Hamba-hamba Ar-Rahman

Surah al-Furqan adalah salah satu surah yang biasa kita baca atau bahkan kita hafal dari al-Qur’an yang mulia, kalam Rabbul Alamin.

Surah ini dinamakan al-Furqan yang bermakna pembeda (antara yang haq dengan yang batil) karena ayat pertama memuat kata tersebut,

تَبَارَكَ ٱلَّذِي نَزَّلَ ٱلۡفُرۡقَانَ عَلَىٰ عَبۡدِهِۦ لِيَكُونَ لِلۡعَٰلَمِينَ نَذِيرًا ١

        “Mahasuci Dzat yang telah menurunkan al-Furqan (yakni al-Qur’an) kepada hamba-Nya (Muhammad) agar dia menjadi peringatan bagi segenap alam.” (al-Furqan: 1)

 

Saudariku muslimah…

Entah sudah berapa kali kita menamatkan bacaan surah tersebut bila mengkhatamkan al-Qur’an merupakan kebiasaan kita. Namun, adakah sesuatu yang kita dapat dari surah tersebut yang bisa menjadi bahan renungan?

Tentu saja, jawabannya, banyak sekali! Nah, kita ingin membicarakan salah satunya, yaitu ayat-ayat yang memuat sifat-sifat para hamba Allah Yang Maha Penyayang (ar-Rahman), yang selanjutnya kita sebut dengan ‘ibadurrahman.

Al-Allamah al-Muhaddits Imam aljarh wat ta’dil zaman ini, asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali—semoga Allah ‘azza wa jalla menjaga beliau dan memanjangkan usianya dalam berkhidmat kepada sunnah—pernah menyampaikan keterangan tentang ayat-ayat tersebut dalam beberapa majelis di rumah beliau pada Ramadhan 1430 H.

Terkesan dengan keterangan beliau, kami menyusun tulisan ini dengan berbekal sebuah kitab yang memuat keterangan beliau yang berjudul Nafahat al-Huda wa al-Iman min Majalis al-Qur’an (hlm. 437—449).

Bacalah terlebih dahulu surah al-Furqan ayat 63—76. Itulah ayat-ayat yang memuat sifat-sifat ‘ibadurrahman, akhlak mereka, dan interaksi mereka dengan Rabb mereka serta dengan sesama manusia.

 

Tawadhu dalam Berjalan

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَعِبَادُ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلَّذِينَ يَمۡشُونَ عَلَى ٱلۡأَرۡضِ هَوۡنٗا

        “Dan hamba-hamba ar-Rahman itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati….” (al-Furqan: 63)

Berjalan dengan rendah hati yang mereka lakukan tumbuh dari sifat tawadhu’ kepada Allah ‘azza wa jalla. Sifat ini adalah satu sifat yang terpuji dalam agama ini, bahkan terpuji dalam seluruh ajaran agama terdahulu. Tengoklah salah satu wasiat Luqman kepada putranya terkait adab ini.

وَلَا تُصَعِّرۡ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمۡشِ فِي ٱلۡأَرۡضِ مَرَحًاۖ

        “Janganlah engkau berjalan di atas bumi ini dengan angkuh (merasa besar diri/tinggi hati).” (Luqman:18)

Dalam surah al-Isra’, Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَلَا تَمۡشِ فِي ٱلۡأَرۡضِ مَرَحًاۖ إِنَّكَ لَن تَخۡرِقَ ٱلۡأَرۡضَ وَلَن تَبۡلُغَ ٱلۡجِبَالَ طُولٗا ٣٧

        “Janganlah engkau berjalan di atas bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya engkau sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali tidak pula engkau bisa mencapai tingginya gunung-gunung.” (al-Isra’: 37)

Ayat ini menunjukkan Allah ‘azza wa jalla menghinakan orang yang angkuh yang merasa dirinya besar, “Siapa kamu hingga kamu merasa besar diri dan meremehkan orang lain? Bukankah kamu tidak bisa mencapai tingginya gunung-gunung?”

Adapun ‘ibadurrahman berjalan di atas bumi-Nya Allah ‘azza wa jalla ini dengan penuh tawadhu kepada Allah ‘azza wa jalla , menghinakan diri di hadapan-Nya ‘azza wa jalla, dan rendah hati kepada orang-orang beriman.

Mereka berjalan dengan tenang, penuh kesantunan, tanpa dibuat-buat, sebagaimana orang sombong berjalan dengan gaya yang dibuat-buat.

 

Tidak Membalas Kebodohan dengan Kebodohan

Karena sempurnanya akhlak dan mulianya jiwa mereka, mereka tidak membalas ucapan buruk yang ditujukan kepada mereka dengan keburukan.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَإِذَا خَاطَبَهُمُ ٱلۡجَٰهِلُونَ قَالُواْ سَلَٰمٗا ٦٣

“Jika orang-orang bodoh mengajak bicara mereka (menujukan kepada mereka ucapan-ucapan buruk), mereka mengatakan, ‘salaman’ (perkataan yang baik).” (al-Furqan: 63)

Mereka menjaga lisan mereka dari dosa dan dari ucapan yang dapat mencacati kehormatan dan kemuliaan mereka dengan tidak membalas ucapan buruk dengan keburukan.

Sebab, melayani perkataan buruk dari orang-orang bodoh yang tidak paham kemuliaan jiwa, akan mencacati kemuliaan orang-orang yang cerdas. Walaupun orang-orang bodoh itu mencaci dan menujukan kata-kata keji kepada mereka, mereka justru membalasnya dengan akhlak yang tinggi berupa kesabaran, kelembutan, dan ucapan yang baik. Saat dicaci orang bodoh, sebagian orang yang mulia berkata, “Assalamu ‘alaikum.”

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

سَلَٰمٌ عَلَيۡكُمۡ لَا نَبۡتَغِي ٱلۡجَٰهِلِينَ ٥٥

        “Salamun ‘alaikum, kami tidak ingin bergaul (melayani) orang-orang jahil.” (al-Qashash: 55)

Janganlah engkau menjadi orang bodoh yang membalas cacian dengan cacian. Akan tetapi, tetaplah tenang dan sabar. Balaslah keburukan dengan kebaikan. Bukankah Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَلَا تَسۡتَوِي ٱلۡحَسَنَةُ وَلَا ٱلسَّيِّئَةُۚ ٱدۡفَعۡ بِٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُ فَإِذَا ٱلَّذِي بَيۡنَكَ وَبَيۡنَهُۥ عَدَٰوَةٞ كَأَنَّهُۥ وَلِيٌّ حَمِيمٞ ٣٤ وَمَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ٱلَّذِينَ صَبَرُواْ وَمَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٖ ٣٥

        “Dan tidaklah sama kebaikan dan keburukan. Balaslah (keburukan itu) dengan yang lebih baik. (Jika engkau berbuat demikian) engkau dapati orang yang tadinya antara engkau dan dia ada permusuhan, (di belakang hari) seolah-olah merupakan teman yang sangat setia. Sifat itu (membalas keburukan dengan kebaikan) tidaklah dianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang sabar dan tidaklah dianugerahkan kecuali kepada orang yang memiliki keberuntungan yang besar.” (Fushshilat: 34—35)

Inilah akhlak yang diajarkan oleh Allah ‘azza wa jalla kepada kita. Dia menerangkan sifat-sifat kekasih dan hamba-hamba pilihan-Nya agar kita menirunya.

Ayat ke-63 dari surah al-Furqan di atas memuat dua interaksi yang dilakukan hamba: dengan Allah ‘azza wa jalla dan dengan sesama hamba Allah ‘azza wa jalla.

 

Menggunakan Sebagian Malamnya untuk Shalat

Ayat berikutnya (ayat 64) dalam surah al-Furqan khusus menyebutkan hubungan hamba dengan Rabbnya,

وَٱلَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمۡ سُجَّدٗا وَقِيَٰمٗا ٦٤

        “Orang-orang yang bermalam untuk Rabb mereka dengan banyak sujud dan berdiri.” (al-Furqan: 64)

Mereka beribadah kepada Allah ‘azza wa jalla dengan qiyamul lail.

Bermalam untuk Rabb mereka’, bukanlah maknanya mereka shalat sepanjang malam, tetapi sebagian waktu malam, sebagaimana ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Mengapa?

Karena syariat agama kita ini mudah dan ringan, tidak memberati pemeluknya. Islam adalah agama yang pertengahan antara sifat meremehkan dan sifat berlebih-lebihan.

Karena itulah, tatkala sebagian sahabat ingin membebani diri dengan ibadah tertentu, ada yang berkata, “Aku akan shalat malam sepanjang malam dan tidak akan tidur.”

Yang lain berkata, “Aku akan selalu berpuasa dan tidak pernah berbuka.”

Yang satunya lagi berkata, “Aku akan fokus ibadah dan tidak akan menikah.”

Ternyata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam marah kepada mereka dengan menyatakan,

        مَا بَالُ أَقْوَامٌ قَالُوْا كَذَا وَكَذَا؟ لَكِنّيِ أُصَلِّي وَأَنَامُ، وَأَصُوْمُ وَأُفْطِرُ، وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ. فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي

“Mengapa orang-orang itu mengatakan ini dan itu? Aku shalat dan aku juga tidur. Aku puasa dan aku juga berbuka. Aku pun menikahi banyak wanita. Barang siapa membenci sunnahku, dia bukanlah temasuk golonganku.” (HR. al-Bukhari no. 5063 dan Muslim no. 1401 dari sahabat Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, dan ini adalah lafadz Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan puasa dan shalat yang paling dicintai Allah ‘azza wa jalla, dalam sabda beliau kepada Abdullah ibn Amr ibnul Ash radhiallahu ‘anhuma,

        أَحَبُّ الصِّيَامِ إِلَى اللهِ صِيَامُ دَاوُدَ، كَانَ يَصُوْمُ يَوْمًا وَيُفْطِرَ يَوْمًا. وَأَحَبُّ الصَّلاَةِ إِلَى اللهِ صَلاَةُ دَاوُدَ، كَانَ يَنَامُ نِصْفَ اللَّيْلِ وَيَقُوْمُ ثُلُثَهُ وَيَنَامُ سُدُسَهُ

“Puasa yang paling Allah ‘azza wa jalla cintai adalah puasa Nabi Dawud ‘alaihissalam. Beliau ‘alaihissalam berpuasa sehari dan berbuka (tidak puasa) sehari. Shalat (malam) yang paling Allah ‘azza wa jalla cintai adalah shalat Dawud ‘alaihissalam. Beliau tidur separuh malam dan bangun shalat (setelahnya) selama dua pertiga malam dan tidur lagi (setelah shalat) seperenam malam (yang tersisa).” (HR. al-Bukhari no. 3420 dan Muslim no. 1159)

 ‘Ibadurrahman adalah orang-orang yang mengerjakan shalat dengan penuh khusyuk. Allah ‘azza wa jalla menyebutkan dalam firman-Nya,

قَدۡ أَفۡلَحَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ١ ٱلَّذِينَ هُمۡ فِي صَلَاتِهِمۡ خَٰشِعُونَ ٢

        “Sungguh, beruntung orang-orang yang beriman. (Yaitu) mereka yang khusyuk dalam mengerjakan shalat.” (al-Mukminun: 1—2)

Senantiasa Berdoa agar Dijauhkan dari Neraka

        ‘Ibadurrahman mengimani adanya surga dan neraka. Mereka yakin akan dahsyatnya azab neraka dan kesengsaraan para penghuninya, hingga mereka memohon perlindungan kepada Allah ‘azza wa jalla dari neraka. Doa yang mereka lantunkan,

وَٱلَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا ٱصۡرِفۡ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَۖ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا ٦٥

        Dan orang-orang yang berdoa, “Wahai Rabb kami, palingkanlah dari kami (jauhkanlah) azab Janannam. Sesungguhnya azabnya adalah kebinasaan yang kekal.” (al-Furqan: 65)

Orang-orang kafir akan diazab dalam neraka selama-lamanya. Azab itu senantiasa menyertai mereka. Mereka ingin rehat walau sebentar dari azab, namun tidak mereka dapatkan.

Mereka tidak mati dalam neraka, namun hidup yang semestinya pun tidak. Mereka terus diazab sebagai balasan kekufuran mereka kepada Allah ‘azza wa jalla, kesyirikan mereka, dan gelimang maksiat saat hidup di dunia.

Adapun hamba-hamba Allah ‘azza wa jalla yang saat di dunia beriman kepada-Nya, beramal saleh, menjauhi perbuatan buruk dan tercela—terutama kekafiran—sembari memohon kepada Allah ‘azza wa jalla agar dijauhkan dari api neraka. Sebab, seseorang tidak bisa menjamin dirinya selamat dari azab, apa pun amalannya.

Rasul yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan satu doa untuk dibaca pada akhir setiap shalat sebelum salam, baik shalat fardhu atau nafilah, sebagaimana yang tersampaikan lewat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا فَرَغَ أَحَدُكُمْ مِنَ التَّشَهُّدِ الْآخِرِ فَلْيَتَعَوَّذْ بِاللهِ مِنْ أَرْبَعٍ: مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الَحْمْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ

“Apabila salah seorang dari kalian selesai dari tasyahhud akhir, hendaknya dia berlindung kepada Allah dari empat perkara (yaitu); dari azab Jahannam, dari azab kubur, dari fitnah hidup dan mati, dan dari kejelekan al-Masih ad-Dajjal.” (HR. Muslim no. 588)

 ‘Ibadurrahman tidaklah teperdaya dan silau dengan iman, amal saleh, dan ibadah mereka yang banyak. Mereka juga tidak tertipu oleh qiyamul lail yang mereka lakukan hingga dengan percaya diri mengatakan, “Kami pantas masuk surga dengan kelebihan yang ada pada kami.” Hal itu sebagaimana yang terjadi pada orang-orang dungu, ahlul bid’ah dan kesesatan, yang merasa yakin masuk surga.

Becerminlah kepada manusia-manusia terbaik setelah para nabi dan rasul, yaitu para sahabat radhiallahu ‘anhum. Mereka tidak merasa aman dengan diri-diri

mereka.

Seorang tabi’in, Ibnu Abi Mulaikah rahimahullah, berkata, “Aku telah berjumpa dengan tiga puluh orang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka semua mengkhawatirkan kemunafikan menimpa diri-diri mereka.”

Demikianlah seharusnya seorang mukmin. Dia tidak merasa aman terhadap dirinya, tidak bangga diri dan membanggakan amalnya.

Kata al-Hasan al-Bashri rahimahullah, “Tidaklah khawatir dari kemunafikan, kecuali seorang mukmin. Tidak ada yang merasa aman dari tertimpa kemunafikan, kecuali seorang munafik.”

Sungguh, kita tidak merasa aman dengan diri kita.

أَفَأَمِنُواْ مَكۡرَ ٱللَّهِۚ فَلَا يَأۡمَنُ مَكۡرَ ٱللَّهِ إِلَّا ٱلۡقَوۡمُ ٱلۡخَٰسِرُونَ ٩٩

        “Tidak ada yang merasa aman dari makar Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (al-A’raf: 99)

Perbanyaklah berdoa,

رَبَّنَا لَا تُزِغۡ قُلُوبَنَا بَعۡدَ إِذۡ هَدَيۡتَنَا

        “Wahai Rabb kami, janganlah Engkau simpangkan kalbu kami setelah Engkau beri hidayah kepada kami.” (Ali Imran: 8)

 يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِيْنِكَ.

“Wahai Dzat Yang Maha Membolak-balikkan kalbu, tetap kokohkanlah kalbu kami di atas agama-Mu.”

