Mengharap Syafaat Pada Hari Kiamat

Setiap muslim pasti mengharapkan syafaat di akhirat nanti. Dia berharap agar pada hari tersebut syafaat bermanfaat baginya. Sungguh, alangkah sengsaranya seorang yang pada hari tersebut terhalang untuk mendapatkan syafaat.

Memang tidak semua orang pantas mendapatkan syafaat. Hanya orang yang memenuhi syarat yang bisa mendapatkan syafaat di akhirat. Allah ‘azza wa jalla mengabarkan keadaan mereka ini dalam firman-Nya,

فَمَا تَنفَعُهُمۡ شَفَٰعَةُ ٱلشَّٰفِعِينَ ٤٨

        “Tidaklah bermanfaat bagi mereka syafaat para pemberi syafaat.”(al-Muddatstsir: 48)

 

Apa Itu Syafaat?

Syafaat adalah menjadi perantara bagi yang lain untuk mendapatkan manfaat atau menolak mudarat. Contohnya, syafaat untuk mendatangkan kebaikan, syafaat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi penduduk surga agar mereka memasukinya.

Contoh syafaat agar terhindar atau selamat dari kejelekan adalah syafaat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi mereka yang pantas dimasukkan neraka sehingga tidak masuk neraka. (al-Qaulul Mufid, 1/203)

 

Hakikat Syafaat

Allah ‘azza wa jalla memberikan karunia kepada seorang yang ikhlas, mengampuninya melalui perantaraan doa orang yang diberi izin memberi syafaat, dalam rangka memuliakannya dan agar meraih maqaman mahmuda. (Kitab at-Tauhid)

Jadi, syafaat adalah karunia dan keutamaan yang Allah ‘azza wa jalla berikan bagi yang diberi syafaat.

Adapun yang memberi syafaat, Allah ‘azza wa jalla ingin memuliakannya dan menampakkan keutamaannya di hadapan hamba Allah ‘azza wa jalla yang lain.

 

Siapakah yang Akan Memberikan Syafaat?

Dalam Shahih Muslim disebutkan bahwa para malaikat, para nabi, dan orang-orang beriman akan memberikan syafaat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

        شَفَعَتِ الْمَلاَئِكَةُ وَشَفَعَ النَّبِيُّونَ وَشَفَعَ الْمُؤْمِنُونَ وَلَمْ يَبْقَ إِلاَّ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

“Malaikat memberikan syafaat, para nabi dan kaum mukminin memberi syafaat, tidak ada lagi kecuali Dzat Yang Paling Penyayang….” (Shahih Muslim, hadits no. 302)

Seorang yang syahid, meninggal di medan jihad, memiliki kesempatan memberikan syafaat bagi tujuh puluh orang kerabatnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

        لِلشَّهِيدِ عِنْدَ اللهِ سِتُّ خِصَالٍ: يُغْفَرُ لَهُ فِي أَوَّلِ دَفْعَةٍ وَيَرَى مَقْعَدَهُ مِن الْجَنَّةِ وَيُجَارُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَيَأْمَنُ مِنْ الْفَزَعِ الْأَكْبَرِ وَيُوضَعُ عَلَى رَأْسِهِ تَاجُ الْوَقَارِ الْيَاقُوتَةُ مِنْهَا خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا وَيُزَوَّجُ اثْنَتَيْنِ وَسَبْعِينَ زَوْجَةً مِنْ الْحُورِ الْعِينِ وَيُشَفَّعُ فِي سَبْعِينَ مِنْ أَقَارِبِهِ

“Seorang mati syahid mendapatkan enam keutamaan di sisi Allah:

(1) mendapatkan ampunan sejak pertama kali meninggal dan melihat tempatnya di surga,

(2) dijaga dari azab kubur,

(3) diberi keamanan dari rasa takut yang besar,

(4) akan diletakkan di kepalanya mahkota kemuliaan dari yaqut (batu permata) yang nilainya lebih baik daripada dunia dan isinya,

(5) akan dinikahkan dengan tujuh puluh dua bidadari, dan

(6) akan diterima (permintaan) syafaatnya bagi tujuh puluh orang kerabatnya.” (HR . Ibnu Majah dan at-Tirmidzi, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih Targhib wa Tarhib)

 

Macam-Macam Syafaat

Ahlus Sunnah meyakini bahwa syafaat yang ada sangatlah banyak. Ada syafaat yang khusus dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ada juga yang dilakukan oleh selain beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

  1. Asy-Syafaatul ‘Uzhma (syafaat teragung)

Syafaat ini khusus dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Syafaat ini disepakati keberadaannya. Ketika manusia merasakan dahsyatnya Padang Mahsyar, mereka mendatangi Nabi Adam ‘alaihissalam, Nabi Nuh ‘alaihissalam, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, Nabi Musa ‘alaihissalam, dan Nabi Isa ‘alaihissalam. Namun, mereka semua tidak bersedia. Akhirnya manusia datang kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

  1. Syafaat bagi penduduk surga untuk masuk surga
  2. Syafaat bagi penduduk surga untuk ditinggikan derajatnya di surga
  3. Syafaat bagi ahli tauhid yang berada di neraka agar keluar darinya
  4. Syafaat bagi satu kaum yang pantas masuk neraka agar tidak masuk neraka
  5. Syafaat khusus Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk Abu Thalib radhiallahu ‘anhu, hingga dia diringankan azabnya. (I’anatul Mustafid, 1/239—240)

 

Siapakah yang Berhak Mendapatkan Syafaat?

Ibnu Taimiyah rahimahullah menerangkan bahwa syafaat hanyalah didapatkan oleh orang yang ikhlas dan dengan izin Allah ‘azza wa jalla. Syafaat tidak akan didapat oleh orang-orang yang menyekutukan Allah ‘azza wa jalla.

Syafaat di akhirat hanya akan didapat dengan dua syarat:

  1. Izin dari Allah ‘azza wa jalla bagi syafi’ (orang yang memintakan syafaat)
  2. Adanya ridha Allah ‘azza wa jalla bagi orang yang dimintakan syafaat untuknya

 

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

مَن ذَا ٱلَّذِي يَشۡفَعُ عِندَهُۥٓ إِلَّا بِإِذۡنِهِۦۚ

        “Tidak ada yang memberikan syafaat disisi Allah kecuali dengan izin-Nya.” (al-Baqarah: 255)

 

       وَلَا يَشۡفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ٱرۡتَضَىٰ

        “Mereka tidak akan memberi syafaat kecuali bagi orang yang diridhai-Nya.”(al-Anbiya’: 28)

 

Khawarij Mengingkari Syafaat

Ada dua kelompok tersesat dalam masalah syafaat.

  1. Kelompok yang ghuluw (berlebihan) menetapkannya, hingga menjerumuskan mereka ke dalam kesyirikan dengan alasan mengharapkan syafaat.
  2. Kelompok yang mengingkari syafaat selain syafaat ‘uzhma.

Mereka mengingkari syafaat yang lain, terkhusus syafaat bagi muslim pelaku dosa besar yang telah masuk neraka. Merekalah kelompok wai’diyah dari kalangan Khawarij, Mu’tazilah, dan lainnya.

Keyakinan bid’ah tersebut menjemuskan mereka kepada kesesatan yang berikutnya, yakni mengingkari syafaat bagi mukmin yang melakukan dosa besar dan syafaat bagi mukmin yang telah masuk neraka.

Khawarij menyatakan bahwa seorang muslim yang melakukan dosa besar telah kafir dan kekal di neraka. Mereka pun menolak sekian banyak hadits yang menerangkan adanya orang muslim yang masuk neraka lalu dikeluarkan darinya dan dimasukkan ke dalam surga.

Al-Imam Muslim rahimahullah membawakan satu kisah tentang masalah ini dari seseorang yang bernama Yazid al-Faqir.

Dahulu aku terpengaruh syubhat pemikiran Khawarij. Kami berangkat melakukan ibadah haji, kemudian keluar (mendakwahkan paham Khawarij) kepada manusia.

Ketika itu kami melewati kota Madinah. Kami dapati di sana ada seorang yang bersandar di tiang masjid sedang menyampaikan hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ternyata beliau menceritakan tentang jahanamiyin (penduduk neraka jahannam). Aku pun berkata, “Wahai sahabat Rasulullah, apa yang engkau sampaikan ini? Bukankah Allah ‘azza wa jalla berfirman,

رَبَّنَآ إِنَّكَ مَن تُدۡخِلِ ٱلنَّارَ فَقَدۡ أَخۡزَيۡتَهُۥ

‘Wahai Rabb kami, sesungguhnya orang yang Engkau masukkan ke dalam neraka berarti telah Engkau hinakan ….’ (Ali Imran: 192)

 

       كُلَّمَآ أَرَادُوٓاْ أَن يَخۡرُجُواْ مِنۡهَآ أُعِيدُواْ فِيهَا

‘Ketika mereka ingin keluar darinya, mereka dikembalikan ke dalamnya….’ (as-Sajdah: 20)

 

Apa yang engkau sampaikan ini?” Sahabat tersebut berkata, “Apakah engkau bisa membaca al-Quran?”

Aku (Yazid) berkata, “Ya.”

Sahabat tersebut berkata, “Tidakkah engkau membaca maqam (kedudukan) yang Allah ‘azza wa jalla akan berikan kepada Nabi kita?”

Aku (Yazid) berkata, “Ya.”

Sahabat tersebut berkata, “Itulah kedudukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang terpuji. Dengan sebabnya, Allah ‘azza wa jalla mengeluarkan orang dari neraka.”

Kemudian beliau menyebut sifat dipancangkannya shirath dan melintasnya manusia di atas shirath tersebut….”

Sampai ucapan Yazid al-Faqir, “Demi Allah, ketika kami kembali, tidak ada lagi di antara kami yang berpemikiran Khawarij kecuali satu orang saja.” (Shahih Muslim no. 320)

 

Hadits di atas mengandung beberapa pelajaran.

  1. Khawarij mengingkari syafaat bagi seorang muslim yang masuk neraka. Sebab, mereka meyakini bahwa seorang pelaku dosa besar adalah kafir dan akan masuk neraka lantas kekal di dalamnya.
  2. Keutamaan bermajelis dengan ulama.

Kita lihat Yazid al-Faqir selamat dari kebid’ahan Khawarij dengan sebab bertemu dan mendengar ilmu dari seorang yang berilmu.

  1. Ahlul batil bersemangat menyebarkan akidah sesat mereka, memanfaatkan setiap kesempatan. Karena itu, seharusnya Ahlus Sunnah bersemangat berdakwah menyampaikan al-haq kepada umat.
  2. Dalam kisah ini ada bukti bahwa satu kesesatan akan menyeret pada kesesatan lainnya.

Ketika mereka menyatakan bahwa pelaku dosa besar kekal di neraka, mereka pun mengingkari syafaat-syafaat yang disebutkan oleh dalil-dalil.

 

Memperkuat Akidah untuk Meraih Syafaat

Syafaat semuanya milik Allah ‘azza wa jalla. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

قُل لِّلَّهِ ٱلشَّفَٰعَةُ جَمِيعٗاۖ

        “Katakanlah semua syafaat hanyalah milik Allah.” (az-Zumar: 44)

Hendaknya seorang mencari syafaat dengan jalan yang Allah ‘azza wa jalla syariatkan. Allah ‘azza wa jalla menerangkan, syafaat didapat seseorang jika Allah ‘azza wa jalla meridhainya dan memberi izin kepada yang syafi’ (yang memintakan syafaat untuknya).

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَكَم مِّن مَّلَكٖ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ لَا تُغۡنِي شَفَٰعَتُهُمۡ شَيۡ‍ًٔا إِلَّا مِنۢ بَعۡدِ أَن يَأۡذَنَ ٱللَّهُ لِمَن يَشَآءُ وَيَرۡضَىٰٓ ٢٦

        “Betapa banyak malaikat di langit, tidaklah syafaat mereka bermanfaat kecuali setelah Allah memberi izin untuk orang yang Allah kehendaki dan Allah ridhai.” (an-Najm: 26)

Orang yang diridhai untuk diberi syafaat adalah muwahid (seorang yang bagus tauhidnya), sebagaimana dikatakan oleh Ibnul Qayim rahimahullah.

Oleh karena itu, kita harus meningkatkan kualitas ibadah kita dan menguatkan tauhid kita. Itulah sebab kebahagiaan seseorang sehingga bisa meraih syafaat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang orang yang paling bahagia dengan syafaat beliau. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab,

        أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ أَوْ نَفْسِهِ

“Orang yang paling bahagia dengan syafaatku di hari kiamat adalah orang yang mengucapkan ‘la ilaha illallah’ secara ikhlas dari kalbunya.” (HR . al-Bukhari. 99)

Adapun syafaat yang diharapkan oleh para penyembah kubur adalah syafaat yang batil. Tidak mungkin mereka mendapatkan syafaat dalam keadaan terus melakukan kesyirikan kepada Allah ‘azza wa jalla.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

        لِكُلِّ نَبِيٍّ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ فَتَعَجَّلَ كُلُّ نَبِيٍّ دَعْوَتَهُ وَإِنِّي اخْتَبَأْتُ دَعْوَتِي شَفَاعَةً لِأُمَّتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَهِيَ نَائِلَةٌ إِنْ شَاءَ اللهُ مَن مَاتَ مِنْ أُمَّتِي يُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئًا

“Semua nabi memiliki doa yang mustajab. Semua nabi menyegerakan doa mustajab mereka. Adapun aku menyimpannya untuk umatku sebagai syafaat bagi mereka, dan itu akan didapat oleh umatku yang meninggal dalam keadaan tidak menyekutukan Allah ‘azza wa jalla dengan sesuatu pun.” (HR . Muslim no. 338)

 

Sebab-Sebab Mendapat Syafaat

Marilah kita bersemangat untuk melakukan sebab mendapatkan syafaat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menerangkan kepada kita amalan-amalan yang bisa menjadi sebab mendapatkan syafaat.

Di antara yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sebutkan:

  1. Perhatian dengan al-Qur’an

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

        اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِه

“Bacalah al-Qur’an, karena al-Qur’an akan menjadi pemberi syafaat bagi yang membaca dan mengamalkannya pada hari kiamat nanti.” (HR . Muslim)

 

  1. Berdoa setelah mendengar azan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa mendengar azan kemudian membaca,

        اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِى وَعَدْتَهُ

maka telah tetap syafaatku untuk dia di hari kiamat.” (HR . al-Bukhari no. 614)

 

  1. Tinggal di Madinah dengan sabar hingga meninggal

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَصْبِرُ أَحَدٌ عَلَى لَأْوَائِهَا فَيَمُوتَ إِلاَّ كُنْتُ لَهُ شَفِيعًا أَوْ شَهِيدًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِذَا كَانَ مُسْلِمًا

“Tidaklah seorang bersabar dari kesulitan dan kelaparan di Madinah sampai meninggal, kecuali aku akan menjadi pemberi syafaat atau saksi baginya pada hari kiamat, jika dia seorang muslim.” (HR . Muslim no. 3405)

 

  1. Dishalati oleh ahli tauhid

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ رَجُلٍ مُسْلِمٍ يَمُوتُ فَيَقُومُ عَلَى جَنَازَتِهِ أَرْبَعُونَ رَجُلاً لاَ يُشْرِكُونَ بِا شَيْئًا إِلاَّ شَفَّعَهُمُ ا فِيهِ

“Tidaklah seorang muslim meninggal kemudian jenazahnya dishalati oleh empat puluh orang yang tidak menyekutukan Allah ‘azza wa jalla dengan sesuatupun, niscaya Allah ‘azza wa jalla menerima syafaat mereka pada orang tersebut.” (HR . Muslim no. 2242)

Semoga Allah ‘azza wa jalla memberi kemudahan kepada kita untuk mendapatkan syafaat di hari kiamat nanti.

