Tokoh-tokoh Teroris Khawarij Internasional

Mengenal tokoh-tokoh teroris Khawarij adalah hal yang penting agar kita mengetahui jauhnya mereka dari pemahaman Islam yang benar dan agar kaum muslimin seluruhnya mewaspadai pemikiran, buku, serta tulisannya yang tersebar luas, tak terkecuali di negeri kita.

 

Abul A’la al-Maududi

Abul A’la al-Maududi adalah nama yang tidak asing lagi di kalangan teroris Khawarij. Mereka begitu menyanjung laki-laki ini dan menggandrungi tulisan dan buku-bukunya. Ia menjadi rujukan utama para teroris Khawarij di seluruh dunia.

Bagaimanakah pemahaman keislaman tokoh teroris yang satu ini? Berikut ini kami akan sebutkan sebagiannya.

 

  1. Mengingkari dan meragukan berita dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang Dajjal

Dalam bukunya Rasail wa Masail hlm. 57, ia menuliskan, “Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengira akan keluar Dajjal di masanya atau dekat dari masanya. Akan tetapi, telah berlalu seribu tiga ratus lima puluh tahun namun Dajjal tidak juga keluar. Nyatalah bahwa apa yang disangkakan oleh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam itu tidak benar.”

Ia juga menegaskan, “Semua hadits-hadits yang diriwayatkan dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang Dajjal hanyalah pemikiran dan analogi dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri ragu tentangnya.”

 

  1. Mencela para sahabat

Abul A’la al-Maududi menuduh sahabat Utsman radhiallahu ‘anhu telah berbuat curang ketika menjabat sebagai khalifah. Dia mengklaim bahwa Utsman secara diam-diam memberikan jabatan-jabatan penting kepada kerabatnya.

Ia juga menuduh sahabat Mu’awiyah radhiallahu ‘anhu dengan kebid’ahan, mencela sahabat Sa’d bin Ubadah dan Abu sufyan radhiallahu ‘anhum. Semua itu dituangkan dalam bukunya al-Khilafah wal Mulk.

Penting diketahui, buku al-Khilafah wal Mulk yang berisi celaan-celaan kepada para sahabat justru dijadikan referensi oleh Syiah Rafidhah.

Seorang pentolan Syiah Rafidhah dalam surat kabar yang dimuat di Teheran pada Rajab 1407 H menyatakan, “Kami menasihati siapa yang menghendaki agar merujuk pada buku al-Khilafah wal Mulk karya Abul A’la al-Maududi.”

 

  1. Memuji Revolusi Iran yang dilakukan oleh Khomeini sang Majusi

Dalam kitab asy-Syaqiqan, Abul A’la al-Maududi menyatakan tentang Revolusi Syiah Rafidhah ala Khomeini,

“Sesungguhnya revolusi Khomeini adalah revolusi Islam. Yang menegakkannya adalah kelompok Islam dan para pemuda Islam yang mendapatkan pendidikan dalam harakah Islamiyah. Segenap kaum muslimin secara umum dan khususnya harakah (pergerakan) Islamiyah, hendaknya mendukung revolusi ini dan bekerja sama dalam seluruh aspeknya.”

 

Sayyid Quthb

Sayyid Quthb adalah sosok yang sangat dielu-elukan oleh para teroris Khawarij. Ia dianggap sebagai tokoh perbaikan. Dakwahnya disejajarkan dengan dakwah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahumallah.

Karena itu, al-‘Allamah Syaikh Rabi bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah menjelaskan penyimpangan dan kesesatan-kesesatannya dalam lima atau enam buku yang ditulisnya. Berikut beberapa penyimpangannya:

 

  1. Meyakini aqidah al-hulul wal ittihad (manunggaling kawula gusti/wihdatul wujud)

Sayyid Quthb menyatakan dalam bukunya Fi Dzil al-Qur’an, ketika menjelaskan surat al-Ikhlas, “Sesungguhnya ia adalah kesatuan wujud. Tidak ada hakikat kecuali hakikat-Nya. Tidak ada wujud hakiki kecuali wujud-Nya. Segala hal lainnya yang wujud, itu hanyalah berasal dari wujud-Nya yang hakiki. Hakikat wujud itu berasal dari hakikat Dzat.”

Asy-Syaikh Muhammad Shalih al-Utsaimin rahimahullah mengomentari tafsir Sayyid Quthb terhadap surat di atas tadi, beliau rahimahullah berkata, “Sungguh, dia (Sayyid Quthb) telah mengucapkan perkataan yang besar, menyelisihi keyakinan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Ini menunjukkan bahwa dia meyakini wihdatul wujud.” (Majalah Da’wah, 1418 H)

 

  1. Menakwil sifat-sifat Allah ‘azza wa jalla

Dalam buku Fi Zhilalil Qur’an, Sayyid Quthb rahimahullah berkata, “Istiwa’-nya (Allah ‘azza wa jalla) di atas Arsy adalah gambaran kesempurnaan kekuasaan.”

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata, “Ini maknanya adalah pengingkaran terhadap istiwa’ yang sudah dikenal, yang berarti tinggi di atas Arsy. Apa yang dinyatakan Sayyid Qutb ini adalah batil, menunjukan bahwa dia miskin dan lemah dalam hal ilmu tafsir.” (Kaset ceramah Aqwalul Ulama fi Mu’allafaati Sayyid Quthb)

 

  1. Mengkafirkan masyarakat muslimin

Sayyid Quthb dalam hal ini sangat terpengaruh dengan gaya pengkafiran Abul ‘Ala al-Maududi. Parahnya lagi, Sayyid Quthb mengklaim bahwa masyarakat muslim yang ada sekarang ini adalah masyarakat jahiliah, telah keluar dari Islam.

Sayyid Quthb berkata, “Sesungguhnya jahiliah adalah sebuah keadaan dan fenomena. Ia bukan masa yang terkait dengan penanggalan zaman. Jahiliah pada hari ini telah menyebar di setiap penjuru bumi dan pada aneka ragam keyakinan, mazhab, dan undang-undang serta hukum.”

Ia juga berkata, “Sesungguhnya tidak ada di muka bumi pada hari ini, negara muslim dan masyarakat muslim yang kaidah muamalah di dalamnya adalah syariat Allah ‘azza wa jalla dan fikih Islam.” (Fi Zhilalil Qur’an cet. Darusy Syuruq)

 

Umar Mahmud Abu Qatadah al-Falistini

Namanya Umar Mahmud Abu Umar, namun lebih dikenal dengan Abu Qatadah. Ia seorang tokoh takfir teroris Khawarij yang terkenal dengan fatwa berdarah di Aljazair yang menyebabkan terbunuhnya ribuan orang yang tidak berdosa.

Umar Mahmud Abu Qatadah sangat membenci Arab Saudi. Uniknya, dia memilih tinggal di kota London, bahkan menerima gaji dari Pemerintah Inggris. Di sisi lain, dia mengharamkan gaji pegawai di pemerintahan Saudi dengan alasan itu harta yang tidak halal. Bagi Umar Mahmud Abu Qatadah harta pemerintahan Inggris itu halal, sedangkan harta pegawai di negeri-negeri Islam adalah haram.

Sungguh benar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

يَقْتُلُونَ أَهْلَ الْإِسْلَامِ وَيَدَعُونَ أَهْلَ الْأَوْثَانِ

        “(Mereka) memerangi umat Islam dan membiarkan para penyembah berhala (kafir).” ( Tandzim al-Qaeda Jaraim Fadzi’ah)

 

Usamah bin Laden

Pada awalnya, Usamah pergi ke Afganistan untuk menolong kaum muslimin. Ia menginfakkan hartanya dalam jumlah besar. Adapun manhaj dan pemikirannya adalah seperti keumumannya para anak muda yang hanya semangat belaka. Tidak diketahui dirinya sebagai seorang ahli dalam bidang (ilmu) syar’i. Tidak pula diketahui ia memiliki guru dalam bidang ilmu syar’i.

Usamah bin Laden banyak terpengaruh oleh pemikiran Sayyid Quthb dan Abul A’la al-Maududi, sehingga akidah takfir (pengkafiran) begitu kental dalam dirinya.

Ia pun senantiasa menyanjung para teroris Khawarij yang menjadi pelaku-pelaku peledakan di berbagai tempat. Ia berkata, “Semoga Allah ‘azza wa jalla merahmati saudara-saudara kami para syuhada di setiap tempat, di Palestina, Irak, Haramain, Maroko, Kashmir, Afganistan, Chechnya, Nigeria, Indonesia, dan Filipina serta Thailand….” (al-Qishshah al-Kamilah li Khawarij Ashrina)

Usamah bin Laden meyakini bahwa Islam akan lenyap manakala sebuah negara dipimpin oleh seorang yang tidak menerapkan hukum Islam, dan dia telah kafir karenanya. Demikian juga seluruh rakyat yang hidup di bawahnya menjadi kafir.

Ia (Usamah bin Laden) berkata, “Agama tidak akan abadi apabila yangmenjadi pemimpin negara telah kafir. Pemahaman seperti ini harus tetap ada, tampak dan jelas. Ketika pemimpin telah kafir, manusia akan kacau sehingga Islam akan lenyap. Oleh karena itu, harus ada sebuah gerakan untuk menetapkan pemimpin baru yang menegakkan hukum Allah ‘azza wa jalla di tengah-tengah manusia.”

Inilah sejatinya akidah Khawarij, yang secara mutlak mengkafirkan siapa saja yang tidak menerapkan hukum Allah ‘azza wa jalla. Tentu saja, ini menyelisihi akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Sebab, persoalan tidak menerapkan hukum Allah ‘azza wa jalla dikembalikan kepada keadaan orangnya dan apa yang mendorongnya untuk melakukan hal itu.

Al-Qur’an pun telah merinci hal tersebut. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَمَن لَّمۡ يَحۡكُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡكَٰفِرُونَ ٤٤

        “Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, mereka itu adalah orang-orang kafir.” (al-Maidah: 44)

وَمَن لَّمۡ يَحۡكُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ ٤٥

“Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, mereka itu adalah orang-orang zalim.” (al-Maidah: 45)

 وَمَن لَّمۡ يَحۡكُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ ٤٧

“Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, mereka itu adalah orang-orang yang fasik.” (al-Maidah: 47)

Usamah bin Laden meyakini bahwa jihad adalah membunuh, menghancurkan, merusak, mengusir, melakukan makar, dan memancing musuh ke negeri-negeri Islam. Tentu saja, jihad yang seperti ini akan membuat kaum muslimin yang berakal berlepas diri dan menjauh darinya.

Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah berkata, “Aku berlepas diri dari (Usamah) bin Laden. Dia adalah kejelekan dan bencana yang menimpa umat. Perbuatan-perbuatannya sangat buruk.” (al-Qishshah al-Kamilah li Khawarij Ashrina)

 

Ayman al-Zhawahiri

Ayman al-Zhawahiri adalah seorang dokter spesialis mata. Ia sangat terpengaruh dengan pemikiran Sayyid Quthb, sebagaimana pengakuannya sendiri dalam bukunya, al-Washiyah al-Akhirah.

Di antara keyakinan Ayman al-Zhawahiri, menerapkan hukum Allah ‘azza wa jalla adalah rukun akidah yang paling penting. Karena urusan inilah, terjadi front pertempuran antara yang haq dan yang batil.

Inilah akidah teroris Khawarij sejak dahulu. Mereka selalu menyatakan, “Tidak ada hukum kecuali hukum Allah ‘azza wa jalla,” yang kemudian dikomentari oleh sahabat Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, “Kalimat yang benar, namun yang dimaukan darinya adalah kebatilan.”

Misi dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah untuk menegakkan negara dengan hukum Allah ‘azza wa jalla, tetapi untuk menegakkan tauhid, mengesakan Allah ‘azza wa jalla dalam ibadah, dan memerangi berbagai kemusyrikan. Adapun kekhalifahan atau kepemimpinan adalah janji Allah ‘azza wa jalla yang akan diberikan kepada orang-orang yang mentauhidkan-Nya dengan benar.

Ayman al-Zhawahiri meyakini bolehnya membunuh seluruh orang kafir, termasuk wanita, anak kecil, orang tua yang lemah, serta yang tidak terlibat dalam peperangan sekalipun.

