Saat beliau disiksa oleh orang kafir Quraisy di kota Makkah di awal dakwah Islam, beliau dipaksa meninggalkan Islam.
Apakah kemudian beliau melepaskan keimanan? Tidak! Beliau justru mengatakan, “Ahad! Ahad!” Beliau tetap berada dalam agama tauhid hingga datang pertolongan Allah l. Abu Bakar z membelinya dan membebaskannya dari perbudakan.4
Keluarga Yasir z adalah contoh lain dari pengorbanan mempertahankan Islam. Orang kafir Quraisy menyiksa keluarga yang mulia ini. Yasir dan istrinya, Sumayyah, memperoleh kesyahidan. Darah keduanya tertumpah dalam keadaan ridha kepada Allah l dan Allah l ridha kepada keduanya. Jannah mereka raih setelah mereka merasakan manisnya iman dalam kehidupan dunia. Rasulullah n bersabda kepada mereka,
أَبْشِرُوا آلَ عَمَّارٍ وَآلَ يَاسِرٍ، فَإِنَّ مَوْعِدَكُمُ الْجَنَّةُ
“Berbahagialah kalian wahai keluarga ‘Ammar, wahai keluarga Yasir, karena sungguh tempat yang dijanjikan untuk kalian adalah al-Jannah.” (Lihat Shahih as-Sirah an-Nabawiyah, asy-Syaikh al-Albani hlm. 154)
Mereka adalah kaum yang telah berlalu. Mereka meninggalkan dunia dengan penuh kebahagiaan. Tinggallah kita merenungi nasib kita masing-masing dan bertanya, “Sudahkah cinta saya kepada Allah l dan Rasul-Nya lebih dari segalanya? Sudahkah cinta dan benci saya karena Allah l? Sudahkah saya dapatkan kebencian kepada kekufuran sebagaimana saya membenci diri saya dilemparkan ke dalam api?”
اللَّهُمَّ زَيِّنَّا بِزِينَةِ الْإِيمَانِ وَاجْعَلْنَا هُدَاةً مُهْتَدِينَ
“Ya Allah, hiasilah kami dengan hiasan iman dan jadikanlah kami teladan yang membimbing dan mendapatkan bimbingan.”
Amin!

Catatan Kaki:

1 Termasuk yang wajib dipelajari setiap muslim adalah mengenali kesyirikan, kebid’ahan, dan kemaksiatan, agar ia tidak terjatuh pada hal yang dimurkai oleh Allah l dan merusak pohon imannya.

2 Nama lengkapnya Ibrahim bin Adham bin Manshur al-‘Ijli Abu Ishaq al-Balkhi, meninggal pada tahun 162 H.

3 Termasuk partai yang menyatakan berbasis perjuangan Islam, cinta dan benci mereka bukan lagi karena Allah l.

4 Lihat Musnad Imam Ahmad (1/404) dengan sanad yang hasan.

Sebab Kerasnya Kalbu

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafruddin)

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk kalbu mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu kalbu mereka menjadi keras.” (al-Hadid: 16)
Penjelasan Mufradat Ayat
Mayoritas ulama membacanya أَلَمْ, sedangkan al-Hasan dan Abu Simak rahimahumallah membacanya dengan أَلَمَّا.
Al-Qurthubi t mengatakan bahwa يَأْنِ berasal dari kata آنَ dengan mad (memanjangkan alif) yang bermakna حَانَ, yaitu telah dekat dan tiba waktunya.
Ibnu Qutaibah t mengatakan bahwa kata ini berasal dari أَنَى yang bermakna حَانَ الشَّيْءُ, artinya telah dekat atau tiba waktunya.
Asy-Syinqithi t mengungkapkan bahwa setiap fi’il mudhari’ yang majzum dengan lam yang tertera dalam al-Qur’an, apabila didahului oleh hamzah istifham, mengandung dua sisi penafsiran.
Makna mudhari’ (yang berarti “sedang” atau “akan”) diubah menjadi makna madhi (yang berarti “telah lampau/berlalu”). Adapun nafi (peniadaan) diubah maknanya menjadi itsbat (penetapan), dan hamzam istifham di sini bermakna istifham inkari.
Dengan demikian, makna kalimat tersebut adalah الْمَاضِي الْمُثْبَتُ (yang telah lalu yang ditetapkan). Jadi, makna ﮯ ﮰ ﮱ ﯓ adalah آنَ لِلَّذِينَ آمَنُوا. Artinya, telah dekat/tiba waktunya bagi orang-orang yang beriman.
Apa pun bentuknya, apakah berasal dari kata آنَ seperti بَاعَ-يَبِيْعُ, atau dari kata أَنَى seperti رَمَى-يَرْمِي, keduanya bermakna حَانَ, yaitu telah dekat/tiba waktunya.