Tidak ada jaminan bagi kita hingga bisa merasa aman dari azab. Siapa kita bila dibandingkan dengan sahabat mulia, Umar ibnul Khaththab radhiallahu ‘anhu. Meski telah dijamin masuk surga oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetap saja Umar merasa takut akan nasibnya. Karena itu, menjelang wafatnya beliau berkata,

        وَاللهِ لَوْ أَنَّ لِي طِلاَعَ الْأَرْضِ ذَهَبًا لَافْتَدَيْتُ بِهِ مْنَ عَذَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ قَبْلَ أَنْ أَرَاهُ

“Demi Allah,seandainya aku memiliki emas sepenuh bumi, niscaya aku akan jadikan tebusanku dari azab Allah sebelum aku melihatnya.”

Bagaimana Umar radhiallahu ‘anhu tidak takut, sementara azab neraka demikian pedih.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

إِنَّهَا سَآءَتۡ مُسۡتَقَرّٗا وَمُقَامٗا ٦٦

        “Sesungguhnya neraka itu sejelek-jelek tempat menetap dan tempat berdiam.” (al-Furqan: 66)

Apabila neraka merupakan tempat yang demikian buruk, jangan tanya tentang nasib penghuninya. Neraka adalah rumah abadi bagi orang-orang kafir, tempat azab yang pedih yang tidak sanggup kita bayangkan.

وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ عَلَيۡهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٞ شِدَادٞ لَّا يَعۡصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمۡ وَيَفۡعَلُونَ مَا يُؤۡمَرُونَ ٦

        “Bahan bakar neraka adalah manusia dan batu. Di atasnya ada para malaikat (penyiksa) yang keras, kasar, dan kaku. Para malaikat itu tidak pernah mendurhakai Allah dalam apa yang Allah perintahkan kepada mereka, dan mereka senantiasa mengerjakan apa yang diperintahkan.” (at-Tahrim: 6)

Jangan dikira api neraka sama dengan api di dunia. Api dunia hanyalah sepertujuh puluh bagian dari api neraka. Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

نَارُكُمْ هَذِهِ الَّتِي يُوْقِدُ ابْنُ آدَمَ جُزْءٌ مِنْ سَبْعِيْنَ جُزْءًا مِنْ حَرِّ جَهَنَّمَ

“Api kalian yang dinyalakan oleh anak Adam (manusia) ini adalah satu bagian dari 70 bagian panasnya Jahannam.” (HR. al-Bukhari no. 3265 dan Muslim no. 2843, ini adalah lafadz riwayat Muslim)

Pernah pula Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitakan,

اِشْتَكَتِ النَّارُ إِلَى رَبِّهَا فَقَالَتْ: رَبِّ أَكَلَ بَعْضِي بَعْضًا. فَأَذِنَ لَهَا بِنَفَسَيْنِ: نَفَسٌ فِي الشِّتَاءِ وَنَفَسٌ فِي الصَّيْفِ. فَأَشَدُّ مَا تَجِدُونَ مِنَ الْحَرِّ وَأَشَدُّ مَا تَجِدُونَ مِنَ الزَّمْهَرِيْرِ

Neraka mengeluh kepada Rabbnya dengan berkata, “Duhai Rabbku, sebagian aku melahap sebagian yang lain.”

Allah pun mengizinkan neraka untuk bernapas dua kali; satu napas pada musim dingin dan satu napas pada musim panas. Panas yang sangat yang kalian dapatkan dan dingin yang sangat yang kalian dapatkan (itu dari napas neraka). (HR. al-Bukhari no. 3260 dan Muslim no. 615 & 617, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

إِنَّهَا تَرۡمِي بِشَرَرٖ كَٱلۡقَصۡرِ ٣٢  كَأَنَّهُۥ جِمَٰلَتٞ صُفۡرٞ ٣٣

        “Sesungguhnya neraka itu melemparkan bunga api sebesar dan setinggi istana. Seakan-akan bunga api yang terlontar itu berupa iringan unta yang berwarna kuning.” (al-Mursalat: 32—33)

Ya Allah, lindungi kami dari api neraka-Mu!

(insya Allah bersambung)

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

Menyembah Allah Tanpa Keteguhan

Beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala merupakan nikmat agung yang dianugerahkan-Nya kepada seorang hamba. Bagaimana tidak, sementara keimanan yang membuahkan amal saleh itu adalah sumber kebahagiaan di dunia, lebih-lebih lagi di akhirat kelak.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          مَنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا مِّن ذَكَرٍ أَوۡ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤۡمِنٞ فَلَنُحۡيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةٗ طَيِّبَةٗۖ وَلَنَجۡزِيَنَّهُمۡ أَجۡرَهُم بِأَحۡسَنِ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ٩٧

“Siapa yang mengerjakan amalsaleh, baik laki-laki maupun perempuan, dalam keadaan dia beriman, maka sungguh-sungguh Kami akan hidupkan dia dengan kehidupan yang baik dan sungguh-sungguh Kami akan beri balasan berupa pahala yang lebih baik daripada apa yang mereka kerjakan.” (an-Nahl: 97)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang calon penghuni negeri kenikmatan nan abadi,

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ إِلاَّ مُؤْمِنٌ

“Tidak akan masuk surga kecuali orang yang beriman.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya)

Keimanan menuntut seorang hamba untuk beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan mengikhlaskan agama hanya untuk-Nya. Hanya saja, di antara manusia yang mengaku beriman ada yang menyembah Allah subhanahu wa ta’ala di pinggir saja.

Bagaimanakah itu? Perhatikanlah firman Allah subhanahu wa ta’ala berikut ini.

          وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَعۡبُدُ ٱللَّهَ عَلَىٰ حَرۡفٖۖ فَإِنۡ أَصَابَهُۥ خَيۡرٌ ٱطۡمَأَنَّ بِهِۦۖ وَإِنۡ أَصَابَتۡهُ فِتۡنَةٌ ٱنقَلَبَ عَلَىٰ وَجۡهِهِۦ خَسِرَ ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةَۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡخُسۡرَانُ ٱلۡمُبِينُ ١١

        “Dan di antara manusia ada yang menyembah Allah di tepi. Jika dia mendapatkan kebaikan, tetaplah dia dalam keadaan itu. Namun, jika menimpanya suatu ujian/bencana, berbaliklah dia telungkup ke belakang. Dia menderita kerugian di dunia dan di akhirat. Itu adalah kerugian yang nyata.” (al-Hajj: 11)

Mujahid, Qatadah, dan pakar tafsir selain keduanya menjelaskan, “Orang tersebut menyembah Allah subhanahu wa ta’ala dalam keraguan (tidak di atas keyakinan).”

Adapula yang menafsirkan bahwa orang tersebut menyembah Allah subhanahu wa ta’ala ibarat berada di tepi gunung. Orang yang berdiri di situ tentu tidak aman, dikhawatirkan dia akan jatuh. Dia masuk ke dalam agama ini pada pinggirnya saja, enggan masuk lebih dalam.

Orang tersebut dinyatakan dengan permisalan seperti ini karena orang tersebut bimbang dan goncang dalam agamanya, tidak mantap dan tenang. Dia tidak yakin akan janji dan ancaman Allah subhanahu wa ta’ala.

Jika dia mendapatkan apa yang disenanginya, dia pun tetap pada posisinya. Bila tidak, dia segera mundur meninggalkan apa yang semula dia ada padanya. Orang seperti ini adalah seorang munafik.

Jika dalam Islam dia melihat ada kelapangan dan ketenangan, dia pun girang dan mangatakan kepada orang-orang beriman, “Aku bagian dari kalian. Aku bersama kalian.”

Namun, jika dia melihat dalam Islam ada kesempitan atau musibah, dia tidak bisa bersabar. Dia kembali kafir dan meninggalkan keadaannya yang semula.

Berbeda halnya dengan seorang mukmin yang hakiki. Dia beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala di atas keyakinan dan bashirah/ilmu. Apapun yang diperoleh, dia tetap tenang, istiqamah di atas Islam, dan kokoh beribadah. (Mahasin at-Ta’wil, 6/294, Tafsir Ibni Katsir, 5/295, Fathu al-Qadir, 3/548—549, karya al-Imam asy-Syaukani, dan Tafsir al-Qur’an al-Aziz, 3/73—74, karya al-Imam Ibnu Abi Zamanin)

Orang yang memiliki sifat yang tersebut dalam ayat di atas tidaklah kokoh di dalam agama ini. Layaknya seseorang yang berada di pinggir pasukan yang sedang berlaga.

Dia merasa cukup berada di bagian paling belakang, bagian yang paling jauh dari musuh. Dia enggan maju ke tengah, apalagi ke depan. Jika dia merasa kemenangan akan diraih dan ghanimah akan berada dalam genggaman, dia pun tetap di posisinya. Sebaliknya, jika dia melihat pasukan akan kalah, dia pun kabur. Dia berbalik ke belakang, melarikan diri tanpa menoleh ke kanan dan kiri.

Kebaikan yang disebutkan dalam ayat di atas adalah kebaikan duniawi seperti kelapangan hidup, kesehatan, beroleh keturunan, dan semua yang diidamkan di kehidupan dunia. (Rauhul Ma’ani, 9/564, karya al-Imam al-Alusi al-Baghdadi)

Al-‘Allamah as-Sa’di rahimahullah berkata tentang ayat di atas bahwa di antara manusia yang berislam ada yang lemah imannya. Iman belum masuk menyentuh kalbunya. Karena itu, ketika datang ujian, dia tidak bisa kokoh di atas iman. Bilamana dia mendapat kebaikan, berupa rezeki yang lancar dan tidak ditimpa sesuatu yang dibencinya, dia merasa tenang dengan kebaikan atau kesenangan tersebut, bukan tenang karena iman. Sebaliknya, apabila ditimpa ujian berupa keburukan atau kehilangan apa yang disenanginya, dia pun murtad dari agamanya. (Taisir al-Karimir Rahman, hlm. 534)

Al-Imam al-Bukhari rahimahullah menyebutkan dalam Shahihnya dengan sanad yang sampai kepada Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma terkait ayat di atas. Ibnu Abbas berkata, “Dahulu ada seseorang datang ke Madinah. Saat istrinya melahirkan anak lelaki dan kudanya beranak, dia berkata, ‘Ini agama yang baik’. Namun, saat istrinya tidak juga melahirkan keturunan yang dinantikan dan kudanya tidak kunjung beranak, dia berkata, ‘Ini agama yang buruk’.” (Shahih al-Bukhari no. 4742)

Ibnu Abi Hatim rahimahullah membawakan riwayat yang sampai sanadnya kepada Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma yang berkisah, “Dahulu ada orang-orang dari kalangan Arab Badui mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu masuk Islam. Saat kembali ke negeri mereka dan mendapati tahun turunnya hujan, tahun kesuburan, dan tahun bagusnya perkembangbiakan (hewan), mereka mengatakan, ‘Sungguh, agama kita ini adalah agama yang bagus’. Mereka pun tetap berpegang dengan agama Islam.

Ketika mereka mendapati tahun kekeringan, tahun buruknya perkembangbiakan, dan tahun paceklik, mereka berkata, ‘Tidak ada kebaikan pada agama kita ini’. Maka dari itu, Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan ayat di atas.

Zaid bin Aslam mengatakan bahwa orang tersebut adalah seorang munafik yang jika penghidupan dunianya bagus, dia tegak di atas ibadah (tetap melakukannya). Namun, jika rusak dunianya (mendapat kesusahan), dia pun berubah, tidak seperti keadaan semula. Dia tidaklah mengerjakan ibadah terkecuali bila baik dunianya. Jika dia ditimpa fitnah, kesulitan, ujian, dan kesempitan, dia meninggalkan agamanya dan kembal i kepada kekafiran. (Tafsir Ibni Katsir, 5/296)

Orang yang seperti ini dalam hal beriman akan menuai kerugian. Dia rugi di dunia karena tidak berhasil mendapatkan hal yang diangankan. Padahal dia sudah menukar agamanya dengan kemurtadan, namun ternyata dia tidak mendapatkan dunia kecuali sekadar apa yang sudah ditetapkan sebagai bagiannya.

Adapun kerugian di akhirat berupa terhalang dari surga yang seluas langit dan bumi karena tempat tinggalnya telah diganti dengan neraka. Sungguh, orang ini berada pada puncak kesengsaraan dan kehinaan. Karena itulah, Allah subhanahu wa ta’ala menyatakan, “Yang demikian itu adalah kerugian besar yang nyata.” (Tafsir Ibni Katsir, 5/296 dan Taisir al-Karimir Rahman hlm. 593)

Kata Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah, orang yang memiliki sifat seperti tersebut dalam ayat tidaklah memiliki keyakinan. Sebab, keyakinan adalah tsabat (keteguhan) dan keimanan yang tidak ada keraguan sama sekali. Seakan-akan dia melihat hal yang gaib hadir di depan matanya.

Keyakinan seperti ini akan membuahkan tawakal kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Dengan yakin dan tawakal, seseorang dapat mencapai tujuannya di dunia dan akhirat. Dia merasa tenteram dan hidup dengan tenang lagi bahagia karena yakin dengan seluruh berita Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya, bertawakal hanya kepada-Nya subhanahu wa ta’ala.

Sebagai ibrah, lihatlah keadaan para sahabat radhiallahu ‘anhum tatkala ditimpa kesulitan yang besar karena dikepung pasukan sekutu dalam Perang Ahzab. Sekitar 10 ribu orang kafir Quraisy dan selain mereka mengepung Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau radhiallahu ‘anhum yang bertahan dalam kota Madinah. Sungguh, musibah dan goncangan yang sangat besar bagi orang-orang beriman kala itu.

Allah subhanahu wa ta’ala menggambarkannya dalam ayat,

هُنَالِكَ ٱبۡتُلِيَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَزُلۡزِلُواْ زِلۡزَالٗا شَدِيدٗا ١١

        “Di situlah diuji orang-orang yang beriman dan digoncangkan mereka dengan goncangan yang sangat.” (al-Ahzab: 11)

Keadaan yang mencekam dan ketakutan sangat terasa sebagaimana digambarkan dalam ayat,

إِذۡ جَآءُوكُم مِّن فَوۡقِكُمۡ وَمِنۡ أَسۡفَلَ مِنكُمۡ وَإِذۡ زَاغَتِ ٱلۡأَبۡصَٰرُ وَبَلَغَتِ ٱلۡقُلُوبُ ٱلۡحَنَاجِرَ وَتَظُنُّونَ بِٱللَّهِ ٱلظُّنُونَا۠ ١٠

        “(Yaitu) tatkala mereka (musuh-musuh) datang kepada kalian dari atas dan dari bawah kalian, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan kalian dan kalbu kalian naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kalian menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam persangkaan.” (al-Ahzab: 10)

Bagaimanakah keadaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau radhiallahu ‘anhum? Mereka tidak mundur, ragu, dan meninggalkan keimanan. Mereka justru semakin mantap dalam iman sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala,

          وَلَمَّا رَءَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلۡأَحۡزَابَ قَالُواْ هَٰذَا مَا وَعَدَنَا ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ وَصَدَقَ ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥۚ وَمَا زَادَهُمۡ إِلَّآ إِيمَٰنٗا وَتَسۡلِيمٗا ٢٢

Dan tatkala orang-orang yang beriman melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata, “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya.” Hal itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali keimanan dan ketundukan. (al-Ahzab: 22)

Bedakan dengan keadaan kaum munafik yang berpura-pura menampakkan keimanan sementara kalbu mereka menyimpan kekafiran. Bedakan pula dengan keadaan orang-orang yang beriman namun di hati mereka ada penyakit dan kurang keyakinannya kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Mereka ini, Allah subhanahu wa ta’ala katakan,

          وَإِذۡ يَقُولُ ٱلۡمُنَٰفِقُونَ وَٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٞ مَّا وَعَدَنَا ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥٓ إِلَّا غُرُورٗا ١٢

        Dan ingatlah ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata, “Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya.” (al-Ahzab: 12)

Seakan-akan mereka meragukan janji Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa umat beliau akan menjadikan Kisra (penguasa Persia), Kaisar (penguasa Romawi) dan penguasa Yaman bertekuk lutut. Batin mereka membisikkan, “Bagaimana bisa semua itu akan terwujud, sementara kita sekarang dikepung dan terkurung oleh musuh yang sebanyak ini?”

