Syafaat Rasulullah yang Agung

Dalam rentang waktu yang lama sekali, mereka berdiri menanti di padang mahsyar. Padahal matahari sangat dekat jaraknya dengan mereka. Mereka dibanjiri keringatnya sendiri sesuai dengan amalannya. Mereka merasakan panas yang dahsyat, kesempitan hidup dan keletihan yang luar biasa akibat lamanya mereka menunggu keputusan, yakni selama 50 tahun.[1] Ketika hal ini terjadi, sebagian mereka –dengan hidayah Allah l– membicarakan tentang sesuatu yang akan melepaskan mereka dari tempat mereka menunggu keputusan yang sangat lama waktunya dan sangat memberatkan mereka situasinya. (Syarh Lum’atul I’tiqad, Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hal. 202)

Allah l berfirman:

 

“Tiada yang mereka nanti-nantikan melainkan datangnya Allah dan malaikat (pada hari kiamat) dalam naungan awan, dan diputuskanlah perkaranya. Dan hanya kepada Allah dikembalikan segala urusan.” (Al-Baqarah: 210)

 

Kisah terjadinya syafaat Rasulullah n

Dari Abu Hurairah z, dia berkata:

Dihidangkan untuk Rasulullah n masakan daging, lalu dipilihkan untuk beliau daging paha bagian depan, yang merupakan kesukaan beliau. Beliaupun menggigitnya lalu bersabda:

“Aku adalah pemimpin manusia pada hari kiamat. Tahukah kalian, mengapa? Allah akan mengumpulkan seluruh umat manusia dari yang pertama hingga yang terakhir di suatu tempat, di mana seorang penyeru akan mampu memperdengarkan (seruan) kepada mereka semuanya. Pandangan mata akan mampu menembus mereka semuanya, sedangkan matahari dekat sekali. Maka kesedihan dan kesusahan meliputi mereka, sampai mereka tidak mampu menanggung dan merasakannya.

Maka orang-orang berkata: “Tidakkah kalian saksikan apa yang menimpa kalian? Tidakkah kalian tahu siapa yang mampu memberikan syafaat kepada kalian di hadapan Rabba kalian?” Sebagian mereka lalu berkata kepada sebagian yang lain: “Kalian harus datang kepada Adam q.” Namun Adam q mengajukan alasan.

Kemudian mereka menemui Nuh q, namun dia juga mengajukan alasan. Kemudian mereka menemui Ibrahim q, namun dia mengajukan alasan pula. Kemudian mereka menemui Musa q, ternyata dia juga mengajukan alasan. Kemudian mereka menemui ‘Isa q, namun dia juga mengajukan alasannya.

Akhirnya mereka menemui Nabi Muhammad n dan mengatakan: “Wahai Muhammad, engkau adalah utusan Allah dan penutup para nabi. allah telah mengampuni dosamu yang telah lalu maupun yang akan datang. Maka berikanlah syafaat kepada kami di hadapan Rabbmu. Tidakkah engkau lihat keadaan kami?”

Maka akupun berangkat sampai di bawah Arsy, lalu aku tersungkur sujud kepada Rabbku k. Kemudian Allah l membukakan untukku pujian-pujian dan sanjungan yang baik untuk-Nya, yang bleum Dia bukakan kepada seorangpun sebelumku. Kemudian dikatakan (kepadaku): “Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu, dan mintalah, niscaya kamu akan diberi. Berilah syafaat niscara akan diterima (syafaatmu).” Maka akupun mengangkat kepalaku kemudian aku katakan: “Umatku wahai Rabbku, umatku wahai Rabbku.”

