Seperti Menggenggam Bara Api

Pernahkan Anda mendengar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini?

يَأْتِي عَلى النَّاسِ زَمَانٌ اَلصَّابِرُ فِيْهِمْ عَلى دِيْنِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ

“Akan datang pada manusia suatu zaman,saat orang yang bersabar di antara mereka di atas agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.”

Hadits di atas tersampaikan kepada kita lewat sahabat yang mulia Anas bin Malik al-Anshari radhiallahu ‘anhu. Hadits ini dikeluarkan oleh al-Imam at-Tirmidzi rahimahullah dalam Sunannya (no. 2260). Namun, dalam sanadnya ada Umar ibnu Syakir (perawi yang meriwayatkan dari Anas bin Malik), seorang rawi yang dhaif/lemah sebagaimana disebutkan dalam at-Taqrib.

Kata al-Imam at-Tirmidzi, “Hadits ini gharib dari sisi ini….”

Namun, alhamdulillah, hadits ini memiliki syawahid yang menguatkannya sehingga kedudukannya menjadi sahih sebagaimana dijelaskan dalam ash-Shahihah (no. 957)[1].

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa di suatu masa, orang yang bersabar menjaga agamanya dengan meninggalkan dunia seperti sabarnya orang yang menggenggam bara api dalam hal kesulitan dan puncak ujian. Demikian diterangkan dalam Tuhfah al-Ahwadzi (2/1822).

Ath-Thibi berkata, “Maknanya adalah sebagaimana tidak sanggupnya orang yang menggenggam bara api untuk bersabar karena bara api tersebut akan membakar tangannya, demikian pula orang yang beragama pada waktu tersebut. Dia tidak mampu kokoh di atas agamanya karena dominannya orang-orang yang bermaksiat dan kemaksiatan, tersebarnya kefasikan, dan kelemahan iman.”

Al-Qari berkata, “Yang tampak, makna hadits ini adalah sebagaimana tidak mungkinnya orang yang menggenggam bara api kecuali harus bersabar dengan sangat dan siap beroleh kesulitan, demikian pula di zaman tersebut. Tidaklah tergambar orang yang menjaga agamanya dan cahaya imannya kecuali dengan kesabaran yang besar.” (Tuhfah al-Ahwadzi, 2/1822)

Mungkinkah zaman yang dimaksud adalah zaman kita sekarang?

Sebab, betapa susahnya berpegang dengan agama yang haq dan menetapi sunnah al-Mushthafa shallallahu ‘alaihi wa sallam di zaman kita ini! Betapa beratnya bersabar dalam keterasingan memegang al-haq di tengah manusia yang menyelisihi!

Apapun dan bagaimana pun keadaan di zaman kita ini, yang jelas hadits di atas terkandung di dalamnya berita dan bimbingan.

 

Berita yang terkandung ialah sebagai berikut.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa di akhir zaman yang namanya kebaikan dan sebab kebaikan itu sedikit. Sebaliknya, kejelekan dan sebabnya banyak. Ketika itu, orang-orang yang berpegang dengan agama Islam yang haq sangat sedikit, dalam keadaan mereka harus menanggung keadaan yang payah dan kesulitan yang besar, seperti orang yang menggenggam bara api, karena kuatnya orang-orang yang berpaling atau menentang mereka, banyaknya fitnah yang menyesatkan, baik fitnah syubhat, keraguan dan penyimpangan, maupun fitnah syahwat. Manusia mencari dunia. Manusia menceburkan diri ke dalamnya, tenggelam jauh ke dasar jurangnya, baik zahir maupun batin, sementara iman demikian lemah.

Orang-orang yang berpegang dengan agama ketika itu demikian terasing, sendiri di tengah kebanyakan manusia, atau sedikit di kumpulan manusia yang banyak, sedikit yang mau menolong dan membantu mereka.

Akan tetapi, orang yang tetap teguh berpegang dengan agama di masa tersebut, yang tetap berdiri kokoh menolak setiap yang menentang dan menghalau segala rintangan, mereka itu tidak lain adalah orang yang memiliki bashirah, ilmu, dan keyakinan, orang yang beriman dengan kokoh, orang yang paling utama, paling tinggi derajatnya di sisi Allah subhanahu wa ta’ala dan paling agung kadarnya. Tidak ada yang bisa kokoh di atas agama dalam keadaan demikian kecuali mereka yang disebutkan ini.

 

Adapun bimbingan yang termuat, berikut ini penjelasannya.

Hadits ini merupakan bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umat beliau agar mempersiapkan diri menghadapi keadaan yang demikian dahsyat. Mereka harus tahu bahwa masa itu pasti akan terjadi. Siapa yang menghadapi segala aral melintang di masa tersebut, tetap sabar di atas agama dan imannya walau demikian dahsyat keadaannya, dia akan beroleh derajat yang tinggi di sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Allah subhanahu wa ta’ala akan menolongnya kepada apa yang dicintai dan diridhai-Nya. Sebab, pertolongan itu sesuai dengan kadar kesabaran menghadapi kesulitan.

Demikian yang diterangkan oleh al-Allamah Abdurrahman Ibnu Nashir Sa’di rahimahullah tentang hadits di atas (Bahjah Qulub al-Abrar hlm. 234).

Beliau berkata tentang keadaan di zaman beliau[2], “Alangkah miripnya keadaan yang disebutkan (dalam hadits) dengan zaman kita ini. Kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak ada yang tersisa dari Islam kecuali namanya, tidak pula al-Qur’an kecuali simbolnya, iman yang lemah, hati yang bercerai-berai, permusuhan dan kebencian di antara kaum muslimin, serta musuh yang lahir dan batin. “

“Para musuh melakukan makar rahasia dan terang-terangan untuk menghancurkan agama Islam. Adanya penyimpangan dan pandangan materialisme, propaganda, dan seruan menuju kerusakan akhlak, kemudian manusia menghadapkan diri kepada perhiasan dunia.“

“Dunia telah menjadi puncak ilmu mereka, cita-cita mereka yang terbesar. Mereka ridha dan marah karena dunia. Seruan untuk zuhud/tidak butuh kepada akhirat, sikap totalitas untuk memakmurkan dunia, menghancurkan agama, menghina dan mengolokolok orang yang berpegang dengan agamanya,… dst.”

Ucapan al-Allamah as-Sa’di rahimahullah di atas menggambarkan kerusakan di zaman beliau. Kalau semua itu sudah terjadi di zaman beliau, lantas bagaimana halnya dengan zaman kita sekarang? Sungguh kita dapati kebenaran hadits di atas! Ya Allah, selamatkan kami!

Akan tetapi, bagaimana pun “kengerian zaman”, seorang mukmin tidak boleh putus asa dari rahmat Allah subhanahu wa ta’ala. Dia tidak patah arang mengharapkan pertolongan-Nya. Pandangan seorang mukmin tidak hanya dibatasinya pada sebab-sebab yang zahir.

Akan tetapi, kalbunya di sepanjang waktu senantiasa bergantung kepada Zat yang menciptakan sebab, Zat Yang Maha Pemurah lagi Pemberi anugerah. Dengan demikian, dia dapati kelapangan dan jalan keluar ada di hadapan kedua matanya. Janji Rabb yang tidak pernah mengingkari janji diingatnya, bahwa Dia subhanahu wa ta’ala akan menjadikan setelah kesulitan ada kemudahan, kelapangan ada bersama kesulitan, serta lepas dari marabahaya ada bersama dahsyatnya marabahaya.

Ketika menghadapi kesulitan dan masa yang genting, tetap kokoh di atas agamanya, seorang mukmin berucap,

لاَ حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلاَّ باِللهِ

“Tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah.”

حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

“Cukuplah bagi kami Allah dan Dialah sebaik-baik Zat yang diserahkan urusan.”

عَلَى اللهِ تَوَكَّلْنَا

“Hanya kepada Allah kami bertawakal.”

اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ، وَإِلَيْكَ الْمُشْتَكَى، وَأَنْتَ الْمُسْتَعَانُ، وَبِكَ الْمُسَتَغَاثُ، وَلَا حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ

“Ya Allah, hanya untuk-Mu lah segala pujian dan hanya kepada-Mu kami mengadu. Engkau-lah Zat yang dimintai pertolongan. Hanya Engkau-lah tempat kami meminta bantuan dari kesulitan. Tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah Yang Mahatinggi lagi Mahaagung.”

Seorang mukmin akan tegar dengan keimanannya. Ia berusaha sekuat kemampuan untuk memberikan nasihat dan mengajak manusia kepada kebaikan. Dia merasa cukup dengan yang sedikit, apabila tidak mungkin mendapatkan yang banyak. Dia merasa bersyukur dengan hilangnya sebagian kejelekan dan berkurangnya sedikit kejelekan, apabila dia tidak mampu melakukan lebih dari itu. Bukankah

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّهُۥ مَخۡرَجٗا ٢

“Siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar.” (ath-Thalaq: 2)

وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسۡبُهُۥٓۚ

“Siapa yang bertawakkal kepada Allah, Allah akan mencukupinya.” (ath-Thalaq: 3)

وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّهُۥ مِنۡ أَمۡرِهِۦ يُسۡرٗا ٤

“Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan menjadikan kemudahan untuknya dalam urusannya.” (ath-Thalaq: 4) (Bahjah Qulub al-Abrar, hlm. 235)

Kesimpulannya, kita harus sadar sepenuhnya bahwa berpegang dengan al-haq itu tidak mudah. Karena tidak mudah, pemegang al-haq yang tetap kokoh itu sedikit dari masa ke masa, apalagi di akhir zaman. Ya Allah, selamatkan kami! Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan kita termasuk golongan itu. Allahumma amin.

Wallahu a’lam bish-shawab.

 

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah


[1] Kata al-Imam al-Albani rahimahullah, “Hadits ini dengan syawahidnya shahih tsabit/pasti/kokoh, karena tidak ada satu pun dari jalur-jalur haditsnya seorang rawi yang muttaham (tertuduh berdusta), lebih-lebih lagi sebagian jalurnya dinyatakan hasan oleh at-Tirmidzi dan selainnya. Wallahu a’lam.” (ash-Shahihah, 2/647)

[2] Al-Allamah Abdurrahman ibnu Nashir Sa’di rahimahullah wafat sebelum fajar hari Kamis, 22 Jumadal Akhirah, 1376 H.

Perhatikan Pergaulan Anak Kita

asy-Syaikh Abdul Qadir bin Muhammad bin Abdur Rahman al-Junaid

Sebagian orang tua—semoga Allah meluruskan mereka—ketika melihat anak mereka bergaul dengan orang yang tampak baik dan istiqamah—apalagi melihat perubahan keadaan anaknya yang semula malas dan meremehkan urusan shalat, puasa, haji, umrah, sedekah, menghafal al-Qur’an, dan mengamalkan kebaikan—mereka pun lalai mengikuti dan memerhatikan anak mereka.

Orang tua tidak lagi menganggap penting untuk tahu:

  • buku apa yang dipelajari oleh anaknya, siapa guru yang mengajarinya buku tersebut,
  • kaset dan CD apa yang didengarnya,
  • apa yang dia dengar dan lihat kutipan suara melalui internet,
  • siapa dai dan penasihat yang dia dengarkan,
  • asupan apa yang didapat dari internet, dan situs mana yang diikuti oleh anak,
  • apa saja kicauan anak di Twitter, siapa saja yang menjadi followernya, dan siapa saja yang membalas kicauannya.

Anda dapat pula mengatakan seluruh hal di atas atau sebagiannya untuk anak perempuan.

Tidak diragukan lagi bahwa ini tindakan yang salah, menganggap enteng masalah, pembiaran, penyia-nyiaan, tidak menjaga dan merawat, serta lari dari tanggung jawab.

Hal ini akan menjadi jelas dengan mengetahui beberapa hal berikut, merenunginya secara mendalam, dengan melibatkan akal sehat dan rasa kasih sayang.

Ayah dan ibu—semoga Allah memberi keduanya keselamatan—adalah orang yang pertama kali terkena kewajiban dan keharusan mendidik anak lelaki dan perempuan, baik menurut syariat, akal, maupun kebiasaan masyarakat.

Tanggung jawab perhatian dan pendidikan orang tua ini tidak gugur, hilang, atau berkurang dengan adanya teman si anak atau murabbi (pendidik) yang istiqamah dan saleh.

