Qalbun Salim, Hati yang Selamat

 

 إِنَّ الْحَمْدَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ ١٠٢

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفۡسٖ وَٰحِدَةٖ وَخَلَقَ مِنۡهَا زَوۡجَهَا وَبَثَّ مِنۡهُمَا رِجَالٗا كَثِيرٗا وَنِسَآءٗۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ٱلَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلۡأَرۡحَامَۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيۡكُمۡ رَقِيبٗا ١

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَقُولُواْ قَوۡلٗا سَدِيدٗا ٧٠ يُصۡلِحۡ لَكُمۡ أَعۡمَٰلَكُمۡ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۗ وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ فَازَ فَوۡزًا عَظِيمًا ٧١

أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كَ مَالُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ وَشَرَّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.

 

Jama’ah sidang Jumat rahimakumullah,

Kami mewasiatkan kepada diri kami pribadi dan kepada segenap hadirin agar bertakwa kepada Allah ‘azza wa jalla. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ ١٠٢

        “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan beragama Islam.” (Ali ‘Imran: 102)

 

Maasyiral muslimin rahimakumullah,

Sesungguhnya ketakwaan seseorang berada di dalam kalbunya, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

التَّقْوَى هَهُنَا! التَّقْوَى هَهُنَا!

        “Ketakwaan itu di sini! Ketakwaan itu di sini!” (Seraya menunjukkan ke arah dada beliau) (HR. al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

 

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

ذَٰلِكَۖ وَمَن يُعَظِّمۡ شَعَٰٓئِرَ ٱللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقۡوَى ٱلۡقُلُوبِ ٣٢

        “Yang demikian itu, barang siapa yang memuliakan syiar-syiar Allah, sesungguhnya hal itu timbul dari ketakwaan kalbu.” (al-Hajj: 32)

 

Maasyiral muslimin rahimakumullah,

Oleh karena itu, jagalah kalbu. Sebab, kalbu ibarat generator penggerak setiap tindakan dan perbuatan seseorang. Baik-buruk perbuatannya tergantung pada bagus atau rusaknya kalbu, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

“Ketahuilah, sesungguhnya di setiap jasad ada sekerat daging. Manakala sekerat daging tersebut baik, akan baik pula seluruh jasad. Namun, manakala sekerat daging tersebut rusak, akan berakibat rusak pula seluruh jasadnya. Ketahuilah, sekerat daging tersebut adalah kalbu.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari sahabat an-Nu’man bin Basyir radhiallahu ‘anhuma)

Yang dilihat dan dinilai dari seseorang di sisi Allah ‘azza wa jalla adalah kalbu dan amalannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

“Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk-bentuk (badan) dan harta kalian. Akan tetapi, Allah melihat ke dalam kalbu dan amalan kalian.” (HR. Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Di sisi lain, kalbu merupakan bagian yang mudah sekali mengalami perubahan. Kalbu itu lemah dan mudah terwarnai. Hal ini sebagaimana yang telah diungkapkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya,

إِنَّ قُلُوبَ بَنِي آدَمَ بَيْنَ أَصْبِعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ يُقَلِّبُهَا كَيْفَ يَشَاءُ

“Sesungguhnya kalbu Bani Adam berada di antara dua jemari dari jari jemari ar-Rahman. Dia membolak-balikkannya sebagaimana Dia kehendaki.” (HR. Muslim dari sahabat Abdullah bin Amr bin Ash radhiallahu ‘anhuma)

Al-Imam Muhammad bin Sirin rahimahullah pernah berkata, “Sesungguhnya kalbu Bani Adam itu lemah, sedangkan syubhat selalu menyambar-nyambar.”

Sekali lagi, mari kita jaga kalbu-kalbu kita. Dengan kata lain, jagalah hati! Seseorang memang bisa menyembunyikan yang ada dalam kalbunya dari penilaian manusia. Namun, dia tidak akan mampu menyembunyikannya dari Allah ‘azza wa jalla.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ مَا فِي قُلُوبِكُمۡۚ

        “Dan Allah mengetahui apa yang ada di dalam kalbu kalian.” (al-Ahzab: 51)

 

Saudaraku kaum muslimin rahimakumullah!

Di dalam al-Qur’an, Allah ‘azza wa jalla menyebutkan kondisi kalbu manusia ada tiga macam: qalbun salim, qalbun maridh, dan qalbun mayyit.

 

  1. Qalbun salim, yaitu kalbu yang selamat atau bersih

Kalbu ini disebutkan dalam firman Allah ‘azza wa jalla,

يَوۡمَ لَا يَنفَعُ مَالٞ وَلَا بَنُونَ ٨٨ إِلَّا مَنۡ أَتَى ٱللَّهَ بِقَلۡبٖ سَلِيمٖ ٨٩

        “Pada hari yang harta dan anak-anak tidak lagi berguna, kecuali orang yang menghadap Allah dengan kalbu yang bersih.” (asy-Syu’ara: 88—89)

 

Kalbu jenis inilah yang harus dijaga kesucian dan keselamatannya. Kalbu ini suci dan selamat dari kesyirikan, kekufuran, kebid’ahan, kesesatan, dan bersih dari segala bentuk kemaksiatan. Sudah barang tentu, tingkat keselamatan antara satu kalbu dan yang lain berbeda-beda.

Di antara langkah yang ditempuh untuk menjaga eksistensi qalbun salim ini adalah dengan menjaga keimanan. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَمَن يُؤۡمِنۢ بِٱللَّهِ يَهۡدِ قَلۡبَهُ

        “Barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberikan petunjuk kepada kalbunya.” (at-Taghabun: 11)

 

Sebaliknya, kekafiran bisa menyebabkan kalbu menjadi tertutup. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمۡ ءَامَنُواْ ثُمَّ كَفَرُواْ فَطُبِعَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمۡ فَهُمۡ لَا يَفۡقَهُونَ ٣

        “Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi) lalu hati mereka dikunci mati; karena itu mereka tidak dapat mengerti.” (al-Munafiqun: 3)

 

  1. Qalbun maridh yaitu kalbu yang sakit atau berpenyakit

Ketika menyebutkan sifat orang-orang munafik, Allah ‘azza wa jalla berfirman,

فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٞ فَزَادَهُمُ ٱللَّهُ مَرَضٗاۖ وَلَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمُۢ بِمَا كَانُواْ يَكۡذِبُونَ ١٠

        “Dalam hati mereka ada penyakit. Lalu Allah tambahkan penyakitnya. Dan bagi mereka azab yang pedih karena mereka berdusta.” (al-Baqarah: 10)

 

Ada beberapa bentuk penyakit yang menyerang kalbu manusia, di antaranya sebagai berikut.

  • Penyakit syubhat

Penyakit ini sangat berbahaya terhadap kalbu. Sebab, pengaruh penyakit ini dapat membuat seseorang tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang batil. Terkadang kesesatan atau bid’ah dianggap baik dan dijadikan sebagai amalan ibadah.

Di dalam al-Qur’an ayat yang ketujuh surah Ali ‘Imran, Allah ‘azza wa jalla menyebutkan sebagian ciri-ciri orang yang kalbunya terjangkit penyakit ini,

فَأَمَّا ٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمۡ زَيۡغٞ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَٰبَهَ مِنۡهُ ٱبۡتِغَآءَ ٱلۡفِتۡنَةِ وَٱبۡتِغَآءَ تَأۡوِيلِهِۦۖ

        “Adapun orang-orang yang di dalam kalbunya terdapat penyimpangan, dia mengikuti yang mutasyabihat (yang samar) karena ingin membuat fitnah dan ingin mentakwilkannya (sesuai dengan akal pikirannya).” (Ali ‘Imran: 7)

 

  • Penyakit syahwat

Penderita penyakit kalbu jenis ini biasanya senang melakukan yang haram dan mudah tergoda untuk bermaksiat. Oleh karena itu, di antara yang diajarkan di dalam Islam adalah menutup segala celah yang bisa menjerumuskan seseorang ke dalam dosa dan maksiat. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَإِذَا سَأَلۡتُمُوهُنَّ مَتَٰعٗا فَسۡ‍َٔلُوهُنَّ مِن وَرَآءِ حِجَابٖۚ ذَٰلِكُمۡ أَطۡهَرُ لِقُلُوبِكُمۡ وَقُلُوبِهِنَّۚ

        “Dan manakala kalian meminta sesuatu kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari balik tabir, karena yang demikian itu lebih suci bagi kalbu kalian dan kalbu mereka.” (al-Ahzab: 53)

 

  1. Qalbun mayyit yaitu kalbu yang mati

Kalbu ini telah mati hingga tidak bisa melihat kebenaran, walaupun matanya melihat. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

فَإِنَّهَا لَا تَعۡمَى ٱلۡأَبۡصَٰرُ وَلَٰكِن تَعۡمَى ٱلۡقُلُوبُ ٱلَّتِي فِي ٱلصُّدُورِ ٤٦

        “Sebenarnya bukan mata yang buta, melainkan yang buta adalah kalbu-kalbu yang di dalam dada.” (al-Hajj: 46)

 

Maasyiral muslimin rahimakumullah,

Lihatlah! Kalbu mereka telah tertutup, telinga telah tersumbat sehingga tidak bisa lagi menerima kebenaran. Bahkan, keadaan mereka seperti ini diakui oleh diri mereka sendiri, sebagaimana firman Allah ‘azza wa jalla,

وَقَالُواْ قُلُوبُنَا فِيٓ أَكِنَّةٖ مِّمَّا تَدۡعُونَآ إِلَيۡهِ وَفِيٓ ءَاذَانِنَا وَقۡرٞ وَمِنۢ بَيۡنِنَا وَبَيۡنِكَ حِجَابٞ فَٱعۡمَلۡ إِنَّنَا عَٰمِلُونَ ٥

        Dan mereka berkata, “Kalbu kami telah tertutup dari yang kamu serukan kepada kami. Telinga kami telah tersumbat. Dan di antara kami dengan dirimu ada pembatas. Maka berbuatlah, kami pun akan berbuat sekehendak kami.” (Fushshilat: 5)

 

Ini semua akibat sikap mereka yang berpaling dari kebenaran. Allah ‘azza wa jalla

berfirman,

فَلَمَّا زَاغُوٓاْ أَزَاغَ ٱللَّهُ قُلُوبَهُمۡۚ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡفَٰسِقِينَ ٥

        “Ketika mereka berpaling dari kebenaran, Allah memalingkan kalbu mereka. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.” (as-Shaff: 5)

 

Na’udzubillah min dzalik. Semoga Allah ‘azza wa jalla menjaga kalbu-kalbu kita, serta mewafatkan kita dalam keadaan beriman.

أَقُولُ مَا تَسْمَعُونَ، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ وَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

 

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَلِيُّ الصَّالِحِينَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ؛ أَمَّا بَعْدُ:

 

Hadirin sidang Jumat rahimakumullah

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad rahimahullah dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا أَذْنَبَ كَانَتْ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فِي قَلْبِهِ، فَإِنْ تَابَ وَنَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ صَقُلَ مِنْهَا قَلْبُهُ، فَإِنْ زَادَ زَادَتْ حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبُهُ، فَذَلِكَ الرَّانُ، قَالَ اللهُ تَعَالَى: كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Sesungguhnya seorang mukmin, manakala berbuat dosa, akan mengakibatkan noda hitam pada kalbunya. Jika dia bertobat, meninggalkan dosa tersebut, dan beristigfar, kalbunya akan kembali bersih. Jika dosanya bertambah, akan bertambah pula noda hitam tersebut hingga memenuhi kalbunya. Itulah yang dimaksud “raan” (noda) dalam firman Allah ‘azza wa jalla, “Sekali-kali tidak, namun (ada) noda di kalbu-kalbu mereka disebabkan apa yang mereka perbuat.” (al-Muthaffifin: 14)

Di antara faktor penyebab kotor dan rusaknya kalbu adalah dosa dan maksiat. Oleh karena itu, marilah kita tingkatkan ketakwaan kita, sehingga bisa terhindar dari dosa dan maksiat.

