Menyembah Allah Tanpa Keteguhan

Beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala merupakan nikmat agung yang dianugerahkan-Nya kepada seorang hamba. Bagaimana tidak, sementara keimanan yang membuahkan amal saleh itu adalah sumber kebahagiaan di dunia, lebih-lebih lagi di akhirat kelak.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          مَنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا مِّن ذَكَرٍ أَوۡ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤۡمِنٞ فَلَنُحۡيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةٗ طَيِّبَةٗۖ وَلَنَجۡزِيَنَّهُمۡ أَجۡرَهُم بِأَحۡسَنِ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ٩٧

“Siapa yang mengerjakan amalsaleh, baik laki-laki maupun perempuan, dalam keadaan dia beriman, maka sungguh-sungguh Kami akan hidupkan dia dengan kehidupan yang baik dan sungguh-sungguh Kami akan beri balasan berupa pahala yang lebih baik daripada apa yang mereka kerjakan.” (an-Nahl: 97)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang calon penghuni negeri kenikmatan nan abadi,

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ إِلاَّ مُؤْمِنٌ

“Tidak akan masuk surga kecuali orang yang beriman.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya)

Keimanan menuntut seorang hamba untuk beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan mengikhlaskan agama hanya untuk-Nya. Hanya saja, di antara manusia yang mengaku beriman ada yang menyembah Allah subhanahu wa ta’ala di pinggir saja.

Bagaimanakah itu? Perhatikanlah firman Allah subhanahu wa ta’ala berikut ini.

          وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَعۡبُدُ ٱللَّهَ عَلَىٰ حَرۡفٖۖ فَإِنۡ أَصَابَهُۥ خَيۡرٌ ٱطۡمَأَنَّ بِهِۦۖ وَإِنۡ أَصَابَتۡهُ فِتۡنَةٌ ٱنقَلَبَ عَلَىٰ وَجۡهِهِۦ خَسِرَ ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةَۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡخُسۡرَانُ ٱلۡمُبِينُ ١١

        “Dan di antara manusia ada yang menyembah Allah di tepi. Jika dia mendapatkan kebaikan, tetaplah dia dalam keadaan itu. Namun, jika menimpanya suatu ujian/bencana, berbaliklah dia telungkup ke belakang. Dia menderita kerugian di dunia dan di akhirat. Itu adalah kerugian yang nyata.” (al-Hajj: 11)

Mujahid, Qatadah, dan pakar tafsir selain keduanya menjelaskan, “Orang tersebut menyembah Allah subhanahu wa ta’ala dalam keraguan (tidak di atas keyakinan).”

Adapula yang menafsirkan bahwa orang tersebut menyembah Allah subhanahu wa ta’ala ibarat berada di tepi gunung. Orang yang berdiri di situ tentu tidak aman, dikhawatirkan dia akan jatuh. Dia masuk ke dalam agama ini pada pinggirnya saja, enggan masuk lebih dalam.

Orang tersebut dinyatakan dengan permisalan seperti ini karena orang tersebut bimbang dan goncang dalam agamanya, tidak mantap dan tenang. Dia tidak yakin akan janji dan ancaman Allah subhanahu wa ta’ala.

Jika dia mendapatkan apa yang disenanginya, dia pun tetap pada posisinya. Bila tidak, dia segera mundur meninggalkan apa yang semula dia ada padanya. Orang seperti ini adalah seorang munafik.

Jika dalam Islam dia melihat ada kelapangan dan ketenangan, dia pun girang dan mangatakan kepada orang-orang beriman, “Aku bagian dari kalian. Aku bersama kalian.”

Namun, jika dia melihat dalam Islam ada kesempitan atau musibah, dia tidak bisa bersabar. Dia kembali kafir dan meninggalkan keadaannya yang semula.

Berbeda halnya dengan seorang mukmin yang hakiki. Dia beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala di atas keyakinan dan bashirah/ilmu. Apapun yang diperoleh, dia tetap tenang, istiqamah di atas Islam, dan kokoh beribadah. (Mahasin at-Ta’wil, 6/294, Tafsir Ibni Katsir, 5/295, Fathu al-Qadir, 3/548—549, karya al-Imam asy-Syaukani, dan Tafsir al-Qur’an al-Aziz, 3/73—74, karya al-Imam Ibnu Abi Zamanin)

Orang yang memiliki sifat yang tersebut dalam ayat di atas tidaklah kokoh di dalam agama ini. Layaknya seseorang yang berada di pinggir pasukan yang sedang berlaga.

Dia merasa cukup berada di bagian paling belakang, bagian yang paling jauh dari musuh. Dia enggan maju ke tengah, apalagi ke depan. Jika dia merasa kemenangan akan diraih dan ghanimah akan berada dalam genggaman, dia pun tetap di posisinya. Sebaliknya, jika dia melihat pasukan akan kalah, dia pun kabur. Dia berbalik ke belakang, melarikan diri tanpa menoleh ke kanan dan kiri.

Kebaikan yang disebutkan dalam ayat di atas adalah kebaikan duniawi seperti kelapangan hidup, kesehatan, beroleh keturunan, dan semua yang diidamkan di kehidupan dunia. (Rauhul Ma’ani, 9/564, karya al-Imam al-Alusi al-Baghdadi)

Al-‘Allamah as-Sa’di rahimahullah berkata tentang ayat di atas bahwa di antara manusia yang berislam ada yang lemah imannya. Iman belum masuk menyentuh kalbunya. Karena itu, ketika datang ujian, dia tidak bisa kokoh di atas iman. Bilamana dia mendapat kebaikan, berupa rezeki yang lancar dan tidak ditimpa sesuatu yang dibencinya, dia merasa tenang dengan kebaikan atau kesenangan tersebut, bukan tenang karena iman. Sebaliknya, apabila ditimpa ujian berupa keburukan atau kehilangan apa yang disenanginya, dia pun murtad dari agamanya. (Taisir al-Karimir Rahman, hlm. 534)

Al-Imam al-Bukhari rahimahullah menyebutkan dalam Shahihnya dengan sanad yang sampai kepada Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma terkait ayat di atas. Ibnu Abbas berkata, “Dahulu ada seseorang datang ke Madinah. Saat istrinya melahirkan anak lelaki dan kudanya beranak, dia berkata, ‘Ini agama yang baik’. Namun, saat istrinya tidak juga melahirkan keturunan yang dinantikan dan kudanya tidak kunjung beranak, dia berkata, ‘Ini agama yang buruk’.” (Shahih al-Bukhari no. 4742)

Ibnu Abi Hatim rahimahullah membawakan riwayat yang sampai sanadnya kepada Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma yang berkisah, “Dahulu ada orang-orang dari kalangan Arab Badui mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu masuk Islam. Saat kembali ke negeri mereka dan mendapati tahun turunnya hujan, tahun kesuburan, dan tahun bagusnya perkembangbiakan (hewan), mereka mengatakan, ‘Sungguh, agama kita ini adalah agama yang bagus’. Mereka pun tetap berpegang dengan agama Islam.

Ketika mereka mendapati tahun kekeringan, tahun buruknya perkembangbiakan, dan tahun paceklik, mereka berkata, ‘Tidak ada kebaikan pada agama kita ini’. Maka dari itu, Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan ayat di atas.

Zaid bin Aslam mengatakan bahwa orang tersebut adalah seorang munafik yang jika penghidupan dunianya bagus, dia tegak di atas ibadah (tetap melakukannya). Namun, jika rusak dunianya (mendapat kesusahan), dia pun berubah, tidak seperti keadaan semula. Dia tidaklah mengerjakan ibadah terkecuali bila baik dunianya. Jika dia ditimpa fitnah, kesulitan, ujian, dan kesempitan, dia meninggalkan agamanya dan kembal i kepada kekafiran. (Tafsir Ibni Katsir, 5/296)

Orang yang seperti ini dalam hal beriman akan menuai kerugian. Dia rugi di dunia karena tidak berhasil mendapatkan hal yang diangankan. Padahal dia sudah menukar agamanya dengan kemurtadan, namun ternyata dia tidak mendapatkan dunia kecuali sekadar apa yang sudah ditetapkan sebagai bagiannya.

Adapun kerugian di akhirat berupa terhalang dari surga yang seluas langit dan bumi karena tempat tinggalnya telah diganti dengan neraka. Sungguh, orang ini berada pada puncak kesengsaraan dan kehinaan. Karena itulah, Allah subhanahu wa ta’ala menyatakan, “Yang demikian itu adalah kerugian besar yang nyata.” (Tafsir Ibni Katsir, 5/296 dan Taisir al-Karimir Rahman hlm. 593)

Kata Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah, orang yang memiliki sifat seperti tersebut dalam ayat tidaklah memiliki keyakinan. Sebab, keyakinan adalah tsabat (keteguhan) dan keimanan yang tidak ada keraguan sama sekali. Seakan-akan dia melihat hal yang gaib hadir di depan matanya.

Keyakinan seperti ini akan membuahkan tawakal kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Dengan yakin dan tawakal, seseorang dapat mencapai tujuannya di dunia dan akhirat. Dia merasa tenteram dan hidup dengan tenang lagi bahagia karena yakin dengan seluruh berita Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya, bertawakal hanya kepada-Nya subhanahu wa ta’ala.

Sebagai ibrah, lihatlah keadaan para sahabat radhiallahu ‘anhum tatkala ditimpa kesulitan yang besar karena dikepung pasukan sekutu dalam Perang Ahzab. Sekitar 10 ribu orang kafir Quraisy dan selain mereka mengepung Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau radhiallahu ‘anhum yang bertahan dalam kota Madinah. Sungguh, musibah dan goncangan yang sangat besar bagi orang-orang beriman kala itu.

Allah subhanahu wa ta’ala menggambarkannya dalam ayat,

هُنَالِكَ ٱبۡتُلِيَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَزُلۡزِلُواْ زِلۡزَالٗا شَدِيدٗا ١١

        “Di situlah diuji orang-orang yang beriman dan digoncangkan mereka dengan goncangan yang sangat.” (al-Ahzab: 11)

Keadaan yang mencekam dan ketakutan sangat terasa sebagaimana digambarkan dalam ayat,

إِذۡ جَآءُوكُم مِّن فَوۡقِكُمۡ وَمِنۡ أَسۡفَلَ مِنكُمۡ وَإِذۡ زَاغَتِ ٱلۡأَبۡصَٰرُ وَبَلَغَتِ ٱلۡقُلُوبُ ٱلۡحَنَاجِرَ وَتَظُنُّونَ بِٱللَّهِ ٱلظُّنُونَا۠ ١٠

        “(Yaitu) tatkala mereka (musuh-musuh) datang kepada kalian dari atas dan dari bawah kalian, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan kalian dan kalbu kalian naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kalian menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam persangkaan.” (al-Ahzab: 10)

Bagaimanakah keadaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau radhiallahu ‘anhum? Mereka tidak mundur, ragu, dan meninggalkan keimanan. Mereka justru semakin mantap dalam iman sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala,

          وَلَمَّا رَءَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلۡأَحۡزَابَ قَالُواْ هَٰذَا مَا وَعَدَنَا ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ وَصَدَقَ ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥۚ وَمَا زَادَهُمۡ إِلَّآ إِيمَٰنٗا وَتَسۡلِيمٗا ٢٢

Dan tatkala orang-orang yang beriman melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata, “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya.” Hal itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali keimanan dan ketundukan. (al-Ahzab: 22)

Bedakan dengan keadaan kaum munafik yang berpura-pura menampakkan keimanan sementara kalbu mereka menyimpan kekafiran. Bedakan pula dengan keadaan orang-orang yang beriman namun di hati mereka ada penyakit dan kurang keyakinannya kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Mereka ini, Allah subhanahu wa ta’ala katakan,

          وَإِذۡ يَقُولُ ٱلۡمُنَٰفِقُونَ وَٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٞ مَّا وَعَدَنَا ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥٓ إِلَّا غُرُورٗا ١٢

        Dan ingatlah ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata, “Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya.” (al-Ahzab: 12)

Seakan-akan mereka meragukan janji Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa umat beliau akan menjadikan Kisra (penguasa Persia), Kaisar (penguasa Romawi) dan penguasa Yaman bertekuk lutut. Batin mereka membisikkan, “Bagaimana bisa semua itu akan terwujud, sementara kita sekarang dikepung dan terkurung oleh musuh yang sebanyak ini?”

Saat datang ujian, orang yang kuat imannya tidak akan mundur dari keimanan. Imannya justru bertambah kuat. Hal ini sebagaimana yang Allah subhanahu wa ta’ala kisahkan tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau radhiallahu ‘anhum?.

Sepulang mereka dari Perang Uhud, ada kabar bahwa orang-orang musyrikin Quraisy akan menyerang Madinah dengan pasukan yang besar untuk menghabisi penduduknya yang beriman. Sementara itu, kepenatan safar dan kepayahan perang belum hilang dari diri mereka, luka-luka belum pula sembuh. Apakah kemudian mereka gentar dan ragu?

Allah subhanahu wa ta’ala mengabarkan keadaan mereka,

ٱلَّذِينَ ٱسۡتَجَابُواْ لِلَّهِ وَٱلرَّسُولِ مِنۢ بَعۡدِ مَآ أَصَابَهُمُ ٱلۡقَرۡحُۚ لِلَّذِينَ أَحۡسَنُواْ مِنۡهُمۡ وَٱتَّقَوۡاْ أَجۡرٌ عَظِيمٌ ١٧٢

ٱلَّذِينَ قَالَ لَهُمُ ٱلنَّاسُ إِنَّ ٱلنَّاسَ قَدۡ جَمَعُواْ لَكُمۡ فَٱخۡشَوۡهُمۡ فَزَادَهُمۡ إِيمَٰنٗا وَقَالُواْ حَسۡبُنَا ٱللَّهُ وَنِعۡمَ ٱلۡوَكِيلُ ١٧٣

        (Yaitu) orang-orang yang mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya setelah mereka mendapatkan luka (dalam perang Uhud). Untuk orang-orang yang berbuat kebaikan di antara mereka dan yang bertakwa ada pahala yang besar.

(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul-Nya) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengabarkan, “Sesungguhnya manusia (orang-orang kafir Quraisy) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kalian, maka takutlah kepada mereka,” maka perkataan itu justru menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.” (Ali Imran: 172—173)

Demikianlah keadaan seorang mukmin yang benar imannya. Semakin besar ujian menerpa, imannya kepada Allah subhanahu wa ta’ala semakin menebal. Sebab, dia percaya bahwa pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala itu datang bersama kesabaran; kelapangan itu ada bersama musibah; dan bersama kesulitan itu ada kemudahan yang pasti menyusul. (Syarhu Riyadhish Shalihin, 1/371—372)

Lantas, bagaimana halnya dengan diri kita? Di mana posisi kita dalam beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala?

Wallahul musta’an.

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

Penampilan Seorang Muslim

Kami melihat beberapa orang yang berpegang dengan agama tidak memerhatikan kebersihan dan kerapian penampilan mereka. Jika ditanya tentang hal tersebut, mereka menjawab dengan hadits,

إِنَّ الْبَذَاذَةَ مِنَ الْإِيمَانِ

“Sesungguhnya bersahajanya penampilan itu termasuk keimanan.”[1]

Kami berharap penjelasan Fadhilatusy Syaikh, sejauh mana kebenaran pendalilan mereka tersebut. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala membalas Anda dengan kebaikan.

 

Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menjawab:

Sepantasnya pakaian dan penampilan seorang (muslim) terlihat indah sesuai dengan kemampuannya. Sebab, tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan hadits kepada para sahabat tentang sifat sombong, para sahabat berkata,

يَا رَسُوْلَ اللهِ، إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبَّ أَنْ يَكُوْنَ نَعْلُهُ حَسَنًا وَثَوْبُهُ حَسَنًا

“Wahai Rasulullah, sungguh ada orang yang senang memakai sandal yang bagus dan pakaian yang bagus (apakah hal tesebut termasuk sifat sombong?).”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda menafikan sifat senang berpenampilan indah sebagai pertanda kesombongan,

إِنَّ اللهَ جَمِيْلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ

“Sungguh, Allah itu Mahaindah dan mencintai keindahan[2].”

Maksudnya, Allah subhanahu wa ta’ala menyukai tajammul (berhias/berpenampilan indah). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengingkari kesenangan mereka mengenakan pakaian dan sandal yang bagus.

Berdasarkan hal ini, kami katakan bahwa yang dimaksud dengan hadits adalah agar seseorang tidak memberat-beratkan diri dalam segala sesuatu. Semuanya apa adanya.

Jadi, jika hadits ini dikompromikan dengan hadits tentang tajammul, maknanya adalah tajammul termasuk hal yang dicintai oleh Allah subhanahu wa ta’ala, tetapi dengan syarat tajammul tersebut tidak dilakukan dengan berlebih-lebihan atau melampaui tingkatan yang tidak sepantasnya dilakukan oleh seorang lelaki.”

(Fatawa Ulama al-Balad al-Haram, hlm. 1730—1731)

 

Pakaian Wanita di Hadapan Wanita dan Mahram

Bagaimana batasan pakaian yang dikenakan oleh wanita di hadapan sesama wanita dan di hadapan lelaki mahramnya (selain suami)?

Jawab:

Al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts al-Ilmiyah wa al-Ifta’ dalam keterangan (No. 21032, tanggal 21/1/1421 H) menyatakan,

“Wanita-wanita orang beriman di awal Islam benar-benar mencapai puncak kesucian, iffah (menjaga kehormatan diri), dan rasa malu dengan berkah iman kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta mengikuti al-Qur’an dan as-Sunnah.

