Memuliakan Al-Qur’an Bukan dengan Menciumnya

Petikan nasihat dari Al-’Allamah Al-Muhaddits Al-Imam Al-Albani

Al-Qur`an yang diturunkan oleh Rabbul ‘Alamin dari atas langit yang ketujuh adalah sebuah kitab yang diagungkan keberadaannya oleh kaum muslimin. Mereka menghormatinya, memuliakan, dan menyucikannya. Namun terkadang pengagungan dan penghormatan tersebut tidaklah sesuai dengan yang semestinya. Artinya, mereka menganggap perbuatan yang mereka lakukan merupakan bentuk pengagungan dan penghormatan terhadap Kalamullah, padahal syariat tidak menyepakatinya.

Satu kebiasaan yang lazim kita lihat di kalangan kaum muslimin adalah mencium/mengecup mushaf Al-Qur`an. Dengan berbuat seperti itu mereka merasa telah memuliakan Al-Qur`an. Lalu apa penjelasan syariat tentang hal ini? Kita baca keterangan Al-’Allamah Al-Muhaddits Al-Imam Al-Albani t berikut ini.

Dalam keyakinan kami, perbuatan mengecup mushaf tersebut hukumnya masuk dalam keumuman hadits:

إِيَّاكُمْ وَمُحْدَثاَتِ الْأُمُوْرِ، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Hati-hati kalian dari perkara-perkara yang diada-adakan, karena setiap yang diada-adakan merupakan bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat.”1

Dalam hadits yang lain disebutkan dengan lafadz:

وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ

“Dan setiap kesesatan itu di dalam neraka.”2

Kebanyakan orang memiliki anggapan khusus atas perbuatan semisal ini. Mereka mengatakan bahwa perbuatan mengecup mushaf tersebut tidak lain kecuali untuk menampakkan pemuliaan dan pengagungan kepada Al-Qur`anul Karim. Bila demikian, kita katakan kepada mereka, “Kalian benar. Perbuatan itu tujuannya tidak lain kecuali untuk memuliakan dan mengagungkan Al-Qur`anul Karim! Namun apakah bentuk pemuliaan dan pengagungan seperti itu dilakukan oleh generasi yang awal dari umat ini, yaitu para sahabat Rasulullah n, demikian pula para tabi’in dan atba’ut tabi’in?” Tanpa ragu jawabannya adalah sebagaimana kata ulama salaf, “Seandainya itu adalah kebaikan, niscaya kami lebih dahulu mengerjakannya.”

Di sisi lain, kita tanyakan, “Apakah hukum asal mengecup sesuatu dalam rangka taqarrub kepada Allah k itu dibolehkan atau dilarang?”

Berkaitan dengan masalah ini, kita bawakan hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya, agar menjadi peringatan bagi orang yang mau ingat dan agar diketahui jauhnya kaum muslimin pada hari ini dari pendahulu mereka yang shalih.

Hadits yang dimaksud adalah dari ’Abis bin Rabi’ah, ia berkata, “Aku melihat Umar ibnul Khaththab z mengecup Hajar Aswad dan berkata:

إِنِّي لَأَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ لاَ تَضُرُّ وَلاَ تَنْفَعُ، فَلَوْلاَ أَنِّي رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ n يُقَبِّلُكَ مَا قَبَّلْتُكَ

“Sungguh aku tahu engkau adalah sebuah batu, tidak dapat memberikan mudarat dan tidak dapat memberi manfaat. Seandainya aku tidak melihat Rasulullah n mencium/mengecupmu niscaya aku tidak akan menciummu.”3

Apa makna ucapan ‘Umar Al-Faruq z, “Seandainya aku tidak melihat Rasulullah n mencium/mengecupmu niscaya aku tidak akan menciummu.”

Dan kenapa ‘Umar mencium/mengecup Hajar Aswad yang dikatakan dalam hadits yang shahih:

الْحَجَرُ الْأَسْوَدُ مِنَ الْجَنَّةِ

“Hajar Aswad (batu) dari surga.”4

Apakah ‘Umar menciumnya dengan falsafah yang muncul darinya sebagaimana ucapan orang yang berkata, “Ini adalah Kalamullah maka kami menciumnya”? Apakah ‘Umar mengatakan, “Ini adalah batu yang berasal dari surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa maka aku menciumnya. Aku tidak butuh dalil dari Rasulullah n yang menerangkan pensyariatan menciumnya!”

Ataukah jawabannya karena memurnikan ittiba’ (pengikutan) terhadap Rasulullah n dan orang yang menjalankan Sunnah beliau sampai hari kiamat? Inilah yang menjadi sikap ‘Umar hingga ia berkata, “Seandainya aku tidak melihat Rasulullah n mencium/mengecupmu niscaya aku tidak akan menciummu….”

Dengan demikian, hukum asal mencium seperti ini adalah kita menjalankannya di atas sunnah yang telah berlangsung, bukannya kita menghukumi dengan perasaan kita, “Ini baik dan ini bagus.”

Ingat pula sikap Zaid bin Tsabit, bagaimana ia memperhadapkan tawaran Abu Bakar dan ‘Umar g kepadanya untuk mengumpulkan Al-Qur`an guna menjaga Al-Qur`an jangan sampai hilang. Zaid berkata, “Bagaimana kalian melakukan sesuatu yang tidak dilakukan oleh Rasulullah n?!”

Sementara kaum muslimin pada hari ini, tidak ada pada mereka pemahaman agama yang benar.

Bila dihadapkan pertanyaan kepada orang yang mencium mushaf tersebut, “Bagaimana engkau melakukan sesuatu yang tidak dilakukan oleh Rasulullah n?”, niscaya ia akan memberikan jawaban yang aneh sekali. Di antaranya, “Wahai saudaraku, ada apa memangnya dengan perbuatan ini, toh ini dalam rangka mengagungkan Al-Qur`an!” Maka katakanlah kepadanya, “Wahai saudaraku, apakah Rasulullah n tidak mengagungkan Al-Qur`an? Tentunya tidak diragukan bahwa beliau sangat mengagungkan Al-Qur`an namun beliau tidak pernah mencium Al-Qur`an.”

Atau mereka akan menanggapi dengan pernyataan, “Apakah engkau mengingkari perbuatan kami mencium Al-Qur`an? Sementara engkau mengendarai mobil, bepergian dengan pesawat terbang, semua itu perkara bid’ah (maksudnya kalau mencium Al-Qur`an dianggap bid’ah maka naik mobil atau pesawat juga bid’ah, Rasulullah n tidak pernah naik mobil dan pesawat, –pent.).”

Ucapan ini jelas salahnya karena bid’ah yang dihukumi sesat secara mutlak hanyalah bid’ah yang diada-adakan dalam perkara agama. Adapun bid’ah (mengada-adakan sesuatu yang baru yang belum pernah ada di masa Rasulullah n -pent.) dalam perkara dunia, bisa jadi perkaranya dibolehkan, namun terkadang pula diharamkan dan seterusnya. Seseorang yang naik pesawat untuk bepergian ke Baitullah guna menunaikan ibadah haji misalnya, tidak diragukan kebolehannya. Sedangkan orang yang naik pesawat untuk safar ke negeri Barat dan berhaji ke barat, tidak diragukan sebagai perbuatan maksiat. Demikianlah.

Adapun perkara-perkara ta’abbudiyyah (peribadatan) jika ditanyakan, “Kenapa engkau melakukannya?” Lalu yang ditanya menjawab, “Untuk taqarrub kepada Allah!” Maka aku katakan, “Tidak ada jalan untuk taqarrub kepada Allah k kecuali dengan perkara yang disyariatkan-Nya.”

Engkau lihat bila salah seorang dari ahlul ilmi mengambil mushaf untuk dibaca, tak ada di antara mereka yang menciumnya. Mereka hanyalah mengamalkan apa yang ada di dalam mushaf Al-Qur`an. Sementara kebanyakan manusia yang perasaan mereka tidak memiliki kaidah, menyatakan perbuatan itu sebagai pengagungan terhadap Kalamullah namun mereka tidak mengamalkan kandungan Al-Qur`an.

Sebagian salaf berkata, “Tidaklah diadakan suatu bid’ah melainkan akan mati sebuah sunnah.”

Ada bid’ah lain yang semisal bid’ah ini. Engkau lihat manusia, sampai pun orang-orang fasik di kalangan mereka namun di hati-hati mereka masih ada sisa-sisa iman, bila mereka mendengar muadzin mengumandangkan adzan, mereka bangkit berdiri. Jika engkau tanyakan kepada mereka, “Apa maksud kalian berdiri seperti ini?” Mereka akan menjawab, “Dalam rangka mengagungkan Allah k!” Sementara mereka tidak pergi ke masjid. Mereka terus asyik bermain dadu, catur, dan semisalnya. Tapi mereka meyakini bahwa mereka mengagungkan Rabb mereka dengan cara berdiri seperti itu. Dari mana mereka dapatkan kebiasaan berdiri saat adzan tersebut?! Tentu saja mereka dapatkan dari hadits palsu:

إِذَا سَمِعْتُمُ الْأَذَانَ فَقُوْمُوْا

“Apabila kalian mendengar adzan maka berdirilah.”5

Hadits ini sebenarnya ada asalnya, akan tetapi ditahrif oleh sebagian perawi yang dhaif/lemah atau para pendusta. Semestinya lafadznya: قُوْلُوا (…ucapkanlah), mereka ganti dengan: قُوْمُوْا (…berdirilah), meringkas dari hadits yang shahih:

إِذَا سَمِعْتُمُ الْأَذَانَ، فَقُوْلُوْا مِثْلَ مَا يَقُوْلُ ثُمَّ صَلُّوْا عَلَيَّ

“Apabila kalian mendengar adzan maka ucapkanlah semisal yang diucapkan muadzin, kemudian bershalawatlah untukku….”6

Lihatlah bagaimana setan menghias-hiasi bid’ah kepada manusia dan meyakinkannya bahwa ia seorang mukmin yang mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah l. Buktinya bila mengambil Al-Qur`an, ia menciumnya dan bila mendengar adzan ia berdiri karenanya.

Akan tetapi apakah ia mengamalkan Al-Qur`an? Tidak! Misalnya pun ia telah mengerjakan shalat, tapi apakah ia tidak memakan makanan yang diharamkan? Apakah ia tidak makan riba? Apakah ia tidak menyebarkan di kalangan manusia sarana-sarana yang menambah kemaksiatan terhadap Allah l? Apakah dan apakah…? Pertanyaan yang tidak ada akhirnya. Karena itulah, kita berhenti dalam apa yang Allah l syariatkan kepada kita berupa amalan ketaatan dan peribadatan. Tidak kita tambahkan walau satu huruf, karena perkaranya sebagaimana disabdakan Rasulullah n:

مَا تَرَكْتُ شَيْئًا مِمَّا أَمَرَكُمُ اللهُ بِهِ إِلاَّ وَقَدْ أَمَرْتُكُمْ بِهِ

“Tidaklah aku meninggalkan sesuatu dari apa yang Allah perintahkan kepada kalian kecuali pasti telah aku perintahkan kepada kalian.”7

Maka apakah amalan yang engkau lakukan itu dapat mendekatkanmu kepada Allah k? Bila jawabannya, “Iya.” Maka datangkanlah nash dari Rasulullah n yang membenarkan perbuatan tersebut.

Bila dijawab, “Tidak ada nashnya dari Rasulullah n.” Berarti perbuatan itu bid’ah, seluruh bid’ah itu sesat dan seluruh kesesatan itu dalam neraka.

Mungkin ada yang merasa heran, kenapa masalah yang kecil seperti ini dianggap sesat dan pelakunya kelak berada di dalam neraka? Al-Imam Asy-Syathibi t memberikan jawabannya dengan pernyataan beliau, “Setiap bid’ah bagaimana pun kecilnya adalah sesat.”

Maka jangan melihat kepada kecilnya bid’ah, tapi lihatlah di tempat mana bid’ah itu dilakukan. Bid’ah dilakukan di tempat syariat Islam yang telah sempurna, sehingga tidak ada celah bagi seorang pun untuk menyisipkan ke dalamnya satu bid’ah pun, kecil ataupun besar. Dari sini tampak jelas sisi kesesatan bid’ah di mana perbuatan ini maknanya memberikan ralat, koreksi, dan susulan (dari apa yang luput/tidak disertakan) kepada Rabb kita k dan juga kepada Nabi kita n. Seolah yang membuat dan melakukan bid’ah merasa lebih pintar daripada Allah k dan Rasul-Nya. Na’udzu billah min dzalik. Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

(Dinukil dan disarikan oleh Ummu Ishaq Al-Atsariyyah dari kitab Kaifa Yajibu ‘Alaina an Nufassir Al-Qur`an Al-Karim, hal. 28-34)


1 Shahih At-Targhib wat Tarhib, 1/92/34

2 Shalatut Tarawih, hal. 75

3 Shahih At-Targhib wat Tarhib, 1/94/41

4 Shahihul Jami’, no. 2174

5 Adh-Dha’ifah, no. 711

6 Hadits riwayat Al-Imam Muslim dalam Shahih-nya no. 384

7 Ash Shahihah, no. 1803

Memuliakan Al-Qur’an Bukan dengan Menciumnya

Petikan nasihat dari Al-’Allamah Al-Muhaddits Al-Imam Al-Albani

 

 

Al-Qur`an yang diturunkan oleh Rabbul ‘Alamin dari atas langit yang ketujuh adalah sebuah kitab yang diagungkan keberadaannya oleh kaum muslimin. Mereka menghormatinya, memuliakan, dan menyucikannya. Namun terkadang pengagungan dan penghormatan tersebut tidaklah sesuai dengan yang semestinya. Artinya, mereka menganggap perbuatan yang mereka lakukan merupakan bentuk pengagungan dan penghormatan terhadap Kalamullah, padahal syariat tidak menyepakatinya.

Satu kebiasaan yang lazim kita lihat di kalangan kaum muslimin adalah mencium/mengecup mushaf Al-Qur`an. Dengan berbuat seperti itu mereka merasa telah memuliakan Al-Qur`an. Lalu apa penjelasan syariat tentang hal ini? Kita baca keterangan Al-’Allamah Al-Muhaddits Al-Imam Al-Albani t berikut ini.

Dalam keyakinan kami, perbuatan mengecup mushaf tersebut hukumnya masuk dalam keumuman hadits:

إِيَّاكُمْ وَمُحْدَثاَتِ الْأُمُوْرِ، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Hati-hati kalian dari perkara-perkara yang diada-adakan, karena setiap yang diada-adakan merupakan bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat.”1

Dalam hadits yang lain disebutkan dengan lafadz:

وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ

“Dan setiap kesesatan itu di dalam neraka.”2

Kebanyakan orang memiliki anggapan khusus atas perbuatan semisal ini. Mereka mengatakan bahwa perbuatan mengecup mushaf tersebut tidak lain kecuali untuk menampakkan pemuliaan dan pengagungan kepada Al-Qur`anul Karim. Bila demikian, kita katakan kepada mereka, “Kalian benar. Perbuatan itu tujuannya tidak lain kecuali untuk memuliakan dan mengagungkan Al-Qur`anul Karim! Namun apakah bentuk pemuliaan dan pengagungan seperti itu dilakukan oleh generasi yang awal dari umat ini, yaitu para sahabat Rasulullah n, demikian pula para tabi’in dan atba’ut tabi’in?” Tanpa ragu jawabannya adalah sebagaimana kata ulama salaf, “Seandainya itu adalah kebaikan, niscaya kami lebih dahulu mengerjakannya.”

Di sisi lain, kita tanyakan, “Apakah hukum asal mengecup sesuatu dalam rangka taqarrub kepada Allah k itu dibolehkan atau dilarang?”

Berkaitan dengan masalah ini, kita bawakan hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya, agar menjadi peringatan bagi orang yang mau ingat dan agar diketahui jauhnya kaum muslimin pada hari ini dari pendahulu mereka yang shalih.

