Lihatlah Kebawah

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah)

 

Dunia dengan perhiasannya demikian menyilaukan…

Allah l pun memberikannya kepada kepada hamba yang dicintai-Nya dan kepada hamba yang tidak dicintai-Nya, sehingga kelebihan yang didapatkan seseorang dalam perkara dunia bukanlah jaminan ia dicintai oleh Dzat Yang di atas. Berapa banyak orang yang jahat, ingkar kepada Allah l dan Rasul-Nya n, namun ia beroleh kekayaan melimpah dan jabatan yang tinggi. Sebaliknya, banyak hamba yang taat kepada Allah l dan Rasul-Nya n tidak beroleh dunia kecuali sekadarnya. Kenapa demikian? Karena memang dunia tiada bernilai di sisi Allah l. Sampai-sampai kata Rasul yang mulia n:

لَوْكاَنَتِ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللهِ جَناَحَ بَعُوْضَةٍ، ماَ سَقَى كاَفِرًا مِنْهَا شُرْبَةَ مَاءٍ

“Seandainya dunia ini di sisi Allah punya nilai setara dengan sebelah sayap nyamuk niscaya Allah tidak akan memberi minum seorang kafir seteguk air pun.” (HR. At-Tirmidzi, dishahihkan Al-Imam Al-Albani t dalam Ash-Shahihah no. 940)

Tatkala Rasulullah n lewat di sebuah pasar sementara orang-orang berada di sekitarnya, beliau melewati bangkai seekor anak kambing yang cacat telinganya. Beliau memegang telinga bangkai hewan tersebut, lalu berkata:

أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنْ يَكُوْنَ هَذَا لَهُ بِدِرْهَمٍ؟ فَقَالُوْا: مَا نُحِبُّ أَنَّهُ لَنَا بِشَيْءٍ وَمَا نَصْنَعُ بِهِ؟ ثُمَّ قَالَ: أَتُحِبُّوْنَ أَنَّهُ لَكُم؟ قَالُوْا: وَاللهِ، لَوْ كَانَ حَيًّا كَانَ عَيْبًا، أَنَّهُ أَسَكٌ، فَكَيْفَ وَهُوَ مَيِّتٌ. فَقاَلَ: فَوَاللهِ لَلدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللهِ مِنْ هَذَا عَلَيْكُمْ

“Siapa di antara kalian ingin memiliki bangkai anak kambing ini dengan membayar satu dirham?”

“Kami tidak ingin memilikinya walau dengan membayar sedikit, karena apa yang akan kami perbuat dengannya?” jawab mereka yang ditanya.

Beliau kembali mengulang pertanyaannya, “Apakah kalian ingin bangkai anak kambing ini jadi milik kalian?”

“Demi Allah, seandainya pun hewan ini masih hidup, ia cacat, telinganya kecil, apatah lagi ia sudah menjadi bangkai!” jawab mereka.

Rasulullah n bersabda, “Maka demi Allah, sungguh dunia ini lebih hina bagi Allah daripada bangkai anak kambing ini bagi kalian.” (HR. Muslim)

Mungkin kita termasuk orang yang mendapatkan dunia sekadarnya, tidak berlebih seperti yang diperoleh orang-orang di sekitar kita, yang mungkin punya rumah mewah, mobil gonta-ganti, perabotan yang wah…, dan jabatan yang empuk. Kekurangan yang ada pada kita dari sisi dunia dan kelebihan yang diperoleh orang lain seharusnya tidak perlu membuat dada kita sempit sehingga kita berburuk sangka kepada Allah Yang Maha Adil. Rasul yang mulia n telah memberi bimbingan dalam perkara dunia kita ini. Beliau n bertitah:

انْظُرُوْا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوْا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ

“Lihatlah kepada orang yang lebih rendah daripada kalian dan jangan melihat orang yang lebih di atas kalian. Yang demikian ini (melihat ke bawah) akan membuat kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang diberikan-Nya kepada kalian.” (HR. Muslim)

Dalam satu riwayat:

إِذَا نَظَرَ أَحَدُكُمْ إِلَى مَنْ فُضِّلَ عَلَيْهِ فِي الْمَالِ وَالْخَلْقِ فَلْيَنْظُرْ إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْهُ

“Apabila salah seorang dari kalian melihat kepada orang yang diberi kelebihan dalam hal harta dan rupa/fisik, maka hendaklah ia melihat orang yang lebih rendah dari dirinya.”

Hadits di atas memberi arahan kepada setiap muslim agar selalu melihat ke bawah dalam perkara dunia dan jangan melihat kepada orang yang melebihinya. Karena bila ia berbuat demikian akan membuatnya berkeluh kesah, sempit dada, dan tidak bersyukur dengan apa yang Allah l berikan kepadanya. Sebaliknya dalam perkara agama/akhirat, seorang muslim harusnya melihat ke atas, kepada orang yang lebih darinya dalam beramal ketaatan, dalam keshalihan dan ketakwaan sehingga ia terpacu untuk terus menambah ketaatan dan amal ibadah. (Bahjatun Nazhirin, 1/534)

Al-Imam Ath-Thabari t berkata tentang hadits di atas, “Ini merupakan sebuah hadits yang mengumpulkan kebaikan. Karena bila seorang hamba melihat orang yang di atasnya dalam kebaikan, ia menuntut jiwanya untuk turut bergabung dengan orang yang dilihatnya tersebut. Ia pun mengecilkan keadaannya ketika itu sehingga ia bersungguh-sungguh untuk menambah kebaikan. Bila dalam perkara dunianya ia melihat kepada orang yang di bawahnya, akan tampak baginya nikmat Allah l yang terlimpah padanya, ia pun mengharuskan jiwanya bersyukur. Inilah makna ucapan Rasulullah n di atas. Bila seseorang tidak melakukan anjuran Nabi n tersebut maka keadaannya jadi sebaliknya. Ia terkagum-kagum dengan amalannya sehingga ia malas menambah kebaikan. Ia membelalakkan dua matanya kepada dunia dan berambisi untuk menambahnya. Nikmat Allah l yang diperolehnya pun diremehkan dan tidak ditunaikan haknya.” (Ikmalul Mu’lim bi Fawa’id Muslim, 8/515)

Rasulullah n telah memberikan nasihat yang akan mengobati penyakit yang mungkin ada di dalam dada, maka amalkanlah! Selalulah melihat orang yang kekurangan dan lebih susah daripada diri kita.

Lihatlah… Allah l telah memberikan tempat tinggal yang menaungi kita setiap harinya walau berupa rumah yang sederhana, maka syukurilah karena berapa banyak tuna wisma di sekitar kita. Mereka terpaksa tidur di emperan toko, di kolong jembatan, dan di dalam rumah-rumah kardus…

Setiap harinya kita bisa makan dan minum walau hidangan yang tersaji sederhana, namun syukurilah. Lihatlah di sana … Ada orang-orang yang mengais-ngais sampah untuk mencari sesuatu yang dapat mengganjal perut mereka yang lapar.

Kita diberi nikmat berupa pakaian yang dapat menutup aurat kita dan melindungi kita dari hawa panas dan dingin, walau harganya tak seberapa. Namun lihatlah… di sana ada orang-orang yang berpakaian compang-camping karena fakirnya.

Lihatlah dan tengoklah selalu kepada orang yang hidupnya lebih sulit daripada kita, dengan begitu kita dapat mensyukuri nikmat Allah l yang diberikan-Nya kepada kita.

Ingatlah selalu bahwa dunia ini ibaratnya hanyalah fatamorgana, tiada berharga, maka jangan engkau terlalu berpanjang angan untuk meraihnya. Tapi berambisilah untuk kehidupanmu setelah mati. Di sana ada negeri kekal menantimu…!!!

Wallahu a’lam bish-shawab.

Bermudah-mudah Mengucapkan Kata Cerai

Banyak dijumpai suami yang bermudah-mudah mengucapkan kata cerai kepada istrinya walau hanya karena perkara yang remeh. Bagaimana hukum syariat terhadap permasalahan seperti ini?
Jawab:
Samahatus Syaikh Abdul Aziz ibnu Baz t memberikan jawabannya, “Yang disyariatkan bagi seorang muslim adalah tidak sering-sering mengucapkan cerai bila ada pertikaian antara dia dengan istrinya, atau dalam percakapan dia dengan orang lain1. Karena Nabi n bersabda:
أَبْغَضُ الْحَلاَلِ إِلَى اللهِ الطَّلاَقُ
“Perkara halal yang paling dibenci Allah adalah talak.”2
Juga karena banyak mengucapkan talak akan berdampak buruk.
Talak dibolehkan ketika ada kebutuhan. Bahkan terkadang mustahab bila ada maslahat atau akan timbul kemudaratan yang besar bila istri tetap dipertahankan.
Yang diajarkan oleh As-Sunnah adalah bila terpaksa talak maka yang dijatuhkan awalnya talak satu, sehingga masih memungkinkan bagi keduanya rujuk bila memang diinginkan selama si istri masih dalam masa ‘iddah atau dengan akad nikah yang baru bila masa ‘iddah telah berakhir.
Talak dijatuhkan seorang suami dalam keadaan istrinya hamil atau dalam keadaan suci yang dalam masa suci tersebut ia belum menggaulinya. Adapun bila si istri sedang haid, tidak boleh dijatuhkan talak. Karena Nabi n pernah memerintahkan Ibnu Umar c untuk kembali kepada istrinya yang ditalaknya dalam keadaan haid3. Ketika itu Ibnu Umar c diperintahkan menahan si istri sampai suci dari haidnya tersebut. Kemudian datang haid berikutnya sampai suci lagi, setelah itu ia boleh mentalaknya bila mau, namun dengan ketentuan ia sama sekali belum menggaulinya di masa suci tersebut. Nabi n mengatakan kepada Ibnu Umar c, “Itulah iddah yang Allah l perintah untuk menceraikan istri dalam masa tersebut.”
Dalam lafadz lain yang diriwayatkan Al-Imam Muslim t disebutkan bahwa Nabi n berkata kepada Umar z:
مُرْهُ –يَعْنِي ابْنَهُ عَبْدَ اللهِ- فَلْيُرَاجِعْهَا ثُمَّ يُطَلِّقْهَا طَاهِرًا أَوْ حَامِلاً
“Perintahkan dia -yaitu putra Umar, Abdullah- agar merujuk istrinya, kemudian setelah itu ia boleh mentalaknya dalam keadaan suci atau dalam keadaan hamil.”
Tidak boleh seorang suami menceraikan istrinya yang sedang haid atau nifas, atau di masa sucinya di mana ia telah menggaulinya. Adapun terhadap istri yang sedang hamil atau telah berhenti haid (menopause), tidak terlarang menjatuhkan talak atasnya berdasarkan hadits Ibnu Umar c yang telah disebutkan. Ini merupakan tafsir terhadap firman Allah l:
“Wahai Nabi, apabila kalian mentalak para istri kalian maka talaklah mereka di masa mereka dapat menghadapi iddah mereka.” (Ath-Thalaq: 1)
Tidak boleh pula langsung menjatuhkan talak tiga pada istri dengan satu kalimat4 atau dalam satu kesempatan, berdasarkan hadits yang diriwayatkan An-Nasa’i dengan sanad yang hasan, dari Mahmud ibnu Labid, bahwasanya sampai kepada Nabi n berita adanya seseorang yang langsung menjatuhkan talak tiga kepada istrinya. Maka beliau bangkit dalam keadaan marah kemudian bersabda:
أَيُلْعَبُ بِكِتَابِ اللهِ وَأَنَا بَيْنَ أَظْهُرِكُمْ؟
“Apakah Kitabullah dipermainkan sementara aku masih berada di antara kalian (masih hidup)?”5
Juga berdasarkan hadits di dalam Shahihain (dua kitab shahih) dari Ibnu ‘Umar c, ia berkata kepada orang yang langsung menjatuhkan talak tiga kepada istrinya:
لَقَدْ عَصَيْتَ رَبَّكَ فِيْمَا أَمَرَكَ بِهِ مِنْ طَلاَقِ امْرَأَتِكَ
“Sungguh engkau telah bermaksiat kepada Rabbmu dalam perkara yang diperintahkan-Nya kepadamu dalam urusan mentalak istrimu.”
Allah l-lah yang memberi taufik. (Al-Fatawa, Kitabud Da’wah, 92/234,244)
Di daerah kami ada orang-orang yang dalam percakapan mereka, berulang-ulang bersumpah dengan talak. Misalnya, “Sungguh telah jatuh talak kepada istriku”, “(Demi talak) kalau engkau melakukan ini atau bila engkau keluar ke tempat itu.” Padahal mereka semua yang mengatakan seperti ini punya istri. Apakah benar jatuh talak dalam keadaan seperti ini atau tidak?
Jawab:
Fadhilatusy Syaikh Muhammad ibnu Shalih Al-Utsaimin t berfatwa, “Pertanyaan ini berisi dua masalah. Yang pertama: Keadaan orang-orang bodoh yang lisan mereka terbiasa mengucapkan kalimat talak dalam segala keadaan, yang remeh ataupun yang berat. Mereka ini telah menyelisihi bimbingan Nabi n dalam sabda beliau:
مَنْ كَانَ حاَلِفًا فَلْيَحْلِفْ بِاللهِ أَوْ لِيَصْمُتْ
“Siapa yang bersumpah maka hendaklah ia bersumpah dengan nama Allah atau ia diam (jangan bersumpah).”6
Bila seorang mukmin ingin bersumpah, hendaklah ia bersumpah dengan nama Allah k. Namun tidak sepantasnya ia banyak bersumpah walaupun dengan menyebut nama Allah l, karena Allah l berfirman:
“Jagalah sumpah-sumpah kalian.” (Al-Ma’idah: 89)
Di antara penafsiran ayat ini adalah janganlah kalian banyak bersumpah (walau) dengan menyebut nama Allah k.
Adapun bila mereka bersumpah dengan menyebut talak, misalnya “Wajib bagiku talak (demi talak) kalau engkau melakukan itu” atau “Wajib bagiku talak bila engkau tidak melakukan ini dan itu.” Atau ia mengatakan, “Bila engkau melakukan itu maka jatuh talak kepada istriku”, “Bila engkau tidak melakukannya berarti jatuh talak pada istriku”, dan kalimat semisalnya, maka sumpah seperti ini menyelisihi bimbingan Nabi n.
Banyak ahli ilmu –bahkan mayoritasnya– mengatakan bila seseorang bersumpah demikian maka jatuh talak kepada istrinya, walaupun pendapat yang rajih adalah bila talak digunakan dalam sumpah dengan tujuan menghasung untuk melakukan sesuatu, melarang dari sesuatu, membenarkan atau mendustakan atau menekankan suatu perkara maka hukumnya sama dengan hukum sumpah, berdasarkan firman Allah l:
“Wahai Nabi, mengapa engkau mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu, karena ingin mencari kesenangan hati istri-istrimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepada kalian semuanya untuk membebaskan diri dari sumpah kalian, dan Allah adalah Pelindung kalian dan Dia Maha Mengetahui lagi Maha Memiliki hikmah.” (At-Tahrim: 1-2)
Dalam ayat di atas, Allah l menjadikan tahrim (pengharaman yang dilakukan Nabi n) sebagai sumpah.
Juga berdasar sabda Nabi n:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
“Amalan itu tergantung dengan niatnya. Dan masing-masing orang memperoleh apa yang ia niatkan.”7
Orang yang bersumpah dengan menyebut talak tidaklah berniat mentalak istrinya. Ia hanyalah meniatkan sumpah atau meniatkan makna sumpah. Maka bila ia melanggar sumpahnya, wajib baginya membayar kaffarah sumpah8. Inilah pendapat yang rajih.
Masalah yang kedua: bersumpah untuk mengharuskan orang lain (agar berbuat atau tidak berbuat sesuatu) baik dengan menyebut talak, dengan menyebut nama Allah k atau dengan menyebut salah satu sifat Allah l, merupakan tindakan yang memberatkan orang lain, bahkan terkadang memudaratkan orang lain. Dengan begitu, tanpa ragu dikatakan bahwa sumpah demikian bisa memberatkan mahluf ‘alaihi (orang yang dinyatakan sumpah di hadapannya atau disebut dalam sumpah). Misalnya orang yang bersumpah mengatakan kepadanya, “Wajib bagiku talak (demi talak) kalau engkau tidak melakukan hal itu”.). Bisa pula memberatkan orang yang bersumpah (halif).
Mahluf ‘alaihi terkadang melakukan apa yang disebutkan dalam sumpah dengan menanggung kesulitan/kepayahan sehingga jelas hal ini memberatkannya. Bisa jadi ia tidak melakukan apa yang disebutkan dalam sumpah tersebut karena adanya kesulitan. Akibatnya halif harus membayar kaffarah sumpah sebagaimana disebutkan dalam firman Allah l:
“…maka kaffarah melanggar sumpah itu adalah memberi makan sepuluh orang miskin dari makanan yang biasa engkau berikan kepada keluarga kalian, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Siapa yang tidak mendapatkannya (tidak mampu melakukannya) maka kaffarahnya puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kaffarah sumpah kalian bila kalian bersumpah (lalu melanggarnya)…” (Al-Ma’idah: 89)
Allah l menyebutkan kaffarah sumpah itu ada empat perkara. Tiga perkara darinya boleh dipilih mana yang mau dilakukan (takhyir), apakah memberi makan sepuluh orang miskin, memberi pakaian kepada mereka, atau memerdekakan seorang budak. Kaffarah yang satunya sebagai tartib (urutan berikutnya), bila seseorang tidak dapat melakukan tiga perkara yang telah disebutkan maka ia berpuasa tiga hari berturut-turut. Dalam firman Allah l:
“Siapa yang tidak mendapatkannya (tidak mampu melakukannya)…”
dihilangkan penyebutan obyeknya agar mencakup orang yang tidak mendapatkan makanan untuk diberikan kepada fakir miskin, atau tidak mendapatkan pakaian, atau tidak mendapatkan dana untuk memerdekakan budak, dan mencakup pula orang yang tidak mendapatkan fakir miskin untuk diberikan makanan atau pakaian, atau tidak mendapatkan budak untuk dimerdekakan.
Berdasarkan hal ini, bila engkau berada di suatu negeri yang di situ tidak ada orang-orang fakir maka boleh bagimu berpuasa tiga hari sebagai kaffarah sumpahmu, karena pantas dikatakan engkau sebagai orang yang tidak mendapatkan. (Fatawa Nurun ‘alad Darb, hal. 85)

1 Misalnya dengan mengatakan kepada orang-orang, “Bila saya berbuat ini maka berarti jatuh cerai pada istri saya.” “Kalau kamu begitu berarti jatuh talak pada istri saya”, atau kalimat semisalnya.
2 HR. Abu Dawud, Al-Baihaqi, dan lain-lain. Namun hadits yang disebutkan Asy-Syaikh t adalah hadits yang dhaif/lemah, sebagaimana diterangkan Asy-Syaikh Albani t dalam Al-Irwa’ no. 2040.
3 HR. Al-Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya.
4 Seperti seorang suami mengatakan kepada istrinya, “Jatuh talak atasmu, jatuh talak atasmu, jatuh talak atasmu.” Atau ia mengatakan, “Aku mentalakmu dengan talak tiga.”
5 Hadits ini dilemahkan Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Dha’if Ibni Majah no. 3401 dan Al-Misykat no. 3292.
6 HR. Al-Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya.
7 HR. Al-Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya.
8 Dan tidak jatuh talak pada istrinya.

Haditsul Ifk dan Faedah yang didapatkan Berkaitan dengan Wanita

Ummul Mukminin Aisyah x, istri Rasulullah n yang mulia pernah menceritakan kisahnya yang panjang tentang fitnah terhadap dirinya. Aisyah bertutur, “Bila Rasulullah n ingin bepergian (safar), beliau mengundi di antara istri-istrinya. Siapa yang keluar undiannya, dialah yang dibawa serta dalam safar beliau n. Dalam suatu safarnya guna melakukan peperangan1, beliau mengundi di antara kami. Keluarlah namaku, hingga beliau membawaku dalam safar tersebut setelah turunnya perintah hijab2. Aku dibawa di atas sekedupku dan diturunkan dari unta dengan sekedupku3. Kami terus berjalan dalam safar tersebut hingga Rasulullah n selesai dari peperangannya dan kembali pulang.

Suatu malam saat perjalanan telah mendekati kota Madinah, rombongan berhenti untuk istirahat beberapa waktu. Aku pun keluar dari sekedupku untuk menunaikan hajat, berjalan jauh sendirian hingga meninggalkan rombongan pasukan tersebut. Selesai menunaikan hajat, aku kembali ke untaku. Namun ternyata kalung dari batu merjan Azhfar yang sebelumnya melingkar di leherku hilang. Aku pergi mencarinya hingga aku tertahan beberapa waktu karenanya. Sementara itu datanglah orang-orang yang bertugas mengangkat sekedupku. Mereka memikul sekedupku dan menaikkannya ke atas unta yang aku tunggangi dalam keadaan menyangka aku berada di dalam sekedup tersebut. Kenapa demikian? Karena kaum wanita di masa itu kurus-kurus, tidak diberati dengan daging. Mereka hanya makan sedikit makanan. Orang-orang yang mengangkat sekedupku itu tidak merasa ganjil dengan ringannya sekedup tersebut4. Aku sendiri saat itu masih sangat belia5.

