Duduk di antara Dua Sujud & Gerakan Setelahnya

 

1. Duduk dengan thuma’ninah

Ketika duduk di antara dua sujud, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan untuk thuma’ninah, duduk dengan tenang dan batasannya adalah gerakan sebelumnya tidak tampak lagi (Fathul Bari, 2/357).

Beliau melakukan duduk ini dengan lama hingga mendekati lama sujudnya sebagaimana ditunjukkan dalam hadits al-Barra ibnu ‘Azib radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

 كاَنَ رُكُوْعُ رَسُوْلِ اللهِ ، وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوْعِ ، وَسُجُوْدُهُ، وَمَا بَيْنَ السَّجَدَتَيْنِ قَرِيْبًا مِنَ السَّوَاءِ.

“Adalah ruku’ Rasulullah n , mengangkat kepalanya (bangkit) dari ruku’, sujud, dan duduk di antara dua sujudnya, hampir sama lamanya.” (HR . al-Bukhari no. 792, 820 dan Muslim no. 1057)

Terkadang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam duduk sangat lama, sebagaimana dicontohkan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu yang dikabarkan oleh Tsabit al-Bunani, murid Anas radhiyallahu ‘anhu. Disebutkan bahwa Anas berkata, “Aku akan shalat di hadapan kalian sebagaimana tata cara yang pernah aku lihat dari Rasulullah n saat shalat di hadapan kami.”

Kata Tsabit, “Dalam shalat tersebut (yang dicontohkan/diajarkan kepada kami) Anas melakukan sesuatu yang aku tidak pernah melihat kalian melakukannya. Bila ia bangkit dari ruku’, ia berdiri lurus (lama) hingga ada orang yang berkata, ‘Sungguh ia lupa.’ Bila ia duduk di antara dua sujud (dalam riwayat Muslim: dan bila ia mengangkat kepalanya dari sujud), ia diam lama, hingga ada yang berkata, ‘Sungguh ia lupa’.” (HR . al-Bukhari no. 821 dan Muslim no. 1060)

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mmengatakan, sunnah ini telah ditinggalkan banyak orang setelah berlalunya masa sahabat, karena itulah Tsabit pernah berkata, “Anas melakukan sesuatu yang aku tidak pernah melihat kalian melakukannya. Ia duduk lama saat duduk di antara dua sujud hingga kami berkata, ‘Anas lupa’.” (Zadul Ma’ad, 1/60—61)

Di saat duduk di antara dua sujud ini, disenangi meletakkan kedua tangan  di atas kedua paha dekat dengan kedua lutut, siku berada di atas paha, sedangkan ujung jari di atas lutut dalam keadaan jari-jemari ini agak direnggangkan dan dihadapkan ke arah kiblat. (al-Majmu’, 3/415, Zadul Ma’ad, 1/60)

Amalan duduk di antara dua sujud dan thuma’ninah dalam pelaksanaannya hukumnya wajib menurut pendapat yang rajih (kuat) dan ini merupakan pendapat kebanyakan/jumhur ulama, menyelisihi pendapat Abu Hanifah yang mengatakan tidak wajib. Dalilnya adalah sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, kepada orang yang salah shalatnya,

“Kemudian angkat kepalamu (dari sujud) hingga engkau duduk tenang.” Diriwayatkan oleh al-Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, sedangkan Abu Dawud dan at-Tirmidzi meriwayatkannya dari Rifa’ah ibnu Rafi’ radhiyallahu ‘anhu. (al-Majmu’, 3/418)

2. Zikir-zikir

Di saat duduk di antara dua sujud ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, pernah membaca zikir dan doa di bawah ini.

1. Bacaan:

اللَّهُمَّ (وَفِي لَفْظٍ: رَبِّ) اغْفِرْ لِي، وَارْحَمْنِي،
(وَاجْبُرْنِي)، (وَارْفَعْنِي)، وَاهْدِنِي، (وَعَافِنِي)
وَارْزُقْنِي

“Ya Allah (dalam satu lafadz: Wahai Rabbku), ampunilah aku, rahmatilah aku, [perbaikilah aku]2, [angkatlah derajatku]3, berilah petunjuk kepadaku, [hapuskanlah dosaku]4, dan berilah rezeki kepadaku.”

Hadits Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma yang dikeluarkan Abu Dawud no. 850, at- Tirmidzi no. 284, Ibnu Majah no. 898, al-Hakim 1/262, 271, al-Baihaq 2/122, Ahmad 1/315, 371, dll. Hadits ini sahih sebagaimana dinyatakan oleh al-Imam Albani t dalam Shahih Kutubus Sunan.

Menurut al-Imam an-Nawawi rahimahullah dalam al-Majmu’ (3/415), yang lebih hati-hati seluruh lafadznya diucapkan, yaitu ada tujuh kalimat sebagaimana disebutkan di atas.

2. Bacaan:

رَبِّ اغْفِرْ لِي، رَبِّ اغْفِرْ لِي.

“Wahai Rabbku, ampunilah aku. Wahai Rabbku, ampunilah aku.”

Hadits Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu ini dikeluarkan oleh Ibnu Majah no. 897, dan dinyatakan sahih dalam Shahih Sunan Ibni Majah serta Irwa’ul Ghalil no. 335.

Sujud yang Kedua

Setelah bertakbir, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, kembali bersujud (sujud kedua dalam shalat) dengan tata cara, ketentuan, dan bacaan yang telah disebutkan dalam pembahasan sujud (sujud yang pertama). Ulama sepakat tentang wajibnya sujud yang kedua ini, berdalil haditshadits yang sahih lagi masyhur dan ijma’/kesepakatan kaum muslimin. (al- Majmu’, 3/418)

Bangkit dari Sujud

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, mengangkat kepala dari sujudnya dan bertakbir untuk melanjutkan ke rakaat kedua. Apa saja yang dilakukan pada rakaat pertama juga diulang lagi pada rakaat kedua. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda kepada orang yang salah shalatnya,

ثُمَّ اصْنَعْ ذلِكَ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ وَ سَجْدَةٍ. فَإِذَا فَعَلْتَ ذلِكَ, فَقَدْ تَمَّتْ صَلاَتُكَ، وَإِنِ انْتَقَصْتَ مِنْهُ شَيْئًا, اِنْتَقَصْتَ مِنْ صَلاَتِكَ.

“Kemudian lakukanlah hal tersebut pada setiap ruku’ dan sujud. Apabila kamu lakukan hal itu, sungguh telah sempurna shalatmu. Jika ada sesuatu yang kamu kurangi, berarti kamu mengurangi shalatmu.” (HR . at-Tirmidzi no. 302, 303, dinyatakan sahih dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi)

Duduk Istirahat dan Bangkit Berdiri

Sebelum bangkit berdiri untuk melanjutkan ke rakaat berikutnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, duduk tegak sejenak di atas kaki kiri beliau, hingga setiap tulang kembali pada posisinya. Hal ini ditunjukkan dalam hadits Malik ibnul Huwairits radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

 أَلآ أُحَدِّثُكُمْ عَنْ صَلاَةِ رَسُوْلِ اللهِ؟ فَصَلَّى  فِي غَيْرِ وَقْتِ صَلاَةٍ. فَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ السَّجْدَةِ الثَّانِيَةِ فِي أَوَّلِ رَكْعَةٍ، اسْتَوَى قَاعِدًا، ثُمَّ قَامَ فَاعْتَمَدَ عَلَى الْأَرْضِ.

“Maukah aku gambarkan kepada kalian cara shalat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam?” Lalu Malik shalat di luar waktu shalat6. Tatkala ia mengangkat kepalanya dari sujud yang kedua pada rakaat yang awal, ia duduk tegak. Kemudian baru bangkit dengan bertumpu di atas tanah. (HR . asy-Syafi’i dalam al-Umm no. 198, an-Nasa’i no. 1153, dan al-Baihaqi 2/124,125. Sanadnya sahih di atas syarat Syaikhani sebagaimana disebutkan dalam al-Irwa 2/82)

 Dalam riwayat al-Bukhari (no. 824) disebutkan Malik ibnul Huwairits radhiyallahu ‘anhu mencontohkan shalat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada orang-orang. Ketika Ayyub, salah seorang perawi hadits ini, bertanya kepada Abu Qilabah, syaikhnya yang menyampaikan hadits ini dari Malik radhiyallahu ‘anhu, tentang bagaimana cara shalat yang dicontohkan Malik, maka kata Abu Qilabah seperti shalat yang dilakukan syaikh kita ‘Amr ibnu Salamah, dia menyempurnakan takbir, dan bila mengangkat kepalanya dari sujud yang kedua, ia duduk dan bertumpu di atas bumi/tanah, kemudian baru bangkit berdiri.

Dalam hadits yang sebelumnya (no. 823) disebutkan Abu Qilabah bahwa Malik ibnul Huwairits radhiyallahu ‘anhu memberitakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak bangkit ke rakaat kedua hingga beliau duduk tegak (HR . Bukhari no. 823)

Diriwayatkan pula duduk istirahat ini dari Abu Humaid as-Sa’idi radhiyallahu ‘anhu. Adapun penyebutan duduk ini sebagai duduk istirahat, asalnya dari para fuqaha. (al-Irwa, 2/82)

Perbedaan Pendapat dalam Masalah Ini

Memang ada silang pendapat dalam masalah duduk istirahat dan bangkit berdiri dengan bertumpu di atas kedua tangan ini.

Pertama: Sunnah secara mutlak. Ini adalah pendapat al-Imam asy-Syafi’i, Abu Dawud, dan Ahmad rahimahumullah. (al-Muhalla, 3/40)

Al-Imam Syafi’i rahimahullah menyatakan, orang yang bangkit dari sujud atau duduk dalam shalat untuk bertumpu dengan kedua tangannya secara bersama-sama dalam rangka mengikuti sunnah, karena hal ini lebih mendekati sikap tawadhu dan lebih membantu orang yang shalat. (al-Umm, kitab ash-Shalah, bab “al- Qiyam minal Julus”)

Ibnu Hani dalam Masailnya dari al- Imam Ahmad t mengatakan (1/57),

“Aku melihat Abu Abdillah (yakni al- Imam Ahmad) kerap kali bertumpu di atas kedua tangannya ketika bangkit ke rakaat berikutnya. Kerap kali beliau duduk tegak, kemudian bangkit.”Ibnu Hazm rahimahullah menganggap duduk istirahat ini mustahab dilakukan sebelum bangkit ke rakaat kedua dan keempat. (al-Muhalla, 3/39)

Al-Imam at-Tirmidzi rahimahullah setelah membawakan hadits dalam bab “Kaifa an-Nuhudh minas Sujud” (artinya: bagaimana tata cara bangkit/berdiri dari sujud) pada kitab Sunannya mengatakan, “Hal ini diamalkan oleh sebagian ahlul ilmi. Teman-teman kami, para ulama hadits, juga berpendapat seperti ini.” Setelah membawakan hadits riwayat al-Bukhari dalam bab “Man Istawa Qa’idan fi Witrin min Shalatihi Tsumma Nahadha” (no. 823 yang telah dibawakan di atas), al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah dalam penjelasannya menyatakan bahwa duduk istirahat ini disyariatkan, bukan karena hajat/ada kebutuhan. Tidak ada zikir khusus yang dibaca saat duduk ini, karena duduknya hanya sebentar sehingga ucapan takbir yang disyariatkan saat berdiri sudah cukup. (Fathul Bari 2/391)

Kedua: Tidak sunnah secara mutlak. Mereka berdalil dengan beberapa hadits, di antaranya:

• Hadits Wail ibnu Hujr radhiyallahu ‘anhu, ia menyampaikan saat bangkit ke rakaat berikutnya, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, bangkit di atas kedua lutut beliau dan bersandar di atas paha beliau.” (HR . Abu Dawud no. 839, namun riwayat ini dhaif/lemah. Dinyatakan dhaif oleh al-Imam an- Nawawi t dalam al-Majmu’ 3/422. Demikian pula dalam al-Irwa no. 363)

• Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Adalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bangkit dalam shalat (bertumpu) di atas bagian dalam kedua telapak kaki beliau.” (HR . at- Tirmidzi no. 288, namun haditsnya dhaif sebagaimana disebutkan dalam al-Irwa no. 362)

Ketiga: Pendapat yang merinci. Jika duduk ini dibutuhkan karena fisik yang lemah, usia senja, sakit, dan yang semisalnya, dia duduk dahulu lalu bangkit. Namun, apabila tidak dibutuhkan, ia tidak duduk. Alasannya, dalam duduk ini tidak ada doa/zikir yang dibaca dan tidak ada takbir perpindahan, yang ada hanya satu takbir, yaitu takbir dari sujud ke berdiri. Karena sebelum dan sesudahnya tidak ada takbir, dan tidak ada pula zikir yang diucapkan, hal ini menunjukkan duduk ini tidaklah dimaksudkan sebagai bentuk amalan/gerakan yang disyariatkan dalam shalat sebagaimana gerakan lainnya. Tentang hadits Malik ibnul Huwairits radhiyallahu ‘anhu yang menyebutkan Nabi n bersandar di atas kedua tangan beliau saat bangkit berdiri, mereka menyatakan bersandar pada kedua tangan umumnya karena ada kebutuhan dan karena tubuh yang berat sehingga tidak bisa bangkit terkecuali harus ada tumpuan.  Pendapat inilah yang dipilih oleh Ibnu Qudamah radhiyallahu ‘anhu sebagai wujud pengumpulan dalil yang menetapkan dan dalil yang meniadakan duduk ini. Pendapat yang merinci seperti ini memiliki kekuatan argumen daripada pendapat yang kedua, wallahu ‘alam.

Menurut pendapat yang ketiga ini, apabila orang yang shalat butuh duduk sebelum bangkit ke posisi berdiri, ia duduk dan apabila ia butuh tumpuan ia bisa bertumpu dengan kedua tangannya, bagaimana pun caranya, apakah bertumpunya di atas punggung jarijemari, seluruh jari-jemari, atau yang lain, tanpa ada tata cara tertentu. Yang penting, dilakukan apabila dibutuhkan. Apabila tidak dibutuhkan, tidak dilakukan.

(Majmu’ Fatawa wa Rasail Fadhilatusy Syaikh al-Imam Muhammad ibn Shalih al-Utsaimin, 13/182)

Asy-Syaikh Muhammad ibn Shalih al-Utsaimin rahimahullah menyatakan, dalam masalah ini didapatkan tiga tingkatan kekuatan argumen (yang awal lebih kuat dari yang setelahnya. –pen.):

1. Apabila ada kebutuhan, disyariatkan melakukan duduk seperti ini. Tentang hal ini, tidak ada permasalahan.

2. Disyariatkan duduk seperti ini secara mutlak, ada kebutuhan ataupun tidak. Pendapat ini memiliki kekuatan argumen atau bisa dianggap kuat.

3. Tidak disyariatkan secara mutlak, maka ini pendapat yang lemah, karena hadits yang menyebutkan duduk ini tsabit/kokoh, akan tetapi yang jadi permasalahan apakah tsabitnya karena ada kebutuhan ataukah secara mutlak? Inilah yang menjadi pembahasan. (Majmu’ Fatawa wa Rasail, 13/383—385)

Dari tiga pendapat di atas, sebagaimana telah kami isyaratkan sebelumnya dalam subjudul Duduk Istirahat dan Bangkit Berdiri, pendapat yang lebih kuat adalah yang pertama karena tidak ada berita yang tsabit/kuat yang menentang sunnah ini, meskipun orang yang tidak mengerjakannya dalam shalatnya juga tidak diingkari. Adapun menjawab pendapat bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam melakukannya karena ada kebutuhan, dijawab bahwa anggapan seperti ini tidak boleh dipakai untuk menolak sunnah yang sahih. Apalagi duduk istirahat ini telah diriwayatkan oleh sejumlah sahabat yang mencapai lebih dari sepuluh orang. Kalau memang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melakukannya karena ada kebutuhan, bukan karena sunnah, bagaimana bisa hal tersebut tersembunyi bagi para sahabat yang mulia tersebut. Lebih-lebih lagi, di antara mereka ada Malik ibnul Huwairits  radhiyallahu ‘anhu yang menyampaikan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,,

صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي

“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.”