Hadits yang dimaksud adalah dari ’Abis bin Rabi’ah, ia berkata, “Aku melihat Umar ibnul Khaththab z mengecup Hajar Aswad dan berkata:

إِنِّي لَأَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ لاَ تَضُرُّ وَلاَ تَنْفَعُ، فَلَوْلاَ أَنِّي رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ n يُقَبِّلُكَ مَا قَبَّلْتُكَ

“Sungguh aku tahu engkau adalah sebuah batu, tidak dapat memberikan mudarat dan tidak dapat memberi manfaat. Seandainya aku tidak melihat Rasulullah n mencium/mengecupmu niscaya aku tidak akan menciummu.”3

Apa makna ucapan ‘Umar Al-Faruq z, “Seandainya aku tidak melihat Rasulullah n mencium/mengecupmu niscaya aku tidak akan menciummu.”

Dan kenapa ‘Umar mencium/mengecup Hajar Aswad yang dikatakan dalam hadits yang shahih:

الْحَجَرُ الْأَسْوَدُ مِنَ الْجَنَّةِ

“Hajar Aswad (batu) dari surga.”4

Apakah ‘Umar menciumnya dengan falsafah yang muncul darinya sebagaimana ucapan orang yang berkata, “Ini adalah Kalamullah maka kami menciumnya”? Apakah ‘Umar mengatakan, “Ini adalah batu yang berasal dari surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa maka aku menciumnya. Aku tidak butuh dalil dari Rasulullah n yang menerangkan pensyariatan menciumnya!”

Ataukah jawabannya karena memurnikan ittiba’ (pengikutan) terhadap Rasulullah n dan orang yang menjalankan Sunnah beliau sampai hari kiamat? Inilah yang menjadi sikap ‘Umar hingga ia berkata, “Seandainya aku tidak melihat Rasulullah n mencium/mengecupmu niscaya aku tidak akan menciummu….”

Dengan demikian, hukum asal mencium seperti ini adalah kita menjalankannya di atas sunnah yang telah berlangsung, bukannya kita menghukumi dengan perasaan kita, “Ini baik dan ini bagus.”

Ingat pula sikap Zaid bin Tsabit, bagaimana ia memperhadapkan tawaran Abu Bakar dan ‘Umar g kepadanya untuk mengumpulkan Al-Qur`an guna menjaga Al-Qur`an jangan sampai hilang. Zaid berkata, “Bagaimana kalian melakukan sesuatu yang tidak dilakukan oleh Rasulullah n?!”

Sementara kaum muslimin pada hari ini, tidak ada pada mereka pemahaman agama yang benar.

Bila dihadapkan pertanyaan kepada orang yang mencium mushaf tersebut, “Bagaimana engkau melakukan sesuatu yang tidak dilakukan oleh Rasulullah n?”, niscaya ia akan memberikan jawaban yang aneh sekali. Di antaranya, “Wahai saudaraku, ada apa memangnya dengan perbuatan ini, toh ini dalam rangka mengagungkan Al-Qur`an!” Maka katakanlah kepadanya, “Wahai saudaraku, apakah Rasulullah n tidak mengagungkan Al-Qur`an? Tentunya tidak diragukan bahwa beliau sangat mengagungkan Al-Qur`an namun beliau tidak pernah mencium Al-Qur`an.”

Atau mereka akan menanggapi dengan pernyataan, “Apakah engkau mengingkari perbuatan kami mencium Al-Qur`an? Sementara engkau mengendarai mobil, bepergian dengan pesawat terbang, semua itu perkara bid’ah (maksudnya kalau mencium Al-Qur`an dianggap bid’ah maka naik mobil atau pesawat juga bid’ah, Rasulullah n tidak pernah naik mobil dan pesawat, –pent.).”

Ucapan ini jelas salahnya karena bid’ah yang dihukumi sesat secara mutlak hanyalah bid’ah yang diada-adakan dalam perkara agama. Adapun bid’ah (mengada-adakan sesuatu yang baru yang belum pernah ada di masa Rasulullah n -pent.) dalam perkara dunia, bisa jadi perkaranya dibolehkan, namun terkadang pula diharamkan dan seterusnya. Seseorang yang naik pesawat untuk bepergian ke Baitullah guna menunaikan ibadah haji misalnya, tidak diragukan kebolehannya. Sedangkan orang yang naik pesawat untuk safar ke negeri Barat dan berhaji ke barat, tidak diragukan sebagai perbuatan maksiat. Demikianlah.

Adapun perkara-perkara ta’abbudiyyah (peribadatan) jika ditanyakan, “Kenapa engkau melakukannya?” Lalu yang ditanya menjawab, “Untuk taqarrub kepada Allah!” Maka aku katakan, “Tidak ada jalan untuk taqarrub kepada Allah k kecuali dengan perkara yang disyariatkan-Nya.”

Engkau lihat bila salah seorang dari ahlul ilmi mengambil mushaf untuk dibaca, tak ada di antara mereka yang menciumnya. Mereka hanyalah mengamalkan apa yang ada di dalam mushaf Al-Qur`an. Sementara kebanyakan manusia yang perasaan mereka tidak memiliki kaidah, menyatakan perbuatan itu sebagai pengagungan terhadap Kalamullah namun mereka tidak mengamalkan kandungan Al-Qur`an.

Sebagian salaf berkata, “Tidaklah diadakan suatu bid’ah melainkan akan mati sebuah sunnah.”

Ada bid’ah lain yang semisal bid’ah ini. Engkau lihat manusia, sampai pun orang-orang fasik di kalangan mereka namun di hati-hati mereka masih ada sisa-sisa iman, bila mereka mendengar muadzin mengumandangkan adzan, mereka bangkit berdiri. Jika engkau tanyakan kepada mereka, “Apa maksud kalian berdiri seperti ini?” Mereka akan menjawab, “Dalam rangka mengagungkan Allah k!” Sementara mereka tidak pergi ke masjid. Mereka terus asyik bermain dadu, catur, dan semisalnya. Tapi mereka meyakini bahwa mereka mengagungkan Rabb mereka dengan cara berdiri seperti itu. Dari mana mereka dapatkan kebiasaan berdiri saat adzan tersebut?! Tentu saja mereka dapatkan dari hadits palsu:

إِذَا سَمِعْتُمُ الْأَذَانَ فَقُوْمُوْا

“Apabila kalian mendengar adzan maka berdirilah.”5

Hadits ini sebenarnya ada asalnya, akan tetapi ditahrif oleh sebagian perawi yang dhaif/lemah atau para pendusta. Semestinya lafadznya: قُوْلُوا (…ucapkanlah), mereka ganti dengan: قُوْمُوْا (…berdirilah), meringkas dari hadits yang shahih:

إِذَا سَمِعْتُمُ الْأَذَانَ، فَقُوْلُوْا مِثْلَ مَا يَقُوْلُ ثُمَّ صَلُّوْا عَلَيَّ

“Apabila kalian mendengar adzan maka ucapkanlah semisal yang diucapkan muadzin, kemudian bershalawatlah untukku….”6

Lihatlah bagaimana setan menghias-hiasi bid’ah kepada manusia dan meyakinkannya bahwa ia seorang mukmin yang mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah l. Buktinya bila mengambil Al-Qur`an, ia menciumnya dan bila mendengar adzan ia berdiri karenanya.

Akan tetapi apakah ia mengamalkan Al-Qur`an? Tidak! Misalnya pun ia telah mengerjakan shalat, tapi apakah ia tidak memakan makanan yang diharamkan? Apakah ia tidak makan riba? Apakah ia tidak menyebarkan di kalangan manusia sarana-sarana yang menambah kemaksiatan terhadap Allah l? Apakah dan apakah…? Pertanyaan yang tidak ada akhirnya. Karena itulah, kita berhenti dalam apa yang Allah l syariatkan kepada kita berupa amalan ketaatan dan peribadatan. Tidak kita tambahkan walau satu huruf, karena perkaranya sebagaimana disabdakan Rasulullah n:

مَا تَرَكْتُ شَيْئًا مِمَّا أَمَرَكُمُ اللهُ بِهِ إِلاَّ وَقَدْ أَمَرْتُكُمْ بِهِ

“Tidaklah aku meninggalkan sesuatu dari apa yang Allah perintahkan kepada kalian kecuali pasti telah aku perintahkan kepada kalian.”7

Maka apakah amalan yang engkau lakukan itu dapat mendekatkanmu kepada Allah k? Bila jawabannya, “Iya.” Maka datangkanlah nash dari Rasulullah n yang membenarkan perbuatan tersebut.

Bila dijawab, “Tidak ada nashnya dari Rasulullah n.” Berarti perbuatan itu bid’ah, seluruh bid’ah itu sesat dan seluruh kesesatan itu dalam neraka.

Mungkin ada yang merasa heran, kenapa masalah yang kecil seperti ini dianggap sesat dan pelakunya kelak berada di dalam neraka? Al-Imam Asy-Syathibi t memberikan jawabannya dengan pernyataan beliau, “Setiap bid’ah bagaimana pun kecilnya adalah sesat.”

Maka jangan melihat kepada kecilnya bid’ah, tapi lihatlah di tempat mana bid’ah itu dilakukan. Bid’ah dilakukan di tempat syariat Islam yang telah sempurna, sehingga tidak ada celah bagi seorang pun untuk menyisipkan ke dalamnya satu bid’ah pun, kecil ataupun besar. Dari sini tampak jelas sisi kesesatan bid’ah di mana perbuatan ini maknanya memberikan ralat, koreksi, dan susulan (dari apa yang luput/tidak disertakan) kepada Rabb kita k dan juga kepada Nabi kita n. Seolah yang membuat dan melakukan bid’ah merasa lebih pintar daripada Allah k dan Rasul-Nya. Na’udzu billah min dzalik. Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

(Dinukil dan disarikan oleh Ummu Ishaq Al-Atsariyyah dari kitab Kaifa Yajibu ‘Alaina an Nufassir Al-Qur`an Al-Karim, hal. 28-34)


1 Shahih At-Targhib wat Tarhib, 1/92/34

2 Shalatut Tarawih, hal. 75

3 Shahih At-Targhib wat Tarhib, 1/94/41

4 Shahihul Jami’, no. 2174

5 Adh-Dha’ifah, no. 711

6 Hadits riwayat Al-Imam Muslim dalam Shahih-nya no. 384

7 Ash Shahihah, no. 1803

Was-was dari Syaithan

Tanya:

ِSaya sering dikuasai rasa was-was. Bila saya ingin melintasi sebuah jalan, rasa was-was itu menghantui saya hingga saya merasa bahwa jalan yang saya lalui salah, seharusnya lewat sisi yang lain. Ketika hendak makan, setan juga menyusupkan was-was pada diri saya bahwa makanan saya tidak sehat dan menimbulkan mudarat. Karenanya saya mohon nasihat antum, semoga Allah l memberi balasan kebaikan kepada antum.

Jawab:

Samahatusy Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz t menjawab:

“Was-was itu dari setan, sebagaimana Allah k berfirman:

“Katakanlah (ya Muhammad): Aku berlindung kepada Rabb manusia. Rajanya manusia. Sesembahan manusia, dari kejelekan was-was al-khannas.” (An-Nas: 1-4)

Al-Khannas adalah setan.

Maka wajib bagi anda wahai saudaraku untuk berta’awwudz kepada Allah k dari was-was tersebut serta berhati-hati dari tipu daya setan. Dan hendaknya pula anda berketetapan hati dalam melakukan segala urusan anda. Jika anda melewati sebuah jalan maka mantapkanlah, terus anda lalui hingga anda memang mengetahui dengan yakin di jalan tersebut ada sesuatu yang akan mengganggu. Jika memang demikian, tinggalkanlah.

Demikian pula ketika memakan makanan. Jika anda tidak tahu ada perkara yang membuat makanan tersebut diharamkan, makanlah serta tinggalkan was-was yang ada. Saat berwudhu juga demikian, terus kerjakan dan tinggalkan segala was-was yang mungkin membisikkan, “Anda tidak menyempurnakan wudhu”, “Anda belum melakukan ini dan itu”, teruskan wudhu anda selama anda pandang telah menyempurnakannya. Lalu pujilah Allah k. Demikian pula saat anda mengerjakan shalat.

Hati-hatilah anda dari was-was dalam segala sesuatu, yakinlah itu dari setan. Bila anda mendapati suatu was-was dalam jiwa anda, berlindunglah kepada Allah k dari setan serta teruskan apa yang sedang anda lakukan. Berketetapan hatilah hingga membuat jengkel setan musuh anda. Hingga pada akhirnya ia tidak dapat menguasai anda setelah sebelumnya dapat melakukannya karena sikap lembek anda kepadanya. Kita mohon perlindungan kepada Allah k dari kejelekan dan tipu daya setan.” (Fatawa Nurun ‘Alad Darbi, hal. 76)

Tanya:

Apa doa yang bisa dipanjatkan agar terlepas dari was-was setan?

Jawab:

Samahatusy Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz t menjawab:

“Seseorang dapat berdoa dengan doa yang Allah k mudahkan baginya, seperti ia mengatakan:

اللَّهُمَّ أَعِذْنِي مِنَ الشَّيْطَانِ، اللَّهُمَّ أَجِرْنِي مِنَ الشَّيْطَانِ، اللَّهُمَّ احْفَظْنِي مِنَ الشَّيْطَانِ، اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ ،اللَّهُمَّ احْفَظْنِي مِنْ مَكَائِدِ عَدُوِّكَ الشَّيْطَانِ

“Ya Allah, lindungilah aku dari setan. Ya Allah, jagalah aku dari setan. Ya Allah, tolonglah aku untuk mengingat-Mu (berdzikir kepada-Mu), untuk bersyukur kepada-Mu dan membaguskan ibadah kepada-Mu. Ya Allah, jagalah aku dari tipu daya musuh-Mu (yaitu) setan.”

Hendaklah ia memperbanyak dzikir kepada Allah k, banyak membaca Al-Qur`an dan berta’awwudz kepada Allah k ketika mendapatkan was-was, sekalipun ia sedang mengerjakan shalat. Bila gangguan was-was itu mendominasinya dalam shalat, hendaklah ia meludah (meniup dengan sedikit ludah) ke kiri tiga kali dan berta’awwudz dari gangguan setan sebanyak tiga kali.

Ketika ’Utsman bin Abil ’Ash Ats-Tsaqafi z mengeluh kepada Rasulullah n tentang was-was yang didapatkannya di dalam shalat, beliau n memerintahkannya untuk meludah ke kiri tiga kali dan berta’awwudz kepada Allah k dari gangguan setan dalam keadaan ia mengerjakan shalat. Utsman pun melakukan saran Rasulullah n tersebut. Allah k pun menghilangkan gangguan yang didapatkannya.

Kesimpulannya, bila seorang mukmin dan mukminah diuji dengan was-was, hendaknya bersungguh-sungguh meminta kesembuhan dan keselamatan kepada Allah l dari gangguan tersebut. Ia banyak berta’awwudz kepada Allah l dari setan, berupaya menepis perasaan was-was tersebut, tidak memedulikan serta menurutinya, baik di dalam maupun di luar shalatnya. Bila berwudhu, ia melakukannya dengan mantap dan tidak mengulang-ulangi wudhunya. Bila sedang shalat ia mantap mengerjakannya dan tidak mengulang-ulangi shalatnya. Bila bertakbir (takbiratul ihram) ia mengerjakannya dengan mantap dan tidak mengulangi takbirnya. Semuanya dalam rangka menyelisihi bisikan musuh Allah l serta dalam rangka menyalakan permusuhan terhadapnya.

Demikianlah yang wajib dilakukan seorang mukmin, agar ia menjadi musuh bagi setan, memeranginya, menepisnya, dan tidak tunduk kepadanya. Bila setan membisikkan kepada anda bahwa anda belum berwudhu dan belum shalat (dengan tujuan menyusupkan was-was hingga anda mengulang-ulangi wudhu dan shalat karena merasa belum mengerjakannya dengan benar, -pent.), padahal anda tahu anda telah berwudhu, anda lihat sisa-sisa air pada tangan anda dan anda tahu anda telah mengerjakan shalat, maka janganlah menaati musuh Allah l itu. Yakinlah anda telah shalat. Yakinlah anda telah berwudhu sebelumnya. Jangan anda ulang-ulangi wudhu dan shalat anda serta berta’awwudzlah kepada Allah l dari musuh-Nya.