Ditulis oleh al-Ustadz Abdur Rahman Mubarak

Akidah Syiah Meruntuhkan Tauhid

Kaum muslimin sepakat bahwa fondasi Islam adalah dua kalimat syahadat sebagai rukun Islam pertama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskannya dalam hadits Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma,

        بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ وَإِقَامِ الصَّلَا ةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَ الْحَجِّ وَصَوْمِ رَمَضَانَ

“Islam dibangun di atas lima dasar: (1) bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah subhanahu wa ta’ala dan Muhammad adalah utusan Allah subhanahu wa ta’ala, (2) mendirikan shalat, (3) menunaikan zakat, (4) berhaji, dan (5) berpuasa pada bulan Ramadhan.” (HR. al-Bukhari no. 8 dan Muslim no. 16)

Saat fondasi rusak atau runtuh, niscaya segala yang dibangun di atasnya akan runtuh pula. Barang siapa berupaya atau telah berupaya merusak atau meruntuhkannya, dia adalah seseorang yang telah keluar dari Islam.

Dua kalimat syahadat sebagai fondasi Islam mengandung makna yang besar dan agung. La ilaha illallah mengandung makna tauhidullah dan Muhammad rasulullah mengandung makna tauhidurrasul. Tauhidullah maknanya mentauhidkan Allah subhanahu wa ta’ala dalam segala bentuk peribadahan. Adapun makna tauhidurrasul adalah menjadikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai satu-satunya anutan dan teladan dalam menjalankan tauhidullah.

Di atas dua kalimat inilah dakwah kepada Allah subhanahu wa ta’ala dijalankan, bendera jihad dikibarkan, amar ma’ruf dan nahi mungkar ditegakkan. Di atas dasar ini pula dibangun dan dinilai semua bentuk ibadah, ketaatan, serta segala bentuk pendekatan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala, seperti shalat, zakat, puasa, berhaji, berdoa, berzikir, membaca al-Qur’an, berinfak, dan bentuk ketaatan lainnya.

Tauhidullah merupakan fondasi dakwah para rasul. Ia menjadi asas untuk memperbaiki segala bentuk perusakan dan kerusakan di muka bumi ini. Untuk tauhidullah, Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan jin dan manusia, seluruh makhluk, langit dan bumi, adanya pahala dan dosa, adanya surga dan neraka.

Sekali lagi, sebagai fondasi dan dasar berislam, kapan saja ia runtuh dan tumbang, segala amalan yang dibangun di atasnya akan ikut runtuh. Pelaku perusakan fondasi tersebut menjadi kafir, keluar dari koridor Islam.

Contohnya, para ulama sepakat bahwa apabila seseorang mengucapkan dua kalimat syahadat, shalat, berzakat, berpuasa, namun menentang ibadah haji, berarti dia telah keluar dari Islam.

Contoh lain, apabila dia mengakui semua rukun Islam, namun mengingkari adanya azab di dalam kubur atau mengingkari adanya hari kebangkitan, dia telah kafir dan keluar dari Islam.

Misal yang lain, para sahabat bersepakat memerangi Bani Hanifah. Bani Hanifah adalah murid-murid para sahabat dan belajar agama dari mereka. Bani Hanifah mengucapkan dua kalimat syahadat, shalat, berpuasa, berhaji, bahkan berjihad bersama, beriman pada semua yang terkait dengan kehidupan akhirat. Akan tetapi, mereka diperangi karena mengangkat Musailamah al-Kadzdzab setara dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Keyakinan ini menyebabkan darah mereka halal untuk ditumpahkan, harta mereka halal untuk dirampas, dan kehormatan mereka direnggut.

Dengan gambaran di atas, jelaslah bahwa murtad (keluar dari Islam) bukan hanya pindah agama menjadi Yahudi, Nasrani, Majusi, Budha, Hindu, atau agama yang lain. Para ulama setiap mazhab menyebutkan pembahasan fikih tentang “Hukum Orang Murtad”, murtad adalah seorang muslim yang keluar dari agamanya menjadi kafir. Para ulama setiap mazhab juga menyebutkan sekian perkara yang akan mengeluarkan seseorang dari Islam.

Di antara sebab kemurtadan adalah ucapan yang mengandung kekufuran dan kesyirikan, baik secara serius (karena keyakinan) maupun secara senda gurau dan main-main belaka. Simak ayat di bawah ini.

وَلَئِن سَأَلۡتَهُمۡ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلۡعَبُۚ قُلۡ أَبِٱللَّهِ وَءَايَٰتِهِۦ وَرَسُولِهِۦ كُنتُمۡ تَسۡتَهۡزِءُونَ ٦٥ لَا تَعۡتَذِرُواْ قَدۡ كَفَرۡتُم بَعۡدَ إِيمَٰنِكُمۡۚ إِن نَّعۡفُ عَن طَآئِفَةٖ مِّنكُمۡ نُعَذِّبۡ طَآئِفَةَۢ بِأَنَّهُمۡ كَانُواْ مُجۡرِمِينَ ٦٦

“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja”. Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja, katakan (Muhammad) apakah kepada Allah dan ayat-ayat-Nya serta rasul-Nya kalian mengolok-olok? Tidak ada maaf bagi kalian, sungguh kalian telah kafir setelah berimannya kalian.” (at-Taubah: 65—66)

Ayat ini turun terkait dengan kaum yang berangkat berjihad bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau, lantas lisan mereka mengucapkan kalimat yang mengandung olokan dan ejekan terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Mereka pun menjadi kafir karenanya.

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam kitab Nawaqidhu al- Islam, setelah menyebutkan sepuluh dari pembatal-pembatal keislaman yang besar menjelaskan, “Tidak ada perbedaan dalam pembatal-pembatal keislaman ini antara orang yang bermain-main, bersungguh-sungguh, dan takut; kecuali orang dipaksa. Semua ini adalah pembatal keislaman yang paling berbahaya dan paling sering terjadi. Sepantasnya setiap muslim berhati-hati, merasa takut akan ditimpa pembatal-pembatal tersebut. Kita berlindung kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari murka-Nya yang pasti dan azab-Nya yang pedih.” (Lihat Nawaqidhu al-Islam dan Kasyfu asy-Syubhat karya asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, dan al-Aqidah ash-Shahihah wama Yudhadduha wa Nawaqidhu al-Islam karya asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz)

Seseorang akan menjadi kafir-murtad karena menentang satu bagian dari agama Allah subhanahu wa ta’ala. Dua kalimat syahadat yang telah diucapkannya menjadi tidak berguna, apabila yang ditentang adalah dua kalimat syahadat itu sendiri. Padahal kedua kalimat ini adalah bagian agama yang paling besar dan agung. Bukankah dia lebih pantas untuk dikafirkan dan menjadi murtad?

Contoh pelanggaran terbesar terhadap tauhidullah ialah mengangkat seorang manusia setara dengan Allah subhanahu wa ta’ala; meminta-minta di kuburan; menggantungkan nasib dan hidup di tangan para dukun dan paranormal; beristighatsah kepada ruh-ruh leluhur; menyembelih untuk selain Allah subhanahu wa ta’ala, baik untuk jin, tempat keramat, maupun kuburan tertentu;bernadzar untuk selain Allah subhanahu wa ta’ala seperti bernadzar untuk kuburan tertentu; mengangkat para wali sebagai perantara dirinya dengan Allah subhanahu wa ta’ala atau menjadikannya sebagai tujuan dalam berdoa, berharap, dan takut.

 

Propaganda Para Perusak Tauhidullah

Muncullah nama dan tokoh “pujaan” yang berbaju muslim di panggung dunia. Mereka menampilkan diri sebagai pejuang Islam, penyelamat kaum muslimin, penentang segala bentuk kezaliman, penegak keadilan, pembela hak kaum muslimin, dan menyuarakan permusuhan terhadap kaum non-Islam.

Slogan-slogannya yang penuh polesan seringkali menipu kaum muslimin sehingga para tokoh itu dianggap sejalan dengan apa yang diucapkannya. Padahal mereka adalah serigala berbulu domba yang siap menerkam mangsanya.

Siapakah mangsa mereka? Kaum muslimin yang tidak bergabung dalam lingkaran mereka secara umum dan Ahlus Sunnah secara khusus. Mereka siap melakukan pembantaian kapan dan di mana pun saat ada peluang.

Sebutlah sejarah berdarah pada 312 H. Jamaah haji yang berangkat pulang dibantai, kaum lelakinya dibunuh, kaum wanitanya ditawan, dan harta benda mereka lebih dari 1 juta dinar dirampas.

Pada 317 H terulang peristiwa berdarah, yaitu pembantaian orang-orang yang sedang menunaikan ibadah haji pada 8 Dzulhijjah (hari Tarwiyah). Mayat-mayat mereka dibuang ke sumur Zamzam.

Siapakah dalangnya? Pasukan Qaramithah, sekte Syiah, yang dipimpin Abu Thahir al-Qirmithi, yang mendengungkan slogan cinta keluarga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka berlagak sebagai pejuang hak kerabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi, justru kaum muslimin yang menjadi mangsa dan incaran mereka.

Jangan kita menganggap bahwa kampanye mereka dengan mengangkat slogan-slogan yang gagah seolah membela Islam itu tidak mendulang hasil dan memetik buah. Mereka telah berhasil mengikat akal pikiran kaum muslimin dan menancapkan kesesatan mereka di dalam sanubari orang-orang Islam.

Ini semua karena kaum muslimin tidak memiliki standar penilaian yang akurat dan benar karena jauhnya mereka dari ilmu agama. Ini adalah dampak dari sikap pembodohan yang ditanamkan oleh para tokoh-tokoh tersebut dengan penuh manipulasi dan dusta.

Propaganda para perusak tauhidullah itu sesungguhnya akhlak dan penampilan yang kotor, walaupun para tokoh kekafiran itu menampilkan diri kepada para pengikutnya sebagai penyelamat. Sementara itu, para rasul yang diutus oleh Allah subhanahu wa ta’ala untuk menyelamatkan hamba-hamba-Nya dituduh sebagai juru perusak dan penukar keyakinan yang benar.

Tidak ada yang menerima cara kotor seperti ini kecuali orang-orang yang telah disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala sebagai orang fasik. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَٱسۡتَخَفَّ قَوۡمَهُۥ فَأَطَاعُوهُۚ إِنَّهُمۡ كَانُواْ قَوۡمٗا فَٰسِقِينَ ٥٤

        “Lalu Fir’aun memengaruhi kaumnya (dengan perkataan itu) lalu mereka patuh kepadanya. karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik.” (az-Zukhruf: 54)

Bukankah Fir’aun yang telah mengatakan,

وَقَالَ فِرۡعَوۡنُ ذَرُونِيٓ أَقۡتُلۡ مُوسَىٰ وَلۡيَدۡعُ رَبَّهُۥٓۖ إِنِّيٓ أَخَافُ أَن يُبَدِّلَ دِينَكُمۡ أَوۡ أَن يُظۡهِرَ فِي ٱلۡأَرۡضِ ٱلۡفَسَادَ ٢٦

Dan berkata Fir’aun (kepada pembesar-pembesarnya), “Biarkanlah aku membunuh Musa dan hendaklah ia memohon kepada Rabbnya, karena sesungguhnya aku khawatir Dia akan menukar agama kalian atau menimbulkan kerusakan di muka bumi.” (Ghafir: 26)

Dia mengaku dengan penuh kedustaan,

قَالَ فِرۡعَوۡنُ مَآ أُرِيكُمۡ إِلَّا مَآ أَرَىٰ وَمَآ أَهۡدِيكُمۡ إِلَّا سَبِيلَ ٱلرَّشَادِ ٢٩

Fir’aun berkata,“Aku tidak mengemukakan kepada kalian melainkan apa yang aku pandang baik, dan aku tiada menunjukkan kepada kalian selain jalan yang benar.” (Ghafir: 29)

Kaum munafik yang hidup sebagai kaum perusak di muka bumi juga memproklamirkan dirinya sebagai ahli perbaikan.

وَإِذَا قِيلَ لَهُمۡ لَا تُفۡسِدُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ قَالُوٓاْ إِنَّمَا نَحۡنُ مُصۡلِحُونَ ١١ أَلَآ إِنَّهُمۡ هُمُ ٱلۡمُفۡسِدُونَ وَلَٰكِن لَّا يَشۡعُرُونَ ١٢

        Dan apabila dikatakan kepada mereka, jangan kalian melakukan pengrusakan di muka bumi, mereka menjawab,“Sesungguhnya kami hanya melakukan perbaikan. Ketahuilah bahwa mereka adalah para perusak namun mereka tidak menyadari.” (al-Baqarah: 11—12)

Saudaraku, ini adalah propaganda lama yang diikuti oleh kaum perusak tauhidullah di masa sekarang. Mereka menempuh cara kotor seperti ini dengan tujuan-tujuan berikut.

  1. Ingin mendapatkan dukungan dari semua pihak.
  2. Ketakutan dan kekhawatiran apabila para pengikutnya lari meninggalkan dirinya.

radhiallahu ‘anhuma. Menyingkirkan dan melenyapkan siapapun yang dianggap menghalangi segala keinginan dan tujuan jahatnya, baik muslim maupun kafir.

Langkah seperti ini, menurut as-Sa’di, adalah memutarbalikkan fakta kebenaran. Jika dia sekadar mengajak orang lain untuk mengikutinya dalam kekafiran dan kesesatannya, kejahatan itu akan lebih ringan. Namun, dia mengajak untuk mengikutinya sekaligus menanamkan bahwa dengan mengikuti dirinya berarti pengikutnya telah mengikuti kebenaran, padahal sejatinya mengikuti kesesatan. (Lihat Tafsir as-Sa’di hlm. 43)

Beliau mengatakan juga, “Ini adalah hal yang paling aneh terjadi. Bagaimana bisa manusia yang paling jahat menasihati orang yang mengikuti hamba terbaik? Ini termasuk langkah pengaburan dan sikap melariskan (kekufuran dan kesesatan). Tidak ada yang terpikat selain akal orang-orang yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam firman-Nya, ‘Maka Fir’aun memengaruhi kaumnya (dengan perkataan itu) lalu mereka patuh kepadanya, karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik’.” (Lihat Tafsir as-Sa’di)

 

Keyakinan Kaum Elite Iran Meruntuhkan Tauhidullah

Iran adalah negara yang identik dengan ajaran Syiah, pengikut Abdullah bin Saba’ al-Yahudi. Sekte Syiah yang ada di Iran adalah Syiah Rafidhah yang telah dikafirkan oleh para ulama sunnah.

