Hukum Gambar Makhluk Bernyawa (bagian 2)

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Zulfa Husein Al- Atsariyyah)

Dalam edisi lalu telah disebutkan sejumlah dalil yang menujukkan keharaman gambar makhluk bernyawa yakni manusia dan hewan. Berikut kelanjutannya.

Saudariku Muslimah… semoga Allah memberi taufiq kepada kami dan kepadamu…
Dalam edisi yang lalu kita telah mengetahui beberapa dalil1 yang menunjukkan larangan menggambar makhluk hidup, dalam hal ini gambar manusia dan hewan, baik dua dimensi maupun tiga dimensi. Serta tidak bolehnya menyimpan gambar-gambar tersebut karena syariat justru memerintahkan agar gambar-gambar itu dihapus/ dihilangkan. Dan sebenarnya cukuplah laknat dari Rasulullah n beserta ancaman neraka untuk menghentikan para pembuat gambar makhluk hidup, pelukis, pemahat dan pematung dari perbuatan mereka. Kalaupun terpaksa tetap pada profesi/ pekerjaannya, mereka harus menghindari membuat gambar/ patung/ pahatan makhluk bernyawa. Ketika seorang pembuat gambar berkata kepada Ibnu Abbas c: “Aku bekerja membuat gambar-gambar ini, aku mencari penghasilan dengannya.” Maka Ibnu ‘Abbas c berkata kepadanya: “Mendekatlah kepadaku.” Orang itupun mendekati Ibnu ‘Abbas. Ibnu ‘Abbas berkata lagi: “Mendekat lagi.” Orang itu lebih mendekat hingga Ibnu ‘Abbas dapat meletakkan tangannya di atas kepala orang tersebut, lalu berkata: “Aku akan beritakan kepadamu dengan hadits yang pernah aku dengar dari Rasulullah n. Aku mendengar beliau n bersabda:

“Semua tukang gambar (makhluk bernyawa) itu di neraka. Allah memberi jiwa/ ruh kepada setiap gambar (makhluk hidup) yang pernah ia gambar (ketika di dunia), maka gambar-gambar tersebut akan menyiksanya di neraka Jahannam.”
Kemudian, setelah menyampaikan hadits Rasulullah n Ibnu Abbas c menasehatkan: “Jika kamu memang terpaksa melakukan hal itu (bekerja sebagai tukang gambar), maka buatlah gambar pohon dan benda-benda yang tidak memiliki jiwa/ruh.”2
Dalil berikut ini lebih mempertegas lagi haramnya gambar makhluk bernyawa: ‘Aisyahxberkata: “Rasulullah n datang dari safar (bepergian jauh) sementara saat itu aku telah menutupi sahwah3ku dengan qiram (kain tipis berwarna-warni) yang berlukis/ bergambar. Ketika Rasulullah n melihatnya, beliau menyentakkannya hingga terlepas dari tempatnya seraya berkata:

“Manusia yang paling keras siksaan yang diterimanya pada hari kiamat nanti adalah mereka yang menandingi (membuat sesuatu yang menyerupai) ciptaan Allah.”
Kata  Aisyah: “Maka kami pun memotong-motong qiram tersebut untuk dijadikan satu atau dua bantal.”4
Dalam riwayat berikut disebutkan bentuk gambar itu, seperti yang diberitakan ‘Aisyah x:

“Rasulullah n datang dari safar sementara aku menutupi pintuku dengan durnuk (tabir dari kain tebal berbulu, seperti permadani yang dipasang di dinding, –pent.), yang terdapat gambar kuda-kuda yang memiliki sayap. Maka beliau memerintahkan aku untuk mencabut tabir tersebut, maka akupun melepasnya.”5
Masih hadits Aisyahx,ia mengabarkan pernah membeli namruqah6 bergambar makhluk bernyawa. Nabi r berdiri di depan pintu dan tidak mau masuk ke dalam rumah. Aisyah pun berkata: “Aku bertaubat kepada Allah, apa dosaku?” Nabi berkata: “Untuk apa namruqah ini?” Aku menjawab: “Untuk engkau duduk di atasnya dan bersandar dengannya.”
Beliau n bersabda:

“Sesungguhnya pembuat gambar-gambar ini akan diazab pada hari kiamat, dikatakan kepada mereka: ‘Hidupkanlah apa yang kalian ciptakan, dan sungguh para malaikat tidak akan masuk ke rumah yang di dalamnya ada gambar’.”7
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani t menyebutkan bahwa Al-Imam Al-Bukhari t dalam Shahih-nya mengisyaratkan, kedua hadits di atas8 tidaklah saling bertentangan bahkan satu dengan lainnya bisa dikumpulkan. Karena bolehnya memanfaatkan bahan yang bergambar (makhluk bernyawa) untuk diinjak atau diduduki9 tidak berarti boleh duduk di atas gambar. Maka bisa jadi yang dijadikan bantal oleh Aisyah x adalah pada bagian qiram yang tidak ada gambarnya. Atau gambar makhluk hidup pada qiram tersebut telah terpotong kepalanya atau terpotong pada bagian tengah gambar sehingga tidak lagi berbentuk makhluk hidup, maka Nabi r pun tidak mengingkari apa yang dilakukan Aisyah x. (Fathul Bari, 10/479)
Asy-Syaikh Muqbil t berkata: “Dalil-dalil ini menunjukkan haramnya seluruh gambar makhluk bernyawa, baik yang memiliki bayangan (tiga dimensi) atau tidak memiliki bayangan (dua dimensi). Hadits qiram menun-jukkan haramnya gambar makhluk hidup yang tidak memiliki bayangan. Demikian pula perintah Nabi r untuk menghapus gambar-gambar yang ada di dinding Ka’bah, maka gambar-gambar tersebut dihapus dengan menggunakan kain perca dan air.”
Beliau t juga berkata: “Lebih utama bila rumah dibersihkan dari gambar-gambar yang dihinakan sekalipun (seperti gambar yang ada di keset, yang diinjak-injak oleh kaki-kaki manusia) agar malaikat tidak tercegah/tertahan untuk masuk ke dalam rumah. Dan juga Nabi r memerintahkan agar gambar-gambar yang ada pada namruqah dipotong, dan bisa jadi gambar-gambar yang ada pada hamparan itu telah terpotong gambarnya sehingga bentuknya menjadi seperti pohon.” (Hukmu Tashwir, hal. 31)
Abu Hurairah t berkata: Rasulullah r bersabda: “Jibril datang menemuiku, beliau berkata: ‘Sesungguhnya aku semalam menda-tangimu, namun tidak ada yang mencegahku untuk masuk ke rumah yang engkau berada di dalamnya melainkan karena di pintu rumah itu ada patung laki-laki, dan di dalam rumah itu ada qiram bergambar yang digunakan sebagai penutup, di samping itu pula di rumah tersebut ada seekor anjing. Maka perintahkanlah kepada seseorang agar kepala patung yang ada di pintu rumah itu dipotong sehingga bentuknya seperti pohon, perintahkan pula agar kain penutup itu dipotong-potong untuk dijadikan dua bantal yang bisa dibuat pijakan, dan juga perintahkan agar anjing itu dikeluarkan’.” Rasulullah r pun melaksanakan instruksi Jibril tersebut. (HR. At-Tirmidzi no. 2806, kitab Al-Libas ‘an Rasulullah r, bab Ma Ja`a Annal Malaikah la Tadkhulu Baitan fihi Shurah wa la Kalb, dihasankan Asy-Syaikh Muqbil dalam Al-Jami`ush Shahih, 4/319)
Ibnu Abbas c berkata: “Gambar itu dikatakan hidup bila memiliki kepala. Maka jika kepalanya dipotong tidak lagi teranggap gambar hidup.”
Riwayat mauquf10 ini dibawakan Al-Baihaqi t dalam Sunan-nya (7/270) dan isnadnya shahih sampai Ibnu Abbas c, kata Asy-Syaikh Muqbil t.11 (Hukmu Tashwir, hal. 55)

Gambar Makhluk Hidup untuk Kepentingan Belajar Mengajar
Asy-Syaikh Muqbil t berkata: “Pendapat yang membolehkan gambar untuk kepentingan pengajaran tidaklah ada dalilnya. Bahkan hadits tentang dilaknatnya tukang gambar yang telah lewat penyebutannya sudah meliputi hal ini. Dan juga bila hal ini dibolehkan akan menumbuhkan sikap meremehkan perbuatan maksiat tashwir (membuat gambar) di jiwa para pelajar. Sehingga mereka akan meniru perbuatan tersebut yang berakibat mereka bersiap-siap menghadapi laknat Allah bila mereka belum baligh dan mereka dilaknat bila sudah baligh. Mereka akan menolong perbuatan maksiat bahkan akan membelanya. Bila demikian, di manakah rasa tanggung jawab (para pendidik)? Rasulullahr telah bersabda:

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang kepemimpinannya.”12

“Tidak ada seorangpun yang dijadikan sebagai pemimpin oleh Allah namun dia tidak memimpin rakyatnya tersebut dengan penuh nasihat (tidak mengemban amanah dengan baik malah berkhianat kepada rakyatnya, –pent.) melainkan sebagai ganjarannya dia tidak akan mendapatkan (mencium) wanginya surga.”13
Nabi r sungguh sangat memperhatikan pendidikan anak-anak dengan tarbiyyah diniyyah (pendidikan agama). Beliau pernah bersabda:

“Setiap anak itu dilahirkan di atas fithrah, maka kedua ibu bapaknyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”14
Beliau juga bersabda dalam sebuah hadits qudsi yang diriwayatkannya dari Rabbnya:

“(Allah berfirman:) sesungguhnya Aku menciptakan hamba-Ku dalam keadaan hanif15 lalu setan membawa pergi/ mengalihkan mereka (dari kelurusannya).”16
Dengan demikian haram bagi guru/ pendidik dan bagi pemerintah/ penguasa untuk memberi kesempatan dan kemungkinan bagi para pelajar untuk menggambar (makhluk hidup). (Hukmu Tashwir, hal. 34-35)
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.
(Insya Allah bersambung)

Catatan Kaki:

1 Sebagaimana kami nyatakan dalam edisi yang lalu, tulisan ini kami susun dengan menukil secara ringkas dari kitab Hukmu Tashwir Dzawatil Arwah karya Asy-Syaikh Al-Muhaddits negeri Yaman, Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i‘ t, pada beberapa tempat dari pembahasan beliau, yakni tidak secara keseluruhan. Karena maksud kami adalah menyampaikan secara ringkas untuk pembaca yang budiman. Wabillahi at-taufiq.
2 HR. Muslim no. 5506, kitab Al-Libas waz Zinah, bab Tahrimu Tashwiri Shuratil Hayawan …
3 Ada beberapa makna yang disebutkan tentang Sahwah. Namun yang lebih tepat, wallahu a‘lam, sahwah yang dimaukan ‘Aisyah dalam haditsnya adalah rumah kecil yang posisinya melandai ke tanah dan tiangnya tinggi seperti almari kecil tempat menyimpan barang-barang. Di atas pintu rumah kecil inilah ‘Aisyah menggantungkan tirainya. Demikian penjelasan Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqalani t dalam Fathul Bari (10/475)
4 HR. Al-Bukhari no. 5954, kitab Al-Libas, bab Ma Wuthi’a minat Tashawir dan Muslim no. 5494, kitab Al-Libas waz Zinah, bab Tahrimu Tashwiri Shuratil Hayawan ….
Disebutkan pula dalam Ash-Shahihain bahwa Nabi r menjadikan bantal tersebut sebagai alas duduk beliau di rumah atau sebagai sandaran
5 HR. Al-Bukhari no. 5955 dan Muslim no. 5489, dalam kitab dan bab yang sama dengan di atas.
6 Namruqah adalah bantal-bantal yang dijejer berdekatan satu dengan lainnya atau bantal yang digunakan untuk duduk. (Fathul Bari, 10/478)
7 HR. Al-Bukhari no. 5957, kitab Al-Libas, bab Man Karihal Qu‘ud ‘alash Shuwar dan Muslim no. 5499.
8 Yaitu hadits yang menyebutkan bahwa Aisyah xmemotong-motong qiramnya menjadi satu atau dua bantal dan hadits yang menyebutkan pengingkaran Nabi r terhadap perbuatan Aisyah x yang membeli namruqah (bantal-bantal) untuk tempat duduk beliau. Hadits pertama menunjukkan Nabi r mau menggunakan bantal yang dibuat dari potongan-potongan kain bergambar sedangkan hadits kedua menunjukkan Nabi n sama sekali tidak mau menggunakan bantal-bantal yang dibeli Aisyah x karena ada gambar padanya.
9 Seperti dijadikan bantal duduk atau keset/ lap kaki.
10 Ucapan, perbuatan atau penetapan (taqrir) dari shahabat
11 Adapun hadits yang marfu‘ (sampai kepada Rasulullah r) dengan lafadz seperti ini tidak ada yang shahih, bahkan dhaif jiddan (lemah sekali) (Hukmu Tashwir, hal. 54)
12 HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu ‘Umar c
13 HR. Al-Bukhari dan Muslim dari hadits Ma’qil bin Yasar z
14 HR. Al-Bukhari dan Muslim dari hadits Abu Hurairah z
15 Lurus hanya tunduk kepada Allah, tidak cenderung kepada syirik dan maksiat lainnya.
16 HR. Muslim dari ‘Iyadh bin Himar Al-Mujasyi‘i

Perawat Muslimah Bekerja di Rumah Sakit

Bolehkah seorang perawat muslimah bekerja di bagian kewanitaan pada salah satu rumah sakit hingga ia bisa merawat pasien-pasien wanita. Di tempat kerjanya ini, ia memakai pakaian yang syar‘i namun tidak bisa mengenakan jilbab (pakaian luar yang longgar/ lapang dan menutupi seluruh tubuh dari kepala sampai telapak kaki) dikarenakan dalam pelaksanaan tugas/ pekerjaannya tidak memungkinkan baginya mengenakan jilbab tersebut. Namun tidak ada laki-laki yang mondar-mandir di ruang kerjanya kecuali hanya para pelayan (tukang sapu dan semisalnya) dan apoteker. Pada waktu lain, ia diminta untuk tugas jaga –shift malam– sehingga sepanjang malam ia berada di rumah sakit dan sangat mungkin laki-laki masuk ke tempatnya sementara tidak ada mahram yang mendampinginya. Lalu apa yang harus dilakukan perawat itu? Sebelumnya perlu diketahui suami si perawat mampu memberikan belanja kepadanya tanpa ia harus bekerja.

Jawab:
Asy-Syaikh Al-’Allamah Abu Abdirrahman Muhammad Nashiruddin Al-Albani t memberikan fatwa atas pertanyaan di atas, beliau berkata:
“Apabila kita mengingat hukum yang ada, maka kita ketahui bahwa asalnya seorang wanita muslimah itu harus berdiam/ tinggal di dalam rumahnya dan tidak boleh keluar rumah kecuali bila memang ada keperluan. Di samping itu, disampaikan pada kami dari pertanyaan yang ada bahwa suami si wanita (perawat tersebut) mampu menafkahinya. Maka dengan begitu kami memandang, wanita itu tidak boleh bekerja di luar rumahnya. Bila ia memang tetap berkeinginan bekerja di bidang medis untuk merawat/ mengobati pasien wanita secara khusus, ia bisa membuka praktek di rumah sehingga tidak perlu keluar untuk bekerja di rumah sakit. Karena dengan bekerjanya si wanita di rumah sakit berarti ia menghadapkan dirinya pada ikhtilath (campur baur laki-laki dan perempuan tanpa hijab/ tabir penghalang) baik yang kecil maupun yang besar seperti yang disebutkan dalam pertanyaan. Sehingga ia terjatuh ke dalam pelanggaran syariat, sedikit ataupun banyak, sementara ia sebenarnya bisa menghindarinya.
Adapun pertanyaan yang menyebutkan bahwa si wanita dengan profesinya sebagai perawat di rumah sakit, ia tidak bisa mengenakan jilbab karena demikian tuntutan pekerjaannya, akan tetapi masih bisa mengenakan pakaian yang menutupi auratnya maka aku nyatakan bahwa hal itu bukanlah alasan. Kecuali bila kita gambarkan bahwa jilbab itu adalah (model) satu potong pakaian yang dikenakan wanita untuk menutupi tubuhnya dari atas kepala sampai ke telapak kaki dan kita anggap model jilbab memang harus demikian, itu merupakan perkara ta’abbudiyyah. Yakni dibebani para wanita untuk senantiasa mengenakan hijab/pakaian dengan model tersebut. Bila kita tetapkan jilbab itu demikian, maka perbuatan si wanita jelas teranggap sebagai penyelisihan lain yang dilakukannya karena ia tidak mengenakan jilbab tersebut dengan alasan pekerjaan. Ia meng-gantinya dengan pakaian model lain yang bisa menutupi tubuhnya. Namun perlu diketahui, jilbab itu ditinjau dari sisi jenis dan model/bentuknya. Dan sebenarnya bukannya model/bentuk jilbab yang dituju, tapi model itu hanyalah satu perantara untuk menutup aurat wanita. Dengan begitu boleh bagi seorang wanita memakai pakaian apa yang diinginkannya namun dalam batasan syarat-syarat yang ada seba-gaimana yang telah aku sebutkan dalam kitab Hijabul Mar`ah Al-Muslimah1. Seandainya pakaian yang dikenakannya itu bukanlah jilbab secara bahasa yakni tidak terdiri dari satu potong pakaian (yang lebar/ lapang, yang bisa menutupi dari atas kepala sampai telapak kaki) maka hendaklah ia mengenakan pakaian yang terdiri dari tiga potong2. Akan tetapi yang penting dari semua itu, pakaian pengganti jilbab tersebut dapat menggantikan fungsi jilbab. Bila seperti itu keadaannya maka tidak ada masalah bagi perawat tersebut dan tidak pula yang lainnya untuk tidak mengenakan jilbab namun menggantinya dengan pakaian lain yang bisa menggantikan fungsi jilbab secara sempurna3.
Kesimpulannya, wanita keluar dari rumahnya merupakan perkara yang menyelisihi hukum asal. Dan masuknya si wanita ke rumah sakit yang di dalamnya berbaur laki-laki dan perempuan merupakan ikhtilath yang tidak diperbolehkan dalam Islam. Seandainya di sana ada rumah sakit khusus wanita, maka yang jadi direkturnya semestinya wanita, pelayan/ pekerjanya juga wanita, demikian pula para pasien (berikut pera-watnya). Seharus-nya memang di negeri-negeri Islam ada rumah sakit yang demikian di mana para wanita secara khusus yang mengurusnya, baik dokter, direktur, pelayan/ pekerjanya, dan semisalnya (semuanya wanita). Adapun bila rumah sakitnya seperti yang disebutkan dalam pertanyaan, rumah sakit yang ikhtilath, maka kami nasehatkan agar wanita muslimah yang beriman kepada Rabbnya hendaknya bertakwa kepada Allah dan hendaklah ia tetap tinggal di rumahnya.
(Al-Hawi min Fatawa Asy-Syaikh Al-Albani, hal. 474-475)

Catatan Kaki:

1 Lihat tentang syarat-syarat pakaian yang syar‘i bagi wanita dalam Majalah Syariah Vol. I/No. 03, rubrik Muslimah Bertanya, hal. 58-59.
2 Misalnya si wanita mengenakan pakaian rumah, kemudian dirangkap dengan jubah sebagai pakaian luar yang lebar dan lapang lagi menutupi kakinya, ditambah dengan kerudung yang lebar dan panjang menutupi kepala, wajah dan dadanya (dalam hal ini ada perbedaan pendapat dalam hal menutup wajah antara yang menyatakan wajib dan sunnah, ed), wallahu a‘lam –pent.
3 Dari fatawa Syaikh t kita fahami bahwa untuk menutup aurat secara sempurna seorang wanita tidak harus mengenakan satu potong pakaian yang lebar dan lapang menutupi dari atas kepalanya sampai telapak kakinya, yang diistilahkan jilbab. Namun ia boleh memakai beberapa potong pakaian yang memenuhi syarat-syarat hijab yang syar‘i hingga bisa secara sempurna menggantikan fungsi jilbab, wallahu a‘lam bish-shawab.