Demikian pula sebaliknya, bertobat dan beristighfar merupakan langkah yang harus ditempuh oleh orang yang ingin memelihara kalbunya.

 

Maasyiral muslimin rahimakumullah,

Di antara sebab rusaknya kalbu seseorang adalah lalai dari berzikir dan lalai mengingat Allah ‘azza wa jalla. Di antara penenang kalbu orang-orang yang beriman adalah dengan berzikir. Tentunya zikir yang disyariatkan oleh Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَتَطۡمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكۡرِ ٱللَّهِۗ أَلَا بِذِكۡرِ ٱللَّهِ تَطۡمَئِنُّ ٱلۡقُلُوبُ ٢٨

        “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (ar-Ra’d: 28)

 

Sebagai penutup khutbah pada kesempatan kali ini, kami mengajak diri kami dan jamaah sekalian untuk memperbanyak berdoa kepada Allah ‘azza wa jalla agar senantiasa menjaga dan memelihara kalbu-kalbu kita. Di antara doa yang sering dipanjatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

        “Wahai yang membolak-balikkan kalbu, teguhkanlah kalbuku di atas agama-Mu.” (HR. al-Bukhari dan Muslim, dari Aisyah radhiallahu ‘anha)

 

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا، رَبَّنَا إِنَّكَ أَنْتَ رَؤُوفٌ رَحِيمٌ.

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ، وَيَا مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا فِي طَاعَتِكَ

اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْم لاَ يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ، وَالْحَمْدُ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Ditulis oleh  al-Ustadz Abu Ishaq Abdullah Nahar

Sebab Terjaganya Keimanan

Khutbah Pertama

 

الْحَمْدُ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَكَفَى بِاللهِ شَهِيداً، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ إِقْرَارًا بِهِ وَتَوْحِيدًا، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيماً مَزِيداً.

أَمَّا بَعْدُ؛

فَأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ وَآمِنُوا بِهِ إِيمَانًا صَحِيحًا

 

Maasyiral muslimin rahimakumullah,

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah subhanahu wa ta’ala yang telah mengaruniakan iman dan takwa kepada siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan kita termasuk yang mendapat karunia yang amat mulia ini. Amin, ya Rabbal ‘alamin.

Sebab, kalau bukan karena hidayah dan karunia dari-Nya, niscaya kita termasuk orang-orang yang merugi. Na’udzubillah min dzalik.

          فَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ وَرَحۡمَتُهُۥ لَكُنتُم مِّنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ ٦٤

“Seandainya bukan karena karunia dan rahmat Allah atas kalian, niscaya kalian akan tergolong orang-orang yang merugi.” (al-Baqarah: 64)

 

Di dalam surah al-‘Ashr, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          وَٱلۡعَصۡرِ ١  إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَفِي خُسۡرٍ ٢  إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ ٣

“Demi masa, sesungguhnya manusia itu berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (al-‘Ashr: 1—3)

 

Di antara yang dilantunkan para sahabat ketika menggali parit Khandaq bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah,

وَاللهِ لَوْلاَ اللهُ مَا اهْتَدَيْنَا وَ تَصَدَّقْنَا وَلاَ صَلَّيْنَا

        “Demi Allah, kalau bukan karena karunia Allah, tidaklah kami mendapat hidayah, niscaya kami tidak bersedekah, tidak pula kami mengerjakan shalat.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

 

Hadirin sidang jumat rahimakumullah!

Sudah menjadi kewajiban bagi setiap muslim untuk menjaga anugerah iman dan takwa ini. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ ١٠٢

        “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan takwa yang sebenarnya, dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan Islam.” (Ali Imran: 102)

 

Ketika salah seorang sahabat bertanya kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang ucapan dalam Islam, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya menjawab,

قُلْ: آمَنْتُ بِاللهِ؛ ثُمَّ اسْتَقِمْ

        Katakanlah, “Aku beriman kepada Allah,” kemudian istiqamahlah. (HR. Muslim dari sahabat Sufyan bin Abdullah ats-Tsaqafi radhiallahu ‘anhu)

 

Jawaban singkat ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga keistiqamahan iman.

 

Hadirin rahimakumullah!

Perhatikanlah janji Allah subhanahu wa ta’ala bagi hamba-hamba-Nya yang berhasil memelihara keistiqamahan iman. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُواْ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسۡتَقَٰمُواْ فَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ ١٣

        Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Rabb kami adalah Allah,” kemudian mereka tetap istiqamah, niscaya tidak akan ada rasa khawatir pada mereka, tidak pula mereka bersedih hati. (al-Ahqaf: 13)

 

          إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُواْ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسۡتَقَٰمُواْ تَتَنَزَّلُ عَلَيۡهِمُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ أَلَّا تَخَافُواْ وَلَا تَحۡزَنُواْ وَأَبۡشِرُواْ بِٱلۡجَنَّةِ ٱلَّتِي كُنتُمۡ تُوعَدُونَ ٣٠

        Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, “Rabb kami ialah Allah,” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan), “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (Fushshilat: 30)

 

Maasyiral muslimin rahimakumullah!

Dalam majelis ini perlu untuk kita ketahui bersama beberapa sebab terjaganya keimanan.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          وَإِذۡ تَأَذَّنَ رَبُّكُمۡ لَئِن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِيدَنَّكُمۡۖ وَلَئِن كَفَرۡتُمۡ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٞ ٧

        “Sesungguhnya jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepada kalian. Akan tetapi, jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), pasti azab-Ku sangat berat.” (Ibrahim: 7)

 

Jamaah jumat rahimakumullah!

Tersirat dari ayat di atas bahwa di antara penyebab terjaganya keimanan adalah:

  1. Bersyukur

Kalbu seseorang mengakui bahwa kenikmatan iman maupun kenikmatan yang lainnya berasal hanya dari Allah subhanahu wa ta’ala. Lisannya selalu memuji Allah atas kenikmatan-Nya tersebut. Dia juga menggunakan kenikmatan-kenikmatan tersebut dalam ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan tidak menggunakannya untuk bermaksiat.

 

Yang tidak kalah pentingnya daripada bersyukur adalah:

  1. Bersabar

Bersabar di sini meliputi tiga jenis kesabaran: (1) bersabar di atas ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, (2) bersabar untuk menahan diri dari bermaksiat kepada-Nya, dan (3) bersabar menghadapi musibah.

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَلِكَ لِأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh, mengagumkan urusan seorang muslim. Segala urusan mendatangkan kebaikan baginya dan yang demikian hanya ada pada seorang mukmin. Manakala mengalami kesenangan, dia akan bersyukur, itu adalah kebaikan baginya. Manakala ditimpa musibah, dia bersabar, itu pun kebaikan baginya.” (HR. Muslim dari sahabat Suhaib bin Sinan radhiallahu ‘anhu)

 

  1. Kesungguhan menjaga keistiqamahan iman dan takwa.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          وَٱلَّذِينَ جَٰهَدُواْ فِينَا لَنَهۡدِيَنَّهُمۡ سُبُلَنَاۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَمَعَ ٱلۡمُحۡسِنِينَ ٦٩

        “Orang-orang yang bersungguh-sungguh di (jalan) Kami, niscaya benar-benar Kami akan menunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (al-‘Ankabut: 69)

 

  1. Berusaha mengikhlaskan niat dalam semua urusan agama.

Sebab, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ

        “Dan tidaklah mereka diperintahkan melainkan agar mereka beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama ini hanya untuk-Nya.” (al-Bayyinah: 5)

 

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Sesungguhnya, amalan-amalan tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang mendapatkan sesuai dengan niatnya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu)

 

  1. Berpegang teguh dengan al-Qur’an dan Sunnah.

Hal ini sebagaimana sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنِّي تَارِكٌ فِيكُمْ مَا إِنْ تَمَسَّكْتُمْ بِهِ لَنْ تَضِلُّوا: كِتَابَ اللهِ وَسُنَّتِي

“Sesungguhnya aku tinggalkan untuk kalian yang kalian tidak akan tersesat selama kalian berpegang teguh dengannya, yaitu Kitab Allah dan Sunnahku.” (HR. al-Imam Malik dari sahabat Zaid bin Arqam radhiallahu ‘anhu, dan dihukumi sahih oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah)

 

Maksudnya, dengan menjadikan keduanya sebagai pedoman dan tidak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan keduanya.


 

  1. Berusaha selalu jujur dalam segala urusan.

Kejujuran sangat berpengaruh terhadap keistiqamahan iman seseorang. Sebab, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ، وَلاَ يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيقًا

“Hendaknya kalian bersikap jujur karena kejujuran membawa kepada kebaikan dan kebaikan akan membawa ke surga. Manakala seseorang selalu jujur dan menekuninya, niscaya akan ditulis di sisi Allah sebagai seorang shiddiq (tepercaya).”

 

Sebaliknya, perbuatan dusta sangat berbahaya terhadap keistiqamahan iman seseorang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,

إِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ، وَ يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّابًا

“Berhati-hatilah kalian dari berbuat dusta karena dusta akan membawa kepada kejahatan, dan kejahatan akan membawa ke neraka. Manakala seseorang selalu berdusta dan menekuninya, dia akan ditulis di sisi Allah subhanahu wa ta’ala sebagai pendusta.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu)

 

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَكُونُواْ مَعَ ٱلصَّٰدِقِينَ ١١٩

        “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan jadilah kalian bersama orang-orang yang jujur.” (at-Taubah: 119)

 

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمِ

 

Khutbah Kedua

 

الْحَمْدُ الَّذِي مَنَّ عَلَيْنَا بِنِعْمَةِ الْإِسْلَامِ، وَأَمَرَنَا بِالتَّمَسُّكِ بِهِ لِيُوْصِلَنَا بِهِ إِلَى دَارِ السَّلاَمِ، وَالصَّلَاة وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ الْأَنَامِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحَابَتِهِ الْبَرَرَةِ الْكِرَامِ، أَمَّا بَعْدُ: فَأَيُّهَا النَّاسُ عِبَادَ اللهِ الْكِرَامَ رَحِمَكُمُ اللهُ

 

Hadirin rahimakumullah,

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَرۡفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَٰتٖۚ

“Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu dengan beberapa derajat.” (al-Mujadalah: 11)

 

Ayat ini mengandung beberapa penyebab terjaganya keimanan:

  1. Mempelajari ilmu agama

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِهْهُ فِي الدِّينِ

        “Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, niscaya Allah akan menjadikannya paham agama.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Muawiyah radhiallahu ‘anhuma)

 

Maasyiral muslimin rahimakumullah,

Dalam sebuah hadits qudsi Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِ مَنْ هَدَيْتُهٌ، فَاسْتَهْدُونِي أَهْدِكُمْ

“Wahai hamba-hamba-Ku, sungguh kalian semua tersesat kecuali siapa yang Aku beri hidayah. Maka dari itu, mintalah hidayah kepada-Ku, niscaya kalian Aku beri hidayah.” (HR. Muslim dari sahabat Abu Dzar al-Ghifari radhiallahu ‘anhu)

Hadits di atas menyiratkan makna bahwa di antara penyebab terjaganya keimanan adalah:

 

  1. Doa

Sebab, iman dan takwa merupakan taufik dan hidayah dari Allah subhanahu wa ta’ala. Sampaisampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saja selalu berdoa dengan doa berikut ini.

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

“Wahai Dzat yang membolak-balikkan kalbu, kokohkanlah kalbuku di atas agama-Mu.”

 

رَبَّنَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكِ، وَيَا مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا فِي طَاعَتِكَ .

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى. اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

 

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ وَالْحَمْدُ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

 

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Ishaq Abdullah Nahar

Mewaspadai Kaum Munafik

 

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ ١٠٢

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفۡسٖ وَٰحِدَةٖ وَخَلَقَ مِنۡهَا زَوۡجَهَا وَبَثَّ مِنۡهُمَا رِجَالٗا كَثِيرٗا وَنِسَآءٗۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ٱلَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلۡأَرۡحَامَۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيۡكُمۡ رَقِيبٗا ١

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَقُولُواْ قَوۡلٗا سَدِيدٗا ٧٠ يُصۡلِحۡ لَكُمۡ أَعۡمَٰلَكُمۡ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۗ وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ فَازَ فَوۡزًا عَظِيمًا ٧١

أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كَ مَالُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ وَشَرَّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.

