Persiapan Menjemput Ajal (Sebuah Nasehat)

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah)

Allah l berfirman dalam Al-Qur’an yang mulia:
“Setiap jiwa pasti akan merasakan mati.” (Ali Imran: 185)
Demikianlah, tidak ada yang hidup kekal di muka bumi ini. Semua akan kembali kepada-Nya. Kehidupan di dunia ini fana, tidak abadi, sebagaimana sifat dunia sendiri yang akan berakhir dengan kehancuran. Setelah itu kehidupan berpindah pada keabadian, yaitu kehidupan akhirat, bisa jadi di surga dan bisa jadi di neraka. Na’udzubillah min nar! (Kita berlindung kepada Allah l dari neraka!).
Kapan hal itu terjadi? Tak ada seorang pun yang tahu kecuali Dia yang di atas. Akan tetapi, itu pasti terjadi. Sesuatu yang pasti terjadi berarti dia dekat….
Ada sebuah nasihat bak mutiara bertaburan dalam masalah ini, dari seorang alim yang mulia yang telah mendahului kita kembali ke negeri keabadian di penantian alam barzakh, Fadhilatusy Syaikh Muhammad ibnu Shalih al-Utsaimin, semoga Allah l merahmati beliau, melapangkan beliau di dalam kuburnya, dan memberikan cahaya kepada beliau. Beliau t mengingatkan, “Bertakwalah kalian kepada Allah l dan perbanyaklah mengingat mati serta persiapkan diri kalian untuk menghadapi mati dengan melakukan amal saleh, sebelum kematian menjemput kalian dengan tiba-tiba. Ketika itu tidak ada tempat untuk lari dan tidak bisa melepaskan diri.
Ambillah pelajaran dari hari-hari dan malam-malam yang ada, karena waktu-waktu yang berlalu merupakan perbendaharaan untuk beramal dan merupakan kadar ajal yang akan berlalu seluruhnya dan akan hilang dengan cepat. Ketahuilah, setiap waktu, bahkan setiap kedipan mata, akan mendekatkan kalian kepada negeri akhirat serta menjauhkan kalian dari dunia yang kalian huni saat ini. Oleh karena itu, janganlah kalian tertipu dan menunda-nunda kesempatan. Semarakkanlah waktu-waktu yang tersisa dengan ketaatan kepada Al-Maula (Allah l). Giatlah melakukan amal-amal saleh. Hal itu lebih pantas dan lebih utama bagi kalian.
Sungguh, amal-amal saleh adalah teman di dalam kubur, karena apabila seorang hamba meninggal dunia maka yang mengantarnya ke kuburnya ada tiga. Yang dua kembali, sedangkan yang satu tetap bersamanya. Keluar bersamanya menuju kuburnya: keluarga, harta, dan amalnya. Keluarga dan hartanya akan kembali, sedangkan yang tetap menemaninya hanyalah amalnya1. Bila amalnya adalah amal saleh, sungguh dia sebaik-baik teman. Apabila sebaliknya, sungguh kerugian yang nyata kan menyertai.
Beruntunglah orang yang tahu keberadaan akhirat lalu dia mengidamkannya dan menukar dunianya guna meraih akhiratnya. Dia mengetahui hakikat dunia, hingga dia pun tidak mempertautkan hatinya dengan dunia dan tidak condong kepadanya.
Sungguh merugi orang yang tertipu dengan dunia hingga dia cenderung kepada dunia dan berpaling dari akhirat. Dia sama sekali tidak menoleh akhiratnya dan tidak melakukan usaha untuk meraih keberuntungan di sana.
Bagaimana mungkin seorang yang berakal bisa senang tersibukkan dengan remukan dan serpihan yang fana daripada kenikmatan yang kekal abadi?
Bagaimana dia bisa ridha berlomba-lomba meraih dunia dan meninggalkan berlomba-lomba meraih surga-surga yang penuh kenikmatan? Bersamaan dengan itu, apabila dia berlomba untuk dunia saja, niscaya akan luput darinya dunia dan akhirat. Justru apabila dia berupaya untuk akhiratnya, dia akan beroleh dunia dan akhirat.
Umar ibnu Abdil Aziz2 t dalam khutbahnya yang terakhir mengatakan, “Wahai sekalian manusia! Kalian tidaklah diciptakan dengan sia-sia dan ditinggalkan begitu saja3. Sungguh kalian punya tempat kembali yang Allah l tetapkan guna memutuskan perkara di antara hamba-hamba-Nya. Sungguh merugi orang yang keluar dari rahmat Allah l yang luasnya meliputi segala sesuatu dan diharamkan dari surga yang seluas langit-langit dan bumi. Tidakkah kalian tahu, tadinya kalian berada di tulang sulbi orang-orang yang telah tiada, dan orang-orang yang masih tinggal/tersisa akan mewarisi sepeninggal kalian. Demikianlah, hingga kalian dikembalikan kepada sebaik-baik Zat yang mewarisi. Setiap hari, pagi dan petang, kalian mengantarkan seseorang kepada Allah l, karena sungguh telah datang kematiannya dan telah ditetapkan ajalnya. Kalian mengantarkannya dan memasukkannya dalam belahan bumi, tanpa beralaskan bantal maupun hamparan. Telah terlepas segala hubungan. Dia telah berpisah dengan orang-orang yang dicintainya. Kini, dia berdiam dalam tanah dan menghadap kepada hisab. Dia tidak lagi membutuhkan harta yang ditinggalkannya, karena yang sekarang dibutuhkannya adalah amal-amalnya yang telah lalu. Oleh karena itu, bertakwalah kalian kepada Allah l, wahai hamba-hamba Allah l, sebelum datang kematian kepada kalian. Aku mengucapkan kalimat-kalimat ini kepada kalian dalam keadaan aku tidak mengetahui ada seorang pun yang lebih banyak dosanya daripada diriku. Akan tetapi, aku memohon ampun kepada Allah l dan bertaubat kepada-Nya.”
Selesai berucap demikian, Umar ibnu Abdil Aziz t mengangkat ujung rida’nya dan menangis hingga tersedu-sedu. Kemudian beliau turun dari mimbar dan setelahnya tidak pernah kembali ke mimbar tersebut hingga beliau meninggal dunia. Semoga rahmat Allah l atas beliau.
Allah l berfirman:
“Dan berilah perumpamaan kehidupan dunia kepada mereka, yaitu seperti air hujan yang kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, adapun amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Rabbmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (al-Kahfi: 45—46)
Wallahu ta’ala a’am bish-shawab. (Dinukil dari kitab adh-Dhiya’ul Lami’ minal Khuthabil Jawami’, 6/173—175)

Catatan Kaki:

1 Sebagaimana ditunjukkan dalam hadits Anas bin Malik z, dari Rasulullah n, beliau n bersabda:
يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلاَثَةٌ: أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى وَاحِدٌ، يَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ
“Ada tiga hal yang mengikuti mayat (ke kuburannya): keluarga, harta, dan amalnya. Yang dua kembali dan yang tetap bersamanya hanya satu. Keluarga dan hartanya akan kembali (pulang meninggalkannya), dan yang tetap bersamanya adalah amalnya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
2 Beliau adalah Abu Hafsh Umar bin Abdil Aziz bin Marwan ibnul Hakam bin Abil Ash al-Qurasyi al-Umawi al-Madani kemudian al-Mishri (tadinya tinggal di Madinah kemudian pindah ke Mesir, red.). Beliau adalah seorang imam, hafizh, allamah, mujtahid, ahli ibadah, seorang khalifah yang zuhud dan pemimpin yang adil. Ibunya adalah Ummu Ashim bintu Ashim bin Umar ibnul Khaththab z. (Siyar A’lamin Nubala’, 5/114—115)
3 Allah l berfirman:
“Apakah manusia mengira bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?” (al-Qiyamah: 36)
“Apakah kalian menyangka Kami menciptakan kalian hanyalah dengan sia-sia dan kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (al-Mukminun: 115)

Pahala Membaca Hadits Nabi

Telah didapati dalil-dalil tentang pahala yang akan diperoleh orang yang membaca Al-Qur’anul Karim. Yang jadi pertanyaan kami, adakah pahala yang didapatkan dalam membaca hadits-hadits Nabi? Berilah kami jawaban, barakallahu fikum.
Jawab:
Samahatusy Syaikh al-Walid al-Imam Abdul Aziz ibnu Abdillah ibnu Baz t menjawab, “Ya, membaca ilmu syar’i seluruhnya ada pahalanya. Mempelajari ilmu dan menuntut ilmu termasuk jalan Al-Qur’an dan termasuk jalan As-Sunnah, sehingga mengandung pahala yang besar. Ilmu itu diambil dari Al-Qur’an dan dari As-Sunnah. Nabi n bersabda:
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.”2
Terdapat banyak hadits yang menyebutkan keutamaan membaca Al-Qur’an. Di antaranya sabda Nabi n:
اقْرَؤُوْ الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيْعًا لِأَصْحَابِهِ
“Bacalah Al-Qur’an, karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi orang yang membacanya.” (HR. Muslim)3
Suatu hari Nabi n bersabda:
أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنْ يَغْدُوَ كُلَّ يَوْمٍ إِلَى بُطْحَانَ –وَادِي فِي الْمَدِيْنَةِ– أَوْ إِلَى الْعَقِيْقِ فَيَأْتِي مِنْهُ بِنَاقَتَيْنِ كَوْمَاوَيْنِ فِي غَيْرِ إِثْمٍ وَلاَ قَطِيْعَةِ رَحِمٍ؟ فَقُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، نُحِبُّ ذلِكَ. قَالَ: أَفَلَا يَغْدُو أَحَدُكُمْ إِلَى الْمَسْجِدِ فَيَعْلَمَ أَوْ يَقْرَأَ آيَتَيْنِ مِنْ كِتَابِ اللهِ k خَيْرٌ لَهُ مِنْ نَاقَتَيْنِ، وَثَلاَثٌ خَيْرٌ لَهُ مِنْ ثَلاَثٍ، وَأَرْبَعٌ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَرْبَعٍ، وَمِنْ أَعْدَادِهِنَّ مِنَ الْإِبِلِ
“Siapa di antara kalian suka pergi setiap pagi harinya ke Buthhan—sebuah wadi/lembah yang ada di Madinah—atau ke Aqiq lalu ia pulang dari tempat itu membawa dua unta betina yang besar tanpa melakukan dosa dan memutus hubungan rahim?” Kami menjawab, “Wahai Rasulullah, kami menyukai hal tersebut.” Beliau bersabda, “Tidakkah salah seorang dari kalian pergi ke masjid lalu di sana ia mempelajari atau membaca dua ayat dari Kitabullah k, itu lebih baik baginya daripada dua unta. Tiga ayat lebih baik daripada tiga unta, empat ayat lebih baik daripada empat unta. Dan lebih baik daripada hitungan/jumlah yang sama dari unta.”4
atau sebagaimana disabdakan Nabi n.
Hadits ini menunjukkan keutamaan mempelajari Al-Qur’an dan membaca Al-Qur’an.
Dalam hadits Ibnu Mas’ud z disebutkan bahwa Nabi n bersabda:
مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَة، وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا5
“Siapa yang membaca satu huruf dari Al-Qur’an maka ia akan beroleh satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali kebaikan.”6
Demikian pula ketika seorang mukmin mempelajari As-Sunnah. Ia membaca hadits-hadits dan mengajarkannya, ia akan mendapatkan pahala yang besar, karena yang dilakukannya termasuk mempelajari ilmu. Nabi n bersabda:
مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى الْجَنَّةِ
“Siapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka mencari ilmu maka Allah akan mudahkan baginya jalan ke surga.”7
Ini menunjukkan, mempelajari ilmu dan menghafal hadits-hadits serta mengingat-ingatnya/mengulang-ulanginya termasuk sebab masuknya seseorang ke dalam surga dan selamat dari api neraka. Demikian pula ucapan Nabi n:
مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّقْهُ فِي الدِّيْنِ
“Siapa yang Allah inginkan kebaikan baginya niscaya Allah akan pahamkan (faqihkan) ia tentang agama ini.” (Muttafaqun alaihi)
Tafaqquh fid din (memahami agama) termasuk jalan Al-Qur’an dan termasuk jalan As-Sunnah. Tafaqquh dalam As-Sunnah termasuk tanda bahwa Allah l menginginkan kebaikan pada si hamba, sebagaimana tafaqquh dalam Al-Qur’an merupakan tanda akan hal tersebut. Dalil-dalil tentang hal ini banyak, walhamdulillah.
(Fatawa Nurun ‘alad Darb, al-Aqidah, hlm. 11—12)

 

Catatan Kaki:

2 HR. al-Bukhari dalam Shahih-nya dari hadits Utsman ibnu Affan z.
3 Dari hadits Abu Umamah al-Bahili z.
4 Diriwayatkan oleh al-Imam Muslim dalam Shahih-nya dari hadits Uqbah bin Amir z.