Wajib bagi seorang mukmin untuk kuat dalam melawan ‘musuh Allah l’ (setan) hingga musuh itu tidak bisa/mampu mengalahkan dan mengganggunya. Karena ketika setan dapat menguasai dan mengalahkan seseorang, ia akan menjadikan orang itu seperti orang gila yang dipermainkannya. Wajib bagi mukmin dan mukminah untuk berhati-hati dari musuh Allah l, ber-ta’awwudz kepada Allah l dari kejelekan dan tipu dayanya. Hendaklah si mukmin itu kuat dalam melawan setan serta bersabar dalam menangkal gangguan tersebut (tidak mudah menyerah), sehingga ia tidak menuruti setan untuk mengulangi shalatnya, wudhunya, takbirnya, atau yang lainnya.

Demikian pula bila setan mengatakan kepada anda, “Pakaianmu itu najis”, “Tempat ini najis”, “Di dalam kamar mandi ada najis”, “Tanah yang anda pijak ada najisnya”, atau “Tempat shalatmu ada ini dan itu”, jangan anda turuti ucapan tersebut, tapi dustakanlah si musuh Allah l itu. Berlindunglah kepada Allah l dari kejelekannya. Tetaplah anda shalat di tempat yang biasanya, pakailah alas yang biasa anda gunakan, di atas tanah yang biasa anda pijak selama anda tahu tempat itu bersih/suci. Kecuali anda melihat dengan mata kepala anda ada najis yang anda injak dalam keadaan basah barulah cuci kaki anda. Ketahuilah hukum asal sesuatu itu adalah berada di atas thaharah/kesucian, sehingga jangan menuruti musuh Allah l dalam suatu perkara pun kecuali pada diri anda ada keyakinan yang anda lihat dan saksikan dengan mata kepala anda. Itu semua agar musuh Allah l tidak menguasai anda. Kita mohon keselamatan kepada Allah l dari semuanya.” (Fatawa Nurun ‘Alad Darbi, hal. 77-78)

Kaffarah Tebusan Sumpah

Tanya:

ِApa kaffarahnya bila seseorang melanggar sumpahnya? Dan apakah dibolehkan mengganti kaffarah tersebut dengan uang?

Jawab:

Al-Lajnah Ad-Da`imah Lil Buhuts Al-’Ilmiyyah wal Ifta`1 menjawab:

Kaffarah sumpah diterangkan oleh Allah k dalam firman-Nya:

لَا يُؤَاخِذُكُمُ اللهُ بِاللَّغْوِ فِي أَيْمَانِكُمْ وَلَكِنْ يُؤَاخِذُكُمْ بِمَا عَقَّدْتُمُ الْأَيْمَانَ فَكَفَّارَتُهُ إِطْعَامُ عَشَرَةِ مَسَاكِينَ مِنْ أَوْسَطِ مَا تُطْعِمُونَ أَهْلِيكُمْ أَوْ كِسْوَتُهُمْ أَوْ تَحْرِيرُ رَقَبَةٍ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ ذَلِكَ كَفَّارَةُ أَيْمَانِكُمْ إِذَا حَلَفْتُمْ وَاحْفَظُوا أَيْمَانَكُمْ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Allah tidak menghukum kalian disebabkan sumpah-sumpah kalian yang tidak dimaksudkan untuk bersumpah. Tetapi Dia menghukum kalian disebabkan sumpah-sumpah yang kalian sengaja. Maka kaffarah bila sumpah tersebut dilanggar adalah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kalian berikan kepada keluarga kalian, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Siapa yang tidak sanggup melakukan yang demikian, maka sebagai kaffarahnya ia harus puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kaffarah sumpah-sumpah kalian bila kalian bersumpah dan ternyata melanggarnya.” (Al-Ma`idah: 89)

Memberi makan yang disebutkan dalam ayat sebagai kaffarah sumpah dilakukan dengan cara memberikan kepada setiap orang miskin setengah sha’2 dari bahan makanan yang biasa dimakan di negeri tersebut, baik berupa kurma kering ataupun selainnya. Atau ia memberikan makan siang atau makan malam sesuai dengan hidangan yang biasa ia berikan kepada keluarganya. Adapun pakaian, maka masing-masing orang miskin diberi sebuah pakaian yang mencukupinya untuk dipakai shalat, seperti gamis (baju panjang/jubah), atau sarung dan pakaian atas bila memang mereka terbiasa memakai pakaian tersebut.

Dalam kaffarah sumpah ini tidaklah mencukupi kalau menggantinya dengan uang (yang senilai dengan makanan atau pakaian).” (Fatwa no. 2307 dan 16827, dari kitab Fatawa Al-Lajnah Ad-Da`imah Lil Buhuts Al-’Ilmiyyah wal Ifta`, 23/5-6)


1 Ketika itu diketuai oleh Samahatusy Syaikh Abdul ‘Aziz bin Abdullah bin Baz t dan wakil ketuanya Asy-Syaikh Abdurrazzaq ‘Afifi t.
2 1 sha’ sama dengan 4 mud, sedangkan 1 mud ukurannya kurang lebih sama dengan sepenuh kedua telapak tangan orang dewasa yang didekatkan.

 

Ar Rubayyi’ bintu Mu’awwidz

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman bintu ‘Imran)

 

Dia adalah Ar-Rubayyi’ bintu Mu’awwidz bin Al-Harits bin Rifa’ah bin Al-Harits bin Sawad bin Malik bin Ghanam bin Malik bin An-Najjar Al-Anshariyah An-Najjariyah x.

Ar-Rubayyi’ termasuk para wanita yang berbai’at kepada Rasulullah n di bawah pohon, yang dikenal dengan Bai’atur Ridhwan. Dia pernah pula turut berperang bersama Rasulullah n. Di medan peperangan, Ar-Rubayyi’ beserta wanita-wanita muslimah lainnya bertugas memberi minum pasukan, mengevakuasi yang terbunuh serta mengobati yang terluka.

Ayah Ar-Rubayyi’ adalah pemuda yang membunuh Abu Jahl dalam peperangan Badr1. Suatu hari, Ar-Rubayyi’ membeli minyak wangi dari Asma` bintu Mukharribah, ibu Abu Jahl, yang merupakan salah satu penjual minyak wangi yang ada di Madinah.

Pada Ar-Rubayyi’, Asma` menanyakan namanya. Ar-Rubayyi’ pun menyebutkan nama dan nasabnya. Asma` terperanjat, “Celaka! Ternyata kamu anak orang yang membunuh pembesarnya!” Abu Jahl yang dimaksud Asma`.

“Bukan!” tukas Ar-Rubayyi’, “Tapi aku putri orang yang membunuh budaknya!”

“Haram bagiku menjual minyak wangi kepadamu!” kata Asma`.

“Haram bagiku membeli minyak wangi darimu!” balas Ar-Rubayyi’ dengan marah dan dia pun beranjak pergi.

Ar-Rubayyi’ menikah dengan Iyas ibnul Bukair Al-Laitsi dari Bani Laits. Pada hari pernikahannya, Rasulullah n datang dan duduk di atas tempat tidurnya. Waktu itu, ada dua orang anak perempuan mendendangkan bait-bait syair yang bertutur tentang para syuhada yang terbunuh di perang Badr. Di antara bait syair yang mereka lantunkan, mereka katakan:

Di antara kita ada seorang nabi yang mengetahui apa yang ada di esok hari

Mendengar ucapan itu, Rasulullah n menukas, “Yang seperti itu jangan kalian ucapkan!”2

Dari pernikahan itu, Allah k anugerahkan kepada pasangan Ar-Rubayyi’ dan Iyas, dua orang anak, Muhammad dan Iyas namanya.

Namun dalam perjalanan waktu, rumah tangga mereka diterpa badai. Terjadi pertengkaran antara Ar-Rubayyi’ dan suaminya. Ar-Rubayyi’ pun meminta khulu’3 pada suaminya. “Ambil semua milikku dan ceraikan aku,” ucap Ar-Rubayyi’. “Baik!” sahut suaminya.

Iyas pun mengambil segala milik Ar-Rubayyi’, sampai-sampai tempat tidur milik Ar-Rubayyi’. Saat itu, pemerintahan kaum muslimin dipegang oleh ‘Utsman bin ‘Affan z. Ar-Rubayyi’ datang mengadu pada ‘Utsman yang waktu itu sedang dikepung oleh orang-orang Khawarij. ‘Utsman membenarkan tindakan Iyas. “Ambil seluruh miliknya, hingga ikat rambutnya sekalipun kalau kau mau,” ‘Utsman memberi keputusan.

Ar-Rubayyi’ meninggal pada masa khilafah ‘Abdul Malik bin Marwan, sekitar tahun 70 hijriyah. Dia banyak mewariskan ilmu pada orang-orang setelahnya.

Ar-Rubayyi’ bintu Mu’awwidz, semoga Allah k meridhainya ….

 

Sumber Bacaan:

Al-Ishabah, karya Al-Hafizh Ibnu Hajar (7/641)

Al-Isti’ab, karya Al-Imam Ibnu ‘Abdil Barr (hal. 1837-1838)

Ath-Thabaqatul Kubra, karya Al-Imam Ibnu Sa’d (8/447)

Siyar A’lamin Nubala`, karya Al-Imam Adz-Dzahabi (3/198-200)

Tahdzibul Kamal, karya Al-Imam Al-Mizzi (35/173-174)


1 Mu’awwidz dan saudaranya ‘Auf, pada hari perang Badr, berdiri dalam shaf di sisi Abdurrahman bin ‘Auf z. Keduanya berkata, “Wahai paman, apakah engkau kenal dengan Abu Jahl? Sampai berita pada kami bahwa ia suka menyakiti Rasulullah n.” Abdurrahman pun menunjukkan yang mana Abu Jahl kepada kedua pemuda yang gagah berani ini, maka keduanya pun menyerang Abu Jahl.

2 Rasulullah n mengingkari ucapan ini, karena mengetahui sesuatu yang gaib merupakan sifat yang khusus bagi Allah  k.

3 Ibnu Taimiyah t menjelaskan ketika ditanya tentang khulu’, “Khulu’ yang disebutkan dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah adalah seorang istri tidak menyukai suaminya hingga ia ingin berpisah dengan suaminya maka ia memberikan/mengembalikan seluruh atau sebagian mahar yang pernah diberikan suaminya sebagai tebusan untuk dirinya sebagaimana tawanan menebus dirinya.” (Majmu’ Fatawa, 32/282)
Terjadi perbedaan pendapat dalam hal mengembalikan mahar yang dilakukan oleh istri kepada suami ketika terjadi khulu’. Sebagian ulama membolehkan mengambil lebih dari mahar yang diberikan. Sebagian yang lain tidak membolehkan yang lebih dari mahar, yakni yang boleh sebatas pada mahar saja. Ini yang dipilih Asy-Syaukani dalam bukunya Ad-Darari. Dan nampaknya pendapat inilah yang lebih kuat, karena adanya hadits Nabi n yang melarang mengambil lebih dari mahar. Dan hadits ini dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Al-Irwa`, no. 2037. (ed)

Masih Tentang Ihdad

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah)

 

Telah lewat pembahasan tentang pengertian ihdad (berkabung) dan hukumnya. Bila suami yang meninggal, wajib bagi istrinya untuk berihdad selama empat bulan sepuluh hari. Namun bila si istri dalam keadaan hamil maka ihdadnya berakhir dengan melahirkan kandungannya, baik masanya lama atau sebentar. Adapun bila yang meninggal selain suami, maka haram bagi si wanita berihdad lebih dari tiga hari. Waktu tiga hari tersebut hukumnya tidak wajib namun sekedar mubah saja1. Bahkan bila si wanita meninggalkannya karena ingin menyenangkan suaminya maka hal itu lebih baik, sehingga ia tetap berdandan dan berpenampilan bagus di hadapan suaminya.

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani t berkata, “Ihdad karena kematian selain suami tidaklah wajib karena adanya kesepakatan mereka (ahlul ilmi) dalam hal ini, sehingga bila suaminya mengajaknya jima’, tidaklah halal baginya untuk menolaknya dalam keadaan seperti itu.” (Fathul Bari, 3/146)

Berikut ini ada pelajaran dari kisah Ummu Sulaim x sebagaimana diceritakan oleh putranya, Anas bin Malik z:

ماَتَ ابْنٌ لِأَبِي طَلْحَةَ مِنْ أُمِّ سُلَيْمٍ فَقَالَتْ لِأَهْلِهَا: لاَ تُحَدِّثُوْا أَبَا طَلْحَةَ بِابْنِهِ حَتَّى أَكُوْنَ أَنَا أُحَدِّثُهُ. قَالَ: فَجَاءَ فَقَرَّبَتْ إِلَيْهِ عَشَاءً فَأَكَلَ وَشَرِبَ، فَقَالَ: ثُمَّ تَصَنَّعَتْ لَهُ أَحْسَنَ مَا كَانَتْ تَصَنَّعُ قَبْلَ ذَلِكَ فَوَقَعَ بِهَا، فَلَمَّا رَأَتْ أَنَّهُ قَدْ شَبِعَ وَأَصَابَ مِنْهَا، قَالَتْ: يَا أَبَا طَلْحَةَ، أَرَأَيْتَ لَوْ أَنَّ قَوْمًا أَعَارُوا عَارِيَتَهُمْ أَهْلَ بَيْتٍ، أَلَهُمْ أَنْ يَمْنَعُوْهُمْ؟ قَالَ:لاَ. قَالَتْ: فَاحْتَسِبِ ابْنَكَ. قَالَ: فَغَضِبَ وَقَالَ: تَرَكْتِنِي حَتَّى تَلَطَّخْتُ ثُمَّ أَخْبَرْتِنِي بِابْنِي! فَانْطَلَقَ حَتَّى أَتَى رَسُوْلُ اللهِ n فَأَخْبَرَهُ بِمَا كَانَ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ n: بَارَكَ اللهُ لَكُمَا فِي لَيْلَتِكُمَا. قَالَ: فَحَمَلَتْ

Anak Abu Thalhah dari Ummu Sulaim meninggal dunia. Maka Ummu Sulaim berpesan kepada keluarganya, “Jangan kalian sampaikan kepada Abu Thalhah berita kematian anaknya hingga aku sendiri yang akan menyampaikannya.” Anas berkata: Datanglah Abu Thalhah, Ummu Sulaim pun menghidangkan makan malam untuk suaminya. Suaminya pun makan dan minum. Kemudian Ummu Sulaim berhias untuk suaminya dengan dandanan paling bagus dari dandanan yang pernah dilakukan sebelumnya. Hingga suaminya tertarik untuk menggaulinya. Tatkala Ummu Sulaim melihat suaminya telah kenyang dan telah selesai dari hasratnya, ia membuka pembicaraan, “Wahai Abu Thalhah, apa pendapatmu bila ada suatu kaum meminjamkan barang mereka kepada suatu keluarga, kemudian kaum tersebut meminta kembali barang yang dipinjamkannya. Apakah keluarga tersebut berhak menahan barang pinjaman itu?” “Tentunya tidak,” jawab Abu Thalhah. “Kalau begitu, bersabarlah dan harapkan pahala atas kematian putramu,” jelas Ummu Sulaim. Kata Anas: Marahlah Abu Thalhah dan ia berkata, “Engkau biarkan aku hingga berlumuran janabah seperti ini baru engkau ceritakan tentang kematian anakku!” (Keesokan harinya) Abu Thalhah pergi menghadap Rasulullah n, lantas menceritakan kejadian yang telah menimpanya. “Semoga Allah memberkahi kalian berdua pada malam kalian itu,” doa beliau n. Dan ternyata Ummu Sulaim mengandung (dari hubungannya dengan suaminya malam itu).” (HR. Muslim no. 6272)

Kematian anak jelas menggoreskan duka yang teramat dalam. Tapi lihatlah apa yang dilakukan seorang wanita shalihah yang diberitakan sebagai ahlul jannah oleh Rasulullah n2, Ummu Sulaim x. Ia tetap berdandan untuk suami serta melayaninya, karena itulah yang wajib dilakukannya sebagai seorang istri.

 

Apa Saja yang Harus Dijauhi oleh Wanita yang Berihdad?