Ketika mewajibkan seseorang menjaga keluarganya dari api neraka, Allah menujukan kewajiban tersebut kepada seorang mukmin terhadap dirinya sendiri dan keluarganya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارٗا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ عَلَيۡهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٞ شِدَادٞ لَّا يَعۡصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمۡ وَيَفۡعَلُونَ مَا يُؤۡمَرُونَ ٦

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (at-Tahrim: 6)

Di samping itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga membebankan tanggung jawab terbesar dalam hal mendidik anak dan mewajibkannya kepada ayah dan ibu. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّكُمْ رَاعٍ فَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ، وَالعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ، أَلاَ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan ditanya tentang yang dipimpinnya. Pemerintah yang menguasai manusia adalah pemimpin dan akan ditanya tentang mereka. Seorang lelaki adalah pemimpin terhadap keluarganya dan akan ditanya tentang mereka. Seorang wanita adalah pemimpin terhadap rumah suaminya dan anak-anaknya, dan akan ditanya tentang mereka. Seorang budak adalah pemimpin terhadap harta tuannya dan akan ditanya tentangnya. Ingatlah, setiap kalian adalah pemimpin, dan masing-masing akan ditanya tentang yang dipimpinnya.” (HR. al-Bukhari no. 2554 dan Muslim no. 1829)

Orang yang dengan baik menjaga anak lelaki dan anak perempuannya, ketika mendapatkan pihak lain yang membantunya untuk memperbaiki anaknya, dia tetap bersungguh-sungguh, dan tidak lantas menyepelekan urusan anaknya. Dia justru akan tetap bersemangat, tidak bermalas-malasan. Dia akan mendukung dan saling membantu dengan pihak lain tersebut, tidak lantas diam. Dia akan terus mengikuti perkembangan anaknya, tidak lantas lalai.

Ketika anaknya berubah ke arah yang lebih utama dan lebih bagus, sesuai dengan naluri dan kasih sayang seorang ayah, dia ingin agar anaknya meraih kedudukan yang tertinggi, keadaan yang terbaik, dan orientasi yang paling selamat.

Dia tidak ingin dirinya bertindak berlebih-lebihan yang justru akan mengantarkan dirinya bertindak melampaui batas dan zalim terhadap keluarganya, sehingga dia mencelakakan mereka dan dirinya sendiri. Atau sebaliknya; bersikap meremehkan yang akan melemahkan dirinya (dalam hal mendidik anak) seiring dengan berlalunya waktu, sehingga anaknya kembali ke keadaan semula atau lebih jelek dari itu.

Beberapa orang yang penampilan lahiriahnya seperti orang yang baik dan istiqamah ternyata bukanlah orang saleh dan istiqamah pada urusan tertentu.

Bisa jadi, dia terlumuri kesyirikan tertentu, kebid’ahan, atau kesesatan dalam keadaan manusia tidak mengetahui dan menyadarinya. Bisa jadi pula, dia terpengaruh pemikiran yang bertentangan dengan Islam, seperti pengkafiran tanpa hak.

Hal-hal tersebut akan dia tularkan kepada anak Anda, dan disusupkan ke dalam rumah Anda. Kemudian saudara lelaki atau saudara perempuannya akan terpengaruh dengan pemikiran yang sama. Bisa jadi pula orang tersebut ternyata bersimpati terhadap kelompok yang menyimpang, yang lantas mengajak anak Anda bergabung dengannya dalam organisasi tersebut, atau bahkan dia sudah menjadi anggota, bahkan tokoh dan dai kelompok menyimpang tersebut.

  • Bukankah kita telah melihat ada anak-anak yang terpengaruh pemikiran takfir, pengikutnya, dan dainya?

Selanjutnya, mereka berbuat jahat terhadap diri mereka sendiri dan kaum muslimin (dengan aksi bom bunuh diri -red.), di masjid-masjid muslimin, tempat perdagangan muslimin,bangunan, kantor, dan tempat kerja kaum muslimin.

Mereka melakukan kejahatan terhadap para pegawai negara, pekerja, orang yang sedang melintas, para wanita, dan anak-anak. Mereka melakukan kejahatan pula terhadap orang kafir musta’man[1] dan mu’ahad[2], di negeri yang orang kafir itu masuk dengan perjanjian dan jaminan (pemerintah kaum muslimin).

Mereka menyangka bahwa apa yang mereka lakukan adalah jihad. Mereka saling memberi kabar gembira sesama mereka dengan surga, bersenang-senang dengan berbagai kenikmatannya dan bidadarinya.

Sungguh, demi Allah, kita telah melihat, mengetahui, dan mendengar hal seperti itu. Sejarah dan realita kita penuh oleh bukti-bukti hal tersebut.

  • Bukankah kita juga melihat beberapa orang yang penampilan lahiriahnya seperti orang saleh dan istiqamah ternyata biasa melakukan kesyirikan?

Kita melihat dan mendengar dia berdoa dan beristighatsah kepada para wali dan orang saleh. Dia meminta pertolongan dan dilepaskan dari kesulitan kepada mereka. Dia katakan, “Beri kami jalan keluar, wahai Rasulullah,”

“Lepaskanlah kami dari kesusahan, wahai (Abdul Qadir) al-Jailani,”

“Tolonglah kami, wahai Badawi.”

Sungguh, demi Allah, kita melihat, mengetahui dan mendengarnya. Sejarah dan realita kita penuh oleh bukti-bukti akan hal tersebut.

  • Bukankah kita melihat orang yang lahiriahnya saleh dan istiqamah ternyata tidak beriman terhadap ajaran yang ada dalam al-Qur’an dan Sunnah yang sahih, yang salafush shalih dari kalangan generasi terdahulu telah bersepakat atasnya, bahwa Allah k ber-istiwa’ di atas Arsy-Nya di atas langit; lantas ia berkata bahwa Allah subhanahu wa ta’ala ada di mana-mana atau ada di hati para hamba yang beriman?

Sungguh, demi Allah, kita melihat, mengetahui dan mendengarnya. Sejarah dan realita kita penuh oleh bukti-bukti akan hal tersebut.

  • Bukankah kita melihat orang yang lahiriahnya seperti orang saleh dan istiqamah, ternyata biasa melakukan bid’ah dan kesesatan, saat hari raya, kelahiran, pemakaman, di kuburan, dalam wirid, shalat, haji, dan selainnya?

Sungguh, demi Allah, kita melihat, mengetahui dan mendengarnya. Sejarah dan realita kita penuh oleh bukti-bukti akan hal tersebut.

  • Bukankah kita melihat ada orang yang sifat dan penampilannya seperti orang saleh dan istiqamah, ternyata bersimpati kepada partai, kelompok sempalan, organisasi, dan lembaga yang menisbatkan dirinya kepada agama dan Islam?

Padahal telah diketahui para pemimpin, pembesar, dai, dan tokohtokohnya, dikenal pula buku, pemikiran, jalan, metode, dan pengajaran mereka yang menyelisihi al-Qur’an dan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, akidah, amalan, jalan, dan metode salafush shalih.

Sungguh, demi Allah, kita melihat, mengetahui dan mendengarnya. Sejarah dan realita kita penuh oleh bukti-bukti akan hal tersebut.

Apabila anak-anak lelaki dan perempuan ditimpa kejelekan yang bersumber dari berbagai jenis orang, organisasi, lembaga, pusat dakwah,  kelompok sempalan, partai, dan mazhab tersebut, lantas mereka:

  • melakukan hal yang dilarang,
  • menggabungkan diri kepada sesuatu yang tidak halal,
  • meyakini akidah yang menyelisihi kebenaran,
  • bersikap ghuluw dan keras,
  • memisahkan diri dari tauhid menuju kesyirikan,
  • memisahkan diri dari sunnah menuju bid’ah,
  • memisahkan diri dari persatuan menuju perpecahan dan kesendirian, dari keluarga menuju orang-orang yang serupa dan kolega;

yang pertama kali dan palingberhak dicela dan dikoreksi, dituduh bersikap meremehkan, menganggap enteng urusan, menggampangkan masalah, ditimpa rasa sempit dada, risau, duka, dan sedih, menderita, sakit, serta menyesal, ialah kedua orang tua. Sebab, keduanyalah yang diperintah untuk menjaga dan merawat mereka, bukan orang lain.

Semoga Allah merahmati seorang imam yang mengadakan perbaikan dan tulus memberi nasihat, yakni Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah saat berkata dalam kitabnya, Tuhfatul Maudud bi Ahkamil Maulud (hlm. 337, dan 351—352) ,

“Barang siapa tidak mengajari anaknya, dia tidak akan mendapat manfaat dari anak tersebut. Siapa yang membiarkan anaknya (tidak diajari dan dididik), sungguh telah berbuat hal yang terburuk terhadap anaknya. Kerusakan mayoritas anak disebabkan oleh orang tua dan kelalaian mereka terhadap anak. Mereka tidak mengajari urusan agama yang wajib dan yang sunnah.”

“Mereka menyia-nyiakan anak semasa kecilnya. Anak pun tidak bermanfaat bagi diri sendiri dan tidak bermanfaat bagi orang tuanya ketika lanjut usia. Ketika sebagian mereka mencela anaknya karena durhaka, anaknya akan menjawab, ‘Wahai ayahku, engkau telah mendurhakaiku semasa aku kecil. Sekarang aku mendurhakaimu ketika engkau lanjut usia. Engkau menyia-nyiakanku sewaktu anak-anak, sekarang aku menyianyiakanmu saat engkau tua renta’.”

“Betapa banyak orang yang mencelakakan anaknya, belahan jiwanya, di dunia dan di akhirat, karena tidak memberi anak pendidikan adab. Ia justru membantu anak mewujudkan segala keinginan syahwatnya. “

“Dia menyangka bahwa dengan demikian berarti dia telah memuliakan si anak, padahal justru menghinakannya. Dia sangka bahwa dia telah memberi kasih sayang kepada anak, padahal justru menzaliminya. Akibatnya, dia pun tidak bisa mengambil manfaat dari keberadaan anak. Dia pun menyebabkan sang anak tidak mendapat bagian di dunia dan di akhirat.”

“Apabila engkau memerhatikan kerusakan yang terjadi pada anak-anak, engkau akan melihat bahwa mayoritas penyebabnya berasal dari orang tua.”

“Tidak ada sesuatu yang lebih merusak diri anak daripada kelalaian orang tua, pembiaran mereka, dan anggapan enteng mereka terhadap jahatnya api di antara pakaian.”

 

(diterjemahkan dari http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=146943 dengan beberapa penyesuaian)


[1] Orang kafir yang meminta perlindungan kepada kaum muslimin.

[2] Orang kafir yang memiliki perjanjian keamanan dengan pihak muslimin.

Melanggar Kodrat

Banci, wadam, dan waria adalah sebutan yang membuat kita bergidik. Bukan karena mereka menyeramkan, melainkan karena mereka yang menyengaja berbuat demikian jelas abnormal, berperilaku menyimpang. Memalukan rasanya bila ada kerabat kita yang mengalami problem demikian. Ejekan, cibiran, jangan ditanya lagi. Bahkan, tak jarang menjadi tontonan yang menggelikan.

Allah subhanahu wa ta’ala, Sang pencipta, menciptakan jenis lelaki di atas tabiatnya. Dia pun menciptakan jenis wanita di atas tabiatnya. Dia memiliki hikmah yang agung dalam membedakan antara lelaki dan wanita, agar masing-masingnya menunaikan tugas yang sesuai dengan tabiatnya dalam kehidupan ini.

Bila ada lelaki yang mengubah diri menjadi wanita atau berperilaku khas wanita, dan sebaliknya wanita mengubah diri menjadi lelaki, atau berperilaku khas lelaki, tentu melanggar tabiat yang telah ditetapkan-Nya.

Nah, perilaku jenis manusia yang disebut di atas (baca, menjadi banci dengan sengaja) bukan hanya penyimpangan dalam kehidupan sosial masyarakat, tak sekadar memalukan, tetapi lebih penting dari itu melanggar syariat.

Ada hadits yang disampaikan sahabat yang mulia, Abdullah ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma tentang mereka yang berperilaku menyimpang tersebut,

لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ الْمُتَشَبِّهِبْنَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat lelaki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai lelaki.” (HR.al- Bukhari no. 5885)

Abdullah ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma juga menyampaikan hadits berikut ini,

لَعَنَ النَّبّيُ الْمُخَنِّثِيْنَ مِنَ الرِّجَالِ وَالْمُتَرَجِّلاَتِ مِنَ النِّسَاءِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat lelaki yang keperempuan-perempuanan dan wanita yang kelelaki-lelakian.” (HR. al-Bukhari no. 5886)

Abdullah ibnu Amr ibnul Ash radhiallahu ‘anhuma pernah melihat Ummu Said bintu Abi Jahl menyandang busur panah dan berjalan seperti jalannya lelaki. Ibnu Amr menegur dengan ucapannya, “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِالرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ وَلاَ مَنْ تَشَبَّهَ بِالنِّسَاءِ مِنَ الرِّجَالِ.