 

Saudara saudaraku kaum muslimin, sidang jumat rahimakumullah…

Perkenankanlah kami selaku khatib dalam khutbah jumat kali ini mengajak jamaah sekalian mengenal sedikit tentang siapa orang-orang munafik dan sifat-sifatnya, supaya kita bisa lebih berhati-hati dari mereka dan jangan sampai kita tertipu atau terpengaruh oleh tipu daya serta makar-makar buruk mereka.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

          إِنَّ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ هُمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ ٦٧

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasik.” (at-Taubah: 67)

 

Oleh sebab itu, di antara yang diperintahkan oleh Allah ‘azza wa jalla kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah berjuang melawan orang-orang munafik. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

          يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِيُّ جَٰهِدِ ٱلۡكُفَّارَ وَٱلۡمُنَٰفِقِينَ وَٱغۡلُظۡ عَلَيۡهِمۡۚ وَمَأۡوَىٰهُمۡ جَهَنَّمُۖ وَبِئۡسَ ٱلۡمَصِيرُ ٧٣

“Wahai Nabi, berjuanglah untuk melawan orang-orang kafir dan orang-orang munafik, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah neraka jahanam, dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.” (at-Taubah: 73)

 

Orang munafik adalah yang menampakkan keislaman namun menyembunyikan kekafiran. Bahayanya terhadap Islam lebih besar daripada bahaya orang yang benar-benar kafir, karena mereka merusak Islam dari dalam.

Oleh karena itu, Allah ‘azza wa jalla akan menempatkan mereka bersama orang-orang kafir di neraka Jahannam.

 

          إِنَّ ٱللَّهَ جَامِعُ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ وَٱلۡكَٰفِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعًا ١٤٠

“Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan orang-orang munafik bersama dengan orang-orang kafir di neraka Jahannam.” (an-Nisa: 140)

 

Bahkan, Allah akan menempatkan orang munafik di lapisan neraka yang terbawah. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

          إِنَّ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ فِي ٱلدَّرۡكِ ٱلۡأَسۡفَلِ مِنَ ٱلنَّارِ وَلَن تَجِدَ لَهُمۡ نَصِيرًا ١٤٥

        “Sesungguhnya orang-orang munafik itu akan ditempatkan di lapisan neraka yang paling bawah, dan tidak akan ada penolong bagi mereka.” (an-Nisa: 145)

 

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah!

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

          وَلَيَعۡلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَلَيَعۡلَمَنَّ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ ١١

        “Dan Allah pasti mengenal siapa orang-orang yang beriman dan pasti mengenal siapa orang-orang yang munafik.” (al-‘Ankabut: 11)

 

Mari kita simak, bagaimana Allah ‘azza wa jalla membongkar kedok kejahatan kaum munafik. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

          وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَقُولُ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَبِٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَمَا هُم بِمُؤۡمِنِينَ ٨

        Dan di antara manusia ada yang berkata, “Kami beriman kepada Allah dan hari akhirat.” Padahal sesungguhnya mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman. (al-Baqarah: 8)

 

Mereka itulah orang orang munafik. Lihatlah perbuatan-perbuatan keji mereka terhadap Islam dan kaum muslimin, serta balasan Allah ‘azza wa jalla kepada mereka!

يُخَٰدِعُونَ ٱللَّهَ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَمَا يَخۡدَعُونَ إِلَّآ أَنفُسَهُمۡ وَمَا يَشۡعُرُونَ ٩

        “Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal merekalah yang tertipu tanpa mereka sadari.” (al-Baqarah: 9)

 

Selanjutnya, Allah ‘azza wa jalla menyebut mereka sebagai orang-orang yang hatinya berpenyakit dan suka berdusta.

فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٞ فَزَادَهُمُ ٱللَّهُ مَرَضٗاۖ وَلَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمُۢ بِمَا كَانُواْ يَكۡذِبُونَ ١٠

“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah tambah penyakit tersebut dan mereka menerima azab yang pedih karena mereka berdusta.” (al-Baqarah: 10)

Meski nyata-nyata menimbulkan kerusakan, mereka tetap menganggap diri mereka sebagai orang-orang yang melakukan perbaikan. Allah ‘azza wa jalla berfirman pada ayat selanjutnya,

وَإِذَا قِيلَ لَهُمۡ لَا تُفۡسِدُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ قَالُوٓاْ إِنَّمَا نَحۡنُ مُصۡلِحُونَ ١١ أَلَآ إِنَّهُمۡ هُمُ ٱلۡمُفۡسِدُونَ وَلَٰكِن لَّا يَشۡعُرُونَ ١٢

Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Janganlah kalian berbuat kerusakan di muka bumi ini!” Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang melakukan perbaikan.”

Ketahuilah, sesungguhnya mereka benar-benar pelaku kerusakan, namun mereka tidak menyadari. (al-Baqarah: 11—12)

 

Hadirin rahimakumullah!

Di masa kita sekarang, di negeri ini, tindakan-tindakan kemunafikan seperti ini diwarnai oleh kaum liberal yang berbaju muslim. Mereka mengeluarkan pernyataan atau melakukan tindakan yang bertentangan dengan al-Qur’an dan Sunnah serta bertentangan dengan akidah yang diyakini oleh kaum muslimin. Anehnya, mereka mengaku bahwa mereka sedang melakukan perbaikan.

Sebagai salah satu contoh yang baru-baru ini terjadi, saat alim ulama gencar melarang masyarakat ikut serta dalam acara-acara keagamaan agama lain, di antara mereka justru ada yang dengan bangga menjadi pembicara dalam acara natal di gereja-gereja, dengan slogan menjalin toleransi.

Saat kaum muslimin resah dengan isu perkawinan sesama jenis, di antara mereka justru ada yang meminta agar hal itu dilegalkan, dengan alasan hak asasi manusia.

Bahkan, saat masyarakat Indonesia diresahkan oleh isu tersebarnya paham komunis, antara mereka ada yang mendukungnya, dengan slogan yang sama, membela HAM (hak asasi manusia).

Saat para dai ingin membersihkan tradisi masyarakat yang masih berbau mistik dan bertentangan dengan ajaran agama Islam, terpaksa harus berhadapan dengan kaum liberal yang gigih melestarikannya, dengan berdalih bahwa Islam adalah agama yang rahmatan lil ‘alamin.

حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

 Maasyiral muslim rahimakumullah!

Pada ayat berikutnya Allah ‘azza wa jalla berfirman,

          وَإِذَا قِيلَ لَهُمۡ ءَامِنُواْ كَمَآ ءَامَنَ ٱلنَّاسُ قَالُوٓاْ أَنُؤۡمِنُ كَمَآ ءَامَنَ ٱلسُّفَهَآءُۗ أَلَآ إِنَّهُمۡ هُمُ ٱلسُّفَهَآءُ وَلَٰكِن لَّا يَعۡلَمُونَ ١٣

Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Berimanlah kalian sebagaimana berimannya orang-orang (mukmin),” mereka menjawab, “Apakah kami harus beriman seperti imannya orang-orang yang akalnya kurang itu?” Ketahuilah, justru mereka itulah yang kurang akalnya, namun mereka tidak tahu.” (al-Baqarah: 13)

Betapa angkuhnya mereka. Begitu mudahnya mereka menolak nasihat. Begitu mudahnya mereka melecehkan kaum muslimin. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.” (HR. Muslim dari sahabat Abdullah bin Masud radhiallahu ‘anhu)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ

“Tidak akan masuk surga, orang yang ada di hatinya kesombongan seberat semut.” ( HR. Muslim dari sahabat Abdullah bin Masud radhiallahu ‘anhu)

Namun, apa mau dikata, itu sudah sunnatullah.

          فَلَمَّا زَاغُوٓاْ أَزَاغَ ٱللَّهُ قُلُوبَهُمۡۚ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡفَٰسِقِينَ ٥

        “Maka, ketika mereka berpaling (dari kebenaran), Allah sesatkan hati-hati mereka, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.” (ash-Shaff: 5)

 

نَسْأَلُ اللهَ السَّ مَالَةَ وَالْعَافِيَةَ

Kita memohon keselamatan dan afiat.

Allah ‘azza wa jalla telah berkata kepada Nabi-Nya,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِيُّ ٱتَّقِ ٱللَّهَ وَلَا تُطِعِ ٱلۡكَٰفِرِينَ وَٱلۡمُنَٰفِقِينَۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمٗا ١ وَٱتَّبِعۡ مَا يُوحَىٰٓ إِلَيۡكَ مِن رَّبِّكَۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِيرٗا ٢ وَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِۚ وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ وَكِيلٗا ٣

        “Wahai Nabi, bertakwalah kepada Allah dan janganlah engkau menuruti (keinginan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik. Sesungguhnya Allah Mahamengetahui lagi Mahabijaksana.

Ikutilah apa yang diwahyukan kepadamu dari Rabbmu. Sesungguhnya Allah Mahatahu terhadap apa yang kamu kerjakan, dan bertawakallah kepada Allah, dan cukuplah Allah sebagai penjagamu.” (al-Ahzab: 1—3)

 

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، أَقُولُ قَوْلِي وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، وَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمِ، وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

 

 

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ الَّذِي لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، أَنْجَزَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُولِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ، فَرَضِينَا بِاللهِ رَبًّا وَبِالْإِسْ مَالِ دِيناً وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا.

 

Jamaah sidang jumat rahimakumullah!

Akhir-akhir ini kaum liberal dan kaum sekuler semakin berani melakukan penistaan terhadap agama Islam. Lebih disayangkan lagi, mereka mendapat tempat di sebagian ormas (organisasi masyarakat) dan perguruan tinggi yang membawa nama Islam.

Di antara mereka ada yang berani menghina dan melecehkan para nabi. Bahkan, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tidak luput dari cacian mereka. Al-Qur’an mereka anggap tidak otentik, bahkan di antara mereka ada yang terang-terangan membantah ayat-ayat al-Qur’an.

Yang lebih kufur dari semua itu, ada di antara mereka yang berani menghina Allah ‘azza wa jalla. Tidak sampai hati kami menyebutkan contoh-contoh ucapan mereka.

Anehnya, mereka tetap menganggap diri mereka muslim dan bangga dengan Islam model mereka. Kita hanya bisa mengucapkan,

عَلَيْهِمْ مِنَ اللهِ مَا يَسْتَحِقُّونَ

“Semoga mereka mendapatkan (siksaan) yang sepantasnya dari Allah.”

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

          قُلۡ أَبِٱللَّهِ وَءَايَٰتِهِۦ وَرَسُولِهِۦ كُنتُمۡ تَسۡتَهۡزِءُونَ ٦٥ لَا تَعۡتَذِرُواْ قَدۡ كَفَرۡتُم بَعۡدَ إِيمَٰنِكُمۡۚ

        Katakanlah, “Mengapa kalian memperolok Allah dan ayat-ayat-Nya, serta Rasul-Nya? Tidak perlu kalian meminta maaf. Sungguh, kalian telah kafir setelah kalian beriman.” (at-Taubah: 65—66)

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

          يَحۡلِفُونَ بِٱللَّهِ مَا قَالُواْ وَلَقَدۡ قَالُواْ كَلِمَةَ ٱلۡكُفۡرِ وَكَفَرُواْ بَعۡدَ إِسۡلَٰمِهِمۡ      

“Mereka bersumpah tidak mengatakannya, padahal sungguh mereka telah mengatakan kalimat kekafiran, dan mereka telah menjadi kafir setelah berislam.” (at-Taubah: 74)

 

Kaum muslimin rahimakumullah,

Mereka sangatlah dekat dan loyal dengan agama lain dan para pemeluknya. Ada di antara mereka yang hadir dan berceramah di gereja dalam acara natal, ada pula yang memberi dukungan kepada orang kafir untuk menjadi calon pemimpin di negeri ini.

