Hamba-hamba Ar-Rahman

Surah al-Furqan adalah salah satu surah yang biasa kita baca atau bahkan kita hafal dari al-Qur’an yang mulia, kalam Rabbul Alamin.

Surah ini dinamakan al-Furqan yang bermakna pembeda (antara yang haq dengan yang batil) karena ayat pertama memuat kata tersebut,

تَبَارَكَ ٱلَّذِي نَزَّلَ ٱلۡفُرۡقَانَ عَلَىٰ عَبۡدِهِۦ لِيَكُونَ لِلۡعَٰلَمِينَ نَذِيرًا ١

        “Mahasuci Dzat yang telah menurunkan al-Furqan (yakni al-Qur’an) kepada hamba-Nya (Muhammad) agar dia menjadi peringatan bagi segenap alam.” (al-Furqan: 1)

 

Saudariku muslimah…

Entah sudah berapa kali kita menamatkan bacaan surah tersebut bila mengkhatamkan al-Qur’an merupakan kebiasaan kita. Namun, adakah sesuatu yang kita dapat dari surah tersebut yang bisa menjadi bahan renungan?

Tentu saja, jawabannya, banyak sekali! Nah, kita ingin membicarakan salah satunya, yaitu ayat-ayat yang memuat sifat-sifat para hamba Allah Yang Maha Penyayang (ar-Rahman), yang selanjutnya kita sebut dengan ‘ibadurrahman.

Al-Allamah al-Muhaddits Imam aljarh wat ta’dil zaman ini, asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali—semoga Allah ‘azza wa jalla menjaga beliau dan memanjangkan usianya dalam berkhidmat kepada sunnah—pernah menyampaikan keterangan tentang ayat-ayat tersebut dalam beberapa majelis di rumah beliau pada Ramadhan 1430 H.

Terkesan dengan keterangan beliau, kami menyusun tulisan ini dengan berbekal sebuah kitab yang memuat keterangan beliau yang berjudul Nafahat al-Huda wa al-Iman min Majalis al-Qur’an (hlm. 437—449).

Bacalah terlebih dahulu surah al-Furqan ayat 63—76. Itulah ayat-ayat yang memuat sifat-sifat ‘ibadurrahman, akhlak mereka, dan interaksi mereka dengan Rabb mereka serta dengan sesama manusia.

 

Tawadhu dalam Berjalan

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَعِبَادُ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلَّذِينَ يَمۡشُونَ عَلَى ٱلۡأَرۡضِ هَوۡنٗا

        “Dan hamba-hamba ar-Rahman itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati….” (al-Furqan: 63)

Berjalan dengan rendah hati yang mereka lakukan tumbuh dari sifat tawadhu’ kepada Allah ‘azza wa jalla. Sifat ini adalah satu sifat yang terpuji dalam agama ini, bahkan terpuji dalam seluruh ajaran agama terdahulu. Tengoklah salah satu wasiat Luqman kepada putranya terkait adab ini.

وَلَا تُصَعِّرۡ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمۡشِ فِي ٱلۡأَرۡضِ مَرَحًاۖ

        “Janganlah engkau berjalan di atas bumi ini dengan angkuh (merasa besar diri/tinggi hati).” (Luqman:18)

Dalam surah al-Isra’, Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَلَا تَمۡشِ فِي ٱلۡأَرۡضِ مَرَحًاۖ إِنَّكَ لَن تَخۡرِقَ ٱلۡأَرۡضَ وَلَن تَبۡلُغَ ٱلۡجِبَالَ طُولٗا ٣٧

        “Janganlah engkau berjalan di atas bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya engkau sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali tidak pula engkau bisa mencapai tingginya gunung-gunung.” (al-Isra’: 37)

Ayat ini menunjukkan Allah ‘azza wa jalla menghinakan orang yang angkuh yang merasa dirinya besar, “Siapa kamu hingga kamu merasa besar diri dan meremehkan orang lain? Bukankah kamu tidak bisa mencapai tingginya gunung-gunung?”

Adapun ‘ibadurrahman berjalan di atas bumi-Nya Allah ‘azza wa jalla ini dengan penuh tawadhu kepada Allah ‘azza wa jalla , menghinakan diri di hadapan-Nya ‘azza wa jalla, dan rendah hati kepada orang-orang beriman.

Mereka berjalan dengan tenang, penuh kesantunan, tanpa dibuat-buat, sebagaimana orang sombong berjalan dengan gaya yang dibuat-buat.

 

Tidak Membalas Kebodohan dengan Kebodohan

Karena sempurnanya akhlak dan mulianya jiwa mereka, mereka tidak membalas ucapan buruk yang ditujukan kepada mereka dengan keburukan.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَإِذَا خَاطَبَهُمُ ٱلۡجَٰهِلُونَ قَالُواْ سَلَٰمٗا ٦٣

“Jika orang-orang bodoh mengajak bicara mereka (menujukan kepada mereka ucapan-ucapan buruk), mereka mengatakan, ‘salaman’ (perkataan yang baik).” (al-Furqan: 63)

Mereka menjaga lisan mereka dari dosa dan dari ucapan yang dapat mencacati kehormatan dan kemuliaan mereka dengan tidak membalas ucapan buruk dengan keburukan.

Sebab, melayani perkataan buruk dari orang-orang bodoh yang tidak paham kemuliaan jiwa, akan mencacati kemuliaan orang-orang yang cerdas. Walaupun orang-orang bodoh itu mencaci dan menujukan kata-kata keji kepada mereka, mereka justru membalasnya dengan akhlak yang tinggi berupa kesabaran, kelembutan, dan ucapan yang baik. Saat dicaci orang bodoh, sebagian orang yang mulia berkata, “Assalamu ‘alaikum.”

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

سَلَٰمٌ عَلَيۡكُمۡ لَا نَبۡتَغِي ٱلۡجَٰهِلِينَ ٥٥

        “Salamun ‘alaikum, kami tidak ingin bergaul (melayani) orang-orang jahil.” (al-Qashash: 55)

Janganlah engkau menjadi orang bodoh yang membalas cacian dengan cacian. Akan tetapi, tetaplah tenang dan sabar. Balaslah keburukan dengan kebaikan. Bukankah Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَلَا تَسۡتَوِي ٱلۡحَسَنَةُ وَلَا ٱلسَّيِّئَةُۚ ٱدۡفَعۡ بِٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُ فَإِذَا ٱلَّذِي بَيۡنَكَ وَبَيۡنَهُۥ عَدَٰوَةٞ كَأَنَّهُۥ وَلِيٌّ حَمِيمٞ ٣٤ وَمَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ٱلَّذِينَ صَبَرُواْ وَمَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٖ ٣٥

        “Dan tidaklah sama kebaikan dan keburukan. Balaslah (keburukan itu) dengan yang lebih baik. (Jika engkau berbuat demikian) engkau dapati orang yang tadinya antara engkau dan dia ada permusuhan, (di belakang hari) seolah-olah merupakan teman yang sangat setia. Sifat itu (membalas keburukan dengan kebaikan) tidaklah dianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang sabar dan tidaklah dianugerahkan kecuali kepada orang yang memiliki keberuntungan yang besar.” (Fushshilat: 34—35)

Inilah akhlak yang diajarkan oleh Allah ‘azza wa jalla kepada kita. Dia menerangkan sifat-sifat kekasih dan hamba-hamba pilihan-Nya agar kita menirunya.

Ayat ke-63 dari surah al-Furqan di atas memuat dua interaksi yang dilakukan hamba: dengan Allah ‘azza wa jalla dan dengan sesama hamba Allah ‘azza wa jalla.

 

Menggunakan Sebagian Malamnya untuk Shalat

Ayat berikutnya (ayat 64) dalam surah al-Furqan khusus menyebutkan hubungan hamba dengan Rabbnya,

وَٱلَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمۡ سُجَّدٗا وَقِيَٰمٗا ٦٤

        “Orang-orang yang bermalam untuk Rabb mereka dengan banyak sujud dan berdiri.” (al-Furqan: 64)

Mereka beribadah kepada Allah ‘azza wa jalla dengan qiyamul lail.

Bermalam untuk Rabb mereka’, bukanlah maknanya mereka shalat sepanjang malam, tetapi sebagian waktu malam, sebagaimana ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Mengapa?

Karena syariat agama kita ini mudah dan ringan, tidak memberati pemeluknya. Islam adalah agama yang pertengahan antara sifat meremehkan dan sifat berlebih-lebihan.

Karena itulah, tatkala sebagian sahabat ingin membebani diri dengan ibadah tertentu, ada yang berkata, “Aku akan shalat malam sepanjang malam dan tidak akan tidur.”

Yang lain berkata, “Aku akan selalu berpuasa dan tidak pernah berbuka.”

Yang satunya lagi berkata, “Aku akan fokus ibadah dan tidak akan menikah.”

Ternyata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam marah kepada mereka dengan menyatakan,

        مَا بَالُ أَقْوَامٌ قَالُوْا كَذَا وَكَذَا؟ لَكِنّيِ أُصَلِّي وَأَنَامُ، وَأَصُوْمُ وَأُفْطِرُ، وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ. فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي

“Mengapa orang-orang itu mengatakan ini dan itu? Aku shalat dan aku juga tidur. Aku puasa dan aku juga berbuka. Aku pun menikahi banyak wanita. Barang siapa membenci sunnahku, dia bukanlah temasuk golonganku.” (HR. al-Bukhari no. 5063 dan Muslim no. 1401 dari sahabat Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, dan ini adalah lafadz Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan puasa dan shalat yang paling dicintai Allah ‘azza wa jalla, dalam sabda beliau kepada Abdullah ibn Amr ibnul Ash radhiallahu ‘anhuma,

        أَحَبُّ الصِّيَامِ إِلَى اللهِ صِيَامُ دَاوُدَ، كَانَ يَصُوْمُ يَوْمًا وَيُفْطِرَ يَوْمًا. وَأَحَبُّ الصَّلاَةِ إِلَى اللهِ صَلاَةُ دَاوُدَ، كَانَ يَنَامُ نِصْفَ اللَّيْلِ وَيَقُوْمُ ثُلُثَهُ وَيَنَامُ سُدُسَهُ

“Puasa yang paling Allah ‘azza wa jalla cintai adalah puasa Nabi Dawud ‘alaihissalam. Beliau ‘alaihissalam berpuasa sehari dan berbuka (tidak puasa) sehari. Shalat (malam) yang paling Allah ‘azza wa jalla cintai adalah shalat Dawud ‘alaihissalam. Beliau tidur separuh malam dan bangun shalat (setelahnya) selama dua pertiga malam dan tidur lagi (setelah shalat) seperenam malam (yang tersisa).” (HR. al-Bukhari no. 3420 dan Muslim no. 1159)

 ‘Ibadurrahman adalah orang-orang yang mengerjakan shalat dengan penuh khusyuk. Allah ‘azza wa jalla menyebutkan dalam firman-Nya,

قَدۡ أَفۡلَحَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ١ ٱلَّذِينَ هُمۡ فِي صَلَاتِهِمۡ خَٰشِعُونَ ٢

        “Sungguh, beruntung orang-orang yang beriman. (Yaitu) mereka yang khusyuk dalam mengerjakan shalat.” (al-Mukminun: 1—2)

Senantiasa Berdoa agar Dijauhkan dari Neraka

        ‘Ibadurrahman mengimani adanya surga dan neraka. Mereka yakin akan dahsyatnya azab neraka dan kesengsaraan para penghuninya, hingga mereka memohon perlindungan kepada Allah ‘azza wa jalla dari neraka. Doa yang mereka lantunkan,

وَٱلَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا ٱصۡرِفۡ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَۖ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا ٦٥

        Dan orang-orang yang berdoa, “Wahai Rabb kami, palingkanlah dari kami (jauhkanlah) azab Janannam. Sesungguhnya azabnya adalah kebinasaan yang kekal.” (al-Furqan: 65)

Orang-orang kafir akan diazab dalam neraka selama-lamanya. Azab itu senantiasa menyertai mereka. Mereka ingin rehat walau sebentar dari azab, namun tidak mereka dapatkan.

Mereka tidak mati dalam neraka, namun hidup yang semestinya pun tidak. Mereka terus diazab sebagai balasan kekufuran mereka kepada Allah ‘azza wa jalla, kesyirikan mereka, dan gelimang maksiat saat hidup di dunia.

Adapun hamba-hamba Allah ‘azza wa jalla yang saat di dunia beriman kepada-Nya, beramal saleh, menjauhi perbuatan buruk dan tercela—terutama kekafiran—sembari memohon kepada Allah ‘azza wa jalla agar dijauhkan dari api neraka. Sebab, seseorang tidak bisa menjamin dirinya selamat dari azab, apa pun amalannya.

Rasul yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan satu doa untuk dibaca pada akhir setiap shalat sebelum salam, baik shalat fardhu atau nafilah, sebagaimana yang tersampaikan lewat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا فَرَغَ أَحَدُكُمْ مِنَ التَّشَهُّدِ الْآخِرِ فَلْيَتَعَوَّذْ بِاللهِ مِنْ أَرْبَعٍ: مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الَحْمْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ

“Apabila salah seorang dari kalian selesai dari tasyahhud akhir, hendaknya dia berlindung kepada Allah dari empat perkara (yaitu); dari azab Jahannam, dari azab kubur, dari fitnah hidup dan mati, dan dari kejelekan al-Masih ad-Dajjal.” (HR. Muslim no. 588)

 ‘Ibadurrahman tidaklah teperdaya dan silau dengan iman, amal saleh, dan ibadah mereka yang banyak. Mereka juga tidak tertipu oleh qiyamul lail yang mereka lakukan hingga dengan percaya diri mengatakan, “Kami pantas masuk surga dengan kelebihan yang ada pada kami.” Hal itu sebagaimana yang terjadi pada orang-orang dungu, ahlul bid’ah dan kesesatan, yang merasa yakin masuk surga.

Becerminlah kepada manusia-manusia terbaik setelah para nabi dan rasul, yaitu para sahabat radhiallahu ‘anhum. Mereka tidak merasa aman dengan diri-diri

mereka.

Seorang tabi’in, Ibnu Abi Mulaikah rahimahullah, berkata, “Aku telah berjumpa dengan tiga puluh orang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka semua mengkhawatirkan kemunafikan menimpa diri-diri mereka.”

Demikianlah seharusnya seorang mukmin. Dia tidak merasa aman terhadap dirinya, tidak bangga diri dan membanggakan amalnya.

Kata al-Hasan al-Bashri rahimahullah, “Tidaklah khawatir dari kemunafikan, kecuali seorang mukmin. Tidak ada yang merasa aman dari tertimpa kemunafikan, kecuali seorang munafik.”

Sungguh, kita tidak merasa aman dengan diri kita.

أَفَأَمِنُواْ مَكۡرَ ٱللَّهِۚ فَلَا يَأۡمَنُ مَكۡرَ ٱللَّهِ إِلَّا ٱلۡقَوۡمُ ٱلۡخَٰسِرُونَ ٩٩

        “Tidak ada yang merasa aman dari makar Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (al-A’raf: 99)

Perbanyaklah berdoa,

رَبَّنَا لَا تُزِغۡ قُلُوبَنَا بَعۡدَ إِذۡ هَدَيۡتَنَا

        “Wahai Rabb kami, janganlah Engkau simpangkan kalbu kami setelah Engkau beri hidayah kepada kami.” (Ali Imran: 8)

 يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِيْنِكَ.

“Wahai Dzat Yang Maha Membolak-balikkan kalbu, tetap kokohkanlah kalbu kami di atas agama-Mu.”

Tidak ada jaminan bagi kita hingga bisa merasa aman dari azab. Siapa kita bila dibandingkan dengan sahabat mulia, Umar ibnul Khaththab radhiallahu ‘anhu. Meski telah dijamin masuk surga oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetap saja Umar merasa takut akan nasibnya. Karena itu, menjelang wafatnya beliau berkata,

        وَاللهِ لَوْ أَنَّ لِي طِلاَعَ الْأَرْضِ ذَهَبًا لَافْتَدَيْتُ بِهِ مْنَ عَذَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ قَبْلَ أَنْ أَرَاهُ

“Demi Allah,seandainya aku memiliki emas sepenuh bumi, niscaya aku akan jadikan tebusanku dari azab Allah sebelum aku melihatnya.”

Bagaimana Umar radhiallahu ‘anhu tidak takut, sementara azab neraka demikian pedih.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

إِنَّهَا سَآءَتۡ مُسۡتَقَرّٗا وَمُقَامٗا ٦٦

        “Sesungguhnya neraka itu sejelek-jelek tempat menetap dan tempat berdiam.” (al-Furqan: 66)

Apabila neraka merupakan tempat yang demikian buruk, jangan tanya tentang nasib penghuninya. Neraka adalah rumah abadi bagi orang-orang kafir, tempat azab yang pedih yang tidak sanggup kita bayangkan.

وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ عَلَيۡهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٞ شِدَادٞ لَّا يَعۡصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمۡ وَيَفۡعَلُونَ مَا يُؤۡمَرُونَ ٦

        “Bahan bakar neraka adalah manusia dan batu. Di atasnya ada para malaikat (penyiksa) yang keras, kasar, dan kaku. Para malaikat itu tidak pernah mendurhakai Allah dalam apa yang Allah perintahkan kepada mereka, dan mereka senantiasa mengerjakan apa yang diperintahkan.” (at-Tahrim: 6)

Jangan dikira api neraka sama dengan api di dunia. Api dunia hanyalah sepertujuh puluh bagian dari api neraka. Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

نَارُكُمْ هَذِهِ الَّتِي يُوْقِدُ ابْنُ آدَمَ جُزْءٌ مِنْ سَبْعِيْنَ جُزْءًا مِنْ حَرِّ جَهَنَّمَ

“Api kalian yang dinyalakan oleh anak Adam (manusia) ini adalah satu bagian dari 70 bagian panasnya Jahannam.” (HR. al-Bukhari no. 3265 dan Muslim no. 2843, ini adalah lafadz riwayat Muslim)

Pernah pula Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitakan,

اِشْتَكَتِ النَّارُ إِلَى رَبِّهَا فَقَالَتْ: رَبِّ أَكَلَ بَعْضِي بَعْضًا. فَأَذِنَ لَهَا بِنَفَسَيْنِ: نَفَسٌ فِي الشِّتَاءِ وَنَفَسٌ فِي الصَّيْفِ. فَأَشَدُّ مَا تَجِدُونَ مِنَ الْحَرِّ وَأَشَدُّ مَا تَجِدُونَ مِنَ الزَّمْهَرِيْرِ

Neraka mengeluh kepada Rabbnya dengan berkata, “Duhai Rabbku, sebagian aku melahap sebagian yang lain.”

Allah pun mengizinkan neraka untuk bernapas dua kali; satu napas pada musim dingin dan satu napas pada musim panas. Panas yang sangat yang kalian dapatkan dan dingin yang sangat yang kalian dapatkan (itu dari napas neraka). (HR. al-Bukhari no. 3260 dan Muslim no. 615 & 617, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

إِنَّهَا تَرۡمِي بِشَرَرٖ كَٱلۡقَصۡرِ ٣٢  كَأَنَّهُۥ جِمَٰلَتٞ صُفۡرٞ ٣٣

        “Sesungguhnya neraka itu melemparkan bunga api sebesar dan setinggi istana. Seakan-akan bunga api yang terlontar itu berupa iringan unta yang berwarna kuning.” (al-Mursalat: 32—33)

Ya Allah, lindungi kami dari api neraka-Mu!

(insya Allah bersambung)

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

Apakah Rezeki & Jodoh Sudah Tercatat?

Apakah Rezeki & Jodoh Sudah Tercatat?

Apakah rezeki dan jodoh sudah termaktub di Lauhul Mahfuzh? Apakah telah tercatat bahwa saya akan menikah dengan si Fulanah tertentu misalnya? Adakah rezeki itu ditentukan atau tergantung dengan usaha dan kepayahan seseorang? Apakah dalilnya?

asy-syaikh muhammad bin shalih al-utsaimin rahimahullah menjawab:

“Sejak Allah ‘azza wa jalla menciptakan pena, segala sesuatu sampai hari kiamat sudah tercatat di Lauhul Mahfuzh. Sebab, saat pertama kali menciptakan pena, Allah ‘azza wa jalla berfirman kepada pena,

        اُكْتُبْ. قَالَ: رَبِّي وَمَاذَا أَكْتُبُ؟ قَالَ: اُكْتُبْ مَا هُوَ كَاِئنٌ. فَجَرَى فِي تِلْكَ السَّاعَةِ مِمَّا هُوَ كَائِنٌ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

“Tulislah!”

Pena bertanya, “Wahai Rabbku, apakah yang harus aku tulis?”

Allah ‘azza wa jalla berfirman, “Tulislah apa saja yang akan terjadi.”

Berjalanlah pena pada saat itu menuliskan apa yang akan terjadi sampai hari kiamat.[1]

Ada kabar yang pasti dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa apabila telah berlalu empat bulan dari usia janin dalam rahim ibunya, Allah ‘azza wa jalla mengutus seorang malaikat yang akan meniupkan ruh pada si janin dan menuliskan rezeki, ajal, amal, dan sengsara atau bahagianya[2].

Rezeki sudah tercatat,tidak bertambah dan tidak berkurang. Akan tetapi, Allah ‘azza wa jalla menjadikan sebab-sebab yang dapat menambah dan mengurangi rezeki. Di antara sebabnya adalah seseorang bekerja untuk mencari rezeki, sebagaimana Allah ‘azza wa jalla berfirman,

هُوَ ٱلَّذِي جَعَلَ لَكُمُ ٱلۡأَرۡضَ ذَلُولٗا فَٱمۡشُواْ فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُواْ مِن رِّزۡقِهِۦۖ وَإِلَيۡهِ ٱلنُّشُورُ ١٥

        “Dialah yang menjadikan bumi itu mudah untuk kalian, maka berjalanlah di penjurunya (untuk berusaha) dan makanlah dari rezeki yang Allah karuniakan dan hanya kepada-Nya (kalian) kembali setelah dibangkitkan.” (al-Mulk: 15)

Temasuk sebab pula adalah menyambung hubungan rahim (silaturahim) dalam bentuk birrul walidain (berbuat baik kepada kedua orang tua) dan menyambung hubungan dengan kerabat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

        “Siapa yang suka dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaknya dia menyambung rahimnya (silaturahim).”[3]

Temasuk sebab beroleh rezeki adalah bertakwa kepada Allah ‘azza wa jalla. Dia ‘azza wa jalla janjikan dalam firman-Nya,

وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّهُۥ مَخۡرَجٗا  ٢ وَيَرۡزُقۡهُ مِنۡ حَيۡثُ لَا يَحۡتَسِبُۚ

        “Siapa yang bertakwa kepada Allah, Allah akan jadikan baginya jalan keluar dan Allah akan beri rezeki dari arah yang tidak dia sangka.” (ath-Thalaq: 2—3)

Namun janganlah dikatakan bahwa rezeki sudah tercatat dan sudah ditentukan sehingga kita tidak perlu melakukan sebab-sebab (upaya) yang bisa menyampaikan kepada rezeki tersebut. Sebab, sikap seperti itu termasuk kelemahan. Sikap yang cerdas dan menunjukkan kekokohan adalah kita berusaha menempuh sebab yang mengantarkan menuju rezeki kita dan melakukan hal yang bermanfaat dalam urusan agama dan dunia.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسُهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللهِ الْأَمَانِي

“Orang yang cerdas adalah yang menundukkan jiwanya dan beramal untuk persiapan kehidupan setelah mati. Adapun orang yang lemah adalah yang mengikuti keinginan hawa nafsunya lantas mengharapkan dari Allah angan-angannya.”[4]

Sebagaimana rezeki telah tercatat dan ditakdirkan dengan sebab-sebabnya, demikian pula jodoh. Ia telah tercatat dan ditakdirkan dengan sebab-sebabnya. Setiap orang telah tercatat pasangan hidupnya, telah ditentukan dengan siapa dia akan menikah. Tidaklah tersembunyi bagi Allah ‘azza wa jalla sesuatu pun yang ada di bumi dan yang ada di langit.

(Fatawa asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, 2/752)

 

Orang Tua Melarangku Menikahi Wanita Pilihanku

Saya seorang pemuda yang ingin menikah dan telah meminang seorang gadis yang bukan kerabat kami. Saya beritahukan hal itu kepada ayah dan ibu saya, namun ternyata keduanya menolak rencana pernikahan tersebut. Saya bersikeras tetap akan menikah dengan gadis tersebut.

Hanya saja (yang membuatku risau) ibuku mengancamku, “Jika kamu sampai menikahi gadis tersebut, ibu tidak akan memaafkan kamu di dunia dan di akhirat. Jangan kamu berhubungan lagi dengan kami selama-lamanya.”

Sikap saudara dan ayahku sama dengan sikap ibu, mereka semua menolak pernikahan tersebut. Saya sendiri tidak tahu mengapa mereka menolak rencana pernikahanku tersebut. Menurut saya, tidak ada sesuatu dari gadis itu yang dapat menjadi alasan untuk meninggalkannya, sehingga saya bersikukuh untuk menikahinya.

Pertanyaan saya, apakah saya berdosa jika menikahi gadis itu? Apakah perbuatan saya ini dianggap durhaka kepada ibu saya? Berilah saya fatwa, apa yang harus saya lakukan, menikahinya atau meninggalkannya?

asy-syaikh shalih bin Fauzan al-fauzan hafizhahullah menjawab:

“Selama kedua orang tuamu dan saudara-saudaramu sepakat untuk menentang pernikahanmu dengan gadis tersebut, padahal mereka adalah orang yang paling menginginkan kebaikan untukmu dan paling menyayangimu, (turutilah mereka).

Seandainya mereka tidak mengetahui ada sesuatu yang tidak pantas pada si gadis, niscaya mereka tidak akan melarangmu untuk menikahinya. Terkhusus kedua orang tuamu, kasih sayang kedua orang tua dan semangat keduanya agar anaknya mendapat kebaikan (amatlah besar).

Tidak sepantasnya engkau menikahi gadis itu karena mereka (orang tua dan saudara-saudaramu) telah memperingatkan dan menasihatimu untuk tidak menikahinya. Bukankah perempuan lain masih banyak (yang bisa engkau peristri)?

Siapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah ‘azza wa jalla, niscaya Dia gantikan dengan sesuatu yang lebih baik. Ketaatanmu kepada kedua orang tuamu dan saudara-saudaramu itu lebih baik bagimu.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَعَسَىٰٓ أَن تَكۡرَهُواْ شَيۡ‍ٔٗا وَهُوَ خَيۡرٞ لَّكُمۡۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّواْ شَيۡ‍ٔٗا وَهُوَ شَرّٞ لَّكُمۡۚ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ ٢١٦

“Bisa jadi, kalian membenci sesuatu padahal dia lebih baik bagi kalian. Bisa jadi pula, kalian mencintai sesuatu padahal dia lebih buruk bagi kalian. Allah Maha Mengetahui sementara kalian tidak mengetahui.”  (al-Baqarah: 216)

(al-Muntaqa min Fatawa Fadhilatusy Syaikh Shalih al-Fauzan, 3/213— 214)

[1] HR. at-Tirmidzi no. 3319, dinyatakan sahih dalam ash-Shahihah no. 133.

[2] HR.al-Bukhari dan Muslim.

[3] HR. al-Bukhari.

[4] HR. at-Tirmidzi no. 2459, namun hadits ini dinyatakan dhaif oleh asy-Syaikh Albani rahimahullah dalam ta’liq beliau terhadap kitab Riyadhus Shalihin no. 67.

Rumahmu Tetap Istanamu

Rumah yang dihuni satu keluarga yang bisa jadi terdiri dari ayah, ibu, kakek, nenek, dan anak-anak, atau dihuni lebih dari itu atau kurang, dalam lebih dari satu ayat al-Qur’an disandarkan (diidhafahkan –bhs. Arab) kepada wanita.

Salah satunya ayat ke-33 dari surah al-Ahzab,

وَقَرۡنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجۡنَ تَبَرُّجَ ٱلۡجَٰهِلِيَّةِ ٱلۡأُولَىٰۖ

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu…” (al-Ahzab: 33) Lanjutkan membaca Rumahmu Tetap Istanamu

Mengajari Anak Mencintai Pemerintah Muslim

Terkadang secara tak sadar, orang tua menanamkan kepada anak rasa ketidakpuasan terhadap penguasa negerinya. Lewat obrolan dengan orang lain, meluncur ungkapan-ungkapan celaan bahkan hujatan terhadap sang penguasa. Tampaknya hanya sekadar curhat. Namun, tanpa disangka, sepasang telinga kecil menangkap pembicaraan itu, lalu menghunjam di sanubarinya.

Berbekal opini dari orang tuanya terhadap penguasanya yang dipandang penuh kekurangan, tumbuhlah dia sebagai pemuda yang tidak puas dan benci dengan pemerintahnya. Tinggallah orang tua yang terhenyak, saat suatu hari nama anaknya tercatat sebagai anggota teroris. Wal ‘iyadzu billah….

Kita tentu tak pernah berharap hal itu terjadi pada diri kita dan anak-anak kita. Bahkan kita mohon perlindungan kepada Allah ‘azza wa jalla agar dijauhkan dari itu semua.

Selain doa yang kita panjatkan, tentu ada upaya yang harus ditempuh oleh orang tua dalam membimbing anaknya. Kita harus mengetahui bimbingan syariat dalam hal ini. Sembari memohon pertolongan dan taufik dari Allah ‘azza wa jalla, kita akan menelaah masalah ini melalui kitab Tarbiyatul Aulad fi Dhau’il Kitabi was Sunnah.

Dalam poin pembahasan Tarbiyatuhum ‘ala Mahabbatil ‘Ulama wa Wulatil Amr dijelaskan bahwa di antara hal penting yang harus diperhatikan oleh ayah dan ibu adalah mendidik anak-anak untuk mencintai ulama dan pemimpin negerinya.

Para ulama adalah pewaris para nabi. Para nabi tidaklah mewariskan dirham atau dinar, tetapi sematamata mewariskan ilmu. Barang siapa mengambil ilmu tersebut, berarti dia telah mengambil bagian yang melimpah dari warisan tersebut.

Di samping itu, apabila orang tua menanamkan pada diri anak sikap keraguan terhadap para ulama dan ilmu mereka, tidak menghormati mereka, serta menyebutkan kesalahan-kesalahan mereka di hadapan anak, semua ini akan menimbulkan bahaya besar bagi umat. Sebab, ilmu diambil dari para ulama, begitu juga syariat Islam diambil dari jalan mereka pula. Sikap yang demikian kadangkala akan membawa kehancuran bagi syariat Islam.

Ketika anak tumbuh dewasa kelak, dia akan mencari orang yang akan diambil ilmunya. Dia tidak akan mengambil dari para ulama, karena sudah dibuat ragu terhadap para ulama dan ilmu mereka. Mereka akan mengambil ilmu dari para ulama sesat dan orang-orang yang berpemikiran menyimpang. Akhirnya, anak akan menjadi alat untuk merusak masyarakat.

Adapun ulil amri adalah orang-orang yang menangani segala urusan rakyat, menegakkan syariat, memelihara stabilitas keamanan, serta menjaga persatuan kaum muslimin. Oleh karena itu, Allah ‘azza wa jalla berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُواْ ٱلرَّسُولَ وَأُوْلِي ٱلۡأَمۡرِ مِنكُمۡۖ

        “Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kalian kepada Allah, taatlah kalian kepada Rasul, dan taatilah ulil amri di antara kalian.” (an-Nisa: 59)

Ulil amri yang dimaksud dalam ayat adalah para ulama dan penguasa. Akan tetapi, sangat disayangkan, sebagian kaum muslimin di berbagai forum melakukan ghibah dan namimah terhadap penguasa. Mereka menyingkap dan mengungkap kesalahan-kesalahan mereka. Padahal kalau dia mau melihat kekurangan dan kesalahan dirinya sendiri, niscaya lebih banyak daripada kesalahan penguasa yang dia ungkapkan. Cukuplah bagi seseorang mendapatkan dosa jika dia memberitakan semua yang didengarnya.

Amat disayangkan pula, anak-anak duduk di majelis yang semacam ini. Mereka menyerap ucapan seperti ini dan tumbuh dewasa di atas kebencian terhadap para ulama dan penguasanya. Semua ini akan menjadi sebab timbulnya kerusakan, munculnya tuduhan bid’ah atau fasik terhadap ulama dan penguasa tanpa dilandasi ilmu.

Seringkali ucapan yang dinukil tentang ulama dan penguasa tersebut adalah kedustaan dan kebohongan, tanpa ada hujah dan bukti. Itu semata-mata propaganda musuh Islam dan musuh akidah yang murni ini.

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah pernah berkata, “Bukan merupakan manhaj salaf, perbuatan menyebarkan aib-aib penguasa dan menyebut-nyebutnya di atas mimbar. Ini akan menyeret pada penentangan serta keengganan untuk mendengar dan menaati penguasa dalam hal yang ma’ruf. Perbuatan tersebut juga akan menyebabkan sikap memberontak yang amat berbahaya dan sama sekali tak ada manfaatnya.

“Jalan yang ditempuh oleh para salaf adalah menasihati penguasa secara empat mata, menulis surat kepada mereka, atau menyampaikannya melalui para ulama yang dapat menyampaikan hal itu kepada penguasa, sehingga ulama tersebut bisa mengarahkan sang penguasa pada kebaikan.” (al-Ma’lum min Wajibil ‘Alaqah bainal Hakim wal Mahkum, hlm. 22)

Manhaj salaf dalam menyikapi kesalahan penguasa adalah tidak mengingkari kemungkaran penguasa secara terbuka, tidak pula menyebarkan kesalahan-kesalahan penguasa di hadapan banyak orang. Sebab tindakan tersebut bisa menyeret pada berbagai hal buruk yang lebih besar, dan berujung pemberontakan kepada penguasa.

Pernah ada yang bertanya kepada Usamah bin Zaid radhiallahu ‘anhu, “Mengapa Anda tidak menemui Utsman untuk menasihatinya?”

Usamah pun menjawab, “Apakah kalian anggap aku ini harus memperdengarkan kepada kalian jika aku menasihatinya? Sungguh, aku telah menasihatinya empat mata. Aku tidak ingin menjadi orang pertama yang membuka (secara terang-terangan, -ed.) suatu perkara!” (Dikeluarkan al-Imam Ahmad dalam al-Musnad, 36/117, 21784, al-Bukhari no. 3267, Muslim no. 2989; dan lafadz ini dalam riwayat Muslim)

Diterangkan oleh al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah, “Yang dimaksud oleh Usamah, beliau tidak ingin membuka pintu mujaharah (terang-terangan) mengingkari penguasa, karena mengkhawatirkan berbagai dampak buruknya. Beliau justru bersikap lemah-lembut dan menasihatinya secara diam-diam.