Ia juga mengimbau untuk mencuri dan merampok harta milik negara (yang tidak menerapkan hukum Allah ‘azza wa jalla), dan menganggapnya sebagai ghanimah serta bentuk perang melawan negara tersebut. (al-Qishshah al-Kamilah li Khawarij Ashrina)

Keyakinan-keyakinan di atas jelas bertentangan dengan syariat Islam yang senantiasa memerhatikan keadilan, etika, dan adab, sekalipun dalam situasi jihad.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَقَٰتِلُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ ٱلَّذِينَ يُقَٰتِلُونَكُمۡ وَلَا تَعۡتَدُوٓاْ

“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas.” (al-Baqarah: 190)

وَإِنۡ عَاقَبۡتُمۡ فَعَاقِبُواْ بِمِثۡلِ مَا عُوقِبۡتُم بِهِۦۖ

“Dan jika kamu memberikan balasan, balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu.” (an-Nahl: 126)

وَلَا يَجۡرِمَنَّكُمۡ شَنَ‍َٔانُ قَوۡمٍ عَلَىٰٓ أَلَّا تَعۡدِلُواْۚ ٱعۡدِلُواْ هُوَ أَقۡرَبُ لِلتَّقۡوَىٰۖ

“Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah karena adil itu lebih dekat kepada takwa (al-Maidah: 8)

 

Abu Muhammad al-Maqdisi

Nama lengkapnya adalah ‘Isham al-Barqawi. Tokoh teroris ini sangat terpengaruh dengan pemikiran-pemikiran Sayyid Quthb. Ia termasuk tokoh teroris Khawarij yang dijadikan rujukan oleh kelompok teroris yang ada di negara kita, baik kelompok JI ataupun kelompok dan jaringan lainnya.

Di antara keyakinan-keyakinannya adalah:

  1. Meyakini bahwa seluruh negara di dunia ini adalah negara kafir. Ia berkata, “Di dunia pada hari ini semuanya adalah negeri kafir. Tidak ada yang aku kecualikan, termasuk Makkah dan Madinah.” (Tsamaratil Jihad hlm. 14, karya al-Maqdisi)
  2. Meyakini bahwa pemerintah yang tidak menerapkan hukum Allah ‘azza wa jalla adalah kafir, murtad, dan lebih jelek daripada Yahudi dan Nasrani. (al-Qishshah al-Kamilah)

Pernyataan Abu Muhammad al-Maqdisi di atas adalah sikap yang ekstrem. Sekalipun mereka yang dia sebutkan telah melakukan kekufuran, namun mereka tidaklah lebih jelek daripada Yahudi dan Nasrani. Apalagi mereka yang menisbatkan dirinya kepada Islam secara zahir.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Setiap orang yang beriman kepada apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, lebih baik dari semua yang mengkufurinya. Walaupun pada diri yang beriman itu ada satu jenis kebid’ahan; bid’ah Khawarij, Syiah, Murji’ah, Qadariyyah, atau yang lainnya.

“Sesungguhnya Yahudi dan Nasrani telah kafir dengan kekafiran yang diketahui secara pasti dari agama Islam. Seorang pelaku bid’ah, jika dia mengira bahwa dirinya menyepakati Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyelisihinya, dia tidak kafir karenanya. Andaikata dia menjadi kafir, kekafirannya tidaklah seperti kekafiran orang yang mendustakan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Majmu’ul Fatawa, 35/122)

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf

Organisasi Teroris Khawarij Internasional

Sesungguhnya tegaknya agama yang lurus ini dibangun di atas dua perkara penting, yaitu benarnya sumber pengambilan ilmu dan benarnya metodologi (manhaj) penerapan dalil. Jika salah satunya rusak—atau bahkan kedua-duanya rusak—, segala persoalan akan menjadi rancu dan melahirkan hal-hal yang berakibat tidak terpuji, baik di dunia maupun di akhirat. Sunnah akan menjadi bid’ah dan bid’ah menjadi sunnah. Syirik menjadi tauhid dan tauhid menjadi syirik. Benar menjadi batil dan yang batil menjadi yang benar.

Di masa belakangan ini, terjadi musibah besar yang menimpa negara-negara kaum muslimin dan menghentakkan hati orang-orang yang beriman. Musibah tersebut adalah munculnya kembali sebuah pemahaman jelek yang terlahir dari pemahaman Khawarij, sebuah sekte yang menjadi bencana bagi umat ini sejak terbunuhnya Amirul Mukminin sang khalifah yang mulia Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu hingga hari ini.

Kaum Khawarij dan seluruh kelompok yang berafiliasi kepadanya telah melakukan tindak terorisme berikut dua pelanggaran dan dosa besar setelah kesyirikan, yaitu melakukan bom bunuh diri dan menumpahkan darah kaum muslimin.

Sebutan teroris adalah kata yang pantas disematkan kepada orang-orang Khawarij, baik generasi terdahulu maupun yang sekarang; merujuk pada pemahaman agamanya yang ekstrem dan tindakannya yang radikal.

Persoalan darah kaum muslimin yang disebutkan dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عِنْدَ اللهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ

        “Hilangnya dunia di sisi Allah jauh lebih ringan daripada terbunuhnya jiwa seorang muslim.” (HR. an-Nasai)

Bagi orang-orang Khawarij teroris darah tak ubahnya seperti mainan. Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menegaskan dalam satu rekaman khutbah Jum’at beliau, “Inilah pemahaman Khawarij. Hari ini mereka membunuh orang kafir dzimmi, dan besok mereka menumpahkan darah kaum muslimin.” (al-Hadits al-‘Ajib fi Baladil Habib)

Tindakan tersebut diyakini oleh para teroris Khawarij masa kini sebagai jalan yang dapat mendekatkan diri ke surga. Inilah yang kemudian memicu terjadinya aksi-aksi pembunuhan atas nama Islam. Bahkan, ada sebagian dari mereka sebelum memulai aksinya sudah merasa yakin bahwa dirinya sangat dekat dengan ridha Allah dan surga.

Fenomena ini semakin menguatkan dan memberikan gambaran bahwa teroris Khawarij adalah seperti yang telah disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: anak-anak muda usia yang dangkal ilmunya dan jelek pemahamannya, membunuh umat Islam dan membiarkan kaum musyrikin.

Berikut ini sejumlah organisasi internasional yang berhaluan teroris Khawarij.

 

Gerakan Pemuda Taliban

Kata taliban adalah bentuk jamak dari kata thalib (pelajar) menurut bahasa Bastuniyah. Maksud kata tersebut adalah (kumpulan) para pelajar di sekolah sekolah agama yang tersebar di Afganistan. Sekolah-sekolah tersebut adalah cabang sekolah agama yang ada di Pakistan dan India yang menganut paham Deobandi Sufi. Kelompok Taliban notabene berpemahaman Sufi Maturidi.

Gerakan ini mendapatkan pujian dan sanjungan dari tokoh-tokoh al-Qaeda, seperti Usamah bin Laden, dalam siaran al-Jazeera 20/09/2001. Ia berkata, “Kami menyeru kaum muslimin agar membantu negeri ini (Taliban) dengan segenap kekuatan, kemampuan, dan pikiran serta harta dan zakatnya. Sebab, dengan izin Allah ‘azza wa jalla negeri tersebut menjadi gambaran bendera Islam. Perlawanan Amerika pada hari ini terhadap Afganistan, sesungguhnya Afganistan yang telah mengangkat bendera Islam di dunia, Islam yang benar mujahid di jalan Allah.”

Sulaiman Abu Ghaits, juru bicara resmi al-Qaeda, dalam surat kabar al-Wathan al-Quwaitiyah menegaskan bahwa undang-undang hukum di negara-negara Islam dan Arab adalah undang-undang kafir, kecuali undang-undang hukum di Afganistan.

Sungguh aneh pernyataan para tokoh al-Qaeda bahwa gerakan Taliban adalah satu-satunya gerakan yang memberlakukan syariat dan undang-undang Islam. Sebab, faktanya banyak sekali kuburan dan kuil yang diibadahi di samping ibadah kepada Allah ‘azza wa jalla oleh orang-orang Taliban. Bahkan, sampai pada tingkatan bertabaruk (mencari berkah) dari kuburan relawan-relawan al-Qaeda yang terbunuh di Afganistan. Manakah syariat Islam yang katanya mereka berhukum kepadanya?! (Tanzhimul Qaidah Jaraim Fadzi’ah)

 

Al-Qaeda

Kelompok al-Qaeda didirikan dalam rentang waktu akhir 1989 hingga 1990 di Afganistan. Saat itu, para pemuda Arab secara serentak dari berbagai wilayah menuju Afganistan untuk berjihad melawan Rusia.

Sebab penamaan al-Qaeda bermula dari relawan-relawan Arab yang datang ke bumi Afganistan. Mereka menuliskan nama, tanggal kedatangan, dan tanggal keikutsertaannya di medan perang agar mudah untuk mendata dan mengetahui tempatnya. Muncullah dari pendataan ini nama al-Qaeda.

Pimpinan pertama al-Qaeda adalah Usamah bin Laden. Sekarang dia digantikan seorang dokter mata bernama Aiman azh-Zhawahiri yang tinggal di Denmark dan Norwegia dengan paspor dan dokumen palsu.

Aiman azh-Zhawahiri mulai bergabung dengan kelompok al-Qaeda pada era 90-an. Dahulu ia bergabung dengan Tanzhim Jihad di Mesir. Dia tidak berada di Afganistan saat perang melawan Rusia.

Banyak sekali tindakan jahat dan radikal yang dilakukan oleh kelompok ini yang kemudian diklaim sebagai jihad, seperti menawan dan menculik turis-turis asing dan wartawannya. Bahkan, mereka tidak sungkan untuk membunuhnya di depan umum lalu diekspos secara terbuka.

Mereka juga merusak fasilitas umum dan kantor milik negara. Pernah terjadi di Tanzania pada 1998, mereka meledakkan bom di Kedubes Amerika. Korban dalam peristiwa itu mencapai jumlah 224 jiwa, dua belas orang di antaranya warga AS. Sisanya adalah warga sipil dan orang-orang yang tidak berdosa.

 

Jamaah Islamiyah di Mesir

Jamaah ini dipimpin oleh Umar bin Abdurrahman al-Mishri. Sejak awal kemunculannya, mereka sudah mengumumkan perang melawan pemerintah.

Umar sendiri hidup di Amerika. Inilah salah satu sisi keanehan teroris Khawarij semacam Umar bin Abdurrahman, Abu Hamzah al-Mishri, Abu Qatadah al-Falistini, dan yang lainnya. Mereka menjauhi negeri kaum muslimin dengan alasan negeri tersebut kafir meskipun ramai dengan syiar-syiar Islam, tetapi mereka justru tinggal di negeri gereja dan salib yang penuh dengan syiar Nasrani, daging babi, dan minuman khamar.

 

Gerakan Pemuda Somalia

Gerakan ini dinamai juga dengan Harakatul Mujahidin dan Harakatus Syababil Islami atau Harakatus Syababil Mujahidin. Gerakan ini didirikan pada 2004, namun baru mulai mencuat dan dikenal pada 2007. Gerakan ini dipimpin oleh Aden Hasyi ‘Airu yang berkuniah Abu Husein al-Anshari.

Tujuan utama gerakan ini adalah mendirikan negara Islam. Inilah yang kemudian mendorong mereka berulang kali melakukan percobaan revolusi dengan melakukan pembunuhan dan merampas harta benda yang dianggapnya sebagai ghanimah.

Parahnya, mereka mengklaim bahwa gerakannya adalah gerakan Salafiyah Jihadiyah. Tentu ini adalah sebuah kesalahan besar sekaligus menunjukkan dangkalnya pemahaman mereka terhadap Salafiyah. Sebab, sangat jelas perbedaan antara Salafiyah dan Jihadiyah Takfiriyah.

 

Hamas

Gerakan ini berbeda dengan al-Qaeda dan organisasi jihad lainnya karena hanya melibatkan warga setempat, yakni jihad di Palestina. Pelan tetapi pasti, gerakan ini mengarah kepada Ikhwanul Muslimin.

Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah berkata, “Adapun Hamas, mereka adalah sekte hizbiyah, tidak menegakkan amar ma’ruf dan nahi mungkar, justru memerangi Ahlus Sunnah. Seandainya mereka mendapat kemenangan, akan terjadi seperti apa yang telah terjadi di Afganistan; yaitu saling menyerang antarkelompok karena mereka tidak satu hati.” (Tanzhim al-Qaidah Jaraim Fadzi’ah)

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf

Jihad Ala Isis dan Al-Qaeda

ISIS dan al-Qaeda adalah kelompok yang menyeru kepada sebuah istilah dan pemahaman yang tidak sesuai dengan koridor syariat. Tanpa memerhatikan ketentuan-ketentuan yang dibenarkan para ulama, timbullah pergeseran dan penyimpangan besar terkait dengan ilmu dan dakwah. Ujungnya adalah terjadinya kerusakan yang berkepanjangan di tengah-tengah kaum muslimin.

