Orang yang Bangkrut

Ketika mendengar kata bangkrut, benak kita membayangkan seorang yang hancur usahanya atau orang yang tidak lagi punya harta atau uang. Orang yang bangkrut sebelumnya memiliki sesuatu untuk menyambung hidupnya. Kini, semua itu sirna sehingga kondisinya mengenaskan dan berhak mendapatkan uluran tangan dari saudaranya.

Apa yang kita sebutkan di atas adalah kebangkrutan dalam hal harta benda yang seseorang masih mungkin untuk bangkit kembali. Atau setidaknya ada orang yang masih punya hati sehingga membantu meringankan bebannya.

Akan tetapi, hal ini akan berbeda dengan kebangkrutan pada hari kiamat nanti, hari yang tiada berguna lagi harta dan anak.

Hakikat orang yang bangkrut pada hari kiamat adalah orang yang membawa segudang amal kebaikan, tetapi dia membawa beragam kezaliman terhadap manusia, baik dalam bentuk merampas harta, melukai kehormatan, mencederai tubuh orang, atau melenyapkan nyawa orang tanpa alasan syar’i. Inilah yang dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam haditsnya,

 

        أَتَدْرُونَ مَنِ الْمُفْلِسُ؟ قَالُوا: الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ. قَالَ: إِنَّ الْمَفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَ ةَالٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي وَقَدْ شَتَمَ هَذَا، وَقَذَفَ هَذَا، وَأَكَلَ مَالَ هَذَا، وَسَفَكَ دَمَ هَذَا، وَضَرَبَ هَذَا، فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَي مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طَرِحَ فِي النَّارِ

“Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut itu?”

Para sahabat menjawab, “Orang yang bangkrut di tengah-tengah kita adalah orang yang tidak punya dirham (uang perak) dan tidak punya harta.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang bangkrut dari umatku adalah yang datang pada hari kiamat nanti dengan membawa (amal) shalat, puasa, dan zakat, (namun) ia telah mencerca ini (seseorang), menuduh orang (berzina), memakan harta orang, menumpahkan darah orang, dan memukul orang. (Orang) ini diberi (amal) kebaikannya dan yang ini diberi dari kebaikannya. Apabila amal kebaikannya habis sebelum terbayar (semua) tanggungannya, dosa-dosa mereka (yang dizalimi) diambil lalu ditimpakan kepadanya, kemudian dia dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim)

 

Hukuman yang Mengerikan

Orang yang menzalimi orang lain sebenarnya sedang menghancurkan dirinya sendiri, seperti dikatakan, “Barang siapa menggali lubang untuk (mencelakakan) saudaranya, ia terjatuh sendiri ke dalam lubang itu.”

Bisa dibayangkan betapa rugi dan menyesalnya orang tersebut nanti. Saat ia mengharapkan amal kebaikannya akan menolongnya dari kedahsyatan kiamat, kebaikannya justru lenyap diambil orang lain, bahkan dia dicampakkan ke dalam neraka.

Kalau orang zalim yang masih punya amal kebaikan saja seperti ini nasibnya, lantas bagaimana halnya bila dia tidak punya kebaikan sama sekali, bahkan kitab catatan amalnya semuanya berisi kejelekan?

 

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

إِنَّآ أَعۡتَدۡنَا لِلظَّٰلِمِينَ نَارًا أَحَاطَ بِهِمۡ سُرَادِقُهَاۚ وَإِن يَسۡتَغِيثُواْ يُغَاثُواْ بِمَآءٖ كَٱلۡمُهۡلِ يَشۡوِي ٱلۡوُجُوهَۚ بِئۡسَ ٱلشَّرَابُ وَسَآءَتۡ مُرۡتَفَقًا ٢٩

        “Sesungguhnya telah Kami sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.” (al-Kahfi: 29)

 

Tiada yang ditunggu oleh orang yang zalim kecuali kehancuran. Kekuasaan akan lenyap, keperkasaan akan sirna.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

فَتِلۡكَ بُيُوتُهُمۡ خَاوِيَةَۢ بِمَا ظَلَمُوٓاْۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَةٗ لِّقَوۡمٖ يَعۡلَمُونَ ٥٢

        “Maka itulah rumah-rumah mereka dalam keadaan runtuh disebabkan kezaliman mereka. Sesungguhnya pada yang demikian itu (terdapat) pelajaran bagi kaum yang mengetahui.” (an-Naml: 52)

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata, “Seandainya suatu gunung berbuat zalim terhadap gunung yang lain, maka yang zalim akan dihancurkan.” (al-Adabul Mufrad no. 601)

Kalau gunung yang materialnya batu-batu yang keras dan besar saja akan diluluhlantahkan apabila berbuat zalim, bagaimana kiranya dengan manusia yang hanya berupa daging, darah, dan tulang yang lemah?

 

Kezaliman Itu Beragam

Kezaliman itu bermacam-macam. Ada yang berkaitan dengan hak Allah ‘azza wa jalla dan ada yang berhubungan dengan hak-hak manusia.

Yang berkaitan dengan hak Allah ‘azza wa jalla adalah dengan menerjang larangan-larangan Allah ‘azza wa jalla, meninggalkan perintah-Nya, dan mendustakan berita-Nya. Kezaliman paling besar adalah menyekutukan Allah ‘azza wa jalla (syirik). Apabila orang yang menyekutukan Allah ‘azza wa jalla mati dalam keadaan belum bertobat dari kesyirikannya, dia tidak akan diampuni.

Adapun dosa setelah syirik adalah dosa-dosa besar yang pelakunya diancam dengan hukuman di dunia, azab di akhirat, atau kutukan dan kemurkaan Allah ‘azza wa jalla. Setelah itu, ada dosa-dosa kecil.

Dosa selain menyekutukan Allah ‘azza wa jalla masih ada harapan untuk diampuni.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغۡفِرُ أَن يُشۡرَكَ بِهِۦ وَيَغۡفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُۚ

        “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (an-Nisa: 116)

 

Adapun kezaliman yang berkaitan dengan hak-hak manusia, urusannya lebih rumit. Seseorang yang menzalimi hak-hak orang lain hendaknya segera mengembalikannya atau meminta kehalalannya. Jika tidak demikian, ancaman di akhirat sangat mengerikan, seperti yang telah disebutkan dalam hadits di atas.

 

Kehormatan Seorang Muslim

Ketika menunaikan haji wada’ (perpisahan) yang dihadiri oleh puluhan ribu sahabat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan pesan-pesan akhirnya menjelang wafat. Di antara pesan beliau adalah menjaga darah, harta, dan kehormatan seorang muslim.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ حَرَامٌ عَلَيْكُمْ، كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا، فِي شَهْرِكُمْ هَذَا، فِي بَلَدِكُمْ هَذَا

“Sesungguhnya darah dan harta kalian (kaum muslimin) itu haram (untuk dirampas) seperti sucinya hari ini, di bulan ini (haji ini), dan di negeri kalian ini (Makkah).” ( HR . Muslim, Abu Dawud, dan an-Nasai dari sahabat Jabir radhiallahu ‘anhu)

 

Bahkan, lenyapnya dunia lebih ringan daripada melenyapkan nyawa seorang muslim tanpa hak. Demi terjaganya kehormatan dan kepemilikan seorang muslim serta terwujudnya stabilitas keamanan di tengah masyarakat, Islam memberikan ancaman hukuman fisik (had) bagi yang mencabik-cabik hak seorang muslim.

Sebagai contoh, hukuman bagi perampok adalah dipotong tangan dan kakinya secara bersilang atau hukuman lain yang telah ditetapkan oleh agama. Orang yang membunuh seorang muslim dengan sengaja, tanpa ada kesalahan yang berhak untuk dibunuh, pelakunya terancam hukuman qishash (nyawa dibalas nyawa).

Tanpa ada ancaman dan hukuman yang setimpal, orang yang melakukan kejahatan akan menganggap enteng ketika melanggar hak-hak orang lain.

 

Muslim yang Baik

Seorang muslim yang hakiki memiliki ketulusan sikap dalam beragama dan mempunyai kepribadian yang bagus.

Apabila datang perintah agama, muslim yang baik akan siap menjalankannya dengan sepenuh ketulusan apapun kondisinya.

Berikutnya, larangan agama disikapi dengan meninggalkan apa yang dilarang agama meskipun hawa nafsu ini ingin melakukannya. Dia menjauhkan dirinya dari hal-hal yang bisa memudaratkan orang lain, baik sengaja maupun tidak.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

        “Seorang muslim (yang hakiki) adalah orang yang kaum muslimin terhindar dari (kejahatan) lisan dan tangannya.” (Muttafaqun ‘alaih)

 

Asy-Syaikh as-Sa’di menerangkan, “Hal itu karena Islam yang hakiki adalah berserah diri kepada Allah ‘azza wa jalla, menyempurnakan peribadatan kepada-Nya, menunaikan hak-hak-Nya, dan hak-hak kaum muslimin. Keislaman (seseorang) tidak dikatakan sempurna sampai ia mencintai untuk kaum muslimin apa yang ia cintai bagi dirinya. Hal ini tidak akan terwujud kecuali dengan terhindarnya mereka dari kejahatan lisan dan tangannya.

Hal ini merupakan pokok kewajiban yang harus ia berikan kepada muslimin. Barang siapa yang kaum muslimin tidak terhindar dari (kejelekan) lisan dan tangannya, bagaimana mungkin ia akan menunaikan kewajibannya terhadap saudaranya kaum muslimin?!” (Bahjatul Qulub, hlm. 14)

Kemudian, ketahuilah bahwa ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang muslim (yang baik) adalah muslim lain terhindar dari (kejahatan) lisan dan tangannya.” tidak berarti kita boleh menzalimi orang kafir dengan merampas haknya. Sebab, orang kafir pun bermacam-macam.

Ada kafir dzimmi, yaitu orang kafir yang tinggal di negeri muslimin dan membayar jizyah kepada pemerintah muslimin. Ada pula orang kafir yang masuk ke negara muslimin dan mendapatkan jaminan keamanan (suaka politik) dari pemerintah muslimin. Ada lagi orang kafir yang mengikat perjanjian damai dengan kaum muslimin.

Tiga jenis orang kafir tersebut tidak boleh dirampas hartanya atau dilukai tubuhnya tanpa alasan yang dibenarkan oleh agama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اتَّقُوا دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ وَإِنْ كَانَ كَافِرًا فَإِنَّهُ لَيْسَ دُونَهَا حِجَابٌ.

“Berhati-hatilah dari doa orang yang dizalimi meskipun ia kafir, karena tidak ada penghalang bagi doanya.” (HR . Ahmad. Lihat Shahih al-Jami’ no. 119)

 

Adapun jenis kafir yang keempat adalah kafir harbi, yaitu orang kafir yang memerangi muslimin dan angkat senjata terhadap muslimin. Orang kafir seperti ini halal darah dan hartanya.

 

Orang yang Merugi Amalnya

Tidak semua orang yang beramal kebaikan itu diterima di sisi Allah ‘azza wa jalla. Ada syarat dan ketentuan untuk diterimanya sebuah amal. Semata-mata niat yang tulus dalam beramal tidak berguna apabila amalan tersebut tidak ada perintahnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ عَمِلَ عَمَ لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ.

        “Barang siapa melakukan suatu amalan yang tidak ada dalam agama kami, amalan itu tertolak.” (HR . Muslim dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha)

Contohnya sangat banyak. Misalnya adalah bentuk perjuangan/jihad menegakkan agama yang dilakukan oleh orang yang berpemahaman Khawarij semacam ISIS dan al-Qaeda.

Sebagian mereka melakukan pembunuhan kepada pihak-pihak yang dituduh kafir dengan cara di luar batasan agama. Mereka juga melakukan bom bunuh diri, yang sejatinya dalam Islam adalah dosa besar. Akan tetapi, mereka menjuluki pelaku bom bunuh diri sebagai syahid. Mereka menghancurkan fasilitas-fasilitas umum. Tidak sedikit yang menjadi korbannya justru kaum muslimin.

Jihad yang sejatinya adalah amalan mulia untuk menegakkan agama Allah ‘azza wa jalla, mereka rusak dengan aksi-aksi yang konyol. Karena ulah bodoh mereka, orang kafir enggan masuk Islam. Orang kafir justru fobia terhadap Islam dan sinis terhadap muslimin.

Tidak sedikit kaum muslimin yang diintimidasi setiap ada aksi teror kelompok ini di belahan bumi lainnya.

Padahal ketika ditanya tentang siapa orang yang dikatakan berperang di jalan Allah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللهِ هِيَ الْعُلْيَا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللهِ.

“Barang siapa berperang agar kalimat (agama) Allah itu mulia, itulah yang jihad fi sabilillah.” (Muttafaqun ‘alaih)

Dengan aksi mereka, apakah orang kafir jadi masuk Islam? Apakah Islam dimuliakan oleh kaum muslimin sendiri—jangan Anda tanya bagaimana reaksi nonmuslim? Apakah agama Allah ‘azza wa jalla menjadi mulia dengan itu?

Jawabannya, hasilnya bertolak belakang. Kalau sudah seperti ini, apakah masih dikatakan jihad syar’i? Hendaknya mereka merujuk kepada bimbingan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat agar tidak sia-sia amalannya.

 

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

قُلۡ هَلۡ نُنَبِّئُكُم بِٱلۡأَخۡسَرِينَ أَعۡمَٰلًا ١٠٣ ٱلَّذِينَ ضَلَّ سَعۡيُهُمۡ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَهُمۡ يَحۡسَبُونَ أَنَّهُمۡ يُحۡسِنُونَ صُنۡعًا ١٠٤

        “Apakah akan kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (al-Kahfi: 103—104)

Pada sebagian aksi teror mereka, ada korban dari pihak muslimin. Lalu mana pertanggungjawaban mereka terhadap keluarga korban? Mana penyesalan mereka?

