AdabMenggunakan HP bagian ke 5

Bimbingan Kelima belas:
Tidak memberi kesempatan kepada anak kecil dan anak yang memasuki usia puber untuk memegang HP
Termasuk perkara yang penting adalah tidak memberi kesempatan kepada anak kecil untuk memegang HP. Karena, sesuatu yang dipegang anak kecil itu sering hilang, kecurian, ataupun lainnya. Mereka juga tidak mengerti bahaya yang ada pada HP. Demikian pula keadaan anak yang sedang memasuki masa puber. Kecuali, bila disertai adanya perhatian dan peringatan yang keras dari hal-hal yang bisa menyeretnya terjatuh dalam bahaya yang besar karena alat (HP) ini.
Anak-anak itu berada dalam tanggung jawab ayah dan ibu mereka sebagaimana firman Allah l:
“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan mereka selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (At-Tahrim: 6)
Dari ‘Abdullah bin ‘Umar c bahwasanya beliau mendengar Rasulullah n bersabda:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَمَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ فِي أَهْلِهِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالْمَرْأَةُ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا رَاعِيَةٌ، وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا، وَالْخَادِمُ فِي مَالِ سَيِّدِهِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Masing-masing dari kalian adalah pemimpin dan akan ditanya tentang kepemimpinannya. Seorang penguasa adalah pemimpin dan dia akan ditanya tentang kepemimpinannya. Seorang suami itu pemimpin bagi keluarganya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya itu. Seorang istri itu pemimpin di rumah suaminya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya. Seorang pembantu itu pemimpin bagi harta tuannya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya.” (HR. Al-Bukhari no. 2278 dan Muslim no. 1829)

Bimbingan Keenam belas:
Jangan mencari-cari kesalahan/kelemahan/kekurangan orang lain
Di antara penggunaan alat ini (HP) dalam perkara yang menyelisihi syariat adalah apa yang dilakukan oleh sebagian orang dengan memanfaatkan alat ini untuk berbuat at-tajassus (upaya mencari kesalahan, kelemahan, dan kekurangan orang lain) demi kepentingan pihak tertentu.
Terkadang sebagian orang merekam suatu pembicaraan yang dia dengar dari HP (menyadap) bukan untuk mencari faedah, tetapi untuk mencuri berita dan mencari kesalahan, kelemahan, serta kekurangan pihak lain. Allah l telah berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah berbuat tajassus (mencari-cari keburukan/kejelekan/kesalahan) orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kalian yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kalian merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha penerima taubat lagi Maha penyayang.” (Al-Hujurat: 12)

Bimbingan Ketujuh belas:
Berhati-hati dari beberapa penyakit hati: merasa dirinya lebih dari orang lain, ‘ujub, bangga diri, sombong, riya’, dan sum’ah
Penyakit-penyakit hati tersebut termasuk penyakit berbahaya yang menimpa para pemegang (pengguna) HP. Terkadang seorang yang memegang (memiliki) HP itu sebenarnya tidak ada kepentingan (kebutuhan) dengan HP nya, sehingga tidaklah yang mendorongnya untuk membeli dan menggunakan HP itu kecuali karena sikap ingin bangga diri, ‘ujub, dan merasa dirinya lebih daripada yang lain, dan seterusnya.
Terutama apa yang dilakukan oleh orang-orang yang “selalu mengikuti perkembangan zaman”. Tidaklah terlihat olehnya HP model baru di pasar, kecuali dia akan bersegera membelinya meskipun dengan harga yang mahal. Padahal HP nya yang lama masih dimilikinya. Bahkan terkadang HP yang baru tadi tidak ada perbedaannya dengan HP yang lama, kecuali hanya (beda) model atau beberapa fitur saja.
Seorang muslim wajib untuk bersikap tawadhu’ dan rendah hati terhadap saudara-saudaranya sesama mukminin. Allah l berfirman:
“Dan rendahkanlah dirimu (wahai Nabi) terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman.” (Asy-Syu’ara’: 215)
Allah l juga berfirman:
“Dan berendah hatilah kamu terhadap orang-orang yang beriman.” (Al-Hijr: 88)
Allah l berfirman:
Sesungguhnya Qarun adalah termasuk kaum Nabi Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya (Qarun): “Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri.” (Al-Qashash: 76)
Dari sahabat Abu Hurairah z bahwa Rasulullah n bersabda:
مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ، وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا، وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدُهُمُ لِلهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللهُ
“Tidaklah shadaqah itu akan mengurangi harta, dan tidaklah Allah menambah bagi seorang hamba karena sifat pemaaf yang ada padanya kecuali tambahan kemuliaan, dan tidaklah seseorang bersikap tawadhu’ karena Allah kecuali pasti Allah akan angkat derajat dia.” (HR. Muslim 2588)
Termasuk bentuk sikap tawadhu’ adalah berbicara yang baik dengan orang yang dia telepon (lawan bicara) dengan pembicaraan yang lembut, menggunakan kata-kata yang mudah, memilih kalimat yang baik, menjauhi perkataan yang kaku dan kasar. Apalagi ketika berbicara dengan orang yang berilmu dan memiliki keutamaan, tentunya mereka berhak untuk mendapatkan penghormatan dan pemuliaan yang lebih.

Bimbingan Kedelapan belas:
Jangan merusak rumah tangga orang atau membuat fitnah yang tidak terpuji akibatnya
Sebagian pengguna HP yang memiliki fasilitas kamera telah sampai pada perbuatan yang melampaui batas, yaitu mengambil gambar (memotret) wanita muslimah ketika mereka tengah lalai (tidak tahu atau tidak menyadarinya). Para muslimah yang berpakaian dengan seenaknya dan tidak sesuai dengan pakaian yang syar’i, serta dalam keadaan tersingkap wajah mereka, diambil gambar (foto)nya ketika mereka pergi dan pulang dari sekolah.
Demikian juga, mereka mengambil gambar (foto) wanita yang sedang pergi ke pasar untuk tujuan tertentu, atau ketika para wanita keluar ke atas balkon (loteng) untuk menjemur pakaian –meskipun ini jarang–.
Yang lebih parah dari itu, terkadang sebagian wanita fasiq diambil gambarnya (difoto) dalam keadaan mereka sedang memakai perhiasan yang sangat berlebihan, ataupun ketika sedang berdansa di pesta-pesta perkawinan yang diselenggarakan di tempat tertentu. Setelah itu, mereka menyebarluaskan gambar-gambar tadi melalui HP. Akibatnya, seorang suami bisa melihat apa yang terjadi pada istrinya, seorang bapak bisa melihat apa yang terjadi pada anak perempuannya, seorang laki-laki bisa melihat apa yang terjadi pada saudara perempuannya, dan seseorang bisa melihat apa yang terjadi pada kerabatnya karena kejelekan yang terjadi di HP-HP tersebut. Akhirnya terjadilah fitnah dan musibah yang akibatnya tidak terpuji, seperti perceraian, penganiayaan, pengusiran, dan terkadang juga pembunuhan.

Bimbingan Kesembilan belas:
Seorang wanita hendaknya bersikap malu dan berupaya untuk menutup auratnya
Jika memang diperlukan untuk membawa HP keluar rumah, kemudian ada yang menelepon anda dalam keadaan anda masih berada di luar rumah atau di jalan misalnya, maka wajib bagi anda untuk bersikap malu dan berupaya menutup aurat. Juga merendahkan suara anda. Ucapkanlah perkataan yang baik.
Waspadalah dari perbuatan kebanyakan wanita berupa sikap bermegah-megahan dan kurangnya rasa malu di hadapan orang lain (yang bukan mahramnya), baik di jalan atau di pasar, berbicara dengan mengeraskan dan memperindah suaranya. Bahkan terkadang menyingkap lengannya ketika sedang menelepon tanpa memperhatikan akan terlihatnya perhiasan dan sebagian anggota tubuhnya.
Ketika menggunakan telepon (HP), seorang wanita wajib meletakkannya di dalam kerudungnya, atau menggunakannya (berbicara, mengirim sms, dan yang lainnya) hanya dengan orang yang dia kenal dari kalangan mahramnya atau wanita-wanita yang shalihah.
Allah l berfirman:
“Wahai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kalian bertakwa. Maka janganlah kalian melembuatkan suara dalam berbicara sehingga berkeinginan (jelek)lah orang yang ada penyakit dalam hatinya, namun ucapkanlah perkataan yang baik. Dan hendaklah kalian tetap tinggal di rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliah yang dahulu.” (Al-Ahzab: 32-33)
(Insya Allah bersambung, diterjemahkan oleh Al-Ustadz Abu Abdillah Kediri, dari http://www.sahab.net/forums/showthread.php?t=368419)

‘IDDAH ISTRI YANG DITALAK

Saya memohon penjelasan tentang iddah istri yang ditalak. Apakah istri yang ditalak dengan talak raj’i1 tetap tinggal di rumah suaminya atau ia pergi ke rumah orangtuanya sampai suaminya merujuknya?

Jawab:
Fadhilatusy Syaikh Muhammad ibnu Shalih Al-Utsaimin t menjawab, “Wajib bagi istri yang ditalak raj’i untuk tetap tinggal di rumah suaminya dan haram bagi si suami mengeluarkan istrinya dari rumahnya, berdasarkan firman Allah l:
“Janganlah kalian (para suami) mengeluarkan mereka (para istri yang ditalak raj’i) dari rumah-rumah mereka dan jangan pula mereka (diperkenankan) keluar, terkecuali bila mereka melakukan perbuatan keji yang nyata. Itulah hukum-hukum Allah dan siapa yang melanggar hukum-hukum Allah maka sungguh ia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri.” (Ath-Thalaq: 1)
Adapun sikap orang-orang pada hari ini di mana seorang istri bila ditalak dengan talak raj’i, dengan segera ia pulang ke rumah keluarga (orangtua)nya, hal ini jelas merupakan kesalahan dan perbuatan yang diharamkan. Karena Allah l berfirman:
“Janganlah kalian mengeluarkan mereka.”
Allah l juga mengatakan:
“Dan jangan pula mereka (diperkenankan) keluar.” (Ath-Thalaq: 1)
Allah l tidak mengecualikan larangan di atas, terkecuali bila mereka (para istri yang ditalak) melakukan perbuatan keji yang nyata. Setelah itu Allah l berfirman:
“Itulah hukum-hukum Allah dan siapa yang melanggar hukum-hukum Allah maka sungguh ia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri.” (Ath-Thalaq: 1)
Lalu Allah l menerangkan hikmah dari kewajiban si istri tetap tinggal di rumah suaminya dengan firman-Nya:
“Engkau tidak mengetahui barangkali Allah mengadakan sesudah itu suatu perkara.” (Ath-Thalaq: 1)
Maka sudah sewajibnya bagi kaum muslimin untuk menaruh perhatian terhadap hukum-hukum Allah l dan berpegang dengan apa yang Allah l perintahkan kepada mereka. Janganlah mereka menjadikan adat /kebiasaan sebagai jalan untuk menyelisihi hal-hal yang disyariatkan. Yang penting, wajib bagi si wanita untuk memerhatikan masalah ini. Istri yang ditalak dengan talak raj’i wajib tetap tinggal di rumah suaminya hingga selesai iddahnya. Dalam keadaan/masa iddah tersebut si istri boleh membuka wajah/tidak berhijab di hadapan suami yang mentalaknya, tetap berhias dan mempercantik diri di depan suaminya, tetap memakai wangi-wangian, mengajak bicara suaminya dan suaminya berbicara dengannya. Boleh pula dia duduk-duduk bersama suaminya dan melakukan segala sesuatu terkecuali istimta’ (bernikmat-nikmat) dengan jima’ (senggama) atau mubasyarah (bersentuhan/bermesraan yang tidak sampai pada jima’). Karena istimta’ dengan jima atau mubasyarah hanya dilakukan ketika rujuk.
Si suami boleh merujuk istrinya (dalam masa iddah tersebut) dengan ucapan, ia katakan, “Aku telah merujuk istriku.” Sebagaimana ia boleh merujuk istrinya dengan perbuatan, dengan menggaulinya disertai niat rujuk.
Adapun tentang ‘iddah istri yang ditalak, kita katakan: Bila istri itu ditalak sebelum si suami dukhul dan khalwat yakni sebelum melakukan jima’, sebelum si suami berdua-duaan dengannya dan mubasyarah dengannya, maka sama sekali tidak ada iddah bagi si wanita. Dengan demikian, semata-mata talak dan ia pisah dari suaminya, berarti ia halal untuk dinikahi oleh lelaki lain.
Namun bila si suami telah dukhul dengannya, berdua-duaan ataupun menggaulinya, maka wajib bagi si istri untuk ber-’iddah. Tentang ‘iddahnya maka dilihat dari beberapa hal berikut ini:
Pertama: Bila ia dalam keadaan hamil maka ‘iddahnya sampai ia melahirkan kandungannya, baik waktunya panjang ataupun pendek. Bisa jadi, si suami mentalaknya pada waktu pagi dan sebelum dhuhur ternyata ia telah melahirkan kandungannya, yang berarti berakhir iddahnya. Bisa pula terjadi si suami mentalaknya pada bulan Muharram dan ia belum juga melahirkan kandungannya sampai tiba bulan Dzulhijjah hingga ia beriddah selama 12 bulan. Yang penting, istri yang hamil itu iddahnya dengan melahirkan kandungannya secara mutlak (tanpa melihat panjang pendeknya masa yang dijalani). Ini berdasarkan firman Allah l:
“Dan istri-istri yang sedang mengandung berakhir iddah mereka dengan melahirkan kandungan mereka.” (Ath-Thalaq: 4)
Kedua: Si istri yang ditalak tidak dalam keadaan hamil dan ia masih mengalami haid (belum menopause), maka iddahnya tiga kali haid yang sempurna setelah ia ditalak. Dengan makna, ia ditimpa haid lalu suci, beberapa waktu kemudian ia haid lagi lalu suci, dan waktu berikutnya (kali yang ketiga) ia haid lagi dan suci. Inilah tiga haid yang sempurna, sama saja apakah masanya panjang di antara ketiga haid tersebut atau tidak panjang. Berdasarkan hal ini, bila si suami mentalaknya dalam kondisi ia masih dalam masa menyusui bayi/anaknya dan ia tidak mengalami haid terkecuali setelah lewat dua tahun2 maka ia terus dalam masa ‘iddah sampai datang haid padanya sebanyak tiga kali sehingga ia menjalani masa iddah selama dua tahun atau lebih. Yang penting, wanita yang masih haid berarti iddahnya tiga kali haid yang sempurna, sama saja apakah masanya panjang ataulah pendek. Ini berdasarkan firman Allah l:
“Dan istri-istri yang ditalak hendaknya menahan diri mereka (menjalani iddah) selama tiga quru3.” (Al-Baqarah: 228)
Ketiga: Si wanita tidak mengalami haid, bisa jadi karena usianya yang masih kecil sehingga haid belum menimpanya, atau karena sudah tua, telah mengalami menopause, maka iddahnya tiga bulan. Ini berdasarkan firman Allah l:
“Dan wanita-wanita yang tidak haid lagi (menopause) dari istri-istri kalian (yang kalian talak), jika kalian ragu tentang masa iddahnya, maka iddah mereka tiga bulan, demikian pula wanita-wanita yang belum mengalami haid.” (Ath-Thalaq: 4)
Keempat: Bila si wanita tidak lagi mengalami haid karena suatu sebab yang diketahui bahwa haidnya tidak akan kembali padanya (maksudnya ia tidak akan mengalami haid lagi selama-lamanya) seperti rahimnya telah diangkat, maka wanita yang seperti ini disamakan dengan wanita yang menopause. Ia beriddah selama tiga bulan.
Kelima: Bila si wanita tidak mengalami haid dalam keadaan ia tahu apa yang menyebabkan haidnya tertahan, maka ia menanti sampai hilang penyebab yang menahan haidnya dan menanti haidnya kembali lagi. Lalu ia menghitung iddahnya dengan haid tersebut.
Keenam: Bila si wanita tidak mengalami haid dan ia tidak tahu apa penyebabnya maka para ulama mengatakan si wanita beriddah selama setahun penuh. Dengan perincian, sembilan bulan untuk masa kehamilan dan tiga bulan untuk iddah.
Demikianlah pembagian iddah istri yang ditalak.
Adapun wanita yang pernikahannya fasakh/dibatalkan dengan cara khulu’4 atau selainnya, maka cukup baginya menahan diri selama satu kali haid. Bila seorang istri meminta khulu’ kepada suaminya dengan ia atau walinya memberikan ‘iwadh kepada si suami agar si suami mau melepaskannya dari ikatan pernikahan, kemudian si suami meluluskan permintaan tersebut dengan mengambil ‘iwadh yang diberikan, maka cukup setelah perpisahan itu si istri menahan diri selama satu kali haid.
Allah llah yang memberi taufik. (Fatawa Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, 2/797, sebagaimana dinukil dalam Fatawa Al-Mar’ah Al-Muslimah fil ‘Aqa’id wal Ibadat wal Mu’amalat wal Adab, hal. 1028-1030)


1 Talak yang bisa dirujuk dalam masa ‘iddah, yaitu talak satu dan dua.
2 Karena biasanya ibu yang sedang menyusui tertahan haidnya.
3 Tentang quru ini ulama berbeda pendapat. Ada yang mengatakan haid dan ada pula yang mengatakan maknanya suci dari haid.
4 Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani t dalam Fathul Bari menyatakan bahwa khulu’ adalah seorang suami melepaskan istrinya dari ikatan pernikahan, dengan cara si istri memberikan iwadh/sejumlah harta untuk menebus dirinya kepada suaminya.

