Membunuh Nyamuk dengan Raket Listrik

MEMBUNUH NYAMUK DENGAN RAKET LISTRIK

Apa hukum menggunakan alat (raket) listrik untuk memberantas serangga?

Jawab:

Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menjawab, “Tidak apa-apa menggunakan alat tersebut karena beberapa alasan.

  1. Membunuh serangga dengan alat tersebut tidaklah membakarnya, tetapi serangga tersebut mati biasa (bukan mati terbakar). Buktinya, apabila Anda meletakkan kertas di atas alat tersebut, kertas tidak akan terbakar.
  2. Orang yang menggunakan alat tersebut tidaklah bermaksud menyiksa nyamuk dan serangga dengan api. Tujuannya hanyalah menghindari gangguan yang ditimbulkan binatang-binatang itu. Sementara itu, hadits yang ada berisi larangan menyiksa dengan api, dan ini bukanlah tindakan menyiksa dengan api, melainkan menghalau gangguannya.
  3. Umumnya membasmi serangga-serangga tersebut tidaklah mungkin kecuali dengan alat listrik atau obat-obatan pembasmi serangga (insektisida) yang menebarkan aroma menyengat (tidak enak dihirup), dan di antara insektisida tersebut ada yang kadang bermudarat bagi tubuh. Berikutnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu pernah membakar pohon-pohon kurma Yahudi Bani Nadhir, padahal di pohon kurma biasanya ada burung-burung yang bersarang di atasnya atau serangga-serangga atau binatang yang semisalnya.” (Fatawa Nurun ‘alad Darb dinukil dari www.ibnothaimeen.com)

Melahirkan Akan Menggugurkan Dosa?

MELAHIRKAN MENGGUGURKAN DOSA?

Apakah benar ada dalil yang menyatakan bahwa setiap wanita yang melahirkan akan berguguran semua dosanya, semua itu karena rasa sakit dan kepayahan yang dialaminya saat melahirkan, maka melahirkan menjadi pembersih dosa-dosanya?

Jawab:

Tidak benar. Akan tetapi, wanita sebagaimana anak Adam yang lainnya, apabila menimpanya suatu kesulitan atau musibah, lalu bersabar dan mengharapkan pahala, dia akan beroleh ganjaran atas rasa sakit dan musibah tersebut. Sampai-sampai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberikan permisalan yang lebih ringan dari itu, seperti seseorang yang terkena duri pun akan dihapuskan kesalahannya.

Ketahuilah, jika seseorang bersabar menghadapi musibah yang menimpa dan mengharapkan pahala dari Allah ‘azza wa jalla, dia akan diberi balasan pahala karena kesabaran dan ihtisab (harapan pahala)nya. Asal musibah itu sendiri adalah penghapusan dosa. Dengan demikian, musibah merupakan penghapus dosa, bagaimana pun keadaannya. Apabila dihadapi dengan kesabaran, orang tersebut akan diberi pahala karena sabarnya menghadapi musibah.

Saat melahirkan, tidaklah diragukan, wanita pasti merasa kesakitan dan kepayahan. Sakit tersebut akan menjadi kaffarah (penghapus dosa) baginya. Jika dia bersabar dan mengharapkan pahala dari Allah ‘azza wa jalla, bersama dengan kaffarah tersebut ada tambahan dalam pahalanya dan kebaikannya.

Berhiasnya Wanita

HUKUM MEMAKAI MAKE UP

Apa hukum make up modern yang biasa dipakai wanita, ada yang dioleskan di bibir, di wajah, di mata, ataupun di kuku. Semua itu hanya untuk diperlihatkan di hadapan suami, tidak ditunjukkan pada lelaki yang bukan mahram. Sebab, saya pernah mendengar bahwa sebagian orang yang memiliki ilmu agama tidak membolehkan pemakaian make up tersebut, walaupun hanya untuk diperlihatkan di depan suami, dengan alasan termasuk tasyabbuh dengan wanita-wanita kafir. Bagaimana sebenarnya masalah make up ini?

make-up-kit

Jawab:

Berhias itu ada dua macam.

  1. Berhias atau memperindah diri yang sifatnya permanen atau selamanya.

Yang seperti ini hukumnya haram, seperti wasyr, wasym, dan namsh. Wasyr adalah mengikir gigi agar jarang dengan menggunakan gergaji atau alat tertentu hingga gigi geligi tampak cantik. Wasym adalah melubangi kulit lalu diletakkan di dalamnya celak atau semisalnya dengan celupan dan benda tersebut tetap akan menempel di situ (tatto). Namsh adalah mencabut rambut yang tumbuh di wajah seperti rambut alis dan semisalnya. Semua ini diharamkan dan termasuk dosa besar, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pelakunya.

 

  1. Berhias yang sifatnya tidak permanen, bisa dihilangkan.

Yang seperti ini tidak apa-apa, seperti berhias dengan memakai celak, wars (jenis dedaunan yang dipakai untuk memerahkan wajah), dan yang semisalnya. Akan tetapi, dengan syarat tidak mengantarkan pada hal yang terlarang atau berbahaya menurut syariat, seperti berhias meniru gaya wanita-wanita kafir (tasyabbuh dengan wanita kafir). Atau berhias untuk tabarruj, dipertontonkan kepada lelaki yang bukan mahram dan semisalnya. Berhias dengan pelanggaran yang seperti ini haram dan haramnya karena faktor yang lain, bukan karena berhiasnya.

 

MENYEMIR RAMBUT DENGAN WARNA HITAM

Saya pernah membaca sebuah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang melarang menyemir rambut dengan warna hitam. Apakah hadits tersebut sahih? Apakah larangan tersebut berlaku umum untuk lelaki dan wanita, ataukah khusus bagi lelaki saja? Lalu apa hikmah dibalik larangan tersebut?

Kuas Sisir

Jawab:

Hadits tersebut sahih, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan mengubah uban dan menyuruh untuk menjauhi warna hitam. Beliau mengancam orang yang menyemir jenggotnya dengan warna hitam bahwa mereka tidak akan mencium wanginya surga. Hal ini menunjukkan semiran dengan warna hitam termasuk dosa besar.

Maka dari itu, wajib bagi seseorang untuk bertakwa kepada Allah ‘azza wa jalla dan menjauhi apa yang dilarang oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar dia termasuk orang-orang yang taat kepada Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَقُولُواْ قَوۡلٗا سَدِيدٗا ٧٠

“Siapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya maka sungguh dia telah beruntung dengan keberuntungan yang besar.” (al-Ahzab: 71)

Dia ‘azza wa jalla juga berfirman,

وَمَن يَعۡصِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ ضَلَّ ضَلَٰلٗا مُّبِينٗا ٣٦

“Siapa yang bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya maka sunguh dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata.” (al-Ahzab: 36)

Hikmah dari larangan tersebut adalah menyemir rambut dengan warna hitam berarti menentang atau melawan hikmah Allah ‘azza wa jalla yang menciptakan manusia di atasnya. Sebab, jika seseorang mengubah rambut ubannya yang putih menjadi warna hitam, seakan-akan dia ingin mengembalikan ketuaannya kepada kemudaan. Ini adalah sikap penentangan hikmah yang Allah ‘azza wa jalla ciptakan manusia di atasnya, yaitu rambut-rambut mereka akan memutih yang sebelumnya berwarna hitam ketika mereka telah berusia tua.

Sementara itu, kita maklum bahwa menentang kodrat Allah ‘azza wa jalla adalah perkara yang tidak sepantasnya. Tidak boleh seorang pun melawan Allah ‘azza wa jalla dalam hal ciptaan-Nya, sebagaimana tidak boleh dirinya melawan Allah ‘azza wa jalla dalam hal syariat-Nya.

Adapun menghilangkan cacat yang sifatnya tidak biasa, tidaklah terlarang. Misalnya, seseorang punya jari lebih dari yang semestinya lalu menjalani operasi untuk menghilangkan kelebihan jari tersebut. Hal ini tidak apa-apa selama tidak berdampak bahaya. Misalnya lagi, seseorang memiliki bibir sumbing, lalu dibetulkan dengan cara operasi dan semisalnya, maka semua ini tidak apa-apa, karena termasuk menghilangkan cacat yang tidak biasa.

 

HUKUM BERSISIR SAAT HAID

Ada yang mengatakan bahwa menyisir rambut, menggunting kuku, dan mandi tidak boleh dilakukan wanita selama masa haid. Apakah ucapan ini benar?

sisir

Jawab:

Perkataan tersebut tidak benar. Wanita haid boleh menggunting kukunya, menyisir rambutnya, dan melakukan mandi janabah—misalnya dia ihtilam (mimpi basah) dalam keadaan haid atau suaminya menggaulinya pada selain kemaluannya hingga dia keluar mani, maka dia pun mandi janabah.

 

 

Sementara itu, ucapan yang tersebar di kalangan sebagian wanita bahwa wanita haid tidak boleh mandi, tidak boleh bersisir, tidak boleh menggaruk kepalanya, dan tidak boleh menggunting kuku, sama sekali tidak ada dasarnya dalam syariat sepanjang yang kami ketahui.

 

HUKUM SHALAT WANITA YANG BERCAT KUKU

Apa hukum shalat wanita yang memakai cat kuku (kuteks)?

kuteks-cat-kuku

Jawab:

Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menjawab, “Wudhunya tidak sah, shalatnya pun tidak sah. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لاَ يَقْبَلُ اللهُ صَلاَةَ أَحَدِكُمْ إِذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوضَّأَ

“Allah tidak menerima shalat salah seorang dari kalian apabila dia berhadats sampai berwudhu.” (HR. al-Bukhari)

Jadi, selama wudhunya tidak sah, shalatnya pun tidak sah.”

 

APAKAH SHALATNYA DIULANGI?

Apakah shalat wanita yang bercat kuku itu harus diulangi?

Jawab:

Apabila si wanita mengetahui bahwa dia tidak boleh shalat dalam keadaan memakai cat kuku karena wudhunya tidak sah, dia harus mengulang shalatnya. Namun, apabila tidak mengetahui hukumnya (jahil), dia tidak wajib mengulang shalatnya.

Hal ini berdasarkan kaidah yang dikenal oleh ahlul ilmi, yang ditunjukkan oleh al-Qur’an dan as-Sunnah, yaitu orang yang jahil atau bodoh tidak wajib mengulangi kewajiban yang dia tinggalkan dan tidak berdosa atas perbuatan terlarang yang dilakukannya.

Akan tetapi, perlu dipahami bahwa terkadang seseorang jahil karena bersikap masa bodoh, tidak peduli, tidak mau bertanya, dan tidak mau mencari tahu kebenaran. Orang jahil yang seperti ini kita haruskan dia mengulangi ibadahnya, karena kejahilannya disebabkan dia meninggalkan kewajiban belajar ilmu agama.

Adapun apabila dia jahil tanpa bersikap masa bodoh, tetapi dia memang benar-benar tidak tahu perkara-perkara tersebut dan tidak pula terbetik di hatinya bahwa itu haram atau yang semisalnya, hukum diangkat darinya[1].

Karena itulah, orang yang salah dalam shalatnya (al-musi’u fi shalatihi) karena tidak thuma’ninah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyuruhnya mengulangi shalat-shalatnya yang dahulu dikerjakannya, dalam keadaan orang tersebut tidak bisa lagi shalat sebaik yang dikerjakannya di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam[2]. Ketika itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya,

ارْجِعْ فَصَلِ، فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِ

“Kembalilah engkau lalu shalatlah lagi, karena sesungguhnya engkau belum shalat.”(HR. al-Bukhari dan Muslim.)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya menyuruhnya mengulang shalat yang dikerjakannya saat itu[3], karena waktunya belum habis (masih ada waktu shalat). Jadi, untuk shalat yang masih tersisa waktunya tersebut, dia dituntut untuk mengerjakannya dengan cara yang sempurna[4].

 


 

[1] Tidak dibebani pengulangan ibadah dan tidak berdosa karena meninggalkan kewajiban.

[2] Itulah shalat terbaik yang bisa dilakukannya sebatas pengetahuannya tentang tata cara shalat.

[3] Diulang shalatnya saat itu karena shalatnya tidak benar, ada rukun yang luput dikerjakannya karena ketidaktahuannya.

[4] Adapun shalat yang sudah lewat waktunya tidak diperintahkan untuk diulangi.

Rezeki Tidak Sama, Apa Hikmahnya?

Perhatikanlah lingkungan sekitar Anda! Pasti Anda akan dapati perbedaan tingkat kehidupan orang-orangnya.

Ada yang kaya raya, punya rumah mewah, kendaraan berderet bak showroom di garasinya. Uangnya jangan ditanya, perhiasannya pun membuat mulut kita menganga. Sementara itu, makanan yang tersaji di meja hidangannya membuat kita geleng-geleng kepala. Dia bisa bepergian ke mana dia suka, berlibur dari satu negara ke negara lain adalah hal yang biasa.

Anda dapati ada lagi si miskin papa, berumah reyot dengan dinding hampir roboh, berpakaian kusam dan penuh tambalan, makan cukup dengan sepotong tempe atau krupuk.

Yang lebih prihatin ada lagi, mereka yang Anda lihat menggelandang di emperan, tidur di atas tanah berhampar koran, langit yang menjadi atap. Tak terbayang dingin menusuk saat malam tiba, apatah lagi ketika hujan turun sementara tubuh mereka hanya dibungkus pakaian yang compang-camping. Makan hanya dengan mengharap belas kasih orang-orang. Makanan basi penghuni tong sampah tidak ditolak sebagai pengganjal perut daripada harus menanggung sakitnya rasa lapar. Sungguh mengenaskan!

Ada lagi yang hidupnya pertengahan, tidak kaya berlebihan, tidak pula kekurangan.

Bisa jadi, pernah terpikir di benak Anda, mengapa harus ada si miskin dan si kaya? Si ‘papa’ dan si konglomerat? Mengapa manusia tidak disamakan saja rezekinya?