Nabi Musa ‘alaihissalam saja saat dahulu memukul orang Qibthi yang kafir sampai mati ketika orang Qibthi ini berkelahi dengan seorang Bani Isra’il dari kaumnya, beliau ‘alaihissalam menyesali hal tersebut dan bertobat, padahal yang ia pukul seorang Qibthi kafir.

Namun, karena Nabi Musa ‘alaihissalam tidak diperintah untuk membunuhnya, beliau ‘alaihissalam menyesali perbuatannya yang keliru. Bahkan, penyesalan tersebut terus beliau bawa hingga hari kiamat di Padang Mahsyar sebagaimana dalam hadits syafaat.

Akan tetapi, anehnya para teroris justru bangga dengan aksi terornya yang merenggut nyawa orang yang seharusnya tidak berhak untuk dicederai. Mereka menyatakan bertanggung jawab atas aksi tersebut.

Mengapa mereka tidak menyesalinya?

Karena mereka beranggapan bahwa aksinya adalah ibadah, meskipun sejatinya bertentangan dengan praktik Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan generasi awal umat ini.

Syarat sahnya amal berikutnya adalah harus ikhlas, semata-mata hanya mencari wajah Allah ‘azza wa jalla.

Ada hal penting yang harus diperhatikan, yaitu amal kebaikan bisa lenyap atau minimalnya menjadi berkurang karena perbuatan dosa. Sebagaimana amal saleh bisa melenyapkan dosa, dosa juga bisa melenyapkan amal saleh.

Di antara dosa yang bisa melenyapkan amal saleh adalah menzalimi orang lain. Bahkan, pelakunya akan disegerakan azabnya di dunia ini sebelum azab pada hari kiamat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ ذَنْبٍ أَجْدَرُ أَنْ يُعَجِّلَ اللهُ تَعَالَى لِصَاحِبِهِ الْعُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا مَعَ مَا يَدَّخِرُهُ لَهُ فِي الْآخِرَة مِنَ الْبَغْي وَقَطِيعَةِ الرَّحِم

Tidak ada suatu dosa yang lebih pantas Allah akan segerakan azab bagi pelakunya di dunia—di samping azab yang Allah simpan baginya di akhirat—melebihi (dosa) kezaliman dan memutuskan hubungan kekerabatan.” (HR . Ahmad, al-Bukhari dalam al-Adab, dan lain-lain dari sahabat Abu Bakrah radhiallahu ‘anhu. Lihat Shahih al-Jami’ no. 5704)

Wallahul Muwaffiq.

Ditulis oleh al-Ustadz Abdul Mu’thi Sutarman, Lc.

Takwa & Tawakal Cara Menghadapi Makar Musuh

Berbagai tuduhan, tudingan, dan hujatan dicurahkan kepada para dai tauhid dan sunnah. Demikian pula kepada negara tauhid dan sunnah, Kerajaan Arab Saudi, bahwa mereka adalah wahabi dan kerajaan yang menebarkan ajaran/doktrin wahabiyah.

Bahkan, tuduhan tersebut tidak sampai pada tahapan itu saja. Mereka menyatakan bahwa radikalisme dan terorisme di dunia ini sumbernya adalah wahabi, salafi, dan para tokohnya, seperti Ibnu Taimiyah, Muhammad bin Abdul Wahhab, dll.

Kalau kita perhatikan dengan saksama, tuduhan-tuduhan yang disebarkan oleh Sufi, Syiah, kaum liberal, komunis, dan paham menyimpang lainnya melalui berbagai media ternyata memiliki tujuan yang sama, yaitu menanamkan kebencian dan permusuhan terhadap para dai tauhid yang berjalan di atas Kitabullah dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikian pula Kerajaan Arab Saudi yang berjalan membelanya.

Berikut ini beberapa penjelasan tentang hakikat makar mereka dan cara menghadapinya. Mudah-mudahan Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa memberikan hidayah dan taufik untuk memahami dan berjalan di atasnya.

 

Pergulatan Antara Kebenaran dan Kebatilan

Pergulatan antara orang-orang yang mengikuti kebenaran (ahlul haq) dan orang-orang yang mengikuti kebatilan (ahlul batil) merupakan sunnatullah (ketetapan dari Allah subhanahu wa ta’ala) yang pasti terjadi. Hal itu tidak bisa dihindari. Ia merupakan ujian dan cobaan dari Allah subhanahu wa ta’ala terhadap para hamba-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          وَلَوۡ يَشَآءُ ٱللَّهُ لَٱنتَصَرَ مِنۡهُمۡ وَلَٰكِن لِّيَبۡلُوَاْ بَعۡضَكُم بِبَعۡضٖۗ

        “Demikianlah, apabila Allah menghendaki, niscaya Allah akan membinasakan mereka. Akan tetapi, Allah hendak menguji sebagian kamu dengan sebagian yang lain.” (Muhammad: 4)

Asy-Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah menafsirkan ayat di atas,

“Hukum-hukum yang disebutkan terkait dengan diujinya orang beriman dengan orang kafir, silih bergantinya kemenangan di antara mereka, dan tertolongnya sebagian mereka menghadapi sebagian lainnya; jika Allah subhanahu wa ta’ala berkehendak, sungguh Dia akan menolong orang-orang yang beriman.

Sebab, Dia adalah Dzat yang Mahakuasa melakukan segala sesuatu. Dia Mahakuasa untuk tidak menakdirkan kemenangan bagi orang-orang kafir di satu tempat pun selama-lamanya sehingga orang-orang beriman berhasil membinasakan kebun-kebun mereka.

Akan tetapi, sungguh Allah subhanahu wa ta’ala akan menguji sebagian kalian dengan yang lainnya agar terjadi jihad fi sabilillah. Dengan ujian itu, tampak jelas keadaan para hamba-Nya, mana yang jujur dan mana yang dusta.

Dengan demikian, orang yang beriman bisa beriman dengan yang benar berlandaskan bashirah (ilmu dan keyakinan), bukan iman yang dibangun karena mengikuti kelompok yang menang. Sebab, iman yang seperti itu lemah sekali. Iman yang seperti itu tidak akan bertahan saat pemiliknya menghadapi ujian dan cobaan.” (Taisir al-Karim ar-Rahman, hlm. 785)

Para nabi dan rasul r adalah golongan hamba-Nya yang paling mulia. Mereka juga dibenturkan dengan para musuhnya. Demikian berita Allah subhanahu wa ta’ala dalam kitab-Nya,

وَكَذَٰلِكَ جَعَلۡنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوّٗا شَيَٰطِينَ ٱلۡإِنسِ وَٱلۡجِنِّ يُوحِي بَعۡضُهُمۡ إِلَىٰ بَعۡضٖ زُخۡرُفَ ٱلۡقَوۡلِ غُرُورٗاۚ وَلَوۡ شَآءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُۖ فَذَرۡهُمۡ وَمَا يَفۡتَرُونَ ١١٢ وَلِتَصۡغَىٰٓ إِلَيۡهِ أَفۡ‍ِٔدَةُ ٱلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡأٓخِرَةِ وَلِيَرۡضَوۡهُ وَلِيَقۡتَرِفُواْ مَا هُم مُّقۡتَرِفُونَ ١١٣

        “Dan demikianlah, Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jika Rabbmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.

Dan (juga) agar hati kecil orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat cenderung kepada bisikan itu, mereka merasa senang kepadanya dan supaya mereka mengerjakan apa yang mereka (setan) kerjakan.” (al-An’am: 112—113)

Asy-Syaikh Abdur Rahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata menafsirkan ayat di atas,

“Allah subhanahu wa ta’ala menghibur Rasul-Nya, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan menyatakan bahwa sebagaimana Kami menjadikan bagimu musuh-musuh yang menolak dakwahmu, memerangimu, dan dengki terhadapmu—ini adalah sunnah (ketentuan)-Ku—demikian pula Aku menjadikan musuh bagi setiap nabi yang Aku utus kepada makhluk. Musuh-musuh mereka adalah setan-setan dari golongan jin dan manusia. Mereka menghadang dan menentang dakwah para rasul.

Sebagian mereka menghias-hiasi perkara batil yang mereka serukan kepada yang lain. Mereka kemas dengan ungkapan yang menarik hingga menampilkannya dalam bentuk yang terbaik. Tujuannya adalah menipu orang-orang bodoh. Orang dungu yang tidak memahami hakikatnya dan makna sebenarnya akan menerimanya. Slogan yang dikemas dan dihias tersebut membuat takjub orang yang bodoh. Mereka pun meyakini bahwa yang benar adalah batil, sedangkan yang batil dianggap sebagai kebenaran.

Oleh karena itulah, Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan bahwa hati orang yang tidak beriman terhadap akhirat akan condong terhadap slogan/ucapan kosong itu. Sebab, ketiadaan iman terhadap hari akhir dan ketiadaan akal yang bermanfaat di hati mereka, telah mendorong mereka (untuk condong terhadapnya).

 

Penyebaran Opini Dusta, Makar Mereka

Di antara makar-makar ahlul batil dalam rangka menanamkan kebencian dan permusuhan terhadap ahlul haq dan para dai yang mengajak kepada kebenaran adalah menyebarkan opini-opini yang buruk terhadap seluruh umat manusia melalui seluruh media massa. Bahkan, opini itu mereka sebarkan melalui kajian, pelajaran di sekolah, dan sebagainya.

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

Makar mereka ini bukanlah hal yang baru. Ini sudah dilakukan oleh pendahulu mereka terhadap para nabi dan para rasul r. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          كَذَٰلِكَ مَآ أَتَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِم مِّن رَّسُولٍ إِلَّا قَالُواْ سَاحِرٌ أَوۡ مَجۡنُونٌ ٥٢  أَتَوَاصَوۡاْ بِهِۦۚ بَلۡ هُمۡ قَوۡمٞ طَاغُونَ ٥٣

        Demikianlah, tidak seorang rasul pun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, melainkan mereka mengatakan, “Ia adalah seorang tukang sihir atau orang gila.”

Apakah mereka saling berpesan tentang apa yang dikatakan itu? Sebenarnya mereka adalah kaum yang melampaui batas. (adz-Dzariyat: 52—53)

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala menghibur Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Apa yang dikatakan orang musyrik kepadamu, wahai Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dahulu juga diucapkan kepada para rasul ‘alaihimussalam. Seperti itulah. Tidaklah datang seorang rasul pun kepada mereka (para pendusta) kecuali mereka akan berkata terhadap rasul itu sebagai tukang sihir atau orang gila. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, ‘Apakah mereka saling mewasiatkan ucapan itu? Bahkan, mereka adalah kaum yang melampaui batas (zalim).’

Maknanya, mereka adalah kaum yang melampaui batas. Hati mereka serupa sehingga apa yang diucapkan oleh generasi belakangan sama dengan yang dikatakan oleh para pendahulunya. Maka dari itu, wahai Muhammad, berpalinglah dari mereka. Kami tidaklah mencelamu dengan sikapmu tersebut.” (Tafsir al- Qur’an al-‘Azhim, 4/201)

Bahkan, Fir’aun la’natullah ‘alaihi mengelabui kaumnya dengan opini dusta kepada kaumnya tentang Nabi Musa ‘alaihissalam dan dakwahnya. Allah subhanahu wa ta’ala mengabarkan dalam kitab-Nya,

          وَقَالَ فِرۡعَوۡنُ ذَرُونِيٓ أَقۡتُلۡ مُوسَىٰ وَلۡيَدۡعُ رَبَّهُۥٓۖ إِنِّيٓ أَخَافُ أَن يُبَدِّلَ دِينَكُمۡ أَوۡ أَن يُظۡهِرَ فِي ٱلۡأَرۡضِ ٱلۡفَسَادَ ٢٦

        Dan berkata Firaun (kepada pembesar-pembesarnya), “Biarkanlah aku membunuh Musa dan hendaklah ia memohon kepada Rabbnya, karena sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar agamamu atau menimbulkan kerusakan di muka bumi.” (Ghafir: 26)

Asy-Syaikh Abdur Rahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa ucapan Fir’aun ini adalah kalimat yang paling mengherankan. Orang yang paling jahat menasihati rakyatnya supaya tidak mengikuti orang terbaik (Musa ‘alaihissalam). Itu adalah penipuan dan pemutarbalikan fakta.

Pada zaman sekarang ini, kaum Sufi, demikian pula Syiah, kaum liberalis, sosialis, komunis, dan lainnya, melalui berbagai media menyematkan julukan “wahabi”, “salafi wahabi” kepada orang yang berpegang teguh dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka menyebarkan opini tersebut dalam rangka menjauhkan kaum muslimin dari para dai sunnah.

Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah mengatakan, “Julukan tersebut bertujuan menanamkan kebencian dan menjauhkan umat dari sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, kalian wajib teliti dalam urusan tersebut dan memerhatikan maknanya.

