Sejarah Berbicara

Syiah memiliki rekam jejak sangat buruk dan kelam dalam sejarah pelaksanaan ibadah haji. Mereka kerap kali melakukan kekacauan yang menimbulkan korban jiwa kaum muslimin yang sedang khusyuk menunaikan ibadah haji.

Berikut ini beberapa peristiwa berdarah dari sekian banyak kekacauan yang dilakukan oleh Syiah sepanjang sejarah.

 

312 H

Di bawah pimpinan Abu Thahir al-Qirmithi, pemeluk Syiah menyerang kafilah yang baru saja pulang dari menunaikan ibadah haji di Makkah. Mereka membunuhi kaum lelaki dan menawan kaum wanita. Merampas harta mereka yang lebih dari 1 juta dinar. (al-Bidayah wa an-Nihayah, Ibnu Katsir al-Syafi’i 9/149)

 

317 H

Abu Thahir al-Qirmithi memasuki Masjidil Haram pada hari Tarwiyah (8 Dzulhijjah). Dia dan tentaranya:

  • Membantai para jamaah haji dan mu’tamirin di sekitar Ka’bah, baik mereka yang sedang thawaf, maupun mereka yang bergelantungan di kiswah Ka’bah.
  • Merampas harta mereka. Tidak hanya itu, Abu Thahir al-Qaramithi kemudian memerintahkan jasad jamaah haji yang mereka bunuh itu dimasukkan ke sumur Zamzam. Lahaula wala quwwata illa billah.
  • Melepas kiswah (kain penutup Ka’bah –red.) dan pintu Ka’bah.
  • Dengan pongah mencuri Hajar al-Aswad dari Ka’bah, dan membawanya pulang ke kerajaan mereka. Hajar Aswad tetap berada di sana sampai 339 H (selama kurang lebih 22 tahun). (al-Bidayah wa an-Nihayah, Ibnu Katsir al-Syafi’i 9/160)

 

1406 H/1986 M

Jamaah haji Iran turun di Jeddah. Setelah melalui pemeriksaan, ternyata kebanyakan jamaah yang berjumlah 500 orang itu menyembunyikan bahan peledak jenis C4 pada bagian bawah tas mereka. Ketika disita petugas dan dikumpulkan, beratnya mencapai berat 150 kg.

 

1407 H/ 1987 M

Hizbullah bekerja sama dengan Garda Revolusi Iran, didukung oleh jamaah haji Syiah dari Arab Saudi, mengadakan demonstrasi besar-besaran di Makkah al-Mukarramah, pada musim haji 1407 H.

Mereka mengafirkan dan mengancam Kerajaan Arab Saudi sambil membawa poster Khomeini. Demonstrasi ini membuat arus jamaah haji tersumbat dan hanya membentuk pusaran. Hasilnya, 402 orang wafat, 85 orang di antaranya adalah petugas keamanan.

Kerusuhan ini menyebabkan puluhan bangunan hancur, ratusan wanita, anak-anak, dan orang tua terinjak-injak; serta ratusan ribu jamaah haji terhambat melaksanakan manasik.

 

1409 H

Anggota Hizbullah bekerja sama dengan Syi’ah Kuwait melakukan aksi peledakan bom di Kota Makkah. Bahan peledak mereka peroleh dari pejabat Kedubes Kuwait di Saudi yang ternyata penganut Syiah.

Para pelaku peristiwa itu oleh Syiah disebut-sebut sebagai syuhada dan dinobatkan sebagai para wali.

 

1410 H

Kejahatan Syiah kembali terjadi dalam bentuk menyemprotkan gas beracun kepada para jamaah haji di terowongan al-Mu’aishim, yang menyebabkan ribuan jamaah haji meninggal dunia.

 

Masih banyak lagi rentetan peristiwa kejahatan Syiah di Tanah Haram pada musim haji. Catatan di atas hanyalah rekaman singkat peristiwa berdarah yang dilakukan oleh Syiah di Tanah Haram, pada bulan Haram, ketika musim haji. Sebab, bagi Syiah, Makkah memang sudah tidak ada kehormatannya.

Kejanggalan-kejanggalan yang Menarik untuk Dicermati

Di luar dugaan, jumlah korban meninggal Tragedi Mina kali ini sangat besar, ditambah korban cedera dan luka-luka. Tampaknya ada yang tidak wajar. Mengapa?

Dahulu saat jamarat masih sempit dan tidak seluas sekarang, ketika terjadi insiden desak-desakan, jumlah korban meninggal tidak sampai di atas 200 jamaah.

Petugas haji Arab Saudi yang diturunkan saat ini sangat banyak dan sangat lebih dari cukup. Mereka sigap dan tangkas bekerja di lapangan memberikan pelayanan yang terbaik. Mereka adalah para petugas yang terlatih, profesional, dan berpengalaman.

Komitmen Pemerintah Arab Saudi tidak main-main dalam memberikan khidmat terhadap Haramain dan pelayanan haji. Biaya besar dikeluarkan, berbagai saran dan masukan diterima dengan lapang dada, serta berbagai evaluasi dan perbaikan pelayanan terus ditingkatkan dari tahun ke tahun. Bahkan, ada departemen dan kementerian khusus yang mengatur urusan haji dan pengelolaannya.

Di antara hasil nyatanya, dalam waktu 10 tahun terakhir hampir-hampir tidak terdengar ada musibah yang berarti. Tentu saja, itu semua berkat karunia Allah subhanahu wa ta’ala Sang Pencipta dan Pemelihara manusia beserta jagat raya ini.

Pada tahun-tahun sebelumnya, pada jam yang sama dengan waktu kejadian tragedi Mina kemarin, arus jamaah memang padat. Namun, karena tertib dan teratur, semuanya berjalan dengan lancar. Jamaah haji bisa melempar jumrah dengan tertib, lancar, dan aman.

Tragedi kemarin terjadi bukan di jalan utama, melainkan di jalan cabang, di tengah perkemahan resmi jamaah haji, sebagaimana dilaporkan oleh Jubir Resmi Pemerintah Arab Saudi. Penumpukan jamaah dalam jumlah besar di jalan cabang tersebut belum pernah terjadi sebelumnya.

Selain itu, tempat TKP masih sangat jauh dari Jamarat, kurang lebih 2 km. Korbannya kemungkinan besar adalah jamaah haji resmi yang memiliki tenda resmi.

Jadi sekali lagi, insiden bukan di Jamarat, bukan pula di jalur utama pejalan kaki. Biasanya di jalan cabang ini, minim kerawanan insiden. Tingkat kepadatannya pun tidak seperti di jalur utama pejalan kaki. Kalau jamaah berjalan searah, walaupun dalam jumlah banyak, insya Allah aman dan lancar, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya.

Sangat besar kemungkinan bahwa tragedi memilukan ini memang sudah direncanakan sedemikian rupa. Ada orang-orang yang disiapkan untuk membuat kegaduhan dan keributan, kemudian sudah disiapkan pula pernyataan-pernyataan politiknya.

Jelas ada kepentingan besar untuk menjatuhkan Arab Saudi di mata internasional. Musim haji merupakan waktu yang sangat tepat untuk membuat kegaduhan. Cara itu sangat efektif untuk memojokkan Pemerintah Negeri Tauhid tersebut.

Fakta di lapangan membuktikan bahwa tragedi berawal dari jamaah haji Iran yang sengaja bergerak melawan arus. Sebagaimana dilaporkan media, salah seorang pimpinan Jamaah haji Iran mengakui, gerakan 300 jamaah haji Iran yang melawan arus menjadi sebab di balik tragedi Mina.

Iran sangat berkepentingan untuk membuat keributan pada musim haji, untuk menjatuhkan Arab Saudi, menyusul kekalahan Syi’ah Hutsi di Yaman dukungan Iran. Dengan rahmat Allah subhanahu wa ta’ala, bala tentara tauhid berhasil memukul mundur kaum Syi’ah Hutsi di Yaman.

Dilaporkan oleh salah satu media, mantan diplomat Iran mengungkap rencana intelijen pemerintah Iran untuk mempermalukan Kerajaan Arab Saudi dengan merusak pelaksanaan haji di musim ini. Hal ini dilakukan dengan memanfaatkan elemen-elemen ISIS dan beberapa elemen yang berada di bawah intelijen Iran.

Dinyatakan pula oleh mantan diplomat Iran tersebut bahwa pemerintah Iran telah menyepakati cara dan waktu terbaik untuk menghadapi Arab Saudi adalah ketika musim haji. Pemerintah Iran juga bersepakat bahwa sekiranya tidak bisa menimbulkan keributan pada musim haji tahun ini, mereka akan kehilangan kesempatan dan harapan untuk membalas kekalahan sekutu mereka di Yaman (kelompok Hutsi) yang diserang oleh koalisi negara-negara Arab pimpinan Arab Saudi.

Mantan diplomat Iran tersebut juga menuturkan bahwa rencana ini telah dibahas dalam sebuah pertemuan, sepekan setelah bulan suci Ramadhan. Hadir dalam perencanaan tersebut adalah Ali Khamenei, beserta dengan pejabat-pejabat keamanan Iran seperti Qasem Sulaimany, Ali Akbar Wilayaty, Ali Larijani, dan Alauddin Baroujerdi. Pertemuan tersebut digelar selama berjam-jam.

Tepat sehari sebelum tragedi Mina, ketika jamaah haji kaum muslimin sedang khusyuk melaksanakan ibadah wuquf di Arafah, sebuah akun facebook milik Hassan M. Assegaf menebar provokasi melakukan pergerakan. Ternyata isi tulisan di facebook milik Irancorner Hassan M. Assegaf itu sama persis dengan isi akun resmi IJABI Pusat; diposting sehari sebelum tragedi Mina. Berikut ini petikannya.

 RAFIDHAH MELAWAN ARUS MENUJU KEMATIAN

Hasan M. Assegaf

23 September pukul 11:36

Hari ini, …..

Mereka tidak bergerak menuju Mina, tapi Karbala.

Mereka tidak berdoa untuk diri, melainkan sesama.

Mereka tanggalkan kain ihram, tapi mereka kenakan kain kafan.

Mereka tidak serahkan hewan sembelihan, melainkan leher yang terlentang.

Hari ini semua yang menyeru Tuhan berharap kembali pada tanah air mereka, kecuali satu umat saja.

Mereka bergerak menuju kematian. Itulah Arafah yang sesungguhnya, pengakuan akan kebesaran Dia.

Mereka bergerak menuju syahadah. Itulah Mina, cinta yang sejati, rindu yang sebenarnya.

Mereka bergerak menuju altar kepasrahan. Itulah pengorbanan yang sesungguhnya.

Ya Husain!

Ya Husain!

Ya Husain!

(https://www.facebook.com/pazdaran/posts/10204881985163566?pnref=story)

 

Patut kita renungkan….

Bertahun-tahun pemerintah Arab Saudi memberi pelayanan tanpa insiden. Pernahkah ada yang memberi apresiasi? Khususnya Iran, pernahkah mengungkapkan penghargaan dan rasa terima kasih pada saat musim haji yang telah lalu yang berlangsung sangat tertib dan khidmat?

Namun, mengapa begitu ada musibah, Iran tidak menampakkan keinginan membantu pemerintah Saudi, tetapi justru berlaku murka. Itu ditandai dengan kecaman Ali Khameini terhadap pemerintah Arab Saudi.

Ada apa di balik ini semua?

Di mana suara kaum liberal, Syiah, dan orang yang menyimpang hatinya kala pemerintah Arab Saudi bertahun-tahun mampu dan sangat perhatian terhadap keberlangsungan ibadah haji dengan penuh khidmat? Adakah mereka mengapresiasi pemerintah Saudi?

Tahun ini pun pelayanan pemerintah Arab Saudi terhadap jamaah haji tidak ada yang berkurang, bahkan makin meningkat. sebagaimana diakui oleh para jamaah haji.

Namun, tidak ada seorang pun yang bisa melawan kuasa Allah subhanahu wa ta’ala. Dengan hikmah dan keadilan-Nya, Allah subhanahu wa ta’ala menghendaki terjadinya tragedi ini.

Sungguh bertentangan dengan agama dan akal yang sehat, apabila tragedi ini dijadikan alasan untuk memojokkan dan menjatuhkan Arab Saudi, seraya melupakan berbagai jasa baik yang sangat banyak, bahkan lupa atas kekuasaan dan keadilan Allah ‘azza wa jalla.

Memberikan pelayanan untuk dua tanah haram merupakan kehormatan bagi Arab Saudi. Raja Salman bin Abdul Aziz berkata, “Allah telah memuliakan Kerajaan Arab Saudi untuk memberikan pelayanan kepada dua Tanah Haram yang mulia. Kami tegaskan tekad kami untuk mengokohkan persatuan dan tidak membiarkan adanya tangan-tangan tersembunyi yang bermain!” (Dikutip oleh @SaudiNews50)

Itu semua semata-mata berkat karunia dan rahmat Allah. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa menjaga dan melindungi Pemerintah Arab Saudi, serta membimbing mereka untuk selalu di atas kebenaran.

Amin Ya Rabbal Alamin.

[Lagi] Syiah Berulah Mina Berdarah

Duka kembali menyelimuti kaum muslimin. Ratusan jamaah haji meninggal dalam sebuah insiden di Mina dalam rangkaian ibadah haji 1436 H. Musibah ini memang terasa menyesakkan, karena sudah terjadi sekian kali. Apalagi musibah ini didahului musibah ambruknya crane beberapa hari sebelumnya.

Peristiwa ini menimpa jamaah haji, di Tanah Suci pula. Tentu bisa dibayangkan, hal ini menjadi kabar gembira bagi kalangan nonmuslim. Bahkan, bisa dijadikan pembenar bagi keyakinan atau akidah mereka.

Namun, sebagai seorang muslim, sikap pertama yang mesti dikedepankan, walaupun tampaknya pahit, adalah bertawakal. Ini adalah kehendak Allah subhanahu wa ta’ala yang tidak bisa kita tolak. Berbaik sangka kepada Allah subhanahu wa ta’ala, yakin bahwa Allah subhanahu wa ta’ala menentukan yang terbaik.

Salah satunya, peristiwa ini kemudian menyingkap siapa dan bagaimana peristiwa ini terjadi. Lagi-lagi jamaah haji Iran (baca: Syiah) yang berada di balik ini semua. Peristiwa ini menambah daftar panjang aksi-aksi berdarah Syiah dalam musim haji di Tanah Suci. Makkah nyata-nyata tak dianggap suci oleh para penganut Syiah.

Sejarah menjadi saksi betapa Syiah telah melumuri tangan mereka dengan darah kaum muslimin. Tak hanya dalam satu, dua, atau tiga dekade silam, tapi berabad-abad yang lalu, Syiah telah menodai Masjidil Haram dengan darah ribuan kaum muslimin. (Lihat: Sejarah Berbicara)

Jamaah haji yang meninggal lebih dari seribu orang. Dengan gegap gempita, sebagian pihak menyebutnya sebagai tragedi kemanusiaan, lantas dengan nyaringnya menyalahkan pihak lain.

Orang-orang yang sangat membenci Arab Saudi atau Wahabi, kemudian ikut kegirangan saat banyaknya hujatan dialamatkan ke Arab Saudi, terutama kalangan sufi, pecinta kubur, dan sejenisnya.

Suara nyaring itu intinya menggugat “ketidakbecusan” pemerintah Arab Saudi sebagai khadimul haramain (pelayan dua tanah suci). Desakan internasionalisasi pelaksanaan ibadah haji dicitrakan menguat oleh media-media yang juga asbun, walaupun sejatinya hanya usulan segelintir pihak. Pelaksanaan ibadah haji “semestinya” tidak hanya melibatkan pemerintah Arab Saudi, tetapi juga negara-negara Islam lain yang tergabung dalam OKI. Demikian kata mereka. Sebuah opsi yang sangat berisiko ditunggangi kepentingan politis.