Padahal Allah ‘azza wa jalla telah berfirman,

          يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّخِذُواْ ٱلۡكَٰفِرِينَ أَوۡلِيَآءَ مِن دُونِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَۚ أَتُرِيدُونَ أَن تَجۡعَلُواْ لِلَّهِ عَلَيۡكُمۡ سُلۡطَٰنٗا مُّبِينًا ١٤٤

        “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin selain dari orang-orang yang beriman. Apakah kalian menginginkan hal itu sebagai alasan yang jelas untuk Allah menyiksa kalian?” (an-Nisa: 144)

 

Kaum muslimin rahimakumullah!

Sejatinya, mereka adalah orang-orang yang bingung menentukan sikap. Sebagaimana yang telah disebutkan sifatnya oleh Allah ‘azza wa jalla dalam firman-Nya,

          مُّذَبۡذَبِينَ بَيۡنَ ذَٰلِكَ لَآ إِلَىٰ هَٰٓؤُلَآءِ وَلَآ إِلَىٰ هَٰٓؤُلَآءِۚ

        “Mereka bingung menentukan sikap, tidak memihak kepada orang-orang kafir, tidak juga memihak kepada mereka orang-orang mukmin.” (an-Nisa: 143)

 

نَسْأَلُ اللهَ السَّلاَمَةَ وَالْعَافِيَةَ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ وَأَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ، وَالْحَمْدُ رَبِّ الْعَالَمِينَ

 

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Ishaq Abdullah Nahar

Konsekuensi Berislam

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ ١٠٢

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفۡسٖ وَٰحِدَةٖ وَخَلَقَ مِنۡهَا زَوۡجَهَا وَبَثَّ مِنۡهُمَا رِجَالٗا كَثِيرٗا وَنِسَآءٗۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ٱلَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلۡأَرۡحَامَۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيۡكُمۡ رَقِيبٗا ١

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَقُولُواْ قَوۡلٗا سَدِيدٗا ٧٠ يُصۡلِحۡ لَكُمۡ أَعۡمَٰلَكُمۡ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۗ وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ فَازَ فَوۡزًا عَظِيمًا ٧١

أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كَ مَالُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ وَشَرَّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ

 

Jamaah sidang jumat rahimakumullah,

Perkenankanlah kami selaku khatib, pada kesempatan ini menyampaikan sedikit nasihat terutama untuk kami pribadi dan segenap kaum muslimin.

Pertama-tama, marilah kita bersama-sama meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Sebab, ketakwaan merupakan sebaik-baik bekal dan sebaik-baik perhiasan bagi seorang muslim. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          وَتَزَوَّدُواْ فَإِنَّ خَيۡرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقۡوَىٰۖ وَٱتَّقُونِ يَٰٓأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِ ١٩٧

“Dan berbekallah kalian! Karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah ketakwaan. Maka bertakwalah, wahai orang-orang yang berpikir.” (al-Baqarah: 197)

وَلِبَاسُ ٱلتَّقۡوَىٰ ذَٰلِكَ خَيۡرٞۚ

“Dan pakaian ketakwaan itulah yang lebih baik.” (al-A’raf: 26)

فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ

“Sungguh telah beruntung orang-orang yang bertakwa.”

Kemudian, marilah kita bersama-sama meningkatkan rasa syukur kita ke hadirat Allah subhanahu wa ta’ala yang telah mencurahkan berbagai bentuk kenikmatan lahir batin bagi kita. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَٱشۡكُرُواْ لِلَّهِ إِن كُنتُمۡ إِيَّاهُ تَعۡبُدُونَ ١٧٢

“Dan bersyukurlah kepada Allah jika kalian hanya beribadah kepada-Nya.” (al-Baqarah: 172)

          وَإِن تَشۡكُرُواْ يَرۡضَهُ لَكُمۡۗ

        “Dan jika kalian bersyukur, niscaya Dia akan meridhai kalian.” (az-Zumar: 7)

 

Hadirin rahimakumullah,

Kita perlu senantiasa menyadari bahwa segala kenikmatan yang sampai kepada kita datangnya dari Allah subhanahu wa ta’ala,

          وَمَا بِكُم مِّن نِّعۡمَةٖ فَمِنَ ٱللَّهِۖ

        “Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya).” (an-Nahl: 53)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          وَأَسۡبَغَ عَلَيۡكُمۡ نِعَمَهُۥ ظَٰهِرَةٗ وَبَاطِنَةٗۗ

“Dan Dia (Allah) telah mencurahkan bagi kalian kenikmatan-kenikmatan-Nya, baik secara lahir maupun batin.” (Luqman: 20)

Allah subhanahu wa ta’ala telah berjanji akan selalu menambahkan nikmat-Nya bagi manusia yang mau bersyukur, sebagaimana dalam firman-Nya,

          وَإِذۡ تَأَذَّنَ رَبُّكُمۡ لَئِن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِيدَنَّكُمۡۖ وَلَئِن كَفَرۡتُمۡ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٞ ٧

“Dan ingatlah ketika Allah menyatakan, ‘Sungguh, jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambahkan (nikmat-Ku) kepada kalian. Namun, jika kalian mengingkari nikmat-Ku, maka pasti azab-Ku sangat pedih’.” (Ibrahim: 7)

Seseorang yang bersyukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala, hakikatnya syukurnya untuk kebaikan dirinya sendiri. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          وَمَن شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشۡكُرُ لِنَفۡسِهِۦۖ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيّٞ كَرِيمٞ ٤٠

“Barangsiapa bersyukur, sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya. Namun, barang siapa ingkar, sesungguhnya Rabbku Mahakaya lagi Mahamulia.” (an-Naml: 40)

 

Jamaah Jum’ah rahimakumullah,

Oleh karena itu, sudah sepantasnya kita memperbanyak doa seperti doa Nabi Sulaiman ‘alaihissalam,

          رَبِّ أَوۡزِعۡنِيٓ أَنۡ أَشۡكُرَ نِعۡمَتَكَ ٱلَّتِيٓ أَنۡعَمۡتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَٰلِدَيَّ وَأَنۡ أَعۡمَلَ صَٰلِحٗا تَرۡضَىٰهُ وَأَدۡخِلۡنِي بِرَحۡمَتِكَ فِي عِبَادِكَ ٱلصَّٰلِحِينَ ١٩

“Ya Rabbku, jadikanlah diriku seorang yang (senantiasa) bersyukur atas kenikmatan yang Engkau karuniakan untukku, agar aku menjadi orang yang beramal saleh, serta masukkanlah diriku dengan rahmat-Mu ke golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.” (an-Naml: 19)

Di antara doa yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

        اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِعِبَادَتِكَ

“Ya Allah, bantulah diriku untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, serta beribadah dengan baik kepada-Mu.” (HR. Ahmad dan an-Nasai, dari Muadz radhiallahu ‘anhu)

 

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah!

Kenikmatan yang paling agung dan yang paling berharga yang Allah subhanahu wa ta’ala anugerahkan kepada kita adalah nikmat Islam dan nikmat iman. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          بَلِ ٱللَّهُ يَمُنُّ عَلَيۡكُمۡ أَنۡ هَدَىٰكُمۡ لِلۡإِيمَٰنِ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ ١٧

“Sebenarnya Allah-lah yang telah melimpahkan nikmat kepada kalian dengan menunjukkan kalian kepada keimanan, jika kalian itu orang-orang yang jujur.” (al-Hujurat: 17)

Sudah sepantasnya kita selalu mengucapkan,

ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ ٱلَّذِي هَدَىٰنَا لِهَٰذَا وَمَا كُنَّا لِنَهۡتَدِيَ لَوۡلَآ أَنۡ هَدَىٰنَا ٱللَّهُۖ

“Segala puji bagi Allah yang telah menunjukkan kami ke dalam agama Islam ini. Tidaklah kami akan mendapat petunjuk sekiranya Allah tidak memberi petunjuk kepada kami.” (al-A’raf: 43)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          وَمَن يَبۡتَغِ غَيۡرَ ٱلۡإِسۡلَٰمِ دِينٗا فَلَن يُقۡبَلَ مِنۡهُ وَهُوَ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ ٨٥

“Dan barang siapa memilih agama selain Islam, maka tidak akan diterima. Dia di akhirat kelak termasuk orang yang merugi.” (Ali Imran: 85)

Hal ini karena,

          إِنَّ ٱلدِّينَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلۡإِسۡلَٰمُۗ

“Sesungguhnya agama di sisi Allah hanyalah Islam.” (Ali Imran: 19)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱدۡخُلُواْ فِي ٱلسِّلۡمِ كَآفَّةٗ

“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan.” (al-Baqarah: 208)

Maksudnya adalah dengan mewujudkan tuntutan utama Islam berupa,

الْاِسْتِسْلَامُ بِالتَّوْحِيدِ

“Menyerahkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan mentauhidkan-Nya,”

وَ الْاِنْقِيَادُ لَهُ باِلطَّاعَةِ

“Tunduk patuh kepada-Nya dengan menaati-Nya,”

وَالْبَرَاءَةُ مِنَ الشِّرْكِ وَأَهْلِهِ

“dan berlepas diri dari kesyirikan dan para pelakunya.”

 

Ketika seseorang telah menjadikan Islam sebagai agamanya, dia harus mewujudkan ketiga perkara tersebut.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآياَتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، أَقُولُ مَا تَسْمَعُونَ وَأَسْتَغْفِرُ اللهِ لِي وَلَكُمْ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمِ

 

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ الْقَائِلِ

ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَٰمَ دِينٗاۚ

وَأَشْهَدُ أَنْ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ أَجْمَعِينَ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا، أَمَّا بَعْدُ

 

Saudaraku kaum muslimin yang kami muliakan!

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengirim surat kepada Hiraklius selaku Raja Romawi ketika itu. Di antara isi suratnya,

أَسْلِمْ تَسْلَمْ

        “Masuk Islamlah, niscaya dirimu akan selamat!” (HR. al-Bukhari, dari Abu Sufyan radhiallahu ‘anhu)

Perkataan demikian juga pernah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ucapkan kepada Adi bin Hatim radhiallahu ‘anhu, yang menunjukkan bahwa agama Islam adalah satu-satunya jalan keselamatan.

Tentunya, agama Islam tidak bisa menjadi jalan keselamatan kecuali jika penganutnya mewujudkan kewajiban dalam agama. Sesungguhnya dengan demikian itulah, Islam menjadi rahmatan lil ‘alamin.

Islam adalah agama yang membebaskan pemeluknya dari penghambaan kepada makhluk, menjadi penghambaan murni hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala semata.

Islam adalah agama yang menyelamatkan pemeluknya dari pengikut hawa nafsu menjadi pengikut sejati ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam; yaitu dengan membenarkan berita dari beliau, melaksanakan perintah beliau, menjauhi larangan beliau, dan beribadah sesuai dengan syariat beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Di antara tuntutan Islam yang berkaitan dengan sesama muslim ialah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin merasa selamat dari gangguan lisan dan tangannya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim, dari Abdullah bin Amr radhiallahu ‘anhuma)

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ، سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ إِلَهَ إِ أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ، وَالْحَمْدُ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Ishaq Abdullah Nahar

 

Mewaspadai Kebangkitan Komunisme

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ ١٠٢

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفۡسٖ وَٰحِدَةٖ وَخَلَقَ مِنۡهَا زَوۡجَهَا وَبَثَّ مِنۡهُمَا رِجَالٗا كَثِيرٗا وَنِسَآءٗۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ٱلَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلۡأَرۡحَامَۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيۡكُمۡ رَقِيبٗا ١

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَقُولُواْ قَوۡلٗا سَدِيدٗا ٧٠ يُصۡلِحۡ لَكُمۡ أَعۡمَٰلَكُمۡ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۗ وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ فَازَ فَوۡزًا عَظِيمًا ٧١

أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كَ مَالُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ وَشَرَّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ

 

Jamaah jumat rahimakumullah,

Perkenankanlah kami pada kesempatan khutbah kali ini menyampaikan informasi seputar bahayanya paham komunisme terhadap NKRI.