Ummu ‘Athiyyah x berkata:

كُنَّا نُنْهَى أَنْ تُحِدَّ عَلَى مَيِّتٍ فَوْقَ ثَلاَثٍ إِلاَّ عَلَى زَوْجٍ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا، وَلاَ نَكْتَحِلَ وَلاَ نَطَّيَّبَ وَلاَ نَلْبَسَ ثَوْبًا مَصْبُوْغًا إِلاَّ ثَوْبَ عَصْبٍ. وَقَدْ رَخَصَ لَنَا عِنْدَ الطُّهْرِ إِذَا اغْتَسَلَتْ إِحْدَانَا مِنْ مَحِيْضِهَا فِي نُبْذَةٍ مِنْ كُسْتِ أَظْفَارٍ…

“Kami dilarang berihdad atas mayat lebih dari tiga hari kecuali bila yang meninggal itu suami maka istrinya berihdad selama empat bulan sepuluh hari. Selama ihdad itu kami tidak boleh bercelak, tidak boleh memakai wangi-wangian, dan tidak boleh mengenakan pakaian yang dicelup3 kecuali pakaian ‘ashbin4. Rasulullah memberikan rukhshah bagi kami ketika suci dari haid, apabila salah seorang dari kami mandi suci dari haidnya ia boleh memakai sedikit kust5 azhfar6….” (HR. Al-Bukhari no. 313, 5341 dan Muslim no. 3722)

Menggunakan buhur setelah mandi suci dari haid dibolehkan karena tujuannya untuk menghilangkan bau yang tidak sedap di sekitar daerah yang terkena darah haid, bukan tujuannya untuk berwangi-wangi. (Al-Minhaj, 10/357)

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani t menyatakan bahwa hadits di atas menjadi dalil dibolehkannya menggunakan sesuatu yang dapat menghilangkan aroma tidak sedap bila memang sifatnya bukan untuk berhias atau berwangi-wangi seperti menggunakan minyak pada rambut kepala atau selainnya. (Fathul Bari, 9/609)

Zainab bintu Abu Salamah mengabarkan dari ibunya, Ummul Mukminin Ummu Salamah x:

جَاءَتِ امْرَأَةٌُ إِلَى رَسُولِ اللهِ n فَقَالَتْ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، إِنَّ ابْنَتِي تُوُفِّيَ عَنْهَا زَوْجُهَا، وَقَدِ اشْتَكَتْ عَيْنَهَا، أَفَتَكْحِلُهَا؟ فَقَالَ رَسُولُ الله n: لاَ- مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلاَثًا، كُلُّ ذَلِكَ يَقُوْلُ: لَا

Datang seorang wanita menemui Rasulullah n. Ia berkata, ”Wahai Rasulullah, suami putriku telah meninggal dunia. Sementara putriku mengeluhkan rasa sakit pada matanya. Apakah ia boleh mencelaki matanya?” ”Tidak,” jawab Rasulullah n sebanyak dua atau tiga kali.” (HR. Al-Bukhari no. 5336 dan Muslim no. 3709)

Masih berita dari Ummu Salamah x, ia berkata: “Nabi n bersabda:

الْـمُتَوَفَّى عَنْهَا زَوْجُهَا لاَ تَلْبَسُ الْـمُعَصْفَرَ مِنَ الثِّيَابِ وَلاَ الْمُمَشَّقَةَ وَلاَ الْحُلِِّي وَلاَ تَخْضَبُ وَلاَ تَكْتَحِلُ

“Wanita yang ditinggal mati suaminya tidak boleh mengenakan pakaian yang mu’ashfar6 dan pakaian yang dicelup dengan tanah berwarna merah (mumasysyaqah). Tidak boleh pula mengenakan perhiasan, tidak boleh menyemir rambut (ataupun memacari kuku), dan tidak boleh bercelak.” (HR. Abu Dawud no. 2304, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih Abi Dawud)

Ibnu Abbas c berkata:

كاَنَ يَنْهَى الْمُتَوَفَّى عَنْهَا زَوْجُهَا عَنِ الطِّيْبِ وَالزِّيْنَةِ

“Nabi melarang wanita yang meninggal suaminya memakai minyak wangi dan berhias.” (Riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf-nya 5/204 dan Abdurrazzaq dalam Mushannaf-nya 7/43)

‘Atha` bin Abi Rabah t berkata, “Adalah Ibnu ‘Abbas c memerintahkan wanita yang meninggal suaminya agar menjauhi minyak wangi/wewangian.” ‘Atha` juga mengatakan, “Wanita yang meninggal suaminya dilarang memakai minyak wangi dan berhias. Maka hati-hati si wanita dari mengenakan setiap pakaian yang bila dilihat akan dikomentari, ‘Ia telah berhias’. Dan tidak boleh baginya mengenakan pakaian yang dicelup, tidak pula perhiasan.” (Riwayat Abdurrazzaq no. 12111)

Dari sejumlah hadits dan atsar di atas menjadi jelas bagi kita bahwa wanita yang ber-ihdad tidak boleh memakai celak, minyak wangi/wewangian, pakaian yang dicelup kecuali kain ashb, semir, pacar kuku, pakaian yang dicelup dengan warna merah (mu’ashfar), dan yang dicelup dengan tanah merah (mumasysyaqah) serta perhiasan.

Berikut ini tambahan penjelasan dari ucapan para ulama tentang perkara yang dilarang bagi wanita yang berihdad.

Ibnu Qudamah t menyebutkan ada tiga macam yang harus dijauhi wanita yang berihdad.

Pertama: Bersolek/menghiasi dirinya seperti memakai pacar, memakai kosmetik pada wajah, memakai itsmid (celak).

Kedua: Pakaian perhiasan7 seperti pakaian yang dicelup agar menjadi indah misalnya mu’ashfar, muza’far, celupan berwarna merah, dan seluruh warna yang memperindah pemakainya seperti biru, hijau, dan kuning.

Ketiga: Perhiasan seluruhnya seperti cincin dan yang lainnya8. Ibnu Qudamah t berkata, “Perkataan ‘Atha` t, ‘Dibolehkan memakai perhiasan dari perak karena yang dilarang adalah perhiasan dari emas’, tidaklah benar. Karena larangan yang disebutkan dalam hadits sifatnya umum,9 dan juga perhiasan akan menambah kebagusan si wanita dan memberi dorongan untuk menggaulinya.” (Al-Mughni, Kitab Al-‘Idad, Fashl Ma Tajtanibuhul Haddah)

Ibnu Hazm t berkata, “Wajib bagi wanita yang berihdad untuk tidak memakai celak baik karena ada ataupun tidak ada kebutuhan darurat, sekalipun hilang kedua matanya (buta). Larangan ini berlaku malam dan siang.” (Al-Muhalla, 10/63)

Ada hadits yang membolehkan memakai celak bila darurat sebagaimana berita dari ibu Ummu Hakim bintu Usaid. Ketika suaminya wafat dan masih dalam masa ihdad ia mengeluhkan sakit pada matanya, maka ia pun memakai celak itsmid. Lalu diutusnya bekas budaknya untuk menanyakan hal itu kepada Ummu Salamah x. Ummu Salamah x pun berkata, “Janganlah engkau bercelak dengannya kecuali bila memang terpaksa karena sakit yang sangat. Engkau boleh bercelak pada malam hari namun harus engkau hapus pada siang hari”. Ummu Salamah x lalu berkata:

دَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللهُِ n حِيْنَ تُوُفِّيَ أَبُو سَلَمَةَ وَقَدْ جَعَلْتُ عَلَى عَيْنِي صَبْرًا، فَقَالَ: مَا هذَا يَا أُمَّ سَلَمَةَ؟ فَقُلْتُ: إِنَّمَا هُوَ صَبْرٌ يَا رَسُولَ اللهِ، لَيْسَ فِيْهِ طِيْبٌ. قَالَ: إِنَّهُ يَشُبُّ الْوَجْهُ فَلاَ تَجْعَلِيْهِ إِلاَّ بِاللَّيْلِ وَتَنْزِعِيْهِ بِالنَّهَارِ وَلاَ تَمْتَشِطِي بِالطِّيْبِ وَلاَ بِالْحِنَاءِ فَإِنَّهُ خِضَابٌ. قَالَتْ: قُلْتُ: بِأَيِّ شَيْءٍ أَمْتَشِطُ، يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: السِّدْرُ تُغَلِّفِيْنَ بِهِ رَأْسَكِ

Rasulullah n masuk ke tempatku ketika Abu Salamah wafat sementara aku memakai shabr (jenis celak) pada kedua mataku. Beliau bertanya, “Apa yang kau pakai pada matamu, wahai Ummu Salamah?” “Ini cuma shabr, wahai Rasulullah, tidak mengandung wewangian,” jawabku. Rasulullah n berkata, “Shabr itu membuat warna wajah bercahaya/menyala, maka jangan engkau memakainya kecuali pada waktu malam dan hilangkan di waktu siang. Jangan menyisir (mengolesi) rambutmu dengan minyak wangi dan jangan pula memakai hina` (inai/daun pacar) karena hina` itu (berfungsi) sebagai semir (mewarnai rambut dan kuku, –pent.).” Ummu Salamah berkata, “Kalau begitu dengan apa aku meminyaki rambutku, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Daun sidr dapat engkau pakai untuk memolesi rambutmu.” (HR. Abu Dawud no. 2305)

Akan tetapi hadits ini dha’if jiddan (sangat lemah) karena sanadnya munqathi’ (terputus) dan di antara para perawinya ada orang-orang yang majhul. Asy-Syaikh Al-Albani t mendhaifkannya dalam Dha’if Abi Dawud.

Dengan demikian, larangan memakai celak merupakan larangan yang mutlak sekalipun wanita tersebut sedang menderita sakit pada kedua matanya. Adapun pembolehan memakainya ketika malam lantas dihilangkan pada siang hari, sandarannya adalah hadits yang sangat lemah sebagaimana diterangkan di atas. Kalaupun ada keluhan sakit pada mata, bukankah Allah k telah memberikan obat-obatan selain celak yang bisa dipakai untuk menyembuhkan sakit tersebut dengan izin Allah l? Seperti obat tetes mata, salep, dan selainnya. Bila demikian, tidak ada alasan bagi yang berihdad untuk memakai celak dengan dalih sakit mata karena sakit mata Insya Allah bisa diobati dengan obat-obatan yang lain. Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Al-Imam Malik t menyatakan bahwa wanita yang ditinggal mati suaminya boleh berminyak dengan zaitun dan semisalnya selama tidak mengandung minyak wangi. Beliau juga berkata, “Wanita yang sedang berihdad karena kematian suaminya tidak boleh mengenakan perhiasan sedikitpun baik berupa cincin, gelang kaki atau yang selainnya.” (Al-Muwaththa`, 2/599)

Al-Imam Al-Qurthubi t berkata, “Seluruh yang dipakai wanita sebagai perhiasan dalam rangka mempercantik diri tidak boleh dipakai oleh wanita yang sedang berihdad. Ulama dalam mazhab kami tidak menyebutkan permata jauhar, yaqut, dan zamrud, namun semuanya itu masuk dalam makna perhiasan. Wallahu a’lam.” (Al-Jami’ li Ahkamil Qur`an 3/119)

Dalam Majmu’ Fatawa (17/159), Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t menjelaskan keharusan wanita yang berihdad untuk tidak berhias dan memakai wewangian pada tubuh serta pakaiannya. Ia harus berdiam dalam rumahnya, tidak boleh keluar di siang hari kecuali ada kebutuhan dan tidak boleh pula keluar di waktu malam kecuali darurat. Ia tidak boleh memakai perhiasan, tidak boleh mewarnai rambut dan kukunya dengan inai atau selainnya.

Al-Imam Asy-Syaukani t berkata, “Dari ucapan Ummu ‘Athiyyah, ‘Kami tidak boleh memakai wewangian’ menunjukkan haramnya minyak wangi bagi wanita yang sedang berihdad. Yang terlarang di sini adalah segala yang dinamakan wewangian dan tidak ada perselisihan pendapat dalam hal ini.” (Nailul Authar, 6/346)

Dalam Asy-Syarhul Mumti’ (5/720-721), Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin t mengatakan bahwa di antara yang dilarang bagi wanita yang berihdad adalah, “At-tahsin yaitu mempercantik diri dengan memakai hina` (inai/daun pacar) atau dengan bunga mawar, pemerah pipi/bibir, celak, atau yang lainnya. Apa saja yang dapat mempercantik (anggota) tubuhnya, tidak boleh dipakainya sampaipun membaguskan kuku dengan kutek misalnya. Apa saja yang teranggap mempercantik dan memperbagus dirinya tidak boleh dipakai/digunakannya (sampai selesai ihdadnya, –pent.).”10

 

Yang Tidak Terlarang bagi Wanita yang Sedang Berihdad

Tidak dilarang baginya untuk memotong kuku, mencabut rambut ketiak, mencukur rambut kemaluan, mandi dengan daun bidara, atau menyisir rambut karena tujuannya untuk kebersihan bukan untuk berwangi-wangi/berhias. (Al-Mughni, Kitab Al-‘Idad, Fashl Ma Tajtanibuhul Haddah)

Demikian pula mencium minyak wangi karena bila sekedar mencium tidaklah menempel pada tubuh. Sehingga bila seorang wanita yang sedang berihdad ingin membeli minyak wangi, tidak menjadi masalah bila ia menciumnya. (Asy-Syarhul Mumti’, 5/720)

Tidak diharamkan baginya melakukan pekerjaan-pekerjaan yang mubah dan dibolehkan pula baginya berbicara dengan laki-laki sesuai keperluannya, selama ia berhijab. Demikianlah Sunnah Rasulullah n yang dilakukan oleh para wanita dari kalangan sahabat apabila suami-suami mereka meninggal. (Majmu’ Fatawa libni Taimiyah, 17/159)

 

Bagaimana bila Perhiasan Sudah Ada pada Tubuhnya Saat Suaminya Meninggal?

Bila si wanita dalam keadaan berperhiasan saat suaminya meninggal dunia maka ia harus melepaskannya, seperti gelang dan anting-anting. Adapun bila ia memakai gigi emas (gigi palsu dari emas) dan tidak mungkin dilepaskan maka tidak wajib baginya melepasnya, namun ia upayakan untuk menyembunyikannya. (Asy-Syarhul Mumti’, 5/721)

 

Hikmah Larangan Wanita Mengenakan Perhiasan dan Sebagainya saat Berihdad karena Kematian Suami

Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin t mengatakan, “Hikmahnya adalah untuk menghormati hak suami dalam masa ‘iddah karena meninggalnya, hingga tidak ada seorang pun yang berkeinginan untuk menikahi si wanita dalam masa ‘iddah tersebut. Adapun bila si wanita ber-’iddah karena bercerai dengan suaminya yang masih hidup, tidaklah wajib baginya menjauhi hal-hal tersebut karena suaminya masih hidup (tidak ada kewajiban ihdad, –pent.). Seandainya ada seseorang ingin berbuat melampaui batas pada si wanita (istrinya) dalam masa ‘iddah tersebut dan bermaksud meminangnya misalnya, niscaya sang suami dapat mencegahnya (karena selama dalam masa ‘iddah dialah yang paling berhak terhadap si wanita -pent.11). Inilah, wallahu a’lam, hikmah mengapa seorang istri harus berihdad dalam masa iddahnya yang disebabkan kematian suami, dan tidak wajib dilakukannya dalam masa iddah yang disebabkan cerai hidup dengan suaminya.” (Asy-Syarhul Mumti’, 5/723)

 

Kebiasaan Memakai Pakaian Hitam saat Berkabung

Memakai busana hitam saat berkabung/menjalani masa ihdad, tidak keluar ke teras/halaman rumah, tidak naik ke teras atas rumah (balkon), tidak mau melihat bulan saat purnama dengan anggapan karena bulan adalah laki-laki dan berbagai anggapan khurafat lainnya, merupakan perkara yang tidak disyariatkan. Bahkan termasuk bid’ah bila si wanita melakukannya dengan niat ta’abbud (beribadah). Demikian penjelasan Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin t. (Asy-Syarhul Mumti’, 5/723-724)

Selesailah apa yang dapat kami sampaikan kepada pembaca tentang masalah ihdad. Walhamdulillah, wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.


