Teroris di Balik Jeruji Takfir

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) disebutkan bahwa teror adalah usaha menciptakan ketakutan, kengerian, dan kekejaman oleh seseorang atau golongan. Pelakunya disebut teroris.

Menengok sejarahnya, teroris senantiasa meresahkan. Keberadaannya di tengah kehidupan mengoyak kedamaian. Aksinya mengguratkan trauma ketakutan, kengerian, dan kekejaman. Betapa tidak? Teroris haus darah. Teroris berdarah dingin. Pengeboman, pembunuhan senyap, dan berbagai aksi sadis lainnya senantiasa mengiringi derap langkahnya di muka bumi. Syahdan, ketenangan berubah menjadi kecemasan. Keamanan berubah menjadi keketakutan. Kehidupan pun hampa dari ketenteraman.

Dalam kacamata Islam, teroris bukan “viral” hari ini semata. Sejak paruh kedua dari pemerintahan al-Khulafa’ ar-Rasyidin, teroris telah mengguncang dunia. Peletak batu pertamanya adalah kaum Khawarij[1], kelompok sesat pertama dalam Islam yang amat radikal.

Prinsip keagamaannya jauh dari petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat yang mulia. Sejarah hitam mereka menunjukkan bahwa,

  • Merekalah yang mengepung rumah Khalifah Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu, hingga berhasil membunuh sang Khalifah. Pimpinan tertinggi mereka ketika itu adalah Abdullah bin Saba’ al-Himyari.
  • Merekalah yang membantai Gubernur Madain di masa pemerintahan Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, Abdullah bin Khabbab bin al-Art dan istrinya yang hamil saat melintasi perkampungan mereka. Bahkan, mereka merobek perut wanita tersebut dan mengeluarkan janin dari perutnya. Pimpinan utama mereka ketika itu adalah Abdullah bin Kawwa’ al-Yasykuri dan Syabats at-Tamimi.
  • Merekalah yang membunuh Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, saat beliau menuju masjid menunaikan shalat subuh. Sang Khalifah pun gugur bersimbah darah dengan seketika. Pelakunya adalah seorang teroris Khawarij yang bernama Abdurrahman bin Muljam al-Muradi.
  • Merekalah yang melakukan percobaan pembunuhan terhadap sahabat Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiallahu ‘anhu, Gubernur Syam (sekarang meliputi; Palestina, Suriah, Lebanon, dan Jordania, ). Operasi tak berhasil, karena beliau berhalangan mengimami shalat subuh di hari itu. Tak pelak, sebagai korbannya adalah imam shalat subuh yang menggantikan beliau ketika itu.
  • Merekalah yang melakukan upaya pembunuhan terhadap sahabat Amr bin al-Ash radhiallahu ‘anhu selaku Gubernur Mesir. Operasi tak berhasil, karena beliau udzur mengimami shalat subuh di hari itu. Tak pelak, sebagai korbannya adalah imam shalat subuh yang mewakili beliau ketika itu. Peristiwanya sama persis dengan yang menimpa sahabat Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiallahu ‘anhu. (Lihat Fathul Bari karya al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani 12/296—298, al-Bidayah wan Nihayah karya al-Hafizh Ibnu Katsir 7/281 dan Lamhatun ‘Anil Firaq adh-Dhallah karya asy-Syaikh Shalih al-Fauzan, 31—33)[2]

 

Akidah Takfir dalam Kehidupan Kaum Teroris

Demikianlah serangkaian aksi teror berskala internasional yang dilakukan oleh jaringan teroris Khawarij internasional kala itu. Tak kepalang tanggung, target operasi mereka adalah dua Khalifah mulia kaum muslimin Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu dan Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, para menantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah memetik janji surga. Berikutnya, dua tokoh sentral kaum muslimin di Negeri Syam dan Mesir yang keduanya tergolong sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia.

Tidaklah serangkaian operasi terkutuk itu dilaksanakan kecuali karena vonis kafir yang mereka sematkan kepada target operasi. Lebih dari itu, mereka meyakininya sebagai jihad di jalan Allah ‘azza wa jalla. “Takfir dan jihad” pun nyaris menjadi ikon kaum teroris untuk pembenaran operasi terornya, sejak zaman dahulu hingga hari ini.

Dalam aturan Islam, jihad yang syar’i tidak boleh dilakukan secara serampangan. Jihad mempunyai tahapan-tahapan. Setiap tahapan harus dipahami dengan baik dan benar. Bahkan, termasuk hal mendasar bahwa jihad harus dilakukan bersama penguasa dan tak bisa dilakukan oleh perseorangan atau kelompok tertentu.[3]

Demikian halnya takfir. Permasalahan besar yang mengharuskan kehati-hatian dan kejelian. Tak boleh gegabah dilakukan. Tak sembarang orang pula berkewenangan menjatuhkan vonisnya. Jauh-jauh hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan umatnya dalam permasalahan takfir ini.

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

        إِذَا قَالَ الرَّجُلُ لِصَاحِبِهِ: يَا كَافِرُ! فَإِنَّهَا تَجِبُ عَلَى أَحَدِهِمَا فَإِنْ كَانَ الَّذِي قِيْلَ لَهُ كَافِرًا فَهُوَ كَافِرٌ وَإِلاَّ رَجَعَ إِلَيْهِ مَا قَالَ

“Jika seorang lelaki berkata kepada kawannya, ‘Hai Kafir!’, sungguh perkataan itu mengenai salah satu dari keduanya. Bila yang divonis kafir itu memang kafir maka jatuhlah vonis kafir itu kepadanya. Namun bila tidak, vonis kafir itu kembali kepada yang mengatakannya.” ( HR. Ahmad dari sahabat Abdullah bin ‘Umar, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh Ahmad Syakir dalam tahqiq Musnad al-Imam Ahmad no. 2035, 5077, 5259, 5824)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullah berkata, “Menjatuhkan vonis kafir dan fasiq bukan urusan kita. Namun, permasalahan ini harus dikembalikan kepada Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya. Sebab, ia termasuk hukum syariah yang rujukannya adalah al-Quran dan as-Sunnah. Maka dari itu, wajib ekstra hati-hati dan teliti dalam masalah ini.

“Tidaklah seseorang dikafirkan dan dihukumi fasiq kecuali bila al-Qur’an dan as-Sunnah telah menunjukkan kekafiran dan kefasikannya. Mengingat hukum asal seseorang yang nampak nyata ciri-ciri keislamannya adalah sebagai muslim sampai benar-benar terbukti adanya sesuatu yang menghapusnya berdasarkan dalil syar’i. Tidak boleh bermudah-mudahan mengafirkan seorang muslim atau menghukuminya sebagai fasiq.” (al-Qawa’idul Mutsla fi Shifatillahi wa Asma-ihil Husna, hlm. 87—88)

Bencana takfir terus bergulir bak bola salju yang menggelinding. Semakin lama semakin besar. Tak luput pula, di era globalisasi modern ini. Melalui berbagai media yang ada baik cetak maupun elektronik, takfir berembus kian kencang. Betapa banyak pemuda dan pemudi yang terpengaruh doktrin takfir teroris melalui dunia maya. Bahkan, siap melakukan ‘amaliah’ (operasi teror) di lingkungan dan negaranya.

Di antara tokoh takfir yang buku-bukunya sarat dengan doktrin takfir teroris adalah Sayyid Quthb, salah seorang tokoh fenomenal kelompok radikal Ikhwanul Muslimin. Di antara buku karangannya ialah Ma’alim fith-Thariq, Fii Zhilalil Qur’an, al-‘Adalah al-Ijtima’iyah, dan al-Islam wa Musykilatul Hadharah.[4]

Hal ini sebagaimana kesaksian para tokoh Ikhwanul Muslimin sendiri.

  • Yusuf al-Qaradhawi berkata, “Pada fase ini telah muncul buku-buku karya tulis Sayyid Quthub sebagai pemikirannya yang terakhir, yaitu pengafiran masyarakat secara luas… Hal itu tampak jelas dalam kitab Tafsir Fii Zhilalil Qur’an cetakan ke-2, Ma’alim fith Thariq yang kebanyakannya diambil dari Fi Zhilalil Qur’an, dan al-Islam Wamusykilatul Hadharah, dan lain-lain.” (Aulawiyat al-Harakah al-Islamiyah, hlm. 110. Dinukil dari Adhwa’ Islamiyah, hlm. 102)
  • Farid Abdul Khaliq berkata, “Telah kami singgung dalam pernyataan sebelumnya bahwa pemikiran takfir (dewasa ini) bermula dari sebagian pemuda Ikhwanul Muslimin yang meringkuk di penjara al-Qanathir pada pengujung tahun 1950-an dan awal tahun 1960-an. Mereka terpengaruh oleh pemikiran Sayyid Quthub dan buku-buku karya tulisnya. Mereka mendapatkan doktrin dari karya-karya tulis tersebut bahwa masyarakat saat ini berada dalam kejahiliahan dan segenap pemerintah yang ada telah kafir karena tidak berhukum dengan hukum Allah ‘azza wa jalla. Demikian pula rakyatnya, karena kerelaan mereka terhadap selain hukum Allah ‘azza wa jalla” (al-Ikhwanul Muslimun fii Mizanil Haq, hlm. 115. Dinukil dari Adhwa’ Islamiyah, hlm. 103)

Dari sini diketahui bahwa peran Sayyid Quthb dalam menggulirkan doktrin takfir sangatlah nyata. Tak berlebihan bila dikatakan bahwa pemikiran takfir pada masa sekarang ini muaranya adalah Sayyid Quthb. Para teroris yang tergabung dalam berbagai kelompok “jihad” dewasa ini pun, mayoritasnya adalah buah buruk dari doktrin takfir Sayyid Quthb melalui buku-bukunya.

Maka dari itu, sudah seharusnya kaum muslimin menjauhkan diri dari buku-buku tersebut dan yang semisalnya, serta berusaha untuk menimba ilmu dari buku-buku para ulama salafiyyin Ahlus Sunnah wal Jamaah yang bersih dari berbagai syubhat dan pemikiran menyimpang.

Demikian pula toko-toko buku hendaknya tidak lagi menjual buku-buku tersebut, sebagaimana yang telah diserukan oleh asy-Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi al-Madkhali di dalam kitabnya al-Irhab wa Atsaruhu ‘alal Afrad wal Umam, hlm. 128—142.

Berbeda halnya dengan asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab an-Najdi rahimahullah. Beliau sangat berhati-hati dalam permasalahan takfir ini. Tak seperti klaim buruk musuh-musuh dakwah salafiyah yang sangat tendensius menyudutkan beliau sebagai muara takfir pada masa sekarang ini. Jauh panggang dari api.

Simaklah perkataan beliau berikut ini,

“Ringkas kata, wajib bagi orang yang memerhatikan keselamatan dirinya agar tidak berbicara dalam permasalahan ini (takfir, pen.) kecuali dengan ilmu dan keterangan dari Allah ‘azza wa jalla. Hendaknya pula dia berhati-hati mengeluarkan seseorang dari Islam dengan sebatas pemahaman dan anggapan baik akalnya. Sebab, mengeluarkan seseorang dari Islam atau memasukkan seseorang ke dalamnya sungguh merupakan hal terbesar agama ini.” (ad-Durar as-Saniyyah 10/374)

 

Geliat Takfir Antarsesama Teroris

Sikap keagamaan kaum teroris tak bisa dipisahkan dari sikap bermudah-mudahan dalam mengafirkan (takfir) orang lain. Bahkan, takfir antarmereka pun kerap terjadi. Fanatisme kelompok, perbedaan visi dan misi pergerakan, menjadi salah satu pemicu utamanya.

Mengapa demikian?

Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah berkata, “Sejauh yang aku pahami, sebabnya kembali kepada dua hal:

  • Dangkalnya ilmu dan kurangnya pemahaman tentang agama.
  • (Ini yang terpenting), memahami agama tidak dengan kaidah syar’i (tidak mengikuti Sabilul Mukminin, jalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya -pen.).

Barang siapa menyimpang dari (jalan) jamaah yang dipuji oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam banyak sabdanya dan telah disebut oleh Allah ‘azza wa jalla (dalam al-Qur’an), ia telah menentang Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya. Yang saya maksud adalah firman- Nya,

وَمَن يُشَاقِقِ ٱلرَّسُولَ مِنۢ بَعۡدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ ٱلۡهُدَىٰ وَيَتَّبِعۡ غَيۡرَ سَبِيلِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ نُوَلِّهِۦ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصۡلِهِۦ جَهَنَّمَۖ وَسَآءَتۡ مَصِيرًا ١١٥

“Dan barang siapa menentang Rasul setelah jelas baginya kebenaran dan mengikuti selain jalannya orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa bergelimang dalam kesesatan dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (an-Nisa: 115)

Kemudian beliau berkata, “Dari sinilah banyak sekali kelompok-kelompok yang tersesat sejak dahulu hingga kini. Sebabnya adalah mereka tidak mengikuti jalan orang-orang mukmin dan semata-mata mengandalkan akal. Mereka justru mengikuti hawa nafsu di dalam menafsirkan al-Qur’an dan as-Sunnah, hingga kemudian membuahkan kesimpulan-kesimpulan yang sangat berbahaya, dan akhirnya menyimpang dari jalan as-Salafush Shalih.” (Fitnatut Takfir, hlm. 13)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menambahkan sebab ketiga, yaitu jeleknya pemahaman yang dibangun di atas jeleknya niat. (Fitnatut Takfir, hlm. 19)

Demikian pula asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan menambahkan sebab yang lain, yaitu adanya kecemburuan  (ghairah) terhadap agama yang berlebihan atau semangat yang tidak pada tempatnya. (Zhahiratut Tabdi’ wat Tafsiq wat Takfir wa Dhawabithuha, hlm. 14)

Sebut saja al-Qaeda dan ISIS. Dua kelompok teroris yang terkenal dewasa ini. Mereka mudah mengafirkan orang lain. Bahkan, keduanya saling bermusuhan dan saling mengafirkan. Tak hanya itu, berbagai pertempuran sengit pun terjadi antarmereka.

Bisa jadi, di antara pembaca ada yang merasa aneh seraya bergumam, “Mengapa hal itu bisa terjadi padahal keduanya sama-sama mengusung nama “jihad”?!”

Untuk bisa memahaminya, simaklah keterangan berikut ini.

Al-Qaeda (AQ) adalah kelompok ekstremis (baca: teroris) berbasis agama dengan jangkauan global (internasional). Kelompok ini didirikan oleh Usamah bin Laden di Afghanistan pada 1988.

Adapun ISIS, berawal dari kelompok “Jamaat al-Tawhid wal-Jihad” yang didirikan oleh Abu Mush’ab al-Zarqawi, seorang radikal asal Jordania, pada 1999 di Irak. Kemudian pada tahun 2004, kelompok ini menginduk kepada al-Qaeda dan berganti nama dengan “Tanzim Qa’idat al-Jihad fi Bilad al-Rafidayn” atau lebih dikenal dengan sebutan al-Qaeda di Irak (AQI).

Pada Januari 2006, AQI bergabung dengan sejumlah kelompok pemberontak Sunni Irak dan membentuk Dewan Syura Mujahidin (DSM). Abu Mush’ab al-Zarqawi ditunjuk sebagai pemimpin mereka. Seiring dengan berlangsungnya pertempuran antara mereka dan pasukan militer Irak yang didukung oleh Amerika ketika itu, al-Zarqawi dilaporkan tewas oleh pasukan khusus Amerika. Peristiwa itu terjadi pada Juni 2006. Kepemimpinan pun berpindah kepada Abu Umar al-Baghdadi.

Pada 13 Oktober 2006, Dewan Syura Mujahidin (DSM) memproklamasikan pembentukan Islamic State of Iraq (ISI) atau Negara Islam Irak. Namun kelompok tersebut tampak melemah dalam pertempuran dengan pasukan Amerika dan militer Irak. Pada 2010, Abu Umar al-Baghdadi dilaporkan tewas. Pada saat itulah, Ibrahim Awwad al-Badri as-Samarrai yang kemudian dikenal dengan sebutan Abu Bakar al-Baghdadi tampil menggantikannya.

Ketika konflik Suriah pecah pada Maret 2011, Islamic State of Iraq (ISI) di bawah pimpinan Abu Bakar al-Baghdadi mengirim pasukannya ke Suriah. Pengiriman pasukan terjadi pada Agustus 2011. Komandan yang ditunjuk adalah Usamah al-Absi al-Wahidi yang lebih dikenal dengan sebutan “Abu Muhammad al-Jaulani”. Dia adalah seorang petinggi pasukan ISI, berkewarganegaraan Suriah yang berdomisili di Irak sejak 2003 hingga 2011. Pasukan ini menamakan diri dengan “Jabhat an-Nusrah li-Ahli asy-Syam (Front al-Nusra).”

Dalam waktu yang tidak lama, Front al-Nusra berhasil menguasai daerah-daerah yang mayoritas dihuni warga Sunni di Provinsi ar-Raqqah, Idlib, Deir ez-Zor, dan Aleppo.

Pada 8 April 2013 setelah memperluas wilayahnya ke Suriah, Abu Bakar al-Baghdadi mengumumkan penyatuan ISI dengan Front al-Nusra dengan nama baru “Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS)”, artinya Negara Islam Irak dan Suriah.

Namun, Abu Muhammad al-Jaulani selaku pemimpin Front al-Nusra yang selama ini memimpin gerakan di Suriah dan Ayman al-Zawahiri selaku pemimpin al-Qaeda menolak penyatuan tersebut.

Alhasil, perseteruan di antara mereka tak dapat dihindari. Semakin lama semakin meruncing. Pada 3 Februari 2014, ISIS mengumumkan berpisah dengan al-Qaeda. Demikian pula al-Qaeda, memutus semua hubungan dengan ISIS. Adapun Front al-Nusra, berjalan seiring dengan al-Qaeda. Sejak saat itu, tak ada lagi ikatan antara Front al-Nusra dengan ISIS.

Di tengah konflik internal yang sedang memanas tersebut, pada 29 Juni 2014 Abu Bakar al-Baghdadi mendeklarasikan kekhilafahan dunia. Dia menobatkan diri sebagai khalifah dan mengharuskan semua kelompok “jihad” (baca: teroris) untuk berbaiat kepadanya. Dia pun mengganti penamaan ISIS dengan Islamic State (IS) atau Negara Islam, sebagai pertanda bahwa kekhilafahannya bersifat global, tak sebatas Irak dan Suriah saja.[5]

Hal ini semakin membuat berang pemimpin al-Qaeda dan Front al-Nusra. Tak pelak, aksi saling hujat pun terjadi di antara mereka.

Ayman al-Zawahiri selaku pemimpin al-Qaeda menyampaikan bahwa ISIS lebih jahat daripada Khawarij. ISIS mengafirkan kelompok-kelompok “jihad” lainnya yang berseberangan dengannya tanpa bukti, termasuk al-Qaeda. Dia pun mengkritisi bahwa di antara orang dekat Abu Bakar al-Baghdadi adalah mantan orang-orang Saddam Husein (yang berakidah Ba’ts), terkhusus dari kalangan intelejennya. (https://youtu.be/BZ19gMp2lqA)

Dalam kesempatan lain Ayman al-Zawahiri mengatakan, “Aku berjumpa dengan asy-Syaikh Abu Muhammad al-Maqdisi (salah seorang tokoh teroris asal Yordania, pen.) di Peshawar. Aku sampaikan kepadanya bahwa ada sebuah kelompok yang mengafirkanku, karena aku tidak mengafirkan para mujahidin Afghanistan! Dia pun tertawa, kemudian bergumam, ‘Anda tidak tahu, sesungguhnya mereka juga mengafirkanku karena aku tidak mengafirkan Anda!’.” (https://youtu.be/YnHVJpbyyfQ)

Atas dasar itu, pada 11 September 2015 bertepatan dengan 14 tahun peringatan serangan 11 September 2001 terhadap WTC, Ayman al-Zawahiri menyatakan perang terhadap ISIS.[6]

Adapun ISIS, melalui juru bicara resminya, Abu Muhammad al-Adnani, menegaskan bahwa al-Qaeda hari ini telah melenceng dari jalan kebenaran. Agamanya bengkok dan manhajnya menyimpang. Al-Qaeda tidak lagi menjadi pangkalan jihad. Pangkalan jihad, bukanlah yang disanjung oleh orang-orang rendahan, didekati oleh para thaghut, dan dininabobokan oleh orang-orang yang menyimpang lagi sesat. Sungguh, al-Qaeda telah menyimpang, berubah, dan bergeser.