5 Kelengkapan haditsnya:
لاَ أَقُوْلُ : {الم} حَرْفٌ، وَلكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ، وَلاَمٌ حَرْفٌ، وَمِيْمٌ حَرْفٌ
“Aku tidaklah mengatakan alim laam miim itu satu huruf. Akan tetapi, alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf.”
6 HR. at-Tirmidzi dalam Sunan-nya, disahihkan al-Imam al-Albani t dalam Shahih at-Tirmidzi dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir.
7 HR. Muslim dari Abu Hurairah z.

Hukum Obat Pencegah Haid

Bolehkah seorang wanita mengonsumsi obat yang bisa mencegah datangnya haid?
Jawab:
Fadhilatusy Syaikh Muhammad ibnu Shalih al-Utsaimin t menjawab, “Apabila wanita yang menggunakan obat pencegah haid tidak mendapati mudarat/bahaya/dampak negatif pada obat tersebut dari sisi kesehatan, maka tidak mengapa menggunakannya, namun dengan syarat harus seizin suaminya—bila ia sudah bersuami—. Akan tetapi, sepanjang yang saya ketahui, obat-obatan pencegah haid tersebut dapat memudaratkan wanita yang menggunakannya. Telah diketahui pula bahwa keluarnya darah haid itu sifatnya alamiah, sementara sesuatu yang sifatnya alamiah bila ditahan/dicegah pada waktu yang semestinya ia keluar niscaya akan memberikan dampak negatif bagi tubuh.
Sisi lain dari dampak negatif obat-obatan ini adalah mengacaukan waktu kebiasaan haid (adat) seorang wanita sehingga haid akan datang di luar kebiasaan yang ada. Akibatnya, si wanita menjadi bimbang dan ragu (apakah darah yang menimpanya tersebut haid atau bukan) dalam pelaksanaan shalatnya, dalam hubungannya dengan suaminya, dan lainnya. Karena itulah, dalam penggunaan obat-obatan semacam itu saya tidak mengatakannya haram akan tetapi aku tidak menyukai bila seorang wanita menggunakannya karena mengkhawatirkan kemudaratan bagi dirinya.
Saya katakan, sepantasnya seorang wanita meridhai apa yang Allah l tetapkan atas dirinya. Ketika Rasulullah n masuk menemui Ummul Mukminin Aisyah x pada waktu haji wada’, beliau dapati Aisyah sedang menangis sementara Aisyah telah berihram untuk umrah. Beliau pun bersabda:
مَا لَكِ، أَنُفِسْتِ1؟ قُلْتُ: نَعَمْ. قَالَ: إِنَّ هذَا أَمْرٌ كَتَبَهُ اللهُ عَلَى بَنَاتِ آدَمَ
“Ada apa dengan dirimu? Apakah engkau ditimpa haid?” Aisyah menjawab, “Iya.”
Beliau bersabda, “Sesungguhnya haid ini adalah perkara yang telah Allah tetapkan atas anak-anak perempuan Adam.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Oleh karena itu, yang sepantasnya bagi seorang wanita adalah bersabar dan mengharapkan pahala. Apabila ia berhalangan untuk menunaikan ibadah puasa dan shalat karena haid yang menimpanya, sungguh pintu zikir terbuka baginya, alhamdulillah. Ia bisa berzikir kepada Allah l, bertasbih (menyucikan Allah l), ia bisa bersedekah serta berbuat baik kepada orang lain dengan ucapan dan perbuatan, ini termasuk amalan yang paling utama.” (Majmu’ Fatawa wa Rasail Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin, 11/283)

Catatan Kaki:

1 Hadits ini menunjukkan bolehnya menyebut haid dengan nifas.

Istihadhah (bagian 2)

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyyah)

Apakah Ada Kewajiban Mandi dan Wudhu Setiap Kali Hendak Shalat?
Ahlul ilmi berbeda pendapat tentang hal ini.
Menurut imam yang empat dan selain mereka, mandi setiap hendak shalat hukumnya mustahab, tidak wajib.
Adapun berwudhu menurut jumhur ulama wajib dilakukan wanita mustahadhah setiap kali hendak mengerjakan shalat lima waktu. Demikian pendapat Abu Hanifah, asy-Syafi’i, dan Ahmad.
Adapun al-Imam Malik berpendapat bahwa wudhu setiap hendak shalat ini tidak wajib, karena menurut beliau darah istihadhah tidak membatalkan wudhu. Namun, kebanyakan ulama menyelisihi pendapat al-Imam Malik ini dengan berdalilkan hadits yang diriwayatkan at-Tirmidzi dan selainnya bahwasanya Nabi n memerintahkan wanita yang mustahadhah untuk berwudhu setiap kali shalat. (Majmu’atul Fatawa, 21/629)
Hadits yang dimaksud adalah sabda Nabi n kepada Fathimah bintu Abi Hubaisy x yang mengadukan istihadhahnya kepada Nabi n:
تَوَضَّئِيْ لِكُلِّ صَلاَةٍ
“Berwudhulah setiap kali shalat.” (HR. at-Tirmidzi no. 125, disahihkan dalam Irwa’ul Ghalil no. 110)
Dalam riwayat al-Bukhari t dalam kitab Shahih-nya (no. 228) juga ada tambahan:
ثُمَّ تَوَضَّئِيْ لِكُلِّ صَلاَةٍ
“Kemudian berwudhulah engkau untuk setiap shalat…”
Namun, kata al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hambali t, yang benar tambahan ini dari ucapan Urwah ibnuz Zubair yang meriwayatkan hadits ini dari ayahnya, dari Aisyah x. (Fathul Bari, karya Ibnu Rajab al-Hambali, 1/448)
Tambahan ini diisyaratkan kelemahannya oleh al-Imam Muslim, karena itu beliau tidak membawakannya dalam Shahih-nya. Beliau t mengatakan, “Dalam hadits Hammad ibn Zaid ada tambahan yang sengaja kami tinggalkan penyebutannya.” (Shahih Muslim bi Syarhin Nawawi, 3/243, ketika membawakan hadits no. 752)
Tambahan lafadz yang dimaksud oleh al-Imam Muslim t, kata al-Qadhi ‘Iyadh t, adalah:
اغْسِلِي عَنْكِ الدَّمَ وَتَوَضَّئِي
“Cucilah darah darimu dan berwudhulah.”
Tambahan ini disebutkan oleh an-Nasa’i dan selainnya. Al-Imam Muslim tidak menyebutkannya karena tambahan ini termasuk lafadz yang Hammad bersendiri dalam menyebutkannya. An-Nasa’i mengatakan, “Kami tidak mengetahui seorang pun (dari perawi hadits ini, pen.) yang mengatakan وَتَوَضَّئِي dalam hadits ini selain Hammad.”
Abu Dawud dan selainnya telah menyebutkan tentang wudhu dari riwayat ‘Adi ibn Tsabit dan Hubaib ibn Abi Tsabit serta Ayyub ibn Abi Miskin. Abu Dawud mengatakan, “Semuanya dhaif/lemah.” (al-Ikmal, 2/176)
Al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hambali t mengatakan bahwa hadits-hadits yang memerintahkan berwudhu setiap kali shalat mudhtharibah (goncang) dan mu’allalah (berpenyakit). (Fathul Bari, karya Ibnu Rajab al-Hambali, 1/450)
Dalam masalah wudhu wanita mustahadhah ini, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t memilih pendapat sebagaimana mazhab al-Imam Malik, yaitu wanita mustahadhah dan orang-orang yang terus-menerus mengalami hadats semisalnya, tidak wajib berwudhu setiap kali shalat, tetapi mustahab saja, karena tidak ada dalil yang menunjukkan wudhunya batal. Alasan lainnya, wudhu tidak berfaedah bagi orang yang terus-menerus berhadats tersebut, karena hadatsnya tidak hilang, namun terus ada pada dirinya. Pendapat ini yang belakangan dipegang oleh Fadhilatusy Syaikh Muhammad ibn Shalih al-Utsaimin t. (lihat catatan kaki asy-Syarhul Mumti’ 1/503, Dar Ibnil Jauzi, cet. I, Dzulqa’dah 1422 H)
Kembali kepada masalah mandi bagi wanita mustahadhah, yang rajih adalah sebagaimana pendapat jumhur, yaitu tidak wajib. Al-Imam an-Nawawi t berkata, “Hadits-hadits yang disebutkan dalam Sunan Abi Dawud, al-Baihaqi, dan selain keduanya yang menyebutkan bahwa Rasulullah n memerintahkan Ummu Habibah x untuk mandi setiap kali hendak shalat, tidak ada yang tsabit (sahih) sedikitpun. Al-Baihaqi dan orang-orang yang sebelumnya telah menerangkan kedhaifannya. Yang sahih dalam hal ini adalah hadits yang diriwayatkan al-Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya yang menyebutkan bahwa Ummu Habibah x mengalami istihadhah, lalu Nabi n bersabda kepadanya:
إِنَّمَا ذَلِكَ عِرْقٌ، فَاغْسِلِي ثُمَّ صَلِّي. فَكَانَتْ تَغْتَسِلُ عِنْدَ كُلِّ صَلاَةٍ
“Darah istihadhah itu hanyalah darah urat, maka mandilah (seselesainya dari haidmu) kemudian kerjakanlah shalat.” Maka dari itu, Ummu Habibah mandi setiap kali hendak shalat.
Al-Imam asy-Syafi’i t menerangkan, “Rasulullah n hanya memerintahkannya (mandi setelah selesai dari haid). Dalam hadits ini tidak ada yang menunjukkan perintah beliau kepada Ummu Habibah untuk mandi setiap kali hendak shalat. Tidaklah diragukan bahwa mandi Ummu Habibah (setiap kali hendak shalat) itu sifatnya tathawwu’ (sunnah)1, tidak diperintahkan kepadanya, dan hal itu merupakan kelapangan baginya.” (al-Majmu’, 2/554)

Shalat Jamak Bagi Wanita Mustahadhah
Rasulullah n bersabda kepada Hamnah bintu Jahsyin x:
وَإِنْ قَوِيْتِ عَلَى أَنْ تُأَخِّرِي الظُّهْرَ وَتُعَجِّلِي الْعَصْرَ فَتَغْتَسِلِيْنَ وَتَجْمَعِيْنَ يَبْنَ الصَّلاَتَيْنِ الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ، وَتُأَخِّرِيْنَ الْمَغْرِبَ وَتُعَجِّلِيْنَ الْعِشَاءَ، ثُمَّ تَغْتَسِلِيْنَ وَتَجْمَعِيْنَ بَيْنَ الصَّلاَتَيْنِ فَافْعَلِيْ، وَتَغْتَسِلِيْنَ مَعَ الْفَجْرِ فَافْعَلِي…
“Bila engkau kuat mengakhirkan shalat zhuhur dan menyegerakan shalat ashar, lalu engkau mandi dan menjamak dua shalat, zhuhur dan ashar; dan engkau mengakhirkan shalat maghrib dan menyegerakan shalat isya, kemudian engkau mandi dan menjamak dua shalat tersebut, maka lakukanlah; dan engkau mandi di waktu subuh (untuk mengerjakan shalat subuh), maka lakukanlah….” (HR. Ahmad, Abu Dawud no. 287, at-Tirmidzi no. 128, dihasankan al-Imam al-Albani dalam Irwa’ul Ghalil no. 188)
Hadits di atas menunjukkan bolehnya wanita mustahadhah menjamak shalat fardhu. Namun perlu dilihat dulu, apa yang dimaksud menjamak di sini?
Mungkin Anda pernah mendengar istilah jamak shuri? Inilah jamak yang dimaksudkan bagi wanita mustahadhah (Subulus Salam, 1/375).
Caranya, ia mengakhirkan shalat zhuhur sampai pada akhir waktu zhuhur. Saat masuk awal waktu shalat ashar, ia pun mengerjakannya di awal waktu, sehingga ia mengerjakan kedua shalat ini (zhuhur dan ashar) pada waktunya masing-masing dengan sebelumnya mandi sekali (untuk dua shalat). Demikian pula dengan shalat maghrib dan isya.
Adapun untuk shalat subuh, disenangi baginya untuk mandi, karena shalat subuh ini tidak bergabung dengan shalat lima waktu yang lain, yang sebelumnya ataupun setelahnya. Tidaklah diragukan bahwa dengan mandi, kebersihan yang diperoleh akan lebih sempurna. Namun, hal ini dilakukan bila tidak ada kesulitan yang besar seperti cuaca yang sangat dingin dan lainnya. (Taudhihul Ahkam, 1/446)

