Apakah Rezeki & Jodoh Sudah Tercatat?

Apakah Rezeki & Jodoh Sudah Tercatat?

Apakah rezeki dan jodoh sudah termaktub di Lauhul Mahfuzh? Apakah telah tercatat bahwa saya akan menikah dengan si Fulanah tertentu misalnya? Adakah rezeki itu ditentukan atau tergantung dengan usaha dan kepayahan seseorang? Apakah dalilnya?

asy-syaikh muhammad bin shalih al-utsaimin rahimahullah menjawab:

“Sejak Allah ‘azza wa jalla menciptakan pena, segala sesuatu sampai hari kiamat sudah tercatat di Lauhul Mahfuzh. Sebab, saat pertama kali menciptakan pena, Allah ‘azza wa jalla berfirman kepada pena,

        اُكْتُبْ. قَالَ: رَبِّي وَمَاذَا أَكْتُبُ؟ قَالَ: اُكْتُبْ مَا هُوَ كَاِئنٌ. فَجَرَى فِي تِلْكَ السَّاعَةِ مِمَّا هُوَ كَائِنٌ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

“Tulislah!”

Pena bertanya, “Wahai Rabbku, apakah yang harus aku tulis?”

Allah ‘azza wa jalla berfirman, “Tulislah apa saja yang akan terjadi.”

Berjalanlah pena pada saat itu menuliskan apa yang akan terjadi sampai hari kiamat.[1]

Ada kabar yang pasti dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa apabila telah berlalu empat bulan dari usia janin dalam rahim ibunya, Allah ‘azza wa jalla mengutus seorang malaikat yang akan meniupkan ruh pada si janin dan menuliskan rezeki, ajal, amal, dan sengsara atau bahagianya[2].

Rezeki sudah tercatat,tidak bertambah dan tidak berkurang. Akan tetapi, Allah ‘azza wa jalla menjadikan sebab-sebab yang dapat menambah dan mengurangi rezeki. Di antara sebabnya adalah seseorang bekerja untuk mencari rezeki, sebagaimana Allah ‘azza wa jalla berfirman,

هُوَ ٱلَّذِي جَعَلَ لَكُمُ ٱلۡأَرۡضَ ذَلُولٗا فَٱمۡشُواْ فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُواْ مِن رِّزۡقِهِۦۖ وَإِلَيۡهِ ٱلنُّشُورُ ١٥

        “Dialah yang menjadikan bumi itu mudah untuk kalian, maka berjalanlah di penjurunya (untuk berusaha) dan makanlah dari rezeki yang Allah karuniakan dan hanya kepada-Nya (kalian) kembali setelah dibangkitkan.” (al-Mulk: 15)

Temasuk sebab pula adalah menyambung hubungan rahim (silaturahim) dalam bentuk birrul walidain (berbuat baik kepada kedua orang tua) dan menyambung hubungan dengan kerabat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

        “Siapa yang suka dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaknya dia menyambung rahimnya (silaturahim).”[3]

Temasuk sebab beroleh rezeki adalah bertakwa kepada Allah ‘azza wa jalla. Dia ‘azza wa jalla janjikan dalam firman-Nya,

وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّهُۥ مَخۡرَجٗا  ٢ وَيَرۡزُقۡهُ مِنۡ حَيۡثُ لَا يَحۡتَسِبُۚ

        “Siapa yang bertakwa kepada Allah, Allah akan jadikan baginya jalan keluar dan Allah akan beri rezeki dari arah yang tidak dia sangka.” (ath-Thalaq: 2—3)

Namun janganlah dikatakan bahwa rezeki sudah tercatat dan sudah ditentukan sehingga kita tidak perlu melakukan sebab-sebab (upaya) yang bisa menyampaikan kepada rezeki tersebut. Sebab, sikap seperti itu termasuk kelemahan. Sikap yang cerdas dan menunjukkan kekokohan adalah kita berusaha menempuh sebab yang mengantarkan menuju rezeki kita dan melakukan hal yang bermanfaat dalam urusan agama dan dunia.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسُهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللهِ الْأَمَانِي

“Orang yang cerdas adalah yang menundukkan jiwanya dan beramal untuk persiapan kehidupan setelah mati. Adapun orang yang lemah adalah yang mengikuti keinginan hawa nafsunya lantas mengharapkan dari Allah angan-angannya.”[4]

Sebagaimana rezeki telah tercatat dan ditakdirkan dengan sebab-sebabnya, demikian pula jodoh. Ia telah tercatat dan ditakdirkan dengan sebab-sebabnya. Setiap orang telah tercatat pasangan hidupnya, telah ditentukan dengan siapa dia akan menikah. Tidaklah tersembunyi bagi Allah ‘azza wa jalla sesuatu pun yang ada di bumi dan yang ada di langit.

(Fatawa asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, 2/752)

 

Orang Tua Melarangku Menikahi Wanita Pilihanku

Saya seorang pemuda yang ingin menikah dan telah meminang seorang gadis yang bukan kerabat kami. Saya beritahukan hal itu kepada ayah dan ibu saya, namun ternyata keduanya menolak rencana pernikahan tersebut. Saya bersikeras tetap akan menikah dengan gadis tersebut.

Hanya saja (yang membuatku risau) ibuku mengancamku, “Jika kamu sampai menikahi gadis tersebut, ibu tidak akan memaafkan kamu di dunia dan di akhirat. Jangan kamu berhubungan lagi dengan kami selama-lamanya.”

Sikap saudara dan ayahku sama dengan sikap ibu, mereka semua menolak pernikahan tersebut. Saya sendiri tidak tahu mengapa mereka menolak rencana pernikahanku tersebut. Menurut saya, tidak ada sesuatu dari gadis itu yang dapat menjadi alasan untuk meninggalkannya, sehingga saya bersikukuh untuk menikahinya.

Pertanyaan saya, apakah saya berdosa jika menikahi gadis itu? Apakah perbuatan saya ini dianggap durhaka kepada ibu saya? Berilah saya fatwa, apa yang harus saya lakukan, menikahinya atau meninggalkannya?

asy-syaikh shalih bin Fauzan al-fauzan hafizhahullah menjawab:

“Selama kedua orang tuamu dan saudara-saudaramu sepakat untuk menentang pernikahanmu dengan gadis tersebut, padahal mereka adalah orang yang paling menginginkan kebaikan untukmu dan paling menyayangimu, (turutilah mereka).

Seandainya mereka tidak mengetahui ada sesuatu yang tidak pantas pada si gadis, niscaya mereka tidak akan melarangmu untuk menikahinya. Terkhusus kedua orang tuamu, kasih sayang kedua orang tua dan semangat keduanya agar anaknya mendapat kebaikan (amatlah besar).

Tidak sepantasnya engkau menikahi gadis itu karena mereka (orang tua dan saudara-saudaramu) telah memperingatkan dan menasihatimu untuk tidak menikahinya. Bukankah perempuan lain masih banyak (yang bisa engkau peristri)?

Siapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah ‘azza wa jalla, niscaya Dia gantikan dengan sesuatu yang lebih baik. Ketaatanmu kepada kedua orang tuamu dan saudara-saudaramu itu lebih baik bagimu.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَعَسَىٰٓ أَن تَكۡرَهُواْ شَيۡ‍ٔٗا وَهُوَ خَيۡرٞ لَّكُمۡۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّواْ شَيۡ‍ٔٗا وَهُوَ شَرّٞ لَّكُمۡۚ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ ٢١٦

“Bisa jadi, kalian membenci sesuatu padahal dia lebih baik bagi kalian. Bisa jadi pula, kalian mencintai sesuatu padahal dia lebih buruk bagi kalian. Allah Maha Mengetahui sementara kalian tidak mengetahui.”  (al-Baqarah: 216)

(al-Muntaqa min Fatawa Fadhilatusy Syaikh Shalih al-Fauzan, 3/213— 214)

[1] HR. at-Tirmidzi no. 3319, dinyatakan sahih dalam ash-Shahihah no. 133.

[2] HR.al-Bukhari dan Muslim.

[3] HR. al-Bukhari.

[4] HR. at-Tirmidzi no. 2459, namun hadits ini dinyatakan dhaif oleh asy-Syaikh Albani rahimahullah dalam ta’liq beliau terhadap kitab Riyadhus Shalihin no. 67.

Penampilan Seorang Muslim

Kami melihat beberapa orang yang berpegang dengan agama tidak memerhatikan kebersihan dan kerapian penampilan mereka. Jika ditanya tentang hal tersebut, mereka menjawab dengan hadits,

إِنَّ الْبَذَاذَةَ مِنَ الْإِيمَانِ

“Sesungguhnya bersahajanya penampilan itu termasuk keimanan.”[1]

Kami berharap penjelasan Fadhilatusy Syaikh, sejauh mana kebenaran pendalilan mereka tersebut. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala membalas Anda dengan kebaikan.

 

Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menjawab:

Sepantasnya pakaian dan penampilan seorang (muslim) terlihat indah sesuai dengan kemampuannya. Sebab, tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan hadits kepada para sahabat tentang sifat sombong, para sahabat berkata,

يَا رَسُوْلَ اللهِ، إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبَّ أَنْ يَكُوْنَ نَعْلُهُ حَسَنًا وَثَوْبُهُ حَسَنًا

“Wahai Rasulullah, sungguh ada orang yang senang memakai sandal yang bagus dan pakaian yang bagus (apakah hal tesebut termasuk sifat sombong?).”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda menafikan sifat senang berpenampilan indah sebagai pertanda kesombongan,

إِنَّ اللهَ جَمِيْلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ

“Sungguh, Allah itu Mahaindah dan mencintai keindahan[2].”

Maksudnya, Allah subhanahu wa ta’ala menyukai tajammul (berhias/berpenampilan indah). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengingkari kesenangan mereka mengenakan pakaian dan sandal yang bagus.