Unta-unta pun diberangkatkan bersama rombongan pasukan. Mereka melanjutkan perjalanan di akhir malam. Sementara itu aku telah menemukan kalungku yang hilang, namun rombongan pasukan telah berlalu. Aku kembali ke tempat mereka tadinya beristirahat, namun tidak seorang pun yang kutemui. Aku menuju ke tempat diletakkannya sekedupku dengan keyakinan mereka akan menyadari ketidakberadaan diriku bersama rombongan hingga mereka kembali ke tempat tersebut untuk mencariku. Ketika aku sedang duduk di tempatku berada, rasa kantuk menyerangku hingga aku tertidur.

Saat itu Shafwan ibnul Mu’aththal As-Sulami Adz-Dzakwani z berada di belakang pasukan. Ia tertinggal jauh dari rombongan. Sampailah ia di tempatku. Ia melihat ada orang yang sedang tidur. Ia pun mendatangi tempatku dan mengenaliku karena ia pernah melihatku sebelum turun perintah hijab. Aku terbangun dengan ucapan istirja’6nya ketika melihatku. Kututupi wajahku yang tersingkap dengan jilbabku. Demi Allah, ia tidak mengajakku bicara satu kata pun. Aku pun tidak mendengar darinya satu kata pun selain ucapan istirja’nya hingga ia menderumkan untanya, lalu membelakangiku. Aku naik ke atas unta tersebut dalam keadaan dituntun oleh Shafwan sampai kami berhasil menyusul rombongan pasukan saat mereka istirahat pada siang hari yang panasnya menyengat. Maka binasalah orang yang binasa dengan kejadian tersebut. Yang paling berperan menyebarkan berita dusta7 itu adalah Abdullah bin Ubai bin Salul.

Kami akhirnya tiba di Madinah. Di awal kedatangan kami, aku jatuh sakit selama sebulan. Sementara orang-orang tenggelam dalam pembicaraan seputar tuduhan dusta terhadapku, dalam keadaan aku tidak mengetahuinya sedikitpun. Hanya saja aku melihat keganjilan. Tidak kudapati kelembutan Rasulullah n sebagaimana yang biasa aku dapatkan bila sedang sakit. Rasulullah n hanya masuk sebentar ke tempatku, mengucapkan salam, kemudian berkata kepada ibuku yang merawatku, “Bagaimana keadaan putri kalian?” Setelah itu beliau berlalu. Demikianlah keganjilan yang ada. Namun aku tidak menyadari bila ada berita jelek seputar diriku. Sampai akhirnya aku keluar dari rumahku dalam keadaan masih sempoyongan karena belum begitu pulih dari sakitku. Ummu Misthah menemaniku saat itu. Kami menuju ke tempat kami biasa buang hajat, dan kami tidak keluar untuk buang hajat kecuali pada waktu malam. Itu kami lakukan sebelum kami membuat WC dekat rumah kami. Perkara kami adalah sebagaimana perkaranya orang Arab yang awal dalam mencari tempat yang jauh untuk buang hajat. Dulunya kami merasa terganggu dengan bau tidak sedap bila membuat WC dekat rumah kami.

Aku pergi bersama Ummu Misthah. Ia adalah putri Abu Rahm bin Abdi Manaf. Ibunya adalah putri Shakhr bin Amir, bibi Abu Bakr Ash-Shiddiq z. Putranya bernama Misthah bin Utsatsah z8.

Seselesainya dari urusan kami, aku dan Ummu Misthah kembali menuju ke rumahku. Ketika itu Ummu Misthah terpeleset, ia pun mengumpat anaknya, “Celaka Misthah.”

“Jelek sekali ucapanmu”, tegurku, “Apakah engkau mencela seseorang yang pernah ikut dalam perang Badr?”

“Wahai wanita yang lengah (sedikit pengetahuan tentang tipu daya yang dilakukan manusia), tidakkah kau mendengar apa yang diucapkan oleh Misthah?” tanya Ummu Misthah.

“Apa yang dikatakannya?” tanyaku.

Ummu Misthah pun menceritakan kepadaku apa yang dikatakan oleh orang-orang yang menyebarkan berita dusta seputar diriku, hingga bertambah parahlah sakitku.

Sesampainya di rumah, Rasulullah n masuk menemuiku, mengucapkan salam lalu bertanya, “Bagaimana keadaanmu?”

“Apakah engkau mengizinkan aku untuk pergi menemui kedua orangtuaku?”, pintaku kepada beliau n. Ketika itu aku berniat mencari kepastian berita yang disampaikan Ummu Misthah kepada kedua orangtuaku. Rasulullah n memberikan izin, maka aku pun mendatangi kedua orangtuaku.

“Wahai ibunda, apa gerangan yang diperbincangkan orang-orang tentang diriku?” tanyaku kepada ibuku.

“Wahai putriku, tenanglah jangan risau. Demi Allah, jarang sekali keberadaan seorang wanita jelita yang dicintai oleh suaminya, serta ia memiliki madu-madu melainkan dia akan banyak dibicarakan dan dicari-cari kesalahannya,” kata ibuku menghibur.

“Subhanallah, berarti benar orang-orang membicarakan berita dusta tersebut?” tanyaku.

Sepanjang malam itu aku menangis hingga pagi hari air mataku tidak berhenti mengalir. Aku tidak bercelak untuk berangkat tidur9, sampai pagi aku terus menangis.

Ketika wahyu belum juga turun, Rasulullah n memanggil Ali bin Abi Thalib dan Usamah bin Zaid c untuk mengajak keduanya bermusyawarah, apakah menceraikan istrinya10 atau tidak. Usamah bin Zaid mengisyaratkan kepada Rasulullah n dengan apa yang diketahuinya bahwa istri beliau terlepas dari tuduhan tersebut dan dengan apa yang diketahuinya dari kecintaan Rasulullah n kepada istri beliau. “Wahai Rasulullah, tahanlah istrimu. Kami tidak mengetahui kecuali kebaikan,” ujar Usamah.

Adapun Ali bin Abi Thalib menyatakan, “Wahai Rasulullah, Allah tidak akan menyempitkanmu. Wanita selain dia masih banyak. Namun bila engkau bertanya kepada budak perempuan itu11, niscaya ia akan membenarkanmu12.”

Rasulullah n kemudian memanggil Barirah. “Wahai Barirah, apakah engkau pernah melihat dari Aisyah sesuatu yang meragukanmu?” tanya Rasulullah n.

Barirah menjawab, “Tidak, demi Dzat yang mengutusmu dengan membawa kebenaran. Tidak pernah aku lihat darinya suatu perkara pun yang aku anggap jelek, kecuali sekadar ia seorang wanita yang masih belia, yang tertidur/lalai dari menjaga adonan roti untuk keluarganya hingga datanglah kambing memakan adonan tersebut.”

Pada hari itu Rasulullah n bangkit mencari bantuan untuk membalas perbuatan Abdullah bin Ubai bin Salul. Beliau bersabda di atas mimbar, “Wahai sekalian kaum mukminin! Siapakah yang dapat membantuku menghadapi seseorang yang telah menyakitiku dalam urusan ahli baitku? Demi Allah, aku tidak mengetahui dari istriku kecuali kebaikan. Namun mereka telah menyebut-nyebut seorang lelaki13 yang aku tidak mengetahui darinya kecuali kebaikan, dan ia tidak pernah masuk menemui keluargaku kecuali bersamaku.”

Bangkitlah Sa’d bin Mu’adz Al-Anshari z sembari berkata, “Wahai Rasulullah, aku akan menuntaskan sakit hatimu terhadap orang tersebut. Bila ia dari kalangan kabilah Aus (kabilahnya), aku akan memenggal lehernya. Jika ia dari kalangan saudara-saudara kami, orang-orang Khazraj, engkau perintahkan pada kami apa yang engkau kehendaki dan kami akan melaksanakan titahmu,” ucapnya.

Sa’d bin ‘Ubadah z, pemuka orang-orang Khazraj, berdiri dan ia sebelumnya seorang yang sempurna keshalihannya, namun ia dihinggapi semangat kesukuannya hingga ia berkata kepada Sa’d bin Mu’adz, “Dusta engkau, demi Allah. Jangan engkau bunuh dia dan engkau tidak akan mampu membunuhnya.”

Usaid bin Hudhair z, anak paman Sa’d bin Mu’adz, berdiri dan ikut angkat suara menujukan kepada Sa’d bin ‘Ubadah, “Dusta engkau, demi Allah. Kami sungguh-sungguh akan membunuh orang itu. Kamu memang munafik14 yang ingin berdebat membela orang-orang munafik.”

Bangkitlah emosi dua kabilah ini, Aus dan Khazraj. Sampai-sampai mereka ingin mengobarkan peperangan sementara Rasulullah n masih berdiri di atas mimbar. Beliau terus menerus menenangkan kedua belah pihak hingga mereka terdiam dan beliau pun diam.”

Aisyah x melanjutkan kisahnya, “Aku tinggal di hariku tersebut dalam keadaan air mataku tidak berhenti mengalir dan aku tidak bercelak untuk berangkat tidur. Di pagi harinya, kedua orangtuaku telah berada di sisiku. Sungguh aku telah menghabiskan air mataku. Menangis sehari dua malam dan tidak bercelak. Air mataku tiada hentinya mengalir. Keduanya menyangka tangisan yang demikian akan membelah hatiku. Ketika keduanya sedang duduk di sisiku yang masih terus menangis, datang seorang wanita Anshar minta izin menemuiku. Aku mengizinkannya, ia duduk menangis bersamaku. Dalam keadaan demikian, Rasulullah n masuk menemui kami. Beliau mengucapkan salam, kemudian duduk. Beliau belum pernah duduk di sisiku sejak tersebar fitnah tersebut. Telah lewat waktu sebulan, wahyu belum juga turun sehubungan dengan perkaraku. Rasulullah n bertasyahhud ketika duduk, lalu berkata, “Adapun setelah itu, wahai Aisyah, sungguh telah sampai kepadaku berita tentangmu bahwa engkau begini dan begitu. Bila memang engkau terlepas dari tuduhan tersebut maka Allah akan menyatakan hal itu, Dia akan membersihkanmu dari tuduhan tersebut. Namun jika memang engkau berbuat dosa, minta ampunlah kepada Allah dan bertaubatlah kepada-Nya. Karena jika seorang hamba mengakui dosanya, kemudian ia bertaubat kepada Allah, Allah pasti akan menerima taubatnya.”

Seselesainya Rasulullah n dari ucapannya tersebut, menyusutlah air mataku hingga aku merasa tidak ada setetes pun yang keluar. Aku katakan kepada ayahku, “Mohon berilah tanggapan terhadap pernyataan Rasulullah n itu.”

“Demi Allah, aku tidak tahu apa yang harus kukatakan kepada Rasulullah n,” jawab ayahku.

“Berilah jawaban kepada Rasulullah n, wahai ibu,” kataku kepada ibuku.

Beliau menjawab yang sama dengan jawaban ayahku, “Demi Allah, aku tidak tahu apa yang harus kukatakan kepada Rasulullah n.”

Sebagai wanita yang masih belia belum banyak membaca/menghafal Al-Qur’an, aku menjawab, “Demi Allah, aku sungguh yakin kalian telah mendengar pembicaraan jelek tentang diriku hingga menetap di hati kalian dan kalian membenarkannya. Kalau aku katakan pada kalian bahwa aku berlepas diri dari tuduhan tersebut, dan demi Allah Dia tahu aku terlepas dari tuduhan tersebut, niscaya kalian tidak akan membenarkanku (tidak percaya dengan pengingkaranku). Kalau aku mengakui perkara tersebut benar adanya –padahal demi Allah Dia Tahu aku terlepas dari tuduhan tersebut– kalian akan membenarkan pengakuanku. Demi Allah, aku tidak mendapatkan permisalan untuk kalian kecuali ucapan ayah Yusuf (Nabi Ya’qub) yang berkata:

‘Maka kesabaran yang baik itulah kesabaranku. Allah sajalah yang dimintai pertolongan atas apa yang kalian ceritakan’.” (Yusuf: 18)

Kemudian aku palingkan wajahku ke arah dinding sembari berbaring di atas tempat tidurku. Ketika itu aku yakin diriku lepas dari tuduhan itu dan Allah l akan membersihkan namaku karena memang aku tidak melakukannya. Akan tetapi, demi Allah, aku tidak pernah menyangka Allah l akan menurunkan wahyu-Nya yang akan terus dibaca tentang perkaraku. Karena, bagiku urusan diriku terlalu rendah hingga Allah l perlu membicarakannya dengan wahyu yang akan dibaca. Harapanku hanyalah agar Rasulullah n bermimpi dalam tidurnya di mana dalam mimpi tersebut Allah l menunjukkan terlepasnya diriku dari tuduhan itu.

Demi Allah, Rasulullah n belum meninggalkan tempat duduknya dan belum ada seorang pun dari keluargaku yang beranjak keluar tatkala turun wahyu kepada beliau n. Mulailah beliau mengalami kepayahan sebagaimana yang biasa beliau alami bila wahyu sedang turun. Sampai-sampai keringat semisal mutiara mengucur deras dari tubuh beliau padahal hari sangat dingin, karena beratnya ucapan yang sedang diturunkan. Tatkala berlalu kejadian itu dari diri beliau n, beliau tertawa. Awal kalimat yang beliau ucapkan pada Aisyah adalah, “Wahai Aisyah, sungguh Allah telah membersihkanmu dari tuduhan tersebut.”

“Bangkitlah menuju kepada Rasulullah,” perintah ibuku.

“Demi Allah, aku tidak akan bangkit menuju kepadanya dan tidak ada yang kupuji kecuali Allah k,” ucapku.

Allah l menurunkan ayat:

“Sesungguhnya orang-orang yang datang membawa berita dusta itu adalah golongan dari kalian juga maka janganlah kalian menyangka bahwa berita dusta itu buruk bagi kalian bahkan baik bagi kalian. Tiap-tiap orang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita dusta itu, baginya azab yang besar. Mengapa di waktu kalian mendengar berita dusta itu orang-orang mukmin dan mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri dan mengapa tidak berkata, “Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.” Mengapa mereka yang menuduh itu tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu? Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi maka mereka itulah orang-orang yang dusta di sisi Allah. Sekiranya tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kalian semua di dunia dan di akhirat, niscaya kalian ditimpa azab yang besar, dikarenakan pembicaraan kalian tentang berita bohong itu. Ingatlah di waktu kalian menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kalian katakan dengan mulut kalian apa yang sedikitpun tidak kalian ketahui sementara kalian menganggapnya sebagai sesuatu yang ringan saja, padahal perkaranya besar di sisi Allah. Mengapa di saat mendengar berita bohong tersebut kalian tidak berkata, “Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan hal ini. Maha Suci Engkau, wahai Rabb kami, ini adalah dusta yang besar. Allah memperingatkan kalian agar jangan kembali berbuat seperti itu selama-lamanya, jika memang kalian orang-orang yang beriman. Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kalian. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Memiliki hikmah. Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar berita perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui sedang kalian tidak mengetahui. Sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kalian semua (niscaya kalian akan ditimpa azab yag besar), dan Allah Maha Penyantun lagi Maha Penyayang. Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengikuti langkah-langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, maka sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan keji dan mungkar. Sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kalian, niscaya tidak seorang pun dari kalian bersih dari perbuatan keji dan mungkar itu selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (An-Nur: 11-21)

Ketika Allah l menurunkan ayat yang menyatakan sucinya diriku dari tuduhan dusta tersebut, ayahku Abu Bakr Ash-Shiddiq z yang biasanya memberikan nafkah kepada Misthah bin Utsatsah karena hubungan kekerabatan dengannya dan juga karena kefakiran Misthah, menyatakan, “Demi Allah, aku selamanya tidak mau lagi memberikan sedikitpun nafkah kepada Misthah setelah ia membicarakan apa yang ia bicarakan tentang Aisyah.”

Allah l menurunkan ayat-Nya sebagai teguran:

“Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kalian bersumpah bahwa mereka tidak akan memberi bantuan kepada kerabatnya, orang-orang miskin, dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan serta berlapang dada. Apakah kalian tidak ingin Allah mengampuni kalian? Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (An-Nur: 22)

Abu Bakr z berkata, “Tentu, demi Allah, aku senang bila Allah mengampuniku.” Beliau pun kembali memberikan nafkah kepada Misthah sebagaimana semula. “Demi Allah, aku tidak akan menghentikan nafkah ini dari Misthah selama-lamanya,” ucapnya.

Rasulullah n sempat bertanya kepada Zainab bintu Jahsyin x tentang perkaraku. “Wahai Zainab, apa yang engkau ketahui atau engkau lihat dari diri Aisyah?” tanya beliau.

“Wahai Rasulullah, aku menjaga penglihatan dan pendengaranku. Aku tidak mengetahui darinya kecuali kebaikan,” jawab Zainab.

Di antara istri-istri Rasulullah n, Zainab inilah yang menyaingiku dalam hal upaya ingin lebih dekat dengan Rasulullah n dan mendapat tempat lebih di hati beliau. Namun Allah l menjaga Zainab dengan sifat wara-nya sehingga ia tidak berucap buruk tentang diriku. Adapun saudaranya, Hamnah bintu Jahsyin, turut menyebarkan berita dusta tersebut karena ingin membela (memenangkan) saudarinya15. Ia pun celaka bersama orang-orang lain yang turut menyebarkan berita dusta tersebut.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya)

Demikianlah penukilan secara makna dari hadits yang panjang tentang kisah fitnah yang menimpa Ummul Mukminin Aisyah x yang dikenal dengan haditsul ifk.

Banyak faedah yang disebutkan ulama kita dari hadits di atas. Di antara faedah yang berkaitan dengan kaum wanita dapat kita sebutkan berikut ini :

1. Seorang suami yang memiliki lebih dari satu istri disyariatkan untuk mengundi di antara istri-istrinya bila hendak membawa salah seorang dari mereka dalam safarnya.

2. Boleh membawa istri bepergian walaupun dalam rangka berperang.

3. Sekedup berfungsi seperti rumah bagi seorang wanita.

4. Wanita boleh menunggang unta yang di atas punggung unta itu dibuatkan sekedup. Adapun di zaman kita ini kebolehannya mencakup seluruh kendaraan yang bisa menutupi si wanita dalam perjalanannya.

5. Laki-laki ajnabi boleh memberikan khidmat/pelayanan kepada seorang wanita dari balik hijab.

6. Seorang wanita boleh menutup dirinya dengan sesuatu yang terpisah dari tubuhnya.

7. Bila aman dari fitnah, wanita boleh pergi sendirian untuk buang hajat ke suatu tempat bila memang di rumahnya tidak ada WC, walaupun tanpa izin yang khusus dari suaminya, tapi cukup bersandar dengan izin yang umum berdasarkan kebiasaan yang umum.

8. Wanita boleh memakai perhiasan kalung dan semisalnya ketika safar tapi tidak boleh dipertontonkan kepada lelaki selain mahramnya.

9. Harusnya seorang wanita menjaga hartanya dari tersia-siakan walaupun nilainya sedikit. Kalung Aisyah tidaklah terbuat dari emas, tidak pula dari batu jauhar, tapi ketika hilang Aisyah berupaya mencarinya. Namun sebaliknya, tidak boleh terlalu berambisi kepada harta karena akan berakibat kesialan dan berdampak kejelekan.

10. Wanita harus menutup wajahnya dari pandangan lelaki yang bukan mahram.

11. Seorang lelaki harus memerhatikan adab terhadap wanita terlebih lagi bila terjadi khalwat (berduaan).

12. Ketika seorang lelaki ajnabi berjalan sementara di dekatnya ada wanita ajnabiyyah, maka ia berjalan di depan wanita tersebut, tidak di belakangnya, agar ia aman dari kemungkinan melihat si wanita. Karena bisa jadi ada yang tersingkap dari si wanita ketika ia sedang berjalan.

13. Seorang suami semestinya bersikap lembut kepada istrinya dan bergaul baik dengannya. Namun di saat terjadi sesuatu yang ia ingkari dari istrinya, walaupun belum pasti, ia boleh mengurangi perlakuan baik/lembut kepada istrinya seperti yang biasa ia lakukan di kala tidak terjadi apa-apa. Faedahnya agar si istri menangkap perubahan sikap suaminya hingga ia mau minta maaf atau mengakui kesalahannya.

14. Bila seorang wanita hendak keluar rumah karena suatu keperluan, hendaknya ia ditemani seseorang atau dilayani oleh seseorang yang bisa memberikan rasa aman.

15. Seorang wanita harus meminta izin kepada suaminya bila hendak menziarahi kedua orangtuanya.

16. Hadits ini menunjukkan Aisyah dan Zainab c memiliki kelebihan dibanding istri-istri Rasulullah n yang lain.

17. Diharamkan menyebarkan berita keji di tengah kaum muslimin.

18. Boleh mengajak budak perempuan bermusyawarah atau meminta pendapatnya dalam perkara yang ia punya pengetahuan tentangnya, sebagaimana Rasulullah n meminta pendapat Barirah x.

19. Seorang suami semestinya mengucapkan salam kepada keluarganya bila hendak masuk rumah.

Demikian faedah-faedah ini disebutkan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani t dalam karyanya yang sangat bernilai, Fathul Bari (8/608-609).

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.