Abu Muhammad al-Adnani juga mengklaim bahwa al-Qaeda menghalalkan darah orang-orang ISIS dan membunuhi mereka. Jika dibiarkan, akan terus menghabisi ISIS. Namun, jika dibalas, mereka merengek-rengek di media massa dan menjuluki ISIS dengan Khawarij. (https://youtu.be/3YCh60YWerU)

Secara khusus, Abu Muhammad al-Adnani mengeluarkan hujatan keras terhadap Ayman al-Zawahiri, dalam sebuah audio visual dengan judul “Udzran Ya Amiral Qa’idah.” (https://youtu.be/HUOEWsBEojQ)

Adapun Abu Mush’ab at-Tunisi, salah seorang anggota Dewan Syariah ISIS di Suriah, secara terang-terangan telah mengafirkan Ayman al-Zawahiri. (https://youtu.be/EeCXxZNdXTw)

Hal serupa dilakukan oleh ISIS terhadap Front al-Nusra. Abu Muhammad al-Jaulani selaku pemimpin Front al-Nusra, dalam wawancaranya dengan channel al-Jazirah, menyatakan bahwa ISIS mengafirkan Front al-Nusra, membunuhi banyak anggota dan komandannya. ISIS menyalib, memenggal kepala-kepala anggota al-Nusra, dan melemparkan mayat mereka di jalan-jalan. (https://youtu.be/oossAtDYbrs)

Tak mengherankan apabila kemudian Abu Muhammad al-Jaulani memerintah pasukannya untuk bertempur melawan ISIS.[7]

Berbagai pertempuran sengit antara keduanya pun terjadi. Sebut saja pertempuran di Jadid Aqidat pada 7 Mei 2014[8] dan di Deir ez-Zor pada 2 Juni 2014. Dua pertempuran sengit tersebut menelan banyak korban jiwa dari kedua belah pihak.[9]

 

Keterkaitan ISIS dan al-Qaeda dengan Syiah Rafidhah Iran

Bisa jadi, di antara pembaca ada yang bertanya, “Apakah ISIS dan al-Qaeda yang notabene mudah mengafirkan dan menghalalkan darah seorang muslim memiliki hubungan dengan Syi’ah Rafidhah Iran yang mengafirkan mayoritas sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Ahlus Sunnah?”

Terkait hal ini, asy-Syaikh Prof. Dr. Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah mengatakan, “Tidak menutup kemungkinan bahwa ISIS kepanjangan tangan dari Iran Persia yang senantiasa mengafirkan Ahlus Sunnah, berupaya dengan serius menghabisi Ahlus Sunnah, dan menjadikan yang tersisa dari mereka sebagai Syiah Rafidhah.

“Mereka mengafirkan para sahabat Nabi radhiallahu ‘anhum dan menuduh Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu ‘anha berbuat zina. Mereka menuhankan ahlul bait, padahal ahlul bait berlepas diri dari mereka dan akidah mereka yang kufur.

“Di antara bukti bahwa ISIS adalah kepanjangan tangan Iran, tak sedikit pun mereka menyentuh (baca: memerangi) Iran. Sama dengan induk semangnya (al-Qaeda) yang didirikan tidak lain untuk memerangi Ahlus Sunnah, mengafirkan mereka, dan merusak para pemudanya. Al-Qaeda tak sedikit pun menyentuh (baca: memerangi) Iran. Iran justru menjadi tempat berlindung (suaka) bagi al-Qaeda dan para pemimpinnya.

“Maka dari itu, ISIS, Hizb Syaithan (maksudnya Hizbullah, pen.) di Lebanon, dan Houthi di Yaman adalah mesin penghancur yang digerakkan oleh Iran, baik dengan materi maupun nonmateri. Teramat besar permusuhan mereka terhadap Kerajaan Saudi Arabia. Semoga Allah ‘azza wa jalla menjaga Kerajaan Saudi Arabia dari tipu daya dan kekejian mereka.”

(https://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=152634)

 

Akhir kata, betapa bahaya prinsip keagamaan kaum teroris. Betapa mengerikan operasi-operasi yang mereka lakukan. Pengeboman, pembunuhan senyap, dan aksi teror lainnya. Semua berawal dari sikap bermudahan-mudahan mengafirkan. Karena itu, tak berlebihan, apabila dikatakan bahwa kaum teroris berada di balik jeruji takfir.

Wallahu a’lam.

Ditulis oleh al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi

[1] Dan Syiah (-ed.)

[2] Silakan membaca Asy-Syariah edisi 004, rubrik “Manhaji” dengan judul “Khawarij Kelompok Sesat Pertama dalam Islam”.

[3] Silakan membaca Asy-Syariah edisi 013, rubrik “Manhaji” dengan judul “Jihad Bersama Penguasa”.

[4] Lihat bantahannya dalam kitab Adhwa’ Islamiyyah ‘Ala Aqidati Sayyid Quthub wa Fikrihi, karya asy-Syaikh Prof. Dr. Rabi’ bin Hadi al-Madkhali, hlm. 71—107.

[5] https://id.m.wikipedia.org/wiki/Negara_Islam_Irak_dan_Syam/,

https://m.republika.co.id/berita/internasional/timur-tengah/15/12/31/o06vvx377-ini-awal-mula-pembentukan-isis, dan

https://www.alarabia.net/ar/mob/arab-and-word/syiria/2014/02/06/ .

Diakses pada bulan Desember 2016.

[6] https://m.tempo.co/amphtml/read/news/2015/09/11/115699685/pemimpin-al-qaeda-nyatakan-perang-denganisis-ini-alasannya/

Diakses pada bulan Maret 2017.

[7] https://youtu.be/A05AW59YVrw/ Diakses pada bulan Desember 2016.

[8] https://youtu.be/90777Cee_CY/ Diakses pada bulan Desember 2016.

[9] https://youtu.be/dHjlg9y0oSc/ Diakses pada bulan Desember 2016.

Menebar Pesona Dakwah

Tahun 1986 geliat dakwah di berbagai perguruan tinggi mulai menyembul. Sebelum tahun itu, di salah satu perguruan tinggi ternama di kota Bandung, dakwah yang menawarkan kajian keislaman mulai semarak.

Tak tanggung-tanggung, dakwah di kampus ternama itu dilengkapi pula buku panduan berisi materi yang dikaji. Sasaran pesertanya para remaja yang tengah duduk di bangku sekolah lanjutan. Setiap Ahad pagi, ratusan anak remaja duduk bersimpuh di hadapan mentor yang membimbingnya. Sistem mentoring, begitulah sebagian orang menyebut acara kajian tersebut.

Melalui acara mentoring banyak anak remaja perkotaan yang tergugah untuk belajar Islam. Apalagi bila kelak para remaja itu berhasil meraih kursi di perguruan tinggi ternama itu, pembinaan pun akan berlanjut. Kampus menjadi basis dakwah.

Geliat dakwah di kampus mengundang perhatian berbagai kalangan. Syiah, Hizbut Tahrir, Ikhwanul Muslimin, Aliran Isa Bugis, dan berbagai pergerakan Islam lainnya, tergiur untuk turut menanam bibit di ladang kampus. Mereka berlomba memberi warna dakwah. Mereka berebut menanam pengaruh. Pertarungan kepentingan begitu menggebu.

Setelah 1986 dakwah di berbagai kampus makin marak. Lebih-lebih setelah munculnya Lembaga Dakwah Kampus (LDK), sebuah lembaga yang mengurusi dakwah di kalangan mahasiswa, yang berhasil masuk dan diakui secara struktural oleh pihak penguasa perguruan tinggi.

Metode mentoring yang sempat “booming” di Bandung lantas meruyak ke berbagai daerah. Materi kajian pun lantas banyak dimodifikasi sesuai alur pemikiran yang merancang di kampus masing-masing. Saat itu, warna pemikiran Ikhwanul Muslimin dan Hizbut Tahrir banyak bercokol di kampus. Tak kalah agresif, Syiah.

 

Syiah Menebar Pesona?

Keberadaan Syiah di berbagai perguruan tinggi sangat ditunjang oleh pantauan aktif pihak kedutaan besar negara Syiah yang ada di Indonesia. Pihak kedutaan aktif menebarkan misi melalui majalah, buku, hingga merekrut anak muda untuk belajar ke Iran.

Walau ingar-bingar revolusi di negeri Syiah Iran mulai redup, karena banyak kaum muslimin di Indonesia mulai sadar bahwa paham Syiah itu sesat, pada periode itu gerakan Syiah terus menusuk ke jantung kampus. Mereka menerbitkan buku-buku (terjemahan) para pemikir Syiah Iran, seperti Ali Syariati, Murtadha Muthahhari, dan lainnya.

Arus deras paham Syiah terus diguyurkan ke tubuh umat. Saat itu banyak kalangan dosen dan mahasiswa yang teracuni pemikiran Syiah. Melalui buku, Syiah mengemas paham sesatnya.

Satu di antara tebar pesona dakwah Syiah yaitu taqrib (mendekatkan paham) Sunni-Syiah. Seakan-akan Sunni dan Syiah itu sama, tak ada perbedaan. Para pengusung dakwah Syiah menyembunyikan taring kesesatan Syiah di hadapan kaum muslimin. Melalui kamuflase taqrib Sunni-Syiah tak sedikit kaum muslimin terkelabui.

Sebagian kaum muslimin larut, bahkan memompakan semangat persatuan antara penganut paham sesat Syiah dan kalangan Ahlus Sunnah. Melalui metodologi taqrib antara Sunni-Syiah, diharapkan tidak ada sikap permusuhan terhadap Syiah dari kalangan Ahlus Sunnah.

Dengan itu, diharapkan tumbuh persatuan antara Sunni-Syiah. Saat persatuan itu terbina, maka kaum Syiah secara bebas mendakwahkan ajaran sesatnya kepada kaum muslimin.

Apa yang dijajakan kaum Syiah sungguh merupakan tipuan memesona. Kaum muslimin yang masih belum mengenal hakikat Syiah bisa tergoda lalu terjerumus ke dalamnya.

Seiring perjalanan waktu, kedok kaum Syiah pun terbuka. Wajah busuk yang selama ini disembunyikan tersingkap. Kaum muslimin pun waspada. Gerakan anti-Syiah berkumandang di mana-mana. Paham pencela para sahabat Nabi ini pun mengubah makarnya. Akhirnya, mereka bergerak terang-terangan. Era baru dalam upaya tebar pesona.

Walau telah terang-terangan, untuk acara peringatan Asyura yang berdarah-darah, belum mereka lakukan di hadapan publik. Kaum Syiah memperingati Asyura dengan melukai tubuh menggunakan senjata tajam. Darah bercucuran mewarnai tubuh dan pakaian mereka. Bahkan, bayi pun mereka lukai pada peringatan Asyura.

Itu sejatinya ajaran Syiah. Termasuk ajaran mut’ah (kawin kontrak) belum dipublikasikan secara masif. Entah, apa reaksi masyarakat bila ajaran Syiah yang dua tadi disebar ke tengah masyarakat.

 

Akankah Syiah bisa terus menebar pesonanya?

Kini, saat berbagai kesesatan ajaran Syiah terbongkar, pendekatan dakwah yang dilakukan pun diubah sesuai dengan situasi yang berkembang. Mereka luaskan makar melalui infiltrasi (penyusupan) ke dalam tubuh berbagai lembaga pemerintahan, partai politik, dan media masa. Strategi memanfaatkan era kebebasan dan demokratisasi pun ditempuh. Dengan senjata kebebasan dan hak asasi manusia, kaum Syiah menuntut pengakuan dari berbagai pihak. Mereka menuntut perlindungan hukum. Mereka meminta kebebasan dalam melaksanakan dan mendakwahkan ajarannya.

Pendekatan inilah yang kini tengah digencarkan kalangan Syiah. Keran kebebasan yang dibuka secara tak terukur menjadikan negeri ini menyemai bom waktu terjadinya konflik horisontal secara terbuka.

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menyelamatkan kaum muslimin dan negeri ini serta menyadarkan para pemimpinnya dari ancaman bahaya pemahaman sesat Syiah yang mengatasnamakan Islam.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          وَيَمۡكُرُونَ وَيَمۡكُرُ ٱللَّهُۖ وَٱللَّهُ خَيۡرُ ٱلۡمَٰكِرِينَ ٣٠

        “Mereka membuat makar, Allah pun membuat makar. Dan Allah sebaik-baik pembuat makar.” (al-Anfal:30)

 

Jangan Tertipu Dakwah Menyesatkan

Banyak kelompok menawarkan pemahamannya. Banyak pemahaman yang ditawarkan tak sesuai syariat. Pemahaman menyimpang yang dikemas secara apik bisa menjadikan orang teperdaya. Tak bisa berkutik, seakanakan yang dicerna adalah kebenaran. Padahal senyatanya adalah kebatilan.

Ikhwanul Muslimin, al-Qaidah, dan ISIS, menawarkan jihad. Namun, ternyata bukan jihad yang selaras syariat. Namanya jihad, tetapi hakikatnya membetot masyarakat untuk melawan penguasa, menumpahkan darah sesama muslim, dan mengkafirkan kaum muslimin yang tak sehaluan dengan mereka.

Kata-kata jihad dijadikan stempel untuk melegalisasi perbuatan merusak, sesat, dan menyesatkan. Makna jihad pun dibonsai hingga mengandung pengertian yang kerdil, sempit, dan menceng. Bagi mereka jihad cuma angkat senjata melulu. Membunuh atau dibunuh. Jihad identik dengan darah manusia yang mengalir, tubuh yang tercabik-cabik mesiu, dan suara desingan peluru. Padahal dalam sebuah hadits sahih disebutkan,

الْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِي طَاعَةِ اللهِ

        “Seorang yang berjihad ialah yang bersungguh-sungguh menunaikan ketaatan kepada Allah.” (HR . al-Bazzar dari sahabat Fadhalah bin Ubaid al-Anshari radhiallahu ‘anhu. Lihat Shahih al-Musnad karya asy-Syaikh Muqbil al-Wadi’i)

Karena itu, jangan tertipu dengan tampilan mereka. Bisa jadi, secara lahiriah mereka menampakkan syiar keislaman. Pakaian mereka tampak islamis, ibadah mereka tampak rajin, sehingga orang yang tak benar-benar mengenal akan tersamarkan. Dikira seorang berpemahaman lurus dan benar, ternyata pemikirannya radikal dan gemar teror.

 

Untuk mengenali siapa sesungguhnya mereka, perhatikan hal berikut:

  1. Perhatikan pertemanan yang ada pada mereka.

Relasi berteman akan memberi gambaran peta jaringan yang ada. Semakin intensif seseorang melakukan relasi dengan lainnya, semakin kuat kedekatan orang tersebut dengan lawan relasinya. Seseorang bisa dilihat dari teman dekatnya.

الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Seseorang tergantung atas agama teman dekatnya. Maka, perhatikan siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (Lihat ash-Shahihah, no. 927)

 

  1. Cermati literatur yang menjadi rujukannya.

Kitab, buku, dokumen dalam bentuk tulisan bisa menjadi acuan awal menilai sosok yang berpenampilan terkesan islami. Apabila sumber bacaan yang sering dicerna adalah karya orang seperti Sayid Quthub, Salman al-Audah, Safar Hawali, Hasan al-Banna, dan yang semisal, akan terpetakan alur pemikiran dan keyakinannya. Mereka adalah orang-orang yang menebar pesona dengan menawarkan pemikiran Khawarij.

Begitu pula apabila literatur yang dijadikan acuan berpikirnya buku-buku atau kitab-kitab dari kalangan yang (di antaranya) mencela para sahabat Rasulullah shalllallahu ‘alaihi wa sallam, berarti mereka adalah kalangan Syiah.

 

  1. Telusuri orang yang dijadikan sumber rujukan, pengampu materi, ustadz, atau instruktur pelatihan.

Orang yang dijadikan rujukan pengambilan ilmu, dialah yang memberi pengaruh dalam pembentukan sikap mental para pengikutnya. Muhammad bin Sirin rahimahullah mengatakan,

إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ

        “Sesungguhnya ilmu ini adalah agama. Maka dari itu, perhatikan dari siapa kalian mengambil agama kalian.” (Lihat Muqaddimah Shahih Muslim)

Dengan dasar di atas, deteksi dini setidaknya bisa dilakukan untuk mengidentifikasi sosok orang yang baru dikenal sehingga kita tidak terkecoh oleh penampilan luar yang penuh tipuan.

 

Merujuk kepada Salafus Shalih

Era kebebasan telah memberi ruang bagi setiap orang menyatakan pikiran, perasaan, dan sikapnya. Termasuk di antaranya mengekspresikan rasa keberagamaannya. Pada era kebebasan yang seakan tanpa batas ini, seseorang diberi kebebasan untuk memiliki keyakinan dengan mengatasnamakan Islam.

Sebut saja fenomena yang mengaku menjadi nabi. Sejak kran kebebasan dibuka lepas tanpa batas, muncul banyak kasus nabi palsu. Walaupun sudah ditindak secara hukum, nyatanya ada yang tak jera. Bahkan, semakin menjadi-jadi dalam menyebarkan ajaran sesatnya.

Kasus kelompok sempalan pun makin mengotori kehidupan beragama. Kelompok sempalan Syiah makin berani untuk unjuk dada. Ajaran Syiah yang secara nyata telah menyimpang dari Islam, masih diposisikan sebagai bagian dari agama Islam. Padahal, Syiah telah menistakan Islam itu sendiri.

Fenomena kelompok sempalan dengan menyeret-nyeret Islam begitu mengemuka. Ahmadiyah, ISIS, al-Qaidah, Islam Liberal, Gafatar, Syiah adalah sederet nama yang telah memberi andil keresahan di tengah umat.

Ketika negara masih melakukan pembiaran, hendaknya kaum muslimin merujuk pada ajaran Islam yang lurus. Ajaran Islam yang telah diwariskan dari Rasulullah shalllallahu ‘alaihi wa sallam kepada para sahabatnya. Dari para sahabat diwariskan kepada para tabi’in (orang-orang setelah para sahabat). Dari generasi tabi’in menurun ke generasi berikutnya, tabi’ut tabi’in (para pengikut generasi tabi’in).

Tiga generasi inilah yang disebut generasi salaf yang saleh. Allah subhanahu wa ta’ala telah menyebutkan generasi yang telah mendapat ridha-Nya. Firman-Nya,

          وَٱلسَّٰبِقُونَ ٱلۡأَوَّلُونَ مِنَ ٱلۡمُهَٰجِرِينَ وَٱلۡأَنصَارِ وَٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُم بِإِحۡسَٰنٖ رَّضِيَ ٱللَّهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُواْ عَنۡهُ

        “Dan orang-orang terdahulu yang awal dari kalangan Muhajirin dan Anshar, dan orang-orang yang mengikutinya secara baik, Allah subhanahu wa ta’ala telah meridhainya dan mereka pun telah ridha kepada Allah….” (at-Taubah:100)

Rasulullah shalllallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan hal itu sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits berikut.

Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu menuturkan, Rasulullah shalllallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

“Sebaik-baik manusia adalah semasa kurun saya. Kemudian orang-orang setelahnya, kemudian yang setelahnya.” (HR . al-Bukhari dan Muslim)

Hadits Aisyah radhiallahu ‘anha juga mengisahkan, “Ada seseorang bertanya kepada Nabi shalllallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Siapakah sebaik-sebaik manusia?’

Dijawab oleh beliau shalllallahu ‘alaihi wa sallam,

الْقَرْنُ الَّذِي فِيهَا أَنَا فِيهِ ثُمَّ الثَّانِي ثُمَّ الثَّالِثُ

        “Kurun yang saya berada pada masa itu. Kemudian (generasi) kedua. Lantas  (generasi) ketiga.” (HR . Muslim)

Menurut asy-Syaikh Prof. Dr. Abdullah al-Bukhari hafizhahullah, guru besar di Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia, tidak diragukan lagi bahwa generasi salafush shalih yang terdahulu memiliki keutamaan, ilmu, dan keimanan. (Lihat Ma Hiya as-Salafiyyah, hlm.14—15)

Seorang muslim wajib mengikuti jalan yang telah ditempuh oleh Rasulullah shalllallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau.