Mereka masuk ke dalam golongan yang dicap “muda usianya dan jelek pemahamannya.” Mereka menyerukan jihad fi sabilillah sesuai dengan pemahamannya yang minim, tanpa mengetahui batasan dan ketentuan syar’i.

Padahal, penting diketahui bahwa jika jihad fi sabilillah menyimpang dari cara yang benar, akan menjadi jihad yang bid’ah, seperti jihad kaum Khawarij, Rafidhah, dan golongan sesat lainnya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dalam ar-Rad ‘ala al-Akhna’i, “Al-Kitab dan as-Sunnah, keduanya dipenuhi dengan perintah jihad dan penyebutan keutamaannya. Namun, wajib diketahui, mana jihad syar’i yang diperintahkan Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya, mana jihad bid’ah (yaitu) jihad (yang dilakukan) golongan sesat dalam ketaatan kepada setan (keduanya sangat jauh berbeda, -ed.), dalam keadaan mereka mengira berjihad dalam ketaatan kepada Allah ‘azza wa jalla.

“Jihad bid’ah contohnya jihad ahli bid’ah pengikut hawa nafsu dari kalangan Khawarij dan semisalnya. Mereka justru berjihad melawan orang-orang Islam, berjihad melawan (Khalifah) Ali radhiallahu ‘anhu dan yang bersamanya, melawan sahabat Mu’awiyah radhiallahu ‘anhu dan yang bersamanya, dan melawan orang-orang yang jauh lebih taat kepada Allah dan Rasul-Nya dibanding mereka; (yaitu) para sahabat as-sabiqun al-awwalun dan yang mengikutinya dengan baik hingga hari kiamat.”

ISIS dan al-Qaeda berjihad dengan membunuh kaum muslimin dari kalangan aparat, warga sipil, orang tua, para wanita hingga anak-anak kecil tanpa ampun dengan melakukan peledakan bom atau penculikan. Tidak ada bedanya antara muslim dan kafir. Bahkan, orang kafir yang sebenarnya tidak boleh dibunuh, mereka bunuh juga, seperti musta’manin, orang kafir yang mendapat jaminan keamanan dari pemerintah muslim, atau mu’ahadin, orang kafir yang terikat perjanjian.

Selain itu, tujuan utama jihad syar’i adalah memerangi orang-orang kafir dari kalangan Yahudi, Nasrani, para penyembah berhala dan yang murtad untuk meninggikan kalimat tauhid.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَقَٰتِلُوهُمۡ حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتۡنَةٞ وَيَكُونَ ٱلدِّينُ لِلَّهِۖ فَإِنِ ٱنتَهَوۡاْ فَلَا عُدۡوَٰنَ إِلَّا عَلَى ٱلظَّٰلِمِينَ ١٩٣

“Dan perangilah mereka itu hingga tidak ada fitnah lagi dan (hingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim.” (al-Baqarah: 193)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللهِ هِيَ الْعُلْيَا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللهِ

“Barang siapa berperang untuk meninggikan kalimat Allah ‘azza wa jalla setinggi-tingginya, itulah berperang di jalan Allah ‘azza wa jalla.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Metode Islam dalam berjihad adalah mendakwahkan Islam terlebih dahulu kepada orang kafir, sebelum yang lainnya. Jika orang-orang kafir menolak Islam, mereka diharuskan membayar jizyah. Jika mereka enggan, barulah diperangi.

Islam hanya memerangi siapa yang melakukan penyerangan. Adapun warga sipil yang tidak terlibat, mereka dibiarkan; para wanita dibiarkan di rumah-rumahnya, orang tua dan anak kecil yang tidak terlibat dalam peperangan tidak diganggu dan disakiti. Adakah adab Islam yang seperti ini dalam kelompok jihad ISIS dan al-Qaeda?!

Dari sahabat Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, berkata,

وَجَدْتُ امْرَأَةً مَقْتُولَةً فِي بَعْضِ مَغَازِي رَسُولِ اللهِ فَنَهَى رَسُولُ اللهِ عَنْ قَتْلِ النِّسَاءِ وَالصِّبْيَانِ

“Aku pernah mendapati seorang perempuan terbunuh dalam sebagian peperangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian melarang membunuh para wanita dan anak-anak kecil.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Berikut ini beberapa bentuk metode dari jihad ala ISIS dan al-Qaeda.

  • Menumpahkan darah yang diharamkan dalam keadaan mengetahuinya. Mereka sangat siap untuk membunuh manusia dan beralasan bahwa semuanya akan dibangkitkan menurut niatnya masing-masing.
  • Menyandera orang-orang asing lalu menyembelih para sandera, baik warga sipil maupun militer. Lalu mereka mendokumentasikannya dalam bentuk video dan diunggah melalui internet. Tujuan utamanya adalah menebar ketakutan di tengah-tengah warga setempat.
  • Melakukan berbagai aksi penculikan.
  • Menggunakan bom mobil untuk merusak fasilitas umum.
  • Memalsukan paspor dan data resmi semacamnya.
  • Mencukur jenggot, memakai pakaian orang kafir dan fasik, memasuki tempat hiburan, serta menyaksikan hal-hal yang diharamkan dengan tujuan melakukan penyamaran. Bahkan, ada juga yang berpakaian wanita untuk menyamar, padahal orang yang melakukannya dilaknat oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. ( al-Bukhari no. 5546)
  • Melanggar aturan negara tentang perlindungan terhadap darah dan harta.

 

Jihad Ada Syaratnya

Sejatinya, jihad tidak ada bedanya dengan amalan lainnya yang ditetapkan oleh syariat, memiliki ketentuan dan syarat. Barang siapa menegakkannya di luar waktunya atau menunda dari waktunya, itu adalah sebuah kesalahan; sama seperti orang yang menunaikan shalat sebelum waktunya atau mengakhirkannya.

Di antara syarat-syaratnya adalah sebagai berikut.

  1. Benar-benar memerangi orang-orang kafir (harbi, -ed.).

Memerangi orang Islam yang terlindungi darahnya adalah haram.

 

  1. Memerhatikan keadaan kaum muslimin dalam hal kekuatan dan kelemahannya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menyebutkan dalam ash-Sharimul Maslul hlm. 221, siapa di antara kaum mukminin yang berada di suatu negeri yang lemah atau waktu yang lemah, hendaknya mengamalkan ayat (tentang) sabar dan pengampunan terhadap orang-orang yang menyakiti Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya dari kalangan ahli kitab dan musyrikin.

Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada awal-awal Islam tidak mensyariatkan jihad. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam justru dilarang melakukan peperangan karena umat Islam tidak memiliki negara dan pemimpin. Di samping itu, mereka belum memiliki kekuatan untuk menghadapi musuh-musuhnya.

 

  1. Jihad harus dilakukan bersama pemerintah.

Jika jihad tidak dilaksanakan bersama pemerintah, akan terjadi kekacauan dan menjadi sebab terpecah-belahnya kaum muslimin. Pemerintah itulah yang menetapkan segala kebijakan, apakah mengangkat senjata untuk berperang jika dibutuhkan, ataukah menahan diri apabila melihat ada maslahat di balik itu.

Oleh karena itu, tidak mungkin bendera jihad dikibarkan tanpa disertai waliyul amri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا الأِمامُ جُنَّةٌ يُقاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ

“Sesungguhnya pemimpin itu pelindung, diperangi bersamanya (musuh-musuh).” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Ahlus Sunnah wal Jamaah telah sepakat bahwa jihad dilakukan bersama setiap pemimpin.

Al-Imam ath-Thahawi rahimahullah berkata, “Haji dan jihad terus berlangsung dilakukan bersama waliyul amri dari kaum muslimin, yang baik dan yang jelek, sampai hari kiamat. Tidak ada yang membatalkan dan menggugurkannya.”

Al-Imam Ibnu Qudamah berkata dalam al-Mughni, “Urusan jihad diserahkan kepada pemerintah dan ijtihadnya. Rakyat harus menaati keputusannya.”

 

  1. Tidak memerangi orang-orang yang tidak ikut berperang.

Para wanita, anak-anak, orang tua, dan siapa saja yang tidak ikut berperang tidak disyariatkan untuk diperangi. Memeranginya tidaklah dianggap sebagai bagian dari jihad syar’i.

Apabila telah menunjuk seseorang memimpin sebuah pasukan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berwasiat secara khusus kepadanya agar bertakwa kepada Allah ‘azza wa jalla dan mendoakan kaum muslimin yang bersamanya di atas kebaikan. Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,

اغْزُوا بِسْمِ اللهِ، فِي سَبِيلِ اللهِ قَاتِلُوا مَنْ كَفَرَ بِاللهِ ، اغْزُوا وَلَا تَغُلُّوا وَلَا تَغْدِرُوا وَلَا تُمَثِّلُوا وَلَا تَقْتُلُوا وَلِيدًا

“Berangkatlah berperang dengan menyebut nama Allah di jalan Allah! Perangilah orang-orang yang kafir kepada Allah! Berangkatlah berperang dan jangan mencuri harta rampasan perang, jangan berkhianat, jangan mencincang mayat, dan janganlah membunuh anak-anak!” (HR. Muslim) (Tanzhim al-Qaidah Jaraim Fadzi’ah)

Di samping syarat-syarat di atas, masih ada aturan-aturan yang lain dalam syariat.

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf

Fenomena ISIS dan Al-Qaeda

Di pertengahan 2014, dunia digemparkan dengan eksistensi sebuah organisasi yang menggunakan jalur kekerasan untuk mencapai kepentingannya membentuk negara Islam, yaitu ISIS. Organisasi ini merupakan pecahan dari al-Qaeda, sebuah kelompok teroris Khawarij yang terkenal setelah peristiwa 11 September.

ISIS adalah singkatan dari (bahasa Inggris) Islamic State of Iraq and Syria, atau dalam bahasa Arab disebut DAIS, singkatan dari ad-Daulah al-Islamiyah fi al-Iraq wa al-Sham yang artinya Negara Islam Irak dan Suriah.

Kelompok ini dalam bentuk aslinya terdiri dari dan didukung oleh berbagai kelompok seperti Dewan Syura Mujahidin dan al-Qaeda di Irak (AQI), termasuk kelompok Anshar al-Tauhid wal Sunnah dan Jeish al-Taifa al-Mansoura.

Kelompok ini dibentuk pada April 2013. Tokoh sentral di balik militan ISIS adalah Abu Bakar al-Baghdadi yang lahir di Samarra, bagian utara Baghdad, pada 1971. Dia bergabung dengan pemberontak yang merebak sesaat setelah Irak diinvasi oleh AS pada 2003 lalu.

Di bawah kepemimpinannya, ISIS menyatakan diri untuk bergabung dengan Jabhah (Front) al-Nusra, sebuah kelompok yang menyatakan diri sebagai satu-satunya yang berafiliasi kepada al-Qaeda di Suriah. ISIS memiliki hubungan dekat dengan al-Qaeda hingga 2014. Namun, perbedaan misi perjuangan menyebabkan al-Qaeda kemudian tidak lagi mengakui kelompok ini sebagai bagian darinya.

Seperti halnya organisasi al-Qaeda, kelompok ini juga sebagai gambaran dari kelompok militan teroris Khawarij takfiri. Hal itu dibuktikan dengan keyakinan sesat dan tindakan-tindakan mereka yang melanggar syariat Allah ‘azza wa jalla dan melakukan hal-hal yang diharamkan-Nya, seperti:

  • mengafirkan siapa saja yang tidak mau mengakui dan bergabung dengan mereka,
  • menganggap bahwa semua negara kaum muslimin pada hari ini adalah negara kafir,
  • mengklaim bahwa negerinya adalah negeri iman dan hijrah, adapun selainnya adalah negeri kafir dan murtad,
  • menyatakan bahwa Makkah dan Madinah adalah negeri yang boleh diperangi dan bukan negeri Islam,
  • menghalalkan darah kaum muslimin,
  • meyakini bolehnya membunuh seluruh orang kafir kapan pun dan di mana pun,
  • meyakini bolehnya melakukan pemberontakan kepada pemerintah yang dianggapnya tidak menerapkan hukum Islam,
  • mengafirkan seluruh rakyat yang hidup di bawah pemerintahan tersebut,
  • dan keyakinan-keyakinan lainnya yang menyelisihi al-Qur’an dan as-Sunnah.

 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Orang-orang Khawarij menghalalkan darah kaum muslimin, karena dianggap telah murtad, melebihi penghalalannya terhadap darah orang-orang kafir yang mereka tidak disebut murtad.”

