Dua Tangan Allah

 Pada Asy Syariah edisi 112 hlm. 71, terjemahan hadits riwayat Muslim tertulis, “… kemudian Dia melipat bumi dengan kiri-Nya….”

Bukankah seharusnya dengan kanan-Nya? Mohon diperhatikan!

085696xxxxxx

 Dijawab oleh al-Ustadz Qomar Suaidi

 

Allah Memiliki Dua Tangan

Di antara sifat Allah ‘azza wa jalla adalah memiliki dua tangan. Hal ini berdasarkan firman Allah ‘azza wa jalla,

بَلۡ يَدَاهُ مَبۡسُوطَتَانِ يُنفِقُ كَيۡفَ يَشَآءُۚ

        “(Tidak demikian), tetapi kedua tangan Allah terbuka; Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki.” (al-Maidah: 64)

 

قَالَ يَٰٓإِبۡلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَن تَسۡجُدَ لِمَا خَلَقۡتُ بِيَدَيَّۖ أَسۡتَكۡبَرۡتَ أَمۡ كُنتَ مِنَ ٱلۡعَالِينَ ٧٥

        Allah berfirman, “Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?”

 

Dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

        يَطْوِ ى اللهُ السَّمَوَاتِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثُمَّ يَأْخُذُهُنَّ بِيَدِهِ الْيُمْنَى ثُمَّ يَقُولُ: أَنَا الْمَلِكُ، أَيْنَ الْجَبَّارُونَ؟ أَيْنَ الْمُتَكَبِّرُونَ؟ ثُمَّ يَطْوِى الْأَرَضِينَ ثُمَّ يَأْخُذُهُنَّقَالَ ابْنُ الْعَلاَءِ: بِيَدِهِ الْأُخْرَىثُمَّ يَقُولُ: أَنَا الْمَلِكُ، أَيْنَ الْجَبَّارُونَ؟ أَيْنَ الْمُتَكَبِّرُونَ؟

Allah ‘azza wa jalla melipat langit-langit pada hari kiamat lalu mengambilnya dengan tangan kanan-Nya seraya berkata, “Akulah Sang Raja, di manakah para diktator? Di manakah orang-orang yang sombong?”

Lalu Allah ‘azza wa jalla melipat bumi-bumi kemudian mengambilnya.—Ibnul ‘Ala`, salah seorang perawi hadits mengatakan: dengan tangan-Nya yang lain)—Allah berkata, “Akulah Sang Raja, di manakah para diktator? Di manakah orang-orang yang sombong?” ( HR. Abu Dawud, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah)

Ibnu Khuzaimah rahimahullah menuliskan dalam Kitab at-Tauhid bahwa Allah ‘azza wa jalla memiliki dua tangan yang terbentang dan berinfak sekehendak-Nya. Dengan kedua tangan-Nya, Allah ‘azza wa jalla menciptakan Adam.

Kedua tangan tersebut adalah tangan hakiki yang tidak sama dengan tangan makhluk-Nya. Mahasuci Allah dari kesamaan dengan makhluk. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

لَيۡسَ كَمِثۡلِهِۦ شَيۡءٞۖ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡبَصِيرُ ١١

        “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (asy-Syura: 11)

 

Apakah Dua Tangan Allah Kanan dan Kiri?

Adapun terkait dengan pertanyaan di atas, apakah kedua tangan Allah ‘azza wa jalla itu kanan dan kiri, dalam hal ini terdapat beberapa riwayat dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

  1. Dua tangan kanan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَكِلْتَا يَدَيْهِ يَمِينٌ

        “Dan kedua tangan Allah itu kanan.” (HR. Muslim)

 

  1. Tangan kanan dan kiri

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَطْوِى اللهُ عَزَّ وَجَلَّ السَّمَوَاتِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثُمَّ يَأْخُذُهُنَّ بِيَدِهِ الْيُمْنَى ثُمَّ يَقُولُ: أَنَا الْمَلِكُ، أَيْنَ الْجَبَّارُونَ؟ أَيْنَ الْمُتَكَبِّرُونَ؟ ثُمَّ يَطْوِى الْأَرَضِينَ بِشِمَالِهِ ثُمَّ يَقُولُ: أَنَا الْمَلِكُ، أَيْنَ الْجَبَّارُونَ؟ أَيْنَ الْمُتَكَبِّرُونَ؟

Allah ‘azza wa jalla melipat langit-langit pada hari kiamat lalu mengambilnya dengan tangan kanan-Nya seraya berkata, “Akulah Sang Raja, di manakah para diktator? Di manakah orang-orang yang sombong?”

Lalu Allah melipat bumi-bumi dengan tangan kiri-Nya seraya berkata, “Akulah Sang Raja, di manakah para diktator? Di manakah orang-orang yang sombong?” (HR. Muslim)

 

  1. Tangan yang lain

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَالَ ابْنُ الْعَلاَءِ: بِيَدِهِ الأُخْرَى ثُمَّ يَقُولُ أَنَا الْمَلِكُ أَيْنَ الْجَبَّارُونَ أَيْنَ الْمُتَكَبِّرُونَ.

Ibnul ‘Ala`, salah seorang perawi hadits mengatakan, “… dengan tangan- Nya yang lain, lalu Allah ‘azza wa jalla berkata, ‘Akulah Sang Raja, di manakah para diktator? Di manakah orang-orang yang sombong?’.” (HR. Abu Dawud, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani)

 

Dari beberapa riwayat di atas, para ulama berbeda pendapat setelah ulama Ahlus Sunnah sepakat bahwa Allah memiliki dua tangan.

 

  1. Semua riwayat itu sahih.

Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa Allah ‘azza wa jalla memiliki dua tangan, kanan dan kiri. Hanya saja, tangan kiri Allah ‘azza wa jalla tidak boleh dipahami seperti kiri pada makhluk. Sebab, kiri pada makhluk identik dengan kelemahan dan kekurangan, sementara tangan kiri Allah ‘azza wa jalla tidak memiliki kelemahan dan kekurangan sama sekali. Tangan kiri Allah ‘azza wa jalla tetap sempurna dalam segala hal.

Oleh karena itu, riwayat pertama menyebutkan bahwa kedua tangan Allah ‘azza wa jalla kanan, untuk menghilangkan kesan lemah dan kekurangan pada tangan Allah ‘azza wa jalla.

Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Dalam hadits terdapat penyebutan dua tangan Allah (kanan dan kiri). Pada hadits lain, ‘dan kedua tangan-Nya kanan’ (tangan yang satu kiri). Akan tetapi, tidak seperti kirinya tangan makhluk. Kiri Allah ‘azza wa jalla tetap kanan. Berbeda halnya dengan makhluk, kirinya bukan kanan.

“Sifat semacam ini hanya khusus bagi Allah ‘azza wa jalla, yaitu kedua tangan Allah ‘azza wa jalla kanan. Jadi, Allah ‘azza wa jalla memiliki tangan kanan dan tangan kiri sebagaimana disebutkan dalam hadits; kanan tidak seperti kanannya makhluk dan kiri tidak sepeti kirinya makhluk.” (I’anatul Mustafid)

Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “Apabila lafal kiri itu sahih, menurut saya tidak bertentangan dengan lafal lain ‘kedua tangan-Nya kanan’. Sebab, maknanya adalah tangan yang lain tidak seperti kiri pada makhluk, yaitu kurang dibanding dengan tangan kanannya.

“Oleh karena itu, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘kedua tangan Allah itu kanan’, yakni tiada kekurangan padanya.” (al-Qaul al-Mufid)

 

  1. Riwayat yang menyebutkan kiri adalah lemah dan dinilai sebagai riwayat yang syadz (ganjil).

Ini adalah pandangan asy-Syaikh al-Albani rahimahullah dan yang sependapat dengan beliau, yaitu asy-Syaikh Shalih Alu Syaikh.

Saat menjawab pertanyaan tentang dua riwayat tersebut, asy-Syaikh Albani rahimahullah berpendapat bahwa tidak ada pertentangan antara dua hadits tersebut. Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Dan kedua tangan Allah itu kanan,” menegaskan firman Allah ‘azza wa jalla, “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia.

Sifat yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beritakan tersebut menegaskan kesucian Allah ‘azza wa jalla dari penyerupaan dengan makhluk. Tangan Allah ‘azza wa jalla tidak sama dengan tangan manusia, kiri dan kanan. Bahkan, kedua tangan Allah ‘azza wa jalla adalah kanan.

Selain itu, riwayat “dengan tangan kiri-Nya” adalah syadz (ganjil), seperti yang telah beliau terangkan dalam takhrij beliau terhadap kitab al-Musthalahat al-Arba’ah fil Qur’an, tulisan al-Maududi.

 Termasuk yang menguatkan pendapat lemahnya (riwayat yang menyebutkan lafal kiri) adalah riwayat Abu Dawud yang menyebutkan dengan lafal “tangan-Nya yang lain” sebagai pengganti riwayat “dengan tangan kiri-Nya,”.

Riwayat Abu Dawud tersebut sesuai dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kedua tangan Allah kanan.” (Majalah al-Ashalah)

Wallahu a’lam.

Seputar Qunut Witir (2)

Berikut ini adalah lanjutan jawaban al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad as-Sarbini seputar masalah qunut witir.

 Qunut Witir Pada Rakaat Terakhir

Qunut witir dilakukan pada rakaat terakhir dari shalat witir. Ini berdasarkan hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu ( muttafaq ‘alaih) bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan qunut nazilah pada shalat zhuhur, isya, dan subuh pada rakaat terakhir. Sebab, qunut nazilah dan qunut witir adalah dua ibadah yang sejenis.

 

Waktu Qunut Witir

Ada perbedaan pendapat, apakah qunut witir dilakukan sebelum rukuk atau setelahnya?

  1. Sebelum rukuk, seusai membaca surah.

Ini adalah pendapat Abu Hanifah dan Malik.

 

  1. Setelah rukuk, seusai membaca zikir i’tidal.

Ini adalah pendapat asy-Syafi’i dan Ahmad.

 

  1. Sebelum rukuk atau setelahnya.

Ini riwayat lain dari Ahmad. Ini yang dipilih oleh Ibnu Baz, al-Albani, dan Ibnu ‘Utsaimin.

 

Dalil pendapat pertama adalah hadits Ubay bin Ka’b radhiallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan qunut witir sebelum rukuk. Telah diterangkan sebelumnya bahwa hadits ini diperselisihkan kebenarannya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan al-Albani menghukuminya sahih. Di antara hadits yang dijadikan penguat oleh al-Albani adalah hadits Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu. ‘Ashim al-Ahwal berkata,

        سَأَلْتُهُ عَنِ الْقُنُوتِ قَبْلَ الرُّكُوعِ أَوْ بَعْدَ الرُّكُوعِ؟ فَقَالَ: قَبْلَ الرُّكُوعِ. قُلْتُ: فَإِنَّ نَاسًا يَزْعُمُونَ أَنَّ رَسُولَ قَنَتَ بَعْدَ الرُّكُوعِ. فَقَالَ: إِنَّمَا قَنَتَ رَسُولُ اللهِ شَهْرًا يَدْعُو عَلَى أُنَاسٍ قَتَلُوا أُنَاسًا مِنْ أَصْحَابِهِ يُقَالُ لَهُمْ الْقُرَّاءُ

Aku bertanya tentang qunut, apakah sebelum rukuk atau sesudahnya. Anas menjawab, Sebelum rukuk.

Aku berkata, Sekelompok orang menyangka bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan qunut setelah rukuk.

Anas menjawab, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hanyalah melakukan qunut (setelah rukuk) selama sebulan penuh mendoakan kejelekan terhadap sekelompok orang yang membunuh beberapa sahabat beliau yang disebut para qurra.” (Muttafaq ‘alaih)

 

Menurut al-Albani, sudah pasti yang dimaksud dengan ‘qunut sebelum rukuk’ oleh Anas radhiallahu ‘anhu adalah qunut witir, tidak mungkin qunut nazilah, sebagaimana hal itu tampak pada seluruh riwayat hadits ini—bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan qunut nazilah setelah rukuk.[1]

Hal ini didukung pula oleh atsar Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu bahwa ia melakukan qunut witir sebelum rukuk (HR. ath-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir dengan sanad yang dinilai hasan oleh al-Albani).

 

Ibnu Abi Syaibah mengeluarkannya dalam Mushannaf-nya dengan sanad yang dinilai hasan oleh al-Albani, dengan lafadz,

        أَنَّ ابْنَ مَسْعُودٍ وَأَصْحَابَ النَّبِيِّ كَانُوا يَقْنُتُونَ فِي الْوِتْرِ قَبْلَ الرُّكُوعِ

“Ibnu Masud dan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu melakukan qunut witir sebelum rukuk.”[2]

 

Dalil pendapat kedua adalah penyamaan hukum terhadap qunut nazilah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dilakukan setelah rukuk menurut qiyas, sebagaimana pada hadits Anas radhiallahu ‘anhu di atas dan semisalnya.

Pada kitab Qiyamul Lail karya Muhammad bin Nashr al-Marwazi disebutkan bahwa al-Imam Ahmad ditanya tentang qunut pada shalat witir, apakah sebelum rukuk atau setelahnya? Apakah kedua tangan diangkat pada doa qunut witir?

Ahmad menjawab, “Qunut witir dilakukan setelah rukuk dan mengangkat kedua tangan, berdasarkan qiyas terhadap amalan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada qunut nazilah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam di shalat subuh.”

Yang beliau maksud adalah hadits Anas radhiallahu ‘anhu dan Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, keduanya muttafaq ‘alaih.

Al-Imam Ahmad rahimahullah beralih kepada qiyas dalam masalah ini sepertinya karena beliau memvonis dha’if hadits Ubay bin Ka’ab radhiallahu ‘anhu tentang qunut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum rukuk, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

Dasar qiyas ini adalah mengingat bahwa keduanya amalan sejenis, samasama qunut dalam shalat sehingga keduanya sama dalam hal ini.

Qiyas ini didukung oleh amalan Ubay bin Ka’ab radhiallahu ‘anhu qunut witir setelah rukuk pada separuh terakhir Ramadhan, sebagaimana pada riwayat Ibnu Khuzaimah yang telah disebutkan.

 

Dari keterangan di atas, tampaklah bahwa pendapat ketiga lebih tepat. Qunut witir sebelum rukuk atau setelah rukuk termasuk amalan yang beragam, terkadang yang ini dan terkadang yang itu.[3]

 

Qunut dengan Mengangkat Kedua Tangan

Terdapat perbedaan pendapat mengenai mengangkat kedua tangan ketika qunut witir. Yang benar, disunnahkan mengangkat kedua tangan.

Ini adalah mazhab Hanbali, sebagaimana dalam al-Mughni (2/584) dan al-Inshaf (2/172).

Ini pula yang dianggap benar pada mazhab Syafi’i oleh mayoritas fuqaha mazhab Syafi’i, termasuk al-Baihaqi dan an-Nawawi, sebagaimana dalam kitab al-Majmu’ (3/479 & 487).

Pendapat ini telah difatwakan oleh Ibnu Baz dalam Majmu’ al-Fatawa (30/51) dan Ibnu ‘Utsaimin dalam asy-Syarh al-Mumti’ (4/18).

Pendapat ini berdalil dengan hadits Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu tentang qunut nazilah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkenaan dengan 70 qari’ (penghafal Qur’an) dari kalangan sahabat yang dibantai oleh kaum musyrikin.

