Dua Tangan Allah

 Pada Asy Syariah edisi 112 hlm. 71, terjemahan hadits riwayat Muslim tertulis, “… kemudian Dia melipat bumi dengan kiri-Nya….”

Bukankah seharusnya dengan kanan-Nya? Mohon diperhatikan!

085696xxxxxx

 Dijawab oleh al-Ustadz Qomar Suaidi

 

Allah Memiliki Dua Tangan

Di antara sifat Allah ‘azza wa jalla adalah memiliki dua tangan. Hal ini berdasarkan firman Allah ‘azza wa jalla,

بَلۡ يَدَاهُ مَبۡسُوطَتَانِ يُنفِقُ كَيۡفَ يَشَآءُۚ

        “(Tidak demikian), tetapi kedua tangan Allah terbuka; Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki.” (al-Maidah: 64)

 

قَالَ يَٰٓإِبۡلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَن تَسۡجُدَ لِمَا خَلَقۡتُ بِيَدَيَّۖ أَسۡتَكۡبَرۡتَ أَمۡ كُنتَ مِنَ ٱلۡعَالِينَ ٧٥

        Allah berfirman, “Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?”

 

Dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

        يَطْوِ ى اللهُ السَّمَوَاتِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثُمَّ يَأْخُذُهُنَّ بِيَدِهِ الْيُمْنَى ثُمَّ يَقُولُ: أَنَا الْمَلِكُ، أَيْنَ الْجَبَّارُونَ؟ أَيْنَ الْمُتَكَبِّرُونَ؟ ثُمَّ يَطْوِى الْأَرَضِينَ ثُمَّ يَأْخُذُهُنَّقَالَ ابْنُ الْعَلاَءِ: بِيَدِهِ الْأُخْرَىثُمَّ يَقُولُ: أَنَا الْمَلِكُ، أَيْنَ الْجَبَّارُونَ؟ أَيْنَ الْمُتَكَبِّرُونَ؟

Allah ‘azza wa jalla melipat langit-langit pada hari kiamat lalu mengambilnya dengan tangan kanan-Nya seraya berkata, “Akulah Sang Raja, di manakah para diktator? Di manakah orang-orang yang sombong?”

Lalu Allah ‘azza wa jalla melipat bumi-bumi kemudian mengambilnya.—Ibnul ‘Ala`, salah seorang perawi hadits mengatakan: dengan tangan-Nya yang lain)—Allah berkata, “Akulah Sang Raja, di manakah para diktator? Di manakah orang-orang yang sombong?” ( HR. Abu Dawud, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah)

Ibnu Khuzaimah rahimahullah menuliskan dalam Kitab at-Tauhid bahwa Allah ‘azza wa jalla memiliki dua tangan yang terbentang dan berinfak sekehendak-Nya. Dengan kedua tangan-Nya, Allah ‘azza wa jalla menciptakan Adam.

Kedua tangan tersebut adalah tangan hakiki yang tidak sama dengan tangan makhluk-Nya. Mahasuci Allah dari kesamaan dengan makhluk. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

لَيۡسَ كَمِثۡلِهِۦ شَيۡءٞۖ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡبَصِيرُ ١١

        “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (asy-Syura: 11)

 

Apakah Dua Tangan Allah Kanan dan Kiri?

Adapun terkait dengan pertanyaan di atas, apakah kedua tangan Allah ‘azza wa jalla itu kanan dan kiri, dalam hal ini terdapat beberapa riwayat dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

  1. Dua tangan kanan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَكِلْتَا يَدَيْهِ يَمِينٌ

        “Dan kedua tangan Allah itu kanan.” (HR. Muslim)

 

  1. Tangan kanan dan kiri

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَطْوِى اللهُ عَزَّ وَجَلَّ السَّمَوَاتِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثُمَّ يَأْخُذُهُنَّ بِيَدِهِ الْيُمْنَى ثُمَّ يَقُولُ: أَنَا الْمَلِكُ، أَيْنَ الْجَبَّارُونَ؟ أَيْنَ الْمُتَكَبِّرُونَ؟ ثُمَّ يَطْوِى الْأَرَضِينَ بِشِمَالِهِ ثُمَّ يَقُولُ: أَنَا الْمَلِكُ، أَيْنَ الْجَبَّارُونَ؟ أَيْنَ الْمُتَكَبِّرُونَ؟

Allah ‘azza wa jalla melipat langit-langit pada hari kiamat lalu mengambilnya dengan tangan kanan-Nya seraya berkata, “Akulah Sang Raja, di manakah para diktator? Di manakah orang-orang yang sombong?”

Lalu Allah melipat bumi-bumi dengan tangan kiri-Nya seraya berkata, “Akulah Sang Raja, di manakah para diktator? Di manakah orang-orang yang sombong?” (HR. Muslim)

 

  1. Tangan yang lain

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَالَ ابْنُ الْعَلاَءِ: بِيَدِهِ الأُخْرَى ثُمَّ يَقُولُ أَنَا الْمَلِكُ أَيْنَ الْجَبَّارُونَ أَيْنَ الْمُتَكَبِّرُونَ.

Ibnul ‘Ala`, salah seorang perawi hadits mengatakan, “… dengan tangan- Nya yang lain, lalu Allah ‘azza wa jalla berkata, ‘Akulah Sang Raja, di manakah para diktator? Di manakah orang-orang yang sombong?’.” (HR. Abu Dawud, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani)

 

Dari beberapa riwayat di atas, para ulama berbeda pendapat setelah ulama Ahlus Sunnah sepakat bahwa Allah memiliki dua tangan.

 

  1. Semua riwayat itu sahih.

Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa Allah ‘azza wa jalla memiliki dua tangan, kanan dan kiri. Hanya saja, tangan kiri Allah ‘azza wa jalla tidak boleh dipahami seperti kiri pada makhluk. Sebab, kiri pada makhluk identik dengan kelemahan dan kekurangan, sementara tangan kiri Allah ‘azza wa jalla tidak memiliki kelemahan dan kekurangan sama sekali. Tangan kiri Allah ‘azza wa jalla tetap sempurna dalam segala hal.

Oleh karena itu, riwayat pertama menyebutkan bahwa kedua tangan Allah ‘azza wa jalla kanan, untuk menghilangkan kesan lemah dan kekurangan pada tangan Allah ‘azza wa jalla.

Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Dalam hadits terdapat penyebutan dua tangan Allah (kanan dan kiri). Pada hadits lain, ‘dan kedua tangan-Nya kanan’ (tangan yang satu kiri). Akan tetapi, tidak seperti kirinya tangan makhluk. Kiri Allah ‘azza wa jalla tetap kanan. Berbeda halnya dengan makhluk, kirinya bukan kanan.

“Sifat semacam ini hanya khusus bagi Allah ‘azza wa jalla, yaitu kedua tangan Allah ‘azza wa jalla kanan. Jadi, Allah ‘azza wa jalla memiliki tangan kanan dan tangan kiri sebagaimana disebutkan dalam hadits; kanan tidak seperti kanannya makhluk dan kiri tidak sepeti kirinya makhluk.” (I’anatul Mustafid)

Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “Apabila lafal kiri itu sahih, menurut saya tidak bertentangan dengan lafal lain ‘kedua tangan-Nya kanan’. Sebab, maknanya adalah tangan yang lain tidak seperti kiri pada makhluk, yaitu kurang dibanding dengan tangan kanannya.

“Oleh karena itu, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘kedua tangan Allah itu kanan’, yakni tiada kekurangan padanya.” (al-Qaul al-Mufid)

 

  1. Riwayat yang menyebutkan kiri adalah lemah dan dinilai sebagai riwayat yang syadz (ganjil).

Ini adalah pandangan asy-Syaikh al-Albani rahimahullah dan yang sependapat dengan beliau, yaitu asy-Syaikh Shalih Alu Syaikh.

Saat menjawab pertanyaan tentang dua riwayat tersebut, asy-Syaikh Albani rahimahullah berpendapat bahwa tidak ada pertentangan antara dua hadits tersebut. Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Dan kedua tangan Allah itu kanan,” menegaskan firman Allah ‘azza wa jalla, “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia.

Sifat yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beritakan tersebut menegaskan kesucian Allah ‘azza wa jalla dari penyerupaan dengan makhluk. Tangan Allah ‘azza wa jalla tidak sama dengan tangan manusia, kiri dan kanan. Bahkan, kedua tangan Allah ‘azza wa jalla adalah kanan.

Selain itu, riwayat “dengan tangan kiri-Nya” adalah syadz (ganjil), seperti yang telah beliau terangkan dalam takhrij beliau terhadap kitab al-Musthalahat al-Arba’ah fil Qur’an, tulisan al-Maududi.

 Termasuk yang menguatkan pendapat lemahnya (riwayat yang menyebutkan lafal kiri) adalah riwayat Abu Dawud yang menyebutkan dengan lafal “tangan-Nya yang lain” sebagai pengganti riwayat “dengan tangan kiri-Nya,”.

Riwayat Abu Dawud tersebut sesuai dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kedua tangan Allah kanan.” (Majalah al-Ashalah)

Wallahu a’lam.

Perbedaan Shabr, Tashabbur, Ishtibar, dan Mushabarah

Perbedaan istilah-istilah di atas dapat ditinjau dari keadaan seorang hamba dalam menerapkan kesabaran pada dirinya atau pada orang lain.

 Shabr

Menahan diri dan mengekangnya dari hal-hal yang tidak pantas disebut shabr (sabar), jika didasari oleh karakter asli dan akhlak bawaan.

 

Tashabbur

Jika menahan diri dan mengekangnya dengan memaksa diri, berlatih, dan berusaha menenggak pahitnya kesabaran, itu disebut tashabbur.

Hal ini ditunjukkan oleh bentuk kata tashabbur yang ditinjau dari ilmu etimologi bahasa Arab. Bentuk itu menunjukkan makna berusaha dan memaksakan diri, seperti kata tahallum (berusaha tenang), tasyajja’ (memberanikan diri), takarram (berusaha berderma), tahammul (berusaha memikul beban), dan semisalnya.

Apabila seorang hamba memaksa diri dan berupaya mendatangkan kesabaran, kesabaran akan menjadi sebuah kepribadian baginya. Dalam sebuah hadits, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللهُ

“Barang siapa berusaha bersabar, Allah akan memberinya kesabaran.” (HR. al-Bukhari)

Demikian pula akhlak yang lain, seperti seorang hamba yang berusaha menjaga iffah (kehormatan), lambat laun sifat tersebut akan menjadi karakternya.

Apakah akhlak bisa diusahakan? Ini merupakan masalah yang diperselisihkan oleh manusia.

Apakah mungkin mengusahakan suatu akhlak atau sama sekali tidak mungkin? Seperti perkataan penyair,

يُرادُ مِنَ الْقَلبِ نِسْيَانُكُم

وَتَأْبَى الطِّبَاعُ عَلَى النَّاقِلِ

Hati ini diminta untuk melupakan kalian

tetapi tabiat tidak mampu melakukan

 

Penyair lain berkata,

يَا أَيُّهَا الْمُتَحَلِّي غَيْرَ شِيمَتِهِ

إِنَّ التَّخَلُّقَ يَأْتِي دُوْنَهُ الْخُلُقُ

        Wahai orang yang mencoba berhias dengan selain akhlaknya,

 Sesungguhnya usahamu meraih akhlak akan disusul akhlak aslimu.

 

Dikatakan pula,

فَقُبْحُ التّطَبُّعِ شِيْمَةُ الْمَطْبُوعِ

        Jeleknya mengusahakan tabiat adalah tabiat yang sudah tercetak

 

Golongan ini mengatakan bahwa Allah ‘azza wa jalla telah menetapkan akhlak, penciptaan, rezeki, dan ajal, maka hal tersebut tidak mungkin untuk diubah.

Golongan lain berpendapat bahwa akhlak itu mungkin diusahakan sebagaimana halnya akal, kehati-hatian, kedermawanan, dan keberanian dapat diusahakan.

Realitas di alam ini merupakan bukti nyata. Mereka mengatakan bahwa latihan akan menghasilkan kepribadian. Maknanya, barang siapa melatih dirinya dengan sesuatu dan membiasakannya, ia akan memiliki sebuah akhlak, karakter, dan tabiat.

Kebiasaan hidup akan mengubah tabiat. Jika seorang hamba terus-menerus bertashabbur (berusaha bersabar), kesabaran akan menjadi karakter dirinya. Demikian pula halnya jika dia selalu mengusahakan sikap hati-hati, ketenangan, kewibawaan, dan keuletan, semua itu akan menjadi akhlak dan tabiatnya.

Alasan lainnya, Allah ‘azza wa jalla telah memberi manusia kemampuan untuk menerima perubahan dan kemampuan untuk belajar.

Oleh karena itu, mengubah sebuah tabiat bukanlah mustahil. Akan tetapi, perubahan terkadang sangat lemah sehingga tabiat asalnya mudah muncul kembali dengan sedikit penyebab saja. Bisa jadi juga perubahan itu kuat, tetapi belum sepenuhnya berpindah dari tabiat asal sehingga akan muncul kembali jika penyebabnya sangat kuat. Terkadang pula, tabiat bisa berpindah sepenuhnya.

 

Ishthibar

Ishthibar lebih dari sekadar tashabbur. Secara etimologi, kata ishtibar merupakan bentuk ifti’al dari shabr, yang memiliki makna kontinuitas.

Tashabbur (berusaha sabar) adalah awal dari ishthibar (perjuangan bersabar), sebagaimana takassub (bekerja) adalah awal dari iktisab (profesi). Jika terus-menerus bertashabbur, jadilah ishthibar.

 

Mushabarah

Adapun mushabarah adalah menghadapi musuh dalam medan kesabaran.

Sebab, bentuk kata mufa’alah menunjukkan perbuatan yang melibatkan dua belah pihak, seperti musyatamah (saling mencela) atau mudharabah (saling memukul).

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱصۡبِرُواْ وَصَابِرُواْ وَرَابِطُواْ

“Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah, bermushabarah, dan ribathlah kalian.” (Ali ‘Imran: 200)

 

Allah ‘azza wa jalla memerintahkan bersabar (terhadap dirinya sendiri), bermushabarah (terhadap seterunya), murabathah (komitmen dan kokoh dalam kesabaran dan mushabarah).

Seorang hamba terkadang bisa bersabar, tetapi tidak bisa bermushabarah. Bisa jadi, dia dapat bermushabarah, tetapi tidak bisa bermurabathah. Terkadang dia bisa bersabar, bermushabarah, dan bermurabathah, tetapi tanpa bertakwa.

Allah ‘azza wa jalla mengabarkan dalam kelanjutan ayat di atas, kunci semua itu adalah takwa, sedangkan kesuksesan dibangun di atas fondasi takwa.

وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ ٢٠٠

“Dan bertakwalah kalian kepada Allah agar kalian beruntung.” (Ali ‘Imran: 200)

Kata murabathah, selain bermakna menjaga benteng pertahanan dari serangan musuh secara lahiriah, juga bermakna menjaga hati dari serangan setan dan hawa nafsu.

Wallahul Muwaffiq.

(diambil dari ‘Uddatush Shabirin wa Dzakhiratu asy-Syakirin hlm. 21—23 cetakan Darul Afaq al-Jadidah, Beirut)

ditulis oleh al-Ustadz Abu Muhammad Abdul Jabbar

Al-Maula dan Al-Waliy

Al-Maula adalah salah satu dari asmaullah, nama-nama Allah ‘azza wa jalla yang mulia. Semakna dengan nama itu adalah nama Allah ‘azza wa jalla, al-Waliy. Kedua nama tersebut terdapat dalam ayat dan hadits sebagaimana akan disebutkan.

Allah ‘azza wa jalla adalah al-Maula bagi kaum mukminin. Maknanya ‘Dzat yang menolong hamba-hamba-Nya yang beriman, menyampaikan maslahat-maslahat kepada mereka, dan memudahkan untuk mereka berbagai manfaat ukhrawi dan duniawi’.

Allah adalah sebaik-baik al-Maula, yakni bagi siapa yang ditolong dan dicintai oleh Allah ‘azza wa jalla, sehingga dia akan memperoleh apa yang diinginkan.

Makna al-Waliy secara garis besar sama dengan al-Maula.

Asy-Syaikh as-Sa’di rahimahullah mengatakan bahwa (Allah) al-Waliy adalah Dzat yang hamba-Nya mencintai-Nya dengan mengibadahi-Nya dan menaati-Nya, serta mendekatkan diri kepada-Nya dengan segala yang dia mampu dari berbagai bentuk taqarrub (mendekatkan diri).

Allah ‘azza wa jalla membantu hamba-Nya secara umum (yakni baik yang beriman maupun tidak), dengan mengaturnya dan memberlakukan takdir-Nya kepada mereka. Demikian pula Allah ‘azza wa jalla menolong hamba-Nya yang beriman secara khusus dengan mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya, mengatur dan menjaga mereka dengan kelembutan-Nya, serta membantu mereka dalam segala urusan mereka. (Tafsir as-Sa’di)

Dalam bahasa Arab, huruf waulamya ( ولي ) memiliki beberapa arti, di antaranya: kedekatan, kecintaan, pertolongan, mengikuti, pengaturan, dan pengurusan. (Tahdzib al-Lughah, karya al-Azhari bab “Wau-lam-ya”. Lihat juga kitab Mu’jam Maqayis al-Lughah)

Berdasarkan makna secara bahasa dan keterangan asy-Syaikh Abdur Rahman as-Sa’di di atas, Allah ‘azza wa jalla menjadi al-Maula dan al-Waliy bagi hamba-Nya, maknanya mencakup hamba yang beriman dan hamba yang tidak beriman.

Allah ‘azza wa jalla sebagai al-Maula dan al-Waliy bagi hamba yang beriman berarti Allah ‘azza wa jalla mengatur, mengurusi, mencintai, dekat dengan mereka, dan menolong mereka.

Ketika menafsirkan firman-Nya,

ٱللَّهُ وَلِيُّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ

        “Allah Wali bagi orang-orang yang beriman.” (al-Baqarah: 257)

Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah berpendapat, “Maksudnya, pembela mereka dan penolong mereka, membantu mereka dengan pertolongan dan taufik-Nya. Dari sini Allah ‘azza wa jalla berfirman,

ذَٰلِكَ بِأَنَّ ٱللَّهَ مَوۡلَى ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَأَنَّ ٱلۡكَٰفِرِينَ لَا مَوۡلَىٰ لَهُمۡ ١١

        “Hal itu karena sesungguhnya Allah adalah al-Maula bagi orang-orang yang beriman dan karena sesungguhnya orang-orang kafir itu tidak mempunyai al-Maula.” (Muhammad: 11)

 

Ketika Perang Uhud, Abu Sufyan sebagai pimpinan musyrikin berkata kepada muslimin, “Kami memiliki Uzza, sementara kalian tidak memiliki Uzza.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada para sahabatnya, “Tidakkah kalian jawab?”

“Wahai Rasulullah, apa yang mesti kami katakan?” sahut para sahabat radhiallahu ‘anhum.

        “Katakanlah, ‘Allah Maula kami dan kalian tidak punya Maula’.”

 

Adapun Allah ‘azza wa jalla sebagai al-Maula dan al-Waliy bagi orang yang tidak beriman, maknanya Allah ‘azza wa jalla mengurusi mereka dan mengatur mereka dengan takdir dan ketetapan-Nya. Inilah makna pengaturan dan ketetapan yang bersifat umum, mencakup semua makhluk-Nya, yang mukmin dan yang kafir.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

أَمِ ٱتَّخَذُواْ مِن دُونِهِۦٓ أَوۡلِيَآءَۖ فَٱللَّهُ هُوَ ٱلۡوَلِيُّ وَهُوَ يُحۡيِ ٱلۡمَوۡتَىٰ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ٩

        “Atau patutkah mereka mengambil maula-maula selain Allah? Allah, Dialah al-Wali, pelindung (yang sebenarnya) dan Dia menghidupkan orang-orang yang mati, dan Dia adalah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (asy-Syura: 9)

 

Buah Mengimani Nama Allah al-Maula dan al-Wali

Mengimani kedua nama Allah di atas dan mengetahui maknanya dengan yakin, akan menumbuhkan rasa tawakal yang tinggi pada diri seorang hamba. Sebab, dia tahu bahwa sembahannya, Allah ‘azza wa jalla, adalah sebaik-baik Dzat yang mengurusi dan melindunginya. Barang siapa bertawakal penuh kepada Allah ‘azza wa jalla, Allah ‘azza wa jalla akan mencukupinya.

Lihatlah ketika keyakinan ini menghunjam dalam dada sahabat az-Zubair radhiallahu ‘anhu. Az-Zubair radhiallahu ‘anhu berkata kepada anaknya, saat terjadi Perang Jamal yang kemudian dia gugur saat itu,

        قَالَ الزُّبَيْرُ لِابْنِهِ عَبْدِ اللهِ يَوْمَ الْجَمَلِ: يَا بُنَيَّ، إِنْ عَجِزْتُ عَنْ شَيْءٍ مِنْهُ )يَعْنِي : دَيْنَهُ(؛ فَاسْتَعِنْ عَلَيْهِ بِمَوْلَايَ. قَالَ: فَوَاللهِ، مَا دَرَيْتُ مَا أَرَادَ حَتَّى قُلْتُ: يَا أَبَتِ، مَنْ مَوْلَاكَ؟ قَالَ: اللهُ. قَالَ: فَوَاللهِ، مَا وَقَعْتُ فِي كُرْبَةٍ مِنْ دَيْنِهِ إِلاَّ قُلْتُ: يَا مَوْلَى الزُّبَيْرِ، اقْضِ عَنْهُ دَيْنَهُ فَيَقْضِيهِ

“Wahai anakku, bila aku tidak mampu membayar sebagian utangku, mintalah tolong kepada Maulaku.”

Sang anak berkata, “Demi Allah, aku tidak tahu apa yang dia maksudkan sampai akhirnya aku bertanya kepada beliau, ‘Wahai ayah siapakah Maulamu?’

‘Allah,’ jawab az-Zubair.

“Demi Allah, tidaklah aku mengalami kesusahan ketika membayarkan utangnya kecuali aku berdoa, ‘Wahai, Maula Zubair, bayarkanlah utangnya,’ kecuali Allah ‘azza wa jalla berikan jalan untuk membayarkan utangnya. (HR. al-Bukhari, sahih)

Wallahul Muwaffiq.

 Ditulis oleh al-Ustadz Qomar Suaidi

Mari Beriman Sejenak

Sejarah telah menukilkan kepada kita gambaran nyata buah keimanan yang kokoh di hati sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, semoga Allah meridhai mereka. Mereka yang dahulunya, seperti digambarkan oleh Ja’far bin Abi Thalib, Dzul Janahain (Si Pemilik Dua Sayap) radhiallahu ‘anhu, dalam dialognya bersama Negus (Najasyi) Raja Habasyah masa itu,

“Wahai Baginda Raja, kami dahulu hidup di masa jahiliah, menyembah berhala, memakan bangkai (karena tidak disembelih dengan nama Allah –ed), melakukan perbuatan keji, memutuskan silaturrahmi (hubungan kasih sayang, kekerabatan), menyakiti tetangga, yang kuat di antara kami menindas yang lemah, memperturutkan syahwat, dan kami tetap dalam keadaan demikian sampai Allah mengutus seorang Rasul dari kalangan kami….”[1]

Lanjutkan membaca Mari Beriman Sejenak

Pintu Itu Dipecah : Al-Faruq ‘Umar bin al-Khaththab (20)

Tidak ada lagi Kisra di Persia. Tidak ada lagi istana putih yang megah berdiri angkuh. Tidak ada lagi Rustum, tidak ada lagi Yazdajird. Berhala api di kuil-kuil pemujaan padam. Masjid-masjid mulai didirikan, lalu berkumandanglah azan di seluruh negeri Persia itu.

Akan tetapi, lelatu api dendam itu ternyata tidak padam, bahkan tak pernah padam.

Sampai hari ini, sampai detik ini. Di balik hati gelap seorang budak api, budak yang seharusnya menjadi mulia karena dipelihara oleh orang-orang yang terhormat, agar menjadi orang yang mulia karena mendengar Kalam Ilahi setiap waktu. Namun, dia lebih memilih kehinaan dalam dendam kesumat keruntuhan bangsanya.

 

Pintu Itu Dipecah

Suatu ketika, Amirul Mukminin berbincang-bincang dengan sahabat-sahabatnya, dia bertanya, “Siapa di antara kamu yang hafal sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika beliau menyebut-nyebut berbagai fitnah, sebagaimana yang beliau ucapkan?”

“Aku. Aku hapal sebagaimana yang diucapkan oleh beliau,” kata Hudzaifah radhiallahu ‘anhu.

“Ayo, sebutkan. Sungguh, kamu benar-benar berani,” kata ‘Umar.

“Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

        فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِي أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَنَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَجَارِهِ يُكَفِّرُهَا الصِّيَامُ وَالصَّ ةَالُ وَالصَّدَقَةُ وَالْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنْ الْمُنْكَرِ .

‘Fitnah (ujian yang menimpa) seseorang dalam urusan keluarga, harta, jiwa, anak dan tetangganya, dihapus oleh puasa, shalat, sedekah, dan amar ma’ruf nahi munkar’.”

‘Umar berkata, “Bukan ini yang aku inginkan, melainkan tentang fitnah yang melanda seperti gelombang lautan.”

“Ada urusan apa antara Anda dan fitnah itu, wahai Amirul Mukminin? Sungguh, antara Anda dan fitnah itu ada pintu yang terkunci.”

‘Umar bertanya, “Apakah pintu itu dipecah atau dibuka?”

Hudzaifah berkata, “Tidak (dibuka), tetapi dipecah.”

‘Umar berkata, “Itu lebih pantas untuk tidak akan terkunci lagi selamanya.”

Rawi berkata, “Kami bertanya kepada Hudzaifah, ‘Apakah ‘Umar tahu perihal pintu itu?’.”

“Ya, sebagaimana dia tahu bahwa setelah siang adalah malam. Sungguh, aku pernah menyampaikan satu hadis kepadanya yang bukan aghalith (yang tidak pasti dan jelas -ed).”

Akan tetapi, kami segan menanyakan kepadanya (kepada Hudzaifah) siapa pintu itu. Kami kemudian menyuruh Masruq untuk bertanya kepadanya,

“Siapakah pintu itu?”

Hudzaifah berkata, “(Pintu itu) adalah ‘Umar.”[1]

Pintu itu adalah ‘Umar radhiallahu ‘anhu.

Pintu itu pecah berantakan.

Namun, dia jatuh bagai mutiara yang pecah berserakan. Setelah itu, badai fitnah mulai melanda kaum muslimin persis seperti gelombang lautan yang susul-menyusul. Satu demi satu korban berjatuhan. Ada yang gugur sebagai syahid, karena tetap tegar di atas alhaq; ada yang terbenam dalam kehinaan kesesatan bahkan kekufuran.

 

Dendam Budak Majusi

Kebencian orang-orang Iran (Persia) tidak hanya tertuju kepada bangsa Arab, tetapi juga kepada Islam. Sebab, dengan Islamlah, Allah ‘azza wa jalla mengangkat harkat martabat bangsa Arab—juga manusia seluruhnya—sebagai hamba Allah ‘azza wa jalla yang utuh. Islamlah yang melepaskan mereka dari belenggu perbudakan antarsesama menuju penghambaan hanya kepada Rabb semesta alam.

Islam pula yang mengembalikan manusia kepada fitrahnya yang lurus, mengakui dan mencintai kebenaran serta cenderung kepadanya.

Ibnu Abi Syaibah menukil riwayat dari ‘Abdullah bin al-Harits al-Khuza’i yang mengatakan, “Aku mendengar ‘Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu berkata dalam khutbahnya, ‘Sungguh, aku melihat dalam mimpi, seekor ayam jantan mematukku, dan aku melihat orang-orang menyingkirkannya dariku’.”

Seperti itu juga diceritakan oleh al-Imam Ahmad, dari Juwairiyah bin Qudamah yang datang ke Madinah pada tahun terbunuhnya ‘Umar radhiallahu ‘anhu.

Dalam riwayat lain, beliau radhiallahu ‘anhu menceritakan mimpinya kepada istrinya, Asma’ bintu ‘Umais bahwa dia dipatuk oleh seekor ayam merah. Asma menafsirkan mimpi itu bahwa beliau akan dibunuh oleh seseorang dari kalangan ajam (non-Arab).

Beberapa hari setelah itu, beliaupun ditikam oleh budak al-Mughirah bin Syu’bah, Abu Lu’lu’ah al-Majusi.

Di antara peraturan yang dibuat oleh ‘Umar adalah melarang budak kaum muslimin—yang masih kafir—yang telah dewasa, memasuki Madinah.

Al-Mughirah bin Syu’bah yang berada di Kufah menyurati ‘Umar agar mengizinkan budaknya Abu Lu’luah ini memasuki Madinah. Dia adalah seorang pandai besi yang ahli, mampu membuat peralatan dari besi yang diperlukan manusia.

Budak itu datang ke Madinah dan mengadukan al-Mughirah yang mengambil pajaknya setiap hari empat dirham.

Abu Lu’lu’ah menemui ‘Umar radhiallahu ‘anhu dan berkata, “Wahai Amirul Mukminin, al-Mughirah menaikkan pajakku, bicaralah kepadanya agar menurunkannya.”

‘Umar berkata, “Bertakwalah kamu kepada Allah, berbuat baiklah kepada majikanmu. Bekerjalah, bekerjalah!”

“Aku dengar, kamu pandai membuat penggilingan yang digerakkan oleh angin? Buatkan untukku.”

“Ya, akan kubuatkan untukmu agar jadi buah bibir orang-orang yang di kota.”

Abu Rafi’, salah satu sumber yang mengisahkan kejadian itu berkata, “Sebetulnya, ‘Umar berniat menemui al-Mughirah dan memintanya meringankan beban budak itu.”

Namun, budak itu marah mendengar perkataan ‘Umar, diapun berkata, “Keadilanmu hanya berlaku untuk orang lain, tidak buatku.”

Budak itu membuat sebilah belati bermata dua, lalu melumurinya dengan racun. Kemudian dia menunjukkannya kepada Hurmuzan dan berkata, “Bagaimana menurutmu belati ini?”

Hurmuzan berkata, “Menurutku, tidak ada yang terkena belati ini kecuali pasti mati.”

Kemudian dia menunggu waktu lengahnya ‘Umar.

Rabu, empat hari menjelang akhir bulan Dzulhijjah 23 H, saat shalat subuh sudah mulai diiqamatkan. ‘Amr bin Maimun, salah seorang saksi mata menceritakan kejadian tragis itu.

“Aku berada di saf kedua. Tidak ada yang menghalangiku dari saf pertama selain rasa segan karena wibawa ‘Umar.”

Amirul Mukminin melangkah maju untuk memimpin shalat. Beliaupun mulai merapikan barisan kaum muslimin.

Belum sempat bertakbir, dari kegelapan subuh hari itu, sosok tubuh dengan cepat menyelinap, langsung menuju ke arah sang imam, tiba-tiba….

“Aku diterkam serigala!!” Terdengar teriakan sang imam.

Beberapa orang sahabat di barisan depan berusaha menangkap bayangan yang menyelinap hendak lari itu. Sebagian lagi mengangkat tubuh sang imam yang sudah berlumur darah dan membawanya ke sudut masjid.

Sosok bayangan tadi mengayunkan belatinya yang ternyata bermata dua ke kiri dan ke kanan. Lima atau enam orang bahkan lebih, segera meregang nyawa terkena sabetan dan tusukan belati itu yang ternyata beracun.

Tiba-tiba, salah seorang jamaah melemparkan sehelai kain menutupi pembunuh itu. Orang itu kaget dan panik. Akal pendeknya melihat tidak ada lagi jalan untuk menyelamatkan diri, dia yakin pasti terbunuh. Dengan cepat dia menikamkan belati ke tubuhnya, maka diapun tewas seketika.

Siapa orang ini?

Ternyata dia adalah budak al-Mughirah bin Syu’bah, Abu Lu’lu’ah al-Majusi.

‘Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu masih sempat mengingatkan agar shalat segera dilaksanakan, maka ‘Abdur Rahman bin ‘Auf segera maju mengimami kaum muslimin.

Shalat subuh itu dikerjakan dengan cepat. ‘Abdur Rahman bin ‘Auf hanya membaca dua surat pendek dalam dua rakaat tersebut.

Usai shalat, kaum muslimin menjenguk ‘Umar yang sudah dibawa ke rumahnya. Ada yang menanyakan kabarnya, ada pula yang mendoakan kebaikan baginya.

Beliau meminta diberi perasan air kurma, lalu meminumnya. Ternyata air kurma itu keluar bersama darah. Setelah itu, beliau minta segelas susu, ternyata susu itu keluar dari luka yang menganga bersama darah.

Melihat hal itu, ‘Umar yakin tidak mungkin lolos dari kematian. Kemudian beliau bertanya kepada orang-orang yang di sekelilingnya, “Siapa yang (mau) membunuhku?”

“Budak al-Mughirah bin Syu’bah,” kata mereka.

“Semoga Allah ‘azza wa jalla membinasakannya. Aku pernah menyuruhnya kepada yang baik. Segala puji bagi Allah yang tidak menyebabkan kematianku di tangan seseorang yang mengaku muslim.”

Satu per satu sahabat menyebut-nyebut kebaikan beliau, tetapi ‘Umar justru mengatakan, “Demi Yang jiwa ‘Umar di Tangan-Nya. Aku sangat senang seandainya bagianku di akhirat hanya pas-pasan, tidak untung dan tidak rugi.”

Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma yang ada di dekat kepala beliau berkata, “Wahai Amirul Mukminin. Demi Allah, Anda tidak kembali dalam keadaan hanya membawa apa yang dapat digenggam kedua tanganmu.

Anda sudah menyertai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sebaik-baik persahabatan. Anda selalu melaksanakan perintahnya dan menjadi sebaik-baik pembantu sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat dalam keadaan beliau meridhaimu.

“Kemudian Anda mendampingi Abu Bakr yang diangkat sebagai khalifah dan melaksanakan perintahnya serta menjadi sebaik-baik pembantu baginya sampai beliau wafat, radhiallahu ‘anhu. Kemudian Anda diangkat sebagai wali dan memimpin dengan sebaik-baiknya.”

‘Umar diam mendengarkan, lalu memintanya mengulangi kata-kata tersebut dan berkata, “Demi Allah, seandainya aku mempunyai emas sepenuh bumi ini, pasti aku tebus diriku agar lepas dari kengerian hari kiamat.”

Seperti itu juga yang dikatakan ‘Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, “Selamat dengan syahid yang akan kau terima. Aku sering mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Aku datang dengan Abu Bakr dan ‘Umar. Aku keluar dengan Abu Bakr dan ‘Umar. Aku keluar dengan Abu Bakr dan ‘Umar, dan aku pergi dengan Abu Bakr dan ‘Umar,’ aku memohon kepada Allah agar Dia mengumpulkan engkau bersama kedua sahabatmu itu.”

‘Umar menangis dan berkata, “Duhai kiranya aku selamat, tanpa pahala dan dosa.”

Tiba-tiba, terdengar suara Shuhaib berseru sambil mendekati pembaringan ‘Umar, “Ooh, saudaraku, saudaraku.”

“Tenanglah, wahai Shuhaib, tenanglah. Apakah kamu lupa bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyebutkan bahwa mayit akan disiksa karena diratapi?”

Beliau pun memanggil putranya, ‘Abdullah, dan menyuruhnya menghitung utangnya lalu melunasi utang-utang tersebut. Ternyata semuanya berjumlah 86 ribu (dirham). Penguasa sepertiga belahan dunia ini ternyata menyimpan utang sekian banyak, padahal kunci kekayaan negara ada di tangannya.

Setelah itu, beliau memerintahkannya agar menemui Ibunda ‘Aisyah untuk memintakan izin agar dapat dikuburkan bersama kedua sahabatnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakr radhiallahu ‘anhu.

Ternyata Ibunda ‘Aisyah radhiallahu ‘anha mengizinkan dan lebih mendahulukan beliau, padahal Ibunda ‘Aisyah justru ingin dikuburkan di dekat kubur suami dan ayahnya. Semoga Allah ‘azza wa jalla meridhai beliau.

Namun, ‘Umar justru berkata, “Kalau aku mati, bawalah jenazahku menemui beliau lalu katakanlah, ‘Umar meminta izin,’ kalau diizinkan, bawalah masuk. Kalau beliau tidak mengizinkan, kuburkanlah aku di kuburan kaum muslimin.”

‘Utsman bin ‘Affan radhiallahu ‘anhu berkata, “Saya yang paling akhir menyertai ‘Umar. Saya masuk menemuinya, dan saya lihat kepalanya di atas paha putranya, ‘Abdullah. ‘Umar berkata kepada putranya, ‘Letakkan pipiku di tanah’.”

“Pahaku dan tanah sama saja,” kata ‘Abdullah.

“Letakkanlah pipiku di tanah, kecewa ibumu,” kata ‘Umar.

Kemudian saya (‘Utsman) berkata, “Aku mendengarnya berkata, ‘Celakalah aku dan ibuku kalau Engkau (Ya Allah) tidak mengampuni dosa-dosaku,’ sampai beliau wafat.”

Inilah ‘Umar, tidak ada seorang wanita pun sanggup melahirkan seorang anak seperti ‘Umar. Mereka, khususnya yang bersama ‘Umar dari orang-orang yang telah dijamin surga oleh Allah ‘azza wa jalla melalui lisan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak berbicara dengan hawa nafsu, meraih kedudukan yang agung ini tidak lain adalah karena agama yang mulia ini.

Tidak ada kemuliaan tanpa Islam. Akan tetapi, seberapa banyak orang yang mengerti akan hal ini?

Oleh karena itu, siapa yang bersemangat ingin berjaya dan mulia, ambillah dari mana mereka mengambil. Berpeganglah dengan sekuat-kuatnya kepada apa yang menjadi pegangan mereka dalam hidup.

Surga yang diinginkan oleh setiap jiwa yang berakal sehat adalah ciptaan Allah ‘azza wa jalla dan disediakannya untuk orang-orang yang beriman kepada Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya. Jalan menuju surga itu telah pula dibentangkan oleh Allah ‘azza wa jalla.

Tidak hanya itu, bagaimana cara menempuh jalan tersebut juga telah diterangkan oleh Allah ‘azza wa jalla, disertai pula contoh konkret berupa orang-orang yang pernah melintasi jalan tersebut. Salah satunya adalah ‘Umar, radhiallahu ‘anhu.

Merekalah contoh nyata yang telahmeraih keridhaan dan kemuliaan yang disediakan oleh Allah ‘azza wa jalla. Mereka bukan orang-orang yang maksum dari dosa dan kesalahan. Namun, juga bukan orang-orang yang membiarkan dirinya selamanya terkotori oleh dosa dan kesalahan. Perjuangan dan upaya mereka meraih keridhaan dari Allah ‘azza wa jalla diakui dan diterima oleh Allah ‘azza wa jalla, hingga mereka menjadi teladan untuk orang-orang yang datang setelah mereka.

Bahkan Allah ‘azza wa jalla menegaskan dalam firman-Nya,

وَمَن يُشَاقِقِ ٱلرَّسُولَ مِنۢ بَعۡدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ ٱلۡهُدَىٰ وَيَتَّبِعۡ غَيۡرَ سَبِيلِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ نُوَلِّهِۦ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصۡلِهِۦ جَهَنَّمَۖ وَسَآءَتۡ مَصِيرًا ١١٥

        “Dan barang siapa menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (an-Nisa’: 115)

Sebelum wafat, ‘Umar menunjuk enam orang sahabat besar yang termasuk orang-orang yang dipastikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan masuk surga, agar membahas siapa yang akan menjadi khalifah menggantikan ‘Umar.

(insya Allah bersambung)

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Muhammad Harits

[1] HR. al-Bukhari (6567) dan Muslim (5150).

Tanya Jawab Ringkas Edisi 117

Berikut ini adalah beberapa pertanyaan yang dijawab oleh al-Ustadz Muhammad Afifuddin.

 Menyediakan Tempat Tinggal Untuk Istri

Seorang wanita sudah 4 tahun lamanya masih hidup bersama mertua. Si wanita sering digoda untuk berbuat layaknya suami isteri oleh bapak mertuanya ketika suami tidak di rumah.

Apa yang harus dilakukan wanita tersebut jika suami belum punya tempat tinggal dan tidak mempunyai nafkah yang cukup untuk mengontrak rumah?

 Jawaban:

Suami wajib menempatkan istrinya di rumah yang aman. Dalam kondisi di atas, suami wajib mencarikan tempat tinggal untuk istri, walau dengan mengontrak, bahkan walaupun harus berutang. Sebab, keberadaan istri di rumah mertua sudah terancam kehormatannya.

Di samping itu, suami wajib menegur dan menasihati orang tuanya.

 ——————————————————————————————————————————————

Pembelian Bayar di Muka

Seorang produsen pakaian menjual pakaian dengan warna tertentu di internet. Ada pembeli yang ingin dibuatkan pakaian tersebut dengan warna lain. Produsen mengecek ketersediaan warna yang diminta di toko kain. Jika warna itu ada, produsen meminta pembeli membayar di muka. Setelah menerima pembayaran, produsen membeli bahan yang diminta dan membuatnya untuk si pembeli.

Apakah ini termasuk larangan menjual barang yang belum dikuasai?

Jawaban:

Akad di atas lebih dikenal dengan istishna’, yang rajih hukumnya boleh. Diperbolehkan ada uang muka. Apabila barang sudah jadi sesuai dengan permintaan, pemesan tinggal melengkapi pembayaran. Apabila barang tidak sesuai dengan permintaan, pemesan bisa membatalkan akad dan uang kembali. Harga barang sesuai dengan kesepakatan bersama.

Apabila pembayaran utuh sesuai dengan harga barang dan dilakukan di muka untuk barang tertentu, dengan spesifikasi tertentu, dan diserahkan pada waktu tertentu, akad itu disebut akad salam. Hukumnya boleh.

 ——————————————————————————————————————————————

Ziarah Kubur Orang Tua yang Tidak Pernah Shalat

Apakah boleh menziarahi kubur dan mendoakan ortu yang tidak pernah shalat? Beberapa bulan sebelum meninggal, orang tua sempat minta diajari shalat, tetapi sampai akhir hayatnya belum bisa melakukan dan belum mengerjakannya.

Apakah ia sudah dihukumi kafir? Apa kewajiban anak bagi yang memiliki orang tua yang meninggal dengan keadaan seperti itu?

 Jawaban:

Orang yang tidak pernah shalat adalah kafir, bukan muslim. Dia tidak boleh didoakan, namun boleh diziarahi makamnya dengan tujuan:

  1. Mengingat mati.
  2. Mengingat akhirat.

Hanya saja, tidak boleh didoakan.

 ——————————————————————————————————————————————-

Kuburan di Depan Masjid

Saya shalat berjamaah di masjid yang depannya (sebelah tembok) ada kuburan. Bagaimana sebaiknya?

 Jawaban:

Kalau ada pembatas, semacam jalan setapak, selokan, pagar, dll, tidak masalah shalat di masjid tersebut.

Tidak ada pembatas, hanya saja shalatnya agak mundur dari mihrab. Kata takmirnya, belum bisa memberi pembatas karena terhalang dana. Bagaimana solusinya?

 Jawaban:

Lebih baik tidak shalat di masjid itu untuk kehati-hatian. Wallahu a’lam.

 ——————————————————————————————————————————————-

Sering Cemas karena Masalah Kecil

Ada seorang wanita sering merasa putus asa, resah, cemas, dan menangis, bahkan stres jika ada masalah walaupun masalah kecil, misal hanya tersandung sedikit.

Wanita tersebut lalu menikah. Setelah menikah juga demikian, ia sering menangis, ketakutan, putus asa, seolah-olah tidak ada harapan hidup padahal hanya dihadapkan pada masalah kecil.

Apakah itu termasuk gangguan jin? Bagaimana cara mengatasinya? Wanita tersebut juga sering meruqyah diri sendiri, berdoa, dan thalabul ilmi. Muncul ketenangan, tetapi gangguan itu tetap hilang-datang? Hubungan dengan suami & keluarga baik-baik saja.

 Jawaban:

Wanita tersebut berjiwa sensitif. Solusinya adalah:

  1. Mempertebal keimanan kepada takdir Allah.
  2. Meningkatkan dan melatih kesabaran dengan selalu berupaya meredam hati, lisan, dan anggota badan dari segala yang mungkar dan keluh kesah.
  3. Meningkatkan rasa tawakal kepada Allah dengan memasrahkan segala urusan kepada Allah setelah berikhtiar secara maksimal.
  4. Meningkatkan ibadah dan taqarub (pendekatan diri) kepada Allah.
  5. Membaca sejarah Nabi dan kaum salaf yang penuh keteladanan dalam mengarungi kehidupan.
  6. Meminta wejangan kepada orang yang bisa menenteramkan hati.

 —————————————————————————————————————————————–

Zakat Diserahkan kepada Ibu

Kalau ada kewajiban harta yang harus dikeluarkan, semisal zakat dan kafarah, apakah boleh diberikan kepada ibu kandung yang janda dan miskin, tetapi bukan saya yang menanggung kebutuhan hidup beliau?

 Jawaban:

Zakat mal, zakat fitrah, dan kafarah bisa diserahkan kepada sanak famili dengan dua syarat:

  1. Mereka termasuk mustahiq.
  2. Mereka bukan orang yang kita tanggung kehidupan kesehariannya.

 —————————————————————————————————————————————–

Tetangga Putar Musik

Bagaimana hukumnya memutar murattal atau kajian ilmiah untuk mengimbangi tetangga yang memutar musik?

 Jawaban:

Tujuan utama adalah mengambil faidah ilmiah dari ceramah tersebut dan tadabbur dari murattal tersebut.

Tindakan di atas bukan solusi persoalan, bahkan bisa jadi menambah runyam. Lebih baik berbicara dan menasihati tetangga dengan cara yang baik tentang haramnya musik. Target minimalnya adalah suaranya kecil supaya tidak mengganggu ketenangan.

——————————————————————————————————————————————-

Pendidikan Anak

Anak memasuki usia sekolah. Rencana saya masukkan di pondok salafi. Istri kurang setuju dengan alasan belum tega karena sehari tidak melihat anak. Bagaimana solusinya? Jarak rumah saya dengan pondok sekitar 1/4 jam perjalanan sepeda motor.

 Jawaban:

Seyogianya anak mendapatkan kasih sayang dan perhatian orang tuanya secara maksimal. Anak tidak dilepas jauh untuk dipondokkan (asrama) kecuali apabila sudah mandiri dan siap secara psikologis.

Apabila belum siap, anak diikutkan belajar di pondok salafi yang full day atau setengah hari. Apalagi jarak tempuhnya tidak terlalu jauh.

Orang tua yang bertanggung jawah atas tarbiyah anak-anaknya harus siap berkorban. Di sisi lain, istri juga perlu dinasihati dan dibimbing agar meyakini kebenaran manhaj salaf dan mendukung tarbiyah salafiyah untuk anak-anaknya.

——————————————————————————————————————————————-

Wali Wanita Tidak Setuju

Seorang wanita ingin menikah, tetapi orang tua wanita tidak setuju/tidak merestui dengan calon laki-lakinya tersebut karena si laki-laki tersebut duda. Bolehkah wanita itu menikah siri dengan laki-laki duda tersebut tanpa persetujuan orang tua si wanita?

Pertanyaan ini dari si duda, karena dia khawatir terjatuh dalam hal-hal yang tidak diinginkan.

 Jawaban:

Apabila yang dimaksud nikah siri adalah tanpa wali, pernikahannya tidak sah.

Nasihat secara umum dalam pernikahan: Lakukan pernikahan sesuai dengan syariat dari jalur yang benar dan aman baik secara syar’i maupun aturan negara, agar tidak timbul fitnah di kemudian hari.

Apabila ortu wanita belum setuju, berjuanglah untuk meluluhkan hatinya dengan cara-cara yang baik. Itulah perjuangan. Apabila sudah berusaha secara maksimal dan tanpa hasil, cari wanita lain yang orang tuanya bisa menerima keadaan.

 ——————————————————————————————————————————————-

Keutamaan Tarawih Bersama Imam bagi Wanita

Apakah keutamaan melaksanakan shalat tarawih dengan imam sampai selesai juga berlaku bagi para wanita? Ataukah tetap lebih utama bagi kami untuk melaksanakannya munfarid di rumah sebagaimana shalat-shalat yang lain? Mohon penjelasannya.

 Jawaban:

Wanita lebih afdal shalat di rumah berdasarkan keumuman hadits dan tentu akan mendapat pahala besar. Apabila wanita tersebut shalat berjamaah dengan imam, dia mendapat pahala seperti yang tersebut dalam hadits.

——————————————————————————————————————————————-

Satu Barang, Satu Toko, Beda Harga

Pada 24/05/2016 saya membeli obat di sebuah toko dengan harga 155 ribu. Karena obat akan habis, pada 11/06/2016 saya akan membeli obat yang sama, dengan harga 255 ribu.

Karena harga naik terlalu tinggi, saya bertanya mengapa naiknya tinggi sekali. Saya menyebutkan harga dan menunjukkan nota bulan kemarin. Penjaga yang lain heran dengan harganya yang murah. Dia mengatakan bahwa obat yang dahulu salah harga. Dia meminta tambahan kekurangan uang dari harga yang kemarin.

Melihat kasus ini saya mempunyai pertanyaan. Bagaimana sikap saya sebagai pembeli? Bagaimana sikap saya apabila sebagai penjual?

 Jawaban:

Pada kasus jual beli di atas sang penjual perlu menunjukkan bukti valid terkait harga jual obat tersebut. Apabila benar harganya salah pada akad pertama, langkah berikutnya adalah islah antara penjual dan pembeli. Dicari solusi terbaik yang disepakati.

Namun, apabila alot dan sang pembeli tidak mau, itu menjadi risiko penjual. Sebab, pembeli sedikit pun tidak melakukan penipuan atau kecurangan.

 —————————————————————————————————————————————–

Tamu Berpemahaman Menyimpang

Bagaimana sikap sebagai seorang muslim yang cendikia dan berilmu ketika didatangi tamu yang berpemahaman menyimpang:

  1. Tamu tersebut dari kalangan ustadz (orang yang sudah mengerti)?
  2. Simpatisan (orang yang terkadang ikut kajian mereka dan belum mengerti ilmu syar’i secara benar)?

 Jawaban:

Muamalah dengan orang yang menyimpang atau pelaku bid’ah dalam perspektif manhaj salaf ada perincian:

  1. Pelaku bid’ah karena keawamannya atau yang tertipu dengan penyimpangan. Kaidah bermuamalah dengan mereka adalah ta’liful qulub, melembutkan hati mereka dengan nasihat yang baik, berinteraksi secara umum dengan baik tanpa kita mengorbankan prinsip. Mereka inilah ladang dakwah kita.

Sikap ta’lif ini ada batasnya, yaitu sampai mereka menunjukkan penentangan, tidak lagi mau mendengar nasihat dan justru menebar fitnah. Jika demikian keadaannya, kita terapkan prinsip hajr.

 

  1. Para dai dan dedengkot penyimpangan.

Kaidah bermuamalah dengan mereka adalah hajr (boikot) dan tahdzir (memperingatkan dan mewaspadai) dengan ketentuan-ketentuannya. Perincian di atas dikecualikan kondisi tertentu yang tidak terelakkan. Pada saat itu sajalah kita lakukan prinsip ta’lif dalam rangka meredam keburukan. Inilah siyasah syar’iyah yang disebut mudarah.

Contohnya, ada tokoh penyimpangan bertamu ke rumah kita. Ada dua keadaan:

  1. Kita bisa mengusirnya atau menolaknya tanpa menimbulkan fitnah di tengah masyarakat.

Jika demikian keadaannya, itulah yang harus kita lakukan sebagai kaidah asal bermuamalah dengan mereka. Praktik salaf dalam bab ini banyak, seperti tindakan Thawus, Ibnu Sirin, dll.

  1. Tidak mungkin menolak dan mengusirnya karena banyak sebab, misalnya:
  • kita menunggu tamu dari kalangan awam atau pejabat, ternyata dia numpang ikut tanpa konfirmasi.
  • dia sudah di ruang tamu karena dipersilakan oleh orang tua atau anak kita karena ketidaktahuan.
  • dia datang bertamu dalam keadaan di luar rumah banyak masyarakat awam, bahkan mungkin pihak yang tidak suka dengan dakwah kita.

Dalam kondisi-kondisi semisal di atas, kita terapkan kaidah ta’lif. Kita temui mereka dengan baik sesuai dengan hajatnya dan berinteraksi secara umum tanpa kita mengorbankan prinsip. Inilah yang dicontohkan dalam sunnah.

 

Berikut ini adalah beberapa pertanyaan yang dijawab oleh al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad as-Sarbini.

 Masjid yang Boleh Menjadi Tempat I’tikaf

Apakah benar pendapat yang mengatakan itikaf hanya bisa dilaksanakan di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi?

 Jawaban:

Pendapat itu marjuh (lemah). Lihat secara lengkap di buku kami Fikih Puasa Lengkap.

 —————————————————————————————————————————————–

Bekerja di Diler Kendaraan

Saya mau bertanya, bagaimana hukumnya bekerja di diler kendaraan? Sebagaimana kita ketahui, diler mustahil tidak menjual kendaraan secara kredit.

 Jawaban:

Jika demikian, tidak boleh bekerja di situ.

 —————————————————————————————————————————————-

Menikahi Sepupu

Saya ingin bertanya tentang pernikahan. Sepupu saya yang bila dirujuk dari hukum pernikahan Islam boleh dinikahi. Namun, suatu hari sepupu saya tersebut mengatakan bahwa saya sudah dianggap sebagai saudara/kakak. Pertanyaan saya, jika kami tetap menikah, apakah pernikahan itu halal atau haram? Sebab, dia sudah mengatakan saya dianggap sebagai kakak.

 Jawaban:

Ucapannya tidak menghalangi pernikahan Anda berdua. Wallahu a’lam.

 ——————————————————————————————————————————————-

Mahar dari Pemberian

Apakah sah suatu perkawinan dengan mahar yang diberikan oleh seseorang. Terima kasih.

 Jawaban:

Maksudnya pengantin tidak punya mahar atau kesulitan, kemudian ada yang bantu memberikan kepadanya harta untuk jadi mahar pernikahannya? Jika demikian, sah.

 ——————————————————————————————————————————————

Menikah Saat Hamil

Saya ingin bertanya. Saya sekarang sudah menikah, tetapi saya menikah karena saya sudah hamil. Apakah pernikahan saya sah menurut agama? Yang menikahi saya adalah laki-laki yang menghamili saya.

 Jawaban:

Tidak sah. Anda harus berpisah hingga anak zina itu lahir. Anak tersebut dinisbahkan kepada ibunya tanpa ayah.

Setelah itu Anda boleh menikah, dengan syarat Anda berdua telah tobat dari zina dengan tobat yang benar.

 —————————————————————————————————————————————-

Tidak Mau Menikah

Apakah saya berdosa jika tidak mau menikah? Sebelumnya saya sudah hampir menikah dengan laki-laki yang saleh dan sesuai dengan apa yang saya inginkan, namun ia meninggal dunia. Sejak saat itu saya menutup diri dari semua laki-laki.

Sekarang saya hanya menyibukkan diri mencari ilmu dan berusaha untuk mengamalkannya dengan harapan dapat berkumpul dengannya di akhirat kelak. Mohon nasihatnya.

 Jawaban:

Menikah adalah sunnah Nabi. Kami nasihatkan agar Anda tetap menikah dengan pria saleh lainnya untuk menjalankan sunnah Nabi dan menjaga diri Anda. Sebab, menikah lebih menjaga diri dari godaan syahwat.

Apalagi seorang wanita butuh mahram, pelindung, dan pemberi nafkah agar jalan hidupnya lebih mudah dan ringan. Lihatlah para wanita sahabat, walau ditinggal mati suami, mereka tetap menikah lagi setelahnya.

 —————————————————————————————————————————————–

Tarawih 4 Rakaat Sekali Salam

Bolehkah shalat tarawih 4 rakaat dengan sekali salam? Apakah diperbolehkan shalat malam/tarawih dikerjakan 4 rakaat, 4 rakaat, lalu 3 rakaat?

 Jawaban:

Sebagian ulama, seperti an-Nawawi dan al-Albani, berpendapat boleh.

Akan tetapi, shalat tarawih 4 rakaat, 4 rakaat, lalu 3 rakaat pada hadits Aisyah (muttafaq ‘alaih) ditafsirkan oleh riwayat Muslim yang merincikan bahwa 4 rakaat itu adalah 2 rakaat 2 rakaat dengan dua salam, lalu istirahat.

 Demikian pula hadits Ibnu ‘Umar,

صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى

        “Shalat malam itu dua rakaat dua rakaat.”

Ini yang ditegaskan oleh Ibnu Baz dan Ibnu ‘Utsaimin.

 Adapun witir ada dua cara:

  • Dua rakaat ditutup salam, lalu satu rakaat.
  • Tiga rakaat dengan satu tahiyat.

 ——————————————————————————————————————————————

Ucapan Talak

Saya mau tanya, seorang suami mengucapkan, “Kamu saya antar pulang ke rumah orang tuamu,” karena merasa sudah tidak kuat sama si istri.

Apakah itu dinamakan talak? Sebab, si suami mengucapkannya dengan perasaan marah dan kesal. Bagaimana hukumnya?

 Jawaban:

Tergantung niatnya. Jika dia niatkan talak, jatuh talak. Jika tidak dia niatkan talak, tidak jatuh talak.

 —————————————————————————————————————————————–

Resepsi Pernikahan Nonmuslim

Saya mau tanya, apakah kita boleh menghadiri resepsi pernikahan orang nonmuslim yang makanannya dari katering (halal) tetapi acaranya di dekat kompleks gereja, tidak di dalamnya?

 Jawaban:

Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin dalam masalah ini membolehkan menghadiri undangan acara resepsi pernikahan nonmuslim, karena tidak tergolong acara momen keagamaan.

Namun, perlu diperhatikan syarat lainnya, di antaranya syarat tidak ada perkara haram pada acara itu, seperti musik, campur baur laki-laki dan wanita, kedua pengantin dipajang, dokumentasi gambar dengan foto atau video, dan semcamnya.

Jika syarat ini tidak terpenuhi, resepsi tersebut tidak boleh dihadiri. Wallahu a’lam.

——————————————————————————————————————————————

Talak Saat Suci Setelah Digauli

Tiga bulan lalu A menalak istrinya dengan sadar 100% dalam masa suci tetapi telah digauli.

Bagaimana status istrinya sekarang? Sampai sekarang istrinya belum haid, hamil pun tidak.

Perempuan yang haidnya tidak lancar tiap bulan, pernah dalam setahun hanya 3 kali, bagaimana menghitung masa iddahnya?

 Jawaban:

Talaknya sah menurut pendapat yang rajih. Masa iddahnya adalah 3 kali haid.

Dia menanti sampai melewati 3 kali haid, meskipun setahun. Wallahu a’lam.

 ——————————————————————————————————————————————

Khulu’ Saat Haid

Mohon bimbingannya secara syariat. Khulu’ saat keadaan haid, apakah sah?

 Jawaban:

Khulu’ saat haid boleh dan sah. Sebab, khulu’ bukan talak, melainkan fasakh dan atas permintaan istri.

 ——————————————————————————————————————————————-

Kasus Waris

Saudara kandung almarhum hanya tinggal bapak saya dan adik lelaki bapak saya, sementara almarhum tidak punya anak. Ada keponakan bapak saya yang ikut tinggal di rumahnya. Rumah tersebut hasil penjualan dari rumah peninggalan kakek saya.

Tanpa sepengetahuan bapak saya, ternyata sertifikat rumah tersebut sudah dibalik nama atas nama keponakan bapak saya. Katanya, sudah dihibahkan almarhum kepada keponakan bapak saya.

Secara hukum bagaimana? Orang tua saya sudah menggugat secara kekeluargaan dengan kerabat keluarganya.

 Jawaban:

Tampak dari pertanyaan bahwa rumah itu diwarisi oleh anak-anak sang kakek, yaitu bapak Anda dan saudaranya itu.

Jika anak kakek Anda hanya tinggal mereka berdua, saudaranya tersebut seharusnya hanya menghibahkan bagiannya dari rumah itu. Adapun bagian bapak Anda diserahkan kepada bapak Anda.

Jadi, hibah tersebut untuk keponakan bapak Anda dari rumah itu tidak sah. Bapak Anda punya hak menggugatnya untuk meminta bagian warisan yang merupakan haknya dari rumah itu. Wallahu a’lam.

Tersisa sebuah masalah, kami mengingatkan Anda agar tidak menggunakan istilah almarhum. Sebab, menurut orang Indonesia istilah semacam itu berstatus gelar, bukan doa, yang berarti memastikan dia dirahmati dan masuk surga.

 ———————————————————————————————————————————

Oper Kredit Mobil

Si A membeli mobil ke diler dengan DP sekitar 5 juta rupiah, diangsur per bulan 2 juta rupiah lebih selama 5 tahun.

Baru berjalan 3 tahun, keluarga Si A oper kredit ke B karena tidak mampu membayar. Si A sudah meninggal. Keluarga Si A meminta uang kepada Si B sebagai ganti uang DP dan angsuran selama 3 tahun, setelah dikurangi kerusakan akibat pemakaian, dsb.

Bagaimana hukumnya? Apabila mobil dikembalikan ke diler, uang tidak kembali, barang pun hilang.

 Jawaban:

Ketahuilah bahwa jual beli dengan diler mobil/motor dengan sistem kredit adalah riba, ditinjau dari dua sisi:

  1. Ada denda apabila menunggak pembayaran.
  2. Dibayari/dilunasi dulu oleh pihak ketiga yang bekerja sama dengan diler, lalu pembeli membayar ke pihak ketiga tersebut.

Sistem seperti ini hakikatnya diutangi uang senilai harga kontan barang, lalu membayar utang secara kredit dengan nominal lebih besar daripada utang sebenarnya. Oleh karena itu, pembeli membayar melalui bank ke pihak ketiga tersebut.

Jika sudah terlanjur membeli/mengambil alih mobil cicilan itu dari pemiliknya, terpaksa Anda melunasinya daripada terzalimi lebih besar lagi, disertai bertobat kepada Allah karena telah terlibat dalam urusan muamalah dengan bank dan kredit riba yang terlaknat.

 —————————————————————————————————————————————

Mahar Tertunda Diserahkan

Saya ingin bertanya apabila dalam ijab kabul disebutkan jenis maharnya dan dibayarkan tunai. Akan tetapi, saat akad uang tunai tersebut tidak diserahkan langsung. Uangnya baru diserahkan seminggu kemudian dan istri ikhlas akan hal itu.

Apakah pernikahan tersebut sah?

Jawaban:

Pernikahan tersebut sah.

 ——————————————————————————————————————————————

Buka Bersama Puasa Arafah

Apakah ada atsar dari salaf tentang mengadakan buka bersama pada puasa sunnah Arafah?

 Jawaban:

Jika maksudnya buka bersama dengan keyakinan hal itu lebih utama daripada berbuka sendiri lantas sengaja berkumpul untuk buka bersama, hal itu bid’ah.

Adapun jika ada orang yang memiliki rezeki dan ingin mendapatkan keutamaan memberi buka puasa orang yang berpuasa sampai kenyang, hal itu tidak masalah.

Adapun atsar salaf yang ditanyakan, kami tidak mengetahui adanya hal itu.

——————————————————————————————————————————————-

Daging Kurban Sebagai Lauk Fidyah

Bolehkah membayar fidyah dengan memberi makan dari daging kurban sebagai lauknya?

Jawaban:

Boleh. Akan tetapi, harus diingat bahwa yang wajib adalah beras atau nasi dengan kadar/porsi yang mengenyangkan untuk satu kali makan sebagai pembayar satu puasa. Lauk hanyalah menjadi pelengkap.

—————————————————————————————————————————————–

Suami Ingin Mendaftarkan Cerai

Apakah sudah jatuh talak apabila suami sudah berkeinginan ingin mendaftarkan perceraian kami, tanpa mengucapkan mau cerai dengan saya? Suami pernah bilang, “Kalau memang harusnya pisah, ya pisah, mau gimana lagi.”

 Jawaban:

Diperjelas saja kepada suami, apakah dia telah menjatuhkan cerai dengan kalimat itu atau tidak. Sebab, konotasinya begitu, apalagi dia sudah ingin mendaftarkan perceraian ke pengadilan.

 —————————————————————————————————————————————

Melihat yang Tidak Pantas di Internet

Saya mau tanya, jika suka melihat hal-hal yang tidak pantas di internet, apa yang harus saya lakukan untuk menghapus dosa saya?

 Jawaban:

Bertobat dan istighfar, mohon ampun kepada Allah. Imbangi dengan amal saleh.

Lawan dorongan hawa nafsu Anda dengan iman, jangan sampai berkelanjutan, menjadi kebiasaan dan penyakit.

 —————————————————————————————————————————————–

Kirim SMS/WA Pertanyaan ke Redaksi 081328078414 atau via email ke tanyajawabringkas@gmail.com Jika pertanyaan Anda cukup dijawab secara ringkas, akan kami muat di rubrik ini. Namun, jika membutuhkan jawaban yang panjang lebar, akan kami muat di rubrik Problema Anda, insya Allah.

Seputar Qunut Witir (2)

Berikut ini adalah lanjutan jawaban al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad as-Sarbini seputar masalah qunut witir.

 Qunut Witir Pada Rakaat Terakhir

Qunut witir dilakukan pada rakaat terakhir dari shalat witir. Ini berdasarkan hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu ( muttafaq ‘alaih) bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan qunut nazilah pada shalat zhuhur, isya, dan subuh pada rakaat terakhir. Sebab, qunut nazilah dan qunut witir adalah dua ibadah yang sejenis.

 

Waktu Qunut Witir

Ada perbedaan pendapat, apakah qunut witir dilakukan sebelum rukuk atau setelahnya?

  1. Sebelum rukuk, seusai membaca surah.

Ini adalah pendapat Abu Hanifah dan Malik.

 

  1. Setelah rukuk, seusai membaca zikir i’tidal.

Ini adalah pendapat asy-Syafi’i dan Ahmad.

 

  1. Sebelum rukuk atau setelahnya.

Ini riwayat lain dari Ahmad. Ini yang dipilih oleh Ibnu Baz, al-Albani, dan Ibnu ‘Utsaimin.

 

Dalil pendapat pertama adalah hadits Ubay bin Ka’b radhiallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan qunut witir sebelum rukuk. Telah diterangkan sebelumnya bahwa hadits ini diperselisihkan kebenarannya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan al-Albani menghukuminya sahih. Di antara hadits yang dijadikan penguat oleh al-Albani adalah hadits Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu. ‘Ashim al-Ahwal berkata,

        سَأَلْتُهُ عَنِ الْقُنُوتِ قَبْلَ الرُّكُوعِ أَوْ بَعْدَ الرُّكُوعِ؟ فَقَالَ: قَبْلَ الرُّكُوعِ. قُلْتُ: فَإِنَّ نَاسًا يَزْعُمُونَ أَنَّ رَسُولَ قَنَتَ بَعْدَ الرُّكُوعِ. فَقَالَ: إِنَّمَا قَنَتَ رَسُولُ اللهِ شَهْرًا يَدْعُو عَلَى أُنَاسٍ قَتَلُوا أُنَاسًا مِنْ أَصْحَابِهِ يُقَالُ لَهُمْ الْقُرَّاءُ

Aku bertanya tentang qunut, apakah sebelum rukuk atau sesudahnya. Anas menjawab, Sebelum rukuk.

Aku berkata, Sekelompok orang menyangka bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan qunut setelah rukuk.

Anas menjawab, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hanyalah melakukan qunut (setelah rukuk) selama sebulan penuh mendoakan kejelekan terhadap sekelompok orang yang membunuh beberapa sahabat beliau yang disebut para qurra.” (Muttafaq ‘alaih)

 

Menurut al-Albani, sudah pasti yang dimaksud dengan ‘qunut sebelum rukuk’ oleh Anas radhiallahu ‘anhu adalah qunut witir, tidak mungkin qunut nazilah, sebagaimana hal itu tampak pada seluruh riwayat hadits ini—bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan qunut nazilah setelah rukuk.[1]

Hal ini didukung pula oleh atsar Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu bahwa ia melakukan qunut witir sebelum rukuk (HR. ath-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir dengan sanad yang dinilai hasan oleh al-Albani).

 

Ibnu Abi Syaibah mengeluarkannya dalam Mushannaf-nya dengan sanad yang dinilai hasan oleh al-Albani, dengan lafadz,

        أَنَّ ابْنَ مَسْعُودٍ وَأَصْحَابَ النَّبِيِّ كَانُوا يَقْنُتُونَ فِي الْوِتْرِ قَبْلَ الرُّكُوعِ

“Ibnu Masud dan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu melakukan qunut witir sebelum rukuk.”[2]

 

Dalil pendapat kedua adalah penyamaan hukum terhadap qunut nazilah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dilakukan setelah rukuk menurut qiyas, sebagaimana pada hadits Anas radhiallahu ‘anhu di atas dan semisalnya.

Pada kitab Qiyamul Lail karya Muhammad bin Nashr al-Marwazi disebutkan bahwa al-Imam Ahmad ditanya tentang qunut pada shalat witir, apakah sebelum rukuk atau setelahnya? Apakah kedua tangan diangkat pada doa qunut witir?

Ahmad menjawab, “Qunut witir dilakukan setelah rukuk dan mengangkat kedua tangan, berdasarkan qiyas terhadap amalan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada qunut nazilah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam di shalat subuh.”

Yang beliau maksud adalah hadits Anas radhiallahu ‘anhu dan Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, keduanya muttafaq ‘alaih.

Al-Imam Ahmad rahimahullah beralih kepada qiyas dalam masalah ini sepertinya karena beliau memvonis dha’if hadits Ubay bin Ka’ab radhiallahu ‘anhu tentang qunut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum rukuk, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

Dasar qiyas ini adalah mengingat bahwa keduanya amalan sejenis, samasama qunut dalam shalat sehingga keduanya sama dalam hal ini.

Qiyas ini didukung oleh amalan Ubay bin Ka’ab radhiallahu ‘anhu qunut witir setelah rukuk pada separuh terakhir Ramadhan, sebagaimana pada riwayat Ibnu Khuzaimah yang telah disebutkan.

 

Dari keterangan di atas, tampaklah bahwa pendapat ketiga lebih tepat. Qunut witir sebelum rukuk atau setelah rukuk termasuk amalan yang beragam, terkadang yang ini dan terkadang yang itu.[3]

 

Qunut dengan Mengangkat Kedua Tangan

Terdapat perbedaan pendapat mengenai mengangkat kedua tangan ketika qunut witir. Yang benar, disunnahkan mengangkat kedua tangan.

Ini adalah mazhab Hanbali, sebagaimana dalam al-Mughni (2/584) dan al-Inshaf (2/172).

Ini pula yang dianggap benar pada mazhab Syafi’i oleh mayoritas fuqaha mazhab Syafi’i, termasuk al-Baihaqi dan an-Nawawi, sebagaimana dalam kitab al-Majmu’ (3/479 & 487).

Pendapat ini telah difatwakan oleh Ibnu Baz dalam Majmu’ al-Fatawa (30/51) dan Ibnu ‘Utsaimin dalam asy-Syarh al-Mumti’ (4/18).

Pendapat ini berdalil dengan hadits Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu tentang qunut nazilah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkenaan dengan 70 qari’ (penghafal Qur’an) dari kalangan sahabat yang dibantai oleh kaum musyrikin.

Kata Anas,

لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ كُلَّمَا صَلَّى الْغَدَاةَ رَفَعَ يَدَيْهِ يَدْعُو عَلَيْهِمْ

“(Demi Allah), sungguh, aku telah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap kali shalat subuh mengangkat kedua tangannya mendoakan kebinasaan atas mereka (para pembantai itu).” ( HR. Ahmad, ath-Thabarani, dan al-Baihaqi; dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam Ashlu Shifat ash-Shalah, 3/957958)

 

Telah sahih pula atsar dari ‘Umar radhiallahu ‘anhu,

كَانَ عُمَرُ يَقْنُتُ بِنَا فِي صَلَاةِ الْغَدَاةِ وَيَرْفَعُ يَدَيْهِ حَتَّى يخرج ضَبْعَيْهُ

“Adalah ‘Umar radhiallahu ‘anhu melakukan qunut bersama kami pada shalat subuh dan mengangkat kedua tangannya hingga mengeluarkan kedua lengan atasnya.” (Riwayat Ibni Abi Syaibah, al-Bukhari dalam kitab Raf’ul Yadain, Ibnu Nashr, dan al-Baihaqi; dinyatakan sahih oleh al-Bukhari, al-Baihaqi, dan al-Albani dalam kitab Ashlu Shifat ash-Shalah (3/958—959)

 

Meskipun dalil-dalil ini pada qunut nazilah, tetapi keduanya adalah amalan yang sejenis sehingga disamakan secara metode qiyas.

Berdasarkan atsar-atsar tersebut, al-Imam Ahmad rahimahullah menyatakan bahwa kedua telapak tangan diangkat setinggi dada dengan bagian telapak menghadap ke atas, sebagaimana dalam al-Mughni dan al-Inshaf.

Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah menambahkan dalam asy-Syarh al-Mumti’ (4/18) bahwa yang tampak dari keterangan ulama adalah kedua telapak tangan ditempelkan satu sama lainnya seperti halnya orang yang meminta sesuatu. Adapun memisah dan menjauhkan antara keduanya, Ibnu ‘Utsaimin menimpali bahwa hal itu tidak ada asal usulnya, baik dari as-Sunnah maupun dari keterangan ulama.

 

Teks Doa Qunut Witir

Adapun teks doanya adalah yang disebutkan pada hadits al-Hasan bin ‘Ali radhiallahu ‘anhuma. Pada riwayat Ibnu Mandah dalam kitab at-Tauhid ada tambahan lafadz doa di akhir yang dinilai tsabit (benar) oleh al-Albani dan ditetapkan olehnya pada kitab Qiyam Ramadhan, yaitu,

وَلاَ مَنْجَا مِنْكَ إِلاَّ إِلَيْكَ

        “Tidak tempat berlindung dari-Mu kecuali hanya kepada-Mu.”[4]

 

Adapun menutup lafadz doa dengan shalawat untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, hal itu disebutkan pula pada tambahan riwayat an-Nasa’i dengan lafadz,

وَصَلَّى اللهُ عَلَى النَّبِيِّ مُحَمَّدٍ

“Semoga shalawat dan salam tercurah atas Nabi Muhammad.”

Riwayat ini dinilai sahih oleh an-Nawawi, tetapi dibantah oleh Ibnu Hajar dan al-Albani yang memvonisnya dha’if (lemah). Meski demikian, al-Albani menetapkan shalawat di akhir doa qunut pada kitab al-Irwa’ dan Talkhish Shifat ash-Shalah (hlm. 38), berdasarkan amalan sahabat pada qunut witir di separuh terakhir Ramadhan pada masa ‘Umar radhiallahu ‘anhu, sebagaimana pada riwayat yang dikeluarkan oleh Ibnu Khuzaimah yang telah disebutkan di atas.[5]

Al-Albani berpendapat dalam kitab Qiyam Ramadhan (hlm. 23) bahwa tidak mengapa menambah selain doa ini dengan mendoakan laknat atas orang-orang kafir dan mendoakan kaum muslimin pada qunut witir dalam rangkaian tarawih di separuh terakhir Ramadhan, berdasarkan amalan sahabat di masa ‘Umar radhiallahu ‘anhu. Hal ini sebagaimana pada riwayat Ibnu Khuzaimah di atas.

Ibnu Baz berfatwa dalam Majmu’ al-Fatawa (11/355) bahwa yang lebih utama bagi imam tarawih apabila melakukan qunut witir agar memilih kalimat-kalimat singkat dan bermakna luas dan tidak memperpanjang doa yang akan memberatkan para makmum. Imam hendaknya membaca doa yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada al-Hasan bin ‘Ali radhiallahu ‘anhuma dan menambahnya dengan doa-doa yang baik yang dimudahkan baginya, sebagaimana ‘Umar radhiallahu ‘anhu menambahnya.

Begitu pula fatwa Ibnu ‘Utsaimin dalam Majmu’ al-Fatawa war Rasa’il (14/no. 775, 778, & 779).

Pada shalat witir berjamaah, seperti halnya qunut witir di separuh terakhir Ramadhan, dalam rangka mencontoh sahabat, imam men-jahrkan (memperdengarkan) bacaannya dan mengganti lafadz dhamir mufrad (tunggal) dengan lafadz dhamir jam’in (jamak), yaitu,

اللَّهُمَّ اهْدِنَا فِيمَنْ هَدَيْتَ، وَعَافِنَا فِيمَنْ عَافَيْتَ، وَتَوَلَّنَا فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ، وَبَارِكْ لَنَا فِيمَا أَعْطَيْتَ، وَقِنَا شَرَّ مَا قَضَيْتَ

“Ya Allah, berilah kami hidayah bersama orang-orang yang engkau beri hidayah, berilah kami keselamatan dunia akhirat bersama orang-orang yang engkau beri keselamatan dunia akhirat, dekatkanlah kami kepadamu dan tolonglah kami bersama orang-orang yang engkau dekatkan dan engkau tolong, berkahilah kami pada apa-apa yang yang engkau berikan, jagalah kami dari kejelekan apa-apa yang engkau tetapkan/takdirkan.”[6]

 

Adapun makmum, cukup mengaminkan setiap penggalan doa yang dibaca oleh imam. Dengan itu, mereka juga terhitung telah berdoa dengan doa tersebut untuk diri mereka secara hukum. Dalilnya adalah hadits Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma,

الظُّهْرِ قَنَتَ رَسُولُ اللهِ شَهْرًا مُتَتَابِعًا فِي وَالْعَصْرِ وَالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ وَصَلَاةِ الصُّبْحِ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ إِذَا قَالَ: سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ؛ مِنَ الرَّكْعَةِ الْآخِرَةِ يَدْعُو عَلَى أَحْيَاءٍ مِنْ بَنِي سُلَيْمٍ، عَلَى رِعْلٍ وَذَكْوَانَ وَعُصَيَّةَ وَيُؤَمِّنُ مَنْ خَلْفَهُ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan qunut sebulan berturut-turut pada shalat zhuhur, asar, maghrib, isya, dan shalat subuh, pada setiap akhir shalat setelah mengucapkan Sami’allahu liman hamidah’ pada rakaat terakhir. Beliau mendoakan kebinasaan bagi sekelompok orang dari Bani Sulaim, Ri’subhanahu wa ta’ala, Dzakwan, dan Ushayyah. Orang-orang yang di belakang beliau mengaminkannya.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud, dinilai berderajat hasan oleh al-Albani dalam al-Irwa’, 2/163)

 

Ini pada qunut nazilah dan begitu juga hukumnya pada qunut witir, karena keduanya adalah amalan sejenis. Masalah ini seperti halnya mengaminkan bacaan al-Fatihah imam pada shalat jahriyah, sebagaimana kata Ibnu ‘Utsaimin dalam Majmu’ al-Fatawa war-Rasa’il (13/139).

 

Perhatikan firman Allah subhanahu wa ta’ala,

          قَالَ قَدۡ أُجِيبَت دَّعۡوَتُكُمَا فَٱسۡتَقِيمَا وَلَا تَتَّبِعَآنِّ سَبِيلَ ٱلَّذِينَ لَا يَعۡلَمُونَ ٨٩

“Sungguh, doa kalian berdua telah dikabulkan.” (Yunus: 89)

 

Yang berdoa hanya Nabi Musa ‘alaihissalam, sedangkan Nabi Harun ‘alaihissalam hanya mengaminkan.

 

Ini telah ditegaskan oleh Ahmad dan menjadi mazhab fuqaha Hanbali, sebagaimana dalam kitab al-Inshaf (2/172).

Ini pula yang dianggap paling benar pada mazhab Syafi’i sebagaimana dalam al-Majmu’ (3/481482, 511). Pendapat ini yang difatwakan oleh Ibnu Baz dalam Majmu’ al-Fatawa (9/397) dan Ibnu ‘Utsaimin dalam asy-Syarh al-Mumti’ (4/47).

 

Apabila makmum tidak mendengar doa qunut imam, terdapat dua pendapat.

  1. Makmum mengaminkan saja.
  2. Makmum membaca doa qunut sendiri.

Pendapat kedua difatwakan oleh al-Imam Ahmad, sebagaimana dalam kitab al-Mughni (2/584).

Pendapat ini yang paling benar pada mazhab Syafi’i, sebagaimana dalam al-Majmu’ (3/481 & 511).

Wallahu a’lam.

[1] al-Irwa’ (92/168)

[2] Lihat al-Irwa’ (2/166) dan Ashlu Shifat ash-Shalah hlm. 971.

[3] Lihat kitab al-Mughni (2/581-582), al-Inshaf (2/171), al-Majmu’ (3/520-521), al-Irwa’ (2/163-164), Ashlu Shifat ash-Shalah (3/970-971), Talkhish Shifat ash-Shalah (hlm. 27), Majmu’ Fatawa Ibni Baz (11/357), asy-Syarh al-Mumti’ (4/20).

[4] Lafadz adalah tambahan pada riwayat Ibnu Mandah dalam kitab at-Tauhid dan Abu Bakr al-Ashbahani dalam kitab Fawaid-nya. Riwayat ini sempat divonis dha’if (lemah) oleh al-Albani pada kitab Ashlu Shifat ash-Shalah (3/972 & 976). Namun, kemudian al-Albani condong menyatakan sahih riwayat ini dalam kitab al-Irwa’ (2/168-169) dan menetapkannya pada kitab Sifat ash-Shalah (hlm. 181), Talkhish Shifat ash-Shalah (hlm. 38), dan Qiyam Ramadhan (hlm. 23).

[5] Lihat selengkapnya Talkhish al-Habir (1/448), Ashlu Shifat ash-Shalah (3/976-978), dan al-Irwa’ (2/176-177).

[6] asy-Syarh al-Mumti’

Mengutamakan Akhirat di Atas Dunia

Seandainya kalbu:

1) merenungi kefanaan kehidupan dunia dan tidak langgengnya kesenangan-kesenangan yang ada padanya, dan akan berakhirnya berbagai kenikmatan yang ada di dalamnya, sambil menghadirkan kesempurnaan kenikmatan dan kelezatan akhirat, keabadian kehidupan padanya;

2) merenungi pula kelebihan dan keutamaan kenikmatan akhirat atas kenikmatan dunia; dan meyakini dengan pasti tentang benarnya kedua pengetahuan ini, maka renungannya akan menghasilkan pengetahuan yang ketiga:

Akhirat dengan kenikmatannya yang sempurna dan kekal abadi tentu lebih pantas diutamakan oleh setiap orang yang berakal daripada kehidupan dunia yang fana dan menipu.

Dalam hal pengetahuan tentang akhirat, ada dua keadaan manusia:

  1. Dia mendengar pengetahuan itu dari orang lain dalam keadaan kalbunya tidak benar-benar yakin terhadap akhirat dan tidak mau bersungguh-sungguh memahami hakikatnya.

Ini adalah keadaan kebanyakan manusia. Ada tarik-menarik antara dua kutub di dalam dirinya. Daya tarik yang pertama memikatnya untuk lebih mengutamakan dunia, dan inilah yang terkuat dalam dirinya. Sebab, dunia bisa disaksikan dan dirasakan langsung oleh pancaindra.

Adapun daya tarik yang kedua, yakni akhirat, lemah karena pengetahuan tentangnya hanya dari pendengaran saja (belum bisa dirasakan oleh pancaindra). Hatinya belum benar-benar meyakininya, dia pun tidak bersungguh-sungguh merenunginya.

Apabila ia mengutamakan akhirat dengan mengorbankan dunianya, jiwanya berbisik bahwa dirinya telah meninggalkan sesuatu yang pasti dan nyata, menuju sesuatu yang abstrak dan hanya berdasarkan prasangka. Seolah-olah jiwanya menyeru, “Tentu aku tidak boleh melepaskan sebiji jagung yang jelas terlihat di depan mata, demi mendapatkan sebuah berlian yang baru sekedar janji.”

Penyakit inilah yang menghalangi jiwa-jiwa manusia untuk mempersiapkan dirinya menghadapi akhirat, beramal dan berusaha bersungguh-sungguh untuk menyongsongnya. Ini terjadi karena lemahnya ilmu dan keyakinan tentang negeri akhirat.

Seandainya jiwanya meyakini kehidupan akhirat seyakin-yakinnya, tanpa ada celah keraguan di kalbunya, tentu dia tidak akan meremehkannya. Pasti dia akan bersungguh-sungguh mempersiapkan bekal menuju akhirat.

Oleh karena itu, jika dihidangkan makanan yang paling lezat lagi nikmat kepada seseorang dan dia sedang kelaparan, lalu ada yang memberitahu bahwa makanan itu beracun, tentu ia tidak akan menyantapnya. Sebab, dia tahu bahwa bahaya makanan tersebut melampaui kelezatan menyantapnya.

(Jika dalam hal makanan saja demikian) mengapa keimanan seseorang terhadap akhirat tidak tertanam seperti itu dalam hatinya? Ini tidak lain karena lemah dan tidak terhunjamnya pohon ilmu dan iman terhadap kehidupan akhirat dalam hatinya.

Begitu pula saat ia akan melewati suatu jalan. Dia lalu diberitahu bahwa di ujung jalan ada perampok dan begal yang membunuhi orang yang melintas lalu merampas barang-barangnya. Orang itu tidak akan melewati jalan tersebut, kecuali apabila dirinya:

1) tidak percaya kepada yang memberitahunya, atau

2) percaya diri akan kesanggupannya untuk melawan dan mengalahkan mereka.

Kalau saja dia memercayai berita itu sepenuhnya dan merasa tidak sanggup melawan para perampok tersebut, pasti dia tidak akan menempuh jalan itu.

Sekiranya kedua pengetahuan ini telah ada pada diri seseorang, tentu dia tidak akan mengutamakan dunia dan syahwatnya daripada akhirat.

Jadi, dapat dipahami bahwa mengutamakan urusan dunia dan tidak mempersiapkan diri untuk negeri akhirat, tidak akan terjadi pada orang yang imannya benar-benar jujur.

 

  1. Dia benar-benar yakin tanpa ragu sedikit pun bahwa akan ada kehidupan yang pasti dia menetap di dalamnya setelah kehidupan di dunia ini.

Dia yakin ada tempat kembali yang telah dipersiapkan untuknya, dan dunia ini hanyalah jalan yang akan mengantarkannya ke tempat kembalinya tersebut. Dunia ini hanya sekadar tempat persinggahan. Bersamaan dengan itu dia yakin bahwa negeri akhirat tersebut kekal. Nikmat dan azabnya juga tidak akan sirna.

Seandainya bisa dibandingkan antara kenikmatan dan azab di dunia dengan yang ada di akhirat, hanyalah seperti mencelupkan jari ke laut, lalu jari itu diangkat lagi: Air yang membasahi jari itulah permisalan dunia, sedangkan air laut itulah akhirat.

Pengetahuan ini tentu mendorong seseorang untuk mengutamakan, mencari, dan bersungguh-sungguh mempersiapkan diri menghadapi kehidupan akhirat.

 

Bacalah perlahan dan renungilah firman Allah subhanahu wa ta’ala,

ٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَا لَعِبٞ وَلَهۡوٞ وَزِينَةٞ وَتَفَاخُرُۢ بَيۡنَكُمۡ وَتَكَاثُرٞ فِي ٱلۡأَمۡوَٰلِ وَٱلۡأَوۡلَٰدِۖ كَمَثَلِ غَيۡثٍ أَعۡجَبَ ٱلۡكُفَّارَ نَبَاتُهُۥ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَىٰهُ مُصۡفَرّٗا ثُمَّ يَكُونُ حُطَٰمٗاۖ وَفِي ٱلۡأٓخِرَةِ عَذَابٞ شَدِيدٞ وَمَغۡفِرَةٞ مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضۡوَٰنٞۚ وَمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلۡغُرُورِ ٢٠

سَابِقُوٓاْ إِلَىٰ مَغۡفِرَةٖ مِّن رَّبِّكُمۡ وَجَنَّةٍ عَرۡضُهَا كَعَرۡضِ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ أُعِدَّتۡ لِلَّذِينَ ءَامَنُواْ بِٱللَّهِ وَرُسُلِهِۦۚ ذَٰلِكَ فَضۡلُ ٱللَّهِ يُؤۡتِيهِ مَن يَشَآءُۚ وَٱللَّهُ ذُو ٱلۡفَضۡلِ ٱلۡعَظِيمِ ٢١

“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah di antara kalian serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak. Seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani. Kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning lalu menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras, begitu pula ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.

Berlomba-lombalah kamu kepada ampunan dari Rabb-mu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi. (Surga yang) disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Itulah karunia yang Allah berikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (al-Hadid: 20—21)

 

يَسۡ‍َٔلُونَكَ عَنِ ٱلسَّاعَةِ أَيَّانَ مُرۡسَىٰهَا ٤٢ فِيمَ أَنتَ مِن ذِكۡرَىٰهَآ ٤٣  إِلَىٰ رَبِّكَ مُنتَهَىٰهَآ ٤٤  إِنَّمَآ أَنتَ مُنذِرُ مَن يَخۡشَىٰهَا ٤٥  كَأَنَّهُمۡ يَوۡمَ يَرَوۡنَهَا لَمۡ يَلۡبَثُوٓاْ إِلَّا عَشِيَّةً أَوۡ ضُحَىٰهَا ٤٦

 “(Orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari kebangkitan. Kapankah terjadinya? Siapakah kamu (sehingga) dapat menyebutkan (waktunya)? Kepada Rabb-mulah dikembalikan kesudahannya (ketentuan waktunya). Kamu hanyalah pemberi peringatan bagi siapa yang takut kepadanya (hari berbangkit). Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) kecuali hanya (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari.” (an-Nazi’at: 42—46)

 

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا أَنَا فِي الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا

“Tidaklah aku hidup di dunia ini melainkan seperti seorang pengembara yang sedang istirahat berteduh di bawah naungan pohon. Kemudian pengembara tersebut pergi meninggalkannya.” (HR. at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan dihukumi sahih oleh asy-Syaikh al-Albani)

 

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menggolongkan kita sebagai hamba-hamba-Nya yang jujur keimanannya dan senantiasa mengutamakan akhirat di atas dunia. Amin.

(Miftah Daris Sa’adah 1/542, dengan beberapa penambahan)

 

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Muhammad Abdul Jabbar

 

Al-Malik

Di antara nama Allah adalah al-Malik ( الْمَلِكُ ) dan al-Maliik ( الْمَلِيكُ ), berdasarkan firman Allah,

          هُوَ ٱللَّهُ ٱلَّذِي لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡمَلِكُ ٱلۡقُدُّوسُ ٱلسَّلَٰمُ ٱلۡمُؤۡمِنُ ٱلۡمُهَيۡمِنُ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡجَبَّارُ ٱلۡمُتَكَبِّرُۚ سُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ عَمَّا يُشۡرِكُونَ ٢٣

        “Dia-lah Allah Yang tiada Rabb (yang berhak disembah) selain Dia, Raja, Yang Mahasuci, Yang Mahasejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Mahaperkasa, Yang Mahakuasa, Yang Memiliki segala keagungan. Mahasuci, Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (al-Hasyr: 23)

 

فِي مَقۡعَدِ صِدۡقٍ عِندَ مَلِيكٖ مُّقۡتَدِرِۢ ٥٥

        “Di tempat yang disenangi di sisi Rabb Yang Maha Berkuasa.” (al-Qamar: 55)

 

Dalam hadits disebutkan,

        يَقْبِضُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى الْأَرْضَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَيَطْوِي السَّمَاءَ بِيَمِينِهِ، ثُمَّ يَقُولُ: أَنَا الْمَلِكُ، أَيْنَ مُلُوكُ الْأَرْضِ؟

Pada hari kiamat, Allah subhanahu wa ta’ala akan menggenggam bumi dan melipat langit dengan tangan kanan-Nya. Lalu Allah berfirman, “Akulah Maharaja, di manakah raja-raja bumi?” (HR. al-Bukhari dan Muslim, hadits sahih)

 

Asy-Syaikh Abdurahman as-Sa’di rahimahullah berpendapat bahwa al-Malik dan al-Maalik berarti Yang milik-Nyalah kerajaan. Dia subhanahu wa ta’ala disifati dengan kerajaan, yang bermakna memiliki sifat-sifat kebesaran, kesombongan, pemaksaan, dan pengaturan; Yang Memiliki pengaturan yang mutlak dalam hal penciptaan, perintah, dan pembalasan.

Milik-Nyalah seluruh alam semesta bagian atas dan bawahnya. Semuanya adalah hamba dan budak-Nya. Semuanya membutuhkan bantuan-Nya.

 

As-Sa’di rahimahullah juga berpendapat bahwa Allah subhanahu wa ta’ala mengabarkan bahwa Dia subhanahu wa ta’ala adalah pemilik seluruh yang ada di langit dan di bumi, sehingga semuanya adalah hamba Allah dan budak-Nya. Tidak seorang pun keluar dari lingkup ini.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          إِن كُلُّ مَن فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ إِلَّآ ءَاتِي ٱلرَّحۡمَٰنِ عَبۡدٗا ٩٣

        “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Rabb Yang Maha Pemurah sebagai seorang hamba.” (Maryam: 93)

Allah-lah Yang Maha Memiliki seluruh hamba; Dia Yang Memiliki sifat kepemilikan, mengatur, menguasai, dan kesombongan.

Di antara kesempurnaan kerajaan-Nya, tidak ada siapa pun yang bisa memberi syafaat di hadapannya kecuali dengan izin-Nya. Semua makhluk yang berkedudukan dan semua pemberi syafaat adalah budak dan hamba bagi Allah. Mereka tidak mampu memberi syafaat sampai Allah subhanahu wa ta’ala memberikan izin kepada mereka.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

قُل لِّلَّهِ ٱلشَّفَٰعَةُ جَمِيعٗاۖ

“Katakanlah bahwa syafaat seluruhnya hanya milik Allah.” (az-Zumar: 44)

 

Allah subhanahu wa ta’ala tidak akan memberi izin kepada siapa pun untuk memberi syafaat kecuali kepada yang Dia subhanahu wa ta’ala ridhai. Sementara itu, Allah subhanahu wa ta’ala tidak meridhai syafaat kecuali kepada hamba yang mentauhidkan-Nya dan mengikuti Rasul-Nya. Barang siapa tidak memiliki sifat tersebut, dia tidak akan mendapatkan syafaat.

 

Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa hakikat sebuah kerajaan akan sempurna dengan kemampuan memberi, menghalangi, memuliakan, menghinakan, memberi pahala, memberi sanksi, murka, ridha, memberi kekuasaan, mencopot kekuasaan, memuliakan yang pantas dimuliakan, dan merendahkan yang pantas direndahkan.

 

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

قُلِ ٱللَّهُمَّ مَٰلِكَ ٱلۡمُلۡكِ تُؤۡتِي ٱلۡمُلۡكَ مَن تَشَآءُ وَتَنزِعُ ٱلۡمُلۡكَ مِمَّن تَشَآءُ وَتُعِزُّ مَن تَشَآءُ وَتُذِلُّ مَن تَشَآءُۖ بِيَدِكَ ٱلۡخَيۡرُۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ٢٦

تُولِجُ ٱلَّيۡلَ فِي ٱلنَّهَارِ وَتُولِجُ ٱلنَّهَارَ فِي ٱلَّيۡلِۖ وَتُخۡرِجُ ٱلۡحَيَّ مِنَ ٱلۡمَيِّتِ وَتُخۡرِجُ ٱلۡمَيِّتَ مِنَ ٱلۡحَيِّۖ وَتَرۡزُقُ مَن تَشَآءُ بِغَيۡرِ حِسَابٖ ٢٧

Katakanlah, “Wahai Rabb Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.

Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rezeki kepada siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas).” (Ali Imran: 26—27)

 

          يَسۡ‍َٔلُهُۥ مَن فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ كُلَّ يَوۡمٍ هُوَ فِي شَأۡنٖ ٢٩

        “Semua yang ada di langit dan bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan.” (ar-Rahman: 29)

 

Mengampuni dosa, memberi jalan keluar bagi yang kesusahan, menghilangkan kesedihan, menolong yang terzalimi, mencegah yang berbuat zalim, melepaskan kesulitan, membuat kaya yang miskin, menghibur yang sedih, menyembuhkan yang sakit, menutup aurat, memuliakan yang hina, menghinakan yang mulia, memberi yang meminta, menciptakan sebuah negara dan melenyapkan yang lain, membuat hari silih berganti di antara manusia, mengangkat derajat sebagian kaum dan merendahkan kaum lain, menjalankan takdir yang Dia tetapkan lima puluh ribu tahun sebelum terciptanya langit dan bumi kepada waktu-waktunya tanpa bergeser sedikitpun waktunya; semuanya seperti yang Allah subhanahu wa ta’ala tetapkan, seperti yang ditulis oleh pena takdir, dan seperti yang Allah subhanahu wa ta’ala tetapkan, seperti yang Allah subhanahu wa ta’ala ketahui.

Dialah sendiri yang mengatur segala yang ada dalam kerajaan-Nya seluruhnya; pengaturan Maharaja yang Mahamampu, Mahamemaksa, Mahaadil, Maha Pengasih Penyayang, yang sempurna kerajaan-Nya. Tidak ada sesuatupun yang melawan-Nya dalam kerajaan-Nya. Tidak ada sesuatupun yang menentang-Nya. Pengaturan-Nya dalam kerajaan-Nya berjalan antara keadilan dan kebaikan, hikmah, maslahat, kasih sayang, dan perbuatan-Nya tidak keluar dari itu. (Thariqul Hijratain)

 

Buah Mengimani Nama Allah al-Malik

Di antara buah mengimani nama Allah al-Malik adalah merasakan betapa kecil dan betapa lemahnya kita sebagai hamba Allah di hadapan Allah, Maharaja bagi semua raja; Yang Menciptakan, memiliki, menguasai, dan mengatur langit, bumi, dunia, dan akhirat.

Kita juga merasa bangga dengan keyakinan kita di mana kita adalah hamba Dzat Yang Mahaperkasa. Kita tidak salah menghambakan diri kepada-Nya. Tidak seperti orang-orang yang menghambakan diri kepada patung, pohon, jin, setan, binatang, dan lainnya; yang tidak lain adalah sesama makhluk.

Walhamdulillah atas kenikmatan Islam.

 

Ditulis oleh al-Ustadz Qomar Suaidi

Perumpamaan al-Haq Dan al-Bathil (2)

Sunnatullah yang Tak Berubah

Hari demi hari, dakwah yang penuh berkah ini semakin bersinar. Bertambah banyak kaum muslimin yang mulai menyadari hakikat agama yang seharusnya mereka yakini dan mereka anut.

Demikian pula semakin banyak orang-orang yang masih sehat akal dan masih bersih fitrahnya di antara orang-orang yang kafir (musyrik dan ahli kitab) kembali kepada fitrahnya, yaitu Islam.

Melihat hal tersebut, semakin besar kebencian dan dendam musuh-musuh dakwah ini. Berbagai gelar buruk disematkan kepada dakwah ini dan semua yang terlibat di dalam menyebarkan dan membelanya. Tidak perlu heran, karena sejak awal Islam ini didakwahkan ke tengah-tengah manusia, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang membawanya pertama kali, tidak luput dari berbagai gelar yang buruk yang dilemparkan masyarakat yang telah mengenal beliau sejak kecil.

Bahkan, sejak awal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima wahyu, lalu beliau menemui istrinya, Khadijah, dalam keadaan khawatir sesuatu menimpa diri beliau, kemudian dibawa oleh Khadijah kepada Waraqah bin Naufal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah mendengar keterangan Waraqah bahwa tidak ada seorang pun yang membawa ajaran seperti yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melainkan pasti disakiti; diusir atau dibunuh.

Sejak rasul pertama diutus oleh Allah subhanahu wa ta’ala ke tengah-tengah masyarakat manusia, yaitu Nuh ‘alaihissalam, orang-orang yang didatangi Sang Utusan yang mulia ini menuduhnya dengan ungkapan yang buruk. Nabi Nuh ‘alaihissalam dianggap ingin meraih keutamaan melebihi masyarakatnya, atau dikatakan gila dan dusta. Begitu pula para nabi dan rasul shalawatullahi wa salamuhu ‘alaihim sesudah beliau, sampai Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَإِن كَذَّبُوكَ فَقَدۡ كُذِّبَ رُسُلٞ مِّن قَبۡلِكَ جَآءُو بِٱلۡبَيِّنَٰتِ وَٱلزُّبُرِ وَٱلۡكِتَٰبِ ٱلۡمُنِيرِ ١٨٤

“Jika mereka mendustakan kamu, sesungguhnya rasul-rasul sebelum kamu pun telah didustakan (pula), mereka membawa mukjizat-mukjizat yang nyata, Zabur dan kitab yang memberi penjelasan yang sempurna.” (Ali ‘Imran: 184)

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman,

مَّا يُقَالُ لَكَ إِلَّا مَا قَدۡ قِيلَ لِلرُّسُلِ مِن قَبۡلِكَۚ إِنَّ رَبَّكَ لَذُو مَغۡفِرَةٖ وَذُو عِقَابٍ أَلِيمٖ ٤٣

        “Tidaklah ada yang dikatakan (oleh orang-orang kafir) kepadamu itu selain apa yang sesungguhnya telah dikatakan kepada rasul-rasul sebelum kamu. Sesungguhnya Rabb kamu benar-benar mempunyai ampunan dan hukuman yang pedih.” (Fushshilat: 43)

Apa yang dikatakan oleh orang-orang yang kafir itu? Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

كَذَٰلِكَ مَآ أَتَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِم مِّن رَّسُولٍ إِلَّا قَالُواْ سَاحِرٌ أَوۡ مَجۡنُونٌ ٥٢

        Demikianlah, tidak seorang rasul pun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, melainkan mereka mengatakan, “Ia adalah seorang tukang sihir atau orang gila.” (adz-Dzariyat: 52)

Orang-orang kafir di kalangan Quraisy menuduh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam merusak persatuan dan hubungan keluarga. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dituduh meretakkan kerukunan masyarakat Hijaz, khususnya penduduk Makkah.

Tuduhan ini pun sudah dialamatkan kepada nabi-nabi yang terdahulu. Fir’aun menuduh Nabi Musa ‘alaihissalam datang membawa kerusakan, ingin mengubah tatanan hidup masyarakat yang—menurut kebodohan dan kesombongan Fir’aun—mulia.

Seperti itu kecaman bahkan ejekan serta tuduhan yang diterima Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mendakwahkan agama yang lurus ini pertama kali. Seperti itu pula yang akan diterima oleh orang-orang yang telah mewakafkan dirinya untuk menyebarkan dakwah yang penuh berkah ini, sebagaimana yang dilakukan oleh Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kapan dan di mana saja.

Seolah-olah, generasi kafir dan orang-orang yang durhaka yang datang belakangan ini mewarisi ungkapan-ungkapan buruk ini dari orang-orang yang kafir dan durhaka sebelum mereka.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam ayat berikutnya,

أَتَوَاصَوۡاْ بِهِۦۚ بَلۡ هُمۡ قَوۡمٞ طَاغُونَ ٥٣

        “Apakah mereka saling berpesan tentang apa yang dikatakan itu? Sebenarnya mereka adalah kaum yang melampaui batas.” (adz-Dzariyat: 53)

Tidak hanya melemparkan tuduhanburuk terhadap para pembawa dakwah yang penuh berkah ini, tetapi juga mengaburkan dan membuat manusia lari bahkan membenci dakwah ini sendiri. Berbagai ungkapan yang mengaburkan kebenaran dakwah ini disebarkan melalui tulisan dan lisan.

Dakwah ini dianggap sebagai ajaran sesat, mazhab baru yang tidak ada dasarnya dalam Islam. Atau, dikatakan bukan dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan diidentikkan sebagai ajaran kekerasan yang mengajak manusia menumpahkan darah satu sama lain.

Subhanallahi, hadza buhtanun ‘azhim. (Mahasuci Allah, ini adalah kedustaan yang sangat besar).

Semua kecaman terhadap para dainya, ataupun terhadap dakwah yang diajarkan dan disebarkan ini, tidak lain karena kejahilan orang-orang yang menyuarakan tuduhan-tuduhan tersebut. Seperti kata al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah, “Siapa yang tidak tahu (jahil) tentang sesuatu, dia tentu memusuhinya.”

Kalau tidak demikian, apa yang mendorong mereka membenci dan menutup diri terhadap dakwah yang sumbernya ada juga di hadapan mereka, yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah dengan pemahaman salaful ummah (para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik)?

Mereka begitu berang ketika banyak pemuda, bahkan sebagian tokoh mereka keluar dari barisan mereka, kembali kepada fitrahnya yang suci, jauh dari syubhat ilmu kalam dan filsafat serta bersih dari sikap taklid buta kepada tuan guru ataupun imamnya.

Mengapa mereka harus marah? Apakah karena mereka tidak tahu? Maka memang benarlah apa yang dikatakan al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah. Kalau tidak? Tentu, kalau bukan karena kejahilan, sudah pasti ada alasan lain yang mendorong mereka membenci dakwah yang penuh berkah ini. Wallahul musta’an.

Akan tetapi, sunnatullah yang tidak akan berubah di alam ini, kemenangan dan akhir yang baik (menyenangkan) adalah milik al-haq (kebenaran) beserta para pembelanya. Adapun yang batil, semua kesesatan—apa pun bentuknya—dan seluruh kejelekan, pasti lenyap, cepat atau lambat.

Demikianlah yang diterangkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam Kitab-Nya yang mulia,

أَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءٗ فَسَالَتۡ أَوۡدِيَةُۢ بِقَدَرِهَا فَٱحۡتَمَلَ ٱلسَّيۡلُ زَبَدٗا رَّابِيٗاۖ وَمِمَّا يُوقِدُونَ عَلَيۡهِ فِي ٱلنَّارِ ٱبۡتِغَآءَ حِلۡيَةٍ أَوۡ مَتَٰعٖ زَبَدٞ مِّثۡلُهُۥۚ كَذَٰلِكَ يَضۡرِبُ ٱللَّهُ ٱلۡحَقَّ وَٱلۡبَٰطِلَۚ فَأَمَّا ٱلزَّبَدُ فَيَذۡهَبُ جُفَآءٗۖ وَأَمَّا مَا يَنفَعُ ٱلنَّاسَ فَيَمۡكُثُ فِي ٱلۡأَرۡضِۚ كَذَٰلِكَ يَضۡرِبُ ٱللَّهُ ٱلۡأَمۡثَالَ ١٧

        “Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya. Arus itu membawa buih yang mengambang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang batil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; sedangkan yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan.” (ar-Ra’du: 17)

 

Makna al-Haq dan al-Bathil

Al-haq dalam bahasa Arab artinya adalah yang tetap dan tidak akan hilang atau tidak menyusut (semakin kecil).

Al-bathil secara bahasa artinya ialah fasada wa saqatha hukmuhu (rusak dan gugur/tidak berlaku hukumnya). Dalam al-Mufradat, ar-Raghib menerangkan makna al-bathil sebagai lawan dari al-haq, yaitu semua yang tidak ada kekuatannya ketika dicermati dan diteliti.

Secara istilah, para ulama berpedoman kepada maknanya secara bahasa. Jadi, mereka menyebut al-haq dalam setiap uraian mereka sebagai segala sesuatu yang tetap dan wajib menurut ketentuan syariat. Al-bathil ialah semua yang tidak sah, tidak pula ada akibat hukumnya, sebagaimana halnya pada yang haq, yaitu tetap dan sah menurut syariat.

Al-bathil adalah lawan dari al-haq, yaitu semua yang tidak ada kekuatannya, tidak diakui dan tidak disifati sebagai sesuatu yang sah, dan harus ditinggalkan serta tidak berhak untuk tetap ada. Semua itu sudah tentu dengan ketetapan syariat.

Dari uraian ini, al-haq meliputi semua yang Allah subhanahu wa ta’ala perintahkan, sedangkan yang batil adalah semua yang dilarang oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Pertarungan antara yang haq dan yang batil berikut para pengusung dan pembela masing-masing adalah sebuah kemestian hidup. Sebab, keduanya bertolak belakang, tidak mungkin berkumpul satu sama lain melainkan saling berusaha mengenyahkan yang lain. Berpegang kepada salah satunya, mesti akan meninggalkan yang lain, dan itu kepastian. Paling tidak, akan melemahkan yang ditinggalkan atau ditolak.

Seandainya terlihat ‘kerukunan’ antara yang haq dan yang batil tanpa ada perseteruan dan pertikaian di antara para pembela dan pengusungnya, boleh jadi karena ada sebab tertentu. Di antaranya ialah karena kelemahan para pengusung dan pembela masing-masing (al-haq dan al-bathil) ini, atau ketidaktahuan para pengikut masing-masing tentang hakikat dari kebenaran atau kebatilan yang mereka perjuangkan, berikut konsekuensinya, sehingga melemahkan pengaruh kebatilan dan kebenaran itu pada pihak yang membela dan mengusungnya.

Boleh jadi pula, yang dimaksud dengan al-haq ialah pengertiannya secara umum, yaitu semua bentuk ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, sedangkan al-bathil adalah semua bentuk ketaatan kepada setan. Oleh karena itu, keduanya tidak mungkin bersatu selama-lamanya.

Wallahu a’lam.

 

Kebatilan Pasti Lenyap

Firman Allah subhanahu wa ta’ala di atas (dalam surat ar-Ra’du) dalam bentuk permisalan atau tamsil ini, dengan tegas menggambarkan bahwa kebenaran itu pasti kokoh, tetap eksis meskipun tertutupi oleh kebatilan. Dan kebatilan itu, betapapun banyaknya serta menarik perhatian manusia, pasti lenyap, cepat atau lambat.

Perumpamaan-perumpamaan di dalam al-Qur’anul Karim tidak akan dapat dipahami melainkan oleh orangorang yang berilmu. Karena itu, kami akan memaparkan sebagian keterangan ahli ilmu tentang perumpamaan-perumpamaan tersebut. Wallahul Muwaffiq.

Dalam ayat yang mulia ini (ar-Ra’du: 17) Allah subhanahu wa ta’ala memberikan perumpamaan tentang al-haq dengan dua hal terkait dengan kekekalan dan kekokohannya; juga tentang kebatilan, terkait dengan kefanaan dan keadaannya yang pasti semakin berkurang (menyusut) lalu lenyap.

Pernahkah kita memerhatikan air hujan saat turun dari langit? Ia membasahi bumi dan mengangkut semua sampah dan membawa buih-buih air di permukaannya. Buih-buih itu begitu banyak, menyelimuti permukaan air yang bening dan mengalir. Gelembung-gelembung udara dalam buih itu membuatnya terlihat besar, ikut bersama aliran dan genangan air.

Akan tetapi, pernahkah kita perhatikan bahwa buih-buih kecil yang tadinya menari-nari di atas permukaan air itu akhirnya pecah dan hilang? Ya, kita sering melihatnya, tetapi kita melewatkannya begitu saja tanpa mengambil pelajaran yang tersirat di dalamnya. Wallahul Musta’an.

Coba kita lihat pula para pengrajin emas, ketika mereka melebur biji-biji emas yang mereka dapatkan dari tambang emas, atau saat proses pendulangan. Lihatlah pada wadah yang menampung emas-emas cair yang mendidih itu. Ada buih yang sangat banyak, terapung di atas cairan emas murni di bawahnya.

Ke mana akhirnya buih-buih peleburan emas, atau logam-logam dan mineral lain yang diambil manusia dari pertambangan? Hilang dan terbuang menjadi sesuatu yang tidak bernilai.

Kita cermati lagi buih-buih atau gelembung air yang menari-nari di atas permukaan air atau logam-logam mulia yang sedang dilebur itu. Begitu ringan, menyelimuti permukaan air atau cairan emas dan logam mulia lainnya. Mereka begitu angkuhnya bermain-main di atas permukaan air itu, padahal gelembung buih itu kosong, hampa, dan tiada harganya.

Air dan cairan logam mulia yang diharapkan dan diperlukan manusia dalam tungku peleburan, tetap tenang. Dia percaya diri bahwa dia lebih berguna dan pasti dimanfaatkan manusia. Itulah sebagian dari kekuasaan Allah Yang Mahaperkasa. Dia menetapkan buih-buih itu mengambang, merasa besar dengan ukuran, bentuk, dan gelembung udaranya. Dia juga merasa lebih tinggi dari air yang ada di bawahnya.

Seperti itulah gambaran kebatilan, apa pun bentuknya. Bagaikan buih dan gelembung kecil yang terapung di atas aliran air, menjadi ujian bagi sebagian orang, mencuri hati dan perhatian mereka, lalu mereka pun tunduk dan merendahkan diri kepadanya, demi mengharapkan kemuliaan atau kesuksesan bersamanya dan menginginkan kedudukan yang tinggi. Atau laksana busa atau buih yang mengambang di atas sejumlah barang tambang, ketika dipanaskan untuk mengeluarkan emas dan logam mulia darinya. Buih-buih itu akan menyusut dan lenyap, hilang tiada bekas atau terbuang tanpa ada harganya.

Adapun kebenaran, itulah yang bermanfaat bagi manusia, dia seperti air yang tetap tinggal dan tergenang di tanah. Atau seperti cairan emas dan logam mulia lainnya yang sudah dibersihkan dari kotorannya.

Demikianlah Allah subhanahu wa ta’ala membuat perumpamaan. Demikianlah al-Qur’an menjadikan peristiwa alam sebagai dalil tentang hakikat syariat, agar orang-orang yang berakal memahaminya lalu selamat dan berbahagia. Juga, mereka yang binasa karena bukti yang jelas dan hiduplah mereka yang hidup karena bukti yang jelas pula.

Dari perumpamaan di atas, jelaslah bahwa betapapun banyaknya dan menariknya keadaan kebatilan, dia pasti lenyap. Itu semua adalah sunnatullah yang tidak mungkin berubah. Berbagai syubhat dan kerancuan berpikir, seindah apa pun menghiasi sebuah kebatilan, pasti akan tersingkap kepalsuannya.

Dalam banyak ayat-Nya, Allah subhanahu wa ta’ala berjanji bahwa Dia pasti menampakkan hakikat kebenaran (al-haq),

سَنُرِيهِمۡ ءَايَٰتِنَا فِي ٱلۡأٓفَاقِ وَفِيٓ أَنفُسِهِمۡ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمۡ أَنَّهُ ٱلۡحَقُّۗ أَوَ لَمۡ يَكۡفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُۥ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ شَهِيدٌ ٥٣

        “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa al-Qur’an itu adalah benar. Dan apakah Rabbmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?” (Fushshilat: 53)

Dalam ayat yang lain, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَقُلۡ جَآءَ ٱلۡحَقُّ وَزَهَقَ ٱلۡبَٰطِلُۚ إِنَّ ٱلۡبَٰطِلَ كَانَ زَهُوقٗا ٨١

        Dan katakanlah, “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap.” Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap. (al-Isra’: 81)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

بَلۡ نَقۡذِفُ بِٱلۡحَقِّ عَلَى ٱلۡبَٰطِلِ فَيَدۡمَغُهُۥ فَإِذَا هُوَ زَاهِقٞۚ وَلَكُمُ ٱلۡوَيۡلُ مِمَّا تَصِفُونَ ١٨

        “Sebenarnya Kami melontarkan yang haq kepada yang batil lalu yang haq itu menghancurkannya, maka dengan serta-merta yang batil itu lenyap. Dan kecelakaanlah bagimu disebabkan kamu menyifati (Allah subhanahu wa ta’ala dengan sifat-sifat yang tidak layak bagi-Nya).” (al-Anbiya’: 18)

قُلۡ إِنَّ رَبِّي يَقۡذِفُ بِٱلۡحَقِّ عَلَّٰمُ ٱلۡغُيُوبِ ٤٨  قُلۡ جَآءَ ٱلۡحَقُّ وَمَا يُبۡدِئُ ٱلۡبَٰطِلُ وَمَا يُعِيدُ ٤٩

        Katakanlah, “Sesungguhnya Rabbku mewahyukan kebenaran. Dia Maha Mengetahui segala yang gaib.” Katakanlah, “Kebenaran telah datang dan yang batil itu tidak akan memulai dan tidak (pula) akan mengulangi.” (Saba’: 48—49)

Bahkan, semakin keras tekanan kebatilan dan usahanya menutup-nutupi cahaya kebenaran, sinar kebenaran itu pasti menyeruak dari sela-sela kebatilan itu. Allah subhanahu wa ta’ala tidak rela kecuali menampakkan cahaya kebenaran ini, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai.

Lantas, apa yang membuat kaum muslimin minder dan rendah diri serta kecil hati melihat musuh-musuh Islam seolah-olah menguasai semua lini kehidupan, saat ini? Apakah karena sedikitnya jumlah orang-orang yang mengusung dan membela kebenaran? Ataukah karena kurangnya fasilitas dan sarana jika dia berpegang dengan kebenaran?

 

Beberapa Faedah dan Hikmah

  1. Pertarungan antara yang haq dan yang batil adalah sebuah sunnatullah yang tidak berubah. Kadang kebatilan yang menang, tetapi tetap saja pada akhirnya kebenaranlah yang berkuasa.

Oleh karena itu, bagaimanapun bangga dan bahagianya orang-orang yang memperjuangkan kesesatan, melihat banyaknya perlengkapan dan pengikut mereka, sesungguhnya itu hanya sementara. Seperti buih dan sampah yang hanya sementara berada di permukaan air ketika hujan turun, kemudian hilang dan tersingkir.

 

  1. Ayat yang mulia (ar-Ra’du: 17) ini boleh dikatakan sebagai hiburan bagi orang-orang yang beriman. Janji Allah subhanahu wa ta’ala adalah pasti, dan Dia tidak pernah menyelisihi janji.

 

  1. Kebenaran itu tidak diukur dari jumlah orang-orang yang membela dan memperjuangkannya, tetapi dari hakikat kebenaran itu sendiri; sesuai dengan pengertiannya secara bahasa, bahwa dia pasti eksis selamanya.

 

  1. Karena kejahilan kita, sering kita ditipu oleh pandangan mata kita sendiri. Kita hanya melihat buih-buih yang ada di atas air ketika hujan turun. Air yang ada di bawahnya tidak menjadi perhatian kita. Bahkan, kita tertarik melihat buih dan gelembung air yang menari-nari di atas permukaan air tersebut.

Wallahul Muwaffiq.

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Muhammad Harits