Para wanita pada zaman tersebut biasa mengenakan pakaian yang menutupi tubuh mereka. Tidak dikenal di kalangan mereka kebiasaan membuka bagian-bagian tubuh saat berkumpul sesama mereka atau di hadapan lelaki mahram mereka.

Di atas kebiasaan yang lurus inilah perilaku para wanita umat ini, alhamdulillah, dari generasi ke generasi. Sampai akhirnya pada masa yang tidak terlalu jauh (dari sekarang), masuklah kerusakan pada kebanyakan kaum wanita dalam hal pakaian dan akhlak[3] karena banyak faktor. Namun, bukan di sini tempat menjelaskannya.

Mempertimbangkan banyaknya permintaan fatwa yang tertuju kepada al-Lajnah tentang sejauh mana batasan bolehnya seorang wanita memandang wanita lain dan pakaian seperti apa yang harus dikenakan wanita (di hadapan sesama wanita atau di hadapan mahramnya), Lajnah menerangkan bahwa kaum wanita wajib terikat dengan akhlak malu. Sebuah akhlak yang dijadikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai bagian keimanan dan salah satu cabangnya.

Termasuk malu yang diperintahkan secara syariat dan menjadi adat kebiasaan (‘urf) adalah wanita harus berpakaian tertutup (tasattur, tidak ‘buka-bukaan’). Wanita harus memiliki rasa malu yang besar. Selain itu, dia pun harus berperangai dengan akhlak yang dapat menjauhkan dirinya dari tempat-tempat buruk dan keraguan (yang membuat orang menyangsikan kesucian dirinya dan meragukan dirinya sebagai perempuan baik-baik).

Al-Qur’an menyebutkan bahwa seorang wanita tidak boleh menampakkan tubuhnya kecuali yang biasa ditampakkan di hadapan mahram-mahramnya dengan batasan yang biasa tampak.

Maksudnya, yang dianggap biasa terbuka di dalam rumah dan saat si wanita bekerja dalam rumahnya. Hal ini sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala (tentang pihak-pihak yang diperkenankan melihat perhiasan wanita yang biasa tampak dalam kesehariannya),

وَلَا يُبۡدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوۡ ءَابَآئِهِنَّ أَوۡ ءَابَآءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوۡ أَبۡنَآئِهِنَّ أَوۡ أَبۡنَآءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوۡ إِخۡوَٰنِهِنَّ أَوۡ بَنِيٓ إِخۡوَٰنِهِنَّ أَوۡ بَنِيٓ أَخَوَٰتِهِنَّ أَوۡ نِسَآئِهِنَّ

“Dan janganlah mereka (para muslimah) menampakkan perhiasan mereka, kecuali kepada suami-suami mereka, atau ayah-ayah mereka, atau ayah mertua mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka atau putra-putra dari saudara laki-laki mereka (keponakan), atau putra-putra dari saudari perempuan mereka, atau perempuan-perempuan mereka….” (an-Nur: 31)

Ayat di atas adalah nash al-Qur’an. Demikian pula yang berlangsung dari amalan istri-istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, istri-istri para sahabat radhiallahu ‘anhum, dan para wanita yang mengikuti mereka dengan kebaikan hingga masa kita ini.

Bagian tubuh yang biasa tampak dari wanita di hadapan sesamanya dan di hadapan lelaki kalangan mahramnya—sebagaimana yang tersebut dalam ayat yang mulia di atas—adalah bagian yang secara umum biasa terlihat dari si wanita saat berada dalam rumahnya dan saat dia beraktivitas (di dalam rumah) yang akan memberatkan si wanita untuk menutupnya[4]. Misalnya, kepala yang terbuka (tidak memakai kerudung), dua tangan, leher, dan dua telapak kaki.

Adapun dalam menampakkan bagian tubuh (melebihi apa yang telah disebutkan), tidak ada dalil yang menunjukkan kebolehannya dalam al-Qur’an ataupun as-Sunnah. Di samping itu, hal tersebut menjadi jalan munculnya fitnah (keburukan dan musibah) terhadap wanita dan tergodanya sebagian wanita dengan sebagian yang lain sebagaimana yang terjadi di antara mereka[5].

Selain itu, perbuatan tersebut menjadi contoh yang buruk bagi wanita lain (mereka akan meniru, ikut-ikutan membuka bagian tubuhnya yang semestinya tertutup di hadapan sesama atau di hadapan mahramnya[6]).

Ditambah lagi, ada unsur tasyabbuh dengan wanita-wanita kafir dan wanita-wanita “nakal” dalam hal (cara) berpakaian. Sementara itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Siapa yang menyerupai suatu kaum, dia termasuk golongan mereka.” (HR. al-Imam Ahmad dan Abu Dawud)[7]

Disebutkan dalam Shahih Muslim dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatnya memakai dua pakaian yang dicelup dengan ushfur. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda,

إِنَّ هَذِهِ مِنْ ثِيَابِ الْكُفَّارِ فَلاَ تَلْبَسْهَا

        “Pakaian ini termasuk pakaian orang-orang kafir maka jangan kamu pakai.”[8]

Dalam Shahih Muslim juga, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا: قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ يَضْرِبُوْنَ بِهَا النَّاسَ، وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيْلاَتٌ مَائِلاَتٌ، رُؤُوْسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلةِ، لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيْحَهَا وَإِنَّ رِيْحَهَا لَيُوْجَدُ مِنْ مَسِيْرَةِ كَذا وَكَذا

“Ada dua golongan dari penduduk neraka yang aku belum melihat mereka. (1) Suatu kaum yang bersama mereka ada cemeti seperti ekor-ekor sapi yang dengannya mereka memukul manusia, dan (2) wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang, yang berjalan berlenggak-lenggok. Kepala-kepala mereka miring seperti punuk unta yang miring. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium wangi surga, padahal wanginya dapat tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian.”[9]

Makna كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ adalah wanita yang mengenakan pakaian namun tidak menutupi tubuhnya. Jadi, dia berpakaian, namun hakikatnya telanjang. Misalnya, wanita mengenakan pakaian yang tipis/transparan hingga membayang tubuh di baliknya, mengenakan pakaian ketat yang membentuk lekuk-lekuk tubuhnya, atau pakaian pendek yang tidak menutupi sebagian tubuhnya.

Wanita kaum muslimin semestinya meneladani contoh yang ditunjukkan oleh ummahatul mukminin, para wanita kalangan sahabat—semoga Allah meridhai mereka—dan para wanita umat ini yang mengikuti mereka dengan kebaikan.

Selain itu, hendaknya para muslimah tidak ‘enggan-engganan’ untuk menutup tubuhnya dan selalu berpegang dengan rasa malu. Hal ini tentu lebih menjauhkannya dari sebab-sebab godaan dan menjauhkannya dari hal-hal yang dapat membangkitkan hawa nafsu dan menjatuhkan pelakunya ke dalam perbuatan keji.

Wanita kaum muslimin juga wajib berhati-hati, menjaga diri agar tidak jatuh ke dalam hal yang Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya haramkan, yaitu berupa berpakaian dengan busana yang menyerupai wanita kafir dan wanita pelacur. Semuanya dilaksanakan dalam rangka menaati Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya, mengharapkan pahala Allah subhanahu wa ta’ala dan takut akan siksa-Nya.

Setiap muslim juga wajib bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala dalam hal mengurusi para wanita yang berada di bawah perwaliannya. Jangan biarkan mereka mengenakan pakaian yang diharamkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya, yakni pakaian yang mengumbar aurat dan menyebabkan godaan. Hendaklah seorang muslim mengetahui bahwa dia adalah pemimpin (bagi keluarganya) dan akan dimintai pertanggungjawaban tentang apa yang dipimpinnya pada hari kiamat.

Kita mohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar Dia memperbaiki keadaan kaum muslimin dan memberi petunjuk kepada kita semua kepada jalan yang lurus.

Sungguh, Allah Maha Mendengar lagi Mahadekat. Shalawat dan salam semoga selalu terlimpah untuk Nabi kita Muhammad, keluarga beliau, dan sahabat-sahabat beliau.

(Dinukil dalam Fatawa Ulama al-Balad al-Haram, hlm. 1178—1181)

 

 

[1] Catatan kaki dari penerjemah:

 إِنَّ الْبَذَاذَةَ مِنَ الْإِيمَانِ

  1. Abu Dawud, kitab at-Tarajjul, hadits no. 4161, dari sahabat Abu Umamah al-Haritsi radhiallahu ‘anhu.

[2] Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian menerangkan bahwa sombong adalah,

بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Menolak kebenaran dan merendahkan manusia.” (HR. Muslim dalam Shahihnya, “Kitab al-Iman” no. 91)

[3] Mulailah terjadi pergeseran dari kebiasaan yang lurus; wanita mulai berpakaian terbuka.

[4] Apabila bagian tubuh tersebut harus ditutup saat berada di dalam rumah dan saat beraktivitas melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga, niscaya akan menyulitkan dan memberatkan si wanita. Sementara itu, tidak ada seorang pun lelaki ajnabi di rumah tersebut yang akan melihat auratnya.

[5] Walaupun sama-sama wanita, bisa jadi ada yang tergoda dan tergerak syahwatnya ketika melihat aurat wanita lain terbuka di hadapannya.

[6] Kecuali di hadapan suami karena tidak ada batasan aurat antara suami dan istri.

[7] HR. Abu Dawud no. 4031 dan Ahmad no. 5093, 5094, 5634.

[8] HR. Muslim dalam “Kitab al-Libas” no. 2077

[9] HR. Muslim dalam “Kitab al-Libas” no. 2127

Cadar Menurut Ulama Mazhab Syafi’i

Awal era 90-an, apalagi sebelum 1990, muslimah yang bercadar di nusantara sangat jarang dijumpai. Di mata masyarakat, muslimah yang bercadar tersebut dianggap sangat aneh. Dia menjadi tontonan saat keluar rumah, bahkan sering menjadi bahan cercaan, makian, olokan, dan ejekan.

Tidak jarang pula yang merasa ketakutan. Seakan-akan yang dilihat tersebut bukan manusia, melainkan hantu yang gentayangan. Apalagi anak-anak kecil, lebih seru lagi reaksinya.

Itu era 90-an… Bagaimana hari-hari sekarang setelah berlalu hitungan lebih dari seperempat abad?

Di beberapa daerah, pakaian cadar berlanjut keterasingannya dan masih saja dianggap aneh. Namun, alhamdulillah, di banyak daerah masyarakat sudah “terbiasa” melihat pemandangan muslimah yang menutup wajahnya dengan cadar. Jumlah pemakainya pun sangat banyak.

Akan tetapi, sangatlah disayangkan masih tersebar anggapan bahwa cadar adalah simbol bahwa pemakainya pengikut aliran sesat, bagian dari kelompok radikal dan golongan ekstrem. Memang didapati di antara istri para pelaku bom teror di negeri ini ternyata mengenakan cadar. Jadilah cap bahwa muslimah bercadar adalah bagian dari para teroris, wallahul musta’an.

Belum lama, istri seorang pimpinan teroris di Poso yang tertembak mati oleh pasukan keamanan dalam Operasi Tinombala, tertangkap setelah pelariannya selama 5 hari, dalam keadaan mengenakan penutup wajah. Nah, bertambah lagi fitnah bagi muslimah yang bercadar.

Ada juga orang-orang yang tidak memberikan cap buruk kepada cadar. Namun, mereka beranggapan bahwa cadar adalah budaya Arab yang ditiru oleh muslimah di negeri ini. Jadi, menurut mereka, sebenarnya cadar tidak cocok dengan budaya Indonesia.

Karena itulah, ada yang sinis ketika melihat muslimah bercadar, “Tuh yang cadaran merasa berada di negeri Arab. Kok nggak sekalian naik unta aja ke mana-mana.”

Ada juga yang berkata, “Wanita Arab aja banyak yang lepas cadar, kok perempuan Indonesia malah bergaya cadaran.”

Atau kalimat-kalimat cemoohan lain yang intinya menunjukkan ketidaksukaan mereka terhadap muslimah bercadar.

Yang lebih parah, ada yang menganggap bahwa cadar itu bid’ah, perkara yang dibuat-buat dan yang tidak dikenal dalam Islam. Kalaupun ada cadar, itu hanya zaman dahulu, khusus untuk istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Bagaimanakah duduk permasalahan yang sebenarnya? Bagaimana hukum

cadar dalam Islam? Apa kata ulama Islam yang terkenal tentang cadar?

Benarkah pemakai cadar dipastikan pengikut aliran sesat, kelompok teroris, membebek budaya Arab, dan mengikuti bid’ah?

Betul bahwa ada di antara kelompok aliran sesat yang wanitanya bercadar. Kelompok teroris juga demikian, ada yang wanitanya bercadar. Akan tetapi, cadar bukanlah ciri khas mereka. Artinya, kalau ada wanita yang bercadar belum tentu dia pengikut aliran sesat, belum tentu dia wanita teroris.

Intinya, jangan mudah memvonis dan menuduh tanpa mengerti hukum dan duduk perkara yang sebenarnya. Jangan pula menyamaratakan. Semua perlu kejelasan dan kepastian.

Yang kita inginkan adalah ilmu yang benar terkait masalah cadar ini agar tidak ada lagi tuduhan dan kecurigaan kepada pemakainya. Tidak pula muncul sikap memukul rata bahwa mereka semua dari aliran atau kelompok yang sama.

Karena di Indonesia banyak kaum muslimin yang mengikuti mazhab al-Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi’i rahimahullah, kami hanya akan membawakan ucapan beberapa ulama terkenal dari mazhab Syafi’i. Kami berharap kaum muslimin di negeri ini memiliki ilmu tentang masalah cadar dari mazhab yang mereka percayai dan mereka peluk.

Semoga tulisan ini membuka mata dan hati kaum muslimin di negeri tercinta ini agar tidak salah menilai dan berbuat. Wallahul musta’an.

 

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah

Siapa yang tidak kenal dengan al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah[1], seorang tokoh terdepan dalam mazhab Syafi’i.

Ketika membahas boleh tidaknya seorang wanita melihat ke lelaki ajnabi (bukan mahram), beliau rahimahullah menyatakan,

“Yang menguatkan pendapat ‘boleh’ adalah kaum wanita terus diperkenankan untuk keluar ke masjid, ke pasar, dan melakukan safar (bersama mahramnya –pen.) dalam keadaan mereka berniqab (bercadar) agar para lelaki tidak melihat (wajah) mereka.

Sementara itu, para lelaki sama sekali tidak diperintah untuk memakai niqab agar tidak terlihat oleh kaum wanita. Ini menunjukkan perbedaan hukum antara kedua golongan (laki-laki dan wanita).”

Dengan alasan ini pula al-Ghazali berargumen membolehkan wanita melihat lelaki ajnabi. Dia mengatakan,

“Tidaklah kita mengatakan bahwa wajah lelaki adalah aurat yang tidak boleh dilihat oleh wanita, sebagaimana wajah wanita adalah aurat yang tidak boleh dilihat oleh lelaki.

Wajah wanita itu seperti wajah amrad (anak lelaki yang belum tumbuh jenggotnya sehingga wajahnya tampak manis seperti perempuan –pen.) pada lelaki sehingga diharamkan memandang si amrad. Hanya saja, pengharaman (memandang amrad) ini ketika dikhawatirkan adanya godaan. Apabila tidak timbul fitnah[2], tidak haram.

(Bukti bahwa wajah lelaki bukan aurat, tidak seperti wajah wanita) adalah kaum lelaki sepanjang masa senantiasa terbuka wajahnya (tidak dicadari). Adapun kaum wanita, apabila keluar rumah mereka mengenakan niqab.

Seandainya lelaki dan wanita itu sama dalam hal ini, niscaya kaum lelaki akan diperintah untuk berniqab atau kaum wanita dilarang keluar rumah (agar tidak melihat wajah lelaki yang terbuka).” (Fathul Bari, 9/337)

Ketika menyebutkan ucapan Aisyah radhiallahu ‘anhuma,

        يَرْحَمُ اللهُ نِسَاءَ الْمُهَاجِرَاتِ الْأُوَلِ، لَمَّا أَنْزَلَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى} وَلۡيَضۡرِبۡنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّۖ { شَقَقْنَ مُرُوْطَهُنَّ فَاخْتَمَرْنَ بِهَا.

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala merahmati kaum wanita Muhajirat (yang berhijrah meninggalkan negerinya menuju Madinah –pen.). Tatkala Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan ayat (artinya), “Hendaklah mereka mengulurkan kerudung-kerudung mereka di atas dada-dada mereka,”[3] mereka memotong-motong muruth, lalu ikhtimar dengannya.

Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan, “Ucapan Aisyah radhiallahu ‘anha مُرُوْطَهُنَّ , muruth adalah jamak dari murth, maknanya izar/sarung/kain.... Ucapan Aisyah radhiallahu ‘anha فَاخْتَمَرْنَ maksudnya mereka menutupi wajah mereka (dengan potongan muruth).” (Fathul Bari, 8/490)

Alangkah bagusnya ucapan Ibnu Hajar rahimahullah, “Termasuk hal yang dimaklumi, seorang lelaki yang berakal tentu merasa keberatan apabila lelaki ajnabi melihat wajah istrinya, putrinya, dan semisalnya.” (Fathul Bari, 12/240)

 

Jalaluddin al-Muhalli rahimahullah

Saat menafsirkan firman Allah subhanahu wa ta’ala,

          يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِيُّ قُل لِّأَزۡوَٰجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ يُدۡنِينَ عَلَيۡهِنَّ مِن جَلَٰبِيبِهِنَّۚ ذَٰلِكَ أَدۡنَىٰٓ أَن يُعۡرَفۡنَ فَلَا يُؤۡذَيۡنَۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورٗا رَّحِيمٗا ٥٩

        “Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, putri-putrimu, dan wanitanya orang-orang beriman agar mereka mengulurkan jalabib (jilbab-jilbab) mereka di atas tubuh mereka. Hal itu lebih pantas untuk mereka dikenali sehingga mereka tidak diganggu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (al-Ahzab: 59)

 

seorang tokoh ulama mazhab Syafi’i yang terkemuka, Jalaluddin al-Muhalli rahimahullah[4] mengatakan, “Jalabib adalah bentuk jamak dari jilbab, yaitu mala’ah (pakaian panjang) yang menutupi seluruh tubuh wanita.

Ayat di atas memerintahkan agar mereka mengulurkan sebagian jilbab tersebut menutupi wajah, saat mereka keluar rumah untuk memenuhi kebutuhan mereka (tidak ada yang terlihat dari mereka) kecuali satu mata.

Firman-Nya,ذَٰلِكَ أَدۡنَىٰٓ  “hal itu” lebih pantas untuk أَن يُعۡرَفۡنَ “mereka dikenali” bahwa mereka adalah wanita merdeka (bukan budak), فَلَا يُؤۡذَيۡنَۗ “sehingga mereka tidak diganggu”, dengan dihadang (digoda) di jalan.

Berbeda halnya dengan wanita yang berstatus budak, mereka tidak menutupi wajah sehingga orang-orang munafik menghadang mereka (di jalan).

Firman-Nya, وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورٗا“dan adalah Allah Maha Pengampun” terhadap perbuatan mereka tidak berhijab pada masa yang lalu (sebelum turunnya perintah); dan رَّحِيمٗا “Allah Maha Penyayang”, terhadap mereka saat mereka berhijab.” (Tafsir al-Jalalain, hlm. 559, cetakan Darul Hadits)

 

Al-Hafizh Jalaluddin as-Suyuthi[5] rahimahullah

Nama beliau sering kita dengar. Orang-orang yang menisbatkan diri pada mazhab Syafi’i sudah tentu mengenalnya. Sebab, as-Suyuthi rahimahullah termasuk tokoh besar dalam mazhab Syafi’i . Apa gerangan pendapat beliau tentang cadar atau penutup wajah bagi wanita?

Saat menafsirkan firman Allah subhanahu wa ta’ala surat al-Ahzab ayat 59 di atas, beliau berkata, “Ayat di atas adalah ayat hijab yang berlaku untuk seluruh wanita. Di dalamnya ada kewajiban menghijabi kepala dan wajah. Ini tidaklah diwajibkan kepada para budak perempuan.”

Ibnu Abi Hatim rahimahullah mengeluarkan riwayat dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma terkait dengan ayat di atas. Kata Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, “Allah subhanahu wa ta’ala memerintah para wanita mukminah apabila keluar rumah untuk suatu kebutuhan, hendaknya menutupkan jilbab dari atas kepala mereka (hingga menutupi seluruh tubuh mereka –pen.) dan mereka menampakkan (hanya) satu mata (untuk kebutuhan melihat jalan –pent.).” (al-Iklil fi Istimbath at-Tanzil, hlm. 214, karya as-Suyuthi)

 

Ibnu Hajar al-Haitami rahimahullah

Pernah ada yang bertanya kepada Ibnu Hajar al-Haitami[6] rahimahullah kurang lebih sebagai berikut,

“Di zaman ini banyak kaum wanita keluar rumah menuju ke pasar (untuk berbelanja –pen.) dan masjid untuk mendengar nasihat, mengerjakan thawaf, dan keperluan selainnya di masjid Makkah (Masjidil Haram –pen.).

Namun, para wanita ini keluar dengan penampilan yang aneh (yang tidak dikenal dalam Islam karena Islam tidak mengajar demikian –pen.). Penampilan tersebut secara pasti dapat menggoda kaum lelaki.

Mereka keluar dalam keadaan berhias semaksimal yang mereka sanggupi, dengan berbagai dandanan, bermacam perhiasan dan pakaian, seperti gelang kaki, gelang tangan, dan perhiasan emas yang terlihat pada lengan-lengan mereka, ditambah lagi aroma bukhur (dupa yang semerbak) dan parfum.

Bersamaan dengan itu, mereka menampakkan banyak bagian tubuh mereka, seperti wajah, tangan, dan selainnya. Mereka berjalan berlenggak-lenggok/gemulai yang jelas terlihat bagi orang yang sengaja melihat ke arah mereka ataupun tidak.

Apabila penampilannya demikian, apakah pemimpin negeri dan kalangan yang memiliki kekuasaan serta kemampuan wajib melarang para wanita tersebut keluar rumah? Bahkan, melarang mereka datang ke masjid, sampaipun itu Masjid al-Haram?”[7]

Beliau rahimahullah memberikan jawaban yang panjang. Intinya, beliau menyatakan haramnya pelanggaran syariat yang disebutkan. Beliau juga menetapkan, wajib melarang wanita keluar rumah dalam keadaan yang disebutkan karena dapat menjerumuskan ke dalam godaan.

Di antara ucapan beliau rahimahullah, “Dalam Mansak Ibnu Jama’ah al-Kabir disebutkan, termasuk kemungkaran terbesar yang dilakukan oleh orang-orang awam yang jahil saat thawaf adalah para lelaki berdesak-desakan dengan istri-istri mereka yang dalam keadaan membuka wajah (tidak menutup wajah)….” (al-Fatawa al-Fiqhiyah al-Kubra, 1/201—202)

Demikianlah ucapan alim ulama mazhab Syafi’i. Mereka berbicara didasari oleh ilmu dan ketakwaan, bukan hawa nafsu.

Karena terbatasnya tempat kami hanya bawakan pandangan empat orang di antara mereka sebagai perwakilan. Ini baru ulama mazhab Syafi’i, belum ucapan ulama mazhab yang lain: mazhab Hanafi yang mengikuti pendapat Abu Hanifah rahimahullah, mazhab Maliki yang mengikuti al-Imam Malik rahimahullah, ataupun mazhab Hambali yang mengikuti pendapat al-Imam Ahmad ibnu Hambal rahimahullah.

Sungguh, tidak ada satu pun dari mereka yang mengatakan cadar itu haram, bid’ah, atau tidak dikenal dalam Islam.

Kalaupun ada di antara mereka yang berpendapat hukum cadar tidak wajib, hanya afdhaliyah atau sunnah, tidak ada seorang dari mereka yang mengatakan ‘terlarang bagi muslimah mengenakan cadar’ atau ‘cadar harus ditanggalkan’.

Nah, apabila demikian pendapat para ulama, sekarang apa yang kita permasalahkan saat melihat seorang muslimah bercadar?

Bukankah dia hanya ingin menjalankan perintah agama yang diyakininya? Bukankah dia ingin menjaga kehormatan dirinya dengan menutup tubuhnya secara sempurna?

Bukankah dia ingin menjaga dirinya dari godaan dan mencegah agar dirinya tidak menggoda orang lain?

Apa salahnya seorang muslimah yang bercadar? Bukankah tidak ada dosa yang dilakukannya terkait pakaiannya?

Namun, tentu saja si muslimah harus belajar cara berhijab yang syar’i, cadar yang sesuai syariat, sehingga tidak asal-asalan dalam berhijab.

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

 

 

 

[1] Beliau adalah al-Imam al-Hafizh Syihabuddin Abu al-Fadhl Ahmad bin Ali bin Hajar al-Asqalani. Beliau lahir dan tumbuh di negeri Mesir, tepatnya di bulan Sya’ban tahun 773 H. Ayah ibu beliau telah wafat saat beliau masik kanak-kanak, sehingga tumbuhlah Ahmad kecil dalam keadaan yatim.

Al-Qur’anul Karim telah selesai beliau hafalkan ketika berusia 9 tahun. Setelah itu rihlah/perjalanan menuntut ilmu agama dimulai. Beliau menuju ke banyak negeri. Dalam banyak bidang ilmu, Ibnu Hajar mencapai kekokohan (mutqin). Mengajar dan menyampaikan khutbah di al-Jami’ al-Azhar termasuk rutinitas beliau.

Karya-karya tulis yang besar manfaatnya banyak beliau hasilkan. Di antara karya monumental beliau adalah kitab Fathul Bari Syarhu Shahih al-Bukhari. Ibnu Hajar wafat di Mesir pada 8 Dzulhijjah 852 H.

[2] Fitnah yang dimaksud, misalnya, ketika seorang lelaki remaja/dewasa memandang wajah anak lelaki yang manis yang belum tumbuh jenggotnya, tergerak syahwatnya sebagaimana tergerak saat memandang wanita.

Apabila terjadi yang seperti ini, si lelaki diharamkan memandang wajah amrad.

[3] an-Nur: 31

[4] Beliau adalah Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Ibrahim al-Muhalli asy-Syafi’i, termasuk tokoh ulama ahli ushul, alim dalam bidang tafsir dan fikih.

Karya-karya beliau memberikan manfaat kepada orang banyak. Di antara karyanya adalah Tafsir al-Jalalain yang disempurnakan oleh Jalaluddin as-Suyuthi dan kitab Kanzu ar-Raghibin fi Syarh al-Minhaj.

Beliau lahir di Kairo pada 791 H dan wafat pada 864 H.

 

[5] Julukan beliau ialah Jalaluddin, nama beliau adalah Abdur Rahman bin Abi Bakr bin Muhammad bin Sabiquddin al-Khudhairi as-Suyuthi asy-Syafi`i. Beliau lahir di Kairo pada 849 H.

Beliau mengkhatamkan al-Qur’an pada usia 8 tahun. Menuntut ilmu ke banyak negeri, beliau tempuh. Dalam rihlah ilmiah tersebut beliau mempelajari ilmu nahwu, bahasa, fikih, hadits, dan ilmu-ilmu syar`i lainnya.

Saat mencapai usia 40 tahun, beliau fokus beribadah dan menyusun karya tulis. Murid-murid Jami’ al-Azhar berguru kepada beliau. Karya-karya beliau menjadi pegangan di Jami’ tersebut.

Di antara karya beliau adalah al-Itqan fi ‘Ulumil Qur’an, ad-Durr al-Mantsur fit Tafsir bil Ma’tsur, ad-Dibaj ‘ala Shahih Muslim ibnul Hajjaj, dll.

Beliau wafat di Kairo pada 911 H.

 

[6] Beliau digelari Syihabuddin. Nama beliau Ahmad bin Muhammad al-Haitami. Lahir pada 909 H di sebuah daerah di negeri Mesir.

Beliau seorang yang faqih, muhaddits, dan mencapai imamah, yakni ketokohan, keteladanan, dan panutan dalam mazhab al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah.

Beliau memiliki banyak karya tulis, di antaranya Mablagh al-Arabi fi Fadhail ‘Arab, Tuhfah al-Muhtaj li Syarh al-Minhaj.

Beliau wafat pada 974 H.

[7] Pertanyaan di atas terkait dengan masa 500 tahun yang lalu. Tergambar dalam pertanyaan tersebut kondisi wanita sudah sedemikian parah.

Mendidik Anak dan Pemuda

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ: إِمَامٌ عَادِلٌ، وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللهِ

“Ada tujuh golongan yang Allah subhanahu wa ta’ala naungi mereka dalam naungan-Nya pada hari tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, yaitu pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Allah….” (HR. Muslim)

 

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah pula memberikan nasihat khusus kepada para pemuda dengan menyerukan,

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

“Wahai sekalian pemuda, siapa di antara kalian yang telah memiliki kesanggupan hendaknya dia menikah. Siapa yang tidak mampu, hendaknya dia berpuasa karena puasa itu tameng baginya.” (HR. al-Bukhari)

 

Pada kesempatan lain, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat tangan Amr ibnu Abi Salamah radhiallahu ‘anhuma, anak istri beliau yang dalam asuhan beliau, ke sana ke mari saat santap bersama. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya,

يَا غُلَامُ، سَمِّ اللهَ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ، وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ

“Wahai bocah, ucapkanlah bismillah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah makanan yang ada di dekatmu!” (HR. Muslim)

 

Kepada saudara sepupu yang saat itu masih kecil, yaitu Abdullah ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan nasihat,

يَا غُلَامُ، إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ، احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ، إِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ

“Wahai bocah, aku akan ajarkan kepadamu beberapa kalimat; Jagalah Allah subhanahu wa ta’ala maka Allah subhanahu wa ta’ala akan menjagamu, jagalah Allah maka engkau akan dapati Dia dihadapanmu, jika engkau meminta, mintalah kepada Allah, dan jika engkau minta tolong, minta tolonglah kepada Allah!” (HR. at-Tirmidzi, dinyatakan sahih dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi)

Hadits-hadits di atas menunjukkan perhatian dan bimbingan Islam kepada anak, baik yang masih kecil maupun yang remaja. Hal ini menjadi tugas utama orang tua, ayah dibantu oleh ibu, selaku pihak yang akan dimintai pertanggungjawaban perihal anak-anak tersebut di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala.

Di antara hadits yang juga menunjukkan kewajiban orang tua mengajari dan mendidik anak-anak mereka adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مُرُوْا أَوْ دَالَكُمْ باِلصَّلاَةِ لِسَبْعٍ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا لِعَشْرٍ، وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ

“Perintahlah anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat ketika mereka berusia 7 tahun. Pukullah mereka bila tidak mau mengerjakan shalat pada usia 10 tahun, dan pisahkan tempat tidur mereka.” (HR. Abu Dawud)

Hadits di atas menyebutkan ibadah shalat, namun tidak berarti pendidikan anak hanya sebatas pengajaran shalat.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan shalat di dalam hadits tersebut karena ia adalah ibadah yang terpenting. Siapa yang menjaga shalatnya, niscaya ibadah yang selain shalat pun akan dia jaga. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِۗ

“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (al-Ankabut: 45)

Berilah anak-anak kalian arahan yang lurus. Didiklah mereka dengan baik. Jadikan diri kalian sebagai teladan yang baik bagi diri kalian sehingga mereka dapat meneladani kalian.

Bersihkan rumah-rumah kalian dari hal-hal yang tidak pantas. Hilangkan sarana yang mengantarkan kepada api kejelekan di dalam rumah sehingga menjadi “steril”. Artinya, hal-hal yang menjadi perantara menyimpangnya anak-anak kalian tidak boleh masuk ke dalamnya.

Para ayah menanggung amanat terkait urusan anak-anak mereka. Apabila orang tua dapat menunaikan kewajiban yang Allah subhanahu wa ta’ala bebankan kepada mereka, niscaya Allah subhanahu wa ta’ala akan memberikan pahala kepada mereka.

Orang tua hendaknya menjadi sebab kebaikan bagi anak-anak mereka sehingga anak-anak bisa menjadi qurratu a’yun bagi mereka di dunia dan di akhirat. Kelak di dalam surga, jika anak-anak itu saleh karena usaha ayah mereka—dengan izin Allah—ketika hidup di dunia, Allah subhanahu wa ta’ala akan mengumpulkan mereka di tempat yang sama di dalam surga.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَٱتَّبَعَتۡهُمۡ ذُرِّيَّتُهُم بِإِيمَٰنٍ أَلۡحَقۡنَا بِهِمۡ ذُرِّيَّتَهُمۡ وَمَآ أَلَتۡنَٰهُم مِّنۡ عَمَلِهِم مِّن شَيۡءٖۚ

        “Orang-orang yang beriman dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, maka Kami gabungkan anak keturunan mereka dengan mereka dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka.” (ath-Thur: 21)

Mendidik anak membutuhkan kesabaran dan kemauan menanggung kesulitan dari para orang tua. Ia membutuhkan kesungguhan total dari para orang tua. Terkhusus pada zaman ini, saat gelombang keburukan bergejolak dari segala arah. Gelombang keburukan tersebut mengakibatkan para pemuda menjadi seperti kambing-kambing di daerah yang dipenuhi hewan buas yang berbahaya.

Karena itu, para ayah harus mengupayakan agar anak-anak mereka tumbuh di atas ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Para pendahulu terbaik umat ini, assalafus shalih, memberikan perhatian yang besar terhadap anak-anak mereka. Mereka membimbing anak-anak mereka untuk menghafal Kitabullah dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka serahkan anak-anak mereka kepada para guru dan pendidik yang saleh. Mereka rela mengorbankan harta dan waktu yang tidak sedikit untuk kepentingan pengarahan dan pengajaran anak-anak mereka. Semuanya demi buah yang baik di masa depan yang mereka harapkan akan dipetik.

Mereka tidak meninggalkan anak-anak mereka. Waktu luang, materi, dan masa muda anak-anak tersebut, tidaklah diabaikan (namun digunakan sebaik-baiknya). Sebab, semua itu berbahaya bagi anak-anak tersebut.

Seorang penyair mengatakan,

إِنَّ الشَّبَابَ وَالْفَرَاغَ وَالْجِدَةَ

مُفْسِدَةٌ لِلْمَرْءِ أَيَّ مَفْسَدَةٍ

“Sungguh masa muda, waktu luang, dan kekayaan, merusak seseorang dengan kuatnya.”

Apabila mereka memiliki waktu luang, kemudaan dan kekuatan, didukung kekayaan, semua ini merupakan sebab yang dapat merusak.