Kata Anas,

لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ كُلَّمَا صَلَّى الْغَدَاةَ رَفَعَ يَدَيْهِ يَدْعُو عَلَيْهِمْ

“(Demi Allah), sungguh, aku telah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap kali shalat subuh mengangkat kedua tangannya mendoakan kebinasaan atas mereka (para pembantai itu).” ( HR. Ahmad, ath-Thabarani, dan al-Baihaqi; dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam Ashlu Shifat ash-Shalah, 3/957958)

 

Telah sahih pula atsar dari ‘Umar radhiallahu ‘anhu,

كَانَ عُمَرُ يَقْنُتُ بِنَا فِي صَلَاةِ الْغَدَاةِ وَيَرْفَعُ يَدَيْهِ حَتَّى يخرج ضَبْعَيْهُ

“Adalah ‘Umar radhiallahu ‘anhu melakukan qunut bersama kami pada shalat subuh dan mengangkat kedua tangannya hingga mengeluarkan kedua lengan atasnya.” (Riwayat Ibni Abi Syaibah, al-Bukhari dalam kitab Raf’ul Yadain, Ibnu Nashr, dan al-Baihaqi; dinyatakan sahih oleh al-Bukhari, al-Baihaqi, dan al-Albani dalam kitab Ashlu Shifat ash-Shalah (3/958—959)

 

Meskipun dalil-dalil ini pada qunut nazilah, tetapi keduanya adalah amalan yang sejenis sehingga disamakan secara metode qiyas.

Berdasarkan atsar-atsar tersebut, al-Imam Ahmad rahimahullah menyatakan bahwa kedua telapak tangan diangkat setinggi dada dengan bagian telapak menghadap ke atas, sebagaimana dalam al-Mughni dan al-Inshaf.

Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah menambahkan dalam asy-Syarh al-Mumti’ (4/18) bahwa yang tampak dari keterangan ulama adalah kedua telapak tangan ditempelkan satu sama lainnya seperti halnya orang yang meminta sesuatu. Adapun memisah dan menjauhkan antara keduanya, Ibnu ‘Utsaimin menimpali bahwa hal itu tidak ada asal usulnya, baik dari as-Sunnah maupun dari keterangan ulama.

 

Teks Doa Qunut Witir

Adapun teks doanya adalah yang disebutkan pada hadits al-Hasan bin ‘Ali radhiallahu ‘anhuma. Pada riwayat Ibnu Mandah dalam kitab at-Tauhid ada tambahan lafadz doa di akhir yang dinilai tsabit (benar) oleh al-Albani dan ditetapkan olehnya pada kitab Qiyam Ramadhan, yaitu,

وَلاَ مَنْجَا مِنْكَ إِلاَّ إِلَيْكَ

        “Tidak tempat berlindung dari-Mu kecuali hanya kepada-Mu.”[4]

 

Adapun menutup lafadz doa dengan shalawat untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, hal itu disebutkan pula pada tambahan riwayat an-Nasa’i dengan lafadz,

وَصَلَّى اللهُ عَلَى النَّبِيِّ مُحَمَّدٍ

“Semoga shalawat dan salam tercurah atas Nabi Muhammad.”

Riwayat ini dinilai sahih oleh an-Nawawi, tetapi dibantah oleh Ibnu Hajar dan al-Albani yang memvonisnya dha’if (lemah). Meski demikian, al-Albani menetapkan shalawat di akhir doa qunut pada kitab al-Irwa’ dan Talkhish Shifat ash-Shalah (hlm. 38), berdasarkan amalan sahabat pada qunut witir di separuh terakhir Ramadhan pada masa ‘Umar radhiallahu ‘anhu, sebagaimana pada riwayat yang dikeluarkan oleh Ibnu Khuzaimah yang telah disebutkan di atas.[5]

Al-Albani berpendapat dalam kitab Qiyam Ramadhan (hlm. 23) bahwa tidak mengapa menambah selain doa ini dengan mendoakan laknat atas orang-orang kafir dan mendoakan kaum muslimin pada qunut witir dalam rangkaian tarawih di separuh terakhir Ramadhan, berdasarkan amalan sahabat di masa ‘Umar radhiallahu ‘anhu. Hal ini sebagaimana pada riwayat Ibnu Khuzaimah di atas.

Ibnu Baz berfatwa dalam Majmu’ al-Fatawa (11/355) bahwa yang lebih utama bagi imam tarawih apabila melakukan qunut witir agar memilih kalimat-kalimat singkat dan bermakna luas dan tidak memperpanjang doa yang akan memberatkan para makmum. Imam hendaknya membaca doa yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada al-Hasan bin ‘Ali radhiallahu ‘anhuma dan menambahnya dengan doa-doa yang baik yang dimudahkan baginya, sebagaimana ‘Umar radhiallahu ‘anhu menambahnya.

Begitu pula fatwa Ibnu ‘Utsaimin dalam Majmu’ al-Fatawa war Rasa’il (14/no. 775, 778, & 779).

Pada shalat witir berjamaah, seperti halnya qunut witir di separuh terakhir Ramadhan, dalam rangka mencontoh sahabat, imam men-jahrkan (memperdengarkan) bacaannya dan mengganti lafadz dhamir mufrad (tunggal) dengan lafadz dhamir jam’in (jamak), yaitu,

اللَّهُمَّ اهْدِنَا فِيمَنْ هَدَيْتَ، وَعَافِنَا فِيمَنْ عَافَيْتَ، وَتَوَلَّنَا فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ، وَبَارِكْ لَنَا فِيمَا أَعْطَيْتَ، وَقِنَا شَرَّ مَا قَضَيْتَ

“Ya Allah, berilah kami hidayah bersama orang-orang yang engkau beri hidayah, berilah kami keselamatan dunia akhirat bersama orang-orang yang engkau beri keselamatan dunia akhirat, dekatkanlah kami kepadamu dan tolonglah kami bersama orang-orang yang engkau dekatkan dan engkau tolong, berkahilah kami pada apa-apa yang yang engkau berikan, jagalah kami dari kejelekan apa-apa yang engkau tetapkan/takdirkan.”[6]

 

Adapun makmum, cukup mengaminkan setiap penggalan doa yang dibaca oleh imam. Dengan itu, mereka juga terhitung telah berdoa dengan doa tersebut untuk diri mereka secara hukum. Dalilnya adalah hadits Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma,

الظُّهْرِ قَنَتَ رَسُولُ اللهِ شَهْرًا مُتَتَابِعًا فِي وَالْعَصْرِ وَالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ وَصَلَاةِ الصُّبْحِ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ إِذَا قَالَ: سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ؛ مِنَ الرَّكْعَةِ الْآخِرَةِ يَدْعُو عَلَى أَحْيَاءٍ مِنْ بَنِي سُلَيْمٍ، عَلَى رِعْلٍ وَذَكْوَانَ وَعُصَيَّةَ وَيُؤَمِّنُ مَنْ خَلْفَهُ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan qunut sebulan berturut-turut pada shalat zhuhur, asar, maghrib, isya, dan shalat subuh, pada setiap akhir shalat setelah mengucapkan Sami’allahu liman hamidah’ pada rakaat terakhir. Beliau mendoakan kebinasaan bagi sekelompok orang dari Bani Sulaim, Ri’subhanahu wa ta’ala, Dzakwan, dan Ushayyah. Orang-orang yang di belakang beliau mengaminkannya.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud, dinilai berderajat hasan oleh al-Albani dalam al-Irwa’, 2/163)

 

Ini pada qunut nazilah dan begitu juga hukumnya pada qunut witir, karena keduanya adalah amalan sejenis. Masalah ini seperti halnya mengaminkan bacaan al-Fatihah imam pada shalat jahriyah, sebagaimana kata Ibnu ‘Utsaimin dalam Majmu’ al-Fatawa war-Rasa’il (13/139).

 

Perhatikan firman Allah subhanahu wa ta’ala,

          قَالَ قَدۡ أُجِيبَت دَّعۡوَتُكُمَا فَٱسۡتَقِيمَا وَلَا تَتَّبِعَآنِّ سَبِيلَ ٱلَّذِينَ لَا يَعۡلَمُونَ ٨٩

“Sungguh, doa kalian berdua telah dikabulkan.” (Yunus: 89)

 

Yang berdoa hanya Nabi Musa ‘alaihissalam, sedangkan Nabi Harun ‘alaihissalam hanya mengaminkan.

 

Ini telah ditegaskan oleh Ahmad dan menjadi mazhab fuqaha Hanbali, sebagaimana dalam kitab al-Inshaf (2/172).

Ini pula yang dianggap paling benar pada mazhab Syafi’i sebagaimana dalam al-Majmu’ (3/481482, 511). Pendapat ini yang difatwakan oleh Ibnu Baz dalam Majmu’ al-Fatawa (9/397) dan Ibnu ‘Utsaimin dalam asy-Syarh al-Mumti’ (4/47).

 

Apabila makmum tidak mendengar doa qunut imam, terdapat dua pendapat.

  1. Makmum mengaminkan saja.
  2. Makmum membaca doa qunut sendiri.

Pendapat kedua difatwakan oleh al-Imam Ahmad, sebagaimana dalam kitab al-Mughni (2/584).

Pendapat ini yang paling benar pada mazhab Syafi’i, sebagaimana dalam al-Majmu’ (3/481 & 511).

Wallahu a’lam.

[1] al-Irwa’ (92/168)

[2] Lihat al-Irwa’ (2/166) dan Ashlu Shifat ash-Shalah hlm. 971.

[3] Lihat kitab al-Mughni (2/581-582), al-Inshaf (2/171), al-Majmu’ (3/520-521), al-Irwa’ (2/163-164), Ashlu Shifat ash-Shalah (3/970-971), Talkhish Shifat ash-Shalah (hlm. 27), Majmu’ Fatawa Ibni Baz (11/357), asy-Syarh al-Mumti’ (4/20).

[4] Lafadz adalah tambahan pada riwayat Ibnu Mandah dalam kitab at-Tauhid dan Abu Bakr al-Ashbahani dalam kitab Fawaid-nya. Riwayat ini sempat divonis dha’if (lemah) oleh al-Albani pada kitab Ashlu Shifat ash-Shalah (3/972 & 976). Namun, kemudian al-Albani condong menyatakan sahih riwayat ini dalam kitab al-Irwa’ (2/168-169) dan menetapkannya pada kitab Sifat ash-Shalah (hlm. 181), Talkhish Shifat ash-Shalah (hlm. 38), dan Qiyam Ramadhan (hlm. 23).

[5] Lihat selengkapnya Talkhish al-Habir (1/448), Ashlu Shifat ash-Shalah (3/976-978), dan al-Irwa’ (2/176-177).

[6] asy-Syarh al-Mumti’

Seputar Qunut Witir (1)

Ada beberapa pertanyaan yang masuk ke Redaksi seputar qunut witir. Di antaranya:

Saya mau bertanya, saat imam membaca qunut witir, apa yang dilakukan oleh makmum? Apakah mengamini di sela-sela doa qunut ada syariatnya? Saat itu bolehkah mengangkat kedua tangan menengadah?

IRT di Wonosari

Dijawab oleh al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad as-Sarbini

 Kesimpulan masalah qunut witir kami rangkum sebagai berikut.

  1. Hukumnya sunnah, tidak hanya di separuh terakhir Ramadhan, tetapi disunnahkan dilakukan sepanjang tahun; tidak secara terus-menerus setiap kali witir, tetapi terkadang qunut dan terkadang tidak. Ini menurut pendapat yang rajih.
  2. Dilakukan di rakaat terakhir, bisa sebelum rukuk (setelah membaca surat) atau setelah rukuk (seusai baca zikir i’tidal).
  3. Qunut dilakukan dengan mengangkat kedua tangan.
  4. Membaca doa qunut yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada al-Hasan radhiallahu ‘anhu dan bershalawat atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  5. Pada shalat jamaah, imam mengeraskan doa qunut dengan mengganti dhamir (kata ganti diri) dengan dhamir yang bermakna “kami” agar doa itu mencakup imam dan makmum. Adapun makmum cukup mengaminkan saja.

Adapun keterangannya secara detail akan kami jabarkan satu per satu, bi idznillah.

 Hukum Qunut Witir

Terdapat perbedaan pendapat yang cukup alot di antara ulama mengenai hukum qunut witir dan intensitas pelaksanaannya. Kami menyimpulkan pendapat-pendapat itu menjadi tiga golongan.

  1. Golongan yang tidak qunut witir dan mengingkari qunut witir.
  2. Golongan yang berpendapat tidak ada ada hadits yang sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang qunut witir, tetapi dari ‘Umar radhiallahu ‘anhu dan sekelompok sahabat lainnya pada separuh terakhir Ramadhan.

radhiallahu ‘anhuma. Golongan yang berpendapat telah datang hadits yang sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang qunut witir secara mutlak dan didukung oleh amalan sekelompok sahabat yang melakukan qunut witir sepanjang tahun, tanpa pembatasan di separuh terakhir Ramadhan.

 Golongan pertama, ulama yang tidak qunut witir dan mengingkari qunut witir.

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma bahwa beliau tidak qunut witir. Diriwayatkan pula pengingkaran terhadap qunut witir dari al-Imam Malik.

Ibnu Abdil Barr menerangkan dalam kitab al-Istidzkar (2/Kitab ash-Shalah

fi Ramadhan, Bab Ma Ja’a fi Qiyam Ramadhan) bahwa ada perbedaan versi riwayat dari Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma, “Salah satunya adalah riwayat Ibnu Numair, dari ‘Ubaidillah bin ‘Umar, dari Nafi’, dari Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma,

إِنَّهُ كَانَ يَقْنُتُ فِي الْفَجْرِ وَلاَ فِي الْوِتْرِ

        “Sesungguhnya Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma tidak pernah qunut pada shalat subuh dan shalat witir.”[1]

Riwayat Malik dari Nafi’ dari Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma semisal dengan itu.”

Riwayat dengan versi lain dari Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma akan disebutkan pada pengkhususan qunut witir di pertengahan terakhir Ramadhan.

Dalam kitab al-Istidzkar, Ibnu ‘Abdil Barr menukil pengingkaran al-Imam Malik terhadap riwayat ahlu Mishr (sahabat Malik dari kalangan penduduk Mesir, yaitu Ibnul Qasim, Asyhab, dan Ibnu Wahbin) bahwa Malik ditanya apakah disyariatkan seseorang melakukan qunut witir? Ia menjawab, “Tidak.”

 Golongan kedua, yang berpandangan tidak ada hadits yang sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang qunut witir, tetapi dari ‘Umar dan sekelompok sahabat lainnya pada separuh terakhir Ramadhan.

Al-Khallal meriwayatkan bahwa al-Imam Ahmad berkata, “Tidak ada hadits sahih bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan qunut witir. Akan tetapi, ‘Umar radhiallahu ‘anhu lah yang melakukan qunut witir.”

Kata Ibnu ‘Abdil Barr dalam kitab al-Istidzkar, “Tidak ada hadits musnad (yang sanadnya bersambung) dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sahih tentang qunut witir.”

Ibnul ‘Abdil Barr juga berkata, “Adapun (pengamalan) qunut witir oleh sahabat radhiallahu ‘anhum telah diriwayatkan dari sekelompok sahabat radhiallahu ‘anhum.”

Ibnu ‘Abdil Barr kemudian berkata, “Ulama yang membolehkan qunut pada shalat witir pada rangkaian shalat tarawih di sepuluh terakhir Ramadhan berhujah dengan riwayat-riwayat tersebut. Sebab, hal itu telah dicontohkan oleh sejumlah sahabat yang mulia. Ia adalah amalan yang nyata di kota Madinah di zaman itu, dan tidak diketahui seorang pun dari kalangan sahabat yang mengingkarinya.”