Saat datang ujian, orang yang kuat imannya tidak akan mundur dari keimanan. Imannya justru bertambah kuat. Hal ini sebagaimana yang Allah subhanahu wa ta’ala kisahkan tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau radhiallahu ‘anhum?.

Sepulang mereka dari Perang Uhud, ada kabar bahwa orang-orang musyrikin Quraisy akan menyerang Madinah dengan pasukan yang besar untuk menghabisi penduduknya yang beriman. Sementara itu, kepenatan safar dan kepayahan perang belum hilang dari diri mereka, luka-luka belum pula sembuh. Apakah kemudian mereka gentar dan ragu?

Allah subhanahu wa ta’ala mengabarkan keadaan mereka,

ٱلَّذِينَ ٱسۡتَجَابُواْ لِلَّهِ وَٱلرَّسُولِ مِنۢ بَعۡدِ مَآ أَصَابَهُمُ ٱلۡقَرۡحُۚ لِلَّذِينَ أَحۡسَنُواْ مِنۡهُمۡ وَٱتَّقَوۡاْ أَجۡرٌ عَظِيمٌ ١٧٢

ٱلَّذِينَ قَالَ لَهُمُ ٱلنَّاسُ إِنَّ ٱلنَّاسَ قَدۡ جَمَعُواْ لَكُمۡ فَٱخۡشَوۡهُمۡ فَزَادَهُمۡ إِيمَٰنٗا وَقَالُواْ حَسۡبُنَا ٱللَّهُ وَنِعۡمَ ٱلۡوَكِيلُ ١٧٣

        (Yaitu) orang-orang yang mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya setelah mereka mendapatkan luka (dalam perang Uhud). Untuk orang-orang yang berbuat kebaikan di antara mereka dan yang bertakwa ada pahala yang besar.

(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul-Nya) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengabarkan, “Sesungguhnya manusia (orang-orang kafir Quraisy) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kalian, maka takutlah kepada mereka,” maka perkataan itu justru menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.” (Ali Imran: 172—173)

Demikianlah keadaan seorang mukmin yang benar imannya. Semakin besar ujian menerpa, imannya kepada Allah subhanahu wa ta’ala semakin menebal. Sebab, dia percaya bahwa pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala itu datang bersama kesabaran; kelapangan itu ada bersama musibah; dan bersama kesulitan itu ada kemudahan yang pasti menyusul. (Syarhu Riyadhish Shalihin, 1/371—372)

Lantas, bagaimana halnya dengan diri kita? Di mana posisi kita dalam beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala?

Wallahul musta’an.

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

Baiknya Kalbu Baiknya Seluruh Jasad

Anda tentu pernah mendengar hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

        أَلآ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلآ وَهِيَ الْقَلْبُ

“Ketahuilah, sungguh di dalam tubuh itu ada segumpal daging. Jika daging tersebut baik, baiklah seluruh tubuh. Jika rusak, rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah kalbu (jantung).” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Hadits di atas adalah penggalan akhir dari sebuah hadits yang disampaikan oleh sahabat yang mulia, Abu Abdillah an-Nu’man ibnu Basyir radhiallahu ‘anhuma, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang awalnya berbicara tentang halal, haram, dan musytabihat (syubhat, tidak jelas halal haramnya).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitakan bahwa di dalam tubuh kita ada mudhghah, yaitu potongan daging yang ukurannya bisa dikunyah. Ukurannya kecil, namun kedudukannya besar. Dialah kalbu atau dalam bahasa kita jantung. Dalam ungkapan sehari-hari, sering disebut dengan istilah “hati”, meski sebenarnya jantung.

Jantung adalah organ yang vital bagi makhluk hidup. Di dalam jantung, Allah ‘azza wa jalla meletakkan pengaturan kemaslahatan yang diinginkan makhluk hidup. Anda dapati hewan dengan beragam jenisnya bisa mengetahui apa yang maslahat baginya. Ia dapat membedakan antara maslahat dan mudarat.

Adapun makhluk hidup yang bernama manusia, saya, Anda dan kita semua, Allah ‘azza wa jalla mengistimewakan dengan akal, yang Dia letakkan di jantung.

أَفَلَمۡ يَسِيرُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ فَتَكُونَ لَهُمۡ قُلُوبٞ يَعۡقِلُونَ بِهَآ أَوۡ ءَاذَانٞ يَسۡمَعُونَ بِهَاۖ

“Tidakkah mereka berjalan di muka bumi hingga mereka memiliki jantung-jantung yang dengannya mereka bisa berpikir (berakal) atau telinga yang dengannya mereka bisa mendengar?” (al-Hajj: 46) (Syarh al-Arba’in Haditsan an-Nawawiyah, karya al-Imam Ibnu Daqiqil ‘Id rahimahullah, hlm. 30—31)

 

Bagaimanakah keterkaitan jantung dengan akal?

Kata asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah, kita mengimani keterangan al-Qur’an bahwa akal terletak dalam jantung, meski kita tidak mengetahui bagaimana keterkaitannya. (Syarh al-Arba’in an-Nawawiyah, asy-Syaikh Ibnu Utsaimin, hlm. 134)

Allah ‘azza wa jalla menjadikan seluruh tubuh tunduk patuh kepada jantung. Apa yang menetap di dalam jantung akan tampak pada pergerakan tubuh. Jika jantung tersebut baik, tubuh baik pula. Sebaliknya, apabila buruk, tubuh pun buruk. Sebab, jantung merupakan sumber gerakan tubuh dan keinginan jiwa. Jika jantung menginginkan hal yang baik, tubuh bergerak dengan pergerakan yang baik. Demikian pula sebaliknya.

Kesimpulannya, kata sebagian ulama, jantung seperti raja dan tubuh seperti rakyat. Adapula yang mengatakan, jantung adalah raja, sedangkan anggota tubuh yang lain adalah tentaranya yang sangat patuh, mengikuti semua titah sang raja tanpa sedikit pun menyelisihinya.

Jantung bisa pula seperti sumber air, sementara tubuh adalah ladangnya. Atau ungkapan lain, jantung adalah tanah, sedangkan gerakan tubuh adalah tetumbuhan yang ada di atasnya.

وَٱلۡبَلَدُ ٱلطَّيِّبُ يَخۡرُجُ نَبَاتُهُۥ بِإِذۡنِ رَبِّهِۦۖ وَٱلَّذِي خَبُثَ لَا يَخۡرُجُ إِلَّا نَكِدٗاۚ

“Tanah yang baik akan keluar (tumbuh subur) tanam-tanamannya dengan izin Allah dan tanah yang jelek tidak bisa tumbuh (di atasnya) tumbuh-tumbuhan kecuali dalam keadaan merana.” (al-A’raf: 58)

Ada yang mengatakan, baiknya jantung bisa dicapai dengan lima hal:

  1. Membaca al-Qur’an dengan mentadabburinya,
  2. Mengosongkan perut (dengan banyak berpuasa),
  3. Shalat malam,
  4. Merendahkan diri kepada Allah ‘azza wa jalla ketika waktu sahur, dan
  5. Bermajelis dengan orang-orang salih.

Satu lagi sebagai pokoknya adalah memakan makanan yang halal. (al-Mu’in ‘ala Tafahhum al-Arba’in, al-Allamah Ibnul Mulaqqin rahimahullah, hlm. 126—127)

Hadits tentang kalbu alias jantung di atas mendorong agar kita memerhatikan kalbu kita lebih dari perhatian kita terhadap amalan anggota tubuh. Sebab, kalbu itulah poros amalan. Apa yang tersimpan dalam kalbu, itulah yang akan ditampakkan kelak pada hari kiamat.

أَفَلَا يَعۡلَمُ إِذَا بُعۡثِرَ مَا فِي ٱلۡقُبُورِ ٩ وَحُصِّلَ مَا فِي ٱلصُّدُورِ ١٠

“Maka apakah dia (manusia yang ingkar) tidak mengetahui apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur, dan dilahirkan (ditampakkan) apa yang ada di dalam dada.” (al-‘Adiyat: 9—10)

إِنَّهُۥ عَلَىٰ رَجۡعِهِۦ لَقَادِرٞ ٨  يَوۡمَ تُبۡلَى ٱلسَّرَآئِرُ ٩

“Sesungguhnya Allah benar-benar kuasa untuk mengembalikannya (menghidupkannya setelah mematikannya). Pada hari ditampakkan segala rahasia.” (ath-Thariq: 8—9)

Karena itu, pesan untuk kita semua: bersihkanlah kalbu dari noda syirik, kotoran bid’ah, sampah maksiat, dan kerendahan akhlak.

Satu lagi yang perlu menjadi perhatian kita. Hadits ini memuat bantahan kepada para pelaku maksiat yang ketika dilarang dari maksiat mereka berkata, “Yang penting itu yang di sini!” sembari menunjuk dada mereka. Seperti perempuan yang tidak berhijab, ketika dinasihati untuk menutup aurat, dia berkata, “Bagi saya yang paling penting adalah menghijabi hati.”

Subhanallah! Memang benar, yang penting adalah apa yang ada di dalam dada, yaitu kalbu. Di dalamnyalah letak takwa. Akan tetapi, apabila kalbu bertakwa, niscaya akan tampak pengaruhnya pada amalan tubuh. Pastilah amalan tubuhnya pun berupa ketakwaan.

Bagaimana bisa seseorang yang tubuhnya dia bawa berbuat maksiat, tubuhnya tidak dihijabi dari pandangan yang bukan mahram, lalu berdalih, “Yang penting yang di dalam, yang penting hijab hati.” Wallahul musta’an. (Lihat Syarh al-Arba’in an-Nawawiyah, hlm. 133—134)

Kalbu yang Sehat

Jika kalbu hamba sehat, tidak ada di dalamnya selain kecintaan kepada Allah ‘azza wa jalla, mencintai apa yang dicintai-Nya, takut kepada-Nya, dan takut apabila terjatuh dalam perbuatan yang dibenci-Nya, niscaya akan baik gerakan seluruh anggota tubuhnya.

Ini akan mengantarkan hamba untuk menjauhi seluruh yang diharamkan dan menjaga diri dari syubhat karena khawatir jatuh ke dalam yang haram.

Adapun kalbu yang rusak dan dikuasai oleh hawa nafsu, lantas mengikuti semua kesenangan jiwa walaupun dibenci oleh Allah ‘azza wa jalla , niscaya akan rusak seluruh gerakan anggota tubuhnya. Disusul pula dengan melakukan seluruh maksiat, mendekati yang syubhat sesuai dengan keinginan hawa nafsunya.

Di sisi Allah ‘azza wa jalla kelak, tidak bermanfaat selain qalbun salim, kalbu yang sehat, sebagaimana firman-Nya,

يَوۡمَ لَا يَنفَعُ مَالٞ وَلَا بَنُونَ ٨٨ إِلَّا مَنۡ أَتَى ٱللَّهَ بِقَلۡبٖ سَلِيمٖ ٨٩

“Hari yang tidak bermanfaat padanya harta dan anak-anak, kecuali yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat.” (asy-Syu’ara: 88—89)

Maksudnya, kalbu yang selamat dari penyakit-penyakit dan seluruh hal yang dibenci. Kalbu yang tidak ada di dalamnya selain mahabbatullah (cinta kepada Allah ‘azza wa jalla), takut kepada-Nya, dan khawatir jatuh ke dalam urusan yang dapat menjauhkan dari Allah ‘azza wa jalla.

Tidak akan baik sebuah kalbu kecuali apabila menetap padanya ma’rifatullah (mengenal Allah ‘azza wa jalla ), mengetahui keagungan-Nya, cinta dan takut kepada-Nya, berharap dan tawakal kepada-Nya.

Inilah hakikat tauhid yang merupakan makna La ilaha illallah. Tidak ada kebaikan bagi kalbu kecuali saat menjadikan Allah Yang Maha Esa sebagai sesembahan yang diibadahi, yang dicintai, dan ditakuti, tidak ada sekutu bagi-Nya.

Sebagai penutup, kita nukilkan ucapan al-Imam al-Hasan al-Bashri rahimahullah berikut ini. Beliau rahimahullah menghikayatkan dirinya, “Tidaklah aku memandang mataku, tidaklah lisanku berucap, tidak pula tanganku menggenggam, dan tidaklah kakiku melangkah, hingga aku memikirkan, apakah ini di atas ketaatan kepada Allah ‘azza wa jalla ataukah di atas maksiat? Jika untuk ketaatan, aku lakukan. Jika ternyata untuk maksiat, aku mundur, tidak jadi melanjutkannya.”

Masya Allah! Saya, Anda, dan kita semua, bagaimana?

Al-Hasan al-Bashri rahimahullah tergolong orang yang tatkala baik kalbunya dan tidak menyisakan keinginan kepada selain Allah ‘azza wa jalla, akan baiklah anggota tubuhnya yang lain. Anggota badannya tersebut tidak bergerak kecuali karena Allah ‘azza wa jalla, untuk melakukan sesuatu yang mendatangkan ridha-Nya. Wallahu a’lam. (Jami’ al-Ulum wal Hikam, al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hambali rahimahullah, hlm. 119—121)

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

 

Jangan Dekati Zina!

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sang penyampai risalah dari langit, pernah bersabda,

        إِنَّ اللهَ تَعَالَى يَغَارُ وَغَيْرَةُ اللهِ تَعَالَى أَنْ يَأْتِيَ الْمَرْءُ مَا حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ

“Sesungguhnya Allah Mahacemburu. Cemburunya Allah subhanahu wa ta’ala adalah apabila seseorang (dari hamba-Nya) melakukan apa yang Allah subhanahu wa ta’ala haramkan atasnya.” (Muttafaqun ‘alaihi dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Manusia yang paling tahu tentang Sang Rabb ini memberitakan bahwa Dia Yang Mahasuci memiliki sifat cemburu sebagai suatu sifat yang hakiki bagi-Nya. Jangan merasa heran apabila Allah subhanahu wa ta’ala disifati dengan sifat ini! Apabila Anda heran, pastilah Anda sedang membayangkan cemburunya manusia.

Sifat cemburu Allah subhanahu wa ta’ala tidaklah sama dengan cemburu kita, para makhluk.

        لَيۡسَ كَمِثۡلِهِۦ شَيۡءٞۖ

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia….” (asy-Syura: 11)

Cemburu Allah subhanahu wa ta’ala sangat agung dan mulia sesuai dengan keagungan dan kemuliaan-Nya.

Dengan hikmah-Nya, Allah subhanahu wa ta’ala mewajibkan bagi hamba-hamba-Nya berbagai kewajiban. Dia mengharamkan atas mereka apa yang buruk, dan Dia menghalalkan apa yang baik dalam hukum-Nya.

