Adab-adab Doa

Ketahuilah wahai saudariku, semoga Allah subhanahu wa ta’ala merahmatimu! Doa merupakan senjata orang-orang yang beriman. Sehingga seorang hamba tidak patut meninggalkan doa kepada Rabbnya. Apatah lagi telah ada perintah dan janji dari-Nya:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدۡعُونِيٓ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡۚ

“Berdoalah kalian kepada-Ku niscaya Aku akan mengabulkan permohonan kalian.” (al-Ghafir: 60)

Namun perlu kita perhatikan untuk berdoa itu ada adab-adabnya yang tidak boleh diabaikan bila memang diinginkan doa itu mustajab. Beberapa di antara adab tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Menjauhi makanan, minuman dan pakaian yang diperoleh dari hasil yang haram. Dalam hadits Abu Hurairah rahimahullah disebutkan:

Kemudian Rasulullah menyebutkan seorang lelaki yang telah menempuh perjalanan yang panjang, dalam keadaan kusut masai lagi berdebu. Ia membentangkan kedua tangannya ke langit seraya berdoa: “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku!” Sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan ia diberi makan dari yang haram, lalu dari mana doanya akan dikabulkan ? (HR. Muslim no. 2343 kitab Az-Zakah, bab Qabulush Shadaqah minal Kasbith Thayyib)

 

  1. Mengikhlaskan doa hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala sebagaimana Dia Yang Maha Suci berfirman:

فَٱدۡعُواْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ

“Berdoalah kalian kepada Allah dalam keadaan mengikhlaskan agama untuk-Nya.” (al-Ghafir: 14)

 

  1. Tawassul kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan amalan shalih yang pernah dilakukan sebagaimana kisah tiga orang yang terperangkap dalam gua, tidak bisa keluar darinya, kemudian masing-masingnya berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan menyebut amalan shalih yang pernah mereka lakukan hingga akhirnya Allah subhanahu wa ta’ala pun memerintahkan batu yang menutupi mulut gua tersebut agar bergeser hingga mereka bertiga dapat keluar darinya. (lihat HR. Bukhari no. 3465, kitab Ahaditsul Anbiya’, bab Haditsul Ghar dan Muslim no. 6884, kitab At-Taubah, bab Qishshah Ashabil Ghar Ats-Tsalatsah wat Tawassul bi Shalihil A‘mal)

 

  1. Menghadap kiblat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mendoakan umatnya, beliau berdoa dengan mengangkat tangan sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut ini: ‘Amr ibnul ‘Ash rahimahullah berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca firman Allah subhanahu wa ta’ala tentang doa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam:

Wahai Rabbku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan banyak manusia maka siapa yang mau mengikutiku berarti ia termasuk golonganku.

Nabi ‘Isa  ‘alaihissalam berkata:

“Jika Engkau mengazab mereka maka sungguh mereka adalah hamba-hamba-Mu dan jika Engkau mengampuni mereka maka sesungguhnya Engkau adalah Maha Perkasa lagi memiliki hikmah.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengangkat kedua tangannya seraya berdoa:

“Ya Allah! Umatku, umatku. Dan beliau menangis.” (HR. Muslim no. 489, kitab Al-Iman, bab Du‘an Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam li Ummatihi wa Buka’uhu Syafaqatan ‘alaihim)

Di antara faedah yang didapatkan dari hadits di atas kata Al-Imam An-Nawawi rahimahullah adalah disenanginya mengangkat kedua tangan ketika berdoa. (Al-Minhaj, 3/74)

 

  1. Membentangkan kedua tangan dengan dalil sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala malu bila seorang hamba-Nya membentangkan kedua tangannya untuk memohon kebaikan kepada-Nya lalu ia mengembalikan kedua tangan itu dalam keadaan hampa/gagal.” (HR. Ahmad 5/438, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 1757)

 

  1. Meminta kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan menyebut nama-nama-Nya yang indah (Al-Asma’ul Husna), Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَلِلَّهِ ٱلۡأَسۡمَآءُ ٱلۡحُسۡنَىٰ فَٱدۡعُوهُ بِهَاۖ

“Milik Allah-lah Al-Asma’ul Husna, maka berdoalah kalian dengan menyebut nama-nama tersebut.” (al-A’raf: 180)

  1. Berdoa dengan doa-doa yang ma’tsur (ada atsarnya) dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  2. Meminta dengan penuh kesungguhan dan penuh harapan. Shahabat yang mulia Abu Hurairah rahimahullah berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Janganlah sekali-kali salah seorang dari kalian berdoa dengan mengatakan: “Ya Allah, ampunilah aku bila Engkau mau, rahmatilah aku bila Engkau mau.” Namun seharusnya ia bersungguh-sungguh (menghiba) dalam permintaannya (kepada Allah), karena sesungguhnya tidak ada yang dapat memaksa-Nya.

Dalam satu lafadz: …akan tetapi hendaklah ia bersungguh-sungguh dalam permintaannya dan membesarkan harapannya. Karena sesungguhnya tidaklah memberatkan Allah (atau tidaklah Allah subhanahu wa ta’ala menganggap besar) sesuatu yang diberikannya.” (HR. Bukhari no. 6339, kitab Ad-Da‘awat, bab Li Ya‘zimal Mas’alah Fainnahu La Mukraha lahu dan Muslim no. 6752 , kitab Adz-Dzikr wad Du‘a, bab Al-‘azmu bid Du‘a wa laa Yaqul In Syi’ta)

  1. Menghadirkan hati dan meyakini doanya akan diijabahi. Abu Hurairah rahimahullah mengabarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Berdoalah kalian kepada Allah dalam keadaan kalian yakin akan dikabulkan. Ketahuilah Allah tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lalai lagi main-main.” (HR. At-Tirmidzi no. 3479. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 594 dan Shahih Tirmidzi)

  1. Mengulang-ulang doa dengan dalil potongan dari hadits Ibnu Mas‘ud rahimahullah yang panjang:

“Adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bila berdoa beliau berdoa tiga kali dan bila meminta beliau minta tiga kali.”(HR. Muslim no. 4625, kitab Al-Jihad was Sair, bab Ma Laqiyan Nabiyyu shallallahu ‘alaihi wa sallam min Adzal Musyrikin wal Munafiqin)

  1. Tidak berdoa dengan sesuatu yang mengandung dosa atau pemutusan silaturahim, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Terus menerus dikabulkan permintaan seorang hamba selama ia tidak berdoa dengan sesuatu yang mengandung dosa dan pemutusan silaturahim.” (HR. Muslim no. 6871, bab Bayanu Annahu Yustajabu Lid Da‘i Ma Lam Ya‘jal…)

  1. Seorang mukmin tidak sepantasnya bersikap terburu-buru, ingin segera terkabul doanya dan merasa begitu lambatnya doanya dikabulkan, hingga keluar omongan dari lisannya: “Aku telah berdoa namun doaku belum juga dikabulkan.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Dikabulkan doa salah seorang dari kalian selama ia tidak terburu-buru (ingin segera dikabulkan doanya, -pent.) hingga ia berkata: “Aku telah berdoa, namun belum juga dikabulkan.” (HR. Bukhari, kitab Ad-Da‘awat, bab Yustajabu lil ‘Abd Ma Lam Ya‘jal dan Muslim no. 6869, kitab Adz-Dzikr wad Du’a, bab Bayanu Annahu Yustajabu lid Da‘i Ma Lam Ya‘jal fa Yaqulu: Da‘awtu falam Yustajab Li)

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

“Terus menerus dikabulkan doa seorang hamba selama ia tidak meminta perkara yang mengandung dosa dan pemutusan silaturahim, dan selama ia tidak terburu-buru (minta disegerakan). Ada yang bertanya: “Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan terburu-buru (isti`jal) ?” Beliau menjawab: “Orang yang terburu-buru itu berkata: “Sungguh aku telah berdoa namun aku belum melihat doaku dikabulkan.” Lalu ketika itu ia merasa capek berdoa dan jenuh dan ia pun meninggalkan doa (tidak mau lagi berdoa kepada Allah-pent.)”(HR. Muslim 6871, kitab Adz-Dzikr wad Du’a, bab Bayanu Annahu Yustajabu lid Da‘i Ma Lam Ya‘jal fa Yaqulu: Da‘awtu falam Yustajab Li))

  1. Memperbanyak doa karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Apabila salah seorang dari kalian meminta maka hendaklah ia memperbanyak permintaannya karena dia sedang meminta kepada Rabbnya.” (HR. Ibnu Hibban no. 2403, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 1325)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

“Siapa yang menyenangkannya bila Allah mengabulkan doanya ketika ia ditimpa kesempitan dan bencana, maka hendaklah ia memperbanyak doa ketika dalam keadaan lapang/senang.” (HR. At-Tirmidzi no. 3382, kitab Ad-Da‘awat, bab Ma Ja`a Annad Da‘watal Muslim Mustajabah. Dishahihkan dalam Ash-Shahihah no. 593 dan Shahih At-Tirmidzi)

Demikian beberapa adab doa yang dapat kami haturkan untukmu, wahai saudariku. Wallahu ta‘ala a‘lam bish-shawab.

Ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Zulfa Husein Al-Atsariyyah

 

Buang Angin, Wajibkah Beristinja?

Apabila keluar angin dari dubur seseorang, apakah ia wajib beristinja’ (cebok)?

Jawab:
Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin t menjawab:
“Keluar angin dari dubur termasuk pembatal wudhu berdasarkan sabda Rasulullah n:

Janganlah ia berpaling (membatalkan shalatnya) sampai ia mendengar suara (angin keluar dari duburnya) atau ia mendapatkan bau.1
Akan tetapi keluarnya angin ini tidaklah mewajibkan istinja’, yakni tidak wajib membasuh kemaluan karena tidak ada sesuatu yang keluar yang mengharuskan untuk dicuci. Dengan demikian keluarnya angin hanya membatalkan wudhu seseorang sehingga cukup baginya untuk berwudhu, yakni membasuh wajahnya disertai berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidung serta mengeluarkannya (madhmadhah dan istinsyaq), mencuci kedua tangan sampai siku, mengusap kepala dan dua telinga, berikutnya mencuci kedua kaki sampai mata kaki. Perlu aku ingatkan di sini tentang satu masalah yang tersamarkan bagi kebanyakan orang yaitu sebagian orang buang air kecil atau buang air besar sebelum datangnya waktu shalat, kemudian ia beristinja’.
Maka ketika tiba waktu shalat dan ia ingin berwudhu, ia menyangka harus mengulangi istinja’nya dan mencuci kemaluan untuk kedua kalinya. Perbuatan seperti ini jelas tidak benar, karena bila seseorang telah mencuci kemaluannya setelah keluarnya kotoran maka tempat keluarnya kotoran tersebut telah bersih/suci. Bila telah bersih/suci berarti tidak perlu lagi diulangi pencuciannya, karena maksud dari istinja’ atau istijmar (bersuci dengan menggunakan batu kerikil) yang syar‘i dengan syarat-syaratnya yang ma‘ruf (dikenal) adalah pembersihan tempat keluarnya kotoran (qubul atau dubur), bila telah suci maka tidak akan kembali menjadi najis terkecuali keluar lagi kotoran yang berikutnya.” (Majmu’ Fatawa wa Rasa`il Fadhilatusy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin 4/112,113)

Catatan Kaki:

1 Rasulullah r bersabda demikian ketika diadukan pada beliau tentang seseorang yang ketika shalat merasa telah berhadats (buang angin).
Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya. (pent.)

Haid Seorang Wanita

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Zulfa Husein Al-Atsariyyah)

Dalam edisi perdana dari majalah kesayangan kita ini, kami pernah membahas tentang darah yang keluar dari kemaluan wanita, termasuk di antaranya darah haid. Namun pembahasan yang kami paparkan saat itu adalah pembahasan ringkas sehingga ada beberapa permasalahan yang sengaja kami tinggalkan. Dalam edisi kali ini kami tergerak untuk mengangkat beberapa permasalahan yang tidak sempat kami bahas dalam edisi perdana yang telah lewat atau hanya sempat kami singgung sedikit, dengan harapan dapat menambah faedah kepada para pembaca yang semoga dirahmati Allah.