Kerusakan yang mereka perbuat terhadap kaum muslimin melebihi kerusakan yang diperbuat oleh Yahudi dan Nasrani. Mereka menghalalkan darah kaum muslimin, lebih-lebih Ahlus Sunnah wal Jamaah. Kebencian mereka sangat mengakar dan mendalam. Kebencian mereka bukan seumur jagung, tetapi sudah ada sejak para sahabat masih hidup menemani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Prinsip yang fundamen dalam ajaran mereka adalah “Tidak ada cinta kecuali dengan kebencian”. Yang mereka maksud dengan kata “benci” adalah membenci Abu Bakr dan Umar. Loyalitas dalam agama mereka adalah dengan membenci sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, padahal membenci mereka adalah kekafiran.

Siapakah di umat ini yang pertama kali mengikuti jejak ‘Amr bin Luhai al-Khuza’i, pencetus pertama kesyirikan di jazirah kelahiran Rasulullah?

Jawabannya adalah kaum Rafidhah.

Asy-Syaikh al-‘Allamah Abdur Rahman bin Hasan alu Syaikh mengatakan, “Yang pertama kali mengadakan kesyirikan di umat adalah kelompok ini (Syiah Rafidhah). Mereka meyakini bahwa Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib memiliki sifat uluhiyah (ketuhanan).” (Lihat Mulakhkhash Minhajus Sunnah karya asy-Syaikh Abdur Rahman bin Hasan hlm. 153)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Kesyirikan dan semua kebid’ahan dibangun di atas dusta dan mengada-ada. Karena itu, siapa yang jauh dari tauhid dan sunnah, dia akan lebih dekat kepada kesyirikan, kebid’ahan, dan sikap mengada-ada.

Contohnya, Syiah Rafidhah. Mereka adalah para pengikut hawa nafsu yang paling pendusta dan yang paling besar tingkat kesyirikannya. Tidak ada para pengekor hawa nafsu yang paling pendusta dan paling jauh dari tauhid dibandingkan dengan mereka.

Mereka keluar dari rumah-rumah Allah subhanahu wa ta’ala (masjid-masjid), tempat yang disebut nama Allah subhanahu wa ta’ala padanya. Mereka kosongkan masjid dari shalat jum’at dan shalat berjamaah, lalu meramaikan bangunan-bangunan yang berada di atas kuburan-kuburan, sebuah perbuatan yang telah dilarang oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya.” (Lihat Iqtidha’ ash-Shirathil Mustaqim hlm. 501)

Beliau rahimahullah menjelaskan pula (hlm. 545), “Sungguh, Umar telah datang ke negeri Syam lebih dari satu kali, sejumlah sahabat juga telah tinggal (di negeri tersebut). Tidak ada seorangpun dari kaum muslimin yang melakukan hal itu (mengagungkan kuburan). Kaum muslimin tidak pernah membangun sebuah masjid pun di atas kuburan.

Namun, kaum Nasrani bisa berkuasa di semua tempat pada akhir abad ke-4 dengan merampas Baitul Maqdis. Ini disebabkan berkuasanya kaum Rafidhah di Syam dan Mesir.

Rafidhah adalah umat yang terhina, tidak memiliki akal yang jelas, dalil yang sahih, agama yang diterima, dan tidak memiliki dunia yang terjaga. Kaum Nasrani menjadi kuat dan merampas daerah-daerah pantai dan selainnya dari kaum Syiah Rafidhah.

Mereka berulah dengan melubangi kamar al-Khalil ‘alaihissalam lalu membuat pintu—dan bekas lubang tersebut tampak di pintunya—dan menjadikannya tempat beribadah. Penampilan ini adalah sebuah rekayasa kaum Nasrani, bukan perbuatan salaf umat ini dan orang terbaik mereka.”

Dari uraian singkat ini jelaslah bahwa keyakinan kaum elite Iran adalah meruntuhkan tauhidullah demi menyembah dan mengagungkan kuburan-kuburan.

Wallahu a’lam.

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Usamah Abdur Rahman

Penyatuan Agama Dakwah kepada Kekafiran

Berbagai aliran sesat mengancam akidah umat. Sebagian paham sesat tersebut tampak jelas di kalangan umat Islam, seperti al-Qiyadah al-Islamiyah, Gafatar, Ahmadiyah, dan lainnya.

Di sisi lain, tidak sedikit dari paham sesat tersebut yang tidak kentara namun menipu dan memakan banyak korban. Lebih-lebih apabila kesesatan tersebut diserukan oleh orang-orang yang dianggap sebagai kaum intelektual dan cendekiawan, padahal jauh dari ilmu agama.

Ini adalah satu bukti ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّهَا سَتَأْتِي عَلَى النَّاسِ سِنُونَ خَدَّاعَةٌ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ. قِيلَ: وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ؟ قَالَ: السَّفِيهُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ

“Akan datang kepada kalian tahun-tahun yang menipu. Ketika itu seorang pendusta akan dianggap benar dan seorang yang jujur akan didustakan, pengkhianat akan diberi amanat, seorang yang amanah dianggap khianat, dan akan berbicara ketika itu Ruwaibidhah.”

Para sahabat bertanya, “Siapa Ruwaibidhah?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Seseorang yang rendah dan kurang akal, berbicara tentang urusan orang banyak.” (HR. Ahmad dan dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahihul Jami’)

 

Di antara paham sesat yang terus bergulir di masyarakat kita dan menipu sebagian muslimin adalah pluralisme agama. Padahal pada 28 Juli 2005, Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah menerbitkan fatwa yang melarang paham pluralisme dalam agama Islam.

Dalam fatwa tersebut, Pluralisme didefinisikan sebagai “suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relatif. Oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim hanya agamanya saja yang benar….” (Keputusan Fatwa MUI Nomor 7/Munas VII/MUI/II/2005 tentang pluralisme, liberalisme, dan sekulerisme)

Paham ini meruntuhkan fondasi agama kita yang paling utama, yakni al-wala’ wal bara’. Para pengusung paham ini menyerukan seruan sesat “persamaan agama” atau “penyatuan agama”.

Di Indonesia, pendukung dan corong pluralisme ini adalah Jaringan Islam Liberal (JIL). Di halaman utama situs mereka tertulis slogan mereka, “Dengan nama Allah, Tuhan Pengasih, Tuhan Penyayang, Tuhan Segala Agama”.

 

Maka dari itu, sangatlah penting bagi kita untuk terus menggali ilmu agama dalam rangka menjaga akidah kita dan mengingat kembali prinsip-prinsip agama kita: akidah Islam. Dengan mengetahui akidah dan prinsip Islam, kita akan tahu kesesatan dan kekafiran paham pluralisme tersebut.

Berikut adalah ringkasan beberapa poin dari fatwa para ulama Ahlus Sunnah yang tergabung dalam al-Lajnah ad-Daimah. Poin-poin ini menerangkan prinsip-prinsip mendasar dalam Islam.

 

  1. Di antara pokok akidah Islam yang pasti diketahui setiap muslim dan kaum muslimin telah berijma’ tentangnya adalah bahwa agama yang benar di muka bumi ini hanyalah Islam, Islam adalah penutup agama yang telah ada dan menghapus semua agama dan syariat yang telah ada.

Beribadah kepada Allah ‘azza wa jalla sekarang ini hanyalah dengan Islam, tidak boleh dengan agama lainnya. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

          إِنَّ ٱلدِّينَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلۡإِسۡلَٰمُۗ

“Sesungguhnya agama yang benar di sisi Allah hanyalah Islam.” (Ali Imran: 19)

 

Dalam ayat yang lain,

          ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَٰمَ دِينٗاۚ

        “Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, telah Aku sempurnakan nikmat-Ku kepada kalian, dan aku ridhai Islam sebagai agama kalian.” (al-Maidah: 3)

 

Dalam ayat yang lain,

وَمَن يَبۡتَغِ غَيۡرَ ٱلۡإِسۡلَٰمِ دِينٗا فَلَن يُقۡبَلَ مِنۡهُ وَهُوَ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ ٨٥

        “Barang siapa menginginkan agama selain Islam, tidak akan diterima darinya, dan di akhirat nanti dia termasuk seorang yang merugi.” (Ali Imran: 85)

 

  1. Di antara prinsip pokok akidah Islam; Kitabullah al-Qur’anul Karim adalah kitab yang terakhir diturunkan, memansukh (menghapus) kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya: Taurat, Zabur, Injil, dan lainnya.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

          وَأَنزَلۡنَآ إِلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ بِٱلۡحَقِّ مُصَدِّقٗا لِّمَا بَيۡنَ يَدَيۡهِ مِنَ ٱلۡكِتَٰبِ وَمُهَيۡمِنًا عَلَيۡهِۖ

        “Kami turunkan kepadamu kitab (al-Qur’an) dengan haq sebagai pembenar kitab-kitab yang sebelumnya dan menghapus kitab-kitab sebelumnya….” (al-Maidah: 48)

 

  1. Di antara pokok akidah Islam: Taurat dan Injil telah dimansukh (dihapus) oleh al-Qur’an; keduanya telah mengalami penyelewengan dan perubahan, yaitu ditambah dan dikurangi.

Hal ini dijelaskan dalam beberapa ayat,

        فَبِمَا نَقۡضِهِم مِّيثَٰقَهُمۡ لَعَنَّٰهُمۡ وَجَعَلۡنَا قُلُوبَهُمۡ قَٰسِيَةٗۖ يُحَرِّفُونَ ٱلۡكَلِمَ عَن مَّوَاضِعِهِۦ وَنَسُواْ حَظّٗا مِّمَّا ذُكِّرُواْ بِهِۦ

“(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami laknat mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka menyelewangkan firman-firman Allah dari makna yang sebenarnya dan mereka lupa bagian yang telah diingatkan kepada mereka….” (al-Maidah: 13)

 

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

          فَوَيۡلٞ لِّلَّذِينَ يَكۡتُبُونَ ٱلۡكِتَٰبَ بِأَيۡدِيهِمۡ ثُمَّ يَقُولُونَ هَٰذَا مِنۡ عِندِ ٱللَّهِ لِيَشۡتَرُواْ بِهِۦ ثَمَنٗا قَلِيلٗاۖ فَوَيۡلٞ لَّهُم مِّمَّا كَتَبَتۡ أَيۡدِيهِمۡ وَوَيۡلٞ لَّهُم مِّمَّا يَكۡسِبُونَ ٧٩

        Maka kebinasaan bagi orang-orang yang menulis al-Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya, “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Kebinasaan bagi mereka akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kebinasaan bagi mereka akibat apa yang mereka kerjakan.” (al-Baqarah: 79)

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَإِنَّ مِنۡهُمۡ لَفَرِيقٗا يَلۡوُۥنَ أَلۡسِنَتَهُم بِٱلۡكِتَٰبِ لِتَحۡسَبُوهُ مِنَ ٱلۡكِتَٰبِ وَمَا هُوَ مِنَ ٱلۡكِتَٰبِ وَيَقُولُونَ هُوَ مِنۡ عِندِ ٱللَّهِ وَمَا هُوَ مِنۡ عِندِ ٱللَّهِ وَيَقُولُونَ عَلَى ٱللَّهِ ٱلۡكَذِبَ وَهُمۡ يَعۡلَمُونَ ٧٨

        “Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca al-Kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari al-Kitab, padahal ia bukan dari al-Kitab dan mereka mengatakan, ‘Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah’, Padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah sedang mereka mengetahui.” (Ali Imran: 78)

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata ketika melihat Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu memegang secarik kertas Taurat,

“Apakah engkau ragu, wahai Ibnul Khaththab? Seandainya saudaraku Musa masih hidup, niscaya tidak ada pilihan untuknya kecuali harus mengikutiku.”

 

  1. Di antara pokok akidah Islam: Nabi kita dan Rasul kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah penutup nabi dan rasul, sebagaimana firman Allah ‘azza wa jalla,

          مَّا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَآ أَحَدٖ مِّن رِّجَالِكُمۡ وَلَٰكِن رَّسُولَ ٱللَّهِ وَخَاتَمَ ٱلنَّبِيِّ‍ۧنَۗ وَكَانَ ٱللَّهُ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٗا ٤٠

        “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kalian, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (al-Ahzab: 40)

Tidak ada lagi nabi selain beliau yang wajib diikuti. Seandainya ada nabi yang masih hidup, tidak ada kelapangan baginya kecuali mengikuti Nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Termasuk prinsip yang pokok dalam Islam adalah meyakini bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus kepada seluruh umat manusia. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

          وَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ إِلَّا كَآفَّةٗ لِّلنَّاسِ بَشِيرٗا وَنَذِيرٗا وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ ٢٨

        “Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada seluruh umat manusia, sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” (Saba: 28)

Dalam ayat yang lain,

          قُلۡ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنِّي رَسُولُ ٱللَّهِ إِلَيۡكُمۡ جَمِيعًا

        Katakanlah, “Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian semua….” (al-A’raf: 158)

 

  1. Di antara pokok prinsip Islamyang penting adalah kewajiban meyakini kafirnya orang-orang yang tidak masuk Islam, baik orang Yahudi, Nasrani, dan selain mereka.

Mereka adalah orang kafir, musuh Allah ‘azza wa jalla dan rasul-Nya, dan mereka adalah penghuni neraka. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

          لَمۡ يَكُنِ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ وَٱلۡمُشۡرِكِينَ مُنفَكِّينَ حَتَّىٰ تَأۡتِيَهُمُ ٱلۡبَيِّنَةُ ١

        “Orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata.” (al-Bayyinah: 1)

 

Dalam ayat lain,

          إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ وَٱلۡمُشۡرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَٰلِدِينَ فِيهَآۚ أُوْلَٰٓئِكَ هُمۡ شَرُّ ٱلۡبَرِيَّةِ ٦

        “Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (al-Bayyinah: 6)

 

Dalam riwayat al-Imam Muslim rahimahullah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ ل يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَ نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

“Demi Dzat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, tidak ada seorang pun dari umat ini, baik Yahudi maupun Nasrani, yang mendengar tentang aku (dakwah Islam) kemudian mati dalam keadaan tidak beriman kepada (syariat) yang aku bawa, kecuali dia adalah penghuni neraka.” (HR . Muslim no. 153)

 

Apa yang disebutkan di atas adalah ringkasan dari sebagian fatwa al-Lajnah ad-Daimah (12/275 no. fatwa 19402).

Poin-poin di atas penting untuk kita pahami. Ketika seorang muslim memahaminya, niscaya dia akan yakin tentang sesatnya para penyeru persatuan agama. Bahkan, al-Lajnah ad-Daimah dalam fatwa yang penulis isyaratkan di atas dengan tegas menyatakan,

Dakwah pada penyatuan agama, kalau muncul dari seorang muslim, itu teranggap sebagai bentuk kemurtadan yang jelas….