Berdasarkan hal ini, kami katakan bahwa yang dimaksud dengan hadits adalah agar seseorang tidak memberat-beratkan diri dalam segala sesuatu. Semuanya apa adanya.

Jadi, jika hadits ini dikompromikan dengan hadits tentang tajammul, maknanya adalah tajammul termasuk hal yang dicintai oleh Allah subhanahu wa ta’ala, tetapi dengan syarat tajammul tersebut tidak dilakukan dengan berlebih-lebihan atau melampaui tingkatan yang tidak sepantasnya dilakukan oleh seorang lelaki.”

(Fatawa Ulama al-Balad al-Haram, hlm. 1730—1731)

 

Pakaian Wanita di Hadapan Wanita dan Mahram

Bagaimana batasan pakaian yang dikenakan oleh wanita di hadapan sesama wanita dan di hadapan lelaki mahramnya (selain suami)?

Jawab:

Al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts al-Ilmiyah wa al-Ifta’ dalam keterangan (No. 21032, tanggal 21/1/1421 H) menyatakan,

“Wanita-wanita orang beriman di awal Islam benar-benar mencapai puncak kesucian, iffah (menjaga kehormatan diri), dan rasa malu dengan berkah iman kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta mengikuti al-Qur’an dan as-Sunnah.

Para wanita pada zaman tersebut biasa mengenakan pakaian yang menutupi tubuh mereka. Tidak dikenal di kalangan mereka kebiasaan membuka bagian-bagian tubuh saat berkumpul sesama mereka atau di hadapan lelaki mahram mereka.

Di atas kebiasaan yang lurus inilah perilaku para wanita umat ini, alhamdulillah, dari generasi ke generasi. Sampai akhirnya pada masa yang tidak terlalu jauh (dari sekarang), masuklah kerusakan pada kebanyakan kaum wanita dalam hal pakaian dan akhlak[3] karena banyak faktor. Namun, bukan di sini tempat menjelaskannya.

Mempertimbangkan banyaknya permintaan fatwa yang tertuju kepada al-Lajnah tentang sejauh mana batasan bolehnya seorang wanita memandang wanita lain dan pakaian seperti apa yang harus dikenakan wanita (di hadapan sesama wanita atau di hadapan mahramnya), Lajnah menerangkan bahwa kaum wanita wajib terikat dengan akhlak malu. Sebuah akhlak yang dijadikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai bagian keimanan dan salah satu cabangnya.

Termasuk malu yang diperintahkan secara syariat dan menjadi adat kebiasaan (‘urf) adalah wanita harus berpakaian tertutup (tasattur, tidak ‘buka-bukaan’). Wanita harus memiliki rasa malu yang besar. Selain itu, dia pun harus berperangai dengan akhlak yang dapat menjauhkan dirinya dari tempat-tempat buruk dan keraguan (yang membuat orang menyangsikan kesucian dirinya dan meragukan dirinya sebagai perempuan baik-baik).

Al-Qur’an menyebutkan bahwa seorang wanita tidak boleh menampakkan tubuhnya kecuali yang biasa ditampakkan di hadapan mahram-mahramnya dengan batasan yang biasa tampak.

Maksudnya, yang dianggap biasa terbuka di dalam rumah dan saat si wanita bekerja dalam rumahnya. Hal ini sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala (tentang pihak-pihak yang diperkenankan melihat perhiasan wanita yang biasa tampak dalam kesehariannya),

وَلَا يُبۡدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوۡ ءَابَآئِهِنَّ أَوۡ ءَابَآءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوۡ أَبۡنَآئِهِنَّ أَوۡ أَبۡنَآءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوۡ إِخۡوَٰنِهِنَّ أَوۡ بَنِيٓ إِخۡوَٰنِهِنَّ أَوۡ بَنِيٓ أَخَوَٰتِهِنَّ أَوۡ نِسَآئِهِنَّ

“Dan janganlah mereka (para muslimah) menampakkan perhiasan mereka, kecuali kepada suami-suami mereka, atau ayah-ayah mereka, atau ayah mertua mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka atau putra-putra dari saudara laki-laki mereka (keponakan), atau putra-putra dari saudari perempuan mereka, atau perempuan-perempuan mereka….” (an-Nur: 31)

Ayat di atas adalah nash al-Qur’an. Demikian pula yang berlangsung dari amalan istri-istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, istri-istri para sahabat radhiallahu ‘anhum, dan para wanita yang mengikuti mereka dengan kebaikan hingga masa kita ini.

Bagian tubuh yang biasa tampak dari wanita di hadapan sesamanya dan di hadapan lelaki kalangan mahramnya—sebagaimana yang tersebut dalam ayat yang mulia di atas—adalah bagian yang secara umum biasa terlihat dari si wanita saat berada dalam rumahnya dan saat dia beraktivitas (di dalam rumah) yang akan memberatkan si wanita untuk menutupnya[4]. Misalnya, kepala yang terbuka (tidak memakai kerudung), dua tangan, leher, dan dua telapak kaki.

Adapun dalam menampakkan bagian tubuh (melebihi apa yang telah disebutkan), tidak ada dalil yang menunjukkan kebolehannya dalam al-Qur’an ataupun as-Sunnah. Di samping itu, hal tersebut menjadi jalan munculnya fitnah (keburukan dan musibah) terhadap wanita dan tergodanya sebagian wanita dengan sebagian yang lain sebagaimana yang terjadi di antara mereka[5].

Selain itu, perbuatan tersebut menjadi contoh yang buruk bagi wanita lain (mereka akan meniru, ikut-ikutan membuka bagian tubuhnya yang semestinya tertutup di hadapan sesama atau di hadapan mahramnya[6]).

Ditambah lagi, ada unsur tasyabbuh dengan wanita-wanita kafir dan wanita-wanita “nakal” dalam hal (cara) berpakaian. Sementara itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Siapa yang menyerupai suatu kaum, dia termasuk golongan mereka.” (HR. al-Imam Ahmad dan Abu Dawud)[7]

Disebutkan dalam Shahih Muslim dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatnya memakai dua pakaian yang dicelup dengan ushfur. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda,

إِنَّ هَذِهِ مِنْ ثِيَابِ الْكُفَّارِ فَلاَ تَلْبَسْهَا

        “Pakaian ini termasuk pakaian orang-orang kafir maka jangan kamu pakai.”[8]

Dalam Shahih Muslim juga, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا: قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ يَضْرِبُوْنَ بِهَا النَّاسَ، وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيْلاَتٌ مَائِلاَتٌ، رُؤُوْسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلةِ، لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيْحَهَا وَإِنَّ رِيْحَهَا لَيُوْجَدُ مِنْ مَسِيْرَةِ كَذا وَكَذا

“Ada dua golongan dari penduduk neraka yang aku belum melihat mereka. (1) Suatu kaum yang bersama mereka ada cemeti seperti ekor-ekor sapi yang dengannya mereka memukul manusia, dan (2) wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang, yang berjalan berlenggak-lenggok. Kepala-kepala mereka miring seperti punuk unta yang miring. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium wangi surga, padahal wanginya dapat tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian.”[9]

Makna كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ adalah wanita yang mengenakan pakaian namun tidak menutupi tubuhnya. Jadi, dia berpakaian, namun hakikatnya telanjang. Misalnya, wanita mengenakan pakaian yang tipis/transparan hingga membayang tubuh di baliknya, mengenakan pakaian ketat yang membentuk lekuk-lekuk tubuhnya, atau pakaian pendek yang tidak menutupi sebagian tubuhnya.

Wanita kaum muslimin semestinya meneladani contoh yang ditunjukkan oleh ummahatul mukminin, para wanita kalangan sahabat—semoga Allah meridhai mereka—dan para wanita umat ini yang mengikuti mereka dengan kebaikan.

Selain itu, hendaknya para muslimah tidak ‘enggan-engganan’ untuk menutup tubuhnya dan selalu berpegang dengan rasa malu. Hal ini tentu lebih menjauhkannya dari sebab-sebab godaan dan menjauhkannya dari hal-hal yang dapat membangkitkan hawa nafsu dan menjatuhkan pelakunya ke dalam perbuatan keji.

Wanita kaum muslimin juga wajib berhati-hati, menjaga diri agar tidak jatuh ke dalam hal yang Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya haramkan, yaitu berupa berpakaian dengan busana yang menyerupai wanita kafir dan wanita pelacur. Semuanya dilaksanakan dalam rangka menaati Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya, mengharapkan pahala Allah subhanahu wa ta’ala dan takut akan siksa-Nya.

Setiap muslim juga wajib bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala dalam hal mengurusi para wanita yang berada di bawah perwaliannya. Jangan biarkan mereka mengenakan pakaian yang diharamkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya, yakni pakaian yang mengumbar aurat dan menyebabkan godaan. Hendaklah seorang muslim mengetahui bahwa dia adalah pemimpin (bagi keluarganya) dan akan dimintai pertanggungjawaban tentang apa yang dipimpinnya pada hari kiamat.

Kita mohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar Dia memperbaiki keadaan kaum muslimin dan memberi petunjuk kepada kita semua kepada jalan yang lurus.

Sungguh, Allah Maha Mendengar lagi Mahadekat. Shalawat dan salam semoga selalu terlimpah untuk Nabi kita Muhammad, keluarga beliau, dan sahabat-sahabat beliau.

(Dinukil dalam Fatawa Ulama al-Balad al-Haram, hlm. 1178—1181)

 

 

[1] Catatan kaki dari penerjemah:

 إِنَّ الْبَذَاذَةَ مِنَ الْإِيمَانِ

  1. Abu Dawud, kitab at-Tarajjul, hadits no. 4161, dari sahabat Abu Umamah al-Haritsi radhiallahu ‘anhu.

[2] Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian menerangkan bahwa sombong adalah,

بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Menolak kebenaran dan merendahkan manusia.” (HR. Muslim dalam Shahihnya, “Kitab al-Iman” no. 91)

[3] Mulailah terjadi pergeseran dari kebiasaan yang lurus; wanita mulai berpakaian terbuka.