Haid adalah ketetapan Allah I bagi anak perempuan Adam
Allah I menetapkan wanita yang normal dan telah baligh mesti mengalami haid, yang dengan haid tersebut wanita tertahan untuk melakukan beberapa ibadah kepada Allah I. Haid inilah yang membuat Ummul Mukminin ‘Aisyah x menangis karena menganggap haid akan menahannya untuk melangsungkan ibadah haji yang akan ditunaikan bersama suaminya Rasulullah r. ‘Aisyah x menuturkan:

“Kami pergi (meninggalkan Madinah), tidak ada persangkaan kami kecuali untuk melaksanakan ibadah haji. Maka tatkala kami berada di Sarif,1 aku haid. Rasulullah r datang menemuiku, ketika itu aku sedang menangis. Rasulullah r bersabda: “Kenapa engkau menangis, apakah engkau haid?” “Ya,” jawabku. Beliau bersabda: “Sesungguhnya haid itu merupakan perkara yang telah Allah tetapkan bagi anak-anak perempuan Adam. Tunaikanlah apa yang ditunaikan oleh orang yang berhaji hanya saja engkau jangan thawaf di Baitullah (sampai engkau suci dari haid, barulah diperkenankan thawaf-pent.).”2
Hadits di atas memberikan faedah bahwa haid pada awalnya dialami oleh anak-anak perempuan Adam bahkan dialami oleh Hawa sebagaimana riwayat yang dibawakan Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani t dalam Fathul Bari (1/519) yang dikeluarkan oleh Al-Hakim dan Ibnul Mundzir dengan sanad yang shahih dari Ibnu Abbas c, ia berkata:

“Sesungguhnya permulaan haid dialami oleh Hawa setelah ia turun dari surga.”
Adapun riwayat yang disandarkan oleh Al-Hafizh t kepada Abdurrazzaq Ash-Shan‘ani dan Al-Hafizh menshahihkan sanad-nya sampai kepada Ibnu Mas‘ud t:

“Dahulu para lelaki dan wanita dari kalangan Bani Israil melakukan shalat bersama-sama. Maka ada seorang wanita mengintip seorang lelaki, Allah pun menimpakan haid kepada mereka (para wanita Bani Israil) dan melarang mereka dari mendatangi masjid-masjid.”
Kata Ad-Dawudit: “Tidak ada per-tentangan di antara kedua riwayat ini3 karena wanita-wanita Bani Israil termasuk anak-anak perempuan Adam.” Al-Hafizh berkata: “Memungkinkan untuk menjamak (mengumpul-kan kedua riwayat) dengan menyatakan bahwa haid tersebut umum menimpa seluruh anak perempuan Adam (termasuk wanita-wanita Bani Israil) hanya saja Allah I menimpakan haid kepada wanita-wanita Bani Israil dengan waktu yang panjang (lagi sangat deras, –pent.) sebagai hukuman bagi mereka. Dengan demikian riwayat Ibnu Mas`ud t ini tidaklah menunjukkan wanita Bani Israil yang pertama kali mengalami haid.” (Fathul Bari, 1/519)

Perbedaan di antara tiga agama dalam bermuamalah dan bergaul dengan wanita haid
Anas bin Malik t berkata:

“Kebiasaan orang-orang Yahudi bila wanita di kalangan mereka haid maka mereka tidak mau makan bersamanya dan tidak mau berkumpul dengannya di dalam rumah. Para sahabat Nabi r pun bertanya kepada Nabi tentang hal itu maka Allah I menurunkan ayat: “Mereka bertanya kepadamu tentang darah haid, maka katakanlah bahwa darah haid itu adalah kotoran (najis) maka jauhilah (jangan menggauli) para istri ketika haidnya (di tempat keluarnya darah/farji)…” sampai akhir ayat. Rasulullah r berkata: “Lakukanlah segala sesuatu (dengan istri kalian saat ia haid) kecuali jima'(tidak boleh kalian lakukan, -pent.).”4
‘Aisyah x mengabarkan:

“Adalah Rasulullah r menyuruhku maka aku pun mengenakan pakaian/kain (yang menutupi aurat dan sekitarnya) lalu beliau mubasyarah5 denganku dalam keadaan aku haid.”6
Cukuplah dua hadits di atas memberikan gambaran kepada kita akan adanya perbedaan muamalah yang diajarkan Islam dengan agama lain terhadap wanita yang sedang haid. Lihatlah orang-orang Yahudi, mereka memandang wanita haid itu kotor lagi najis sehingga mereka memisahkan dan mengucilkan wanita ketika sedang haid. Mereka anggap wanita haid itu badan, pakaian, dan tempat tidurnya najis sehingga mereka enggan makan bersama wanita haid dan berkumpul bersamanya di dalam rumah sebagaimana ditunjukkan dalam hadits Anas bin Malik t di atas.
Lihat pula orang-orang Nasrani, mereka berada di kutub yang berlawanan dengan orang-orang Yahudi. Bila orang-orang Yahudi bersikap keras dan kaku, maka Nasrani sebaliknya bermudah-mudah dan meremehkan hingga mereka menghalalkan menjima’i wanita yang sedang haid walaupun darah haid yang najis sedang mengalir dari kemaluan si wanita. Adapun Islam berada di pertengahan antara sikap ghuluw dan meremehkan karena Islam adalah agama yang adil dalam seluruh perkara. Islam memandang yang najis dari wanita haid hanyalah pada tempat keluarnya darah, adapun bagian tubuhnya yang lain, keringat dan pakaiannya tetap suci sehingga seorang suami boleh melakukan mubasyarah dengan istrinya yang sedang haid, berkumpul dengannya dalam rumah bahkan sekamar setempat tidur, melakukan segala sesuatu bersamanya,7 yang harus dihindarinya hanyalah kemaluan istrinya, tidak boleh ia menggaulinya sampai istrinya suci dari haid. Allah I berfirman:

“Mereka bertanya kepadamu tentang darah haid, maka katakanlah bahwa darah haid itu adalah kotoran (najis) maka jauhilah (jangan menggauli) para istri ketika haidnya (di tempat keluarnya darah/farji).” (Al-Baqarah: 222)
Rasulullah r pun bersabda:
.
“Lakukanlah segala sesuatu (dengan istri kalian saat ia haid) kecuali jima’ (tidak boleh kalian lakukan, -pent.)”.
‘Abdullah bin Sa‘ad Al-Anshari t berkata:

“Wahai Rasulullah, apa yang halal bagiku dari istriku ketika ia sedang haid?”. Rasulullah menjawab: “Dihalalkan bagimu apa yang ada di atas kain (penutup aurat/kemaluannya).”9
Lihatlah Rasulullah r yang telah memberikan contoh nan agung dalam pergaulan suami istri. Beliau memanggil istrinya yang sedang haid untuk tidur bersamanya,10 membaca Al-Qur`an di pangkuan istrinya11, membiarkan istrinya menyisir rambut beliau12 dan beliau menyuruh istrinya untuk menutupkan kain ke tempat keluarnya darah lalu bermesraan dengannya13, yang beliau hindari hanyalah jima’. (Taudlihul Ahkam min Bulughil Maram, 1/454-455)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah t berkata dalam fatwanya: “…dibolehkan seorang suami untuk istimta` (bersenang-senang) dengan istrinya yang sedang haid atau nifas pada bagian yang ada di atas kain (penutup sekitar tempat keluarnya darah, –pent.). Sama saja apakah si suami bersenang-senang dengan istrinya melalui bibir, tangan, atau kakinya. Seandainya ia menggauli istrinya pada bagian perutnya hingga ia mengeluarkan mani maka hal ini dibolehkan. Namun bila ia istimta` dengan dua paha istrinya, tentang boleh tidaknya ada perselisihan pendapat di kalangan ulama, wallahu a`lam.” (Majmu` Fatawa, 21/624)

Kapankah seorang suami dibolehkan mencampuri istrinya yang telah suci dari haid?
Allah I mengharamkan seorang suami untuk menggauli istrinya yang sedang haid pada kemaluannya sampai si istri suci dari haidnya, Allah I menyatakan dalam Tanzil-Nya:

“Mereka bertanya kepadamu tentang darah haid, maka katakanlah bahwa darah haid itu adalah kotoran (najis) maka jauhilah (jangan menggauli) para istri ketika haidnya (di tempat keluarnya darah/farji) dan janganlah kalian mendekati (jima’) dengan mereka sampai mereka suci. Maka apabila mereka telah suci, campurilah mereka di tempat yang Allah perintahkan kepada kalian.” (Al-Baqarah: 222)
Al-Imam Al-Alusi Al-Baghdadi t menerangkan tentang firman Allah I : “Menurut Abu Hanifah adalah berhentinya darah. Adapun menurut madzhab Syafi‘iyyah, yang dimaksud dalam ayat di atas adalah mandi setelah berhentinya darah. Mereka mengatakan: ‘Yang menunjukkan hal ini adalah bacaan Hamzah, Al-Kisa`i dan ‘Ashim dari riwayat Ibnu ‘Abbas: -dengan tasydid- yakni , yang dimaksudkan dengan kata ini adalah (mereka mandi)’. Beliau menyatakan shighah mubalaghah dari lafaz memberikan faedah thaharah yang sempurna dan tentunya thaharah yang sempurna dari haid adalah dengan mandi.” (Ruhul Ma‘ani, 2/177)
Al-Imam Al-Bahgawi t menerang-kan: adalah (Ma‘alimut Tanzil,1/145)
Dalam Al-Mughni, Al-Imam Ibnu Qudamah t menyatakan: “Apabila telah berhenti darah haidnya maka si istri tidak boleh dijima’ sampai ia mandi. Kesimpulannya, menggauli wanita haid sebelum ia mandi suci hukumnya haram, walaupun darahnya telah berhenti menurut pendapat mayoritas ahlul ilmi. Ibnul Mundzir t berkata: “Hal ini seperti ijma` dari mereka (ahlul ilmi)”. (Kitab Ath-Thaharah, mas’alah: Fain Inqatha`a Damuha Fala Tutha’u Hatta Taghtasila)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah t berkata: “Adapun wanita haid yang telah berhenti darahnya, maka suaminya tidak boleh mencampurinya sampai ia mandi apabila memang ia mampu untuk itu. Jika tidak, ia tayammum sebagaimana ini madzhab jumhur ulama seperti Ahmad dan Syafi`i.” (Majmu` Fatawa, 21/625)
Ahlu dzahir berpandangan bahwa yang dimaksud dengan bila mereka telah mencuci kemaluan mereka. Namun pendapat ini tidak teranggap, kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah t karena kata tathahhur dalam Al-Qur`an maknanya adalah mandi sebagaimana Allah I berfirman:

“Dan jika kalian junub maka mandilah.” (Al-Ma`idah: 6)
Tathahhur yang dikaitkan dengan haid sama dengan tathahhur yang dikaitkan dengan janabah. (Majmu‘ Fatawa , 21/626)
Kesimpulan dalam masalah ini adalah tidak boleh mencampuri wanita haid pada kemaluannya apabila ia telah suci dari haidnya sampai ia mandi.

Cara membersihkan pakaian/kain yang terkena darah haid
Bila pakaian yang dipakai terkena darah haid maka dibersihkan bagian yang terkena darah dengan dikerik menggunakan ranting (bila darahnya mengering) atau dengan ujung-ujung jari, lalu dicuci/digosok dengan air dan daun sidr (bidara) atau dengan sabun atau pencuci/pembersih yang semisalnya. Kemudian barulah bagian lain dari pakaian itu dicuci. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah r:

“Keriklah dengan ranting dan cucilah dengan air dan daun sidr.”14
Rasulullah r bersabda:

“Apabila pakaian salah seorang dari kalian terkena darah haid hendaklah ia menggosoknya dengan ujung-ujung jarinya kemudian hendaklah ia mencucinya dengan air…”15
‘Aisyah x mengabarkan:

“Adalah salah seorang dari kami berhaid, kemudian ia menggosok darah yang menempel pada pakaiannya ketika ia telah suci dari haidnya lalu ia mencuci pakaian tersebut dan membasuh seluruh bagiannya, kemudian ia shalat mengenakan pakaian tersebut (ketika telah kering, –pent.).”16
Membasuh seluruh pakaian setelah dibersihkannya bagian yang terkena darah selain didapatkan dari pengabaran ‘Aisyah x di atas juga telah datang tuntunannya dari Nabi r, sebagaimana disebutkan dalam riwayat lain dari hadits Asma’ bintu Abu Bakar Ash-Shiddiq  x, Rasulullah r mengatakan dalam hadits tersebut:

“…Kemudian gosoklah dengan air lalu cucilah seluruh pakaian tersebut. Setelah itu engkau bisa shalat menggunakannya (bila telah kering, -pent.).”
Asy-Syaikh Al-Albani t berkata: “Dalam riwayat ini ada tambahan: (), dan ini merupakan tambahan yang penting. Karena tambahan ini menjelaskan bahwa ucapan Nabi dalam riwayat Hisyam: () bukanlah dimaksudkan mencuci bagian pakaian yang terkena darah (saja) akan tetapi seluruh bagian dari pakaian tersebut.” (Ash-Shahihah, 1/602)
Bila pakaian telah dibersihkan namun masih tampak noda darah yang sukar dihi-langkan, maka tidak menjadi masalah sebagai-mana ditunjukkan dalam hadits berikut ini:

“Khaulah bintu Yasar pernah datang menemui Nabi r, ia bertanya: “Wahai Rasulullah, aku tidak memiliki pakaian kecuali hanya satu, dan aku mengenakannya ketika sedang haid sehingga pakaian itu terkena darah haid, lalu apa yang harus kuperbuat?” Rasulullah r menjawab: “Apabila engkau telah suci , cucilah pakaian tersebut, kemudian engkau boleh shalat menggunakannya”. Khaulah bertanya lagi: “Sekalipun darah yang menempel pada pakaian tersebut tidak keluar (tidak bisa hilang nodanya)”. Rasulullah menjawab: “Cukup bagimu pencucian darah tersebut (dengan air) dan tidak bermudharat bagimu bekasnya.”17,18
Penulis Taudhihul Ahkam berkata: “Pakaian dan semisalnya apabila telah dicuci dari darah haid, kemudian masih tersisa bekas warna darah (nodanya) pada pakaian atau badan maka tidaklah bekas itu memudharatkan dalam kesempurnaan tathahhur dan tidak memudharatkan kesahan shalat dan semisalnya.” (1/191)
Demikian tambahan pembahasan tentang haid yang dapat kami haturkan untuk pembaca, semoga bermanfaat bagi kami khususnya dan bagi pembaca secara umum, wa billahit taufiq.
Wallahu ta‘ala a‘lam bish-shawab.