Hukum Ziarah Kubur bagi Wanita (bagian 2)

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Zulfa Husein Al-Atsariyyah)

Dalam pembahasan yang lalu telah kita ketahui bahwa dalam masalah ziarah kubur bagi wanita, ahlul ilmi terbagi dalam tiga pendapat: yang mengatakan makruh tidak haram, mubah tidak makruh, dan yang berpendapat haram. Di akhir pembahasan, kami telah menyinggung bahwa pendapat yang kuat dan menenangkan hati kami dengan melihat dalil yang ada dan memperhatikan ucapan ulama adalah pendapat yang membolehkan ziarah kubur bagi wanita, bahkan hukumnya mustahab sebagaimana laki-laki, wallahu ta’ala a’lam, dengan beberapa alasan yang akan kami bawakan dalam pembahasan berikut ini, wabillahi at-taufiq.
Pertama: Hadits-hadits yang membolehkan ziarah kubur bagi wanita lebih shahih daripada hadits-hadits yang melarang.
Kedua: Lafadz: yang terdapat dalam hadits Abu Hurairah z:

Sesungguhnya Rasulullah n melaknat wanita-wanita yang banyak berziarah ke kuburan1.
menunjukkan mubalaghah, artinya yang dilaknat adalah wanita yang banyak berziarah. Sehingga wanita yang berziarah hanya sekali-kali tidaklah masuk dalam ancaman hadits di atas. Kalau ada yang berargumen bahwa ada hadits lain yang tidak dalam bentuk mubalaghah yaitu hadits Ibnu ‘Abbas c, ia berkata:

Sesungguhnya Rasulullah n melaknat wanita-wanita yang berziarah ke kuburan2.
Maka penjelasannya sebagai berikut: Ha-dits:  telah diriwayatkan dari beberapa shahabat Rasulullah n yaitu Abu Hurairah, Hassan bin Tsabit, dan Ibnu ‘Abbas g. Semuanya membawakan dengan bentuk mubalaghah:  , kecuali satu riwayat dari hadits Ibnu ‘Abbas c dari jalan Abu Shalih maula Ummu Hani’ bintu Abi Thalib xdibawakan dengan lafadz:

Kita perhatikan lafadznya tidak berbentuk mubalaghah. Namun perlu diketahui, rawi yang berkunyah Abu Shalih ini bernama Badzan atau Badzam. Kata Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqalani t: “Ia perawi yang dha’if (lemah).” (Taqribut Tahdzib, hal. 59, no. 634)
Asy-Syaikh Al-Albani t berkata: “Ia dha’if menurut jumhur nuqqad3. Tidak ada seorang pun yang mentsiqahkannya kecuali Al-’Ijli sebagaimana dikatakan Al-Hafizh dalam At-Tahdzib, bahkan Isma’il bin Abi Khalid dan Al-Azdi mendustakannya. Sebagian yang lain menjelekkannya dengan suka berbuat tadlis. (Lihat Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha’ifah, hadits no. 225, hal. 393-394 dan Al-Irwa`, 3/212)
Dari keterangan di atas, jelaslah bahwa yang shahih dari hadits ini hanyalah yang menyebutkan lafadz mubalaghah karena bersepakatnya hadits Abu Hurairah dan hadits Hasan c. Bahkan disepakati pula oleh hadits Ibnu ‘Abbas c dalam riwayat dari kebanyakan perawi, walaupun padanya ada kelemahan sehingga tidak pantas dijadikan sebagai syahid (pendukung), namun tidak menjadi masalah, kata Asy-Syaikh Al-Albani t. Dengan demikian yang dilaknat dari hadits tersebut adalah wanita-wanita yang banyak melakukan ziarah kubur. Adapun yang tidak sering maka tidaklah masuk dalam laknat tersebut.
Sekarang menjadi jelaslah ketidak-bolehan mempertentangkan hadits ini dengan hadits-hadits yang menunjukkan disunnah-kannya ziarah kubur bagi wanita. Karena hadits ini khusus (hanya tertuju bagi wanita yang sering melakukan ziarah), sedangkan hadits tentang sunnahnya ziarah kubur adalah umum. Maka, masing-masingnya diamalkan sesuai tempatnya. Mengumpulkan dalil-dalil yang ada adalah lebih utama daripada menganggap adanya naskh (adanya dalil yang dihapus hukumnya). (Lihat Ahkamul Jana`iz wa Bida’uha, Asy-Syaikh Al-Albani, hal. 235-237)
Al-Imam Al-Qurthubi t berkata: “Laknat yang disebutkan dalam hadits hanyalah ditujukan kepada para wanita yang banyak ziarah kubur karena dalam hadits disebutkan dengan bentuk mubalaghah. Sebab pelarangannya mungkin karena bila wanita sering ziarah kubur akan mengantarkannya untuk menyia-nyiakan hak suami dan keluar dengan tabarruj. Di samping juga akan muncul teriakan-teriakan/suara keras dari si wanita di sisi kubur dan semisalnya. Dan dinyatakan bahwa bila aman dari terjadinya semua itu maka tidak ada larangan memberi izin kepada mereka untuk datang ziarah ke kubur, karena mengingat kematian dibutuhkan bagi laki-laki dan juga bagi wanita.” (Fathul Bari, 3/190)
Al-Imam Asy-Syaukani t berkata mengomentari ucapan Al-Imam Al-Qurthubi di atas: “Ucapan ini sepantasnya dijadikan sebagai sandaran/pegangan dalam mengumpulkan di antara hadits-hadits dalam pembahasan ini yang secara dzahir terlihat saling bertentangan.” (Nailul Authar, 4/147)
Ketiga: Keumuman sabda Nabi n:

“Aku pernah melarang kalian dari ziarah kubur maka (sekarang) ziarahilah kuburan.”4
Sehingga termasuk di dalamnya perintah kepada kaum wanita. Karena ketika pada awalnya Nabi n melarang ziarah kubur, tidak diragukan bahwa larangan itu umum mencakup laki-laki dan perempuan. Tatkala beliau nyatakan: dipahami bahwa beliau juga menujukan pembicaraan kepada laki-laki dan perempuan. Maka bila kalimat yang awal ini ditujukan bagi laki-laki dan perempuan berarti kalimat selanjutnya, yaitu: juga ditujukan kepada kedua jenis tersebut.
Yang memperkuat keterangan di atas adalah kelanjutan dari hadits ini, seperti tersebut dalam riwayat Muslim dari hadits Buraidah z yang telah disebutkan di atas:

“Dan aku pernah melarang kalian untuk menyimpan daging hewan kurban lebih dari tiga hari, maka sekarang tahanlah (simpanlah) berapa hari yang kalian inginkan. Aku pernah melarang kalian dari nabidz5 kecuali yang di dalam bejana tempat minum, maka sekarang minumlah yang ada di dalam bejana tempat minum seluruhnya dan jangan kalian meminum minuman yang memabukkan.”
Asy-Syaikh Al-Albani t mengatakan: “Semua perbuatan yang disebutkan dalam hadits di atas, pembicaraannya ditujukan kepada dua jenis (laki-laki dan perempuan) secara pasti, sebagaimana sasaran pembicaraan pada kalimat yang awal: . Bila dikatakan sasaran pembicaraan pada sabda Nabi n: itu hanya khusus bagi laki-laki, niscaya akan rusak/kacau susunan kalimat yang ada dan akan hilang kesegarannya. Ini merupakan perkara yang tidak pantas bagi sang pemilik jawami’ul kalim6 (yakni Rasulullah n).” (Ahkamul Jana`iz wa Bida’uha, hal. 229)
Keempat: Berserikatnya perempuan dengan laki-laki dalam tujuan disyariatkannya ziarah kubur, yaitu melunakkan hati, mengalirkan air mata, mengingatkan pada kematian dan hari akhir.
Kelima: Pemahaman Aisyah x dalam masalah ini. Bahkan ia sendiri melakukan ziarah kubur, sebagaimana diberitakan Abdullah ibnu Abi Mulaikah: “Suatu hari Aisyahx datang dari pekuburan, maka aku berkata kepadanya: “Wahai Ummul Mukminin! Dari mana engkau datang?”
Aisyah x menjawab: “Dari kubur saudaraku Abdurrahman bin Abi Bakar.” “Bukankah Rasulullah n melarang melakukan ziarah kubur?” tanyaku.
“Iya, kemudian beliau perintahkan untuk ziarah kubur,” jawab ‘Aisyah x.
(HR. Al-Hakim 1/376, Al-Baihaqi 4/78 dll, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Al Irwa‘, no. 775)
Suatu hari Muhammad bin Qais bin Makhramah ibnul Muthallib berkata: “Maukah aku beritakan kepada kalian tentang aku dan ibuku?” Perawi yang mendengar ucapan itu berkata: “Kami menyangka bahwa yang dimaksudkan oleh Muhammad bin Qais adalah ibu yang melahirkannya.” Namun ternyata Muhammad bin Qais berkata: “Aisyah x berkata: ‘Maukah aku ceritakan kepada kalian tentang aku dan Rasulullah n?’
‘Tentu kami mau,’ jawab kami
‘Aisyah x pun mulai bercerita: ‘Suatu ketika, di malam giliranku, Rasulullah n meletakkan rida`-nya, melepas kedua sandalnya dan meletakkannya di sisi kedua kakinya. Lalu beliau membentangkan ujung sarungnya di atas tempat tidurnya, setelahnya beliau pun berbaring. Tidak berapa lama sekadar beliau menyangka aku telah tertidur, beliau bangkit lalu mengambil rida`-nya dengan perlahan dan mengenakan sandalnya dengan perlahan, kemudian membuka pintu dan keluar, setelahnya pintu ditutup kembali dengan perlahan. Aku pun bangkit dan mengenakan pakaianku, menutup kepalaku dan menutup wajahku dengan sarung. Kemudian aku mengikuti jejak beliau, hingga sampai di pekuburan Baqi’. Rasulullah n berdiri lama lalu mengangkat kedua tangannya sebanyak tiga kali. Kemudian beliau berbalik, akupun berbalik. Beliau bersegera, aku pun bersegera. Beliau berlari kecil, akupun berlari kecil. Beliau berlari lebih cepat, aku pun melakukan yang sama, hingga aku dapat mendahului beliau lalu segera masuk ke dalam rumah. Belum lama aku merebahkan tubuhku, beliau masuk. Melihat keadaanku beliau bertanya heran: ‘Ada apa dengan dirimu, wahai ‘Aisy? Kulihat nafasmu memburu.’
‘Tidak apa-apa,’ kilahku.
‘Beritahu aku, atau Allah yang akan mengabarkan kepadaku!’ ancam beliau.
Aku pun menceritakan kejadian yang baru berlangsung. Mendengar penuturanku, beliau berkata: ‘Berarti engkau adalah sosok yang aku lihat di hadapanku tadi?’
‘Iya,’ jawabku.
Beliau mendorong dadaku dengan kuat hingga membuatku kesakitan. Kemudian beliau bersabda: ‘Apakah engkau menyangka Allah dan Rasul-Nya akan berbuat tidak adil terhadapmu7?’
‘Aisyah x berkata: ‘Bagaimana pun manusia menyembunyikannya niscaya Allah mengetahuinya. Memang semula aku menyangka demikian.’
Rasulullah n menjelaskan: ‘Jibril datang menemuiku saat itu. Dia memanggilku, maka aku pun menyembunyikannya darimu. Aku penuhi panggilannya karena Jibril tidak mungkin masuk ke kamar ini sementara engkau telah melepaskan pakaianmu. Dan tadi aku menyangka engkau sudah tidur maka aku tidak ingin membangunkanmu, karena aku khawatir engkau akan merasa sendiri dalam sepi di kegelapan malam. Jibril berkata kepadaku saat itu: ‘Sesungguhnya Rabbmu memerintahkanmu untuk mendatangi pekuburan Baqi’ guna memintakan ampun bagi penghuninya.’
‘Aisyah x berkata: ‘Apa yang aku ucapkan bila menziarahi mereka (penghuni kubur) wahai Rasulullah?’
Beliau mengajarkan: ‘Katakanlah:

“Salam sejahtera atas penghuni negeri ini dari kalangan mukminin dan muslimin. Semoga Allah merahmati orang-orang yang telah menda-hului kami dan orang-orang yang belakangan. Insya Allah kami akan menyusul kalian.” (HR. Muslim no. 2253, kitab Al-Jana`iz, bab Ma Yuqalu ‘inda Dukhulil Qubur wad Du’a li Ahliha)
Hadits ini dijadikan dalil oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar t dalam kitab At-Talkhish (2/702) untuk menyatakan bolehnya ziarah kubur bagi wanita. Demikian dzahir yang ditunjukkan oleh hadits ini, sebagaimana ia mendukung pendapat yang menyatakan rukhshah ziarah kubur setelah pelarangan juga mencakup wanita. Karena kisah yang disebutkan di atas terjadi di Madinah, saat Rasulullah n telah kumpul dengan Aisyah x. Sedangkan larangan ziarah kubur ditetapkan ketika Rasulullah n masih tinggal di Makkah. Asy-Syaikh Al-Albani t berkata: “Kami memastikan hal ini walaupun kami tidak mengetahui tarikh yang memperkuatnya, karena penarikan kesimpulan yang shahih yang menjadi saksi/pendukungnya, yaitu ucapan Rasulullah n:  (Dahulu aku melarang kalian). Tidaklah bisa dinalar larangan semisal ini ditetapkan di masa Madani (ketika beliau telah menetap di Madinah), bukan di masa Makki (saat beliau masih tinggal di Makkah), di mana saat beliau tinggal di Makkah mayoritas hukum yang ditetapkan adalah yang berkaitan dengan tauhid dan aqidah. Sementara larangan ziarah kubur termasuk pembahasan tauhid/aqidah karena larangan dimaksudkan sebagai penutup jalan/perantara yang mengantarkan kepada kesyirikan. Pensyariatan larangan ziarah kubur ini hanyalah cocok diterapkan di masa Makki karena manusia ketika itu baru saja masuk Islam dan baru saja meninggalkan kesyirikan. Sehingga Nabi n pun melarang mereka ziarah kubur agar tidak menjadi perantara kepada syirik. Sampai ketika tauhid telah kokoh dalam dada-dada mereka dan mereka mengetahui jenis-jenis syirik yang berlawanan dengan tauhid, beliau n pun mengizinkan mereka berziarah. Adapun kalau dianggap beliau membiarkan mereka terus melakukan ziarah sepanjang masa Makki sebagaimana kebiasaan mereka, kemudian baru beliau larang setelah di Madinah, maka anggapan ini sangat jauh dari hikmah syariat. Karena itulah kami memastikan bahwa larangan tersebut ditetapkan di Makkah. Bila demikian keadaannya, izin beliau n kepada ‘Aisyah x untuk berziarah kubur di Madinah merupakan dalil yang jelas atas apa yang telah kami sebutkan. Maka perhatikanlah, karena ini adalah sesuatu yang membekas dalam jiwa. Sementara aku belum pernah melihat ada orang yang mensyarah/ menjelaskan masalah ini sebagaimana sisi yang aku jelaskan. Kalau aku benar maka itu datangnya dari Allah, adapun bila aku salah maka itu semata dari diriku sendiri.” (Ahkamul Jana`iz wa Bida’uha, hal. 232-233)
Keenam: Persetujuan Nabi n terhadap seorang wanita yang berada di sisi kuburan, sebagaimana disebutkan dalam hadits Anas z:

Nabi n melewati seorang wanita yang sedang menangis di sisi kubur, maka Nabi pun menasehati si wanita: “Bertakwalah engkau kepada Allah9 dan bersabarlah.”
Wanita itu menjawab dalam keadaan ia belum mengenali siapa yang menasehatinya: “Menjauhlah dariku,  karena engkau tidak ditimpa musibah seperti musibahku (tidak merasakan musibah yang aku rasakan –pen.)”
Dikatakanlah kepada si wanita: “Yang menasehatimu adalah Nabi n.” Wanita itu (terkejut) bergegas mendatangi Nabi n dan tidak didapatkannya penjaga pintu di sisi (pintu) Nabi n. “Aku tadi tidak mengenalmu,” katanya menyampaikan uzur.
Nabi bersabda: “Hanyalah kesabaran itu pada goncangan yang pertama.” 10
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqalani t berkata: “Sisi pendalilan dari hadits ini adalah Nabi n tidak mengingkari duduknya si wanita di sisi kuburan dan persetujuannya ini merupakan hujjah.” (Fathul Bari, 3/190)
Al-’Aini t berkata: “Hadits ini menunjukkan bolehnya ziarah kubur secara mutlak. Sama saja baik yang berziarah itu laki-laki atau wanita, dan sama saja baik kubur yang diziarahi itu adalah kubur seorang muslim atau orang kafir11, karena tidak adanya perincian dalam hal ini.” (Al-’Umdah, 3/76)
Asy-Syaikh Al-Albani t berkata: “Apa yang ditunjukkan dalam hadits (Anas) berupa kebolehan ziarah kubur bagi wanita merupakan makna yang langsung dipahami dari hadits tersebut. Namun penunjukan itu barulah sempurna apabila kisah ini tidak terjadi sebelum adanya pelarangan ziarah kubur12. Dan inilah yang nampak, apabila kita mengingat penjelasan yang telah lewat bahwasanya larangan ziarah kubur terjadi di Makkah. Sementara kisah yang diriwayat-kan oleh Anas bin Malik z ini, -dan dia adalah Madani (orang Madinah), yang ketika berusia sepuluh tahun dia dibawa oleh ibunya Ummu Sulaim x ke hadapan Nabi n saat beliau hijrah ke Madinah-, terjadi di Madinah. Maka kuatlah penetapan yang ada, bahwa kisah ini terjadi setelah adanya larangan ziarah kubur13. Dengan demikian sempurnalah pendalilan dari hadits ini untuk menunjukkan bolehnya ziarah kubur (bagi wanita). Adapun ucapan Ibnul Qayyim t dalam kitabnya Tahdzibus Sunan (4/350): “Takwa kepada Allah14 adalah mengerjakan apa yang diperintahkan-Nya dan menjauhi apa yang dilarang-Nya, di antara sejumlah larangan-Nya adalah larangan ziarah kubur (bagi wanita)15.” Maka ucapan beliau ini benar bila seandainya si wanita mempunyai ilmu tentang dilarangnya ziarah kubur bagi wanita dan larangan itu berlaku terus-menerus, tidak dihapus (dengan kebolehan ziarah kubur yang datang kemudian). Bila demikian keadaannya tepatlah ucapan beliau: “… di antara sejumlah larangan-Nya adalah larangan ziarah kubur (bagi wanita).” Namun sebenarnya ini adalah pendalilan yang tidak tepat. Karena, kalau larangan itu berlaku terus-menerus niscaya Rasulullah n akan melarang si wanita dari ziarah kubur secara terang-terangan, dan beliau akan menerangkannya kepada si wanita. Beliau tidak akan mencukupkan dengan memerintahkannya bertakwa kepada Allah dalam bentuk yang umum. Ini jelas sekali insya Allah.” (Ahkamul Jana`iz wa Bida’uha, hal. 234-235)
Ibnu Hazm t menyatakan ziarah kubur itu sunnah, baik bagi laki-laki maupun bagi wanita. (Al-Muhalla, 3/388)

Wanita Dilarang Sering Ziarah Kubur
Sekalipun ziarah kubur dibolehkan bagi wanita namun tidak diperkenankan bagi mereka untuk banyak atau sering melakukannya. Karena perbuatan demikian akan mengantarkannya untuk melakukan perkara yang menyelisihi syariat misalnya berteriak-teriak di kuburan, keluar dengan tabarruj, menjadikan kuburan sebagai tempat rekreasi/piknik, menyia-nyiakan waktu dengan obrolan yang sia-sia di sisi kubur, dan sebagainya, sebagaimana banyak kita saksikan di negeri kita ini. Wanita yang banyak dan sering berbolak-balik ke kuburan inilah yang dituju oleh hadits:

“Sesungguhnya Rasulullah n melaknat wanita-wanita yang banyak berziarah ke kuburan.”
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

 

Catatan Kaki:

1 HR. Ahmad 2/337, At-Tirmidzi no. 1056, kitab Al-Jana`iz, bab Ma Ja‘a fi Karahiyati Ziyaratil Qubur lin Nisa’, Ibnu Majah no. 1576, kitab Al-Jana`iz, bab Ma Ja‘a fin Nahyi ‘an Ziyaratin Nisa‘ Al-Qubur. Dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi dan Shahih Sunan Ibni Majah, Irwa‘ul Ghalil no. 762.
2 HR. An-Nasa‘i no. 2043, kitab Al-Jana`iz, bab At-Taghlizh fit Tikhadzis Suruj ‘alal Qubur
3 Ulama yang ahli dalam mengkritik kelemahan yang ada pada hadits
4 HR. Muslim no. 2257, kitab Al-Jana`iz, bab Isti`dzanun Nabi n Rabbahu U fi Ziyarati Qabri Ummihi
5 Minuman yang dibuat dari tamr/ kurma kering, anggur kering, madu, gandum dan selainnya (An-Nihayah, hal. 881)
6 Rasulullah n berbicara dengan ucapan yang ringkas/pendek, sedikit lafadznya namun banyak maknanya. (Fathul Bari, 13/304)
7 Dengan pergi ke tempat istri yang lain sementara malam ini adalah malam giliranmu. –pent
8 makna asalnya adalah pukulan pada sesuatu yang keras, kemudian digunakan secara majaz pada segala yang dibenci/tidak disukai yang terjadi dengan tiba-tiba. (Syarhu Muslim, 6/227)
9 Al-Imam Al-Qurthubi t berkata: “Yang dzahir di sini, tangisan si wanita melebihi perkara yang dibolehkan berupa niyahah dan selainnya. Karena itulah Nabi n memerintahkannya untuk bertakwa (kepada Allah).” (Fathul Bari, 3/184)
10 HR. Al-Bukhari no. 1283, kitab Al-Jana`iz, bab Ziyaratul Qubur dan Muslim no. 626
11 Nabi n pernah menziarahi kubur ibunya, padahal sang ibu meninggal dalam keadaan musyrik dan kafir. Abu Hurairah z berkata:
“Nabi n menziarahi kubur ibunya, maka beliau menangis dan tangis beliau membuat orang-orang yang ada di sekitar beliau ikut menangis. Beliau n bersabda: ‘Aku minta izin kepada Rabbku untuk memintakan ampun bagi ibuku namun Rabbku tidak mengizinkannya. Dan aku pun minta izin untuk menziarahi kuburan ibuku maka untuk yang ini Rabbku mengizinkannya. Maka ziarahilah kuburan karena ziarah kubur itu akan mengingatkan kepada kematian.” (HR. Muslim no. 2255, kitab Al-Jana`iz, bab Isti`dzan An-Nabi n Rabbahu U fi Ziyarati Qabri Ummihi)
12 Yakni kisah ini terjadi setelah disyariatkannya ziarah kubur.
13 Yaitu ketika ziarah kubur telah disyariatkan setelah sebelumnya dilarang.
14 Demikian yang diperintahkan Nabi n kepada si wanita yang sedang menangis di sisi kuburan.
15 Ibnul Qayyim t memaksudkan ziarah kubur itu dilarang bagi wanita.