Di antara riwayat-riwayat itu adalah riwayat yang dikeluarkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya (2/no. 1100, terbitan al-Maktab al-Islami) dengan sanad yang dinilai sahih oleh al-Albani[2] dengan lafadz,

أَنَّ عُمَرَ خَرَجَ لَيْلَةَ فِي رَمَضَانَ، فَخَرَجَ مَعَهُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَبْدِ الْقَارِي، فَطَافَ بِالْمَسْجِدِ وَأَهْلُ الْمَسْجِدِ أَوْزَاعٌ مُتَفَرِّقُوْنَ يُصَلِّيْ الرَّجُلُ لِنَفْسِهِ وَيُصَلِّيْ الرَّجُلُ فَيُصَلِّيْ بِصَلاَتِهِ الرَّهْطُ.

فَقَالَ عُمَرُ: وَاللهِ إِنِّيْ أَظُنُّ لَوْ جَمَعْنَا هَؤُلاَءِ عَلَى قَارِئٍ وَاحِدٍ لَكَانَ أَمْثَلَ. ثُمَّ عَزَمَ عُمَرُ عَلَى ذَلِكَ وَأَمَرَ أُبَيَّ بْنَ كَعْبٍ أَنْ يَقُوْمَ لَهُمْ فِي رَمَضَانَ، فَخَرَجَ عُمَرُ عَلَيْهِمْ وَالنَّاسُ يُصَلُّوْنَ بِصَلاَةِ قَارِئِهِمْ.

فَقَالَ عُمَرُ: نِعْمَ الْبِدْعَةُ هِيَ، وَالَّتِيْ تَنَامُوْنَ عَنْهَا أَفْضَلُ مِنَ الَّتِيْ تَقُوْمُوْنَيُرِيْدُ آخِرَ اللَّيْلِفَكَانَ النَّاسُ يَقُوْمُوْنَ أَوَّلَهُ.

وَكَانُوْا يَلْعَنُوْنَ الْكَفَرَةَ فِي النِّصْفِ: اللَّهُمَّ قَاتِلِ الْكَفَرَةَ الَّذِيْنَ يَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِكَ، وَيُكَذِّبُوْنَ رُسُلَكَ، وَلاَ يُؤْمِنُوْنَ بِوَعْدِكَ، وَخَالِفْ بَيْنَ كَلِمَتِهِمْ، وَأَلْقِ فِي قُلُوْبِهِمُ الرُّعْبَ، وَأَلْقِ عَلَيْهِمْ رِجْزَكَ وَعَذَابَكَ، إِلهُ الْحَقُّ.

 ثُمَّ يُصَلِّيْ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيَدْعُو لِلْمُسْلِمِيْنَ بِمَا اسْتَطَاعَ مِنْ خَيْرٍ، ثُمَّ يَسْتَغْفِرُ لِلْمُؤْمِنِيْنَ. وَكَانَ يَقُوْلُ إِذَا فَرَغَ مِنْ لَعْنَةِ الْكَفَرَةِ وَصَلاَتِهِ عَلَى النَّبِيِّ وَاسْتِغْفَارِهِ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَمَسْأَلَتَهُ: اللَّهُمَّ إِيَّاكَ نَعْبُدُ، وَلَكَ نُصَلِّيْ وَنَسْجُدُ، وَإِلَيْكَ نَسْعَى وَنَحْفِدُ، وَنَرْجُوْ رَحْمَتَكَ رَبَّنَا، وَنَخَافُ عَذَابَكَ الجِدَّ، إِنْ عَذَابَكَ لِمَنْ عَادَيْتَ مُلْحِقٌ؛ ثُمَّ يُكَبِّرُ وَيَهْوِيْ سَاجِدًا.

Sesungguhnya Umar radhiallahu ‘anhu pernah keluar dari rumahnya di bulan Ramadhan dan Abdur Rahman bin Abdil Qari ikut keluar bersamanya. Umar radhiallahu ‘anhu berkeliling di dalam masjid, sementara penghuni masjid shalat tarawih berjamaah dengan berpencar-pencar; setiap imam mengimami sekitar 3—10 orang.

Lantas Umar berkata, “Demi Allah, sungguh aku beranggapan bahwa seandainya kami kumpulkan mereka semua dengan seorang imam, hal itu lebih sesuai dengan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Umar kemudian bertekad atas hal itu dan memerintah Ubay bin Ka’ab mengimami mereka shalat tarawih pada bulan Ramadhan. Lalu Umar keluar untuk melihat mereka, sementara mereka shalat tarawih berjamaah dengan imam mereka.

Umar berkata, “Ini adalah sebaik-baik perkara baru (yang dihidupkan kembali setelah lama ditinggalkan). Shalat tarawih di akhir malam (saat kalian tidur) lebih baik daripada shalat yang kalian laksanakan sekarang di awal malam.”

Mereka melaksanakannya di awal malam. Mereka berdoa qunut melaknat orang-orang kafir di separuh terakhir Ramadhan, “Ya Allah, perangilah orang-orang kafir yang menghalangi dari jalan-Mu, mendustakan para rasul-Mu, tidak beriman dengan janji-Mu. Cerai-beraikanlah persatuan mereka, campakkanlah ke dalam kalbu-kalbu mereka rasa takut, timpakanlah azab atas mereka. Engkaulah Ilah (sembahan) yang Mahabenar.”

Ubay kemudian bershalawat atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mendoakan semampunya kebaikan bagi kaum muslimin, kemudian memintakan ampun bagi mereka. Setelah melaknat orang-orang kafir, bersalawat atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beristigfar untuk kaum mukminin dan mukminat, dan apa yang dimintanya, Ubay membaca,

“Ya Allah, hanya kepada-Mu kami menyembah, hanya untuk-Mu kami shalat dan sujud, hanya kepada-Mu kami bergegas dan bersegera dalam beramal, kami berharap rahmat-Mu, wahai Rabb kami. Kami takut azab-Mu yang benar adanya, sesungguhnya azab-Mu pasti akan menimpa orang yang memusuhi-Mu.”

Ia kemudian bertakbir dan sujud.

 Abdur Razzaq dan Ibnu Abi Syaibah mengeluarkan riwayat Ibnu Juraij dari Atha’ dari Umar radhiallahu ‘anhuma,

قَالَ ابْنُ جُرَيْجٍ: قُلْتُ لِعَطَاءٍ: الْقُنُوتُ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ؟ قَالَ: عُمَرُ أَوَّلُ مَنْ قَنَتَ. قُلْتُ: النِّصْفُ الْآخِرُ؟ قَالَ: نَعَمْ.

Kata Ibnu Juraij, “Aku berkata kepada Atha’, apakah qunut dilakukan pada bulan Ramadhan?”

Atha’ menjawab, “Yang pertama kali melakukannya adalah ‘Umar radhiallahu ‘anhu.”

Ibnu Juraij berkata, “Di pertengahan terakhir Ramadhan?”

Atha’ menjawab, “Ya.”[3]

Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya dan Abu Dawud dalam Sunan-nya juga mengeluarkan riwayat al-Hasan al-Bashari bahwa Umar radhiallahu ‘anhu memerintah Ubay bin Ka’b radhiallahu ‘anhu untuk mengimami kaum muslimin shalat tarawih dan menyuruhnya qunut witir di separuh terakhir Ramadhan.

Namun, riwayat ini divonis dha’if (lemah) oleh al-Albani dalam kitab Dha’if Sunan Abi Dawud—al-Umm (2/no. 258, terbitan Muassasah Ghiras), karena sanadnya putus antara al-Hasan dan ‘Umar radhiallahu ‘anhu.

Hal ini juga telah diamalkan oleh Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma pada riwayat versi kedua darinya yang dinukil oleh Ibnu ‘Abdil Barr dalam kitab al-Istidzkar, yaitu riwayat Ibnu ‘Ulayyah, dari Ayyub, dari Nafi’, dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma,

أَنَّهُ كَانَ لاَ يَقْنُتُ إِلاَّ فِي النِّصْفِ مِنْ رَمَضَانَ.

“Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma tidak melakukan qunut witir kecuali pada separuh terakhir Ramadhan.”[4]

Kata asy-Syaukani dalam Nailul Authar (Kitab ash-Shalah, Bab Waqti Shalatil Witri wal Qira’ah fiha wal Qunut), “Muhammad bin Nashr telah meriwayatkan dengan sanad yang sahih bahwa Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma tidak qunut subuh dan tidak qunut witir selain pada separuh terakhir Ramadhan.”

Berdasarkan ini, muncullah pendapat bahwa qunut hanya disunnahkan pada rakaat terakhir shalat witir pada separuh terakhir Ramadhan (setelah 16 Ramadhan), tidak di malam-malam selainnya sepanjang tahun. An-Nawawi menukil dalam kitab al-Majmu’ (3/510) bahwa ini yang masyhur pada mazhab Syafi’i, yang dipegang oleh jumhur fuqaha Syafi’iyah dan telah ditegaskan langsung oleh al-Imam asy-Syafi’i.

Ibnu ‘Abdil Barr dalam al-Istidzkar menukil pendapat ini dari Malik pada riwayat penduduk Madinah.

Ibnu Qudamah dalam kitab al-Mughni (2/580) dan al-Murdawi dalam kitab al-Inshaf (2/170) menukil bahwa ini adalah salah satu riwayat dari Ahmad.

Ibnu Qudamah juga menukil bahwa ini adalah pendapat Ibnu Sirin dan az-Zuhri dari kalangan tabi’in, sebagaimana telah diriwayatkan hal itu dari keduanya.[5]

 Golongan ketiga, yang berpendapat telah datang hadits yang sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang qunut witir secara mutlak dan didukung oleh amalan sekelompok sahabat melakukan qunut witir sepanjang tahun di setiap shalat, tanpa pembatasan pada separuh terakhir Ramadhan.

Hadits itu adalah hadits al-Hasan bin ‘Ali radhiallahu ‘anhuma,

عَلَّمَنِي رَسُولُ اللهِ كَلِمَاتٍ أَقُولُهُنَّ فِي الْوِتْرِ : اللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْتَ، وَعَافِنِي فِيمَنْ عَافَيْتَ، وَتَوَلَّنِي فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ، وَبَارِكْ لِي فِيمَا أَعْطَيْتَ، وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ، فَإِنَّكَ تَقْضِي وَ يُقْضَى عَلَيْكَ، وَإِنَّهُ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ، وَ يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ، تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajariku kalimat-kalimat untuk kubaca pada qunut witir,

“Ya Allah, berilah aku hidayah bersama orang-orang yang Engkau beri hidayah; berilah aku keselamatan dunia akhirat bersama orang-orang yang Engkau beri keselamatan dunia akhirat; perhatikan dan jagalah urusan-urusanku bersama orang-orang yang Engkau perhatikan dan jaga urusannya; berkahilah aku pada apa-apa yang yang Engkau berikan; jagalah aku dari kejelekan apa saja yang Engkau tetapkan; sesungguhnya tidak akan hina orang yang menjadi wali-Mu (dalam penjagaan dan pertolongan-Mu) dan tidak akan mulia orang yang Engkau musuhi; Mahaberkah Engkau, wahai Rabb kami, lagi Mahatinggi.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, Ibnu Majah, al-Hakim, al-Baihaqi, dan lainnya; dinilai sahih oleh al-Albani dalam kitab al-Irwa’ [2/no. 429] dan al-Wadi’i dalam al-Jami’ ash-Shahih [2/144—147])[6]

Hal ini didukung pula oleh beberapa amalan sahabat melakukan qunut witir sepanjang tahun. Di antaranya adalah atsar Umar, Ali, dan Ibnu Mas’ud yang dikeluarkan oleh Muhammad bin Nashr, sebagaimana kata al-Albani dalam kitab Ashlu Shifati ash-Shalah.

Berdasarkan ini semua, sebagian ulama berpendapat disunnahkan qunut pada rakaat terakhir setiap shalat witir yang dilakukan sepanjang tahun, bukan hanya pada separuh terakhir Ramadhan.

Setelah meriwayatkan hadits al-Hasan bin ‘Ali radhiallahu ‘anhuma tersebut, at-Tirmidzi dalam Sunan at-Tirmidzi (2/Kitab ash-Shalah, bab Ma Ja’a fil Qunut fil Witri) mengatakan, “Ini adalah pendapat sebagian ulama. Yang berpendapat dengan ini ialah Sufyan ats-Tsauri, Ibnul Mubarak, Ishaq, dan ulama penduduk Kufah.”

Ini juga pendapat al-Imam Ahmad—pada riwayat lain darinya—yang dipilih oleh mayoritas fuqaha mazhab Hanbali dan menjadi pegangan pada mazhab tersebut.

Ibnu Qudamah menukil riwayat al-Marrudzi dari Ahmad bahwa beliau rujuk kepada pendapat ini dan meninggalkan pendapat yang mengkhususkan qunut witir hanya dilakukan pada pertengahan terakhir Ramadhan. Al-Murdawi juga menukil riwayat Khaththab dari Ahmad mengenai rujuknya beliau dalam masalah ini.

Al-Imam Ibnu Baz mendukung pendapat ini dalam Majmu’ al-Fatawa (30/32—33) dengan hujah ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajari al-Hasan bin ‘Ali radhiallahu ‘anhuma doa qunut witir, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memerintahnya untuk terkadang meninggalkannya ataupun untuk terus-menerus melakukannya.

Dengan demikian, ini menunjukkan bahwa qunut witir disunnahkan terus-menerus sepanjang tahun.

Menurut Ibnu Baz, amalan Ubay bin Ka’b radhiallahu ‘anhu meninggalkannya pada separuh pertama Ramadhan, barangkali untuk menunjukkan bahwa qunut witir tidak wajib.

Adapun al-‘Utsaimin dan al-Albani, keduanya berpendapat bahwa qunut witir disunnahkan secara mutlak kapan saja sepanjang tahun, tidak khusus pada separuh terakhir Ramadhan. Hanya saja, qunut tidak dilakukan terus-menerus setiap kali witir, tetapi terkadang dilakukan dan terkadang tidak.

Kata al-‘Utsaimin dalam asy-Syarh al-Mumti’ (4/19-20), “Yang mengamati shalat malam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan mengetahui bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak qunut pada witirnya, tetapi hanya mengakhiri shalat malamnya dengan satu rakaat witir. Inilah yang terbaik.

“Anda jangan melakukan qunut witir terus menerus karena hal itu tidak tsabit (benar) riwayatnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajari al-Hasan bin ‘Ali radhiallahu ‘anhuma doa yang dibaca pada qunut witir, yang menunjukkan bahwa qunut witir hukumnya sunnah. Hal itu berdasarkan sabdanya, bukan berdasarkan amalannya shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Bahkan, dalam hal ini al-Albani menilai sahih hadits Ubay bin Ka’ab radhiallahu ‘anhu dengan lafadz,

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّمَ كَانَ يُوتِرُ فَيَقْنُتُ قَبْلَ الرُّكُوْعِ.

“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa qunut witir sebelum rukuk.” (HR. an-Nasa’i, Ibnu Majah, ad-Daraquthni, al-Baihaqi, dan lainnya)

Dengan pendapat ini, al-Albani menyelisihi sejumlah imam-imam ahli hadits masa lalu yang memvonis hadits ini dha’if (lemah), terutama al-Imam Ahmad—sebagaimana telah disebutkan sebelumnya. Abu Dawud memvonis hadits ini cacat dengan alasan penyebutan qunut pada riwayat ini berstatus syadz (keliru/ganjil). Begitu pula Ibnu Khuzaimah, Ibnul Mundzir, dan al-Baihaqi memvonisnya dha’if.