[4] Apabila bagian tubuh tersebut harus ditutup saat berada di dalam rumah dan saat beraktivitas melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga, niscaya akan menyulitkan dan memberatkan si wanita. Sementara itu, tidak ada seorang pun lelaki ajnabi di rumah tersebut yang akan melihat auratnya.

[5] Walaupun sama-sama wanita, bisa jadi ada yang tergoda dan tergerak syahwatnya ketika melihat aurat wanita lain terbuka di hadapannya.

[6] Kecuali di hadapan suami karena tidak ada batasan aurat antara suami dan istri.

[7] HR. Abu Dawud no. 4031 dan Ahmad no. 5093, 5094, 5634.

[8] HR. Muslim dalam “Kitab al-Libas” no. 2077

[9] HR. Muslim dalam “Kitab al-Libas” no. 2127

Hajinya Wanita

Memakai Cincin Emas Saat Ihram

Apa hukum mengenakan cincin emas dan selainnya bagi wanita ketika sedang berihram, sementara wanita tersebut akan sering terlihat atau berada di antara lelaki yang bukan mahramnya?

Jawab:

Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjawab, “Tidak apa-apa wanita mengenakan perhiasan emas yang diinginkannya saat berihram, berupa cincin ataupun gelang pada kedua tangan. Asalkan tidak berlebih-lebihan. Akan tetapi, perhiasan yang dikenakannya tersebut harus dia tutup dari pandangan lelaki ajnabi (bukan mahram) karena khawatir (bila terlihat) akan timbul godaan.”

(Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibni Utsaimin, 22/201)

—————————————————————————————————————————

Pakaian Khusus Bagi Wanita Saat Haji

Apakah diharuskan wanita mengenakan pakaian berwarna tertentu di saat melaksanakan manasik haji?

Jawab:

Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah menjawab, “Tidak ada pakaian khusus yang harus dikenakan wanita saat berhaji. Pakaian yang dikenakannya adalah yang biasa dia pakai (saat keluar rumah atau di hadapan yang bukan mahram -pen.), yaitu pakaian yang menutupi tubuhnya, tidak diberi hiasan, dan tidak menyerupai lelaki.

Yang dilarang bagi wanita yang sedang berihram hanyalah mengenakan burqu’ dan niqab (cadar) yang dijahit atau ditenun untuk menutup wajah secara khusus, sebagaimana wanita dilarang mengenakan quffazain (kaos tangan) yang dijahit atau ditenun untuk menutup kedua telapak tangan secara khusus.

Wanita diharuskan tetap menutup wajahnya (saat berihram) dengan selain burqu’ dan niqab. Dia harus menutupi kedua telapak tangannya dengan selain quffazain. Sebab, wajah dan telapak tangan termasuk aurat yang harus ditutup.

Kesimpulannya, wanita tidaklah dilarang secara mutlak menutupi wajah dan kedua telapak tangannya saat ihram. Yang dilarang hanyalah menutup keduanya dengan burqu’, niqab, dan quffazain.”

(al-Muntaqa min Fatawa asy-Syaikh Shalih bin Fauzan, 3/184)

——————————————————————————————————————————

Wanita Berhaji Tanpa Mahram

Ada seorang ibu dari Saba yang dikenal salihah. Usianya sudah pertengahan, bahkan mendekati usia lanjut. Dia ingin melaksanakan ibadah haji, namun tidak memiliki mahram. Dari negerinya ada seorang lelaki yang juga dikenal saleh akan berhaji bersama para wanita dari kalangan mahramnya. Apakah dibolehkan ibu tersebut berhaji bersama lelaki tersebut karena si ibu tidak punya mahram yang bisa menemaninya berhaji, padahal dia memiliki kemampuan dari sisi harta? Berilah fatwa kepada kami.

Jawab:

Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjawab, “Tidak halal bagi ibu tersebut untuk berangkat haji tanpa mahram walaupun dia berangkat bersama rombongan wanita dan seorang lelaki yang tepercaya. Sebab, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkhutbah dengan menyatakan,

لَا تُسَافِرُ الْمَرْأَةُ إِلَّا مَعَ ذِيْ مَحْرَمٍ. فَقَامَ رَجُلٌ وَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، إِنَّ امْرَأَتِي خَرَجَتْ حَاجَّةً وَإِنِّي اكْتُتِبْتُ فِي غَزْوَةِ كَذَا وَكَذَا. فَقَال النَّبِيُّ: انْطَلِقْ فَحُجَّ مَعَ امْرَأَتِكَ  

“Wanita tidak boleh safar kecuali bersama mahramnya.”

Lalu seorang lelaki berdiri dan berkata, “Wahai Rasulullah, istri saya sungguh akan berangkat haji, sementara saya telah tercatat untuk mengikuti perang ini dan itu.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pergilah engkau, berhajilah bersama istrimu.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

 

Dalam kejadian di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak meminta perincian, apakah istrinya aman (dalam perjalanan nanti) ataukah tidak? Apakah bersamanya ada rombongan wanita dan lelaki yang bisa dipercaya, ataukah tidak? Karena tuntutan keadaan, sementara si suami telah tercatat untuk mengikuti peperangan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah si suami untuk meninggalkan peperangan dan keluar berhaji menemani istrinya.

Para ulama menyebutkan bahwa apabila wanita tidak memiliki mahram, ibadah haji tidaklah wajib baginya. Sampai pun dia meninggal dunia, dia tidak dihajikan dari harta yang ditinggalkannya. Sebab, semasa hidupnya dia tidak mampu (ada syarat yang tidak terpenuhi sehingga dia tidak memiliki kemampuan untuk berhaji, -pen.), sedangkan Allah ‘azza wa jalla mewajibkan haji bagi orang yang mampu.”

(Fatawa asy-Syaikh Muhammad Shalih al-Utsaimin, 2/592)

 

Wanita yang Berhaji Tanpa Mahram, Haruskah Mengulang?

Apabila seorang wanita telah berhaji tanpa ditemani mahramnya, haruskah dia berangkat haji lagi (mengulangi hajinya)?

 

Jawab:

Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjawab, “Apabila seorang wanita berhaji tanpa ditemani mahramnya, dia telah bermaksiat kepada Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Wanita tidak boleh safar kecuali bersama mahramnya.”

Lalu seorang lelaki berdiri dan berkata, “Wahai Rasulullah, istri saya sungguh akan berangkat haji, sementara saya telah tercatat untuk mengikuti perang ini dan itu.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pergilah engkau, berhajilah bersama istrimu.”

 

Akan tetapi, haji yang telah ditunaikannya sudah mencukupi baginya. Maksudnya, dia tidak perlu lagi mengulanginya (karena kewajiban haji yang sekali seumur hidup telah terpenuhi). Yang wajib dilakukannya (karena dahulu berhaji tanpa mahram) adalah bertobat kepada Allah ‘azza wa jalla dan beristighfar dari apa yang telah dia lakukan.”

(Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibni Utsaimin, 21/190)

Apa Itu Nikah Mut’ah?

Apa nikah mut’ah itu? Adakah ayat al-Qur’an atau hadits tentang nikah mut’ah? Apakah ada hadits yang mengharamkan nikah mut’ah ataukah sekadar makruh?

Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i rahimahullah menjawab:

“Mut’ah adalah seorang lelaki menikahi seorang perempuan untuk jangka waktu tertentu.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memang pernah mengizinkan para sahabat pada sebagian peperangan untuk melakukan nikah mut’ah (dengan perempuan setempat). Beliau juga mengizinkannya pada tahun Fathu Makkah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan nikah mut’ah ini pada sebagian peperangan[1] lalu melarangnya pada tahun Perang Khaibar[2]. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan lagi saat tahun Fathu Makkah sebagaimana disebutkan dalam hadits ar-Rabi’ ibnu Sabrah dari bapaknya[3], lalu melarangnya. Diizinkan juga dalam perang Hunain[4], kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melarangnya.

Maka dari itu, kaum muslimin semuanya mengharamkan nikah mut’ah. Sebagian sahabat, seperti Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma, membolehkan nikah mut’ah dan menyangka bahwa nikah mut’ah ini dibolehkan karena darurat. Namun, Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu mengingkari pendapat Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma tersebut. Ali berkata kepada Ibnu Abbas, “Sungguh, kamu adalah orang yang bingung yang keluar dari jalan yang lurus (dalam urusan ini).”[5] Adalah pantas Ali radhiallahu ‘anhu mengingkari Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma.

Nikah mut’ah haram sampai hari kiamat. Mereka yang membolehkan nikah mut’ah (orang-orang Syi’ah –pent.) menampakkan bukti terbesar bahwa mereka tidak mengikuti Ali bin Abi Thalib. Sebab, Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu meriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa mut’ah itu haram sampai hari kiamat. Ali radhiallahu ‘anhu juga mengingkari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma yang membolehkan mut’ah.

Orang-orang Syi’ah menganggap secara batil bahwa firman Allah subhanahu wa ta’ala,

فَمَا ٱسۡتَمۡتَعۡتُم بِهِۦ مِنۡهُنَّ فَ‍َٔاتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ فَرِيضَةٗۚ

“Maka istri-istri yang telah kalian nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka mahar-mahar mereka dengan sempurna sebagai suatu kewajiban.” (an-Nisa: 24)

turun tentang nikah mut’ah, padahal tidaklah demikian.

(Ijabah as-Sail ‘ala Ahammil Masail, hlm. 534—535)


Hukum Nikah Mut’ah dalam Islam

Apa hukum nikah mut’ah dalam Islam yang marak dilakukan oleh penganut agama Syi’ah?