Haid dan Ibadah Puasa

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah)

 

Membaca judul di atas, mungkin ada  yang akan spontan menjawab, “Ya… semua juga tahu kalau wanita haid nggak boleh puasa!”
Tentu saya sangat maklum dengan jawaban spontan ini, karena semua orang memang tahu bahwa wanita haid tidak diperkenankan puasa. Lalu untuk apa dibahas lagi? Tunggu dulu…! Dalam beramal kan kita butuh ilmu. Karenanya, Al-Imam Al-Bukhari t membuat satu bab dalam Kitab Al-Ilm dari kitab Shahihnya; Bab Al-Ilm qablal qauli wal ‘amali (bab Ilmu itu sebelum berucap dan beramal). Kemudian beliau membawakan dalil firman Allah l:
“Ketahuilah bahwasanya tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah dan mintalah ampun atas dosamu.” (Muhammad: 19)
Dalam ayat di atas, Allah l memulai dengan perintah berilmu (sebelum beramal).
Nah, kita pun butuh ilmu tentang hukum-hukum yang berkaitan dengan puasa bila diperhadapkan pada wanita haid. Jadi, tak ada salahnya bila kita membahasnya. Semoga jadi tambahan ilmu yang bermanfaat bagi penyusun dan bagi pembaca.

Hukum puasa ketika haid
Ulama sepakat puasa wajib maupun sunnah haram dilakukan wanita haid. Bila dia tetap berpuasa maka puasanya tidaklah sah. (Maratibul Ijma’, hal. 72)
Ibnu Qudamah t berkata, “Ahlul ilmi sepakat bahwa wanita haid dan nifas tidak halal untuk berpuasa, bahkan keduanya harus berbuka di bulan Ramadhan dan mengqadhanya. Bila keduanya tetap berpuasa maka puasa tersebut tidak mencukupi keduanya (tidak sah)….” (Al-Mughni, kitab Ash-Shiyam, Mas’alah wa Idza Hadhatil Mar’ah au Nafisat)
Al-Imam An-Nawawi t berkata, “Kaum muslimin sepakat bahwa wanita haid dan nifas tidak wajib shalat dan puasa dalam masa haid dan nifas tersebut.” (Al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim, 3/250)
Dalam hadits Abu Sa’id Al-Khudri z disebutkan bahwa Rasulullah n bersabda kepada para wanita yang mempertanyakan tentang maksud kurangnya agama mereka:
أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِ وَلَمْ تَصُمْ؟ قُلْنَ: بَلَى. قَالَ: فَذلِكَ مِنْ نُقْصَانِ دِيْنِهَا
“Bukankah wanita itu bila haid ia tidak shalat dan tidak puasa?” Para wanita menjawab, “Iya.” Rasulullah berkata, “Maka itulah dari kekurangan agamanya.” (HR. Al-Bukhari no. 304)
Ada dua pendapat tentang hikmah pelarangan puasa bagi wanita haid tersebut:
1. Perkaranya ta’abbudi (sudah menjadi ketentuan dalam ibadah). Karena kalau alasannya harus thaharah (suci) ketika memulai puasa, maka ini bukanlah syarat. Terbukti dengan sahnya puasa bagi orang yang berpagi hari dalam keadaan junub (sudah terbit fajar dalam keadaan belum mandi janabah).1
2. Keluarnya darah akan melemahkan tubuh, maka bila ditambah puasa tentunya lebih bermudarat bagi tubuh. (Al-Bahr Ar-Raiq, 1/204)
Apapun hikmahnya, yang jelas segala sesuatu yang telah menjadi ketetapan syariat maka kita menerimanya dengan penuh ketundukan.

Qadha’ hari-hari yang luput
Ahlul ilmi pun sepakat wajibnya wanita haid menqadha puasa Ramadhan yang ditinggalkannya karena haidnya. Hal ini sebagaimana ditunjukkan dalam hadits Ummul Mukminin Aisyah x:
كاَنَ يُصِيْبُنَا ذَلِكَ فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلاَ نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلاَةِ
“Dulunya kami ditimpa haid, maka kami diperintah mengqadha puasa dan tidak diperintah mengqadha shalat.” (HR. Al-Bukhari no. 321 dan Muslim no. 761, lafadz di atas menurut lafadz Al-Imam Muslim)
Al-Imam An-Nawawi t menukilkan dalam Al-Majmu’ (6/259) maupun dalam Al-Minhaj (3/250) adanya ijma’ (kesepakatan ulama) bahwa wanita haid harus mengqadha puasa yang ditinggalkannya.
Ibnu Hazm t juga menetapkan hal tersebut. Beliau berkata, “Wanita haid mengqadha puasa hari-hari yang melewatinya dalam masa haidnya. Ini merupakan nash yang disepakati. Tak ada seorang pun yang menyelisihinya.” (Al-Muhalla, 1/394)

Mendapati suci di siang hari Ramadhan
Ahlul ilmi berbeda pendapat tentang wanita yang semula haid kemudian suci di siang hari Ramadhan, apakah ia harus imsak (menahan diri dari makan dan minum) ataukah tidak? Mereka terbagi dalam dua pendapat:
1. Si wanita harus imsak di sisa harinya dan tetap mengqadha puasa hari tersebut.
Demikian pendapat dalam madzhab Hanafiyyah (Al-Mabsuth2, 3/54), satu riwayat dari Al-Imam Ahmad, serta pendapat Ats-Tsauri, Al-Auza’i, Al-Hasan bin Shalih, dan Al-Anbari. (Al-Mughni kitab Ash-Shiyam, fashl Hal Yalzamul Imsak ala Man Yubahu lahu Al-Fithr)
Argumen mereka adalah bila si wanita tetap makan dalam keadaan tidak ada lagi uzur padanya untuk tidak puasa, orang yang melihat akan menuduhnya dengan tuduhan jelek (tidak puasa di bulan Ramadhan), sementara menjauhi tempat-tempat tuduhan itu wajib. (Al-Mabsuth, 3/54)
Namun argumen ini bisa dibantah bahwa wanita haid yang makan di siang hari Ramadhan pun bisa dituduh macam-macam oleh orang yang melihatnya dalam keadaan tidak tahu atau bisa jadi tidak percaya bila si wanita sedang haid. Kemudian, si wanita yang telah suci di siang hari Ramadhan tadi toh bisa makan dan minum dengan sembunyi-sembunyi.
Argumen lainnya adalah si wanita dibolehkan tidak puasa karena adanya penghalang (berupa haid) dan sekarang penghalangnya sudah hilang/berakhir. Sementara al-hukmu yazulu bi zawali ‘illatihi, hukum itu hilang dengan hilangnya penyebabnya. (Asy-Syarhul Mumti’, 6/335)

2. Si wanita tidak harus imsak (menahan makan dan minum)
Demikian pendapat dalam madzhab Malikiyyah (Al-Kafi, 1/295), Syafi’iyyah (Al-Majmu’, 6/259), satu riwayat dari Al-Imam Ahmad (Asy-Syarhul Mumti’, 6/335), dan pendapat Zhahiriyyah (Al-Muhalla).
Argumen mereka:
1. Dibolehkan bagi wanita yang semula haid untuk berbuka/tidak puasa di awal siang secara lahir dan batin. Dihalalkan baginya di awal siang untuk makan, minum, dan melakukan pembatal puasa yang mungkin dikerjakannya. Maka bila dari awal siang ia tidak puasa, diperkenankan baginya untuk tidak puasa sampai akhir siang walaupun uzurnya telah hilang. Sementara imsak (menahan diri dari makan dan minum) tidak ada faedahnya baginya sedikitpun. (Al-Mughni kitab Ash-Shiyam, fashl Hal Yalzamul Imsak ala Man Yubahu lahu Al-Fithr, Asy-Syarhul Mumti’, 6/335)
2. Semua orang sepakat bahwa si wanita wajib mengqadha hari tersebut (hari di mana ia mendapati dirinya suci di waktu siangnya), berarti boleh baginya tidak puasa di hari tersebut. Bila statusnya sedang tidak puasa, lalu apa maknanya ia imsak (menahan diri dari makan dan minum)? Toh ia bukan orang yang diperintah puasa pada awal harinya, sehingga ia tidaklah dianggap bermaksiat karena meninggalkan puasa. (Al-Muhalla)
3. Tanpa diragukan ia boleh makan di awal siang, maka boleh pula baginya makan di tengah harinya atau di sisa harinya. (Al-Isyraf, 1/207)
4. Puasa di satu hari merupakan ibadah yang satu. Buktinya, bila di akhir siang seseorang melakukan perbuatan yang membatalkan puasa, seperti makan dengan sengaja, maka puasanya batal termasuk tentunya puasanya di awal siang. Maka yang namanya puasa/menahan diri dari makan dan minum tidak mungkin diwajibkan di akhir siang saja sementara di awal siang tidak wajib. (Al-Isyraf, 1/207)
Diriwayatkan ucapan dari Ibnu Mas’ud z, “Siapa yang makan di awal siang maka hendaklah ia makan di akhirnya.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf, 3/54)
Maksud ucapan beliau z, siapa yang halal untuk makan di awal siang berarti halal pula baginya untuk makan di akhir siang. (Asy-Syarhul Mumti’, 6/335)
Ibnu Juraij t berkata kepada Atha’ t, “Seorang wanita di pagi hari Ramadhan masih haid kemudian suci pada sebagian siang yang tersisa. Apakah ia harus menyempurnakan hari tersebut dengan berpuasa?”
Atha’ menjawab, “Tidak. Dia mengqadha puasa hari tersebut.” (Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq dalam Al-Mushannaf no. 1292)
Dari perbedaan pendapat yang ada, kata Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin t, yang paling kuat/rajih adalah pendapat yang kedua ini, yaitu si wanita tidak perlu imsak. (Asy-Syarhul Mumti’, 6/336)

Mendapati fajar dalam keadaan belum mandi
Bila ada wanita haid yang suci sebelum terbit fajar, namun ia menunda mandi sucinya sampai fajar telah terbit, apakah sah bila ia puasa pada hari tersebut dalam keadaan di waktu malam atau sebelum terbit fajar ia telah meniatkan puasa?
Ada tiga pendapat ahlul ilmi dalam masalah ini:
1.    Puasanya sah.
Demikian pendapat jumhur ulama. (Al-Mughni, Mas’alah: Wa kadzalik Al-Mar’ah idza Inqatha’a Haidhuha minal Lail)
Argumen mereka adalah firman Allah l:
“Maka sekarang gaulilah mereka (para istri) dan carilah apa yang Allah tetapkan untuk kalian, dan makan minumlah kalian sampai jelas/terang bagi kalian benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.” (Al-Baqarah: 187)
Dalam ayat di atas, Allah l memperkenankan suami istri melakukan jima’ sampai jelas datangnya waktu fajar/subuh (telah masuk waktu subuh). Berarti, suami istri tersebut mendapati fajar dalam keadaan masih junub karena baru saja selesai dari aktivitas jima’ dan mereka baru mandi setelah terbit fajar. Ini menunjukkan bolehnya menunda mandi ketika telah terbit fajar di hari-hari Ramadhan (ataupun selain Ramadhan) bagi orang yang junub3 dan juga bagi wanita yang suci dari haid/nifas. (Al-Mughni, Mas’alah: Wa kadzalik Al-Mar’ah idza Inqatha’a Haidhuha minal Lail)

2. Bila ia sengaja mengulur-ulur waktu untuk mandi tanpa ada alasan maka ia harus mengqadha puasa di hari tersebut. Tapi kalau tidak, maka tidak pula wajib baginya mengqadhanya. Demikian pendapat Muhammad bin Maslamah dari kalangan Malikiyyah. Namun wallahu a’lam, apa argumennya. (Al-Kafi, 1/294)

3. Ia harus mengqadha hari tersebut, sama saja apakah ia sengaja menunda-nunda mandi ataupun tidak. Al-Auza’i t berpendapat seperti ini. Demikian pula Al-Hasan ibnu Hay, Abdul Malik ibnu Al-Majisyun, dan Al-Anbari. (Al-Mughni, Mas’alah: Wa kadzalik Al-Mar’ah idza Inqatha’a Haidhuha minal Lail)
Argumen mereka: hadatsnya haid menghalangi puasa, beda halnya dengan janabah. Namun argumen ini bisa disanggah dengan pernyataan yang disebutkan dalam Al-Mughni pula bahwa wanita yang telah suci dari haid berarti ia tidak lagi dalam keadaan haid. Hanya saja karena belum mandi suci berarti dia masih menanggung hadats yang mewajibkannya mandi. Dengan begitu, dia seperti orang yang junub, karena jima’ mengharuskan mandi. Seandainya jima’ dilakukan di tengah-tengah waktu puasa niscaya akan rusak/batal puasa tersebut sebagaimana haid membatalkan puasa. Namun jima’ sudah berlalu, dilakukan saat belum masuk waktu puasa. Ketika terbit fajar, yang tersisa tinggallah kewajiban mandi sebagaimana tersisanya kewajiban mandi bagi wanita haid.
Wallahu a’lam, dari silang pendapat yang ada maka kami memegang pendapat jumhur sebagai pendapat yang lebih kuat, yaitu puasanya sah, sama saja apakah si wanita sengaja menunda mandinya ataupun tidak, karena sudah hilang penghalang dari dirinya untuk tidak berpuasa yaitu haid.
Al-Imam Abdurrahman ibnul Qasim t berkata, “Aku pernah bertanya kepada Al-Imam Malik t tentang seorang wanita yang melihat dirinya telah suci pada pengujung malamnya dari malam-malam Ramadhan. Al-Imam t menjawab, ‘Jika si wanita melihat dirinya telah suci sebelum terbit fajar maka ia mandi setelah fajar dan puasanya (pada hari itu) mencukupinya. Namun bila ia melihat dirinya suci setelah terbit fajar maka ia tidak teranggap orang yang puasa (tidak sah puasanya pada hari itu) dan hendaknya ia makan di hari tersebut’.” (Al-Mudawwanah, 1/276)
Al-Hafizh Ibnu Hajar t ketika menyebutkan pendapat jumhur bahwasanya boleh orang yang puasa mendapati pagi hari dalam keadaan masih junub (belum mandi janabah saat fajar telah terbit), beliau menyatakan bahwa wanita haid dan nifas sama hukumnya dengan orang yang junub, bila telah berhenti darahnya pada waktu malam (sebelum terbit fajar) dan ia meniatkan puasa maka sah puasanya walau ia mendapati fajar dalam keadaan belum mandi suci. Kemudian Al-Hafizh menukilkan ucapan Al-Imam An-Nawawi t dalam Syarh Muslim, “Madzhab ulama seluruhnya menyatakan sahnya puasa si wanita, kecuali pendapat yang dihikayatkan dari sebagian salaf namun tidak diketahui benar atau tidak penghikayatan itu darinya.” (Fathul Bari, 4/190)
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.