Untuk menegaskan “ketidakbecusan” Arab Saudi ini, ditampilkanlah berita bahwa musibah ini disebabkan iring-iringan putra Raja Arab Saudi, Pangeran Muhammad bin Salman. Berita ini “diperkuat” dengan tayangan video saat sang pangeran melakukan ibadah haji. Namun, kemudian terbukti bahwa berita ini tidak benar.

Yang lebih lucu adalah tuntutan transparansi pelaksanaan ibadah haji, seolah-olah dana pelaksanaan haji jadi ajang korupsi. Padahal pemerintah Arab Saudi tidak mencari profit apa pun dari pelaksanaan ibadah haji. Dana triliunan rupiah digelontorkan guna memperbaiki sarana dan prasarana ibadah haji dari tahun ke tahun.

Semua itu gratis demi berkhidmat (pelayanan) kepada jamaah haji. Tuduhan bahwa pemerintah Saudi berambisi untuk meningkatkan devisa negara melalui proyek raksasa ini, jelas tuduhan tak bertanggung jawab.

Seluruh pemasukan selama pelaksanaan haji masuk ke pihak swasta atau masyarakat setempat. Dari hotel, penginapan, belanja jamaah, jelas tidak masuk ke kas negara. Padahal, secara kasatmata, pelaksanaan ibadah haji jelas menyedot dana yang tidak sedikit.

Mampukah pemerintah negara lain menyelenggarakan ibadah haji secara swadana dan tanpa korupsi? Pertanyaan ini seharusnya menjadi pijakan kita becermin sebelum kita latah menyalahkan pihak lain.

Demi pelayanan haji ini, dana besar memang harus dikeluarkan. Memperluas Masjidil Haram berikut fasilitasnya, penataan kota Makkah, dan sebagainya, jelas bukan proyek kecil-kecilan. Apalagi ini dilakukan di tengah keramaian jamaah haji dan umrah di kota Makkah yang tak pernah sepi.

Beberapa flyover dibangun untuk mengurai risiko kemacetan. Itu pun selesai dalam waktu cepat. Hasilnya, kemacetan jarang sekali ditemui saat musim haji. Kalaulah ada, biasanya saat hari haji yang banyak kendaraan tidak tertib dan parkir di bahu jalan.

Soal air, Pemerintah Arab Saudi juga tak kurang-kurang memaksimalkan teknologi penyulingan air laut. Hasilnya, tak ada istilah kekurangan air di negara yang sejatinya sangat kering ini. Namun, asbun tetaplah asbun.

Ketika ada satu hotel jamaah haji yang krannya macet, beritanya demikian heboh sampai tanah air. Seolah-olah tragedi kemanusiaan bernama kran macet itu terjadi di seluruh Timur Tengah.

Demikian juga ketika ada satu kamar terbakar yang itu adalah faktor keteledoran jamaah haji sendiri. Berita di tanah air melebihi kebakaran hutan di Sumatra dan Kalimantan.

Kesigapan tenaga, terutama tim kesehatan Arab Saudi, memang patut diapresiasi. Mengurus dan mengatur jamaah haji yang jumlahnya hampir 3 juta jiwa tidaklah mudah. Butuh kerja keras dan manajemen luar biasa, yang dilakukan atas dasar ikhlas semata-mata mengharap pahala dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Peristiwa crane misalnya. Dalam hitungan 2 jam, area TKP sudah bisa dipergunakan kembali. Demikian juga dengan area Mina pascamusibah. Hanya dalam hitungan 5—6 jam, TKP bisa dilalui kembali. Padahal proses evakuasi ribuan jamaah dilakukan di tengah derasnya arus manusia. Bahkan, banyak jamaah haji yang tidak menyadari bahwa baru saja terjadi peristiwa yang menelan banyak korban jiwa.

Bayangkanlah kecelakaan di jalan raya yang melibatkan beberapa kendaraan bermotor saja. Butuh sekian jam agar lalu lintas bisa normal kembali. Ini tentu patut menjadi catatan kita semua.

 

Kronologis Kejadian Mina

Sejumlah saksi mata di lokasi tragedi Mina mengatakan bahwa insiden diawali ketika para jamaah haji dari Iran melakukan pelanggaran dengan melewati dan menerobos rute jamaah lainnya seraya menyerukan ide revolusi Iran.

Mereka menolak diatur saat diminta oleh para petugas haji untuk kembali ke rute yang sudah ditentukan. Otoritas keamanan Arab Saudi mengatakan bahwa penyebab insiden Mina lantaran jamaah haji dari Iran tidak mengikuti rute yang sudah ditentukan pemerintah Saudi. Hal seperti ini selalu terjadi setiap tahun.

“Jamaah Iran tidak mendengarkan dan mengabaikan instruksi, kemudian bentrok dengan kami dan meneriakkan slogan-slogan revolusi sebelum terjadinya musibah Mina,” ungkap seorang pejabat keamanan Saudi seperti dikutip akun @ SaudiNews50, Kamis (24/9).

Petugas haji IRAN mengatakan kepada harian Syarq Ausath bahwa 300 jamaah haji Iran menyalahi pengaturan gelombang melempar. Hal ini menyebabkan dorong-mendorong di jalan 204 yang mengakibatkan seribuan orang wafat (131 orang dari jamaah Iran).

Para saksi mata mengungkapkan bahwa mereka sering menyaksikan jamaah

haji Iran mempropagandakan hal yang mereka sebut “Revolusi Islam” kepada jamaah haji dari negara lain.

“Mereka juga kerap mengambil keuntungan dengan memprovokasi jamaah untuk bentrok antarjamaah dan pasukan keamanan Arab Saudi.”

Saksi mata di lokasi kejadian melaporkan bahwa jamaah haji Iran kembali dari jamarat melalui jalan yang sama, padahal seharusnya melalui jalur lain. Tentu saja, arus jamaah haji Iran ini berlawanan arah dengan arus jamaah yang hendak berangkat ke Mina untuk melontar jumrah…. Terjadilah musibah Mina tersebut.

Jadi, sangat ironis ketika pemerintah Iran menampilkan diri sebagai pihak yang menuntut, menghujat, dan menyalahkan pemerintah Arab Saudi.

 

(disarikan dari berbagai sumber)

Islam Nusantara Penerus Islam Liberal

Umat Islam di Indonesia yang masih mencintai al-Qur’an dan as-Sunnah, kian dibuat sakit hati dengan munculnya orang-orang yang memiliki keyakinan bebas berbicara atas nama agama seenaknya. Merekalah orang-orang liberal yang tergabung dalam Jaringan Islam Liberal (JIL).

Para liberalis seperti mereka memiliki pemikiran bahwa agama Islam bisa dibuat warna-warni, tergantung pada penafsirnya. Menurut mereka, kita bisa menafsirkan agama sesuai dengan akal dan pemikiran yang kita miliki. Semua orang tidak boleh mengklaim bahwa penafsirannya paling benar.

Jika demikian yang mereka inginkan, sungguh hal ini mengerikan. Orang bisa menafsirkan agama Islam sesuai selera masing-masing; sementara semua orang wajib saling menghormati penafsiran setiap individu. Artinya, kebenaran yang diyakini oleh seseorang bisa jadi benar, bisa jadi pula salah. Lebih parah lagi: agama Islam belum tentu benar, karena agama lain bisa jadi memiliki kebenaran.

Astaghfirullah. Mereka tidak meyakini bahwa agama Islam adalah agama yang paling benar. Jika pernyataan di atas dilontarkan oleh nonmuslim, bisa dimaklumi. Akan tetapi, mereka menyatakan diri sebagai muslim. Sebagian mereka membanggakan diri sebagai anggota salah satu ormas Islam besar di Indonesia.

Berawal dari obrolan di Jl. Utan Kayu No. 68H, Jakarta Timur, mereka membuat sebuah forum sederhana. Tokoh liberal pun bermunculan, seperti Goenawan Mohamad (redaktur senior Majalah “Tempo”), Akhmad Sahal, Nong Darol Mahmada (aktivis perempuan), M. Luthfi Assyaukani, dan Ulil Abshar Abdalla—yang sebenarnya diharapkan menjadi tokoh kiai Nahdhatul Ulama (NU).

Forum tersebut pada hakikatnya adalah kumpulan pegandrung sastra, seni, teater, musik, film, dan seni rupa. Awalnya mereka berbicara di dunia maya lewat milis (mailing list). Kemudian berlanjut di radio-radio dengan tema “Agama dan Toleransi”. Jalur media cetak juga mereka tempuh dengan menulis bahasan “Kajian Islam”.

Melalui media cetak, muncul tokoh seperti Nurcholish Madjid, Azyumardi Azra, Jalaludin Rakhmat, Masdar F. Mas’udi, dll. Mereka selalu membahas pengutakatikan masalah agama yang tidak perlu dibahas, di antaranya tentang emansipasi wanita, perbandingan antaragama, dan kebebasan dari kungkungan agama tertentu. Sebuah harian yang terbit di Surabaya menampilkan rubrik khusus satu halaman yang menampilkan kajian liberal. Demikian pula beberapa harian lokal di bawah manajemennya.

Berikutnya, muncul secara resmi situs liberal www.islamlib.com yang dipublikasikan pada akhir Juli 2001. Dengan situs tersebut, kaum liberalis menegaskan bahwa mereka mengusung pemikiran Islam liberal.

Tentu saja, pihak yang diuntungkan dalam kondisi ini adalah para musuh Islam dari kalangan kaum kafir Yahudi dan Nasrani, para politikus dan orang-orang yang hanya memiliki pemikiran nasionalis tanpa berpikir tentang agama.

Upaya yang dilakukan oleh JIL sudah pernah dilakukan oleh sekian banyak pihak, tetapi tidak berhasil. Di antaranya Musthafa Kemal Ata Turk yang dikenal sebagai “Bapak Turki”. Dia berupaya menjadikan Islam memiliki warna budaya Turki murni, seperti azan dengan bahasa Turki. Siapa pendukungnya? Michel Aflaq, seorang Nasrani.

Demikian pula Islam Liberal. Mereka didukung oleh penyandang dana asing sehingga jaringannya semakin besar. Sebagian pihak yang merasa diuntungkan oleh adanya Islam Liberal memberi bantuan dana lantaran khawatir akan munculnya “Islam Radikal” atau Islam fundamentalis. Sebenarnya, yang mereka maksud adalah kekhawatiran munculnya Islam yang bersungguh-sungguh mengamalkan agamanya.

Ini adalah hal yang aneh. Jika mereka adalah orang kafir, kemudian takut dengan Islam yang sesungguhnya, itu wajar. Namun, jika mereka juga sesama muslim, apa yang dikhawatirkan? Sebab, jika Islam ditegakkan, sungguh kehidupan akan damai, indah, dan mengayomi seluruh masyarakat, bahkan nonmuslim sekalipun. Jika Islam ditegakkan, nonmuslim mendapatkan perlindungan sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ قَتَلَ مُعَاهِدًاوَفِي رِوَايَةٍ: ذِمِّيًّالَمْ يَرِحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ

“Barang siapa membunuh seorang kafir mua’had, tidak akan mencium wangi surga.”

Mengapa harus khawatir dan takut dengan agama Allah subhanahu wa ta’ala yang sempurna, lengkap, dan penuh rahmat?

Mereka khawatir, jika Islam fundamentalis bangkit, akan membahayakan dan membantai mereka. Padahal, yang mereka khawatirkan tidak muncul dari Islam, tetapi dari pemikiran sesat, baik Syiah maupun Khawarij yang ekstrem dan ghuluw.

Demikian sekilas perkembangan kaum Islam liberal. Bermula dari obrolan, siaran, tulisan, pembentukan jaringan, hingga pemaksaan pemikiran dengan menuduh orang-orang yang bersemangat belajar agama Islam dengan tuduhan yang buruk.

Ada sedikit perbedaan antara kaum liberal di Indonesia dan di negeri Barat. Kaum liberalis di negeri barat diisi oleh orang-orang kafir yang tidak mau mengikuti ajaran agama mana pun, baik Nasrani, Yahudi, maupun Islam. Sampai-sampai mereka berupaya untuk melegalkan pernikahan sesama jenis dan menyerukan penerimaan terhadap Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT).

Adapun kaum liberal di Indonesia masih menggunakan nama Islam, Islam liberal. Akan tetapi, pemikiran yang mereka serukan mirip: reaktualisasi Islam, persamaan gender, dan lainnya. Menurut pikiran mereka, al-Qur’an tidak adil. Aturan hukum waris harus diubah karena dianggap tidak adil.

Setelah itu, muncul M. Quraish Shihab dengan bukunya, Membumikan Al-Qur’an, yang bertujuan memunculkan Islam yang sesuai dengan budaya bumi persada Indonesia. Berikutnya, muncul Islam Nusantara, bentuk Islam khusus yang dirombak dan disesuaikan agar sesuai dengan kondisi di Nusantara, Indonesia.

Sekian banyak kelompok di atas memiliki tujuan yang sama, yaitu ingin menunjukkan Islam toleran, Islam yang lembut, Islam yang mengayomi; bukan Islam yang kaku, Islam Arab, Islam yang hanya bertujuan untuk perang. Mereka menginginkan agama Islam sesuai dengan budaya Indonesia yang lembut. Padahal dengan melihat berita, kita tahu bahwa hampir setiap hari di Indonesia terjadi pembunuhan, pemerkosaan, mutilasi, pembakaran, dan kasus kriminalitas yang lain.

Demikianlah keadaan umum sebuah negara, ketika tidak dibimbing oleh agama, ia akan hancur. Namun, ketika dibimbing oleh agama, negara itu akan aman, tenteram, damai, dan sejahtera.

Oleh karena itu, jangan menyalahkan dan menuduh bahwa agama menyebabkan negara menjadi kacau sehingga muncul keinginan untuk merombak agama.

Orang kafir di Amerika saja punya slogan, “Kita cinta damai, tetapi kita lebih cinta kemerdekaan.” Maksudnya, mereka mencintai kedamaian, tetapi siap berperang untuk mempertahankan kedamaian tersebut.

Jadi, sebenarnya mereka sepakat bahwa perang diperlukan untuk menegakkan kedamaian. Jika kaum liberalis Indonesia menentang peperangan, lantas bagaimana cara pemerintah memerangi para pemberontak? Karena itulah, jihad diperlukan. Inilah yang disyariatkan oleh Islam yang sempurna dan lengkap.

Said Agil Siraj pada awal kepulangannya ke Indonesia dari studinya sempat mengatakan bahwa Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu pikun. Mulai dari situ, disinyalir bahwa orang ini akan menjadi orang berbahaya pemikirannya. Akhirnya, saat ini, setelah menjadi pemimpin ormas besar di Indonesia, dia mulai berbicara hal-hal yang aneh.

Di antara pernyataannya ialah Islam Nusantara lebih sesuai dengan kondisi masyarakat Indonesia, bukan Islam Arab. Apa yang dimaksud Islam Arab oleh Said? Apakah Islam yang menggunakan al-Qur’an yang berbahasa Arab? Ataukah agama Islam yang diajarkan oleh orang Arab?

Padahal sudah kita ketahui, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang Arab, dari suku Quraisy, bani Hasyim, keturunan Nabi Ismail q. Lantas, apa yang dipermasalahkan?