‘Bukan termasuk golongan kami wanita yang menyerupai lelaki dan lelaki yang menyerupai wanita’.” (HR. Ahmad 2/201, dinyatakan hasan sanadnya oleh asy-Syaikh Ahmad Syakir)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat lelaki yang menyerupai wanita dan melaknat wanita yang menyerupai lelaki. Sebab, Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan setiap jenis makhluk hidup dan menjadikan kebaikan serta kesempurnaannya pada urusan yang berserikat di antara satu jenis dan jenis yang lain, dan pada urusan yang menjadi kekhususan masing-masing. Urusan yang mereka berserikat (boleh dilakukan oleh semuanya, yang berjenis lelaki ataupun wanita –pen.) tidak menjadi kekhususan bagi satu jenis saja. Karena itulah, hal seperti ini tidak dilarang. Yang dilarang hanyalah yang bersangkutan dengan hal yang khusus. Apabila sesuatu telah menjadi kekhususan bagi kaum wanita, tidaklah boleh kaum lelaki melakukannya sehingga menyerupai wanita. Sebaliknya, yang menjadi kekhususan kaum lelaki, tidaklah boleh kaum wanita menyerupainya.” (Majmu’ Fatawa, 32/259—260)

Selain itu, menyerupai lawan jenis menunjukkan ketidakridhaan terhadap ketetapan Allah subhanahu wa ta’ala dalam penciptaan-Nya. Seakan-akan si pelaku berjenis lelaki protes, tidak terima dengan kelelakiannya sehingga mengubah diri menjadi wanita, atau tetap tampil sebagai lelaki namun berperilaku seperti wanita. Sebaliknya, ada wanita yang berperilaku seperti lelaki, tomboi, atau mengubah diri menjadi lelaki, seakanakan dia protes dan menganggap pilihannya lebih baik dari ketetapan Allah subhanahu wa ta’ala dalam penciptaan-Nya.

Berperilaku menyimpang seperti ini, lelaki menyerupai wanita atau wanita memiripkan dirinya dengan lelaki, juga menunjukkan adanya kelainan pada diri si pelaku, Dia mengubah dirinya kepada sesuatu yang bukan asal penciptaannya. Semua ini merupakan kezaliman yang melampaui batas. Karena itu, pantaslah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat mereka.

Al-Imam asy-Syaukani rahimahullah berkata, “Hadits ini menunjukkan haramnya lelaki menyerupai wanita dan sebaliknya wanita menyerupai lelaki, baik dalam hal ucapan (cara atau gaya berbicara), pakaian, cara berjalan, maupun selainnya.” (Nailul Authar, 4/529)

Laknat sendiri maknanya adalah terusir dan dijauhkan dari rahmat ataupun kebaikan. Kalimat laknat jelas mengandung celaan. Di samping itu, laknat menunjukkan keharaman yang ditekankan. Sebab, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah melaknat kecuali terhadap pelaku dosa yang besar.

Dengan demikian, laknat yang disebutkan dalam hadits di atas menunjukkan perbuatan menyerupai lawan jenis dalam hal yang menjadi kekhususan jenis masing-masing, bukan dalam urusan yang berserikat, termasuk keharaman yang besar atau dosa besar.

Sebab dilaknatnya pelaku perbuatan demikian adalah karena dia telah mengeluarkan atau menyimpangkan sesuatu dari sifat yang diletakkan oleh Ahkamul Hakimin (Allah subhanahu wa ta’ala Dzat Yang Mahahakim/Memiliki hikmah). (Fathul Bari, 10/410)

Penyerupaan yang dilarang seperti yang telah disinggung adalah dalam hal pakaian khas, sebagian sifat, gerakan, dan semisalnya. Adapun lelaki menyerupai wanita dan sebaliknya dalam hal kebaikan, tentunya tidak masuk dalam pelarangan. (Fathul Bari, 10/409)

Karena menyerupai lawan jenis itu diharamkan, ada beberapa hal yang tidaklah dilarang kecuali karena alasan menyerupai lawan jenis. Contohnya berikut ini.

  • Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada para sahabat beliau tentang tashfiq[1] (tepuk tangan) di dalam shalat,

التَّسْبِيْحُ لِلرِّجَالِ وَالتَّصْفِيْقُ للنِّسَاءِ

“Tasbih (mengucapkan ‘subhanallah’) untuk lelaki dan tashfiq untuk wanita.” (HR. al-Bukhari no. 1203 dan Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membedakan bagi lelaki dan wanita dalam hal cara menegur atau mengingatkan imam dalam shalat. Lelaki mengucapkan tasbih, sedangkan wanita melakukan tashfiq. Lelaki tidak boleh melakukan tashfiq karena hal itu menyerupai wanita.

  • Abdullah ibnu ‘Amr ibnul Ash radhiallahu ‘anhuma berkata,

رَأَى النَّبِيُّ عَلَيَّ ثَوْبَيْنِ مُعَصْفَرَيْنِ. فَقَال  :أَأُمُّكَ أَمَرَتْكَ بِهَذَا؟ قُلْتُ: أَغْسِلُهُمَا. قَالَ: بَلْ أَحْرِقْهُمَا.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatku mengenakan dua pakaian mu’ashfar[2]. Beliau pun bersabda, “Apakah ibumu yang menyuruhmu untuk memakainya?”

Aku menjawab, “Apakah saya cuci saja dua pakaian ini[3]?”

Beliau bersabda, “Bahkan, bakarlah dua pakaian tersebut!” (HR. Muslim no. 5401)

An-Nawawi rahimahullah berkata, “Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Apakah ibumu yang menyuruhmu untuk memakainya?’, maknanya adalah pakaian yang kamu kenakan ini termasuk pakaian kaum wanita, pakaian khas mereka dan akhlak mereka.” (al-Minhaj, 13/280)

  • Abu Musa al-Asy’ari radhiallahu ‘anhu menyampaikan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

حُرِّمَ لِبَاسُ الْحَرِيْرِ وَالذَّهَبِ عَلَى ذُكُوْرِ أُمَّتِي وَأُحِلَّ لِإِنَاثِهِمْ.

“Diharamkan memakai sutra dan emas bagi kalangan lelaki dari umatku dan dihalalkan bagi kaum wanitanya.(HR. at-Tirmidzi no. 1720, an-Nasa’i no. 5148, dinyatakan sahih dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi)

Di antara hikmah pelarangan lelaki memakai sutra adalah karena sutra menjadi pakaian perhiasan khas wanita, sesuai dengan kehalusan dan kelembutan wanita. Karena itu, sutra tidak cocok dipakai oleh lelaki karena menyelisihi kejantanan dan keperwiraannya.

Apabila lelaki dibolehkan memakai sutra, niscaya akan timbul mafsadat berupa menyerupai wanita. Bisa jadi, akhirnya akan berefek si lelaki menjadi ‘keperempuan-perempuanan’, gemulai seperti gaya wanita. Padahal lelaki dituntut menjadi seorang yang kuat, gagah, dan tidak lembek, karena harus menghadapi kerasnya hidup dan beratnya pekerjaan di luar sana.

  • Ya’la bin Murrah radhiallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seorang lelaki memakai khaluq, maka beliau bersabda,

اذْهَبْ فَاغْسِلْهُ، ثُمَّ اغْسِلْهُ، ثُمَّ لاَ تَعُدْ.

“Pergilah untuk mencuci bekas khaluq ini, lalu cuci lagi, kemudian jangan kamu ulangi.” (HR. an-Nasa’i, dan at-Tirmidzi, dinyatakan dha’if oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Dha’if Sunan at-Tirmidzi)

Wewangian khaluq dilarang bagi lelaki karena merupakan wewangian khas wanita.

  • Pensyariatan membiarkan jenggot bagi lelaki juga termasuk dalam bab ini, ‘agar tidak seperti wanita’ dan masih banyak lagi.

Para ulama pun berfatwa melarang beberapa hal dengan alasan ‘tasyabbuh’ (menyerupai lawan jenis). Seperti kata al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah, “Tidaklah aku membenci lelaki memakai mutiara kecuali karena mutiara adalah perhiasan khas wanita.” (Fathul Bari, 10/410)

Tasyabbuh yang Dicela

Telah disebutkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang laknat bagi lelaki yang menyerupai wanita dan sebaliknya. Laknat yang ditujukan pada suatu perbuatan menunjukkan bahwa perbuatan tersebut tercela.

        Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah menyebutkan bahwa laknat tersebut khusus bagi orang yang bersengaja melakukannya. Artinya, si lelaki memang sengaja menyerupai wanita dan si wanita sengaja menyerupai lelaki.

Adapun seseorang yang asal tabiatnya memang demikian, dia terlahir sebagai lelaki tetapi memiliki kelainan berupa tampaknya sifat kewanita-wanitaan, atau sebaliknya terlahir sebagai wanita tetapi punya sifat kelelaki-lelakian, dia diperintah untuk mengubah kelainan sifat tersebut, memaksa dirinya dan melatihnya secara bertahap.

Apabila dia tidak melakukannya dan terus ‘memelihara’ kelainan tersebut, orang ini pun masuk dalam celaan. Terlebih lagi apabila tampak darinya tanda yang menunjukkan dia senang dengan kelainan yang ada padanya. (Fathul Bari, 10/409)

Nah, apabila seseorang yang asalnya memang mengidap kelainan saja diperintah untuk berusaha mengobati kelainannya walau secara berlahan dan bertahap, lantas bagaimana halnya dengan seseorang yang lahir normal sebagai lelaki dengan sifat-sifat lelaki atau lahir sebagai wanita dengan sifat-sifat wanita, namun karena pengaruh lingkungan atau salah asuh, dia berubah; ‘lelaki tetapi seperti wanita’, ‘wanita tetapi seperti lelaki’? Bagaimana pula dengan seseorang yang mengubah penampilannya karena tuntutan profesi atau pekerjaan?

Apabila karena salah asuh, dia harus memiliki kesadaran diri untuk berubah sebagaimana asal penciptaannya.

Apabila dia terlahir sebagai lelaki, dia harus sadar untuk menjadi lelaki yang sebenarnya dan ridha dengan penciptaan Allah subhanahu wa ta’ala. Apabila dia terlahir sebagai wanita, dia harus sadar untuk menjadi wanita dan ridha pula. Tentu Allah subhanahu wa ta’ala melihat usahanya dan tidak membebaninya selain yang dia mampu setelah mencurahkan segala upaya.

Bagaimana halnya dengan orang yang mengubah dirinya karena tuntunan profesi atau pekerjaan? Dia lelaki tulen, tetapi karena harus berlakon sebagai wanita, dia mengubah penampilan sebagai wanita, atau tetap berpenampilan lelaki namun bergaya banci. Tentu yang seperti ini tidak pantas, dan sangat tepat dia diancam dengan hadits-hadits di atas.

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

 

(Insya Allah bersambung)

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah


[1] Bedakan dengan tepuk tangan yang dilakukan oleh orang-orang jahil yang meniru orang-orang kafir.

[2] Pakaian yang dicelup dengan ushfur, sejenis tumbuhan yang tumbuh di Jazirah Arab, sehingga warnanya berubah menjadi kuning atau merah yang khas.

[3] Sehingga warna celupannya luntur.

Untuk Pendamba Bahagia

Siapa gerangan yang tak ingin berbahagia dalam hidup ini? Tentu kita sepakat menjawab, “Tidak ada seorang pun.” Ya, semua pasti mendamba yang namanya bahagia.

Insan yang menjalin rumah tangga pun ingin meraih bahagia. Pengantin barukah atau pengantin lama, tidak ada beda dalam keinginan yang satu ini. Namun kenyataan yang ada walau semua ingin beroleh bahagia, ada yang berhasil meraihnya dan banyak pula yang gagal. Dalam kehidupan rumah tangga pula, tidak semua sukses meraih bahagianya. Awalnya saja bahagia, setelah waktu berlalu, entah ke mana raibnya bahagia itu….?

Ambisi meraih bahagia dalam hidup ini tidaklah tercela dan tidak pula seseorang disalahkan ketika menempuh sebab-sebab bahagia, karena hal tersebut merupakan sesuatu yang bermanfaat. Sahabat yang mulia, Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, menyampaikan hadits yang agung dari sang junjungan shallallahu ‘alaihi wa sallam,

اَلْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ. اِحْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ باِللهِ وَلاَ تَعْجَزْ. وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلاَ تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا، وَ لكِنْ قُلْ: قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ.

Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah subhanahu wa ta’ala daripada mukmin yang lemah. Pada semuanya ada kebaikan. Berambisilah untuk beroleh apa yang bermanfaat bagimu dan mohonlah pertolongan kepada Allah subhanahu wa ta’ala serta jangan kamu merasa lemah.

Jika menimpamu sesuatu, janganlah kamu berkata, “Seandainya aku melakukan ini dan itu niscaya akan begini dan begitu.” Akan tetapi katakanlah, “Qadarullah wa masya’a fa’ala (Ini adalah ketetapan takdir Allah subhanahu wa ta’ala dan apa yang Dia kehendaki, Dia lakukan),” karena kalimat ‘lau’ (seandainya) itu membuka perbuatan setan. (HR. Muslim)

Yang tercela hanyalah bila seseorang berambisi terhadap sesuatu yang bermudarat dengan kebodohannya dan buruk sangkanya, sementara dia yakin upayanya itu merupakan kebahagiaan. Padahal sejatinya merupakan kesengsaraan walaupun ada nikmat sesaat yang dirasa. Seperti seseorang yang mencari kebahagiaan dengan menghisap obat-obat terlarang. Disangkanya apa yang dihisapnya adalah obat bahagia padahal racun yang membunuh bahagianya.

Banyak manusia yang keadaannya seperti itu. Mereka mencari kebahagiaan namun tidak mengetahui jalan yang harus ditempuh dan tidak mengerti pintu mana yang harus diketuk. Jadilah mereka berdiri dalam keadaan bimbang, ke sana kemari, atau berjalan serampangan menuju kebahagiaan semu, hingga datanglah suatu hari yang mereka meratap di dalamnya:

قَالُواْ رَبَّنَا غَلَبَتۡ عَلَيۡنَا شِقۡوَتُنَا وَكُنَّا قَوۡمٗا ضَآلِّينَ ١٠٦

Mereka berkata, “Wahai Rabb kami, kami telah dikuasai oleh kesengsaraan kami dan adalah kami orang-orang yang sesat.” (al-Mukminun: 106)

Ada manusia yang menganggap kebahagiaan itu terletak pada materi. Mereka pun berlomba-lomba mengumpulkannya karena disangka sumber bahagia. Ada yang mencari bahagia dalam jabatan, kedudukan, dan kekuasaan hingga mereka rakus untuk menggapainya. Segala cara ditempuh tanpa peduli halal atau haram. Ada yang memandang kebahagiaan itu dengan memuaskan syahwat perut dan kemaluan. Apa saja yang dituntut oleh perut dan kemaluan diturutinya karena disangkanya kebahagiaan ada di situ. Semua yang telah disebutkan tidak lain hanyalah kesenangan dalam kehidupan dunia. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ ٱلشَّهَوَٰتِ مِنَ ٱلنِّسَآءِ وَٱلۡبَنِينَ وَٱلۡقَنَٰطِيرِ ٱلۡمُقَنطَرَةِ مِنَ ٱلذَّهَبِ وَٱلۡفِضَّةِ وَٱلۡخَيۡلِ ٱلۡمُسَوَّمَةِ وَٱلۡأَنۡعَٰمِ وَٱلۡحَرۡثِۗ ذَٰلِكَ مَتَٰعُ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۖ وَٱللَّهُ عِندَهُۥ حُسۡنُ ٱلۡمَ‍َٔابِ ١٤

“Dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan kepada syahwat yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, hewan-hewan ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.” (Ali Imran: 14)

Lalu apa sebenarnya bahagia itu? Benarkah kebahagiaan hanya dimiliki orang berduit, berkedudukan, dan terkenal serta bisa mendapatkan apa saja yang dimaui? Bagaimana dengan orang-orang miskin, tidak punya apaapa, tidak kedudukan, tidak pula jabatan, apakah mereka tidak bisa berbahagia?

Anda, wahai pendamba bahagia dalam rumah tangga, kebahagiaan apakah yang Anda cari dalam kehidupan rumah tangga?

Seperti yang telah disinggung di atas, Anda jangan mematok kebahagiaan itu hanya dalam pandangan materi. Namun, lihatlah bahagia itu dengan makna yang lain yang lebih mendalam dan jauh ke depan, kebahagiaan yang sebenarnya! Jadi, walaupun rumah tangga Anda sulit ekonominya misalnya, Anda dan pasangan bisa tetap berbahagia.

Anda belum dapat keturunan dalam kebersamaan Anda dengan pasangan sehingga Anda tidak merasa bahagia?

Oh… jangan demikian. Anda tetap bisa berbahagia bila Anda menyadari tentang keadilan Allah subhanahu wa ta’ala dalam ketetapan takdir-Nya.

Anda tidak berbahagia karena tidak dicintai atau tidak bisa mencintai pasangan Anda? Rumah tangga Anda banyak masalah sehingga jauh dari kebahagiaan?

Semua ini telah diberikan solusinya oleh Islam, tinggal Anda mau mencarinya atau tidak, mau mempelajarinya ataukah tidak. Sungguh, dengan belajar Islam yang haq kemudian diamalkan, hati menjadi lapang. Persoalan dapat dicarikan solusinya hingga kebahagiaan pun lebih dekat.

وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّهُۥ مَخۡرَجٗا ٢ وَيَرۡزُقۡهُ مِنۡ حَيۡثُ لَا يَحۡتَسِبُۚ

“Siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya. Dan memberinya rezki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (ath-Thalaq: 2—3)

وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّهُۥ مِنۡ أَمۡرِهِۦ يُسۡرٗا ٤

“Siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya.” (ath-Thalaq: 4)

Apabila Anda ingin mengetahui tanda-tanda seseorang telah benar langkahnya dalam menempuh jalan orang-orang yang berbahagia, renungkanlah ucapan al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah dalam kitabnya al-Fawaid (hlm. 400) berikut.

“Di antara tanda kebahagiaan, keberuntungan, dan kesuksesan seorang hamba adalah semakin bertambah ilmunya, bertambah pula sifat tawadhu (rendah hati kepada sesama), dan kasih sayangnya. Semakin bertambah umurnya, berkuranglah ambisi dunianya. Semakin bertambah hartanya, bertambah pula kedermawanannya, dan kegemarannya untuk memberi. Semakin bertambah kedudukan dan kemuliaannya, bertambah pula kedekatannya dengan orang-orang, semakin bersemangat memenuhi kebutuhan mereka dan rendah hati terhadap mereka.

Sementara itu, di antara tanda kesengsaraan dan kecelakaan seorang hamba adalah semakin bertambah ilmunya, bertambah pula sifat sombongnya. Semakin bertambah amalnya, bertambah congkaknya, merendahkan manusia, dan berbaik sangka kepada dirinya sendiri. Semakin bertambah umurnya, bertambah pula ambisi dunianya. Semakin bertambah hartanya, bertambah pula kikirnya dan keengganannya untuk memberi. Semakin bertambah kedudukan dan kemuliaannya, bertambah pula kesombongannya.

Ini merupakan ujian dan cobaan dari Allah subhanahu wa ta’ala yang Dia timpakan atas para hamba, maka ada orang-orang yang berbahagia dengannya dan ada yang sengsara karenanya.”

Kesimpulan dari apa yang disebutkan Ibnul Qayyim rahimahullah adalah orang yang berbahagia adalah orang yang mana kala ditambah nikmat untuknya, maka dihadapinya nikmat tadi dengan amalan kebaikan.

Dalam kitab lain, al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Jika Allah subhanahu wa ta’ala memberikan kenikmatan kepadanya, maka dia bersyukur. Jika dia diberikan ujian, dia pun bersabar. Jika dia berbuat dosa, dia memohon ampun. Tiga perkara ini (syukur, sabar, dan istighfar) merupakan alamat kebahagiaan hamba dan tanda kesuksesannya di dunia dan di akhirat. Tidak bisa seorang hamba terlepas darinya selama-lamanya. Senantiasa dia berbolak-balik di antara tiga tingkatan ini.” (al-Wabil ash-Shayib, hlm. 11)

Kesimpulannya, orang yang benar-benar bahagia adalah yang bersyukur ketika mendapat tambahan nikmat dan bersabar saat hilang nikmat. Dia menggunakan nikmat tersebut dalam perkara yang Allah subhanahu wa ta’ala ridhai sebagai bentuk rasa syukur dan enggan menggunakan nikmat dalam urusan maksiat kepada Sang Pemberi nikmat.

Dia adalah orang yang suka kembali kepada Allah subhanahu wa ta’ala (inabah), bertobat dari seluruh dosa, enggan menceburkan diri dalam maksiat walaupun di dalamnya ada kenikmatan dan kelezatan sesaat.

Karena itu, Anda yang mendamba kebahagiaan sejati dalam rumah tangga, jadikanlah kehidupan rumah tangga Anda beredar di antara syukur dan sabar, inabah (selalu kembali kepada Allah subhanahu wa ta’ala) tobat dan istighfar, niscaya Anda akan dapati bahagia itu dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala.

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

 

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

Memakmurkan Masjid

KHUTBAH PERTAMA:

 

الْحَمْدَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ ١٠٢

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفۡسٖ وَٰحِدَةٖ وَخَلَقَ مِنۡهَا زَوۡجَهَا وَبَثَّ مِنۡهُمَا رِجَالٗا كَثِيرٗا وَنِسَآءٗۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ٱلَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلۡأَرۡحَامَۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيۡكُمۡ رَقِيبٗا ١

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَقُولُواْ قَوۡلٗا سَدِيدٗا ٧٠ يُصۡلِحۡ لَكُمۡ أَعۡمَٰلَكُمۡ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۗ وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ فَازَ فَوۡزًا عَظِيمًا ٧١

أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كَلَامُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ وَشَرَّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ. أَمَّا بَعْدُ؛

Segala puji hanya milik Allah subhanahu wa ta’ala. Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, dan para sahabatnya, serta yang mengikuti jejak mereka dengan baik.

 

Sidang jum’at yang semoga diberkahi oleh Allah,

Marilah kita bersama-sama meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Sebab, sungguh telah beruntung orang-orang yang bertakwa. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ ١٠٢

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenarbenar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (Ali Imran: 102)

 

Ma’asyiral muslimin rahimani warahimakumullah,

Perlu kita semua ketahui bahwa di antara bentuk ketakwaan seseorang ialah mengagungkan serta memuliakan syiar-syiar Islam. Hal ini sebagaimana yang difirmankan oleh Allah subhanahu wa ta’ala,

ذَٰلِكَۖ وَمَن يُعَظِّمۡ شَعَٰٓئِرَ ٱللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقۡوَى ٱلۡقُلُوبِ ٣٢

“Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (al-Hajj: 32)

 

Kaum muslimin rahimakumullah,

Masjid merupakan salah satu syiar Islam yang wajib dimakmurkan oleh kaum muslimin. Oleh karena itu, Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan perbuatan memakmurkan masjid sebagai salah satu tanda dari tanda kesempurnaan iman seorang hamba. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّمَا يَعۡمُرُ مَسَٰجِدَ ٱللَّهِ مَنۡ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَأَقَامَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَى ٱلزَّكَوٰةَ وَلَمۡ يَخۡشَ إِلَّا ٱللَّهَۖ فَعَسَىٰٓ أُوْلَٰٓئِكَ أَن يَكُونُواْ مِنَ ٱلۡمُهۡتَدِينَ ١٨

“Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan salat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (at-Taubah: 18)

 

‘Ibadallah, kaum mukminin rahimakumullah,

Tinggal sekarang bagaimana cara kita memakmurkan masjid. Secara umum, memakmurkan masjid terdiri dari dua bentuk.

Pertama, memakmurkan bangunan masjid. Misalnya, ikut seseorang ikut berpartisipasi dalam kegiatan membangun dan mendirikan masjid. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ بَنَى بَيْتًا بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ

“Barang siapa membangun masjid karena Allah, niscaya Allah akan mendirikan rumah untuknya di surga.” (HR. Muslim dari Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu)

 

Ma’asyiral muslimin rahimani warahimakumullah,

Akan tetapi, perlu kita ketahui bersama, tidaklah termasuk memakmurkan masjid bermegah-megahan dan berlomba-lomba menghiasi masjid. Hal itu justru termasuk yang dilarang. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلَا تُسۡرِفُوٓاْۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُسۡرِفِينَ ١٤١

“Dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (al-An’am: 141)

وَلَا تُبَذِّرۡ تَبۡذِيرًا ٢٦ إِنَّ ٱلۡمُبَذِّرِينَ كَانُوٓاْ إِخۡوَٰنَ ٱلشَّيَٰطِينِۖ

“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan.” (al-Isra: 26—27)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَتَبَاهَى النَّاسُ فِي الْمَسَاجِدِ

“Tidaklah terjadi hari kiamat hingga manusia berlomba-lomba memegahkan masjid-masjid.” (HR. Abu Dawud dan an-Nasai dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu dengan sanad yang sahih)

Sahabat yang mulia, Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, berkata,

لَتُزَخْرِفُنَّهَا كَمَا زَخْرَفَتِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى

“Sungguh, benar-benar kalian akan menghias-hiasi masjid sebagaimana halnya Yahudi dan Nasrani menghias-hiasinya.”