2 Nabi n bersabda:
دَخَلْتُ الْجَنَّةَ فَسَمِعْتُ خَشْفَةً، فَقُلْتُ: مَنْ هَذَا؟ قَالُوْا: هَذِهِ الْغُمَيْصَاءُ بِنْتُ مِلْحَانَ، أُمُّ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ
“Aku masuk ke dalam surga, lalu aku dengar suara orang berjalan, maka kutanyakan, “Siapa itu?” Mereka menjawab, “Al-Ghumaisha` bintu Milhan, ibu Anas bin Malik.” (HR. Muslim no. 6270)
Ibnu Abdil Barr t berkata, “Ummu Sulaim namanya Ar-Rumaisha` dan Al-Ghumaisha`. Namun yang masyhur Al-Ghumaisha`. Sedangkan Ar-Rumaisha nama Ummu Haram saudara perempuannya.” (Al-Minhaj, 15/229)
3 Ucapan Nabi n: لاَ نَلْبَسُ ثَوْبًا مَصْبُوْغًا merupakan dalil dilarangnya seluruh pakaian yang dicelup dalam masa ihdad, dengan warna apa saja terkecuali apa yang dikecualikan dalam hadits, yaitu ثَوْبُ عَصَبٍ. Demikian yang dinyatakan Al-Imam Ash-Shan’ani t dalam Subulus Salam (3/314).
Terkadang dari hadits di atas diambil pengertian bolehnya memakai pakaian yang tidak dicelup dalam masa ihdad, yaitu pakaian yang berwarna putih. Sebagian pengikut mazhab Malikiyah melarang pakaian putih yang mahal yang digunakan untuk berpenampilan, demikian pula warna hitam yang bagus. (Ihkamul Ahkam fi Syarhi ‘Umdatil Ahkam, kitab Ath-Thalaq, bab Al-‘Iddah)
4 Kain bergaris dari Yaman yang diikat benang tenunnya kemudian dicelup, setelahnya ditenun dalam keadaan terikat. Hasilnya berupa kain berwarna namun masih tersisa warna putih tidak terkena celupannya (Fathul Bari, 9/608). Pada kain ini ada warna hitam dan putih. (Ihkamul Ahkam fi Syarhi ’Umdatil Ahkam, kitab Ath-Thalaq, bab Al-’Iddah)
5 Semacam buhur/dupa/wewangian. (Fathul Bari, 1/537)
6 Sebagian ulama mengatakan, Azhfar adalah nama kota yang ada di Yaman. Ada pula yang mengatakan nama buhur.
6 Yaitu pakaian yang dicelup dengan ‘ushfur (safflower). Menurut Asy-Syaukani, warnanya menjadi merah sebagaimana dalam Nailul Authar (syarah hadits 560, Kitabul Libas, Bab Nahyur Rijal ‘anil Mu’ashfar…). Sedangkan menurut sebagian sumber, terkadang menjadi kekuningan. (ed)
7 Bila dikatakan, “Ini pakaian biasa”, berarti tidak wajib untuk ditinggalkan, boleh dikenakan selama ihdad, walaupun pakaian tersebut memiliki model atau berwarna/bercorak. Tapi bila dikatakan, “Ini pakaian untuk berhias”, berarti wajib dijauhi selama ihdad, baik pakaian tersebut meliputi seluruh tubuh atau hanya untuk menutupi sebagiannya seperti celana panjang, rok, syal, dan sebagainya. (Asy-Syarhul Mumti’, 5/720)
8 Sama saja baik perhiasan itu dikenakan pada kedua telinga, pada kepala, leher, tangan, kaki atau di atas dada, seluruh macam perhiasan tidak boleh dikenakannya. (Asy-Syarhul Mumti’, 5/721)
9 Dalam hadits Ummu Salamah x yang telah disebutkan di atas, Nabi n bersabda:
… وَلاَ الْحُلِّي…
“(Wanita yang meninggal suaminya tidak boleh)… mengenakan perhiasan….”
10 Batasan berhias atau tidak berhias kembalinya kepada ’urf (adat kebiasaan) setiap zaman dan tempat. Sehingga tidak bisa diberi ketentuan pakaian yang bentuknya bagaimana dan penampilan bagaimana yang teranggap berhias. (Taisirul ‘Allam, 2/354)
11 Sebagaimana Allah k berfirman:
“Dan suami-suami mereka paling berhak merujuki mereka dalam masa ’iddah tersebut, jika mereka menghendaki ishlah.” (Al-Baqarah: 228)

Menyebarkan Salam

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman bintu ‘Imran)

 

Satu kebiasaan yang ringan namun bisa jadi jarang diterapkan di tengah keluarga kita adalah menyebarkan salam. Padahal banyak buah kebaikan yang bisa dipetik dari ucapan yang mengandung muatan doa ini.

Salah satu hal yang penting dalam kehidupan masyarakat muslim adalah menyebarkan salam. Karena dengannya akan tumbuh rasa saling cinta di antara mereka, biarpun tidak saling mengenal.

Betapa banyak kita temui anjuran Rasulullah ­n kepada kita untuk menyebarkan salam. Sebagaimana disampaikan oleh Abu Hurairah z, Rasulullah n pernah bersabda:

حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ. قِيْلَ: مَا هُنَّ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: إِذَا لَقِيْتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ، وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ، وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ، وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللهَ فَسَمِّتْهُ، وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ، وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ

“Hak seorang muslim atas muslim yang lain ada enam.” Beliau pun ditanya, “Apa saja, ya Rasulullah?” Jawab beliau, “Jika engkau bertemu dengannya, ucapkan salam kepadanya. Jika dia memanggilmu, penuhi panggilannya. Jika dia meminta nasihat kepadamu, berikan nasihat kepadanya. Jika dia bersin lalu memuji Allah, doakanlah dia1. Jika dia sakit, jenguklah dia; dan jika dia meninggal, iringkanlah jenazahnya.” (HR. Al-Bukhari no. 1240 dan Muslim no. 2162)

Dinukilkan pula oleh Abu Hurairah z bahwa beliau n bersabda:

لاَ تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا، وَلاَ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا، أَوَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوْهُ تَحَابَبْتُمْ؟ أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ

“Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan tidak akan sempurna iman kalian hingga kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan kalian pada sesuatu yang jika kalian lakukan kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim no. 54)

Al-Imam An-Nawawi t menjelaskan,  dalam hadits ini terdapat anjuran kuat untuk menyebarkan salam dan menyampaikannya kepada seluruh kaum muslimin, baik yang engkau kenal maupun yang tidak engkau kenal. (Syarh Shahih Muslim, 2/35)

Beliau juga menjelaskan bahwa ucapan salam merupakan pintu pertama kerukunan dan kunci pembuka yang membawa rasa cinta. Dengan menyebarkan salam, semakin kokoh kedekatan antara kaum muslimin, serta menampakkan syi’ar mereka yang berbeda dengan para pemeluk agama lain. Di samping itu, di dalamnya juga terdapat latihan bagi jiwa seseorang untuk senantiasa berendah diri dan mengagungkan kehormatan kaum muslimin yang lainnya. (Syarh Shahih Muslim, 2/35)

Al-Bara` bin ‘Azib z menukilkan sabda Rasulullah n:

أَفْشُوا السَّلاَمَ تَسْلَمُوا

“Sebarkanlah salam, niscaya kalian akan selamat.” (HR. Ahmad, dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih Al-Adabil Mufrad no. 604: hasan)

Maksudnya di sini, kalian akan selamat dari sikap saling menjauh dan pemutusan hubungan, serta akan langgeng rasa saling cinta di antara kalian. Hati kalian pun akan bersatu, dan hilanglah permusuhan serta pertikaian. (Faidhul Qadir, 2/22)

‘Abdullah bin ‘Amr c mengatakan, Rasulullah n pernah bersabda:

اعْبُدُوا الرَّحْمَنَ وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ وَأَفْشُوا السَّلاَمَ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِالسَّلاَمِ

“Ibadahilah Ar-Rahman, berikan makanan dan sebarkan salam, niscaya kalian akan masuk ke dalam surga dengan selamat.” (HR. At-Tirmidzi no. 1855, dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi: shahih)

Banyak nukilan ucapan para salaf kita yang shalih yang menunjukkan keutamaan mengucapkan salam. Di antaranya dari ‘Abdullah bin Mas’ud z:

إِنَّ السَّلاَمَ اسْمٌ مِنْ أَسْمَاءِ اللهِ وَضَعَهُ اللهُ فِي الْأَرْضِ، فَأَفْشُوهُ بَيْنَكُمْ، إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا سَلَّمَ عَلَى الْقَوْمِ فَرَدُّوا عَلَيْهِ كَانَتْ عَلَيْهِمْ فَضْلُ دَرَجَةٍ، لِأَنَّهُ ذَكَّرَهُمُ السَّلاَمَ، وَإِنْ لَمْ يُرَدَّ عَلَيْهِ رَدَّ عَلَيْهِ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنْهُ وَأَطْيَبُ

“Sesungguhnya As-Salam adalah salah satu nama Allah yang Allah letakkan di bumi, maka sebarkanlah salam di antara kalian. Sesungguhnya bila seseorang mengucapkan salam kepada suatu kaum, lalu mereka menjawab salamnya, maka dia memiliki keutamaan derajat di atas mereka karena dia telah mengingatkan mereka dengan salam. Dan bila tidak dijawab salamnya, maka akan dijawab oleh makhluk yang lebih baik darinya.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad, dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih Al-Adabil Mufrad no. 793: shahih secara mauquf, shahih juga secara marfu’)

Abu Hurairah z pernah mengatakan:

أَبْخَلُ النَّاسِ الَّذِي يَبْخَلُ بِالسَّلاَمِ

“Orang yang paling bakhil adalah orang yang bakhil untuk mengucapkan salam.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad, dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih Al-Adabil Mufrad no. 795: shahih secara mauquf, shahih juga secara marfu’)

Setelah mengetahui keutamaan amalan ini serta pentingnya dalam kehidupan masyarakat muslimin, tentu tak layak bila kita remehkan. Lebih-lebih berkaitan dengan pendidikan anak-anak kita. Semenjak awal mestinya mereka dikenalkan dan dibiasakan dengan ucapan salam sebagaimana yang diajarkan oleh syariat ini.

Bagaimana mungkin akan kita biarkan anak-anak kita saling mengucapkan salam atau melontarkan sapaan dengan ucapan yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah n, atau bahkan mengadopsi dari kebiasaan orang-orang kafir? Betapa banyak kaum muslimin yang masih membiasakan anak-anak mereka ketika berpisah melambaikan tangan sambil mengatakan, “Daaag!” Atau ketika bertemu dengan anak-anaknya dia menyapa, “Halo, Sayang!” Begitu pula si anak akan menjawab, “Halo, Papa! Halo, Mama!”

Betapa banyak itu terjadi, dan masih banyak pula gambaran yang lain. Sementara contoh yang begitu gamblang kita dapatkan dari Rasulullah n. Beliau biasa menyapa dan menyampaikan salam kepada anak-anak para sahabat.

Anas bin Malik z, pelayan Rasulullah n yang menghabiskan masa kecilnya dalam bimbingan beliau n ini menceritakan:

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ n مَرَّ عَلَى غِلْمَانٍ فَسَلَّمَ عَلَيْهِمْ

“Rasulullah n pernah bertemu dengan anak-anak kecil lalu beliau mengucapkan salam kepada mereka.” (HR. Muslim no. 2168)

Peristiwa yang disaksikan oleh Anas bin Malik z ini membekas dalam dirinya, sehingga Anas pun melakukannya. Diriwayatkan oleh Tsabit Al-Bunani t, bahwa dia pernah berjalan bersama Anas bin Malik z, melewati anak-anak kecil. Lalu Anas mengucapkan salam kepada mereka, dan mengatakan:

كَانَ النَّبِيُّ n يَفْعَلُهُ

“Nabi n dahulu biasa melakukannya.” (HR. Al-Bukhari no. 6247 dan Muslim no. 2168)

Perbuatan Rasulullah n ini diikuti pula oleh sahabat yang lainnya. Diceritakan oleh ‘Anbasah bin ‘Ammar t:

رَأَيْتُ ابْنَ عُمَرَ يُسَلِّمُ عَلَى الصِّبْيَانِ فِي الكُتَّابِ

“Aku pernah melihat Ibnu ‘Umar memberi salam kepada anak-anak kecil di kuttab2.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad, dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih Al-Adabil Mufrad no. 797: shahihul isnad)

Al-Imam An-Nawawi t menjelaskan tentang hadits Anas bin Malik z di atas: “Hadits ini menunjukkan disenanginya memberi salam kepada anak-anak yang berusia tamyiz.” (Syarh Shahih Muslim, 14/148)

Al-Hafizh t menukil penjelasan Ibnu Baththal t: “Dalam pemberian salam kepada anak-anak ini terdapat pendidikan terhadap adab-adab syariat. Di dalamnya terkandung pula sikap menjauhi kesombongan pada diri orang-orang yang besar, perilaku tawadhu’, serta lemah-lembut kepada orang-orang di sekitar.” (Fathul Bari, 11/40-41)

Memperdengarkan Ucapan Salam

Ketika menyampaikan salam, hendaknya seseorang memperdengarkan ucapan salamnya. Diriwayatkan oleh Tsabit bin ‘Ubaid t:

أَتَيْتُ مَجْلِسًا فِيْهِ عَبْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ فَقَالَ: إِذَا سَلَّمْتَ فَأَسْمِعْ، فَإِنَّهَا تَحِيَّةٌ مِنْ عِنْدِ اللهِ مُبَارَكَةٌ طَيِّبَةٌ

“Aku pernah mendatangi suatu majelis yang di situ ada ‘Abdullah bin ‘Umar c. Maka beliau berkata, ‘Apabila engkau mengucapkan salam, perdengarkan ucapanmu. Karena ucapan salam itu penghormatan dari sisi Allah yang penuh berkah dan kebaikan’.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad, dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih Al-Adabil Mufrad no. 769: shahihul isnad)

 

Ucapan Salam ketika Datang dan Pergi

Anak-anak sudah semestinya dibiasakan untuk mengucapkan salam ketika datang dan pergi. Perlu pula mereka mengetahui, ucapan salam yang lebih utama. Seseorang yang mengucapkan salam dengan sempurna tentu memiliki keutamaan.