Akhir-akhir ini, ada pihak-pihak yang berusaha memunculkan kembali paham yang berbahaya ini di bumi persada. Mereka berupaya dengan memasang poster para tokohnya, menggunakan atribut dan lambang palu arit. Bahkan, ada yang membanggakan dirinya sebagai anak PKI lantas menulis buku untuk menggambarkan kebanggaannya tersebut. Wal ‘iyadzu billah.

 

Jamaah jumat rahimakumullah!

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,

لاَ يُلْدَغُ الْمُؤْمِنُ مِنْ جُحْرٍ وَاحِدٍ مَرَّتَيْنِ

“Tidak sepantasnya seorang mukmin tersengat sampai dua kali dari lubang yang sama.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Kita kaum muslimin yang berwarga negara Indonesia sudah merasa jera dan trauma dengan yang namanya gerakan dan paham komunisme. Sejarah kelam dan tragedi berdarah yang dimotori oleh gerakan komunis jangan sampai terulang lagi di negeri kita tercinta ini.

Sebagaimana yang telah kita ketahui bersama, paham komunisme dicetuskan oleh orang-orang ateis yang antiagama dan tidak percaya dengan adanya Allah.

Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman,

أَمۡ خُلِقُواْ مِنۡ غَيۡرِ شَيۡءٍ أَمۡ هُمُ ٱلۡخَٰلِقُونَ ٣٥

“Apakah mereka tercipta tanpa asal usul ataukah mereka menciptakan diri mereka sendiri?” (ath-Thur: 35)

 

Saudara-saudaraku kaum muslimin… semoga kita dirahmati oleh Allah

Kita telah ridha dengan Allah subhanahu wa ta’ala sebagai Rabb kita, Islam sebagai agama kita, dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai nabi kita. Maka dari itu, kita tidak akan rela paham komunisme ada di tengah-tengah kita.

Agama Islam memiliki konsep:

لاَ ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ

Artinya, menolak madarat terhadap dirinya dan menolak madarat terhadap pihak lain, sebagaimana yang telah disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sungguh, paham komunisme sangatlah bermadarat bagi individu, masyarakat, agama, dan bangsa.

 

Hadirin rahimakumullah,

Mari kita dukung bangsa kita dalam menolak paham komunisme. Agama dan negara kita menolak terorisme, dan komunisme tidak lepas dari praktik terorisme.

Agama dan negara kita menolak tindakan anarkisme (tindakan kekejaman), dan komunisme tidak bisa lepas dari praktik anarkisme.

Semoga taufik Allah senantiasa tercurahkan kepada kita dan para pemimpin negara ini untuk berjalan di atas jalan yang lurus.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآياَتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، أَقُولُ مَا تَسْمَعُونَ وَأَسْتَغْفِرُ اللهِ لِي وَلَكُمْ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمِ

 

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ ا لْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ

Hadirin rahimakumullah,

Memang benar bahwa agama Islam selalu mengajak untuk bersikap adil. Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman,

إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ

“Sesungguhnya Allah memerintahkan agar bersikap adil….” (an-Nahl: 90)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman pula,

ٱعۡدِلُواْ هُوَ أَقۡرَبُ لِلتَّقۡوَىٰۖ

“Bersikap adillah, karena sikap adil lebih dekat kepada takwa.” (al-Maidah: 8)

Pada ayat yang lain,

وَأَقۡسِطُوٓاْۖ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُقۡسِطِينَ ٩

“Dan berbuat adillah, karena sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat adil.” (al-Hujurat: 9)

Sekian banyak ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi yang mengajari kita untuk menjadi orang yang adil.

Akan tetapi, bukan seperti keadilan yang disuarakan oleh orang-orang yang bepemahaman komunis, yang seakan-akan ingin memperjuangkan para petani, pekerja, dan kaum buruh. Padahal apa yang mereka lakukan jauh dari keadilan dan tidak pula membela hak rakyat. Mereka justru merampas hak rakyat.

Sebagai contoh, konsep keadilandalam paham komunisme adalah alat-alat produksi, tanah, modal, dan tenaga kerja menjadi milik bersama, diatur oleh negara; tidak ada kepemilikan individu. Sudah barang tentu, konsep ini bertentangan dengan akal sehat, fitrah, dan syariat Islam

Syariat Islam mengakui adanya kepemilikan manusia secara individu. Akan tetapi, Islam mengatur agar manusia menggunakan hartanya dalam hal-hal bermanfaat dan tidak menimbulkan madarat. Selain itu, Islam mewajibkan umatnya untuk mengeluarkan sebagian kecil dari hartanya sebagai zakat yang disalurkan kepada para fakir miskin.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَن يَبۡتَغِ غَيۡرَ ٱلۡإِسۡلَٰمِ دِينٗا فَلَن يُقۡبَلَ مِنۡهُ وَهُوَ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ ٨٥

“Dan barang siapa memilih selain Islam sebagai agamanya, maka tidak akan diterima darinya, dan di akhirat kelak dia termasuk orang yang merugi.” (Ali Imran: 85)

لاَ حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلاَّ باِللهِ، رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا، وَالْحَمْدُ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Ishaq Abdullah Nahar

Berlepas Diri dari Orang Kafir

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Ishaq Abdullah Nahar

KHUTBAH PERTAMA:

 إِنَّ الْحَمْدَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ ١٠٢

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفۡسٖ وَٰحِدَةٖ وَخَلَقَ مِنۡهَا زَوۡجَهَا وَبَثَّ مِنۡهُمَا رِجَالٗا كَثِيرٗا وَنِسَآءٗۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ٱلَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلۡأَرۡحَامَۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيۡكُمۡ رَقِيبٗا ١

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَقُولُواْ قَوۡلٗا سَدِيدٗا ٧٠ يُصۡلِحۡ لَكُمۡ أَعۡمَٰلَكُمۡ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۗ وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ فَازَ فَوۡزًا عَظِيمًا ٧١

أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كَلَامُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ وَشَرَّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ. أَمَّا بَعْدُ؛

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

قُلۡ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡكَٰفِرُونَ ١  لَآ أَعۡبُدُ مَا تَعۡبُدُونَ ٢  وَلَآ أَنتُمۡ عَٰبِدُونَ مَآ أَعۡبُدُ ٣  وَلَآ أَنَا۠ عَابِدٞ مَّا عَبَدتُّمۡ ٤ وَلَآ أَنتُمۡ عَٰبِدُونَ مَآ أَعۡبُدُ ٥  لَكُمۡ دِينُكُمۡ وَلِيَ دِينِ ٦

Katakanlah (wahai Rasul), “Wahai orang-orang kafir! Aku tidak akan menyembah apa yang kalian sembah. Dan kalian bukanlah penyembah apa yang aku sembah. Dan aku tidak akan pernah menjadi penyembah apa yang kalian sembah. Bagi kalian agama kalian dan bagiku agamaku.” (al-Kafirun: 1—6)

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Demikianlah Allah subhanahu wa ta’ala memerintah Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Perintah yang menjadi pelajaran bagi segenap kaum muslimin agar tidak mengikuti pelaksanaan peribadatan agama apapun dan tidak berpartisipasi dalam acara keagamaan nonmuslim.

Di antara prinsip dasar Islam adalah,

الْبَرَاءَةُ مِنَ الشِّرْكِ وَأَهْلِهِ

“Berlepas diri dari kesyirikan dan para pelakunya.”

sebagaimana yang telah difirmankanoleh Allah subhanahu wa ta’ala,

قَدۡ كَانَتۡ لَكُمۡ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ فِيٓ إِبۡرَٰهِيمَ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ إِذۡ قَالُواْ لِقَوۡمِهِمۡ إِنَّا بُرَءَٰٓؤُاْ مِنكُمۡ وَمِمَّا تَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ كَفَرۡنَا بِكُمۡ وَبَدَا بَيۡنَنَا وَبَيۡنَكُمُ ٱلۡعَدَٰوَةُ وَٱلۡبَغۡضَآءُ أَبَدًا حَتَّىٰ تُؤۡمِنُواْ بِٱللَّهِ وَحۡدَهُۥٓ إِلَّا قَوۡلَ إِبۡرَٰهِيمَ لِأَبِيهِ لَأَسۡتَغۡفِرَنَّ لَكَ وَمَآ أَمۡلِكُ لَكَ مِنَ ٱللَّهِ مِن شَيۡءٖۖ رَّبَّنَا عَلَيۡكَ تَوَكَّلۡنَا وَإِلَيۡكَ أَنَبۡنَا وَإِلَيۡكَ ٱلۡمَصِيرُ ٤

“Sungguh, telah ada suri teladan yang baik bagi kalian pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya. Ketika mereka berkata kepada kaumnya (yang kafir), “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari yang kalian sembah selain Allah. Kami mengingkari kalian. Telah nyata permusuhan dan kebencian antara kami dan kalian untuk selama-lamanya sampai kalian beriman kepada Allah saja.” (al-Mumtahanah: 4)

Sungguh, tak sepantasnya kaum muslimin turut merayakan, menghadiri, atau berpartisipasi dalam acara keagamaan agama lain.

Kaum muslimin dilarang berloyalitas dengan kaum kafir. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

لَّا تَجِدُ قَوۡمٗا يُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ يُوَآدُّونَ مَنۡ حَآدَّ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَلَوۡ كَانُوٓاْ ءَابَآءَهُمۡ أَوۡ أَبۡنَآءَهُمۡ أَوۡ إِخۡوَٰنَهُمۡ أَوۡ عَشِيرَتَهُمۡۚ

“Tidaklah engkau akan mendapatkan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat (yang masih) berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya; sekalipun orang-orang itu orang tua, anak, saudara, atau kerabatnya.” (al-Mujadalah: 22)

Sikap loyal terhadap orang kafir tergolong dalam perbuatan kezaliman. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَن يَتَوَلَّهُمۡ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ ٩

“Dan barang siapa yang berloyalitas dengan orang-orang kafir, mereka itulah orang-orang zalim.” (al-Mumtahanah: 9)

Bahkan, pada ayat lain, Allah subhanahu wa ta’ala memasukkan mereka ke dalam golongan orang-orang kafir. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّخِذُواْ ٱلۡيَهُودَ وَٱلنَّصَٰرَىٰٓ أَوۡلِيَآءَۘ بَعۡضُهُمۡ أَوۡلِيَآءُ بَعۡضٖۚ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمۡ فَإِنَّهُۥ مِنۡهُمۡۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّٰلِمِينَ ٥١

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kalian menjadikan umat Yahudi dan umat Nasrani sebagai teman setia. Mereka satu sama lain saling melindungi. Barang siapa di antara kalian yang berloyalitas dengan mereka, dia termasuk (golongan) mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (al-Maidah: 51)

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah umatnya untuk menyelisihi penampilan orang-orang kafir. Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,

خَالِفُوا الْمُشْرِكِينَ، أَحْفُوا الشَّوَارِبَ وَأَوْفُوا اللحِّىَ

“Selisihilah orang-orang musyrik, potonglah kumis dan peliharalah jenggot.” (HR. al-Bukhari dan Muslim, dari sahabat Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma)

صُومُوا التَّاسِعَ وَالْعَاشِرَ، خَالِفُوا الْيَهُودَ

“Hendaknya kalian berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram. Selisihilah orang-orang Yahudi.” (HR. Said bin Manshur, dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma)

Dalam hadits yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang meniru kegiatan dan penampilan orang-orang kafir seraya berkata,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barang siapa meniru suatu kaum, dia termasuk golongan mereka.” (HR. Abu Dawud, dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma)

Demikianlah perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar kita menyelisihi orang-orang kafir. Sudah tentu pula, kita dilarang mengikuti kegiatan keagamaan nonmuslim.

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin (salah seorang ulama besar kerajaan Saudi Arabia) rahimahullah berkata, “Sama sekali kita tidak diperbolehkan mengucapkan ucapan selamat atas hari raya orang-orang kafir. Sebab, ucapan selamat atas hari raya agama mereka merupakan bentuk keridhaan terhadap syiar-syiar kekufuran. Hal ini sangat berbahaya.”