          وَمَن يُشَاقِقِ ٱلرَّسُولَ مِنۢ بَعۡدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ ٱلۡهُدَىٰ وَيَتَّبِعۡ غَيۡرَ سَبِيلِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ نُوَلِّهِۦ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصۡلِهِۦ جَهَنَّمَۖ وَسَآءَتۡ مَصِيرًا ١١٥

“Barang siapa menentang Rasul setelah petunjuk (kebenaran) itu jelas nyata baginya dan ia mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang yang beriman, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu, kemudian Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburukburuk tempat kembali.” (an-Nisa’:115)

Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan dalam I’lamul Muwaqqi’in tentang kewajiban mengikuti para sahabat Rasulullah shalllallahu ‘alaihi wa sallam. Firman-Nya,

          وَٱتَّبِعۡ سَبِيلَ مَنۡ أَنَابَ إِلَيَّۚ

        “Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku.” (Luqman:15)

Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan lebih lanjut, setiap sahabat adalah orang yang kembali kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Maka dari itu, wajib hukumnya mengikuti jalan sahabat, perkataan, dan keyakinannya. (Lihat idem hlm. 28)

Kemudian disebutkan pula oleh al-Imam Ahmad rahimahullah,

أُصُولُ السُّنَّةِ عِنْدَنَا التَّمَسُّكُ بِمَا كَانَ عَلَيْهِ أَصْحَابُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْاِقْتِدَاءُ بِهِمْ

“Prinsip-prinsip sunnah menurut kami adalah berpegang teguh (dengan apa) yang para sahabat Rasulullah shalllallahu ‘alaihi wa sallam berada di atasnya dan mengikuti jejak mereka.” (Lihat Ma Hiya as-Salafiyah, hlm. 16)

Keterangan di atas semakin menegaskan prinsip seorang muslim untuk mengikuti generasi terbaik umat ini. Semakin terang benderang jalan yang harus ditempuh oleh seorang muslim dalam kehidupan beragama. Karena itu, tidak sepatutnya seorang muslim mengambil pemahaman agamanya dari kelompok sempalan yang sesat dan menyesatkan.

Pelajari Islam dari narasumber terpercaya. Jangan mengambil sembarang rujukan. Betapa banyak orang menawarkan pemahaman “keislaman”, namun senyatanya merupakan kesesatan. Jangan terpesona dengan berbagai dakwah yang memikat, membangkitkan semangat, dan decak kagum. Hendaknya berhati-hati.

Dakwah salafiyah sangat jelas dan tegas menebarkan tauhid, mengenyahkan kesyirikan. Dakwah salafiyah sangat transparan mengajak hamba Allah subhanahu wa ta’ala untuk mencintai dan menghidupkan sunnah, menepis berbagai penyelisihan terhadap perintah Rasulullah shalllallahu ‘alaihi wa sallam.

Sungguh, para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah, seperti al-Imam az-Zuhri rahimahullah, telah menyebutkan sederet pesan mendalam,

الْاِعْتِصَامُ بِالسُّنَّةِ نَجَاةٌ

        “Berpegang teguh dengan sunnah adalah keselamatan.” (Diriwayatkan oleh ad-Darimi dalam Sunan-nya. Lihat al-Hujajul Qawiyyah, asy-Syaikh Abdus Salam Barjas, hlm. 29)

Allahu a’lam.

Ditulis oleh al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin

Ketika Kebatilan Merebak dan Pengusungnya Merajalela

Kebatilan, lawan dari kebenaran. Kebenaran, tinggi lagi mulia. Kebatilan, rendah lagi hina. Keduanya tidak bisa bersatu walaupun terkadang bertemu. Bagaikan air dan minyak. Walau terkadang bertemu, masing-masing bertahan di atas jatidirinya. Air tetap air, minyak pun tetap minyak.

Demikian halnya dengan pelaku kebenaran dan pengusungnya (ahlul haq). Secara fitrah mereka akan terpisahkan dengan pelaku kebatilan dan pengusungnya (ahlul batil). Jiwanya tidak bisa bersatu walaupun terkadang fisiknya bertemu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اخْتَلَفَ

“Ruh-ruh itu bagaikan prajurit yang berkelompok-kelompok, yang saling mengenal niscaya akan rukun, dan yang saling bermusuhan niscaya akan berselisih.” (HR. Muslim no. 4773, dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Perseteruan antara kebenaran dan kebatilan tidak akan pernah usai. Demikian pula antara ahlul haq dan ahlul batil. Berawal dari para nabi yang berhadapan dengan musuh-musuhnya, dilanjutkan oleh para pengikut nabi (ahlul haq) dari masa ke masa. Allah ‘azza wa alla berfirman,

وَكَذَٰلِكَ جَعَلۡنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوّٗا شَيَٰطِينَ ٱلۡإِنسِ وَٱلۡجِنِّ يُوحِي بَعۡضُهُمۡ إِلَىٰ بَعۡضٖ زُخۡرُفَ ٱلۡقَوۡلِ غُرُورٗاۚ وَلَوۡ شَآءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُۖ فَذَرۡهُمۡ وَمَا يَفۡتَرُونَ ١١٢

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setansetan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Rabbmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.” (al-An’am: 112)

Demikianlah sunnatullah yang tak akan pernah berubah. Ini tidak berarti bahwa Allah ‘azza wa alla menyukai permusuhan di antara hamba-Nya. Akan tetapi, Allah ‘azza wa alla hendak menguji siapa di antara mereka yang terbaik amalannya. Allah ‘azza wa alla berfirman,

ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلۡمَوۡتَ وَٱلۡحَيَوٰةَ لِيَبۡلُوَكُمۡ أَيُّكُمۡ أَحۡسَنُ عَمَلٗاۚ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡغَفُورُ ٢

“Dialah Allah yang telah menjadikan kematian dan kehidupan, supaya Dia menguji kalian, siapa di antara kalian yang terbaik amalannya, dan Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun.” (al-Mulk: 2)

 

Fenomena Kebatilan & Pengusungnya

Kebatilan dan pengusungnya bukan hal baru dalam kehidupan umat beragama. Kian hari kebatilan dari jenis syubhat dan syahwat kian merebak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيَأْتِيَنَّ عَلَى أُمَّتِي مَا أَتَى عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ حَذْوَ النَّعْلِ بِالنَّعْلِ حَتَّى إِنْ كَانَ مِنْهُمْ مَنْ أَتَى أُمَّهُ عَلَانِيَةً لَكَانَ فِي أُمَّتِي مَنْ يَصْنَعُ ذَلِكَ وَإِنَّ بَنِي إِسْرَائِيلَ تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلَّا مِلَّةً وَاحِدَةً. قَالُوا: وَمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي

Benar-benar akan terjadi pada umatku apa yang telah terjadi pada Bani Israil mirip layaknya sebuah sandal dengan sandal yang satunya. Sampai-sampai jikalau ada dari mereka yang menggauli ibunya dengan terang-terangan, niscaya pada umatku pun ada yang melakukannya.

Sesungguhnya Bani Israil (dalam riwayat lain, kaum Nasrani, pen.) telah terpecah-belah menjadi 72 golongan, dan umatku akan terpecah-belah menjadi 73 golongan. Semuanya masuk neraka, kecuali satu golongan.

Beliau ditanya, ‘Siapakah dia, wahai Rasulullah?’

Beliau menjawab, ‘(Golongan) yang berada di atas jalan yang aku dan para sahabatku berada’.” (HR. at-Tirmidzi no. 2565, dari sahabat Abdullah bin Amr bin al-‘Ash radhiallahu ‘anhuma; dinyatakan hasan oleh al-Allamah al-Albani dalam Shahih wa Dhaif Sunan at-Tirmidzi no. 2556, al-Misykat no. 171, dan ash-Shahihah no. 1348)

Sejarah menunjukkan bahwa setiap kali muncul kesesatan (syubhat), pasti ada yang mengikutinya. Mungkin karena kebodohan, mungkin pula karena mengikuti hawa nafsu, tetapi tidak jarang pula karena keduanya.

Kebodohan pangkal kehinaan. Orang yang tak berilmu amat rawan terseret arus kesesatan yang dijajakan oleh para pengusungnya. Lebih-lebih manakala terputus komunikasinya dengan ahli ilmu yang lurus dalam beragama, baik dengan menghadiri majelis ilmu yang dibinanya maupun dengan media komunikasi lainnya.

Demikian pula hawa nafsu (syahwat), merupakan pangkal kebinasaan. Tak jarang orang berilmu menjadi sesat dan binasa karenanya. Sebut saja Abdur Rahman bin Muljam al-Muradi, si pembunuh Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu (semoga Allah ‘azza wa alla membalasnya dengan balasan yang setimpal). Dia adalah seorang ahli baca al-Qur’an di Kota Madinah. Khalifah Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu mengirimnya ke negeri Mesir untuk mengajarkan al-Qur’an di negeri yang baru ditaklukkan itu. Ketika muncul fitnah Khawarij di masa Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, dia terseret dan hanyut bersamanya.

Semua diawali saat hasratnya untuk menikah muncul. Dia meminang wanita yang dicintainya. Si wanita menerimanya sebagai pendamping hidup, namun maskawinnya adalah darah (baca: membunuh) Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu. Ternyata sang wanita (calon istrinya) dari keluarga Khawarij, ayah dan saudaranya tewas terbunuh oleh pasukan Islam atas perintah Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu.

Demi memperturutkan hawa nafsunya, Abdur Rahman bin Muljam al-Muradi menyanggupi maskawin nista itu. Terjadilah apa yang terjadi. Akhirnya Sang Khalifah yang mulia terbunuh di tangannya. (Lihat al-Bidayah wan Nihayah karya al-Hafizh Ibnu Katsir 7/361)

Imran bin Hiththan tak jauh beda kisahnya. Dia pun terseret arus sesat Khawarij karena kecintaannya kepada seorang wanita. Padahal dia seorang yang berilmu dan sebelumnya berakidah lurus. Lagi-lagi wanita Khawarij.

Awalnya, dia menyadari bahwa langkahnya amat spekulatif dan berbahaya. Namun, dia yakin suatu ketika akan dapat membawa wanita tersebut kepada jalan yang lurus bila menjadi istrinya. Pernikahan berlangsung. Waktu pun berjalan.

Akan tetapi, fakta dan realitas berkata lain. Justru dia yang terbawa oleh si wanita sesat itu. Cintanya kepada sang istri membutakan mata hatinya. Cakrawala keilmuannya menjadi gelap. Pikiran jernihnya tak lagi berjalan seperti semula. Pada akhirnya dia tersesat dan menjadi tokoh Khawarij yang mengajak manusia kepada kesesatan. Tak urung, Abdur Rahman bin Muljam al-Muradi, si pembunuh Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, dia puji setinggi langit. (Lihat Tahdzibut Tahdzib karya al-Hafizh Ibnu Hajar 8/108—109 dan al-Bidayah wan Nihayah karya al-Hafizh Ibnu Katsir 7/364)

Berbagai penyimpangan dan kesesatan semisal di atas terus berlanjut hingga hari ini. Syubhat dan syahwat selalu berperan sebagai penyebab utamanya. Korban banyak berjatuhan. Ada yang dahulu kawan, saudara, tetangga, bahkan guru kita. Satu demi satu berjatuhan, terseret arus kesesatan yang amat dahsyat itu. Sungguh mengerikan.

 

Peran Ulama di Masa Fitnah

Merupakan sunnatullah bahwa setiap muncul kebatilan pasti ada ulama yang memperingatkannya. Serapi apa pun pengusung kebatilan mengemas kebatilannya, pasti ada ulama yang membongkarnya. Sebuah nikmat besar yang Allah ‘azza wa alla anugerahkan kepada umat Islam yang patut disyukuri. Hal ini mengingatkan kita akan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

يَحْمِلُ هَذَا الْعِلْمَ مِنْ كُلِّ خَلَفٍ عُدُولُهُ يَنْفُونَ عَنْهُ تَحْرِيْفَ الْغَالِيْنَ وَانْتِحَالَ الْمُبْطِلِيْنَ وَتَأْوِيْلَ الْجَاهِلِيْنَ

“Ilmu agama ini akan terus dibawa oleh orang-orang adil (tepercaya) dari tiap-tiap generasi yang selalu berjuang membersihkan agama ini dari pemutarbalikan pemahaman agama yang dilakukan orang-orang yang menyimpang, kedustaan orang-orang sesat yang mengatasnamakan agama, dan dari penakwilan agama yang salah yang dilakukan orang-orang jahil.” (HR. al-Khatib al-Baghdadi dalam Syaraf Ashhabil Hadits hlm. 11; dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Misykatul Mashabih 1/82)

Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata, “Segala pujian kesempurnaan hanya milik Allah ‘azza wa alla, yang telah menjadikan sisa-sisa manusia dari kalangan ahli ilmu (ulama’) pada setiap masa kekosongan dari para rasul. Mereka menyeru orang-orang yang tersesat kepada petunjuk (huda) dan bersabar atas segala gangguan yang datang dari manusia. Mereka menghidupkan orang-orang yang mati (hatinya) dengan Kitabullah. Mereka menerangi orang-orang yang buta (mata hatinya) dengan cahaya (ilmu) yang datang dari Allah ‘azza wa alla.

Betapa banyak korban iblis yang mereka bangkitkan kembali. Betapa banyak pula orang yang tersesat tak tahu jalan (kebenaran) yang mereka tunjuki. Betapa besar jasa mereka bagi umat manusia, namun betapa jelek sikap manusia terhadap mereka. Mereka membela Kitabullah dari pemutarbalikan pengertian agama yang dilakukan oleh para ekstremis, kedustaan orang-orang sesat yang mengatasnamakan agama, dan penakwilan agama yang salah yang dilakukan oleh orang-orang jahil, yaitu orang-orang yang mengibarkan bendara-bendera bid’ah dan melepas ikatan (menebarkan) fitnah.

Mereka adalah orang-orang yang berselisih tentang Kitabullah, menyelisihinya, dan sepakat untuk menjauhinya. Mereka berbicara atas nama Allah, tentang Allah ‘azza wa alla, dan tentang Kitabullah tanpa ilmu. Mereka berkata dengan perkataan yang mutasyabih (samar) dan menipu orang-orang jahil (bodoh) dengan hal-hal yang menjadi syubhat bagi mereka. Kami berlindung kepada Allah ‘azza wa alla dari fitnah-fitnah (yang ditebarkan oleh) orang-orang yang menyesatkan itu.” (Muqaddimah ar-Rad ‘ala az-Zanadiqah wa al-Jahmiyyah)

Mutiara kata dari al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah di atas mengingatkan kita pada masa sekarang ini. Setiap kali muncul kebatilan, para ulama Ahlus Sunnah membentengi umat darinya. Setiap kali tampil pengusung kebatilan, para ulama Ahlus Sunnah pun tampil memperingatkan umat darinya.

Puji syukur hanya milik Allah ‘azza wa alla yang telah menganugerahkan kepada kita para ulama rabbani yang senantiasa menunjuki umat kepada kebenaran dan para pengusungnya. Para ulama yang istiqamah dalam membentengi umat dari kebatilan dan memperingatkan mereka dari tipu daya para pengusungnya.

Dengan peringatan yang dilakukan oleh para ulama tersebut, tidak sedikit orang yang terselamatkan dari makar dan tipu daya para pengusung kebatilan. Bahkan, tidak sedikit pula orang yang tenggelam dalam kebatilan, lantas rujuk dari kebatilan dan kembali kepada kebenaran.

 

Bimbingan al-Qur’an dan as-Sunnah Menyikapi Pengusung Kebatilan

Di dalam al-Qur’an banyak dijumpai ayat yang memperingatkan dari kebatilan dan para pengusungnya. Bahkan, surat al-Munafiqun secara khusus menjadi peringatan dari kaum munafik dan sifat-sifat buruk yang ada pada mereka. Banyak pula ayat-ayat yang bercerita tentang para pengusung kebatilan dan kesudahan mereka yang amat buruk, sebagai peringatan bagi umat manusia.

Tak jarang nama atau identitas mereka disebutkan dalam peringatan itu. Adakalanya sebagai individu, semisal Fir’aun, Haman, Qarun, Samiri, Abu Lahab, dan istrinya. Adakalanya pula sebagai komunitas; semisal kaum Nabi Nuh, ‘Aad (kaum Nabi Hud), Tsamud (kaum Nabi Shalih), Ashabur Rass/Madyan (kaum Nabi Syu’aib), kaum Nabi Luth yang negerinya dihancurkan (al-Mu’tafikah), penduduk negeri Saba’, kaum Yahudi, dan kaum Nasrani.

Bisa jadi, di antara pembaca ada yang mengatakan, “Peringatan dari ahlul bid’ah tidak ada di dalam al-Qur’an, mengapa masalahnya dibesar-besarkan?!”

Ketahuilah, para ulama menggolongkan ahlul bid’ah ke dalam kaum munafik. Karena tingkat bahaya mereka terhadap umat sangat tinggi, Allah ‘azza wa alla menyebutkan perihal mereka dalam satu surat khusus, yaitu surat al-Munafiqun.

Berikutnya, al-Imam ath-Thabari rahimahullah ketika menafsirkan surat Ali Imran ayat 7 berkata, “Pada ayat ini terdapat arahan yang jelas tentang larangan duduk-duduk bersama para pelaku kebatilan dengan segala jenisnya; dan ahlul bid’ah serta orang-orang fasik saat mereka tenggelam dalam kebatilannya.” (Tafsir ath-Thabari 5/330)

Peringatan dari kebatilan dan pengusungnya juga dijumpai dalam keteladanan hidup Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (as-Sunnah), para sahabat yang mulia, dan para ulama yang meniti jejak mereka dengan sebaik-baiknya. Padahal mereka adalah orang-orang saleh yang berilmu tinggi, berjiwa bersih, dan berbudi pekerti luhur. Demikianlah sejarah mencatatnya.

Dalam momentum Hajjatul Wada’ (haji perpisahan) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan umat dari urusan yang diada-adakan dalam agama (bid’ah). Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa bid’ah itu sesat,

وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Berhati-hatilah kalian dari perkara-perkara yang diada-adakan (dalam agama) karena setiap bid’ah itu sesat.” (HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan Ahmad dari sahabat al-Irbadh bin Sariyah radhiallahu ‘anhu; dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Irwaul Ghalil, no. 2455)

Pada kondisi tertentu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak sebatas memperingatkan umat dari kebatilan, namun memperingatkan juga dari para pengusungnya. Bahkan, adakalanya beliau menyebutkan nama mereka, tidak hanya sifat dan kebatilan mereka. Di antaranya, peringatan dari kelompok Khawarij dan gembong mereka Dzul Khuwaishirah,

إِنَّ مِنْ ضِئْضِئِ هَذَا قَوْمًا يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ، يَقْتُلُونَ أَهْلَ الْإِسْلَامِ، وَيَدَعُونَ أَهْلَ الْأَوْثَانِ، يَمْرُقُونَ مِنَ الْإِسْلَامِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ، لَئِنْ أَدْرَكْتُهُمْ لَأَقْتُلَنَّهُمْ قَتْلَ عَادٍ

“Sesungguhnya dari diri orang ini akan muncul sekelompok orang yang (selalu) membaca al-Qur’an namun tidaklah melewati tenggorokan mereka (tidak dihayati dan dipahami maknanyapen.). Mereka membunuhi orang Islam dan membiarkan para penyembah berhala. Mereka keluar dari (prinsip) agama ini sebagaimana keluarnya (menembusnya) anak panah dari tubuh hewan buruan. Jika aku menjumpai mereka, sungguh aku akan memberangus mereka sebagaimana diberangusnya kaum Aad.” (HR. Muslim no. 1064, dari sahabat Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu)

 هُمْ شَرُّ الْخَلْقِ وَالْخَلِيْقَةِ

“Mereka adalah sejahat-jahat makhluk dan ciptaan.” (HR. Muslim no.1067, dari sahabat Abu Dzar al-Ghifari radhiallahu ‘anhu)

Demikian pula peringatan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dari kelompok Qadariyah (para pengingkar takdir),

اَلْقَدَرِيَّةُ مَجُوْسُ هَذِهِ اْلأُمَّةِ إِنْ مَرِضُوْا فَلاَ تَعُوْدُوْهُمْ وَإِنْ مَاتُوْا فَلاَ تَشْهَدُوْهُمْ

“Al-Qadariyah adalah kaum Majusi umat ini. Jika mereka sakit, jangan dijenguk; jika meninggal dunia, jangan dihadiri jenazahnya.” ( HR. Ibnu Abi ‘Ashim dalam as-Sunnah no. 338; dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Zhilalul Jannah)

Para sahabat radhiallahu ‘anhum memegang teguh prinsip dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal memperingatkan umat dari kebatilan dan pengusungnya.