Kata khusyu’ secara bahasa berasal dari kata yang bermakna ketenangan, ketenteraman, dan kerendahan (tawadhu’). Hal ini seperti yang tertera dalam ayat,
“Dan merendahlah semua suara kepada Rabb Yang Maha Pemurah.” (Thaha: 108)
Demikian pula bumi yang kering, tandus, rendah, tidak tampak hijaunya tumbuh-tumbuhan dan tanam-tanaman, disebut bumi yang khusyu’. Allah l berfirman,
“Di antara tanda-tanda (kekuasaan)-Nya, kamu melihat bumi itu kering tandus, maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur.” (Fushshilat: 39)
Adapun menurut istilah syariat, khusyu’ adalah rasa takut karena Allah l yang merasuk dalam kalbu dan membekas, hingga terlihat tanda kerendahan dan ketenangan pada anggota badan, seperti keadaan orang yang takut.

Yang dimaksud dengan al-haq disini adalah al-Qur’an.

Maksudnya, berlalu atas mereka masa, zaman, dan rentang waktu yang panjang.

Makna Ayat
Ibnu Katsir t dalam mukadimah Tafsir-nya mengatakan, para ulama wajib menyingkap makna-makna yang tertera dalam kalamullah (al-Qur’an) dan tafsirnya, mencarinya pada sumbernya, mempelajari, dan mengajarkannya. Allah l telah mencela orang-orang sebelum kita dari kalangan ahlul kitab karena mereka berpaling dari Kitabullah yang diturunkan kepada mereka, lantas mereka mendatangi, mendekat, dan mengumpulkan urusan dunia. Mereka tersibukkan dari Kitabullah oleh urusan yang mereka tidak diperintahkan untuk mengikutinya.
Maka dari itu, wajib atas kita semua—kaum muslimin—untuk berhenti dan tidak melakukan perbuatan yang menjadi sebab Allah l mencela mereka. Kita wajib mengikuti apa saja yang telah diperintahkan oleh Allah l, yakni mempelajari Kitabullah, mengajarkan, memahami, dan memahamkannya.
Allah l berfirman,
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk kalbu mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya setelah diturunkan al-Kitab kepadanya. Kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu kalbu mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik. Ketahuilah olehmu bahwa sesungguhnya Allah menghidupkan bumi sesudah matinya. Kami telah menjelaskan kepadamu tanda-tanda kebenaran (Kami) supaya kamu memikirkannya.” (al-Hadid: 16—17)
Penyebutan ayat ini setelah ayat sebelumnya mengandung peringatan bahwa sebagaimana Allah l telah menghidupkan bumi sesudah matinya, demikian pula Allah l akan melunakkan kalbu dengan sebab iman dan petunjuk, yang sebelumnya keras karena dosa dan kemaksiatan.
Beliau juga menyebutkan ucapan Qatadah t, bahwa Syaddad bin Aus z pernah meriwayatkan dari Rasulullah n, beliau n bersabda (yang artinya), “Yang pertama kali akan diangkat dari diri manusia adalah khusyuk.”
Dalam ayat ini, Allah l melarang orang-orang mukmin menyerupai orang-orang sebelum mereka yang membawa al-Kitab dari kalangan Yahudi dan Nasrani. Tatkala berlalu atas mereka masa yang panjang, mereka mengganti Kitabullah yang ada di tangan mereka dengan cara menukarnya dengan harga yang sedikit. Mereka melemparkannya ke belakang punggung mereka, memiliki pendapat/ucapan yang berbeda-beda, bertaklid kepada pendapat orang dalam urusan agama Allah l, dan menjadikan orang-orang alim mereka sebagai Rabb selain Allah l. Di saat itulah kalbu mereka menjadi keras. Mereka tidak bisa menerima nasihat. Kalbu mereka tidak bisa menjadi lunak, baik oleh janji maupun ancaman.
Asy-Syaikh as-Sa’di t mengatakan bahwa ketika Allah l menyebutkan (pada ayat sebelumnya) tentang keadaan orang-orang mukmin—baik pria maupun wanita—dan orang-orang munafik—baik pria maupun wanita—kelak di hari akhir, hal itu termasuk perkara yang seharusnya mendorong kalbu untuk tunduk kepada Rabbnya dan tenang/tenteram karena keagungan-Nya. Namun, tatkala keadaan mereka tidak sebagaimana yang dimaksud, Allah l memberikan teguran kepada orang-orang mukmin. Allah l berfirman,
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk kalbu mereka mengingat Allah….”
Maknanya, belumkah datang waktu yang (al-Qur’an) menjadikan kalbu mereka lunak dan tunduk untuk mengingat Allah l, patuh kepada perintah dan larangan-Nya, serta kepada kebenaran yang telah turun, yang dibawa oleh Nabi Muhammad n? Hal ini mendorong orang-orang yang beriman untuk berusaha dengan sungguh-sungguh menundukkan kalbu mengingat Allah l, tunduk kepada al-Qur’an dan al-Hikmah (as-Sunnah), mengingat berbagai peringatan dan hukum syariat-Nya setiap waktu, serta melakukan muhasabah (introspeksi) diri tentang hal-hal tersebut.
Selanjutnya, Allah l melarang orang-orang mukmin menyerupai orang-orang yang telah diturunkan al-Kitab kepada mereka. Kitab itu mengharuskan kekhusyukan kalbu dan ketundukan yang sempurna. Akan tetapi, mereka tidak menetapi dan tidak mengerjakan apa yang ada pada al-Kitab. Berlalu atas mereka masa yang panjang dalam keadaan kelalaian terus-menerus ada pada diri mereka. Akhirnya, hilanglah keimanan mereka dan sirnalah keyakinan mereka. Karena itulah, kalbu mereka menjadi keras.
Maka dari itu, setiap waktu kalbu sangat butuh untuk mengingat kepada kebenaran yang telah diturunkan oleh Allah l dan berbicara dengan hikmah. Tidak sepantasnya kalbu lalai dari hal tersebut karena akan dapat menyebabkan kerasnya kalbu dan keringnya air mata.

