Sikap Keliru Ketika Sakit (bagian 1)

(ditulis oleh:  Al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah)

Allah l dengan keadilan dan kasih sayang-Nya menguji para hamba-Nya dengan kesenangan dan kesusahan, kelapangan dan kesempitan, agar menjadi jelas siapa yang bersabar dan bersyukur sehingga pantas memetik balasan kebaikan, dan siapa yang berkeluh kesah lagi kufur hingga berbuah keburukan.
Allah l berfirman:
“Dan Kami menimpakan kepada kalian kejelekan dan kebaikan sebagai fitnah/ujian.” (al-Anbiya: 35)
Di antara kesusahan yang ditetapkan-Nya bisa menimpa para hamba yang dikehendaki-Nya adalah hilangnya kesehatan. Dengan kata lain, menderita sakit. Ya, sakit yang mendera seorang hamba merupakan ujian Allah l, sebagai penambah pahala apabila disertai iman dan sabar, penghapus dosa dan dapat mengangkat derajat si hamba.
Anas ibnu Malik z berkata bahwa Rasulullah n bersabda:
إِنَ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَـم الْبَلاَءِ، وَإِنَّ اللهَ kإِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَى وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ
“Sesungguhnya, besarnya balasan (pahala) disertai dengan besarnya ujian. Sungguh, apabila Allah k mencintai suatu kaum, Dia akan menguji mereka. Siapa yang ridha, ia akan meraih keridhaan-Nya pula. Sebaliknya, siapa yang marah (tidak menerima ketetapan Allah) maka ia pun beroleh kemurkaan.” (HR. at-Tirmidzi no. 2396 dan Ibnu Majah no. 4031, dinyatakan hasan dalam Shahih at-Tirmidzi dan Shahih Ibnu Majah)
Abu Said al-Khudri z dan Abu Hurairah z menyampaikan dari Nabi n:
مَا يُصِيْبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ وَصَبٍ، وَلاَ نَصَبٍ، وَلاَ سَقَمٍ، وَ لاَ حَزَنٍ، حَتَّى الْهَمِّ يُهَمُّهُ، إِلاَّ كُفِّرَ بِهِ مِنْ سَيِّئَاتِهِ
“Tidaklah seorang muslim terus-menerus ditimpa oleh penyakit, tidak pula kepayahan, sakit, kesedihan, sampaipun dukacita yang dirasakannya, melainkan dengan itu akan dihapuskan kesalahan-kesalahannya.” (HR. al-Bukhari no. 5641, 5642 dan Muslim no. 6513)
Aisyah x memberitakan ucapan Rasulullah n:
مَا يُصِيْبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ شَوْكَةٍ فَمَا فَوْقَهَا، إِلاَّ رَفَعَهُ اللهُ بِهَا دَرَجَةً وَحَطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيْئَةً
“Tidaklah seorang muslim tertusuk duri atau tertimpa rasa sakit yang lebih dari itu melainkan Allah l akan mengangkat si sakit satu derajat sebagai balasan sakit yang dideritanya dan Allah l hapus darinya satu kesalahan.” (HR. Muslim no. 6507)
Tentu keutamaan yang telah kita sebutkan di atas hanya bisa diraih apabila si sakit ‘menanggung sakitnya’ sesuai dengan bimbingan syariat.

Kesalahan yang Biasa Terjadi
Di saat sakit, si penderita merasakan ketidaknyamanan layaknya orang sehat, hatinya pun terasa tak lapang. Mungkin karena keadaan ini, jatuhlah si sakit ke dalam beberapa kesalahan. Di antaranya:

1. Meninggalkan shalat
Ini adalah kesalahan terberat yang dilakukan oleh orang yang sakit. Dengan kondisi yang dialaminya, si sakit mungkin menyangka ia diberi uzur untuk tidak mengerjakan shalat, seperti keadaannya yang sedang diinfus atau dipasang alat-alat medis pada tubuhnya. Ia merasa tidak mungkin mengerjakan shalat dalam kondisi tersebut. Padahal, selama masih berakal, ia tidak boleh meninggalkan shalat selain ketika bertepatan dengan waktu haid atau nifasnya (apabila ia seorang wanita).
Oleh karena itu, si sakit tetap wajib mengerjakan shalat semampunya. Apabila ia bisa mengerjakannya dengan berdiri maka ia berdiri. Jika tidak, ada keringanan syariat untuknya: ia boleh mengerjakannya sambil duduk. Apabila tidak bisa juga maka sambil berbaring. Hal ini berdasar hadits ‘Imran ibnu Hushain z, Rasulullah n bersabda kepadanya saat ia menanyakan tentang shalat sehubungan dengan sakit bawasir/ambeien yang dideritanya:
صَلِّ قَائِمًا، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ
“Shalatlah engkau dalam keadaan berdiri. Jika tidak bisa, duduklah. Jika tidak mampu juga, shalatlah dalam keadaan berbaring.” (HR. al-Bukhari no. 1117)
Dalam ar-Raudhah an-Nadiyah (I/312) disebutkan bahwa jika si sakit beruzur (tidak mampu) mengerjakan tata cara shalat untuk orang sakit sebagaimana yang dinyatakan oleh syariat, ia mengerjakan shalat dengan cara lain sebagaimana keterangan yang ada dalam as-Sunnah. Apabila tidak mampu juga, ia melakukan apa yang ia sanggupi dan mampu (istitha’ah) melaksanakannya karena Allah l berfirman:
ﮧ ﮨ ﮩ ﮪ
“Bertakwalah kepada Allah semampu kalian.” (at-Taghabun: 16)
Rasulullah n bersabda:
إِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ، فَأتُوْا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ
“Apabila aku perintahkan kalian dengan satu perkara, kerjakanlah perkara tersebut semampu kalian.” (HR. al-Bukhari dan Muslim no. 6066)
Seandainya orang sakit dengan uzur yang ada padanya boleh meninggalkan shalat, niscaya Rasulullah n tidak akan menyuruhnya shalat dalam keadaan duduk1 atau berbaring sesuai dengan kemampuannya.
Kalau si sakit beralasan ia tidak bisa berwudhu sendiri karena tubuhnya yang lemah maka bisa dibantu dan diwudhukan oleh orang lain.
Apabila sakitnya menyebabkan ia tidak bisa terkena air, bisa bersuci dengan debu yang diistilahkan sebagai tayammum.
Apabila ia tidak bisa menghadap kiblat karena posisi tempat tidurnya tidak bisa dipindahkan, dan ia sendiri tidak bisa bergerak karena sakitnya, atau tidak diperbolehkan mengangkat tubuhnya untuk berpindah posisi menghadap kiblat apalagi turun dari tempat tidur, ia shalat menghadap ke mana saja yang ia mampu.
Demikianlah, hendaknya orang-orang yang sakit tetap memprioritaskan urusan shalatnya dan tidak menganggapnya remeh karena urusannya besar.
Abdullah ibnu Syaqiq t, seorang tabi’in yang mulia, berkata, “Para sahabat Muhammad n tidaklah memandang ada suatu amalan yang jika ditinggalkan seseorang akan menyebabkannya kafir selain shalat.” (HR. at-Tirmidzi)2
Al-Imam Ibnul Qayyim t menyatakan, kaum muslimin tidak berbeda pendapat bahwa meninggalkan shalat fardhu secara sengaja termasuk dosa yang paling besar, kabair/dosa besar yang terbesar. Dosanya di sisi Allah l lebih besar daripada dosa membunuh jiwa dan mengambil harta orang lain. Lebih besar pula daripada dosa zina, mencuri, dan minum khamr. Pelakunya dihadapkan kepada hukuman Allah l, kemurkaan-Nya, dan kehinaan yang akan ditimpakan di dunia dan akhirat. (ash-Shalah wa Hukmu Tarikiha, hlm. 7)
Al-Imam Ibnu Baz t berkata, “Sakit yang sedang diderita tidak boleh menghalangi seseorang untuk menunaikan shalat dengan alasan tidak mampu bersuci, selama akalnya masih ada. Orang yang sedang sakit tetap wajib mengerjakan shalat sesuai dengan kemampuannya. Ia bersuci dengan air (berwudhu) apabila memang ia mampu. Namun, apabila tidak mampu menggunakan air, ia bisa tayammum dan mengerjakan shalat.
Saat datang waktu shalat, ia harus mencuci najis yang ada pada tubuh dan pakaiannya. Atau ia mengganti pakaian yang kena najis tersebut dengan pakaian yang bersih/suci. Jika ia tidak mampu membersihkan najis yang ada dan tidak dapat pula mengganti pakaian yang najis dengan pakaian yang suci, gugurlah kewajiban tersebut darinya. Ia shalat sesuai dengan keadaannya, berdasar firman Allah l:
“Bertakwalah kalian kepada Allah semampu kalian.” (at-Taghabun: 16)
Juga berdalil sabda Nabi n:
إِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ، فَأتُوْا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ
“Apabila aku perintahkan kalian dengan satu perkara maka kerjakanlah perkara tersebut semampu kalian.” (Muttafaqun ‘alaih)
Demikian juga sabda Nabi n kepada ‘Imran ibnu Hushain z tatkala mengadukan sakitnya kepada beliau n,
صَلِّ قَائِمًا، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ
“Shalatlah engkau dalam keadaan berdiri, apabila tidak mampu maka duduklah. Apabila tidak mampu pula maka berbaringlah di atas rusuk.” (HR. al-Bukhari dalam Shahihnya)
Hadits di atas diriwayatkan pula oleh an-Nasa’i dengan sanad yang sahih, dengan tambahan,
فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَمُسْتَلْقِيًا
“Jika tidak mampu juga, telentanglah.” (Majmu’ Fatawa wa Maqalat al-Mutanawwi’ah, 10/307)