Karena itu, hati-hatilah dari hal tersebut. Sibukkan waktu mereka dengan perkara yang bermanfaat. Jagalah waktu mereka agar tidak berlalu sia-sia. Jangan memberikan harta yang banyak kepada mereka. Berilah mereka sesuai kebutuhan dan kecukupan mereka yang harus dipenuhi.

Wahai kaum muslimin, ketahuilah, orang-orang kafir menyusun makar untuk anak-anak kalian. Mereka membuat rencana untuk merusak para pemuda muslimin. Sebab, mereka tahu bahwa masyarakat muslimin tegak dengan para pemuda mereka.

Di antara para pemuda itu akan ada yang menjadi pemimpin, ada yang menjadi hakim, ada yang menjadi dai yang mengajak kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan menjadi mujahid fi sabilillah, apabila para pemuda tersebut saleh dan tetap istiqamah.

Orang-orang kafir menyadari pentingnya keberadaan pemuda muslimin tersebut. Karena itu, mereka mengarahkan sarana-sarana perusak dan penghancur kepada para pemuda.

Mereka berupaya mengubah metode pembelajaran di sekolah-sekolah, dari metode Islam menjadi metode kufur, metode di luar Islam. Mereka ingin memalingkan para pemuda muslimin dari jalan yang benar.

Mereka menguasai media massa: siaran radio, televisi, dan surat kabar, untuk dijadikan sarana penyebaran kerusakan yang dapat mengubah akidah atau keyakinan para pemuda muslimin.

Orang-orang kafir memasukkan candu-candu dan minuman yang memabukkan kepada para pemuda, untuk melemahkan tubuh dan akal mereka. Jadilah para pemuda ini sebagai alat perusak dan penghancur di tengah masyarakat atau menjadi beban hidup bagi orang lain.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          مَّا يَوَدُّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ وَلَا ٱلۡمُشۡرِكِينَ أَن يُنَزَّلَ عَلَيۡكُم مِّنۡ خَيۡرٖ مِّن رَّبِّكُمۡۚ

        “Orang-orang kafir dari kalangan ahlul kitab dan orang-orang musyrik tidaklah menginginkan diturunkannya sesuatu kebaikan kepada kalian dari Rabb kalian.” (al-Baqarah: 105)

          وَدُّواْ لَوۡ تَكۡفُرُونَ كَمَا كَفَرُواْ فَتَكُونُونَ سَوَآءٗۖ

        “Mereka ingin supaya kalian menjadi kafir sebagaimana mereka kafir, sehingga samalah kalian dengan mereka.” (an-Nisa’: 89)

Allah subhanahu wa ta’ala telah memperingatkan kalian dari musuh-musuh kalian,

          إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ يُنفِقُونَ أَمۡوَٰلَهُمۡ لِيَصُدُّواْ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِۚ فَسَيُنفِقُونَهَا ثُمَّ تَكُونُ عَلَيۡهِمۡ حَسۡرَةٗ ثُمَّ يُغۡلَبُونَۗ

        “Sesungguhnya orang-orang kafir itu membelanjakan harta mereka untuk menghalangi manusia dari jalan Allah. Mereka akan membelanjakan harta tersebut, kemudian akan menjadi penyesalan bagi mereka dan mereka akan dikalahkan.” (al-Anfal: 36)

Orang-orang kafir itu akan menyesal dan akan kalah menurut ayat di atas. Akan tetapi, kapankah hal tersebut terjadi?

Itu akan terjadi saat kaum muslimin bangkit menghadapi mereka dengan berjihad yang diwajibkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, menentang kebatilan mereka, dan mewaspadai bahaya mereka.

Apabila kaum muslimin tunduk terhadap musuh-musuh tersebut, mengikuti dan berloyalitas kepada mereka, niscaya mereka akan mengawal kaum muslimin menuju neraka guna menemani mereka di sana.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          إِنَّ ٱلشَّيۡطَٰنَ لَكُمۡ عَدُوّٞ فَٱتَّخِذُوهُ عَدُوًّاۚ إِنَّمَا يَدۡعُواْ حِزۡبَهُۥ لِيَكُونُواْ مِنۡ أَصۡحَٰبِ ٱلسَّعِيرِ ٦

        “Sesungguhnya setan-setan itu hanyalah mengajak golongannya agar mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (Fathir: 6)

Hendaknya kita menyadari bahwa anak-anak kaum muslimin kelak akan menjadi tiang penyangga dan kekuatan masa depan dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala, apabila mereka tumbuh sebagai pribadi yang saleh. Mereka akan menjadi pengganti kalian sepeninggal kalian untuk mengurusi harta dan peninggalan kalian, termasuk mengurusi adik-adiknya yang masih kecil.

Jika bertakwa, tentu mereka akan dapat menunaikan tugas tersebut dengan baik dan menjadi penerus kehidupan ayah mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ، انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَ ثَالٍ؛ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحِ يَدْعُو لَهُ

        “Jika anak Adam meninggal, terputuslah amalannya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)

Sebagai penutup, kita tekankan kepada para orang tua agar bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan meneladani assalafus salih dalam mendidik anak-anak mereka. Dahulu, para salaf sangat perhatian terhadap urusan anak-anak mereka. Mereka mendidik anak-anak mereka dengan tarbiyah yang baik dan arahan yang lurus.

Satu contoh seperti yang diberitakan oleh al-Imam Ibrahim an-Nakha’i rahimahullah, “Mereka (para orang tua dan pendidik dari kalangan salaf) memukul (sebagai pukulan pendidikan) kami apabila bermudah-mudah memberikan persaksian dan berjanji, padahal kami masih kecil.”

Jika mereka mendengar anak kecil bersumpah, mereka memukulnya agar si anak terdidik untuk mengagungkan urusan sumpah dengan nama Allah subhanahu wa ta’ala dan menjauhi sifat dusta (bersumpah palsu).

Apabila anak kecil bermudah-mudah bersaksi tanpa dimintai persaksiannya, mereka memukulnya, agar si anak mendapat peringatan dan jera dari bersaksi palsu dan dusta.

Mereka tidak beralasan, “Anak ini masih kecil, biarkan. Jangan disalahkan, jangan dimarahi!”, atau kalimat semisalnya.

Sebab, anak kecil itu akan tumbuh di atas kebiasaan yang dia lakukan. Si anak akan tumbuh bersama akhlak yang dibiasakan atasnya, akhlak yang baik ataupun yang buruk.

Janganlah kalian menganggap enteng urusan anak-anak kalian dengan beralasan bahwa mereka masih kecil.

Bukankah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah kalian untuk menyuruh anak-anak kalian shalat pada saat mereka masih berusia 7 tahun? Padahal mereka belum baligh. Mereka masih kecil, belum diwajibkan shalat.

Akan tetapi, mereka diperintah shalat dengan tujuan menumbuhkan mereka di atas ibadah dan membiasakannya. Dengan begitu,mereka tahu pentingnya ibadah shalat. Diharapkan saat baligh nanti mereka merasa mudah mengerjakannya, karena sudah terbiasa dan dibiasakan sejak kecil.

Kesungguhan salaf dari kalangan sahabat, tabi’in, dan atba’ut tabi’in, semoga Allah subhanahu wa ta’ala merahmati mereka semua, tampak sekali dari buah yang dihasilkan dan yang mereka petik dari anak-anak tersebut.

Kisah mereka terukir dengan tinta emas sejarah yang bisa terus dibaca sampai hari ini.

Di antara anak-anak generasi salaf tersebut ada yang tumbuh menjadi panglima yang membuka negeri-negeri di penjuru barat dan timur bumi, seperti Khalid ibnul Walid, al-Mutsanna ibnul Haritsah, Usamah ibnu Zaid, Muhammad ats-Tsaqafi, dan selain mereka.

Mereka semua memimpin pasukan dalam keadaan usia mereka masih belia. Mereka berhasil menaklukkan negeri-negeri kafir untuk tunduk di bawah kekuasaan Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Mengapa bisa demikian? Karena mereka diarahkan dengan bimbingan yang lurus dan tumbuh dengan saleh berkat taufik dari Allah subhanahu wa ta’ala. Terkumpul pada diri anak-anak muda tersebut kekuatan pemuda dan kekuatan iman.

Di antara generasi muda salaf ada yang menjadi fuqaha besar, yang tidak pernah didapati yang semisal mereka di kalangan umat.

Di antara mereka ada yang menjadi hakim yang menjadi permisalan atau teladan yang agung dalam hal keadilan saat memberi keputusan dan hukum di antara manusia.

Ada pula di antara mereka yang menjadi dai ke jalan Allah subhanahu wa ta’ala. Melalui tangan mereka, banyak penduduk di berbagai belahan bumi, baik dari kalangan Arab maupun non-Arab, yang mendapatkan hidayah.

Semua itu tercapai dengan pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala, kemudian berkat kesungguhan para pemuda yang saleh, yang tercetak dari tarbiyah yang saleh.

Allah subhanahu wa ta’ala memberi kekuatan fisik, kekuatan berpikir dan menalar kepada mereka. Dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala, mereka akan menjelma menjadi kekuatan yang tidak tertandingi di tangan kaum muslimin.

Namun, sayang seribu sayang….

Di antara anak-anak muda tersebut dipermainkan oleh syahwat, candu, minuman yang memabukkan, dan serbaboleh (tidak peduli aturan agama).

Mereka duduk tekun di depan televisi, bioskop, teater, bermain game, dan terus terikat dengan sarana-sarana penghancur mereka. Jika sudah telanjur demikian, apa gerangan yang bisa diharapkan dari mereka?

Hanya Allah subhanahu wa ta’ala tempat mengadu dan Dia satu-satu-Nya yang dimintai pertolongan.

(Lihat al-Khuthab al-Mimbariyah fi al-Munasabat al-Ashriyah, 5/177—183, oleh Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan hafizhahullah, dialihbahasakan Ummu Ishaq al-Atsariyah dengan beberapa perubahan)

Peran Ibu dalam Tarbiyah Anak

Sebelum ini sudah panjang kita berbicara tentang peran wanita dalam kehidupan berumah tangga yang dimainkannya dalam istananya. Tersisa satu peran yang belum kita sebutkan, sementara ia amatlah penting, yaitu peran dalam mendidik anak-anak.

Mengapa dikatakan peran yang penting? Karena tarbiyah diarahkan kepada anak-anak, sementara mereka adalah umat masa depan. Bagaimana kondisi anak-anak tersebut dan pendidikannya pada hari ini, demikianlah gambaran umat pada masa mendatang.

Apabila mereka terdidik dengan baik, berarti disiapkan sebuah umat yang baik di masa mendatang. Sebaliknya, apabila pendidikan mereka disia-siakan, niscaya pada masa depan nanti yang muncul adalah umat yang buruk. Wallahul musta’an.

Sebenarnya, pendidikan anak bukan hanya tugas seorang ibu, melainkan tanggung jawab bersama dengan ayah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي بَيْتِهِ وَمَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْؤُوْلَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang yang dipimpinnya. Suami adalah pemimpin dalam rumah tangganya dan dia akan ditanya tentang yang dipimpinnya. Istri adalah pemimpin dalam rumah suaminya dan dia akan ditanya tentang yang dipimpinnya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Dalam lembaran al-Qur’an yang mulia termaktub ayat Allah subhanahu wa ta’ala,

          يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارٗا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri-diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu….” (at-Tahrim: 6)

 

Tanggung jawab mendidik anak berada pada pundak ayah dan ibu. Hanya saja, bila melihat praktik kesehariannya, kita dapati waktu seorang ayah bersama anak-anaknya di rumah tidak sebanyak waktu yang dihabiskan seorang ibu bersama anak-anaknya. Sebab, ayah harus keluar rumah untuk bekerja guna menanggung biaya kehidupan istri dan anak-anaknya atau untuk tugas-tugas lain yang lazim dipikul oleh seorang lelaki.

Memang ada saatnya seorang ayah berada seharian di rumahnya karena hari libur kerja atau tidak ada aktivitas di luar rumah. Namun, biasanya lelaki ingin memanfaatkannya untuk beristirahat dari kelelahan di hari-hari kerja.

Oleh karena itulah, seorang ibu mengambil porsi yang lebih besar dalam hal tarbiyah anak-anaknya daripada ayah, tanpa menampik kenyataan bahwa mendidik anak adalah tanggung jawab bersama.

Satu pelajaran dapat kita petik dari hadits Jabir bin Abdilah radhiallahu ‘anhuma berikut ini. Beliau radhiallahu ‘anhuma memberitakan tentang keadaannya,

هَلَكَ أَبِي وَتَرَكَ سَبْعَ بَنَاتٍ أَوْ تِسْعَ بَنَاتٍ، : فَتَزَوَّجْتُ امْرَأَةً ثَيِّبًا. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ تَزَوَّجْتَ يَا جَابِرُ؟ فَقُلْتُ: نَعَمْ. فَقَالَ: بِكْرًا أَمْ ثَيِّبًا؟ قُلْتُ: بَلْ ثَيِّبًا. قَالَ: فَهَلَّا جَارِيَةً تُلاَعِبُهَا وَتُلاَعِبُكَ وَتُضَاحِكُهَا وَتُضَاحِكُكَ. قَالَ: قُلْتُ لَهُ: إِنَّ عَبْدَ اللهِ هَلَكَ وَتَرَكَ بَنَاتٍ وَإِنِّي كَرِهْتُ أَنْ أُجِيْئَهُنَّ بِمِثْلِهِنَّ، فَتَزَوَّجْتُ امْرَأَةً تَقُوْمُ عَلَيْهِنَّ وَتُصْلِحُهُنَّ. فَقَالَ: بَارَكَ اللهُ لَكَ-أَوْ قَالَ: خَيْرًا

Ayahku meninggal dunia dan beliau meninggalkan tujuh atau sembilan putri. Aku pun menikahi seorang janda.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadaku, “Apakah engkau sudah menikah, wahai Jabir?”

“Ya,” jawabku.

Beliau bertanya lagi, “Dengan gadis atau janda?”

Aku jawab, “Dengan janda.”

“Mengapa engkau tidak menikah dengan gadis saja sehingga engkau bisa mula’abah dengannya dan dia bisa mula’abah denganmu? Engkau bisa bercanda dengannya dan dia bisa bercanda denganmu?” tanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lagi.

Aku menerangkan kepada beliau, “Sungguh, ayahku, Abdullah, meninggal dunia dan meninggalkan banyak anak perempuan. Aku tidak suka mendatangkan di tengah-tengah mereka perempuan yang semisal mereka (masih muda/belum dewasa). Aku pun menikahi seorang perempuan (janda/sudah dewasa) yang bisa mengurusi mereka dan merawat mereka.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan Jabir, “Semoga Allah memberkahimu.” Atau beliau berkata, “Bagus (apabila demikian).” (HR. al-Bukhari)

Hadits di atas menunjukkan bahwa seorang istri turut berperan mendampingi suaminya dalam mentarbiyah anak-anaknya, sekalipun anak-anak tersebut tidak terlahir dari rahimnya.

Al-Imam al-Bukhari rahimahullah memberi judul hadits di atas dalam kitab Shahihnya, bab ‘Aunul Mar’ah Zaujaha fi Waladihi, artinya Istri membantu suaminya dalam mengurus anak suami.

Seorang ibu tidak boleh asal-asalan atau sekenanya menjalankan peran yang penting ini. Karena itu, ibu harus membekali dirinya dengan pengetahuan yang memadai terkait dengan tugas mengasuh, merawat, dan mendidik anak.

Ada beberapa sisi yang perlu diperhatikan oleh seorang ibu agar tarbiyah bisa berjalan dengan baik, di antaranya adalah sisi kesehatan anak.

Mengapa demikian?

Anak yang sakit dan tumbuh dalam keadaan tidak sehat tentu tidak akan bisa menjadi pribadi yang sempurna yang bisa bermanfaat bagi umat. Karena itulah, seorang ibu harus memerhatikan bagaimana anaknya tumbuh dengan sehat. Seorang ibu perlu membekali dirinya dengan pengetahuan tentang hal ini.

Sisi lain yang perlu diperhatikan adalah memberikan tarbiyah akhlak kepada anak, menumbuhkannya di atas akhlak tersebut, dan menanamkan kebiasaan-kebiasaan yang baik kepadanya, serta menjauhkannya dari kebiasaan yang buruk. Diharapkan kelak dia tumbuh menjadi anak yang saleh sebagai penyejuk mata bagi kedua orang tuanya.

Tabiat Khusus Setiap Jenjang Usia

Seorang ibu harus memahami bahwa setiap jenjang usia dari kehidupan anak memiliki tabiat yang khusus dan cara khusus yang sesuai untuk mendidiknya. Ibu harus mengenali berbagai kekhususan anak agar bisa mendidiknya di atas manhaj tarbiyah yang lurus.

Di antara kekhususan tersebut:

  1. Qabiliyah, siap menerima.

Anak yang masih kecil ibarat lembaran putih yang belum tertulis apapun. Dia siap menerima arahan yang dimaukan oleh pendidiknya. Semisal ranting yang lunak, ia mengikuti tekukan ke arah mana pun yang diinginkan oleh orang membentuknya.

Oleh karena itu, seorang ibu harus bersiap mengisi lembaran putih tersebut dengan kebaikan.

 

  1. Madiyah fit Tafkir

Anak kecil belum bisa memahami dengan baik karena akalnya belum sempurna.

Oleh karena itu, seorang ibu tidak boleh merasa galau ketika anaknya tidak memahami beberapa hal. Sebab, anak menyerap apa yang ada di hadapannya dengan pikirannya yang belum sempurna.