Catatan Kaki:

1 Tempat yang berdekatan dengan kota Makkah, jarak antara keduanya sekitar 10 mil (Fathul Bari, 1/520)
2 HR. Bukhari no. 294, kitab Al-Haidh, bab Al-Amru bin Nufasai’i Idza Nufisna dan Muslim, kitab Al-Hajj, bab Bayanu Wujuhil Ihram wa Annahu Yajuzu Ifradul Hajji wat Tamattu‘
3 Yakni riwayat Ibnu Mas‘ud t di atas dengan hadits:
4 HR. Muslim no. 692, kitab Al-Haidh, bab fi Qaulillahi ta‘ala
5 Melakukan pergaulan suami istri selain jima’.
6 HR. Bukhari no. 300, kitab Al-Haidh, bab Mubasyaratul Haidh dan Muslim no. 677, kitab Al-Haidh, bab Mubasyaratur Rajul Al-Haidh Fawqal Izar
7 Al-Imam Al-Hafizh Ibnul Qaththan t berkata: “Umat sepakat akan sucinya (tubuh) wanita haid dan boleh menidurinya apabila ia menutupi kemaluannya. Mereka sepakat keringat wanita haid itu suci, sebagaimana mereka sepakat boleh bagi suaminya untuk makan dan minum bersamanya.” (Al-Iqna’ fi Masa`ilil Ijma’, 1/103-104)
8 adalah sebutan untuk tempat keluarnya darah haid (yaitu kemaluan). Dikhususkannya perintah untuk menjauhi tempat keluarnya darah merupakan dalil bolehnya mubasyarah pada bagian tubuh yang selainnya. (Al-Mughni, kitab Ath-Thaharah, mas’alah: Wa Yastamti‘u minal Haidh Bima Dunal Farj)
9 HR. Abu Dawud no. 212, kitab Ath-Thaharah, bab Fil Madzi, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih Abi Dawud dan Asy-Syaikh Muqbil t dalam Al-Jami‘us Shahih Mimma Laisa fish Shahihain, 1/549
10 Ummu Salamah x mengisahkan: “Tatkala aku sedang berbaring bersama Nabi r dalam satu kain, tiba-tiba aku haid maka akupun pergi dengan perlahan lalu mengambil pakaian yang biasa kupakai ketika haid. Rasulullah yang melihat hal itu bertanya: “Apakah engkau haid?” Aku menjawab: “Iya.” Beliau lalu memanggilku maka akupun berbaring bersama beliau dalam satu selimut.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
11 Aisyah x berkata: “Nabi r pernah membaca Al-Qur`an sementara kepalanya berada di pangkuanku padahal aku dalam keadaan haid.” (HR. Bukhari dan Muslim)
12 Masih dari kabar ‘Aisyah x, ia berkata: “Aku pernah menyisir rambut Rasulullah n dalam keadaan aku haid.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
13 Sebagaimana ditunjukkan dalam hadits ‘Aisyah
14 HR. Abu Dawud no. 363, kitab Ath-Thaharah, bab Al-Mar’ah Taghsilu Tsaubahal Ladzi Talbasuhu fi Haidhiha, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 300 dan Asy-Syaikh Muqbil dalam Al-Jami‘ush Shahih, 1/550
15 HR. Al-Bukhari no. 307, kitab Al-Haidh, bab Ghuslu Damil Mahidh dan Muslim no. 673, kitab Ath-Thaharah, bab Najasatud Dam wa Kaifiyatu Ghuslihi
16 HR. Al-Bukhari no. 308
17 Yakni tidak mengurangi kesucian pakaianmu. (Taudlihul Ahkam, 1/190)
18 HR. Abu Dawud no. 365, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 298

Fathimah bintu Al-Khaththab

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman Anisah bintu ‘Imran)

Bagaimana takkan meluap amarah ‘Umar bin Al-Khaththab z, manakala mengetahui saudari kandungnya telah keluar dari agama nenek moyangnya, dan memilih beriman kepada Muhammad r. Sementara dirinya memerangi agama Muhammad r. Namun ternyata suatu saat, keimanan wanita itu membuka pintu hati ‘Umar bin Al-Khaththab z untuk menerima cahaya kebenaran.

Wanita itu bernama Fathimah bintu Al-Khaththab bin Nufail bin ‘Abdil ‘Uzza bin Riyah bin ‘Abdillah bin Qarth bin Razzah bin ‘Adi bin Ka’b x. Ibunya bernama Hantamah bintu Hasyim bin Al-Mughirah bin ‘Abdillah bin ‘Umar bin Makhzum. Dia adalah saudari kandung ‘Umar bin Al-Khaththab z. Dia dipersunting oleh seorang pemuda bernama Sa’id bin Zaid bin ‘Amr bin Nufail z.
Ketika Rasulullah r mulai menyeru manusia untuk meninggalkan penyembahan terhadap berhala dan mentauhidkan Allah I semata, Fathimah bintu Al-Khaththab x bersama suaminya menyambut seruan itu. Mereka berdua masuk Islam sebelum Rasulullah r memulai dakwah beliau di kediaman Al-Arqam bin Abil Arqam. Seperti halnya kaum muslimin yang lain pada saat itu, Fathimah dan suaminya pun menyembunyikan keislaman mereka, karena khawatir akan gangguan kaum musyrikin. Ketika itu, seorang shahabat, Khabbab bin Al-’Arat z biasa mendatangi Fathimah dan suaminya untuk membacakan ayat-ayat Al-Qur`an yang diturunkan.
Suatu hari, ‘Umar bin Al-Khaththab keluar dengan menghunus pedangnya untuk membunuh Rasulullah z dan para shahabat beliau. Dia diberitahu bahwa mereka tengah berkumpul di sebuah rumah di bukit Shafa. Jumlah mereka sekitar 40 orang laki-laki dan perempuan. Di antara mereka ada paman Rasulullah r , Hamzah bin ‘Abdil Muththalib, Abu Bakr bin Abi Quhafah Ash-Shiddiq, dan Ali bin Abi Thalib g. Saat itu, para shahabat masih tinggal bersama Rasulullah r, belum ada yang berangkat hijrah ke negeri Habasyah.
Di tengah jalan, ‘Umar bertemu Nu’aim bin ‘Abdillah, salah seorang dari Bani ‘Adi bin Ka’b1 yang telah masuk Islam namun masih menyembunyikan keislamannya. Nu’aim bertanya, “Hendak ke mana engkau, ‘Umar?” “Aku ingin mencari Muhammad, orang yang murtad dari agamanya itu, yang telah memecah belah Quraisy, membodoh-bodohkan mereka, menghina agama mereka dan mencaci maki sesembahan mereka! Aku ingin membunuhnya!”
Mendengar jawaban ‘Umar, Nu’aim pun berkata, “Engkau telah tertipu oleh dirimu sendiri, wahai ‘Umar! Apakah engkau mengira Bani ‘Abdi Manaf2 akan membiarkanmu berjalan di atas bumi ini, sementara engkau telah membunuh Muhammad? Mengapa engkau tidak melihat keluargamu sendiri dan mengurusi mereka?” kata Nu’aim. “Siapa keluargaku?” “Iparmu, Sa’id bin Zaid bin ‘Amr, dan adikmu, Fathimah bintu Al-Khaththab. Demi Allah, mereka berdua telah masuk Islam dan mengikuti Muhammad. Urusilah mereka!”
Betapa terkejutnya ‘Umar. Segera dia kembali menemui saudari serta iparnya. Ketika itu, Khabbab bin Al-Arat z sedang bersama mereka membawa shahifah3 yang di dalamnya tertulis surah Thaha yang dia bacakan kepada Fathimah dan suaminya. Begitu mendengar suara ‘Umar, Khabbab pun segera bersembunyi di salah satu ruangan dalam rumah itu. Fathimah pun mengambil shahifah itu dan menyembunyikannya di balik pahanya. Ternyata saat mendekat ke rumah, ‘Umar sempat mendengar bacaan Khabbab. Ketika masuk, dia pun bertanya, “Suara bisik-bisik apa yang kudengar tadi?” Mereka berdua menjawab, “Engkau tidak mendengar apa pun!” ‘Umar pun menukas, “Iya! Demi Allah, aku telah diberi tahu bahwa kalian berdua mengikuti agama Muhammad.”
Tangan ‘Umar melayang memukul iparnya, Sa’id bin Zaid. Bangkitlah Fathimah untuk mencegah ‘Umar hingga akhirnya pukulan ‘Umar pun mengenainya. Kepala Fathimah terluka, darah pun mengucur dari luka itu. Saat itu, Fathimah berkata, “Ya, kami telah masuk Islam dan kami telah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Lakukanlah apa pun yang engkau mau!”
Menyaksikan darah mengucur dari luka adik perempuannya, ‘Umar pun menyesal. Dia pun berkata, “Berikan padaku shahifah yang baru saja kudengar kalian membacanya. Aku ingin melihat apa yang dibawa oleh Muhammad.” “Aku khawatir engkau akan merusaknya,” jawab Fathimah. “Jangan khawatir,” kata ‘Umar. Dia pun berjanji akan mengembalikan shahifah itu kepada Fathimah seusai membacanya. Mendengar ucapan ‘Umar, muncullah keinginan Fathimah agar ‘Umar masuk Islam. Dia pun berkata pada ‘Umar, “Wahai saudaraku, sesungguhnya engkau najis di atas kesyirikanmu, dan tidak pantas menyentuh shahifah ini.” ‘Umar pun segera bangkit untuk mandi. Lalu Fathimah memberikan shahifah yang tertulis di dalamnya surat Thaha itu padanya. ‘Umar membacanya. Tatkala membaca awal surat Thaha itu, ‘Umar berucap, “Alangkah bagusnya ucapan ini! Alangkah mulianya!”
Mendengar ucapan ‘Umar, Khabbab keluar dari persembunyiannya menemui ‘Umar sembari mengatakan, “Wahai ‘Umar! Demi Allah, sungguh aku mengharapkan agar Allah mengkhususkanmu dengan doa Nabi-Nya. Karena kemarin aku mendengar beliau berdoa, ‘Ya Allah, kuatkanlah Islam dengan salah seorang yang lebih Engkau cintai, Abu Jahal atau ‘Umar bin Al-Khaththab’.”
“Wahai Khabbab, tunjukkan padaku di mana Muhammad agar aku bisa mendatanginya,” pinta ‘Umar. “Beliau ada di salah satu rumah di bukit Shafa bersama para shahabatnya.”
‘Umar pun segera mengambil pedangnya serta menghunusnya, kemudian menuju tempat Rasulullah z dan para shahabatnya berada. Sesampai di sana, ‘Umar menggedor pintu rumah itu. Mendengar suara ‘Umar, salah seorang shahabat bangkit dan mengintip dari celah-celah pintu. Dia melihat ‘Umar dengan pedang terhunus. Cepat-cepat dia kembali menemui Rasulullah n sambil ketakutan, “Wahai Rasulullah, itu ‘Umar dengan pedang terhunus!”
Hamzah bin ‘Abdil Muththalib z berujar, “Izinkan dia masuk. Kalau dia datang untuk menginginkan kebaikan, kita akan berikan kepadanya. Kalau dia menginginkan kejelekan, kita akan membunuhnya dengan pedangnya sendiri.” Rasulullah r bersabda, “Izinkan dia.” Lalu Rasulullah r bangkit menghadapinya. Beliau mencengkeram ujung rida` ‘Umar dan menariknya dengan cengkeraman yang kuat sembari mengatakan, “Untuk apa engkau datang, wahai Ibnul Khaththab? Demi Allah, aku lihat engkau tidak juga berhenti sampai Allah turunkan bencana padamu.”
“Wahai Rasulullah,” kata ‘Umar, “Aku datang kepadamu untuk beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, juga kepada apa yang datang dari sisi Allah.”
Mendengar hal itu, Rasulullah r dan orang-orang yang ada di dalam rumah itu pun bertakbir hingga takbir mereka terdengar oleh orang-orang yang ada di Masjidil Haram. Keislaman ‘Umar bin Al-Khaththab t pun disambut dengan penuh suka cita oleh para shahabat. Mereka mengetahui, dengan keislaman ‘Umar setelah keislaman Hamzah, mereka akan semakin kokoh. Karena mereka berdua akan membela Rasulullah n dan bersama kaum muslimin menghadapi musuh mereka dari kalangan musyrikin.
Inilah sepenggal kisah hidup seorang wanita mulia, yang melalui dirinya Allah I ….
bersambung ke hal. 94
…….bukakan pintu hati seorang laki-laki mulia untuk menerima Islam, yang begitu berarti bagi Rasulullah r dan seluruh kaum muslimin. Fathimah bintu Al-Khaththab, semoga Allah I meridhainya ….

Sumber Bacaan:
v Al-Ishabah, karya Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqalani (8/62)
v Al-Isti’ab, karya Al-Imam Ibnu ‘Abdil Barr (4/1892)
v    As-Sirah An-Nabawiyyah, karya Al-Imam Ibnu Hisyam (2/187-190)
v    Ath-Thabaqatul Kubra, karya Al-Imam Ibnu Sa’d (8/267)
v    Mukhtashar Siratir Rasul, karya Al-Imam Muhammad bin ‘Abdil Wahhab (hal. 93-94)

Catatan Kaki:

1 Bani ‘Adi bin Ka’b adalah kabilah ‘Umar bin Al-Khaththab z
2 Bani ‘Abdi Manaf adalah kabilah Rasulullah n
3 Lembaran-lembaran Al-Qur`an

Muraqabah

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman Anisah bintu ‘Imran)

Kita, sebagai orang tua, tentu tidak bisa memantau setiap detil tingkah laku anak. Sehingga menjadi kemestian bagi kita untuk memahamkan kepada anak bahwa ia senantiasa berada di dalam pengawasan Rabbnya.