Jawabannya, Allah ‘azza wa jalla ar-Razzaq, Dzat yang memberikan rezeki dan membagi-baginya di antara para hamba-Nya, memiliki hikmah yang tinggi dalam penciptaan, dalam melapangkan dan menyempitkan rezeki para hamba-Nya. Dia memiliki hikmah yang agung dalam hukum dan penetapan syariat. Seluruh hukum syariat-Nya adil, penuh rahmat dan sarat hikmah, serta memberi kemaslahatan bagi para hamba di dunia dan akhirat mereka.

Uang

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَمَنۡ أَحۡسَنُ مِنَ ٱللَّهِ حُكۡمٗا لِّقَوۡمٖ يُوقِنُونَ ٥٠

“Siapakah yang lebih baik hukumnya daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?” (al-Maidah: 50)

Dia Maha Terpuji dalam pemberian-Nya kepada para hamba dan Maha Terpuji pula ketika Dia menahan pemberian-Nya. Kewajiban para hamba adalah mensyukuri-Nya ketika Dia memberi kelapangan rezeki kepada mereka disertai dengan menunaikan apa yang diwajibkan-Nya kepada mereka dalam rezeki tersebut.

Sebaliknya, para hamba wajib bersabar dengan takdir Allah ‘azza wa jalla ketika Dia menyempitkan rezeki mereka. Allah ‘azza wa jalla lebih tahu apa yang paling bermaslahat bagi mereka daripada diri mereka sendiri. Allah ‘azza wa jalla lebih sayang kepada mereka daripada sayangnya ibu dan ayah kandung mereka.

Allah ‘azza wa jalla memang tidak menyamakan pembagian rezeki di antara para hamba-Nya. Ada yang dilapangkan dan ada yang disempitkan karena hikmah-Nya yang agung dan bernilai tinggi.

Berikut ini kita petikkan apa yang disampaikan oleh Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah dalam sebuah khutbah beliau yang tersimpan dalam kitab adh- Dhiya’u al-Lami’ min al-Khuthab al-Jawami’ (1/169—171) tentang hikmah pembagian rezeki yang berbeda-beda.

Allah ‘azza wa jalla membagi rezeki tidak sama di antara para hamba-Nya, agar mereka mengetahui bahwa Allah ‘azza wa jalla lah yang mengatur seluruh urusan. Di tangan-Nya lah penguasaan dan pengaturan langit serta bumi. Dia melapangkan rezeki sebagian hamba-Nya dan menyempitkan sebagian yang lain. Tidak ada yang bisa menolak takdir dan ketetapan-Nya.

لَهُۥ مَقَالِيدُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ يَبۡسُطُ ٱلرِّزۡقَ لِمَن يَشَآءُ وَيَقۡدِرُۚ إِنَّهُۥ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٞ ١٢

“Kepunyaan-Nya-lah perbendaharaan langit dan bumi. Dia melapangkan rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkannya. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (asy-Syura: 12)

Allah ‘azza wa jalla membedakan pembagian rezeki-Nya agar manusia mengambil pelajaran dengan adanya perbedaan di dunia ini tentang adanya perbedaan derajat di akhirat kelak.

Di dunia ini manusia berbeda-beda penghidupannya. Di antara mereka ada yang tinggal di istana megah nan menjulang, menaiki kendaraan yang mewah dan mahal, berbolak-balik dalam kebahagiaan dan kesenangan di tengah-tengah harta, keluarga, dan anak-anaknya. Di antara mereka ada yang tidak memiliki tempat bernaung, tidak ada keluarga, tidak ada harta, tidak ada anak, hidup sebatang kara. Di antara mereka ada yang pertengahan, di antara itu dan ini, dengan derajat yang berbeda.

Demikian pula derajat di akhirat kelak, lebih besar, lebih nyata, dan lebih kekal.

ٱنظُرۡ كَيۡفَ فَضَّلۡنَا بَعۡضَهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖۚ وَلَلۡأٓخِرَةُ أَكۡبَرُ دَرَجَٰتٖ وَأَكۡبَرُ تَفۡضِيلٗا ٢١

“Perhatikanlah bagaimana Kami lebihkan sebagian dari mereka di atas sebagian yang lain. Dan pasti kehidupan akhirat lebih tinggi tingkatnya dan lebih besar keutamaannya.” (al-Isra: 21)

Apabila sepeti itu keadaan akhirat dibandingkan dengan dunia, sepantasnya manusia berlomba-lomba untuk meraih derajat yang tinggi di kehidupan yang lebih kekal abadi, yaitu negeri akhirat. Orang yang cerdas tentu mendambakan yang lebih kekal. Untuk perlombaan inilah orang-orang yang cerdas rela berlomba, tidak untuk dunia!

Allah ‘azza wa jalla membagi rezeki dengan berbeda-beda, agar orang yang kaya dapat menghargai kadar nikmat yang dimudahkan kepadanya. Dia pun bersyukur kepada Dzat Yang Memberikan nikmat sehingga tergolong hamba-hamba yang bersyukur.

Sebaliknya, orang yang fakir mengetahui ujian yang diterimanya berupa kefakiran, lalu bersabar sehingga mencapai derajat hamba-hamba yang bersabar. Telah diberitakan bahwa orang yang bersabar akan beroleh pahala tanpa batas.

Bersamaan dengan kesabarannya, si fakir harus terus memohon kemudahan kepada Rabbnya dan menanti kelapangan dari-Nya tanpa pernah berputus asa dari rahmat-Nya.

Allah ‘azza wa jalla membagi-bagi rezeki-Nya agar tercapai maslahat agama dan dunia para hamba-Nya. Andai semuanya beroleh kelapangan rezeki dan menjadi orang kaya, niscaya manusia akan melampaui batas di muka bumi dengan berbuat kekafiran, kezaliman, dan kerusakan. Kelapangan dan kemudahan hidup membuat mereka lupa diri.

Sebaliknya, apabila semua mereka disempitkan rezekinya dan semua menjadi orang miskin, niscaya akan timbul ketimpangan dalam tatanan hidup mereka.

Apabila semua manusia rezekinya sama, niscaya sebagiannya tidak bisa menjadikan sebagian yang lain sebagai ejekan, sehingga tidak ada ujian sebagai tempaan keimanan. Sebagiannya tidak bisa menjadikan yang lain sebagai pekerja. Sebagiannya tidak menjadi pelayan bagi yang lain. Yang satu tidak membuat sesuatu untuk yang lain, karena semuanya berderajat sama.

Apabila seperti itu keadaannya, di mana rasa kasih sayang si kaya terhadap si miskin? Andai semua berderajat sama, bagaimana penerapan menyambung silaturahmi dengan menginfakkan harta kepada karib kerabat?

Jelas sekali, banyak kemaslahatan akan hilang seandainya manusia sama rezekinya. Karena itulah, wajib bagi kita kaum muslimin untuk ridha Allah ‘azza wa jalla sebagai Rabb kita, ridha dengan pembagian rezeki-Nya, ridha dengan hukum-Nya, serta beriman dengan hikmah dan rahasia-Nya.

ٱللَّهُ يَبۡسُطُ ٱلرِّزۡقَ لِمَن يَشَآءُ مِنۡ عِبَادِهِۦ وَيَقۡدِرُ لَهُۥٓۚ إِنَّ ٱللَّهَ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٞ ٦٢

“Allah-lah yang melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia pula yang menyempitkannya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (al-Ankabut: 62)

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

Untuk yang Diundang Walimah

Saudari muslimah….

Ketika Anda diundang sanak famili, tetangga, atau teman untuk suatu acara pernikahan atau walimah al-urs, selama tidak ada penghalang syar’i, Anda harus menghadiri undangan tersebut. Hal ini berpijak dengan hadits berikut,

إِذَا دُعِيَ أَحَدُكُمْ إِلَى الْوَلِيْمَةِ فَلْيَأْتِهَا

“Apabila salah seorang dari kalian diundang acara walimah, hendaknya dia menghadirinya.” (HR . al-Bukhari no. 5173 dan Muslim no. 3495, dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma)

Dalam riwayat Muslim (no. 3499) ada lafadz,

عُرْسًا كَانَ أَوْ نَحْوَهُ

“(Sama saja) apakah undangan walimah urs atau semisalnya.”

Dalam riwayat al-Bukhari (no. 5177) dan Muslim (no. 3511) dari hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan,

وَمَنْ تَرَكَ (وَفِي لَفْظٍ لِمُسْلِمٍ: وَمَنْ لم يُجِبِ) الدَّعْوَةَ فَقَدْ عَصَى اللهَ وَرَسُوْلَهُ

“Siapa yang meninggalkan (dalam lafadz al-Imam Muslim: tidak memenuhi) undangan, dia telah bermaksiat kepada Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya.”

Hadits ini adalah dalil wajibnya memenuhi undangan. Sebab, maksiat tidaklah disematkan pada diri seseorang melainkan karena dia telah meninggalkan kewajiban. Sebagaimana hal ini dinyatakan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah. (Fathul Bari, 9/305)

Janur Kuning

Bagaimana Apabila Bertepatan Anda Sedang Berpuasa?

Ada hadits yang menjawab masalah ini. Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu menyampaikan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا دُعِيَ أَحَدُكُمْ فَلْيُجِبْ. فَإِنْ كَانَ صَائِمًا فَلْيُصَلِّ، وَ نْ كَانَ مُفْطِرًا فَلْيَطْعَمْ

“Apabila salah seorang dari kalian diundang, hendaknya dia memenuhinya. Apabila dia sedang berpuasa, hendaknya dia mendoakan. Namun, jika dia tidak berpuasa, hendaknya dia makan.” (HR . Muslim no. 3506)

Tentang makna ‘mendoakan’ dalam hadits di atas, kata jumhur ulama adalah mendoakan yang menyajikan makanan dengan ampunan, berkah, dan semisalnya. (al-Minhaj, 9/237)

Apabila puasa yang sedang dilakukan adalah puasa sunnah, boleh bagi yang diundang membatalkan puasanya. Lebih-lebih lagi apabila tuan rumah memintanya terus-menerus untuk makan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا دُعِيَ أَحَدُكُمْ إِلَى طَعَامٍ فَلْيُجِبْ. فَإِنْ شَاءَ طَعِمَ وَإِنْ شَاءَ تَرَكَ

“Apabila salah seorang dari kalian diundang makan, hendaknya dia memenuhinya. Kalau mau, dia makan. Kalau dia mau pula, dia tidak makan.” (HR . Muslim no. 3504 dari Jabir radhiallahu ‘anhu)

Kata al-Imam an-Nawawi rahimahullah, “Jika puasanya adalah puasa sunnah dan yang menyajikan makanan (si pengundang) merasa berat dengan puasanya (kecewa karena dia tidak makan), yang afdal dia berbuka.” (al-Minhaj, 9/237)

Ummu Hani radhiallahu ‘anha menyampaikan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

الصَّائِمُ الْمُتَطَوِّعُ أَمِيْرُ نَفْسِهِ، إِنْ شَاءَ صَامَ وَإِنْ شَاءَ أَفْطَرَ

“Orang yang berpuasa sunnah adalah pimpinan bagi dirinya. Jika mau, dia tetap puasa; dan jika mau, dia berbuka.” (HR . an-Nasa’i, menurut al-Hakim sanadnya sahih dan disepakati oleh adz-Dzahabi. Hadits ini memang sebagaimana yang dikatakan keduanya, kata al-Imam Albani rahimahullah dalam kitabnya Adab az-Zafaf, catatan kaki hlm. 156)

Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu ‘anha mengabarkan, “Suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke rumahku lalu bertanya, ‘Apakah kalian punya makanan?’

‘Tidak,’ jawabku.

‘Kalau begitu aku berpuasa,’ ujar beliau.

Di hari yang lain, ada yang mengirimiku makanan hais sebagai hadiah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyukai hais. Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah kita dihadiahi hais.’

‘Sajikan untukku,’ jawab beliau, ‘Sebenarnya sejak tadi pagi saya berpuasa.’

Beliau menyantap hais tersebut, kemudian berkata,

إِنَّمَا مَثَلُ صَوْمِ الْمُتَطَوِّعِ مِثْلُ الرَّجُلِ يُخْرِجُ مِنْ مَالِهِ الصَّدَقَةَ، فَإِنْ شَاءَ أَمْضَاهَا وَإِنْ شَاءَ حَبَسَهَا

‘Permisalan seseorang yang berpuasa sunnah hanyalah seperti seorang lelaki yang mengeluarkan sedekah dari hartanya. Kalau dia mau dia berikan sedekah tersebut dan kalau mau dia tahan (tidak memberikannya).’ (HR . an-Nasa’i dengan sanad yang sahih. Lihat al-Irwa 4/136)

 

Bagaimana Apabila Ada Maksiat?

Apabila di tempat undangan tersebut ada perbuatan maksiat, Anda jangan menghadirinya, kecuali apabila Anda ingin melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar. Kalau berhasil, itulah yang diinginkan. Jika tidak, Anda harus meninggalkan tempat acara tersebut.

Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu berkata, “Aku pernah membuat makanan lalu kuundang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyantapnya. Beliau pun datang lalu melihat di dalam rumah ada gambar-gambar (makhluk bernyawa). Beliau pun kembali. Ketika ditanya alasan beliau kembali, beliau bersabda,

إِنَّ فِي الْبَيْتِ سِتْرًا فِيْهِ تَصَاوِيْرُ، وَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ لاَ تَدْخُلُ بَيْتًا فِيْهِ تَصَاوِيْرُ

“Di dalam rumah itu ada satir yang bergambar. Sungguh malaikat tidak masuk ke dalam rumah yang ada gambar-gambar di dalamnya.” (HR . Ibnu Majah dengan sanad yang sahih. Lihat kitab Adab az-Zafaf, catatan kaki hlm. 161)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ، فَلاَ يَقْعَدَنَّ عَلىَ مَائِدَةٍ يُدَارُ عَلَيْهَا بِالْخَمْرِ

“Siapa yang beriman kepada Allah ‘azza wa jalla dan hari akhir, janganlah sekali-kali dia duduk di meja hidangan yang di atasnya diedarkan khamr.” (HR . Ahmad, lihat al-Irwa no. 1949)

Al-Imam al-Auza’i rahimahullah pernah berkata, “Kami tidak masuk ke tempat walimah yang di dalamnya ada gendang dan alat musik.” (Adab az-Zafaf, hlm. 166)

 

Yang Sunnah Dilakukan oleh Tamu Undangan

Ada dua hal yang disenangi untuk Anda lakukan saat menghadiri undangan, yaitu:

  1. Mendoakan si pengundang setelah selesai menyantap hidangannya.

Dalam hal ini ada beberapa doa yang dicontohkan.

  1. Abdullah bin Busr menyatakan bahwa ayahnya membuatkan makanan untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu mengundang beliau. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memenuhi undangan tersebut. Selesai menyantap hidangan beliau berdoa,

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُمْ وَارْحَمْهُمْ وَباَرِكْ لَهُمْ فِيْمَا رَزَقْتَهُمْ

“Ya Allah, ampuni mereka, rahmatilah mereka, dan berkahilah mereka dalam apa yang Engkau rezekikan kepada mereka.” (HR . Muslim)

  1. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai menikmati hidangan yang disajikan Sa’d bin Ubadah radhiallahu ‘anhu di rumahnya, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa,

أَكَلَ طَعَامَكُمُ الْأَبْرَارُ وَصَلَّتْ عَلَيْكُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَأَفْطَرَ عِنْدَكُمُ الصَّائِمُوْنَ

“Telah makan makanan kalian orang-orang baik dan para malaikat bershalawat atas kalian. Orang-orang yang berpuasa berbuka puasa di sisi kalian.” (HR . Ahmad 3/138, dll. Sanadnya sahih, lihat catatan kaki adab az-Zafaf, hlm. 170)

 

  1. Mendoakan pengantin dengan doa kebaikan dan keberkahan

Berikut ini doa yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

  1. Saat mendoakan Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu,

بَارَكَ اللهُ لَكَ

“Semoga Allah memberkahimu.” (HR . al-Bukhari dan Muslim)

  1. Ketika mendoakan Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu saat menikahi putri beliau, Fathimah, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan,

اللَّهُمَّ بَارِكْ فِيْهِمَا وَبَارِكْ لَهُمَا فِي بِنَائِهِمَا

“Ya Allah, berkahilah dalam pernikahan keduanya dan berkahilah keduanya dalam malam pengantin keduanya.” (HR . Ahmad 3/359, dll. Kata al-Imam al-Albani rahimahullah dalam catatan kaki Adabuz Zafaf hlm. 145, Niswah “Rijalnya tsiqat, rijal al-Imam Muslim, selain Abdul Karim. Sejumlah orang tsiqat meriwayatkan darinya. Kata al-Hafizh dalam at-Taqrib, “Dia maqbul/ diterima.”)

  1. Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu menyampaikan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan pengantin dengan ucapan,

بَارَكَ اللهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي خَيْرٍ

(HR . Abu Dawud, Tirmidzi, dll. Dinyatakan sahih dalam Shahih Abi Daud)

 

Tidak diperkenankan kita mengucapkan ucapan selamat seperti yang biasa diucapkan orang-orang jahiliah, misalnya,

بِالرّفَاءِ وَالْبَنِيْنَ

“Semoga dianugerahi kerukunan dan banyak anak.”

Ketika Uqail bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu menikah dengan seorang wanita dari Jusyam, orang-orang mengucapkan selamat dengan ucapan بِالرّفَاءِ وَالْبَنِيْن . Uqail berkata, “Jangan kalian mengucapkan demikian, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarangnya.”

Mereka bertanya, “Lantas apa yang harus kami ucapkan, wahai Abu Zaid?”

“Ucapkanlah,

بَارَكَ اللهُ لَكُمْ وَبَارَكَ عَلَيْكُمْ

Sungguh, dengan itu kami diperintah.” (HR . Ibnu Abi Syaibah, Abdur Razzaq, dll. Lihat Adab az-Zafaf, catatan kaki hlm. 176)

Demikian bimbingan dalam as-Sunnah.

 

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

Walimah al-Urs

Setelah ijab qabul sepasang pengantin, biasanya karib kerabat, handai taulan, dan orang-orang di sekitar, diundang untuk jamuan makan. Acara makan-makan ini dikenal dengan walimah al-urs. Dalam semua pernikahan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, diadakan walimah al-urs, kadang dengan jamuan daging dan pernah pula tanpa daging, sesuai dengan kemampuan dan kelapangan saat itu.

Walimah pernikahan merupakan perkara yang disyariatkan dan seperti disebutkan di atas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri melakukannya. Bahkan, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah Abdurrahman ibnu Auf radhiallahu ‘anhu untuk mengadakan walimah atas pernikahannya dengan seorang wanita Anshar. Berikut ini kisahnya dari hadits Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu.

Suatu hari Abdurrahman ibnu Auf radhiallahu ‘anhu menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan tampak bekas wewangian wanita berwarna kuning kemerah-merahan pada pakaiannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang belum tahu bahwa Abdurrahman telah menikah bertanya heran, “Ada apa denganmu?” atau “Wewangian apa ini?”

Abdurrahman pun menjelaskan, “Wahai Rasulullah, saya telah menikah dengan seorang wanita Anshar. “

“Apa mahar yang engkau berikan?” tanya Rasulullah.

“Emas seberat biji kurma,” jawab Abdurrahman.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mendoakan keberkahan untuknya dan mengatakan,

أَوْلِمْ وَلَوْ بِشَاةٍ

Adakanlah walimah, walaupun hanya dengan seekor kambing.” (HR . al-Bukhari dalam Shahihnya)

Ada pula perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu yang menikahi Fathimah putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Buraidah ibnul Hushaib radhiallahu ‘anhu berkisah sebagai berikut.

Sejumlah orang Anshar berkata kepada Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, “Lamarlah Fathimah putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Mengikuti saran orang-orang Anshar, Ali pun memberanikan diri mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu mengucapkan salam kepada beliau. Rasulullah bertanya, “Apa keperluanmu, wahai Ali?”

Ali menjawab, “Aku menginginkan Fathimah putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Marhaban wa ahlan,” kata Rasulullah, tidak menambah selain ucapan tersebut.

Ali bin Abi Thalib lalu keluar dari rumah beliau dan menemui sekelompok orang-orang Anshar yang tengah menantinya. “Bagaimana hasilnya?” tanya mereka penasaran.

“Aku tidak tahu, Rasulullah hanya berkata, ‘Marhaban wa ahlan’,” jawab Ali.

Mereka berkata, “Sudah cukup bagimu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam salah satu dari keduanya. Beliau memberimu al-ahl dan al-marhab.”

Setelah berlalu beberapa waktu dan Ali telah menikahi Fathimah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَا عَلِيُّ، إِنَّهُ لاَ بُدَّ لِلْعَرُوْسِ مِنْ وَلِيْمَةٍ

“Wahai Ali, harus diadakan walimah untuk pengantin.”

Sa’d berkata menawarkan bantuannya, “Saya punya domba (bisa disembelih untuk hidangan walimah).” Sekelompok orang Anshar ikut membantu Ali. Mereka mengumpulkan beberapa sha’ dzarrah.

Pada malam pengantin, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan kepada Ali, “Jangan kamu melakukan apa-apa sampai kamu menemuiku.” Kemudian Rasulullah meminta diambi lkan air dalam wadah, lalu beliau berwudhu dalam wadah tersebut. Setelahnya beliau mencurahkan air bekas wudhu beliau ke tubuh Ali dan berdoa[1],

اللَّهُمَّ بَارِكْ فِيْهِمَا وَبَارِكْ لَهُمَا فِي بِنَائِهِمَا

“Ya Allah, berkahilah dalam pernikahan keduanya, dan berkahilah keduanya dalam malam pengantin keduanya.”[2]

Boleh Walimah Tanpa Hidangan Daging

Hidangan makanan berupa daging memang lazim kita jumpai dalam jamuan walimah. Bisa jadi, kita akan heran saat menghadiri walimah tanpa ada daging yang disajikan. Padahal yang punya hajat boleh menyajikan makanan apa pun sesuai dengan kemampuannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri, sebagaimana disinggung di atas, pernah mengadakan walimah tanpa daging. Berikut ini kisahnya.

Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam singgah selama tiga malam di sebuah tempat yang terletak antara Khaibar dan Madinah guna berpengantinan dengan Shafiyah bintu Huyai. Aku mengundang kaum muslimin untuk menghadiri walimah beliau. Dalam jamuan walimah tersebut tidak ada roti, tidak pula daging. Di atas tanah dibentangkan alas dari kulit yang telah disamak, lalu disajikan di atasnya kurma, keju, dan minyak samin. Orang-orang yang hadir pun kenyang dengan hidangan yang ada.” (HR . al-Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya)

Hidangan Walimah Boleh Dibantu Orang Lain

Hidangan walimah tidak harus ditanggung sendiri oleh yang punya hajat. Bahkan, disenangi bagi orang-orang yang memiliki kelapangan untuk membantu menyiapkan hidangan apabila yang punya hajat memang tidak mampu.

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits Ali radhiallahu ‘anhu yang telah dibawakan di atas dan hadits Anas radhiallahu ‘anhu tentang kisah pernikahan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Shafiyah bintu Huyai. Saat dibentangkan di atas tanah hamparan dari kulit, diumumkanlah, “Siapa yang memiliki kelebihan makanan, hendaknya dia mendatangkannya ke kami.”

Berdatanganlah orang membawa keju, membawa kurma, dan membawa minyak samin….”

Sunnah dalam Walimah

Ada beberapa bimbingan sunnah yang perlu diperhatikan oleh yang mengadakan walimah, di antaranya:

  1. Walimah diadakan tiga hari setelah dukhul (masuk dan bertemunya pengantin lelaki dengan perempuan).

Demikian yang ternukil dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Saat beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menikah dengan Shafiyah, diadakan walimah pada hari ketiga. (HR . Abu Ya’la)[3]

  1. Mengundang orang-orang saleh dalam jamuan walimah, tanpa membedakan dia miskin atau kaya. Sebab, Abu Said al-Khudri radhiallahu ‘anhu menyampaikan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

لاَ تُصَاحِبْ إِلاَّ مُؤْمِنًا، وَلاَ يَأْكُلْ طَعَامَكَ إِلاَّ تَقِيٌّ

“Janganlah kamu berteman kecuali dengan seorang mukmin. Dan janganlah memakan makananmu kecuali orang yang bertakwa.” (HR . Abu Dawud, at-Tirmidzi, dll.)[4]

Haram hukumnya apabila dalam walimah hanya diundang orang-orang kaya dan meninggalkan orang-orang miskin. Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu menyampaikan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

شَرُّ الطَّعَامِ طَعَامُ الْوَلِيْمَةِ يُدْعَى لَهَا الْأَغْنِيَاءُ وَيمنعهَا الْمَسَاكِي

“Hidangan yang paling buruk adalah hidangan walimah yang di dalam jamuannya hanya diundang orang-orang kaya, dan orang-orang miskin terhalangi menikmatinya (tidak diundang).” (HR . Muslim dalam Shahihnya)

  1. Hidangan walimah dengan seekor kambing atau lebih kalau memang ada kelapangan.

Haditsnya jelas tentang kisah pernikahan Abdurrahman bin Auf radhiallahu ‘anhu yang telah dibawakan di atas. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya,

أَوْلِمْ وَلَوْ بِشَاةٍ

           “Adakanlah walimah, walaupun hanya dengan seekor kambing.” (HR . al-Bukhari dalam Shahihnya)

Ada lagi hadits lain yang menunjukkan hal ini. Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu sebagai orang yang selalu dekat dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena beliau adalah pelayan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kembali menyampaikannya kepada kita,

مَا رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ أَوْلَمَ عَلَى امْرَأَةٍ مِنْ نِسَائِهِ مَا أَوْلَمَ عَلَى زَيْنَبَ، فَإِنَّهُ ذَبَحَ شَاةً.

“Aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menghidangkan makanan walimah atas pernikahannya dengan seorang pun dari istri-istri beliau sebagaimana hidangan walimah yang beliau sajikan saat menikahi Zainab bintu Jahsy[5]. Saat itu beliau menyembelih seekor kambing.” (HR . al-Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya)

Pengantin Melayani Hadirin

Biasanya dalam acara walimah, pengantin duduk manis di pelaminannya. Pengantin perempuan di tempat khusus para wanita dan pengantin lelaki di tempat para lelaki[6]. Namun, tidak ada larangan pengantin ikut melayani tamu undangan, seperti mengambilkan piring, menuangkan air minum, dan sebagainya. Hal ini dilakukan oleh istri Abu Usaid as-Sa’idi radhiallahu ‘anhu. Saat walimahnya yang dihadiri oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia sendiri yang membuatkan makanan walimah dan dia pula yang menghidangkannya. (HR . al-Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya)

cincin

“Cincin Kawin” dalam Catatan

Ada beberapa kebiasaan menyimpang yang kerap terjadi di tengah kita dalam pesta pernikahan, di antaranya apa yang disebut cincin kawin.

Dalam acara pernikahan, biasanya pengantin lelaki bertukar cincin dengan pengantin perempuan. Lalu cincin itu dikenakan di jari kelingking pengantin. Padahal kebiasaan ini bukanlah dari Islam, melainkan dari agama Nasrani. Sementara itu, kita—orang Islam— dilarang menyerupai orang-orang kafir, termasuk Nasrani, dalam kebiasaan mereka yang khusus.