Hukum Jima’ dengan Istri yang Mengalami Istihadhah
Ahlul ilmi berbeda pendapat dalam masalah boleh tidaknya seorang suami melakukan hubungan dengan istrinya yang sedang istihadhah. Namun, berdasarkan keterangan yang dibawakan di atas bahwa wanita mustahadhah hukumnya sama dengan wanita yang suci, tidak ada larangan bagi suami untuk melakukannya. Hal ini merupakan pendapat jumhur ahlul ilmi. Di antara mereka adalah Abu Hanifah, Malik, mazhab Syafi’iyah, ahlu zhahir, dan Ahmad dalam satu riwayat dari beliau. Ini adalah pendapat Ibnu Abbas c, Ibnul Musayyab, al-Hasan, Atha’, Sa’id bin Jubair, Qatadah, Hammad bin Abi Sulaiman, Bakr ibn Abdillah al-Muzani, al-Auza’i, ats-Tsauri, Ishaq, Abu Tsaur, dan Ibnul Mundzir rahimahumullah. (Nailul Authar, 1/397)
Al-Imam al-Albani t mengatakan, “Pendapat jumhur inilah yang benar, karena hukum asal dalam segala sesuatu adalah mubah. Selain itu, pelarangan jima’ saat istihadhah akan memberikan kemudaratan bagi suami apabila istihadhah tersebut berlangsung terus-menerus sebagaimana yang terjadi pada Ummu Habibah bintu Jahsyin x.”
Kemudian al-Imam al-Albani menyebutkan atsar yang diriwayatkan ad-Darimi (no. 207) dengan sanad yang sahih dari Salim al-Afthas. Ia berkata, “Sa’id ibnu Jubair pernah ditanya, ‘Apakah wanita mustahadhah boleh digauli?’ Sa’id menjawab, ‘Shalat lebih agung daripada jima’.” (Maksudnya, kalau shalat saja boleh, apalagi jima’, red.)
Ad-Darimi juga meriwayatkan yang semisal ini dari Bakr ibnu Abdillah al-Muzani dengan sanad yang sahih.” (Tsamarul Mustathab fi Fiqhis Sunnah wal Kitab, 1/45).
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Catatan Kaki:

1 Mandi setiap kali hendak shalat dihukumi mustahab dalam rangka menjamak/menggabungkan hadits-hadits yang ada. (Nailul Authar, 1/342)

‘Atikah bintu Zaid

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Abdirrahman bintu Imran)

Pada dirinya Allah l kumpulkan banyak kemuliaan. Ayahnya, Zaid bin ‘Amr, adalah seorang yang berlepas diri dari agama nenek moyangnya sebelum diutusnya Rasulullah n. Hatinya condong kepada agama hanifiyah, agama Ibrahim q yang mengusung dakwah tauhid. Ibunya adalah seorang sahabiyah yang mulia, Ummu Kurz bintu al-Hadhrami bin ‘Ammar bin Malik bin Rabi’ah bin Lukaiz bin Malik bin ‘Auf x. Dia bersaudara dengan salah seorang sahabat peraih janji surga, Sa’id bin Zaid z. Orang-orang yang bersanding dengannya adalah orang-orang yang mulia.
Dia sendiri adalah seorang wanita yang tunduk di hadapan seruan Rasulullah n. Dia berbai’at kepada beliau n. Tatkala turun perintah hijrah, dia pun tunduk kepada perintah Allah l. Dia salah satu dari sekian muhajirah. Kemuliaan yang didapatkan oleh ‘Atikah bintu Zaid bin ‘Amr bin Nufail bin ‘Abdil ‘Uzza bin Riyah bin ‘Abdillah bin Qurth bin Rizah bin ‘Adi bin Ka’b al-‘Adawiyah x.
Wanita Quraisy ini dikaruniai pula kecantikan dan lisan yang fasih. Dia menjadi seorang kekasih yang amat dicintai suaminya, Abdullah bin Abi Bakr ash-Shiddiq x. Rasa cinta ini sempat membuat Abdullah bin Abi Bakr tertinggal dari peperangan di jalan Allah l. Ash-Shiddiq murka mendengar keadaan putranya ini. Beliau pun menyuruh Abdullah menceraikan istrinya.
Berat dirasa perpisahan dengan orang yang dicintai. Namun, Abdullah menjalankan perintah sang ayah. Sampai kemudian Abu Bakr z mengizinkan Abdullah untuk kembali kepada istrinya. ‘Atikah bintu Zaid x kembali berdampingan dengan Abdullah bin Abi Bakr z.
Kebersamaan di dunia memang tak pernah abadi. Abdullah bin Abi Bakr z turut dalam pengepungan kota Tha’if. Dalam pertempuran itu, Abdullah mendapatkan luka karena tikaman anak panah dan akhirnya meninggal di Madinah.
Dulu sebelum meninggal, Abdullah bin Abi Bakr z pernah menyerahkan sebagian hartanya kepada ‘Atikah, sembari berpesan agar ‘Atikah tidak menikah lagi sepeninggal Abdullah. ‘Atikah memegang janjinya. Dia pun hidup seorang diri tanpa menikah. Banyak yang datang untuk meminangnya, namun ‘Atikah menolaknya.
Waktu berlalu. Abu Bakr ash-Shiddiq z yang kala itu menjabat sebagai khalifah wafat. Umar ibnul Khaththab z dipilih sebagai penggantinya. Di tengah masa kekuasaannya, Amirul Mukminin mengirim utusan kepada ‘Atikah untuk menyampaikan pesan beliau berkenaan dengan harta pemberian Abdullah bin Abi Bakr, “Sesungguhnya engkau telah mengharamkan atas dirimu apa yang Allah l halalkan. Kembalikanlah harta itu kepada keluarganya dan menikahlah.”
‘Atikah menerimanya. Dikembalikannya harta pemberian Abdullah kepada keluarganya. Kemudian, datanglah Umar ibnul Khaththab z meminang dan menikahinya.
Dalam pernikahannya dengan Umar ibnul Khaththab z, ‘Atikah memberikan syarat kepadanya agar tidak memukulnya, tidak melarangnya dari al-haq, dan tidak melarangnya untuk shalat di masjid Rasulullah n. Umar menyanggupinya.
Demikianlah, sampai akhirnya Allah l berkehendak mereka berdua berpisah. Umar ibnul Khaththab terbunuh saat mengimami shalat shubuh.
Sepeninggal Umar, setelah ‘Atikah menghabiskan masa iddahnya, hawari (pembela) Rasulullah n, az-Zubair ibnul ‘Awwam z datang meminangnya. Kepada az-Zubair, ‘Atikah kembali memberikan syarat yang sama seperti Umar. Az-Zubair z menyanggupinya pula.
Di tengah perjalanan rumah tangganya, az-Zubair z pun merasa berat melihat istrinya yang jelita sering keluar untuk shalat di masjid Rasulullah n. Namun ia pun tak kuasa melarangnya. Setiap kali ‘Atikah bersiap-siap untuk ke masjid, az-Zubair mengatakan, “Demi Allah, engkau selalu keluar seperti ini, sementara sebenarnya aku tidak menyukainya!”
“Larang saja aku, niscaya aku tidak akan pergi!” jawab ‘Atikah.
“Bagaimana mungkin aku akan melarangmu, padahal engkau dulu telah mensyaratkan agar aku tak melakukannya!” balas az-Zubair.
Az-Zubair pun mencari akal. Saat ‘Atikah keluar untuk shalat isya, az-Zubair duduk di jalan. Tatkala ‘Atikah lewat, dengan cepat dipukulnya pinggul ‘Atikah dan segera menghilang dalam gulitanya malam. Bukan main terkejutnya ‘Atikah. Dia pun bergegas pulang ke rumah.
Esok harinya, ketika tiba waktu shalat ‘Atikah tidak bersiap sebagaimana biasa.
“Mengapa engkau tidak bersiap-siap sebagaimana biasa?” tegur az-Zubair.
“Inna lillah! Manusia sudah rusak sekarang!” jawab ‘Atikah, “Demi Allah, aku tidak mau lagi keluar dari rumahku!”
Perjalanan hidup terus berlalu. Ketika berkecamuk Perang Jamal, az-Zubair terbunuh. ‘Atikah kembali seorang diri.
Setelah melalui kehidupan panjang yang penuh berkah, ‘Atikah bintu Zaid x wafat. Rohnya naik menuju Rabbnya l, meninggalkan jejak sejarah kehidupan yang penuh keharuman.
‘Atikah bintu Zaid al-‘Adawiyah, semoga Allah l meridhainya….
Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.
Sumber bacaan:
• al-Ishabah, al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani (8/227—229)
• al-Isti’ab, al-Imam Ibnu ‘Abdil Barr (2/542—544)
• ath-Thabaqatul Kubra, al-Imam Ibnu Sa’d (10/252—253)

Faktor Pendukung Pendidikan Anak (Bagian ke-1)

Pendidikan terhadap anak-anak memang bukan suatu hal yang pantas disepelekan. Dari sanalah anak-anak tumbuh menjadi manusia dewasa. Pendidikan yang baik—dengan pertolongan Allah l—akan membentuk pribadi yang mapan. Tentunya banyak pula faktor pendukung yang perlu diperhatikan demi membantu keberhasilannya.

Ada beberapa faktor yang membantu keberhasilan pendidikan anak, di antaranya:

1. Memilih istri yang salehah
Sebelum menikah, seyogianya seseorang beristikharah, memohon pilihan terbaik kepada Allah l, serta meminta pendapat orang-orang yang berpengalaman, karena istri kelak menjadi ibu bagi anak-anak. Mereka akan tumbuh di atas akhlak dan tabiat ibunya. Di samping itu, pada umumnya istri pun memiliki pengaruh terhadap sang suami sendiri. Oleh karena itu, dikatakan, “Seseorang itu di atas agama istrinya. Kesenangannya kepada sang istri akan membuatnya selalu menurutinya. Kecintaan kepadanya akan membuatnya selalu menyetujuinya. Tak pernah ada jalan untuk berbeda, berjauhan, apalagi berpisah.”
Aktsam bin Shifi pernah mengatakan kepada anaknya, “Wahai anakku, jangan sampai kecantikan seorang wanita membuatmu meremehkan kejelasan nasab, karena seorang istri yang mulia merupakan tempat lahirnya kemuliaan.”
Abul Aswad ad-Du’ali mengatakan kepada anak-anaknya, “Sesungguhnya aku telah berbuat baik kepada kalian semasa kalian kecil hingga dewasa, dan sebelum kalian lahir.” Anak-anaknya pun bertanya, “Wahai ayah, bagaimana engkau berbuat baik kepada kami sebelum kami lahir?” Sang ayah menjawab, “Aku memilih untuk kalian ibu-ibu yang kalian tak pernah mencelanya.”
Seorang penyair melantunkan:
Awal kebaikanku kepada kalian
adalah pilihanku pada wanita dari keturunan mulia

2. Memohon keturunan yang saleh kepada Allah l
Ini adalah amalan yang dilakukan oleh para nabi dan rasul serta hamba-hamba Allah l yang saleh. Sebagaimana Allah l berfirman tentang Zakariya q:
“Wahai Rabbku, anugerahkanlah kepadaku dari sisi-Mu keturunan yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.” (Ali Imran: 38)
Allah l juga menghikayatkan sifat orang-orang saleh. Di antaranya, mereka selalu berdoa:
“Wahai Rabb kami, anugerahkanlah bagi kami pasangan-pasangan dan keturunan yang baik sebagai penyejuk mata bagi kami, serta jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (al-Furqan: 74)