Akan tetapi, al-Albani berupaya menghukuminya dengan menilainya sebagai tambahan riwayat dari sejumlah rawi tsiqah (tepercaya) yang patut diterima (ziyadah ats-tsiqah) dan dikuatkan pula oleh hadits-hadits yang semakna dengannya (syawahid).[7]

Lantas al-Albani berkata dalam Ashlu Shifat ash-Shalah (3/970), “Ketahuilah, kami mengatakan bahwa qunut witir hanyalah disunnahkan dengan sifat kadang-kadang (tidak terus-menerus setiap kali witir). Sebab, kami telah menelusuri/meneliti hadits-hadits mengenai witir Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam—yang jumlahnya banyak—lantas kami menemukan mayoritas hadits-hadits itu tidak menyinggung qunut sama sekali, seperti hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, hadits Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma, dan lainnya.

“Kaidah menuntut untuk memadukan antara hadits-hadits itu, hadits Ubay, dan hadits yang semakna dengannya, dengan mengatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terkadang qunut witir dan terkadang tidak. Sebab, andaikan beliau melakukan qunut terus-menerus, tentulah tidak akan tersembunyi dari pengetahuan mayoritas sahabat yang telah meriwayatkan shalat witir Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”[8]

Inilah yang terbaik dalam masalah ini. Wallahul muwaffiq.

(insya Allah bersambung)

[1] Riwayat ini dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam kitab al-Mushannaf (Kitab ash-Shalah, bab Man Kana La Yaqnutu fil witri, no. 7018).

[2] Pada kitab Shifat ash-Shalah (hlm. 180).

[3] Lihat kitab Mushannaf Abdir Razzaq (4/Kitab ash-Shiyam, bab Qiyam Ramadhan, no. 7728, terbitan al-Maktabah al-Islami) dan Mushannaf Ibni Abi Syaibah (Kitab ash-Shalah, bab Man Qala al-Qunut fi an-Nishfi min Ramadhan, no. 7009).

[4] Riwayat ini dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam kitab al-Mushannaf (Kitab ash-Shalah, bab Man Qala al-Qunut fi an-Nishfi min Ramadhan, no. 7005)

[5] Sebagian ulama berpendapat disunnahkan qunut pada shalat witir pada rangkaian shalat tarwih di bulan Ramadhan sebulan penuh, tidak di luar Ramadhan. Ibnu ‘Abdil Barr menukil pendapat ini dari al-Auza’i; dan an-Nawawi menukilnya dari sebagian fuqaha mazhab Syafi’i.

[6] Guru besar kami, Muqbil bin Hadi al-Wadi’i rahimahullah, menukil bahwa hadits ini termasuk dari sederetan hadits-hadits yang ad-Daraquthni menuntut al-Imam al-Bukhari dan Muslim seharusnya mengeluarkannya dalam kitab Shahih keduanya.

[7] Lihat kitab Talkhish Habir (2/39, no. 533, Muassasah Qurthubah), al-Irwa’ (2/167-168, no. 426), dan Ashlu Shifat ash-Shalah (3/968-969).

[8] Kata al-Albani dalam kitab Ashlu Shifati ash-Shalati (3/970) , “Hal itu menunjukkan bahwa qunut witir tidak wajib, tetapi hanya sunnah sebagaimana mazhab jumhur sahabat, tabi’in dan ulama setelahnya. Ini pula mazhab Abu Yusuf dan Muhammad (asy-Syaibani), berbeda dengan mazhab ustadz mereka yang mengatakan bahwa qunut witir wajib.” Maksudnya, wajib pada setiap kali witir.

Jual Beli Barang Yang Belum Dikuasai

Ada calon pembeli pesan barang kepada penjual. Sudah terjadi kesepakatan harga, namun pembeli belum melakukan pembayaran. Kemudian penjual membeli barang dimaksud ke pemilik barang/supplier. Terjadi transaksi antara penjual dan supplier, lantas penjual membayar ke supplier. Barang dikirim ke penjual, kemudian penjual mengirimnya ke pembeli. Apakah model transaksi ini dibenarkan oleh syariat?

 

Dijawab oleh al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad as-Sarbini

Model transaksi yang digambarkan pada pertanyaan di atas tidak dibolehkandalam syariat yang agung ini, karena tergolong transaksi jual beli barang yang belum dimiliki.

Telah terjadi kesepakatan harga barang antara penjual dan pembeli meskipun belum dibayar. Artinya, telah terjadi akad transaksi jual beli antara keduanya padahal penjual belum punya barangnya. Setelah transaksi itu barulah penjual membeli barang tersebut kepada pemilik barang/supplier, lantas barang itu dikirim ke pembeli dan minta dikirim bayarannya.

Sebagian berdalih bahwa dirinya adalah wakil pemilik barang/supplier dan telah terjadi pembicaraan untuk menjualkan barangnya. Akan tetapi, realitasnya adalah setelah dia bertransaksi dengan pembeli, dia baru menghubungi pemilik barang/supplier untuk membeli darinya barang yang telah dipesan oleh pembeli.

Transaksi yang dilakukan antara penjual dan supplier—setelah penjual melakukan transaksi dengan pembeli—menunjukkan bahwa sesungguhnya dia bukan wakil, dan dia telah menjual barang yang tidak dimilikinya.

Yang namanya wakil adalah orang diamanati sebagai wakil pemilik barang untuk menjualkan barangnya kepada pembeli yang mau, dengan kesepakatan tertentu antara pemilik barang dengan wakil mengenai harga jual dan jasanya sebagai wakil dalam melariskan barangnya.

Misalkan, wakil dipersilakan menjual di atas harga yang ditetapkan supplier dan selisihnya sebagai jasanya, atau wakil diberi kebebasan menentukan harga jual lantas ia diberi jasa sekian persen dari harga jual itu. Jadi, transaksi yang terjadi hanya satu kali, yaitu antara pembeli dengan wakil pemilik barang.

Adapun mengaku sebagai wakil, tetapi setelah bertransaksi dengan pembeli ia pun bertransaksi dengan pemilik barang sesuai yang diinginkan pembeli, itu bukan perwakilan. Itu namanya menjual sesuatu yang belum dimiliki dan hal itu haram.

Di antara syarat jual beli adalah transaksi dilakukan oleh pemilik barang atau wakilnya. Begitu pula, di antara syarat jual beli adalah menjual sesuatu yang telah dikuasai penuh sehingga mampu diserahkan kepada pembeli. Apabila kedua syarat ini dilanggar, berarti ia menjual sesuatu yang tidak dimiliki dan termasuk dalam kategori gharar (spekulasi judi) yang merupakan transaksi yang batil.

Terdapat nash dalam as-Sunnah yang menetapkan syarat kepemilikan barang, yaitu hadits Hakim bin Hizam radhiallahu ‘anhu,

        يَارَسُولَ اللهِ، يَأْتِينِيْ الرَّجُلُ فَيُرِيدُ مِنِّي الْبَيْعَ لَيْسَ عِنْدِيْ، أَفَأَبْتَاعُهُ لَهُ مِنَ السُّوقِ؟ فَقَالَ: لاَ تَبِعْ مَا لَيْسَ عِنْدَكَ

“Wahai Rasulullah, seorang pria datang kepadaku lalu ia ingin bertransaksi jual beli denganku yang tidak kumiliki. Apakah boleh aku belikan untuknya dari pasar?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kamu jangan menjual apa yang tidak kamu miliki.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi—dengan berkata, “Hadits ini hasan”—, an-Nasa’i, Ibnu Majah, dan lainnya. Dinilai sahih oleh al-Albani)[1]

Terdapat tiga pendapat yang berbeda dalam menafsirkan hadits ini yang dinukil oleh Ibnu Taimiyah dan dinukil darinya oleh muridnya, Ibnul Qayyim, dalam Zadul Ma’ad.[2]

Tafsir yang dianggap paling tampak kebenarannya oleh Ibnul Qayyim rahimahullah adalah larangan penjualan sesuatu yang disifatkan dalam dzimmah/tanggung jawab tanpa penentuan fisik barangnya (bersifat mutlak) yang tidak dimiliki dan tidak mampu diserahkan kepada pembeli.

Dengan akad itu berarti penjual telah mengeruk laba sebelum dia memiliki barangnya, sebelum menjadi tanggung jawabnya, dan sebelum mampu ia serahkan. Ini termasuk dalam kategori jual beli yang mengandung gharar (spekulasi judi).

Apabila hadits ini melarang penjualan sesuatu yang disifatkan dalam dzimmah/tanggung jawab (bersifat mutlak), lebih terlarang lagi tidak boleh menjual sesuatu barang yang telah ditentukan fisik barangnya (bersifat mua’yyan) yang merupakan harta benda milik orang lain.

Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah menjelaskan bahwa spekulasi (mukhatharah) ada dua macam:

  1. Spekulasi perdagangan.

Seseorang membeli barang dagangan dengan maksud berdagang dan meraih laba, dan ia bertawakal kepada Allah subhanahu wa ta’ala pada perdagangannya. Pedagang yang berspekulasi dengan membeli barang dagangan, kemudian harganya turun di pasaran (sehingga pedagang rugi), hal seperti itu Allah subhanahu wa ta’ala yang mengaturnya, tidak ada upaya manusia atas hal ini.

Pada perdagangan ini, pihak pembeli tidak terzalimi oleh penjual (ketika mengambil untung dari penjualannya).

 

  1. Spekulasi perjudian.

Ini adalah spekulasi adu nasib yang mengandung perbuatan memakan harta secara batil. Lantas Ibnul Qayyim menyebutkan contoh-contohnya.

Kemudian Ibnul Qayyim menegaskan pula bahwa penjualan sesuatu yang tidak dimiliki adalah termasuk kategori perjudian/mengadu nasib. Dalam hal ini pembeli tidak tahu bahwa penjual telah menjual kepadanya suatu barang yang tidak dimilikinya, lalu ia membelinya dari orang lain setelah itu. Jika orang banyak mengetahui hal itu, mereka tidak akan mau membeli darinya. Tentu saja mereka akan pergi sendiri ke tempat ia membelinya.

Jenis ini bukan spekulasi para pedagang yang berdagang, melainkan spekulasi orang yang terburu-buru menjual suatu barang sebelum ia berkemampuan menyerahkannya kepada pembeli. Apabila pedagang telah membeli barang yang ingin diperdagangkannya dan telah menggenggam dan menguasainya, hal itu masuk dalam kategori spekulasi perdagangan. Dia menjualnya dalam perdagangan sesuai dengan yang Allah subhanahu wa ta’ala halalkan pada firman-Nya,

          يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَأۡكُلُوٓاْ أَمۡوَٰلَكُم بَيۡنَكُم بِٱلۡبَٰطِلِ إِلَّآ أَن تَكُونَ تِجَٰرَةً عَن تَرَاضٖ مِّنكُمۡۚ

‘Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian saling memakan harta di antara kalian dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan rela sama rela di antara kalian.’ (an-Nisa’: 29)[3]

Dari keterangan Ibnul Qayyim rahimahullah di atas, kita ketahui bahwa kendati seseorang telah memiliki suatu barang dengan membelinya melalui akad yang sempurna, barang itu belum boleh ia jual kembali kepada siapapun hingga ia kuasai secara penuh, karena masih mengandung gharar (spekulasi judi). Sebab, selama ia belum menguasainya secara penuh, boleh jadi penjual menyerahkan kepadanya dan boleh jadi tidak.

Apalagi jika penjual melihatnya telah mengeruk laba dari barang itu sebelum diangkut dari tempatnya, sehingga ia berusaha membatalkan akad dengan mengingkari atau rekayasa pembatalan.

Di samping itu, dikhawatirkan pula timbul kebencian/permusuhan antara keduanya. Inilah sebab/faktor dilarangnya hal itu dilarang—menurut pendapat yang rajih—sebagaimana telah ditegaskan oleh Ibnu Taimiyah dan Ibnu ‘Utsaimin.

Jadi, untuk bisa menjual barang belian itu, ia terlebih dahulu harus menggenggamnya/menguasainya secara penuh dengan cara mengangkutnya/memindahnya dari tempat penjual ke tempatnya, seperti rumah, toko, atau semisalnya. Dalilnya adalah:

  • Hadits Zaid bin Tsabit radhiallahu ‘anhu, ia berkata,

إِنَّ رَسُولَ اللهِ نَهَى أَنْ تُبَاعَ السِّلَعُ حَيْثُ تُبْتَاعُ حَتَّى يَحُوزَهَا التُّجَّارُ إِلَى رِحَالِهِمْ

“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang penjualan barang-barang dagangan di tempat dibelinya barang-barang itu hingga para pedagang mengangkutnya ke rumah-rumah mereka.” (HR. Abu Dawud, dinyatakan hasan oleh al-Albani dengan penguatnya)[4]

  • Hadits Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma, ia berkata,

قَدْ رَأَيْتُ النَّاسَ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللهِ إِذَا ابْتَاعُوا الطَّعَامَ جِزَافًا يُضْرَبُونَ فِيْ أَنْ يَبِيعُوهُ فِي مَكَانِهِمْ، وَذَلِكِ حَتَّى يُؤْوُوهُ إِلَى رِحَالِهِمْ

“Sungguh, aku telah menyaksikan di masa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, apabila mereka membeli makanan dengan system borong, mereka dipukul[5] karena menjualnya di tempat pembeliannya, hingga mereka mengangkutnya ke rumah-rumah mereka.” (Muttafaq ‘alaih)

Namun, jika pembeli telah mengangkutnya/memindahnya dari tempat penjual ke tempat lain yang berada di luar wewenang penjual, hal itu sudah cukup.

Ini adalah pendapat jumhur ulama yang difatwakan oleh al-Lajnah ad-Da’imah (yang saat itu diketuai oleh Ibnu Baz). Hal ini ditunjukkan oleh hadits Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma di atas pada riwayat Muslim lainnya dengan lafadz,

كُنَّا نَشْتَرِي الطَّعَامَ مِنَ الرُّكْبَانِ جِزَافًا، فَنَهَانَا رَسُولُ اللهِ أَنْ نَبِيعَهُ حَتَّى نَنْقُلَهُ مِنْ مَكَانِهِ

“Kami membeli makanan dari para pedagang asing dengan system borong, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kami menjualnya hingga kami mengangkutnya dari tempatnya.”

Pada riwayat Muslim lainnya dengan lafadz,

كُنَّا فِي زَمَانِ رَسُولِ اللهِ نَبْتَاعُ الطَّعَامَ، فَيَبْعَثُ عَلَيْنَا مَنْ يَأْمُرُنَا بِانْتِقَالِهِ مِنَ الْمَكَانِ الَّذِي ابْتَعْنَاهُ فِيهِ إِلَى مَكَانٍ سِوَاهُ قَبْلَ أَنْ نَبِيعَهُ

“Pada zaman Rasulullah, kami membeli makanan, lantas beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus kepada kami petugas yang memerintahkan agar barang itu diangkut dari tempat kami membelinya ke tempat lain sebelum kami menjualnya.”