Andai ibu mengatakan kepada anaknya, “Tiga ditambah tiga berapa?”

Bisa jadi, si anak tidak paham. Akan tetapi, apabila si ibu meletakkan tiga pena dan menambahkan tiga pena lagi, barulah si anak bisa menjawab, “Enam.”

Karena pikirannya belum sempurna, anak tidak dibebani syariat kecuali setelah baligh. Mendidik anak di atas sifat-sifat yang terpuji haruslah dikaitkan dengan amaliah (amal nyata) yang bisa disaksikannya.

Misalnya, ibu hendak mendidik anak agar memiliki sifat suka memberi. Dalam hal ini, ibu memberi contoh di hadapan anak dengan menyedekahkan uang, makanan, atau pakaian kepada fakir miskin.

 

  1. Al-Fardiyah wal Ananiyah, egois mau menang sendiri.

Ibu harus mengetahui bahwa sifat seperti ini ada pada anak-anak. Dengan demikian, ibu berusaha mengarahkannya dengan sabar hingga si anak akhirnya bisa menghormati orang lain.

 

  1. Anak punya kebutuhan-kebutuhan

Apabila kebutuhan ini tidak terpenuhi, pertumbuhannya akan terganggu atau akan muncul perangai yang buruk pada dirinya.

Di antara kebutuhan anak adalah:

  • Mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya
  • Memperoleh rasa aman, tidak ada kekhawatiran atau ketakutan yang terus menghantuinya.
  • Ingin dihargai dan diberikan kepercayaan. Apabila merasa tidak dihargai dan tidak diberikan kepercayaan, niscaya anak akan tumbuh menjadi pribadi yang kurang percaya diri.
  • Ingin memiliki teman. Dalam hal ini, ibu perlu mencarikan teman yang baik untuknya. Teman yang bisa mendukungnya menjadi pribadi yang baik agar tidak bertentangan dengan tarbiyah yang ditanamkan kepadanya.

Cara Mentarbiyah Anak

Ketahuilah, seluruh cara yang kita lakukan dan upayakan kembali kepada salah satu dari beberapa jalan berikut ini.

 

  1. Sekadar mendiktekan perintah dan larangan

Misalnya dengan mengatakan kepada anak, “Tidak boleh begini, tidak boleh begitu”, “Lakukan ini dan itu.”

Sangatlah disayangkan, cara seperti ini sering dilakukan oleh banyak orang tua, padahal pengaruhnya kurang terasa.

 

  1. Menyampaikan perintah dan larangan disertai cara lain, seperti memberikan nasihat, atau memberikan targhib (memberikan harapan kepada kebaikan) dan tarhib (menakut-nakuti dengan hukuman).

Cara seperti ini lebih berhasil daripada yang pertama.

 

  1. Mencontohkan dan memberikan teladan.

Seorang ibu harus memerhatikan dan memperbaiki adab dan akhlaknya agar bisa menjadi teladan yang baik bagi anak-anak yang dididiknya.

Dia tidak boleh memerintahkan sesuatu, sementara dia sendiri tidak mengerjakannya. Jangan pula dia melarang sesuatu, tetapi dia sendiri mengerjakannya.

Misalnya, ibu menyuruh anaknya membaca al-Qur’an, sementara dia sendiri tidak pernah terlihat membuka lembaran mushaf apalagi membacanya.

Ibu mengajari anaknya untuk bersifat jujur dan melarang berdusta, tetapi ibu sendiri berdusta di hadapan anak-anaknya.

Ada pula beberapa hal penting yang perlu diketahui terkait pendidikan anak, di antaranya:

  • Kapan diperkenankan untuk memukul anak?

Pukulan memang termasuk sarana pendidikan. Akan tetapi, seorang ibu yang baik tentu tidak asal memukul anaknya.

 

  • Menakut-nakuti anak dengan sesuatu dan pengaruhnya bagi kejiwaan anak.

Untuk mendiamkan atau menenangkan anak, orang tua biasa menakut-nakutinya dengan sesuatu. Dalam hal ini orang tua harus mempelajari, sejauh mana hal tersebut berpengaruh pada kejiwaan anak.

  • Menjauhkan anak dari pergaulan dengan anak-anak yang tidak terdidik dengan baik dan teman-teman buruk yang dapat menyeretnya jatuh dalam kejelekan.

 

  • Mengikuti perkembangan belajar anak, apa yang sudah dipelajarinya, sejauh mana pemahamannya terhadap ilmu yang telah disampaikan kepadanya.

  • Mendidik anak perempuan agar memiliki rasa malu.

Di antaranya dengan menyuruh dan membiasakannya memakai kerudung sejak kecil.

  • Tidak bolehnya menampakkan pertentangan antara ayah dan ibu saat memberikan arahan kepada anak.

Misalnya, ayah memerintah anak untuk berbuat sesuatu, sementara ibu melarangnya. Hal ini akan menimbulkan kebingungan pada anak, siapa yang harus diikuti.

  • Ucapan dan perbuatan tidak boleh bertentangan.

Jangan sampai ibu berkata kepada anaknya, ‘Nak, kamu jangan menunda-nunda shalat!’ sementara anak melihat ibunya kerap menunda-nunda shalat.

 

  • Senantiasa mendoakan kebaikan untuk anak dan menjaga lisan dari mendoakan keburukan untuk anak, apapun yang diperbuat anak yang membuat orang tuanya marah.

Hal-hal di atas perlu dipelajari lebih lanjut oleh seorang ibu yang ingin sukses mendidik anak-anaknya.

Apa yang kami tuangkan dalam ulasan di atas bukanlah dari pikiran kami sendiri, melainkan bimbingan seorang alim besar zaman ini, seorang murabbi (pendidik/pengajar) umat; Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah.

Beliau menyampaikan bimbingan di atas pada sebuah ceramah yang berjudul Daur al Mar’ah fi Tarbiyah al-Usrah (Peran Wanita dalam Mendidik Keluarga).

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala membalas beliau dengan limpahan kebaikan.

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

Sebab Terjaganya Keimanan

Khutbah Pertama

 

الْحَمْدُ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَكَفَى بِاللهِ شَهِيداً، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ إِقْرَارًا بِهِ وَتَوْحِيدًا، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيماً مَزِيداً.

أَمَّا بَعْدُ؛

فَأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ وَآمِنُوا بِهِ إِيمَانًا صَحِيحًا

 

Maasyiral muslimin rahimakumullah,

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah subhanahu wa ta’ala yang telah mengaruniakan iman dan takwa kepada siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan kita termasuk yang mendapat karunia yang amat mulia ini. Amin, ya Rabbal ‘alamin.

Sebab, kalau bukan karena hidayah dan karunia dari-Nya, niscaya kita termasuk orang-orang yang merugi. Na’udzubillah min dzalik.

          فَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ وَرَحۡمَتُهُۥ لَكُنتُم مِّنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ ٦٤

“Seandainya bukan karena karunia dan rahmat Allah atas kalian, niscaya kalian akan tergolong orang-orang yang merugi.” (al-Baqarah: 64)

 

Di dalam surah al-‘Ashr, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          وَٱلۡعَصۡرِ ١  إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَفِي خُسۡرٍ ٢  إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ ٣

“Demi masa, sesungguhnya manusia itu berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (al-‘Ashr: 1—3)

 

Di antara yang dilantunkan para sahabat ketika menggali parit Khandaq bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah,

وَاللهِ لَوْلاَ اللهُ مَا اهْتَدَيْنَا وَ تَصَدَّقْنَا وَلاَ صَلَّيْنَا

        “Demi Allah, kalau bukan karena karunia Allah, tidaklah kami mendapat hidayah, niscaya kami tidak bersedekah, tidak pula kami mengerjakan shalat.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

 

Hadirin sidang jumat rahimakumullah!

Sudah menjadi kewajiban bagi setiap muslim untuk menjaga anugerah iman dan takwa ini. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ ١٠٢

        “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan takwa yang sebenarnya, dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan Islam.” (Ali Imran: 102)

 

Ketika salah seorang sahabat bertanya kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang ucapan dalam Islam, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya menjawab,

قُلْ: آمَنْتُ بِاللهِ؛ ثُمَّ اسْتَقِمْ

        Katakanlah, “Aku beriman kepada Allah,” kemudian istiqamahlah. (HR. Muslim dari sahabat Sufyan bin Abdullah ats-Tsaqafi radhiallahu ‘anhu)

 

Jawaban singkat ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga keistiqamahan iman.

 

Hadirin rahimakumullah!

Perhatikanlah janji Allah subhanahu wa ta’ala bagi hamba-hamba-Nya yang berhasil memelihara keistiqamahan iman. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُواْ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسۡتَقَٰمُواْ فَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ ١٣

        Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Rabb kami adalah Allah,” kemudian mereka tetap istiqamah, niscaya tidak akan ada rasa khawatir pada mereka, tidak pula mereka bersedih hati. (al-Ahqaf: 13)

 

          إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُواْ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسۡتَقَٰمُواْ تَتَنَزَّلُ عَلَيۡهِمُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ أَلَّا تَخَافُواْ وَلَا تَحۡزَنُواْ وَأَبۡشِرُواْ بِٱلۡجَنَّةِ ٱلَّتِي كُنتُمۡ تُوعَدُونَ ٣٠

        Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, “Rabb kami ialah Allah,” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan), “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (Fushshilat: 30)

 

Maasyiral muslimin rahimakumullah!

Dalam majelis ini perlu untuk kita ketahui bersama beberapa sebab terjaganya keimanan.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          وَإِذۡ تَأَذَّنَ رَبُّكُمۡ لَئِن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِيدَنَّكُمۡۖ وَلَئِن كَفَرۡتُمۡ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٞ ٧

        “Sesungguhnya jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepada kalian. Akan tetapi, jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), pasti azab-Ku sangat berat.” (Ibrahim: 7)

 

Jamaah jumat rahimakumullah!

Tersirat dari ayat di atas bahwa di antara penyebab terjaganya keimanan adalah:

  1. Bersyukur

Kalbu seseorang mengakui bahwa kenikmatan iman maupun kenikmatan yang lainnya berasal hanya dari Allah subhanahu wa ta’ala. Lisannya selalu memuji Allah atas kenikmatan-Nya tersebut. Dia juga menggunakan kenikmatan-kenikmatan tersebut dalam ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan tidak menggunakannya untuk bermaksiat.

 

Yang tidak kalah pentingnya daripada bersyukur adalah:

  1. Bersabar

Bersabar di sini meliputi tiga jenis kesabaran: (1) bersabar di atas ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, (2) bersabar untuk menahan diri dari bermaksiat kepada-Nya, dan (3) bersabar menghadapi musibah.

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَلِكَ لِأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh, mengagumkan urusan seorang muslim. Segala urusan mendatangkan kebaikan baginya dan yang demikian hanya ada pada seorang mukmin. Manakala mengalami kesenangan, dia akan bersyukur, itu adalah kebaikan baginya. Manakala ditimpa musibah, dia bersabar, itu pun kebaikan baginya.” (HR. Muslim dari sahabat Suhaib bin Sinan radhiallahu ‘anhu)

 

  1. Kesungguhan menjaga keistiqamahan iman dan takwa.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          وَٱلَّذِينَ جَٰهَدُواْ فِينَا لَنَهۡدِيَنَّهُمۡ سُبُلَنَاۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَمَعَ ٱلۡمُحۡسِنِينَ ٦٩

        “Orang-orang yang bersungguh-sungguh di (jalan) Kami, niscaya benar-benar Kami akan menunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (al-‘Ankabut: 69)

 

  1. Berusaha mengikhlaskan niat dalam semua urusan agama.

Sebab, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ

        “Dan tidaklah mereka diperintahkan melainkan agar mereka beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama ini hanya untuk-Nya.” (al-Bayyinah: 5)

 

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Sesungguhnya, amalan-amalan tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang mendapatkan sesuai dengan niatnya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu)

 

  1. Berpegang teguh dengan al-Qur’an dan Sunnah.

Hal ini sebagaimana sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنِّي تَارِكٌ فِيكُمْ مَا إِنْ تَمَسَّكْتُمْ بِهِ لَنْ تَضِلُّوا: كِتَابَ اللهِ وَسُنَّتِي

“Sesungguhnya aku tinggalkan untuk kalian yang kalian tidak akan tersesat selama kalian berpegang teguh dengannya, yaitu Kitab Allah dan Sunnahku.” (HR. al-Imam Malik dari sahabat Zaid bin Arqam radhiallahu ‘anhu, dan dihukumi sahih oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah)

 

Maksudnya, dengan menjadikan keduanya sebagai pedoman dan tidak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan keduanya.


 

  1. Berusaha selalu jujur dalam segala urusan.

Kejujuran sangat berpengaruh terhadap keistiqamahan iman seseorang. Sebab, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ، وَلاَ يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيقًا

“Hendaknya kalian bersikap jujur karena kejujuran membawa kepada kebaikan dan kebaikan akan membawa ke surga. Manakala seseorang selalu jujur dan menekuninya, niscaya akan ditulis di sisi Allah sebagai seorang shiddiq (tepercaya).”

 

Sebaliknya, perbuatan dusta sangat berbahaya terhadap keistiqamahan iman seseorang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,

إِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ، وَ يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّابًا

“Berhati-hatilah kalian dari berbuat dusta karena dusta akan membawa kepada kejahatan, dan kejahatan akan membawa ke neraka. Manakala seseorang selalu berdusta dan menekuninya, dia akan ditulis di sisi Allah subhanahu wa ta’ala sebagai pendusta.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu)

 

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَكُونُواْ مَعَ ٱلصَّٰدِقِينَ ١١٩

        “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan jadilah kalian bersama orang-orang yang jujur.” (at-Taubah: 119)

 

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمِ

 

Khutbah Kedua

 

الْحَمْدُ الَّذِي مَنَّ عَلَيْنَا بِنِعْمَةِ الْإِسْلَامِ، وَأَمَرَنَا بِالتَّمَسُّكِ بِهِ لِيُوْصِلَنَا بِهِ إِلَى دَارِ السَّلاَمِ، وَالصَّلَاة وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ الْأَنَامِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحَابَتِهِ الْبَرَرَةِ الْكِرَامِ، أَمَّا بَعْدُ: فَأَيُّهَا النَّاسُ عِبَادَ اللهِ الْكِرَامَ رَحِمَكُمُ اللهُ

 

Hadirin rahimakumullah,

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَرۡفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَٰتٖۚ

“Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu dengan beberapa derajat.” (al-Mujadalah: 11)

 

Ayat ini mengandung beberapa penyebab terjaganya keimanan:

  1. Mempelajari ilmu agama

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِهْهُ فِي الدِّينِ

        “Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, niscaya Allah akan menjadikannya paham agama.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Muawiyah radhiallahu ‘anhuma)

 

Maasyiral muslimin rahimakumullah,

Dalam sebuah hadits qudsi Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِ مَنْ هَدَيْتُهٌ، فَاسْتَهْدُونِي أَهْدِكُمْ

“Wahai hamba-hamba-Ku, sungguh kalian semua tersesat kecuali siapa yang Aku beri hidayah. Maka dari itu, mintalah hidayah kepada-Ku, niscaya kalian Aku beri hidayah.” (HR. Muslim dari sahabat Abu Dzar al-Ghifari radhiallahu ‘anhu)

Hadits di atas menyiratkan makna bahwa di antara penyebab terjaganya keimanan adalah:

 

  1. Doa

Sebab, iman dan takwa merupakan taufik dan hidayah dari Allah subhanahu wa ta’ala. Sampaisampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saja selalu berdoa dengan doa berikut ini.

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

“Wahai Dzat yang membolak-balikkan kalbu, kokohkanlah kalbuku di atas agama-Mu.”

 

رَبَّنَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكِ، وَيَا مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا فِي طَاعَتِكَ .

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى. اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

 

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ وَالْحَمْدُ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

 

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Ishaq Abdullah Nahar

Seputar Qunut Witir (2)

Berikut ini adalah lanjutan jawaban al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad as-Sarbini seputar masalah qunut witir.

 Qunut Witir Pada Rakaat Terakhir

Qunut witir dilakukan pada rakaat terakhir dari shalat witir. Ini berdasarkan hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu ( muttafaq ‘alaih) bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan qunut nazilah pada shalat zhuhur, isya, dan subuh pada rakaat terakhir. Sebab, qunut nazilah dan qunut witir adalah dua ibadah yang sejenis.

 

Waktu Qunut Witir

Ada perbedaan pendapat, apakah qunut witir dilakukan sebelum rukuk atau setelahnya?

  1. Sebelum rukuk, seusai membaca surah.

Ini adalah pendapat Abu Hanifah dan Malik.

 

  1. Setelah rukuk, seusai membaca zikir i’tidal.

Ini adalah pendapat asy-Syafi’i dan Ahmad.

 

  1. Sebelum rukuk atau setelahnya.

Ini riwayat lain dari Ahmad. Ini yang dipilih oleh Ibnu Baz, al-Albani, dan Ibnu ‘Utsaimin.