1 Yaitu perang menghadapi Bani Mushthaliq dari Khuza’ah.
2 Yaitu ayat yang berisi perintah kepada wanita untuk menutup dirinya dari pandangan lelaki ajnabi/non mahram. Karena itulah Aisyah x dibawa dalam sekedupnya yang tertutup dari pandangan orang-orang dan sekedup itu diletakkan di atas punggung unta. Karena bagian dalam sekedup itu tertutup dari pandangan mata, maka orang-orang yang memikulnya tidak tahu apakah Aisyah ada di dalamnya atau tidak, sebagaimana akan disebutkan dalam kelanjutan kisah Aisyah ini.
3 Yang dipikul oleh beberapa orang.
4 Karena ada atau tidak adanya Aisyah x di dalamnya sama saja bagi mereka, tidak terlalu terasa bedanya, disebabkan ringannya tubuh Aisyah x.
5 Aisyah x sudah menyatakan tubuhnya kurus, ditambah lagi usianya masih kecil, belum genap 15 tahun, sehingga lebih menunjukkan ringannya tubuhnya. Seakan-akan Aisyah juga ingin menunjukkan udzur dari perbuatannya yang demikian bersemangat mencari kalungnya yang putus. Juga kenapa ia mencarinya sendirian tanpa mengajak teman atau memberitahu suaminya. Hal itu terjadi karena usianya yang masih kecil dan minim pengalaman sehingga tidak menyadari akibat yang akan didapatnya.
Dari sini didapatkan pula faedah bahwa orang-orang yang memikul sekedup Aisyah sangatlah beradab terhadap Aisyah, amat jauh dari perbuatan mengintip isi sekedup. Sehingga ketika mereka mengangkat sekedup tersebut mereka tidak tahu bahwa Aisyah tidak berada di dalamnya. (Fathul Bari, 8/584)
6 Yaitu ucapan Inna lillahi wa inna ilaihir raji’un.
7 Yakni Shafwanz dituduh telah berbuat tidak senonoh dengan Ummul Mukminin Aisyah x.
8  Misthah dan ibunya termasuk muhajirin awwalin (orang-orang yang pertama berhijrah ke Madinah). Ayah Misthah meninggal saat ia masih kecil, maka ia diasuh oleh Abu Bakr karena kekerabatannya dengan ibu Misthah.
9 Menunjukkan bahwa Aisyah begadang.
10 Yakni Aisyah x.
11 Yang Ali maksudkan adalah budak perempuan bernama Barirah yang biasa melayani Aisyah.
12 Bahwa istrimu suci, lepas dari tuduhan tersebut.
13 Yakni Shafwan.
14 Usaid tidaklah memaksudkan kemunafikan di sini dengan kemunafikan kufur yang mengeluarkan pelakunya dari Islam.
15 Yang menjadi madu Aisyah x sehingga dapat menjatuhkan Aisyah dan meninggikan kedudukan Zainab, saudarinya.

Kunci-kunci Rejeki

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah)

 

Mencari rezeki termasuk salah satu perkara yang menyibukkan kehidupan seorang insan, terlebih lagi bila ia seorang kepala rumah tangga yang memiliki banyak tanggungan, anak dan istri yang harus dihidupinya. Tak jarang untuk mendukung ekonomi keluarga seorang istri turut bekerja, baik di dalam maupun di luar rumahnya.

Kata sebagian orang yang tertipu dengan dunia, tahun-tahun belakangan ini hidup semakin sulit, susah mendapatkan penghasilan. “Jangankan yang halal, yang haram aja susah,” kata mereka. “Jadi orang itu jangan terlalu lurus, jangan terlalu jujur, karena nanti susah dapat bagian, sempit rezekinya. Nggak apa-apa sedikit bengkok kalau pengen hidup senang,” kata yang lain. “Sama agama biasa aja lah, jangan terlalu fanatik, nanti dunianya nggak dapat.”, “Nggak apa-apa deh kita menutup mata dari sebagian hukum Islam kalau ingin ekonomi rumah tangganya baik, Allah kan Maha Tahu kesulitan kita, kan zaman semakin sulit.” Atau pernyataan lain yang senada. Wallahul musta’an.
Ungkapan dan anggapan seperti di atas sepertinya sedikit banyak turut memengaruhi pikiran kita yang ingin lebih dalam mempelajari agama dan memegangi tuntunan agama. “Kayaknya kita ikut ngaji, hidup semakin sempit. Apa-apa tidak boleh. Mau usaha ini nggak boleh, usaha itu nggak pantas. Suami saya putar-putar cari rezeki nggak dapat juga.”
Apa iya seperti itu? Benarkah berpegang dengan Islam yang benar akan menyempitkan rezeki?
Sungguh mereka yang berpikiran demikian lupa atau pura-pura lupa bahwa Sang Pencipta k tidaklah mensyariatkan agama-Nya kepada insan hanya sekadar membimbing kehidupan ukhrawinya saja. Bahkan ajaran-Nya juga berisi bimbingan kehidupan duniawi dan bagaimana mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia. Bukankah Nabi yang mulia n banyak melantunkan doa:
“Wahai Rabb kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta lindungilah kami dari azab neraka.” (Al-Baqarah: 201)1
Al-Qadhi ‘Iyadh2 t berkata, “Beliau n banyak mengucapkan doa: ‘Ya Allah, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia…’ dst, karena doa ini mengumpulkan seluruh makna doa dari perkara dunia dan akhirat. Hasanah/kebaikan yang dipinta di sini menurut mereka adalah kenikmatan. Maka beliau n memohon kepada Allah l kenikmatan dunia dan akhirat serta penjagaan dari azab neraka.” (Ikmalul Mu’lim bi Fawa’id Muslim, 8/190)
Al-Hafizh Ibnu Katsir3 t menyatakan, “Kebaikan di dunia mencakup seluruh yang dicari/diharapkan dari dunia ini berupa kesehatan, rumah yang lapang, istri yang baik, rezeki yang luas, ilmu yang bermanfaat, amal shalih, kendaraan yang mudah, sebutan yang baik, dan selainnya. Meliputi kebaikan apa saja yang disebutkan para ahli tafsir. Tidak ada pertentangan satu sama lain, karena seluruhnya termasuk kebaikan di dunia. Adapun kebaikan di akhirat, tentunya yang paling tinggi adalah masuk surga dan yang di bawahnya adalah keamanan dari kengerian yang dahsyat di padang mahsyar, mudahnya penghisaban, dan perkara kebaikan akhirat lainnya. Sementara permintaan selamat dari neraka berkonsekuensi memohon diberi kemudahan untuk menempuh sebab-sebab keselamatan ketika hidup di dunia berupa menjauhi perkara-perkara yang diharamkan, dosa-dosa, meninggalkan syubhat dan yang haram.” (Tafsir Al-Qur’anil Azhim, 1/319)
Allah yang Maha Mulia, demikian pula Nabi-Nya yang mulia n, tidak membiarkan umat Islam berjalan dalam kegelapan dan kebingungan kala berupaya mencari penghidupan. Bahkan diajarkan kepada umat ini sebab-sebab datangnya rezeki, yang kalau umat ini memahaminya, berpegang dengannya dan menggunakannya dengan baik niscaya rezeki akan mudah diperolehnya sebagai anugerah dari Ar-Razzaq (Allah Yang Maha Memberi rezeki). Rezeki terbuka baginya dari segala arah serta berkah dari langit dan bumi tercurah atasnya.
Allah k berfirman:
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri itu mau beriman dan bertakwa niscaya Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi…” (Al-A’raf: 96)
Karena keinginan menjelaskan hal ini kepada keluarga-keluarga kaum muslimin yang sedang berjuang mencari penghidupan yang halal, kami sengaja mengangkat permasalahan ini dalam rubrik keluarga, Mengayuh Biduk. Idenya kami dapatkan dari sebuah kutaib (kitab kecil) yang ditulis oleh Dr. Fadhl Ilahi berjudul Mafatihur Rizqi fi Dhau’il Kitab was Sunnah4.
Ketahuilah, wahai keluarga kaum muslimin! Jalan yang melapangkan rezeki seseorang itu -di samping tentunya usaha melalui pekerjaan yang halal, sebagaimana dijelaskan dalam Vol. IV/No. 46- bentuknya berupa amal shalih atau kebaikan yang bisa kita sebutkan berikut ini:
1. Istighfar dan taubat
2. Takwa
3. Tawakkal kepada Allah l
4. Menghadirkan hati di hadapan Allah l/ konsentrasi ketika beribadah
5. Mengikutkan haji dengan umrah
6. Silaturahim
7. Infak fi sabilillah
8. Memberi nafkah kepada seseorang yang menghabiskan waktunya menuntut ilmu agama
9. Berbuat baik kepada orang-orang lemah
10. Berhijrah di jalan Allah k.
1. Istighfar dan Taubat
Termasuk amalan yang paling penting sebagai pembuka rezeki seorang hamba adalah istighfar/minta ampun dan taubat kepada Allah Al-Ghaffar At-Tawwab. Namun yang jadi pertanyaan, apa sebenarnya hakikat dari istighfar dan taubat? Karena kebanyakan orang memandang istighfar dan taubat cukup dengan lisan saja, dengan semata mengatakan, “Astaghfirullah wa atubu ilaih.” Tapi kalimat ini tidak ada kesannya di dalam hati, apalagi tampak pada amalan tubuh.
Dalam kitab Riyadhus Shalihin (hal. 33-34), Al-Imam An-Nawawi5 t menjelaskan, “Ulama mengatakan, bertaubat itu wajib dilakukan dari setiap dosa. Bila maksiatnya antara hamba dengan Allah l, tidak ada kaitannya dengan hak anak Adam, maka harus terpenuhi tiga syarat:
1. Mencabut diri dari maksiat tersebut.
2. Menyesali perbuatan dosa yang telah dilakukan.
3. Berketetapan hati (bertekad kuat) untuk tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Bila hilang salah satu dari tiga syarat di atas, taubat seseorang tidaklah sah.
Apabila maksiat yang dilakukan ada kaitannya dengan orang lain, maka syaratnya ada empat. Tiga yang telah disebutkan, ditambah dengan melepaskan diri dari hak orang lain yang diambil/dilanggarnya. Bila berupa harta atau semisalnya, ia kembalikan kepada pemiliknya atau minta diikhlaskan. Bila berupa tuduhan keji kepada orang lain maka dipersilakannya orang itu untuk membalasnya/memberi hukum had kepadanya atau meminta pemaafannya. Bila itu berupa ghibah, ia minta kehalalannya.”
Dalil-dalil yang menunjukkan istighfar dan taubat sebagai pintu rezeki adalah sebagai berikut:
1. Nabi Nuh q pernah berkata kepada kaumnya:
Maka aku katakan kepada mereka, “Mohonlah ampun kepada Rabb kalian, sesungguhnya Dia Maha Pengampun, niscaya dengan begitu Dia akan mengirimkan hujan kepada kalian dengan berturut-turut serta memperbanyak harta dan anak-anak kalian serta mengadakan untuk kalian kebun-kebun dan mengadakan pula di dalamnya sungai-sungai untuk kalian…” (Nuh: 10-12)
Dari ayat-ayat yang mulia di atas, tampak bagi kita bahwa istighfar mendatangkan perkara-perkara berikut ini:
– Pengampunan dari Allah k atas dosa-dosa yang dilakukan karena Dia Maha Pengampun.
– Allah l akan menurunkan hujan yang berturut-turut/susul-menyusul sebagaimana kata Ibnu Abbas c: ﭔ adalah sebagiannya mengikuti sebagian yang lain. (Riwayat Al-Bukhari dalam Shahihnya, Kitabut Tafsir, Surah Nuh)
– Allah k akan memperbanyak harta dan anak-anak. Atha’ t berkata dalam tafsirnya terhadap ayat ﭖ ﭗ ﭘ : “Dia akan memperbanyak harta dan anak-anak kalian.” (Tafsir Al-Baghawi, 4/367)
– Allah l akan mengadakan kebun-kebun.
– Allah l akan mengadakan sungai-sungai yang dengannya kalian dapat mengairi kebun-kebun dan sawah ladang kalian. (Tafsir Ath-Thabari, 12/249)
Al-Imam Al Qurthubi6 t berkata, “Dalam ayat ini dan juga dalam surah Hud7 ada bukti/dalil bahwa dengan istighfar akan diturunkan rezeki dan hujan.” (Tafsir Al-Qurthubi, 18/190)
Al-Hafizh Ibnu Katsir t dalam tafsirnya mengatakan, “Maksudnya bila kalian bertaubat kepada Allah k, beristighfar kepada-Nya, dan menaati-Nya niscaya Dia akan memperbanyak rezeki kalian, mencurahkan kepada kalian dari keberkahan langit dan menumbuhkan untuk kalian dari keberkahan bumi. Dia tumbuhkan untuk kalian tanam-tanaman, Dia deraskan susu perahan untuk kalian, serta Dia berikan kepada kalian harta dan anak-anak. Dia jadikan untuk kalian kebun-kebun yang di dalamnya terdapat beraneka macam buah, diselingi kebun-kebun tersebut dengan aliran sungai-sungai.” (Tafsir Al-Qur’anil Azhim, 8/182)
Amirul Mukminin Umar ibnul Khaththab z berpegang dengan pengabaran yang ada di dalam ayat-ayat di atas ketika meminta hujan kepada Allah l. Disebutkan bahwa Umar z pernah keluar ke tanah lapang guna memintakan hujan untuk manusia, maka beliau tidak menambah selain istighfar sampai kembali ke kediamannya, lalu turunlah hujan. Ada yang berkata kepadanya, “Kami tidak mendengarmu meminta hujan kepada Allah l.” Umar menjawab bahwa ia meminta hujan dengan beristighfar, kemudian ia membaca ayat:
“Mohonlah ampun kepada Rabb kalian, sesungguhnya Dia Maha Pengampun, niscaya dengan begitu Dia akan mengirimkan hujan kepada kalian dengan berturut-turut…” (Tafsir Ath-Thabari 12/249, Tafsir Al-Khazin 4/345)
Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri8 t memberikan arahan untuk beristighfar kepada setiap orang yang datang kepadanya mengadukan kemarau, kemiskinan, kemandulan/tidak beroleh keturunan dan keringnya kebun-kebun, seperti yang diriwayatkan dari Ar-Rabi’ ibnu Shabih, ia berkata, “Seorang lelaki mengadukan problem kemarau kepada Al-Hasan. Ia pun memberi bimbingan, ‘Istighfarlah kepada Allah l’, ucapnya. Yang lain datang mengeluhkan kemiskinannya. ‘Istighfarlah kepada Allah l’, kata Al-Hasan. Orang lain lagi datang seraya berkata kepada Al-Hasan, ‘Mohon berdoalah kepada Allah l agar Dia memberi rezeki seorang anak untukku.’ Al-Hasan menjawab, ‘Istighfarlah kepada Allah l.’ Yang lain lagi mengeluhkan keringnya kebun-kebun. ‘Istighfarlah kepada Allah l’, kata Al-Hasan.
Kami mengatakan kepada Al-Hasan, ‘Telah datang kepadamu beberapa orang dengan pengaduan yang berbeda-beda, namun engkau menyuruh mereka semua agar beristighfar.’
Al-Hasan menjawab, “Aku tidak berkata demikian dari pikiranku sendiri. Sungguh Allah l berfirman dalam surah Nuh:
ﯼ ﯽ ﯾ ﯿ  ﰀ ﰁ ﰂ ﭑ ﭒ ﭓ ﭔ ﭕ ﭖ ﭗ ﭘ ﭙ ﭚ ﭛ ﭜ ﭝ  ﭞ ﭟ
Maka aku katakan kepada mereka, “Mohonlah ampun kepada Rabb kalian, sesungguhnya Dia Maha Pengampun, niscaya dengan begitu Dia akan mengirimkan hujan kepada kalian dengan berturut-turut dan memperbanyak harta dan anak-anak kalian serta mengadakan untuk kalian kebun-kebun dan mengadakan pula di dalamnya sungai-sungai untuk kalian…” (Nuh: 10-12) [Tafsir Al-Qurthubi, 18/196, Ruhul Ma’ani, 14/112]
2. Nabi Hud q pernah mengajak kaumnya untuk beristighfar:
(Nabi Hud berkata) “Wahai kaumku, mohonlah ampun kepada Rabb kalian lalu bertaubatlah kepada-Nya, niscaya Dia akan menurunkan hujan kepada kalian dengan berturut-turut dan Dia akan menambah kekuatan kepada kekuatan kalian serta janganlah kalian berpaling dengan berbuat dosa.” (Hud: 52)
Al-Hafizh Ibnu Katsir t berkata menafsirkan ayat di atas, “Kemudian Nabi Hud q menyuruh mereka istighfar yang dengannya akan menghapuskan dosa-dosa yang lalu, dan mengajak mereka bertaubat dari apa yang akan dihadapi di waktu mendatang. Siapa yang memiliki sifat seperti ini maka Allah l akan melapangkan rezekinya, memudahkan urusannya, dan menjaga perkaranya. Karena itu Allah l berfirman:
“…niscaya Dia akan menurunkan hujan kepada kalian dengan berturut-turut…” (Tafsir Al-Qur’anil ‘Azhim, 4/230)
3. Dalam surah Hud ayat 3, Allah l berfirman:
“Mohon ampunlah kalian kepada Rabb kalian, kemudian bertaubatlah kepada-Nya niscaya Dia akan memberikan kenikmatan yang baik (terus-menerus) kepada kalian sampai waktu yang telah ditentukan …” (Hud: 3)
Dalam ayat di atas, Allah l menjanjikan kehidupan yang baik bagi orang yang beristighfar dan bertaubat. Yang dimaksud ﮱ ﯓ ﯔ adalah Dia akan memberikan keutamaan kepada kalian dengan rezeki dan kelapangan, sebagaimana penafsiran Ibnu Abbas c. (Zadul Masir, 3/319)
Al-Imam Al-Qurthubi t berkata, “Ini merupakan buah istighfar dan taubat, yaitu Allah l akan memberikan kepada kalian perkara-perkara yang bermanfaat, seperti kelapangan rezeki dan kehidupan yang enak. Dia tidak membinasakan kalian dengan azab-Nya sebagaimana yang dilakukan-Nya atas orang-orang sebelum kalian.” (Tafsir Al-Qurthubi, 9/5)
Asy-Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi9 t berkata, “Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa istighfar dan taubat kepada Allah l dari dosa-dosa yang pernah dilakukan merupakan sebab Allah l memberikan kenikmatan kepada pelakunya dengan terus-menerus sampai waktu yang telah ditentukan. Karena Allah l menyebutkan istighfar dan taubat sebagai syarat diperolehnya jaza’ (balasan) berupa kenikmatan tersebut (susunan fi’il syarat dengan fi’il jawab/jaza’).” (Adhwa’ul Bayan, 3/9)
2. Takwa
Al-Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah10 t mengatakan, “Hakikat takwa adalah melakukan ketaatan kepada Allah l karena iman dan mengharapkan pahala, melaksanakan yang diperintahkan dan menjauhi yang dilarang. Ia melakukan apa yang Allah l perintahkan kepadanya karena mengimani perintah tersebut dan membenarkan janji-Nya. Ia meninggalkan apa yang Allah l larang karena mengimani larangan tersebut (datangnya dari Allah l) dan khawatir beroleh ancaman-Nya. Sebagaimana ucapan Thalq ibnu Habib11 t, “Bila terjadi fitnah maka padamkanlah dengan takwa.” Mereka yang mendengar ucapan Thalq ini bertanya, “Apa yang dimaksud dengan takwa?” Thalq menjawab, “Takwa adalah engkau beramal ketaatan kepada Allah k di atas cahaya dari Allah k karena mengharapkan pahala Allah k, dan engkau meninggalkan maksiat kepada Allah k di atas cahaya dari Allah k karena takut akan hukuman Allah l.” (Ar-Risalah At-Tabukiyyah, hal. 25-26)
Dengan demikian, siapa yang tidak menjaga dirinya dari dosa berarti ia bukan seorang yang bertakwa. Siapa yang kedua matanya bersengaja melihat apa yang Allah l haramkan padanya, atau kedua telinganya bersengaja mendengar apa yang mengundang kemarahan Allah l, atau kedua tangannya bersengaja mengambil apa yang tidak Allah l ridhai, atau ia sengaja berjalan ke tempat yang Allah l benci, berarti ia tidak menjaga dirinya dari dosa.
Siapa yang menyelisihi perintah Allah l dan melakukan perkara yang Allah l larang berarti ia bukanlah dari kalangan muttaqin. Siapa yang memperhadapkan dirinya kepada kemarahan Allah l dan hukuman-Nya maka sungguh ia telah mengeluarkan dirinya dari barisan muttaqin. (Mafatihur Rizki, hal. 24)
Banyak dalil yang menunjukkan bahwa takwa termasuk sebab dibukakannya rezeki seorang hamba. Di antara yang dapat kita sebutkan di sini:
1. Allah l berfirman:
“Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan jadikan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (Ath-Thalaq: 2-3)
Dalam ayat di atas Allah l menyebutkan dua balasan bagi orang yang bertakwa:
Pertama: diberikan jalan keluar yang menyelamatkannya dari setiap bencana/kesulitan di dunia dan di akhirat, sebagaimana kata Ibnu Abbas c.
Kedua: diberi rezeki yang tidak disangka-sangkanya, tak pernah ia angankan dan tak pernah diharapnya. (Tafsir Ath-Thabari, 12/130)
Al-Hafizh Ibnu Katsir t mengatakan, “Siapa yang bertakwa kepada Allah l dalam perkara yang diperintahkan-Nya dan meninggalkan apa yang dilarang-Nya, maka Allah l akan jadikan baginya jalan keluar dari perkaranya, serta memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya, yaitu dari sisi yang tak pernah terbetik di benaknya.” (Tafsir Ibni Katsir, 8/117)
2. Dalam surah Al-A’raf ayat 96, Allah l berfirman:
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri itu mau beriman dan bertakwa niscaya pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi…”
Al-’Allamah Asy-Syaikh Abdurrahman ibn Nashir As-Sa’di t berkata menafsirkan ayat di atas, “Seandainya mereka beriman dengan hati mereka dengan keimanan yang benar, dibuktikan dengan amalan, dan mereka bertakwa kepada Allah k secara lahir dan batin dengan meninggalkan seluruh yang diharamkan Allah l, niscaya Allah k akan bukakan untuk mereka berkah langit dan bumi. Sehingga Dia menurunkan hujan atas mereka dengan berturut-turut dan Dia tumbuhkan untuk mereka berbagai tanaman dari bumi, yang dengannya mereka dan hewan ternak mereka hidup dengan makmur serta rezeki melimpah tanpa merasakan kepayahan, kelelahan, dan keletihan…” (Taisir Al-Karimir Rahman, hal. 298)
3. Allah l mengabarkan tentang ahlul kitab sebagai umat yang sebelum kita, namun dengan diutusnya Rasulullah n mereka dituntut untuk beriman kepada beliau dan kepada Al-Qur’an yang diturunkan kepada beliau n:
“Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan hukum Taurat, Injil, dan apa yang diturunkan kepada mereka dari Rabb mereka, niscaya mereka akan mendapatkan makanan dari atas dan dari bawah kaki mereka…” (Al-Ma’idah: 66)
Bila ahlul kitab itu mau bertakwa dengan menjalankan hukum Taurat, Injil, dan Al-Qur’an, niscaya Allah l akan menurunkan hujan yang berturut-turut dari langit dan bumi pun mengeluarkan berkahnya, kata Ibnu Abbas c. (Tafsir Ath-Thabari, 4/240)
Al-Imam Al Qurthubi t berkata, “Yang serupa dengan ayat ini adalah:
‘Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan jadikan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.’ (Ath-Thalaq: 2-3)