Ketika sampai perihal Shabigh bin ‘Isl al-Iraqi yang suka menebar syubhat di tengah umat dengan menyoal ayat-ayat mutasyabih sehingga membuat bingung sebagian orang, Khalifah Umar radhiallahu ‘anhu mengirim utusan untuk memanggilnya.

Ketika ia datang, Umar pun memukulnya dengan tangkai tandan kurma hingga benar-benar kesakitan dan mengucur darah dari kepalanya. Umar kemudian mengasingkannya ke negeri Bashrah dan menulis mandat kepada Abu Musa al-Asy’ari radhiallahu ‘anhu agar tidak seorang muslimin pun duduk-duduk bersamanya. (Lihat al-Bida’ wa an-Nahyu ‘Anha, karya al-Imam Ibnu Wadhdhah, hlm. 56, asy-Syari’ah karya al-Imam al-Ajurri 1/483, dan al-Ibanah karya al-Imam Ibnu Bathtah 1/417)[1]

Sahabat Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma—ketika disampaikan kepada beliau perihal kelompok Qadariyah (pengingkar takdir)—mengatakan, “Sampaikan kepada mereka bahwa aku berlepas diri dari mereka dan mereka pun berlepas diri dariku. Demi Dzat yang Abdullah bin Umar bersumpah dengan-Nya (Allah ‘azza wa alla), jika salah seorang dari mereka mempunyai emas sebesar Gunung Uhud kemudian menginfakkannya, niscaya tidak diterima (oleh Allah ‘azza wa alla) sampai mereka beriman kepada takdir.” (HR. Muslim no. 1)

Sahabat Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata, “Jangan kalian duduk-duduk bersama pengekor hawa nafsu (ahlul ahwa’), karena duduk-duduk bersama mereka membuat hati berpenyakit!” (al-Ibanah karya al-Imam Ibnu Baththah 2/438)

Para tabi’in juga memegang teguh prinsip yang mulia ini. Diriwayatkan dari Ayyub As-Sakhtiyani rahimahullah, ia berkata, “Said bin Jubair telah berkata kepadaku, ‘Aku melihatmu bersama Thalq.’ Aku (Ayyub) berkata, ‘Ya, ada apa dengannya?’ Sa’id bin Jubair berkata, ‘Jangan duduk-duduk bersamanya karena dia seorang Murji’ah (yang berpemikiran irja’)’.”

Ayyub mengomentari nasihat Sa’id bin Jubair tersebut, “(Padahal) aku tidak meminta pendapatnya dalam hal ini. Namun, begitulah sepatutnya yang dilakukan seorang muslim, saat melihat sesuatu yang buruk pada saudaranya hendaknya mengingatkannya.” (asy-Syari’ah karya al-Imam al-Ajurri 2/681)

Al-Imam Thawus bin Kaisan rahimahullah memperingatkan umat dari Ma’bad al-Juhani, gembong Qadariyah, dengan menyebut namanya. Beliau berkata, “Hati-hatilah dari Ma’bad al-Juhani, karena sungguh dia seorang pengingkar takdir.” (al-Ibanah karya al-Imam Ibnu Baththah 2/453)

Ketika al-Imam Sufyan ats-Tsauri rahimahullah datang ke Kota Bashrah, beliau memerhatikan keadaan ar-Rabi’ bin Shubaih dan kedudukannya di kalangan umat. Beliau bertanya, “Apa manhajnya?”

Mereka menjawab, “Manhajnya tidak lain adalah as-Sunnah.”

Al-Imam Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Siapakah kawan-kawan dekatnya?”

Mereka menjawab, “Para pengingkar takdir.”

Beliau pun berkata, “(Kalau begitu) dia adalah seorang Qadari (pengingkar takdir).” (al-Ibanah karya al-Imam Ibnu Baththah 2/453)

Abdullah bin al-Imam Ahmad berkata, “Abu Turab an-Nakhsyabi mendatangi ayahku (al-Imam Ahmad -pen.), lantas ayahku mengatakan, ‘Fulan lemah, dan fulan tsiqah (tepercaya).’

Abu Turab berkata, ‘Hai syaikh, janganlah Anda mengghibahi ulama!’

Ayahku berpaling ke arahnya seraya mengatakan, ‘Celaka kamu! Ini adalah nasihat, bukan ghibah’.” (Syarh ‘Ilal at-Tirmidzi karya al-Imam Ibnu Rajab 1/349—350)

Al-Imam Abdullah bin al-Mubarak rahimahullah berkata, “Al-Mu’alla bin Hilal dialah orangnya, hanya saja dia berdusta dalam meriwayatkan hadits.”

Ada orang sufi berkata kepada beliau, “Hai Abu Abdirrahman, Anda berbuat ghibah!”

Beliau berkata, “Diam kamu! Jika kita tidak menjelaskan (keadaannya), bagaimana mungkin akan terbedakan antara yang haq dan yang batil?!” (al-Kifayah karya al-Khathib al-Baghdadi hlm. 45)

 

Kesimpulan Berharga

Demikianlah bimbingan al-Qur’an, as-Sunnah, keteladanan para sahabat dan ulama rabbani dalam hal menyikapi kebatilan dan para pengusungnya.

Ternyata, memperingatkan umat dari kebatilan dan pengusungnya memang dibenarkan oleh syariat yang mulia ini.

Bahkan, menyebut nama pengusung kebatilan atau tokoh bid’ah dalam peringatan tersebut pun tidak termasuk ghibah, justru sebagai nasihat. Tentu saja, semua ini dalam koridor “saat dibutuhkan”.

Sebagai bahan renungan, simaklah penuturan al-Imam at-Tirmidzi rahimahullah berikut ini, “Sebagian orang yang tidak berilmu telah mencela ulama hadits terkait dengan vonis mereka terhadap para perawi. Sungguh, kami telah mendapati sejumlah imam kalangan tabi’in memperingatkan umat dari tokoh-tokoh yang menyimpang.

Al-Hasan al-Bashri dan Thawus memperingatkan dari Ma’bad al-Juhani, Sa’id bin Jubair memperingatkan dari Thalq bin Habib, Ibrahim an-Nakha’i dan Amir asy-Sya’bi memperingatkan dari al-Harits al-A’war.

Demikian pula yang diriwayatkan dari Ayyub as-Sakhtiyani, Abdullah bin Aun, Sulaiman at-Taimi, Syu’bah bin al-Hajjaj, Sufyan ats-Tsauri, Malik bin Anas, al-Auza’i, Abdullah bin al-Mubarak, Yahya bin Sa’id al-Qaththan, Waki’ bin al-Jarrah, Abdurrahman bin Mahdi, dan ulama selain mereka memperingatkan dan memvonis lemah orang-orang yang berhak mendapatkannya.

Menurut kami, tidaklah mereka melakukannya —wallahu a’lam— melainkan sebagai nasihat untuk umat Islam. Kami tidak meyakini bahwa tindakan yang mereka lakukan itu untuk menjatuhkan kredibilitas seseorang atau mengghibahinya.

Akan tetapi, kami meyakini bahwa semua itu dilakukan dalam rangka menjelaskan sisi kelemahan (penyimpangan) mereka agar diketahui umat. Sebab, sebagian mereka adalah pelaku bid’ah, ada yang tertuduh memalsukan hadits, dan ada yang lalai serta banyak kesalahan dalam meriwayatkan.” (Syarh ‘Ilal at-Tirmidzi 1/43—44)

Wallahu a’lam.

Ditulis oleh al-Ustadz Ruwaifi bin Sulaimi, Lc


[1] Al-Imam Ibnu Baththah menyebutkan bahwa perlakuan Umar bin al-Khatthab radhiallahu ‘anhu terhadap Shabigh tersebut menjadi sebab keselamatannya dari pemahaman Haruriyah (Khawarij) di kemudian hari. Shabigh berkata, “Jauhilah (kelompok tersebut), sungguh telah bermanfaat bagiku nasihat seorang lelaki saleh (Umar bin al-Khatthab radhiallahu ‘anhu).” (al-Ibanah 1/417)

Iran, Syiah, dan Stabilitas Negara

Maret 2016 lalu, negara-negara kawasan Teluk berkumpul di Ibukota Mesir, Kairo. Negara-negara Teluk, yang tergabung dalam kelompok Liga Arab, menyepakati keputusan yang menetapkan bahwa kelompok Syiah yang berbasis di Lebanon, Hizbullah merupakan organisasi teroris.

Negara-negara Arab sepakat pula untuk mengutuk intervensi Iran terhadap negara-negara Arab. Keputusan Liga Arab ini didasari fakta di lapangan adanya persekongkolan jahat antara Pasukan Pengawal Revolusi Iran dengan Hizbullah. Kedua kelompok tersebut membiayai dan melatih kaum teroris di negara Bahrain.

Pada 10—15 April 2016, negara-negara Islam yang tergabung dalam Organisasi Kerjasama Islam (OKI) bersidang di Istanbul, Turki. Hasil sidang organisasi yang beranggotakan 57 negara ini menyebutkan bahwa kelompok Hizbullah adalah kelompok teroris.

Selain itu, negara-negara yang tergabung OKI itu pun mengutuk aksi teroris Hizbullah di negara Bahrain, Yaman, Suriah, dan Kuwait. Keputusan lainnya dari sidang OKI, menolak campur tangan negara Syiah Iran dalam urusan dalam negeri negara-negara Timur Tengah. OKI juga menyesalkan serangan terhadap kedutaan dan Konsulat Arab Saudi di Teheran dan Mashad oleh pengunjuk rasa Syiah Iran pada Januari 2016.

Para pemimpin negara yang tergabung dalam Liga Arab maupun OKI tentu bukan sekadar mengeluarkan pernyataan. Para pemimpin negara tersebut telah mempertimbangkan segala sesuatunya terkait keputusan yang ditetapkan. Termasuk mempertimbangkan sikap Iran dan Irak yang menganut pemahaman Syiah.

Pernyataan para pemimpin negara tersebut, baik OKI maupun Liga Arab, mengungkapkan bukti kejahatan negara Iran serta bahaya dasar ideologi negaranya yang menganut Syiah. Pernyataan yang disepakati para pemimpin negara tersebut menunjukkan keresahan masyarakat Islam atas aksi-aksi Iran yang menggalang gerakan terorisme. Negara-negara Timur Tengah, seperti Bahrain, Kuwait, Arab Saudi, dan Yaman, merupakan negara-negara yang langsung merasakan aksi terorisme kaum Syiah Iran.

Dalam skala yang lebih kecil, stabilitas negara Republik Indonesia pun sempat diganggu oleh kaki tangan Syiah Iran di Indonesia. Sebut saja kasus di Madura. Juga kasus di Bukit adz-Dzikra, Sentul, Bogor. Gerakan untuk mengganggu keamanan dan stabilitas negara ini patut diwaspadai. Walau masih dalam skala kecil, mengingat secara kuantitas pengikut ideologi Syiah masih sedikit, tentu tidak bisa diabaikan begitu saja.

Pernyataan para pemimpin negara-negara Islam di atas hendaknya menjadi peringatan bagi pemerintah dan rakyat Indonesia bahwa ideologi Syiah akan terus dipompakan ke dalam benak masyarakat Indonesia melalui berbagai media masa, pengajian, dan aksi sosial yang dikemas penuh tipu daya. Kaum Syiah di Indonesia memanfaatkan isu kebebasan, demokrasi, dan hak asasi manusia untuk menjadi tameng dalam menebarkan ideologinya.

Dalam kondisi minoritas dan belum memiliki kekuatan, kaum Syiah di Indonesia menggalang kerjasama dengan berbagai elemen bangsa. Kerjasama ini selain menguntungkan dari sisi memperoleh dukungan, juga bisa menguntungkan dari sisi penyebaran ideologi Syiah dan gerakan infiltrasi.

Karena itu, sungguh bukan satu hal yang berlebihan bila sejak dini pemerintah dan masyarakat Indonesia diingatkan tentang bahaya Syiah. Negara Iran, sebagai pengekspor ideologi berbahaya ini, telah melakukan tindakan yang mengganggu stabilitas negara-negara tetangganya di kawasan Teluk.

Sungguh, tidak berlebihan pula bila tindakan yang dilakukan negara Malaysia yang melarang ideologi Syiah bisa ditiru oleh pemerintah Indonesia. Atau, apabila itu belum memungkinkan, setidaknya negara memperketat ruang gerak kaum Syiah dan melakukan penyuluhan secara sistematis agar rakyat tidak terpengaruh ajaran Syiah. Penjelasan tentang bahaya ideologi Syiah hendaklah dilakukan secara lintas lembaga negara, tak hanya bertumpu di Kementerian Agama (yang sudah mulai disusupi paham Syiah).

 

Syiah dalam Lintasan Sejarah

Abdullah bin Saba adalah keturunan Yahudi yang lahir di Shan’a, Yaman. Peran Abdullah bin Saba tidak bisa lepas dari kemunculan paham Syiah. Sosok keturunan Yahudi ini berpura-pura memeluk Islam, namun senyatanya hendak merusak dari dalam.

Abdullah bin Saba adalah orang yang memprovokasi kaum muslimin untuk menentang Khalifah Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu. Ia menebarkan pemahaman tentang masalah al-washiyyah (wasiat). Kepada kaum muslimin di Mesir, ia memprovokasi untuk memberontak kepada penguasa yang sah.

Kaum muslimin di Mesir dijejali keyakinan bahwa Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu adalah al-washi (orang yang diserahi wasiat) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia katakan, bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah penutup para nabi. Adapun Ali radhiallahu ‘anhu adalah penutup para penerima wasiat.

Setelah itu, ia menuduh sahabat mulia, menantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu sebagai orang yang merampas wasiat. Utsman dituduh telah merampas tanpa haq. Lalu Abdullah bin Saba memprovokasi kaum muslimin dengan mengajak berdemonstrasi dengan mengepung kediaman Khalifah Utsman radhiallahu ‘anhu di Madinah.

Akibat ulah Abdullah bin Saba, terjadilah tindak anarkis. Pengepungan rumah khalifah menggapai puncak anarkis dengan terbunuhnya sahabat mulia, menantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Dzun Nurain, Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu. Tikaman senjata tajam merobek tubuhnya. Darah mengalir. Menetesi mushaf al-Qur’an yang tengah dibaca.

Ulah orang munafik, zindiq, Abdullah bin Saba menjadi catatan kelam dalam lintasan sejarah kaum muslimin. Abdullah bin Saba, dengan lisan berbisanya, telah melakukan tipu daya seakan dirinya orang yang paling mencintai Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu. Seakan dirinya orang yang paling mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Senyatanya, ia orang yang paling membenci Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia pula sosok yang paling tak suka kepada Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu.

Kebencian dan dendam terhadap orang-orang berpegang teguh kepada perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah diwariskan oleh Abdullah bin Saba. Kini, lihatlah kaum Syiah Rafidhah, begitu besar kebencian dan permusuhannya kepada orang-orang yang dicintai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sebagaimana Abdullah bin Saba membenci sahabat Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu seraya menyanjung Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, maka para pewaris kebusukannya pun kini melakukan hal yang sama. Kaum Syiah Rafidhah, sebagai pewaris kebusukan Abdullah bin Saba, pun mencerca dan menampakkan kebencian yang akut terhadap sahabat mulia Abu Bakr ash-Shiddiq dan Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhuma. Kedua sahabat mulia tersebut benar-benar dihinakan oleh Syiah Rafidhah. Keduanya dijuluki shanamay Quraisy (dua berhala Quraisy).

Tak sampai di situ, para sahabat lain pun dicaci maki. Bahkan, Ummul Mukminin, istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Aisyah, putri sahabat mulia Abu Bakr ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu, tak selamat dari kebejatan lisan kaum Syiah Rafidhah. Ibunda orang-orang beriman itu dituduh sebagai pelacur. Sebuah tuduhan penuh dusta.

Tidaklah semua itu keluar dari kaum Syiah, kecuali menjadi bukti bahwa keyakinan yang melekat di hati kaum Syiah Rafidhah adalah keyakinan batil. Keyakinan yang dihembuskan Iblis. Sebab, tidak mungkin Islam sebagai agama yang mulia mengajarkan caci maki, kebencian, permusuhan terhadap orang-orang memiliki kemuliaan seperti para sahabat.

Adakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk mencela sahabat Abu Bakr ash- Shiddiq, Umar bin al-Khaththab, dan Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhum? Tentu tidak! Justru mereka telah menduduki derajat yang mulia, derajat diridhai Allah subhanahu wa ta’ala. Perhatikan firman-Nya yang secara jelas tegas bernas memuliakan para sahabat,

وَٱلسَّٰبِقُونَ ٱلۡأَوَّلُونَ مِنَ ٱلۡمُهَٰجِرِينَ وَٱلۡأَنصَارِ وَٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُم بِإِحۡسَٰنٖ رَّضِيَ ٱللَّهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُواْ عَنۡهُ وَأَعَدَّ لَهُمۡ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي تَحۡتَهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدٗاۚ ذَٰلِكَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ ١٠٠

“Dan orang-orang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) diantara orang-orang Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (at-Taubah: 100)

Perhatikan pula firman-Nya yang memuliakan Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu ‘anha dan menghinakan orang-orang yang menuduhnya dengan kedustaan,

إِنَّ ٱلَّذِينَ يُحِبُّونَ أَن تَشِيعَ ٱلۡفَٰحِشَةُ فِي ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِۚ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ ١٩

“Sesungguhnya orang-orang yang menginginkan agar perbuatan sangat keji itu (berita bohong) tersiar di kalangan orang-orang beriman, mereka mendapat azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.” (an-Nur:19)

Kemudian dalam ayat lain disebutkan,

          أُوْلَٰٓئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَۖ لَهُم مَّغۡفِرَةٞ وَرِزۡقٞ كَرِيمٞ ٢٦

“… Mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan orang. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia (surga).” (an-Nur: 26)

Apa kata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkenaan dengan tiga sahabat beliau (Abu Bakr, Umar, dan Utsman)?

Cermati hadits Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berikut ini.

إِنَّ النَّبِيَّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَعِدَ أُحُدًا وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ وَعُثْمَانُ فَرَجَفَ بِهِمْ فَقَالَ: اثْبُتْ أُحُدٌ فَإِنَّمَا عَلَيْكَ نَبِيٌّ وَصِدِّيقٌ وَشَهِيدَانِ

Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama Abu Bakr, Umar, dan Utsman telah mendaki Gunung Uhud. Lantas Gunung Uhud pun berguncang. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Tenanglah Uhud, sungguh yang ada di atasmu adalah Nabi, ash-Shiddiq, dan dua orang syahid.” (HR. al-Bukhari)

Kini, nyata sudah bahwa sejak dahulu kala kaum Syiah Rafidhah hanya selalu membuat onar. Dari dahulu hingga kini selalu membuat ricuh, anarkis, dan teror. Syiah Rafidhah pada zaman kiwari mewarisi kebusukan penghulunya dahulu kala, Abdullah bin Saba.

Coba telisik, adakah kaum Syiah Rafidhah sekarang menciptakan kedamaian, keharmonisan, dan kerukunan? Tidak. Sekali-kali tidak! Lihatlah ulah Syiah Rafidhah Iran, Hizbullah di Lebanon, Syiah di Irak, atau kaum Syiah Hutsi di Yaman.

Semuanya menjadi biang pertumpahan darah. Semuanya menjadi para pelaku dan penyokong terorisme. Para pemimpin negara-negara OKI dan Liga Arab akhirnya harus bersikap tegas terhadap ulah kaum Syiah yang bisa menggoyahkan stabilitas negara.

Sebagai negara yang tergabung dalam OKI, sudah seharusnya Indonesia turut melaksanakan kesepakatan yang telah dicapai di Istanbul, Turki, April 2016. Indonesia harus mengambil sikap tegas terhadap Iran yang telah mencampuri urusan dalam negeri negara-negara Islam. Pemerintah dan masyarakat Indonesia jangan sampai terlambat melakukan langkah pencegahan terhadap bahaya pemahaman Syiah Rafidhah.