Jika orang Indonesia beragama Islam, orang Arab beragama Islam, orang dari negara lain juga beragama Islam, seharusnya orang Islam di dunia seperti ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

كُلُّكُمْ مِنْ آدَمَ وَآدَمُ مِنْ تُرَابٍ

“Kalian semua dari Adam, sedangkan Adam dari tanah.”

Tidak ada keutamaan orang Arab di atas ajam, tidak ada keutamaan orang ajam di atas orang Arab kecuali dengan ketakwaan.

Oleh karena itu, hendaknya jangan kita permasalahkan beda Islam Arab, Islam Indonesia, ataupun Islam Turki. Yang dipertanyakan, apakah sebuah amalan berasal dari agama Allah subhanahu wa ta’ala, al-Qur’an, dan as-Sunnah? Jika ya, amalan tersebut berlaku untuk seluruh bangsa dan negara di dunia.

Kalimat dan tuduhan seperti di atas yang sejatinya menjadi pemicu perpecahan. Dampaknya, orang yang tidak mendalami agama Islam mulai meragukan dan mempertanyakan syariat Islam. Salah satunya menyatakan bahwa hijab muslimah adalah budaya Arab sehingga tidak perlu digunakan oleh bangsa lain. Padahal, jika ditelisik lebih dalam, ditemukan bahwa hijab juga bukan budaya Arab. Budaya Arab dalam berpakaian sebelum Islam datang adalah penggunaan pakaian yang terbuka. Dengan datangnya Islam, Allah subhanahu wa ta’ala memerintah para wanita menutup aurat.

Agama Allah subhanahu wa ta’ala itu dari Allah subhanahu wa ta’ala, disampaikan oleh utusan-Nya, tidak bisa ditambah atau dikurangi. Ibnul Qayyim rahimahullah menyatakan dalam ash-Shawa’iq al-Mursalah (hlm. 113), “Allah subhanahu wa ta’ala telah menyempurnakan agama ini dengan Nabi-Nya, dan Allah subhanahu wa ta’ala menyempurnakan agama-Nya lewat ajaran Nabi-Nya. Agama ini sudah sempurna, tidak perlu tambahan untuk Islam dan umatnya, baik dari akal, nukilan, pendapat, mimpi, maupun kasyaf siapa pun.”

Agama Islam sudah sempurna. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَٰمَ دِينٗاۚ

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (al-Maidah: 3)

Jika Islam harus mengikuti budaya setiap negeri, akan jadi berapa macam agama Islam ini?

 

Di antara prinsip kaum liberalis adalah membuka pintu ijtihad pada semua dimensi Islam.

Mereka menganggap bahwa ijtihad adalah penalaran rasional. Jadi, semua orang boleh berijtihad. Jika demikian adanya, konsekuensinya seluruh kitab para ulama dan kitab tentang kaidah penafsiran tidak perlu dibaca. Sebab, setiap orang boleh menafsirkan ayat al-Qur’an sesuai dengan kehendaknya. Ujung-ujungnya, agama akan hancur dengan dibukanya pintu ijtihad bagi setiap orang.

Kita meyakini bahwa para kiai di belakang mereka mengetahui kaidah tafsir bahwa ayat ditafsirkan dengan ayat, dengan hadits, dan dengan ucapan para sahabat radhiallahu ‘anhum. Kita meyakini pula bahwa para kiai mereka tahu—sesuai dengan ajaran al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah—tentang siapa saja yang boleh berijtihad, yaitu yang mengetahui bahasa Arab, tafsir, kaidah ilmu tafsir, hadits, dan penjelasannya. Jadi, ijtihad harus berdasarkan ilmu, bukan lamunan.

Bermula dari lamunan, ada liberalis yang menyatakan bahwa manusia berasal dari monyet. Hal itu didukung oleh Nurcholis Majid. Dia menguatkan pendapat itu dengan dalih ayat al-Qur’an, “Inni ja’ilun fil ardhi khalifah.” Ja’ilun berasal dari kata ja’ala, yang membutuhkan dua maf’ul, sedangkan Allah subhanahu wa ta’ala hanya menyebutkan satu saja. Jadi, perlu satu maf’ul lagi dalam ayat, “Sesungguhnya Aku menjadikan …. sebagai khalifah.” Titik-titik yang masih kosong itu menurut kaum liberalis bisa jadi monyet.

Kebebasan berpikir yang mereka serukan seperti ini bertujuan untuk merusak agama, baik sengaja maupun tidak. Akibatnya, semua orang, dengan latar pendidikan apa pun, berani berbicara masalah agama. Mereka membahas agama dari sisi sosial, ekonomi, dan ritual seenaknya.

Akan tetapi, ketika dibalik, apakah mereka mau menerimanya? Jika para kiai turut berbicara tentang ilmu yang mereka bidangi, apakah mereka mau menerima? Tentu jawabnya tidak boleh, karena setiap ilmu itu ada ahli yang membidanginya. Sungguh, pemikiran mereka itu sangat tidak adil.

 

Kaum liberal lebih mengutamakan semangat religio-etik (penafsiran baru yang universal), bukan makna literal-teks (penafsiran lama yang telah ditetapkan).

Mereka menafsirkan ayat al-Qur’an tidak tekstual, tetapi kontekstual; sehingga mereka memutarbalikkan ayat dan hadits. Mereka sebut hal ini sebagai tafsir. Memang benar bahwa ada beberapa ayat yang memang perlu dijelaskan secara kontekstual, tetapi dengan qarinah; tidak sembarangan sabagaimana halnya penafsiran kaum liberal. Semua hal ini diterangkan dalam ilmu ushul tafsir.

Masuknya pemikiran liberal ke beberapa ormas Islam di Indonesia adalah musibah besar. Kericuhan pada Muktamar NU 2015 memberi sinyalemen bahwa masih ada para kiai yang membaca kitab para ulama Ahlus Sunnah sehingga kaum liberal tidak mudah memasuki organisasi NU.

 

Di antara prinsip kaum liberal ialah meyakini bahwa kebenaran itu relatif.

Padahal dalam al-Qur’an dan as-Sunnah disebutkan bahwa meragukan kebenaran agama Allah subhanahu wa ta’ala adalah kekafiran.

Dinukil dari ucapan salah seorang liberalis yang mempermainkan dan mendustakan perkara agama, Muhammad Amin, “Nanti, akan ketemu Muhammad, Yesus, dan Gusdur. ‘Muhammad, maaf ya. Kemarin umat saya membakar masjid umatmu,’ Kata Yesus. ‘Oh, ndak apa-apa kok. Umat saya juga pernah membakar gereja umatmu,’ Jawab Muhammad. Gusdur menyahut, ‘Sudah, dibuat saja Gerejid (Gereja-Masjid). Jadi kalau hari Ahad dipakai Misa, hari Jumat dipakai Jumatan. Kan beres, gitu aja kok repot.’

Dinukil pula dari orang yang sama, “Nanti ketika laporan di hari kiamat, Allah cuma tersenyum dan melihat surga sangat luas. Begitu dia melihat surga, di sana ada Muhammad, Yesus, Mahatma Gandhi, Martin Luther, dan Bunda Theresa.

Penyimpangan kaum liberal yang semakin jelas ini semoga membuat para kiai semakin berpikir untuk kembali kepada agamanya, membuka kembali kitab para ulama, seperti an-Nawawi, Ibnu Hajar, dan al-Imam asy-Syafi’i rahimahumullah sehingga mengetahui agama Islam sebenar-benarnya.

 

Di antara pemikiran liberalisme adalah berpihak kepada minoritas yang tertindas, baik dalam hal agama, etnik, ras, gender, budaya, politik, maupun ekonomi.

Padahal, jika mengaku beragama Islam, seharusnya mereka berpihak kepada yang benar. Kita harus mengakui bahwa seluruh manusia tidak tahu hal terbaik untuk manusia sendiri. Namun, Allah subhanahu wa ta’ala mengetahui kebaikan yang paling baik untuk umat manusia.

Allah subhanahu wa ta’ala telah menggariskan wahyu-Nya sejak diturunkan kepada Nabi Musa ‘alaihissalam sampai Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dalam bentuk al-Qur’an lengkap 30 juz dan diajarkan dengan sempurna. Al-Qur’an sudah memberi solusi terhadap hal yang mereka khawatirkan berupa peperangan, perpecahan, pertikaian, dan kekacauan.

Munculnya kaum liberal semacam ini bermula dari adanya kaum radikal dan ekstrem yang mengafirkan pemerintah dan kaum muslimin. Akan tetapi, keekstreman dilawan dengan keekstreman pula.

Mereka selalu meneriakkan pembelaan terhadap kaum minoritas. Kaum Kristiani yang membakar masjid dibela. Kaum perempuan dibela karena dianggap minoritas. Mereka terus meneriakkan emansipasi wanita. Padahal Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلَيۡسَ ٱلذَّكَرُ كَٱلۡأُنثَىٰۖ

“Dan tidaklah laki-laki itu sama dengan perempuan.” (Ali Imran: 36)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa wanita itu kurang akal dan agamanya. Semestinya para liberalis berpikir bahwa para wanita yang lemah itu perlu dilindungi oleh kaum lelaki, karena mereka lemah agama dan lemah akalnya. Para wanita perlu dibimbing dan dijaga. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

ٱلرِّجَالُ قَوَّٰمُونَ عَلَى ٱلنِّسَآءِ

“Kaum laki-laki itu pemimpin bagi kaum wanita.” (an-Nisa’: 34)

Mereka meneriakkan emansipasi agar para wanita dianggap sejajar dengan para lelaki. Mereka menganggap wanita boleh menjadi pemimpin atau khatib. Di Amerika, pernah terjadi shalat Jumat dengan khatib seorang perempuan, dan jamaah laki-laki bercampur dengan perempuan tanpa hijab.

Kebebasan berpikir ala kaum liberal dikhawatirkan juga akan mengarah ke dalam masalah pemerintahan. Mereka akan bebas berbicara dan berkomentar tentang masalah pemerintahan.

Jika pemikiran liberal yang diterapkan di Barat benar-benar diterapkan di Indonesia, seharusnya tidak muncul istilah Islam Nusantara. Akan tetapi, mestinya dinamakan Islam Barat atau bahkan sama sekali tanpa embel-embel Islam. Sebab, jika dinamakan Islam Nusantara, seharusnya tidak boleh meniru cara orang kafir di negeri Barat. Inilah keanehan yang mereka buat, mereka menamakan Islam, tetapi liberal. Dua hal yang tak bisa disatukan.

 

Kaum liberal meyakini kebebasan memeluk agama. Hal ini didasarkan pemikiran mereka yang menyatakan bahwa kebenaran itu relatif. Padahal Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّ ٱلدِّينَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلۡإِسۡلَٰمُۗ

“Sungguh, agama yang diterima di sisi Allah adalah Islam.” (Ali ‘Imran: 19)

Ketika kaum muslimin menyebut kaum Nasrani, Yahudi, Hindu, dan Budha adalah kafir, apakah bisa disebut Islam mengajarkan permusuhan, perpecahan, dan pertikaian? Jawabnya, tidak.

Kaum muslimin harus membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Menurut kaum muslimin, orang yang masuk surga adalah yang beramal berdasarkan al-Qur’an dan as-Sunnah. Orang yang berjalan di agama lain adalah penduduk neraka.

Islam tidak memaksa orang yang beragama lain untuk memeluk agama Islam. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

لَآ إِكۡرَاهَ فِي ٱلدِّينِۖ

“Tidak ada paksaan dalam agama.” (al-Baqarah: 256)

Toleransi yang diberikan kaum muslimin kepada nonmuslim adalah memberikan keleluasaan bagi mereka untuk memilih menjadi mukmin atau kafir tanpa paksaan. Kaum muslimin hanya menjelaskan mana yang benar mana yang salah, dan mana agama yang lurus mana agama yang kafir. Toleransi kaum muslimin juga berarti bahwa mereka tidak mengganggu kaum Nasrani di gereja-gereja.

Jika kaum muslimin di Indonesia berpegang al-Qur’an dan as-Sunnah, Indonesia akan menjadi baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur (negeri yang baik yang diampuni oleh Rabb) yang diturunkan berkah dari langit dan bumi. Namun, jika kita berdusta, yang datang dari langit dan bumi adalah azab.

Di Indonesia, pernah dicetuskan bahwa tidak akan bisa menjadi persatuan dalam perbedaan kecuali jika ditanamkan pemikiran bahwa semua agama sama. Padahal, hal itu justru menjadi pemicu perpecahan. Biarkan setiap pemeluk agama mengamalkan ajaran masing-masing dan tidak saling mengganggu. Al-Qur’an menyebutkan,

قُلۡ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡكَٰفِرُونَ ١  لَآ أَعۡبُدُ مَا تَعۡبُدُونَ ٢  وَلَآ أَنتُمۡ عَٰبِدُونَ مَآ أَعۡبُدُ ٣  وَلَآ أَنَا۠ عَابِدٞ مَّا عَبَدتُّمۡ ٤ وَلَآ أَنتُمۡ عَٰبِدُونَ مَآ أَعۡبُدُ ٥  لَكُمۡ دِينُكُمۡ وَلِيَ دِينِ ٦

Katakanlah, “Hai orang-orang yang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Rabb yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Rabb yang aku sembah. Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku.” (al-Kafirun: 1—6)

Jika kandungan surat ini diajarkan di Indonesia, niscaya negeri ini akan aman. Toleransi melebihi batasan syariat justru akan mendatangkan kerusakan dan azab Allah subhanahu wa ta’ala.

 

Di antara pemikiran kaum liberal ialah memisahkan antara otoritas duniawi dan ukhrawi, otoritas keagamaan dan politik.

Mereka meyakini bahwa kekuasaan keagamaan dan politik harus dipisahkan. Mereka melarang pembicaraan agama disangkutpautkan dengan politik, sosial, bahkan dunia. Jadi, ketika ada yang mencoba membahas salah satu isu di atas dengan sisi pandang agama, mereka akan menjulukinya sektarian.

Inilah yang menyebabkan kaum muslimin tidak mau berpegang dengan ajaran agama pada bidang-bidang yang dianggap terpisah dari agama menurut kaum liberal.

Hal semacam ini pernah terjadi pada agama Nasrani beberapa abad yang lalu. Saat itu para pendeta gereja bertentangan dengan para ilmuwan di universitas. Perseteruan itu berujung pada perdebatan yang memberi solusi agar ilmu agama dipisahkan dengan ilmu pengetahuan alam.

Akan tetapi, itu adalah agama Nasrani, yang berbeda dengan agama Islam. Agama Islam adalah agama yang sempurna dan mencakup segala urusan manusia di dunia. Allah subhanahu wa ta’ala menjamin akan menjaga agama Islam sampai hari akhir. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا ٱلذِّكۡرَ وَإِنَّا لَهُۥ لَحَٰفِظُونَ ٩

“Kami yang menurunkan adz-Dzikr, kami yang akan menjaganya.” (al-Hijr: 9)

Dari pemaparan di atas, bisa kita nyatakan bahwa Islam liberal sebenarnya mencampurkan beberapa pemikiran sesat sekaligus: sekularisme, pluralisme, dan liberalisme.

 

Di antara yang didengungkan sebagai ciri Islam Nusantara adalah:

  1. Sifat rahmatan lil alamin.

Said Aqil Siraj menyebutnya sebagai salah satu ciri Islam Nusantara. Berbeda halnya dengan “Islam Arabyang kaku, penuh teror, dan kekerasan.

Pernyataan ini sudah dibahas di atas.