Selain jatuh dalam perbuatan tasyabbuh, pemakaian cincin ini juga ada yang memaksudkan untuk mengikat cinta di antara suami istri, suami mencintai istrinya dan istri mencintai suaminya. Hal ini adalah bentuk kesyirikan karena pemakaian cincin bukanlah sebab syar’i untuk mengikat cinta dan bukan pula sebab qadari. Maksudnya, tidak ada hubungan sebab akibat yang dibenarkan oleh hukum syariat dan hukum alam, antara memakai cincin kawin dan rasa cinta.

Ada anggapan bahwa selama cincin itu dikenakan oleh suami berarti pernikahannya dengan istrinya tetap terjaga. Sebaliknya apabila suami melepaskan cincin kawin berarti ada sesuatu dalam pernikahannya. Apabila sampai niat dan keyakinan seperti ini ada pada si pemakai, jelas hukumnya syirik ashghar. Namun, apabila tanpa keyakinan demikian, dia hanya sekedar memakai karena tradisi di masyarakatnya, dia jatuh dalam perbuatan tasyabbuh.

Ada lagi satu kemungkaran cincin kawin tersebut, yaitu apabila cincin terbuat dari emas. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang lelaki memakai cincin dari emas, sebagaimana hadits berikut ini,

نَهَى عَنْ خَاتَمِ الذَّهَبِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari memakai cincin emas.” (HR . al-Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya) (Lihat al-Qaul al-Mufid Syarhu Kitab at-Tauhid, 1/78)

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah


[1] Doa lain untuk pengantin adalah,

بَارَكَ اللهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي خَيْرٍ

[2] Lihat kitab Adab az-Zafaf, hlm. 175, karya al-Imam al-Albani.

HR Ahmad 5/359, dll. Kata al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah tentang sanadnya dalam Fathul Bari, “La ba’sa bih.” Kata al-Imam al-Albani rahimahullah, dalam catatan kaki Adabuz Zafaf hlm. 145, “Rijalnya tsiqat, rijal al-Imam Muslim, selain Abdul Karim. Sejumlah orang-orang tsiqat meriwayatkan darinya, Ibnu Hibban membawakannya dalam kitabnya ats-Tsiqat, 2/183.”

Kata al-Hafizh dalam at-Taqrib, “Dia maqbul/diterima.”

Kisah lengkapnya diriwayatkan oleh Ibnu Sa`d (8/20—21), ath-Thabarani dalam al-Kabir (1/112/1) dengan sanad hasan, dan Ibnu Asakir (12/88/2).

[3] Sanadnya hasan sebagaimana disebutkan dalam Fathul Bari (9/199) dan secara makna ada dalam Shahih al-Bukhari.

[4] Al-Hakim berkata, “Sahih sanadnya”, dan disepakati oleh adz-Dzahabi. Lihat catatan kaki Adab az-Zafaf.

[5] Saat menikah dengan Zainab, hidangan walimahnya lebih istimewa.

[6] Harus dipisah tamu lelaki dan perempuan di tempat masing-masing agar tidak terjadi ikthilath yang diharamkan. Pengantin lelaki tentu tidak boleh didudukkan di ruang khusus para wanita.

Mari Perbagus Akhlak Kita

KHUTBAH PERTAMA

إِنَّ الْحَمْدَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ ١٠٢

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفۡسٖ وَٰحِدَةٖ وَخَلَقَ مِنۡهَا زَوۡجَهَا وَبَثَّ مِنۡهُمَا رِجَالٗا كَثِيرٗا وَنِسَآءٗۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ٱلَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلۡأَرۡحَامَۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيۡكُمۡ رَقِيبٗا ١

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَقُولُواْ قَوۡلٗا سَدِيدٗا ٧٠ يُصۡلِحۡ لَكُمۡ أَعۡمَٰلَكُمۡ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۗ وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ فَازَ فَوۡزًا عَظِيمًا ٧١

أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كَلَامُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ وَشَرَّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ. أَمَّا بَعْدُ؛

 

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Segala puji bagi Allah ‘azza wa jalla yang telah menciptakan manusia dan mengaruniai mereka akal. Saya bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak untuk diibadahi dengan benar selain Allah ‘azza wa jalla semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Saya bersaksi pula bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, tidak ada nabi setelahnya.

Shalawat dan salam semoga senantiasa Allah ‘azza wa jalla curahkan kepada pemimpin para nabi, Nabi kita Muhammad, keluarganya, para sahabatnya, dan kaum muslimin yang senantiasa mengikuti petunjuknya.

 

Hadirin rahimakumullah,

Manusia telah mengenal agama ini, pengajarannya yang sempurna, dan seruannya menuju adab yang tinggi serta akhlak yang utama. Telah datang pula anjuran untuk berakhlak mulia dalam Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam banyak hadits. Oleh karena itu, kita dapati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam—yang wajib kita teladani dan kita tiru amalannya— dalam kitab ash-Shahih dari Anas radhiallahu ‘anhu,

وَكَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ

“Akhlak beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah al-Qur’an.”

Ketika ditanya tentang akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Aisyah radhiallahu ‘anha berkata,

كَانَ النَّبِيُّ أَحْسَنَ النَّاسِ أَخْلَاقًا

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling baik akhlaknya.”

Karena itu pula, Anas radhiallahu ‘anhu berkata,

خَدَمْتُ رَسُولَ اللهِ عَشْرَ سِنِينَ، وَاللهِ مَا قَالَ لِي أُفًّا قَطُّ، وَلَا قَالَ لِي لِشَيْءٍ لِمَ فَعَلْتَ كَذَا، وَهَلَّا فَعَلْتَ كَذَا

“Aku melayani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selama sepuluh tahun. Demi Allah, beliau tidak pernah sekali pun berkata kepadaku “Ah”. Tidak pula beliau berkata, “Mengapa engkau berbuat begini? Tidakkah engkau melakukan demikian?”

Ini menunjukkan kesempurnaan akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika bergaul dengan para sahabat dan pembantu beliau.

Disebutkan dalam Shahih Muslim dari hadits an-Nawwas bin Sam’an radhiallahu ‘anhu, bahwa kata al-birr (kebajikan) ditafsirkan sebagai kebagusan akhlak.

Dari Abdullah bin Amr bin al-‘Ash radhiallahu ‘anhuma,

 لَمْ يَكُنْ رَسُولُ اللهِ فَاحِشًا وَلَا مُتَفَحِّشًا وَإِنَّهُ كَانَ يَقُولُ: إِنَّ خِيَارَكُمْ أَحَاسِنُكُمْ أَخْلَاقًا

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sama sekali bukan orang yang berkata keji atau menyengaja berkata keji. Beliau bersabda, “Yang terbaik di antara kalian ialah yang paling bagus akhlaknya.” (Muttafaqun alaih)

Akhlak yang baik termasuk sesuatu yang paling berat dalam timbangan pada hari kiamat ketika amalan-amalan ditimbang. Hal ini sebagaimana dalam hadits Abu ad-Darda radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا شَيْءٌ أَثْقَلُ فِي مِيزَانِ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ، وَإِنَّ اللهَ لَيُبْغِضُ الْفَاحِشَ الْبَذِيءَ

“Tidak ada sesuatupun yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin selain akhlak yang baik. Sungguh, Allah membenci orang yang berkata keji dan kotor.” (HR. at-Tirmidzi, dan beliau katakan, “Hadits hasan sahih.”)

 

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Akhlak yang baik termasuk amalan yang banyak menyebabkan orang masuk surga. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu,

سُئِلَ رَسُولُ اللهِ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ الْجَنَّةَ فَقَالَ: تَقْوَى اللهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ. وَسُئِلَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ فَقَالَ: الْفَمُ وَالْفَرْجُ

Rasulullah ditanya tentang sesuatu yang paling banyak memasukkan orang ke dalam surga. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Takwa kepada Allah dan akhlak yang bagus.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga ditanya tentang sesuatu yang paling banyak memasukkan orang ke dalam neraka, beliau menjawab, “Mulut dan kemaluan.”

Maksudnya, kemaksiatan yang dilakukan dengan mulut—seperti ghibah, namimah, dan lainnya—serta kemaksiatan yang dilakukan dengan kemaluan.

88

Hadirin rahimakumullah,

Akhlak yang bagus akan menyempurnakan iman seseorang. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا، وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ

“Mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang paling bagus akhlaknya, dan yang terbaik di antara kalian ialah yang terbaik terhadap istrinya.” (HR. at-Tirmidzi)

Seorang mukmin, bisa jadi tidak termasuk orang yang sering berpuasa dan shalat malam. Akan tetapi, dengan akhlaknya yang bagus, dia digolongkan ke dalam derajat dan kedudukan mereka. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الْمُؤْمِنَ لَيُدْرِكُ بِحُسْنِ خُلُقِهِ دَرَجَةَ الصَّائِم اِلْقَائِم

“Sungguh, dengan kebagusan akhlaknya, seorang mukmin mencapai derajat orang yang puasa dan shalat malam.” (HR. Abu Dawud)

Bahkan, Allah ‘azza wa jalla menjanjikan sebuah rumah di surga yang tertinggi bagi orang yang bagus akhlaknya dan memperlakukan orang lain sebagaimana dia ingin diperlakukan oleh orang lain. Dari Abu Umamah al-Bahili radhiallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا، وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا، وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسُنَ خُلُقُهُ

“Aku menjamin sebuah rumah di tepian surga bagi yang meninggalkan perdebatan meski dia di pihak yang benar, (aku menjamin) sebuah rumah di tengah surga bagi yang meninggalkan dusta meski dalam hal bercanda, dan (aku menjamin) di bagian surga yang tertinggi bagi yang bagus akhlaknya.” (HR. Abu Dawud)

Orang-orang yang bagus akhlaknya memiliki tempat duduk yang terdekat dan orang yang paling dicintai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari kiamat. Dari Jabir radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا وَإِنَّ أَبْغَضَكُمْ إِلَيَّ وَأَبْعَدَكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الثَّرْثَارُونَ وَالْمُتَشَدِّقُونَ وَالْمُتَفَيْهِقُونَ. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، قَدْ عَلِمْنَا الثَّرْثَارُونَ وَالْمُتَشَدِّقُونَ، فَمَا الْمُتَفَيْهِقُونَ؟ قَالَ: الْمُتَكَبِّرُونَ

“Di antara orang yang paling dekat tempat duduknya dariku nanti pada hari kiamat ialah orang yang terbagus akhlaknya di antara kalian, sedangkan yang terjauh tempat duduknya dariku ialah ats-tsartsarun, al-mutasyaddiqun, dan al-mutafaiqihun.”

Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, kami telah mengetahui atstsartsarun dan al-mutasyaddiqun. Lantas, apa itu al-mutafaiqihun?”

Beliau menjawab, “Orang-orang yang sombong.” (HR. at-Tirmidzi)

Makna ats-tsartsarun ialah orang yang banyak berbicara dengan memberat-berati diri.

Adapun al-mutasyaddiqun ialah orang yang panjang omongannya ketika berbicara dengan manusia.

Adapun al-mutafaiqihun, sebagaimana disebutkan dalam hadits, maknanya ialah orang yang sombong dan merasa lebih tinggi daripada orang lain.

Semua sifat ini berlawanan dengan akhlak yang bagus. Orang yang memiliki sifat di atas merupakan orang yang paling dibenci oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan paling jauh tempat duduknya dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

Hadirin rahimakumullah,

Ayat-ayat dan hadits-hadits yang menganjurkan kita berhias dengan akhlak dan adab yang bagus sangatlah banyak. Kita memohon kepada Allah ‘azza wa jalla agar memperbagus akhlak kita dan mengangkat derajat kita.

أَقُولُ مَا تَسْمَعُونَ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

 

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُولِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اتَّبَعَ هُدَاهُ،

أَمَّا بَعْدُ:

Hadirin rahimakumullah,

Setelah kita mengetahui pentingnya kebagusan akhlak dan adab yang utama, sangat baik apabila kita bawakan beberapa contohnya.

Di antara yang terdapat dalam hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi rahimahullah, dari Abdullah bin Mubarak rahimahullah, tentang penafsiran akhlak yang bagus, “Wajah yang berseri-seri, menyajikan kebaikan, menahan diri sehingga tidak mengganggu (orang lain).”

Di antara bentuk kebagusan akhlak yang lain ialah menyebarkan salam, sebagaimana dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

تَقْرَأُ السَّلَامَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ

“Engkau ucapkan salam kepada yang engkau kenal dan yang tidak.” (HR. al-Bukhari)

Di antaranya pula ialah menunaikan hak-hak sesama muslim, sebagaimana disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ خَمْسٌ: رَدُّ السَّلَامِ وَعِيَادَةُ الْمَرِيضِ وَاتِّبَاعُ الْجَنَائِزِ وَإِجَابَةُ الدَّعْوَةِ وَتَشْمِيتُ الْعَاطِسِ

“Hak muslim terhadap muslim lainnya ada lima: membalas salam, menjenguk yang sakit, mengikuti jenazah, memenuhi undangan, dan menjawab doa orang yang bersin.” (HR. al-Bukhari)

Al-Bara’ bin Azib radhiallahu ‘anhu mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah kami untuk menjenguk orang yang sakit, mengikuti jenazah, mendoakan orang yang bersin, menerima sumpah, menolong orang yang terzalimi, memenuhi undangan, dan menyebarkan salam.”

 

Hadirin sidang Jumat rahimakumullah

Di antara bentuk akhlak yang bagus ialah sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ وَيَكْرَهُ لَهُ مَا يَكْرَهُ لِنَفْسِهِ

“Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga dia mencintai untuk saudaranya apa yag dia cintai untuk dirinya sendiri, dan membenci bagi saudaranya sesuatu yang juga dia benci bagi dirinya sendiri.”