 

Dalil pendapat pertama adalah hadits Ubay bin Ka’b radhiallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan qunut witir sebelum rukuk. Telah diterangkan sebelumnya bahwa hadits ini diperselisihkan kebenarannya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan al-Albani menghukuminya sahih. Di antara hadits yang dijadikan penguat oleh al-Albani adalah hadits Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu. ‘Ashim al-Ahwal berkata,

        سَأَلْتُهُ عَنِ الْقُنُوتِ قَبْلَ الرُّكُوعِ أَوْ بَعْدَ الرُّكُوعِ؟ فَقَالَ: قَبْلَ الرُّكُوعِ. قُلْتُ: فَإِنَّ نَاسًا يَزْعُمُونَ أَنَّ رَسُولَ قَنَتَ بَعْدَ الرُّكُوعِ. فَقَالَ: إِنَّمَا قَنَتَ رَسُولُ اللهِ شَهْرًا يَدْعُو عَلَى أُنَاسٍ قَتَلُوا أُنَاسًا مِنْ أَصْحَابِهِ يُقَالُ لَهُمْ الْقُرَّاءُ

Aku bertanya tentang qunut, apakah sebelum rukuk atau sesudahnya. Anas menjawab, Sebelum rukuk.

Aku berkata, Sekelompok orang menyangka bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan qunut setelah rukuk.

Anas menjawab, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hanyalah melakukan qunut (setelah rukuk) selama sebulan penuh mendoakan kejelekan terhadap sekelompok orang yang membunuh beberapa sahabat beliau yang disebut para qurra.” (Muttafaq ‘alaih)

 

Menurut al-Albani, sudah pasti yang dimaksud dengan ‘qunut sebelum rukuk’ oleh Anas radhiallahu ‘anhu adalah qunut witir, tidak mungkin qunut nazilah, sebagaimana hal itu tampak pada seluruh riwayat hadits ini—bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan qunut nazilah setelah rukuk.[1]

Hal ini didukung pula oleh atsar Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu bahwa ia melakukan qunut witir sebelum rukuk (HR. ath-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir dengan sanad yang dinilai hasan oleh al-Albani).

 

Ibnu Abi Syaibah mengeluarkannya dalam Mushannaf-nya dengan sanad yang dinilai hasan oleh al-Albani, dengan lafadz,

        أَنَّ ابْنَ مَسْعُودٍ وَأَصْحَابَ النَّبِيِّ كَانُوا يَقْنُتُونَ فِي الْوِتْرِ قَبْلَ الرُّكُوعِ

“Ibnu Masud dan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu melakukan qunut witir sebelum rukuk.”[2]

 

Dalil pendapat kedua adalah penyamaan hukum terhadap qunut nazilah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dilakukan setelah rukuk menurut qiyas, sebagaimana pada hadits Anas radhiallahu ‘anhu di atas dan semisalnya.

Pada kitab Qiyamul Lail karya Muhammad bin Nashr al-Marwazi disebutkan bahwa al-Imam Ahmad ditanya tentang qunut pada shalat witir, apakah sebelum rukuk atau setelahnya? Apakah kedua tangan diangkat pada doa qunut witir?

Ahmad menjawab, “Qunut witir dilakukan setelah rukuk dan mengangkat kedua tangan, berdasarkan qiyas terhadap amalan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada qunut nazilah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam di shalat subuh.”

Yang beliau maksud adalah hadits Anas radhiallahu ‘anhu dan Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, keduanya muttafaq ‘alaih.

Al-Imam Ahmad rahimahullah beralih kepada qiyas dalam masalah ini sepertinya karena beliau memvonis dha’if hadits Ubay bin Ka’ab radhiallahu ‘anhu tentang qunut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum rukuk, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

Dasar qiyas ini adalah mengingat bahwa keduanya amalan sejenis, samasama qunut dalam shalat sehingga keduanya sama dalam hal ini.

Qiyas ini didukung oleh amalan Ubay bin Ka’ab radhiallahu ‘anhu qunut witir setelah rukuk pada separuh terakhir Ramadhan, sebagaimana pada riwayat Ibnu Khuzaimah yang telah disebutkan.

 

Dari keterangan di atas, tampaklah bahwa pendapat ketiga lebih tepat. Qunut witir sebelum rukuk atau setelah rukuk termasuk amalan yang beragam, terkadang yang ini dan terkadang yang itu.[3]

 

Qunut dengan Mengangkat Kedua Tangan

Terdapat perbedaan pendapat mengenai mengangkat kedua tangan ketika qunut witir. Yang benar, disunnahkan mengangkat kedua tangan.

Ini adalah mazhab Hanbali, sebagaimana dalam al-Mughni (2/584) dan al-Inshaf (2/172).

Ini pula yang dianggap benar pada mazhab Syafi’i oleh mayoritas fuqaha mazhab Syafi’i, termasuk al-Baihaqi dan an-Nawawi, sebagaimana dalam kitab al-Majmu’ (3/479 & 487).

Pendapat ini telah difatwakan oleh Ibnu Baz dalam Majmu’ al-Fatawa (30/51) dan Ibnu ‘Utsaimin dalam asy-Syarh al-Mumti’ (4/18).

Pendapat ini berdalil dengan hadits Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu tentang qunut nazilah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkenaan dengan 70 qari’ (penghafal Qur’an) dari kalangan sahabat yang dibantai oleh kaum musyrikin.

Kata Anas,

لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ كُلَّمَا صَلَّى الْغَدَاةَ رَفَعَ يَدَيْهِ يَدْعُو عَلَيْهِمْ

“(Demi Allah), sungguh, aku telah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap kali shalat subuh mengangkat kedua tangannya mendoakan kebinasaan atas mereka (para pembantai itu).” ( HR. Ahmad, ath-Thabarani, dan al-Baihaqi; dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam Ashlu Shifat ash-Shalah, 3/957958)

 

Telah sahih pula atsar dari ‘Umar radhiallahu ‘anhu,

كَانَ عُمَرُ يَقْنُتُ بِنَا فِي صَلَاةِ الْغَدَاةِ وَيَرْفَعُ يَدَيْهِ حَتَّى يخرج ضَبْعَيْهُ

“Adalah ‘Umar radhiallahu ‘anhu melakukan qunut bersama kami pada shalat subuh dan mengangkat kedua tangannya hingga mengeluarkan kedua lengan atasnya.” (Riwayat Ibni Abi Syaibah, al-Bukhari dalam kitab Raf’ul Yadain, Ibnu Nashr, dan al-Baihaqi; dinyatakan sahih oleh al-Bukhari, al-Baihaqi, dan al-Albani dalam kitab Ashlu Shifat ash-Shalah (3/958—959)

 

Meskipun dalil-dalil ini pada qunut nazilah, tetapi keduanya adalah amalan yang sejenis sehingga disamakan secara metode qiyas.

Berdasarkan atsar-atsar tersebut, al-Imam Ahmad rahimahullah menyatakan bahwa kedua telapak tangan diangkat setinggi dada dengan bagian telapak menghadap ke atas, sebagaimana dalam al-Mughni dan al-Inshaf.

Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah menambahkan dalam asy-Syarh al-Mumti’ (4/18) bahwa yang tampak dari keterangan ulama adalah kedua telapak tangan ditempelkan satu sama lainnya seperti halnya orang yang meminta sesuatu. Adapun memisah dan menjauhkan antara keduanya, Ibnu ‘Utsaimin menimpali bahwa hal itu tidak ada asal usulnya, baik dari as-Sunnah maupun dari keterangan ulama.

 

Teks Doa Qunut Witir

Adapun teks doanya adalah yang disebutkan pada hadits al-Hasan bin ‘Ali radhiallahu ‘anhuma. Pada riwayat Ibnu Mandah dalam kitab at-Tauhid ada tambahan lafadz doa di akhir yang dinilai tsabit (benar) oleh al-Albani dan ditetapkan olehnya pada kitab Qiyam Ramadhan, yaitu,

وَلاَ مَنْجَا مِنْكَ إِلاَّ إِلَيْكَ

        “Tidak tempat berlindung dari-Mu kecuali hanya kepada-Mu.”[4]

 

Adapun menutup lafadz doa dengan shalawat untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, hal itu disebutkan pula pada tambahan riwayat an-Nasa’i dengan lafadz,

وَصَلَّى اللهُ عَلَى النَّبِيِّ مُحَمَّدٍ

“Semoga shalawat dan salam tercurah atas Nabi Muhammad.”

Riwayat ini dinilai sahih oleh an-Nawawi, tetapi dibantah oleh Ibnu Hajar dan al-Albani yang memvonisnya dha’if (lemah). Meski demikian, al-Albani menetapkan shalawat di akhir doa qunut pada kitab al-Irwa’ dan Talkhish Shifat ash-Shalah (hlm. 38), berdasarkan amalan sahabat pada qunut witir di separuh terakhir Ramadhan pada masa ‘Umar radhiallahu ‘anhu, sebagaimana pada riwayat yang dikeluarkan oleh Ibnu Khuzaimah yang telah disebutkan di atas.[5]

Al-Albani berpendapat dalam kitab Qiyam Ramadhan (hlm. 23) bahwa tidak mengapa menambah selain doa ini dengan mendoakan laknat atas orang-orang kafir dan mendoakan kaum muslimin pada qunut witir dalam rangkaian tarawih di separuh terakhir Ramadhan, berdasarkan amalan sahabat di masa ‘Umar radhiallahu ‘anhu. Hal ini sebagaimana pada riwayat Ibnu Khuzaimah di atas.

Ibnu Baz berfatwa dalam Majmu’ al-Fatawa (11/355) bahwa yang lebih utama bagi imam tarawih apabila melakukan qunut witir agar memilih kalimat-kalimat singkat dan bermakna luas dan tidak memperpanjang doa yang akan memberatkan para makmum. Imam hendaknya membaca doa yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada al-Hasan bin ‘Ali radhiallahu ‘anhuma dan menambahnya dengan doa-doa yang baik yang dimudahkan baginya, sebagaimana ‘Umar radhiallahu ‘anhu menambahnya.

Begitu pula fatwa Ibnu ‘Utsaimin dalam Majmu’ al-Fatawa war Rasa’il (14/no. 775, 778, & 779).

Pada shalat witir berjamaah, seperti halnya qunut witir di separuh terakhir Ramadhan, dalam rangka mencontoh sahabat, imam men-jahrkan (memperdengarkan) bacaannya dan mengganti lafadz dhamir mufrad (tunggal) dengan lafadz dhamir jam’in (jamak), yaitu,

اللَّهُمَّ اهْدِنَا فِيمَنْ هَدَيْتَ، وَعَافِنَا فِيمَنْ عَافَيْتَ، وَتَوَلَّنَا فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ، وَبَارِكْ لَنَا فِيمَا أَعْطَيْتَ، وَقِنَا شَرَّ مَا قَضَيْتَ

“Ya Allah, berilah kami hidayah bersama orang-orang yang engkau beri hidayah, berilah kami keselamatan dunia akhirat bersama orang-orang yang engkau beri keselamatan dunia akhirat, dekatkanlah kami kepadamu dan tolonglah kami bersama orang-orang yang engkau dekatkan dan engkau tolong, berkahilah kami pada apa-apa yang yang engkau berikan, jagalah kami dari kejelekan apa-apa yang engkau tetapkan/takdirkan.”[6]

 

Adapun makmum, cukup mengaminkan setiap penggalan doa yang dibaca oleh imam. Dengan itu, mereka juga terhitung telah berdoa dengan doa tersebut untuk diri mereka secara hukum. Dalilnya adalah hadits Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma,

الظُّهْرِ قَنَتَ رَسُولُ اللهِ شَهْرًا مُتَتَابِعًا فِي وَالْعَصْرِ وَالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ وَصَلَاةِ الصُّبْحِ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ إِذَا قَالَ: سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ؛ مِنَ الرَّكْعَةِ الْآخِرَةِ يَدْعُو عَلَى أَحْيَاءٍ مِنْ بَنِي سُلَيْمٍ، عَلَى رِعْلٍ وَذَكْوَانَ وَعُصَيَّةَ وَيُؤَمِّنُ مَنْ خَلْفَهُ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan qunut sebulan berturut-turut pada shalat zhuhur, asar, maghrib, isya, dan shalat subuh, pada setiap akhir shalat setelah mengucapkan Sami’allahu liman hamidah’ pada rakaat terakhir. Beliau mendoakan kebinasaan bagi sekelompok orang dari Bani Sulaim, Ri’subhanahu wa ta’ala, Dzakwan, dan Ushayyah. Orang-orang yang di belakang beliau mengaminkannya.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud, dinilai berderajat hasan oleh al-Albani dalam al-Irwa’, 2/163)

 

Ini pada qunut nazilah dan begitu juga hukumnya pada qunut witir, karena keduanya adalah amalan sejenis. Masalah ini seperti halnya mengaminkan bacaan al-Fatihah imam pada shalat jahriyah, sebagaimana kata Ibnu ‘Utsaimin dalam Majmu’ al-Fatawa war-Rasa’il (13/139).

 

Perhatikan firman Allah subhanahu wa ta’ala,

          قَالَ قَدۡ أُجِيبَت دَّعۡوَتُكُمَا فَٱسۡتَقِيمَا وَلَا تَتَّبِعَآنِّ سَبِيلَ ٱلَّذِينَ لَا يَعۡلَمُونَ ٨٩

“Sungguh, doa kalian berdua telah dikabulkan.” (Yunus: 89)

 

Yang berdoa hanya Nabi Musa ‘alaihissalam, sedangkan Nabi Harun ‘alaihissalam hanya mengaminkan.

 

Ini telah ditegaskan oleh Ahmad dan menjadi mazhab fuqaha Hanbali, sebagaimana dalam kitab al-Inshaf (2/172).

Ini pula yang dianggap paling benar pada mazhab Syafi’i sebagaimana dalam al-Majmu’ (3/481482, 511). Pendapat ini yang difatwakan oleh Ibnu Baz dalam Majmu’ al-Fatawa (9/397) dan Ibnu ‘Utsaimin dalam asy-Syarh al-Mumti’ (4/47).

 

Apabila makmum tidak mendengar doa qunut imam, terdapat dua pendapat.

  1. Makmum mengaminkan saja.
  2. Makmum membaca doa qunut sendiri.

Pendapat kedua difatwakan oleh al-Imam Ahmad, sebagaimana dalam kitab al-Mughni (2/584).

Pendapat ini yang paling benar pada mazhab Syafi’i, sebagaimana dalam al-Majmu’ (3/481 & 511).

Wallahu a’lam.

[1] al-Irwa’ (92/168)

[2] Lihat al-Irwa’ (2/166) dan Ashlu Shifat ash-Shalah hlm. 971.

[3] Lihat kitab al-Mughni (2/581-582), al-Inshaf (2/171), al-Majmu’ (3/520-521), al-Irwa’ (2/163-164), Ashlu Shifat ash-Shalah (3/970-971), Talkhish Shifat ash-Shalah (hlm. 27), Majmu’ Fatawa Ibni Baz (11/357), asy-Syarh al-Mumti’ (4/20).

[4] Lafadz adalah tambahan pada riwayat Ibnu Mandah dalam kitab at-Tauhid dan Abu Bakr al-Ashbahani dalam kitab Fawaid-nya. Riwayat ini sempat divonis dha’if (lemah) oleh al-Albani pada kitab Ashlu Shifat ash-Shalah (3/972 & 976). Namun, kemudian al-Albani condong menyatakan sahih riwayat ini dalam kitab al-Irwa’ (2/168-169) dan menetapkannya pada kitab Sifat ash-Shalah (hlm. 181), Talkhish Shifat ash-Shalah (hlm. 38), dan Qiyam Ramadhan (hlm. 23).

[5] Lihat selengkapnya Talkhish al-Habir (1/448), Ashlu Shifat ash-Shalah (3/976-978), dan al-Irwa’ (2/176-177).

[6] asy-Syarh al-Mumti’

Mengutamakan Akhirat di Atas Dunia

Seandainya kalbu:

1) merenungi kefanaan kehidupan dunia dan tidak langgengnya kesenangan-kesenangan yang ada padanya, dan akan berakhirnya berbagai kenikmatan yang ada di dalamnya, sambil menghadirkan kesempurnaan kenikmatan dan kelezatan akhirat, keabadian kehidupan padanya;

2) merenungi pula kelebihan dan keutamaan kenikmatan akhirat atas kenikmatan dunia; dan meyakini dengan pasti tentang benarnya kedua pengetahuan ini, maka renungannya akan menghasilkan pengetahuan yang ketiga:

Akhirat dengan kenikmatannya yang sempurna dan kekal abadi tentu lebih pantas diutamakan oleh setiap orang yang berakal daripada kehidupan dunia yang fana dan menipu.

Dalam hal pengetahuan tentang akhirat, ada dua keadaan manusia:

  1. Dia mendengar pengetahuan itu dari orang lain dalam keadaan kalbunya tidak benar-benar yakin terhadap akhirat dan tidak mau bersungguh-sungguh memahami hakikatnya.

Ini adalah keadaan kebanyakan manusia. Ada tarik-menarik antara dua kutub di dalam dirinya. Daya tarik yang pertama memikatnya untuk lebih mengutamakan dunia, dan inilah yang terkuat dalam dirinya. Sebab, dunia bisa disaksikan dan dirasakan langsung oleh pancaindra.

Adapun daya tarik yang kedua, yakni akhirat, lemah karena pengetahuan tentangnya hanya dari pendengaran saja (belum bisa dirasakan oleh pancaindra). Hatinya belum benar-benar meyakininya, dia pun tidak bersungguh-sungguh merenunginya.

Apabila ia mengutamakan akhirat dengan mengorbankan dunianya, jiwanya berbisik bahwa dirinya telah meninggalkan sesuatu yang pasti dan nyata, menuju sesuatu yang abstrak dan hanya berdasarkan prasangka. Seolah-olah jiwanya menyeru, “Tentu aku tidak boleh melepaskan sebiji jagung yang jelas terlihat di depan mata, demi mendapatkan sebuah berlian yang baru sekedar janji.”

