Tanya Jawab Ringkas Edisi 102

Pada rubrik Tanya Jawab Ringkas edisi ini, kami muat beberapa jawaban dari al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad as-Sarbini.

Salah Baca Surat, Sujud Sahwi?

Apakah ada sujud sahwi setelah salam bagi imam yang lupa/salah dalam membaca surat setelah al-Fatihah?

0811XXXXXX

 

Jawaban:

Tidak ada.

 

Waktu Akikah

Jika bayi lahir tanggal 30 Agustus jam dua malam, kapan tanggal akikahnya?

085786XXXXXX

 

Jawaban:

Dasar pertanyaan Anda salah. Hukum-hukum dalam syariat Islam semuanya berdasarkan perhitungan bulan Qamariah (tahun Hijriah) bukan Masehi. Pergantian tanggal dalam bulan Qamariah dimulai sejak terbenamnya matahari, dan siangnya mengikutinya.

Akikah disunnahkan pada hari ketujuh. Rumusnya, hari lahir dikurangi satu. Jika lahir malam Kamis, terhitung hari Kamis; dikurangi satu, berarti akikahnya hari Rabu.

 

Tidak Sempat Qadha Puasa Karena Praktikum Kuliah

Sewaktu saya (perempuan) kuliah, saya pernah tidak menjalankan puasa Ramadhan 3—5 hari. Karena sibuk praktikum, saya tidak dapat mengganti puasa tersebut pada bulan lain sampai beberapa tahun kemudian. Apakah saya masih wajib membayar fidyah dan ganti puasa tersebut?

082271XXXXXX

 

Jawaban:

Jika praktikum itu tidak menyebabkan Anda pada kondisi sangat tersiksa oleh puasa, khawatir binasa, atau termudaratkan karenanya, Anda tidak punya uzur untuk berbuka. Bahkan, kuliah dan praktikum itu bukan hal yang wajib bagi Anda untuk dijadikan alasan berbuka karena sampai pada kondisi tersebut. Jika demikian, yang rajih, orang yang berbuka tanpa uzur tidak disyariatkan mengqadha apalagi membayar fidyah. Hal itu adalah dosa besar, wajib bagi pelakunya bertobat dan memperbanyak puasa sunnah serta amalan sunnah lainnya untuk mengimbanginya.

 

Cara Pemberian Kafarat Puasa

Apakah boleh pembayaran kafarat memberi makan 60 orang miskin diberikan kepada satu orang karena dia benar-benar membutuhkan? Bolehkah kita berikan dalam bentuk uang?

085728XXXXXX

 

Jawaban:

Tidak boleh dan tidak sah memberikan kafarat kepada satu orang miskin saja, walaupun ia sangat butuh; kafarat harus diberikan kepada 60 fakir miskin. Selain itu, kafarat tidak boleh dan tidak sah dibayarkan dalam bentuk uang; harus dalam bentuk makanan pokok (beras atau nasi) sebagaimana perintah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

Antara Puasa Syawal dan Puasa Qadha Ramadhan

Manakah yang afdal dikerjakan puasa enam hari pada bulan Syawal atau puasa qadha puasa Ramadhan?

085869XXXXXX

 

Jawaban:

Yang benar, dahulukan puasa qadha, karena hukumnya wajib, sedangkan puasa Syawal hukumnya sunnah. Bahkan, fadhilah puasa enam hari Syawal tidak berlaku bagi orang yang belum menyelesaikan puasa Ramadhan karena belum mengqadhanya.

Bagaimana jika sudah telanjur puasa Syawal terlebih dahulu, dalam keadaan baru mengetahui bahwa yang lebih rajih demikian. Bagaimana halnya dengan hadits Aisyah yang mengqadha puasa sampai bulan Sya’ban?

08586XXXXXX

 

Jawaban:

Tetap dapat pahala, insya Allah. Tidak ada dalil pada hadits qadha Aisyah tersebut. Sebab, jika puasa qadha yang bersifat wajib saja ditunda oleh beliau karena kepentingan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, terlebih lagi puasa sunnah 6 hari bulan Syawal, besar kemungkinan Aisyah tidak melakukannya. Wallahu a’lam.

 

Belum Hapal Bacaan Shalat

Saya seorang muslim yang melakukan shalat tetapi belum hapal bacaannya. Apakah shalat saya itu sah?

085768XXXXXX

 

Jawaban:

Anda wajib mempelajarinya semampu Anda, terutama bacaan al-Fatihah yang merupakan rukun shalat sendiri dan wajib bagi makmum. Jika Anda telah berusaha semampunya dan shalat dengan kemampuan yang ada, insya Allah sah. Teruslah belajar untuk menyempurnakannya, Allah tidak membebani hamba-Nya lebih dari kemampuannya.

 

Nazar Puasa Seumur Hidup

Sewaktu saya masih menderita penyakit kulit, saya bernazar untuk berpuasa seumur hidup (jika sembuh). Apakah saya wajib memenuhi nazar tersebut?

089682XXXXXX

 

Jawaban:

Puasa seumur hidup hukumnya haram. Dengan demikian, nazar Anda tergolong nazar maksiat yang tidak boleh ditunaikan dan wajib ditebus dengan kafarat menurut pendapat yang rajih. Kafaratnya adalah kafarat sumpah, yaitu:

  • Memberi makan sepuluh fakir miskin dengan makanan yang layak (pertengahan) dari yang Anda nafkahkan kepada keluarga, atau memberi pakaian.
  • Jika tidak mampu melaksanakan pilihan pertama, berpuasa tiga hari berturut-turut.

Lain kali jangan bernazar, karena bernazar hukumnya makruh dan tidak pernah menjadi faktor tercapainya suatu maksud. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dan tidak pernah melakukannya. Begitu pula para sahabat tidak berlomba-lomba melakukannya.

 

Konsultasi Nama Anak

Insya Allah sebentar lagi saya punya momongan. Saya masih awam bahasa Arab. Seandainya diberi nama Abdan Syakur Wafi, mohon dijelaskan artinya.

08572XXXXXX

 

Jawaban:

Abdan Syakur Wafi artinya hamba yang banyak bersyukur lagi menunaikan. Sebaiknya, nama itu satu kata saja, meniru nama salah satu nabi atau sahabat, atau nama Abdu digandengkan setelahnya dengan salah satu asma Allah, seperti Abdusy Syakur atau semisalnya. Tidak mengapa nama selain itu yang bermakna baik, selama tidak mengandung rekomendasi terhadapnya.

34

Hukum Makan Burung Berparuh Panjang

Apa hukum memakan burung bangau dan sejenisnya yang berparuh panjang?

085758XXXXXX

 

Jawaban:

Burung bangau dan semacamnya yang berparuh panjang dan makan ikan hukumnya halal, karena bukan predator yang memburu mangsa dengan cakarnya.

 

Shalat di Dalam Penjara

Seseorang berada di lapas (lembaga pemasyarakatan/penjara). Jika hendak melaksanakan shalat di dalam kamar, apakah dia perlu azan dan iqamat?

085397XXXXXX

 

Jawaban:

Jika di sekitar penjara ada masjid yang azannya menjangkau penjara—yaitu seandainya azan itu tanpa mikrofon, di keheningan, tanpa ada gedung penghalang—dia tidak wajib azan lagi, cukup iqamat. Akan tetapi, tetap disunnahkan untuk azan. Jika tidak demikian keadaannya, ia wajib azan dan iqamat setiap kali hendak shalat.

 

Jual Beli Emas

Jika kita ingin menjual emas pada saat harga emas sedang naik, kemudian kita menerima selisih kelebihan dari harga penjualan saat membelinya; apakah tergolong riba?

085758XXXXXX

 

Jawaban:

Jual beli emas dengan uang rupiah boleh ada selisih harga (mengambil keuntungan, ed.) dengan syarat serah terima langsung (taqabudh), tidak ada yang ditunda serah terimanya.

 

Utang Ditanggung Ahli Waris?

Apabila suami meninggal dunia dalam keadaan mempunyai utang dan meninggalkan seorang istri dan beberapa orang anak, apakah yang menanggung utang suami adalah para ahli warisnya (anak dan istri)? Apakah seseorang yang mempunyai utang boleh dishalatkan waktu meninggal?

087737XXXXXX

 

Jawaban:

Jika ia meninggalkan harta waris, wajib dibayarkan dari harta waris itu sebelum dibagi oleh ahli warisnya, meski habis untuk membayar utang. Jika tidak mempunyai harta peninggalan, ahli warisnya tidak berkewajiban membayarnya, tetapi sebaiknya mereka membayarkannya jika mampu.

Seseorang yang meninggal dan mempunyai utang tetap dishalati.

 

Musafir Shalat Maghrib Berjamaah dengan Jamaah Isya’

Ketika saya safar, dalam perjalanan masuk waktu isya. Shalat maghrib dijamak dengan shalat isya. Berhubung shalat berjamaah dengan jamaah setempat, saat saya duduk tasyahud akhir rakaat ketiga dari shalat maghrib, imam bangkit. Setelah itu, bagaimana cara pelaksanaan shalat isya?

081263XXXXXX

 

Jawaban:

Anda wajib duduk tasyahud di akhir rakaat ketiga. Setelah itu, Anda punya dua pilihan:

  1. Memperlama doa untuk menunggu sampai imam duduk tasyahud juga, lalu salam bersamanya.
  2. Berniat keluar dari jamaah dan menyelesaikan shalat sendiri dengan cepat agar dapat melanjutkan shalat isya secara berjamaah dengan imam, jika diduga kuat bisa bergabung dengannya sebelum i’tidal.

 

Mantan Mertua Masih Mahram?

Apakah mantan istri/suami dan mertua masih mahram?

08123XXXXXX

 

Jawaban:

Mantan istri/suami masih mahram dengan mertuanya.

 

Contoh Kasus Waris

Ayah kami menikah dengan seorang wanita dan tidak mempunyai anak dari pernikahan itu. Kemudian ayah kami meninggal dengan meninggalkan harta bersama istrinya tersebut berupa tanah, rumah, dan kendaraan. Apakah kami (dua bersaudara, laki-laki dan perempuan) berhak atas harta tersebut? Bagaimana pembagiannya?

085646XXXXXX

 

Jawaban:

Kalian sebagai anak-anaknya berhak, istri yang ditinggalkannya juga berhak. Pastikan dari harta itu yang merupakan milik ayah kalian untuk dibagi dengan rincian:

  • istri mendapat 1/8;
  • 2 anak (laki-laki dan perempuan) mendapat sisanya dengan perbandingan untuk laki-laki 2 bagian, perempuan 1 bagian. Wallahu a’lam.

 

Shalat Bagi Penderita Alzheimer

Apakah lansia yang menderita penyakit alzheimer boleh meninggalkan kewajiban shalat? Karena beliau benar-benar sudah banyak lupa dengan rukun shalat.

082182XXXXXX

 

Jawaban:

Orang yang kehilangan akal karena gila atau pikun tidak terkena kewajiban shalat, puasa, dan lainnya.

 

Larangan Mengucapkan Hari Raya Agama Lain

Tolong jelaskan dalil larangan mengucapkan selamat hari raya agama lain seperti galungan, kuningan, nyepi, dll.

081337XXXXXX

 

Jawaban:

Hari raya Islam hanya ada dua, Idul Fithri dan Idul Adha. Adapun hari raya selain Islam tidak boleh diikuti. Kita tidak boleh berpartisipasi dan memberi ucapan selamat. Ini termasuk dalam prinsip alwala’ al-bara’ (mencintai dan memusuhi) karena Allah dan di jalan Allah.