1 Sebagaimana hadits yang diriwayatkan Al-Imam Al-Bukhari t dalam kitab Shahihnya (no. 6389) dan Muslim t (no. 6781) dari Anas bin Malik z, ia berkata:
كَانَ أَكْثَرُ دُعَاءِالنَّبِيِّ n: رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Doa yang paling banyak diucapkan Nabi n adalah: “Wahai Rabb kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta lindungilah kami dari azab neraka.”
2 Beliau adalah Al-Imam Al-Hafizh Abul Fadhl Iyadh ibn Musa ibn Iyadh Al-Yahshibi t, salah seorang imam/tokoh ulama dalam ilmu hadits di negeri Maghrib, lahir tahun 476 H, wafat pertengahan tahun 544 H dalam keadaan terusir dari negerinya karena fitnah yang dahsyat yang terjadi pada zaman beliau. Semoga Allah l merahmati beliau.
3 Al-Imam Al-Hafizh Al-Muhaddits (ahli hadits), Al-Mu’arrikh (pakar sejarah), ahli tafsir, ‘Imaduddin Abul Fida’ Isma’il bin ‘Umar bin Katsir bin Dhau’ bin Katsir Al-Qurasyi Ad-Dimasqi Asy-Syafi’i t, lahir tahun 701 H, salah seorang murid utama Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t. Beliau wafat tahun 774 H.
4 Pembahasan ini akan kami tulis secara bersambung agar semua sisi dapat tersampaikan secara cukup mendetail. Wallahul musta’an, dan Dia-lah yang memberi taufik.
5 Al-Imam Al-Muhaqqiq Al-Hafizh Muhyiddin Yahya ibnu Syaraf ibnu Murri ibnu Hasan ibnu Husain ibnu Muhammad ibnu Jumu’ah ibnu Hizam Abu Zakariyya An-Nawawi Ad-Dimasyqi t, lahir tahun 631 H, wafat tahun 676 H.
6 Al-Imam Al-Mufassir Abu Abdillah Muhammad ibnu Ahmad Al-Anshari Al-Khazraji Al-Andalusi Qurthubi t, seorang imam yang kokoh dan mendalam ilmunya, wafat di bulan Syawwal tahun 671 H.
7 Beliau mengisyaratkan kepada firman Allah l:
(Nabi Hud berkata): “Wahai kaumku, mohonlah ampun kepada Rabb kalian lalu bertaubatlah kepada-Nya, niscaya Dia akan menurunkan hujan kepada kalian dengan berturut-turut dan Dia akan menambah kekuatan kepada kekuatan kalian dan janganlah kalian berpaling dengan berbuat dosa.” (Hud: 52)
8 Al-Imam Abu Sa’id Al-Hasan ibnu Abil Hasan Yasar Al-Bashri t, maula Zaid bin Tsabit Al-Anshari z. Ibunya adalah bekas budak yang dimerdekakan oleh Ummul Mukminin Ummu Salamah x, lahir dua tahun terakhir dari masa khilafah ‘Umar ibnul Khaththab z. Beliau seorang imam yang zuhud, wafat tahun 110 H.
9 Asy-Syaikh Muhammad Al-Amin bin Muhammad Al-Mukhtar Al-Jakni Asy-Syinqithi t, lahir tahun 1325 H dan wafat tahun 1393 H. Beliau seorang alim yang sangat luas ilmunya akan kitabullah.
10 Al-Imam Syamsuddin Muhammad ibnu Abi Bakr ibnu Qayyim Al-Jauziyyah t, lahir tahun 691 H dan wafat tahun 751 H. Beliau salah seorang murid utama Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t. Seorang yang faqih bermazhab Hambali, bahkan seorang mujtahid mutlak, ahli tafsir, fikih, nahwu, dan ilmu ushul.
11 Thalq ibnu Habib Al-Anzi Al-Bashri t, seorang tabi’in, murid Ibnu Abbas, Ibnu ‘Umar, Jabir, Ibnuz Zubair, Ibnul ‘Ash, dan selain mereka, g.

 

Peringatan Terhadap Yahudi Akan Kehancurannya di Tangan Tentara Nabi Muhammad dan Nasihat Kepada Kaum Muslimin

(ditulis oleh: Fadhilatusy Syaikh Al-’Allamah Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali hafizhahullah)

 

Kepada umat yang dimurkai (Yahudi), yang Allah k berfirman tentang mereka:

“Karena itu mereka (Yahudi) mendapat murka di atas kemurkaan (yang mereka dapatkan sebelumnya). Dan untuk orang-orang kafir azab yang menghinakan.” (Al-Baqarah: 90)

Kepada umat yang hina dan rendah, yang telah Allah l timpakan kepada mereka kehinaan dan kerendahan buah dari kekufuran mereka serta perbuatan mereka membunuh para nabi. Allah k berfirman:

“Telah ditimpakan kepada mereka (Yahudi) kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah serta ditimpakan kepada mereka kerendahan. Yang demikian itu (yakni: ditimpa kehinaan, kerendahan, dan kemurkaan dari Allah k) karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu (yakni: kekafiran dan pembunuhan atas para nabi) disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas.” (Ali ‘Imran: 112)

Inilah sebagian sifat-sifat kalian yang mengharuskan kalian senantiasa berada dalam kehinaan, kerendahan, dan selalu mendapat kemurkaan dari Allah k. Kalian tidak akan pernah bisa tegak dalam kebaikan kecuali dengan berpegang pada tali (agama) Allah l dan tali (perjanjian) dengan manusia, hingga hari ini dan sampai hari kiamat kelak. Kalian tidak memiliki sandaran sejarah keimanan dan aqidah. Kalian tidak memiliki latar belakang sejarah sifat kejantanan dan keberanian. Kalian hanya berani berperang dari balik tembok, sementara permusuhan (perselisihan) di antara kalian sendiri sangat sengit. Sungguh sifat-sifat keji kalian sangat banyak, di antaranya:

– khianat

– melanggar

– menebar fitnah

– menyalakan api peperangan

- dan berbuat kerusakan di muka bumi.

Setiap kalian menyalakan api peperangan niscaya Allah l memadamkannya. Sungguh sejarah kalian sangat kelam. Kondisi dan sifat jelek kalian tersebut sudah sangat dikenal oleh segenap umat.

Terhadap umat yang mendapat murka (Yahudi) tersebut,  aku katakan –ini juga dikatakan oleh setiap muslim yang jujur–:

Janganlah kalian sombong! Janganlah kalian berbuat kejahatan! Dan janganlah kalian terpesona dengan apa yang telah kalian peroleh berupa kemenangan yang menipu! Sesungguhnya, demi Allah l, kalian tidak akan pernah bisa menang terhadap tentara Nabi Muhammad n! Kalian tidak akan pernah bisa menang terhadap aqidah Nabi Muhammad n, aqidah tauhid la ilaha illallah. Kalian tidak akan pernah bisa menang terhadap tentara yang dipimpin oleh Khalid bin Al-Walid, Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarrah, Sa’d bin Abi Waqqash, ‘Amr bin Al-’Ash, dan Nu’man bin Muqarrin g yang tertarbiyah (terdidik) di atas aqidah dan manhaj Nabi Muhammad n, yang mereka (para panglima tersebut) mentarbiyah pasukannya di atas aqidah tersebut, memimpin pasukannya untuk meninggikan kalimatullah. Sungguh kekuatan yang jauh lebih besar dari kekuatan kalian sekarang, seperti tentara Kisra (Persia) dan tentara Kaisar (Romawi), tidak mampu mengalahkan mereka (tentara Nabi Muhammad n tersebut).

Kalian tidak akan pernah menang menghadapi pasukan yang demikian kondisinya, demikian kondisi aqidahnya, demikian kondisi manhajnya, dan demikian kondisi tujuannya yaitu dalam rangka meninggikan Kalimatullah. Kalian hanya akan bisa mengalahkan pasukan yang terdiri dari generasi yang telah menyimpang. Allah k berfirman:

“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (Maryam: 59)

Kalian hanya akan bisa mengalahkan pasukan yang mayoritasnya tidak meyakini aqidah Nabi Muhammad n dan para sahabatnya, tidak meyakini manhaj Nabi Muhammad n dan tentaranya, dan tidak meyakini tujuan yang dulu mereka (Nabi Muhammad n dan tentaranya) berjihad karenanya. (Pasukan yang nilainya sekadar) buih itulah yang bisa kalian kalahkan. Disebabkan ketidakberdayaan dan kelemahan pasukan tersebut, negara kalian bisa berdiri. Kalian bisa tampil di muka bumi, dan kalian bisa menebar kerusakan padanya.

Allah k berfirman:

“Kami telah tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab (yang telah Allah l turunkan pada mereka) itu: ‘Sesungguhnya kamu pasti akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar.’ Maka apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) pertama dari kedua (kejahatan) itu, pasti Kami datangkan kepada kalian hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan yang besar, lalu mereka akan menguasai kampung-kampung (kalian) tersebut, dan itulah ketetapan yang pasti terlaksana. Kemudian Kami berikan kepada kalian giliran untuk mengalahkan mereka kembali dan Kami membantu kalian dengan harta kekayaan dan anak-anak, serta Kami jadikan kalian kelompok yang lebih besar. Jika kalian berbuat baik (berarti) kalian telah berbuat baik untuk diri kalian sendiri, dan jika kalian berbuat jahat, maka (kejahatan) itu untuk diri kalian sendiri. Apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kalian dan mereka masuk ke dalam masjid, sebagaimana musuh-musuh kalian memasukinya pada kali pertama, dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai’.” (Al-Isra’: 4-7)

Inilah sejarah perjalanan hidup kalian. Demikianlah Allah l memperlakukan kalian. Meskipun (kehancuran pertama kalian) tersebut telah berlalu melalui tangan bangsa Majusi, maka bagi kalian akan ada lagi kehancuran yang lebih dahsyat lagi melalui tangan tentara Nabi Muhammad n, tentara Islam sebagaimana telah Allah l janjikan untuk kalian karena kehinaan dan kerendahan kalian di hadapannya (tentara Islam). Allah k berfirman:

“Jika kalian kembali kepada (kedurhakaan) niscaya Kami pun kembali (mengazab kalian). Kami telah menjadikan neraka Jahannam penjara bagi orang-orang yang tidak beriman.” (Al-Isra’: 8)

Sekarang ternyata kalian kembali (melakukan kedurhakaan), maka pasti akan kembali pula kepada kalian azab Allah l yang sangat keras. (Dia Allah l adalah) Dzat yang tidak akan pernah mengingkari janji. Melalui tangan tentara Nabi Muhammad n, bukan tentara yang telah menjadi kaki tangan kalian atau kaki tangan Barat dan Nashara, serta kaki tangan harta duniawi. Jangan kalian sombong dan jangan tertipu. Demi Allah l, kalian tidak akan pernah menang terhadap Islam. Kalian tidak akan pernah menang terhadap tentara Nabi Muhammad n, serta kalian tidak akan pernah menang terhadap tentara Al-Faruq (’Umar bin Al-Khaththab z), tentara Khalid (bin Al-Walid z), serta saudara-saudaranya dari kalangan tentara-tentara Allah k dan tentara-tentara Islam.

 

Kepada seluruh kaum muslimin secara umum,

Baik pemerintah maupun rakyat, kelompok-kelompok maupun partai-partai, ulama maupun cendekiawan: Sampai kapan kalian cenderung mengutamakan kehidupan (dunia) yang hina ini? Sampai kapan kalian hidup layaknya buih? Sampai kapan?! Sampai kapan?! Sampai kapan?! Mana orang-orang yang berakal jernih di tengah-tengah kalian?! Mana para ulama kalian?!  Mana para cendekiawan kalian?! Mana para panglima perang kalian?!

Kalian telah mendirikan ribuan sekolah dan universitas, mana hasilnya? Demi Allah l, kalau seandainya ada sepuluh sekolah dan universitas yang tegak di atas manhaj nubuwwah, baik dalam aqidah, akhlak, maupun penerapan syariat yang bijaksana, niscaya dunia akan terang dengan cahaya iman dan tauhid. Akan sirnalah kegelapan kebodohan, kesyirikan, dan kebid’ahan, dan musuh tidak akan bisa menguasai (menjajah) kalian seperti ini. Kalau ada sebagian universitas yang tegak di atas manhaj yang benar, maka menyusuplah orang-orang yang tidak suka dengan manhaj (yang haq) tersebut, kemudian merusak perjalanannya serta merusak para akademisi dan lulusannya. Hanya kepada Allah l sajalah tempat kita mengadu.

Tidakkah kenyataan pahit ini mendorong kalian untuk meninjau kembali kurikulum-kurikulum di sekolah-sekolah dan universitas-universitas kalian, serta metode pendidikan kalian? Tidakkah sudah tiba masanya untuk memikirkan baik-baik dalam rangka melakukan perbaikan terhadap sistem tersebut? Menggantinya  secara total, memberlakukan kurikulum Islamiah yang benar yang bersumber dari Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya n serta manhaj as-salafush shalih. Demi Allah l, tidak akan baik kondisi generasi akhir umat ini kecuali dengan apa yang telah membuat baik kondisi generasi awal umat ini.

Gantilah kurikulum-kurikulum tersebut yang tidak menghasilkan kecuali buih. Berlakukanlah manhaj rabbani, yang tidak ada kebaikan, kesuksesan, maupun keselamatan baik di dunia maupun di akhirat kecuali dengannya. Jika kalian memang benar-benar menginginkan untuk diri kalian dan untuk umat kalian kesuksesan, kebaikan, dan kemenangan terhadap musuh-musuhnya, terutama (kemenangan) terhadap suatu kaum yang telah Allah l timpakan kepada mereka kehinaan dan kerendahan (yaitu kaum Yahudi).

 

Kepada pemerintah muslimin secara khusus,

Sungguh di atas pundak kalian terdapat tanggung jawab yang sangat besar:

 

Tanggung Jawab Pertama,

Kewajiban kalian untuk senantiasa berpegang pada Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, dan sirah para Al-Khulafa’ur Rasyidin baik dalam aqidah, ibadah, maupun politik kalian, serta dalam mengemban tanggung jawab rakyat dan pendidikan mereka.

Kewajiban dari Allah l atas kalian –secara pasti– adalah:

– Kalian enyahkan segala undang-undang (buatan manusia) yang membuat mundur dan terbelakangnya umat (dalam hal keimanan dan aqidah mereka).

– Hendaknya kalian melakukan kebijakan dalam mengatur umat (rakyat) kalian dalam segala urusan kehidupan mereka, baik kehidupan keagamaan maupun kehidupan dunia mereka, berdasarkan aturan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, serta bimbingan para Al-Khulafa’ur Rasyidin.

Karena sesungguhnya kalian hanyalah hamba-hamba Allah l, yang di atas bumi-Nya kalian hidup, dari rezeki-Nya lah kalian makan, minum, dan berpakaian, maka sudah merupakan hak Allah k atas kalian adalah kalian beribadah hanya kepada-Nya, bersyukur kepada-Nya, serta kalian merasa mulia dengan agama dan syariat-Nya. Maka berpegangteguhlah kepadanya dan perintahkan rakyat kalian agar juga berpegang teguh kepadanya. Kondisi keagamaan rakyat sangat bergantung dengan kondisi para pemimpin mereka. Sesungguhnya Allah l akan mencabut (kezaliman atau kerusakan) melalui tangan sulthan (penguasa) yang tidak bisa dicabut melalui (nasihat-nasihat) Al-Qur’an, sebagaimana ditegaskan oleh Khalifah Ar-Rasyid ‘Utsman (bin ‘Affan z).

 

Tanggung Jawab Kedua,

Hendaknya kalian membentuk sebuah pasukan yang Islami yang terdidik di atas bimbingan Al-Qur’an dan As-Sunnah, serta terdidik di atas fondasi tentara Islam, dalam rangka mewujudkan berbagai tujuan dan target tentara Nabi Muhammad n. Sungguh, wajib atas kalian untuk mendidik (tentara tersebut) di atas bimbingan aqidah dan manhaj Nabi Muhammad n, serta aqidah dan manhaj Al-Faruq (’Umar bin Al-Khaththab), Khalid (bin Al-Walid), serta mendidik (tentara tersebut) di atas tujuan yang telah digariskan oleh Allah l untuk Muhammad n dan para sahabatnya, agar mereka menjadi junudullah (tentara Allah l) sejati. Maka jika kondisi mereka seperti itu, sungguh mereka (junudullah tersebut) tidak akan pernah terkalahkan. Allah l berfirman:

“Sesungguhnya tentara Kami-lah yang pasti menang.” (Ash-Shaffat: 173)

Bukan di atas tujuan-tujuan duniawi dan syiar-syiar jahiliah, baik syiar nasionalisme, syiar kebangsaan, syiar kedaerahan, ataupun syiar-syiar lain yang lebih jelek dari itu semua. Sungguh telah cukup (sebagai pelajaran) bagi kalian dan rakyat kalian, apa yang selama ini menimpa kalian dan rakyat kalian, yaitu pelecehan oleh umat yang paling rendah dan paling hina (yaitu Yahudi), serta tantangan mereka terhadap kalian, kesombongannya, ketakaburannya, dan sikap ekstrem mereka terhadap kalian. Demi Allah l, tidak akan bisa menghilangkan berbagai kejahatan dan kesombongan (Yahudi) tersebut kecuali dengan cara berpegang teguh kepada Islam, serta mentarbiyah rakyat dan tentara kalian di atas prinsip-prinsip (aqidah) dan ideologi Islam, serta menghilangkan segala bentuk syiar, pemikiran, dan ideologi yang mengantarkan umat kepada kenyataan yang sangat pahit ini.

 

Kepada rakyat Palestina secara khusus,

Wajib atas rakyat Palestina untuk mengetahui bahwa:

Negeri Palestina tidaklah dimerdekakan kecuali dengan Islam, di bawah kepemimpinan Faruqul Islam (’Umar bin Al-Khaththab z) dan bala tentaranya yang Al-Islamiyyah Al-Faruqiyyah.

Tidak mungkin pula negeri Palestina dibebaskan dari kenajisan Yahudi kecuali dengan Islam yang benar, yang dengannya negeri Palestina telah berhasil direbut melalui kepemimpinan Al-Faruq (’Umar bin Al-Khaththab z). Sungguh kalian telah berupaya membela diri dengan sekuat tenaga. Saya tidak mengetahui suatu bangsa yang bisa bersabar seperti kesabaran kalian, namun sayang banyak di antara kalian yang tidak beraqidah dengan aqidahnya Al-Faruq (’Umar bin Al-Khaththab z) dan tidak bermanhaj dengan manhajnya. Kalau seandainya jihad kalian ditegakkan di atas aqidah dan manhaj tersebut, niscaya berbagai problem kalian akan teratasi, dan niscaya kalian akan meraih kemenangan dan kesuksesan.

Maka wajib atas kalian menegakkan aqidah, manhaj, dan jihad kalian di atas bimbingan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, wajib pula atas kalian semuanya untuk berpegang teguh pada tali (agama) Allah l dan tidak berpecah-belah.