Barirah Maulah ‘Aisyah Ummul Mu’minin

(dituis oleh: Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman Anisah bintu ‘Imran)

Ini adalah kisah seorang sahaya yang ingin mendapatkan kemerdekaannya. Perjalanan hidupnya membuahkan pelajaran-pelajaran berharga untuk seluruh kaum muslimin hingga akhir masa.

Barirah, dia seorang sahaya (budak) milik salah seorang dari Bani Hilal. Suaminya seorang budak berkulit hitam milik Bani Al-Mughirah, bernama Mughits. Barirah x menginginkan kemerdekaan dirinya. Dia pun mengikat perjanjian dengan tuannya untuk membayar sembilan uqiyah sebagai harga dirinya. Dalam setahun, dia membayar satu uqiyah.
Barirah datang menemui ‘Aisyah x untuk meminta bantuannya. Saat itu, ‘Aisyah x mengatakan padanya, “Kembalilah pada tuanmu dan katakan, kalau mereka mau, aku akan membayarkan tunai seluruh hargamu, lalu kumerdekakan dirimu dan nanti wala`1mu untukku.” Barirah pun kembali untuk menyam-paikan keinginan ‘Aisyah x. Namun hasilnya nihil. Mereka menolak sembari mengatakan, “Kalau dia mau mengharapkan pahala dari Allah I dengan bantuannya padamu, maka hendaknya dia lakukan, sementara wala`mu tetap untuk kami.”
Barirah mengadukan penolakan mereka kepada ‘Aisyah x, “Aku telah menawarkan hal itu kepada mereka, namun mereka menolak, kecuali bila wala`ku untuk mereka.”
Hal itu didengar oleh Rasulullah n. Beliau pun bertanya, “Apa permasalahan Barirah?” ‘Aisyah menceritakan apa yang terjadi. Mendengar penuturan ‘Aisyah, Rasulullah n bersabda, “Belilah dia, lalu merdekakan. Sesungguhnya wala` itu bagi orang yang memerdekakan.” Setelah itu beliau bangkit untuk berkhutbah di hadapan manusia. Setelah memuji dan menyanjung Allah U beliau bersabda, “Bagaimana kiranya keadaan suatu kaum, mereka mengajukan syarat yang tidak ada di dalam Kitabullah. Syarat mana pun yang tidak ada di dalam Kitabullah, maka syarat itu batil, biarpun seratus kali mereka mengajukan syarat. Ketetapan Allah I itu lebih haq, syarat Allah I itu lebih kokoh. Bagaimana kiranya salah seorang dari mereka bisa mengatakan, ‘Bebaskanlah budakku, wahai Fulan, sementara wala`nya untukku’. Sesungguhnya wala` itu hanya untuk orang yang memerdekakan.”
Akhirnya, Barirah pun mendapatkan kemerdekaan dirinya yang selama ini diimpikan. Ketika itu, Barirah diberi pilihan oleh Rasulullah n untuk tetap bersama suaminya atau berpi-sah darinya. Namun Rasulullah n mengiringi pula dengan nasihat agar Barirah tetap mempertahankan pernikahannya. Barirah lalu bertanya kepada beliau, “Wahai Rasulullah, apakah ini sesuatu yang wajib kulakukan?”
“Tidak,” kata Rasulullah n, “akan tetapi aku hanya ingin menolongnya.”
“Aku tidak membutuhkannya,” jawab Barirah.
Maka berpisahlah Barirah dari Mughits. Barirah memilih dirinya, diiringi kesedihan Mughits atas perpisahan itu. Hingga terlihat Mughits mengikuti Barirah berjalan di jalan-jalan Madinah sembari berlinangan air mata, memohon kerelaan Barirah untuk tetap hidup bersamanya. Namun Barirah enggan untuk kembali sembari mengatakan, “Aku tidak membutuhkanmu.” Sampai-sampai Rasulullah n berkata kepada paman beliau, Al-’Abbas z, “Wahai paman, tidakkah engkau merasa takjub dengan rasa benci Barirah terhadap Mughits, dan rasa cinta Mughits pada Barirah?”
Masa ‘iddah Barirah kala itu seperti ‘iddah wanita merdeka yang ditalak.
Sebelum dimerdekakan, Barirah biasa membantu ‘Aisyah. Ketika tersebar berita dusta tentang ‘Aisyah yang disebarkan oleh gembong munafikin, Abdullah bin Ubai bin Salul, atas saran ‘Ali bin Abi Thalib z, Rasulullah n memanggil Barirah untuk menanyakan tentang keadaan ‘Aisyah.
“Wahai Barirah, pernahkah engkau melihat sesuatu pada ‘Aisyah yang membuatmu bimbang?” tanya beliau.
“Demi Dzat Yang mengutusmu dengan Al-Haq,” jawab Barirah, “aku tidak pernah melihat sesuatu pun yang pantas kucela, kecuali dia itu seorang wanita yang masih sangat muda yang masih suka tertidur di sisi adonan makanan yang dibuat untuk keluarganya hingga datang hewan memakan adonan itu.”
Berbagai kisah dirangkai oleh Barirah dengan keluarga Rasulullah n. Suatu ketika, Barirah pernah diberi sedekah daging kambing. Lalu ia pun menghadiahkan kepada keluarga Rasulullah n. Saat itu ‘Aisyah enggan memakannya. Rasulullah n pun datang, dan bertanya, “Dari mana daging ini?”
“Barirah yang memberikannya untuk kita dari daging yang disedekahkan baginya,” jawab ‘Aisyah. Maka Rasulullah n bersabda, “Ini sedekah baginya dan hadiah bagi kita darinya.”
Barirah melalui masa hidupnya hingga beberapa masa pemerintahan. Barirah sempat berfirasat bahwa nanti Abdul Malik bin Marwan akan menduduki kepemimpinan kaum muslimin. Disampaikannya firasat ini kepada Abdul Malik bin Marwan jauh-jauh hari sebelum Abdul Malik diangkat sebagai khalifah, ketika Abdul Malik bertemu dengan Barirah di Madinah. Kata Barirah, “Wahai Abdul Malik, aku melihatmu memiliki perangai-perangai yang mulia, dan engkau layak untuk memegang tampuk pemerintahan. Maka bila nanti engkau diserahi kepemimpinan, berhati-hatilah dengan masalah darah kaum muslimin, karena aku pernah mendengar Rasulullah n bersabda, “Sesungguhnya seseorang ditolak dari pintu surga setelah melihat keindahan surga disebabkan darah seorang muslim sepenuh mihjamah2 yang dia tumpahkan tanpa hak.”
Barirah kembali kepada Rabbnya pada masa khilafah Mu’awiyah bin Abi Sufyan c. Barirah maulah Ummu Mukminin ‘Aisyah, semoga Allah meridhainya….
Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.

Sumber Bacaan:
q Al-Ishabah, karya Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqalani (7/535)
q Al-Isti’ab, karya Al-Imam Ibnu ‘Abdil Barr (4/1795-1796)
q Ath-Thabaqatul Kubra, karya Al-Imam Ibnu Sa’d (8/256-260)
q Fathul Bari Syarh Shahih Al-Bukhari, Kitabul Mukatab, karya Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqalani
q Siyar A’lamin Nubala`, karya Al-Imam Adz-Dzahabi (2/297-304)
q Tahdzibul Kamal, karya Al-Imam Al-Mizzi (35/136-137)

Catatan Kaki:

1 Bila seorang budak yang telah dimerdekakan meninggal dunia sementara ia meninggalkan harta, maka hartanya itu diwarisi oleh orang yang memerdekakannya

2 Mihjamah adalah alat untuk berbekam

Menumbuhkan Suasana Ibadah dalam Rumah

(ditulis oeh: Ummu Ishaq Zulfa Husein Al-Atsariyyah)

Bagi seorang muslim ataupun muslimah, menjalani kehidupan rumah tangga adalah bagian dari ibadah kepada Allah I. Karena disadari, hidup berumah tangga merupakan pelaksanaan dari sunnah1 Rasulullah r, di mana beliau mengancam orang yang membenci sunnah ini sebagai orang yang tidak menyepakati jalan yang beliau lalui. Shahabat Nabi yang mulia Anas bin Malik t menuturkan:
Datang tiga orang shahabat ke rumah istri Nabi r guna menanyakan tentang ibadah Nabi r. Ketika dikabarkan bagaimana ibadah beliau, seakan-akan mereka menganggapnya kecil. Mereka berkata: ‘Di mana posisi kita dibanding Nabi r? Sementara Allah telah mengampuni dosa-dosa beliau yang telah lalu dan yang akan datang’. Salah seorang dari mereka berkata: “Adapun aku, aku akan shalat malam semalam suntuk’. Yang satu lagi berkata: “Aku akan puasa sepanjang masa dan tidak pernah berbuka’. Yang lainnya mengatakan: “Aku akan menjauhi wanita maka aku tidak akan menikah selama-lamanya”. Datanglah Rasulullah r dan dikabarkan ucapan mereka itu kepada beliau. Maka beliau pun bersabda: “Apakah kalian yang mengatakan ini dan itu? Demi Allah, aku adalah orang yang paling takut kepada Allah di antara kalian dan paling bertakwa kepada Allah. Akan tetapi aku puasa dan aku juga berbuka, aku shalat dan aku juga tidur, dan aku menikahi para wanita. Siapa yang membenci sunnahku2 maka ia bukan termasuk orang yang berjalan di atas jalanku’.”3
Demikianlah, karena menikah adalah ibadah, hidup berumah tangga adalah ibadah sehingga dalam perjalanan rumah tangganya sehari-hari tak lepas dari nilai ibadah. Ia upaya-kan agar rumah tangganya selalu dipenuhi dengan amalan ketaatan, perbuatan baik dan takwa yang dilakukan seluruh penghuni rumah. Ia memerintahkan mereka, menganjurkan dan mendorong mereka untuk beramal shalih, karena demikianlah yang diperintahkan Rabbnya I:

“Perintahkanlah keluargamu untuk mengerjakan shalat dan bersabarlah atasnya. Kami tidak meminta rizki kepadamu bahkan Kamilah yang memberimu rizki dan balasan yang baik itu bagi orang-orang yang bertakwa.” (Thaha: 132)
Al-’Allamah Asy-Syaikh Abu Abdillah Abdurrahman bin Nashir As-Sa‘di4 t berkata menafsirkan ayat : “Anjurkan keluargamu untuk menegakkan shalat, dorong mereka untuk mengerjakannya baik shalat yang wajib maupun yang sunnah. Perintah untuk melakukan sesuatu mencakup perintah untuk melakukan seluruh perkara yang dibutuhkan guna menyempurnakan sesuatu tersebut. Sehingga perintah shalat dalam ayat ini mencakup perintah untuk mengajari keluarga tentang amalan shalat, apa yang bisa mem-perbaiki shalat, apa yang bisa merusaknya, dan apa yang bisa menyempurnakannya.
Yakni: bersabarlah dalam menegakkan shalat, dengan hukum, rukun, adab-adab, dan khusyuknya. Karena hal itu berat bagi jiwa, akan tetapi sepantasnya jiwa itu dipaksa dan dibuat bersungguh-sungguh untuk mengamalkan shalat. Sabar bersama amalan shalat itu berlangsung terus menerus. Karena bila seorang hamba mengerjakan shalat sesuai dengan apa yang diperintahkan, niscaya amalan agama selain shalat akan lebih terjaga dan lebih lurus. Namun bila ia menyia-nyiakan shalat, niscaya amalan lainnya lebih tersia-siakan.” (Taisir Al-Karimir Rahman, hal. 517)
Allah I memuji salah seorang nabinya yang mulia, Nabi Ismail u, dengan firman-Nya:

“Dan ceritakanlah (wahai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al-Qur`an. Sesungguhnya Ismail adalah seorang yang benar janjinya dan dia adalah seorang rasul dan nabi. Dia menyuruh keluarga-nya untuk mengerjakan shalat dan menunaikan zakat, dan dia adalah seorang yang diridhai di sisi Rabbnya.” (Maryam: 54-55)
Al-Allamah Abu Ats-Tsana` Syihabuddin As-Sayyid Mahmud Al-Alusi Al-Baghdadi5 t berkata: “Allah I berfirman  (Dia menyuruh keluarganya untuk mengerjakan shalat dan menunaikan zakat) dalam rangka menyibukkan diri dengan yang paling penting yaitu seorang lelaki (suami/ kepala rumah tangga) setelah ia menyempurnakan dirinya ia mulai me-nyempurnakan orang yang paling dekat dengannya. Allah I berfirman:

“Berilah peringatan kepada keluarga/ kerabatmu yang terdekat.” (Asy-Syu`ara’: 214)

“Perintahkanlah keluargamu untuk mengerjakan shalat.” (Thaha: 132)

“Jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka.” (At-Tahrim: 6)
Atau ia bertujuan untuk menyempurnakan semua orang dengan terlebih dahulu menyem-purnakan mereka (anggota keluarga-nya/ orang yang terdekat dengannya) karena mereka merupakan qudwah/ contoh teladan yang akan ditiru oleh manusia.” (Ruhul Ma‘ani, 9/143)
Sabda Nabi yang mulia pun turut menjadi pendorongnya untuk menganjurkan keluarga-nya kepada kebajikan. Abu Hurairah t berkata: Rasulullah r bersabda:

“Semoga Allah merahmati seorang lelaki (suami) yang bangun di waktu malam lalu mengerjakan shalat dan ia membangunkan istrinya hingga istrinya pun shalat. Bila istrinya enggan, ia percikkan air ke wajahnya. Dan semoga Allah merahmati seorang wanita (istri) yang bangun di waktu malam lalu mengerjakan shalat dan ia membangunkan suaminya hingga suaminya pun shalat. Bila suaminya enggan, ia percikkan air ke wajahnya.”6
Al-Allamah Al-‘Azhim Abadi t menerangkan hadits di atas dengan menyatakan bahwa Allah merahmati seorang lelaki yang shalat tahajjud pada sebagian malam dan ia membangunkan istrinya ataupun wanita yang merupakan mahramnya, baik dengan peringat-an atau nasehat hingga si istri pun mengerjakan shalat walau hanya satu raka‘at. Bila istrinya enggan untuk bangun karena kantuk yang sangat atau perasaan malas yang lebih dominan, ia memercikkan air ke wajah istrinya. Yang dimaukan di sini adalah ia berlaku lembut kepada istrinya dan berusaha membangun-kannya untuk mengerjakan amalan ketaatan kepada Rabbnya selama memungkinkan, karena Allah I berfirman:

“Tolong menolonglah kalian dalam perbuatan kebaikan dan ketakwaan.”
Hadits ini menunjukkan bolehnya bahkan disenangi memaksa seseorang untuk melakukan amal kebaikan. Sebagaimana hadits ini menerangkan tentang pergaulan yang baik antara suami dengan istrinya, kelembutan yang sempurna, kesesuaian, kecocokan dan kesepakatan di antara keduanya. (Lihat Aunul Ma‘bud, kitab Ash-Shalah, bab Al-Hatstsu ‘ala Qiyamil Lail)
Nabi r juga bersabda:

“Apabila seorang lelaki (suami) memba-ngunkan keluarganya di waktu malam hingga keduanya mengerjakan shalat atau shalat dua rakaat semuanya, maka keduanya dicatat termasuk golongan laki-laki dan perempuan yang berzikir.”7
Dalam riwayat yang dikeluarkan An-Nasa`i disebutkan dengan lafadz:

“Apabila seorang lelaki (suami) bangun di waktu malam dan ia membangunkan istrinya lalu keduanya mengerjakan shalat dua rakaat, maka keduanya dicatat termasuk golongan laki-laki dan perempuan yang banyak mengingat/ berdzikir kepada Allah.”
Yang dimaksud dengan keluarga dalam hadits di atas meliputi istri, anak-anak, kerabat, budak laki-laki maupun perempuan. (Aunul Ma‘bud, kitab Ash-Shalah, bab Al-Hatstsu ‘ala Qiyamil Lail). Dan hadits di atas tidaklah menunjukkan syarat harus suami yang membangunkan istrinya namun yang dimaukan adalah bila salah seorang dari keduanya terbangun di waktu malam maka ia membangunkan yang lain (Syarhu Sunan Ibni Majah, Al-Imam As-Sindi, 1/401)
Sungguh beruntung pasangan suami istri atau keluarga yang mengamalkan hadits di atas karena mereka akan tercatat sebagai orang-orang yang banyak berzikir kepada Allah. Dan ganjarannya, mereka akan beroleh ampunan berikut pahala yang besar, sebagaimana Rabbul ‘Izzah berfirman:

“Kaum laki-laki dan perempuan yang banyak berzikir kepada Allah, Allah menyiapkan bagi mereka ampunan-Nya dan pahala yang besar.” (Al-Ahzab: 35)
Kasih sayang dan kelembutan seorang suami ataupun seorang istri kepada keluarganya semestinya tidak menghalanginya untuk menasehati dan menganjurkan mereka agar senantiasa meningkatkan ibadah kepada Allah I. Sebagaimana hal ini diperbuat qudwah shalihah dan uswah hasanah kita, Rasul yang mulia r kepada keluarganya. Di mana beliau r membangunkan mereka untuk mengerjakan shalat malam. Aisyah x mengabarkan:

“Adalah Nabi r shalat malam sedangkan aku tidur dalam keadaan melintang di atas tempat tidurnya. Bila beliau hendak shalat witir beliau pun membangunkan aku, maka aku pun mengerjakan witir.” 8
Ummu Salamah t, istri beliau yang lain juga berkisah:

“Suatu malam Nabi r terbangun. Beliau bersabda: “Maha suci Allah, fitnah apakah yang diturunkan pada malam ini dan perbendaharaan apakah yang diturunkan pada malam ini? Siapakah yang akan membangunkan para penghuni kamar-kamar itu9. Berapa banyak orang yang berpakaian di dunia ini namun di akhirat ia telanjang10.”
Tidak sebatas istri-istrinya, bahkan Rasulullah r juga membangunkan anak dan menantunya untuk mengerjakan shalat, sebagaimana dikisahkan Ali bin Abi Thalib t:

Suatu malam Rasulullah r pernah mendatanginya dan Fathimah putri Nabi, seraya berkata: “Tidakkah kalian berdua bangun untuk mengerjakan shalat?”11
Ibnu Baththal t berkata: “Hadits ini menunjukkan keutamaan shalat malam (shalat lail/ tahajjud) dan membangunkan keluarga serta kerabat yang tidur agar mengerjakan shalat malam tersebut.” (Fathul Bari, 3/15-16)
Ath-Thabari t menyatakan, seandai-nya Nabi r tidak mengetahui adanya keutamaan yang besar dalam shalat lail niscaya beliau tidak akan mengusik putrinya dan anak pamannya pada waktu yang memang Allah jadikan sebagai saat ketenangan/ istirahat bagi makhluk-Nya. Akan tetapi Nabi n memilih keduanya agar memperoleh keutamaan itu daripada mera-sakan lelapnya dan enaknya tidur. Beliau lakukan hal tersebut dalam rangka menjalankan firman Allah I: (Perintahkanlah keluargamu untuk shalat). (Fathul Bari, 3/16)
Demikianlah seharusnya hidup berumah tangga. Sepasang insan yang beriman kepada Allah dan hari akhir selalu dipenuhi dengan ibadah dan amal ketaatan kepada Allah, ajakan dan anjuran kepada anggota keluarga untuk mengerjakan kebaikan dan melarang dari kemungkaran. Sehingga kita dapatkan keluarga muslim adalah keluarga yang senantiasa berlomba-lomba kepada kebaikan, terdepan dalam menjalankan titah Ar-Rahman:

“Berlomba-lombalah kalian kepada kebaikan.” (Al-Baqarah: 148)

“Bersegeralah kalian kepada ampunan dari Rabb kalian dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Yang demikian itu adalah keutamaan Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki dan Allah memiliki keutamaan yang besar.” (Al-Hadid: 21)
Wallahu ta‘ala a‘lam bish-shawab.