 

18 Tahun Belum Bayar Fidyah

Saya belum membayar fidyah sewaktu menyusui anak pada bulan Ramadhan 18 tahun yang lalu. Bolehkah kita membayarkannya kepada keluarga kita yang tidak mampu?

085381XXXXXX

 

Jawaban:

Jika Anda berkeyakinan ibu menyusui membayar fidyah, boleh memberikan kepada keluarga yang tidak mampu. Namun, yang benar wanita menyusui tidak boleh berbuka kecuali jika khawatir terhadap bayinya atau dirinya berdasarkan indikasi yang ada; kewajibannya adalah qadha, bukan fidyah.

 

Jejaring Sosial

Mohon nasihatnya bagi ikhwan dan akhwat yang sering menggunakan jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, dan lainnya, dengan dalih untuk berdakwah atau menambah ilmu. Akan tetapi, mereka malah terjerumus dalam ikhtilath dan perkataan sia-sia dengan saling memberi komentar terhadap lawan jenis dan menceritakan masalah masing-masing. Hal ini juga sering menimpa orang yang sudah berkeluarga sehingga tidak jarang menimbulkan perselisihan suami-istri.

0896XXXXXXX

 

Jawaban:

Kami nasihatkan bagi mereka yang terjerumus dalam keburukan facebook dan semacamnya agar bertakwa kepada Allah. Barang siapa terfitnah dengan ‘pergaulan’ facebook dan semacamnya, hendaklah dia bertakwa dan malu akan hal itu. Ketahuilah, malu itu merupakan keimanan.

Masih banyak media lain yang aman untuk menuntut ilmu dan berdakwah. Berkah itu dari Allah semata.

 

Suami Marah, Menawarkan Cerai

Apabila suami saya sedang marah sering berkata, “Bagaimana kalau kita cerai saja,” apakah dengan kalimat tersebut sudah jatuh talak?

082326XXXXXX

 

Jawaban:

Tampaknya kalimat itu masih sebatas tawaran atau ancaman kepada istri, dia belum mantap untuk menjatuhkan talak. Dengan demikian, talak belum jatuh dengan ucapan itu belaka.

 

Cukur Rambut dan Potong Kuku Sebelum Niat Kurban

Seseorang memasuki bulan Dzulhijjah dan belum memiliki niat untuk berkurban sebab belum ada dana. Dia sudah mencukur rambut atau potong kuku. Kemudian dia mendapatkan rejeki sehingga bisa berkurban. Bolehkah?

085292XXXXXX

 

Jawaban:

Tidak mengapa, karena dia melakukannya sebelum berniat. Larangan berlaku sejak berniat berkurban.

 

Rasul Tidak Puasa Arafah

Apakah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah/sempat melakukan puasa Arafah? Sebab, sebagian orang tidak mau puasa dengan alasan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melakukannya.

08233XXXXXXX

 

Jawaban:

Rasul tidak melakukan puasa Arafah ketika berhaji (hajjatul wada’) dan hal itu menunjukkan tidak disunnahkan bagi jamaah haji di Arafah. Adapun bagi orang lainnya yang tidak berhaji, terdapat hadits sahih yang menganjurkannya dengan keutamaan menghapus dosa-dosa setahun sebelumnya dan setelahnya. Lihat buku kami, Fikih Puasa Lengkap.

 

Gabung Niat Puasa Arafah dengan Senin-Kamis

Bolehkah menggabungkan niat puasa Senin-Kamis dengan puasa Arafah yang bertepatan dengan hari Kamis?

082134XXXXXX

 

Jawaban:

Puasa Senin-Kamis dan puasa Arafah adalah puasa sunnah khusus yang diperintahkan. Jadi, tidak boleh digabung niatnya. Jika hari Arafah jatuh pada hari Kamis, berpuasalah dengan niat puasa Arafah.

 

Larangan Memotong Kuku dan Rambut Bagi yang Akan Berkurban

Jika suami akan berkurban, apakah anak dan istri terkena hukum larangan memotong kuku, rambut, dll.?

085275XXXXXX

37

Jawaban:

Pemahaman tersebut salah. Yang benar adalah hadits Ummu Salamah dalam Shahih Muslim yang melarang hal itu bagi yang berniat berkurban. Adapun keluarganya tidak terkena hukum tersebut.

 

Zakat Usaha

Saya mendirikan usaha menjual kayu kelapa, bambu, tepas, dan kayu. Apakah usaha saya terkena zakat jika sudah cukup satu tahun?

081263XXXXXX

 

Jawaban:

Zakat usaha/dagang tidak ada menurut pendapat yang rajih. Namun, uang hasil usaha tersebut jika mencapai nishab perak (harga 595 gr perak) lantas nishab itu bertahan setahun, wajib dikeluarkan zakatnya sebesar 1/40 (2,5%).

Dinasihatkan bagi para pengusaha yang sukses agar banyak bersedekah dan berinfak.

 

Zakat Fitrah

Nenek saya janda dan mempunyai sawah yang dikerjakan oleh orang lain. Hasilnya bisa digunakan untuk keperluan harian. Apakah nenek saya berhak mendapat zakat fitrah?

081329XXXXXX

 

Jawaban:

Jika nenek Anda miskin, hasil sawah itu belum mencukupinya, ia berhak mendapat zakat. Namun, seseorang tidak tidak boleh menyalurkan zakat kepada kerabat yang dia tanggung nafkahnya.

 

Haji dengan Uang Riba

Bagaimana hukumnya jika naik haji dengan uang riba yang sudah dibayarkan dan akan berangkat tiga tahun lagi? Bagaimana cara bertobat dari perbuatan tersebut?

085279XXXXXX

 

Jawaban:

Bertobatlah kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan menyesal, berhenti dari hal itu dan bertekad tidak akan mengulanginya. Ambil uang riba itu dan bersihkan diri Anda darinya dengan cara menghabiskannya untuk pembangunan fasilitas umum, seperti jalan umum, selokan, WC umum, dan yang semisalnya.

 

Mimisan Sewaktu Shalat

Bagaimana jika ketika kita shalat, hidung kita mimisan? Apakah shalat kita batal?

085710XXXXXX

 

Jawaban:

Tetap lanjutkan shalat Anda. Darah mimisan tidak membatalkan wudhu dan shalat, bukan pula najis menurut pendapat yang rajih.

 

Anak Menjadi Wali Nikah Ibu

Apakah anak kandung laki-laki dewasa bisa menjadi wali nikah ibunya?

085866XXXXXX

 

Jawaban:

Ya. Jika ayah wanita itu sudah tidak ada atau ada halangan syar’i untuk menjadi wali, tugas wali beralih kepada anak tersebut.

 

Shalat dalam Keadaan Junub karena Lupa

Seseorang dalam keadaan junub kemudian shalat fardhu. Kondisi dia pada saat itu dalam keadaan sakit (demam). Ia ingat setelah masuk dua kali shalat fardhu. Apakah shalat yang dilakukannya sah? Jika harus mengqadha, bagaimana caranya?

38

Jawaban:

Shalat fardhu yang dilaksanakan tanpa mandi karena lupa, wajib diqadha. Jika demam dan akan termudaratkan oleh air (tambah sakit atau memperlama kesembuhan), boleh tayammum.

Cara mengqadhanya digabung keduanya pada waktu zhuhur. Jadi,  setelah shalat zhuhur, langsung qadha zhuhur lalu qadha ashar.

 

Shaf Anak dalam Shalat Jamaah

Bolehkah anak usia lima tahun berada di shaf orang dewasa saat shalat berjamaah? Ia sudah bisa berwudhu tetapi belum paham bacaan shalat. Apakah syarat seorang anak sudah boleh bershaf bersama orang dewasa saat shalat berjamaah?

 

Jawaban:

Syaratnya adalah usia tamyiz, biasanya tujuh tahun dan dia telah bersuci dari hadats. Wallahu a’lam.

 

Shalat Setelah Keguguran

Jika seorang wanita keguguran pada usia kehamilan empat bulan dan dikuret, apakah dia boleh shalat lima waktu?

 

Jawaban:

Janin yang berusia empat bulan sepertinya belum berbentuk fisik manusia yang terdiri dari kepala, jari, dst. Jika benar demikian, bukan termasuk nifas menurut pendapat yang terkuat. Hukumnya adalah darah fasad seperti istihadhah, tetap wajib shalat.

 

Hukum Sembelihan

Hukum sembelihan bila terputus salah satu dari al-wadjan saja, maka tidak sah. (Syarh Bulugh, 6/52-53) Apakah maksud tidak sah pada kalimat di atas bermakna haram dimakan walau telah membaca takbir waktu menyembelih?

 

Jawaban:

Terpotongnya kedua wadjan (urat/pembuluh darah besar) yang berada di leher adalah syarat sahnya sembelihan, tetapi tidak harus putus. Jika yang terpotong hanya salah satunya, sembelihan tidak sah dan haram dimakan. Ini menurut pendapat yang rajih dan lebih hati-hati. Wallahu a’lam.

 

Bekerja di Koperasi Simpan-Pinjam

Jika kita bekerja di koperasi simpan-pinjam (riba) yang mempunyai usaha lain berupa wisma/hotel, dengan laba mayoritas berasal dari koperasi riba, apakah hal ini diperbolehkan? Apa boleh pula bekerja sebagai karyawan wisma?

 

Jawaban:

Jika perputaran usaha wisma/hotel itu juga bermodal dari dana hasil riba itu, haram bekerja di situ. Apalagi jika pada usaha wisma itu terjadi ikhtilat/perbauran karyawan wanita dan pria, hal itu haram dari sisi lainnya.

 

Gadai Motor Riba

Saat ini saya sedang terjerat riba. BPKB motor saya gadaikan 4 juta. Untuk melunasinya, saya harus membayar 4 juta (pokok) dan 150 ribu (bunga). Uang tersebut saya gunakan untuk modal dagang. Apakah modal dan keuntungan dagangan saya halal? Saya ingin segera melunasinya sebisa mungkin karena takut sekali terjatuh dalam dosa.

 

Jawaban:

Jika Anda melakukan itu dalam keadaan tidak tahu hukumnya, ada uzur bagi Anda. Jika sudah tahu hukumnya haram, wajib bertobat. Baik yang pertama maupun yang kedua, upayakan menasihati/melobi pihak yang mengutangi agar menggugurkan tuntutan bunga (riba) itu. Jika berhasil, itulah yang diinginkan. Jika tidak berhasil, tetap lunasi dengan terpaksa dan dia yang menanggung dosanya. Wallahu a’lam.

 

Mahar Kitab, Harus Diajarkan?

Apakah seseorang yang menikah dengan mahar sebuah kitab harus memberikan faidah/mengajarkan kitab tersebut?

 

Jawaban:

Tidak harus, karena kitab itu sendiri sudah berharga.

 

Hak Tinggal Pascacerai

Jika istri minta cerai dari suaminya, siapakah yang berhak untuk tinggal di rumah, istri atau suami?

 

Jawaban:

Yang berhak tinggal di rumah itu adalah yang mempunyai rumah. Jika yang mempunyai adalah suami, berarti istri yang keluar; begitu pula sebaliknya.

 

Hukum Wudhu setelah Mandi Wajib

Bagaimana hukum wudhu sebelum mandi wajib? Apakah kita harus wudhu lagi setelah itu karena akan melaksanakan shalat?