Semua yang diwajibkan Allah subhanahu wa ta’ala pastilah baik bagi kita untuk agama dan dunia kita. Itu pastilah baik bagi kita untuk sekarang dan masa yang akan datang. Sebaliknya, yang diharamkan-Nya pastilah buruk bagi kita untuk semuanya; agama, dunia, waktu sekarang, dan masa yang akan datang.

Apabila Allah subhanahu wa ta’ala sudah mengharamkan sesuatu lantas masih saja seorang hamba melakukannya, Dia subhanahu wa ta’ala cemburu. Mengapa si hamba berbuat demikian padahal Allah subhanahu wa ta’ala mengharamkannya demi kemaslahatan si hamba?

Allah subhanahu wa ta’ala sendiri tidaklah termudaratkan dengan maksiat si hamba, sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala tidak beroleh manfaat dari ketaatan hamba.

Lantas, mengapa Allah subhanahu wa ta’ala cemburu?

Hendaklah setiap hamba mengetahui bahwa Allah subhanahu wa ta’ala adalah Dzat Yang Maha Memiliki hikmah, Maha Penyayang. Dia tidaklah melarang hamba-Nya dari sesuatu karena kikir terhadap mereka, tetapi demi kemaslahatan mereka.

Kemudian datanglah hamba yang lancang. Dengan kebodohan dan hawa nafsunya, dia terjang larangan Sang Khaliq. Dia lampaui batasan yang ditetapkan ar-Rahman. Dia bermaksiat kepada Rabbnya yang sebenarnya sangat sayang kepada hamba-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala cemburu karenanya.

 

Allah Cemburu Bila Hamba-Nya Berzina

Ada satu perbuatan haram yang dikaitkan secara khusus dengan sifat cemburu Allah subhanahu wa ta’ala . Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

        مَا مِنْ أَحَدٍ أَغْيَرُ مِنَ اللهِ تَعَالَى أَنْ يَزْنِيَ عَبْدُهُ أَوْ تَزْنِيَ أَمَتَهُ

“Tidak ada seorang pun yang lebih cemburu daripada Allah subhanahu wa ta’ala apabila hamba laki-laki-Nya atau hamba perempuan-Nya berzina.” (HR. al-Bukhari)

Mengapa demikian? Karena zina adalah perbuatan yang keji, amat rendah, dan sangat buruk. Karena itu, Allah subhanahu wa ta’ala mengharamkan perbuatan zina, bahkan semua hal yang mengantarkan kepada zina[1] Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          وَلَا تَقۡرَبُواْ ٱلزِّنَىٰٓۖ إِنَّهُۥ كَانَ فَٰحِشَةٗ وَسَآءَ سَبِيلٗا ٣٢

“Janganlah kalian mendekati zina, sungguh zina itu adalah perbuatan keji dan seburuk-buruk jalan.” (al-Isra: 32)

Apabila seorang hamba berzina, na’udzubillah, Allah subhanahu wa ta’ala sangat cemburu dan lebih besar kecemburuan-Nya daripada jika seorang hamba melakukan perbuatan haram selain zina. (Syarhu Riyadhish Shalihin, Ibnu Utsaimin, 1/338—339)

 

Mut’ah=Zina

Anehnya, ada zina yang dilegalkan atas nama agama. Ya , mut’ah namanya. Boleh kita sebut kawin kontrak; kontraknya bisa setahun, sebulan, sepekan, bahkan semalam, na’udzubillah. Setelah itu berpisah begitu saja, tanpa ada pertanggungjawaban. Lantas bagaimana jika perempuan yang dimut’ah itu akhirnya hamil?

Ada juga yang tidak menetapkan waktu. Artinya sesukanya, kalau sudah bosan ya pisah, cari yang lain lagi, sebagaimana praktik mut’ah yang terdata dilakukan oleh mahasiswa di universitas tertentu yang terkena racun Syi’ah.

Pada praktiknya, mut’ah dilakukan tanpa wali, tanpa saksi, tanpa pemberitahuan kepada orang-orang (tidak disebarkan beritanya), tanpa memberitahu wali si perempuan, dan tidak ada hubungan waris-mewarisi antara kedua pihak. Jadi, bagaimana hakikatnya? Si perempuan hanyalah berstatus istri sewaan.

Masih ragu bahwa mut’ah adalah zina?

Memang benar, dahulu pernikahan dengan cara mut’ah ini pernah dibolehkan[2]. Akan tetapi, kebolehannya telah dihapus dan diharamkan sampai hari kiamat. Kaum yang gemar mengumbar hawa nafsu, hanya mengejar kesenangan perut dan kemaluan, justru melegalisasi zina dengan istilah mut’ah. Merekalah Syiah Rafidhah.

Menurut mereka, seseorang yang melakukan mut’ah memiliki keutamaan yang besar. Tiga kali bermut’ah ganjarannya akan dikumpulkan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di surga.

Sebaliknya, mereka mengklaim siapa yang tidak pernah bermut’ah, dia bukanlah seorang muslim, dan siapa yang tidak menerima mut’ah berarti dia kafir. (sebagaimana disebutkan dalam kitab pegangan Syi’ah: Man La Yahdhuruhu al-Faqih, ash-Shaduq al-Qummi 3/366, dinukil dalam kitab Lillahi Tsumma lit Tarikh, hlm. 33—34)

Mereka membolehkan lelaki bermut’ah tidak hanya dengan para gadis atau janda. Bahkan, boleh bermut’ah dengan istri orang dan yang afdal tanpa sepengetahuan suaminya. Inna lillahi…. (kitab Syi’ah Furu’ al-Kafi, al-Kulaini, 5/463, dinukil dalam Lillahi Tsumma lit Tarikh hlm. 41)

Dilegalkannya mut’ah atas nama agama di kalangan orang-orang Syi’ah Rafidhah di Iran, sampai menyeret kepada pembolehan i’aratul farj (menyewakan farji). Pembolehannya difatwakan oleh tokoh ulama mereka, seperti as-Sayyid Luthfullah ash-Shafi.

Bagaimana bentuk i’aratul farj ini? Seorang lelaki memberikan istri atau budak perempuannya kepada lelaki lain dan memperbolehkan si lelaki “berhubungan” dengan istrinya atau melakukan terhadap istrinya sekehendak si lelaki.

Apabila seorang suami hendak safar, dia menitipkan istrinya kepada lelaki tetangganya, temannya, atau siapa saja yang dipilihnya. Dia membolehkan lelaki tersebut melakukan apa saja terhadap istrinya selama dia safar. Tujuannya agar dia bisa tenang dalam safarnya dan tidak khawatir istrinya melakukan perzinaan selama dia tinggalkan. Lho!

Bentuk yang kedua, apabila suatu kaum atau keluarga kedatangan tamu dan mereka hendak memuliakan tamu tersebut, si tuan rumah meminjamkan istrinya kepada si tamu selama dia tinggal bersama mereka. Si tamu boleh melakukan apa saja terhadap si istri. (Lillahi Tsumma lit Tarikh, hlm. 46—47)

Apa hakikat dari semua itu kalau bukan zina? Padahal Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jelas-jelas mengharamkan zina?!

 

Liwath Lebih Parah daripada Zina

Ada lagi yang lebih keji dari perbuatan zina yaitu liwath, perbuatan kaum Luth. Allah subhanahu wa ta’ala menukilkan ucapan Nabi Luth ‘alaihissalam kepada kaumnya,

أَتَأۡتُونَ ٱلۡفَٰحِشَةَ مَا سَبَقَكُم بِهَا مِنۡ أَحَدٖ مِّنَ ٱلۡعَٰلَمِينَ ٨٠ إِنَّكُمۡ لَتَأۡتُونَ ٱلرِّجَالَ شَهۡوَةٗ مِّن دُونِ ٱلنِّسَآءِۚ بَلۡ أَنتُمۡ قَوۡمٞ مُّسۡرِفُونَ ٨١

“Apakah kalian melakukan al-fahisyah yang tidak ada seorang pun dari penghuni alam semesta ini yang mendahului kalian (melakukannya).

Sungguh, kalian mendatangi lelaki untuk melampiaskan syahwat kalian, bukannya mendatangi perempuan. Sungguh, kalian adalah orang-orang yang melampaui batas.” (al-A’raf: 80—81)

Perhatikan ayat di atas! Perbuatan liwath disebut dengan fahisyah memakai alif lam (ma’rifah, yang berarti sudah tertentu), sedangkan zina dalam surat al-Isra ayat 32, disebut tanpa alim lam (nakirah, masih umum, tidak tertentu). Apa bedanya?

Kata Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah, “Zina adalah satu fahisyah/perbuatan keji dan kotor dari sekian banyak perbuatan fahsiyah. Adapun liwath adalah fahisyah yang paling besar.” (Syarhu Riyadhish Shalihin, Ibnu Utsaimin, 1/339)

Ternyata, kaum liberal dan yang sebarisan dengan mereka sama suaranya dengan Syiah ketika menyerukan agar LGBT dilegalkan di negeri tercinta ini—semoga Allah subhanahu wa ta’ala selamatkan negeri ini.

Mengapa demikian? Syi’ah adalah penyuka liwath, “berhubungan” sesama lelaki, terutama dengan amrad (anak muda belia yang belum tumbuh jenggotnya). Hal ini telah difatwakan oleh kebanyakan ulama mereka, seperti as-Sayyid Abdul Husain Syarafuddin al-Musawi. (Lihat Lillahi Tsumma lit Tarikh, hlm. 52—54)

Laa haula wa laa quwwata illa billah! Lengkap sudah kebejatan Syi’ah Rafidhah. Kalau mereka tidak mengaku Islam, tentu lebih ringan. Yang parah, mereka mengaku beragama Islam dan mengatasnamakan kebejatan akhlak mereka sebagai ajaran Islam.

Mereka membawakan riwayat-riwayat palsu penuh kedustaan atas nama para imam ahlul bait terkait penyimpangan moral yang diabsahkan. Hakikatnya, mereka ingin menjatuhkan kehormatan imam-imam ahlul bait dengan riwayat yang dibuat-buat oleh para zindiq. Sebab, kerendahan akhlak dan penyimpangan moral nantinya akan dianggap sebagai seruan dan ajaran para imam.

Mengapa para hamba demikian lancang berbuat dosa?

Wallahul musta’an.

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

[1] Allah subhanahu wa ta’ala mengharamkan wasilah (sarana yang mengantarkan) kepada zina, seperti memandang lawan jenis yang bukan mahram, ikhtilath (campur baur) lelaki dan perempuan tanpa hijab, khalwat (berdua saja) lelaki dan perempuan yang bukan mahram, bersentuhan antara lelaki dan perempuan yang bukan mahram dengan berjabat tangan misalnya, perempuan melembutkan suaranya saat berbicara dengan lelaki, perempuan keluar rumah bertabarruj, memakai wangi-wangian, dsb. Semua itu dalam rangka mencegah terjadinya zina.

[2] Silakan baca kembali Rubrik “Mengayuh Biduk” edisi ini yang membawakan sedikit riwayat tentang mut’ah.

Merasa Diawasi Allah

Muraqabah, sebuah kata yang asing bagi kita karena memang bukan berasal dari bahasa kita. Kata ini berasal dari bahasa Arab.

Lantas apa gerangan makna kata ini hingga kita bisa menjawab pertanyaan pada judul di atas?

Muraqabah memiliki dua sisi:

  1. Engkau selalu menghadirkan perasaan diawasi oleh Allah subhanahu wa ta’ala, engkau selalu mawas diri, memerhatikan dirimu yang engkau sadar dirimu senantiasa diawasi oleh-Nya.
  2. Engkau percaya bahwa Allah subhanahu wa ta’ala mengawasimu, sebagaimana firman-Nya,

          وَكَانَ ٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ رَّقِيبٗا ٥٢

“Dan adalah Allah Maha Mengawasi segala sesuatu.” (al-Ahzab: 52)

Dengan muraqabah ini, engkau yakin bahwa Allah subhanahu wa ta’ala mengetahui segala tindak tandukmu, apakah itu ucapanmu, perbuatanmu, ataupun keyakinan yang tersembunyi dalam kalbumu. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱلۡعَزِيزِ ٱلرَّحِيمِ ٢١٧ ٱلَّذِي يَرَىٰكَ حِينَ تَقُومُ ٢١٨  وَتَقَلُّبَكَ فِي ٱلسَّٰجِدِينَ ٢١٩

“Bertawakallah engkau kepada Dzat Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang. Yang Dia melihatmu ketika engkau berdiri (melakukan ibadah). Dan Dia melihat gerak-gerikmu di antara orang-orang yang sujud.” (asy-Syu’ara: 217—219)

Allah subhanahu wa ta’ala melihat apa yang engkau lakukan di tengah malam yang gulita saat tidak ada seorang pun melihat dirimu. Saat engkau berdiri untuk ibadah kepada-Nya, Dia tahu. Saat engkau sujud, Dia pun tahu.

Dengan muraqabah, engkau yakin Allah subhanahu wa ta’ala mendengar semua yang terucap oleh lisanmu. Karena itu, engkau jaga lisanmu agar tidak berucap kecuali kebenaran atau diam, sebagaimana bimbingan agung sang Rasul yang agung shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَ الْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata baik atau hendaknya dia diam.”

Dengan muraqabah, engkau jaga pandangan matamu agar tidak melihat sesuatu yang diharamkan walau sembunyi-sembunyi. Sebab, engkau yakin dengan firman-Nya,

يَعۡلَمُ خَآئِنَةَ ٱلۡأَعۡيُنِ وَمَا تُخۡفِي ٱلصُّدُورُ ١٩

“Dia mengetahui pandangan mata yang khianat dan apa yang tersimpan dalam dada.” (Ghafir: 19)

Dengan muraqabah, engkau selalu memerhatikan kalbumu. Adakah di dalamnya penyakit yang harus dibasmi seperti syirik, riya, penyimpangan, iri dengki, benci, amarah, loyal kepada orang kafir, dan semisalnya, yang tidak Allah subhanahu wa ta’ala ridhai?

Engkau selalu memerhatikan kalbumu dan berusaha memperbaikinya. Sebab, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ وَنَعۡلَمُ مَا تُوَسۡوِسُ بِهِۦ نَفۡسُهُۥۖ

“Sungguh Kami telah menciptakan manusia dan Kami mengetahui apa yang dibisikkan oleh jiwanya.” (Qaf: 16)

Bagaimana pun rapatnya engkau menyimpannya, di sudut hatimu yang paling dalam, Allah subhanahu wa ta’ala pasti mengetahuinya. Jangankan yang ada di kalbu, semua yang di bumi dan di langit, tidak ada yang tersembunyi bagi Allah subhanahu wa ta’ala.

Dia Yang Mahaagung berfirman,

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَخۡفَىٰ عَلَيۡهِ شَيۡءٞ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فِي ٱلسَّمَآءِ ٥

“Sesungguhnya bagi Allah, tidak ada sesuatu pun di bumi dan tidak pula di langit yang tersembunyi bagi-Nya.” (Ali Imran: 5)

Segala sesuatu yang di bumi dan di langit itu ada yang dirinci-Nya sebagaimana dalam ayat berikut,

وَعِندَهُۥ مَفَاتِحُ ٱلۡغَيۡبِ لَا يَعۡلَمُهَآ إِلَّا هُوَۚ وَيَعۡلَمُ مَا فِي ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِۚ وَمَا تَسۡقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا يَعۡلَمُهَا وَلَا حَبَّةٖ فِي ظُلُمَٰتِ ٱلۡأَرۡضِ وَلَا رَطۡبٖ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَٰبٖ مُّبِينٖ ٥٩

“Di sisi-Nyalah kunci-kunci perbendaharaan yang gaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia. Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan. Tidak ada selembar daun pun yang jatuh kecuali Dia mengetahuinya, tidak pula biji dalam kegelapan bumi, tidak pula yang basah dan tidak pula yang kering melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (al-An’am: 59)

Apabila demikian keluasan ilmu Allah subhanahu wa ta’ala, hendaklah setiap mukmin senantiasa merasa diawasi oleh Allah subhanahu wa ta’ala . Dia takut kepada-Nya di saat sendirian, sebagaimana halnya takut kepada-Nya saat terang-terangan.