Penyakit inilah yang menghalangi jiwa-jiwa manusia untuk mempersiapkan dirinya menghadapi akhirat, beramal dan berusaha bersungguh-sungguh untuk menyongsongnya. Ini terjadi karena lemahnya ilmu dan keyakinan tentang negeri akhirat.

Seandainya jiwanya meyakini kehidupan akhirat seyakin-yakinnya, tanpa ada celah keraguan di kalbunya, tentu dia tidak akan meremehkannya. Pasti dia akan bersungguh-sungguh mempersiapkan bekal menuju akhirat.

Oleh karena itu, jika dihidangkan makanan yang paling lezat lagi nikmat kepada seseorang dan dia sedang kelaparan, lalu ada yang memberitahu bahwa makanan itu beracun, tentu ia tidak akan menyantapnya. Sebab, dia tahu bahwa bahaya makanan tersebut melampaui kelezatan menyantapnya.

(Jika dalam hal makanan saja demikian) mengapa keimanan seseorang terhadap akhirat tidak tertanam seperti itu dalam hatinya? Ini tidak lain karena lemah dan tidak terhunjamnya pohon ilmu dan iman terhadap kehidupan akhirat dalam hatinya.

Begitu pula saat ia akan melewati suatu jalan. Dia lalu diberitahu bahwa di ujung jalan ada perampok dan begal yang membunuhi orang yang melintas lalu merampas barang-barangnya. Orang itu tidak akan melewati jalan tersebut, kecuali apabila dirinya:

1) tidak percaya kepada yang memberitahunya, atau

2) percaya diri akan kesanggupannya untuk melawan dan mengalahkan mereka.

Kalau saja dia memercayai berita itu sepenuhnya dan merasa tidak sanggup melawan para perampok tersebut, pasti dia tidak akan menempuh jalan itu.

Sekiranya kedua pengetahuan ini telah ada pada diri seseorang, tentu dia tidak akan mengutamakan dunia dan syahwatnya daripada akhirat.

Jadi, dapat dipahami bahwa mengutamakan urusan dunia dan tidak mempersiapkan diri untuk negeri akhirat, tidak akan terjadi pada orang yang imannya benar-benar jujur.

 

  1. Dia benar-benar yakin tanpa ragu sedikit pun bahwa akan ada kehidupan yang pasti dia menetap di dalamnya setelah kehidupan di dunia ini.

Dia yakin ada tempat kembali yang telah dipersiapkan untuknya, dan dunia ini hanyalah jalan yang akan mengantarkannya ke tempat kembalinya tersebut. Dunia ini hanya sekadar tempat persinggahan. Bersamaan dengan itu dia yakin bahwa negeri akhirat tersebut kekal. Nikmat dan azabnya juga tidak akan sirna.

Seandainya bisa dibandingkan antara kenikmatan dan azab di dunia dengan yang ada di akhirat, hanyalah seperti mencelupkan jari ke laut, lalu jari itu diangkat lagi: Air yang membasahi jari itulah permisalan dunia, sedangkan air laut itulah akhirat.

Pengetahuan ini tentu mendorong seseorang untuk mengutamakan, mencari, dan bersungguh-sungguh mempersiapkan diri menghadapi kehidupan akhirat.

 

Bacalah perlahan dan renungilah firman Allah subhanahu wa ta’ala,

ٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَا لَعِبٞ وَلَهۡوٞ وَزِينَةٞ وَتَفَاخُرُۢ بَيۡنَكُمۡ وَتَكَاثُرٞ فِي ٱلۡأَمۡوَٰلِ وَٱلۡأَوۡلَٰدِۖ كَمَثَلِ غَيۡثٍ أَعۡجَبَ ٱلۡكُفَّارَ نَبَاتُهُۥ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَىٰهُ مُصۡفَرّٗا ثُمَّ يَكُونُ حُطَٰمٗاۖ وَفِي ٱلۡأٓخِرَةِ عَذَابٞ شَدِيدٞ وَمَغۡفِرَةٞ مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضۡوَٰنٞۚ وَمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلۡغُرُورِ ٢٠

سَابِقُوٓاْ إِلَىٰ مَغۡفِرَةٖ مِّن رَّبِّكُمۡ وَجَنَّةٍ عَرۡضُهَا كَعَرۡضِ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ أُعِدَّتۡ لِلَّذِينَ ءَامَنُواْ بِٱللَّهِ وَرُسُلِهِۦۚ ذَٰلِكَ فَضۡلُ ٱللَّهِ يُؤۡتِيهِ مَن يَشَآءُۚ وَٱللَّهُ ذُو ٱلۡفَضۡلِ ٱلۡعَظِيمِ ٢١

“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah di antara kalian serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak. Seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani. Kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning lalu menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras, begitu pula ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.

Berlomba-lombalah kamu kepada ampunan dari Rabb-mu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi. (Surga yang) disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Itulah karunia yang Allah berikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (al-Hadid: 20—21)

 

يَسۡ‍َٔلُونَكَ عَنِ ٱلسَّاعَةِ أَيَّانَ مُرۡسَىٰهَا ٤٢ فِيمَ أَنتَ مِن ذِكۡرَىٰهَآ ٤٣  إِلَىٰ رَبِّكَ مُنتَهَىٰهَآ ٤٤  إِنَّمَآ أَنتَ مُنذِرُ مَن يَخۡشَىٰهَا ٤٥  كَأَنَّهُمۡ يَوۡمَ يَرَوۡنَهَا لَمۡ يَلۡبَثُوٓاْ إِلَّا عَشِيَّةً أَوۡ ضُحَىٰهَا ٤٦

 “(Orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari kebangkitan. Kapankah terjadinya? Siapakah kamu (sehingga) dapat menyebutkan (waktunya)? Kepada Rabb-mulah dikembalikan kesudahannya (ketentuan waktunya). Kamu hanyalah pemberi peringatan bagi siapa yang takut kepadanya (hari berbangkit). Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) kecuali hanya (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari.” (an-Nazi’at: 42—46)

 

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا أَنَا فِي الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا

“Tidaklah aku hidup di dunia ini melainkan seperti seorang pengembara yang sedang istirahat berteduh di bawah naungan pohon. Kemudian pengembara tersebut pergi meninggalkannya.” (HR. at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan dihukumi sahih oleh asy-Syaikh al-Albani)

 

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menggolongkan kita sebagai hamba-hamba-Nya yang jujur keimanannya dan senantiasa mengutamakan akhirat di atas dunia. Amin.

(Miftah Daris Sa’adah 1/542, dengan beberapa penambahan)

 

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Muhammad Abdul Jabbar

 

Al-Malik

Di antara nama Allah adalah al-Malik ( الْمَلِكُ ) dan al-Maliik ( الْمَلِيكُ ), berdasarkan firman Allah,

          هُوَ ٱللَّهُ ٱلَّذِي لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡمَلِكُ ٱلۡقُدُّوسُ ٱلسَّلَٰمُ ٱلۡمُؤۡمِنُ ٱلۡمُهَيۡمِنُ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡجَبَّارُ ٱلۡمُتَكَبِّرُۚ سُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ عَمَّا يُشۡرِكُونَ ٢٣

        “Dia-lah Allah Yang tiada Rabb (yang berhak disembah) selain Dia, Raja, Yang Mahasuci, Yang Mahasejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Mahaperkasa, Yang Mahakuasa, Yang Memiliki segala keagungan. Mahasuci, Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (al-Hasyr: 23)

 

فِي مَقۡعَدِ صِدۡقٍ عِندَ مَلِيكٖ مُّقۡتَدِرِۢ ٥٥

        “Di tempat yang disenangi di sisi Rabb Yang Maha Berkuasa.” (al-Qamar: 55)

 

Dalam hadits disebutkan,

        يَقْبِضُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى الْأَرْضَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَيَطْوِي السَّمَاءَ بِيَمِينِهِ، ثُمَّ يَقُولُ: أَنَا الْمَلِكُ، أَيْنَ مُلُوكُ الْأَرْضِ؟

Pada hari kiamat, Allah subhanahu wa ta’ala akan menggenggam bumi dan melipat langit dengan tangan kanan-Nya. Lalu Allah berfirman, “Akulah Maharaja, di manakah raja-raja bumi?” (HR. al-Bukhari dan Muslim, hadits sahih)

 

Asy-Syaikh Abdurahman as-Sa’di rahimahullah berpendapat bahwa al-Malik dan al-Maalik berarti Yang milik-Nyalah kerajaan. Dia subhanahu wa ta’ala disifati dengan kerajaan, yang bermakna memiliki sifat-sifat kebesaran, kesombongan, pemaksaan, dan pengaturan; Yang Memiliki pengaturan yang mutlak dalam hal penciptaan, perintah, dan pembalasan.

Milik-Nyalah seluruh alam semesta bagian atas dan bawahnya. Semuanya adalah hamba dan budak-Nya. Semuanya membutuhkan bantuan-Nya.

 

As-Sa’di rahimahullah juga berpendapat bahwa Allah subhanahu wa ta’ala mengabarkan bahwa Dia subhanahu wa ta’ala adalah pemilik seluruh yang ada di langit dan di bumi, sehingga semuanya adalah hamba Allah dan budak-Nya. Tidak seorang pun keluar dari lingkup ini.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          إِن كُلُّ مَن فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ إِلَّآ ءَاتِي ٱلرَّحۡمَٰنِ عَبۡدٗا ٩٣

        “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Rabb Yang Maha Pemurah sebagai seorang hamba.” (Maryam: 93)

Allah-lah Yang Maha Memiliki seluruh hamba; Dia Yang Memiliki sifat kepemilikan, mengatur, menguasai, dan kesombongan.

Di antara kesempurnaan kerajaan-Nya, tidak ada siapa pun yang bisa memberi syafaat di hadapannya kecuali dengan izin-Nya. Semua makhluk yang berkedudukan dan semua pemberi syafaat adalah budak dan hamba bagi Allah. Mereka tidak mampu memberi syafaat sampai Allah subhanahu wa ta’ala memberikan izin kepada mereka.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

قُل لِّلَّهِ ٱلشَّفَٰعَةُ جَمِيعٗاۖ

“Katakanlah bahwa syafaat seluruhnya hanya milik Allah.” (az-Zumar: 44)

 

Allah subhanahu wa ta’ala tidak akan memberi izin kepada siapa pun untuk memberi syafaat kecuali kepada yang Dia subhanahu wa ta’ala ridhai. Sementara itu, Allah subhanahu wa ta’ala tidak meridhai syafaat kecuali kepada hamba yang mentauhidkan-Nya dan mengikuti Rasul-Nya. Barang siapa tidak memiliki sifat tersebut, dia tidak akan mendapatkan syafaat.

 

Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa hakikat sebuah kerajaan akan sempurna dengan kemampuan memberi, menghalangi, memuliakan, menghinakan, memberi pahala, memberi sanksi, murka, ridha, memberi kekuasaan, mencopot kekuasaan, memuliakan yang pantas dimuliakan, dan merendahkan yang pantas direndahkan.

 

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

قُلِ ٱللَّهُمَّ مَٰلِكَ ٱلۡمُلۡكِ تُؤۡتِي ٱلۡمُلۡكَ مَن تَشَآءُ وَتَنزِعُ ٱلۡمُلۡكَ مِمَّن تَشَآءُ وَتُعِزُّ مَن تَشَآءُ وَتُذِلُّ مَن تَشَآءُۖ بِيَدِكَ ٱلۡخَيۡرُۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ٢٦

تُولِجُ ٱلَّيۡلَ فِي ٱلنَّهَارِ وَتُولِجُ ٱلنَّهَارَ فِي ٱلَّيۡلِۖ وَتُخۡرِجُ ٱلۡحَيَّ مِنَ ٱلۡمَيِّتِ وَتُخۡرِجُ ٱلۡمَيِّتَ مِنَ ٱلۡحَيِّۖ وَتَرۡزُقُ مَن تَشَآءُ بِغَيۡرِ حِسَابٖ ٢٧

Katakanlah, “Wahai Rabb Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.

Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rezeki kepada siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas).” (Ali Imran: 26—27)

 

          يَسۡ‍َٔلُهُۥ مَن فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ كُلَّ يَوۡمٍ هُوَ فِي شَأۡنٖ ٢٩

        “Semua yang ada di langit dan bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan.” (ar-Rahman: 29)

 

Mengampuni dosa, memberi jalan keluar bagi yang kesusahan, menghilangkan kesedihan, menolong yang terzalimi, mencegah yang berbuat zalim, melepaskan kesulitan, membuat kaya yang miskin, menghibur yang sedih, menyembuhkan yang sakit, menutup aurat, memuliakan yang hina, menghinakan yang mulia, memberi yang meminta, menciptakan sebuah negara dan melenyapkan yang lain, membuat hari silih berganti di antara manusia, mengangkat derajat sebagian kaum dan merendahkan kaum lain, menjalankan takdir yang Dia tetapkan lima puluh ribu tahun sebelum terciptanya langit dan bumi kepada waktu-waktunya tanpa bergeser sedikitpun waktunya; semuanya seperti yang Allah subhanahu wa ta’ala tetapkan, seperti yang ditulis oleh pena takdir, dan seperti yang Allah subhanahu wa ta’ala tetapkan, seperti yang Allah subhanahu wa ta’ala ketahui.

Dialah sendiri yang mengatur segala yang ada dalam kerajaan-Nya seluruhnya; pengaturan Maharaja yang Mahamampu, Mahamemaksa, Mahaadil, Maha Pengasih Penyayang, yang sempurna kerajaan-Nya. Tidak ada sesuatupun yang melawan-Nya dalam kerajaan-Nya. Tidak ada sesuatupun yang menentang-Nya. Pengaturan-Nya dalam kerajaan-Nya berjalan antara keadilan dan kebaikan, hikmah, maslahat, kasih sayang, dan perbuatan-Nya tidak keluar dari itu. (Thariqul Hijratain)

 

Buah Mengimani Nama Allah al-Malik

Di antara buah mengimani nama Allah al-Malik adalah merasakan betapa kecil dan betapa lemahnya kita sebagai hamba Allah di hadapan Allah, Maharaja bagi semua raja; Yang Menciptakan, memiliki, menguasai, dan mengatur langit, bumi, dunia, dan akhirat.

Kita juga merasa bangga dengan keyakinan kita di mana kita adalah hamba Dzat Yang Mahaperkasa. Kita tidak salah menghambakan diri kepada-Nya. Tidak seperti orang-orang yang menghambakan diri kepada patung, pohon, jin, setan, binatang, dan lainnya; yang tidak lain adalah sesama makhluk.

Walhamdulillah atas kenikmatan Islam.

 

Ditulis oleh al-Ustadz Qomar Suaidi

Perumpamaan al-Haq Dan al-Bathil (2)

Sunnatullah yang Tak Berubah

Hari demi hari, dakwah yang penuh berkah ini semakin bersinar. Bertambah banyak kaum muslimin yang mulai menyadari hakikat agama yang seharusnya mereka yakini dan mereka anut.

Demikian pula semakin banyak orang-orang yang masih sehat akal dan masih bersih fitrahnya di antara orang-orang yang kafir (musyrik dan ahli kitab) kembali kepada fitrahnya, yaitu Islam.

Melihat hal tersebut, semakin besar kebencian dan dendam musuh-musuh dakwah ini. Berbagai gelar buruk disematkan kepada dakwah ini dan semua yang terlibat di dalam menyebarkan dan membelanya. Tidak perlu heran, karena sejak awal Islam ini didakwahkan ke tengah-tengah manusia, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang membawanya pertama kali, tidak luput dari berbagai gelar yang buruk yang dilemparkan masyarakat yang telah mengenal beliau sejak kecil.

Bahkan, sejak awal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima wahyu, lalu beliau menemui istrinya, Khadijah, dalam keadaan khawatir sesuatu menimpa diri beliau, kemudian dibawa oleh Khadijah kepada Waraqah bin Naufal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah mendengar keterangan Waraqah bahwa tidak ada seorang pun yang membawa ajaran seperti yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melainkan pasti disakiti; diusir atau dibunuh.

Sejak rasul pertama diutus oleh Allah subhanahu wa ta’ala ke tengah-tengah masyarakat manusia, yaitu Nuh ‘alaihissalam, orang-orang yang didatangi Sang Utusan yang mulia ini menuduhnya dengan ungkapan yang buruk. Nabi Nuh ‘alaihissalam dianggap ingin meraih keutamaan melebihi masyarakatnya, atau dikatakan gila dan dusta. Begitu pula para nabi dan rasul shalawatullahi wa salamuhu ‘alaihim sesudah beliau, sampai Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَإِن كَذَّبُوكَ فَقَدۡ كُذِّبَ رُسُلٞ مِّن قَبۡلِكَ جَآءُو بِٱلۡبَيِّنَٰتِ وَٱلزُّبُرِ وَٱلۡكِتَٰبِ ٱلۡمُنِيرِ ١٨٤

“Jika mereka mendustakan kamu, sesungguhnya rasul-rasul sebelum kamu pun telah didustakan (pula), mereka membawa mukjizat-mukjizat yang nyata, Zabur dan kitab yang memberi penjelasan yang sempurna.” (Ali ‘Imran: 184)

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman,

مَّا يُقَالُ لَكَ إِلَّا مَا قَدۡ قِيلَ لِلرُّسُلِ مِن قَبۡلِكَۚ إِنَّ رَبَّكَ لَذُو مَغۡفِرَةٖ وَذُو عِقَابٍ أَلِيمٖ ٤٣

        “Tidaklah ada yang dikatakan (oleh orang-orang kafir) kepadamu itu selain apa yang sesungguhnya telah dikatakan kepada rasul-rasul sebelum kamu. Sesungguhnya Rabb kamu benar-benar mempunyai ampunan dan hukuman yang pedih.” (Fushshilat: 43)

Apa yang dikatakan oleh orang-orang yang kafir itu? Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

كَذَٰلِكَ مَآ أَتَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِم مِّن رَّسُولٍ إِلَّا قَالُواْ سَاحِرٌ أَوۡ مَجۡنُونٌ ٥٢

        Demikianlah, tidak seorang rasul pun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, melainkan mereka mengatakan, “Ia adalah seorang tukang sihir atau orang gila.” (adz-Dzariyat: 52)

Orang-orang kafir di kalangan Quraisy menuduh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam merusak persatuan dan hubungan keluarga. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dituduh meretakkan kerukunan masyarakat Hijaz, khususnya penduduk Makkah.