Termasuk memakmurkan bangunan masjid ialah menjaga kebersihannya. Ini juga salah satu bentuk memakmurkan masjid. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ هَذَا الْمَسَاجِدَ لاَ تَصْلُحُ لِشَيْءٍ مِنْ هَذَا الْبَوْلِ وَلاَ الْقَذَرِ إِنَّمَا هِيَ لِذِكْرِ اللهِ وَالصَّلاَةِ وَقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ

“Sesungguhnya masjid-masjid ini tidaklah layak ada di dalamnya air seni dan kotoran. Masjid hanyalah untuk berzikir kepada Allah, shalat, dan membaca al-Qur’an.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu)

Bahkan, ketika mendapati bau yang tidak sedap dari sebagian sahabat yang memakan bawang mentah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَكَلَ ثُومًا أَوْ بَصَ فَلْيَعْتَزِلْ مَسْجِدَنَا فَإِنَّ الْمَ ئَالِكَةَ تَتَأَذَّى بِمَا يَتَأَذَّى مِنْهُ الْإِنْسُ

“Barang siapa memakan bawang putih atau bawang merah, janganlah ia datang ke masjid kita. Sebab, para malaikat terganggu dengan sesuatu yang mengganggu manusia.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Jabir radhiallahu ‘anhu)

Demikian pula ketika beliau mendapati air ludah atau dahak di bagian kiblat masjid. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun membersihkannya dengan menggosoknya dengan tongkat beliau.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menghargai sahabat beliau yang sehari-hari membersihkan masjid. Suatu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam merasa kehilangan wanita yang biasa menyapu masjid. Setelah diberitakan bahwa ternyata wanita tersebut telah meninggal dunia, beliau minta ditunjukkan letak kuburannya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian menyalatinya di atas kuburan wanita tersebut.

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberi kemudahan bagi kita untuk memakmurkan masjid-masjid-Nya.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرآنِ الْكَرِيم،ِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتَ وَالذِّكْرِ الْحَكِيم .أَقُولُ قَوْلِي

هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمِ.


KHUTBAH KEDUA:

 

الْحَمْدُ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّ مَالُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. أَمَّا بَعْدُ؛

 

Kaum muslimin rahimakumullah,

Adapun bentuk kedua dalam hal memakmurkan masjid ialah memakmurkannya secara maknawi, yaitu dengan memanfaatkan masjid tersebut untuk beribadah kepada Allah, seperti shalat berjamaah, membaca al-Qur’an, berzikir, dan majelis ilmu.

Hal ini sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala,

إِنَّمَا يَعۡمُرُ مَسَٰجِدَ ٱللَّهِ مَنۡ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَأَقَامَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَى ٱلزَّكَوٰةَ وَلَمۡ يَخۡشَ إِلَّا ٱللَّهَۖ فَعَسَىٰٓ أُوْلَٰٓئِكَ أَن يَكُونُواْ مِنَ ٱلۡمُهۡتَدِينَ ١٨

“Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan salat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (at-Taubah: 18)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا هِيَ لِذِكْرِ اللهِ وَالصَّلاَةِ وَقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ

“Masjid hanyalah untuk berzikir kepada Allah, shalat, dan membaca al-Qur’an.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu)

Inilah sesungguhnya tujuan utama didirikannya masjid yang besar sekali keutamaannya di sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,

أَحَبُّ الْبِ دَالِ إِلَى اللهِ مَسَاجِدُهَا وَأَبْغَضُ الْبِ دَالِ إِلَى اللهِ أَسْوَاقُهَا

“Tempat yang paling dicintai oleh Allah adalah masjid-masjidnya, sedangkan yang paling dibenci oleh Allah dalah pasar-pasarnya.” (HR. Muslim no. 671 dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ تَعَالَى يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِ نَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمْ الْمَ ئَالِكَةُ وَذَكَرَهُمْ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah (yaitu masjid) dalam rangka membaca al-Qur’an dan mempelajarinya kecuali akan turun kepada mereka sakinah (ketenangan), mendapatkan rahmat, dikelilingi oleh malaikat, dan disebut-sebut oleh Allah (memuji mereka) di hadapan makhluk yang di sisi-Nya.” (HR. Abu Dawud no. 1455 dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

“Ya Allah, mudahkanlah kami dalam berzikir, bersyukur, dan beribadah kepada-Mu dengan baik.”

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ، وَالْحَمْدُ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Kalbu yang Selamat

Kalbu yang selamat yang terbebas dari azab Allah subhanahu wa ta’ala adalah kalbu yang pasrah kepada Rabbnya, yang tunduk kepada perintah-Nya dan tidak ada padanya rasa penentangan terhadap perintah-Nya; tidak pula ada pengingkaran terhadap kabar yang datang dari-Nya. Dialah kalbu yang selamat dari selain Allah subhanahu wa ta’ala.

Tidak ada yang ia inginkan selain Allah subhanahu wa ta’ala. Tidaklah dia berbuat kecuali apa yang Allah subhanahu wa ta’ala perintahkan. Allahlah satu-satunya yang ia tuju. Perintah dan syariat-Nya ia jadikan sebagai wasilah dan jalan hidupnya. Tidak ada sedikit keraguan yang mejadi penghalang baginya untuk membenarkan berita yang datang dari-Nya. Tidaklah keraguan datang kecuali hanya terlintas sejenak saja. Kemudian ia tahu bahwa ia tidak bisa menetap di kalbu tersebut. Demikian pula hawa nafsu, ia tidak mampu menghalangi kalbu tersebut dari mengikuti keridhaan Allah.

Tatkala kalbu itu demikian keadaannya, ia akan selamat dari kesyirikan, kebid’ahan, penyimpangan, dan kebatilan. Seluruh pendapat yang menafsirkan makna qalbun salim tercakup dalam penjelasan di atas.

Pada hakikatnya, kalbu yang selamat adalah kalbu yang tunduk dan pasrah untuk beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan penuh rasa malu, takut, dan harap. Ia mencukupkan diri dengan kecintaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari kecintaan kepada selain-Nya, dengan rasa takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari takut kepada selain-Nya, dan dengan rasa harap kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari berharap kepada selain-Nya.

Ia menerima segala perintah-Nya dan perintah Rasul-Nya sebagai bentuk keimanan dan ketaatannya. Ia menerima segala takdir dan ketetapan-Nya sehingga ia tidak berprasangka buruk, tidak menentang atau marah terhadap segala ketetapan-Nya. Ia senantiasa berserah diri kepada Allah dengan penuh ketaatan, kerendahan diri, kehinaan, dan penghambaan.

Ia menyerahkan setiap keadaan, perkataan, perbuatan, perasaan, dan daya-upayanya, baik lahir maupun batin, kepada tuntunan Rasul-Nya dan menolak segala sesuatu yang datang dari selainnya. Yang sesuai dengan tuntunan Rasulnya ia terima, dan apa yang menyelisihinya ia tolak. Adapun sesuatu yang belum jelas baginya apakah itu sejalan dengan tuntunan Rasulnya ataukah bertentangan, ia menunda dan mengakhirkannya sampai hal itu menjadi jelas.

Ia senantiasa sejalan dengan wali-wali Allah dan golongan-Nya yang beruntung, yang senantiasa membela agama-Nya dan sunnah Nabi-Nya serta menegakkannya.

Ia pun memusuhi musuh-musuh Allah yang selalu menyelisihi kitab-Nya dan sunnah Nabi-Nya, yang keluar dari bimbingan keduanya, bahkan menyeru manusia untuk menyelisihi keduanya.

 

(Diambil dari kitab Miftah Daris Sa’adah, karya al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah, hlm. 54, cet. Darul Hadits, Kairo)

 

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Abdul Jabbar

Al-Mujib

Al-Mujib adalah salah satu nama Allah al-Husna yang Mahaindah. Nama ini terdapat dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمۡ صَٰلِحٗاۚ قَالَ يَٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرُهُۥۖ هُوَ أَنشَأَكُم مِّنَ ٱلۡأَرۡضِ وَٱسۡتَعۡمَرَكُمۡ فِيهَا فَٱسۡتَغۡفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوٓاْ إِلَيۡهِۚ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٞ مُّجِيبٞ ٦١

Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Saleh. Saleh berkata, “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Rabb selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Rabbku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya).” (Hud: 61)

Al-Mujib bermakna yang menjawab, yang mengabulkan, atau yang mengijabahi doa hamba yang berdoa kepada-Nya.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Dialahal-Mujib. Dia mengatakan, ‘Siapa yang berdoa,’ ‘Akulah yang menjawab setiap orang yang memanggil-Ku.’ Dialah yang mengabulkan doa orang yang terhimpit ketika memohon kepada-Nya, dalam keadaan tersembunyi atau terang terangan.”

As-Sa’di rahimahullah berkata, “Dialah yang mengabulkan secara umum terhadap doa orang yang berdoa, bagaimanapun keadaan mereka dan dalam kondisi apapun, sebagaimana janji-Nya secara mutlak. Dialah pula yang mengabulkan secara khusus bagi orang-orang yang menyambut seruan Allah subhanahu wa ta’ala dan tunduk kepada syariat-Nya. Dia jugalah yang mengijabahi doa orang yang terhimpit dan telah putus harapan mereka dari makhluk, lantas menguatlah ketergantungan mereka kepada Allah dengan penuh harapan dan rasa takut kepada-Nya.”

Asy-Syaikh Muhammad Khalil Harras berkata, “Di antara nama Allah adalah al-Mujib. Kata ini adalah bentuk isim fail dari kata masdar ‘ijabah’ (bermakna mengabulkan atau menjawab). Pengabulan Allah subhanahu wa ta’ala ada dua macam.

 

  1. Pengabulan secara umum bagi tiap yang berdoa kepada-Nya dengan doa ibadah atau doa mas’alah.

Doa ibadah adalah suatu ucapan yang bertujuan memuji Allah subhanahu wa ta’ala dengan menyebut nama-nama-Nya yang Mahaindah dan sifat-sifat-Nya yang Mahatinggi tanpa diiringi oleh permintaan keperluan tertentu.

Adapun doa mas’alah adalah seorang hamba berkata, ‘Ya Allah, berikan kepadaku sesuatu, atau hindarkan dariku sesuatu.’ Hal ini dilakukan oleh manusia yang baik maupun yang jahat.

Allah subhanahu wa ta’ala akan mengabulkan bagi siapa yang Allah subhanahu wa ta’ala kehendaki dari hamba yang berdoa kepada-Nya sesuai dengan hikmah-Nya. Pengabulan doa tidak khusus bagi orang yang ikhlas dan bertakwa, karena kebaikan Allah subhanahu wa ta’ala mencakup orang yang baik dan orang yang jahat sekalipun, sedangkan rahmat-Nya meliputi segala sesuatu.

Oleh karena itu, pengabulan doa semacam ini tidak menunjukkan baiknya keadaan orang yang berdoa dan terkabul doanya selama tidak ada padanya tanda kejujuran dan kebenaran, seperti doa para Nabi, doa mereka untuk kebaikan kaumnya, atau doa untuk kecelakaan kaum yang membangkang terhadap mereka, lantas Allah mengabulkan doanya. Ketika itu, pengabulan doa Allah subhanahu wa ta’ala terhadap mereka menunjukkan kejujuran mereka dalam hal berita yang sampaikan dan kemuliaan mereka di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala.

 

  1. Pengabulan doa secara khusus

Jenis pengabulan doa yang ini memiliki sebab yang banyak. Di antaranya, seseorang telah berada pada keadaan yang sangat sempit dan terjatuh pada kesulitan yang sangat dahsyat, lalu dia berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Allah mengabulkan doanya dan menghilangkan kesulitannya sebagaimana firman-Nya,

وَإِذَا مَسَّكُمُ ٱلضُّرُّ فِي ٱلۡبَحۡرِ ضَلَّ مَن تَدۡعُونَ إِلَّآ إِيَّاهُۖ فَلَمَّا نَجَّىٰكُمۡ إِلَى ٱلۡبَرِّ أَعۡرَضۡتُمۡۚ وَكَانَ ٱلۡإِنسَٰنُ كَفُورًا ٦٧

“Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia. Maka tatkala Dia menyelamatkan Kamu ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia adalah selalu tidak berterima kasih.” (al-Isra’: 67)

أَمَّن يُجِيبُ ٱلۡمُضۡطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكۡشِفُ ٱلسُّوٓءَ وَيَجۡعَلُكُمۡ خُلَفَآءَ ٱلۡأَرۡضِۗ أَءِلَٰهٞ مَّعَ ٱللَّهِۚ قَلِيلٗا مَّا تَذَكَّرُونَ ٦٢

“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati (Nya).” (an-Naml: 62)

Hal itu karena dia merasa sangat membutuhkan pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala dan merasa sangat hancur kalbunya di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala serta terlepas ketergantungannya dari makhluk.