Anak, dengan bertambah luasnya lingkup pergaulan, bertambah pula saat-saat dia tak bersama ayah atau ibunya. Dia akan mulai menjelajah lingkungannya, berbaur dengan teman-temannya atau pun dengan orang lain di sekelilingnya.
Dalam keadaan demikian, terkadang didapati anak yang biasa nampak penurut di hadapan orang tuanya, begitu manis dan jarang berbuat ulah, namun ketika lepas dari pengawasan orang tua, dia menjadi ‘berani’ berulah, bahkan berbuat segala sesuatu yang terlarang. Seolah dia merasa merdeka dan bebas dari pengawasan.
Tentu tak ada yang menginginkan hal itu terjadi. Namun tentunya harus ada sesuatu yang dilakukan agar anak tak selalu mencari ‘jalan belakang’ untuk berbuat kenakalan. Sementara sulit atau bahkan tidak memungkinkan jika orang tua harus terus-menerus mengarahkan pandangannya pada segala tingkah anak-anaknya.
Oleh karena itu, semestinya diajarkan kepada anak bahwa senantiasa ada pengawasan yang senantiasa menyertai dirinya, di mana pun dia berada. Sehingga walaupun si anak jauh dari orang tua, tetap ada yang mengawasi tindak-tanduknya. Tidak lain dan tidak bukan, yang mengawasi dirinya adalah Allah I, Dzat Maha Mengetahui. Dia harus mengenal muraqabah.
Muraqabah kepada Allah I adalah mengetahui bahwa Allah I mengetahui segala yang dia lakukan, baik berupa ucapan, perbuatan, ataupun keyakinan.(Syarh Riyadhush Shalihin 2/218)
Ini pula yang diajarkan oleh Luqman Al-Hakim kepada anaknya dalam nasihatnya:

“Wahai anakku, sesungguhnya jika ada sesuatu perbuatan seberat biji sawi dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan membalasnya. Sesungguhnya Allah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui.” (Luqman: 16)
Nasihat Luqman ini berisi anjuran untuk muraqabatullah (merasakan pengawasan Allah I) dan melakukan ketaatan kepada Allah I, apa pun yang mungkin untuk dilakukan, serta ancaman dari perbuatan jelek, sedikit ataupun banyak. (Taisirul Karimir Rahman, hal. 649)
Bila kita menyimak ucapan Rasulullah r tatkala beliau menjelaskan tentang ihsan, maka kita akan mendapati pula anjuran agar senantiasa muraqabah dan merasa takut kepada Allah I. Dalam hadits Jibril yang diriwayatkan oleh ‘Umar bin Al-Khaththab t , beliau ditanya oleh Jibril u:

“Beritahukan padaku tentang ihsan!” Beliau r pun menjawab, “Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Apabila engkau tidak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Muslim no. 8)
Seseorang selayaknya beribadah kepada Allah I seakan-akan dia melihat-Nya, karena ini menunjukkan keikhlasannya kepada Allah U serta kekokohan amalannya dalam mengikuti Rasulullah r. Seseorang yang beribadah kepada Allah I dengan gambaran yang seperti ini pastilah di dalam hatinya ada rasa cinta dan pengagungan kepada Allah I yang dapat mendorongnya untuk memperbaiki dan mengokohkan amalannya.
Apabila seseorang tidak dapat beribadah seperti gambaran ini, maka hendaknya dia beribadah kepada Allah I dengan jalan muraqabah dan rasa takut kepada Allah I. Dan tentu saja ibadah kepada Allah I karena pengharapan itu lebih sempurna daripada ibadah karena rasa takut. (Syarh Riyadhush Shalihin, 1/327)
Demikianlah, hingga perlu ditanamkan pada diri sang anak bahwa Allah I senantiasa mengetahui segala perbuatan hamba-Nya, yang nampak maupun yang tersembunyi. Allah I mengetahui segalanya tanpa terkecuali.
Apabila seorang hamba mengetahui kesempurnaan ilmu Allah I, maka akan berbuah muraqabah dan rasa takut yang sempurna kepada Allah U. (Syarh Al-’Aqidah Al-Wasithiyah, Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, hal. 150)
Di dalam Kitab-Nya, Allah I banyak menyebutkan tentang pengawasan-Nya dan ilmu-Nya terhadap segala sesuatu. Sebagaimana dalam firman-Nya:

“Dan Allah Maha Mengawasi segala sesuatu.” (Al Ahzaab: 52)
Dalam ayat yang lain Allah I berfirman:

“Apakah mereka mengira bahwa Kami tidak mendengar rahasia dan bisikan-bisikan mereka? Sebenarnya Kami mendengar, dan utusan-utusan Kami selalu mencatat di sisi mereka.” (Az-Zukhruf: 80)
Dalam ayat ini disebutkan bahwa malaikat-malaikat Allah I yang mulia senantiasa mencatat di sisi mereka segala yang mereka lakukan dan catatan amalan itu akan senantiasa terjaga hingga mereka datang pada hari kiamat nanti, lalu mereka akan mendapati di hadapan mereka segala amalan yang dulu mereka lakukan, dan Allah I tidaklah berbuat dzalim pada siapa pun.(Taisirul Karimir Rahman, hal. 770)
Demikian pula dalam firman-Nya:

“Pada hari ketika mereka dibangkitkan oleh Allah seluruhnya, lalu Allah memberitakan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Allah mencatat amal perbuatan itu, sementara mereka telah melupakannya. Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu. Tidakkah engkau perhatikan bahwa sesungguhnya Allah mengetahui segala yang ada di langit dan segala yang ada di bumi ? Tiada pembicaraan rahasia di antara tiga orang, kecuali Dialah yang keempatnya, dan tiada pembicaraan rahasia di antara lima orang, kecuali Dialah yang keenamnya. Dan tiada pula pembicaraan di antara orang yang kurang dari itu atau lebih banyak, kecuali Dia ada bersama mereka di manapun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitakan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Al-Mujadilah: 6-7)
Allah I berfirman pula:

“Sesungguhnya tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi Allah, baik di bumi maupun di langit.” (Ali ‘Imran: 5)
Di ayat yang lain Allah I berfirman:

“Dan di sisi-Nyalah kunci-kunci hal yang ghaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia, dan Dia mengetahui segala sesuatu yang ada di daratan ataupun di lautan, dan tak satu pun daun yang jatuh kecuali Dia mengetahuinya, dan tak ada satu biji pun yang berada di kegelapan bumi, tidak pula sesuatu yang basah maupun yang kering, kecuali hal itu ada dalam kitab yang nyata.” (Al-An’am: 59)
Para ulama menga-takan, jika dedaunan yang jatuh saja Allah I mengetahuinya, maka bagaimana pula kiranya dengan dedaunan yang Dia tumbuhkan dan Dia ciptakan! Tentu Allah U lebih mengetahuinya. (Syarh Riyadhush Shalihin 1/220)
Begitu pula kita gambarkan, sebuah biji kecil yang terkubur di dasar lautan, dia berada dalam lima kegelapan. Kegelapan pertama adalah gelapnya tanah yang menguburnya, kegelapan kedua adalah gelapnya air lautan, kegelapan ketiga adalah gelapnya malam, kegelapan keempat adalah gelapnya gumpalan mendung, dan kegelapan kelima adalah gelapnya hujan yang turun. Lima kegelapan meliputi di atas biji kecil tadi, sementara Allah U mengetahuinya. Demikian juga tidak ada sesuatu pun yang basah maupun yang kering, kecuali telah tertulis dengan gamblang dan jelas di sisi Rabb semesta alam ini.
Jika demikian luasnya ilmu Allah I, maka seorang yang beriman tentunya harus merasakan pengawasan Allah I, merasa takut kepada-Nya dalam keadaan tersembunyi, sebagaimana dia pun merasa takut kepada-Nya dalam keadaan terang-terangan. Bahkan seorang yang mendapatkan taufik dari Allah I adalah orang yang menjadikan rasa takutnya kepada Allah I tatkala dalam keadaan yang tersembunyi lebih besar dan lebih kuat daripada rasa takutnya tatkala dalam keadaan terang-terangan, karena takut kepada Allah dalam keadaan tersembunyi itu lebih kuat keikhlasannya karena tak ada seorang pun di sisinya. Sementara rasa takut kepada Allah dalam keadaan terang-terangan terkadang muncul riya` dalam hatinya atau keinginan dilihat oleh orang lain. (Syarh Riyadhush Shalihin, 1/220-221)
Sebuah teladan dalam hal ini dapat disaksikan dari diri seorang penggembala yang ditemui oleh ‘Abdullah bin ‘Umar c dalam perjalanannya ke Makkah. ‘Abdullah bin Dinar yang menyertai perja-lanan itu mencerita-kan, “Aku pernah pergi bersama Ibnu ‘Umar ke Mekkah. Kami sempat berhenti seje-nak untuk beristirahat. Saat itu, turun seorang penggembala kambing dari gunung. Ibnu ‘Umar bertanya padanya, “Engkaukah penggembala kambing-kambing ini?” “Benar,” jawabnya.
Ibnu ‘Umar berkata lagi, “Juallah padaku seekor kambingmu!” Dia pun menjawab, “Saya ini hanya seorang budak.”
“Katakan saja pada tuanmu bahwa kambing itu dimakan serigala!” kata Ibnu ‘Umar. “Lalu di manakah Allah…?” demikian jawabnya.
Ibnu ‘Umar mengulang jawaban si penggembala, “Lalu di manakah Allah…?” Ibnu ‘Umar pun menangis. Kemudian Ibnu ‘Umar membeli budak itu lalu memerdekakannya. (Siyar A’lamin Nubala`, 3/216)
Inilah yang perlu ditanamkan, agar anak-anak tak ‘salah jalan’. Merasakan pengawasan Rabbnya akan menjadi kendali yang akan menahan langkahnya dari keburukan dan akan mendorong langkahnya menuju kebaikan.
Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.

Membina Keharmonisan Suami Istri (bagian 1)

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Zulfa Husein Al-Atsariyyah)

Jima’ (hubungan seksual) dalam kehidupan sepasang suami istri tentu menjadi hal yang teramat lazim. Bahkan terkadang, bagi sebagian orang, permasalahan jima’ sering menjadi faktor yang cukup besar bagi terciptanya kehidupan rumah tangga yang harmonis. Sehingga tentu saja bukan sesuatu yang tabu atau apalagi porno bila kita membicarkan masalah ini, selama masih dalam bimbingan syariat dan banyak manfaat yang bisa kita ambil.

Allah I berfirman:

“Istri-istri kalian adalah (seperti) tanah tempat kalian bercocok-tanam, maka datangilah tanah tempat kalian bercocok-tanam itu bagaimana saja kalian kehendaki.” (Al-Baqarah: 223)
Dalam ayat lain, Dia Yang Maha Tinggi berfirman:

“Mereka (para istri) itu adalah pakaian bagi kalian dan kalian adalah pakaian bagi mereka.” (Al-Baqarah: 187)
Dari dua ayat yang mulia di atas, Allah I menggambarkan hubungan yang terjalin antara seorang wanita dengan seorang lelaki yang terikat dalam ikatan suci pernikahan. Karena memang dengan menikah menjadi bolehlah apa yang semula tidak boleh dan menjadi halal apa yang semula haram. Istri adalah ladang bagi suaminya yakni ladang untuk melahirkan anak-anak suami dan menumbuhkan benih keturunan suami sehingga dari kata “ladang” ini ada kinayah1 dari hubungan badan/jima’ karena dengan jima’ seorang suami bisa mendapatkan keturunan dari istrinya. (An-Nukat wal ‘Uyun Tafsir Al-Mawardi, 1/284).
Sekaligus istri merupakan pakaian bagi suaminya sebagaimana suami adalah pakaian istrinya. Bercampurnya masing-masing dari suami istri dengan pasangannya diistilahkan dengan pakaian. Karena melekat, menempel dan bercampurnya tubuh keduanya serupa dengan menempelnya pakaian pada tubuh. Bisa pula dimaknakan bahwa masing-masing menjadi penutup bagi pasangannya dari apa yang tidak halal. Ada pula yang mengatakan bahwa masing-masing menjadi penutup bagi pasangannya dari pandangan manusia ketika berlangsung hubungan jima’ antara keduanya. Abu ‘Ubaid berkata: “Wanita/istri itu dikatakan sebagai libas, firasy, dan izar bagimu (yakni istri adalah pakaian, tempat tidur, dan sarungmu).” Ar-Rabi‘ berkata: “Para istri adalah tempat berbaring kalian dan kalian adalah selimut bagi mereka.” Mujahid mengatakan: “Istri adalah tempat ketenangan bagi kalian yakni sebagian kalian menjadi ketenangan bagi yang lain.” (Al-Jami‘ li Ahkamil Qur`an, 2/211-212).
Perlu diketahui, termasuk di antara tujuan yang agung dari sebuah pernikahan adalah masing-masing dari suami istri menjaga kehormatan diri pasangannya agar tidak terjatuh kepada perbuatan keji dan nista seperti melihat sesuatu yang diharamkan, berselingkuh, atau yang lebih parah lagi melakukan zina. Upaya keduanya untuk memenuhi “hasrat” pasangannya akan diberi pahala oleh Allah I sebagaimana dalam hadits Rasulullah r:

“Dan pada jima’ yang dilakukan oleh salah seorang dari kalian dengan istrinya (atau pada kemaluan salah seorang dari kalian) ada (bernilai) sedekah.” Para shahabat bertanya (dengan heran): “Wahai Rasulullah, apakah salah seorang dari kami melampiaskan syahwatnya lalu ia diberi pahala dalam pemenuhan syahwatnya tersebut?” Rasulullah menjawab keheranan mereka dengan ucapan beliau: “Apa pendapat kalian, seandainya ia meletakkan kemaluannya itu pada yang haram, bukankah ia mendapatkan dosa karenanya? Maka demikian pula bila ia meletakkan kemaluannya pada yang halal, ia mendapatkan pahala karenanya.”2
Kata Al-Imam An-Nawawi t: “Dalam hadits ini ada dalil bahwa perkara mubah bisa bernilai ibadah dengan niat yang baik. Maka jima’ menjadi ibadah bila seseorang meniatkan untuk memenuhi hak istrinya dan bergaul dengannya dengan cara yang ma`ruf sebagaimana yang diperintahkan Allah I, ia niatkan untuk mendapatkan anak yang shalih, menjaga kehormatan dirinya atau kehormatan istrinya (dari berbuat zina) dan untuk mencegah keduanya dari melihat kepada yang haram, atau berpikir tentangnya, atau berkeinginan melakukannya, ataupun tujuan-tujuan baik lainnya.” (Al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim, 7/93)
Sepatutnya bagi suami untuk mencukupi hajat istrinya sebagai bentuk pergaulan dengan cara yang ma‘ruf sebagaimana dinyatakan dalam ayat:

“Dan mereka (para istri) memiliki hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma`ruf, akan tetapi para suami memiliki satu tingkatan kelebihan daripada istrinya.” (Al-Baqarah: 228)
Dan juga dalam ayat:

“Dan bergaullah kalian dengan mereka (para istri) secara patut.” (An-Nisa’: 19)
Di sisi lain, istri pun wajib memenuhi hasrat suami kepada dirinya dan sekali-kali ia tidak boleh menolak ajakan suaminya ke tempat tidur tanpa alasan yang diperkenankan syariat. Bila si istri melakukannya, ia jatuh ke dalam dosa besar sebagaimana dinyatakan dalam sabda Rasul yang agung r:

“Apabila seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidurnya3, namun si istri enggan untuk datang (memenuhi ajakan suaminya) maka para malaikat melaknat si istri sampai pagi hari.4 Dalam satu riwayat: … sampai si istri mau kembali.”5
Dalam riwayat Al-Imam Muslim disebutkan Rasulullah r bersabda:

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidak ada seorang lelaki pun yang mengajak istrinya ke tempat tidur namun si istri menolak ajakan suami, melainkan yang di langit marah/murka terhadapnya, sampai suami ridha padanya.” (HR. Muslim no. 3525)
Al-Imam An-Nawawi t berkata: “Hadits ini merupakan dalil haramnya istri untuk menolak ajakan suami ke tempat tidurnya tanpa ada uzur syar’i. Haid bukanlah termasuk uzur untuk menolak ajakan suami karena suami tetap punya hak untuk istimta’ (bersenang-senang) dengan istrinya pada bagian atas sarung (yang menutupi tempat keluarnya darah haid, -pent.).6 Makna hadits ini adalah laknat terus diterima si istri sampai hilang kemaksiatan dengan terbitnya matahari dan suami sudah merasa tidak membutuhkan jima’ lagi, atau laknat itu berakhir dengan taubatnya si istri dan ia mau kembali ke tempat tidur suaminya.” (Al-Minhaj, 10/249)

Adab-adab Syar‘i dalam Jima’
Sebagai ladang dan pakaian bagi suami, suami diberi keleluasaan untuk “mendatangi” istrinya sekehendaknya dan dengan cara yang ia sukai karena Allah I sendiri menyatakan:

“Maka datangilah tanah tempat kalian bercocok-tanam itu bagaimana saja kalian kehendaki.”
Namun, perlu diketahui setiap perkara yang berlangsung dalam kehidupan manusia telah ditetapkan ketentuan dan adab-adabnya oleh syariat. Demikian pula dalam perkara hubungan suami istri, di sana ada aturan, ketentuan dan larangan yang tidak boleh dilanggar oleh setiap insan yang beriman kepada Allah I dan Rasul-Nya r. Beda halnya dengan orang yang tidak mengenal Allah I dan syariat-Nya yang mulia, mereka hidup tanpa mengenal aturan syar‘i, tidak tahu adab Islami. Jangankan mau mengamalkan adab dalam berhubungan suami istri, bagaimana beradab kepada Allah I dan Rasul-Nya pun mereka buta atau pura-pura buta.
Berikut ini sedikit penjelasan bagi orang yang mau mengamalkan adab-adab syar‘i dalam hubungan suami istri:
Pertama: Hubungan suami istri (jima’) hanya boleh dilakukan ketika istri dalam keadaan suci, tidak sedang haid atau nifas. Karena Allah I berfirman:

“Mereka bertanya kepadamu tentang darah haid, maka katakanlah bahwa darah haid itu adalah kotoran (najis) maka jauhilah (jangan menggauli) para istri ketika haidnya (di tempat keluarnya darah/farji).” (Al-Baqarah: 222)
Anas bin Malik t berkata:

“Kebiasaan orang-orang Yahudi bila wanita di kalangan mereka haid maka mereka tidak mau makan bersamanya dan tidak mau berkumpul dengannya di dalam rumah. Para shahabat Nabi r pun bertanya kepada Nabi tentang hal itu maka Allah I menurunkan ayat: “Mereka bertanya kepadamu tentang darah haid, maka katakanlah bahwa darah haid itu adalah kotoran (najis) maka jauhilah (jangan menggauli) para istri ketika haidnya (di tempat keluarnya darah/farji)” sampai akhir ayat. Rasulullah r berkata: “Lakukanlah segala sesuatu (dengan istri kalian saat ia haid) kecuali jima’ (tidak boleh kalian lakukan, -pent.)” Sampailah hal itu kepada orang-orang Yahudi, mereka pun berkata: “Tidaklah orang ini (Rasulullah, -pent.) membiarkan satu urusan kita melainkan pasti dia selisihi.” Usaid bin Hudhair dan ’Abbad bin Bisyr datang menemui Rasulullah r, keduanya berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya orang-orang Yahudi mengatakan ini dan itu (mengadukan ucapan Yahudi sebagaimana yang telah disebutkan-pent). Apakah tidak sekalian kita jima’i saja istri-istri kita ketika haid?” Mendengar hal itu berubahlah wajah Rasulullah r hingga keduanya menyangka beliau marah kepada keduanya. Keduanya pun keluar dari tempat Rasulullah r. Datanglah hadiah berupa susu untuk Nabi r, maka beliau mengirim orang untuk mengantarkan susu itu untuk Usaid dan’Abbad agar keduanya meminum susu tersebut. Dari situ tahulah keduanya bahwa Rasulullah tidak marah kepada mereka berdua.”7
Kedua: Jima’ tidak boleh dilakukan ketika kedua suami istri atau salah satunya sedang berihram8 (muhrim) atau sedang puasa.
Allah I berfirman:

“(Musim) haji itu adalah beberapa bulan yang diketahui, maka barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji maka ia tidak boleh melakukan rafats…” (Al-Baqarah: 197)
Rafats () adalah jima’9 dan pendahuluannya, baik berupa perkataan maupun perbuatan. (Taisir Al-Karimir Rahman, hal. 91)
Allah I juga berfirman:

“Dihalalkan bagi kalian pada malam hari bulan puasa untuk bercampur dengan istri-istri kalian (melakukan rafats), mereka itu adalah pakaian bagi kalian dan kalian pun adalah pakaian bagi mereka.” (Al-Baqarah: 187)
Dalam ayat di atas, Allah I membolehkan jima’ pada malam hari puasa. Hal ini menunjukkan jima’ tersebut dilarang dilakukan pada siang hari ketika seseorang sedang berpuasa. Al-Hafizh Ibnu Katsir t berkata: “Suami dan istri masing-masing bercampur dengan yang lain, saling bersentuhan dan tidur bersama, maka cocok sekali diberikan keringanan bagi para suami untuk melakukan jima’ dengan istrinya pada malam hari Ramadhan (sementara siang harinya dilarang karena sedang berpuasa, -pent.), agar tidak memberatkan dan menyulitkan mereka.” (Al-Mishbahul Munir fi Tahdzib Tafsir Ibni Katsir, hal. 134)
Abu Hurairah z berkisah:

“Tatkala kami sedang duduk-duduk di sisi Nabi r tiba-tiba datang seorang lelaki, ia berkata: “Wahai Rasulullah, saya binasa.” “Kenapa engkau?” tanya Rasulullah. “Saya menggauli istriku dalam keadaan saya puasa,” jawabnya. “Apakah engkau mendapatkan budak untuk dimerdekakan,” tanya Rasulullah. “Tidak,” jawabnya. “Apakah engkau mampu berpuasa dua bulan berturut-turut?” tanya Rasu-lullah lagi. “Tidak mampu,” jawab-nya. “Apakah eng-kau bisa mem-berikan makan 60 orang miskin ?” tanya Rasulullah. “Tidak,” jawabnya. Nabi r pun tinggal beberapa saat, tatkala kami dalam keadaan demikian didatangkanlah kepada Nabi r satu keranjang berisi kurma, beliau berkata: “Di mana orang yang bertanya tadi?” Orang itu menjawab: “Saya.” Nabi bersabda: “Ambillah sekeranjang kurma ini lalu bersedekahlah dengannya.” “Apakah saya harus menyedekahkan kurma ini kepada orang yang lebih fakir dariku wahai Rasulullah? Demi Allah, tidak ada keluarga di antara dua ujung/tepi10 kota Madinah yang lebih fakir daripada keluargaku,” kata lelaki tersebut. Mendengar hal itu Nabi r tertawa hingga terlihat gigi taring beliau kemudian beliau bersabda: “Berilah makan keluargamu dengan kurma ini.”11
Ketiga: Berdoa ketika melakukannya sebagaimana doa yang diajarkan oleh Rasulullah r:

“Dengan nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari syaitan dan jauhkanlah syaitan dari apa yang Engkau rizkikan kepada kami.”
Kata Nabi r:

“Bila Allah menetapkan adanya anak dari hasil hubungan antara keduanya niscaya syaitan tidak akan dapat memudharatkannya selama-lamanya.”12
Keempat: Di antara per-masalahan yang banyak dita-nyakan berka-itan dengan jima’ adalah masalah boleh tidaknya suami istri melepas seluruh pakaiannya ketika jima dan boleh tidaknya melihat aurat pasangannya. Yang benar dalam hal ini adalah boleh suami istri tidak berbusana di hadapan pasangannya dan masing-masing halal (boleh) melihat aurat yang lain, berdasarkan hadits Mu‘awiyah bin Haidah yang akan kami sebutkan dalam edisi mendatang Insya Allah.
Wallahu ta‘ala a‘lam bish-shawab. (bersambung, insya Allah)

Catatan Kaki:

1 Kinayah adalah ibarat, kiasan, sindiran, yakni penggunaan kata-kata yang tidak terang-terangan.
2 HR. Muslim no. 2326, kitab Az-Zakah, bab Bayanu Anna Ismash Shadaqah Yaqa‘u ‘ala Kulli Nau‘in minal Ma‘ruf
3 Yakni mengajaknya untuk jima’ (Fathul Bari, 9/365)
4 Tidaklah berarti di sini istri boleh menolak ajakan suaminya untuk jima’ pada siang hari. Adapun dikhususkan penyebutan ajakan jima’ di malam hari (sebagaimana yang terkandung dalam hadits di atas) karena lebih kuatnya keinginan berjima’ di malam hari dibanding siang hari. (Fathul Bari, 9/365)
5 HR. Al-Bukhari no. 5193, kitab An-Nikah, bab Idza Batatil Mar`ah Muhajiratan Firasya Zaujiha dan Muslim no. 3524 kitab An-Nikah, bab Tahrimu Imtina’iha min Firasyi Zaujiha
6 Dalam hal ini ada sabda Rasulullah r: , artinya: “Lakukanlah segala sesuatu (dengan istri kalian saat ia haid) kecuali nikah/jima’ (yakni memasukkan zakar ke dalam farji, tidak boleh kalian lakukan).”
7 HR. Muslim no. 692, kitab Al-Haidh, bab fi Qaulillahi ta‘ala
8 Karena di antara larangan yang harus ditinggalkan oleh orang yang sedang berihram adalah jima’ sampai ia tahallul dari ihramnya.
9 Demikian pendapat Ibnu ‘Abbas, ‘Atha’, Mujahid, Sa‘id bin Jubair, Thawus, Salim bin Abdillah, ‘Amr bin Dinar, Al-Hasan, Qatadah, Az-Zuhri, Adl-Dlahhak, Ibrahim An-Nakha‘i, As-Sudi, ‘Atha’ Al-Khurasani, dan Muqatil bin Hayyan (Al-Mishbahul Munir fi Tahdzib Tafsir Ibni Katsir, hal. 133-134)
10 Labataiha adalah harratani, dan Madinah berada di antara harrataini. Makna harrah sendiri adalah tanah yang bercampur dengan bebatuan hitam. (Al-Minhaj, 7/226)
11 HR. Al-Bukhari no. 1936, kitab Ash-Shaum, bab Idza Jama‘a fi Ramadhan wa Lam Yakun Lahu Syai’un Fa Tushaddiqa ‘alaihi Fal Yukaffir dan Muslim no. 2590, kitab Ash-Shiyam, bab Taghlizh Tahrimil Jima’ fi Nahari Ramadhan ‘alash Sha’im…
12 HR. Al-Bukhari no. 5165, kitab An-Nikah, bab Ma Yaqulu Ar-Rajulu Idza Ata Ahlahu dan Muslim no. 3519, kitab An-Nikah, bab Ma Yustahabbu An Yaqulahu ‘Indal Jima’