1 Sebagaimana akan disebutkan dalilnya.
2 Sebuah kitab yang ditulis menurut madzhab Hanafi, oleh Al-Imam Al-Faqih Al-Ushuli Syamsuddin Abu Bakr Muhammad As-Sarkhasi.
3 Dalil dari As-Sunnah tentang bolehnya orang yang junub menunda mandi sampai fajar telah terbit dalam keadaan ia berpuasa pada hari tersebut adalah hadits dari Aisyah dan Ummu Salamah c, keduanya mengabarkan:
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ n يُصْبِحُ جُنُبًا مِنْ غَيْرِ حُلْمٍ ثُمَّ يَصُوْمُ
“Rasulullah n pernah mendapati waktu subuh dalam keadaan junub, bukan karena ihtilam (mimpi basah, tapi karena jima’ -pen.), kemudian beliau puasa.” (HR. Al-Bukhari no. 1925 dan Muslim no. 2584)

Hikmah Nabi Tentang Pergaulan Suami Istri

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah)

 

Siapa yang tak berbahagia menanti hari pertemuan dengan calon teman hidup yang telah dipilih. Saat dijalinnya ijab qabul di hari pernikahan nan bahagia. Serasa hati berbunga-bunga ibarat taman yang sarat dengan kembang bermekaran. Tersimpanlah sejuta asa kan merajut hari-hari nan indah, menjalin benang-benang cinta, mewujudkan mahligai yang penuh sakinah, mawaddah, dan rahmah. Tersembul ikrar dalam kalbu kan membahagiakan pasangan yang terkasih. 
Kemudian, dilaluilah hari-hari setelah perjanjian suci di hadapan Allah l dan para hamba-Nya yang menjadi saksi.
Bulan-bulan pascapernikahan lewatlah sudah. Namun kemanakah semua impian itu? Mana kebahagiaan yang didamba?
Seiring dengan berjalannya waktu muncullah perasaan kecewa dan bisa jadi ada sesal. Muncul tanya di dada sang suami, “Kok, istriku seperti ini? Suka bikin kesal. Nggak pandai berperan sebagai istri…”
Si istri pun penuh tanya, “Ternyata suamiku tak seperti yang kubayangkan dan kuimpikan. Ternyata dia cuma seperti ini. Suka marah, emosional, terlalu banyak tuntutan, dan sebagainya, dan sebagainya.”
Atau muncul pernyataan, “Aduh… Ternyata begini ya rasanya berumah tangga, tak seindah dalam bayangan…”
Ya… Selain ada yang menemukan kebahagiaannya dengan menikah dan hidup bersama pasangannya, ada pula yang mengalami kekecewaan. Yang kecewa dalam kehidupan rumah tangganya bisa jadi rumah tangganya tetap bertahan namun dengan impitan rasa tak nyaman. Ada pula yang berujung dengan perceraian.
Lalu, kenapa semua itu bisa terjadi?
Siapakah yang bersalah dalam hal ini, si suami kah atau si istri, ataukah kedua-duanya?
Ya… Kesalahan bisa datang dari pihak mana saja. Namun yang perlu ditinjau ulang sebagai pelajaran bagi yang belum melangkah, bagaimanakah cara si lelaki menjatuhkan pilihan kepada wanita yang hendak diperistrinya? Begitu pula si wanita. Apakah mereka mendahulukan sisi agama pasangan hidupnya? Yakni, wanita yang dipilihnya adalah wanita shalihah, karena seperti kata Rasulullah n:
الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتاَعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ
“Dunia itu perhiasan1 dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah.” (HR. Muslim no. 3638 dari Abdullah ibnu Amr ibnul ‘Ash c)
Rasul n pun telah memberi bimbingan:
تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ: لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَالِهَا وَلِدِيْنِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّيْنِ تَرِبَتْ يَدَاكَ
“Wanita itu dinikahi karena empat hal: karena hartanya, kedudukannya (nasabnya), kecantikannya, dan karena agamanya. Maka utamakanlah wanita yang memiliki agama. (Bila tidak,) taribat yadak (celaka kedua tanganmu)2.” (HR. Al-Bukhari no. 5090 dan Muslim no. 3620 dari Abu Hurairah z)
Apakah si wanita juga telah tepat menerima pinangan yang ditujukan kepadanya? Adakah lelaki itu seorang yang shalih, bagus agamanya dan baik akhlaknya? Karena kriteria lelaki seperti inilah yang tak pantas ditolak bila si wanita merasa ada kecocokan. Bila tidak, maka akan terjadi seperti kata Rasulullah n yang ditujukan kepada para wali wanita:
إِذَا خَطَبَ إِلَيْكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِيْنَهُ وَخُلُقَهُ فَزَوِّجُوهُ، إِلاَّ تَفْعَلُوْا تَكُنْ فِتْنَةٌ فيِ الْأَرْضِ وَفَسَادٌ عَرِيْضٌ
“Apabila orang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya meminang wanita kalian kepada kalian, maka nikahkanlah dia (dengan wanita kalian). Kalau tidak kalian lakukan niscaya akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang merata.” (HR. At-Tirmidzi no. 1084 dari Abu Hurairah z, dihasankan dalam Al-Irwa’ no. 1868, Ash-Shahihah no. 1022 dan Al-Misykat no. 2579)
Bila keshalihan pasangan memang merupakan pilihan saat memasuki jenjang pernikahan, artinya si lelaki telah memilih wanita yang menurutnya shalihah sebagai istrinya dan si wanita telah memilih lelaki yang dipandangnya shalih sebagai pasangannya sehingga menikahlah lelaki yang shalih dan wanita yang shalihah tersebut, tapi kok tetap menyisakan kekecewaan dalam menjalani hari-hari setelah lewat masa pengantin baru; dan tetap ada empasan gelombang saat mengayuh bahtera rumah tangga; bagaimanakah dengan kenyataan ini?
Pertama, kita ingatkan agar seorang wanita ataupun seorang lelaki yang ingin melangkah memasuki kehidupan baru, agar tidak mengangankan terlalu muluk tentang pasangannya. Membayangkan calon istrinya seperti bidadari surga yang sempurna, atau calon suaminya seperti malaikat yang mulia.
Mengimpikan seluruh perangai kebaikan terkumpul pada sang calon hanya akan berujung kekecewaan. Karena seperti kata pepatah: tak ada gading yang tak retak; tak ada manusia yang sempurna. Rasulullah n pernah bersabda:
إِنَّمَا النَّاسُ كَإِبِلٍ مِائَةٍ لاَ تَكَادُ تَجِدُ فِيْهَا رَاحِلَةً
“Manusia itu hanyalah seperti seratus ekor unta, hampir-hampir dari seratus ekor tersebut engkau tidak dapatkan satu ekor pun yang bagus untuk ditunggangi.” (HR. Al-Bukhari no. 6498 dan Muslim no. 2547)
Maksud hadits di atas, kata Al-Imam Al-Khaththabi t, “Mayoritas manusia itu memiliki kekurangan. Adapun orang yang punya keutamaan dan kelebihan jumlahnya sedikit sekali. Maka mereka yang sedikit itu seperti keberadaan unta yang bagus untuk ditunggangi dari sekian unta pengangkut beban.” (Fathul Bari, 11/343)
Al-Imam An-Nawawi t menyatakan, “Orang yang diridhai keadaannya dari kalangan manusia, yang sempurna sifat-sifatnya, indah dipandang mata, kuat menanggung beban (itu sedikit jumlahnya).” (Syarhu Shahih Muslim, 16/101)
Ibnu Baththal t juga menyatakan yang serupa tentang makna hadits di atas, “Manusia itu jumlahnya banyak, namun yang disenangi dari mereka jumlahnya sedikit.” (Fathul Bari, 11/343)
Oleh karena itu, hendaknya seorang suami atau seorang istri menyadari bahwa ia menikah dengan anak manusia. Sebagaimana ia manusia yang punya banyak kekurangan maka demikian pula teman hidupnya. Selama masalahnya bukan sesuatu yang prinsip, maka hendaknya masing-masingnya bersabar dengan apa yang dijumpai dari kekurangan pasangannya.
Kedua, jangan membayangkan rumah tangga itu tanpa problema, karena rumah tangga tanpa problema hanya ada di surga kelak. Adapun rumah tangga di dunia pasti ada kisah suka dukanya, kisah lapang dan sempitnya, cerita penuh tawa dan sekaligus derai air mata. Maka persiapkan diri untuk menghadapi kehidupan orang dewasa. Senang susah sama ditanggung, suka duka jadikan ibarat bumbu dalam pernikahan.
Ketiga, kurangnya bekal ilmu dalam menghadapi pernikahan juga menjadi sebab munculnya berbagai masalah rumah tangga dan tumpukan kekecewaan di belakang hari. Seorang istri tidak tahu apa saja hak suami yang harus ditunaikannya. Dia tidak paham bagaimana kadar dan tingginya kedudukan suami atas dirinya. Sebaliknya, seorang suami tidak mengerti kewajibannya sebagai seorang qawwam (pemimpin) dalam rumah tangga. Tidak menaruh perhatian terhadap hak-hak istri. Singkat kata, mereka tidak paham tuntutan Islam dan bimbingan Rasul n dalam hidup berkeluarga. Sehingga hasungan berilmu sebelum beramal perlu menjadi perhatian. Semangat mencari dan belajar ilmu syar’i perlu ditumbuhsuburkan di tengah keluarga. Suami harus cinta kepada ilmu dan mengupayakan agar istrinya pun cinta kepada ilmu. Suami istri perlu membaca bagaimana kehidupan rumah tangga Rasul n yang termaktub dalam kitab-kitab ilmu. Bagaimana sosok Rasul n sebagai suami teladan dan indahnya pergaulan dalam rumah tangga beliau. Termasuk yang perlu diketahui oleh pasangan suami istri adalah hadits-hadits nabawiyyah yang harum semerbak tentang pergaulan suami istri. Sebagiannya telah kami bawakan dalam lembar ini pada edisi yang lalu, dan kami janjikan untuk membawakan yang tersisa dalam edisi ini. Semoga mutiara hikmah Nabawiyyah ini bisa menjadi pelajaran berharga dalam menjalani hari-hari hidup berkeluarga.
Berikut ini hadits-haditsnya:
•    Mu’awiyah bin Haidah z berkata: Aku pernah bertanya:
يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَا حَقُّ زَوْجَةِ أَحَدِنَا عَلَيْهِ؟ قَالَ: أَنْ تُطْعِمَهَا إِذَا طَعِمْتَ وَتَكْسُوَهَا إِذَا اكْتَسَيْتَ، وَلاَ تَضْرِبِ الْوَجْهَ وَلاَ تُقَبِّحْ وَلاَ تَهْجُرْ إِلاَّ فِي الْبَيْتِ
“Wahai Rasulullah, apakah hak istri salah seorang dari kami terhadap suaminya?” Rasulullah n menjawab, “Engkau beri makan istrimu jika engkau makan dan engkau beri pakaian jika engkau berpakaian. Jangan engkau pukul wajahnya, jangan engkau menjelekkannya3, dan jangan menghajr/memboikotnya kecuali dalam rumah4.” (HR. Abu Dawud no. 2142, dishahihkan Asy-Syaikh Muqbil t dalam Al-Jami’ush Shahih, 3/86)