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلَن تَرۡضَىٰ عَنكَ ٱلۡيَهُودُ وَلَا ٱلنَّصَٰرَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمۡۗ

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepadamu hingga kamu mengikuti agama mereka.” (al-Baqarah: 120)

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ ا يْآلَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، وَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِي حَبَّبَ إِلَيْنَا الْإِيمَانَ وَزَيَِّنَهُ في قُلُوبِنَا وَكَرَّهَ إِلَيْنَا الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ

Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan iman itu indah di dalam hati kita dan telah menjadikan kita membenci kekufuran, kefasikan, dan kemaksiatan.

فَضۡلٗا مِّنَ ٱللَّهِ وَنِعۡمَةٗۚ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٞ ٨

“Sebagai karunia dan nikmat dari Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” (al-Hujurat: 8)

Saudara-saudaraku kaum muslimin rahimakumullah!

Senantiasa pada rakaat setiap shalat, kita membaca doa ini,

ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ ٦ صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ غَيۡرِ ٱلۡمَغۡضُوبِ عَلَيۡهِمۡ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ ٧

“Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat kepada mereka, bukan jalan mereka yang dimurkai, bukan pula jalan mereka yang sesat.” (al-Fatihah: 6—7)

Sebagian ulama ahli tafsir menerangkan bahwa yang dimaksud

dengan ٱلۡمَغۡضُوبِ عَلَيۡهِمۡ  adalah kaum Yahudi dan orang yang mengetahui kebenaran tetapi tidak mengamalkannya. Adapun yang dimaksud dengan ٱلضَّآلِّينَ adalah kaum Nasrani dan orang yang beramal tanpa ilmu.

Lantas, apa artinya kita berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar dijauhkan dari jalan orang-orang Yahudi dan Nasrani, jika kita masih mengikuti dan meniru tradisi mereka?

Sungguh, sangat disayangkan dan sangat memprihatinkan kondisi sebagian kaum muslimin yang bersuka cita dan mengikuti acara keagamaan agama lain.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلَهُمْ وَاعْفُ عَنَّا وَعَنْهُمْ،

رَبَّنَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبَ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ،

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ،

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ وَأَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِين

Riba Mendatangkan Petaka

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Ishaq Abdullah Nahar

 KHUTBAH PERTAMA:

 

إِنَّ الْحَمْدَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ ١٠٢

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفۡسٖ وَٰحِدَةٖ وَخَلَقَ مِنۡهَا زَوۡجَهَا وَبَثَّ مِنۡهُمَا رِجَالٗا كَثِيرٗا وَنِسَآءٗۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ٱلَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلۡأَرۡحَامَۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيۡكُمۡ رَقِيبٗا ١

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَقُولُواْ قَوۡلٗا سَدِيدٗا ٧٠ يُصۡلِحۡ لَكُمۡ أَعۡمَٰلَكُمۡ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۗ وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ فَازَ فَوۡزًا عَظِيمًا ٧١

أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كَلَامُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ وَشَرَّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ. أَمَّا بَعْدُ؛

 

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman di dalam al-Qur’an surat an-Nisa’ ayat 29 sebagai seruan bagi kaum muslimin,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَأۡكُلُوٓاْ أَمۡوَٰلَكُم بَيۡنَكُم بِٱلۡبَٰطِلِ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memakan harta kalian sesama kalian dengan cara batil.”

Memakan harta manusia dengan cara batil adalah makan harta yang haram dan makan makanan yang tidak baik. Allah subhanahu wa ta’ala telah memerintah manusia agar mengonsumsi makanan yang halalan thayyiban, halal dan baik, sebagaimana firman-Nya,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ كُلُواْ مِمَّا فِي ٱلۡأَرۡضِ حَلَٰلٗا طَيِّبٗا وَلَا تَتَّبِعُواْ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِۚ إِنَّهُۥ لَكُمۡ عَدُوّٞ مُّبِينٌ ١٦٨

“Wahai manusia, makanlah dari makanan yang halal dan yang baik dari apa yang terdapat di bumi ini. Dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagi kalian.” (al-Baqarah: 168)

Anjuran agar mengonsumsi makanan yang halal dan baik ini ditinjau dari sisi zat makanannya dan dari sisi cara mendapatkannya. Daging babi dan minuman keras, misalnya. Secara asal zatnya, keduanya merupakan makanan dan minuman yang haram sehingga dikatakan tidak halal dan tidak baik. Misal yang kedua, harta riba dan hasil curian. Keharamannya karena didapatkan dan diperoleh dengan cara yang batil, meski asal muasal zatnya halal.

 

Hadirin rahimakumullah,

Ketahuilah, pertumbuhan jasmani seseorang yang berasal dari makanan dan minuman haram akan terancam siksa neraka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ جِسْمٍ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ فَالنَّارُ أَوْلَى بِهِ

“Setiap tubuh yang tumbuh dari makanan yang haram, maka neraka yang paling berhak dengannya.” (HR. Ahmad)

Makanan, minuman, dan pakaian haram yang dikonsumsi atau dikenakan oleh seseorang merupakan salah satu penyebab tidak terkabulnya doa.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkisahtentang seseorang yang menengadahkan kedua tangannya untuk berdoa, “Wahai Rabbku, wahai Rabbku!” Akan tetapi, makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan sumber gizinya dari harta yang haram. Bagaimana mungkin doanya akan terkabulkan?! (HR. Muslim, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

 

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Di antara harta haram yang didapatkan dengan cara batil adalah harta riba. Semoga kita dijauhkan dari harta yang mendulang petaka ini. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَأۡكُلُواْ ٱلرِّبَوٰٓاْ أَضۡعَٰفٗا مُّضَٰعَفَةٗۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ ١٣٠

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memakan riba yang berlipat-lipat (bunganya) dan bertakwalah kepada Allah agar kalian beruntung.” (Ali ‘Imran: 130)

Pada ayat yang lain Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَأَحَلَّ ٱللَّهُ ٱلۡبَيۡعَ وَحَرَّمَ ٱلرِّبَوٰاْۚ

“Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (al-Baqarah: 275)

Riba adalah harta yang tidak berkah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَمۡحَقُ ٱللَّهُ ٱلرِّبَوٰاْ وَيُرۡبِي ٱلصَّدَقَٰتِۗ

“Allah akan mencabut berkah dariharta riba. Dan Allah akan memelihara harta yang disedekahkan.” (al-Baqarah: 276)

Bermuamalah dengan praktik riba dan makan harta dari riba merupakan dosa besar yang akan membinasakan pelakunya. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اجْتَنِبُو السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ

“Jauhilah tujuh hal yang membinasakan!”

Para sahabat radhiallahu ‘anhum bertanya, “Apa saja wahai Rasulullah?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

الشِّرْكُ، وَالسِّحْرُ، وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ، وَأَكْلُ الرِّبَا، وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ، وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ، وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْغَافِ تَالِ

Ketujuh dosa yang membinasakan tersebut adalah:

  1. Syirik
  2. Sihir
  3. Membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah tanpa alasan yang dibenarkan
  4. Memakan harta riba
  5. Memakan harta anak yatim
  6. Lari ketika perang sedang berkecamuk
  7. Menuduh wanita mukminah yang menjaga kehormatannya dengan tuduhan keji. (HR. al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Pemakan, pemberi, juru tulis, saksi muamalah harta riba adalah orang-orang yang dilaknat oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata,

لَعَنَ رَسُولُ اللهِ آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat si pemakan riba dan pemberinya.” (HR. Muslim)

Dalam riwayat al-Imam at-Tirmidzi ada tambahan lafadz,

وَشَاهِدَيْهِ وَكَاتِبَهُ

“Juga yang menjadi saksi dan juru tulisnya.”

Sungguh, keberadaan riba di rumah tangga dan lingkungan kita sangat mengerikan bahayanya dan sangat buruk akibatnya. Oleh karena itu, Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kaum muslimin untuk segera meninggalkannya.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَذَرُواْ مَا بَقِيَ مِنَ ٱلرِّبَوٰٓاْ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ٢٧٨

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman.”

فَإِن لَّمۡ تَفۡعَلُواْ فَأۡذَنُواْ بِحَرۡبٖ مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦۖ

“Jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu.”

وَإِن تُبۡتُمۡ فَلَكُمۡ رُءُوسُ أَمۡوَٰلِكُمۡ لَا تَظۡلِمُونَ وَلَا تُظۡلَمُونَ ٢٧٩

“Dan jika kamu bertobat (dari pengambilan riba), bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.” (al-Baqarah: 278—279)

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، أَقُولُ مَا تَسْمَعُونَ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوهُ وَتُوبُوا إِلَيْهِ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمِ

 

 KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ وَالصَّ ةَالُ وَالسَّ مَالُ عَلَى رَسُولِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ؛ أَمَّا بَعْدُ: فَإِلَى اللهِ الْمُشْتَكَى

Hanya kepada Allah-lah kita mengadu atas merebaknya praktik riba di masyarakat kita sekarang ini. Berbagai bentuk muamalah riba ada dan terjadi di lingkungan kita.

Ada yang melakukan jual beli emas atau perak dengan sistem tukar tambah. Perhiasan emas yang lama langsung ditukar dengan yang baru di toko emas dengan tambahan biaya.

Praktik riba seperti inilah yang disebut riba fadhl dan dilarang keras oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya,

لاَ تَبِيعُوا الذَّهَبَ بِالذَّهَبِ إِلاَّ مِثْلاً بِمِثْلٍ

“Janganlah kalian berjual-beli emas dengan emas, kecuali harus sama dengan timbangannya.”

وَلَا تَشِفُّوا بَعْضَهَا عَلَى بَعْضٍ

“Janganlah kalian melebihkan sebagian atas yang lain (maksudnya tukar tambah emas).”

وَلَا تَبِيْعُوا الْوَرِقَ بِالْوَرِقِ إِلاَّ مِثْ بِمِثْلٍ

“Janganlah kalian jual beli perak dengan perak kecuali sama timbangannya.”

وَلَا تَشِفُّوا بَعْضَهَا عَلَى بَعْضٍ

Janganlah kalian melakukan tukar tambah antara perak dengan perak.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Abu Said al-Khudri radhiallahu ‘anhu)

الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَزْنًا بِوَزْنٍ مِثْ بِمِثْلٍ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَزْنًا بِوَزْنٍ مِثْ بِمِثْلٍ فَمَنْ زَادَ أَوِ اسْتَزَادَ فَهُوَ رِبًا

“Emas dengan emas harus dengan timbangan yang sama, perak dengan perak harus dengan timbangan yang sama. Barang siapa melebihkan atau meminta untuk dilebihkan, maka itulah riba.” (HR. Muslim, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

 

Kaum muslimin rahimakumullah,

Di antara praktik riba yang terjadi di tengah masyarakat kita adalah jual beli emas/perak dengan sistem bayar angsur (kredit) atau sebaliknya, dengan pembayaran di muka sedangkan emas/perak yang dibeli diterima pada lain waktu.

Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,

الذَّهَبُ بِالْوَرِقِ رِبًا إِلاَّ هَاءً وَهَاءً

“Emas dibayar dengan perak adalah riba kecuali jika dibayar tunai.” (HR. al-Bukhari dan Muslim, dari Umar radhiallahu ‘anhu)

وَلاَ تَبِيعُوا مِنْهَا غَائِبًا بِنَاجِزٍ

“Janganlah kalian jual beli emas/perak dengan utang-piutang.” (HR. al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Sa’id radhiallahu ‘anhu)

 

Hadirin rahimakumullah,

Hal yang semisal dengan emas dan perak adalah mata uang yang berfungsi sebagai alat tukar/transaksi. Tidak dibenarkan tukar-menukar mata uang yang sejenis (misalnya rupiah dengan rupiah) kecuali harus sama jumlah nominalnya dan harus tunai diterima pada satu majelis.