Beliau rahimahullah juga berkata, “Orang-orang Khawarij mengkafirkan siapa saja yang menyelisihi kebid’ahannya, menghalalkan darah dan hartanya. Begitulah ahlul bid’ah pada umumnya, mereka melakukan kebid’ahan lalu mengkafirkan siapa yang menyelisihinya.” (Majmu’ul Fatawa)

 

ISIS Bukan Salafi Wahabi

Tidak sedikit media nasional dan internasional, makalah atau statement, yang mengait-ngaitkan kelompok teroris Khawarij dengan asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan dakwah salafiyah, dengan tuduhan akidah takfir yang ada padanya.

Sesungguhnya ini adalah kedustaan dan perkara yang dibuat-buat. Sebab, asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah adalah orang yang paling jauh dari perihal takfir (pengkafiran) terhadap kaum muslimin ahli tauhid. Hal tersebut dapat diketahui oleh siapa saja yang membaca dan menelaah karya-karyanya.

Di antara perkataan beliau rahimahullah, “Adapun yang disebutkan oleh musuh-musuh tentangku, bahwa aku mengkafirkan dengan dasar prasangka dan loyalitas, atau aku mengkafirkan orang yang bodoh yang belum tegak hujah atasnya; ini adalah kedustaan yang besar. Mereka ingin agar manusia lari dari agama Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya.”

Beliau juga berkata, “Adapun soal pengkafiran, aku mengkafirkan orang yang telah mengetahui agama Rasul lalu setelah mengetahuinya, dia mencela, melarang manusia darinya, serta memusuhi orang yang melakukannya. Namun, kebanyakan umat ini mereka tidaklah seperti itu.”

Pada kesempatan lainnya, beliau rahimahullah berkata, “Apabila telah tampak keislaman seseorang, (kaum muslimin) wajib menahan diri sampai jelas darinya ada sesuatu yang menyelisihi (keislamannya) itu.”

Beliau juga menyatakan, “Kami tidak mengkafirkan orang yang menyembah patung yang berada di atas kuburan Abdul Qadir, Ahmad al-Badawi, atau semisal keduanya, karena kebodohannya dan tidak ada yang mengingatkannya; lantas bagaimana mungkin kami mengkafirkan orang yang tidak menyekutukan Allah dan mengkafirkan orang yang tidak hijrah ke tempat kami?!”

Kemudian beliau menegaskan, “Aku tidak mengkafirkan seorang pun dari kaum muslimin hanya karena sebuah dosa. Aku tidak pula mengeluarkannya dari wilayah Islam.”

Inilah sikap asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam masalah pengkafiran. Lantas bagaimana bisa beliau dinisbatkan kepada akidah takfir dan kelompok-kelompok takfir/teroris Khawarij?!

Dalam hal jihad, beliau rahimahullah berkata, “Kami tidak membunuh seorang pun, kecuali dalam situasi menyelamatkan jiwa dan kehormatan dalam bentuk membela diri. Kami juga tidak memandang bolehnya membunuh wanita dan anak-anak kecil.”

Jika kelompok ISIS berdalil dengan sebagian perkataan ulama dakwah salafiyah, ini sama sekali tidaklah mengotori para ulama. Sebab, kekeliruannya akan kembali kepada kebodohan dan pemahaman mereka yang rusak. Persis seperti keadaan pendahulu kaum Khawarij yang berdalil untuk mendukung akidah yang rusak dengan ayat al-Qur’an yang tidak dipahami dengan benar.

Tidak ada hubungan antara ISIS & al-Qaeda dengan dakwah salafiyah. Sebab, pemikiran ISIS & al-Qaeda dibangun di atas ideologi Khawarij dan buku-buku yang berisi takfir.

Asy-Syaikh Shaleh al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Sesungguhnya, mereka adalah para perusak (kaum radikal) yang mengadopsi pemikiran rusaknya dari Khawarij.”

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah pernah ditanya perihal pernyataan sebagian pihak bahwa kelompok teroris Khawarij itu berakidah salafi.

Beliau rahimahullah menjawab, “Ini adalah pernyataan yang batil, telah dibantah oleh sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang Khawarij,

يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ، فَأَيْنَمَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاقْتُلُوهُمْ فَإِنَّ فِي قَتْلِهِمْ أَجْرًا لِمَنْ قَتَلَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

‘Mereka keluar dari Islam seperti keluarnya anak panah dari sasarannya, melesat begitu cepat. Di mana pun kalian berjumpa dengan mereka, perangilah mereka, karena dalam memerangi mereka ada pahala pada hari kiamat, bagi siapa yang melakukannya.’

Dalam lafadz lain, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda,

يَقْتُلُونَ أَهْلَ الْإِسْلَامِ وَيَدَعُونَ أَهْلَ الْأَوْثَانِ

‘(Kaum Khawarij) memerangi umat Islam dan membiarkan para penyembah berhala (kaum musyrikin/kafir)’.” (Bara’atu Da’watil Imam Muhammad bin Abdul Wahhab min Fikril Khawarij)

ditulis oleh al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf

Sekilas Tentang Iran

Iran mempunyai nama resmi Islamic Republic of Iran (Jomhori-e Islami-e Iran). Republik Iran berdiri secara resmi pada 1 April 1979. Teheran menjadi ibukota untuk Iran, negara yang berpenduduk 70,4 juta jiwa menurut sensus tahun 2007. Agama resmi yang dianut adalah ajaran Syiah Itsna Asyariah. (Website Kemenlu RI)

Pada zaman dahulu, seluruh wilayah Iran berada di bawah kekuasaan Kekaisaran Persia. Persia sendiri adalah imperium adikuasa yang telah berdiri 1.000 tahun lebih. Hanya dalam 10 tahun setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, imperium Persia runtuh dan lenyap. Kekaisaran Persia berhasil ditaklukkan oleh para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Di dalam referensi sejarah, surat yang dikirim oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Kaisar Persia, malah dirobek-robek. Surat tersebut berisikan ajakan untuk masuk Islam. Kaisar Persia merasa terhina dengan hal itu. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian mendoakan supaya Kekaisaran Persia menjadi hancur lebur, sebagaimana surat beliau dirobek-robek. Akhirnya Kekaisaran Persia memang benar-benar hancur.

Sejak itu, agama Islam yang murni masuk dan diterima oleh penduduk Persia. Selama hampir 9 abad, Islam yang dianut oleh penduduk Iran adalah Islam dengan akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Bahkan tidak sedikit ulama-ulama Islam berasal dari wilayah Iran.

Masa berganti masa, sebagaimana wilayah lain, Iran pun mengalami berbagai peristiwa besar. Peristiwa yang kemudian cukup memengaruhi masa depan Iran adalah kekuasaan Raja Ismail ash-Shafawi atas Iran. Pada 906 H (1500 M), Ismail ash-Shafawi menguasai Iran dan memaksakan keyakinan Syiah Itsna Asyariyah (Imam 12) sebagai ideologi negara.

Setiap orang yang tidak meyakini ideologi tersebut akan dibunuh. Akhirnya, terjadilah pembantaian kaum muslimin secara besar-besaran. Ismail ash-Shafawi mengaku bahwa tindakan tersebut dilakukan atas perintah dari 12 Imam. Penduduk Iran dipaksa untuk mendengar cercaan dan cacian terhadap tiga khalifah, yaitu Abu Bakr, Umar, dan Utsman.

Pada masa Ismail ash-Shafawi, sekolah-sekolah berpemahaman Syiah didirikan secara masif. Masjid-masjid Sunni dihancurkan dan diubah fungsinya. Setiap khatib dan penceramah diharuskan untuk mencaci-maki para sahabat; Abu Bakr, Umar, dan Utsman karena dianggap telah merampas hak kekhalifahan Ali bin Abi Thalib.

Sejak saat itulah, Syiah menjadi agama resmi di Iran dan mayoritas penduduknya beragama Syiah.

 

Dendam Persia Terhadap Islam

Cobalah bayangkan! Persia adalah sebuah imperium yang berdiri dan berkuasa secara turun-temurun selama lebih dari 1.000 tahun. Persia dengan agama Majusinya dan kitab Zoroaster-nya, tentu telah melekat kuat pada jutaan penduduknya. Hal itu tentu akan menyisakan pengikut fanatik yang memendam dendam terhadap Islam, Arab, dan para pemimpinnya.

Ambil contoh adalah panglima Islam bernama Khalid bin Walid. Beliau adalah panglima terdepan yang ditunjuk oleh Khalifah Abu Bakar untuk menaklukan Persia. Pasukan Persia yang lebih banyak dalam jumlah selalu dapat dikalahkan oleh pasukan Islam di bawah komando Khalid bin Walid. Lebih dari 100.000 tentara Persia tewas disebabkan peperangan melawan pasukan Khalid. Artinya, berapa banyak anak, istri, dan keluarga yang mendendam?

Persia dalam menjalankan dendam, berpikir dengan keras. Jika melalui pertempuran secara langsung, sejarah tentu tidak dapat mereka lupakan, yakni pasti kalah. Karena itu, cara yang ditempuh adalah dengan merusak Islam dari dalam. Mereka menggunakan isu cinta kepada Ahlul Bait untuk menciptakan kekacauan di dalam Islam. Mengenai hal ini, Pembaca dapat menelaah kembali kajian-kajian tentang Syiah pada Majalah Asy Syariah yang telah terbit sebelumnya.

Setelah Raja Ismail ash-Shafawi berkuasa, ajaran Syiah yang diciptakan oleh bangsa Persia sebagai alat untuk melampiaskan dendam, menjadi ideologi resmi negara.

Namun, pengaruh Ismail ash-Shafawi juga tidak bertahan selamanya. Gerakan-gerakan kekacauan tidak bisa dikatakan padam. Berturut-turut yang menguasai Iran setelah Dinasti Shafawi adalah Dinasti Ashfar, Dinasti Zand, dan Dinasti Qajar. Pada 1921, terjadi kudeta militer yang dipimpin oleh Reza Shah Pahlevi.

Revolusi Iran pada 1979 adalah Revolusi Syiah, walaupun dinamakan Revolusi Islam. Khomeini menjadi pelopor revolusi Syiah. Keberhasilan Revolusi Syiah pada 1979 adalah upaya untuk mengokohkan kembali ajaran-ajaran Syiah yang sempat menjadi besar dan ideologi resmi pada masa dinasti Shafawiyah.

Kita bisa menemukan banyak kesamaan antara ajaran Syiah—yang ditetapkan sebagai ideologi resmi negara Iran—dan keyakinan kaum Majusi Persia. Berikut ini adalah beberapa contohnya.

  1. Kultur agama Majusi Persia adalah memosisikan kaisar dan keturunannya sebagai dewa atau tuhan.
  • Ajaran Syiah Itsna Asyariah (12 Imam) pun demikian. Kaum Syiah memosisikan para imam mereka layaknya Rabb. Mereka meyakini para imam mempunyai dan mampu melakukan hal-hal yang hanya mampu dilakukan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. (Lihat Majalah Asy Syariah edisi 092)

 

  1. Kaum Majusi Persia sangat membenci Abu Bakr, Umar, dan Utsman. Sebab, pada masa beliau bertiga, Kekaisaran Persia runtuh dan tumbang. Kebencian itu lebih kuat lagi terhadap sahabat Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu. Sebab, di masa kekhalifahan Umar, Kekaisaran Persia benar-benar hilang dari percaturan dunia.
  • Kaum Syiah juga membenci Abu Bakr, Umar, dan Utsman. Walaupun mereka beralasan karena beliau bertiga telah merampas hak kekhalifahan dari Ali bin Abi Thalib, namun alasan tersebut hanya dibuat-buat saja.

 

  1. Kaum Majusi Persia sangat mengagungkan Abu Lu’luah al-Majusi, orang yang telah membunuh Khalifah Umar dengan menggunakan pisau beracun.
  • Kaum Syiah juga menghormati dan memuliakan Abu Lu’luah tersebut. Kaum Syiah membangun sebuah kuburan untuk Abu Lu’luah di kota Kasyan, Iran. Kuburan tersebut dibangun, direnovasi menjadi megah, dan diagung-agungkan oleh kaum Syiah. Bahkan, sebagian kaum Syiah menetapkan hari kematiannya sebagai salah satu hari besar yang patut dirayakan.

 

  1. Kaum Majusi sangat menghormati dan mengagungkan api, bahkan mereka menuhankan api.
  • Kaum Syiah dalam beberapa kegiatan mereka, seperti hari raya Ghadir, juga menggunakan api sebagai rangkaian perayaan tersebut.