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Adapun hadits Wail ibnu Hujr radhiyallahu ‘anhu (yang telah dibawakan di atas), kalaupun sahih, wajib dipahami (kepada makna yang) menyepakati hadits lain yang menetapkan duduk istirahat. Sebab, dalam hadits Wail tidak disebutkan secara nyata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam meninggalkan duduk istirahat. Kalau pun ada secara nyata, niscaya hadits Malik ibnul Huwairits, Abu Humaid, dan para sahabat  lebih didahulukan daripada hadits Wail radhiyallahu ‘anhu, dari dua sisi:

a. Sanad-sanadnya sahih.

b. Banyak perawinya. Bisa jadi, Wail radhiyallahu ‘anhu melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam shalat dalam satu waktu atau beberapa

waktu untuk menerangkan bolehnya hal tersebut. Namun, yang sering beliau lakukan adalah apa yang diriwayatkan oleh orang-orang yang lebih banyak. Yang lebih memperkuat adalah sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, kepada Malik ibnul Huwairits radhiyallahu ‘anhu setelah ia shalat bersama beliau  dan menghafal ilmu dari beliau selama dua puluh hari lantas ingin pulang kepada keluarganya,

اذْهَبُوا إِلَى أَهْلِيْكُمْ، وَمُرُوْهُمْ وَعَلِّمُوْهُمْ وَصَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي

“Pulanglah kalian kepada keluarga kalian, perintahlah dan ajarilah mereka. Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat!”

Semua ini ada dalam Shahih al-Bukhari dari beberapa jalan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan demikian kepada Malik sedangkan Malik telah menyaksikan Nabi n duduk istirahat. Seandainya duduk istirahat ini tidak termasuk amalan yang disunnahkan bagi setiap orang, niscaya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak memutlakkan ucapan beliau, “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (al-Majmu’, 3/422)

Beliau  menyatakan, “Perlu diketahui, sepantasnya bagi setiap orang untuk terus melakukan duduk ini (dalam shalatnya) karena sahihnya hadits-hadits tentang duduk ini dan tidak ada riwayat sahih yang menentangnya. Janganlah tertipu dengan banyaknya orang yang bermudah-mudah meninggalkannya (mutasahilin). Allah Subhanahu wata’ala sungguh berfirman,

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ

ڃ ڃڃ

‘Katakanlah, jika memang kalian mencintai Allah maka ikutilah aku niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.’ (Ali Imran: 31)

Firman-Nya,

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ

‘Apa saja yang dibawa Rasul kepada kalian, maka ambillah….’ ( al-Hasyr: 7).” (al-Majmu’, 3/420—421)

Fatwa al-Lajnah ad-Daimah

Al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts al-Ilmiyyah yang saat itu diketuai oleh Samahatusy Syaikh Ibnu Baz rahimahullah ketika ditanya tentang masalah duduk istirahat. Mereka berfatwa sebagai berikut. Ulama sepakat bahwa duduk setelah mengangkat kepala dan tubuh dari sujud yang kedua pada rakaat pertama dan ketiga serta sebelum bangkit ke rakaat kedua dan keempat, bukanlah amalan yang termasuk kewajiban shalat, bukan pula sunnah yang ditekankan (mu’akkadah) dalam shalat. Ulama berbeda pendapat setelah itu, apakah duduk ini sunnah saja, atau bukan termasuk gerakan shalat sama sekali, atau boleh dilakukan oleh orang yang membutuhkannya karena tubuh yang lemah karena usia, sakit, atau kegemukan?

Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah dan sekelompok ahlul hadits berpandangan sunnah. Ini juga merupakan salah satu riwayat dari dua riwayat al-Imam Ahmad rahimahullah. Dasar mereka adalah hadits Malik ibnul Huwairits radhiyallahu ‘anhu. Namun, banyak ulama, di antaranya Abu Hanifah rahimahullah dan Malik rahimahullah, tidak memandang adanya duduk ini, demikian pula satu riwayat al-Imam Ahmad rahimahullah.Alasannya, hadits-hadits lain tidak ada yang menyebutkan duduk ini.

Bisa jadi, duduk yang disebutkan oleh Malik ibnul Huwairits radhiyallahu ‘anhu tersebut dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, di akhir umur beliau tatkala tubuh beliau sudah berat atau karena sebab lain. Maka dari itu, ada kelompok ketiga yang berpendapat bahwa duduk ini disyariatkan saat ada kebutuhan, dan tidak disyariatkan apabila tidak tidak dibutuhkan. Namun, yang tampak adalah duduk ini disunnahkan secara mutlak. Adapun alasan bahwa duduk ini tidak disebutkan dalam hadits-hadits yang lain tidaklah menunjukkan duduk ini tidak ada. Yang memperkuat pendapat ini adalah:

1. Hukum asal dari perbuatan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, adalah beliau melakukannya untuk ditiru oleh umatnya.

2. Duduk ini disebutkan oleh hadits Abu Humaid as-Sa’idi radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad dan Abu Dawud dengan sanad yang jayyid (bagus). Abu Humaid radhiyallahu ‘anhumenjelaskan tata cara shalat Nabi n di tengah-tengah sepuluh orang sahabat, dan mereka membenarkannya. (Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 6/447—448, Ketua: asy- Syaikh Ibnu Baz, Wakil: Abdurrazzaq Afifi, dan Anggota: Abdullah bin Ghudayyan) Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Ditulis oleh Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq al-Atsari

Duduk di antara Dua Sujud

 

Sujud yang Lama

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan sujud beliau mendekati lamanya ruku’ beliau, namun terkadang beliau sangat lama sujudnya karena ada satu perkara/kejadian. Syaddad ibnul Had radhiyallahu anhu menceritakan, “Pada waktu salah satu shalat siang (Zhuhur atau Ashar), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menuju kami dalam keadaan menggendong Hasan atau Husain radhiyallahu anhu .

Beliau lalu maju untuk mengimami jamaah shalat, sementara cucu beliau diletakkan di sisi telapak kakinya yang kanan. Beliau bertakbir untuk shalat. Di saat sujud, beliau melakukannya dengan demikian panjang, hingga aku mengangkat kepalaku di antara manusia untuk mengetahui apa sebenarnya yang sedang terjadi.

Ternyata si cucu menunggangi pundak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sedang sujud. Aku kembali kepada sujudku. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyelesaikan shalatnya, orang-orang pun bertanya, “Wahai Rasulullah, Anda sujud dalam shalat ini demikian panjangnya hingga kami menyangka telah terjadi suatu perkara atau turun wahyu kepada Anda!” Beliau menjawab, “Semua itu tidak terjadi, melainkan karena anakku1 ini menunggangiku. Aku tidak suka menyudahi kesenangannya sampai ia sendiri menyelesaikan hajatnya.” (HR. an-Nasa’i no. 1141, Ahmad 3/493, 6/467, al-Hakim 3/164, sanadnyasahih di atas syarat syaikhani, kata al- Hakim, dan disepakati oleh adz-Dzahabi.Hadits ini dinyatakan sahih dalam Shahih Sunan an-Nasa’i)

Keutamaan Sujud

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

إِذَا أَرَادَ اللهُ رَحْمَةَ مَنْ أَرَادَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ،

“Ketika Allah Subhanahuwata’ala ingin merahmati siapa saja yang dikehendaki-Nya diantara penghuni neraka, Ia   memerintahkan para malaikat untuk mengeluarkan dari dalam neraka orang yang dahulunya pernah beribadah kepada Allah Subhanahuwata’ala .Para malaikat pun mengeluarkan orang-orang yangdemikian. Para malaikat mengenali mereka dengan bekas-bekas (tanda) sujud.Allah Subhanahuwata’ala mengharamkan bagi api neraka melahap bekas sujud. Mereka itu keluar dari neraka. Seluruh bagian tubuh bani Adam( yang masuk neraka) dilahap oleh api neraka terkecuali bekas sujud.” (Potongan hadits yang panjang tentang hari kebangkitan dan syafaat yang dibawakan oleh Abu Hurairah radhiyallahu anhu , dikeluarkan oleh al-Bukhari no. 6573 dan Muslim no. 450).

Tsauban radhiyallahu anhu maula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah meminta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengajarkan suatu amalan yang paling dicintai Allah Subhanahuwata’ala atau amalan yangbisa memasukkannya ke dalam surga. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَلَيْكَ بِكَثْرَةِ السُّجُوْدِ لِلهِ، فَإِنَّكَ لاَ تَسْجُدُ لله

“Hendaknya engkau memperbanyak sujud kepada Allah Subhanahuwata’ala ,karena tidaklah engkau sujud kepada Allah Subhanahuwata’ala dengan satu sujud saja melainkan Allah Subhanahuwata’ala akan mengangkat derajatmu karenanya dengan satu derajat  dan Diahapuskan darimu satu kesalahan.” (HR. Muslim no. 1093)

Rabi’ah bin Ka’b al-Aslami radhiyallahu anhu berkata, “Aku pernah bermalam bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku siapkan air wudhu beliau dan air untuk keperluan buang hajat beliau. Beliau lalu bertanya, ‘Mintalah sesuatu.’ Aku katakan, ‘Aku minta agar aku bisa menemanimu di surga.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Atau permintaan yang lain?’ ‘Itu saja yang kuminta,’ jawab Rabi’ah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَأَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُوْدِ

‘Kalau begitu bantulah aku dengan engkau banyak melakukan sujud (dengan shalat)’.” (HR. Muslim no. 1094)

Bangkit dari Sujud

Seraya bertakbir, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bangkit dari sujudnya, dan beliau perintahkan hal ini kepada orang yang salah shalatnya.

Duduk di antara Dua Sujud

Setelah mengangkat kepalanya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk bersimpuh dengan menjulurkan telapak kaki kiri dan duduk di atas kaki kirinya dengan tenang/ thuma’ninah, sebagaimana ditunjukkan oleh hadits Maimunah bintu al-Harits radhiyallahu anha yang dikeluarkan oleh al-Imam Muslim rahimahumullah no. 1108. Demikian pula hadits Aisyah radhiyallahu anha yang menyebutkan,

وَكَانَ يَفْتَرِشُ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَيَنْصِبُ رِجْلَهُ الْيُمْنَى

“Beliau menjulurkan ( telapak) kaki kirinya dan menegakkan (telapak) kaki kanannya.”(HR. Muslim no. 1110)

Abdullah ibnu Umar radhiyallahu anhu berkata,

مِنْ سُنَّةِ الصَّلاَةِ أَنْ تَنْصِبَ الْقَدَم الْيُمْنَى

“Termasuk sunnah shalat adalah menegakkan telapak kaki yangkanan, menghadapkan jari-jemari kaki ke arah kiblat, dan duduk diatas kaki kiri.” (HR. an-Nasa’i no. 1157, 1158, dinyatakan sahih dalam Shahih Sunan an-Nasa’i dan al-Irwa’ no. 317)

Duduk seperti inilah yang diistilahkan duduk iftirasy. Terkadang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk iq’a, sebagaimana dalam hadits Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma Thawus pernah bertanya kepada Ibnu Abbas radhiyallahu anhu tentang iq’a di atas dua tumit, maka beliau menjawab bahwa duduk seperti itu sunnah. (HR. Muslim no. 1198)

Thawus rahimahumullah berkata, “Aku melihat tiga Abdullah: Ibnu Umar, Ibnu Abbas, dan Ibnuz Zubair melakukannya.” Ini dilakukan pula oleh Salim, Nafi’, Thawus, Atha’, dan Mujahid. Al-Imam Ahmad radhiyallahu anhu menyatakan pula, “Penduduk Kufah melakukannya.” (al-Isyraf‘alaMadzahibil‘Ulama, 2/35—36)

Tata cara duduk iq’a ditunjukkan oleh riwayat al-Baihaqi. Disebutkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegakkan dua tumit beliau dan bagian dalam (yang dipakai untuk menapak) kedua telapak kaki atau duduk bertumpu di atas ujung-ujung jari kedua kaki. Duduk iq’a ini diamalkan oleh kebanyakan salafus shalih. At-Tirmidzi rahimahumullah menerangkan, “Sebagian ahlul ilmi dari kalangan sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpegang dengan hadits ini (hadits Ibnu Abbas), sehingga mereka memandang tidak apa-apa duduk iq’a. Ini adalah pendapat sebagian penduduk Makkah dari kalangan ahli fikih dan ilmu.” (Sunan at-Tirmidzi, kitabash-Shalah, bab“Fi ar-Rukhshah fil Iq’a”)

Sementara itu, sebagian ulama lain tidak menyenangi iq’a, di antara mereka adalah Ali radhiyallahu anhu dan Abu Hurairah radhiyallahu anhu . Ibnu Umar radhiyallahu anhu pernah pula mengatakan kepada anak-anaknya, “Jangan kalian meneladani aku dalam hal iq’a, karena aku melakukannya hanyalah ketika usiaku telah lanjut.” Ibrahim ibnu Yazid an-Nakha’i rahimahumullah berkata, “Mereka membenci amalan iq’a dalam shalat.”

Ini juga pendapat al-Imam Malik, asy-Syafi’i, Ahmad, Ishaq, ashabur ra’yi, dan kebanyakan ulama. (al-Isyraf ‘ala Madzahibil ‘Ulama, 2/36)

Sebagian ulama yang lain menyatakan boleh memilih. Dia bisa menjulurkan kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya (duduk iftirasy), bisa pula duduk iq’a di atas kedua tumitnya. Iftirasy dan iq’a keduanya sunnah, hanya saja iftirasy lebih dikenal dan lebih banyak yang memberitakannya, sebagaimana diriwayatkan dan dibenarkan oleh sepuluh orang sahabat. Ini menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamshallallahu ‘alaihi wa sallam sering melakukannya dan terkenal di kalangan para sahabat. Jadi, iftirasy lebih utama dari iq’a, walaupun duduk iq’a ini pernah dilakukan oleh beliau pada satu keadaan. (al-Ashl, 2/806—807)

Inilah pendapat yang kuat dalam masalah ini, wallahua’lambish-shawab. Adapun ahlul ilmi yang berpendapat makruhnya duduk iq’a berhujah dengan hadits-hadits yang melarang iq’a, yaitu hadits riwayat at-Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ibnu Majah dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu , Ibnu Majah dari hadits Anas bin Malik radhiyallahu anhu , Ahmad bin Hanbal dari riwayat Samurah bin Jundub radhiyallahu anhu dan Abu Hurairah radhiyallahu anhu , al-Baihaqi dari riwayat Samurah radhiyallahu anhu dan Anas radhiyallahu anhu .

Semua sanadnya dhaif, sebagaimana dinyatakan demikian oleh al-Imam an- Nawawi rahimahumullah dalam al-Minhaj/Syarhu Muslim (5/22) dan asy-Syaukani rahimahumullah dalam Nailul Authar (2/143), selain dua hadits berikut.

1. Hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu ia berkata,

ثلاَثٍ: عَنْ نَقْرَةٍ �َ عَنْ n نَهَانِي رَسُوْلُ اللهِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarangku dari tiga hal (dalamshalat): mematuk seperti patukan ayam jantan, duduk iq ’a seperti iq’a anjing, dan menoleh seperti tolehan serigala.” (HR. Ahmad 2/265, hadits ini hasan lighairihi sebagaimana dalam Shahih at-Targhib no. 555)

2. Hadits Samurah bin Jundub radhiyallahu anhu ,ia berkata,

عَنِ الْإِقْعَاءِ فِي الصَّلاَةِ n نَهَى رَسُوْلُ اللهِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari duduk iq’a dalam shalat.” (HR. al-Hakim 1/272)

Dalam sanadnya ada al-Hasan al-Bashri rahimahumullah yang meriwayatkan dari Samurah radhiyallahu anhu, sementara itu Hasan al-Bashri adalah rawi yang banyak melakukan tadlis dalam periwayatannya sebagaimana disebutkan dalam at-Taqrib dengan membawa kalimat periwayatan yang memungkinkan tadlis itu bisa terjadi dari sisi beliau, seperti riwayat di atas.

Lebih-lebih lagi, riwayat beliau dari Samurah radhiyallahu anhu bermasalah—apakah beliau mendengarkannya secara langsung atau tidak—kecuali hadits akikah yang diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari rahimahumullah dalam Shahih-nya yang al-Hasan secara terang-terangan menyatakan mendengar hadits ini dari Samurah radhiyallahu anhu.

Adapun yang beliau tidak secara terang-terangan menyatakan mendengar maka tidak bisa menjadi hujah sebagaimana hadits ini. Karena itulah, al-Imam an- Nawawi rahimahumullah menyatakannya lemah. Jadi, yang tertinggal sekarang adalah hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu yang berderajathasan. Sebenarnya, hadits Abu Hurairah di atas tidaklah bertentangan dengan hadits Ibnu Abbas dan Ibnu Umar radhiyallahu anhuma tentang sunnahnya iq’a karena yang dilarang dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu adalah iq’a yang khusus, yaitu iq’a anjing; menempelkan dua pantatnya ke bumi/tanah dan menegakkan keduabetisnya serta meletakkan kedua tangan di atas bumi.

Demikian yang ditafsirkan oleh ahli bahasa, di antaranya Abu Ubaid dalam kabar yang diriwayatkan al-Baihaqi. Dengan demikian iq’a yang terlarang ini berbeda dengan iq’a yang ditetapkan dalam as-Sunnah.

Dengan demikian, hadits-hadits yang ada dalam masalah iq’a ini, yang satu menyatakan sunnah dan yang lainnya melarang, bisa dipadukan. Demikian diterangkan oleh al- Baihaqi, diikuti oleh Ibnu ash-Shalah, an-Nawawi, dan para muhaqqiq selain mereka—semoga Allah Subhanahuwata’ala merahmatimereka semua. (al-Ashl, 2/806)

A l – Imaman – Nawawi rahimahumullah menyatakan, yang benar iq’a itu ada dua macam. Yang satu dibenci, yaitu seperti duduknya anjing; dan yang kedua sunnah, yaitu duduk (menempatkan pantat) di atas dua tumit, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abbas dan Ibnu Umar radhiyallahu anhuma, dan itulah yang dilakukanoleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (al-Minhaj, 5/22—23) Wallahu ta’ala a’lam.

Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim

Tata Cara Sujud

Zikir-Zikir di Saat Sujud Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sujudnya didapatkan membaca beragam zikir dan doa. Sekali waktu beliau membaca satu macam zikir, dan di waktu lain membaca zikir yang lain lagi. Di antara zikir sujud, ada yang sama dengan zikir di saat ruku’, karenanya bila ada kesamaan kami tidak artikan dan Pembaca bisa melihat artinya pada pembahasan zikir-zikir ruku’ yang telah lalu berikut keterangan haditsnya.

Bacaan atau zikir ketika sujud yang biasa dibaca oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sebagai berikut :

1. Bacaan:

سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى

“Mahasuci Rabbku Yang Maha Tinggi.”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengulangi membaca zikir di atas sebanyak 3 kali, namun terkadang beliau ulangi lebih dari itu, hingga suatu kali di saat shalat malam beliau mengulanginya beberapa kali.

Disebutkan sujud beliau ketika itu hampir mendekati masa berdiri beliau, padahal saat berdiri beliau membaca tiga surat yang panjang, yaitu al-Baqarah, an-Nisa’, dan Ali ‘Imran, dengan diselang-selingi doa dan istighfar. (Dari hadits Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, diriwayatkan oleh al-Imam Muslim dalam Shahih-nya no. 1811)

2. Bacaan:

سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى وَبِحَمْدِهِ

“Maha suci Rabbku Yang Maha tinggi dan pujian bagi-Nya.” (3 kali)

3. Bacaan:

سُبُّوْحٌ، قُدُّوْسٌ، رَبُّ الْمَلآئِكَةِ وَالرُّوْحِ

4. Bacaan:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ، اللَّهُمَّ اغْفِرْلِي

5. Bacaan:

سُبْحَانَ ذِيْ الْجَبَرُوْتِ، وَالْمَلَكُوْتِ، وَالْكِبْرِيَاءِ، وَالْعَظَمَةِ 1

6. Bacaan:

اللَّهُمَّ لَكَ سَجَدْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَلَكَ أَسْلَمْتُ، [وَأَنْتَ رَبِّي ]، سَجَدَ وَجْهِيْ لِلَّذِيْ خَلَقَهُ وَ صَوَّرَهُ، [فَأَحْسَنَ صُوَرَهُ]، وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ، تَبَارَكَ اللهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِيْنَ

“Ya Allah, hanya kepada-Mu aku sujud, hanya kepada-Mu aku beriman, dan hanya kepada-Mu aku berserah diri. Engkau adalah Rabbku. Telah sujud wajah ku kepada Dzat yang telah menciptakannya dan membentuknya, lalu Dia baguskan rupanya dan Dia membelah pendengaran dan penglihatannya. Mahasuci Allah sebaik-baik Pencipta.”

Dari hadits Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Tambahan yang pertama yaitu lafadz وَأَنْتَ رَبِّي dikeluarkan oleh ath-Thahawi (137/1) dan at-Tirmidzi no. 3423 serta ad-Daraquthni (30). Al-Imam Albani rahimahullah dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi mengatakan hadits ini hasan sahih. Tambahan kedua dari salah satu riwayat Muslim.

7. Bacaan:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذَنْبي كُلَّهُ، دِقَّهُ وَجِلَّهُ، وَأَوَّلَهُ وَآخِرَهُ، وَعَلاَنِيَتَهُ وَسِرَّهُ

“Ya Allah, ampunilah dosaku seluruhnya, yang kecil/sedikit dan yang besar/banyak, yang awalnya dan yang akhirnya, yang terang-terangan dan yang rahasia/tersembunyi.”2

(Dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang dikeluarkan al-Imam Muslim no. 1084)

8. Bacaan:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ

“Mahasuci Engkau, ya Allah, dan dengan pujian untuk-Mu, tidak ada sesembahan yang berhak untuk dibadahi kecuali Engkau.”

Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan, tatkala ia kehilangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di suatu malam dari tempat tidurnya, dia menyangka beliau pergi keluar. Mulailah Aisyah meraba-raba dalam kegelapan, ternyata didapatinya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sedang ruku atau sujud dan membaca zikir di atas. (HR. Muslim no. 1089)

9. Bacaan:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا أَسْرَرْتُ، وَمَا أَعْلَنْتُ

“Ya Allah, ampunilah aku, apa yang aku rahasiakan dan apa yang aku tampakkan (dari kejelekan/dosa).”

(Dari hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha juga, diriwayatkan oleh an-Nasa’i no. 1124, dinyatakan sahih dalam Shahih Sunan an-Nasa’i)

10. Bacaan:

اللَّهُمَّ اجْعَلْ فِي قَلْبِي نُوْرًا، وَفِي لِسَانِي نُوْرًا، وَاجْعَلْ فِي سَمْعِي نُورًا، وَاجْعَلْ فِي بَصَرِيْ نُوْرًا، وَاجْعَلْ مِنْ تَحْتِي نُوْرًا، وَاجْعَلْ مِنْ فَوْقِي نُوْرًا، وَعَنْ يَمِيْنِي نُوْرًا، وَعَنْ يَسَارِي نُوْرًا، وَاجْعَلْ أَمَامِي نُوْرًا، وَاجْعَلْ خَلْفِي نُوْرًا، وَاجْعَلْ فِي نَفْسِيْ نُوْرًا، وَأَعْظِمْ لِي نُوْرًا

Ya Allah, jadikanlah cahaya dalam hatiku, cahaya dalam lisanku. Jadikanlah cahaya dalam pendengaranku. Jadikanlah cahaya pada penglihatanku. Jadikanlah cahaya dari bawahku. Jadikanlah cahaya dari atasku, demikian pula cahaya dari kananku dan dari kiriku. Jadikan pula cahaya di depan dan di belakangku. Jadikan pula cahaya pada jiwaku, dan besarkanlah cahaya untukku.”

(Hadits Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Tatkala ia bermalam di rumah bibinya, Maimunah bintu al-Harits radhiyallahu ‘anha di saat giliran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di rumahnya. Ibnu Abbas melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bangkit untuk menunaikan hajatnya. Setelahnya beliau berwudhu seperti wudhu untuk shalat. Kemudian beliau mengerjakan shalat dan di sujudnya beliau membaca zikir tersebut. Diriwayatkan oleh Muslim no. 1791 dan an-Nasa’i no. 1121).

Namun, riwayat yang lain menyebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengucapkan zikir yang hampir sama dengan zikir di atas setelah selesai shalat yakni saat berdoa seperti dalam riwayat Muslim no. 1796, sehingga terkadang beliau melakukan yang ini (membacanya dalam sujud), di kali lain yang itu (saat berdoa setelah shalat lail).

11. Bacaan:

“Ya Allah, sungguh aku berlindung kepada-Mu dengan keridhaan-Mu dari kemurkaan-Mu. Aku berlindung dengan pemaafan-Mu dari hukuman-Mu. Aku berlindung dengan-Mu dari-Mu. Aku tidak dapat menghitung pujian atas-Mu, Engkau sebagaimana yang Engkau puji diri-Mu.” (Hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha, diriwayatkan oleh al-Imam Muslim no. 1090)

Larangan Membaca al-Qur’an saat Sujud

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ألآ ، وَإِنِّي نُهِيْتُ أَن أَقْرَأَ الْقُرْآنَ رَاكِعًا أَوْ سَاجِدً ا، فَأَمَّا الرُّكُوْعُ فَعَظِّمُوْا فِيْهِ الرَّبَّ عز و جل وَأَمَّا السُّجُوْدُ فَاجْتَهِدُوْا فِيهِ الدُّعَاءَ فَقَمِنٌ أَنْ يُسْتَجَابَ لَكُمْ

Sungguh, aku dilarang untuk membaca al-Qur’an ketika ruku’ dan sujud. Adapun ketika ruku’ maka agungkanlah Rabb di dalamnya. Adapun saat sujud, bersungguh-sungguhlah dalam berdoa karena pantas doa kalian dikabulkan.” (HR. Muslim no. 1074 dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma)

Di saat sujud, diperintahkan bersungguh-sungguh dalam berdoa dan memperbanyaknya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan,

أَقْرَبُ مَا يَكُوْنُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَ هُوَ سَاجِدٌ، فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ فِيْهِ

Sedekat-dekatnya hamba dengan Rabbnya adalah di saat si hamba sedang sujud, maka perbanyaklah doa di dalam sujud.” (HR. Muslim no. 1083 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Jumhur (mayoritas) ulama berpendapat dilarang membaca al-Qur’an di saat sujud berdasar hadits dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma di atas. Namun sebagian ulama lain berpandangan bolehnya membaca al-Qur’an. Ini adalah pendapat al-Imam al-Bukhari rahimahullah dan yang

lainnya karena hadits di atas tidak sahih menurut mereka.

Namun, yang benar adalah sebagaimana yang kami katakan, dilarangnya membaca al-Qur’an di

saat sujud karena hadits tersebut sahih sebagaimana diriwayatkan oleh al-Imam Muslim rahimahullah dalam Shahih-nya dan hadits ini dinyatakan sahih juga oleh al-Imam ath-Thabari rahimahullah dan yang lainnya. (Bidayatul Mujtahid, hlm. 122)

Hikmah Larangan Membaca al-Qur’an Saat Sujud

Seseorang yang shalat dilarang membaca al-Qur’an di saat ruku’ dan sujud karena posisi ruku’ dan sujud mengharuskan seseorang merunduk, menyungkurkan punggung dan telungkup, tentunya al-Qur’an tidak sepantasnya dibaca dalam keadaan seperti ini.

Bandingkan saja bila Anda bicara kepada seseorang dalam posisi Anda ruku’ atau sujud, atau Anda bicara dalam posisi berdiri, manakah yang lebih menunjukkan penghormatan kepada yang

diajak bicara? Tentunya bila Anda bicara sambil berdiri. Adapun bila Anda bicara kepada orang lain dalam keadaan Anda ruku’ niscaya orang yang diajak bicara akan berkata, “Orang ini cuek padaku. Ia tidak menaruh perhatian kepadaku.”

Apabila ada orang ingin berbicara tentang seorang alim dan ia berkata, “Wahai orang-orang, kemarilah kalian… Aku hendak menceritakan kepada kalian tentang alim Fulan.” Ketika orang-orang sudah berkumpul, ia pun ruku’ atau sujud, dan bercerita kepada manusia dalam posisi demikian, tentunya hal ini tidak pantas. Karena itulah, ulama berkata, “Karena al-Qur’anul Karim itu memiliki kedudukan yang agung, maka sepantasnya ia dibaca (dalam shalat) saat posisi orang yang shalat tinggi, yaitu ketika berdiri.” (Fathu Dzil Jalali wal Ikram bi Syarhi Bulughil Maram, 3/416-417)

Hukum Shalat Orang yang Membaca al-Qur’an saat Ruku’ atau Sujud

Mayoritas ulama berpendapat shalatnya sah, karena membaca al-Qur’an dilarang dalam ruku’ dan sujud bukan karena al-Qur’annya sebagai sesuatu yang tidak boleh dibaca dalam shalat, namun dilarang karena kedudukan, ketinggian, dan keagungan al-Qur’an tidak pantas dibaca dalam posisi menunduk. Adapun al-Qur’an sendiri adalah ucapan yang disyariatkan dalam shalat dan termasuk zikir-zikir yang masyru’. (al-Fiqhul Islami wa ‘Adillatuhu, 2/961)

Adapun pendapat yang lainnya yang merupakan pendapat al-Imam Ibnu Hazm rahimahullah, shalat yang  dikerjakan tersebut batal karena orang yang shalat itu telah mengucapkan ucapan yang dilarang, sebagaimana bila seseorang berbicara dalam shalat dengan ucapan manusia. (al-Muhalla 2/361; Nailul Authar 2/108)

Bolehnya Berdoa dalam Sujud dengan Doa yang Ada dalam al-Qur’an

Seperti ketika sujud seseorang membaca doa,

رَبَّنَا غْفِرْلَنَا ذُنُوْ بَنَا وَاِسْرَافَنَا فِى اَمْرِنَ وَثَبِّتْ اَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ۝

Wahai Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami, kokohkanlah telapak-telapak kaki kami (tetapkanlah pendirian kami) dan tolonglah kami dari orang-orang kafir.” (Ali Imran: 147)

atau berdoa,

رَبَّنَآاٰتِنَا فِى الدُّنْيَاحَسَنَةً وَفِى الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَا بَ النَّارِ۝

Wahai Rabb kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungi kami dari azab neraka.” (al-Baqarah: 201)

Hal ini dibolehkan karena yang mengucapkannya tidak bersengaja untuk membaca al-Qur’an, tapi ia bermaksud berdoa dengan doa yang ada dalam al-Qur’an, maka doa yang dibacanya termasuk zikir. (asy-Syarhul Mumti’, 3/133)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim

———————————————————————-

  1. Untuk keterangan hadits zikir no. 1-5, dan arti zikir no. 3-5, bisa dilihat dalam pembahasan zikir-zikir ruku’ yang telah lalu dalam edisi-edisi Asy-Syariah terdahulu.
  2. Tersembunyi dari orang lain, tetapi tidak tersembunyi bagi Allah Subhanahu wata’ala, karena keduanya sama saja bagi Allah Subhanahu wata’ala. Dia Maha Mengetahui yang rahasia dan tersembunyi.