  1. Tidak memusuhi Syiah.

Ciri ini disebutkan oleh Ulil Abshar Abdalla. Menurutnya, Islam Nusantara menganggap Syiah sebagai bagian yang sah dari umat Islam. Tentu saja, ini adalah cerminan prinsip liberalisme: kebenaran itu relatif dan kebebasan berpikir & berpendapat.

Akan tetapi, Ulil ternyata tidak konsekuen. Ia tidak mau mengatakan Islam “Wahabisebagai bagian yang sah dari umat Islam.

  1. Mengikuti budaya setempat.

Misalnya, tradisi sesajen yang merupakan warisan budaya Hindu. Islam Nusantara mengikuti alur budaya tersebut dengan memberi makna baru, yaitu kepedulian terhadap sesama. Ini diucapkan oleh Abdul Muqsith Gazali, seorang tokoh Islam liberal.

Jadi, yang mereka gambarkan tentang Islam Nusantara ialah Islam yang sejuk dan lembut, tidak pernah keras dan berkonfrontasi. Namun, ironisnya, ketika muktamar membahas Islam Nusantara, terjadi keributan dan kericuhan (baca: konfrontasi, kekerasan, dan caci maki). Jadi, ketika di satu sisi mencerca “Islam Arab, mereka sendiri terjatuh dalam hal yang mereka sematkan dan tuduhkan terhadap “Islam Arab.

Tentu saja, hal ini tidak luput dari pengamatan para kiai sepuh mereka. Mereka pun mengungkapkan keprihatinan dan rasa malu atas apa yang terjadi pada muktamar tersebut.

 

Himbauan & Seruan

Kita yakin bahwa selama mengaku muslimin, tentu mereka memiliki pegangan dan anutan yang sama. Kita berpegang dengan al-Qur’an dan as-Sunnah. Kita menjadikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai anutan.

Oleh karena itu, tidak perlu dibuat hal-hal baru dalam agama hanya karena ingin menampakkan wajah Islam yang lebih toleran, lebih sejuk. Seakan-akan dia bisa membuat yang lebih bagus dari apa yang ada dalam al-Qur’an dan yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Sunnah beliau. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

أَوَ لَمۡ يَكۡفِهِمۡ أَنَّآ أَنزَلۡنَا عَلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ يُتۡلَىٰ عَلَيۡهِمۡۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَرَحۡمَةٗ وَذِكۡرَىٰ لِقَوۡمٖ يُؤۡمِنُونَ ٥١

“Apakah tidak cukup bagi mereka bahwa Kami telah menurunkan kepadamu al-Kitab (al-Qur’an) sedangkan dia dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya dalam (al-Qur’an) itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman.” (al-Ankabut: 51)

Sikap keras dan marah pada keadaan tertentu diperlukan sebagai bentuk sikap rahmat (kasih sayang). Kita bersikap keras terhadap kelompok yang menyimpang sebagai sikap rahmat kita terhadap mereka agar berhenti, dan terhadap kaum muslimin agar tidak mendapatkan keburukannya.

Ingatlah ucapan al-Imam al-Barbahari rahimahullah dalam Syarhus Sunnah,

إِنَّ الدِّينَ إِنَّمَا جَاءَ مِنْ قِبَلِ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، لَمْ يُوْضَعْ عَلَى عُقُولِ الرِّجَالِ وَآرَائِهِمْ، وَعِلْمُهُ عِنْدَ اللهِ وَعِنْدَ رَسُولِهِ، فَلاَ تَتَّبِعْ شَيْئًا بِهَوَاكَ فَتَمْرُقَ مِنَ الدِّينِ فَتَخْرُجَ مِنَ الْإِسْ مَالِ

“… Sungguh, agama ini hanyalah datang dari Allah subhanahu wa ta’ala, tidak dibuat dan diada-adakan oleh akal manusia. Ilmunya ada di sisi Allah subhanahu wa ta’ala dan di sisi Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka dari itu, janganlah engkau mengikuti hawa nafsu sehingga keluar dari agama Islam….”

Wallahul Mustaan.

 Ditulis oleh al-Ustadz Muhammad Umar as-Sewed

Pelajaran dari Sejarah Munculnya Khawarij

Sungguh, dengan mengenali sejarah generasi awal Khawarij akan menumbuhkan sikap waspada terhadap mereka. Sebab, mereka akan senantiasa muncul, hingga Dajjal muncul di tengah-tengah mereka, sebagaimana yang diberitakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Cikal bakal mereka yang paling awal adalah seseorang yang bernama Dzul Khuwaishirah. Jenggotnya tebal, tulang pipinya menonjol, kedua matanya cekung, dahinya timbul, dan kepalanya gundul. Dia berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika sedang membagi ghanimah (harta rampasan perang) Perang Hunain, “Berbuat adillah, wahai Muhammad!”— atau—“Bertakwalah engkau, wahai Muhammad!”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya, “Siapa lagi yang akan menaati Allah kalau aku bermaksiat kepada-Nya? Allah telah memercayaiku (untuk diutus) terhadap penduduk bumi, namun kalian tidak memercayaiku?”

Lelaki itu kemudian berpaling. Setelah itu, ada seorang sahabat yang hadir—disebutkan bahwa dia adalah Khalid bin al-Walid—meminta izin kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk membunuhnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh, dari tulang sulbi orang itu akan keluar sekelompok orang yang membaca al-Qur’an, namun tidak melampaui tenggorokan mereka. Mereka membunuh para pemeluk Islam, namun membiarkan para penyembah berhala. Mereka keluar dari Islam sebagaimana melesatnya anak panah dari binatang buruannya. Jika aku mendapati mereka, sungguh aku akan memerangi mereka sebagaimana kaum Ad diperangi.” (HR. Muslim)

Awal munculnya mereka dalam bentuk kelompok ialah pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu. Terjadi perselisihan antara mereka dan Ali radhiallahu ‘anhu, ketika Ali menunjuk orang sebagai hakim dalam perselisihannya dengan Mu’awiyah radhiallahu ‘anhuma dalam rangka menjaga agar darah kaum muslimin tidak ditumpahkan.

Sepulang dari Syam setelah peristiwa Shiffin, Ali radhiallahu ‘anhu memasuki Kufah. Saat memasuki Kufah, sekelompok pasukannya memisahkan diri dari Ali radhiallahu ‘anhu. Disebutkan bahwa jumlah kelompok itu sekitar 16 ribu orang atau 12 ribu orang. Ada juga yang menyebutkan jumlah kurang dari itu.

Mereka memisahkan diri dari Ali lalu memberontak kepada beliau. Mereka mengingkari Ali radhiallahu ‘anhu dalam beberapa masalah. Ali radhiallahu ‘anhu lalu mengutus Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma untuk menemui mereka untuk berdialog dalam beberapa masalah tersebut dan membantah syubhat mereka. Urusan yang mereka persoalkan sebenarnya tidak ada hakikatnya. Sebagian mereka rujuk kepada kebenaran, namun sebagian yang lain tetap bersikeras dalam kesesatan mereka.

Selanjutnya, Ali radhiallahu ‘anhu sendiri yang keluar menemui mereka yang tersisa. Beliau radhiallahu ‘anhu terus-menerus berdialog dan mendebat mereka hingga mereka kembali bersama Ali radhiallahu ‘anhu ke Kufah. Mereka kemudian mulai menentang ucapan beliau dan memperdengarkan cercaan terhadap beliau. Selain itu, ayat-ayat tentang syirik dan kekafiran terhadap Allah mereka tujukan kepada diri Ali radhiallahu ‘anhu.

Ibnu Jarir rahimahullah menyebutkan, suatu hari Ali radhiallahu ‘anhu sedang berpidato. Ketika itu, berdirilah salah seorang Khawarij dan berkata, “Wahai Ali, engkau telah berbuat syirik dalam agama Allah dengan (menunjuk) manusia (sebagai hakim). La hukma illa lillah (Tidak ada hukum kecuali milik Allah).”

Lantas bersahutanlah suara dari setiap sudut, “La hukma illa lillah, la hukma illa lillah.”

Ali radhiallahu ‘anhu mengatakan, “Ini adalah kalimat yang benar, tetapi yang diinginkan dengannya adalah kebatilan.”

Beliau kemudian berkata, “Kalian memiliki hak atas kami untuk kami tidak menghentikan pemberian fai’ selama tangan kalian masih (berbai’at) bersama kami, kami tidak menghalangi kalian mendatangi masjid-masjid Allah, dan kami tidak akan memulai memerangi kalian sampai kalian sendiri yang memulai memerangi kami.”

Setelah itu, kaum Khawarij berkumpul di tempat tinggal Abdullah bin Wahb ar-Rasibi. Abdullah bin Wahb berpidato di hadapan mereka dengan ucapan yang menggugah mereka. Dia menumbuhkan sikap zuhud terhadap dunia, mendorong mereka untuk urusan akhirat dan surga, dan memberi semangat mereka untuk menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar. Setelah, itu naiklah Hurqus bin Zuhair berpidato, dilanjutkan oleh Zaid bin Hishn, yang juga menyemangati mereka untuk beramar ma’ruf nahi mungkar. Dia membaca beberapa ayat al-Qur’an, di antaranya firman Allah ‘azza wa jalla,

يَٰدَاوُۥدُ إِنَّا جَعَلۡنَٰكَ خَلِيفَةٗ فِي ٱلۡأَرۡضِ فَٱحۡكُم بَيۡنَ ٱلنَّاسِ بِٱلۡحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ ٱلۡهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَضِلُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ

“Hai Dawud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah.” (Shad: 26)

وَمَن لَّمۡ يَحۡكُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡكَٰفِرُونَ ٤٤

“Barang siapa tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (al-Maidah: 44)

Demikian pula ayat yang selanjutnya, yang menyebutkan “mereka itu adalah orang-orang yang zalim” dan “mereka itu adalah orang-orang yang fasik”.

Setelah itu, dia berkata, “Aku mempersaksikan bahwa orang-orang yang kita dakwahi, orang-orang yang sama kiblatnya dengan kita, bahwa mereka telah mengikuti hawa nafsu, mencampakkan hukum al-Qur’an, zalim dalam hal ucapan dan amalan, serta bahwa berjihad melawan mereka adalah sebuah keharusan bagi kaum mukminin.”

Menangislah seseorang di antara mereka yang bernama Abdullah bin Sakhbarah. Dia pun memprovokasi mereka untuk melakukan pemberontakan. Dia berkata, “Tikamlah wajah dan kening mereka dengan pedang, sehingga ditaatilah Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.”

Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan, “Manusia jenis ini adalah keturunan Adam yang paling aneh. Mahasuci Dzat yang telah menciptakan makhluk-Nya beraneka ragam sesuai dengan kehendak-Nya, dan telah terdahulu dalam takdir Allah Yang Mahaagung.

Betapa bagusnya ucapan sebagian salaf, bahwa mereka (Khawarij) lah yang disebutkan dalam firman Allah ‘azza wa jalla,

قُلۡ هَلۡ نُنَبِّئُكُم بِٱلۡأَخۡسَرِينَ أَعۡمَٰلًا ١٠٣ ٱلَّذِينَ ضَلَّ سَعۡيُهُمۡ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَهُمۡ يَحۡسَبُونَ أَنَّهُمۡ يُحۡسِنُونَ صُنۡعًا ١٠٤

Katakanlah, “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. (al-Kahfi: 103—104)

Ringkasnya, mereka yang bodoh, sesat, celaka dalam hal ucapan dan perbuatan ini, bersepakat untuk memberontak di tengah-tengah kaum muslimin. Mereka bersepakat pergi menuju Madain untuk merebutnya kemudian berlindung di dalamnya. Mereka pun mengirim utusan kepada saudara-saudara dan teman-teman mereka yang memiliki pemikiran serupa di Basrah dan kota lainnya. Orang-orang tersebut memenuhi ajakan tersebut dan bergabung dengan mereka.

Zaid bin Hishn berkata, “Madain tidak mampu kalian kuasai. Di sana ada pasukan yang tidak mampu kalian hadapi, yang akan menghalangi kalian memasukinya. Buatlah kesepakatan dengan teman-teman kalian untuk pergi ke arah jembatan Sungai Jaukha. Janganlah kalian keluar dari Kufah secara berkelompok, tetapi seorang demi seorang agar tidak ada yang menyadari kalian.”

Mereka menulis surat terbuka kepada penduduk Basrah dan kota lainnya yang memiliki pemikiran dan tindakan yang sama dengan mereka. Mereka mengirimkan pesan tersebut agar bergabung di sisi sungai, agar mereka menjadi satu kekuatan menghadapi manusia.

Setelah itu, mereka keluar secara sembunyi-sembunyi, seorang demi seorang, agar tidak diketahui. Jika ada yang tahu, tentu mereka akan dihalangi sehingga tidak bisa memisahkan diri dari ayah, ibu, paman, dan seluruh kerabat sehingga mereka memutus tali silaturahim.

Dengan kebodohan, pendeknya akal, dan sedikitnya ilmu, mereka berkeyakinan bahwa perbuatan mereka ini membuat Allah ‘azza wa jalla—Rabb langit dan bumi—ridha. Mereka tidak tahu bahwa tindakan mereka tersebut termasuk salah satu dosa besar yang membinasakan, problem berat, dan kesalahan. Mereka tidak sadar bahwa perbuatan mereka merupakan hasil hiasan Iblis—yang terlaknat, diusir dari langit, dan telah memancangkan tonggak permusuhan kepada bapak kita, Adam dan keturunannya selama ruh mereka masih ada dalam jasad. Hanya Allah sajalah Dzat yang kita minta untuk melindungi kita dengan daya dan upaya dari-Nya. Sesungguhnya, Dialah Dzat yang mengabulkan doa-doa.

Sekelompok orang berhasil menyusul sebagian anak dan saudara mereka lantas memulangkannya, memberi pelajaran, dan menyatakan buruknya perbuatan orang-orang tersebut. Di antara mereka ada yang kemudian istiqamah di atas kebenaran, namun ada pula yang melarikan diri. Yang melarikan diri kemudian bergabung dengan Khawarij. Dia pun ditimpa kerugian hingga hari kiamat.

Kaum Khawarij yang tersisa ini akhirnya pergi ke tempat yang direncanakan. Penduduk Basrah dan kota lainnya yang mereka kirimi pesan dahulu memenuhi ajakan mereka. Mereka semua berkumpul di Nahrawan. Mereka memiliki kekuatan dan menjadi pasukan tersendiri. Mereka berani dan berkeyakinan bahwa perbuatan mereka ini adalah dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah ‘azza wa jalla. Sungguh, amat buruklah sangkaan dan kesalahan mereka.

Ketika Ali radhiallahu ‘anhu sedang menyiapkan pasukan menuju Syam dan berpidato memberi semangat pasukannya, sampai kepada beliau berita bahwa Khawarij telah membuat kerusakan di muka bumi, menumpahkan darah yang tidak boleh ditumpahkan, merampok di jalan, dan menganggap halal para wanita.

Di antara yang mereka bunuh ialah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abdullah bin Khabbab radhiallahu ‘anhu. Mereka menawan Abdullah dan istrinya yang sedang hamil. Mereka bertanya, “Siapa engkau?”

Abdullah menjawab, “Aku Abdullah bin Khabbab, sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kalian telah membuatku takut.”

Mereka berkata, “Engkau tidak apa-apa. Sampaikanlah hadits yang pernah engkau dengar dari ayahmu.”

Abdullah berkata, “Aku mendengar ayahku berkata, ‘Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

سَتَكُونُ فِتْنَةٌ، الْقَاعِدُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ الْقَائِمِ، وَالْقَائِمُ خُيْرٌ مِنَ الْمَاشِي، وَالْمَاشِي خَيْرٌ مِنَ السَّاعِي

“Akan terjadi fitnah, orang yang duduk saat itu lebih baik daripada yang berdiri, yang berdiri lebih baik daripada yang berjalan, dan yang berjalan lebih baik daripada yang berlari kecil.”