Terapkanlah ini semua dengan penuh keseriusan dan keikhlasan baik di masjid-masjid kalian, sekolah-sekolah kalian, maupun di universitas-universitas kalian. Jujurlah kepada Allah l dalam semua itu Insya Allah demi terwujudnya kemenangan yang gemilang terhadap bangsa (Yahudi), saudara-saudara kera dan babi.

Sesungguhnya bagi kaum muslimin penduduk Syam ada janji yang pasti melalui lisan (Rasulullah n) sang Ash-Shadiqul Mashduq (yang jujur dan dibenarkan), yaitu janji kemenangan atas kaum Yahudi dan Nashara. Maka bangkitlah kalian dengan penuh kesungguhan menyongsong terwujudnya janji tersebut. Tanpa itu pasti kalian tidak akan memperoleh kecuali kegagalan dan kerugian.

Sungguh, demi Allah l, tidak bermanfaat bagi kalian ikut campurnya Amerika Serikat, PBB, serta tidak memberi manfaat kepada kalian semangat nasionalisme ataupun semangat kebangsaan yang sangat dibenci (oleh Allah l). Maka bersegeralah, bersegeralah merealisasikan sebab-sebab terwujudnya kemenangan yang hakiki dan pasti. Sungguh telah cukup bagi kalian (sebagai pelajaran) berbagai pengalaman yang sangat banyak, yang semuanya tidak bermanfaat dan tidak akan bermanfaat untuk kalian sedikitpun (selain merealisasikan sebab-sebab kemenangan yang hakiki dan pasti). Janganlah kalian menjadi seperti kondisi yang diungkapkan dalam syair:

كَالْعَيْسِ فِي الْبَيْدَاءِ يَقْتُلُهُ الظَّمَأُ

وَالْمَاءُ فَوْقَ ظُهُورِهَا مَحْمُولُ

Seperti unta yang berjalan di gurun, ia terbunuh (mati) oleh dahaga

Padahal air senantiasa terbawa di atas punggungnya

Ya Allah, wujudkan untuk umat ini dalam perkara yang benar, yang dengannya para wali-Mu menjadi mulia dan musuh-musuh-Mu menjadi hina. Ya Allah, tinggikanlah kalimat-Mu, muliakanlah agama-Mu, dan muliakanlah dengannya kaum muslimin, bimbinglah mereka kepada-Mu dan kepada agama-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar (mengabulkan) doa.

Diterjemahkan dari www.sahab.net

Sikap Ulama Terhadap Konflik Palestina Yahudi

Berikut penjelasan yang disampaikan oleh Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin ‘Umar Bazmul hafizhahullah ketika beliau menjawab pertanyaan tentang sikap dan kewajiban kita terkait dengan peristiwa yang menimpa saudara-saudara kita di Ghaza (Gaza), Palestina. Penjelasan ini beliau sampaikan pada hari Senin, 9 Muharram 1430 H, dalam salah satu pelajaran yang beliau sampaikan, yaitu pelajaran syarh kitab Fadhlul Islam. Apa yang disampaikan sebenarnya merupakan sikap secara umum dalam menyikapi konflik Palestina-Yahudi yang terus saja berlangsung.

Kewajiban terkait dengan peristiwa yang menimpa saudara-saudara kita kaum muslimin di Jalur Ghaza Palestina baru-baru ini adalah sebagai berikut:
Pertama:
Merasakan besarnya nilai kehormatan darah (jiwa) seorang muslim. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Ibnu Majah (no. 3932) dari sahabat ‘Abdullah bin ‘Umar c berkata: Saya melihat Rasulullah n sedang thawaf di Ka’bah seraya beliau berkata (kepada Ka’bah):
مَا أَطْيَبَكِ وَأَطْيَبَ رِيحَكِ، مَا أَعْظَمَكِ وَأَعْظَمَ حُرْمَتَكِ، وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَحُرْمَةُ الْمُؤْمِنِ أَعْظَمُ عِنْدَ اللهِ حُرْمَةً مِنْكِ، مَالِهِ وَدَمِهِ
“Betapa bagusnya engkau (wahai Ka’bah), betapa wangi aromamu, betapa besar nilai dan kehormatanmu. Namun, demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh kehormatan seorang mukmin jauh lebih besar di sisi Allah dibanding engkau, baik kehormatan harta maupun darah (jiwa)nya.”2
Dalam riwayat At-Tirmidzi (no. 2032) dengan lafadz: Dari sahabat ‘Abdullah bin ‘Umar c, bahwa Rasulullah n naik ke atas mimbar kemudian beliau berseru dengan suara yang sangat keras seraya berkata:
يَا مَعْشَرَ مَنْ قَدْ أَسْلَمَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يُفْضِ الْإِيمَانُ إِلَى قَلْبِهِ! لاَ تُؤْذُوا الْمُسْلِمِينَ! وَلاَ تُعَيِّرُوهُمْ! وَلاَ تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ! فَإِنَّهُ مَنْ تَتَبَّعَ عَوْرَةَ أَخِيهِ الْمُسْلِمِ تَتَبَّعَ اللهُ عَوْرَتَهُ، وَمَنْ تَتَبَّعَ اللهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ وَلَوْ فِى جَوْفِ رَحْلِهِ
“Wahai segenap orang yang berislam dengan ucapan lisannya namun keimanannya tidak menyentuh qalbunya, janganlah kalian mengganggu kaum muslimin, janganlah kalian mencela mereka, dan janganlah kalian mencari-cari aib mereka. Karena barangsiapa yang mencari-cari aib saudaranya muslim, niscaya Allah akan terus memeriksa aibnya. Barangsiapa yang diperiksa oleh Allah segala aibnya, niscaya Allah akan membongkarnya walaupun dia (bersembunyi) di tengah rumahnya.”
Suatu ketika Ibnu ‘Umar c melihat kepada Ka’bah dengan mengatakan (kepada Ka’bah): “Betapa besar kedudukanmu dan betapa besar kehormatanmu, namun seorang mukmin lebih besar kehormatannya di sisi Allah l dibanding kamu.”
Al-Imam At-Tirmidzi t berkata tentang kedudukan hadits tersebut: “Hadits yang hasan gharib.” Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi (no. 2032).
Seorang muslim, jika melihat darah kaum muslimin ditumpahkan, jiwanya dibunuh, atau hati kaum muslimin diteror, maka tidak diragukan lagi pasti dia akan menjadikan ini sebagai perkara besar, karena terhormatnya darah kaum muslimin dan besarnya hak mereka.
Bagaimana menurutmu, kalau seandainya seorang muslim melihat ada orang yang hendak menghancurkan Ka’bah, ingin merobohkan dan mempermainkannya, maka betapa ia menjadikan hal ini sebagai perkara besar?!! Sementara Rasulullah n telah menegaskan: “Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh kehormatan seorang mukmin jauh lebih besar di sisi Allah dibanding engkau (wahai Ka’bah), baik kehormatan harta maupun darah (jiwa)nya.”
Maka perkara pertama yang wajib atas kita adalah merasakan betapa besar nilai kehormatan darah kaum mukminin yang bersih, yang baik, dan sebagai pengikut Sunnah Rasulullah n, yang senantiasa berjalan di atas bimbingan Islam. Kita katakan, bahwa darah (kaum mukminin) tersebut memiliki kehormatan yang besar dalam hati kita.
Kita tidak ridha –demi Allah l– dengan ditumpahkannya darah seorang mukmin pun (apalagi lebih), walaupun setetes darah saja, tanpa alasan yang haq (dibenarkan oleh syariat). Maka bagaimana dengan kebengisan dan tindakan yang dilakukan oleh para ekstremis, orang-orang yang zalim, para penjajah negeri yang suci, bumi yang suci dan sekitarnya??! Innalillah wa inna ilaihi raji’un!!
Maka tidak boleh bagi seorang pun untuk tidak peduli dengan darah (kaum mukminin) tersebut, terkait dengan hak dan kehormatan (darah mukminin), kehormatan negeri tersebut, dan kehormatan setiap muslim di seluruh dunia, dari kezaliman tangan orang kafir yang penuh dosa, durhaka, dan penuh kezaliman, seperti peristiwa (yang terjadi sekarang di Palestina) ataupun kezaliman yang lebih ringan dari itu.
Kedua:
Wajib atas kita membela saudara-saudara kita. Pembelaan kita tersebut harus dilakukan dengan cara yang syar’i. Cara yang syar’i itu tersimpulkan sebagai berikut:
Kita membela mereka dengan cara berdoa untuk mereka. Kita doakan mereka pada waktu sepertiga malam terakhir. Kita doakan mereka dalam sujud-sujud (kita). Bahkan kita doakan dalam qunut (nazilah) yang dilakukan pada waktu shalat jika memang diizinkan/diperintahkan oleh waliyyul amr (pemerintah).
Jangan heran dengan pernyataan saya “dalam qunut nazilah yang dilakukan dalam shalat jika memang diizinkan/diperintahkan oleh waliyyul amr.” Karena umat Islam telah melalui berbagai musibah yang dahsyat pada zaman sahabat Nabi n, namun tidak ada riwayat yang menyebutkan bahwa para sahabat melakukan qunut nazilah selama mereka tidak diperintah oleh pemimpin (kaum muslimin).
Oleh karena itu saya katakan: Kita membantu saudara-saudara kita dengan doa pada waktu-waktu sepertiga malam terakhir. Kita bantu saudara-saudara kita dengan doa dalam sujud. Kita membantu saudara-saudara kita dengan doa saat kita berdzikir dan menghadap Allah l, agar Allah  l menolong kaum muslimin yang lemah.
Semoga Allah l membebaskan kaum muslimin dari cengkraman tangan-tangan zalim, mengokohkan mereka (kaum muslimin) dengan ucapan (aqidah) yang haq, serta menolong mereka terhadap musuh kita, musuh mereka, musuh Allah l, dan musuh kaum mukminin.
Ketiga dan Keempat:
Terkait dengan sikap kita terhadap peristiwa Ghaza:
Kita harus waspada terhadap orang-orang yang memancing di air keruh, menyeru dengan seruan-seruan yang penuh emosional atau seruan yang ditegakkan di atas perasaan (jauh dari bimbingan ilmu dan sikap ilmiah), yang justru membuat kita terjatuh pada masalah yang makin besar.
Kalian tahu bahwa Rasulullah n berada di Makkah, berada dalam periode Makkah, ketika itu beliau mengetahui bahwa orang-orang kafir terus menimpakan siksaan yang keras terhadap kaum muslimin. Sampai-sampai kaum muslimin ketika itu meminta kepada Rasulullah n agar mengizinkan mereka berperang. Ternyata Rasululllah n hanya mengizinkan sebagian mereka untuk berhijrah (meninggalkan tanah suci Makkah menuju ke negeri Habasyah). Namun sebagian lainnya (tidak beliau izinkan) sehingga mereka terus minta izin dari Rasulullah n untuk berperang dan berjihad.
Dari sahabat Khabbab bin Al-Arat z:
شَكَوْنَا إِلَى رَسُولِ اللهِ n وَهُوَ مُتَوَسِّدٌ بُرْدَةً لَهُ فِي ظِلِّ الْكَعْبَةِ، قُلْنَا لَهُ: أَلاَ تَسْتَنْصِرُ لَنَا، أَلاَ تَدْعُو اللهَ لَنَا؟ قَالَ: كَانَ الرَّجُلُ فِيمَنْ قَبْلَكُمْ يُحْفَرُ لَهُ فِي الْأَرْضِ فَيُجْعَلُ فِيهِ فَيُجَاءُ بِالْمِنْشَارِ فَيُوضَعُ عَلَى رَأْسِهِ فَيُشَقُّ بِاثْنَتَيْنِ وَمَا يَصُدُّهُ ذَلِكَ عَنْ دِينِهِ، وَيُمْشَطُ بِأَمْشَاطِ الْحَدِيدِ مَا دُونَ لَحْمِهِ مِنْ عَظْمٍ أَوْ عَصَبٍ وَمَا يَصُدُّهُ ذَلِكَ عَنْ دِينِهِ، وَاللهِ لَيُتِمَّنَّ هَذَا الْأَمْرَ حَتَّى يَسِيرَ الرَّاكِبُ مِنْ صَنْعَاءَ إِلَى حَضْرَمَوْتَ لاَ يَخَافُ إِلاَّ اللهَ أَوْ الذِّئْبَ عَلَى غَنَمِهِ، وَلَكِنَّكُمْ تَسْتَعْجِلُونَ
Kami mengadu kepada Rasulullah n ketika beliau sedang berbantalkan burdahnya di bawah Ka’bah –di mana saat itu kami telah mendapatkan siksaan dari kaum musyrikin–. Kami berkata kepada beliau: “Wahai Rasulullah, mintakanlah pertolongan (dari Allah) untuk kami. Berdoalah (wahai Rasulullah) kepada Allah untuk kami.”
Maka Rasulullah3 n berkata: “Dulu seseorang dari kalangan umat sebelum kalian, ada yang digalikan lubang untuknya kemudian ia dimasukkan ke lubang tersebut. Ada juga yang didatangkan padanya gergaji, kemudian gergaji tersebut diletakkan di atas kepalanya lalu ia digergaji sehingga badannya terbelah jadi dua. Namun perlakuan itu tidaklah menyebabkan mereka berpaling dari agamanya. Ada juga yang disisir dengan sisir besi, sehingga berpisahlah tulang dan dagingnya, akan tetapi perlakuan itu pun tidaklah menyebabkan mereka berpaling dari agamanya. Demi Allah, Allah akan menyempurnakan urusan ini (Islam), hingga (akan ada) seorang pengendara yang berjalan menempuh perjalanan dari Shan’a ke Hadramaut, dia tidak takut kecuali hanya kepada Allah atau (dia hanya khawatir terhadap) serigala (yang akan menerkam) kambingnya. Akan tetapi kalian tergesa-gesa.” Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari (no. 3612, 3852, 6941).
Rasulullah n terus berada dalam kondisi ini dalam periode Makkah selama 13 tahun. Ketika beliau berada di Madinah, setelah berjalan selama dua tahun turunlah ayat:
“Telah diizinkan bagi orang-orang yang diperangi karena mereka telah dizalimi. Sesungguhnya Allah untuk menolong mereka adalah sangat mampu.” (Al-Haj: 39)
Maka ini merupakan izin bagi mereka untuk berperang.
Kemudian setelah itu turun lagi ayat:
“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kalian, (tetapi) janganlah kalian melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Al-Baqarah: 190)
Kemudian setelah itu turun ayat:
“Maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang (yang tidak dapat dipegang) janjinya, agar supaya mereka berhenti.” (At-Taubah: 12)
“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada Hari Akhir.” (At-Taubah: 29)
Yakni bisa kita katakan, bahwa perintah langsung untuk berjihad turun setelah 16 atau 17 tahun berlalunya awal risalah. Jika masa dakwah Rasulullah adalah 23 tahun, berarti 17 tahun adalah perintah untuk bersabar. Maka kenapa kita sekarang terburu-buru??!
Kalau ada yang mengatakan: “Ya akhi, mereka (Yahudi) telah mengepung kita! Ya akhi, mereka (Yahudi) telah menzalimi kita di Ghaza!!”
Maka jawabannya: “Bersabarlah. Janganlah kalian terburu-buru dan janganlah kalian malah memperumit masalah. Janganlah kalian mengalihkan permasalahan dari kewajiban bersabar dan menahan diri kepada sikap perlawanan ditumpahkan padanya darah (kaum muslimin).”
Wahai saudara-saudaraku, hingga pada jam berangkatnya saya untuk mengajar, jumlah korban terbunuh telah mencapai 537 orang dan korban luka 2.500 orang. Apa ini?!!
Bagaimana kalian menganggap enteng perkara ini? Mana kesabaran kalian? Mana sikap menahan diri kalian? Sebagaimana jihad itu ibadah, maka sabar pun juga merupakan ibadah.
Bahkan tentang sabar ini Allah l berfirman:
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (Az-Zumar: 10)
Jadi sabar merupakan ibadah. Kita beribadah kepada Allah l dengan amalan kesabaran.
Kenapa kalian mengalihkan umat dari kondisi sabar menghadapi kepungan musuh kepada perlawanan dan penumpahan darah?
Kenapa kalian menjadikan warga yang aman, yang tidak memiliki keahlian berperang, baik terkait dengan urusan-urusan maupun strategi-strategi perang, sebagai sasaran serbuan, sasaran serangan, dan sasaran pukulan tersebut, sementara kalian sendiri malah keluar menuju Beirut dan Lebanon??! Kalian telah menimpakan bencana terhadap umat, sementara kalian sendiri malah keluar (dari Palestina)??!
Oleh karena itu saya katakan: Janganlah seorang pun menggiring kita dengan perasaan atau emosi untuk membalik realita.
Kami mengatakan: Wajib atas kita untuk bersabar dan menahan diri serta tidak terburu-buru. Sabar adalah ibadah. Rasulullah n telah bersabar dengan kesabaran yang panjang atas kezaliman Quraisy dan atas kezaliman orang-orang kafir. Kaum muslimin yang bersama beliau juga bersabar. Apabila dakwah Rasulullah n selama 23 tahun, sementara 17 tahun di antaranya Rasulullah bersabar (terhadap kekejaman/ kebengisan kaum musyrikin), maka kenapa kita melupakan sisi kesabaran?? Dua atau tiga tahun mereka dikepung/diboikot! Kita bersabar dan jangan menimpakan kepada umat musibah, pembunuhan, kesusahan, dan kesulitan tersebut. Janganlah kita terburu beralih pada aksi militer!!
Wahai saudaraku, takutlah kepada Allah l! Apabila Rasulullah n merasa iba kepada umatnya dalam masalah shalat, padahal itu merupakan rukun Islam yang kedua, beliau mengatakan (kepada Mu’adz): “Apakah engkau hendak menjadi tukang fitnah wahai Mu’adz?!!” karena Mu’adz membaca surat terlalu panjang dalam shalat; Maka bagaimana menurutmu terhadap orang-orang yang hanya karena (menuruti) perasaan dan emosinya yang meluap menyeret umat kepada penumpahan darah dan aksi perlawanan di mana mereka tidak memiliki kemampuan, bahkan meski sepersepuluh saja mereka tidak memiliki kemampuan untuk melakukan perlawanan?
Bukankah tepat kalau kita katakan (kepada mereka): Apakah kalian hendak menimpakan musibah kepada umat dengan aksi perlawanan ini, yang sebenarnya mereka sendiri tidak memiliki kemampuan untuk melakukan perlawanan tersebut?!
Tidak ingatkah kita ketika kaum kafir dari kalangan Quraisy dan Yahudi berupaya mencabik-cabik Rasulullah n dalam perang Ahzab, setelah adanya pengepungan (terhadap Rasulullah n dan para sahabatnya) yang berlangsung selama satu bulan, lalu sikap apa yang Rasulullah lakukan? Beliau n mengutus (utusan) kepada kabilah Ghathafan seraya untuk menyampaikan kepada mereka: “Saya akan memberikan kepada kalian separuh dari hasil perkebunan kurma di Madinah agar mereka (kabilah Ghathafan) tidak membantu orang-orang kafir dalam memerangi kami.”
Kemudian beliau mengutus kepada para pimpinan Anshar. Mereka pun datang (kepada beliau). Rasulullah n menyampaikan kepada mereka bahwa beliau telah mengambil kebijakan begini dan begini. Kemudian beliau berkata: “Kalian telah melihat apa yang telah menimpa umat berupa kegentingan dan kesulitan?”
Perhatikan, keletihan dan kesulitan yang menimpa umat bukanlah perkara yang enteng bagi beliau n. Rasulullah n tidak rela memimpin mereka untuk melakukan perlawanan militer dalam keadaan mereka tidak memiliki daya dan kemampuan. Sehingga dengan itu beliau n menerima ide dari sahabat Salman Al-Farisi untuk membuat parit (dalam rangka menghalangi kekuatan/ serangan musuh).
Demikianlah (cara perjuangan Rasulullah l). Padahal beliau adalah seorang Rasul n dan bersama beliau ada para sahabatnya. Apakah kita lebih kuat imannya dibanding Rasulullah n?! Apakah kita lebih kuat agamanya dibanding Rasulullah n??! Apakah kita lebih besar kecintaannya terhadap Allah l dan agama-Nya dibanding Rasulullah n dan para sahabatnya??!
Tentu tidak, wahai saudaraku.
Sekali lagi, Rasulullah n tidak memaksakan (kepada para sahabatnya) untuk melakukan perlawanan (terhadap orang kafir). Bukan perkara yang ringan bagi beliau ketika kesulitan yang menimpa umat sudah sedemikian parah. Sehingga terpaksa beliau mengutus kepada kabilah Ghathafan untuk memberikan kepada mereka separuh dari hasil perkebunan kurma Madinah (agar mereka tidak membantu kaum kafir menyerang Rasulullah n dan para sahabatnya). Namun Allah l kuatkan hati dua pimpinan Anshar. Keduanya berkata: “Wahai Rasulullah, mereka tidak memakan kurma tersebut dari kami pada masa jahiliah, maka apakah mereka akan memakannya dari kami pada masa Islam? Tidak wahai Rasulullah. Kami akan tetap bersabar.”
Mereka (Anshar) tidak mengatakan: “Kami akan tetap berperang.” Namun mereka berkata: “Kami akan bersabar.”
Tatkala mereka benar-benar bersabar, setia mengikuti Rasulullah n dan ridha, datanglah kepada mereka pertolongan dari arah yang tidak mereka sangka. Datanglah pertolongan dari sisi Allah l. Datanglah hujan dan angin, dan seterusnya. Bacalah peristiwa ini dalam kitab-kitab sirah (sejarah), pada (pembahasan) tentang peristiwa perang Ahzab.
Maka, permasalahan yang saya ingatkan adalah: Janganlah ada seorang pun yang menyeret kalian hanya dengan perasaan dan emosinya, sehingga dia akan membalik realita yang sebenarnya kepada kalian.
Aku mendengar sebagian orang mengatakan bahwa “Penyelesaian permasalahan yang terjadi adalah dengan jihad dan seruan untuk berjihad!”
Tentu saja saya tidak mengingkari jihad, jika yang dimaksud adalah jihad yang syar’i. Sementara jihad yang syar’i memilliki syarat-syarat. Syarat-syarat tersebut belum terpenuhi pada kita sekarang ini. Kita belum memenuhi syarat-syarat terlaksananya jihad syar’i pada hari ini. Sekarang kita tidak memiliki kemampuan untuk melakukan perlawanan. Allah l tidak membebani seseorang kecuali sebatas kemampuannya.
Apabila Sayyiduna ‘Isa q pada akhir zaman nanti akan berhukum dengan syariat Muhammad n, ‘Isa adalah seorang nabi dan bersamanya ada kaum mukminin, namun Allah  l mewahyukan kepadanya: ‘Naiklah bersama hamba-hamba-Ku ke Gunung Ath-Thur karena sesungguhnya Aku akan mengeluarkan suatu kaum yang kalian tidak mampu melawannya.’ Siapakah kaum tersebut? Mereka adalah Ya’juj dan Ma’juj.
Perampasan yang dilakukan oleh Ya’juj dan Ma’juj –mereka termasuk keturunan Adam (yakni manusia)– terhadap kawasan Syam dan sekitarnya adalah seperti perampasan yang dilakukan oleh orang-orang kafir dan ahlul batil terhadap salah satu kawasan dari kawasan-kawasan (negeri-negeri) Islam. Maka jihad melawan mereka adalah termasuk jihad difa’ (defensif, membela diri). Meskipun demikian, ternyata Allah l mewahyukan kepada ‘Isa q –beliau ketika itu berhukum dengan syariat Nabi Muhammad n–: “Naiklah bersama hamba-hamba-Ku ke Gunung Ath-Thur. Karena sesungguhnya Aku akan mengeluarkan suatu kaum yang kalian tidak akan mampu melawannya.”
Allah l tidak mengatakan kepada mereka: “Berangkatlah melakukan perlawanan terhadap mereka.” Allah l juga tidak mengatakan kepada mereka: “Bagaimana kalian membiarkan mereka menguasai negeri dan umat?” Tidak. Tapi Allah l mengatakan: “Naiklah bersama hamba-hamba-Ku ke Gunung Ath-Thur. Karena sesungguhnya Aku akan mengeluarkan suatu kaum yang kalian tidak akan mampu melawannya.” Inilah hukum Allah l.
Jadi, meskipun jihad difa’, tetap kita harus melihat kemampuan. Kalau seandainya masalahnya adalah harus melawan dalam situasi dan kondisi apapun, maka apa gunanya Islam mensyariatkan bolehnya perdamaian dan gencatan senjata antara kita dengan orang-orang kafir? Padahal Allah l telah berfirman:
“Jika mereka (orang-orang kafir) condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya (terimalah ajakan perdamaian tersebut).” (Al-Anfal: 61)
Apa makna itu semua?
Oleh karena itu, Samahatusy Syaikh Ibnu Baz t memfatwakan bolehnya berdamai dengan Yahudi, meskipun mereka telah merampas sebagian tanah Palestina, dalam rangka menjaga darah kaum muslimin, menjaga jiwa mereka, dengan tetap diiringi upaya mempersiapkan diri sebagai kewajiban menyiapkan kekuatan untuk berjihad. Persiapan kekuatan untuk berjihad dimulai pertama kali dengan persiapan maknawi imani (yakni mempersiapkan kekuatan iman), baru kemudian persiapan materi/fisik.
Maka kami tegaskan bahwa:
Kewajiban kita terhadap tragedi besar yang menimpa kaum muslimin (di Palestina) dan negeri-negeri lainnya:
q Bahwa kita membantu mereka dengan doa untuk mereka, dengan cara yang telah saya jelaskan di atas.
q Kita menjadikan masalah darah kaum muslimin sebagai perkara besar, kita tidak boleh mengentengkan perkara ini. Kita menyadari bahwa ini merupakan perkara besar yang tidak diridhai oleh Allah l dan Rasul-Nya n serta kaum muslimin.
q Kita bersikap waspada agar jangan sampai ada seorang pun yang menyeret kita hanya dengan perasaan dan emosi kepada perkara-perkara yang bertentangan dengan syariat Allah l.
q Kita mendekatkan diri dan beribadah kepada Allah l dengan cara mengingatkan diri kita dan saudara-saudara kita tentang masalah sabar. Allah l telah berfirman:
“Bersabarlah sebagaimana kesabaran para ulul ‘azmi dari kalangan para rasul.” (Al-Ahqaf: 35)
Karena sesungguhnya sikap sabar merupakan sebuah siasat yang bijaksana dan terpuji dalam situasi dan kondisi seperti sekarang. Sabar merupakan obat. Dengan kesabaran dan ketenangan serta tidak terburu-buru, insya Allah problem akan terselesaikan. Kita memohon kepada Allah l pertolongan dan taufiq. Adapun menyeret umat pada perkara-perkara yang berbahaya, maka ini bertentangan dengan syariat Allah l dan bertentangan dengan agama Allah l.
Kelima:
Memberikan bantuan materi yang disalurkan melalui lembaga-lembaga resmi, yaitu melalui jalur pemerintah. Selama pemerintah membuka pintu (penyaluran) bantuan materi dan sumbangan, maka pemerintah lebih berhak didengar dan ditaati. Setiap orang yang mampu untuk menyumbang maka hendaknya dia menyumbang. Barangsiapa yang lapang jiwanya untuk membantu maka hendaknya dia membantu. Namun janganlah menyalurkan harta dan bantuan tersebut kecuali melalui jalur resmi sehingga lebih terjamin, insya Allah, akan tepat sasaran. Jangan tertipu dengan nama besar apapun, jika itu bukan jalur resmi yang bisa dipertanggungjawabkan. Janganlah memberikan bantuan dan sumbanganmu kecuali pada jalur resmi.
Inilah secara ringkas kewajiban kita terhadap tragedi yang menimpa saudara-saudara di Ghaza.
Saya memohon kepada Allah l agar menolong dan mengokohkan mereka serta memenangkan mereka atas musuh-musuh kita dan musuh-musuh mereka (saudara-saudara kita yang di Palestina), serta menghilangkan dari mereka (malapetaka tersebut).
Kita memohon agar Dia menunjukkan keajaiban-keajaiban Qudrah-Nya atas para penjajah, para penindas, dan para perampas yang zalim dan penganiaya (Yahudi) tersebut.
وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ
(Diambil dari http://www.assalafy.org disertai dengan perubahan redaksional)