Sifat Shalat Nabi (21) : Tata Cara Sujud

I’tidal dalam Sujud

Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu menyampaikan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Luruslah kalian dalam sujud!” (HR. al-Bukhari no. 822 dan Muslim no. 1102)

Yang dimaksud lurus dalam sujud, kata al-Qadhi Abu Bakr Ibnul Arabi rahimahullah dalam ‘Aridhatul Ahwadzi (2/66—67), adalah seimbang tumpuan pada kedua kaki, kedua lutut, kedua tangan, dan wajah. Jadi, tidak ada satu anggota sujud yang mendapat beban lebih dari yang lain. Dengan demikian, terwujudlah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Aku diperintah untuk sujud di atas tujuh tulang.”

Sementara itu, apabila kedua lengan dibentangkan sebagaimana anjing membentangkan kedua kaki depannya, niscaya yang jadi tumpuan adalah kedua lengan bawah, bukan wajah. Dengan begitu, kewajiban wajah tidak tertunaikan.
Ibnu Daqiqil Id rahimahullah juga menerangkan bahwa yang dimaksud i’tidal/lurus adalah melakukan tata cara sujud sesuai dengan apa yang diperintahkan/ditetapkan oleh syariat. (Ihkamul Ahkam, hadits no. 96)

Dengan demikian, perbuatan sebagian orang yang merentangkan punggungnya dengan berlebihan sehingga hampir-hampir ia dalam posisi tiarap—dan menyangka telah menjalankan perintah untuk lurus dalam sujud—justru menyelisihi sunnah, karena tidak ada seorang pun sahabat yang menceritakan tata cara shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyebutkan bahwa beliau meluruskan punggungnya di saat sujud sebagaimana yang mereka sebutkan dalam ruku’[1]. Yang diajarkan dalam as-Sunnah hanyalah perut dijauhkan dari kedua paha, tidak menempel, sehingga punggung dalam posisi terangkat/tinggi.

Perbuatan memanjangkan punggung hingga lurus, selain menyelisihi sunnah, juga masuk kepada kebid’ahan. Selain itu, perbuatan memberi kesulitan yang sangat bagi orang yang shalat karena jika punggung lurus tentunya berat badan bertumpu pada dahi dan memberi pengaruh pada leher, sehingga akan sangat memayahkan. (Majmu’ Fatawa wa Rasail Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah, 13/188 dan 379, asy-Syarhul Mumti’, 3/121)

Tata Cara Sujud Wanita Sama dengan Pria

Abu Dawud dalam Marasil-nya (hlm. 116—118, no. 87) meriwayatkan dari Yazid bin Abi Habib, ia menyebutkan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati dua orang wanita yang sedang shalat. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‘Apabila kalian berdua sujud, tempelkanlah sebagian tubuh kalian ke bumi karena wanita tidak sama dengan lelaki dalam hal sujud’.”

Hadits ini mursal[2] sebagaimana al-Imam Abu Dawud rahimahullah membawakan hadits ini dalam kitabnya, al-Marasil. Hadits mursal bukanlah hujah. Walaupun riwayat yang mursal ini lebih baik dari sisi sanad daripada yang maushul, sebagaimana yang dinyatakan oleh al-Imam al-Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubra (2/223), namun hadits mursal tetaplah masuk dalam kategori hadits-hadits yang lemah ketika dia berdiri sendiri. Lihat keterangan lemahnya hadits ini dalam kitab adh-Dha’ifah (no. 2652) buah karya al-Imam al-Albani rahimahullah.

Dengan demikian, tata cara sujud bagi wanita tidak berbeda dengan lelaki, berdasar hadits sahih yang sudah berulang kita bawakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan,

“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat!”

  1. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberdirikan kedua telapak kaki beliau.

Hal ini sebagaimana diceritakan oleh hadits Aisyah radhiallahu ‘anha saat ia kehilangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari tempat tidurnya di suatu malam. Aisyah radhiallahu ‘anha pun mencari beliau dengan meraba-raba dalam kegelapan. Ternyata, tangannya menyentuh bagian dalam kedua telapak kaki Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dalam keadaan keduanya ditegakkan dan beliau sedang sujud. (HR. Muslim no. 1090)

Jari-jemari kaki saat sujud ini dilipat[3]. Punggung telapak kaki dan ujung-ujung jari kedua kaki dihadapkan ke arah kiblat, sebagaimana ditunjukkan oleh hadits Abu Humaid as-Sa’idi radhiallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari rahimahullah dalam Shahih-nya (no. 828),

“Beliau menghadapkan ujung jari-jemari kedua kaki beliau ke arah kiblat.”
Caranya, dua telapak kaki ditegakkan di atas jari-jemari kedua kaki dan kedua tumit berada pada posisi yang tinggi sehingga punggung kedua telapak kaki bisa mengarah ke kiblat. (Fathul Bari, 2/382)

Kedua tumit ditempelkan, sebagaimana yang disebutkan oleh hadits Aisyah radhiallahu ‘anha dalam Shahih Ibni Khuzaimah (no. 654), diriwayatkan pula oleh al-Hakim rahimahullah (1/228) dan ia mengatakan bahwa hadits tersebut sahih menurut syarat Syaikhain (al-Bukhari dan Muslim, -red.), namun keduanya tidak mengeluarkannya. Hal ini disepakati oleh adz-Dzahabi rahimahullah. Namun, yang benar ialah hadits ini hanya sahih sesuai syarat Muslim rahimahullah (al-Ashl, 2/737).

Adapun lafadznya adalah sebagai berikut.

“Aku kehilangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam—tadinya beliau bersamaku di atas tempat tidurku. Ternyata aku dapati beliau sedang sujud dengan menempelkan kedua tumit beliau dan mengarahkan ujung-ujung jari-jemari beliau ke arah kiblat….”

Sujud di Atas Tanah dan Tikar

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seringnya sujud di atas tanah karena memang masjid beliau tidak ditutupi oleh hamparan atau tikar, sebagaimana ditunjukkan oleh banyak hadits. Namun, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah pula shalat di atas alas, tikar, atau khumrah yang sekadar mengalasi wajah. Dengan demikian, tidaklah terlarang apabila seseorang shalat dan sujud dengan memberi alas di bawahnya, baik berupa tikar, permadani, sajadah, maupun yang semisalnya

Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan rahimahullah berkata, “Asalnya, sujud dilakukan dengan meletakkan anggota-anggota sujud langsung bersentuhan dengan tanah/bumi tanpa ada penghalang. Demikian yang afdal karena menunjukkan puncak ketundukan/menghinakan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Namun, apabila seseorang sujud di atas sesuatu yang menjadi alas atau penghalang antara dia dan tanah, tidak apa-apa dan tidak ada larangannya. Shalatnya sah. Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sujud dengan apa yang mudah bagi beliau. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah sujud di atas bumi (tanpa alas) dan terkadang sujud di atas tikar.

Ulama mengatakan, “Alas yang dipakai untuk sujud orang yang shalat ada tiga macam.
1. Ia sujud di atas alas yang terpisah dari dirinya, seperti hamparan (tikar atau permadani atau yang semisalnya)

Yang seperti ini tidak apa-apa walaupun yang afdal adalah langsung di atas tanah.
2. Alas yang bersambung dengan orang yang shalat, seperti imamah/sorbannya dan ujung bajunya.

Ini juga tidak apa-apa karena para sahabat pernah melakukannya saat shalat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Waktu itu, mereka merasakan tanah begitu panas sehingga mereka kesulitan sujud di atasnya. Boleh pula memakai alas ini guna menghindari duri atau kerikil.

  1. Alas tersebut bersambung dengan orang yang shalat dan merupakan anggota-anggota sujudnya.

Hal ini menyebabkan shalatnya tidak sah. Misalnya, ia membentangkan kedua telapak tangannya di atas tanah lantas sujud dengan meletakkan dahinya di atas telapak tangannya. (Tashilul Ilmam, 2/253)

Bekas Hitam di Dahi karena Sujud adalah Tanda Orang Saleh?
Fadhilatusy Syaikh al-Imam Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Hal itu bukan tanda orang-orang saleh. Yang menjadi tanda justru cahaya yang tampak pada wajah (wajah yang tampak bercahaya/tidak suram dan menghitam), dada yang lapang, akhlak yang baik, dan yang semisalnya. Adapun bekas sujud yang tampak pada dahi, terkadang juga tampak pada wajah orang-orang yang hanya mengerjakan shalat fardhu karena kulitnya yang tipis, sementara itu pada wajah orang yang banyak mengerjakan shalat dan sujudnya lama terkadang tidak tampak.” (Majmu’ Fatawa, fatwa no. 523, 13/188)

 

Seseorang yang Tidak Bisa Sujud dengan Sempurna atau Tidak Bisa Sujud Sama Sekali

Hal ini terjadi misalnya karena masjid penuh sesak dan orang-orang berdesak-desakan saat mengerjakan shalat berjamaah, seperti yang terjadi di Masjidil Haram. Kalaupun sujud, maka jatuhnya di punggung orang yang shalat di depannya, bukan di tanah.

Tentang hal ini, ada tiga pendapat ulama.

  1. Ia tetap sujud di atas punggung saudaranya atau di atas kaki saudaranya apabila memang jamaah penuh sesak. Ini yang masyhur dalam mazhab al-Imam Ahmad rahimahullah.
  2. Ia cukup memberikan isyarat.
  3. Ia menanti hingga orang di depannya bangkit dari sujud, barulah ia sujud setelahnya.

Pendapat yang kuat dalam masalah ini adalah dengan memberi isyarat karena ada asalnya dalam syariat, yaitu orang yang tidak mampu sujud maka ia berisyarat. Sementara itu, orang yang disebutkan di atas, hakikatnya ia tidak mampu sujud karena tidak ada tempat berupa lantai untuk meletakkan anggota sujud.

Adapun pendapat yang menyatakan bahwa orang yang shalat disuruh sujud di atas punggung orang yang di depannya, tentu akan menimbulkan masalah, yaitu ia mengganggu dan mengacaukan kekhusyukan orang lain. Lagi pula, sujud yang dilakukan tetap tidak bisa sempurna, karena ia sujud di atas sesuatu yang tinggi (punggung orang lain).

Sementara itu, pendapat yang mengatakan menanti orang yang di depan selesai sujud, berarti orang tersebut akan tertinggal dari amalan imamnya, walaupun ada sisi kebenarannya karena adanya sebuah uzur.

Akan tetapi, pendapat yang lebih kuat adalah dengan memberi isyarat, wallahu a’lam. (Majmu’ Fatawa wa Rasail Fadhilatusy Syaikh al-Imam Ibnu Utsaimin rahimahullah, 13/189—190, fatwa no. 525)

 

Wajib Thuma’ninah dan Menyempurnakan Sujud

Hudzaifah radhiallahu ‘anhu pernah melihat seseorang tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya. Setelah orang itu selesai shalat, Hudzaifah radhiallahu ‘anhu berkata kepadanya, “Engkau belum shalat. Apabila sampai engkau mati dalam keadaan shalatmu demikian, matimu tidak di atas fitrah yang ditetapkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. al-Bukhari no. 791)

Hadits ini menunjukkan wajibnya thuma’ninah dalam sujud. Apabila thuma’ninah ini hilang, shalatnya akan batal. (Fathul Bari, 2/356)

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab. (insya Allah bersambung)

Ditulis oleh Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq

 

[1]  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meluruskan punggung beliau saat ruku.

[2] Hadits mursal adalah hadits seorang tabi’in yang tidak bertemu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam langsung menyandarkan haditsnya kepada beliau, tanpa menyebutkan perantara antara dia dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun hadits maushul adalah hadits yang sanadnya bersambung.

[3] Haditsnya dikeluarkan oleh Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah.

 

Sifat Shalat Nabi (4)

Telah kita lewati pembicaraan tentang qiraah (membaca Al-Qur’an) di dalam shalat. Termasuk hal yang perlu diperhatikan dalam membaca Al-Qur’an adalah membacanya dengan tartil, karena Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam diperintahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala untuk membaca Al-Qur’an dengan tartil, tidak tergesa-gesa atau cepat-cepat. Al-Qur’an dibaca huruf demi huruf, kata demi kata. Membaca Al-Qur’an dengan cara seperti ini juga berlaku di dalam shalat. Maka dari itu, orang yang shalat harus memerhatikan bacaannya. Ia tidak boleh tergesa-gesa ingin segera menyelesaikan bacaannya.

Ulama berbeda pendapat dalam menentukan mana yang lebih utama atau afdhal, apakah mentartil Al-Qur’an dalam keadaan surat/ayat yang dibaca pendek/sedikit atau cepat dalam membaca Al-Qur’an namun banyak ayat yang bisa dibaca. Pendapat yang pertama dipegangi oleh Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, semoga Allah subhanahu wa ta’ala meridhai mereka, dan dipilih oleh Ibnu Sirin rahimahullah. Adapun pendapat kedua dipegangi oleh pengikut Syafi’iyah dengan berdalil sabda Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Siapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah maka ia memperoleh satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali.” (HR. at-Tirmidzi no. 2910, disahihkan dalam al-Misykat no. 2137 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir no. 6469) (al-Ashl, 2/562)

Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Zadul Ma’ad (1/125) menggabungkan dua pendapat ini dan al-Hafizh rahimahullah mengikutinya dalam Fathul Bari (9/73). Dinyatakan bahwa masing-masing memiliki keutamaan, baik yang cepat maupun yang tartil. Namun, dengan syarat orang yang membaca dengan cepat tidak terluputkan darinya satu huruf pun, harakat atau sukun yang wajib. Salah satunya bisa lebih utama daripada yang lain dan bisa pula sama. Orang yang mentartil dan memerhatikan apa yang dibacanya, meresapi dan merenungkannya, ibarat orang yang bersedekah dengan satu permata yang sangat mahal. Sementara itu, orang yang membaca dengan cepat, ibarat orang yang bersedekah dengan sejumlah permata, tetapi nilai semua permata tersebut sama dengan satu permata yang mahal. Terkadang satu permata lebih bernilai dari sejumlah permata, namun terkadang pula sebaliknya, sejumlah permata lebih mahal daripada satu permata. Wallahu a’lam.

Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Pada hari kiamat nanti dikatakan kepada pembaca Al-Qur’an, “Bacalah dan naiklah! Bacalah dengan tartil sebagaimana engkau mentartilnya di dunia. Sungguh, kedudukanmu (derajat di surga) menurut akhir ayat yang engkau baca.” (HR. Abu Daud no. 1464, at-Tirmidzi no. 2914, dll. Hadits ini hasan sebagaimana dalam al-Misykat no. 2134 dan ash-Shahihah no. 2240)

Isti’adzah dan Meludah Kecil dalam Shalat

Utsman ibnu Abil Ash radhiallahu ‘anhu berkata kepada Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Wahai Rasulullah, sungguh setan menghalangi antara aku dan shalatku serta bacaanku. Ia membuatku kacau dan ragu-ragu saat membaca Al-Qur’an (dalam shalat).”

Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Itu adalah setan yang disebut Khinzib. Jika engkau merasakan gangguannya, berta’awudzlah (mintalah perlindungan) kepada Allah darinya dan meludah kecillah ke arah kirimu tiga kali.” Utsman berkata, “Aku pun melakukan bimbingan Rasul tersebut maka Allah menghilangkan gangguan setan itu dariku.” (HR. Muslim no. 5702)

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Hadits ini menunjukkan disunnahkannya berta’awwudz kepada Allah subhanahu wa ta’ala ketika ditimpa waswas, disertai dengan meludah kecil ke arah kiri tiga kali[1].” (al-Minhaj 14/411)

Ruku’

Selesai membaca Al-Qur’an saat berdiri dalam shalat, Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam diam sejenak. Demikianlah yang beliau  shallallahu ‘alaihi wa sallam lakukan setiap selesai membaca satu ayat. Setelah itu, beliau  shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangan untuk bertakbir, sebagaimana mengangkat tangan saat takbiratul ihram, lalu ruku’. Tentang mengangkat tangan sebelum ruku’ ini beritanya mutawatir dari Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini adalah mazhab imam yang tiga dan selain mereka dari kalangan jumhur ahli hadits dan fuqaha. (Mausu’ah ash-Shalah ash-Shahihah, 2/868)

 

Tata Cara Ruku’

Pada awalnya Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan tathbiq dalam ruku’, yaitu mengumpulkan jari-jemari kedua telapak tangannya, dengan menempelkan bagian dalam telapak tangan satu dengan yang lain, lalu diletakkan di antara dua paha atau dua lutut beliau sebagaimana yang ditunjukkan dalam hadits Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh al-Imam Muslim rahimahullah dalam Shahih-nya (no. 1191, “Kitabul Masajid”, bab an-Nadb ila wadh’il aydi ‘alar rukab fir ruku’ wa naskhut tathbiq)
Cara ruku’ seperti ini kemudian ditinggalkan Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan beliau melarangnya. Yang kemudian beliau lakukan saat ruku’ adalah:

  1. Meletakkan dua telapak tangan beliau di atas kedua lutut beliau.
    Cara seperti inilah yang belakangan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam perintahkan, sebagaimana ditunjukkan oleh hadits Sa’d ibnu Abi Waqqash radhiallahu ‘anhu. Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajari kami shalat. Beliau bertakbir dan mengangkat kedua tangannya. Kemudian ruku’ dan mengumpulkan jari-jemari kedua tangannya dengan menempelkan bagian dalam telapak tangan satu dengan yang lain lalu meletakkannya di antara dua lututnya.”

Hal ini sampai kepada Sa’d, maka ia berkata, “Benar saudaraku itu. Dahulu kami memang melakukan cara seperti itu. Kemudian Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami dengan cara seperti ini.” Sa’d memegang kedua lututnya (dengan kedua telapak tangannya). (HR. al-Bukhari dalam Raf’ul Yadain hlm. 12, dll. Al-Imam ad-Daraquthni rahimahullah berkata, “Isnadnya tsabit sahih.” Al-Imam al-Albani rahimahullah berkata, “Hadits ini di atas syarat Muslim.” Lihat al-Ashl, 2/628)

Mush’ab ibnu Sa’d berkata, “Aku shalat di samping ayahku. Aku mengumpulkan jari-jemari telapak tanganku dengan menempelkan bagian dalam telapak tangan satu dengan yang lain dan aku letakkan di antara kedua pahaku. Ayahku melarangku ruku’ dengan cara demikian. Ia menyatakan, ‘Dahulu kami melakukan cara seperti yang kau lakukan, lalu kami dilarang. Kemudian kami diperintah untuk meletakkan tangan-tangan kami di atas lutut’.” (HR. al-Bukhari no. 790 dan Muslim no. 1197)

Umar ibnul Khaththab radhiallahu ‘anhu berkata, “Sungguh, termasuk sunnah (ajaran/petunjuk Nabi) adalah memegang lutut saat ruku’.” (HR. at-Tirmidzi no. 258 dan an-Nasa’i no. 1035, sanadnya sahih sebagaimana dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi dan Shahih Sunan an-Nasa’i)

Al-Imam at-Tirmidzi rahimahullah berkata setelah membawakan hadits di atas, “Ini yang diamalkan oleh ahlul ilmi dari kalangan sahabat Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam, tabi’in, dan orang-orang setelah mereka. Tidak ada perselisihan di antara mereka dalam hal ini, selain yang diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud dan sebagian muridnya. Mereka mengumpulkan jari-jemari mereka (saat ruku). Cara tathbiq (yang mereka lakukan) ini mansukh menurut ahlul ilmi.” (Sunan at-Tirmidzi, 1/162—163)

  1. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan kedua telapak tangan beliau di atas kedua lutut, beliau seakan menggenggam keduanya.

Hal ini sebagaimana ditunjukkan dalam tambahan hadits Abu Humaid as-Sa’idi[2] radhiallahu ‘anhu yang dikeluarkan oleh at-Tirmidzi no. 260:

“Rasulullah ruku’ dan meletakkan dua telapak tangan di atas kedua lutut. Beliau mengokohkan kedua tangan tersebut pada kedua lututnya seakan-akan menggenggam keduanya.” (Disahihkan dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi)

Hadits Umar radhiallahu ‘anhu di atas juga menunjukkan hal demikian.

  1. Jari-jemari direnggangkan (dijauhkan satu dari yang lain) ketika menggenggam lutut.
    Hal ini pernah diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada orang yang salah shalatnya. Dalam hadits Rifa’ah ibnu Rafi’ radhiallahu ‘anhu yang dikeluarkan oleh al-Imam Ahmad (al-Musnad, 4/340) disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada orang yang salah shalatnya:

“Apabila engkau ruku’, letakkanlah dua telapak tanganmu di atas kedua lututmu, kemudian renggangkanlah jari-jemarimu satu dari yang lain, lalu diam/tenanglah hingga seluruh anggota mengambil bagian/posisinya.” (“Sanadnya hasan,” kata al-Imam al-Albani rahimahullah dalam al-Ashl, 2/633)

Hadits di atas memiliki syahid dari hadits Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma. Ia menyebutkan bahwa Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada seorang A’rabi:

“Jika engkau ruku’, letakkanlah kedua telapak tanganmu di atas kedua lututmu, kemudian renggangkanlah jari-jemarimu, lalu diam/tenanglah hingga setiap anggota mengambil tempat/posisinya.” (HR. Ibnu Hibban dalam Shahih-nya)
Posisi jari-jemari ini ke arah yang lebih rendah di atas kedua betis, seperti ditunjukkan oleh hadits Abu Mas’ud Uqbah bin Amr al-Badri radhiallahu ‘anhu, yang dibawakan oleh Atha’ ibnus Saib, dari Salim al-Barad, ia berkata, “Kami mendatangi Abu Mas’ud Uqbah ibnu Amr al-Anshari. Kami mengatakan kepadanya, ‘Sebutkan kepada kami tentang shalat Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Abu Mas’ud pun berdiri di hadapan kami di dalam masjid. Ia bertakbir. Tatkala ruku’, ia meletakkan kedua tangannya di atas kedua lututnya dan ia menjadikan jari-jemari lebih rendah dari lututnya, serta menjauhkan kedua sikunya dari rusuknya, hingga segala sesuatu tenang/menetap pada tempat/posisinya…’.”

Setelah menyelesaikan shalatnya, Abu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata, “Demikianlah kami melihat Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat.” (HR. Abu Dawud no. 863, disahihkan dalam Shahih Sunan Abi Dawud)

  1. Dari hadits Abu Mas’ud radhiallahu ‘anhu di atas kita dapati pula tata cara ruku’ yang berikutnya, yaitu menjauhkan kedua siku dari rusuk.

Hal ini ditunjukkan pula oleh hadits dari sejumlah sahabat. Di antaranya adalah hadits Abu Humaid radhiallahu ‘anhu dengan lafadz, “Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua lututnya seakan-akan memegangi kedua lututnya. Beliau juga menjauhkan kedua tangannya dari kedua rusuknya.” (HR. at-Tirmidzi no. 260, disahihkan dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi)

At-Tirmidzi rahimahullah berkata, “Inilah yang dipilih oleh ahlul ilmi, yaitu seseorang yang shalat hendaknya menjauhkan kedua tangannya dari kedua rusuknya ketika ruku’ dan sujud.” (Sunan at-Tirmidzi, 1/163)

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Kami tidak mengetahui ada perbedaan pendapat dari seorang ulama pun tentang sunnahnya hal ini. Hikmah dilakukannya cara seperti ini adalah lebih sempurna dalam penampakan dan bentuk shalat.”

Catatan
Sunnah menjauhkan kedua tangan dari kedua rusuk ini dilakukan dengan syarat tidak mengganggu orang lain yang shalat di sampingnya dalam shalat berjamaah. Yang wajib dalam ruku’, kata sebagian ulama (sebagaimana dalam al-Inshaf 3/480), ia membengkokkan punggungnya di mana keberadaannya lebih dekat kepada ruku’ yang sempurna daripada berdiri sempurna. Artinya, orang yang melihatnya mengetahui bahwa ia sedang ruku’, tidak sedang berdiri. (asy-Syarhul Mumti’, 3/91)

Insya Allah bersambung

 Ditulis oleh: Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq

[1] Ia sedikit mengarahkan kepalanya ke arah kiri tubuhnya, bukan ke arah orang lain yang ada di sebelah kirinya apabila ia shalat berjamaah, karena hal tersebut akan mengganggu orang lain.

[2]  Al-Imam al-Bukhari meriwayatkan hadits Abu Humaid tanpa tambahan yang disebutkan.

 

Sifat Shalat Nabi (8)

(ditulis oleh: Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari)

Membaca al-Fatihah ayat demi ayat
Setelah membaca basmalah, mulailah Rasulullah n membaca surah al-Fatihah yang beliau baca ayat demi ayat. Beliau n berhenti setiap satu ayat, sebagaimana diriwayatkan dari Ummu Salamah x ketika ditanya tentang bacaan Rasulullah n. Ummu Salamah x menjawab, “Adalah beliau memotong bacaan ayat demi ayat ….” (HR. Ahmad 6/302, hadits ini shahih bi dzatihi bila tidak ada ‘an’anah1 Ibnu Juraij, namun hadits ini memiliki mutaba’ah)
Terkadang Rasulullah n membaca:
dengan memendekkan lafadz ﭞ (dibaca مَلِكِ) dan pada kesempatan lain beliau n memanjangkannya (dibaca مَالِكِ).
Dua bacaan ini, kata al-Hafizh Ibnu Katsir t, shahih mutawatir dalam qira’ah sab’ah. (Tafsir Al-Qur’anil ‘Azhim, 1/32)

Membaca al-Fatihah Merupakan Rukun shalat
Rasulullah n bersabda:
لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ
“Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Fatihatul Kitab.” (HR. al-Bukhari no. 756 dan Muslim no. 872)
Hadits ini menunjukkan tidak teranggapnya shalat orang yang tidak membaca surah Al-Fatihah, sehingga membacanya dalam shalat merupakan amalan rukun2. Yang berpendapat seperti ini adalah jumhur ulama dari kalangan sahabat, tabi’in, dan yang setelah mereka. Ibnul Mundzir menghikayatkan pendapat ini dari Umar ibnul Khaththab, Utsman ibnu Abil Ash, Ibnu Abbas, Abu Hurairah, Abu Sa’id al-Khudri, Khawwat ibnu Jubair, az-Zuhri, Ibnu ‘Aun, al-Auza’i, Malik, Ibnul Mubarak, Ahmad, Ishaq, dan Abu Tsaur. Dihiyakatkan pula pendapat ini dari ats-Tsauri dan Dawud. Mereka berdalil dengan hadits di atas dan hadits-hadits lain yang sahih.
Adapun Abu Hanifah berpendapat membaca al-Fatihah tidak wajib, tetapi sunnah saja. Di riwayat lain, beliau menyatakan bahwa membaca al-Fatihah wajib namun bukan syarat. Seandainya seseorang membaca selain al-Fatihah niscaya sudah mencukupi. Adapun hadits yang dijadikan argumen oleh jumhur yang mengatakan rukun, mereka menjawab bahwa yang ditiadakan adalah kesempurnaan shalat. Jadi, maksudnya adalah orang yang tidak membaca al-Fatihah tidak shalat dengan sempurna.
Akan tetapi, makna ini menyelisihi hakikat, zahir, yang langsung dipahami oleh benak. Oleh karena itu, yang kuat menurut penulis, al-Fatihah ini harus dibaca dalam setiap rakaat shalat, sebagaimana pendapat jumhur ulama dari kalangan salaf dan khalaf (ulama belakangan, red.). (al-Majmu’ 3/283—284, al-Minhaj 4/323)
Sebagian ulama berpendapat bahwa al-Fatihah hanya wajib dibaca dalam dua rakaat yang awal dan tidak wajib pada rakaat berikutnya. Namun, sebagaimana disebutkan di atas, yang benar al-Fatihah wajib dibaca pada seluruh rakaat. Yang menunjukkan hal ini adalah sabda Rasulullah n kepada orang yang keliru shalatnya, setelah mengajarinya shalat yang benar. Di antara yang diajarkan adalah membaca al-Fatihah. Beliau n bersabda:
ثُمَّ افْعَلْ ذَلِكَ فِي صَلاَتِكَ كُلّهَا
“Kemudian lakukanlah hal tersebut dalam shalatmu seluruhnya.”

Keutamaan al-Fatihah
Dalam sebuah hadits disebutkan:
قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: قَسَمْتُ الصَّلاَةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ؛ فَنِصْفُهَا لِي وَنِصْفُهَا لِعَبْدِي، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ. وَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ n: اقْرَؤُوْا: يَقُوْلُ الْعَبْدُ: { ﭖ ﭗ ﭘ ﭙ} يَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى: حَمَّدَنِي عَبْدِي. وَيَقولُ الْعَبْدُ: { ﭛ ﭜ}. يَقُولُ اللهُ تَعَالَى: أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي. وَيَقُولُ الْعَبْدُ: { ﭞ ﭟ ﭠ}. يَقُولُ اللهُ تَعَالَى: مَجَّدَنِي عَبْدِي. وَيَقُولُ الْعَبْدُ: { ﭢ ﭣ ﭤ ﭥ} قَالَ: فَهذِهِ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ. وَيَقُولُ الْعَبْدُ: {ﭧ ﭨ ﭩ ﭪ ﭫ ﭬ ﭭ ﭮ ﭯ ﭰ ﭱ ﭲ ﭳ} قَالَ: فَهَؤُلاَءِ لِعَبْدِي، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ
Allah tabaraka wa ta’ala berfirman, “Aku membagi3 shalat4 antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua. Separuh untuk-Ku dan separuh lagi untuk hamba-Ku, dan untuk hamba-Ku apa yang dimintanya.” Rasulullah n bersabda, “Bacalah oleh kalian!” Si hamba berkata, “Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.” Allah l berfirman, “Hamba-Ku memuji-Ku.” Hamba berkata, “Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” Allah l berkata, “Hamba-Ku menyanjung-Ku.” Si hamba berkata, “Yang menguasai hari pembalasan.” Allah l berfirman, “Hamba-Ku mengagungkan Aku.” Si hamba berkata, “Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.” Allah berfirman, “Ini antara Aku dan hamba-Ku, dan untuk hamba-Ku apa yang ia minta.” Si hamba berkata, “Berilah kami petunjuk kepada jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang Engkau berikan nikmat kepada mereka, bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat.” Allah l berfirman, “Ini untuk hamba-Ku, dan hamba-Ku mendapatkan apa yang ia minta.” (HR. Muslim no. 876)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t berkata, “Sungguh Abdullah bin Ziyad bin Sulaiman, seorang pendusta, meriwayatkan dengan tambahan pada awal hadits “Apabila hamba itu membaca ‘Bismillahir rahmanir rahim,’ Allah l berfirman, “Hamba-Ku telah mengingat-Ku.” Karena itu, ulama bersepakat mendustakan tambahan ini.” (Majmu’ Fatawa, 22/423)
Rasulullah n bersabda tentang al-Fatihah ini:
مَا أَنْزَلَ اللهُ k فِي التَّوْرَاةِ وَلاَ فِي الْإِنْجِيْلِ مِثْلَ أُمِّ الْقُرْآنِ وَهِيَ السَّبْعُ الْمَثَانِي…
“Allah tidak menurunkan dalam Taurat dan tidak pula dalam Injil yang semisal Ummul Qur’an, dan dia adalah tujuh ayat yang berulang-ulang4 ….” (HR. an-Nasa’i no. 914, at-Tirmidzi no. 3125, dan Ahmad 5/114, dari Abu Hurairah z, disahihkan dalam Shahih Sunan an-Nasa’i dan Shahih Sunan at-Tirmidzi)
Orang yang belum bisa menghafalnya harus mempelajari dan terus berupaya menghafalkannya. Bila waktu telah mendesak, misalnya waktu shalat hampir habis, sementara ia belum juga dapat menghafalkan al-Fatihah, ia membaca apa yang dihafalnya dari Al-Qur’an. Ini berdasarkan keumuman sabda Rasulullah n:
اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ
“Bacalah apa yang mudah bagimu dari Al-Qur’an (yang telah kau hafal).” (HR. al-Bukhari no. 757 dan Muslim no. 883)
Bila ia sama sekali tidak memiliki hafalan Al-Qur’an, ia mengucapkan:
سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ
“Mahasuci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah, Allah Mahabesar, tidak ada daya dan kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah Yang Mahatinggi lagi Mahaagung.” (HR. Ahmad 4/353, 356, 382, Abu Dawud no. 832, dihasankan dalam Shahih Sunan Abi Dawud)
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.
(Insya Allah bersambung)

Catatan Kaki:

1 Periwayatan dengan menggunakan kata ‘an (dari) sehingga tidak jelas apakah perawi mendengar langsung atau tidak, sedangkan Ibnu Juraij seorang mudallis ( perawi yang suka menggelapkan hadits).
2 Rukun merupakan amalan shalat yang bila ditinggalkan karena sengaja ataupun tidak, shalat tersebut batal, tidak sah.