 

Selain hal di atas, warisan kultur budaya kaum Majusi Persia juga terus dipertahankan. Misalnya, bahasa resmi Iran adalah bahasa Persia; penanggalan yang digunakan juga penanggalan Persia; Iran juga menjadi pihak yang paling ngotot untuk menamakan teluk yang memisahkan antara Persia dan Arab dengan Teluk Persia.

Bahkan, Hari Nairuz yang merupakan hari raya kaum Majusi masih dipertahankan sebagai hari besar di Iran.

Oleh sebab itu, tidak salah jika kita menyimpulkan bahwa banyak kesamaan antara negara Iran dan Kekaisaran Persia di masa lalu.

Wallahul musta’an.

 Ditulis oleh al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar bin Rifa’i

Jejak Iran di Balik Tragedi Haji

Tanggal 10 Dzulhijah 1436 H bertepatan dengan 24 September 2015, kurang lebih setahun yang lalu adalah sejarah pahit bagi umat Islam dunia. Hari itu, sebuah peristiwa duka terjadi di tengah-tengah pelaksanaan ibadah haji. Peristiwa ini kemudian dikenal sebagai Tragedi Mina 1436 H.

Tragedi itu bermula ketika serombongan jamaah haji dari Iran melakukan pelanggaran dengan menerobos dan melewati rute jamaah dari negara lain. Jamaah haji Iran juga meneriakkan yel-yel mengenai Revolusi Iran. Petugas haji yang mencoba untuk mengatur, justru ditolak dan ditentang. Padahal petugas haji telah berusahameminta mereka untuk kembali ke rute yang seharusnya.

Sekian banyak saksi mata melaporkan bahwa jamaah haji Iran berjalan pulang dari lokasi jamarat dengan mengambil rute berangkat jamaah dari negara lain. Hal ini mengakibatkan tabrakan disebabkan bertemunya dua gelombang jamaah dari arah yang berlawanan. Apalagi jamaah haji Iran memang terbukti telah bermaksud untuk melakukan provokasi dan kekacauan. Terjadilah Tragedi Mina 1436 H.

Dalam grand scenario Iran, cara paling mudah untuk membuat malu Arab Saudi adalah dengan merusak dan mengacaukan kegiatan haji. Saat seluruh mata kaum muslimin sedang tertuju ke Arab Saudi, kekacauan dan kerusuhan dilakukan oleh Iran untuk kemudian menyalahkan Arab Saudi serta menjatuhkan nama baik Arab Saudi sebagai pihak yang melayani ibadah haji.

 

Sikap Iran

Terkait dengan Tragedi Mina 1436 H, Iran adalah satu-satunya pihak yang mengecam dan menuduh Arab Saudi sebagai pihak yang paling bertanggung jawab. Berbagai fitnah keji ditujukan Iran kepada Arab Saudi. Berikut ini beberapa contoh dari pernyataan yang dilontarkan Iran.

 

  1. Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Syiah Iran
  • Dia menyatakan bahwa Kerajaan Saudi melakukan politisasi dalam ibadah haji. Ali menuduh bahwa Kerajaan Saudi menjadi setan kecil yang lemah dan takut terhadap kepentingan setan besar, yaitu Amerika Serikat.
  • Ali Khamenei menuduh Arab Saudi sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas kematian ratusan jamaah haji Iran. Petugas haji, menurut Ali, sengaja mengunci korban yang masih hidup di dalam ruang tertutup dan menganiaya mereka.
  • Ali Khamenei menyerukan revolusi dan kudeta haji yang selama ini dipegang oleh Arab Saudi.

 

  1. Presiden Iran, Ayatullah Rauhani

Dia menuntut Arab Saudi untuk bertanggung jawab atas Tragedi Mina.

 

  1. Muhammad Imam Kasani, seorang ulama sentral Iran

Dia menyatakan bahwa dunia tidak menerima alasan-alasan semacam cuaca panas atau jamaan haji yang sulit diatur.

 

  1. Jaksa Agung Iran, Ibrahim Raisi

Dia meminta pengadilan internasional untuk mengadili Arab Saudi dengan tuduhan telah melakukan tindak kejahatan terhadap jamaah haji.

Media-media Iran dan yang pro-Iran secara gencar memosisikan Arab Saudi sebagai pihak yang bersalah. Hal itu merupakan kelanjutan dari usaha Iran di dekade 80-an yang ingin mengangkat isu internasionalisasi Makkah dan Madinah. Iran mendesak agar pelaksanaan haji dibawah kendali Komite Islam Internasional, dan tidak dipegang oleh Arab Saudi. Dari sana, Iran ingin melakukan intervensi di dalam pengaturan haji. Dengan tujuan akhir, hendak menguasai dua kota suci, yakni Makkah dan Madinah.

 

Jejak Iran Sejak Dahulu

Mufti Kerajaan Saudi Arabia, asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Alu asy-Syaikh menegaskan bahwa sejak 30 tahun sebelumnya, pemerintah Iran selalu bersikap buruk dan negatif terhadap pelaksanaan ibadah haji.

Mufti menjelaskan bahwa pemerintah Iran terlibat dalam banyak peristiwa kekacauan di musim haji. Beliau mengatakan, “Mereka sering terlibat dalam berbagai peristiwa dan kejadian, berbagai kesalahan dan tindakan melampaui batas di Baitullah al-Haram. Yang terbesar adalah peristiwa pada 1407 H, demonstrasi dan kekacauan yang mereka lakukan mengancam para jamaah yang telah dijamin keamanannya. Akhirnya rencana jahat mereka berhasil digagalkan.”

Yang dimaksud oleh Mufti adalah tragedi haji pada 1987 M. Ketika itu Garda Revolusi Iran melakukan kerja sama dengan milisi Hizbullah dan didukung oleh jamaah haji asal Iran mengadakan demonstrasi besar-besaran di kota Makkah.

Para demonstran membawa poster dan gambar Khomeini sambil meneriakkan yel-yel yang berisikan cacian dan ancaman terhadap Arab Saudi. Selain itu, mereka juga terang-terangan mengafirkan pemerintah Arab Saudi.

Demonstrasi tersebut berujung dengan kerusuhan dan kekacauan besar. Tercatat 402 orang meninggal dunia dengan 85 orang dari jumlah tersebut adalah petugas keamanan Arab Saudi. Selain itu, puluhan bangunan hancur, ratusan anak, lanjut usia, dan kaum wanita terluka, serta ratusan ribu jamaah haji terhambat untuk melaksanakan ibadah haji.

 

Tanpa Iran

Tahun ini, 1437 H/2016 M, adalah tahun pelaksanaan haji tanpa keberadaan jamaah haji Iran. Apa yang dirasakan oleh jamaah haji?

Pelaksanaan haji tahun ini berjalan lancar dan tertib. Tidak ada kendala dan problem yang berarti. Dalam banyak kesempatan, jamaah haji memberikan pujian dan ucapan terima kasih kepada para petugas haji. Pemerintah Arab Saudi semakin menambah dan meningkatkan kualitas pelayanan haji. Jamaah haji merasakan kenyamanan dan ketenangan di dalam pelaksanaan ibadah haji.

Pangeran Khalid bin Faishal, yang juga menjabat Ketua Panitia Pengurusan Haji, dalam keterangan pers menyatakan bahwa aman dan tertibnya pelaksanaan ibadah haji tahun ini adalah jawaban untuk segala kebohongan dan fitnah yang dituduhkan oleh Iran kepada Arab Saudi.

Dengan demikian, setelah melihat perbandingan pelaksanaan haji saat ada jamaah haji Iran dengan pelaksanaan ibadah haji tanpa mereka, kita pasti mampu menyimpulkan bahwa selama ini jamaah haji Iran menjadi pihak yang menimbulkan ketidaktenangan dan kekurangnyamanan dalam beribadah haji.

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar bin Rifa’i

Iran dalam Pandangan Negara-Negara Islam

OKI (Organisasi Kerja Sama Islam) atau dalam bahasa Arabnya Munazhamah at-Ta’awun al-Islami adalah perkumpulan negara-negara muslim di dunia. Kantor pusat OKI terletak di Jeddah, Arab Saudi. Indonesia adalah anggota aktif OKI, bahkan termasuk yang terlibat di dalam pendiriannya.

Menurut website resmi Kementerian Luar Negeri Indonesia, Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) dibentuk setelah para pemimpin sejumlah negara Islam mengadakan konferensi di Rabat, Maroko, pada 22—25 September 1969, dan menyepakati Deklarasi Rabat yang menegaskan keyakinan atas agama Islam, penghormatan pada Piagam PBB, dan hak asasi manusia.

Pembentukan OKI semula didorong oleh keprihatinan negara-negara Islam atas berbagai masalah yang dihadapi oleh umat Islam, khususnya setelah unsur Zionis Yahudi membakar bagian dari Masjid Suci al-Aqsha pada 21 Agustus 1969.

Pembentukan OKI antara lain ditujukan untuk meningkatkan solidaritas Islam di antara negara anggota, mengoordinasikan kerja sama antarnegara anggota, mendukung perdamaian dan keamanan internasional, serta melindungi tempat-tempat suci Islam, dan membantu perjuangan pembentukan negara Palestina yang merdeka dan berdaulat.

OKI saat ini beranggotakan 57 negara Islam atau berpenduduk mayoritas muslim di kawasan Asia dan Afrika.

Awalnya, OKI menjadi organisasi internasional yang lebih banyak menekankan pada masalah politik, terutama masalah Palestina. Dalam perkembangannya OKI berubah menjadi wadah kerja sama di bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, dan ilmu pengetahuan antarnegara muslim di seluruh dunia.

 

Sikap OKI Terhadap Iran

Pada KTT OKI ke-13 di Turki tahun 2016, sebuah keputusan resmi ditetapkan dan ditandatangani oleh para pemimpin lebih dari 50 negara Islam. Dari beberapa poin yang disepakati, negara-negara Islam juga mengambil sikap terhadap Iran. Sebelum ditetapkan, Presiden Iran Hasan Rauhani melakukan aksi walk out dari pertemuan tersebut.

Berikut ini beberapa poin yang telah disepakati oleh negara-negara Islam dalam KTT OKI ke-13 di Turki 2016.

  1. Mengecam campur tangan dan intervensi negara Iran dalam urusan intern negara-negara Islam, seperti Bahrain, Yaman, Suriah, dan Somalia.

Mengutuk kelanjutan dukungan Iran atas aksi terorisme di negara-negara tersebut.

 

  1. Mengecam tindakan anarkis dan perusakan yang menimpa Kantor Kedutaan Arab Saudi di dua lokasi, yaitu Teheran dan sebuah gedung pertemuan di Iran.

 

  1. Mencabut izin visa bagi warga negara Iran sesuai keputusan Majlis Tanfidziyah atas beberapa orang berkebangsaan Iran karena keterlibatan aksi-aksi anarkis dan terorisme di dalam negeri Arab Saudi.

 

  1. Mengecam organisasi Hizbullah di Lebanon (binaan Iran) atas turut campurnya mereka dalam aksi terorisme di Suriah, Bahrain, Kuwait, dan Yaman.

Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Adil al-Jubair menegaskan bahwa sikap dunia Islam adalah menolak kebijakankebijakan Iran dan intervensinya dalam urusan negara-negara lain, serta menolak dukungan Iran terhadap terorisme, upayanya mendirikan milisi-milisi di berbagai negara, dan tindakannya menggoncang stabilitas keamanan dan ketenangan di negara-negara tersebut.

Adil al-Jubair juga menyatakan di sela-sela KTT OKI saat diwawancarai, “Pernyataan yang dikeluarkan oleh pertemuan tingkat tinggi negara-negara Islam sangat jelas mengutuk tindakan-tindakan tersebut dan mengutuk dukungan apa pun untuk terorisme dan ekstremisme, sekaligus pesan kepada Iran sangat jelas; dan dunia Islam tidak menerima semua itu dan menolaknya.

Iran harus mengubah kebijakan-kebijakannya dan menerapkan prinsip bertetangga yang baik dan tidak ikut campur tangan dalam urusan negara lain, serta mematuhi norma-norma dan hukum internasional.”

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar bin Rifa’i

Iran Dalang Kekacauan Global

Ideologi Syiah sebagai dasar negara telah menempatkan Iran sebagai pihak yang mempunyai kepentingan di berbagai belahan dunia.

Konsep Wilayatul Faqih yang ditetapkan sebagai salah satu prinsip penting kaum Syiah, mendorong Iran mewujudkan cita-cita untuk membentuk sebuah sistem pemerintahan dengan kepemimpinan di bawah kekuasaan seorang faqih (baca: ulama Syiah) yang memenuhi syarat sebagai wakil Imam Mahdi yang masih dalam masa kegaiban yang panjang, yang selalu dinanti kedatangannya.