Catatan Kaki:

1 Yang dimaksud dengan sunnah di sini adalah jalan/ cara bukan sunnah yang merupakan lawan dari wajib/ fardlu
2 Membenci sunnahku yakni meninggalkan jalanku dan mengambil selain jalanku (Fathul Bari, 9/133)
3 HR. Al-Bukhari no. 5063, kitab An-Nikah, bab At-Targhib fin Nikah dan Muslim no. 3389, kitab An-Nikah, bab Istihbabun Nikah ….
4 Lahir 12 Muharram 1307 H (1886 M) dan wafat 24 Jumadits Tsaniyah 1376 H (1955 M)
5 Wafat th. 1270 H
6 HR. Abu Dawud no. 1308 kitab Ash-Shalah, bab Al-Hatstsu ‘ala Qiyamil Lail, An-Nasa`i no. 1609 bab At-Targhib fi Qiyamil Lail dan Ibnu Majah no. 1336 bab Ma Ja`a Fiman Ayqazha Ahlahu Minal Laili, dihasankan Asy-Syaikh Muqbil dalam Ash-Shahihul Musnad Mimma Laisa fish Shahihain, 2/303
7 HR. Abu Dawud no. 1309 kitab Ash-Shalah, bab Al-Hatstsu ‘ala Qiyamil Lail, dan Ibnu Majah no. 1335 bab Ma Ja`a Fiman Aiqazha Ahlahu Minal Laili. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Abi Dawud, Shahih Ibni Majah, dan Al-Misykat no. 1238.
8 HR. Al-Bukhari no. 997 kitab Al-Witr, bab Iqazhun Nabiyyi r Ahlahu bil Witr dan Muslim no. 1141, bab I‘tirad baina Yadayil Mushalli
9 Yang beliau maksudkan adalah istri-istri beliau agar mereka bangun guna mengerjakan shalat (Fathul Bari 3/15)
10 HR. Al-Bukhari no. 1126, kitab At-Tahajjud, bab Tahridlin Nabiyyi r ‘ala Qiyamil Laili wan Nawafil min Ghairi Ijab…
11 HR. Al-Bukhari no. 1127 kitab At-Tahajjud, bab Tahridlin Nabiyyi r ‘ala Qiyamil Laili wan Nawafil min Ghairi Ijab… dan Muslim no. 1815, kitab Shalatul Musafirin wa Qashruha, bab Ma Ruwiya Fiman Namal Laila Ajma‘ Hatta Ashbaha.

Fatwa Ulama tentang Karikatur Nabi

HUKUM MEMBOIKOT PRODUK DENMARK
Fatwa Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan
(Anggota Hai`ah Kibarul Ulama Saudi Arabia)

Pertanyaan: Bila kita mengetahui bahwa pemerintah tidak memerintahkan kita untuk memboikot produk Denmark dan tidak melarang, apakah boleh bagi saya pribadi untuk memboikot mereka? Karena saya tahu bahwa mereka akan dirugikan dengan pemboikotan tersebut. Itu dilakukan dalam rangka membela Nabi kita n.

Jawab: Masalah ini ada perinciannya:
Pertama, apabila pemerintah memerintahkan untuk memboikot suatu negara, maka wajib bagi seluruh warga negaranya untuk memboikotnya. Karena ini merupakan maslahat untuk mereka sendiri dan merugikan musuh. Juga dalam rangka taat kepada pemerintah.
Kedua, jika pemerintah tidak menyuruh untuk memboikotnya, maka masing-masing warga negara dipersilahkan memilih. Bila dia mau, silahkan memboikot sendiri. Dan bila tidak, dia bebas untuk tidak melakukannya. Dia dipersilahkan untuk memilih dalam masalah ini.  (Dari Tanya-Jawab setelah Pelajaran “Prinsip-prinsip Menimba Ilmu dan Kaidah-kaidahnya” pada hari Kamis 11 Muharram 1427 H)

 

PEMBELAAN TERHADAP RASUL YANG TERPILIH

(ditulis oleh: Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali)
Media massa, baik surat kabar ataupun yang lainnya, telah menyebarkan berita-berita menyedihkan dan melukai (umat), yang bersumber dari musuh-musuh Islam yang dengki dan terputus dari kebaikan, yang menyudutkan agama dan Nabi Islam.
(Yaitu) perbuatan yang mengandung celaan terhadap Rasulullah n dan menjelek-jelekkan risalahnya, yang muncul dari individu maupun organisasi Nasrani yang menyimpan kedengkian. Juga dari sebagian penulis yang dengki dan orang yang tidak peduli, seperti para karikaturis sebuah surat kabar Denmark, Jylland Posten, di mana para karikaturisnya menghina sebaik-baik manusia dan Rasul paling sempurna, yaitu Muhammad n. Padahal, bumi tidak pernah mengetahui ada seseorang yang lebih cerdas dan lebih mulia daripada beliau dalam hal akhlak, keadilan, dan kasih sayang. Serta tidak pernah diketahui satu risalah pun yang lebih sempurna, lebih menyeluruh, lebih adil, dan lebih kasih sayang daripada risalah beliau. Risalah ini mengandung keimanan terhadap seluruh Nabi dan Rasul, menghor-mati mereka dan menjaga mereka dari tikaman dan penghinaan serta menjaga/ memelihara hakekat sejarah mereka. Dan di antara para rasul tersebut adalah ‘Isa dan Musa e. Maka barangsiapa yang kafir terhadap Muhammad dan menghinanya berarti ia telah kafir terhadap para rasul dan menghina mereka seluruhnya.
Dan sungguh orang-orang rendahan dan buas itu telah mengolok-olok beliau n. Mereka telah membuat beragam karikatur, berjumlah 12 karikatur yang sangat menghina. Salah satunya, menampilkan Nabi Muhammad n dengan mengenakan sorban yang menyerupai bom di atas kepalanya.
Maka kami katakan kepada orang-orang jahat itu dan yang di belakang mereka dari kalangan pendengki baik di Eropa maupun Amerika, yang “telah melemparkan kotorannya lalu ia lari”1:
Nabi Muhammad n, para khalifahnya yang terbimbing, dan para shahabatnya yang mulia tidak pernah membuat pabrik-pabrik senjata, meskipun itu persenjataan kuno sekalipun, baik pedang maupun tombak. Lebih-lebih bom atom dan rudal antarbenua, serta semua jenis senjata pemusnah massal. Nabi Muhammad n tidak membuat satu pabrik pun, karena beliau diutus sebagai rahmat bagi alam semesta dan pemberi petunjuk bagi seluruh manusia kepada agama yang menggembirakan mereka di dunia dan akhirat. Dan agar mereka dapat memberikan hak Pencipta mereka yang telah menciptakan mereka untuk beribadah kepada-Nya. Maka barangsiapa menolak hal itu, berarti dia seorang penjahat yang berhak mendapatkan hukuman di dunia dan di akhirat dari Rabb semesta alam, Pengatur dan Pencipta alam semesta ini.
Adapun kalian wahai orang-orang Barat yang sok mengaku modern, kami nyatakan kepada kalian bahwa sesungguhnya kalian memiliki aturan dan perundang-undangan yang menghancurkan akhlak dan membolehkan berbagai perkara yang haram. Di antaranya zina dan penyimpangan seksual. Di antaranya juga riba, yang menghancurkan ekonomi umat. Juga menghalalkan makan bangkai dan daging babi yang mengakibatkan sifat dayyuts, sehingga seorang lelaki tidak akan merasa cemburu terhadap istrinya, saudara wanitanya, dan anak perempuannya. Kemudian wanita-wanita itu berzina dan mencari pasangan kumpul kebo semaunya. Dan ini adalah sarana-sarana penghancur yang diharamkan oleh semua risalah para rasul.
Adapun bom dan seluruh persenjataan pemusnah serta sarana-sarananya baik berupa pesawat tempur, tank-tank, rudal jelajah, maka sesungguhnya kalianlah para insinyur dan produsennya. Semua itu dengan akal setan kalian, yang tidak berpikir kecuali dalam rangka permusuhan, kedzaliman dan kekerasan, melampaui batas dan menguasai seluruh jenis manusia serta memperbudak mereka, menum-pahkan darah dan merampok kekayaan mereka. Dan tidak berpikir kecuali untuk menghan-curkan orang yang menentang dan mengha-langi kemauan kalian, serta menghalangi sikap permusuhan kalian. Semuanya itu dipoles dengan nama kemajuan, membela hak asasi manusia, kebebasan, dan keadilan.
Dan semua orang yang berakal mengeta-hui adanya hal itu pada diri kalian. Sejarah hitam kalian juga penuh dengan tindakan-tindakan buas dan teror. Itulah sejarah kalian yang telah ditulis oleh musuh maupun teman kalian sendiri. Dan barang-siapa yang tidak mengetahui hal itu, silahkan membaca sejarah penjajahan kalian terhadap bangsa-bangsa, dan mempelajari paling tidaknya sejarah dua perang dunia yang kalian lancarkan serta akibat-akibatnya. Yang di antaranya adalah bahwa jumlah korban yang terbunuh pada Perang Dunia I di Eropa mencapai lebih dari 10 juta jiwa, yang mereka itu adalah generasi muda di negeri mereka. Dan berlipat dari jumlah itu, yang terluka dan harus hidup dalam keadaan cacat sampai akhir hayatnya. Lihat buku At-Tarikhul Mu’ashir Urubba minats Tsaurah Al-Faransiyyah ilal Harbil ‘Alamiyyah Ats-Tsaniyah, hal. 505.
Dan pada Perang Dunia II, jumlah korban terbunuh mencapai 17 juta jiwa dari militer dan 18 juta penduduk sipil. Mereka telah terbunuh dalam kurun waktu 5,5 tahun. Para pengamat mengatakan bahwa dana militer saja yang dikeluarkan telah mencapai 1.100 miliar dolar. Adapun kerugian yang diakibatkan oleh perang tersebut mencapai 2.100 miliar dolar. Ditambah lagi kota-kota yang hancur porak-poranda, tanah-tanah yang terbakar, kebun-kebun yang terendam air, pabrik dan sumber daya alam yang terhenti aktivitasnya. Belum lagi adanya potongan tubuh hewan yang berceceran. (Al-Harbul ‘Alamiyyah Ats-Tsaniyah, karya Ramadhan Land, hal. 448-449)

Bom Atom Hiroshima
Penulis kitab Al-Harbul ‘Alamiyyah Ats-Tsaniyah, pada hal. 446-447 menga-takan: Barangkali saat ini tepat bagi kita mengulas bom atom yang pertama ini. Kami akan menyebutkan apa yang telah disampaikan melalui kesaksian seorang Jepang dalam perbincangannya bersama Marcel Junod, yang mewakili Palang Merah, tentang hakekat ledakan yang dahsyat itu. Ia berkata: “Tiba-tiba muncul sinar berwarna merah muda kehitaman yang kuat sekali di langit, diiringi goncangan yang dahsyat. Kemudian langsung disusul dengan gelombang panas yang mematikan, hembusan angin yang keras, dan meluluh-lantakkan semua yang dilewati. Dan hanya dalam hitungan detik, terbakarlah ribuan manusia yang tengah berjalan atau duduk-duduk di jalanan umum di tengah kota itu. Banyak dari mereka tewas karena udara yang amat panas yang menyebar di setiap tempat. Adapun yang lain yang masih tersisa, mereka menjerit kesakitan, sementara tubuh mereka mengalami luka bakar yang mematikan. Semua yang berdiri di atas lokasi ledakan baik tembok, rumah, pabrik-pabrik dan bangunan-bangunan lain telah hancur sama sekali. Dan serpihan-serpihannya terlempar ke angkasa dengan cara yang mengerikan. Trem listrik terlepas dari rel-rel besinya dan terlempar seolah-olah kehilangan bobot dan keseimbangannya. Kereta-kereta api dengan sendirinya terhempas laiknya kumpulan mainan anak-anak. Kuda, anjing, dan hewan-hewan lain juga mengalami seperti yang dialami manusia. Semua yang hidup kehilangan kehidupannya dengan kondisi yang sangat mengenaskan, yang sulit untuk diungkapkan. Pepohonan pun musnah terbakar, hilang dalam jilatan api dan sirna kehijauannya. Rumput-rumput yang hijau pun terbakar sebagaimana terbakarnya rumput yang kering. Adapun daerah di luar tempat kejadian dalam radius 10 km, rumah-rumahnya roboh dan menjadi tumpukan papan-papan kayu, genteng, dan tiang-tiang batu. Telah han-cur segala sesuatu, ibarat hancurnya rumah-rumah karton. Sementara orang-orang yang selamat, mereka mendapati diri mereka terke-pung api. Sedangkan sedikit orang yang mampu berlindung di tempat tersembunyi, mereka mati setelah 20 atau 30 hari karena sakit yang disebabkan radiasi sinar gamma yang mema-tikan. Dan di sore harinya, api mulai mereda sehingga mati, karena tidak mendapatkan lagi apa yang akan dilalap. Hiroshima telah tiada.”
Inilah sebagian tanda-tanda ‘kemajuan’ kalian, yang kalian nyanyikan, kalian banggakan, dan dengannya kalian lancang terhadap Islam dan Nabi Islam. Dan terus saja kalian menam-bah beragam kedzaliman, perusakan dan men-ciptakan alat-alat pemusnah dan penghancur. Dan itu, demi Allah, adalah puncak kebuasan dan sifat kehewanan. Allah berfirman:

“Atau apakah kamu mengira bahwa keba-nyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).” (Al-Furqan: 44)
Maka jadikanlah bom-bom kalian, di antaranya bom atom Hiroshima dan yang lainnya, sebagai tameng bagi kalian dan para pemimpin kalian. Dan jadikanlah seluruh senjata pemusnah massal itu sebagai taring dan cakar kalian untuk memangsa binatang-binatang dan manusia.

“Dan niscaya orang-orang yang dzalim akan mengetahui ke mana tempat kembali mereka.”  (Asy-Syu’ara`: 227)
Ditulis oleh: Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali (28 Dzulhijjah 1426 H)

Catatan Kaki:

1 Dalam pepatah Indonesia: lempar batu sembunyi tangan.

Kerusakan Akhlakmu Kepada Allah adalah Karena Kerusakan Akidahmu

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah An-Nawawi)

Demikian banyak anjuran yang diserukan oleh Rasulullah n kepada umat ini untuk memiliki akhlak yang baik. Karena memang akhlak yang baik memiliki banyak keutamaan dan pemiliknya pun banyak mendapat pujian. Tidak hanya kepada sesama makhluk, namun yang lebih utama adalah bagaimana manusia diperintah untuk memiliki akhlak yang baik kepada Allah, yaitu dengan tidak berbuat syirik dan menyerahkan ibadah semata hanya kepada-Nya.

Karakter seseorang memberikan ciri khas kehidupan pribadi dan cerminan hidupnya. Bila karakter itu diwadahi oleh aturan-aturan Allah dan Rasul-Nya, niscaya kepribadiannya akan mencerminkan kehi-dupan yang baik. Begitu pula sebaliknya. Maka alangkah indahnya kepribadian sese-orang bila dihiasi dengan karakter dan akhlak yang terpuji dan mulia. Dan betapa harum-nya seseorang bila karakter dan akhlak yang terpuji menjadi selimut hidupnya. Maukah kami tunjukkan suri teladanmu dalam masalah ini dari hamba-hamba Allah I? Dialah Rasulullah n yang telah menda-patkan pujian yang tinggi dari Allah I.

“Dan sesungguhnya kamu berada di atas akhlak yang besar.” (Al-Qalam: 4)

“Maka dengan rahmat Allahlah kamu lemah lembut terhadap mereka dan jika kamu kasar hati, niscaya mereka akan lari dari sisimu.” (Ali ‘Imran: 159)

“Sungguh telah datang kepada kalian seorang rasul dari jenis kalian sendiri merasa kasihan terhadap apa yang memberatkan kalian dan bersemangat (untuk memberikan hidayah) kepada kalian dan kasih sayang kepada orang-orang yang beriman.” (At-Taubah: 128)

“Muhammad adalah seorang rasul Allah, dan orang-orang yang menyertainya keras terhadap orang-orang kafir dan penyayang di kalangan mereka.” (Al-Fath: 29)
Diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim di dalam Shahih beliau (no. 746) dari jalan Hisyam bin ‘Amir, bahwa dia berkata: “Wahai Ummul Mukminin! Beritahukan kepadaku tentang akhlak Rasulullah n?” Dia (‘Aisyah x) berkata: “Bukankah kamu membaca Al-Qur`an?” Aku menjawab: “Iya.” Kemudian dia (‘Aisyah) berkata:

“Akhlak beliau adalah Al-Qur`an.”
Sungguh telah terkumpul pada diri Rasulullah n segala sifat terpuji dan mulia seperti pemalu, dermawan, berani, murah hati, lemah lembut, kasih sayang, bagus pergaulan, jujur di dalam berkata, menjaga diri dari segala perbuatan yang jelek, suci lahiriyah dan batiniyah dan sebagainya dari sifat-sifat yang tinggi. Pantaslah jika Allah I menjadikannya sebagai imam para nabi dan rasul serta imam orang-orang yang bertakwa dan suri teladan di dalam hidup. Hal ini di tegaskan oleh Allah I di dalam firman-Nya:

“Sungguh telah ada bagi kalian pada diri Rasulullah suri teladan yang baik.” (Al-Ahzab: 21)
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di t di dalam Tafsir-nya menjelaskan: “Ulama ushul berdalil dengan ayat ini tentang bolehnya berhujjah dengan perbu-atan-perbuatan Rasulullah n. Karena, pada asalnya beliau adalah suri teladan di dalam semua hukum kecuali bila ada dalil yang menunjukkan kekhususan bagi beliau. Suri teladan itu ada dua macam yaitu teladan yang baik dan teladan yang jelek. Teladan yang baik adalah teladan pada diri Rasulullah n. Maka orang yang menela-dani beliau adalah orang yang menempuh jalan yang akan menyampaikan kepa-da kemulian yang ada di sisi Allah I, itulah Ash-Shirathal Mustaqim (jalan yang lurus). Adapun meneladani selain Rasulullah n dalam hal yang menyelisihi beliau, maka teladan tersebut adalah teladan yang jelek. Seperti ucapan kaum musyrikin ketika para nabi mengajak mereka untuk meneladani para nabi tersebut seraya mereka berkata: “Kami menjumpai bapak-bapak kami di atas satu agama dan kami hanya mengikuti mereka.”
Menjadikan suri teladan yang baik (menjadikan contoh) akan dilakukan oleh seseorang yang diberikan taufiq untuk mengikutinya, yaitu dari kalangan orang-orang yang berharap kepada Allah I dan hari akhir. Karena iman, rasa takut, berharap pahala dari Allah I dan takut akan ancaman-Nya yang ada pada dirinya, akan mendorong dia untuk meneladani Rasulullah n.” (lihat Tafsir As-Sa’di hal.608)

Akhlak yang Terpuji Melahirkan Kebaikan, Akhlak yang Jelek Melahirkan Kejelekan
Tidak ada keraguan lagi bagi orang yang beriman bahwa setiap anjuran dan perintah dari Allah I dan Rasul-Nya memiliki hikmah dan nilai besar di belakangnya. Bagi orang yang telah melaksanakan anjuran dan perintah tersebut tidak akan memungkiri hal itu sedikitpun. Begitu pula sebaliknya, seti-ap orang yang tidak melaksanakannya akan mendapatkan ancaman dan mala-petaka.
Allah I dan Rasul-Nya meng-anjurkan dan meme-rintahkan agar kita berakhlak dengan akhlak yang mulia dan terpuji, baik terkait akhlak kita kepada Allah I dan Rasul-Nya atau ter-kait dengan sesama manusia. Allah I dan Rasul-Nya juga telah menjelaskan keutamaan dan balasan bagi orang yang berakhlak dengan akhlak yang baik lagi terpuji, dan sebaliknya ancaman bagi orang yang berakhlak buruk.
Allah I berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kalian kepada Allah dan ucapkanlah ucapan yang baik. Niscaya Allah akan memperbaiki amalan-amalan kalian dan akan mengampuni dosa-dosa kalian.” (Al-Ahzab: 70-71)

“Ucapan yang baik dan suka memberi maaf adalah lebih baik dari shadaqah yang dibarengi dengan menyakiti.” (Al-Baqarah: 263)

“Sesungguhnya orang-orang yang merendahkan suaranya di hadapan Rasululah merekalah orang-orang yang diuji hati-hati mereka dengan ketakwaan dan bagi mereka pengampunan dan pahala yang besar.” (Al-Hujurat: 3)
Rasulullah n bersabda:

“Orang-orang yang beriman yang paling sempurna keimanannya adalah yang paling bagus akhlaknya dan sebaik-baik kalian adalah orang yang paling bagus kepada istri-istrinya.”1

“Tidak ada dari sesuatu yang paling berat timbangan daripada akhlak yang baik.”2

“Sesungguhnya seorang mukmin dengan akhlaknya yang baik akan mencapai derajat orang yang berpuasa dan shalat.”3

“Kebaikan itu adalah akhlak yang baik.”4
Diriwayatkan oleh Al-Imam At-Tirmidzi dengan sanad yang hasan dari Ibnul Mubarak bahwa beliau telah mensifati akhlak yang baik itu dengan mengatakan: “Bermuka manis, suka menolong dan mencegah segala bentuk gangguan.”
Rasulullah n bersabda: “Sesungguh-nya orang yang paling aku cintai dari kalian dan yang paling dekat tempatnya dariku pada hari kiamat adalah orang yang paling bagus akhlaknya. Dan orang yang paling aku benci pada hari kiamat dan yang paling jauh tempatnya dariku adalah ats-tsartsarun (orang yang banyak bicara) dan al-mutasyaddiqun (ngelantur bila berbicara dengan orang lain) dan mutafaiqihun.” Mereka bertanya: “Wahai Rasulullah n kami mengetahui siapa yang dimaksud dengan ats-tsartsar dan al-mutsyaddiqun, lalu siapa yang dimaksud dengan mutafaiqihun?” Beliau menjawab: “Orang-orang yang sombong.”5
Rasulullah n bersabda:

“Sesungguhnya bila orang diberikan sifat kelemah lembutan dia telah diberikan segala kebaikan dunia dan akhirat. Menyam-bung silaturrahmi, berakhlak yang baik dan baik terhadap tetangga akan memakmurkan rumah-rumah dan memanjangkan umur.”6

Rasulullah n bukanlah orang yang suka berbuat kotor dan berkata keji dan beliau berkata: “ Sesungguhnya orang yang paling baik dari kalian adalah orang yang paling bagus akhlaknya.”7

“Orang yang paling baik dari kalian di dalam Islam adalah yang paling bagus akhlak nya.”8

Rasulullah n ditanya: “Ya Rasulullah n pemberian apakah yang paling baik kepada setiap orang?” Rasulullah n menjawab: “Akhlak yang baik.”9
Allah I mengutuk iblis dan mengeluar-kannya dari surga akibat akhlaknya yang jelek di hadapan Allah I yaitu ujub, hasad dan sombong.