Tuduhan ini pun sudah dialamatkan kepada nabi-nabi yang terdahulu. Fir’aun menuduh Nabi Musa ‘alaihissalam datang membawa kerusakan, ingin mengubah tatanan hidup masyarakat yang—menurut kebodohan dan kesombongan Fir’aun—mulia.

Seperti itu kecaman bahkan ejekan serta tuduhan yang diterima Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mendakwahkan agama yang lurus ini pertama kali. Seperti itu pula yang akan diterima oleh orang-orang yang telah mewakafkan dirinya untuk menyebarkan dakwah yang penuh berkah ini, sebagaimana yang dilakukan oleh Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kapan dan di mana saja.

Seolah-olah, generasi kafir dan orang-orang yang durhaka yang datang belakangan ini mewarisi ungkapan-ungkapan buruk ini dari orang-orang yang kafir dan durhaka sebelum mereka.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam ayat berikutnya,

أَتَوَاصَوۡاْ بِهِۦۚ بَلۡ هُمۡ قَوۡمٞ طَاغُونَ ٥٣

        “Apakah mereka saling berpesan tentang apa yang dikatakan itu? Sebenarnya mereka adalah kaum yang melampaui batas.” (adz-Dzariyat: 53)

Tidak hanya melemparkan tuduhanburuk terhadap para pembawa dakwah yang penuh berkah ini, tetapi juga mengaburkan dan membuat manusia lari bahkan membenci dakwah ini sendiri. Berbagai ungkapan yang mengaburkan kebenaran dakwah ini disebarkan melalui tulisan dan lisan.

Dakwah ini dianggap sebagai ajaran sesat, mazhab baru yang tidak ada dasarnya dalam Islam. Atau, dikatakan bukan dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan diidentikkan sebagai ajaran kekerasan yang mengajak manusia menumpahkan darah satu sama lain.

Subhanallahi, hadza buhtanun ‘azhim. (Mahasuci Allah, ini adalah kedustaan yang sangat besar).

Semua kecaman terhadap para dainya, ataupun terhadap dakwah yang diajarkan dan disebarkan ini, tidak lain karena kejahilan orang-orang yang menyuarakan tuduhan-tuduhan tersebut. Seperti kata al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah, “Siapa yang tidak tahu (jahil) tentang sesuatu, dia tentu memusuhinya.”

Kalau tidak demikian, apa yang mendorong mereka membenci dan menutup diri terhadap dakwah yang sumbernya ada juga di hadapan mereka, yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah dengan pemahaman salaful ummah (para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik)?

Mereka begitu berang ketika banyak pemuda, bahkan sebagian tokoh mereka keluar dari barisan mereka, kembali kepada fitrahnya yang suci, jauh dari syubhat ilmu kalam dan filsafat serta bersih dari sikap taklid buta kepada tuan guru ataupun imamnya.

Mengapa mereka harus marah? Apakah karena mereka tidak tahu? Maka memang benarlah apa yang dikatakan al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah. Kalau tidak? Tentu, kalau bukan karena kejahilan, sudah pasti ada alasan lain yang mendorong mereka membenci dakwah yang penuh berkah ini. Wallahul musta’an.

Akan tetapi, sunnatullah yang tidak akan berubah di alam ini, kemenangan dan akhir yang baik (menyenangkan) adalah milik al-haq (kebenaran) beserta para pembelanya. Adapun yang batil, semua kesesatan—apa pun bentuknya—dan seluruh kejelekan, pasti lenyap, cepat atau lambat.

Demikianlah yang diterangkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam Kitab-Nya yang mulia,

أَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءٗ فَسَالَتۡ أَوۡدِيَةُۢ بِقَدَرِهَا فَٱحۡتَمَلَ ٱلسَّيۡلُ زَبَدٗا رَّابِيٗاۖ وَمِمَّا يُوقِدُونَ عَلَيۡهِ فِي ٱلنَّارِ ٱبۡتِغَآءَ حِلۡيَةٍ أَوۡ مَتَٰعٖ زَبَدٞ مِّثۡلُهُۥۚ كَذَٰلِكَ يَضۡرِبُ ٱللَّهُ ٱلۡحَقَّ وَٱلۡبَٰطِلَۚ فَأَمَّا ٱلزَّبَدُ فَيَذۡهَبُ جُفَآءٗۖ وَأَمَّا مَا يَنفَعُ ٱلنَّاسَ فَيَمۡكُثُ فِي ٱلۡأَرۡضِۚ كَذَٰلِكَ يَضۡرِبُ ٱللَّهُ ٱلۡأَمۡثَالَ ١٧

        “Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya. Arus itu membawa buih yang mengambang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang batil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; sedangkan yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan.” (ar-Ra’du: 17)

 

Makna al-Haq dan al-Bathil

Al-haq dalam bahasa Arab artinya adalah yang tetap dan tidak akan hilang atau tidak menyusut (semakin kecil).

Al-bathil secara bahasa artinya ialah fasada wa saqatha hukmuhu (rusak dan gugur/tidak berlaku hukumnya). Dalam al-Mufradat, ar-Raghib menerangkan makna al-bathil sebagai lawan dari al-haq, yaitu semua yang tidak ada kekuatannya ketika dicermati dan diteliti.

Secara istilah, para ulama berpedoman kepada maknanya secara bahasa. Jadi, mereka menyebut al-haq dalam setiap uraian mereka sebagai segala sesuatu yang tetap dan wajib menurut ketentuan syariat. Al-bathil ialah semua yang tidak sah, tidak pula ada akibat hukumnya, sebagaimana halnya pada yang haq, yaitu tetap dan sah menurut syariat.

Al-bathil adalah lawan dari al-haq, yaitu semua yang tidak ada kekuatannya, tidak diakui dan tidak disifati sebagai sesuatu yang sah, dan harus ditinggalkan serta tidak berhak untuk tetap ada. Semua itu sudah tentu dengan ketetapan syariat.

Dari uraian ini, al-haq meliputi semua yang Allah subhanahu wa ta’ala perintahkan, sedangkan yang batil adalah semua yang dilarang oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Pertarungan antara yang haq dan yang batil berikut para pengusung dan pembela masing-masing adalah sebuah kemestian hidup. Sebab, keduanya bertolak belakang, tidak mungkin berkumpul satu sama lain melainkan saling berusaha mengenyahkan yang lain. Berpegang kepada salah satunya, mesti akan meninggalkan yang lain, dan itu kepastian. Paling tidak, akan melemahkan yang ditinggalkan atau ditolak.

Seandainya terlihat ‘kerukunan’ antara yang haq dan yang batil tanpa ada perseteruan dan pertikaian di antara para pembela dan pengusungnya, boleh jadi karena ada sebab tertentu. Di antaranya ialah karena kelemahan para pengusung dan pembela masing-masing (al-haq dan al-bathil) ini, atau ketidaktahuan para pengikut masing-masing tentang hakikat dari kebenaran atau kebatilan yang mereka perjuangkan, berikut konsekuensinya, sehingga melemahkan pengaruh kebatilan dan kebenaran itu pada pihak yang membela dan mengusungnya.

Boleh jadi pula, yang dimaksud dengan al-haq ialah pengertiannya secara umum, yaitu semua bentuk ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, sedangkan al-bathil adalah semua bentuk ketaatan kepada setan. Oleh karena itu, keduanya tidak mungkin bersatu selama-lamanya.

Wallahu a’lam.

 

Kebatilan Pasti Lenyap

Firman Allah subhanahu wa ta’ala di atas (dalam surat ar-Ra’du) dalam bentuk permisalan atau tamsil ini, dengan tegas menggambarkan bahwa kebenaran itu pasti kokoh, tetap eksis meskipun tertutupi oleh kebatilan. Dan kebatilan itu, betapapun banyaknya serta menarik perhatian manusia, pasti lenyap, cepat atau lambat.

Perumpamaan-perumpamaan di dalam al-Qur’anul Karim tidak akan dapat dipahami melainkan oleh orangorang yang berilmu. Karena itu, kami akan memaparkan sebagian keterangan ahli ilmu tentang perumpamaan-perumpamaan tersebut. Wallahul Muwaffiq.

Dalam ayat yang mulia ini (ar-Ra’du: 17) Allah subhanahu wa ta’ala memberikan perumpamaan tentang al-haq dengan dua hal terkait dengan kekekalan dan kekokohannya; juga tentang kebatilan, terkait dengan kefanaan dan keadaannya yang pasti semakin berkurang (menyusut) lalu lenyap.

Pernahkah kita memerhatikan air hujan saat turun dari langit? Ia membasahi bumi dan mengangkut semua sampah dan membawa buih-buih air di permukaannya. Buih-buih itu begitu banyak, menyelimuti permukaan air yang bening dan mengalir. Gelembung-gelembung udara dalam buih itu membuatnya terlihat besar, ikut bersama aliran dan genangan air.

Akan tetapi, pernahkah kita perhatikan bahwa buih-buih kecil yang tadinya menari-nari di atas permukaan air itu akhirnya pecah dan hilang? Ya, kita sering melihatnya, tetapi kita melewatkannya begitu saja tanpa mengambil pelajaran yang tersirat di dalamnya. Wallahul Musta’an.

Coba kita lihat pula para pengrajin emas, ketika mereka melebur biji-biji emas yang mereka dapatkan dari tambang emas, atau saat proses pendulangan. Lihatlah pada wadah yang menampung emas-emas cair yang mendidih itu. Ada buih yang sangat banyak, terapung di atas cairan emas murni di bawahnya.

Ke mana akhirnya buih-buih peleburan emas, atau logam-logam dan mineral lain yang diambil manusia dari pertambangan? Hilang dan terbuang menjadi sesuatu yang tidak bernilai.

Kita cermati lagi buih-buih atau gelembung air yang menari-nari di atas permukaan air atau logam-logam mulia yang sedang dilebur itu. Begitu ringan, menyelimuti permukaan air atau cairan emas dan logam mulia lainnya. Mereka begitu angkuhnya bermain-main di atas permukaan air itu, padahal gelembung buih itu kosong, hampa, dan tiada harganya.

Air dan cairan logam mulia yang diharapkan dan diperlukan manusia dalam tungku peleburan, tetap tenang. Dia percaya diri bahwa dia lebih berguna dan pasti dimanfaatkan manusia. Itulah sebagian dari kekuasaan Allah Yang Mahaperkasa. Dia menetapkan buih-buih itu mengambang, merasa besar dengan ukuran, bentuk, dan gelembung udaranya. Dia juga merasa lebih tinggi dari air yang ada di bawahnya.

Seperti itulah gambaran kebatilan, apa pun bentuknya. Bagaikan buih dan gelembung kecil yang terapung di atas aliran air, menjadi ujian bagi sebagian orang, mencuri hati dan perhatian mereka, lalu mereka pun tunduk dan merendahkan diri kepadanya, demi mengharapkan kemuliaan atau kesuksesan bersamanya dan menginginkan kedudukan yang tinggi. Atau laksana busa atau buih yang mengambang di atas sejumlah barang tambang, ketika dipanaskan untuk mengeluarkan emas dan logam mulia darinya. Buih-buih itu akan menyusut dan lenyap, hilang tiada bekas atau terbuang tanpa ada harganya.

Adapun kebenaran, itulah yang bermanfaat bagi manusia, dia seperti air yang tetap tinggal dan tergenang di tanah. Atau seperti cairan emas dan logam mulia lainnya yang sudah dibersihkan dari kotorannya.

Demikianlah Allah subhanahu wa ta’ala membuat perumpamaan. Demikianlah al-Qur’an menjadikan peristiwa alam sebagai dalil tentang hakikat syariat, agar orang-orang yang berakal memahaminya lalu selamat dan berbahagia. Juga, mereka yang binasa karena bukti yang jelas dan hiduplah mereka yang hidup karena bukti yang jelas pula.

Dari perumpamaan di atas, jelaslah bahwa betapapun banyaknya dan menariknya keadaan kebatilan, dia pasti lenyap. Itu semua adalah sunnatullah yang tidak mungkin berubah. Berbagai syubhat dan kerancuan berpikir, seindah apa pun menghiasi sebuah kebatilan, pasti akan tersingkap kepalsuannya.

Dalam banyak ayat-Nya, Allah subhanahu wa ta’ala berjanji bahwa Dia pasti menampakkan hakikat kebenaran (al-haq),

سَنُرِيهِمۡ ءَايَٰتِنَا فِي ٱلۡأٓفَاقِ وَفِيٓ أَنفُسِهِمۡ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمۡ أَنَّهُ ٱلۡحَقُّۗ أَوَ لَمۡ يَكۡفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُۥ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ شَهِيدٌ ٥٣

        “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa al-Qur’an itu adalah benar. Dan apakah Rabbmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?” (Fushshilat: 53)

Dalam ayat yang lain, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَقُلۡ جَآءَ ٱلۡحَقُّ وَزَهَقَ ٱلۡبَٰطِلُۚ إِنَّ ٱلۡبَٰطِلَ كَانَ زَهُوقٗا ٨١

        Dan katakanlah, “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap.” Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap. (al-Isra’: 81)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

بَلۡ نَقۡذِفُ بِٱلۡحَقِّ عَلَى ٱلۡبَٰطِلِ فَيَدۡمَغُهُۥ فَإِذَا هُوَ زَاهِقٞۚ وَلَكُمُ ٱلۡوَيۡلُ مِمَّا تَصِفُونَ ١٨

        “Sebenarnya Kami melontarkan yang haq kepada yang batil lalu yang haq itu menghancurkannya, maka dengan serta-merta yang batil itu lenyap. Dan kecelakaanlah bagimu disebabkan kamu menyifati (Allah subhanahu wa ta’ala dengan sifat-sifat yang tidak layak bagi-Nya).” (al-Anbiya’: 18)

قُلۡ إِنَّ رَبِّي يَقۡذِفُ بِٱلۡحَقِّ عَلَّٰمُ ٱلۡغُيُوبِ ٤٨  قُلۡ جَآءَ ٱلۡحَقُّ وَمَا يُبۡدِئُ ٱلۡبَٰطِلُ وَمَا يُعِيدُ ٤٩

        Katakanlah, “Sesungguhnya Rabbku mewahyukan kebenaran. Dia Maha Mengetahui segala yang gaib.” Katakanlah, “Kebenaran telah datang dan yang batil itu tidak akan memulai dan tidak (pula) akan mengulangi.” (Saba’: 48—49)

Bahkan, semakin keras tekanan kebatilan dan usahanya menutup-nutupi cahaya kebenaran, sinar kebenaran itu pasti menyeruak dari sela-sela kebatilan itu. Allah subhanahu wa ta’ala tidak rela kecuali menampakkan cahaya kebenaran ini, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai.

Lantas, apa yang membuat kaum muslimin minder dan rendah diri serta kecil hati melihat musuh-musuh Islam seolah-olah menguasai semua lini kehidupan, saat ini? Apakah karena sedikitnya jumlah orang-orang yang mengusung dan membela kebenaran? Ataukah karena kurangnya fasilitas dan sarana jika dia berpegang dengan kebenaran?

 

Beberapa Faedah dan Hikmah

  1. Pertarungan antara yang haq dan yang batil adalah sebuah sunnatullah yang tidak berubah. Kadang kebatilan yang menang, tetapi tetap saja pada akhirnya kebenaranlah yang berkuasa.

Oleh karena itu, bagaimanapun bangga dan bahagianya orang-orang yang memperjuangkan kesesatan, melihat banyaknya perlengkapan dan pengikut mereka, sesungguhnya itu hanya sementara. Seperti buih dan sampah yang hanya sementara berada di permukaan air ketika hujan turun, kemudian hilang dan tersingkir.

 

  1. Ayat yang mulia (ar-Ra’du: 17) ini boleh dikatakan sebagai hiburan bagi orang-orang yang beriman. Janji Allah subhanahu wa ta’ala adalah pasti, dan Dia tidak pernah menyelisihi janji.

 

  1. Kebenaran itu tidak diukur dari jumlah orang-orang yang membela dan memperjuangkannya, tetapi dari hakikat kebenaran itu sendiri; sesuai dengan pengertiannya secara bahasa, bahwa dia pasti eksis selamanya.

 

  1. Karena kejahilan kita, sering kita ditipu oleh pandangan mata kita sendiri. Kita hanya melihat buih-buih yang ada di atas air ketika hujan turun. Air yang ada di bawahnya tidak menjadi perhatian kita. Bahkan, kita tertarik melihat buih dan gelembung air yang menari-nari di atas permukaan air tersebut.

Wallahul Muwaffiq.

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Muhammad Harits