Sekian banyak kader-kader muda Indonesia yang telah dikirim ke Iran. Kepulangan mereka ke Indonesia tentu akan membawa pemahaman Syiah Rafidhah yang militan. Bila itu yang ada, Indonesia menghadapi ancaman khusus.

Ambillah pelajaran dari negara Yaman, Bahrain, Syiria, dan negara-negara Teluk lainnya. Sungguh, Iran—yang menganut pemahaman Syiah—telah mengguncangkan stabilitas dalam negeri negara-negara tersebut. Iran sangat ambisius menjejalkan pemahaman Syiah Rafidhah yang sangat memusuhi Ahlu Sunnah wal Jamaah. Padahal pemahaman Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah pemahaman mayoritas di Indonesia.

Dalam lintasan sejarah, ditemukan pula pengkhiatan Syiah terhadap kehidupan bernegara. Pada 656 H terjadi tragedi kemanusiaan yang sangat kelam di Kota Baghdad, yang kala itu menjadi pusat pemerintahan Daulah Abbasiyah. Muhammad bin al-Alqami dan Nashiruddin ath-Thusi, keduanya adalah penganut Syiah Rafidhah.

Saat pemerintahan dipimpin al-Mu’tashim Billah, sebagai seorang yang menyusup ke pemerintahan pusat, Ibnu al-Alqami melakukan gerakan pembusukan di dalam sistem militer Daulah Abbasiyah.

Dengan kekuasaan yang ada padanya, Ibnu al-Alqami melakukan reduksi besar-besaran terhadap kekuatan angkatan bersenjata Daulah Abbasiyah. Kekuatan pasukan yang awalnya berjumlah seratus ribu personil, dikurangi hingga berjumlah kurang dari sepuluh ribu personil. Pengurangan besar-besaran personil angkatan perang menyebabkan lemahnya pertahanan pemerintah Daulah Abbasiyah.

Seiring dengan melemahnya kekuatan pemerintahan Baghdad, kedua orang Syiah Rafidhah ini bermain mata dengan tentara Tatar. Keduanya mengharap bala tentara Tatar segera menyerbu Baghdad sehingga Ahlus Sunnah musnah. Keduanya tengah memperjuangkan agar Syiah Rafidhah menguasai pemerintahan melalui tangan tentara Hulagu Khan.

Terjadilah apa yang terjadi. Hulagu Khan beserta bala tentaranya menyerbu secara tanpa perikemanusiaan. Kaum muslimin di Baghdad dibantai. Karya-karya para ulama di perpustakaan paling besar dan maju pada waktu itu, diluluhlantakkan. Kitab-kitab karya para ulama dibuang ke sungai yang melintasi Baghdad. Air sungai pun berubah warna menjadi berwarna tinta. Tak cuma itu, korban-korban pembantaian pun dilempar ke sungai hingga air sungai berubah warna menjadi warna merah darah. (Lihat kisah selengkapnya pada Asy Syariah No. 101/1435 H/2014)

Sekian banyak kisah pengkhiatan kaum Syiah Rafidhah tertulis dalam sejarah. Untuk menggambarkan jiwa khianat dan suka mengganggu stabilitas kehidupan bangsa, maka cukup dua lintasan sejarah yang diketengahkan.

Semoga dengan itu masyarakat tergugah untuk bersikap hati-hati terhadap Syiah Rafidhah. Kini, kaum Syiah yang berkiblat ke negara Iran, telah banyak yang menyusup ke dalam partai politik, legislatif, pemerintahan dan lainnya.

 

Taqiyah adalah Ibadah

Taqiyah atau berbohong sebagai keyakinan sesat kaum Syiah merupakan strategi licik untuk menguasai dan melumpuhkan lawan. Taqiyah bagi kaum Syiah adalah bentuk ibadah. Seorang penganut Syiah dibolehkan berbohong terutama saat dirinya terancam.

Teknik mengelabui lawan dengan cara pengecut ini bisa memperdayai masyarakat. Orang-orang yang tak mengenal keyakinan Syiah akan mudah digiring sehingga bisa menerima kehadiran Syiah. Itulah Syiah.

Para pengikut Hutsi di Yaman, yang menganut agama Syiah Rafidhah menjalin hubungan kuat dengan Iran. Mereka kerap membohongi masyarakat Yaman dengan yel-yel yang terkesan anti-Amerika dan Israel.

Namun, kenyataan berbicara lain. Teriakannya memusuhi Amerika dan Israel, namun yang digempur habis adalah kaum muslimin. Inilah slogan yang selalu diteriakkan di hadapan umat,

اللهُ أَكْبَرُ

الْمَوْتُ لِأَمْرِيكَا

الْمَوْتُ لِإسْرَائِيلَ

النَّصْرُ لِلْإِسْلَامِ

“Allahu Akbar…

Kematian bagi Amerika…

Kematian bagi Israel…

Kemenangan bagi Islam.”

 

Sungguh, dusta apa yang keluar dari lisan mereka. Mereka tidak pernah memerangi Amerika. Mereka tidak pula memerangi Israel sebagaimana mereka memerangi dan mengusir Ahlu Sunnah di Provinsi Sha’dah, Republik Yaman. Mereka tidak memaksudkan kemenangan itu bagi Islam, sebab kaum muslimin yang tidak segaris dengan mereka nyatanya tetap dibantai.

Keyakinan boleh berbohong adalah keyakinan Yahudi dan orang-orang munafik. Keyakinan yang melekat kini pada kaum Syiah merupakan bentuk warisan dari pendahulunya. Bukankah Syiah itu lahir dari seorang Abdullah bin Saba yang keturunan Yahudi?

Maka dari itu, tidaklah mengherankan bila kaum Syiah sekarang gemar berdusta, bohong yang dikemas dengan istilah taqiyah.

Al-Qur’an mengungkap karakter Yahudi (orang munafik) yang suka berbohong. Firman-Nya,

وَإِذَا جَآءُوكُمۡ قَالُوٓاْ ءَامَنَّا وَقَد دَّخَلُواْ بِٱلۡكُفۡرِ وَهُمۡ قَدۡ خَرَجُواْ بِهِۦۚ وَٱللَّهُ أَعۡلَمُ بِمَا كَانُواْ يَكۡتُمُونَ ٦١

Dan apabila orang-orang (Yahudi atau munafik) datang kepadamu, mereka mengatakan, “Kami telah beriman.” Padahal mereka datang kepadamu dengan kekafirannya dan mereka pergi (darimu) dengan kekafiran (pula). Dan Allah lebih mengetahui dari apa yang mereka sembunyikan. (al-Maidah: 61)

Taqiyah dilakukan dengan menampakkan kepada orang lain sesuatu yang bertentangan dengan isi hatinya. Taqiyah ditujukan kepada orang yang tidak satu paham dengan mereka.

Karena itulah, taqiyah bisa diberlakukan kepada kaum muslimin. Manakala timbul kekhawatiran pada diri seorang penganut Syiah, maka dirinya boleh berbohong. Syiah agama penuh tipu. Syiah agama sarat dusta.

 

Nikah Mut’ah

Nikah mut’ah ala Syiah adalah keyakinan batil. Mereka membolehkan melakukan pernikahan hanya dalam kurun tertentu. Bisa cuma semalam, tiga hari, sebulan, atau tergantung kontraknya.

Apa yang akan terjadi pada satu bangsa bila pernikahan semacam ini menjadi mewabah di tengah masyarakat?

Bisa jadi, kehidupan masyarakat menjadi kacau. Tatanan masyarakat menjadi rusak. Sendi-sendi kehidupan rumah tangga yang telah dibina sekian tahun bisa hancur. Akan lahir anak-anak tanpa ayah, karena sang ayah sudah tak bersama ibunya lagi. Sekian banyak lagi permasalahan bisa timbul seiring nikah mut’ah ala Syiah. Semoga kita diselamatkan dari paham Syiah.

Kekacauan sosial bisa muncul dan setelah itu mengganggu stabilitas negara. Sebab, negara yang baik ditopang oleh unsur keluarga-keluarga yang baik, harmonis, beriman, dan taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala serta bersahaja. Dari keluarga yang semacam itu akan lahir generasi yang baik, dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala. Dari generasi yang baik akan melahirkan para pengelola negeri yang bertakwa, jujur, cerdas, dan penuh tanggung jawab. Biidznillah.

 

Radikalisme Syiah

Semangat untuk menjadikan seluruh negeri muslimin menjadi Syiah adalah fakta. Lihat Syiria. Cermati Yaman. Selisik Bahran. Teliti Kuwait. Perhatikan pula Indonesia. Negara-negara yang disebutkan merupakan contoh berapa kaum Syiah begitu keras mensyiahkan negeri-negeri kaum muslimin.

Di Yaman, diawali dari membentuk komunitas anak muda yang dinamai Syabab al-Mukmin, yang setelah berkembang berubah menjadi partai politik yang bernama Hizbul Haq. Setelah dirasa mampu menyusupkan kadernya di berbagai lini kekuasaan, mereka menyusun rencana mensyiahkan Yaman melalui penggulingan kekuasaan.

Sebelumnya, mereka terus bekerja sama dengan Iran dalam hal pelatihan militer, penyediaan logistik, bantuan persenjataan, penyediaan instruktur/pelatih, dan bantuan keuangan. Semua itu dalam rangka melakukan aksi radikalisme, terorisme, dan penggulingan kekuasaan yang sah. Kemudian terjadilah gerakan bersenjata terhadap penguasa yang sah.

Di Indonesia, hampir sama dengan upaya G30S/PKI. Sebagaimana diketahui, PKI juga berencana menjadikan Indonesia sebagai negara komunis melalui aksi bersenjata.

Di Yaman, mereka menginginkan mensyiahkan wilayah selatan Jazirah Arab yang berbatasan langsung dengan Arab Saudi. Dari arah selatan inilah upaya menghancurkan Arab Saudi dan merebut Kota Suci Makkah dan Madinah. Sebagaimana diketahui, permusuhan kaum Syiah terhadap Arab Saudi sedemikian besar. Terutama setelah pemimpin Syiah berkewarganegaraan Arab Saudi dihukum mati.

Gerakan radikalisme Syiah adalah gerakan berbahaya bagi stabilitas negara. Di Suriah, mereka bekerja sama dengan negara komunis, Rusia. Bagi Syiah bekerja sama dengan siapa pun dan negara mana pun bisa saja dilakukan. Bagi Syiah, yang terpenting tujuan tercapai walau dengan menghalalkan segala cara.

Berbeda halnya dengan keyakinan Ahlus Sunnah yang senantiasa menanamkan prinsip untuk taat kepada penguasa dalam hal yang makruf. Ini sebagaimana diwasiatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ حَبَشِيٌّ

“Saya wasiatkan kepada kalian, hendaklah kalian bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat meski yang memerintah kalian adalah seorang budak Habasyi.” (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi)

Itulah prinsip yang dipegang kaum salaf sejak dahulu hingga kini. Orang-orang yang memegang teguh prinsip salaf pasti tidak akan melakukan aksi mengangkat senjata kepada penguasa, memberontak. Tidak. Sebab, perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sungguh telah sangat tegas dan jelas.

Maka dari itu, waspadalah terhadap gerakan makar kaum Syiah di mana pun berada. Allahu a’lam.

 ditulis oleh al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin

Bom Waktu Komunisme

Komunis adalah sebuah kata yang tabu di telinga mayoritas rakyat Indonesia, terlebih kaum muslimin. Bahkan, sebagian orang mungkin sangat trauma ketika mendengar kata-kata komunis, karena dapat membuka luka lama dan mengingatkan rekam jejak orang-orang komunis yang sadis, kejam,  dan tak berperikemanusiaan. Dengan kendaraan Partai Komunis Indonesia (PKI), mereka bergerak. Berbagai operasi berdarah pun mereka lakukan atas nama revolusi.

Menelisik sejarahnya, orang-orang komunis di negeri ini tak pernah patah arang mewujudkan cita-cita jahat mereka, yaitu merebut kekuasaan tertinggi di bumi Nusantara ini dan menjadikannya sebagai negara komunis. Makar dan kekuatan terselubung senantiasa mereka himpun. Kader-kader setia mereka, baik sipil maupun militer, didoktrin siaga untuk menjalankan komando atasan.

Pada saatnya mereka akan bergerak dengan cepat. Bila demikian, segala cara akan mereka halalkan. Meskipun harus membunuh, menyiksa, dan berjalan di atas darah mayat-mayat manusia yang mati bergelimpangan. Sebagaimana yang terjadi di Uni Soviet, induk semang PKI baik di masa Vladimir Ilyich Lenin maupun Joseph Stalin.

Pada November 1926, PKI memimpin pemberontakan melawan pemerintahan kolonial Belanda di Jawa Barat dan Sumatera Barat. PKI mengumumkan terbentuknya sebuah republik. Pemberontakan ini dapat dihancurkan secara brutal oleh penguasa kolonial dan pada 1927 PKI dinyatakan terlarang. Walau demikian PKI tak putus asa. Sebagai kekuatan komunisme terbesar nomor tiga dunia saat itu setelah Uni Soviet dan Republik Rakyat Tiongkok (RRT), PKI terus bergerak di bawah tanah.

Pada 1945, setelah Jepang menyerah, PKI muncul kembali di panggung politik dan secara aktif mengambil bagian dalam perjuangan kemerdekaan dari Belanda. Banyak unit bersenjata berada di bawah kontrol atau pengaruh PKI.

Pada 11 Agustus 1948 Musso (salah seorang tokoh senior PKI) kembali ke Jakarta setelah dua belas tahun tinggal di Uni Soviet. Politbiro PKI direkonstruksi, termasuk D.N. Aidit, M.H. Lukman dan Njoto. Pada 5 September 1948 Musso memberikan pidato anjuran agar Indonesia merapat kepada Uni Soviet. Anjuran itu akhirnya berujung pada peristiwa pemberontakan PKI di Madiun, Jawa Timur.

Ketika bangsa Indonesia dalam keadaan genting, sedang bersiap-siap menghadapi kemungkinan agresi Belanda II, PKI berkhianat terhadap bangsa dan negara dengan melakukan pemberontakan di Kota Madiun, Jawa Timur.

Pada 18 September 1948, PKI mengumumkan proklamasi ‘Republik Soviet Indonesia’ dengan Musso sebagai Presiden dan Amir Syarifuddin sebagai Perdana Menteri. Namun, dengan pertolongan dari Allah subhanahu wa ta’ala, pada 30 September Madiun bisa diambil alih oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI) dari Divisi Siliwangi. Musso dan beberapa pemimpin PKI lainnya berhasil ditangkap dan dieksekusi pada 31 Oktober 1948.

PKI bangkit kembali pada tahun 1950. Berbagai kegiatannya mulai aktif, termasuk penerbitan dengan organ utamanya Harian Rakjat dan Bintang Merah. Di bawah kepemimpinan D.N. Aidit, PKI berkembang sangat pesat. Di samping kaderisasi ke dalam terus dilakukan, pendekatan kepada kaum nasionalis dan agamis pun digalakkan. Tak heran, pada era 1960-an dicetuskan istilah NASAKOM (Nasionalisme, Agama, Komunisme) oleh Presiden Soekarno. Sekian tahun lamanya, PKI dapat mengambil hati presiden. Tokoh-tokohnya pun banyak yang menduduki jabatan strategis pemerintahan.

Pada 14 September 1965, D.N. Aidit mengalamatkan kepada gerilyawan PKI untuk mendesak anggota agar waspada dari berbagai kemungkinan yang akan datang. Pada 30 September 1965, Pemuda Rakyat dan Gerwani—dua organisasi PKI—menggelar unjuk rasa massal di Jakarta terkait dengan inflasi yang melanda.

Pada malam 30 September dan 1 Oktober 1965, enam jenderal senior Indonesia dibunuh dan mayat mereka dibuang ke dalam sumur. Pembunuh para jenderal mengumumkan keesokan harinya bahwa Dewan Revolusi baru telah merebut kekuasaan. Mereka menyebut diri sebagai Gerakan 30 September (G30S).

Dengan pertolongan dari Allah subhanahu wa ta’ala kemudian kerja sama yang baik antara TNI dengan rakyat terutama kaum muslimin, pemberontakan G30S/PKI ini dapat dihancurkan dan dinyatakan sebagai partai terlarang pada tahun berikutnya. (Disadur dari https://id.m.wikipedia.org/wiki/Partai_Komunis_Indonesia/ dengan beberapa tambahan)

Demikianlah Partai Komunis Indonesia alias PKI, mereka sangat berambisi untuk menguasai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan menjadikannya sebagai negara komunis. Walau sudah puluhan tahun dibatasi ruang gerak mereka, namun geliat gerakan bawah tanahnya terus berjalan. Secara senyap mereka bermetamorfosa menjadi bentuk baru, dan menyusup ke berbagai lini tanpa disadari.

Manakala banyak tokoh pelaku sejarah yang kontra-PKI telah meninggal dunia, mereka pun mulai bangkit secara nyata dan sok tampil sebagai penuntut keadilan dengan memutar fakta sejarah seolah-olah mereka adalah korban.      Terkait hal di atas, KASAD TNI Jenderal Mulyono pada 30 September 2015 lalu memberikan peringatan waspada kepada seluruh rakyat Indonesia sebagaimana berikut.

“Komunis akan bermetamorfosa menjadi bentuk baru, gerakannya makin sulit dikenali dan menyusup ke berbagai lini tanpa disadari.”

“Kebangkitan ideologi komunis makin terlihat nyata, ada kelompok yang ingin memutar fakta sejarah seolah mereka adalah korban.” (http://m.detik.com/news/berita/3032290/ksad-kebangkitan-ideologi-komunis-semakin-nyata-waspada/)

Bila demikian, PKI dan ideologi komunisme dengan segala bentuknya ibarat bom waktu yang setiap saat siap meledak di Negara Kesatuan republik Indonesia (NKRI) ini. Maka dari itu, wajib bagi seluruh warga negara terutama kaum muslimin untuk waspada. Dengan memohon pertolongan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, berpegang teguh dengan Kitab Suci al-Qur’an dan Sunnah Nabi-Nya yang mulia dengan pemahaman para sahabat yang mulia, serta bahu-membahu dengan pemerintah, baik sipil maupun militer.

Namun, tak kalah pentingnya bagi kita untuk mengetahui kesesatan komunisme selaku ideologi. Sebab, dari situlah semua gerakan mereka berawal: di ranah politik, sosial, agama, berbangsa, dan bernegara. Harapannya, dengan mengetahui kesesatan ideologinya akan lebih kokoh dalam membentengi diri, keluarga, bangsa dan negara dari bahaya laten komunis.

 Komunisme dan Latar Belakangnya

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) disebutkan bahwa komunisme adalah paham atau ideologi (di bidang politik) yang menganut ajaran Karl Marx dan Fredrich Engels yang bermaksud menghapus hak milik perseorangan dan menggantikannya dengan milik bersama yang dikontrol oleh negara.

Merunut asal usulnya, komunisme merupakan buah dari akar-akar ideologi sosialisme yang digulirkan oleh seorang keturunan Yahudi Jerman yang bernama Karl Marx. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) disebutkan, sosialisme adalah ajaran atau paham kenegaraan dan ekonomi yang berusaha supaya harta benda, industri, dan perusahaan menjadi milik negara.

Dari sisi latar belakang, ideologi sosialisme-komunisme muncul ketika kalangan atas alias borjuis banyak menguasai permodalan usaha dan tak memedulikan kalangan bawah (proletar). Dengan kata lain, sosialisme-komunisme muncul untuk menumbangkan kapitalisme-imperialisme barat yang saat itu sedang berjaya.

Kaum sosialis-komunis bercita-cita agar kalangan bawah (proletar) yang mayoritasnya adalah buruh dan petani bisa sejahtera dan berkuasa. Menurut anggapan mereka, hanya dengan sosialisme-komunisme cita-cita tersebut akan tercapai.