“Allah berfirman: ‘Hai iblis, apa yang menyebabkan kamu tidak mau sujud bersama mereka yang sujud?’ Iblis berkata: ‘Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang dibentuk.’ Allah berfir-man: ‘Keluarlah dari surga karena sesungguh-nya kamu terkutuk dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai hari kiamat.’” (Al-Hijr: 32-35)
Di dalam Surat Al-Mursalat, Allah I mengulangi firman-Nya di bawah ini sebanyak 10 kali:

“Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.”

“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta benda dan apa yang ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan begitu pula istrinya, pembawa kayu bakar yang di lehernya ada tali dari sabut.”

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi dan jangan kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya suara sebahagian kamu kepada sebahagian yang lain supaya tidak terhapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari.” (Al-Hujurat: 2)
Rasulullah n bersabda:

“Barangsiapa yang membawa pedang-nya atas kami (memerangi kami) maka dia bukan termasuk dari kami dan Barangsiapa yang menipu kami maka dia bukan dari kami.”10

“Mencela saudara semuslim adalah kefasikan dan membunuhnya adalah kekafiran.”11
Masih banyak dalil-dalil lain yang menjelaskan tentang permasalahan di atas. Dan semoga dengan sebagian dalil ini bisa mewakili yang lain untuk kemudian berusaha memperbaiki diri-diri kita sehingga menjadi orang yang berakhlak yang mulia dan terpuji.

Kerusakan Akhlak yang Paling Besar
Kerusakan moral dan akhlak secara umum akan berakibat fatal bagi kehidupan manusia secara menyeluruh dan akan mempengaruhi terhadap kemajuan dan perkembangan hidup mereka. Bukankah kehancuran sebuah negara sangat erat hubungannya dengan kerusakan moral dan akhlak anak bangsa itu sendiri? Namun dengan rahmat-Nya, Allah I masih menjaga stabilitas hidup mereka secara menyeluruh. Allah I berfirman:

“Seandainya Allah tidak menolak keganasan sebahagian manusia dengan sebaha-gian yang lain pasti bumi ini akan rusak. Tetapi Allah memiliki karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam ini.” (Al-Baqarah: 251)
Jika yang meng-uasai kehidupan orang-orang kafir, para pelaku maksiat dan para pelaku kejahatan dan kerusakan niscaya akan hancurlah dunia ini. Namun ter-masuk rahmat dan kelembutan Allah I terhadap orang-orang yang beriman, Allah I memelihara agama me-reka dan dengan segala apa yang telah disyariatkan dan ditakdirkan-Nya. (lihat Tafsir As-Sa’di hal.90)
Tahukah anda kerusakan akhlak yang paling besar?
Ketahuilah kerusakan akhlak yang paling besar adalah kerusakan akhlak kepada Allah I, dan kerusakan akhlak yang paling besar ini terjadi karena akibat kerusakan aqidah dan tauhid. Tersebarnya segala bentuk peribadatan yang diarahkan kepada selain Allah I seperti takut, cinta, tawakkal, meminta tolong, meminta perlindungan, bernadzar, menyembelih, mencari barakah, mengagungkan pohon-pohon, tempat-tempat keramat, kuburan-kuburan, dan jin-jin merupakan fenomena kerusakan akhlak kepada Allah I. Segala bentuk pengingkaran kepada Allah I seperti kufur nikmat, meninggalkan perintah-perintah dan melaksanakan larang-larangan-Nya, su’udzan kepada Allah I, lari dari rahmat-Nya, merasa aman dari balasan tipu daya-Nya dan tidak memiliki rasa malu kepada-Nya termasuk dari sekian dari bentuk fenomena kerusakan akhlak kepada Allah I. Dan segala macam bentuk kejahatan berjudi, berzina, minum khamar, mencuri, merampok, membunuh, dan lain sebagainya termasuk dari sekian bentuk fenomena kerusakan akhlak kepada Allah I.

Kesyirikan adalah Akhlak Terjahat kepada Allah I
Telah disepa-kati oleh segenap kaum muslimin bahwa kesyirikan itu adalah haram di dalam agama dan termasuk dari dosa yang paling besar. Diyakini pula bahwa dalam perbuatan syirik terdapat unsur penyerupaan Allah I dengan makhluk, kedzaliman yang paling besar terhadap Allah I, penghinaan dan cercaan kepada-Nya dengan mensifatinya dengan penuh kekurangan padahal Allah I adalah Dzat yang Maha Sempurna.
Sungguh sangat mengherankan ketika muncul penghinaan dan pelecehan serta tuduhan-tuduhan yang keji dari kaum muslimin terhadap ilmu aqidah dan tauhid, berikut kepada orang-orang yang membawa dakwah tersebut. Muncul kata-kata aliran sesat, madzhab kelima, ajaran wahabi, pemecah belah, dan sebagainya yang diarahkan kepada dakwah tauhid. Kenapa hal itu terjadi? Siapakah di balik kaum muslimin dalam penentangan mereka tersebut?
Itulah iblis dan bala tentaranya dari jin dan manusia yang menjadikan kaum muslimin yang jahil tentang agamanya dan rincian-rincian tauhid serta syirik menjadi bulan-bulanan. Kemudian dijadikan sebagai tentara untuk menghadang setiap seruan menuju perbaikan aqidah dan tauhid. Demikianlah akhlak yang paling besar bila rusak akan merusak cerminan amaliyah Islamiyah baik secara individu atau masyarakat.
Tentang akhlak yang paling jahat ini, Allah I telah menjelaskan dalam banyak tempat di dalam Al-Qur‘an:

“Sesungguhnya kesyirikan itu adalah kedzaliman yang paling besar.” (Luqman: 13)

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa disekutukannya Dia.” (An-Nisa`: 48)

“Barangsiapa yang menyekutukan Allah maka sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang jauh.” (An-Nisa`: 116)

“Barangsiapa yang melakukan kesyirikan maka sungguh dia telah mengada-ada dosa yang besar.” (An-Nisa`:48)

“Barangsiapa yang menyekutukan Allah maka Allah akan mengharamkan surga baginya dan tempat kembalinya neraka dan tidak ada seorangpun penolong bagi orang-orang yang dzalim.” (Al-Ma`idah: 72)

“Jika kamu (wahai Nabi) melakukan kesyirikan niscaya amalmu akan benar-benar terhapus.” (Az-Zumar: 65)

“Jika mereka (para nabi) melakukan kesyirikan niscaya terhapuslah amalan-amalan yang mereka telah lakukan.” (Al-An’am: 88)
Rasulullah n bersabda:

“Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang dosa yang paling besar?” Kami menjawab: “Ya wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Menyekutukan Allah dan durhaka kepada kedua orang tua…”12

“Jauhilah oleh kalian tujuh perkara yang akan menghancurkan.” Mereka berkata: “Wahai Rasulullah, apakah tujuh perkara tersebut?” Beliau berkata: “Syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah kecuali dengan hak, makan riba, makan harta anak yatim, berpaling ketika perang, dan menuduh wanita-wanita yang mukmin bersih dan lalai (dengan tuduhan zina).”13
Wallahu a’lam.

Catatan Kaki:

1 HR. Al-Imam Abu Dawud no. 4682, At-Tirmidzi no. 1162 dan dia berkata: “Hadits hasan shahih.” Dikeluarkan juga oleh Al-Imam Ahmad di dalam Musnad beliau 2/250-472 dari shahabat Abu Hurairah. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 1230.
2 HR. Al-Imam Ahmad 6/446, Abu Dawud no. 2799, At-Tirmidzi no. 2004 dan ‘Abd bin Humaidi di dalam kitab Al-Muntakhab no.204, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahihul Jami’.
3 HR. Al-Imam At-Tirmidzi, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wat Tarhib no. 2643.
4 HR. Al-Imam Muslim no. 2535 dari shahabat An-Nawwas bin Sam’an
5 HR. Al-Imam At-Tirmidzi no. 2018 dari shahabat Jabir bin Abdillah, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wat Tarhib no. 2662.
6 HR. Al-Imam Ahmad 6/159 dari shahabat ‘Aisyah, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wat Tarhib
7 HR. Al-Imam Bukhari no. 6035 dan Al-Imam Muslim no. 2321 dari shahabat Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash.
8 HR. Al-Imam Ahmad 2/481 dan Al-Imam Bukhari dalam Al-Adab no. 285 dari shahabat Abu Hurairah.
9 HR. Al-Imam Ahmad 3/278, Ibnu Majah 3436 dan Al-Imam Bukhari di dalam Al-Adab no. 291 dari shahabat Usamah bin Syarik.
10 HR. Al-Imam Muslim no. 146 dari shahabat Abu Hurairah.
11 HR. Al-Imam Bukhari no. 46, 6539, dan 5584 dan Muslim no.97, dari shahabat Abdullah bin Mas’ud.
12 Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari no. 2511 dan Al-Muslim no. 87 dari shahabat Abu Bakrah.
13 Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari no. 2615 dan Al-Imam Muslim no. 89 dari shahabat Abu Hurairah.

Siapakah Khadhir?

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits)

Sosok Khadhir1 masih menjadi bahan perdebatan hingga kini. Utamanya berkaitan dengan jati dirinya, statusnya sebagai nabi atau wali, apakah masih hidup atau sudah wafat, dst. Namun di balik kontroversi itu, kalangan Shufi justru menjadikan kisahnya sebagai dalil untuk menyuburkan pemahaman menyimpangnya. Masalah tersebut akan dibahas setelah lanjutan pelajaran dari kisah Khadhir dan Nabi Musa u berikut ini.

25. Seorang hamba yang shalih, diri dan hartanya akan dipelihara Allah I. Bahkan anak cucunya serta yang bersangkut paut dengannya. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam ayat:

“Sedangkan ayah mereka berdua adalah orang yang shalih.” (Al-Kahfi: 82)
26. Berkhidmat membantu orang sha-lih dan berbuat demi kemaslahatan mereka adalah perbuatan yang paling utama terha-dap mereka daripada terhadap yang selain mereka. Dalam ayat ini, Allah menyebutkan alasan Khadhir melakukan hal itu (memper-baiki dinding rumah), yaitu karena ayah kedua anak itu adalah seorang yang shalih.
27. Tetap memperhatikan adab sopan santun terhadap Allah, meskipun dalam masalah lafadz ucapan. Khadhir menisbah-kan cacat kapal itu kepada dirinya, sebagai-mana Allah I ceritakan perkataan beliau:

“Dan aku ingin merusak kapal ini.” (Al-Kahfi: 79)
Dan beliau menisbahkan kebaikan kepada Allah dengan pernyataan beliau sebagaimana disebutkan Allah dalam firman-Nya:

“Maka Rabbmu menghendaki agar mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu sebagai rahmat dari Rabbmu.” (Al-Kahfi: 82)
Juga yang diucapkan oleh Nabi Ibrahim, seperti yang diceritakan Allah I dalam ayat:

“Dan apabila aku sakit, maka Dialah yang menyembuhkanku.” (Asy-Syu’ara`: 80)
Dan perkataan jin, sebagaimana Allah sebut dalam ayat:

“Dan sesungguhnya kami tidak tahu apakah keburukan yang dikehendaki bagi yang ada di bumi ataukah Rabb mereka meng-hendaki kebaikan bagi mereka.” (Al-Jin: 10)
Padahal semuanya terjadi dengan qadha dan qadar Allah I.
27. Sepantasnya seseorang tidak meninggalkan sahabatnya dalam keadaan apapun, apalagi memutuskan hubungan persahabatan tersebut. Bahkan hendaknya dia menyempurnakan hubungan tersebut sehingga tidak ada lagi tempat yang tersisa bagi sebuah kesabaran.
Kesesuaian seseorang dengan sahabat-nya dalam permasalahan yang tidak terlarang adalah faktor pendorong dan sebab kokoh serta kekalnya persahabatan. Sebaliknya, apabila tidak terdapat hal yang demikian, akan menjadi pemicu putusnya kasih sayang dua orang yang bersahabat. Wallahu a’lam. (Diambil dari Taisir Al-Lathifil Mannan)

Siapakah Khadhir?
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani Asy-Syafi’i t, penulis Fathul Bari Syarh Shahih Al-Bukhari mengatakan, “Seba-gian orang-orang bodoh beranggapan bahwa Khadhir lebih afdhal (utama) dari Nabiyullah Musa u dengan berpedoman kepada kisah ini (kisah Khadhir bersama Nabiyullah Musa, pent.). Pernyataan ini hanya muncul karena dangkalnya pema-haman mereka terhadap kisah ini. Mereka tidak memperhatikan lebih lanjut keistime-waan yang diberikan Allah I kepada Nabi-yullah Musa u seperti risalah (kerasulan), mendengar Kalamullah, diberi Taurat yang berisi berbagai ilmu, dan bahwa seluruh nabi di kalangan Bani Israil berada di bawah syariat beliau.
Jikalau kita anggap Khadhir sebagai nabi, maka nubuwwah (kenabian) Musa u tetap lebih mulia darinya. Dan kalau kita anggap beliau bukan nabi (hanya sebagai wali), jelas bahwa kedudukan nabi lebih mulia daripada wali. Permasalahan ini (kedudukan nabi lebih mulia dari wali) adalah masalah yang pasti, baik secara akal maupun naql (dalil), sehingga siapa yang menyelisihinya adalah kafir.”2
Dan dalam rubrik ini, akan kami papar-kan secara ringkas keterangan beberapa ulama, baik dari kalangan ahli tafsir, ahli hadits maupun ahli fiqih serta yang lainnya tentang sebagian hakekat keadaan beliau. Wallahul muwaffiq.

Nasabnya
Para ulama berbeda pendapat tentang nasab beliau. Ada yang mengatakan beliau adalah putera kandung Nabi Adam u. Pendapat ini diriwayatkan Ad-Daraquthni dalam Al-Afrad, melalui jalan Rawwad bin Al-Jarrah dari Muqatil bin Sulaiman dari Adh-Dhahhak dari Ibnu ‘Abbas c. Rawwad sendiri lemah, sedangkan Muqatil matruk (ditinggalkan riwayatnya), dan Adh-Dhahhak tidak mendengar dari Ibnu ‘Abbas c.
Pendapat kedua mengatakan bahwa beliau adalah putera Qabil bin Adam. Demikian disebutkan Abu Hatim As-Sijistani dalam Al-Mu’ammarin.
Dan masih ada sejumlah pendapat lagi yang dipaparkan Ibnu Hajar dalam Al-Ishabah (2/286), kemudian beliau mengata-kan bahwa sanadnya mu’dhal.3
Bahkan ada pula yang mengatakan bahwa beliau adalah putera kandung Fir’aun, demikian menurut An-Naqqasy. Ada yang berpendapat beliaulah Ilyasa’, demikian menurut Muqatil. Dan kata Ibnu Hajar, ini sangat jauh kemungkinannya… Wallahu a’lam tentang hakekatnya.4
Namun demikian nama Khadhir sendiri ini shahih, sebagaimana dalam Ash-Shahihain (Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim) dari hadits Abu Hurairah z:

“Dari Nabi n, beliau bersabda:’Bahwa beliau dinamai Khadhir, karena dia pernah duduk di atas sejenis rumput putih.5 Lalu tiba-tiba rumput itu bergerak dari belakang-nya menjadi hijau’.”
Al-Imam An-Nawawi mengatakan bahwa kunyah-nya adalah Abul ‘Abbas dan ini disepakati keshahihannya. (Al-Ishabah 2/287)

Khadhir, Nabi atau Bukan?
Para ulama juga berbeda pendapat tentang kedudukan beliau, apakah status-nya sebagai Rasul, Nabi, ataukah hamba Allah biasa (wali).
Abu Hayyan dalam Tafsir-nya menya-takan bahwa jumhur ulama berpendapat bahwa beliau adalah Nabi, sedangkan ilmunya adalah ma’rifat tentang hal-hal batiniah. Sedangkan Nabiyullah Musa, ilmunya berkaitan dengan hal-hal lahiriah.
Sejumlah ahli tasawwuf mengang-gapnya wali. Bahkan sebagian mereka berpendapat bahwa wali itu lebih afdhal (utama) dari nabi.
Para ulama yang berpendapat bahwa beliau adalah seorang nabi mempertimbang-kan beberapa hal, antara lain:
Pertama, firman Allah I:

“Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.” (Al-Kahfi: 65)
Ibnu Katsir t dalam tafsirnya (3/114) mengatakan, hamba di sini ada-lah Khadhir u, sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits shahih dari Rasulullah n.
Asy-Syaikh Asy-Syinqithi dalam Adhwa`ul Bayan (4/121) menukilkan adanya ijma’ tentang masalah ini. Beliau juga mengatakan, rahmat dan ilmu laduni yang dianugerahkan Allah I kepada beliau, belum jelas apakah rahmat dan ilmu nubuwwah (kenabian), atau rahmat dan ilmu walayah (kewalian). Namun dipahami dari sebagian ayat ini bahwa rahmat yang disebutkan di sini adalah rahmat nubuwwah. Sedangkan ilmu laduni yang dimaksud ada-lah ilmu wahyu. Meskipun harus dipahami pula bahwa masalah ini menjadi perdebatan panjang di kalangan ulama.
Perlu diketahui bahwa rahmat disebut-kan di dalam Al-Qur`an berulang-ulang secara mutlak tentang nubuwwah. Demikian pula ilmu yang diberikan Allah, berulang-ulang disebutkan secara mutlak (tanpa batasan tertentu, red) dan yang dimaksud adalah ilmu wahyu. Misalnya, firman Allah I:

“Dan mereka berkata: ‘Mengapa Al-Qur`an ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Mekah dan Tha`if) ini?’ Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Rabbmu?” (Az-Zukhruf: 31-32)
Artinya, apakah mereka yang membagi-bagi rahmat (nubuwwah) Rabbmu sehingga mereka harus bertahkim (berhukum) kepada seorang besar dari salah satu dua negeri?
Juga, surat Ad-Dukhan (ayat 4-6):

“Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah Yang mengutus rasul-rasul, sebagai rahmat dari Rabbmu.”
Ini adalah sebagian ayat yang menye-butkan secara mutlak kata rahmat yang maknanya adalah nubuwwah. Adapun tentang ilmu, yang disebutkan secara mutlak (tanpa batasan tertentu, red) dan yang dimaksud adalah nubuwwah, antara lain firman Allah I:

“Dan (juga karena) Allah telah menu-runkan Kitab dan hikmah kepadamu, dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Dan adalah karunia Allah sangat besar atasmu.” (An-Nisa`: 113)
Dan firman Allah I:

“Dan sesungguhnya dia mempunyai pengetahuan, karena Kami telah mengajar-kan kepadanya.” (Yusuf: 68)
Serta ayat-ayat lainnya.
Perlu diketahui, rahmat dan pemberian ilmu laduni itu melalui jalan yang lebih umum daripada melalui jalan nubuwwah dan lainnya. Sedangkan berdalil dengan sesuatu yang lebih umum (dalam hal ini ilmu laduni) terhadap masalah yang lebih khusus (dalam hal ini kenabian), maka sesungguh-nya yang lebih umum itu tidak mengha-ruskan keberadaan yang lebih khusus. Tapi dalil paling jelas bahwa rahmat dan ilmu laduni yang dianugerahkan Allah kepada Khadhir adalah melalui jalan nubuwwah dan wahyu, adalah firman Allah I yang menceritakan perkataan Khadhir: (dan tidaklah aku melaku-kannya menurut kemauanku sendiri).6 Keterangannya, lihat paragraf sebelumnya.
Kedua, perkataan Nabiyullah Musa u kepada Khadhir sebagaimana dalam firman Allah I:

“Musa berkata kepada Khadhir: ‘Boleh-kah aku mengikutimu supaya kamu meng-ajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?’ Dia menjawab: ‘Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?’ Musa berkata: ‘Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai seorang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan-pun’. Dia berkata: ‘Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu’.” (Al-Kahfi: 66-70)
Ibnu Katsir t mengatakan (Qasha-shul Anbiya` hal. 357): “Seandainya beliau (Khadhir) bukan nabi dan hanya seorang wali, tidaklah mungkin Nabi Musa berdialog dengan beliau begitu hormat dengan kalimat seperti ini. Dan tentunya, tidak mungkin beliau membantah. Bahkan Nabiyullah Musa hanya mengharapkan dapat menemaninya untuk memperoleh ilmu yang dikhususkan Allah pada Khadhir yang tidak dimilikinya. Seandainya beliau (Khadhir) bukan nabi, tentu dia tidak ma’shum, dan tidak pantas Nabi Musa –padahal beliau Nabi dan Rasul yang mulia serta ma’shum, bahkan termasuk Ulul ‘Azmi– mempunyai keinginan dan harapan besar menuntut ilmu seorang wali yang tidak ma’shum. Sehingga ketika beliau bertekad mencari Khadhir meskipun berjalan berta-hun-tahun, dan setelah bertemu dengan Khadhir beliau memuliakan dan menghor-matinya serta mengikutinya untuk mencari faedah dari Khadhir, maka hal ini menun-jukkan bahwa Khadhir adalah nabi yang menerima wahyu sebagaimana Nabi Musa u. Hal yang seperti ini juga disebutkan Ar-Rumani tentang nubuwwah Khadhir u.
Ketiga, Khadhir berani membunuh anak tersebut. Dan itu tidak lain karena wahyu yang diberikan kepadanya dari Al-Malik Al-‘Allaam (Allah I). Dan ini merupakan dalil tersendiri tentang kenabian beliau serta bukti nyata kema’shuman beliau. Karena seorang wali tidak boleh lancang membunuh satu jiwa hanya semata-mata menuruti apa yang terbetik dalam sanubarinya. Karena alam pikirannya tidak mempunyai sifat wajib ma’shum. Juga, karena seorang wali bisa saja salah atau keliru, menurut kesepakatan ulama.
Keempat, ketika Khadhir menerang-kan ta`wil semua tindakan yang dilakukan-nya, beliau mengatakan (sebagaimana firman Allah I):

“Sebagai rahmat dari Rabbmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri.” (Al-Kahfi: 82)
Artinya, aku tidak melakukan hal itu atas dorongan atau kehendak diriku sendiri. Bahkan semua itu telah diperintahkan dan diwahyukan kepadaku.
Dengan demikian, semua tinjauan ini menerangkan kenabian beliau, dan tidak menafikan kedudukannya sebagai wali ataupun kerasulannya.
Dan jika hal ini telah pasti, maka orang yang berpendapat bahwa beliau seorang wali semata dan bahwasanya seorang wali kadang dapat mengetahui hakekat suatu permasalahan yang tidak diketahui pemba-wa syariat yang dzahir (Nabi dan Rasul, pen.), tidaklah memiliki sandaran dan pegangan yang kokoh sama sekali.
Dan perintah Allah U hanya terwujud melalui jalan wahyu, dan tidak mungkin perintah dan larangan Allah dapat dikenal kecuali melalui wahyu dari Allah U. Apalagi membunuh satu jiwa yang bersih menurut lahiriahnya dan merusak perahu orang lain. Sebab, melakukan pelanggaran terhadap jiwa dan harta manusia tidak dibenarkan kecuali dengan jalan wahyu dari Allah I.
Kalau ada yang berpendapat bahwa hal itu mungkin saja melalui ilham, ini dapat dibantah. Bantahannya, bahwasanya ilham yang ada pada wali tidak boleh dijadikan dalil, karena tidak melekatnya sifat ma’shum pada diri mereka. Juga tidak ada dalil yang membolehkan berhujjah dengannya. Apa-lagi orang yang tidak ma’shum tidak dapat dipercaya begitu saja jalan pikirannya, karena tidak aman dari bisikan setan. Selanjutnya, siapa saja yang mengaku-aku dia tidak membutuhkan seorang Rasul untuk mencapai apa yang diridhai Allah serta tidak butuh kepada apa yang dibawa Rasul tersebut meskipun hanya satu masalah, maka tidak diragukan lagi bahwa dia adalah zindiq (menampakkan keislaman tapi menyembunyikan kekafiran, pen.). Dalil-dalil tentang hal ini sangat banyak, antara lain:

“Dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul.”7
Dan firman Allah I:

“(Mereka kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutus-nya rasul-rasul itu.” (An Nisa`: 165)
Dan firman Allah I:

“Dan sekiranya Kami binasakan mereka dengan suatu azab sebelum Al-Qur`an itu (diturunkan), tentulah mereka berkata: “Ya Rabb kami, mengapa tidak Engkau utus seorang rasul kepada kami, sehingga kami mengikuti ayat-ayat Engkau.” (Thaha: 134)
Jadi, pengakuan mereka yang meng-anggap dirinya Shufi (pengikut tasawwuf atau tarekat, pen.) bahwa mereka dan para syaikh mereka mempunyai jalan batin sendiri sesuai dengan al-haq yang ada di sisi Allah meski-pun bertentangan dengan syariat secara lahir, seperti perbuatan Khadhir yang bertentangan dengan lahiriah ilmu yang ada pada Nabi Musa, adalah pengakuan zindiq. Bahkan merupakan pintu menuju lepasnya dari ajaran Islam secara total, dengan anggapan bahwa al-haq yang batin berten-tangan dengan al-haq yang lahiriah.
Pernyataan mereka yang demikian (mempunyai jalan sendiri menuju Allah tanpa perlu mengikuti Rasulullah n) adalah batil. Tidak ada hujjah bagi mereka dalam kisah Nabiyullah Musa u dan Khadhir. Hal ini dapat ditinjau dari dua sisi:
1. Nabiyullah Musa u tidak diutus kepada Khadhir, dan Khadhir tidak wajib mengikuti Nabiyullah Musa u. Nabiyullah Musa u diutus hanya kepada Bani Israil, oleh sebab itu disebutkan dalam hadits yang shahih:

“Bahwasanya Musa (u) ketika meng-ucapkan salam kepada Khadhir, dia berkata: ‘Bagaimana ada ucapan salam di negeri yang kamu pijak ini?’8 Beliau berkata: ‘Aku Musa.’ Kata Khadhir: ‘Musa Bani Israil?’ Kata beliau: ‘Ya.’ Kata Khadhir: ‘Sesungguhnya engkau di atas ilmu Allah yang Allah ajarkan kepadamu, yang aku tidak mengetahuinya. Dan aku di atas ilmu Allah yang Dia ajarkan kepadaku, yang tidak engkau ketahui’.” (Shahih, HR. Al-Bukhari Kitab Al-‘Ilm (122) dan Muslim Al-Fadha`il (170/2380), juga At-Tirmidzi, At-Tafsir no. 3149 dari Ibni ‘Abbas c)
Karena itu pula Nabi kita Muhammad n bersabda:

“Aku diberi lima perkara yang tidak diberikan kepada seorangpun sebelumku. (Yaitu), aku ditolong dengan rasa takut sejauh perjalanan satu bulan, dijadikan bumi (tanah) untukku sebagai masjid dan alat untuk bersuci (tayammum, pen.) dan dihalalkan untukku ghanimah (rampasan perang, pen.) yang tidak dihalalkan untuk siapapun sebelumku. Aku diberi syafaat. Dan para Nabi diutus hanya kepada kaumnya saja, sedangkan aku diutus untuk seluruh manusia.” (Shahih, HR. Al-Bukhari At-Tayammum, no. 335, dan Muslim Al-Masajid, 3/521, serta Ahmad, 3/304)
Jadi, Muhammad n adalah Rasulul-lah (utusan Allah) kepada tsaqalain (manusia dan jin, pen.), baik yang Arab maupun ‘ajam (non Arab), para raja maupun orang-orang zuhud, wali maupun bukan wali. Sehingga tidak ada hak bagi siapapun untuk keluar dari mutaba’ah (mengikuti) beliau, lahir dan batin. Bahkan tidak ada hak bagi mereka untuk tidak mengikuti apa yang dibawa beliau berupa Al-Qur`an dan As Sunnah, kecil atau besar, berupa ilmu maupun amalan. Oleh karena itu, tidak ada satupun yang berhak untuk mengatakan bahwa dia seperti Khadhir dengan Nabi-yullah Musa u. Karena Nabiyullah Musa u tidak diutus kepada Khadhir.
Mungkin kita ingat pula kisah Nabi-yullah Musa u ketika dia membawa kaum-nya menyeberangi lautan sampai di satu negeri yang penduduknya menyembah berhala, seperti Allah ceritakan I:

“Dan Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu, maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala mereka, Bani Israil berkata: ‘Hai Musa, buatlah untuk kami sebuah sesembahan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa sesembahan’. Musa menjawab: ‘Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Allah)’. Sesungguhnya mereka itu akan dihancurkan kepercayaan yang dianutnya dan akan batal apa yang selalu mereka kerjakan.” (Al-A’raf: 138-139)
Para mufassir tidak menyebutkan tentang ayat ini bahwa Nabiyullah Musa u berdakwah kepada kaum tersebut dan mencegah kesyirikan mereka. Demikian pula riwayat yang shahih dari Nabi kita Muham-mad n tentang hal ini. Dan tentunya, perkara syirik ini jauh lebih utama untuk beliau cegah, karena jelas-jelas bertentangan dengan syariat yang beliau bawa bahkan bertentangan dengan seluruh syariat para Nabi dan Rasul. Wallahu a’lam.
2. Di dalam kisah Khadhir (lihat edisi-edisi sebelumnya, pen.) tersebut tidak ada sesuatu yang menyelisihi syariat. Bahkan beberapa hal yang dilakukan oleh Khadhir justru dibolehkan syariat jika memang seseorang mengetahui sebab-sebabnya sebagaimana diketahui Khadhir. Karena itulah ketika dia menerangkan sebab-sebab-nya kepada Nabiyullah Musa u, beliau menyetujuinya. Jika hal itu menyelisihi syariat, tentulah beliau sama sekali tidak akan menyetujuinya.
Merusak kapal demi kemaslahatan pemiliknya, karena takut (dirampas) oleh raja yang dzalim, merupakan perbuatan ihsan (kebaikan) bagi pemiliknya, dan ini boleh. Membunuh orang jahat, meskipun masih kecil juga boleh. Demikian pula anak yang upaya pengkafirannya terhadap kedua orang tua tidak mungkin tercegah kecuali dengan membunuhnya, maka membunuh-nya juga boleh. (lihat Ibrah edisi lalu tentang Nabiyullah Musa dan Khadhir, pen.). Ibnu ‘Abbas c berkata kepada Najdah Al-Haruri ketika dia bertanya tentang membu-nuh anak-anak: “Kalau engkau mengetahui tentang keadaan mereka seperti apa yang diketahui Khadhir tentang anak itu, maka bunuhlah mereka. Kalau tidak, maka jangan membunuh mereka.” (HR. Muslim, Al-Jihad wa Siyar no. 137, 1812, Abu Dawud no. 2727, An-Nasa`i, As-Siyar no. 1556, kata beliau: hasan shahih, Ahmad, 1/224, 308)
Kemudian, berbuat baik kepada anak yatim tanpa meminta imbalan ganti rugi dan bersabar menghadapi rasa lapar, merupakan amalan shalih. Maka sebetulnya apa yang dilakukan Khadhir tidaklah bertentangan dengan syariat Nabi Musa u. (Majmu’ Fatawa, 2/233-235 dan 11/264)
Perlu kami tambahkan pula di antara dalil yang menguatkan pendapat ini ialah apa yang diucapkan oleh ahli Shufi yang terkenal dengan kebaikan, dien dan kesha-lihan, yaitu Abul Qasim Al-Junaid bin Muhammad bin Al-Junaid Al-Khazzaz Al-Qawariri t: “Madzhab kami ini terikat dengan Al-Kitab (Al-Qur`an) dan As-Sunnah.” Ucapan ini dinukil tidak hanya oleh satu orang ulama yang menukil riwayat hidup beliau, seperti Ibnu Katsir, Ibnu Khalkan dan yang lainnya. Jelas bahwa perkataan beliau inilah yang haq. Tidak ada perintah dan larangan kecuali melalui lisan para Rasul r.9
Sementara Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah t mengatakan (Al-Fatawa (4/339,397) bahwa kebanyakan ulama berpendapat beliau bukan nabi, dan ini yang dipilih Abu ‘Ali bin Abi Musa. Wallahu a’lam.

Masih Hidupkah Khadhir?
Perlu diketahui bahwa para ulama berbeda pendapat mengenai Khadhir; apakah dia masih hidup saat ini, ataukah tidak. Bahkan, apakah dia termasuk orang-orang zaman dahulu yang sudah lama wafat? Sebagian besar ulama menganggap beliau masih hidup, bahkan minum dari mata air yang bernama Al-Hayah. Di antara mereka yang mendukung pendapat ini ialah Al-Qurthubi dalam Tafsir-nya, An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim, Ibnu Shalah dan An-Naqqasy serta lain-lainnya. Bahkan An-Naqqasy secara panjang lebar menguraikan hal ini, demikian kata Ibnu ‘Athiyyah. Beliau menukil sejumlah riwayat dari ‘Ali bin Abi Thalib z, namun semua-nya tidak dapat dijadikan hujjah. (Lihat Tafsir Al-Qurthubi, dari Adhwa`ul Bayan 4/125)
Sedangkan hikayat beberapa orang shalih bersama Khadhir sangat banyak jumlahnya. Mereka mengaku-aku bahwa Khadhir pergi haji, juga dia dan (Nabi) Ilyas setiap tahun, kemudian meriwayatkan dari beliau berdua berbagai pengakuan yang semuanya sudah dikenal. Adapun sandaran mereka sangat lemah sekali. Karena pada umumnya hikayat tersebut dari sebagian orang yang dianggap orang shalih. Juga mimpi-mimpi, hadits-hadits marfu’ (yang disandarkan kepada Nabi n) dari Anas z dan yang lainnya, semuanya lemah dan tidak dapat dijadikan hujjah.
Dasar pendapat mereka yang paling kuat ialah atsar (berita) tentang ta’ziyah (Khadhir) ketika Nabi n wafat. Ini disebut-kan Ibnu ‘Abdil Barr dalam At-Tamhid dari ‘Ali bin Abi Thalib z. Kata beliau: “Ketika Nabi n wafat dan diselimuti dengan sehelai kain, ada yang berbisik dari sudut rumah. Mereka dengar suaranya tapi tidak melihat sosoknya, dia berkata: “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Assalamu’alai-kum ahlul bait (Setiap jiwa tentu merasakan mati). Sesungguhnya tentang (urusan) Allah ini ada penerus dari mereka yang binasa, ada ganti dari yang rusak, hiburan dari setiap musibah. Kepada Allah mereka sangat percaya dan hanya kepada-Nya mereka berharap. Maka orang yang mendapat musibah adalah orang yang terhalang dari pahala. Dan mereka berpen-dapat itu adalah Khadhir.10
Asy-Syaikh Asy-Syinqithi dalam Adhwa`ul Bayan (4/126-135) mengatakan bahwa berdalil tentang masalah masih hidupnya Khadhir melalui atsar ta’ziyah ini, tertolak dari beberapa sisi, yaitu:
Pertama, riwayat ini tidak shahih dari segi sanad. Ibnu Katsir t menyebutkan dalam tafsirnya: “Al-Imam Nawawi dan yang lainnya menceritakan tentang masih adanya Khadhir hingga kini, bahkan sampai hari kiamat. Ibnu Shalah juga condong kepada pendapat ini. Mereka menyebutkan beberapa kisah dari sejumlah salaf dan selain mereka, bahkan dipaparkan dalam bebera-pa hadits yang tidak ada satupun yang shahih. Adapun yang paling masyhur ialah kisah ta’ziyah ini, dan sanadnya lemah.
Kedua, seandainya dianggap hadits ta’ziyah ini shahih, belum tentu yang datang ta’ziyah itu adalah Khadhir, baik secara rasio, syar’i maupun ‘urf (kebiasaan, pen.), karena boleh jadi yang datang bukan Khadhir tetapi jin mukmin. Karena mereka sebagaimana dikatakan Allah I:

“Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka.”(Al-A’raf: 27)
Sedangkan pernyataan bahwa yang datang berta’ziyah adalah Khadhir merupa-kan keputusan yang tidak berdasar (dalil). Adapun ucapan mereka: “Dan mereka berpendapat itu adalah Khadhir,” bukanlah hujjah (argumen) yang dapat dijadikan rujukan, karena mungkin saja dugaan mereka itu salah. Bahkan pernyataan itu tidak pula menunjukkan ijma’ syar’i yang ma’shum. Mereka sama sekali tidak memiliki pegangan dalam pernyataan mereka bahwa itu adalah Khadhir.
Beberapa bukti (dalil) yang menunjuk-kan bahwa Khadhir sesungguhnya sudah wafat antara lain ialah:
Pertama, dzahir dan keumuman firman Allah I:

“Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad), maka jika kamu mati, apakah mereka akan kekal?” (Al-Anbiya`: 34)
Firman Allah I (bagi seorang manusia) datang dalam bentuk nakirah (ditandai dengan tanwin, baris dua, pen.)11 sehingga menunjukkan umum meliputi selu-ruh manusia. Hal ini mengandung konse-kuensi tidak kekalnya seorang manusiapun yang ada sebelum beliau (Rasulullah n).
Kedua, dalam doa Rasulullah n ketika perang Badr:

“Ya Allah kalau Engkau hancurkan pasukan muslimin ini, niscaya Engkau tidak akan disembah lagi di muka bumi.”12
Kalimat  (niscaya Engkau tidak akan disembah lagi di muka bumi) merupakan fi’l (kata kerja) dalam susunan kalimat nafi (meniadakan) yang maknanya tidak akan ada lagi peribadatan kepada Engkau di muka bumi ini.13
Perlu diketahui bahwa penafian ini meliputi pula keberadaan Khadhir sebagai yang masih hidup di muka bumi. Artinya, kalau beliau masih hidup di bumi ini, maka Allah masih diibadahi meskipun pasukan kaum muslimin hancur binasa.
Ketiga, berita dari Rasulullah n:

“Apakah kalian melihat malam kalian ini? Sesungguhnya pada setiap seratus tahunnya, tidak ada seorangpun dari yang ada di bumi ini yang masih tersisa.”
Juga sabda beliau n:

“Kabarkan kepadaku tentang malam kalian ini!14 Sesungguhnya pada akhir setiap seratus tahunnya, tidak ada yang hidup hari ini yang masih tersisa di muka bumi seorangpun.”
Para shahabat keliru dalam memahami sabda Rasulullah n, sehingga mendorong mereka membicarakan hadits ini, tentang seratus tahun itu. Bahwasanya Nabi n hanya mengatakan: ‘Tidak ada yang tersisa, dari yang hidup hari ini di muka bumi.’ Maksud beliau adalah bahwa kurun itu habis (berlalu).
Juga hadits Jabir bin Abdillah z:

“Saya mendengar Nabi n bersabda sebulan sebelum beliau wafat: ‘Kalian bertanya kepadaku tentang kiamat, bahwa-sanya ilmu tentang kiamat itu di sisi Allah. Dan saya bersumpah demi Allah, tidak ada di muka bumi ini satu jiwa (yang hidup waktu itu, ed) yang hidup sampai mencapai seratus tahun’.” (HR. Muslim dalam Fadha`il Ash-Shahabah)
Hadits ini shahih, diriwayatkan pula dari Ibnu ‘Umar dan Abu Sa’id c, yang menegaskan bahwa tidak ada yang masih hidup di muka bumi ini setelah seratus tahun. Ucapan beliau (satu jiwa yang hidup) datang dalam bentuk nakirah pada susunan kalimat nafi, sehingga bersifat umum dan tentunya meliputi pula Khadhir.
Keempat, seandainya Khadhir masih hidup sampai pada zaman Nabi n, tentulah dia menjadi pengikut beliau. Bahkan akan membela dan berperang bersama beliau. Apalagi Rasulullah n diutus kepada seluruh manusia dan jin. Dan Allah I telah mene-gaskan dalam firman-Nya:

“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: ‘Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolong-nya’. Allah berfirman: ‘Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terha-dap yang demikian itu?’ Mereka menjawab: ‘Kami mengakui’. Allah berfirman: ‘Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu’. Barangsiapa yang berpaling sesudah itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (Ali ‘Imran: 81-82)
Seandainya yang dimaksud adalah umum, yakni semua nabi secara keseluruh-an, maka Nabi kita Muhammad n adalah yang pertama dituju dengan ayat yang mulia ini. Sehingga jika Khadhir masih hidup sampai pada masa Nabi n, maka dia tentu menemui beliau, membela dan di bawah bendera beliau n. Dan Ibnu ‘Abbas c menerangkan bahwa yang dimaksud dalam ayat ini adalah Nabi kita Muhammad n, sehingga permasalahannya sudah jelas.
Bahkan ditegaskan lagi dengan sabda Nabi n:

“Demi Allah Yang jiwaku di tangan-Nya, seandainya Musa masih hidup, tidaklah pantas baginya kecuali mengikutiku.” (HR. Ahmad, Ibnu Abi Syaibah, dan Al-Bazzar dari Jabir z)
Ibnu ‘Abbas c mengatakan ketika menerangkan ayat surat Ali ‘Imran ini: “Tidaklah Allah mengutus seorang Nabipun melainkan Dia telah mengambil perjanjian yang sangat kokoh: Seandainya Muhammad n diutus, dan dia masih hidup, dia harus beriman dan menolongnya; serta memerin-tahkan pula mengambil perjanjian dari umatnya jika mereka masih hidup: agar beriman dan membela Muhammad n, jika beliau sudah diutus.” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, juga Tafsir Ath-Thabari, dinukil dari Adhwa`ul Bayan, 4/129)
Dengan demikian, Khadhir baik sebagai wali ataupun nabi termasuk dalam perjanjian ini.
Asy-Syaikh Asy-Syinqithi setelah menguraikan bahwa ada beberapa ulama membantah dalil umum tentang wafatnya Khadhir ini, beliau menerangkan pula bantahan beliau dan terakhir merajihkan (menguatkan pendapat) bahwa Khadhir telah wafat.
Ibnu Katsir t juga me-rajih-kan (menguatkan) bahwa Khadhir tercakup dalam dalil umum ini, terutama ketika menerangkan surat Al-Anbiya`ayat 34. Kata beliau: “Adapun Khadhir kalau dia betul manusia, maka dia masuk dalam keumuman ayat ini, mau tidak mau. Tidak boleh di-takhshish (dikecualikan) kecuali dengan dalil lain yang shahih. Sedangkan pada asalnya, (takhshish itu) dianggap tidak ada sampai ditemukan dalil yang shahih. Dan tidak disebutkan dalam masalah ini adanya satu dalil shahih yang wajib diterima yang mengecualikannya dari Rasulullah n yang ma’shum.” (Qashashul Anbiya` hal. 359)
Wallahu a’lam.