Sebab, nasihat dengan cara seperti ini lebih layak diterima.” (Dinukil dalam Fathul Bari, 13/67, 7098)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullah juga menjelaskan, “Ada orang-orang yang setiap majelisnya berisi pembicaraan jelek terhadap penguasa, menjatuhkan kehormatan mereka, menyebarkan keburukan dan kesalahan mereka, tanpa memedulikan sama sekali berbagai kebaikan dan kebenaran yang ada pada penguasa tersebut. Tidak diragukan lagi, melakukan cara-cara seperti ini dan menjatuhkan kehormatan penguasa tidak akan menambah apa-apa selain memperberat masalah.

“Cara seperti ini tidak bisa memberikan solusi dan tidak melenyapkan kezaliman. Ia justru hanya menambah musibah bagi suatu negeri, menimbulkan kebencian dan antipati terhadap pemerintah, serta memunculkan keengganan untuk melaksanakan perintah penguasa yang seharusnya wajib ditaati.”

“Tidaklah kita ragukan bahwa terkadang pemerintah melakukan hal-hal yang negatif atau berbuat kesalahan, seperti halnya anak Adam yang lainnya. Setiap anak Adam pasti banyak berbuat kesalahan, dan sebaik-baik orang yang banyak salah adalah yang banyak bertobat (sebagaimana yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).

Kita pun tidak menyangsikan bahwa kita tidak boleh mendiamkan seorang pun yang berbuat kesalahan. Semestinya kita menunaikan kewajiban nasihat bagi Allah ‘azza wa jalla, Kitab-Nya, Rasul-Nya, pemerintah muslimin, serta bagi seluruh kaum muslimin sesuai kemampuan kita.”

“Apabila kita melihat kesalahan penguasa, kita sampaikan secara langsung, baik melalui lisan maupun tulisan yang ditujukan kepada mereka (bukan dengan mengumbar aib mereka di hadapan khalayak, di mimbar-mimbar atau media massa), menasihati mereka dengan menempuh jalan yang paling dekat untuk menjelaskan kebenaran kepada mereka dan menerangkan kesalahan mereka. Kemudian kita beri nasihat, kita ingatkan kewajiban mereka agar menunaikan dengan sempurna hak orang-orang yang ada di bawah kekuasaan mereka dan menghentikan kezaliman mereka terhadap rakyatnya.” (Wujubu Tha’atis Sulthan fi Ghairi Ma’shiyatir Rahman, hlm.23—24)

Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah menerangkan, “Membicarakan aib penguasa adalah perbuatan ghibah dan namimah, di mana keduanya adalah keharaman terbesar setelah syirik. Apalagi jika ghibah atau namimah itu ditujukan pada ulama dan penguasa, ini lebih parah lagi. Sebab, bisa menyeret pada berbagai kerusakan: memecah-belah persatuan, buruk sangka terhadap pemerintah, dan menumbuhkan pesimisme serta keputusasaan pada diri rakyat.” (al-Ajwibah al-Mufidah ‘an As’ilatil Manahijil Jadidah, hlm. 60)

Tentang masalah ini, para ulama Ahlus Sunnah—baik yang terdahulu maupun sekarang—berdalil dengan hadits-hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, di antaranya:

  1. Dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhu, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

        مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ، فَإِنَّهُ مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ شِبْرًا فَمَاتَ، مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً

“Barang siapa melihat pada penguasanya sesuatu yang dia benci, hendaknya dia bersabar. Sebab, orang yang memisahkan diri dari jamaah (penguasa) satu jengkal saja lalu dia mati, matinya seperti mati orang jahiliah.”[1]

 

  1. Dari ‘Iyadh bin Ghunm radhiallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِذِي السُّلْطَانِ فَلَا يُبْدِ لَهُ عَلَانِيَةً، فَلْيَأْخُذْ بِيَدِهِ فَإِنْ سَمِعَ مِنْهُ فَذَلِكَ، وَإِ كَانَ أَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ

Barang siapa ingin menasihati penguasa, janganlah dia sampaikan secara terbuka. Hendaknya dia gamit tangan penguasa itu (untuk menasihatinya secara diam-diam). Jika penguasa itu mau mendengar (nasihatnya –pen.), itulah yang diharapkan. Jika tidak, dia telah menunaikan kewajibannya.”[2]

 

  1. Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, beliau berkata,

نَهَانَا كُبَرَاؤُنَا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللهِ، قَالُوا :قَالَ رَسُولُ اللهِ: لاَ تَسُبُّوا أُمَرَاءَكُمْ، وَ تَغُشُّوهُمْ، وَ تُبْغِضُوهُمْ، وَاتَّقُوا اللهَ، وَاصْبِرُوا فَإِنَّ الْأَمْرَ قَرِيبٌ

“Dahulu kami dilarang oleh para tokoh kami dari kalangan sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Jangan kalian mencela penguasa kalian, jangan mengkhianati mereka, dan jangan pula membenci mereka. Bertakwalah kalian kepada Allah dan bersabarlah, karena urusannya dekat’.”[3]

 

  1. Dari Ziyad al-‘Ad i , beliau menceritakan, “Aku pernah bersama Abu Bakrah di bawah mimbar Ibnu ‘Amir yang saat itu sedang berkhutbah sembari mengenakan pakaian sutra.

Abu Bilal berkata, ‘Coba kalian lihat pimpinan kita, dia mengenakan pakaian orang-orang fasik!’

Abu Bakrah pun menyahut, ‘Diam! Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَهَانَ سُلْطَانَ اللهِ فِي الدُّنْيَا أَهَانَهُ اللهُ

Barang siapa menghinakan penguasa Allah di dunia, niscaya Allah akan hinakan dia.”[4]

 

Demikian ini adalah pengajaran dari Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya yang harus dipahami dan diamalkan oleh setiap hamba, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk ditanamkan kepada anak-anaknya.

Wallahu a’lamu bish-shawab.

(Diterjemahkan dari kitab Tarbiyatul Aulad fi Dhau’il Kitabi was Sunnah, karya ‘Abdus Salam bin ‘Abdillah as-Sulaiman, hlm.39—42, oleh Ummu ‘Abdirrahman bintu ‘Imran)

[1] HR. al-Imam Ahmad (4/290)(2487), al-Imam al-Bukhari (7053,7143), dan al-Imam Muslim (1849)(55).

[2] HR. al-Imam Ahmad (24/48-49)(15333) dan Ibnu Abi ‘Ashim dalam as-Sunnah (2/507)(1096).

[3] HR. Ibnu Abi ‘Ashim dalam as-Sunnah (2/474)(1015) dan al-Baihaqi dalam al-Jami’ li Syu’abil Iman (10/27) (7117).

[4] HR. al-Imam Ahmad dalam al-Musnad (34/79)(20433), at-Tirmidzi (2224) dan lafadz ini dalam riwayat beliau. Beliau mengatakan bahwa hadits ini hasan gharib.

Keistimewaan Pernikahan

Pernikahan yang disyariatkan Allah ‘azza wa jalla untuk para hamba-Nya merupakan salah satu nikmat dari sekian banyak nikmat-Nya yang agung. Dengan pernikahan, akan tercapai maslahat dan manfaat yang tak terhingga.

Allah ‘azza wa jalla mengaitkan pernikahan dengan banyak hukum syar’i berikut hak dan kewajibannya. Allah ‘azza wa jalla juga menjadikannya sebagai bagian dari sunnah para rasul dan jalan para hamba yang saleh, di samping sebagai kebutuhan mendasar segenap insan.

Ada banyak keutamaan dan kelebihan pernikahan bila dibanding dengan akad-akad perjanjian yang selainnya. Untuk masuk ke dalam akad pernikahan ada syarat-syarat dan adabnya. Untuk keluar pun, ada batasan dan pintunya.

Di antara keistimewaan pernikahan adalah sebagai berikut.

  1. Pernikahan merupakan syariat yang diperintahkan.

Hukumnya bisa jadi wajib atau mustahab, tergantung pada kondisi yang ada.

 

  1. Dihalalkan bagi seorang lelaki memandang wanita ajnabiyah (nonmahram) saat ingin meminang wanita.

Sementara itu, di luar prosesi nazhar memandang a jnabiyah hukumnya haram. Nazhar dimaksudkan untuk mendapatkan kecocokan dan kemantapan menikahi si wanita.

 

  1. Penetap syariat memerintahkan untuk memilih pasangan yang memiliki sifat-sifat kebaikan dalam agama; sifat-sifat aqliyah (pandai, cakap), dan akhlak yang indah.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

فَٱنكِحُواْ مَا طَابَ لَكُم مِّنَ ٱلنِّسَآءِ

        “Nikahilah wanita-wanita yang menyenangkan bagi kalian.” (an-Nisa’: 3)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

        تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ: لِحسَبِهَا وَمَالِهَا وَجَمَالِهَا وَدِيْنِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّيْنِ تَرِبَتْ يَمِيْنُكَ

 “Wanita itu dinikahi karena empat sebab; karena keturunannya (nasab), hartanya, kecantikannya, dan agamanya. Pilihlah wanita yang baik agamanya, taribat yaminuk.” (HR. Bukhari dan Muslim, dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan anjuran untuk memerhatikan sisi agama sebelum sisi lain, karena agama akan memperbaiki urusan yang rusak dan meluruskan yang bengkok. Wanita yang baik agamanya tentu akan menjaga kehormatannya untuk suaminya, menjaga harta suami, anak-anak, dan seluruh yang terkait dengan suaminya.

 

  1. Seluruh akad selain nikah boleh dilakukan berapa kali pun tanpa pembatasan bilangan.

Adapun pernikahan, seorang lelaki hanya diperbolehkan mengumpulkan empat istri, tidak boleh lebih. Sebab, pernikahan adalah urusan yang mulia. Selain itu, dikhawatirkan seseorang akan menanggung kewajiban di luar batas kemampuannya. Di samping itu, karena memerhatikan kemaslahatan bagi istri.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

فَإِنۡ خِفۡتُمۡ أَلَّا تَعۡدِلُواْ فَوَٰحِدَةً أَوۡ مَا مَلَكَتۡ أَيۡمَٰنُكُمۡۚ

        “Jika kalian khawatir tidak dapat berlaku adil (di antara para istri), nikahilah seorang istri saja atau budak wanita yang kalian miliki….” (an-Nisa: 3)

 

  1. Seseorang tidak bisa masuk dalam ikatan pernikahan terkecuali dengan ijab dan qabul sebagai rukun nikah.

Yang dimaksud ijab adalah ucapan wali mempelai wanita,

زَوَّجْتُكَ أَوْ أَنْكَحْتُكَ فُلَانَةَ

“Aku nikahkan engkau dengan Fulanah,” atau kalimat yang semisalnya.

Qabul adalah ucapan mempelai pria,

قَبِلْتُ النِّكَاحَ أَوْ زَوَاجَهَا

“Aku terima nikahnya,” atau kalimat semisalnya.

Adapun akad selain nikah, sudah terlaksana dengan ucapan dan perbuatan.

 

  1. Dalam akad nikah, harus dinyatakan secara tertentu, siapa mempelai pria dan siapa mempelai wanitanya; jelas menunjuk orangnya, namanya, ataupun ciri dan sifat pengenalnya.

Untuk mempelai wanita, disebutkan dengan ucapan wali nikah, “Aku nikahkan engkau dengan putriku yang bernama Fulanah.” Disebut namanya dan dibedakan dari yang lain atau disebutkan sifatnya seperti, “Aku nikahkan engkau dengan putri sulungku,” “putri bungsuku”, atau hanya disebut ‘putriku’; apabila si wali tidak memiliki putri selainnya.

Adapun penentuan mempelai pria dari dua sisi:

  • Saat meminang calon mempelai wanita.

Tidak cukup keluarga calon mempelai pria atau wakilnya mengatakan kepada keluarga si wanita, “Aku ingin meminang Fulanah untuk salah satu putraku, saudara laki-lakiku, atau untuk salah seorang pria dari Bani Fulan.”

Akan tetapi, harus disebutkan siapa lelaki yang akan menjadi mempelai pria tersebut.

  • Waktu qabul.

Jika mempelai pria itu sendiri yang menjawab ijab, dia berkata, “Aku terima dia,atau, “Aku terima nikahnya dia.”

Apabila perwakilan mempelai pria yang berhadapan dengan wali, saat ijab wali harus berkata, “Aku nikahkan Fulan yang mewakilkan kepadamu, dengan putriku.”

Wali mempelai perempuan tidak boleh berkata kepada si wakil, “Aku nikahkan engkau….”

Saat qabul si wakil berkata, “Aku terima untuk Fulan yang mewakilkan kepadaku,” atau, “Aku terima dia untuk Fulan yang mewakilkan kepadaku.”

Sementara itu, pada akad-akad lain, hal seperti ini tidaklah menjadi persyaratan.

 

  1. Dipersyaratkan harus ada minimal dua saksi yang adil dalam akad nikah.

Adapun akad-akad yang lain tidak wajib dihadirkan saksi, hukumnya sunnah.

 

  1. Dipersyaratkan adanya wali dalam pernikahan.

Pernikahan tidak sah tanpa adanya wali. Yang menjadi wali nikah adalah ayah si wanita. Jika ayah berhalangan atau tidak ada lagi, digantikan oleh pihak lelaki dari garis ayah (‘ashabah) yang paling dekat kekerabatannya dengan si wanita. Jika semua tidak ada, hakim/pemerintah yang menjadi walinya.

Secerdas dan secakap apa pun seorang wanita, dia tidak boleh menikahkan dirinya sendiri. Berbeda halnya dengan akad-akad yang lain, pengurusan baru diserahkan kepada wali apabila seseorang yang hendak melakukan akad tersebut kurang akalnya sehingga tidak cakap untuk bertindak, saat itulah walinya yang berperan mewakilinya. Jika dia seorang yang cakap, dia bebas mengurusi sendiri akadnya dan bertanggung jawab atas tindak-tanduknya.

 

  1. Apabila hendak menikahkan gadis kecil berusia sembilan tahun yang di bawah perwaliannya, wali selain ayah harus meminta izin kepada si gadis.

Berbeda halnya dengan akad jual beli; wali anak yang masih kecil dan belum cakap tidak wajib meminta izin kepada si anak saat hendak berbuat terhadap harta si anak, baik membeli maupun menjual sesuatu dari hartanya.

 

  1. Ada akad-akad lain yang harus memberi ganti dan ada pula tanpa ganti alias gratis, pemberian dengan suka rela.

Sementara itu, dalam akad nikah harus ada penyerahan sesuatu dari pihak lelaki kepada pihak wanita yang disebut mahar, sedikit atau banyak.

Jika mahar itu disebutkan atau ditentukan, wajib ditunaikan sebagaimana yang disebutkan. Jika mahar tidak disebutkan, pihak lelaki harus memberikan mahar yang sesuai untuk si wanita dengan melihat wanita-wanita yang setaraf dengannya dalam hal kecantikan, harta, agama, kecerdasan dan sifat-sifat yang lain, berapa biasanya mahar yang diberikan kepada mereka.

Jika dipersyaratkan tidak ada mahar dalam suatu pernikahan, syarat tersebut batil, tidak boleh ditunaikan. Mahar adalah suatu kemestian dalam akad nikah, bisa dalam bentuk harta, kemanfaatan agama[1], atau kemanfaatan duniawi[2].

 

  1. Dalam urusan pernikahan, penetap syariat membagi wanita menjadi dua macam[3].
  2. Wanita-wanita yang haram dinikahi karena hubungan kekerabatan/nasab, karena penyusuan, atau hubungan kekeluargaan yang terjalin lewat pernikahan.
  3. Wanita-wanita yang halal untuk dinikahi, yaitu selain yang di atas. Untuk yang haram dinikahi, berikut perinciannya.

 

  • Wanita-wanita yang haram dinikahi karena hubungan nasab adalah:

– ibu kandung, nenek kandung dan seterusnya ke atas.

– putri kandung, cucu perempuan dari anak kandung, dan seterusnya ke bawah.

– keturunan ayah dan ibu dan seterusnya ke bawah, seperti: saudari perempuan, anak-anak perempuan mereka (keponakan), anak-anak perempuan dari saudara laki-laki (keponakan).

– saudari perempuan ayah dan ibu (disebut dalam bahasa Arab; amah untuk saudari ayah dan khalah untuk saudari ibu).

Selain mereka yang disebutkan di atas dari kalangan kerabat maka halal dinikahi, seperti putri paman dari pihak ayah maupun ibu, putri bibi dari pihak ayah maupun ibu (sepupu atau saudara misan).

 

  • Wanita-wanita yang haram dinikahi karena hubungan penyusuan adalah sama dengan wanita-wanita yang haram dinikahi karena hubungan nasab dari pihak ibu susu dan ayah susu, dengan syarat terjadi minimal lima kali penyusuan dalam masa usia menyusu (kurang dari dua tahun).

Adapun anak susu, hubungan kemahramannya dengan keluarga susunya tidak tersebar kepada keluarga senasabnya kecuali sebatas dirinya sendiri dan anak keturunannya seterusnya ke bawah.

  • Wanita-wanita yang haram dinikahi karena hubungan pernikahan (mushaharah) adalah:

– istri ayah (ibu tiri) dan seterusnya ke atas (ibu mertua ayah, dst)

– istri anak kandung (menantu) dan seterusnya ke bawah.

– ibu istri (ibu mertua) dan seterusnya ke atas.

Para wanita yang telah disebutkan ini haram dinikahi dengan semata-mata adanya akad nikah.

Ada yang selainnya, tetapi keharamannya tidak semata dengan akad nikah, namun dipersyaratkan telah terjadi ‘dukhul’ (mempelai pria mencampuri wanita yang telah resmi menjadi istrinya), yaitu anak-anak perempuan istri. Jika si lelaki telah ‘dukhul’ dengan si ibu, putri-putri si ibu dari pernikahan dengan selain si lelaki, haram dinikahi oleh si lelaki. Namun, jika belum sempat ‘dukhul’ lantas pernikahan berakhir, dibolehkan bagi si lelaki menikahi putri mantan istrinya.