Allah subhanahu wa ta’ala tidak pernah gaib dari hamba-hamba-Nya. Dia senantiasa bersama mereka di mana pun mereka berada. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَهُوَ مَعَكُمۡ أَيۡنَ مَا كُنتُمۡۚ

“Dan Dia bersama kalian di mana saja kalian berada.” (al-Hadid: 4)

Allah subhanahu wa ta’ala bersama kita tentu bukan maknanya Dia di bumi, satu tempat dengan kita. Tidak sama sekali! Ini pemahaman yang sesat dan batil. Mahasuci Dia!

Sebab, Allah subhanahu wa ta’ala di atas segala sesuatu, sebagaimana disebutkan dalam banyak firman-Nya, di antaranya,

ٱلرَّحۡمَٰنُ عَلَى ٱلۡعَرۡشِ ٱسۡتَوَىٰ ٥

“Ar-Rahman beristiwa (tinggi) di atas Arsy.” (Thaha: 5)

وَهُوَ ٱلۡقَاهِرُ فَوۡقَ عِبَادِهِۦۚ

“Dia Maha Memaksa di atas hamba-hamba-Nya.” (al-An’am: 18)

وَهُوَ ٱلۡعَلِيُّ ٱلۡعَظِيمُ ٢٥٥

“Dia Mahatinggi lagi Mahaagung.” (al-Baqarah: 255)

Allah subhanahu wa ta’ala tinggi dalam kedekatan-Nya dan dekat dalam ketinggian-Nya. Dzat Allah subhanahu wa ta’ala di atas sana, di atas seluruh makhluk-Nya, namun Dia senantiasa bersama para hamba-Nya karena ilmu-Nya meliputi mereka. Demikian pula pendengaran-Nya, penglihatan-Nya, kekuasaan-Nya, kehendak-Nya, pengaturan-Nya, dan selainnya. Tidak ada yang lepas dari-Nya subhanahu wa ta’ala.

Barang siapa memiliki muraqabah ini, niscaya dia dapat beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan ihsan. Apa ihsan itu?

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang ihsan, beliau menjawab,

أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

“Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak bisa merasa melihat-Nya, (yakinlah) bahwa Dia melihatmu.”

Al-Ihsan adalah derajat yang paling tinggi dalam dienul Islam, setelah derajat al-islam (amaliah zahir) dan aliman (amaliah batin).

Maka dari itu, beribadahlah kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan derajat ihsan, seakanakan engkau melihat dan menyaksikan-Nya dengan mata kepala. Inilah ibadah karena berharap dan rindu kepada Dzat yang diibadahi (ibadah raghbah).

Jika tidak bisa demikian, turunlah kepada derajat yang kedua, yaitu meyakini bahwa Allah subhanahu wa ta’ala melihatmu dalam ibadahmu. Inilah ibadah karena takut kepada Dzat yang diibadahi (ibadah rahbah).

Dengan muraqabah, seorang hamba akan berupaya menjadi pribadi yang senantiasa bertakwa kepada Rabbnya, menjalankan semua yang diperintahkan karena berharap pahala dari-Nya dan menjauhi semua yang dilarang karena takut akan siksa dan azab-Nya. Dia bersegera menyambut seruan kebaikan dan meninggalkan ajakan kepada keburukan.

Kalau pun terjatuh dalam kejelekan, sebagai layaknya anak Adam, dia segera bangkit menengadahkan kedua tangannya memohon ampun kepada Rabbnya, bertobat dengan sebenarnya (taubatan nashuha), beristighfar, dan memperbanyak kebaikan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menuntunkan,

وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا

“Ikutkanlah (susullah) keburukan dengan (perbuatan) kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapuskan keburukan.”

Setelah penjelasan ini, sudahkah kita memahami apa itu muraqabah dan sudahkah kita memilikinya?

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

 Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

Kemurahan dan Keadilan-Mu, Ya Rabb!

Rabb kita ‘azza wa jalla, senantiasa mencurahkan kebaikan kepada para hamba. Dia selalu memberi dengan kemurahan dan keutamaan-Nya. Kalaupun tidak memberi, maka dengan keadilan-Nya.

Setiap hamba di muka bumi ini merasakan atsar dari rahmat Allah subhanahu wa ta’ala, siapa pun dia, orang baik atau orang jahat, mukmin atau kafir.

Cobalah kita renungkan, setiap hamba bisa menghirup udara sepanjang hari, merasakan manfaat sinar matahari, beroleh rezeki, merasakan keamanan, menikmati kesehatan dan fisik yang kuat, dan sebagainya. Semua itu jelas pemberian-Nya, Dzat Yang Maha Pemurah.

Ada lagi nikmat lain yang dilimpahkan-Nya dalam hidup di dunia ini, namun hanya untuk hamba pilihan, seperti nikmat iman dan takwa, nikmat yakin akan Dia subhanahu wa ta’ala dan saat perjumpaan dengan-Nya.

Hadits berikut ini termasuk hadits yang menunjukkan besarnya keutamaan dan kemurahan Allah ‘azza wa jalla, di samping menunjukkan keadilan-Nya.

Abul Abbas Abdullah ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma mengabarkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang berita yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam riwayatkan dari Allah subhanahu wa ta’ala (hadits qudsi), Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّ اللهَ كَتَبَ الْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ.ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ: فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، وَإِنْ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللهُ عَشَرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيْرَةٍ، وَإِنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهُ اللهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، وَإِنْ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللهُ سَيِّئَةً وَاحِدَةً

Sesungguhnya, Allah mencatat kebaikan-kebaikan dan kejelekankejelekan. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskannya[1],  “Siapa yang berniat melakukan satu kebaikan namun tidak melakukannya, Allah mencatat niat baik tersebut sebagai satu kebaikan yang sempurna di sisi-Nya. Jika dia berniat untuk berbuat baik lalu dia kerjakan, Allah subhanahu wa ta’ala catat baginya sepuluh kebaikan sampai tujuh ratus kali lipat sampai berlipat-lipat yang banyak. (Sebaliknya) jika seseorang berniat untuk berbuat jelek, namun tidak dikerjakannya (dalam amal nyata), Allah subhanahu wa ta’ala catat untuknya sebagai satu kebaikan yang sempurna di sisi-Nya. Apabila dia berniat jelek lalu dia lakukan, niscaya Allah subhanahu wa ta’ala catat untuknya satu kejelekan.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Kita selami kandungan hadits yang mulia di atas melalui keterangan Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah[2] berikut ini.

Pencatata shallallahu ‘alaihi wa sallam (kitabah) yang disebutkan dalam hadits mencakup dua makna,

  1. Kitabah sabiqah, yaitu pencatatan atau penulisan di al-Lauh al-Mahfuzh.

Di dalamnya, Allah subhanahu wa ta’ala mencatat segala sesuatu sebelum terjadinya sebagaimana firman-Nya,

وَكُلُّ صَغِيرٖ وَكَبِيرٖ مُّسۡتَطَرٌ ٥٣

 “Dan semua yang kecil dan yang besar tercatat.” (al-Qamar: 53)

Pencatatan di sini tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah subhanahu wa ta’ala.

 

  1. Kitabah lahiqah, adalah pencatatan yang dilakukan saat si hamba telah berbuat.

Amalnya dicatat untuknya sesuai dengan kandungan hikmah, keadilan, dan keutamaan.

Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian menerangkan bagaimana pencatatan tersebut. Seseorang yang ingin berbuat kebaikan tetapi tidak jadi melakukannya, maka dia beroleh satu kebaikan. Misalnya, seseorang berniat mengerjakan shalat dhuha namun tidak jadi melakukannya. Dicatat untuk orang ini satu kebaikan.

Contoh lain, seseorang berniat membaca al-Qur’an namun tidak jadi melakukannya, maka dicatat untuknya satu kebaikan. Mengapa demikian, padahal dia tidak jadi beramal?

Jawabannya adalah sungguh keutamaan Allah subhanahu wa ta’ala itu luas. Niat dalam kalbu untuk berbuat baik teranggap sebagai kebaikan. Kalbu adalah tempat keinginan dan niat—yang baik dan yang buruk. Manakala kalbu ingin berbuat baik, hal tersebut terhitung satu kebaikan.

Apabila orang yang berniat benar-benar melakukan apa yang diniatkan kalbunya, dia ingin shalat witir dan dia benar-benar melakukannya, maka dicatat baginya sepuluh kebaikan.

Bahkan, bisa dilipatgandakan menjadi tujuh ratus kali lipat atau lebih, hingga berlipat-lipat yang tidak terhitung, sesuai dengan kadar keikhlasan, ketakwaan, dan mutaba’ah (pengikutan) kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Manakala seseorang beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan ikhlas untuk-Nya semata, niscaya pahalanya lebih besar. Seseorang yang bersemangat mengikuti ajaran sunnah dalam beribadah, tentu ibadahnya sempurna dan beroleh pahala yang besar.

Adapun terkait dengan kejelekan yang diniatkan oleh jiwa, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa (sebaliknya) jika seseorang berniat untuk berbuat jelek namun tidak dikerjakan (dalam amal nyata), Allah catat untuknya sebagai satu kebaikan yang sempurna di sisi-Nya.

Sebagai contoh, seseorang berniat mencuri milik orang lain, namun kemudian dia ingat kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Muncul rasa takut di hatinya. Dia pun meninggalkan niat mencuri tersebut. Orang ini mendapat satu kebaikan karena dia meninggalkan maksiat karena Allah subhanahu wa ta’ala.

Yang perlu diperhatikan, apabila seseorang tidak jadi bermaksiat karena tidak mampu melakukannya, bukan karena takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala, dia tidak mendapatkan kebaikan. Dia tetap berdosa.

Misalnya, seseorang ingin mencuri, namun urung dilakukannya karena tenyata di tempat tersebut ada pengamanan ketat dari pihak sekuriti. Seandainya tidak ada sekuriti, niscaya dia akan menjalankan niatnya. Orang seperti ini tidak diberi pahala, justru dihukumi berdosa.

Kita ingat dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disampaikan oleh Abu Bakrah Nufai’ ibnul Harits ats-Tsaqafi radhiallahu ‘anhu berikut ini.

       إِذَا الْتَقَى الْمُسْلِمَانِ بِسَيْفَيْهِمَا فَالْقَاتِلُ وَالْمَقْتُوْلُ فِي النَّارِ. قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، هذَا الْقَاتِلُ، فَمَا بَالُ الْمَقْتُوْلِ؟ قَالَ: إِنَّهُ كَانَ حَرِيْصًا عَلَى قَتْلِ صَاحِبِهِ

“Apabila dua orang muslim berhadapan dengan pedang masingmasing (untuk saling membunuh), si pembunuh dan yang terbunuh samasama di neraka.”

Abu Bakrah bertanya, “Wahai Rasulullah, kalau si pembunuh yang di neraka (maka jelas), namun yang terbunuh juga di neraka?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan, (Dia di neraka) karena sungguh dia berambisi untuk membunuh lawannya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Si terbunuh tidak jadi membunuh karena didahului oleh lawannya, sementara dia sangat berambisi untuk membunuh. Ini terbukti dengan pedang yang dibawanya dalam pertarungan.

Hanya saja, pedang lawannya terlebih dahulu menghabisi nyawanya. Meski niatnya tidak terlaksana, dia teranggap sebagai pelaku pembunuhan, sehingga dia dan pembunuhnya sama-sama di neraka.

Siapa yang berniat jelek dan dilakukannya, maka dicatat baginya satu kejelekan saja, tidak lebih. Hal ini berdasar firman Allah subhanahu wa ta’ala,

مَن جَآءَ بِٱلۡحَسَنَةِ فَلَهُۥ عَشۡرُ أَمۡثَالِهَاۖ وَمَن جَآءَ بِٱلسَّيِّئَةِ فَلَا يُجۡزَىٰٓ إِلَّا مِثۡلَهَا وَهُمۡ لَا يُظۡلَمُونَ ١٦٠

“Siapa yang berbuat satu kebaikan maka dia akan beroleh (pahala setara) sepuluh kebaikan dan siapa yang berbuat satu kejelekan maka dia tidaklah dibalas kecuali dengan satu kejelekan yang sebanding, dalam keadaan mereka tidaklah dizalimi.” (al-An’am: 160)

Duhai Rabbi, betapa penyayang Engkau, dan betapa zalim diri ini dengan tidak mensyukuri-Mu.

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

 [1] Yakni bagaimana penulisan tersebut.

[2] Syarhu Riyadhish Shalihin, Ibnu Utsaimin, 1/46, hlm. 50—51.

Sabar yang Indah

“Sabar, ya?” demikian ucapan yang biasa kita dengar dari orang yang hendak menenangkan seseorang yang sedang emosi atau tengah dilanda duka. Sebenarnya apa hakikat sabar yang biasa terucap itu?

Menurut syariat, sabar adalah menahan diri dalam tiga urusan:

  1. Sabar dalam ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala
  2. Sabar dalam menjauhi apa yang dilarang oleh Allah subhanahu wa ta’ala
  3. Sabar dalam menghadapi takdir Allah subhanahu wa ta’ala yang pahit.

Kita lihat satu per satu macam kesabaran di atas.

Sabar Menjalankan Ketaatan

Seorang insan harus bersabar ketika menjalankan ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Sebab, ketaatan itu sebenarnya berat dan sulit bagi jiwa. Terkadang, berat pula bagi jasmani karena pada diri seseorang ada kelemahan dan kepayahan. Ibadah yang harus mengeluarkan harta juga berat, seperti mengeluarkan zakat dan berhaji.

Intinya, dalam ketaatan itu ada rasa berat bagi jiwa dan jasmani sehingga dibutuhkan kesabaran untuk menjalankannya.

Sabar Menjauhi Larangan

Seseorang harus menahan jiwanya dari berbuat maksiat. Sementara itu, jiwa itu ammarah bis su’, suka mengajak kepada kejelekan. Oleh karena itu, seorang insan harus membuat sabar jiwanya. Contoh hal yang diharamkan ialah berdusta, berkhianat, ghibah, memakan riba, mendengarkan musik, zina, mencuri, dan sebagainya.

Seseorang harus menahan jiwanya agar tidak melakukan semua itu. Dia harus berjuang untuk melawan ajakan berbuat haram dan mesti mengekang hawa nafsunya. Sabar di atas ketaatan lebih utama daripada sabar dalam menjauhi maksiat.

Sabar Menghadapi Takdir

Ketahuilah, ada dua macam takdir Allah subhanahu wa ta’ala yang mengenai manusia: mula’imah dan mu’limah. Mula’imah adalah yang sesuai dengan keinginan dan menyenangkan seorang insan. Orang yang menerima takdir ini harus bersyukur. Syukur termasuk amal ketaatan. Dengan demikian, sabar dalam hal ini termasuk jenis kesabaran yang pertama.

Mu’limah adalah sesuatu yang tidak menyenangkan, pahit dirasakan. Seseorang diuji pada tubuh, harta, dan keluarganya. Dia harus bersabar menghadapi musibah tersebut dengan tidak melakukan apa yang dilarang oleh Allah subhanahu wa ta’ala, yaitu berkeluh kesah, menampakkan marah atas musibah tersebut, apakah diucapkan dengan lisan, disimpan dalam kalbu, ataupun ditunjukkan dengan perbuatan anggota badan.