Mereka lalu mengikat tangan Abdullah. Ketika sedang berjalan bersama beliau, mereka pun mendapati seekor babi milik kafir dzimmi. Sebagian mereka membunuhnya dan merobek kulitnya. Sebagian yang lain berkata, “Mengapa kalian lakukan ini, padahal babi itu milik seorang kafir dzimmi?” Yang membunuh babi tersebut kemudian pergi menuju kafir dzimmi pemilik babi, dan meminta kehalalan perbuatannya dan membuatnya ridha.

Ketika Abdullah masih bersama mereka, ada buah kurma yang jatuh dari pohon. Salah seorang mereka memungutnya lantas memasukkannya ke dalam mulut. Ada yang berkata kepadanya, “(Engkau mengambil dan memakannya) tanpa izin dan tanpa harga?”

Dia pun segera mengeluarkan kurma tadi dari mulutnya. Namun, bersamaan dengan sikap wara’ ini, mereka membunuh Abdullah bin Khabbab, seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lihatlah sikap wara’ dusta ini.

Setelah itu, mereka mendatangi istri Abdullah. Istri Abdullah berkata, “Aku sedang hamil. Tidakkah kalian takut kepada Allah?”

Mereka tetap membunuhnya, bahkan kemudian merobek perutnya untuk mengeluarkan janinnya.

Ketika sampai kepada kaum muslimin bahwa begitulah perbuatan mereka, kaum muslimin khawatir apabila pergi ke Syam dan sibuk berperang dengan penduduknya, sementara kaum Khawarij tertinggal di sekitar rumah dan negeri mereka dengan perbuatan tersebut.

Ali radhiallahu ‘anhu pun mengirim al-Harits bin Murrah al-‘Abdi sebagai utusannya kepada Khawarij. Namun, mereka membunuhnya tanpa peringatan. Ketika hal ini terdengar oleh Ali radhiallahu ‘anhu, beliau bertekad kuat untuk pergi menghadapi Khawarij terlebih dahulu sebelum pergi ke Syam. Beliau dan pasukannya berangkat dan berkumpul di sana.

Ali radhiallahu ‘anhu kembali mengirim utusan untuk menyampaikan, “Serahkan para pembunuh saudara kami agar kami balas membunuhnya (dengan qishash). Setelah itu, kami akan tinggalkan kalian dan pergi ke negeri Arab. Semoga setelah itu Allah mengarahkan hati kalian kepada sesuatu yang lebih baik daripada apa yang sekarang kalian berada di atasnya.”

Mereka menjawab, “Kami semua yang membunuh saudara-saudaramu. Kami anggap halal darah kalian dan darah mereka (yang telah kami bunuh).”

Qais bin Sa’d kemudian menemui mereka. Ia menasihati mereka tentang urusan besar dan kesalahan berat yang telah mereka lakukan. Namun, nasihat tersebut tidak bermanfaat.

Demikian pula Abu Ayyub al-Anshari radhiallahu ‘anhu. Beliau memarahi dan mencela mereka. Namun, tidak bermanfaat juga. Akhirnya, Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu sendiri yang mendatangi mereka. Beliau radhiallahu ‘anhu menasihati dan menakut-nakuti mereka. Beliau radhiallahu ‘anhu peringatkan dan mengancam mereka. Di antara ucapan beliau kepada mereka, “Sungguh, hawa nafsu kalian telah membujuk kalian. Kalian telah membunuh kaum muslimin. Demi Allah, kalau kalian membunuh seekor ayam milik mereka, sungguh hal itu sangat besar dosanya di sisi Allah. Lantas bagaimana halnya dengan darah kaum muslimin?”

Mereka tidak menjawab kecuali saling menyeru di antara mereka, “Jangan kalian berdialog dengannya. Jangan kalian berbicara dengannya. Bersiaplah untuk bertemu dengan Rabb ‘azza wa jalla. Bergegaslah, bergegaslah menuju surga.”

Inilah seruan Khawarij, baik di masa silam maupun sekarang. Mereka pun maju dan membentuk barisan untuk berperang. Mereka bersiap sedia untuk bertempur. Mereka berdiri untuk memerangi Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu dan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bersama beliau.

Kaum Khawarij beramai-ramai menuju Ali radhiallahu ‘anhu. Beliau radhiallahu ‘anhu telah menyiapkan pasukan berkuda dan pemanah di depan beliau, barisan pejalan kaki di belakang pasukan berkuda. Beliau berkata kepada pasukannya, “Tahanlah diri kalian, sampai mereka yang lebih dahulu menyerang.”

Kaum Khawarij datang seraya mengatakan, “La hukma illa lillah. Bergegaslah, bergegaslah menuju surga.”

kaki-kuda

Mereka pun menyerang pasukan berkuda yang disiapkan oleh Ali radhiallahu ‘anhu. Sebagian pasukan berkuda tersudut ke kanan, sebagian lagi ke arah kiri. Mereka pun dihadapi oleh pasukan pemanah dengan anak panah yang diarahkan ke wajah mereka. Setelah itu, pasukan berkuda menyerang mereka dari arah kanan dan kiri. Kemudian pasukan pejalan kaki menyerang mereka dengan tombak dan pedang. Pasukan Ali radhiallahu ‘anhu berhasil membunuh kaum Khawarij yang lantas bergelimpangan menjadi mayat di bawah kaki-kaki kuda. Terbunuhlah pimpinan mereka Abdullah bin Wahb ar-Rasibi, Hurqus bin Zuhair, Syuraih bin Aufa, dan Abdullah bin Sakhbarah. Semoga Allah menjelekkan mereka.

Abu Ayyub al-Anshari radhiallahu ‘anhu mengatakan, “Aku menusuk seorang Khawarij dengan tombak dan aku tembuskan hingga ke punggungnya. Aku katakan kepadanya, ‘Bergembiralah engkau, wahai musuh Allah, dengan neraka.’ Ternyata si Khawarij ini menjawab, “Engkau akan tahu nanti, siapa yang lebih pantas masuk ke dalamnya’.” Bayangkan, dia katakan hal itu kepada seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ali radhiallahu ‘anhu pun mulai berjalan di antara mayat mereka dan berkata, “Kejelekan bagi kalian. Sungguh, yang menipu kalian telah memudaratkan kalian.”

Mereka bertanya, “Wahai Amirul Mukminin, siapakah yang telah menipu mereka?”

Ali menjawab, “Setan, dan jiwa yang selalu memerintah kepada kejelekan. Jiwa itu menipu mereka dengan angan-angan dan menghias-hiasi kemaksiatan untuk mereka. Jiwa itu memberitahu bahwa mereka akan membantunya.”

Ali radhiallahu ‘anhu kemudian memerintahkan agar kaum Khawarij yang terluka dikembalikan kepada kabilah mereka masing-masing untuk diobati. Jumlah mereka sekitar empat ratus orang. Ali radhiallahu ‘anhu membagi-bagi senjata dan barang yang tersisa dari mereka.

Ali radhiallahu ‘anhu kemudian keluar untuk mencari seorang lelaki yang dijadikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai tanda kaum Khawarij. Kedua lengan atau salah satunya seperti payudara wanita. Beliau radhiallahu ‘anhu menemukannya di sebuah lubang di tepi sungai, bersama dengan 40 atau 50 mayat lainnya. Ketika menemukannya, Ali radhiallahu ‘anhu pun sujud kepada Allah dengan sujud yang lama, sebagai bentuk rasa syukur kepada-Nya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyebutkan kepada kita ciri-ciri Khawarij dan pahala yang besar bagi yang membunuh mereka di bawah komando pemerintah, atau terbunuh oleh mereka. Ali radhiallahu ‘anhu menyampaikan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

سَيَخْرُجُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ قَوْمٌ أَحْدَاثُ الْأَسْنَانِ سُفَهَاءُ الْأَحْلَامِ يَقُولُونَ مِنْ قَوْلِ خَيْرِ الْبَرِيَّةِ يَقْرَؤُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ فَإِذَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاقْتُلُوهُمْ فَإِنَّ فِي قَتْلِهِمْ أَجْرًا لِمَنْ قَتَلَهُ عِنْدَ اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Akan keluar di akhir zaman nanti, sekelompok orang yang masih muda umurnya dan berpemikiran bodoh (tidak punya hikmah). Mereka mengatakan ucapan makhluk yang terbaik. Mereka membaca al-Qur’an, tetapi tidak melewati tenggorokan mereka. Mereka melesat keluar dari agama ini sebagaimana halnya melesatnya anak panah dari binatang buruannya. Apabila kalian mendapati mereka, bunuhlah mereka. Sebab, orang yang membunuh mereka akan mendapatkan pahala di sisi Allah pada hari kiamat.”

Demikian pula hadits-hadits lainnya. Dari peristiwa ini kita ketahui bahwa:

  1. Perjuangan Khawarij adalah untuk mendapatkan kekuasaan dan dunia.
  2. Mereka menujukan ayat-ayat tentang kekafiran dan kesyirikan kepada pemerintah.
  3. Mereka mengafirkan hakim sekaligus orang yang berhukum kepadanya.
  4. Mereka tidak akan ridha terhadap seorang hakim, seadil apa pun dia, apabila bukan dari kelompok mereka dan sejalan dengan pemahaman mereka.

Mereka tidak ridha dengan pembagian dan hukum yang ditentukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka juga tidak ridha terhadap Utsman radhiallahu ‘anhu seingga mereka membunuh beliau. Mereka juga tidak ridha dengan Ali radhiallahu ‘anhu dan para sahabat terbaik yang bersama beliau. Bagaimana mungkin mereka akan ridha terhadap pemerintah-pemerintah kita sekarang ini?

  1. Mereka menipu manusia dengan penampilan religius, slogan amar ma’ruf nahi mungkar, dan upaya perbaikan. Akan tetapi, sungguh mereka adalah orang yang paling jauh dari hakikat agama dan sunnah.
  2. Mereka tidak segan menumpahkan darah kaum muslimin.

Mereka membunuh orang yang tidak bersalah, wanita, sampaipun bayi yang masih dalam kandungan. Hal ini sebagaimana yang mereka lakukan terhadap Abdullah bin Khabbab radhiallahu ‘anhu.

Disebutkan pula dalam hadits, “Mereka membunuh para pemeluk Islam, namun membiarkan para penyembah berhala.”

Peristiwa ini tidak hanya terjadi sekali, tetapi berulang. Apabila kita melihat kenyataan kita sekarang, engkau dapati kaum Khawarij terus-menerus ada.

Bahkan, kaum Khawarij sekarang lebih jelek daripada generasi yang terdahulu. Kaum Khawarij terdahulu menampakkan shalat, ibadah, dan membaca al-Qur’an, secara lahiriah. Adapun Khawarij sekarang tidak memiliki agama. Agama mereka adalah penipuan dan khianat. Bacaan mereka pun bukan al-Qur’an, melainkan nasyid-nasyid provokatif.

Ketika kaum Khawarij terdahulu meninggalkan ulama dari kalangan para sahabat radhiallahu ‘anhum, bahkan mengafirkannya, mereka pun sesat dan menyimpang. Ini merupakan sebab terbesar jatuhnya seseorang dalam kesesatan. Demikian pula Khawarij masa kini, ketika mereka mencela dan mengafirkan ulama kita, mengatakan bahwa ulama kita sebagai budak penguasa dan sebutan jelek lainnya, mereka pun menyimpang dan sesat.

Oleh karena itu, berpegang teguhlah dengan Kitabullah dan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, engkau akan berjalan di atas ashshirathal mustaqim (jalan yang lurus).

Semoga Allah mengokohkan kita di atas as-Sunnah. Kita berlindung kepada Allah dari segala keburukan, yang tampak maupun yang tersembunyi. Semoga Allah memberikan keamanan di negeri kita dan menjadikannya—serta negeri-negeri kaum muslimin yang lain—sebagai negeri yang baik dan damai.

 

(Dipetik dari khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Asy-Syaikh Dr. Khalid bin Dhahwi bin azh-Zhafiri di Masjid as-Sa’idi, Jahra, Kuwait, 25 Syawwal1435 H/ 22 Agustus 2014 M)

Bahaya Khawarij Terhadap Umat

Di antara tema penting yang perlu dibahas adalah sikap ghuluw/berlebih-lebihan yang tidak sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di sisi lain ada sikap bermudah-mudahan, tamyi’ (menganggap mudah, remeh, tidak kokoh di atas kebenaran). Dua hal ini menjadi musibah bagi agama dan umat ini, khususnya bagi Ahlus Sunnah. Dalam kesempatan ini, saya akan menjelaskan sisi pertama, sikap keras dan sikap berlebihan dalam urusan agama.

Ghuluw adalah salah satu sebab kesyirikan di tengah-tengah Bani Adam, sebagaimana kisah kaum Nabi Nuh radhiallahu ‘anhum. Kesyirikan pertama kali yang ada pada umat Nuh adalah sikap melampaui batasan agama dalam hal menyanjung dan menghormati orang-orang saleh.

Kemudian lihatlah, bagaimana sikap berlebih-lebihan mengantarkan umat kepada hal lain. Oleh karena itu, dahulu ahlul kitab (Yahudi dan Nasrani) dilarang dari sikap tersebut. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

يَٰٓأَهۡلَ ٱلۡكِتَٰبِ لَا تَغۡلُواْ فِي دِينِكُمۡ وَلَا تَقُولُواْ عَلَى ٱللَّهِ إِلَّا ٱلۡحَقَّۚ

“Wahai ahlul kitab, jangan kalian bersikap melampaui batas dalam agama kalian. Dan jangan kalian berucap sesuatu kecuali kebenaran.” (an-Nisa’: 171)

Agama ini melarang sikap tersebut dan memerintahkan bersikap adil serta pertengahan (tidak berlebih-lebihan dan tidak meremehkan). Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَكَذَٰلِكَ جَعَلۡنَٰكُمۡ أُمَّةٗ وَسَطٗا

“Demikianlah umat ini Kami jadikan sebagai umat pertengahan.” (al-Baqarah: 143)

Demikian pula ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat sahabat radhiallahu ‘anhum melempar jumrah ketika haji. Sebagian mereka melampaui batas dengan melempar bebatuan besar (bukan dengan kerikil kecil). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan kepada para sahabat radhiallahu ‘anhum, “Hati-hatilah kalian terhadap ghuluw, karena sesungguhnya yang menghancurkan umat sebelum kalian adalah sikap melampaui batas dalam urusan agama.”

Dalil tentang hal ini sangatlah banyak. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan umat ini dari suatu kaum yang melampaui batas dan memberatkan diri dalam urusan agama padahal tidak ada perintah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ada pula suatu kelompok yang tidak ridha dengan hukum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, manusia yang paling adil; tidak ridha terhadap para sahabat radhiallahu ‘anhum sehingga memerangi dan mengafirkan mereka. Tentu saja, kelompok ini lebih tidak ridha dengan hukum kaum muslimin dan pemerintahnya.

Rifle_AK-47

Mereka (orang yang melampaui batas) ada di tengah-tengah umat ini. Kelompok tersebut disebut Khawarij. Inilah nama yang sesuai dengan syariat bagi kelompok tersebut yang semestinya kita sematkan. Mereka memiliki nama yang banyak sepanjang sejarah, di antaranya al-Azariqah, ash-Shufariyah, an-Najdat. Ini adalah kelompok pecahan khawarij.