3. Gembira dengan datangnya anak, tidak boleh bersikap tidak ridha
Anak adalah anugerah dari Allah l. Karena itu, mestinya seorang muslim merasa gembira dengan anugerah Allah l itu, baik berupa anak laki-laki maupun perempuan. Tidak layak seorang muslim bersikap tidak ridha kepada Allah l atas kelahiran anaknya, merasa tidak mampu, atau khawatir akan memberatkan dari sisi nafkah. Sesungguhnya Allah l, Dialah yang akan menanggung rezeki mereka. Allah l firmankan:
ﯨ ﯩ ﯪﯫ
“Kamilah yang memberikan rezeki kepada kalian dan kepada mereka.” (al-Isra: 31)
Selain itu, diharamkan pula seorang muslim bersikap tidak ridha dan berduka dengan kelahiran dan kehadiran anak perempuan. Alangkah pantasnya dia menjauhi semua itu, hingga dia selamat dari penyerupaan terhadap akhlak orang-orang jahiliah, juga dari penentangan terhadap takdir Allah l, serta penolakan terhadap anugerah-Nya l .
Sesungguhnya keutamaan anak perempuan amat nyata. Mereka adalah anak-anak perempuan dan saudara perempuan, yang kelak menjadi para istri atau para ibu. Mereka—sebagaimana kata ungkapan—adalah separuh dari masyarakat yang akan melahirkan separuh yang lainnya. Oleh karena itu, mereka adalah bagian dari masyarakat secara sempurna.
Di antara dalil yang menunjukkan keutamaan mereka, Allah l menamakan kehadiran mereka sebagai anugerah dan mendahulukan penyebutan mereka atas anak laki-laki. Allah l berfirman:
“Milik Allah-lah seluruh langit dan bumi. Dia menciptakan apapun yang Dia kehendaki. Dia menganugerahkan anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan menganugerahkan anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki.” (asy-Syura: 49)
Rasulullah n bersabda:
مَنِ ابْتُلِيَ مِنْ هَذِهِ الْبَنَاتِ بِشَيْءٍ فَأَحْسَنَ إِلَيْهِنَّ كُنَّ لَهُ سِتْرًا مِنَ النَّارِ
“Barangsiapa diuji dengan sesuatu hal dari anak-anak perempuannya, lalu dia berbuat baik kepada mereka, maka mereka kelak akan menjadi dinding dari api neraka.” (HR. al-Bukhari no. 1418 dan Muslim no. 2629)
Betapa bagusnya ucapan seseorang yang mengatakan:
Di antara nikmat Allah l yang terbaik adalah anak perempuan yang salehah.
Mereka penerus keturunan dan tumpuan kesenangan, juga penerus silsilah.
Dengan berbuat baik kepada mereka akan dituai berkah.

4. Memohon pertolongan Allah l dalam mendidik mereka
Apabila Allah l menolong seorang hamba dalam mendidik anak-anaknya, meluruskan dan memberikan taufik kepadanya, dia akan beruntung dan berhasil. Namun, jika Allah l membiarkan dan menyerahkan urusan itu kepada dirinya sendiri, dia akan rugi. Amalannya hanya akan menjadi musibah baginya.
Sebagaimana dikatakan, “Jika datang pertolongan Sang Pencipta kepada seorang hamba, dia takkan mendapati angan-angannya yang sulit dicapai, melainkan pasti dimudahkan.”
Begitu pula seperti perkataan, “Jika Allah l tidak menolong seseorang, itu adalah awal kegagalan usahanya.”

5. Mendoakan kebaikan bagi anak-anaknya dan menghindari doa kejelekan bagi mereka
Jika mereka anak-anak yang saleh, hendaknya didoakan agar kokoh di atas kesalehannya dan terus bertambah. Jika mereka bukan anak-anak yang baik maka didoakan agar mendapatkan petunjuk dan jalan yang lurus. Hendaknya seseorang benar-benar menjauhi doa kejelekan untuk mereka. Kalaupun mereka rusak dan menyimpang, seharusnya kedua orang tualah, orang pertama yang mengobatinya.

6. Menamai mereka dengan nama yang baik
Suatu hal yang semestinya dilakukan oleh orang tua adalah menamai anak-anaknya dengan nama-nama yang bagus, Islami, dan menggunakan bahasa Arab. Hendaknya dihindari nama-nama yang terlarang, nama-nama yang tidak disenangi, atau mengandung konotasi jelek, karena nama akan terus melekat bersama si anak sepanjang umurnya dan akan memengaruhi diri serta akhlak mereka.
Ibnul Qayyim t mengatakan, “Jarang engkau melihat nama yang jelek melainkan pasti dia diberikan kepada sesuatu yang jelek pula. Ini sebagaimana dikatakan, ‘Amat jarang kedua matamu melihat orang yang memiliki julukan, melainkan pasti dia bersifat seperti makna julukan itu, kalau kau memerhatikan julukannya.’
Allah l dengan hikmah-Nya dalam ketetapan dan takdir-Nya memberikan ilham kepada jiwa manusia untuk memberi nama sesuai dengan yang dinamai, karena kesesuaian hikmah-Nya antara suatu lafadz dan makna lafadz itu, sebagaimana sesuainya akibat dengan penyebabnya.
Abul Fath Ibnu Jani juga mengatakan, ‘Suatu ketika, aku mendengar suatu nama sementara aku tak mengerti maknanya. Lalu kuambil maknanya dari lafadznya. Kemudian jelaslah bagiku, ternyata memang demikian maknanya atau mirip dengan itu.’
Lalu kukatakan hal itu pada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t. Beliau pun mengatakan, ‘Itu sering terjadi padaku’.”
Ibnul Qayyim t mengatakan pula, “Secara umum, akhlak, amalan, dan perbuatan jelek akan membawa kepada penamaan yang sesuai dengannya, sementara kebalikannya akan membawa pada penamaan yang sesuai pula. Sebagaimana ini benar adanya dalam nama-nama sifat, begitu pula dalam nama-nama diri. Tidaklah Rasulullah n diberi nama Muhammad dan Ahmad, melainkan karena banyaknya perangai terpuji pada diri beliau. Karena itu, panji pujian ada di tangan beliau dan umat beliau adalah hammadun (orang-orang yang suka memuji Allah l). Beliau sendiri adalah makhluk yang paling agung pujiannya kepada Rabbnya. Oleh sebab itu, Rasulullah n memerintahkan untuk membaguskan nama. Beliau n pernah bersabda:
حَسِّنُوا أَسْمَاءَكُمْ
“Baguskanlah nama kalian!”
Terkadang, si pemilik nama yang baik merasa segan terhadap namanya, sehingga nama ini mendorongnya untuk berbuat sesuai dengan namanya dan meninggalkan perbuatan yang berlawanan dengan nama tersebut. Maka dari itu, kita melihat mayoritas orang yang rendah memiliki nama yang sesuai dengan diri mereka, sedangkan mayoritas orang yang mulia namanya sesuai pula dengan diri mereka. Wa billahit taufiq.”
Betapa bagusnya ucapan al-Baihani dalam Manzhumah-nya:
Namailah anakmu Muhammad
atau Thahir atau Mushthafa atau Ahmad
Sebaik-baik nama jika kau mau adalah Abdullah
agar dia hidup di bawah kelembutan Allah l

7. Memberikan nama kuniah yang baik semasa kanak-kanak
Misalnya memberi kuniah kepada anak dengan Abu Abdillah, Abu Ahmad, dan sebagainya, sehingga mereka tidak didahului oleh julukan-julukan jelek yang akan terus melekat sepanjang umurnya. Dulu salafush shalih biasa memberi kuniah kepada anak-anak mereka semasa kecil. Kuniah ini tetap melekat hingga wafatnya. Dalam kitab-kitab biografi banyak ditemui yang seperti ini.
8. Menanamkan keimanan dan akidah yang benar dalam jiwa anak
Di antara kewajiban—bahkan ini hal yang paling wajib atas orang tua—adalah benar-benar bersemangat menjaga perkara keimanan serta akidah ini dengan penuh perhatian. Misalnya, mengajari anak-anak semenjak kecil untuk mengucapkan dan menyatakan dua kalimat syahadat, serta menumbuhkan dalam hati mereka rasa cinta kepada Allah l. Juga mengajarkan bahwa segala nikmat yang ada pada kita hanyalah dari Allah l semata. Diajari pula mereka bahwa Allah k ada di atas langit, Dia Maha Melihat dan Maha Mendengar, tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, serta masalah-masalah akidah lainnya. Ketika mereka telah beranjak dewasa, diarahkan pula untuk membaca kitab-kitab akidah yang sesuai bagi mereka.

9. Menanamkan nilai-nilai yang terpuji dan perangai yang mulia dalam jiwa anak
Hendaknya orang tua memiliki semangat untuk mendidik mereka di atas ketakwaan, kesantunan, kejujuran, amanah, penjagaan kehormatan diri, kesabaran, kebajikan, menyambung hubungan, berjihad, dan berilmu. Dengan demikian, mereka tumbuh dewasa dalam keadaan cinta dengan keberanian dan cinta terhadap akhlak yang mulia.

10. Menjauhkan dan menanamkan celaan dalam jiwa mereka terhadap akhlak yang rendah
Hendaknya orang tua menanamkan kebencian dalam diri mereka terhadap kedustaan, hasad, dendam, ghibah, namimah, mengambil hak orang lain, durhaka terhadap orang tua, memutuskan hubungan kekerabatan, pengecut, kesewenang-wenangan, dan akhlak rendah lainnya. Mereka pun tumbuh dalam keadaan benci dan menjauhi itu semua.

11. Mengajarkan dan melatih mereka dengan perkara-perkara yang baik
Misalnya mendoakan orang yang bersin, menutup mulut ketika menguap, makan dengan tangan kanan, adab-adab menunaikan hajat, adab-adab mengucapkan dan membalas salam, adab menjawab telepon, menyambut tamu, bercakap dalam bahasa Arab, dan sebagainya.
Jika sejak kecil anak terlatih dengan adab dan akhlak serta hal-hal terpuji lainnya, dia pun akan mengakrabinya hingga akhirnya menjadi sifatnya. Selama dia menerima pengajaran dan bimbingan semasa kanak-kanaknya, dia pun tumbuh dewasa dengan apa yang dibiasakan kepadanya.
Sebagaimana dikatakan, “Tumbuhnya pemuda itu di atas apa yang dibiasakan ayahnya.”
Juga sebagaimana perkataan, “Dahan pohon akan lurus jika engkau luruskan, namun sebatang kayu takkan bisa lunak bila kau luruskan.”
Saleh bin Abdil Quddus mengatakan pula:
Orang yang kau didik di masa kecilnya
bak batang pohon yang terus disirami saat ditanam,
hingga kaulihat tumbuh dedaunannya
setelah dulu dia hanya sesuatu yang kerontang.

12. Selalu berusaha menggunakan ungkapan yang baik ketika berbicara dengan anak dan menghindari ungkapan yang jelek dan tercela
Di antara perkara yang harus dijaga oleh orang tua adalah selalu berusaha menggunakan ungkapan yang baik dan dapat diterima. Juga tidak memandang dengan tajam ketika berbicara kepada anak, serta menjaga diri dari mencela, mencaci, menggerutu, ataupun mengatakan ucapan-ucapan jelek dan kotor lainnya.
Misalnya, apabila orang tua merasa kagum dengan perbuatan si anak, hendaknya ia mengatakan, “Masya Allah.” Apabila melihat anak yang tampak bersemangat maka ucapkanlah, “Subhanallah, Allahu akbar.” Apabila si anak berbuat baik, dikatakan kepadanya, “Barakallahu fiik, ahsantum (semoga Allah memberkahimu, engkau telah berbuat baik).” Jika anak berbuat kesalahan, dikatakan kepadanya, “Jangan, wahai anakku!” atau “Tidak demikian!” Masih banyak lagi ungkapan baik yang lain. Anak pun akan akrab dengan ungkapan seperti ini, sehingga terjaga lisannya dari cercaan dan ucapan keji.

13. Selalu berusaha mengajak anak untuk menghafal Kitabullah
Amalan ini termasuk amalan paling agung yang bisa dilakukan oleh orang tua. Kesibukan menghafal dan mengamalkan Kitabullah adalah kesibukan dengan cita-cita yang tertinggi dan anugerah termulia. Di samping itu, hal ini akan menyibukkan waktu serta menjaga mereka dari penyia-nyiaan waktu dan penyimpangan. Apabila menghafal Al-Qur’an akan berpengaruh terhadap perilaku dan akhlak mereka, hingga muncul mata air hikmah dalam hati mereka.