Mengenal Hakikat Kalbu
Termasuk prinsip agama dan landasan bagi para penempuh kebaikan adalah mengenal kalbu dan sifat-sifatnya. Karena, barang siapa mengetahui hakikat kalbunya, ia akan mengetahui hakikat Rabb-nya. Akan tetapi, kebanyakan manusia tidak mengetahui hakikat kalbu dan jiwanya. Allah l berfirman,
“Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan kalbunya.” (al-Anfal: 24)
Maksudnya, dengan menghalangi manusia dari mengetahui hakikatnya dan dari merasa terawasi oleh-Nya.
Kalbu (jantung, Ind.) adalah organ tubuh yang sangat penting. Ia memiliki berbagai jenis. Ada kalbu yang sakit (berpenyakit) dan ada yang sehat (selamat). Ada yang lunak (lembut dan khusyuk), ada pula yang keras (kering dan kasar).
Ayat yang disebutkan dalam pembahasan tafsir kali ini menjelaskan bahwa seorang mukmin hendaknya melunakkan kalbunya dengan cara tunduk mengingat Allah l, patuh kepada perintah dan larangan-Nya. Seorang mukmin tidak boleh menjadikan kalbunya keras, dengan cara tidak meniru perbuatan orang-orang ahlul kitab sebelumnya.

Penyebab Kerasnya Kalbu
Al-Alusi t mengatakan bahwa kata “kerasnya kalbu” berasal dari kata “kering dan keras”. Ibrahim bin as-Sari t menyatakan, kata qasat bermakna ghilzhah, yaitu kasar dan keras. Jadi, kerasnya kalbu bermakna hilangnya kelembutan, kasih sayang, dan kekhusyukan darinya.
Berikut ini beberapa hal yang menjadi penyebab kerasnya kalbu.
1. Melanggar janji (berkhianat)
Hal ini sebagaimana yang terjadi pada Bani Israil. Mereka suka mengubah kalam (Allah l), dengan cara mengubah arti kata, tempat, atau menambah dan menguranginya. Mereka sengaja melupakan sesuatu yang telah diperingatkan. Allah l berfirman,
“(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuk mereka dan Kami jadikan kalbu mereka keras membatu.” (al-Maidah: 13)

2. Berlalunya masa yang panjang.
Hal ini seperti yang terjadi pada ahlul kitab. Allah l menurunkan kepada mereka al-Kitab, yang mengharuskan khusyuknya kalbu dan ketundukan yang sempurna. Akan tetapi, mereka tidak menetapi dan tidak mengerjakan apa yang ada pada al-Kitab, hingga berlalu atas mereka masa yang panjang dalam keadaan kelalaian terus-menerus ada pada mereka. Akhirnya, hilanglah keimanan mereka dan sirnalah keyakinan mereka. Oleh sebab itulah, kalbu mereka menjadi keras.
Maka dari itu, Allah l melarang orang-orang mukmin menyerupai mereka.