Al-Imam Ahmad rahimahullah pada salah satu riwayat darinya mengkhususkan hukum ini berlaku pada makanan. Beliau berdalil dengan hadits Jabir bin ‘Abdillah radhiallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا ابْتَعْتَ طَعَامًا فَلَا تَبِعْهُ حَتَّى تَسْتَوْفِيَهُ

“Apabila engkau membeli makanan, jangan engkau jual hingga engkau mengangkutnya ke tempatmu.” ( HR. Muslim)

Menurut pendapat ini, jika membeli binatang, kendaraan, perabot rumah, dan semacamnya selain makanan, boleh dijual lagi walaupun di tempat transaksi.

Namun, pendapat ini lemah. Yang rajih, hukum ini umum meliputi seluruh jenis barang. Ini adalah pendapat Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma, asy-Syafi’i, dan riwayat lain dari Ahmad, yang dipilih Ibnu ‘Aqil, Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, asy-Syaukani, ash-Shan’ani, dan al-‘Utsaimin.

Dalilnya adalah keumuman makna hadits Zaid bin Tsabit yang telah disebutkan sebelumnya dan hadits Hakim bin Hizam radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا اشْتَرَيْتَ بَيْعًا فَلاَ تَبِعْهُ حَتَّى تَقْبِضَهُ

“Jika kamu membeli suatu barang, jangan kamu jual hingga kamu menggenggamnya.” (HR. Ahmad, an-Nasa’i, dan Ibnu Hibban; dinyatakan sahih oleh al-Albani)[6]

Hanya saja, untuk harta yang bersifat tetap (tidak bergerak), seperti tanah, rumah, gedung, dan semacamnya, penggenggamannya dilakukan dengan cara takhliyah (pembeli dipersilakan dan dibiarkan dengan harta itu secara bebas tanpa ada penghalang).[7]

Buah di pohon boleh dijual setelah takhliyah meskipun belum dipetik, menurut riwayat terkuat dari Ahmad yang dipilih oleh Ibnu Taimiyah dan Ibnu ‘Utsaimin. Sebab, menggenggam buah di pohon selama masa penantian waktu panen adalah di luar kemampuan pembeli.

Ini seperti dibolehkannya penyewa suatu barang untuk menyewakannya kepada orang lain setelah diserahkan kepadanya, padahal tanggung jawab harta itu—pada kedua masalah ini—masih di tangan pemiliknya.

Ibnu Taimiyah memperkecualikan dua perkara yang dibolehkan kendati belum digenggam/dikuasai penuh, yaitu,

  1. menjualnya kembali kepada penjual itu sendiri
  2. menjualnya kepada orang lain secara tauliyah (kembali modal), tidak mengeruk keuntungan sepeser pun.

Alasannya, illat/faktor hukum larangan itu ternafikan pada kedua masalah ini.

Sementara itu, Ibnu ‘Utsaimin tidak menyetujui pengecualian tersebut, karena illat hukum tersebut adalah hasil ijtihad semata, yang mungkin benar dan mungkin pula keliru. Jadi, ia tidak kuat untuk dijadikan alasan pengkhususan sebagian masalah keluar dari keumuman makna nash.

Yang terbaik adalah menetapkan keumuman makna hadits tanpa pengecualian apapun demi mengikuti lahiriah hadits. Tentu saja, apa yang dikatakan Ibnu ‘Utsaimin lebih hati-hati. Wallahu a’lam.[8]

[1] Lihat kitab al-Irwa’ no. 1292.

[2] Lihat kitab ZadulMa’ad (5/811—813)

[3] Lihat kitab Zadul Ma’ad (5/816).

[4] Lihat kitab Shahih Sunan Abi Dawud (no. 3499).

[5] Yakni sebagai hukuman agar jera.

[6] Lihat kitab Shahih al-Jami’ (no. 342).

[7] Misalnya, jika harta itu berupa rumah, caranya ialah diberi kuncinya.

[8] Lihat kitab Syarhu Muslim lin Nawawi (pada “Bab Buthlan Bai’ al-Mabi’I Qabla al-Qabdhi”), Fathul Bari (pada “Bab Bai’ ath-Tha’am Qabla an Yuqbadha”), al-Mughni (6/181—184, 186—191, 194), al-Ikhtiyarat (hlm. 187—188), Nailul Authar (pada “Bab Nahyi al-Musytari ‘an Bai’ Ma Isytarahu Qabla Qabdhihi”), as-Sail al-Jarrar (3/15—16), Subulus Salam, Fathu Dzil Jalal wal Ikram (pada “Bab Syuruthihi wa Ma Nuhiya ‘anhu” syarah hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dan hadits Zaid bin Tsabit radhiallahu ‘anhu), asy-Syarh al-Mumti’ (8/366—372, 376—380, 385—387), dan Fatawa al-Lajnah (13/ 240, 247, 258—259).

Najiskah Tubuh Orang Kafir?

Bismillah. Apakah orang kafir dianggap najis?

 Dijawab oleh al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad as-Sarbini

Masalah orang kafir najis secara fisik atau tidak, termasuk masalah khilafiah di antara alim ulama.

  1. Pendapat bahwa fisik orang kafir yang bernyawa dan mayatnya adalah najis dinyatakan oleh mazhab sebagian fuqaha Zahiriah, seperti Ibnu Hazm az-Zahiri dalam kitab al-Muhalla.

Dalilnya adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala,

          يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِنَّمَا ٱلۡمُشۡرِكُونَ نَجَسٞ فَلَا يَقۡرَبُواْ ٱلۡمَسۡجِدَ ٱلۡحَرَامَ بَعۡدَ عَامِهِمۡ هَٰذَاۚ

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis. Oleh karena itu, janganlah mereka mendekati Masjidil Haram sesudah tahun ini.” (at-Taubah: 28)

Yang dimaksud adalah fisik orang kafir adalah najis sehingga tidak boleh mendekati Masjidil Haram, apalagi memasukinya.

 

  1. Ada pula yang berpendapat bahwa fisik orang kafir yang bernyawa adalah suci seperti kesucian fisik muslim.

Pendapat ini adalah mazhab jumhur (mayoritas) ulama, termasuk empat imam mazhab (Abu Hanifah, Malik, asy-Syafi’i, dan Ahmad).

Pendapat ini dirajihkan (dikuatkan) oleh an-Nawawi, Ibnu Qudamah, as-Sa’di, asy-Syaukani, dan al-‘Utsaimin.

Dalilnya adalah,

  1. Hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu,

بَعَثَ النَّبِيُّ خَيْلاً قِبَلَ نَجْدٍ، فَجَاءَتْ بِرَجُلٍ مِنْ بَنِي حَنِيفَةَ يُقَالُ لَهُ ثُمَامَةُ بْنُ أُثَالٍ، فَرَبَطُوهُ بِسَارِيَةٍ مِنْ سَوَارِي الْمَسْجِدِ، فَخَرَجَ إِلَيْهِ النَّبِيُّ فَقَالَ: أَطْلِقُوا ثُمَامَةَ !فَانْطَلَقَ إِلَى نَخْلٍ قَرِيبٍ مِنَ الْمَسْجِدِ، فَاغْتَسَلَ، ثُمَّ دَخَلَ الْمَسْجِدَ، فَقَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirim pasukan berkuda ke arah Najd. Kemudian pasukan tersebut kembali dengan membawa seorang tawanan dari Bani Hanifah yang bernama Tsumamah bin Utsal. Mereka lantas mengikatnya di salah satu tiang Masjid Nabawi. Saat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menemuinya, beliau berkata, ‘Bebaskan Tsumamah!’ Lalu Tsumamah beranjak ke pohon kurma yang tidak jauh dari Masjid Nabawi, mandi, lalu masuk masjid, lantas berkata, ‘Aku bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang benar selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah’.” (Muttafaq ‘alaih)

Di dalam hadits ini, para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengikat tubuh Tsumamah yang masih kafir di salah satu tiang masjid. Seandainya fisik orang kafir itu najis, tidak mungkin ia dimasukkan ke Masjid Nabawi yang suci.

 

  1. Allah subhanahu wa ta’ala membolehkan memakan sembelihan ahli kitab dan menikah dengan wanita mereka, sebagaimana pada surat al-Ma’idah ayat 5.

Tentu tidak bisa dimungkiri bahwa ahli kitab menjamah sembelihan mereka, dan muslim yang menikahi wanita ahli kitab akan menjamah tubuh istrinya, sementara tidak ada perintah untuk menyucikan diri dari najis akibat persentuhan itu.

 

  1. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membolehkan penggunaan bejana-bejana makan/minum bekas orang kafir tanpa harus dicuci.

Hal ini berdasarkan hadits Jabir radhiallahu ‘anhu,

كُنَّا نَغْزُو مَعَ رَسُولِ اللهِ فَنُصِيبُ مِنْ آنِيَةِ الْمُشْرِكِينَ وَأَسْقِيَتِهِمْ فَنَسْتَمْتِعُ بِهَا فَ يَعِيبُ ذَلِكَ عَلَيْهِمْ

“Adalah kami biasa berperang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian kami berhasil merampas bejana-bejana dan wadah-wadah air dari kulit milik orang-orang musyrik. Lantas kami menggunakannya (untuk makan dan minum). Ternyata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mencela mereka karena hal itu.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud, dinyatakan sahih oleh al-Albani dan al-Wadi’i)[1]

Dalam hadits ‘Imran bin Hushain radhiallahu ‘anhu yang panjang, di antara isinya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sahabatnya berwudhu dari mazadah (kantong air yang terbuat dari kulit bangkai yang telah disamak) milik wanita musyrik. (Muttafaq ‘alaih)[2]

Namun, Abu Tsa’labah al-Khusyani radhiallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَمَّا مَا ذَكَرْتَ أَنَّكَ بِأَرْضِ قَوْمٍ أَهْلِ الْكِتَابِ تَأْكُلُ فِي آنِيَتِهِمْ، فَإِنْ وَجَدْتُمْ غَيْرَ آنِيَتِهِمْ فَلاَ تَأْكُلُوا فِيهَا، وَإِنْ لَمْ تَجِدُوا فَاغْسِلُوهَا، ثُمَّ كُلُوا فِيهَا

“Adapun yang kamu sebutkan bahwa kamu berada di daerah ahli kitab, yang kamu makan dari bejana-bejana mereka; Jika kamu bisa mendapatkan selain bejana-bejana mereka, jangan makan dari bejana-bejana mereka. Jika kamu tidak bisa mendapatkan selain dari bejana-bejana mereka, cucilah terlebih dahulu lalu makanlah darinya.” (Muttafaq ‘alaih)

Jawabannya, terdapat dua tafsir dalam memahami hadits ini.

  1. Larangan pada hadits ini bersifat makruh, tidak haram.
  2. Hadits ini tertuju kepada orang-orang kafir yang sering makan daging babi dan mereka menampakkan hal itu secara terang-terangan.

Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah mendukung tafsir yang kedua. Al-Albani rahimahullah juga memilih tafsir yang kedua berdasarkan riwayat lain dari hadits tersebut dengan lafadz, Abu Tsa’labah al-Khusyani radhiallahu ‘anhu berkata,

يَا نَبِيَّ اللهِ، إِنَّ أَرْضَنَا أَرْضُ أَهْلِ كِتَابٍ وَإِنَّهُمْ يَأْكُلُونَ لَحْمَ الْخِنْزِيرِ وَيَشْرَبُونَ الْخَمْرَ، فَكَيْفَ أَصْنَعُ بِآنِيَتِهِمْ وَقُدُورِهِمْ؟ قَالَ: إِنْ لَمْ تَجِدُوا غَيْرَهَا فَارْحَضُوهَا وَاطْبَخُوا فِيهَا وَاشْرَبُوا

“Wahai Nabi Allah, sesungguhnya daerah kami adalah daerah ahli kitab dan mereka makan daging babi dan minum khamr. Apa yang mesti saya lakukan dengan bejana-bejana dan panci-panci mereka?”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika kalian tidak mendapatkan selainnya, cucilah terlebih dahulu, memasaklah dengannya, dan minumlah darinya.” (HR. Ahmad. Dinyatakan sahih oleh al-Albani menurut syarat al-Bukhari & Muslim)[3]

Berdasarkan dalil-dalil di atas, tampak jelas bahwa fisik orang kafir tidak najis. Tampak pula bahwa yang dimaksud oleh firman Allah subhanahu wa ta’ala,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِنَّمَا ٱلۡمُشۡرِكُونَ نَجَسٞ فَلَا يَقۡرَبُواْ ٱلۡمَسۡجِدَ ٱلۡحَرَامَ بَعۡدَ عَامِهِمۡ هَٰذَاۚ

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis. Oleh karena itu, janganlah mereka mendekati Masjidil Haram sesudah tahun ini.” (at-Taubah: 28)

Najis dalam ayat di atas adalah najis maknawi (akidah dan amalan mereka). Artinya, mereka najis dengan kekufuran dan kesyirikan mereka sehingga tidak pantas dan tidak boleh mendekati Masjidil Haram, apalagi memasukinya. Inilah pendapat yang rajih dalam masalah ini.

Adapun mayatnya, jumhur berbeda pendapat. Ada yang mengatakan suci dan ada yang mengatakan najis.

Di kalangan fuqaha mazhab Hanbali dan Syafi’i, terdapat dua pendapat tersebut. Akan tetapi, yang dianggap benar dan menjadi pegangan mazhab Hanbali dan Syafi’i adalah pendapat yang mengatakan suci.

Ulama yang berpendapat najis berdalil dengan ayat di atas dan berhujah bahwa mayat orang kafir tidak disyariatkan dimandikan. Hal itu menunjukkan kenajisannya, karena sesuatu yang substansinya najis, tidak ada gunanya dicuci/dimandikan.

Yang berpendapat suci menjawab bahwa yang dimaksud dengan najis pada ayat itu adalah najis maknawi sebagaimana telah diulas di atas.

Adapun bahwa mayat kafir tidak dimandikan, itu bukan karena kenajisannya. Illat (faktor) hukum mayat muslim dimandikan adalah untuk memuliakannya, sedangkan orang kafir tidak pantas dan tidak berhak dimuliakan sehingga mayatnya tidak dimandikan.

An-Nawawi, Ibnu Qudamah, as-Sa’di, dan Ibnu ‘Utsaimin merajihkan pendapat bahwa mayat orang kafir adalah suci.

Wallahu a’lam.[4]



SYARAT TOBAT

Jika seorang muslim mencabut diri dari dosa-dosa yang dahulu dia lakukan, apa saja syarat yang harus dipenuhi terkait orang yang bertobat dari sebuah dosa? Apa nasihat Anda untuk orang yang melakukan kemaksiatan agar dia bisa bertobat sebelum datang ajalnya—sehingga dia merugi dan menyesal?

 Jawab:

  1. Dia harus memenuhi syarat-syarat taubat sebagai berikut:
    • Seseorang bertobat dengan tobat yang jujur dan tulus,
    • menyesali dosa yang telah dilakukan,
    • bertekad kuat untuk tidak mengulanginya,
    • jika dosanya terkait dengan sesuatu yang bisa dikembalikan seperti harta, dia kembalikan kepada pemiliknya; jika tidak terkait dengan sesuatu yang bisa dikembalikan, dia meminta kemurahan dan maaf dari pihak-pihak yang dizalimi, disertai doa kebaikan untuk mereka dan pujian terhadap kebaikan mereka yang dia ketahui.
  1. Kami nasihatkan agar dia:
    • membaca al-Qur’an dan hadits-hadits tentang targhib (anjuran berbuat kebaikan) dan tarhib (ancaman atas perbuatan dosa),
    • mengingat negeri akhirat dan berbagai keadaannya yang menakutkan,
    • bergaul dengan orang-orang yang baik dan menjauhi orang-orang yang buruk.