Tingkatan Manusia Menghadapi Musibah

Saat terjadi musibah, manusia berada di antara salah satu dari empat keadaan berikut.

 

  1. Dia murka atas musibah yang menimpanya.

Kemurkaan tersebut bisa terjadi dalam hati, terucap dengan lisan, atau diperbuat oleh anggota badan. Marah dengan kalbu terwujud dengan tersimpan dalam hatinya protes kepada Allah subhanahu wa ta’ala, marah, tidak terima, serasa ingin menuntut, menyalahkan Allah subhanahu wa ta’ala, dan merasa dizalimi dengan musibah tersebut. Na’udzu billah.

Marah dengan lisan terwujud dengan terucap doa kejelekan untuk dirinya karena musibah tersebut, “Duhai, celaka aku!”, “Betapa sengsaranya diri ini!”, atau “Mengapa harus datang musibah ini?”

Marah dengan anggota tubuh, terwujud dengan menampar pipi, menarik-narik rambut, merobek baju, meraung-raung, berguling-guling di lantai sambil meratap, dan sebagainya.

Orang yang berbuat hal-hal seperti di atas kala musibah melandanya adalah  orang yang diharamkan mendapatkan pahala. Sudah pun tidak “sukses” dengan musibah tersebut, dia justru berdoa kejelekan untuk dirinya. Akhirnya, dia tertimpa dua musibah, yaitu musibah pada agamanya dengan marah tersebut dan musibah pada dunianya dengan ditimpa hal yang menyakitkan.

 

  1. Dia bersabar atas musibah tersebut.

Kesabaran ini dilakukan dengan menahan diri dari apa yang tidak dibenarkan oleh syariat.

Sebenarnya dia benci dan tidak suka dengan musibah tersebut, tetapi dia menyabarkan dirinya. Lisannya ditahan agar tidak mengucapkan kata-kata yang mengundang kemurkaan Allah subhanahu wa ta’ala. Anggota tubuhnya dikekang agar tidak berbuat sesuatu yang mendatangkan kemarahan Allah subhanahu wa ta’ala. Di hatinya tidak ada prasangka yang buruk kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Dia sabar walau dia tidak suka dengan musibah tersebut.

Sabar yang seperti ini wajib dimiliki oleh setiap muslim saat menghadapi musibah.

 

  1. Ridha dengan musibah tersebut.

Dadanya merasa lapang dengan musibah yang menimpanya. Dia ridha sepenuhnya atas musibah, seakan-akan dia tidak tertimpa musibah.

 

  1. Bersyukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas musibah yang menimpa.

Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila ditimpa apa yang tidak disenangi, beliau berucap,

الْحَمْدُ لِلهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ

“Segala puji bagi Allah atas seluruh keadaan.”

Dia bersyukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas pahala yang diterimanya karena musibah tersebut jauh lebih besar dari musibah itu sendiri.

Syukur merupakan tingkatan yang tertinggi. Hukumnya sunnah sebagaimana halnya tingkatan ketiga, yaitu ridha.

 

Sabar Hukumnya Wajib

Sebagaimana disebutkan bahwa sabar itu hukumnya wajib karena diperintahkan oleh agama ini. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam tanzil- Nya,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱصۡبِرُواْ وَصَابِرُواْ وَرَابِطُواْ

“Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian (dalam menjauhi apa yang Allah haramkan), perkuatlah kesabaran (dalam menjalani ketaatan kepada-Nya), dan perbanyaklah kebaikan serta terus meneruslah di atasnya….” (Ali ‘Imran: 200)

Musibah merupakan keniscayaan sebagai ujian kehidupan. Allah subhanahu wa ta’ala menyatakan,

وَلَنَبۡلُوَنَّكُم بِشَيۡءٖ مِّنَ ٱلۡخَوۡفِ وَٱلۡجُوعِ وَنَقۡصٖ مِّنَ ٱلۡأَمۡوَٰلِ وَٱلۡأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ ١٥٥

“Dan sungguh Kami akan berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang bersabar.” (al-Baqarah: 155)

Dengan ujian, akan tampak para pemenang dan nyata orang-orang yang kalah.

وَلَنَبۡلُوَنَّكُمۡ حَتَّىٰ نَعۡلَمَ ٱلۡمُجَٰهِدِينَ مِنكُمۡ وَٱلصَّٰبِرِينَ

“Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kalian agar Kami mengetahui (menampakkan) orang-orang yang berjihad dan orang-orang yang bersabar di antara kalian.” (Muhammad: 31)

Pemenangnya adalah orang-orang yang bisa bersabar. Mereka dijanjikan akan beroleh pahala yang sangat besar tanpa perhitungan sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala,

إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجۡرَهُم بِغَيۡرِ حِسَابٖ ١٠

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (az-Zumar: 10)

Itulah pahala berlipat ganda dari Allah subhanahu wa ta’ala yang tidak mungkin manusia membilangnya. Bergembiralah orang-orang yang mau bersabar dengan kebersamaan Allah subhanahu wa ta’ala yang khusus, yaitu kebersamaan-Nya dengan para hamba pilihan-Nya,

إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ ١٥٣

“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bersabar.” (al-Baqarah: 153)

Perlu diketahui, ma’iyatulah (kebersamaan Allah dengan hamba-Nya) ada dua macam.

  1. Kebersamaan yang umum (ma’iyah ‘ammah)

Kebersamaan yang umum ini mencakup seluruh hamba-Nya. Contohnya seperti tersebut dalam ayat,

هُوَ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٖ ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰ عَلَى ٱلۡعَرۡشِۖ يَعۡلَمُ مَا يَلِجُ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَمَا يَخۡرُجُ مِنۡهَا وَمَا يَنزِلُ مِنَ ٱلسَّمَآءِ وَمَا يَعۡرُجُ فِيهَاۖ وَهُوَ مَعَكُمۡ أَيۡنَ مَا كُنتُمۡۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ بَصِيرٞ ٤

“Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari. Kemudian dia beristiwa di atas Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi, apa yang keluar darinya, apa yang turun dari langit, dan apa yang naik kepadanya. Dan Dia bersama kalian di mana saja kalian berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kalian kerjakan.” (al-Hadid: 4)

مَا يَكُونُ مِن نَّجۡوَىٰ ثَلَٰثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمۡ وَلَا خَمۡسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمۡ وَلَآ أَدۡنَىٰ مِن ذَٰلِكَ وَلَآ أَكۡثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمۡ أَيۡنَ مَا كَانُواْۖ

“Tidak ada pembicaraan rahasia antara tiga orang melainkan Dialah yang keempat. Dan tidak ada pembicaraan rahasia antara lima orang melainkan Dia yang keenamnya. Dan tidak pula pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia bersama mereka di mana pun mereka berada.” (al-Mujadilah: 7)

Tidak ada satu makhluk pun kecuali Allah subhanahu wa ta’ala bersamanya dengan ilmu-Nya, yang meliputi mendengar, menguasai, mengatur, dan melihat seorang hamba dari makna rububiyah-Nya.

 

  1. Kebersamaan yang khusus

Ini adalah kebersamaan yang berkonsekuensi pertolongan dan pengokohan dari-Nya. Ma’iyah ini khusus untuk para rasul dan pengikut mereka.

Contohnya ialah ayat yang mengabarkan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala bersama orang-orang yang bersabar. Seorang yang bersabar akan beroleh pertolongan dari Allah subhanahu wa ta’ala. Allah subhanahu wa ta’ala menguatkan dan membantunya hingga sempurna kesabarannya sesuai dengan yang Allah subhanahu wa ta’ala cintai.

Allah subhanahu wa ta’ala memerintah Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memberi kabar gembira kepada orang yang sabar. Siapakah mereka yang sabar itu?

وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ ١٥٥ ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَٰبَتۡهُم مُّصِيبَةٞ قَالُوٓاْ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيۡهِ رَٰجِعُونَ ١٥٦ أُوْلَٰٓئِكَ عَلَيۡهِمۡ صَلَوَٰتٞ مِّن رَّبِّهِمۡ وَرَحۡمَةٞۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُهۡتَدُونَ ١٥٧

“Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang bersabar. Yaitu orang-orang yang apabila mereka ditimpa musibah, mereka mengucapkan, ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.’ Mereka itulah yang beroleh pujian dari Rabb mereka (dipuji-puji di hadapan para malaikat) dan rahmat. Dan mereka itulah orang-orang yang mendapatkan petunjuk.” (al-Baqarah: 155—157)

Berikanlah kabar gembira, wahai Nabi dan orang-orang yang sampai kepadanya ayat ini. Berilah kabar gembira kepada orang yang sabar atas musibah yang menimpa, tidak menghadapinya dengan kemarahan tetapi dengan kesabaran. Lebih sempurna lagi dari itu adalah orang yang menghadapi musibah dengan perasaan ridha. Lebih sempurna lagi adalah yaitu menghadapinya dengan rasa syukur.

Karena itu, apabila Anda ingin menjadi hamba yang utama dan mendapat pahala tiada batas, jika Anda ditimpa suatu musibah yang membutuhkan kesabaran, bersabarlah dan tanggunglah semuanya karena Allah subhanahu wa ta’ala. Ketahuilah dan ingatlah selalu,

أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ، وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ، وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً

“Pertolongan itu bersama kesabaran. Kelapangan itu bersama musibah. Sungguh bersama kesulitan itu ada kemudahan.”

Jadi, tiada rugi Anda menyabar-nyabarkan diri.

(Faedah dari keterangan Fadhilatusy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah dalam Syarhu Riyadhis Shalihin, Bab “ash-Shabr”, hlm. 89—99)

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

Untaian Doa yang Agung

Anda pernah mendengar atau bahkan mungkin telah menghapal dan mengamalkan doa berikut?

اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا يَحُوْلُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيْكَ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ الْيَقِيْنِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مُصِيبَاتِ الدُّنْيَا، وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا، وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا، وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِي دِيْنِنَا، وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا

Ya Allah! Jadikanlah untuk kami rasa takut kepada-Mu yang dengannya dapat menghalangi dan mencegah kami untuk berbuat berbagai maksiat kepada-Mu.

Anugerahkanlah kepada kami ketaatan kepada-Mu yang dengannya dapat menyampaikan kami kepada surga-Mu.

Berikan pula keyakinan yang dengannya terasa ringan bagi kami segala musibah yang menimpa kami.

Berilah kenikmatan dan manfaat kepada kami dengan pendengaran, penglihatan, dan kekuatan kami selama Engkau menghidupkan kami.

Jadikanlah semua itu sebagai pewaris dari kami.

Jadikan pula balasan kami kepada orang yang menzalimi kami dengan balasan yang sesuai untuknya (tidak melampaui batas).

Tolonglah kami terhadap orang-orang yang memusuhi kami.

Jangan Engkau jadikan musibah kami menimpa agama kami.

Jangan pula Engkau jadikan dunia menjadi tujuan dan keinginan kami yang terbesar.

Jangan sampai dunia menjadi puncak dari ilmu kami.

Jangan jadikan orang yang tidak menyayangi kami dapat menguasai kami.”

Untaian doa yang bermakna luar biasa, bukan? Coba Anda cermati baik-baik artinya. Sebuah doa ma’tsur (ada atsarnya) yang pernah dilantunkan dan diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di antara sekian banyak doa yang lainnya.

Sahabat yang mulia, Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, menyampaikan kepada kita tentang pengamalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap doa di atas,

قَلَّمَا كَانَ رَسُوْلُ اللهِ يَقُوْمُ مِنْ مَجْلِسٍ، حَتَّى يَدْعُوَ بِهَؤُلآءِ الدَّعَوَاتِ لِأَصْحَابِهِ

“Jarang sekali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bangkit dari majelis sampai beliau berdoa dengan doa-doa ini untuk para sahabat beliau.”

Hadits ini diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 3502) dan al-Hakim (1/258).

At-Tirmidzi berkata tentang hadits ini, “Hasan gharib”.

Al-Hakim menyatakan sahih dan disepakati oleh adz-Dzahabi.

Hadits ini derajatnya sahih menurut al-Albani rahimahullah sebagaimana dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi, Shahih al-Jami’, dan al-Misykat.

Maksud ucapan Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma di atas adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kerap mengucapkan doa-doa di atas sebelum beliau berdiri meninggalkan majelis. Hanya sesekali beliau tidak membaca doa-doa tersebut.

Kandungan Doa

Coba kita tengok kalimat yang terkandung dalam doa di atas.

  1. Rasa takut yang menghalangi untuk berbuat maksiat

Dalam senandung doa yang agung di atas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memohon dianugerahi khasyah, rasa takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Sebab, kalbu yang berperan sebagai pimpinan bagi tubuh[1] itu bila dipenuhi dengan khasyah. Kalbu akan mengekang anggota tubuh yang lain dari berbuat maksiat. “Jadikanlah untuk kami rasa takut kepada-Mu yang dengannya dapat menghalangi dan mencegah kami untuk berbuat berbagai maksiat kepada-Mu.”

Sebaliknya, kalbu yang kosong dari khasyah akan berselancar dalam maksiat. Tiada rasa takut yang mengekang dan tidak pula khawatir akan akibat yang akan diperoleh. Yang ada di benak hanyalah bagaimana memuaskan jiwa dengan hawa nafsu syahwatnya.

 

  1. Ketaatan yang bisa menyampaikan ke surga

Berikutnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memohon dalam untaian doa indahnya, “Anugerahkanlah kepada kami ketaatan kepada-Mu yang dengannya dapat menyampaikan kami kepada surga-Mu.”

Surga adalah cita-cita tertinggi dan teragung setiap insan yang mengaku beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Dialah negeri asal yang dirindukan, tempat tinggal awal bapak manusia, Adam ‘alaihissalam.

Surga dengan segala kenikmatannya tidaklah bisa dicapai dengan amalan ketaatan semata, karena amalan kita tidak sebanding dengan nikmatnya surga. Amal kita terlalu sedikit nilainya untuk membeli surga. Bayangkan, kita beramal sedikit lagi ringan, sementara ganjaran yang disiapkan di surga demikian besar.

Satu contohnya adalah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini,

رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا

“Shalat dua rakaat fajar lebih baik daripada dunia seisinya.” (HR Muslim no. 1685)

Karena pahalanya yang sangat besar bersamaan dengan ringannya shalat ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai menyatakan,

لَهُمَا أَحَبُّ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا جَمِيْعًا

“Dua rakaat tersebut lebih aku cintai daripada (perhiasan) dunia seluruhnya.” (HR. Muslim no. 1686)

Contoh lain adalah hadits tentang dilipatgandakannya amalan kebaikan sebagaimana disampaikan lewat sahabat yang mulia, Abdullah ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antaranya beliau menyatakan,

فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، وَإِنْ هَمَّ فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِمَائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيْرَةٍ

“Barang siapa berkeinginan untuk berbuat satu kebaikan namun dia tidak melakukannya, niscaya Allah akan mencatat keinginan baik tersebut sebagai satu kebaikan yang sempurna di sisi-Nya. Jika dia berkeinginan berbuat satu kebaikan lalu dia melakukannya, niscaya Allah akan mencatatnya sebagai sepuluh kebaikan di sisi-Nya, (dan Allah akan melipatgandakannya) sampai tujuh ratus kali lipat, bahkan sampai berlipat-lipat yang sangat banyak… (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Amal ketaatan hanyalah sebab, adapun masuk surga bisa tercapai berkat rahmat Allah subhanahu wa ta’ala kepada si hamba. Allah subhanahu wa ta’ala merahmati si hamba karena dia telah menempuh sebab untuk masuk ke surga-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala pun memasukkannya ke dalam surga.

Karena surga itu hanya dicapai dengan rahmat Allah subhanahu wa ta’ala , seorang hamba tentu tidak layak merasa telah berbuat sesuatu yang besar dengan amalannya dan merasa pantas masuk surga karena telah beramal ini dan itu.

Sungguh, apa pun yang kita lakukan dan bagaimana pun besarnya amalan ketaatan kita, tetap saja tidak sebanding dengan ganjaran yang diperoleh di surga. Allah subhanahu wa ta’ala memberi lebih banyak dan sangat banyak daripada apa yang kita lakukan.

 

  1. Keyakinan yang menjadikan semua musibah terasa ringan

Yang diminta selanjutnya adalah ‘keyakinan’. Yakinlah bahwa tidak ada yang dapat menolak ketetapan Allah subhanahu wa ta’ala. Yakinlah bahwa tidaklah menimpa kita suatu musibah kecuali telah ditetapkan-Nya dalam takdir-Nya.

Apa yang ditakdirkan-Nya tidak lepas dari hikmah dan maslahat bersamaan dengan adanya tambahan pahala untuk si hamba yang terkena musibah.

Dengan keyakinan seperti ini terasa mudahlah semua musibah dunia, dikarenakan yakin adanya balasan pahala. Si hamba yang yakin tidak menjadi gundah-gulana dengan apa yang menimpanya dan tidak pula terlalu bersedih.

Yang terucap dari lisannya saat menimpanya sesuatu yang tidak mengenakkan adalah kalimat yang syar’i ,

قَدَّرَ اللهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ

“Allah telah menakdirkan dan apa saja yang Dia kehendaki Dia lakukan.”

Sebagaimana bimbingan Sang Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang sahih riwayat al-Imam Muslim dari sahabat yang mulia, Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu,

وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فلَاَ تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَذَا لَكَانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ : قَدَّرَ اللهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ

Jika sesuatu menimpamu (yang tidak kamu sukai atau tidak sesuai dengan keinginanmu), janganlah kamu katakan, “Seandainya aku melakukan itu, niscaya hasilnya akan begitu dan begitu.” Akan tetapi, katakanlah, “Qaddarullah wa masya’a fa’ala…”

 

  1. Indra dan kekuatan digunakan untuk taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala

Pendengaran dan penglihatan dengan alatnya masing-masing merupakan nikmat yang besar yang dianugerahkan Allah subhanahu wa ta’ala untuk para hamba. Demikian pula kekuatan tubuh, apalagi bila digunakan untuk menaati Allah subhanahu wa ta’ala.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa untuk pendengaran, penglihatan, dan kekuatan tersebut,

وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا

“Berikanlah kenikmatan dan manfaat kepada kami dengan pendengaran, penglihatan, dan kekuatan kami selama Engkau menghidupkan kami.”

Indra yang Allah subhanahu wa ta’ala berikan tidak hanya telinga dan mata, tetapi dalam permohonan di atas keduanya disebutkan secara khusus tanpa menyebut indera yang lain, karena memang petunjuk-petunjuk yang menyampaikan kepada ma’rifatullah (mengenal Allah subhanahu wa ta’ala) dan mentauhidkan-Nya hanyalah dicapai lewat jalan keduanya (mata dan telinga).

Burhan/bukti yang nyata diperoleh dari ayat-ayat sam’iyah (wahyu berupa al-Qur’an dan as-Sunnah) dan dilakukan lewat jalan mendengar. Ayat-ayat yang dipancangkan di ufuk dan di jiwa-jiwa (ayat-ayat kauniyah berupa makhluk-makhluk ciptaan Allah subhanahu wa ta’ala) diperoleh lewat penglihatan.

Menurut Ibnul Malik, permohonan tamattu’ (beroleh kenikmatan) dengan pendengaran dan penglihatan juga bermakna meminta agar keduanya tetap sehat (tidak rusak/mengalami cacat) sampai meninggal dunia.

Seorang hamba memohon tamattu’ dengan keduanya karena khawatir dirinya terjatuh pada jalan orang-orang yang Allah subhanahu wa ta’ala tutup kalbu mereka dan Allah subhanahu wa ta’ala jadikan di atas pendengaran dan penglihatan mereka terdapat ghisyawah/penutup sebagaimana dalam ayat,

وَلَقَدۡ ذَرَأۡنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلۡجِنِّ وَٱلۡإِنسِۖ لَهُمۡ قُلُوبٞ لَّا يَفۡقَهُونَ بِهَا وَلَهُمۡ أَعۡيُنٞ لَّا يُبۡصِرُونَ بِهَا وَلَهُمۡ ءَاذَانٞ لَّا يَسۡمَعُونَ بِهَآۚ أُوْلَٰٓئِكَ كَٱلۡأَنۡعَٰمِ بَلۡ هُمۡ أَضَلُّۚ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡغَٰفِلُونَ ١٧٩

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai kalbu tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah), dan mereka mempunyai mata tetapi tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah) dan mereka pun punya telinga tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (al-Araf : 179)

Ketika dicapai ma’rifatullah lewat mata yang melihat dan telinga yang mendengar, tentu berkonsekuensi si hamba harus menegakkan ibadah kepada sang Rabb. Dia pun harus memohon kekuatan kepada sang Rabb agar memungkinkan baginya melaksanakan ibadah kepada-Nya, karena ‘tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah’.

Ath-Thibi berkata, “Yang dimaukan dengan kekuatan adalah kekuatan seluruh anggota tubuh dan indra, atau seluruhnya.”

Selanjutnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memohon,

وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا

“Jadikan (semua itu) pewaris bagi kami,yakni tetap ada pada kami sampai meninggal.

Kisah Al-Imam Al-Albani rahimahullah

Al-Imam al-Albani rahimahullah setelah membawakan hadits,

أَعْمَارُ أُمَّتِي مَا بَيْنَ السِّتِّيْنَ إِلَى السَّبْعِيْنَ وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ

“Umur umatku antara 60 tahun sampai 70 tahun, sedikit di antara mereka yang melampaui umur tersebut.”[2]

Ibnu Arafah berkata, “Aku termasuk yang sedikit tersebut.”

Beliau rahimahullah memberikan komentar terhadap ucapan Ibnu Arafah di atas, “Aku juga termasuk yang sedikit tersebut. Umurku telah melebih 84 tahun. Aku memohon kepada al-Maula (yakni Allah subhanahu wa ta’ala) agar termasuk orang yang panjang umurnya dan baik amalannya.

Namun, sungguh. bersamaan dengan itu hampir-hampir aku mengangankan kematian, tatkala melihat kaum muslimin ditimpa musibah berupa penyimpangan dalam hal agama dan kehinaan yang turun kepada mereka sehingga mereka termasuk orang-orang yang rendah.

Akan tetapi, tentu amat jauh bagiku untuk mengangankan hal tersebut, sementara hadits Anas radhiallahu ‘anhu ada di hadapanku sejak aku masih muda remaja. Tidak pantas bagiku untuk mengatakan kecuali sebagaimana yang diperintah oleh Nabiku shallallahu ‘alaihi wa sallam,

اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مَا كاَنَتِ الْحَيَاةُ خَيْرًا لِي وَتَوَفَّنِي إِذَا كَانَتِ الْوَفَاةُ خَيْرًا لِي

‘Ya Allah, hidupkanlah aku selama kehidupan ini baik bagiku dan wafatkanlah aku bila kematian lebih baik bagiku.’[3]

Seraya berdoa dengan doa yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan kepadaku,

اللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا

Sungguh, Allah subhanahu wa ta’ala memberikan keutamaan dengan mengabulkan permohonanku dan memberiku kenikmatan serta manfaat dengan seluruhnya (pendengaran, penglihatan dan kekuatan).

Sampai saat ini (sebelum beliau meninggal dunia –pent.) aku terus menerus diberi kemampuan untuk meneliti, mentahqiq, dan menulis dengan penuh semangat yang jarang ada yang menandinginya.

Aku tetap bisa mengerjakan shalat nafilah dengan berdiri. Aku menyetir mobil sendiri dengan jarak tempuh yang jauh, dengan laju kecepatan yang membuat sebagian orang-orang tercinta[4] menasihatiku untuk menguranginya.

Aku sampaikan hal ini sebagai bentuk pengamalan ayat,

وَأَمَّا بِنِعۡمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثۡ ١١

(bukan untuk menyombongkan diri–pent.).

Aku berharap kepada al-Maula subhanahu wa ta’ala agar menambahkan kepadaku keutamaan-Nya; dan menjadikan semua itu sebagai pewaris dariku; mewafatkan aku dalam keadaan muslim, di atas sunnah yang aku telah menazarkan hidupku untuk sunnah dalam bentuk berdakwah dan menulis; agar menggabungkan aku bersama para syuhada dan shalihin. Mereka itulah adalah sebaik-baik teman. Sungguh, Allah Maha Mendengar lagi Mengabulkan doa.” (Dinukil dari Fawaid wa ‘Ibar min Hayah al-Imam al-Albani, hlm. 287)

  1.  Tidak berbuat melampaui batas walau kepada orang yang menzalimi

Sebab, apabila melampaui batas berarti dia berpindah dari keadaan terzalimi menjadi orang yang zalim. Sementara itu, ada peringatan dalam hadits,

اتَّقُوْا الظًّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Berhati-hatilah kalian dari kezaliman, karena kezaliman itu adalah kegelapan demi kegelapan pada hari kiamat.” (HR. Muslim)

 

  1. Ditolong dari musuh

Apa jadinya apabila Allah subhanahu wa ta’ala membiarkan kita dengan musuh kita, tidak menolong kita?

Jika Allah subhanahu wa ta’ala menolong kita, tidak akan ada yang dapat mengalahkan, sebagaimana firman-Nya,

إِن يَنصُرۡكُمُ ٱللَّهُ فَلَا غَالِبَ لَكُمۡۖ وَإِن يَخۡذُلۡكُمۡ فَمَن ذَا ٱلَّذِي يَنصُرُكُم مِّنۢ بَعۡدِهِۦۗ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلۡيَتَوَكَّلِ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ١٦٠

“Jika Allah menolong kalian, tidak ada yang dapat mengalahkan kalian. Namun, apabila Allah menghinakan kalian (tidak menolong bahkan membiarkan kalian), siapa lagi yang dapat menolong kalian setelah-Nya? Karena itu, hendaknya hanya kepada Allah-lah orang-orang beriman itu bertawakal.” (Ali ‘Imran: 160)

 

  1. Musibah tidak menimpa agama

Kebaikan agama adalah modal keselamatan di akhirat. Apa jadinya apabila modal tersebut rusak karena musibah yang menimpanya?

Karena itu, kita diajari untuk memohon kepada Rabb agar yang menimpa kita bukan musibah yang mengenai agama sehingga mengurangi, melunturkan, atau merusaknya. Di antara musibah dalam hal agama ialah penyimpangan dari al-haq, keyakinan yang buruk, memakan makanan yang haram, malas beribadah, dan semisalnya.

 

  1. Dunia tidak menjadi tujuan utama, prioritas tertinggi, dan puncak ilmu

Dunia dinamakan dunia karena dua sebab.

  • Karena keberadaan dunia mendahului akhirat

Firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَلَلۡأٓخِرَةُ خَيۡرٞ لَّكَ مِنَ ٱلۡأُولَىٰ ٤

“Akhirat itu lebih baik bagimu daripada yang awal (dunia).” (adh-Dhuha: 4)

  • Karena dunia itu rendah, bukan apa-apa apabila dibandingkan dengan akhirat

Hal ini digambarkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad rahimahullah dari al-Mustaurid ibnu Syaddad radhiallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَمَوْضِعُ سَوْطِ أَحدِكُمْ فِي الْجَنَّةِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا

“Tempat cambuk salah seorang dari kalian di surga lebih baik daripada dunia berikut isinya.”

Tempat cambuk, tempat tongkat yang pendek lagi kecil, di surga nanti lebih baik daripada dunia berikut isinya dari awal sampai akhirnya. Itulah nilai dunia (tidak ada apa-apanya). (Syarhu Riyadhish Shalihin, Ibnu Utsaimin, 2/249)

Demikian rendahnya nilai dunia. Tidak sepantasnya dunia menjadi tujuan hidup, target utama, prioritas tertinggi, dan yang dipikirkan siang malam.

Karena itu, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam memohon pertolongan Sang Khaliq agar mencari harta dan kedudukan tidak menjadi tujuan yang terbesar dalam kehidupan. Yang diminta ialah agar amalan akhirat dan mengejar keutamaannya menjadi tujuan yang utama dan terbesar.

Jangan pula, ya Allah, Engkau jadikan puncak ilmu kami adalah urusan dunia sehingga tidak ada yang kami tahu dan kami pikirkan kecuali urusan dunia. Justru yang kami mohon adalah Engkau jadikan kami memikirkan keadaan akhirat, mempelajari ilmu yang terkait dengan-Mu dan negeri akhirat.

 

  1. Tidak dikuasai oleh orang-orang kafir dan zalim

Jangan sampai kami dikuasai oleh orang-orang kafir dan zalim; atau jangan jadikan orang zalim sebagai pemimpin kami, karena seorang yang zalim tidak akan menyayangi rakyatnya.

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

(Nukilan dari Tuhfah al-Ahwazi, kitab ad-Da’wah, bab 80 disertai tambahan yang banyak dari beberapa rujukan)

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah


[1] Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang kalbu (jantung),

ألآ إِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلآ وَ هِيَ الْقَلْبُ

“Sesungguhnya di dalam tubuh itu adalah segumpal daging. Jika baik daging tersebut, baik pula seluruh tubuh. Sebaliknya jika rusak, rusak pula seluruh tubuh. Ketahuilah, segumpal daging tersebut adalah kalbu. (HR. al-Bukhari dan Muslim, dari sahabat yang mulia an-Nu’man ibnu Basyir radhiallahu ‘anhu)

[2] HR. at-Tirmidzi dalam Sunannya, al-Bazzar dalam Musnadnya, Ibnu Hibban dalam Shahihnya, dari sahabat yang mulia, Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu.

[3] Muttafaqun ‘alaih.

[4] Di antaranya ialah asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah (-ed.)

Dia Tidak Riya

Tentang Riya

Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah memberikan penjabaran, “Riya adalah seseorang beribadah kepada Rabbnya, tetapi dia membaguskan ibadahnya saat manusia melihatnya hingga mereka memujinya dengan berkata, ‘Alangkah rajinnya dia beribadah!’, ‘Bagusnya ibadahnya!’, dan pujian semisalnya.

Si pelaku riya menginginkan manusia memujinya karena ibadah yang dilakukannya, bukan ingin taqarrub atau mendekatkan diri kepada mereka dengan ibadah tersebut[1]. Dia menginginkan pujian dan penilaian baik dari manusia. Dia beramal untuk Allah subhanahu wa ta’ala, tetapi tidak ikhlas untuk-Nya.” (Syarhu Riyadhish Shalihin, 4/262)

Berbicara tentang hukum riya, ada dua perincian.

  1. Jika riya itu ringan atau sedikit, termasuk syirik ashghar/kecil.
  2. Jika riya tersebut banyak, sudah termasuk syirik akbar/besar.

