Qalbun Salim, Hati yang Selamat

 

 إِنَّ الْحَمْدَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ ١٠٢

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفۡسٖ وَٰحِدَةٖ وَخَلَقَ مِنۡهَا زَوۡجَهَا وَبَثَّ مِنۡهُمَا رِجَالٗا كَثِيرٗا وَنِسَآءٗۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ٱلَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلۡأَرۡحَامَۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيۡكُمۡ رَقِيبٗا ١

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَقُولُواْ قَوۡلٗا سَدِيدٗا ٧٠ يُصۡلِحۡ لَكُمۡ أَعۡمَٰلَكُمۡ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۗ وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ فَازَ فَوۡزًا عَظِيمًا ٧١

أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كَ مَالُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ وَشَرَّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.

 

Jama’ah sidang Jumat rahimakumullah,

Kami mewasiatkan kepada diri kami pribadi dan kepada segenap hadirin agar bertakwa kepada Allah ‘azza wa jalla. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ ١٠٢

        “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan beragama Islam.” (Ali ‘Imran: 102)

 

Maasyiral muslimin rahimakumullah,

Sesungguhnya ketakwaan seseorang berada di dalam kalbunya, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

التَّقْوَى هَهُنَا! التَّقْوَى هَهُنَا!

        “Ketakwaan itu di sini! Ketakwaan itu di sini!” (Seraya menunjukkan ke arah dada beliau) (HR. al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

 

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

ذَٰلِكَۖ وَمَن يُعَظِّمۡ شَعَٰٓئِرَ ٱللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقۡوَى ٱلۡقُلُوبِ ٣٢

        “Yang demikian itu, barang siapa yang memuliakan syiar-syiar Allah, sesungguhnya hal itu timbul dari ketakwaan kalbu.” (al-Hajj: 32)

 

Maasyiral muslimin rahimakumullah,

Oleh karena itu, jagalah kalbu. Sebab, kalbu ibarat generator penggerak setiap tindakan dan perbuatan seseorang. Baik-buruk perbuatannya tergantung pada bagus atau rusaknya kalbu, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

“Ketahuilah, sesungguhnya di setiap jasad ada sekerat daging. Manakala sekerat daging tersebut baik, akan baik pula seluruh jasad. Namun, manakala sekerat daging tersebut rusak, akan berakibat rusak pula seluruh jasadnya. Ketahuilah, sekerat daging tersebut adalah kalbu.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari sahabat an-Nu’man bin Basyir radhiallahu ‘anhuma)

Yang dilihat dan dinilai dari seseorang di sisi Allah ‘azza wa jalla adalah kalbu dan amalannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

“Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk-bentuk (badan) dan harta kalian. Akan tetapi, Allah melihat ke dalam kalbu dan amalan kalian.” (HR. Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Di sisi lain, kalbu merupakan bagian yang mudah sekali mengalami perubahan. Kalbu itu lemah dan mudah terwarnai. Hal ini sebagaimana yang telah diungkapkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya,

إِنَّ قُلُوبَ بَنِي آدَمَ بَيْنَ أَصْبِعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ يُقَلِّبُهَا كَيْفَ يَشَاءُ

“Sesungguhnya kalbu Bani Adam berada di antara dua jemari dari jari jemari ar-Rahman. Dia membolak-balikkannya sebagaimana Dia kehendaki.” (HR. Muslim dari sahabat Abdullah bin Amr bin Ash radhiallahu ‘anhuma)

Al-Imam Muhammad bin Sirin rahimahullah pernah berkata, “Sesungguhnya kalbu Bani Adam itu lemah, sedangkan syubhat selalu menyambar-nyambar.”

Sekali lagi, mari kita jaga kalbu-kalbu kita. Dengan kata lain, jagalah hati! Seseorang memang bisa menyembunyikan yang ada dalam kalbunya dari penilaian manusia. Namun, dia tidak akan mampu menyembunyikannya dari Allah ‘azza wa jalla.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ مَا فِي قُلُوبِكُمۡۚ

        “Dan Allah mengetahui apa yang ada di dalam kalbu kalian.” (al-Ahzab: 51)

 

Saudaraku kaum muslimin rahimakumullah!

Di dalam al-Qur’an, Allah ‘azza wa jalla menyebutkan kondisi kalbu manusia ada tiga macam: qalbun salim, qalbun maridh, dan qalbun mayyit.

 

  1. Qalbun salim, yaitu kalbu yang selamat atau bersih

Kalbu ini disebutkan dalam firman Allah ‘azza wa jalla,

يَوۡمَ لَا يَنفَعُ مَالٞ وَلَا بَنُونَ ٨٨ إِلَّا مَنۡ أَتَى ٱللَّهَ بِقَلۡبٖ سَلِيمٖ ٨٩

        “Pada hari yang harta dan anak-anak tidak lagi berguna, kecuali orang yang menghadap Allah dengan kalbu yang bersih.” (asy-Syu’ara: 88—89)

 

Kalbu jenis inilah yang harus dijaga kesucian dan keselamatannya. Kalbu ini suci dan selamat dari kesyirikan, kekufuran, kebid’ahan, kesesatan, dan bersih dari segala bentuk kemaksiatan. Sudah barang tentu, tingkat keselamatan antara satu kalbu dan yang lain berbeda-beda.

Di antara langkah yang ditempuh untuk menjaga eksistensi qalbun salim ini adalah dengan menjaga keimanan. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَمَن يُؤۡمِنۢ بِٱللَّهِ يَهۡدِ قَلۡبَهُ

        “Barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberikan petunjuk kepada kalbunya.” (at-Taghabun: 11)

 

Sebaliknya, kekafiran bisa menyebabkan kalbu menjadi tertutup. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمۡ ءَامَنُواْ ثُمَّ كَفَرُواْ فَطُبِعَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمۡ فَهُمۡ لَا يَفۡقَهُونَ ٣

        “Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi) lalu hati mereka dikunci mati; karena itu mereka tidak dapat mengerti.” (al-Munafiqun: 3)

 

  1. Qalbun maridh yaitu kalbu yang sakit atau berpenyakit

Ketika menyebutkan sifat orang-orang munafik, Allah ‘azza wa jalla berfirman,

فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٞ فَزَادَهُمُ ٱللَّهُ مَرَضٗاۖ وَلَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمُۢ بِمَا كَانُواْ يَكۡذِبُونَ ١٠

        “Dalam hati mereka ada penyakit. Lalu Allah tambahkan penyakitnya. Dan bagi mereka azab yang pedih karena mereka berdusta.” (al-Baqarah: 10)

 

Ada beberapa bentuk penyakit yang menyerang kalbu manusia, di antaranya sebagai berikut.

  • Penyakit syubhat

Penyakit ini sangat berbahaya terhadap kalbu. Sebab, pengaruh penyakit ini dapat membuat seseorang tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang batil. Terkadang kesesatan atau bid’ah dianggap baik dan dijadikan sebagai amalan ibadah.

Di dalam al-Qur’an ayat yang ketujuh surah Ali ‘Imran, Allah ‘azza wa jalla menyebutkan sebagian ciri-ciri orang yang kalbunya terjangkit penyakit ini,

فَأَمَّا ٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمۡ زَيۡغٞ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَٰبَهَ مِنۡهُ ٱبۡتِغَآءَ ٱلۡفِتۡنَةِ وَٱبۡتِغَآءَ تَأۡوِيلِهِۦۖ

        “Adapun orang-orang yang di dalam kalbunya terdapat penyimpangan, dia mengikuti yang mutasyabihat (yang samar) karena ingin membuat fitnah dan ingin mentakwilkannya (sesuai dengan akal pikirannya).” (Ali ‘Imran: 7)

 

  • Penyakit syahwat

Penderita penyakit kalbu jenis ini biasanya senang melakukan yang haram dan mudah tergoda untuk bermaksiat. Oleh karena itu, di antara yang diajarkan di dalam Islam adalah menutup segala celah yang bisa menjerumuskan seseorang ke dalam dosa dan maksiat. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَإِذَا سَأَلۡتُمُوهُنَّ مَتَٰعٗا فَسۡ‍َٔلُوهُنَّ مِن وَرَآءِ حِجَابٖۚ ذَٰلِكُمۡ أَطۡهَرُ لِقُلُوبِكُمۡ وَقُلُوبِهِنَّۚ

        “Dan manakala kalian meminta sesuatu kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari balik tabir, karena yang demikian itu lebih suci bagi kalbu kalian dan kalbu mereka.” (al-Ahzab: 53)

 

  1. Qalbun mayyit yaitu kalbu yang mati

Kalbu ini telah mati hingga tidak bisa melihat kebenaran, walaupun matanya melihat. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

فَإِنَّهَا لَا تَعۡمَى ٱلۡأَبۡصَٰرُ وَلَٰكِن تَعۡمَى ٱلۡقُلُوبُ ٱلَّتِي فِي ٱلصُّدُورِ ٤٦

        “Sebenarnya bukan mata yang buta, melainkan yang buta adalah kalbu-kalbu yang di dalam dada.” (al-Hajj: 46)

 

Maasyiral muslimin rahimakumullah,

Lihatlah! Kalbu mereka telah tertutup, telinga telah tersumbat sehingga tidak bisa lagi menerima kebenaran. Bahkan, keadaan mereka seperti ini diakui oleh diri mereka sendiri, sebagaimana firman Allah ‘azza wa jalla,

وَقَالُواْ قُلُوبُنَا فِيٓ أَكِنَّةٖ مِّمَّا تَدۡعُونَآ إِلَيۡهِ وَفِيٓ ءَاذَانِنَا وَقۡرٞ وَمِنۢ بَيۡنِنَا وَبَيۡنِكَ حِجَابٞ فَٱعۡمَلۡ إِنَّنَا عَٰمِلُونَ ٥

        Dan mereka berkata, “Kalbu kami telah tertutup dari yang kamu serukan kepada kami. Telinga kami telah tersumbat. Dan di antara kami dengan dirimu ada pembatas. Maka berbuatlah, kami pun akan berbuat sekehendak kami.” (Fushshilat: 5)

 

Ini semua akibat sikap mereka yang berpaling dari kebenaran. Allah ‘azza wa jalla

berfirman,

فَلَمَّا زَاغُوٓاْ أَزَاغَ ٱللَّهُ قُلُوبَهُمۡۚ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡفَٰسِقِينَ ٥

        “Ketika mereka berpaling dari kebenaran, Allah memalingkan kalbu mereka. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.” (as-Shaff: 5)

 

Na’udzubillah min dzalik. Semoga Allah ‘azza wa jalla menjaga kalbu-kalbu kita, serta mewafatkan kita dalam keadaan beriman.

أَقُولُ مَا تَسْمَعُونَ، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ وَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

 

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَلِيُّ الصَّالِحِينَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ؛ أَمَّا بَعْدُ:

 

Hadirin sidang Jumat rahimakumullah

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad rahimahullah dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا أَذْنَبَ كَانَتْ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فِي قَلْبِهِ، فَإِنْ تَابَ وَنَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ صَقُلَ مِنْهَا قَلْبُهُ، فَإِنْ زَادَ زَادَتْ حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبُهُ، فَذَلِكَ الرَّانُ، قَالَ اللهُ تَعَالَى: كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Sesungguhnya seorang mukmin, manakala berbuat dosa, akan mengakibatkan noda hitam pada kalbunya. Jika dia bertobat, meninggalkan dosa tersebut, dan beristigfar, kalbunya akan kembali bersih. Jika dosanya bertambah, akan bertambah pula noda hitam tersebut hingga memenuhi kalbunya. Itulah yang dimaksud “raan” (noda) dalam firman Allah ‘azza wa jalla, “Sekali-kali tidak, namun (ada) noda di kalbu-kalbu mereka disebabkan apa yang mereka perbuat.” (al-Muthaffifin: 14)

Di antara faktor penyebab kotor dan rusaknya kalbu adalah dosa dan maksiat. Oleh karena itu, marilah kita tingkatkan ketakwaan kita, sehingga bisa terhindar dari dosa dan maksiat.

Demikian pula sebaliknya, bertobat dan beristighfar merupakan langkah yang harus ditempuh oleh orang yang ingin memelihara kalbunya.

 

Maasyiral muslimin rahimakumullah,

Di antara sebab rusaknya kalbu seseorang adalah lalai dari berzikir dan lalai mengingat Allah ‘azza wa jalla. Di antara penenang kalbu orang-orang yang beriman adalah dengan berzikir. Tentunya zikir yang disyariatkan oleh Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَتَطۡمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكۡرِ ٱللَّهِۗ أَلَا بِذِكۡرِ ٱللَّهِ تَطۡمَئِنُّ ٱلۡقُلُوبُ ٢٨

        “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (ar-Ra’d: 28)

 

Sebagai penutup khutbah pada kesempatan kali ini, kami mengajak diri kami dan jamaah sekalian untuk memperbanyak berdoa kepada Allah ‘azza wa jalla agar senantiasa menjaga dan memelihara kalbu-kalbu kita. Di antara doa yang sering dipanjatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

        “Wahai yang membolak-balikkan kalbu, teguhkanlah kalbuku di atas agama-Mu.” (HR. al-Bukhari dan Muslim, dari Aisyah radhiallahu ‘anha)

 

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا، رَبَّنَا إِنَّكَ أَنْتَ رَؤُوفٌ رَحِيمٌ.

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ، وَيَا مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا فِي طَاعَتِكَ

اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْم لاَ يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ، وَالْحَمْدُ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Ditulis oleh  al-Ustadz Abu Ishaq Abdullah Nahar

Orang yang Bangkrut

Ketika mendengar kata bangkrut, benak kita membayangkan seorang yang hancur usahanya atau orang yang tidak lagi punya harta atau uang. Orang yang bangkrut sebelumnya memiliki sesuatu untuk menyambung hidupnya. Kini, semua itu sirna sehingga kondisinya mengenaskan dan berhak mendapatkan uluran tangan dari saudaranya.

Apa yang kita sebutkan di atas adalah kebangkrutan dalam hal harta benda yang seseorang masih mungkin untuk bangkit kembali. Atau setidaknya ada orang yang masih punya hati sehingga membantu meringankan bebannya.

Akan tetapi, hal ini akan berbeda dengan kebangkrutan pada hari kiamat nanti, hari yang tiada berguna lagi harta dan anak.

Hakikat orang yang bangkrut pada hari kiamat adalah orang yang membawa segudang amal kebaikan, tetapi dia membawa beragam kezaliman terhadap manusia, baik dalam bentuk merampas harta, melukai kehormatan, mencederai tubuh orang, atau melenyapkan nyawa orang tanpa alasan syar’i. Inilah yang dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam haditsnya,

 

        أَتَدْرُونَ مَنِ الْمُفْلِسُ؟ قَالُوا: الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ. قَالَ: إِنَّ الْمَفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَ ةَالٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي وَقَدْ شَتَمَ هَذَا، وَقَذَفَ هَذَا، وَأَكَلَ مَالَ هَذَا، وَسَفَكَ دَمَ هَذَا، وَضَرَبَ هَذَا، فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَي مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طَرِحَ فِي النَّارِ

“Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut itu?”

Para sahabat menjawab, “Orang yang bangkrut di tengah-tengah kita adalah orang yang tidak punya dirham (uang perak) dan tidak punya harta.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang bangkrut dari umatku adalah yang datang pada hari kiamat nanti dengan membawa (amal) shalat, puasa, dan zakat, (namun) ia telah mencerca ini (seseorang), menuduh orang (berzina), memakan harta orang, menumpahkan darah orang, dan memukul orang. (Orang) ini diberi (amal) kebaikannya dan yang ini diberi dari kebaikannya. Apabila amal kebaikannya habis sebelum terbayar (semua) tanggungannya, dosa-dosa mereka (yang dizalimi) diambil lalu ditimpakan kepadanya, kemudian dia dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim)

 

Hukuman yang Mengerikan

Orang yang menzalimi orang lain sebenarnya sedang menghancurkan dirinya sendiri, seperti dikatakan, “Barang siapa menggali lubang untuk (mencelakakan) saudaranya, ia terjatuh sendiri ke dalam lubang itu.”

Bisa dibayangkan betapa rugi dan menyesalnya orang tersebut nanti. Saat ia mengharapkan amal kebaikannya akan menolongnya dari kedahsyatan kiamat, kebaikannya justru lenyap diambil orang lain, bahkan dia dicampakkan ke dalam neraka.

Kalau orang zalim yang masih punya amal kebaikan saja seperti ini nasibnya, lantas bagaimana halnya bila dia tidak punya kebaikan sama sekali, bahkan kitab catatan amalnya semuanya berisi kejelekan?

 

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

إِنَّآ أَعۡتَدۡنَا لِلظَّٰلِمِينَ نَارًا أَحَاطَ بِهِمۡ سُرَادِقُهَاۚ وَإِن يَسۡتَغِيثُواْ يُغَاثُواْ بِمَآءٖ كَٱلۡمُهۡلِ يَشۡوِي ٱلۡوُجُوهَۚ بِئۡسَ ٱلشَّرَابُ وَسَآءَتۡ مُرۡتَفَقًا ٢٩

        “Sesungguhnya telah Kami sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.” (al-Kahfi: 29)

 

Tiada yang ditunggu oleh orang yang zalim kecuali kehancuran. Kekuasaan akan lenyap, keperkasaan akan sirna.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

فَتِلۡكَ بُيُوتُهُمۡ خَاوِيَةَۢ بِمَا ظَلَمُوٓاْۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَةٗ لِّقَوۡمٖ يَعۡلَمُونَ ٥٢

        “Maka itulah rumah-rumah mereka dalam keadaan runtuh disebabkan kezaliman mereka. Sesungguhnya pada yang demikian itu (terdapat) pelajaran bagi kaum yang mengetahui.” (an-Naml: 52)

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata, “Seandainya suatu gunung berbuat zalim terhadap gunung yang lain, maka yang zalim akan dihancurkan.” (al-Adabul Mufrad no. 601)

Kalau gunung yang materialnya batu-batu yang keras dan besar saja akan diluluhlantahkan apabila berbuat zalim, bagaimana kiranya dengan manusia yang hanya berupa daging, darah, dan tulang yang lemah?

 

Kezaliman Itu Beragam

Kezaliman itu bermacam-macam. Ada yang berkaitan dengan hak Allah ‘azza wa jalla dan ada yang berhubungan dengan hak-hak manusia.

Yang berkaitan dengan hak Allah ‘azza wa jalla adalah dengan menerjang larangan-larangan Allah ‘azza wa jalla, meninggalkan perintah-Nya, dan mendustakan berita-Nya. Kezaliman paling besar adalah menyekutukan Allah ‘azza wa jalla (syirik). Apabila orang yang menyekutukan Allah ‘azza wa jalla mati dalam keadaan belum bertobat dari kesyirikannya, dia tidak akan diampuni.

Adapun dosa setelah syirik adalah dosa-dosa besar yang pelakunya diancam dengan hukuman di dunia, azab di akhirat, atau kutukan dan kemurkaan Allah ‘azza wa jalla. Setelah itu, ada dosa-dosa kecil.

Dosa selain menyekutukan Allah ‘azza wa jalla masih ada harapan untuk diampuni.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغۡفِرُ أَن يُشۡرَكَ بِهِۦ وَيَغۡفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُۚ

        “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (an-Nisa: 116)

 

Adapun kezaliman yang berkaitan dengan hak-hak manusia, urusannya lebih rumit. Seseorang yang menzalimi hak-hak orang lain hendaknya segera mengembalikannya atau meminta kehalalannya. Jika tidak demikian, ancaman di akhirat sangat mengerikan, seperti yang telah disebutkan dalam hadits di atas.

 

Kehormatan Seorang Muslim

Ketika menunaikan haji wada’ (perpisahan) yang dihadiri oleh puluhan ribu sahabat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan pesan-pesan akhirnya menjelang wafat. Di antara pesan beliau adalah menjaga darah, harta, dan kehormatan seorang muslim.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ حَرَامٌ عَلَيْكُمْ، كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا، فِي شَهْرِكُمْ هَذَا، فِي بَلَدِكُمْ هَذَا

“Sesungguhnya darah dan harta kalian (kaum muslimin) itu haram (untuk dirampas) seperti sucinya hari ini, di bulan ini (haji ini), dan di negeri kalian ini (Makkah).” ( HR . Muslim, Abu Dawud, dan an-Nasai dari sahabat Jabir radhiallahu ‘anhu)

 

Bahkan, lenyapnya dunia lebih ringan daripada melenyapkan nyawa seorang muslim tanpa hak. Demi terjaganya kehormatan dan kepemilikan seorang muslim serta terwujudnya stabilitas keamanan di tengah masyarakat, Islam memberikan ancaman hukuman fisik (had) bagi yang mencabik-cabik hak seorang muslim.

Sebagai contoh, hukuman bagi perampok adalah dipotong tangan dan kakinya secara bersilang atau hukuman lain yang telah ditetapkan oleh agama. Orang yang membunuh seorang muslim dengan sengaja, tanpa ada kesalahan yang berhak untuk dibunuh, pelakunya terancam hukuman qishash (nyawa dibalas nyawa).

Tanpa ada ancaman dan hukuman yang setimpal, orang yang melakukan kejahatan akan menganggap enteng ketika melanggar hak-hak orang lain.

 

Muslim yang Baik

Seorang muslim yang hakiki memiliki ketulusan sikap dalam beragama dan mempunyai kepribadian yang bagus.

Apabila datang perintah agama, muslim yang baik akan siap menjalankannya dengan sepenuh ketulusan apapun kondisinya.

Berikutnya, larangan agama disikapi dengan meninggalkan apa yang dilarang agama meskipun hawa nafsu ini ingin melakukannya. Dia menjauhkan dirinya dari hal-hal yang bisa memudaratkan orang lain, baik sengaja maupun tidak.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

        “Seorang muslim (yang hakiki) adalah orang yang kaum muslimin terhindar dari (kejahatan) lisan dan tangannya.” (Muttafaqun ‘alaih)

 

Asy-Syaikh as-Sa’di menerangkan, “Hal itu karena Islam yang hakiki adalah berserah diri kepada Allah ‘azza wa jalla, menyempurnakan peribadatan kepada-Nya, menunaikan hak-hak-Nya, dan hak-hak kaum muslimin. Keislaman (seseorang) tidak dikatakan sempurna sampai ia mencintai untuk kaum muslimin apa yang ia cintai bagi dirinya. Hal ini tidak akan terwujud kecuali dengan terhindarnya mereka dari kejahatan lisan dan tangannya.

Hal ini merupakan pokok kewajiban yang harus ia berikan kepada muslimin. Barang siapa yang kaum muslimin tidak terhindar dari (kejelekan) lisan dan tangannya, bagaimana mungkin ia akan menunaikan kewajibannya terhadap saudaranya kaum muslimin?!” (Bahjatul Qulub, hlm. 14)

Kemudian, ketahuilah bahwa ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang muslim (yang baik) adalah muslim lain terhindar dari (kejahatan) lisan dan tangannya.” tidak berarti kita boleh menzalimi orang kafir dengan merampas haknya. Sebab, orang kafir pun bermacam-macam.

Ada kafir dzimmi, yaitu orang kafir yang tinggal di negeri muslimin dan membayar jizyah kepada pemerintah muslimin. Ada pula orang kafir yang masuk ke negara muslimin dan mendapatkan jaminan keamanan (suaka politik) dari pemerintah muslimin. Ada lagi orang kafir yang mengikat perjanjian damai dengan kaum muslimin.

Tiga jenis orang kafir tersebut tidak boleh dirampas hartanya atau dilukai tubuhnya tanpa alasan yang dibenarkan oleh agama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اتَّقُوا دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ وَإِنْ كَانَ كَافِرًا فَإِنَّهُ لَيْسَ دُونَهَا حِجَابٌ.

“Berhati-hatilah dari doa orang yang dizalimi meskipun ia kafir, karena tidak ada penghalang bagi doanya.” (HR . Ahmad. Lihat Shahih al-Jami’ no. 119)

 

Adapun jenis kafir yang keempat adalah kafir harbi, yaitu orang kafir yang memerangi muslimin dan angkat senjata terhadap muslimin. Orang kafir seperti ini halal darah dan hartanya.

 

Orang yang Merugi Amalnya

Tidak semua orang yang beramal kebaikan itu diterima di sisi Allah ‘azza wa jalla. Ada syarat dan ketentuan untuk diterimanya sebuah amal. Semata-mata niat yang tulus dalam beramal tidak berguna apabila amalan tersebut tidak ada perintahnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ عَمِلَ عَمَ لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ.

        “Barang siapa melakukan suatu amalan yang tidak ada dalam agama kami, amalan itu tertolak.” (HR . Muslim dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha)

Contohnya sangat banyak. Misalnya adalah bentuk perjuangan/jihad menegakkan agama yang dilakukan oleh orang yang berpemahaman Khawarij semacam ISIS dan al-Qaeda.

Sebagian mereka melakukan pembunuhan kepada pihak-pihak yang dituduh kafir dengan cara di luar batasan agama. Mereka juga melakukan bom bunuh diri, yang sejatinya dalam Islam adalah dosa besar. Akan tetapi, mereka menjuluki pelaku bom bunuh diri sebagai syahid. Mereka menghancurkan fasilitas-fasilitas umum. Tidak sedikit yang menjadi korbannya justru kaum muslimin.

Jihad yang sejatinya adalah amalan mulia untuk menegakkan agama Allah ‘azza wa jalla, mereka rusak dengan aksi-aksi yang konyol. Karena ulah bodoh mereka, orang kafir enggan masuk Islam. Orang kafir justru fobia terhadap Islam dan sinis terhadap muslimin.

Tidak sedikit kaum muslimin yang diintimidasi setiap ada aksi teror kelompok ini di belahan bumi lainnya.

Padahal ketika ditanya tentang siapa orang yang dikatakan berperang di jalan Allah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللهِ هِيَ الْعُلْيَا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللهِ.

“Barang siapa berperang agar kalimat (agama) Allah itu mulia, itulah yang jihad fi sabilillah.” (Muttafaqun ‘alaih)

Dengan aksi mereka, apakah orang kafir jadi masuk Islam? Apakah Islam dimuliakan oleh kaum muslimin sendiri—jangan Anda tanya bagaimana reaksi nonmuslim? Apakah agama Allah ‘azza wa jalla menjadi mulia dengan itu?

Jawabannya, hasilnya bertolak belakang. Kalau sudah seperti ini, apakah masih dikatakan jihad syar’i? Hendaknya mereka merujuk kepada bimbingan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat agar tidak sia-sia amalannya.

 

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

قُلۡ هَلۡ نُنَبِّئُكُم بِٱلۡأَخۡسَرِينَ أَعۡمَٰلًا ١٠٣ ٱلَّذِينَ ضَلَّ سَعۡيُهُمۡ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَهُمۡ يَحۡسَبُونَ أَنَّهُمۡ يُحۡسِنُونَ صُنۡعًا ١٠٤

        “Apakah akan kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (al-Kahfi: 103—104)

Pada sebagian aksi teror mereka, ada korban dari pihak muslimin. Lalu mana pertanggungjawaban mereka terhadap keluarga korban? Mana penyesalan mereka?

Nabi Musa ‘alaihissalam saja saat dahulu memukul orang Qibthi yang kafir sampai mati ketika orang Qibthi ini berkelahi dengan seorang Bani Isra’il dari kaumnya, beliau ‘alaihissalam menyesali hal tersebut dan bertobat, padahal yang ia pukul seorang Qibthi kafir.

Namun, karena Nabi Musa ‘alaihissalam tidak diperintah untuk membunuhnya, beliau ‘alaihissalam menyesali perbuatannya yang keliru. Bahkan, penyesalan tersebut terus beliau bawa hingga hari kiamat di Padang Mahsyar sebagaimana dalam hadits syafaat.

Akan tetapi, anehnya para teroris justru bangga dengan aksi terornya yang merenggut nyawa orang yang seharusnya tidak berhak untuk dicederai. Mereka menyatakan bertanggung jawab atas aksi tersebut.

Mengapa mereka tidak menyesalinya?

Karena mereka beranggapan bahwa aksinya adalah ibadah, meskipun sejatinya bertentangan dengan praktik Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan generasi awal umat ini.

Syarat sahnya amal berikutnya adalah harus ikhlas, semata-mata hanya mencari wajah Allah ‘azza wa jalla.

Ada hal penting yang harus diperhatikan, yaitu amal kebaikan bisa lenyap atau minimalnya menjadi berkurang karena perbuatan dosa. Sebagaimana amal saleh bisa melenyapkan dosa, dosa juga bisa melenyapkan amal saleh.

Di antara dosa yang bisa melenyapkan amal saleh adalah menzalimi orang lain. Bahkan, pelakunya akan disegerakan azabnya di dunia ini sebelum azab pada hari kiamat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ ذَنْبٍ أَجْدَرُ أَنْ يُعَجِّلَ اللهُ تَعَالَى لِصَاحِبِهِ الْعُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا مَعَ مَا يَدَّخِرُهُ لَهُ فِي الْآخِرَة مِنَ الْبَغْي وَقَطِيعَةِ الرَّحِم

Tidak ada suatu dosa yang lebih pantas Allah akan segerakan azab bagi pelakunya di dunia—di samping azab yang Allah simpan baginya di akhirat—melebihi (dosa) kezaliman dan memutuskan hubungan kekerabatan.” (HR . Ahmad, al-Bukhari dalam al-Adab, dan lain-lain dari sahabat Abu Bakrah radhiallahu ‘anhu. Lihat Shahih al-Jami’ no. 5704)

Wallahul Muwaffiq.

Ditulis oleh al-Ustadz Abdul Mu’thi Sutarman, Lc.

Mengharap Syafaat Pada Hari Kiamat

Setiap muslim pasti mengharapkan syafaat di akhirat nanti. Dia berharap agar pada hari tersebut syafaat bermanfaat baginya. Sungguh, alangkah sengsaranya seorang yang pada hari tersebut terhalang untuk mendapatkan syafaat.

Memang tidak semua orang pantas mendapatkan syafaat. Hanya orang yang memenuhi syarat yang bisa mendapatkan syafaat di akhirat. Allah ‘azza wa jalla mengabarkan keadaan mereka ini dalam firman-Nya,

فَمَا تَنفَعُهُمۡ شَفَٰعَةُ ٱلشَّٰفِعِينَ ٤٨

        “Tidaklah bermanfaat bagi mereka syafaat para pemberi syafaat.”(al-Muddatstsir: 48)

 

Apa Itu Syafaat?

Syafaat adalah menjadi perantara bagi yang lain untuk mendapatkan manfaat atau menolak mudarat. Contohnya, syafaat untuk mendatangkan kebaikan, syafaat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi penduduk surga agar mereka memasukinya.

Contoh syafaat agar terhindar atau selamat dari kejelekan adalah syafaat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi mereka yang pantas dimasukkan neraka sehingga tidak masuk neraka. (al-Qaulul Mufid, 1/203)

 

Hakikat Syafaat

Allah ‘azza wa jalla memberikan karunia kepada seorang yang ikhlas, mengampuninya melalui perantaraan doa orang yang diberi izin memberi syafaat, dalam rangka memuliakannya dan agar meraih maqaman mahmuda. (Kitab at-Tauhid)

Jadi, syafaat adalah karunia dan keutamaan yang Allah ‘azza wa jalla berikan bagi yang diberi syafaat.

Adapun yang memberi syafaat, Allah ‘azza wa jalla ingin memuliakannya dan menampakkan keutamaannya di hadapan hamba Allah ‘azza wa jalla yang lain.

 

Siapakah yang Akan Memberikan Syafaat?

Dalam Shahih Muslim disebutkan bahwa para malaikat, para nabi, dan orang-orang beriman akan memberikan syafaat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

        شَفَعَتِ الْمَلاَئِكَةُ وَشَفَعَ النَّبِيُّونَ وَشَفَعَ الْمُؤْمِنُونَ وَلَمْ يَبْقَ إِلاَّ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

“Malaikat memberikan syafaat, para nabi dan kaum mukminin memberi syafaat, tidak ada lagi kecuali Dzat Yang Paling Penyayang….” (Shahih Muslim, hadits no. 302)

Seorang yang syahid, meninggal di medan jihad, memiliki kesempatan memberikan syafaat bagi tujuh puluh orang kerabatnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

        لِلشَّهِيدِ عِنْدَ اللهِ سِتُّ خِصَالٍ: يُغْفَرُ لَهُ فِي أَوَّلِ دَفْعَةٍ وَيَرَى مَقْعَدَهُ مِن الْجَنَّةِ وَيُجَارُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَيَأْمَنُ مِنْ الْفَزَعِ الْأَكْبَرِ وَيُوضَعُ عَلَى رَأْسِهِ تَاجُ الْوَقَارِ الْيَاقُوتَةُ مِنْهَا خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا وَيُزَوَّجُ اثْنَتَيْنِ وَسَبْعِينَ زَوْجَةً مِنْ الْحُورِ الْعِينِ وَيُشَفَّعُ فِي سَبْعِينَ مِنْ أَقَارِبِهِ

“Seorang mati syahid mendapatkan enam keutamaan di sisi Allah:

(1) mendapatkan ampunan sejak pertama kali meninggal dan melihat tempatnya di surga,

(2) dijaga dari azab kubur,

(3) diberi keamanan dari rasa takut yang besar,

(4) akan diletakkan di kepalanya mahkota kemuliaan dari yaqut (batu permata) yang nilainya lebih baik daripada dunia dan isinya,

(5) akan dinikahkan dengan tujuh puluh dua bidadari, dan

(6) akan diterima (permintaan) syafaatnya bagi tujuh puluh orang kerabatnya.” (HR . Ibnu Majah dan at-Tirmidzi, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih Targhib wa Tarhib)

 

Macam-Macam Syafaat

Ahlus Sunnah meyakini bahwa syafaat yang ada sangatlah banyak. Ada syafaat yang khusus dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ada juga yang dilakukan oleh selain beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

  1. Asy-Syafaatul ‘Uzhma (syafaat teragung)

Syafaat ini khusus dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Syafaat ini disepakati keberadaannya. Ketika manusia merasakan dahsyatnya Padang Mahsyar, mereka mendatangi Nabi Adam ‘alaihissalam, Nabi Nuh ‘alaihissalam, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, Nabi Musa ‘alaihissalam, dan Nabi Isa ‘alaihissalam. Namun, mereka semua tidak bersedia. Akhirnya manusia datang kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

  1. Syafaat bagi penduduk surga untuk masuk surga
  2. Syafaat bagi penduduk surga untuk ditinggikan derajatnya di surga
  3. Syafaat bagi ahli tauhid yang berada di neraka agar keluar darinya
  4. Syafaat bagi satu kaum yang pantas masuk neraka agar tidak masuk neraka
  5. Syafaat khusus Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk Abu Thalib radhiallahu ‘anhu, hingga dia diringankan azabnya. (I’anatul Mustafid, 1/239—240)

 

Siapakah yang Berhak Mendapatkan Syafaat?

Ibnu Taimiyah rahimahullah menerangkan bahwa syafaat hanyalah didapatkan oleh orang yang ikhlas dan dengan izin Allah ‘azza wa jalla. Syafaat tidak akan didapat oleh orang-orang yang menyekutukan Allah ‘azza wa jalla.

Syafaat di akhirat hanya akan didapat dengan dua syarat:

  1. Izin dari Allah ‘azza wa jalla bagi syafi’ (orang yang memintakan syafaat)
  2. Adanya ridha Allah ‘azza wa jalla bagi orang yang dimintakan syafaat untuknya

 

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

مَن ذَا ٱلَّذِي يَشۡفَعُ عِندَهُۥٓ إِلَّا بِإِذۡنِهِۦۚ

        “Tidak ada yang memberikan syafaat disisi Allah kecuali dengan izin-Nya.” (al-Baqarah: 255)

 

       وَلَا يَشۡفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ٱرۡتَضَىٰ

        “Mereka tidak akan memberi syafaat kecuali bagi orang yang diridhai-Nya.”(al-Anbiya’: 28)

 

Khawarij Mengingkari Syafaat

Ada dua kelompok tersesat dalam masalah syafaat.

  1. Kelompok yang ghuluw (berlebihan) menetapkannya, hingga menjerumuskan mereka ke dalam kesyirikan dengan alasan mengharapkan syafaat.
  2. Kelompok yang mengingkari syafaat selain syafaat ‘uzhma.

Mereka mengingkari syafaat yang lain, terkhusus syafaat bagi muslim pelaku dosa besar yang telah masuk neraka. Merekalah kelompok wai’diyah dari kalangan Khawarij, Mu’tazilah, dan lainnya.

Keyakinan bid’ah tersebut menjemuskan mereka kepada kesesatan yang berikutnya, yakni mengingkari syafaat bagi mukmin yang melakukan dosa besar dan syafaat bagi mukmin yang telah masuk neraka.

Khawarij menyatakan bahwa seorang muslim yang melakukan dosa besar telah kafir dan kekal di neraka. Mereka pun menolak sekian banyak hadits yang menerangkan adanya orang muslim yang masuk neraka lalu dikeluarkan darinya dan dimasukkan ke dalam surga.

Al-Imam Muslim rahimahullah membawakan satu kisah tentang masalah ini dari seseorang yang bernama Yazid al-Faqir.

Dahulu aku terpengaruh syubhat pemikiran Khawarij. Kami berangkat melakukan ibadah haji, kemudian keluar (mendakwahkan paham Khawarij) kepada manusia.

Ketika itu kami melewati kota Madinah. Kami dapati di sana ada seorang yang bersandar di tiang masjid sedang menyampaikan hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ternyata beliau menceritakan tentang jahanamiyin (penduduk neraka jahannam). Aku pun berkata, “Wahai sahabat Rasulullah, apa yang engkau sampaikan ini? Bukankah Allah ‘azza wa jalla berfirman,

رَبَّنَآ إِنَّكَ مَن تُدۡخِلِ ٱلنَّارَ فَقَدۡ أَخۡزَيۡتَهُۥ

‘Wahai Rabb kami, sesungguhnya orang yang Engkau masukkan ke dalam neraka berarti telah Engkau hinakan ….’ (Ali Imran: 192)

 

       كُلَّمَآ أَرَادُوٓاْ أَن يَخۡرُجُواْ مِنۡهَآ أُعِيدُواْ فِيهَا

‘Ketika mereka ingin keluar darinya, mereka dikembalikan ke dalamnya….’ (as-Sajdah: 20)

 

Apa yang engkau sampaikan ini?” Sahabat tersebut berkata, “Apakah engkau bisa membaca al-Quran?”

Aku (Yazid) berkata, “Ya.”

Sahabat tersebut berkata, “Tidakkah engkau membaca maqam (kedudukan) yang Allah ‘azza wa jalla akan berikan kepada Nabi kita?”

Aku (Yazid) berkata, “Ya.”

Sahabat tersebut berkata, “Itulah kedudukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang terpuji. Dengan sebabnya, Allah ‘azza wa jalla mengeluarkan orang dari neraka.”

Kemudian beliau menyebut sifat dipancangkannya shirath dan melintasnya manusia di atas shirath tersebut….”

Sampai ucapan Yazid al-Faqir, “Demi Allah, ketika kami kembali, tidak ada lagi di antara kami yang berpemikiran Khawarij kecuali satu orang saja.” (Shahih Muslim no. 320)

 

Hadits di atas mengandung beberapa pelajaran.

  1. Khawarij mengingkari syafaat bagi seorang muslim yang masuk neraka. Sebab, mereka meyakini bahwa seorang pelaku dosa besar adalah kafir dan akan masuk neraka lantas kekal di dalamnya.
  2. Keutamaan bermajelis dengan ulama.

Kita lihat Yazid al-Faqir selamat dari kebid’ahan Khawarij dengan sebab bertemu dan mendengar ilmu dari seorang yang berilmu.

  1. Ahlul batil bersemangat menyebarkan akidah sesat mereka, memanfaatkan setiap kesempatan. Karena itu, seharusnya Ahlus Sunnah bersemangat berdakwah menyampaikan al-haq kepada umat.
  2. Dalam kisah ini ada bukti bahwa satu kesesatan akan menyeret pada kesesatan lainnya.

Ketika mereka menyatakan bahwa pelaku dosa besar kekal di neraka, mereka pun mengingkari syafaat-syafaat yang disebutkan oleh dalil-dalil.

 

Memperkuat Akidah untuk Meraih Syafaat

Syafaat semuanya milik Allah ‘azza wa jalla. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

قُل لِّلَّهِ ٱلشَّفَٰعَةُ جَمِيعٗاۖ

        “Katakanlah semua syafaat hanyalah milik Allah.” (az-Zumar: 44)

Hendaknya seorang mencari syafaat dengan jalan yang Allah ‘azza wa jalla syariatkan. Allah ‘azza wa jalla menerangkan, syafaat didapat seseorang jika Allah ‘azza wa jalla meridhainya dan memberi izin kepada yang syafi’ (yang memintakan syafaat untuknya).

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَكَم مِّن مَّلَكٖ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ لَا تُغۡنِي شَفَٰعَتُهُمۡ شَيۡ‍ًٔا إِلَّا مِنۢ بَعۡدِ أَن يَأۡذَنَ ٱللَّهُ لِمَن يَشَآءُ وَيَرۡضَىٰٓ ٢٦

        “Betapa banyak malaikat di langit, tidaklah syafaat mereka bermanfaat kecuali setelah Allah memberi izin untuk orang yang Allah kehendaki dan Allah ridhai.” (an-Najm: 26)

Orang yang diridhai untuk diberi syafaat adalah muwahid (seorang yang bagus tauhidnya), sebagaimana dikatakan oleh Ibnul Qayim rahimahullah.

Oleh karena itu, kita harus meningkatkan kualitas ibadah kita dan menguatkan tauhid kita. Itulah sebab kebahagiaan seseorang sehingga bisa meraih syafaat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang orang yang paling bahagia dengan syafaat beliau. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab,

        أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ أَوْ نَفْسِهِ

“Orang yang paling bahagia dengan syafaatku di hari kiamat adalah orang yang mengucapkan ‘la ilaha illallah’ secara ikhlas dari kalbunya.” (HR . al-Bukhari. 99)

Adapun syafaat yang diharapkan oleh para penyembah kubur adalah syafaat yang batil. Tidak mungkin mereka mendapatkan syafaat dalam keadaan terus melakukan kesyirikan kepada Allah ‘azza wa jalla.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

        لِكُلِّ نَبِيٍّ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ فَتَعَجَّلَ كُلُّ نَبِيٍّ دَعْوَتَهُ وَإِنِّي اخْتَبَأْتُ دَعْوَتِي شَفَاعَةً لِأُمَّتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَهِيَ نَائِلَةٌ إِنْ شَاءَ اللهُ مَن مَاتَ مِنْ أُمَّتِي يُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئًا

“Semua nabi memiliki doa yang mustajab. Semua nabi menyegerakan doa mustajab mereka. Adapun aku menyimpannya untuk umatku sebagai syafaat bagi mereka, dan itu akan didapat oleh umatku yang meninggal dalam keadaan tidak menyekutukan Allah ‘azza wa jalla dengan sesuatu pun.” (HR . Muslim no. 338)

 

Sebab-Sebab Mendapat Syafaat

Marilah kita bersemangat untuk melakukan sebab mendapatkan syafaat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menerangkan kepada kita amalan-amalan yang bisa menjadi sebab mendapatkan syafaat.

Di antara yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sebutkan:

  1. Perhatian dengan al-Qur’an

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

        اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِه

“Bacalah al-Qur’an, karena al-Qur’an akan menjadi pemberi syafaat bagi yang membaca dan mengamalkannya pada hari kiamat nanti.” (HR . Muslim)

 

  1. Berdoa setelah mendengar azan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa mendengar azan kemudian membaca,

        اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِى وَعَدْتَهُ

maka telah tetap syafaatku untuk dia di hari kiamat.” (HR . al-Bukhari no. 614)

 

  1. Tinggal di Madinah dengan sabar hingga meninggal

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَصْبِرُ أَحَدٌ عَلَى لَأْوَائِهَا فَيَمُوتَ إِلاَّ كُنْتُ لَهُ شَفِيعًا أَوْ شَهِيدًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِذَا كَانَ مُسْلِمًا

“Tidaklah seorang bersabar dari kesulitan dan kelaparan di Madinah sampai meninggal, kecuali aku akan menjadi pemberi syafaat atau saksi baginya pada hari kiamat, jika dia seorang muslim.” (HR . Muslim no. 3405)

 

  1. Dishalati oleh ahli tauhid

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ رَجُلٍ مُسْلِمٍ يَمُوتُ فَيَقُومُ عَلَى جَنَازَتِهِ أَرْبَعُونَ رَجُلاً لاَ يُشْرِكُونَ بِا شَيْئًا إِلاَّ شَفَّعَهُمُ ا فِيهِ

“Tidaklah seorang muslim meninggal kemudian jenazahnya dishalati oleh empat puluh orang yang tidak menyekutukan Allah ‘azza wa jalla dengan sesuatupun, niscaya Allah ‘azza wa jalla menerima syafaat mereka pada orang tersebut.” (HR . Muslim no. 2242)

Semoga Allah ‘azza wa jalla memberi kemudahan kepada kita untuk mendapatkan syafaat di hari kiamat nanti.

Ditulis oleh al-Ustadz Abdur Rahman Mubarak

Misi Duniawi di Balik Gerakan Terorisme

Dari sahabat Jabir bin Abdillah, al-Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan (no. 1063) sebuah peristiwa yang terjadi sepulang kaum muslimin dari pertempuran di Lembah Hunain.

Saat itu, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai-sampai bersabda dengan nada yang agak berbeda dari biasanya. Sabda itu ditujukan kepada seseorang yang menuduh beliau tidak berlaku adil. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَيْلَكَ وَمَنْ يَعْدِلُ إِذَا لَمْ أَكُنْ أَعْدِلُ؟ لَقَدْ خِبْتَ وَخَسِرْتَ إِنْ لَمْ أَكُنْ أَعْدِلُ.

“Celakalah engkau! Lantas siapakah yang akan bersikap adil, jika saya tidak berbuat adil?! Sungguh, engkau celaka dan merugi jika aku tidak dapat bersikap adil!”

  Lanjutkan membaca Misi Duniawi di Balik Gerakan Terorisme

Balasan untuk Kaum Perusak

 

إِنَّمَا جَزَٰٓؤُاْ ٱلَّذِينَ يُحَارِبُونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَيَسۡعَوۡنَ فِي ٱلۡأَرۡضِ فَسَادًا أَن يُقَتَّلُوٓاْ أَوۡ يُصَلَّبُوٓاْ أَوۡ تُقَطَّعَ أَيۡدِيهِمۡ وَأَرۡجُلُهُم مِّنۡ خِلَٰفٍ أَوۡ يُنفَوۡاْ مِنَ ٱلۡأَرۡضِۚ ذَٰلِكَ لَهُمۡ خِزۡيٞ فِي ٱلدُّنۡيَاۖ وَلَهُمۡ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ ٣٣

Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri. Hal itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar.(al-Maidah: 33)

 

Sebab Turunnya Ayat

Ada beberapa pendapat yang menerangkan tentang sebab turunnya ayat ini.

 

  1. Ayat ini turun berkenaan dengan sekelompok orang dari kabilah Urainah yang datang ke Madinah.

Diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari rahimahullah dari hadits Anas radhiallahu ‘anhu yang berkata,

“Sekelompok orang yang berasal dari ‘Ukul mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka lantas masuk Islam. Kemudian mereka merasa tidak nyaman tinggal di kota Madinah karena cuaca yang tidak bersahabat dengan kondisi mereka.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah mereka untuk mendatangi tempat unta sedekah digembalakan agar mereka bisa meminum air kencing dan susu unta tersebut. Mereka pun melakukannya dan menjadi sehat. Tak disangka, mereka justru murtad dan membunuh para penggembalanya.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar jejak mereka diikuti. Mereka pun berhasil diringkus dan dibawa kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian memotong tangan dan kaki mereka, mencungkil mata mereka, dan mata mereka ditusuk dengan besi panas hingga mereka mati.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Dalam riwayat Muslim, mereka berasal dari kabilah ‘Ukul atau ‘Urainah. Dalam riwayat lain, mereka dibuang di bawah terik matahari dan dibiarkan hingga mati.

Dalam riwayat lain, mereka meminta minum dan mereka tidak diberi minum.

Dalam riwayat al-Bukhari, Abu Qilabah berkata, “Mereka mencuri lalu membunuh, murtad setelah beriman, dan memerangi Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya.”

Dalam riwayat Muslim, Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mencungkil mata-mata mereka karena mereka telah mencungkil mata-mata para penggembala unta tersebut.”

Dalam riwayat Abu Dawud disebutkan bahwa Allah ‘azza wa jalla menurunkan ayat tentang orang-orang yang memerangi Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya berkaitan dengan kejadian ini.

  

  1. Ayat ini berkaitan dengan sekelompok ahli kitab yang memiliki perjanjian damai dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka lalu membatalkan perjanjian itu dan melakukan perusakan di muka bumi.

Allah ‘azza wa jalla kemudian memberi pilihan: membunuh mereka atau memotong tangan dan kaki mereka secara bersilang.

Ini adalah pendapat adh-Dhahhak dan diriwayatkan dari Ibnu Abbas.

 

  1. Ayat ini berkenaan dengan teman-teman Abu Burdah al-Aslami radhiallahu ‘anhu. Mereka melakukan perampokan terhadap satu kaum yang datang ingin memeluk Islam. Lalu turunlah ayat ini.

Ini diriwayatkan oleh Abu Shalih dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma.

 

  1. Ayat ini turun berkenaan dengan kaum musyrikin.

Ini merupakan pendapat al-Hasan dan diriwayatkan dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma. (Zadul Masiir, Ibnul Jauzi, 1/540—541)

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Yang benar, ayat ini bersifat umum, mencakup kaum musyrikin dan selain mereka yang memiliki sifat-sifat tersebut.” (Tafsir Ibnu Katsir)

 

Tafsir Ayat

يُحَارِبُونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَيَسۡعَوۡنَ فِي ٱلۡأَرۡضِ فَسَادًا

“Orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi.

Ada beberapa penjelasan ulama tentang orang-orang yang memerangi Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya, serta berjalan di muka bumi dengan kerusakan.

  • Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam Tafsir-nya,

Muharabah artinya melakukan perlawanan dan menyelisihi. Yang dimaksud bisa jadi kekufuran, menyamun di jalan, dan mendatangkan rasa takut dalam perjalanan. Demikian pula bentuk melakukan perusakan di muka bumi, yang dikategorikan beberapa jenis perbuatan kejahatan.

“Bahkan, banyak kalangan ulama salaf, termasuk Sa’id bin al-Musayyab yang mengatakan bahwa pinjam-meminjam uang dinar dan dirham (dengan cara riba –pen.) termasuk bentuk perusakan di muka bumi.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَإِذَا تَوَلَّىٰ سَعَىٰ فِي ٱلۡأَرۡضِ لِيُفۡسِدَ فِيهَا وَيُهۡلِكَ ٱلۡحَرۡثَ وَٱلنَّسۡلَۚ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ ٱلۡفَسَادَ ٢٠٥

Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan.(al-Baqarah: 205)

 

  • Al-Allamah as-Sa’di rahimahullah berkata, “Orang-orang yang memerangi Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya adalah yang menampakkan permusuhan secara terang-terangan, merusak di muka bumi dengan kekufuran dan pembunuhan, merampas harta, dan memberi rasa takut di jalan-jalan.

“(Pendapat) yang masyhur, ayat yang mulia ini menjelaskan tentang hukum para penyamun di jalanan, yang mengganggu perjalanan manusia di kota-kota dan pedalaman, mengambil paksa harta mereka, membunuh, menakut-nakuti mereka, sehingga manusia tidak mau melewati jalan yang mereka ada di sana yang berakibat terhentinya aktivitas mereka.” (Taisir al-Karim ar-Rahman)

Dari penjelasan di atas, di antara kesimpulannya, yang dimaksud orang-orang yang memerangi Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya tidak terkhusus untuk orangorang kafir, tetapi juga kaum muslimin yang memiliki sifat “memerangi Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya dan melakukan perusakan di muka bumi”.

Bahkan, seseorang yang bermuamalah dengan cara riba pun termasuk kategori mereka yang memerangi Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya. Demikian pula para ahli bid’ah yang menghalalkan darah kaum muslimin, melakukan perusakan, merampas harta, menculik, mendatangkan rasa takut masyarakat di sebuah negeri, dan yang semisalnya. Semua itu merupakan bentuk memerangi Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya.

Abu Hanifah rahimahullah berpendapat bahwa yang dimaksud “memerangi” dalam ayat ini adalah jika dilakukan di jalan-jalan. Adapun jika dilakukan di dalam perkotaan, hal itu tidak termasuk.

Pendapat ini menyelisihi pandangan mayoritas para ulama mazhab Maliki, Syafi’i, al-Auza’i, Laits bin Sa’ad, dan Ahmad bin Hambal. Bahkan, al-Imam Malik rahimahullah berpendapat bahwa seseorang yang dikelabui orang lain lantas dibawa ke dalam rumah lalu dibunuh dan dirampas hartanya, juga termasuk bentuk peperangan terhadap Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya. (Tafsir Ibnu Katsir)

Termasuk dalam hal ini adalah perbuatan kaum teroris yang melakukan pembantaian dan perusakan di muka bumi, seperti yang dilakukan oleh

  • kaum Khawarij dengan berbagai nama dan kelompoknya,
  • kaum Syiah Rafidhah yang memerangi kaum muslimin di berbagai negeri, dan
  • kaum komunis dengan berbagai bentuknya.

Itu adalah bentuk memerangi Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya serta melakukan perusakan di muka bumi.

Diterangkan oleh Ibnu Taimiyah rahimahullah, “Setiap kelompok yang memiliki kekuatan namun enggan taat kepada Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya, sungguh ia telah memerangi Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya. “Siapa yang beramal di muka bumi tanpa berlandaskan kitabullah dan sunnah Rasul-Nya, dia telah melakukan perusakan di muka bumi. Oleh karena itu, para ulama salaf menjelaskan bahwa ayat ini berlaku untuk kaum kafir dan ahli kiblat (kaum muslimin).

“Karena itulah, mayoritas imam agama menggolongkan para penyamun yang menampakkan senjatanya untuk sekadar merampas harta dan orang yang berperang untuk mengambil harta, sebagai orang-orang yang memerangi Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya dan berjalan di muka bumi dengan kerusakan; meskipun mereka meyakini bahwa yang mereka lakukan itu haram; meski mereka beriman kepada Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya.

“Orang yang meyakini halalnya darah dan harta kaum muslimin, serta menganggap halal memerangi mereka, lebih pantas disebut sebagai “orang yang memerangi Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya dan berjalan di muka bumi dengan kerusakan” daripada mereka (orang-orang yang disebutkan sebelumnya).

“Hal ini sebagaimana halnya seorang kafir harbi yang menghalalkan darah dan harta kaum muslimin dan berpandangan bolehnya memerangi mereka, lebih pantas diperangi daripada orang fasik yang meyakini diharamkannya hal tersebut.

“Demikian pula halnya ahli bid’ah yang meninggalkan syariat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sunnahnya, serta menghalalkan darah dan harta kaum muslimin yang berpegang teguh kepada sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan syariatnya. Mereka lebih pantas diperangi daripada orang fasik; meskipun mereka menganggap perbuatannya sebagai agama yang mendekatkan dirinya kepada Allah ‘azza wa jalla.

“Demikian pula halnya kaum Yahudi dan Nasrani yang meyakini tindakan memerangi kaum muslimin sebagai cara mereka mendekatkan diri kepada Allah ‘azza wa jalla.

“Oleh karena itu, para pemimpin Islam bersepakat bahwa bid’ah yang berat ini lebih berbahaya daripada dosa-dosa yang diyakini oleh pelakunya sebagai dosa.

“Hal ini telah berlaku dalam sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau memerintahkan untuk memerangi kaum Khawarij yang meninggalkan sunnah beliau, dan memerintah kaum muslimin untuk bersabar menghadapi kezaliman para penguasa dan tetap shalat di belakang mereka, meski mereka melakukan perbuatan dosa.

“Bahkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mempersaksikan sebagian sahabatnya yang masih melakukan perbuatan dosa bahwa dia mencintai Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya. Beliau juga melarang melaknat mereka. Beliau memberitakan pula tentang Dzul Khuwaishirah dan para pengikutnya—yang memiliki ibadah dan sikap wara’—bahwa mereka telah keluar meninggalkan Islam seperti halnya anak panah yang keluar meninggalkan sasarannya. (Majmu’ al-Fatawa, 28/470—471)

 

Hukuman Bagi Perusak di Muka Bumi

Adapun makna firman Allah ‘azza wa jalla,

أَن يُقَتَّلُوٓاْ أَوۡ يُصَلَّبُوٓاْ أَوۡ تُقَطَّعَ أَيۡدِيهِمۡ وَأَرۡجُلُهُم مِّنۡ خِلَٰفٍ أَوۡ يُنفَوۡاْ مِنَ ٱلۡأَرۡضِۚ

“Mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri.

Di dalam ayat ini, Allah ‘azza wa jalla menjelaskan tentang hukum orang yang memerangi Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya serta melakukan perusakan di muka bumi, bahwa hukum terhadap mereka;

  • dibunuh
  • disalib
  • dipotong tangan dan kaki mereka secara menyilang
  • diasingkan dari muka bumi

Terjadi perselisihan di kalangan para ulama, apakah hukum yang disebutkan ini bersifat pilihan yang diserahkan kepada penguasa negeri?

Sebagian ulama berpendapat bahwa hukum ini bersifat pilihan yang diserahkan kepada keputusan penguasa negeri. Ini merupakan pendapat Said bin Musayyab, Mujahid, Atha’, Hasan al-Bashri, Ibrahim an-Nakha’i, dan adh-Dhahhak, serta dihikayatkan pula dari Malik bin Anas.

Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalhah, dari Ibnu Abbas bahwa ia berkata, “Barang siapa menghunuskan senjatanya di tengah kaum muslimin, mendatangkan rasa takut di jalan, lalu ia berhasil diringkus dan dihukum, pemimpin kaum muslimin diberi pilihan dalam menetapkan hukumnya: (1) jika ingin, dibunuh, (2) dan jika ingin, disalib, (3) dan jika ingin, dipotong tangan dan kakinya.”

Abu Tsaur berkata, “Penguasa diberi pilihan berdasarkan zahir ayat ini. Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma mengatakan bahwa apa yang disebut dalam al-Qur’an dengan kata ‘atau’ maka pelakunya diberi pilihan.”

Al-Qurthubi rahimahullah berkata, “Pendapat ini lebih tampak berdasarkan zahir ayat.” (Tafsir al-Qurthubi)

Adapun jumhur ulama menyatakan bahwa ayat ini diterapkan sesuai dengan keadaan, seperti yang dikatakan oleh al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah.

Diriwayatkan pula dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma bahwa beliau berkata tentang hukum para penyamun, “Jika membunuh dan merampas harta, mereka dibunuh dan disalib. Jika membunuh namun tidak merampas harta, mereka dibunuh tanpa disalib. Jika merampas harta dan tidak membunuh, dipotong tangan dan kakinya secara menyilang. Jika melakukan teror di jalan tanpa merampas harta, mereka diasingkan dari muka bumi.” (Tafsir Ibnu Katsir)

Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Jika dia merampas harta, dipotong tangan kanannya dan dipotong kaki kirinya, lalu dia dilepas. Sebab, kejahatan ini lebih dari sekadar mencuri dengan cara menyerang. Jika dia membunuh, dia pun dibunuh. Jika dia merampas harta dan membunuh, dia dibunuh dan disalib.” (Tafsir al-Qurthubi)

Ath-Thabari rahimahullah meriwayatkan dalam Tafsir-nya, Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada Jibril ‘alaihissalam tentang hukum yang diterapkan bagi orang yang memerangi Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya.

Jibril ‘alaihissalam menjawab, “Siapa yang mencuri dan membuat teror di jalan, potonglah tangannya sebagai hukuman dia mencuri; dan potong kakinya sebagai hukuman dia melakukan teror di jalan. Siapa yang membunuh, bunuhlah dia. Siapa yang membunuh lalu membuat teror di jalan dan menghalalkan kemaluan (memperkosa), saliblah dia!” (Tafsir Ibnu Katsir)

 

Makna Disalib

Ada perselisihan di kalangan para ulama tentang cara menyalibnya.

  • Sebagian para ulama mengatakan bahwa ia dibunuh terlebih dahulu lalu disalib. Ini merupakan pendapat yang zahir dari mazhab Syafi’i.
  • Ada pula yang berpendapat ia disalib dalam keadaan hidup lalu ditusuk hingga mati dalam keadaan tersalib. Ini merupakan pendapat Laits bin Sa’ad.
  • Ada pula yang berpendapat disalib selama tiga hari dalam keadaan hidup, lalu diturunkan dari tiang salib dan dibunuh. (Tafsir al-Baghawi)

Adapun makna dipotong tangan dan kaki secara bersilang adalah apabila tangan kanan yang dipotong, kaki yang dipotong adalah yang kiri. (Zadul Masir)

 

Makna Diasingkan dari Muka Bumi

Asal makna ( يُنفَوۡاْ ) adalah diusir dan dijauhkan. Ada beberapa penjelasan ulama terkait dengan makna diasingkan dari permukaan bumi.

 

  1. Dijauhkan dari negara Islam dan dimasukkan ke dalam negara kafir yang diperangi oleh kaum muslimin.

Ini merupakan pendapat Anas bin Malik, Hasan, dan Qatadah.

Ibnul Jauzi berkata, “Ini diberlakukan jika pelakunya musyrik dan kafir. Adapun jika dia seorang muslim, tidak diberlakukan hal tersebut.”

 

  1. Mereka dicari untuk ditegakkan hukum had atasnya, lalu setelah itu dijauhkan.

Pendapat ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan Mujahid.

 

  1. Mereka dikeluarkan dari kampung tempat tinggalnya menuju kampung yang lain, seperti hukuman yang ditimpakan kepada pelaku zina.

Pendapat ini diriwayatkan dari Said bin Jubair. Al-Imam Malik berkata, “Diasingkan ke sebuah negeri yang bukan negerinya, lalu dipenjara di negeri tersebut.”

 

  1. Yang dimaksud adalah dipenjara.

Ini merupakan pendapat Abu Hanifah dan para pengikutnya. Mereka berpaandangan bahwa yang dimaksud diasingkan adalah dipenjarakan dari kebebasan dunia luar menuju dunia yang sempit. Pendapat ini dikuatkan pula Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah.

Makhul rahimahullah menyebutkan bahwa Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhu adalah orang yang pertama kali menahan pelaku kejahatan dengan penjara. Beliau radhiallahu ‘anhu berkata, “Aku memenjarakannya hingga aku mengetahui bahwa dia telah bertobat. Aku tidak mengasingkannya dengan cara memindahkannya dari satu negeri ke negeri lain supaya tidak menyebabkan gangguan terhadap penduduk negeri tersebut.” (Tafsir al-Qurthubi)

 

Hukuman Terhadap Teroris Khawarij

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberitakan dalam banyak hadits tentang munculnya satu kelompok perusak di muka bumi yang menghalalkan darah dan harta kaum muslimin dengan mengatasnamakan agama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan penguasa kaum muslimin untuk memerangi mereka.

Dalam sebuah hadits yang sahih dari Abu Said al-Khudri radhiallahu ‘anhu, dikisahkan bahwa saat Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu berada di negeri Yaman, dia mengirim sebongkah emas yang masih bercampur dengan tanahnya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian membaginya kepada empat orang: al-Aqra’ bin Habis al-Hanzhali, ‘Uyainah bin Badar al-Fazari, Alqamah bin ‘Ulatsah al-‘Amiri, salah seorang dari kabilah Bani Kilab, dan Zaid al-Khair at-Tha’i, salah seorang dari Bani Nabhan.

Kaum Quraisy marah. Mereka berkata, “Engkau berikan kepada para pemuka kabilah Najd dan meninggalkan kami?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya aku melakukan hal ini untuk membuat hati mereka semakin kuat (dalam memeluk Islam).”

Datanglah seorang lelaki berjenggot lebat, menonjol bagian atas pipinya, kedua matanya tenggelam ke dalam, menonjol dahinya, botak kepalanya. Dia berkata, “Bertakwalah kepada Allah ‘azza wa jalla, wahai Muhammad!”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bersabda, “Siapa yang akan taat kepada Allah ‘azza wa jalla jika aku bermaksiat kepada-Nya? Allah ‘azza wa jalla percaya kepadaku untuk menjadi utusan-Nya ke penduduk bumi, sementara kalian tidak percaya kepadaku?”

Orang itu pun pergi dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ مِنْ ضِئْضِئِ هَذَا قَوْمًا يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ يَقْتُلُونَ أَهْلَ الْإِسْلَامِ، وَيَدَعُونَ أَهْلَ الْأَوْثَانِ، يَمْرُقُونَ مِنَ الْإِسْلَامِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ، لَئِنْ أَدْرَكْتُهُمْ لَأَقْتُلَنَّهُمْ قَتْلَ عَاد.

“Sesungguhnya akan muncul dari cikal-bakal orang ini satu kaum yang membaca al-Qur’an tetapi tidak melampaui tenggorokannya. Mereka membunuh kaum muslimin dan membiarkan para penyembah berhala.

Mereka keluar meninggalkan agama Islam sebagaimana anak panah yang meninggalkan sasarannya. Jika aku mendapati mereka, niscaya aku akan membunuhnya seperti terbunuhnya kaum ‘Aad.” (HR. Muslim dalam Shahih-nya)

Dalam riwayat Muslim yang lainnya, “seperti terbunuhnya kaum Tsamud”.

An-Nawawi rahimahullah menerangkan bahwa makna ‘seperti terbunuhnya kaum ‘Aad’ adalah membunuh mereka secara massal hingga ke akar-akarnya.

Beliau juga berkata, “Dalam hadits ini, terdapat dalil anjuran memerangi mereka. Demikian pula dalil tentang keutamaan Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu yang memerangi mereka.” (Syarah Muslim, an-Nawawi, 7/162)

Ibnu Taimiyah rahimahullah juga menjelaskan hal yang sama, “Sungguh, kaum muslimin telah bersepakat tentang wajibnya memerangi kaum Khawarij dan Rafidhah dan yang semisal mereka, apabila mereka memisahkan diri dari jamaah (pemerintah) kaum muslimin, sebagaimana halnya Ali radhiallahu ‘anhu memerangi mereka.” (al-Fatawa al-Kubra, 3/ 548)

Hanya saja perlu diingat, yang berhak memerangi mereka adalah pemerintah kaum muslimin yang berkuasa di negeri tersebut.

 

ذَٰلِكَ لَهُمۡ خِزۡيٞ فِي ٱلدُّنۡيَاۖ وَلَهُمۡ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ ٣٣

Hal itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar.

Al-Baghawi rahimahullah berkata menjelaskan ayat ini, “Itulah yang aku sebutkan tentang hukum had. Mereka mendapat kehinaan, siksaan, dan kerendahan dalam kehidupan dunia; dan mereka mendapat azab yang pedih dalam kehidupan akhirat.”

Wallahul muwaffiq.

 

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Muawiyah Askari bin Jamal

Tokoh-tokoh Teroris Khawarij Internasional

Mengenal tokoh-tokoh teroris Khawarij adalah hal yang penting agar kita mengetahui jauhnya mereka dari pemahaman Islam yang benar dan agar kaum muslimin seluruhnya mewaspadai pemikiran, buku, serta tulisannya yang tersebar luas, tak terkecuali di negeri kita.

 

Abul A’la al-Maududi

Abul A’la al-Maududi adalah nama yang tidak asing lagi di kalangan teroris Khawarij. Mereka begitu menyanjung laki-laki ini dan menggandrungi tulisan dan buku-bukunya. Ia menjadi rujukan utama para teroris Khawarij di seluruh dunia.

Bagaimanakah pemahaman keislaman tokoh teroris yang satu ini? Berikut ini kami akan sebutkan sebagiannya.

 

  1. Mengingkari dan meragukan berita dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang Dajjal

Dalam bukunya Rasail wa Masail hlm. 57, ia menuliskan, “Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengira akan keluar Dajjal di masanya atau dekat dari masanya. Akan tetapi, telah berlalu seribu tiga ratus lima puluh tahun namun Dajjal tidak juga keluar. Nyatalah bahwa apa yang disangkakan oleh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam itu tidak benar.”

Ia juga menegaskan, “Semua hadits-hadits yang diriwayatkan dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang Dajjal hanyalah pemikiran dan analogi dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri ragu tentangnya.”

 

  1. Mencela para sahabat

Abul A’la al-Maududi menuduh sahabat Utsman radhiallahu ‘anhu telah berbuat curang ketika menjabat sebagai khalifah. Dia mengklaim bahwa Utsman secara diam-diam memberikan jabatan-jabatan penting kepada kerabatnya.

Ia juga menuduh sahabat Mu’awiyah radhiallahu ‘anhu dengan kebid’ahan, mencela sahabat Sa’d bin Ubadah dan Abu sufyan radhiallahu ‘anhum. Semua itu dituangkan dalam bukunya al-Khilafah wal Mulk.

Penting diketahui, buku al-Khilafah wal Mulk yang berisi celaan-celaan kepada para sahabat justru dijadikan referensi oleh Syiah Rafidhah.

Seorang pentolan Syiah Rafidhah dalam surat kabar yang dimuat di Teheran pada Rajab 1407 H menyatakan, “Kami menasihati siapa yang menghendaki agar merujuk pada buku al-Khilafah wal Mulk karya Abul A’la al-Maududi.”

 

  1. Memuji Revolusi Iran yang dilakukan oleh Khomeini sang Majusi

Dalam kitab asy-Syaqiqan, Abul A’la al-Maududi menyatakan tentang Revolusi Syiah Rafidhah ala Khomeini,

“Sesungguhnya revolusi Khomeini adalah revolusi Islam. Yang menegakkannya adalah kelompok Islam dan para pemuda Islam yang mendapatkan pendidikan dalam harakah Islamiyah. Segenap kaum muslimin secara umum dan khususnya harakah (pergerakan) Islamiyah, hendaknya mendukung revolusi ini dan bekerja sama dalam seluruh aspeknya.”

 

Sayyid Quthb

Sayyid Quthb adalah sosok yang sangat dielu-elukan oleh para teroris Khawarij. Ia dianggap sebagai tokoh perbaikan. Dakwahnya disejajarkan dengan dakwah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahumallah.

Karena itu, al-‘Allamah Syaikh Rabi bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah menjelaskan penyimpangan dan kesesatan-kesesatannya dalam lima atau enam buku yang ditulisnya. Berikut beberapa penyimpangannya:

 

  1. Meyakini aqidah al-hulul wal ittihad (manunggaling kawula gusti/wihdatul wujud)

Sayyid Quthb menyatakan dalam bukunya Fi Dzil al-Qur’an, ketika menjelaskan surat al-Ikhlas, “Sesungguhnya ia adalah kesatuan wujud. Tidak ada hakikat kecuali hakikat-Nya. Tidak ada wujud hakiki kecuali wujud-Nya. Segala hal lainnya yang wujud, itu hanyalah berasal dari wujud-Nya yang hakiki. Hakikat wujud itu berasal dari hakikat Dzat.”

Asy-Syaikh Muhammad Shalih al-Utsaimin rahimahullah mengomentari tafsir Sayyid Quthb terhadap surat di atas tadi, beliau rahimahullah berkata, “Sungguh, dia (Sayyid Quthb) telah mengucapkan perkataan yang besar, menyelisihi keyakinan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Ini menunjukkan bahwa dia meyakini wihdatul wujud.” (Majalah Da’wah, 1418 H)

 

  1. Menakwil sifat-sifat Allah ‘azza wa jalla

Dalam buku Fi Zhilalil Qur’an, Sayyid Quthb rahimahullah berkata, “Istiwa’-nya (Allah ‘azza wa jalla) di atas Arsy adalah gambaran kesempurnaan kekuasaan.”

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata, “Ini maknanya adalah pengingkaran terhadap istiwa’ yang sudah dikenal, yang berarti tinggi di atas Arsy. Apa yang dinyatakan Sayyid Qutb ini adalah batil, menunjukan bahwa dia miskin dan lemah dalam hal ilmu tafsir.” (Kaset ceramah Aqwalul Ulama fi Mu’allafaati Sayyid Quthb)

 

  1. Mengkafirkan masyarakat muslimin

Sayyid Quthb dalam hal ini sangat terpengaruh dengan gaya pengkafiran Abul ‘Ala al-Maududi. Parahnya lagi, Sayyid Quthb mengklaim bahwa masyarakat muslim yang ada sekarang ini adalah masyarakat jahiliah, telah keluar dari Islam.

Sayyid Quthb berkata, “Sesungguhnya jahiliah adalah sebuah keadaan dan fenomena. Ia bukan masa yang terkait dengan penanggalan zaman. Jahiliah pada hari ini telah menyebar di setiap penjuru bumi dan pada aneka ragam keyakinan, mazhab, dan undang-undang serta hukum.”

Ia juga berkata, “Sesungguhnya tidak ada di muka bumi pada hari ini, negara muslim dan masyarakat muslim yang kaidah muamalah di dalamnya adalah syariat Allah ‘azza wa jalla dan fikih Islam.” (Fi Zhilalil Qur’an cet. Darusy Syuruq)

 

Umar Mahmud Abu Qatadah al-Falistini

Namanya Umar Mahmud Abu Umar, namun lebih dikenal dengan Abu Qatadah. Ia seorang tokoh takfir teroris Khawarij yang terkenal dengan fatwa berdarah di Aljazair yang menyebabkan terbunuhnya ribuan orang yang tidak berdosa.

Umar Mahmud Abu Qatadah sangat membenci Arab Saudi. Uniknya, dia memilih tinggal di kota London, bahkan menerima gaji dari Pemerintah Inggris. Di sisi lain, dia mengharamkan gaji pegawai di pemerintahan Saudi dengan alasan itu harta yang tidak halal. Bagi Umar Mahmud Abu Qatadah harta pemerintahan Inggris itu halal, sedangkan harta pegawai di negeri-negeri Islam adalah haram.

Sungguh benar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

يَقْتُلُونَ أَهْلَ الْإِسْلَامِ وَيَدَعُونَ أَهْلَ الْأَوْثَانِ

        “(Mereka) memerangi umat Islam dan membiarkan para penyembah berhala (kafir).” ( Tandzim al-Qaeda Jaraim Fadzi’ah)

 

Usamah bin Laden

Pada awalnya, Usamah pergi ke Afganistan untuk menolong kaum muslimin. Ia menginfakkan hartanya dalam jumlah besar. Adapun manhaj dan pemikirannya adalah seperti keumumannya para anak muda yang hanya semangat belaka. Tidak diketahui dirinya sebagai seorang ahli dalam bidang (ilmu) syar’i. Tidak pula diketahui ia memiliki guru dalam bidang ilmu syar’i.

Usamah bin Laden banyak terpengaruh oleh pemikiran Sayyid Quthb dan Abul A’la al-Maududi, sehingga akidah takfir (pengkafiran) begitu kental dalam dirinya.

Ia pun senantiasa menyanjung para teroris Khawarij yang menjadi pelaku-pelaku peledakan di berbagai tempat. Ia berkata, “Semoga Allah ‘azza wa jalla merahmati saudara-saudara kami para syuhada di setiap tempat, di Palestina, Irak, Haramain, Maroko, Kashmir, Afganistan, Chechnya, Nigeria, Indonesia, dan Filipina serta Thailand….” (al-Qishshah al-Kamilah li Khawarij Ashrina)

Usamah bin Laden meyakini bahwa Islam akan lenyap manakala sebuah negara dipimpin oleh seorang yang tidak menerapkan hukum Islam, dan dia telah kafir karenanya. Demikian juga seluruh rakyat yang hidup di bawahnya menjadi kafir.

Ia (Usamah bin Laden) berkata, “Agama tidak akan abadi apabila yangmenjadi pemimpin negara telah kafir. Pemahaman seperti ini harus tetap ada, tampak dan jelas. Ketika pemimpin telah kafir, manusia akan kacau sehingga Islam akan lenyap. Oleh karena itu, harus ada sebuah gerakan untuk menetapkan pemimpin baru yang menegakkan hukum Allah ‘azza wa jalla di tengah-tengah manusia.”

Inilah sejatinya akidah Khawarij, yang secara mutlak mengkafirkan siapa saja yang tidak menerapkan hukum Allah ‘azza wa jalla. Tentu saja, ini menyelisihi akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Sebab, persoalan tidak menerapkan hukum Allah ‘azza wa jalla dikembalikan kepada keadaan orangnya dan apa yang mendorongnya untuk melakukan hal itu.

Al-Qur’an pun telah merinci hal tersebut. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَمَن لَّمۡ يَحۡكُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡكَٰفِرُونَ ٤٤

        “Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, mereka itu adalah orang-orang kafir.” (al-Maidah: 44)

وَمَن لَّمۡ يَحۡكُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ ٤٥

“Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, mereka itu adalah orang-orang zalim.” (al-Maidah: 45)

 وَمَن لَّمۡ يَحۡكُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ ٤٧

“Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, mereka itu adalah orang-orang yang fasik.” (al-Maidah: 47)

Usamah bin Laden meyakini bahwa jihad adalah membunuh, menghancurkan, merusak, mengusir, melakukan makar, dan memancing musuh ke negeri-negeri Islam. Tentu saja, jihad yang seperti ini akan membuat kaum muslimin yang berakal berlepas diri dan menjauh darinya.

Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah berkata, “Aku berlepas diri dari (Usamah) bin Laden. Dia adalah kejelekan dan bencana yang menimpa umat. Perbuatan-perbuatannya sangat buruk.” (al-Qishshah al-Kamilah li Khawarij Ashrina)

 

Ayman al-Zhawahiri

Ayman al-Zhawahiri adalah seorang dokter spesialis mata. Ia sangat terpengaruh dengan pemikiran Sayyid Quthb, sebagaimana pengakuannya sendiri dalam bukunya, al-Washiyah al-Akhirah.

Di antara keyakinan Ayman al-Zhawahiri, menerapkan hukum Allah ‘azza wa jalla adalah rukun akidah yang paling penting. Karena urusan inilah, terjadi front pertempuran antara yang haq dan yang batil.

Inilah akidah teroris Khawarij sejak dahulu. Mereka selalu menyatakan, “Tidak ada hukum kecuali hukum Allah ‘azza wa jalla,” yang kemudian dikomentari oleh sahabat Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, “Kalimat yang benar, namun yang dimaukan darinya adalah kebatilan.”

Misi dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah untuk menegakkan negara dengan hukum Allah ‘azza wa jalla, tetapi untuk menegakkan tauhid, mengesakan Allah ‘azza wa jalla dalam ibadah, dan memerangi berbagai kemusyrikan. Adapun kekhalifahan atau kepemimpinan adalah janji Allah ‘azza wa jalla yang akan diberikan kepada orang-orang yang mentauhidkan-Nya dengan benar.

Ayman al-Zhawahiri meyakini bolehnya membunuh seluruh orang kafir, termasuk wanita, anak kecil, orang tua yang lemah, serta yang tidak terlibat dalam peperangan sekalipun.

Ia juga mengimbau untuk mencuri dan merampok harta milik negara (yang tidak menerapkan hukum Allah ‘azza wa jalla), dan menganggapnya sebagai ghanimah serta bentuk perang melawan negara tersebut. (al-Qishshah al-Kamilah li Khawarij Ashrina)

Keyakinan-keyakinan di atas jelas bertentangan dengan syariat Islam yang senantiasa memerhatikan keadilan, etika, dan adab, sekalipun dalam situasi jihad.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَقَٰتِلُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ ٱلَّذِينَ يُقَٰتِلُونَكُمۡ وَلَا تَعۡتَدُوٓاْ

“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas.” (al-Baqarah: 190)

وَإِنۡ عَاقَبۡتُمۡ فَعَاقِبُواْ بِمِثۡلِ مَا عُوقِبۡتُم بِهِۦۖ

“Dan jika kamu memberikan balasan, balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu.” (an-Nahl: 126)

وَلَا يَجۡرِمَنَّكُمۡ شَنَ‍َٔانُ قَوۡمٍ عَلَىٰٓ أَلَّا تَعۡدِلُواْۚ ٱعۡدِلُواْ هُوَ أَقۡرَبُ لِلتَّقۡوَىٰۖ

“Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah karena adil itu lebih dekat kepada takwa (al-Maidah: 8)

 

Abu Muhammad al-Maqdisi

Nama lengkapnya adalah ‘Isham al-Barqawi. Tokoh teroris ini sangat terpengaruh dengan pemikiran-pemikiran Sayyid Quthb. Ia termasuk tokoh teroris Khawarij yang dijadikan rujukan oleh kelompok teroris yang ada di negara kita, baik kelompok JI ataupun kelompok dan jaringan lainnya.

Di antara keyakinan-keyakinannya adalah:

  1. Meyakini bahwa seluruh negara di dunia ini adalah negara kafir. Ia berkata, “Di dunia pada hari ini semuanya adalah negeri kafir. Tidak ada yang aku kecualikan, termasuk Makkah dan Madinah.” (Tsamaratil Jihad hlm. 14, karya al-Maqdisi)
  2. Meyakini bahwa pemerintah yang tidak menerapkan hukum Allah ‘azza wa jalla adalah kafir, murtad, dan lebih jelek daripada Yahudi dan Nasrani. (al-Qishshah al-Kamilah)

Pernyataan Abu Muhammad al-Maqdisi di atas adalah sikap yang ekstrem. Sekalipun mereka yang dia sebutkan telah melakukan kekufuran, namun mereka tidaklah lebih jelek daripada Yahudi dan Nasrani. Apalagi mereka yang menisbatkan dirinya kepada Islam secara zahir.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Setiap orang yang beriman kepada apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, lebih baik dari semua yang mengkufurinya. Walaupun pada diri yang beriman itu ada satu jenis kebid’ahan; bid’ah Khawarij, Syiah, Murji’ah, Qadariyyah, atau yang lainnya.

“Sesungguhnya Yahudi dan Nasrani telah kafir dengan kekafiran yang diketahui secara pasti dari agama Islam. Seorang pelaku bid’ah, jika dia mengira bahwa dirinya menyepakati Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyelisihinya, dia tidak kafir karenanya. Andaikata dia menjadi kafir, kekafirannya tidaklah seperti kekafiran orang yang mendustakan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Majmu’ul Fatawa, 35/122)

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf

Organisasi Teroris Khawarij Internasional

Sesungguhnya tegaknya agama yang lurus ini dibangun di atas dua perkara penting, yaitu benarnya sumber pengambilan ilmu dan benarnya metodologi (manhaj) penerapan dalil. Jika salah satunya rusak—atau bahkan kedua-duanya rusak—, segala persoalan akan menjadi rancu dan melahirkan hal-hal yang berakibat tidak terpuji, baik di dunia maupun di akhirat. Sunnah akan menjadi bid’ah dan bid’ah menjadi sunnah. Syirik menjadi tauhid dan tauhid menjadi syirik. Benar menjadi batil dan yang batil menjadi yang benar.

Di masa belakangan ini, terjadi musibah besar yang menimpa negara-negara kaum muslimin dan menghentakkan hati orang-orang yang beriman. Musibah tersebut adalah munculnya kembali sebuah pemahaman jelek yang terlahir dari pemahaman Khawarij, sebuah sekte yang menjadi bencana bagi umat ini sejak terbunuhnya Amirul Mukminin sang khalifah yang mulia Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu hingga hari ini.

Kaum Khawarij dan seluruh kelompok yang berafiliasi kepadanya telah melakukan tindak terorisme berikut dua pelanggaran dan dosa besar setelah kesyirikan, yaitu melakukan bom bunuh diri dan menumpahkan darah kaum muslimin.

Sebutan teroris adalah kata yang pantas disematkan kepada orang-orang Khawarij, baik generasi terdahulu maupun yang sekarang; merujuk pada pemahaman agamanya yang ekstrem dan tindakannya yang radikal.

Persoalan darah kaum muslimin yang disebutkan dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عِنْدَ اللهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ

        “Hilangnya dunia di sisi Allah jauh lebih ringan daripada terbunuhnya jiwa seorang muslim.” (HR. an-Nasai)

Bagi orang-orang Khawarij teroris darah tak ubahnya seperti mainan. Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menegaskan dalam satu rekaman khutbah Jum’at beliau, “Inilah pemahaman Khawarij. Hari ini mereka membunuh orang kafir dzimmi, dan besok mereka menumpahkan darah kaum muslimin.” (al-Hadits al-‘Ajib fi Baladil Habib)

Tindakan tersebut diyakini oleh para teroris Khawarij masa kini sebagai jalan yang dapat mendekatkan diri ke surga. Inilah yang kemudian memicu terjadinya aksi-aksi pembunuhan atas nama Islam. Bahkan, ada sebagian dari mereka sebelum memulai aksinya sudah merasa yakin bahwa dirinya sangat dekat dengan ridha Allah dan surga.

Fenomena ini semakin menguatkan dan memberikan gambaran bahwa teroris Khawarij adalah seperti yang telah disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: anak-anak muda usia yang dangkal ilmunya dan jelek pemahamannya, membunuh umat Islam dan membiarkan kaum musyrikin.

Berikut ini sejumlah organisasi internasional yang berhaluan teroris Khawarij.

 

Gerakan Pemuda Taliban

Kata taliban adalah bentuk jamak dari kata thalib (pelajar) menurut bahasa Bastuniyah. Maksud kata tersebut adalah (kumpulan) para pelajar di sekolah sekolah agama yang tersebar di Afganistan. Sekolah-sekolah tersebut adalah cabang sekolah agama yang ada di Pakistan dan India yang menganut paham Deobandi Sufi. Kelompok Taliban notabene berpemahaman Sufi Maturidi.

Gerakan ini mendapatkan pujian dan sanjungan dari tokoh-tokoh al-Qaeda, seperti Usamah bin Laden, dalam siaran al-Jazeera 20/09/2001. Ia berkata, “Kami menyeru kaum muslimin agar membantu negeri ini (Taliban) dengan segenap kekuatan, kemampuan, dan pikiran serta harta dan zakatnya. Sebab, dengan izin Allah ‘azza wa jalla negeri tersebut menjadi gambaran bendera Islam. Perlawanan Amerika pada hari ini terhadap Afganistan, sesungguhnya Afganistan yang telah mengangkat bendera Islam di dunia, Islam yang benar mujahid di jalan Allah.”

Sulaiman Abu Ghaits, juru bicara resmi al-Qaeda, dalam surat kabar al-Wathan al-Quwaitiyah menegaskan bahwa undang-undang hukum di negara-negara Islam dan Arab adalah undang-undang kafir, kecuali undang-undang hukum di Afganistan.

Sungguh aneh pernyataan para tokoh al-Qaeda bahwa gerakan Taliban adalah satu-satunya gerakan yang memberlakukan syariat dan undang-undang Islam. Sebab, faktanya banyak sekali kuburan dan kuil yang diibadahi di samping ibadah kepada Allah ‘azza wa jalla oleh orang-orang Taliban. Bahkan, sampai pada tingkatan bertabaruk (mencari berkah) dari kuburan relawan-relawan al-Qaeda yang terbunuh di Afganistan. Manakah syariat Islam yang katanya mereka berhukum kepadanya?! (Tanzhimul Qaidah Jaraim Fadzi’ah)

 

Al-Qaeda

Kelompok al-Qaeda didirikan dalam rentang waktu akhir 1989 hingga 1990 di Afganistan. Saat itu, para pemuda Arab secara serentak dari berbagai wilayah menuju Afganistan untuk berjihad melawan Rusia.

Sebab penamaan al-Qaeda bermula dari relawan-relawan Arab yang datang ke bumi Afganistan. Mereka menuliskan nama, tanggal kedatangan, dan tanggal keikutsertaannya di medan perang agar mudah untuk mendata dan mengetahui tempatnya. Muncullah dari pendataan ini nama al-Qaeda.

Pimpinan pertama al-Qaeda adalah Usamah bin Laden. Sekarang dia digantikan seorang dokter mata bernama Aiman azh-Zhawahiri yang tinggal di Denmark dan Norwegia dengan paspor dan dokumen palsu.

Aiman azh-Zhawahiri mulai bergabung dengan kelompok al-Qaeda pada era 90-an. Dahulu ia bergabung dengan Tanzhim Jihad di Mesir. Dia tidak berada di Afganistan saat perang melawan Rusia.

Banyak sekali tindakan jahat dan radikal yang dilakukan oleh kelompok ini yang kemudian diklaim sebagai jihad, seperti menawan dan menculik turis-turis asing dan wartawannya. Bahkan, mereka tidak sungkan untuk membunuhnya di depan umum lalu diekspos secara terbuka.

Mereka juga merusak fasilitas umum dan kantor milik negara. Pernah terjadi di Tanzania pada 1998, mereka meledakkan bom di Kedubes Amerika. Korban dalam peristiwa itu mencapai jumlah 224 jiwa, dua belas orang di antaranya warga AS. Sisanya adalah warga sipil dan orang-orang yang tidak berdosa.

 

Jamaah Islamiyah di Mesir

Jamaah ini dipimpin oleh Umar bin Abdurrahman al-Mishri. Sejak awal kemunculannya, mereka sudah mengumumkan perang melawan pemerintah.

Umar sendiri hidup di Amerika. Inilah salah satu sisi keanehan teroris Khawarij semacam Umar bin Abdurrahman, Abu Hamzah al-Mishri, Abu Qatadah al-Falistini, dan yang lainnya. Mereka menjauhi negeri kaum muslimin dengan alasan negeri tersebut kafir meskipun ramai dengan syiar-syiar Islam, tetapi mereka justru tinggal di negeri gereja dan salib yang penuh dengan syiar Nasrani, daging babi, dan minuman khamar.

 

Gerakan Pemuda Somalia

Gerakan ini dinamai juga dengan Harakatul Mujahidin dan Harakatus Syababil Islami atau Harakatus Syababil Mujahidin. Gerakan ini didirikan pada 2004, namun baru mulai mencuat dan dikenal pada 2007. Gerakan ini dipimpin oleh Aden Hasyi ‘Airu yang berkuniah Abu Husein al-Anshari.

Tujuan utama gerakan ini adalah mendirikan negara Islam. Inilah yang kemudian mendorong mereka berulang kali melakukan percobaan revolusi dengan melakukan pembunuhan dan merampas harta benda yang dianggapnya sebagai ghanimah.

Parahnya, mereka mengklaim bahwa gerakannya adalah gerakan Salafiyah Jihadiyah. Tentu ini adalah sebuah kesalahan besar sekaligus menunjukkan dangkalnya pemahaman mereka terhadap Salafiyah. Sebab, sangat jelas perbedaan antara Salafiyah dan Jihadiyah Takfiriyah.

 

Hamas

Gerakan ini berbeda dengan al-Qaeda dan organisasi jihad lainnya karena hanya melibatkan warga setempat, yakni jihad di Palestina. Pelan tetapi pasti, gerakan ini mengarah kepada Ikhwanul Muslimin.

Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah berkata, “Adapun Hamas, mereka adalah sekte hizbiyah, tidak menegakkan amar ma’ruf dan nahi mungkar, justru memerangi Ahlus Sunnah. Seandainya mereka mendapat kemenangan, akan terjadi seperti apa yang telah terjadi di Afganistan; yaitu saling menyerang antarkelompok karena mereka tidak satu hati.” (Tanzhim al-Qaidah Jaraim Fadzi’ah)

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf

Jihad Ala Isis dan Al-Qaeda

ISIS dan al-Qaeda adalah kelompok yang menyeru kepada sebuah istilah dan pemahaman yang tidak sesuai dengan koridor syariat. Tanpa memerhatikan ketentuan-ketentuan yang dibenarkan para ulama, timbullah pergeseran dan penyimpangan besar terkait dengan ilmu dan dakwah. Ujungnya adalah terjadinya kerusakan yang berkepanjangan di tengah-tengah kaum muslimin.

Mereka masuk ke dalam golongan yang dicap “muda usianya dan jelek pemahamannya.” Mereka menyerukan jihad fi sabilillah sesuai dengan pemahamannya yang minim, tanpa mengetahui batasan dan ketentuan syar’i.

Padahal, penting diketahui bahwa jika jihad fi sabilillah menyimpang dari cara yang benar, akan menjadi jihad yang bid’ah, seperti jihad kaum Khawarij, Rafidhah, dan golongan sesat lainnya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dalam ar-Rad ‘ala al-Akhna’i, “Al-Kitab dan as-Sunnah, keduanya dipenuhi dengan perintah jihad dan penyebutan keutamaannya. Namun, wajib diketahui, mana jihad syar’i yang diperintahkan Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya, mana jihad bid’ah (yaitu) jihad (yang dilakukan) golongan sesat dalam ketaatan kepada setan (keduanya sangat jauh berbeda, -ed.), dalam keadaan mereka mengira berjihad dalam ketaatan kepada Allah ‘azza wa jalla.

“Jihad bid’ah contohnya jihad ahli bid’ah pengikut hawa nafsu dari kalangan Khawarij dan semisalnya. Mereka justru berjihad melawan orang-orang Islam, berjihad melawan (Khalifah) Ali radhiallahu ‘anhu dan yang bersamanya, melawan sahabat Mu’awiyah radhiallahu ‘anhu dan yang bersamanya, dan melawan orang-orang yang jauh lebih taat kepada Allah dan Rasul-Nya dibanding mereka; (yaitu) para sahabat as-sabiqun al-awwalun dan yang mengikutinya dengan baik hingga hari kiamat.”

ISIS dan al-Qaeda berjihad dengan membunuh kaum muslimin dari kalangan aparat, warga sipil, orang tua, para wanita hingga anak-anak kecil tanpa ampun dengan melakukan peledakan bom atau penculikan. Tidak ada bedanya antara muslim dan kafir. Bahkan, orang kafir yang sebenarnya tidak boleh dibunuh, mereka bunuh juga, seperti musta’manin, orang kafir yang mendapat jaminan keamanan dari pemerintah muslim, atau mu’ahadin, orang kafir yang terikat perjanjian.

Selain itu, tujuan utama jihad syar’i adalah memerangi orang-orang kafir dari kalangan Yahudi, Nasrani, para penyembah berhala dan yang murtad untuk meninggikan kalimat tauhid.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَقَٰتِلُوهُمۡ حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتۡنَةٞ وَيَكُونَ ٱلدِّينُ لِلَّهِۖ فَإِنِ ٱنتَهَوۡاْ فَلَا عُدۡوَٰنَ إِلَّا عَلَى ٱلظَّٰلِمِينَ ١٩٣

“Dan perangilah mereka itu hingga tidak ada fitnah lagi dan (hingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim.” (al-Baqarah: 193)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللهِ هِيَ الْعُلْيَا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللهِ

“Barang siapa berperang untuk meninggikan kalimat Allah ‘azza wa jalla setinggi-tingginya, itulah berperang di jalan Allah ‘azza wa jalla.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Metode Islam dalam berjihad adalah mendakwahkan Islam terlebih dahulu kepada orang kafir, sebelum yang lainnya. Jika orang-orang kafir menolak Islam, mereka diharuskan membayar jizyah. Jika mereka enggan, barulah diperangi.

Islam hanya memerangi siapa yang melakukan penyerangan. Adapun warga sipil yang tidak terlibat, mereka dibiarkan; para wanita dibiarkan di rumah-rumahnya, orang tua dan anak kecil yang tidak terlibat dalam peperangan tidak diganggu dan disakiti. Adakah adab Islam yang seperti ini dalam kelompok jihad ISIS dan al-Qaeda?!

Dari sahabat Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, berkata,

وَجَدْتُ امْرَأَةً مَقْتُولَةً فِي بَعْضِ مَغَازِي رَسُولِ اللهِ فَنَهَى رَسُولُ اللهِ عَنْ قَتْلِ النِّسَاءِ وَالصِّبْيَانِ

“Aku pernah mendapati seorang perempuan terbunuh dalam sebagian peperangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian melarang membunuh para wanita dan anak-anak kecil.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Berikut ini beberapa bentuk metode dari jihad ala ISIS dan al-Qaeda.

  • Menumpahkan darah yang diharamkan dalam keadaan mengetahuinya. Mereka sangat siap untuk membunuh manusia dan beralasan bahwa semuanya akan dibangkitkan menurut niatnya masing-masing.
  • Menyandera orang-orang asing lalu menyembelih para sandera, baik warga sipil maupun militer. Lalu mereka mendokumentasikannya dalam bentuk video dan diunggah melalui internet. Tujuan utamanya adalah menebar ketakutan di tengah-tengah warga setempat.
  • Melakukan berbagai aksi penculikan.
  • Menggunakan bom mobil untuk merusak fasilitas umum.
  • Memalsukan paspor dan data resmi semacamnya.
  • Mencukur jenggot, memakai pakaian orang kafir dan fasik, memasuki tempat hiburan, serta menyaksikan hal-hal yang diharamkan dengan tujuan melakukan penyamaran. Bahkan, ada juga yang berpakaian wanita untuk menyamar, padahal orang yang melakukannya dilaknat oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. ( al-Bukhari no. 5546)
  • Melanggar aturan negara tentang perlindungan terhadap darah dan harta.

 

Jihad Ada Syaratnya

Sejatinya, jihad tidak ada bedanya dengan amalan lainnya yang ditetapkan oleh syariat, memiliki ketentuan dan syarat. Barang siapa menegakkannya di luar waktunya atau menunda dari waktunya, itu adalah sebuah kesalahan; sama seperti orang yang menunaikan shalat sebelum waktunya atau mengakhirkannya.

Di antara syarat-syaratnya adalah sebagai berikut.

  1. Benar-benar memerangi orang-orang kafir (harbi, -ed.).

Memerangi orang Islam yang terlindungi darahnya adalah haram.

 

  1. Memerhatikan keadaan kaum muslimin dalam hal kekuatan dan kelemahannya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menyebutkan dalam ash-Sharimul Maslul hlm. 221, siapa di antara kaum mukminin yang berada di suatu negeri yang lemah atau waktu yang lemah, hendaknya mengamalkan ayat (tentang) sabar dan pengampunan terhadap orang-orang yang menyakiti Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya dari kalangan ahli kitab dan musyrikin.

Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada awal-awal Islam tidak mensyariatkan jihad. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam justru dilarang melakukan peperangan karena umat Islam tidak memiliki negara dan pemimpin. Di samping itu, mereka belum memiliki kekuatan untuk menghadapi musuh-musuhnya.

 

  1. Jihad harus dilakukan bersama pemerintah.

Jika jihad tidak dilaksanakan bersama pemerintah, akan terjadi kekacauan dan menjadi sebab terpecah-belahnya kaum muslimin. Pemerintah itulah yang menetapkan segala kebijakan, apakah mengangkat senjata untuk berperang jika dibutuhkan, ataukah menahan diri apabila melihat ada maslahat di balik itu.

Oleh karena itu, tidak mungkin bendera jihad dikibarkan tanpa disertai waliyul amri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا الأِمامُ جُنَّةٌ يُقاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ

“Sesungguhnya pemimpin itu pelindung, diperangi bersamanya (musuh-musuh).” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Ahlus Sunnah wal Jamaah telah sepakat bahwa jihad dilakukan bersama setiap pemimpin.

Al-Imam ath-Thahawi rahimahullah berkata, “Haji dan jihad terus berlangsung dilakukan bersama waliyul amri dari kaum muslimin, yang baik dan yang jelek, sampai hari kiamat. Tidak ada yang membatalkan dan menggugurkannya.”

Al-Imam Ibnu Qudamah berkata dalam al-Mughni, “Urusan jihad diserahkan kepada pemerintah dan ijtihadnya. Rakyat harus menaati keputusannya.”

 

  1. Tidak memerangi orang-orang yang tidak ikut berperang.

Para wanita, anak-anak, orang tua, dan siapa saja yang tidak ikut berperang tidak disyariatkan untuk diperangi. Memeranginya tidaklah dianggap sebagai bagian dari jihad syar’i.

Apabila telah menunjuk seseorang memimpin sebuah pasukan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berwasiat secara khusus kepadanya agar bertakwa kepada Allah ‘azza wa jalla dan mendoakan kaum muslimin yang bersamanya di atas kebaikan. Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,

اغْزُوا بِسْمِ اللهِ، فِي سَبِيلِ اللهِ قَاتِلُوا مَنْ كَفَرَ بِاللهِ ، اغْزُوا وَلَا تَغُلُّوا وَلَا تَغْدِرُوا وَلَا تُمَثِّلُوا وَلَا تَقْتُلُوا وَلِيدًا

“Berangkatlah berperang dengan menyebut nama Allah di jalan Allah! Perangilah orang-orang yang kafir kepada Allah! Berangkatlah berperang dan jangan mencuri harta rampasan perang, jangan berkhianat, jangan mencincang mayat, dan janganlah membunuh anak-anak!” (HR. Muslim) (Tanzhim al-Qaidah Jaraim Fadzi’ah)

Di samping syarat-syarat di atas, masih ada aturan-aturan yang lain dalam syariat.

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf

Fenomena ISIS dan Al-Qaeda

Di pertengahan 2014, dunia digemparkan dengan eksistensi sebuah organisasi yang menggunakan jalur kekerasan untuk mencapai kepentingannya membentuk negara Islam, yaitu ISIS. Organisasi ini merupakan pecahan dari al-Qaeda, sebuah kelompok teroris Khawarij yang terkenal setelah peristiwa 11 September.

ISIS adalah singkatan dari (bahasa Inggris) Islamic State of Iraq and Syria, atau dalam bahasa Arab disebut DAIS, singkatan dari ad-Daulah al-Islamiyah fi al-Iraq wa al-Sham yang artinya Negara Islam Irak dan Suriah.

Kelompok ini dalam bentuk aslinya terdiri dari dan didukung oleh berbagai kelompok seperti Dewan Syura Mujahidin dan al-Qaeda di Irak (AQI), termasuk kelompok Anshar al-Tauhid wal Sunnah dan Jeish al-Taifa al-Mansoura.

Kelompok ini dibentuk pada April 2013. Tokoh sentral di balik militan ISIS adalah Abu Bakar al-Baghdadi yang lahir di Samarra, bagian utara Baghdad, pada 1971. Dia bergabung dengan pemberontak yang merebak sesaat setelah Irak diinvasi oleh AS pada 2003 lalu.

Di bawah kepemimpinannya, ISIS menyatakan diri untuk bergabung dengan Jabhah (Front) al-Nusra, sebuah kelompok yang menyatakan diri sebagai satu-satunya yang berafiliasi kepada al-Qaeda di Suriah. ISIS memiliki hubungan dekat dengan al-Qaeda hingga 2014. Namun, perbedaan misi perjuangan menyebabkan al-Qaeda kemudian tidak lagi mengakui kelompok ini sebagai bagian darinya.

Seperti halnya organisasi al-Qaeda, kelompok ini juga sebagai gambaran dari kelompok militan teroris Khawarij takfiri. Hal itu dibuktikan dengan keyakinan sesat dan tindakan-tindakan mereka yang melanggar syariat Allah ‘azza wa jalla dan melakukan hal-hal yang diharamkan-Nya, seperti:

  • mengafirkan siapa saja yang tidak mau mengakui dan bergabung dengan mereka,
  • menganggap bahwa semua negara kaum muslimin pada hari ini adalah negara kafir,
  • mengklaim bahwa negerinya adalah negeri iman dan hijrah, adapun selainnya adalah negeri kafir dan murtad,
  • menyatakan bahwa Makkah dan Madinah adalah negeri yang boleh diperangi dan bukan negeri Islam,
  • menghalalkan darah kaum muslimin,
  • meyakini bolehnya membunuh seluruh orang kafir kapan pun dan di mana pun,
  • meyakini bolehnya melakukan pemberontakan kepada pemerintah yang dianggapnya tidak menerapkan hukum Islam,
  • mengafirkan seluruh rakyat yang hidup di bawah pemerintahan tersebut,
  • dan keyakinan-keyakinan lainnya yang menyelisihi al-Qur’an dan as-Sunnah.

 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Orang-orang Khawarij menghalalkan darah kaum muslimin, karena dianggap telah murtad, melebihi penghalalannya terhadap darah orang-orang kafir yang mereka tidak disebut murtad.”

Beliau rahimahullah juga berkata, “Orang-orang Khawarij mengkafirkan siapa saja yang menyelisihi kebid’ahannya, menghalalkan darah dan hartanya. Begitulah ahlul bid’ah pada umumnya, mereka melakukan kebid’ahan lalu mengkafirkan siapa yang menyelisihinya.” (Majmu’ul Fatawa)

 

ISIS Bukan Salafi Wahabi

Tidak sedikit media nasional dan internasional, makalah atau statement, yang mengait-ngaitkan kelompok teroris Khawarij dengan asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan dakwah salafiyah, dengan tuduhan akidah takfir yang ada padanya.

Sesungguhnya ini adalah kedustaan dan perkara yang dibuat-buat. Sebab, asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah adalah orang yang paling jauh dari perihal takfir (pengkafiran) terhadap kaum muslimin ahli tauhid. Hal tersebut dapat diketahui oleh siapa saja yang membaca dan menelaah karya-karyanya.

Di antara perkataan beliau rahimahullah, “Adapun yang disebutkan oleh musuh-musuh tentangku, bahwa aku mengkafirkan dengan dasar prasangka dan loyalitas, atau aku mengkafirkan orang yang bodoh yang belum tegak hujah atasnya; ini adalah kedustaan yang besar. Mereka ingin agar manusia lari dari agama Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya.”

Beliau juga berkata, “Adapun soal pengkafiran, aku mengkafirkan orang yang telah mengetahui agama Rasul lalu setelah mengetahuinya, dia mencela, melarang manusia darinya, serta memusuhi orang yang melakukannya. Namun, kebanyakan umat ini mereka tidaklah seperti itu.”

Pada kesempatan lainnya, beliau rahimahullah berkata, “Apabila telah tampak keislaman seseorang, (kaum muslimin) wajib menahan diri sampai jelas darinya ada sesuatu yang menyelisihi (keislamannya) itu.”

Beliau juga menyatakan, “Kami tidak mengkafirkan orang yang menyembah patung yang berada di atas kuburan Abdul Qadir, Ahmad al-Badawi, atau semisal keduanya, karena kebodohannya dan tidak ada yang mengingatkannya; lantas bagaimana mungkin kami mengkafirkan orang yang tidak menyekutukan Allah dan mengkafirkan orang yang tidak hijrah ke tempat kami?!”

Kemudian beliau menegaskan, “Aku tidak mengkafirkan seorang pun dari kaum muslimin hanya karena sebuah dosa. Aku tidak pula mengeluarkannya dari wilayah Islam.”

Inilah sikap asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam masalah pengkafiran. Lantas bagaimana bisa beliau dinisbatkan kepada akidah takfir dan kelompok-kelompok takfir/teroris Khawarij?!

Dalam hal jihad, beliau rahimahullah berkata, “Kami tidak membunuh seorang pun, kecuali dalam situasi menyelamatkan jiwa dan kehormatan dalam bentuk membela diri. Kami juga tidak memandang bolehnya membunuh wanita dan anak-anak kecil.”

Jika kelompok ISIS berdalil dengan sebagian perkataan ulama dakwah salafiyah, ini sama sekali tidaklah mengotori para ulama. Sebab, kekeliruannya akan kembali kepada kebodohan dan pemahaman mereka yang rusak. Persis seperti keadaan pendahulu kaum Khawarij yang berdalil untuk mendukung akidah yang rusak dengan ayat al-Qur’an yang tidak dipahami dengan benar.

Tidak ada hubungan antara ISIS & al-Qaeda dengan dakwah salafiyah. Sebab, pemikiran ISIS & al-Qaeda dibangun di atas ideologi Khawarij dan buku-buku yang berisi takfir.

Asy-Syaikh Shaleh al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Sesungguhnya, mereka adalah para perusak (kaum radikal) yang mengadopsi pemikiran rusaknya dari Khawarij.”

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah pernah ditanya perihal pernyataan sebagian pihak bahwa kelompok teroris Khawarij itu berakidah salafi.

Beliau rahimahullah menjawab, “Ini adalah pernyataan yang batil, telah dibantah oleh sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang Khawarij,

يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ، فَأَيْنَمَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاقْتُلُوهُمْ فَإِنَّ فِي قَتْلِهِمْ أَجْرًا لِمَنْ قَتَلَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

‘Mereka keluar dari Islam seperti keluarnya anak panah dari sasarannya, melesat begitu cepat. Di mana pun kalian berjumpa dengan mereka, perangilah mereka, karena dalam memerangi mereka ada pahala pada hari kiamat, bagi siapa yang melakukannya.’

Dalam lafadz lain, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda,

يَقْتُلُونَ أَهْلَ الْإِسْلَامِ وَيَدَعُونَ أَهْلَ الْأَوْثَانِ

‘(Kaum Khawarij) memerangi umat Islam dan membiarkan para penyembah berhala (kaum musyrikin/kafir)’.” (Bara’atu Da’watil Imam Muhammad bin Abdul Wahhab min Fikril Khawarij)

ditulis oleh al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf

Teroris di Balik Jeruji Takfir

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) disebutkan bahwa teror adalah usaha menciptakan ketakutan, kengerian, dan kekejaman oleh seseorang atau golongan. Pelakunya disebut teroris.

Menengok sejarahnya, teroris senantiasa meresahkan. Keberadaannya di tengah kehidupan mengoyak kedamaian. Aksinya mengguratkan trauma ketakutan, kengerian, dan kekejaman. Betapa tidak? Teroris haus darah. Teroris berdarah dingin. Pengeboman, pembunuhan senyap, dan berbagai aksi sadis lainnya senantiasa mengiringi derap langkahnya di muka bumi. Syahdan, ketenangan berubah menjadi kecemasan. Keamanan berubah menjadi keketakutan. Kehidupan pun hampa dari ketenteraman.

Dalam kacamata Islam, teroris bukan “viral” hari ini semata. Sejak paruh kedua dari pemerintahan al-Khulafa’ ar-Rasyidin, teroris telah mengguncang dunia. Peletak batu pertamanya adalah kaum Khawarij[1], kelompok sesat pertama dalam Islam yang amat radikal.

Prinsip keagamaannya jauh dari petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat yang mulia. Sejarah hitam mereka menunjukkan bahwa,

  • Merekalah yang mengepung rumah Khalifah Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu, hingga berhasil membunuh sang Khalifah. Pimpinan tertinggi mereka ketika itu adalah Abdullah bin Saba’ al-Himyari.
  • Merekalah yang membantai Gubernur Madain di masa pemerintahan Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, Abdullah bin Khabbab bin al-Art dan istrinya yang hamil saat melintasi perkampungan mereka. Bahkan, mereka merobek perut wanita tersebut dan mengeluarkan janin dari perutnya. Pimpinan utama mereka ketika itu adalah Abdullah bin Kawwa’ al-Yasykuri dan Syabats at-Tamimi.
  • Merekalah yang membunuh Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, saat beliau menuju masjid menunaikan shalat subuh. Sang Khalifah pun gugur bersimbah darah dengan seketika. Pelakunya adalah seorang teroris Khawarij yang bernama Abdurrahman bin Muljam al-Muradi.
  • Merekalah yang melakukan percobaan pembunuhan terhadap sahabat Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiallahu ‘anhu, Gubernur Syam (sekarang meliputi; Palestina, Suriah, Lebanon, dan Jordania, ). Operasi tak berhasil, karena beliau berhalangan mengimami shalat subuh di hari itu. Tak pelak, sebagai korbannya adalah imam shalat subuh yang menggantikan beliau ketika itu.
  • Merekalah yang melakukan upaya pembunuhan terhadap sahabat Amr bin al-Ash radhiallahu ‘anhu selaku Gubernur Mesir. Operasi tak berhasil, karena beliau udzur mengimami shalat subuh di hari itu. Tak pelak, sebagai korbannya adalah imam shalat subuh yang mewakili beliau ketika itu. Peristiwanya sama persis dengan yang menimpa sahabat Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiallahu ‘anhu. (Lihat Fathul Bari karya al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani 12/296—298, al-Bidayah wan Nihayah karya al-Hafizh Ibnu Katsir 7/281 dan Lamhatun ‘Anil Firaq adh-Dhallah karya asy-Syaikh Shalih al-Fauzan, 31—33)[2]

 

Akidah Takfir dalam Kehidupan Kaum Teroris

Demikianlah serangkaian aksi teror berskala internasional yang dilakukan oleh jaringan teroris Khawarij internasional kala itu. Tak kepalang tanggung, target operasi mereka adalah dua Khalifah mulia kaum muslimin Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu dan Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, para menantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah memetik janji surga. Berikutnya, dua tokoh sentral kaum muslimin di Negeri Syam dan Mesir yang keduanya tergolong sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia.

Tidaklah serangkaian operasi terkutuk itu dilaksanakan kecuali karena vonis kafir yang mereka sematkan kepada target operasi. Lebih dari itu, mereka meyakininya sebagai jihad di jalan Allah ‘azza wa jalla. “Takfir dan jihad” pun nyaris menjadi ikon kaum teroris untuk pembenaran operasi terornya, sejak zaman dahulu hingga hari ini.

Dalam aturan Islam, jihad yang syar’i tidak boleh dilakukan secara serampangan. Jihad mempunyai tahapan-tahapan. Setiap tahapan harus dipahami dengan baik dan benar. Bahkan, termasuk hal mendasar bahwa jihad harus dilakukan bersama penguasa dan tak bisa dilakukan oleh perseorangan atau kelompok tertentu.[3]

Demikian halnya takfir. Permasalahan besar yang mengharuskan kehati-hatian dan kejelian. Tak boleh gegabah dilakukan. Tak sembarang orang pula berkewenangan menjatuhkan vonisnya. Jauh-jauh hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan umatnya dalam permasalahan takfir ini.

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

        إِذَا قَالَ الرَّجُلُ لِصَاحِبِهِ: يَا كَافِرُ! فَإِنَّهَا تَجِبُ عَلَى أَحَدِهِمَا فَإِنْ كَانَ الَّذِي قِيْلَ لَهُ كَافِرًا فَهُوَ كَافِرٌ وَإِلاَّ رَجَعَ إِلَيْهِ مَا قَالَ

“Jika seorang lelaki berkata kepada kawannya, ‘Hai Kafir!’, sungguh perkataan itu mengenai salah satu dari keduanya. Bila yang divonis kafir itu memang kafir maka jatuhlah vonis kafir itu kepadanya. Namun bila tidak, vonis kafir itu kembali kepada yang mengatakannya.” ( HR. Ahmad dari sahabat Abdullah bin ‘Umar, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh Ahmad Syakir dalam tahqiq Musnad al-Imam Ahmad no. 2035, 5077, 5259, 5824)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullah berkata, “Menjatuhkan vonis kafir dan fasiq bukan urusan kita. Namun, permasalahan ini harus dikembalikan kepada Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya. Sebab, ia termasuk hukum syariah yang rujukannya adalah al-Quran dan as-Sunnah. Maka dari itu, wajib ekstra hati-hati dan teliti dalam masalah ini.

“Tidaklah seseorang dikafirkan dan dihukumi fasiq kecuali bila al-Qur’an dan as-Sunnah telah menunjukkan kekafiran dan kefasikannya. Mengingat hukum asal seseorang yang nampak nyata ciri-ciri keislamannya adalah sebagai muslim sampai benar-benar terbukti adanya sesuatu yang menghapusnya berdasarkan dalil syar’i. Tidak boleh bermudah-mudahan mengafirkan seorang muslim atau menghukuminya sebagai fasiq.” (al-Qawa’idul Mutsla fi Shifatillahi wa Asma-ihil Husna, hlm. 87—88)

Bencana takfir terus bergulir bak bola salju yang menggelinding. Semakin lama semakin besar. Tak luput pula, di era globalisasi modern ini. Melalui berbagai media yang ada baik cetak maupun elektronik, takfir berembus kian kencang. Betapa banyak pemuda dan pemudi yang terpengaruh doktrin takfir teroris melalui dunia maya. Bahkan, siap melakukan ‘amaliah’ (operasi teror) di lingkungan dan negaranya.

Di antara tokoh takfir yang buku-bukunya sarat dengan doktrin takfir teroris adalah Sayyid Quthb, salah seorang tokoh fenomenal kelompok radikal Ikhwanul Muslimin. Di antara buku karangannya ialah Ma’alim fith-Thariq, Fii Zhilalil Qur’an, al-‘Adalah al-Ijtima’iyah, dan al-Islam wa Musykilatul Hadharah.[4]

Hal ini sebagaimana kesaksian para tokoh Ikhwanul Muslimin sendiri.

  • Yusuf al-Qaradhawi berkata, “Pada fase ini telah muncul buku-buku karya tulis Sayyid Quthub sebagai pemikirannya yang terakhir, yaitu pengafiran masyarakat secara luas… Hal itu tampak jelas dalam kitab Tafsir Fii Zhilalil Qur’an cetakan ke-2, Ma’alim fith Thariq yang kebanyakannya diambil dari Fi Zhilalil Qur’an, dan al-Islam Wamusykilatul Hadharah, dan lain-lain.” (Aulawiyat al-Harakah al-Islamiyah, hlm. 110. Dinukil dari Adhwa’ Islamiyah, hlm. 102)
  • Farid Abdul Khaliq berkata, “Telah kami singgung dalam pernyataan sebelumnya bahwa pemikiran takfir (dewasa ini) bermula dari sebagian pemuda Ikhwanul Muslimin yang meringkuk di penjara al-Qanathir pada pengujung tahun 1950-an dan awal tahun 1960-an. Mereka terpengaruh oleh pemikiran Sayyid Quthub dan buku-buku karya tulisnya. Mereka mendapatkan doktrin dari karya-karya tulis tersebut bahwa masyarakat saat ini berada dalam kejahiliahan dan segenap pemerintah yang ada telah kafir karena tidak berhukum dengan hukum Allah ‘azza wa jalla. Demikian pula rakyatnya, karena kerelaan mereka terhadap selain hukum Allah ‘azza wa jalla” (al-Ikhwanul Muslimun fii Mizanil Haq, hlm. 115. Dinukil dari Adhwa’ Islamiyah, hlm. 103)

Dari sini diketahui bahwa peran Sayyid Quthb dalam menggulirkan doktrin takfir sangatlah nyata. Tak berlebihan bila dikatakan bahwa pemikiran takfir pada masa sekarang ini muaranya adalah Sayyid Quthb. Para teroris yang tergabung dalam berbagai kelompok “jihad” dewasa ini pun, mayoritasnya adalah buah buruk dari doktrin takfir Sayyid Quthb melalui buku-bukunya.

Maka dari itu, sudah seharusnya kaum muslimin menjauhkan diri dari buku-buku tersebut dan yang semisalnya, serta berusaha untuk menimba ilmu dari buku-buku para ulama salafiyyin Ahlus Sunnah wal Jamaah yang bersih dari berbagai syubhat dan pemikiran menyimpang.

Demikian pula toko-toko buku hendaknya tidak lagi menjual buku-buku tersebut, sebagaimana yang telah diserukan oleh asy-Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi al-Madkhali di dalam kitabnya al-Irhab wa Atsaruhu ‘alal Afrad wal Umam, hlm. 128—142.

Berbeda halnya dengan asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab an-Najdi rahimahullah. Beliau sangat berhati-hati dalam permasalahan takfir ini. Tak seperti klaim buruk musuh-musuh dakwah salafiyah yang sangat tendensius menyudutkan beliau sebagai muara takfir pada masa sekarang ini. Jauh panggang dari api.

Simaklah perkataan beliau berikut ini,

“Ringkas kata, wajib bagi orang yang memerhatikan keselamatan dirinya agar tidak berbicara dalam permasalahan ini (takfir, pen.) kecuali dengan ilmu dan keterangan dari Allah ‘azza wa jalla. Hendaknya pula dia berhati-hati mengeluarkan seseorang dari Islam dengan sebatas pemahaman dan anggapan baik akalnya. Sebab, mengeluarkan seseorang dari Islam atau memasukkan seseorang ke dalamnya sungguh merupakan hal terbesar agama ini.” (ad-Durar as-Saniyyah 10/374)

 

Geliat Takfir Antarsesama Teroris

Sikap keagamaan kaum teroris tak bisa dipisahkan dari sikap bermudah-mudahan dalam mengafirkan (takfir) orang lain. Bahkan, takfir antarmereka pun kerap terjadi. Fanatisme kelompok, perbedaan visi dan misi pergerakan, menjadi salah satu pemicu utamanya.

Mengapa demikian?

Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah berkata, “Sejauh yang aku pahami, sebabnya kembali kepada dua hal:

  • Dangkalnya ilmu dan kurangnya pemahaman tentang agama.
  • (Ini yang terpenting), memahami agama tidak dengan kaidah syar’i (tidak mengikuti Sabilul Mukminin, jalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya -pen.).

Barang siapa menyimpang dari (jalan) jamaah yang dipuji oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam banyak sabdanya dan telah disebut oleh Allah ‘azza wa jalla (dalam al-Qur’an), ia telah menentang Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya. Yang saya maksud adalah firman- Nya,

وَمَن يُشَاقِقِ ٱلرَّسُولَ مِنۢ بَعۡدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ ٱلۡهُدَىٰ وَيَتَّبِعۡ غَيۡرَ سَبِيلِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ نُوَلِّهِۦ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصۡلِهِۦ جَهَنَّمَۖ وَسَآءَتۡ مَصِيرًا ١١٥

“Dan barang siapa menentang Rasul setelah jelas baginya kebenaran dan mengikuti selain jalannya orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa bergelimang dalam kesesatan dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (an-Nisa: 115)

Kemudian beliau berkata, “Dari sinilah banyak sekali kelompok-kelompok yang tersesat sejak dahulu hingga kini. Sebabnya adalah mereka tidak mengikuti jalan orang-orang mukmin dan semata-mata mengandalkan akal. Mereka justru mengikuti hawa nafsu di dalam menafsirkan al-Qur’an dan as-Sunnah, hingga kemudian membuahkan kesimpulan-kesimpulan yang sangat berbahaya, dan akhirnya menyimpang dari jalan as-Salafush Shalih.” (Fitnatut Takfir, hlm. 13)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menambahkan sebab ketiga, yaitu jeleknya pemahaman yang dibangun di atas jeleknya niat. (Fitnatut Takfir, hlm. 19)

Demikian pula asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan menambahkan sebab yang lain, yaitu adanya kecemburuan  (ghairah) terhadap agama yang berlebihan atau semangat yang tidak pada tempatnya. (Zhahiratut Tabdi’ wat Tafsiq wat Takfir wa Dhawabithuha, hlm. 14)

Sebut saja al-Qaeda dan ISIS. Dua kelompok teroris yang terkenal dewasa ini. Mereka mudah mengafirkan orang lain. Bahkan, keduanya saling bermusuhan dan saling mengafirkan. Tak hanya itu, berbagai pertempuran sengit pun terjadi antarmereka.

Bisa jadi, di antara pembaca ada yang merasa aneh seraya bergumam, “Mengapa hal itu bisa terjadi padahal keduanya sama-sama mengusung nama “jihad”?!”

Untuk bisa memahaminya, simaklah keterangan berikut ini.

Al-Qaeda (AQ) adalah kelompok ekstremis (baca: teroris) berbasis agama dengan jangkauan global (internasional). Kelompok ini didirikan oleh Usamah bin Laden di Afghanistan pada 1988.

Adapun ISIS, berawal dari kelompok “Jamaat al-Tawhid wal-Jihad” yang didirikan oleh Abu Mush’ab al-Zarqawi, seorang radikal asal Jordania, pada 1999 di Irak. Kemudian pada tahun 2004, kelompok ini menginduk kepada al-Qaeda dan berganti nama dengan “Tanzim Qa’idat al-Jihad fi Bilad al-Rafidayn” atau lebih dikenal dengan sebutan al-Qaeda di Irak (AQI).

Pada Januari 2006, AQI bergabung dengan sejumlah kelompok pemberontak Sunni Irak dan membentuk Dewan Syura Mujahidin (DSM). Abu Mush’ab al-Zarqawi ditunjuk sebagai pemimpin mereka. Seiring dengan berlangsungnya pertempuran antara mereka dan pasukan militer Irak yang didukung oleh Amerika ketika itu, al-Zarqawi dilaporkan tewas oleh pasukan khusus Amerika. Peristiwa itu terjadi pada Juni 2006. Kepemimpinan pun berpindah kepada Abu Umar al-Baghdadi.

Pada 13 Oktober 2006, Dewan Syura Mujahidin (DSM) memproklamasikan pembentukan Islamic State of Iraq (ISI) atau Negara Islam Irak. Namun kelompok tersebut tampak melemah dalam pertempuran dengan pasukan Amerika dan militer Irak. Pada 2010, Abu Umar al-Baghdadi dilaporkan tewas. Pada saat itulah, Ibrahim Awwad al-Badri as-Samarrai yang kemudian dikenal dengan sebutan Abu Bakar al-Baghdadi tampil menggantikannya.

Ketika konflik Suriah pecah pada Maret 2011, Islamic State of Iraq (ISI) di bawah pimpinan Abu Bakar al-Baghdadi mengirim pasukannya ke Suriah. Pengiriman pasukan terjadi pada Agustus 2011. Komandan yang ditunjuk adalah Usamah al-Absi al-Wahidi yang lebih dikenal dengan sebutan “Abu Muhammad al-Jaulani”. Dia adalah seorang petinggi pasukan ISI, berkewarganegaraan Suriah yang berdomisili di Irak sejak 2003 hingga 2011. Pasukan ini menamakan diri dengan “Jabhat an-Nusrah li-Ahli asy-Syam (Front al-Nusra).”

Dalam waktu yang tidak lama, Front al-Nusra berhasil menguasai daerah-daerah yang mayoritas dihuni warga Sunni di Provinsi ar-Raqqah, Idlib, Deir ez-Zor, dan Aleppo.

Pada 8 April 2013 setelah memperluas wilayahnya ke Suriah, Abu Bakar al-Baghdadi mengumumkan penyatuan ISI dengan Front al-Nusra dengan nama baru “Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS)”, artinya Negara Islam Irak dan Suriah.

Namun, Abu Muhammad al-Jaulani selaku pemimpin Front al-Nusra yang selama ini memimpin gerakan di Suriah dan Ayman al-Zawahiri selaku pemimpin al-Qaeda menolak penyatuan tersebut.

Alhasil, perseteruan di antara mereka tak dapat dihindari. Semakin lama semakin meruncing. Pada 3 Februari 2014, ISIS mengumumkan berpisah dengan al-Qaeda. Demikian pula al-Qaeda, memutus semua hubungan dengan ISIS. Adapun Front al-Nusra, berjalan seiring dengan al-Qaeda. Sejak saat itu, tak ada lagi ikatan antara Front al-Nusra dengan ISIS.

Di tengah konflik internal yang sedang memanas tersebut, pada 29 Juni 2014 Abu Bakar al-Baghdadi mendeklarasikan kekhilafahan dunia. Dia menobatkan diri sebagai khalifah dan mengharuskan semua kelompok “jihad” (baca: teroris) untuk berbaiat kepadanya. Dia pun mengganti penamaan ISIS dengan Islamic State (IS) atau Negara Islam, sebagai pertanda bahwa kekhilafahannya bersifat global, tak sebatas Irak dan Suriah saja.[5]

Hal ini semakin membuat berang pemimpin al-Qaeda dan Front al-Nusra. Tak pelak, aksi saling hujat pun terjadi di antara mereka.

Ayman al-Zawahiri selaku pemimpin al-Qaeda menyampaikan bahwa ISIS lebih jahat daripada Khawarij. ISIS mengafirkan kelompok-kelompok “jihad” lainnya yang berseberangan dengannya tanpa bukti, termasuk al-Qaeda. Dia pun mengkritisi bahwa di antara orang dekat Abu Bakar al-Baghdadi adalah mantan orang-orang Saddam Husein (yang berakidah Ba’ts), terkhusus dari kalangan intelejennya. (https://youtu.be/BZ19gMp2lqA)

Dalam kesempatan lain Ayman al-Zawahiri mengatakan, “Aku berjumpa dengan asy-Syaikh Abu Muhammad al-Maqdisi (salah seorang tokoh teroris asal Yordania, pen.) di Peshawar. Aku sampaikan kepadanya bahwa ada sebuah kelompok yang mengafirkanku, karena aku tidak mengafirkan para mujahidin Afghanistan! Dia pun tertawa, kemudian bergumam, ‘Anda tidak tahu, sesungguhnya mereka juga mengafirkanku karena aku tidak mengafirkan Anda!’.” (https://youtu.be/YnHVJpbyyfQ)

Atas dasar itu, pada 11 September 2015 bertepatan dengan 14 tahun peringatan serangan 11 September 2001 terhadap WTC, Ayman al-Zawahiri menyatakan perang terhadap ISIS.[6]

Adapun ISIS, melalui juru bicara resminya, Abu Muhammad al-Adnani, menegaskan bahwa al-Qaeda hari ini telah melenceng dari jalan kebenaran. Agamanya bengkok dan manhajnya menyimpang. Al-Qaeda tidak lagi menjadi pangkalan jihad. Pangkalan jihad, bukanlah yang disanjung oleh orang-orang rendahan, didekati oleh para thaghut, dan dininabobokan oleh orang-orang yang menyimpang lagi sesat. Sungguh, al-Qaeda telah menyimpang, berubah, dan bergeser.

Abu Muhammad al-Adnani juga mengklaim bahwa al-Qaeda menghalalkan darah orang-orang ISIS dan membunuhi mereka. Jika dibiarkan, akan terus menghabisi ISIS. Namun, jika dibalas, mereka merengek-rengek di media massa dan menjuluki ISIS dengan Khawarij. (https://youtu.be/3YCh60YWerU)

Secara khusus, Abu Muhammad al-Adnani mengeluarkan hujatan keras terhadap Ayman al-Zawahiri, dalam sebuah audio visual dengan judul “Udzran Ya Amiral Qa’idah.” (https://youtu.be/HUOEWsBEojQ)

Adapun Abu Mush’ab at-Tunisi, salah seorang anggota Dewan Syariah ISIS di Suriah, secara terang-terangan telah mengafirkan Ayman al-Zawahiri. (https://youtu.be/EeCXxZNdXTw)

Hal serupa dilakukan oleh ISIS terhadap Front al-Nusra. Abu Muhammad al-Jaulani selaku pemimpin Front al-Nusra, dalam wawancaranya dengan channel al-Jazirah, menyatakan bahwa ISIS mengafirkan Front al-Nusra, membunuhi banyak anggota dan komandannya. ISIS menyalib, memenggal kepala-kepala anggota al-Nusra, dan melemparkan mayat mereka di jalan-jalan. (https://youtu.be/oossAtDYbrs)

Tak mengherankan apabila kemudian Abu Muhammad al-Jaulani memerintah pasukannya untuk bertempur melawan ISIS.[7]

Berbagai pertempuran sengit antara keduanya pun terjadi. Sebut saja pertempuran di Jadid Aqidat pada 7 Mei 2014[8] dan di Deir ez-Zor pada 2 Juni 2014. Dua pertempuran sengit tersebut menelan banyak korban jiwa dari kedua belah pihak.[9]

 

Keterkaitan ISIS dan al-Qaeda dengan Syiah Rafidhah Iran

Bisa jadi, di antara pembaca ada yang bertanya, “Apakah ISIS dan al-Qaeda yang notabene mudah mengafirkan dan menghalalkan darah seorang muslim memiliki hubungan dengan Syi’ah Rafidhah Iran yang mengafirkan mayoritas sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Ahlus Sunnah?”

Terkait hal ini, asy-Syaikh Prof. Dr. Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah mengatakan, “Tidak menutup kemungkinan bahwa ISIS kepanjangan tangan dari Iran Persia yang senantiasa mengafirkan Ahlus Sunnah, berupaya dengan serius menghabisi Ahlus Sunnah, dan menjadikan yang tersisa dari mereka sebagai Syiah Rafidhah.

“Mereka mengafirkan para sahabat Nabi radhiallahu ‘anhum dan menuduh Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu ‘anha berbuat zina. Mereka menuhankan ahlul bait, padahal ahlul bait berlepas diri dari mereka dan akidah mereka yang kufur.

“Di antara bukti bahwa ISIS adalah kepanjangan tangan Iran, tak sedikit pun mereka menyentuh (baca: memerangi) Iran. Sama dengan induk semangnya (al-Qaeda) yang didirikan tidak lain untuk memerangi Ahlus Sunnah, mengafirkan mereka, dan merusak para pemudanya. Al-Qaeda tak sedikit pun menyentuh (baca: memerangi) Iran. Iran justru menjadi tempat berlindung (suaka) bagi al-Qaeda dan para pemimpinnya.

“Maka dari itu, ISIS, Hizb Syaithan (maksudnya Hizbullah, pen.) di Lebanon, dan Houthi di Yaman adalah mesin penghancur yang digerakkan oleh Iran, baik dengan materi maupun nonmateri. Teramat besar permusuhan mereka terhadap Kerajaan Saudi Arabia. Semoga Allah ‘azza wa jalla menjaga Kerajaan Saudi Arabia dari tipu daya dan kekejian mereka.”

(https://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=152634)

 

Akhir kata, betapa bahaya prinsip keagamaan kaum teroris. Betapa mengerikan operasi-operasi yang mereka lakukan. Pengeboman, pembunuhan senyap, dan aksi teror lainnya. Semua berawal dari sikap bermudahan-mudahan mengafirkan. Karena itu, tak berlebihan, apabila dikatakan bahwa kaum teroris berada di balik jeruji takfir.

Wallahu a’lam.

Ditulis oleh al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi

[1] Dan Syiah (-ed.)

[2] Silakan membaca Asy-Syariah edisi 004, rubrik “Manhaji” dengan judul “Khawarij Kelompok Sesat Pertama dalam Islam”.

[3] Silakan membaca Asy-Syariah edisi 013, rubrik “Manhaji” dengan judul “Jihad Bersama Penguasa”.

[4] Lihat bantahannya dalam kitab Adhwa’ Islamiyyah ‘Ala Aqidati Sayyid Quthub wa Fikrihi, karya asy-Syaikh Prof. Dr. Rabi’ bin Hadi al-Madkhali, hlm. 71—107.

[5] https://id.m.wikipedia.org/wiki/Negara_Islam_Irak_dan_Syam/,

https://m.republika.co.id/berita/internasional/timur-tengah/15/12/31/o06vvx377-ini-awal-mula-pembentukan-isis, dan

https://www.alarabia.net/ar/mob/arab-and-word/syiria/2014/02/06/ .

Diakses pada bulan Desember 2016.

[6] https://m.tempo.co/amphtml/read/news/2015/09/11/115699685/pemimpin-al-qaeda-nyatakan-perang-denganisis-ini-alasannya/

Diakses pada bulan Maret 2017.

[7] https://youtu.be/A05AW59YVrw/ Diakses pada bulan Desember 2016.

[8] https://youtu.be/90777Cee_CY/ Diakses pada bulan Desember 2016.

[9] https://youtu.be/dHjlg9y0oSc/ Diakses pada bulan Desember 2016.