Catatan Kaki:

1 Disebutkan dalam Al-Mughni fi Dhabthi Asma`ir Rijal karya Muhammad bin Thahir Al-Hindi (hal. 93): Khadhir: bisa diucapkan dengan memfathahkan huruf kha atau mengkasrahkannya, dan mensukun huruf dhadh (yakni Khadhr atau Khadhir, ed) atau memfathahkannya (yakni Khadhar atau Khidhar, ed) atau mengkasrahkannya (Khadhir atau Khidhir, ed)
2 Dinukil secara ringkas dari Fathul Bari (1/221).
3 Terputusnya dua rawi yang berurutan dalam satu sanad hadits, wallahu a’lam.
4 Dinukil dari Adhwa`ul Bayan, Asy-Syinqithi (4/136).
5 Ada yang mengatakan tempat yang kering tidak ada tumbuhan di atasnya (Adhwa`ul Bayan 4/136).
6 Adhwa`ul Bayan (4/122).
7 Al-Qur`an surat Al-Isra` ayat 15.
8 Khadhir mengatakan hal itu karena dia belum mengenal Musa u.  Sementara, ucapan salam di negeri itu tidak dikenal, mungkin karena ucapan tahiyat (penghormatan) mereka bukan ucapan salam, atau karena negeri itu negeri kafir. Wallahu a’lam. (lihat Fathul Bari, 1/290, ed)
9 Diringkas dari Adhwa`ul Bayan Asy-Syaikh Asy-Syinqithi t, 4/123.
10 Menurut pentahqiq Tafsir Al-Qurthubi (11/44) cet. Darul Kitab Al-Arabi, riwayat ini palsu. Wallahu a’lam, pen.
11 Pada konteks nafi (peniadaan). (ed)
12 HR. Muslim dalam Kitabul Jihad wa Siyar (no 58).
13 Alasannya, ditinjau dari sisi bahasa: ”Karena fi’l menggantikan mashdar dan waktu menurut ahli nahwu. Juga menggantikan mashdar dan nisbah serta waktu, menurut sejumlah besar ahli balaghah. Adapun mashdar, tersimpan dalam pengertian balik kalimat ini menurut ijma’ lalu didominasi oleh nafi kemudian ditakwilkan kepada bentuk nakirah dalam susunan kalimat nafi, yang menunjukkan keumuman.” (Adhwa`ul Bayan, 4/165, cet. ‘Alamul Kutub, Beirut.)
14 Konteks  seperti dalam hadits ini, atau  seperti dalam firman Allah  (Al-Isra`: 62), maknanya adalah  atau  (kabarkanlah kepadaku). (ed)

Mandi Janabah (1)

Mandi janabah tentu bukan hal yang asing bagi orang yang sudah dewasa (baligh). Namun bagaimana mengamalkan mandi janabah seperti yang dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tentu masih sedikit yang tahu. Amat disayangkan bila amalan yang termasuk sering dilakukan ini ternyata dilakukan secara asal-asalan, tanpa dilandasi ilmu yang benar. Berikut ini penjelasan bagaimana tata cara mandi janabah seperti yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Tata Cara Mandi Janabah

Ada dua tata cara dalam mandi janabah.

Pertama: Tata cara minimal yang hanya meliputi perkara yang wajib saja

Kedua: Tata cara sempurna yang mencakup kewajiban dan sunnah-sunnah mandi.1

Yang mencukupi untuk dilakukan dalam mandi janabah adalah membasuh seluruh anggota badan, menyampaikan air ke kulit dan rambut. Dan ini merupakan perkara wajib dalam mandi janabah2. Demikian kesepakatan yang ada.3 Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullah berkata: “Mandi tidaklah sempurna kecuali dengan meratakan air ke seluruh tubuh.” (As-Sailul Jarrar, 1/287)

Adapun mandi janabah seperti tata cara yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hukumnya sunnah4 dan “Sepantasnya seseorang yang mandi melakukan mandinya menurut tata cara yang dinukilkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dengan bentuk yang diriwayatkan dari beliau dalam hadits-hadits yang shahih tsabit dalam Ash-Shahihain dan selain keduanya. Yang di dalamnya terkandung pendahuluan anggota wudhu, kemudian menuangkan air ke atas kepala, lalu mencuci bagian kanan kemudian yang kiri. Yang demikian ini adalah sunnah yang shahih.” (As-Sailul Jarrar, 1/292-293)

Ada beberapa hadits yang menyebutkan tata cara mandi janabah yang pernah dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, antara lain hadits yang disampaikan oleh dua istri beliau ‘Aisyah dan Maimunah radhiallahu ‘anhuma yang diriwayatkan dalam Ash-Shahihain. Ulama bersepakat, tata cara mandi yang disebutkan dalam hadits keduanya ini merupakan tata cara yang paling sempurna.5

Aisyah radhiallahu ‘anha berkata:

“Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bila hendak mandi janabah, beliau mulai dengan mencuci kedua tangannya, kemudian berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat, lalu beliau memasukkan jari-jemarinya ke dalam air dan menyela-nyela pangkal rambutnya dengan jari-jemari yang telah dibasahi air tersebut. Setelahnya beliau menuangkan air ke kepala beliau sebanyak tiga tuangan dengan kedua tangan beliau (menciduknya), kemudian barulah menuangkan air ke seluruh tubuh beliau.”6

Dalam riwayat yang dikeluarkan Al-Imam Muslim,7 disebutkan dengan lafadz:

“Beliau mulai dengan mencuci kedua tangannya –dalam satu riwayat: sebelum memasukkannya ke dalam bejana (tempat air untuk mandi) –kemudian dengan tangan kanannya beliau menuangkan air ke tangan kirinya, lalu mencuci kemaluannya, kemudian berwudhu seperti wudhu beliau untuk mengerjakan shalat.”

Dalam hadits Maimunah radhiallahu ‘anha disebutkan:

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan air untuk mandi janabah. Beliau menuangkan air dengan tangan kanannya ke atas tangan kirinya dua atau tiga kali. Kemudian mencuci kemaluannya. Setelahnya beliau menggosokkan tangannya ke bumi/tanah –atau dinding/tembok– dua atau tiga kali. Lalu beliau madhmadhah (berkumur-kumur) dan istinsyaq (memasukkan air ke hidung lalu istinsyar yakni mengeluarkannya kembali–pent.) Beliau mencuci wajahnya dan dua lengannya. Kemudian menuangkan air ke atas kepalanya. Lalu membasuh tubuhnya. Setelahnya beliau menyingkir/berpindah dari tempatnya, lalu mencuci kedua kakinya. Maimunah berkata: Aku pun memberikan kain/handuk kepada beliau (untuk mengusap/mengelap tubuh beliau) namun beliau tidak menginginkannya. Maka mulailah beliau mengibaskan air dengan tangannya.”8

Dari berita yang disampaikan kedua Ummul Mukminin di atas, dapat kita simpulkan bahwa tata cara mandi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam perinciannya adalah sebagai berikut:

  1.  Mencuci kedua tangan sebelum dimasukkan/dicelupkan ke dalam bejana/tempat air.
  2.  Menuangkan air dengan tangan kanan ke tangan kiri, lalu digunakan untuk mencuci kemaluan. Ini dilakukan sebanyak dua atau tiga kali.
  3.  Tangan kiri yang digunakan untuk mencuci kemaluan digosokkan/ diusapkan ke bumi/tanah atau ke tembok sebanyak dua atau tiga kali. Dan pengusapan ini dilakukan dengan sungguh-sungguh sebagaimana ditunjukkan dalam hadits:

“Kemudian beliau mengusap tanah dengan tangan kirinya lalu menggosoknya dengan gosokan yang sungguh-sungguh….”9

  1.  Berwudhu sebagaimana wudhu untuk mengerjakan shalat, yang berarti melakukan madhmadhah (berkumur-kumur), istinsyaq (memasukkan air ke hidung) dan istintsar (mengeluarkan air dari hidung), mencuci wajah, dua lengan, mengusap kepala dan telinga.
  2.  Kemudian beliau memasukkan jari-jemarinya ke dalam air lalu menyela-nyela pangkal rambutnya. Faidah penyela-nyelaan ini adalah menyampaikan air ke rambut dan kulit kepala.10 Hal ini dilakukan sampai dipastikan kulit kepala terkena air. Setelah itu beliau menuangkan air ke kepala sebanyak tiga kali sebagaimana disebutkan dalam hadits:

“Kemudian beliau menyela-nyela rambutnya dengan tangannya hingga ketika beliau memastikan telah membasahi kulit kepalanya, beliau pun menuangkan air ke kepalanya tiga kali.”11

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata:

“Adapun aku, aku menuangkan air ke kepalaku tiga kali.” Dan beliau mengisyaratkan dengan kedua tangannya.12

Ketika membasuh kepala dimulai dari belahan rambut bagian kanan kemudian bagian kiri13 sebagaimana ditunjukkan dalam hadits:

“Rasulullah mengambil air dengan telapak tangannya lalu mulai menuang-kannya ke belahan kepalanya yang kanan kemudian yang kiri.”14

  1.  Membasuh seluruh tubuh
  2.  Mengakhirkan mencuci kaki, sebagaimana ditunjukkan dalam hadits Maimunah radhiallahu ‘anha:

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu seperti wudhu untuk mengerjakan shalat hanya saja beliau tidak mencuci kakinya. Dan (sebelumnya) beliau telah mencuci kemaluannya dan kotoran yang mengenainya. Kemudian beliau menuangkan air ke atas tubuhnya, setelahnya beliau memindahkan kedua kakinya (berpindah dari tempat semula), lalu mencuci keduanya.”15

Ulama berbeda pendapat tentang hukum mengakhirkan mencuci kaki dalam    mandi janabah ini. Jumhur ulama berpandangan mustahab hukumnya. Al-Imam Malik rahimahullah berpendapat bila tempatnya tidak bersih maka mustahab mengakhirkannya, bila bersih (tidak kotor) maka didahulukan (ketika wudhu dalam mandi janabah).

Al-Imam Ahmad rahimahullah memiliki beberapa pendapat dalam masalah ini.

Dalam  satu riwayat beliau mengatakan: “Lebih menyenangkan bagiku untuk mencuci     kedua kaki setelah mandi dengan dalil hadits Maimunah radhiallahu ‘anha.” Dalam riwayat lain beliau menyatakan: “Yang diamalkan adalah hadits ‘Aisyah16 yang di dalamnya menunjukkan bahwa sebelum mandi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu seperti wudhunya untuk mengerjakan shalat.”

Pada tempat lain Al-Imam Ahmad mengatakan: “Mencuci kedua kaki pada tempatnya, setelah mandi dan sebelum mandi sama saja.” (Al-Mughni, kitab Ath-Thaharah, pasal Al-Ghusli minal Janabah)

Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah berkata mengomentari hadits Maimunah: “Hadits ini merupakan nash yang menunjukkan bolehnya mengakhirkan pencucian kedua kaki dalam mandi janabah, berbeda dengan hadits ‘Aisyah. Dalam perkara ini bisa saja Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan keduanya, sehingga terkadang beliau mencuci kedua kakinya setelah mencuci anggota wudhu yang lain (mengawalkan) dan terkadang beliau mengakhirkan mencuci keduanya ketika telah selesai mandi, wallahua’lam.” (Al-Irwa’, 1/362)

Wallahu ta’ala ‘alamu bishshawab, dan pendapat ini yang penulis kuatkan.
Adapun hikmah diakhirkannya mencuci kedua kaki, Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullah berkata: “Hikmah diakhirkannya mencuci kedua kaki agar dalam mandi janabah itu diawali dan diakhiri dengan membasuh anggota wudhu.” (Fathul Bari, 1/470)

  1. Tidak berwudhu lagi setelah mandi. ‘Aisyah radhiallahu ‘anha mengabarkan:

“Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mandi dan setelahnya shalat dua rakaat (qabliyyah subuh) dan shalat shubuh dan aku tidak melihat beliau memperbaharui wudhu setelah mandi.”17

Dalam riwayat At-Tirmidzi disebutkan oleh ‘Aisyah radhiallahu ‘anha:

“Adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau tidak lagi berwudhu setelah mandi”.18

Al-’Allamah Al-’Azhim Abadi rahimahullah berkata dalam syarahnya terhadap Sunan Abi Dawud: “Tidak diragukan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan wudhu saat mandinya. Berwudhu sebelum menyempurnakan mandi (janabah) merupakan sunnah yang tsabitah (shahih) dari beliau. Adapun berwudhu setelah selesai mandi, perbuatan demikian tidak dikenal dan tidaklah shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (‘Aunul Ma’bud, kitab Ath-Thaharah, bab Fil Wudhu Ba’dal Ghusl)

Al-Imam Al-Hafizh Ibnul Qaththan rahimahullah berkata: “Ahlul ilmi sepakat sunnahnya wudhu sebelum mandi dalam rangka mencontoh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun setelah mandi maka tidaklah disunnahkan” (Al-Iqna’ fi Masa`ilil Ijma’, 1/99-100). Demikian pula disebutkan dalam Adz-Dzakhirah lil Al-Imam Al-Qarafi (1/310).

Dengan demikian bila seseorang hendak mengerjakan shalat setelah mandi janabah maka wudhu yang dilakukan saat mandi janabah mencukupinya selama wudhu tersebut belum batal, sehingga ia tidak perlu mengulangi wudhu nya setelah mandi.

  1. Mengeringkan air dari tubuh dengan mengeringkan/mengibaskan air dengan tangannya. Dari Ucapan Maimunah radhiallahu ‘anha tentang perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika selesai mandi:

(Mulailah beliau melakukan begini terhadap air yang menempel di tubuhnya) yakni  (mengibaskannya)19 ada dalil tidak terlarangnya mengibaskan atau menepiskan air dengan tangan dari anggota tubuh setelah wudhu dan mandi. (Subulus Salam, 1/141).

Adapun menyekanya dengan menggunakan kain, handuk atau yang selainnya maka kita dapati ulama berselisih pendapat dalam hal ini. Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata: “Para shahabat dan orang-orang selain mereka berbeda pendapat tentang tansyif (menyeka tubuh dengan kain/handuk setelah mandi) menjadi tiga madzhab/pendapat:

Pertama: Tidak mengapa melakukannya setelah berwudhu dan mandi, demikian pendapat Anas bin Malik dan Ats-Tsauri.

Kedua: Makruh untuk dilakukan setelah wudhu dan mandi, sebagaimana pendapat Ibnu ‘Umar dan Ibnu Abi Laila.

Ketiga: Dimakruhkan dalam wudhu namun tidak makruh bila dilakukan setelah mandi, demikian pandangan Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma. (Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, 3/222)

Dalam hal ini kami, penulis, lebih memilih pendapat yang pertama karena tidak adanya dalil yang melarang dalam masalah ini. Adapun penolakan beliau bukan berarti larangan, namun beliau lebih menyenangi mengibaskannya dengan tangan beliau atau karena perkara yang lainnya. Sehingga apabila mengibaskan dengan tangan dibolehkan (mubah) berarti tansyif semisalnya juga dibolehkan, karena mengibaskan dengan tangan dan menyeka dengan handuk sama-sama bertujuan menghilangkan air yang menempel di tubuh, wallahu a’lam.

Al-Imam Ibnu Daqiqil ‘Ied menyatakan seandainya tansyif itu makruh niscaya dimakruhkan pula menepiskan air dengan tangan karena akan menghilangkan air dari anggota tubuh. Adapun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menolak kain/ handuk yang ditawarkan bukan karena beliau memakruhkan tansyif namun karena perkara lain, bisa jadi karena keadaan kain/handuk yang ditawarkan atau selainnya. (Ihkamul Ahkam, kitab Ath-Thaharah, bab Al-Janabah, hadits ke-30)

Demikian tata cara mandi janabah yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari awal sampai akhir yang mustahab/sunnah yang dapat kami kumpulkan untuk dilakukan oleh seseorang yang hendak mandi janabah.

(Insya Allah bersambung)

Ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim Al-Atsari

Catatan Kaki:

1 Al-Mughni, kitab Ath-Thaharah, Pasal Al-Ghusli minal Janabah, Ar-Raudhul Murbi’ 1/61, Asy-Syarhul Mumti’ 1/ 230.

2 Al-Hawil Kabir 1/220, Al-Majmu’ 2/212, Al-Iqna’ fi Masa`ilil Ijma’ 1/99, At-Ta’liqat Ar-Radhiyyah ‘ala Ar-Raudhatun Nadiyyah 1/189, As-Sailul Jarar 1/292, Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Muyassarah fi Fiqhil Kitab
was Sunnah Al-Muthahharah, 1/198

3 Al-Iqna’ fi Masa`ilil Ijma’, 1/99

4 Al-Hawil Kabir 1/227, Al-Majmu’ 2/213, Al- Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Muyassarah, 1/199

5 Bidayatul Mujtahid, hal. 41

6 HR. Al-Bukhari no. 248 dan Muslim no. 716

7 No. 716, 719

8 HR. Al-Bukhari no. 274 dan Muslim no. 720

9 HR. Muslim no. 720

10 Fathul Bari, 1/469

11 HR. Al-Bukhari no. 272dan Muslim no. 716

12 HR. Al-Bukhari no. 254 dan Muslim no. 738

13 Ini menunjukkan disenanginya mendahulukan anggota tubuh yang kanan dalam mandi janabah. (At-Ta’liqat Ar-Radhiyyah ‘ala Ar-Raudhatun Nadiyyah, 1/192)

14 HR. Al-Bukhari no. 258 dan Muslim no. 723

15 HR. Al-Bukhari no. 249 dan Muslim no. 720

16Hadits ‘Aisyah menunjukkan ketika berwudhu dalam mandi janabah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya secara sempurna dengan mencuci kedua kaki beliau sehingga pencucian kaki ini dilakukan di awal mandi bukan pada akhirnya, wallahu a’lam.
17 HR. Abu Dawud no. 250, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud

18 HR. At-Tirmidzi no. 107, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi

19 HR. Muslim no. 722

 

Bila Akidah dan Tauhid dianggap Kulit Agama

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah An-Nawawi)

Perhatian umat untuk memperbaiki kondisi kaum muslimin yang terbelakang dan senantiasa banyak menelan kekalahan sebenarnya cukup tinggi. Lihatlah, demikian banyak  tokoh atau kelompok yang berupaya melakukan perbaikan dengan berbagai cara dan trik. Namun sayang, sampai sekarang kondisi umat masih begini-begini saja, malah terlihat makin terpuruk. Apa penyebabnya?