3. Dosa dan kemaksiatan.
Sebagaimana Allah l telah menghidupkan bumi sesudah matinya, maka demikian pula Allah l akan melunakkan kalbu dengan sebab iman dan petunjuk, setelah kalbu menjadi keras karena dosa dan kemaksiatan.
Ibnul Qayyim t mengatakan bahwa di antara perkara yang harus diketahui, dosa dan kemaksiatan itu berbahaya (berdampak buruk). Pengaruh buruknya kepada kalbu layaknya pengaruh racun terhadap badan, dengan tingkatan yang tidak sama. Apa pun keburukan dan penyakit yang ada di dunia dan akhirat, tiada lain penyebabnya adalah dosa dan kemaksiatan.

Tingkatan Kerasnya Kalbu
Allah l berfiman,
“Kemudian setelah itu kalbumu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal di antara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai darinya, di antaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air darinya, dan di antaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.” (al-Baqarah: 74)
Al-Alusi t mengatakan, ayat di atas mengandung isyarat perbedaan (tingkat) kerasnya kalbu, sebagaimana halnya perbedaan tingkat kerasnya batu. Para ulama tafsir menyebutkan ucapan Ibnu Abbas c dan Mujahid t dalam hal ini.
Ibnu Abbas l mengatakan, “Sesungguhnya, di antara batu itu ada yang lebih lunak daripada kalbu kalian dengan sebab seruan kebenaran yang tertuju kepadanya.”
Mujahid t berkata, “Setiap batu yang mengalir sungai darinya, yang terbelah lantas keluar mata air darinya, dan yang meluncur jatuh dari puncak gunung adalah karena takut kepada Allah l.”

Tercelanya Kalbu yang Membatu
Allah l berfirman,
“Maka apakah orang-orang yang dibukakan oleh Allah kalbunya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Rabbnya (sama dengan orang yang membatu kalbunya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu kalbunya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” (az-Zumar: 22)
Abu Ja’far ibnu Jarir ath-Thabari t mengatakan, “Apakah sama orang yang dilapangkan kalbunya oleh Allah l untuk mengenal-Nya, menetapkan keesaan-Nya, mengakui rububiyah-Nya, tunduk karena ketaatan kepada-Nya, ‘ia selalu mendapat cahaya dari Rabb-Nya’, yaitu di atas hujah dan keyakinan yang nyata pada urusan yang ia berada padanya, dengan cahaya kebenaran yang ada di kalbunya—yang dengan sebab itu ia mengikuti perintah Allah l dan tidak melanggar larangan-Nya—dengan orang yang Allah l menjadikan kalbunya keras dan kosong dari mengingat-Nya, sempit dari mendengar kebenaran dan berbuat yang benar, serta mengikuti hawa nafsunya?”
Tentu tidak sama.