3 Maksudnya, membagi dari sisi makna. Bagian pertama adalah pujian kepada Allah l, pemuliaan, sanjungan, dan penyerahan urusan kepada-Nya. Bagian kedua adalah permohonan, ketundukan, dan perasaan butuh.
4 Yang dimaksud adalah al-Fatihah. Al-Fatihah dinamakan shalat, karena shalat tidak sah kecuali dengan membaca al-Fatihah.
4 Berulang-ulang dibaca setiap shalat.

 

Sifat Shalat Nabi (7) : Bacaan Basmalah

(ditulis oleh: Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari)

 

Bacaan Basmalah
Rasulullah n mengucapkan:
tanpa mengeraskan suara, sebagaimana dipahami dari hadits Anas bin Malik z yang memiliki banyak jalan dengan lafadz yang berbeda-beda, dan semua menunjukkan bahwa Nabi n tidak mengeraskan suara ketika mengucapkan basmalah. Salah satu jalannya adalah dari Syu’bah, dari Qatadah, dari Anas z, ia berkata:
أَنَّ النَّبِيَّ n وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ c كَانُوا يَفْتَتِحُونَ الصَّلاَةَ بِـ { ﭖ ﭗ ﭘ ﭙ}
“Sesungguhnya Nabi n, Abu Bakr dan Umar c, membuka (bacaan dengan suara keras) dalam shalat mereka dengan ‘Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin.” (HR. Al-Bukhari no. 743 dan Muslim no. 888)
Al-Imam Ash-Shan’ani t menyatakan, hadits di atas menunjukkan bahwa Nabi n, Abu Bakr dan Umar c tidak memperdengarkan kepada makmum (orang yang shalat di belakang mereka) ucapan basmalah dengan suara keras saat membaca Al-Fatihah (dalam shalat jahriyah). Mereka membacanya dengan sirr/perlahan. (Subulus Salam 2/191)
Adapun ucapan Anas, “Mereka membuka (bacaan dengan suara keras) dalam shalat mereka dengan Alhamdulillah…” tidak mesti dipahami bahwa mereka tidak membaca basmalah secara sirr. (Fathul Bari, 2/294)
Al-Imam Asy-Syafi’i t mengatakan, “Makna hadits ini adalah Nabi n, Abu Bakr, Umar, dan Utsman g, mengawali bacaan Al-Qur’an dalam shalat dengan (membaca) Fatihatul Kitab sebelum membaca surah lainnya. Bukan maknanya mereka tidak mengucapkan Bismillahir rahmanir rahim.” (Sunan At-Tirmidzi, 1/156)
Ulama berselisih pandang dalam masalah men-jahr-kan (mengucapkan dengan keras) ucapan basmalah ataukah tidak dalam shalat jahriyah. Sebetulnya, semua ini beredar dan bermula dari perselisihan apakah basmalah termasuk ayat dalam surah Al-Fatihah atau bukan. Juga, apakah basmalah adalah ayat yang berdiri sendiri pada setiap permulaan surah dalam Al-Qur’an selain surah Al-Bara’ah (At-Taubah), ataukah bukan ayat sama sekali kecuali dalam ayat 30 surah An-Naml? Insya Allah pembaca bisa melihat keterangannya pada artikel: Apakah Basmalah Termasuk Ayat dari Surah Al-Fatihah?
Kami (penulis) dalam hal ini berpegang dengan pendapat mayoritas ulama yang mengatakan bahwa basmalah dibaca dengan sirr. Wallahu a’lamu bish-shawab.
Al-Imam At-Tirmidzi t berkata, “Yang diamalkan oleh mayoritas ulama dari kalangan sahabat Nabi n—di antara mereka Abu Bakr, Umar, Utsman, dan selainnya g—dan ulama setelah mereka dari kalangan tabi’in, serta pendapat yang dipegang Sufyan ats-Tsauri, Ibnul Mubarak, Ahmad, dan Ishaq, bahwasanya ucapan basmalah tidak dijahrkan. Mereka mengatakan, orang yang shalat mengucapkannya dengan perlahan, cukup didengarnya sendiri.” (Sunan At-Tirmidzi, 1/155)
Guru besar kami, Asy-Syaikh Al-Muhaddits Muqbil ibnu Hadi al-Wadi’i t, dalam kitab beliau, Al-Jami’us Shahih mimma Laisa fish Shahihain (2/97), menyatakan bahwa riwayat hadits-hadits yang menyebutkan basmalah dibaca secara sirr itu lebih shahih/kuat daripada riwayat yang menyebutkan bacaan basmalah secara jahr.
Adapun Al-Imam Asy-Syafi’i t dan pengikut mazhabnya, juga—sebelum mereka—beberapa sahabat, di antaranya Abu Hurairah, Ibnu Umar, Ibnu Abbas, dan Ibnuz Zubair g, serta kalangan tabi’in, berpendapat bahwa bacaan basmalah dijahrkan. (Sunan At-Tirmidzi, 1/155)

Sifat Shalat Nabi (6)

(ditulis oleh: Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari)

 

Isti’adzah
Isti’adzah adalah bersandar kepada Allah l dan mendekat ke sisi-Nya, untuk berlindung dari kejelekan setiap makhluk yang memiliki kejelekan. ‘Iyadzah itu untuk mencegah kejelekan.
Setelah beristiftah, sebelum membaca Al-Qur’an dalam shalat, Rasulullah n membaca ta’awudz (memohon perlindungan) kepada Allah l terlebih dahulu dengan mengucapkan:
أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ
“Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terusir/dijauhkan (dari rahmat1) dari was-wasnya2, dari kesombongannya, dan dari sihirnya.”3 (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf 1/92/1, Ath-Thabarani dalam Al-Kabir 1/78/2, dari Jubair ibnu Muth’im z, dishahihkan dalam Irwa’ul Ghalil hadits no. 342)
Terkadang dalam ta’awudz tersebut, Rasulullah n menambah dengan:
أَعُوْذُ بِاللهِ السَّمِيْعِ الْعَلِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ، مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ
“Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari setan yang terusir/dijauhkan dari rahmat, dari was-wasnya, dari kesombongannya, dan dari sihirnya.” (HR. Abu Dawud no. 775, dan lainnya, dari Abu Sa’id Al-Khudri z dengan sanad yang hasan sebagaimana dalam Irwa’ul Ghalil pembahasan hadits no. 342)
Al-Imam Ahmad t dalam Masa’il Ibni Hani’ (1/51) menyatakan, sepantasnya tambahan ini diucapkan sesekali.
Jumhur ulama berpendapat hukum ta’awudz ini sunnah, dalilnya adalah hadits Al-Musi’u Shalatuhu, yang di dalamnya tidak disebutkan ta’awudz. (Al-Majmu’ 3/283, Taudhihul Ahkam 2/170)
Ini merupakan pendapat Al-Hasan, Ibnu Sirin, Atha’, Ats-Tsauri, Al-Auza’i, Asy-Syafi’i, Ishaq, dan ashabur ra’yi. (Al-Mughni, Kitab Ash-Shalah, Fashl La Yajharul Imam bil Iftitah)
Pendapat inilah yang penulis pandang lebih kuat. Wallahu a’lamu bish-shawab.
Al-Imam Asy-Syaukani t menyebutkan, “Tidak ada dalam hadits-hadits ta’awudz selain menerangkan bahwa ta’awudz dilakukan pada rakaat yang pertama. Adapun Al-Hasan, Atha’, dan Ibrahim berpendapat ta’awudz ini mustahab diucapkan dalam setiap rakaat. Mereka berdalil dengan keumuman firman Allah l:
“Bila engkau membaca Al-Qur’an maka mintalah perlindungan kepada Allah.” (An-Nahl: 98)
Tidaklah diragukan bahwa ayat di atas menunjukkan disyariatkannya isti’adzah sebelum membaca Al-Qur’an. Ayat ini berlaku umum, apakah si pembaca Al-Qur’an tersebut berada di luar shalat atau sedang mengerjakan shalat. Namun, hadits-hadits yang melarang berbicara di dalam shalat menunjukkan larangan tersebut tidak dibedakan, baik berbicara dengan mengucapkan ta’awudz, maupun ucapan-ucapan lain yang tidak ada dalil yang mengkhususkannya dan tidak pula ada izin untuk mengucapkan yang sejenisnya. Karena itu, yang lebih berhati-hati adalah cukup dengan yang dituntunkan dalam As-Sunnah, yaitu melakukan isti’adzah sebelum membaca Al-Qur’an pada rakaat pertama saja.” (Nailul Authar, 2/39)
Abu Hurairah z berkata:
كَانَ رَسُولُ اللهِ n إِذَا نَهَضَ فِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ افْتَتَحَ الْقِرَاءَةِ بِالْحَمْدِ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَلَمْ يَسْكُتْ
“Adalah Rasulullah n bila bangkit ke rakaat kedua, beliau membuka bacaan (qiraah) dengan ‘Alhamdulillahi rabbil alamin’ dan beliau tidak diam.” (HR. Muslim no. 1355)
Hadits ini menunjukkan tidak disyariatkannya diam sebelum membaca (Al-Fatihah dan surat) pada rakaat yang kedua. Tidak pula disyariatkan berta’awudz dalam raakat kedua ini. Dan hukum rakaat-rakaat berikutnya (setelah rakaat kedua) sama dengan hukum rakaat yang kedua. Jadi, diam sebelum membaca (Al-Fatihah dan surat) itu hanya khusus pada rakaat yang pertama. Demikian pula berta’awudz dalam rakaat pertama. (Nailul Authar, 2/136)
Ibnul Qayyim t dalam Zadul Ma’ad (1/86) berkata, “Mencukupkan satu ta’awudz (hanya dalam rakaat pertama, pen.) adalah pendapat yang lebih nampak, berdasarkan hadits yang shahih dari Abu Hurairah z:
أَنَّ النَّبِيَّ n كَانَ إِذَا نَهَضَ مِنَ الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ، اسْتَفْتَحَ الْقِرَاءَةَ وَلَمْ يَسْكُتْ
“Nabi n bila bangkit menuju rakaat yang kedua, beliau membuka dengan bacaan dan tidak diam.”
Bahwa Rasulullah n mencukupkan satu istiftah, karena beliau tidak menyelingi dua qiraah (bacaan) dengan diam, tapi dengan dzikir. Dengan demikian, qiraah dalam shalat dianggap satu qiraah jika yang menyelinginya adalah pujian kepada Allah l, tasbih, tahlil, atau shalawat kepada Nabi n, dan yang semisalnya.
Ada pula yang berpendapat bahwa ta’awudz hukumnya wajib dan dibaca setiap rakaat dalam shalat, seperti pendapat Ibnu Hazm t dalam Al-Muhalla (2/278) dan ahlul ilmi4 yang lainnya, dengan dalil firman Allah l:
“Bila engkau membaca Al-Qur’an maka mintalah perlindungan kepada Allah.” (An-Nahl: 98)

Rahasia isti’adzah
Isti’adzah memiliki berbagai kebaikan. Diantaranya, sebagai penyuci lisan dari berbagai ucapan sia-sia dan kotor, ketika mengucapkan/membaca kalamullah. Juga sebagai isti’anah (memohon pertolongan) kepada Allah l, dan pengakuan bahwa Allah l-lah yang memiliki kekuasaan, sedangkan hamba itu lemah dan tidak mampu mengatasi musuhnya (setan) yang nyata namun tidak nampak. Sesungguhnyalah, tak ada yang mampu menolak dan mencegah musuh ini kecuali Allah l yang menciptakannya. Terlebih, setan ini tidak dapat menerima keramahtamahan dan tidak peduli dengan kebaikan, berbeda dengan musuh dari kalangan manusia. Hal ini sebagaimana ditunjukkan oleh banyak ayat dalam Al-Qur’an.
Allah l berfirman:
“Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, engkau tidak memiliki kekuasaan atas mereka sama sekali. Cukuplah Rabbmu sebagai pelindung.” (Al-Isra’: 65)
Para malaikat turun untuk memerangi musuh berupa manusia. Siapa saja yang terbunuh oleh musuh yang nampak, dia menjadi seorang syahid. Sementara, orang yang binasa oleh musuh yang tidak nampak, dia akan terusir. Siapa saja yang terkalahkan oleh musuh yang nampak, dia akan mendapatkan balasan pahala, sementara orang yang terkalahkan oleh musuh yang tidak nampak, dia akan tertimpa fitnah dan memikul dosa.
Tatkala setan melihat manusia dari tempat yang tidak terlihat oleh manusia, maka semestinya manusia memohon perlindungan darinya kepada Dzat yang melihatnya sedangkan setan tidak dapat melihat-Nya. (Al-Mishbahul Munir, hal.18)
Penulis mengatakan, masalah ini di luar shalat ketika membaca Al-Qur’an, maka tentunya di dalam shalat seseorang harus lebih memerhatikan lagi diri dan shalatnya, karena ketika itu ia sedang berdiri beribadah kepada Rabbnya, yang semestinya ditegakkan dengan khusyu’ dan menjaga shalatnya dari was-was setan serta tipu dayanya. Wallahul musta’an.
Abu Hurairah z menyatakan bahwa Rasulullah n bersabda:
إِذَا نُوْدِيَ لِلصَّلاَةِ أَدْبَرَ الشَّيْطَانُ وَلَهُ ضُرَاطٌ حَتَّى لاَ يَسْمَعُ التَّأْذِيْنَ، فَإِذَا قَضَى النِّدَاء أَقْبَلَ حَتَّى إِذَا ثَوَّبَ بِالصَّلاَةِ أَدْبَرَ، حَتىَّ إِذَا قَضَى التَّثْوِيْبَ أَقْبَلَ حَتَّى يَخْطُرَ بَيْنَ الْمَرْءِ وَنَفْسِهِ يَقُوْلُ: اُذْكُرْ كَذَا، اُذْكُرْ كَذَا -لِمَا لَمْ يَكُنْ يَذْكُرُ– حَتَّى يَظِلَّ الرَّجُلُ لاَ يَدْرِي كَمْ صَلَّى
“Apabila diserukan adzan untuk shalat setan berlalu dan ia memiliki kentut (berlalu dengan mengeluarkan suara kentut) hingga ia tidak mendengar adzan. Apabila adzan selesai dikumandangkan, ia datang kembali hingga saat diserukan iqamah, ia berlalu lagi. Ketika telah selesai iqamah, ia datang lagi hingga ia bisa melintaskan di hati seseorang berbagai pikiran, ia berkata, ‘Ingatlah ini, ingatlah itu’, padahal sebelumnya orang yang shalat tersebut tidak mengingatnya, demikian sampai orang tersebut tidak mengetahui telah berapa rakaat shalat itu dikerjakannya.” (HR. Al-Bukhari no. 608). Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab. (Insya Allah bersambung)