Diceritakan oleh Abu Hurairah z:

إِنَّ رَجُلاً مَرَّ عَلَى رَسُولِ اللهِ n وَهُوَ فِي مَجْلِسٍ، فَقَالَ: السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ. فَقَالَ: عَشْرَ حَسَنَاتٍ. فَمَرَّ رَجُلٌ آخَرُ فَقَالَ: السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ، فَقَالَ: عِشْرُوْنَ حَسَنَةً. فَمَرَّ رَجُلٌ آخَرُ فَقَالَ: السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ. فَقَالَ: ثَلاَثُونَ حَسَنَةً. فَقَامَ رَجُلٌ مِنَ الْمَجْلِسِ وَلَمْ يُسَلِّمْ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ n: مَا أَوْشَكَ مَا نَسِيَ صَاحِبُكُمْ، إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمُ الْمَجْلِسَ فَلْيُسَلِّمْ، فَإِنْ بَدَا لَهُ أَنْ يَجْلِسَ فَلْيَجْلِسْ، وَإِذَا قَامَ فَلْيُسَلِّمْ، مَا الْأُوْلَى بِأَحَقَّ مِنَ الْآخِرَةِ

Ada seseorang datang kepada Rasulullah n yang saat itu sedang berada di suatu majelis. Orang itu berkata, “Assalamu ‘alaikum.” Beliau pun bersabda, “Dia mendapat sepuluh kebaikan.” Datang lagi seorang yang lain, lalu berkata, “Assalamu ‘alaikum warahmatullahi.” Beliau bersabda, “Dia mendapat duapuluh kebaikan.” Ada seorang lagi yang datang, lalu mengatakan, “Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuhu.” Beliau pun bersabda, “Dia mendapat tigapuluh kebaikan.” Kemudian ada seseorang yang bangkit meninggalkan majelis tanpa mengucapkan salam, maka Rasulullah n pun mengatakan, “Betapa cepatnya teman kalian itu lupa. Jika salah seorang di antara kalian mendatangi suatu majelis, hendaknya dia mengucapkan salam. Bila ingin duduk, hendaknya dia duduk. Bila dia pergi meninggalkan majelis, hendaknya mengucapkan salam. Tidaklah salam yang pertama lebih utama daripada salam yang akhir.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad, dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih Al-Adabil Mufrad no. 757: shahih)

 

Yang Muda Memberi Salam pada yang Lebih Tua

Hendaknya anak-anak diajari pula agar memberi salam kepada orang yang lebih tua. Demikian yang diajarkan oleh Rasulullah n dalam ucapan beliau yang dinukilkan oleh Abu Hurairah z:

يُسَلِّمُ الصَّغِيْرُ عَلَى الْكَبِيْرِ، وَالْمَارُّ عَلَى الْقَاعِدِ، وَالْقَلِيْلُ عَلَى الْكَثِيْرِ

“Yang kecil memberi salam kepada yang besar, yang berjalan memberi salam kepada yang duduk, yang sedikit memberi salam kepada yang banyak.” (HR. Al-Bukhari no.6234 dan Muslim no. 2160)

Ibnu Baththal t mengatakan, sebagaimana yang dinukil oleh Al-Hafizh t: “Pemberian salam orang yang lebih muda (kepada yang lebih tua, –pent.) disebabkan hak orang yang lebih tua. Karenanya orang yang lebih muda diperintahkan untuk memuliakannya serta bersikap rendah hati kepadanya.” (Fathul Bari, 11/22)

 

Mengucapkan Salam ketika Masuk Rumah

Hal yang tak patut ketinggalan dalam pembiasaan salam adalah mengucapkan salam ketika masuk rumah. Allah k berfirman di dalam Kitab-Nya yang mulia:

“Apabila kalian memasuki rumah, maka ucapkanlah salam bagi diri kalian sebagai penghormatan dari sisi Allah yang penuh berkah dan kebaikan.” (An-Nur: 61)

Yang dimaksudkan di sini, mencakup rumah miliknya maupun rumah orang lain, baik di rumah itu ada orang ataupun tidak. Makna firman Allah l: “Maka ucapkanlah salam bagi diri kalian”, hendaknya seseorang mengucapkan salam kepada yang lainnya. Karena kaum muslimin itu bagaikan satu individu, dari sisi saling cinta dan saling menyayangi serta mengasihi di antara mereka. Sehingga ucapan salam disyariatkan ketika memasuki semua rumah, tanpa dibedakan rumah yang satu dengan yang lain. (Taisirul Karimir Rahman, hal. 575)

Dijelaskan pula oleh para pendahulu kita yang shalih, di antaranya Mujahid dan Qatadah, “Apabila engkau masuk rumah untuk menemui keluargamu, ucapkanlah salam kepada mereka. Apabila engkau masuk rumah yang tak berpenghuni, ucapkanlah:السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِـحِيْنَ . (Tafsir Ibnu Katsir, 5/431)

Ini perlu dibiasakan pada anak-anak, karena orang yang masuk rumah dengan mengucap salam memiliki keutamaan. Diriwayatkan oleh Abu Umamah Al-Bahili z dari Rasulullah n:

ثَلاَثَةٌ كُلُّهُمْ ضَامِنٌ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ: (مِنْهَا) وَرَجُلٌ دَخَلَ بَيْتَهُ بِسَلاَمٍ فَهُوَ ضَامِنٌ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Ada tiga orang yang mendapat jaminan dari Allah k, (di antaranya) seseorang yang masuk rumahnya dengan mengucapkan salam, maka dia mendapatkan jaminan dari Allah k.” (HR. Abu Dawud no. 2494, dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih Sunan Abi Dawud: shahih)
Menjawab Salam dengan yang Lebih Baik
Tak lepas dari permasalahan ini, anak-anak diajarkan pula cara menjawab salam sebagaimana dituntunkan oleh syariat. Allah k memerintahkan:
“Dan apabila kalian diucapkan salam penghormatan, balaslah dengan yang lebih baik atau balaslah (dengan yang serupa)…” (An-Nisa`: 86)
Al-Imam Ibnu Katsir t menjelaskan, “Apabila seorang muslim mengucapkan salam kepada kalian, balaslah dengan ucapan salam yang lebih utama daripada yang dia ucapkan, atau balaslah sebagaimana yang dia ucapkan. Sehingga membalas dengan menambah ucapan salam itu disunnahkan, dan membalas dengan ucapan yang sama itu diwajibkan.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/269)
Demikian yang semestinya dilakukan oleh setiap orangtua dalam menanamkan kebiasaan ini. Begitu pula hendaknya yang ditempuh oleh seorang pengajar yang mendidik anak-anak. Dinasihatkan oleh Asy-Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu: “Seorang pengajar apabila memasuki kelas hendaknya mengucapkan salam dengan mengatakan السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ, dan hendaknya dia mengetahui bahwa ini adalah perilaku Islami yang agung, yang memperkuat ikatan cinta dan kepercayaan di antara murid, maupun antara pengajar dengan muridnya.”
Beliau menambahkan: “Tidak sepantasnya salam yang diucapkan itu berupa kalimat ‘selamat pagi’ atau ‘selamat sore’. Namun tidak mengapa bila setelah mengucapkan salam dia ucapkan perkataan itu dengan sedikit perubahan, seperti misalnya ‘Semoga Allah berikan kebaikan padamu pagi ini’, sehingga ucapan itu mengandung makna doa….” (Nida` ilal Murabbiyin wal Murabbiyat, hal. 17)
Inilah tuntunan Islam dalam mempererat hubungan persaudaraan di antara kaum muslimin. Tentunya, harus kita tinggalkan kebiasaan-kebiasaan yang jauh dari tuntunan Rasulullah n. Sebagai gantinya, menghidupkan sunnah yang demikian benderang ini dalam kehidupan kita dan anak-anak kita.
Wallahu ta’ala a’lamu bish­-shawab.

1  Yaitu dengan mengucapkan يَرْحَمُكَ اللهُ
2 Kuttab adalah suatu tempat yang digunakan anak-anak untuk belajar membaca, menulis, dan menghafal Al-Qur`an.

Mau’izhah Saat Terjadi Nusyuz

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah)

Suami adalah nakhoda yang mengatur jalannya bahtera rumah tangga kala mengarungi lautan kehidupan. Maka semestinya ia ditaati bukan dibangkangi, ia seharusnya diikuti bukan dikhianati. Lantas apa yang semestinya dilakukan sang nakhoda kala ada “penumpang”-nya yang menunjukkan sikap pembangkangan?

Perjalanan bahtera rumah tangga tak selamanya bertaburan bunga beraneka warna dengan aroma semerbaknya. Dan tak selalu jalan mulus terbentang di hadapan. Adanya onak duri, kerikil, aral melintang, ataupun badai adalah hal yang lumrah dialami oleh rumah tangga di dunia. Karena demikianlah sunnatullah yang berlaku bagi kehidupan yang fana ini. Hanya pernikahan di surga lah yang selalu indah, selalu bahagia, seiring bersama tanpa problema, berlimpah cinta dan kasih sayang dalam curahan nikmat dan rahmat dari Ar-Rahman. Adapun di dunia, ya… seperti yang telah dirasakan oleh mereka yang telah melalui ‘masa-masa pengantin baru’. Di sana ada ganjalan, di sana ada masalah, di sana ada keluh kesah…

Di antara masalah yang mungkin terjadi adalah ketidakpatuhan istri kepada suami. Mungkin dengan lisan ia berani membantah suaminya ataupun dengan perbuatan, ia berani melanggar perintah suaminya.

Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin t mengatakan, “Wanita itu berbeda-beda, di antara mereka ada yang shalihat, Allah k berfirman:

“Maka wanita-wanita yang shalihat adalah mereka yang taat kepada Allah, taat kepada suami-suami mereka sampai pun suami-suami mereka tidak ada di tempat (sedang bepergian)1, yang demikian itu (dapat mereka lakukan) disebabkan penjagaan Allah terhadap mereka (dan taufik dari-Nya).”2

Wanita-wanita shalihat (seperti yang disebutkan dalam ayat di atas) memiliki akhlak dan adab yang tinggi terhadap suami. Namun di antara wanita ada yang keberadaannya justru sebaliknya, di mana mereka berbuat nusyuz terhadap suami.” (Asy-Syarhul Mumti’, 5/392)

Secara bahasa nusyuz bermakna irtifa’, tinggi. Istri yang bermaksiat kepada suaminya diistilahkan nasyiz (orang yang berbuat nusyuz) karena pada perbuatannya tersebut ada sikap tinggi dan mengangkat dirinya dari menaati suaminya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah t berkata: “Nusyuz istri adalah ia tidak menaati suaminya apabila suaminya mengajaknya ke tempat tidur, atau ia keluar rumah tanpa minta izin suami dan perkara semisalnya yang seharusnya ia tunaikan sebagai wujud ketaatan kepada suaminya.” (Majmu’ Fatawa, 32/277

Bila terjadi nusyuz dari pihak istri, tindakan apa yang sepatutnya dilakukan oleh sang suami? Apakah langsung memukul si istri atau lebih jauh lagi ia langsung menjatuhkan vonis talak?

Tentunya seorang yang mengaku berpegang dengan Al-Qur`an dan As-Sunnah akan mengembalikan permasalahannya kepada Al-Qur`an dan As-Sunnah. Al-Qur`anul Karim telah berbicara tentang hal ini:

“Dan istri-istri yang kalian khawatirkan nusyuz mereka maka berilah mau’izhah kepada mereka, boikotlah mereka di tempat tidur, dan pukullah mereka. Namun bila kemudian mereka menaati kalian maka tidak boleh bagi kalian mencari-cari jalan untuk menyusahkan mereka.” (An-Nisa`: 34)

Penyembuhan istri yang berbuat nusyuz dilakukan dengan tahapan, tidak langsung memakai cara kekerasan, sebagaimana dikatakan oleh sahabat yang mulia Ibnu Abbas c: “Istri itu diberi mau’izhah kalau memang ia mau menerimanya. Bila tidak, ia didiamkan di tempat tidurnya, bersamaan dengan itu ia tidak diajak bicara.” (Ruhul Ma’ani 5/25, Tafsir Ibnu Katsir, 1/504)

Al-Allamah Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di t dalam tafsirnya berkata, “Allah l berfirman, ‘Dan istri-istri yang kalian khawatirkan nusyuz mereka’, maksudnya mereka menarik diri dari menaati suami mereka dengan bermaksiat (tidak patuh) kepada suami, baik dengan ucapan ataupun perbuatan, maka suami hendaknya memberikan ‘pengajaran’ kepada si istri dengan cara yang paling mudah/ringan kemudian yang mudah/ringan. Pertama, “berilah mau’izhah kepada mereka”, dengan menerangkan hukum Allah l dalam perkara taat dan maksiat kepada suami, memberikan anjuran untuk taat kepada suami serta menakuti-nakuti dengan akibat yang didapatkan bila bermaksiat kepada suami. Bila si istri berhenti dari perbuatannya maka itulah yang dimaukan. Namun bila tetap terus dalam perbuatannya, dalam artian nasihat sudah tidak mempan, barulah beranjak pada tahap berikutnya yaitu (kedua) diboikot/didiamkan di tempat tidur dengan tidak mau “tidur” bersamanya, tidak meng-”gauli”nya sekadar waktu yang dengannya tercapai maksud. Bila tidak berhasil juga, barulah pindah ke tahap selanjutnya yaitu dipukul dengan pukulan yang tidak keras. Apabila telah tercapai tujuan (istri tidak lagi berbuat nusyuz, –pent.) dengan salah satu dari beberapa tahapan di atas dan istri kalian kembali menaati kalian, “maka tidak boleh bagi kalian mencari-cari jalan untuk menyusahkan mereka”, maksudnya adalah telah tercapai apa yang kalian sukai/inginkan, maka janganlah kalian mencela dan mencerca mereka dalam kesalahan-kesalahan mereka yang telah lalu, dan jangan menyelidiki/mencari-cari kesalahan yang akan bermudarat bila disebutkan serta menjadi sebab timbulnya kejelekan.” (Taisir Al-Karimir Rahman, hal. 177)

Dengan demikian, bila tampak kesalahan dan pelanggaran dari istri, yang seharusnya dilakukan suami adalah memberi mau’izhah padanya. Mudah-mudahan dengan cara pertama ini, si istri segera kembali dan memperbaiki diri. Makna mau’izhah adalah mengingatkan seseorang dengan pahala dan hukuman yang dengannya dapat melunakkan hatinya3.

Al-Imam Ibnu Qudamah t menyatakan: “Dalam mau’izhah itu ia ditakut-takuti kepada Allah k, diingatkan apa yang Allah l wajibkan kepadanya berupa keharusan memenuhi hak suami dan keharusan menaatinya, diperingatkan akan dosa bila menyelisihi suami dan bermaksiat kepadanya. Ia juga diancam akan gugur hak-haknya berupa nafkah dan pakaian bila tetap durhaka kepada suami, dan ia boleh dipukul serta di-hajr (diboikot) oleh suami bila enggan menerima nasihat.” (Al-Mughni, kitab ‘Isyratun Nisa`, masalah Idza Zhahara Minha Ma Yukhafu Ma’ahu Nusyuzaha Wa’azhaha…)

Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin t menerangkan bahwa makna mau’izhah adalah mengingatkan istri dengan pahala dari Allah l bila ia taat kepada suaminya dan sebaliknya ia pasti akan mendapatkan hukuman dari Allah k manakala menyelisihi suaminya (tidak taat dalam perkara kebaikan). Suami juga menasihati istrinya dengan menyatakan, “Jika engkau melakukan perbuatan seperti itu, tentunya akan menjadi sebab kebencian di antara kita.” Apabila mereka telah memiliki anak, maka si suami mengingatkan, “Perbuatanmu itu dapat menjadi sebab tercerai-berainya keluarga ini. Bila timbul saling benci di antara kita, sangat mungkin akan menjadi sebab perceraian. Dan kalau sampai kita bercerai, mungkin engkau tidak akan mendapatkan lelaki yang mau menikahimu.” Ataupun kalimat-kalimat yang semisal ini yang dapat membuat si istri insaf dan lunak hatinya untuk menerima nasihat serta peringatan (untuk kemudian berhenti dari perbuatan nusyuz-nya).” (Asy-Syarhul Mumti’, 5/393)

Pensyariatan mau’izhah ini selain ditunjukkan dalam Al-Qur`anul Karim, juga disebutkan dalam As-Sunnah, sebagaimana hadits Abu Hurrah Ar-Raqasyi4 dari pamannya z. Pamannya ini berkata, “Aku memegang tali kekang unta Rasulullah n di tengah-tengah hari Tasyriq….” Lalu ia menyebutkan hadits yang panjang, dalam hadits tersebut antara lain disebutkan bahwa Rasulullah n bersabda:

فَإِنْ خِفْتُمْ نُشُوْزَهُنَّ فَعِظُوْهُنَّ وَاهْجُرُوْهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوْهُنَّ ضَرْبًا غَيْرَ مُبَرِّحٍ …

“…Maka apabila kalian mengkhawatirkan nusyuz mereka (para istri), berilah mau’izhah kepada mereka, boikotlah mereka di tempat tidur, dan pukullah mereka dengan pukulan yang tidak keras….” (HR. Ahmad dalam Musnadnya 5/72,73 dengan sanad yang shahih)

Para sahabat, tabi’in, dan ulama yang datang setelah mereka sampai hari kita ini sepakat disyariatkannya mau’izhah ketika istri berbuat nusyuz, tidak ada seorang pun yang mengingkari hal ini5.

Dengan demikian, mau’izhah merupakan kewajiban awal yang harus dilakukan oleh seorang pemimpin dan kepala rumah tangga untuk meluruskan kebengkokan istrinya dan men-’didik’nya. Kewajiban ini dituntut dari dirinya pada setiap keadaan karena Allah k berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri-diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka, yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (At-Tahrim: 6)

Akan tetapi pada keadaan di mana istrinya berbuat nusyuz, pengarahan tertuju secara khusus untuk tujuan yang khusus yaitu mengobati nusyuz yang terjadi, sebelum bertambah besar dan parah. (Al-Wajiz fi Fiqhis Sunnah wal Kitabil ‘Aziz, hal. 312)

Wallahul musta’an. Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.