 

Jawaban:

Wudhu atau mendahulukan anggota wudhu sebelum mandi wajib, hanya sunnah. Jika hal itu diamalkan dan tidak berhadats setelahnya, itu sudah cukup tanpa perlu berwudhu lagi.

 

Mengubur Janin

Bagaimana cara menanam/mengubur janin keguguran yang baru berusia dua bulan?

 

Jawaban:

Tidak disyariatkan dikuburkan, cukup dipendam di mana saja.

 

Utang Puasa karena Sakit

Ibu kami utang puasa 25 hari karena sakit. Sekarang beliau masih dalam pengobatan pasca operasi (tumor ganas) hingga dua bulan ke depan, sedangkan beliau belum mampu mengqadhanya. Padahal bulan Ramadhan akan segera. Bagaimana solusinya?

 

Jawaban:

Jika dokter spesialis mengatakan masih ada harapan sembuh dan tidak ada keharusan untuk selalu minum obat pada siang hari, tunggu saja sampai sembuh. Setelah itu ibu Anda mengqadha seluruh utang puasa di luar Ramdhan walaupun melewati sekian kali Ramadhan. Hal ini disebabkan adanya uzur.

 

Kembalian Pembeli yang Tertunda

Bagaimana hukumnya jika dalam transaksi jual-beli ada uang kembalian pembeli yang ditunda kembaliannya oleh penjual?

 

Jawaban:

Boleh. Yang tidak boleh apabila menukar uang dengan uang, karena diharuskan serah-terima dengan tuntas di majelis itu sebelum berpisah, tanpa ada yang tersisa/tertunda, di samping nilainya harus sama.

Kirim SMS/WA Pertanyaan ke Redaksi 081328078414 atau via email ke tanyajawabringkas@gmail.com

Jika pertanyaan Anda cukup dijawab secara ringkas, akan kami muat di rubrik ini. Namun, jika membutuhkan jawaban yang panjang lebar, akan kami muat di rubrik Problema Anda, insya Allah.

Seluruh materi rubrik Tanya Jawab Ringkas (Asy-Syariah) dapat di akses di www.tanyajawab.asysyariah.com

Tentang Cinta

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah)

Hampir dipastikan semua orang mengetahui kata cinta dan pernah mengucapkannya dengan lisan maqal1 ataupun lisan hal2. Suami menyatakannya kepada istrinya, istri kepada suami, ayah dan ibu kepada anak-anaknya, anak kepada orang tuanya, cinta saudara dan kerabat, cinta kepada sahabat dan teman-teman, cinta tanah air dan negeri. Ada pula pernyataan cinta kepada Allah l, cinta Rasul, dan cinta agama.
Di antara cinta, ada yang merupakan ibadah dan ada yang bukan. Ada cinta yang dibolehkan dan ada pula cinta yang terlarang.
Cinta yang merupakan ibadah adalah cinta yang disertai dengan ketundukan, menghinakan diri, mendekat, dan mengagungkan yang dicintai. Inilah cinta atau mahabbah yang tidak boleh diberikan selain kepada Allah k semata.
Seluruh pengabdian yang dilakukan oleh hamba untuk Rabbnya harus dilandasi dengan cinta, selain rasa khauf/takut dan raja’/berharap. Dia memang Dzat yang sangat dicintai oleh para hamba-Nya yang beriman. Selain ditakuti murka, azab, dan siksa-Nya, bersamaan dengan itu diharapkan pula pengampunan, pahala, dan rahmat-Nya. Karena itulah, hamba yang benar-benar takut kepada-Nya akan terus mendekat kepada-Nya dengan melakukan ketaatan yang ikhlas, sesuai dengan bimbingan Rasul n, dengan penuh cinta dan berharap.
Perlu diketahui, semata-mata pengakuan cinta kepada Allah l tanpa dibarengi oleh ibadah ketaatan dan menjauhi maksiat tidak bisa menyelamatkan seorang hamba di akhirat.
Di antara manusia ada yang kosong hatinya dari cinta kepada Allah l karena telah dipenuhi oleh cinta yang batil, seperti cinta kepada sesembahan selain Allah l, cinta kepada dunia, nafsu, dan syahwat. Kalaupun ada tersisa cinta kepada Allah l, namun cintanya telah ternoda.
Dalam buku al-Jawabul Kafi atau ad-Da’u wad Dawa’ (hlm. 292—293), al-Imam Ibnul Qayyim t membagi cinta menjadi empat macam, ditambah macam yang kelima. Antara satu dan yang lainnya harus dibedakan agar seorang hamba tidak keliru bertindak.
Pertama: Mahabbatullah; cinta kepada Allah l.
Menurut asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alusy Syaikh t, penulis Fathul Majid Syarhu Kitabit Tauhid, mahabbatullah ini adalah pokok agama Islam, yang berporos di atasnya kutub raja’ (berharap) kepada-Nya. Apabila cinta ini sempurna, sempurna pula tauhid seorang hamba dan sebaliknya. (Fathul Majid, hlm. 290)
Namun, seperti yang telah disinggung sebelum ini bahwa cinta ini semata tanpa dibarengi yang lain, tidak cukup untuk menyelamatkan si hamba dari azab Allah l dan tidak cukup untuk beroleh keberuntungan meraih pahala-Nya. Buktinya, orang-orang musyrikin, para penyembah salib, Yahudi, dan selain mereka juga mengaku cinta kepada Allah l, namun adakah mereka selamat karenanya?
Allah l berfirman,
“Dan di antara manusia ada yang menjadikan tandingan-tandingan selain Allah yang mereka cintai seperti cinta kepada Allah, sementara orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah.” (al-Baqarah: 165)
Dalam penafsiran firman Allah l, “yang mereka cintai seperti cinta kepada Allah” ada dua pendapat:
1. Orang-orang musyrikin mencintai tandingan/sesembahan mereka sebagaimana mereka mencintai Allah l. Dengan demikian, mereka memiliki rasa cinta kepada Allah l, tetapi cinta itu mereka sekutukan dengan cinta kepada sesembahan mereka.
2. Orang-orang musyrikin mencintai tandingan/sesembahan mereka sebagaimana orang-orang beriman mencintai Allah l.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t menguatkan pendapat yang pertama. Beliau menyatakan, “Mereka itu dicela tidak lain karena menyekutukan Allah l dengan tandingan mereka dalam hal cinta. Mereka tidak memurnikan cinta tersebut untuk Allah l sebagaimana cinta orang-orang beriman kepada Allah l.”
Kelak di dalam neraka orang-orang musyrikin akan menyesali penyekutuan yang mereka lakukan ketika di dunia dengan berkata kepada sekutu dan sesembahan mereka yang hadir bersama mereka dalam azab,
“Demi Allah, sungguh kami dahulu (di dunia) dalam kesesatan yang nyata karena kami mempersamakan kalian dengan Rabb semesta alam.” (asy-Syu’ara: 97—98) (Lihat Fathul Majid, hlm. 290—291)

Kedua: Mencintai apa yang dicintai oleh Allah l.
Cinta inilah yang memasukkan seorang hamba ke dalam Islam dan mengeluarkannya dari kekafiran. Orang yang paling dicintai oleh Allah l adalah yang paling menegakkan cinta ini dan paling bersemangat melakukan amalan yang mendatangkan cinta Allah l. Dengan cinta yang kedua ini, ditegakkanlah ibadah kepada Allah l.

Ketiga: Cinta untuk Allah l dan karena Allah l.
Ini adalah kelaziman dari mencintai apa yang dicintai oleh Allah l. Tidak akan tegak cinta kepada apa yang dicintai oleh Allah l selain cinta untuk-Nya dan karena-Nya, lillah dan fillah. Jadi, tidak ada cinta kepada siapa dan apa pun selain karena Allah, bukan karena dorongan duniawi.

Keempat: Mencintai sesuatu dengan kadar yang sama dengan cinta kepada Allah l.
Ini adalah mahabbah syirkiyyah, cinta yang syirik. Setiap orang yang mencintai sesuatu sama dengan cintanya kepada Allah l, bukan untuk Allah l, bukan pula karena Allah l, berarti ia telah menjadikan tandingan bagi Allah l.
Inilah cinta orang-orang musyrikin, seperti yang disinggung pada jenis cinta yang pertama.

Kelima: Mahabbah thabi’iyah, yaitu kecondongan seseorang kepada sesuatu yang mencocoki tabiat dan seleranya.
Contohnya, orang yang haus suka kepada air, orang lapar senang kepada makanan, cinta istri dan anak, dan semisalnya. Cinta seperti ini tidaklah tercela melainkan apabila sampai melalaikan dari zikir kepada Allah l dan menyibukkan diri dari cinta kepada-Nya, sebagaimana Allah l berfirman,
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta-harta kalian dan anak-anak kalian melalaikan kalian dari mengingat Allah. Barang siapa berbuat demikian, mereka itulah orang-orang yang rugi.” (al-Munafiqun: 9)
“Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan, tidak pula oleh jual beli dari mengingat Allah, serta dari mendirikan shalat dan membayar zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang di hari itu hati dan penglihatan menjadi goncang.” (an-Nur: 37)

Cinta yang Paling Agung
Ada macam cinta yang paling tinggi, paling puncak, dan paling sempurna yaitu khullah. Tiada tersisa di hati tempat bagi selain yang dicintai dan sama sekali tidak ada yang menyamai posisi yang dicintai.
Allah l mencintai semua hamba-Nya yang beriman. Tetapi, untuk dua hamba-Nya yang pilihan secara khusus dijadikan-Nya sebagai khalil, yaitu Nabi Ibrahim q dan Nabi Muhammad n.
Rasulullah n mengabarkan dalam sabdanya,
إِنَّ اللهَ اتَّخَذَنِي خَلِيْلاً كَمَا اتَّخَذَ إِبْرَاهِيْمَ خَلِيْلاً
“Sesungguhnya, Allah telah menjadikan aku sebagai khalil sebagaimana Dia telah menjadikan Ibrahim sebagai khalil.” (HR. Muslim)
Dalam hadits lain, Rasulullah n memberitakan,
لَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا خَلِيْلاً مِنْ أَهْلِ الْأَرْضِ، لَاتَّخَذْتُ أَباَ بَكْرٍ خَلِيْلاً، وَلَكِنَّ صَاحِبَكُمْ خَلِيْلُ اللهِ
“Seandainya aku boleh mengambil khalil dari penduduk bumi niscaya aku akan menjadikan Abu Bakr sebagai khalil. Akan tetapi, teman kalian ini (maksudnya diri beliau sendiri) adalah khalil bagi Allah.”3 (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Tatkala hati Nabi Ibrahim q terisi dengan rasa cinta yang mendalam terhadap Ismail, putranya, Allah l menguji kekasih-Nya ini dengan perintah yang diperoleh dalam mimpi agar menyembelih sang putra karena Allah l tidak menghendaki hati kekasih-Nya dipenuhi dengan kecintaan kepada selain-Nya. Dengan demikian, maksud sebenarnya bukanlah penyembelihan jasad sang putra, melainkan menyembelihnya dari hati Ibrahim agar hati itu murni hanya untuk Allah l.
Tatkala Ibrahim bersegera menjalankan titah yang diperoleh dan menunjukkan bahwa beliau lebih mencintai Allah l daripada cintanya kepada sang putra maka tercapailah maksud, ditebuslah sang putra dengan seekor domba. Ibrahim berhasil membuktikan cintanya yang sangat tinggi hanya kepada Rabbnya. (al-Jawabul Kafi, hlm. 294)

Mengaku Cinta
Banyak orang mengaku cinta kepada Allah l, namun benarkah pengakuan tersebut dan diterimakah cintanya?
Semua yang mengaku-aku tersebut hendaknya dihadapkan dengan ayat ujian atau ayat mihnah yaitu firman Allah l,
Katakanlah, “Jika kalian benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.” (Ali Imran: 31)
Sebagian salaf mengatakan, ketika ada orang-orang yang mengaku cinta kepada Allah l maka Allah l menurunkan ayat mihnah ini.
Dengan demikian, bukti kebenaran pengakuan tersebut adalah mengikuti Rasulullah n. Siapa yang bersemangat mengikuti ajaran Rasul n, menghidupkan sunnahnya, dan menolong agamanya berarti ia telah membuktikan kebenaran cintanya.
Sebaliknya, siapa yang benci kepada sunnah Rasul n, antipati dengan orang-orang yang menghidupkan sunnah dan senang dengan bid’ah bahkan menyebarkannya, lantas ia mengaku cinta kepada Allah l, berarti ia telah membuktikan sendiri bahwa cintanya hanya omong besar alias dusta!
Siapa yang benar-benar mengikuti Rasulullah n karena cinta kepada Dzat yang mengutusnya, akan berbuah kecintaan Sang Pengutus. Jadilah cinta berbalas, tak bertepuk sebelah tangan. Tidak hanya itu, pengampunan Allah l pun diraih.