Di antara bentuk akhlak yang bagus ialah al-hilm (tenang, santun), lemah lembut, dan tidak tergesa-gesa (dalam hal berbicara/bertindak).

Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada al-Asyaj bin Abdil Qais,

إِنَّ فِيكَ خَصْلَتَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللهُ: الْحِلْمُ وَالْأَنَاةُ

“Sungguh, pada dirimu ada dua sifat yang dicintai oleh Allah: santun dan tidak tergesa-gesa.” (HR. Muslim)

Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ وَيُعْطِي عَلَى الرِّفْقِ مَا لَا يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ وَمَا لَا يُعْطِي عَلَى مَا سِوَاهُ

“Sungguh, Allah itu Mahalembut dan mencintai kelemahlembutan. Allah memberi kepada kelemahlembutan apa yang tidak Dia berikan kepada sikap kaku/kasar, dan apa yang tidak Dia beri kepada selainnya.” (HR. Muslim)

Masih banyak bentuk akhlak utama lainnya yang disebutkan oleh Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, saya wasiatkan kepada diri saya sendiri dan saudara-saudara saya para penuntut ilmu, para dai, serta semua orang secara umum, untuk menghiasi diri dengan akhlak yang bagus dan pergaulan yang baik dengan orang lain, bersikap rendah hati dan berlemah lembut terhadap orang lain. Dari sinilah, dakwah akan menghasilkan buahnya. Manusia pun akan menyambut dakwah Anda.

Adapun sikap keras, hal itu terpuji pada beberapa keadaan, sesuai dengan tempatnya.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

فَبِمَا رَحۡمَةٖ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمۡۖ وَلَوۡ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلۡقَلۡبِ لَٱنفَضُّواْ مِنۡ حَوۡلِكَۖ فَٱعۡفُ عَنۡهُمۡ وَٱسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ وَشَاوِرۡهُمۡ فِي ٱلۡأَمۡرِۖ فَإِذَا عَزَمۡتَ فَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُتَوَكِّلِينَ ١٥٩

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (Ali Imran: 159)

وَٱخۡفِضۡ جَنَاحَكَ لِمَنِ ٱتَّبَعَكَ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ٢١٥

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman.” (asy-Syu’ara: 215)

Ya Allah, kami memohon kepada-Mu agar diberi anugerah akhlak yang bagus. Ya Allah, kami berlindung dari akhlak yang buruk.

اللَّهُمَّ ا غْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَ ا لْمُسْلِمَاتِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،

 رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ

Pelajaran dari Sejarah Munculnya Khawarij

Sungguh, dengan mengenali sejarah generasi awal Khawarij akan menumbuhkan sikap waspada terhadap mereka. Sebab, mereka akan senantiasa muncul, hingga Dajjal muncul di tengah-tengah mereka, sebagaimana yang diberitakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Cikal bakal mereka yang paling awal adalah seseorang yang bernama Dzul Khuwaishirah. Jenggotnya tebal, tulang pipinya menonjol, kedua matanya cekung, dahinya timbul, dan kepalanya gundul. Dia berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika sedang membagi ghanimah (harta rampasan perang) Perang Hunain, “Berbuat adillah, wahai Muhammad!”— atau—“Bertakwalah engkau, wahai Muhammad!”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya, “Siapa lagi yang akan menaati Allah kalau aku bermaksiat kepada-Nya? Allah telah memercayaiku (untuk diutus) terhadap penduduk bumi, namun kalian tidak memercayaiku?”

Lelaki itu kemudian berpaling. Setelah itu, ada seorang sahabat yang hadir—disebutkan bahwa dia adalah Khalid bin al-Walid—meminta izin kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk membunuhnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh, dari tulang sulbi orang itu akan keluar sekelompok orang yang membaca al-Qur’an, namun tidak melampaui tenggorokan mereka. Mereka membunuh para pemeluk Islam, namun membiarkan para penyembah berhala. Mereka keluar dari Islam sebagaimana melesatnya anak panah dari binatang buruannya. Jika aku mendapati mereka, sungguh aku akan memerangi mereka sebagaimana kaum Ad diperangi.” (HR. Muslim)

Awal munculnya mereka dalam bentuk kelompok ialah pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu. Terjadi perselisihan antara mereka dan Ali radhiallahu ‘anhu, ketika Ali menunjuk orang sebagai hakim dalam perselisihannya dengan Mu’awiyah radhiallahu ‘anhuma dalam rangka menjaga agar darah kaum muslimin tidak ditumpahkan.

Sepulang dari Syam setelah peristiwa Shiffin, Ali radhiallahu ‘anhu memasuki Kufah. Saat memasuki Kufah, sekelompok pasukannya memisahkan diri dari Ali radhiallahu ‘anhu. Disebutkan bahwa jumlah kelompok itu sekitar 16 ribu orang atau 12 ribu orang. Ada juga yang menyebutkan jumlah kurang dari itu.

Mereka memisahkan diri dari Ali lalu memberontak kepada beliau. Mereka mengingkari Ali radhiallahu ‘anhu dalam beberapa masalah. Ali radhiallahu ‘anhu lalu mengutus Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma untuk menemui mereka untuk berdialog dalam beberapa masalah tersebut dan membantah syubhat mereka. Urusan yang mereka persoalkan sebenarnya tidak ada hakikatnya. Sebagian mereka rujuk kepada kebenaran, namun sebagian yang lain tetap bersikeras dalam kesesatan mereka.

Selanjutnya, Ali radhiallahu ‘anhu sendiri yang keluar menemui mereka yang tersisa. Beliau radhiallahu ‘anhu terus-menerus berdialog dan mendebat mereka hingga mereka kembali bersama Ali radhiallahu ‘anhu ke Kufah. Mereka kemudian mulai menentang ucapan beliau dan memperdengarkan cercaan terhadap beliau. Selain itu, ayat-ayat tentang syirik dan kekafiran terhadap Allah mereka tujukan kepada diri Ali radhiallahu ‘anhu.

Ibnu Jarir rahimahullah menyebutkan, suatu hari Ali radhiallahu ‘anhu sedang berpidato. Ketika itu, berdirilah salah seorang Khawarij dan berkata, “Wahai Ali, engkau telah berbuat syirik dalam agama Allah dengan (menunjuk) manusia (sebagai hakim). La hukma illa lillah (Tidak ada hukum kecuali milik Allah).”

Lantas bersahutanlah suara dari setiap sudut, “La hukma illa lillah, la hukma illa lillah.”

Ali radhiallahu ‘anhu mengatakan, “Ini adalah kalimat yang benar, tetapi yang diinginkan dengannya adalah kebatilan.”

Beliau kemudian berkata, “Kalian memiliki hak atas kami untuk kami tidak menghentikan pemberian fai’ selama tangan kalian masih (berbai’at) bersama kami, kami tidak menghalangi kalian mendatangi masjid-masjid Allah, dan kami tidak akan memulai memerangi kalian sampai kalian sendiri yang memulai memerangi kami.”

Setelah itu, kaum Khawarij berkumpul di tempat tinggal Abdullah bin Wahb ar-Rasibi. Abdullah bin Wahb berpidato di hadapan mereka dengan ucapan yang menggugah mereka. Dia menumbuhkan sikap zuhud terhadap dunia, mendorong mereka untuk urusan akhirat dan surga, dan memberi semangat mereka untuk menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar. Setelah, itu naiklah Hurqus bin Zuhair berpidato, dilanjutkan oleh Zaid bin Hishn, yang juga menyemangati mereka untuk beramar ma’ruf nahi mungkar. Dia membaca beberapa ayat al-Qur’an, di antaranya firman Allah ‘azza wa jalla,

يَٰدَاوُۥدُ إِنَّا جَعَلۡنَٰكَ خَلِيفَةٗ فِي ٱلۡأَرۡضِ فَٱحۡكُم بَيۡنَ ٱلنَّاسِ بِٱلۡحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ ٱلۡهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَضِلُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ

“Hai Dawud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah.” (Shad: 26)

وَمَن لَّمۡ يَحۡكُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡكَٰفِرُونَ ٤٤

“Barang siapa tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (al-Maidah: 44)

Demikian pula ayat yang selanjutnya, yang menyebutkan “mereka itu adalah orang-orang yang zalim” dan “mereka itu adalah orang-orang yang fasik”.

Setelah itu, dia berkata, “Aku mempersaksikan bahwa orang-orang yang kita dakwahi, orang-orang yang sama kiblatnya dengan kita, bahwa mereka telah mengikuti hawa nafsu, mencampakkan hukum al-Qur’an, zalim dalam hal ucapan dan amalan, serta bahwa berjihad melawan mereka adalah sebuah keharusan bagi kaum mukminin.”

Menangislah seseorang di antara mereka yang bernama Abdullah bin Sakhbarah. Dia pun memprovokasi mereka untuk melakukan pemberontakan. Dia berkata, “Tikamlah wajah dan kening mereka dengan pedang, sehingga ditaatilah Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.”

Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan, “Manusia jenis ini adalah keturunan Adam yang paling aneh. Mahasuci Dzat yang telah menciptakan makhluk-Nya beraneka ragam sesuai dengan kehendak-Nya, dan telah terdahulu dalam takdir Allah Yang Mahaagung.

Betapa bagusnya ucapan sebagian salaf, bahwa mereka (Khawarij) lah yang disebutkan dalam firman Allah ‘azza wa jalla,

قُلۡ هَلۡ نُنَبِّئُكُم بِٱلۡأَخۡسَرِينَ أَعۡمَٰلًا ١٠٣ ٱلَّذِينَ ضَلَّ سَعۡيُهُمۡ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَهُمۡ يَحۡسَبُونَ أَنَّهُمۡ يُحۡسِنُونَ صُنۡعًا ١٠٤

Katakanlah, “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. (al-Kahfi: 103—104)

Ringkasnya, mereka yang bodoh, sesat, celaka dalam hal ucapan dan perbuatan ini, bersepakat untuk memberontak di tengah-tengah kaum muslimin. Mereka bersepakat pergi menuju Madain untuk merebutnya kemudian berlindung di dalamnya. Mereka pun mengirim utusan kepada saudara-saudara dan teman-teman mereka yang memiliki pemikiran serupa di Basrah dan kota lainnya. Orang-orang tersebut memenuhi ajakan tersebut dan bergabung dengan mereka.

Zaid bin Hishn berkata, “Madain tidak mampu kalian kuasai. Di sana ada pasukan yang tidak mampu kalian hadapi, yang akan menghalangi kalian memasukinya. Buatlah kesepakatan dengan teman-teman kalian untuk pergi ke arah jembatan Sungai Jaukha. Janganlah kalian keluar dari Kufah secara berkelompok, tetapi seorang demi seorang agar tidak ada yang menyadari kalian.”

Mereka menulis surat terbuka kepada penduduk Basrah dan kota lainnya yang memiliki pemikiran dan tindakan yang sama dengan mereka. Mereka mengirimkan pesan tersebut agar bergabung di sisi sungai, agar mereka menjadi satu kekuatan menghadapi manusia.

Setelah itu, mereka keluar secara sembunyi-sembunyi, seorang demi seorang, agar tidak diketahui. Jika ada yang tahu, tentu mereka akan dihalangi sehingga tidak bisa memisahkan diri dari ayah, ibu, paman, dan seluruh kerabat sehingga mereka memutus tali silaturahim.

Dengan kebodohan, pendeknya akal, dan sedikitnya ilmu, mereka berkeyakinan bahwa perbuatan mereka ini membuat Allah ‘azza wa jalla—Rabb langit dan bumi—ridha. Mereka tidak tahu bahwa tindakan mereka tersebut termasuk salah satu dosa besar yang membinasakan, problem berat, dan kesalahan. Mereka tidak sadar bahwa perbuatan mereka merupakan hasil hiasan Iblis—yang terlaknat, diusir dari langit, dan telah memancangkan tonggak permusuhan kepada bapak kita, Adam dan keturunannya selama ruh mereka masih ada dalam jasad. Hanya Allah sajalah Dzat yang kita minta untuk melindungi kita dengan daya dan upaya dari-Nya. Sesungguhnya, Dialah Dzat yang mengabulkan doa-doa.

Sekelompok orang berhasil menyusul sebagian anak dan saudara mereka lantas memulangkannya, memberi pelajaran, dan menyatakan buruknya perbuatan orang-orang tersebut. Di antara mereka ada yang kemudian istiqamah di atas kebenaran, namun ada pula yang melarikan diri. Yang melarikan diri kemudian bergabung dengan Khawarij. Dia pun ditimpa kerugian hingga hari kiamat.

Kaum Khawarij yang tersisa ini akhirnya pergi ke tempat yang direncanakan. Penduduk Basrah dan kota lainnya yang mereka kirimi pesan dahulu memenuhi ajakan mereka. Mereka semua berkumpul di Nahrawan. Mereka memiliki kekuatan dan menjadi pasukan tersendiri. Mereka berani dan berkeyakinan bahwa perbuatan mereka ini adalah dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah ‘azza wa jalla. Sungguh, amat buruklah sangkaan dan kesalahan mereka.

Ketika Ali radhiallahu ‘anhu sedang menyiapkan pasukan menuju Syam dan berpidato memberi semangat pasukannya, sampai kepada beliau berita bahwa Khawarij telah membuat kerusakan di muka bumi, menumpahkan darah yang tidak boleh ditumpahkan, merampok di jalan, dan menganggap halal para wanita.

Di antara yang mereka bunuh ialah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abdullah bin Khabbab radhiallahu ‘anhu. Mereka menawan Abdullah dan istrinya yang sedang hamil. Mereka bertanya, “Siapa engkau?”

Abdullah menjawab, “Aku Abdullah bin Khabbab, sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kalian telah membuatku takut.”

Mereka berkata, “Engkau tidak apa-apa. Sampaikanlah hadits yang pernah engkau dengar dari ayahmu.”