Kemudian datanglah Allah l untuk menentukan keputusan hukum di antara hamba-Nya. Maknanya, Allah l benar-benar datang dengan cara yang Dia kehendaki, sebagaimana firman-Nya:

 

“Jangan (berbuat demikian). Apabila bumi digoncangkan berturut-turut, dan datanglah Rabbmu; sedang malaikat berbaris-baris.” (Al-Fajr: 21-22)

Inilah syafaat agung yang khusus bagi Rasulullah n. (Syarh Lum’atul I’tiqad, Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hal. 203)

Allah l berfirman kepada Rasul-Nya, Muhammad n:

 

“Dan pada sebahagian malam hari bertahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu: mudah-mudahan Rabbmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (Al-Isra’: 79)

Oleh karena itulah, Rasulullah n bersabda:

مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ النِّدَاءَ: اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ؛ حَلَّتْ لَهُ شَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barangsiapa yang berdoa setelah mendengar adzan: ‘Ya Allah, Rabb yang memiliki panggilan yang sempurna dan shalat yang akan ditegakkan ini, karuniakanlah kepada Muhammad al-wasilah dan keutamaan, serta bangkitkanlah baginya kedudukan yang terpuji yang Engkau telah janjikan untuknya,’ niscaya dia akan mendapatkan syafaatku pada hari kiamat (dengan izin-Nya).” (HR. Al-Bukhari no. 579, Kitabul Adzan, Bab Ad-Du’a ‘inda an-nida’, dari Jabir bin Abdillah z)

 


[1] Beliau hafizhahullah mengisyaratkan kepada salah satu penafsiran friman Allah l

 

“Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada-Nya dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun.” (Al-Ma’arij: 4)

Lihat Tafsir Ibnu Katsir (4/357).

Dahsyatnya Mahsyar

Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan mengatakan: “Allah l akan mengumpulkan seluruh manusia setelah mereka bangkit dari kuburnya. Mereka berjalan menuju mahsyar, sebuah tempat di mana Allah l akan kumpulkan makhluk yang pertama hingga yang terakhir. Mahsyar adalah sebuah tempat yang rata. Tidak ada tempat yang tinggi, tidak pula ada gunung maupun bukit. Tempat yang rata, semua makhluk akan berkumpul di sana.” (Syarh Lum’atul I’tiqad, hal. 201)

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits Sahl bin Sa’d z, Rasulullah n bersabda:

يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى أَرْضٍ بَيْضَاءَ عَفْرَاءَ كَقُرْصَةِ نَقِيٍّ. قَالَ سَهْلٌ أَوْ غَيْرُهُ: لَيْسَ فِيهَا مَعْلَمٌ لِأَحَدٍ

“Umat manusia akan digiring pada hari kiamat ke (mahsyar). Sebuah medan yang luas. Tanahnya berwarna putih seperti bundaran roti yang bersih.” Sahl z dan selainnya berkata: “Tidak ada di sana tanda (tempat keberadaan) bagi seorangpun.” (HR. Al-Bukhari no. 6521 dan Muslim no. 790)

 

Matahari didekatkan kepada makhluk

Matahari diakan didekatkan terhadap kepala makhluk, sehingga semakin memberatkan dan menakutkan mereka. Itulah di antara peristiwa yang amat dahsyat di padang mahsyar. Maka, keluarlah keringat mereka yang akan menyiksa pemiliknya sesuai dosa-dosa mereka ketika hidup di dunia. Sebagaimana sabda Rasulullah n:

تُدْنَى الشَّمْسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنَ الْخَلْقِ حَتَّى تَكُونَ مِنْهُمْ كَمِقْدَارِ مِيلٍ -قَالَ سُلَيْمُ بْنُ عَامِرٍ: فَوَاللهِ، مَا أَدْرِي مَا يَعْنِي بِالْمِيلِ، أَمَسَافَةَ الْأَرْضِ أَمِ الْمِيلَ الَّذِي تُكْتَحَلُ بِهِ الْعَيْنُ- قَالَ: فَيَكُونُ النَّاسُ عَلَى قَدْرِ أَعْمَالِهِمْ فِي الْعَرَقِ، فَمِنْهُمْ مَنْ يَكُونُ إِلَى كَعْبَيْهِ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَكُونُ إِلَى رُكْبَتَيْهِ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَكُونُ إِلَى حَقْوَيْهِ، وَمِنْهُمْ مَنْ يُلْجِمُهُ الْعَرَقُ إِلْجَامًا. -قَالَ: وَأَشَارَ رَسُولُ اللهِ n بِيَدِهِ إِلَى فِيهِ