Berbolak-Baliknya Kalbu
Sebagai akhir pembahasan rubrik ini, kami mengingatkan pribadi kami dan segenap kaum muslimin bahwa kalbu yang ada dalam diri kita bukan kita yang mampu mengendalikannya. Seperti pada ayat di atas, Allah l membatasi antara manusia dan kalbunya. Selain itu, kalbu dapat berbolak-balik dengan cepat sehingga seseorang tidak boleh merasa aman dengan keadaannya sekarang. Hendaknya ia sering berdoa dan memohon kepada Allah l untuk ditetapkan serta diteguhkan kalbunya di atas kebaikan dan kebenaran. Lebih-lebih, kita berada pada masa yang jauh dari diturunkannya al-Kitab yang merupakan kebenaran, dan keadaan yang semakin buruk.
Rasulullah n bersabda,
إِنَّ قُلُوبَ بَنِي آدَم كُلَّهَا بَيْن إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِع الرَّحْمَنِ كَقَلْبٍ وَاحِدٍ يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَشَاءُ، ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللهِ n: اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ
“Sesungguhnya kalbu-kalbu manusia seluruhnya berada di antara dua jari dari jari-jemari ar-Rahman seperti kalbu yang satu, Ia ubah (bolak-balikkan) sebagaimana yang Ia kehendaki.” Lantas Rasulullah n berdoa, “Ya Allah, Dzat yang membolak-balikkan kalbu, palingkanlah kalbu kami untuk senantiasa berada di atas ketaatanmu.” (HR. Muslim, dari Abdullah bin Amr c)
Beliau n juga bersabda,
مَثَلُ الْقَلْبِ كَمَثَلِ رِيْشَةٍ بِأَرْضِ فَلَاةٍ تُقَلِّبُهَا الرِّيَاحُ
“Perumpamaan kalbu itu seperti bulu yang berada di padang sahara, yang dibolak-balikkan oleh angin.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah dari Abu Musa al-Asy’ari z)
Ketahuilah, dalam hal tetapnya dalam kebaikan/keburukan atau kebimbangan, kalbu terbagi tiga.
1. Kalbu yang terisi oleh ketakwaan, disucikan dengan ibadah dan akhlak yang mulia, dibersihkan dari keburukan akhlak, dibukakan bisikan yang telah menetap di kalbu berupa kebaikan, dan para malaikat pun membentangkan hidayah baginya.
2. Kalbu yang lalai, dipenuhi oleh hawa nafsu, dikotori oleh kejelekan, dilumuri oleh akhlak yang tercela.
Menguatlah kekuasaan setan untuk memperluas wilayahnya, sebaliknya kekuasaan iman melemah. Kalbu penuh kejelekan hawa nafsu, cahayanya sirna sehingga berubah seperti mata yang tertutupi oleh asap, tidak mungkin dapat melihat. Larangan dan nasihat tidak kagi berpengaruh baginya.
3. Kalbu yang membuka bisikan hawa nafsu, lalu mengajaknya pada keburukan. Namun, bisikan iman menyusulnya dan mengajaknya pada kebaikan. (dinukil dari Mukhtashar Minhajil Qashidin)
Wallahul muwaffiq.

Tanya Jawab Ringkas edisi 79

Cara Mengusap Kepala Wanita Saat Berwudhu
Bagaimana cara mengusap kepala bagi wanita saat berwudhu?
+6281233XXXXXX

Tata caranya sama seperti kaum lelaki. Apabila rambutnya panjang, cukup diusap sampai tengkuk, tidak sampai ujung rambut. Tidak ada dalil khusus untuk wanita.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin
al-Ustadz Qomar Suaidi

Nasihat yang Baik
Ustadz, apakah benar pernyataan bahwa apabila saudara kita merasa jengkel terhadap kita maka kita ikut terkena dosa? Dia merasa jengkel karena dia tidak bisa menerima argumen kita tentang tidak boleh memajang gambar (bernyawa -ed), pacaran, dll.
+6285762XXXXXX

Apabila kejengkelan tersebut karena kita telah menyampaikan ilmu dengan cara yang hikmah, mengamalkan, dan mendakwahkan sunnah dengan cara syar’i maka kita tidak berdosa, justru dia yang terkena dosa. Akan tetapi, apabila dia jengkel karena akhlak kita yang buruk atau kita jatuh dalam dosa, kemungkaran, atau kita tidak menunaikan haknya, kita yang bersalah.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin

Pernikahan Anak-Anak dari Dua Keluarga yang Sama
Bismillah. Ustadz, keluarga A mempunyai seorang anak laki-laki dan dua orang anak perempuan. Adapun keluarga B mempunyai seorang anak perempuan dan dua orang anak laki-laki. Bagaimana hukumnya jika seorang anak laki-laki dari keluarga A menikah dengan seorang anak perempuan dari keluarga B dan dua orang anak perempuan dari keluarga A menikah dengan dua orang anak laki-laki dari keluarga B?
085231XXXXXX

Pernikahan tersebut diperbolehkan karena mereka bukan mahram.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin

Perkataan Seorang Ayah bahwa Putrinya sama dengan Iblis
Bismillah. Seorang ayah yang dianggap ustadz oleh masyarakatnya memarahi putrinya karena lama di kamar mandi (putrinya memiliki uzur karena dia dalam keadaan haid) dan mengatakan kepada putrinya bahwa dia sama dengan iblis. Ayahnya berdalil dengan ucapan Ibnu Umar c yang mengatakan ‘aduwwullah (musuh Allah) kepada anaknya karena menyimpang. Apakah ini dibenarkan?
Apakah yang harus dilakukan putrinya padahal dia telah menjelaskan keadaannya kepada ayahnya? Namun, ayahnya justru mengucapkan, “Kamu hanya beban bagi orang tuamu saja! Ayah berhak untuk mengatakan itu.”
+6285797XXXXXX

Astaghfirullahal ‘azhim. Sekeji itukah seorang ayah (apalagi dianggap sebagai ustadz), mengucapkan kata-kata tersebut kepada putri kandungnya? Di manakah sikap rahmah yang diajarkan oleh Islam? Apakah tidak bisa ditegur dengan kasih sayang? Lebih-lebih putri tersebut memiliki uzur syar’i.
Ucapan yang dinukil dari Ibnu Umar c ini perlu ditinjau ulang. Yang sahih, beliau memang mengumpat dengan keras putranya. Itu pun karena dia menentang hadits sahih, bukan urusan toilet!
Adapun hal yang perlu dilakukan oleh putrinya adalah lebih baik diam, sabar, tawakal kepada Allah l, mendoakan kebaikan dan hidayah untuk ayahnya, memperbaiki sikap, menunjukkan akhlak yang mulia, membantu orang tua dalam perkara ma’ruf dan mubah, tidak berdebat dengan orang tua, dan tidak menggurui. Ambil hati orang tua dengan sikap lemah lembut dan akhlak karimah, membalas kejelekan dengan kebaikan.
Semoga Allah l memberi hidayah kepada “ustadz” tersebut dan kesabaran kepada putrinya. Yassarallahu umurakum.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin

Suami Istri Bersepakat untuk Tidak Berhubungan Badan
Bismillah. Bagaimana hukumnya jika sepasang suami istri telah sepakat untuk tidak berhubungan badan selama lima tahun atau lebih, demi memfokuskan diri menuntut ilmu agama? Jazakumullahu khairan.
+6281355XXXXXX
Menurut hukum syar’i, kesepakatan tersebut menyalahi konsekuensi nikah. Selain itu, secara kenyataan, jarang ada pasutri yang bertahan selama itu, dan tentunya dalam menjalankan kesepakatan tersebut ada unsur keterpaksaan. Solusinya adalah belajar sambil membina rumah tangga, yang penting kesungguhan dan tekad bulat dari keduanya. Yassarallahu umurakum.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin

Duduk Iftirasy pada Shalat Dua Rakaat
Manakah yang lebih sahih antara duduk iftirasy dan duduk tawaruk pada tahiyat akhir shalat dua rakaat?
081541XXXXXX

Inti masalah ini pada hadits Abu Humaid as-Sa’idi. Asy-Syaikh Dr. Muhammad Bazmul mempunyai risalah khusus tentang hadits tersebut. Beliau mengumpulkan sanad-sanad dan lafadz-lafadznya. Secara ringkas, shalat yang hanya mempunyai satu duduk tasyahud maka duduknya iftirasy. Duduk tawaruk hanya pada shalat yang mempunyai dua tasyahud dan dilakukan pada tasyahud akhir. Waffaqakumullah.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin

Akhir Shalat Witir
Kapankah waktu berakhirnya shalat witir?
+6285328XXXXXX

Waktu shalat witir berakhir dengan masuknya waktu subuh yang ditandai dengan terbitnya fajar shadiq. Di zaman sekarang dapat langsung melihat apabila memungkinkan, atau melihat jadwal shalat yang tepercaya.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin

Membayar Utang dalam Masjid
Apakah hukum membayar utang-piutang dalam masjid?
+6285211XXXXXX

Hukumnya diperbolehkan berdasar hadits Abdullah bin Ka’b z yang menagih piutangnya dari Hadrad bin Abi Hadrad. Hadits tersebut terdapat dalam Shahih al-Bukhari.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin

Wanita Mandi di Kamar Mandi Kerabatnya
Apakah diperbolehkan bagi wanita apabila safar ke rumah karib kerabatnya mandi seperti halnya di rumahnya sendiri, yaitu tanpa pakaian, ataukah sama seperti mandi di kamar mandi umum?
+6281996XXXXXX