Di antara sebab terkabulnya doa pula adalah panjangnya perjalanan safar, mencari perantara dengan perantara yang paling Allah subhanahu wa ta’ala cintai dengan menyebut asma Allah saat berdoa, doa orang sakit, terzalimi, dan yang berpuasa.

Demikian pula pada waktu dan keadaan yang mulia, seperti pada akhir tiap shalat, waktu akhir malam, saat azan, saat turun hujan, saat gentingnya peperangan, dan kesempatan lain sebagaimana yang terdapat dalam hadits.” (Syarah Nuniyyah, 2/94—95 dengan sedikit diringkas)

 

Buah Mengimani Nama Allah Al-Mujib

Tentu saja, hamba yang beriman dengan nama Allah al-Mujib tidak akan merasa rugi, apalagi resah. Mengapa? Karena dia punya harapan besar dari Rabbnya yang Maha mengabulkan permintaan.

Apa saja yang dia minta dari kebaikan dunia dan akhirat akan Allah subhanahu wa ta’ala kabulkan. Betul-betul kalbu ini merasa lega, tenang, dan senantiasa optimis menghadapi kehidupan ini; apapun keadaannya. Saya yakin, setiap kita telah benar-benar merasakan berbagai doa yang diijabahi oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan berbagai permintaan yang dikabulkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Allah subhanahu wa ta’ala pasti mengabulkan doa kita selama tidak ada penghalang terkabulnya doa. Hanya saja yang perlu kita pahami, terkadang terkabulnya doa itu dalam bentuk langsung terkait dengan apa yang kita minta, atau dalam bentuk tabungan bagi kita di akhirat, atau dalam bentuk diselamatkan dari kejelekan yang senilai dengan doa yang diminta.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ أَحَدٍ يَدْعُو بِدُعَاءٍ إِلاَّ آتَاهُ اللهُ مَا سَأَلَ أَوْ كَفَّ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهُ مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيعَةِ رَحِمٍ.

“Tidaklah seseorang yang berdoa dengan sebuah doa kecuali Allah akan berikan apa yang dia minta, atau Allah hindarkan dia dari keburukan yang senilai dengannya, selama dia tidak meminta sesuatu yang mengandung dosa atau pemutusan silaturahmi.” (HR. at-Tirmidzi, dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh al-Albani)

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ لَهُ فِيهَا إِثْمٌ أَوْ قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلاَّ أَعْطَاهُ اللهُ بِهَا إِحْدَى ثَلاَثٍ: إِمَّا أنْ يُعجِّلَ لَهُ دَعْوَتَهُ، وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ، وَإِمَّا أَنْ يَكْشِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا. قَالُوا: إِذاً نُكْثِرُ؟ قَالَ: اللهُ أَكْثَرُ

“Tidaklah seorang muslim berdoa dengan sebuah doa yang tidak mengandung dosa atau pemutusan silaturahmi kecuali Allah akan kabulkan dengan salah satu dari tiga hal: Allah akan segerakan pengabulan doanya, Allah akan tabung untuknya di akhirat, atau Allah akan hindarkan dia dari kejelekan yang senilai dengannya.”

Para sahabat lantas berkata, “Wahai Rasulullah, kalau begitu kita memperbanyak doa?!”

Beliau menjawab, “Allah akan lebih banyak.” (HR. at-Tirmidzi, dinyatakan hasan oleh al-Albani dalam Shahih at-Targhib)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

أَمَّن يُجِيبُ ٱلۡمُضۡطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكۡشِفُ ٱلسُّوٓءَ وَيَجۡعَلُكُمۡ خُلَفَآءَ ٱلۡأَرۡضِۗ أَءِلَٰهٞ مَّعَ ٱللَّهِۚ قَلِيلٗا مَّا تَذَكَّرُونَ ٦٢

        “Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati (Nya).” (an-Naml: 62)

وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدۡعُونِيٓ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسۡتَكۡبِرُونَ عَنۡ عِبَادَتِي سَيَدۡخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ ٦٠

Dan Rabbmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.” (Ghafir: 60)

Ibnu Katsir rahimahullah menceritakan bahwa Ibnu Asakir menyebutkan dalam kitab beliau tentang biografi seseorang yang menceritakan kisahnya tentang pengabulan doanya.

“Aku menyewakan seekor baghal (hewan hasil persilangan antara kuda dan keledai) untuk perjalanan dari Damaskus ke negeri Zabadani. Suatu saat seseorang menaikinya bersamaku sehingga kami melewati jalan yang tidak pernah dilalui.

Dia berkata, ‘Lewatlah jalan ini, karena jalan ini lebih dekat.’

Aku menjawab, ‘Aku tidak punya pengalaman melalui jalan itu.’

‘Itu lebih dekat,’ jawabnya.

Kami kemudian melaluinya. Sampailah kami pada suatu tempat berlumpur dan lembah dalam yang terdapat banyak mayat. Dia berkata, ‘Tahanlah baghal ini, biarkan aku turun.’

Dia turun dan menyingsingkan bajunya lalu mencabut pisau dan pergi menuju diriku. Aku lari dari hadapannya, namun dia mengejarku. Aku ingatkan dia terhadap Allah dan kukatakan, ‘Ambillah baghal itu dengan semua yang ada padanya.’

Dia menjawab, ‘Ya, itu untukku, tetapi aku juga ingin membunuhmu.’

Akupun mengingatkan dia agar takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan mengingatkan hukuman dari-Nya. Namun, dia tidak menerimanya. Akhirnya, aku pasrah di hadapannya dan aku katakan, ‘Kalau boleh, biarkan aku shalat dua rakaat terlebih dahulu.’

Dia berkata, ‘Shalatlah, dan cepat!’

Aku pun shalat dengan sangat gemetar ketika hendak membaca al-Qur’an sehingga tidak ingat satu huruf pun. Aku hanya berdiri bingung.

Dia berkata, ‘Ayo cepat selesaikan!’

Lalu Allah subhanahu wa ta’ala mengalirkan pada lisanku bacaan ayat,

أَمَّن يُجِيبُ ٱلۡمُضۡطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكۡشِفُ ٱلسُّوٓءَ

“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan….” (an-Naml: 62)

Tiba-tiba, aku melihat seorang penunggang kuda datang dari ujung lembah, membawa sebuah tombak. Lantas dia lemparkan tombak itu ke tubuh si perampok dan tidak meleset sedikit pun dari jantungnya. Tumbanglah ia, tersungkur.

Segeralah aku memegangi penunggang kuda itu dan kukatakan, ‘Demi Allah, siapa engkau?’

Ia menjawab, ‘Aku adalah utusan Allah yang mengabulkan permintaan hamba-Nya yang sedang terjepit apabila dia berdoa. Dialah yang menghilangkan keburukan.’

Aku kemudian mengambil kembali baghal itu dan bawaannya. Akhirnya, aku kembali dengan selamat.”

Ditulis oleh Al-Ustadz Qomar Suaidi doa

Aplikasi Mushaf Pada Ponsel Pintar

Apa hukumnya kita membaca al-Qur’an lewat handphone? Apakah sama pahalanya dengan membaca al-Qur’an dalam bentuk mushaf? Bolehkah kita membuka aplikasi al-Qur’an yg ada di HP kita dalam keadaan berhadats kecil/besar? Mohon penjelasannya.

imam********@gmail.com

 

Dijawab oleh al-Ustadz Qomar Suaidi

Para ulama telah berbeda pendapat tentang pemasangan aplikasi mushaf al-Qur’an pada perangkat elektronik. Sebagian ulama, di antaranya al-Lajnah ad-Daimah (Dewan Fatwa) Saudi Arabia yang diketuai oleh asy-Syaikh Abdul Aziz Alu Syaikh dengan salah satu anggotanya ialah asy-Syaikh al-Fauzan, membolehkan hal tersebut. Hanya saja untuk menyentuhnya, seseorang tidak perlu dalam keadaan suci dari hadats. Sebab, aplikasi mushaf berbeda dengan mushaf kertas dalam beberapa sisi.

Asy-Syaikh Muhammad Ali Firkous hafizhahullah, salah seorang ulama Aljazair, menjelaskannya ketika menjawab pertanyaan berikut ini.

Smartphone (telefon pintar) telah tersebar di masyarakat muslim dan mengandung beberapa aplikasi islami, seperti mushaf elektronik secara lengkap. Apabila seseorang membuka mushaf dari smartphonenya, dia layaknya membuka mushaf kertas. Apakah orang yang membacanya mendapat pahala seperti yang membaca mushaf kertas? Apakah boleh membawanya ke WC (toilet), dan apakah boleh bagi orang yang berhadats menyentuhnya?

 

Berikut ini jawaban beliau.

Bisa jadi, definisi mushaf masa kini ialah semua sarana yang mencakup al-Qur’anul Karim dengan urutan ayat dan surat yang sesuai dengan tulisan al-Qur’an yang telah disepakati oleh umat pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu.

Tampak dari definisi di atas bahwa mushaf mencakup semua macam mushaf, sama saja baik itu mushaf kertas model terdahulu yang terdiri dari kertas dan huruf yang mencakup al-Qur’an di antara dua sampul yang menjaganya, maupun mushaf elektronik yang tersimpan dalam kartu elektronik maupun kepingan CD. Demikian pula ekstrusi yang digunakan dengan jarum braille pada kertas khusus bagi tuna netra.

Karena mushaf elektronik memiliki beberapa sifat yang berbeda dengan mushaf kertas dalam hal susunan dan hurufnya, tidak berlaku padanya hukum mushaf kertas kecuali setelah perangkat elektronik dihidupkan dan menampilkan ayat al-Qur’an yang tersimpan pada memori mushaf elektronik.

Apabila mushaf elektronik tampil dengan modelnya yang dapat dibaca, orang yang membacanya mendapatkan pahala seperti membaca mushaf kertas, sebagaimana yang disebutkan hadits Ibnu Mas’ud yang sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، أَقُولُ الم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَ مَالٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

Barang siapa membaca satu huruf dari Kitabullah, dengan itu dia mendapatkan satu kebaikan. Kebaikan itu dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf. Akan tetapi, alif itu satu huruf, huruf lam satu huruf, dan mim satu huruf.” (HR. at-Tirmidzi no. 2910)

Demikian pula hadits Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu,

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُحِبَّ اللهَ وَرَسُولَهُ فَلْيَقْرَأْ فِي الْمُصْحَفِ

“Barang siapa suka untuk mencintai Allah dan Rasul-Nya, hendaknya dia membaca dari mushaf.”

Selain itu, banyak hadits sahih yang menunjukkan keutamaan membaca al- Qur’an dan memperbanyaknya.

Perangkat tersebut memiliki hukum sama dengan mushaf kertas dari sisi tidak boleh dibawa masuk ke dalam wc (toilet) tanpa ada kebutuhan atau keperluan darurat. Hal itu dilarang selama perangkat tersebut hidup dan menampilkan ayat al-Qur’an.

Termasuk hal yang dilarang pula ialah menempelkan, meletakkan, atau mengotori mushaf dengan benda najis. Hal itu karena kehormatan al-Qur’an yang ada padanya dengan aktifnya perangkat tersebut dan tampilnya ayat dan surat al-Qur’an.

Hanya saja larangan di atas tidak berlaku saat apllikasi tidak aktif dan saat ayat tidak tampak dengan hilangnya tampilan huruf tersebut pada layar. Dalam kondisi tidak aktif dan mushaf tidak tampak padanya, tidaklah diperlakukan seperti mushaf kertas.

Dari sisi lain, orang yang berhadats kecil maupun besar diperbolehkan menyentuh bagian tertentu ponsel atau perangkat elektronik lain yang terdapat aplikasi mushaf, baik saat mati atau hidup. Sebab, huruf dalam mushaf elektronik yang tampak pada layar tidak lain adalah getaran elektronik yang diolah dan ditata serta tidak bisa tampak dan memantul pada layar kecuali dengan program elektronik. Atas dasar itu, menyentuh layar tidak dianggap menyentuh mushaf elektronik secara hakiki. Tidak tergambar penyentuhan secara langsung berdasarkan keterangan yang lalu.