Pada poin keenam dalam fatwa tersebut, al-Lajnah ad-Daimah menegaskan,

“Seruan penyatuan agama adalah dakwah yang busuk dan penuh makar. Tujuannya adalah mencampuradukkan al-haq dengan kebatilan, merobohkan dan meruntuhkan tonggak-tonggak Islam, serta menyeret umat Islam kepada kemurtadan. Ini adalah bukti firman Allah,

          وَلَا يَزَالُونَ يُقَٰتِلُونَكُمۡ حَتَّىٰ يَرُدُّوكُمۡ عَن دِينِكُمۡ

        “Mereka akan terus memerangi kalian hingga memurtadkan kalian dari agama kalian.” (al-Baqarah: 217)

 

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَدُّواْ لَوۡ تَكۡفُرُونَ كَمَا كَفَرُواْ فَتَكُونُونَ سَوَآءٗۖ

“Mereka menginginkan kalian kafir sebagaimana mereka telah kafir, hingga kalian pun sama.” (an-Nisa: 89)

 

Pernyataan Ulama tentang Para Penyeru Persamaan dan Penyatuan Agama

Ulama Ahlus Sunnah sangat keras mengingkari paham sesat ini. Ketika muncul paham sesat ini, ulama Ahlus Sunnah tampil mengingkari dan menjelaskan kesesatannya kepada umat.

Berikut ini adalah nukilan ucapan sebagian ulama kita; ulama Ahlus Sunnah yang hidup di zaman kita ini.

Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi berkata, “Seruan penyatuan agama, persaudaraan agama, persamaan agama adalah dakwah yang bertentangan dengan Islam; bertentangan dengan al-Qur’an, sunnah, dan dakwah seluruh rasul.” (Bantahan terhadap Adnan ‘Ar’ur)

 

Di antara bukti yang menunjukkan batilnya seruan penyatuan agama:

Al-Imam Ahmad dan lainnya meriwayatkan hadits dari Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu,

أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ أَتَى النَّبِيَّ بِكِتَابٍ أَصَابَهُ مِنْ بَعْضِ أَهْلِ الْكُتُبِ فَقَرَأَهُ النَّبِيُّ فَغَضِبَ فَقَالَ: أَمُتَهَوِّكُونَ فِيهَا يَا ابْنَ الْخَطَّابِ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَقَدْ جِئْتُكُمْ بِهَا بَيْضَاءَ نَقِيَّةً، تَسْأَلُوهُمْ عَنْ شَيْءٍ فَيُخْبِرُوكُمْ بِحَقٍّ فَتُكَذِّبُوا بِهِ أَوْ بِبَاطِلٍ فَتُصَدِّقُوا بِهِ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَوْ أَنَّ مُوسَى كَانَ حَيًّا مَا وَسِعَهُ إِ أَنْ يَتَّبِعَنِي

Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membawa kitab yang beliau dapat dari ahlul kitab. Beliau membacakannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun marah dan berkata, “Apakah engkau ragu, wahai Ibnul Khaththab? Demi Yang jiwaku di tangan-Nya, aku telah membawa (syariat ini) untuk kalian dalam keadaan putih bersih. Jangan kalian bertanya tentang sesuatu kepada Ahlul Kitab, sehingga mereka mengabarkan yang benar lantas kalian (bisa jadi) mendustakannya, atau mengabarkan yang dusta lantas kalian membenarkannya.

Demi Yang jiwaku di tangan-Nya, seandainya Musa masih hidup, tidak ada kelapangan baginya selain mengikutiku.” (Dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam ta’liq kitab as-Sunnah Ibnu Abi Ashim [50] dan dalam ta’liq Misykah no. 177)

 

Al-Qur’an telah menegaskan tahrif[1] yang mereka lakukan.

Sahabat yang mulia Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata, “Bagaimana bisa kalian (sudi) bertanya kepada ahlul kitab padahal kitab kalian yang diturunkan Allah ‘azza wa jalla kepada Rasul-Nya lebih baru? Kalian membacanya masih murni, belum tercampur yang lain. Al-Qur’an telah memberitakan bahwa ahlul kitab telah mengganti Kitabullah dan mengubahnya. Mereka menulis kitab dengan tangan-tangan mereka kemudian berkata, ‘Ini dari Allah’ untuk menukarnya dengan harga yang murah.

Ketahuilah, ilmu yang telah datang kepada kalian telah melarang kalian bertanya kepada mereka. Demi Allah, kami tidak pernah melihat seorang pun dari mereka (ada yang mau) bertanya kepada kalian tentang (kitab) yang diturunkan kepada kalian.”

Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata tentang ahlul kitab, “Allah ‘azza wa jalla telah mengabarkan kepada kita bahwa mereka telah mengganti kitab Allah dan menulis kitab dengan tangan mereka kemudian berkata, ‘Ini dari Allah ‘azza wa jalla’ untuk mendapatkan sesuatu yang berharga murah.” (as-Sunan al-Kubra karya al-Baihaqi)

 

Kaum mukminin diperintahkan untuk berjihad menghadapi seluruh agama

kafir baik Yahudi, Nasrani, Hindu, dan Majusi sampai mereka mau bersyahadat; bersaksi tidak ada sesembahan yang haq selain Allah ‘azza wa jalla dan Muhammad adalah utusan Allah ‘azza wa jalla.

Kaum mukminin diperintahkan untuk mendakwahi mereka kepada Islam, bukan bersatu dengan mereka. (dinukil dari bantahan asy-Syaikh Rabi’ kepada Adnan ‘Ar‘ur)

 

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin berkata, Kesimpulan jawaban: Barang siapa meyakini bolehnya seorang memilih agama yang dia inginkan, bebas memilih agama yang dia mau; orang yang memiliki keyakinan seperti telah kafir kepada Allah ‘azza wa jalla. Sebab, Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَمَن يَبۡتَغِ غَيۡرَ ٱلۡإِسۡلَٰمِ دِينٗا فَلَن يُقۡبَلَ مِنۡهُ

        “Barang siapa menginginkan agama selain Islam, tidak akan diterima darinya.” (Ali Imran: 85)

 

إِنَّ ٱلدِّينَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلۡإِسۡلَٰمُۗ

“Sesungguhnya agama yang benar di sisi Allah hanyalah Islam.” (Ali Imran: 19)

Seorang tidak boleh berkeyakinan ada agama selain Islam yang boleh digunakan untuk beribadah kepada Allah ‘azza wa jalla. Barang siapa memiliki keyakinan demikian, para ulama telah menegaskan bahwa dia telah kafir keluar dari Islam. (Majmu’ Fatawa no. 459 3/99)

 

Asy-Syaikh Ahmad an-Najmi menerangkan, Barang siapa menyatakan Islam sama dengan agama lainnya yang telah mansukh dan diubah-ubah, dia telah kafir. Demikian juga seorang yang menyatakan ada kelapangan untuk keluar dari agama Islam dan memeluk agama yang lain, dia pun telah kafir.

 

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab berkata tentang pembatal-pembatal keislaman. Barang siapa meyakini adanya keluasan bagi sebagian orang untuk keluar dari syariat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam berdasarkan firman Allah ‘azza wa jalla,

وَمَن يَبۡتَغِ غَيۡرَ ٱلۡإِسۡلَٰمِ دِينٗا فَلَن يُقۡبَلَ مِنۡهُ وَهُوَ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ ٨٥

Barang siapa menginginkan agama selain Islam, tidak akan diterima darinya dan di akhirat nanti termasuk orang merugi.” (Ali Imran: 85) (Fatawa Jaliyah Anil Manahij ad-Da’awiyah 2/91—92)

 

Maka dari itu, kita harus berbuat untuk menjaga akidah kita, akidah anak-anak dan karib kerabat kita, bahkan akidah kaum muslimin secara umum.

Sampaikan dan terangkanlah ucapan-ucapan ulama kita, penjelasan bahwa seruan pluralisme agama adalah dakwah kepada kesesatan yang harus dijauhi kaum muslimin.

Mari banyak berdoa agar Allah ‘azza wa jalla memberikan keistiqamahan kepada kita di atas Islam dan memberi bimbingan kepada para penguasa (pemerintah) kaum muslimin.

 

Ditulis oleh al-Ustadz Abdur Rahman Mubarak

[1] Tahrif adalah memalingkan makna lafadz al-Qur’an kepada makna yang batil, baik dengan mengubah bentuk lafadznya maupun tidak. (–pen.)

Syiah dan Tanah Karbala

Apa itu tanah Karbala? Menurut kaum Syiah, Karbala adalah tempat yang paling terhormat dan mulia di muka bumi ini.

Lantas, bagaimana halnya dengan Baitullah al-Haram? Dalam pandangan Syiah, Karbala tetap lebih utama. Karbala adalah sebuah kota yang terletak di Irak. Karbala sangat bersejarah bagi pemeluk agama Syiah, tempat terbunuhnya seorang yang suci dari keluarga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, al-Husain bin Ali bin Abu Thalib radhiallahu ‘anhuma.

Karena memiliki nilai sejarah yang tinggi bagi penganut Syiah, sudah barang tentu tanah Karbala memiliki nilai kesakralan dalam pandangan mereka. Sudah menjadi ciri, seseorang dikenal sebagai Syiah melalui lempengan tanah Karbala yang dijadikan tempat sujudnya.

Ada beberapa riwayat palsu yang mereka jadikan pijakan keyakinan sesat mereka. Asy-Syaikh al-Albani rahimahullah dalam kitab beliau Silsilah Ahadits Shahihah (4/146) membawakan riwayat dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha dan dari Ali bin Abu Thalib radhiallahu ‘anhu tentang berita akan terbunuhnya al-Husain radhiallahu ‘anhu di Karbala. Riwayat tentang hal ini sahih dengan semua jalannya.

Setelah itu beliau menjelaskan bahwa tidak ada sedikit pun dari semua riwarat tersebut yang menunjukkan tentang sucinya Tanah Karbala, keutamaan sujud di atasnya, dan dianjurkannya mengambil satu lempeng Tanah Karbala untuk sujud saat shalat; sebagaimana yang dilakukan oleh Syiah di masa sekarang.

Kalaulah perbuatan itu dianjurkan, tentu tanah dari dua Tanah Suci (Makkah dan Madinah) lebih pantas. Perbuatan ini termasuk bid’ah yang ada pada Syiah. Selain itu, kenyataan ini juga menunjukkan sikap keterlaluan dan melampaui batas terhadap keluarga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan peninggalan-peninggalan mereka.

Lebih mengherankan lagi, mereka menjadikan akal sebagai sumber syariat. Mereka menimbang baik dan jeleknya sesuatu sesuai dengan akal. Mereka membawakan riwayat-riwayat tentang keutamaan sujud di Tanah Karbala; riwayat yang dipastikan kebatilannya oleh akal sehat.

Asy-Syaikh al-Albani menemukan tulisan salah seorang mereka yang bernama Sayyid Abdur Ridha al-Mar’asyi asy-Syahrastani berjudul as-Sujud ‘Ala Turbatul Husainiyah. Pada halaman 15, dia mengatakan, “Terdapat riwayat bahwa sujud di atasnya lebih utama karena kemuliaan, kesucian, dan sucinya orang yang dimakamkan di tempat tersebut.

Terdapat hadits dari para imam ahli bait yang suci ‘alahimus salam bahwa sujud di atas tanahnya akan menerangi sampai bumi yang tujuh. Hadits yang lain menyebutkan bahwa—sujud di atasnya—akan melubangi hijab yang ketujuh. Hadits yang lain menyebutkan bahwa Allah menerima shalat orang yang sujud di atasnya melebihi orang yang shalat dan tidak sujud di atasnya. Hadits yang lain menyebutkan bahwa sungguh shalat di atas tanah kuburan al-Husain akan menerangi semua lapisan bumi.”

Tentu saja hadits seperti ini sangat jelas kebatilannya menurut kami. Para imam ahli bait pun berlepas diri darinya. Hadits-hadits tersebut tidak memiliki sanad yang bisa dikritisi melalui tinjauan ilmu hadits dan dasar-dasar ilmu hadits. Semuanya adalah riwayat mursal dan mu’dhal, yang termasuk bagian dari riwayat-riwayat yang lemah.

Bahkan, pengarangnya membawakan riwayat dengan penuh dusta atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti hadits, “Yang pertama kali menjadikan alas sujud lempengan Tanah Karbala adalah Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pada tahun ketiga hijriah tatkala terjadi perang yang mengerikan antara kaum muslimin dan kafir Quraisy di Uhud. Terbunuhlah seorang pilar terbesar Islam, yaitu Hamzah bin Abdul Muththalib, paman Rasulullah. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh setiap istrinya untuk meratap setiap sore, sampai ke taraf memuliakannya dan menjadikan tanah kuburnya untuk bertabarruk dan bersujud kepada Allah subhanahu wa ta’ala di atas tanahnya. Mereka menjadikan tanah tersebut alat bertasbih.”

Coba renungkan, bagaimana dia berdusta atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menganggap bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang pertama kali menjadikan lempengan Tanah Karbala sebagai tempat sujud. Dia tidak membawakan penopang ucapannya selain kedustaan lain bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah istri-istrinya untuk meratapi kematian Hamzah radhiallahu ‘anhu setiap sore. Ini semuanya jelas tidak ada keterkaitannya dengan lempengan Tanah Karbala.

Asy-Syaikh al-Albani lalu mengatakan, “Kedustaan dan penipuan kaum Syiah terhadap umat ini hampir-hampir tidak terhitung banyaknya.”

Beliau juga mengatakan, “Jelaslah bagimu benarnya ucapan para imam umat yang menyifati kaum Syiah: kelompok yang paling pendusta adalah Rafidhah.”

 

Syiah dan Bulan Muharram

Bulan Muharram adalah salah satu dari asyhurul hurum (bulan haram). Allah subhanahu wa ta’ala memuliakannya dengan tidak bolehnya melakukan pertumpahan darah pada bulan tersebut. Bahkan, pada 10 Muharram, hari Asyura’, Allah subhanahu wa ta’ala menganjurkan berpuasa dengan pahala yang sangat besar.

Bagi kaum Syiah, hari Asyura’ dinilai bersejarah karena bertepatan dengan terbunuhnya al-Husain bin Ali bin Abu Thalib radhiallahu ‘anhuma dengan penuh kezaliman pada 61 H.

Menurut umat Islam Ahlus Sunnah wal Jamaah, beliau meninggal sebagai syahid. Oleh sebab itu, beliau dimuliakan. Beliau dan saudaranya, al-Hasan, adalah dua pemuda surga. Ternyata kedudukan yang tinggi harus diperoleh dengan pengorbanan yang besar pula.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya,

        أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلَاءً؟ فَقَالَ: الْأَنِبْيَاءُ ثُمَّ الصَّالِحُونَ ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ، يُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ صَلَابَةٌ زِيدَ فِي بَلَائِهِ، وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ خُفِّفَ عَنْهُ، وَ يَزَالُ الْبَلَاءُ بِالْمُؤْمِنِ حَتَّى يَمْشِيَ عَلَى الْأَرْضِ وَلَيْسَ عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ

“Siapakah yang paling berat cobaannya?”