 

Al-Lajnah ad-Daimah’[6] menjawab:

“Nikah mut’ah diharamkan dan batil (tidak sah) seandainya terjadi, berdasar riwayat al-Imam al-Bukhari dan al-Imam Muslim rahimahullah dari sahabat Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu bahwa pada waktu Perang Khaibar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang nikah mut’ah dan melarang memakan daging keledai ahliyah (keledai negeri/peliharaan). Dalam satu riwayat disebutkan, pada hari Khaibar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang memut’ah perempuan.

Al-Imam al-Khaththabi rahimahullah berkata, “Nikah mut’ah itu haram menurut ijma/kesepakatan ulama kaum muslimin, kecuali sebagian pengikut Syi’ah. Tidak sah kaidah mereka (orang-orang Syi’ah) untuk rujuk kepada Ali radhiallahu ‘anhu dalam urusan yang diperselisihkan. (Riwayat) yang sahih dari Ali radhiallahu ‘anhu justru menyebutkan bahwa nikah mut’ah telah dihapus (mansukh) pembolehannya.

Al-Imam al-Baihaqi rahimahullah menukilkan dari Jafar bin Muhammad, yang pernah ditanya tentang nikah mut’ah. Beliau menjawab, “Nikah mut’ah adalah zina itu sendiri (tidak beda dengan perzinaan).”

Pengharaman nikah mut’ah juga didasarkan hadits yang diriwayatkan al-Imam Muslim rahimahullah dalam kitab Shahih-nya dari Sabrah ibnu Ma’bad al-Juhani radhiallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bersabda,

        إِنِّي كُنْتُ قَدْ أَذَنْتُ لَكُمْ فِي الْاِسْتِمْتَاعِ مِنَ النِّسَاءِ وَإِنَّ اللهَ قَدْ حَرَّمَ ذَلِكَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، فَمَنْ كَانَ عِنْدَهُ مِنْهُنَّ شَيْءٌ فَلْيخل سَبِيْلَهُ وَلَا تَأْخُذُوْا مِمَّا آتَيْتُمُوْهُنَّ شَيْئًا

“Sungguh, aku pernah mengizinkan kalian untuk melakukan nikah mut’ah dengan para perempuan. Sungguh, (kemudian) Allah subhanahu wa ta’ala mengharamkannya sampai hari kiamat. Siapa di antara kalian memiliki istri yang dinikahi dengan cara mut’ah, hendaknya dia lepaskan dan jangan kalian ambil sedikit pun harta/pemberian yang telah kalian berikan kepada mereka.”

(Fatwa no. 3810, Fatawa al-Lajnah ad-Daimah, 18/441)


Menikah untuk Jangka Waktu Tertentu

Apa hukumnya dalam Islam, menikah hanya untuk jangka waktu tertentu?

Al-Lajnah ad-Daimah[7] menjawab:

“Menikah hanya untuk masa tertentu (setelah itu berpisah begitu saja) adalah nikah mut’ah yang batil, menurut kesepakatan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Sebab, nikah seperti ini hukumnya mansukh[8] oleh riwayat yang pasti dari hadits-hadits sahih yang melarang mut’ah. Apa yang dinyatakan terlarang berarti pernikahan yang batil/tidak sah.

‘Hubungan intim’ yang terjadi dengan pernikahan mut’ah itu teranggap zina sehingga berlaku hukuman berzina bagi diri pelakunya[9] dalam keadaan dia tahu batilnya mut’ah tersebut.”

(Fatwa no. 15952, Fatawa al-Lajnah, 18/445)


Menikah dengan Syiah Rafidhah

Apakah sah pernikahan dengan seorang Rafidhah atau dengan orang yang berkata bahwa shalat lima waktu tidak wajib baginya?

Jika dia bertobat dari pemahaman Rafidhah atau dia melakukan shalat dalam beberapa masa, kemudian dia kembali lagi menjadi Rafidhah atau kembali meninggalkan shalat, apakah dianggap sah pernikahan yang telah dilakukan dengannya?

Syaikhul Islam rahimahullah menjawab,

“Tidak boleh seorang pun menikahkan perempuan yang di bawah perwaliannya dengan lelaki Rafidhah, sebagaimana tidak boleh menikahkannya dengan lelaki yang meninggalkan shalat.

Namun, apabila wali perempuan menikahkan perempuan mereka dengan lelaki yang dikira sunni dan mengerjakan shalat, kemudian di belakang hari diketahui bahwa si lelaki adalah Rafidhah yang tidak mengerjakan shalat, atau dia kembali menjadi Rafidhah (setelah rujuk menjadi sunni) lantas meninggalkan shalat, para wali tersebut dapat mem-fasakh pernikahannya.”

(Majmu’ Fatawa, 16/261)


Apakah Syiah Rafidhah Itu Muslim?

Apakah boleh menamakan Rafidhah dan orang-orang Iran sebagai kaum muslimin?

Asy-Syaikh al-Muhaddits Muqbil bin Hadi al-Wadi’i rahimahullah menjawab,

“Rafidhah itu berbeda-beda. Di antara mereka ada orang-orang awam yang tidak tahu apa-apa. Mereka ini tidak boleh kita kafirkan dan hukum asal mereka adalah Islam. Di antara mereka ada yang mengetahui akidah Rafidhah dan meyakininya, ini yang teranggap kafir. Yang saya maksudkan adalah akidah Khomeini.

Siapa di antara mereka yang meyakini akidah Khomeini atau akidah al-Kulaini penulis al-Kafi, dia kafir. Di antara mereka ada ulama yang tidak meyakini akidah tersebut, tetapi mereka terus-menerus di atas Rafidhahnya, maka mereka adalah mubtadi’.

Jadi, kita harus adil dalam hal ini. Siapa di antara mereka yang akidahnya seperti akidah Khomeini atau al-Kulaini, barulah dia dianggap kafir.

Mengapa kita mengatakan Khomeini kafir? Karena dia mengatakan sebagaimana dalam al-Hukumah al-Islamiyah, “Sungguh, para imam kita memiliki kedudukan yang tidak dapat dicapai oleh seorang nabi yang diutus, tidak pula bisa dicapai oleh malaikat yang dekat.” Ini baru satu kesesatan.

Yang kedua, “Nash-nash yang disampaikan oleh para imam kita sama dengan nash-nash al-Qur’an.”

Yang ketiga, “Sungguh, para nabi dan para imam ahlil bait tidak sukses melaksanakan tugas mereka sebagaimana kesuksesan yang akan diraih oleh al-Mahdi dalam tugasnya.”

Yang dimaksud al-Mahdi adalah khurafat mereka, yaitu penghuni Sirdab. Siapa yang meyakini akidah semacam ini, dia kafir. Wallahul musta’an.

Orang-orang awamnya tidak boleh kita hukumi kafir. Demikian pula ulama mereka yang tidak meyakini akidah tersebut dan tidak melakukan perbuatan-perbuatan kufur.”

(Ijabah as-Sail ‘ala Ahammil Masail, hlm. 526—527)

[1] Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata, “Kami berperang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa membawa serta istri kami.

Kami berkata, ‘Tidakkah sebaiknya kita mengebiri diri kita?’ Namun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kami melakukannya.

Beliau memberi rukhshah untuk kami menikahi perempuan setempat dengan mahar berupa pakaian sampai tempo waktu tertentu.” (HR. al-Bukhari dan Muslim, –pent.)

[2] HR. al-Bukhari dan Muslim, dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu. (–pent.)

[3] Kata Sabrah radhiallahu ‘anhu, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah kami melakukan mut’ah pada tahun Fathu Makkah ketika kami masuk kota Makkah. Tidaklah kami keluar dari Makkah hingga beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kami melakukan mut’ah.” (HR Muslim, –pent.)

[4] Perang Hunain terjadi setelah Fathu Makkah. (–pent.)

[5] HR. al-Bukhari dan Muslim. (–pent.)

[6] Ketua: asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz;

Wakil Ketua: asy-Syaikh Abdurrazzaq Afifi;

Anggota: asy-Syaikh Abdullah bin Ghudayyan dan asy-Syaikh Abdullah bin Qu’ud.

[7] Ketua: asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz;

Anggota: asy-Syaikh Abdullah bin Ghudayyan, asy-Syaikh

Shalih al-Fauzan, asy-Syaikh Abdul Aziz Alusy Syaikh, dan asy-Syaikh Bakr Abu Zaid.

[8] Dahulu pernah diperbolehkan namun pada akhirnya dilarang. (–pent.)

[9] Kalau masih lajang dicambuk 100 kali dan diasingkan. Yang sudah menikah dirajam sampai mati. Penegakan hukum had ini dilakukan oleh pihak penguasa, bukan individu atau kelompok. (–pent.)

Menikah adalah Setengah Agama

Sejauh manakah kebenaran orang yang berkata ketika hendak menikah, “Aku hendak menyempurnakan setengah agamaku,” maksudnya menikah.

Jawab:

Al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts al-Ilmiyah wa al-Ifta[1] menjawab,

“As-Sunnah menunjukkan disyariatkannya menikah. Menikah merupakan salah satu sunnah para rasul. Dengan menikah—setelah taufik dari Allah subhanahu wa ta’ala—seseorang mampu mengalahkan banyak ajakan kejelekan. Sebab, menikah lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan, sebagaimana diterangkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Al-Hakim meriwayatkan dalam al-Mustadrak dari Anas radhiallahu ‘anhu secara marfu’,

مَنْ رَزَقَهُ اللهُ امْرَأَةً صَالِحَةً فَقَدْ أَعَانَهُ اللهُ عَلَى شَطْرِ دِيْنِهِ, فَلْيَتَّقِ اللهَ فِي الشَّطْرِ الْبَاقِي

“Barang siapa yang Allah berikan rezeki berupa istri yang salihah, sungguh Allah subhanahu wa ta’ala telah membantunya atas setengah agamanya. Selanjutnya, hendaknya dia bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala pada setengah yang tersisa.”[2]

Al-Baihaqi dalam asy-Syu’ab meriwayatkan dari ar-Raqasyi dengan lafadz,

إِذَا تَزَوَّجَ الْعَبْدُ فَقَدْ كَمُلَ نِصْفَ الدِّيْنِ، فَلْيَتَّقِ اللهَ فِي النِّصْفِ الْآخَرِ

“Apabila seorang hamba telah menikah, sungguh dia telahmenyempurnakan setengah agamanya. Hendaknya dia bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala pada setengah yang lain.”[3]

Wa billahi at-taufiq.” (Fatwa no. 18121)


Yang Menjauhkan dari Syahwat

Apa sajakah yang dapat menjauhkan seseorang dari syahwat untuk berbuat zina atau masturbasi?