Berbeda halnya dengan mushaf kertas, menyentuh kertas dan hurufnya tergolong penyentuhan secara langsung dan hakiki. Oleh karena itu, orang yang menyentuh mushaf elektronik tidak diperintah untuk berwudhu terlebih kecuali dalam rangka hati-hati.

Ilmu yang sesungguhnya di sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Akhir ucapan kami, alhamdulillahi Rabbil alamin. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberikan shalawat-Nya kepada Nabi- Nya, keluarganya, para sahabatnya sampai hari kiamat; serta memberikan salam- Nya kepadanya. -selesai jawaban asy-Syaikh Muhammad Ali Firkous-

Sebagian ulama yang lain, di antaranya asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi, sebagaimana dinukilkan oleh asy-Syaikh Abdullah al-Bukhari, tidak membolehkannya. Inti alasannya, demi menghormati al-Qur’an supaya tidak terhinakan karena perangkat elektronik terkadang diletakkan di sembarang tempat.

Atas dasar itu, kami sarankan bagi yang memasang aplikasi al-Qur’an elektronik agar berusaha selalu menjaga kehormatan HP tersebut.

Wallahu a’lam.

Nabi Sulaiman Wafat

(bagian ke-3)

 

Telah dikisahkan tentang keistimewaan Nabi Sulaiman ‘alaihissalam, sebagai seorang hamba Allah subhanahu wa ta’ala, sekaligus Nabi dan Raja Bani Israil. Sebaik-baik hamba dan memiliki kedudukan mulia di sisi Allah subhanahu wa ta’ala.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلِسُلَيۡمَٰنَ ٱلرِّيحَ غُدُوُّهَا شَهۡرٞ وَرَوَاحُهَا شَهۡرٞۖ وَأَسَلۡنَا لَهُۥ عَيۡنَ ٱلۡقِطۡرِۖ وَمِنَ ٱلۡجِنِّ مَن يَعۡمَلُ بَيۡنَ يَدَيۡهِ بِإِذۡنِ رَبِّهِۦۖ وَمَن يَزِغۡ مِنۡهُمۡ عَنۡ أَمۡرِنَا نُذِقۡهُ مِنۡ عَذَابِ ٱلسَّعِيرِ ١٢

يَعۡمَلُونَ لَهُۥ مَا يَشَآءُ مِن مَّحَٰرِيبَ وَتَمَٰثِيلَ وَجِفَانٖ كَٱلۡجَوَابِ وَقُدُورٖ رَّاسِيَٰتٍۚ ٱعۡمَلُوٓاْ ءَالَ دَاوُۥدَ شُكۡرٗاۚ وَقَلِيلٞ مِّنۡ عِبَادِيَ ٱلشَّكُورُ ١٣

فَلَمَّا قَضَيۡنَا عَلَيۡهِ ٱلۡمَوۡتَ مَا دَلَّهُمۡ عَلَىٰ مَوۡتِهِۦٓ إِلَّا دَآبَّةُ ٱلۡأَرۡضِ تَأۡكُلُ مِنسَأَتَهُۥۖ فَلَمَّا خَرَّ تَبَيَّنَتِ ٱلۡجِنُّ أَن لَّوۡ كَانُواْ يَعۡلَمُونَ ٱلۡغَيۡبَ مَا لَبِثُواْ فِي ٱلۡعَذَابِ ٱلۡمُهِينِ ١٤

“Dan Kami (tundukkan) angin bagi Sulaiman, yang perjalanannya di waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya di waktu sore sama dengan perjalanan sebulan (pula) dan Kami alirkan cairan tembaga baginya. Dan sebagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya (di bawah kekuasaannya) dengan izin Rabbnya. Dan siapa yang menyimpang di antara mereka dari perintah Kami, Kami rasakan kepadanya azab neraka yang apinya menyala-nyala.

Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah, hai keluarga Dawud, untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih.

Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang gaib tentulah mereka tidak akan tetap dalam siksa yang menghinakan.” (Saba: 12—14)

Asy-Syaikh as-Sa’di rahimahullah menerangkan dalam tafsirnya sebagai berikut.

Setelah menerangkan karunia-Nya kepada Dawud ‘alaihissalam, Allah menerangkan pula karunia-Nya kepada Sulaiman putra Dawud ‘alaihissalam. Bahwa Allah subhanahu wa ta’ala menundukkan angin baginya agar bertiup sesuai dengan perintahnya, agar membawanya dan apa saja yang menyertainya, melintasi jarak yang sangat jauh dalam waktu yang sangat singkat, dalam satu hari menempuh jarak yang seharusnya ditempuh selama satu bulan.

Allah subhanahu wa ta’ala menundukkan pula untuk beliau cairan tembaga dan memudahkan berbagai sarana untuk mengeluarkan apa yang dapat dihasilkan dari tembaga itu, berupa bejana-bejana dan sebagainya.

Allah subhanahu wa ta’ala menundukkan pula para jin dan setan serta Ifrit, yang melakukan pekerjaan besar menurut keinginan beliau. Di antara jin dan setan itu ada yang diperintah oleh beliau agar menyelam dan mengeluarkan berbagai kekayaan alam yang ada di dasar laut, seperti mutiara dan permata berharga lainnya. Ada pula yang melakukan pekerjaan yang lain dan tidak ada satupun yang keluar dari perintah beliau. Siapa saja di antara mereka yang berani melanggar, niscaya terkena azab yang bernyala-nyala dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَن يَزِغۡ مِنۡهُمۡ عَنۡ أَمۡرِنَا نُذِقۡهُ مِنۡ عَذَابِ ٱلسَّعِيرِ

“Dan siapa yang menyimpang di antara mereka dari perintah Kami, Kami rasakan kepadanya azab neraka yang apinya menyala-nyala.”

Apa saja yang dikehendaki oleh Nabi Sulaiman ‘alaihissalam, pasti mereka kerjakan. Mereka membuat bangunan yang kokoh dan megah, patung-patung dalam berbagai bentuk. Mereka juga membuatkan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk-periuk yang tidak bergeser dari tempatnya, karena sangat besar ukurannya.

Akan tetapi, sebagai sebuah ketetapan Allah subhanahu wa ta’ala yang tidak akan berubah, bahwa segala sesuatu di alam ini adalah fana. Yang kekal hanya Allah Yang Mahamulia.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

           كُلُّ مَنۡ عَلَيۡهَا فَانٖ ٢٦ وَيَبۡقَىٰ وَجۡهُ رَبِّكَ ذُو ٱلۡجَلَٰلِ وَٱلۡإِكۡرَامِ ٢٧

“Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Rabbmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (ar-Rahman: 26—27)

Dalam ayat lainnya, Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman,

وَمَا جَعَلۡنَا لِبَشَرٖ مِّن قَبۡلِكَ ٱلۡخُلۡدَۖ أَفَإِيْن مِّتَّ فَهُمُ ٱلۡخَٰلِدُونَ ٣٤

“Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad); maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal?” (al-Anbiya: 34)

Demikianlah kematian itu, apabila sudah tiba waktunya tidak mungkin dapat dipercepat ataupun ditunda, meskipun sesaat. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٞۖ فَإِذَا جَآءَ أَجَلُهُمۡ لَا يَسۡتَأۡخِرُونَ سَاعَةٗ وَلَا يَسۡتَقۡدِمُونَ ٣٤

“Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu, maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.” (al-A’raf: 34)

Akhirnya, setiap orang pasti akan merasakannya, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala,

كُلُّ نَفۡسٖ ذَآئِقَةُ ٱلۡمَوۡتِۗ

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (Ali Imran: 185)

Nabi Sulaiman ‘alaihissalam pun wafat.

Dinukil oleh para ulama dari sebagian riwayat Israiliyat bahwa di antara kebiasaan Nabi Sulaiman adalah senang i’tikaf di Baitil Maqdis. Kadang beliau beribadah di dalamnya selama setahun, kadang dua tahun, atau satu sampai dua bulan. Beliau menetap di sana membawa makanan dan minumannya. Seperti biasa, beliau masuk ke dalam masjid pada hari beliau wafat. Adapun sebabnya, setiap pagi selalu tumbuh satu tanaman di mihrab beliau. Kemudian beliau menanyai tanaman itu, “Tanaman apa kamu ini?”

“Aku tanaman anu,” jawab tumbuhan itu.

“Untuk apa kamu diciptakan?” Kalau dia menjawab untuk ditanam (dipanen), beliau memerintahkan dicabut dan ditanam di tempat lain. Kalau untuk obat, beliau menuliskan keterangan untuk apa tanaman tersebut. Akhirnya tumbuh tanaman kharubah.

Beliau menanyai tanaman itu, “Untuk apa kamu tumbuh?”

“Untuk meruntuhkan masjidmu ini.”

Kata Nabi Sulaiman ‘alaihissalam, “Tidak mungkin Allah subhanahu wa ta’ala meruntuhkannya sedangkan aku masih hidup. Engkaulah tanda kematianku dan runtuhnya Baitul Maqdis.”

Kemudian beliau mencabutnya dan menanamnya di salah satu dinding, seraya berdoa, “Ya Allah, butakan mata jin itu tentang kematianku (jangan sampai mereka tahu), sampai manusia menyadari bahwa jin-jin itu sama sekali tidak mengetahui perkara gaib.”

Dahulu, para setan dan jin-jin kafir itu selalu menyebut-nyebut kepada manusia bahwa mereka mengetahui hal-hal yang gaib dan mengerti rahasia alam ini. Mereka sesumbar bahwa mereka tahu apa yang akan terjadi esok hari. Karena itu, Allah subhanahu wa ta’ala ingin menampakkan kebohongan ucapan mereka kepada para hamba-Nya.

Pada hari yang telah ditetapkan, Nabi Sulaiman ‘alaihissalam memasuki mihrabnya. Di depan dan belakang beliau dalam mihrab itu ada semacam ventilasi, sehingga apa yang terjadi dalam mihrab itu jelas dapat dilihat dari luar. Nabi Sulaiman mulai shalat sambil berdiri dengan bertelekan di atas tongkat beliau. Masih sambil berdiri, Malaikat Maut datang mencabut ruh suci beliau, dan beliau pun wafat dalam keadaan masih berdiri.

Di luar mihrab, seperti biasanya, jin-jin itu melaksanakan pekerjaan berat yang diperintahkan oleh Nabi Sulaiman ‘alaihissalam. Sambil bekerja, mereka mengintip ke arah mihrab, ternyata Nabi Sulaiman ‘alaihissalam masih berdiri dalam shalatnya. Sama sekali mereka tidak menyadari bahwa Nabi Sulaiman sudah sejak tadi meninggal. Mereka tidak merasa aneh, karena memang demikian kebiasaan Nabi Sulaiman jika sudah larut dalam shalatnya.

Itu adalah pekerjaan yang menyusahkan mereka. Seandainya mereka mengetahui yang gaib, pasti mereka mengetahui kematian Nabi Sulaiman ‘alaihissalam yang mereka nanti-nantikan, agar terbebas dari keadaan mereka saat itu. Setelah itu, setiap kali melewati beliau yang sedang bertelekan di atas tongkatnya, mereka mengira beliau masih hidup, sehingga mereka merasa takut. Mereka pun tetap melaksanakan tugas mereka seperti biasa. Hal itu berlangsung selama setahun penuh.

Kemudian, Allah subhanahu wa ta’ala mengirimkan rayap memakan tongkat beliau ‘alaihissalam. Akhirnya, tongkat itu rapuh dan jasad Nabi Sulaiman ‘alaihissalam tersungkur. Demi mengetahui hal ini, para setan itu melarikan diri. Barulah mereka menyadari ternyata Nabi Sulaiman ‘alaihissalam telah lama wafat. Para jin itu sangat berterima kasih kepada rayap-rayap tersebut, karena telah memberitahukan mereka kematian Nabi Sulaiman ‘alaihissalam.

Akhirnya jelaslah bagi manusia bahwa jin-jin itu membohongi mereka, dan sebagaimana (firman Allah subhanahu wa ta’ala),

لَّوۡ كَانُواْ يَعۡلَمُونَ ٱلۡغَيۡبَ مَا لَبِثُواْ فِي ٱلۡعَذَابِ ٱلۡمُهِينِ ١٤

“Sekiranya mereka mengetahui yang gaib tentulah mereka tidak akan tetap dalam siksa yang menghinakan.”

Maksudnya, tidak mungkin mereka merasakan kepayahan dan ditundukkan untuk Nabi Sulaiman ‘alaihissalam.