•    Abu Hurairah z menyampaikan bahwa Rasulullah n bersabda:
أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ
“Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling bagus akhlaknya. Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istri-istrinya5.” (HR. At-Tirmidzi no. 1172, dihasankan Asy-Syaikh Muqbil t dalam Ash-Shahihul Musnad 2/336-337, dan Asy-Syaikh Albani t dalam Ash-Shahihah no. 284)
•    Aisyah x berkata:
قَدِمَ رَسُوْلُ اللهِ n مِنْ غَزْوَةِ تَبُوْكٍ أَوْ خَيْبَرٍ، وَفِي سَهْوَتِهَا سِتْرٌ فَهَبَتِ الرِّيْحُ، فَكَشَفَتْ نَاحِيَةُ السِّتْرِ عَنْ بَنَاتٍ لِعَائِشَةَ لُعَبٍ، فَقَالَ: مَا هذَا يَا عَائِشَةُ؟ قَالَتْ: بَناَتِي. وَرَأَى بَيْنَهُنَّ فَرَسٌ لَهُ جَنَاحاَنِ مِنْ رِقَاعٍ، فَقَالَ: مَا هذَا الَّذِي وَسَطَهُنَّ؟ قَالَتْ: فَرَسٌ. قَالَ: وَمَا هذَا الَّذِي عَلَيْهِ؟ قَالَتْ: جَنَاحاَنِ. قَالَ: فَرَسٌ لَهُ جَنَاحَانِ؟ قَالَتْ: أَمَا سَمِعْتَ أَنَّ لِسُلَيْمَانَ خَيْلاً لهَاَ أَجْنِحَةٌ؟ قَالَتْ: فَضَحِكَ حَتَّى رَأَيْتُ نَوَاجِذَه.
Rasulullah n datang dari perang Tabuk atau Khaibar. Ketika itu rak milik Aisyah ditutupi tirai, lalu berembuslah angin hingga tersingkap satu sisi dari tirai penutup tersebut menampakkan anak-anakan (boneka mainan) milik Aisyah. Rasulullah n pun bertanya, “Apa ini, ya Aisyah?” “Anak-anakan milikku,” jawab Aisyah. Di antara mainan tersebut, Rasulullah melihat ada seekor kuda dengan dua sayapnya dari kain perca, beliau bertanya, “Boneka apa yang ada di tengah-tengah boneka yang lain ini?” “Kuda”, jawab Aisyah. “Lalu apa yang menempel pada dua sisi tubuhnya,” tanya Rasulullah. “Dua sayap,” jawab Aisyah. “Seekor kuda memiliki dua sayap?” tanya Rasulullah. “Tidakkah anda pernah mendengar bahwa Nabi Sulaiman memiliki kuda yang bersayap?” jawab Aisyah. Rasulullah tertawa sampai aku melihat geraham beliau. (HR. Abu Dawud no. 4932, dishahihkan dalam Shahih Abi Dawud dan Adabuz Zafaf hal. 275)
•    Rasulullah n bersabda kepada Umar ibnul Khaththab z:
أَلَا أُخْبِرُكَ بِخَيْرِ مَا يَكْنِزُ الْمَرْءُ: الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، إِذَا نَظَرَ إِلَيْهَا سَرَّتْهُ وَإِذَا أَمَرَهَا أَطَاعَتْهُ وَإِذَا غَابَ عَنْهَا حَفِظَتْهُ
“Maukah aku beritahukan kepadamu tentang sebaik-baik perbendaharaan seorang lelaki? Yaitu, istri shalihah yang bila dipandang akan menyenangkannya6, bila diperintah7 akan menaatinya8, dan bila ia pergi si istri akan menjaga dirinya untuk suaminya.” (HR. Abu Dawud no. 1417, dishahihkan menurut syarat Muslim dalam Al-Jami’ush Shahih 3/57)
•    Rasulullah n bersabda:
أََلاَ أُخْبِرُكُمْ بِنِسَاءِكُمْ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ؟ الْوَدُوْدُ الْوَلُوْدُ الْعَؤُوْدُ عَلَى زَوْجِهَا، الَّتِي إِذَا غَضِبَ جَاءَتْ حَتَّى تَضَعَ يَدَهَا فِي يَدِ زَوْجِهَا وَتَقُوْلُ: لاَ أَذُوْقُ غَمْضًا حَتَّى تَرْضَى
“Maukah aku beritahukan kepada kalian, istri-istri kalian yang menjadi penghuni surga yaitu istri yang penuh kasih sayang, banyak anaknya, dan selalu kembali kepada suaminya. Di mana jika suaminya marah, dia mendatangi suaminya dan meletakkan tangannya pada tangan suaminya seraya berkata, ‘Aku tak dapat memejamkan mata sampai engkau ridha’.” (HR. An-Nasa’i dalam Isyratun Nisa’ no. 257, lihat Ash-Shahihah no. 287)
•    Umar ibnul Khaththab z bertanya kepada Rasulullah n, “Wahai Rasulullah, harta apakah yang sebaiknya kita miliki?” Beliau menjawab:
لِيَتَّخِذَ أَحَدُكُمْ قَلْبًا شَاكِرًا، وَلِسَانًا ذَاكِرًا، وَزَوْجَةً مُؤْمِنَةً تُعِيْنُ أَحَدَكُمْ عَلَى أَمْرِ الْآخِرَةِ
“Hendaklah salah seorang dari kalian memiliki hati yang bersyukur, lisan yang berzikir dan istri mukminah yang membantunya dalam perkara akhiratnya.” (HR. Ibnu Majah no. 1856, dishahihkan dalam Shahih Ibni Majah)
•    Rasulullah n bersabda:
إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهاَ وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا، قِيْلَ لهَاَ: ادْخُلِي الْجَنَّّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ
Apabila seorang wanita mengerjakan shalat lima waktu, puasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan taat kepada suaminya, maka akan dikatakan kepadanya, “Masuklah engkau ke dalam surga dari pintu surga mana saja yang engkau inginkan.” (HR. Ahmad 1/191, dishahihkan Al-Albani t dalam Shahihul Jami’ no. 660, 661)

•    Iyas bin Abdillah ibnu Abi Dzubab z mengabarkan Rasulullah n bersabda:
لاَ تَضْرِبُوْا إِمَاءَ اللهِ. فَجَاءَ عُمَرُ z إِلَى رَسُوْلِ اللهِ n فَقَالَ: ذَئِرْنَ النِّسَاءُ عَلَى أَزْوَاجِهِنَّ. فَرَخَصَ فيِ ضَرْبِهِنَّ فَطَافَ بِآلِ رَسُوْلِ اللهِ n نِسَاءٌ كَثِيْرٌ يَشْكُوْنَ أَزْوَاجَهُنَّ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ n: وَلَقَدْ طَافَ بِآلِ رَسُوْلِ اللهِ n نِسَاءٌ كَثِيْرٌ يَشْكُوْنَ أَزْوَاجَهُنَّ، لَيْسَ أُولَئِكَ بِخِيَارِكُمْ
“Janganlah kalian memukul hamba-hamba perempuan Allah.” Datanglah Umar z menemui Rasulullah n seraya berkata, “Wahai Rasulullah, sungguh para istri telah berbuat durhaka kepada suami-suami mereka.”
Maka beliau memberi rukhshah/keringanan bolehnya memukul para istri. Kemudian berkelilinglah banyak wanita di sekitar keluarga Rasulullah n mengadukan (kekerasan) suami-suami mereka. Bersabdalah Rasulullah n, “Sungguh banyak wanita yang berkeliling di keluarga Rasulullah n guna mengadukan suami-suami mereka. Suami-suami yang diadukan itu bukanlah orang yang terbaik di antara kalian9.” (HR. Abu Dawud no. 2145, dishahihkan dalam Shahih Abi Dawud)

•    Abu Hurairah z berkata: Rasulullah n bersabda:
رَحِمَ اللهُ رَجُلاً قاَمَ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّى وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ، فَإِنْ أَبَتْ نَضَحَ فِي وَجْهِهَا الْماَءَ، وَرَحِمَ اللهُ امْرَأَةً قَامَتْ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّتْ وَأَيْقَظَتْ زَوْجَهَا فَإِنْ أَبَى نَضَحَتْ فِي وَجْهِهِ الْمَاءَ
“Semoga Allah merahmati seorang suami yang bangun di waktu malam lalu ia mengerjakan shalat dan membangunkan istrinya (agar turut mengerjakan shalat). Bila istrinya enggan untuk bangun, ia memercikkan air ke wajah istrinya. Dan semoga Allah merahmati seorang istri. yang bangun di waktu malam, lalu ia mengerjakan shalat dan membangunkan suaminya (agar turut mengerjakan shalat). Bila suaminya enggan untuk bangun, ia memercikkan air ke wajah suaminya10.” (HR. Abu Dawud no. 1308, dihasankan pula dalam Ash-Shahihul Musnad, 2/303)
•    Asma’ bintu Yazid Al-Anshariyyah x mengabarkan bahwa Rasulullah n pernah bersabda kepada sekumpulan wanita:
إِيَّاكُنَّ وَكُفْرَ الْمُنْعِمِيْنَ. وَكُنْتُ مِنْ أَجْرَئِهِنَّ عَلَى مَسْأَلَتِهِ، فَقُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، وَمَا كُفْرُ الْمُنْعِمِيْنَ؟ قاَلَ: لَعَلَّ إِحْدَاكُنَّ تَطُوْلُ أَيْمَتُهَا مِنْ أَبَوَيْهِ ثُمَّ يَرْزُقُهَا اللهُ زَوْجًا وَيَرْزُقُهَا مِنْهُ وَلَدًا. فَتَغْضَبُ الْغَضْبَةَ فَتَكْفُرُ فَتَقُوْلُ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ
“Hati-hati kalian dari mengkufuri orang yang memberi kenikmatan/kebaikan kepada kalian (yaitu suami)11.” Dan aku (Asma’) adalah orang yang paling berani bertanya kepada Rasulullah di antara para wanita yang ada di situ. Aku tanyakan, “Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan mengkufuri orang yang memberikan nikmat?” Beliau menjawab, “Mungkin salah seorang dari kalian melewati masa kesendiriannya12 yang panjang di sisi kedua orangtuanya. Kemudian Allah memberikan rezeki kepadanya berupa seorang suami, lalu dari suami tersebut Allah anugerahkan kepadanya seorang anak. Suatu ketika ia marah kepada suaminya lalu ia mengingkari kebaikan suaminya dengan menyatakan, ‘Aku sama sekali tidak pernah melihat kebaikan darimu13’.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no. 1047, dishahihkan dalam Shahih Al-Adabil Mufrad karya Asy-Syaikh Al-Albani t dan dalam Ash-Shahihah no. 823)

•    Rasulullah n bersabda:
لاَ يْنُظُرُ اللهُ إِلَى امْرَأَةٍ لاَ تَشْكُرُ لِزَوْجِهَا وَهِيَ لاَ تَسْتَغْنِي عَنْهُ
“Allah tidak akan melihat kepada seorang istri yang tidak bersyukur kepada suaminya padahal dia membutuhkannya.” (HR. An-Nasa’i dalam Isyratun Nisa’. Lihat Ash-Shahihah no. 289)

•    Mu’adz bin Jabal z berkata: Rasulullah n bersabda:
لاَ تُؤْذِي امْرَأَةٌ زَوْجَهَا فِي الدُّنْيَا إِلاَّ قَالَتْ زَوْجُهَا مِنَ الْحُوْرِ الْعِيْنِ: لاَ تُؤْذِيْهِ، قَتَلَكِ اللهُ، فَإِنَّمَا هُوَ عِنْدَكِ دَخِيْلٌ يُوْشِكُ أَنْ يُفَارِقَكِ إِلَيْنَا
“Tidaklah seorang istri menyakiti suaminya di dunia melainkan istri suaminya dari kalangan hurun ‘in14 akan mengatakan, ‘Jangan engkau sakiti dirinya, qatalakillah!15 Karena dia cuma tamu di sisimu dan sekadar singgah, hampir-hampir ia akan berpisah denganmu untuk bertemu kami’.” (HR. At-Tirmidzi no. 1174 dan Ibnu Majah no. 204, dishahihkan dalam Shahih At-Tirmidzi)

•    Tatkala Mu’adz bin Jabal z datang dari Syam, ia bersujud kepada Nabi n, maka beliau n bertanya mengingkari:
مَا هذَا يَا مُعَاذُ؟ قَالَ: أَتَيْتُ الشَّامَ فَوَافَيْتُهُمْ يَسْجُدُوْنَ لِأَسَاقَفَتِهِمْ وَبَطَارقَتِهِمْ، فَوَدِدْتُ فِي نَفْسِي أَنْ تَفْعَلَ ذَلِكَ بِكَ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ n: فَلاَ تَفْعَلُوْا، فَلَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِغَيْرِ اللهِ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا، وَالَّذِي نَفْسُ مُحُمَّدٍ بِيَدِهِ، لاَ تُؤَدِّي الْمَرْأَةُ حَقَّ رَبِّهَا حَتَّى تُؤَدِّيَ حَقَّ زَوْجِهَا، وَلَوْ سَأَلَهَا نَفْسَهَا وَهِيَ عَلَى قَتَبٍ لَمْ يَمْنَعْهُ
“Apa yang kau lakukan ini, wahai Muadz?” Muadz menjawab, “Aku mendatangi negeri Syam, aku dapati mereka sujud kepada uskup dan panglima mereka. Maka aku berkeinginan dalam jiwaku untuk melakukan hal tersebut kepadamu.” Rasulullah pun berkata, “Jangan kalian lakukan yang seperti itu. Kalau aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada selain Allah niscaya aku akan memerintahkan seorang istri untuk sujud kepada suaminya. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seorang istri dapat memenuhi hak Rabbnya sampai ia menunaikan hak suaminya. Sampai-sampai seandainya suami meminta dirinya dalam keadaan ia berada di atas pelana (yang dipasang di atas unta) ia tidak boleh menolaknya.” (HR. Ibnu Majah, Ahmad 4/381, dishahihkan dalam Ash-Shahihul Jami’ 5295, Al-Irwa’ no. 1998, dan dalam Ash-Shahihah no. 3366)

•    Anas bin Malik z menyampaikan bahwa Rasulullah n bersabda:
لاَ يَصْلُحُ لِبَشٍر أَنْ يَسْجُدَ لِبَشٍر وَلَوْ صَلَحَ لِبَشٍر أَنْ يَسْجُدَ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا مِنْ عِظَمِ حَقِّهِ عَلَيْهَا، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَوْ كَانَ مِنْ قَدَمِهِ إِلَى مَفْرَقِ رَأْسِهِ قُرْحَةٌ تَجْرِي بِالْقَيْحِ وَالصَّدِيْدِ ثُمَّ اسْتَقْبَلَتْهُ فَلَحِسَتْهُ، مَا أَدَّتْ حَقَّهُ
“Tidak pantas seorang manusia sujud kepada manusia yang lain. Seandainya pantas seorang manusia sujud kepada yang lain niscaya aku perintahkan seorang istri untuk sujud kepada suaminya karena besarnya haknya suami terhadapnya. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya pada telapak kaki suaminya sampai ke belahan rambutnya ada luka yang mengucurkan nanah bercampur darah, kemudian si istri menghadapi luka-luka tersebut lalu mengelapnya (dengan tangan atau dengan lidah), niscaya ia belum purna menunaikan hak suaminya.” (HR. Ahmad 3/159, dishahihkan Al-Haitsami 4/9, Al-Mundziri 3/55, dan Abu Nu’aim dalam Ad-Dala’il 137. Lihat catatan kaki Musnad Al-Imam Ahmad 10/513, cet. Darul Hadits, Al-Qahirah)
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.