Abdullah berkata, “Aku mendengar ayahku berkata, ‘Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

سَتَكُونُ فِتْنَةٌ، الْقَاعِدُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ الْقَائِمِ، وَالْقَائِمُ خُيْرٌ مِنَ الْمَاشِي، وَالْمَاشِي خَيْرٌ مِنَ السَّاعِي

“Akan terjadi fitnah, orang yang duduk saat itu lebih baik daripada yang berdiri, yang berdiri lebih baik daripada yang berjalan, dan yang berjalan lebih baik daripada yang berlari kecil.”

Mereka lalu mengikat tangan Abdullah. Ketika sedang berjalan bersama beliau, mereka pun mendapati seekor babi milik kafir dzimmi. Sebagian mereka membunuhnya dan merobek kulitnya. Sebagian yang lain berkata, “Mengapa kalian lakukan ini, padahal babi itu milik seorang kafir dzimmi?” Yang membunuh babi tersebut kemudian pergi menuju kafir dzimmi pemilik babi, dan meminta kehalalan perbuatannya dan membuatnya ridha.

Ketika Abdullah masih bersama mereka, ada buah kurma yang jatuh dari pohon. Salah seorang mereka memungutnya lantas memasukkannya ke dalam mulut. Ada yang berkata kepadanya, “(Engkau mengambil dan memakannya) tanpa izin dan tanpa harga?”

Dia pun segera mengeluarkan kurma tadi dari mulutnya. Namun, bersamaan dengan sikap wara’ ini, mereka membunuh Abdullah bin Khabbab, seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lihatlah sikap wara’ dusta ini.

Setelah itu, mereka mendatangi istri Abdullah. Istri Abdullah berkata, “Aku sedang hamil. Tidakkah kalian takut kepada Allah?”

Mereka tetap membunuhnya, bahkan kemudian merobek perutnya untuk mengeluarkan janinnya.

Ketika sampai kepada kaum muslimin bahwa begitulah perbuatan mereka, kaum muslimin khawatir apabila pergi ke Syam dan sibuk berperang dengan penduduknya, sementara kaum Khawarij tertinggal di sekitar rumah dan negeri mereka dengan perbuatan tersebut.

Ali radhiallahu ‘anhu pun mengirim al-Harits bin Murrah al-‘Abdi sebagai utusannya kepada Khawarij. Namun, mereka membunuhnya tanpa peringatan. Ketika hal ini terdengar oleh Ali radhiallahu ‘anhu, beliau bertekad kuat untuk pergi menghadapi Khawarij terlebih dahulu sebelum pergi ke Syam. Beliau dan pasukannya berangkat dan berkumpul di sana.

Ali radhiallahu ‘anhu kembali mengirim utusan untuk menyampaikan, “Serahkan para pembunuh saudara kami agar kami balas membunuhnya (dengan qishash). Setelah itu, kami akan tinggalkan kalian dan pergi ke negeri Arab. Semoga setelah itu Allah mengarahkan hati kalian kepada sesuatu yang lebih baik daripada apa yang sekarang kalian berada di atasnya.”

Mereka menjawab, “Kami semua yang membunuh saudara-saudaramu. Kami anggap halal darah kalian dan darah mereka (yang telah kami bunuh).”

Qais bin Sa’d kemudian menemui mereka. Ia menasihati mereka tentang urusan besar dan kesalahan berat yang telah mereka lakukan. Namun, nasihat tersebut tidak bermanfaat.

Demikian pula Abu Ayyub al-Anshari radhiallahu ‘anhu. Beliau memarahi dan mencela mereka. Namun, tidak bermanfaat juga. Akhirnya, Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu sendiri yang mendatangi mereka. Beliau radhiallahu ‘anhu menasihati dan menakut-nakuti mereka. Beliau radhiallahu ‘anhu peringatkan dan mengancam mereka. Di antara ucapan beliau kepada mereka, “Sungguh, hawa nafsu kalian telah membujuk kalian. Kalian telah membunuh kaum muslimin. Demi Allah, kalau kalian membunuh seekor ayam milik mereka, sungguh hal itu sangat besar dosanya di sisi Allah. Lantas bagaimana halnya dengan darah kaum muslimin?”

Mereka tidak menjawab kecuali saling menyeru di antara mereka, “Jangan kalian berdialog dengannya. Jangan kalian berbicara dengannya. Bersiaplah untuk bertemu dengan Rabb ‘azza wa jalla. Bergegaslah, bergegaslah menuju surga.”

Inilah seruan Khawarij, baik di masa silam maupun sekarang. Mereka pun maju dan membentuk barisan untuk berperang. Mereka bersiap sedia untuk bertempur. Mereka berdiri untuk memerangi Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu dan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bersama beliau.

Kaum Khawarij beramai-ramai menuju Ali radhiallahu ‘anhu. Beliau radhiallahu ‘anhu telah menyiapkan pasukan berkuda dan pemanah di depan beliau, barisan pejalan kaki di belakang pasukan berkuda. Beliau berkata kepada pasukannya, “Tahanlah diri kalian, sampai mereka yang lebih dahulu menyerang.”

Kaum Khawarij datang seraya mengatakan, “La hukma illa lillah. Bergegaslah, bergegaslah menuju surga.”

kaki-kuda

Mereka pun menyerang pasukan berkuda yang disiapkan oleh Ali radhiallahu ‘anhu. Sebagian pasukan berkuda tersudut ke kanan, sebagian lagi ke arah kiri. Mereka pun dihadapi oleh pasukan pemanah dengan anak panah yang diarahkan ke wajah mereka. Setelah itu, pasukan berkuda menyerang mereka dari arah kanan dan kiri. Kemudian pasukan pejalan kaki menyerang mereka dengan tombak dan pedang. Pasukan Ali radhiallahu ‘anhu berhasil membunuh kaum Khawarij yang lantas bergelimpangan menjadi mayat di bawah kaki-kaki kuda. Terbunuhlah pimpinan mereka Abdullah bin Wahb ar-Rasibi, Hurqus bin Zuhair, Syuraih bin Aufa, dan Abdullah bin Sakhbarah. Semoga Allah menjelekkan mereka.

Abu Ayyub al-Anshari radhiallahu ‘anhu mengatakan, “Aku menusuk seorang Khawarij dengan tombak dan aku tembuskan hingga ke punggungnya. Aku katakan kepadanya, ‘Bergembiralah engkau, wahai musuh Allah, dengan neraka.’ Ternyata si Khawarij ini menjawab, “Engkau akan tahu nanti, siapa yang lebih pantas masuk ke dalamnya’.” Bayangkan, dia katakan hal itu kepada seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ali radhiallahu ‘anhu pun mulai berjalan di antara mayat mereka dan berkata, “Kejelekan bagi kalian. Sungguh, yang menipu kalian telah memudaratkan kalian.”

Mereka bertanya, “Wahai Amirul Mukminin, siapakah yang telah menipu mereka?”

Ali menjawab, “Setan, dan jiwa yang selalu memerintah kepada kejelekan. Jiwa itu menipu mereka dengan angan-angan dan menghias-hiasi kemaksiatan untuk mereka. Jiwa itu memberitahu bahwa mereka akan membantunya.”

Ali radhiallahu ‘anhu kemudian memerintahkan agar kaum Khawarij yang terluka dikembalikan kepada kabilah mereka masing-masing untuk diobati. Jumlah mereka sekitar empat ratus orang. Ali radhiallahu ‘anhu membagi-bagi senjata dan barang yang tersisa dari mereka.

Ali radhiallahu ‘anhu kemudian keluar untuk mencari seorang lelaki yang dijadikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai tanda kaum Khawarij. Kedua lengan atau salah satunya seperti payudara wanita. Beliau radhiallahu ‘anhu menemukannya di sebuah lubang di tepi sungai, bersama dengan 40 atau 50 mayat lainnya. Ketika menemukannya, Ali radhiallahu ‘anhu pun sujud kepada Allah dengan sujud yang lama, sebagai bentuk rasa syukur kepada-Nya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyebutkan kepada kita ciri-ciri Khawarij dan pahala yang besar bagi yang membunuh mereka di bawah komando pemerintah, atau terbunuh oleh mereka. Ali radhiallahu ‘anhu menyampaikan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

سَيَخْرُجُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ قَوْمٌ أَحْدَاثُ الْأَسْنَانِ سُفَهَاءُ الْأَحْلَامِ يَقُولُونَ مِنْ قَوْلِ خَيْرِ الْبَرِيَّةِ يَقْرَؤُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ فَإِذَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاقْتُلُوهُمْ فَإِنَّ فِي قَتْلِهِمْ أَجْرًا لِمَنْ قَتَلَهُ عِنْدَ اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Akan keluar di akhir zaman nanti, sekelompok orang yang masih muda umurnya dan berpemikiran bodoh (tidak punya hikmah). Mereka mengatakan ucapan makhluk yang terbaik. Mereka membaca al-Qur’an, tetapi tidak melewati tenggorokan mereka. Mereka melesat keluar dari agama ini sebagaimana halnya melesatnya anak panah dari binatang buruannya. Apabila kalian mendapati mereka, bunuhlah mereka. Sebab, orang yang membunuh mereka akan mendapatkan pahala di sisi Allah pada hari kiamat.”

Demikian pula hadits-hadits lainnya. Dari peristiwa ini kita ketahui bahwa:

  1. Perjuangan Khawarij adalah untuk mendapatkan kekuasaan dan dunia.
  2. Mereka menujukan ayat-ayat tentang kekafiran dan kesyirikan kepada pemerintah.
  3. Mereka mengafirkan hakim sekaligus orang yang berhukum kepadanya.
  4. Mereka tidak akan ridha terhadap seorang hakim, seadil apa pun dia, apabila bukan dari kelompok mereka dan sejalan dengan pemahaman mereka.

Mereka tidak ridha dengan pembagian dan hukum yang ditentukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka juga tidak ridha terhadap Utsman radhiallahu ‘anhu seingga mereka membunuh beliau. Mereka juga tidak ridha dengan Ali radhiallahu ‘anhu dan para sahabat terbaik yang bersama beliau. Bagaimana mungkin mereka akan ridha terhadap pemerintah-pemerintah kita sekarang ini?

  1. Mereka menipu manusia dengan penampilan religius, slogan amar ma’ruf nahi mungkar, dan upaya perbaikan. Akan tetapi, sungguh mereka adalah orang yang paling jauh dari hakikat agama dan sunnah.
  2. Mereka tidak segan menumpahkan darah kaum muslimin.

Mereka membunuh orang yang tidak bersalah, wanita, sampaipun bayi yang masih dalam kandungan. Hal ini sebagaimana yang mereka lakukan terhadap Abdullah bin Khabbab radhiallahu ‘anhu.

Disebutkan pula dalam hadits, “Mereka membunuh para pemeluk Islam, namun membiarkan para penyembah berhala.”

Peristiwa ini tidak hanya terjadi sekali, tetapi berulang. Apabila kita melihat kenyataan kita sekarang, engkau dapati kaum Khawarij terus-menerus ada.

Bahkan, kaum Khawarij sekarang lebih jelek daripada generasi yang terdahulu. Kaum Khawarij terdahulu menampakkan shalat, ibadah, dan membaca al-Qur’an, secara lahiriah. Adapun Khawarij sekarang tidak memiliki agama. Agama mereka adalah penipuan dan khianat. Bacaan mereka pun bukan al-Qur’an, melainkan nasyid-nasyid provokatif.

Ketika kaum Khawarij terdahulu meninggalkan ulama dari kalangan para sahabat radhiallahu ‘anhum, bahkan mengafirkannya, mereka pun sesat dan menyimpang. Ini merupakan sebab terbesar jatuhnya seseorang dalam kesesatan. Demikian pula Khawarij masa kini, ketika mereka mencela dan mengafirkan ulama kita, mengatakan bahwa ulama kita sebagai budak penguasa dan sebutan jelek lainnya, mereka pun menyimpang dan sesat.

Oleh karena itu, berpegang teguhlah dengan Kitabullah dan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, engkau akan berjalan di atas ashshirathal mustaqim (jalan yang lurus).

Semoga Allah mengokohkan kita di atas as-Sunnah. Kita berlindung kepada Allah dari segala keburukan, yang tampak maupun yang tersembunyi. Semoga Allah memberikan keamanan di negeri kita dan menjadikannya—serta negeri-negeri kaum muslimin yang lain—sebagai negeri yang baik dan damai.

 

(Dipetik dari khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Asy-Syaikh Dr. Khalid bin Dhahwi bin azh-Zhafiri di Masjid as-Sa’idi, Jahra, Kuwait, 25 Syawwal1435 H/ 22 Agustus 2014 M)

Bahaya Khawarij Terhadap Umat

Di antara tema penting yang perlu dibahas adalah sikap ghuluw/berlebih-lebihan yang tidak sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di sisi lain ada sikap bermudah-mudahan, tamyi’ (menganggap mudah, remeh, tidak kokoh di atas kebenaran). Dua hal ini menjadi musibah bagi agama dan umat ini, khususnya bagi Ahlus Sunnah. Dalam kesempatan ini, saya akan menjelaskan sisi pertama, sikap keras dan sikap berlebihan dalam urusan agama.

Ghuluw adalah salah satu sebab kesyirikan di tengah-tengah Bani Adam, sebagaimana kisah kaum Nabi Nuh radhiallahu ‘anhum. Kesyirikan pertama kali yang ada pada umat Nuh adalah sikap melampaui batasan agama dalam hal menyanjung dan menghormati orang-orang saleh.