 

Faedah

  1. Nabi Sulaiman ‘alaihissalam, sebagaimana nabi lainnya, adalah manusia biasa yang pasti merasakan kematian.
  2. Yang menundukkan para jin agar bekerja menurut perintah Nabi Sulaiman ‘alaihissalam adalah Allah subhanahu wa ta’ala yang telah menciptakan mereka.

Dinukil dari Ibnu ‘Abbas c, Allah subhanahu wa ta’ala menugaskan malaikat untuk mencambuk mereka dengan pecut api, jika mereka menentang perintah Nabi Sulaiman ‘alaihissalam.

  1. Para jin yang sampai saat ini masih saja ada manusia yang meyakini mereka mengetahui hal yang gaib, sebetulnya tidak mengetahui yang gaib. Mereka juga tidak bisa mendatangkan manfaat dan mudarat untuk diri mereka atau orang lain.
  2. Siapa yang mengaku-aku mengetahui perkara gaib, dia kafir, bahkan termasuk salah satu dari lima pimpinan thaghut. Mengetahui perkara gaib adalah salah satu kekhususan rububiyah Allah subhanahu wa ta’ala. Tidak ada yang mengetahui perkara gaib di langit dan di bumi melainkan Allah subhanahu wa ta’ala.
  3. Tunduknya para jin mematuhi perintah Nabi Sulaiman ‘alaihissalam, menunjukkan bahwa para jin itu adalah makhluk yang lemah sehingga tidak layak seorang manusia—yang lebih mulia daripada jin—meminta perlindungan dan bantuan kepada mereka.

Wallahu a’lam.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

Runtuhnya Dinasti Sasanid

Runtuhnya Dinasti Sasanid

Ketika menerima tugas ketentaraan itu, Sa’d menyadari bahwa dengan pasukannya yang serbakekurangan baik bekal dan perlengkapan, dia harus menghadapi pasukan Persia yang berjumlah besar, kuat, dan terlatih, serta bersenjata lengkap. Akan tetapi, Sa’d sangat yakin, janji Allah subhanahu wa ta’ala yang diberitakan oleh Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, pasti terlaksana.

Ya, Allah subhanahu wa ta’ala akan menyerahkan perbendarahan Persia dan Romawi kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kerajaan Bizantium Romawi telah dipatahkan oleh kaum muslimin di Yarmuk. Kini, Istana Putih Persia, pasti di ambang kehancurannya.

Pasukan al-Mutsanna bin Haritsah telah memulai penaklukan di sekitar tanah Persia.

Ketika hendak melepas Sa’d, ‘Umar memberi pesan, “Hai Sa’d, putra Ibu Sa’d. Janganlah kamu tertipu karena dipanggil khali (paman dari pihak ibu)[1] Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena Allah subhanahu wa ta’ala tidak menghapus kejelekan dengan kejelekan, tetapi Dia menghapus kejelekan dengan kebaikan. Tidak ada antara Allah subhanahu wa ta’ala dan siapa pun hubungan, kecuali dengan menaati-Nya.

Manusia di dalam agama Allah subhanahu wa ta’ala ini, sama. Allah Rabb (Pencipta, Pengatur, Pemberi rezeki, dan Pemelihara) mereka, dan mereka adalah hamba-hamba-Nya. Mereka berbeda-beda dalam hal kesejahteraan dan mendapatkan apa yang ada di sisi-Nya dengan ketaatan. Karena itu, perhatikanlah urusan yang kalian lihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu mengerjakannya, maka tekunilah dan bersabarlah.”

Sebelum berpisah, ‘Umar berkata lagi, “Kamu akan menghadapi urusan berat, maka bersabarlah menerima semuanya. Pusatkan rasa takutmu hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala, dan ketahuilah rasa takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala itu berpangkal pada dua hal, yaitu menaati-Nya dan menjauhi maksiat terhadap-Nya. Ketaatan orang yang menaati-Nya adalah dengan membenci dunia dan mencintai akhirat, sedangkan kedurhakaan orang yang mendurhakai-Nya adalah karena mencintai dunia dan membenci akhirat.”

Setelah itu, bergeraklah rombongan pasukan yang berjumlah empat ribu orang itu menuju Irak (Persia).

Berturut-turut, untuk memperkuat pasukan kaum muslimin yang dipimpin Sa’d, Amirul Mukminin ‘Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu mengirim Ba’ashmah bin ‘Abdullah dengan sepasukan tentara, menugaskan pula al-Mutsanna bin Haritsah yang sudah berada di tanah Persia sejak masa Khalid Saifullah, agar bergabung dengan Sa’d. Bahkan, al-‘Ala’ bin al-Hadhrami yang sedang bertugas di Bahrain juga diperintahkan bergerak menuju Babil.

Al-‘Ala’ berangkat setelah menunjuk Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu menggantikannya di Bahrain. Tetapi, dalam perjalanan, al-‘Ala meninggal dunia.

Al-Mutsanna bin Haritsah juga sudah bertolak. Namun, takdir Allah subhanahu wa ta’ala berlaku lain. Luka yang dideritanya dalam peristiwa jembatan (al-Jusr) yang heroik, pecah kembali hingga membawa kematiannya. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala merahmatinya.

 

Mengatur Barisan Muslimin

Muharram tahun empat belas hijriah. Pasukan Persia sudah mempersiapkan diri untuk menghancurkan orang-orang Arab. Tujuh belas ekor gajah diikutsertakan dalam pasukan Persia diiringi dua puluh prajurit khusus. Di atas gajah-gajah itu diberi tutup dari besi. Gading-gadingnya dibungkus sutra berhias dan setiap gajah dikawal oleh pasukan berkuda.

Setelah keberangkatan Sa’d, beberapa kekuatan prajurit tiba di Madinah memenuhi panggilan jihad dari Amirul Mukminin. Tanpa menunggu waktu, ‘Umar mengirim mereka menyusul Sa’d bin Abi Waqqash. Dengan demikian, kekuatan pasukan Sa’d semakin bertambah.

Berturut-turut, para pahlawan Islam di Tanah Arab mulai bergabung dalam pasukan yang dipimpin Sa’d. Para pahlawan itu sendiri tidak hanya jago dalam memainkan pedang dan tombak, tetapi juga ahli dalam berpidato dan bersyair. Mereka mempunyai kedudukan di kabilah dan negeri mereka masing-masing. Di antara mereka ada Asy’ats bin Qais, Thulaihah al-Asadi, dan ‘Amr bin Ma’dikariba, serta yang lainnya.

Mendekati Zamrud, kekuatan pasukan muslimin sudah bertambah menjadi 20.000 orang. Setelah pasukan al-Mutsanna dan beberapa kabilah berdekatan bergabung, demikian pula yang akan datang dari Syam, jumlah pasukan menjadi 36.000 orang.

Sambil menunggu pasukan yang datang dari Syam, Sa’d berhenti di Syaraf. Menunggu kedatangan sahabatnya al-Mutsanna. Akan tetapi, yang muncul adalah saudara al-Mutsanna, Mu’anna bin Haritsah bersama Salma, istri al-Mutsanna.

Setelah bertemu dengan Sa’d, Mu’anna menyampaikan pesan-pesan al-Mutsanna, di antaranya agar tidak menyerang Persia di dalam wilayah mereka sendiri, tetapi seranglah mereka di perbatasan yang dekat tanah Arab, tetapi tidak jauh dari perkotaan. Sebab, jika kaum muslimin menang, semua yang dibawa bangsa Persia akan menjadi milik kaum muslimin dan bila kebalikannya, orang-orang Majusi itu lebih tahu menyelamatkan diri dan lebih berani di negeri mereka sendiri.

Sa’d memahami pendapat dan pesan al-Mutsanna yang disampaikan Mu’anna. Hal ini membuat Sa’d semakin sedih, maka dia pun mendoakan al-Mutsanna. Sebetulnya, jarak pertemuan antara Sa’d dan al-Mutsanna sudah dekat, tetapi kematian lebih dahulu menjemput al-Mutsanna. Pahlawan besar itu pun berangkat memenuhi janjinya.

Al-Mutsanna memang bukan sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi, keimanan dan keberaniannya serta keahliannya dalam peperangan telah mengantarkannya menjadi panglima kaum muslimin sesudah Khalid, untuk memimpin pasukan menaklukkan Persia. Selain itu, sebagaimana telah diceritakan, al-Mutsanna sangat mengenal keadaan di wilayah tersebut.

Beberapa waktu kemudian, Sa’d melamar Salma dan menikahinya. Inilah salah satu kebiasaan orang Arab sebagai penghargaan dan mengenang jasa serta kemuliaan pemimpin yang sudah meninggal dunia, sekaligus penghormatan terhadap jandanya, agar dengan demikian wanita yang mulia itu tetap berstatus mulia sebagaimana bersama suaminya dahulu.

Qadisiyah, di zaman jahiliah adalah gerbang menuju tanah Persia. Daerah ini pintu masuk berbagai bahan keperluan bangsa ini. Pelabuhan-pelabuhannya luas, tanahnya subur dan diperkuat dengan benteng-benteng yang kokoh serta jembatan penyeberangan yang melengkung dengan sungai-sungai yang jarang ada.

Sa’d juga melaporkan keadaan di setiap tempat yang disinggahi pasukannya. Dia menceritakan keadaan Qadisiyah yang hijau membentang panjang ke Hirah. Dia melaporkan bagaimana penduduk Sawad yang pernah berdamai dengan pasukan muslimin sekarang bergabung dengan Persia.

Amirul Mukminin tetap memantau dan meminta Sa’d agar tetap di tempatnya, dan baru betul-betul menyerang setelah berada di Madain. Sebab, menurut beliau di situlah kehancuran mereka, Insya Allah. Keyakinan Amirul Mukminin bukan karena meremehkan bangsa Persia, melainkan janji yang sudah ditetapkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Itu pun, bukan karena Allah subhanahu wa ta’ala menzalimi bangsa Persia, melainkan merekalah yang menzalimi diri sendiri dengan kesyirikan dan kekejaman serta keingkaran yang mereka perbuat. Wallahu a’lam.

Setelah menerima perintah dari Amirul Mukminin melalui surat-menyurat yang terus berlangsung sampai peperangan berlangsung, Sa’d pun bergerak menuju Qadisiyah sesudah mengatur pasukannya sedemikian rupa.

Sa’d mulai menunjuk beberapa komandan pasukan dan memecahnya menjadi beberapa regu. Kemudian, Sa’d menetapkan posisi masing-masing regu dengan komandannya.

Di barisan depan, beliau tempatkan para sahabat senior yang pernah menyertai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berperang. Tujuh puluh orang di antara mereka adalah veteran Perang Badr. Sekitar 300-an sisanya adalah orang-orang yang pernah ikut dalam Sumpah Setia di Hudaibiyah (Bai’atur Ridhwan).

Sa’d membawa mereka ke ‘Uzaib dan menetap beberapa lama sebelum melanjutkan perjalanan menuju Qadisiyah. ‘Uzaib adalah sebuah gudang senjata bangsa Persia yang dijaga ketat. Di setiap benteng ada orang yang mengawasi. Pasukan muslimin yang bertindak sebagai perintis sudah tiba di waktu subuh. Mereka tidak segera maju sampai datang satu regu pasukan yang akan menyerang benteng itu.

Setelah mendekat ke arah benteng, mereka melihat ada orang yang memacu kudanya menuju Qadisiyah. Ternyata orang-orang yang mereka lihat adalah bagian taktik Persia untuk mengintai kekuatan pasukan muslimin yang datang ke negeri mereka. Begitu kaum muslimin memasuki benteng, orang-orang itu sudah tidak ada di sana. Kaum muslimin hanya menemukan sejumlah tombak dan panah.

Sa’d tetap di ‘Uzaib walaupun pasukan Persia sudah tidak ada di sana. Kesempatan itu digunakan Sa’d menanamkan rasa takut di hati penduduk di sekitar ‘Uzaib dengan serangkaian serangan kecil. Ketika mereka tiba di ibu kota Bani Lakhm, mereka menyergap iring-iringan pengantin putri yang akan diserahkan kepada seorang pejabat di Sinnain.

Barang-barang berharga berikut pengiring rombongan itu ditawan dan diserahkan kepada Sa’d. Kemudian, Sa’d membagi-bagikannya kepada pasukan muslimin.

Demi mengetahui kejadian tersebut, penduduk Irak semakin ketakutan. Mereka tidak lagi mampu membangkang terhadap pasukan muslimin.

Sa’d semakin kuat di ‘Uzaib dan mulai membuat markas di Qudais.

(Insya Allah bersambung)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits


[1] Sa’d dari Bani Zuhrah, kabilah Ibunda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.