Semua wanita yang telah disebutkan di atas, baik karena hubungan nasab, karena penyusuan, ataupun karena mushaharah, haram dinikahi selama-lamanya atau diistilahkan tahrim muabbad.[4]

Ada pula wanita-wanita yang haram dinikahi namun pengharamannya tidak selamanya, diistilahkan tahrim ila amad (haram sampai waktu tertentu), seperti saudari perempuan istri (ipar perempuan) dan bibinya istri (dari pihak ayah maupun dari pihak ibunya).

Selama seorang lelaki masih bersama istrinya dalam ikatan pernikahan, haram bagi si lelaki menikah lagi (berpoligami) dengan ipar perempuannya atau bibi istrinya, karena dikhawatirkan akan merusak hubungan si istri dengan saudari/kerabatnya dan dikhawatirkan si suami tidak dapat menunaikan kewajibannya dengan semestinya.

Adapun apabila telah bercerai, baik cerai hidup maupun cerai mati, halal baginya menikahi bekas iparnya atau bibi mantan istrinya.

Diharamkan pula menikahi wanita yang masih berstatus istri orang, istri orang yang sedang menjalani iddah karena kematian suaminya[5], atau karena talak raj’i (talak satu dan dua)[6]. Pengharaman ini disebabkan masih tersisanya hak suami pertama terhadap wanita tersebut.

Satu lagi wanita yang haram dinikahi, yaitu wanita muhrimah. Yang dimaksud muhrimah adalah wanita yang sedang berihram haji atau umrah. Dia haram dinikahi sampai tahallul dari ihramnya[7].

Termasuk yang haram dinikahi adalah wanita kafir selain ahlul kitab. Adapun wanita muslimah haram dinikahi oleh lelaki kafir secara mutlak, ahlul kitab atau selainnya[8].

 

  1. Terjalinnya akad nikah menyebabkan ada wanita-wanita dari kerabat istri yang haram dinikahi selama-lamanya (tahrim mu’abbad), seperti ibunya istri (mertua).

Hal ini tetap berlaku walaupun pernikahan itu berujung perceraian. Saat masa iddah telah habis, si istri akan menjadi ajnabiyah (bukan mahram lagi bagi mantan suaminya).

Adapun akad-akad yang lain, hukum pemilikan dan kewenangan berbuat terhadap sesuatu, hanya terkait dengan orang yang melakukan akad, tidak terkena kepada selainnya.

 

  1. Untuk keluar dari pernikahan, ada syarat-syarat dan ketentuan-ketentuannya.

Apabila seorang suami berniat menceraikan istrinya, dianjurkan sebelumnya untuk bersabar, tidak terburu-buru menjatuhkan talak. Sebab, bisa jadi dengan tetap menahan istrinya dalam pernikahan, Allah ‘azza wa jalla akan menjadikan untuknya kebaikan yang besar.

Apabila seorang suami memang harus menceraikan istrinya, tidak bisa lagi bersabar bersamanya, dia harus menceraikannya pada saat si istri bisa menghadapi masa iddahnya dengan semestinya. Maksudnya, saat ditalak, si istri langsung bisa menghitung awal masa iddahnya dengan yakin.

Dengan demikian, suami tidak dibolehkan menceraikan istrinya di masa haid atau masa suci namun sudah digauli sampai dipastikan si istri hamil, karena dengan kehamilan tersebut diperoleh kepastian bahwa masa iddah akan berakhir dengan melahirkan.

Istri yang dalam masa suci belum digauli, apabila dijatuhkan talak padanya, dia bisa langsung menghadapi masa iddahnya dengan tiga kali quru’. Istri yang masih kecil yang belum mengalami haid dan istri yang sudah berhenti haid (menopause) bisa dijatuhkan talak padanya kapan saja. Sebab, keduanya bisa langsung menghadapi iddah tanpa terkait dengan haid. Hitungan iddah mereka adalah tiga bulan.[9]

Seorang suami hanya diberi kesempatan tiga kali menceraikan istrinya dengan menjatuhkan talak satu demi satu, apabila memang dibutuhkan[10]. Langsung menjatuhkan talak tiga sekaligus tidak diperbolehkan.

Dibolehkan pula khulu’ dalam pernikahan apabila memang dibutuhkan. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

فَإِنۡ خِفۡتُمۡ أَلَّا يُقِيمَا حُدُودَ ٱللَّهِ فَلَا جُنَاحَ عَلَيۡهِمَا فِيمَا ٱفۡتَدَتۡ بِهِۦۗ

“Jika kalian khawatir bahwa keduanya (suami istri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh istri untuk menebus dirinya.” (al-Baqarah: 229)

Dalam khulu’ ini, istri menyerahkan tebusan dirinya kepada si suami. Hal ini menunjukkan bahwa khulu’ termasuk perpisahan selamanya (seperti halnya talak bain, tidak ada rujuk lagi setelah itu)[11]. Khulu’ pun tidak terhitung dalam tiga kali talak. Artinya, talak berbeda dengan khulu’.

 

  1. Dalam hubungan yang terjalin karena pernikahan, apabila seorang suami menceraikan istrinya, selama masa iddah si istri tetap terkait dengan suaminya.

Ini tentu berbeda dengan hubungan karena selain pernikahan. Segala sesuatu apabila dipindahkan pemilikannya oleh seseorang dengan cara dijual, dihibahkan, atau lainnya, terputuslah keterkaitan si pemilik pertama yang telah memindahkan haknya tersebut. Pemilik kedua menjadi pihak yang menggantikan posisinya dalam hal kepemilikan dan kewenangan berbuat terhadap sesuatu tersebut.

Apabila suami menjatuhkan talak raj’i kepada istrinya (sebelum talak tiga), selama masa iddah, si suami berhak merujuk istrinya tanpa memperbarui akad. Ikatan pernikahan pun kembali sebagaimana sedia kala. Selama masa iddah pula, istri tetap berhak mendapat nafkah, pakaian, dan tempat tinggal.

Apabila dalam masa iddah tersebut salah satunya meninggal dunia, yang hidup menjadi salah satu dari ahli warisnya.

Selama iddah tidak halal bagi lelaki lain meminang si istri, dengan sindiran apalagi secara terang-terangan.

Apabila talak yang dijatuhkan adalah talak bain, iddah yang dijalani istri adalah untuk pemenuhan hak suami yang menalaknya dan memastikan bersihnya rahim (istibra’ rahim) dari kemungkinan mengandung anak dari suami yang menalaknya.

Semua ini dilakukan untuk kehati-hatian dalam rangka menjaga hak anak dan hak suami berikutnya bila dia menikah lagi.

Selama iddah dari talak bain ini, tidak halal lelaki lain menikahinya atau meminangnya secara terang-terangan. Adapun meminang dengan kalimat sindiran[12] tidaklah terlarang.

 

  1. Dalam akad nikah tidak ada yang namanya khiyar majlis, khiyar ghabn, khiyar syarth[13] dan selainnya sebagaimana yang ditetapkan dalam akad jual beli.

Yang ada hanya khiyar ‘aib, yaitu jika salah seorang dari sepasang insan yang melangsungkan pernikahan nantinya mendapati cacat, aib, atau kekurangan pada pasangannya yang membuat ‘lari’ (tidak nyaman berdekatan dengannya) dia boleh memilih untuk melanjutkan pernikahan tersebut atau membatalkannya.

 

  1. Akad-akad yang lain harus ditentukan masa berlakunya, yakni sampai kapan dilangsungkan.

Adapun akad nikah, tidak halal ditetapkan batas waktunya. Apabila sampai terjadi penetapan waktu nikah, itu teranggap nikah mut’ah yang telah diharamkan dalam sunnah yang sahihah.

Pernikahan seharusnya diniatkan bertahan seumur hidup sampai maut memisahkan keduanya, terkecuali apabila tidak ada lagi kecocokan di antara keduanya.

 

  1. Dalam akad-akad yang lain dibolehkan bermuamalah dengan orang-orang kafir.

Dalam pernikahan, tidak boleh seorang lelaki kafir menikahi seorang wanita muslimah selama-lamanya. Demikian pula lelaki muslim tidak boleh menikahi wanita kafir terkecuali wanita ahlul kitab, Yahudi dan Nasrani.

Hikmahnya dinyatakan oleh Allah ‘azza wa jalla dalam firman-Nya,

أُوْلَٰٓئِكَ يَدۡعُونَ إِلَى ٱلنَّارِۖ وَٱللَّهُ يَدۡعُوٓاْ إِلَى ٱلۡجَنَّةِ وَٱلۡمَغۡفِرَةِ بِإِذۡنِهِۦۖ

“Mereka mengajak ke neraka sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya.”(al-Baqarah: 221)

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

(Diringkas oleh Ummu Ishaq al-Atsariyah dari al-Irsyad ila Ma’rifatil Ahkam, karya al-Allamah Abdur Rahman as-Sa’di, hlm. 172—184, sebagaimana dinukil dalam Fatawa al-Mar’ah al-Muslimah fil ‘Aqaid wal ‘Ibadat wal Mu’amalat wal Adab, kitab yang berisi kumpulan fatwa sejumlah ulama terkemuka, hlm. 821—829. Catatan kaki dari yang meringkas)

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

[1] Dalam hadits Sahl ibn Sa’d as-Sa’idi radhiallahu ‘anhu, disebutkan ada seorang sahabat yang tidak memiliki harta walaupun hanya sebuah cincin dari besi untuk dijadikannya sebagai mahar pernikahannya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya, “Apa yang engkau hafal dari surah al-Qur’an?”

“Surah ini dan surah itu,” jawabnya menyebutkan beberapa surah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi, “Kamu betul bisa membaca semua surah itu dari hafalanmu?”

Sahabat itu menjawab, “Ya.”

Rasulullah pun menikahkan sahabat tersebut dengan wanita yang ingin diperistrinya dengan mahar berupa pengajaran surah-surah al-Qur’an yang dihafalnya.

[2] Mahar berupa kemerdekaan dari perbudakan diberikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat menikahi Shafiyah bintu Huyai radhiallahu ‘anha. Kisahnya dibawakan oleh Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu dalam hadits yang muttafaq ‘alaihi.

[3] Allah ‘azza wa jalla berfirman dalam surah an-Nisa ayat 23—24 tentang wanita-wanita yang haram dinikahi sebagaimana dirinci di no. 11.

[4] Keharaman menikahi seorang wanita terbagi dua:

– haram dinikahi selamanya (tahrim mu’abbad)

– haram dinikahi dalam batas waktu tertentu (tahrim ila amdin).

[5] Iddahnya selama 4 bulan 10 hari, bila dia tidak sedang hamil sebagaimana firman Allah ‘azza wa jalla dalam surah al-Baqarah ayat 234.

Adapun bila dia mengandung, iddahnya berakhir dengan melahirkan kandungannya, dengan dalil firman Allah ‘azza wa jalla dalam surah ath-Thalaq ayat 4.

[6] Iddahnya selama tiga quru’ sebagaimana firman Allah ‘azza wa jalla dalam surah al-Baqarah ayat 228.

[7] Sebagaimana disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لاَ يَنْكِحُ الُحْمْرِمُ وَلاَ يُنْكِحُ

“Orang yang muhrim tidak boleh menikah dan tidak boleh menikahkan.” (HR. Muslim)

[8] Allah ‘azza wa jalla berfirman tentang hal ini dalam surah al-Baqarah ayat 221.

[9] Sebagaimana dinyatakan dalam firman Allah surah ath-Thalaq ayat 4.

[10] Misalnya ditalak satu kemudian rujuk. Suatu ketika ditalak lagi sehingga sudah terhitung dua kali talak (talak dua), lalu rujuk. Tersisa satu talak lagi yang merupakan talak terakhir (talak tiga). Apabila sampai suami menjatuhkan talak lagi untuk ketiga kalinya, mantan istri tidak bisa dirujuk lagi selama-lamanya, sampai mantan istri dinikahi lelaki lain dengan dasar suka sama suka (bukan nikah muhallal, melainkan nikah yang syar’i), lalu karena ketidakcocokan pernikahan tersebut kandas. Di saat selesai iddah dari pernikahan yang kedua, barulah mantan istri bisa dinikahi oleh mantan suami pertamanya tersebut.

[11] Apabila suatu saat suami istri yang berpisah karena khulu’ tersebut ingin bersatu kembali, tidak ada jalan bagi keduanya selain memperbarui nikah. Sebab, tidak ada kata rujuk untuk khulu’.

[12] Seperti berkata, “Wanita seperti kamu tidak sepantasnya ditolak untuk menjadi istri.”

[13] Macam-macam khiyar dalam akad.

Menyembah Allah Tanpa Keteguhan

Beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala merupakan nikmat agung yang dianugerahkan-Nya kepada seorang hamba. Bagaimana tidak, sementara keimanan yang membuahkan amal saleh itu adalah sumber kebahagiaan di dunia, lebih-lebih lagi di akhirat kelak.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          مَنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا مِّن ذَكَرٍ أَوۡ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤۡمِنٞ فَلَنُحۡيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةٗ طَيِّبَةٗۖ وَلَنَجۡزِيَنَّهُمۡ أَجۡرَهُم بِأَحۡسَنِ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ٩٧

“Siapa yang mengerjakan amalsaleh, baik laki-laki maupun perempuan, dalam keadaan dia beriman, maka sungguh-sungguh Kami akan hidupkan dia dengan kehidupan yang baik dan sungguh-sungguh Kami akan beri balasan berupa pahala yang lebih baik daripada apa yang mereka kerjakan.” (an-Nahl: 97)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang calon penghuni negeri kenikmatan nan abadi,

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ إِلاَّ مُؤْمِنٌ

“Tidak akan masuk surga kecuali orang yang beriman.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya)

Keimanan menuntut seorang hamba untuk beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan mengikhlaskan agama hanya untuk-Nya. Hanya saja, di antara manusia yang mengaku beriman ada yang menyembah Allah subhanahu wa ta’ala di pinggir saja.

Bagaimanakah itu? Perhatikanlah firman Allah subhanahu wa ta’ala berikut ini.

          وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَعۡبُدُ ٱللَّهَ عَلَىٰ حَرۡفٖۖ فَإِنۡ أَصَابَهُۥ خَيۡرٌ ٱطۡمَأَنَّ بِهِۦۖ وَإِنۡ أَصَابَتۡهُ فِتۡنَةٌ ٱنقَلَبَ عَلَىٰ وَجۡهِهِۦ خَسِرَ ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةَۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡخُسۡرَانُ ٱلۡمُبِينُ ١١

        “Dan di antara manusia ada yang menyembah Allah di tepi. Jika dia mendapatkan kebaikan, tetaplah dia dalam keadaan itu. Namun, jika menimpanya suatu ujian/bencana, berbaliklah dia telungkup ke belakang. Dia menderita kerugian di dunia dan di akhirat. Itu adalah kerugian yang nyata.” (al-Hajj: 11)

Mujahid, Qatadah, dan pakar tafsir selain keduanya menjelaskan, “Orang tersebut menyembah Allah subhanahu wa ta’ala dalam keraguan (tidak di atas keyakinan).”

Adapula yang menafsirkan bahwa orang tersebut menyembah Allah subhanahu wa ta’ala ibarat berada di tepi gunung. Orang yang berdiri di situ tentu tidak aman, dikhawatirkan dia akan jatuh. Dia masuk ke dalam agama ini pada pinggirnya saja, enggan masuk lebih dalam.

Orang tersebut dinyatakan dengan permisalan seperti ini karena orang tersebut bimbang dan goncang dalam agamanya, tidak mantap dan tenang. Dia tidak yakin akan janji dan ancaman Allah subhanahu wa ta’ala.

Jika dia mendapatkan apa yang disenanginya, dia pun tetap pada posisinya. Bila tidak, dia segera mundur meninggalkan apa yang semula dia ada padanya. Orang seperti ini adalah seorang munafik.

Jika dalam Islam dia melihat ada kelapangan dan ketenangan, dia pun girang dan mangatakan kepada orang-orang beriman, “Aku bagian dari kalian. Aku bersama kalian.”

Namun, jika dia melihat dalam Islam ada kesempitan atau musibah, dia tidak bisa bersabar. Dia kembali kafir dan meninggalkan keadaannya yang semula.

Berbeda halnya dengan seorang mukmin yang hakiki. Dia beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala di atas keyakinan dan bashirah/ilmu. Apapun yang diperoleh, dia tetap tenang, istiqamah di atas Islam, dan kokoh beribadah. (Mahasin at-Ta’wil, 6/294, Tafsir Ibni Katsir, 5/295, Fathu al-Qadir, 3/548—549, karya al-Imam asy-Syaukani, dan Tafsir al-Qur’an al-Aziz, 3/73—74, karya al-Imam Ibnu Abi Zamanin)

Orang yang memiliki sifat yang tersebut dalam ayat di atas tidaklah kokoh di dalam agama ini. Layaknya seseorang yang berada di pinggir pasukan yang sedang berlaga.

Dia merasa cukup berada di bagian paling belakang, bagian yang paling jauh dari musuh. Dia enggan maju ke tengah, apalagi ke depan. Jika dia merasa kemenangan akan diraih dan ghanimah akan berada dalam genggaman, dia pun tetap di posisinya. Sebaliknya, jika dia melihat pasukan akan kalah, dia pun kabur. Dia berbalik ke belakang, melarikan diri tanpa menoleh ke kanan dan kiri.