Penamaan ‘wahabi’ adalah penisbatan kepada seorang alim ulama, bukan penisbatan kepada Marx atau Lenin, bukan kepada Amerika atau Rusia, bukan pula kepada salah seorang pemimpin yang memusuhi Islam. Meski demikian, kita tidak boleh menisbatkan diri kecuali kepada Islam dan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (al-Mushara’ah, hlm. 294—295)

Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah juga berkata, “Apabila engkau mendengar seseorang berkata, ‘Orang ini wahabi,’ ketahuilah bahwa orang tersebut memiliki dua kemungkinan:

  1. Orang jelek yang berbuat kejelekan,
  2. Orang bodoh yang tidak bisa membedakan.

Semua ini adalah kedustaan besar yang dituduhkan kepada seorang dai yang mengajak umat untuk mentauhidkan Allah subhanahu wa ta’ala.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          إِنَّ ٱلَّذِينَ يُحِبُّونَ أَن تَشِيعَ ٱلۡفَٰحِشَةُ فِي ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِۚ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ ١٩

        “Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (an-Nur: 19)

Saudara-saudaraku di jalan Allah subhanahu wa ta’ala, Allah subhanahu wa ta’ala menamai kita muslimin. Kita adalah umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kita tidak rela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diganti oleh yang lain. Kita tidak rela dinisbatkan kepada al-Imam asy-Syafi’i, Zaidi, Wahabi, atau yang lainnya.

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah adalah seorang alim yang mulia. Dengan menisbatkan seseorang kepada beliau, mereka menganggap bisa berbuat buruk (menjauhkan umat darinya).

Aku nasihatkan kepada saudaraku di jalan Allah subhanahu wa ta’ala untuk membaca Kitab at-Tauhid. Niscaya akan kalian lihat di dalamnya ayat al-Qur’an dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Itu adalah sebuah kitab yang mulia. Walaupun ada beberapa hadits dhaif di dalamnya, tetapi tidak berbahaya. Sungguh, aku telah menjelaskannya di dalam kitabku an-Nahju Sadid. Bacalah!

Janganlah engkau menjadi pembebek kejelekan dengan menyatakan, ‘Apabila orang-orang berbuat baik kepadaku, aku akan berbuat baik kepadanya. Apabila mereka berbuat buruk, akupun akan berbuat buruk kepada mereka.’

(Jangan seperti itu,) perhatikan diri-diri kalian. Apabila orang-orang berbuat baik kepadamu, berbuat baiklah kepada mereka. Apabila mereka berbuat buruk, janganlah engkau menzalimi mereka. Wallahu a’lam.” (al-Mushara’ah, hlm. 398)

 

Intimidasi dan Provokasi

Musuh-musuh dakwah ini, seperti kaum Sufi, Syiah, liberalis, sosialis, komunis, dll., tidak segan melakukan intimidasi dan provokasi terhadap para dai yang mengajak kepada tauhid dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Modus ini pun bukan makar yang baru.

Allah subhanahu wa ta’ala memberitakan intimidasi yang dilakukan oleh orang-orang munafik terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau radhiallahu ‘anhum,

ٱلَّذِينَ قَالَ لَهُمُ ٱلنَّاسُ إِنَّ ٱلنَّاسَ قَدۡ جَمَعُواْ لَكُمۡ فَٱخۡشَوۡهُمۡ فَزَادَهُمۡ إِيمَٰنٗا وَقَالُواْ حَسۡبُنَا ٱللَّهُ وَنِعۡمَ ٱلۡوَكِيلُ ١٧٣

فَٱنقَلَبُواْ بِنِعۡمَةٖ مِّنَ ٱللَّهِ وَفَضۡلٖ لَّمۡ يَمۡسَسۡهُمۡ سُوٓءٞ وَٱتَّبَعُواْ رِضۡوَٰنَ ٱللَّهِۗ وَٱللَّهُ ذُو فَضۡلٍ عَظِيمٍ ١٧٤

إِنَّمَا ذَٰلِكُمُ ٱلشَّيۡطَٰنُ يُخَوِّفُ أَوۡلِيَآءَهُۥ فَلَا تَخَافُوهُمۡ وَخَافُونِ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ١٧٥

(Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan, “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka.”

Perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.”

Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridaan Allah. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.

Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah setan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman. (Ali Imran: 173—175)

Asy-Syaikh Abdur Rahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah menjelaskan, intimidasi yang dilakukan oleh salah seorang musyrikin dengan ucapannya, “Sesungguhnya mereka (musuh-musuh kalian) telah bersatu untuk melibas kalian,” sebenarnya dia adalah salah seorang dai setan yang menakut-nakuti (mengintimidasi) para walinya yang tidak beriman dan orang yang imannya lemah.

“Oleh karena itu, janganlah kalian (wahai orang yang beriman) takut terhadap mereka. Namun, takutlah kalian kepada-Ku. Jika kalian adalah orang-orang yang beriman.”

Maksudnya, kata as-Sa’di rahimahullah, “Janganlah kalian takut terhadap kaum musyrikin yang menjadi wali setan, karena ubun-ubun mereka di tangan Allah subhanahu wa ta’ala. Mereka tidak akan mampu berbuat apa pun kecuali dengan takdir-Nya. Akan tetapi, takutlah kalian kepada Allah subhanahu wa ta’ala yang akan menolong para wali-Nya yang takut kepada-Nya dan yang menyambut seruan-Nya.”

Ketika mereka tidak memiliki hujah dan kalah dalam berargumentasi, mereka melakukan provokasi terhadap massa untuk membendung dan memberangus dakwah tauhid dan sunnah ini. Allah subhanahu wa ta’ala mengabarkan niat jahat mereka dalam firman-Nya,

          يُرِيدُونَ لِيُطۡفِ‍ُٔواْ نُورَ ٱللَّهِ بِأَفۡوَٰهِهِمۡ وَٱللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِۦ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡكَٰفِرُونَ ٨

        “Mereka ingin hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci.” (ash-Shaf: 8)

Makar jahat ini juga bukan sesuatu yang baru. Ia hanyalah warisan dari para pendahulu mereka yang menentang dakwah para nabi dan rasul r.

Perhatikanlah provokasi Fir’aun untuk menghalangi dakwah Nabi Musa ‘alaihissalam,

          وَقَالَ فِرۡعَوۡنُ ذَرُونِيٓ أَقۡتُلۡ مُوسَىٰ وَلۡيَدۡعُ رَبَّهُۥٓۖ إِنِّيٓ أَخَافُ أَن يُبَدِّلَ دِينَكُمۡ أَوۡ أَن يُظۡهِرَ فِي ٱلۡأَرۡضِ ٱلۡفَسَادَ ٢٦

وَقَالَ مُوسَىٰٓ إِنِّي عُذۡتُ بِرَبِّي وَرَبِّكُم مِّن كُلِّ مُتَكَبِّرٖ لَّا يُؤۡمِنُ بِيَوۡمِ ٱلۡحِسَابِ ٢٧

وَقَالَ رَجُلٞ مُّؤۡمِنٞ مِّنۡ ءَالِ فِرۡعَوۡنَ يَكۡتُمُ إِيمَٰنَهُۥٓ أَتَقۡتُلُونَ رَجُلًا أَن يَقُولَ رَبِّيَ ٱللَّهُ وَقَدۡ جَآءَكُم بِٱلۡبَيِّنَٰتِ مِن رَّبِّكُمۡۖ وَإِن يَكُ كَٰذِبٗا فَعَلَيۡهِ كَذِبُهُۥۖ وَإِن يَكُ صَادِقٗا يُصِبۡكُم بَعۡضُ ٱلَّذِي يَعِدُكُمۡۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِي مَنۡ هُوَ مُسۡرِفٞ كَذَّابٞ ٢٨

Dan berkata Firaun (kepada pembesar-pembesarnya), “Biarkanlah aku membunuh Musa dan hendaklah ia memohon kepada Rabbnya, karena sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar agamamu atau menimbulkan kerusakan di muka bumi.”

Musa berkata, “Sesungguhnya aku berlindung kepada Rabbku dan Rabbmu dari setiap orang yang menyombongkan diri yang tidak beriman kepada hari berhisab.”

Seorang laki-laki yang beriman di antara pengikut-pengikut Firaun yang menyembunyikan imannya berkata, “Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena dia menyatakan, ‘Rabbku ialah Allah,’ padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Rabbmu. Jika ia seorang pendusta, dialah yang menanggung (dosa) dustanya itu; dan jika ia seorang yang benar, niscaya sebagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu.” Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta. (Ghafir: 26—28)

 

Demikian pula sikap mereka terhadap Nabi Ibrahim ‘alaihissalam setelah kalah hujah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

قَالُواْ حَرِّقُوهُ وَٱنصُرُوٓاْ ءَالِهَتَكُمۡ إِن كُنتُمۡ فَٰعِلِينَ ٦٨ قُلۡنَا يَٰنَارُ كُونِي بَرۡدٗا وَسَلَٰمًا عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ ٦٩ وَأَرَادُواْ بِهِۦ كَيۡدٗا فَجَعَلۡنَٰهُمُ ٱلۡأَخۡسَرِينَ ٧٠

        Mereka berkata, “Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak.”

Kami berfirman, “Hai api, jadilah dingin, dan jadilah keselamatan bagi Ibrahim.”

Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi. (al-Anbiya: 68—70)

 

Asy-Syaikh Abdur Rahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa orang-orang musyrikin berkata, “Bunuhlah dia dengan cara yang paling jahat (dibakar),” karena mereka marah terhadap Ibrahim ‘alaihissalam dalam rangka membela sesembahan mereka.

Orang-orang musyrikin itu betul-betul celaka. Mereka beribadah kepada sesembahan yang mereka akui sendiri bahwa ia membutuhkan pertolongan mereka, tetapi justru mereka jadikan sesembahan. Allah subhanahu wa ta’ala menolong kekasih-Nya ketika para musuh melemparkannya ke dalam api.

 

Kemenangan Bagi yang Bertakwa dan Bertawakal kepada Allah subhanahu wa ta’ala

Berbagai makar mereka lakukan terhadap para dai yang mengajak untuk beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala semata dengan tuntunan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, makar itu akan kembali kepada diri mereka dengan kekuasaan Allah subhanahu wa ta’ala.

          وَمَكَرُواْ وَمَكَرَ ٱللَّهُۖ وَٱللَّهُ خَيۡرُ ٱلۡمَٰكِرِينَ ٥٤

        “Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” (Ali Imran: 54)

Kemenangan itu pasti akan berakhir bagi hamba yang bertakwa dan bertawakal kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

          تِلۡكَ ٱلدَّارُ ٱلۡأٓخِرَةُ نَجۡعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوّٗا فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فَسَادٗاۚ وَٱلۡعَٰقِبَةُ لِلۡمُتَّقِينَ ٨٣

        “Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan  (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (al-Qashash: 83)

Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah berkata, “Wahai sekalian kaum muslimin, kita semua wajib bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Kita wajib kembali kepada kitab Allah dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, menggantungkan serta menyandarkan diri kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala semata.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّهُۥ مَخۡرَجٗا ٢

“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan berikan baginya jalan keluar.” (ath-Thalaq: 2)

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman,

          وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسۡبُهُۥ

“Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (ath-Thalaq: 3)

Dialah yang akan memberi kecukupan, Dia pula sebaik-baik pelindung dan penolong.

Engkau bersandar kepada Allah subhanahu wa ta’ala dalam seluruh urusanmu. Makna tawakal tidaklah sebagaimana yang dipahami oleh orang Sufi yang menyimpang, yaitu tidak mau menjalani sebab atau tidak mau berusaha.

Akan tetapi, makna tawakal yang dijelaskan oleh para ulama adalah ‘bersandar kepada sebab adalah syirik, sedangkan tidak mau menjalani sebab adalah mencela syariat’ (Maknanya, lakukan sebab/usaha diiringi dengan doa dalam keadaan engkau menyerahkan hasilnya kepada Allah subhanahu wa ta’ala semata). (al-Mushara’ah, hlm. 12)

Tentang firman Allah subhanahu wa ta’ala pada surah ath-Thalaq ayat 3 di atas, asy-Syaikh as-Sa’di rahimahullah menerangkan, “Barang siapa bertawakal kepada Allah subhanahu wa ta’ala dalam urusan agama dan dunianya, dengan menyandarkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala ketika ingin mendapatkan kemanfaatan dan menolak madarat, dengan yakin kepada Allah subhanahu wa ta’ala untuk mendapatkan kemudahan dari-Nya, Allah subhanahu wa ta’ala akan memberinya kecukupan.

Apabila suatu urasan itu berada dalam jaminan Dzat yang Mahakaya, Mahakuasa, Mahaperkasa, dan Maha Penyayang, urusan itu adalah yang paling dekat dengannya. Akan tetapi, terkadang hikmah Allah subhanahu wa ta’ala menuntut urusan tersebut ditunda sampai waktu yang tepat bagi si hamba.”

Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi rahimahullah berkata, “Sikap orang mukmin adalah menyerahkan seluruh urusannya kepada Allah subhanahu wa ta’ala semata. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          قُل لَّن يُصِيبَنَآ إِلَّا مَا كَتَبَ ٱللَّهُ لَنَا هُوَ مَوۡلَىٰنَاۚ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلۡيَتَوَكَّلِ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٥١

        Katakanlah, “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.” (at-Taubah: 51)

Apabila tawakalmu benar/lurus kepada Allah subhanahu wa ta’ala, engkau tidak usah memedulikan orang yang menyelisihi petunjuk Allah subhanahu wa ta’ala, tidak usah memedulikan orang yang menyelisihi Kitabullah dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Beliau rahimahullah katakan pula, “Apabila hati seorang muslim dipenuhi dengan kekhawatiran karena bid’ah dan khurafat, atau hatinya dipenuhi keraguan, dia akan terus-menerus goncang. Seperti keadaan orang munafik, akan memikirkan setiap komentar terhadap mereka.” (al-Mushara’ah, hlm. 11)

Mudah-mudahan Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa mengokohkan hati kaum muslimin, terkhusus para dai dan ulama yang berada di atas tauhid dan sunnah, dalam menghadapi berbagai ujian dan cobaan.

Amin.