Kaum yang Cintanya Berbalas
Allah l berfirman menyebutkan orang-orang yang mencintai dan dicintai-Nya,
“Wahai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kalian yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya.” (al-Maidah: 54)
Allah l menyebutkan empat tanda atau ciri-ciri kaum tersebut.
1. Mereka memiliki kasih sayang dan kelembutan terhadap orang-orang yang beriman.
2. Bersikap keras kepada orang-orang kafir.
3. Berjihad di jalan Allah l dengan jiwa, tangan, lisan, dan harta mereka.
4. Dalam memegangi ketaatan kepada Allah l, mereka tidak peduli celaan orang yang mencela.

Sebab Mendapatkan Cinta
Ada sepuluh sebab di antara sekian banyak sebab menumbuhkan cinta kepada Allah l.
1. Membaca al-Qur’an dengan mentadabburi dan berusaha memahaminya.
2. Mendekat/taqarrub kepada Allah l dengan mengerjakan amalan nafilah/sunnah setelah menunaikan yang wajib.
3. Terus-menerus mengingat-Nya dalam seluruh keadaan, baik dengan lisan, hati, maupun amalan.
4. Mengutamakan apa yang dicintai oleh Allah l daripada apa yang dicintai oleh jiwanya.
5. Hati berusaha menelaah nama-nama dan sifat-sifat-Nya.
6. Mempersaksikan kebaikan-Nya serta nikmat-Nya yang lahir dan batin.
7. Benar-benar hati itu luluh lantak di hadapan-Nya.
8. Memanfaatkan waktu turunnya Allah l untuk bermunajat kepada-Nya, membaca al-Qur’an, serta ditutup dengan istighfar dan taubat.
9. Duduk bermajelis dengan orang-orang saleh yang mencintai Allah l, mengambil buah dari ucapan mereka yang baik. Selain itu, ia tidak berbicara melainkan dipastikan ada kemaslahatannya.
10. Menjauhi segala sebab yang dapat memisahkan hati dengan Allah l. (Fathul Majid, hlm. 292—293)
Ya Allah, jadikanlah kami hamba yang benar cintanya kepada-Mu….

Catatan Kaki:

1 Dalam bentuk perkataan.
2 Mengungkapkannya bukan dengan ucapan melainkan dengan perilaku, sikap, dan tindakan.

3 Dari sini, kita tahu kesalahan orang yang mengatakan Rasulullah n sebagai habibullah, karena mahabbah sifatnya umum. Semua orang beriman adalah habibullah, sementara itu khullah adalah cinta yang khusus dan yang tertinggi. Oleh karena itu, sebutan yang benar terhadap Rasulullah n adalah khalilullah.

Keluar ke Lapangan Shalat Id Bagi Wanita Zaman Sekarang

Apa hukumnya wanita keluar menuju lapangan untuk menghadiri shalat Id, khususnya di zaman kita ini yang banyak godaan/ujian, dan sebagian wanita keluar dalam keadaan berhias dan memakai wangi-wangian? Apabila kita mengatakan boleh, bagaimana yang Anda katakan tentang ucapan Aisyah x (saat melihat keadaan para wanita yang keluar ke masjid),
لَوْ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ n رَأَى مَا أَحْدَثَ النِّسَاءُ لَمَنَعَهُنَّ الْمَسْجِدَ
“Seandainya Rasulullah melihat apa yang diada-adakan wanita (pada hari ini) niscaya beliau akan melarang mereka dari mendatangi masjid.”2
Jawab:
Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin t menjawab, “Yang kami pandang (benar) dalam hal ini adalah para wanita diperintah untuk keluar menuju mushalla (tanah lapang) tempat pelaksanaan shalat Id agar mereka bisa menyaksikan kebaikan dan ikut serta dengan kaum muslimin dalam shalat dan doa mereka. Akan tetapi, wajib bagi mereka keluar dalam keadaan tidak berhias, tanpa tabarruj, mempertontonkan perhiasan dan keindahan diri di hadapan para lelaki, dan tanpa memakai minyak wangi3. Artinya, mereka harus mengumpulkan antara mengerjakan sunnah Rasul n dan menjauhi penyebab godaan.
Adapun perbuatan sebagian wanita yang bertabarruj dan memakai wangi-wangian, hal itu karena kebodohan mereka. Di sisi lain, pihak penguasa kurang menjalankan kewajibannya dalam hal ini. Namun, hal ini tetap tidak menghalangi hukum syariat yang umum, yaitu perintah bagi wanita untuk keluar ke lapangan shalat Id.
Tentang ucapan Aisyah x yang disebutkan dalam pertanyaan, maka (jawabannya sebagai berikut), termasuk sesuatu yang sudah dimaklumi, apabila mengerjakan sesuatu yang mubah memberi dampak timbulnya keharaman, yang mubah tadi menjadi haram, karena umumnya wanita keluar rumah dengan model yang tidak syar’i. Namun, tentu kita tidak boleh melarang semua wanita. Yang kita larang hanyalah para wanita yang keluar dengan model seperti yang disebutkan.” (Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibni Utsaimin, 16/211)

Catatan Kaki:

2 Diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya.
3 Rasulullah n bersabda memperingatkan para wanita yang ikut hadir shalat berjamaah di masjid,
إِذَا شَهِدَ إِحْدَاكُنَّ الْمَسْجِدَ فَلاَ تَمَسَّ طِيْبًا
“Apabila salah seorang dari kalian menghadiri shalat berjamaah di masjid, janganlah ia menyentuh (baca: memakai) minyak wangi.” (HR. Muslim)
Dalam riwayat al-Imam Ahmad dari hadits Abu Hurairah z disebutkan bahwa Rasulullah n bersabda,
لاَ تَمْنَعُوْا إِمَاءَ اللهِ مَسَاجِدَ اللهِ وَلْيَخْرُجْنَ تَفِلاَتٍ
“Janganlah kalian melarang hamba-hamba perempuan Allah untuk shalat di masjid-masjid Allah, namun hendaknya mereka keluar dengan tidak memakai wewangian.”

Mandi dan Berhias di Hari Jum’at

Apakah mandi Jum’at dan tajammul (berhias dengan memakai pakaian yang bagus dan wangi-wangian) pada hari Jum’at berlaku umum bagi laki-laki dan perempuan? Lalu apa hukum mandi sehari atau dua hari sebelum Jum’at?
Jawab:
Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin t menjawab, “Hukumnya khusus bagi lelaki karena merekalah yang diwajibkan menghadiri shalat Jum’at di masjid dan lelaki pula yang dituntut untuk tajammul saat keluar ke masjid. Adapun perempuan tidaklah disyariatkan mandi dan tajammul. Akan tetapi, tentunya jika seseorang mendapati ada kotoran pada tubuhnya, sepantasnya ia membersihkannya (dengan mandi) karena hal itu termasuk perkara yang terpuji dan tidak pantas ditinggalkan.
Adapun mandi sehari atau dua hari sebelum Jum’at tidaklah bermanfaat1, karena hadits-hadits tentang masalah ini hanya mengkhususkan hari Jum’at, yaitu sejak terbit fajar di hari tersebut atau terbitnya matahari sampai ditegakkannya shalat Jum’at. Inilah saat disyariatkan mandi Jum’at. Adapun mandi sehari atau dua hari sebelumnya tidaklah bermanfaat dan tidak mencukupi dari mandi Jum’at.” (Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibni Utsaimin, 16/134—135)

 

CAtatan Kaki:

1 Apabila dikaitkan dengan mandi Jum’at karena tidak bisa menggugurkan mandi Jum`at atau mewakilinya.

Shalat di Hari Jum’at Bagi Wanita

Berapa rakaat shalat yang harus dilakukan wanita pada siang hari Jum’at?
Jawab:
Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin t menjawab, “Apabila si wanita shalat Jum’at bersama imam di masjid, ia shalat sebagaimana imam shalat (yaitu sejumlah dua rakaat). Adapun apabila ia shalat di rumahnya, ia shalat zhuhur empat rakaat.” (Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibni Utsaimin, 16/60)

Kiat Menghadai Ujian Wanita

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu ‘Ishaq al-Atsariyah)

Rasul yang mulia n pernah bersabda,
مَا تَرَكْتُ بَعْدِيْ فِتْنَةً هِيَ أَضَرُّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ
“Tidaklah aku tinggalkan sepeninggalku ujian yang lebih berbahaya bagi lelaki daripada fitnah wanita.” (HR. al-Bukhari no. 5096 dan Muslim no. 6880)
Demikianlah memang, jenis perempuan menempati peringkat pertama dari sekian kesenangan dunia yang sangat menggoda kaum Adam. Allah l berfirman,
“Dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan kepada syahwat yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (Ali Imran: 14)
Al-Hafizh Ibnu Katsir t menerangkan, “Allah l mengabarkan tentang perkara yang dijadikan indah pada pandangan manusia dalam kehidupan dunia ini berupa berbagai macam kelezatan, dari jenis wanita, anak-anak, (dan lainnya). Allah l memulai dengan penyebutan wanita karena fitnah yang didapatkan dari mereka amat besar, sebagaimana disebutkan di dalam hadits.” (Tafsir Ibni Katsir, 2/15)
Hampir-hampir tidak ada lelaki yang dapat selamat dari fitnah yang dilihatnya di setiap tempat ini, apakah di jalan, di televisi, di internet, di majalah, di tempat kerja, di pasar, dan di tempat-tempat lain. Yang dilihat bukan wanita yang rapat menutup aurat bahkan sebaliknya mengumbar aurat. Kalaupun ada yang berusaha menutup aurat, namun jauh dari aturan busana muslimah yang syar’i dengan model kerudung dua warna atau yang diberi pernak-pernik dengan gelungan rambut yang diangkat tinggi di baliknya (model punuk unta, -red.), dan baju panjang sampai mata kaki dengan bordiran atau hiasan lain di sana-sini, misalnya. Sungguh, penampilan tabarruj yang dilarang oleh Allah l.
Adalah sukses besar apabila ada lelaki yang selamat dari godaan wanita cantik, bukan karena si lelaki melihat tidak ada peluang ke arah sana atau situasi kondisi tidak mendukung, namun ia menolak karena takut kepada Allah l. Maka dari itu, keutamaan yang agung bagi Nabi Yusuf q saat beliau menolak ajakan berzina dari istri al-Aziz, pembesar Mesir, yang jatuh cinta kepadanya. Dalam posisi wanita itu bukan perempuan biasa dan beliau sendiri adalah seorang pemuda yang sedang mencapai puncak jiwa mudanya yang biasanya punya kecenderungan syahwat yang besar terhadap wanita, apatah lagi si wanita jelita telah berserah diri….
Karena itu, pantas sekali lelaki yang bisa berbuat demikian mendapatkan janji beroleh naungan pada hari kiamat, di saat tidak ada naungan selain naungan Allah l. Rasulullah n bersabda,
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ: … وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصَبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ: إِنِّي أَخَافُ اللهَ l
Ada tujuh golongan yang Allah l naungi dalam naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya. (Di antaranya) seorang lelaki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang punya kedudukan dan kecantikan namun ia menolak dengan berkata, “Aku takut kepada Allah l.” (HR. al-Bukhari no. 6806 dan Muslim no. 2377)
Menghadapi dahsyatnya fitnah wanita yang seakan mengepung kaum lelaki, ada beberapa cara yang bisa ditempuh agar kita selamat darinya dengan pertolongan Allah l1, di antaranya:

1. Beriman kepada Allah l dan takut kepada-Nya
Iman kepada Allah l dan takut kepada-Nya merupakan tali kekang yang menahan seorang hamba dari berbuat haram dan menceburkan diri ke dalam lumpur hitam syahwat.
Apabila seorang mukmin tumbuh dengan merasakan pengawasan Allah l serta menelaah rahasia dari nama-nama dan sifat-sifat-Nya seperti al-Alim (Maha Berilmu), as-Sami’ (Maha Mendengar), al-Bashir (Maha Melihat), ar-Raqib (Maha Mengawasi), asy-Syahid (Maha Mempersaksikan), al-Hasib (Maha Menghitung), al-Hafizh (Maha Menjaga), dan al-Muhith (Maha Meliputi), niscaya akan membuahkan rasa takut kepada-Nya dalam keadaan rahasia/tersembunyi ataupun terang-terangan di tengah banyak orang. Hal itu juga akan membuat si hamba berhenti dari berbuat maksiat, dan menghalangi dirinya menerima ajakan syahwat yang arah menuju kejelekannya demikian kuat.

2. Menundukkan pandangan dari melihat yang haram
Pandangan mata akan membuat lintasan-lintasan buruk di dalam hati, lalu betikan/lintasan tersebut meningkat menjadi pikiran, kemudian naik menjadi syahwat, lalu muncullah keinginan buruk. Bila bertambah kuat tanpa bisa dikendalikan, jatuhlah pelakunya ke dalam perbuatan yang haram.
Perhatikanlah ayat berikut ini, bagaimana Allah l menggandengkan pandangan mata kepada yang haram dengan penjagaan kemaluan.
Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangan mereka dan memelihara kemaluan mereka….” (an-Nur: 30)
Al-Hafizh Ibnu Katsir t mengatakan, “Ini adalah perintah Allah l kepada para hamba-Nya yang beriman agar menundukkan sebagian pandangan mata mereka dari hal yang diharamkan atas mereka, sehingga mereka tidak memandang selain sesuatu yang dibolehkan bagi mereka dan agar mereka menundukkan pandangan mereka dari hal yang haram. Apabila secara tidak sengaja pandangan mata jatuh pada yang haram, hendaklah ia segera memalingkannya.” (Tafsir Ibni Katsir, 5/396)
Jarir bin Abdillah al-Bajali z berkata, “Aku pernah menanyakan kepada Nabi n tentang pandangan yang tiba-tiba (tanpa sengaja), maka beliau memerintahkan aku agar memalingkan pandanganku.” (HR. Muslim)

3. Menolak lintasan hati yang jelek
Perkara jelek yang terlintas dalam hati sungguh berbahaya. Ketika betikan itu datang pada seseorang lalu ia tidak berusaha menepisnya maka akan meningkat menjadi pikiran, lalu keinginan, selanjutnya tekad yang kuat, kemudian perbuatan yang haram.
Maka dari itu, berhati-hatilah membiarkan niatan jelek terlintas di hati. Seharusnya hal itu ditolak dan diganti dengan betikan hati yang baik.
Dengan demikian, cara mengobati bila muncul niatan yang buruk adalah dengan bersegera menepisnya dan menyibukkan jiwa dengan memikirkan hal yang bermanfaat baginya.

4. Menikah
Abdullah ibnu Mas’ud z berkata bahwa Nabi n bersabda,
يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْباَءَةَ فَلْيَتَوَزَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرَجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ باِلصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ
“Wahai sekalian pemuda! Siapa di antara kalian yang memiliki kemampuan, hendaknya dia menikah, karena menikah akan lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barang siapa yang belum mampu, hendaknya dia berpuasa, karena puasa adalah tameng baginya….” (HR. al-Bukhari no. 5065 dan Muslim no. 3384)

5. Berpuasa bagi yang belum mampu menikah
Ini berdasarkan hadits yang disebutkan di atas. Al-Imam al-Qurthubi t berkata, “Apabila sedikit makan, syahwat pun lemah. Apabila syahwat lemah, sedikitlah maksiat.”

6. Menjauh dari teman-teman yang buruk.
Rasulullah n bersabda,
الرَّجُلُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
“Seseorang itu sesuai dengan agama sahabatnya, maka hendaknya salah seorang dari kalian melihat dengan siapa dia bersahabat.” (HR. Abu Dawud no. 4193, dinyatakan hasan oleh al-Imam al-Albani t dalam Shahih Abi Dawud)
Oleh karena itu, seseorang harus pandai-pandai memilih teman dan hati-hati dalam bergaul. Jangan sampai ia berteman dengan seseorang yang akan menyeretnya ke dalam perbuatan dosa. Betapa banyak orang yang semula dikenal sebagai orang baik-baik, namun karena pengaruh teman, ia menjadi orang yang jelek.

7. Menjauh dari tempat-tempat godaan/cobaan
Tidak tersembunyi bagi kita bahwa sekarang ini kita hidup di tengah masyarakat yang dikepung oleh godaan dari segala arah, baik bersumber dari media massa, poster-poster di jalanan, iklan-iklan, wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang di hampir setiap tempat, produk-produk yang memajang gambar/model wanita; di bungkus sabun, kemasan shampo, pasta gigi, produk makanan dan minuman, dan sebagainya.
Oleh karena itu, berusahalah menjauh darinya agar selamat. Bagaimana caranya? Salah satunya seperti yang telah disebutkan di atas: menundukkan pandangan.
Wallahul musta’an, mohonlah pertolongan kepada Allah l dari badai fitnah di sekeliling kita.

9. Bersemangat mengisi waktu dengan ketaatan kepada Allah l
Waktu adalah nikmat yang sangat agung dari sekian nikmat Allah l yang diberikan-Nya kepada para hamba. Akan tetapi, banyak orang yang melalaikannya. Ibnu Abbas c berkata bahwa Nabi n bersabda,
نِعْمَتَانِ مَغْبُوْنٌ فِيْهِمَا كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
“Ada dua kenikmatan yang kebanyakan orang merugi (terhalang dari mendapat kebaikan dan pahala) di dalamnya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. al-Bukhari no. 6412)
Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin t menasihatkan, “Sepantasnya insan yang berakal memanfaatkan waktu sehat dan waktu luangnya untuk melaksanakan ketaatan kepada Allah k sesuai dengan kemampuannya. Jika ia dapat membaca al-Qur’an, hendaknya ia memperbanyak bacaannya. Apabila ia tidak pandai membacanya, hendaknya ia memperbanyak zikir kepada Allah l (sambil berusaha belajar membaca al-Qur’an tentunya, –pen.). Apabila tidak, ia melakukan amar ma’ruf nahi mungkar atau mencurahkan kemampuannya untuk membantu dan beramal kebaikan kepada saudara-saudaranya. Semua ini adalah kebaikan yang banyak, namun terluputkan dari kita.” (Syarhu Riyadhis Shalihin, 1/452)

10. Mengingat nikmat akhirat
Khususnya adalah mengingat kebaikan yang disiapkan oleh Allah l di surga kelak bagi insan beriman yang bersabar menjauhi maksiat, yaitu hurun ‘in (bidadari surga yang bermata jeli) dengan segala sifatnya yang sangat istimewa. Mereka tidak bisa dibandingkan sama sekali dengan perempuan-perempuan yang dilihatnya di dunia, secantik apa pun.
Semoga tulisan ini membantu seorang muslim untuk bersikap zuhud dari mengejar dan menceburkan diri ke dalam “nikmat dunia” yang fana lagi diharamkan, yang tidak mewariskan selain kerugian dan penyesalan.
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Zinnirah Arrumiyyah

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman bintu ‘Imran)

Dalam sejarah, terselip sekelumit kisah. Tentang seorang wanita sahaya yang hidup dalam kepemilikan tuannya. Namun, cahaya keimanan yang disambutnya mengantarnya menjadi wanita mulia. Dia lepas dari belenggu kekufuran, lepas dari belenggu perbudakan.
Tiga belas tahun sebelum hijrah. Seorang hamba yang terbaik, Muhammad bin ‘Abdillah n diangkat oleh Allah menjadi seorang rasul. Allah l mengutusnya untuk mengentaskan para hamba-Nya dari kehinaan kubangan kesyirikan.
Cahaya Islam pun menyeruak kegelapan jahiliah di Jazirah Arab. Mulailah Rasulullah n mengajak setiap manusia untuk menanggalkan belenggu paganisme. Beliau n menunjukkan jalan untuk mencapai kemuliaan hakiki, dalam penghambaan kepada Allah l saja.
Seruan beliau mengguncang kepongahan kaum musyrikin Arab. Mereka menganggap, beliau telah mengoyak kepercayaan nenek moyang mereka yang mulia. Mereka bertambah berang manakala banyak kalangan budak sahaya milik mereka yang mengikuti seruan keimanan itu.
Kecongkakan itu mendorong mereka berbuat lalim. Setiap orang yang mereka ketahui mengikuti agama Rasulullah n tidak akan lepas dari intimidasi mereka.
Sampai suatu hari, seorang tokoh musyrikin Quraisy, Abu Jahl, menyiksa dengan amat kejam tujuh orang budak lemah yang masuk Islam. Di bawah terik matahari gurun, dilancarkannya berbagai tindakan kekejaman demi mengembalikan budak-budak itu kepada agama nenek moyang.
Adalah Zinnirah x, seorang budak wanita milik Bani Abdid Dar. Wanita ini berasal dari negeri Romawi. Dia salah seorang di antara hamba Allah l yang beriman. Hari itu dia turut didera oleh siksaan Abu Jahl ini. Siksaan yang hampir-hampir tak tertanggungkan oleh wanita yang lemah seperti dirinya.
Di tengah kesakitan, kepedihan dan kepayahan tiada tara, Allah l menurunkan pertolongan-Nya. Lewatlah Abu Bakr ash-Shiddiq z.
Menyaksikan budak-budak itu disiksa sedemikian rupa, Abu Bakr z tersentuh. Bergegas Abu Bakr z mengambil tindakan. Dibelinya ketujuh orang budak itu dari majikannya, lalu dimerdekakannya.
Namun, selepas itu, ternyata Allah l masih berkehendak menguji Zinnirah. Setelah dimerdekakan oleh Abu Bakr z , dia tertimpa kebutaan.
Kejadian ini menjadi bahan ejekan kaum musyrikin Quraisy. “Zinnirah dibutakan oleh Latta dan ‘Uzza gara-gara dia kufur terhadap Latta dan ‘Uzza!” cemooh mereka.
Zinnirah mendengar ucapan mereka. Dengan sepenuh keimanan dia menjawab, “Sesungguhnya aku benar-benar kafir terhadap Latta dan ‘Uzza!”
Allah l pun mengembalikan penglihatannya.
Zinnirah ar-Rumiyyah, semoga Allah l meridhainya…
Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.
Sumber bacaan:
Al-Ishabah, al-Hafizh Ibnu Hajar al-’Asqalani (8/150—151)
Al-Isti’ab, al-Imam Ibnu ‘Abdil Barr (2/525)