 Jawab:

Di antara yang dapat menjauhkan seseorang dari perbuatan yang diharamkan adalah takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan berharap dengan apa yang ada di sisi-Nya subhanahu wa ta’ala berupa kenikmatan yang diperuntukkan bagi para hamba yang taat dan (takut) dari neraka yang disiapkan-Nya untuk orang-orang yang durhaka.

Seorang muslim semestinya mengenal Rabbnya dengan sebenar-benarnya bahwa Allah adalah Yang Satu, Esa, Yang Melihat seluruh keadaan manusia dan rahasia-rahasianya (yang disembunyikannya), mengetahui bahwa Allah subhanahu wa ta’ala adalah Mahakuat yang tidak dapat dipaksa, Mahakuasa atas segala sesuatu, Yang meliputi segala sesuatu.

Dia subhanahu wa ta’ala menciptakan manusia dalam kehidupan dunia ini untuk beribadah kepada-Nya dan menaati-Nya. Dia subhanahu wa ta’ala menjadikan manusia di dunia ini dalam keadaan diuji dan diberi cobaan, untuk dibalas-Nya orang yang beruntung mengikuti perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya dengan surga.

Sebaliknya, pelaku maksiat yang menyelisihi perintah-Nya dan justru melakukan larangan-Nya akan dibalas-Nya dengan neraka. Di dalam surga ada kenikmatan abadi yang tidak akan sirna. Di dalam neraka, ada azab yang pedih yang tidak akan sanggup dipikul.

Apabila seorang muslim mengetahui hal tersebut, tentu akan muncul pada dirinya rasa takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan berharap dengan apa yang ada di sisi-Nya.

Untukmu (wahai penanya), hendaknya menjauhi segala hal yang dapat membangkitkan syahwatmu, seperti tempat-tempat orang tidak memakai busana[4] (atau berpakaian minim), nyanyian, alat musik, dan memandang wanita (nonmahram).

Anda harus bermajelis (duduk berkawan) dengan orang-orang saleh. Anda menyibukkan diri dengan urusan-urusan dunia yang bermanfaat dan tentu saja menyibukkan diri dengan urusan agama. Bacalah beberapa kitab yang bisa memberimu faedah, seperti kitab Riyadhush Shalihin. Bersamaan dengan itu, Anda memperbanyak tilawah al-Qur’an.

Siapa yang selamat dari maksiat ini, diharapkan dia beroleh kebaikan, bertambah derajatnya, dan tinggi kedudukannya di akhirat. Ini berdasarkan hadits yang sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ

“Ada tujuh golongan yang Allah subhanahu wa ta’ala naungi mereka dalam naungan-Nya pada hari tidak ada naungan kecuali naungan-Nya….”

Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tujuh golongan tersebut, di antaranya,

شَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللهِ، وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصَبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ: إِنِّي أَخَافُ اللهَ

Anak muda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan seorang lelaki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan, namun si lelaki berkata, “Sungguh, aku takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala.”[5]

Wa billahi at-taufiq. (Fatwa no. 14778)


Saudara Lelaki Jadi Wali, Ayah Masih Ada

Ada wanita dinikahkan oleh saudara lelakinya padahal ayah atau kakeknya masih hidup. Peralihan wali tersebut dengan persetujuan sang ayah atau kakek. Apakah sah akad nikah tersebut?

Jawab:

Apabila wali yang jauh menikahkan seorang wanita padahal ada wali yang lebih dekat, dalam keadaan wali yang lebih dekat tersebut tidak memiliki alasan syar’i untuk dialihkan perwaliannya, tidak ada pula wasiat atau pesan darinya untuk memindahkan hak perwaliannya, akad nikah tersebut batil, tidak sah pernikahan tersebut.

Sebab, wali yang lebih jauh tidak memiliki hak perwalian terhadap si wanita apabila ada wali yang lebih dekat dan lebih berhak daripada dirinya.

Akan tetapi, apabila yang berhak menikahkan seorang wanita (sebagai walinya) menyerahkan hak perwaliannya kepada wali yang di bawahnya atau mewasiatkan kepada orang yang pantas menjadi wali untuk menikahkan wanita yang di bawah perwaliannya, akad tersebut dibolehkan. Artinya, pernikahan tersebut sah.

Sebab, si wali berhak menyerahkan perwaliannya kepada orang yang diwakilkannya untuk menduduki posisinya. Berdasarkan hal ini, saudara lelaki boleh mengurusi akad nikah saudari perempuannya, jika memang wali yang lebih berhak telah mewakilkan dan menyerahkan urusan kepadanya.

Wa billahi at-taufiq. (Fatwa no. 19627)


Berjabat Tangan dengan Mantan Istri Ayah

Ayahku pernah menikah dengan seorang wanita, tetapi ayahku menalaknya sebelum “mencampuri”-nya. Apakah aku boleh menemui mantan istri ayahku, mengucapkan salam kepadanya, dan berjabat tangan dengannya?

Jawab:

Wanita yang telah melangsungkan akad nikah dengan ayahmu, walau kemudian dicerai sebelum ayahmu “mencampuri”-nya, dia telah menjadi haram bagimu dengan pengharaman selamanya (tidak terbatas waktu)[6].

Jadi, Anda termasuk dari kalangan mahram si wanita, berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَلَا تَنكِحُواْ مَا نَكَحَ ءَابَآؤُكُم مِّنَ ٱلنِّسَآءِ إِلَّا مَا قَدۡ سَلَفَۚ إِنَّهُۥ كَانَ فَٰحِشَةٗ وَمَقۡتٗا وَسَآءَ سَبِيلًا ٢٢

“Dan janganlah kalian menikahi wanita-wanita yang pernah dinikahi oleh ayah-ayah kalian kecuali kejadian yang telah lampau (sebelum datangnya larangan). Sesungguhnya menikahi mantan istri ayah merupakan perbuatan yang amat keji, dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh).” (an-Nisa: 22)

Wa billahi at-taufiq. (Fatwa no. 20503)


Menikahi Mantan Istri Ayah & Mantan Istri Anak

Apakah boleh seorang lelaki menikahi mantan istri ayahnya jika ayahnya belum sempat “bercampur” dengan si mantan istri?

Bolehkah seorang ayah menikahi mantan istri putranya jika si putra belum sempat “bercampur” dengan mantannya?

Jawab:

Istri ayah—walaupun ayah karena hubungan penyusuan[7]—dan istri semua kakek seterusnya ke atas[8], haram dinikahi untuk selama-lamanya oleh putra si ayah atau cucu si kakek walaupun terus ke garis bawah[9], dengan semata-mata berlangsungnya akad nikah, walaupun belum terjadi “percampuran”.

Bahkan, meski belum berduaan sekali pun. Hal ini berdasarkan keumuman firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَلَا تَنكِحُواْ مَا نَكَحَ ءَابَآؤُكُم مِّنَ ٱلنِّسَآءِ إِلَّا مَا قَدۡ سَلَفَۚ إِنَّهُۥ كَانَ فَٰحِشَةٗ وَمَقۡتٗا وَسَآءَ سَبِيلًا ٢٢

“Dan janganlah kalian menikahi wanita-wanita yang pernah dinikahi oleh ayah-ayah kalian kecuali kejadian yang telah lampau (sebelum datangnya larangan). Sesungguhnya menikahi mantan istri ayah merupakan perbuatan yang amat keji, dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh).” (an-Nisa: 22)

Demikian pula apabila seorang lelaki telah melangsungkan akad nikah dengan seorang wanita, wanita tersebut menjadi haram untuk dinikahi oleh ayah si lelaki (mertuanya), kakek si lelaki (kakek mertua), dan seterusnya ke atas[10].

Keharaman ini bersifat abadi, baik hubungan ayah-anak itu karena nasab maupun karena penyusuan, walaupun pasangan tersebut belum “bercampur” dan belum khalwat/berdua-duaan. Yang menunjukkan hal ini adalah keumuman firman Allah subhanahu wa ta’ala yang menyebutkan wanita-wanita yang haram dinikahi oleh seorang lelaki,

وَحَلَٰٓئِلُ أَبۡنَآئِكُمُ ٱلَّذِينَ مِنۡ أَصۡلَٰبِكُمۡ

“Dan istri-istri dari putra-putra kandung kalian.” (an-Nisa: 23)

dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

يُحْرَمُ مِنَ الرَّضَاعَةِ مَا يُحْرَمُ مِنَ النَّسَبِ

“Diharamkan karena penyusuan apa yang diharamkan karena nasab.”[11]

Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan dalam ayat bahwa yang haram dinikahi adalah mantan istri dari anak lelaki kandung untuk mengecualikan dari anak lelaki angkat. Perbuatan mengangkat anak lantas dinasabkan kepada ayah angkatnya[12] dahulu dilakukan oleh orang-orang jahiliah dan Islam datang mengharamkannya.