Tahukah anda apa yang dimaksud dengan kata-kata kulit? Dan siapakah yang memunculkan statemen ini?
Kulit dalam pandangan mereka adalah sesuatu yang enteng, remeh, kecil tidak berguna, dan akan dibuang. Padahal secara rasio, kulit itu sangat menentukan isi dan bila kulit itu rusak maka isinya pun akan ikut rusak. Bahkan terkadang kulit lebih besar manfaatnya dari isinya.
Anda bisa membayangkan bila aqidah dan tauhid sebagai sesuatu yang prinsipil di dalam agama hanya dianggap sebagai kulit oleh mereka. Yang memunculkan statemen ini adalah ahli bid’ah dari kalangan hizbiyyun.
Ketahuilah bahwa kerusakan moral di dalam beragama sesungguhnya merupakan imbas kerusakan aqidah dan tauhid. Kerusakan peribadahan setiap orang kepada Allah I merupakan akibat dari kerusakan aqidah dan tauhid. Kerusakan bermuamalah dengan sesama merupakan percikan dari kerusakan aqidah dan tauhid. Kerusakan dalam keluarga, masyarakat, berbangsa dan bernegara merupakan implementasi dari kerusakan aqidah dan tauhid. Kerusakan aqidah dan tauhid merupakan muara dan poros dari segala kerusakan di muka bumi ini. Allah I telah menjelaskan di dalam firman-Nya:

“Telah nampak kerusakan di daratan dan di lautan akibat perbuatan tangan-tangan manusia, dan Allah akan merasakan kepada mereka akibat perbuatan mereka agar mereka mau kembali.” (Ar-Rum: 41)
Di dalam banyak ayat, Allah I telah menvonis suatu kaum atau individu sebagai orang-orang yang melakukan kerusakan di muka bumi dan menjelaskan bentuk-bentuk kerusakan mereka.
1.    Allah I telah menvonis orang-orang munafik dengan kekufurannya sebagai perusak di muka bumi, setelah mereka mencoba cuci tangan dari berbuat keru-sakan.

“Dan bila dikatakan kepada mereka janganlah kalian melakukan kerusakan di muka bumi! Mereka menjawab: “Bahkan sesungguhnya kamilah yang melakukan perbaikan. (Allah mengatakan) ketahuilah sesungguhnya merekalah yang melakukan kerusakan namun mereka tidak merasa.” (Al-Baqarah: 11-12)
2.    Allah telah menvonis orang-orang yang ingkar kepada Allah dan kepada para rasul sebagai perusak di muka bumi.

“Orang-orang yang merusak janji Allah setelah diikrarkan dengan teguh dan memutuskan apa-apa yang Allah telah perintahkan untuk dihubungkan dan meng-adakan kerusakan di muka bumi, orang-orang itulah yang telah memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (Jahannam).” (Ar-Ra’du: 25)
3.    Allah I menvonis kaum Nabi Shalih yang menentang seruannya sebagai perusak di muka bumi.

“Yang membuat kerusakan di muka bumi dan tidak mengadakan perbaikan.” (Asy-Syu’ara`: 152)

“Dan adalah di kota itu sembilan orang laki-laki yang membuat kerusakan di muka bumi dan mereka tidak berbuat kebaikan.” (An-Naml: 48)
4.    Allah I menvonis Fir’aun dengan segala tindak tanduknya sebagai perusak.

“Apakah sekarang (baru kamu mau percaya) padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Yunus: 91)
5.    Dan Allah I di dalam banyak ayat telah memerintahkan kepada setiap hamba-hamba-Nya agar melihat apa yang Allah I perbuat terhadap kaum yang melakukan kerusakan, seperti di dalam Surat Al-‘Araf ayat 86 dan 103 dan Surat An-Naml ayat 14.

“Dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang melakukan kerusakan.” (Al-A’raf: 86)
Dari gambaran ayat di atas, betapa jelasnya makna perbuatan merusak di muka bumi. Kemudian Allah I pun mengutus seluruh rasul untuk melakukan perombakan dan perbaikan atas segala bentuk kerusakan tersebut. Perlu diingat bahwa para nabi tidak membuat rancangan sendiri dalam mela-kukan perbaikan situasi dan kondisi. Namun mereka menunggu wahyu dari Allah I. Tugas yang pertama kali mereka emban adalah pembaharuan landasan dan prinsip hidup, itulah aqidah dan tauhid. Alangkah naifnya jika anda mengatakan prinsip dan landasan itu sebagai kulit.

Angan-angan yang Salah
Banyak orang berangan-angan untuk bisa mengubah sebuah situasi yang buruk untuk kemudian menjadi baik, yang terbelakang dan mundur untuk menjadi maju dan berkembang. Sehingga bermun-culan ide-ide dari berbagai lapisan, diiringi perdebatan sengit untuk memunculkan ide tersebut. Mulai dari yang paham agama sampai orang yang tidak mengerti agama, ikut mengambil bagian dalam membicara-kan perbaikan moral dan kerusakan umat. Tentunya dengan berbagai macam jenis manusia itu akan melahirkan ide yang beraneka ragam.
Yang mengerti sedikit ilmu agama, akan melakukan tinjauan dengan keterbatasan ilmu agama yang ada pada dirinya. Dan yang hanya mengerti tentang ilmu dunia akan menjawabnya dengan pengetahuan yang dimilikinya. Ada juga poros ketiga yang berusaha mempertemukan semua ide tersebut sehingga bisa seiring dan sejalan serta tidak bertentangan, sekalipun alat timbangnya bukan agama.
Sungguh, jika mereka membuka kembali lembaran-lembaran Al-Qur`an dan As-Sunnah yang menceritakan seruan pembaharuan yang dilakukan oleh para rasul, niscaya mereka akan menemukan jawabannya.
Allah I berfirman:

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada setiap umat (untuk menyerukan): Sembahlah Allah dan jauhilah thagut itu. Maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (An-Nahl: 36)
Allah I berfirman:

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: ‘Tidak ada sesem-bahan yang benar melainkan Aku maka sembahlah Aku oleh kalian’.” (Al-Anbiya`: 25)

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya (dengan mengatakan): “Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang nyata kepada kalian yaitu agar kalian tidak menyembah kecuali kepada Allah dan aku khawatir menimpa kalian pada suatu hari adzab yang pedih.” (Hud: 25-26)

“Dan kepada kaum ‘Ad kami mengutus kepada mereka saudara mereka Hud dan (dia) berkata: “Wahai kaumku sembahlah Allah, kalian tidak memiliki sesembahan selain Dia, maka tidakkah kalian takut?” (Al-A’raf: 65)

“Dan ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Al-Kitab (Al-Qur`an) ini, sesungguhnya dia adalah orang yang sangat membenarkan dan seorang nabi. Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya: “Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak bisa mendengar, tidak melihat dan tidak bisa menolongmu sedikit-pun. Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu penge-tahuan yang tidak datang kepadamu. Maka ikutilah aku niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah setan, sesung-guhnya setan itu durhaka kepada Rabb yang Maha Pemurah. Wahai bapakku, sesungguh-nya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa adzab dari Rabb Yang Maha Pemurah maka kamu menjadi kawan bagi setan.” (Maryam: 41-45)
Wahai para da’i kepada Allah I, apa yang engkau ambil manfaat dari kisah pembaharuan para nabi dan rasul tersebut?
Inilah Nabi Musa yang berada di bawah kekuasaan pemerintah yang sangat kufur, bahkan menobatkan dirinya sebagai Rabb semesta alam, berundang-undang dengan undang-undang iblis, membunuh anak-anak laki dan membiarkan hidup anak-anak perempuan.

“Sesungguhnya Fir’aun telah berbuat semena-mena di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyem-belih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir’aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Al-Qashash: 4)
Allah I berkata kepada Nabi Musa:

“Dan Aku telah memilihmu, maka dengarkanlah kepada apa yang kamu diwahyukan: Sesungguhnya Aku adalah Allah dan tidak ada sesembahan yang benar melainkan Aku. Maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku. Sesungguhnya hari kiamat pasti datang dan Aku menyembunyikannya agar setiap orang dibalas apa yang telah diperbuat.” (Thaha: 15)
Inilah Nabi Yusuf u yang dihinakan di dalam penjara dan disejajarkan dengan para pelaku maksiat. Beliau tidak mengajak para penghuni penjara mencaci maki penguasa dan membakar semangat mereka untuk menentang pemerintah yang diktator dan mempersiapkan kekuatan untuk melakukan perombakan hukum dan segala tatanan hidup kenegaraan yang kafir. Namun yang beliau serukan di dalam penjara adalah:

“Hai kedua penghuni penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam itu ataukah Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa. Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya menyembah nama-nama dan nenek moyangmu membuatnya, Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah keputusan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.” (Yusuf: 39-40)
Dan inilah rasul terakhir dan penutup semua rasul, Muhammad n. Beliau diutus kepada kaum yang rusak segala-galanya, bahkan mereka bagaikan binatang yang berwujud manusia. Tidak ada halal dan haram, tidak ada aturan yang mengikat perbuatan mereka. Kerusakan hidup tingkat tertinggi dan segala bentuk kejahatan terkumpul di saat itu. Apakah yang beliau perbuat untuk melakukan perombakan tatanan kehidupan jahiliyah lagi hewani tersebut dan apa tugas yang diemban dari Allah I? Allah I menegaskan di dalam firman-firman-Nya:

“Katakanlah: “Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama. Dan aku diperin-tahkan supaya menjadi orang yang pertama berserah diri. Katakanlah: “Sesungguhnya aku takut akan siksaan hari yang besar jika aku durhaka kepada Rabbku. Katakan, hanya Allah saja yang aku sembah dengan memur-nikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalan-kan agama.” (Az-Zumar: 11-14)

“Sesungguhnya Kami telah menurun-kan kepadamu kitab (Al-Qur`an) dengan membawa kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.” (Az-Zumar: 2) [Lihat secara ringkas kitab Manhajul Anbiya` Fii Ad-Da’wati Ilallah Fiihi Al-Hikmatu Wal ‘Aql karya Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali, hal. 41-77]

Langkah yang Benar
Kini tahukah anda, bahwa angan-angan manusia untuk memperbaiki situasi dan kondisi yang telah rusak dengan cara seperti itu, ternyata keliru dan jauh dari syariat? Sehingga setelah itu anda menge-tahui bahwa jalan yang benar untuk memperbaiki situasi dan kondisi yang telah rusak adalah dengan menempuh jalan Allah I yang telah ditapaki oleh para rasul. Kembali kepada jalan Allah I artinya kembali kepada agama-Nya. Berikut petikan indah dari Rasulullah n, sebagaimana dalam sabda beliau:

“Bila kalian telah mempraktekkan jual beli dengan ‘inah (salah satu bentuk jual beli riba), kalian melakukan kedzaliman, cinta kepada cocok tanam dan kalian meninggal-kan jihad, maka Allah akan menimpakan kepada kalian kehinaan dan tidak akan tercabut kehinaan tersebut sehingga kalian kembali kepada agama kalian.”1
Agama mana yang dimaksud sehingga bisa mengembalikan kejayaan dan kemuliaan kaum muslimin? Apakah agama yang dipahami dengan akal? Ataukah agama yang dipahami oleh kelompok dan golongan tertentu? Ataukah yang dipahami oleh nenek-nenek moyang? Ataukah yang dipahami oleh guru-guru besar? Atau bagaimana?
Tentu hal ini telah ada jawabannya:
Pertama, Allah I telah menjelaskan di dalam Al-Qur`an:

“Sungguh telah ada pada diri rasul kalian suri tauladan yang baik bagi orang yang mengharapkan berjumpa dengan Allah dan hari kiamat dan banyak mengingat Allah.” (Al-Ahzab: 21)

“Barangsiapa yang menentang Rasulul-lah setelah jelas baginya petunjuk dan dia mengikuti selain jalan kaum mukminin maka Kami akan memalingkannya kemana dia berpaling dan Kami akan nyalakan baginya neraka Jahannam dan Neraka Jahannam adalah sejelek-jelek tempat kembali.” (An-Nisa`: 115)
Kedua, Rasulullah n telah menjelas-kan di dalam sabda-sabda beliau:

“Hendaklah kalian menempuh sunnah-ku dan sunnah Al-Khulafa`ur Rasyidin setelahku, gigitlah dia dengan gigi geraham dan berhati-hatilah kalian dari perkara-perkara baru (di dalam agama) karena perkara-perkara baru di dalam agama adalah bid’ah dan setiap kebid’ahan itu adalah sesat.”2

“Sebaik-baik manusia adalah generasi-ku kemudian setelah mereka kemudian setelah mereka.”3
Ketiga, beberapa ucapan ulama Salaf:
q Abdullah ibnu Mas’ud z berkata: “Ikutilah oleh kalian dan jangan kalian mengada-ada sungguh (Sunnah Rasulullah n) telah cukup buat kalian.”4
q ‘Umar bin Abdul ‘Aziz t mengatakan: “Berhentilah kamu di mana kaum itu (para shahabat) berhenti. Sesung-guhnya mereka berhenti di atas ilmu, dan di atas ilmu pula mereka menahan diri, dan mereka lebih sanggup untuk membuka (perbendaharaan ilmu) dan jika memiliki keutamaan merekalah yang lebih dahulu. Jika kalian mengatakan: ‘Telah muncul perkara baru setelah mereka (shahabat).’ Maka tidak ada yang mengadakannya kecuali orang yang menyelisihi dan benci mengikuti jalan mereka. Mereka telah mensifati segala apa yang menyembuhkan dan berbicara yang mencukupkan. Melebihi mereka adalah melampaui batas dan menguranginya adalah meremehkan. Maka tatkala suatu kaum meremehkan mereka, mereka menjadi kaku. Dan ketika kaum itu melampau batas, mereka menjadi berlebihan. Dan sesungguhnya jika mereka berada di tengah-tengah, sungguh mereka berada di atas jalan yang lurus.”5
q Al-Imam Malik t berkata: “Tidak ada yang akan memperbaiki situasi dan kondisi umat sekarang ini melainkan harus kembali kepada apa yang telah memperbaiki umat terdahulu.”6
q Abu ‘Amr Al-Auza’i t berkata: “Sabarkan dirimu di atas As-Sunnah! Berhentilah di mana kaum (Salafus Shalih) berhenti dan katakan (semisal) apa yang mereka telah katakan, dan tahan dirimu pada hal-hal yang mereka menahan diri. Tempuh-lah jalan Salafmu yang shalih, niscaya kamu akan mendapatkan apa yang mereka telah dapatkan.”7
Dalam kesempatan yang lain berkata: “Hendaklah kamu menempuh jalan Salaf meskipun orang-orang menolakmu. Dan berhati-hatilah dari pendapat banyak orang sekalipun mereka hiasi dengan ucapan- ucapan.”8
Dari dalil-dalil di atas kita mengetahui Islam yang dimaksudkan Rasulullah n, Islam yang akan mengembalikan kejayaan, kemuliaan, dan keemasan Islam serta kaum muslimin. Itulah agama yang difahami, diamalkan dan didakwahkan oleh salaf umat ini yang shalih. Mereka adalah para shahabat, tabi’in, dan tabi’it tabi’in.
Berarti jalan yang sesuai dengan syariat dalam menjawab problematika umat sekarang ini adalah:
Pertama: Menyebarkan aqidah yang benar di tengah kaum muslimin.
Kedua: Kembali ke jalan Salafush Shalih dalam memahami, mengamalkan, dan mendakwahkan Islam.
Ketiga: Menyebarkan ilmu yang benar yaitu ilmu yang berlandaskan Al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah n sesuai dengan pemahaman Salaf umat ini.
Keempat: Mentarbiyah (mendidik) generasi Islam di atas agama yang mushaffa (bersih).
Kelima: Menegakkan amar ma’ruf dan nahi mungkar
Keenam: Mendirikan shalat
Ketujuh: Menunaikan zakat
(diambil dari kaset Keindahan Islam, Asy-Syaikh Musa Alu Nashr)

Aqidah yang Benar
Munculnya berbagai keyakinan di tengah kaum muslimin memiliki dampak demikian besar dalam beragama. Bagai-mana tidak, banyak dari kaum muslimin menganggap sesuatu yang menurut agama merupakan kesyirikan, sebagai tauhid yang harus diyakini dan dipegang seumur hidup. Dan begitu sebalik-nya, ketauhidan dianggap sebagai ajaran baru dan menyesatkan yang harus dimusuhi dan diperangi. Sunnah men-jadi bid’ah dan bid’ah menjadi sunnah, kebati-lan sebagai kebenaran dan kebenaran menjadi sesuatu yang samar. Dengan fenomena yang menyedihkan ini kita dituntut untuk belajar guna mengetahui aqidah yang benar untuk kemudian bisa memilah-nya dari aqidah yang jelek. Aqidah yang benar adalah aqidah yang bersumber dari Al-Qur`an dan hadits-hadits yang shahih (benar datangnya dari Rasulullah n) yang dipahami dengan pemahaman Salafush Shalih umat ini. (‘Aqidatu Tauhid karya DR. Shalih bin Fauzan hal. 11)

Meremehkan Aqidah dan Tauhid
Aqidah dan tauhid memiliki keduduk-an tinggi dan sangat besar di dalam agama. Bahkan Allah I dan Rasul-Nya meletakkan keduanya dalam prinsip yang pertama dan utama di dalam agama.
Allah I berfirman:

“Berilmulah kamu tentang Laa Ilaha Illallah.” (Muhammad: 19)
Rasulullah n bersabda:

“Islam dibangun di atas lima dasar: Mempersaksikan bahwa tidak ada sesem-bahan yang benar melainkan Allah dan Muhammad adalah utusan Allah…”9

“Hendaklah yang pertama kali kamu serukan kepada mereka adalah mempersaksikan kalimat La Ilaha illallah.”10
Dengan sebab itulah para nabi dan rasul diutus, kitab-kitab diturunkan, adanya perintah amar ma’ruf nahi munkar, dite-gakkannya jihad, ada hari pembalasan, ada hari hisab (perhitungan), adanya tim-bangan dan adanya surga dan neraka. Bila engkau meremehkan masalah aqidah dan tauhid dengan menyebutnya sebagai kulit agama atau ucapan lain yang semakna, berarti engkau telah melakukan kesalahan yang sangat fatal dan melakukan dosa besar. Engkau berada dalam ambang marabahaya yang dahsyat dan di tepi jurang kehinaan serta kehancuran. Dikhawatirkan engkau keluar dari Islam. Engkau wajib bertaubat kepada Allah I dari perbuatan-mu, yaitu meremehkan sesuatu yang karenanya diutus para nabi dan rasul serta diturunkannya kitab-kitab oleh Allah I.
Wallahu a’lam.

Catatan Kaki:

1 HR. Al-Imam Abu Dawud no. 3003, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah jilid 1 hadits no. 11.2 HR. Al-Imam Abu Dawud no. 3991, Ibnu Majah no. 42, Ahmad no. 165 dan Ad-Darimi no. 95 dari shahabat ‘Irbadh bin Sariyah. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 2735.
3 HR. Al-Imam Al-Bukhari no. 2457, 2458 dan Al-Imam Muslim no. 4600, 4601, 4602 dari shahabat Abdullah bin Mas’ud dan Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash.
4 Atsar Ibnu Mas’ud adalah shahih diriwayatkan oleh beberapa tabi’in. Di antaranya Abu Abdurrahman As-Sulami diriwayatkan oleh Al-Imam Ath-Thabrani di dalam Al-Kabir (8870), Ad-Darimi (211), Al-Baihaqi di dalam Al-Madkhal (204) dan Ibnu Wadhdhah di dalam Al-Bida’ wan Nahyu ‘Anha hal. 10. Juga dari Ibrahim An-Nakha’i diriwayatkan oleh Abu Khaitsamah di dalam kitab Al-‘Ilmu, serta dari Qatadah diriwayatkan oleh Ibnu Wadhdhah (hal. 11)
5 Lihat Lum’atul I’tiqad karya Ibnu Qudamah dan beliau sebutkan pula di dalam kitab beliau Al-Burhan Fi Bayanil Qur`an hal. 88 dan 89
6 Lihat Kitab ‘Ilmu Ushulil Bida’ karya Asy-Syaikh Ali Hasan Ali bin Abdul Hamid
7 Lihat Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah 1/174
8 Lihat Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah 1/159 dan Lum’atul I’tiqad masalah 9.
9 HR. Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim dari shahabat Ibnu ‘Umar
10 HR. Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim dari shahabat Ibnu ‘Abbas