Beliau menjawab, “Para nabi, kemudian orang-orang saleh, kemudian setelah mereka, dan setelah mereka. Seseorang diuji sesuai dengan kadar agamanya. Jika agamanya kokoh, ditambah ujiannya. Jika agamanya lembek, diringankan ujiannya. Terus-menerus bala menimpa seorang yang beriman hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan tidak berdosa.” (HR. Ahmad 1/172 dan ini lafadz beliau; at-Tirmidzi dalam Sunan-nya 4/28, “Abwabuz Zuhud” no. 2509 dan beliau mengatakan hadits hasan sahih; ad-Darimi dalam Sunan-nya, “Kitab ar-Raqaiq” 2/320; Ibnu Majah dalam Sunan-nya, “Kitab al-Fitan” 2/1334 no. 4023)

Sungguh, al-Hasan dan al-Husain radhiallahu ‘anhuma menyandang predikat yang mulia dan tinggi. Sebuah kenikmatan bagi keduanya tatkala mendapat ujian serupa dengan yang menimpa Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, yang dibunuh sebagai syahid dengan penuh kezaliman.

Setelah Abdurrahman bin Muljam al-Khariji membunuh Amirul Mukminin Ali bin Abu Thalib radhiallahu ‘anhu, para sahabat Nabi membaiat al-Hasan, putra beliau. Namun, beliau rela melepaskan kepemimpinan itu demi menjaga darah kaum muslimin agar tidak tidak tertumpah dalam perang saudara. Inilah sikap seorang pahlawan agama yang harus kita teladani.

Sikap ini adalah realisasi dari sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang beliau,

إِنَّ ابْنِي هَذَا سَيِدٌ وَسَيُصْلِحُ اللهُ بِهِ بَيْنَ فِئَتَيْنِ عَظِيمَتَيْنِ مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Sungguh, putraku ini (cucu beliau, al-Hasan) adalah seorang pemimpin, dan dengan perantaraan dirinya Allah subhanahu wa ta’ala akan mendamaikan dua kelompok besar dari kalangan kaum muslimin.” (HR. al-Bukhari no. 2704, Ahmad 5/49, Abu Dawud, dan an-Nasai 3/107)

Allah subhanahu wa ta’ala telah mengatur perjalanan hidup setiap hamba. Apabila Allah subhanahu wa ta’ala telah memutuskan, pasti akan terjadi. Allah subhanahu wa ta’ala berbuat sekehendak-Nya, tidak terkait dengan kehendak makhluk-Nya sedikit pun. Allah subhanahu wa ta’ala telah memutuskan bahwa akhir kehidupan al-Husain menyedihkan dan memilukan.

Sebuah peristiwa yang tidak kita inginkan terjadi. Akan tetapi, Allah Mahabijaksana. Semua keputusan-Nya mengandung banyak hikmah. Dia subhanahu wa ta’ala telah menentukan bahwa al-Husain terbunuh dalam sebuah makar.

Terbunuhnya beliau juga menjadi ujian bagi dua kelompok manusia, yaitu yang benar-benar meniti jejak kebenaran dan kelompok yang mengikuti penyimpangan dan penyelewengan.

Setelah al-Hasan meninggal, sebagian penduduk Kufah menulis surat kepada al-Husain. Mereka berjanji memberi pertolongan dan pembelaan apabila al-Husain mau menjadi pemimpin mereka. Al-Husain mengutus putra paman beliau, Muslim bin Aqil bin Abu Thalib, kepada mereka. Ternyata mereka menyelisihi janji-janjinya. Mereka justru membantu dan bergabung dengan orang yang akan membunuh beliau.

Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma, Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma, dan selain keduanya telah menasihatinya agar tidak berangkat menuju mereka dan agar tidak menerima apa pun. Akan tetapi, terjadilah apa yang terjadi. Semuanya telah ada dalam ketentuan dan keputusan Ilahi yang tidak mungkin berubah.

Beliau sendiri menyaksikan makar di balik itu semua. Beliau meminta di hadapan mereka yang sudah bersiap membunuhnya agar membiarkan beliau kembali, bergabung dengan bala tentara yang berjaga di perbatasan atau bergabung dengan putra pamannya, Yazid.

Mereka menolak permintaan beliau dan tetap memeranginya. Beliau memberikan perlawanan bersama orang yang menyertainya sampai akhirnya terbunuh dalam keadaan terzalimi dan syahid.

Kematian beliau memunculkan berbagai bentuk kejelekan yang terjadi di tengah-tengah manusia. Muncul orang-orang bodoh, sesat, dan menyimpang. Mereka menampakkan diri sebagai orang yang cinta kepada keluarga beliau. Mereka menjadikan hari kematian beliau sebagai hari berkabung, bersedih, dan berduka. Pada hari itu, mereka menampakkan syiar-syiar jahiliah: memukul-mukul pipi, menyobek-nyobek kerah baju, dan meratap dengan ratapan kaum jahiliah. (Lihat Majmu’ Fatawa 25/302—307)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Dengan terbunuhnya al-Husain radhiallahu ‘anhu, setan mengambil kesempatan dengan memunculkan dua jenis kebid’ahan di tengah-tengah manusia, yaitu

(1) Bid’ah berduka dan meratap pada 10 Muharram dalam bentuk memukul pipi, berteriak histeris, menangis, menjadikan diri kehausan, mengucapkan kalimat-kalimat belasungkawa.

Buntutnya ialah mencela pendahulu yang saleh dan melaknat mereka, menggabungkan orang yang tidak berdosa ke dalam barisan para pendosa. Mereka mencela para pendahulu. Dibacakan pula syair-syair perjalanan hidup al-Husain yang kebanyakannya dusta. Tujuan orang yang menghidupkan bid’ah ini adalah membuka pintu fitnah dan memecah belah umat.

Semua ini tidak dianjurkan, apalagi diwajibkan, menurut kesepakatan kaum muslimin. Mengadakan acara hari berduka dan meratapi musibah yang telah lampau termasuk keharaman yang paling besar.

(2) (Jenis bid’ah yang dimunculkan oleh setan adalah) bid’ah bersenang-senang dan bergembira.” (Lihat Minhajus Sunnah 2/322—323)

 

Kesyirikan Karena Mengagungkan Manusia

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah dalam Kitab at-Tauhid menulis bab “Sebab Kekufuran Bani Adam dan Sebab Mereka Meninggalkan Agama adalah Berlebih-Lebihan Menyikapi Orang-Orang Saleh” dan bab “Sikap Keras terhadap Seseorang yang Menyembah Allah subhanahu wa ta’ala di Sisi Kuburan Orang Saleh dan Bagaimana Jika Menyembahnya?”

Dua bab ini mengingatkan kita tentang perbuatan Syiah yang mengaku mencintai keluarga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka mengangkat para imam ahli bait pada martabat yang lebih tinggi dari martabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan sampai dituhankan. Mereka mengagungkannya, menyembah kuburannya, mengklaim bahwa ahlu bait mengetahui ilmu gaib, bahkan sebagai penjamin masuk ke dalam surga.

Bukankah ini adalah kesyirikan dan kekafiran yang sangat jelas?

Dari Aisyah radhiallahu ‘anha,

أَنَّ أُمَّ حَبِيبَةَ وَأُمَّ سَلَمَةَ ذَكَرَتَا كَنِيسَةً رَأَيْنَهَا بِالْحَبَشَةِ فِيهَا تَصَاوِيرُ فَذَكَرَتَا لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: إِنَّ أُولَئِكِ إِذَا كَانَ فِيهِمُ الرَّجُلُ الصَّالِحُ فَمَاتَ بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا وَصَوَّرُوا فِيهِ تِلْكَ الصُّوَرَ، فَأُولَئِكَ شِرَارُ الْخَلْقِ عِنْدَ اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Ummu Habibah dan Ummu Salamah menceritakan tentang sebuah gereja yang mereka lihat di negeri Habasyah. Di dalamnya terdapat berbagai gambar. Kami menceritakannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya apabila ada orang saleh di antara mereka meninggal, mereka membangun masjid di atas kuburannya, melukis gambargambar tersebut. Mereka adalah sejahat-jahat makhluk di sisi Allah subhanahu wa ta’ala pada hari kiamat.” ( HR. al-Bukhari no. 427 dan Muslim no. 528)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Kesyirikan terhadap kuburan orang yang diyakini kesalehannya akan lebih dekat ke dalam jiwa dibanding dengan kesyirikan terhadap pohon atau batu. Kaum muslimin telah bersepakat berdasarkan apa yang mereka ketahui dari ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa dilarang shalat di sisi kuburan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat orang yang menjadikan kuburan di atas masjid. Bahkan, termasuk kebid’ahan yang paling besar dan sebab-sebab kesyirikan adalah shalat di sisi kuburan, menjadikan kuburan itu sebagai masjid, dan membangun masjid di atasnya.” (Iqtidha ash-Shirath al-Mustaqim 2/674)

 

Kesyirikan Merusak Ibadah

Beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala adalah hikmah diciptakannya bangsa manusia dan jin. Kedua makhluk ini memiliki kewajiban untuk memikul semua beban syariat. Untuk keduanya diadakan hukuman dan ganjaran di dunia dan di akhirat. Allah subhanahu wa ta’ala telah menjelaskan dalam kitab-Nya,

وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ ٥٦

“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.” (adz-Dzariyat: 56)

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, “Sesungguhnya, Aku menciptakan mereka agar Aku perintah mereka beribadah kepada-Ku. Dan itu bukan karena Aku membutuhkan mereka.”

As-Sa’di rahimahullah mengatakan, “Beribadah adalah tujuan diciptakannya jin dan manusia oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Allah subhanahu wa ta’ala mengutus para rasul untuk mengajak mereka beribadah, yang mencakup berilmu tentang Allah subhanahu wa ta’ala dan mencintai-Nya, kembali kepada Allah subhanahu wa ta’ala, menghadapkan diri kepada-Nya, dan menyingkirkan segala sesuatu selain-Nya.

Ibadah mencakup berpengetahuan tentang Allah subhanahu wa ta’ala. Sebab, kesempurnaan ibadah itu sesuai dengan kesempurnaan pengetahuan kita tentang Allah subhanahu wa ta’ala. Semakin bertambah pengetahuan hamba tentang Allah subhanahu wa ta’ala, ibadahnya kepada Allah subhanahu wa ta’ala semakin sempurna. Inilah yang menjadi tujuan Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan bangsa jin dan manusia. Allah subhanahu wa ta’ala tidaklah menciptakan mereka karena membutuhkan mereka.”

Ibadah akan nihil dari nilai tatkala dicampuri oleh perbuatan menyekutukan Allah subhanahu wa ta’ala.

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata dalam Qawa’id al-Arba’, “Apabila kamu telah mengetahui bahwa Allah subhanahu wa ta’ala menciptakanmu untuk beribadah, ketahuilah bahwa ibadah tidak disebut ibadah melainkan bersama tauhid. Sebagaimana halnya shalat tidak dikatakan shalat melainkan dengan bersuci. Apabila kesyirikan masuk dalam sebuah ibadah, niscaya ibadah tersebut akan rusak, sebagaimana ketika hadats masuk dalam bersuci.”

Wallahu a’lam.

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Usamah Abdur Rahman

Hanya Islam Agama yang Benar

Islam adalah nikmat terbesar bagi hamba Allah subhanahu wa ta’ala, karena:

 

  1. Islam Satu-Satunya Agama yang Haq di Sisi Allah subhanahu wa ta’ala

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّ ٱلدِّينَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلۡإِسۡلَٰمُۗ

“Sesungguhnya agama yang haq disisi Allah hanyalah Islam.” (Ali Imran: 19)

وَمَن يَبۡتَغِ غَيۡرَ ٱلۡإِسۡلَٰمِ دِينٗا فَلَن يُقۡبَلَ مِنۡهُ وَهُوَ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ ٨٥

“Barang siapa mengharapkan selain Islam, tidak akan diterima darinya, di akhirat nanti dia termasuk orang-orang merugi.” (Ali Imran: 85)

Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan menerangkan bahwa dalam dua ayat di atas ada bantahan terhadap orang-orang di zaman ini yang menyatakan bahwa tiga agama ini; Yahudi, Nasrani, dan Islam, semuanya benar dan akan mengantarkan pemeluknya kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Apa yang mereka ucapkan ini adalah dusta dan mengada-ada. Tidak ada agama yang haq setelah datangnya agama ini selain Islam.

Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus dan Islam datang, dihapuslah agama Yahudi dan Nasrani. Semua agama yang selain Islam telah ditahrif (diubah-ubah) dan diganti, atau telah mansukh, telah berakhir masanya, tidak ada lagi yang Allah subhanahu wa ta’ala ridhai selain Islam (yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam).

Barang siapa ingin masuk surga, berpegang teguhlah dengan Islam ini. Barang siapa menginginkan agama yang lain, tidak ada bagian untuknya selain neraka. (Syarah Fadhlul Islam)

 

  1. Islam Agama yang Sempurna

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَٰمَ دِينٗاۚ

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian, Aku telah sempurnakan nikmat-ku untuk kalian, dan Aku ridhai Islam menjadi agama kalian.” (al-Maidah: 3)

Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan menjelaskan, ayat ini membantah setiap orang yang melecehkan Islam dan mengatakan bahwa Islam tidak cocok untuk setiap tempat dan waktu. Seperti seruan orang-orang di masa ini yang menyatakan bahwa Islam itu untuk generasi telah lewat, untuk masa yang telah lewat, tidak cocok untuk akhir zaman. Padahal Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَٰمَ دِينٗاۚ

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian, Aku telah sempurnakan nikmat-ku untuk kalian, dan Aku ridhai Islam menjadi agama kalian.” (al-Maidah: 3)

Ayat ini menunjukkan bahwa Islam cocok untuk segala zaman dan situasi…. (Syarah Fadhlul Islam hlm. 10)

Islam adalah satu-satunya agama yang haq. Barang siapa menyatakan boleh memilih agama selain Islam atau boleh mengikuti selain syariat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia terjatuh dalam kekafiran.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, telah diketahui dengan pasti dalam agama dan disepakati oleh kaum muslimin bahwa barang siapa menyatakan seseorang boleh memilih selain Islam atau boleh mengikuti selain syariat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia kafir seperti kafirnya orang yang beriman kepada sebagian kitab dan mengingkari sebagiannya. (Majmu’ Fatawa)

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab berkata dalam Nawaqidhul Islam, “Pembatal keislaman yang kesembilan: Barang siapa meyakini bolehnya sebagian orang keluar dari syariat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana keluarnya Khidhir dari syariat Nabi Musa ‘alaihissalam, berarti dia telah kafir.”

Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan menerangkan, yang menyatakan bolehnya seseorang keluar dari syariat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana halnya Nabi Khidhir keluar dari syariat Nabi Musa adalah kaum Sufi ekstrem. Mereka menyatakan, kalau seorang Sufi telah sampai tingkatan ma’rifah, dia tidak lagi membutuhkan rasul. Rasul hanya diutus kepada orang awam. Adapun mereka adalah orang-orang khusus yang telah sampai kepada Allah subhanahu wa ta’ala sehingga tidak membutuhkan rasul.

Bahkan, mereka menyatakan bahwa beban syariat telah gugur dari mereka. Mereka tidak shalat dan beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Menurut mereka, ibadah hanya untuk orang awam.

Demikian juga, tidak ada lagi yang haram bagi mereka. Halal dan haram hanya untuk yang masih awam, tidak berlaku bagi mereka. Mereka melakukan perzinaan, melakukan liwath (hubungan sesama jenis), dan perbuatan haram lainnya.

Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan menyebutkan, termasuk dalam ucapan asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah beberapa golongan manusia:

  1. Kaum sekuler

Mereka hendak memilah antara agama dan politik negara. Menurut mereka, agama dan ibadah hanya di masjid, sedangkan muamalah dan hukum-hukumnya, serta hukum-hukum politik tidaklah termasuk dalam agama.

  1. Ahlul kalam dan filsafat

Mereka termasuk dalam ucapan asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab karena tidak mau mengambil akidah dari al-Qur’an dan as-Sunnah. Mereka membangun akidah mereka di atas dasar ilmu kalam, perdebatan, dan ilmu mantiq. Ini adalah bentuk keluar dari syariat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam urusan yang paling penting, yakni akidah.

Asy-Syaikh al-Fauzan menerangkan, termasuk pula dalam makna ucapan asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab ialah orang yang menyatakan bahwa syariat Islam hanya untuk masa lampau; adapun zaman sekarang, syariat Islam sudah tidak cocok lagi karena ada muamalah yang tidak tercakup oleh syariat Islam.

Ucapan mereka bermakna bahwa syariat Islam masih kurang dan bukan tidak berasal dari Dzat Yang Mahabijaksana dan Maha Terpuji.

Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan berkata bahwa orang yang berkata demikian tidak diragukan lagi kafirnya. Demikian pula orang yang menyangka bolehnya keluar dari syariat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Dinukil secara makna dari Syarah Nawaqidhul Islam hlm. 179—182)

Islam adalah agama yang haq dan universal. Segala budaya atau adat kebiasaan setiap bangsa, harus tunduk mengikuti syariat Islam. Islam yang haq adalah agama yang diturunkan kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau ajarkan kepada para sahabatnya, dan terus demikian sampai kepada kita. Tidak ada Islam Jawa, tidak ada Islam Sunda, tidak ada pula Islam Nusantara.

Islam yang haq hanya satu, yaitu yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Islam yang beliau sampaikan kepada para sahabatnya hingga sampai kepada kita. Islam yang bersumber dari al-Qur’an dan as-Sunnah.

Islam yang haq yang beliau bawa adalah untuk seluruh umat manusia, bahkan jin. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً وَبُعِثْتُإِلَى النَّاسِ كَافَّةً

“Nabi sebelum aku diutus kepada kaumnya secara khusus, sedangkan aku diutus kepada segenap manusia.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Islam adalah satu-satunya agama yang haq. Barang siapa tidak mau menerima Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia telah kafir dan di akhirat nanti akan menjadi penduduk neraka.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلَا نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

“Demi Dzat yang jiwa Muhammad di Tangan-Nya, tidak ada orang dari umat ini, Yahudi atau Nasrani, yang mendengar tentang aku, kemudian mati dalam keadaan tidak beriman kepada risalah yang aku bawa, kecuali dia termasuk penduduk neraka.” (HR. Muslim)

Yahudi dan Nasrani adalah orang-orang kafir. Seorang muslim tidak boleh ragu tentang kekafiran Yahudi, Nasrani, dan lainnya, apalagi membenarkan jalan mereka.

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab menyebutkan pembatal keislaman yang ketiga, “Orang yang tidak mengafirkan orang kafir, atau ragu akan kekafiran mereka atau membenarkan mazhab mereka.”

Syaikh Shalih al-Fauzan menjelaskan, “Sebab, seorang muslim wajib mengafirkan orang-orang yang telah dikafirkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala telah mengkafirkan musyrikin para penyembah berhala dan selain mereka yang menyembah selain Allah subhanahu wa ta’ala. Allah subhanahu wa ta’ala mengkafirkan orang-orang yang tidak beriman kepada para rasul atau sebagian mereka, sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an dan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah subhanahu wa ta’ala telah mengkafirkan Yahudi, Nasrani, dan penyembah berhala.

Maka dari itu, seorang muslim wajib meyakini dengan kalbunya tentang kafirnya mereka, karena Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya telah mengkafirkan mereka. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

لَّقَدۡ كَفَرَ ٱلَّذِينَ قَالُوٓاْ إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡمَسِيحُ ٱبۡنُ مَرۡيَمَۚ

“Sungguh, telah kafir orang yang menyatakan Allah adalah al-Masih ibnu Maryam.” (al-Maidah: 17)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَقَالَتِ ٱلۡيَهُودُ يَدُ ٱللَّهِ مَغۡلُولَةٌۚ غُلَّتۡ أَيۡدِيهِمۡ وَلُعِنُواْ بِمَا قَالُواْۘ

Orang Yahudi berkata, “Tangan Allah terbelenggu.” (Justru) tangan merekalah yang terbelenggu, mereka dilaknat karena apa yang mereka ucapkan. (al-Maidah: 64)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          لَّقَدۡ سَمِعَ ٱللَّهُ قَوۡلَ ٱلَّذِينَ قَالُوٓاْ إِنَّ ٱللَّهَ فَقِيرٞ وَنَحۡنُ أَغۡنِيَآءُۘ سَنَكۡتُبُ مَا قَالُواْ وَقَتۡلَهُمُ ٱلۡأَنۢبِيَآءَ بِغَيۡرِ حَقّٖ وَنَقُولُ ذُوقُواْ عَذَابَ ٱلۡحَرِيقِ ١٨١

“Sungguh, Allah mendengar orang-orang (Yahudi) yang mengatakan Allah itu faqir.” (Ali Imran: 181)

Demikian pula ucapan-ucapan lain dari Ahlul Kitab, yang Allah subhanahu wa ta’ala hikayatkan dari mereka.

Cukuplah untuk mengafirkan mereka (yakni Yahudi dan Nasrani –pen.), kekafiran mereka kepada Nabi Muhammad yang telah Allah subhanahu wa ta’ala utus kepada seluruh manusia dan telah mereka temukan dalam kitab mereka, Taurat dan Injil….” (Syarah Nawaqidhul Islam hlm. 78)

Seorang muslim harus tunduk kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya, mengkafirkan orang yang dikafirkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya. Dia tidak boleh ragu tentang kekafiran mereka, apalagi membenarkan keyakinan mereka.

 

Makar Melemahkan Akidah Umat

Di antara yang mengancam akidah umat adalah munculnya orang-orang yang terus melancarkan propaganda untuk menolerir dan membenarkan Yahudi serta Nasrani. Di antara bentuk makar mereka ialah:

  1. Menyuarakan persatuan agama Seruan mereka berkonsekuensi bahwa Islam, Yahudi, dan Nasrani adalah agama samawi yang benar. Bahkan, mereka mengadakan forum untuk memulibkasikan seruan sesat mereka ini dalam berbagai bentuk kemasan.
  2. Seruan toleransi antaragama dengan meyakini kebenaran semuaagama.
  3. Menyuarakan bahwa agama yang tiga semuanya menyampaikan pemeluknya kepada Allah subhanahu wa ta’ala
  4. Melakukan pembelaan dengan berdebat guna membela Yahudi dan Nasrani, dengan menyatakan, “Jangan sebut mereka sebagai orang kafir.”
  5. Mendoakan limpahan rahmat ketika ada berita kematian seorang pemuka agama Nasrani (uskup, paus, dll.).

(Lihat Syarah Nawaqidhul Islam karya asy-Syaikh Ubaid al-Jabiri hlm. 43)

Demikianlah makar Yahudi dan Nasrani serta para pembelanya. Mereka tak pernah bosan untuk mejerumuskan kaum muslimin ke dalam kesesatan. Ini adalah bukti kebenaran firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَلَن تَرۡضَىٰ عَنكَ ٱلۡيَهُودُ وَلَا ٱلنَّصَٰرَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمۡۗ

“Orang Yahudi dan Nasrani tidak akan ridha kepadamu sampai engkau mengikuti agama mereka.” (al-Baqarah: 120)

Maka dari itu, marilah kita bersemangat memperdalam ilmu agama, terkhusus ilmu akidah, agar bisa selamat dari makar dan tipu daya orang kafir. Bersemangatlah menyebarkan ilmu akidah kepada umat secara umum, mudah-mudahan menjadi sebab mereka terjaga dari berbagai penyimpangan dan kesesatan.

Wallahul Muwaffiq.

Ditulis oleh al-Ustadz Abdurrahman Mubarak

Permusuhan Terhadap Dakwah Tauhid

Sesosok tubuh diseret di padang pasir, di bawah terik panas matahari yang menyengat, bagaikan bangkai yang mengeluarkan bau yang menjijikkan. Ia diseret menjadi bulan-bulanan, bahan olokan dan ejekan “anak-anak yang terhormat”.

Tubuh manusia yang dihormati oleh Penciptanya menjadi tidak bernilai dalam pandangan mereka. Lebih berharga anjing piaraan, keledai tunggangan, dan binatang yang tidak berakal.

Betapa sengsara tubuh yang diperlakukan sedemikian rupa dan dipermalukan menjadi tontonan semua orang. Di padang pasir, di bawah sengatan matahari, badan tidak dibungkus dengan secarik kain. Betapa panasnya, betapa sakitnya. Betapa kejamnya, betapa menyayatnya.

Semua itu mereka lakukan kepadanya agar dia jera, menyesal, tobat, dan segera meninggalkan keyakinan baru yang dia anut. Ternyata, yang mereka hadapi adalah seorang insan berjiwa besar. Keyakinannya kokoh bak gunung batu yang tidak bisa digoyahkan.

Mereka bisa menyobek-nyobek tubuhnya. Namun, jangan harap bisa menyentuh kalbu yang sudah disinari hidayah, apalagi menyobeknya. Justru mereka yang menyesal dan merugi. Mereka dipermalukan oleh adegan sikap manusia pengecut. Langkah kediktatoran tidak menghasilkan apa-apa.

Mereka lalu mencoba langkah diplomasi dengan menawarkan berbagai kesenangan dunia, yang harus dibayar membuang hidayah yang telah mendiami hatinya. Akan tetapi, sekali lagi, sosok tubuh yang menuntut keadilan dan ingin lepas dari belenggu kezaliman tersebut tidak menggubrisnya. Bahkan, tidak pula ia melakukan tawar-menawar dengan dunia yang fana. Dialah sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia, Bilal bin Rabah radhiallahu ‘anhu.

Mengapa dia diperlakukan sedemikan rupa? Apakah Bilal mengusik dunia mereka? Ataukah dia mengambil harta benda mereka? Ataukah karena keyakinannya berbeda dengan keyakinan mereka?

 Awal Permusuhan terhadap Dakwah Tauhid

Sejarah permusuhan terhadap dakwah tauhid telah berlangsung sejak lama. Ia akan terus berlangsung sampai datang keputusan Allah subhanahu wa ta’ala. Generasi demi generasi datang, abad demi abad menyusul, tahun demi tahun berganti, genderang permusuhan terhadap dakwah tauhid terus ditabuh. Dalang utamanya adalah Iblis la’natullah ‘alaih.

Permusuhan terhadap dakwah tauhid kemudian diteruskan oleh sederetan tokoh yang memiliki ilmu, hujah, dan kitab yang banyak. Inilah yang digambarkan oleh asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah dalam kitab Kasyfus Syubuhat,

“Ketahuilah, termasuk hikmah Allah subhanahu wa ta’ala adalah Dia tidak mengutus seorang nabi membawa tauhid ini, melainkan Dia menjadikan untuknya musuh yang banyak. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَكَذَٰلِكَ جَعَلۡنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوّٗا شَيَٰطِينَ ٱلۡإِنسِ وَٱلۡجِنِّ يُوحِي بَعۡضُهُمۡ إِلَىٰ بَعۡضٖ زُخۡرُفَ ٱلۡقَوۡلِ غُرُورٗاۚ

“Demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan jin. Sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah untuk menipu (manusia).” (al-An’am: 112)

Terkadang, musuh-musuh tauhid memiliki ilmu yang banyak, kitab-kitab, dan hujah-hujah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَلَمَّا جَآءَتۡهُمۡ رُسُلُهُم بِٱلۡبَيِّنَٰتِ فَرِحُواْ بِمَا عِندَهُم مِّنَ ٱلۡعِلۡمِ

“Tatkala datang kepada mereka rasul-rasul (yang diutus kepada) mereka membawa keterangan-keterangan, mereka merasa bangga dengan pengetahuan yang ada pada mereka.” (Ghafir: 83) (Matan Kasyfus Syubuhat hlm. 3)

Telah menjadi sunnatullah yang tidak akan berganti, permusuhan dan bendera peperangan melawan dakwah tauhid terus dikibarkan. Jangan heran ketika yang menyuarakan permusuhan tersebut justru orang Islam.

Ini menunjukkan bahwa ideologi Iblis la’natullah ‘alaih mudah diterima dan cocok untuk diterapkan, sesuai dengan hawa nafsu dan sejalan dengan ajaran nenek moyang. Kita pun teringat dengan sumpah Iblis,

قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغۡوِيَنَّهُمۡ أَجۡمَعِينَ ٨٢

Iblis berkata, “Demi kekuasaan-Mu, sungguh aku akan menyesatkan mereka semuanya.” (Shad: 82)

Manuver-manuver jahat dan segala syubhat yang dilontarkan telah menelan banyak korban. Contoh nyata adalah sederetan lembaga yang berlambangkan dan menyuarakan Islam. Isinya adalah para cendekiawan. Akan tetapi, mereka ikut melancarkan ketidaksukaannya terhadap dakwah tauhid. Mereka mengeluarkan berbagai pernyataan yang mendiskreditkan ajaran tauhid yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

يُرِيدُونَ أَن يُطۡفِ‍ُٔواْ نُورَ ٱللَّهِ بِأَفۡوَٰهِهِمۡ وَيَأۡبَى ٱللَّهُ إِلَّآ أَن يُتِمَّ نُورَهُۥ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡكَٰفِرُونَ ٣٢

“Mereka ingin memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai.” (at-Taubah: 32)

Hal ini terjadi karena sebagian kaum muslimin lebih mengikuti dan mengagumi cara pandang orang-orang kafir. Oleh karena itu, Allah subhanahu wa ta’ala memperingatkan umat Islam agar tidak mengambil orang di luar mereka sebagai teman yang tepercaya.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّخِذُواْ بِطَانَةٗ مِّن دُونِكُمۡ لَا يَأۡلُونَكُمۡ خَبَالٗا وَدُّواْ مَا عَنِتُّمۡ قَدۡ بَدَتِ ٱلۡبَغۡضَآءُ مِنۡ أَفۡوَٰهِهِمۡ وَمَا تُخۡفِي صُدُورُهُمۡ أَكۡبَرُۚ قَدۡ بَيَّنَّا لَكُمُ ٱلۡأٓيَٰتِۖ إِن كُنتُمۡ تَعۡقِلُونَ ١١٨ هَٰٓأَنتُمۡ أُوْلَآءِ تُحِبُّونَهُمۡ وَلَا يُحِبُّونَكُمۡ وَتُؤۡمِنُونَ بِٱلۡكِتَٰبِ كُلِّهِۦ وَإِذَا لَقُوكُمۡ قَالُوٓاْ ءَامَنَّا وَإِذَا خَلَوۡاْ عَضُّواْ عَلَيۡكُمُ ٱلۡأَنَامِلَ مِنَ ٱلۡغَيۡظِۚ قُلۡ مُوتُواْ بِغَيۡظِكُمۡۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمُۢ بِذَاتِ ٱلصُّدُورِ ١١٩ إِن تَمۡسَسۡكُمۡ حَسَنَةٞ تَسُؤۡهُمۡ وَإِن تُصِبۡكُمۡ سَيِّئَةٞ يَفۡرَحُواْ بِهَاۖ وَإِن تَصۡبِرُواْ وَتَتَّقُواْ لَا يَضُرُّكُمۡ كَيۡدُهُمۡ شَيۡ‍ًٔاۗ إِنَّ ٱللَّهَ بِمَا يَعۡمَلُونَ مُحِيطٞ ١٢٠ وَإِذۡ غَدَوۡتَ مِنۡ أَهۡلِكَ تُبَوِّئُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ مَقَٰعِدَ لِلۡقِتَالِۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ ١٢١

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu. Mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudaratan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkanmu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh, telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kalian memahaminya.