1 Ada yang mengatakan: dirajam dengan panah-panah api, demikian dalam Al-Majmu’ (3/280).
2 Sebagian rawi menafsirkannya dengan: gila, yaitu hamz adalah satu macam kegilaan dan kesurupan yang dapat menimpa seseorang. Bila ia sadar, akalnya kembali lagi seperti semula sebagaimana orang tidur dan orang mabuk, demikian kata Ath-Thibi.
3 Adapula yang menafsirkannya dengan syair yang tercela.
4 Dalam masalah ini memang fuqaha berbeda pendapat setelah mereka sepakat tentang tidak disyariatkannya membaca doa istiftah selain dalam rakaat pertama. Perbedaan pendapat ini disebabkan perbedaan pandangan apakah seluruh qiraah dalam shalat merupakan satu qiraah sehingga dicukupkan sekali ta’awudz, ataukah qiraah setiap rakaat merupakan qiraah yang berdiri sendiri sehingga disyariatkan berta’awudz pada masing-masingnya?
Al-Imam Al-Albani t dalam kitabnya Shifat Shalatin Nabi n (menguatkan pendapat yang mengatakan pada setiap rakaat), “Tidak cukup satu isti’adzah tetapi dalam setiap rakaat harus beristi’adzah.” Kemudian beliau membawakan ucapan Asy-Syaikh Al-Allamah Muhammad Hamid Al-Faqi As-Salafi, “Yang zahir, qiraah dalam rakaat pertama dan qiraah dalam rakaat yang kedua merupakan dua qiraah, karena panjangnya jeda/pemisah antara keduanya dengan melakukan ruku’ dan sujud. Ini merupakan gerakan-gerakan yang banyak. Maka setiap rakaat ada ta’awudz. Sementara hadits Abu Hurairah z tidaklah menafikan hal ini. Karena yang ditiadakan dalam hadits Abu Hurairah z adalah diam yang diketahui, yaitu diam tertentu karena membaca doa istiftah. Adapun diam karena membaca ta’awudz dan basmalah merupakan diam yang sangat ringan/sebentar yang tidak dirasakan/disadari oleh makmum karena tersibukkannya makmum dengan gerakan bangkit ke rakaat berikutnya. Juga, setiap rakaat itu teranggap sebagai sebuah shalat karena itulah mereka diwajibkan membaca Al-Fatihah dalam setiap rakaat, maka yang lebih utama ta’awudz juga dianggap demikian. Inilah pendapat yang dikuatkan oleh Ibnu Hazm dalam Al-Muhalla. Inilah pendapat yang benar.”
Beliau t berkata, “Ibnu Hazm berargumen dengan keumuman firman Allah l:
“Bila engkau membaca Al-Qur’an maka mintalah perlindungan kepada Allah.” (An-Nahl: 98)
Ini merupakan argumen yang benar, tidak ada kekaburan di dalamnya. Al-Hafizh berkata di dalam At-Talkhish, “Keumuman ayat ini menetapkan isti’adzah diucapkan pada awal setiap rakaat. Pendapat inilah yang dimunculkan oleh Ar-Rafi’i dalam Asy-Syarhul Kabir. Beliau berkata, ‘Pendapat inilah yang diucapkan oleh Al-Qadhi Abu Ath-Thayyib Ath-Thabari, demikian pula Imamul Haramain, Ar-Ruyani, dan selain mereka’.”
Al-Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu’ berkata, “Ini merupakan pendapat madzhab (Syafi’iyyah).”
Di tempat lain beliau berkata, “Pendapat inilah yang paling shahih dalam madzhab kami.”
Pendapat ini juga dipegangi dalam madzhab Hanafiyyah.
Abul Hasanat Al-Laknawi dalam catatan kakinya terhadap kitab Syarhul Wiqayah (1/138) berkata, “Dalam kitab Halbah Al-Majalli karya Ibnu Amir Hajj disebutkan: Berdasarkan ucapan Abu Yusuf dan Muhammad, sepantasnya ta’awudz itu dilakukan dalam rakaat kedua juga, karena dalam rakaat kedua orang memulai qiraah. Dan qiraah dalam setiap rakaat merupakan qiraah yang baru.” (Ashlu Shifah Shalatin Nabi n, 3/826-827)

Sifat Shalat Nabi : (4) Melihat ke Tempat Sujud

Semula dalam shalatnya Rasulullah n mengangkat pandangannya ke langit. Lalu turunlah ayat:

“(Yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalat mereka.” (Al-Mu’minun: 2)

Beliau pun menundukkan kepala beliau. (HR. Al-Hakim 2/393. Al-Imam Al-Albani t mengatakan bahwa hadits ini di atas syarat Muslim, lihat Ashlu Shifah1/230)

Aisyah x berkata:

دَخَلَ رَسُولُ اللهِ n الْكَعْبَةَ مَا خَلَفَ بَصَرُهُ مَوْضِعَ سُجُودِهِ حَتَّى خَرَجَ مِنْهَا

“Rasulullah n masuk Ka’bah (untuk mengerjakan shalat, pen.) dalam keadaan pandangan beliau tidak meninggalkan tempat sujudnya (terus mengarah ke tempat sujud) sampai beliau keluar dari Ka’bah.” (HR. Al-Hakim 1/479 dan Al-Baihaqi 5/158. Kata Al-Hakim, “Shahih di atas syarat Syaikhan.” Hal ini disepakati Adz-Dzahabi. Hadits ini seperti yang dikatakan keduanya, kata Al-Imam Albani t. Lihat Ashlu Shifah 1/232)

Ulama berbeda pendapat, ke arah mana sepantasnya pandangan orang yang shalat tertuju. Al-Imam Al-Bukhari t dalam Shahihnya menyebutkan: “Bab Raf’ul bashar ilal imam fish shalah (mengangkat pandangan ke imam di dalam shalat). Lalu beliau membawakan beberapa hadits yang menunjukkan bahwasanya para shahabat dahulu melihat kepada Rasulullah n dalam keadaan shalat pada beberapa kejadian yang berbeda-beda. Seperti riwayat Abu Ma’mar, ia berkata: Kami bertanya kepada Khabbab z, “Apakah dulunya Rasulullah n membaca Al-Qur’an saat berdiri dalam shalat dhuhur dan ashar?” Khabbab menjawab, “Iya.” “Dengan apa kalian mengetahui hal tersebut[1]?” Khabbab menjawab lagi, “Dengan melihat gerakan naik turunnya jenggot beliau.” (no. 746)

Demikian pula kabar tentang shalat gerhana matahari seperti yang diberitakan Abdullah bin Abbas c. Di dalamnya disebutkan bahwa para sahabat bertanya kepada Rasulullah n, “Wahai Rasulullah, dalam shalat tadi kami melihatmu mengambil sesuatu pada tempatmu, kemudian kami melihatmu tertahan (tidak jadi mengambilnya).” (no. 748)

Al-Imam Malik t berpendapat, pandangan diarahkan ke kiblat. Adapun Al-Imam Asy-Syafi’i t dan orang-orang Kufah berpandangan disenanginya orang yang shalat melihat ke tempat sujudnya karena yang demikian itu lebih dekat kepada kekhusyuan.

Al-Hafizh t berkata, “Memungkinkan bagi kita memisahkan antara imam dan makmum. Disenangi bagi imam melihat ke tempat sujudnya. Demikian pula makmum, kecuali bila ia butuh untuk memerhatikan imamnya (guna mencontoh sang imam, pen.). Adapun orang yang shalat sendirian, maka hukumnya seperti hukum imam (yaitu melihat ke tempat sujud). Wallahu a’lam.” (Fathul Bari, 2/301)

Al-Imam Al-Albani t berkata, “Dengan perincian yang disebutkan Al-Hafizh t di atas dapat dikumpulkanlah hadits-hadits yang dibawakan oleh Al-Bukhari dalam babnya dan hadits-hadits yang menyebutkan tentang melihat ke tempat sujud. Ini merupakan pengumpulan yang bagus. Wallahu ta’ala a’lam.” (Ashlu Shifah 1/233)

 

Memejamkan mata ketika shalat

Al-Imam Ibnu ‘Utsaimin t berkata: “Yang benar, memejamkan mata di dalam shalat adalah perkara yang dibenci, karena menyerupai perbuatan orang-orang Majusi dalam peribadatan mereka terhadap api, di mana mereka memejamkan kedua mata. Dikatakan pula bahwa hal itu termasuk perbuatan orang-orang Yahudi. Sementara menyerupai selain muslimin minimal hukumnya haram, sebagaimana dikatakan oleh Syaikhul Islam t.

Oleh karena itu, memejamkan mata dalam shalat minimalnya makruh, kecuali jika di sana ada sebab, seperti misalnya di sekitarnya terdapat perkara-perkara yang bisa melalaikannya dari shalat kalau dia membuka matanya. Dalam keadaan seperti itu, dia boleh memejamkan mata untuk menghindari kerusakan tersebut.” (AsySyarhul Mumti’, 3/41)

 

Larangan melihat ke langit/ ke atas ketika shalat

Melihat ke langit/ke atas adalah perkara yang diharamkan dan termasuk dari dosa besar, sebagaimana hadits Jabir bin Samurah z bahwa Rasulullah n bersabda:

لَيَنْتَهِيَنَّ أَقوَامٌ يَرْفَعُوْنَ أَبْصَارَهُمْ إِلَى السَّمَاءِ فِي الصَّلاَةِ أَوْ لاَ تَرجِعُ إِلَيهِم

“Hendaklah orang-orang itu sungguh-sungguh menghentikan untuk mengangkat pandangan mereka ke langit ketika dalam keadaan shalat, atau (bila mereka tidak menghentikannya) pandangan mereka itu tidak akan kembali kepada mereka.”

Dalam satu riwayat:

أَوْ لَتُخْطَفَنَّ أَبْصَارُهُمْ

“Atau sungguh-sungguh akan disambar pandangan-pandangan mereka.” (HR. Muslim no. 965, 966)

Kata Al-Imam An-Nawawi t, “Hadits ini menunjukkan larangan yang ditekankan dan ancaman yang keras dalam masalah tersebut.” (Al-Minhaj, 4/372)

 

Larangan menoleh dalam shalat

Aisyah x pernah bertanya kepada Rasulullah n tentang menoleh ketika sedang shalat. Beliau menjawab:

هُوَ اخْتِلاَسٌ يَخْتَلِسُهُ الشَّيْطَانُ مِنْ صَلاَةِ الْعَبْدِ

“Menoleh dalam shalat adalah sambaran cepat, di mana setan merampasnya dari shalat seorang hamba.” (HR. Al-Bukhari no. 751)

Abu Dzar z berkata: Rasulullah n bersabda:

لاَ يَزَالُ اللهُ مُقْبِلًا عَلَى الْعَبْدِ فِي صَلاَتِهِ مَا لَمْ يَلْتَفِتْ، فَإِذَا صَرَفَ وَجْهَهُ انْصَرَفَ عَنْهُ

“Terus-menerus Allah menghadap kepada seorang hamba yang sedang mengerjakan shalat selama si hamba tidak menoleh. Bila si hamba memalingkan wajahnya, Allah pun berpaling darinya.” (HR. Abu Dawud no. 909. Dishahihkan dalam Shahih At-Targhib no. 552)

 

Menoleh karena sesuatu yang mengejutkan atau karena suatu kebutuhan

Anas bin Malik z berkisah, “Tatkala kaum muslimin sedang mengerjakan shalat fajar, tak ada yang mengejutkan mereka kecuali Rasulullah n (yang ketika itu sedang sakit sehingga tidak dapat hadir shalat berjamaah bersama mereka, pen.) tiba-tiba menyingkap tabir penutup kamar Aisyah, lalu memandang mereka dalam keadaan mereka berada dalam shaf-shaf. Beliau pun tersenyum lalu tertawa. Abu Bakr z yang saat itu mengimami manusia hendak mundur untuk bergabung dengan shaf di belakangnya, karena ia menyangka Rasulullah n ingin keluar (untuk mengimami mereka). Kaum muslimin pun hampir-hampir terfitnah dalam shalat mereka karena gembiranya mereka melihat Rasulullah n. Namun ternyata Rasulullah memberi isyarat kepada mereka yang bermakna, “Sempurnakanlah shalat kalian.” Setelah itu beliau mengulurkan kembali tabir penutup kamar Aisyah. Ternyata beliau wafat di akhir hari tersebut.” (HR. Al-Bukhari no. 754)

Hadits di atas menunjukkan bahwa tatkala Rasulullah n menyingkap tabir kamar Aisyah yang posisinya di kiri kiblat, para sahabat g menoleh ke arah beliau. Karena menolehlah mereka dapat melihat isyarat beliau n kepada mereka. Dengan tolehan tadi Rasulullah n tidak memerintahkan mereka untuk mengulang shalat mereka, bahkan menetapkan shalat mereka dengan isyarat agar mereka melanjutkannya. (Fathul Bari, 2/306)

Suatu ketika, Rasulullah n terlambat datang untuk mengimami manusia karena ada keperluan yang ingin beliau selesaikan. Abu Bakr Ash-Shiddiq z pun diminta menjadi imam. Di tengah shalat, datanglah Rasulullah n bergabung dalam shaf. Orang-orang pun bertepuk tangan ingin memperingatkan Abu Bakr z tentang keberadaan Rasulullah n. Sementara Abu Bakr z tidak pernah menoleh dalam shalatnya. Namun tatkala semakin ramai orang-orang memberi isyarat dengan tepuk tangan, Abu Bakr z pun menoleh hingga ia melihat Rasulullah n. Abu Bakr n ingin mundur, namun Rasulullah n memberi isyarat yang bermakna,“Tetaplah engkau di tempatmu.” (HR. Al-Bukhari no. 684)

Hadits di atas menunjukkan Abu Bakr z menoleh dalam shalatnya karena suatu kebutuhan, dan Rasulullah n tidak menyuruh Abu Bakr z mengulang shalatnya, bahkan mengisyaratkan agar melanjutkan keimamannya.