Wa billahi at-taufiq. (Fatwa no. 19764)

[1] Saat itu diketuai oleh Samahatusy Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah. Semua fatwa yang akan disebutkan dalam lembar fatwa kali ini dari al-Lajnah ad-Daimah, dinukil dari kitab Fatawa al-Lajnah ad-Daimah, kitab an-Nikah, jilid 17. (–pent.)

[2] Dinyatakan dha’if oleh al-Imam al-Albani rahimahullah dalam adh-Dhaifah dan Dhaif al-Jami’ no. 5599. –pent.

[3] Hadits ini hasan sebagaimana dalam ash-Shahihah no. 625 dan Shahih al-Jami’ no. 430 dengan lafadz,

إِذَا تَزَوَّجَ الْعَبْدُ فَقَدْ اسْتَكْمَلَ نِصْفَ الدِّيْنِ، فَلْيَتَّقِ اللهَ فِي النِّصْفِ الْبَاقِي

[4] Seperti kolam renang atau pantai tempat wisata. (–pent.)

[5] HR. Muslim. (-pent.)

[6] Diharamkan untuk menikah dengan mantan istri ayah (ibu tiri) selama-lamanya, dengan semata-mata akad, tidak dipersyaratkan harus “bercampur”. (–pent.)

[7] Bukan ayah kandung/karena hubungan nasab. (-pent.)

[8] Kakek langsung (ayahnya ayah) atau kakek buyut (kakeknya ayah) dan terus ke atas. (-pent.)

[9] Maksudnya, cucu dan seterusnya ke bawah dari garis keturunan seseorang, seperti cicit (anaknya cucu), anaknya cicit (cucunya cucu), dst. (-pent.)

[10] Buyut suami, ayah dari buyut suami, kakeknya, dan seterusnya. (-pent.)

[11] HR. Muslim. Kesimpulannya, mantan istri anak laki-laki kandung atau anak laki-laki karena susuan haram selamanya untuk dinikahi oleh ayah mertuanya. (-pent.)

[12] Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukannya sebelum turun ayat yang melarang. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan Zaid bin Haritsah radhiallahu ‘anhu sebagai anak angkat yang sangat beliau sayangi. Sampai-sampai Zaid dipanggil dengan Zaid bin Muhammad. Islam datang membatalkan kebiasaan jahiliah ini dan memerintahkan agar anak angkat dipanggil dengan penasaban kepada orang tua yang melahirkannya, bukan kepada orang tua angkatnya.

Menikahi mantan istri anak angkat tidak diharamkan oleh syariat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi Zainab bintu Jahsyin radhiallahu ‘anhu, mantan istri Zaid bin Haritsah radhiallahu ‘anhu. (-pent.)

Istri Pernah Disusui Ibu Tiri Suami

Saya seorang istri yang telah menikah sejak 15 tahun lalu dan telah dikarunia 6 anak. Setelah lewat masa 15 tahun pernikahan, saya baru mengetahui bahwa saya pernah disusui bersama-sama saudari seayah dari suamiku[1].

Sementara itu, saya pernah mendengar sebuah hadits yang maknanya bahwa Nabi mengatakan untuk kondisi seperti ini, “Air susu itu dinisbatkan kepada ayah.[2]

Jika demikian keadaannya, apa yang harus kami lakukan sekarang?

 Jawab:

Benar bahwa air susu itu milik atau dinisbatkan kepada ayah sebagaimana yang anda sebutkan. Ini permasalahan ‘laban al-fuhl’ yang dikenal di kalangan ahlul ilmi.

Yang sahih, dengan penyusuan tersebut ditetapkanlah hubungan kemahraman. Apabila ada seorang anak perempuan menyusu dari salah satu istri seseorang, berarti seluruh anak laki-laki dari seseorang itu haram untuk menikah dengan anak perempuan susu tersebut[3]. Sama saja apakah si perempuan menyusu dari ibu suaminya atau dari istri ayah suaminya (ibu tiri suami).

Akan tetapi, untuk kasus yang disebutkan dalam pertanyaan, selama akad nikah telah selesai dilangsungkan dan telah terjadi pernikahan, maka hukum asalnya ‘baqa’un nikah’, yaitu pernikahan tetap teranggap ada. Pernikahan tersebut tidak batal sampai diperoleh kepastian bahwa dalam penyusuan tersebut tercapai batasan penyusuan yang menyebabkan terjalinnya kemahraman, yaitu 5 kali penyusuan yang diketahui (tidak diragukan jumlahnya –pent.).

Apabila dipastikan si perempuan pernah menyusu dari salah seorang istri bapak mertuanya sebanyak 5 kali penyusuan yang dimaklumi, si perempuan wajib dipisahkan dari suaminya. Suaminya haram menikahinya karena si perempuan adalah mahramnya dengan sebab penyusuan.

Adapun pernikahan yang sudah berlangsung adalah nikah syubhat. Anak-anak yang terlahir dari hubungan tersebut digabungkan nasabnya dengan ayahnya (diakui sebagai anak sah bukan anak zina).

Namun, apabila semata-mata berita bahwa pernah terjadi penyusuan, tanpa diketahui bagaimana tata cara atau bentuk penyusuan tersebut, serta berapa jumlah penyusuan; hukum asalnya pernikahan tersebut tetap berlanjut.

Si perempuan tetap statusnya sebagai istri si lelaki, selama tidak dipastikan terjadi penyusuan yang menjadi sebab pengharaman.

(Majmu’ Fatawa Fadhilatusy Syaikh Shalih al-Fauzan, 2/579—580)

 


Wanita Berhias Setelah Selesai Masa Iddah

Apakah seorang perempuan yang telah selesai masa iddahnya, baik iddah karena ditalak maupun iddah karena suami wafat, diperkenankan berhias untuk menerima pinangan? Jika diperbolehkan, apakah tidak bertentangan dengan apa yang disebutkan oleh al-Qur’an al-Karim bahwa perempuan tidak boleh menampakkan perhiasannya kecuali kepada suaminya atau lelaki dari kalangan mahramnya?

Jawab:

Perempuan yang telah selesai dari iddah talak atau iddah wafat diperbolehkan berhias dengan apa yang diperbolehkan oleh Allah menurut yang ma’ruf. Hal ini berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta’ala,

فَإِذَا بَلَغۡنَ أَجَلَهُنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيۡكُمۡ فِيمَا فَعَلۡنَ فِيٓ أَنفُسِهِنَّ بِٱلۡمَعۡرُوفِۗ

“Apabila telah habis iddahnya, tidak ada dosa bagi kalian (para wali) ketika membiarkan mereka (para perempuan yang telah selesai iddah) untuk berbuat terhadap diri mereka menurut yang ma’ruf (biasa dilakukan)….” (al-Baqarah: 234)

Maknanya, berhias dengan sesuatu yang wajar secara kebiasaan, tidak menimbulkan godaan, dan tidak menimbulkan kerusakan. Dia boleh berhias menggunakan celak, pacar, dan mengenakan pakaian yang indah.

Namun, tidak bermakna bahwa dia menampakkan diri di hadapan para lelaki ajnabi dengan perhiasan tersebut. Sebab, diharamkan baginya memperlihatkan perhiasannya meski hanya sedikit, di hadapan lelaki ajnabi. Hal ini berlaku ketika dia sudah keluar dari iddahnya maupun belum.

Di hadapan lelaki, perempuan muslimah diharamkan menampakkan sesuatu yang membuat pandangan mata menoleh kepadanya (karena mengagumi keindahannya), baik berupa perhiasan tubuhnya (keindahan tubuh) atau perhiasan pakaian yang dikenakannya.

Ayat yang disebutkan di atas tidaklah bertentangan dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَلَا يُبۡدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوۡ ءَابَآئِهِنَّ أَوۡ ءَابَآءِ بُعُولَتِهِنَّ

“Dan janganlah mereka (para perempuan) menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami-suami mereka….” (an-Nur: 31)

Sebab, yang dimaksud oleh ayat yang sebelumnya adalah perempuan diperbolehkan berhias di dalam rumahnya (di tengah-tengah mahramnya –pent.) dan di hadapan sesama perempuan.

Adapun dia keluar di hadapan para lelaki ajnabi dengan menampakkan perhiasannya, sama sekali tidaklah dibolehkan. Tidak bagi dirinya yang sudah selesai dari masa iddah, tidak pula bagi muslimah selain dirinya.

(Majmu’ Fatawa Fadhilatusy Syaikh Shalih al-Fauzan, 2/580)

[1] Berarti si penanya disusui oleh istri dari ayah suaminya (istri bapak mertua), yang berarti ibu tiri suaminya, ibu dari saudari seayah suaminya. (-pent.)

[2] Karena dengan sebab melahirkan anaknya, si istri bisa menghasilkan air susu. (-pent.)

[3] Baik yang terlahir dari istrinya yang menyusui si anak perempuan susu maupun yang terlahir dari istri-istrinya yang lain. Semua anak laki-laki ayah susu adalah saudara lelaki sepersusuannya.

Menikah Disyariatkan Ketika Dibutuhkan

Apakah ada batasan usia layak menikah bagi pemuda dan pemudi?

Apakah ada perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang hukum poligami?

Jawab:

Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah menjawab[1],

“Tidak ada batasan usia tertentu untuk menikah. Perkaranya kembali kepada kebutuhan untuk menikah. Bila seorang pemuda atau pemudi butuh untuk menikah dalam usia berapa saja, maka disyariatkan kepada keduanya untuk menikah, tanpa membatasi umur, karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرَجِ

Wahai sekalian pemuda! Siapa di antara kalian yang memiliki kemampuan, hendaknyalah menikah. Sebab, menikah akan lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Secara umum pernikahan dilakukan setelah seseorang baligh. Akan tetapi, seandainya seorang pemuda menikah sebelum usia baligh, atau pemudi dinikahkan sebelum baligh, maka tidak ada larangan dalam hal ini. Sebab, tidak ada batasan usia layak menikah yang jika seseorang belum mencapai usia tersebut maka belum boleh menikah. Namun, saat baligh, kebutuhan untuk menikah lebih kuat. Kesimpulannya, pernikahan disyariatkan ketika ada kebutuhan untuk melakukannya.