Beginilah kalian. Kalian menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukaimu, dan kalian beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila menjumpaimu, mereka berkata, “Kami beriman.” Apabila menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadapmu.

Katakanlah (kepada mereka), “Matilah kalian karena kemarahan kalian itu.” Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati.

Jika kalian memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati. Akan tetapi, jika kalian mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kalian bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikit pun tidak memudaratkan kalian. Sesungguhnya Allah mengetahui segala yang mereka kerjakan. (Ali ‘Imran: 118—121)

Padahal, Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman,

لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ ٱلنَّاسِ عَدَٰوَةٗ لِّلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱلۡيَهُودَ وَٱلَّذِينَ أَشۡرَكُواْۖ

“Sesungguhnya, kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.” (al-Maidah: 82)

As-Sa’di rahimahullah berkata, “Kedua kelompok ini (Yahudi dan musyrikin) adalah orang yang paling keras permusuhannya terhadap Islam dan kaum muslimin, secara mutlak.

Mereka adalah kaum yang paling sering melakukan makar untuk menimpakan malapetaka terhadap kaum muslimin. Hal itu didasari oleh kebencian mereka yang memuncak, kezaliman, hasad, penentangan, dan kekafiran mereka.” (Tafsir as-Sa’di hlm. 203 )

 Berbagai Makar Musuh Tauhid

  1. Mencela para pembawa risalah Allah subhanahu wa ta’ala, mencela, dan merendahkan para pengikutnya.

Mereka melakukannya dengan menyematkan berbagai gelar, julukan, dan sifat yang jelek lagi memalukan.

فَقَالَ ٱلۡمَلَأُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِن قَوۡمِهِۦ مَا نَرَىٰكَ إِلَّا بَشَرٗا مِّثۡلَنَا وَمَا نَرَىٰكَ ٱتَّبَعَكَ إِلَّا ٱلَّذِينَ هُمۡ أَرَاذِلُنَا بَادِيَ ٱلرَّأۡيِ وَمَا نَرَىٰ لَكُمۡ عَلَيۡنَا مِن فَضۡلِۢ بَلۡ نَظُنُّكُمۡ كَٰذِبِينَ ٢٧

Berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya, “Kami tidak melihatmu melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikutimu melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja. Dan Kami tidak melihatmu memiliki sesuatu kelebihan apa pun atas kami. Bahkan, kami yakin bahwa kalian adalah orang-orang yang berdusta.” (Hud: 27)

وَعَجِبُوٓاْ أَن جَآءَهُم مُّنذِرٞ مِّنۡهُمۡۖ وَقَالَ ٱلۡكَٰفِرُونَ هَٰذَا سَٰحِرٞ كَذَّابٌ ٤

Mereka heran karena didatangi seorang pemberi peringatan (Rasul) dari kalangan mereka; dan orang-orang kafir berkata, “Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta.” (Shad: 4)

وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُوٓاْ ءَالِهَتِنَا لِشَاعِرٖ مَّجۡنُونِۢ ٣٦

Dan mereka berkata, “Apakah kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami karena seorang penyair gila?” (ash-Shaffat: 36)

 

  1. Tokoh-tokoh mereka berusaha menanamkan kebencian yang besar dalam jiwa para pengikutnya.

Mereka menyebut bahwa para utusan Allah subhanahu wa ta’ala adalah perusak, pembawa ajaran sesat dan menyesatkan. Sebaliknya, mereka adalah orang-orang yang melakukan perbaikan dan mengarahkan ke jalan yang lurus.

Mereka menuduh orang-orang yang mengikuti langkah para rasul sebagai pembawa paham radikal, menghidupkan mazhab baru, pengacau dan perusak ukhuwah di tengah-tengah umat.

وَقَالَ فِرۡعَوۡنُ ذَرُونِيٓ أَقۡتُلۡ مُوسَىٰ وَلۡيَدۡعُ رَبَّهُۥٓۖ إِنِّيٓ أَخَافُ أَن يُبَدِّلَ دِينَكُمۡ أَوۡ أَن يُظۡهِرَ فِي ٱلۡأَرۡضِ ٱلۡفَسَادَ ٢٦

Dan Fir’aun berkata (kepada pembesar-pembesarnya), “Biarkanlah aku membunuh Musa dan hendaklah ia memohon kepada Rabbnya. Sungguh, aku khawatir dia akan menukar agama kalian atau menimbulkan kerusakan di muka bumi.” (Ghafir: 26)

قَالَ فِرۡعَوۡنُ مَآ أُرِيكُمۡ إِلَّا مَآ أَرَىٰ وَمَآ أَهۡدِيكُمۡ إِلَّا سَبِيلَ ٱلرَّشَادِ ٢٩

Fir’aun berkata, “Aku tidak mengemukakan kepada kalian melainkan apa yang aku pandang baik; dan aku tidak menunjuki kalian selain ke jalan yang benar.” (Ghafir: 29)

 

  1. Mengancam, menyiksa, mengucilkan, memboikot, bahkan membunuh para utusan Allah subhanahu wa ta’ala.

Mereka lakukan hal ini terhadap Nabi Yahya ‘alaihissalam dan Nabi Zakariya ‘alaihissalam. Demikian juga yang mereka perbuat terhadap para pengikut rasul-rasul Allah subhanahu wa ta’ala. Mereka melakukannya sebagai jalan terakhir untuk meluapkan kebencian mereka terhadap dakwah tauhid.

Kisah tentang para nabi dan rasul yang menggambarkan hal ini masih demikian lekat di benak kita. Dalam al-Qur’an, Allah subhanahu wa ta’ala menceritakan sekian banyak kehidupan para nabi dan rasul, berikut segala rintangan yang menimpa mereka dan para pengikutnya.

Terhadap Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, inilah yang mereka lakukan.

قَالُواْ حَرِّقُوهُ وَٱنصُرُوٓاْ ءَالِهَتَكُمۡ إِن كُنتُمۡ فَٰعِلِينَ ٦٨

Mereka berkata, “Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kalian, jika kalian benar-benar hendak bertindak.” (al-Anbiya: 68)

Terhadap Nabi Musa ‘alaihissalam, inilah yang mereka perbuat.

قَالَ ءَامَنتُمۡ لَهُۥ قَبۡلَ أَنۡ ءَاذَنَ لَكُمۡۖ إِنَّهُۥ لَكَبِيرُكُمُ ٱلَّذِي عَلَّمَكُمُ ٱلسِّحۡرَۖ فَلَأُقَطِّعَنَّ أَيۡدِيَكُمۡ وَأَرۡجُلَكُم مِّنۡ خِلَٰفٖ وَلَأُصَلِّبَنَّكُمۡ فِي جُذُوعِ ٱلنَّخۡلِ وَلَتَعۡلَمُنَّ أَيُّنَآ أَشَدُّ عَذَابٗا وَأَبۡقَىٰ ٧١

Fir’aun berkata, “Apakah kamu telah beriman kepadanya (Musa) sebelum aku memberi izin kepada kalian? Sesungguhnya, ia adalah pemimpin kalian yang mengajarkan sihir kepadamu sekalian. Sesungguhnya, aku akan memotong tangan dan kaki kamu sekalian dengan bersilang secara bertimbal balik. Sesungguhnya aku akan menyalib kamu sekalian pada pangkal pohon kurma, dan sesungguhnya kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya.” (Thaha: 71)

 Mengapa Mereka Memusuhi Dakwah Tauhid?

Berikut ini adalah beberapa alasan yang menyebabkan mereka memusuhi dakwah tauhid.

  1. Mempertahankan ajaran nenek moyang

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَإِذَا قِيلَ لَهُمۡ تَعَالَوۡاْ إِلَىٰ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ وَإِلَى ٱلرَّسُولِ قَالُواْ حَسۡبُنَا مَا وَجَدۡنَا عَلَيۡهِ ءَابَآءَنَآۚ أَوَلَوۡ كَانَ ءَابَآؤُهُمۡ لَا يَعۡلَمُونَ شَيۡ‍ٔٗا وَلَا يَهۡتَدُونَ ١٠٤

Apabila dikatakan kepada mereka, “Marilah mengikuti apa yang diturunkan oleh Allah dan mengikuti Rasul”, mereka menjawab, “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati dikerjakan oleh bapak-bapak kami.” Apakah mereka akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk? (al-Maidah: 104)

  1. Mempertahankan kedudukan mereka di mata umat

وَجَآءَ ٱلسَّحَرَةُ فِرۡعَوۡنَ قَالُوٓاْ إِنَّ لَنَا لَأَجۡرًا إِن كُنَّا نَحۡنُ ٱلۡغَٰلِبِينَ ١١٣ قَالَ نَعَمۡ وَإِنَّكُمۡ لَمِنَ ٱلۡمُقَرَّبِينَ ١١٤

Beberapa ahli sihir itu datang kepada Fir’aun dan mengatakan, “(Apakah) sesungguhnya kami akan mendapat upah, jika kami yang menang?”

Fir’aun menjawab, “Ya, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan termasuk orang-orang yang dekat (kepadaku).” (al-A’raf: 113—114)

 

  1. Kekhawatiran mereka kehilangan kenikmatan dunia

Yang tidak kalah penting adalah mereka mengobarkan permusuhan terhadap dakwah tauhid karena dunia fana yang mereka kejar. Janji-janji dunia telah memikat hati mereka. Mereka cenderung ingin hidup bahagia meski di atas penderitaan para pengikut yang telah mereka sesatkan.

 Akibat Memusuhi Dakwah Tauhid

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَتِلۡكَ عَادٞۖ جَحَدُواْ بِ‍َٔايَٰتِ رَبِّهِمۡ وَعَصَوۡاْ رُسُلَهُۥ وَٱتَّبَعُوٓاْ أَمۡرَ كُلِّ جَبَّارٍ عَنِيدٖ ٥٩ وَأُتۡبِعُواْ فِي هَٰذِهِ ٱلدُّنۡيَا لَعۡنَةٗ وَيَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِۗ أَلَآ إِنَّ عَادٗا كَفَرُواْ رَبَّهُمۡۗ أَلَا بُعۡدٗا لِّعَادٖ قَوۡمِ هُودٖ ٦٠

“Dan itulah (kisah) kaum ‘Ad yang mengingkari tanda-tanda kekuasaan Rabb mereka. Mereka mendurhakai rasul-rasul Allah dan menuruti perintah semua penguasa yang sewenang-wenang lagi menentang (kebenaran). Mereka selalu diikuti oleh kutukan di dunia ini dan (begitu pula) di hari kiamat. Ingatlah, sesungguhnya kaum ‘Ad itu kafir kepada Rabb mereka. Ingatlah, kebinasaanlah bagi ‘Ad (yaitu) kaum Hud itu.” (Hud: 59—60)

وَأَخَذَ ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ ٱلصَّيۡحَةُ فَأَصۡبَحُواْ فِي دِيَٰرِهِمۡ جَٰثِمِينَ ٦٧ كَأَن لَّمۡ يَغۡنَوۡاْ فِيهَآۗ أَلَآ إِنَّ ثَمُودَاْ كَفَرُواْ رَبَّهُمۡۗ أَلَا بُعۡدٗا لِّثَمُودَ ٦٨

“Dan satu suara keras yang mengguntur menimpa orang-orang yang zalim itu, lalu mereka mati bergelimpangan di rumahnya, seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu. Ingatlah, sesungguhnya kaum Tsamud mengingkari Rabb mereka. Ingatlah, kebinasaanlah bagi kaum Tsamud.” (Hud: 67—68)

 Dakwah Tauhid Pasti Akan Menang

Musuh-musuh dakwah tauhid sering berkhayal akan kemenangan yang gemilang dan mampu memadamkan cahaya dakwah tauhid. Mereka berusaha menyusun berbagai strategi jitu, langkah yang terorganisir, organisasi yang rapi dan tangguh, tokoh-tokoh yang handal, berani, berilmu, dan bermartabat.

Usaha-usaha seperti ini pernah dilakukan oleh orang-orang jahiliah terhadap Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para pengikutnya. Akan tetapi, mereka mengalami kekalahan yang telak dan kegagalan yang nyata. Akankah kalian, wahai musuh dakwah tauhid, akan mencobanya lagi?

إِنَّ ٱلۡأَرۡضَ لِلَّهِ يُورِثُهَا مَن يَشَآءُ مِنۡ عِبَادِهِۦۖ وَٱلۡعَٰقِبَةُ لِلۡمُتَّقِينَ ١٢٨

“Sesungguhnya bumi (ini) milik Allah; dipusakakan-Nya kepada siapa yang dihendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (al-A’raf: 128)

وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَيَسۡتَخۡلِفَنَّهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ كَمَا ٱسۡتَخۡلَفَ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمۡ دِينَهُمُ ٱلَّذِي ٱرۡتَضَىٰ لَهُمۡ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّنۢ بَعۡدِ خَوۡفِهِمۡ أَمۡنٗاۚ يَعۡبُدُونَنِي لَا يُشۡرِكُونَ بِي شَيۡ‍ٔٗاۚ وَمَن كَفَرَ بَعۡدَ ذَٰلِكَ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ ٥٥

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa. Sungguh, Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Ku. dan Barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (an-Nur: 55)

Suatu kali, Khabbab ibnul Arat radhiallahu ‘anhu melapor kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sedang berbaring berbantalkan selendangnya di salah satu naungan Ka’bah. Dia mengatakan, “Tidakkah engkau mau memintakan pertolongan untuk kami, mendoakan kebaikan untuk kami?”

Beliau menjawab, “Sungguh, ada orang sebelum kalian disiksa dan digalikan lubang lalu diletakkan di dalamnya. Kemudian kepalanya digergaji dan dibelah menjadi dua. Yang lain disisir dengan sisir besi hingga mengelupas kulit kepalanya. Akan tetapi, semuanya tidak menyebabkan dia terhalang dari jalan agama Allah.