14. Membentengi mereka dengan zikir-zikir yang syar’i
Ini bisa dilakukan dengan memperdengarkan bacaan zikir itu pada mereka jika mereka masih kecil, menyuruh mereka menghafalnya jika mereka telah berusia mumayyiz, serta menerangkan keutamaan dan membiasakan mereka agar terus-menerus melakukannya.
(Insya Allah bersambung)

(Diterjemahkan oleh Ummu ‘Abdirrahman bintu ‘Imran dari Arba’atu Akhtha’ fi Tarbiyatil Abna’ karya Muhammad bin Ibrahim al-Hamd, dengan sedikit perubahan)

Banyak Jalan untuk Beramal

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyyah)

Memiliki keluarga sakinah penuh mawaddah wa rahmah adalah dambaan setiap insan. Apatah lagi keseharian keluarga tersebut sarat dengan ketaatan kepada Rabbul Izzah, selalu bersemangat beramal takwa dan tidak mau tertinggal dalam kebaikan.

Tergambarlah di benak kita betapa indahnya rumah tangga Rasulullah n. Rumah tangga yang dipenuhi ketakwaan kepada Allah l, yang anggota-anggotanya hanya menghendaki keridhaan Allah l dan berharap kebahagiaan di negeri akhirat. Dalam kitab yang mulia, kita dapati Allah l memberikan bimbingan kepada istri-istri Nabi-Nya untuk memenuhi hari-hari mereka di rumah-rumah mereka dengan ibadah kepada Allah l. Dia Yang Mahasuci berfirman:
“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, serta taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kalian, wahai ahlul bait, serta membersihkan kalian sebersih-bersihnya. Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumah kalian dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah Nabi). Sesungguhnya Allah Mahalembut lagi Maha Mengetahui.” (al-Ahzab: 33—34)
Walaupun pembicaraan dalam ayat-ayat di atas ditujukan kepada istri-istri Nabi n, kita pun dapat mengambil pelajaran bahwa Allah l cinta apabila hamba-hamba-Nya memakmurkan rumah tangga mereka dengan ketaatan kepada-Nya. Oleh karena itu, setiap orang yang akan membangun ataupun yang telah membangun mahligai rumah tangga hendaklah mencita-citakan dan mewujudkan hari-hari dalam rumah tangga yang dipenuhi ibadah kepada Ar-Rahman.
Seorang suami ataupun istri tidak boleh pernah merasa lemah untuk beramal kebaikan, dengan alasan tidak mampu. Sungguh jalan-jalan kebaikan itu banyak dan berbilang, tidak hanya satu. Singkat kata, banyak jalan untuk berbuat baik. Kalau tidak bisa melakukan satu kebaikan, masih terbuka pintu untuk melaksanakan kebaikan yang lain. Dan Allah l Maha Mengetahui kebaikan yang dilakukan hamba-hamba-Nya.
“Apa yang kalian lakukan dari kebaikan maka sungguh Allah mengetahuinya.” (al-Baqarah: 215)
Abu Dzar Jundab ibnu Junadah z berkata:
قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، أَيُّ الْأَعْمَالِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: الْإِيْمَانُ بِاللهِ وَالْجِهَادُ فِي سَبِيْلِهِ. قُلْتُ: أَيُّ الرِّقَابِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: أَنْفَسُهَا عِنْدَ أَهْلِهَا وَأَكْثَرُهَا ثَمَنًا. قُلْتُ: فَإِنْ لَمْ أَفْعَلْ؟ قَالَ: تُعِيْنُ صَانِعًا أَوْ تَصْنَعُ لِإِخْرَقَ. قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، أَرَأَيْتَ إِنْ ضَعُفْتُ عَنْ بَعْضِ الْعَمَلِ؟ قَالَ: تَكُفُّ شَرَّكَ عَنِ النَّاسِ فَإِنَّهَا صَدَقَةٌ مِنْكَ عَلَى نَفْسِكَ
Aku pernah bertanya kepada Rasulullah, “Amal apakah yang paling utama?” Beliau menjawab, “Iman kepada Allah l dan jihad di jalan-Nya.” Aku bertanya lagi, “Budak yang bagaimanakah yang lebih utama dimerdekakan?” “Yang paling disenangi oleh pemiliknya dan paling mahal harganya,” jawab Rasulullah. “Kalau aku tidak bisa melakukannya?” tanyaku lagi. “Engkau berbuat baik kepada seseorang atau engkau bantu orang yang tidak cakap dalam pekerjaan yang berupaya dilakukannya,” jawab beliau. Aku bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, apa pendapat anda bila aku tidak mampu melakukan sebagian amalan?” Beliau menjawab, “Engkau tahan kejahatanmu (perbuatan jelekmu) dari orang-orang maka hal itu merupakan sedekah darimu untuk dirimu.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Dari sini kita dapatkan faedah bahwa menahan diri dari berbuat kejelekan dan menyakiti orang lain termasuk amalan iman. Pahalanya tidak kurang dari pahala sedekah dan berbuat kebaikan. (Bahjatun Nazhirin, 1/199)
Setiap keluarga muslim tidak boleh meremehkan satu kebaikan pun sehingga ditinggalkan begitu saja, padahal dari kebaikan yang dianggap kecil itu mungkin seseorang dapat meraup pahala yang besar. (Fathul Bari, 5/146)
Abu Hurairah z mengabarkan dari Nabi n sabda beliau:
لَقَدْ رَأَيْتُ رَجُلاً يَتَقَلَّبُ فِي الْجَنَّةِ فِي شَجَرَةٍ قَطَعَهَا مِنْ ظَهْرِ الطَّرِيْقِ كَانَتْ تُؤْذِي الْمُسْلِمِيْنَ
“Sungguh aku melihat ada seorang lelaki berpindah dari satu tempat ke tempat lain di surga (untuk berlezat-lezat dengan kenikmatannya), disebabkan sebuah pohon yang dipotongnya dari jalanan karena pohon tersebut mengganggu kaum muslimin yang lewat di jalan tersebut.” (HR. Muslim no. 6614)
Dalam satu riwayat:
مَرَّ رَجُلٌ بِغُصْنِ شَجَرَةٍ عَلَى ظَهْرِ طَرِيْقٍ، فَقَالَ: وَاللهِ، لَأُنـَحِّيَنَّ هَذَا عَنِ الْمُسْلِمِيْنَ لاَ يُؤْذِيْهِمْ. فَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ
Seseorang melewati dahan pohon yang berada di atas jalanan, maka ia berkata, “Demi Allah! Sungguh aku akan menyingkirkan dahan ini dari jalan kaum muslimin agar tidak mengganggu mereka.” Orang ini pun dimasukkan ke dalam surga. (HR. Muslim no. 6613)
Dalam riwayat al-Bukhari (no. 2472) dan Muslim (no. 4917) disebutkan bahwa Rasulullah n bersabda:
بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِي بِطَرِيْقٍ وَجَدَ غُصْنَ شَوْكٍ عَلَى طَرِيْقٍ فَأَخَّرَهُ، فَشَكَرَاللهُ لَهُ فَغَفَرَ لَهُ
“Tatkala seseorang sedang berjalan di sebuah jalanan, ia mendapati ada dahan/ranting berduri di atas jalanan. Ia pun menyingkirkannya. Allah l pun mensyukuri perbuatannya hingga Allah l mengampuninya.”
Subhanallah! Sekadar menghilangkan gangguan dari jalanan ternyata memiliki keutamaan dan teranggap sebagai amalan yang menjadi sebab pelakunya masuk surga. (Syarhu Riyadhish Shalihin, Ibnu Utsaimin, 1/529)
Al-Imam an-Nawawi t mengatakan, “Hadits di atas menunjukkan keutamaan setiap perbuatan yang memberikan kemanfaatan bagi kaum muslimin dan keutamaan menghilangkan/menyingkirkan bahaya dari mereka.” (al-Minhaj, 16/386)
Masih hadits dari Abu Hurairah z, Rasulullah n bersabda:
بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِي بِطَرِيْقٍ اشْتَدَّ عَلَيْهِ الْعَطَشُ، فَوَجَدَ بِئْرًا فَنَزَلَ فِيْهَا فَشَرِبَ، ثُمَّ خَرَجَ فَإِذَا كَلْبٌ يَلْهَثُ يَأْكُلُ الثَّرَى مِنَ الْعَطَشِ. فَقَالَ الرُّجُلُ: لَقَدْ بَلَغَ هَذَا الْكَلْبُ مِنَ الْعَطَشِ مِثْلَ الَّذِي كَانَ قَدْ بَلَغَ مِنِّي. فَنَزَلَ بِئْرًا فَمَلَأَ خُفَّهُ مَاءً ثُمَّ أَمْسَكَهُ بِفِيْهِ حَتَّى رَقِيَ فَسَقَى الْكَلْبَ، فَشَكَرَ اللهُ لَهُ فَغَفَرَ اللهُ لَهُ. قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، إِنَّ لَنَا فِي الْبَهَائِمِ أَجْرًا؟ فَقَالَ: فِي كُلِ كَبِدٍ رَطْبَةٍ أَجْرٌ
Ketika seseorang sedang berjalan di satu jalanan, ia merasakan kehausan yang sangat. Lalu ia mendapati sebuah sumur. Ia pun turun ke dalam sumur tersebut untuk minum darinya. Setelah ia keluar dari dalam sumur, ternyata didapatinya seekor anjing sedang menjulur-julurkan lidah menjilati tanah yang basah karena hausnya. Orang itu berkata, “Sungguh anjing ini merasakan kehausan yang sangat seperti yang aku rasakan tadi.” Ia pun turun kembali ke dalam sumur, lalu dipenuhinya sepatunya dengan air kemudian ia naik dalam keadaan sepatu berisi air itu ia tahan dengan mulutnya. Setelahnya anjing itu diberinya minum. Maka Allah mensyukuri perbuatannya dan diberikanlah ampunan untuknya.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah! Apakah kita dapat pahala ketika berbuat baik kepada hewan?” Beliau menjawab, “Berbuat baik kepada setiap makhluk yang hidup ada pahalanya.” (HR. al-Bukhari no. 2363, 2466, 6009, dan Muslim no. 5820)
Dalam riwayat al-Bukhari ada tambahan:
فَأَدْخَلَهُ الْجَنَّةَ
“Allah pun memasukkan orang itu ke dalam surga (setelah wafatnya).”
Hadits di atas juga memberikan pelajaran kepada kita untuk tidak meremehkan amalan kebaikan, karena terkadang amal itu menjadi sebab diampuninya dosa. Sungguh benar Rasulullah n dengan sabdanya:
الْجَنَّةُ أَقْرَبُ إِلَى أَحِدِكُمْ مِنْ شِرَاكِ نَعْلِهِ
“Surga itu lebih dekat kepada salah seorang dari kalian daripada tali sandalnya.”1 (HR. al-Bukhari no. 6488)
Orang ini melakukan amalan yang ringan lalu Allah l mensyukuri perbuatannya, mengampuni dosa-dosanya, serta memasukkannya ke dalam surga. (Syarhu Riyadhush Shalihin, 1/528)
Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin t mengatakan, “Hadits ini menunjukkan bahwa berbuat baik kepada hewan ada pahalanya. Setiap hewan yang Anda berbuat baik kepadanya dengan memberinya minum atau makan, atau Anda melindunginya dari panas atau dari dingin, baik hewan itu milik Anda maupun milik orang lain, atau hewan liar (tidak ada pemiliknya), maka Anda beroleh pahala di sisi Allah l. Ini berbuat baik kepada hewan. Bagaimana lagi jika terhadap manusia? Apabila Anda berbuat baik kepada manusia tentu pahalanya lebih besar. Karena itulah, Nabi n bersabda:
مَنْ سَقَى مُسْلِمًا عَلَى ظَمَإٍ سَقَاهُ اللهُ مِنَ الرَّحِيْقِ الْمَخْتُوْمِ
“Siapa yang memberi minum seorang muslim yang kehausan maka Allah akan memberinya minum dari ar-rahiq al-makhtum2.”
Seandainya anak Anda yang kecil berdiri di samping kulkas seraya berkata kepada Anda, “Minta minum!” Lalu Anda beri minum si anak yang sedang haus, berarti Anda telah memberi minum seorang muslim yang sedang kehausan (walaupun anak kita sendiri). Allah l akan memberi Anda minum dari ar-rahiq al-makhtum. Sungguh ini pahala yang besar. Untuk Allah l sajalah segala pujian.
Ini adalah ghanimah (keuntungan besar). Akan tetapi, di mana orang yang mau menerimanya? Di manakah orang yang ikhlas niatnya dan berharap pahala dari Allah l? Oleh karena itu saya berpesan kepada Anda, wahai saudaraku, juga untuk diri saya sendiri, agar selalu bersemangat meraih kesempatan beramal dengan niat yang baik/ikhlas, hingga akan bertambah tabungan pahala kebaikan di sisi Allah l pada hari kiamat kelak.
Betapa banyak amalan yang kecil menjadi besar karena niat. Betapa banyak pula amalan yang besar menjadi kecil karena kelalaian/tidak ada keikhlasan dan tidak mengharap pahala Allah l semata.” (Syarhu Riyadhush Shalihin, 1/528—529)
Rasulullah n pernah berpesan kepada Abu Dzar z:
لاَ تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوْفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلِيْقٍ
“Jangan sekali-kali engkau meremehkan kebaikan sedikitpun, walau berupa engkau bertemu saudaramu dengan wajah yang berseri-seri.” (HR. Muslim no. 6633)
Dari sini kita semakin menyadari, tidaklah pantas kita meninggalkan satu kebaikan karena meremehkan atau menganggapnya kecil dan tidak berarti.
Untuk wanita muslimah, baik dari kalangan ibu-ibu ataupun remaja putri, ada pula pesan khusus Rasulullah n. Beliau bersabda:
يَا نِسَاءَ الْمُسْلِمَاتِ، لاَ تَحْقِرَنَّ جَارَةٌ لِجَارَتِهَا وَلَوْ فِرْسِنَ شَاةٍ
“Wahai wanita-wanita muslimah, jangan sekali-kali seorang tetangga meremehkan untuk memberikan pemberian/hadiah kepada tetangganya walaupun hanya berupa sepotong kaki kambing.” (HR. al-Bukhari no. 6017 dan Muslim no. 2376 dari Abu Hurairah z)
Setiap keluarga muslim memiliki kesempatan untuk memperbanyak amal kebaikan, termasuk bersedekah. Sedikitnya harta yang dimiliki oleh seseorang tidaklah menjadi alasan untuk tidak bersedekah, karena sungguh banyak jalan untuk berderma. Bukankah Rasulullah n bersabda:
كُلُّ مَعْوُرْفٍ صَدَقَةٌ
“Setiap perbuatan ma’ruf adalah sedekah.” (HR. Muslim no. 2325)
Di zaman Rasulullah n, ada orang-orang miskin yang mengadu:
يَا رَسُوْلَ اللهِ، ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُوْرِ بِالْأُجُوْرِ، يُصَلُّوْنَ كَمَا نُصَلِّي وَيَصُوْمُوْنَ كَمَا نَصُوْمُ وَيَتَصَدَّقُوْنَ بِفُضُوْلِ أَمْوَالِهِمْ. قَالَ: أَوَلَيْسَ قَدْ جَعَلَ اللهُ لَكُمْ مَا تَصَدَّقُوْنَ بِهِ؟ إِنَّ بِكُلِّ تَسْبِيْحَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلِّ تَكْبِيْرَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلِّ تَحْمِيْدَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلِّ تَهْلِيْلَةٍ صَدَقَةٌ، وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوْفِ صَدَقَةٌ، وَنَهْيٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ، وَفِي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ. قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، أَيَأْتِي أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُوْنَ لَهُ فِيْهَا أَجْرٌ؟ قَالَ: أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِي حرَامٍ أَكَانَ عَلَيْهِ فِيْهَا وِزْرٌ؟ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِي الْحَلاَلِ كَانَ لَهُ أَجْرٌ
“Wahai Rasulullah, orang-orang yang berharta telah pergi membawa banyak pahala. Mereka shalat sebagaimana kami shalat. Mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa. Mereka bisa bersedekah dengan kelebihan harta mereka (sementara kami tidak punya apa-apa untuk disedekahkan).” Rasulullah n bersabda, “Bukankah Allah telah menjadikan untuk kalian apa yang dapat kalian sedekahkan? Sungguh setiap tasbih itu sedekah. Setiap takbir adalah sedekah. Setiap tahmid merupakan sedekah. Demikian pula setiap tahlil adalah sedekah. Amar ma’ruf itu sedekah. Nahi mungkar juga sedekah. Bahkan pada kemaluan kalian (atau jima yang kalian lakukan dengan istri/budak yang dimiliki) ada sedekah3.” Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, apakah salah seorang dari kami memuaskan syahwatnya lalu ia mendapatkan pahala?” Beliau menjawab, “Apa pendapat kalian andai ia meletakkan kemaluannya pada yang haram, apakah ia berdosa? Demikian pula apabila ia meletakkan kemaluannya pada yang halal, ia akan beroleh pahala.” (HR. Muslim no. 2326 dari Abu Dzar z)
Sebelum menutup lembaran ini, satu hadits lagi akan kita bawakan sebagai berita gembira bagi setiap keluarga kaum muslimin bahwa banyak cara bagi mereka untuk beroleh pahala dari Allah l. Abu Hurairah z berkata, “Rasulullah n bersabda:
ماَ مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا إِلاَّ كَانَ مَا أُكِلَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةٌ، وَمَا سُرِقَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةٌ، وَمَا أََكَلَ السَّبُعُ مِنْهُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ، وَمَا أَكَلَتِ الطَّيْرُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ، وَلاَ يَرْزَؤُهُ أَحَدٌ إِلاَّ كَانَ لَهُ صَدَقَةٌ
“Tidak ada seorang muslim pun menanam sebuah pohon melainkan apa yang dimakan dari pohon tersebut merupakan sedekahnya. Apa yang dicuri dari pohon tersebut juga teranggap sedekah darinya. Apa yang dimakan oleh binatang buas dari pohon tersebut teranggap sedekahnya pula. Demikian juga yang dimakan oleh burung adalah sedekahnya. Tidaklah seseorang mengurangi (mengambil sesuatu dari) pohonnya melainkan teranggap sebagai sedekahnya.” (HR. Muslim no. 3945)
Bila demikian banyak cara mendulang pahala dan banyak jalan untuk beramal, kenapa kita sebagai keluarga muslim merasa lemah untuk beramal?
Wallahu ta’ala a’lam.