Mereka memiliki pemikiran dan pengikut yang masih muncul pada masa kini dengan nama/sebutan yang lain, seperti, Quthbiyyun (pengikut Sayyid Quthb yang memiliki paham takfir), al-Qaedah/Daulah Islamiyah/ISIS—yang bersikap ghuluw, keras, dan melakukan kekerasan di tengah-tengah umat; Islam berlepas diri dari tindakan semacam itu)—dan Jabhatun Nushrah. Semua itu adalah bagian kelompok sesat dan politik yang tidak sesuai dengan ajaran agama Islam.

Cikal bakal mereka ketika muncul pada masa Rasulullah adalah orang yang bernama Dzul Khuwaishirah, seorang munafik. Dia datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat membagi harta rampasan perang Hunain. Yang dikatakannya kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Muhammad, berbuatlah adil! Aku melihatmu tidak berbuat adil.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya, “Celaka engkau! Siapa yang bisa berbuat adil jika aku tidak bisa berbuat adil.”

Orang ini tidak ridha dengan pembagian Rasulullah, tidak ridha dengan ketentuan beliau; bagaimana bisa orang ini ridha terhadap kita dan para pimpinan kita?

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata dan menunjuk orang ini, “Suatu kaum akan keluar dari orang ini (keturunan dan para pengikutnya) yang kalian merasa shalat kalian lebih sedikit dibandingkan dengan shalat mereka, puasa kalian lebih sedikit dibandingan dengan puasa mereka. Mereka akan banyak membaca al-Qur’an.”

Maknanya, para sahabat radhiallahu ‘anhum yang ahli ibadah akan merasa bahwa ibadahnya masih sedikit dibandingkan ibadah mereka. Sebab, orang Khawarij gemar beribadah, shalat, dan membaca al-Qur’an. Akan tetapi, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan bahwa bacaan mereka tidak melampaui tenggorokan mereka; yakni hanya sampai lisan mereka, tidak sampai kepada kalbu mereka. Mereka tidak memahami dan mengamalkannya dengan benar. Karena itu, walaupun ibadah mereka seperti itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan bahwa mereka keluar dari agama ini seperti anak panah yang melesat cepat dari sasarannya. Perbuatan mereka ini bukan dari Islam dan tidak boleh disandarkan pada Islam.

Di antara sifat lain yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah mereka (Khawarij) dari kalangan anak-anak muda. Inilah mayoritas yang ada pada Khawarij pada masa ini. Mereka merekrut anak-anak muda, lalu mereka gunakan untuk melakukan operasi bom bunuh diri, membunuh muslimin yang tidak berdosa, dan semacamnya.

Sifat berikutnya adalah orang yang bodoh akalnya. Mereka tidak punya hikmah dan ilmu, yang ada hanya kebodohan.

Sifat berikutnya, mereka membunuh orang-orang Islam dan membiarkan para penyembah berhala (nonmuslim). Oleh karena itu, jika diperhatikan tempat perkumpulan dan aksi mereka, baik pada masa lampau maupun masa kini, mereka melakukannya di tengah-tengah kaum muslimin, di negeri Islam. Mereka melakukan pengeboman dan pembunuhan, termasuk terhadap wanita dan anak-anak. Fokus mereka adalah terhadap Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Perhatikanlah, kelompok sempalan ISIS mengancam akan masuk dan menyerang negara Saudi Arabia dengan pasukannya. Lihatlah apa yang mereka lakukan. Sementara itu, Yahudi dan Masjidil Aqsa yang demikian keadaannya, yang berada di sebelah mereka, tidak pernah mereka lemparkan satu peluru pun terhadapnya.

Oleh karena itu, saya peringatkan kalian dengan sebenar-benarnya, siapa pun yang berbaik sangka terhadap mereka dan Khawarij secara umum, baik ISIS atau selainnya. Saya peringatkan umat ini agar tidak bergabung dengan mereka dan kekhalifahan mereka yang menyelisihi syariat.

Mereka yang bergabung dengan Khawarij, apakah kalian kira akan berjihad? Mereka justru menggunakan anak muda yang bergabung dengan mereka sebagai pelaku bom bunuh diri. Ketika seorang anak muda datang, mereka beri beberapa latihan. Setelah itu, bahan peledak dipasangkan pada tubuh mereka dan diperintahkan untuk melakukan bom bunuh diri ke tempat tertentu. Yang pasti, anak muda tersebut akan mati. Dengan perbuatan itu, bukankah dia memasukkan dirinya pada hal yang haram, yaitu bunuh diri?

Lebih jauh lagi, perbuatan yang dilakukannya bisa jadi membahayakan orang lain, bisa jadi pula tidak. Terbunuhnya pelaku adalah hal yang pasti. Sangat disayangkan, kebanyakan aksi bom bunuh diri mereka dilakukan di dalam komunitas kaum muslimin. Oleh karena itu, berhati-hatilah dari mereka dengan sebenar-benarnya.

Lihatlah sejarah mereka dahulu bagaimana Khawarij membunuh Utsman radhiallahu ‘anhu. Mereka memberontak terhadap Utsman radhiallahu ‘anhu, mengepung, dan membunuh beliau di rumahnya. Utsman radhiallahu ‘anhu terbunuh sebagai syahid. Mereka juga membunuh Ali radhiallahu ‘anhu. Beliau radhiallahu ‘anhu pernah meriwayatkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang Khawarij, di antaranya, “Kalau sempat menjumpai mereka, aku akan memerangi mereka dan menghancurkan mereka seperti dihancurkannya kaum ‘Ad.”

Nabi juga mengatakan bahwa orang yang terbunuh oleh kaum Khawarij adalah orang yang mati syahid dan orang yang berhasil membunuh mereka akan mendapatkan surga. Oleh karena itu, Ali radhiallahu ‘anhu menyambut seruan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan memerangi Khawarij. Namun, perlu diketahui bahwa peperangan melawan Khawarij tidak dilakukan oleh perorangan, tetapi oleh pemerintah kaum muslimin.

Pada peristiwa perang Nahrawan, orang Khawarij berlomba menyeberangi jembatan sungai Nahrawan untuk membunuh para sahabat radhiallahu ‘anhum. Bahkan, sebagian mereka jatuh dari jembatan itu karena berlomba-lomba membunuh kaum muslimin. Lihatlah perbuatan Khawarij terhadap para sahabat. Mereka berusaha melakukan makar pembunuhan terhadap Utsman, Muawiyah, dan Amr bin al-Ash radhiallahu ‘anhum. Mereka juga memberontak terhadap Daulah Umawiyah dan Daulah Abbasiyah.

Mereka terus melakukan hal itu sampai disebutkan dalam hadits bahwa Dajjal akan muncul di tengah-tengah mereka. Artinya, Khawarij akan terus ada, sampai munculnya Dajjal, sang pendusta. Ini menjadi bukti bahwa Khawarij itu sesat.

Khawarij adalah salah satu kelompok sesat. Bahkan, sebagian ulama mengatakan bahwa Khawarij tidak termasuk kaum muslimin. Perbuatan Khawarij mencoreng muka umat Islam. Mereka menampakkan kekerasan di tengah-tengah umat, seperti menyembelih manusia, membakar manusia hidup-hidup, dan membunuh kaum wanita. Sebagian mereka memfatwakan bolehnya membelah perut wanita hamil dan membunuh janinnya sebagaimana membunuh anak-anak. Alasan mereka, orang kafir akan melahirkan orang kafir sehingga janin harus dibunuh. Semua ini menunjukkan betapa bodoh dan jauhnya mereka dari tuntunan al-Qur’an dan as-Sunnah.

Khawarij telah menyempitkan keluasan kasih sayang Islam. Mereka tidak menampilkannya kepada umat. Lihatlah sebagai contoh, dalam kitab al-Imam al-Lalikai, beliau mengisahkan dua orang Khawarij ketika thawaf sekitar Ka’bah. Kita ketahui bahwa jumlah orang yang thawaf dan haji tentulah sangat banyak. Orang pertama berkata kepada yang kedua, “Engkau melihat betapa banyaknya orang yang berhaji ini?”

Orang kedua menjawab, “Ya.”

Orang pertama berkata, “Ketahuilah, dari sekian banyak orang ini, tidak ada yang akan masuk surga kecuali kita berdua.” Sebab, mereka menganggap hanya mereka yang muslim. Selain mereka, semuanya kafir.

Orang kedua pun tersadar dan berkata, “Surga yang luasnya langit dan bumi tidak akan dimasuki kecuali oleh kita berdua? Ini tidak benar. Aku tinggalkan dirimu dan mazhabmu.”

Akhirnya dia meninggalkan orang pertama yang berpemikiran Khawarij. Inilah akidah Khawarij. Bagi mereka, yang muslim hanyalah diri dan kelompoknya, muslimin di seluruh dunia adalah orang kafir. Bahkan, sesama faksi mereka sendiri saling mengafirkan dan membunuh.

Yang perlu diperhatikan, penyebab terbesar kesesatan dan penyimpangan itu adalah jauhnya mereka dari bimbingan para ulama. Mereka tidak mengikuti fatwa dan arahan para ulama. Mereka menyebut ulama Ahlus Sunnah sebagai munafik, budak penguasa, dan julukan jelek lain yang mereka sematkan.

Oleh karena itu, ketika para pemuda bergabung dengan mereka, yang pertama kali mereka lakukan adalah menanamkan syubhat ini sehingga menjauhi dan tidak merasa terikat oleh para ulama. Jika pemuda merasa tidak terikat kepada ulama Ahlus Sunnah, dia akan menyimpang. Ketahuilah, ulama Ahlus Sunnah masa kini di antaranya asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz, asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, asy-Syaikh al-Albani, asy-Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i, asy-Syaikh Shalih al-Fauzan, guru kami asy-Syaikh Rabi’ al-Madkhali, asy-Syaikh Ubaid al-Jabiri, dan selain mereka yang banyak jumlahnya. Kita semua wajib senantiasa terikat dengan mereka dan mengambil ilmu darinya.

Saya akhiri dengan suatu wasiat, hendaknya kita benar-benar mementingkan urusan ilmu dan mempelajarinya. Setiap muslim wajib mementingkan urusan ilmu, mempelajarinya di ma’had salafiyin, mempelajari al-Qur’an dan tafsirnya, fikih, dan lebih penting lagi mempelajari akidah/keyakinan/tauhid yang benar dari kitab-kitab yang sahih, kitab para ulama Ahlus Sunnah.

Sebab, umumnya mereka yang sesat itu seperti kata Ibnu Taimiyah rahimahullah, “Kebanyakan pengikut aliran takfir adalah orang bodoh. Mereka mencari dan merekrut orang yang kurang pengetahuan agamanya.”

Jika tidak mengetahui urusan agama, kita tidak bisa membedakan mana yang benar dan yang salah sehingga terseret bersama orang-orang sesat tersebut.

Kami memohon kepada Allah azza wa jalla agar mengokohkan kita semua di atas sunnah dan tauhid, menjauhkan kita dari segala keburukan dan penyimpangan, yang tampak maupun tidak. Semoga Allah mengokohkan kita di atas as-Sunnah. Kita berlindung kepada Allah dari segala keburukan, yang tampak maupun yang tersembunyi.

Aku mohon kepada Allah ‘azza wa jalla agar menjadikan negeri ini dan negeri muslimin secara umum sebagai negeri yang aman, damai, sentosa, jauh dari segala kekacauan dan keburukan.

 

(Dipetik dari ceramah Asy-Syaikh Dr. Khalid bin Dhahwi bin azh-Zhafiri pada hari Sabtu, 20 Syawwal 1435 H/16 Agustus 2014 M, di Masjid Shirathal Mustaqim, Komplek Jasa Marga Tangerang)

ISIS dan Al-Qaeda Tidak Mewakili Islam

Penjelasan asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Muhammad alu asy-Syaikh Mufti Umum Kerajaan Arab Saudi; Ketua Dewan Ulama Besar; Ketua Umum Komite Tetap untuk Pembahasan dan Fatwa

Segala pujian hanya milik Allah Rabb alam semesta. Semoga shalawat dan salam selalu terlimpah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, dan seluruh sahabat beliau.

Amma ba’du,

Saudara dan saudari sekalian, perkenankan saya memberi ucapan penghormatan dengan penghormatan Islam yang abadi, yang memiliki beragam kandungan mulia dan tujuan yang tinggi. Semoga keselamatan dari Allah atas kalian, demikian pula rahmat dan barakah-Nya. Saya wasiatkan kepada Anda semua—dan diri saya pribadi—untuk senantiasa bertakwa kepada Allah ‘azza wa jalla. Barang siapa menyibukkan diri dengan ketakwaan kepada Allah ‘azza wa jalla, Dia akan mencukupinya.

Kondisi yang umat Islam alami ini, banyak negeri mereka menjadi kacau. Berbagai pemahaman telah menyusup pula ke dalam tubuh umat Islam. Tidak diragukan lagi, pemikiran yang paling berbahaya ialah yang mengatasnamakan agama karena akan dianggap suci sehingga ringan bagi jiwa untuk menjalankannya. Ketika itulah, manusia beralih—kita memohon perlindungan kepada Allah ‘azza wa jalla—dari perpecahan yang agama mencegahnya, kepada perpecahan dalam hal agama itu sendiri. Inilah yang diperingatkan oleh Allah ‘azza wa jalla dalam firman-Nya,

إِنَّ ٱلَّذِينَ فَرَّقُواْ دِينَهُمۡ وَكَانُواْ شِيَعٗا لَّسۡتَ مِنۡهُمۡ فِي شَيۡءٍۚ إِنَّمَآ أَمۡرُهُمۡ إِلَى ٱللَّهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُم بِمَا كَانُواْ يَفۡعَلُونَ ١٥٩

“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikit pun tanggung jawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah (terserah) kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.” (al-An’am: 159)

Pada ayat di atas, Allah ‘azza wa jalla memperingatkan kaum muslimin agar tidak terjadi dalam agama mereka sebagaimana yang terjadai pada kaum musyrikin. Memecah belah dalam agama Islam adalah dengan memecah belah pokok agama mereka yang sebelumnya bersatu, yaitu setiap pemecahbelahan yang mengantarkan pemiliknya saling mengafirkan dan saling berperang dalam hal agama.

Dalam Islam, tidak ada tindak kejahatan yang lebih berat di sisi Allah ‘azza wa jalla dibandingkan kekafiran karena memecah belah jamaah. Jamaah yang membuat hati-hati manusia saling mengasihi dan menyatukan kalimat mereka, sebagaimana firman Allah ‘azza wa jalla,

وَٱعۡتَصِمُواْ بِحَبۡلِ ٱللَّهِ جَمِيعٗا وَلَا تَفَرَّقُواْۚ وَٱذۡكُرُواْ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ إِذۡ كُنتُمۡ أَعۡدَآءٗ فَأَلَّفَ بَيۡنَ قُلُوبِكُمۡ فَأَصۡبَحۡتُم بِنِعۡمَتِهِۦٓ إِخۡوَٰنٗا وَكُنتُمۡ عَلَىٰ شَفَا حُفۡرَةٖ مِّنَ ٱلنَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنۡهَاۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمۡ ءَايَٰتِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تَهۡتَدُونَ ١٠٣

 

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (Ali ‘Imran: 103)

Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu mengatakan, “Hendaknya kalian taat dan bersatu (di bawah pemerintah kalian). Sebab, itulah tali Allah ‘azza wa jalla yang kita diperintahkan untuk berpegang dengannya. Apa yang kalian benci ketika berada di bawah pemerintah, itu lebih baik daripada apa yang kalian sukai ketika berpecah belah.”

Perpecahan dan perselisihan tidaklah terjadi kecuali akibat kebodohan dan memperturuti hawa nafsu, sebagaimana persatuan dan rasa cinta tumbuh dari ilmu dan ketakwaan.

Kaum muslimin saat ini—sebagaimana diketahui oleh semuanya—sangat butuh mendalami ilmu dan mengenali agama yang sempurna ini, sebelum pihak lain. Tidak hanya dalam hal hukum (fikih), tetapi juga mengetahui tujuan yang agung dan luas, yang menjadi sebab pensyariatan dan diturunkannya. Allah ‘azza wa jalla tidaklah mengutus para rasul dan menurunkan syariat-syariat kecuali untuk menegakkan tata aturan (kehidupan) manusia, sebagaimana firman-Nya,

لَقَدۡ أَرۡسَلۡنَا رُسُلَنَا بِٱلۡبَيِّنَٰتِ وَأَنزَلۡنَا مَعَهُمُ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡمِيزَانَ لِيَقُومَ ٱلنَّاسُ بِٱلۡقِسۡطِۖ وَأَنزَلۡنَا ٱلۡحَدِيدَ فِيهِ بَأۡسٞ شَدِيدٞ وَمَنَٰفِعُ لِلنَّاسِ وَلِيَعۡلَمَ ٱللَّهُ مَن يَنصُرُهُۥ وَرُسُلَهُۥ بِٱلۡغَيۡبِۚ إِنَّ ٱللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٞ ٢٥

“Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka al-Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan.” (al-Hadid: 25)

Syariat Islam adalah syariat yang paling agung dan paling sempurna, sebagaimana ditunjukkan oleh firman Allah ‘azza wa jalla,

إِنَّ ٱلدِّينَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلۡإِسۡلَٰمُۗ

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (Ali ‘Imran: 19)

Sungguh, syariat Islam datang membawa kebaikan bagi manusia di dunia dan akhirat. Tujuan umum syariat Islam ialah memakmurkan bumi dan menjaga aturan kehidupan di bumi yang dengannya akan terwujud kebaikan bumi dan kebaikan para penduduknya.

Di antara asas al-Qur’an yang luas ialah hukum asal segala sesuatu adalah boleh,

هُوَ ٱلَّذِي خَلَقَ لَكُم مَّا فِي ٱلۡأَرۡضِ جَمِيعٗا

“Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu.” (al-Baqarah: 29)

dan hukum asal manusia adalah al-baraah (terlepas dari hukum syariat),

فِطۡرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِي فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيۡهَاۚ

“(Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.” (ar-Rum: 30)

Dua kaidah di atas merupakan fondasi segala pensyariatan dan kebebasan. Setiap asas di atas tidak akan sempurna dan tegak berdiri kecuali dengan mengetahui bahwa toleransi adalah sifat utama syariat Islam dan tujuannya yang terbesar. Hal ini sebagaimana firman Allah ‘azza wa jalla,

يُرِيدُ ٱللَّهُ بِكُمُ ٱلۡيُسۡرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ ٱلۡعُسۡرَ

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (al-Baqarah: 185)

وَمَا جَعَلَ عَلَيۡكُمۡ فِي ٱلدِّينِ مِنۡ حَرَجٖۚ

“Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.” (al-Hajj: 78)

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذۡنَآ إِن نَّسِينَآ أَوۡ أَخۡطَأۡنَاۚ رَبَّنَا وَلَا تَحۡمِلۡ عَلَيۡنَآ إِصۡرٗا كَمَا حَمَلۡتَهُۥ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِنَاۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلۡنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِۦۖ

“Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Rabb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya.” (al-Baqarah: 286)

Dalam sebuah hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَحَبُّ الدِيْنِ إِلَى اللهِ الْحَنِيْفِيَّةُ السَّمْحَةُ

“Agama yang paling dicintai oleh Allah ialah yang hanifiyah dan samhah.”

Hanifiyah adalah lawan dari syirik, sedangkan samhah adalah lawan dari kesempitan dan memberat-berati diri.

Dalam hadits yang lain dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ، وَلَنْ يُشَادَّ هَذَا الدِّيْنَ أَحَدٌ إِلاَّ غَلَبَهُ

“Sesungguhnya agama ini mudah, dan tidak ada seorang pun yang memberatberati diri dalam agama ini kecuali agama ini akan mengalahkannya.”

Penelitian terhadap syariat ini menunjukkan bahwa toleransi dan kemudahan merupakan salah satu tujuan agama ini. Menampakkan toleransi berpengaruh besar terhadap tersebarnya agama ini dan keberlangsungannya. Akan diketahui bahwa kemudahan merupakan bagian dari fitrah, karena fitrah manusia menyenangi kelemahlembutan.

Hakikat toleransi adalah sikap pertengahan antara dua kutub: sikap berlebih-lebihan dan sikap meremehkan. Sikap pertengahan dengan makna ini adalah sumber berbagai kesempurnaan. Allah ‘azza wa jalla telah berfirman tentang sifat umat ini,

وَكَذَٰلِكَ جَعَلۡنَٰكُمۡ أُمَّةٗ وَسَطٗا

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) sebagai umat yang adil.” (al-Baqarah: 143)

Di bawah cahaya tujuan yang agung ini akan tampak hakikat sikap pertengahan dan kelurusan. Akan tampak pula bahwa sikap pertengahan merupakan kesempurnaan dan keindahan Islam ini. Akan jelas pula bahwa pemikiran ekstrem, kekerasan, dan terorisme yang membuat kerusakan di muka bumi, menghancurkan lahan pertanian dan keturunan, sama sekali bukan dari Islam. Justru pemikiran inilah yang pertama kali menjadi musuh Islam. Kaum musliminlah yang pertama kali menjadi korban.

no_isis

Sebagaimana hal ini disaksikan berupa kejahatan kelompok yang disebut ISIS dan al-Qaeda, serta berbagai kelompok pecahannya. Sangat tepat ditujukan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut,

سَيَخْرُجُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ قَوْمٌ أَحْدَاثُ الْأَسْنَانِ، سُفَهَاءُ الْأَحْلَامِ، يَقُولُونَ مِنْ خَيْرِ قَوْلِ الْبَرِيَّةِ، يَقْرَؤُوْنَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ، يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ، فَإِذَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاقْتُلُوهُمْ فَإِنَّ فِي قَتْلِهِمْ أَجْراً لِمَنْ قَتَلَهُمْ عِنْدَ اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Akan keluar di akhir zaman nanti, sekelompok orang yang masih muda umurnya dan berpemikiran bodoh. Mereka mengatakan ucapan makhluk yang terbaik. Mereka membaca al-Qur’an, tetapi tidak melewati tenggorokan mereka. Mereka melesat keluar dari agama ini sebagaimana halnya melesatnya anak panah dari binatang buruannya. Apabila kalian mendapati mereka, bunuhlah mereka. Sebab, orang yang membunuh mereka akan mendapatkan pahala di sisi Allah pada hari kiamat.”

Kelompok-kelompok Khawarij ini tidak boleh dinisbatkan kepada Islam dan para pemeluknya yang memegang teguh petunjuk Islam. Mereka adalah wujud lain dari Khawarij, kelompok sempalan yang pertama kali melesat keluar dari agama karena mengafirkan kaum muslimin dengan sebab dosa besar sehingga menghalalkan darah dan harta kaum muslimin.

Dalam kesempatan ini, kami menyeru untuk menyatukan dan menyusun kesungguhan dalam hal pendidikan, taklim, dakwah, dan pengembangan dalam rangka menguatkan sikap pertengahan dan keadilan, yang bersumber dari syariat Islam kita yang berkilau; dengan menanamkan garis yang sempurna, disertai tujuan-tujuan yang jelas, yang diperkuat oleh instruksi pelaksanaan guna mewujudkan dan mengejawantahkan tujuan-tujuan tersebut.

Demikianlah… Sesungguhnya dunia berguncang di sekitar kita. Karena itu, kita di Kerajaan Arab Saudi yang telah diberi anugerah oleh Allah ‘azza wa jalla berupa persatuan kalimat dan barisan di bawah para pemimpin kita, yang terepresentasikan dalam diri Pelayan Dua Tanah Suci, Raja Abdullah bin Abdul Aziz alu Su’ud, Putra Mahkota al-Amin, dan penerusnya—semoga Allah ‘azza wa jalla menjaga mereka semua—hendaknya menjaga keadaan yang stabil ini, di mana sebagiannya menguatkan sebagian yang lain. Hendaknya kita juga tidak menjadikan perselisihan di luar garis perbatasan sebagai sebab timbulnya perselisihan di antara kita.

Setiap kita di Kerajaan Arab Saudi—segala puji hanya bagi Allah—orang yang bertauhid dan orang Islam. Kita jaga persatuan di bawah pemerintah kita, kita senantiasa taat (kepada pemerintah) dalam hal yang baik. Kita mengemban amanah ilmu, pemikiran, pendapat, dan pena. Kita berloyalitas secara umum sesama kita. Kita memaafkan sesama kita ketika tidak sengaja jatuh dalam kesalahan, baik di antara ulama, ustadz, penulis, kaum intelektual, maupun seluruh warga negara.

Kita mengarahkan dialog kita seputar pembahasan yang penting bagi kita, terkait agama dan negara, dengan bahasa yang santun, tanpa menuduh berkhianat atau tuduhan lain. Kita semua di negara ini sama, masing-masing memiliki hak dan kewajiban.

Kami memohon kepada Allah ‘azza wa jalla agar mengabadikan berbagai nikmat-Nya, yang lahir dan yang batin, atas diri kita. Kita juga memohon agar Allah ‘azza wa jalla menjaga negeri kita dan negeri-negeri kaum muslimin dari segala keburukan.

Semoga Allah menjaga kita dan kaum muslimin lainnya dari berbagai ujian dan cobaan, yang lahir dan yang batin, serta memperbaiki keadaan kaum muslimin. Sesungguhnya, Allah ‘azza wa jalla lah yang Mahamampu atas hal tersebut.

Pakaian Kemasyhuran

Tidak diperbolehkan memakai pakaian ‘syuhrah’ (kemasyhuran). Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ لَبِسَ ثَوْبَ شُهْرَةٍ فِي الدُّنْيَا أَلْبَسَهُ اللهُ ثَوْبَ مَذَلَّةٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، ثُمَّ أَلْهَبَ فِيهِ نَارًا

“Barang siapa memakai baju (untuk) kemasyhuran di dunia, kelak di hari kiamat Allah  Subhanahu wata’ala akan memakaikan kepadanya baju kehinaan, kemudian Allah  Subhanahu wata’ala mengobarkan api di dalamnya.” (HR. Ibnu Majah no. 3606—3607 dan ini adalah lafadz beliau, Abu Dawud no. 4029)

Hadits ini dikuatkan oleh hadits Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu dengan lafadz, “Barang siapa memakai baju (untuk) kemasyhuran, Allah  Subhanahu wata’ala berpaling darinya hingga dia melepaskannya, kapan pun dia lepaskan.” (HR. Ibnu Majah no. 3608 dan Abu Nu’aim dalam al-Hilyah 4/190—191)

Hadits yang semakna juga diriwayatkan dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma oleh ath-Thabarani rahimahullah, namun pada sanadnya ada perawi yang tertuduh memalsukan hadits. Al-Imam al-Baihaqi rahimahullah dalam Sunan-nya (3/273) meriwayatkan dari jalur Kinanah bin Nu’aim rahimahullah bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang dua kemasyhuran: (seseorang) memakai baju mewah yang dengan itu dipandang (menarik oleh orang lain), atau (memakai) baju jelek yang dengan itu diperhatikan (oleh orang lain). Sanadnya sahih namun mursal karena Kinanah, seorang tabi’in, tidak berjumpa dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Walhasil, hadits di atas hasan lighairihi dengan penguat yang ada. (Lihat Jilbab al- Mar’ah al-Muslimah hlm. 213—215)

Ibnu Atsir rahimahullah menjelaskan, الشُّهْرَةُ maknanya menampakkan sesuatu. Maksudnya, pakaiannya menjadi masyhur di tengah-tengah manusia karena warnanya berbeda dengan warna-warna pakaian mereka. Orang-orang pun mengarahkan pandangan kepadanya dan dia pun menunjukkan keangkuhan, ujub, dan kesombongannya di hadapan mereka.” (Nailul Authar 2/111 dan Aunul Ma’bud 11/58)

Al-Imam Muhammad bin Ali asy- Syaukani rahimahullah menjabarkan, “Hadits ini menunjukkan haramnya memakai pakaian kemasyhuran. Namun, hadits ini tidak hanya berlaku untuk pakaian yang mewah. Bisa jadi terjadi pada seseorang yang memakai pakaian orang fakir yang berbeda dengan keumuman orang, supaya dipandang oleh orang lain sehingga takjub dengan pakaiannya dan meyakini (kezuhudan)nya. Demikian yang dijelaskan oleh Ibnu Raslan rahimahullah.”

Apabila memakai pakaian tersebut bertujuan agar terkenal (masyhur) di tengah-tengah masyarakat, tidak ada perbedaan antara pakaian mewah dan pakaian jelek, baik pakaiannya sama dengan pakaian masyarakat secara umum maupun pakaian yang berbeda dengan mereka. Sebab, keharaman tersebut berporos pada niat kemasyhuran. Yang dianggap adalah maksud (niat) nya walaupun tidak sama dengan kenyataannya.” (Nailul Authar 2/111, cet. II, Darul Fikr Beirut, 1983 M/1403 H)

Al-‘Allamah Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah menjelaskan definisi ‘pakaian kemasyhuran’, “Semua pakaian yang dimaksudkan (diniatkan) untuk masyhur (terkenal) di tengah-tengah masyarakat, baik pakaian mewah yang ia kenakan untuk berbangga dengan dunia dan perhiasannya, maupun pakaian jelek yang dia kenakan untuk menampakkan kezuhudannya dan karena riya’….” (Jilbab al-Mar’ah al-Muslimah hlm. 213)

Dari uraian di atas dapat disimpulkan, apabila ada seorang laki-laki memakai pakaian sunnah, seperti jubah, gamis, dan semisalnya, dengan tujuan mengamalkan dan menghidupkan sunnah di tengah masyarakat yang tidak memakainya, atau dalam kondisi masyarakat justru tasyabuh dengan pakaian orang kafir, hal ini tidaklah termasuk berpakaian syuhrah yang terlarang. Justru ia yang mendapatkan pahala atas perbuatannya. Begitu pula seorang muslimah yang keluar rumah dengan pakaian syar’i, berhijab, menutup seluruh tubuhnya dengan jilbab syar’i di tengah-tengah masyarakat yang tidak mengenal hal tersebut, bahkan cenderung merasa asing dan aneh, dengan tujuan menjalankan kewajiban menutup aurat, mengamalkan sunnah hijab, dan menjaga kehormatan diri, hal ini tidaklah termasuk berpakaian syuhrah.

Sebaliknya, seorang laki-laki atau wanita yang memakai pakaian masa kini, model terkini, yang sedang tren di masyarakat luas saat ini, dengan harga mahal, supaya disanjung dan dipuji, karena mirip atau bergaya hidup layaknya selebritas, seperti artis pujaan hatinya, dia termasuk dalam ancaman hadits ini. Apalagi jika pakaian tersebut mengumbar aurat dan tasyabuh dengan pakaian orang kafir, dosa dan ancamannya lebih berat lagi.

Demikian pula halnya seseorang yang berpakaian lusuh, compangcamping, penuh tambalan, tampak seperti gelandangan di jalanan supaya tampak kezuhudannya, diakui kesufiannya, dianggap tinggi tingkat kewaliannya, atau sekadar mencari perhatian orang lain, dia pun masuk dalam ancaman hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang mulia di atas. Contoh lain, seseorang memakai pantalon serasi dengan hem dan jas, berpadu indah dengan dasi dan ikat pinggangnya, begitu tampan dan gagah dengan gaya sisir rambutnya, supaya orang lain melihat kemewahannya, tampak berhasil usahanya, banyak kekayaannya, atau modern gaya penampilannya, dia pun masuk di dalam ancaman hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang mulia walaupun hampir seluruh masyarakat berpenampilan serupa. Sekali lagi, yang dianggap adalah niat dan tujuannya, bukan mewah atau murah pakaiannya, beda atau sama dengan masyarakatnya. Wallahul muwaffiq.

Ditulis oleh Al-Ustadz Muhammad Afifuddin

Sikap Muslimin Terhadap Film Yang Menghina Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam

Dari Abdul Aziz bin Abdillah bin Muhammad Alusy Syaikh, kepada segenap kaum muslimin yang membacanya, semoga Allah menyelamatkan mereka. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Amma ba’du; Kita memuji Allah Subhanahu wata’ala yang telah melimpahkan nikmat kepada kita dengan menjadikan kita sebagai umat terbaik yang dikeluarkan untuk manusia, yang memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar, serta beriman kepada-Nya. Allah Subhanahu wata’ala juga telah menganugerahkan nikmat dan keutamaan dengan menurunkan kitab-Nya yang termulia, al-Qur’an, al- Furqan, kepada kita. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا

“Sesungguhnya al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.” (al-Isra: 9)

Allah Subhanahu wata’ala juga berfirman,

تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَىٰ عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا

“Mahasuci Allah yang telah menurunkan al-Furqan (al-Qur’an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.” (al-Furqan:1)

Allah Subhanahu wata’ala juga memberi anugerah kepada kita—dan Dia adalah Dzat Pemilik keutamaan dan anugerah—dengan mengutus Rasul-Nya yang termulia, penutup para nabi-Nya, Muhammad bin Abdillah Shallallahu ‘alaihi wasallam, seorang nabi dari keturunan Bani Hasyim, dari suku Quraisy. Menjadi teranglah cahaya kenabian atas beliau. Allah Subhanahu wata’ala memuliakan beliau dengan menjadikan beliau sebagai rasul dan mengutusnya kepada makhluk-Nya. Allah Subhanahu wata’ala pun mengistimewakan beliau dengan berbagai karamah, sekaligus menjadi perantara (penyampai risalah) yang tepercaya antara Dia dan para hamba-Nya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan dan mengajari mereka al-Kitab dan hikmah, sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala,

لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِّنْ أَنفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ

“Sungguh, Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan al-Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (Ali Imran: 164)

Dengan mengutus Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, Allah Subhanahu wata’ala mewujudkan tauhid yang dengannya Dia menghapus kesyirikan. Allah Subhanahu wata’ala pun menjadikan cahaya yang beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bawa sebagai penerang kehidupan. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

أَوَمَن كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَن مَّثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِّنْهَا ۚ كَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِلْكَافِرِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar darinya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan.” (al-An’am: 122)

Allah Subhanahu wata’ala berfirman pula,

وَكَذَٰلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِّنْ أَمْرِنَا ۚ مَا كُنتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَٰكِن جَعَلْنَاهُ نُورًا نَّهْدِي بِهِ مَن نَّشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا ۚ وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah al-Kitab (al-Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan al-Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (asy-Syura: 52)

Diutusnya beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam  adalah rahmat bagi alam semesta ini, sebagaimana firman-Nya,

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

“Dan tiadalah Kami mengutusmu melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (al-Anbiya: 107)

Dengan pengutusan beliau, terwujudlah rahmat yang sempurna yang memperbaiki kehidupan mereka di dunia dan keadaan mereka di hari kiamat,

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (at- Taubah: 128)

Di samping memerintahkan pengagungan terhadap perintah Allah, syariat Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad juga membawa kasih sayang bagi seluruh hamba-Nya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

فَأَمَّا مَنْ أَعْطَىٰ وَاتَّقَىٰ () وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَىٰ ()  فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَىٰ

“Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.” (al-Lail: 5—7)

Para ulama mengatakan bahwa dua pokok ini—mengagungkan perintah Allah dan membawa kasih sayang bagi para hamba-Nya—adalah sifat umum agama ini. Seiring dengan kesempurnaan agama Islam yang agung ini, yang dasar tujuannya sesuai dengan fitrah yang lurus, penuh toleransi dan kemudahan dalam hal pensyariatan, penuh keadilan dan keseimbangan dalam memenuhi hak, penuh kebaikan dalam hal bantuan dan pemberian; sungguh urusan dan keadaannya telah mencapai apa yang diliputi oleh malam dan siang. Manusia pun masuk ke dalam agama Islam secara berbondong-bondong. Dengan hikmah-Nya, Allah Subhanahu wata’ala menentukan terjadinya pertarungan antara kebenaran dan kebatilan. Di antara ketentuan- Nya tersebut adalah adanya orang-orang yang benci dan tidak menyukai para nabi dan rasul serta kebenaran yang jelas yang mereka ajarkan. Hal ini disebabkan buruknya hati mereka dan rusaknya fitrah mereka. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا ۚ وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ ۖ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jika Rabbmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.” (al-An’am: 112)

Allah Subhanahu wata’ala juga berfirman,

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا مِّنَ الْمُجْرِمِينَ ۗ وَكَفَىٰ بِرَبِّكَ هَادِيًا وَنَصِيرًا

“Dan seperti itulah, telah Kami adakan bagi tiap-tiap nabi, musuh dari orang orang yang berdosa. Dan cukuplah Rabbmu menjadi Pemberi petunjuk dan Penolong.” (al-Furqan: 31)

Yang mereka inginkan adalah,

يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

“Mereka ingin hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci.” (ash-Shaf: 8)

Jadi, di antara para setan itu adalah setan dari kalangan manusia dan jin.  Sejarah mengungkapkan berbagai tipu daya, metode, ucapan, dan perbuatan yang merupakan makar dan muslihat yang mereka usahakan dalam rangka mencela hamba dan Rasul-Nya, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Subhanahu wata’ala telah melindungi beliau dari makar mereka dan mengembalikannya ke leher mereka. Demikianlah. Di antara upaya sesat dan putus asa mereka yang terakhir adalah apa yang menjadi berita pada hari-hari ini, yaitu penyebaran sebuah film yang berupaya menghina Nabi n. Kami ikuti pula perkembangan penolakan lembagalembaga Islam dan Negara terhadap upaya kotor yang tidak direstui oleh akal sehat dan agama tersebut. Oleh karena itu, kami ingin menjelaskan beberapa poin penting berikut kepada segenap pihak.

1. Tindakan kriminal yang buruk ini, yaitu penyebaran film yang jelek tersebut, sama sekali tidak memadaratkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam  yang mulia dan agama Islam. Sebab, Allah Subhanahu wata’ala  telah mengangkat kedudukan Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam sekaligus menjadikan kerendahan dan kehinaan bagi orang yang menyelisihi perintah beliau. Allah telah menganugerahi beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam kemenangan yang nyata. Allah Subhanahu wata’ala juga melindungi beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam dari seluruh manusia dan memberi kecukupan kepada beliau dari orang-orang yang mengolok-olok beliau. Selain itu, Allah Subhanahu wata’ala menganugerahkan al-Kautsar kepada beliau dan menjadikan orang yang membenci beliau sebagai orang yang terputus (kebaikannya). Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ () وَوَضَعْنَا عَنكَ وِزْرَكَ () الَّذِي أَنقَضَ ظَهْرَكَ () وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ

“Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? Dan Kami telah menghilangkan dari padamu bebanmu, yang memberatkan punggungmu? Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama) mu?” (al-Insyirah: 1—4)

Allah Subhanahu wata’ala juga berfirman,

إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِينًا () لِّيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِن ذَنبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُّسْتَقِيمًا () وَيَنصُرَكَ اللَّهُ نَصْرًا عَزِيزًا

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus, dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak).” (al-Fath: 1—3)

Allah Subhanahu wata’ala berfirman pula,

وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ

“Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia.” (al-Maidah: 67)

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ

“Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya?” (az-Zumar: 36)

Firman Allah Subhanahu wata’ala,

إِنَّا كَفَيْنَاكَ الْمُسْتَهْزِئِينَ

“Sesungguhnya Kami memelihara kamu daripada (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan (kamu).” (al-Hijr: 95)

Firman-Nya yang lain,

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ () فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ () إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu, dialah yang terputus.” (al-Kautsar: 1—3)

Semakin besar upaya jelek orang-orang jahat tersebut, akan semakin tersebar pula keutamaan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan ketinggian agama Islam. Ini adalah bukti atas kebenaran ayat ayat mulia di atas.

2. Seorang muslim diperintah dan dituntut—dalam setiap hal yang dilakukannya atau ditinggalkannya—untuk selalu mengikuti petunjuk dan sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagai pengamalan terhadap firman Allah Subhanahu wata’ala,

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (al-Ahzab: 21)

Dengan demikian, pengingkaran seorang muslim terhadap tindakan kriminal ini juga wajib disesuaikan dengan apa yang disyariatkan oleh Allah Subhanahu wata’ala dalam Kitab- Nya dan oleh Rasulullah dalam sunnah beliau. Kemurkaan dan kemarahan mereka hendaknya tidak melampaui syariat hingga menyebabkannya melakukan hal yang dilarang. Sebab, jika demikian, berarti kaum muslimin tanpa sadar benar-benar telah masuk perangkap yang menjadi tujuan film yang jelek tersebut. Haram hukumnya melibatkan orang yang tidak bersalah ke dalam kejahatan seorang kriminal dan pendosa. Haram pula hukumnya melampaui batas terhadap orang orang yang dilindungi darah dan hartanya, atau memprovokasi massa untuk membakar dan menghancurkan (bangunan).

Tindakan tindakan tersebut justru memperburuk citra agama Islam. Tidak diridhai oleh Allah Subhanahu wata’ala dan sama sekali tidak termasuk sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah telah mencela orang-orang yang membakar rumah mereka dengan tangan mereka sendiri, dan kita harus mengambil pelajaran dari keadaan mereka tersebut. Pada kesempatan ini, hendaknya kita juga mengingat bahwa tidaklah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam— yang berhak kita tebus dengan diri dan keluarga kita—diolok-olok kecuali semakin menekuni akhlak yang utama dan perangai yang mulia, sebagai pengamalan terhadap firman Allah Subhanahu wata’ala,

وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّكَ يَضِيقُ صَدْرُكَ بِمَا يَقُولُونَ () فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَكُن مِّنَ السَّاجِدِينَ () وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

“Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui, dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan, maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (shalat), dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).” (al-Hijr: 97—99)

Sungguh, Allah Subhanahu wata’alatelah menyebutkan sifat beliau dalam firman-Nya,

وَإِنَّ لَكَ لَأَجْرًا غَيْرَ مَمْنُونٍ

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (al-Qalam: 4)

Dalam Shahih al-Bukhari dan lainnya, dari hadits Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma, dia ditanya, “Ceritakanlah kepada kami tentang sifat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang disebutkan di dalam Taurat.” Abdullah bin Amr  menjawab, “Sungguh, sifat beliau yang disebutkan dalam Taurat adalah seperti yang disebutkan dalam al-Qur’an, ‘Wahai Nabi, Kami mengutusmu sebagai saksi, pemberi kabar gembira, pemberi peringatan, dan pelindung kaum yang ummi. Engkau adalah hamba dan utusan-Ku. Aku namai engkau al-Mutawakkil. Engkau bukan orang yang kasar tutur katanya, keras perangainya, dan suka berteriak di pasar. Engkau juga tidak membalas kejelekan dengan kejelekan, tetapi dengan kebaikan. Engkau justru memaafkan dan mengampuni. Aku tidak akan mewafatkannya hingga Aku tegakkan agama yang telah bengkok itu. Melalui dia, Aku buka mata-mata yang buta, telingatelinga yang tuli, dan hati-hati yang lalai, dengan mereka mengucapkan La ilaha illallah’.”

Apabila pengingkaran yang luas di dunia Islam tidak menimbulkan tindakantindakan positif dan konstruktif, tentu hal itu tidak akan bertahan lama dan segera berakhir pengaruhnya, seakan-akan tidak terjadi apa pun sebelumnya. Oleh karena itu, bentuk pembelaan terbesar terhadap Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah meneladani petunjuk beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam, mengikuti sunnah beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam, menyebarkan keutamaan-keutamaan beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam, mempelajari sejarah kehidupan beliau, dan menyebarkan kebenaran Islam serta ajaran-ajarannya.

3. Kaum muslimin harus sadar sepenuhnya bahwa perbuatan dosa dan kriminal tersebut tidaklah ditujukan untuk menghina Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, karena mereka (yang melakukannya) tahu bahwa mereka sama sekali tidak bisa memberi madarat kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam. Akan tetapi, yang kami ketahui dengan pasti—bukan hanya sangkaan—

dengan membaca sejarah hingga saat ini, musuh-musuh (agama) yang menyalakan gejolak ini atau provokasi lainnya, menyelipkan banyak tujuan. Di antara ambisi mereka adalah memalingkan kaum muslimin dari pekerjaan besar yang sedang mereka lakukan: membangun negara, mewujudkan persatuan, dan menggapai kemodernan serta kemajuan. Karena itu, bantahan yang gamblang terhadap penghinaan tersebut adalah kaum muslimin hendaknya terus melaju, giat, dan bertekad kuat untuk membangun dan mengembangkan negeri mereka, hingga mereka mampu menunaikan tanggung jawab dan amanah sebagai umat terbaik yang dikeluarkan untuk manusia.

4. Pada kesempatan ini, kami mendorong dan menuntut agar negara-negara serta organisasi multilateral di dunia bergerak mengajukan tuntutan pidana terhadap tindakan penghinaan kepada para nabi dan rasul, seperti Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad, Alaihissalam, yang dihormati, diagungkan dan dimuliakan oleh nurani kemanusiaan. Sungguh, negeri dua tanah suci, Kerajaan Arab Saudi, memiliki tuntutan yang lebih dalam hal ini. Kami memohon kepada Allah Subhanahu wata’ala agar meliputi seluruh penjuru dunia ini dengan kebaikan, memberi taufik kepada kaum muslimin agar menyatukan langkah mereka, dan memperbaiki keadaan mereka. Sesungguhnya Dia Mahakuasa untuk mewujudkannya. Semoga shalawat dan salam selalu terlimpah kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, dan para sahabat beliau seluruhnya.

Mufti Umum Kerajaan Arab Saudi, Ketua Dewan Ulama Besar & Komite Penelitian Ilmiah dan Fatwa

(Sumber http://www.sahab.net/ home/?p=975)

Hikmah Ilahi dibalik Musibah Gempa Bumi dan Tsunami

Musibah, betapa pun kecilnya, selalu akan meninggalkan duka. Lebih-lebih bila musibah itu skalanya besar, duka itu bisa menjelma menjadi nestapa yang berkepanjangan. Apa sebenarnya makna dari sebuah musibah? Pelajaran apa yang bisa kita ambil dari peristiwa yang telah merenggut ratusan ribu nyawa manusia dan harta yang demikian besar itu? Berikut ini penjelasan asy-Syaikh Muqbil tentang hakikat gempa, yang kita bisa mengambil pelajaran darinya dalam musibah gempa bumi dan tsunami. Lanjutkan membaca Hikmah Ilahi dibalik Musibah Gempa Bumi dan Tsunami