Berkatalah yang Baik atau Diam

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman bintu ‘Imran)

Melihat anak bertingkah dan berperilaku dengan segala keterbatasannya, membuat kita makin menyadari tugas dan tanggung jawab sebagai orang tua. Tindak-tanduk yang kurang beradab dan ucapan yang kurang santun kadang masih saja muncul dari anak-anak. Perkataan lantang kepada orang tua, ucapan yang kurang sopan kepada tetangga, teman, atau siapa pun, masih sering terdengar. Bahkan, ketika terjadi perselisihan dengan yang lain, makian dan ucapan tak pantas kadang masih terlontar tanpa pikir panjang. Kalau bukan kita sebagai orang tua dan pendidik mereka, siapa lagi yang bisa diharap untuk membenahi pribadi mereka? Dengan mengharap pertolongan Allah l, kita berusaha menanamkan kebiasaan berkata yang baik pada diri anak-anak.
Bisa jadi, di awal langkah, kita perlu memberitahukan kepada mereka bahwa berkata yang baik adalah perintah Rasulullah n. Jadi, itu adalah bagian agama kita. Seorang muslim harus berkata dengan ucapan-ucapan yang baik.
Abu Hurairah z menyampaikan bahwa Rasulullah n bersabda,
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Siapa yang beriman kepada Allah l dan hari akhir, hendaknya dia mengucapkan perkataan yang baik atau diam.” (HR. al-Bukhari no. 6475 dan Muslim no. 48)
Macam-macam ucapan yang baik di antaranya zikir kepada Allah l, tasbih, tahmid, membaca al-Qur’an, mengajarkan ilmu agama, menyuruh orang lain berbuat kebaikan, dan melarang orang lain dari kejelekan. Ini semua adalah perkataan yang memang berupa ucapan yang terpuji.
Ada pula ucapan yang baik karena sebab lain. Misalnya, perkataan yang tidak termasuk jenis ucapan yang terpuji (sebagaimana zikrullah –pen.), namun bertujuan menyusupkan kegembiraan pada diri teman duduknya. Ucapan seperti ini baik, karena menumbuhkan keakraban dan menghilangkan kekakuan. Bisa terbayang, jika seseorang duduk bersama orang lain, lalu dia tidak bisa berbincang-bincang dengan ucapan terpuji (seperti mengajarkan ilmu atau amar ma’ruf nahi mungkar –pen.), dan akhirnya hanya diam sejak bertemu hingga berpisah. Keadaan seperti ini tentu membuat kaku suasana dan tidak ada keakraban. Kalau dia berbincang-bincang dengan perkataan yang bukan jenis ucapan yang terpuji, namun bertujuan mencairkan suasana atau memberi suasana gembira kepada teman duduknya, ini adalah ucapan yang baik karena sebab yang lainnya. (Syarh al-Arba’in an-Nawawiyah, asy-Syaikh Ibnu Utsaimin, hlm. 200—201).
Oleh karena itu, kita berikan dorongan kepada mereka agar biasa mengucapkan zikir-zikir yang disyariatkan dalam keseharian. Selain itu, kita mengarahkan mereka agar selalu berucap dengan perkataan yang baik dan santun kepada siapa pun; ayah, ibu, kakak, adik, tetangga, teman, dan selainnya.
Setiap kali mereka mengatakan ucapan yang jelek dan kurang beradab, kita harus waspada dan segera memberikan peringatan. Lebih-lebih apabila ucapan itu dilarang oleh syariat. Kita hendaknya memberi pengertian bahwa ucapan yang mereka katakan adalah ucapan yang dilarang oleh Allah l dan Rasul-Nya. Ini agar mereka mengambil pelajaran dari larangan kita, dan diharapkan mereka tidak akan mengulanginya lagi. Rasulullah n pernah memberi pelajaran kepada ‘Aisyah x atas ucapan jelek yang diucapkannya. Dikisahkan oleh ‘Aisyah x,
قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ صَفِيَّةَ امْرَأَةٌ-وَقَالَتْ بِيَدِهَا هَكَذَا كَأَنَّهَا تَعْنِي قَصِيْرَةً-فَقَالَ: لَقَدْ مَزَجْتِ بِكَلِمَةٍ لَوْ مَزَجْتِ بِهَا مَاءَ الْبَحْرِ لَمُزِجَ.
“Aku pernah mengatakan, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya Shafiyyah itu seorang wanita (yang seperti ini).’ ‘Aisyah berisyarat dengan tangannya seolah-olah dia menyatakan ‘pendek’. Rasulullah n mengatakan, ‘Sesungguhnya engkau telah mengatakan sebuah kalimat yang jika engkau campurkan ke air laut, niscaya akan tercemari!’.” (HR. at-Tirmidzi no. 2502, dinyatakan sahih oleh al-Imam al-Albani t dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi)
Kadangkala pula, emosi yang belum matang membuat anak sulit mengendalikan kemarahannya. Akibatnya, ucapan yang terlontar pun kadang tak terkendali. Keluar celaan atau makian kepada orang atau sesuatu yang menjadi sumber kemarahannya. Melihat yang seperti ini, tentu tak layak kita tinggal diam. Anak-anak butuh bimbingan dan pengarahan.
Mereka perlu mengerti bahwa tidak pantas seorang yang beriman menjadi orang yang suka mencela dan berkata jelek. ‘Abdullah bin Mas’ud z mengabarkan dari Rasulullah n,
لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلاَ اللَّعَّانِ وَلاَ الْفَاحِشِ وَلاَ الْبَذِيءِ
“Seorang mukmin itu bukanlah orang yang suka mencela, suka melaknat, suka berkata keji, dan suka berkata kotor.” (HR. at-Tirmidzi no.1977, dinyatakan sahih oleh al-Imam al-Albani t dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi)
Apalagi mencela teman yang muslim. Entah mencela kekurangan yang memang ada pada diri temannya atau yang tidak ada padanya. Rasulullah n melarang keras hal ini dan menyebutnya sebagai perbuatan fasik. Dikatakan oleh Abdullah bin Mas’ud z bahwa Rasulullah n pernah bersabda,
سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوْقٌ وَقِتَالُهُ كُفْرٌ
“Mencela seorang muslim adalah perbuatan fasik dan membunuhnya adalah perbuatan kufur.” (HR. al-Bukhari no. 48)
Yang sering terjadi pula di antara anak-anak adalah pertengkaran akibat perselisihan atau celaan yang dilontarkan oleh salah seorang dari mereka. Pihak yang dicela membalas dengan celaan pula. Terus demikian hingga berujung pertengkaran.
Kita tengahi mereka dan kita ingatkan bahwa Rasulullah n pernah mengancam orang yang saling mencaci. Abu Hurairah z meriwayatkan bahwa Rasulullah n bersabda,
الْمُسْتَبَّانِ مَا قَالاَ فَعَلَى الْبَادِئِ مَا لَمْ يَعْتَدِ الْمَظْلُوْمُ
“Dua orang yang saling mencela dosanya ditanggung oleh yang memulai, selama orang yang dizalimi tidak melampaui batas.” (HR. Muslim no. 2587)
Artinya, dosa saling mencela yang terjadi di antara dua orang itu seluruhnya ditanggung oleh orang yang memulai, kecuali jika orang yang kedua melampaui batas kadar pembelaan diri sehingga balas mencela orang yang mulai mencela tersebut dengan celaan yang lebih banyak. (al-Minhaj, 16/140)
Memang tak mudah bagi anak untuk berdiam diri tanpa membalas celaan temannya. Namun, itulah sebenarnya yang lebih baik baginya. Hal ini sebagaimana difirmankan oleh Allah l dalam Kitab-Nya yang mulia,
“Dan orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) itu termasuk hal-hal yang diutamakan.” (asy-Syura: 43)
Rasulullah n pernah pula memperingatkan dalam sabda beliau yang disampaikan oleh Jabir bin Salim z,
وَإِنِ امْرُؤٌ شَتَمَكَ وَعَيَّرَكَ بِمَا يَعْلَمُ فِيْكَ فَلاَ تُعَيِّرْهُ بِمَا تَعْلَمُ فِيْهِ، فَإِنَّمَا وَبَالُ ذَلِكَ عَلَيْهِ
“Apabila seseorang mencaci dan mencelamu dengan aib yang ada padamu, jangan engkau balas mencelanya dengan aib yang ada padanya, karena dosanya akan dia tanggung.” (HR. Abu Dawud, dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh Muqbil t dalam Shahihul Musnad 1/144)
Sayangnya, terkadang kita lalai mengingatkan anak-anak kita. Tak terasa, berkata kotor, mencela, dan memaki, sudah menjadi kebiasaan. Sedikit mendapatkan sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginannya, mereka mudah mencaci dan mencela. Seolah-olah itu menjadi perkataan yang biasa. Kita memohon keselamatan bagi diri kita dan anak-anak kita dari yang seperti ini! Kita harus menyadari, kelalaian seperti ini dapat berujung kehinaan yang tak terkira bagi anak-anak kita.
Abu Hurairah z menyampaikan dari Rasulullah n,
إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ لاَ يَرَى بِهَا بَأْسًا يَهْوِي بِهَا سَبْعِيْنَ خَرِيْفًا فِى النَّارِ
“Sesungguhnya seseorang mengatakan satu ucapan yang dia tidak menganggapnya sebagai ucapan jelek, namun ternyata dengan ucapannya itu dia terjerumus selama tujuh puluh tahun di dalam neraka.” (HR. at-Tirmidzi no. 2314, dinyatakan sahih oleh al-Imam al-Albani t dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi)
Penyebutan tujuh puluh tahun di sini bermaksud menunjukkan lamanya masa tinggalnya di dalam neraka, bukan menunjukkan batas waktu (hanya selama tujuh puluh tahun, -pen.). (Tuhfatul Ahwadzi, hlm. 1849)
Apabila kita sudah mengetahui ancaman Rasulullah n ini, mestinya kita tak lagi membiarkan buah hati yang kita cintai menuai kebinasaan, wal ’iyadzu billah!
Dengan terus memohon kepada Allah l, kita arahkan anak-anak agar terbiasa berkata-kata yang baik dan jauh dari segala macam perkataan jelek. Dengan begitu, mereka akan dapat menciptakan hubungan baik dengan siapa pun yang bergaul dengan mereka. Abu Hurairah z menceritakan,
أَنَّ رَسُولَ اللهِ n وَقَفَ عَلَى نَاسٍ جُلُوسٍ فَقَالَ: أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِخَيْرِكُم مِنْ شَرِّكُم؟ قَالَ: فَسَكَتُوا، فَقَالَ ذَلِكَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ فَقَالَ رَجُلٌ: بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ، أَخْبِرْنَا بِخَيْرِنَا مِنْ شَرِّنَا. قَالَ: خَيْرُكُمْ مَنْ يُرْجَى خَيْرُهُ وَيُؤْمَنُ شَرُّهُ، وَشَرُّكُمْ مَنْ لاَ يُرْجَى خَيْرُهُ وَلاَ يُؤْمَنُ شَرُّهُ
Rasulullah n pernah berdiri di hadapan sekelompok sahabat yang sedang duduk. Lalu beliau bertanya, “Maukah kuberitahukan tentang orang yang terbaik dan orang yang terjelek di antara kalian?” Para sahabat terdiam. Beliau mengulangi pertanyaan itu sampai tiga kali. Berkatalah salah seorang dari mereka, “Tentu, wahai Rasulullah. Beri tahukanlah kepada kami orang yang terbaik dan orang yang terjelek di antara kami.” Beliau pun berkata, “Orang yang terbaik di antara kalian adalah yang bisa diharap kebaikannya dan orang lain merasa aman dari kejelekannya. Adapun orang yang terjelek di antara kalian adalah orang yang tak bisa diharap kebaikannya dan orang lain tak bisa merasa aman dari kejelekannya.” (HR. at-Tirmidzi no. 2263, dinyatakan sahih oleh al-Imam al-Albani t dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi)
Lebih dari itu, ucapan yang baik akan membuahkan keutamaan di akhirat nanti. Ini sebagaimana yang dijanjikan oleh Rasulullah n dalam hadits Sahl bin Sa’ad z,
مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لِحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ
“Siapa yang bisa menjamin untukku apa yang ada di antara dua janggutnya (lisan -red.) dan apa yang ada di antara dua kakinya (kemaluan -red.), aku akan menjamin surga baginya.” (HR. al-Bukhari no. 6474)
Bahkan, ucapan yang lembut kepada ibu akan membawa kebaikan yang amat besar bagi mereka. Dikisahkan oleh Thaisalah bin Mayyas,
قَالَ لِي ابْنُ عُمَرَ: أَتَفْرَقُ مِنَ النَّارِ وَتُحِبُّ أَنْ تَدْخُلَ الْجَنَّةَ؟ قُلْتُ: إِي، وَاللهِ! قَال: أَحَيٌّ وَالِدَاكَ؟ قُلْتُ: عِنْدِي أُمِّي. قَالَ: فَوَاللهِ، لَوْ أَلَنْتَ لَهَا الْكَلاَمَ وَأَطْعَمْتَهَا الطَّعَامَ لَتَدْخُلَنَّ الْجَنَّةَ مَا اجْتَنَبْتَ الكَبَائِرَ.
Ibnu ‘Umar z pernah bertanya kepadaku, “Apakah engkau takut masuk neraka dan ingin masuk surga?” “Ya, demi Allah!” jawabku. “Kedua orang tuamu masih hidup?” ia bertanya lagi. “Aku masih punya ibu,” jawabku. “Demi Allah! Sungguh, kalau engkau lemah lembut berbicara dengannya dan selalu memberinya makan, sungguh engkau akan masuk surga selama engkau jauhi dosa besar.” (HR. al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad no. 8, dinyatakan sahih oleh al-Imam al-Albani t dalam Shahih al-Adabil Mufrad no. 6)
Demikianlah kenyataannya. Ucapan baik yang dibiasakan akan menjadi sesuatu yang melekat dan akan memuliakan pemiliknya di dunia dan di akhirat. Sebaliknya, ucapan jelek yang biasa terucapkan akan melekat pula dan menghinakan pemiliknya di dunia dan di akhirat.
Dinyatakan oleh Rasulullah n dalam sabda beliau yang dinukil oleh sahabat yang mulia, Abu Hurairah z,
إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللهِ لاَ يُلْقِي لَهَا بَالاً يَرْفَعُهُ اللهُ بِهَا دَرَجَاتٍ، وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللهِ لاَ يُلْقِي لَهَا بَالاً يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ
“Sungguh, seseorang mengucapkan sebuah perkataan yang termasuk ucapan yang diridhai oleh Allah l, yang dia tidak menaruh perhatian pada ucapan itu, ternyata dengan ucapan itu Allah l mengangkatnya beberapa derajat. Sungguh, ada pula seorang hamba mengucapkan sebuah perkataan yang termasuk perkataan yang dimurkai oleh Allah l, yang dia tidak menaruh perhatian pada ucapan itu, ternyata dengan ucapan itu dia terjatuh ke dalam neraka Jahannam.” (HR. al-Bukhari)
Ketika Mu’adz bin Jabal z bertanya tentang amalan-amalan yang bisa memasukkan seseorang ke dalam surga dan menjauhkannya dari neraka, Rasulullah n kemudian bersabda,
أَلاَ أُخْبِرُكَ بِمِلاَكِ ذَلِكَ كُلِّهِ؟ قُلْتُ: بَلَى، يَا رَسُوْلَ الله. قَالَ: فَأَخَذَ بِلِسَانِهِ، قَالَ: كُفَّ عَلَيْكَ هَذَا. فَقُلْتُ: يَا نَبِيَّ اللهِ، وَإِنَّا لَمُؤَاخَذُونَ بِمَا نَتَكَلَّمُ بِهِ؟ فَقَالَ: ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا مُعَاذُ، وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوْهِهِمْ – أَوْ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ – إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِم؟
“Maukah engkau kuberi tahu apa yang mengokohkan itu semua?” “Mau, wahai Rasulullah!” jawabku. Beliau pun memegang lidah beliau sambil berkata, “Tahanlah olehmu ini!” Aku pun berkata, “Wahai Rasulullah, akankah kita dihukum karena apa yang kita ucapkan?” Beliau bersabda, “Ibumu kehilangan engkau, wahai Mu’adz! Bukankah seseorang ditelungkupkan dalam neraka di atas wajah mereka—atau hidung mereka—karena hasil ucapannya?” (HR. at-Tirmidzi no. 2616, dinyatakan sahih oleh al-Imam al-Albani t dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi)
Lihat kembali anak-anak kita! Perhatikan dengan baik ucapan yang keluar dari lisan mereka! Segera benahi apa yang salah dari perbincangan mereka. Jangan biarkan mereka tenggelam dalam kesalahan dan kekeliruan. Kelak kita akan mempertanggungjawabkan kelalaian itu di hadapan Rabb semesta alam.
Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.