Ditulis oleh al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan

Sekelumit Akhlak Kaum Liberal

Adab dan akhlak mulia merupakan salah satu pilar utama untuk tegaknya suatu bangsa. Ia pula yang menjadi perekat hubungan dalam kehidupan bermasyarakat. Bilamana pilar utama ini tidak lagi dijunjung tinggi oleh suatu bangsa, dengan sendirinya bangsa itu akan lenyap. Hubungan di tengah-tengah masyarakat menjadi retak. Kedamaian yang sebelumnya dirasakan oleh segala lapisan masyarakat menjadi sirna.

Sebagai contoh dan perbandingan adalah apa yang dialami oleh Kisra, Raja Persia, dan Kaisar Romawi (Heraklius). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirim surat kepada keduanya mengajak mereka masuk Islam. Keduanya menolak masuk Islam. Bedanya, Kaisar Heraklius memuliakan surat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan utusannya, sedangkan Kisra sebaliknya. Ia merobek-robek surat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menghinakan utusannya. Tidak berselang lama setelah perbuatan Kisra ini, Allah ‘azza wa jalla menghinakannya dan mencabik-cabik kerajaannya hingga lenyap kekuasaannya. (ash-Sharimul Maslul hlm. 164)

Berbicara tentang adab tidak hanya yang berkaitan dengan interaksi antarsesama manusia, tetapi juga adab terhadap Allah ‘azza wa jalla Sang Pengatur jagat raya. Bahkan, adab terhadap Allah ‘azza wa jalla adalah seutama-utama adab. Manakala ini dilanggar, ancamannya adalah azab yang pedih.

Adab terhadap Allah ‘azza wa jalla terkumpul dalam memercayai seluruh berita yang datangnya dari Allah ‘azza wa jalla, melaksanakan perintah, dan menjauhi larangan-Nya.

Allah ‘azza wa jalla berfirman menyebutkan ucapan Nabi Musa dan Harun ‘alaihimassalam di hadapan Fir’aun,

إِنَّا قَدۡ أُوحِيَ إِلَيۡنَآ أَنَّ ٱلۡعَذَابَ عَلَىٰ مَن كَذَّبَ وَتَوَلَّىٰ ٤٨

“Sesungguhnya telah diwahyukan kepada kami bahwa siksa itu( ditimpakan) atas orang-orang yang mendustakan dan berpaling.” (Thaha: 48)

Maksudnya, azab semata-mata diperuntukkan bagi orang yang mendustakan ayat-ayat Allah ‘azza wa jalla dan berpaling dari menaati-Nya.

Fir’aun dan kaumnya tetap keras kepala dan menentang kebenaran yang dibawa oleh Nabi Musa dan Harun ‘alaihimassalam, padahal beragam mukjizat telah dipaparkan. Akibatnya, mereka ditenggelamkan di Laut Merah sebagai azab.

Beragam hukuman yang Allah ‘azza wa jalla timpakan kepada penentang kebenaran yang datang dari Allah ‘azza wa jalla, semestinya menjadi pelajaran. Sebab, siapa pun yang menentang kebenaran, dia akan mengalami nasib yang serupa.

Penentangan orang kafir terhadap kebijakan Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya bisa dikatakan hal yang ‘lumrah’ karena mereka tidak beriman kepada Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya. Namun, akan sangat ironis bila penentangan itu muncul dari orang yang masih mengaku sebagai muslim. Muslim tetapi bergabung dalam barisan kaum liberalis.

Sungguh, fenomena munculnya kaum liberalis di tengah umat tak bisa dipandang sebelah mata. Sebab, mereka sangat berani mengkritisi kebijakan Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya serta merendahkan nilai-nilai syariat Islam.

 

Modus Lama

Munculnya Jaringan Islam Liberal (JIL)—yang sejatinya adalah para pemuja akal, bahkan tak mustahil sekaligus menjadi jongos bayaran orang kafir—di tengah-tengah umat Islam sesungguhnya tidak mengherankan.

Dahulu juga sudah muncul kelompok yang disebut Mu’tazilah. Kelompok ini mempunyai beberapa pandangan yang sesat. Di antaranya, apabila dalil-dalil syariat (al-Qur’an dan Hadits) bertolak belakang dengan akal, mereka akan menolaknya atau berusaha menafsirkan dengan penafsiran yang sangat jauh dari kebenaran.

Dari sisi ini, orang-orang JIL ada kemiripan dengan orang-orang Mu’tazilah, bahkan lebih sesat, karena kaum JIL sudah terang-terangan melecehkan Islam dan menerjang syariat. Mereka juga menganggap seluruh agama itu sama. Hal ini memperkuat anggapan bahwa mereka adalah corong-corong orang kafir untuk mengobok-obok Islam dan muslimin.

Ya, mereka tercatat dalam sejarah sebagai pengkhianat umat. Mereka seperti kaum munafik di zaman Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjadi duri dalam daging.

 

Tidak Beda dengan Teroris

Keberadaan dan bahaya kaum JIL di tengah-tengah umat bak kaum teroris semisal ISIS. Apabila para teroris dengan aksi-aksi konyolnya telah mencoreng citra Islam dan muslimin, demikian pula orang-orang JIL dengan statemen miring mereka—berupa pelecehan terhadap syariat Islam yang membuat umat bingung. Akibat ulah para teroris dan pernyataan kaum liberal, umat berpecah-belah dan mengarah kepada konflik yang mengancam stabilitas umat dan bangsa.

Kemunculan mereka tidak memberi kontribusi apa pun bagi umat selain memunculkan sikap ragu tentang kebenaran Islam. Apabila umat telah terkotak-kotak menyikapi keberadaan mereka, jangan ditanya lagi tentang orang kafir; seperti apa kebencian mereka terhadap Islam dan muslimin. Alih-alih masuk Islam, mereka tidak memberikan statemen miring terhadap Islam itu sudah ‘mending’.

Oleh karena itu, umat Islam harus waspada dengan kaum JIL. Meski tidak frontal dengan aksi terornya seperti ISIS, namun mereka frontal dengan berbagai pernyataannya yang meneror akidah umat. Lagi pula, mereka bisa menyusup di tengah-tengah ormas, partai politik, bahkan masuk dalam lingkaran kekuasaan.

Umat tidak boleh tertipu dengan gaya intelektual dan ilmiah mereka serta gelar yang disandangnya. Sebab, sesungguhnya kebodohan mereka amat jelas bagi orang yang sedikit saja telah menimba khazanah keilmuan Islam.

 

Bodoh, Tetapi Lancang

Kaum JIL berbicara tentang Islam, namun tidak mau kembali kepada pemahaman sahabat dan pemahaman ulama Islam yang alim dan saleh. Mereka hanya menggunakan tinjauan-tinjauan akal yang dangkal. Mungkin saja mereka memosisikan akal mereka sejajar dengan wahyu syariat (al-Qur’an dan hadits), atau bahkan lebih tinggi, sehingga mereka bebas menggugat dan merendahkan wahyu.

Lihatlah bagaimana seorang dosen universitas kenamaan, UI, dengan lancangnya mengatakan bahwa hadits-hadits (Sunnah) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu menggelikan. Ia mencontohkan tentang hadits anjuran makan dan minum dengan tangan kanan. Dia berkata, “Apa salahnya makan dengan tangan kiri, dan masak sih hanya setan yang makan dengan tangan kiri?”

Ada juga di antara mereka yang mengelu-elukan komunis sebagai ideologi yang bagus. Umat tidak boleh lengah tentang bahaya mereka karena sebagian mereka adalah tokoh sentral dalam ormas keagamaan, dosen di perguruan tinggi (Islam), tokoh masyarakat, bahkan pejabat di pemerintahan.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ مِمَّا أَتَخَوَّفُ مِنْهُ عَلَى أُمَّتِي أَئِمَّةً مُضِلِّينَ

        “Sesungguhnya di antara yang saya khawatirkan atas umatku adalah para pemimpin yang menyesatkan.” (Shahih Sunan Ibnu Majah no. 3207)

Membentengi umat dari bahaya mereka lebih penting daripada berperang melawan orang kafir. Sebab, hal ini merupakan upaya untuk menjaga modal, yaitu menjaga umat Islam agar tetap kokoh di atas Islamnya dan tidak ragu tentang agamanya.

Al-Imam Yahya an-Naisaburi rahimahullah berkata, “Membela Sunnah (agama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) lebih utama dari jihad.”  (Manhaju Ahlis Sunnah fi Naqdi ar-Rijal hlm. 191)

 

Media Sekuler Mendukung JIL

Pemikiran liberal dan pemahaman sesat lainnya tidak hanya dimonopoli oleh para pengusung dan pengikutnya, tetapi mereka jajakan di tengah-tengah manusia. Mereka pun berusaha mencari mangsa.

Berangkat dari sini, umat Islam sudah semestinya memproteksi diri dengan meningkatkan kualitas ilmu dan amalannya. Kaum liberal sangat aktif menebarkan kesesatannya dengan beragam media. Bahkan, tidak sedikit media masa sekuler secara massif menampilkan dan menayangkan pemahaman-pemahaman kaum liberal.

Ada apa dengan media-media tersebut sehingga gencar menampilkan pemikiran-pemikiran liberal?

Ya, karena pernyataan JIL sangat menguntungkan orang-orang kafir dari sisi bisa melanggengkan kekufuran dan pelecehan mereka terhadap Islam yang mereka anggap sebagai musuh dan benalu.

 

Sekelumit Adab Pengusung JIL

Apabila kalbu sudah menjadi sarang pemahaman yang menyimpang dari syariat Islam, jangan Anda tanya tentang apa yang akan mencuat dari kalbu yang busuk tersebut.

Akibat ulah JIL, umat berpecah-belah, syariat dan ketentuan agama dilecehkan, dan sebagian umat Islam menjadi ragu dengan agamanya sendiri sedangkan orang kafir tetap di atas kekafirannya. Bahkan, seolah mereka menemukan jalan untuk mengolok-olok Islam dan muslimin. Ini minimalnya dampak negatif dari pemahaman liberal yang terasa di tengah-tengah umat.

Apabila demikian, lalu apa kontribusi kaum JIL untuk umat? Bisa jadi, kaum tersebut akan menjawab bahwa dengan pemahaman ini, keragaman di masyarakat akan terjaga.

Kita katakan bahwa tidak sedikit pernyataan mereka justru menimbulkan polemik di tengah-tengah umat dan mengotak-kotakkan mereka. Bahkan, kalangan nonmuslim seolah-olah menemukan alat dan mendapat energi untuk menghujat Islam serta muslimin.

Kaum JIL berlagak ingin menampilkan Islam moderat yang menurut mereka akan dihargai dan dihormati. Padahal apabila tidak buta sejarah, kita akan menemukan bahwa indahnya Islam betul-betul terwujud di tengah-tengah masyarakat yang dipimpin oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan generasi awal umat Islam yang saleh. Kala itu Islam dan muslimin betul-betul mulia dan berwibawa.

Kaum JIL mencontohkan bentuk sikap moderat mereka dengan meminta kaum muslimin untuk menghargai hak-hak nonmuslim. Di sisi lain, mereka membisu saat hak-hak muslimin dipasung oleh kalangan nonmuslim. Mereka seakanakan buta tentang Islam yang telah menjaga hak-hak binatang lebih-lebih hak manusia, tentu saja hak-hak yang tidak bertentangan dengan ketentuan agama dan aturan pemerintah yang baik.

Saat pemerintah suatu daerah yang penduduknya mayoritas muslimin menerbitkan Perda tentang larangan buka rumah makan siang hari Ramadhan untuk menghormati kaum muslimin yang sedang berpuasa, kaum JIL tanpa malu-malu meminta untuk mencabut Perda tersebut dengan dalih menjaga keragaman. Sikap moderat ala JIL ini akan berbeda bila kondisi muslimin menjadi minoritas dan hak-hak mereka dipasung oleh mayoritas yang nonmuslim.

 

Berikut ini beberapa akhlak kaum JIL selain yang telah disinggung di atas.

 

  1. Mengkritisi Kebijakan Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya

Prinsip “bebas berpikir, berpendapat, dan berekspresi” yang dianut oleh JIL telah merusak tatanan hidup beragama dan bermasyarakat. Dengan prinsip tersebut, seseorang bisa saja menuduh Allah ‘azza wa jalla tidak adil atau ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah tidak lagi relevan.

Dengan prinsip ini, orang bisa saja menabrak norma-norma kesopanan masyarakat. Akhirnya seseorang menjadi tidak tahu kadar dirinya dan sombong. Dia lupa bahwa dirinya adalah makhluk yang diatur, sedangkan Allah ‘azza wa jalla adalah Dzat Yang Maha mengatur.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

          وَمَا كَانَ لِمُؤۡمِنٖ وَلَا مُؤۡمِنَةٍ إِذَا قَضَى ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥٓ أَمۡرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ ٱلۡخِيَرَةُ مِنۡ أَمۡرِهِمۡۗ وَمَن يَعۡصِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ ضَلَّ ضَلَٰلٗا مُّبِينٗا ٣٦

        “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin ,apabila Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan ,akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Barang siapa mendurhakai Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya, sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (al-Ahzab: 36)

 

Di antara hasil produk prinsip di atas, website Islam liberal memuat ucapan Moeslim Abdurrahman yang mengatakan, “Kalau syariat Islam diterapkan, maka yang jadi korban pertama adalah perempuan.”

Ucapan ini tentu mengandung konsekuensi bahwa Allah ‘azza wa jalla itu zalim, padahal Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَلَا يَظۡلِمُ رَبُّكَ أَحَدٗا ٤٩

“Dan Rabbmu tidak menganiaya seorang pun.” (al-Kahfi: 49)

Ada pula tokoh JIL perempuan yang mengatakan bahwa poligami tidak sah, waris laki-laki dan perempuan sama. Kaum JIL tidak tahu atau pura-pura tidak tahu bahwa Allah ‘azza wa jalla Dzat Yang Maha Penyayang terhadap hamba-Nya.