Kebaikan yang disebutkan dalam ayat di atas adalah kebaikan duniawi seperti kelapangan hidup, kesehatan, beroleh keturunan, dan semua yang diidamkan di kehidupan dunia. (Rauhul Ma’ani, 9/564, karya al-Imam al-Alusi al-Baghdadi)

Al-‘Allamah as-Sa’di rahimahullah berkata tentang ayat di atas bahwa di antara manusia yang berislam ada yang lemah imannya. Iman belum masuk menyentuh kalbunya. Karena itu, ketika datang ujian, dia tidak bisa kokoh di atas iman. Bilamana dia mendapat kebaikan, berupa rezeki yang lancar dan tidak ditimpa sesuatu yang dibencinya, dia merasa tenang dengan kebaikan atau kesenangan tersebut, bukan tenang karena iman. Sebaliknya, apabila ditimpa ujian berupa keburukan atau kehilangan apa yang disenanginya, dia pun murtad dari agamanya. (Taisir al-Karimir Rahman, hlm. 534)

Al-Imam al-Bukhari rahimahullah menyebutkan dalam Shahihnya dengan sanad yang sampai kepada Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma terkait ayat di atas. Ibnu Abbas berkata, “Dahulu ada seseorang datang ke Madinah. Saat istrinya melahirkan anak lelaki dan kudanya beranak, dia berkata, ‘Ini agama yang baik’. Namun, saat istrinya tidak juga melahirkan keturunan yang dinantikan dan kudanya tidak kunjung beranak, dia berkata, ‘Ini agama yang buruk’.” (Shahih al-Bukhari no. 4742)

Ibnu Abi Hatim rahimahullah membawakan riwayat yang sampai sanadnya kepada Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma yang berkisah, “Dahulu ada orang-orang dari kalangan Arab Badui mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu masuk Islam. Saat kembali ke negeri mereka dan mendapati tahun turunnya hujan, tahun kesuburan, dan tahun bagusnya perkembangbiakan (hewan), mereka mengatakan, ‘Sungguh, agama kita ini adalah agama yang bagus’. Mereka pun tetap berpegang dengan agama Islam.

Ketika mereka mendapati tahun kekeringan, tahun buruknya perkembangbiakan, dan tahun paceklik, mereka berkata, ‘Tidak ada kebaikan pada agama kita ini’. Maka dari itu, Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan ayat di atas.

Zaid bin Aslam mengatakan bahwa orang tersebut adalah seorang munafik yang jika penghidupan dunianya bagus, dia tegak di atas ibadah (tetap melakukannya). Namun, jika rusak dunianya (mendapat kesusahan), dia pun berubah, tidak seperti keadaan semula. Dia tidaklah mengerjakan ibadah terkecuali bila baik dunianya. Jika dia ditimpa fitnah, kesulitan, ujian, dan kesempitan, dia meninggalkan agamanya dan kembal i kepada kekafiran. (Tafsir Ibni Katsir, 5/296)

Orang yang seperti ini dalam hal beriman akan menuai kerugian. Dia rugi di dunia karena tidak berhasil mendapatkan hal yang diangankan. Padahal dia sudah menukar agamanya dengan kemurtadan, namun ternyata dia tidak mendapatkan dunia kecuali sekadar apa yang sudah ditetapkan sebagai bagiannya.

Adapun kerugian di akhirat berupa terhalang dari surga yang seluas langit dan bumi karena tempat tinggalnya telah diganti dengan neraka. Sungguh, orang ini berada pada puncak kesengsaraan dan kehinaan. Karena itulah, Allah subhanahu wa ta’ala menyatakan, “Yang demikian itu adalah kerugian besar yang nyata.” (Tafsir Ibni Katsir, 5/296 dan Taisir al-Karimir Rahman hlm. 593)

Kata Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah, orang yang memiliki sifat seperti tersebut dalam ayat tidaklah memiliki keyakinan. Sebab, keyakinan adalah tsabat (keteguhan) dan keimanan yang tidak ada keraguan sama sekali. Seakan-akan dia melihat hal yang gaib hadir di depan matanya.

Keyakinan seperti ini akan membuahkan tawakal kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Dengan yakin dan tawakal, seseorang dapat mencapai tujuannya di dunia dan akhirat. Dia merasa tenteram dan hidup dengan tenang lagi bahagia karena yakin dengan seluruh berita Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya, bertawakal hanya kepada-Nya subhanahu wa ta’ala.

Sebagai ibrah, lihatlah keadaan para sahabat radhiallahu ‘anhum tatkala ditimpa kesulitan yang besar karena dikepung pasukan sekutu dalam Perang Ahzab. Sekitar 10 ribu orang kafir Quraisy dan selain mereka mengepung Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau radhiallahu ‘anhum yang bertahan dalam kota Madinah. Sungguh, musibah dan goncangan yang sangat besar bagi orang-orang beriman kala itu.

Allah subhanahu wa ta’ala menggambarkannya dalam ayat,

هُنَالِكَ ٱبۡتُلِيَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَزُلۡزِلُواْ زِلۡزَالٗا شَدِيدٗا ١١

        “Di situlah diuji orang-orang yang beriman dan digoncangkan mereka dengan goncangan yang sangat.” (al-Ahzab: 11)

Keadaan yang mencekam dan ketakutan sangat terasa sebagaimana digambarkan dalam ayat,

إِذۡ جَآءُوكُم مِّن فَوۡقِكُمۡ وَمِنۡ أَسۡفَلَ مِنكُمۡ وَإِذۡ زَاغَتِ ٱلۡأَبۡصَٰرُ وَبَلَغَتِ ٱلۡقُلُوبُ ٱلۡحَنَاجِرَ وَتَظُنُّونَ بِٱللَّهِ ٱلظُّنُونَا۠ ١٠

        “(Yaitu) tatkala mereka (musuh-musuh) datang kepada kalian dari atas dan dari bawah kalian, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan kalian dan kalbu kalian naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kalian menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam persangkaan.” (al-Ahzab: 10)

Bagaimanakah keadaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau radhiallahu ‘anhum? Mereka tidak mundur, ragu, dan meninggalkan keimanan. Mereka justru semakin mantap dalam iman sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala,

          وَلَمَّا رَءَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلۡأَحۡزَابَ قَالُواْ هَٰذَا مَا وَعَدَنَا ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ وَصَدَقَ ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥۚ وَمَا زَادَهُمۡ إِلَّآ إِيمَٰنٗا وَتَسۡلِيمٗا ٢٢

Dan tatkala orang-orang yang beriman melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata, “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya.” Hal itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali keimanan dan ketundukan. (al-Ahzab: 22)

Bedakan dengan keadaan kaum munafik yang berpura-pura menampakkan keimanan sementara kalbu mereka menyimpan kekafiran. Bedakan pula dengan keadaan orang-orang yang beriman namun di hati mereka ada penyakit dan kurang keyakinannya kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Mereka ini, Allah subhanahu wa ta’ala katakan,

          وَإِذۡ يَقُولُ ٱلۡمُنَٰفِقُونَ وَٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٞ مَّا وَعَدَنَا ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥٓ إِلَّا غُرُورٗا ١٢

        Dan ingatlah ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata, “Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya.” (al-Ahzab: 12)

Seakan-akan mereka meragukan janji Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa umat beliau akan menjadikan Kisra (penguasa Persia), Kaisar (penguasa Romawi) dan penguasa Yaman bertekuk lutut. Batin mereka membisikkan, “Bagaimana bisa semua itu akan terwujud, sementara kita sekarang dikepung dan terkurung oleh musuh yang sebanyak ini?”

Saat datang ujian, orang yang kuat imannya tidak akan mundur dari keimanan. Imannya justru bertambah kuat. Hal ini sebagaimana yang Allah subhanahu wa ta’ala kisahkan tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau radhiallahu ‘anhum?.

Sepulang mereka dari Perang Uhud, ada kabar bahwa orang-orang musyrikin Quraisy akan menyerang Madinah dengan pasukan yang besar untuk menghabisi penduduknya yang beriman. Sementara itu, kepenatan safar dan kepayahan perang belum hilang dari diri mereka, luka-luka belum pula sembuh. Apakah kemudian mereka gentar dan ragu?

Allah subhanahu wa ta’ala mengabarkan keadaan mereka,

ٱلَّذِينَ ٱسۡتَجَابُواْ لِلَّهِ وَٱلرَّسُولِ مِنۢ بَعۡدِ مَآ أَصَابَهُمُ ٱلۡقَرۡحُۚ لِلَّذِينَ أَحۡسَنُواْ مِنۡهُمۡ وَٱتَّقَوۡاْ أَجۡرٌ عَظِيمٌ ١٧٢

ٱلَّذِينَ قَالَ لَهُمُ ٱلنَّاسُ إِنَّ ٱلنَّاسَ قَدۡ جَمَعُواْ لَكُمۡ فَٱخۡشَوۡهُمۡ فَزَادَهُمۡ إِيمَٰنٗا وَقَالُواْ حَسۡبُنَا ٱللَّهُ وَنِعۡمَ ٱلۡوَكِيلُ ١٧٣

        (Yaitu) orang-orang yang mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya setelah mereka mendapatkan luka (dalam perang Uhud). Untuk orang-orang yang berbuat kebaikan di antara mereka dan yang bertakwa ada pahala yang besar.

(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul-Nya) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengabarkan, “Sesungguhnya manusia (orang-orang kafir Quraisy) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kalian, maka takutlah kepada mereka,” maka perkataan itu justru menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.” (Ali Imran: 172—173)

Demikianlah keadaan seorang mukmin yang benar imannya. Semakin besar ujian menerpa, imannya kepada Allah subhanahu wa ta’ala semakin menebal. Sebab, dia percaya bahwa pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala itu datang bersama kesabaran; kelapangan itu ada bersama musibah; dan bersama kesulitan itu ada kemudahan yang pasti menyusul. (Syarhu Riyadhish Shalihin, 1/371—372)

Lantas, bagaimana halnya dengan diri kita? Di mana posisi kita dalam beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala?

Wallahul musta’an.

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

Penampilan Seorang Muslim

Kami melihat beberapa orang yang berpegang dengan agama tidak memerhatikan kebersihan dan kerapian penampilan mereka. Jika ditanya tentang hal tersebut, mereka menjawab dengan hadits,

إِنَّ الْبَذَاذَةَ مِنَ الْإِيمَانِ

“Sesungguhnya bersahajanya penampilan itu termasuk keimanan.”[1]

Kami berharap penjelasan Fadhilatusy Syaikh, sejauh mana kebenaran pendalilan mereka tersebut. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala membalas Anda dengan kebaikan.

 

Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menjawab:

Sepantasnya pakaian dan penampilan seorang (muslim) terlihat indah sesuai dengan kemampuannya. Sebab, tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan hadits kepada para sahabat tentang sifat sombong, para sahabat berkata,

يَا رَسُوْلَ اللهِ، إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبَّ أَنْ يَكُوْنَ نَعْلُهُ حَسَنًا وَثَوْبُهُ حَسَنًا

“Wahai Rasulullah, sungguh ada orang yang senang memakai sandal yang bagus dan pakaian yang bagus (apakah hal tesebut termasuk sifat sombong?).”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda menafikan sifat senang berpenampilan indah sebagai pertanda kesombongan,

إِنَّ اللهَ جَمِيْلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ

“Sungguh, Allah itu Mahaindah dan mencintai keindahan[2].”

Maksudnya, Allah subhanahu wa ta’ala menyukai tajammul (berhias/berpenampilan indah). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengingkari kesenangan mereka mengenakan pakaian dan sandal yang bagus.

Berdasarkan hal ini, kami katakan bahwa yang dimaksud dengan hadits adalah agar seseorang tidak memberat-beratkan diri dalam segala sesuatu. Semuanya apa adanya.

Jadi, jika hadits ini dikompromikan dengan hadits tentang tajammul, maknanya adalah tajammul termasuk hal yang dicintai oleh Allah subhanahu wa ta’ala, tetapi dengan syarat tajammul tersebut tidak dilakukan dengan berlebih-lebihan atau melampaui tingkatan yang tidak sepantasnya dilakukan oleh seorang lelaki.”

(Fatawa Ulama al-Balad al-Haram, hlm. 1730—1731)

 

Pakaian Wanita di Hadapan Wanita dan Mahram

Bagaimana batasan pakaian yang dikenakan oleh wanita di hadapan sesama wanita dan di hadapan lelaki mahramnya (selain suami)?

Jawab:

Al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts al-Ilmiyah wa al-Ifta’ dalam keterangan (No. 21032, tanggal 21/1/1421 H) menyatakan,

“Wanita-wanita orang beriman di awal Islam benar-benar mencapai puncak kesucian, iffah (menjaga kehormatan diri), dan rasa malu dengan berkah iman kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta mengikuti al-Qur’an dan as-Sunnah.

Para wanita pada zaman tersebut biasa mengenakan pakaian yang menutupi tubuh mereka. Tidak dikenal di kalangan mereka kebiasaan membuka bagian-bagian tubuh saat berkumpul sesama mereka atau di hadapan lelaki mahram mereka.

Di atas kebiasaan yang lurus inilah perilaku para wanita umat ini, alhamdulillah, dari generasi ke generasi. Sampai akhirnya pada masa yang tidak terlalu jauh (dari sekarang), masuklah kerusakan pada kebanyakan kaum wanita dalam hal pakaian dan akhlak[3] karena banyak faktor. Namun, bukan di sini tempat menjelaskannya.

Mempertimbangkan banyaknya permintaan fatwa yang tertuju kepada al-Lajnah tentang sejauh mana batasan bolehnya seorang wanita memandang wanita lain dan pakaian seperti apa yang harus dikenakan wanita (di hadapan sesama wanita atau di hadapan mahramnya), Lajnah menerangkan bahwa kaum wanita wajib terikat dengan akhlak malu. Sebuah akhlak yang dijadikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai bagian keimanan dan salah satu cabangnya.

Termasuk malu yang diperintahkan secara syariat dan menjadi adat kebiasaan (‘urf) adalah wanita harus berpakaian tertutup (tasattur, tidak ‘buka-bukaan’). Wanita harus memiliki rasa malu yang besar. Selain itu, dia pun harus berperangai dengan akhlak yang dapat menjauhkan dirinya dari tempat-tempat buruk dan keraguan (yang membuat orang menyangsikan kesucian dirinya dan meragukan dirinya sebagai perempuan baik-baik).

Al-Qur’an menyebutkan bahwa seorang wanita tidak boleh menampakkan tubuhnya kecuali yang biasa ditampakkan di hadapan mahram-mahramnya dengan batasan yang biasa tampak.

Maksudnya, yang dianggap biasa terbuka di dalam rumah dan saat si wanita bekerja dalam rumahnya. Hal ini sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala (tentang pihak-pihak yang diperkenankan melihat perhiasan wanita yang biasa tampak dalam kesehariannya),

وَلَا يُبۡدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوۡ ءَابَآئِهِنَّ أَوۡ ءَابَآءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوۡ أَبۡنَآئِهِنَّ أَوۡ أَبۡنَآءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوۡ إِخۡوَٰنِهِنَّ أَوۡ بَنِيٓ إِخۡوَٰنِهِنَّ أَوۡ بَنِيٓ أَخَوَٰتِهِنَّ أَوۡ نِسَآئِهِنَّ

“Dan janganlah mereka (para muslimah) menampakkan perhiasan mereka, kecuali kepada suami-suami mereka, atau ayah-ayah mereka, atau ayah mertua mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka atau putra-putra dari saudara laki-laki mereka (keponakan), atau putra-putra dari saudari perempuan mereka, atau perempuan-perempuan mereka….” (an-Nur: 31)

Ayat di atas adalah nash al-Qur’an. Demikian pula yang berlangsung dari amalan istri-istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, istri-istri para sahabat radhiallahu ‘anhum, dan para wanita yang mengikuti mereka dengan kebaikan hingga masa kita ini.

Bagian tubuh yang biasa tampak dari wanita di hadapan sesamanya dan di hadapan lelaki kalangan mahramnya—sebagaimana yang tersebut dalam ayat yang mulia di atas—adalah bagian yang secara umum biasa terlihat dari si wanita saat berada dalam rumahnya dan saat dia beraktivitas (di dalam rumah) yang akan memberatkan si wanita untuk menutupnya[4]. Misalnya, kepala yang terbuka (tidak memakai kerudung), dua tangan, leher, dan dua telapak kaki.

Adapun dalam menampakkan bagian tubuh (melebihi apa yang telah disebutkan), tidak ada dalil yang menunjukkan kebolehannya dalam al-Qur’an ataupun as-Sunnah. Di samping itu, hal tersebut menjadi jalan munculnya fitnah (keburukan dan musibah) terhadap wanita dan tergodanya sebagian wanita dengan sebagian yang lain sebagaimana yang terjadi di antara mereka[5].

Selain itu, perbuatan tersebut menjadi contoh yang buruk bagi wanita lain (mereka akan meniru, ikut-ikutan membuka bagian tubuhnya yang semestinya tertutup di hadapan sesama atau di hadapan mahramnya[6]).

Ditambah lagi, ada unsur tasyabbuh dengan wanita-wanita kafir dan wanita-wanita “nakal” dalam hal (cara) berpakaian. Sementara itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Siapa yang menyerupai suatu kaum, dia termasuk golongan mereka.” (HR. al-Imam Ahmad dan Abu Dawud)[7]

Disebutkan dalam Shahih Muslim dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatnya memakai dua pakaian yang dicelup dengan ushfur. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda,

إِنَّ هَذِهِ مِنْ ثِيَابِ الْكُفَّارِ فَلاَ تَلْبَسْهَا

        “Pakaian ini termasuk pakaian orang-orang kafir maka jangan kamu pakai.”[8]

Dalam Shahih Muslim juga, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا: قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ يَضْرِبُوْنَ بِهَا النَّاسَ، وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيْلاَتٌ مَائِلاَتٌ، رُؤُوْسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلةِ، لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيْحَهَا وَإِنَّ رِيْحَهَا لَيُوْجَدُ مِنْ مَسِيْرَةِ كَذا وَكَذا

“Ada dua golongan dari penduduk neraka yang aku belum melihat mereka. (1) Suatu kaum yang bersama mereka ada cemeti seperti ekor-ekor sapi yang dengannya mereka memukul manusia, dan (2) wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang, yang berjalan berlenggak-lenggok. Kepala-kepala mereka miring seperti punuk unta yang miring. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium wangi surga, padahal wanginya dapat tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian.”[9]

Makna كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ adalah wanita yang mengenakan pakaian namun tidak menutupi tubuhnya. Jadi, dia berpakaian, namun hakikatnya telanjang. Misalnya, wanita mengenakan pakaian yang tipis/transparan hingga membayang tubuh di baliknya, mengenakan pakaian ketat yang membentuk lekuk-lekuk tubuhnya, atau pakaian pendek yang tidak menutupi sebagian tubuhnya.