1 Tempat untuk bersenang-senang. (Syarh Sunan An-Nasa’i, Al-Imam As-Sindi, 6/69)
2 Pendapat yang paling tepat dan paling kuat yang dipegangi para muhaqqiq tentang maknanya adalah kalimat ini asal maknanya: Engkau menjadi fakir. Orang Arab terbiasa menggunakannya namun tidak memaksudkan hakikat maknanya yang asli. Mereka menyatakan taribat yadak, qatalahullahu, laa umma lahu, laa aba laka, tsakilathu ummuh, wailun ummuhu dan lafadz-lafadz sejenis, mereka ucapkan ketika mengingkari sesuatu, mencerca, mencaci, atau membesarkannya, atau menekankan pada sesuatu tersebut atau untuk menyatakan keheranan/kekaguman. Wallahu a’lam. (Al-Minhaj, 2/212)
3 Maksudnya: mengucapkan kepada istri ucapan yang buruk, mencaci makinya, atau mengatakan kepadanya, “Semoga Allah menjelekkanmu,” atau ucapan semisalnya. (‘Aunul Ma’bud, Kitab An-Nikah, bab Fi Haqqil Mar’ah ‘ala Zaujiha)
4 Memboikot istri dilakukan ketika istri tidak mempan dinasihati atas kemaksiatan yang dilakukannya sebagaimana ditunjukkan dalam ayat:
“Dan istri-istri yang kalian khawatirkan nusyuznya maka berilah mau’izhah kepada mereka, hajr/boikotlah mereka di tempat tidur…..” (An-Nisa’: 34)
Pemboikotan ini bisa dilakukan di dalam atau di luar rumah, seperti yang ditunjukkan dalam hadits Anas bin Malik ztentang Rasulullah n yang meng-ila’ istrinya (bersumpah untuk tidak mendatangi istri-istrinya) selama sebulan. Selama itu, beliau tinggal di masyrabahnya (kamar tinggi yang untuk menaikinya perlu tangga). (HR. Al-Bukhari)
Hal ini tentunya melihat keadaan. Bila memang diperlukan boikot di luar rumah maka dilakukan, namun bila tidak maka cukup di dalam rumah. Bisa jadi boikot dalam rumah lebih mengena dan lebih menyiksa perasaan si istri daripada boikot di luar rumah. Namun bisa juga sebaliknya. Akan tetapi yang dominan boikot di luar rumah lebih menyiksa jiwa, khususnya bila yang menghadapinya kaum wanita, karena lemahnya jiwa mereka. (Fathul Bari, 9/374)
5 Nabi n menyatakan: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istri-istrinya”, karena para wanita/istri adalah makhluk Allah l yang lemah sehingga sepantasnya menjadi tempat curahan kasih sayang. (Tuhfatul Ahwadzi, 4/273)
Al-Imam An-Nawawi t berkata berkenaan dengan kisah Rasulullah n meng-ila’ istri-istrinya, “Suami berhak meng-hajr istrinya dan memisahkan dirinya dari istrinya ke rumah lain, apabila ada sebab yang bersumber dari si istri.” (Al-Minhaj, 10/334)
6 Karena keindahan dan kecantikannya secara zhahir, atau karena akhlaknya yang bagus secara batin, atau karena si istri senantiasa menyibukkan dirinya untuk taat dan bertakwa kepada Allah l. (Ta’liq Sunan Ibnu Majah, Muhammad Fuad Abdul Baqi, Kitabun Nikah, bab Afdhalun Nisa’, 1/596, ‘Aunul Ma’bud 5/56)
7 Untuk melakukan urusan yang syar’i atau yang biasa. (Aunul Ma’bud 5/56)
8 Mengerjakan apa yang diperintahkan dan melayaninya. (Aunul Ma’bud 5/56)
9 Mereka bukanlah orang yang terbaik, karena suami yang terbaik tidak akan memukul istrinya. Bahkan ia bersabar dengan kekurangan yang ada pada istrinya. Kalaupun ia ingin memberi pukulan ‘pendidikan’ kepada istrinya, ia tidak akan memukulnya dengan keras yang akan membuat si istri mengadu/mengeluh. (Aunul Ma’bud, kitab An-Nikah, bab fi Dharbin Nisa’)
10 Al-Allamah Al-‘Azhim Abadi t menyatakan bahwa Allah l merahmati seorang lelaki yang shalat tahajjud pada sebagian malam dan ia membangunkan istrinya, baik dengan peringatan ataupun nasihat hingga si istri pun mengerjakan shalat walau hanya satu rakaat. Bila istrinya enggan bangun karena kantuk yang sangat atau perasaan malas yang lebih dominan, ia memercikkan air ke wajah istrinya. Sekadar memercikkan sebagai isyarat ia berlaku lembut kepada istrinya dan berusaha membangunkannya untuk mengerjakan amalan ketaatan kepada Rabbnya selama memungkinkan karena Allah l berfirman:
“Tolong-menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketakwaan.” (Al-Maidah: 2)
Hadits ini menunjukkan bolehnya, bahkan disenangi, memaksa seseorang untuk beramal kebaikan. Sebagaimana hadits ini menerangkan tentang pergaulan yang baik antara suami dengan istrinya, kelembutan yang sempurna, kesesuaian, kecocokan, dan kesepakatan di antara keduanya.  (Aunul Ma’bud, Kitab Ash-Shalah, bab Al-Hatstsu ‘ala Qiyamil Lail)
11 Suami disebut mun’im karena banyaknya kenikmatan yang diberikannya kepada istrinya. (Syarh Shahih Al-Adabil Mufrad, 3/175)
12 Sendiri tanpa ada suami, baik dalam status sebagai gadis ataupun janda.
13 Si istri ini mengingkari kenikmatan yang telah diberikan suaminya kepadanya padahal dengan suami tersebut ia terjaga kehormatannya, terpelihara dirinya dan mendapatkan berbagai kenikmatan lainnya.
Hadits ini menunjukkan keutamaan seorang suami dan wajibnya mensyukuri kenikmatan yang Allah berikan, termasuk anugerahnya berupa suami sebagai teman hidup. Sebagaimana hadits ini menunjukkan keadaan wanita/istri dan perilakunya ketika marah. Hadits ini juga mengandung peringatan agar tidak mengkufuri nikmat Allah l.  (Syarh Shahih Al-Adabil Mufrad, 3/176)
14 Al-hur adalah jamak dari al-haur, yaitu wanita-wanita penduduk surga yang lebar matanya, bagian yang putih dari matanya sangat putih dan bola matanya sangat hitam. (Tuhfatul Ahwadzi, 4/283-284)
15 Artinya: Semoga Allah l membunuhmu, melaknat atau memusuhimu. Namun maknanya untuk menyatakan keheranan, dan bukan dimaksudkan agar perkara tersebut terjadi.

BUNUH DIRI, BENARKAH MATI SEBELUM WAKTUNYA?

Katanya mati bunuh diri itu mati sebelum waktunya dan bukan karena Allah l, lalu apakah berarti yang mencabut nyawa bukan malaikat Izrail?

Dijawab oleh Al-Ustadz As-Sarbini Al-Makassari:

Anggapan bahwa orang yang mati bunuh diri mati sebelum waktunya dan bukan karena Allah l adalah aqidah yang batil. Ini adalah aqidah kaum Mu’tazilah yang sesat, yang mengingkari takdir Allah l. Oleh karena itu, mereka mengatakan bahwa orang yang mati terbunuh atau bunuh diri, adalah mati sebelum ajal yang diketahui, dikehendaki dan ditetapkan dalam Kitab Lauhul Mahfuzh oleh Allah l. Artinya mati di luar takdir Allah l. Kalau seandainya dia tidak terbunuh atau bunuh diri, dia akan hidup hingga ajal yang ditakdirkan oleh Allah l. Jadi menurut mereka, orang yang mati terbunuh punya dua ajal.
Yang benar menurut aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang sesuai dengan dalil-dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah serta ijma’ salaf, bahwa orang yang mati terbunuh atau bunuh diri adalah mati sesuai ajal yang ditakdirkan oleh Allah l.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t berkata: “Orang yang mati terbunuh sama halnya dengan orang mati lainnya. Tidak ada seorang pun yang mati sebelum ajalnya, dan tidak ada seorang pun yang kematiannya mundur dari ajalnya. Sebab ajal setiap sesuatu adalah batas akhir umurnya, dan umurnya adalah jangka waktu kehidupannya (di dunia). Jadi umur adalah jangka waktu kehidupan (di dunia) dan ajal adalah berakhirnya batas umur/kehidupan.”
Syaikhul Islam juga berkata: “Allah Maha Mengetahui segala sesuatu sebelum terjadinya dan Allah l telah menulisnya. Jadi Allah l telah mengetahui bahwa orang ini akan mati dengan sebab penyakit perut, radang selaput dada, tertimpa reruntuhan, tenggelam dalam air, atau sebab-sebab lainnya. Demikian pula, Allah l telah mengetahui bahwa orang ini akan mati terbunuh, apakah dengan pedang, batu, atau dengan sebab-sebab lain yang menjadikan terbunuhnya seseorang.”
Jadi Allah l yang menakdirkan kematiannya dengan sebab itu. Allah l berfirman:
“Tidaklah suatu jiwa akan meninggal kecuali dengan seizin Allah (takdir Allah), Allah telah menulis ajal kematian setiap jiwa.” (Ali ‘Imran: 145)
As-Sa’di t menafsirkan ayat ini dengan berkata: “Kemudian Allah l mengabarkan bahwa seluruh jiwa tergantung ajalnya dengan izin Allah l, takdir dan ketetapan-Nya. Siapa saja yang Allah l tetapkan kematian atasnya dengan takdir-Nya, niscaya dia akan mati meskipun tanpa sebab. Sebaliknya, siapa saja yang dikehendaki-Nya tetap hidup, maka meskipun seluruh sebab yang ada telah mengenainya, hal itu tidak akan memudharatkannya sebelum ajalnya tiba. Karena Allah l telah menetapkan, menakdirkan dan menulis hidupnya hingga ajal yang ditentukan. Allah l berfirman:
“Maka jika ajal mereka telah datang mereka tidak mampu mengundurkannya sesaat pun dan mereka tidak mampu memajukannya (sesaat pun).” (Al-A’raf: 34)
Sebaliknya, kaum yang menafikan dan menolak adanya sebab-musabab dalam terjadinya sesuatu yang ditakdirkan oleh Allah l mengatakan bahwa seandainya dia tidak terbunuh, maka dia tetap akan mati saat itu.
Maka hal ini juga batil, dan dibantah oleh Ibnu Taimiyah t dengan mengatakan: “Kalau seandainya Allah l mengetahui bahwa orang tersebut tidak akan mati terbunuh, maka ada kemungkinan Allah l menakdirkan kematiannya pada saat itu dan ada kemungkinan Allah l menakdirkan tetap hidupnya dia hingga waktu yang akan datang. Maka penetapan salah satu dari dua kemungkinan tersebut atas takdir yang belum terjadi adalah kejahilan. Hal ini seperti perkataan seseorang: ‘Kalau orang ini tidak makan rezeki yang ditakdirkan Allah l untuknya, maka mungkin saja dia akan mati atau dia diberi rezeki yang lain’.” (Majmu’ Al-Fatawa [8/303-304] cet. Darul Wafa’, Syarhu Al-Aqidah Ath-Thahawiyyah karya Ibnu Abil ‘Izz hal. 143, cet. Al-Maktab Al-Islami, Taisir Al-Karim Ar-Rahman)
Yang mencabut nyawa orang yang mati bunuh diri juga malaikat pencabut nyawa, yaitu Malakul Maut. Adapun penamaan malaikat Izrail, maka penamaan ini tidak tsabit (shahih) dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Oleh karena itu, penamaan ini diingkari oleh para ulama. Al-Imam Al-Muhaddits Al-Albani dalam Syarhu wa Ta’liq Al-Aqidah Ath-Thahawiyyah (hal. 84, cet. Maktabah Al-Ma’arif) ketika menjelaskan perkataan Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi t: “Kita juga beriman dengan Malakul Maut yang diperwakilkan untuk mencabut ruh-ruh alam.” Al-Albani berkata dalam syarahnya: ”Inilah namanya dalam Al-Qur’an. Adapun penamaan Izrail sebagaimana yang tersebar di kalangan manusia, tidak ada dalil (dasar)nya. Hanyalah sesungguhnya hal itu berasal dari cerita Al-Isra’iliyat (cerita Bani Isra’il).”
Al-Imam Al-Faqih Al-‘Utsaimin t berkata dalam Syarhu Al-Aqidah Al-Wasitiyyah (hal. 46, cet. Daruts Tsurayyah lin Nasyr): “Demikian pula kita mengetahui bahwa di antara para malaikat ada yang diperwakilkan untuk mencabut ruh-ruh Bani Adam atau ruh-ruh setiap makhluk yang bernyawa. Mereka adalah Malakul Maut dan rekan-rekan malaikat yang membantunya. Malakul Maut tidak bernama Izrail, karena penamaan tersebut tidak tsabit (tetap) dari Nabi n.”
Wallahu a’lam.

Air Sumur Bau Bangkai

Air sumur saya bau seperti bangkai, apakah airnya najis untuk wudhu/mandi?
Alfit-Solo-0856471xxxxx

Jawab:
Untuk mengetahui najis atau tidaknya air tersebut maka harus diketahui sumber bau tersebut atau penyebabnya. Bila penyebabnya memang najis seperti bangkai binatang darat pada umumnya, misalnya kucing, ayam, atau semacamnya maka air itu menjadi najis. Cara membersihkannya adalah dengan dikuras. Asy-Syaukani t mengatakan:
“Dan sesuatu yang tidak memungkinkan untuk dicuci dari benda-benda yang terkena najis seperti tanah atau sumur maka pensuciannya dengan disirami atau dikuras  sehingga tidak tersisa bekas-bekas najisnya. Karena bilamana masih tersisa maka perintah untuk ibadah dengan mensucikannya masih tetap, akan tetapi hal ini pada najis yang ada wujud dan warnanya.” (Ad-Darari Al-Mudhiyyah)
Ulama bersepakat bahwa jika air berubah bau, rasa, atau warnanya dengan sebab najis, maka air itu menjadi najis. Di antara yang menukilkan kesepakatan ini adalah Ibnul Mundzir dan Ibnul Mulaqqin. (Lihat Ad-Darari Al-Mudhiyyah karya Asy-Syaukani)
Adapun bila penyebabnya bukan najis maka air itu tetap suci dalam arti bisa dipakai berwudhu atau mandi janabat. Air itu tetap pada hukum asalnya sebagai pensuci, sebagaimana dalam hadits:
الْمَاءُ طَهُورٌ لاَ يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ
“Air itu suci dan tidak membuatnya najis sesuatu pun.” (Shahih, HR. Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan yang lain. Lihat takhrijnya dalam kitab Irwa’ul Ghalil no. 14)
Juga sebagaimana dalam ayat:
“Dialah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira dekat sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan) dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih (mensucikan).” (Al-Furqan: 48)
“Apakah kamu tidak memerhatikan bahwa sesungguhnya Allah menurunkan air dari langit, maka diaturnya menjadi sumber-sumber air di bumi.” (Az-Zumar: 21)
Ibnu Hazm t mengatakan: “Masalah: Semua air yang tercampuri oleh sesuatu yang suci dan mubah lalu nampak padanya warna, bau, dan rasanya, akan tetapi belum hilang darinya sebutan air maka boleh untuk berwudhu dan mandi janabat. Landasannya adalah:
“… Lalu kalian tidak mendapatkan air, maka tayammumlah…” (An-Nisa: 43)
Dan air (yang tercampuri) ini masih dinamakan air. Sama saja apakah yang masuk ke dalamnya adalah minyak wangi misk, madu, za’faran, atau yang lain. (Al-Muhalla, Masalah ke-147: Jawazul wudhu wal ghusl lil janabah bil ma’illadzi ikhtalatha biththahir)

Kuis Berhadiah SMS

Apa hukumnya mengirim kuis berhadiah menggunakan SMS dengan tarif premium (lebih dari tarif biasa)? Apakah itu termasuk dalam kategori judi?

085675xxxxx

 

Jawab:
Apa yang anda tanyakan termasuk judi. Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin t mengatakan:
الْقَاعِدَةُ: أَنَّ كُلَّ مُعَامَلَةٍ يَكُونُ فِيْهَا الْمُعَامِلُ إِمَّا غَانِماً أَوْ غَارِماً أَنَّهَا مِنَ الْمَيْسِرِ فَلَا تَجُوزُ
“Kaidahnya, setiap transaksi di mana seseorang yang bertransaksi akan mengalami kemungkinan untung dan rugi1, maka itu termasuk dari perjudian, sehingga terlarang (tidak diperbolehkan).” (Liqa’ Al-Bab Al-Maftuh)
Sehingga apa yang marak tersebar melalui SMS berupa beragam kuis dengan cara mengirim SMS dengan tarif yang melebihi biasanya adalah termasuk perjudian yang Allah l larang. Sebagaimana dalam ayat-Nya:

“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kalian lantaran (meminum) khamr dan berjudi itu, dan menghalangi kalian dari mengingat Allah dan shalat, maka berhentilah kalian (dari mengerjakan pekerjaan itu).” (Al-Maidah: 90-91)


1 Rugi di sini dalam arti tidak mendapatkan imbalan apapun sementara ia telah mengeluarkan sejumlah harta.

Sifat Shalat Nabi (5) : Doa-doa Istiftah

Doa-doa Istiftah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membuka bacaan beliau dalam shalat dengan mengucapkan doa-doa yang banyak lagi beragam. Di dalamnya beliau memuji Allah ‘azza wa jalla, memuliakan-Nya dan menyanjung-Nya. Doa-doa inilah yang diistilahkan dengan doa istiftah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Rifa’ah ibn Rafi’ radhiallahu ‘anhu, sahabatnya yang keliru dalam shalatnya (al-musi’u shalatuhu):

إِنَّهُ لاَ تَتِمُّ صَلاَةٌ لِأَحَدٍ مِنَ النَّاسِ حَتَّى يَتَوَضَّأَ فَيَضَعَ الْوُضُوْءَ – يَعْنِي مَوْضِعَهُ – ثُمَّ يُكَبِّرَ، وَيَحْمَدَ الله، وَيُثْنِيَ عَلَيْهِ، وَيَقْرَأَ بمَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ

“Sesungguhnya tidak sempurna shalat seseorang dari manusia hingga ia berwudhu lalu meletakkan wudhunya pada tempat-tempatnya, kemudian ia bertakbir, memuji Allah ‘azza wa jalla dan menyanjung-Nya serta membaca apa yang mudah baginya dari Al-Qur’an…” (HR. Abu Dawud no. 857, dishahihkan dalam Shahih Abi Dawud)

Doa istiftah ini dibaca dengan sirr (tidak dikeraskan), dan pendapat yang rajih (kuat) hukumnya mustahab (sunnah) sebagaimana pendapat jumhur ulama dari kalangan sahabat, tabi’in, dan orang-orang setelah mereka.