Catatan Kaki:

1 Demikianlah, surga itu mudah diperoleh dengan niat yang lurus dan amalan ketaatan. Dan terkadang amal ketaatan itu berupa amalan yang ringan. (Fathul Bari, 11/390)

2 Khamr di surga yang disebutkan oleh Allah l dalam surat al-Muthaffifin ayat 25. Hadits ini diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad dalam Musnad-nya (3/14), Abu Dawud no. 1682, dan at-Tirmidzi, ia mengatakan bahwa hadits ini gharib, dan lebih tepat keadaannya mauquf, bukan marfu’.
Asy-Syaikh al-Albani mendhaifkannya dalam al-Misykat no. 2449, karena dalam sanadnya ada Athiyyah al-‘Aufi. Riwayat yang mauquf juga melalui jalan ‘Athiyyah.

3 Di sini ada dalil bahwa urusan mubah bisa menjadi amalan ketaatan apabila disertai niat yang benar. Jima’ teranggap ibadah apabila seorang suami meniatkan untuk memenuhi hak istrinya dan dalam rangka bergaul
yang ma’ruf dengan istrinya sebagaimana yang diperintahkan Allah l. Atau dia niatkan untuk beroleh anak yang saleh, atau untuk menjaga kehormatan diri, kehormatan istri, dan menahan keduanya dari melihat yang haram, berpikir tentangnya atau berkeinginan kepada yang haram, ataupun tujuan-tujuan baik lainnya. (al-Minhaj, 7/93)

Mengqadha Puasa Ramadhan

Apa hukumya mengqadha Ramadhan yang telah lewat dan kapankah itu dilakukan?

Jawab:
Bersegera mengqadha puasa Ramadhan tentu lebih bagus daripada menunda-nundanya, karena manusia tidak tahu apa yang akan menimpanya esok (seperti kematian atau sakit, red.). Segera mengqadha tanggungan utang puasanya tentu lebih mantap dan menunjukkan semangatnya terhadap kebaikan. Kalaulah bukan karena hadits Aisyah x:
كَانَ يَكُونُ عَلَيَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ، فَمَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِيَ إِلاَّ فِي شَعْبَانَ
“Dahulu saya menanggung utang (puasa) Ramadhan maka aku tidak bisa menggantinya kecuali di bulan Sya’ban.” (HR. al-Bukhari), tentu akan kita katakan wajib bersegera mengqadha.
Hadits ini menunjukkan bahwa barang siapa memiliki tanggungan dari puasa Ramadhan hendaknya tidak menundanya sampai Ramadhan kedua. Seharusnya seperti itu.
Maka dari itu, seseorang yang punya kewajiban mengqadha puasa Ramadhan tidak boleh menundanya sampai Ramadhan berikutnya kecuali karena uzur (alasan syar’i, red.). Misalnya dia sakit dan tidak mampu, atau seorang wanita yang menyusui dan tidak mampu berpuasa, tidak mengapa baginya untuk menunda qadha yang lalu hingga tiba Ramadhan kedua. (Fatwa asy-Syaikh Ibnu Utsaimin, Fatawa Ramadhan, 2/552)
Seseorang memasuki Ramadhan dalam keadaan memiliki tanggungan puasa Ramadhan sebelumnya. Apakah dia berdosa karena belum mengqadha sebelum masuknya Ramadhan? Apakah dia juga wajib membayar kaffarah ataukah tidak?

Jawab:
Setiap orang yang mempunyai tanggungan puasa Ramadhan diharuskan mengqadhanya sebelum Ramadhan yang akan datang. Dia boleh menundanya sampai Sya’ban. Oleh karena itu, ketika datang Ramadhan berikutnya dan dia belum mengqadhanya tanpa alasan (syar’i, red.), dia berdosa.
Dia wajib mengqadha di waktu yang akan datang sekaligus memberi makan seorang miskin untuk ganti tiap harinya, sebagaimana difatwakan sekelompok sahabat Rasulullah n. Adapun ukurannya adalah setengah sha’ (setengah zakat fitrah, red.) setiap harinya dari makanan penduduk negeri tersebut yang diberikan kepada sebagian orang miskin, walaupun hanya satu orang.
Adapun jika dia memiliki alasan (syar’i, red.) menunda qadha, baik karena sakit maupun musafir, dia wajib mengqadha saja dan tidak ada kewajiban memberi makanan, berdasarkan keumuman firman Allah l:
“Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.” (al-Baqarah: 185)
Allah l lah yang memberi taufiq. (Fatwa asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Fatawa Ramadhan, 2/555)
Apa hukumnya seorang muslim yang melewati beberapa bulan Ramadhan—yakni beberapa tahun, tidak puasa dan dia melakukan kewajiban-kewajiban yang lain. Dia tidak berpuasa tanpa ada alasan. Apakah dia harus mengqadha jika bertaubat?
Jawab:
Pendapat yang benar, ia tidak harus mengqadha jika bertaubat. Semua ibadah yang telah ditetapkan waktunya, jika seseorang sengaja menundanya dari waktunya tanpa alasan, Allah l tidak akan menerimanya.
Atas dasar ini, tidak ada manfaatnya jika dia mengqadhanya. Akan tetapi, hendaknya dia bertaubat kepada Allah l serta memperbanyak amal saleh. Barang siapa bertaubat, Allah l akan menerima taubatnya. (Fatwa asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Fatawa Ramadhan, 2/556)

Seseorang terkena penyakit menahun. Para dokter menyarankannya tidak berpuasa. Lantas, ketika sembuh ia telah melewati empat tahun. Apa yang mesti dilakukannya setelah Allah l memberikan kesembuhan kepadanya? Apakah dia mengqadha puasanya ataukah tidak?