Di antara langkah yang harus ditempuh adalah memasukkan harta benda, industri, dan perusahaan ke dalam kepemilikan negara, tidak boleh dimiliki oleh perseorangan (swasta). Dengan demikian, tidak ada kesempatan bagi kalangan borjuis untuk menguasai modal dan menimbun harta. Dengan itulah—menurut mereka—kapitalisme dapat ditumbangkan dan keadilan dapat ditegakkan.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa pemantik utama bergulirnya sosialisme adalah perbedaan kelas atau tingkat sosial kemasyarakatan yang dinilai dengan standar materi dan pembelaan terhadap kalangan bawah (proletar). Adapun komunisme merupakan penerapan radikal dari sosialisme dalam lapangan politik. Untuk pertama kalinya, komunisme diterapkan dalam lapangan politik di Uni Soviet oleh Vladimir Ilyich Lenin.

Asy-Syaikh al-Allamah Rabi’ bin Hadi al-Madkhali y ketika mengkritisi paham sosialis yang ada pada Sayyid Quthb mengatakan, “Tidak tersembunyi bahwa ini adalah argumentasi orang-orang komunis dan sosialis untuk menguasai harta manusia dan menjadikannya milik bersama dengan isu keadilan, persamaan, dan kepentingan bersama.

Itulah argumentasi orang-orang komunis dan sosialis, padahal itu adalah kezaliman, kecurangan, pendiskreditan umat manusia dan berbagai kepentingan mereka, serta menjadikan orang-orang kaya di antara mereka dan orang-orang miskin sebagai budak-budak yang hina setelah harta mereka dirampas.

Berbagai jaminan palsu yang dipromosikan oleh orang-orang sosialis itu pun pasti akan menguap dan sirna. Cukuplah rekam jejak pemerintahan-pemerintahan sosialis-komunis sebagai pelajaran terbesar bagi orang-orang yang dapat mengambil pelajaran.” (Adhwa’ Islamiyyah ala Aqidah Sayyid Quthb wa Fikrihi, hlm. 215—216)

Islam menolak komunisme dan kapitalisme. Islam berada di antara keduanya dan tidak membutuhkan keduanya. Komunisme memasung hakhak kalangan atas. Kapitalisme memasung hak-hak kalangan bawah.

Islam tidak memasung hak-hak keduanya, justru memerhatikannya. Kalangan atas dan kalangan bawah, sama-sama mendapatkan haknya secara adil, sesuai kapasitas dan porsinya. Islam tidak menjadikan kalangan atas dan kalangan bawah sebagai dua tingkatan yang bermusuhan. Bahkan, Islam berupaya merapatkan keduanya dalam tatanan kehidupan sosial kemasyarakatan yang indah dan menjadikan keduanya sebagai dua kekuatan yang saling melengkapi. Sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyandingkan sahabat yang kaya dengan yang miskin dalam majelis-majelis beliau. Bahkan, dalam shalat berjamaah lima waktu yang merupakan momen bermunajat kepada Allah paling mulia dalam Islam, nyaris tak terbedakan antara si kaya dan si miskin. Semua berdiri sama tinggi dan sama rendah menghadap Allah subhanahu wa ta’ala. Nilai kemuliaan seseorang tidak terletak pada materi atau tingkatan sosialnya, tetapi pada ketakwaannya kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Di dalam Islam, kekayaan berupa harta benda, industri, perusahaan dan lain-lain merupakan rezeki yang datang dari Allah subhanahu wa ta’ala. Dengan keadilan-Nya yang Mahasempurna, Allah subhanahu wa ta’ala mengatur pembagian rezeki tersebut kepada siapa saja yang Dia kehendaki sesuai dengan porsinya masing-masing. Ada yang diberi kelapangan dan ada pula yang diberi kesempitan. Semua itu sebagai tanda kekuasaan-Nya.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

أَوَ لَمۡ يَعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ يَبۡسُطُ ٱلرِّزۡقَ لِمَن يَشَآءُ وَيَقۡدِرُۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّقَوۡمٖ يُؤۡمِنُونَ ٥٢

“Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah melapangkan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang dikehendaki-Nya? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang beriman.” (az-Zumar: 52)

وَٱللَّهُ فَضَّلَ بَعۡضَكُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖ فِي ٱلرِّزۡقِۚ

“Dan Allah melebihkan sebagian kamu dari sebagian yang lain dalam hal rejeki.” (an-Nahl: 71)

Islam selalu merekatkan hubungan antara kalangan atas dan kalangan bawah, si kaya dan si miskin. Tidak seperti kapitalisme yang memposisikan kalangan atas pada posisi yang tinggi, sementara kalangan bawah menjadi orang rendahan yang tak mungkin disandingkan. Tidak pula seperti komunisme yang memosisikan kalangan atas sebagai musuh yang harus diperangi dan diambil hartanya, sementara kalangan bawah menjadi kaum tertindas yang harus dibela dan diperjuangkan haknya.

Di antara bentuk bimbingan Islam yang indah dalam merekatkan hubungan antara kalangan atas dengan kalangan bawah adalah adanya zakat, infak, dan sedekah dengan berbagai jenisnya; zakat mal (harta), zakat peternakan, zakat hasil pertanian, rikaz, dan lain-lain. Ia dikeluarkan oleh si kaya lalu disalurkan kepada yang berhak mendapatkannya, termasuk orang-orang fakir dan miskin. Bahkan, tidaklah zakat fitrah disalurkan melainkan untuk kalangan bawah fakir dan miskin semata.

Adanya kaffarah (denda) karena pelanggaran tertentu dalam agama dengan cara membebaskan budak atau memberi makan fakir dan miskin juga merupakan sentuhan langsung terhadap kalangan bawah. Tuntunan memasak daging dengan kuah yang banyak supaya bisa berbagi dengan tetangga, menyantuni anak-anak yatim dan para janda, larangan membunuh anak-anak, wanita, dan orang lanjut usia (lansia) dalam pertempuran, hingga anjuran tebar senyum sebagai bentuk sedekah; merupakan bukti tentang perhatian Islam terhadap kalangan bawah.

Di sisi lain, Islam memberikan kebebasan bagi siapa saja untuk mencari rezeki. Segala yang dihasilkan dari jerih payah tersebut berupa harta benda, industri, perusahaan dan lain-lain pun sah menjadi hak miliknya. Dia berkewenangan untuk mengelolanya dan menikmati hasilnya. Ini menunjukkan bahwa Islam memerhatikan kalangan atas.

Namun, Islam mengharamkan kezaliman dan tindakan semena-mena. Islam tidak menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang dan meraup keuntungan. Maka dari itu Islam mengharamkan riba, suap, monopoli perdagangan, kecurangan, penimbunan barang dagangan agar harga melambung, dan tindakan liar lainnya. Ini menunjukkan bahwa Islam kontra-kapitalisme.

Pokok-Pokok Ideologi Komunis

Banyak orang mengira bahwa sosialisme-komunisme hanyalah sebatas ideologi yang berkaitan dengan sistem ekonomi dan politik yang bermaksud menghapus milik perseorangan dan menggantikannya dengan milik bersama. Sebuah ideologi yang kontra total dengan kapitalisme dan berusaha mengangkat derajat kalangan bawah. Padahal masalahnya tak sebatas itu.

Sosialisme-komunisme mempunyai pokok-pokok ideologi kufur yang sangat bertentangan dengan Islam bahkan semua agama samawi. Pokok-pokok ideologi komunis tersebut antara lain,

  1. Tidak ada tuhan, dan hidup adalah materi (materialistis)
  2. Ingkar terhadap hari kiamat
  3. Ingkar terhadap al-Jannah (surga) dan an-Naar (neraka)
  4. Menentang semua agama

 

Asy-Syaikh al-Allamah Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata, “Di antara akidah kufur yang bertentangan dengan akidah yang benar dan menyelisihi agama yang dibawa oleh para rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah keyakinan kaum ateis masa kini pengikut Karl Marx, Vladimir Ilyich Lenin, dan para penyeru ateis dan kekufuran selain mereka, baik mereka beri nama dengan sosialisme, komunisme, ba’ts, atau yang selainnya.

Di antara pokok-pokok ideologi mereka antara lain; tidak ada tuhan, dan hidup adalah materi (materialistis), ingkar terhadap hari kiamat, ingkar terhadap al-Jannah dan an-Naar, dan menentang semua agama.

Barang siapa meneliti buku-buku referensi mereka dan mengkaji pokok-pokok ideologi mereka, niscaya ia akan tahu dengan penuh keyakinan dan tanpa keraguan bahwa akidah ini bertentangan dengan semua agama samawi. Dia juga akan yakin bahwa akidah ini akan mengantarkan penganutnya kepada kesudahan terburuk di dunia dan di akhirat.” (al-Aqidah ash-Shahihah wama Yudhadduha, hlm. 12—13)

Ideologi mereka bahwa tidak ada tuhan, dan hidup adalah materi (materialistis); sungguh merupakan kekufuran yang nyata. Ideologi bahwa tidak ada tuhan (baca: Rabb) yang menciptakan alam semesta dan seisinya adalah ideologi ateis yang membinasakan. Ia bertentangan dengan Kitab Suci dan fitrah yang suci. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          أَمۡ خُلِقُواْ مِنۡ غَيۡرِ شَيۡءٍ أَمۡ هُمُ ٱلۡخَٰلِقُونَ ٣٥ أَمۡ خَلَقُواْ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَۚ بَل لَّا يُوقِنُونَ ٣٦

“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan).” (ath-Thur: 35—36)

Asy-Syaikh al-Allamah Abdur Rahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata, “Ini merupakan bentuk penyajian argumen, dengan sesuatu yang mau tidak mau mereka harus tunduk kepada kebenaran atau keluar dari konsekuensi akal dan agama. Penjelasannya adalah bahwa mereka mengingkari tauhidullah dan mendustakan Rasul-Nya yang mengharuskan pengingkaran bahwa Allah yang menciptakan mereka.

Sungguh, telah ditetapkan sebagai hukum akal dan syariat bahwa hal ini tidak keluar dari tiga keadaan, yaitu

(1) bisa jadi mereka tercipta dengan sendirinya, yakni tanpa ada Sang Pencipta yang menciptakan mereka, tetapi ada dengan sendirinya. Ini tentunya sangat mustahil. Atau

(2) mereka menciptakan diri mereka sendiri. Ini juga mustahil. Jika dua kemungkinan itu batil dan mustahil terjadi, tinggal kemungkinan ketiga bahwa

(3) Allah yang menciptakan mereka.

Jika hal ini telah diakui maka dapatlah diketahui bahwa Allah-lah satu-satunya Dzat yang patut diibadahi dan tidaklah pantas suatu ibadah diberikan kecuali hanya kepada-Nya.” (Taisir al-Karimir Rahman, hlm. 816)

Setiap manusia yang mengarungi kehidupan ini pasti mempunyai problem. Terkadang problem itu amat berat dan sulit dipecahkan. Saat itulah jiwanya terfitrah mencari tempat bersandar dan mengadu yang di atas manusia, bahkan yang menciptakan manusia dan seluruh jagat raya.

Ideologi mereka bahwa hidup adalah materi (materialistis) sangat bertentangan dengan prinsip Islam yang menekankan bahwa hidup adalah berserah diri dan menghamba kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Tunduk dan patuh kepada-Nya dengan menjalankan segala perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya.

Materi adalah bagian dari kehidupan dunia yang fana. Ia adalah fitnah yang dapat menjadikan pemiliknya semena-mena dan melampaui batas. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

كَلَّآ إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَيَطۡغَىٰٓ ٦ أَن رَّءَاهُ ٱسۡتَغۡنَىٰٓ ٧

“Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas. Karena Dia melihat dirinya serba cukup.” (al-Alaq: 6—7)

Kehidupan materialistis tak ubahnya kehidupan binatang. Itulah kehidupan orang-orang kafir di muka bumi ini. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّ ٱللَّهَ يُدۡخِلُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُۖ وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ يَتَمَتَّعُونَ وَيَأۡكُلُونَ كَمَا تَأۡكُلُ ٱلۡأَنۡعَٰمُ وَٱلنَّارُ مَثۡوٗى لَّهُمۡ ١٢

“Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang mukmin dan beramal saleh ke dalam al-Jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang. Dan Jahannam adalah tempat tinggal mereka.” (Muhammad: 12)

Ideologi mengingkari hari kiamat, al-Jannah dan an-Naar merupakan kekufuran yang nyata. Beriman kepada hari kiamat, al-Jannah, dan an-Naar merupakan salah satu rukun iman yang harus diyakini oleh setiap muslim. Barang siapa mengingkarinya, dia kafir. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَوۡمَ تَمُورُ ٱلسَّمَآءُ مَوۡرٗا ٩  وَتَسِيرُ ٱلۡجِبَالُ سَيۡرٗا ١٠ فَوَيۡلٞ يَوۡمَئِذٖ لِّلۡمُكَذِّبِينَ ١١  ٱلَّذِينَ هُمۡ فِي خَوۡضٖ يَلۡعَبُونَ ١٢ يَوۡمَ يُدَعُّونَ إِلَىٰ نَارِ جَهَنَّمَ دَعًّا ١٣  هَٰذِهِ ٱلنَّارُ ٱلَّتِي كُنتُم بِهَا تُكَذِّبُونَ١٤

“Pada hari ketika langit benar-benar bergoncang, dan gunung benar-benar berjalan. Maka kecelakaan yang besarlah di hari itu bagi orang-orang yang mendustakan, (yaitu) orang-orang yang bermain-main dalam kebatilan. Pada hari mereka didorong ke neraka Jahannam dengan sekuat- kuatnya. (Dikatakan kepada mereka), ‘Inilah neraka yang dahulu kamu selalu mendustakannya’.”  (ath-Thur: 9—14)

Ideologi mereka menentang semua agama merupakan bukti nyata bahwa orang-orang komunis itu liar dan tak mau diatur oleh aturan agama. Menurut bapak komunisme dunia, Karl Marx, agama adalah opium alias candu. Maksudnya, agama tidak membawa kebaikan dan hanya mendatangkan malapetaka. Agama hanya menipu dan menyesatkan masyarakat.

Maka dari itu, orang-orang komunis sangat membenci orang yang taat beragama, terkhusus muslim. Tak heran, di kala mereka mempunyai kekuasaan dan merajalela, tokoh-tokoh muslimlah yang pertama kali menjadi target kekejaman dan kebengisan mereka.

Dari paparan di atas dapatlah disimpulkan bahwa komunisme sangat berbahaya bagi kehidupan umat manusia pada umumnya dan bangsa Indonesia pada khususnya. Maka dari itu, komunisme tak boleh hidup di Indonesia. Pokok-pokok ideologinya yang notabene kekufuran nyata dapat menghancurkan kehidupan beragama kita. Sistem ekonomi dan politiknya yang radikal terhadap kepemilikan swasta dapat merusak tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara. Pembelaan yang berlebihan terhadap kalangan bawah alias proletar dan kebencian yang akut terhadap kalangan atas alias borjuis dapat menimbulkan konflik internal yang berkepanjangan di tengah-tengah masyarakat Indonesia yang majemuk ini.

Komunisme adalah bahaya laten yang harus senantiasa dipantau, diwaspadai, dan dipangkas akarnya. Komunisme bagaikan bom waktu yang harus segera dijinakkan. Untuk menjinakkannya membutuhkan ilmu, keberanian, ketangkasan, dan penanganan yang tepat. Kalau tidak, bukan suatu hal yang mustahil peristiwa 1948 di Madiun dan G30S/PKI 1965 terulang kembali. Na’udzu billahi min dzalik…

Mudah-mudahan Allah subhanahu wa ta’ala melindungi bangsa dan negara Indonesia dari rongrongan dan makar jahat PKI, menjaga para pemimpin bangsa dan rakyat dari pokok-pokok ideologi komunis yang sesat dan menyesatkan, dan mencurahkan limpahan barakah kepada segenap insan muslim yang berteguh diri di atas bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya yang mulia. Amiin….

Ditulis oleh al-Ustadz Ruwaifi bin Sulaimi, Lc.

Betapa Indah Nusantara Kita, Bila…

Betapa indah Nusantara kita, bila kemilau cahaya Islam menyentuh setiap relung kehidupan masyarakat. Sudut demi sudut kehidupan masyarakat berbinar menatap hari esok nan bahagia. Tiada diliputi ketakutan. Tiada pula kekhawatiran menggayut di dada.

Segenap hak warga negara terjamin. Rasa keadilan sedemikian mudah dikunyah masyarakat. Tak cuma bagi mereka yang bermodal kuat, namun masyarakat berkebutuhan finansial pun teramat mudah untuk mengenyam rasa adil itu.

Mengapa? Karena semua insan di Nusantara ini telah tercelup Islam yang lurus, benar, dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Bukan Islam yang sekadar nama, sedangkan isi ajarannya tak lebih sebuah doktrin taklid, kultus individu, menanamkan jiwa penurut secara membabi buta, dan fanatik tanpa kritik. Intinya, umat sengaja dibodohkan agar mudah dibodohi.

Betapa indah Nusantara kita, bila segenap masyarakat dididik untuk meneladani Nabi-Nya. Dididik untuk selalu mengikuti sunnah. Walau itu menyangkut hal yang mungkin oleh sebagian orang dianggap masalah sepele.

Mencintai sunnah Nabi-Nya teramat sangat urgen di Nusantara ini. Di tengah kaum liberalis yang menggila dengan pemikiran rancu lagi menyesatkan, menanamkan cinta sunnah setidaknya meminimalisir gerakan fasad kaum liberalis. Lebih dari itu, mencintai dan mengamalkan sunnah Rasul-Nya dengan penuh keikhlasan bisa mendatangkan kebaikan. Perhatikan firman Allah subhanahu wa ta’ala berikut.

قُلۡ إِن كُنتُمۡ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِي يُحۡبِبۡكُمُ ٱللَّهُ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۚ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٞ ٣١

“Katakanlah, ‘Jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.’ Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Ali ‘Imran: 31)

Menanamkan kesadaran pada masyarakat untuk mengikuti sesuatu yang telah dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, hakikatnya menanamkan salah satu prinsip Islam. Prinsip inilah yang tengah diupayakan runtuh oleh musuh-musuh Islam melalui kaki tangan mereka dari kalangan liberalis dan Syiah. Seorang pembesar dari sebuah organisasi massa terbesar di Nusantara pernah melontarkan pernyataan tentang jenggot yang sedemikian sinis. Ada apa di balik ini semua?

Karena itu, pegang kukuh sunnah itu. Kata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّيْنَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

“Wajib bagi kalian berpegang kepada sunnahku dan sunnah para khalifah yang terbimbing yang mendapat petunjuk. Gigit sunnah itu dengan gigi geraham.” (HR . Abu Dawud, Ibnu Majah, at-Tirmidzi, Ahmad, dan Ibnu Hibban)

Perseteruan antara hizbullah melawan bala tentara setan senantiasa terus berkecamuk. Kelompok liberalis yang telah berhasil menyusupkan kader-kader binaannya di tubuh berbagai organisasi sosial politik, tentu tak tinggal diam. Mereka aktif menebar pemikiran sekularisme, liberalisme, dan pluralisme ke tengah umat melalui sarana yang ada. Mereka meracuni umat dengan pemahaman sesat dan syubhat (rancu), hingga umat pun tak bisa lagi memahami Islam secara baik dan benar.

Banyak media masa, perguruan tinggi, pendidikan dasar dan menengah, pondok pesantren yang telah mereka taburi dengan pemikiran-pemikiran beracun. Melalui isu radikalisme dan terorisme, mereka sudutkan kaum muslimin yang kokoh berpegang pada tuntunan salaf. Walau mereka senyatanya tahu bahwa kaum salaf sangat menentang pemahaman radikalisme dan terorisme.

Namun, demi memuaskan hawa nafsu, mereka terus melontarkan tuduhan keji. Mereka tuduh Wahabi sebagai biang kekerasan. Padahal ungkapan-ungkapan yang mereka lontarkan—saat menuduh orang lain—sangat kental aroma kekerasannya meski dalam taraf verbal.

Menanamkan Rasisme

Betapa indah Nusantara kita, bila setiap penduduknya mematuhi titah perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagai seorang muslim yang lurus, baik, dan benar pemahaman keislamannya, tentu yang diikuti sebagai panutan adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Islam yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Islam universal, tidak terkotak-kotak oleh batas wilayah. Islam memupus sekat-sekat yang akan melahirkan jiwa sektarian (benci membabi buta terhadap kelompok lain), memunculkan jiwa ashabiyah (fanatik golongan), dan menonjolkan jiwa nasionalisme sempit (chauvinisme).