 

 

Agar Bahtera Selamat Sampai Tujuan (bagian 1)

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu ‘Ishaq al-Atsariyah)

Rumah tangga yang dibina bisa saja kandas di tengah jalan apabila suami istri tidak pandai mengantisipasi problem yang muncul menghadang perjalanannya.
Karena problem pasti akan datang, tinggal setiap pihak perlu tahu perkara apa saja yang dapat memicunya, yang dapat merusak hubungan keduanya, dan bagaimana sikap yang tepat saat ada masalah.
Membanding-bandingkan keadaan diri atau pasangan hidup dengan orang lain termasuk sebab terbesar yang merusak kehidupan rumah tangga. Bisa jadi, sikap ini datang dari pihak suami. Tergambar pada dirinya sosok wanita lain yang punya kelebihan yang tidak didapatkan pada istrinya. Padahal apabila ia melihat hakikatnya, bisa jadi ia dapati istrinya memiliki sifat-sifat yang puluhan wanita tidak mampu memilikinya. Akan tetapi, memang jiwa itu selalu berhasrat untuk beroleh sesuatu yang jauh, yang dalam anggapannya terkumpul pelbagai sifat kebagusan yang tidak ada pada apa yang telah dimilikinya. Ibarat rumput tetangga lebih hijau daripada rumput sendiri. Kenyataannya, tidak lain hanya fatamorgana.
Sikap membandingkan bisa pula datang dari pihak istri, di mana ia membandingkan hidupnya dengan kehidupan wanita lain. Membandingkan suaminya dengan suami orang lain.
“Fulanah bisa begini, bisa begitu…. Diberi ini dan itu oleh suaminya…. Sementara aku…?”
Terus-menerus kalimat seperti itu ia ulang-ulang di depan suaminya hingga suaminya jengkel.
Orang Arab mengatakan, “Bagi lelaki yang ingin menikah, hendaklah ia tidak memilih tipe wanita; annanah, hannanah, dan mannanah.”
Annanah adalah wanita yang banyak menggerutu dan berkeluh kesah, setiap saat dan setiap waktu, dengan atau tanpa sebab.
Hannanah adalah wanita yang banyak menuntut kepada suaminya, ia tidak ridha apabila diberi sedikit. Ia suka membandingkan suaminya dengan lelaki lain.
Mannanah adalah wanita yang suka mengungkit-ungkit apa yang dilakukannya terhadap suaminya. Misal dengan mengatakan, “Aku telah lakukan ini dan itu karena kamu….”
Betapa banyak perbuatan membanding-bandingkan tersebut merobohkan bangunan rumah tangga. Seorang muslim semestinya ridha dengan apa yang ditetapkan oleh Allah l untuknya. Hendaklah ia percaya bahwa siapa yang membanding-bandingkan keadaannya dengan orang lain, niscaya ia akan menganggap kurang apa yang ada padanya. Karena, kesempurnaan itu sesuatu yang sulit diperoleh. Orang yang suka membanding-bandingkan keadaannya dengan orang yang di atasnya, ia tidak bisa mensyukuri apa yang diberikan oleh Allah l kepadanya. Padahal sebenarnya masih banyak orang yang keadaannya berada jauh di bawahnya, yang karenanya ia patut memuji Allah l atas karunia-Nya.
Pokok masalah sekarang bukanlah banyaknya harta yang dimiliki, bisa melancong dari satu tempat ke tempat lain, pakaian-pakaian yang indah, perabot-perabot yang mewah, dan semisalnya. Akan tetapi, masalahnya adalah kelapangan jiwa menerima pembagian Allah l serta sebuah rumah yang tegak di atas cinta dan kasih sayang. Apabila semua itu sudah terkumpul, apa lagi yang diinginkan? Mengapa harus menyibukkan diri mengamati keadaan orang lain hingga mengundang kesedihan dan kegundahgulanaan jiwa?