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata, “Tidak diketahui ada yang menyelisihi pendapat ini, kecuali Al-Imam Malik rahimahullah. Beliau berkata, ‘Tidak dibaca doa istiftah ini dan tidak ada sama sekali bacaan apapun antara Al-Fatihah dan takbir. Yang seharusnya ia ucapkan adalah bertakbir: Allahu Akbar, lalu membaca Alhamdulillahi Rabbil Alamin sampai akhir dari surah Al-Fatihah.” (Al-Majmu’, 3/278)

Al-Imam Al-Albani rahimahullah berkata, “Pendapat Al-Imam Malik rahimahullah ini memberikan konsekuensi batalnya tiga sunnah:

Pertama: doa istiftah

Kedua: isti’adzah (mengucapkan A’udzubillah… dst, memohon perlindungan dari gangguan setan)

Ketiga: basmalah

Padahal ini merupakan sunnah yang pasti lagi mutawatir dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang nampak, sunnah-sunnah ini tidak sampai kepada Al-Imam Malik rahimahullah, ataupun sampai kepada beliau akan tetapi beliau tidak mengambilnya karena suatu sebab menurut beliau.” (Ashlu Shifati Shalatin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, 1/239-240)

Sebagaimana telah disinggung di atas, doa-doa istiftah itu banyak dan beragam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri mengganti-ganti bacaan doa istiftahnya. Terkadang membaca doa yang ini, di kali lain membaca doa yang itu dan seterusnya. Ketika shalat fardhu beliau membaca yang satu dan ketika shalat nafilah/sunnah beliau membaca yang lainnya.

Fadhilatusy Syaikh Al-Imam Muhammad ibnu Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata, “Sepantasnya bagi seseorang beristiftah sekali waktu dengan (doa istiftah) yang ini dan di waktu lain dengan (doa istiftah) yang itu, agar ia menunaikan sunnah-sunnah seluruhnya. Dengan cara seperti itu, berarti ia juga menghidupkan sunnah serta lebih menghadirkan hati. Mengapa? Karena bila seseorang hanya membaca satu macam doa istiftah secara terus-menerus (tidak menggantinya dengan doa yang lain), niscaya hal itu akan menjadi kebiasaan baginya. Sampai-sampai saat ia bertakbiratul ihram dalam keadaan hatinya lalai (tidak perhatian dengan amalan shalatnya) sementara telah menjadi kebiasaannya beristiftah dengan “Subhanaka allahumma wa bihamdik…”, maka ia akan dapati dirinya tanpa sadar mulai membaca doa istiftah tersebut.” (Asy-Syarhul Mumti’, 3/48)

Beberapa doa istiftah yang pernah diamalkan dan diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebagai berikut:

  1. Bacaan:

اللَّهُمَّ باَعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا باَعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ، اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، اللَّهُمَّ اغْسِلْنِي مِنْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ

“Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahan-kesalahanku sebagaimana Engkau jauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dari kesalahan-kesalahanku sebagaimana dibersihkannya kain yang putih dari noda. Ya Allah, cucilah aku dari kesalahan-kesalahanku dengan air, hujan es, dan air dingin.” (HR. Al-Bukhari no. 744 dan Muslim no. 1353, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengucapkan doa istiftah ini dalam shalat fardhu.

  1. Bacaan:

وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ، إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ، وَمَمَاتِي لِلهِ رَبِّ الْعَلَمِيْنَ، لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَبِذلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِيْنَ. اللَّهُمَّ أَنْتَ الْمَلِكُ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَنْتَ رَبِّي وَأَنَا عَبْدُكَ، ظَلَمْتُ نَفْسِي وَاعْتَرَفْتُ بِذَنْبِي، فَاغْفِرْ لِي ذَنْبِي جَمِيْعًا إِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ. وَاهْدِنِي لِأَحْسَنِ الْأَخْلاَقِ، لاَ يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلاَّ أَنْتَ. وَاصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا, لاَ يَصْرِفُ عَنِّي سَيِّئَهَا إِلاَّ أَنْتَ. لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ، وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِي يَدَيْكَ، وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ، أَنَا بِكَ وَإِلَيْكَ، تَبَارَكْتَ وَتَعَالَيْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ

“Aku hadapkan wajahku kepada Dzat yang telah memulai penciptaan langit-langit dan bumi tanpa ada contoh sebelumnya, dalam keadaan lurus mengarah kepada al-haq, lagi berserah diri, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik.

Sesungguhnya shalatku, ibadah sembelihanku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah Rabb semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya, dan dengan itulah aku diperintah dan aku adalah orang yang pertama kali berserah diri1.

Ya Allah, Engkau adalah Raja, tidak ada sesembahan yang haq kecuali Engkau. Engkaulah Rabbku dan aku adalah hamba-Mu. Aku telah menzalimi diriku, dan aku mengakui dosa-dosaku, maka ampunilah dosa-dosaku seluruhnya, sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau.

Tunjukilah aku kepada akhlak yang terbaik, tidak ada yang dapat menunjukkan kepada akhlak yang terbaik kecuali Engkau. Dan palingkan/jauhkanlah aku dari kejelekan akhlak dan tidak ada yang dapat menjauhkanku dari kejelekan akhlak kecuali Engkau.

Labbaika (aku terus-menerus menegakkan ketaatan kepada-Mu) dan sa’daik (terus bersiap menerima perintah-Mu dan terus mengikuti agama-Mu yang Engkau ridhai). Kebaikan itu seluruhnya berada pada kedua tangan-Mu, dan kejelekan itu tidak disandarkan kepada-Mu2. Aku berlindung, bersandar kepada-Mu dan Aku memohon taufik pada-Mu. Mahasuci Engkau lagi Mahatinggi. Aku memohon ampun kepada-Mu dan bertaubat kepada-Mu.” (HR. Muslim no. 1809 dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan doa istiftah ini dalam shalat fardhu dan shalat nafilah.

Ini menyelisihi pendapat sebagian ulama yang mengatakan bahwa doa istiftah ini dibaca dalam shalat lail (tahajud), seperti Abu Dawud Ath-Thayalisi rahimahullah dalam Musnad-Nya (23) dan Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Zadul Ma’ad (1/51) mengatakan, “Yang benar, doa istiftah ini hanyalah diucapkan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam qiyamul lail.” Namun pendapat yang benar sebagaimana yang telah kami sebutkan. (Ashlu Shifah Shalatin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, 1/249)

  1. Bacaan:

وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ. إِنَّ صَلاَتِي, وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلهِ رَبِّ الْعَلَمِيْنَ، لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ، وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِيْنَ. اللَّهُمَّ أَنْتَ الْمَلِكُ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ سُبْحاَنَكَ وَبِحَمْدِكَ

“Aku hadapkan wajahku kepada Dzat yang mencipta langit-langit dan bumi tanpa ada contoh sebelumnya, dalam keadaan aku lurus, condong kepada al-haq lagi berserah diri, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik. Sesungguhnya shalatku, ibadah sembelihanku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah Rabb semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya, dan dengan itulah aku diperintah dan aku adalah orang yang pertama kali berserah diri. Ya Allah, Engkau adalah Raja tidak ada sesembahan yang haq kecuali Engkau. Mahasuci Engkau dan sepenuh pujian kepada-Mu.” (HR. An-Nasa’i no. 898 dari Muhammad bin Maslamah radhiallahu ‘anhu. Dishahihkan dalam Shahih Ibni Majah dan Al-Misykat no. 821)

  1. Bacaan:

وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ. إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلهِ رَبِّ الْعَلَمِيْنَ، لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ. اللَّهُمَّ اهْدِنِي لِأَحْسَنِ الْأَعْمَالِ وَأَحْسَنِ الْأَخْلاَقِ، لاَ يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلاَّ أَنْتَ. وَقِنِي سَيِّئَ الْأَعْمَالِ وَسَيِّئَ الْأَخْلاَقِ، لاَ يَقِي سَيِّئَهَا إِلاَّ أَنْتَ

“Aku hadapkan wajahku kepada Dzat yang telah memulai penciptaan langit-langit dan bumi tanpa ada contoh sebelumnya, dalam keadaan lurus condong kepada al-haq, lagi berserah diri, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik. Sesungguhnya shalatku, ibadah sembelihanku, hidup dan matiku, hanyalah untuk Allah Rabb semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya, dan dengan itulah aku diperintah dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri. Ya Allah, tunjukilah aku kepada amalan yang terbaik dan akhlak yang terbaik, tidak ada yang dapat memberikan petunjuk kepada amalan dan akhlak yang terbaik kecuali Engkau. Jagalah aku dari amal yang buruk dan akhlak yang jelek, tidak ada yang dapat menjaga dari amal dan akhlak yang buruk kecuali Engkau.” (HR. An-Nasa’i no. 896 dari Jabir radhiallahu ‘anhuma. Dishahihkan dalam Shahih Ibni Majah dan Al-Misykat no. 820)

  1. Bacaan:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، وَتَبَارَكَ اسْمُكَ، وَتَعَالَى جَدُّكَ، وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ

“Mahasuci Engkau, ya Allah, dan sepenuh pujian kepada-Mu. Berlimpah keberkahan nama-Mu, Mahatinggi kemuliaan dan keagungan-Mu, dan tidak ada sesembahan yang benar kecuali Engkau.” (HR. Abu Dawud no. 776, An-Nasa‘i no. 899, dan selain keduanya dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu. Dishahihkan dalam Shahih Abi Dawud)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda yang maknanya, “Ucapan yang paling dicintai oleh Allah adalah seorang hamba mengucapkan: سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ… (Diriwayatkan oleh Ibnu Mandah dalam At-Tauhid, 2/123. Juga diriwayatkan An-Nasa’i dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah, 488/849, dengan sanad yang hasan sebagaimana dalam Ash-Shahihah no. 2939)

  1. Bacaan:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ, وَتَبَارَكَ اسْمُكَ, وَتَعَالَى جَدُّكَ, وَ لاَ إِلَهَ غَيْرُكَ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ (ثَلَاثًا), اللهُ as(أَكْبَر كَبِيْرًا (ثَلَاثًا

“Mahasuci Engkau, ya Allah, dan sepenuh pujian kepada-Mu. Berlimpah keberkahan nama-Mu, Mahatinggi kemuliaan dan keagungan-Mu, dan tidak ada sesembahan yang benar kecuali Engkau. Tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah (3 kali), Allah Maha Besar (3 kali).” (HR. Abu Dawud no. 775 dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu. Dishahihkan dalam Shahih Abi Dawud)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan doa istiftah ini dalam shalat malam (tahajud).

  1. Bacaan:

اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ لِلهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً

“Allah Maha Besar, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak. Mahasuci Allah pada waktu pagi dan petang.” (HR. Muslim no. 1357 dan yang selainnya dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma)

Doa ini diucapkan seorang sahabat ketika beristiftah, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah menanyakan siapa pengucapnya, beliau bersabda, “Aku merasa kagum dengan doa tersebut! Dibukakan untuk doa tersebut pintu-pintu langit.”

  1. Bacaan:

الْحَمْدُ لِلهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ

“Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, yang baik, lagi diberkahi di dalamnya.” (HR. Muslim no. 1356 dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu)

Doa ini diucapkan seorang sahabat yang lain ketika beristiftah, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh aku melihat dua belas malaikat berlomba-lomba, siapa di antara mereka yang akan mengangkat doa tersebut.”

  1. Bacaan:

اللُّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ، أَنْتَ قَيِّمُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ، وَلَكَ الْحَمْدُ، لَكَ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ نُوْرُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ مَلِكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ الْحَقُّ، وَوَعْدُكَ حَقٌّ، وَلِقَاؤُكَ حَقٌّ، وَقَوْلُكَ حَقٌّ، وَالْجَنَّةُ حَقٌّ، وَالنَّارُ حَقٌّ، وَالنَّبِيُّوْنَ حَقٌّ، وَمُحَمّدٌ حَقٌّ، وَالسَّاعَةُ حَقٌّ، اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ، وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ، وَبِكَ خَاصَمْتُ، وَإِلَيْكَ حَاكَمْتُ، فَاغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ, لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، وَلاَ حَوْلَ وَ لاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ

“Ya Allah, hanya milik-Mu lah segala pujian. Engkau adalah Penegak (yang menjaga dan memelihara) langit-langit dan bumi dan siapa yang ada di dalamnya. Dan hanya milik-Mu lah segala pujian, hanya milik-Mu lah kerajaan langit-langit dan bumi dan siapa yang ada di dalamnya.

Hanya milik-Mu lah segala pujian, Engkau adalah pemberi cahaya langit-langit dan bumi. Hanya milik-Mu lah segala pujian, Engkau adalah Raja langit-langit dan bumi dan siapa yang ada di dalamnya. Hanya milik-Mu lah segala pujian.

Engkau adalah Al-Haq (Dzat yang pasti wujudnya), janji-Mu benar, perjumpaan dengan-Mu benar, ucapan-Mu benar, surga itu benar adanya, neraka itu benar adanya, para nabi itu benar, Muhammad itu benar dan hari kebangkitan itu benar (akan terjadi).

Ya Allah, hanya kepada-Mu aku berserah diri, hanya kepada-Mu aku beriman, hanya kepada-Mu aku bertawakkal, hanya kepada-Mu aku kembali, dan hanya karena-Mu aku berdebat, hanya kepada-Mu aku berhukum. Maka ampunilah dosa-dosa yang telah kuperbuat dan yang belakangan kuperbuat, ampunilah apa yang aku rahasiakan dan apa yang kutampakkan.

Engkau adalah Dzat yang Terdahulu, dan Engkau adalah Dzat yang Paling Akhir, tidak ada sesembahan yang benar kecuali Engkau, tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah.” (HR. Al-Bukhari no. 1120 dan Muslim no. 1805 dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, lafadz yang dibawakan adalah lafadz Al-Bukhari)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengucapkan doa istiftah ini dalam shalat tahajjud.