Adapun masalah poligami, kebolehannya disepakati oleh kaum muslimin tanpa ada perbedaan pendapat, berdasar firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَإِنۡ خِفۡتُمۡ أَلَّا تُقۡسِطُواْ فِي ٱلۡيَتَٰمَىٰ فَٱنكِحُواْ مَا طَابَ لَكُم مِّنَ ٱلنِّسَآءِ مَثۡنَىٰ وَثُلَٰثَ وَرُبَٰعَۖ فَإِنۡ خِفۡتُمۡ أَلَّا تَعۡدِلُواْ فَوَٰحِدَةً أَوۡ مَا مَلَكَتۡ أَيۡمَٰنُكُمۡۚ

“Dan jika kalian khawatir tidak akan dapat berlaku adil terhadap perempuan yatim (bilamana kalian menikahinya), nikahilah perempuan-perempuan lain yang kalian senangi; dua, tiga, atau empat. Namun, jika kalian khawatir tidak akan dapat berlaku adil, nikahilah seorang perempuan saja atau budak-budak yang kalian miliki.” (an-Nisa: 3)

Poligami disepakati kebolehannya oleh ahlul ilmi, dengan syarat si lelaki menyakini dirinya dapat memenuhi kebutuhan para istri berupa nafkah belanja, pakaian, dan tempat tinggal.

Jika si lelaki dapat memenuhi kebutuhan para istri, dia boleh menikahi sampai empat wanita. Namun,apabila dia tidak mampu memenuhi kebutuhan istri dan khawatir berbuat curang dalam hal pembagian di antara para istri, dalam hal pemberian nafkah belanja, dan dalam hal pergaulan, dia mencukupkan dirinya dengan satu istri.

فَإِنۡ خِفۡتُمۡ أَلَّا تَعۡدِلُواْ فَوَٰحِدَةً

Jika kalian khawatir tidak akan dapat berlaku adil, nikahilah seorang perempuan saja…”

Yang dimaksud ‘adil’ dalam ayat di atas adalah adil dalam hal bergaul dengan istri, dalam hal pemberian nafkah belanja, tempat tinggal dan pakaian, serta halhal lain yang mampu diterapkan keadilan padanya.

Adapun kecondongan dan kecintaan hati, tidak ada seorang manusia pun yang sanggup mengaturnya (sehingga tidak mungkin seorang suami dituntut menyamakan cintanya kepada para istrinya –pent.).

Karena itulah, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلَن تَسۡتَطِيعُوٓاْ أَن تَعۡدِلُواْ بَيۡنَ ٱلنِّسَآءِ وَلَوۡ حَرَصۡتُمۡۖ فَلَا تَمِيلُواْ كُلَّ ٱلۡمَيۡلِ فَتَذَرُوهَا كَٱلۡمُعَلَّقَةِۚ

“Dan kalian sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara istri-istri kalian walaupun kalian sangat ingin berbuat demikian. Karena itu, janganlah kalian terlalu cenderung kepada istri yang lebih kalian cintai sehingga membiarkan istri yang lain (yang tidak atau kurang dicintai) terkatung-katung (tidak dipergauli dengan baik, namun tidak juga diceraikan –pent.)….” (an-Nisa: 129)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membagi di antara istri-istrinya dan beliau berbuat adil. Beliau berkata,

اللَّهُمَّ هَذَا قِسْمِي فِيْمَا أَمْلِكُ، فَلاَ تَلُمَّنِي فِيْمَا تَمْلِكُ وَلاَ أَمْلِكُ

“Ya Allah, inilah pembagianku dalam apa yang aku mampu. Janganlah Engkau mencelaku dalam apa yang Engkau kuasa sementara aku tidak kuasa.” (HR. Ashabus Sunan yang empat, dinyatakan sanadnya jayyid oleh al-Albani, al-Misykat no. 3235)

Yang beliau maksud dengan ‘yang aku tidak mampu’ adalah kecondongan dan kecintaaan kalbu. Karena itu, seorang lelaki tidak berdosa apabila dia lebih mencintai sebagian istrinya. Sebab, urusan cinta di luar kemampuannya (dia tidak bisa menguasai dan mengaturnya).

Dia dihukumi berdosa hanyalah ketika berlaku curang dan tidak adil dalam hal pembagian di antara para istri (dalam urusan yang disanggupi untuk berlaku adil). Hal inilah yang membuat seseorang berdosa apabila tidak adil. Hal ini pula yang membuat seseorang tidak boleh berpoligami, yakni ketika tidak sanggup berbuat adil.

Batasan poligami dengan empat istri merupakan hal yang disepakati. Bila ada pendapat yang mengatakan boleh menikahi lebih dari empat istri, pendapat tersebut ganjil. Ijma’ (kesepakatan) ulama menyelisihi pendapat yang ganjil tersebut. (Majmu’ Fatawa Fadhilatusy Syaikh, 2/529530)

 


Nikah Paksa

Apa hukumnya seorang pemudi atau pemuda menikah dengan paksaan keluarganya? Boleh atau tidak, mendurhakai (tidak menurut) kedua orang tua dalam hal ini?

Jawab:

Yang pertama, tidak sepantasnya seseorang dipaksa untuk menikah, baik dia lelaki maupun perempuan. Semestinya seseorang menikah karena keinginannya sendiri.

Terkait dengan masalah tidak menuruti orang tua dalam hal ini, perlu dirinci.

Apabila wanita yang dijodohkan denganmu oleh ayahmu secara paksa itu atau lelaki yang dijodohkan oleh seorang ayah dengan putrinya secara paksa, tidak cocok dari sisi agama[2], orang tua tidak boleh ditaati dalam hal ini. Sebab, ini berarti urusan maksiat, padahal tidak boleh ada ketaatan kepada makhluk dalam hal bermaksiat kepada al-Khaliq.

Apabila seseorang menolak pasangan yang dijodohkan dengannya oleh orang tua bukan karena alasan agama, melainkan alasan yang lain, bisa jadi karena perangai atau hal lain yang tidak terkait agama, sebaiknya engkau menaati orang tuamu. Bisa jadi, hal itu baik bagimu.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَعَسَىٰٓ أَن تَكۡرَهُواْ شَيۡ‍ٔٗا وَهُوَ خَيۡرٞ لَّكُمۡۖ

“Bisa jadi, kalian membenci sesuatu padahal itu lebih baik bagi kalian.” (al-Baqarah: 216)

فَإِن كَرِهۡتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰٓ أَن تَكۡرَهُواْ شَيۡ‍ٔٗا وَيَجۡعَلَ ٱللَّهُ فِيهِ خَيۡرٗا كَثِيرٗا ١٩

“Jika kalian tidak menyukai mereka (para istri), (bersabarlah) karena bisa jadi kalian tidak menyukai sesuatu padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (an-Nisa: 19)

Bisa jadi, ayahmu memiliki pandangan yang lebih baik dan lebih jauh daripada dirimu untuk kebaikan di kemudian hari.

Jadi, apabila ketidaksukaanmu kepada istri atau ketidaksukaan istri kepada suami (karena nikah paksa) bukan karena alasan agama, yang lebih baik dia mematuhi ayahnya. Dia tetap melangsungkan pernikahan. Mudah-mudahan dalam pernikahan itu ada kebaikan, insya Allah.” (Majmu’ Fatawa Fadhilatusy Syaikh, 2/540541)

[1] Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan berikutnya juga dari fatwa Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah.

[2] Maksudnya, orang yang akan dijodohkan itu tidak bagus agamanya, padahal syariat memerintahkan untuk memilih pasangan yang agamanya baik. (-pent.)

Buku Pendidikan Tulisan Orang Kafir

Tentang buku-buku pendidikan dan kesehatan yang ditulis oleh orang kafir, dan tidak menyelisihi syariat kita, apakah boleh kita mengambil faedah dari buku-buku tersebut dalam hal mendidik anak-anak kita dan memerhatikan kesehatan selama tidak menyelisihi syariat yang lurus ini?

Asy-Syaikh Abdullah al-Bukhari hafizhahullah menjawab:

Buku-buku atau artikel-artikel yang ditulis dalam bab ini—tentang pendidikan—ada dua macam. Ada yang bermanfaat, ada yang bermadarat.

Tidak diragukan lagi, yang bermadarat tentu saja dijauhi. Bisa jadi, madaratnya ada pada tulisan, bisa jadi pula pada penulisnya. Maksudnya, penulisnya diketahui memiliki penyimpangan atau kesesatan. Apabila demikian, tentu tidak dirasa aman bahwa dalam tulisannya yang tampak baik dia menyusupkan ungkapan-ungkapan yang membekas, lantas bercokol dalam kalbu seorang mukmin. Akhirnya hal itu menjadi syubhat, kemudian berubah menjadi pemikiran atau akidah. Oleh karena itu, kami katakan bahwa jenis yang ini dijauhi sama sekali.

Jenis yang kedua adalah (tulisan) yang bermanfaat, yaitu yang mengandung kebaikan dan bisa dibaca oleh manusia. Akan tetapi, pertanyaannya adalah hal apa yang ada pada orang kafir dan tidak dimiliki oleh pemeluk kebenaran?

Pertanyaan ini wajib dilontarkan, atau sebagaimana dikatakan: terlontar dengan sendirinya. Kebenaran mana yang mereka miliki dan tidak kita punyai?

Sungguh, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak meninggalkan sebuah solusi dan jalan (melainkan telah beliau jelaskan). Sejak dahulu, para ulama pun telah menyusun berbagai tulisan terkait dengan anak-anak dan tarbiyah mereka. Bahkan, karena agungnya urusan anak, sebagian ulama menulis kitab untuk menyabarkan para orang tua ketika anak mereka tiada karena meninggal atau yang semacamnya.