Semoga Rabbnya akan menerima tobatnya dari dosa dan mengampuninya, dan dia bisa menolak bisikan nafsunya yang mengajak kepada maksiat.

Wa billahit taufiq, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa alihi wa shahbihi wa sallam.

Ketua: Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz; Wakil Ketua: Abdur Razzaq Afifi;

Anggota: Abdullah bin Ghudayyan, Abdullah bin Qu’ud

(Fatawa al-Lajnah 24/297—298, pertanyaan ke-6 dari fatwa no. 3866)


APAKAH SHALAT ADALAH SYARAT TOBAT?

Saya telah kembali kepada Allah dan bertobat dari segala dosa—saya memohon ampunan kepada Allah. Saya mendengar bahwa orang yang bertobat harus melakukan shalat dua rakaat tanpa ada waswas padanya, lalu dia bertobat setelah atau saat sedang melakukan shalat tersebut.

Saya telah bertanya kepada salah seorang saudara di jalan Allah, dia menjawab, “Tobat dilakukan tanpa harus shalat. Kapanpun waktunya, engkau bisa bertobat. Engkau tidak perlu shalat (untuk bertobat).

Apa yang seharusnya saya lakukan? Berilah bimbingan kepada saya. Semoga Allah membalasi Anda dengan kebaikan.

Jawab:

Shalat dua rakaat tidak menjadi syarat sahnya tobat.

Yang dipersyaratkan adalah mencabut diri dari dosa, bertekad kuat untuk tidak mengulangi, menyesali apa yang telah luput, dan membebaskan diri dari hak-hak para makhluk. Allah akan menerima tobat kami dan Anda.

Akan tetapi, barang siapa bersuci dan shalat dua rakaat kemudian bertobat kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan menyesali dosa yang telah berlalu, mencabut diri darinya, bertekad dengan jujur tidak mengulanginya, tentu ini lebih sempurna dan lebih mendekatkan kemungkinan tobatnya diterima.

Ini berdasarkan hadits dari Abu Bakr ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ رَجُلٍ يُذْنِبُ ذَنْبًا فَيَتَوَضَّأُ فَيُحْسِنُ الْوُضُوءَ ثُمَّ يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ فَيَسْتَغْفِرُ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا غَفَرَ لَهُ

“Tidak ada seseorang yang berbuat dosa lalu berwudhu dan memperbagusnya, kemudian shalat dua rakaat dan memohon ampunan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, kecuali Dia subhanahu wa ta’ala akan mengampuninya.” (HR. Ahmad dalam al-Musnad)[5]

Wa billahit taufiq, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa alihi wa shahbihi wa sallam.

Ketua: Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz;

Wakil Ketua: Abdul Aziz bin Abdillah Alu Syaikh;

Anggota: Shalih bin Fauzan al-Fauzan

(Fatawa al-Lajnah, 24/309—310, pertanyaan kedua dari fatwa no. 19045)

 


TOBAT, TETAPI BERBUAT DOSA LAGI

Apa hukum orang yang bertobat dari sebuah dosa kemudian jatuh lagi pada dosa yang sama?

 Jawab:

Apabila dahulu dia telah bertobat dari dosa tersebut dengan ikhlas, niat yang jujur, mencabut diri dari dosa tersebut, dan menyesalinya, kemudian setan membisikinya dan dia dikalahkan oleh hawa nafsunya yang memerintahkan kepada kejelekan hingga terjatuh lagi dalam dosa yang sama untuk kedua kali, ketiga kali, dan seterusnya; tidak akan kembali dosa yang dahulu dia telah bertobat darinya dengan jujur.

Hendaknya dia kembali bertobat setelah melakukan dosa tersebut yang kedua kali atau ketiga kali. Selain itu, hendaknya ia juga menempuh sebab yang menjauhkan dirinya dari perbuatan dosa tersebut.

Wa billahit taufiq, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa alihi wa shahbihi wa sallam.

Ketua: Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz;

Wakil Ketua: Abdur Razzaq Afifi

(Fatawa al-Lajnah, 24/318—319, pertanyaan ketiga dari fatwa no. 3025)

 


Seseorang berbuat dosa lalu beristighfar, kemudian berbuat dosa lagi dan beristighfar lagi, begitu seterusnya. Selama beberapa waktu dia berhenti berbuat dosa, tetapi kemudian melakukannya lagi. Bagaimana hukumnya?

 Jawab:

Apabila dia beristighfar (memohon ampunan) kepada Allah subhanahu wa ta’ala, bertobat dengan tobat nasuha, dan mencabut diri dari dosa tersebut, Allah subhanahu wa ta’ala menerima tobatnya dan mengampuninya.

Apabila ia kembali melakukan dosa tersebut lalu memohon ampunan (kepada Allah), bertobat dengan tobat nasuha, dan mencabut diri dari dosa tersebut, Allah akan menerima tobatnya dan mengampuninya. Demikian seterusnya.

Dosa yang terdahulu tidaklah kembali setelah dia melakukan tobat yang jujur. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَإِنِّي لَغَفَّارٞ لِّمَن تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ صَٰلِحٗا ثُمَّ ٱهۡتَدَىٰ ٨٢

“Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertobat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar.” (Thaha: 82)

إِنَّ رَبَّكَ وَٰسِعُ ٱلۡمَغۡفِرَةِۚ

        “Sesungguhnya Rabbmu Mahaluas ampunan-Nya.” (an-Najm: 32)

Wa billahit taufiq, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa alihi wa shahbihi wa sallam.

Ketua: Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz;

Wakil Ketua: Abdur Razzaq Afifi;

Anggota: Abdullah bin Ghudayyan, Abdullah bin Qu’ud

(Fatawa al-Lajnah 24/319, pertanyaan ke-2 dari fatwa no. 7825)

[1] al-Irwa’ (1/76) dan al-Jami’ ash-Shahih (1/429).

[2] Kitab Bulughul Maram (Bab “al-Aniyah” no. 22 ), al-Irwa’ (1/no. 36), dan ats-Tsamar al-Mustathab (1/8).

[3] ats-Tsamar al-Mustathab (1/8)

[4] al-Muhalla (1/no.134), al-Mughni (1/63), al-Inshaf (1/337—338), Manhajus Salikin li as-Sa’di, al-Majmu’ (2/579—581), al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim (4/Kitab al-Haidh, Bab “ad-Dalil ‘ala Anna al-Muslima La Yanjusu”), Fathul Bari (1/Kitab al-Ghusli, Bab “Araq al-Junubwa Anna al-Muslima La Yanjus”, 3/Kitab al-Jana’iz, Bab “Ghusli al-Mayyit wa Wudhu’ihi”), Majmu’ al-Fatawa (21/67), Nailul Authar (1/Kitab ath-Thaharah, Bab “Thaharah al-Ma’i al-Mutawadhdhai bihi”, syarah hadits Hudzaifah radhiallahu ‘anhu), as-Sail al-Jarrar (1/38—39), Fathul Qadir (tafsir at-Taubah ayat ke-28), Tafsir Ibni Katsir (tafsir at-Taubah ayat ke-28), dan asy-Syarh al-Mumti’ (1/447—448).

[5] HR. Ahmad (1/2) Abu Dawud (2/180 no. 1521), at-Tirmidzi (2/258, 5/228 no. 406 & 3006), dan lainnya.

Shalat 12 Rakaat Setiap Hari, Dibangun Rumah Untuknya di Surga

Saya mendengar hadits yang artinya, “Barang siapa shalat dua belas rakaat dalam sehari semalam, maka akan dibangunkan rumah di surga baginya.”

Kapan saja waktu yang dimaksud?

Ummu Ashim – Bogor

 Jawaban al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc.

Yang dimaksud oleh hadits tersebut adalah shalat sunnah rawatib, bukan shalat wajib.

Hal ini disebutkan dalam beberapa hadits, di antaranya hadits berikut ini.

  1. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ ثَابَرَ عَلَى اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ دَخَلَ الْجَنَّةَ، أَرْبَعًا قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ، وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ

“Barang siapa mengerjakan shalat dua belas rakaat secara terus-menerus pada malam dan siang, dia akan masuk surga. Empat rakaat sebelum zhuhur dan dua rakaat sesudahnya, dua rakaat setelah maghrib, dua rakaat setelah isya, dan dua rakaat sebelum fajar.” (Sahih, HR. at-Tirmidzi, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani)

  1. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ تَوَضَّأَ فَأَسْبَغَ الْوُضُوءَ ثُمَّ صَلَّى لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ كُلَّ يَوْمٍ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً إِ بُنِيَ لَهُ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ. قَالَتْ أُمُّ حَبِيبَةَ: فَمَا زِلْتُ أُصَلِّيهِنَّ بَعْدُ. وقَالَ عَنْبَسَةُ: فَمَا زِلْتُ أُصَلِّيهِنَّ بَعْدُ. وقَالَ عَمْرُو بْنُ أَوْسٍ: فَمَا زِلْتُ أُصَلِّيهِنَّ. قَالَ النُّعْمَانُ: وَأَنَا أَكَادُ أَدَعُهُنَّ. قَالَ ابْنُ جَعْفَرٍ عَنْ عَنْبَسَةَ بْنِ أَبِي سُفْيَانَ عَنْ أُمِّ حَبِيبَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ أَنَّهَا سَمِعَتْ النَّبِيَّ يَقُولُ: مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يُصَلِّي لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ كُلَّ يَوْمٍ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً تَطَوُّعًا غَيْرَ فَرِيضَةٍفَذَكَرَ نَحْوَهُ

“Tidaklah seorang muslim berwudhu dan menyempurnakan wudhunya lalu shalat (dengan niat ikhlas) karena Allah subhanahu wa ta’ala setiap hari sejumlah dua belas rakaat, kecuali akan dibangunkan sebuah rumah di surga baginya.”

Ummu Habibah radhiallahu ‘anha berkata, “Setelah itu, aku senantiasa mengerjakan shalat tersebut.”

‘Anbasah radhiallahu ‘anhu juga berkata, “Setelah itu aku selalu mengerjakan shalat tersebut.”

Amru bin Aus radhiallahu ‘anhu berkata, “Aku selalu mengerjakannya.”

Nu’man radhiallahu ‘anhu berkata, “Aku hampir tidak pernah meninggalkannya.”

Dari Ibnu Ja’far, dari ‘Anbasah bin Abu Sufyan, dari Ummu Habibah istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah seorang muslim shalat (dengan niat ikhlas) karena Allah ‘azza wa jalla setiap harinya dua belas rakaat shalat sunnah, selain shalat wajib…” kemudian dia menyebutkan seperti itu. (HR. Abu Dawud dan Ahmad dengan lafadz Ahmad, dan dinyatakan sahih oleh al-Albani rahimahullah)

  1. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَلَّى فِي يَوْمٍ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً سِوَى الْفَرِيضَةِ بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ

“Barang siapa mengerjakan shalat dua belas rakaat dalam sehari selain shalat fardhu, Allah subhanahu wa ta’ala akan membangun untuknya sebuah rumah di surga.” (HR. an-Nasa’i, al-Albani rahimahullah mengatakan bahwa hadits ini shahih li ghairihi)

Dari hadits-hadits di atas, dapat diringkas bahwa 12 rakaat yang dimaksud ialah sebagai berikut.

  1. Empat rakaat sebelum zhuhur.
  2. Dua rakaat setelah zhuhur.
  3. Dua rakaat setelah maghrib.
  4. Dua rakaat setelah isya.
  5. Dua rakaat sebelum subuh.

Wallahu a’lam.

Pekerjaan yang Mengandung Keharaman

Apabila harta yang didapat dari cara yang halal bercampur dengan harta dari jalan yang haram, bagaimana hukumnya? Hal ini terjadi pada transaksi dengan personal dan dengan lembaga negara.

Bagaimana pula hukum menggunakan harta yang saya ketahui berasal dari jalan yang mencurigakan? Saya mengingkarinya di hadapan orang yang membawa harta seperti ini. Bolehkah saya menggunakan harta tersebut?

Bolehkah saya bekerja di perusahaan seperti ini dalam keadaan saya tahu bahwa hal-hal di atas terjadi pada perusahaan tersebut, dan saya tetap mengingkari perbuatan mereka dengan keras?! Sebagai pertimbangan, ayah saya mendesak saya untuk bekerja bersamanya (di perusahaan tersebut) dalam bidang akuntansi.

Apabila ayah saya berkata kepada saya bahwa dia yang akan menanggung dosanya, bolehkah saya memenuhi permintaan ayah saya untuk mengambil pekerjaan tersebut? Apakah boleh saya memakan hasil pekerjaan tersebut? Perlu diketahui, saya mampu untuk bekerja di tempat mana pun, dengan gaji berapa pun, tetapi ayah saya tentu akan marah karena tidak terima.

Bolehkah saya tetap tinggal di rumah dengan keluarga yang seperti ini? Kepergian saya akan mengakibatkan kerusakan yang besar terhadap kondisi keluarga.

Saya mengharap kepada Yang Mulia (Mufti) agar surat saya ini dipelajari dengan saksama, dengan mempertimbangkan kondisi saya dari segala sisi. Agama ini menuntut saya untuk tidak menumbuhkan tubuh saya dalam keharaman—apabila ada sesuatu yang haram (dalam urusan saya ini).

Kondisi saya di dalam rumah cukup berat. Dari satu sisi, saya tidak mampu meninggalkan rumah, demikian pula saudara-saudara saya. Sebab, kami tidak pernah berpikir untuk itu. Justru keberadaan saya di rumah memberi pengaruh, yaitu bisa meniadakan beberapa hal yang tidak diridhai oleh syariat. Jika saya tidak tinggal, bisa jadi hal-hal tersebut tersebar di dalam rumah.

 

Jawab:

  1. Memberi suap dan menerimanya adalah haram, baik bagi yang menyuap, yang disuap, maupun yang menjadi perantaranya.

 

  1. Kami telah mengeluarkan fatwa tentang hukum memanfaatkan harta yang tercampur padanya antara yang halal dan yang haram, dengan nomor 2512, tanggal 28/7/1399 H.

Berikut ini teksnya.

  1. Apabila Anda mengetahui bahwa hadiah yang diberikan kepada Anda atau makanan yang disajikan kepada Anda adalah barang yang haram, Anda tidak boleh menerima atau memakannya.
  2. Apabila tidak terpisahkan antara penghasilan mereka yang halal dan penghasilan yang haram, ada perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang hukum menerima hadiahnya, memakan makanan yang disuguhkan ketika kita bertamu, dan yang semisalnya.
  • Ada yang berpendapat, hukumnya haram secara mutlak.
  • Ada yang menyatakan, apabila yang haram melebihi sepertiga dari penghasilan total, haram memakan suguhannya dan menerima hadiahnya.
  • Ada pula yang menyatakan, apabila penghasilan yang haram lebih banyak daripada yang halal, haram memakan suguhannya dan menerima hadiahnya.
  • Ada juga yang menyatakan, tidak haram secara mutlak sehingga hadiahnya diterima dan makanan pemberiannya boleh dimakan.

Pendapat (yang terakhir) ini yang tampak (kebenarannya). Sebab, dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima pemberian daging kambing bakar dari seorang perempuan Yahudi dan memakan sebagiannya.

Alasan lainnya, karena keumuman firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَطَعَامُ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ حِلّٞ لَّكُمۡ

“Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi al-Kitab itu halal bagimu.” (al-Maidah: 5)

Telah diketahui bahwa orang Yahudi dan Nasrani memakan riba. Mereka tidak memilih penghasilan yang halal. Mereka mendapat penghasilan dari yang haram dan yang halal. Meski demikian, Allah subhanahu wa ta’ala mengizinkan memakan makanan mereka. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri memakan darinya.