Demi Allah, Dia akan benar-benar meyempurnakan agamanya hingga seseorang yang melakukan perjalananan dari Shan’a menuju Hadhramaut tidak takut lagi selain kepada Allah dan serigala yang akan menerkam kambing. Akan tetapi, kalian tergesa-gesa.” (HR. al-Bukhari no. 6943)

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam kitab Kasyfus Syubuhat mengatakan, “Orang awam dari kalangan ahli tauhid akan mengalahkan seribu ulama ahlu syirik, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَإِنَّ جُندَنَا لَهُمُ ٱلۡغَٰلِبُونَ ١٧٣

‘Dan tentara-tentara Kami pasti menang’. (ash-Shaffat: 173)

Jadi, tentara Allah subhanahu wa ta’ala selalu menang dengan hujah dan lisan, sebagaimana halnya mereka selalu menang dengan pedang dan tombak. Akan tetapi, yang dikhawatirkan adalah seorang yang bertauhid dan menempuh jalan tanpa membawa senjata.” (Matan Kasyfus Syubuhat hlm. 3)

Wallahul Musta’an.

 Ditulis oleh al-Ustadz Abu Usamah Abdur Rahman

Kesesatan kesesatan syiah pada hari Asyura

Hari Asyura adalah hari kesepuluh bulan Muharam. Pada hari tersebut, Allah subhanahu wa ta’ala menyelamatkan Nabi Musa ‘alaihissalam dan Bani Israil dari musuh mereka. Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, dia berkisah,

قَدِمَ النَّبِىُّ الْمَدِينَةَ، فَرَأَى الْيَهُودَ تَصُومُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ ، فَقَالَ: مَا هَذَا. قَالُوا: هَذَا يَوْمٌ صَالِحٌ، هَذَا يَوْمٌ نَجَّى اللهُ بَنِى إِسْرَائِيلَ مِنْ عَدُوِّهِمْ، فَصَامَهُ مُوسَى. قَالَ: فَأَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ. فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ

Rasulullah datang ke Madinah, ketika itu beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa di hari Asyura. Beliau berkata, “Ada apa mereka(berpuasa)?”

Mereka menjawab, “Ini adalah hari yang baik, Allah subhanahu wa ta’ala selamatkan di hari ini Musa dan bani Israil dari musuhnya.” Musa pun berpuasa di hari tersebut.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Aku lebih berhak untuk mengikuti Musa dibandingkan kalian.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berpuasa di hari tersebut dan memerintahkan untuk berpuasa di hari tersebut. (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Qatadah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

وَصَيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ

“Puasa hari Asyura—aku berharap kepada Allah subhanahu wa ta’ala—akan menghapuskan dosa setahun sebelumnya.” (HR. Muslim)

Demikianlah tuntunan dalam Islam, disunnahkan bagi kaum muslimin berpuasa di hari Asyura, dan dianjurkan berpuasa juga di tanggal sembilan, hari tasu’a, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ

“Jika (bertemu) tahun depan, aku akan berpuasa juga di tanggal sembilannya.” (HR. Muslim)

Tuntunan yang ada dalam Islam di hari Asyura adalah berpuasa dan tidak ada ritual apa pun.

Namun, kemudian muncul orang-orang yang melakukan kebid’ahan dalam agama ini. Sebagian mereka menampakkan kesedihan di hari tersebut dan sebagian mereka menampakkan kegembiraan merayakan hari tersebut.

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Dengan sebab meninggalnya al-Husain, setan mengadakan dua kebid’ahan bagi manusia;

(1) bid’ah kesedihan dan meratap di hari Asyura dengan menampar pipi, menjerit, menangis, dan membaca syair duka…; dan

(2) bid’ah kegembiraan dan kebahagiaan, mereka menganjurkan di hari Asyura untuk bercelak, mandi, memberi kelapangan untuk keluarga, membuat makanan yang tidak biasa dibuat….

Semua ini adalah kebid’ahan yang sesat, tidak ada satu pun dari imam yang empat mengajurkan bersedih ataupun bergembira.” (Diringkas dari Minhajus Sunnah)

 Bid’ah dan Kesesatan Syiah pada Hari Asyura

Di antara orang yang melakukan kebid’ahan di hari Asyura adalah Syiah, mereka menjadikan hari tersebut sebagai hari berkabung, hari bersedih, dan meratap. Mereka mengaku sedang meratapi meninggalnya Husain bin Ali radhiallahu ‘anhuma.

Berbagai macam kesesatan dan kemungkaran mereka lakukan di hari tersebut; meratap, menempeleng pipi, wajah bahkan menyayat tubuh-tubuh mereka, melukai kepala, mengucurkan darah-darah mereka, memukul pundakpundak mereka dengan rantai, dan perbuatan mungkar lainnya.

Mereka menampakkan kesedihan pada hari meninggalnya al-Husain, padahal mereka sendiri penyebab meninggalnya. Mereka telah menipunya dan menyerahkan al-Husain radhiallahu ‘anhu hingga beliau terbunuh.

Apa yang dilakukan Syiah di hari Asyura sangat bertentangan dengan akidah Islam. Islam melarang meratap, melakukan perbuatan yang menunjukkan tidak menerima takdir Allah subhanahu wa ta’ala ketika ada musibah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَطَمَ الْخُدُودَ، وَشَقَّ الْجُيُوبَ، وَدَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّة

“Bukanlah termasuk golongan kami seorang yang menempeleng pipi, merobek kerah baju, dan meratap seperti ratapan jahiliah.” (HR. al-Bukhari & Muslim)

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

اثْنَتَانِ فِي النَّاسِ هُمَا بِهِمْ كُفْرٌ؛ الطَّعْنُ فِي النَّسَبِ وَالنِّيَاحَةُ عَلَى الْمَيِّتِ

“Dua hal ada pada manusia, dengan keduanya mereka terjebak dalam kekufuran: mencela nasab dan meratap mayit.” (HR. Muslim)

Apa yang dilakukan oleh Syiah, meratapi meninggalnya al-Husain di setiap hari Asyura dengan melakukan berbagai kemungkaran, sangatlah bertentangan dengan hadits-hadits di atas.

 

Pelajaran Penting dari Kisah Terbunuhnya al-Husain

Ketika Yazid bin Muawiyah dibaiat menjadi khalifah, al-Husain tidak berbaiat kepadanya. Ketika orang-orang Irak mendengar berita tersebut, mereka pun mengirim utusan dan surat panggilan untuk berbaiat kepadanya.

Mengapa demikan? Karena mereka tidak menginginkanYazid bin Muawiyah, bapaknya, tidak juga menginginkan Utsman, Umar, dan Abu Bakar ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhum. Mereka hanya ingin berbaiat kepada Ali dan anak keturunannya.

Al-Husain kemudian mengutus Muslim bin Aqil bin Abi Thalib untuk berangkat ke Kufah dalam rangka memastikan berita yang sampai kepadanya.

Sesampai di Kufah, Muslim bin Aqil pun yakin bahwasanya mereka menginginkan al-Husain. Orang-orang Kufah pun membaiat Muslim bin Aqil sebagai wakil baiat kepada al-Husain.

Ketika berita ini sampai kepada Yazid bin Muawiyah di Syam, maka Yazid pun mengutus Ubaidillah bin Ziyad untuk menanganinya, mencegah orang Kufah memberontak kepadanya. Ketika datang di Kufah, Ubaidillah bin Ziyad mencari-cari berita hingga dia tahu bahwa rumah Hani bin Urwah yang pernah jadi tempat baiat adalah merupakan tempat tinggal Muslim bin Aqil.

Muslim bin Aqil pun keluar bersama 4.000 pendukungnya (penduduk Kufah???) mengepung istana Ubaidillah bin Ziyad. Ubaidillah bin Ziyad berdiri menakut-nakuti mereka dengan kedatangan pasukan dari Syam. Mereka pun pergi meninggalkan Muslim bin Aqil, kecuali tinggal 30 orang saja. Namun, tidak berapa lama beliau tinggal seorang diri. Beliau ditangkap dan diperintah untuk dibunuh. Sebelum dibunuh, Muslim bin Aqil meminta izin untuk menulis surat kepada al-Husain, yang isinya,

Kembalilah engkau bersama keluargamu. Janganlah engkau tertipu oleh penduduk Kufah, karena penduduk Kufah telah berdusta kepadamu dan kepadaku….

Sebagian sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ada ketika itu sempat meminta beliau untuk mengurungkan niatnya berangkat ke Kufah, menasihati beliau untuk tidak memenuhi panggilan para pengkhianat tersebut.

Namun, takdir Allah subhanahu wa ta’ala menghendaki terjadinya peristiwa Karbala. Al-Husain dan sebagian keluarga beliau dari ahlul bait Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal di sana. Beliau meninggal dikhianati oleh kalian, wahai Syiah!

Mengapa kalian menampakkan diri sebagai orang yang berduka, padahal kalian yang telah berbuat?!

Demikianlah Syiah Rafidhah….

Makar dan pengkhianatan mereka lakukan, namun mereka menampakkan sebagai seorang yang bersih, sebagai seorang pembela….

Padahal tangan-tangan mereka berlumuran darah kaum muslimin… .

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Sesungguhnya, sumber keburukan dan musibah adalah Rafidhah dan yang tergabung bersama mereka. Kebanyakan pedang yang ada dalam Islam adalah dari arah mereka, dengan sebab mereka orang-orang zindiq bisa menyembunyikan diri.” (Minhajus Sunnah)

Beliau juga berkata, “Mereka berwala’ kepada musuh-musuh Allah subhanahu wa ta’ala, yang semua orang tahu itu adalah musuh, baik Yahudi, Nasrani, atau munafikin. Memusuhi wali-wali Allah subhanahu wa ta’ala, padahal mereka adalah orang-orang pilihan di agama ini dan tokoh orang bertakwa. Merekalah yang menjadi sebab kaum Nasrani menguasai Baitul Maqdis, sampai akhirnya kaum muslimin merebutnya kembali.”

Di antara makar dan pengkhianatan yang mereka lakukan adalah, makar yang mereka lakukan di musim haji tahun ini. Ratusan kaum muslimin yang menunaikan ibadah haji meninggal dunia, ratusan lainnya terluka, ketika hendak melempar jumrah di Mina.

Siapa yang berulah?

Mereka Syiah, jamaah Iran yang berbuat, tidak patuh aturan, bahkan di beberapa kesempatan membuat provokasi dan kegaduhan. Lihat, mereka yang berbuat, tetapi justru mereka yang lantang berkata keras kepada pemerintah negeri tauhid.

Justru tokoh Iran, para tokoh Syiah, menghujat penguasa negeri tauhid, dengan berbagai macam tuduhan dan hujatan nista. Inilah di antara makar Syiah kepada kaum muslimin.

وَمَكَرُواْ وَمَكَرَ ٱللَّهُۖ وَٱللَّهُ خَيۡرُ ٱلۡمَٰكِرِينَ ٥٤

“Mereka berbuat makar dan Allah akan membalas makar mereka, Allah adalah sebaik-baik yang membalas makar.” (Ali ‘Imran: 54)

Jika kita kembali membaca sejarah, maka kita akan dapatkan kejahatan Syiah di tanah suci ketika kaum muslimin sedang menunaikan ibadah haji bukanlah sesuatu yang baru.

Mereka telah berulangkali melakukan makar dan pengkhianatan kepada kaum muslimin di musim haji. Ketika kaum muslimin sedang menunaikan rukun Islam yang kelima.

1985: Mereka menyelundupkan 51 kg bahan peledak C4 di tas jamaah haji.

1986: Mereka terlibat dalam kejahatan yang menyebabkan meninggalnya 300 orang jamaah haji karena saling dorong.

1987: Mereka melakukan pengeboman di Tanah Suci, di depan Masjidil Haram, yang menyebabkan meninggalnya 400 orang haji.

1990: Mereka membunuh para jamaah haji dengan gas yang menyebabkan meninggalnya 1.426 orang.

Bahkan, ada yang lebih dahsyat dari itu semua, yaitu yang dilakukan oleh Syiah Qaramithah pada 317 H, tepatnya di hari Tarwiyah. Mereka membantai 30 ribu jamaah haji. Kubah sumur Zamzam mereka bongkar. Pintu Ka’bah mereka cungkil. Mereka mencungkil Hajar Aswad dari tempatnya kemudian mereka bawa ke negeri mereka di Ahsa’.

Demikianlah Syiah Rafidhah, mereka adalah kelompok yang lebih jelek dari Khawarij. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Mazhab Rafidhah lebih jelek dari mazhab Khawarij yang telah lepas dari Islam. Puncak perbuatan Khawarij adalah mengafirkan Utsman dan Ali radhiallahu ‘anhuma. Adapun Rafidhah, mereka mengafirkan Abu Bakar, Umar, Utsman, dan jumhur orang-orang terdahulu. Mereka juga menentang sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melebihi dari penentangan Khawarij. Mereka berdusta, mengada-ada, ghuluw, dan melakukan berbagai penyimpangan yang tidak ada dilakukan oleh Khawarij. Mereka juga membantu orang kafir ketika melawan kaum muslimin.”

Hendaknya kita waspada dari makar orang-orang Syiah, terlebih sekarang mereka mulai menyusupkan orang-orang mereka ke posisi-posisi strategis. Mereka sebarkan pemikiran Syiah melalui buku, audio-video, pendirian sekolah, bahkan telah berani merayakan perayaan mereka secara terbuka di hadapan khalayak umum.

Kita meminta kepada Allah subhanahu wa ta’ala untuk menjaga kita dari kesesatan dan bahaya makar Syiah, memberikan bimbingan kepada kaum muslimin dan penguasa kaum muslimin kepada perkara yang diciantai dan diridhai-Nya.

Wallahul Muwaffiq.

Ditulis oleh al-Ustadz Abdur Rahman Mubarak

Bertabarruk Dengan Jejak dan Peninggalan Orang Saleh, Ghuluw Dalam Agama

Sesungguhnya setan menempuh dua jalan untuk menyesatkan setiap muslim. Jika dia termasuk pelaku dosa dan fasik, setan menempuh jalur syahwat dan menjatuhkannya ke dalam perangkapnya. Akibatnya, dia bertambah jauh dari jalan kebenaran dan petunjuk.

Akan tetapi, apabila dia kokoh berpegang dengan kebenaran niscaya dia akan menjadi orang selamat. Sebaliknya, apabila dia menyimpang dari kebenaran, kebinasaanlah yang menganga di hadapannya.

Lanjutkan membaca Bertabarruk Dengan Jejak dan Peninggalan Orang Saleh, Ghuluw Dalam Agama

Menyoal Urusan Gaib

Di antara hal yang penting dalam akidah Islam adalah beriman terhadap urusan gaib.

Telah banyak orang tersesat dalam masalah ini. Sebagian mereka terjatuh dalam kekufuran karena mengaku tahu ilmu gaib. Sebagian orang membenarkan pengakuan orang yang mengaku tahu ilmu gaib tersebut.

Tidak sedikit pula orang-orang yang tidak meyakini sebagian urusan gaib, mengingkari masalah-masalah akidah, seperti azab kubur, telaga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan lainnya.

  Lanjutkan membaca Menyoal Urusan Gaib

Tauhid Awal Dakwah Ilallah

Dakwah kepada jalan Allah subhanahu wa ta’ala menurut pandangan syariat adalah amalan dan bentuk ibadah yang besar, agung, dan mulia, apabila syaratnya terpenuhi dan tidak ada penghalangnya.

Dalil yang menunjukkan agungnya tugas ini sangat banyak, baik dari al- Qur’an, sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maupun amalan para nabi, rasul, serta orang-orang saleh.

Di antaranya ialah firman Allah, Lanjutkan membaca Tauhid Awal Dakwah Ilallah