Ibnul Jauzi rahimahullah menulis kitab Laftul Kabid ‘inda Faqdil Walad. Ibnu Nashiruddin ad-Dimasyqi rahimahullah menulis kitab Bardul Akbad ‘inda Faqdil Aulad. Demikian pula ulama selain mereka berdua.

Apabila pada buku tersebut ada hal-hal yang tidak ada di sisi pemeluk kebenaran, dilihat. Jika yang mereka tulis tidak menyelisihi syariat kita dan pokok-pokoknya, tidak mengapa mengambil faedah darinya. Bahkan, terkadang harus, apabila ada kebutuhan yang mendesak. Hanya saja, untuk menentukan harus atau tidaknya, dikembalikan kepada para ulama. Wallahu a’lam.

(Huququl Aulad ‘ala Aba wal Ummahat, hlm. 53—54)

Sebutan ‘Almarhum’

Apakah boleh mengatakan ketika menyebut orang mati   الْمَرْحُومُ فُلَانٌ (Almarhum Fulan) atau غَمَّدَهُ اللهُ بِرَحْمَتِهِ (Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memenuhinya dengan rahmat-Nya) atau انْتَقَلَ إِلَى رَحْمَةِ اللهِ (Dia telah berpindah kepada rahmat Allah subhanahu wa ta’ala)?

Lanjutkan membaca Sebutan ‘Almarhum’

Fatwa Seputar Shalat Wanita dan Takziyah

Mengeraskan Bacaan dalam Sholat bagi Wanita

Apakah wanita yang sedang shalat boleh mengeraskan bacaan dengan suara yang bisa didengar, sementara shalat yang dikerjakan tersebut bukan shalat jahriyah tetapi shalat sunnah, shalat rawatib, atau shalat sirriyah. Tujuan si wanita mentartil/mengeraskan bacaannya adalah agar bisa khusyuk dan tidak lupa, dalam keadaan di dekatnya tidak ada lelaki dan tidak pula wanita yang lain?

Jawab:

Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah menjawab,

“Apabila dalam shalat yang dikerjakan pada malam hari, wanita disunnahkan mengeraskan (jahr) bacaan shalatnya, baik shalat tersebut adalah shalat fardhu (Maghrib, Isya, dan termasuk Subuh, -pent.) maupun shalat sunnah, selama suaranya tidak terdengar oleh lelaki ajnabi (nonmahram) yang dikhawatirkan akan tergoda dengan suaranya.

Jadi, apabila si wanita shalat di tempat yang suaranya tidak terdengar oleh lelaki ajnabi dan shalat yang dikerjakan adalah shalat malam hari, si wanita boleh mengeraskan bacaannya. Akan tetapi, jika hal tersebut mengganggu orang lain (mengacaukan bacaan orang lain yang juga sedang shalat -pen.), dia membaca dengan sirr/perlahan.

Adapun dalam shalat yang dikerjakan siang hari, bacaannya sirr. Sebab, shalat siang hari adalah shalat sirriyah, bacaannya dilafadzkan sebatas bisa didengar oleh dirinya sendiri.

Tidak disunnahkan mengeraskan bacaan dalam shalat siang hari karena hal tersebut menyelisihi sunnah.”

(Fatawa Nur ‘ala ad-Darb, oleh asy-Syaikh Shalih al-Fauzan, hlm. 51)

Wanita Shalat di Rumahnya Setelah Azan atau Setelah Iqamat di Masjid?

Kapan waktunya wanita mengerjakan shalat di rumahnya? Apakah setelah terdengar azan? Ataukah menunggu setelah diserukan iqamat (di masjid)?

Jawab:

Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah menjawab,

“Apabila telah masuk waktu shalat, para wanita yang berada di rumah boleh mengerjakan shalat tanpa harus menunggu iqamat. Mereka boleh shalat setelah mendengar azan dikumandangkan, apabila memang muazin menyerukan azan ketika telah masuk waktunya.

Para wanita diperbolehkan pula menunda shalat dari awal waktunya (tidak mengerjakannya di awal waktu, tetapi setelahnya selama waktu shalat tersebut belum habis, -pent.).

Wallahu a’lam.”

(al-Muntaqa min Fatawa asy-Syaikh Shalih al-Fauzan, 3/181)

Syarat Wanita Menjadi Imam bagi Sesamanya

Apakah ada syarat-syarat bagi wanita untuk menjadi imam sesama wanita?

Jawab:

Samahatusy Syaikh Abdullah bin Humaid rahimahullah menjawab,

“Apabila seorang wanita memiliki bacaan al-Qur’an yang lebih bagus dan hafalan lebih banyak dibandingkan dengan para wanita yang lain, tidak ada larangan baginya (menjadi imam shalat bagi sesama wanita) sebagaimana halnya seorang lelaki. Sebab, dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam pernah memerintah Ummu Waraqah untuk mengimami penghuni rumahnya.”

(Fatawa Nur ‘ala ad-Darb, siaran radio Saudi)

Hukum Wanita Mengimami Anak Lelaki

Apa hukumnya wanita mengimami anak lelaki?

Jawab:

Fadhilatusy Syaikh Muhammad ibnu Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjawab,

“Yang benar, seorang wanita tidak boleh menjadi imam bagi lelaki, baik si lelaki masih kecil (anak-anak) maupun sudah besar (remaja/dewasa). Jadi, apabila wanita ingin shalat berjamaah maka dia jadikan anak kecil tersebut sebagai imam, sementara dia shalat di belakang si anak. Sebab, anak kecil dibolehkan menjadi imam sampaipun dalam shalat fardhu.

Telah tsabit dari hadits ‘Amr bin Salamah al-Jarmi, dia memberitakan, “Ayahku berkata, ‘Aku sungguh-sungguh datang dari sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam—karena ayahnya dahulunya adalah salah seorang utusan dari utusan-utusan yang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam pada 9 H.’ Ayah berkata, ‘Aku datang kepada kalian sungguh-sungguh dari sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam. Beliau ketika itu bersabda (kepada kami),

إِذَا حَضَرَتِ الصَّلاَةُ فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدُكُمْ وَلْيَؤُمَّكُمْ أَكْثَرُكُمْ قُرْآناً.

‘Apabila telah datang waktu shalat, hendaknya salah seorang dari kalian menyerukan adzan dan hendaknya orang yang paling banyak hafalan al-Qur’annya mengimami kalian dalam shalat.’

Amr berkata, ‘Mereka (kaumnya) melihat (siapa yang paling banyak hafalannya). Ternyata mereka tidak dapati ada orang yang paling banyak hafalannya selainku. Mereka pun mengedepankan aku (sebagai imam). Padahal ketika itu usiaku baru enam atau tujuh tahun’.”

Hadits di atas tsabit dalam Shahih al-Bukhari dan menjadi dalil bahwa anak kecil boleh menjadi imam dalam shalat fardhu.”

(Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibnu Utsaimin, 15/147)


Shalat Kusuf/Gerhana di Rumah

Apakah diperkenankan bagi wanita untuk mengerjakan shalat gerhana sendirian di rumahnya? Manakah yang lebih utama bagi si wanita?

Jawab:

Fadhilatusy Syaikh Muhammad ibnu Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjawab,

“Tidak apa-apa wanita shalat gerhana sendirian di rumahnya. Sebab, perintah mengerjakan shalat tersebut umum, yaitu, ‘Shalatlah kalian dan berdoalah sampai tersingkap apa yang tertutup pada kalian’.

Jika si wanita keluar ke masjid sebagaimana yang dilakukan oleh para wanita sahabiyah lantas shalat bersama manusia, hal ini memiliki kebaikan.”

(Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibnu Utsaimin, 16/310)

 

Ucapan Ta’ziyah

Apa yang diucapkan ketika berta’ziyah ke keluarga orang yang meninggal?

Jawab:

Fadhilatusy Syaikh Muhammad ibnu Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjawab,

“Kalimat terbagus yang diucapkan ketika ta’ziyah adalah apa yang diucapkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam kepada salah seorang putri beliau. Saat itu, putri beliau mengutus orang untuk memanggil beliau agar datang ke tempatnya karena anak lelaki atau anak perempuannya (cucu beliau) tengah menghadapi kematian. Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam pun bersabda kepada si utusan,

مُرْهَا فَلْتَصْبِرْ وَلْتَحْتَسِبْ، فَإِنَّ لِلهِ مَا أَخَذَ وَلَهُ مَا أَبْقَى، وَكُلُّ شَيْءٍ عِنْدَهُ بِأَجَلٍ مُسَمَّى

“Suruhlah dia agar bersabar dan mengharapkan pahala. Sebab, sungguh hanya milik Allah-lah apa yang diambil-Nya dan milik-Nya pula apa yang Dia biarkan (tidak ambil). Segala sesuatu di sisi-Nya memiliki ajal yang sudah ditentukan.[1]

Adapun ucapan yang tersohor di tengah manusia,

عَظَّمَ اللهُ أَجْرَكَ

“Semoga Allah subhanahu wa ta’ala membesarkan pahalamu.”

أَحْسَنَ اللهُ عَزَاءَك

“Semoga Allah subhanahu wa ta’ala membaikkan [menggantikan] dukamu.”

غَفَرَ اللهُ لِمَيِّتِكَ

“Semoga Allah subhanahu wa ta’ala mengampuni mayitmu.”

Sebagian ulama memilih (membolehkan) ucapan-ucapan ini. Akan tetapi, apa yang disebutkan dalam as-Sunnah tentu lebih utama dan lebih baik.”

(Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibnu Utsaimin, 17/339)


[1] HR. al-Bukhari dan Muslim dari hadits Usamah bin Zaid radhiallahu ‘anhuma.