  1. Bacaan:

اللَّهُمَّ رَبَّ جِبْرَئِيْلَ وَمِيْكَائِيْلَ وَإِسْرَافِيْلَ، فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيمَا كاَنُوْا فِيْهِ يَخْتَلِفُوْنَ، اهْدِنِي لِمَا اخْتُلِفَ فِيْهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ، إِنَّكَ تَهْدِي مَنْ تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيْمٍ

“Ya Allah, wahai Rabb Jibril, Mikail dan Israfil! Wahai Yang memulai penciptaan langit-langit dan bumi tanpa ada contoh sebelumnya! Wahai Dzat Yang mengetahui yang gaib dan yang tampak! Engkau menghukumi/memutuskan di antara hamba-hamba-Mu dalam perkara yang mereka berselisih di dalamnya. Tunjukilah aku mana yang benar dari apa yang diperselisihkan dengan izin-Mu. Sesungguhnya Engkau memberikan hidayah kepada siapa yang Engkau kehendaki ke jalan yang lurus.” (HR. Muslim no. 1808 dari Aisyah radhiallahu ‘anha)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkannya dalam shalat lail (shalat malam).

  1. Bacaan:

اللهُ أَكْبَرُ (عَشْرًا)، الْحَمْدُ لِلهِ (عَشْرًا)، سُبْحَانَ اللهِ (عَشْرًا), لاَ إِلَهَ إلاَّ اللهُ (عَشْرًا)، أَسْتَغْفِرُ اللهَ (عَشْرًا) .اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي، وَاهْدِنِي، وَارْزُقْنِي، وَعَافِنِي (عَشْرًا) .اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الضِّيْقِ kl(يَوْمَ الْحِسَابِ (عَشْرًا) .

Allah Maha Besar (10 kali). Segala puji bagi Allah (10 kali). Mahasuci Allah (10 kali), tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah (10 kali), aku memohon ampun kepada Allah (10 kali). (kemudian membaca) Ya Allah, ampunilah aku, berilah petunjuk kepadaku, berilah rezeki kepadaku dan maafkanlah aku. (10 kali) (kemudian diteruskan dengan membaca) Ya Allah, sungguh aku berlindung kepada-Mu dari kesempitan pada hari penghisaban (perhitungan amalan).
(HR. Ahmad 6/143 dan Ath-Thabarani dalam Al-Ausath 62/2, dari Aisyah radhiallahu ‘anha, dengan sanad yang shahih sebagaimana dalam Ashlu Shifati Shalatin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, 1/267 )

Doa-doa istiftah tersebut tidak digabungkan saat dibaca
Doa-doa istiftah di atas tidak digabungkan saat dibaca, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu tentang bacaan istiftah beliau, beliau menjawab dengan bacaan:

اللَّهُمَّ باَعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ….

Beliau tidaklah menyebut doa istiftah yang lain setelah itu. Ini menunjukkan bahwa beliau tidak menggabungkan doa-doa istiftah yang ada. (Asy-Syarhul Mumti’, 3/52)

Isti’adzah

Isti’adzah yaitu bersandar kepada Allah ‘azza wa jalla dan mendekat ke sisi-Nya, untuk berlindung dari kejelekan setiap makhluk yang memiliki kejelekan. ‘Iyadzah itu untuk mencegah kejelekan.

Setelah beristiftah, sebelum membaca Al-Qur’an dalam shalat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ta’awudz (memohon perlindungan) kepada Allah ‘azza wa jalla terlebih dahulu dengan mengucapkan:

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ

“Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terusir/dijauhkan (dari rahmat3) dari was-wasnya4, dari kesombongannya dan dari sihirnya.”5 (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf 1/92/1, Ath-Thabarani dalam Al-Kabir 1/78/2, dari Jubair ibnu Muth’im radhiallahu ‘anhu, dishahihkan dalam Irwa’ul Ghalil hadits no. 342)

Terkadang dalam ta’awudz tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menambah dengan:

أَعُوْذُ بِاللهِ السَّمِيْعِ الْعَلِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ، مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ

“Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari setan yang terusir/dijauhkan dari rahmat, dari was-wasnya, dari kesombongannya dan dari sihirnya.” (HR. Abu Dawud no. 775, dan lainnya, dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu dengan sanad yang hasan sebagaimana dalam Irwa’ul Ghalil pembahasan hadits no. 342)

Al-Imam Ahmad rahimahullah dalam Masa’il Ibni Hani’ (1/51) menyatakan, sepantasnya tambahan ini diucapkan kadang-kadang.

Jumhur ulama berpendapat hukum ta’awudz ini sunnah, dengan dalil hadits Al-Musi’u Shalatuhu, di mana dalam hadits tersebut tidak disebutkan ta’awudz. (Al-Majmu’ 3/283, Taudhihul Ahkam 2/170)

Ini merupakan pendapat Al-Hasan, Ibnu Sirin, Atha’, Ats-Tsauri, Al-Auza’i, Asy-Syafi’i, Ishaq, dan ashabur ra’yi. (Al-Mughni, Kitab Ash-Shalah, Fashl La Yajharul Imam bil Iftitah)

Pendapat inilah yang penulis pandang lebih kuat. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullah menyebutkan, “Tidak ada dalam hadits-hadits ta’awudz kecuali menerangkan bahwa ta’awudz dilakukan pada rakaat yang pertama. Adapun Al-Hasan, Atha’, dan Ibrahim berpendapat ta’awudz ini mustahab diucapkan dalam setiap rakaat. Mereka berdalil dengan keumuman firman Allah ‘azza wa jalla:

فَإِذَا قَرَأۡتَ ٱلۡقُرۡءَانَ فَٱسۡتَعِذۡ بِٱللَّهِ

“Bila engkau membaca Al-Qur’an maka mintalah perlindungan kepada Allah.” (An-Nahl: 98)

Tidaklah diragukan bahwa ayat di atas menunjukkan disyariatkannya isti’adzah sebelum membaca Al-Qur’an. Ayat ini berlaku umum, apakah si pembaca Al-Qur’an tersebut berada di luar shalat atau sedang mengerjakan shalat. Sedangkan hadits-hadits yang melarang berbicara di dalam shalat menunjukkan larangan tersebut tidak dibedakan, baik berbicara dengan mengucapkan ta’awudz ataupun ucapan-ucapan lain yang tidak ada dalil yang mengkhususkannya dan tidak pula ada izin untuk mengucapkan yang sejenisnya. Maka yang lebih hati-hati adalah mencukupkan dengan apa yang disebutkan dalam As-Sunnah, yaitu isti’adzah hanya dilakukan sebelum membaca Al-Qur’an dalam rakaat pertama saja.” (Nailul Authar, 2/39)

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata:

كَانَ رَسُولُ اللهِ إِذَا نَهَضَ فِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ افْتَتَحَ الْقِرَاءَةِ بِالْحَمْدِ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَلَمْ يَسْكُتْ

“Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bila bangkit ke rakaat kedua, beliau membuka bacaan (qiraah) dengan ‘Alhamdulillahi rabbil alamin’ dan beliau tidak diam.” (HR. Muslim no. 1355)

Hadits ini menunjukkan tidak disyariatkannya diam sebelum membaca (Al-Fatihah dan surat) pada rakaat yang kedua. Demikian pula tidak disyariatkan berta’awudz dalam raakat kedua ini. Dan hukum rakaat-rakaat berikutnya (setelah rakaat kedua) sama dengan hukum rakaat yang kedua. Sehingga diam sebelum membaca (Al-Fatihah dan surat) itu hanya khusus pada rakaat yang pertama. Demikian pula berta’awudz dalam rakaat pertama. (Nailul Authar, 2/136)

Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Zadul Ma’ad (1/86) berkata, “Mencukupkan satu ta’awudz (hanya dalam rakaat pertama, pen.) adalah pendapat yang lebih nampak, berdasarkan hadits yang shahih dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu:

أَنَّ النَّبِيَّ كَانَ إِذَا نَهَضَ مِنَ الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ، اسْتَفْتَحَ الْقِرَاءَةَ وَلَمْ يَسْكُتْ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bila bangkit dari rakaat yang kedua, beliau membuka dengan bacaan dan tidak diam.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mencukupkan satu istiftah, karena beliau tidak menyelingi dua qiraah (bacaan) dengan diam, tapi beliau menyelinginya dengan dzikir. Maka qiraah dalam shalat seperti satu qiraah apabial yang menyelinginya adalah pujian kepada Allah, atau tasbih, atau tahlil, atau shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan yang semisalnya.

Adapula yang berpendapat bahwa ta’awudz hukumnya wajib dan dibaca setiap rakaat dalam shalat, seperti pendapat Ibnu Hazm rahimahullah dalam Al-Muhalla (2/278) dan yang lainnya dari ahlul ilmi6, dengan dalil firman Allah ‘azza wa jalla:

فَإِذَا قَرَأۡتَ ٱلۡقُرۡءَانَ فَٱسۡتَعِذۡ بِٱللَّهِ

“Bila engkau membaca Al-Qur’an maka mintalah perlindungan kepada Allah.” (An-Nahl: 98)

Rahasia isti’adzah

Isti’adzah memiliki berbagai kebaikan. Di antaranya sebagai penyuci lisan dari berbagai ucapan sia-sia dan kotor yang diucapkan oleh seseorang, ketika mengucapkan/membaca kalamullah. Juga merupakan isti’anah (memohon pertolongan) kepada Allah ‘azza wa jalla, serta pengakuan bahwa Allah ‘azza wa jalla-lah yang memiliki kekuasaan, sementara hamba itu lemah dan tidak mampu mengatasi musuhnya (setan) yang nyata namun tidak nampak, serta tak ada yang mampu menolak dan mencegahnya kecuali Allah ‘azza wa jalla yang menciptakannya. Terlebih, setan ini tidak dapat menerima keramahtamahan dan tidak peduli dengan kebaikan, berbeda dengan musuh dari kalangan manusia. Hal ini sebagaimana ditunjukkan oleh banyak ayat dalam Al-Qur’an.

Allah ‘azza wa jalla berfirman:

إِنَّ عِبَادِي لَيۡسَ لَكَ عَلَيۡهِمۡ سُلۡطَٰنٞۚ وَكَفَىٰ بِرَبِّكَ وَكِيلٗا ٦٥

“Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, engkau tidak memiliki kekuasaan atas mereka sama sekali. Cukuplah Rabbmu sebagai pelindung.” (Al-Isra’: 65)
Para malaikat turun untuk memerangi musuh berupa manusia. Siapa saja yang terbunuh oleh musuh yang nampak maka dia menjadi seorang syahid. Sementara orang yang binasa oleh musuh yang tidak nampak, dia akan terusir. Siapa saja yang terkalahkan oleh musuh yang nampak maka dia akan mendapatkan balasan pahala, sementara siapa saja yang terkalahkan oleh musuh yang tidak nampak, dia akan tertimpa fitnah dan memikul dosa.

Tatkala setan melihat manusia dari tempat yang tidak terlihat oleh manusia, maka semestinya manusia memohon perlindungan darinya kepada Dzat Yang melihatnya sedangkan setan tidak dapat melihat-Nya. (Al-Mishbahul Munir, hal.18)

Penulis mengatakan, masalah ini di luar shalat ketika membaca Al-Qur’an, maka tentunya di dalam shalat seseorang harus lebih memerhatikan lagi diri dan shalatnya. Karena pada saat itu ia dalam keadaan berdiri beribadah kepada Rabbnya yang semestinya ditegakkan dengan khusyu’ dan menjaga shalatnya dari was-was setan serta tipu dayanya. Wallahul musta’an.

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu menyatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا نُوْدِيَ لِلصَّلاَةِ أَدْبَرَ الشَّيْطَانُ وَلَهُ ضُرَاطٌ حَتَّى لاَ يَسْمَعُ التَّأْذِيْنَ، فَإِذَا قَضَى النِّدَاء أَقْبَلَ حَتَّى إِذَا ثَوَّبَ بِالصَّلاَةِ أَدْبَرَ، حَتىَّ إِذَا قَضَى التَّثْوِيْبَ أَقْبَلَ حَتَّى يَخْطُرَ بَيْنَ الْمَرْءِ وَنَفْسِهِ يَقُوْلُ: اُذْكُرْ كَذَا، اُذْكُرْ كَذَا -لِمَا لَمْ يَكُنْ يَذْكُرُ– حَتَّى يَظِلَّ الرَّجُلُ لاَ يَدْرِي كَمْ صَلَّى

“Apabila diserukan adzan untuk shalat setan berlalu dan ia memiliki kentut (berlalu dengan mengeluarkan suara kentut) hingga ia tidak mendengar adzan. Apabila adzan selesai dikumandangkan, ia datang kembali hingga saat diserukan iqamah, ia berlalu lagi. Ketika telah selesai iqamah, ia datang lagi hingga ia bisa melintaskan di hati seseorang berbagai pikiran, ia berkata, ‘Ingatlah ini, ingatlah itu’, padahal sebelumnya orang yang shalat tersebut tidak mengingatnya, demikian sampai orang tersebut tidak mengetahui telah berapa rakaat shalat itu dikerjakannya.” (HR. Al-Bukhari no. 608)

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

(Insya Allah bersambung)

ditulis oleh: Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari

Al-Khabiir

(ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc)

 