1 Ia menjaga diri dan harta suaminya. (Taisir Al-Karimir Rahman, hal. 177)

2  An-Nisa`: 34

3 Al-Muthli’ ‘ala Abwabil Muqni’, hal. 330, sebagaimana dinukil dalam kitab An-Nusyuz hal. 36, karya Asy-Syaikh Shalih bin Ghanim As-Sadlan.

4 Diperselisihkan namanya, ada yang mengatakannya namanya Hanifah. (Tahdzibul Kamal fi Asma’ir Rijal)

5 Al-Ifshah, Ibnu Hubairah, 2/143, sebagaimana dinukil dalam kitab An-Nusyuz hal. 37

Khutbah Jum’at edisi 35

إِنَّ الْحَمْدَ لِلهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. (آل عمران: 102)

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا. (النساء: 1)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا. (الأحزاب: 70-71)

أَمَّا بَعْدُ:

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah…
Marilah kita senantiasa bertakwa kepada Allah l di manapun kita berada. Baik ketika kita sedang bersama orang banyak maupun ketika sendirian. Dan marilah kita senantiasa takut akan terkena adzab-Nya, kapan dan di mana pun kita berada. Karena kewajiban menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya bukan hanya pada waktu dan saat-saat tertentu saja. Bahkan beribadah kepada-Nya adalah kewajiban yang harus dilakukan hingga ajal mendatangi kita. Allah l berfirman:
“Dan beribadahlah kepada Rabbmu sampai kematian mendatangimu.” (Al-Hijr: 99)
Hadirin rahimakumullah,
Belum lama berlalu, kaum muslimin berada di bulan yang penuh barakah. Bulan yang kaum muslimin berpuasa di siang harinya dan shalat tarawih di malam harinya. Bulan yang kaum muslimin mengisinya dengan berbagai amal ketaatan. Kini bulan itu telah berlalu. Dan akan menjadi saksi di hadapan Allah l atas segala perbuatan yang dilakukan oleh setiap orang di bulan tersebut. Baik yang berupa amalan ketaatan maupun perbuatan maksiat. Maka sekarang tidak ada lagi yang tersisa dari bulan tersebut kecuali apa yang telah disimpan pada catatan amalan yang akan diperlihatkan pada hari akhir nanti. Allah l berfirman:
“Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati (pada catatan amalan) segala kebajikan dihadapkan (di mukanya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya; ia ingin kalau kiranya antara ia dengan hari itu ada masa yang jauh; dan Allah memperingatkan kamu terhadap siksa-Nya. Dan Allah sangat Penyayang kepada hamba-hamba-Nya.” (Ali ‘Imran: 30)
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Ibarat seorang pedagang yang baru selesai dari perniagaannya, tentu dia akan menghitung berapa keuntungan atau kerugiannya. Begitu pula yang semestinya dilakukan oleh orang yang beriman dengan hari akhir ketika keluar dari bulan Ramadhan. Bulan yang Allah l telah berjanji akan mengampuni dosa-dosa yang telah lalu bagi orang yang berpuasa dan shalat tarawih karena iman dan mengharapkan balasan dari-Nya. Dan pada bulan tersebut, Allah l bebaskan orang-orang yang berhak mendapatkan siksa neraka sehingga benar-benar bebas darinya. Yaitu bagi mereka yang memanfaatkan bulan tersebut untuk bertaubat kepada-Nya dengan taubat yang sebenar-benarnya.
Saudara-saudaraku seiman yang mudah-mudahan senantiasa dirahmati Allah l,
Oleh karena itu, orang yang mau berpikir tentu akan melihat pada dirinya. Apa yang telah dilakukan selama bulan Ramadhan? Sudahkah dia memanfaatkannya untuk bertaubat dengan sebenar-benarnya? Ataukah kemaksiatan yang dilakukan sebelum Ramadhan masih berlanjut meskipun bertemu dengan bulan yang penuh ampunan tersebut? Jika demikian halnya, dia terancam dengan sabda Rasulullah n:
وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ
“Dan rugilah orang yang bertemu dengan bulan Ramadhan namun belum mendapatkan ampunan ketika berpisah dengannya.” (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi, beliau mengatakan hadits hasan gharib)
Namun demikian bukan berarti sudah tidak ada lagi kesempatan bagi dirinya untuk memperbaiki diri. Karena kesempatan bertaubat tidaklah hanya di bulan Ramadhan. Bahkan selama ajal belum sampai ke tenggorokan, kesempatan masih terbuka lebar. Meskipun bukan berarti pula seseorang boleh menunda-nundanya. Bahkan semestinya dia segera melakukannya. Karena kematian bisa datang dengan tiba-tiba dalam waktu yang tidak disangka-sangka. Dan seandainya seseorang mengetahui kapan datangnya kematian, maka harus dipahami pula bahwa taubat adalah pertolongan dan taufiq dari Allah l. Sehingga tidak bisa seseorang memastikan bahwa dirinya pasti akan bertaubat sebelum ajal mendatanginya. Bahkan Abu Thalib, paman Nabi n sendiri, pada akhir hayatnya tidak bisa bertaubat kepada Allah l. Padahal yang mengingatkannya adalah orang terbaik dari kalangan manusia, yaitu Rasulullah n. Namun ketika Allah l tidak memberikan taufiq dan pertolongan-Nya, maka tidak akan ada seorang pun yang mampu memberikannya. Oleh karena itu, sudah seharusnya setiap orang segera bertaubat dari seluruh dosanya. Sehingga dia akan mendapat ampunan dan menjadi orang yang tidak lagi memiliki dosa. Allah l berfirman:
“Sesungguhnya Allah hanyalah akan menerima taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan karena ketidakhati-hatiannya dan kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang Allah terima taubatnya; dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan sehingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: ‘Sesungguhnya saya bertaubat sekarang.’ Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi mereka itu telah Kami siapkan siksa yang pedih.” (An-Nisa`: 17-18)
Saudara-saudaraku kaum muslimin rahimakumullah,
Adapun orang yang telah memanfaatkan pertemuannya dengan Ramadhan untuk bertaubat dan mengisinya dengan berbagai amal shalih, maka seharusnya dia bersyukur kepada Allah l dan memohon agar amalannya diterima serta memohon agar bisa istiqamah di atas amalan tersebut. Dan janganlah dirinya tertipu dengan banyaknya amalannya. Sehingga dia menyangka bahwa dirinya termasuk orang-orang yang paling baik dan paling hebat. Bahkan dia harus senantiasa memohon ampun dan beristighfar kepada Allah l. Karena seseorang tidak bisa memastikan apakah amalan yang sudah dia lakukan diterima atau tidak. Seandainya diterima pun, sesungguhnya belum bisa untuk membalas nikmat Allah l yang telah ia terima. Karena amalan yang dia lakukan benar-benar tidak bisa lepas dari pertolongan Allah l. Maka sudah sepantasnya bagi dirinya untuk senantiasa tawadhu’ dan tidak merasa paling baik. Bahkan semestinya dia memperbanyak menutup amalannya dengan beristighfar kepada Allah l. Karena begitulah sifat-sifat orang yang beriman. Yaitu orang-orang yang sudah beramal dengan sebaik-baiknya namun masih merasa takut kepada Allah l akan kekurangan dirinya dalam beramal. Allah l berfirman:
“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut (tidak akan diterima).  (Mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka.” (Al-Mu`minun: 60)
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Ketahuilah, bahwa Allah l yang kita ibadahi di bulan Ramadhan adalah yang kita ibadahi pula di luar bulan tersebut. Begitu pula rahmat Allah l tidaklah terputus dan berhenti dengan berlalunya bulan Ramadhan. Maka doa yang senantiasa kita panjatkan ke hadirat Allah l di bulan tersebut janganlah kemudian kita tinggalkan di bulan berikutnya. Begitu pula membaca Al-Qur`an yang senantiasa kita lakukan di bulan Ramadhan, janganlah kita tinggalkan setelah berlalunya bulan tersebut. Bahkan ibadah puasa pun semestinya tetap kita lakukan meskipun di luar bulan tersebut. Karena masih sangat banyak puasa-puasa sunnah yang memiliki keutamaan yang besar bagi orang-orang yang menjalankannya. Begitu pula shalat malam, adalah amalan ibadah yang semestinya tidak berhenti dengan berlalunya bulan Ramadhan, meskipun dilakukan hanya dengan beberapa rakaat saja. Karena menjaganya adalah salah satu sifat wali-wali Allah l. Sebagaimana tersebut dalam firman-Nya:
“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya (untuk mengerjakan shalat malam) dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menginfakkan dari sebagian rizki yang Kami berikan kepada mereka.” (As-Sajdah: 16)
Saudara-saudaraku kaum muslimin rahimakumullah,
Di antara tanda yang menunjukkan diterimanya amalan kita adalah berlanjutnya amalan tersebut pada waktu berikutnya. Karena amalan yang baik akan menarik amalan baik berikutnya. Maka marilah kita senantiasa menjaga amalan-amalan kita dan janganlah kita kembali kepada perbuatan maksiat setelah kita bertaubat kepada Allah l. Ingatlah wahai saudara-saudaraku, bahwa di depan kita ada timbangan amalan yang akan menimbang amalan-amalan kita yang baik dan amalan kita yang jelek. Allah l berfirman:
“Barangsiapa yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang-orang yang mendapat keberuntungan. Dan barangsiapa yang ringan timbangannya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahannam.” (Al-Mu`minun: 102-103)
Hadirin rahimakumullah,
Orang yang mengetahui betapa besarnya rahmat Allah l dan betapa butuhnya dia terhadap rahmat tersebut tentu akan terus berusaha untuk beramal shalih sampai ajal mendatanginya, sekecil apapun bentuknya. Selama dirinya mampu untuk melakukannya, maka dia tidak akan meremehkannya. Sebagaimana perbuatan maksiat, maka diapun akan meninggalkannya dan tidak menyepelekannya, sekecil apapun bentuknya. Karena Allah l berfirman:
“Dan kalian ucapkan dengan mulut-mulut kalian apa yang kalian tidak berilmu tentangnya dan kalian menganggapnya sebagai suatu yang sepele saja. Padahal hal itu di sisi Allah adalah sesuatu yang besar.” (An-Nur: 15)
Akhirnya kita memohon kepada Allah l agar menerima amalan-amalan kita dan memberikan kekuatan kepada kita agar senantiasa mampu untuk menjalankannya. Dan mudah-mudahan Allah l mengampuni seluruh kesalahan kita.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ مَا تَسْمَعُوْنَ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ اْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ. تَقَبَّلَ اللهُ عَمَلَنَا وَعَمَلَكُمْ وَجَعَلَهَا فِي مِيْزَانِ حَسَنَاتِنَا، إِنَّهُ وَلِيُّ ذَلِكَ وَالْقَادِرُ عَلَيْهِ
Khutbah Kedua
الحَمْدُ لِلهِ مُقَدِّرِ الْمَقْدُوْرِ وَمُصَرِّفِ الْأَيَّامِ وَالشُّهُوْرِ، وَأَحْمَدُهُ عَلَى جَزِيْلِ نِعَمِهِ وَهُوَ الْغَفُوْرُ الشَّكُوْرُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٍ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْبَشِيْرُ النَّذِيْرُ وَالسِّرَاجُ الْمُنِيْرُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا إِلَى الْبَعْثِ وَالنُّشُوْرِ، أَمَّا بَعْدُ:
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa menjaga ketakwaan kita kepada Allah l. Dan marilah kita senantiasa memikirkan betapa cepatnya berlalunya malam dan siang. Karena hal ini akan mengingatkan kita akan semakin dekatnya waktu perpindahan kita dari tempat beramal di alam dunia ini menuju saat pembalasan di akhirat nanti. Sehingga akan mendorong kita untuk segera memanfaatkan kesempatan yang ada untuk beramal shalih. Karena kesempatan hidup di dunia kalau tidak digunakan untuk ketaatan, maka kesempatan itu akan pergi dengan segera dan akan berakhir dengan penyesalan serta kerugian pada hari kiamat. Adapun apabila digunakan kesempatan hidup kita di dunia dengan ketaatan, niscaya akan kita rasakan hasilnya. Karena amal shalih lah sesungguhnya kekayaan yang akan kita bawa untuk hari akhir nanti. Adapun kekayaan yang berupa harta benda di dunia tidaklah bermanfaat kecuali kalau digunakan untuk beramal di jalan Allah l. Maka apalah artinya kekayaan di dunia ini kalau akhirnya berujung dengan tidak memiliki apa-apa bahkan mendapat siksa di akhirat nanti. Sementara kalau kita gunakan kesempatan ini untuk beramal shalih maka kita akan mendapatkan kebahagiaan yang tidak akan pernah berakhir. Bahkan berlanjut dari mulai di dunia ataupun setelah kita berpindah ke alam kubur sampai ketika saat hari kebangkitan dan berikutnya akan mendapatkan kenikmatan yang selamanya di surga. Allah l berfirman:
“Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan dia beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang sangat membahagiakan dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An-Nahl: 97)
Saudara-saudaraku kaum muslimin rahimakumullah,
Waktu yang telah berlalu tidak akan kembali lagi. Namun akan datang waktu-waktu berikutnya yang akan menjadi saksi atas perbuatan-perbuatan kita. Maka bagi seorang muslim, waktu adalah sesuatu yang sangat berharga. Bahkan lebih berharga dari harta yang dimilikinya. Karena harta apabila hilang dari dirinya maka masih ada kesempatan untuk dicari. Adapun waktu apabila telah berlalu maka tidak akan bisa untuk didapatkan lagi. Oleh karena itu, marilah kita manfaatkan kesempatan hidup yang sangat sebentar ini dengan sebaik-baiknya. Janganlah amalan yang telah kita bangun pada bulan-bulan yang lalu kemudian kita robohkan lagi pada bulan berikutnya. Bahkan semestinya kita kokohkan dengan melanjutkan amalan tersebut pada bulan-bulan berikutnya. Dan janganlah kita mendekati setan setelah kita menjauhinya pada bulan Ramadhan yang lalu.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Di antara amal shalih yang sangat besar keutamaannya untuk dilakukan setelah bulan Ramadhan, yaitu pada bulan Syawwal, adalah puasa sunnah selama enam hari pada bulan tersebut. Rasulullah n bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
“Barangsiapa yang telah berpuasa Ramadhan dan kemudian dia mengikutkannya dengan puasa enam hari dari bulan Syawwal, maka dia seperti orang yang berpuasa selama satu tahun.” (HR. Muslim)
Hadits ini menunjukkan betapa besarnya rahmat dan kebaikan Allah l kepada hamba-hamba-Nya. Yaitu barangsiapa yang puasa selama enam hari baik secara berurutan ataupun berselang-seling, mulai hari kedua di bulan Syawwal, maka dia akan mendapat pahala orang yang puasa selama satu tahun. Tentu saja ini adalah keutamaan yang tidak akan dilewatkan begitu saja oleh setiap muslim. Maka dia akan segera menunaikannya. Karena semakin cepat dilakukan maka akan semakin baik. Sebagaimana firman Allah l:
“Maka berlomba-lombalah kalian (dalam berbuat) kebaikan.” (Al-Baqarah: 148)
Namun keutamaan ini didapat bagi orang yang melakukannya setelah dia selesai menjalankan puasa Ramadhan baik dilakukan pada waktunya maupun di luar waktunya bagi yang memiliki hutang puasa. Untuk itu, semestinya orang yang memiliki hutang puasa segera membayarnya setelah hari raya Idul Fithri. Kemudian segera mengikutinya dengan puasa selama enam hari pada bulan tersebut.
Mudah-mudahan Allah l senantiasa memberikan taufik-Nya kepada kita untuk selalu mendapatkan curahan rahmat-Nya.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَ أَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ وَعَنْ جَمِيْعِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمَ الدِّيْنِ. اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ. وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّينِ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ المُوَحِّدِينَ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِينَ في كُلِّ مَكَانٍ. رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْلَنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ … اذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ الْجَلِيْلَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.