Wilayatul Faqih adalah keyakinan dan ideologi kaum Syiah bahwa mereka adalah satu-satunya pihak yang mempunyai hak dan wewenang untuk menguasai dan mengatur dunia.

Menurut mereka, seluruh bumi—tanpa terkecuali walau hanya sejengkal—harus berada di bawah kekuasaan ulama Syiah. Oleh sebab itu, melalui dan atas nama negara Iran, kaum Syiah selalu berperan dan campur tangan dalam banyak konflik global.

 

Konflik Suriah

Walaupun telah berlangsung bertahun-tahun, konflik Suriah belum menunjukkan tanda akan berakhir. Bahkan, sebagian kalangan mengkhawatirkan jika konflik Suriah tidak segera berakhir, akan mengakibatkan pecahnya perang dunia ke-3. Kekhawatiran semacam ini wajar dimunculkan, sebab sekian banyak negara plus kepentingan masing-masing, terlibat di dalam konflik Suriah.

Konflik Suriah tidak serta-merta pecah begitu saja. Perang berkepanjangan di sana merupakan akibat dan akumulasi dari sekian puluh tahun sebelumnya. Kaum Syiah menjadi pihak yang paling bertanggung jawab, baik sebagai sebab, pelaku, maupun penerus kekacauan.

Hafidz al-Asad menjadi presiden Suriah pertama yang berideologi Syiah. Setelah melakukan serangkaian gerakan untuk kudeta, Hafidz—seorang perwira tinggi militer, dibantu sejumlah perwira tinggi lainnya—akhirnya ditetapkan sebagai Presiden Suriah pada 22 Februari 1971.

Sebagai seorang penganut ideologi Syiah, Hafidz al-Asad melakukan pembersihan di seluruh lini pemerintahan dan militer Suriah. Hampir semuanya diserahkan dan dikuasai oleh kaum Syiah. Presiden Hafidz memerintah Suriah dengan gaya diktator yang penuh kezaliman dan kekerasan.

Salah satu peristiwa besar di dalam sejarah Suriah adalah pengepungan kota Hama selama 27 hari. Dengan alasan melakukan aksi balas atas penyerangan terhadap pihak pemerintah di kota Hama yang berlatar belakang Syiah, pasukan Presiden Hafidz mengerahkan pesawat tempur dan tank untuk menghancurkan kota Hama.

Februari 1982 menjadi bagian sejarah yang sulit terlupakan. Sepertiga kota Hama hancur. Lebih dari 30.000 orang Sunni tewas menjadi korban. Belasan ribu lainnya tidak diketahui keberadaannya, dan kurang lebih 100.000 orang terusir dari Hama. Selain menggunakan alat-alat perang yang berat, pasukan Hafidz juga menggunakan senjata kimia untuk melakukan pembantaian, yaitu hidrogen sianida.

Bashar al-Asad, putra Hafidz yang menjadi Presiden Suriah sepeninggalnya, melanjutkan gaya kepemimpinan ayahnya. Posisi kaum Syiah semakin kuat dan memegang posisi-posisi strategis di bidang politik, pemerintahan, dan ekonomi. Presiden Bashar melakukan tindakan represif terhadap rakyat. Seluruh media massa diatur negara, yang tidak tunduk akan ditangkap lalu dipenjarakan.

Tahun 2011 adalah tahun pertama konflik Suriah yang berkepanjangan sampai saat ini. Presiden Bashar yang berideologi Syiah melakukan pembantaian massal terhadap warga Sunni. Sejumlah penelitian menyebutkan bahwa selama kurun lima tahun, korban tewas akibat konflik Suriah mencapai angka 400.000 orang. Jumlah yang menyedihkan.

Konflik Suriah yang berkepanjangan ini rupanya tidak lepas dari peran Iran. Secara tegas, Wakil Komandan Garda Revolusi Iran, Jenderal Husein, menyatakan bahwa kehadiran dan keterlibatan tentara Iran di dalam konflik Suriah adalah demi kepentingan Revolusi Iran.

Sejak awal konflik, Iran berada di samping Presiden Bashar guna mendukung penuh rezimnya. Iran adalah sekutu regional Presiden Bashar. Dukungan secara militer dan ekonomi diberikan Iran untuk pemerintahan Bashar. Satu hal yang mempertemukan mereka adalah sama-sama berideologi Syiah.

Garda Revolusi Iran dinilai sebagai pihak yang sangat menentukan kebijakan-kebijakan militer di Suriah. Oleh sebab itu, tidak mengherankan jika pernah ada seorang jenderal Garda Revolusi Iran yang dinyatakan tewas di dekat Aleppo, Suriah, dalam sebuah pertempuran pada awal Oktober 2015. Husein Hamdani, jenderal yang tewas tersebut, adalah seorang penasihat militer Presiden Bashar yang berasal dari Garda Revolusi Iran.

Walhasil, Iran menjadi pihak yang paling banyak berperan di dalam konflik Suriah yang berkepanjangan.

 

Konflik Irak

Kaum Syiah di Irak terhitung mayoritas. Mereka adalah 60% dari total jumlah penduduk. Bagi kaum Syiah dunia, Irak memiliki keistimewaan dan kelebihan tersendiri. Di Irak terdapat dua kota suci menurut kaum Syiah, yaitu Najaf dan Karbala. Dalam keyakinan sebagian sekte Syiah, Najaf adalah lokasi Ali bin Abi Thalib dimakamkan. Adapun Karbala merupakan tempat wafat dan dikuburkannya Husein bin Ali.

Konflik Irak tidak lepas dari keberadaan milisi-milisi bersenjata yang didirikan oleh kaum Syiah. Milisi-milisi tersebut menjadi faktor utama yang menyebabkan berbagai konflik fisik di Irak. Sasaran dan target mereka adalah masyarakat Sunni, yakni masyarakat yang tidak sejalan dengan ideologi Syiah.

Hanya dalam tempo enam tahun, milisi-milisi Syiah telah membunuh lebih dari 650.000 orang Sunni. Sebuah angka yang cukup menggambarkan posisi dan peran kaum Syiah dalam peta konflik di Irak. Keberadaan milisi-milisi tersebut, ternyata tidak lepas dari sokongan dan dukungan Iran sebagai induk semang kekacauan di Timur Tengah.

Pada 2008, keterlibatan Iran dalam konflik Irak telah tersingkap. Senjata-senjata modern dikirim oleh Iran untuk milisi-milisi Syiah di Irak. Hal ini diperkuat oleh tertangkapnya sejumlah anggota milisi Syiah dan anggota Kesatuan Quds (Qods Force) yang melakukan misi di Irak. Qods Force adalah pasukan elite dari Garda Revolusi Iran (Iran’s Islamic Revolutionary Guard Corps).

Di Irak, dikenal sebuah sebutan “Special Groups/SGs”. Sebutan ini diberikan kepada milisi-milisi Syiah di Irak yang didukung oleh Iran. Mereka dilatih, dibantu, dan dibiayai oleh Iran. Beberapa milisi yang didukung oleh Iran adalah Korps Badar (Failaq Badr), Jaisy al-Mahdi, Asha-ib Ahlil Haqq, Jaisy al-Mukhtar, Liwa Abil Fadhl al-Abbas, dan Korps Ramazan dari Pasukan Garda Revolusi Iran.

Jadi, jika dicermati secara lebih mendalam, Iran mengambil peran yang cukup besar dalam konflik Irak. Bagaimanapun juga, dua kota suci kaum Syiah ada di wilayah Irak. Oleh sebab itu, kaum Syiah Iran akan terus berupaya untuk menciptakan konflik guna menguasai kedua kota tersebut.

 

Konflik Bahrain

Bahrain adalah sebuah negara di Teluk Persia dengan wilayah yang tidak begitu luas. Ternyata, Iran turut berperan di dalam berbagai bentuk konflik di Bahrain.

Setelah Revolusi Iran dicetuskan, beberapa kelompok politik yang berdasarkan ideologi Syiah didirikan, seperti The Islamic National Liberation, al-Jamaah al-Islamiyah, Harakat Syabab Muslim Bahrain, dan al-Jabhah al- Wathaniyyah li Tahriril Bahrain.

Kelompok yang disebutkan terakhir, diumumkan pembentukannya pada 2 September 1979 oleh Hujjatul Islam Hadi al-Mudarrisi. Al-Mudarrisi adalah seorang tokoh Syiah yang berasal dari Iran. Kelompok ini dikenal dengan sebutan IFLB atau Islamic Front For The Liberation of Bahrain.

Sebagian besar anggota IFLB adalah kaum Syiah yang mempunyai garis keturunan Iran. IFLB dibentuk di Iran, dilatih dan dibiayai oleh intelijen Iran dan Garda Revolusi Iran. Adapun salah satu tujuan yang hendak dicapai adalah melepaskan negara Bahrain dari persatuan negara-negara Teluk untuk kemudian digabungkan dengan negara Iran.

Pada 1981, tidak berselang lama dari Revolusi Iran, IFLB mencoba melakukan kudeta di Bahrain. Namun, usaha mereka dapat digagalkan oleh pemerintah Bahrain. Setelah itu, beberapa pemimpin IFLB melakukan kesepakatan dengan para pejabat intelijen Iran untuk membentuk sayap militer di Bahrain. Dari sana, lahirlah sayap militer bernama Hizbullah Bahrain.

Sejak awal pergerakan, mereka melakukan pelatihan militer dengan melibatkan ribuan kaum Syiah Bahrain. Salah seorang tokoh yang pernah memimpin Hizbullah Bahrain adalah Ali Salman, seorang tokoh Syiah yang dididik di kota Qumm, Iran. Ali Salman sering melakukan kritik, bahkan hasutan untuk membenci dan memusuhi pemerintah Bahrain.

Akhirnya Ali Salman ditangkap dan diasingkan. Ali Salman lalu mencari suaka di Inggris. Sekembalinya dari Inggris, Ali Salman kembali ke Bahrain dan masih terus melakukan upaya-upaya penghasutan.

Hizbullah Bahrain mempunyai tujuan utama untuk melakukan kudeta guna mengubah sistem pemerintahan menjadi pro-Iran. Setelah gagal melakukan kudeta pada 1981, Hizbullah Bahrain mencoba lagi untuk melakukan kudeta pada 1996. Radio dan siaran berita dari Teheran Iran terus meningkatkan hasutan dan kebencian terhadap pemerintah Bahrain.

Bahkan, pemerintah Bahrain sempat memanggil pulang duta besarnya dari Iran setelah terkuak skenario kudeta ternyata dibuat oleh Iran melalui sayap militer mereka, Hizbullah Bahrain.

 

Bagaimana dengan kondisi saat ini?

Ayatullah Rauhani pernah mengatakan, “Bahrain adalah pengikut Iran. Bahrain merupakan bagian dari Republik Islam Iran.”

Kaum Syiah dan Iran tidak akan berhenti untuk mengupayakan agar Bahrain menjadi negara Syiah. Melihat kegagalan-kegagalan dalam aksi fisik, saat ini Iran menjalankan politik halus dengan mendorong Syiah Bahrain masuk dan aktif di parlemen.

Meskipun demikian, gerakan Syiah masih saja menggunakan langkah-langkah kekerasan. Terbaru, pada Oktober 2015, aparat keamanan Bahrain menemukan 1,5 ton bahan peledak, beberapa senjata api, granat, dan perlengkapan perang lainnya di beberapa tempat berbeda. Menteri Dalam Negeri Bahrain mengungkapkan bahwa orang-orang yang tertangkap memiliki hubungan dekat dengan terorisme di Iran.

 

Iran dan Konflik-Konflik Lain

Keterangan di atas hanyalah sekelumit informasi tentang peran dan posisi Iran di dalam konflik yang terjadi di Timur Tengah dan daerah lainnya. Selain di ketiga negara di atas, Iran pun sangat berperan dalam konflik di Pakistan, Lebanon, Turki, dan yang cukup besar adalah di negeri Yaman.

Tokoh utama milisi Houthi, yaitu Badruddin al-Houthi, tercatat pernah tinggal di Iran antara tahun 1994—1997. Milisi Houthi adalah milisi Syiah yang menjadi dalang kekacauan dan konflik di Yaman. Hingga saat ini, kekacauan di Yaman belum juga berakhir.

Milisi Houthi seakan tidak mengenal menyerah untuk mewujudkan cita-cita mereka, mendirikan negara Syiah Yaman. Di dalam konflik Yaman, Iran terbukti telah menyuplai senjata dan alat-alat perang untuk milisi Houthi. Beberapa kali, kiriman senjata, bom, bahkan rudal dari Iran untuk milisi Houthi melalui jalur laut dapat digagalkan oleh pemerintah Yaman.