Tidaklah Allah ‘azza wa jalla menentukan sesuatu kecuali karena sifat adil dan bijak yang ada pada-Nya. Allah ‘azza wa jalla lebih tahu kemaslahatan hamba daripada diri hamba sendiri. Mereka tidak tahu bahwa Islamlah yang mengangkat harkat dan martabat wanita yang sebelumnya dipasung oleh adat istiadat jahiliah.

Ketika umat dibuat heboh dengan munculnya karikatur Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memakai serban dengan bom di tangan, kaum JIL berpandangan bahwa karikatur seperti itu adalah lumrah, karena itu adalah karya seni. Padahal masalahnya bukan hanya haramnya menggambar makhluk bernyawa, lebih dari itu adanya pesan yang terkandung bahwa Islam datang membawa teror dan Nabi Islam sang penebar teror.

Apabila kaum JIL beralasan bahwa karikatur tersebut sebagai reaksi balik atas banyaknya aksi-aksi teror kaum teroris, hal itu juga tidak bisa diterima. Sebab, aksi kaum teroris tidaklah mewakili ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi justru bertentangan.

 

  1. Menghalalkan yang Haram

Ini tentu saja sebuah bentuk kekufuran, apa pun alasannya. Lebih-lebih apabila yang haram itu justru dikampanyekan sebagai sesuatu yang lumrah. Misalnya, mereka memandang bolehnya homoseks, lesbi, dan kawin sesama jenis.

Dalam sebuah diskusi, tokoh perempuan JIL, Siti Musdah Mulia, mengeluarkan pernyataan, “Homoseksual dan homoseksualitas adalah kelaziman dan dibuat oleh Tuhan, dengan begitu diizinkan juga dalam agama Islam.”

Begitu jauh melencengnya kaum tersebut, tidak cukup menisbatkan halalnya homoseks kepada pendapat mereka, tetapi menisbatkannya kepada Islam!

Datangkan dalil dari al-Qur’an dan hadits tentang bolehnya homoseks, wahai kaum JIL!

Dalam al-Kabair (hlm. 90) al-Imam adz-Dzahabi rahimahullah berkata, “Allah ‘azza wa jalla telah menceritakan kepada kita kisah kaum Luth (kaum yang kebiasaannya melakukan homoseks) pada banyak ayat al-Qur’an dan bahwa Dia ‘azza wa jalla membinasakan mereka karena perbuatan mereka yang jelek.”

Kaum muslimin dari seluruh golongan telah sepakat bahwa homoseks termasuk dosa besar.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

          أَتَأۡتُونَ ٱلذُّكۡرَانَ مِنَ ٱلۡعَٰلَمِينَ ١٦٥ وَتَذَرُونَ مَا خَلَقَ لَكُمۡ رَبُّكُم مِّنۡ أَزۡوَٰجِكُمۚ بَلۡ أَنتُمۡ قَوۡمٌ عَادُونَ ١٦٦

        “Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia dan kamu tinggalkan istri-istri yang dijadikan oleh Rabbmu untukmu? Bahkan, kalian adalah orang-orang yang melampaui batas.” (asy-Syu’ara: 165—166)

Jangan disangka bahwa kaum Luth diazab karena kekafirannya saja. Karena di samping mereka kafir mereka melakukan perbuatan yang sangat keji ini sehingga azab yang ditimpakan kepada mereka sangat mengerikan. Jangan pula ada yang menyangka bahwa itu hanya dilarang di zaman Nabi Luth saja, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اقْتُلُوا الْفَاعِلَ وَالْمَفْعُولَ بِهِ

“Bunuhlah pelaku (homoseks) dan objeknya.” ( HR . Abu Dawud, at- Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Kalau kaum JIL mengatakan bahwa efek homoseks tidak seperti zina, dari sisi hamil di luar nikah dan perasaan malu di tengah masyarakat, sehingga dibolehkan; kita katakan, cara pandang yang seperti itu sangat keliru. Sebab, apa pun yang diharamkan agama tetap haram dan homoseks merupakan seks yang menyimpang yang menyelisihi kodrat yang akan memunculkan banyak kemudaratan.

Kalau mereka mengatakan bahwa itu adalah anugerah Tuhan, kita katakan bahwa Allah ‘azza wa jalla tidak meridhai kemaksiatan. Benar bahwa Allah ‘azza wa jalla yang mencipta kebaikan dan kejelekan, namun Allah ‘azza wa jalla juga memberi kemampuan kepada manusia untuk memilih jalan kebaikan atau keburukan. Kalau dalih mereka dibenarkan, siapa pun yang berbuat maksiat seperti mencuri, korupsi, dsb., bisa berdalih bahwa ini adalah anugerah Tuhan. Akal sehat mana yang bisa menerima?

 

  1. Mengolok-Olok Orang yang Mengamalkan Agama

Termasuk ciri-ciri munafik adalah menggembosi orang-orang yang beramal kebaikan. Tidak mendukung kebaikan, tetapi malah mencela. Tidak menambal yang bolong, tetapi justru merusak.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

          وَمِنۡهُم مَّن يَلۡمِزُكَ فِي ٱلصَّدَقَٰتِ

        “Dan di antara mereka ada orang yang mencelamu tentang (distribusi) zakat.” (at-Taubah: 58)

Muhammad Guntur Romli berkata, “Pramugari Garuda kan gak pake jilbab, kok rajin shalat ya? Kan jadi aneh ya, gak jilbab juga shalihah? Gak jilbab juga banyak rajin shalat.”

Dia juga berkata, “Lucu juga orang kota, liat pramugari pesawat Garuda shalat di pesawat jd berita berhari2.”

Kita katakan, apakah kalau orang tidak berjilbab harus tidak shalat, padahal dua-duanya adalah kewajiban agama? Wanita yang keluar rumah dan tidak berjilbab/berhijab, dia telah meninggalkan satu kewajiban. Tentu lebih jelek lagi apabila dia juga tidak shalat tanpa ada alasan.

 

  1. Ingin Mengubah-Ubah Ketentuan Allah

Sebagian kaum JIL mengusulkan agar pelaksanaan ibadah haji bisa diselesaikan pada salah satu dari tiga bulan-bulan haji, yaitu Syawal, Dzulqa’dah, dan Dzulhijjah, bukan hanya 8—13 Dzulhijjah saja. Hal ini adalah bentuk mengubah waktu-waktu haji yang telah ditentukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sekiranya mereka beralasan bahwa itu untuk menghindari jatuhnya korban berdesak-desakan di Mina (jamarat), kita katakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih sayang kepada umatnya daripada mereka. Ibadah haji sudah ada ketentuannya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga tidak perlu diubah-ubah.

Seharusnya, yang dipikirkan adalah teknik agar jamaah haji terhindar dari berdesak-desakan yang membahayakan; bukan mengubah-ubah syariat yang sudah ada ketentuannya dalam agama.

 

Demikian sekelumit sikap mereka yang nyeleneh. Apabila disimpulkan, prinsip bebas berpendapat dijadikan alat untuk menumbangkan sendi-sendi akidah dan moralitas.

Hal ini jauh berbeda dengan muslim yang taat kepada Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya; mereka siap menjalankan perintah agama, meninggalkan larangan-Nya, dan memercayai berita-berita syariat.

Seorang muslim mengetahui kadar dirinya sebagai hamba yang diatur, sedangkan Allah ‘azza wa jalla adalahg Dzat Yang Mengatur. Seorang muslim tidak akan protes dan menentang kebijakan Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya.

Wallahu a’lam bish-shawab.

 Ditulis oleh al-Ustadz Abdul Mu’thi Sutarman, Lc

Mut’ah Lebih Keji Daripada Zina

Pada Rubrik Akhlak edisi ini, redaksi akan berusaha melengkapi beberapa artikel terkait dengan nikah mut’ah yang pernah dimuat di Majalah Asy-Syariah. Penulis mengharapkan hidayah, taufik, dan pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala semata.

 Islam Menjaga Kehormatan dan Kesucian

Seorang muslim yang beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam tentu berkeyakinan bahwa Islam datang membawa syariat yang mulia dan sempurna.

Di antara bukti kemuliaan dan kesempurnaan syariat Islam adalah perintah Allah subhanahu wa ta’ala dalam Kitab-Nya dan perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sunnahnya untuk menjaga kehormatan dan kesucian diri dari berbagai hal yang keji, seperti zina, mut’ah, hubungan sesama jenis, dan onani.

Di antara dalil-dalil dari al-Qur’an yang memerintahkan menjaga kehormatan dan kesucian adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala,

          قُل لِّلۡمُؤۡمِنِينَ يَغُضُّواْ مِنۡ أَبۡصَٰرِهِمۡ وَيَحۡفَظُواْ فُرُوجَهُمۡۚ ذَٰلِكَ أَزۡكَىٰ لَهُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا يَصۡنَعُونَ ٣٠ وَقُل لِّلۡمُؤۡمِنَٰتِ يَغۡضُضۡنَ مِنۡ أَبۡصَٰرِهِنَّ وَيَحۡفَظۡنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبۡدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنۡهَاۖ

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.”

Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak darinya….” (an-Nur: 30—31)

Asy-Syaikh Abdur Rahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah menjelaskan dalam Tafsir-Nya,

“… Agar mereka menjaga kemaluan mereka tidak bersetubuh dengan cara yang haram, pada kemaluan, dubur, atau lainnya. Demikian pula, mereka tidak membiarkan orang lain meraba dan melihatnya. Sebab, menjaga pandangan dan kemaluan lebih terhormat dan lebih suci, serta akan menumbuhkan amalan-amalan yang baik bagi mereka.

Sebab, barang siapa menjaga kemaluan dan pandangan mata, niscaya dia akan suci dari hal-hal yang keji/kotor. Amalan-amalannya pun akan bersih karena dia menjauhi hal-hal yang haram tersebut.

Meski demikian, hawa nafsu tentu tetap akan condong dan mengajak melakukan yang diharamkan itu. Maka dari itu, barang siapa meninggalkan sesuatu karena Allah subhanahu wa ta’ala, niscaya Dia akan menggantinya dengan yang lebih baik.”

Allah ‘azza wa jalla mengabarkan kepada para hamba-Nya tentang sifat-sifat para pewaris surga,

          وَٱلَّذِينَ هُمۡ لِفُرُوجِهِمۡ حَٰفِظُونَ ٥ إِلَّا عَلَىٰٓ أَزۡوَٰجِهِمۡ أَوۡ مَا مَلَكَتۡ أَيۡمَٰنُهُمۡ فَإِنَّهُمۡ غَيۡرُ مَلُومِينَ ٦

“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.” (al-Mu’minun: 5—6)

Asy-Syaikh as-Sa’di rahimahullah menjelaskan dalam Tafsir-nya, “Mereka adalah orang-orang yang menjaga kehormatan dari perbuatan zina. Termasuk yang akan menyempurnakan penjagaan kehormatan adalah menjauhi segala sesuatu yang akan menyeret pada perbuatan zina, seperti memandang, meraba, dan lainnya.

Mereka menjaga kehormatan dari siapapun selain istri dan budak perempuan yang mereka miliki sepenuhnya. ‘Mendekati’ istri dan budak perempuan tidaklah tercela karena Allah subhanahu wa ta’ala menghalalkan keduanya.

Barang siapa mencari selain itu—selain istri dan budak perempuan miliknya—berarti telah melampaui batas yang dihalalkan oleh Allah, menuju hal-hal yang diharamkan-Nya. Mereka adalah orang-orang yang lancang terhadap keharaman yang Allah tetapkan.”

Selanjutnya, beliau rahimahullah mengatakan, “Keumuman ayat menunjukkan haramnya nikah mut’ah. Sebab, wanita yang dinikah mut’ah bukanlah istri hakiki yang diniatkan untuk terus mendampinginya, bukan pula budak yang dimiliki.”

Menjaga kehormatan adalah salah satu prinsip dasar yang diajarkan oleh seluruh nabi dan rasul ‘alaihimussalam, terkhusus Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini tecermin dari kisah pertemuan Heraklius penguasa Romawi di Syam dengan Abu Sufyan radhiallahu ‘anhu yang saat itu belum masuk Islam.

Heraklius bertanya, “Apa yang dia (Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam) perintahkan”

Abu Sufyan menjawab, “Dia berkata, ‘Tinggalkanlah kepercayaan nenek moyang kalian.’ Dia juga memerintah kami untuk shalat, jujur, menjaga kehormatan, dan menyambung silaturahim.” (Muttafaqun alaih)

Bahkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan perintahnya untuk menjaga kehormatan dalam sabdanya,

مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ

“Barang siapa menjaga apa yang ada di antara jenggot dan kumisnya (lisan/mulut) dan apa yang ada di antara kedua kakinya (kemaluan), niscaya aku jamin baginya surga.” (Muttafaqun alaih dari Sahl bin Sa’d radhiallahu ‘anhu)

 

Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam Mengharamkan Mut’ah

Sebelum kita paparkan beberapa dalil yang mengharamkan nikah mut’ah, kita perlu membaca dan memahami penjelasan asy-Syaikh Abdullah bin Abdur Rahman Alu Bassam dalam kitabnya, Taudhihul Ahkam (5/294) tentang nikah mut’ah.

“Mut’ah adalah pecahan kata dari التمتع بالشيء (bersenang-senang dengan sesuatu). Ikatan perjanjan tersebut disebut mut’ah karena seorang lelaki bertujuan untuk bersenang-senang dengan seorang wanita dengan perjanjian tersebut sampai waktu tertentu.

Pengertian ikatan perjanjiannya adalah seorang lelaki menikahi seorang wanita sampai waktu tertentu atau waktu yang belum ditentukan. Aturannya menurut Syiah Rafidhah, adalah menikah dengan batas waktu tertentu, baik yang disepakati maupun belum, dan paling lama adalah 45 hari. Setelah itu, ikatan perjanjian tersebut secara otomatis selesai dengan berakhirnya batas waktu tersebut.

Menurut mereka, ikatan tersebut

  • tidak berkonsekuensi pemberian nafkah kepada si wanita,
  • tidak mengakibatkan saling mewarisi (jika salah satu pihak meninggal saat masih dalam ikatan perjanjian),
  • (jika si wanita hamil karena hubungan itu) anaknya tidak dinasabkan kepada si lelaki,
  • tidak memiliki masa iddah, hanya memastikan bahwa rahim bersih dari janin.”

Di antara dalil yang mengharamkan nikah mut’ah adalah hadits Rabi’ bin Sabrah, dari ayahnya radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنِّي كُنْتُ أَذِنْتُ لَكُمْ فِي ا سِالْتِمْتَاعِ مِنَ النِّسَاءِ وَإِنَّ اللهَ قَدْ حَرَّمَ ذَلِكَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ فَمَنْ كَانَ عِنْدَهُ مِنْهُنَّ شَيْءٌ فَلْيُخَلِّ سَبِيلَهُ وَ تَأْخُذُوا مِمَّا آتَيْتُمُوهُنَّ شَيْئًا

“Sungguh, aku dahulu pernah mengizinkan kalian untuk melakukan nikah mut’ah terhadap para wanita. Dan sungguh, sekarang Allah subhanahu wa ta’ala telah mengharamkannya sampai hari kiamat.

Barang siapa masih memiliki suatu ikatan dengan mereka, hendaknya dia melepaskannya. Apabila kalian telah memberikannya kepada mereka, jangan kalian ambil sedikit pun.” (HR. Muslim)

Demikian pula hadits Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu,

نَهَى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْمُتْعَةِ عَامَ خَيْبَرَ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang nikah mut’ah pada tahun Perang Khaibar.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

 

Zina Berujung Kerusakan Dunia & Agama

Allah subhanahu wa ta’ala melarang para hamba-Nya berbuat zina,

وَلَا تَقۡرَبُواْ ٱلزِّنَىٰٓۖ إِنَّهُۥ كَانَ فَٰحِشَةٗ وَسَآءَ سَبِيلٗا ٣٢

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (al-Isra: 32)

Asy-Syaikh Abdur Rahman as-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat di atas dalam Tafsir-nya,

“Allah menyebutkan zina dan kejelekannya sebagai perbuatan yang keji dan kotor. Maksudnya, ia adalah perbuatan dosa besar yang dianggap keji oleh syariat, akal sehat, dan fitrah. Sebab, zina mengandung sikap lancang terhadap hak Allah subhanahu wa ta’ala, hak wanita yang dizinai, dan hak keluarga atau suaminya. Selain itu, zina merusak rumah tangga, dan menyebabkan tercampurnya nasab dan berbagai kerusakan lainnya. “

Karena itu, pantas apabila Allah subhanahu wa ta’ala mengancam para pezina dengan hukuman yang sangat pedih di dunia dan di akhirat. Allah Yang Mahaperkasa berfirman,

ٱلزَّانِيَةُ وَٱلزَّانِي فَٱجۡلِدُواْ كُلَّ وَٰحِدٖ مِّنۡهُمَا مِاْئَةَ جَلۡدَةٖۖ وَلَا تَأۡخُذۡكُم بِهِمَا رَأۡفَةٞ فِي دِينِ ٱللَّهِ إِن كُنتُمۡ تُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِۖ وَلۡيَشۡهَدۡ عَذَابَهُمَا طَآئِفَةٞ مِّنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ٢

“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegahmu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang yang beriman.” (an-Nur: 2)

Hukuman yang Allah ancamkan dalam ayat di atas adalah bagi pelaku zina laki-laki dan perempuan yang belum menikah. Adapun pelaku zina yang sudah menikah dan telah merasakan kehidupan suami istri, di dunia mendapat hukuman dibunuh dengan cara dirajam.

Khalifah Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu berkata dalam khutbahnya, “Sungguh, Allah subhanahu wa ta’ala telah mengutus Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam membawa kebenaran. Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan al-Qur’an kepada beliau. Termasuk wahyu yang Allah turunkan kepada beliau adalah ayat rajam. Kami telah membaca, menghafal, dan memahaminya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah merajam, kami pun akan merajam sepeninggal beliau.

Dengan berlalunya masa yang panjang pada umat manusia, aku khawatir akan ada yang berkata, ‘Kami tidak mendapati hukum rajam dalam Kitabullah.’ Lantas mereka tersesat karena meninggalkan kewajiban yang telah Allah subhanahu wa ta’ala wajibkan ini.

Hukum rajam benar adanya dalam Kitabullah, terhadap pelaku zina yang sudah menikah, baik lelaki maupun perempuan; apabila telah tegak para saksi, atau (si wanita) hamil, atau mengakuinya.” (Muttafaqun alaih)

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah telah menjelaskan berbagai kerusakan akibat zina. Kata beliau, “Kerusakan yang ditimbulkan oleh zina bertentangan dengan kepentingan hidup manusia. Jika berzina, seorang wanita telah memasukkan hal yang sangat memalukan terhadap keluarga, suami, dan sanak kerabatnya. Dia membuat mereka sangat malu di hadapan masyarakat.

Jika dia hamil karena zina, lantas dia membunuh anaknya itu, dia telah mengumpukan dosa zina dan dosa membunuh anak. Jika dia menisbahkan si anak kepada suaminya, berbarti dia telah memasukkan orang asing ke dalam keluarga suami dan keluarganya sendiri.

Selanjutnya, si anak akan mendapatkan warisan dari mereka padahal dia bukan ahli waris. Selain itu, si anak akan melihat dan berkhalwat (berduaan) dengan salah seorang dari mereka. Si anak akan menisbahkan diri kepada mereka padahal bukan bagian mereka. Dan masih ada berbagai kerusakan lain yang ditimbulkan oleh wanita yang berzina.

Lelaki yang berzina juga akan mengakibatkan rusaknya nasab. Dia juga telah merusak seorang wanita yang terjaga. Dia telah menghadapkan si wanita pada kebinasaan dan kerusakan. Jadi, perbuatan dosa besar ini akan mengakibatkan kerusakan-kerusakan dalam hal dunia dan agama.” (ad-Da’u wad Dawa’ hlm. 232)

Di samping itu, perbuatan zina juga merusak kesehatan masyarakat dengan munculnya berbagai jenis penyakit seperti AIDS, gonorrhea, dan sipilis.

 

Nikah Mut’ah Lebih Keji & Kotor daripada Zina

Berbagai kerusakan dunia dan agama yang ditimbulkan oleh perbuatan zina sebagaimana disebutkan di atas, juga ditimbulkan oleh nikah mut’ah yang diajarkan oleh Syiah Rafidhah. Bahkan, dalam beberapa hal, nikah mut’ah lebih keji dan kotor daripada zina.

Mengapa demikian?

Sebab, mut’ah adalah bid’ah yang dianggap sebagai ajaran agama Islam, padahal telah dihapus hukumnya (dimansukh). Adapun zina, setiap muslim, bahkan nonmuslim pun, mengakui bahwa itu adalah perbuatan keji, kotor, dan menjijikkan.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman menjelaskan kedustaan orang yang mengada-ada dalam urusan agama,

وَلَا تَقُولُواْ لِمَا تَصِفُ أَلۡسِنَتُكُمُ ٱلۡكَذِبَ هَٰذَا حَلَٰلٞ وَهَٰذَا حَرَامٞ لِّتَفۡتَرُواْ عَلَى ٱللَّهِ ٱلۡكَذِبَۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَفۡتَرُونَ عَلَى ٱللَّهِ ٱلۡكَذِبَ لَا يُفۡلِحُونَ ١١٦

Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta, “Ini halal dan ini haram,” untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. (an-Nahl: 116)

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman tentang kezaliman dan kejahatan mereka,

          وَمَنۡ أَظۡلَمُ مِمَّنِ ٱفۡتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ ٱلۡكَذِبَ وَهُوَ يُدۡعَىٰٓ إِلَى ٱلۡإِسۡلَٰمِۚ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّٰلِمِينَ ٧ يُرِيدُونَ لِيُطۡفِ‍ُٔواْ نُورَ ٱللَّهِ بِأَفۡوَٰهِهِمۡ وَٱللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِۦ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡكَٰفِرُونَ ٨

“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah sedang dia diajak kepada agama Islam? Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.

Mereka ingin hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci.” (ash-Shaff: 7—8)

Di sisi lain, Syiah Rafidhah telah menjadikan imam-imam mereka sebagai rabb dan tandingan bagi Allah subhanahu wa ta’ala. Tentang kaum yang menjadikan pembesar mereka sebagai tandingan bagi-Nya, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          ٱتَّخَذُوٓاْ أَحۡبَارَهُمۡ وَرُهۡبَٰنَهُمۡ أَرۡبَابٗا مِّن دُونِ ٱللَّهِ

“Mereka menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah….” (at-Taubah: 31)

Oleh karena itulah, para imam kaum muslimin senantiasa memperingatkan umat dari bid’ah dan ahli bid’ah. Peringatan mereka terhadap bid’ah dan ahli bid’ah lebih keras daripada terhadap kemaksiatan dan pelakunya.

Di antara para imam tersebut ialah al-Imam Sufyan ats-Tsauri rahimahullah. Beliau berkata, “Bid’ah lebih disukai oleh Iblis daripada perbuatan maksiat. Sebab, kemaksiatan (masih diharapkan pelakunya) bertobat, sedangkan bid’ah (hampir tidak mungkin pelakunya) bertobat darinya.”

Di antara mereka pula ialah Yunus bin Ubaid rahimahullah. Dia menasihati anaknya, “Aku melarangmu berzina, mencuri, dan meminum khamr. Sungguh, apabila engkau bertemu dengan Allah membawa dosa ini, lebih aku senangi daripada engkau bertemu dengan-Nya membawa bid’ah pemikiran Amr bin Ubaid dan para muridnya.”

Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan, “Ahli bid’ah lebih keras azabnya daripada pelaku kemaksiatan. Sebab, bid’ah lebih jahat daripada maksiat. Bid’ah lebih disukai oleh setan daripada maksiat. Pelaku maksiat (ada harapan) untuk bertobat. Adapun ahli bid’ah, amat sedikit yang bertobat (dari bid’ahnya) karena dia merasa berada di atas kebenaran.

Berbeda halnya dengan pelaku kemaksiatan, dia menyadari bahwa dirinya melakukan kemaksiatan. Adapun ahli bid’ah berkeyakinan bahwa yang dilakukannya adalah ketaatan. Dia meyakini dirinya di atas ketaatan.

Oleh karena itu, bid’ah lebih jelek daripada maksiat. Karena itu pula, para ulama salaf (senantiasa) memperingatkan umat dari ahli bid’ah karena mereka akan mempengaruhi teman-teman duduknya untuk mengikuti bid’ahnya. Jadi, bahaya mereka lebih besar.

Tidak ada keraguan lagi bahwa bid’ah lebih jelek/berbahaya daripada kemaksiatan. Bahaya ahli bid’ah lebih besar daripada bahaya pelaku kemaksiatan terhadap umat manusia.” (al-Ajwibah al-Mufidah hlm. 26)

Mudah-mudahan Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa melimpahkan hidayah taufik-Nya kepada kita dan kaum muslimin semuanya. Semoga Allah menyelamatkan kita dari berbagai bid’ah yang menyesatkan dari jalan-Nya yang lurus. Amin.

Bantuan Allah Sesuai Modal yang Diberikan

Selama hidup di dunia fana ini, kondisi seorang tidak menentu, selalu berubah-ubah. Adakalanya dia merasakan mudahnya kehidupan. Saat yang lain, ia harus menelan pahit dan susahnya kehidupan.

Apabila hanya mengandalkan kemampuan diri menghadapi perubahan situasi, tentu kita tidak akan mampu karena kita lemah dalam segala sisi. Kita sangat membutuhkan bantuan Allah subhanahu wa ta’ala, Dzat Yang Mahakuasa lagi Mahabijaksana.

Akan tetapi, mengharap bantuan Allah subhanahu wa ta’ala hanya akan menjadi angan-angan belaka bila kita tidak punya simpanan amal kebaikan. Sebab, bantuan dari Allah subhanahu wa ta’ala untuk kita sesuai dengan modal (amal saleh) yang kita suguhkan.

Telah banyak ayat al-Qur’an dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyebutkan janji kebaikan bagi orang yang mengamalkan agama Islam ini.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن تَنصُرُواْ ٱللَّهَ يَنصُرۡكُمۡ وَيُثَبِّتۡ أَقۡدَامَكُمۡ ٧

“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (Muhammad: 7)

Ini adalah janji yang mulia bagi siapapun yang menjalankan agama Allah subhanahu wa ta’ala, mengajak manusia kepada-Nya, dan memerangi para musuh agama, yaitu Allah subhanahu wa ta’ala akan menolongnya dan memudahkan baginya sebab-sebab kemenangan.

 Menjaga Hak-Hak Allah subhanahu wa ta’ala

Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan,

احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ

“Jagalah Allah, subhanahu wa ta’ala niscaya Dia akan menjagamu.” (HR.at-Tirmidzi dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma)

Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Maksudnya, jagalah batasan-batasan Allah subhanahu wa ta’ala dan hak-Nya, perintah dan larangan-Nya, dengan cara menjalankan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, dan tidak melampaui batasan-batasan-Nya. Hal ini mencakup mengerjakan seluruh kewajiban dan meninggalkan seluruh yang diharamkan.”

Inilah yang dimaksud dengan “menjaga Allah subhanahu wa ta’ala”. Jadi, maksudnya bukanlah Allah subhanahu wa ta’ala membutuhkan penjagaan kita atau mengambil manfaat dari ketaatan kita. Sekiranya seluruh hamba menaati-Nya, kekuasaan-Nya tidak akan bertambah; sebagaimana tidak berkurang kekuasaan-Nya karena pembangkangan seluruh hamba-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala Mahakaya lagi Mahaperkasa. Justru hambalah yang akan mengambil manfaat dari ketaatannya sebagaimana dia pula yang akan merasakan akibat dari dosanya.

Hak Allah subhanahu wa ta’ala terbesar yang harus kita jaga adalah menauhidkan (mengesakan) Allah subhanahu wa ta’ala dalam hal ibadah. Apabila tidak menjaga hak ini, seseorang terancam gugur seluruh amalannya. Dia terancam dihalalkan darah dan hartanya serta kekal di dalam neraka. Berikutnya ialah hak-hak Allah subhanahu wa ta’ala yang lain seperti shalat lima waktu dan rukun Islam yang lainnya.

Intinya, seorang muslim dituntut menjaga hak-hak Allah subhanahu wa ta’ala. Hak-hak tersebut tidak diketahui kecuali dengan mendalami agama ini.

Di samping hak-hak Allah subhanahu wa ta’ala yang harus dijaga, seseorang juga tertuntut menjaga hak-hak manusia dengan berbagai tingkatannya. Sebab, seorang tidak dikatakan baik sampai baik hubungannya dengan Allah subhanahu wa ta’ala, baik pula hubungannya dengan manusia. Tak ketinggalan pula, seorang hamba berkewajiban menjaga diri dan anggota tubuhnya dari semua hal yang bertentangan dengan norma-norma agama.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلَا تَقۡفُ مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٌۚ إِنَّ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡبَصَرَ وَٱلۡفُؤَادَ كُلُّ أُوْلَٰٓئِكَ كَانَ عَنۡهُ مَسۡ‍ُٔولٗا ٣٦

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (al-Isra: 36)

Seseorang hendaknya tahu bahwa anggota tubuhnya, dari ujung rambut hingga ujung kaki, bisa menjadi sebab kebinasaan apabila tidak dia jaga.

 

Buah Manis dari Kebaikan

Orang yang berbuat baik berhak diapresiasi dan diberi semangat agar selalu bersemangat dalam kebaikan.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ

“Jagalah Allah, subhanahu wa ta’ala niscaya Dia akan menjagamu.”

Al-Imam Ibnu Rajab rahimahullah menerangkan, “Maksudnya, orang yang menjaga batasan-batasan Allah subhanahu wa ta’ala dan memerhatikan hak-hak Nya, Dia subhanahu wa ta’ala akan menjaganya. Sebab, balasan itu setimpal dengan amalan, sebagaimana firman-Nya subhanahu wa ta’ala,

وَأَوۡفُواْ بِعَهۡدِيٓ أُوفِ بِعَهۡدِكُمۡ

“Dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu.” (al-Baqarah: 40)

 

Penjagaan Allah subhanahu wa ta’ala terhadap Hamba yang Taat

Allah subhanahu wa ta’ala menjaga hamba-Nya yang taat dalam dua bentuk:

  1. Allah menjaga kemaslahatan duniawinya, seperti badan, anak, keluarga, dan hartanya.

Sebagian salaf berkata, “Orang yang alim tidak akan pikun. Abu ath-Thayyib ath-Thabari umurnya lebih dari seratus tahun, namun akalnya tetap tajam dan tubuhnya tetap kuat. Suatu hari beliau naik ke daratan dari perahunya dengan lompatan yang kuat. Beliau pun ditanya sebab bisa melakukan lompatan tersebut.

Beliau menjawab, ‘Anggota tubuh ini kami jaga dari kemaksiatan saat kami masih muda, maka Allah subhanahu wa ta’ala menjaga tubuh kami saat sudah tua’.”

Sebaliknya, al-Junaid pernah melihat seorang yang tua meminta-minta. Al-Junaid mengatakan, “Orang ini menyia-nyiakan hak Allah subhanahu wa ta’ala di masa mudanya, maka Allah subhanahu wa ta’ala menyia-nyiakannya saat tuanya.”

Bahkan, dengan sebab ketaatan seseorang, terkadang anak keturunannya pun ikut dijaga. Muhammad bin al-Munkadir rahimahullah berkata, “Sungguh, Allah subhanahu wa ta’ala memberi penjagaan bagi orang yang saleh pada anak cucunya, kampung tempat tinggalnya, dan rumah-rumah yang ada di sekitarnya.”

Kapan pun seorang hamba menyibukkan diri dengan ketaatan, maka Allah subhanahu wa ta’ala menjaganya dalam kondisi ketaatannya. Dahulu Syaiban ar-Ra’i suka menggembala kambing di padang sahara. Apabila datang waktu Jum’atan, beliau memberi garis pada tempat yang ada kambingnya, lalu ia berangkat shalat Jum’at. Setelah selesai Jum’atan, ia kembali menuju kambing-kambingnya. Ia dapati kambing-kambing itu masih berada di tempatnya semula.

Orang yang saleh akan dijaga dari kejahatan manusia dan jin yang akan menimpakan kejelekan kepadanya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّهُۥ مَخۡرَجٗا ٢

“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” (ath-Thalaq: 2)

Ar-Rabi’ bin Khutsaim berkata, “Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan baginya jalan keluar dari segala hal yang membuat manusia merasa sempit.”

Aisyah radhiallahu ‘anha berkata, “Apabila kamu takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala, Dia akan mencukupimu (dengan mereka segan kepadamu).”

Di antara keajaiban penjagaan Allah subhanahu wa ta’ala bagi orang yang menjaga hak-hak- Nya, Allah akan menjaganya dari binatang yang tabiatnya buas.

Hal ini dialami oleh Safinah, budak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, saat perahu yang dinaikinya pecah dan terdampar di suatu pulau. Di sana dia melihat seekor binatang buas, maka Safinah mengatakan kepada binatang tersebut, “Saya Safinah, maula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Binatang buas tersebut lalu berjalan di sisinya dan menunjukkan jalan keluar dari pulau itu. Ketika Safinah sudah berada di jalan yang dituju, binatang tersebut mengeluarkan suara dalam, seolah-olah ingin mengucapkan salam perpisahan.

Kisah lainnya dialami oleh Ibrahim bin Adham. Ia tidur di kebun. Ternyata, waktu itu di samping beliau ada ular yang menghalau binatang-binatang yang ingin mendekat, sampai beliau terbangun.

Seperti inilah orang yang menjaga Allah subhanahu wa ta’ala. Allah subhanahu wa ta’ala akan menjaganya dari binatang buas, bahkan binatang itu menjaganya. Namun, orang yang menyia-nyiakan hak Allah subhanahu wa ta’ala, ia disia-siakan di tengah-tengah makhluk-Nya. Sampai-sampai, Allah subhanahu wa ta’ala menimpakan mudarat kepadanya dari sesuatu yang ia harapkan manfaatnya. Bahkan, Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan keluarganya yang terdekat menyakitinya.

Sebagian salaf berkata, “Sungguh, aku berbuat maksiat kepada Allah subhanahu wa ta’ala, lalu aku dapatkan akibatnya pada perangai pembantu dan keledaiku (tungganganku).”

Maksudnya, pembantunya menjadi berperangai buruk kepadanya dan tidak mau menaatinya. Keledai tunggangannya pun mogok dan tidak mau dinaiki.

Oleh karena itu, seluruh kebaikan terkumpul pada ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Sebaliknya, segala kejelekan terkumpul pada sikap menentang Allah subhanahu wa ta’ala dan berpaling dari-Nya.

 

  1. Allah subhanahu wa ta’ala menjaga agamanya.

Ini tentu saja penjagaan terbesar dari Allah subhanahu wa ta’ala bagi hamba yang menjaga agama dan amalnya di dunia ini. Allah subhanahu wa ta’ala akan menjaganya dari pemahaman menyimpang (syubhat) yang membinasakan, kebid’ahan yang menyesatkan, dan syahwat yang diharamkan. Allah subhanahu wa ta’ala juga menjaganya saat kematian mendatanginya sehingga Dia mewafatkan hamba-Nya di atas Islam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajari kita untuk memohon penjagaan agama kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Inilah penjagaan yang terpenting. Sebab, penjagaan yang bersifat duniawi didapatkan oleh orang yang baik dan orang yang jahat.

Allah subhanahu wa ta’ala menghalangi seorang hamba tertimpa kejelekan dengan sebab yang terkadang tidak disadari oleh hamba. Ini seperti penjagaan dari Allah subhanahu wa ta’ala untuk Nabi Yusuf ‘alaihissalam dalam firman-Nya subhanahu wa ta’ala,

كَذَٰلِكَ لِنَصۡرِفَ عَنۡهُ ٱلسُّوٓءَ وَٱلۡفَحۡشَآءَۚ إِنَّهُۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُخۡلَصِينَ ٢٤

“Demikianlah, agar Kami memalingkan darinya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih (tulus).” (Yusuf: 24)

Barang siapa tulus kepada Allah subhanahu wa ta’ala, maka Dia akan menyelamatkannya dari kejelekan dan kekejian. Allah subhanahu wa ta’ala akan menjaganya dari arah yang tidak disangka. Sebab-sebab kebinasaan akan terhalangi menimpanya.

Ada juga di antara hamba Allah subhanahu wa ta’ala yang terjaga dari kemaksiatan melalui nasihat seseorang.

Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata tentang pelaku maksiat, “Mereka hina di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala sehingga mereka bermaksiat kepada-Nya. Seandainya mereka adalah orang yang mulia di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala, niscaya Dia subhanahu wa ta’ala akan menjaga mereka.”

Di antara penjagaan Allah subhanahu wa ta’ala terhadap agama hamba-Nya ialah Allah subhanahu wa ta’ala menghalanginya mendapatkan suatu urusan duniawi, seperti kedudukan/kekuasaan atau usaha, seperti perniagaan.

Allah subhanahu wa ta’ala tahu bahwa apabila hamba ini diberi kekuasaan atau dilimpahkan kepadanya harta, ia akan menyimpang. Maka dari itu, Allah subhanahu wa ta’ala menghalanginya mendapatkannya.

Bahkan, terkadang seseorang masih belum dimudahkan melakukan suatu ketaatan karena apabila dia dimudahkan melakukannya, akan muncul pada dirinya sikap ujub (bangga diri) yang menghancurkan amalan.

Inti dari semua ini, orang yang menjaga batasan-batasan Allah subhanahu wa ta’ala dan memerhatikan hak-hak-Nya, niscaya akan dijaga oleh-Nya dalam urusan agama dan duniawinya, di dunia dan di akhiratnya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسۡبُهُۥٓۚ

“Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (ath-Thalaq: 3)

Sebagian salaf berkata, “Siapa yang ingin selalu sehat wal afiat, hendaknya ia bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala.”

Wallahu a’lam bish-shawab.

(Disarikan dari kitab Nurul Iqtibas fi Misykati Washiyyatin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam libni Abbas, karya Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah)

Akhlak Pengusung Islam Nusantara

Tiada hentinya umat Islam diterpa beragam ujian dan fitnah yang bisa menggerogoti keimanan mereka. Isu-isu murahan sengaja diembuskan oleh orang-orang kafir, para munafik, dan yang tertipu dengan mereka.

Di antara yang mereka opinikan bahwa ajaran Islam sudah tidak selaras dengan perkembangan zaman dan tidak cocok dipraktikkan di Indonesia. Menurut mereka, berkomitmen dengan ajaran Islam akan menghambat kemajuan, bahkan bisa memicu tindak terorisme. Seabrek jurus mereka munculkan agar umat ini takut menampakkan identitas keislamannya, bahkan muncul keraguan terhadap kebenaran Islam.

Apabila kita cermati, propaganda-propaganda tersebut bukanlah sesuatu yang baru. Sebelum cahaya Islam datang, bumi dipenuhi oleh gelapnya kekafiran dan kebodohan. Ketika Islam datang, muncul beragam perlawanan untuk meredupkan cahaya ini. Seorang muslim yang mencium sedikit saja aroma harumnya Islam akan bisa mengetahui murahnya propaganda tersebut.

Namun, tentu tidak boleh kita lalaikan bahwa pukulan lawan yang bertubi-tubi tentu memberikan pesan. Di antaranya:

  1. Akan diketahui siapa yang tulus keimanannya dan yang berdusta dan gampang terseret ombak fitnah.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلَقَدۡ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡۖ فَلَيَعۡلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُواْ وَلَيَعۡلَمَنَّ ٱلۡكَٰذِبِينَ ٣

“Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sungguh Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sungguh Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (al-‘Ankabut: 3)

  1. Menggugah seorang muslim untuk mempersenjatai diri dengan ilmu yang memadai dan amal saleh yang membentengi diri.
  2. Seorang muslim hendaknya semakin mantap berpegang dengan agamanya.

Dia semakin tahu bahwa timbangan kebenaran adalah firman Allah dan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sesuai dengan yang dipahami dan dipraktikkan oleh generasi awal umat ini.

 Keharusan Tunduk pada Syariat Allah subhanahu wa ta’ala

Sesungguhnya, Allah subhanahu wa ta’ala yang mencipta alam semesta dan mengatur jagat raya. Dialah yang berhak untuk menentukan syariat-Nya dan memilih hamba-Nya yang akan memikul amanat risalah-Nya.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَرَبُّكَ يَخۡلُقُ مَا يَشَآءُ وَيَخۡتَارُۗ

“Dan Rabbmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya.” (al-Qashash: 68)

Oleh karena itu, kita harus menerima ketentuan yang Allah subhanahu wa ta’ala tetapkan dengan sepenuh penerimaan. Tidak ada penolakan dan penentangan, karena Allah lebih tahu maslahat hamba-Nya.

Al-Imam az-Zuhri rahimahullah mengatakan bahwa risalah itu datang dari Allah subhanahu wa ta’ala, dan tugas rasul hanya menyampaikan. Kewajiban kita hanyalah menerima. (Siyar A’lam an-Nubala, 5/346)

 Kesempurnaan Islam

Tidaklah Allah subhanahu wa ta’ala mewafatkan Nabi-Nya kecuali Islam telah sempurna, tidak memerlukan penambahan ataupun pengurangan. Sungguh, sempurnanya Islam merupakan nikmat bagi umat ini yang menjadikan orang-orang kafir iri.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَٰمَ دِينٗاۚ

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam menjadi agama bagimu.” (al-Maidah: 3)

Disebutkan dalam Shahih al-Bukhari bahwa orang-orang Yahudi berkata kepada Khalifah Umar radhiallahu ‘anhu, “Sesungguhnya kalian membaca suatu ayat yang seandainya ayat itu turun kepada kami, niscaya akan kami jadikan sebagai perayaan.” (Shahih al-Bukhari, no 4606)

Yang mereka maksud adalah ayat ketiga surat al-Maidah.

Apabila orang-orang Yahudi tahu besarnya arti kesempurnaan Islam, mengapa sebagian kaum mulimin tidak mengerti kemuliaan agama ini, justru terkadang minder dengan agamanya?!

Sungguh, kemerosotan yang dialami oleh kaum muslimin dalam berbagai bidang terjadi karena mereka meninggalkan sumber kemuliaannya, yaitu ajaran Islam.

Apabila ingin mengetahui indahnya Islam dipraktikkan di alam nyata, kita perlu membuka lembaran sejarah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat, dan generasi awal umat ini. Mereka telah memenuhi bumi dengan keadilan, kedamaian, kemakmuran, dan kemajuan di berbagai bidang dan disiplin ilmu.

Kalau kita mencari perwujudan keindahan Islam di tengah-tengah masyarakat muslimin dewasa ini, barangkali kita sulit menemukannya dari sebagian muslimin. Sebab, kaum muslimin sekarang telah jauh dari pengajaran dan pengamalan terhadap Islam.

Islam Nusantara dalam Sorotan

Luka yang dirasakan oleh umat akibat serangan-serangan orang kafir berupa penistaan terhadap Islam belumlah pulih. Tiba-tiba umat Islam dikejutkan oleh munculnya gagasan Islam Nusantara. Terlepas dari motif digulirkannya isu ini, sungguh gagasan ini telah menjadi tugas tersendiri yang menyibukkan.

Apabila dicermati, gagasan ini sangat membahayakan keutuhan agama Islam, mengotak-ngotak muslimin, dan rentan memunculkan konflik di tengah–tengah umat. Terlebih lagi, beberapa pengusungnya adalah para penganut paham liberalis yang sering menyudutkan Islam dan muslimin. Jelas, pemahaman seperti ini merupakan bentuk mengada-adakan perkara baru dalam agama.

Munculnya pemahaman yang menyimpang dari Islam disebabkan oleh dua faktor utama.

  1. Ketidaktahuan tentang keindahan Islam.

Faktor ini menjadi sebab dilahapnya pemikiran-pemikiran sesat yang indah menawan secara lahiriah, padahal kenyataannya sangat menghancurkan.

  1. Mengikuti hawa nafsu.

Hal ini lebih parah. Sebab, tidak mustahil para pengusung pemahaman tersebut tahu bobroknya pemahaman ini. Akan tetapi, mereka getol menyebarkannya karena dengki dengan kelompok tertentu, ras tertentu, tekanan dari pihak tertentu, atau bahkan membalas budi pihak tertentu.

 Akhlak Pengusung Islam Nusantara

Serapat-rapat bangkai disembunyikan, akhirnya tercium juga. Dalam pepatah Arab disebutkan,

كُلُّ إِنَاءٍ بِمَا فِيْهِ يَنْضَحُ

“Setiap bejana (wadah air) akan menumpahkan apa yang menjadi isinya.”

Hari-hari ini, sebagian pengusung Islam Nusantara mempertontonkan dangkalnya pemahaman keislaman mereka dan ketidakhormatannya terhadap kemuliaan Islam.

Di antara kebobrokan mereka adalah:

  1. Lancang berbicara tentang hal yang gaib, padahal hanya Allah subhanahu wa ta’ala yang tahu perkara yang gaib.

Misalnya, seorang tokoh utama Islam Nusantara mengatakan bahwa Malaikat Munkar dan Nakir masih antri untuk menanyai Gus Dur di kuburannya, karena kuburannya selalu ramai dengan para pengunjung.

Pantaskah ucapan seperti ini keluar dari seorang kiai haji?!

 

  1. Mencaci maki

Seorang muslim yang sejati tidak suka mencela dan mencaci maki. Lebih-lebih apabila cacian tidak pada tempatnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

سِبَابُ الْمُسْلِم فُسُوْقٌ وَقِتَالُهُ كُفْرٌ

“Mencerca seorang muslim adalah tindak kefasikan dan memeranginya adalah kekufuran.” (Muttafaqun ‘alaih dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu)

Repotnya, mereka lontarkan celaan terhadap pihak yang menjalankan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Misalnya, salah seorang tokoh mereka mencela orang yang berjenggot. Dia menghukumi orang yang berjenggot sebagai orang yang goblok. Padahal itu adalah sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan beliau memerintahkan untuk memelihara jenggot.

Di sisi lain, mereka mengagungkan orang yang mengerok jenggotnya. Dia menilai bahwa orang yang pintar itu tidak memiliki jenggot. Padahal kepintaran yang bermanfaat adalah yang menjadikan pemiliknya tunduk dan menghormati syariat, tidak menyelisihinya. Sungguh, vonis goblok lebih tepat diberikan kepada orang yang merendahkan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Tentang perintah memelihara jenggot, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَعْفُوا اللِّحَى وَجُزُّوا الشَّوَارِبَ وَغَيِّرُوا شَيْبَكُمْ وَلَا تَشَبَّهُوا بِالْيَهُودِ وَالنَّصَارَى

“Biarkan (pelihara) jenggot, pangkaslah kumis, dan ubahlah uban kalian. Janganlah kalian menyerupai orang Yahudi dan Nasrani.” (HR. Ahmad dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Shahih al-Jami’ no. 1067)

Kata al-Munawi, membiarkan jenggot ialah memperbanyaknya dan menguranginya. (Faidhul Qadir, 4/417)

Jadi, memelihara jenggot adalah sunnah Nabi yang diperintahkan, bukan tradisi Arab. Ia adalah upaya tampil berbeda dengan Yahudi dan Nasrani. Sebab, di antara tuntutan menelusuri jalan yang lurus adalah dia harus menyelisihi cara dan jalan orang kafir.

Ucapan dan pernyataan siapapun, apabila bertentangan dengan bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak dianggap dan tidak ada nilainya.

“Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak rambut jenggotnya.” ( HR. Muslim dari Jabir bin Samurah radhiallahu ‘anhu)

 

  1. Merendahkan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Ini tentu kejahatan yang luar biasa terhadap syariat. Sopan santun terhadap orang lain menjadi tidak ada nilainya, apabila disertai sikap melecehkan syariat. Setinggi apapun kedudukan seseorang di mata manusia, ia tetap menjadi orang rendahan apabila mengolok-olok sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Al-Imam al-Barbahari rahimahullah berkata, “Apabila engkau mendengar seseorang mencela hadits, menolak hadits, atau menginginkan (dalil) selain hadits, ragukan keislamannya. Tidak diragukan bahwa dia adalah pengikut hawa nafsu dan ahli bid’ah.” (Syarhus Sunnah)

Di antara yang mereka perolok-olokan adalah merapatkan barisan shalat (shaf) dan pakaian cingkrang, yakni seorang memakai pakaian di atas mata kaki. Padahal telah jelas hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَا أَسْفَلَ الْكَعْبَيْنِ مِنَ الْإِزَارِ فَفِي النَّارِ

“Kain yang menjulur sampai bawah mata kaki tempatnya di neraka.” (HR. al-Bukhari dan an-Nasai dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Mengangkat kain di atas mata kaki, di samping bentuk ketundukan kepada bimbingan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam juga lebih menunjukkan ketakwaan seorang kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan menjadikan pakaian tidak cepat kotor dan rusak.

 

  1. Tidak ilmiah

Misalnya, mereka menyatakan bahwa cadar (hijab) adalah budaya Arab, dan kita tidak perlu meniru orang Arab. Padahal budaya wanita bangsa Arab sebelum Islam datang ialah tidak menutup aurat.

Perintah bagi wanita untuk menutupi wajahnya juga bukan di awal-awal Islam. Jadi, dari sisi mana memakai cadar bisa disebut budaya Arab?!

Saat mereka mengomentari wanita pemakai cadar yang menutup auratnya, mereka tutup mulut dari para wanita yang membuka auratnya. Mereka tak ubahnya seperti kaum Khawarij yang membunuhi kaum muslimin, namun membiarkan para penyembah berhala.

 

  1. Tidak menghargai keragaman

Para pengusung Islam Nusantara kurang suka yang berbau kearab-araban, dalam hal berpakaian, penamaan, bahkan masalah isi hati seseorang. Misalnya, mereka menyatakan bahwa orang yang berjubah tidak boleh merasa lebih baik daripada yang tidak berjubah. Padahal, kapan orang-orang yang berjubah pernah menyatakan demikian?!

Kalau seseorang ingin meniru pakaian seperti pakaian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam—meskipun katakanlah itu adat orang Arab—apakah patut dicela?

Di sisi lain, yang memakai jins, dasi, dan rok mini yang merupakan budaya pakaian Barat sama sekali tidak disindir? Ada apa di balik ini?

Menurut Islam, tidak mengapa seseorang memakai pakaian yang biasa dipakai oleh penduduk negerinya, selama memenuhi kriteria pakaian yang tidak melanggar aturan syariat.

 

  1. Mereka anggap bahwa Islam yang santun adalah yang menghargai kearifan lokal dan membiarkan budaya masyarakat untuk dilestarikan.

Padahal, masalah ini perlu dirinci. Sebab, ada budaya yang berbenturan dengan ajaran Islam yang mulia dan harus ditinggalkan. Ada juga budaya yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai agama sehingga boleh dilestarikan.

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus, bangsa Arab memiliki sekian budaya, seperti menyembah berhala, yang kuat mencaplok yang lemah, membunuh bayi perempuan, dan seabreg budaya lain. Apakah karena ingin menjaga budaya itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melarang hal-hal tersebut?!

Tentu saja Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberantasnya dan menggantinya dengan yang lebih baik.

 

  1. Sombong

Konsep Islam Nusantara dianggap oleh para pengusungnya sebagai konsep yang terbaik. Mereka membanggakannya dan menganggap bahwa konsep inilah yang akan mendunia serta bisa menjadi contoh bagi negara lain.

Alih-alih negara lain akan mencontohnya, masyarakat di negeri ini saja banyak yang menentang karena bertentangan dengan konsep Islam rahmatan lil ’alamin!

Sungguh, para pengusung konsep Islam Nusantara adalah orang-orang yang sok pintar; padahal bodoh, sok ilmiah, dan sok rasional di hadapan orang awam.

Di hadapan para ulama, mereka orang yang serampangan. Mereka menafsirkan agama semaunya, meremehkan syariat, para pengagung syariat, serta menistai agama; tetapi mereka tidak merasa.

Wallahu a’lam.

 Ditulis oleh al-Ustadz Abdul Mu’thi Sutarman, Lc

Meraih Keberkahan Hidup dengan Tawakal

Di antara keistimewaan Nabi Isa adalah beliau dianugerahi keberkahan di mana pun berada. Hal ini disebutkan dalam surat Maryam ayat: 31,

وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيۡنَ مَا كُنتُ

“Dan Dia (Allah) menjadikan aku seorang yang diberkahi di mana saja aku berada.”

Lanjutkan membaca Meraih Keberkahan Hidup dengan Tawakal

Akhlak Seorang Dai

Mengajak manusia kepada agama Allah subhanahu wa ta’ala (berdakwah) adalah sebaik-baik amalan. Orang yang menjalankannya merupakan manusia pilihan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَنۡ أَحۡسَنُ قَوۡلٗا مِّمَّن دَعَآ إِلَى ٱللَّهِ وَعَمِلَ صَٰلِحٗا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ ٱلۡمُسۡلِمِينَ ٣٣

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata, “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?” (Fushshilat: 33)

Lanjutkan membaca Akhlak Seorang Dai

Jangan Frustasi Menghadapi Kristenisasi

Nasrani (Kristen) adalah salah satu agama kafir yang mengajarkan berbagai kekafiran, kesyirikan, dan kemungkaran. Agama itu dinisbatkan kepada Nabi Isa al-Masih ‘alaihissalam yang mereka sebut “Yesus Kristus”.

Namun, Nabi Isa bin Maryam al-Masih ‘alaihissalam berlepas diri dari ajaran tersebut. Lanjutkan membaca Jangan Frustasi Menghadapi Kristenisasi