1 Sengaja kami tidak menyebutnya dengan Israel. Karena sebutan Israel/Israil tidak pada tempatnya dilekatkan pada bangsa Yahudi yang menjajah Palestina sekarang. Diterangkan oleh Al-Imam Asy-Syaukani t: “Para ahli tafsir sepakat bahwa Israil adalah Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim r, dan artinya adalah hamba Allah l. Karena Isra dalam bahasa mereka artinya hamba, sedangkan Il adalah Allah l.”
Dari penjelasan ini, kita harus berhati-hati. Meskipun kita membenci orang Yahudi dan kebencian ini memang satu hal yang diperintahkan agama, tetapi jangan sampai salah ucap. Sehingga kita mencela Yahudi dengan mengatakan “Israel biadab…”, “Israel la’natullah”, dst, karena Israel atau Israil yang lebih tepat adalah Nabi Ya’qub q. Na’udzu billah (Kita berlindung kepada Allah l) bila kita sampai terjatuh dalam perbuatan mencela seorang nabi. Ini adalah suatu kekafiran. Sehingga, bila kita mau mengungkapkan kekesalan terhadap mereka, langsung saja kita sebut ‘Yahudi’. Ini lebih menyelamatkan kita, Insya Allah. (Silakan lihat kembali rubrik Tafsir edisi 42/Vol. IV/1429 H/2008) -red
Tentang keculasan dan sepak terjang Yahudi, pembaca juga dapat melihatnya kembali di edisi 32/Vol. III/1428 H/2007. -red
2 Semula Asy-Syaikh Al-Albani mendha’ifkan hadits ini, sehingga beliau pun meletakkannya dalam Dha’if Sunan Ibni Majah dan Dha’if Al-Jami’. Namun kemudian beliau rujuk dari pendapat tersebut. Beliau menshahihkan hadits tersebut dan memasukkannya dalam Ash-Shahihah no. 3420. Beliau t mengatakan: “Demikianlah. Dahulu aku mendhaifkan hadits Ibnu Majah ini dalam beberapa takhrij dan ta’liq-ku sebelum dicetaknya Syu’abul Iman. Ketika aku memeriksa sanadnya dan menjadi jelas kehasanannya, aku segera membuat takhrijnya di sini untuk melepaskan diri dari tanggungan, juga sebagai bentuk nasihat kepada umat, sembari berdoa:
“Wahai Rabb kami, janganlah Engkau menghukum kami bila kami lupa atau salah.” (Al-Baqarah: 286)
Berdasarkan hal ini, hadits tersebut dipindahkan dari Dha’if Al-Jami’ Ash-Shaghir dan Dha’if Sunan Ibni Majah kepada Shahih keduanya.
3 Dalam riwayat Al-Bukhari lainnya dengan lafadz disebutkan bahwa: Maka beliau langsung duduk dengan wajah memerah seraya bersabda: … dst.

Sikap dan Kewajiban Umat Terhadap Muslim Palestina

Al-Lajnah Ad-Da’imah Lil Buhuts Ilmiyah wal Ifta’ Saudi Arabia

 

Segala puji hanyalah milik Allah l Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi dan Rasul yang paling mulia, nabi kita Muhammad (n), kepada keluarga beliau dan para sahabatnya, serta umatnya yang setia mengikutinya sampai akhir zaman. Wa ba’du:

Sesungguhnya Al-Lajnah Ad-Da’imah Lil Buhuts Al-‘Ilmiyah wal Ifta’ (Dewan Tetap Untuk Penelitian Ilmiah dan Fatwa) di Kerajaan Saudi Arabia mengikuti (perkembangan yang terjadi) dengan penuh kegalauan, kesedihan, dan kepedihan, akan musibah yang telah dan sedang terjadi yang menimpa saudara-saudara kita muslimin Palestina. Lebih khusus lagi di Jalur Gaza, yakni berupa kejahatan, terbunuhnya anak-anak, kaum wanita, orang-orang yang telah renta, pelanggaran-pelanggaran terhadap kehormatan, rumah-rumah serta bangunan-bangunan yang dihancurkan, serta pengusiran penduduk. Tidak diragukan lagi ini merupakan kejahatan dan kezaliman terhadap penduduk Palestina.

Dalam menghadapi peristiwa yang menyakitkan ini, umat Islam wajib untuk berdiri satu barisan bersama saudara-saudara mereka di Palestina serta bahu-membahu dengan mereka. Ikut membela dan membantu mereka serta bersungguh-sungguh dalam menepis kezaliman yang menimpa mereka dengan segala hal dan sarana apapun yang mungkin dilakukan sebagai wujud dari persaudaraan seagama dan seikatan iman.

Allah l berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu bersaudara.” (Al-Hujurat: 10)

Allah l juga berfirman:

“Orang-orang mukmin laki-laki dan orang-orang mukmin perempuan sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian yang lain.” (At-Taubah: 71)

Nabi n bersabda:

الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا، وََشَبَّكَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ

“Seorang mukmin bagi mukmin yang lain adalah seperti sebuah bangunan yang saling menopang, lalu beliau menautkan antar jari-jemari (kedua tangannya).” (Muttafaqun ‘alaihi)

Beliau (n) juga bersabda:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ الْوَاحِدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بْالْحُمَى وَالسَّهَرِ

“Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal kecintaan, kasih sayang, dan kelemahlembutan di antara mereka adalah bagaikan satu tubuh. Apabila ada satu anggotanya yang sakit maka seluruh tubuh juga merasakan panas/ demam dan tidak bisa tidur.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Rasulullah (n) juga bersabda:

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ وَلاَ يَحْقِرُهُ

“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya. Dia tidak menzalimi saudaranya, tidak membiarkannya (tidak ditolong), tidak mencelakakannya, dan tidak meremehkannya.” (HR. Muslim)

Pembelaan sendiri bentuknya umum meliputi banyak aspek sesuai kemampuan sambil tetap memerhatikan keadaan, baik dalam bentuk materil ataupun moril. Bisa dari kaum muslimin berupa dana, bahan makanan, obat-obatan, pakaian, dan lain sebagainya. Atau dari pihak negara-negara Arab dan Islam dengan mempermudah sampainya bantuan-bantuan tersebut kepada mereka, serta bersikap sungguh-sungguh dalam urusan mereka, membela kepentingan-kepentingan mereka di forum-forum pertemuan, acara-acara, dan konferensi (musyawarah) antar negara (multilateral) maupun nasional. Semua itu termasuk dalam bekerjasama di atas kebajikan dan ketakwaan yang diperintahkan di dalam firman-Nya:

“Dan bekerjasamalah kalian di atas kebajikan dan ketakwaan.” (Al-Ma’idah: 2)

Kemudian termasuk dalam hal ini juga, menyampaikan nasihat kepada mereka serta menunjuki mereka kepada setiap kebaikan. Di antaranya yang paling besar, mendoakan mereka pada setiap waktu agar cobaan ini diangkat dari mereka dan agar bencana ini disingkap dari mereka, serta mendoakan mereka agar Allah l memulihkan keadaan mereka serta membimbing amalan dan ucapan mereka.

Sesungguhnya kami mewasiatkan kepada saudara-saudara kami kaum muslimin di Palestina untuk bertakwa kepada Allah l dan bertaubat kepada-Nya. Sebagaimana kami mewasiatkan mereka agar bersatu di atas kebenaran serta meninggalkan perpecahan dan pertikaian. Juga menutup celah bagi pihak musuh yang memanfaatkan kesempatan dan akan terus memanfaatkan (kondisi ini) dengan melakukan tindak kesewenang-wenangan dan pelecehan.

Kami menganjurkan kepada seluruh saudara kami untuk menjalani hal-hal yang menjadi sebab terangkatnya kesewenang-wenangan terhadap negeri mereka, sambil tetap menjaga keikhlasan dalam berbuat karena Allah l dan mencari keridhaan-Nya. Juga meminta tolong dengan kesabaran dan shalat serta musyawarah dengan para ulama, orang-orang yang cerdas dan bijak di setiap urusan mereka. Karena semua itu berguna untuk mendapatkan taufiq dan tepatnya langkah.

Sebagaimana kami juga mengajak kepada orang-orang yang cerdas di setiap negeri dan masyarakat dunia seluruhnya, agar melihat bencana ini dengan kacamata orang yang berakal dan sikap yang adil, untuk memberikan kepada masyarakat Palestina hak-hak mereka serta mengangkat kezaliman dari mereka. Agar mereka hidup dengan kehidupan yang mulia. Sekaligus kami juga berterima kasih kepada setiap pihak yang berlomba-lomba dalam membela dan membantu mereka baik negara maupun individu.

Kami mohon kepada Allah l dengan nama-nama-Nya yang baik dan sifat-sifat-Nya yang tinggi untuk menyingkap kesedihan dari umat ini serta memuliakan agama-Nya, meninggikan kalimat-Nya, memenangkan para wali-Nya dan menghinakan musuh-musuh-Nya. Lantas menjadikan tipu daya mereka bumerang bagi mereka dan menjaga umat Islam dari kejahatan-kejahatan mereka. Sesungguhnya Dialah Penolong kita dalam hal ini dan Dzat Yang Maha Berkuasa.

Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad (n), kepada keluarga, sahabat, serta umatnya yang mengikuti beliau dengan baik sampai hari kiamat.

 

(Dikutip dengan beberapa penyesuaian dari terjemahan fatwa Al-Lajnah Ad-Da’imah Lil Buhuts Ilmiyah wal Ifta’ Saudi Arabia, judul asli “Fatwa Ulama Seputar Bencana di Palestina” di http://ahlussunnah-jakarta.com/artikel_detil.php?id=282. Sumber fatwa dari alamat url http://www.sahab.net/home/index.php?threads_id=152, disertai dengan perubahan redaksional)

Hukum Rokok

Saya mau bertanya tentang kaidah para ulama yang berkaitan dengan pengharaman rokok, baik secara naqli (nash Al-Qur’an dan As-Sunnah) atau aqli (akal)?

(Abu Ibrahim/email)

Dijawab oleh Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad As-Sarbini:

 

Alhamdulillah, washallallahu ‘ala sayyidina Muhammad wa’ala alihi washahbihi wasallam.
Terjadi khilaf (perbedaan pendapat) di antara ulama dalam masalah ini. Yang rajih (kuat) insya Allah seperti yang disebutkan dalam pertanyaan bahwa hukumnya haram. Di antara ulama yang menegaskan haramnya adalah Al-Imam Al-’Allamah Al-Faqih Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz t bersama para ulama yang tergabung bersamanya dalam Al-Lajnah Ad-Daimah dan Al-Imam Al-’Allamah Al-Faqih Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin t.
Asy-Syaikh Bin Baz t mengatakan dalam Majmu’ Fatawa (6/362): “Rokok hukumnya haram. Karena rokok adalah sesuatu yang jelek serta mengandung banyak mudarat (kerusakan dan kerugian). Allah l hanyalah menghalalkan bagi hamba-hambanya apa-apa yang baik dari makanan, minuman serta yang lainnya, dan mengharamkan atas mereka apa-apa yang jelek. Allah l berfirman:
Mereka bertanya kepadamu (wahai Muhammad): “Apa yang dihalalkan buat mereka?” Katakan: “Telah dihalalkan bagi kalian yang baik-baik.” (Al-Maidah: 4)
Allah l berfirman menjelaskan sifat Nabi-Nya Muhammad n dalam surat Al-A’raf (157):
“Dia mengajak mereka kepada yang ma’ruf dan melarang mereka dari yang mungkar serta menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan atas mereka segala yang jelek.”
Rokok dengan segala macam jenisnya yang ada tidak termasuk dari yang baik-baik, bahkan termasuk dari yang jelek-jelek. Demikian pula segala macam minuman yang memabukkan termasuk dari yang jelek-jelek. (Dengan demikian) haram hukumnya mengisap rokok, menjual dan memperdagangkannya. Karena rokok mengandung berbagai macam mudarat serta dampak yang buruk.”
Beliau juga berkata pada (6/23-24): “Sudut pandang –yang dijadikan dalil/argumen oleh para ulama yang mengharamkannya– adalah karena rokok memudaratkan, terkadang menghilangkan kesadaran dan terkadang memabukkan. Dalil yang menunjukkan haramnya adalah keumuman dalil yang mengharamkan segala sesuatu yang memudaratkan.
Artinya haram atas diri seseorang melakukan apa saja yang memudaratkan pada agama atau dunianya, baik itu berupa racun, rokok, atau selainnya dari apa-apa yang memberi mudarat. Dalilnya adalah firman Allah l:
“Dan janganlah kalian menjerumuskan diri-diri kalian dalam kebinasaan.” (Al-Baqarah: 195)1
Demikian pula sabda Rasulullah n:
“Tidak ada mudarat (yang dibenarkan), secara sengaja maupun tidak sengaja.”2
Oleh karena itu ahli tahqiq (peneliti) dari kalangan ulama mengharamkan mengisap rokok dengan melihat banyaknya mudarat besar yang ditimbulkannya. Mudarat-mudarat itu diketahui oleh pakar medis (dokter) dan setiap orang yang berinteraksi dengan mereka. Terkadang menyebabkan kematian mendadak, penyakit menahun/kronis, batuk keras, atau penyakit lainnya. Hal ini seluruhya telah kami ketahui dan kami telah mendapat cukup informasi dari sekian pecandu rokok yang tidak terhitung jumlahnya baik yang mengisapnya secara langsung, menggunakan pipa, atau dengan cara-cara yang lain yang biasa dilakukan dalam mengisap rokok, bahwa seluruhnya memudaratkan. Maka wajib atas para dokter (ahli kesehatan) untuk menasihati pecandu rokok agar berhenti mengisap rokok  dan wajib atas diri seorang dokter dan pengajar/pendidik untuk menjauhkan diri dari rokok, karena kedua golongan ini merupakan panutan yang dicontoh masyarakat.”
Berfatwa Al-Lajnah Ad-Daimah dalam Fatawa Al-Lajnah (22/179): “Mengisap rokok haram hukumnya. Karena termasuk dari yang jelek-jelek, sementara Allah l dan Rasul-Nya telah mengharamkan segala yang jelek-jelek. Allah l berfirman tentang sifat Nabi-Nya n:
“Dia mengajak mereka kepada yang ma’ruf dan melarang mereka dari yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan atas mereka segala yang jelek.” (Al-A’raf: 157)
Demikian pula dikarenakan rokok mengandung mudarat yang merusak kesehatan dan merugikan secara materi, sedangkan syariat Islam datang untuk menjaga keselamatan jiwa raga dan harta benda. Tetap saja para ulama masa lalu dan masa sekarang mengategorikan menjaga keselamatan jiwa raga dan harta benda termasuk dari lima perkara yang harus dijaga keselamatannya secara darurat3 untuk menjaga tetap terwujudnya umat ini dan tetap tegaknya urusan umat ini dalam bentuk yang semestinya. Telah tsabit (tetap) larangan dalam syariat ini dari membuang-buang harta secara sia-sia sementara tidak diragukan lagi bahwa menghamburkan uang untuk membeli rokok termasuk dalam kategori membelanjakan harta untuk sesuatu yang tidak bermanfaat, bahkan membelanjakannya dalam perkara yang memudaratkan diri dan lingkungannya, sehingga jelaslah bahwa hal itu termasuk menyia-nyiakan harta.4”
Al-’Utsaimin t menegaskan haramnya rokok karena mudaratnya dalam Asy-Syarhul Mumti’ pada Kitab Al-Ath’imah (6/306)/Terbitan Darul Atsar, Al-Qahirah.