Kemudian lihatlah, bagaimana sikap berlebih-lebihan mengantarkan umat kepada hal lain. Oleh karena itu, dahulu ahlul kitab (Yahudi dan Nasrani) dilarang dari sikap tersebut. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

يَٰٓأَهۡلَ ٱلۡكِتَٰبِ لَا تَغۡلُواْ فِي دِينِكُمۡ وَلَا تَقُولُواْ عَلَى ٱللَّهِ إِلَّا ٱلۡحَقَّۚ

“Wahai ahlul kitab, jangan kalian bersikap melampaui batas dalam agama kalian. Dan jangan kalian berucap sesuatu kecuali kebenaran.” (an-Nisa’: 171)

Agama ini melarang sikap tersebut dan memerintahkan bersikap adil serta pertengahan (tidak berlebih-lebihan dan tidak meremehkan). Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَكَذَٰلِكَ جَعَلۡنَٰكُمۡ أُمَّةٗ وَسَطٗا

“Demikianlah umat ini Kami jadikan sebagai umat pertengahan.” (al-Baqarah: 143)

Demikian pula ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat sahabat radhiallahu ‘anhum melempar jumrah ketika haji. Sebagian mereka melampaui batas dengan melempar bebatuan besar (bukan dengan kerikil kecil). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan kepada para sahabat radhiallahu ‘anhum, “Hati-hatilah kalian terhadap ghuluw, karena sesungguhnya yang menghancurkan umat sebelum kalian adalah sikap melampaui batas dalam urusan agama.”

Dalil tentang hal ini sangatlah banyak. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan umat ini dari suatu kaum yang melampaui batas dan memberatkan diri dalam urusan agama padahal tidak ada perintah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ada pula suatu kelompok yang tidak ridha dengan hukum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, manusia yang paling adil; tidak ridha terhadap para sahabat radhiallahu ‘anhum sehingga memerangi dan mengafirkan mereka. Tentu saja, kelompok ini lebih tidak ridha dengan hukum kaum muslimin dan pemerintahnya.

Rifle_AK-47

Mereka (orang yang melampaui batas) ada di tengah-tengah umat ini. Kelompok tersebut disebut Khawarij. Inilah nama yang sesuai dengan syariat bagi kelompok tersebut yang semestinya kita sematkan. Mereka memiliki nama yang banyak sepanjang sejarah, di antaranya al-Azariqah, ash-Shufariyah, an-Najdat. Ini adalah kelompok pecahan khawarij.

Mereka memiliki pemikiran dan pengikut yang masih muncul pada masa kini dengan nama/sebutan yang lain, seperti, Quthbiyyun (pengikut Sayyid Quthb yang memiliki paham takfir), al-Qaedah/Daulah Islamiyah/ISIS—yang bersikap ghuluw, keras, dan melakukan kekerasan di tengah-tengah umat; Islam berlepas diri dari tindakan semacam itu)—dan Jabhatun Nushrah. Semua itu adalah bagian kelompok sesat dan politik yang tidak sesuai dengan ajaran agama Islam.

Cikal bakal mereka ketika muncul pada masa Rasulullah adalah orang yang bernama Dzul Khuwaishirah, seorang munafik. Dia datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat membagi harta rampasan perang Hunain. Yang dikatakannya kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Muhammad, berbuatlah adil! Aku melihatmu tidak berbuat adil.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya, “Celaka engkau! Siapa yang bisa berbuat adil jika aku tidak bisa berbuat adil.”

Orang ini tidak ridha dengan pembagian Rasulullah, tidak ridha dengan ketentuan beliau; bagaimana bisa orang ini ridha terhadap kita dan para pimpinan kita?

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata dan menunjuk orang ini, “Suatu kaum akan keluar dari orang ini (keturunan dan para pengikutnya) yang kalian merasa shalat kalian lebih sedikit dibandingkan dengan shalat mereka, puasa kalian lebih sedikit dibandingan dengan puasa mereka. Mereka akan banyak membaca al-Qur’an.”

Maknanya, para sahabat radhiallahu ‘anhum yang ahli ibadah akan merasa bahwa ibadahnya masih sedikit dibandingkan ibadah mereka. Sebab, orang Khawarij gemar beribadah, shalat, dan membaca al-Qur’an. Akan tetapi, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan bahwa bacaan mereka tidak melampaui tenggorokan mereka; yakni hanya sampai lisan mereka, tidak sampai kepada kalbu mereka. Mereka tidak memahami dan mengamalkannya dengan benar. Karena itu, walaupun ibadah mereka seperti itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan bahwa mereka keluar dari agama ini seperti anak panah yang melesat cepat dari sasarannya. Perbuatan mereka ini bukan dari Islam dan tidak boleh disandarkan pada Islam.

Di antara sifat lain yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah mereka (Khawarij) dari kalangan anak-anak muda. Inilah mayoritas yang ada pada Khawarij pada masa ini. Mereka merekrut anak-anak muda, lalu mereka gunakan untuk melakukan operasi bom bunuh diri, membunuh muslimin yang tidak berdosa, dan semacamnya.

Sifat berikutnya adalah orang yang bodoh akalnya. Mereka tidak punya hikmah dan ilmu, yang ada hanya kebodohan.

Sifat berikutnya, mereka membunuh orang-orang Islam dan membiarkan para penyembah berhala (nonmuslim). Oleh karena itu, jika diperhatikan tempat perkumpulan dan aksi mereka, baik pada masa lampau maupun masa kini, mereka melakukannya di tengah-tengah kaum muslimin, di negeri Islam. Mereka melakukan pengeboman dan pembunuhan, termasuk terhadap wanita dan anak-anak. Fokus mereka adalah terhadap Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Perhatikanlah, kelompok sempalan ISIS mengancam akan masuk dan menyerang negara Saudi Arabia dengan pasukannya. Lihatlah apa yang mereka lakukan. Sementara itu, Yahudi dan Masjidil Aqsa yang demikian keadaannya, yang berada di sebelah mereka, tidak pernah mereka lemparkan satu peluru pun terhadapnya.

Oleh karena itu, saya peringatkan kalian dengan sebenar-benarnya, siapa pun yang berbaik sangka terhadap mereka dan Khawarij secara umum, baik ISIS atau selainnya. Saya peringatkan umat ini agar tidak bergabung dengan mereka dan kekhalifahan mereka yang menyelisihi syariat.

Mereka yang bergabung dengan Khawarij, apakah kalian kira akan berjihad? Mereka justru menggunakan anak muda yang bergabung dengan mereka sebagai pelaku bom bunuh diri. Ketika seorang anak muda datang, mereka beri beberapa latihan. Setelah itu, bahan peledak dipasangkan pada tubuh mereka dan diperintahkan untuk melakukan bom bunuh diri ke tempat tertentu. Yang pasti, anak muda tersebut akan mati. Dengan perbuatan itu, bukankah dia memasukkan dirinya pada hal yang haram, yaitu bunuh diri?

Lebih jauh lagi, perbuatan yang dilakukannya bisa jadi membahayakan orang lain, bisa jadi pula tidak. Terbunuhnya pelaku adalah hal yang pasti. Sangat disayangkan, kebanyakan aksi bom bunuh diri mereka dilakukan di dalam komunitas kaum muslimin. Oleh karena itu, berhati-hatilah dari mereka dengan sebenar-benarnya.

Lihatlah sejarah mereka dahulu bagaimana Khawarij membunuh Utsman radhiallahu ‘anhu. Mereka memberontak terhadap Utsman radhiallahu ‘anhu, mengepung, dan membunuh beliau di rumahnya. Utsman radhiallahu ‘anhu terbunuh sebagai syahid. Mereka juga membunuh Ali radhiallahu ‘anhu. Beliau radhiallahu ‘anhu pernah meriwayatkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang Khawarij, di antaranya, “Kalau sempat menjumpai mereka, aku akan memerangi mereka dan menghancurkan mereka seperti dihancurkannya kaum ‘Ad.”

Nabi juga mengatakan bahwa orang yang terbunuh oleh kaum Khawarij adalah orang yang mati syahid dan orang yang berhasil membunuh mereka akan mendapatkan surga. Oleh karena itu, Ali radhiallahu ‘anhu menyambut seruan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan memerangi Khawarij. Namun, perlu diketahui bahwa peperangan melawan Khawarij tidak dilakukan oleh perorangan, tetapi oleh pemerintah kaum muslimin.

Pada peristiwa perang Nahrawan, orang Khawarij berlomba menyeberangi jembatan sungai Nahrawan untuk membunuh para sahabat radhiallahu ‘anhum. Bahkan, sebagian mereka jatuh dari jembatan itu karena berlomba-lomba membunuh kaum muslimin. Lihatlah perbuatan Khawarij terhadap para sahabat. Mereka berusaha melakukan makar pembunuhan terhadap Utsman, Muawiyah, dan Amr bin al-Ash radhiallahu ‘anhum. Mereka juga memberontak terhadap Daulah Umawiyah dan Daulah Abbasiyah.

Mereka terus melakukan hal itu sampai disebutkan dalam hadits bahwa Dajjal akan muncul di tengah-tengah mereka. Artinya, Khawarij akan terus ada, sampai munculnya Dajjal, sang pendusta. Ini menjadi bukti bahwa Khawarij itu sesat.

Khawarij adalah salah satu kelompok sesat. Bahkan, sebagian ulama mengatakan bahwa Khawarij tidak termasuk kaum muslimin. Perbuatan Khawarij mencoreng muka umat Islam. Mereka menampakkan kekerasan di tengah-tengah umat, seperti menyembelih manusia, membakar manusia hidup-hidup, dan membunuh kaum wanita. Sebagian mereka memfatwakan bolehnya membelah perut wanita hamil dan membunuh janinnya sebagaimana membunuh anak-anak. Alasan mereka, orang kafir akan melahirkan orang kafir sehingga janin harus dibunuh. Semua ini menunjukkan betapa bodoh dan jauhnya mereka dari tuntunan al-Qur’an dan as-Sunnah.

Khawarij telah menyempitkan keluasan kasih sayang Islam. Mereka tidak menampilkannya kepada umat. Lihatlah sebagai contoh, dalam kitab al-Imam al-Lalikai, beliau mengisahkan dua orang Khawarij ketika thawaf sekitar Ka’bah. Kita ketahui bahwa jumlah orang yang thawaf dan haji tentulah sangat banyak. Orang pertama berkata kepada yang kedua, “Engkau melihat betapa banyaknya orang yang berhaji ini?”

Orang kedua menjawab, “Ya.”

Orang pertama berkata, “Ketahuilah, dari sekian banyak orang ini, tidak ada yang akan masuk surga kecuali kita berdua.” Sebab, mereka menganggap hanya mereka yang muslim. Selain mereka, semuanya kafir.

Orang kedua pun tersadar dan berkata, “Surga yang luasnya langit dan bumi tidak akan dimasuki kecuali oleh kita berdua? Ini tidak benar. Aku tinggalkan dirimu dan mazhabmu.”

Akhirnya dia meninggalkan orang pertama yang berpemikiran Khawarij. Inilah akidah Khawarij. Bagi mereka, yang muslim hanyalah diri dan kelompoknya, muslimin di seluruh dunia adalah orang kafir. Bahkan, sesama faksi mereka sendiri saling mengafirkan dan membunuh.

Yang perlu diperhatikan, penyebab terbesar kesesatan dan penyimpangan itu adalah jauhnya mereka dari bimbingan para ulama. Mereka tidak mengikuti fatwa dan arahan para ulama. Mereka menyebut ulama Ahlus Sunnah sebagai munafik, budak penguasa, dan julukan jelek lain yang mereka sematkan.

Oleh karena itu, ketika para pemuda bergabung dengan mereka, yang pertama kali mereka lakukan adalah menanamkan syubhat ini sehingga menjauhi dan tidak merasa terikat oleh para ulama. Jika pemuda merasa tidak terikat kepada ulama Ahlus Sunnah, dia akan menyimpang. Ketahuilah, ulama Ahlus Sunnah masa kini di antaranya asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz, asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, asy-Syaikh al-Albani, asy-Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i, asy-Syaikh Shalih al-Fauzan, guru kami asy-Syaikh Rabi’ al-Madkhali, asy-Syaikh Ubaid al-Jabiri, dan selain mereka yang banyak jumlahnya. Kita semua wajib senantiasa terikat dengan mereka dan mengambil ilmu darinya.

Saya akhiri dengan suatu wasiat, hendaknya kita benar-benar mementingkan urusan ilmu dan mempelajarinya. Setiap muslim wajib mementingkan urusan ilmu, mempelajarinya di ma’had salafiyin, mempelajari al-Qur’an dan tafsirnya, fikih, dan lebih penting lagi mempelajari akidah/keyakinan/tauhid yang benar dari kitab-kitab yang sahih, kitab para ulama Ahlus Sunnah.

Sebab, umumnya mereka yang sesat itu seperti kata Ibnu Taimiyah rahimahullah, “Kebanyakan pengikut aliran takfir adalah orang bodoh. Mereka mencari dan merekrut orang yang kurang pengetahuan agamanya.”

Jika tidak mengetahui urusan agama, kita tidak bisa membedakan mana yang benar dan yang salah sehingga terseret bersama orang-orang sesat tersebut.

Kami memohon kepada Allah azza wa jalla agar mengokohkan kita semua di atas sunnah dan tauhid, menjauhkan kita dari segala keburukan dan penyimpangan, yang tampak maupun tidak. Semoga Allah mengokohkan kita di atas as-Sunnah. Kita berlindung kepada Allah dari segala keburukan, yang tampak maupun yang tersembunyi.

Aku mohon kepada Allah ‘azza wa jalla agar menjadikan negeri ini dan negeri muslimin secara umum sebagai negeri yang aman, damai, sentosa, jauh dari segala kekacauan dan keburukan.

 

(Dipetik dari ceramah Asy-Syaikh Dr. Khalid bin Dhahwi bin azh-Zhafiri pada hari Sabtu, 20 Syawwal 1435 H/16 Agustus 2014 M, di Masjid Shirathal Mustaqim, Komplek Jasa Marga Tangerang)

ISIS dan Al-Qaeda Tidak Mewakili Islam

Penjelasan asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Muhammad alu asy-Syaikh Mufti Umum Kerajaan Arab Saudi; Ketua Dewan Ulama Besar; Ketua Umum Komite Tetap untuk Pembahasan dan Fatwa

Segala pujian hanya milik Allah Rabb alam semesta. Semoga shalawat dan salam selalu terlimpah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, dan seluruh sahabat beliau.

Amma ba’du,

Saudara dan saudari sekalian, perkenankan saya memberi ucapan penghormatan dengan penghormatan Islam yang abadi, yang memiliki beragam kandungan mulia dan tujuan yang tinggi. Semoga keselamatan dari Allah atas kalian, demikian pula rahmat dan barakah-Nya. Saya wasiatkan kepada Anda semua—dan diri saya pribadi—untuk senantiasa bertakwa kepada Allah ‘azza wa jalla. Barang siapa menyibukkan diri dengan ketakwaan kepada Allah ‘azza wa jalla, Dia akan mencukupinya.

Kondisi yang umat Islam alami ini, banyak negeri mereka menjadi kacau. Berbagai pemahaman telah menyusup pula ke dalam tubuh umat Islam. Tidak diragukan lagi, pemikiran yang paling berbahaya ialah yang mengatasnamakan agama karena akan dianggap suci sehingga ringan bagi jiwa untuk menjalankannya. Ketika itulah, manusia beralih—kita memohon perlindungan kepada Allah ‘azza wa jalla—dari perpecahan yang agama mencegahnya, kepada perpecahan dalam hal agama itu sendiri. Inilah yang diperingatkan oleh Allah ‘azza wa jalla dalam firman-Nya,

إِنَّ ٱلَّذِينَ فَرَّقُواْ دِينَهُمۡ وَكَانُواْ شِيَعٗا لَّسۡتَ مِنۡهُمۡ فِي شَيۡءٍۚ إِنَّمَآ أَمۡرُهُمۡ إِلَى ٱللَّهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُم بِمَا كَانُواْ يَفۡعَلُونَ ١٥٩

“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikit pun tanggung jawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah (terserah) kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.” (al-An’am: 159)

Pada ayat di atas, Allah ‘azza wa jalla memperingatkan kaum muslimin agar tidak terjadi dalam agama mereka sebagaimana yang terjadai pada kaum musyrikin. Memecah belah dalam agama Islam adalah dengan memecah belah pokok agama mereka yang sebelumnya bersatu, yaitu setiap pemecahbelahan yang mengantarkan pemiliknya saling mengafirkan dan saling berperang dalam hal agama.

Dalam Islam, tidak ada tindak kejahatan yang lebih berat di sisi Allah ‘azza wa jalla dibandingkan kekafiran karena memecah belah jamaah. Jamaah yang membuat hati-hati manusia saling mengasihi dan menyatukan kalimat mereka, sebagaimana firman Allah ‘azza wa jalla,

وَٱعۡتَصِمُواْ بِحَبۡلِ ٱللَّهِ جَمِيعٗا وَلَا تَفَرَّقُواْۚ وَٱذۡكُرُواْ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ إِذۡ كُنتُمۡ أَعۡدَآءٗ فَأَلَّفَ بَيۡنَ قُلُوبِكُمۡ فَأَصۡبَحۡتُم بِنِعۡمَتِهِۦٓ إِخۡوَٰنٗا وَكُنتُمۡ عَلَىٰ شَفَا حُفۡرَةٖ مِّنَ ٱلنَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنۡهَاۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمۡ ءَايَٰتِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تَهۡتَدُونَ ١٠٣

 

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (Ali ‘Imran: 103)

Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu mengatakan, “Hendaknya kalian taat dan bersatu (di bawah pemerintah kalian). Sebab, itulah tali Allah ‘azza wa jalla yang kita diperintahkan untuk berpegang dengannya. Apa yang kalian benci ketika berada di bawah pemerintah, itu lebih baik daripada apa yang kalian sukai ketika berpecah belah.”

Perpecahan dan perselisihan tidaklah terjadi kecuali akibat kebodohan dan memperturuti hawa nafsu, sebagaimana persatuan dan rasa cinta tumbuh dari ilmu dan ketakwaan.

Kaum muslimin saat ini—sebagaimana diketahui oleh semuanya—sangat butuh mendalami ilmu dan mengenali agama yang sempurna ini, sebelum pihak lain. Tidak hanya dalam hal hukum (fikih), tetapi juga mengetahui tujuan yang agung dan luas, yang menjadi sebab pensyariatan dan diturunkannya. Allah ‘azza wa jalla tidaklah mengutus para rasul dan menurunkan syariat-syariat kecuali untuk menegakkan tata aturan (kehidupan) manusia, sebagaimana firman-Nya,

لَقَدۡ أَرۡسَلۡنَا رُسُلَنَا بِٱلۡبَيِّنَٰتِ وَأَنزَلۡنَا مَعَهُمُ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡمِيزَانَ لِيَقُومَ ٱلنَّاسُ بِٱلۡقِسۡطِۖ وَأَنزَلۡنَا ٱلۡحَدِيدَ فِيهِ بَأۡسٞ شَدِيدٞ وَمَنَٰفِعُ لِلنَّاسِ وَلِيَعۡلَمَ ٱللَّهُ مَن يَنصُرُهُۥ وَرُسُلَهُۥ بِٱلۡغَيۡبِۚ إِنَّ ٱللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٞ ٢٥

“Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka al-Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan.” (al-Hadid: 25)

Syariat Islam adalah syariat yang paling agung dan paling sempurna, sebagaimana ditunjukkan oleh firman Allah ‘azza wa jalla,

إِنَّ ٱلدِّينَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلۡإِسۡلَٰمُۗ

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (Ali ‘Imran: 19)

Sungguh, syariat Islam datang membawa kebaikan bagi manusia di dunia dan akhirat. Tujuan umum syariat Islam ialah memakmurkan bumi dan menjaga aturan kehidupan di bumi yang dengannya akan terwujud kebaikan bumi dan kebaikan para penduduknya.

Di antara asas al-Qur’an yang luas ialah hukum asal segala sesuatu adalah boleh,

هُوَ ٱلَّذِي خَلَقَ لَكُم مَّا فِي ٱلۡأَرۡضِ جَمِيعٗا

“Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu.” (al-Baqarah: 29)

dan hukum asal manusia adalah al-baraah (terlepas dari hukum syariat),

فِطۡرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِي فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيۡهَاۚ

“(Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.” (ar-Rum: 30)

Dua kaidah di atas merupakan fondasi segala pensyariatan dan kebebasan. Setiap asas di atas tidak akan sempurna dan tegak berdiri kecuali dengan mengetahui bahwa toleransi adalah sifat utama syariat Islam dan tujuannya yang terbesar. Hal ini sebagaimana firman Allah ‘azza wa jalla,

يُرِيدُ ٱللَّهُ بِكُمُ ٱلۡيُسۡرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ ٱلۡعُسۡرَ

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (al-Baqarah: 185)

وَمَا جَعَلَ عَلَيۡكُمۡ فِي ٱلدِّينِ مِنۡ حَرَجٖۚ

“Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.” (al-Hajj: 78)

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذۡنَآ إِن نَّسِينَآ أَوۡ أَخۡطَأۡنَاۚ رَبَّنَا وَلَا تَحۡمِلۡ عَلَيۡنَآ إِصۡرٗا كَمَا حَمَلۡتَهُۥ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِنَاۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلۡنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِۦۖ

“Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Rabb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya.” (al-Baqarah: 286)

Dalam sebuah hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَحَبُّ الدِيْنِ إِلَى اللهِ الْحَنِيْفِيَّةُ السَّمْحَةُ

“Agama yang paling dicintai oleh Allah ialah yang hanifiyah dan samhah.”

Hanifiyah adalah lawan dari syirik, sedangkan samhah adalah lawan dari kesempitan dan memberat-berati diri.

Dalam hadits yang lain dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ، وَلَنْ يُشَادَّ هَذَا الدِّيْنَ أَحَدٌ إِلاَّ غَلَبَهُ

“Sesungguhnya agama ini mudah, dan tidak ada seorang pun yang memberatberati diri dalam agama ini kecuali agama ini akan mengalahkannya.”

Penelitian terhadap syariat ini menunjukkan bahwa toleransi dan kemudahan merupakan salah satu tujuan agama ini. Menampakkan toleransi berpengaruh besar terhadap tersebarnya agama ini dan keberlangsungannya. Akan diketahui bahwa kemudahan merupakan bagian dari fitrah, karena fitrah manusia menyenangi kelemahlembutan.

Hakikat toleransi adalah sikap pertengahan antara dua kutub: sikap berlebih-lebihan dan sikap meremehkan. Sikap pertengahan dengan makna ini adalah sumber berbagai kesempurnaan. Allah ‘azza wa jalla telah berfirman tentang sifat umat ini,

وَكَذَٰلِكَ جَعَلۡنَٰكُمۡ أُمَّةٗ وَسَطٗا

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) sebagai umat yang adil.” (al-Baqarah: 143)

Di bawah cahaya tujuan yang agung ini akan tampak hakikat sikap pertengahan dan kelurusan. Akan tampak pula bahwa sikap pertengahan merupakan kesempurnaan dan keindahan Islam ini. Akan jelas pula bahwa pemikiran ekstrem, kekerasan, dan terorisme yang membuat kerusakan di muka bumi, menghancurkan lahan pertanian dan keturunan, sama sekali bukan dari Islam. Justru pemikiran inilah yang pertama kali menjadi musuh Islam. Kaum musliminlah yang pertama kali menjadi korban.

no_isis

Sebagaimana hal ini disaksikan berupa kejahatan kelompok yang disebut ISIS dan al-Qaeda, serta berbagai kelompok pecahannya. Sangat tepat ditujukan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut,

سَيَخْرُجُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ قَوْمٌ أَحْدَاثُ الْأَسْنَانِ، سُفَهَاءُ الْأَحْلَامِ، يَقُولُونَ مِنْ خَيْرِ قَوْلِ الْبَرِيَّةِ، يَقْرَؤُوْنَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ، يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ، فَإِذَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاقْتُلُوهُمْ فَإِنَّ فِي قَتْلِهِمْ أَجْراً لِمَنْ قَتَلَهُمْ عِنْدَ اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Akan keluar di akhir zaman nanti, sekelompok orang yang masih muda umurnya dan berpemikiran bodoh. Mereka mengatakan ucapan makhluk yang terbaik. Mereka membaca al-Qur’an, tetapi tidak melewati tenggorokan mereka. Mereka melesat keluar dari agama ini sebagaimana halnya melesatnya anak panah dari binatang buruannya. Apabila kalian mendapati mereka, bunuhlah mereka. Sebab, orang yang membunuh mereka akan mendapatkan pahala di sisi Allah pada hari kiamat.”

Kelompok-kelompok Khawarij ini tidak boleh dinisbatkan kepada Islam dan para pemeluknya yang memegang teguh petunjuk Islam. Mereka adalah wujud lain dari Khawarij, kelompok sempalan yang pertama kali melesat keluar dari agama karena mengafirkan kaum muslimin dengan sebab dosa besar sehingga menghalalkan darah dan harta kaum muslimin.

Dalam kesempatan ini, kami menyeru untuk menyatukan dan menyusun kesungguhan dalam hal pendidikan, taklim, dakwah, dan pengembangan dalam rangka menguatkan sikap pertengahan dan keadilan, yang bersumber dari syariat Islam kita yang berkilau; dengan menanamkan garis yang sempurna, disertai tujuan-tujuan yang jelas, yang diperkuat oleh instruksi pelaksanaan guna mewujudkan dan mengejawantahkan tujuan-tujuan tersebut.

Demikianlah… Sesungguhnya dunia berguncang di sekitar kita. Karena itu, kita di Kerajaan Arab Saudi yang telah diberi anugerah oleh Allah ‘azza wa jalla berupa persatuan kalimat dan barisan di bawah para pemimpin kita, yang terepresentasikan dalam diri Pelayan Dua Tanah Suci, Raja Abdullah bin Abdul Aziz alu Su’ud, Putra Mahkota al-Amin, dan penerusnya—semoga Allah ‘azza wa jalla menjaga mereka semua—hendaknya menjaga keadaan yang stabil ini, di mana sebagiannya menguatkan sebagian yang lain. Hendaknya kita juga tidak menjadikan perselisihan di luar garis perbatasan sebagai sebab timbulnya perselisihan di antara kita.

Setiap kita di Kerajaan Arab Saudi—segala puji hanya bagi Allah—orang yang bertauhid dan orang Islam. Kita jaga persatuan di bawah pemerintah kita, kita senantiasa taat (kepada pemerintah) dalam hal yang baik. Kita mengemban amanah ilmu, pemikiran, pendapat, dan pena. Kita berloyalitas secara umum sesama kita. Kita memaafkan sesama kita ketika tidak sengaja jatuh dalam kesalahan, baik di antara ulama, ustadz, penulis, kaum intelektual, maupun seluruh warga negara.

Kita mengarahkan dialog kita seputar pembahasan yang penting bagi kita, terkait agama dan negara, dengan bahasa yang santun, tanpa menuduh berkhianat atau tuduhan lain. Kita semua di negara ini sama, masing-masing memiliki hak dan kewajiban.

Kami memohon kepada Allah ‘azza wa jalla agar mengabadikan berbagai nikmat-Nya, yang lahir dan yang batin, atas diri kita. Kita juga memohon agar Allah ‘azza wa jalla menjaga negeri kita dan negeri-negeri kaum muslimin dari segala keburukan.

Semoga Allah menjaga kita dan kaum muslimin lainnya dari berbagai ujian dan cobaan, yang lahir dan yang batin, serta memperbaiki keadaan kaum muslimin. Sesungguhnya, Allah ‘azza wa jalla lah yang Mahamampu atas hal tersebut.