Perseteruan antara suku Aus dan Khazraj yang berlangsung lebih satu abad berhasil padam, dengan pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala. Islam telah mempersatukan Aus dan Khazraj. Setelah Islam hadir di tengah mereka, tak lagi ada baku tikai, tak ada lagi perseteruan. Kedua suku itu berdamai. Mereka menjadi bersaudara. Persaudaraan yang dibangun di atas dasar Islam yang benar. Islam yang telah diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semua tergambar melalui firman-Nya.

وَٱعۡتَصِمُواْ بِحَبۡلِ ٱللَّهِ جَمِيعٗا وَلَا تَفَرَّقُواْۚ وَٱذۡكُرُواْ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ إِذۡ كُنتُمۡ أَعۡدَآءٗ فَأَلَّفَ بَيۡنَ قُلُوبِكُمۡ فَأَصۡبَحۡتُم بِنِعۡمَتِهِۦٓ إِخۡوَٰنٗا وَكُنتُمۡ عَلَىٰ شَفَا حُفۡرَةٖ مِّنَ ٱلنَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنۡهَاۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمۡ ءَايَٰتِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تَهۡتَدُونَ ١٠٣

“Dan berpegang teguhlah kalian semua pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepada kalian ketika kalian dahulu (masa jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hati kalian, sehingga dengan nikmat-Nya kalian menjadi bersaudara. Padahal (saat itu) kalian berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kalian dari sana. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kalian agar kalian mendapat petunjuk.” (Ali ‘Imran: 103)

Secara realitas, manusia hidup berpuak, bersuku, dan berbangsa. Secara realitas pula ada manusia berkulit hitam, putih, merah, dan warna kulit lainnya. Semua itu tidak dinafikan oleh Islam.

Meski demikian, tidaklah lantas warna kesukuan itu menjadi segalanya, bahkan menjadi penentu dalam menilai baik-buruk, benar-salah, lurus dan tidaknya sesuatu. Right or wrong is my country (benar atau salah adalah negaraku); jiwa korps. Islam yang benar Islam Nusantara, bukan Islam Arab.

Bukan demikian dan tidak seperti itu. Pemikiran semacam itu adalah pemikiran sektarian. Pemikiran yang menjadikan sukuku, bangsaku, korpsku, dibela habis walau kenyataannya suku, bangsa, dan korps tidak berada di pihak yang benar.

Pembelaan bersifat sektarian semacam itulah yang telah menjadikan manusia berdiri di tepi jurang kebinasaan. Cermati firman Allah subhanahu wa ta’ala berikut.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقۡنَٰكُم مِّن ذَكَرٖ وَأُنثَىٰ وَجَعَلۡنَٰكُمۡ شُعُوبٗا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓاْۚ إِنَّ أَكۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَىٰكُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٞ ١٣

“Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. Kemudian Kami jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia diantara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan Mahateliti.” (al-Hujurat: 13)

Betapa indah Nusantara kita, bila mampu membebaskan diri dari pemikiran sektarian, ashabiyah, dan tidak terkungkung nasionalisme sempit dan picik.

Yang lebih memprihatinkan, ada sebagian orang yang mencoba membetot pemahamannya terkait dengan Islam ke arah yang picik, sempit, dan sektarian. Islam yang sedemikian universal, sempurna, coba ditarik menjadi “Islam” yang eksklusif yang berlabel Islam Nusantara. Sebab, pemahaman Islam yang dilabeli “Nusantara” ini, menumbuhkan sikap anti-Arab. Semua yang berbau Arab dibenci, dimusuhi, dan semaksimal mungkin dienyahkan.

Jubah, serban, dan jenggot, menjadi sasaran antara untuk menumbuhkan sikap anti-Arab. Padahal tatkala jubah, serban, jenggot disikapi, penyikapan itu tak cuma untuk anti-Arab. Penyikapan itu bisa merembet ke arah sentimen agama. Sebab, apa yang diungkap—jenggot, serban, dan jubah—senyatanya dituntunkan dalam Islam.

Di masa yang akan datang, tidak menutup kemungkinan—apabila Islam Nusantara terus dikampanyekan—sikap rasial itu akan merembet menjadi bentuk kebencian dan permusuhan terhadap warga keturunan. Inilah ungkapan seorang pembesar dari salah sebuah ormas besar yang sempat dipublikasikan media masa, “Islam Indonesia itu bukan Islam Arab, tidak harus pakai gamis, tidak harus pakai serban. Tidak. Islam Indonesia adalah Islam khas Indonesia.”

Sadar atau tidak, para pengusung paham Islam Nusantara, telah menanamkan bibit-bibit konflik rasial di Nusantara ini. Jelas, betapa rusak dan berbahaya pemahaman yang mereka usung. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menyelamatkan umat ini dari keterpurukan yang membinasakan.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

كِتَٰبٌ أُنزِلَ إِلَيۡكَ فَلَا يَكُن فِي صَدۡرِكَ حَرَجٞ مِّنۡهُ لِتُنذِرَ بِهِۦ وَذِكۡرَىٰ لِلۡمُؤۡمِنِينَ ٢ ٱتَّبِعُواْ مَآ أُنزِلَ إِلَيۡكُم مِّن رَّبِّكُمۡ وَلَا تَتَّبِعُواْ مِن دُونِهِۦٓ أَوۡلِيَآءَۗ قَلِيلٗا مَّا تَذَكَّرُونَ ٣

“(Inilah) Kitab yang diturunkan kepadamu, maka janganlah engkau sesak dada karenanya, agar engkau memberi peringatan dengan (Kitab) itu dan menjadi pelajaran bagi orang yang beriman. Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu, dan janganlah kamu ikuti selain Dia sebagai pemimpin. Sedikit sekali kalian mengambil pelajaran.” (al-A‘raf: 2—3)

 Nusantara Bertauhid

Betapa indah Nusantara kita, bila beragam kesyirikan dicegah dan keyakinan tauhid tertanam dalam pada masyarakat. Bukankah Allah subhanahu wa ta’ala telah mengingatkan perihal sebuah negeri yang penduduknya beriman dan bertakwa?

Tidakkah Nusantara ini hendaknya diwarnai dengan hal-hal yang bisa membangkitkan keimanan dan ketakwaan penduduknya?

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلَوۡ أَنَّ أَهۡلَ ٱلۡقُرَىٰٓ ءَامَنُواْ وَٱتَّقَوۡاْ لَفَتَحۡنَا عَلَيۡهِم بَرَكَٰتٖ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ وَلَٰكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذۡنَٰهُم بِمَا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ ٩٦

“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Tetapi, ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.” (al-A’raf: 96)

Betapa indah Nusantara kita, bila penduduknya benar-benar mengesakan Allah subhanahu wa ta’ala, mencegah beragam kesyirikan. Betapa banyak orang di Nusantara ini yang mempraktikkan kesyirikan dan mempertahankannya dengan alasan budaya atau tradisi. Melestarikan budaya dan tradisi nusantara—tanpa memandang apakah budaya atau tradisi tersebut bertentangan dengan syariat atau tidak—seakan menjadi keharusan yang tidak boleh diubah.

Tengoklah keadaan masyarakat di Nusantara ini. Dengan dikemas dalam bentuk wisata, praktik kesyirikan bak jamur di musim hujan. Biro-biro travel memfasilitasi untuk mengunjungi berbagai kuburan yang dikeramatkan. Bahkan, ada lokasi pemakaman yang dijadikan ritual kesyirikan diwarnai pula dengan tindak perzinaan.

Betapa indah Nusantara ini, bila tradisi dan budaya ditakar dengan syariat. Jangan asal berceloteh, sebagaimana dinyatakan seorang pembesar dari salah sebuah ormas besar, yang pernah dipublikasikan di sebuah media masa. Katanya, “Islam Nusantara itu artinya Islam yang tidak menghapus budaya, Islam yang tidak memusuhi tradisi, Islam yang tidak menafikan atau menghilangkan kultur.”

Masalahnya, budaya yang seperti apa, tradisi yang bagaimana, dan kultur yang model apa sehingga tak boleh dihapus, dimusuhi, dan dihilangkan?

Apakah tradisi dan budaya menyembelih kerbau yang diniatkan untuk sesaji bagi makhluk halus merupakan model budaya dan tradisi yang dilestarikan Islam Nusantara?

Apakah tradisi berpakaian sangat minim ala penduduk salah satu sudut Nusantara termasuk tradisi yang tidak boleh hilang dan dihapus?

Pernyataan sang pembesar di atas adalah pernyataan yang sangat membahayakan keyakinan umat. Pernyataan global tanpa rincian jelas. Pernyataan yang terkesan mencari pembenaran bagi konsep pengamalan agama agar sesuai budaya dan tradisi. Sebuah pembodohan terhadap umat.

Perubahan tradisi dan kultur di kalangan masyarakat Arab terjadi—dengan kehendak Allah—setelah dakwah ditegakkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kehadiran Islam telah mengubah sistem kehidupan masyarakat Arab.

Sebelum Islam datang, mereka saling melampiaskan dendam permusuhan. Setelah Islam datang, kedamaian meliputi mereka. Budaya permusuhan, perang antarkabilah lenyap.

Sebelum Islam datang, budaya dan tradisi syirik mendominasi kehidupan masyarakat Arab. Setelah Islam tiba, mereka menjadi masyarakat bertauhid yang memerangi beragam kesyirikan.

Tatanan masyarakat Arab benar-benar berubah. Ketika Islam datang, tak satu pun budaya, tradisi, dan kultur yang bertentangan syariat dibiarkan berkembang di tengah masyarakat. Telah terjadi perubahan dari masa jahiliah menuju masa yang dilandasi tauhid dan peradaban nan luhur.

Bahkan setelah itu, Islam tak semata menaungi masyarakat Arab. Islam pun menyebar ke segenap penjuru muka bumi. Itulah Islam yang telah ditunaikan secara benar oleh para sahabat serta para pengikutnya. Para sahabat mempelajari Islam dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Karena itu, kurun mereka termasuk kurun yang sarat keutamaan. Bahkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan sebagai sebaik-baik manusia. Mereka adalah generasi yang telah mendapat ridha dari Allah subhanahu wa ta’ala dan mereka pun ridha kepada-Nya.

وَٱلسَّٰبِقُونَ ٱلۡأَوَّلُونَ مِنَ ٱلۡمُهَٰجِرِينَ وَٱلۡأَنصَارِ وَٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُم بِإِحۡسَٰنٖ رَّضِيَ ٱللَّهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُواْ عَنۡهُ وَأَعَدَّ لَهُمۡ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي تَحۡتَهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدٗاۚ ذَٰلِكَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ ١٠٠

“Dan orang-orang terdahulu lagi yang pertama-tama (berislam) diantara orang-orang Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikutinya dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selamanya. Itulah kemenangan yang agung.” (at-Taubah: 100)

Kata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

“Sebaik-baik manusia adalah pada masa kurunku, kemudian orang-orang yang setelahnya, kemudian orang-orang yang setelahnya.” (HR . al-Bukhari dan Muslim)

Aisyah radhiallahu ‘anha pernah mengungkapkan, “Seorang laki-laki pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَيُّ النَّاسِ خَيْرٌ؟

‘Siapakah manusia terbaik?’

Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

الْقَرْنُ الَّذِي أَنَا فِيهِ ثُمَّ الثَّانِي ثُمَّ الثَّالِثُ

“(Yaitu) kurun yang saya di dalamnya, kemudian (generasi) kedua, kemudian (generasi) ketiga.” (HR . Muslim)

Mereka itulah generasi salaf. Generasi yang memiliki banyak keutamaan. Generasi yang patut untuk diteladani. Mereka adalah manusia terbaik.

Karena itu, betapa indah Nusantara kita, bila generasi salaf yang menjadi teladannya. Generasi salaf telah memberi teladan bagaimana berislam yang baik dan benar. Kepribadian mereka nan luhur pantas untuk diikuti. Sebelum “Nusantara” lahir, mereka telah menampilkan sosok yang penuh rahmah, santun, beradab, dan lembut terhadap sesamanya.

Islam telah mengajari mereka untuk menjadi pribadi agung. Dari tangan mereka pula lahir masyarakat berperadaban tinggi. Ketakwaan, keimanan, kejujuran, keberanian, kelembutan, dan segenap akhlak terpuji lainnya ada pada mereka.

Ketinggian moral yang mereka miliki telah diakui umat. Islam tanpa diiringi “Nusantara” pun tetap menampakkan kelemahlembutan, penuh santun dan menebar rahmah. Sebelum “Nusantara” ini ada, Islam telah membentuk manusia-manusia berkarakter terpuji. Jadi, bukan karena faktor “Nusantara” Islam lantas jadi lembut, santun, rahmah, dan tidak radikal. Tidak. Bukan begitu. Sejak dahulu Islam telah memuat ajaran-ajaran terpuji dan telah pula mewarnai kehidupan umat manusia sehingga menjadi kehidupan berperadaban. Kisah damai suku Aus dan Khazraj adalah bukti perubahan yang telah dilakukan Islam.

Konsep Islam Nusantara itu sendiri masih belum jelas dan definitif. Konsep yang belum jelas itu pun cenderung dipaksakan ke tengah umat. Opini diarahkan untuk menimbulkan kesan bahwa Islam Nusantara adalah model Islam yang selaras dengan masyarakat Indonesia, bahkan dunia.

Ketika para pengusung Islam Nusantara tengah bersemangat menjajakan gagasannya, di sebuah acara perhelatan besar sebuah ormas besar, peristiwa besar pun berlangsung. Aksi beraroma kekerasan pun menyeruak di tengah perhelatan tersebut. Padahal, beberapa hari sebelumnya, para pembesar ormas besar itu telah bersuara lantang tentang konsep Islam Nusantara yang mengedepankan sikap rahmah, santun, lembut, antiradikalisme, dan terorisme.

Namun, apa yang terucap jauh panggang dari api. Realitas tidak menampilkan wajah Islam Nusantara yang konon berwajah sejuk, lembut, dan penuh rahmah. Masyarakat justru disuguhi tontonan yang sangat amat tidak pantas jadi tuntunan. Memalukan.

Ke mana arah pemahaman Islam Nusantara? Di balik propaganda antiradikalisme, antiterorisme, menampilkan wajah lemah lembut dan antikekerasan dari kalangan pengusung Islam Nusantara, telah terendus siasat dan kolaborasi mereka dengan orang-orang liberal dan Syiah.

Selain itu, mereka terus menjejalkan ide pluralisme, liberalisme, dan sekularisme ke tengah kaum Muslimin. Mereka sudutkan sekelompok kaum muslimin yang kukuh dengan sunnah. Di sisi lain, mereka merangkul dan memeluk kaum Kristen. Mereka jaga gereja saat kaum Kristen merayakan Natal, namun mereka diam membisu tatkala sebuah masjid dibakar oleh kalangan Kristen saat Hari Raya Idul Fitri. Itulah upaya mereka.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُونُوٓاْ أَنصَارَ ٱللَّهِ كَمَا قَالَ عِيسَى ٱبۡنُ مَرۡيَمَ لِلۡحَوَارِيِّ‍ۧنَ مَنۡ أَنصَارِيٓ إِلَى ٱللَّهِۖ قَالَ ٱلۡحَوَارِيُّونَ نَحۡنُ أَنصَارُ ٱللَّهِۖ فَ‍َٔامَنَت طَّآئِفَةٞ مِّنۢ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ وَكَفَرَت طَّآئِفَةٞۖ فَأَيَّدۡنَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ عَلَىٰ عَدُوِّهِمۡ فَأَصۡبَحُواْ ظَٰهِرِينَ ١٤

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kalian penolong-penolong (agama) Allah sebagaimana Isa putra Maryam telah berkata kepada para pengikutnya yang setia, ‘Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?’ Para pengikut setianya menjawab, ‘Kamilah penolong-penolong (agama) Allah.’

Lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan lainnya kafir. Lalu Kami berikan kekuatan kepada orang-orang beriman terhadap musuh-musuh mereka, sehingga mereka menjadi orang-orang yang menang.” (ash-Shaf: 14)

Demikian, semoga bermanfaat. Allahu a’lam.

Ditulis oleh al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin

Syariat Membawa Nikmat

Satu di antara tanda seorang dai yang lurus dan bermanhaj sahih adalah menyerukan akidah yang benar kepada umat, mengikhlaskan peribadahan hanya tertuju kepada Allah subhanahu wa ta’ala, mencegah beragam kesyirikan, serta menghidupkan sunnah dan menepis bermacam bid’ah. Ia juga memerintahkan shalat, menunaikan segenap yang wajib, dan meninggalkan segala bentuk yang diharamkan.

Dakwah kepada tauhid dengan mengikhlaskan peribadahan hanya tertuju kepada Allah subhanahu wa ta’ala merupakan dakwah para rasul Allah subhanahu wa ta’ala. Ini merupakan asas yang harus ada tatkala seorang hamba hendak membangun amalannya. Tanpa asas satu ini, amalan yang dilakukan seorang hamba akan sia-sia, tak akan terbangun kokoh, bahkan bakal runtuh meluluh. Dari sisi inilah para rasul memulai dakwah kepada kaumnya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِي كُلِّ أُمَّةٖ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُواْ ٱلطَّٰغُوتَۖ

“Dan sungguh Kami telah mengutus pada setiap umat seorang rasul (yang menyerukan), ‘Sembahlah Allah saja dan jauhilah thaghut!’.” (an-Nahl: 36)

وَمَآ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِيٓ إِلَيۡهِ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعۡبُدُونِ ٢٥

“Dan tiadalah Kami mengutus seorang rasul sebelummu kecuali Kami wahyukan kepadanya, sesungguhnya tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Aku. Maka, beribadahlah hanya kepada-Ku.” (al-Anbiya’: 25)

Allah subhanahu wa ta’ala telah menjelaskan pada ayat-ayat-Nya perihal tugas yang diemban oleh seorang rasul di tengah-tengah kaumnya yaitu upaya menanamkan tauhid yang semurni-murninya, mengikhlaskan segenap amal hanya bagi Allah subhanahu wa ta’ala tidak bagi selain-Nya. Itulah dakwah yang lurus. Dakwah yang telah dilalui dan dicontohkan para rasul yang mulia.

Hingga kini, dakwah itu tetap relevan. Tak basi dimakan usia. Tak aus seiring masa berlalu. Dakwah tauhid tetap urgen. Penting dan teramat penting dalam setiap jengkal kurun. Sebab, sesungguhnya kesyirikan beserta para pelakunya senantiasa ada. Mereka tetap bercokol dan selalu menularkan kesyirikan dengan segala ragamnya yang banyak menipu dan menistakan umat.

Islam sebagai satu-satunya agama yang benar di sisi Allah subhanahu wa ta’ala, telah memberikan segala hal bagi umatnya. Semua perangkat aturan, sistem, serta petunjuk mengaplikasikan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari telah secara sempurna dipaparkan. Tinggal manusia menelaah, memahami, meyakini, lalu mengamalkannya dengan penuh ikhlas seraya mengharap diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala sebagai ibadah.

 

Islam Itu Sempurna dan Menyempurnakan

Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus membawa syariat yang sempurna dan menyempurnakan. Setelah Islam hadir, syariat yang dibawa oleh para rasul terdahulu disempurnakan. Islam datang sebagai penyempurna syariat-syariat sebelumnya.