1 Demikian pula firman Allah l:“Dan janganlah kalian membunuh diri kalian sendiri. Sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepada kalian.” (An-Nisa: 29) -pen.

2 Hadits ini datang dari banyak jalan dari banyak sahabat seperti Abu Hurairah, Jabir, Abu Sa’id Al-Khudri, dan yang lainnya g. Seluruh jalan tersebut memiliki kelemahan, namun kebanyakan dari jalan-jalan itu kelemahannya ringan sehingga saling menguatkan satu dengan yang lainnya untuk naik ke derajat hadits yang shahih atau hasan. Sebagaimana kata Al-’Alai dan Al-Albani. Lihat: Irwa’ Al-Ghalil (3/408-414) no (896) -pen.
3 Lima perkara itu adalah menjaga agama, menjaga jiwa raga, menjaga harta, menjaga kehormatan, dan menjaga akal –pen.
4 Rasulullah n bersabda:
إِنَّ اللهَ كَرِهَ لَكُمْ ثَلاَثاً: قِيْلَ وَقاَلَ وَإِضَاعَةَ الماَلِ وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ
“Sesungguhnya Allah membenci tiga perkara atas kalian: pembicaraan sia-sia, menyia-nyiakan harta, banyak meminta” (Muttafaq ‘alaih dari Al-Mughirah bin Syu’bah z)
Hadits ini memiliki syahid (penguat) dari hadits Abu Hurairah z dikeluarkan oleh Muslim. -pen.

Cinta adalah Pengorbanan, Tanda Cinta Ibrahim sang Khalil

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits)

 

Bertahun-tahun sudah, suara tangis bayi belum juga memenuhi rumah tangga Khalil Allah, Ibrahim q. Sarah, istri beliau juga sudah semakin renta. Menurut kita, keadaan seperti ini mustahil akan beroleh anak. Tapi apakah demikian keyakinan seorang yang menyandang kedudukan tertinggi dalam berhubungan dengan Sang Khaliq Yang Maha Kuasa?

Tentu tidak.

Seorang yang bertauhid, senantiasa bersegera dalam kebaikan, selalu waspada, tidak berputus asa dan tetap membersihkan hatinya dari berbagai kotoran, terlebih lagi Nabiyullah Khalilur Rahman Ibrahim q yang selalu berdoa, meminta kepada Allah l agar diberi karunia seorang anak.

Allah l berfirman tentang Ibrahim:

“Wahai Rabbku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih. Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: ‘Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!’ Ia menjawab: ‘Wahai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’ Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: ‘Wahai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu’, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian.” (Ash-Shaffat: 100-108)

Dalam ayat yang mulia ini, Allah l menceritakan tentang Khalil-Nya Ibrahim q setelah meninggalkan kaumnya. Ibrahim meminta kepada Rabbnya agar diberi anugerah berupa seorang anak yang shalih. Kemudian Allah l memberi kabar gembira kepadanya dengan kelahiran seorang anak yang penyabar, yaitu Isma’il q.

Inilah putra pertama beliau, yang lahir di saat Nabi Ibrahim q berusia 86 tahun, sebagaimana disepakati oleh seluruh agama. Usia yang cukup renta dan mustahil menurut kita masih akan beroleh anak.

Tapi, siapa yang ragu dengan kekuasaan Allah l, kalau bukan orang-orang yang tidak beriman? Atau sangat tipis imannya?

Kemudian, perhatikan pula doa yang dipanjatkan Ibrahim, bukan semata-mata naluri kerinduan seorang ayah, tapi lebih dari itu. Harapan utama, agar anak itu adalah anak yang shalih, berguna bagi sesama.

Seorang anak, jika dia tidak bermanfaat, tentu akan merugikan orang lain, bahkan dapat menjadi azab bagi siapa saja terlebih kedua orangtuanya. Nas’alullaha as-salamah.

Allah l berfirman:

“Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir.” (At-Taubah: 55)

Oleh karena itu pula, ketika seorang mukmin berdoa, mengharapkan kehadiran anak, tetapi belum terkabul, janganlah terburu-buru dan ingin disegerakan terwujud harapannya. Lihatlah bagaimana Nabi dan Khalil Allah, Ibrahim q. Selama berpuluh tahun, beliau tetap meminta dan berdoa kepada Allah l agar diberi anugerah berupa seorang anak yang shalih.

Simaklah apa yang difirmankan Allah l:

“Dan kabarkanlah kepada mereka tentang tamu-tamu Ibrahim. Ketika mereka masuk ke tempatnya, lalu mereka mengucapkan: ‘Salam.’ Berkata Ibrahim: ‘Sesungguhnya kami merasa takut kepadamu.’ Mereka berkata: ‘Janganlah kamu merasa takut, sesungguhnya kami memberi kabar gembira kepadamu dengan (kelahiran seorang) anak laki-laki (yang akan menjadi) orang yang alim.’ Berkata Ibrahim: ‘Apakah kamu memberi kabar gembira kepadaku padahal usiaku telah lanjut, maka dengan cara bagaimanakah (terlaksananya) berita gembira yang kamu kabarkan ini?’ Mereka menjawab: ‘Kami menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan benar, maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang berputus asa.’ Ibrahim berkata: ‘Tidak ada yang berputus asa dari rahmat Rabbnya, kecuali orang-orang yang sesat’.” (Al-Hijr: 51-56)

Orang-orang sesat, yaitu orang-orang yang mendustakan dan jauh dari kebenaran.

Maksudnya, beliau merasa tidak mungkin beroleh anak karena sudah rentanya, bukan karena putus asa dari rahmat Allah l.

Ingatlah pula bahwa Rasulullah n bersabda:

يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ يَقُولُ: دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي

“Akan dikabulkan untuk kalian (doa kalian) selama tidak terburu-buru, (dengan mengatakan): ‘Aku sudah berdoa tapi tidak dikabulkan untukku’.” (HR. Al-Bukhari, Kitab Ad-Da’awat dan Muslim Kitab Adz-Dzikri wa Ad-Da’awat)

Karena itu janganlah berputus asa. Teladanilah Al-Khalil q. Terlebih lagi pertolongan dan kelapangan itu selalu datang di saat kesulitan dan kesempitan memuncak. Rasulullah n mengingatkan kita dalam sabdanya:

وَاعْلَمْ أَنَّ فِي الصَّبْرِ عَلَى مَا تَكْرَهُ خَيْرًا كَثِيرًا وَأَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

“Dan ketahuilah bahwa dalam kesabaran terhadap apa yang tidak engkau senangi terdapat kebaikan yang sangat banyak. Ketahuilah pula, bahwa pertolongan itu bersama kesabaran, dan jalan keluar, kelapangan ada bersama kesempitan/kesulitan, dan bahwasanya bersama kesulitan itu pasti ada kemudahan.” (HR. Ahmad)

 

Kelahiran Isma’il

Dengan hadirnya Isma’il, serasa lengkap kehidupan rumah tangga Ibrahim Al-Khalil. Hari-hari begitu manis. Setiap ada kesempatan, Ibrahim bermain-main mesra dengan Isma’il hingga suatu ketika terlihat oleh Sarah.1

Allah l Maha Tahu.

Ketika melihat rasa cinta kepada sang putra mulai mengambil tempat dalam relung hati Ibrahim, Sang Kekasih cemburu kepada Khalil-Nya bila ada di dalam hatinya tempat untuk ‘kekasih’ lain selain Dia. Maka Allah l perintahkan Ibrahim menyembelih putranya, tempat curahan cinta dan kasih sayangnya saat itu. Namun maksud sebenarnya bukanlah menyembelih anak itu, bukan pula sebagai siksaan. Perintah itu tidak lain adalah agar membersihkan relung-relung hati Ibrahim hanya untuk-Nya, tidak untuk ditempati yang lain dan agar (cinta itu) semakin murni hanya untuk Allah l.

Di saat seperti itu, Ibrahim q melihat dalam mimpi bahwa dia diperintah untuk menyembelih putranya ini. Perintah melalui mimpi ini pun memiliki suatu hikmah tertentu, yakni agar pelaksanaan perintah itu lebih besar terasa sebagai ujian dan cobaan.

Kita maklumi, ketika itu beliau begitu mengharap kehadiran seorang anak yang akan mewarisinya. Setelah Allah l menyenangkannya dengan mengabulkan doanya, anak itupun lahir, tumbuh pesat, Allah l perintahkan dia menyembelih putranya. Dengan perintah ini, kalau dia jalankan, lenyaplah keturunannya, buyarlah harapannya. Sungguh, ini ujian yang sangat berat dan sangat manusiawi. Seorang manusia, seusia Nabi Ibrahim q, baru dikaruniai Allah l seorang putra setelah bertahun-tahun mendambakannya, kemudian harus menerima kenyataan anak itu lenyap dari pandangannya. Entah meninggal dunia atau hilang dan sebagainya.

Kita ingat, betapa sedihnya Rasulullah n, ketika putra beliau Ibrahim dari Maria Al-Qibthiyah meninggal dunia dalam pelukan beliau. Air mata beliau menitik, hatipun berduka.

Al-Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Anas bin Malik z, dia menceritakan:

دَخَلْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ n عَلَى أَبِي سَيْفٍ الْقَيْنِ وَكَانَ ظِئْرًا ِلإِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلاَم فَأَخَذَ رَسُولُ اللهِ إِبْرَاهِيمَ فَقَبَّلَهُ وَشَمَّهُ ثُمَّ دَخَلْنَا عَلَيْهِ بَعْدَ ذَلِكَ وَإِبْرَاهِيمُ يَجُودُ بِنَفْسِهِ فَجَعَلَتْ عَيْنَا رَسُولِ اللهِ n تَذْرِفَانِ فَقَالَ لَهُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ z: وَأَنْتَ يَا رَسُولَ اللهِ؟ فَقَالَ: يَا ابْنَ عَوْفٍ إِنَّهَا رَحْمَةٌ؛ ثُمَّ أَتْبَعَهَا بِأُخْرَى. فَقَالَ: إِنَّ الْعَيْنَ تَدْمَعُ وَالْقَلْبَ يَحْزَنُ وَلاَ نَقُولُ إِلاَّ مَا يَرْضَى رَبُّنَا وَإِنَّا بِفِرَاقِكَ يَا إِبْرَاهِيمُ لَمَحْزُونُونَ

Kami masuk kepada Abu Saif Al-Qain -suami ibu susu Ibrahim-, lalu Rasulullah n mengambil Ibrahim kemudian menciumnya. Setelah itu kami masuk pula beberapa waktu kemudian, sementara Ibrahim sedang tersengal-sengal nafasnya. Mulailah air mata Rasulullah n menitik. Berkatalah ‘Abdurrahman bin ‘Auf z: “Dan engkau, Wahai Rasulullah (menangis)?” Beliaupun berkata: “Wahai Ibnu Auf, ini adalah rahmat.” Kemudian menyusul yang berikutnya. Lalu Rasulullah n bersabda: “Sesungguhnya mata ini menangis, hati ini berduka, dan kami tidak mengucapkan apa-apa kecuali yang diridhai Rabb kami. Sungguh, kami sangat berduka berpisah denganmu, wahai Ibrahim.”

Tapi mimpi tersebut adalah wahyu. Sang Khalil pun menyambut perintah itu dan siap menjalankannya. Akhirnya tampaklah hikmah Allah l dengan menguji beliau.

Inilah tafsir firman Allah l:

“Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.” (Ash-Shaffat: 106)2

Allah l berfirman:

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: ‘Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!’ Ia menjawab: ‘Wahai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar’.” (Ash-Shaffat: 102)

Demikianlah keimanan seorang ayah yang mulia, yang mengerti betul dia telah bertindak benar dalam mendidik putranya, dan tahu sejauh mana keikhlasan putranya yang berbakti. Maka diapun ingin mengajak putranya bergabung dalam pahala, lalu dia pun bertanya dalam keadaan percaya penuh jawaban sang putra.

Di sini, keduanya menyodorkan kepada kita ujian agung ini dalam beribadah kepada Allah l, tunduk kepada perintah-Nya hingga Allah l mengabadikan nama mereka berdua serta memuji keduanya dengan ayat-ayat yang terus dibaca selama-lamanya.

Tidak ada ujian yang lebih besar daripada ujian yang dipersaksikan oleh Allah l bahwa itu adalah ujian yang nyata. Yaitu membebani seorang manusia dengan perintah menyembelih putranya sendiri dan membebani yang akan disembelih, agar keduanya beriman dan bersabar, tunduk serta mengharap pahala.

Ketika keduanya siap menjalankan perintah tersebut, dan Allah k mengetahui kejujuran iman keduanya, kesabaran serta ketundukan mereka, Allah l ganti sang putra dengan sembelihan agung. Tak sampai di situ, Allah l juga memberi ganjaran kepada sang ayah dengan menganugerahkan kepadanya seorang putra yang lain karena kesabaran dan keridhaannya menyembelih putra satu-satunya, Isma’il q.

Allah l berfirman:

“Dan Kami sampaikan berita gembira kepadanya dengan (akan lahirnya) Ishaq sebagai Nabi di antara orang-orang shalih.”

Allah l lepaskan mereka berdua karena kesabaran dan ketundukan mereka menghadapi cobaan berat itu.

 

Beberapa Faedah dari Kisah Ini

Dalam ayat Ash-Shaffat ini Allah l menjelaskan bahwa yang disembelih adalah Isma’il, sebab kisah ini disusul dengan berita gembira kelahiran Ishaq. Pendapat ini mutawatir dari sahabat dan tabi’in, seperti ‘Ali, Ibnu ‘Umar, Abu Hurairah, Mujahid, Abu Thufail, Sa’id bin Jubair, Asy-Sya’bi, Al-Hasan Al-Bashri, Muhammad bin Ka’b Al-Qurazhi, Sa’id bin Al-Musayyab, Abu Ja’far Muhammad Al-Baqir, Abu Shalih, Abu ‘Amr bin Al-‘Ala’, Rabi’ bin Anas, Ahmad bin Hanbal, dan lain-lain.

Pendapat ini merupakan salah satu riwayat dan yang paling kuatnya dari penafsiran Ibnu ‘Abbas c.

Hadits-hadits dan atsar sahabat serta tabi’in menunjukkan bahwa yang disembelih adalah Isma’il. Sebab itu pula orang-orang yang berkorban di hari Nahar, orang yang sa’i di antara Shafa dan Marwah dan melontar jumrah, (salah satu hikmahnya ialah) sebagai peringatan tentang keadaan Isma’il dan ibunya Hajar.

Memang ada sebagian ahli tafsir, seperti Al-Baghawi dan Ibnu Jarir meriwayatkan dari sebagian sahabat dan tabi’in termasuk Ka’b Al-Ahbar bahwasanya yang disembelih adalah Ishaq. Ternyata tidak berhenti hingga di sini, sebagian dari mereka menisbahkannya kepada Nabi n. Padahal hadits-hadits yang dinisbahkan kepada Rasulullah n tentang hal ini lemah, tanpa kecuali. Baik yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, Ad-Daraquthni, ataupun Ath-Thabarani dalam Al-Ausath, demikian dijelaskan secara terperinci oleh Dr. Muhammad Abu Syahbah dalam kitabnya Israiliyat wal Maudhu’at fi Kutubit Tafsir.

Yang benar, riwayat bahwa yang disembelih adalah Ishaq merupakan kisah Israiliyat dari ahli kitab yang dinukil oleh mereka yang masuk Islam dari kalangan mereka, seperti Ka’b Al-Ahbar, lalu diterima oleh sebagian sahabat dan tabi’in, karena husnuzhan (baik sangka) kepada mereka. Di samping itu, adanya rukhshah (keringanan) bolehnya menyampaikan berita tentang mereka.

Hakikatnya, riwayat-riwayat ini hanyalah buatan ahli kitab karena permusuhan mereka yang telah berakar sejak dahulu kala, terhadap Nabi n dan bangsa Arab. Mereka tidak ingin Isma’il, kakek Nabi n dan bangsa Arab yang paling atas, meraih keutamaan ini. Mereka ingin agar kakek moyang mereka, Ishaq dan bangsa Yahudilah yang meraihnya.

Tidak ada satu hadits shahih pun dari Rasulullah Al-Ma’shum n memperkuat pendapat tersebut, sehingga (karenanya) kita harus meninggalkan zahir Al-Qur’anul Karim. Tidak pula dipahami seperti ini dari Al-Qur’anul Karim. Bahkan mafhum, manthuq, apalagi nash, menegaskan bahwa yang disembelih adalah Isma’il.3

Hal ini sebetulnya tidak perlu diributkan, sudah terbukti bahwa mereka telah mengubah-ubah Taurat.

Allah l juga berkehendak lain. Mereka lengah. Sejatinya, para penjahat itu selalu menyisakan jejak, sehingga kejahatannya dapat ditelusuri lalu dibongkar.

Demikianlah al-haq, kapanpun dan di manapun dia senantiasa akan tetap bersinar meskipun terkadang redup. Bagaimanapun upaya menutup-nutupi sebuah kebenaran, pasti suatu ketika bakal terungkap.

Mereka memang telah mengubah nama Isma’il menjadi Ishaq. Di antara buktinya, inilah sebagian cuplikan dari Taurat mereka:

“Terjadi sesudah ini, untuk beberapa perkara, bahwasanya Allah menguji Ibrahim lalu berfirman kepadanya: ‘Wahai Ibrahim’, beliaupun menjawab: ‘Inilah saya.’

Allah l berfirman: ‘Ambillah anakmu yang tunggal, yang engkau kasihi, yakni Ishaq dan pergilah ke tanah Moria, persembahkanlah dia di sana, sebagai korban bakaran, pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu’.” (Kitab Kejadian: 22,1-2).

Tidak ada bukti paling jelas yang menunjukkan kebohongan mereka selain dari kata ‘tunggal’ ini. Sudah pasti, Ishaq bukanlah putra tunggal beliau. Karena beliau telah mempunyai anak yang lainnya yaitu Isma’il yang berusia 14 atau 15 tahun. Sebagaimana ditegaskan pula oleh Taurat mereka: “Dan Ibrahim telah berusia 86 tahun ketika Hajar melahirkan Isma’il untuk Ibrahim.” (Kejadian: 16,1).4

Dalam kitab yang sama (Kejadian 21,5): “Ibrahim berusia 100 tahun ketika Ishaq dilahirkan.”

Bagaimana mungkin Allah l mengingkari janji-Nya dan memerintahkan Ibrahim menyembelih putranya yang telah dijanjikan kepadanya keberkatan sang putra? Bagaimana mungkin Ishaq sebagai satu-satunya putra bagi Ibrahim? Apakah kalian mencoret Ismail sebagai putra Ibrahim, setelah kalian coret beliau dari kenabian? Yang pasti, kisah penyembelihan ini terjadi sebelum Ishaq dilahirkan, di saat Isma’il masih sebagai putra Ibrahim q satu-satunya.

Kenyataan bahwa yang disembelih adalah Isma’il, ditunjukkan pula oleh zahir ayat, di mana Allah l berfirman setelah menguraikan kisah penyembelihan ini:

“Dan Kami beri dia kabar gembira dengan kelahiran Ishaq, seorang nabi yang termasuk orang-orang yang shalih.” (Ash-Shaffat: 112)

Sehingga, mereka yang menjadikan kata ﮁ  (seorang Nabi) sebagai haal (menerangkan keadaan) berarti dia memaksakan (ayat agar sesuai dengan kemauannya), sandarannya tidak lain adalah riwayat Israiliyat (dari bani Israil), sementara kitab mereka sudah penuh dengan tahrif (perubahan).

Apalagi di sini, menunjukkan sebuah kepastian yang tidak dapat dipungkiri lagi. Karena Allah k menurut mereka –Yahudi sendiri– memerintahkan Ibrahim menyembelih putra tunggalnya. Bahkan dalam sebagian naskah Taurat yang disalin ke dalam bahasa Arab tercantum kata bikr (anak pertama), sebagai ganti wahiid (anak tunggal). Sehingga kata Ishaq, adalah sisipan palsu, karena beliau bukanlah anak pertama, dan bukan pula anak tunggal Ibrahim q.5

Keterangan lain bahwa yang disembelih adalah Ism’ail, bukan Ishaq, karena seandainya Ishaq yang disembelih, tentunya tidak tepat Ibrahim diperintah menyembelih Ishaq sebelum lahirnya Ya’qub dari sulbi (keturunan) beliau. Sebab, jika hal itu diperintahkan jelaslah diketahui bahwa berita gembira yang pertama menghalangi penyembelihan Ishaq sebelum lahirnya Ya’qub.