Wanita kaum muslimin semestinya meneladani contoh yang ditunjukkan oleh ummahatul mukminin, para wanita kalangan sahabat—semoga Allah meridhai mereka—dan para wanita umat ini yang mengikuti mereka dengan kebaikan.

Selain itu, hendaknya para muslimah tidak ‘enggan-engganan’ untuk menutup tubuhnya dan selalu berpegang dengan rasa malu. Hal ini tentu lebih menjauhkannya dari sebab-sebab godaan dan menjauhkannya dari hal-hal yang dapat membangkitkan hawa nafsu dan menjatuhkan pelakunya ke dalam perbuatan keji.

Wanita kaum muslimin juga wajib berhati-hati, menjaga diri agar tidak jatuh ke dalam hal yang Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya haramkan, yaitu berupa berpakaian dengan busana yang menyerupai wanita kafir dan wanita pelacur. Semuanya dilaksanakan dalam rangka menaati Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya, mengharapkan pahala Allah subhanahu wa ta’ala dan takut akan siksa-Nya.

Setiap muslim juga wajib bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala dalam hal mengurusi para wanita yang berada di bawah perwaliannya. Jangan biarkan mereka mengenakan pakaian yang diharamkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya, yakni pakaian yang mengumbar aurat dan menyebabkan godaan. Hendaklah seorang muslim mengetahui bahwa dia adalah pemimpin (bagi keluarganya) dan akan dimintai pertanggungjawaban tentang apa yang dipimpinnya pada hari kiamat.

Kita mohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar Dia memperbaiki keadaan kaum muslimin dan memberi petunjuk kepada kita semua kepada jalan yang lurus.

Sungguh, Allah Maha Mendengar lagi Mahadekat. Shalawat dan salam semoga selalu terlimpah untuk Nabi kita Muhammad, keluarga beliau, dan sahabat-sahabat beliau.

(Dinukil dalam Fatawa Ulama al-Balad al-Haram, hlm. 1178—1181)

 

 

[1] Catatan kaki dari penerjemah:

 إِنَّ الْبَذَاذَةَ مِنَ الْإِيمَانِ

  1. Abu Dawud, kitab at-Tarajjul, hadits no. 4161, dari sahabat Abu Umamah al-Haritsi radhiallahu ‘anhu.

[2] Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian menerangkan bahwa sombong adalah,

بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Menolak kebenaran dan merendahkan manusia.” (HR. Muslim dalam Shahihnya, “Kitab al-Iman” no. 91)

[3] Mulailah terjadi pergeseran dari kebiasaan yang lurus; wanita mulai berpakaian terbuka.

[4] Apabila bagian tubuh tersebut harus ditutup saat berada di dalam rumah dan saat beraktivitas melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga, niscaya akan menyulitkan dan memberatkan si wanita. Sementara itu, tidak ada seorang pun lelaki ajnabi di rumah tersebut yang akan melihat auratnya.

[5] Walaupun sama-sama wanita, bisa jadi ada yang tergoda dan tergerak syahwatnya ketika melihat aurat wanita lain terbuka di hadapannya.

[6] Kecuali di hadapan suami karena tidak ada batasan aurat antara suami dan istri.

[7] HR. Abu Dawud no. 4031 dan Ahmad no. 5093, 5094, 5634.

[8] HR. Muslim dalam “Kitab al-Libas” no. 2077

[9] HR. Muslim dalam “Kitab al-Libas” no. 2127

Cadar Menurut Ulama Mazhab Syafi’i

Awal era 90-an, apalagi sebelum 1990, muslimah yang bercadar di nusantara sangat jarang dijumpai. Di mata masyarakat, muslimah yang bercadar tersebut dianggap sangat aneh. Dia menjadi tontonan saat keluar rumah, bahkan sering menjadi bahan cercaan, makian, olokan, dan ejekan.

Tidak jarang pula yang merasa ketakutan. Seakan-akan yang dilihat tersebut bukan manusia, melainkan hantu yang gentayangan. Apalagi anak-anak kecil, lebih seru lagi reaksinya.

Itu era 90-an… Bagaimana hari-hari sekarang setelah berlalu hitungan lebih dari seperempat abad?

Di beberapa daerah, pakaian cadar berlanjut keterasingannya dan masih saja dianggap aneh. Namun, alhamdulillah, di banyak daerah masyarakat sudah “terbiasa” melihat pemandangan muslimah yang menutup wajahnya dengan cadar. Jumlah pemakainya pun sangat banyak.

Akan tetapi, sangatlah disayangkan masih tersebar anggapan bahwa cadar adalah simbol bahwa pemakainya pengikut aliran sesat, bagian dari kelompok radikal dan golongan ekstrem. Memang didapati di antara istri para pelaku bom teror di negeri ini ternyata mengenakan cadar. Jadilah cap bahwa muslimah bercadar adalah bagian dari para teroris, wallahul musta’an.

Belum lama, istri seorang pimpinan teroris di Poso yang tertembak mati oleh pasukan keamanan dalam Operasi Tinombala, tertangkap setelah pelariannya selama 5 hari, dalam keadaan mengenakan penutup wajah. Nah, bertambah lagi fitnah bagi muslimah yang bercadar.

Ada juga orang-orang yang tidak memberikan cap buruk kepada cadar. Namun, mereka beranggapan bahwa cadar adalah budaya Arab yang ditiru oleh muslimah di negeri ini. Jadi, menurut mereka, sebenarnya cadar tidak cocok dengan budaya Indonesia.

Karena itulah, ada yang sinis ketika melihat muslimah bercadar, “Tuh yang cadaran merasa berada di negeri Arab. Kok nggak sekalian naik unta aja ke mana-mana.”

Ada juga yang berkata, “Wanita Arab aja banyak yang lepas cadar, kok perempuan Indonesia malah bergaya cadaran.”

Atau kalimat-kalimat cemoohan lain yang intinya menunjukkan ketidaksukaan mereka terhadap muslimah bercadar.

Yang lebih parah, ada yang menganggap bahwa cadar itu bid’ah, perkara yang dibuat-buat dan yang tidak dikenal dalam Islam. Kalaupun ada cadar, itu hanya zaman dahulu, khusus untuk istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Bagaimanakah duduk permasalahan yang sebenarnya? Bagaimana hukum

cadar dalam Islam? Apa kata ulama Islam yang terkenal tentang cadar?

Benarkah pemakai cadar dipastikan pengikut aliran sesat, kelompok teroris, membebek budaya Arab, dan mengikuti bid’ah?

Betul bahwa ada di antara kelompok aliran sesat yang wanitanya bercadar. Kelompok teroris juga demikian, ada yang wanitanya bercadar. Akan tetapi, cadar bukanlah ciri khas mereka. Artinya, kalau ada wanita yang bercadar belum tentu dia pengikut aliran sesat, belum tentu dia wanita teroris.

Intinya, jangan mudah memvonis dan menuduh tanpa mengerti hukum dan duduk perkara yang sebenarnya. Jangan pula menyamaratakan. Semua perlu kejelasan dan kepastian.

Yang kita inginkan adalah ilmu yang benar terkait masalah cadar ini agar tidak ada lagi tuduhan dan kecurigaan kepada pemakainya. Tidak pula muncul sikap memukul rata bahwa mereka semua dari aliran atau kelompok yang sama.

Karena di Indonesia banyak kaum muslimin yang mengikuti mazhab al-Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi’i rahimahullah, kami hanya akan membawakan ucapan beberapa ulama terkenal dari mazhab Syafi’i. Kami berharap kaum muslimin di negeri ini memiliki ilmu tentang masalah cadar dari mazhab yang mereka percayai dan mereka peluk.

Semoga tulisan ini membuka mata dan hati kaum muslimin di negeri tercinta ini agar tidak salah menilai dan berbuat. Wallahul musta’an.

 

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah

Siapa yang tidak kenal dengan al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah[1], seorang tokoh terdepan dalam mazhab Syafi’i.

Ketika membahas boleh tidaknya seorang wanita melihat ke lelaki ajnabi (bukan mahram), beliau rahimahullah menyatakan,

“Yang menguatkan pendapat ‘boleh’ adalah kaum wanita terus diperkenankan untuk keluar ke masjid, ke pasar, dan melakukan safar (bersama mahramnya –pen.) dalam keadaan mereka berniqab (bercadar) agar para lelaki tidak melihat (wajah) mereka.

Sementara itu, para lelaki sama sekali tidak diperintah untuk memakai niqab agar tidak terlihat oleh kaum wanita. Ini menunjukkan perbedaan hukum antara kedua golongan (laki-laki dan wanita).”

Dengan alasan ini pula al-Ghazali berargumen membolehkan wanita melihat lelaki ajnabi. Dia mengatakan,

“Tidaklah kita mengatakan bahwa wajah lelaki adalah aurat yang tidak boleh dilihat oleh wanita, sebagaimana wajah wanita adalah aurat yang tidak boleh dilihat oleh lelaki.

Wajah wanita itu seperti wajah amrad (anak lelaki yang belum tumbuh jenggotnya sehingga wajahnya tampak manis seperti perempuan –pen.) pada lelaki sehingga diharamkan memandang si amrad. Hanya saja, pengharaman (memandang amrad) ini ketika dikhawatirkan adanya godaan. Apabila tidak timbul fitnah[2], tidak haram.

(Bukti bahwa wajah lelaki bukan aurat, tidak seperti wajah wanita) adalah kaum lelaki sepanjang masa senantiasa terbuka wajahnya (tidak dicadari). Adapun kaum wanita, apabila keluar rumah mereka mengenakan niqab.

Seandainya lelaki dan wanita itu sama dalam hal ini, niscaya kaum lelaki akan diperintah untuk berniqab atau kaum wanita dilarang keluar rumah (agar tidak melihat wajah lelaki yang terbuka).” (Fathul Bari, 9/337)

Ketika menyebutkan ucapan Aisyah radhiallahu ‘anhuma,

        يَرْحَمُ اللهُ نِسَاءَ الْمُهَاجِرَاتِ الْأُوَلِ، لَمَّا أَنْزَلَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى} وَلۡيَضۡرِبۡنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّۖ { شَقَقْنَ مُرُوْطَهُنَّ فَاخْتَمَرْنَ بِهَا.

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala merahmati kaum wanita Muhajirat (yang berhijrah meninggalkan negerinya menuju Madinah –pen.). Tatkala Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan ayat (artinya), “Hendaklah mereka mengulurkan kerudung-kerudung mereka di atas dada-dada mereka,”[3] mereka memotong-motong muruth, lalu ikhtimar dengannya.

Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan, “Ucapan Aisyah radhiallahu ‘anha مُرُوْطَهُنَّ , muruth adalah jamak dari murth, maknanya izar/sarung/kain.... Ucapan Aisyah radhiallahu ‘anha فَاخْتَمَرْنَ maksudnya mereka menutupi wajah mereka (dengan potongan muruth).” (Fathul Bari, 8/490)

Alangkah bagusnya ucapan Ibnu Hajar rahimahullah, “Termasuk hal yang dimaklumi, seorang lelaki yang berakal tentu merasa keberatan apabila lelaki ajnabi melihat wajah istrinya, putrinya, dan semisalnya.” (Fathul Bari, 12/240)

 

Jalaluddin al-Muhalli rahimahullah

Saat menafsirkan firman Allah subhanahu wa ta’ala,

          يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِيُّ قُل لِّأَزۡوَٰجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ يُدۡنِينَ عَلَيۡهِنَّ مِن جَلَٰبِيبِهِنَّۚ ذَٰلِكَ أَدۡنَىٰٓ أَن يُعۡرَفۡنَ فَلَا يُؤۡذَيۡنَۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورٗا رَّحِيمٗا ٥٩

        “Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, putri-putrimu, dan wanitanya orang-orang beriman agar mereka mengulurkan jalabib (jilbab-jilbab) mereka di atas tubuh mereka. Hal itu lebih pantas untuk mereka dikenali sehingga mereka tidak diganggu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (al-Ahzab: 59)

 

seorang tokoh ulama mazhab Syafi’i yang terkemuka, Jalaluddin al-Muhalli rahimahullah[4] mengatakan, “Jalabib adalah bentuk jamak dari jilbab, yaitu mala’ah (pakaian panjang) yang menutupi seluruh tubuh wanita.

Ayat di atas memerintahkan agar mereka mengulurkan sebagian jilbab tersebut menutupi wajah, saat mereka keluar rumah untuk memenuhi kebutuhan mereka (tidak ada yang terlihat dari mereka) kecuali satu mata.

Firman-Nya,ذَٰلِكَ أَدۡنَىٰٓ  “hal itu” lebih pantas untuk أَن يُعۡرَفۡنَ “mereka dikenali” bahwa mereka adalah wanita merdeka (bukan budak), فَلَا يُؤۡذَيۡنَۗ “sehingga mereka tidak diganggu”, dengan dihadang (digoda) di jalan.

Berbeda halnya dengan wanita yang berstatus budak, mereka tidak menutupi wajah sehingga orang-orang munafik menghadang mereka (di jalan).

Firman-Nya, وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورٗا“dan adalah Allah Maha Pengampun” terhadap perbuatan mereka tidak berhijab pada masa yang lalu (sebelum turunnya perintah); dan رَّحِيمٗا “Allah Maha Penyayang”, terhadap mereka saat mereka berhijab.” (Tafsir al-Jalalain, hlm. 559, cetakan Darul Hadits)

 

Al-Hafizh Jalaluddin as-Suyuthi[5] rahimahullah

Nama beliau sering kita dengar. Orang-orang yang menisbatkan diri pada mazhab Syafi’i sudah tentu mengenalnya. Sebab, as-Suyuthi rahimahullah termasuk tokoh besar dalam mazhab Syafi’i . Apa gerangan pendapat beliau tentang cadar atau penutup wajah bagi wanita?

Saat menafsirkan firman Allah subhanahu wa ta’ala surat al-Ahzab ayat 59 di atas, beliau berkata, “Ayat di atas adalah ayat hijab yang berlaku untuk seluruh wanita. Di dalamnya ada kewajiban menghijabi kepala dan wajah. Ini tidaklah diwajibkan kepada para budak perempuan.”

Ibnu Abi Hatim rahimahullah mengeluarkan riwayat dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma terkait dengan ayat di atas. Kata Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, “Allah subhanahu wa ta’ala memerintah para wanita mukminah apabila keluar rumah untuk suatu kebutuhan, hendaknya menutupkan jilbab dari atas kepala mereka (hingga menutupi seluruh tubuh mereka –pen.) dan mereka menampakkan (hanya) satu mata (untuk kebutuhan melihat jalan –pent.).” (al-Iklil fi Istimbath at-Tanzil, hlm. 214, karya as-Suyuthi)

 

Ibnu Hajar al-Haitami rahimahullah

Pernah ada yang bertanya kepada Ibnu Hajar al-Haitami[6] rahimahullah kurang lebih sebagai berikut,

“Di zaman ini banyak kaum wanita keluar rumah menuju ke pasar (untuk berbelanja –pen.) dan masjid untuk mendengar nasihat, mengerjakan thawaf, dan keperluan selainnya di masjid Makkah (Masjidil Haram –pen.).

Namun, para wanita ini keluar dengan penampilan yang aneh (yang tidak dikenal dalam Islam karena Islam tidak mengajar demikian –pen.). Penampilan tersebut secara pasti dapat menggoda kaum lelaki.

Mereka keluar dalam keadaan berhias semaksimal yang mereka sanggupi, dengan berbagai dandanan, bermacam perhiasan dan pakaian, seperti gelang kaki, gelang tangan, dan perhiasan emas yang terlihat pada lengan-lengan mereka, ditambah lagi aroma bukhur (dupa yang semerbak) dan parfum.

Bersamaan dengan itu, mereka menampakkan banyak bagian tubuh mereka, seperti wajah, tangan, dan selainnya. Mereka berjalan berlenggak-lenggok/gemulai yang jelas terlihat bagi orang yang sengaja melihat ke arah mereka ataupun tidak.

Apabila penampilannya demikian, apakah pemimpin negeri dan kalangan yang memiliki kekuasaan serta kemampuan wajib melarang para wanita tersebut keluar rumah? Bahkan, melarang mereka datang ke masjid, sampaipun itu Masjid al-Haram?”[7]

Beliau rahimahullah memberikan jawaban yang panjang. Intinya, beliau menyatakan haramnya pelanggaran syariat yang disebutkan. Beliau juga menetapkan, wajib melarang wanita keluar rumah dalam keadaan yang disebutkan karena dapat menjerumuskan ke dalam godaan.