Menyembunyikan Masalah dari Orang Lain
Andai terjadi “keributan” di antara suami istri, seorang yang cerdas adalah yang menjadikan problemnya sebagai sesuatu yang disimpan dan dirahasiakan dari orang lain. Ia tidak akan menampakkannya. Hal ini karena problem di antara suami istri sebenarnya pemecahannya mudah. Namun, apabila sampai keluar, semua orang akan “mengulurkan timbanya”, hingga rusaklah cinta dan jauhlah yang semula dekat serta bercerai-berailah keutuhan.
Karena itulah, hendaknya perkara ini menjadi pegangan yang disepakati di awal perjumpaan suami istri, yaitu apabila di kemudian hari sampai terjadi perselisihan di antara keduanya, hendaknya tidak ditampakkan kepada seorang pun, siapa pun dia. Hal ini karena jika sebagian orang ikut campur dalam masalah keduanya, justru lebih merusak daripada memperbaiki, walaupun itu kerabat istri sendiri. Bisa jadi, ia melakukannya karena dorongan semangat membela keluarga.
Ada beberapa hal yang biasa dilakukan oleh sebagian orang, yaitu merusak hubungan istri dengan suaminya. Perbuatan ini termasuk dosa besar. Oleh karena itu, seorang muslim harus berhati-hati agar tidak menjadi orang yang bersifat demikian sehingga ia berhadapan dengan ancaman yang keras. Nabi n bersabda,
وَمَنْ أَفْسَدَ امْرَأَةً عَلَى زَوْجِهَا فَلَيْسَ مِنَّا
“Siapa yang merusak seorang wanita dari suaminya, ia tidak termasuk golongan kami.” (HR. Ahmad 2/397, sanadnya sahih sebagaimana dinyatakan demikian dalam ash-Shahihah no. 324)
Betapa banyak masalah yang kecil di antara suami istri menjadi besar karena adanya sebagian orang yang terus-menerus “meniup api”. Seorang wanita datang dan berkata kepada si istri, “Kamu jangan mau mengalah… Kamu jangan mau dibodoh-bodohi…. Minta dong ini dan itu sama suamimu! Masa hidupmu begini begini saja?”
Demikianlah, kalimat-kalimat ini akan merusak dan mengguncang ketenteraman rumah tangga.
Terkadang yang turut andil merobohkan rumah tangga adalah ibu atau saudara perempuan istri. Oleh karena itu, seorang istri hendaknya tidak lemah akalnya sehingga menghancurkan rumah tangganya karena ucapan orang-orang, yang terkadang mereka berbuat demikian karena hasad terhadap kehidupannya.
Kemudian, perlu disadari bahwa menampakkan perselisihan yang ada di antara suami istri kepada orang lain termasuk hal yang menjatuhkan kewibawaan suami istri di hadapan orang lain dan di depan anak-anak. Maka dari itu, suami istri tidak baik bertengkar atau adu mulut dalam sebuah masalah di depan anak-anak. Hal ini termasuk yang menjatuhkan kepribadiannya di mata anak-anak dan akan bermudarat karena membuat cacat bagi tarbiyah mereka. Setiap pihak harus menjaga agar kehormatan pasangannya tidak jatuh di depan anak-anak. Apabila anak-anak tidak lagi segan kepada ayah atau ibunya, lantas bagaimana bisa tarbiyah mereka akan berhasil di saat pihak yang disegani anak sedang bepergian (tidak di rumah)1?

Muamalah di Antara Keduanya
Suami istri janganlah jual mahal untuk memaafkan pasangannya ketika salah satunya meminta maaf dan meminta keridhaan. Seorang istri tidak boleh bersikap angkuh dan tinggi hati untuk mengakui kesalahannya di depan suaminya. Seorang suami pun tidak boleh kaku dan keras hati. Apabila istri sudah mengakui kesalahannya, hendaklah berlapang dada, selama masalahnya tidak mencacati agama dan akhlak. Demikian pula ketika suami bersalah, dia tidak boleh merasa gengsi untuk meminta maaf.
Namun, perlu diketahui, apabila seorang istri buruk akhlaknya, seorang suami hendaknya tidak menahannya dalam ikatan pernikahan, karena perempuan seperti itu lebih banyak merusak daripada memperbaiki. Rasulullah n pernah bersabda,
ثَلاَثَةٌ يَدْعُوْنَ فَلاَ يُسْتَجَابُ لَهُمْ: رَجُلٌ كَانَتْ تَحْتَهُ امْرَأَةٌ سَيِّئَةُ الْخُلُقِ فَلَمْ يُطَلِّقْهَا….
“Tiga golongan yang apabila berdoa maka Allah tidak akan mengabulkan doa mereka, (di antaranya) seorang lelaki yang memiliki istri berakhlak buruk, namun ia tidak mau menceraikannya….” (HR. al-Hakim 2/302, sanadnya sahih secara zahir, kata al-Imam Albani t dalam ash-Shahihah no. 1805 (2
Seorang istri hendaknya menyadari bahwa berkhidmat kepada suami adalah sesuatu yang tidak boleh dilalaikannya. Karena itulah, seorang istri harus menunaikan pekerjaan-pekerjaan yang dibutuhkan di rumah suaminya.
Ia tunduk kepada suaminya, tidak boleh mengangkat diri di hadapannya. Jangan ia menafsirkan perintah suami kepadanya sebagai penghinaan terhadapnya. Bisa jadi, si suami memerintahkannya melakukan sesuatu dalam rumahnya, apa pun bentuknya, selama tidak bertentangan dengan agama atau mencacati akhlak, ini termasuk dalam keumuman haknya terhadap istri. Oleh karena itu, janganlah si istri merasa congkak untuk mematuhinya dan menafsirkannya sebagai bentuk penghinaan terhadap dirinya.
Penting untuk diketahui bahwa kehidupan suami istri tidak bisa berjalan sesuai dengan yang diinginkan apabila keduanya bersikap keras. Salah satunya harus ada yang lunak/lembut. Tentu, tidak diragukan bahwa itu adalah istri! Kehidupan suami istri tidak bisa berjalan baik melainkan dengan seorang suami yang kuat dan seorang istri yang tahu bahwa ia wanita yang lemah. Itulah sebabnya lelaki dijadikan sebagai qawwam bagi wanita, karena lelaki kuat dan wanita lemah. Pihak yang lemah butuh sandaran yang kuat, tempat ia berlindung dan bertumpu di kala sulit. Allah l berfirman,
ﭑ ﭒ ﭓ ﭔ ﭕ ﭖ ﭗ ﭘ ﭙ ﭚ ﭛ ﭜ ﭝ ﭞﭟ ﭠ ﭡ ﭢ ﭣ ﭤ ﭥ ﭦﭧ ﭨ ﭩ ﭪ ﭫ ﭬ ﭭ ﭮ ﭯﭰ
“Kaum lelaki adalah pemimpin bagi kaum wanita dikarenakan Allah telah melebihkan sebagian mereka (lelaki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (lelaki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Oleh sebab itu, wanita yang salehah adalah wanita yang taat kepada Allah lagi memelihara dirinya ketika suaminya tidak ada, karena Allah telah memelihara mereka. Dan istri-istri yang kalian khawatirkan nusyuznya maka nasihatilah mereka, pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka dan pukullah mereka….” (an-Nisa: 34)
Jangan sampai seorang istri senang apabila suaminya lemah, tidak bisa menegakkan urusan istrinya, dan tidak dapat mengayomi istrinya. Inilah fitrah. Lantas, mengapa ada saja orang yang lari dan merasa sombong untuk mengakuinya? Padahal keberadaan lelaki sebagai pihak yang kuat tidak berarti ia bersifat zalim. Kuatnya kepribadian tidaklah sama dengan kezaliman dan kekakuan.
Istri salehah adalah yang tahu besarnya kadar suaminya dan besarnya hak suami terhadap dirinya. Oleh karena itu, ia tidak henti-hentinya mencurahkan upaya guna memberikan kelapangan dan kebahagiaan bagi suaminya. Renungkanlah sabda Nabi n,
لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدٍ، لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا مِنْ عِظَمِ حَقِّهِ عَلَيْهَا
“Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain niscaya aku akan memerintahkan seorang istri untuk sujud kepada suaminya karena besarnya hak suami terhadapnya.” (HR. Ahmad 4/381, dinyatakan sahih dalam Irwa’ul Ghalil no. 1998 dan ash-Shahihah no. 3366)
Demikian pula sabda beliau n,
لاَ يَصْلُحُ لِبَشَرٍ أَنْ يَسْجُدَ لِبَشَرٍ، وَلَوْ صَلُحَ لِبَشَرٍ أَنْ يَسْجُدَ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا مِنْ عِظَمِ حَقِّهِ عَلَيْهِ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَوْ كَانَ مِنْ قَدَمِهِ إَلَى مَفْرَقِ رَأْسِهِ قُرْحَةٌ تَجْرِي بِالْقَيْحِ وَالصَّدِيْدِ، ثُمَّ اسْتَقْبَلَتْهُ فَلَحِسَتْهُ مَا أَدَّتْ حَقَّهُ
“Tidak pantas seorang manusia sujud kepada manusia yang lain. Seandainya pantas seorang manusia sujud kepada yang lain niscaya aku perintahkan seorang istri untuk sujud kepada suaminya karena besarnya haknya suami terhadapnya. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya pada telapak kaki suaminya sampai ke belahan rambutnya ada luka yang mengucurkan nanah bercampur darah, kemudian si istri menghadapi luka-luka tersebut lalu menjilatinya, niscaya ia belum purna menunaikan hak suaminya.” (HR. Ahmad 3/159, dinyatakan sahih oleh al-Haitsami 4/9, al-Mundziri 3/55, dan Abu Nu’aim dalam ad-Dala’il no. 137. Lihat catatan kaki Musnad al-Imam Ahmad 10/513, cet. Darul Hadits, Kairo)

Hadits ini adalah keterangan yang paling agung tentang besarnya hak suami terhadap istrinya. Yang mengherankan adalah apabila ada istri yang melewati dalil ini, namun ia tidak berhenti di hadapannya dengan merenungkannya dan merasa takut apabila tidak mengamalkan tuntutannya!
Wajib bagi istri membaguskan pergaulannya dengan suaminya. Ia menjaga rahasianya. Ia menjaga hartanya karena ia diamanati oleh suaminya. Janganlah ia membuka penutup tubuhnya (hijabnya) di hadapan lelaki selain suaminya. Ia mendidik anak-anaknya agar hormat terhadap ayah mereka. Janganlah ia bersifat kaku. Apabila suaminya membantunya dalam pekerjaannya atau memberinya hadiah misalnya, hendaklah ia mensyukuri apa yang dilakukan oleh suaminya. Ia puji suaminya dengan kebaikan dan jangan ia cela apa yang diberikan oleh suaminya. Jangan menganggap jelek apa yang dilakukan oleh suami untuknya dan anak-anaknya. Selain itu, wajib bagi istri mencari sisi-sisi yang mengundang ridha suami, lalu ia bersegera melakukannya.

(insya Allah bersambung)

WANITA Memakai Celak Saat Keluar Rumah

Bolehkah seorang wanita ketika hendak keluar memakai kuhl (celak)?
08xxxxxxxxxx
Hukum memakai celak, seperti kata Ibnu Baz t dalam Majmu’ al-Fatawa (10/58), “Boleh bagi wanita memperindah matanya dengan celak di hadapan sesama wanita, di hadapan suami, dan di hadapan mahram. Adapun di hadapan ajnabi (lelaki selain mahram), tidak boleh baginya membuka wajahnya dan kedua matanya yang bercelak. Allah l berfirman,
“Apabila kalian meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hati kalian dan hati mereka.” (al-Ahzab: 53)
Wallahu a’lam.

Catatan Kaki:

1 Kain yang dijahit khusus sebagai penutup wajah wanita.
2 Hadits ini dikeluarkan al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari (Kitab “Jaza’ ash-Shaid” pada “Bab Ma Yunha’ min ath-Thib li al-Muhrim wal Muhrimah”).
3 Begitu juga cadar. Karena hal itu adalah kebiasaan mereka, Nabi n melarang mereka mengenakannya saat ihram karena hal itu terlarang di saat ihram.