Jawab:
Barang siapa yang tidak berpuasa karena sakit lalu sembuh dan mampu berpuasa, wajib baginya mengqadha hari-hari yang ia tidak berpuasa, berdasarkan firman Allah l:
“Barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.” (al-Baqarah: 184)
Orang yang tidak berpuasa selama empat Ramadhan dan sekarang sembuh, dia wajib mengqadha empat bulan tersebut satu demi satu. Akan tetapi, ia boleh memisah-misahkan qadhanya sesuai dengan kemampuannya hingga ia menyelesaikan tanggungannya. Ia tidak wajib mengqadha sekaligus. Hal ini berdasarkan firman Allah l:
“Bertakwalah kalian kepada Allah semampu kalian.” (at-Taghabun: 16)
Juga karena waktu mengqadha itu longgar. (Fatwa asy-Syaikh Shalih al-Fauzan, Fatawa Ramadhan, 2/592)

Seseorang sakit menahun. Para dokter menyarankannya untuk selalu tidak berpuasa. Namun, dia berobat kepada dokter di luar daerahnya dan alhamdulillah sembuh, setelah berlalu lima tahun. Ia telah melewati lima Ramadhan tanpa berpuasa. Apa yang mesti dia lakukan setelah Allah l memberikan kesembuhan kepadanya, apakah ia mengqadhanya atau tidak?
Jawab:
Jika para dokter yang menyarankan untuk selalu tidak berpuasa adalah dokter muslim yang tepercaya dan ahli dalam bidang penyakit tersebut, serta mereka menyebutkan bahwa itu merupakan penyakit yang sulit diharapkan kesembuhannya, tidak ada kewajiban qadha atasnya. Cukup baginya untuk membayar fidyah, lalu dia melakukan puasa (Ramadhan) di masa yang akan datang. (Fatwa asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Fatawa Ramadhan, 2/594)

Seseorang menggauli istrinya dalam keadaan dia berpuasa. Apakah boleh baginya untuk memberi makan enam puluh orang miskin untuk membayar kaffarahnya?
Jawab:
Barang siapa yang menggauli istrinya di siang Ramadhan sedangkan dia wajib berpuasa, ia harus membayar kaffarah, yaitu membebaskan budak. Jika tidak mendapatkannya maka dia berpuasa selama dua bulan berturut-turut.
Pertanyaannya, bolehkah seseorang (langsung) memberi makan enam puluh orang miskin? Kami katakan, jika seseorang mampu untuk berpuasa ia harus berpuasa dua bulan berturut-turut. Apabila seseorang telah bertekad melakukan sesuatu, akan menjadi ringan baginya. Adapun jika dia telah membayangkan kemalasan dirinya serta merasa berat untuk melakukan sesuatu, itu akan menjadi susah baginya. Segala puji bagi Allah l yang yang telah menjadikan di dunia ini hal-hal yang kita ketahui dapat membebaskan kita dari hukuman akhirat.
Maka dari itu, kami katakan kepada Saudara, berpuasalah dua bulan berturut-turut jika Anda tidak mendapatkan budak dan mohon pertolonganlah kepada Allah l. Jika saat ini cuaca panas dan siangnya panjang, Anda punya kesempatan untuk menundanya hingga musim dingin yang hari-harinya pendek dan cuacanya dingin.
Begitu juga, seorang istri sama dengan suaminya (dalam hal hukumannya, red.) jika dia mengikuti kemauan suami. Tetapi, jika dia dipaksa dan tidak kuasa untuk menghindar, puasanya sempurna dan tidak ada kaffarah atasnya. Ia pun tidak perlu mengqadha hari yang ia berhubungan intim (dengan suaminya) dalam keadaan dipaksa.
(Fatwa asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Fatawa Ramadhan, 2/606—607)

Puasa Enam Hari pada Bulan Syawwal

Apa pandangan Anda tentang puasa enam hari pada bulan Syawal setelah Ramadhan? Di kitab al-Muwaththa karya al-Imam Malik t disebutkan, beliau mengatakan tentang puasa enam hari setelah selesai Ramadhan, bahwa beliau tidak melihat seorang pun ulama ahli fiqih yang melakukan puasa tersebut. Belum sampai berita kepada beliau tentangnya dari seorang ulama salaf pun, dan para ulama membenci hal tersebut serta khawatir itu termasuk bid’ah, serta khawatir diikutkan dengan Ramadhan sesuatu yang bukan darinya. Ucapan ini ada dalam kitab al-Muwaththa hlm. 228 juz I.
Jawab:
Telah sahih dari sahabat Abu Ayyub z bahwa Rasulullah n bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ فَذَلِكَ صِيَامُ الدَّهْرِ
“Barang siapa berpuasa pada bulan Ramadhan lalu mengikutinya dengan puasa enam hari pada bulan Syawwal, berarti itu puasa satu tahun.” (HR. Ahmad, Muslim, Abu Dawud, dan at-Tirmidzi)
Ini adalah hadits yang sahih. Hadits ini menunjukkan bahwa berpuasa enam hari pada bulan Syawwal adalah sunnah. Di antara ulama yang telah mengamalkannya adalah al-Imam asy-Syafi’i, Ahmad, dan sekelompok imam yang lain. Tidak benar jika hadits ini dibenturkan dengan apa yang diungkapkan oleh sebagian ulama sebagai dasar untuk menganggap makruhnya puasa Syawwal, baik itu kekhawatiran akan dianggapnya bagian dari Ramadhan oleh orang jahil, atau dianggap wajib, atau belum sampai berita kepadanya dari orang-orang yang mendahuluinya. Itu semua hanya sangkaan, tidak mampu menghadapi hadits yang sahih. Orang yang mengetahui adalah hujjah bagi orang yang tidak mengetahui.
Allah l-lah yang memberi taufiq. Semoga shalawat dan salam-Nya tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya, dan para sahabatnya.
Komite Tetap untuk Riset Ilmiah dan Fatwa
Ketua: Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
Wakil: Abdurrazzaq Afifi
Anggota: Abdullah Ghudayyan dan Abdullah bin Qu’ud
Apakah puasa enam hari (bulan Syawwal) harus setelah bulan Ramadhan setelah hari id langsung, atau boleh setelah id beberapa hari secara berurutan di bulan Syawwal?
Jawab:
Berpuasa Syawwal tidak harus langsung setelah Idul Fitri. Bahkan, boleh untuk memulai puasa satu atau dua hari setelah Idul Fitri. Boleh berpuasa secara berurutan atau terpisah-pisah pada bulan Syawwal sesuai dengan yang mudah baginya. Dalam hal ini ada kelonggaran. Puasa ini hukumnya tidak wajib, melainkan sunnah.
Allah l-lah yang memberi taufiq. Semoga shalawat dan salam-Nya tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya, dan para sahabatnya.
Komite Tetap untuk Riset Ilmiah dan Fatwa
Ketua: Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
Wakil: Abdurrazzaq Afifi
Anggota: Abdullah Ghudayyan dan Abdullah bin Qu’ud.
Saya telah memulai puasa enam hari Syawwal. Akan tetapi, saya belum bisa melengkapinya karena kondisi tertentu dan pekerjaan. Masih tersisa dua hari bagi saya. Apa yang mesti saya lakukan, wahai Syaikh? Apakah saya harus mengqadhanya atau berdosakah saya karenanya?
Jawab:
Puasa enam hari pada bulan Syawwal adalah ibadah yang sunnah, bukan wajib. Maka dari itu, Anda mendapatkan pahala dari puasa yang telah dikerjakan tersebut (walaupun belum sempurna, red.). Anda diharapkan mendapatkan pahalanya secara utuh apabila penghalang Anda untuk menyempurnakannya adalah alasan yang syar’i, berdasarkan sabda Nabi n:
إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيْمًا صَحِيْحًا
“Apabila seorang hamba sakit atau safar, Allah menuliskan baginya pahala apa yang biasa dia lakukan ketika dia sehat dan berada di tempat tinggalnya.” (HR. al-Bukhari dalam Shahih-nya)
Anda tidak berkewajiban mengqadha puasa Syawwal yang belum Anda lakukan.
Allah l-lah yang memberi taufiq.
(Fatwa asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz)

Seseorang berpuasa enam hari dari bulan Syawwal setelah Ramadhan tetapi belum menyempurnakan puasa Ramadhannya selama seratus hari karena alasan syar’i. Apakah dia tetap mendapatkan pahala orang berpuasa Ramadhan secara sempurna dan mengikutinya dengan puasa enam hari pada bulan Syawwal sehingga seperti orang yang berpuasa setahun penuh? Mohon berikan jawaban yang bermanfaat bagi kami. Semoga Allah l memberikan balasan kepada Anda.
Jawab:
Penetapan pahala amalan yang dilakukan oleh hamba karena Allah l adalah hak Allah l secara khusus. Apabila seorang hamba mencari pahala dari Allah l dan bersungguh-sungguh dalam ketaatan, Allah l tidak akan menyia-nyiakannya. Allah l berfirman:
“Sesungguhnya mereka yang beriman dan beramal saleh, tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalan(nya) dengan baik.” (al-Kahfi: 30)
Orang yang memiliki utang puasa Ramadhan semestinya mengqadhanya dahulu, baru berpuasa enam hari pada bulan Syawwal. Dengan demikian, dia mengamalkan (sabda Nabi n):
ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ
“Mengikuti puasa Ramadhan dengan enam hari pada bulan Syawwal.”
Lain halnya kalau dia sudah telanjur menyempurnakan puasa enam hari pada bulan Syawwal (tanpa tahu hukumnya, red.).
Allah l-lah yang memberi taufiq. Semoga shalawat dan salam-Nya tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya, dan para sahabatnya.
Komite Tetap untuk Riset Ilmiah dan Fatwa
Ketua: Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
Wakil: Abdurrazzaq Afifi
Anggota: Abdullah Ghudayyan dan Abdullah bin Qu’ud

Seseorang biasa puasa tiga hari (hari-hari putih, yakni tanggal 13, 14, 15 bulan qamariah) setiap bulan. Apabila dia berpuasa pada bulan ini (Syawwal) pada hari-hari tersebut lalu ditambah tiga hari yang lain, apakah ini cukup (bisa dianggap) puasa enam hari pada bulan Syawwal?
Jawab:
Puasa tiga hari pada bulan Syawwal adalah puasa yang tersendiri, tidak termasuk dari tiga hari (hari-hari putih). Keduanya tidak sama. Yang disunnahkan adalah berpuasa enam hari pada bulan Syawwal secara tersendiri dan berpuasa pada hari-hari putih secara tersendiri agar pahalanya besar. Adapun berpuasa enam hari dari Syawwal dan dia niatkan untuk puasa enam hari Syawwal sekaligus hari-hari putih, yang tampak bagi saya itu hanya menjadi puasa enam hari pada bulan Syawwal saja. Oleh karena itu, dia mendapatkan pahala berpuasa enam hari bulan Syawwal saja. Disunnahkan pula berpuasa hari-hari putih dengan niat tersendiri.
(Fatwa asy-Syaikh Shalih al-Fauzan)

Sifat Shalat Nabi (bagian 9)

(ditulis oleh: Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq al-Atsari)