Di antara ucapan beliau rahimahullah, “Dalam Mansak Ibnu Jama’ah al-Kabir disebutkan, termasuk kemungkaran terbesar yang dilakukan oleh orang-orang awam yang jahil saat thawaf adalah para lelaki berdesak-desakan dengan istri-istri mereka yang dalam keadaan membuka wajah (tidak menutup wajah)….” (al-Fatawa al-Fiqhiyah al-Kubra, 1/201—202)

Demikianlah ucapan alim ulama mazhab Syafi’i. Mereka berbicara didasari oleh ilmu dan ketakwaan, bukan hawa nafsu.

Karena terbatasnya tempat kami hanya bawakan pandangan empat orang di antara mereka sebagai perwakilan. Ini baru ulama mazhab Syafi’i, belum ucapan ulama mazhab yang lain: mazhab Hanafi yang mengikuti pendapat Abu Hanifah rahimahullah, mazhab Maliki yang mengikuti al-Imam Malik rahimahullah, ataupun mazhab Hambali yang mengikuti pendapat al-Imam Ahmad ibnu Hambal rahimahullah.

Sungguh, tidak ada satu pun dari mereka yang mengatakan cadar itu haram, bid’ah, atau tidak dikenal dalam Islam.

Kalaupun ada di antara mereka yang berpendapat hukum cadar tidak wajib, hanya afdhaliyah atau sunnah, tidak ada seorang dari mereka yang mengatakan ‘terlarang bagi muslimah mengenakan cadar’ atau ‘cadar harus ditanggalkan’.

Nah, apabila demikian pendapat para ulama, sekarang apa yang kita permasalahkan saat melihat seorang muslimah bercadar?

Bukankah dia hanya ingin menjalankan perintah agama yang diyakininya? Bukankah dia ingin menjaga kehormatan dirinya dengan menutup tubuhnya secara sempurna?

Bukankah dia ingin menjaga dirinya dari godaan dan mencegah agar dirinya tidak menggoda orang lain?

Apa salahnya seorang muslimah yang bercadar? Bukankah tidak ada dosa yang dilakukannya terkait pakaiannya?

Namun, tentu saja si muslimah harus belajar cara berhijab yang syar’i, cadar yang sesuai syariat, sehingga tidak asal-asalan dalam berhijab.

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

 

 

 

[1] Beliau adalah al-Imam al-Hafizh Syihabuddin Abu al-Fadhl Ahmad bin Ali bin Hajar al-Asqalani. Beliau lahir dan tumbuh di negeri Mesir, tepatnya di bulan Sya’ban tahun 773 H. Ayah ibu beliau telah wafat saat beliau masik kanak-kanak, sehingga tumbuhlah Ahmad kecil dalam keadaan yatim.

Al-Qur’anul Karim telah selesai beliau hafalkan ketika berusia 9 tahun. Setelah itu rihlah/perjalanan menuntut ilmu agama dimulai. Beliau menuju ke banyak negeri. Dalam banyak bidang ilmu, Ibnu Hajar mencapai kekokohan (mutqin). Mengajar dan menyampaikan khutbah di al-Jami’ al-Azhar termasuk rutinitas beliau.

Karya-karya tulis yang besar manfaatnya banyak beliau hasilkan. Di antara karya monumental beliau adalah kitab Fathul Bari Syarhu Shahih al-Bukhari. Ibnu Hajar wafat di Mesir pada 8 Dzulhijjah 852 H.

[2] Fitnah yang dimaksud, misalnya, ketika seorang lelaki remaja/dewasa memandang wajah anak lelaki yang manis yang belum tumbuh jenggotnya, tergerak syahwatnya sebagaimana tergerak saat memandang wanita.

Apabila terjadi yang seperti ini, si lelaki diharamkan memandang wajah amrad.

[3] an-Nur: 31

[4] Beliau adalah Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Ibrahim al-Muhalli asy-Syafi’i, termasuk tokoh ulama ahli ushul, alim dalam bidang tafsir dan fikih.

Karya-karya beliau memberikan manfaat kepada orang banyak. Di antara karyanya adalah Tafsir al-Jalalain yang disempurnakan oleh Jalaluddin as-Suyuthi dan kitab Kanzu ar-Raghibin fi Syarh al-Minhaj.

Beliau lahir di Kairo pada 791 H dan wafat pada 864 H.

 

[5] Julukan beliau ialah Jalaluddin, nama beliau adalah Abdur Rahman bin Abi Bakr bin Muhammad bin Sabiquddin al-Khudhairi as-Suyuthi asy-Syafi`i. Beliau lahir di Kairo pada 849 H.

Beliau mengkhatamkan al-Qur’an pada usia 8 tahun. Menuntut ilmu ke banyak negeri, beliau tempuh. Dalam rihlah ilmiah tersebut beliau mempelajari ilmu nahwu, bahasa, fikih, hadits, dan ilmu-ilmu syar`i lainnya.

Saat mencapai usia 40 tahun, beliau fokus beribadah dan menyusun karya tulis. Murid-murid Jami’ al-Azhar berguru kepada beliau. Karya-karya beliau menjadi pegangan di Jami’ tersebut.

Di antara karya beliau adalah al-Itqan fi ‘Ulumil Qur’an, ad-Durr al-Mantsur fit Tafsir bil Ma’tsur, ad-Dibaj ‘ala Shahih Muslim ibnul Hajjaj, dll.

Beliau wafat di Kairo pada 911 H.

 

[6] Beliau digelari Syihabuddin. Nama beliau Ahmad bin Muhammad al-Haitami. Lahir pada 909 H di sebuah daerah di negeri Mesir.

Beliau seorang yang faqih, muhaddits, dan mencapai imamah, yakni ketokohan, keteladanan, dan panutan dalam mazhab al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah.

Beliau memiliki banyak karya tulis, di antaranya Mablagh al-Arabi fi Fadhail ‘Arab, Tuhfah al-Muhtaj li Syarh al-Minhaj.

Beliau wafat pada 974 H.

[7] Pertanyaan di atas terkait dengan masa 500 tahun yang lalu. Tergambar dalam pertanyaan tersebut kondisi wanita sudah sedemikian parah.

Mendidik Anak dan Pemuda

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ: إِمَامٌ عَادِلٌ، وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللهِ

“Ada tujuh golongan yang Allah subhanahu wa ta’ala naungi mereka dalam naungan-Nya pada hari tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, yaitu pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Allah….” (HR. Muslim)

 

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah pula memberikan nasihat khusus kepada para pemuda dengan menyerukan,

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

“Wahai sekalian pemuda, siapa di antara kalian yang telah memiliki kesanggupan hendaknya dia menikah. Siapa yang tidak mampu, hendaknya dia berpuasa karena puasa itu tameng baginya.” (HR. al-Bukhari)

 

Pada kesempatan lain, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat tangan Amr ibnu Abi Salamah radhiallahu ‘anhuma, anak istri beliau yang dalam asuhan beliau, ke sana ke mari saat santap bersama. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya,

يَا غُلَامُ، سَمِّ اللهَ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ، وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ

“Wahai bocah, ucapkanlah bismillah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah makanan yang ada di dekatmu!” (HR. Muslim)

 

Kepada saudara sepupu yang saat itu masih kecil, yaitu Abdullah ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan nasihat,

يَا غُلَامُ، إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ، احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ، إِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ

“Wahai bocah, aku akan ajarkan kepadamu beberapa kalimat; Jagalah Allah subhanahu wa ta’ala maka Allah subhanahu wa ta’ala akan menjagamu, jagalah Allah maka engkau akan dapati Dia dihadapanmu, jika engkau meminta, mintalah kepada Allah, dan jika engkau minta tolong, minta tolonglah kepada Allah!” (HR. at-Tirmidzi, dinyatakan sahih dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi)

Hadits-hadits di atas menunjukkan perhatian dan bimbingan Islam kepada anak, baik yang masih kecil maupun yang remaja. Hal ini menjadi tugas utama orang tua, ayah dibantu oleh ibu, selaku pihak yang akan dimintai pertanggungjawaban perihal anak-anak tersebut di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala.

Di antara hadits yang juga menunjukkan kewajiban orang tua mengajari dan mendidik anak-anak mereka adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مُرُوْا أَوْ دَالَكُمْ باِلصَّلاَةِ لِسَبْعٍ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا لِعَشْرٍ، وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ

“Perintahlah anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat ketika mereka berusia 7 tahun. Pukullah mereka bila tidak mau mengerjakan shalat pada usia 10 tahun, dan pisahkan tempat tidur mereka.” (HR. Abu Dawud)

Hadits di atas menyebutkan ibadah shalat, namun tidak berarti pendidikan anak hanya sebatas pengajaran shalat.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan shalat di dalam hadits tersebut karena ia adalah ibadah yang terpenting. Siapa yang menjaga shalatnya, niscaya ibadah yang selain shalat pun akan dia jaga. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِۗ

“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (al-Ankabut: 45)

Berilah anak-anak kalian arahan yang lurus. Didiklah mereka dengan baik. Jadikan diri kalian sebagai teladan yang baik bagi diri kalian sehingga mereka dapat meneladani kalian.

Bersihkan rumah-rumah kalian dari hal-hal yang tidak pantas. Hilangkan sarana yang mengantarkan kepada api kejelekan di dalam rumah sehingga menjadi “steril”. Artinya, hal-hal yang menjadi perantara menyimpangnya anak-anak kalian tidak boleh masuk ke dalamnya.

Para ayah menanggung amanat terkait urusan anak-anak mereka. Apabila orang tua dapat menunaikan kewajiban yang Allah subhanahu wa ta’ala bebankan kepada mereka, niscaya Allah subhanahu wa ta’ala akan memberikan pahala kepada mereka.

Orang tua hendaknya menjadi sebab kebaikan bagi anak-anak mereka sehingga anak-anak bisa menjadi qurratu a’yun bagi mereka di dunia dan di akhirat. Kelak di dalam surga, jika anak-anak itu saleh karena usaha ayah mereka—dengan izin Allah—ketika hidup di dunia, Allah subhanahu wa ta’ala akan mengumpulkan mereka di tempat yang sama di dalam surga.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَٱتَّبَعَتۡهُمۡ ذُرِّيَّتُهُم بِإِيمَٰنٍ أَلۡحَقۡنَا بِهِمۡ ذُرِّيَّتَهُمۡ وَمَآ أَلَتۡنَٰهُم مِّنۡ عَمَلِهِم مِّن شَيۡءٖۚ

        “Orang-orang yang beriman dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, maka Kami gabungkan anak keturunan mereka dengan mereka dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka.” (ath-Thur: 21)

Mendidik anak membutuhkan kesabaran dan kemauan menanggung kesulitan dari para orang tua. Ia membutuhkan kesungguhan total dari para orang tua. Terkhusus pada zaman ini, saat gelombang keburukan bergejolak dari segala arah. Gelombang keburukan tersebut mengakibatkan para pemuda menjadi seperti kambing-kambing di daerah yang dipenuhi hewan buas yang berbahaya.

Karena itu, para ayah harus mengupayakan agar anak-anak mereka tumbuh di atas ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Para pendahulu terbaik umat ini, assalafus shalih, memberikan perhatian yang besar terhadap anak-anak mereka. Mereka membimbing anak-anak mereka untuk menghafal Kitabullah dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka serahkan anak-anak mereka kepada para guru dan pendidik yang saleh. Mereka rela mengorbankan harta dan waktu yang tidak sedikit untuk kepentingan pengarahan dan pengajaran anak-anak mereka. Semuanya demi buah yang baik di masa depan yang mereka harapkan akan dipetik.

Mereka tidak meninggalkan anak-anak mereka. Waktu luang, materi, dan masa muda anak-anak tersebut, tidaklah diabaikan (namun digunakan sebaik-baiknya). Sebab, semua itu berbahaya bagi anak-anak tersebut.

Seorang penyair mengatakan,

إِنَّ الشَّبَابَ وَالْفَرَاغَ وَالْجِدَةَ

مُفْسِدَةٌ لِلْمَرْءِ أَيَّ مَفْسَدَةٍ

“Sungguh masa muda, waktu luang, dan kekayaan, merusak seseorang dengan kuatnya.”

Apabila mereka memiliki waktu luang, kemudaan dan kekuatan, didukung kekayaan, semua ini merupakan sebab yang dapat merusak.

Karena itu, hati-hatilah dari hal tersebut. Sibukkan waktu mereka dengan perkara yang bermanfaat. Jagalah waktu mereka agar tidak berlalu sia-sia. Jangan memberikan harta yang banyak kepada mereka. Berilah mereka sesuai kebutuhan dan kecukupan mereka yang harus dipenuhi.

Wahai kaum muslimin, ketahuilah, orang-orang kafir menyusun makar untuk anak-anak kalian. Mereka membuat rencana untuk merusak para pemuda muslimin. Sebab, mereka tahu bahwa masyarakat muslimin tegak dengan para pemuda mereka.

Di antara para pemuda itu akan ada yang menjadi pemimpin, ada yang menjadi hakim, ada yang menjadi dai yang mengajak kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan menjadi mujahid fi sabilillah, apabila para pemuda tersebut saleh dan tetap istiqamah.

Orang-orang kafir menyadari pentingnya keberadaan pemuda muslimin tersebut. Karena itu, mereka mengarahkan sarana-sarana perusak dan penghancur kepada para pemuda.

Mereka berupaya mengubah metode pembelajaran di sekolah-sekolah, dari metode Islam menjadi metode kufur, metode di luar Islam. Mereka ingin memalingkan para pemuda muslimin dari jalan yang benar.

Mereka menguasai media massa: siaran radio, televisi, dan surat kabar, untuk dijadikan sarana penyebaran kerusakan yang dapat mengubah akidah atau keyakinan para pemuda muslimin.

Orang-orang kafir memasukkan candu-candu dan minuman yang memabukkan kepada para pemuda, untuk melemahkan tubuh dan akal mereka. Jadilah para pemuda ini sebagai alat perusak dan penghancur di tengah masyarakat atau menjadi beban hidup bagi orang lain.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          مَّا يَوَدُّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ وَلَا ٱلۡمُشۡرِكِينَ أَن يُنَزَّلَ عَلَيۡكُم مِّنۡ خَيۡرٖ مِّن رَّبِّكُمۡۚ

        “Orang-orang kafir dari kalangan ahlul kitab dan orang-orang musyrik tidaklah menginginkan diturunkannya sesuatu kebaikan kepada kalian dari Rabb kalian.” (al-Baqarah: 105)

          وَدُّواْ لَوۡ تَكۡفُرُونَ كَمَا كَفَرُواْ فَتَكُونُونَ سَوَآءٗۖ

        “Mereka ingin supaya kalian menjadi kafir sebagaimana mereka kafir, sehingga samalah kalian dengan mereka.” (an-Nisa’: 89)

Allah subhanahu wa ta’ala telah memperingatkan kalian dari musuh-musuh kalian,

          إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ يُنفِقُونَ أَمۡوَٰلَهُمۡ لِيَصُدُّواْ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِۚ فَسَيُنفِقُونَهَا ثُمَّ تَكُونُ عَلَيۡهِمۡ حَسۡرَةٗ ثُمَّ يُغۡلَبُونَۗ

        “Sesungguhnya orang-orang kafir itu membelanjakan harta mereka untuk menghalangi manusia dari jalan Allah. Mereka akan membelanjakan harta tersebut, kemudian akan menjadi penyesalan bagi mereka dan mereka akan dikalahkan.” (al-Anfal: 36)

Orang-orang kafir itu akan menyesal dan akan kalah menurut ayat di atas. Akan tetapi, kapankah hal tersebut terjadi?

Itu akan terjadi saat kaum muslimin bangkit menghadapi mereka dengan berjihad yang diwajibkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, menentang kebatilan mereka, dan mewaspadai bahaya mereka.

Apabila kaum muslimin tunduk terhadap musuh-musuh tersebut, mengikuti dan berloyalitas kepada mereka, niscaya mereka akan mengawal kaum muslimin menuju neraka guna menemani mereka di sana.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          إِنَّ ٱلشَّيۡطَٰنَ لَكُمۡ عَدُوّٞ فَٱتَّخِذُوهُ عَدُوًّاۚ إِنَّمَا يَدۡعُواْ حِزۡبَهُۥ لِيَكُونُواْ مِنۡ أَصۡحَٰبِ ٱلسَّعِيرِ ٦

        “Sesungguhnya setan-setan itu hanyalah mengajak golongannya agar mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (Fathir: 6)

Hendaknya kita menyadari bahwa anak-anak kaum muslimin kelak akan menjadi tiang penyangga dan kekuatan masa depan dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala, apabila mereka tumbuh sebagai pribadi yang saleh. Mereka akan menjadi pengganti kalian sepeninggal kalian untuk mengurusi harta dan peninggalan kalian, termasuk mengurusi adik-adiknya yang masih kecil.

Jika bertakwa, tentu mereka akan dapat menunaikan tugas tersebut dengan baik dan menjadi penerus kehidupan ayah mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ، انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَ ثَالٍ؛ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحِ يَدْعُو لَهُ

        “Jika anak Adam meninggal, terputuslah amalannya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)

Sebagai penutup, kita tekankan kepada para orang tua agar bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan meneladani assalafus salih dalam mendidik anak-anak mereka. Dahulu, para salaf sangat perhatian terhadap urusan anak-anak mereka. Mereka mendidik anak-anak mereka dengan tarbiyah yang baik dan arahan yang lurus.

Satu contoh seperti yang diberitakan oleh al-Imam Ibrahim an-Nakha’i rahimahullah, “Mereka (para orang tua dan pendidik dari kalangan salaf) memukul (sebagai pukulan pendidikan) kami apabila bermudah-mudah memberikan persaksian dan berjanji, padahal kami masih kecil.”

Jika mereka mendengar anak kecil bersumpah, mereka memukulnya agar si anak terdidik untuk mengagungkan urusan sumpah dengan nama Allah subhanahu wa ta’ala dan menjauhi sifat dusta (bersumpah palsu).