Sekelompok ulama meriwayatkan hadits dari Sufyan ats-Tsauri, dari Salamah bin Kuhail, dari Dzar bin Abdillah, dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu; seseorang bertanya kepada beliau radhiallahu ‘anhu, “Aku memiliki tetangga yang makan (dari penghasilan) riba. Dia selalu mengundangku (makan).”

Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu menjawab, “Suguhannya untukmu, dosanya menjadi tanggungannya.”

Akan tetapi, jika seorang muslim membersihkan diri dengan tidak bergaul dengan mereka dan sering saling memberi hadiah dan berkunjung dengan mereka, lantas mencukupkan diri sebatas tuntutan maslahat atau kebutuhan, tentu saja hal ini lebih baik baginya.

  1. Anda tidak boleh bekerja di perusahaan tersebut meski di bagian akuntansi dalam keadaan tahu kondisinya sebagaimana yang disebutkan dalam pertanyaan. Sebab, hal itu termasuk saling menolong dalam hal dosa dan pelanggaran. Padahal Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلَا تَعَاوَنُواْ عَلَى ٱلۡإِثۡمِ وَٱلۡعُدۡوَٰنِۚ

“Dan janganlah kalian tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (al-Maidah: 2)

Berbeda halnya jika Anda memiliki kekuasaan dan kekuatan untuk mengubah hal-hal yang haram yang ada pada perusahaan tersebut. Dalam hal ini, Anda tetap bekerja di situ lebih baik daripada meninggalkannya. Sebab, keberadaan Anda di situ termasuk perbaikan dan mengubah kemungkaran.

  1. Janji ayah Anda untuk menanggung dosa yang terjadi dalam operasional perusahaan adalah kemungkaran. Hal ini tidak bermanfaat bagi Anda, berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٞ وِزۡرَ أُخۡرَىٰۚ

        “Dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.” (al-An’am: 164)

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُواْ رَبَّكُمۡ وَٱخۡشَوۡاْ يَوۡمٗا لَّا يَجۡزِي وَالِدٌ عَن وَلَدِهِۦ وَلَا مَوۡلُودٌ هُوَ جَازٍ عَن وَالِدِهِۦ شَيۡ‍ًٔاۚ

“Hai manusia, bertakwalah kepada Rabbmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikit pun.” (Luqman: 33)

Berdasarkan hal ini, Anda tidak boleh memenuhi permintaannya untuk mengambil pekerjaan itu, meski dia marah. Sebab, tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam hal kemaksiatan kepada al-Khaliq. Ketaatan hanyalah dalam hal yang baik. Kecuali jika Anda mampu mengubah kemungkaran tersebut dan berharap bisa mengubahnya.

  1. Jika Anda tetap tinggal dengan keluarga di rumah diharapkan bisa memperbaiki kondisi keislaman mereka dengan menasihati mereka sehingga mereka berhenti melakukan hal-hal yang menyelisihi syariat, tentu lebih baik Anda tinggal bersama mereka.

Jika tidak demikian, Anda jangan tinggal bersama mereka. Hanya saja, bergaullah dengan mereka dengan baik di dunia dan tetap menyambung silaturahim. Ikutilah jalan orang-orang yang kembali kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Dalam hal ini, Anda lebih tahu, apakah Anda memiliki kekuatan untuk memperbaiki dan mengubah kemungkaran atau tidak.

Allah subhanahu wa ta’ala sajalah yang memberi taufik. Semoga shalawat dan salam terlimpah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, dan para sahabat beliau.

 Komite Tetap untuk Pembahasan Ilmiah dan Pemberian Fatwa

Ketua: Abdul Aziz bin Abdullah bin

Baz; Wakil Ketua: Abdur Razzaq Afifi;

Anggota: Abdullah bin Qu’ud.

(Fatawa al-Lajnah, 26/312—315, fatwa no. 477

 


Komitmen dengan Agama Tidak Menghalangi Mencari Nafkah

Apa yang wajib diperbuat oleh seorang muslim sesuai dengan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, terkait dengan seorang pemuda muslim yang komitmen terhadap Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan membiarkan jenggot? Hal ini mengakibatkan dia kesusahan mencari nafkah, terkadang ditangkap dan mendapatkan berbagai bentuk siksaan. Setiap kali melamar sebuah pekerjaan, hal ini memberatkannya. Dia tidak diterima karena berjenggot.

Berilah kami fatwa, semoga Anda mendapatkan balasan karena memberi perhatian terhadap keadaan kaum muslimin di Republik Mesir.

 

Jawab:

Mencari nafkah tidak hanya dengan bekerja menjadi pegawai pemerintahan. Jalan-jalan mencari nafkah yang tidak mengikat cukup banyak.

Maka dari itu, carilah jalan pekerjaan yang tidak mengikat, tetaplah komitmen dengan agama Anda, jauhilah sumber keburukan dan masalah, dalam rangka mencari keselamatan diri darinya.

Allah subhanahu wa ta’ala sajalah yang memberi taufik. Semoga shalawat dan salam terlimpah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, dan para sahabat beliau.

 

Komite Tetap untuk Pembahasan Ilmiah dan Pemberian Fatwa

Ketua: Abdul Aziz bin Abdullah bin

Baz; Wakil Ketua: Abdur Razzaq Afifi;

Anggota: Abdullah bin Ghudayyan.

(Fatawa al-Lajnah, 15/77—78, fatwa no. 10575, pertanyaan no. 1)


 

Gaji Pekerjaan yang Didapat Dengan Ijazah Hasil Mencontek

Seseorang mendapatkan pekerjaan dengan sebuah ijazah dalam disiplin ilmu tertentu. Dia telah melakukan penipuan ketika menempuh ujian guna mendapatkan ijazah ini. Sekarang, dia telah bekerja dengan baik dengan persaksian dari bawahan. Apa hukum gaji yang dia dapatkan, halal ataukah haram?[1]

 

Jawab:

Insya Allah tidak mengapa. Hanya saja, dia harus bertobat kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari penipuan yang dia lakukan. Apabila dia bisa menunaikan tugasnya sebagaimana mestinya, penghasilannya tidak apa-apa. Akan tetapi, dia bersalah dalam hal penipuan yang dilakukannya dahulu. Dia harus bertobat kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari perbuatan tersebut.

 

(Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah, 19/31—32)

[1] Pertanyaan ini termuat dalam sekumpulan soal yang diajukan kepada Samahatusy Syaikh Ibnu Baz rahimahullah pada musim haji 1415 H.

Ziarah Makam Wali

Ustadz, bagaimana hukumnya berziarah ke makam para wali?

085273xxxxxx

 

Dijawab oleh al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad as-Sarbini

Alhamdulillah, ziarah kubur memang ada yang bersifat syar’i, ada yang bersifat bid’ah, dan ada yang bersifat syirik. Namun pada umumnya, ziarah kubur banyak mengandung bid’ah, bahkan kesyirikan, terkhusus ziarah kubur tertentu yang diklaim sebagai wali-wali Allah subhanahu wa ta’ala.

Maka dari itu, seorang muslim wajib mengetahui syariat Islam dalam masalah ziarah kubur agar beramal dengan benar dan terjaga dari kebid’ahan serta kesyirikan.

Menilik sejarah Islam, di awal mula datangnya Islam, ziarah kubur dilarang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai keislaman dan keimanan kaum mukiminin benar-benar kokoh lantas kemudian disyariatkan.

Buraidah bin al-Hushaib radhiallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا

“Aku pernah melarang kalian dari ziarah kubur, maka ziarahlah (sekarang).” (HR. Muslim)

Pada riwayat at-Nasa’i dengan lafadz,

نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَمَنْ أَرَادَ أَنْ يَزُورَ فَلْيَزُرْ وَلَا تَقُولُوا هُجْرًا

“Aku pernah melarang kalian dari ziarah kubur. (Sekarang) barang siapa ingin ziarah kubur, hendaknya melakukannya dan jangan mengucapkan ucapan yang batil.” (Dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam Ahkam al-Jana’iz hlm. 227)

An-Nawawi rahimahullah mengatakan dalam kitab al-Majmu’ (5/285), “Mulanya kaum mukminin dilarang ziarah kubur karena masa keislaman mereka masih dekat dengan masa jahiliah, sehingga terkadang mereka mengucapkan ucapan jahiliah yang batil.

Ketika telah kokoh kaidah-kaidah Islam dan telah terbentang hukum-hukumnya serta telah masyhur lambang-lambangnya, saat itulah diizinkan dilakukan ziarah kubur. Namun, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berhati-hati dengan bersabda, ‘Dan jangan mengucapkan ucapan yang batil’.”

Keterangan an-Nawawi rahimahullah ini dinukil dan dibenarkan oleh al-Albani dalam Ahkam al-Jana’iz (hlm. 227).

Al-‘Utsaimin rahimahullah menerangkan dalam asy-Syarh al-Mumti’ (5/379), “Pada awalnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang ziarah kubur, karena kaum muslimin baru saja lepas dari kekufuran dan kesyirikan, sehingga beliau khawatir ziarah kubur akan menjadi wasilah (sarana) terjadinya kesyirikan. Oleh karena itu, tatkala keimanan telah mengakar dalam kalbu-kalbu kaum muslimin, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan ziarah kubur.”

Menurut pendapat yang rajih (kuat), ziarah kubur disunnahkan bagi kaum lelaki dan wanita, tetapi bagi kaum wanita tidak boleh sering melakukannya.

 

Ziarah Kubur yang Bersifat Syar’i

Ziarah kubur yang syar’i ialah ziarah kubur yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sunnahnya yang suci nan mulia.

Sifat-sifatnya adalah:

  1. Tujuan ziarah kubur.

Ziarah kubur disyariatkan dengan dua tujuan, yaitu:

  1. Untuk memberi manfaat dan kebaikan kepada jenazah muslim yang diziarahi dengan mengucapkan salam, mendoakannya, dan beristighfar (memohon ampunan Allah subhanahu wa ta’ala) untuknya. Telah datang hadits-hadits sahih yang mengajarkan hal ini. Di antaranya hadits Buraidah radhiallahu ‘anhu,

كَانَ رَسُولُ اللهِ يُعَلِّمُهُمْ إِذَا خَرَجُوا إِلَى الْمَقَابِرِ: السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ لَلَاحِقُونَ، أَسْأَلُ اللهَ لَنَا وَلَكُمْ الْعَافِيَةَ

“Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajari mereka apabila keluar ziarah ke perkuburan (agar membaca), ‘Semoga keselamatan tercurah atas kalian wahai para penghuni kuburan dari kalangan kaum mukminin dan muslimin, sesungguhnya kami akan menyusul kalian, insya Allah, aku memohon keselamatan buat kami dan kalian’.” (HR. Muslim)

Demikian pula hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha,

كَانَ رَسُولُ اللهِ كُلَّمَا كَانَ لَيْلَتُهَا مِنْ رَسُولِ اللهِ يَخْرُجُ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ إِلَى الْبَقِيعِ، فَيَقُولُ: السَّلَامُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ، وَأَتَاكُمْ مَا تُوعَدُونَ، غَدًا مُؤَجَّلُونَ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لَاحِقُونَ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِأَهْلِ بَقِيعِ الْغَرْقَدِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap kali di malam giliran ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, biasa keluar di akhir malam ke perkuburan Baqi’, kemudian membaca, ‘Semoga keselamatan tercurah atas kalian, wahai para penghuni kuburan kaum mukminin. Telah datang kepada kalian apa yang dijanjikan buat kalian. Kalian ditunda sampai esok di akhirat (pemberian pahala kalian secara sempurna). Sesungguhnya kami akan menyusul kalian, insya Allah. Ya Allah, ampunilah para penghuni perkuburan Baqi’ al-Gharqad’.” (HR. Muslim)

  1. Untuk mengingat kematian dan orang-orang yang telah mati bahwasanya mereka akan masuk jannah (surga) atau masuk neraka, agar menyiapkan bekal sebanyak-banyaknya menyambut kematian dengan amal-amal saleh. Dalilnya adalah hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu,

زَارَ النَّبِيُّ قَبْرَ أُمِّهِ فَبَكَى وَأَبْكَى مَنْ حَوْلَهُ، فَقَالَ: اسْتَأْذَنْتُ رَبِّي فِي أَنْ أَسْتَغْفِرَ لَهَا فَلَمْ يُؤْذَنْ لِي، وَاسْتَأْذَنْتُهُ فِي أَنْ أَزُورَ قَبْرَهَا فَأُذِنَ لِي، فَزُورُوا الْقُبُورَ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الْمَوْتَ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menziarahi kuburan ibunya lantas beliau menangis dan membuat menangis orang-orang di sekelilingnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku minta izin kepada Rabbku untuk memohonkan ampunan buat ibuku, tetapi tidak diizinkan. Aku meminta izin pula untuk menziarahi kuburannya, dan aku diizinkan. Oleh karena itu, ziarahlah kalian ke kuburan, sebab kuburan-kuburan itu akan mengingatkan kematian.” (HR. Muslim)

 

  1. Klasifikasi ziarah kubur yang syar’i.

Ziarah kubur yang syar’i ada dua macam:

  • Ziarah perkuburan kaum mukminin secara umum

Hal ini seperti yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hadits Buraidah radhiallahu ‘anhu dan hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha di atas, pada sifat yang pertama.

Caranya adalah mendatangi perkuburan lantas berdiri di depan perkuburan, kemudian mengucapkan salam kepada mereka dan berdoa untuk kebaikan mereka sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

  • Ziarah khusus ke kuburan tertentu,

seperti yang ditunjukkan hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu di atas, pada sifat yang pertama.

Hanya saja Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak diizinkan berdoa dan beristighfar untuk ibunya karena ia meninggal dalam keadaan kafir. Caranya adalah mendatangi kuburan yang dituju lantas berdiri atau duduk di sisi kuburan bagian kepalanya dengan menghadap ke kuburan, kemudian mengucapkan salam dan berdoa untuknya,

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ، وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ

“Ya Allah, ampuni dan rahmati dia, beri dia keselamatan dan maafkan dia.”

Peziarah mendoakan untuk yang dikubur doa apa saja yang diinginkan, kemudian meninggalkan kuburan itu.[1]

baqi 

  1. Waktu ziarah kubur.

Ziarah kubur disyariatkan dilakukan setiap saat tanpa ada pembatasan waktu tertentu. Sebab, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya secara mutlak tanpa pembatasan waktu tertentu.

Dengan demikian, tidak boleh mengkhususkan waktu tertentu untuk melakukan ziarah kubur. Penentuan waktu khusus dalam melakukan ziarah kubur tergolong bid’ah yang tercela.

Al-Imam Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan dalam kitab Majmu’ Fatawa war Rasa’il (17/288), “Ziarah kubur tidak terbatas hanya di waktu-waktu tertentu, tetapi disunnahkan dilakukan kapan saja dari hari-hari yang ada dalam sepekan, siang atau malam.”

Al-Imam Ibnu Baz rahimahullah mengatakan dalam kitab Majmu’ al-Fatawa (13/336), “Yang disyariatkan adalah ziarah kubur kapan saja ada kesempatan, baik siang hari atau malam hari. Adapun pengkhususan waktu tertentu untuk ziarah kubur, hal itu tergolong bid’ah yang tidak ada dasarnya.”

Di antara kebid’ahan yang terjadi dalam hal ini adalah pengkhususan ziarah kubur di hari Jum’at, sebagaimana ditegaskan oleh Ibnu Baz. Begitu pula, pengkhususan ziarah kubur di Hari Raya (hari ‘Id), sebagaimana ditegaskan oleh Ibnu Baz dan Ibnu ‘Utsaimin.[2]

Al-‘Utsaimin juga berkata dalam kitab Syarhu Riyadh ash-Shalihin, Bab “Istihbab Ziyarah al-Qubur”, “Intinya, semestinya seseorang melakukan ziarah kubur setiap saat, di malam dan siang hari, di pagi dan sore hari, di hari Jum’at dan hari lainnya, tidak ada waktu khusus.

Setiap kali kalbumu lalai dan jiwamu larut dengan kehidupan dunia, ziarahlah ke kuburan dan renungkanlah nasib mereka yang telah mati itu. Kemarin mereka seperti kalian, masih makan, minum, dan bersenang-senang di muka bumi. Sekarang, ke mana mereka pergi? Mereka tergadaikan dengan amalan-amalan mereka.

Tidak ada yang bermanfaat buat mereka selain amalan-amalan yang telah mereka persembahkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلَاثَةٌ فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ، يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ

“Ada tiga yang mengiringi mayat (ke kuburan), dua di antaranya akan kembali dan hanya satu yang akan tinggal bersamanya. Yang mengiringinya adalah keluarga, harta, dan amalannya. Keluarga dan hartanya akan kembali, hanya amalannya yang akan tinggal bersamanya.”[3]

Maka dari itu, renungkan nasib orang-orang mati itu, kemudian ucapkan salam atas mereka, kemudian doakan mereka sebagaimana yang telah diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika kamu tidak mengetahui doa yang diajarkan tersebut, berdoa saja dengan apa yang mudah bagimu.”

 

  1. Jenis kuburan yang diziarahi.

Syariat ziarah kubur bersifat umum meliputi seluruh kuburan kaum muslimin. Tidak ada pengkhususan terhadap kuburan tertentu yang diistilahkan sebagai kuburan wali.

Al-Imam Ibnu Baz menerangkan dalam kitab Majmu’ al-Fatawa (7/422), “Wajib bagi kaum muslimin mengikat diri dengan syariat yang suci dan waspada dari bid’ah dalam hal ziarah kubur dan selainnya. Ziarah kubur disyariatkan terhadap seluruh kuburan kaum muslimin, baik yang dinamakan sebagai wali maupun tidak. Sebenarnya, setiap orang beriman, pria atau wanita, adalah wali Allah subhanahu wa ta’ala.”

Bahkan, boleh ziarah kuburan orang kafir dengan tujuan untuk mengambil pelajaran (‘ibrah), yaitu mengingat kematian. Hal ini berdasarkan hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ziarah kuburan ibunya yang kafir. Namun, tidak boleh mengucapkan salam dan mendoakannya.[4]

 

  1. Lokasi kuburan yang diziarahi.

Ziarah kubur disyariatkan terhadap kuburan yang berlokasi di daerah setempat tanpa memerlukan safar. Tidak boleh dilakukan safar secara khusus untuk ziarah kubur. Sebab, safar untuk ziarah kubur adalah bid’ah tercela yang tidak pernah diamalkan oleh kaum salaf.

Terdapat larangan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal ini, yaitu sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لاَ تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلاَّ إِلَى ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ: الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ، وَمَسْجِدِي هَذَا، وَالْمَسْجِدِ اْلأَقْصَى

“Tidaklah diikat (dipasang) pelana-pelana unta itu untuk safar (kunjungan ibadah) selain menuju tiga masjid: Masjidil Haram, masjidku ini (Masjid Nabawi), dan Masjidil Aqsha.” (Muttafaq ‘alaih dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dan Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu)

Makna hadits ini adalah tidak diperbolehkan melakukan safar menuju masjid mana pun atau tempat mana pun yang diyakini memiliki keistimewaan (keutamaan) dengan tujuan melakukan ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala padanya, selain tiga masjid ini.[5]

Makna hadits ini umum meliputi tempat permakaman (kuburan) siapa pun, termasuk makam Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sekalipun.

Hanya saja, saat seseorang berkunjung ke Madinah dengan niat mengunjungi Masjid Nabawi karena keutamaannya, lantas dia manfaatkan pula untuk ziarah kuburan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dua sahabat terdekatnya (kuburan Abu Bakr radhiallahu ‘anhu dan ‘Umar radhiallahu ‘anhu), perkuburan Baqi’, perkuburan syuhada’ Uhud, dan Masjid Quba.

Artinya, tujuan inti yang diniatkan adalah ziarah (mengunjungi) Masjid Nabawi, sedangkan ziarah ke Masjid Quba dan kuburan-kuburan tersebut mengikut secara hukum lantaran sedang berada di tempat itu.

Ini pendapat terkuat dalam masalah ini yang telah dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, Ibnu Baz, Ibnu ‘Utsaimin, al-Albani, dan Muqbil al-Wadi’i.[6]

Dengan demikian, jika kuburan kerabat terdekat kita, seperti ayah dan ibu, berada di tempat lain yang membutuhkan safar, tidak boleh safar untuk menziarahinya. Cukup dengan mendoakannya dari jauh, dan sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala Mahadekat lagi Maha Mengabulkan doa. Demikian fatwa Ibnu ‘Utsaimin.[7]

jalan-tanah 

Ziarah Kubur yang Bersifat Bid’ah & Menjadi Wasilah/Sarana Kesyirikan

Ini adalah ziarah kubur dengan tujuan untuk beribadah di sisi kuburan, seperti membaca al-Qur’an, berdoa kepada Allah, shalat, menyembelih di sisi kuburan, atau semisalnya. Tidaklah hal itu dilakukan kecuali karena adanya keyakinan bahwa beribadah di tempat itu punya keutamaan.

Ini adalah wasilah/sarana yang akan menyeret kepada penyembahan terhadap penghuni kuburan itu, yang merupakan syirik besar.

 

Ziarah Kubur yang Bersifat Syirik Besar yang Membatalkan Keislaman

Yaitu ziarah kubur dengan tujuan untuk menyembahnya, seperti mengusap kuburan untuk mencari barakah dari penghuninya, dengan berdoa meminta sesuatu kepada penghuni kubur, memohon kelapangan rezeki, memohon pertolongan agar diselamatkan dari marabahaya yang mengancam, memohon kemenangan atas musuh, menyembelih untuk penghuni kubur, bernazar untuk penghuni kubur, mendekatkan diri kepada penghuni kubur, atau semisalnya.

Ini semisal dengan amalan kaum musyrik di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap Lata, ‘Uzza, dan Manat, serta berhala-berhala lainnya yang dipertuhankan selain Allah subhanahu wa ta’ala dan disembah untuk mendekatkan diri kepadanya selain Allah subhanahu wa ta’ala.[8]

Ibnu Baz rahimahullah berkata dalam Majmu’ al-Fatawa (13/291—292), “Haram atas seseorang mencari barakah dari orang mati atau kuburannya, berdoa kepadanya selain Allah subhanahu wa ta’ala, memohon kepadanya agar dipenuhi kebutuhannya, minta kepadanya kesembuhan bagi yang sakit, atau semacamnya.

Sebab, ibadah adalah murni hak Allah subhanahu wa ta’ala saja, sedangkan meminta barakah termasuk salah satu ibadah. Allah subhanahu wa ta’ala adalah satu-satunya Dzat yang memberi barakah, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala,

تَبَارَكَ ٱلَّذِي نَزَّلَ ٱلۡفُرۡقَانَ عَلَىٰ عَبۡدِهِۦ لِيَكُونَ لِلۡعَٰلَمِينَ نَذِيرًا ١

“Mahaagung lagi Mahabarakah Dia yang telah menurunkan atas hamba-Nya agar menjadi pemberi peringatan bagi alam semesta.” (al-Furqan: 1)

تَبَٰرَكَ ٱلَّذِي بِيَدِهِ ٱلۡمُلۡكُ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٌ ١

“Mahaagung lagi Mahabarakah Dia yang di Tangannya seluruh kekuasaan dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (al-Mulk: 1)

Maknanya, Allah subhanahu wa ta’ala mencapai puncak keagungan dan keberkahan. Adapun hamba Allah subhanahu wa ta’ala, dia berbarakah jika Allah subhanahu wa ta’ala menunjukinya, memberinya kesalehan, dan menjadikannya bermanfaat kepada hamba-hamba Allah subhanahu wa ta’ala lainnya. Hal ini sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala tentang hamba dan rasul-Nya, Nabi ‘Isa bin Maryam ‘alaihissalam,

قَالَ إِنِّي عَبۡدُ ٱللَّهِ ءَاتَىٰنِيَ ٱلۡكِتَٰبَ وَجَعَلَنِي نَبِيّٗا ٣٠ وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيۡنَ مَا كُنتُ وَأَوۡصَٰنِي بِٱلصَّلَوٰةِ وَٱلزَّكَوٰةِ مَا دُمۡتُ حَيّٗا ٣١

“Nabi ‘Isa berkata, ‘Sesungguhnya aku adalah hamba Allah yang diberi kitab oleh-Nya dan Dia menjadikanku sebagai nabi. Dia menjadikanku berbarakah di mana saja aku berada’.” (Maryam: 30—31)

Demikian Ibnu Baz menerangkan masalah ini. Hal ini semakin jelas dengan hadits Abu Waqid al-Laitsi radhiallahu ‘anhu,

خَرَجْنَا مَعَ رَسُوْلِ اللهِ إِلَى حُنَيْنٍ وَنَحْنُ حَدِيْثُوْ عَهْدٍ بِكُفْرٍ وَكَانُوْا أَسْلَمُوْا يَوْمَ الْفَتْحِ، فَمَرَرْنَا بِشَجَرَةٍ، فَقُلْنَا: يَا رَسُولَ اللهِ، اجْعَلْ لَنَا ذَاتَ أَنْوَاطٍ كَمَا لَهُمْ ذَاتُ أَنْوَاطٍ وَكَانَ لِلْكُفَّارِ سِدْرَةٌ يَعْكُفُوْنَ حَوْلَهَا وَيُعَلِّقُوْنِ بِهَا أَسْلِحَتَهُمْ يَدْعُوْنَهَا ذَاتَ أَنْوَاطٍ. فَلَمَّا قُلْنَا ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ قَالَ: اللهُ أَكْبَرُ) وَفِيْ رِوَايَةِ التِّرْمِذِيِّ: سُبْحَانَ اللهِ (وَقُلْتُمْ وَالذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ، كَمَا قَالَتْ بَنُو إِسْرَائِيْلَ لِمُوْسَى} : ٱجۡعَل لَّنَآ إِلَٰهٗا كَمَا لَهُمۡ ءَالِهَةٞۚ قَالَ إِنَّكُمۡ قَوۡمٞ تَجۡهَلُونَ {  لَتَرْكَبُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ.

Kami keluar bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Hunain sedangkan kami baru saja masuk Islam—mereka masuk Islam pada Fathu Makkah. Kemudian kami melewati sebuah pohon, lantas berkata, “Wahai Rasulullah, buatkan untuk kami Dzatu Anwath sebagaimana mereka punya Dzatu Anwath!”

Adalah orang kafir memiliki pohon bidara yang mereka berdiam di sekelilingnya dan menggantungkan senjata-senajata mereka padanya. Mereka menyebutnya Dzatu Anwath.

Tatkala kami mengatakan demikian kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Allah Mahabesar (pada riwayat at-Tirmidzi: Mahasuci Allah), kalian telah mengatakan—Demi Dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya—sebagaimana kata Bani Israil kepada Nabi Musa, ‘Buatkan untuk kami Tuhan sebagaimana mereka punya tuhan-tuhan. Musa menjawab, ‘Sesungguhnya kalian kaum yang jahil.’ (al-A’raf: 138)

Sungguh, kalian akan menempuh jalan umat-umat sebelum kalian.” (HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Abi ‘Ashim dalam as-Sunnah—dan lafadz ini adalah riwayatnya—dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam Zhilal al-Jannah no. 76)

Al-‘Allamah Shalih al-Fauzan mengatakan dalam kitab I’anah al-Mustafid Syarh Kitab at-Tauhid (1/216), “Dengan demikian, barang siapa mencari barakah dari sebuah batu, pohon, atau kuburan, berarti dia telah menjadikannya sebagai tuhan yang disembah Allah subhanahu wa ta’ala, meskipun pelakunya beranggapan itu bukan tuhan.

Istilah yang dibuat tidak bisa mengubah hakikat sebenarnya. Jika suatu perbuatan syirik diberi istilah tawasul, cinta orang saleh, menunaikan hak orang saleh, kami katakan bahwa istilah-istilah itu tidak bisa mengubah hakikat yang sebenarnya.”

Wallahul muwaffiq ila sawa’is sabil. Wallahu a’lam.


[1]  Lihat kitab Majmu’ Fatawa wa Rasa’il Ibni ‘Utsaimin (17/288—289) dan Majmu’ Fatawa Ibni Baz (13/339).

[2]  Lihat kitab Majmu’Fatawa Ibni Baz (13/336, 337) dan Majmu’ Fatawa wa Rasa’il Ibni ‘Utsaimin (17/287).

[3]  Muttafaq ‘alaih dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu.

[4]  Lihat kitab Syarhu Muslim li an-Nawawi (7/Kitab al-Jana’iz, bab “Isti’dzan an-Nabiyyi shallallahu ‘alaihi wa sallam”), Iqtidha’ ash-Shirath al-Mustaqim (hlm. 454), Ahkam al-Jana’iz (hlm. 2237—239), dan Majmu’ Fatawa Ibni Baz (13/298 & 337).

[5] Lihat pada kitab FathulBari (Kitab al-Jum’ah pada bab “Fadhl ash-Shalah fi Masjid Makkah wal Madinah”) dan Fath Dzil Jalali wal Ikram (pada syarah hadits ini).

[6] Lihat kitab Iqtidha’ ash-Shirath al-Mustaqim (hlm. 455—457) dengan ta’liq al-‘Utsaimin, Ahkam al-Jana’iz (hlm. 285—293), Manasik al-Hajj wal ‘Umrah li al-Albani (hlm. 56), Majmu’ Fatawa Ibni Baz (13/327), Majmu’ Fatawa wa Rasa’il Ibni ‘Utsaimin (17/293—294), al-Manhaj li Murid al-‘Umrah wal Hajj li Ibni ‘Utsaimin (hlm. 31—34), dan Ijabatus Sa’il (hlm. 145).

[7]  Lihat kitab Majmu’ Fatawa wa Rasa’il Ibni ‘Utsaimin (17/290).

[8]  Lihat keterangan tentang ziarah bid’ah dan ziarah syirik tersebut dalam kitab Majmu’ Fatawa Ibnu Baz (13/287—288, 301) dan Majmu’ Fatawa wa Rasa’il Ibni ‘Utsaimin (17/291).

Hukum Menunda-nunda Membayar Utang

Assalamu’alaikum.

Sebelumnya terima kasih atas penjelasan yang diberikan. Saya menghadapi suatu permasalahan hukum yang sangat membutuhkan penjelasan. Ada dua orang muslim yang terikat perjanjian utang piutang. Kemudian orang yang berutang menyalahi perjanjian karena suatu sebab, bisa jadi karena sebab-sebab di luar kemampuannya, atau bisa jadi juga memang tidak punya itikad untuk membayar utangnya.

Lanjutkan membaca Hukum Menunda-nunda Membayar Utang