Tidak dibenarkan pula tukar-menukar dua mata uang yang berbeda (misalnya rupiah dengan dollar) kecuali keduanya harus diterima secara tunai dan pada satu majelis.

Di antara praktik riba yang tumbuh subur di masyarakat kita adalah simpan-pinjam dengan sistem bunga. Riba jenis inilah yang dimaksud dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam surat Ali ‘Imran ayat 130,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَأۡكُلُواْ ٱلرِّبَوٰٓاْ أَضۡعَٰفٗا مُّضَٰعَفَةٗۖ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memakan riba dengan

bertambah berlipat-lipat….” sebagaimana yang telah dijelaskan oleh para ahli tafsir.

Perlu kita sadari bahwa praktik riba seringkali disitilahkan dengan bahasa yang menarik dan memikat. Padahal penamaan tidaklah mengubah hakikat. Dengan istilah yang baru, riba tersebut menjadi terselubung.

Akan tetapi, riba tetaplah riba meskipun dinamakan “dana kredit” atau “mudharabah”, yang hakikatnya adalah pinjaman berbunga. Praktik-praktik seperti inilah yang menjadi salah satu sebab kehinaan pada suatu kaum. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memperingatkan kita dari hal ini,

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمْ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ

“Jika kalian telah berjual beli dengan sistem ‘inah, kalian memegang ekor-ekor sapi (sibuk dengan ternak), kalian puas dengan cocok tanam, dan kalian meninggalkan jihad, niscaya Allah subhanahu wa ta’ala akan menimpakan kehinaan kepada kalian sampai kalian kembali kepada agama kalian.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad, dari Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma, dinyatakan sahih oleh al-Albani)

Sistem ‘inah adalah salah satu bentuk riba yang terselubung. Gambarannya, Si A menjual barang kepada Si B secara kontan. Kemudian barang tersebut dibeli kembali oleh Si A dengan harga yang lebih tinggi dengan pembayaran secara tempo.

Hakikatnya, Si A meminjam uang dari Si B dan harus mengembalikannya dengan nilai lebih tinggi.

نَسْألُ اللهَ السَّ مَالَةَ وَالْعَافِيَةَ

Kita memohon kepada Allah keselamatan dan kesejahteraan.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَ مُتَقَبَّلَا

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَالْحَمْدُ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Kemuliaan Bulan-Bulan Haram

KHUTBAH PERTAMA:

 

إِنَّ الْحَمْدَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ ١٠٢

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفۡسٖ وَٰحِدَةٖ وَخَلَقَ مِنۡهَا زَوۡجَهَا وَبَثَّ مِنۡهُمَا رِجَالٗا كَثِيرٗا وَنِسَآءٗۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ٱلَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلۡأَرۡحَامَۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيۡكُمۡ رَقِيبٗا ١

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَقُولُواْ قَوۡلٗا سَدِيدٗا ٧٠ يُصۡلِحۡ لَكُمۡ أَعۡمَٰلَكُمۡ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۗ وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ فَازَ فَوۡزًا عَظِيمًا ٧١

أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كَلَامُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ وَشَرَّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ. أَمَّا بَعْدُ؛

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah subhanahu wa ta’ala yang telah mencurahkan segala bentuk karunia dan kenikmatan, baik secara lahir maupun batin.

وَإِن تَعُدُّواْ نِعۡمَةَ ٱللَّهِ لَا تُحۡصُوهَآۗ

“Seandainya kalian ingin menghitung-hitung nikmat Allah, maka kalian tidak akan mampu menghitungnya.” (an-Nahl: 18)

وَأَسۡبَغَ عَلَيۡكُمۡ نِعَمَهُۥ ظَٰهِرَةٗ وَبَاطِنَةٗۗ

“Dan Dia (Allah) yang telah mencurahkan untuk kalian kenikmatan-kenikmatan-Nya secara lahir dan batin.” (Luqman: 20)

وَمَا بِكُم مِّن نِّعۡمَةٖ فَمِنَ ٱللَّهِۖ

“Dan segala apa pun yang ada bersama kalian berupa kenikmatan, maka sesungguhnya itu datangnya dari Allah.” (an-Nahl: 53)

Oleh karena itu, marilah kita bersyukur atas nikmat Islam, iman, hidayah, keamanan, kesehatan, dan semua nikmat yang Allah subhanahu wa ta’ala curahkan untuk kita.

لَئِن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِيدَنَّكُمۡۖ وَلَئِن كَفَرۡتُمۡ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٞ ٧

“Jika kalian mensyukurinya, niscaya akan Kutambahkan (kenikmatan-Ku) kepada kalian. Namun, jika kalian mengkufuri nikmat-Ku, maka sesungguhnya azab-Ku amatlah pedih.” (Ibrahim: 7)

 

Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah,

Di antara kenikmatan yang Allah subhanahu wa ta’ala karuniakan kepada kita adalah waktu dan tempat. Allah subhanahu wa ta’ala telah menjadikan sebagian tempat di muka bumi ini lebih utama dan mulia daripada keumuman tempat lain; seperti tanah haram Makkah, Madinah, dan masjid-masjid.

Tempat tersebut dijadikan tempat beribadah bagi para hamba Allah subhanahu wa ta’ala yang lebih afdal dan banyak pahalanya dibandingkan dengan tempat lain.

Demikian pula keutamaan waktu-waktu tertentu. Ada waktu yang lebih utama, mulia, dan berkah, dibandingkan dengan waktu lain, seperti bulan Ramadhan, sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, dan hari Jumat.

Seorang hamba yang beribadah dengan ibadah yang disyariatkan pada waktu tersebut lebih afdal, lebih banyak pahalanya di sisi Allah subhanahu wa ta’ala, dan merupakan bagian dari ketakwaan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَن يُعَظِّمۡ حُرُمَٰتِ ٱللَّهِ فَهُوَ خَيۡرٞ لَّهُۥ عِندَ رَبِّهِۦۗ

“Dan barang siapa mengagungkan kehormatan-kehormatan Allah, maka baginya kebaikan di sisi Rabbnya.” (al-Hajj: 30)

 وَمَن يُعَظِّمۡ شَعَٰٓئِرَ ٱللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقۡوَى ٱلۡقُلُوبِ ٣٢

“Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, sesungguhnya yang demikian itu bagian dari ketakwaan hati.” (al-Hajj: 32)

Bentuk pengagungan syiar Allah subhanahu wa ta’ala adalah dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

 

Para hadirin rahimakumullah,

Di antara syiar dan kehormatan Allah subhanahu wa ta’ala yang diperintahkan kepada kaum muslimin adalah agar menjaga dan mengagungkan bulan-bulan haram (suci), karena bulan haram (suci) termasuk bulan yang diberkahi oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثۡنَا عَشَرَ شَهۡرٗا فِي كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوۡمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ مِنۡهَآ أَرۡبَعَةٌ حُرُمٞۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلۡقَيِّمُۚ فَلَا تَظۡلِمُواْ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمۡۚ

“Sesungguhnya jumlah bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan. Sebagaimana dalam ketetapan Allah saat menciptakan langit-langit dan bumi, di antara (dua belas bulan tersebut) ada empat bulan haram (suci). Itulah ketetapan agama yang lurus ini. Maka janganlah kalian menzalimi diri kalian dalam bulan yang empat tersebut.” (at-Taubah: 36)

Empat bulan suci yang dimaksud adalah:

  1. Dzulqa’dah
  2. Dzulhijjah
  3. Muharram
  4. Rajab

Abdullah ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata, “Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan keempat bulan tersebut suci dan lebih terhormat. Dosa pada bulan tersebut lebih buruk. Sebaliknya, amal saleh pada bulan tersebut lebih mulia.”

 

Kaum muslimin yang semoga kita semua dirahmati oleh Allah subhanahu wa ta’ala,

Perhatikanlah firman Allah pada ayat di atas,

فَلَا تَظۡلِمُواْ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمۡۚ

“Janganlah kalian menzalimi diri-diri kalian pada bulan suci tersebut.”

Meskipun perbuatan zalim pada waktu kapan pun hukumnya haram, sebagaimana sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam,

وَاتَّقُو الظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Berhati-hatilah dengan kezaliman, karena kezaliman merupakan kegelapan di hari kiamat kelak.” (HR. Muslim, dari Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu)

Akan tetapi, kezaliman yang dilakukan pada bulan suci lebih buruk dan lebih besar dosanya. Al-Imam Qatadah rahimahullah berkata, “Sesungguhnya kezaliman pada bulan suci tersebut dosanya lebih berat dibandingkan dengan bulan lain. Meski kezaliman pada setiap situasi dan kondisi tetaplah berbahaya, tetapi Allah subhanahu wa ta’ala mengagungkan urusan-Nya sebagaimana yang Dia subhanahu wa ta’ala kehendaki.”

Oleh karena itu, Allah subhanahu wa ta’ala melarang kaum muslimin untuk berperang ketika

يَسۡ‍َٔلُونَكَ عَنِ ٱلشَّهۡرِ ٱلۡحَرَامِ قِتَالٖ فِيهِۖ قُلۡ قِتَالٞ فِيهِ كَبِيرٞۚ

“Mereka bertanya kepada-Mu tentang berperang pada bulan haram. Katakanlah, ‘Berperang dalam bulan haram adalah dosa besar’.” (al-Baqarah: 217)

 

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Mari kita bersama-sama menjaga kehormatan bulan-bulan haram ini. Di antara penjagaan bulan haram ini adalah dengan berusaha menjauhi segala bentuk kezaliman; baik kezaliman terhadap hak Allah subhanahu wa ta’ala, sesama makhluk, maupun diri sendiri. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman pada hadits Qudsi,

إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُم مُحَرَّمًا فَلَا تَظَالَمُوا

“Sesungguhnya Aku telah mengharamkan kezaliman atas diri-Ku. Aku telah menjadikan kezaliman di antara kalian sebagai perkara yang diharamkan. Janganlah kalian saling menzalimi.” (HR. Muslim, dari Abi Dzar al-Ghifari radhiallahu ‘anhu)

 

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، أَقُولُ مَا تَسْمَعُونَ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوهُ وَتُوبُوا إِلَيْهِ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمِ

 


 KHUTBAH KEDUA

 

الْحَمْدُ عَلَى فَضْلِهِ وَإِحْسَانِهِ، وَأَشْكُرُهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا، أَمَّا بَعْدُ:

 

Hadirin rahimakumullah,

Di sela-sela bulan-bulan haram ada hari-hari beramal saleh yang sangat besar pahalanya dan sangat dianjurkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam; di antaranya sebagai berikut.

Pertama, bulan Dzulhijjah, bulan saat ditunaikan manasik haji.

Kedua, sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah yang disebut “Ayyamul Ma’lumat” dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَيَذۡكُرُواْ ٱسۡمَ ٱللَّهِ فِيٓ أَيَّامٖ مَّعۡلُومَٰتٍ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُم مِّنۢ بَهِيمَةِ ٱلۡأَنۡعَٰمِۖ

“… Supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak.” (al-Hajj: 28)

Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata, “Hari-hariyang ditentukan itu adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا الْعَمَلُ فِي أَيَّامٍ أَفْضَلُ مِنْهَا فِي هَذِهِ (أَيَّامِ الْعَشْرِ)

“Tidak ada amalan yang lebih utama daripada beramal pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah ini.”

Sampai-sampai para sahabat bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Meskipun berjihad di jalan Allah subhanahu wa ta’ala, tidakkah lebih utama darinya?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Berjihad di jalan Allah subhanahu wa ta’ala tidak lebih utama darinya. Kecuali jika seseorang keluar berjihad dengan mengorbankan jiwa raga dan hartanya kemudian tidak kembali sedikit pun.” ( HR. al-Bukhari, dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma)

Ketiga, memperbanyak amal saleh, tahlil, takbir, dan tahmid pada hari-hari tersebut sebagaimana yang diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma yang diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad.