Kita diperbolehkan mandi di mana pun tanpa pakaian dengan syarat tempat tersebut tertutup dan tidak ada seorang pun yang melihat. Hadits yang melarang wanita membuka pakaian di luar rumah suaminya derajatnya memang sahih, tetapi maknanya adalah apabila di depannya terdapat laki-laki atau terlihat oleh laki-laki yang bukan suaminya, atau ketika mandi auratnya terlihat oleh wanita lain. Demikian penjelasan al-Munawi dalam Faidhul Qadir dan asy-Syaikh Muhammad al-Imam dalam risalah at-Tabarruj.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin

Ayah Melihat Aurat Putrinya
Apakah boleh seorang ayah melihat aurat putrinya untuk keperluan pengobatan?
+6285296XXXXXX

Selama ada ibu, saudarinya, keluarga putri yang lain, atau dokter muslimah, maka ayah tidak boleh melakukan hal tersebut. Namun, apabila hanya ada ayah atau saudara putra lainnya, maka boleh dengan dua syarat:
1. Kondisi darurat, tidak ada cara lain selain itu.
2. Yang dibuka hanya bagian tertentu yang dibutuhkan untuk pengobatan.
Waffaqakumullah.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin

Menyentuh Wanita Ajnabi dalam Kondisi Darurat
Apakah boleh menyentuh wanita ajnabi (bukan mahram) pada kondisi darurat, seperti kecelakaan dan tidak ada yang menolong selain kita?
+6285296XXXXXX

Apabila memang kondisinya darurat, insya Allah tidak masalah. Ciri-cirinya adalah tidak ada cara lain selain itu dan tidak ada syahwat saat kejadian atau setelahnya. Waffaqakumullah.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin

Manusia Melihat Jin
Teman saya mengaku pernah melihat jin di kamar tempat takmir masjid. Apakah manusia bisa melihat jin?
+6285331XXXXXX

Kalau teman Anda seorang yang jujur, hal tersebut mungkin terjadi (yakni melihat jelmaan jin, bukan wujud aslinya) karena memang jin diberi kemampuan oleh Allah l untuk menjelma dan menampakkan diri kepada siapa pun yang mereka kehendaki dengan izin-Nya. Tempat tinggal jin beragam. Jin muslim yang saleh tinggal di dalam masjid, rumah-rumah yang digunakan ibadah, dan tempat yang bersih. Adapun jin yang kafir dan fasiq tinggal di WC, tempat yang kotor, dan rumah yang banyak maksiatnya, terutama apabila penghuni rumah masuk tanpa basmalah. Waffaqakumullah.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin

Sutrah yang Dilewati Anak-Anak
Apa hukum anak-anak yang belum baligh lewat di depan orang shalat yang memakai pembatas?
+6281350XXXXXX

Mereka perlu dibimbing dan diajari tentang keharaman tindakan tersebut. Adapun shalatnya tidak batal kecuali kalau yang lewat adalah wanita yang sudah baligh.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin

Mandi Junub, Lupa Menghapus Kuteks
Seorang wanita memakai kuteks ketika haid, lantas ketika mandi haid, wanita tersebut lupa untuk menghapus kuteksnya. Tetapi, ketika dia hendak berwudhu untuk shalat, dia baru ingat dan segera menghapusnya sehingga ketika dia wudhu kuteksnya sudah hilang. Apa wanita ini harus mandi junub lagi?
+6285762XXXXXX

Insya Allah tidak perlu mengulangnya.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin

Meminta Maaf Sebelum Memasuki Ramadhan
Apakah boleh meminta maaf kepada saudara-saudara muslim sebelum memasuki Ramadhan? Sebagaimana saat ini marak sekali, baik melalui SMS maupun media lainnya.
+6285367XXXXXX

Apabila mengkhususkannya, tidak ada contoh dalam sunnah. Fenomena yang sedang berkembang disebabkan adanya sebagian mubaligh yang salah menerjemahkan hadits mengenai doa Jibril q yang diaminkan oleh Rasulullah n. Waffaqakumullah.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin

Hadits Doa Jibril Menjelang Ramadhan
Apakah sahih hadits, “Menjelang Ramadhan, Jibril pernah berdoa, ‘Ya Allah, abaikan puasa umat Muhammad apabila sebelum masuk Ramadhan tidak memohon maaf kepada orang tua, keluarga, dan orang-orang di sekitarnya,’ lalu Rasulullah n mengamininya sampai tiga kali?” Jazakumullah khairan.
+6281230XXXXXX