Bahkan, pada salah satu upaya penggagalan penyelundupan, Menteri Dalam Negeri Yaman sempat menyatakan bahwa senjata dan alat-alat perang itu sudah cukup untuk menghancurkan Yaman.

 

Kesimpulan

Intinya, di dalam konflik global dan peta dunia, Iran selalu ikut campur tangan untuk mewujudkan prinsip Wilayatul Faqih, yakni mensyiahkan dunia.

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa membimbing dan memberikan hidayah untuk kaum muslimin di Indonesia agar selalu waspada dari bahaya Syiah dan Iran. Terutama para pemimpin bangsa ini, semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberikan petunjuk kepada mereka.

Amin.

anDitulis oleh al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar bin Rifa’i

Khomeini Pujaan Ikhwanul Muslimin

Dalam pandangan umum, sebagian kalangan menyebut Revolusi Iran sebagai revolusi terbesar nomor urut ketiga setelah Revolusi Perancis dan Revolusi Bolshevik.

Revolusi Iran sendiri digerakkan secara massif mulai Januari 1978 sampai Desember 1979. Revolusi Iran dinyatakan selesai setelah Khomeini ditetapkan sebagai Pemimpin Besar dan sistem pemerintahan yang baru resmi diputuskan.

Mereka yang termakan propaganda dan isu liar yang di-blow-up penuh oleh kaum Syiah, memandang Revolusi Iran sebagai era kebangkitan Islam. Revolusi Iran adalah perlawanan terhadap kaum kafir, khususnya Amerika, Israel, dan Soviet. Apalagi yel-yel dan slogan yang diteriakkan para demonstran diungkapkan dalam bentuk permusuhan dan kebencian kepada Amerika, Israel, dan Soviet. Klop sudah.

Apakah memang demikian?

Pada artikel sebelumnya, sedikit banyak telah diterangkan bahwa hakikat Revolusi Iran adalah revolusi yang ditempuh oleh kaum Syiah sebagai landasan pacu untuk mensyiahkan dunia. Pemahaman sesat dan ideologi-ideologi menyimpang kaum Syiah dikemas seakan-akan mereka sedang memperjuangkan Islam. Namun, sekian banyak bukti dan data akurat membantah itu semua.

Salah satu pihak yang mendukung dan memback-up Revolusi Iran, Khomeini, dan ideologi-ideologi Syiah adalah gerakan IM (Ikhwanul Muslimin). Gerakan yang berpusat di Mesir ini secara terang dan tegas menyatakan dukungan untuk Khomeini. Sejumlah pimpinan teras dan tokoh sentral Ikhwanul Muslimin mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang menyokong gerakan Khomeini ketika terjadi Revolusi Iran.

Ulama masa kini, asy-Syaikh Ahmad bin Yahya an-Najmi (al-Maurid al-‘Adzbu az-Zulal hlm. 163) menceritakan, “Pada saat Khomeini menggerakkan revolusinya di Iran, pendukung-pendukung Ikhwanul Muslimin segera menyatakan dukungan. Sebagian mengirim telegram dukungan, sebagian yang lain menulis kolom di surat-surat kabar. Ada juga yang mengoordinir unjuk rasa guna mendukung Khomeini dengan alasan Khomeini adalah al-Imam al-Haq, serta negaranya adalah satu-satunya negara yang beriman, lainnya tidak.”

Asy-Syaikh An-Najmi juga menukil beberapa bait syair yang ditulis oleh Yusuf al-‘Adzm, seorang tokoh Ikhwanul Muslimin,

Dengan Khomeini sebagai pemimpin dan imam, ia menghancurkan bangunan kezaliman dan tidak takut kematian

Sungguh, kami telah menyerahkan mahkota dan tanda untuknya, dari darah kami dan kami akan berangkat maju ke depan

Kami akan menghancurkan kesyirikan dan memerangi kezaliman, supaya dunia kembali bercahaya dan penuh kedamaian

Menanggapi syair di atas, asy-Syaikh an-Najmi menyatakan, “Perhatikanlah, wahai Saudara pembaca. Perhatikan kebutaan dan kebodohan ini! Kesyirikan macam apa yang dihancurkan oleh Khomeini?

Bukankah kesyirikan telah benar-benar tumbuh dan berkembang di kalangan Syiah? Kesyirikan macam apa yang dihancurkan oleh Ikhwanul Muslimin? Justru mereka sejak pertama berdiri telah ridha dan menyetujui kesyirikan, bahkan mereka sendiri terjatuh dalam kesyirikan.”

 

Revolusi Iran & Ikhwanul Muslimin

Mengenai keterkaitan erat antara Revolusi Iran dan Ikhwanul Muslimin, marilah kita membaca bukti-buktinya dari seorang penulis yang berlatar belakang Ikhwanul Muslimin. Sebuah buku ditulis oleh Dr. Izzudin Ibrahim dan diberi judul Mauqifu Ulama al-Muslimin min asy-Syi’ah wa ats-Tsaurah al-Islamiyyah. Secara bebas, judul buku tersebut dapat diterjemahkan menjadi Pandangan Ulama Kaum Muslimin Terhadap Syiah dan Revolusi Islam.

Buku dimaksud berisikan tulisan dan ceramah para pemimpin gerakan Ikhwanul Muslimin. Selain itu juga berisikan ceramah tokoh-tokoh pergerakan lainnya, semacam al-Maududi dan an-Nadwi.

Di Iran, buku di atas memperoleh sambutan hangat. Bahkan, pada 1986, buku tersebut dicetak di Teheran, Iran, oleh penerbit Syiah dalam jumlah eksemplar yang cukup banyak. Jika membaca buku ini, kita akan memahami betul mengapa Iran sangat berkepentingan untuk mencetak dan menyebarluaskan. Sebab, penulis benar-benar memberikan dukungan dan pembelaan terhadap kaum Syiah dan revolusinya.

Dr. Izzudin (hlm. 44) menulis dalam rangka memuji, “Adapun di Mesir, majalah ad-Dakwah, al-I’tisham, dan al-Mukhtar, berada di barisan Revolusi untuk mendukung dan membela Revolusi Iran sebagai revolusi Islam.”

Pada halaman 10, Izzudin menukil tulisan wartawan senior Ikhwanul Muslimin bernama Jabir Rizq, “Sungguh, masa berkecamuknya perang ini adalah masa yang sama dengan gagalnya agenda-agenda Amerika dan koalisinya terhadap revolusi Islam dari bangsa Iran.”

Kemudian pada halaman 49, Izzudin menukil ucapan seorang tokoh sentral Ikhwanul Muslimin bernama Fathi Yakan, “Beberapa waktu lalu ada bukti kuat untuk pernyataan kami, yaitu usaha revolusi Islam di Iran. Usaha ini diperangi dan dimusuhi secara besar-besaran oleh kaum kafir dan masih saja berlangsung. (Revolusi ini dimusuhi) karena itu adalah revolusi Islam, tidak berpihak ke barat maupun ke timur.”

Dr. Izzudin (hlm. 41—42) menggambarkan betapa gegap gempitanya kaum muslimin menyambut Revolusi Iran dan Khomeini. Izzudin menulis, “… Revolusi Iran telah membangkitkan ruh umat Islam di seantero dunia yang membentang dari Thanjah sampai Jakarta. Perkembangan Revolusi Iran semakin menambah negara-negara yang menyambutnya. Negara-negara yang mengungkapkan kegembiraan dan suka cita di jalan-jalan kota Kairo al-Mu’izz, Damaskus, Syam, Karachi, Khurtum, Istanbul, dan di sekitar Baitul Maqdis, serta di setiap tempat yang ada kaum muslimin di sana.”

Setelah itu, Dr. Izzudin melukiskan satu per satu negara dengan Ikhwanul Muslimin sebagai penggeraknya dalam mendukung Khomeini serta Revolusi Iran. Salah satu yang disebut Izzudin adalah Sudan. Mahasiswa dan pendukung Ikhwanul Muslimin turun ke jalan melakukan aksi demonstrasi sebagai bentuk dukungan kepada Khomeini dan Revolusi Iran. Bahkan, Dr. Hasan at-Turabi, pemimpin Ikhwanul Muslimin di Sudan berangkat ke Iran untuk menemui Khomeini dan menyatakan dukungan secara langsung.

Tokoh dan pemimpin Ikhwanul Muslimin di Tunisia yang bernama al-Ghannusyi mengangkat sebuah tulisan untuk mendukung penuh Khomeini. Al-Ghannusyi memandang bahwa arah Islam di masa kini ditentukan oleh Hasan al-Banna, Khomeini, al-Maududi, dan Sayyid Quthub.

 

Ikhwanul Muslimin dan Syiah

Asy-Syaikh Ahmad bin Yahya an-Najmi (al-Maurid al-‘Adzbu az-Zulal hlm. 162—163) menukil ucapan Dr. Izzudin Ibrahim dalam buku Mauqifu Ulama-il Muslimin yang menjelaskan hubungan tokoh-tokoh Ikhwanul Muslimin dengan Syiah.

Izzudin menyebutkan nama mereka satu per satu, yaitu Subhi as-Sulhi, Dr. Abdul Karim Zaidan, Muhammad Abu Zahrah, Dr. Musthofa asy-Syik’ah, asy-Syaikh Hasan Ayyub, Hasan at-Turabi, Fathi Yakan, Said Hawwa, Anwar al-Jundi, Ustadz Samih ‘Athif az-Zain, Ustadz Shabir Tha-imah, Ustadz Sami an-Nasyar, Dr. Ali Abdul Wahid Wafi, Zainab al-Ghazali, at-Tilmisani, Yusuf al-‘Adzm, dan al-Ghannusyi. Kemudian asy-Syaikh an-Najmi mengatakan, “Semua tokoh di atas mempunyai pendapat yang terpublikasi melalui karya tulis atau jawaban-jawaban.

Mereka mendukung usaha untuk menyatukan antara Ahlus Sunnah dan Syiah. Mereka menyatakan bahwa Syiah tidak mempunyai akidah menyimpang yang mengharuskan untuk dihukumi kafir atau fasik. Mereka juga menyatakan bahwa Syiah adalah kaum muslimin sebagaimana kaum muslimin lainnya karena sama-sama mengucapkan La ilaaha illallah, shalat, puasa dan haji. Mereka juga memandang bahwa perbedaan antara Ahlus Sunnah dan Syiah seperti perbedaan mazhab saja.”

Apa kesimpulannya?

Ikhwanul Muslimin adalah pihak yang paling mendukung dan membela Khomeini, Revolusi Iran, dan kaum Syiah. Ideologi-ideologi sesat kaum Syiah tidak dianggap sesat oleh Ikhwanul Muslimin. Mereka berupaya untuk menyatukan antara Ahlus Sunnah dan kaum Syiah.

Dengan demikian, Ikhwanul Muslim setali dua uang dengan kaum Syiah. Sama-sama sesat dan menyesatkan!

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar bin Rifa’i

Khomeini Dalang Ataukah Pion Kekacauan?

Terlalu banyak referensi yang menyuguhkan catatan tentang Khomeini. Tiap-tiap referensi memberikan penilaian dengan corak dan warna yang berbeda-beda. Bagi para pemuja dan pengagum Khomeini, referensi-referensi yang mereka tuliskan dipenuhi dengan pujian dan sanjungan.

Begitu tinggi pujian yang diberikan, sampai-sampai mereka menggambarkan Khomeini sebagai sosok suci yang tidak mempunyai sedikit pun cela dan cacat.

Ada lagi referensi yang disusun oleh orang-orang yang sekadar terpengaruh oleh media yang membesar-besarkan Khomeini. Mereka tidak memahami jalan hidup, ideologi, dan pemikiran-pemikiran sesat Khomeini. Imam Besar, tokoh revolusioner Islam, penentang Amerika dan Israel, pendobrak kejumudan dan gelar-gelar lainnya, mereka sematkan pada Khomeini. Apakah benar demikian, mereka tidak peduli. Hanya itu yang mereka ketahui.

Di sisi lain, para ulama Ahlus Sunnah telah berikhtiar sekuat upaya untuk menggambarkan hakikat Khomeini sebagai salah satu dalang di balik sekian banyak kekacauan dan kerusuhan. Jalan hidup, ideologi, dan pemikiran-pemikiran Khomeini telah meracuni umat Islam.

Pembuktian adalah jalan seadil-adilnya untuk menilai Khomeini, benarkah ia seorang yang layak disebut sebagai tokoh pejuang Islam? Ataukah ia justru menjadi dalang dari penodaan ajaran Islam?