Asy-Syaikh Abdus Salam bin Barjas rahimahullah menuturkan bahwa syariat Islam adalah syariat yang sempurna dari semua sisi. Tidak mengandung unsur kekurangan di dalamnya. Allah subhanahu wa ta’ala telah menyebutkan perihal tersebut,

ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَٰمَ دِينٗاۚ

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku untukmu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu.” (al-Maidah: 3)

Tiada sesuatu pun yang diperlukan umat, baik di era sekarang maupun yang akan datang, kecuali Allah subhanahu wa ta’ala telah menjelaskannya. Umat akan dapati segenap masalah terkait hukum halal dan haramnya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

مَّا فَرَّطۡنَا فِي ٱلۡكِتَٰبِ مِن شَيۡءٖۚ

“Tidak ada sedikit pun yang Kami luputkan di dalam al-Kitab.” (al-An’am: 38)

وَكُلَّ شَيۡءٖ فَصَّلۡنَٰهُ تَفۡصِيلٗا

“Dan segala sesuatu telah Kami terangkan secara jelas.” (al-Isra: 12)

Ayat-ayat yang semakna di atas berjumlah banyak. Dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, ayat yang semisal itu banyak jumlahnya dalam al-Qur’an. Allah subhanahu wa ta’ala telah menjelaskan bahwa Kitab-Nya telah menjelaskan seluruhnya, menerangkan jalan petunjuk, mencukupi bagi yang mau mengikutinya. Ia tak memerlukan tambahan dari selainnya. Karena itu, wajib untuk mengikutinya dan terlarang mengikuti selainnya. (Dar’u Ta’arudh al-Aql wa an-Naql, 10/304. Lihat al-Hujaju al-Qawiyyah ‘ala Anna Wasail ad-Da’wah Tauqifiyyah, hlm. 19 dan 21)

Betapa sempurna syariat mengatur. Betapa sempurna nilai-nilai Islam menjelaskan setiap masalah yang muncul di tengah umat. Tak ada agama apa pun di muka bumi ini yang sempurna selain Islam. Tak ada sebuah ajaran yang serinci dan seterang Islam dalam menjelaskan permasalahan. Islam adalah satu-satunya agama yang diridhai oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Kesempurnaan syariat Islam mengatur semua sisi kehidupan manusia. Syariat mengatur hubungan suami-istri dalam berumah tangga, mengatur adab bersuci dan buang hajat, mengatur pula muamalah antara manusia terkait bisnis, kehidupan bertetangga, dan bermasyarakat.

Syariat menetapkan pula halal-haram satu barang yang dikonsumsi manusia, serta menetapkan pula kaidah hukum dalam urusan politik, ekonomi, sosial, dan lainnya. Demikian terang benderang Islam memberi tuntunan kepada umatnya.

Karena itu, seorang muslim yang telah mempelajari hakikat Islam akan menemukan kesahajaan dalam beragama. Ia akan temukan ketenangan dalam hidup.

Islam telah memberikan lebih dari cukup bimbingan guna menggapai keselamatan hidup, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Cukuplah Islam baginya, dan tiada selainnya.

 

Islam Rahmat Bagi Alam Semesta

Syariat yang diturunkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membawa muatan kasih sayang bagi segenap alam. Tak semata manusia yang merasakan kasih, namun segenap jin, bebatuan, hewan melata, tumbuhan, ikan di lautan, dan semua makhluk yang ada di alam semesta pun turut merasakannya.

Betapa tidak. Islam mengajari manusia untuk bersikap ramah terhadap alam dan tidak tamak. Sikap ini bisa memberi pengaruh yang bagus terhadap keberadaan makhluk Allah subhanahu wa ta’ala lainnya, dengan izin-Nya.

Bukankah hutan menjadi gundul dan rusak ekosistemnya, di antara sebabnya lantaran sikap tamak dan ketiadaan sikap ramah terhadap lingkungan? Saat ketamakan menggayuti jiwa manusia, pepohonan ditebang habis. Manusia berlomba meraup dunia melalui industri perkayuan. Setelah hutan ditebang habis, tak ada lagi kemauan untuk mengeluarkan dana bagi kelestarian lingkungan.

Tamak. Yang dipikirkan hanya keuntungan diri semata. Adapun hutan dibiarkan gundul merana. Hewan yang biasa hidup di dalam hutan pun entah kemana. Tak ada lagi air yang bisa diserap akar pepohonan. Tak ada lagi mata air yang bisa mengairi sungai. Bila hujan tiba, air yang jatuh ke bumi langsung mengikis tanah. Dengan kehendak Allah subhanahu wa ta’ala, terjadilah tanah longsor.

إِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ كُلُّ شَيْءٍ حَتَّى الْحِيتَانُ فِي الْمَاءِ

“Sungguh, seorang alim akan dimintakan ampun baginya oleh segenap sesuatu hingga ikan yang berada di air sekalipun.”

Kehadiran seorang alim akan memberi manfaat bagi segenap alam. Dengan ilmu yang dimiliki, dirinya bisa memberi pencerahan kepada siapa pun. Seorang alim tidak menabur kerusakan. Seorang alim menyeru manusia agar berbuat kebaikan. Tak semata kebaikan untuk dirinya. Namun, kebaikan untuk pepohonan, hewan melata, gunung dan bukit, dan segenap alam semesta.

Kehadiran seorang alim akan berperan memerangi ketamakan. Kehadiran seorang alim akan menebar kasih sayang kepada siapa pun, termasuk kepada alam semesta. Dengan kehadiran seorang alim, dengan izin Rabbul ’alamin, akan terjaga ekosistem. Ikan-ikan di air pun bisa hidup leluasa tanpa terganggu kelangkaan air.

Ya, seorang alim yang mengamalkan ilmunya. Kata al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah,

لاَ يَزَالُ الرَّجُلُ جَاهِلًا بِمَا عَلِمَ حَتَّى يَعْمَلَ بِهِ فَإِذَا عَمِلَ بِهِ كَانَ عَالِمًا

“Seseorang senantiasa terkungkung dalam kejahilan dengan apa yang ia ketahui hingga ia beramal. Bila telah mengamalkannya, ia menjadi seorang alim.” (Tarikh Madinah Dimasyqi, karya Ibnu Asakir, 48/427 dan Iqtidha’ al-’Ilmi al-Amal, karya al-Khathib al-Baghdadi, 1/37. Lihat Nasha’ih li asy-Syababi as-Sunnah, asy-Syaikh Abdus Salam bin Barjas rahimahullah, hlm. 26 dan 40)

Tepat apabila dinyatakan bahwa seorang alim lebih memiliki keutamaan dibanding dengan seorang ahli ibadah. Kehadiran seorang alim memberi manfaat yang lebih besar kepada makhluk Allah subhanahu wa ta’ala lainnya.

Berbeda halnya dengan seorang ahli ibadah yang beribadah untuk kepentingannya sendiri. Sungguh benar apa yang dinyatakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

فَضْلُ الْعَالِم عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ

Keutamaan seorang alim dibanding seorang ahli ibadah, seperti keutamaan bulan dibanding bintang-bintang.” (idem, hlm. 37)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus membawa rahmah. Tak semata bagi manusia, rahmah ditebar bagi segenap alam semesta. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ إِلَّا رَحۡمَةٗ لِّلۡعَٰلَمِينَ

“Dan tiadalah Kami mengutusmu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi alam semesta.” (al-Anbiya’: 107)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merealisasikan nilai-nilai rahmah tersebut kepada segenap alam. Di antaranya beliau memerintahkan untuk berhemat menggunakan air, adanya larangan buang hajat di tempat bernaung, fasilitas umum, dalam air menggenang, larangan menganiaya hewan, bahkan umatnya didorong menyayanginya, menghormati orang yang lebih tua dan menyayangi kepada yang lebih muda, menjaga keberadaan tetangga, jujur dalam berkata, amanah dalam bermuamalah, serta semua sikap dan perilaku terpuji lainnya dalam balutan akhlak mulia.

Satu hari, Malik bin al-Huwairits radhiallahu ‘anhu mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. “Kami masih berusia belia,” kata Malik. “Saat itu kami telah berada di Madinah selama dua puluh hari,” lanjutnya. Malik meminta izin kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk pulang ke kampung halamannya. Katanya, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang penyayang dan lembut.” (HR. al-Bukhari no. 685)

Itulah prinsip mendasar yang diajarkan syariat. Prinsip yang didasari kasih sayang dan penuh rahmah dipegang kuat oleh para ulama ketika melahirkan fatwafatwa kontemporer. Dengan demikian, fatwa-fatwa yang dikeluarkan selaras dengan tujuan diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menebar kasih sayang.

Betapa syariat ini diliputi sifat rahmah. Orang yang tak mampu untuk menunaikannya diberi keringanan karena alasan yang diterima syariat. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفۡسًا إِلَّا وُسۡعَهَاۚ

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (al-Baqarah: 286)

فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ مَا ٱسۡتَطَعۡتُمۡ

“Bertakwalah kalian kepada Allah berdasar kemampuan yang ada pada kalian.” (at-Taghabun: 16)

Demikian prinsip dasar Islam yang teramat agung. Prinsip dasar ini melahirkan beragam ketetapan hukum yang sangat penting dan relevan dengan zamannya.

  1. Merujuk kepada al-Qur’an dan as-Sunnah berdasar pemahaman salaf dengan bimbingan ulama

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُواْ ٱلرَّسُولَ وَأُوْلِي ٱلۡأَمۡرِ مِنكُمۡۖ فَإِن تَنَٰزَعۡتُمۡ فِي شَيۡءٖ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ إِن كُنتُمۡ تُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِۚ

“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul serta ulil amri (penguasa dan ulama) di antara kalian. Kemudian jika kalian berbeda pendapat tentang sesuatu, kembalikanlah kepada Allah dan Rasul apabila kalian beriman kepada Allah dan Hari Akhir.” (an-Nisa’: 59)

Asy-Syaikh Abdus Salam bin Barjas rahimahullah menyebutkan, Allah subhanahu wa ta’ala telah memerintah hamba-Nya untuk mengembalikan urusan, tatkala terjadi perbedaan pendapat dalam urusan agama mereka, kepada apa yang telah menjadikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus (yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah). (Nashaih li Syabab as-Sunnah, hlm. 46)

Para sahabat di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memberi teladan perihal tersebut. Ketika terjadi permasalahan, mereka langsung merujuk kepada ahlul ilmi, yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dalam sebuah riwayat dari Abi Tsa’labah al-Khusyani radhiallahu ‘anhu, ia menuturkan, “Saya bertanya, wahai Rasulullah, sesungguhnya kami berada di bumi kaum Ahlu Kitab. Apakah boleh kami makan menggunakan bejana mereka?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Jangan kalian makan dengan bejana mereka. Kecuali jika kalian tidak mendapati bejana lainnya, cucilah bejana tersebut. Setelah itu, makanlah menggunakan bejana mereka.” (HR. al-Bukhari no.5478 dan Muslim no.1930)

Menurut asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan y, hadits Abi Tsa’labah al-Khusyani radhiallahu ‘anhu di atas menunjukkan disyariatkannya bertanya kepada ahlul ilmi. Sebab, Abi Tsa’labah al-Khusyani mengajukan pertanyaan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika masalah menggayutinya, yaitu terkait menggunakan bejana Ahlu Kitab. Ini menjadi dalil disyariatkannya merujuk (bertanya) kepada ahlul ilmi (para ulama) kala masalah melekat.

Sungguh, Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman,

فَسۡ‍َٔلُوٓاْ أَهۡلَ ٱلذِّكۡرِ إِن كُنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ ٧

“Bertanyalah kalian kepada Ahlu adz-Dzikri jika kalian tidak mengetahui.” (al-Anbiya’: 7) (Tashil al-Ilmam bi Fiqhi al-Ahadits min Bulughi al-Maram, hlm. 85—86)

Prinsip merujuk kepada ahlul ilmi merupakan bagian manhaj Salaf dalam mengurai beragam masalah yang merundung umat. Prinsip ini menjadi sisi unggul dari metode beragama di kalangan salaf sehingga umat mendapat bimbingan langsung dari para ulama.

Berbeda halnya dengan sebagian umat yang terkontaminasi cara pandang pergerakan dan liberal. Mereka tak mengenal metodologi merujuk kepada ahlul ilmi. Pengamalan agama yang melekat padanya berjalan di atas hawa nafsu dan absurd (tak bisa dinalar akal sehat).

Merujuk kepada ulama berarti memohon bimbingan langsung kepada para pewaris nabi yang memiliki otoritas untuk memberi fatwa. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَٱحۡكُم بَيۡنَ ٱلنَّاسِ بِٱلۡحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ ٱلۡهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَضِلُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ لَهُمۡ عَذَابٞ شَدِيدُۢ بِمَا نَسُواْ يَوۡمَ ٱلۡحِسَابِ ٢٦

“Berilah keputusan (dalam perkara) di antara manusia dengan haq dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu, karena akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Sungguh orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan Hari Hisab.” (Shad: 26)

 

  1. Syariat Allah subhanahu wa ta’ala seluruhnya senantiasa mendatangkan maslahat dan mencegah mafsadat (kerusakan)

Sebelum Islam datang, keadaan masyarakat Arab masa itu diliputi beragam kebiasaan tak baik. Kegelapan menyelimuti kehidupan masyarakat Arab. Keburukan akhlak, akidah, dan perilaku keseharian lainnya turut mewarnai masyarakat Arab.

Benar-benar sebuah bala yang mengerikan. Bayi perempuan dikubur hidup-hidup, khamr merajalela, wanita direndahkan, perang antarkabilah kerap terjadi, dan berbagai perilaku busuk lainnya melekat dalam struktur masyarakat. Berbagai penyimpangan sosial merebak.

Setelah Islam datang, kegelapan pun sirna. Kehidupan masyarakat berubah. Kemuliaan perilaku menjadi ciri peradaban bangsa Arab. Islam mencelup masyarakat Arab menjadi masyarakat sarat rahmah. Peduli terhadap sesama. Penuh damai dan sahaja. Pancaran tauhid kukuh menyinari setiap pribadi masyarakat Arab. Lahirlah pribadi-pribadi agung hasil didikan manusia teragung, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dari masyarakat Arab yang telah tercelup akidah nan lurus itulah cahaya kemilau Islam merambah ke belahan bumi lainnya. Islam menyentuh setiap relung kehidupan. Roda kehidupan pun menjadi dinamis beradab.

Potret kehidupan masyarakat Arab— dan tentu saja masyarakat lainnya yang telah tersentuh Islam—menjadi bukti otentik sejarah kehidupan umat manusia, bahwa syariat Allah subhanahu wa ta’ala seluruhnya senantiasa mendatangkan maslahat bagi peradaban manusia serta mencegah munculnya mafsadat bagi umat manusia.

Tak bisa dimungkiri peran Islam dalam membangun peradaban dunia. Itulah hasil generasi salaf, dengan izin Rabbnya. Generasi terbaik dan pemilik keutamaan yang telah disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sudah dipastikan, pemberlakuan syariat Allah subhanahu wa ta’ala akan mendatangkan maslahat dan mencegah mafsadat. Sebuah bukti yang tak diragukan lagi, bila syariat Islam ditegakkan—dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala—bakal mendatangkan kebaikan. Sebab, agama seluruhnya hendak mendatangkan sesuatu yang membawa maslahat dan mencegah yang mafsadat. Tak satu pun ketentuan di dalam Islam bakal membinasakan manusia. Tak satu pula yang bakal memunculkan kerusakan.

Syariat Islam senantiasa mengarahkan umat untuk selalu melakukan kebaikan dan meninggalkan keburukan. Syariat Islam menghalalkan yang baik dan mengharamkan yang buruk. Allah subhanahu wa ta’ala menegaskan dalam firman-Nya,

وَيُحِلُّ لَهُمُ ٱلطَّيِّبَٰتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيۡهِمُ ٱلۡخَبَٰٓئِثَ

“… dan yang menghalalkan segala yang baik bagi mereka dan mengharamkan segala yang buruk bagi mereka….” (al-A’raf: 157)

Syariat melarang seseorang menjatuhkan diri pada kebinasaan. Di sisi lain, syariat memotivasi seseorang untuk melaksanakan kebaikan. Orang yang menunaikan kebaikan itulah yang kelak dicintai Allah subhanahu wa ta’ala. Firman-Nya,

وَأَنفِقُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ وَلَا تُلۡقُواْ بِأَيۡدِيكُمۡ إِلَى ٱلتَّهۡلُكَةِ وَأَحۡسِنُوٓاْۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُحۡسِنِينَ

“… dan janganlah kamu menjatuhkan diri ke dalam kebinasaan dengan tanganmu sendiri. Sungguh, Allah mencintai orangorang yang berbuat kebaikan.” (al-Baqarah: 195)

Dalam kerangka inilah lahir fatwa, nasihat, bimbingan, dan tahdzir (peringatan) dari para ulama. Tiada lain yang hendak digapai selain mendatangkan maslahat dan mencegah mafsadat.

Selisiklah pelajaran yang teramat bernilai dari firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَلَا تَسُبُّواْ ٱلَّذِينَ يَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ فَيَسُبُّواْ ٱللَّهَ عَدۡوَۢا بِغَيۡرِ عِلۡمٖۗ

“Dan janganlah kalian mencaci maki sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan mencaci maki Allah dengan melampaui batas tanpa ilmu.” (al-An’am: 108)

Sesembahan yang mereka sembah selain Allah subhanahu wa ta’ala tentu sesuatu yang batil. Namun, guna meraih maslahat seseorang terlarang untuk mencaci makinya. Sebab, caci maki itu bakal memunculkan mafsadat dalam bentuk tindakan mereka mencaci maki Allah subhanahu wa ta’ala dengan tanpa ilmu dan melampaui batas.

Sebuah gambaran nyata yang pernah terjadi pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Peristiwa yang dituturkan Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berikut kiranya bisa memberi gambaran tersebut.

Saat para sahabat duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di masjid. Tiba-tiba datang seorang a’rabi (badui) lalu buang air kecil di sudut masjid. Para sahabat pun berupaya mencegahnya. Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menahan para sahabat. Ketika si badui telah selesai menunaikan hajatnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menasihati badui tersebut. Beliau memerintahkan untuk diambilkan seember air, lalu disiramkan ke tempat air seni. (Terjemah secara makna. Lihat HR. al-Bukhari no. 221 dan Muslim no. 284)

Kisah di atas merupakan contoh yang sangat transparan, jelas, dan terang yang menggambarkan prinsip Islam untuk selalu menebarkan maslahat dan meredam mafsadat. Sikap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menahan para sahabat untuk tidak bertindak terlebih dulu, merupakan sikap yang mengedepankan sisi maslahat dan mencegah munculnya mafsadat. Sebuah tindakan yang penuh hikmah, bijak dan tanpa ketergesa-gesaan.

Inilah salah satu metodologi yang dijadikan prinsip dalam pengambilan sikap di tengah umat. Metodologi ini pula yang dijadikan dasar pijak kala menarik sebuah konklusi fikih. Inilah prinsip yang diajarkan salaf

الدِّينُ كُلُّهُ جَلْبٌ لِلْمَصَالِحِ وَدَفْعٌ لِلْمَفَاسِدِ

Ketentuan agama itu semuanya dalam rangka menggapai yang maslahat dan meredam hal yang menimbulkan mafsadat (kerusakan).

Allahu a’lam.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin

Tabarruk, Antara Pelanggaran Agama & Komoditi Bisnis

Roda zaman berputar tiada henti, menorehkan sejarah dan meninggalkan cerita. Manusia selaku aktor, bergelut dan berkiprah pada setiap zamannya. Generasi demi generasi datang silih berganti, mengisi lembar kehidupan. Dengan takdir Ilahi, semuanya pasti meninggalkan dunia yang fana ini. Lanjutkan membaca Tabarruk, Antara Pelanggaran Agama & Komoditi Bisnis

Asy-Syaikh Muqbil Dakwah Di Tengah Basis Syiah

Pengantar

Satu hari pada pengujung tahun 2006, di Shan’a, ibukota Republik Yaman. Seorang pemuda Indonesia duduk di sebuah rumah makan menunggu jamuan makan siang dihidangkan. Saat itu, tiba-tiba seorang warga Yaman duduk  di hadapan pemuda tadi dan mengajak berbincang.

Kala warga Yaman itu mengetahui bahwa pemuda yang diajak berbincang adalah penuntut ilmu di Dammaj, Sha’dah, ia langsung menyebut nama Asy-Syaikh Muqbil. “Asy-Syaikh Muqbil pencela ulama,” katanya seraya menampakkan ketidaksukaan.

Melihat sikap tidak terpuji dari lawan bicaranya, pemuda Indonesia itu menjawab tegas, “Ya, benar. Asy-Syaikh Muqbil seorang pencela ulama. Ulama su’ (buruk).” Lanjutkan membaca Asy-Syaikh Muqbil Dakwah Di Tengah Basis Syiah

Menjalin Kerja Sama Dalam Ranah Dakwah

Tak diragukan lagi bahwa dakwah di jalan Allah subhanahu wa ta’ala merupakan ibadah yang sangat mulia. Demikian pula orang-orang yang menjalankannya dengan penuh ikhlas dan meniti jejak baginda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia. Pahala yang besar dan kedudukan yang tinggi di sisi Allah Rabb Alam Semesta adalah balasannya. Lanjutkan membaca Menjalin Kerja Sama Dalam Ranah Dakwah