Modus Penyebaran Ajaran Al-Qiyadah Al-Islamiyah

1. Para da’inya biasanya membawa Al-Qur`an ke mana-mana. Mereka memulai diskusi dengan membahas bencana yang terjadi. Juga membuka ayat-ayat Al-Qur`an tentang adzab dan musibah.

2. Mereka mendatangi target ke rumah, tempat kos, kampus maupun kontrakan. Kemudian mereka mengajak berdiskusi tentang masalah agama dan Al-Qur`an. Jika target tertarik, maka akan diajak ikut pengajian mereka.

3. Biasanya mereka menyatakan diri bahwa mereka bukan organisasi, bukan aliran, bukan firqah, dan bukan pula teroris. Mereka hanya Islam.

4. Jika dengan cara mengajak diskusi agama tidak berhasil, mereka akan mengajak diskusi masalah ilmu dunia, seperti pelajaran sekolah, kuliah, atau seputar teknologi.

Wallahu a’lam.

Rasul baru Tersebut Al Masih Al Maw’ud, Menyingkap Kesesatan Al-Qiyadah Al-Islamiyah

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Faruq Ayip Syafrudin)

Sebuah ‘agama’ baru telah lahir di Indonesia. Nabinya orang Indonesia, kitabnya juga berbahasa Indonesia. Yang bikin bingung, namanya berbau Islam namun ajarannya Kristen. Sebuah upaya pemurtadan?

Al-Qiyadah Al-Islamiyah adalah sebuah gerakan yang memiliki pemahaman bahwa kini telah ada orang yang diutus sebagai rasul Allah. Orang yang dimaksud, menurut kelompok ini, adalah Al-Masih Al-Maw’ud. Dia dilantik menjadi rasul Allah pada 23 Juli 2006 di Gunung Bunder (Bogor, Jawa Barat). Itu terjadi setelah sebelumnya Al-Masih Al-Maw’ud bertahannuts dan pada malam ketigapuluh tujuh, tiga hari menjelang hari keempatpuluh bertahannuts, dirinya bermimpi dilantik dan diangkat menjadi rasul Allah disaksikan para sahabatnya. Katanya, “Aku Al-Masih Al-Maw’ud menjadi syahid Allah bagi kalian, orang-orang yang mengimaniku… Selanjutnya bagi kaum mukmin yang mengimaniku agar menjadi syahid tentang kerasulanku kepada seluruh umat manusia di bumi Allah ini, seperti halnya murid-murid Yesus, tatkalah Yesus berbicara kepada murid-muridnya maka murid-muridnya itu segera melaksanakan perintahnya.” (Ruhul Qudus yang turun kepada Al-Masih Al-Maw’ud, edisi I, Februari 2007, oleh Michael Muhdats, hal. 178)
Selain itu, kelompok ini memiliki pemahaman tidak ada ketentuan untuk menunaikan shalat wajib lima waktu. Orang-orang yang tidak sepaham dengan mereka dinyatakan sebagai orang-orang musyrik. Mereka menolak hadits-hadits shahih yang berasal dari Nabi n dan mencukupkan diri hanya pada Al-Qur`an. Itupun dengan penafsiran (pada ayat-ayat Al-Qur`an tersebut) berdasar ra`yu (akal) mereka, terutama akal Al-Masih Al-Maw’ud. Tanpa kaidah-kaidah penafsiran yang baku sebagaimana dipahami para ulama dari kalangan salafush shalih. Mereka memiliki lafadz syahadatain tidak seperti yang diikrarkan dan diyakini kaum muslimin. Lafadznya berbunyi: “Aku bersaksi bahwa tiada yang hak untuk diibadahi kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa anda Al-Masih Al-Maw’ud adalah utusan Allah.” (idem, hal. 191)
Bila seseorang melakukan ibadah tanpa mengikuti rasul setelah Muhammad, yaitu Al-Masih Al-Maw’ud, maka tidak akan diterima ibadahnya. (idem, hal. 175)
Bagi mereka, Islam yang sekarang ini sudah tidak sempurna. Mereka berkeyakinan bahwa ajaran yang dibawa Moses, Yesus, dan Ahmad adalah sama karena memiliki sumber ajaran yang sama pula (dari Allah). Bahkan kata mereka, di dalam ajaran Islam ada konsep trinitas sebagaimana dalam ajaran Kristen. Mereka tidak segan-segan untuk menyatakan: “Sebetulnya ajaran Yesus sama dengan ajaran Islam.” Para anggota kelompoknya pun diberi atribut nama yang berbau Kristen, seperti asal namanya Muhammad, lalu ditambahi dengan nama Kristen menjadi Muhammad Joseph.
Dalam sejarah perkembangan Islam, adanya orang yang mengaku dirinya sebagai utusan Allah l atau nabi, tidak satu atau dua kali saja. Tidak pula terjadi pada masa kini saja. Semenjak para sahabat Nabi n masih hidup, orang yang mengaku sebagai nabi juga ada. Sebut misalnya, Al-Aswad Al-‘Ansi di Yaman dan Musailamah Al-Kadzdzab di Yamamah. Sudah sepantasnya bila Ibnu Katsir t dalam Tasfir-nya menegaskan bahwa siapapun yang mengaku sebagai seorang nabi yang diutus Allah l kepada umat ini, layak baginya untuk disebut pendusta. Kata Ibnu Katsir t, “Allah tabaraka wa ta’ala sungguh telah mengabarkan dalam Kitab-Nya dan Rasul-Nya n dalam As-Sunnah Al-Mutawatirah tentangnya, (bahwa) ‘Sesungguhnya tidak ada nabi setelah Muhammad n’. Sungguh kalian telah mengetahui pula, bahwa setiap yang mengaku berkedudukan (sebagai nabi) ini setelah Muhammad n, maka dia itu pendusta, pembohong, dajjal, sesat menyesatkan.” (Tafsir Al-Qur`anil ‘Azhim, Ibnu Katsir t, 3/599)
Saat memberi tafsir terhadap ayat:
“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kalian, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Al-Ahzab: 40)
Al-Imam Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath-Thabari t mengungkapkan bahwa khatamun nabiyyin (penutup para nabi) adalah yang menutup nubuwah (kenabian). Maka telah ditentukan tabiat atas kenabian bahwa tidak dibuka bagi seorang pun (menjadi seorang nabi, pen.) setelah kenabian Muhammad n hingga hari kiamat. (Tafsir Ath-Thabari, 19/121)
Sedangkan menurut Ibnul ‘Arabi t dalam Ahkamul Qur`an (3/473) dan Al-Imam Asy-Syaukani t dalam Fathul Qadir (4/376), bahwa khatamun nabiyyin adalah akhir mereka (para nabi, pen.).
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin t, saat menjelaskan perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah t tentang i’tiqad Ahlus Sunnah wal Jamaah yang beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari kebangkitan setelah kematian dan qadar-Nya yang baik dan yang buruk, menyatakan bahwa akhir mereka (para rasul, pen) adalah Muhammad n, berdasarkan firman Allah l:
“Dan akan tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup para nabi.” (Al-Ahzab: 40)
tidak dikatakan ‘wa khatama al-mursalin’ (penutup para rasul, pen.) karena sesungguhnya apabila (disebutkan, pen.) ‘khatama an-nubuwah’ (penutup kenabian) tentu ‘khatama ar-risalah’ (penutup kerasulan) lebih utama. Jika dipermasalahkan, bagaimana dengan Isa q yang akan turun di akhir zaman, bukankah dia seorang rasul? Maka jawabnya, Isa q tidak akan turun membawa syariat baru. Dia akan berhukum dengan syariat Nabi n. (Syarh Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah, hal. 42-43)
Juga disebutkan oleh Ibnu Katsir t bahwa firman Allah l:
“Tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Al-Ahzab: 40)
dan firman-Nya:
“Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan.” (Al-An’am: 124)
Ini merupakan ayat yang menjadi nash bahwa sesungguhnya tidak ada lagi nabi setelah Nabi Muhammad n. Jika tidak ada lagi nabi setelah Nabi Muhammad n, maka tidak ada lagi rasul setelah beliau n merupakan sesuatu hal yang lebih utama dan pantas. Sebab, kedudukan kerasulan (ar-risalah) lebih khusus daripada kedudukan kenabian (an-nubuwwah). Maka setiap rasul adalah nabi, namun tidak setiap nabi adalah rasul. Diriwayatkan dari Al-Imam Ahmad dari Ubai bin Ka’b z, dari Nabi n, beliau bersabda:
مَثَلِي فِي النَّبِيِّيْنَ كَمَثَلِ رَجُلٍ بَنَى دَارًا فَأَحْسَنَهَا وَأَكْمَلَهَا وَتَرَكَ فِيْهَا مَوْضِعَ لَبِنَةٍ لَمْ يَضَعْهَا فَجَعَلَ النَّاسُ يَطُوفُونَ بِالْبُنْيَانِ وَيَعْجِوُنَ مِنْهُ وَيَقُولُونَ: لَوْ تَمَّ مَوْضِعَ هَذِهِ اللَّبِنَةِ! فَأَنَا فِي النَّبِيِّيْنَ مَوْضِعُ تِلْكَ اللَّبِنَةِ
“Perumpamaan aku di kalangan para nabi seperti seorang yang membangun rumah. Maka dia membaguskan dan menyempurnakan semaksimal mungkin. (Namun) ternyata ada satu batu bata yang tertinggal, belum terpasang pada bangunan tersebut. Maka orang-orang pun mengelilingi bangunan tersebut dan merasakan keheranan melihat hal itu. Mereka berucap, ‘Andai satu batu bata itu terpasang, sempurnalah (bangunan itu).’ Maka akulah, di kalangan para nabi, yang menjadi sebuah batu bata yang dipasangkan tersebut.” (HR. At-Tirmidzi, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani t) [Lihat Mukhtashar Tafsir Al-Qur`anul ‘Azhim Al-Musamma ‘Umdatut Tafsir ‘an Al-Hafizh Ibnu Katsir, Ahmad Muhammad Syakir t, hal. 55)
Sesungguhnya Allah tabaraka wa ta’ala telah memilih Muhammad n dengan nubuwah-Nya, bahkan secara khusus dengan risalah-Nya. Maka Allah l menurunkan Al-Qur`an kepadanya dan memerintahkannya agar menjelaskan isi Al-Qur`an itu kepada segenap manusia. Allah l berfirman:
“…Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur`an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.” (An-Nahl: 44)
Karena itu, untuk memahami Al-Qur`an sangat diperlukan sekali Sunnah Rasulullah n. Melalui beliau n, pesan-pesan Al-Qur`an bisa ditangkap secara tepat arah dan maksudnya. Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani t memberikan ilustrasi contoh yang cemerlang sekali tentang betapa urgennya kedudukan As-Sunnah dalam memahami ayat-ayat Al-Qur`an. Beliau t memberikan contoh sebagai berikut:
Firman Allah l:
“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Al-Ma`idah: 38)
Maka, terkait perihal pencuri masih bersifat mutlak. Demikian halnya dengan kata tangan. Dalam hal ini, As-Sunnah al-qauliyyah (berupa ucapan) menjelaskan tentang ketentuan (kaidah) nilai barang yang dicuri sehingga menjadikan pelakunya dipotong tangan. Berdasarkan As-Sunnah, pencurian senilai seperempat dinar atau lebih terkena hukum potong tangan, berdasarkan hadits Nabi n:
لَا قَطْعَ إِلاَّ فِي رُبُعِ دِيْنَارٍ فَصَاعِدًا
“Tidak ada pemotongan (tangan) kecuali (atas kasus pencurian) seperempat dinar atau lebih.” (Muttafaqun alalih)
As-Sunnah menjelaskan pula melalui perbuatan Nabi n dan para sahabat serta melalui taqrir (persetujuan) beliau n, bahwa pemotongan tangan seorang pencuri adalah pada pergelangan tangan.
Demikian pula firman Allah l:
“Maka basuhlah mukamu dan tanganmu.” (Al-Ma`idah: 6)
Yang dimaksud tangan di sini adalah telapak tangan, sebagaimana sabda Nabi n:
التَّيَمُّمُ ضَرْبَةٌ لِلْوَجْهِ وَالْكَفَّيْنِ
“Tayammum itu sekali tepukan ke wajah dan dua telapak tangan.” (HR. Ahmad, Al-Bukhari, Muslim dan selainnya dari hadits ‘Ammar bin Yasir c)
Contoh lain adalah firman Allah l:
“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur-adukkan iman mereka dengan kedzaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Al-An’am: 82)
Pada saat itu, para sahabat Nabi n memahami ayat tersebut dengan kedzaliman yang bersifat umum, yang meliputi semua jenis kedzaliman, meski hanya kecil saja. Akibatnya mereka mempertanyakan ayat ini kepada Rasulullah n. Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, siapa di antara kami yang tidak mencampuradukkan imannya dengan kedzaliman?”
Nabi n pun menjawab, “Bukan seperti itu. Sesungguhnya yang dimaksud ayat itu adalah syirik. Tidakkah kalian mendengar perkataan Luqman:
“Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kedzaliman yang besar.” (Luqman: 13) [HR. Al-Bukhari dan Muslim serta selainnya]
Dari apa yang telah dijelaskan di depan, maka betapa teramat sangat pentingnya As-Sunnah dalam syariat Islam. Dengan memerhatikan contoh-contoh di muka, dan banyak lagi contoh perkara yang tidak bisa disebutkan di sini, sampailah pada keyakinan bahwa tidak ada jalan ke pemahaman Al-Qur`an yang benar-benar shahih kecuali dengan menyertakan As-Sunnah. (Manzilatu As-Sunnah fil Islam wa Bayanu Annahu La Yustaghna ‘anha bil Qur`an, Muhammad Nashiruddin Al-Albani t, hal. 7-9)
Al-Hafizh Ibnu Katsir t dalam mukadimah Tafsir-nya menyatakan tentang kaidah menafsirkan Al-Qur`an. Kata beliau:
1. Menafsirkan Al-Qur`an dengan Al-Qur`an. Metodologi ini merupakan yang paling shahih (valid).
2. Menafsirkan Al-Qur`an dengan As-Sunnah. Karena As-Sunnah merupakan pensyarah dan menjelaskan Al-Qur`an.
3. Menafsirkan Al-Qur`an dengan perkataan para sahabat.
Menurut Ibnu Katsir t, bila tidak didapati tafsir dari Al-Qur`an dan As-Sunnah, kami merujuk kepada pernyataan para sahabat. Karena mereka adalah orang-orang yang lebih mengetahui sekaligus sebagai saksi dari berbagai fenomena dan situasi yang terjadi.
4. Bila tidak didapati cara menafsirkan dengan ketiga metode di atas, maka menafsirkan Al-Qur`an dengan pemahaman yang dimiliki para tabi’in (murid-murid para sahabat). Sufyan Ats-Tsauri t berkata, “Jika tafsir itu datang dari Mujahid, maka jadikanlah sebagai pegangan.” Mujahid t adalah seorang tabi’in.
Fenomena memberikan interpretasi terhadap ayat-ayat Allah l tanpa mengindahkan kaidah-kaidah yang berlaku sebagaimana dipahami salafush shalih, kini nampak mulai marak. Ini sebagaimana diungkap Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani t: “Didapati pada sebagian penafsir dan penulis dewasa ini yang membolehkan makan daging binatang buas atau memakai emas dan sutera (bagi laki-laki) dengan semata bersandar kepada Al-Qur`an. Bahkan dewasa ini didapati sekelompok orang yang hanya mencukupkan dengan Al-Qur`an saja (Al-Qur`aniyyun). Mereka menafsirkan Al-Qur`an dengan hawa nafsu dan akal mereka, tanpa dibantu dengan As-Sunnah yang shahih.” (Manzilatu As-Sunnah fil Islam, hal. 11)
Ibnu ‘Abbas c telah memberi peringatan:
“Barangsiapa yang berbicara tentang Al-Qur`an dengan ra`yu (akal) nya, maka siapkanlah tempat duduknya di neraka.” (I’lamul Muwaqqi’in ‘an Rabbil ‘Alamin, Ibnul Qayyim t, hal. 54)
Wallahu a’lam.