Antara Berbakti kepada Orang Tua dan Menuntut Ilmu

Saya punya keinginan untuk belajar di pondok pesantren tetapi orang tua melarang, apa yang harus dilakukan?
08154xxxxxxx@satelindogsm.com

Dijawab oleh Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad Al-Makassari:

Tatkala menuntut ilmu1 merupakan jihad, bahkan lebih utama dari jihad fi sabilillah (berlaga di medan jihad), kita akan mengawali permasalahan dengan hadits Abdullah bin ‘Amr c, ketika datang seorang lelaki menemui Rasulullah n meminta izin untuk berjihad fi sabilillah. Rasulullah n bertanya kepadanya: “Apakah kedua orang tuamu masih hidup?” Dia menjawab: “Ya.” Rasulullah n pun mengatakan:

“Pada kedua orang tuamulah engkau berjihad (bersungguh-sungguh berbakti).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majah yang dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Abi Dawud (no. 2528) disebutkan: “Ada seorang lelaki datang kepada Rasulullah n ingin ikut berjihad, sementara kedua orang tuanya menangis. Maka Rasulullah n mengatakan:

“Kembalilah engkau kepada keduanya, dan buatlah keduanya tertawa sebagaimana engkau telah membuat keduanya menangis.”
Berdasarkan hadits ini, jumhur ulama mengatakan bahwa seorang anak haram untuk berangkat jihad jika kedua orang tuanya atau salah satu dari keduanya melarangnya, dengan syarat kedua orang tuanya muslim. Karena birrul walidain (berbakti kepada keduanya) adalah fardhu ‘ain (kewajiban bagi setiap muslim yang tidak bisa diwakili orang lain), sedangkan jihad adalah fardhu kifayah (kewajiban bagi sebagian kaum muslimin, jika ada sebagian yang telah menunaikannya maka gugur kewajiban yang lain). Adapun jika jihad tersebut hukumnya fardhu ‘ain maka jihad didahulukan, karena mashlahatnya –yaitu untuk membela Islam dan kaum muslimin– lebih besar dibandingkan birrul walidain yang maslahatnya hanya untuk kedua orang tua. (Lihat Syarhu Muslim karya An-Nawawi (16/89), Fathul Bari (6/140-141), Nailul Authar (7/221) dan Subulus Salam (4/66))
Al-Hafizh berkata dalam Fathul Bari (6/141): “Hadits ini merupakan dalil haramnya melakukan safar tanpa izin orang tua, karena jihad saja demikian. Apalagi kalau hanya safar biasa. Lain halnya dengan safar dalam rangka menuntut ilmu yang fardhu ‘ain2, maka hal ini boleh meskipun tanpa izin. Adapun safar untuk menuntut ilmu yang sifatnya fardhu kifayah3 maka ada perbedaan pendapat di kalangan ulama.”
Kita memandang bahwa pendapat terbaik dalam hal ini adalah fatwa guru besar kami Asy-Syaikh Muqbil Al-Wadi’i t dan fatwa Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahumallah.
Syaikhuna Al-Wadi’i t berkata: “Waspadalah, waspadalah! Jangan sampai kedua orang tuamu menghalangi engkau dari menuntut ilmu yang bermanfaat. Karena kebanyakan orang tua, kalbu mereka dipenuhi cinta dunia. Tinjauan mereka sangat sempit, karena terbatas hanya pada masa depan anak di dunia ini.
Dalam Masa`il Ibnu Hani (jilid hal.164), dia berkata: “Aku mendengar Abu Abdillah –yaitu Al-ImamAhmad t– ditanya tentang seseorang yang pamit kepada orang tuanya untuk safar menuntut hadits dan (ilmu) yang bermanfaat baginya. Beliau t menjawab: “Jika berangkat untuk menuntut ilmu yang bermanfaat, saya memandang tidak mengapa seseorang melakukan hal itu meskipun tanpa izin orang tua.”
Saya bukannya mengajak anda untuk durhaka kepada orang tua dan memutuskan hubungan dengan keduanya, melainkan agar anda mengutamakan perkara yang lebih bermanfaat bagi Islam dan kaum muslimin. Akan tetapi kalau keduanya membutuhkan anda untuk mencarikan nafkah, atau untuk mengurusi mereka, maka tidak boleh menelantarkan mereka, berdasarkan hadits:

“Pada keduanyalah engkau berjihad.” (An-Nushul Amin li Thalabatil ‘Ilmi wa Sa`iris Salafiyyin min Kalamil Imam Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i, hal. 60-61)
Asy-Syaikh Al-‘Utsaimin t ketika ditanya tentang seseorang yang dihalangi oleh kedua orang tuanya untuk berangkat menuntut ilmu, beliau menjawab: “Jika ada tuntutan yang sifatnya darurat (terpaksa) untuk mendampingi keduanya, maka tinggal bersamanya afdhal (lebih utama), dan dia bisa menuntut ilmu bersamaan dengan mendampingi keduanya. Karena birrul walidain lebih diutamakan dibanding jihad fi sabilillah (yang hukumnya fardhu kifayah, pen). Sedangkan menuntut ilmu merupakan jihad, berarti birrul walidain didahulukan jika orang tua membutuhkan keberadaan anaknya. Adapun jika keduanya tidak membutuhkan keberadaannya, dan dia akan lebih leluasa serta lebih maksimal dalam menuntut ilmu jika berangkat, tidak mengapa dia berangkat (meskipun tanpa seizin keduanya). Namun jangan sampai lupa hak orang tuanya, dengan pulang menjenguk keduanya dan terus berusaha meyakinkan mereka akan pentingnya menuntut ilmu, sampai mereka mengerti hal itu. Lain halnya jika seorang anak mengetahui bahwa orang tuanya membenci ilmu syar’i (ilmu agama). Orang tua yang seperti itu tidak memiliki hak untuk ditaati. Dan tidak semestinya seorang anak minta izin kepada mereka jika hendak berangkat menuntut ilmu, karena yang mendorong keduanya untuk menghalangi anaknya adalah kebencian dia terhadap ilmu syar’i.” (Kitabul ‘Ilmi, hal. 155)
Semoga Allah I memberi taufik kepada para orang tua untuk mendukung dan membantu anak-anak mereka dalam menuntut ilmu, serta menyadari bahwa dengan itu mereka telah berpartisipasi untuk kejayaan agama ini dan kemaslahatan kaum muslimin. Dan itu lebih baik bagi mereka dibandingkan dunia dan seisinya.
Allahul muwaffiq ila sawa`is sabil. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

Catatan Kaki:

1 Ilmu yang dibicarakan di sini adalah ilmu syar’i (ilmu agama), bukan ilmu dunia.
2 Yaitu ilmu akidah dan tauhid, mempelajari hal-hal yang harus diimani, cara mentauhidkan Allah I dalam beribadah, serta hal apa saja yang merupakan pembatal-pembatal keislaman seseorang, seperti syirik dan lainnya.  Demikian pula mempelajari ilmu tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah I untuk mengenal Allah I. Juga mempelajari hukum-hukum syariat yang diwajibkan bagi setiap orang, semisal shalat, dan yagn terkait dengannya seperti wudhu dan lainnya.
3 Yaitu ilmu yang tidak harus dipelajari oleh setiap orang, seperti ilmu nahwu-sharaf, ilmu ushul fiqih, dan lainnya.

Redaksi tidak bisa menjawab langsung pertanyaan yang dikirim melalui sms. Karena banyaknya pertanyaan yang masuk, tidak setiap pertanyaan bisa dimuat jawabannya dalam Rubrik Problema Anda. Mohon maklum.

Mentadabburi Al-Qur’an

(ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar ZA)

Allah I menurunkan Al-Qur`an agar manusia mentadabburi ayat-ayatnya, memahami maknanya, mengingat, dan mengamalkannya.
Allah I berfirman:

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan agar mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (Shad: 29)
Karena Al-Qur`an tidak memberikan petunjuk dan bimbingan kecuali kepada yang terbaik. Allah I menyatakan:

“Sesungguhnya Al-Qur`an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus.” (Al-Isra: 9)
Atas dasar itu pula maka Allah I mencela orang-orang yang tidak mentaddaburi Al-Qur`an. Dia I berfirman:

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur`an ataukah hati mereka terkunci?” (Muhammad: 24)
Al-Imam Al-Ajuri t menerangkan: “Barangsiapa mentadaburi ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan) Allah I dan firman-Nya, dia akan mengenal Allah I, besarnya kekuasaan dan kemampuan-Nya, mengenal besarnya keutamaan-Nya terhadap kaum mukminin, mengenal apa yang Allah I wajibkan atasnya berupa ibadah-ibadah. Sehingga ia mewajibkan atas dirinya kewajiban tersebut dan ia berhati-hati dari apa yang diperingatkan oleh Rabb yang Maha Mulia. Sehingga ia pun bersemangat untuk melaksanakan apa yang dianjurkan oleh Allah I. Barangsiapa demikian keadaannya ketika membaca Al-Qur`an dan ketika mendengarkannya dari yang lain, sungguh Al-Qur`an akan menjadi penyembuh (obat) baginya. Ia akan merasa cukup walau tanpa harta, merasa mulia walau tanpa keluarga, tenang dari sesuatu yang ditakuti oleh yang lain. Ketika mulai membaca surat-surat Al-Qur`an, keinginan-nya ialah kapan ia bisa mengambil pelajaran dari apa yang dia baca. Keinginannya bukanlah kapan ia bisa menyelesaikan bacaannya. Akan tetapi yang selalu menjadi keinginannya adalah kapan aku bisa memahami perintah-perintah Allah I, kapan aku bisa menjaga diri sehingga aku bisa mengambil pelajaran, karena membaca Al-Quran adalah ibadah yang tidak bisa dilakukan dengan kelalaian qalbu. Dan Allah I-lah yang memberi taufik untuk itu.” (Akhlaq Hamalatil Qur`an, dinukil dari Ziyadatul Iman wa Nuqshanuhu, hal. 180)
Ibnul Qayyim t menjelaskan pula tentang manfaat mentadabburi ayat-ayat Al-Qur`an. Beliau berkata: “Secara global, tidak ada sesuatu yang lebih bermanfaat bagi qalbu daripada membaca Al-Qur`an dengan penuh tadabbur dan tafakur (memahami dan merenungi ayat Al-Qur`an). Karena Al-Qur`an meliputi segala kedudukan orang yang berjalan menuju kepada Allah I, keadaan orang yang beramal dan kedudukan orang yang alim. Al-Qur`an mewariskan cinta, rindu, harap, taubat, tawakal, ridha, berserah diri, sabar, dan seluruh keadaan yang membuat hidupnya hati dan menyempurnakannya. Demikian pula Al-Qur`an memperingatkan dari seluruh sifat dan perbuatan tercela yang dengannya qalbu akan rusak dan binasa.
Maka seandainya orang-orang mengetahui faidah  membaca Al-Qur`an dengan mentadabburinya, tentu mereka akan tersibukkan dengannya dari apapun selainnya. Bila ia membacanya dengan tafakur sehingga melewati sebuah ayat yang ia butuhkan untuk menyembuhkan qalbunya, ia pun akan mengulanginya sampaipun seratus kali, meski dilakukan semalam suntuk. Sesungguhnya membaca satu ayat saja dengan penuh tafakur dan memahaminya, lebih baik daripada membaca Al-Qur`an dan mengkhatam-kannya tanpa tadabbur dan tanpa memahami. Lebih bermanfaat bagi qalbu untuk menghasilkan iman dan merasakan manisnya Al-Qur`an. (Lihat Miftah Daris Sa’adah hal. 204, dinukil dari Ziyadatul Iman wa Nuqshanuhu, hal. 183)
Ibnul Qayyim juga menjelaskan bagaimana seseorang dapat mengambil manfaat dari ayat-ayat Al-Qur`an. Beliau jelaskan dalam kitabnya Al-Fawa‘id hal. 9, dengan judul Syuruthul Intifa’ bil Qur`an (Syarat-syarat mengambil manfaat dari Al-Qur`an). Lengkapnya: “Bila engkau ingin mengambil manfaat dari Al-Qur`an maka konsentrasikan qalbumu ketika membaca dan mendengarkannya. Tujukan pendengar-anmu kepada bacaan itu. Hadirkan dirimu, seakan-akan engkau hadir di hadapan orang yang sedang berbicara kepadamu. Karena Al-Qur`an merupakan pembicaraan dari Allah I kepadamu melalui lisan Rasul-Nya n. Allah I berfirman:

“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai qalbu, atau yang menggunakan pendengarannya, sedangkan dia menyaksikannya.” (Qaf: 37)
Hal itu karena kesempurnaan pengaruh Al-Qur`an tergantung pada:
1.    Yang memberi pengaruh.
2.    Tempat yang bisa menerimanya.
3.    Syarat untuk mendapatkan pengaruh itu.
4.    Tiadanya penghalang.
Maka ayat di atas telah menerangkan itu semua, dengan lafadznya yang ringkas namun dengan keterangan yang jelas dan menunjukkan maksudnya. Firman Allah I:

“Sesungguhnya dalam hal itu ada peringatan,” adalah isyarat kepada apa yang telah lalu dari awal surat hingga ayat ini. Inilah yang dimaksud dengan hal yang pertama yaitu yang memberikan pengaruh.
Adapun:

“Bagi orang yang memiliki qalbu,” ini artinya tempat yang menerima. Yang dimaksud dengan qalbu di sini adalah qalbu yang hidup yang memahami apa yang datang dari Allah.