2. Menunda shalat hingga keluar waktunya
Sebagaimana orang yang sehat, orang yang sedang sakit pun harus mengerjakan shalat pada waktunya sesuai dengan kemampuannya. Tidak boleh ia mengulur-ulur pelaksanaan shalat hingga habis waktunya, karena Allah l berfirman:
“Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya bagi orang-orang yang beriman.” (an-Nisa: 103)
Ulama menggolongkan perbuatan menunda shalat hingga keluar dari waktunya sebagai salah satu dari dosa besar. Dalilnya adalah firman Allah l:
“Datanglah setelah mereka satu generasi yang mereka suka menyia-nyiakan shalat dan mengikuti syahwat. Kelak mereka ini akan menemui kesesatan.” (Maryam: 59)
Al-Imam Ibnul Qayyim t menyebutkan bahwa para sahabat dan tabi’in menafsirkan penyia-nyiaan shalat dengan mengerjakannya saat waktu shalat sudah habis.
Al-Imam Ibnu Baz t berkata, “Tidak boleh meninggalkan shalat bagaimanapun keadaannya. Bahkan, seorang mukallaf wajib untuk lebih bersemangat mengerjakan shalat di hari-hari sakitnya daripada semangatnya di hari-hari sehatnya. Ia tidak boleh meninggalkan shalat wajib sampai keluar/habis waktunya sekalipun ia sedang sakit, selama akalnya masih ada. Ia tetap menunaikan shalat pada waktunya sesuai dengan kemampuannya.”
Apabila memang sangat berat bagi si sakit mengerjakan shalat pada waktunya masing-masing, ia boleh menjamak shalat Zhuhur dan Ashar, atau shalat Maghrib dan Isya, baik dengan jamak taqdim3 maupun ta’khir (di waktu shalat yang kedua), sesuai dengan kelapangannya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t berkata, “Menurut al-Imam Ahmad, al-Imam Malik, dan sekelompok pengikut asy-Syafi’i, seseorang boleh menjamak shalat karena sakit.” (Majmu’ Fatawa, 24/28)
Ketika al-Imam Albani t ditanya tentang shalat jamak bagi orang yang sakit, beliau menjawab, “Sesuai dengan kebutuhan. Jika memang butuh, ia boleh menjamaknya. Namun, jika tidak, ia tidak boleh menjamaknya.” (al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Muyassarah, 2/351)

3. Tidak mau bersuci padahal masih bisa melakukannya
Orang yang sedang sakit tetap wajib bersuci atau berwudhu setiap kali hendak shalat, berdalil dengan sabda Rasulullah n:
لاَ تُقْبَلُ صَلاَةٌ بِغَيْرِ طُهُوْرٍ
“Tidak diterima shalat tanpa bersuci.” (HR Muslim no. 534)
Apabila ternyata si sakit tidak bisa menggunakan air, ia boleh bertayammum. Andai tayammum pun tidak bisa, ia tetap shalat sesuai dengan keadaannya dan ia tidak berdosa. Yang penting, ia tidak meninggalkan shalat dengan berbagai alasan yang ada.

4. Berkeluh kesah dan berputus asa dari rahmat Allah l
Sebagian orang yang menderita sakit yang lama merasakan kejenuhan sehingga ia berkeluh kesah dan berputus asa dari rahmat Allah l. Tentu hal ini menyelisihi ucapan Rasulullah n:
لاَ يَمُوْتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلاَّ وَ هُوَ يُحْسِنُ بِاللهِ الظَّنَّ
“Janganlah sekali-kali salah seorang dari kalian meninggal dunia melainkan dalam keadaan ia husnuzhan/berbaik sangka kepada Allah l.” (HR. Muslim no. 7158)
Ulama mengatakan, di sini ada peringatan untuk tidak berputus asa dan di sisi lain ada anjuran untuk raja’ (berharap akan beroleh rahmat Allah l) saat tutup usia. Makna husnuzhan kepada Allah l adalah menyangka Allah l akan merahmatinya dan memaafkannya. (al-Minhaj, 17/206)
Dengan demikian, orang yang sakit wajib sangat berhati-hati dari sikap berputus asa dari rahmat Allah l.
Fadhalah ibnu Ubaid z menyampaikan dari Rasulullah n, sabda beliau:
ثَلاَثَةٌ لاَ تَسْأَلُ عَنْهُمْ: رَجُلٌ نَازَعَ اللهُ k بِرِدَائِهِ فَإِنَّ رِدَاءَهُ الْكِبْرِيَاءُ، وَإِزَارَهُ الْعِزُّ، وَرَجُلٌ شَكَّ فِي أَمْرِ اللهِ، وَالْقُنُوْطُ مِنْ رَحْمَةِ اللهِ
“Ada tiga golongan yang kamu tidak usah menanyakan mereka (isyarat bahwa mereka akan mendapat siksa/hukuman di akhirat), yaitu: seseorang yang ingin menyaingi Allah k dengan mengenakan rida’/selendang-Nya, karena rida’-Nya adalah kesombongan dan izar-Nya adalah kemuliaan; (Yang kedua) seorang yang ragu tentang perkara Allah; dan (ketiga) putus asa dari rahmat Allah.” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban, dinyatakan sahih oleh al-Imam Albani t dalam ash-Shahihah no. 542)

5. Murka dan tidak sabar terhadap takdir Allah l yang menyakitkan
Semua yang ada di alam ini terjadi dengan takdir Allah l, yang baik atau yang buruk. Mengimani hal ini termasuk kandungan rukun iman yang keenam, yaitu beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk. Satu contoh takdir yang buruk adalah sakit yang diderita seseorang. Sebagai hamba yang beriman kepada Allah l, si penderita atau si sakit harus menghadapinya dengan kesabaran. Dalam sebuah hadits disebutkan:
مَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ
“Tidaklah seseorang diberi dengan suatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas/lapang daripada kesabaran.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t menyatakan, “Bersabar atas musibah yang menimpa itu wajib menurut kesepakatan para imam agama ini.”
Murid beliau, Ibnul Qayyim t berkata, “Sabar itu wajib menurut kesepakatan umat. Sabar adalah setengah iman karena iman itu terbagi dua: setengahnya adalah sabar dan setengahnya adalah syukur.”
Seorang muslimah pernah bertanya kepada Samahatusy Syaikh Ibnu Baz t, “Saya menderita sakit. Terkadang saya menangis memikirkan keadaan saya ketika sakit ini. Apakah tangisan ini bermakna berpaling dari Allah l dan tidak ridha dengan ketetapan-Nya? Hal ini terjadi tanpa kesengajaan saya. Apakah menceritakan tentang sakit yang dirasakan kepada orang-orang dekat termasuk perkara yang dilarang?”
Samahatusy Syaikh t menjawab, “Tidak ada dosa bagi Anda untuk menangis (karena sakit yang diderita) apabila tangisan itu sekadar meneteskan air mata tanpa disertai ratapan. Hal ini berdasarkan sabda Nabi n tatkala putra beliau dari Mariyah al-Qibthiyyah x, yakni Ibrahim, meninggal dunia:
الْعَيْنُ تَدْمَعُ وَالْقَلْبُ يَحْزَنُ، وَلاَ نَقُوْلُ إِلاَّ مَا يَرْضَى الرَّبُّ، وَإِنَّا لِفِرَاقِكَ، يَا إبْرَاهِيْمُ، لَمَحْزُوْنُوْنَ
“Mata menangis, hati pun bersedih. Namun, kami tidak mengucapkan ucapan selain apa yang diridhai oleh Rabb kami. Sungguh, dengan perpisahan denganmu, wahai Ibrahim, kami merasakan kesedihan.”
Hadits yang semakna dengan ini banyak.
Tidak masalah pula bagi Anda untuk memberitakan kepada karib kerabat dan teman-teman tentang sakit Anda, disertai dengan pujian kepada Allah l, mensyukuri, menyanjung, dan meminta kesembuhan kepada-Nya, serta menempuh sebab-sebab yang dibolehkan untuk beroleh kesembuhan. Kami wasiatkan kepada Anda agar bersabar dan mengharapkan pahala. Bergembiralah dengan kebaikan, berdasarkan firman Allah l:
“Hanyalah orang-orang yang bersabar ditunaikan pahala mereka tanpa batas/perhitungan.” (az-Zumar: 10)
Dan firman-Nya:
“Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang bersabar. Yaitu orang-orang yang bila mereka ditimpa musibah, mereka mengatakan, ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un (sesungguhnya kami milik Allah dan sungguh hanya kepada-Nya kami akan kembali).’ Mereka itulah yang beroleh shalawat dan rahmat dari Rabb mereka, dan mereka itulah orang-orang yang diberi petunjuk.” (al-Baqarah: 155—157)
Juga berdasarkan sabda Nabi n:
مَا يُصِيْبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ وَصَبٍ، وَلاَ نَصَبٍ، وَلاَ سَقَمٍ، وَ لاَ حَزَنٍ، حَتَّى الْهَمِّ يُهَمُّهُ، إِلاَّ كُفِّرَ بِهِ مِنْ سَيِّئَاتِهِ
“Tidaklah seorang muslim terus-menerus ditimpa oleh penyakit, tidak pula kepayahan, sakit, kesedihan, sampaipun dukacita yang dirasakannya, melainkan dengan itu akan dihapuskan kesalahan-kesalahannya.”
Rasulullah n bersabda:
مَن يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ
“Siapa yang Allah l kehendaki kebaikan baginya maka Allah l akan menimpakan musibah kepadanya.”
Kita memohon kepada Allah l agar menganugerahkan kesembuhan kepada kita dan ‘afiat serta hati dan amal yang baik/saleh. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Mengabulkan doa.” (Majmu’ Fatawa wa Rasail al-Mutanawwi’ah, 4/144)