Dengan demikian, menoleh dalam shalat tidaklah mencacati shalat tersebut terkecuali bila dilakukan tanpa ada kebutuhan. (Fathul Bari, 2/305)

Dalil lain yang juga menunjukkan bolehnya menoleh bila ada kebutuhan adalah hadits yang berisi perintah Rasulullah n untuk membunuh ular dan kalajengking bila didapati oleh seseorang yang sedang mengerjakan shalat. Sementara membunuh hewan ini berarti membutuhkan gerakan-gerakan di luar gerakan shalat dan mungkin butuh untuk menoleh. Abu Hurairah z berkata:

أَمَرَ رَسُولُ اللهِ n بِقَتْلِ الْأَسْوَدَينِ فِي الصَّلاَةِ: الْحَيَّةِ وَالْعَقْرَبِ

“Rasulullah n memerintahkan untuk membunuh dua yang hitam di dalam shalat, yaitu ular dan kalajengking.” (HR. At-Tirmidzi no. 390, dishahihkan dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi)

Setelah membawakan hadits di atas, Al-Imam At-Tirmidzi t berkata, “Ini yang diamalkan oleh sebagian ahlul ilmu dari kalangan sahabat Nabi n dan selain mereka. Dengan ini pula Al-Imam Ahmad t berpendapat, demikian pula Ishaq. Sebagian ahlul ilmi yang lain membenci untuk membunuh ular dan kalajengking di dalam shalat. Kata Ibrahim An-Nakha’i, “Sesungguhnya dalam shalat itu ada kesibukan.” Namun pendapat pertama yang lebih shahih/benar.” (Sunan At-TirmidziKitab Ash-Shalah, Bab Ma ja’a fi qatlil hayyah wal ‘aqrab fish shalah)

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab(insya Allah bersambung)

 


[1] Karena tidak terdengar suara disebabkan shalat dhuhur dan ashar adalah shalat sirriyah.

Sifat Shalat Nabi (3) : Bersedekap

Bersedekap dengan meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri

Termasuk petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam masalah shalat adalah setelah mengangkat tangan dalam takbiratul ihram, tangan kanan diletakkan di atas tangan kiri saat bersedekap. Beliau bersabda:

“Kami, segenap para nabi, diperintahkan untuk menyegerakan berbuka puasa, mengakhirkan makan sahur, dan kami diperintah untuk meletakkan tangan-tangan kanan kami di atas tangan-tangan kiri kami di dalam shalat.” (HR. Ath-Thabarani dalam Al-Kabir no. 11485, dan selainnya dari hadits Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, dishahihkan dalam Ashlu Shifah Shalatin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, 1/206)

Jabir radhiallahu ‘anhuma mengabarkan, di saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati seorang lelaki yang sedang shalat dengan meletakkan tangan kirinya di atas tangan kanannya, beliau pun melepaskan tangan tersebut lalu membetulkannya dengan meletakkan tangan kanan orang tersebut di atas tangan kirinya. (HR. Ahmad 3/381. Al-Haitsami rahimahullah berkata, “Rijalnya rijal Ash-Shahih.” Majma’ Az-Zawaid 2/105)

Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatku meletakkan tangan kiri di atas tangan kananku di dalam shalat. Beliau pun mengambil tangan kananku lalu diletakkannya di atas tangan kiriku.” (HR. Abu Dawud no. 755, dihasankan dalam Shahih Abi Dawud dan Fathul Bari, 2/291)

Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah dalam kitab Shahihnya menyebutkan Bab Wadh’il yumna ‘alal yusra (peletakan tangan kanan di atas tangan kiri) dan membawakan riwayat Sahl ibnu Sa’d radhiallahu ‘anhu yang mengabarkan: “Adalah orang-orang diperintah agar seseorang meletakkan tangan kanannya di atas lengan kiri bagian bawah (lengan bawah/hasta) di dalam shalat.”

Abu Hazim, perawi yang meriwayatkan dari Sahl mengatakan, “Aku tidak mengetahui dari Sahl kecuali dia menyandarkannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Al-Bukhari no. 740)

Faedah

Para ulama menjelaskan, di antara hikmah meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri adalah hal ini merupakan tata cara seorang peminta yang hina (meminta dengan menghinakan diri di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala). Cara seperti ini paling menahan/menghalangi dari berbuat main-main dalam shalat dan lebih dekat pada kekhusyukan.” (Fathul Bari, 2/291)

Cara peletakannya

Tangan kanan tadi diletakkan di atas tangan kiri dengan:

– al-wadha’: diletakkan saja di atas punggung telapak tangan kiri, pergelangan, dan hasta/lengannya (antara siku dan telapak tangan).

Dalilnya adalah hadits Wa’il ibnu Hujr radhiallahu ‘anhu, ia berkata, “Sungguh-sungguh aku akan melihat kepada shalatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengetahui secara tepat bagaimana shalat beliau. Aku pun mengamati beliau. Beliau berdiri, lalu bertakbir dan mengangkat kedua tangannya hingga berhadapan dengan bagian atas kedua telinga beliau. Kemudian beliau meletakkan tangan kanannya di atas punggung telapak tangan kiri, pergelangan, dan hastanya….” (HR. Abu Dawud no. 727, An-Nasa’i no. 889, dishahihkan dalam Al-Irwa’ 2/68-69)

Atau bisa pula dengan cara:

– al-qabdh: tangan kanan menggenggam tangan kiri.

Cara ini disebutkan dalam sebagian riwayat hadits Wail ibnu Hujr radhiallahu ‘anhu seperti dalam riwayat An-Nasa’i (no. 887). Wail berkata: “Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bila berdiri dalam shalat, beliau menggenggamkan tangan kanannya di atas tangan kirinya.” (Sanadnya shahih sebagaimana dalam Shahih Sunan An-Nasa’i)

 Al-Imam Al-Albani rahimahullah berkata, “Tidaklah samar bahwa antara qabdh dengan wadha’ ada perbedaan yang jelas. Karena qabath lebih khusus daripada sekadar meletakkan (wadha’). Setiap orang yang menggenggam berarti ia meletakkan dan tidak sebaliknya.” Beliau mengatakan, “Sebagaimana hadits tentang wadha’shahih, demikian pula tentang qabdh. Maka yang mana saja dari keduanya dilakukan oleh orang yang shalat berarti sungguh ia telah mengerjakan Sunnah. Yang lebih utama, bila sekali waktu ia lakukan yang ini dan di waktu yang lain ia lakukan yang itu.

Adapun menggabungkan antara wadha’ dengan qabdh yang dianggap baik oleh sebagian orang-orang yang belakangan dari kalangan Hanafiyah adalah bid’ah. Gambarannya –sebagaimana yang mereka sebutkan– adalah seseorang meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya dengan mengambil/menggenggam pergelangan tangan kiri dengan jari kelingking dan ibu jarinya yang kanan, sementara tiga jari yang lain dibentangkan. Cara ini seperti yang disebutkan dalam Hasyiyah Ibnu Abidin alad Dur (1/454).” (Ashlu Shifah, 1/211­-215)

Tempat kedua tangan yang disedekapkan

Dalam hal ini terdapat hadits-hadits yang menyebutkan bahwa kedua tangan tersebut diletakkan di bawah pusar, di atas pusar, atau di atas dada. Bila hadits-hadits tersebut tsabit niscaya ini termasuk keragaman dalam ibadah, di mana masing-masing sahabat meriwayatkan apa yang ia saksikan, maka semuanya berarti disyariatkan. Akan tetapi kata guru besar kami, muhaddits dari negeri Yaman, Al-Imam Abu Abdirrahman Muqbil ibnu Hadi Al-Wadi’i rahimahullah, “Hadits-hadits yang menyebutkan di bawah pusar dan di atas pusar, beredar pada rawi yang bernama Abdurrahman ibnu Ishaq Al-Kufi, sementara ia dhaif/lemah.

Diperselisihkan riwayat yang dibawakannya karena ada kegoncangan (idhthirab) dalam haditsnya. Terkadang ia meriwayatkan dari Ziyad ibnu Zaid sehinggaperiwayatannya tergolong dalam musnad Ali radhiallahu ‘anhu. Sekali waktu ia meriwayatkan dari Sayyar ibnul Hakam dan dijadikannya mauquf (berhenti sanadnya) sampai Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu. Terkadang pula ia meriwayatkan dari An-Nu’man ibnu Sa’d sebagaimana dalam riwayat Al-Baihaqi (juz 2, hal. 11) sehingga tergolong dalam musnad Ali. Al-Baihaqi rahimahullah telah mengisyaratkan sebagian perbedaan ini, kemudian beliau berkata, “Abdurrahman ibnu Ishaq matruk (ditinggalkan haditsnya).”

“Di sana ada riwayat lain dari jalur Ghazwan ibnu Jarir Adh-Dhibbi, dari ayahnya, dari perbuatan Ali radhiallahu ‘anhu, tidak marfu’ (sampai) kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pada Ghazwan dan ayahnya sendiri ada jahalah (majhul).

Hanya saja riwayat keduanya bisa dijadikan syawahid dan mutaba’ah, sebagaimana penjelasan yang telah lewat. Adapun kalau keduanya bersendiri dalam penetapan suatu hukum maka tidak bisa. Apatah lagi apa yang mereka sebutkan adalah dari perbuatan Ali radhiallahu ‘anhu, sementara perbuatan seorang sahabat bukan hujjah.

Adapun riwayat yang menyebutkan kedua tangan diletakkan di atas dada yang diriwayatkan Ibnu Khuzaimah, maka riwayat tersebut dari jalur Muammal ibnu Ismail. Dia lebih dekat kepada kedhaifan. Terlebih lagi dia bersendiri dalam riwayatnya dari sekelompok huffazh, sebagaimana dalam ta’liq terhadap Nashbur Rayah. Akan tetapi hadits Wail diriwayatkan dari jalur Abdul Jabbar ibnu Wa’il, dari ibunya, dari ayahnya, yang dibawakan Al-Imam Ahmad dan dalam sanadnya ada Qubaishah ibnu Halb. Kata Ibnul Madini, “(Qubaishah ini) majhul, tidak ada yang meriwayatkan darinya kecuali Sammak.” An- Nasa’i berkata, “Dia majhul.” Kata Al-‘Ijli, “Dia seorang tabi’in yang tsiqah.” Ibnu Hibban menyebutkannya dalam Ats-Tsiqat sebagaimana dalam Tahdzibut Tahdzib. Yang terpilih dalam hal ini adalah ucapan Ibnul Madini dan An-Nasa’i, karena Al-‘Ijli dan Ibnu Hibban diketahui sering mentsiqahkan orang yang majhul.

Yang paling shahih dalam masalah ini adalah hadits Thawus yang diriwayatkan oleh Abu Dawud. Di dalamnya disebutkan peletakan tangan di atas dada. Akan tetapi haditsnya mursal, sementara mursal termasuk bagian hadits dhaif. Sehingga yang tampak bagiku adalah perkara di mana kedua tangan itu diletakkan ketika sedekap termasuk perkara yang lapang (tidak dibatasi), sama saja apakah diletakkan di atas pusar, di bawah pusar, ataupun di atas dada. Walaupun riwayat mursal (yang telah kami sebutkan di atas, yaitu meletakkan tangan di atas dada) merupakan riwayat yang paling shahih dalam permasalahan ini. Wallahu a’lam.” (Riyadhul Jannah fir Raddi ‘ala A’da’is Sunnah, hal. 127-128)

Hukum melepaskan tangan tanpa bersedekap

Guru kami yang mulia, Asy-Syaikh Muqbil ibnu Hadi Al-Wadi’i rahimahullah berkata, “Telah datang atsar tentang melepaskan tangan tanpa bersedekap di dalam shalat dari sebagian salaf, seperti ‘Abdullah bin Az-Zubair, Ibrahim An-Nakha’i, Sa’id bin Jubair, dan ‘Atha’ bin Abi Rabah, sebagaimana yang ada dalam Mushannaf Ibn Abi Syaibah (1/391) dan Mushannaf ‘Abdir Razzaq (2/276).

Jawaban akan hal ini: Bisa jadi tidak sampai kepada sebagian mereka hadits-hadits tentang meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri dalam shalat, sementara hadits-hadits itu sampai kepada yang lain. Juga bisa jadi mereka menganggap baik dan memandang bahwa melepaskan tangan tanpa bersedekap bisa membantu untuk khusyu’.

Adapun yang tidak sampai padanya dalil-dalil peletakan tangan kanan di atas tangan kiri dalam shalat, maka mereka mendapatkan uzur. Sementara yang menganggap baik hal itu dalam keadaan telah mendapati nash, maka anggapan mereka itu tertolak, siapa pun dia. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala meridhai Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu ketika beliau mengatakan: “Aku tak pernah meninggalkan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena pendapat seseorang”, atau ucapan yang semakna dengan ini.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

لَّقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِي رَسُولِ ٱللَّهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ لِّمَن كَانَ يَرۡجُواْ ٱللَّهَ وَٱلۡيَوۡمَ ٱلۡأٓخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرٗا ٢١

“Telah ada pada diri Rasulullah teladan yang baik bagi kalian, bagi orang yang mengharapkan pertemuan dengan Allah dan hari akhir.”(Al–Ahzab: 21)

ٱتَّبِعُواْ مَآ أُنزِلَ إِلَيۡكُم مِّن رَّبِّكُمۡ وَلَا تَتَّبِعُواْ مِن دُونِهِۦٓ أَوۡلِيَآءَۗ قَلِيلٗا مَّا تَذَكَّرُونَ ٣

“Ikutilah apa yang telah diturunkan kepada kalian dari Rabb kalian, dan janganlah kalian ikuti selain-Nya sebagai wali. Alangkah sedikitnya kalian ingat.” (Al–A’raf: 3)

Karena itu, tidak halal bagi seseorang untuk meninggalkan syariat Allah subhanahu wa ta’ala karena pendapat Fulan dan Fulan. Adapun orang-orang yang berpendapat melepaskan tangan, bisa jadi dia tidak mengetahui dalil dan dia diberi uzur, atau dia seorang alim mujtahid yang diberi pahala dengan ijtihadnya, atau seorang pembangkang yang pantas diberikan hukuman. Tidaklah halal mengikuti mereka semua dalam perkara yang menyelisihi Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam….

Al-Imam Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah telah menetapkan bahwasanya melepaskan tangan itu tidak tsabit (shahih) dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Riyadhul Jannah, hal. 131-133)

Larangan berkacak pinggang di dalam shalat

Dalam hadits dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Seseorang dilarang shalat dalam keadaan berkacak pinggang.” (HR. Al-Bukhari no. 1220)

Juga dari Ziyad bin Shabih Al-Hanafi, dia mengatakan:

Aku pernah shalat di sisi Ibnu ‘Umar. Maka aku meletakkan kedua tanganku di kedua pinggangku. Ketika telah selesai shalat, Ibnu ‘Umar mengatakan, “Ini adalah perbuatan yang menyerupai salib di dalam shalat, dan dulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang yang seperti ini.” (HR. Abu Dawud no.903, dishahihkan oleh Al-Imam Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud)

Ibnu Sirin rahimahullah mengatakan bahwa yang dimaksud dalam hadits (Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu) di atas adalah meletakkan tangan di pinggang ketika shalat. Ini pula yang ditetapkan oleh Abu Dawud dan dinukilkan oleh At-Tirmidzi dari sebagian ahlul ilmi. Ini merupakan pendapat yang masyhur tentang penafsiran ikhtishar dalam shalat. (Fathul Bari 3/115)

Al-Imam At-Tirmidzi rahimahullah mengatakan: “Yang dimaksud ikhtishar adalah seseorang meletakkan tangannya di pinggang ketika shalat. Sebagian ahlul ilmi membenci jika seseorang berjalan dengan berkacak pinggang. Diriwayatkan bahwa iblis bila berjalan sambil berkacak pinggang.” (Sunan At-Tirmidzi, 1/237)

Al-Imam Asy-Syaukani mengatakan: “Hadits ini menunjukkan haramnya berkacak pinggang di dalam shalat. Demikian pendapat ahlu zhahir. Sementara Ibnu ‘Abbas, Ibnu ‘Umar, ‘Aisyah, Ibrahim An-Nakha’i, Mujahid, Ibnu Majlaz, Malik, Al-Auza’i, Asy-Syafi’i, ulama ahlul Kufah dan yang lainnya berpendapat makruh. Yang kuat adalah apa yang dipegangi oleh ahlu zhahir, karena tidak adanya dalil-dalil penyerta yang dapat memalingkan larangan ini dari pengharaman yang merupakan maknanya yang hakiki. Inilah yang benar.” (Nailul Authar, 2/223)