 

Kejahatan Khomeini di Dua Tanah Suci

Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i (wafat 1422 H) termasuk ulama yang menyaksikan secara langsung pengaruh pemikiran-pemikiran Khomeini. Asy-Syaikh Muqbil berasal dan bertumbuh kembang di tengah-tengah komunitas Syiah negeri Yaman yang sangat mengelu-elukan Khomeini. Bahkan, gerakan pemberontakan kaum Syiah negeri Yaman yang kemudian lebih dikenal dengan milisi Houthi, bermula dari pengajaran buku ats-Tsaurah al-Iraniyah (Revolusi Iran).

Pada masa selanjutnya, asy-Syaikh Muqbil dapat membebaskan diri—dengan taufik dari Allah subhanahu wa ta’ala—dari pemikiran-pemikiran Khomeini yang dianut oleh mayoritas masyarakatnya saat itu. Bahkan, asy-Syaikh Muqbil termasuk di barisan terdepan dalam memerangi pemikiran-pemikiran Khomeini.

Salah satu bukti adalah sebuah karya tulis beliau yang berjudul al-Ilhadul Khumaini fi Ardhil Haramaini. Buku yang judulnya diterjemahkan dengan Kejahatan Khomeini di Dua Tanah Suci ini ditulis semasa asy-Syaikh Muqbil masih menimba ilmu di Tanah Suci Makkah. Melalui karya beliau di atas, asy-Syaikh Muqbil menerangkan keterlibatan Khomeini dalam banyak tindak kejahatan di kota Makkah dan Madinah.

Awal mulanya, asy-Syaikh Muqbil membaca sebuah buku sejarah yang merunutkan kota Makkah dari tahun ke tahun. Al-‘Aqduts Tsamin, beliau baca dari rentetan peristiwa pada 12 H, saat Abu Bakr ash-Shiddiq memimpin jamaah haji. Sampai pada 829 H, peristiwa haji dari tahun ke tahun diterangkan di dalam kitab tersebut. Apa yang disimpulkan oleh asy-Syaikh Muqbil?

“Setelah membaca bab ini, saya melakukan perbandingan. Alhamdulillah, selama bertahun-tahun saya melaksanakan ibadah haji, jamaah haji dalam suasana tenang dan aman. Jauh berbeda dengan peristiwa-peristiwa haji (kekacauan dan kerusuhan –pen.) yang disebutkan di dalam kitab tersebut,” tutur asy-Syaikh Muqbil.

Beliau melanjutkan, “Oleh sebab itu, saya pun yakin bahwa kaum Syiah Rafidhah memang menginginkan pintu kekacauan terbuka melalui aksi-aksi jahiliah tersebut.”

 

Dusta Khomeini dalam Teriaknya

Banyak kalangan tertipu dengan aksi-aksi yang dilakukan oleh Khomeini dan pendukungnya. Apalagi jika mendengar yel-yel yang diteriakkan dan didengung-dengungkan. Mereka dengan lantang meneriakkan, “Hancurlah Amerika! Hancurlah Israel! Hancurlah Soviet!” Mereka juga menyatakan, ”Negeri Islam, Negeri Islam! Tidak blok barat, tidak blok timur! Hanya Islam!”

Mengenai hal ini asy-Syaikh Muqbil (al-Ilhad al-Khumaini hlm. 66) menyatakan, ”Khomeini adalah dalang kerusuhan. Kita sama sekali tidak ragu bahwa dia hanyalah agen Amerika dan Rusia. Coba perhatikan, dia membangun kekuatan dengan bantuan Amerika dan Rusia. Dia pun agen Yahudi!”

Asy-Syaikh Muqbil melanjutkan, “Tidak ada yang dikhawatirkan oleh Amerika atau Rusia dari teriakan-teriakan Khomeini, ‘Hancurlah Amerika! Hancurlah Rusia!’ Sebab, Khomeini sendiri sedang menjalankan agenda-agenda mereka.”

Bahkan dengan tegas, asy-Syaikh Muqbil menyatakan, “Kita tidak percaya dengan pernyataan Khomeini untuk memboikot Amerika dan Rusia. Kita pun tidak percaya dengan Khomeini yang katanya menahan pendeta-pendeta Amerika. Kita yakin bahwa hal itu hanyalah skenario bersama Amerika. Tujuannya agar ia dinilai sebagai pahlawan oleh umat Islam sehingga mereka benar-benar percaya kepada dirinya.”

“Khomeini berpura-pura membenci musuh-musuh Islam. Setelah ia dapat meraihnya, barulah ia memperlihatkan hakikat permusuhan terhadap umat Islam. Khomeini yang jahat ini pernah mengatakan ingin membebaskan Makkah sebelum membebaskan Palestina,” lanjut asy-Syaikh Muqbil.

Untuk mengetahui hakikat Khomeni, asy-Syaikh Muqbil memberi rekomendasi untuk membaca literatur sejarah yang mencatat tentang Syiah Rafidhah semisal kitab al-Fashl karya Ibnu Hazm, al-Milal wan Nihal karya asy-Syihristani, dan al-Farqu bainal Firaq karya al-Baghdadi.

Secara khusus asy-Syaikh Muqbil menganjurkan setiap sunni salafi untuk membaca karya asy-Syaikh Abdullah Muhammad al-Gahrib yang menyingkap topeng rahasia Khomeini.

 

Karya Khomeini: al-Hukumah al-Islamiyah

Sebagai bukti yang tak bisa terbantahkan, asy-Syaikh Muqbil menyebut karya Khomeini yang berjudul al-Hukumah al-Islamiyah sebagai bahan rujukan akurat mengenai kesesatan berpikir Khomeini. Buku tersebut adalah kumpulan ceramah Khomeini yang telah dicetak atas sepengetahuannya. Buku itu pun menjadi bahan bacaan setiap pengagum dan pendukung Khomeini.

Beberapa contoh kesesatan berpikir Khomeini di dalam karyanya al-Hukumah al-Islamiyah,

  1. Kedudukan imam-imam Syiah lebih tinggi dibandingkan para nabi

Khomeini menyatakan (hlm. 52), “Sungguh, di antara hal yang bersifat prinsip dalam mazhab kami bahwa imam-imam kami mempunyai kedudukan yang tidak mungkin dicapai sekalipun oleh para malaikat yang didekatkan atau para nabi yang diutus.”

Masih di halaman yang sama, Khomeini menukil ucapan para imam Syiah, “Kami mempunyai keadaan-keadaan khusus yang tidak dapat dicapai sekalipun oleh para malaikat yang didekatkan atau para nabi yang diutus.”

Lihat dan saksikanlah sikap ghuluw (ekstrem) yang ditanamkan oleh Khomeini kepada para pengikutnya! Apakah mungkin seseorang yang mempunyai akidah lurus dan iman yang tulus lantas menyatakan bahwa para imam Syiah jauh lebih baik dibandingkan malaikat, para nabi, dan rasul? Sungguh, nyata sesat berpikirnya Khomeini!

 

  1. Pemerintah atau penguasa yang bukan berasal dari kelompok Syiah, adalah penguasa yang zalim

Khomeini menerangkan (hlm. 33), “Di awal Islam, penguasa Bani Umayah dan para pendukungnya berupaya menghalangi Ali bin Abi Thalib untuk memegang kekuasaan. Padahal, kekuasaan Ali adalah kekuasaan yang diridhai oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya.

Melalui upaya Bani Umayah, bentuk dan konsep hukum Islam berubah dan menyimpang. Sebab, agenda mereka adalah untuk menyelisihi konsep-konsep Islam secara keseluruhan.

Penguasa setelah mereka, yaitu Bani Abbasiyah, juga mengikuti langkah yang sama. Kekhalifahan berganti-ganti, menjadi kesultanan dan kerajaan yang diwariskan. Hukum yang berlaku menjadi seperti hukum raja Persia, kaisar Romawi, dan Fir’aun di Mesir. Hal semacam itu terus berlanjut sampai hari ini.”

Setelah membaca dan meneliti pernyataan Khomeini di atas, bagaimana sikapnya terhadap masa al-Khulafa ar-Rasyidun: Kekhalifahan Abu Bakr, Umar, dan Utsman radhiallahu ‘anhum?

Para sahabat mulia semacam mereka sama sekali tidak dihargai dan dihormati oleh Khomeini! Kekhilafahan mereka tidak dianggap oleh Khomeini! Bahkan, Khomeini mencaci-maki kekhalifahan selain Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu.

Penilaian Khomeini terhadap kekhalifahan Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah sangatlah buruk. Tidak ada yang selamat, menurutnya. Padahal, tidak sedikit penguasa yang baik dan adil dari Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah. Silakan lihat di halaman 133 tentang pernyataan Khomeini yang menilai Harun ar-Rasyid sebagai sosok yang jahil dan bodoh. Allahul musta’an.

Bagaimana dengan penilaian Khomeini terhadap pemerintahan muslim di zamannya dan zaman setelahnya?

Sama! Ia menilai bahwa tidak ada satu pun pemerintahan di dunia ini yang menerapkan hukum Islam secara benar. Dia mengatakan di halaman tersebut, “Hal semacam itu terus berlanjut sampai hari ini.”

Hal ini diperkuat oleh pernyataan Khomeini (hlm. 165), “Sungguh, kaum Syiah sejak awal telah berusaha untuk mendirikan negara yang adil dan islami. Negara semacam ini benar-benar telah ada di zaman Nabi dan di masa Imam Ali alaihis salam. Maka dari itu, kita yakin bahwa hal itu dapat diperbarui. Akan tetapi, orang-orang zalim sepanjang sejarah telah menghalang-halangi Islam untuk menjadi terang.”

 

  1. Memuji at-Thusi dan Ali bin Yaqthin

Khomeini menyatakan (hlm. 142), “Umat manusia ikut merasakan kesedihan dengan meninggalnya al-Khawajah (yang mulia) Nushairuddin at-Thusi dan yang semisalnya. Mereka telah menyumbangkan banyak khidmat agung untuk Islam.”

Pada halaman yang sama, Khomeini memuji at-Thusi dan Ali bin Yaqthin. Bahkan, dia mendoakan rahmat untuk mereka berdua.

Padahal, siapa pun yang membaca sejarah Islam, tidak akan terlewatkan baginya tentang kepedihan dan kesedihan kaum muslimin saat kota Baghdad dihancurkan oleh pasukan Tatar. Kota pusat pemerintahan, perekonomian, dan peradaban umat Islam banjir darah oleh sebab pasukan Tatar.

Siapakah tokoh pengkhianatnya?

Siapa lagi kalau bukan ath-Thusi dan Ali bin Yaqthin! Khomeini justru merasa kehilangan dan mendoakan rahmat untuk mereka berdua?!

 

Masihkah Khomeini Dielukan dan Dibanggakan?

Jelas-jelas Khomeini berideologi Syiah Itsna ‘Asyariyah! Ia pun aktif menyebarluaskan pemikiran dan ideologi-ideologi Syiahnya. Kesesatan-kesesatan Syiah yang ia perjuangkan, apakah tidak cukup bagi kita untuk menyatakan bahwa Khomeini adalah orang yang tidak pantas dipahlawankan, tidak layak ditokohkan, justru Khoemeini harus dicela dan dicerca?

Khomeini terbukti menjadi dalang dan aktor di balik banyak kerusuhan di dunia Islam. Pemikiran-pemikirannya telah meracuni banyak pihak. Walaupun ia mengesankan diri sebagai musuh Amerika, musuh Israel, atau musuh Soviet, namun nyatanya itu hanya topeng untuk menutupi hakikat dirinya sebagai agen kaum kafir.

Revolusi Islam sejatinya hanyalah istilah bohong untuk mengelabui umat Islam. Hakikat Revolusi Islam yang diperjuangkan oleh Khomeini adalah revolusi untuk penyebaran ajaran-ajaran Syiah Rafidhah. Padahal, kita sudah sama-sama mengerti, seperti apakah kesesatan-kesesatan Syiah Rafidhah.

Sebagai penutup, asy-Syaikh Muqbil bin Hadi (al-Ilhad al-Khumaini hlm. 139) mengatakan, “Walhamdulillah. Kemarin, Khomeini Si Dajjal mencaci maki Amerika dan Rusia. Sekarang, Khomeini menengadahkan tangannya kepada Amerika dan Israel untuk mengirimkan bantuan militer guna menyerang kaum muslimin. Alhamdulillah, Allah subhanahu wa ta’ala telah mempermalukan Khomeini selagi ia masih hidup agar tidak ada yang tertipu.”

Wallahul musta’an.

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar bin Rifa’i