6. Bergantung kepada selain Allah l, baik kepada dokter maupun lainnya.
Seorang muslim memang diperintah untuk menempuh sebab dan hal ini tidak bertentangan dengan keharusan bersabar serta bertawakal. Ibnul Qayyim t berkata, “Adapun memberitakan kepada seseorang tentang keadaan yang sedang dialami, apabila maksudnya adalah meminta tolong agar ia diberi bimbingan/arahan, atau diberi bantuan, atau sebagai perantara agar kesusahannya hilang, si hamba tidaklah dicela dengan penyampaiannya tersebut. Misalnya, seorang yang sakit memberitahu dokter tentang keluhan yang dirasakannya.”
Sama sekali tidak ada dosa bagi si sakit untuk berobat dan menempuh sebab yang bisa mengantarkannya kepada kesembuhan dengan izin Allah l, seperti mencari dan berobat kepada seorang dokter yang ahli.
Akan tetapi, ia wajib menggantungkan hati dan harapannya hanya kepada Allah l. Ia harus menyadari bahwa dokter dan obat hanyalah sebab kesembuhan semata, bukan yang menyembuhkan. Yang menyembuhkan segala penyakit secara hakiki hanyalah Allah l. Allah l berfirman menyebutkan ucapan Nabi Ibrahim q:
“Dan apabila aku sakit maka Dia-lah yang menyembuhkanku.” (asy-Syu’ara: 80)
Al-Hafizh Ibnu Katsir t berkata tentang makna ayat di atas, “Maksudnya, apabila aku jatuh sakit, tidak ada seorang pun yang sanggup menyembuhkanku selain Dia dengan apa yang Dia takdirkan berupa sebab-sebab yang mengantarkan kepada kesembuhan.” (Tafsir Ibnu Katsir, 6/46).
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.
(insya Allah bersambung)

Catatan Kaki:

1 Cara duduknya sebagaimana duduk dalam shalat, iftirasy atau tawarruk. Kalau si sakit tidak mampu, ia boleh duduk tarabbu’ atau bersila. Rasulullah n pernah shalat dengan duduk bersila saat sakitnya, sebagaimana berita Aisyah x yang dikeluarkan oleh an-Nasa’i dan dinyatakan sahih dalam Shahih Sunan an-Nasa’i. Apabila tidak mampu juga, hendaklah ia duduk dengan posisi yang nyaman baginya. Demikian faedah yang disampaikan oleh al-Imam al-Albani t ketika ditanya tentang masalah ini. (al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Muyassarah, 2/317)

2 Masalah orang meninggalkan shalat dengan sengaja karena malas, bukan karena menentang kewajiban shalat, diperselisihkan oleh ulama. Di antara mereka ada yang mengafirkan. Ada pula yang berpendapat tidak mengafirkannya, namun diberi sanksi yang berat dengan dipenjara, diberi waktu tiga hari untuk bertaubat dan kembali mengerjakan shalat. Jika tidak bertaubat, ia dibunuh (dan yang melakukannya adalah pemerintah muslim, bukan individu, red.). Wallahu a’lam.

3 Dikerjakan di waktu shalat yang pertama. Misalnya, shalat zhuhur dan ashar dikerjakan di waktu zhuhur.

 

Menjauhi Dosa Besar

Apakah dipersyaratkan harus menjauhi/tidak melakukan dosa besar untuk memperoleh janji penghapusan dosa?
Jawab:
Ya. Ini adalah kaidah agung yang disepakati oleh Ahlus Sunnah, yaitu bahwa janji Allah l atau Rasulullah n berupa ampunan, surga, atau keselamatan dari neraka, dikaitkan dengan menjauhi dosa besar. Allah l berfirman:
“Jika kalian menjauhi dosa-dosa besar yang dilarang bagi kalian melakukannya niscaya Kami akan hapuskan kesalahan-kesalahan kalian dan Kami masukkan kalian ke dalam tempat masuk yang mulia.” (an-Nisa: 31)
Allah l menerangkan bahwa termasuk syarat masuk surga dan dihapuskan kesalahan-kesalahan adalah menjauhi dosa besar. Firman Allah l di atas menunjukkan, siapa yang tidak menjauhi dosa besar maka ia tidak akan beroleh janji yang disebutkan di ujung ayat yang merupakan kalimat jawab. Karena kalimat:
“Jika kalian menjauhi….”
merupakan syarat, sedangkan kalimat jawabnya adalah:
“Kami akan hapuskan kesalahan-kesalahan kalian….”
Ini adalah kaidah; kalimat jawab didatangkan berkaitan dengan kalimat syarat. Ketika didapatkan syarat, niscaya akan didapatkan pula jawab dan balasan. Kalau syarat tidak ada, maka tidak ada pula jawab/balasan.
Oleh karena itu, seorang mukmin wajib menjauhi dosa-dosa besar dan berhati-hati darinya. Demikian pula seorang mukminah.
Kabair atau dosa-dosa besar adalah maksiat yang besar yang disebutkan ancamannya, baik berupa laknat, kemurkaan, maupun api neraka; atau dosa yang disebutkan dalam nash ada hukum hadnya di dunia. Contoh dosa besar seperti zina, mencuri, durhaka kepada kedua orang tua, memutus hubungan rahim, riba, makan harta anak yatim, ghibah, namimah, mencela dan mencaci, serta yang lainnya. Yang wajib dilakukan adalah sangat berhati-hati dari dosa besar dan bertaubat dari dosa besar yang pernah dilakukan.
Rasulullah n bersabda:
الصَّلَواتُ الْخَمْسُ إِلَى الصَّلَواتِ الْخَمْسِ، وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ، مُكَفّرَاتٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ مَالَمْ تُغْشَ الْكَبَائِرُ
“Shalat lima waktu, Jum’at ke Jum’at, dan Ramadhan ke Ramadhan, adalah penghapus dosa yang ada di antaranya, selama tidak dilakukan dosa besar.”
Dalam lafadz yang lain:
إِذَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ
“Apabila dijauhi dosa-dosa besar.” (HR. Muslim dalam Shahih-nya)
Hadits ini menunjukkan bahwa ibadah-ibadah yang besar tersebut akan dapat menghapuskan kesalahan-kesalahan selama dosa-dosa besar dijauhi.
Hadits ini sangat sesuai dengan ayat yang mulia. Tatkala suatu waktu Nabi n berwudhu dengan wudhu yang syar’i, beliau menyebutkan bahwa siapa yang berwudhu dengan sebaik-baiknya maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu selama pelakunya tidak tertimpa dosa membunuh, sementara membunuh adalah dosa besar.
Sepantasnyalah seorang mukmin dan mukminah bersungguh-sungguh mengerjakan kebaikan dan berlomba-lomba dalam beramal saleh, disertai sikap hati-hati dari kejelekan dan tidak melakukannya. Lebih-lebih lagi dosa besar, karena bahayanya besar jika Allah l tidak memaafkan pelakunya. Allah l mengampuni dosa besar selain syirik bagi hamba yang dikehendaki-Nya, berdasar firman-Nya:
“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan-Nya dengan sesuatu dan Dia mengampuni dosa yang selainnya (di bawah dosa syirik) bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (an-Nisa: 48)
(Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, 4/377—378)

 

Dosa Sebelum Beroleh Hidayah

Saya tadinya seorang jahiliah yang tidak mengerti Islam, kemudian Allah l memberi anugerah kepada saya berupa hidayah Islam. Padahal sebelumnya saya telah melakukan banyak kesalahan/dosa (kezaliman). Sementara itu, Rasulullah n bersabda, “Siapa yang memiliki kezaliman terhadap saudaranya baik berupa pelanggaran terhadap kehormatannya maupun yang lain, hendaklah pada hari ini ia meminta kehalalan dari saudaranya tersebut sebelum datang suatu hari yang tidak bermanfaat lagi dinar (mata uang emas) dan tidak pula dirham (perak).”
Apa yang Anda nasihatkan kepada saya terkait kondisi saya ini?
Jawab:
Allah l telah mensyariatkan kepada hamba-hamba-Nya untuk bertaubat. Dia berfirman:
“Bertaubatlah kalian seluruhnya kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, mudah-mudahan kalian beruntung.” (an-Nur: 31)
Allah l berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kalian kepada Allah dengan taubat nashuha.” (at-Tahrim: 8)
Dia Yang Mahamulia lagi Mahatinggi menyatakan:
“Sungguh, Aku Maha Pengampun terhadap orang yang mau bertaubat dan beriman lagi beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar.” (Thaha: 82)
Rasulullah n bersabda:
التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لاَ ذَنْبَ لَهُ
“Orang yang bertaubat dari dosa seperti orang yang tidak memiliki dosa.”
Siapa yang mengakui suatu maksiat, hendaklah ia segera bertaubat, menyesal, mencabut diri, berhati-hati (sehingga tidak jatuh lagi ke dalam dosa tersebut), dan berazam/berketetapan hati untuk tidak melakukannya kembali. Allah l memberi taubat, menerimanya dari hamba-hamba-Nya yang bertaubat.
Ketika seorang jujur taubatnya, dengan menyesali dosa-dosanya yang telah lewat dan berazam (berketetapan hati) untuk tidak kembali mengulangi, ia menarik dirinya dari perbuatan maksiat tersebut dalam rangka pengagungan terhadap Allah l dan takut kepada Allah l, maka Allah l akan menerima taubatnya. Allah l akan menghapuskan dosa-dosanya yang telah lewat sebagai keutamaan dari-Nya dan kebaikan-Nya kepada si hamba.
Akan tetapi, jika maksiat itu berupa kezaliman kepada hamba-hamba Allah l, hal itu butuh kepada pengembalian hak para hamba yang dizalimi tersebut atau meminta kehalalan dari orang yang punya hak, disertai rasa penyesalan, mencabut diri dari maksiat tersebut, dan berazam untuk tidak mengulang lagi. Misalnya, ia berkata kepada orang yang dizaliminya, “Maafkan saya, wahai saudaraku,” atau ucapan semisalnya, atau ia memberi hak saudaranya tersebut. Hal ini berdasar hadits yang disebutkan oleh penanya dan hadits-hadits lain serta ayat-ayat al-Qur’an.
Rasulullah n bersabda:
مَنْ كَانَ عِنْدَهُ لِأَخِيْهِ مَظْلَمَةٌ فَلْيَتَحَلَّلْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لاَ يَكُوْنَ دِيْنَارًا وَلاَ دِرْهَمًا. إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْ حَسَناَتِهِ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٍ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ
“Siapa yang memiliki kezaliman terhadap saudaranya, hendaklah ia meminta kehalalan saudaranya tersebut pada hari ini, sebelum datang suatu hari saat tidak berlaku lagi dinar dan tidak pula dirham. Jika ia memiliki amal saleh, akan diambil dari kebaikannya sesuai dengan kadar kezaliman yang diperbuatnya lalu diserahkan kepada orang yang dizaliminya. Apabila ia tidak memiliki kebaikan, akan diambil kejelekan saudaranya yang dizaliminya lalu dibebankan kepadanya.” (HR. al-Bukhari dalam Shahih-nya)
Sepantasnya, seorang muslim bersemangat untuk berlepas diri dan selamat dari melanggar hak saudaranya. Apabila hal ini sampai terjadi (dan ia mau bertaubat) hendaklah ia mengembalikan hak yang diambilnya atau ia minta kehalalan dari saudaranya.
Apabila yang dilanggarnya tersebut adalah kehormatan orang lain, ia harus meminta kehalalan orang tersebut jika ia mampu. Jika tidak mampu atau ia khawatir keterusterangannya di hadapan orang tersebut justru menimbulkan kejelekan yang lebih besar, cukup ia memintakan ampun untuk orang tersebut, mendoakan kebaikan untuknya, serta menyebut-nyebutnya di hadapan orang lain dengan kebaikan-kebaikan yang diketahuinya ada pada orang tersebut sebagai pengganti ucapan buruk yang diucapkannya sebelumnya.
Intinya, ia wajib mencuci kejelekan sebelumnya dengan kebaikan-kebaikan yang belakangan. Maka dari itu, ia menyebut orang itu dengan kebaikan yang diketahuinya. Ia juga menyebarkan kebaikannya sebagai lawan dari kejelekan yang sebelumnya ia sebarkan. Ia memohonkan ampun dan mendoakan kebaikan pula untuknya. Dengan ini, selesailah permasalahan.
(Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, 4/ 374—375)

Hukum tepuk tangan

Apa hukumnya bertepuk tangan dalam kesempatan-kesempatan tertentu dan saat perayaan?

Jawab:
Bertepuk tangan saat perayaan-perayaan (ulang tahun dan semisalnya) termasuk perbuatan jahiliah. Minimal hukumnya makruh. Namun, yang tampak dari dalil yang ada, hukumnya haram karena kaum muslimin dilarang bertasyabbuh (menyerupai) orang-orang kafir.
Allah l berfirman tentang sifat orang-orang kafir penduduk Makkah:
“Tidaklah shalat mereka di sisi Ka’bah melainkan siulan dan tepuk tangan.” (al-Anfal: 35)
Yang sunnah, ketika seorang mukmin melihat atau mendengar perkara yang mengagumkannya atau apa yang diingkarinya adalah mengatakan, “Subhanallah” atau mengucapkan, “Allahu Akbar”, sebagaimana berita yang sahih dari Nabi n dalam banyak haditsnya.
Untuk wanita disyariatkan ‘tepuk tangan’ secara khusus apabila ada sesuatu yang ingin mereka ingatkan kepada imam di dalam shalat. Atau wanita hadir shalat berjamaah bersama kaum lelaki, lalu imam lupa maka disyariatkan bagi wanita untuk mengingatkan imam dengan tepuk tangan. Adapun kaum pria, mereka mengingatkan imam dengan bertasbih (mengucapkan subhanallah) sebagaimana berita yang sahih dari Nabi n.
Dengan ini diketahui bahwa tepuk tangan yang dilakukan oleh kaum lelaki adalah perbuatan tasyabbuh dengan orang-orang kafir dan menyerupai kaum wanita. Tentu, kedua hal ini dilarang. Wallahu waliyut taufiq. (Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, 4/151)

Ceritakan Nikmat Rabbmu

Allah l berfirman:
“Dan adapun nikmat Rabbmu maka ceritakanlah.” (adh-Dhuha: 11)
Apabila seseorang memiliki kekayaan yang digunakannya untuk hidup nyaman dan senang, apakah bersesuaian dengan apa yang dimaukan oleh ayat di atas?

Jawab:
Samahatusy Syaikh Ibnu Baz t menjawab, “Makna ayat tersebut adalah Allah l memerintah Nabi n untuk menyebut-nyebut berbagai nikmat-Nya sehingga beliau bisa bersyukur kepada-Nya dengan ucapan sebagaimana beliau mensyukuri-Nya dengan amalan.
Menyebut-nyebut nikmat misalnya seorang muslim berkata, “Sungguh kita dalam keadaan baik, alhamdulillah.”
“Di sisi kita ada kebaikan yang banyak.”
“Kita beroleh nikmat yang sangat banyak, kita harus bersyukur kepada Allah l atas nikmat tersebut.”
Ia tidak boleh berkata, “Kita orang miskin.”
“Kita tidak punya apa-apa….”, dsb.
Tidak pantas ia berkata demikian padahal ia mendapat kecukupan dari Allah l. Semestinya, ia bersyukur kepada Allah l dan menyebut-nyebut berbagai nikmat-Nya. Ia harus mengakui kebaikan yang Dia berikan kepadanya.
Ia tidak boleh menyebut-nyebut kefakirannya, seperti mengatakan, “Kami tidak punya harta, tidak punya pakaian.”
“Tidak punya ini, tidak punya itu….”
Akan tetapi, ia harus menyebut nikmat Allah l yang diterimanya dan mensyukuri Rabbnya.
Apabila Allah l memberikan kenikmatan kepada hamba-Nya, Dia senang pengaruh nikmat tersebut terlihat pada si hamba, dalam pakaian yang dikenakan, makanan, dan minumannya. Jangan malah ia tampil sebagaimana penampilan seorang fakir (makan minumnya seperti seorang fakir). Allah l telah memberinya harta dan melapangkan hidupnya, tidak semestinya pakaian dan makanannya seperti seorang fakir. Seharusnya ia menampakkan nikmat-nikmat Allah l tersebut dalam hal makanan, minuman, dan pakaiannya.
Akan tetapi, tidak boleh dipahami bahwa hal ini berarti membolehkan hidup berlebih-lebihan yang melampaui batas hingga mencapai ghuluw, sebagaimana tidak bolehnya israf (berlebih-lebihan) dan tabdzir (boros).” (Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, 4/118—119)

Bidadari Surga dalam Penggambaran al-Qur’an

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah)

Al-Qur’an yang mulia sering menyebutkan kenikmatan-kenikmatan yang dijanjikan Allah l kepada orang-orang yang beriman yang akan diperoleh kelak di surga, karena memang surga adalah tempat bersenang-senang dalam keridhaan ar-Rahman. Berbeda halnya dengan dunia sebagai darul ibtila’ wal imtihan, negeri tempat ujian dan cobaan.
Di dalam surga, penghuninya akan beroleh apa saja yang mereka inginkan. Allah l kabarkan dalam kalam-Nya yang agung:
“Di dalam surga itu terdapat segala apa yang diidamkan oleh jiwa dan sedap (dipandang) mata.” (az-Zukhruf: 71)
Al-‘Allamah Abdurrahman ibnu Nashir as-Sa’di t menafsirkan ayat di atas dengan ucapannya, “Kalimat (dalam ayat) ini merupakan lafadz yang jami’ (mengumpulkan semuanya). Ia mencakup seluruh kenikmatan dan kegembiraan, penenteram mata, dan penyenang jiwa. Jadi, seluruh yang diinginkan jiwa, baik makanan, minuman, pakaian, maupun pergaulan dengan pasangan hidup, demikian pula hal-hal yang menyenangkan pandangan mata berupa pemandangan yang bagus, pepohonan yang indah, hewan-hewan ternak, dan bangunan-bangunan yang dihiasi, semuanya bisa didapatkan di dalam surga. Semuanya telah tersedia bagi penghuninya dengan cara yang paling sempurna dan paling utama.” (Taisir al-Karimir Rahman, hlm. 769)
Di antara kenikmatan surga adalah beroleh pasangan/istri berupa bidadari surga yang jelita. Al-Qur’anul Karim menggambarkan sifat dan kemolekan mereka dalam banyak ayat, di antaranya:

1. Surat an-Naba ayat 31—33
“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa akan beroleh kesenangan, (yaitu) kebun-kebun, buah anggur, dan kawa’ib atraba (gadis-gadis perawan yang sebaya).” (an-Naba’: 31—33)
Ibnu Abbas, Mujahid, dan selainnya menafsirkan bahwa kawa’ib adalah nawahid, yakni buah dada bidadari-bidadari tersebut tegak, tidak terkulai jatuh, karena mereka adalah gadis-gadis perawan yang atrab, yaitu sama umurnya/sebaya. (Tafsir Ibni Katsir, 7/241)
2. Surat al-Waqi’ah ayat 35—37
“Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (wanita surga) dengan langsung, dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta lagi sebaya umurnya.” (al-Waqi’ah: 35—37)
Wanita penduduk surga diciptakan Allah l dengan penciptaan yang tidak sama dengan keadaannya ketika di dunia. Mereka diciptakan dengan bentuk dan sifat yang paling sempurna yang tidak dapat binasa. Mereka semuanya, baik bidadari surga maupun wanita penduduk dunia yang menghuni surga, dijadikan Allah l sebagai gadis-gadis yang perawan selamanya dalam seluruh keadaan. Mereka senantiasa mengundang kecintaan suami mereka dengan tutur kata yang baik, bentuk dan penampilan yang indah, kecantikan paras, serta rasa cintanya kepada suami.
Apabila wanita surga ini berbicara, orang yang mendengarnya ingin andai ucapannya tidak pernah berhenti, khususnya ketika wanita surga berdendang dengan suara mereka yang lembut dan merdu menawan hati. Apabila suaminya melihat adab, sifat, dan kemanjaannya, penuhlah hati si suami dengan kegembiraan dan kebahagiaan. Apabila si wanita surga berpindah dari satu tempat ke tempat lain, penuhlah tempat tersebut dengan wangi yang semerbak dan cahaya. Saat “berhubungan” dengan suaminya, ia melakukan yang terbaik.
Usia mereka, para wanita surga ini, sebaya, 33 tahun, sebagai usia puncak/matang dan akhir usia anak muda.
Allah l menciptakan mereka sebagai perempuan yang selalu gadis lagi sebaya, selalu sepakat satu dengan yang lain, tidak pernah berselisih, saling dekat, ridha dan diridhai, tidak pernah bersedih, tidak pula membuat sedih yang lain. Bahkan, mereka adalah jiwa-jiwa yang bahagia, menyejukkan mata, dan mencemerlangkan pandangan. (Lihat keterangan al-Allamah as-Sa’di t dalam Taisir al-Karimir Rahman, hlm. 834)

3. Surat ar-Rahman ayat 55—58
“Maka nikmat Rabb kalian yang manakah yang kalian berdua dustakan? Di ranjang-ranjang itu ada bidadari-bidadari yang menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka), dan tidak pula oleh jin1. Maka nikmat Rabb kalian yang manakah yang kalian berdua dustakan? Seakan-akan bidadari itu permata yakut dan marjan.” (ar-Rahman: 55—58)
Mereka menundukkan pandangan dari melihat selain suami-suami mereka sehingga mereka tidak pernah melihat sesuatu yang lebih bagus daripada suami-suami mereka. Demikian yang dinyatakan oleh Ibnu Abbas c dan lainnya.
Diriwayatkan bahwa salah seorang dari mereka berkata kepada suaminya, “Demi Allah! Aku tidak pernah melihat di dalam surga ini sesuatu yang lebih bagus daripada dirimu. Tidak ada di dalam surga ini sesuatu yang lebih kucintai daripada dirimu. Segala puji bagi Allah yang Dia menjadikanmu untukku dan menjadikanku untukmu.” (Tafsir Ibni Katsir, 7/385)
Bidadari yang menjadi pasangan hamba yang beriman tersebut adalah gadis perawan yang tidak pernah digauli oleh seorang pun sebelum suami-suami mereka dari kalangan manusia dan jin. Mereka diibaratkan permata yakut yang bersih bening dan marjan yang putih karena bidadari surga memang berkulit putih yang bagus lagi bersih. (Taisir al-Karimir Rahman, hlm. 385)

4. Surat ar-Rahman ayat 70
“Di dalam surga-surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik (akhlaknya) lagi cantik-cantik parasnya.” (ar-Rahman: 70)
Terkumpullah kecantikan lahir dan batin pada bidadari atau wanita surga itu. (Taisir al-Karimir Rahman hlm. 832)

5. Surat ar-Rahman ayat 72
“(Bidadari-bidadari) yang jelita, putih bersih, dan dipingit di dalam rumah.” (ar-Rahman: 72)
Rumah mereka dari mutiara. Mereka menyiapkan diri untuk suami mereka. Namun, bisa jadi mereka pun keluar berjalan-jalan di kebun-kebun dan taman-taman surga, sebagaimana hal ini biasa dilakukan oleh para putri raja dan yang semisalnya. (Taisir al-Karimir Rahman, hlm. 832)

6. Surat ad-Dukhan ayat 51—54
“Sesungguhnya orang-orang bertakwa berada dalam tempat yang aman, (yaitu) di dalam taman-taman dan mata air-mata air. Mereka memakai sutra yang halus dan sutra yang tebal, (duduk) berhadap-hadapan, demikianlah. Dan Kami nikahkan mereka dengan bidadari-bidadari.” (ad-Dukhan: 51—54)
Wanita yang berparas jelita dengan kecantikan yang luar biasa sempurna, dengan mata-mata mereka yang jeli, lebar, dan berbinar. (Taisir al-Karimir Rahman, hlm. 775)

7. Surat ash-Shaffat ayat 48—49
“Di sisi mereka ada bidadari-bidadari yang tidak liar pandangannya (qashiratuth tharf) dan jeli matanya, seakan-akan mereka adalah telur burung unta yang tersimpan dengan baik.” (ash-Shaffat: 48—49)
Qashiratuth tharf adalah afifat, yakni wanita-wanita yang menjaga kehormatan diri. Mereka tidak memandang lelaki selain suami mereka. Demikian kata Ibnu Abbas, Mujahid, Zaid bin Aslam, Qatadah, as-Suddi, dan selainnya.
Mata mereka bagus, indah, lebar, dan berbinar-binar. Tubuh mereka bersih dan indah dengan kulit yang bagus. Ibnu Abbas c berkata, “Mereka ibarat mutiara yang tersimpan.”2
Al-Imam al-Hasan al-Bashri t mengatakan, “Mereka terjaga, tidak pernah disentuh oleh tangan.” (Tafsir Ibni Katsir, 7/11)
Ini menunjukkan ketampanan lelaki dan kecantikan wanita di surga. Sebagiannya mencintai yang lain dengan cinta yang membuatnya tidak memiliki hasrat kepada yang lain. Hal ini juga menunjukkan bahwa mereka seluruhnya menjaga kehormatan diri, tidak ada hasad di dalam surga, tidak ada saling benci dan permusuhan, karena tidak adanya sebab yang bisa memicu ke sana. (Taisir al-Karimir ar-Rahman, hlm. 703)
Semoga Allah l memberi taufik kepada kita untuk beramal dengan amalan yang dapat menyampaikan kepada ridha-Nya dan memasukkan kita ke negeri kemuliaan-Nya. Amin.

Catatan Kaki:

1 Ini adalah dalil bahwa jin yang beriman pun akan masuk surga.

2 Hal ini sebagaimana firman Allah l tentang kenikmatan yang diperoleh penduduk surga,
“Dan bidadari surga yang bermata jeli. Mereka seperti mutiara yang tersimpan.” (al-Waqi’ah: 22—23)

 

Asma’ Bintu Yazid Al-Anshariyah

Dia adalah gambaran sosok wanita yang cerdas dan kokoh beragama. Asma’ bintu Yazid bin as-Sakan bin Rafi’ bin Imri’il Qais bin Zaid bin ‘Abdil Asyhal bin Jusyam bin al-Harits al-Anshariyah. Berkuniah dengan nama Ummu Salamah. Dia adalah putri paman Mu’adz bin Jabal z.
Setelah masuk Islam dan berbaiat kepada Rasulullah n, dia dan para wanita Bani Abdil Asyhal yang lain, ingin mendapatkan keutamaan yang besar sebagaimana yang didapatkan para lelaki. Mereka ingin mengungkapkan keinginan mereka itu di hadapan Rasulullah n. Akhirnya mereka pilih Asma’ sebagai juru bicara yang mewakili mereka di hadapan Rasulullah n.
“Wahai Rasulullah,” ujar Asma’ mengawali pembicaraan, “Saya utusan para wanita kaum muslimin. Mereka semua mengatakan apa yang hendak kukatakan ini dan berpikiran sama dengan pikiranku ini.”
Asma’ melanjutkan, “Sesungguhnya Allah l mengutusmu kepada seluruh pria dan wanita. Kami pun beriman dan mengikutimu. Namun, keadaan kami sebagai wanita terkurung di dalam rumah, sebagai penopang rumah tangga, menjadi tempat curahan syahwat suami, dan mengandung anak-anak mereka. Sementara itu, pria diberikan keutamaan dengan shalat berjamaah, menghadiri jenazah, dan berjihad. Tatkala mereka pergi berjihad, kamilah yang menjaga harta mereka dan mengasuh anak-anak mereka. Apakah kami mendapatkan pahala sebagaimana yang mereka dapatkan, wahai Rasulullah?”
Mendengar penuturan itu, Rasulullah n memandang para sahabat sambil mengatakan, “Apakah kalian pernah mendengar pertanyaan wanita tentang agamanya yang lebih baik daripada wanita ini?”
“Demi Allah! Benar, wahai Rasulullah!” jawab para sahabat.
Lalu Rasulullah n mengatakan pada Asma’, “Kembalilah, wahai Asma’! Katakan kepada para wanita yang mengutusmu bahwa bagusnya pelayanan mereka terhadap suami dan harapan mereka akan ridha suami, serta kepatuhannya untuk selalu seia sekata dengan suami, menyamai pahala yang didapatkan pria atas semua amalan yang kausebutkan tadi.”
Betapa sukacita hati Asma’ mendengar jawaban Rasulullah n. Dia begegas kembali sambil bertahlil dan bertakbir.

Semasa hidup Rasulullah n , Asma’ meriwayatkan beberapa hadits dari beliau.
Lama masa berselang. Bulan Rajab tahun kelima belas Hijriah. Pada masa pemerintahan Khalifah Umar ibnul Khaththab z, kaum muslimin menghadapi tentara Romawi dalam Perang Yarmuk. Dalam pertempuran itu, Asma’ membunuh sembilan tentara Romawi dengan tiang tendanya.
Setahun setelah peperangan itu, Asma’ kembali ke hadapan Rabbnya.
Asma’ bintu Yazid al-Anshariyah, semoga Allah l meridhainya..
Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.
Sumber bacaan:
• al-Ishabah, al-Imam Ibnu Hajar al-’Asqalani (8/21—22)
• al-Isti’ab, al-Imam Ibnu ‘Abdil Barr (2/486)

Membentengi Anak dari ancaman Kerusakan

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Abdirrahman bintu Imran)

Mendidik anak bukan hal yang mudah. Agar berhasil, berbagai keadaan harus dicermati, berbagai hal harus diperhatikan. Di antaranya adalah hal-hal yang dapat merusak si anak. Kita—orang tua dan pengajar—harus berjuang dan berupaya keras agar hal-hal semacam ini tidak menghampiri anak. Jika kita biarkan, niscaya pendidikan yang kita usahakan akan sulit mencapai hasil yang diharapkan. Oleh karena itu, kita perlu mengetahui apa saja yang harus dihindarkan sejauh-jauhnya dari anak.

Asy-Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu t dalam kitab beliau Nida’ ilal Murabbiyin wal Murabbiyat telah membahas masalah ini. Penjelasan beliau akan memberikan banyak faedah bagi kita, insya Allah.
Beliau menerangkan, hal-hal yang harus dijauhkan dari anak adalah:

1. Kebiasaan jelek
Seorang pendidik yang ingin berhasil dalam pendidikan dan pengajarannya harus berupaya menjauhkan anak didiknya dari berbagai kebiasaan jelek, seperti menulis dengan tangan kiri, membungkuk ketika menulis, membuang kertas di sembarang tempat, merobek kertas dari buku tulis, mencoret-coret buku dengan pena, menulis dengan tulisan yang jelek, berbicara kotor, mencela, melaknat, dan kebiasaan jelek lainnya.
Kebiasaan yang paling berbahaya adalah merokok. Perilaku ini telah tersebar di kalangan pelajar melalui bermacam cara dan berbagai celah. Oleh karena itu, seorang pendidik harus menerangkan kepada anak-anak didiknya tentang bahaya merokok. Dia harus membuat mereka membenci perilaku ini. Harus dia jelaskan bahwa rokok menimbulkan bau tak sedap, mengakibatkan kuningnya gigi, jari, dan kuku, serta mengandung nikotin dan plak yang akan terakumulasi dalam paru-paru hingga bisa berujung kematian. Ini termasuk perbuatan bunuh diri yang Allah l haramkan.
Bisa pula dinukilkan pernyataan Federasi Dokter Internasional bahwa merokok dapat mengakibatkan kanker paru-paru, kanker darah, penyakit saluran napas, atau penyakit-penyakit berbahaya lainnya.
Kalau ada seorang pendidik yang tertimpa musibah sebagai pecandu racun ini, hendaknya dia tidak merokok di depan murid-muridnya ataupun di depan umum, sebagai pengamalan sabda Rasulullah n:
كُلُّ أُمَّتِي مُعَافَى إِلاَّ الْمُجَاهِرِيْنَ
“Setiap umatku akan dimaafkan dosanya, kecuali orang yang terang-terangan melakukan dosa.” (Muttafaq ‘alaih)
Bahkan, dia wajib berhenti merokok sama sekali.
Begitu pula, pendidik hendaknya menerangkan kepada murid-muridnya bahwa merokok akan mengganggu orang-orang di sekitarnya, juga mengganggu dua malaikat yang Allah l tugasi mencatat amalan kebaikan dan keburukan. Sementara itu, dalam agama kita, mengganggu adalah perbuatan yang diharamkan. (Asap rokok mengandung ribuan zat kimia berbahaya, sehingga membahayakan orang-orang di sekitarnya/perokok pasif yang tanpa sengaja mengisapnya, -red.).
Jika seorang pendidik mampu meyakinkan murid-muridnya dengan ucapannya, kemudian mereka melihat perilaku pendidiknya selaras dengan apa yang dikatakannya, sesungguhnya dia telah menempuh jalan yang lurus dan selamat.

2. Film dan televisi
Perang pemikiran yang dilancarkan oleh orang-orang kafir di berbagai negeri kaum muslimin telah membuahkan hasil berupa kerusakan akhlak masyarakat Islam dan tersebarnya penyimpangan akhlak dengan label liberalisme, demokratisme, atau label lain yang mentereng—yang luarnya menampakkan kasih sayang, namun di dalamnya berisi azab.
Orang-orang kafir terus melancarkan penjajahan terhadap negeri-negeri kaum muslimin dengan perang pemikiran ini, sebagaimana yang kita lihat di negeri-negeri Arab dan negeri kaum muslimin yang lainnya.
Di antara bentuk perang pemikiran ini adalah tersebarnya film-film yang mengakibatkan bahaya besar bagi para remaja muslim. Film ini menjadi sebab tersebarnya berbagai perbuatan keji.
Tujuannya adalah menggiring remaja untuk mendekati hal-hal jelek yang membahayakan dirinya dan tak ada manfaatnya. Sampai akhirnya para remaja ini menyia-nyiakan potensi dirinya dan tidak memanfaatkan potensi ini untuk kebaikan agama dan tanah airnya. Ini sebenarnya merupakan rencana jahat orang-orang Yahudi di seluruh dunia. Yang mengherankan, orang-orang yang mestinya bertanggung jawab terhadap para remaja tidak mewaspadai bahaya-bahaya tadi dan tidak berusaha mencegahnya.
Kalau yang ditayangkan itu adalah tayangan yang ilmiah, membangun akhlak dan agama, tentu tidak mengapa. Misalnya, tayangan yang mengajarkan kepada mereka tata cara wudhu dan shalat, menghormati guru, taat kepada orang tua, dan tayangan lain yang bermanfaat bagi mereka.
Oleh karena itu, pendidik yang ingin berhasil mendidik anak didiknya harus bisa memberikan pemahaman kepada mereka tentang bahaya film dan televisi. Juga menjelaskan kepada mereka bahayanya tayangan-tayangan keji yang akan meruntuhkan keutamaan dan kewibawaan diri mereka. Tayangan tersebut justru mengajari mereka untuk mencuri atau melakukan tindak kriminal lain. Berapa banyak pencuri dan pelaku tindak kriminal yang mengakui bahwa dia mempelajari berbagai modus kejahatan itu dari tayangan film atau televisi. Banyak kisah nyata yang menuturkan demikian.
Belum lagi dampak lain berupa kelelahan mata karena lamanya menatap layar/monitor, juga sesak napas akibat udara kotor dalam ruangan tertutup—jika menontonnya di bioskop, serta kerugian materi tanpa faedah sama sekali.
Karena itulah, pendidik harus menerangkan hal-hal ini kepada anak didiknya. Ia juga menjelaskan, kalau anak-anak itu mau membeli buku yang berisi ilmu pengetahuan atau kisah-kisah yang berfaedah, ini jauh lebih baik.

3. Judi
Seorang pendidik yang ingin berhasil dalam pendidikan dan pengajarannya hendaknya selalu mengawasi anak didiknya. Hendaknya ia juga memahamkan kepada mereka bahwa menjadikan coklat, permen, atau makanan lain sebagai taruhan termasuk perjudian yang akan menyeret pelakunya ke hadapan murka Allah l. Selain itu, perbuatan tersebut akan menghabiskan uang.
Pendidik juga harus memperingatkan anak-anak didiknya bahwa orang yang biasa menjadikan hal-hal yang remeh seperti itu sebagai taruhan, lambat laun akan bertaruh dengan harta, bahkan terkadang mempertaruhkan jiwanya. Yang seperti ini sudah pernah terjadi. Ketika seseorang bangkrut dan tak sepeser pun hartanya tersisa, dia menjual anak perempuannya. Ketika kalah lagi, dia menjual seliter darahnya. Setelah kalah lagi, dia ditemukan sebagai mayat di salah satu kebun di Beirut, Lebanon.
Seandainya judi itu ada kebaikannya, pasti Allah l tidak akan melarangnya. Allah l berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamr, perjudian, berhala, dan undian dengan anak panah itu adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Jauhilah, semoga dengan begitu kalian akan beruntung. Sesungguhnya setan menginginkan agar terjadi permusuhan dan kebencian di antara kalian dengan khamr dan perjudian itu, serta ingin menghalangi kalian dari mengingat Allah dan dari shalat. Maka tidakkah kalian berhenti melakukannya?” (al-Maidah: 90—91)
Rasulullah n juga bersabda:
مَنْ لَعِبَ بِالنَّرْدَشِيْرِ فَكَأَنَّمَا غَمَسَ يَدَهُ فِي لَحْمِ خِنْزِيْرٍ وَدَمِهِ
“Barang siapa bermain nardasyir (perjudian dengan dadu, pen.), seakan-akan dia telah mencelupkan tangannya ke dalam daging dan darah babi.” (HR. Muslim)
Maka dari itu, kita katakan secara ringkas bahwa tidak boleh bermain kartu dan dadu walaupun untuk hiburan semata, karena akan menyeret pada perjudian.
Selain itu, permainan ini juga bisa menyulut pertikaian di antara para pemainnya. Telah terjadi, munculnya perselisihan antara dua orang teman yang sama-sama bermain kartu sekadar untuk hiburan. Keduanya terlibat perang mulut. Masing-masing menuduh temannya menggerakkan dadu itu. Salah satu dari mereka sampai bersumpah akan menceraikan istrinya untuk menolak tuduhan itu, namun tetap tidak diterima oleh temannya. Akhirnya, meletuplah permusuhan di antara mereka, sampai-sampai tak mau lagi bertegur sapa padahal mereka berdua bertetangga.

4. Mencaci dan bertengkar
Beberapa tahun terakhir ini banyak peristiwa buruk terjadi, yaitu perselisihan antarpelajar. Yang satu mencela yang lain, bahkan terkadang sampai mencela agama. Oleh karena itu, orang tua dan wali murid hendaknya memerhatikan anak-anaknya, melarang mereka dan sama sekali tidak memberi toleransi dalam hal seperti ini. Tak pernah ada di kalangan para pendahulu kita yang saleh hal-hal semacam ini. Seyogianya ada kerjasama antara pengajar dengan orang tua/wali murid sehingga perilaku seperti ini bisa tercabut hingga ke akarnya dan tertangani dengan hikmah serta nasihat yang baik.
Pernah terjadi, saya melihat seorang murid mencela temannya dengan menjelekkan agama. Saya dekati dia dan bertanya, “Siapa namamu, Nak? Kelas berapa? Dari sekolah mana?” Lalu kutanya lagi dia, “Siapa yang menciptakanmu?”
“Allah,” jawabnya.
“Siapa yang memberimu pendengaran dan penglihatan, yang memberimu makanan, buah-buahan, dan sayur-sayuran?” tanyaku lagi.
“Allah,” jawabnya.
Saya bertanya lagi,”Apa yang baru saja kaukatakan?”
Dia pun merasa malu dengan pertanyaan itu. Lalu dia berujar, “Temanku itu yang lebih dahulu menjahatiku.”
Saya pun mengatakan kepadanya, “Sesungguhnya Allah l tidak mau menerima perbuatan jahat, bahkan melarangnya. Dia berfirman:
“Janganlah kalian berbuat melampaui batas, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (al-Baqarah: 190)
Nah, siapa yang membisiki temanmu sehingga dia memukulmu?”
Dia menjawab, “Setan.”
“Kalau begitu, seharusnya engkau mencela setannya!”1 kata saya.
Dia pun mengatakan kepada temannya, “Semoga setanmu terlaknat!”
Kemudian saya katakan kepadanya, “Engkau harus bertaubat kepada Allah l dan meminta ampunan kepada-Nya, karena celaanmu terhadap agama itu perbuatan kufur!”
Dia pun lantas mengucapkan, “Saya memohon ampun kepada Allah Yang Mahaagung, dan saya bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah!”
Saya ucapkan terima kasih kepadanya dan memintanya agar tidak mengulangi perbuatan itu lagi, dan agar dia menasihati teman-temannya jika melihat ada di antara mereka yang mencela agama.
Adapun pertikaian dan perkelahian, semestinya pendidik memahamkan anak-anak didiknya bahwa mereka itu bersaudara. Tidak boleh seseorang mencela saudaranya. Hal ini telah dilarang oleh sang pendidik yang agung, junjungan kita Muhammad n, dalam sabdanya:
سِبَابُ الْمُؤْمِنِ فُسُوْقٌ وَقِتَالُهُ كُفْرٌ
“Mencela seorang mukmin itu kefasikan, dan membunuhnya adalah kekufuran.” (Muttafaq ‘alaih)
Oleh karena itu, selayaknya nuansa persaudaraan dan kecintaan mewarnai hubungan anak-anak didik kita. Kewajiban pendidik mengarahkan mereka untuk memupuk persaudaraan dan rasa saling cinta. Rasulullah n bersabda:
أَوَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوْهُ تَحَابَبْتُمْ؟ أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ
“Tidakkah kalian mau kutunjukkan sesuatu yang jika kalian lakukan niscaya kalian akan saling mencintai? Sebarkan salam di antara kalian!” (HR Muslim)

(Dinukil dan diterjemahkan dari kitab Nida’ ilal Murabbiyin wal Murabbiyat hlm. 77—82 oleh Ummu ‘Abdirrahman bintu ‘Imran)

Catatan Kaki:

1 Yang terbaik bagi seorang muslim adalah memohon perlindungan kepada Allah l ketika marah, dengan ucapan a’udzu billahi minasy syaithanir rajim (Aku berlindung kepada Allah l dari setan yang terkutuk), berdasarkan firman Allah l:
“Dan jika setan menimpakan gangguan padamu, maka mohonlah perlindungan kepada Allah, sesungguhnya Dia Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.” (Fushshilat: 36)
Rasulullah n juga pernah mengatakan pada seseorang yang sedang marah:
إِنِّي لَأَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا لَذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
“Sesungguhnya aku mengetahui suatu kalimat yang jika dia ucapkan akan hilang kemarahannya: a’udzu billahi minasy syaithanir rajim.”(Muttafaq ‘alaih)

Imam Membaca Mushaf

Bismillah, seorang imam masjid mengimami jamaah shalat fardhu dengan membaca mushaf al-Qur’an di depannya. Apakah imam seperti ini ada contohnya (dari Nabi n dan sahabat)? Apakah ada dalil yang menganjurkannya? Apakah bukan bid’ah?
muh__________@gmail.com

Menjawab pertanyaan tersebut kami bawakan beberapa fatwa ulama berikut ini.

Fatwa asy-Syaikh Ibnu Utsaimin
Soal: Semoga Allah l memberkahi Anda. Ini adalah sebuah surat dari seorang pendengar (Radio Idza’atul Quran), saudara fillah bernama Khalifah, seorang siswa dari Libya yang tinggal dan belajar di Yugoslavia. Ia berkata dalam suratnya, “Saya mengirim surat ini untuk bertanya kepada Anda, dengan mengharap taufik dari Allah….”
Ia berkata dalam pertanyaannya, “Pertama, bolehkah seseorang melakukan shalat dan membaca langsung dari mushaf?”

Jawab:
Ya, seseorang diperbolehkan membaca al-Qur’an dari mushaf ketika shalat apabila dia tidak hafal al-Qur’an. Adapun jika dia hafal, lebih bagus dia membaca dengan hafalannya. Hal itu karena membawa mushaf dalam shalat mengakibatkan:
a. Seseorang tidak meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri di dadanya. Ini berarti meninggalkan sunnah.
b. Mata akan lalai melihat tempat sujud karena terfokus pada mushaf.
c. Gerakan melihat dari satu baris ke baris yang lain dan dari satu sisi ke sisi yang lain, menjadi aktivitas tersendiri untuk mata.
d. Gerakan membawa mushaf, meletakkannya, dan membuka lembaran-lembarannya.
Jika seseorang tidak membutuhkan hal-hal tersebut, tanpa diragukan, menghindarinya adalah lebih bagus. Adapun jika ia membutuhkannya, misalnya dia tidak hafal al-Qur’an, tidak mengapa ia membawa mushaf dan membacanya.

Pertanyaan kedua: Apakah boleh membaca mushaf dalam shalat jahriyah (yang bacaannya dikeraskan) dan itu shalat fardhu/wajib?

Jawab:
Ya, boleh melakukan shalat dengan melihat mushaf, karena hal itu bukan gerakan yang banyak bagi orang yang shalat. Kesibukan pandangan di sini adalah kesibukan yang terkait dengan maslahat shalat sehingga tidak meniadakan (sahnya) shalat.
Inilah pendapat yang kuat di antara pendapat para ulama, yaitu seseorang boleh membaca mushaf dalam shalat fardhu dan shalat wajib. (Rekaman acara Nurun ‘Alad Darb, Siaran Radio Idza’atul Qur’an)

Fatwa asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz
Tidak mengapa membaca mushaf dalam shalat tarawih karena dengan begitu bisa memperdengarkan kepada makmum seluruh al-Qur’an (tiga puluh juz). Selain itu, dalil-dalil syar’i dari al-Qur’an dan al-Hadits menunjukkan disyariatkannya membaca al-Qur’an dalam shalat. Dalil ini berlaku umum, baik membaca al-Qur’an dari mushaf maupun dari hafalan.
Di samping itu, terdapat riwayat dari Aisyah x bahwa beliau memerintahkan budaknya yang bernama Dzakwan untuk mengimaminya dalam shalat tarawih, dan dia membaca dari mushaf. Riwayat ini ada dalam Shahih al-Bukhari, diriwayatkan secara mu’allaq (tanpa menyebutkan sanadnya) dan majzum (dengan ungkapan kalimat aktif yang menunjukkan bahwa al-Bukhari mensahihkannya). (Majmu’ Fatawa Ibni Baz)

Fatwa Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan tentang Makmum yang Membaca Mushaf
Kami menyaksikan sebagian makmum membawa mushaf untuk mengikuti bacaan imam. Hal ini tidak sepantasnya dilakukan karena hal-hal yang telah kami sebutkan (yaitu adanya gerakan yang terulang-ulang) dan mereka tidak perlu mengikuti bacaan imam. Benar, apabila imamnya tidak bagus hafalannya lalu mengatakan kepada sebagian makmum, “Shalatlah engkau di belakangku dan koreksi bacaanku dari mushaf jika aku salah,” lalu ia membenarkan bacaannya, ini tidak mengapa. (al-Muntaqa min Fatawa al-Fauzan)

Demikianlah pendapat yang dikuatkan oleh para ulama tersebut. Ini adalah mazhab Syafi’i dan Hanbali. Alasan mereka adalah riwayat Aisyah x dalam Shahih al-Bukhari secara mu’allaq:
وَكَانَتْ عَائِشَةُ يَؤُمُّهَا عَبْدُهَا ذَكْوَانُ مِنَ الْمُصْحَفِ
“Budak ‘Aisyah x, Dzakwan, telah mengimami beliau dengan (membaca) dari mushaf.”
Para ulama tersebut juga menerangkan bahwa hal itu saat dibutuhkan, bisa jadi karena hafalan yang tidak bagus atau tidak hafal surat yang akan dibaca.
Adapun gerakan yang dilakukan saat itu tidak berpengaruh terhadap sahnya shalat karena itu adalah gerakan ringan dan demi maslahat shalat, lebih-lebih jika hal itu memang dibutuhkan.
Dalam masalah ini ada pendapat yang lain, yaitu mazhab Malikiyah. Mereka berpendapat makruhnya membaca dari mushaf dalam shalat fardhu secara mutlak. Adapun dalam shalat sunnah, mereka membolehkan tanpa ada kemakruhan jika sejak awal membaca dari mushaf, bukan dari pertengahan. Hal ini karena membaca mushaf sejak awal lebih sedikit gerakannya.
Pendapat yang ketiga adalah mazhab Hanafi. Mereka berpendapat bahwa membaca dari mushaf membatalkan shalat secara mutlak. (Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyyah)
Yang paling kuat adalah pendapat yang pertama.
Wallahu a’lam.
(al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc.)

AsySyafi

(ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc.)

Di antara nama-nama Allah l adalah asy-Syafi. Maknanya adalah Yang Maha Menyembuhkan. Nama Allah l ini tidak terdapat dalam al-Qur’an, tetapi dalam sebagian hadits Nabi n, di antaranya hadits Aisyah x:
عَنْ عَائِشَةَ x أَنَّ النَّبِىَّ n كَانَ يُعَوِّذُ بَعْضَ أَهْلِهِ، يَمْسَحُ بِيَدِهِ الْيُمْنَى وَيَقُولُ: اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ الْبَاسَ، اشْفِهِ وَأَنْتَ الشَّافِي، لاَ شِفَاءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا
Nabi n dahulu memintakan perlindungan untuk sebagian keluarganya. Beliau mengusap dengan tangan kanannya seraya berucap:
اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ الْبَاسَ، اشْفِهِ وَأَنْتَ الشَّافِي، لاَ شِفَاءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا
“Ya Allah, Rabb sekalian manusia hilangkanlah penyakit, sembuhkanlah dia. Engkaulah Maha Penyembuh, tiada kesembuhan selain kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak menyisakan penyakit.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
‘Mengusapkan tangannya’ maksudnya di tempat yang sakit. (Fathul Bari)
Dalam ayat al-Qur’an juga disebutkan bahwa Allah l lah yang menyembuhkan. Allah l menceritakan bahwa Nabi Ibrahim q mengatakan kepada kaumnya:
“Apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan.” (asy-Syu’ara: 80)
Maksudnya, bukan berhala-berhala yang disembah oleh kaumnya yang menyembuhkan.
Aisyah x juga menceritakan ucapan Rasulullah n saat Allah l menyembuhkan Rasulullah n dari sihir Yahudi,
أَمَّا أَنَا فَقَدْ شَفَانِيَ اللهُ وَخَشِيْتُ أَنْ يُثِيْرَ ذَلِكَ عَلىَ النَّاسِ شَرًّا
“Adapun aku, Allah l telah menyembuhkanku. Aku khawatir hal itu (yakni membunuh si penyihir) akan berakibat jelek kepada manusia.” (HR. al-Bukhari)
Al-Hulaimi t mengatakan, ketika berdoa, seseorang boleh mengucapkan, “Ya Syafi”, “Ya Kafi”, “Wahai Yang Maha Penyembuh”, dan “Wahai Yang Maha Mencukupi”, karena Allah l menyembuhkan dada dari syubhat dan keraguan, serta dari iri dan dengki. Allah l juga menyembuhkan badan dari penyakit-penyakit. Tidak ada yang mampu melakukannya selain-Nya. Tidak ada pula yang diseru dengan nama ini selain Dia l. Adapun makna penyembuhan adalah menghilangkan sesuatu yang mengganggu dan menyakiti badan. (al-Asma’ wash Shifat, karya al-Baihaqi, 1/219—220)

Buah Mengimani Nama Allah l asy-Syafi
Di antara buah keimanan terhadap nama Allah l tersebut adalah mensyukuri-Nya karena besarnya nikmat Allah l kepada kita semuanya. Berbagai penyakit menimpa kita, Allah l sajalah yang menyembuhkannya. Penyakit selalu datang silih berganti dalam waktu yang terkadang berdekatan, Allah l pula yang menyembuhkan padahal kesembuhan tersebut tidak dapat dinilai dengan harta. Allah l menyembuhkan siapa yang Dia l kehendaki sembuh demi tujuan dan hikmah yang Dia l inginkan.
Buah yang lain adalah mengetahui kebesaran kemampuan Allah l. Banyak sekali penyakit yang demikian parah atau akut, dokter dan para ahli sudah angkat tangan, namun dengan mudah Allah l menyembuhkannya apabila Dia l menghendaki. Terkadang, hanya dengan sebab seorang hamba sering berdoa kepada-Nya dengan sungguh-sungguh dan disertai oleh usaha semampunya. Mahabesar Allah dengan segala kemampuan dan kemurahan-Nya.
Dengan keimanan itu pula—jika keimanan itu kuat—seseorang tidak akan mencari-cari kesembuhan dari pengobatan-pengobatan alternatif yang haram, seperti dukun, paranormal, orang ‘pintar’, para penunggu tempat yang dikeramatkan, atau yang semisalnya. Tak jarang mereka menipu dan mengelabui konsumen mereka. Mereka semua tidak dapat menyembuhkan. Hanya Allah l lah yang dapat menyembuhkan. Kalaupun seseorang sembuh sepulang dari pengobatan alternatif yang haram tersebut, tidak berarti mereka yang menyembuhkan, tetapi Allah l yang menyembuhkan. Hal itu adalah ujian bagi keimanan mereka.