Membaca al-Fatihah Wajib bagi Imam, Makmum, dan Orang yang Shalat Sendirian
Surah al-Fatihah wajib dibaca oleh imam, makmum, dan munfarid (orang yang shalat sendirian), baik shalat yang dilakukan itu dalam bacaannya sirr maupun jahr. Hal ini ditunjukkan dalam hadits Ubadah bin Shamit z berikut.
كُنَّا خَلْفَ رَسُوْلِ اللهِ n فِي صَلاَةِ الْفَجْرِ فَقَرَأَ رَسُولُ اللهِ n فَثَقُلَتْ عَلَيْهِ الْقِرَاءَةُ فَلَمَّا فَرِغَ، قَالَ: لَعَلَّكُمْ تَقْرَؤُوْنَ خَلْفَ إِمَامِكُمْ؟ قُلْنَا: نَعَمْ هَذًّا يَا رَسُوْلَ اللهِ. قَالَ: لاَ تَفْعَلُوا إِلاَّ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ، فَإِنَّهُ لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لاَ يَقْرَأُ بِهَا
“Kami pernah shalat fajar di belakang Rasulullah n, maka Rasulullah n membaca bacaan. Lantas tampak sulit bacaan beliau. Setelah selesai shalat, beliau bertanya, ‘Tampaknya di antara kalian ada yang membaca di belakang imam kalian?’ Kami menjawab, ‘Ya, kami melakukannya, wahai Rasulullah.’ Beliau pun bersabda, ‘Jangan kalian lakukan hal itu, kecuali pada Fatihatul Kitab, karena tidak ada shalat bagi orang yang tidak membacanya’.” (HR. Ahmad 5/316, Abu Dawud no. 823, at-Tirmidzi no. 31, dan Ibnu Hibban no. 1785. Al-Bukhari mensahihkannya dalam Juz Qira’ah Khalfal Imam dan Ibnu Hazm dalam al-Muhalla [2/266]. Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani t dalam at-Talkhis [1/379] mengatakan, “Disahihkan oleh Abu Dawud, at-Tirmidzi, ad-Daraquthni, Ibnu Hibban, al-Hakim, dan al-Baihaqi.”)
Anas bin Malik z mengabarkan:
أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ n صَلَّى بِأَصْحَابِهِ فَلَمَّا قَضَى صَلاَتَهُ أَقْبَلَ عَلَيْهِمْ بِوَجْهِهِ فَقَالَ: أَتَقْرَءُوْنَ فيِ صَلاَتِكُمْ خَلْفَ الْإِمَامِ وَالْإِمَامُ يَقْرَأُ؟ فَسَكَتُوْا، فَقَالَهَا ثَلاَثَ مَرَّاتٍ. فَقَالَ قَائِلٌ وَقَالَ قَائِلُوْنَ: إِنَّا لَنَفْعَلُ. قَالَ: فَلاَ تَفْعَلُوْا، لِيَقْرَأْ أَحَدُكُمْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ فِي نَفْسِهَ
Bahwasanya Rasulullah n shalat mengimami para sahabat beliau. Tatkala selesai shalat, beliau menghadapkan wajah beliau kepada mereka seraya berkata, “Apakah kalian membaca bacaan Al-Qur’an dalam shalat kalian di belakang imam dalam keadaan imam sedang membaca?” Mereka terdiam. Beliau mengucapkan kalimat ini tiga kali, maka berkatalah seseorang dan berkatalah orang-orang, “Sungguh kami melakukannya.” Beliau berkata, “Jangan kalian lakukan hal tersebut. Hendaklah salah seorang dari kalian membaca Fatihatul Kitab dalam hatinya/untuknya sendiri.” (HR. Abu Ya’la 5/87. Guru kami, asy-Syaikh Muqbil al-Wadi’i t, menyatakan dalam al-Jami’ ash-Shahih 2/97, “Hadits ini hasan.”)
Hadits-hadits di atas dan yang semakna dengannya menunjukkan wajibnya membaca al-Fatihah bagi imam, makmum, dan orang yang shalat sendirian (munfarid). Adapun sebagian hadits yang berseberangan dengan hadits di atas dinyatakan oleh kebanyakan ulama hadits sebagai hadits yang ma’lul (berpenyakit) ataupun syadz (ganjil/menyelisihi periwayatan orang yang lebih tsiqah). Walaupun menurut sebagian ulama yang lain, hadits-hadits tersebut bisa dikuatkan sehingga menjadi hujjah di sisi mereka. Di antaranya seperti hadits Abu Qilabah z dari Nabi n:
مَنْ كَانَ لَهُ إِمَامٌ فَقِرَاءَةُ الْإِمَامِ لَهُ قِرَاءَةٌ
“Siapa yang memiliki imam maka bacaan imam adalah bacaannya.” (HR. al-Baihaqi dalam al-Kubra 2/160, ad-Daraquthni 1/323 & 326, dan selainnya)
Al-Imam Ibnul Qayyim t berkata, “Hadits di atas memiliki dua illat (penyakit).
Pertama: Syu’bah, ats-Tsauri, Ibnu ‘Uyainah, Abu Awanah, dan sekelompok penghafal hadits meriwayatkannya dari Musa bin Abi Aisyah, dari Abdullah bin Syaddad secara mursal.
Kedua: Hadits ini tidak sahih secara marfu’ (tidak sahih sampainya kepada Nabi n). Yang dikenal, hadits ini mauquf (terhenti hingga sahabat). (Jami’ul Fiqh Ibnil Qayyim, 2/293)
Al-Hafizh t berkata dalam at-Talkhish (1/380), “Hadits ini memiliki beberapa jalan dari sekelompok sahabat, namun semuanya ma’lulah/berpenyakit.
Adapun hadits Abu Musa al-Asy’ari z yang menyebutkan bahwa Rasulullah n berkhutbah di hadapan sahabat lalu menerangkan kepada mereka tentang sunnah mereka serta mengajarkan shalat kepada mereka, lantas beliau bersabda:
إِذَا صَلَّيْتُمْ فَأَقِيْمُوْا صُفُوْفَكُمْ ثُمَّ لِيُؤَمَّكُمْ أُحَدُكُمْ فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوْا، وَإِذَا قَرَأَ فَأَنْصِتُوا
“Apabila kalian shalat maka tegakkan/luruskan shaf-shaf kalian, kemudian hendaknya salah seorang dari kalian mengimami. Bila imam itu bertakbir maka bertakbirlah kalian dan bila ia membaca (al-Fatihah) maka diamlah.” (HR. Muslim no. 903)
An-Nawawi t mengatakan, “Ketahuilah, tambahan lafadz وَإِذَا قَرَأَ فَأَنْصِتُوا diperselisihkan kesahihannya oleh para penghafal hadits. Al-Baihaqi meriwayatkan dalam as-Sunan al-Kubra dari Abu Dawud as-Sijistani bahwa lafadz ini tidaklah mahfuzh. Demikian pula al-Baihaqi meriwayatkannya dari Yahya bin Ma’in, Abu Hatim ar-Razi, ad-Daraquthni, dan al-Hafizh Abu Ali an-Naisaburi, guru al-Hakim Abu Abdillah. Al-Baihaqi mengatakan, “Abu Ali al-Hafizh berkata, ‘Lafadz ini tidaklah mahfuzh.’ Sulaiman at-Taimi telah menyelisihi seluruh murid Qatadah. Sepakatnya para penghafal tersebut dalam mendhaifkan tambahan itu lebih dikedepankan daripada pensahihan al-Imam Muslim.” (al-Minhaj, 4/343—344)
Guru kami, asy-Syaikh Muqbil al-Wadi’i t, mengatakan, “Urusannya sebagaimana yang dikatakan oleh para penghafal hadits tentang lafadz tambahan tersebut, seperti yang dinukilkan an-Nawawi dari mereka—semoga Allah l merahmati mereka—, yaitu bahwa Sulaiman at-Taimi telah syadz (ganjil/bersendiri) dalam tambahan tersebut. Wallahu a’lam.” (al-Ilzamat wat Tatabbu’ lil Imam ad-Daraquthni, Dirasah wa Tahqiq, asy-Syaikh Muqbil al-Wadi’i, hlm. 171)

Perbedaan Pendapat tentang Bacaan al-Fatihah bagi Makmum
Perbedaan ini bisa kita simpulkan secara ringkas menjadi tiga pendapat.
1. Hukumnya wajib atas setiap orang yang shalat, baik sebagai imam, makmum maupun shalat sendirian, baik dalam shalat sirriyah maupun jahriyah.
Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah n:
لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ
“Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Fatihatul Kitab.”
Asal peniadaan ini adalah peniadaan sahnya shalat, bukan peniadaan kesempurnaan shalat. Artinya, shalatnya tidak sah. Ini adalah mazhab al-Imam asy-Syafi’i, Ibnu Hazm, al-Imam al-Bukhari, dan ahli hadits selain beliau. Bahkan, al-Imam al-Bukhari t dan al-Imam al-Baihaqi t membuat tulisan khusus untuk menguatkan pendapat ini. Mereka memberinya judul al-Qira’ah Khalfal Imam. Pendapat ini dipegangi juga oleh sebagian imam dakwah di masa ini, seperti al-Imam Samahatusy Syaikh Abdul Aziz ibnu Baz, al-Imam Syaikh Muhammad ibnu Shalih al-Utsaimin, guru kami yang mulia al-Imam asy-Syaikh Muqbil al-Wadi’i, dan yang lainnya—semoga Allah l merahmati mereka semuanya—. Ini adalah makna yang tampak dari hadits-hadits yang ada.
Akan tetapi, dalam masalah makmum yang masbuk (terlambat) mereka terbagi menjadi dua pandangan sebagaimana akan diterangkan, insya Allah.
(al-Muhalla 2/266—273, asy-Syarhul Kabir 1/491—493, at-Tahdzib 2/98—99, al-Majmu’ 3/285, asy-Syarhul Mumti’ 3/296-302)
2. Hukumnya wajib atas imam maupun orang yang shalat sendirian. Adapun makmum, dia dicukupi dengan bacaan imamnya, baik dalam shalat sirriyah maupun jahriyah.
Ini adalah pendapat Hanabilah dan Hanafiyah. Akan tetapi, disenangi bagi makmum untuk membacanya pada saat imam berhenti sebentar setelah membaca al-Fatihah. Jika imam mengeraskan bacaannya, makmum wajib mendengarkannya. Hal ini berdasarkan firman Allah l:
ﯙ ﯚ ﯛ ﯜ ﯝ ﯞ ﯟ ﯠ ﯡ
“Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, maka dengarkanlah dan diamlah, mudah-mudahan kalian mendapatkan rahmat.” (al-A’raf: 204)
Juga berdasarkan sabda Rasulullah n:
مَنْ كَانَ لَهُ إِمَامٌ فَقِرَاءَتُهُ لَهُ قِرَاءَةٌ
“Barangsiapa memiliki imam, maka bacaan imam adalah bacaan baginya.”
(al-Kafi fi Fiqhil Imam Ahmad ibni Hanbal 1/156—157, Bada’iush Shana’i 1/358—359, al-Mabsuth 1/183—184, Syarhu Ma’anil Atsar 1/278—285)
3. Hukumnya wajib atas makmum dalam shalat sirriyah. Adapun dalam shalat jahriyah, tidak wajib, bahkan dia hendaknya diam untuk mendengarkan bacaan imamnya.
Ini merupakan pendapat al-Imam Malik, yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t dan yang lainnya. Syaikhul Islam dalam Majmu’ul Fatawa (23/266—330) memberikan keterangan-keterangan yang indah dan ilmiah untuk menguatkan pendapat ini.
Pendapat ini juga dipegangi oleh beberapa imam dakwah di masa ini, seperti al-Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani, asy-Syaikh al-Imam Muhammad ibnu Ibrahim Alu asy-Syaikh, asy-Syaikh Abdur Rahman ibnu Nashir as-Sa’di, dan yang lainnya—semoga Allah l merahmati mereka semuanya—.
(al-Mudawwanah 1/163—160, Mawahibul Jalil 1/518, at-Tamhid 3/173—198, Hasyiatul ‘Adawi 1/228)
Namun, yang rajih sebagaimana yang telah disebutkan, adalah membaca al-Fatihah wajib bagi imam, makmum dan munfarid, baik dalam shalat sirriyah maupun jahriyah, kecuali masbuk. Seandainya tidak ada hadits Ubadah ibnush Shamit z yang dibawakan di atas1 niscaya pendapat yang kuat adalah yang membedakan atau merinci antara shalat sirriyah dan jahriyah, sehingga apabila seorang makmum telah mendengar bacaan al-Fatihah dari imamnya maka gugur kewajibannya membaca al-Fatihah, karena dia mendengarkan dan mengaminkan. Namun kita tidak bisa memegangi pendapat ini karena ada hadits Ubadah z yang merupakan nash dalam masalah ini. (Fathu Dzil Jalali wal Ikram, 2/70)
(insya Allah bersambung)

 

Catatan Kaki:

1 Yaitu hadits:
كُنَّا خَلْفَ رَسُوْلِ اللهِ n فِي صَلاَةِ الْفَجْرِ فَقَرَأ َ رَسُولُ اللهِ n فَثَقُلَتْ عَلَيْهِ الْقِرَاءَةُ فَلَمَّا فَرِغَ، قَالَ : لَعَلَّكُمْ تَقْرَؤُوْنَ خَلْفَ إِمَامِكُمْ؟ قُلْنَا : نَعَمْ هَذًّا يَا رَسُوْلَ اللهِ. قَالَ: لاَ تَفْعَلُوا إِلاَّ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ، فَإِنَّهُ لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لاَ يَقْرَأُ بِهَا
Dalam riwayat yang muttafaqun ‘alaihi disebutkan dengan lafadz:
لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِأُمِّ الْقُرْآنِ
“Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Ummul Qur’an (al-Fatihah).”