“Al-Qur`an itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi keterangan, supaya dia (Muhammad) memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup (hatinya) dan supaya pastilah (ketetapan azab) terhadap orang-orang kafir.” (Yasin: 69-70)
Yakni hidup kalbunya.
Adapun firman Allah I:

“Atau yang menggunakan pendengar-annya,” yakni mengarahkan pendengaran dan telinganya kepada apa yang dikatakan kepadanya. Ini merupakan syarat untuk mendapatkan pengaruh dari sebuah penjelasan.
Sedangkan firman-Nya:

“Sedangkan dia menyaksikannya,” yakni qalbunya menyaksikan dan hadir, tidak lalai. Ibnu Qutaibah mengatakan: “Yakni ia mendengarkan kitab Allah I dalam keadaan kalbunya menyaksikan dan memahami, tidak lalai, dan tidak lupa. Ini merupakan isyarat harus dihilangkannya penghalang untuk mendapatkan pengaruh itu, yaitu lalainya qalbu dan tidak menghadirkan (perhatian) ketika mende-ngarkan firman-firman itu, tidak memahami apa yang dikatakan kepadanya dan tidak memperhatikan ayat-ayat itu.
Maka apabila pengaruh itu ada, yaitu Al-Qur`an, tempat yang menerima juga ada, yaitu qalbu yang hidup. Demkian pula syarat itu didapati yaitu konsentrasi dalam mendengarkan, serta hilangnya penghalang yaitu kesibukan qalbu dan lalainya dari makna pembicaraan yang diarahkan kepadanya sehingga mengarah kepada yang lain, maka tentu pengaruh Al-Qur`an dan manfaat darinya akan diperoleh.
Wallahu a’lam.

Menyambung dan Memperbaikai Hubungan Anak dan Orang Tua (bagian 1)

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah An-Nawawi)

Orang tua mana yang tidak sedih dan terluka hatinya manakala melihat buah hatinya yang ia rawat sejak kecil kini telah tumbuh menjadi duri dalam daging baginya. Si anak kini pandai membantah omongan orang tua, pandai memaki, bahkan tak segan untuk menyakiti. Sedih? Sudah pasti. Namun sang orang tua pun barangkali lalai, ketika dia berangan-angan memiliki anak yang shalih dan berbakti, harapannya itu tidak disertai upaya untuk memberikan pendidikan yang Islami kepada anak-anaknya. Ia tak mempedulikan bagaimana pendidikannya, bagaimana teman-temannya, bagaimana akhlaknya, dan sebagainya, hingga tak disadari si anak pun telah berubah menjadi “musuh” baginya.

Tidak sedikit orang tua yang menge-luhkan perihal anaknya yang jahat. Atau merasakan kehidupan yang serba tidak menentu karena harus menanggung beban mental dan rasa malu berkepanjangan karena ulah anak-anaknya.
Banyak cara yang kemudian mereka tempuh demi memperbaiki kelakuan anaknya. Bahkan tidak sedikit yang melaku-kan ‘potong kompas’ seperti datang ke para-normal untuk bisa ‘menjinakkan’ jiwa sang anak yang telah rusak. Mereka dilanda kepu-tusasaan karena merasakan betapa anaknya telah menjadi tuan yang memperbudak hidupnya, serta menjadi penjajah yang memeras keringat dan tenaganya.
Keseharian mereka diwarnai ucapan-ucapan kotor yang keluar dari mulut sang anak hingga caci maki yang demikian menghunjam kalbu orang tuanya. Sudah bukan hal yang aneh lagi jika belakangan ini kita mendengar ada anak yang tega mendaratkan pukulan dan tendangan ke tubuh dua insan yang lemah itu. Bahkan sampai menghabisi nyawa kedua orang tuanya dikarenakan tidak mendapat ijin untuk berbuat maksiat. Bayangkan jika hal itu terjadi pada anak anda. Siapa yang harus disalahkan dan menjadi kambing hitam, anak ataukah kita sebagai orang tua?
Di sisi lain, tidak sedikit orang tua yang tidak mempedulikan anak-anaknya. Mereka dibiarkan bagaikan binatang liar yang tidak memiliki aturan. Dibiarkan tidak terdidik dan tidak berpendidikan sehingga malang melintang nasib seorang anak di bawah asuhan dan buaian setan.
Bagi orang tua yang tidak bertanggung jawab seperti ini, bisa jadi yang ada di benak mereka adalah, bila syahwat tertunaikan, selesailah gejolak, tantangan, serta beban hidup. Selebihnya, hidup menjadi ‘milik’ masing-masing. Artinya, kedua orang tua dalam dunianya dan anak berada dalam dunia yang lain.
Asy-Syaikh Muqbil t di dalam Muqaddimah beliau terhadap salah satu kitab karya putri beliau menjelaskan: “Manusia dalam urusan kaum wanita terbagi menjadi tiga golongan:
Pertama: “Golongan yang melepas-kan ikatan dan aturan hidup sehingga dia pergi tanpa mahramnya, campur baur di tempat sekolah/kuliah mereka, bekerja di kantor atau di rumah sakit-rumah sakit, dan selainnya dari pekerjaan-pekerjaan duniawi sehingga urusan kaum muslimin menjadi carut marut dan kebarat-baratan.
Kedua: Melalaikan kaum wanita dengan tidak memberikan pendidikan kepada mereka. Membiarkan mereka bagaikan binatang. Tidak mengetahui apa saja yang telah diwajibkan Allah I dan hidupnya terkubang dalam fitnah, menyelisihi perintah Allah I, bahkan dia tampil merusak keluarganya sendiri dan menyambut segala seruan (kemaksiatan).
Ketiga: Mereka memperhatikan pendidikan kaum wanita dalam batasan-batasan yang tidak keluar dari Al-Qur`an dan As-Sunnah sebagai implementasi dari firman Allah I:

“Hai orang-orang yang beriman jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu.” (At-Tahrim: 6)
Dan sabda Rasulullah n:

“Setiap kalian adalah pemimpin dan kalian akan dimintai pertanggungjawaban tentang kepemimpinan kalian.”1 (Nashihati lin Nisa`, hal. 7-8)
Kerusakan hidup berumah tangga sendiri disebabkan banyak hal, di antaranya:
Pertama: Seorang suami sebagai pimpinan rumah tangga menyia-nyiakan tanggung jawabnya sehingga mengakibatkan anggota keluarganya berjalan sendiri-sendiri dengan tanpa ada aturan dan hukum yang mengikat. Ini merupakan penyebab yang pertama dan paling utama.
Kedua: Seorang istri melalaikan tanggung jawabnya sebagai pemimpin dan guru bagi anaknya. Sehingga pendidikan dan kasih sayang yang semestinya didapatkan oleh anak hilang dan pudar. Hal ini disebab-kan banyak faktor, di antaranya adalah munculnya konsep emansipasi/kesetaraan gender di mana wanita dituntut untuk ‘maju’ dengan berkarir setinggi mungkin. Terlebih, keberanian seperti ini yakni meninggalkan kewajibannya yang asasi dan tanggung jawabnya yang besar, justru ditopang dorongan sang suami. Akhirnya anak ‘dididik dan dibesarkan’ oleh seorang pembantu/baby sitter. Tidak mengherankan jika lahiriah dan batiniahnya merupakan jelmaan sang pembantu.
Ketiga: Munculnya anak-anak yang durhaka kepada Allah I dan Rasul-Nya serta kepada kedua orang tuanya. Sehingga kerap kali sang anak harus menelanjangkan perasaan kedua orang tuanya dan ‘mence-tak’ aib hidup berumah tangga. Karena rasa malu yang sangat dan berkepanjangan tidak mustahil seorang bapak kemudian tega menghabisi nyawa anaknya dan menum-pahkan darahnya.
Keempat: Masuknya media elektronik modern ke dalam rumah di mana itu menjadi salah satu perusak tatanan hidup berkeluarga. Banyaknya tayangan atau tontonan yang berbau porno, sedikit atau banyak, memberikan pengaruh yang mendalam bagi anggota keluarga. Mereka pun akhirnya melampiaskannya kepada orang-orang terdekat atau yang lemah dari kalangan mereka sendiri. Seorang bapak menodai anak kandungnya sendiri, seorang anak menodai ibunya, paman menodai kesucian keponakannya, dan seterusnya, adalah sekelumit potret bagaimana dampak itu dirasakan dalam sebuah tatanan keluarga.
Kelima: Lingkungan yang jahat dan jelek
Fenomena hidup seperti ini akan bisa dibaca oleh setiap orang yang memiliki akal dan ilmu yang benar.

Wahai Anak, Dengarkan Wasiat Allah I dan Rasulmu
Anak yang shalih adalah anak yang menggembirakan dan menjadikan kedua orang tuanya ridha. Rasulullah n bersabda:

“Ridha Rabb berada di keridhaan orang tua, dan murka Rabb berada di atas kemurkaan mereka.”2
Dia berusaha menunaikan hajat kedua orang tuanya dalam batasan-batasan agama. Berperilaku sopan dan santun, beradab, bertutur kata lemah lembut dan penuh kasih sayang, serta menjadi penyejuk mata kedua orang tuanya. Semuanya ini diharuskan bagimu, wahai anak, karena:
1.    Besarnya hak kedua orang tua
2.    Hak kedua orang tua adalah kedua setelah hak Allah I dan Rasul-Nya.
3.    Kelemahan di atas kelemahan yang ditanggung oleh seorang ibu mulai dari mengandung hingga melahirkannya
4.    Rasulullah n menjadikan martabat berbakti kepada kedua orang tua di atas martabat jihad di jalan Allah I. (Lihat Syarh Riyadhus Shalihin, Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin, 1/691)
Inilah wasiat Allah I dan Rasul, maka dengarkanlah:
Wasiat pertama: “Menjunjung tinggi hak kedua orang tua dan hak keduanya di bawah hak Allah I dan Rasul-Nya.”

“Dan sembahlah Allah dan jangan kalian menyekutukan-Nya dengan sesuatupun dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, kepada karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat, dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan kepada budak yang kalian miliki. Dan sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang angkuh lagi sombong.” (An-Nisa`: 36)
Ibnu Katsir menjelaskan: “Allah I yang Maha Mulia memerintahkan agar beribadah hanya kepada Allah I semata dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Dialah yang telah menciptakan, memberi rizki, memberi nikmat dan keutamaan atas seluruh makhluk dalam segala situasi dan kondisi. Maka Dialah yang berhak mereka sembah dan tidak menyekutukan-Nya dengan suatu makhluk pun. Sebagaimana sabda Rasulullah n kepada Mu’adz bin Jabal:
‘Tahukah kamu hak-hak Allah atas para hamba?’ Dia menjawab: ‘Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.’ Beliau bersabda: ‘Agar mereka menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.’ Kemudian beliau berkata: ‘Tahukah kalian hak hamba atas Allah jika mereka melakukan hal itu? Allah tidak akan mengadzab mereka.”
Kemudian Allah I mewasiatkan agar berbuat baik kepada kedua orang tua karena sesungguhnya Allah I telah menjadikan mereka berdua sebagai sebab keluarnya kamu dari tidak ada menjadi ada dan Allah I sering menggandengkan ibadah kepada-Nya dengan berbuat baik kepada kedua orang tua, seperti firman-Nya:

“Agar kamu bersyukur kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu.” (Luqman: 14)
Dan seperti firman-Nya:

“Dan Rabbmu telah memerintahkan agar kalian tidak menyembah melainkan kepada-Nya dan berbuat baik kepada kedua orang tua.” (Al-Isra`: 23)
Kemudian Allah I menganjurkan berbuat baik kepada keluarga, laki-laki atau perempuan, sebagaimana disebutkan dalam hadits:
“Bersedekah kepada fakir miskin adalah shadaqah dan bersedekah kepada karib kerabat adalah shadaqah dan menyambung silaturrahmi.”

“Dan Kami telah mewasiatkan kepada manusia agar mereka berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Dan jika keduanya memaksamu untuk menyekutukan-Ku dan kamu tidak memiliki ilmu tentangnya, maka janganlah kamu mentaati keduanya. Kepada-Ku kalian akan dikembalikan dan Aku akan memberitahukan kepada kalian apa yang telah kalian perbuat.” (Al-’Ankabut: 8)
Al-Imam Al-Qurthubi menjelaskan: “Berbuat baiklah kalian kepada mereka berdua dengan segala bentuk kebaikan. Ulama berkata: ‘Orang yang paling berhak untuk kamu mensyukurinya dan berbuat baik kepadanya, terus-menerus berbuat baik, taat kepadanya dan tunduk setelah Allah I, adalah orang Allah I sebutkan setelah perintah untuk taat dan mensyukuri-Nya, yakni kedua orang tua.’ Allah I berfirman: ‘Agar kamu bersyukur kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu’.
Diriwayatkan oleh Syu’bah dan Husyaim Al-Wasithi, dari Ya’la bin ‘Atha`, dari bapaknya, dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash, dia berkata: Rasulullah n bersab-da: ‘Keridhaan Allah tergantung pada keri-dhaan kedua orang tua dan kebencian Rabb tergantung dari kebencian kedua orang tua’.”