Apabila anak kecil bermudah-mudah bersaksi tanpa dimintai persaksiannya, mereka memukulnya, agar si anak mendapat peringatan dan jera dari bersaksi palsu dan dusta.

Mereka tidak beralasan, “Anak ini masih kecil, biarkan. Jangan disalahkan, jangan dimarahi!”, atau kalimat semisalnya.

Sebab, anak kecil itu akan tumbuh di atas kebiasaan yang dia lakukan. Si anak akan tumbuh bersama akhlak yang dibiasakan atasnya, akhlak yang baik ataupun yang buruk.

Janganlah kalian menganggap enteng urusan anak-anak kalian dengan beralasan bahwa mereka masih kecil.

Bukankah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah kalian untuk menyuruh anak-anak kalian shalat pada saat mereka masih berusia 7 tahun? Padahal mereka belum baligh. Mereka masih kecil, belum diwajibkan shalat.

Akan tetapi, mereka diperintah shalat dengan tujuan menumbuhkan mereka di atas ibadah dan membiasakannya. Dengan begitu,mereka tahu pentingnya ibadah shalat. Diharapkan saat baligh nanti mereka merasa mudah mengerjakannya, karena sudah terbiasa dan dibiasakan sejak kecil.

Kesungguhan salaf dari kalangan sahabat, tabi’in, dan atba’ut tabi’in, semoga Allah subhanahu wa ta’ala merahmati mereka semua, tampak sekali dari buah yang dihasilkan dan yang mereka petik dari anak-anak tersebut.

Kisah mereka terukir dengan tinta emas sejarah yang bisa terus dibaca sampai hari ini.

Di antara anak-anak generasi salaf tersebut ada yang tumbuh menjadi panglima yang membuka negeri-negeri di penjuru barat dan timur bumi, seperti Khalid ibnul Walid, al-Mutsanna ibnul Haritsah, Usamah ibnu Zaid, Muhammad ats-Tsaqafi, dan selain mereka.

Mereka semua memimpin pasukan dalam keadaan usia mereka masih belia. Mereka berhasil menaklukkan negeri-negeri kafir untuk tunduk di bawah kekuasaan Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Mengapa bisa demikian? Karena mereka diarahkan dengan bimbingan yang lurus dan tumbuh dengan saleh berkat taufik dari Allah subhanahu wa ta’ala. Terkumpul pada diri anak-anak muda tersebut kekuatan pemuda dan kekuatan iman.

Di antara generasi muda salaf ada yang menjadi fuqaha besar, yang tidak pernah didapati yang semisal mereka di kalangan umat.

Di antara mereka ada yang menjadi hakim yang menjadi permisalan atau teladan yang agung dalam hal keadilan saat memberi keputusan dan hukum di antara manusia.

Ada pula di antara mereka yang menjadi dai ke jalan Allah subhanahu wa ta’ala. Melalui tangan mereka, banyak penduduk di berbagai belahan bumi, baik dari kalangan Arab maupun non-Arab, yang mendapatkan hidayah.

Semua itu tercapai dengan pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala, kemudian berkat kesungguhan para pemuda yang saleh, yang tercetak dari tarbiyah yang saleh.

Allah subhanahu wa ta’ala memberi kekuatan fisik, kekuatan berpikir dan menalar kepada mereka. Dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala, mereka akan menjelma menjadi kekuatan yang tidak tertandingi di tangan kaum muslimin.

Namun, sayang seribu sayang….

Di antara anak-anak muda tersebut dipermainkan oleh syahwat, candu, minuman yang memabukkan, dan serbaboleh (tidak peduli aturan agama).

Mereka duduk tekun di depan televisi, bioskop, teater, bermain game, dan terus terikat dengan sarana-sarana penghancur mereka. Jika sudah telanjur demikian, apa gerangan yang bisa diharapkan dari mereka?

Hanya Allah subhanahu wa ta’ala tempat mengadu dan Dia satu-satu-Nya yang dimintai pertolongan.

(Lihat al-Khuthab al-Mimbariyah fi al-Munasabat al-Ashriyah, 5/177—183, oleh Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan hafizhahullah, dialihbahasakan Ummu Ishaq al-Atsariyah dengan beberapa perubahan)

Peran Ibu dalam Tarbiyah Anak

Sebelum ini sudah panjang kita berbicara tentang peran wanita dalam kehidupan berumah tangga yang dimainkannya dalam istananya. Tersisa satu peran yang belum kita sebutkan, sementara ia amatlah penting, yaitu peran dalam mendidik anak-anak.

Mengapa dikatakan peran yang penting? Karena tarbiyah diarahkan kepada anak-anak, sementara mereka adalah umat masa depan. Bagaimana kondisi anak-anak tersebut dan pendidikannya pada hari ini, demikianlah gambaran umat pada masa mendatang.

Apabila mereka terdidik dengan baik, berarti disiapkan sebuah umat yang baik di masa mendatang. Sebaliknya, apabila pendidikan mereka disia-siakan, niscaya pada masa depan nanti yang muncul adalah umat yang buruk. Wallahul musta’an.

Sebenarnya, pendidikan anak bukan hanya tugas seorang ibu, melainkan tanggung jawab bersama dengan ayah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي بَيْتِهِ وَمَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْؤُوْلَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang yang dipimpinnya. Suami adalah pemimpin dalam rumah tangganya dan dia akan ditanya tentang yang dipimpinnya. Istri adalah pemimpin dalam rumah suaminya dan dia akan ditanya tentang yang dipimpinnya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Dalam lembaran al-Qur’an yang mulia termaktub ayat Allah subhanahu wa ta’ala,

          يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارٗا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri-diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu….” (at-Tahrim: 6)

 

Tanggung jawab mendidik anak berada pada pundak ayah dan ibu. Hanya saja, bila melihat praktik kesehariannya, kita dapati waktu seorang ayah bersama anak-anaknya di rumah tidak sebanyak waktu yang dihabiskan seorang ibu bersama anak-anaknya. Sebab, ayah harus keluar rumah untuk bekerja guna menanggung biaya kehidupan istri dan anak-anaknya atau untuk tugas-tugas lain yang lazim dipikul oleh seorang lelaki.

Memang ada saatnya seorang ayah berada seharian di rumahnya karena hari libur kerja atau tidak ada aktivitas di luar rumah. Namun, biasanya lelaki ingin memanfaatkannya untuk beristirahat dari kelelahan di hari-hari kerja.

Oleh karena itulah, seorang ibu mengambil porsi yang lebih besar dalam hal tarbiyah anak-anaknya daripada ayah, tanpa menampik kenyataan bahwa mendidik anak adalah tanggung jawab bersama.

Satu pelajaran dapat kita petik dari hadits Jabir bin Abdilah radhiallahu ‘anhuma berikut ini. Beliau radhiallahu ‘anhuma memberitakan tentang keadaannya,

هَلَكَ أَبِي وَتَرَكَ سَبْعَ بَنَاتٍ أَوْ تِسْعَ بَنَاتٍ، : فَتَزَوَّجْتُ امْرَأَةً ثَيِّبًا. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ تَزَوَّجْتَ يَا جَابِرُ؟ فَقُلْتُ: نَعَمْ. فَقَالَ: بِكْرًا أَمْ ثَيِّبًا؟ قُلْتُ: بَلْ ثَيِّبًا. قَالَ: فَهَلَّا جَارِيَةً تُلاَعِبُهَا وَتُلاَعِبُكَ وَتُضَاحِكُهَا وَتُضَاحِكُكَ. قَالَ: قُلْتُ لَهُ: إِنَّ عَبْدَ اللهِ هَلَكَ وَتَرَكَ بَنَاتٍ وَإِنِّي كَرِهْتُ أَنْ أُجِيْئَهُنَّ بِمِثْلِهِنَّ، فَتَزَوَّجْتُ امْرَأَةً تَقُوْمُ عَلَيْهِنَّ وَتُصْلِحُهُنَّ. فَقَالَ: بَارَكَ اللهُ لَكَ-أَوْ قَالَ: خَيْرًا

Ayahku meninggal dunia dan beliau meninggalkan tujuh atau sembilan putri. Aku pun menikahi seorang janda.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadaku, “Apakah engkau sudah menikah, wahai Jabir?”

“Ya,” jawabku.

Beliau bertanya lagi, “Dengan gadis atau janda?”

Aku jawab, “Dengan janda.”

“Mengapa engkau tidak menikah dengan gadis saja sehingga engkau bisa mula’abah dengannya dan dia bisa mula’abah denganmu? Engkau bisa bercanda dengannya dan dia bisa bercanda denganmu?” tanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lagi.

Aku menerangkan kepada beliau, “Sungguh, ayahku, Abdullah, meninggal dunia dan meninggalkan banyak anak perempuan. Aku tidak suka mendatangkan di tengah-tengah mereka perempuan yang semisal mereka (masih muda/belum dewasa). Aku pun menikahi seorang perempuan (janda/sudah dewasa) yang bisa mengurusi mereka dan merawat mereka.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan Jabir, “Semoga Allah memberkahimu.” Atau beliau berkata, “Bagus (apabila demikian).” (HR. al-Bukhari)

Hadits di atas menunjukkan bahwa seorang istri turut berperan mendampingi suaminya dalam mentarbiyah anak-anaknya, sekalipun anak-anak tersebut tidak terlahir dari rahimnya.

Al-Imam al-Bukhari rahimahullah memberi judul hadits di atas dalam kitab Shahihnya, bab ‘Aunul Mar’ah Zaujaha fi Waladihi, artinya Istri membantu suaminya dalam mengurus anak suami.

Seorang ibu tidak boleh asal-asalan atau sekenanya menjalankan peran yang penting ini. Karena itu, ibu harus membekali dirinya dengan pengetahuan yang memadai terkait dengan tugas mengasuh, merawat, dan mendidik anak.

Ada beberapa sisi yang perlu diperhatikan oleh seorang ibu agar tarbiyah bisa berjalan dengan baik, di antaranya adalah sisi kesehatan anak.

Mengapa demikian?

Anak yang sakit dan tumbuh dalam keadaan tidak sehat tentu tidak akan bisa menjadi pribadi yang sempurna yang bisa bermanfaat bagi umat. Karena itulah, seorang ibu harus memerhatikan bagaimana anaknya tumbuh dengan sehat. Seorang ibu perlu membekali dirinya dengan pengetahuan tentang hal ini.

Sisi lain yang perlu diperhatikan adalah memberikan tarbiyah akhlak kepada anak, menumbuhkannya di atas akhlak tersebut, dan menanamkan kebiasaan-kebiasaan yang baik kepadanya, serta menjauhkannya dari kebiasaan yang buruk. Diharapkan kelak dia tumbuh menjadi anak yang saleh sebagai penyejuk mata bagi kedua orang tuanya.

Tabiat Khusus Setiap Jenjang Usia

Seorang ibu harus memahami bahwa setiap jenjang usia dari kehidupan anak memiliki tabiat yang khusus dan cara khusus yang sesuai untuk mendidiknya. Ibu harus mengenali berbagai kekhususan anak agar bisa mendidiknya di atas manhaj tarbiyah yang lurus.

Di antara kekhususan tersebut:

  1. Qabiliyah, siap menerima.

Anak yang masih kecil ibarat lembaran putih yang belum tertulis apapun. Dia siap menerima arahan yang dimaukan oleh pendidiknya. Semisal ranting yang lunak, ia mengikuti tekukan ke arah mana pun yang diinginkan oleh orang membentuknya.

Oleh karena itu, seorang ibu harus bersiap mengisi lembaran putih tersebut dengan kebaikan.

 

  1. Madiyah fit Tafkir

Anak kecil belum bisa memahami dengan baik karena akalnya belum sempurna.

Oleh karena itu, seorang ibu tidak boleh merasa galau ketika anaknya tidak memahami beberapa hal. Sebab, anak menyerap apa yang ada di hadapannya dengan pikirannya yang belum sempurna.

Andai ibu mengatakan kepada anaknya, “Tiga ditambah tiga berapa?”

Bisa jadi, si anak tidak paham. Akan tetapi, apabila si ibu meletakkan tiga pena dan menambahkan tiga pena lagi, barulah si anak bisa menjawab, “Enam.”

Karena pikirannya belum sempurna, anak tidak dibebani syariat kecuali setelah baligh. Mendidik anak di atas sifat-sifat yang terpuji haruslah dikaitkan dengan amaliah (amal nyata) yang bisa disaksikannya.

Misalnya, ibu hendak mendidik anak agar memiliki sifat suka memberi. Dalam hal ini, ibu memberi contoh di hadapan anak dengan menyedekahkan uang, makanan, atau pakaian kepada fakir miskin.

 

  1. Al-Fardiyah wal Ananiyah, egois mau menang sendiri.

Ibu harus mengetahui bahwa sifat seperti ini ada pada anak-anak. Dengan demikian, ibu berusaha mengarahkannya dengan sabar hingga si anak akhirnya bisa menghormati orang lain.

 

  1. Anak punya kebutuhan-kebutuhan

Apabila kebutuhan ini tidak terpenuhi, pertumbuhannya akan terganggu atau akan muncul perangai yang buruk pada dirinya.

Di antara kebutuhan anak adalah:

  • Mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya
  • Memperoleh rasa aman, tidak ada kekhawatiran atau ketakutan yang terus menghantuinya.
  • Ingin dihargai dan diberikan kepercayaan. Apabila merasa tidak dihargai dan tidak diberikan kepercayaan, niscaya anak akan tumbuh menjadi pribadi yang kurang percaya diri.
  • Ingin memiliki teman. Dalam hal ini, ibu perlu mencarikan teman yang baik untuknya. Teman yang bisa mendukungnya menjadi pribadi yang baik agar tidak bertentangan dengan tarbiyah yang ditanamkan kepadanya.

Cara Mentarbiyah Anak

Ketahuilah, seluruh cara yang kita lakukan dan upayakan kembali kepada salah satu dari beberapa jalan berikut ini.

 

  1. Sekadar mendiktekan perintah dan larangan

Misalnya dengan mengatakan kepada anak, “Tidak boleh begini, tidak boleh begitu”, “Lakukan ini dan itu.”

Sangatlah disayangkan, cara seperti ini sering dilakukan oleh banyak orang tua, padahal pengaruhnya kurang terasa.

 

  1. Menyampaikan perintah dan larangan disertai cara lain, seperti memberikan nasihat, atau memberikan targhib (memberikan harapan kepada kebaikan) dan tarhib (menakut-nakuti dengan hukuman).

Cara seperti ini lebih berhasil daripada yang pertama.

 

  1. Mencontohkan dan memberikan teladan.

Seorang ibu harus memerhatikan dan memperbaiki adab dan akhlaknya agar bisa menjadi teladan yang baik bagi anak-anak yang dididiknya.

Dia tidak boleh memerintahkan sesuatu, sementara dia sendiri tidak mengerjakannya. Jangan pula dia melarang sesuatu, tetapi dia sendiri mengerjakannya.

Misalnya, ibu menyuruh anaknya membaca al-Qur’an, sementara dia sendiri tidak pernah terlihat membuka lembaran mushaf apalagi membacanya.

Ibu mengajari anaknya untuk bersifat jujur dan melarang berdusta, tetapi ibu sendiri berdusta di hadapan anak-anaknya.

Ada pula beberapa hal penting yang perlu diketahui terkait pendidikan anak, di antaranya:

  • Kapan diperkenankan untuk memukul anak?

Pukulan memang termasuk sarana pendidikan. Akan tetapi, seorang ibu yang baik tentu tidak asal memukul anaknya.

 

  • Menakut-nakuti anak dengan sesuatu dan pengaruhnya bagi kejiwaan anak.

Untuk mendiamkan atau menenangkan anak, orang tua biasa menakut-nakutinya dengan sesuatu. Dalam hal ini orang tua harus mempelajari, sejauh mana hal tersebut berpengaruh pada kejiwaan anak.

  • Menjauhkan anak dari pergaulan dengan anak-anak yang tidak terdidik dengan baik dan teman-teman buruk yang dapat menyeretnya jatuh dalam kejelekan.

 

  • Mengikuti perkembangan belajar anak, apa yang sudah dipelajarinya, sejauh mana pemahamannya terhadap ilmu yang telah disampaikan kepadanya.

  • Mendidik anak perempuan agar memiliki rasa malu.

Di antaranya dengan menyuruh dan membiasakannya memakai kerudung sejak kecil.

  • Tidak bolehnya menampakkan pertentangan antara ayah dan ibu saat memberikan arahan kepada anak.

Misalnya, ayah memerintah anak untuk berbuat sesuatu, sementara ibu melarangnya. Hal ini akan menimbulkan kebingungan pada anak, siapa yang harus diikuti.

  • Ucapan dan perbuatan tidak boleh bertentangan.

Jangan sampai ibu berkata kepada anaknya, ‘Nak, kamu jangan menunda-nunda shalat!’ sementara anak melihat ibunya kerap menunda-nunda shalat.

 

  • Senantiasa mendoakan kebaikan untuk anak dan menjaga lisan dari mendoakan keburukan untuk anak, apapun yang diperbuat anak yang membuat orang tuanya marah.

Hal-hal di atas perlu dipelajari lebih lanjut oleh seorang ibu yang ingin sukses mendidik anak-anaknya.

Apa yang kami tuangkan dalam ulasan di atas bukanlah dari pikiran kami sendiri, melainkan bimbingan seorang alim besar zaman ini, seorang murabbi (pendidik/pengajar) umat; Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah.

Beliau menyampaikan bimbingan di atas pada sebuah ceramah yang berjudul Daur al Mar’ah fi Tarbiyah al-Usrah (Peran Wanita dalam Mendidik Keluarga).

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala membalas beliau dengan limpahan kebaikan.

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah