Balasan untuk Kaum Perusak

 

إِنَّمَا جَزَٰٓؤُاْ ٱلَّذِينَ يُحَارِبُونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَيَسۡعَوۡنَ فِي ٱلۡأَرۡضِ فَسَادًا أَن يُقَتَّلُوٓاْ أَوۡ يُصَلَّبُوٓاْ أَوۡ تُقَطَّعَ أَيۡدِيهِمۡ وَأَرۡجُلُهُم مِّنۡ خِلَٰفٍ أَوۡ يُنفَوۡاْ مِنَ ٱلۡأَرۡضِۚ ذَٰلِكَ لَهُمۡ خِزۡيٞ فِي ٱلدُّنۡيَاۖ وَلَهُمۡ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ ٣٣

Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri. Hal itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar.(al-Maidah: 33)

 

Sebab Turunnya Ayat

Ada beberapa pendapat yang menerangkan tentang sebab turunnya ayat ini.

 

  1. Ayat ini turun berkenaan dengan sekelompok orang dari kabilah Urainah yang datang ke Madinah.

Diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari rahimahullah dari hadits Anas radhiallahu ‘anhu yang berkata,

“Sekelompok orang yang berasal dari ‘Ukul mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka lantas masuk Islam. Kemudian mereka merasa tidak nyaman tinggal di kota Madinah karena cuaca yang tidak bersahabat dengan kondisi mereka.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah mereka untuk mendatangi tempat unta sedekah digembalakan agar mereka bisa meminum air kencing dan susu unta tersebut. Mereka pun melakukannya dan menjadi sehat. Tak disangka, mereka justru murtad dan membunuh para penggembalanya.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar jejak mereka diikuti. Mereka pun berhasil diringkus dan dibawa kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian memotong tangan dan kaki mereka, mencungkil mata mereka, dan mata mereka ditusuk dengan besi panas hingga mereka mati.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Dalam riwayat Muslim, mereka berasal dari kabilah ‘Ukul atau ‘Urainah. Dalam riwayat lain, mereka dibuang di bawah terik matahari dan dibiarkan hingga mati.

Dalam riwayat lain, mereka meminta minum dan mereka tidak diberi minum.

Dalam riwayat al-Bukhari, Abu Qilabah berkata, “Mereka mencuri lalu membunuh, murtad setelah beriman, dan memerangi Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya.”

Dalam riwayat Muslim, Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mencungkil mata-mata mereka karena mereka telah mencungkil mata-mata para penggembala unta tersebut.”

Dalam riwayat Abu Dawud disebutkan bahwa Allah ‘azza wa jalla menurunkan ayat tentang orang-orang yang memerangi Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya berkaitan dengan kejadian ini.

  

  1. Ayat ini berkaitan dengan sekelompok ahli kitab yang memiliki perjanjian damai dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka lalu membatalkan perjanjian itu dan melakukan perusakan di muka bumi.

Allah ‘azza wa jalla kemudian memberi pilihan: membunuh mereka atau memotong tangan dan kaki mereka secara bersilang.

Ini adalah pendapat adh-Dhahhak dan diriwayatkan dari Ibnu Abbas.

 

  1. Ayat ini berkenaan dengan teman-teman Abu Burdah al-Aslami radhiallahu ‘anhu. Mereka melakukan perampokan terhadap satu kaum yang datang ingin memeluk Islam. Lalu turunlah ayat ini.

Ini diriwayatkan oleh Abu Shalih dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma.

 

  1. Ayat ini turun berkenaan dengan kaum musyrikin.

Ini merupakan pendapat al-Hasan dan diriwayatkan dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma. (Zadul Masiir, Ibnul Jauzi, 1/540—541)

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Yang benar, ayat ini bersifat umum, mencakup kaum musyrikin dan selain mereka yang memiliki sifat-sifat tersebut.” (Tafsir Ibnu Katsir)

 

Tafsir Ayat

يُحَارِبُونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَيَسۡعَوۡنَ فِي ٱلۡأَرۡضِ فَسَادًا

“Orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi.

Ada beberapa penjelasan ulama tentang orang-orang yang memerangi Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya, serta berjalan di muka bumi dengan kerusakan.

  • Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam Tafsir-nya,

Muharabah artinya melakukan perlawanan dan menyelisihi. Yang dimaksud bisa jadi kekufuran, menyamun di jalan, dan mendatangkan rasa takut dalam perjalanan. Demikian pula bentuk melakukan perusakan di muka bumi, yang dikategorikan beberapa jenis perbuatan kejahatan.

“Bahkan, banyak kalangan ulama salaf, termasuk Sa’id bin al-Musayyab yang mengatakan bahwa pinjam-meminjam uang dinar dan dirham (dengan cara riba –pen.) termasuk bentuk perusakan di muka bumi.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَإِذَا تَوَلَّىٰ سَعَىٰ فِي ٱلۡأَرۡضِ لِيُفۡسِدَ فِيهَا وَيُهۡلِكَ ٱلۡحَرۡثَ وَٱلنَّسۡلَۚ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ ٱلۡفَسَادَ ٢٠٥

Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan.(al-Baqarah: 205)

 

  • Al-Allamah as-Sa’di rahimahullah berkata, “Orang-orang yang memerangi Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya adalah yang menampakkan permusuhan secara terang-terangan, merusak di muka bumi dengan kekufuran dan pembunuhan, merampas harta, dan memberi rasa takut di jalan-jalan.

“(Pendapat) yang masyhur, ayat yang mulia ini menjelaskan tentang hukum para penyamun di jalanan, yang mengganggu perjalanan manusia di kota-kota dan pedalaman, mengambil paksa harta mereka, membunuh, menakut-nakuti mereka, sehingga manusia tidak mau melewati jalan yang mereka ada di sana yang berakibat terhentinya aktivitas mereka.” (Taisir al-Karim ar-Rahman)

Dari penjelasan di atas, di antara kesimpulannya, yang dimaksud orang-orang yang memerangi Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya tidak terkhusus untuk orangorang kafir, tetapi juga kaum muslimin yang memiliki sifat “memerangi Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya dan melakukan perusakan di muka bumi”.

Bahkan, seseorang yang bermuamalah dengan cara riba pun termasuk kategori mereka yang memerangi Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya. Demikian pula para ahli bid’ah yang menghalalkan darah kaum muslimin, melakukan perusakan, merampas harta, menculik, mendatangkan rasa takut masyarakat di sebuah negeri, dan yang semisalnya. Semua itu merupakan bentuk memerangi Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya.

Abu Hanifah rahimahullah berpendapat bahwa yang dimaksud “memerangi” dalam ayat ini adalah jika dilakukan di jalan-jalan. Adapun jika dilakukan di dalam perkotaan, hal itu tidak termasuk.

Pendapat ini menyelisihi pandangan mayoritas para ulama mazhab Maliki, Syafi’i, al-Auza’i, Laits bin Sa’ad, dan Ahmad bin Hambal. Bahkan, al-Imam Malik rahimahullah berpendapat bahwa seseorang yang dikelabui orang lain lantas dibawa ke dalam rumah lalu dibunuh dan dirampas hartanya, juga termasuk bentuk peperangan terhadap Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya. (Tafsir Ibnu Katsir)

Termasuk dalam hal ini adalah perbuatan kaum teroris yang melakukan pembantaian dan perusakan di muka bumi, seperti yang dilakukan oleh

  • kaum Khawarij dengan berbagai nama dan kelompoknya,
  • kaum Syiah Rafidhah yang memerangi kaum muslimin di berbagai negeri, dan
  • kaum komunis dengan berbagai bentuknya.

Itu adalah bentuk memerangi Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya serta melakukan perusakan di muka bumi.

Diterangkan oleh Ibnu Taimiyah rahimahullah, “Setiap kelompok yang memiliki kekuatan namun enggan taat kepada Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya, sungguh ia telah memerangi Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya. “Siapa yang beramal di muka bumi tanpa berlandaskan kitabullah dan sunnah Rasul-Nya, dia telah melakukan perusakan di muka bumi. Oleh karena itu, para ulama salaf menjelaskan bahwa ayat ini berlaku untuk kaum kafir dan ahli kiblat (kaum muslimin).

“Karena itulah, mayoritas imam agama menggolongkan para penyamun yang menampakkan senjatanya untuk sekadar merampas harta dan orang yang berperang untuk mengambil harta, sebagai orang-orang yang memerangi Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya dan berjalan di muka bumi dengan kerusakan; meskipun mereka meyakini bahwa yang mereka lakukan itu haram; meski mereka beriman kepada Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya.

“Orang yang meyakini halalnya darah dan harta kaum muslimin, serta menganggap halal memerangi mereka, lebih pantas disebut sebagai “orang yang memerangi Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya dan berjalan di muka bumi dengan kerusakan” daripada mereka (orang-orang yang disebutkan sebelumnya).

“Hal ini sebagaimana halnya seorang kafir harbi yang menghalalkan darah dan harta kaum muslimin dan berpandangan bolehnya memerangi mereka, lebih pantas diperangi daripada orang fasik yang meyakini diharamkannya hal tersebut.

“Demikian pula halnya ahli bid’ah yang meninggalkan syariat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sunnahnya, serta menghalalkan darah dan harta kaum muslimin yang berpegang teguh kepada sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan syariatnya. Mereka lebih pantas diperangi daripada orang fasik; meskipun mereka menganggap perbuatannya sebagai agama yang mendekatkan dirinya kepada Allah ‘azza wa jalla.

“Demikian pula halnya kaum Yahudi dan Nasrani yang meyakini tindakan memerangi kaum muslimin sebagai cara mereka mendekatkan diri kepada Allah ‘azza wa jalla.

“Oleh karena itu, para pemimpin Islam bersepakat bahwa bid’ah yang berat ini lebih berbahaya daripada dosa-dosa yang diyakini oleh pelakunya sebagai dosa.

“Hal ini telah berlaku dalam sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau memerintahkan untuk memerangi kaum Khawarij yang meninggalkan sunnah beliau, dan memerintah kaum muslimin untuk bersabar menghadapi kezaliman para penguasa dan tetap shalat di belakang mereka, meski mereka melakukan perbuatan dosa.

“Bahkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mempersaksikan sebagian sahabatnya yang masih melakukan perbuatan dosa bahwa dia mencintai Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya. Beliau juga melarang melaknat mereka. Beliau memberitakan pula tentang Dzul Khuwaishirah dan para pengikutnya—yang memiliki ibadah dan sikap wara’—bahwa mereka telah keluar meninggalkan Islam seperti halnya anak panah yang keluar meninggalkan sasarannya. (Majmu’ al-Fatawa, 28/470—471)

 

Hukuman Bagi Perusak di Muka Bumi

Adapun makna firman Allah ‘azza wa jalla,

أَن يُقَتَّلُوٓاْ أَوۡ يُصَلَّبُوٓاْ أَوۡ تُقَطَّعَ أَيۡدِيهِمۡ وَأَرۡجُلُهُم مِّنۡ خِلَٰفٍ أَوۡ يُنفَوۡاْ مِنَ ٱلۡأَرۡضِۚ

“Mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri.

Di dalam ayat ini, Allah ‘azza wa jalla menjelaskan tentang hukum orang yang memerangi Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya serta melakukan perusakan di muka bumi, bahwa hukum terhadap mereka;

  • dibunuh
  • disalib
  • dipotong tangan dan kaki mereka secara menyilang
  • diasingkan dari muka bumi

Terjadi perselisihan di kalangan para ulama, apakah hukum yang disebutkan ini bersifat pilihan yang diserahkan kepada penguasa negeri?

Sebagian ulama berpendapat bahwa hukum ini bersifat pilihan yang diserahkan kepada keputusan penguasa negeri. Ini merupakan pendapat Said bin Musayyab, Mujahid, Atha’, Hasan al-Bashri, Ibrahim an-Nakha’i, dan adh-Dhahhak, serta dihikayatkan pula dari Malik bin Anas.

Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalhah, dari Ibnu Abbas bahwa ia berkata, “Barang siapa menghunuskan senjatanya di tengah kaum muslimin, mendatangkan rasa takut di jalan, lalu ia berhasil diringkus dan dihukum, pemimpin kaum muslimin diberi pilihan dalam menetapkan hukumnya: (1) jika ingin, dibunuh, (2) dan jika ingin, disalib, (3) dan jika ingin, dipotong tangan dan kakinya.”

Abu Tsaur berkata, “Penguasa diberi pilihan berdasarkan zahir ayat ini. Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma mengatakan bahwa apa yang disebut dalam al-Qur’an dengan kata ‘atau’ maka pelakunya diberi pilihan.”

Al-Qurthubi rahimahullah berkata, “Pendapat ini lebih tampak berdasarkan zahir ayat.” (Tafsir al-Qurthubi)

Adapun jumhur ulama menyatakan bahwa ayat ini diterapkan sesuai dengan keadaan, seperti yang dikatakan oleh al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah.

Diriwayatkan pula dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma bahwa beliau berkata tentang hukum para penyamun, “Jika membunuh dan merampas harta, mereka dibunuh dan disalib. Jika membunuh namun tidak merampas harta, mereka dibunuh tanpa disalib. Jika merampas harta dan tidak membunuh, dipotong tangan dan kakinya secara menyilang. Jika melakukan teror di jalan tanpa merampas harta, mereka diasingkan dari muka bumi.” (Tafsir Ibnu Katsir)

Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Jika dia merampas harta, dipotong tangan kanannya dan dipotong kaki kirinya, lalu dia dilepas. Sebab, kejahatan ini lebih dari sekadar mencuri dengan cara menyerang. Jika dia membunuh, dia pun dibunuh. Jika dia merampas harta dan membunuh, dia dibunuh dan disalib.” (Tafsir al-Qurthubi)

Ath-Thabari rahimahullah meriwayatkan dalam Tafsir-nya, Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada Jibril ‘alaihissalam tentang hukum yang diterapkan bagi orang yang memerangi Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya.

Jibril ‘alaihissalam menjawab, “Siapa yang mencuri dan membuat teror di jalan, potonglah tangannya sebagai hukuman dia mencuri; dan potong kakinya sebagai hukuman dia melakukan teror di jalan. Siapa yang membunuh, bunuhlah dia. Siapa yang membunuh lalu membuat teror di jalan dan menghalalkan kemaluan (memperkosa), saliblah dia!” (Tafsir Ibnu Katsir)

 

Makna Disalib

Ada perselisihan di kalangan para ulama tentang cara menyalibnya.

  • Sebagian para ulama mengatakan bahwa ia dibunuh terlebih dahulu lalu disalib. Ini merupakan pendapat yang zahir dari mazhab Syafi’i.
  • Ada pula yang berpendapat ia disalib dalam keadaan hidup lalu ditusuk hingga mati dalam keadaan tersalib. Ini merupakan pendapat Laits bin Sa’ad.
  • Ada pula yang berpendapat disalib selama tiga hari dalam keadaan hidup, lalu diturunkan dari tiang salib dan dibunuh. (Tafsir al-Baghawi)

Adapun makna dipotong tangan dan kaki secara bersilang adalah apabila tangan kanan yang dipotong, kaki yang dipotong adalah yang kiri. (Zadul Masir)

 

Makna Diasingkan dari Muka Bumi

Asal makna ( يُنفَوۡاْ ) adalah diusir dan dijauhkan. Ada beberapa penjelasan ulama terkait dengan makna diasingkan dari permukaan bumi.

 

  1. Dijauhkan dari negara Islam dan dimasukkan ke dalam negara kafir yang diperangi oleh kaum muslimin.

Ini merupakan pendapat Anas bin Malik, Hasan, dan Qatadah.

Ibnul Jauzi berkata, “Ini diberlakukan jika pelakunya musyrik dan kafir. Adapun jika dia seorang muslim, tidak diberlakukan hal tersebut.”

 

  1. Mereka dicari untuk ditegakkan hukum had atasnya, lalu setelah itu dijauhkan.

Pendapat ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan Mujahid.

 

  1. Mereka dikeluarkan dari kampung tempat tinggalnya menuju kampung yang lain, seperti hukuman yang ditimpakan kepada pelaku zina.

Pendapat ini diriwayatkan dari Said bin Jubair. Al-Imam Malik berkata, “Diasingkan ke sebuah negeri yang bukan negerinya, lalu dipenjara di negeri tersebut.”

 

  1. Yang dimaksud adalah dipenjara.

Ini merupakan pendapat Abu Hanifah dan para pengikutnya. Mereka berpaandangan bahwa yang dimaksud diasingkan adalah dipenjarakan dari kebebasan dunia luar menuju dunia yang sempit. Pendapat ini dikuatkan pula Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah.

Makhul rahimahullah menyebutkan bahwa Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhu adalah orang yang pertama kali menahan pelaku kejahatan dengan penjara. Beliau radhiallahu ‘anhu berkata, “Aku memenjarakannya hingga aku mengetahui bahwa dia telah bertobat. Aku tidak mengasingkannya dengan cara memindahkannya dari satu negeri ke negeri lain supaya tidak menyebabkan gangguan terhadap penduduk negeri tersebut.” (Tafsir al-Qurthubi)

 

Hukuman Terhadap Teroris Khawarij

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberitakan dalam banyak hadits tentang munculnya satu kelompok perusak di muka bumi yang menghalalkan darah dan harta kaum muslimin dengan mengatasnamakan agama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan penguasa kaum muslimin untuk memerangi mereka.

Dalam sebuah hadits yang sahih dari Abu Said al-Khudri radhiallahu ‘anhu, dikisahkan bahwa saat Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu berada di negeri Yaman, dia mengirim sebongkah emas yang masih bercampur dengan tanahnya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian membaginya kepada empat orang: al-Aqra’ bin Habis al-Hanzhali, ‘Uyainah bin Badar al-Fazari, Alqamah bin ‘Ulatsah al-‘Amiri, salah seorang dari kabilah Bani Kilab, dan Zaid al-Khair at-Tha’i, salah seorang dari Bani Nabhan.

Kaum Quraisy marah. Mereka berkata, “Engkau berikan kepada para pemuka kabilah Najd dan meninggalkan kami?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya aku melakukan hal ini untuk membuat hati mereka semakin kuat (dalam memeluk Islam).”

Datanglah seorang lelaki berjenggot lebat, menonjol bagian atas pipinya, kedua matanya tenggelam ke dalam, menonjol dahinya, botak kepalanya. Dia berkata, “Bertakwalah kepada Allah ‘azza wa jalla, wahai Muhammad!”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bersabda, “Siapa yang akan taat kepada Allah ‘azza wa jalla jika aku bermaksiat kepada-Nya? Allah ‘azza wa jalla percaya kepadaku untuk menjadi utusan-Nya ke penduduk bumi, sementara kalian tidak percaya kepadaku?”

Orang itu pun pergi dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ مِنْ ضِئْضِئِ هَذَا قَوْمًا يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ يَقْتُلُونَ أَهْلَ الْإِسْلَامِ، وَيَدَعُونَ أَهْلَ الْأَوْثَانِ، يَمْرُقُونَ مِنَ الْإِسْلَامِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ، لَئِنْ أَدْرَكْتُهُمْ لَأَقْتُلَنَّهُمْ قَتْلَ عَاد.

“Sesungguhnya akan muncul dari cikal-bakal orang ini satu kaum yang membaca al-Qur’an tetapi tidak melampaui tenggorokannya. Mereka membunuh kaum muslimin dan membiarkan para penyembah berhala.

Mereka keluar meninggalkan agama Islam sebagaimana anak panah yang meninggalkan sasarannya. Jika aku mendapati mereka, niscaya aku akan membunuhnya seperti terbunuhnya kaum ‘Aad.” (HR. Muslim dalam Shahih-nya)

Dalam riwayat Muslim yang lainnya, “seperti terbunuhnya kaum Tsamud”.

An-Nawawi rahimahullah menerangkan bahwa makna ‘seperti terbunuhnya kaum ‘Aad’ adalah membunuh mereka secara massal hingga ke akar-akarnya.

Beliau juga berkata, “Dalam hadits ini, terdapat dalil anjuran memerangi mereka. Demikian pula dalil tentang keutamaan Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu yang memerangi mereka.” (Syarah Muslim, an-Nawawi, 7/162)

Ibnu Taimiyah rahimahullah juga menjelaskan hal yang sama, “Sungguh, kaum muslimin telah bersepakat tentang wajibnya memerangi kaum Khawarij dan Rafidhah dan yang semisal mereka, apabila mereka memisahkan diri dari jamaah (pemerintah) kaum muslimin, sebagaimana halnya Ali radhiallahu ‘anhu memerangi mereka.” (al-Fatawa al-Kubra, 3/ 548)

Hanya saja perlu diingat, yang berhak memerangi mereka adalah pemerintah kaum muslimin yang berkuasa di negeri tersebut.

 

ذَٰلِكَ لَهُمۡ خِزۡيٞ فِي ٱلدُّنۡيَاۖ وَلَهُمۡ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ ٣٣

Hal itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar.

Al-Baghawi rahimahullah berkata menjelaskan ayat ini, “Itulah yang aku sebutkan tentang hukum had. Mereka mendapat kehinaan, siksaan, dan kerendahan dalam kehidupan dunia; dan mereka mendapat azab yang pedih dalam kehidupan akhirat.”

Wallahul muwaffiq.

 

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Muawiyah Askari bin Jamal

Larangan Condong Kepada Orang Zalim

 

وَلَا تَرۡكَنُوٓاْ إِلَى ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ فَتَمَسَّكُمُ ٱلنَّارُ وَمَا لَكُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ مِنۡ أَوۡلِيَآءَ ثُمَّ لَا تُنصَرُونَ ١١٣

“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolong pun selain Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.” (Hud: 113)

 

Penjelasan Beberapa Mufradat Ayat

وَلَا تَرۡكَنُوٓاْ

“Dan janganlah kamu cenderung…”

Asalnya dari kata “rukun”, yang dalam bahasa Arab bermakna bersandar, merasa tenang, dan ridha terhadap sesuatu.

Qatadah rahimahullah berkata bahwa maknanya adalah, “Janganlah kalian mencintai dan menaati mereka.”

Ibnu Juraij rahimahullah berkata, “Janganlah kalian condong kepada mereka.”

Abul Aliyah rahimahullah berkata, “Janganlah kalian meridhai amalan-amalan mereka.”

Al-Qurthubi rahimahullah mengatakan, “Semua penafsiran ini memiliki makna yang berdekatan.”

 

إِلَى ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ

“…kepada orang-orang yang zalim…”

Ada beberapa penafsiran para ulama tentang makna orang-orang yang zalim yang dimaksud oleh ayat ini. Sebagian ulama berkata bahwa yang dimaksud adalah kaum musyrikin. Ada pula yang menyatakan bahwa ayat ini bersifat umum meliputi seluruh para pelaku maksiat, seperti halnya firman Allah ‘azza wa jalla,

وَإِذَا رَأَيۡتَ ٱلَّذِينَ يَخُوضُونَ فِيٓ ءَايَٰتِنَا فَأَعۡرِضۡ عَنۡهُمۡ حَتَّىٰ يَخُوضُواْ فِي حَدِيثٍ غَيۡرِهِۦۚ وَإِمَّا يُنسِيَنَّكَ ٱلشَّيۡطَٰنُ فَلَا تَقۡعُدۡ بَعۡدَ ٱلذِّكۡرَىٰ مَعَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلظَّٰلِمِينَ ٦٨

“Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, tinggalkanlah mereka hingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Jika setan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu).” (al-An’am: 68)

فَتَمَسَّكُمُ ٱلنَّارُ

“… yang menyebabkan kamu disentuh api neraka…”

Maksudnya, neraka akan membakarmu karena engkau bergaul dengan mereka dan menyetujui sikap berpalingnya mereka dari kebenaran.

 

Larangan Membantu Orang Zalim

Ayat Allah ‘azza wa jalla yang mulia ini melarang seorang muslim untuk turut membantu, menolong, dan menampakkan kecondongannya kepada orang-orang yang zalim atas kezaliman yang mereka perbuat.

Al-‘Allamah as-Sa’di rahimahullah menerangkan, “Jangan kalian condong kepada orang-orang yang zalim. Sebab, jika kalian condong kepada mereka, menyetujui kezaliman yang mereka lakukan, atau meridhai kezaliman yang mereka perbuat, kalian akan dibakar oleh api neraka.

“Jika melakukan hal tersebut, kalian tidak memiliki penolong selain Allah l yang dapat mencegah kalian dari azab Allah ‘azza wa jalla. Mereka tidak akan mampu menghasilkan untuk kalian pahala dari Allah ‘azza wa jalla, lalu kalian tidak akan diberi pertolongan. Maksudnya, tidak ada yang mampu menghalangi kalian dari azab apabila telah menimpa kalian.

“Jadi, ayat ini merupakan peringatan agar tidak condong kepada setiap orang zalim. Yang dimaksud تَرۡكَنُوٓاْ adalah kecondongan, bergabung dengan kezalimannya, menyepakatinya dalam hal tersebut, serta ridha dengan kezaliman yang diperbuat.

“Jika ini adalah ancaman bagi orang yang condong kepada orang-orang yang zalim, lantas bagaimana lagi keadaan orang-orang zalim itu sendiri? Kita memohon kepada Allah ‘azza wa jalla agar diselamatkan dari perbuatan zalim.” (Taisir al-Karim ar-Rahman)

 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Orang yang zalim tidak boleh sama sekali ditolong untuk melakukan kezaliman. Sebab, Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَتَعَاوَنُواْ عَلَى ٱلۡبِرِّ وَٱلتَّقۡوَىٰۖ وَلَا تَعَاوَنُواْ عَلَى ٱلۡإِثۡمِ وَٱلۡعُدۡوَٰنِۚ

        “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (al-Maidah: 2)

 

Firman-Nya,

          قَالَ رَبِّ بِمَآ أَنۡعَمۡتَ عَلَيَّ فَلَنۡ أَكُونَ ظَهِيرٗا لِّلۡمُجۡرِمِينَ ١٧

        Musa berkata, “Wahai Rabbku, demi nikmat yang telah Engkau anugerahkan kepadaku, aku sekali-kali tiada akan menjadi penolong bagi orang-orang yang berdosa.” (al-Qashash: 17)

 

Firman-Nya,

وَلَا تَرۡكَنُوٓاْ إِلَى ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ فَتَمَسَّكُمُ ٱلنَّارُ وَمَا لَكُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ مِنۡ أَوۡلِيَآءَ ثُمَّ لَا تُنصَرُونَ ١١٣

“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolong pun selain Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.” (Hud: 113)

 

Firman-Nya,

          مَّن يَشۡفَعۡ شَفَٰعَةً حَسَنَةٗ يَكُن لَّهُۥ نَصِيبٞ مِّنۡهَاۖ وَمَن يَشۡفَعۡ شَفَٰعَةٗ سَيِّئَةٗ يَكُن لَّهُۥ كِفۡلٞ مِّنۡهَاۗ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ مُّقِيتٗا ٨٥

        “Barang siapa memberi syafaat yang baik, niscaya ia akan memperoleh bagian (pahala) darinya. Dan barang siapa memberi syafaat yang buruk, niscaya ia akan memikul bagian (dosa) darinya. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (an-Nisa: 85)

 

“Makna asy-syafi’ adalah yang menolong. Jadi, siapa yang menolong seseorang untuk melakukan sesuatu, sungguh dia telah memberi syafaat kepadanya. Maka dari itu, siapa pun tidak boleh untuk dibantu, baik penguasa maupun yang lainnya, untuk melakukan apa yang diharamkan oleh Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya.

“Adapun seseorang yang memiliki perbuatan dosa, sementara dia sedang melakukan satu kebaikan, jika ia dibantu untuk melakukan satu kebaikan, ini tidaklah diharamkan. Ini sebagaimana halnya seorang pelaku dosa yang hendak menunaikan zakat, menunaikan ibadah haji, melunasi utang, hendak mengembalikan berbagai bentuk kezaliman yang dia lakukan (kepada pemiliknya), atau mewasiatkan kepada sebagian putrinya. Jika dia dibantu untuk melakukannya, ini merupakan bentuk memberi pertolongan di atas kebaikan dan takwa, bukan di atas dosa dan permusuhan.” (Minhajus Sunnah an-Nabawiyah, 6/117)

 

Penjelasan para ulama di atas menunjukkan bahwa orang-orang zalim yang dimaksud dalam ayat ini bersifat umum, mencakup siapa saja yang melakukan berbagai bentuk kemungkaran: perbuatan syirik, kekafiran, bid’ah dengan berbagai macamnya, serta kemungkaran lainnya. Termasuk pula segala bentuk kelompok kufur dan bid’ah, seperti komunis, liberalis, Syi’ah, Khawarij, dan lainnya. Demikian pula setiap ajaran yang menyimpang dari ajaran Islam dan akidahnya.

 

Setelah menyebut firman Allah ‘azza wa jalla,

          يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن تُطِيعُواْ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ يَرُدُّوكُمۡ عَلَىٰٓ أَعۡقَٰبِكُمۡ فَتَنقَلِبُواْ خَٰسِرِينَ ١٤٩

        “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menaati orang-orang yang kafir itu, niscaya mereka mengembalikan kamu ke belakang (kepada kekafiran), lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi.” (Ali ‘Imran: 149)

Al-‘Allamah Rabi’ bin Hadi hafizhahullah mengatakan, “Kami memperingatkan kaum muslimin agar tidak menaati orang-orang kafir dan mengikuti mereka. Sebab, orang-orang kafir berusaha menyebarkan kerusakan di negeri-negeri Islam. Di antaranya adalah kerusakan akidah, kerusakan dalam hal berhukum dengan selain apa yang diturunkan Allah ‘azza wa jalla, serta mengajak kaum muslimin untuk menyimpang dan berhukum dengan selain apa yang diturunkan Allah ‘azza wa jalla, berhukum dengan sistem demokrasi. Demikian pula berbagai kesesatan lain yang diserukan oleh musuh-musuh Islam, yang bertujuan untuk mengeluarkan kaum muslimin dari agama Islam, berpindah kepada keyakinan batil mereka.

“Kami memperingatkan kaum muslimin seluruhnya, baik penguasa maupun rakyat, agar tidak menaati musuh-musuh Allah ‘azza wa jalla, condong kepada mereka, dan mengikuti mereka dalam berbagai urusan.” (http://www.ajurry.com/vb/showthread.php?rahimahullah=35887)

 

Anjuran Memboikot Pelaku Maksiat

Al-Qurthubi rahimahullah berkata tentang ayat ini, “Pendapat inilah yang sahih tentang penjelasan makna ayat ini. Ayat ini menunjukkan tentang diboikotnya para pelaku kekufuran, kemaksiatan, ahli bid’ah, dan lainnya. Sebab, bersahabat dengan mereka merupakan kekufuran atau kemaksiatan karena persahabatan tidak mungkin terjadi kecuali didasari rasa saling cinta. Seorang yang bijak berkata,

        عَنِ الْمَرْءِ لَا تَسْأَلْ وَسَلْ عَنْ قَرِينِهِ، فَكُلُّ قَرِينٍ بِالْمُقَارَنِ يَقْتَدِي

“Jangan engkau bertanya tentang seseorang, namun bertanyalah tentang teman dekatnya. Sebab, setiap teman akan mengikuti siapa yang menjadi teman dekatnya.” (Tafsir al-Qurthubi)

 

Memberi peringatan, memboikot, dan tidak bermajelis dengan setiap orang yang mengikuti hawa nafsu, adalah bagian yang terpenting dalam Islam yang diperintahkan oleh Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَإِذَا رَأَيۡتَ ٱلَّذِينَ يَخُوضُونَ فِيٓ ءَايَٰتِنَا فَأَعۡرِضۡ عَنۡهُمۡ حَتَّىٰ يَخُوضُواْ فِي حَدِيثٍ غَيۡرِهِۦۚ وَإِمَّا يُنسِيَنَّكَ ٱلشَّيۡطَٰنُ فَلَا تَقۡعُدۡ بَعۡدَ ٱلذِّكۡرَىٰ مَعَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلظَّٰلِمِينَ ٦٨

“Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, tinggalkanlah mereka hingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Jika setan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu).” (al-An’am: 68)

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata menjelaskan ayat ini, “Yang dimaksud ayat ini adalah setiap individu dari kalangan umat ini tidak boleh duduk bersama dengan orang-orang yang mendustakan, yang melakukan perubahan atas ayat-ayat Allah ‘azza wa jalla dan meletakkannya tidak pada tempat yang sebenarnya. Jika duduk bersama mereka karena lupa, jangan sekali-kali engkau duduk bersama mereka setelah mengingatnya.” (Tafsir Ibnu Katsir)

 

Demikian pula firman-Nya,

          وَقَدۡ نَزَّلَ عَلَيۡكُمۡ فِي ٱلۡكِتَٰبِ أَنۡ إِذَا سَمِعۡتُمۡ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ يُكۡفَرُ بِهَا وَيُسۡتَهۡزَأُ بِهَا فَلَا تَقۡعُدُواْ مَعَهُمۡ حَتَّىٰ يَخُوضُواْ فِي حَدِيثٍ غَيۡرِهِۦٓ إِنَّكُمۡ إِذٗا مِّثۡلُهُمۡۗ إِنَّ ٱللَّهَ جَامِعُ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ وَٱلۡكَٰفِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعًا ١٤٠

        “Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam al-Qur’an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), janganlah kamu duduk beserta mereka, hingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Sebab, sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahanam.” (an-Nisa: 140)

 

Demikian pula firman Allah ‘azza wa jalla,

هُوَ ٱلَّذِيٓ أَنزَلَ عَلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ مِنۡهُ ءَايَٰتٞ مُّحۡكَمَٰتٌ هُنَّ أُمُّ ٱلۡكِتَٰبِ وَأُخَرُ مُتَشَٰبِهَٰتٞۖ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمۡ زَيۡغٞ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَٰبَهَ مِنۡهُ ٱبۡتِغَآءَ ٱلۡفِتۡنَةِ وَٱبۡتِغَآءَ تَأۡوِيلِهِۦۖ وَمَا يَعۡلَمُ تَأۡوِيلَهُۥٓ إِلَّا ٱللَّهُۗ وَٱلرَّٰسِخُونَ فِي ٱلۡعِلۡمِ يَقُولُونَ ءَامَنَّا بِهِۦ كُلّٞ مِّنۡ عِندِ رَبِّنَاۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّآ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ ٧

        Dia-lah yang menurunkan al-Kitab (al-Qur’an) kepadamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok isi al-Qur’an, dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya selain Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata, “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari Rabb kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (darinya) melainkan orang-orang yang berakal. (Ali Imran: 7)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda setelah membaca ayat ini,

        إِذَا رَأَيْتُمُ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ، فَأُولَئِكَ الَّذِينَ سَمَّى اللهُ فَاحْذَرُوهُمْ

“Apabila kalian melihat orang-orang yang mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat tersebut, mereka itulah orang-orang yang Allah ‘azza wa jalla sebutkan. Karena itu, berhati-hatilah kalian dari mereka.” (Muttafaqun ‘alaih dari hadits Aisyah radhiallahu ‘anha)

 

Jika kita memerhatikan zaman kita ini, begitu banyak manusia yang muncul dan membawa berbagai pemikiran yang menyimpang dari syariat Allah ‘azza wa jalla. Pemikiran-pemikiran tersebut sangat bertentangan dengan prinsip-prinsip kebenaran Islam yang disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umat.

Ada yang membawa paham komunis, yang hakikat inti ajarannya adalah pengingkaran terhadap adanya Allah ‘azza wa jalla sebagai pencipta alam semesta, apalagi menjadikannya sebagai sesembahan satu-satunya. Ideologi ini merupakan bentuk pengingkaran terhadap rububiyah Allah ‘azza wa jalla.

Ada pula yang membawa paham liberal terlaknat. Dengan bendera “Islam liberal”, mereka berhasil menyusup ke dalam tubuh umat Islam dan memengaruhi sekian banyak kaum muslimin yang jahil dan tidak mengerti prinsip-prinsip Islam yang diajarkan oleh Allah ‘azza wa jalla dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka pun jatuh ke dalam kubangan kekafiran dalam keadaan mereka masih merasa sebagai seorang muslim.

 

Perhatikanlah apa yang diucapkan oleh seorang tokoh liberal yang bernama Ahmad Wahib. Dalam salah satu makalahnya, dia berkata, “Aku bukan nasionalis, bukan Katolik, bukan sosialis. Aku bukan Budha, bukan Protestan, bukan westernis. Aku bukan komunis. Aku bukan humanis. Aku adalah semuanya. Mudah-mudahan inilah yang disebut muslim. Aku ingin orang memandang dan menilaiku sebagai suatu kemutlakan (absolute entity) tanpa menghubung-hubungkan dari kelompok mana aku termasuk serta dari aliran mana saya berangkat.” (Pergolakan Pemikiran Islam: Catatan Harian Ahmad Wahib)

Perhatikanlah ucapan jahat nan kufur yang keluar dari tulisan seorang liberalis ini. Dia hendak menyamakan Islam dengan seluruh keyakinan kufur dan syirik. Tidak tersisa satu keyakinan pun di muka bumi ini kecuali semua dianggap benar oleh mereka. Tidak ada syirik, tidak ada kekufuran, tidak ada penyimpangan; semua adalah benar, semuanya adalah sama.

 

Tidak kalah jahatnya, tokoh liberal lain yang bernama Abdul Munir Mulkhan, berkata, “Jika semua agama memang benar sendiri, penting diyakini bahwa surga Tuhan yang satu itu sendiri terdiri dari banyak pintu dan kamar. Tiap pintu adalah jalan pemeluk tiap agama memasuki kamar surganya. Syarat memasuki surga ialah keikhlasan pembebasan manusia dari kelaparan, penderitaan, kekerasan, dan ketakutan, tanpa melihat agamanya. Inilah jalan universal surga bagi semua agama. Dari sini, kerja sama dan dialog pemeluk berbeda agama jadi mungkin.” (Abdul Munir Mulkhan, dari buku Ajaran dan Jalan Kematian Syekh Siti Jenar)

 

Demikian pula yang disebutkan oleh Sumanto al-Qurtuby, tatkala menjawab pertanyaan, “Agama manakah yang benar?”

Dia berkata dengan pandangan akalnya yang bodoh, “Jika kelak di akhirat, pertanyaan di atas diajukan kepada Tuhan, mungkin Dia hanya tersenyum simpul. Sambil menunjukkan surga-Nya Yang Mahaluas, di sana ternyata telah menunggu banyak orang, antara lain Jesus, Muhammad, sahabat Umar, Gandhi, Luther, Abu Nawas, Romo Mangun, Bunda Teresa, Udin, Baharudin Lopa, dan Munir!” (Sumanto al-Qurtuby, dari buku Lubang Hitam Agama)

 

Beberapa ucapan ini hanyalah sedikit dari sekian banyak pernyataan kekafiran yang diucapkan oleh tokoh-tokoh liberal. Pernyataan-pernyataan tersebut hakikatnya mengajak manusia untuk berlomba-lomba memasuki pintu-pintu kekafiran dan kemurtadan. Wal ‘iyadzu billah (kita berlindung kepada Allah).

Sudah sepantasnya kaum muslimin mewaspadai dari berbagai pemahaman dan pemikiran yang dapat merobohkan fondasi-fondasi agamanya. Sikap waspada tersebut direalisasikan dengan cara menjauhkan diri, berpaling sejauh-jauhnya, dan tidak mengikuti orang-orang yang zalim yang mengajak kepada kesesatan.

 

Diriwayatkan dari Imran bin Hushain radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

        مَنْ سَمِعَ بِالدَّجَّالِ فَلْيَنْأَ عَنْهُ، فَوَاللهِ، إِنَّ الرَّجُلَ لَيَأْتِيهِ وَهُوَ يَحْسِبُ أَنَّهُ مُؤْمِنٌ فَيَتَّبِعُهُ، مِمَّا يَبْعَثُ بِهِ مِنَ الشُّبُهَاتِ

“Barang siapa mendengar tentang Dajjal, hendaknya dia segera menjauh darinya. Demi Allah, sesungguhnya seorang lelaki mendatanginya dalam keadaan menyangka bahwa dirinya aman hingga dia mengikutinya, karena berbagai syubhat yang dia sampaikan.” (HR. Abu Dawud dengan sanad yang sahih)

Al-‘Allamah Abdul Muhsin al-Abbad y mengatakan, “Dari hadits ini dipetik faidah: menjauhkan diri dari ahli bid’ah dan bermajelis dengan mereka, karena mereka adalah para dajjal dan karena khawatir dari berbagai syubhat mereka. Seseorang yang tidak memiliki ilmu mudah terpengaruh—kecuali yang dirahmati oleh Allah ‘azza wa jalla—oleh kefasihan dan keindahan bahasa mereka. Oleh karena itu, menjauhkan diri dari mereka merupakan hal yang dituntut.” (Syarah Abu Dawud)

Al-‘Allamah Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Tidak ada cara yang lebih ampuh untuk membantu seseorang agar terbebas dari kejahatan, selain menjauhkan diri dari sebab-sebabnya. Ini merupakan perbuatan setan yang sangat tersamarkan. Tidak akan selamat darinya selain orang yang cerdik. Setan memperlihatkan beberapa kebaikan pada jalan kejahatan tersebut, dan mengajaknya untuk meraih kebaikan tersebut. Tatkala orang itu telah mendekat, setan segera menjerumuskannya ke dalam jeratannya.” (‘Uddatus Shabirin, Ibnul Qayyim hlm. 63)

Semoga Allah ‘azza wa jalla menyelamatkan kita dari berbagai keburukan dan kesesatan. Wallahul Muwaffiq.

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal

Apakah Pencipta Itu Ada?

أَمۡ خُلِقُواْ مِنۡ غَيۡرِ شَيۡءٍ أَمۡ هُمُ ٱلۡخَٰلِقُونَ ٣٥  أَمۡ خَلَقُواْ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَۚ بَل لَّا يُوقِنُونَ ٣٦

 “Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? Sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan).” (ath-Thur: 35—36)

 Ayat yang Menggetarkan Hati

Al-Imam al-Bukhari rahimahullah meriwayatkan dalam Shahih-nya dari hadits Jubair bin Muth’im radhiallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca Surat Thur dalam shalat maghrib. Tatkala sampai pada firman-Nya,

أَمۡ خُلِقُواْ مِنۡ غَيۡرِ شَيۡءٍ أَمۡ هُمُ ٱلۡخَٰلِقُونَ ٣٥ أَمۡ خَلَقُواْ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَۚ بَل لَّا يُوقِنُونَ ٣٦ أَمۡ عِندَهُمۡ خَزَآئِنُ رَبِّكَ أَمۡ هُمُ ٱلۡمُصَۜيۡطِرُونَ ٣٧

“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? Sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan). Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Rabbmu atau merekakah yang berkuasa?” (ath-Thur: 35—36)

Jubair berkata, “Hampir saja hatiku melayang (karena tercengang mendengar hujah yang sangat kokoh dalam ayat ini).” (HR. al-Bukhari 6/4854)

Dalam riwayat lain pada Shahih al-Bukhari, Jubair radhiallahu ‘anhu berkata, “Itu merupakan pertama kali iman menetap dalam hatiku.”

As-Sindi rahimahullah menjelaskan makna ‘hampir saja hatiku melayang’, “Karena begitu jelasnya kebenaran dan begitu terangnya kebatilan sesuatu yang batil.” (Hasyiah as-Sindi ala Sunan Ibni Majah, 1/275)

Tafsir Ayat

أَمۡ خُلِقُواْ مِنۡ غَيۡرِ شَيۡءٍ

“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun….”

Ada beberapa penafsiran para ulama tentang ayat ini.

  1. Maksudnya, “apakah mereka diciptakan tanpa ada Rabb yang menciptakan?”

Tafsiran ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma. Beliau berkata, “Diciptakan tanpa Rabb yang menciptakannya.”

  1. Maknanya, “Apakah mereka diciptakan tanpa ayah dan ibu sehingga mereka seperti benda-benda yang tidak berakal?”

Penafsiran ini dinyatakan kuat oleh ath-Thabari rahimahullah dalam Tafsir-nya.

  1. Maknanya, “Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu seperti halnya langit dan bumi?”

Maksudnya, manusia tidaklah lebih susah penciptaannya daripada langit dan bumi. Sebab, langit dan bumi diciptakan tanpa sesuatu sebelumnya, sementara manusia diciptakan dari Adam, dan Adam alaihissalam dari tanah.

  1. Maknanya, “Apakah mereka diciptakan bukan untuk sesuatu?” Kataمِنۡ di sini bermakna lam. Jadi, maksudnya, mereka tidaklah diciptakan dalam keadaan sia-sia tanpa ada perintah dan larangan. (Zadul Masir, Ibnul Jauzi)

Kebanyakan ulama menafsirkan dengan penafsiran yang pertama.

Al-Allamah as-Sa’di rahimahullah berkata, “Ayat ini merupakan hujah yang membantah mereka dengan sesuatu yang tidak ada kemungkinan selain harus menerima kebenaran atau keluar dari akal sehat dan agama.

Penjelasannya, orang-orang yang mengingkari tauhid dalam hal ibadah kepada Allah ‘azza wa jalla dan mendustakan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam berkonsekuensi mereka mengingkari bahwa Allah ‘azza wa jalla adalah yang menciptakan mereka. Padahal akal menetapkan bahwa segala sesuatu yang berwujud ini tidaklah terlepas dari tiga kemungkinan:

1) Mereka diciptakan tanpa ada sesuatu, maksudnya tanpa ada pencipta yang menciptakan mereka. Mereka berwujud tanpa diwujudkan dan tanpa ada yang mewujudkannya. Ini hal yang mustahil.

2) Atau mereka mewujudkan diri mereka sendiri. Ini juga mustahil karena tidak bisa dibayangkan ada sesuatu yang mewujudkan dirinya sendiri.

Jika dua kemungkinan di atas batil dan mustahil, tidak ada kemungkinan lain kecuali:

3) Allah ‘azza wa jalla yang menciptakan mereka.

Jika ini telah pasti, diketahuilah bahwa Allah ‘azza wa jalla semata yang berhak untuk disembah. Tidak sepantasnya, bahkan tidak boleh, suatu ibadah diserahkan kecuali hanya kepada Allah ‘azza wa jalla semata.” (Taisiral Karimir Rahman)

Ath-Thabari rahimahullah menjelaskan makna ayat di atas, “Apakah orang-orang musyrik itu diciptakan tanpa sesuatu, yakni tanpa ayah dan ibu, sehingga mereka seperti benda-benda lainnya yang tidak berakal dan tidak memahami hujah Allah ‘azza wa jalla, tidak dapat mengambil pelajaran, dan tidak bisa memetik sebuah nasihat?” (Tafsir ath-Thabari, 22/481)

Demikian pula yang disebutkan oleh asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah, “Seorang manusia tidak mungkin menciptakan dirinya sendiri. Sebab, sebelum memiliki wujud, dia tidak ada. Tidak ada adalah bukan sesuatu, dan apa yang bukan sesuatu tidak mungkin mewujudkan sesuatu.

Ayahnya tidaklah menciptakannya, tidak pula ibunya, tidak pula seorang makhluk pun. Tidak mungkin pula dia muncul secara tiba-tiba tanpa ada yang mewujudkan. Sebab, setiap yang ada permulaan wujudnya, ada yang mewujudkannya.

Adanya wujud seluruh makhluk yang teratur dan sepadan, saling melengkapi, menjadikan tidak mungkin hal tersebut terjadi secara spontan dan tiba-tiba. Sebab, sesuatu yang terjadi secara spontan, tidaklah beraturan pada asal wujudnya. Bagaimana mungkin bisa tetap teratur dan tersusun rapi dalam perjalanan dan perkembangannya?!

Maka dari itu, sudah pasti bahwa Allah ‘azza wa jalla Dialah satu-satu-Nya pencipta. Tidak ada pencipta dan tidak ada yang menetapkan satu urusan pun selain Allah ‘azza wa jalla. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

أَلَا لَهُ ٱلۡخَلۡقُ وَٱلۡأَمۡرُۗ تَبَارَكَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ٥٤

“Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Mahasuci Allah, Rabb semesta alam.” (al-A’raf: 54)

Tidak diketahui ada seorang makhluk pun yang mengingkari rububiyah Allah ‘azza wa jalla, kecuali karena kesombongannya, seperti yang terjadi pada Fir’aun.” (Syarah al-Ushul ats-Tsalatsah hlm. 29)

Tiga pembagian yang disebutkan dalam ayat ini dikenal dalam istilah ushul dengan sebutan as-sabr wat-taqsim, yaitu menyebutkan kemungkinan-kemungkinan terjadinya sesuatu karena suatu hal, lalu menyebutkan kebatilan berbagai kemungkinan itu dan menetapkan satu kebenaran yang pasti.

Hal ini diterangkan oleh al-Allamah Muhammad al-Amin asy-Syinqithi rahimahullah dalam Adhwaul Bayan. Beliau rahimahullah berkata, “Seakan-akan Allah ‘azza wa jalla menjelaskan bahwa keadaan ini tidak terlepas dari salah satu di antara tiga keadaan berdasarkan pembagian yang sahih:

1) Mereka diciptakan tanpa sesuatu, yaitu tanpa ada yang menciptakannya sama sekali.

2) Mereka menciptakan diri mereka sendiri

3) Ada Pencipta yang menciptakan mereka selain mereka sendiri.

Tidak diragukan lagi bahwa dua poin yang pertama adalah batil. Kebatilannya merupakan hal yang pasti sebagaimana yang disaksikan. Karena itu, tidak perlu ditegakkan hujah untuk menjelaskan kebatilannya karena begitu jelasnya kebatilan tersebut. Poin yang ketiga adalah kebenaran yang tidak diragukan bahwa Dialah Allah ‘azza wa jalla yang menciptakan mereka, satu-satu-Nya yang berhak mereka ibadahi.” (Adhwaul Bayan 3/493)

 Wujud Allah, Sesuatu yang Pasti

Beriman kepada adanya Allah ‘azza wa jalla adalah kepastian yang tidak dapat diingkari, baik secara akal, pancaindra, fitrah, dan terlebih lagi berdasarkan tanda-tanda yang bersifat kauniyah (alam) dan syar’iyah (ayat-ayat Allah ‘azza wa jalla).

Adapun secara akal, tidak mungkin ada sesuatu yang terjadi tanpa ada pencipta yang menciptakannya terlebih ketika kejadian tersebut muncul dengan sangat teratur dan berjalan dengan begitu rapi. Ini merupakan kepastian yang diyakini tanpa harus dipelajari.

Seorang yang berasal dari suku Badui ditanya, “Dengan apa engkau mengetahui Rabbmu?”

Ia menjawab, “Jejak menunjukkan bekas perjalanan. Kotoran unta menunjukkan adanya unta. Maka dari itu, langit yang berbintang, bumi yang memiliki jalan, lautan yang berombak, bukankah itu menunjukkan adanya Maha Mendengar dan Maha Melihat?”

Dikisahkan, ada sekelompok orang dari firqah (sekte) Sumaniyah (salah satu kelompok pengingkar adanya Rabb) mendatangi Abu Hanifah rahimahullah. Mereka berasal dari India. Mereka mendebat Abu Hanifah tentang Sang Pencipta, yaitu Allah ‘azza wa jalla. Abu Hanifah menjanjikan mereka untuk datang kembali setelah sehari atau dua hari.

Mereka pun datang pada hari yang ditentukan. Mereka berkata, “Apa yang hendak engkau katakan?”

Abu Hanifah berkata, “Saya sedang memikirkan sebuah kapal yang penuh barang dan berbagai rezeki. Ia datang membelah gelombang hingga tiba di sebuah pelabuhan. Lalu barang-barang itu turun dan kapal pun pergi. Kapal ini tidak memiliki nakhoda, tidak pula buruh.”

Mereka berkata, “Engkau berpikir demikian?”

Abu Hanifah menjawab, “Ya.”

Mereka berkata, “Berarti engkau tidak punya akal. Apakah masuk akal, ada sebuah kapal yang datang tanpa nakhoda, lalu barang-barang turun sendiri dan kapal pun pergi? Ini tidak masuk akal.”

Abu Hanifah pun berkata kepada mereka, “Bagaimana bisa kalian menganggap itu tidak masuk akal, sedangkan kalian menganggap masuk akal bahwa langit, bumi, matahari, bulan, bintang-bintang, pegunungan, pepohonan, hewan, dan manusia, semuanya ada tanpa pencipta?!”

Akhirnya mereka sadar bahwa Abu Hanifah sedang mendebat mereka dengan apa yang mereka ketahui. Mereka tidak mampu menemukan jawabannya.

Adapun secara pancaindra, ditetapkan bahwa Allah ‘azza wa jalla itu ada dari dua sisi:

1) Kita mendengar berita tentang terkabulnya doa manusia dan pertolongan terhadap orang-orang yang mengalami kesulitan.

Ini jelas menunjukkan adanya Allah ‘azza wa jalla. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَنُوحًا إِذۡ نَادَىٰ مِن قَبۡلُ فَٱسۡتَجَبۡنَا لَهُۥ فَنَجَّيۡنَٰهُ وَأَهۡلَهُۥ مِنَ ٱلۡكَرۡبِ ٱلۡعَظِيمِ ٧٦

“Dan (ingatlah kisah) Nuh, sebelum itu ketika dia berdoa, dan Kami memperkenankan doanya, lalu Kami selamatkan dia beserta pengikutnya dari bencana yang besar.” (al-Anbiya: 76)

Demikian pula firman-Nya,

إِذۡ تَسۡتَغِيثُونَ رَبَّكُمۡ فَٱسۡتَجَابَ لَكُمۡ أَنِّي مُمِدُّكُم بِأَلۡفٖ مِّنَ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ مُرۡدِفِينَ ٩

(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Rabbmu, lalu dikabulkan-Nya bagimu, “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.” (al-Anfal: 9)

Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari hadits Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu bahwa seorang lelaki masuk ke dalam masjid pada hari Jum’at saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berdiri berkhutbah. Lelaki itu menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sambil berdiri dan berkata, “Wahai Rasulullah, telah binasa harta (hewan ternak) dan perjalanan terhenti (karena lemahnya hewan tunggangan). Berdoalah kepada Allah ‘azza wa jalla agar menurunkan hujan kepada kami.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu mengangkat kedua tangannya dan berdoa, “Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami.”

Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata, “Demi Allah, kami tidak melihat ada kumpulan awan tebal maupun tipis di langit. Tiada penghalang antara kami dan Bukit Sala’, baik rumah maupun bangunan. Tibatiba, dari arah belakang bukit tersebut muncul sekumpulan awan yang berbentuk seperti perisai (bulat), Awan tersebut menuju ke arah tengah lalu menyebar dan segera menurunkan hujan. Demi Allah, kami tidak pernah menyaksikan matahari selama enam hari.

Jum’at berikutnya, seorang lelaki masuk dari pintu masjid tersebut saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berdiri berkhutbah. Lelaki tersebut mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sambil berdiri lalu berkata, “Wahai Rasulullah, telah binasa hewan ternak (disebabkan banyaknya air dan sulitnya memelihara hewan tersebut) dan perjalanan terhenti (karena sulitnya menempuh perjalanan yang dipenuhi air, -pen.). Berdoalah kepada Allah agar menahan hujan tersebut dari wilayah kami.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya lalu berdoa, “Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami dan bukan di atas kami. Ya Allah, turunkanlah hujan di atas perbukitan, pegunungan, di lembah-lembah, serta tempat-tempat tumbuhnya pepohonan.”

Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata, “Hujan tiba-tiba berhenti. Kami pun keluar di tengah terik matahari.” (Muttafaq ‘alaihi)

Manusia masih terus merasakan terkabulnya doa tatkala mereka berdoa kepada Allah ‘azza wa jalla. Semua ini menunjukkan bahwa Dia benar-benar ada.

 2) Tanda-tanda kekuasaan Allah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diperlihatkan melalui kebenaran para rasul-Nya yang disebut mukjizat

Mukjizat para rasul disaksikan dan didengarkan oleh manusia. Mukjizat adalah urusan yang di luar kemampuan manusia. Mukjizat tersebut adalah bagian dari kekuasaan Allah ‘azza wa jalla yang menguatkan para rasul-Nya.

Misalnya, mukjizat yang Allah ‘azza wa jalla berikan kepada Nabi Musa ‘alaihissalam saat diperintah untuk memukulkan tongkatnya ke lautan yang menyebabkan terbelahnya lautan tersebut dan membentuk dua belas jalan. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

فَأَوۡحَيۡنَآ إِلَىٰ مُوسَىٰٓ أَنِ ٱضۡرِب بِّعَصَاكَ ٱلۡبَحۡرَۖ فَٱنفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرۡقٖ كَٱلطَّوۡدِ ٱلۡعَظِيمِ ٦٣

Lalu Kami wahyukan kepada Musa, “Pukullah lautan itu dengan tongkatmu.” Terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan seperti gunung yang besar. (asy-Syu’ara: 63)

Contoh yang kedua, mukjizat yang Allah ‘azza wa jalla berikan kepada Nabi Isa ‘alaihissalam. Beliau ‘alaihissalam diberi kemampuan menghidupkan orang yang telah mati dan mengeluarkan mereka dari kuburnya, dengan izin Allah ‘azza wa jalla. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَرَسُولًا إِلَىٰ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ أَنِّي قَدۡ جِئۡتُكُم بِ‍َٔايَةٖ مِّن رَّبِّكُمۡ أَنِّيٓ أَخۡلُقُ لَكُم مِّنَ ٱلطِّينِ كَهَيۡ‍َٔةِ ٱلطَّيۡرِ فَأَنفُخُ فِيهِ فَيَكُونُ طَيۡرَۢا بِإِذۡنِ ٱللَّهِۖ وَأُبۡرِئُ ٱلۡأَكۡمَهَ وَٱلۡأَبۡرَصَ وَأُحۡيِ ٱلۡمَوۡتَىٰ بِإِذۡنِ ٱللَّهِۖ وَأُنَبِّئُكُم بِمَا تَأۡكُلُونَ وَمَا تَدَّخِرُونَ فِي بُيُوتِكُمۡۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَةٗ لَّكُمۡ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ٤٩

Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israil (yang berkata kepada mereka),  “Sesungguhnya aku telah datang kepadamu membawa sesuatu tanda (mukjizat) dari Rabbmu, yaitu aku membuat untukmu dari tanah berbentuk burung kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan izin Allah; aku menyembuhkan orang yang buta sejak lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; aku menghidupkan orang mati dengan izin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada hal itu ada tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh-sungguh beriman.” (Ali Imran: 49)

Firman-Nya,

إِذۡ قَالَ ٱللَّهُ يَٰعِيسَى ٱبۡنَ مَرۡيَمَ ٱذۡكُرۡ نِعۡمَتِي عَلَيۡكَ وَعَلَىٰ وَٰلِدَتِكَ إِذۡ أَيَّدتُّكَ بِرُوحِ ٱلۡقُدُسِ تُكَلِّمُ ٱلنَّاسَ فِي ٱلۡمَهۡدِ وَكَهۡلٗاۖ وَإِذۡ عَلَّمۡتُكَ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ وَٱلتَّوۡرَىٰةَ وَٱلۡإِنجِيلَۖ وَإِذۡ تَخۡلُقُ مِنَ ٱلطِّينِ كَهَيۡ‍َٔةِ ٱلطَّيۡرِ بِإِذۡنِي فَتَنفُخُ فِيهَا فَتَكُونُ طَيۡرَۢا بِإِذۡنِيۖ وَتُبۡرِئُ ٱلۡأَكۡمَهَ وَٱلۡأَبۡرَصَ بِإِذۡنِيۖ وَإِذۡ تُخۡرِجُ ٱلۡمَوۡتَىٰ بِإِذۡنِيۖ وَإِذۡ كَفَفۡتُ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ عَنكَ إِذۡ جِئۡتَهُم بِٱلۡبَيِّنَٰتِ فَقَالَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۡهُمۡ إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا سِحۡرٞ مُّبِينٞ ١١٠

(Ingatlah), ketika Allah mengatakan, “Hai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu waktu Aku menguatkanmu dengan ruhul qudus. Kamu dapat berbicara dengan manusia sewaktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa; dan (ingatlah) waktu Aku mengajarimu menulis, hikmah, Taurat dan Injil, dan (ingatlah pula) waktu kamu membentuk dari tanah (suatu bentuk) yang berupa burung dengan izin-Ku, kemudian kamu meniup padanya, lalu bentuk itu menjadi burung (yang sebenarnya) dengan izin-Ku. Dan (ingatlah), waktu kamu menyembuhkan orang yang buta sejak dalam kandungan ibu dan orang yang berpenyakit sopak dengan izin-Ku, dan (ingatlah) waktu kamu mengeluarkan orang mati dari kubur (menjadi hidup) dengan izin-Ku, dan (ingatlah) waktu Aku menghalangi Bani Israil (dari keinginan mereka membunuhmu) di kala kamu mengemukakan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir di antara mereka berkata, ‘Ini tidak lain melainkan sihir yang nyata’.” (al-Maidah: 110)

Demikian pula mukjizat yang Allah ‘azza wa jalla tampakkan kepada Rasul-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala kaum Quraisy meminta beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menampakkan tanda kebenaran wahyu Allah l yang beliau bawa. Beliau pun mengisyaratkan ke bulan, lalu bulan tersebut terbelah menjadi dua. Manusia melihat kejadian yang menakjubkan tersebut. Allah ‘azza wa jalla menjelaskan dalam firman-Nya,

ٱقۡتَرَبَتِ ٱلسَّاعَةُ وَٱنشَقَّ ٱلۡقَمَرُ ١  وَإِن يَرَوۡاْ ءَايَةٗ يُعۡرِضُواْ وَيَقُولُواْ سِحۡرٞ مُّسۡتَمِرّٞ ٢

Telah dekat (datangnya) saat itu dan telah terbelah bulan. Dan jika mereka  (orang-orang musyrikin) melihat sesuatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata, “(Ini adalah) sihir yang terus menerus.” (al-Qamar: 1—2)

Masih banyak mukjizat para rasul yang lain yang di luar kemampuan manusia. Semua itu menunjukkan bahwa Allah ‘azza wa jalla itu ada dan senantiasa memberi pertolongan kepada para rasul-Nya.

Secara fitrah, yang menunjukkan adanya Allah ‘azza wa jalla ialah bahwa fitrah setiap hamba meyakini adanya pencipta, tanpa harus berfikir secara mendalam dan waktu yang lama. Tidak ada seorang pun yang keluar dari fitrah ini kecuali yang fitrahnya telah dirusak oleh berbagai pemikiran sesat dan menyimpang.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ، أَوْ يُنَصِّرَانِهِ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ، كَمَثَلِ البَهِيمَةِ تُنْتِجُ البَهِيمَةَ هَلْ تَرَى فِيهَا جَدْعَاءَ

“Setiap anak dilahirkan di atas fitrah. Kedua orang tuanya yang menyebabkan dia menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Seperti halnya hewan melahirkan seekor hewan, apakah engkau melihat telinganya terpotong?” (Muttafaq ‘alaihi)

Semua bukti dan petunjuk ini merupakan hujah pasti yang menunjukkan bahwa Allah ‘azza wa jalla itu ada, Dzat yang menciptakan segala yang ada di jagad raya ini, dan Dia sajalah yang berhak untuk disembah. Tiada sesembahan yang berhak disembah selain Dia semata. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَمِنۡ ءَايَٰتِهِ ٱلَّيۡلُ وَٱلنَّهَارُ وَٱلشَّمۡسُ وَٱلۡقَمَرُۚ لَا تَسۡجُدُواْ لِلشَّمۡسِ وَلَا لِلۡقَمَرِ وَٱسۡجُدُواْۤ لِلَّهِۤ ٱلَّذِي خَلَقَهُنَّ إِن كُنتُمۡ إِيَّاهُ تَعۡبُدُونَ ٣٧

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah kalian bersujud kepada matahari dan janganlah (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah Yang menciptakannya, jika kalian hanya menyembah kepada-Nya.” (Fushshilat: 37)

Wallahul Muwaffiq.

 Ditulis oleh al-Ustadz Abu Muawiyah Askari bin Jamal

Rasul Itu Manusia, Bukan Malaikat

وَمَآ أَرۡسَلۡنَا قَبۡلَكَ إِلَّا رِجَالٗا نُّوحِيٓ إِلَيۡهِمۡۖ فَسۡ‍َٔلُوٓاْ أَهۡلَ ٱلذِّكۡرِ إِن كُنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ ٧

Kami tiada mengutus rasul-rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka. Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui.(al-Anbiya’: 7)

Ayat yang serupa terdapat dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala surat an-Nahl: 43.

Asy-Syinqithi rahimahullah berkata bahwa pada kata نُّوحِيٓ mayoritas qurra’ (ulama ahli qiraah) membaca يُوحَى dengan ya’ dan menfathah huruf ha’.

Sementara itu, Hafsh bin Ashim menyendiri dalam membaca نُوحِي dengan nun dan mengkasrah huruf ha’. Demikian pula ayat yang terdapat pada surat an-Nahl: 43, akhir surat Yusuf: 109, dan awal surat al-Anbiya: 7, semua ayat di atas oleh Hafsh bin Ashim dibaca نُوحِي dengan nun dan mengkasrah ya’. Adapun yang lain membacanya يُوحَى dengan ya’ dan menfathah ha’.

Adapun pada surat al-Anbiya’: 25, ulama ahli qiraah seperti Hamzah, al-Kisa’i, dan Hafsh membaca نُوحِي dengan nun dan mengkasrah ha’, dan yang lain membaca يُوحَى dengan ya’ dan menfathah ha’.

Pada ayat yang mulia ini, Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan bahwa Dia tidaklah mengutus para rasul sebelum Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali dari kaum laki-laki (dari kalangan manusia), dan bukan malaikat.

Orang-orang kafir sangat heran dengan rasul utusan Allah subhanahu wa ta’ala yang berasal dari jenis manusia. Menurut mereka, Allah subhanahu wa ta’ala seharusnya lebih mampu daripada sekadar mengutus utusan dari jenis manusia yang memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. Seandainya benar-benar mengutus utusan, Dia pasti akan mengutus dari kalangan malaikat.

Ucapan orang-orang kafir ini disebutkan dalam banyak ayat al-Qur’an. Di antaranya,

أَكَانَ لِلنَّاسِ عَجَبًا أَنۡ أَوۡحَيۡنَآ إِلَىٰ رَجُلٖ مِّنۡهُمۡ

Patutkah menjadi keheranan bagi manusia bahwa Kami mewahyukan kepada seorang laki-laki di antara mereka?(Yunus: 2)

 بَلۡ عَجِبُوٓاْ أَن جَآءَهُم مُّنذِرٞ مِّنۡهُمۡ

(Mereka tidak menerimanya) bahkan mereka tercengang karena telah datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dari (kalangan) mereka sendiri.(Qaf: 2)

وَقَالُواْ مَالِ هَٰذَا ٱلرَّسُولِ يَأۡكُلُ ٱلطَّعَامَ وَيَمۡشِي فِي ٱلۡأَسۡوَاقِ

Dan mereka berkata, “Mengapa rasul ini memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar?(al-Furqan: 7)

وَمَا مَنَعَ ٱلنَّاسَ أَن يُؤۡمِنُوٓاْ إِذۡ جَآءَهُمُ ٱلۡهُدَىٰٓ إِلَّآ أَن قَالُوٓاْ أَبَعَثَ ٱللَّهُ بَشَرٗا رَّسُولٗا ٩٤

Dan tidak ada sesuatu yang menghalangi manusia untuk beriman tatkala datang petunjuk kepadanya, kecuali perkataan mereka, ”Adakah Allah mengutus seorang manusia menjadi rasul.(al-Isra’: 94)

فَقَالُوٓاْ أَبَشَرٗا مِّنَّا وَٰحِدٗا نَّتَّبِعُهُۥٓ إِنَّآ إِذٗا لَّفِي ضَلَٰلٖ وَسُعُرٍ ٢٤

Maka mereka berkata, “Bagaimana kita akan mengikuti saja seorang manusia (biasa) di antara kita?” (al-Qamar: 24)

فَقَالَ ٱلۡمَلَؤُاْ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِن قَوۡمِهِۦ مَا هَٰذَآ إِلَّا بَشَرٞ مِّثۡلُكُمۡ يُرِيدُ أَن يَتَفَضَّلَ عَلَيۡكُمۡ وَلَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ لَأَنزَلَ مَلَٰٓئِكَةٗ مَّا سَمِعۡنَا بِهَٰذَا فِيٓ ءَابَآئِنَا ٱلۡأَوَّلِينَ ٢٤

Pemuka-pemuka orang yang kafir di antara kaumnya menjawab, “Orang ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, yang bermaksud hendak menjadi seorang yang lebih tinggi dari kamu. Dan kalau Allah menghendaki, tentu Dia mengutus beberapa orang malaikat. Belum pernah kami mendengar (seruan yang seperti) ini pada masa nenek moyang kami yang dahulu.(al-Mu’minun: 24)

وَلَئِنۡ أَطَعۡتُم بَشَرٗا مِّثۡلَكُمۡ إِنَّكُمۡ إِذٗا لَّخَٰسِرُونَ ٣٤

Dan sesungguhnya jika kamu sekalian menaati manusia yang seperti kamu, niscaya bila demikian, kamu benar-benar (menjadi) orang-orang yang merugi.(al-Mu’minun: 34)

۞قَالَتۡ رُسُلُهُمۡ أَفِي ٱللَّهِ شَكّٞ فَاطِرِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ يَدۡعُوكُمۡ لِيَغۡفِرَ لَكُم مِّن ذُنُوبِكُمۡ وَيُؤَخِّرَكُمۡ إِلَىٰٓ أَجَلٖ مُّسَمّٗىۚ قَالُوٓاْ إِنۡ أَنتُمۡ إِلَّا بَشَرٞ مِّثۡلُنَا

Rasul-rasul mereka berkata, “Apakah ada keragu-raguan terhadap Allah, pencipta langit dan bumi? Dia menyeru kamu untuk memberi ampunan kepadamu dari dosa-dosamu dan menangguhkan (siksaan)mu sampai masa yang ditentukan?” Mereka berkata, “Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami juga.(Ibrahim: 10)

Akan tetapi, Allah subhanahu wa ta’ala telah menjelaskan pula dalam banyak ayat bahwa Dia subhanahu wa ta’ala tidaklah mengutus kepada manusia kecuali seorang utusan dari kalangan manusia juga, yaitu seorang laki-laki yang memakan makanan, berjalan di pasar-pasar, menikah, dan memiliki sifat-sifat manusiawi lainnya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَمَآ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ إِلَّا رِجَالٗا نُّوحِيٓ إِلَيۡهِمۡۖ

Dan kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang kami beri wahyu kepada mereka.(an-Nahl: 43)

وَلَقَدۡ أَرۡسَلۡنَا رُسُلٗا مِّن قَبۡلِكَ وَجَعَلۡنَا لَهُمۡ أَزۡوَٰجٗا وَذُرِّيَّةٗۚ

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka istri-istri dan keturunan.(ar-Ra’d: 38)

Dalam ayat-ayat di atas, Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan bahwa rasul yang Dia utus berasal dari kalangan manusia dan orang laki-laki. Hal ini tidak bertentangan dengan adanya sebagian malaikat yang menjadi rasul utusan Allah subhanahu wa ta’ala. Sebab, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

ٱللَّهُ يَصۡطَفِي مِنَ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ رُسُلٗا وَمِنَ ٱلنَّاسِۚ

Allah memilih utusan-utusan-(Nya) dari malaikat dan dari manusia.(al-Hajj: 75)

ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ فَاطِرِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ جَاعِلِ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ رُسُلًا

Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, yang menjadikan malaikat sebagi utusan-utusan (untuk mengurus berbagai urusan).(Fathir: 1)

Allah subhanahu wa ta’ala mengutus malaikat kepada para rasul, dan para rasul diutus kepada manusia. Yang diingkari oleh orang-orang kafir (dalam hal ini) adalah diutusnya para rasul (dari kalangan manusia) yang diutus kepada manusia. Inilah yang Allah subhanahu wa ta’ala khususkan (dalam pembahasan ayat ini), yaitu para rasul adalah orang laki-laki dari kalangan manusia.

Hal ini tidak bertentangan dengan kenyataan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala juga menjadikan malaikat sebagai rasul utusan-Nya. Di antara mereka ada yang diutus membawa wahyu, menggenggam arwah (mencabut nyawa), menundukkan (mengatur) angin dan awan, mencatat amal perbuatan bani Adam, dan lainnya. Firman Allah subhanahu wa ta’ala,

فَٱلۡمُدَبِّرَٰتِ أَمۡرٗا ٥

Dan (malaikat-malaikat) yang mengatur urusan (dunia).” (an-Nazi’at: 5)

Dari ayat di atas dipahami juga bahwa Allah subhanahu wa ta’ala tidak mengutus seorang utusan pun dari kaum wanita. Firman-Nya subhanahu wa ta’ala,

وَمَآ أَرۡسَلۡنَا قَبۡلَكَ إِلَّا رِجَالٗا نُّوحِيٓ إِلَيۡهِمۡۖ

Kami tiada mengutus rasul-rasul sebelum kamu, melainkan beberapa orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka.” (al-Anbiya’: 7) ( Adhwaul Bayan, pada tafsir surat an-Nahl: 43)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, ayat ini menjadi bantahan terhadap orang-orang yang mengingkari adanya utusan Allah subhanahu wa ta’ala yang berasal dari manusia. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Kami tiada mengutus rasul-rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa orang laki-laki yang kami beri wahyu kepada mereka.

Semua rasul yang terdahulu adalah manusia dari jenis laki-laki, tidak ada seorang pun dari kalangan malaikat. Dalam ayat yang lain, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَآ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ إِلَّا رِجَالٗا نُّوحِيٓ إِلَيۡهِم مِّنۡ أَهۡلِ ٱلۡقُرَىٰٓۗ

Kami tidak mengutus sebelum kamu, melainkan orang laki-laki yang Kami berikan wahyu kepadanya di antara penduduk negeri.(Yusuf: 109)

قُلۡ مَا كُنتُ بِدۡعٗا مِّنَ ٱلرُّسُلِ

Katakanlah, “Aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasul.” (al-Ahqaf: 9)

Allah subhanahu wa ta’ala menceritakan tentang umat terdahulu yang mengingkari adanya rasul dari kalangan manusia,

ذَٰلِكَ بِأَنَّهُۥ كَانَت تَّأۡتِيهِمۡ رُسُلُهُم بِٱلۡبَيِّنَٰتِ فَقَالُوٓاْ أَبَشَرٞ يَهۡدُونَنَا فَكَفَرُواْ وَتَوَلَّواْۖ وَّٱسۡتَغۡنَى ٱللَّهُۚ وَٱللَّهُ غَنِيٌّ حَمِيدٞ ٦

Hal itu karena sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka (membawa) keterangan-keterangan lalu mereka berkata, “Apakah manusia yang akan memberi petunjuk kepada kami?” Lalu mereka ingkar dan berpaling, dan Allah tidak memerlukan (mereka) lagi Maha Terpuji. (at-Taghabun: 6)

Oleh karena itu, pada kelanjutan ayat di atas, Allah subhanahu wa ta’ala berfiman, “Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui.

Maksudnya, bertanyalah kepada orang yang berilmu dari umat yang ada dari kalangan Yahudi, Nasrani, dan semua golongan; Apakah rasul-rasul yang pernah datang kepada mereka itu manusia ataukah malaikat? Mereka itu tiada lain hanyalah manusia (bukan malaikat).

Itulah sebagian dari kesempurnaan nikmat Allah subhanahu wa ta’ala atas ciptaan-Nya (manusia). Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri agar mereka bisa mengambil apa yang disampaikan oleh para rasul tersebut.

Untuk mempertegas bahwa rasul-rasul itu adalah manusia yang berjasad, memerlukan makan, dan tidak kekal, pada ayat berikutnya Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَا جَعَلۡنَٰهُمۡ جَسَدٗا لَّا يَأۡكُلُونَ ٱلطَّعَامَ وَمَا كَانُواْ خَٰلِدِينَ ٨

Dan tiadalah Kami jadikan mereka tubuh-tubuh yang tiada memakan makanan, dan tidak (pula) mereka itu orang-orang yang kekal.(al-Anbiya’: 8)

Maknanya, mereka adalah jasad yang memakan makanan. Firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَمَآ أَرۡسَلۡنَا قَبۡلَكَ مِنَ ٱلۡمُرۡسَلِينَ إِلَّآ إِنَّهُمۡ لَيَأۡكُلُونَ ٱلطَّعَامَ وَيَمۡشُونَ فِي ٱلۡأَسۡوَاقِ

Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar.(al-Furqan: 20

Maknanya, mereka seperti manusia yang lain, memerlukan makan dan minum. Mereka berjalan di pasar-pasar untuk mencari pendapatan dan berdagang.

Hal ini sama sekali tidak memudaratkan dan mengurangi keberadaan mereka (sebagai rasul), sebagaimana anggapan orang-orang musyrik. Firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَقَالُواْ مَالِ هَٰذَا ٱلرَّسُولِ يَأۡكُلُ ٱلطَّعَامَ وَيَمۡشِي فِي ٱلۡأَسۡوَاقِ لَوۡلَآ أُنزِلَ إِلَيۡهِ مَلَكٞ فَيَكُونَ مَعَهُۥ نَذِيرًا ٧ أَوۡ يُلۡقَىٰٓ إِلَيۡهِ كَنزٌ أَوۡ تَكُونُ لَهُۥ جَنَّةٞ يَأۡكُلُ مِنۡهَاۚ وَقَالَ ٱلظَّٰلِمُونَ إِن تَتَّبِعُونَ إِلَّا رَجُلٗا مَّسۡحُورًا ٨

Dan mereka berkata, “Mengapa rasul ini memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar? Mengapa tidak diturunkan kepadanya seorang malaikat agar malaikat itu memberikan peringatan bersama dengan dia? Atau (mengapa tidak) diturunkan kepadanya perbendaharaan, atau (mengapa tidak) ada kebun baginya yang dia dapat makan dari (hasil)nya?” (al-Furqan: 7—8)

Adapun firman Allah subhanahu wa ta’ala, “Dan tidak (pula) mereka itu orang-orang yang kekal”, maknanya mereka hidup di dunia kemudian mereka wafat. Firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَمَا جَعَلۡنَا لِبَشَرٖ مِّن قَبۡلِكَ ٱلۡخُلۡدَۖ أَفَإِيْن مِّتَّ فَهُمُ ٱلۡخَٰلِدُونَ ٣٤

Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum kamu (Muhammad), maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal?” (al-Anbiya: 34). (Tafsir al-Qur’an al- ‘Azhim, pada tafsir surat al-Anbiya: 7)

Asy-Syaikh Abdur Rahman as-Sa’di rahimahullah berkata bahwa ayat ini membantah pernyataan orang-orang yang mendustakan rasul. Mereka berkata, “Mengapa dia bukan malaikat, hingga tidak butuh dengan makanan dan minuman dan berjalan di pasar-pasar? Mengapa dia tidak kekal? Jika tidak demikian, berarti dia bukan rasul.” Syubhat ini terus bercokol pada diri para pendusta rasul. Kekufuran mereka serupa, demikian pula pemikiran mereka.

Allah subhanahu wa ta’ala menjawab syubhat tersebut berdasarkan kenyataan bahwa mereka mengakui adanya para rasul sebelumnya. Seandainya hanya Nabi Ibrahim ‘alaihissalam (yang mereka akui sebagai rasul)—dalam keadaan seluruh golongan menetapkan bahwa beliau adalah nabi dan kaum musyrikin mengaku berada di atas agama dan ajarannya—(tentu hal ini sudah cukup).

Mereka mengakui bahwa para rasul sebelum Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam (berasal dari kalangan manusia), memakan makanan, berjalan di pasar-pasar. Mereka juga mengakui bahwa para rasul tersebut tertimpa hal-hal yang biasa dialami manusia, berupa kematian dan lainnya. Mereka juga mengakui bahwa Allah subhanahu wa ta’ala mengutus para rasul tersebut kepada umat dan kaumnya. Sebagian umat membenarkan mereka, sebagian yang lain mendustakan.

Mereka juga mengakui bahwa Allah subhanahu wa ta’ala membenarkan janji para rasul tersebut, yaitu keselamatan dan kebahagiaan baginya berikut para pengikutnya, serta membinasakan orang-orang yang melampaui batas lagi mendustakannya.

Jika demikian, apa bedanya dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam? Mengapa dimunculkan syubhat yang batil untuk mengingkari kerasulan beliau? Padahal, hal yang sama juga ada pada para rasul sebelum beliau yang mereka akui keberadaannya.

Jawaban ini sangat jelas dan mengandung tuntutan bagi mereka. Mereka mengakui adanya rasul dari kalangan manusia, namun (di sisi lain) tidak mengakui kerasulan dari selain manusia. Tentu saja ini adalah sebuah syubhat yang batil. Mereka sendiri yang menyanggahnya, karena mengakui kerusakan dan kontradiksinya.

Jika mereka beralih dari syubhat ini, lantas justru mengingkari sama sekali adanya nabi dari kalangan manusia, dan tidak dianggap sebagai nabi jika dia bukan malaikat yang kekal dan tidak memakan makanan; Allah subhanahu wa ta’ala pun telah menjawab syubhat ini dengan firman-Nya,

وَقَالُواْ لَوۡلَآ أُنزِلَ عَلَيۡهِ مَلَكٞۖ وَلَوۡ أَنزَلۡنَا مَلَكٗا لَّقُضِيَ ٱلۡأَمۡرُ ثُمَّ لَا يُنظَرُونَ ٨ وَلَوۡ جَعَلۡنَٰهُ مَلَكٗا لَّجَعَلۡنَٰهُ رَجُلٗا وَلَلَبَسۡنَا عَلَيۡهِم مَّا يَلۡبِسُونَ ٩

Dan mereka berkata, “Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) seorang malaikat? Dan kalau Kami turunkan (kepadanya) seorang malaikat, tentu selesailah urusan itu, kemudian mereka tidak diberi tangguh (sedikit pun). Dan kalau Kami jadikan rasul itu (dari) malaikat, tentulah Kami jadikan dia berupa laki-laki dan (jika Kami jadikan dia berupa laki-laki), Kami pun akan jadikan mereka tetap ragu sebagaimana kini mereka ragu.(al-An’am: 8—9)

Di samping itu, manusia tidak memiliki kemampuan mengambil wahyu dari malaikat. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

قُل لَّوۡ كَانَ فِي ٱلۡأَرۡضِ مَلَٰٓئِكَةٞ يَمۡشُونَ مُطۡمَئِنِّينَ لَنَزَّلۡنَا عَلَيۡهِم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ مَلَكٗا رَّسُولٗا ٩٥

Katakanlah, “Kalau seandainya ada malaikat-malaikat yang berjalan-jalan sebagai penghuni di bumi, niscaya Kami turunkan dari langit kepada mereka seorang malaikat menjadi rasul.(al-Isra’: 95)

Jadi, jika kalian masih ragu dan tidak mengetahui perihal rasul-rasul yang terdahulu, “Tanyakanlah kepada orang-orang yang berilmu,” dari kalangan ahlul kitab terdahulu yang memiliki kitab Taurat dan Injil (Yahudi dan Nasrani). Mereka pasti akan mengabarkan kepada kalian bahwa rasul-rasul itu seluruhnya manusia yang Allah subhanahu wa ta’ala utus kepada mereka.

Meskipun sebab perintah bertanya kepada ulama adalah tentang para rasul yang terdahulu, namun ayat ini bermakna umum. Artinya, masalah apa pun yang terkait dengan agama yang tidak diketahui ilmunya, baik yang prinsip maupun yang cabang, hendaknya ditanyakan kepada orang yang mengajari agama.

Jadi, ayat di atas mengandung perintah untuk belajar agama dan bertanya kepada ahlinya. Tidaklah manusia diperintahkan untuk bertanya kepada para ulama kecuali karena para ulama itu wajib mengajarkan agama dan menjawab sesuai dengan ilmu yang mereka ketahui.

Perintah bertanya masalah agama hanya kepada ahli ilmu (ulama), sekaligus mengandung larangan bertanya kepada orang yang dikenal jahil dan tidak memiliki ilmu. Selain itu, perintah ini juga mengandung larangan bagi orang yang jahil (tidak tahu) untuk tampil (menjawab pertanyaan tentang agama).

Ayat ini juga menunjukkan bahwa tidak ada satu pun dari kaum wanita yang menjadi nabi. Tidak Maryam, tidak pula yang lainnya. (Taisir Karimur Rahman, pada tafsir surat al-Anbiya’: 7)

Asy-Syaukani rahimahullah berkata bahwa ayat ini, “Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu…,” dijadikan dalil (oleh sebagian orang) tentang bolehnya taklid. Ini suatu kesalahan. Kalau memang benar, maka makna ayat ini adalah (perintah kepada) mereka untuk bertanya kepada ahli ilmu tentang penjelasan dari al-Kitab dan sunnah, bukan tentang pendapat (ra’yu) mereka semata. Taklid ialah menerima pendapat orang lain tanpa ada hujah (dalil). (Fathul Qadir, pada tafsir surat al-Anbiya’: 7)

Wallahu a’lam bish-shawab.

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Ubaidah Syafruddin

Mencari Jalan Menuju Kebaikan

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَٱبۡتَغُوٓاْ إِلَيۡهِ ٱلۡوَسِيلَةَ وَجَٰهِدُواْ فِي سَبِيلِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ ٣٥

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.(al-Maidah: 35)

 


Tafsir Ayat

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّه

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah….”

Ini merupakan perintah dari Allah ‘azza wa jalla kepada seluruh kaum mukminin untuk senantiasa bertakwa kepada-Nya, dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

وَٱبۡتَغُوٓاْ إِلَيۡهِ ٱلۡوَسِيلَةَ

“Hendaknya kalian mencari wasilah menuju kepada-Nya.”

Para ulama tafsir menyebutkan dua makna tentang makna wasilah di dalam ayat ini.

 

  1. Pendekatan diri (qurbah), yaitu bentuk pendekatan diri (kepada Allah subhanahu wa ta’ala) yang sepantasnya bagi seseorang untuk mencarinya.

Qatadah rahimahullah berkata, “Dekatkanlah diri kalian kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan taat kepada-Nya dan beramal dengan sesuatu yang mendatangkan ridha-Nya.”

Yang semakna dengan ini juga dijelaskan oleh Abu Wail, Hasan al-Bashri, Mujahid, Qatadah, Atha’, as-Suddi, Ibnu Zaid, dan Abdullah bin Katsir.

Semisal dengan ayat ini yang disebutkan Allah ‘azza wa jalla dalam firman-Nya,

قُلِ ٱدۡعُواْ ٱلَّذِينَ زَعَمۡتُم مِّن دُونِهِۦ فَلَا يَمۡلِكُونَ كَشۡفَ ٱلضُّرِّ عَنكُمۡ وَلَا تَحۡوِيلًا ٥٦ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ يَدۡعُونَ يَبۡتَغُونَ إِلَىٰ رَبِّهِمُ ٱلۡوَسِيلَةَ أَيُّهُمۡ أَقۡرَبُ وَيَرۡجُونَ رَحۡمَتَهُۥ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُۥٓۚ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحۡذُورٗا ٥٧

Katakanlah, “Panggillah mereka yang kamu anggap (tuhan) selain Allah, maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya dari padamu dan tidak pula memindahkannya.”

Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Rabb mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Rabbmu adalah suatu yang (harus) ditakuti. (al-Isra: 56—57)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Al-Wasilah yang diperintahkan oleh Allah ‘azza wa jalla untuk engkau berusaha mencarinya. Allah memberitakan pula tentang para malaikat dan para nabi-Nya bahwa mereka senantiasa mencarinya, adalah sesuatu yang dijadikan sebagai pendekatan diri kepada-Nya berupa amalan yang wajib atau yang mustahab (sunnah).

Wasilah inilah yang diperintahkan oleh Allah ‘azza wa jalla kepada kaum mukminin untuk senantiasa mencarinya, yang mencakup hal yang wajib dan mustahab.

Adapun yang bukan hal wajib dan bukan mustahab, tidak termasuk ke dalamnya, seperti hal yang haram, makruh, atau mubah.

Yang wajib dan mustahab adalah yang disyariatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan perintahnya yang mencakup perintah wajib dan mustahab. Inti dari semua itu adalah beriman dengan apa yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Inti dari wasilah yang diperintahkan oleh Allah ‘azza wa jalla kepada makhluk-Nya untuk mencarinya adalah menjadikan wasilah menuju kepada-Nya dengan mengikuti apa yang diajarkan oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada wasilah yang akan menyampaikan seseorang kepada Allah ‘azza wa jalla kecuali hal tersebut.” (Qa’idah Jalilah fit Tawassul wal Wasilah, hlm. 79, tahqiq al-Allamah Rabi’ bin Hadi)

 tali-terikat

  1. Wasilah bermakna “buktikanlah kecintaanmu kepada Allah”, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Zaid. (Zadul Masir, karya Ibnul Jauzi)

Di antara makna al-wasilah adalah sebuah kedudukan yang paling mulia di dalam surga yang telah dipersiapkan Allah ‘azza wa jalla untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Hal ini diriwayatkan oleh al-Imam Bukhari rahimahullah dari Jabir bin Abdullah radhiallahu ‘anhuma, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa mengucapkan tatkala mendengarkan panggilan azan,

اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدِّعْوَةِ التَّامَّةِ، وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ، آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ، وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ

‘Ya Allah, Rabb seruan yang sempurna ini, dan shalat yang ditegakkan, berikanlah kepada Muhammad al-Wasilah dan keutamaan, dan bangkitkanlah dia pada sebuah kedudukan yang terpuji yang telah Engkau janjikan.’ halal baginya syafaatku pada hari kiamat.” (HR. al-Bukhari)

Al-Wasilah yang disebutkan dalam hadits ini dijelaskan dalam riwayat lainnya dalam Shahih Muslim dari Abdullah bin Amr bin al-Ash radhiallahu ‘anhuma. Ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ، فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَيَّ، فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا، ثُمَّ سَلُوا اللهَ لِيَ الْوَسِيلَةَ، فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِي الْجَنَّةِ، لَا تَنْبَغِي إِلَّا لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللهِ، وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ، فَمَنْ سَأَلَ لِي الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ

“Jika kalian mendengarkan muadzin, ucapkanlah seperti yang diucapkan oleh muadzin kemudian bershalawatlah untukku. Sebab, sesungguhnya siapa yang bershalawat kepadaku sekali, Allah ‘azza wa jalla bershalawat kepadanya sepuluh kali.

Lalu mintalah untukku al-wasilah, karena sesungguhnya ia adalah sebuah kedudukan dalam surga yang tidak sepantasnya diberikan kecuali kepada salah seorang hamba Allah ‘azza wa jalla. Aku berharap akulah yang akan mendapatkannya. Barang siapa memohon untukku al-wasilah, halal baginya syafaatku.” (HR. Muslim)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Wasilah ini merupakan kekhususan bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau telah memerintah kita untuk memohon kepada Allah ‘azza wa jalla agar wasilah ini diberikan kepada beliau. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa kedudukan itu tidak diberikan kecuali kepada seseorang dari hamba Allah ‘azza wa jalla dan berharap agar dialah hamba yang akan meraihnya.

Wasilah inilah yang diperintahkan kepada kita untuk memintanya kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau memberitakan kepada kita bahwa siapa yang memintakan wasilah untuknya, sungguh telah halal syafaat baginya pada hari kiamat. Sebab, balasan itu sesuai dengan jenis amalan yang dikerjakan.

Tatkala mereka berdoa untuk Nabi-Nya, mereka pun berhak mendapatkan balasan dari Rasul, yaitu doa beliau untuk mereka. Sebab, syafaat merupakan salah satu jenis dari doa, seperti sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Barang siapa bershalawat untukku sekali, Allah ‘azza wa jalla akan bershalawat untuknya sepuluh kali’.” (Qa’idatun Jalilah fit Tawassul wal-Wasilah, 84)

 

Makna Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Sebagai Wasilah untuk Mendekatkan Diri kepada Allah ‘azza wa jalla

Dalam bertawassul kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ada dua makna yang sahih dan dibenarkan dalam syariat berdasarkan kesepakatan kaum muslimin, yaitu:

  1. Bertawassul dengan beriman kepada beliau sebagai seorang rasul dan taat kepadanya.

Ini merupakan prinsip iman dan agama Islam. Tidak sempurna keimanan seseorang kecuali dengannya, dan tidak seorang pun dari kaum muslimin yang mengingkarinya.

  1. Bertawassul dengan doa beliau dan syafaatnya.

Kedua hal ini diperbolehkan berdasarkan kesepakatan kaum muslimin.

Rantai

Di antara dalil yang menunjukkan bolehnya hal ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu bahwa saat mereka tertimpa musim paceklik, Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu meminta hujan melalui perantara Abbas bin Abdul Muththalib radhiallahu ‘anhu.

Beliau berkata, “Ya Allah, sesungguhnya kami dahulu bertawassul kepada-Mu dengan perantaraan Nabi kami, lalu Engkau turunkan hujan kepada kami. Sesungguhnya, kami bertawassul kepada-Mu melalui paman Nabi kami, maka turunkanlah hujan kepada kami.”

Hujan pun diturunkan kepada mereka. (HR. al-Bukhari no. 1010)

Yang dimaksud dalam hadits ini adalah bertawassul dengan doa dan syafaat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal, mereka pun bertawassul dengan doa yang dilakukan oleh paman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu Abbas bin Abdul Muththalib radhiallahu ‘anhu.

Jadi, yang dimaksud dalam hadits ini bukan berdoa meminta hujan dengan bertawassul menyebut diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti yang dipahami oleh sebagian orang yang keliru dalam memahami makna hadits ini. Sebab, kalau yang dimaksud dalam hadits ini berdoa meminta hujan dengan bertawassul dalam doa tersebut menyebutkan diri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tentu mereka tidak akan berpaling dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada pamannya, Abbas radhiallahu ‘anhu, setelah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal.

Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah wafat, mereka beralih kepada Abbas radhiallahu ‘anhu. Jelas hal ini menunjukkan bahwa yang dimaksud adalah bertawassul dengan doa Abbas radhiallahu ‘anhu untuk meminta hujan kepada Allah ‘azza wa jalla.

Hal yang seperti ini sering dilakukan oleh para sahabat radhiallahu ‘anhum. Di antara yang menunjukkan hal tersebut adalah hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu. Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berkhutbah di masjid pada hari Jumat, seorang lelaki masuk ke masjid lalu berkata, “Wahai Rasulullah, hewan-hewan ternak binasa, perjalanan terputus (disebabkan khawatir binasanya kendaraan mereka, atau melemahnya karena kurangnya makanan –pen.). Berdoalah kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar menurunkan hujan kepada kami.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya, lalu berdoa, “Ya Allah, turunkan kepada kami hujan, ya Allah, turunkan kepada kami hujan, ya Allah, turunkan kepada kami hujan.” (Muttafaq alaihi)

Tawassul inilah yang dimaksud dalam hadits Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu di atas, yaitu meminta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam semasa hidupnya agar berdoa meminta turunnya hujan. Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal, mereka pun beralih kepada Abbas radhiallahu ‘anhu agar beliau berdoa meminta hujan untuk kaum muslimin.

Hal ini lebih dikuatkan oleh riwayat dari Aisyah radhiallahu ‘anha. Disebutkan dalam riwayat itu, manusia mengeluh kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang tertahannya hujan. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas memerintahkan agar mimbar dikeluarkan dan diletakkan di tanah lapang. Beliau menjanjikan hari tertentu kepada manusia untuk mereka keluar.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar saat dhuha lalu duduk di atas mimbar, bertakbir, memuji Allah ‘azza wa jalla, dan berkata, “Sesungguhnya kalian mengeluhkan kekeringan yang menimpa daerah kalian, dan lambatnya hujan turun kepada kalian, dan sungguh Allah memerintah kalian untuk berdoa kepada-Nya, dan menjanjikan kepada kalian untuk mengabulkannya.” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa kepada Allah ‘azza wa jalla dan shalat memimpin manusia. Allah ‘azza wa jalla kemudian menurunkan hujan kepada mereka hingga air mengalir. (HR. Abu Dawud, dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam kitabnya, at-Tawassul, hlm. 54)

Adapun bertawassul dengan diri/bagian tubuh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam atau berdoa dengan mengucapkan, “Aku memohon kepada-Mu, ya Allah, melalui hak Nabi-Mu, atau melalui kemuliaan Nabi-Mu,” dan yang semisalnya, hal ini sama sekali tidak disyariatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak diamalkan oleh para sahabat radhiallahu ‘anhum.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Tawassul dengan bersumpah kepada Allah ‘azza wa jalla dengan berwasilah kepada bagian tubuh Nabi dan meminta dengan berwasilah kepada bagian tubuh beliau tidak pernah dilakukan oleh para sahabat radhiallahu ‘anhum, baik dalam meminta hujan maupun yang semisalnya.

Para sahabat tidak melakukan ini pada masa hidup beliau atau setelah meninggalnya. Tidak di sisi kuburannya dan tidak pula di selain kuburannya. Tidak diketahui hal ini dalam doa-doa yang masyhur di antara mereka.

Yang ada hanyalah penukilan tentang hal tersebut dalam hadits-hadits lemah yang marfu’ dan yang mauquf, atau penukilan dari orang yang ucapannya bukan merupakan hujah.” (Qa’idah Jalilah, hlm. 86)

وَجَٰهِدُواْ فِي سَبِيلِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ ٣٥

“Berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.

Di antara sekian banyak ibadah yang mendekatkan hamba kepada-Nya, Allah ‘azza wa jalla mengkhususkan jihad di jalan-Nya.

Berjihad ialah mengerahkan kemampuan untuk memerangi orangorang kafir, dengan harta, jiwa, pikiran dan lisan; serta beramal untuk menolong agama Allah ‘azza wa jalla dengan segala yang mampu dilakukan oleh hamba.

(Allah mengkhususkan jihad) karena ibadah ini termasuk ketaatan yang paling agung dan pendekatan diri yang paling utama. Orang yang mampu menegakkan amalan ini tentu lebih mampu menegakkan amalan lainnya.

لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ ٣٥

“Semoga kalian meraih keberuntungan,”

Jika kalian bertakwa kepada Allah ‘azza wa jalla dengan meninggalkan maksiat, lalu mencari wasilah menuju Allah ‘azza wa jalla dengan mengamalkan ketaatan dan berjihad di jalan-Nya dengan mengharapkan keridhaan-Nya.

Al-Falah (keberuntungan) adalah kemenangan dan keberhasilan dalam segala yang dicari dan yang diinginkan. Adapun an-najah adalah selamat dari hal-hal yang ditakuti. Hakikatnya adalah kebahagiaan abadi dan kenikmatan yang tidak akan sirna.” (Taisir al-Karim ar-Rahman, al-Allamah as-Sa’di rahimahullah)

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Muawiyah Askari

Meneladani Pemimpin Umat

إِنَّ إِبۡرَٰهِيمَ كَانَ أُمَّةٗ قَانِتٗا لِّلَّهِ حَنِيفٗا وَلَمۡ يَكُ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ١٢٠

“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam teladan yang patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Allah).” (an-Nahl: 120)

 

Lanjutkan membaca Meneladani Pemimpin Umat

Menjauhi Majelis Syubhat

 وَإِذَا رَأَيۡتَ ٱلَّذِينَ يَخُوضُونَ فِيٓ ءَايَٰتِنَا فَأَعۡرِضۡ عَنۡهُمۡ حَتَّىٰ يَخُوضُواْ فِي حَدِيثٍ غَيۡرِهِۦۚ وَإِمَّا يُنسِيَنَّكَ ٱلشَّيۡطَٰنُ فَلَا تَقۡعُدۡ بَعۡدَ ٱلذِّكۡرَىٰ مَعَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلظَّٰلِمِينَ ٦٨

Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, tinggalkanlah mereka hingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika setan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu).”  (Al-An’am: 68)

  Lanjutkan membaca Menjauhi Majelis Syubhat

Makar dan Tipu Daya Ahlul Kitab

وَقَالَت طَّآئِفَةٞ مِّنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ ءَامِنُواْ بِٱلَّذِيٓ أُنزِلَ عَلَى ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَجۡهَ ٱلنَّهَارِ وَٱكۡفُرُوٓاْ ءَاخِرَهُۥ لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُونَ ٧٢

Segolongan (lain) dari ahli kitab berkata (kepada sesamanya),

“Perlihatkanlah (seolah-olah) kamu beriman kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang beriman (sahabat-sahabat Rasul) pada permulaan siang dan ingkarilah ia pada akhirnya, supaya mereka (orang-orang muk min) kembali (kepada kekafiran).” (Ali Imran: 72)

  Lanjutkan membaca Makar dan Tipu Daya Ahlul Kitab

Jangan Gampang Menggosip!

إِنَّ ٱلَّذِينَ يُحِبُّونَ أَن تَشِيعَ ٱلۡفَٰحِشَةُ فِي ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِۚ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ ١٩

Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.(an-Nur: 19)

 

Penjelasan Mufradat Ayat

        أَن تَشِيعَ

Bermakna muncul, tampak, tersiar, tersebar.

ٱلۡفَٰحِشَةُ

Bermakna perbuatan jelek, keji, perkara besar; seperti zina atau perkataan buruk.

        لَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِۚ

Bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat.

Azab di dunia, yaitu azab yang menyakitkan berupa hukuman dera (cambukan) sebanyak delapan puluh kali bagi yang menuduh wanita dan laki-laki yang baik berbuat zina.

Azab di akhirat, yaitu azab jahannam bagi yang meninggal dalam keadaan meneruskan perbuatan tersebut dan tidak bertobat darinya.

 

Penjelasan Makna Ayat

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Ayat ini merupakan pendidikan dan hukuman bagi siapa saja yang mendengar berita buruk, lantas timbul pikiran untuk membicarakan dan menyiarkannya; serta memilih tersiarnya pembicaraan yang keji pada kaum mukminin. Oleh karena itu, kembalikanlah urusan tersebut kepada Allah, pasti kalian akan mendapatkan bimbingan.”

Beliau rahimahullah menyebutkan hadits yang diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad dari Tsauban radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian menyakiti hamba-hamba Allah, jangan kalian menjelek-jelekkannya, jangan pula kalian mencari-cari aib mereka. Barang siapa mencari-cari aib saudaranya yang muslim, Allah akan menemukan aib (mereka) hingga memperlihatkan kejelekan dia di rumahnya.”

Dalam Zadul Masir, karya Ibnul Jauzi rahimahullah, setelah mencantumkan ayat,

إِنَّ ٱلَّذِينَ جَآءُو بِٱلۡإِفۡكِ

Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong.(an-Nur: 11)

disebutkan, “Para ulama ahli tafsir sepakat bahwa ayat ini dan setelahnya yang ada hubungannya turun berkaitan dengan kisah Aisyah radhiallahu ‘anha atas berita bohong yang dituduhkan kepadanya.

Ketika memaknai ayat, ‘Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar berita perbuatan yang amat keji itu tersiar,’ Mujahid rahimahullah berkata, “Maksudnya (keinginan untuk) mengumumkan dan menceritakan tentang urusan Aisyah.”

Al-Imam ath-Thabari rahimahullah berkata, “Dalam ayat ini Allah ‘azza wa jalla befirman, ‘Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar berita perbuatan itu tersiar/tersebar di kalangan orang-orang yang membenarkan (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, dan mengumumkannya di tengah-tengah mereka bagi mereka azab yang pedih di dunia,’ maknanya adalah azab yang menyakitkan di dunia dengan cara didera. Hukuman ini Allah ‘azza wa jalla timpakan kepada orang yang menuduh wanita dan laki-laki yang baik-baik berbuat zina tanpa mendatangkan empat orang saksi.

Dalam ayat lain Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَٱلَّذِينَ يَرۡمُونَ ٱلۡمُحۡصَنَٰتِ ثُمَّ لَمۡ يَأۡتُواْ بِأَرۡبَعَةِ شُهَدَآءَ فَٱجۡلِدُوهُمۡ ثَمَٰنِينَ جَلۡدَةٗ وَلَا تَقۡبَلُواْ لَهُمۡ شَهَٰدَةً أَبَدٗاۚ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ ٤

        “Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik berbuat zina dan mereka tidak medatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik.(an-Nur: 4)

As-Sa’di rahimahullah berkata, “Yaitu (menuduh) wanita-wanita merdeka yang menjaga kehormatan dirinya. Demikian pula laki-laki (yang menjaga kehormatan dirinya), tidak ada perbedaan antara dua hal ini. Ketika mereka (yang menuduh) tidak medatangkan empat orang saksi laki-laki yang baik agamanya (‘udul), deralah mereka 80 kali dera dengan cambuk/cemeti berukuran sedang, yang menyakitkan dan terasa pedih. Tidak boleh mendera secara melampaui batas dan mengakibatkan kematian. Sebab, tujuan utamanya adalah hukuman dera, bukan merusak (membinasakan).

Inilah ketetapan hukum bagi seorang yang melakukan tuduhan zina, dengan syarat bahwa yang dituduh adalah orang baik-baik lagi beriman, sebagaimana firman Allah ‘azza wa jalla di atas.

        وَلَا تَقۡبَلُواْ لَهُمۡ شَهَٰدَةً أَبَدٗاۚ

Dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya,

Mereka mendapatkan hukuman yang lain, yaitu persaksian mereka tidak diterima meskipun hukuman tersebut telah diterapkan terhadapnya hingga ia bertobat, sebagaimana yang akan datang penjelasannya.

        وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ

Dan mereka itulah orang-orang yang fasik,” yaitu keluar dari ketaatan

kepada Allah ‘azza wa jalla dan terlalu banyak kejelekannya. Sebab, ia telah melanggar apa yang Allah ‘azza wa jalla haramkan dan merusak kehormatan saudaranya. Selain itu, ia telah memengaruhi manusia dengan tuduhan yang ia ucapkan. Ia telah merusak tali persaudaraan yang Allah ‘azza wa jalla ikat (tetapkan) di antara ahlul iman. Dia justru ingin agar berita perbuatan keji itu tersiar di kalangan orang yang beriman.

Ini semua menjadi bukti bahwa menuduh orang baik-baik berbuat keji merupakan dosa besar.

Kecuali orang-orang yang bertobat sesudah itu dan memperbaiki (dirinya), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Tobat dalam hal ini adalah dengan cara mendustakan dirinya sendiri. Maksudnya, ia menyatakan bahwa apa yang telah ia ucapkan adalah kedustaan. Dia wajib menyatakan bahwa dirinya berdusta walaupun yakin bahwa hal (yang dituduhkan) betul-betul terjadi, karena ia tidak dapat mendatangkan empat orang saksi.

Jika dia bertobat dan memperbaiki amal perbuatannya, mengganti keburukan dengan kebaikan, dia terbersihkan dari kefasikan. Demikian pula kesaksiannya akan diterima, menurut pendapat yang benar (dalam masalah ini). Sebab, Allah ‘azza wa jalla Dzat Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang; mengampuni seluruh dosa hamba yang mau bertobat dan kembali kepada-Nya.

Hukum dera ini berlaku apabila tuduhan tersebut muncul dari selain suami dan tidak mendatangkan empat orang saksi. Jika tuduhan tersebut datang dari suami, Allah ‘azza wa jalla telah menyebutkan urusannya dalam firman-Nya,

وَٱلَّذِينَ يَرۡمُونَ أَزۡوَٰجَهُمۡ وَلَمۡ يَكُن لَّهُمۡ شُهَدَآءُ إِلَّآ أَنفُسُهُمۡ فَشَهَٰدَةُ أَحَدِهِمۡ أَرۡبَعُ شَهَٰدَٰتِۢ بِٱللَّهِ إِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلصَّٰدِقِينَ ٦ وَٱلۡخَٰمِسَةُ أَنَّ لَعۡنَتَ ٱللَّهِ عَلَيۡهِ إِن كَانَ مِنَ ٱلۡكَٰذِبِينَ ٧ وَيَدۡرَؤُاْ عَنۡهَا ٱلۡعَذَابَ أَن تَشۡهَدَ أَرۡبَعَ شَهَٰدَٰتِۢ بِٱللَّهِ إِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلۡكَٰذِبِينَ ٨ وَٱلۡخَٰمِسَةَ أَنَّ غَضَبَ ٱللَّهِ عَلَيۡهَآ إِن كَانَ مِنَ ٱلصَّٰدِقِينَ ٩

Dan orang-orang yang menuduh istrinya (berzina), padahal mereka tidak ada mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri; maka persaksian orang itu ialah empat kali bersumpah dengan nama Allah, (bahwa) sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang benar. Dan (sumpah) yang kelima: bahwa laknat Allah atasnya jika dia termasuk orang-orang yang berdusta.

Istrinya dihindarkan dari hukuman oleh sumpahnya empat kali atas nama Allah (bahwa) sesungguhnya suaminya itu benar-benar termasuk orang-orang yang dusta; dan (sumpah) yang kelima bahwa kemarahan Allah atasnya jika suami itu termasuk orang-orang yang benar.(an-Nur: 6—9)

Sumpah ini diucapkan sebagai pengganti kedudukan saksi. Para ulama menyebut masalah ini dalam kitab fikih dengan nama li’an; yaitu persaksian yang dikuatkan dengan sumpah disertai dengan laknat dan ghadhab (kemarahan) Allah ‘azza wa jalla.

Disebut dengan li’an, karena ketika seorang suami menuduh istrinya berzina, ada dua tuntutan baginya.

  1. Mendatangkan bukti (saksi) atas tuduhannya.
  2. Jika tidak dapat mendatangkan saksi, dia dijatuhi hukuman dera sebanyak 80 kali.

Sebab, hukum asal seorang yang menuduh zina orang yang baik-baik dan tidak mendatangkan empat orang saksi adalah didera 80 kali. Hukuman ini tidak gugur, kecuali apabila dia bersaksi untuk dirinya sendiri dengan empat kali bersumpah dengan nama Allah bahwa sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang benar. Sumpah kelima adalah laknat Allah ‘azza wa jalla atasnya jika dia berdusta. Jika hal ini dia lakukan, gugurlah hukum dera tersebut.

Adapun seorang istri yang dituduh oleh suaminya berzina, tidak lepas dari dua hal: membenarkan tuduhan tersebut atau mendustakannya.

  1. Jika membenarkan, dia terkena hukum rajam.
  2. Jika istri mendustakan tuduhan tersebut dan suami tidak mempunyai saksi selain dirinya sendiri dengan lima kali bersumpah, sang istri terhindar dari hukuman apabila dia bersumpah empat kali atas nama Allah ‘azza wa jalla, sesungguhnya suaminya benar-benar berdusta. Sumpah kelima adalah kemarahan Allah ‘azza wa jalla atasnya jika suaminya termasuk orang-orang yang benar (jujur, ed.).

Mengapa ucapan sumpah yang kelima antara suami dan istri lafalnya berbeda?

Kata la’nat (laknat) mengandung makna seseorang dijauhkan dari rahmat Allah ‘azza wa jalla tanpa disertai kemarahan (kemurkaan) Allah ‘azza wa jalla padanya. Adapun ghadhab, mengandung makna laknat disertai kemarahan Allah ‘azza wa jalla.

Oleh sebab itu, seorang istri diharuskan bersumpah dengan sumpah yang lebih kuat bahwa kemarahan Allah atasnya… dst.

Alasannya, suami lebih dekat kepada kejujuran dan istri mengetahui kenyataan yang terjadi apabila dia benar-benar berzina. Apabila hal ini diingkari oleh istri, ia berhak dan pantas mendapatkan kemarahan Allah ‘azza wa jalla. Sebab, dia mengingkari sebuah kebenaran (kenyatan yang sesungguhnya) padahal mengetahuinya. Karena itu, dia mendapatkan kemarahan Allah. Oleh sebab itu, orang Yahudi dimurkai karena mengetahui kebenaran namun menentangnya.

Dari sisi inilah, istri berhak mendapat ghadhab (kemurkaan) Allah. Adapun suami haknya adalah laknat-Nya. Tuduhan suami mengharuskan manusia menjauhi wanita ini, meninggalkannya, dan mendoakan laknat baginya.

Berikut ini beberapa persyaratan sah pelaksanaan li’an.

  • Terjadi antara suami dengan istri, baik terlaksana sebelum atau sesudah bercampur dengannya.
  • Pengucapannya harus dengan bahasa Arab, karena lafalnya (lafadz, Arab) sebagaimana yang termuat dalam al-Qur’an. Menggunakan selain bahasa Arab dikhawatirkan tidak mencakup makna yang dikehendaki dalam bentuk yang sempurna. Barang siapa mampu berbahasa Arab, tidak sah melakukan li’an menggunakan bahasa lain.

Contoh lafal li’an bagi suami,

أَشْهَدُ بِاللهِ إِنِّي لَمِنَ الصَّادِقِينَ فِيمَا رَمَيْتُهَا بِهِ (x4)

“Aku bersumpah dengan nama Allah bahwa sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang benar terhadap apa yang aku tuduhkan kepadanya.” (sebanyak 4 kali)

Li’an kelima dengan ditambah lafal,

أَنَّ لَعْنَةَ اللهِ عَلَيْهِ إِنْ كُنْتَ مِنَ الْكَاذِبِينَ

“dan laknat Allah atas diriku jika aku termasuk orang-orang yang berdusta.”

Demikian pula istri yang dituduh, bersumpah dengan mengatakan,

أَشْهَدُ بِاللهِ أَنَّهُ لَمِنَ الْكَاذِبِينَ (x4)

“Aku bersumpah dengan nama Allah bahwa sesungguhnya suamiku itu benar-benar termasuk orang-orang yang berdusta.” (sebanyak 4 kali)

Li’an kelima bagi istri ditambah lafal,

غَضَبَ اللهُ عَلَيْهَا إِنْ كَانَ مِنَ الصَّادِقِينَ

“(Sumpah kelima), bahwa kemurkaan Allah atasku jika suamiku itu termasuk orang-orang yang benar.”

  • Harus sesuai dengan urutan, yaitu pengucapan sumpah tidak terbolak-balik. Suami yang memulai terlebih dahulu baru disusul oleh sang istri.
  • Tidak boleh ada kekurangan sedikitpun dari kalimat sumpah sebagaimana yang tersebut dalam al-Qur’an.
  • Tidak boleh ada sesuatupun yang diganti, seperti asyhadu diganti dengan aqsamu, bersumpah tetapi tidak menggunakan nama Allah, ghadhab diganti dengan sukhth.
  • Perkara li’an berlaku khusus bagi suami yang menuduh istrinya berbuat zina dan tidak berlaku sebaliknya.

Apabila suami-istri telah menyatakan hal di atas (terjadi li’an), seketika itu pula keduanya harus pisah (cerai) selama-lamanya, dan tidak boleh menikah kembali walaupun istri pernah dinikahi oleh orang lain setelahnya.

Dalam sebuah hadits dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma, beliau berkata, Fulan (seseorang) telah bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika salah seorang di antara kami mendapati istrinya melakukan perbuatan yang amat keji (zina), apa yang harus ia lakukan? Jika dia ceritakan, niscaya ia telah bercerita tentang perkara yang agung (besar). Jika diam, niscaya dia diam dari (perkara besar) seperti itu.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (diam) tidak menjawabnya. Sesudah itu, dia datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu berkata, “Sesungguhnya urusan yang pernah aku tanyakan kepadamu telah menimpa saya.”

Kemudian turun ayat-ayat yang terdapat dalam surat an-Nur. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan kepadanya, menasihati, dan mengingatkannya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sampaikan bahwa azab dunia itu lebih ringan daripada azab akhirat.

Orang itu berkata, “Tidak! Demi Dzat yang mengutusmu dengan (membawa) kebenaran, saya tidak berdusta terhadapnya.”

Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil dia (istrinya), dinasihatinya pula. Dia menjawab, “Tidak! Demi Dzat yang mengutusmu dengan (membawa) kebenaran. Sesungguhnya dia benar-benar berdusta.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian memerintahkan orang itu memulai (bersumpah). Ia bersumpah empat kali dengan nama Allah, lalu diikuti oleh istrinya. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memisahkan keduanya (diceraikan). (HR. Muslim)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Ayat di ini (yaitu an-Nur: 19) menjelaskan tentang hukum dera bagi orang yang menuduh wanita yang merdeka, baligh, dan menjaga kehormatan diri. Demikian pula jika yang dituduh adalah seorang laki-laki; hukumannya sama, dicambuk. Dalam hal ini, tidak ada perbedaan pendapat di antara para ulama. Apabila yang menuduh dapat membuktikan dengan sebuah alasan yang menunjukkan benarnya apa yang dia ucapakan, ia dihindarkan dari hukuman tersebut.”

As-Sa’di rahimahullah berkata, “Apabila ancaman berupa azab yang pedih di dunia dan akhirat, karena sekadar keinginan agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar dan membuat senang hati, bagaimana halnya dengan yang lebih besar dari itu, dengan cara mengumumkan, memunculkan, dan menyampaikannya?! Terlepas dari berita itu benar atau tidak.”

Semua ini adalah bentuk kasih sayang Allah ‘azza wa jalla kepada para hamba-Nya yang mukmin dan perlindungan terhadap kehormatan mereka, sebagaimana dilindunginya darah dan hartanya.

Allah ‘azza wa jalla perintah mereka melakukan sesuatu yang menunjukkan kemurnian persahabatan, yaitu mencintai sesuatu untuk saudaranya sebagaimana ia mencintainya untuk dirinya sendiri; dan membenci sesuatu terjadi pada saudaranya sebagaimana ia membenci hal itu terjadi pada dirinya sendiri.

        وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ

Dan Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.

Ath-Thabari rahimahullah berkata, “Allah ‘azza wa jalla mengetahui kedustaan orang yang membawa berita bohong dan siapa yang jujur di antara mereka. Adapun kalian wahai manusia, tidak mengetahui hal itu. Sebab, kalian tidak mengetahui perkara yang gaib. Dzat Yang Maha Mengetahui hal yang gaib (Allah ‘azza wa jalla) sajalah yang tahu. Janganlah kalian menceritakan hal yang tidak kalian ketahui, yaitu berita bohong, kepada orang yang beriman kepada Allah; terlebih terhadap para istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dapat membuat kalian binasa.

Oleh sebab itu, Allah ‘azza wa jalla mengajarkan dan menjelaskan kepada kalian urusan yang kalian belum ketahui.

Wallahu a’lam bish-shawab.

 

Maraji:

Maktabah Syamilah—Kutub at-Tafsir

Asy-Syarhul Mumti

Tashilul Ilmam

 

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafruddin

Ashabul Kahfi, Para Pemuda Mukmin

نَّحۡنُ نَقُصُّ عَلَيۡكَ نَبَأَهُم بِٱلۡحَقِّۚ إِنَّهُمۡ فِتۡيَةٌ ءَامَنُواْ بِرَبِّهِمۡ وَزِدۡنَٰهُمۡ هُدٗى ١٣

وَرَبَطۡنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمۡ إِذۡ قَامُواْ فَقَالُواْ رَبُّنَا رَبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ لَن نَّدۡعُوَاْ مِن دُونِهِۦٓ إِلَٰهٗاۖ لَّقَدۡ قُلۡنَآ إِذٗا شَطَطًا ١٤

هَٰٓؤُلَآءِ قَوۡمُنَا ٱتَّخَذُواْ مِن دُونِهِۦٓ ءَالِهَةٗۖ لَّوۡلَا يَأۡتُونَ عَلَيۡهِم بِسُلۡطَٰنِۢ بَيِّنٖۖ فَمَنۡ أَظۡلَمُ مِمَّنِ ٱفۡتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبٗا ١٥

Kami ceritakan kisah mereka kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Rabb mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk; dan Kami telah meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri lalu mereka berkata, “Rabb kami adalah Rabb langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Rabb selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran. Kaum kami ini telah menjadikan selain Dia sebagai tuhan-tuhan (untuk disembah). Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang terang (tentang kepercayaan mereka?) Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?” (al-Kahfi: 13—15)

 

Tafsir Ayat

نَّحۡنُ نَقُصُّ عَلَيۡكَ نَبَأَهُم بِٱلۡحَقِّۚ

“Kami mengisahkan kepadamu berita mereka dengan benar.”

Ayat ini merupakan awal penjelasan rinci tentang kisah Ashabul Kahfi yang telah disebutkan sebelumnya, yang Allah ‘azza wa jalla mengisahkan kepada nabinya dengan kebenaran apa yang mereka alami, yang tidak ada keraguan dalam kisah tersebut.

Pada ayat sebelumnya, Allah ‘azza wa jalla berfirman,

إِذۡ أَوَى ٱلۡفِتۡيَةُ إِلَى ٱلۡكَهۡفِ فَقَالُواْ رَبَّنَآ ءَاتِنَا مِن لَّدُنكَ رَحۡمَةٗ وَهَيِّئۡ لَنَا مِنۡ أَمۡرِنَا رَشَدٗا ١٠ فَضَرَبۡنَا عَلَىٰٓ ءَاذَانِهِمۡ فِي ٱلۡكَهۡفِ سِنِينَ عَدَدٗا ١١ ثُمَّ بَعَثۡنَٰهُمۡ لِنَعۡلَمَ أَيُّ ٱلۡحِزۡبَيۡنِ أَحۡصَىٰ لِمَا لَبِثُوٓاْ أَمَدٗا ١٢

(Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa, “Wahai Rabb, kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini). Maka Kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu, kemudian Kami bangunkan mereka, agar Kami mengetahui manakah di antara kedua golongan itu yang lebih tepat dalam menghitung berapa lamanya mereka tinggal (dalam gua itu).” (al-Kahfi: 10—12)

Sebagian mengatakan bahwa mereka adalah kaum yang berasal dari keturunan bangsawan kota Diqyus, dari seorang raja kafir yang bernama Daqinus. Mereka berasal dari bangsa Romawi yang mengikuti ajaran Nabiyullah Isa q. Ada pula yang mengatakan bahwa mereka hidup sebelum zaman Isa q. Wallahu a’lam. (Tafsir al-Qurthubi 214/13)

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Yang tampak, mereka hidup sebelum munculnya agama Nasrani secara umum. Sebab, seandainya mereka berkeyakinan Nasrani, tentu para pendeta Yahudi tidak terlalu perhatian untuk menjaga kisah mereka dan memerintahkan untuk menjauhinya.

Telah disebutkan dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma bahwa kaum Quraisy mengutus kepada para pendeta Yahudi untuk meminta mereka menguji Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka pun mengutus untuk menanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kisah mereka ini (Ashabul Kahfi -pen.), tentang kisah Dzulqarnain, dan tentang ruh.

Ini menunjukkan bahwa kisah ini telah disebutkan dalam kitab-kitab ahli kitab, dan lebih dahulu dari kemunculan agama Nasrani. Wallahu a’lam.” (Tafsir Ibnu Katsir, 9/109)

Al-Allamah asy-Syinqithi rahimahullah berkata, “Perlu diketahui bahwa kisah Ashabul Kahfi, siapa nama-nama mereka, dan negeri tempat tinggal mereka, semua itu tidak sahih datangnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ada penjelasan tambahan dari apa yang telah disebutkan dalam al-Qur’an, dan yang menafsirkan hal itu banyak berasal dari berita israiliyat.

Kami sengaja tidak menyebutkannya karena tidak adanya kevalidan berita tentangnya.” (Adhwa’ul Bayan, 4/27)

 

Makna Al-Fata/Al-Fityah

إِنَّهُمۡ فِتۡيَةٌ ءَامَنُواْ بِرَبِّهِمۡ وَزِدۡنَٰهُمۡ هُدٗى ١٣

“Sesungguhnya mereka adalah para pemuda yang beriman kepada Rabb mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk.”

Al-Fityah adalah bentuk jamak taksir dari al-fata.

Fityah bermakna para remaja/pemuda. Akan tetapi, terkadang yang dimaksud dengan istilah al-fata adalah budak sahaya, seperti firman Allah ‘azza wa jalla,

مِّن فَتَيَٰتِكُمُ ٱلۡمُؤۡمِنَٰتِۚ

“… dari budak-budak wanita kalian yang mukminah….” (an-Nisa: 25)

Tatkala seorang pemuda memiliki tabiat yang lebih lembut, memiliki kedermawanan dan kemuliaan yang tidak ditemukan pada banyak orang tua, mereka menyematkan julukan al-fata bagi seorang yang dermawan dan mulia. Penggunaan istilah al-fata untuk menyebut orang yang memiliki sifat mulia, banyak ditemukan pada kebanyakan ucapan para ulama.

Di antaranya adalah perkataan ahli bahasa, “Inti al-futuwwah (kepemudaan) adalah keimanan.”

Junaid berkata, “Al-futuwwah (kepemudaan) adalah menginfakkan harta, menghilangkan gangguan, dan meninggalkan keluhan.”

Ada pula yang berkata, al-Futuwwah adalah menjauhi hal-hal yang diharamkan dan bersegera melakukan hal-hal yang mulia.

Al-Qurthubi rahimahullah berkata tentang makna yang terakhir, “Pendapat ini bagus sekali karena bersifat umum, mencakup semua yang disebutkan tentang makna futuwwah.” (Tafsir al-Qurthubi, 13/223, Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam, 11/83)

Di antaranya pula perkataan Abu Ismail al-Anshari rahimahullah, “Al-futuwwah adalah engkau mendekati orang yang mendatangimu, engkau memuliakan orang yang menyakitimu, berbuat baik kepada yang berbuat buruk kepadamu, sebagai bentuk pemberiaan maaf, bukan menahan amarah; bentuk rasa cinta, bukan kesabaran.”

Dinukil dari Ahmad bin Hambal rahimahullah bahwa beliau berkata, “Al-futuwwah adalah meninggalkan sesuatu yang engkau inginkan karena ada sesuatu yang engkau khawatirkan.”

Ini sebagaimana firman Allah ‘azza wa jalla,

وَأَمَّا مَنۡ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِۦ وَنَهَى ٱلنَّفۡسَ عَنِ ٱلۡهَوَىٰ ٤٠

“Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya.” (an-Nazi’at: 40)

Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Siapa yang mengajak kepada sesuatu yang Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya mengajak kepadanya, berupa akhlak yang mulia, dialah orang yang telah berbuat kebaikan, baik hal itu dinamakan futuwwah maupun tidak. Siapa yang mengada-ada di dalam agama Allah ‘azza wa jalla sesuatu yang bukan berasal darinya, ia tertolak.” (Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah, 11/84)

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Allah ‘azza wa jalla menyebutkan bahwa mereka adalah para pemuda. Mereka lebih mudah menerima kebenaran dan hidayah untuk menempuh jalan Allah subhanahu wa ta’ala dibandingkan dengan orang-orang tua yang telah lama tenggelam dalam keyakinan yang batil. Oleh karena itu, kebanyakan orang yang menerima ajakan agama Allah ‘azza wa jalla dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah para pemuda. Adapun mayoritas orang tua dari Quraisy bersikukuh mempertahankan keyakinan mereka.Tidak ada yang selamat dari mereka kecuali sedikit. Demikian pula Allah ‘azza wa jalla memberitakan tentang Ashabul Kahfi bahwa mereka adalah para pemuda yang masih remaja.” (Tafsir Ibnu Katsir, 9/109)

          وَزِدۡنَٰهُمۡ هُدٗى

“dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk.”

Maknanya, Kami memudahkan mereka untuk beramal saleh, dengan mengkhususkan diri beribadah kepada Allah ‘azza wa jalla, menjauhkan diri dari manusia, dan bersikap zuhud dalam kehidupan dunia. Ini merupakan tambahan dari keimanan yang telah ada.(Tafsir al-Qurthubi, 13/ 223)

Ayat ini merupakan salah satu dalil yang dijadikan hujah oleh para ulama bahwa keimanan itu bisa bertambah dan bertingkat-tingkat, sebagaimana bisa berkurang. Hal ini dikuatkan lagi dengan firman Allah ‘azza wa jalla,

وَٱلَّذِينَ ٱهۡتَدَوۡاْ زَادَهُمۡ هُدٗى وَءَاتَىٰهُمۡ تَقۡوَىٰهُمۡ ١٧

“Dan orang-orang yang mendapat petunjuk Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada mereka (balasan) ketakwaannya.” (Muhammad: 17)

هُوَ ٱلَّذِيٓ أَنزَلَ ٱلسَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ لِيَزۡدَادُوٓاْ إِيمَٰنٗا مَّعَ إِيمَٰنِهِمۡۗ

“Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada).” (al-Fath: 4)

dan ayat-ayat Allah ‘azza wa jalla yang lain.

Al-Allamah asy-Syinqithi rahimahullah berkata setelah menyebutkan ayat-ayat tentang bertambahnya keimanan, “Ayat-ayat yang disebutkan ini adalah nash-nash yang jelas menunjukkan bahwa iman itu bertambah. Maka dari itu, dipahami bahwa iman juga dapat berkurang. Hal ini sebagaimana al-Imam al-Bukhari rahimahullah menjadikannya sebagai dalil tentang hal tersebut. Ini menunjukkan dengan sangat jelas tanpa keraguan. Jadi, tidak ada alasan untuk berselisih tentang bertambahnya iman dan berkurangnya sebagaimana yang Anda lihat.” (Adhwaul Bayan, 4/39)

وَرَبَطۡنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمۡ إِذۡ قَامُواْ فَقَالُواْ رَبُّنَا رَبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ

Dan Kami meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri, lalu mereka pun berkata, “Rabb kami adalah Rabb seluruh langit dan bumi.”

Kata “rabth” dalam ayat ini menunjukkan kekuatan tekad kesabaran yang tinggi, yang Allah ‘azza wa jalla berikan kepada mereka, sehingga mereka mampu berkata di hadapan orang-orang kafir, “Rabb Kami adalah Rabb pemilik seluruh langit dan bumi.”

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan makna ayat ini, “Kami memberi kesabaran kepada mereka untuk menyelisihi kaum dan masyarakatnya, dan meninggalkan kehidupan yang lapang, bahagia, serta kenikmatan yang mereka rasakan sebelumnya. Telah disebutkan oleh banyak ahli tafsir dari kalangan salaf maupun khalaf, mereka adalah anak-anak raja Romawi dan pembesarnya.

Pada suatu hari, mereka keluar menuju perayaan sebagian kaumnya. Mereka memiliki hari berkumpul dalam setahun. Mereka berkumpul di lapangan negeri tersebut, melakukan penyembahan kepada patung-patung dan thaghut, dan menyembelih untuknya. Mereka memiliki seorang penguasa angkuh dan penentang kebenaran yang bernama Diqyanus. Dia memerintah manusia untuk melakukan penyembahan tersebut, menganjurkannya, dan menyerukannya.

Tatkala manusia keluar menuju tempat perkumpulan itu, para pemuda ini juga turut keluar bersama ayah-ayah mereka dan kaumnya. Mereka menyaksikan dengan mata kepala mereka sendiri apa yang dilakukan oleh kaumnya. Mereka pun meyakini bahwa apa yang dilakukan kaumnya tersebut,yaitu sujud kepada berhala dan melakukan penyembelihan kepadanya, tidak sepantasnya dilakukan kecuali hanya untuk Allah ‘azza wa jalla yang menciptakan langit dan bumi.

Alhasil, masing-masing memisahkan diri dari kaumnya dan menjauhkan diri dari mereka. Para pemuda tersebut mendatangi satu bagian daerah itu. Orang pertama dari mereka duduk di bawah sebuah pohon, lalu seorang lagi datang dan duduk di dekatnya, lalu datang lagi yang lainnya dan duduk di dekatnya pula, begitu seterusnya. Tidak seorang pun di antara mereka yang saling mengenal. Yang mengumpulkan mereka di tempat tersebut adalah bersatunya mereka di atas keimanan.

Hal ini sebagaimana yang diriwayatkan dari Aisyah radhiallahu ‘anha bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ، وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اخْتَلَفَ

“Ruh-ruh manusia itu berkelompok sesuai dengan sifatnya. Jika saling mengenal sifatnya, ia akan saling mencintai, dan jika berbeda sifatnya, ia akan berselisih.” (Muttafaq alaihi)

Manusia mengatakan, “Sejenis adalah sebab menyatu.”

Yang jelas, masing-masing berusaha menyembunyikan ihwalnya dari sahabatnya karena khawatir. Mereka tidak tahu bahwa mereka memiliki kesamaan prinsip. Hingga salah seorang dari mereka berkata, “Kalian mengetahui—demi Allah—bahwa tidak ada yang mengeluarkan kalian dari kaum kalian, dan kalian menjauh dari mereka melainkan ada sesuatu. Maka dari itu, hendaknya setiap orang dari kalian menjelaskan tujuannya.”

Seseorang berkata, “Adapun saya, demi Allah, sesungguhnya aku melihat apa yang dilakukan oleh kaumku. Aku meyakini bahwa itu adalah kebatilan. Sesungguhnya yang berhak disembah hanyalah Allah ‘azza wa jalla semata, tiada sekutu baginya. Dialah Allah ‘azza wa jalla yang menciptakan segala sesuatu, langit, bumi dan yang di antara keduanya.”

Yang lain berkata, “Demi Allah demikian pula yang aku alami.”

Yang lain juga mengatakan hal yang sama. Akhirnya, mereka semua sepakat di atas satu kalimat. Mereka pun menyatu dan menjadi saudara yang dibangun di atas kejujuran. Mereka pun membuat tempat ibadah yang di dalamnya mereka menyembah hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Ketika diketahui oleh kaumnya, orang-orang melaporkan perbuatan para pemuda kepada raja mereka. Sang raja pun meminta untuk menghadirkan mereka di hadapannya. Sang raja bertanya kepada mereka tentang apa yang mereka lakukan. Para pemuda itu menjawabnya dengan kejujuran dan mengajaknya kepada jalan Allah ‘azza wa jalla.

Oleh karena itu, Allah ‘azza wa jalla mengabarkan tentang mereka,

وَرَبَطۡنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمۡ إِذۡ قَامُواْ فَقَالُواْ رَبُّنَا رَبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ

Dan Kami meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri, lalu mereka pun berkata, “Rabb kami adalah Pemilik seluruh langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Rabb selain Dia.” (Tafsir Ibnu Katsir, 9/110—111)

Namun kisah rinci yang disebutkan tentang kejadian ini merupakan berita israiliyat. Asy-Syinqithi rahimahullah berkata, “Kisah mereka disebutkan dalam semua kitab-kitab tafsir. Kami sengaja tidak menyebutkannya karena beritanya israiliyat.” (Adhwaul Bayan, 4/40)

Asy-Syinqithi rahimahullah berkata, “Dipahami dari ayat yang mulia ini bahwa siapa yang berada dalam ketaatan kepada Allah ‘azza wa jalla, Dia akan menguatkan hatinya, meneguhkannya untuk memikul beban yang berat, dan memberinya kesabaran yang tinggi.

Allah ‘azza wa jalla telah mengisyaratkan hal ini pada beberapa kejadian dalam ayat-ayat yang lain. Di antaranya firman Allah ‘azza wa jalla tentang mereka yang mengikuti Perang Badr. Allah ‘azza wa jalla mengatakan kepada Nabi-Nya dan para sahabatnya,

إِذۡ يُغَشِّيكُمُ ٱلنُّعَاسَ أَمَنَةٗ مِّنۡهُ وَيُنَزِّلُ عَلَيۡكُم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءٗ لِّيُطَهِّرَكُم بِهِۦ وَيُذۡهِبَ عَنكُمۡ رِجۡزَ ٱلشَّيۡطَٰنِ وَلِيَرۡبِطَ عَلَىٰ قُلُوبِكُمۡ وَيُثَبِّتَ بِهِ ٱلۡأَقۡدَامَ ١١

إِذۡ يُوحِي رَبُّكَ إِلَى ٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ أَنِّي مَعَكُمۡ فَثَبِّتُواْ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْۚ سَأُلۡقِي فِي قُلُوبِ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ ٱلرُّعۡبَ فَٱضۡرِبُواْ فَوۡقَ ٱلۡأَعۡنَاقِ وَٱضۡرِبُواْ مِنۡهُمۡ كُلَّ بَنَانٖ ١٢

(Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteraman dari-Nya, dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk menyucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguangangguan setan dan untuk menguatkan hatimu dan memperteguh dengannya telapak kaki (mu).

(Ingatlah), ketika Rabbmu mewahyukan kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman.” Kelak akan Aku susupkan rasa takut ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka. (al-Anfal: 11—12)

Demikian pula firman Allah ‘azza wa jalla kepada ibu Musa ‘alaihissalam,

وَأَصۡبَحَ فُؤَادُ أُمِّ مُوسَىٰ فَٰرِغًاۖ إِن كَادَتۡ لَتُبۡدِي بِهِۦ لَوۡلَآ أَن رَّبَطۡنَا عَلَىٰ قَلۡبِهَا لِتَكُونَ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ١٠

“Dan menjadi kosonglah hati ibu Musa. Sesungguhnya hampir saja ia menyatakan rahasia tentang Musa, seandainya tidak Kami teguhkan hatinya, supaya ia termasuk orang-orang yang percaya (kepada janji Allah).” (al-Qashash: 10) (Adhwaul Bayan, 4/39)

 

لَّقَدۡ قُلۡنَآ إِذٗا شَطَطًا ١٤

            “Sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran.”

Syathath maknanya penyimpangan yang jauh dari kebenaran, dan jalan yang sangat jauh dari kebenaran.

Jadi, makna ayat di atas ialah, jika kami menyembah bersama Allah subhanahu wa ta’ala sembahan-sembahan yang lain setelah kami mengetahui bahwa Dia-lah Rabb yang merupakan sembahan yang tidak sepantasnya diibadahi kecuali hanya Dia, berarti kami mengucapkan kalimat yang batil dan sangat menyimpang dari kebenaran.

          هَٰٓؤُلَآءِ قَوۡمُنَا ٱتَّخَذُواْ مِن دُونِهِۦٓ ءَالِهَةٗۖ لَّوۡلَا يَأۡتُونَ عَلَيۡهِم بِسُلۡطَٰنِۢ بَيِّنٖۖ فَمَنۡ أَظۡلَمُ مِمَّنِ ٱفۡتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبٗا ١٥

“Kaum kami ini telah menjadikan selain Dia sebagai tuhan-tuhan (untuk disembah). Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang terang (tentang kepercayaan mereka)? Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?”

Al-Allamah Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini, “Tatkala para pemuda ini mengingat anugerah yang Allah ‘azza wa jalla berikan kepada mereka, berupa keimanan, hidayah, dan ketakwaan, mereka pun memerhatikan apa yang dilakukan oleh kaumnya yang membuat sembahan-sembahan selain Allah ‘azza wa jalla. Mereka pun membencinya. Para pemuda itu menjelaskan bahwa sesungguhnya kaumnya tidak berjalan di atas keyakinan dalam urusan mereka. Kaumnya justru benar-benar berada dalam kejahilan dan kesesatan.

Oleh karena itu, para pemuda itu berkata, “Tidakkah mereka mendatangkan hujah dan bukti atas kebatilan yang mereka perbuat—dan tidak mungkin mereka mampu melakukannya? Sesungguhnya, itu hanyalah kebohongan terhadap Allah ‘azza wa jalla dan kedustaan atas-Nya. Ini adalah kezaliman yang paling besar.”

Oleh karena itu, Allah ‘azza wa jalla menyatakan,

فَمَنۡ أَظۡلَمُ مِمَّنِ ٱفۡتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبٗا

“Siapakah yang paling besar kezalimannya dari orang-orang yang mengada-ada terhadap Allah?” (Tafsir al-Karim ar-Rahman, hlm. 950)

Wallahul Muwaffiq.