“Dan Rabbmu telah memerintahkan kepadamu agar kamu tidak menyembah kecuali hanya kepada-Nya dan berbuat baik kepada kedua orang tua. Dan apabila keduanya telah lanjut usia atau salah satu dari keduanya, maka janganlah kamu mengatakan kepada mereka berdua “ah” dan jangan kamu menghardiknya, dan katakanlah ucapan yang baik. Rendahkan sayap kehinaanmu di hadapan keduanya dan katakanlah: ‘Ya Rabbku, berikanlah kepada keduanya kasih sayang sebagaimana dia berdua telah memeliharaku semenjak kecilku’.” (Al-Isra: 23-24)
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di mengatakan: “Allah I meme-rintahkan untuk menyembah-Nya semata dan tidak ada sekutu bagi-Nya yaitu masuk di bawah perbudakan ibadah kepada-Nya, tunduk terhadap segala perintah dan larangan-Nya dengan penuh kecintaan, menghinakan diri, keikhlasan dalam semua ibadah, baik yang bersifat lahiriah ataupun batiniah. Allah I melarang perbuatan kesyi-rikan baik syirik kecil ataupun besar, tidak kepada malaikat, manusia wali, dan tidak pula makhluk Allah I selain mereka. Mereka tidak sanggup memberikan manfaat kepada diri mereka dan tidak bisa menolak mudarat, tidak bisa mematikan dan menghidupkan, serta tidak bisa membangkitkan.
Kewajiban yang jelas adalah meng-ikhlaskan ibadah kepada Dzat yang Maha sempurna dari segala sisi dan bagi-Nya pengawasan yang sempurna yang tidak ada satupun sekutu bagi-Nya dan tidak ada seorangpun yang membantu-Nya.
Setelah perintah untuk menyembah-Nya dan melaksanakan hak-hak-Nya, Allah I memerintahkan untuk menunaikan hak-hak hamba, diawali dari yang paling dekat kemudian yang setelahnya. Firman Allah I:

“Kepada kedua orang tua, maka berbuat baiklah”, artinya berbuat baiklah kamu kepada mereka dengan bahasa yang baik, berbicara dengan lemah lembut, menaati perintah keduanya dan menjauhi larangan mereka, memberikan nafkah kepada keduanya, memuliakan orang yang terkait hubungan dengan keduanya, menyambung silaturrahmi yang tidak memungkinkan tersambungkan melainkan dengan keduanya. Berbuat baik kepada keduanya memiliki dua lawan, yaitu berbuat jelek dan tidak mau berbuat baik. Dan kedua-duanya terlarang.”

“Dan Kami telah berwasiat (agar berbuat baik) kepada kedua orang tua (di mana ibunya) telah mengandungnya dalam kelemahan di atas kelemahan dan menyapihnya selama dua tahun (oleh karena itu) bersyukurlah kalian kepada-Ku dan kepada kedua orang tua kalian dan kepada-Ku kalian akan dikembalikan.”(Luqman:14)
(bersambung, insya Allah)

Catatan Kaki:

1 HR. Al-Imam Al-Bukhari no 844 dan Al-Imam Muslim no. 3408 dari shahabat Abdullah bin Umar.
2 HR. At-Tirmidzi no. 1821 dari Abdullah bin ‘Amr c, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani di dalam Ash-Shahihah no. 516. Dan diriwayatkan pula oleh Al-Imam Al-Bukhari di dalam Al-Adabul Mufrad no. 2, dan Asy-Syaikh Al-Albani di dalam kitab Shahih wa Dha’if Al-Adabil Mufrad mengatakan: Hasan mauquf dan telah shahih secara marfu’.

Kisah Nabi Isa dan Ibunya

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits Abrar Thalib)

Dengan kekuasaan Allah I, lahirlah ‘Isa dari rahim Maryam yang tidak pernah disentuh oleh seorang laki-lakipun.

Tatkala mereka melihat hal ini (Maryam mempunyai bayi), padahal mereka tahu bahwa Maryam belum menikah, mereka pun memastikan bahwa anak itu tentunya lahir dari hubungan yang tidak benar. Allah I menceritakan:

“Kaumnya berkata: ‘Hai Maryam, sungguh kamu benar-benar telah melakukan sesuatu yang amat mungkar. Hai saudara perempuan Harun, ayahmu bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sama sekali bukanlah pezina.’ Maka Maryam menunjuk kepada anaknya.” (Maryam: 27-29)
Sebagaimana dia diperintahkan. Lalu berkatalah orang-orang yang mengingkari Maryam (sebagaimana firman Allah I):

“Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih dalam ayunan?” (Maryam: 29)
Ketika itu Nabi ‘Isa u baru berusia beberapa hari sejak dilahirkan ibunya. Firman Allah I menerangkan bagaimana Nabi ‘Isa menjawab pertanyaan mereka:

“Sesungguhnya aku ini hamba Allah. Dia memberiku Al-Kitab (Injil) dan menjadikan aku seorang Nabi. Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkahi di mana saja aku berada. Dia memerintahkan kepadaku untuk mendirikan shalat dan menunaikan zakat selama aku hidup. Dan (memerintahkan pula agar) aku berbakti kepada ibuku dan Dia tidak menjadikan aku orang yang sombong lagi celaka. Kesejah-teraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.” (Maryam: 30-33)
Perkataan yang diucapkan saat beliau masih sebagai bayi yang baru lahir ini, merupakan salah satu tanda kekuasaan Allah I, sekaligus bukti kerasulan beliau. Dan beliau hanyalah seorang hamba Allah I. Tidak seperti yang dipahami oleh orang-orang Nasrani (Kristen).
Akhirnya terlepaslah ibunya dari tuduhan buruk ini. Karena seandainya Maryam mendatangkan seribu saksi atas kesuciannya dalam keadaan seperti ini, belum tentu manusia akan menerima pembelaannya. Akan tetapi ucapan ini keluar dari Nabi ‘Isa u yang masih dalam buaian, sehingga hilanglah semua keraguan yang ada di dalam hati siapapun.
Setelah kejadian ini, manusia pun terbagi menjadi tiga golongan.
Golongan pertama: yang beriman dan membenarkan ucapan beliau serta tunduk kepadanya setelah dia menjadi nabi. Mereka inilah yang beriman dengan sebenarnya.
Golongan kedua: yang melampaui batas, yaitu orang-orang Nasrani. Mereka mengemukakan suatu pernyataan yang sudah dikenal, yaitu memposisikan Nabi ‘Isa u sebagai Rabb. Maha Suci Allah I dari ucapan dusta mereka.
Golongan ketiga: yang mengingkari dan menentangnya, yaitu orang-orang Yahudi. Mereka melemparkan tuduhan kepada ibunya. Padahal Allah I telah membersihkannya dari tuduhan itu dengan sebersih-bersihnya.
Oleh karena itulah, Allah I berfirman:

“Maka berselisihlah golongan-golongan yang ada di antara mereka. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang kafir pada waktu menyaksikan hari yang besar (kiamat).” (Maryam: 37)
Ketika Allah I mengutusnya kepada Bani Israil, sebagian ada yang beriman kepadanya, namun banyak pula yang mengingkarinya. Beliau memperlihatkan kepada mereka ayat-ayat Allah I dan berbagai keajaiban. Beliau membuat bentuk (burung) dari tanah lalu meniupnya, maka jadilah seekor burung yang hidup dengan seizin Allah I. Dia menyembuhkan orang yang buta sejak lahirnya, orang yang berpenyakit sopak (belang), serta menghidupkan orang mati dengan seizin Allah I. Beliau juga mengabarkan kepada Bani Israil apa yang mereka makan dan mereka simpan di rumah-rumah mereka.
Namun demikian, musuh-musuh beliau justru ingin membunuhnya. Maka Allah I menjadikan kemiripan (fisik) pada salah seorang Hawariyyin1 (shahabatnya -yakni yang khianat) atau orang lain. Allah I mengangkat beliau kepada-Nya serta menyucikannya dari upaya pembunuhan. Akhirnya mereka menangkap orang yang diserupakan Allah I sebagai Nabi ‘Isa, lalu membunuh dan meletakkannya di tiang salib. Mereka telah melakukan dosa dan kejahatan yang sangat besar.
Orang-orang Nasrani (Kristen) mem-benarkan dan mempercayai hal ini, bahkan meyakini bahwa mereka telah membunuh dan menyalibnya. Namun Allah I menyu-cikan beliau dari semua keadaan ini, firman Allah I:

“Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh) adalah orang yang diserupakan dengan ‘Isa bagi mereka.” (An-Nisa 157)
Nabi ‘Isa u berdakwah di tengah-tengah Bani Israil, mengabarkan berita gembira akan risalah dan kedatangan Nabi Muhammad n. Namun setelah Nabi Muhammad n datang kepada mereka padahal mereka telah mengenalnya (melalui Taurat dan Injil) sebagaimana mengenal anak-anak mereka sendiri, ()  mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata). Ucapan ini pula yang mereka katakan tentang Nabi ‘Isa u. Allah I berfirman:

“Maka berkatalah orang-orang kafir di antara mereka: ‘Ini tidak lain melainkan sihir yang nyata’.” (Al-Ma`idah: 110)

Beberapa Pelajaran dari Kisah Ini
1. Nadzar itu telah disyariatkan sejak umat sebelum kita. Nabi n bersabda mengenai masalah ini:

“Barangsiapa bernadzar untuk taat kepada Allah maka hendaklah dia menaati-Nya. Dan barangsiapa bernazar hendak durhaka kepada Allah, maka janganlah dia mendurhakai-Nya.” (Shahih, HR. Al-Bukhari dari ‘Aisyah x)
2. Termasuk kenikmatan yang Allah I berikan kepada seseorang adalah dia berada di bawah pengawasan atau pemeliharaan orang yang shalih. Karena seorang pembimbing dan pengawas mempunyai pengaruh sangat besar dalam kehidupan orang yang dibimbing dan yang berada di bawah pengawasannya. Baik akhlak maupun adab sopan santunnya. Karena itulah diperintahkan bagi para pendidik atau pembimbing untuk memperhatikan pendidikan yang baik, selalu memberikan dorongan untuk berakhlak yang baik, dan memperingatkan agar menjauhi akhlak yang buruk kepada orang yang dibimbingnya.
3. Adanya karamah para wali Allah I. Dalam kisah ini, Allah I memberikan kemuliaan (karamah) kepada Maryam dengan beberapa perkara:
q Allah I memberinya jalan untuk berada di bawah bimbingan dan pengawasan Nabi Zakariya u setelah terjadi perselisihan mengenai urusannya.
q Allah I memuliakannya dengan rizki yang selalu datang dari Allah I untuk dirinya tanpa suatu sebab yang wajar.
q    Allah I memuliakannya dengan adanya ‘Isa u yang dilahirkannya dan ucapan malaikat kepadanya, juga perkataan Nabi ‘Isa u yang masih dalam buaian, yang kesemua itu menenteramkan hatinya. Jadi, terkumpul dalam masalah ini karamah seorang wali dan mu’jizat seorang Nabi.
4. Dikisahkan beberapa ayat (tanda kekuasaan) Allah I yang demikian besar yang Allah I berikan kepada Nabi ‘Isa u. Seperti menghidupkan orang mati, menyembuhkan penyakit buta serta sopak, dan sebagainya.
5. Kemuliaan yang Allah I berikan kepada Nabi ‘Isa u dengan menjadikan Hawariyin dan para pembela, baik ketika beliau masih hidup maupun sesudah meninggalnya, yang menyebarluaskan dakwah dan membela agamanya. Oleh karena itu, bertambahlah pengikutnya. Di antara mereka ada yang tetap beragama dengan lurus, yaitu mereka yang beriman kepadanya secara hakiki, beriman pula kepada para Rasul.
Di antara mereka ada pula yang menyimpang, yaitu orang-orang yang melampaui batas terhadapnya. Merekalah mayoritas manusia yang mengaku-aku sebagai pengikut Nabi ‘Isa, padahal sesungguhnya mereka adalah orang yang paling jauh darinya.
6. Allah I memuji Maryam sebagai seorang wanita yang sempurna sikap tashdiq-nya (beriman dan membenarkan). Yakni, dia membenarkan dan beriman kepada semua firman (kalimat) Rabbnya, Kitab-Kitab-Nya, dan dia termasuk orang-orang yang taat. Sifat ini tentu saja menunjukkan pula bahwa dia adalah seorang wanita yang mempunyai ilmu yang kokoh (rasikh), ibadah yang tidak pernah berhenti, dan khusyu’ (tunduk) kepada Allah I. Dan Allah I telah memilih dan melebihkannya di atas sekalian wanita di dunia ini.
7. Diterangkannya kisah ini atau berita lainnya kepada Nabi Muhammad n secara terperinci dan sesuai dengan kenyataannya, merupakan bukti-bukti risalah dan tanda-tanda kenabian beliau n. Sebagaimana firman Allah I:

“Yang demikian itu adalah sebagian dari berita ghaib yang Kami wahyukan kepada kamu (hai Muhammad).” (Ali ‘Imran: 44)

(Diambil dari Taisirul Lathifil Mannan karya Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di t)

Catatan Kaki:

1 Hawariyyun adalah sahabat-sahabat Nabi ‘Isa u yang berjumlah duabelas orang. Wallahu a’lam. (pen)