Terjadi kesalahan dalam menerjemahkan hadits. Yang benar adalah, “Celaka seseorang yang menjumpai Ramadhan dan keluar darinya dalam keadaan dosanya belum terampuni.” Zadakumullahu ‘ilma.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin

Malaikat Jibril q pernah berdoa, “Ya Allah, jangan diterima puasa umat Nabi Muhammad n sebelum melakukan tiga perkara: Memohon maaf kepada kedua orang tuanya, kepada suami/istrinya, dan kepada saudara sesama muslim.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Apakah hadits tersebut benar/sahih dan sebelum berpuasa disyariatkan untuk meminta maaf?
+6287863XXXXXX

Hadits tersebut—dengan terjemah yang benar sebagaimana disebutkan di jawaban sebelumnya—derajatnya sahih dan diriwayatkan dari beberapa orang sahabat.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin
Tetap Berpuasa Meski Sedang Hamil Tua
Bismillah, bolehkah kita melarang wanita yang hamil tua untuk berpuasa dengan alasan kasihan terhadap janinnya? Wanita tersebut memaksa diri ingin berpuasa agar dia tidak membayar fidyah, karena wanita tersebut keadaannya sangat tidak mampu untuk membayar fidyah.
+628567XXXXXX

Masalah ini dikembalikan kepada kondisi ibu dan janin. Apabila kuat, dia berpuasa. Apabila tidak, pendapat yang rajih adalah dia mengqadha puasa, bukan fidyah. Hal ini berdasarkan hadits Anas bin Malik al-Ka’bi z.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin

Menjadi Pengawas di Bank Riba
Saya bekerja di bank sentral. Saat ini saya ditugaskan sebagai pengawas bank dan kebetulan bank yang saya tempati semuanya berpraktik riba. Apakah pada yaumil hisab nanti saya akan digolongkan sebagai saksi riba dan dibangkitkan seperti orang kesurupan setan?
+628124XXXXXX

Semua pihak yang terkait dengan bank ribawi termasuk dalam ancaman riba yang disebutkan dalam al-Qur’an dan as-Sunnah, kecuali jika dia jahil atau terpaksa. Seyogianya Anda keluar dan mencari pekerjaan lain yang halal.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin

Utang yang Belum Terbayar
Bismillah, saya mempunyai utang yang belum terbayar kepada seseorang yang dia sudah meninggal. Apakah utang tersebut dibayarkan kepada ahli warisnya atau disedekahkan atas namanya? Perlu diketahui, utang-piutang di antara kami tanpa sepengetahuan ahli warisnya.
+6287812XXXXXX

Selama Anda mengetahui ahli warisnya, Anda harus jujur membayar utang tersebut dan diserahkan kepada mereka. Tetapi, kalau Anda tidak mengetahui keberadaan mereka, maka Anda sedekahkan atas namanya. Waffaqakumullah.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin
Jima’ pada Malam Ramadhan
Bagaimana hukumnya bila suami istri bercampur pada malam bulan Ramadhan dan mandi junubnya pada jam tujuh pagi?
+6281370XXXXXX

Puasanya tetap sah, karena pernah terjadi pada masa Rasulullah n. Beliau pernah junub dari keluarganya kemudian mandi ketika subuh dan melanjutkan puasanya. Namun, masalahnya adalah, apakah pasutri tersebut tidak shalat Subuh atau memang tertidur sampai jam tujuh? Apabila tertidur, ketika bangun mereka mandi junub lalu shalat, dan puasanya sah. Waffaqakumullah.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin
Perbedaan Kitab-Kitab
Apakah perbedaan antara kitab-kitab ini: Silsilah ash-Shahihah, Shahihul Jami’, Jami’ush Shahih, Shahihul Musnad, dan Irwa’ul Ghalil?
081391XXXXXX

Silsilah ash-Shahihah adalah karya besar al-Albani t yang mengumpulkan hadits-hadits sahih dengan takhrij yang lengkap. Shahihul Jami’ adalah kumpulan hadits sahih yang dipilih oleh al-Albani dari kitab al-Jami’us Shaghir karya as-Suyuthi t. Adapun al-Jami’us Shahih adalah karya asy-Syaikh Muqbil al-Wadi’i t dengan susunan bab fikih dari kitab aslinya, ash-Shahihul Musnad. Irwa’ul Ghalil adalah sebuah karya al-Albani t yang merupakan takhrij kitab Manarus Sabil.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin