Contoh Rendah Hati di Kalangan Salaf

  • Dari Muhammad bin Ishaq, dia mengatakan,

Seorang Arab badui menemui al-Qasim bin Muhammad dan bertanya, “Engkau lebih berilmu ataukah Salim?”

Al-Qasim bin Muhammad menjawab, “Itu rumah Salim.”

Beliau tidak menambahi jawaban tersebut hingga si Arab badui pergi. Beliau tidak suka mengatakan bahwa Salim lebih berilmu dari beliau sehingga jatuh dalam kedustaan. Beliau tidak suka pula mengatakan bahwa beliau lebih berilmu dari Salim sehingga memberi rekomendasi untuk diri sendiri.

  • Dari Sufyan,

Sekelompok orang berkumpul di kediaman al-Qasim bin Muhammad yang hendak membagi-bagikan sedekah. Beliau saat itu sedang shalat, mereka lalu berbincang-bincang.

Putra beliau berkata, “Kalian berkumpul di hadapan seseorang yang—demi Allah—tidak mengambil sedekah meski satu dirham atau satu daniq (seperenam dirham).”

Al-Qasim kemudian memperingkas shalat dan berkata, “Wahai anakku, katakanlah, ‘Sebatas yang aku ketahui’.”

Putra beliau berkata jujur, tetapi beliau ingin menjaga dan mendidiknya dalam hal berucap.

(Shifatush Shafwah hlm. 322)

 

 

Bersemangat Menuntut Ilmu Saat Ulama Masih Banyak

Dari Ikrimah rahimahullah, dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, beliau berkisah, Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah wafat, aku berkata kepada seorang lelaki kalangan Anshar, “Mari kita bertanya kepada para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka saat ini masih banyak.”

Dia menjawab, “Engkau mengherankan, wahai Ibnu Abbas. Apakah engkau mengira manusia membutuhkanmu sedangkan di antara mereka masih ada para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?”

Aku lalu meninggalkannya. Aku pun mulai bertanya tentang hadits kepada para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ada sebuah hadits yang sampai kepadaku dari seorang sahabat. Aku datangi pintu rumahnya. Ternyata dia sedang tidur siang. Aku menunggu beralaskan tanah hingga dia keluar dan melihatku.

Sahabat tersebut berkata, “Wahai anak paman Rasulullah, apa yang membawa Anda kemari? Mengapa engkau tidak mengirim utusan sehingga aku yang mendatangi Anda?”

Aku berkata, “Tidak. Aku lebih berhak untuk mendatangimu dan bertanya kepadamu tentang hadits.”

Pemuda Anshar itu masih hidup hingga dia melihat manusia berkumpul di sekelilingku dan bertanya kepadaku. Dia berkata, “Pemuda ini (yaitu Ibnu Abbas) lebih berakal daripada diriku.”

(Shifatush Shafwah hlm. 273)

Saat Bergaul dengan Manusia

Maimun bin Mihran rahimahullah mengisahkan…

Seorang lelaki mendatangi Salman al-Farisi radhiallahu ‘anhu dan berkata, “Berilah aku wasiat!”

Salman mengatakan, “Jangan berbicara!”

Lelaki itu menjawab, “Seseorang yang hidup di tengah-tengah manusia tidak mampu untuk tidak berbicara.”

Salman berkata, “Jika engkau berbicara, bicaralah dengan kebenaran, atau (jika tidak,) diamlah.”

Lelaki itu berkata, “Tambahlah wasiat untukku!”

Salman berkata, “Jangan marah!”

Lelaki itu berkata, “Ia berbuat sesuatu yang membuatku tidak bisa menahan diri.”

Salman berkata, “Kalau engkau marah, tahanlah lisan dan tanganmu.”

Lelaki itu berkata, “Tambah lagi untukku!”

Salman berkata, “Jangan engkau bergaul dengan manusia!”

Si lelaki menjawab, “Orang yang hidup bersama manusia tidak bisa tidak bergaul dengan mereka.”

Salman berkata, “Jika engkau bergaul dengan mereka, jujurlah dalam berucap dan tunaikanlah amanat.”

(Shifatu ash-Shafwah hlm. 199)

Iman, Amal, & Hawa Nafsu

Ja’far bin Barqan menyampaikan bahwa Wahb bin Munabbih rahimahullah mengatakan,

“Iman adalah pemimpin dan amal adalah pengemudi. Adapun hawa nafsu diam membatu, tidak mau bergerak di antara keduanya.

Jika pemimpin memberi perintah tetapi pengemudi tidak mau menjalankannya, ini tidak berguna sama sekali.

Jika pengemudi mau menjalankan tetapi pemimpin tidak memberi perintah, ini juga tidak ada gunanya.

Jika pemimpin memberi perintah dan pengemudi menjalankannya, hawa nafsu akan mengikuti, baik sukarela maupun terpaksa. Amal pun menjadi bagus.”

(Shifatu ash-Shafwah hlm. 411)

Menyikapi Celaan & Pujian

  • Munir maula al-Fudhail bin Abi Ayyasy menceritakan, Saya sedang duduk bersama dengan Wahb bin Munabbih rahimahullah (wafat 110 H). Seorang lelaki datang dan berkata, “Aku tadi melewati si Fulan, dia sedang menyebutkan aibmu.”

Wahb pun marah dan berkata, “Apakah setan tidak menemukan utusan selain dirimu?”

Saya tetap bersama dengan Wahb hingga si Fulan yang mencelanya datang dan mengucapkan salam kepada beliau. Wahb menjawab salamnya, lalu mengulurkan tangan untuk menjabat tangan si Fulan dan memberinya tempat duduk di sampingnya.

  • Ibrahim bin Umar menyampaikan bahwa Wahb bin Munabbih rahimahullah mengatakan,

“Jika seseorang memujimu dengan sesuatu yang tidak ada padamu, janganlah engkau merasa aman, karena bisa jadi dia juga akan mencelamu dengan sesuatu yang tidak ada padamu.”

(Shifatu ash-Shofwah hlm. 411)

 

Nasihat Umar Bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu

Wadi’ah al-Anshari mengatakan bahwa dia mendengar Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu menasihati seseorang,

لاَ تَكَلَّمْ فِيمَا لاَ يَعْنِيكَ، وَاعْرِفْ عَدُوَّكَ، وَاحْذَرْ صَدِيقَكَ إِلاَّ الْأَمِينَ، وَلاَ أَمِينَ إِلاَّ مَنْ يَخْشَى اللهَ، وَ تَمْشِي مَعَ الْفَاجِرِ فَيُعَلِّمَكَ مِنْ فُجُورِهِ، وَ تُطَلِّعْهُ عَلَى سِرِّكَ، وَلاَ تُشَاوِرْ فِي أَمْرِكَ إِلاَّ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ

“Janganlah engkau berbicara dalam urusan yang tidak engkau perlukan. Kenali musuhmu.

Waspadalah dari temanmu, kecuali yang tepercaya. Tidak ada orang tepercaya kecuali yang takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Janganlah engkau berjalan bersama orang yang rusak, sehingga dia akan mengajarimu sebagian keburukannya. Jangan pula engkau beri tahukan rahasiamu kepadanya.

Janganlah engkau bermusyawarah tentang urusanmu kecuali dengan orangorang yang takut kepada Allah ‘azza wa jalla.”

(Shifatu ash-Shafwah hlm. 109)

Nasihat Ali Bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu

Asy-Sya’bi rahimahullah mengatakan bahwa Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu berkata,

“Wahai sekalian manusia, ambillah kalimat-kalimat ini dariku. Seandainya kalian menaiki binatang tunggangan hingga mencelakainya, kalian belum tentu mendapati yang semisalnya.

لاَ يَرْجُوَنَّ عَبْدًا إِلاَّ رَبَّهُ، وَلاَ يَخَافَنَّ إِلاَّ ذَنْبَهُ، وَلاَ يَسْتَحِي إِذَا لَمْ يَعْلَمْ أَنْ يَتَعَلَّمَ، وَلاَ يَسْتَحِي إِذَا سُئِلَ عَمَّا لاَ يَعْلَمُ أَنْ يَقُولَ: لاَ أَعْلَمُ؛ وَاعْلَمُوا أَنَّ الصَّبْرَ مِنَ الْإِيْمَانِ بِمَنْزِلَةِ الرَّأْسِ مِنَ الْجَسَدِ، وَلاَ خَيْرَ فِي الْجَسَدِ لاَ رَأْسَ لَهُ

Hendaknya seorang hamba benar-benar :

(1) tidak berharap selain kepada Rabbnya,

(2) tidak khawatir selain terhadap dosanya,

(3) tidak malu untuk belajar ketika tidak tahu,

(4) tidak malu untuk menjawab, Aku tidak tahu,’ ketika ditanya tentang sesuatu yang tidak diketahuinya, dan

Ketahuilah, kedudukan sabar bagi iman layaknya kepala bagi jasad tidak ada kebaikan pada jasad yang tidak berkepala.”

(Shifatu ash-Shafwah hlm. 121)

Adab di Hadapan Guru

An-Nawawi rahimahullah meriwayatkan dari Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu bahwa beliau berkata,

“Di antara hak seorang alim yang harus engkau tunaikan ialah

  1. engkau memberi salam kepada manusia secara umum, lalu memberi salam hormat secara khusus kepadanya,

  2. engkau duduk di depannya,

  3. di majelisnya, engkau tidak boleh menunjuk dengan tangan atau pandanganmu,

  4. engkau tidak boleh berkata, ‘Si Fulan menyelisihi pendapatmu.’

  5. di sisinya, engkau tidak boleh mengghibahi seorang pun,

  6. di majelisnya, engkau tidak boleh bermusyawarah dengan teman dudukmu,

  7. engkau tidak boleh memegangi bajunya ketika dia hendak bangkit,

  8. engkau tidak boleh meminta dengan mendesak ketika dia sedang enggan,

  9. engkau tidak boleh berpaling, dan

  10. engkau tidak boleh merasa bosan karena lama bergaul dengannya.”

(at-Tibyan fi Adab Hamalatil Qur’an hlm. 44)

Waspadai Kemaksiatan!

Sa’id ibnul Musayyab rahimahullah berkata,

“Tidaklah para hamba memuliakan jiwanya dengan sesuatu (yang lebih baik daripada) ketaatan kepada Allah ‘azza wa jalla. Tidak pula para hamba menghinakan jiwanya dengan sesuatu (yang lebih buruk daripada) kemaksiatan kepada-Nya. Cukuplah sebagai pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala kepada seorang mukmin, ketika dia melihat musuhnya melakukan kemaksiatan kepada-Nya.” (Shifatu ash-Shafwah, 2/81)

 

Urwah ibnu az-Zubair rahimahullah berkata,

“Apabila engkau melihat seseorang beramal sebuah kebaikan, ketahuilah bahwa kebaikan itu memiliki saudara-saudara (yakni ada kebaikan-kebaikan lain pada dirinya, -pent.). Apabila engkau melihatnya melakukan suatu keburukan, ketahui pula bahwa keburukan itu memiliki saudara-saudara (yakni ada keburukan-keburukan lain pada dirinya, -pent.). Sebab, sebuah kebaikan akan menunjukkan pada saudaranya (kebaikan yang lain), sedangkan sebuah keburukan akan menunjukkan pada saudaranya (keburukan yang lain).” (Shifatu ash-Shafwah, 2/85)

Sumber Kerusakan dalam Agama

‘Ali bin Qasim Hanasy rahimahullah mengatakan,

“Manusia terbagi menjadi tiga tingkatan:

1) Tingkatan tertinggi, yaitu para ulama kibar.

Mereka mengetahui yang benar dan yang batil. Jika mereka berbeda pendapat, tidak akan muncul fitnah (kerusakan) dari perselisihan tersebut, karena mereka mengetahui ilmu yang dimiliki oleh pihak yang lain.

2) Tingkatan terendah, yaitu orang awam yang berada di atas fitrah.

Mereka tidak lari dari kebenaran. Mereka hanya mengikuti orang yang mereka jadikan anutan. Jika anutan mereka berada di atas kebenaran, mereka pun serupa. Ketika anutan mereka berada di atas kebatilan, demikian pula keadaan mereka.

3) Tingkatan pertengahan.

Inilah sumber keburukan dan asal munculnya fitnah (kerusakan) dalam agama. Ilmu mereka belum mapan sehingga tidak termasuk tingkatan pertama. Akan tetapi, mereka juga tidak meninggalkan ilmu sehingga tidak tergolong tingkatan terendah.

Ketika melihat seseorang yang termasuk tingkatan pertama mengatakan sesuatu yang tidak mereka ketahui dan menyelisihi keyakinan mereka yang keliru, mereka lemparkan panah-panah kecaman terhadapnya dan menyalahkannya dengan segala ucapan yang buruk.

Dengan berbagai pemalsuan yang batil, mereka mengubah fitrah tingkatan yang terendah sehingga tidak mau menerima kebenaran. Saat itulah, muncul fitnah (kerusakan) yang besar dalam agama.”

(al-Badru ath-Thali’ karya asy-Syaukani, 1/473)