Kita berlindung kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari terjatuh ke dalamnya.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ

“Tidaklah mereka diperintahkan melainkan agar mereka beribadah kepada Allah dalam keadaan mengikhlaskan agama hanya untuk-Nya, condong kepada tauhid dan meninggalkan kesyirikan….” (al-Bayyinah: 5)

Ayat di atas menunjukkan, kita diperintah untuk ikhlas dalam beribadah. Kita shalat ikhlas karena Allah subhanahu wa ta’ala. Kita berpuasa ikhlas karena Allah subhanahu wa ta’ala. Kita berhaji ikhlas karena Allah subhanahu wa ta’ala. Semuanya harus ikhlas untuk Allah subhanahu wa ta’ala semata.

Senantiasa riya dalam beramal hanyalah perilaku munafik. Karena riyalah mereka beramal dari awal sampai akhir.

Adapun orang beriman, mereka beramal kebajikan karena Allah subhanahu wa ta’ala, tetapi riya bisa mendatangi mereka di tengah-tengah amalan.

Selanjutnya, apakah mereka menghalau riya tersebut, membenci, dan berusaha menghilangkannya sehingga mereka selamat ataukah membiarkan dan ridha dengan riya tersebut sehingga rusaklah amalan mereka.

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda,

قَالَ اللهُ تَعَالَى: أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي، تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ.

“Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, ‘Aku paling tidak membutuhkan sekutu. Siapa yang beramal suatu amalan yang dia menyekutukan-Ku dengan yang lain dalam amalan tersebut, Aku akan meninggalkannya dan meninggalkan amalannya tersebut’.” (HR. Muslim)

Hadits di atas adalah ancaman bagi orang yang berbuat riya dalam amalannya, yaitu amalannya tidak akan diterima.

Oleh karena itu, hendaknya kita  berhati-hati dan menjaga diri. Jangan sampai kita merasa telah beramal saleh, ternyata di akhirat kelak kita tidak beroleh apa-apa di sisi Allah subhanahu wa ta’ala, justru mendapat dosa karena amal kita dikotori oleh noda riya.

Satu hal pula yang perlu kita ingat, jangan sampai kita meninggalkan beribadah karena takut riya. Setan biasa mendatangi sebagian orang yang ingin beramal saleh lantas membisikkan,

“Jangan kamu bersedekah, kamu riya ‘kan?”

“Jangan baca al-Qur’an, nanti kamu riya.”

“Jangan shalat sunnah, nanti riya.”

“Sudah, tidak usah bantu orang itu, daripada kamu riya, lebih baik ditinggalkan.”

Mengapa setan membisikkan hal itu? Tujuannya adalah menghalangi manusia beramal saleh.

Karena itu, janganlah kita memberi kesempatan kepada setan. Tetaplah beramal, baik dalam bentuk bersedekah, membaca al-Qur’an, shalat, maupun lainnya, dengan tetap berusaha ikhlas lillahi ta’ala.

Jika setan datang menggoda untuk riya, tolaklah dan mohonlah pertolongan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Dengan berbuat seperti itu, setan akan mundur, bi idznillah.

Terkait dengan amalan ibadah, manusia memang dilingkupi dua hal.

  1. Sebelum dia melakukan ibadah, setan membisikan kepadanya agar dia mengurungkan ibadahnya, “Jangan kamu lakukan amal itu, nanti riya. Kamu ingin orang-orang melihatmu lalu memujimu ‘kan? Sudahlah, tinggalkan amal tersebut!”
  2. Saat dia mulai beribadah, setan datang lagi untuk menggodanya agar ibadahnya rusak sama sekali atau berkurang pahalanya.

Sebelum dan saat kita sedang beramal, setan pasti datang menggoda. Tolaklah bisikan setan tersebut. Mohonlah perlindungan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari gangguannya. Teruslah beramal dan jangan memutusnya.

Bahagia setelah Beramal     

Ketika seseorang telah selesai melakukan suatu amal ibadah, dia mendengar ada orang yang memuji dan menyanjungnya karena ibadah yang telah dilakukannya.

Jawabannya, tidak berbahaya. Sebab, ibadahnya sudah selesai ditunaikan dalam keadaan selamat dari riya. Adapun pujian manusia kepadanya setelahnya, hal tersebut adalah kabar gembira yang disegerakan untuknya asalkan ibadahnya benar-benar telah selesai ditunaikan.

Bagaimana pula jika seseorang setelah beribadah timbul rasa bahagia di hatinya dengan ibadahnya tersebut? Apakah rasa ini teranggap ujub yang membatalkan amalnya?

Jawabannya, tidak membatalkan ibadah yang telah dilakukannya, karena bukan ‘ujub.

‘Ujub adalah merasa kagum selesai beribadah. Dia merasa kagum dengan dirinya. Dia menganggap dirinya hebat. Dia merasa telah memberikan anugerah kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan ibadahnya tersebut sehingga merasa pantas mendapatkan kebaikan di sisi Allah subhanahu wa ta’ala.

Inilah ujub yang membatalkan amalan, na’udzu billah. Adapun orang yang ditanyakan di atas, tidaklah terbetik di hatinya perasaan tersebut. Dia hanyalah memuji Allah subhanahu wa ta’ala dan merasa bahagia karena Allah subhanahu wa ta’ala memberinya taufik kepada kebaikan. Dalam sebuah hadits disebutkan,

مَنْ سَرَّتْهُ حَسَنَتُهُ وَسَاءَتْهُ سَيِّئَتُهُ فَذَلِكَ الْمُؤْمنُ.

“Siapa yang kebaikannya membahagiakannya dan kejelekannya menyusahkannya, dia adalah orang yang beriman.” (Dinyatakan sahih oleh al-Imam al-Albani rahimahullah dalam Shahih al-Jami’ ash-Shaghir no. 6294)

Dianggap Riya, Ternyata Bukan

Dari Abu Dzar radhiallahu ‘anhu, seseorang berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam,

أَرَأَيْتَ الرَّجُلَ يَعْمَلُ الْعَمَلَ مِنَ الْخَيْرِ وَيَحْمَدُهُ النَّاسُ عَلَيْهِ؟ قَالَ: تِلْكَ عَاجِلُ يُشْرَى الْمُؤْمِنِ

“Apa pendapatmu tentang seseorang yang beramal satu amalan kebaikan dan manusia memujinya atas amalan tersebut?”

Rasulullah menjawab, “Itu adalah penyegeraan berita gembira bagi si mukmin.” (HR. Muslim)

Hadits Abu Dzar radhiallahu ‘anhu ini menjadi dalil bagi masalah yang kita bawakan di atas tentang seseorang yang dipuji oleh manusia setelah dia beramal.

Gambaran hadits Abu Dzar radhiallahu ‘anhu ini adalah sebagai berikut. Ada seseorang beramal saleh untuk Allah subhanahu wa ta’ala tanpa memedul ikan apakah manus ia mengetahui amalannya atau tidak mengetahuinya, apakah manusia melihatnya atau tidak melihatnya, manusia mendengarnya atau tidak mendengarnya, sama sekali dia tidak peduli.

Yang ada dalam keinginannya adalah ikhlas beramal karena Allah subhanahu wa ta’ala semata. Setelah beramal, ada orang-orang yang membicarakan amalannya dan memujinya, seperti berkata, “Memang si Fulan itu muslim yang taat,” “Dia banyak melakukan ibadah.”Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam, “Itu adalah penyegeraan berita gembira bagi si mukmin.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam tidak mengatakannya riya, tetapi berita gembira. Ya, pujian manusia tersebut adalah berita gembira bagi si mukmin yang telah beramal saleh.

Sebab, jika orang-orang yang beriman memuji seseorang (yang beriman juga) dengan kebaikan, mereka adalah saksi-saksi Allah subhanahu wa ta’ala di muka bumi-Nya.

Tatkala di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam dan para sahabat radhiallahu ‘anhum lewat rombongan manusia yang mengusung sebuah jenazah, para sahabat radhiallahu ‘anhum memuji jenazah tersebut dengan kebaikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda,

وَجَبَتْ، وَجَبَتْ، وَجَبَتْ

“Pasti, pasti, pasti.”

Setelah itu, lewat rombongan lain yang membawa jenazah pula. Mereka menyebutnya dengan kejelekan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam berkata yang sama,

وَجَبَتْ، وَجَبَتْ، وَجَبَتْ

“Pasti, pasti, pasti.”

Ketika hal ini ditanyakan kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa salam, beliau menjawab,

مَنْ أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ خَيْرًا وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ، وَمَنْ أَثْنَيْتُمْ عَلَيهِ شَرًّا وَجَبَتْ لَهُ النَّارُ. أَنْتُمْ شُهَدَاءُ اللهِ فِي الْأَرْضِ، أَنْتُمْ شُهََدَاءُ اللهِ فِي الْأَرْضِ، أَنْتُمْ شُهََدَاءُ اللهِ فِي الْأَرْضِ

“Jenazah yang kalian puji dengan kebaikan pasti masuk surga. Jenazah yang kalian sebut dengan kejelekan[2] pasti masuk neraka. Kalian adalah saksi-saksi Allah di muka bumi. Kalian adalah saksi-saksi Allah di muka bumi. Kalian adalah saksi-saksi Allah di muka bumi.” (HR. Muslim dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu)

An-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa ada dua pendapat ulama tentang makna hadits di atas.

  1. Pujian kebaikan untuk si jenazah diucapkan oleh orang-orang yang memiliki keutamaan.

Pujian mereka tidak mungkin mengada-ada. Artinya, memang sesuai dengan perbuatan si jenazah tatkala hidupnya. Jenazah tersebut termasuk penghuni surga. Jika ternyata amalan jenazah tersebut tidak sesuai dengan pujian yang ditujukan kepadanya, niscaya bukanlah dia yang dimaksudkan dalam hadits ini.

  1. Pendapat yang sahih lagi terpilih, hadits ini berlaku umum dan mutlak.

Maksudnya, setiap muslim yang meninggal dunia lalu Allah subhanahu wa ta’ala ilhamkan kepada kebanyakan manusia untuk memujinya, niscaya itu adalah dalil

bahwa muslim yang meninggal tersebut termasuk penghuni surga.

Sama saja, baik perbuatannya semasa hidup menunjukkan hal tersebut maupun tidak. Kalaupun perbuatan seorang muslim ketika hidupnya tidak menunjukkan dia pantas masuk surga, kita tidak boleh memastikan orang tersebut akan mendapat hukuman, karena dia tergantung pada kehendak Allah subhanahu wa ta’ala, apakah Dia berkehendak mengampuninya atau tidak[3].

Apabila Allah subhanahu wa ta’ala mengilhamkan manusia untuk memujinya, kita mendapatkan bukti dengan hal tersebut bahwa Allah subhanahu wa ta’ala menginginkan untuk mengampuninya. Dengan ini, tampaklah faedah pujian[4]. (al-Minhaj, 7/23)

Apa Bedanya dengan Riya?

Jelas berbeda. Orang yang riya beramal karena ingin dilihat dan dipuji manusia sehingga dalam niatnya ada kesyirikan yakni menyertakan yang lain bersama Allah subhanahu wa ta’ala. Dia bangkit berdiri untuk shalat, di awal atau tengah shalat, dia ingin manusia melihat dan mengetahui shalatnya tersebut.

Dia berucap kebaikan, kalimah thayyibah keluar dari lisannya, membaca al-Qur’an, tetapi dia ingin manusia mendengar ucapannya tersebut dan memujinya karenanya. Ini adalah riya.

Adapun yang satu ini, niatnya ikhlas lillahi ta’ala, tidak terlintas di benaknya dia akan dipuji atau dicela oleh manusia. Namun, ternyata ada manusia yang mengetahui amalannya dan memujinya. Ini bukanlah riya, melainkan kabar gembira untuknya bahwa dia memang orang baik.

Sebab, siapa yang dipuji dengan kebaikan oleh manusia, dia pantas menjadi penghuni surga.

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

 

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah


[1] Jika tujuannya seperti ini, hukumnya syirik akbar.

[2] Bagaimana mengompromikan penyebutan kejelekan orang mati dalam hadits ini dengan hadits dalam Shahih al-Bukhari dan selainnya yang berisi larangan mencela orang mati?

Jawabannya, an-Nawawi rahimahullah berkata, “Larangan mencela orang mati adalah pada selain munafik, orang kafir, dan orang yang menampakkan kefasikan atau kebid’ahan. Sebab, orang-orang yang dikecualikan ini tidaklah haram menyebutkan kejelekan mereka dalam rangka tahdzir/memperingatkan manusia agar tidak mengikuti jalan mereka, tidak meniru jejak mereka, dan tidak berakhlak seperti mereka.

Hadits ini dipahami bahwa jenazah yang disebut dengan kejelekan itu adalah jenazah yang terkenal dengan kemunafikan atau semisalnya sebagaimana disebutkan di atas.

Inilah jawaban yang benar tentang masalah ini, yang dengan tepat menggabungkan hadits ini dengan hadits lain yang berisi larangan mencela orang yang telah meninggal.” (al-Minhaj, 7/23)

[3] Hal ini terkait dengan dosa besar selain syirik.

Apabila orang yang meninggal tersebut belum sempat bertobat dari dosa besar selain syirik, menurut pendapat yang benar, orang tersebut di bawah kehendak Allah. Adapun jika dosa yang dilakukannya adalah kesyirikan dan dia belum bertobat, pastilah dia tidak diampuni berdasarkan nash al-Qur’an al-Karim.

[4] Sebab, kalau pujian kebaikan itu harus ditunjukkan oleh amalan si mayat ketika hidup dahulu, niscaya pujian tidak ada faedahnya.

Artinya, seseorang yang dahulunya ketika hidup baik, dia dipuji ataupun tidak, tetap akan beroleh balasan kebaikan. Sementara itu, dalam hadits di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam menetapkan adanya faedah pujian tersebut bagi si jenazah dengan ucapan beliau, “Jenazah yang kalian puji dengan kebaikan pasti masuk surga. Jenazah yang kalian sebut dengan kejelekan pasti masuk neraka.

Terkait pujian terhadap mayat, al-Imam al-Albani rahimahullah menyatakan bahwa pujian kebaikan untuk mayat dari sekumpulan muslimin yang jujur, minimal dua orang: dari tetangga si mayat atau orang yang dekat dengannya dan mengenalinya, yang memiliki kesalehan dan ilmu; menunjukkan si mayat pantas masuk surga dengan keutamaan dari Allah subhanahu wa ta’ala, dengan dalil hadits Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu di atas dan hadits yang lain.

Adapun ucapan sebagian orang kepada hadirin setelah shalat jenazah, “Apa yang kalian persaksikan terhadap si mayat? Persaksikanlah baginya kebaikan!” Hadirin menjawab, “Dia orang saleh,” “Dia termasuk orang baik.” Ini bukanlah yang dimaukan oleh hadits di atas. Perbuatan ini adalah bid’ah yang jelek. Sebab, dahulu salaf tidak pernah melakukannya.

Selain itu, mereka yang mempersaksikan demikian terhadap si mayat, umumnya tidak mengenali si mayat. Bahkan, terkadang mereka mempersaksikan sesuatu yang berbeda dengan apa yang mereka ketahui dari si mayat, karena semata-mata memenuhi harapan orang yang meminta persaksian agar mempersaksikan si mayat dengan kebaikan. Mereka menyangka, hal tersebut bermanfaat bagi si mayat.

Karena kebodohan mereka pula, persaksian yang bermanfaat hanyalah apabila yang dipersaksikan sesuai dengan kenyataan, sebagaimana yang ditunjukkan oleh hadits Anas radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam menyatakan, “Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala memiliki para malaikat yang berbicara lewat lisan Bani Adam tentang seseorang, apakah orang itu baik atau buruk.” (Ahkam al-Janaiz wa Bida’uha, hlm. 61-62