Salah satu Al-Asma’ul Husna adalah Al-Khabiir (الْخَبِيْرُ). Artinya secara ringkas adalah Yang Maha Mengetahui.
Nama Allah l tersebut terdapat dalam beberapa ayat Al-Qur’an. Di antaranya:
Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan benar. Dan benarlah perkataan-Nya di waktu Dia mengatakan: “Jadilah, lalu terjadilah”, dan di tangan-Nyalah segala kekuasaan di waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang ghaib dan yang nampak. Dan Dialah Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui. (Al-An’am: 73)
Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang istrinya (Hafshah) suatu peristiwa. Maka tatkala (Hafshah) menceritakan peristiwa itu (kepada Aisyah) dan Allah memberitahukan hal itu (pembicaraan Hafshah dan Aisyah) kepada Nabi lalu Nabi memberitahukan sebagian (yang diberitakan Allah l kepadanya) dan menyembunyikan sebagian yang lain (kepada Hafshah). Maka tatkala (Nabi) memberitahukan pembicaraan (antara Hafshah dan Aisyah) lalu (Hafshah) bertanya: “Siapakah yang telah memberitahukan hal ini kepadamu?” Nabi menjawab: “Telah diberitahukan kepadaku oleh Allah yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (At-Tahrim: 3)
Adapun dalam hadits Nabi n, terdapat dalam riwayat Muslim dari Ummul Mukminin Aisyah x:
قَالَتْ عَائِشَةُ: أَلاَ أُحَدِّثُكُمْ عَنِّي وَعَنْ رَسُولِ اللهِ n. قُلْنَا: بَلَى. قَالَ: قَالَتْ: لَمَّا كَانَتْ لَيْلَتِيَ الَّتِى كَانَ النَّبِىُّ n فِيهَا عِنْدِي انْقَلَبَ فَوَضَعَ رِدَاءَهُ وَخَلَعَ نَعْلَيْهِ فَوَضَعَهُمَا عِنْدَ رِجْلَيْهِ وَبَسَطَ طَرَفَ إِزَارِهِ عَلَى فِرَاشِهِ فَاضْطَجَعَ فَلَمْ يَلْبَثْ إِلاَّ رَيْثَمَا ظَنَّ أَنْ قَدْ رَقَدْتُ فَأَخَذَ رِدَاءَهُ رُوَيْدًا وَانْتَعَلَ رُوَيْدًا وَفَتَحَ الْبَابَ فَخَرَجَ ثُمَّ أَجَافَهُ رُوَيْدًا، فَجَعَلْتُ دِرْعِي فِي رَأْسِي وَاخْتَمَرْتُ وَتَقَنَّعْتُ إِزَارِي ثُمَّ انْطَلَقْتُ عَلَى إِثْرِهِ حَتَّى جَاءَ الْبَقِيعَ، فَقَامَ فَأَطَالَ الْقِيَامَ ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ انْحَرَفَ فَانْحَرَفْتُ فَأَسْرَعَ فَأَسْرَعْتُ فَهَرْوَلَ فَهَرْوَلْتُ فَأَحْضَرَ فَأَحْضَرْتُ فَسَبَقْتُهُ فَدَخَلْتُ فَلَيْسَ إِلاَّ أَنِ اضْطَجَعْتُ فَدَخَلَ فَقَالَ: مَا لَكِ يَا عَائِشُ حَشْيَا رَابِيَةً. قَالَتْ: قُلْتُ: لاَ شَيْءَ. قَالَ: لَتُخْبِرِينِي أَوْ لَيُخْبِرَنِّي اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ. قَالَتْ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي؛ فَأَخْبَرْتُهُ. قَالَ: فَأَنْتِ السَّوَادُ الَّذِي رَأَيْتُ أَمَامِي. قُلْتُ: نَعَمْ. فَلَهَدَنِي فِي صَدْرِي لَهْدَةً أَوْجَعَتْنِي ثُمَّ قَالَ: أَظَنَنْتِ أَنْ يَحِيفَ اللهُ عَلَيْكِ وَرَسُولُهُ؟ قَالَتْ: مَهْمَا يَكْتُمِ النَّاسُ يَعْلَمْهُ اللهُ، نَعَمْ. قَالَ: فَإِنَّ جِبْرِيلَ أَتَانِي حِينَ رَأَيْتِ فَنَادَانِي فَأَخْفَاهُ مِنْكِ فَأَجَبْتُهُ فَأَخْفَيْتُهُ مِنْكِ وَلَمْ يَكُنْ يَدْخُلُ عَلَيْكِ وَقَدْ وَضَعْتِ ثِيَابَكِ وَظَنَنْتُ أَنْ قَدْ رَقَدْتِ فَكَرِهْتُ أَنْ أُوقِظَكِ وَخَشِيتُ أَنْ تَسْتَوْحِشِي فَقَالَ: إِنَّ رَبَّكَ يَأْمُرُكَ أَنْ تَأْتِيَ أَهْلَ الْبَقِيعِ فَتَسْتَغْفِرَ لَهُمْ. قَالَتْ: قُلْتُ: كَيْفَ أَقُولُ لَهُمْ، يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: قُولِي: السَّلاَمُ عَلَى أَهْلِ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ وَيَرْحَمُ اللهُ الْمُسْتَقْدِمِينَ مِنَّا وَالْمُسْتَأْخِرِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لَلاَحِقُونَ.
Aisyah x berkata: “Tidakkah kalian mau kuberitahukan kepada kalian tentang diriku dan Rasulullah?” Kami mengatakan: “Iya.”
Beliau x bercerita: “Ketika suatu malam yang Rasulullah pada malam itu di rumahku, beliau berbalik lalu beliau meletakkan pakaian bagian atasnya. Beliau juga melepaskan dua sandalnya lalu meletakkan keduanya di samping kedua kakinya. Kemudian beliau menggelar ujung sarungnya di atas kasurnya, lalu beliau berbaring. Tidaklah beliau tetap dalam keadaan tersebut kecuali selama mengira bahwa aku telah tertidur, lalu beliau mengambil pakaian bagian atasnya dengan pelan-pelan. Beliau juga memakai sandalnya dengan pelan-pelan, lalu membuka pintu dan keluar, lalu menutupnya juga dengan pelan-pelan. Maka aku pun meletakkan pakaianku di atas kepalaku dan aku berkerudung. Lalu aku menutup mukaku dengan kain kemudian aku membuntuti di belakang beliau, sehingga beliau sampai di pekuburan Baqi’. Beliau n berhenti dan berdiri dalam waktu yang lama, lalu beliau mengangkat kedua tangannya tiga kali, lalu berbalik. Maka aku pun berbalik. Beliau lalu berjalan cepat sehingga aku pun berjalan cepat. Beliau kemudian berlari kecil maka aku pun berlari kecil. Lalu beliau berlari agak cepat maka aku pun berlari agak cepat, sehingga aku pun mendahului beliau lalu aku masuk (ke dalam rumah). Maka tiada lain kecuali aku berbaring kemudian Rasulullah masuk seraya mengatakan: ‘Ada apa denganmu, wahai Aisyah? Nafasmu terengah-engah’. Aku menjawab: ‘Tidak apa-apa.’ Beliau mengatakan: ‘Kamu harus mengabarkan kepadaku atau akan mengabariku Al-Lathif (Yang Maha lembut) lagi Al-Khabiir (Maha Mengetahui)’.
Aisyah mengatakan: ‘Kutebus engkau dengan ayah dan ibuku, wahai Rasulullah.’ Lalu aku menceritakannya.
Maka beliau mengatakan: ‘Jadi engkau adalah bayangan hitam yang di depanku tadi?’ Aisyah menjawab: ‘Iya.’ Maka beliau menekan dadaku dengan tekanan yang menyakitkan aku, lalu beliau mengatakan: ‘Apakah kamu kira bahwa Allah dan Rasul-Nya akan mengkhianatimu?’ Aisyah mengatakan: ‘Bagaimanapun manusia menyembunyikan maka Allah mengetahuinya, ya.’
Nabi mengatakan: ‘Sesungguhnya Jibril datang kepadaku ketika kamu melihat, lalu dia memanggilku dan menyembunyikannya darimu. Aku menjawab panggilannya dan aku sembunyikannya darimu. Tidak mungkin baginya untuk masuk sementara engkau telah menanggalkan pakaianmu. Dan aku kira engkau telah tertidur, maka aku tidak suka membangunkanmu, aku khawatir kamu takut (kaget). Lalu Jibril mengatakan: ‘Sesungguhnya Rabbmu menyuruhmu datang ke penghuni kuburan Baqi’ agar memintakan ampunan untuk mereka.’ Aisyah mengatakan: ‘Apa yang aku katakan untuk mereka, wahai Rasulullah?’ Nabi n menjawab: ‘Katakanlah:
السَّلاَمُ عَلَى أَهْلِ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ وَيَرْحَمُ اللهُ الْمُسْتَقْدِمِينَ مِنَّا وَالْمُسْتَأْخِرِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لَلاَحِقُونَ
“Kesejahteraan untuk penghuni tempat tinggal ini, dari kalangan mukminin dan muslimin. Semoga Allah merahmati orang-orang yang mendahului kami dan orang-orang yang datang belakangan. Dan kami insya Allah akan menyusul kalian.”
Penjelasan ulama tentang makna Al-Khabiir
Ibnu Manzhur t mengatakan: “(Maknanya adalah) Yang Maha Mengetahui apa yang lalu dan apa yang akan datang.”
Al-Khaththabi t mengatakan: “Yang Maha Mengetahui seluk-beluk hakikat sesuatu.”
Abu Hilal Al-Askari  t mengatakan dalam kitabnya Al-Furuq Al-Lughawiyyah: “Perbedaan antara al-ilmu (yang diambil darinya nama Al-’Alim) dan al-khubru (yang diambil darinya nama Al-Khabiir); bahwa al-khubru artinya mengetahui seluk-beluk sesuatu yang diketahui sesuai dengan hakikatnya, sehingga kata al-khubru memiliki makna yang lebih dari kata al-ilmu.” (Dinukil dari kitab Shifatullah karya ‘Alawi As-Saqqaf)
Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin t mengatakan: “Al-Khubrah (yang darinya diambil nama Al-Khabiir), artinya adalah mengetahui dalamnya sesuatu. Ilmu terhadap bagian luar dari sesuatu tidak diragukan merupakan sifat kesempurnaan dan terpuji. Akan tetapi mengetahui bagian dalamnya tentu lebih sempurna. Sehingga Al-’Alim, Maha berilmu terhadap apa yang tampak dari sesuatu, sedangkan Al-Khabiir, Maha berilmu terhadap apa yang tidak tampak dari sesuatu. Bila terkumpul antara ilmu dan khubrah, maka ini lebih sempurna dalam meliputi sesuatu. Terkadang dikatakan bahwa khubrah mempunyai makna yang lebih dari ilmu. Karena kata khabiir dipahami oleh orang-orang adalah seseorang yang mengetahui sesuatu dan mahir dalam hal ini. Berbeda dengan seseorang yang hanya memiliki pengetahuan saja, tapi tidak punya kemahiran pada apa yang dia ilmui, maka dia tidak disebut khabiir. Atas dasar ini, kata Al-Khabiir memiliki makna yang lebih dari sekadar ilmu.” (Tafsir surat Al-Hujurat)
Asy-Syaikh As-Sa’di t mengatakan: “Al-Khabiir Al-’Alim, adalah yang ilmunya meliputi segala yang lahir maupun yang batin, yang tersembunyi dan yang tampak, yang mesti terjadi, yang tidak mungkin terjadi, serta yang mungkin terjadi, di alam yang atas maupun yang bawah, yang terdahulu, yang sekarang, dan yang akan datang. Maka, tidak tersembunyi padanya sesuatu pun.”

Buah mengimani nama Allah Al-Khabiir
Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin t berkata: “Dengan mengimani nama Allah l ini, seseorang akan bertambah rasa takutnya kepada Allah l, baik dalam keadaan tersembunyi ataupun terang-terangan.” (Syarh Al-Wasithiyyah)
Wallahu a’lam.

Godaan Hawa Nafsu

(ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc)

 

Setan telah berikrar untuk menggoda manusia. Ia bersumpah di hadapan Allah l setelah Allah l memutuskan bahwa dia harus keluar dari surga dalam keadaan terhina.
Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukumku tersesat, aku benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian aku akan datangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tida k akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (Al-A’raf: 16-17)
Qatadah t mengatakan: “Wahai anak Adam, setan akan mandatangimu dari segala arah. Akan tetapi ia tidak akan mendatangimu dari arah atasmu. Ia tidak akan bisa menghalangi antara kamu dan rahmat Allah l.”
Ibnul Qayyim t mengatakan: “Jalan yang dilalui manusia ada empat, tidak ada yang lain. Seseorang terkadang mengambil arah kanan, terkadang mengambil arah kiri, terkadang mengambil arah depan, dan terkadang kembali ke belakang. Maka jalan mana saja yang ia tempuh dari arah-arah ini, ia akan mendapati setan mengintainya. Kalau dia menelusuri jalan tersebut untuk taat kepada Allah l, ia akan mendapati setan pada jalan itu untuk menghambatnya dan memutus jalannya, atau untuk melambankan ketaatannya. Sedangkan bila ia menelusuri jalan itu untuk berbuat maksiat, maka ia pun akan mendapati setan berada padanya untuk menyemangatinya atau untuk membantunya serta menghiasinya dengan angan-angan. Seandainya ia bisa turun maka setan pun akan menggoda dari arah sana.”
Ibnul Qayyim t juga mengatakan: “Tidaklah Allah l memerintahkan sesuatu melainkan setan memiliki dua godaan kepadanya, baik ke arah menyepelekan atau ke arah berlebih-lebihan. Sedangkan agama Allah l berada di tengah-tengah antara yang menyepelekannya dan antara yang berlebih-lebihan padanya. Bagaikan sebuah lembah yang terletak di antara dua gunung, petunjuk di antara dua kesesatan, dan di tengah antara dua ujung (kutub) yang tercela. Maka, sebagaimana orang yang menyepelekan perintah itu berarti menyia-nyiakannya, demikian pula yang berlebihan juga menyia-nyiakannya. Hanya saja yang itu dengan menyepelekan, sedangkan yang ini dengan melampaui batas. (Madarijus Salikin)
Beliau juga berkata: “Fitnah (godaan) itu ada dua macam. (Yang pertama) adalah godaan syubhat (kesalahpahaman, kerancuan berpikir atau berkeyakinan), dan itu adalah yang terbesar dari dua godaan tersebut. Yang kedua adalah godaan syahwat. Terkadang keduanya terkumpul pada seorang hamba, dan terkadang hanya ada satu.
Godaan syubhat disebabkan lemahnya bashirah dan sedikitnya ilmu. Lebih-lebih bila itu diiringi dengan niat yang jelek dan munculnya hawa nafsu. Di situlah godaan dan musibah terbesar. Maka silakan engkau katakan semaumu tentang kesesatan orang yang niatnya jelek, di mana yang mengendalikan adalah hawa nafsunya bukan petunjuk, disertai kelemahan bashirah dan sedikitnya ilmu tentang (syariat) yang Allah l utus dengannya Rasul-Nya. Maka dia tergolong orang yang Allah l katakan tentang mereka:
“Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Rabb mereka.” (An-Najm: 23)
Allah l juga telah memberitakan bahwa mengikuti hawa nafsu itu akan menyesatkan dari jalan Allah l. Allah l berfirman:
“Maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.” (Shad: 26)
Tidaklah ada yang menyelamatkan seseorang darinya kecuali mengikuti Rasul dengan sebenarnya, serta berhukum kepadanya dalam urusan agama, yang kecil atau yang besar, yang tampak atau yang tidak tampak, aqidah ataupun amalan, hakikat maupun syariat. Maka, hakikat iman dan syariat Islam diambil darinya. Demikian juga apa yang Allah l tetapkan berupa sifat-sifat-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya dan nama-nama-Nya, serta (meniadakan) apa yang ditiadakan darinya. Sebagaimana diambil dari beliau tentang wajibnya shalat, waktu-waktunya dan jumlah rakaatnya. Demikian pula besaran zakat dan orang-orang yang berhak mendapatkannya. Juga wajibnya wudhu dan mandi dari janabat serta puasa Ramadhan.
Sehingga seseorang tidak boleh menganggap beliau sebagai rasul dalam salah satu urusan agama tapi tidak pada urusan yang lain. Bahkan beliau adalah rasul dalam segala hal yang dibutuhkan oleh umat, baik dalam hal ilmu maupun amal. Tidak boleh diterima kecuali dari beliau dan tidak boleh diambil kecuali darinya. Petunjuk semua itu berkisar antara ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatannya. Semua yang keluar/menyimpang dari jalannya, maka itu adalah kesesatan.
Maka, bilamana seseorang mengikat qalbunya untuk itu dan berpaling dari selainnya, lalu menimbang segala sesuatu dengan ajaran yang dibawa beliau n; bila sesuai maka dia terima –bukan karena orang itulah yang mengatakannya, akan tetapi karena sesuai dengan ajaran Rasul– dan jika menyelisihinya maka dia tolak siapapun yang mengatakannya. Maka inilah yang akan menyelamatkan dia dari godaan syubhat. Akan tetapi bila dia kehilangan sebagian dari prinsip ini, maka dia akan tertimpa godaan syubhat seukuran dengan hilangnya prinsip tersebut.
Fitnah (godaan) syubhat ini terkadang muncul karena pemahaman yang keliru. Atau karena penukilan yang salah. Atau karena kebenaran yang tersembunyi dari seseorang dan ia belum mendapatkannya. Bahkan mungkin karena tujuan yang rusak atau hawa nafsu yang diperturuti. Hal itu disebabkan oleh butanya pandangan qalbu dan rusaknya niat. (Ighatsatul Lahfan)
Wallahu a’lam.