Keempat, pada 9 Dzulhijjah yang dikenal dengan hari Arafah, kaum muslimin disyariatkan untuk berpuasa sunnah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang keutamaan puasa hari Arafah, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ

“Puasa Arafah akan menghapus dosa setahun yang berlalu dan setahun yang akan datang.” (HR. Muslim, dari Abu Qatadah radhiallahu ‘anhu)

Kelima, pada tanggal 10 Dzulhijjah, hari raya Idul Adha. Kaum muslimin disyariatkan melaksanakan shalat ‘Id dan berkurban. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

 فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنۡحَرۡ ٢

“Maka shalatlah untuk Rabbmu dan berkurbanlah.” (al-Kautsar: 3)

Keenam, kemudian tiga hari setelahnya secara berturut-turut (11, 12, dan 13 Dzulhijjah) yang dikenal dengan hari tasyriq, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala tentang hari tasyriq,

وَٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ فِيٓ أَيَّامٖ مَّعۡدُودَٰتٖۚ

“Dan berzikirlah pada hari-hari (ma’dudat) yang telah ditentukan.” (al-Baqarah: 203)

Maksudnya adalah hari tasyriq sebagaimana yang ditafsirkan oleh Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَذِكْرِ اللهِ

“Hari-hari tasyriq adalah hari makan, minum, dan berzikir.” (HR. Muslim, dari Nubaisyah al-Hudzali radhiallahu ‘anhu)

Ketujuh, hari Arafah, hari kurban, dan hari tasyriq merupakan hari-hari ‘Id kaum muslimin.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَوْمُ عَرَفَةَ وَيَوْمُ النَّحْرِ وَأَيَّامُ التَّشْرِيقِ عِيْدُنَا أَهْلِ الْإِسْلَامِ وَهِيَ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ

“Hari arafah, hari kurban, dan hari tasyriq adalah hari raya kaum Islam, yaitu hari makan dan minum.” (HR. Ahmad, dari ‘Uqbah bin Amir radhiallahu ‘anhu)

 

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Demikian pula pada bulan Muharam, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ الْمَحَرَّمِ

“Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa bulan Allah subhanahu wa ta’ala, Muharam.” (HR. Muslim, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Kedelapan, pada tanggal 10 Muharam terdapat hari Asyura. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang keutamaan berpuasa pada hari itu. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ

“Menghapus dosa tahun lalu.” (HR. Muslim, dari Abu Qatadah radhiallahu ‘anhu)

Demikian pula pada tanggal 9 Muharam, kaum muslimin disunnahkan berpuasa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَإِنْ بَقَيْتُ إِلَى قَابِلٍ لَأَصُومَنَّ التَّاسِعَ

“Jika aku masih hidup tahun depan, sungguh aku akan berpuasa pada tanggal 9 (Muharam).” (HR. Muslim, dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma)

Sekian banyak amal saleh yang Allah subhanahu wa ta’ala lipatgandakan pahalanya pada bulan-bulan haram bagi segenap kaum muslimin.

وَفَّقَنَا اللهُ وَإِيَّاكُمْ لِمَا يُحِبُّ وَيَرْضَى وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ صَالِحَ الْأَعْمَالِ

 اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ وَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ وَتُبْ عَلَيْنَا وَاغْفِرْ لَنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

 رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَالْحَمْدُ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Ishaq Abdullah Nahar

Makna Syahadat Muhammad Rasulullah

KHUTBAH PERTAMA:

 

إِنَّ الْحَمْدَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ ١٠٢

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفۡسٖ وَٰحِدَةٖ وَخَلَقَ مِنۡهَا زَوۡجَهَا وَبَثَّ مِنۡهُمَا رِجَالٗا كَثِيرٗا وَنِسَآءٗۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ٱلَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلۡأَرۡحَامَۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيۡكُمۡ رَقِيبٗا ١

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَقُولُواْ قَوۡلٗا سَدِيدٗا ٧٠ يُصۡلِحۡ لَكُمۡ أَعۡمَٰلَكُمۡ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۗ وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ فَازَ فَوۡزًا عَظِيمًا ٧١

أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كَلَامُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ وَشَرَّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ. أَمَّا بَعْدُ؛

  Lanjutkan membaca Makna Syahadat Muhammad Rasulullah

Anak Adalah Amanat

KHUTBAH PERTAMA:

 

إِنَّ الْحَمْدَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ ١٠٢

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفۡسٖ وَٰحِدَةٖ وَخَلَقَ مِنۡهَا زَوۡجَهَا وَبَثَّ مِنۡهُمَا رِجَالٗا كَثِيرٗا وَنِسَآءٗۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ٱلَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلۡأَرۡحَامَۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيۡكُمۡ رَقِيبٗا ١

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَقُولُواْ قَوۡلٗا سَدِيدٗا ٧٠ يُصۡلِحۡ لَكُمۡ أَعۡمَٰلَكُمۡ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۗ وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ فَازَ فَوۡزًا عَظِيمًا ٧١

أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كَلَامُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ وَشَرَّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ. أَمَّا بَعْدُ؛

 

Jamaah sidang Jumat rahimakumullah!

Anak, di samping sebagai buah hati bagi kedua orang tuanya, anak merupakan amanat yang Allah subhanahu wa ta’ala titipkan di pundak kedua orang tuanya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

يُوصِيكُمُ ٱللَّهُ فِيٓ أَوۡلَٰدِكُمۡۖ

“Allah wasiatkan kepada kalian agar kalian memerhatikan anak-anak kalian.” (an-Nisa: 11)

Maksudnya, hendaknya kalian memerhatikan kemaslahatan dunia dan akhirat mereka dengan memberi pendidikan, pembekalan jasmani, dan rohani mereka.

Pada kesempatan khutbah Jumat yang berbahagia ini, kami ingin mengajak para hadirin untuk mengevaluasi tanggung jawab yang mulia ini. Kebahagiaan dunia dan akhirat putra-putri adalah dambaan setiap mukmin.

 

Kaum muslimin rahimani wa rahimakumullah,

Kita tidak boleh menutup mata dari kenyataan kemerosotan nilai agama dan akhlak pada anak remaja akhir-akhir ini. Bukankah Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارٗا

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri dan keluarga kalian dari api neraka.” (at-Tahrim: 6)

Pada hari kiamat kelak, kita akan diminta pertanggungjawaban terhadap keluarga dan anak-anak kita. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda,

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَا مْألَِيرُ رَاعٍ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ، فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Kalian semua adalah penjaga yang akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dijaganya. Seorang pemimpin adalah penjaga bagi rakyatnya. Seorang laki-laki (kepala keluarga) adalah penjaga bagi keluarganya. Wanita (istri) adalah penjaga rumah tangga dan anak suaminya. Kalian semua adalah para penjaga yang akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dijaganya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma)

 

Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah!

Seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi dan semaraknya media komunikasi, kondisi agama putra-putri kita semakin buruk dan semakin rusak. Jarang sekali orang tua yang peduli dengan hal ini, kecuali orang-orang yang mendapat taufik dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Sebagian orang tua merasa sangat terpukul saat prestasi sekolah anaknya menurun, tetapi mereka tidak merasa terpukul saat menjumpai anaknya tidak melaksanakan ibadah yang wajib semisal shalat dan puasa. Sebagian orang tua justru lebih condong membantu anaknya untuk melampiaskan hawa nafsunya daripada membekali anaknya dengan pendidikan agama.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda,

كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَقُوتُ

“Cukuplah seseorang dikatakan berdosa ketika dia menelantarkan asuhannya.” (HR. Abu Dawud dari Abdullah bin ‘Amr radhiallahu ‘anhuma)

Tentu saja, menelantarkan agama mereka jauh lebih buruk daripada menelantarkan makan dan minumnya. Dalam hadits lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda,

مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيهِ اللهُ رَعِيَّةً يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ إِ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ

“Tidaklah seorang hamba yang Allah subhanahu wa ta’ala amanahi untuk menjaga orangorang tanggungannya kemudian mati pada hari kematiannya dalam keadaan mengkhianati mereka, kecuali akan Allah subhanahu wa ta’ala haramkan baginya surga.” (HR. an-Nasai dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah)

Dan dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda,

إنَّ اللهَ سَائِلٌ كُلَّ رَاعٍ عَمَّا اسْتَرْعَاهُ أَحَفِظَ أَمْ ضَيَّعَ حَتَّى يَسْأَلَ الرَّجُلَ عَنْ أَهْلِ بَيْتِهِ

“Sesungguhnya Allah bertanya kepada setiap pemimpin tentang kepemimpinannya, apakah dia menjaganya atau menyia-nyiakannya. Sampai-sampai Allah bertanya kepada seseorang tentang tanggung jawabnya terhadap keluarganya.” (HR. an-Nasai, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani)

 

Hadirin rahimani wa rahimakumullah!

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

        وَأَنذِرۡ عَشِيرَتَكَ ٱلۡأَقۡرَبِينَ ٢١٤

“Dan berilah peringatan kepada kerabatmu yang terdekat.” (asy-Syu’ara: 214)

وَأۡمُرۡ أَهۡلَكَ بِٱلصَّلَوٰةِ وَٱصۡطَبِرۡ عَلَيۡهَاۖ

“Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan sabarlah dalam menunaikannya.” (Thaha: 132)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda,

مُرُوا أَوْ دَالَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ

“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk shalat ketika mereka telah berumur tujuh tahun. Pukullah mereka yang tidak mau mengerjakan shalat setelah umur sepuluh tahun.” (HR. Abu Dawud dari Abdullah bin Amr radhiallahu ‘anhuma)

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيم،ِ أَقُولُ مَا تَسْمَعُونَ، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

 


KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَاهُ، وَأشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْد

 

Jamaah Jumat rahimakumullah!

Anak-anak juga merupakan ujian bagi orang tuanya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّمَآ أَمۡوَٰلُكُمۡ وَأَوۡلَٰدُكُمۡ فِتۡنَةٞۚ وَٱللَّهُ عِندَهُۥٓ أَجۡرٌ عَظِيمٞ ١٥

“Sesungguhnya harta dan anak-anak kalian adalah ujian bagi kalian. Dan di sisi Allah pahala yang besar.” (at-Taghabun: 15)

Keberhasilan mendidik anak-anak akan membuahkan kebahagiaan yang abadi bagi orang-orang yang beriman.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَٱتَّبَعَتۡهُمۡ ذُرِّيَّتُهُم بِإِيمَٰنٍ أَلۡحَقۡنَا بِهِمۡ ذُرِّيَّتَهُمۡ وَمَآ أَلَتۡنَٰهُم مِّنۡ عَمَلِهِم مِّن شَيۡءٖۚ كُلُّ ٱمۡرِيِٕۢ بِمَا كَسَبَ رَهِينٞ ٢١

“Dan orang-orang yang beriman beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, niscaya Kami akan pertemukan mereka dengan anak cucu mereka di surga.” (ath-Thur: 21)

Jika anak tersebut menjadi anak yang saleh, niscaya dia akan mendoakan orang tuanya sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits,

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِ مِنْ ثَ ثَالٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika seseorang meninggal dunia, amalannya terputus kecuali tiga hal: amal/sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakan orang tuanya.” (HR. Muslim, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam telah bersabda,

مَنِ ابْتُلِيَ مِنْ هَذِهِ الْبَنَاتِ بِشَيْءٍ فَأَحْسَنَ إِلَيْهِنَّ كُنَّ سِتْرًا لَهُ مِنَ النَّارِ

“Barang siapa diuji dengan anak-anak perempuan, kemudian dia berbuat baik kepada mereka, niscaya mereka sebagai pelindung baginya dari api neraka.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah radhiallahu ‘anhua)

رَبَّنَا هَبۡ لَنَا مِنۡ أَزۡوَٰجِنَا وَذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعۡيُنٖ وَٱجۡعَلۡنَا لِلۡمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Wahai Rabb kami, karuniakanlah kepada kami istri-istri dan anak-anak kami sebagai penyejuk mata kami. Jadikanlah kami sebagai imam bagi orang yang bertakwa.” (al-Furqan: 74)

 

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ وَالْحَمْدُ رَبِّ الْعَالَمِينَ

 

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Ishaq Abdullah Nahar