Adapun maksud ujian ini adalah menampakkan tekadnya dan mengokohkan ketinggian derajat Ibrahim dalam ketaatan kepada Rabbnya. Sebab, seorang anak begitu besar pengaruhnya dalam diri seorang ayah. Apalagi anak satu-satunya, yang merupakan harapan sang ayah di masa depan, bertambah tinggi kedudukannya dalam jiwa sang ayah.

Huruf fa’ pada ayat:

“Maka pikirkanlah apa pendapatmu!”

Adalah fa’ al-fashihah, artinya, jika engkau mengetahui hal ini, maka perhatikanlah bagaimana pandanganmu. Adapun pandangan di sini adalah pandangan dengan akal (pendapat), bukan dengan penglihatan (mata).

Maknanya di sini, perhatikanlah sesuatu yang dengannya engkau hadapi perintah ini. Sebab perintah ini, ketika berkaitan dengan pribadi sang anak, maka dia punya bagian dalam pelaksanaan. Sehingga tawaran Ibrahim kepada putranya ini adalah ujian, seberapa jauh ketaatannya menyambut perintah Allah l pada dirinya, sehingga terwujudlah keridhaan dan kesiapan untuk menjalankan perintah. Ibrahim sendiri juga dalam keadaan tidak mengharapkan dari putranya selain menerima. Karena beliau tahu keshalihan putranya.

Artinya di sini, perintah tersebut tergantung kepada dua hal: wahyu dan penyampaian Rasul. Sehingga andaikata Isma’il mendurhakai, tentulah keadaannya seperti putra Nuh yang enggan naik ke dalam kapal ketika diajak oleh ayahandanya Nuh q. Jadi, dianggap kafir.

Mimpi sendiri adalah awal permulaan wahyu. Kebenarannya sesuai dengan kebenaran/kejujuran si pemimpi. Orang yang paling benar mimpinya adalah yang paling benar ucapannya. Sejalan dengan semakin dekatnya waktu, hampir-hampir mimpi itu tidak pernah meleset. Sebagaimana sabda Nabi n. Hal itu karena jauhnya masa dari kenabian dan bekas-bekasnya. Sehingga untuk orang-orang beriman diganti dengan mimpi. Seperti ini juga adalah apa yang muncul sesudah masa sahabat. Sedangkan tidak muncul pada sahabat karena mereka tidak membutuhkan hal itu, disebabkan kekuatan iman mereka.

Mimpi para Nabi adalah wahyu, karena terjaga dari setan. Hal ini berdasarkan kesepakatan umat. Sebab itulah Al-Khalil (Ibrahim q) menyembelih putranya Isma’il q, berdasarkan mimpi.

Siapa yang ingin mimpinya benar, hendaklah dia senantiasa berusaha jujur dan bersikap benar, memakan yang halal, dan memerhatikan perintah dan larangan, tidur dengan kesucian sempurna, sambil menghadap kiblat, dan menyebut nama Allah l sampai dikalahkan oleh kantuknya. Kalau sudah demikian, Insya Allah mimpinya tidak akan berdusta.

Dengan ayat dan kisah ini, sebagian ulama ushul fiqih menjadikannya dalil sahnya nasikh (hukum yang menghapus) sebelum terlaksananya perbuatan (yakni hukum yang terhapus). Berbeda dengan sekelompok kaum Mu’tazilah.

Adapun tujuan disyariatkannya mula-mula, adalah meneguhkan Al-Khalil q di atas kesabaran untuk menyembelih anaknya dan tekadnya melakukan hal tersebut. Sebab itulah Allah l berfirman:

“Sesungguhnya ini betul-betul ujian yang nyata.”

Yakni ujian yang jelas gamblang, di mana Allah l memerintahkannya menyembelih putranya, lalu dia bersegera dalam keadaan tunduk menerima perintah Allah l tersebut dan menaatinya. Sebab itu pula Allah l menyatakan:

“Dan Ibrahim yang menepati janji.” (An-Najm: 37)

Tatkala Allah l mengetahui tekad dan keyakinan serta kesungguhan Ibrahim menjalankan perintah melalui mimpinya, Allah Yang Maha Pengasih menebus Isma’il q dengan sembelihan yang agung. Nabi Ibrahim q pun sukses dengan gemilang melewati ujian berat ini. Beliau betul-betul mampu mengejawantahkan derajat khullah, rasa cinta yang tidak lagi menerima saingan sekecil apapun. Maka Allah l pun menginginkan khullah itu murni hanya untuk Allah l, tidak disaingi oleh rasa cinta kasih kepada sang putra ataupun sesuatu yang lainnya.

Maka, jelaslah bahwa di antara sebab paling utama untuk meraih derajat khullah ini adalah senantiasa datang menghadap kepada Allah l, menjaga kesucian hati, niat yang lurus, kekuatan kesabaran dan keyakinan.

Lihatlah betapa Allah l mengabulkan doa Ibrahim q, dengan menganugerahkan seorang putra untuk beliau. Demikianlah doa yang muncul dari jiwa yang penuh dengan keimanan, ketakwaan, dan hati yang bersih dari hawa nafsu, sangat pantas dikabulkan. Wallahu a’lam.


1 Kisah Isma’il dan ibunya Hajar e yang dibawa ke Makkah atas perintah Allah l, akan diceritakan pada edisi yang lain. Insya Allah.

2 At-Tahrir wat Tanwiir (12/141) -Program Syamilah.

3 Al-Bidayah wan Nihayah (1/183) -Program Syamilah

4 Diterjemahkan sebagaimana yang dinukil dalam bahasa Arab. Wallahu a’lam.

5 Al-Bidayah wan Nihayah (1/183) -Program Syamilah

Perjalanan Ruh Menuju Penciptanya

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Abdulmu’thi, Lc)

 

Kehidupan dunia bagai seorang pengendara yang berteduh di bawah pohon yang rindang untuk sesaat melepas penatnya lalu kembali melanjutkan perjalanannya.

Kehidupan dunia hanyalah salah satu dari sekian jenjang yang dilewati oleh manusia untuk menuju jenjang berikutnya yang berujung pada kehidupan yang kekal nan abadi. Keyakinan seperti inilah yang terpatri dalam sanubari mukmin sejati sehingga ia tidak terlena dengan kemegahan dunia yang memesonanya. Jasadnya memang bersama manusia di muka bumi ini, namun ruhnya melintasi angkasa dan menembus langit yang tujuh. Ruhnya ingin selalu dekat dengan Rabbnya karena di sanalah ia mendapatkan kedamaian dan sejuknya kehidupan. Allah l berfirman:

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah lah hati menjadi tenteram.” (Ar-Ra’d: 28)

Tubuhnya dijadikan kendaraan untuk menyampaikan ruhnya kepada sang kekasih (Allah l) yang selalu dirindukan. Matanya sayu karena banyak shalat malam dan membaca Al-Qur’an. Tubuhnya pun tampak lemas karena banyak berpuasa di siang hari. Tetapi kerinduan yang membara dalam hatinya membuatnya mampu menundukkan medan yang sangat sulit dan mendekatkan jauhnya jarak perjalanan.

Sebagian salaf berkata: “Orang yang menghidupkan malam harinya dengan ibadah lebih merasakan kelezatan daripada orang yang berhura-hura. Kalau tidak ada malam, niscaya aku tidak ingin hidup di dunia.” (At-Tazkiyah baina Ahlis Sunnah wash-Shufiyah, Ahmad Farid hal. 13)

Inilah Rasul n kita bersabda:

وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلاَةِ

“Dan dijadikan penyejuk mataku pada shalat.” (HR. Ahmad dll, lihat Shahihul Jami’ no. 3124)

Saking nikmatnya mereka di saat bermunajat kepada Rabbnya, terkadang tak terasa air mata telah berderai membasahi pipi. Seolah tubuhnya berada pada taman yang indah dan kakinya menginjakkan pada istana yang megah. Inilah sesungguhnya surga dunia, yaitu tenteramnya jiwa di saat seseorang ingat akan Rabbnya dan berdiri melakukan berbagai ketaatan di hadapan-Nya. Syaikhul Islam t menerangkan: “Sesungguhnya di dunia ini ada surga, barangsiapa tidak memasukinya maka ia tidak akan memasuki surga akhirat.”

Ibnul Qayyim t, murid Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t, menceritakan bagaimana tegarnya sang guru di saat para musuhnya memenjarakannya. Para musuhnya, meski mampu mengekang ruang gerak tubuhnya, namun mereka tidak bisa memenjarakan hatinya yang selalu dekat dengan Allah l. Penjara bukan sesuatu yang menakutkan manakala hati seseorang selalu berhubungan dengan Pencipta-Nya.

Ibnu Taimiyah t menyatakan dengan tegas bahwa orang yang terpenjara sesungguhnya adalah yang hatinya terhalangi dari mengenal Allah l, sedangkan orang yang tertawan adalah yang disandera oleh hawa nafsunya. (Lihat Al-Wabil Ash-Shayyib, bersama Majmu’atul Hadits An-Najdiah hal. 727)

Kerinduan terhadap perjumpaan dengan Allah l menjadikan mereka rela mengorbankan segala yang mahal dan berharga. Adalah ketika perang Badr, Rasulullah n memberi semangat pasukannya dengan ucapannya: “Berdirilah kalian menuju surga yang luasnya seperti langit dan bumi.” Maka seorang sahabat bernama ‘Umair bin Al-Humam Al-Anshari z mengatakan dengan terheran-heran: “Wahai Rasulullah, surga yang seluas langit dan bumi?” “Benar,” jawab Nabi n. Lalu ‘Umair berucap, “Bakhin-bakhin (kalimat untuk menunjukkan besarnya perkara, pen.).”

Rasulullah n mengatakan, “Apa yang mendorongmu mengatakan bakhin-bakhin?” ‘Umair berkata, “Demi Allah ya Rasulullah, tidak ada yang mendorongku kecuali karena berharap aku termasuk penghuninya.” Nabi n mengatakan, “Sesungguhnya kamu termasuk dari penghuni surga.” Maka Umair mengeluarkan kurma dari kantong anak panahnya lantas memakannya. Kemudian dia mengatakan, “Bila aku hidup hingga aku makan kurmaku ini (sampai habis) sungguh itu suatu kehidupan yang lama.” Umair lalu membuang kurma yang dibawanya kemudian maju bertempur hingga terbunuh. (HR. Muslim)

 

Perampok-perampok Jalanan

Sebuah cita-cita besar niscaya membutuhkan pengorbanan. Seorang mukmin tatkala bertekad melangkahkan kakinya untuk kembali menuju kampung halamannya yang sesungguhnya (surga) yang padanya terdapat berbagai kenikmatan, bukan berarti akan sampai tujuan tanpa ada rintangan. Karang yang menggunung bisa saja tiba-tiba muncul menghadang lajunya perahu. Adapun para penghalang jalan itu di antaranya:

1. Iblis

Dia adalah biang segala kejahatan semenjak ia diusir dari jannah (surga) karena membangkang terhadap perintah Allah l. Dia berjanji di hadapan-Nya hendak menyesatkan bani Adam. Semenjak itu, api permusuhan dikobarkan. Kedengkian dijadikan sebagai motor penggerak untuk menyimpangkan manusia dari jalan yang lurus. Allah l berfirman menjelaskan ucapan iblis:

“Iblis menjawab: ‘Karena Engkau telah menghukum aku tersesat, aku benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian akan aku datangi mereka dari muka, dari belakang, dari kanan, dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat)’.” (Al-A’raf: 16-17)

Perhatikan ayat di atas, bagaimana Iblis menyerang manusia dari berbagai arah. Sebagian ahli tafsir menjelaskan maksud “aku akan mendatangi mereka dari arah muka dan belakang” yakni bahwa Iblis melontarkan keraguan pada hati manusia tentang hari akhirat. Dia bisiki manusia agar mengingkari adanya surga dan neraka serta hari kebangkitan. Adapun maksud mendatangi dari belakang bahwa Iblis menggoda mereka untuk berambisi terhadap dunia (harta, kedudukan, dst.). Iblis datang dari arah kanan maksudnya bahwa ia menjadikan manusia ragu terhadap kebenaran dan dibuatnya mereka berat melakukan kebaikan. Sedangkan ia datang dari sebelah kiri maksudnya bahwa ia menghasung dan mendorong orang untuk berbuat maksiat. (Lihat Ighatsatul Lahafan, 1/102-103)

Setan adalah faktor utama tersendatnya perjalanan menuju Allah l. Oleh karena itu, kita harus waspada terhadap bisikannya karena dia adalah musuh bagi kita, sebagaimana disebutkan dalam surat Al-Baqarah ayat 168. Al-Imam Ibnul Qayyim t dalam kitabnya Ighatsatul Lahafan min Mashayidi Asy-Syaithan telah membeberkan secara gamblang tentang trik-trik setan dalam menggoda manusia.

 

2. Hawa Nafsu

Hawa nafsu cenderung mengajak kepada kejelekan. Oleh karena itu, bila orang tidak mampu menundukkannya maka dia akan menjadi budaknya. Hawa nafsu bagai kabut pada hati seseorang, yang menjadikan gelap jalan kebaikan di depannya daripada jalan kejelekan. Bila kita ingin sampai tujuan, sudah pasti kita harus bersungguh-sungguh untuk mengekangnya. Masing-masing sedang berpacu dengan ajal, sementara orang-orang yang sebelum kita sudah sampai tujuan. Akankah kita masih tertahan oleh nafsu angkara?!

 

3. Orang-orang Kafir dan Zalim

Allah l berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang kafir itu menafkahkan harta mereka untuk menghalang-halangi (orang) dari jalan Allah.” (Al-Anfal: 36)

Betapa banyak dana yang mereka keluarkan untuk memurtadkan kaum muslimin serta menebarkan opini miring seputar Islam dan kaum muslimin. Mereka juga tidak tanggung-tanggung menyediakan dana yang besar untuk membangun sarana maksiat dan tempat-tempat hiburan yang melalaikan. Mereka ingin menjauhkan syariat Islam dari kaum muslimin karena mereka tahu bahwa sumber kejayaan umat ada padanya. Dibuatnya manusia berkelompok-kelompok dan berpartai-partai sehingga loyalitas tidak lagi di atas agama, namun di atas kepentingan golongan.

Demikianlah sebagian perampok jalan yang menjadikan kita tertuntut untuk mempersenjatai diri dengan bekal ilmu dan iman yang cukup.

Bekal dalam Perjalanan

Orang yang berjalan menuju Allah l dan negeri akhirat, bahkan berjalan ke manapun, tidak akan sempurna dan tidak akan sampai tujuan kecuali dengan dua bekal kekuatan, yakni:

1. Kekuatan Ilmiah

Yaitu berupa ilmu syariat yang cukup. Dengannya seseorang bisa melihat jalan dan lajur mana yang akan ditempuh. Juga akan bisa menghindarkan dari tempat yang membinasakan dan tikungan maut. Kekuatan ilmiah ini bagai obor yang sangat terang cahayanya yang berada di tangannya. Dengan kekuatan ilmiah seseorang bisa berjalan di tempat yang dipenuhi dengan gelapnya kebodohan dan kemaksiatan. Ia akan berhati-hati agar tidak terperosok ke dalam jurang penyimpangan serta terhindar dari duri kemaksiatan.

2. Kekuatan Amaliah

Yaitu adanya tekad untuk melakukan perjalanan. Tekad yang kuat akan mendekatkan sesuatu yang jauh dan memudahkan perkara yang rumit. Bila seseorang telah bersungguh-sungguh untuk melangkahkan kakinya atau menaiki kendaraannya sehingga pos demi pos dilewati, maka setengah perjalanan telah dilalui dan perjumpaan dengan kekasih sudah di depan mata. Letihnya perjalanan pun mulai terobati dan kaki ini terasa sudah tidak sabar lagi sehingga langkah pun dipercepat. Dirinya bergumam: “Wahai diri, bersenanglah karena rumahmu sudah dekat dan perjumpaan pun tinggal sesaat. Jangan kau putus di tengah jalan, nantinya akan terhalang dari kekasih. Sungguh kehidupan dunia seluruhnya ibarat anak tangga menuju tempat berikutnya. Oleh karena itu, jangan kau terputus di padang sahara (yakni dunia). Demi Allah, itu adalah tempat yang membinasakan. Wahai diri, jika engkau merasa capek untuk melakukan perjalanan maka ingatlah bahwa di depanmu kekasihmu telah menunggu dengan berbagai jamuan yang menyenangkan. Jangan kau berhenti, karena di belakangmu ada musuh yang selalu siap mencelakakan dan menyiksamu.” (Lihat Thariqul Hijratain, karya Ibnul Qayyim t hal. 174)

Nabi n dahulu pernah berdoa:

وَأَسْأَلُكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ وَالشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكَ

“Dan aku memohon kepadamu (wahai Allah) kelezatan memandang kepada wajah-Mu dan rindu berjumpa dengan-Mu.” (HR. An-Nasa’i dan Al-Hakim. Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih Al-Jami’ no. 1301)

 

Jalan yang Pintas dan Cepat

Tidak mengetahui jalan dan rintangan-rintangannya serta arah yang dituju oleh seseorang dalam melakukan perjalanan, hanya akan menimbulkan keletihan. Di samping itu, faedah yang bisa diambil juga sangat minim. Nabi n bersabda:

وَاسْتَعِينُوا بِالْغُدْوَةِ وَالرَّوْحَةِ وَشَيءٍ مِنَ الدُّلْجَةِ

“Dan pergunakanlah (kesempatan) di waktu pagi dan sore serta sesuatu pada waktu malam.” (HR. Al-Bukhari)

Tiga waktu tersebut adalah cara yang mudah untuk menempuh perjalanan di atas bumi ini. Waktu pagi dan sore adalah saat-saat yang teduh dan orang masih bersemangat. Sedangkan waktu malam bumi itu dilipat. Jika ini adalah perjalanan di bumi, maka demikian pula dengan perjalanan menuju akhirat. Bila seseorang memanfaatkan tiga waktu tadi dengan baik untuk beramal shalih terutama di pertengahan malam atau sepertiga malam terakhir, niscaya dia akan meraup kebaikan yang besar dan mencapai tujuan dengan sukses. Perjalanan dengan cepatnya ditempuh tanpa tertimpa keletihan yang berarti. Apa yang dicita-citakan dari perkara dunia telah didapat dan hasrat dirinya telah terpenuhi. (lihat Bahjatu Qulubil Abrar, As-Sa’di hal. 64)

 

Dikenal Allah l Walau Tidak Dikenal Manusia

Rasulullah n pernah berpesan kepada sahabat Ibnu Umar c (yang artinya): “Jadilah kamu di dunia ini seperti orang yang asing atau penyeberang jalan.” (HR. Al-Bukhari)

Seorang mukmin di dunia ini ibarat orang yang bepergian. Dia singgah di negeri orang karena suatu keperluan. Hatinya selalu diliputi kerinduan kepada negerinya dan orang yang dicintainya. Ia tidak menyaingi orang lain dalam kemewahan dan tidak bersedih atas derita yang dialaminya.

Pada suatu ketika ada seorang lelaki melewati Rasulullah n. Maka beliau bertanya kepada seseorang yang duduk di sisinya, “Apa pendapatmu tentang orang ini?” Sahabat itu menjawab, “Ia seorang lelaki bangsawan. Demi Allah, orang ini jika melamar pasti akan dinikahkan, dan jika memberikan pembelaan niscaya akan diterima.” Rasulullah n waktu itu diam. Kemudian tidak berapa lama lewat seorang laki-laki lain, maka Nabi n bertanya kepada sahabat tadi, “Apa pendapatmu tentang orang ini?” Sahabat itu menjawab, “Wahai Rasulullah, orang ini seorang yang fakir dari kaum muslimin. Orang ini bila melamar niscaya ditolak, jika memberi pembelaan tidak diterima, dan jika berkata tidak didengar ucapannya.” Maka Nabi n bersabda, “Orang ini (yang fakir) lebih baik daripada orang (bangsawan) itu sepenuh bumi.” (Muttafaqun ‘alaihi. Lihat Riyadhush Shalihin no. 258)

Pada tahun 21 H terjadi perang Nahawand antara muslimin dengan Majusi. Komando pasukan muslimin di tangan sahabat An-Nu’man bin Muqarrin z. Peperangan berlangsung dengan sengitnya sampai sang komandan terbunuh. Namun akhirnya kemenangan ada di pihak muslimin. Diutuslah seseorang untuk membawa berita kemenangan sekaligus berita duka atas terbunuhnya sang komandan. Umar menerima berita tersebut dan menangis. Kemudian dia bertanya kepada orang yang membawa berita, “Lalu siapa lagi yang gugur?” Utusan tadi menjawab, “Fulan, fulan….. dan berapa orang yang tidak engkau kenal, wahai Amirul Mukminin.” Umar menangis seraya berucap, “Tidak jadi soal bagi mereka bila Umar tidak mengenalnya, tetapi Allah l mengenal mereka. Semoga Allah l menganugerahkan mati syahid kepada mereka.” (lihat Al-Khulafa’ Ar-Rasyidin wad Daulah Al-Umawiyah hal. 53)

Wallahu a’lam.