“Pada hari kiamat, matahari didekatkan jaraknya terhadap makhluk hingga tinggal sejauh satu mil.” –Sulaim bin Amir (perawi hadits ini) berkata: “Demi Allah, aku tidak tahu apa yang dimaksud dengan mil. Apakah ukuran jarak perjalanan, atau alat yang dipakai untuk bercelak mata.”–

Beliau n bersabda: “Maka manusia tersiksa dalam keringatnya sesuai dengan kadar amal-amalnya (yakni dosa-dosanya).[1] Maka, di antara mereka ada yang keringatnya sampai kedua mata kakinya. Ada yang sampai kedua betisnya. Adapula yang sampai pinggangnya. Ada juga yang keringatnya sungguh-sungguh menyiksanya.” –Perawi berkata: “Rasulullah n menunjuk dengan tangannya ke mulutnya.” (HR. Muslim no. 2864)

Juga hadits dari Abu Hurairah z, bahwa Rasulullah n bersabda:

إِنَّ الْعَرَقَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَيَذْهَبُ فِي الْأَرْضِ سَبْعِينَ بَاعًا وَإِنَّهُ لَيَبْلُغُ إِلَى أَفْوَاهِ النَّاسِ أَوْ إِلَى آذَانِهِمْ -يَشُكُّ ثَوْرٌ أَيَّهُمَا قَالَ

“Sesungguhnya keringat manusia itu pada hari kiamat akan membanjiri bumi selebar tujuhpuluh depa, dan sungguh akan membanjiri sampai setinggi mulut atau telinga mereka.” –Tsaur, salah seorang perawi ragu mana lafadz yang tepat– (HR. Muslim)

Seandainya ada yang bertanya, kalau di dunia maka bila matahari mendekat sedikit saja dari garis edarnya, wajarnya bumi akan terbakar. Maka, bagaimana mungkin hal ini akan terjadi dengan jarak sedemikian dekat namun tidak membakar makhluk?

Jawabannya, kata Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin t, manusia akan dibangkitkan lalu digiring ke padang mahsyar pada hari kiamat bukan dengan kekuatan yang ada pada mereka ketika hidup di dunia. Bahkan mereka lebih kuat dan lebih mampu. Bila manusia sekarang ini berdiri selama 50 hari di bawah terik matahari, tidak berteduh, tidak makan dan tidak minum, mereka tidak mungkin mampu melakukannya. Mereka akan binasa. Namun pada hari kiamat, mereka mampu bediri selama 50 tahun tanpa makan dan minum ataupun berteduh, kecuali beberapa golongan yang Allah l naungi. Mereka mampu menyaksikan kegerian-kengerian yang terjadi. Perhatikanlah keadaan penghuni neraka yang disiksa, mereka tidak binasa karenanya.

 

“Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain…” (An-Nisa’: 56) [Syarh Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah, 2/135]

Oleh karena itulah, Rasulullah memberikan contoh kepdaa umatnya untuk senantiasa meminta perlindungan kepada Allah l dari berbagai kesempitan dan kengerian yang akan terjadi pada hari kiamat. Sebagaimana dalam hadits Aisyah x:

كان رسول الله n يَتَعَوَّذُ بِاللهِ مِنْ ضِيقِ الْمَقَامِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Adalah Rasulullah n senantiasa meminta perlindungan kepada Allah l dari kesempitan-kesempitan di mahsyat pada hari kiamat.” (HR. Abu DawudAn-Nasa’i dan Ibnu Majah)

 

Golongan yang akan mendapatkan naungan Allah l

Allah l dengan rahmat dan keutamaan-Nya akana memberikan naungan kepada sebagian hamba-Nya, pada hari yang sangat panas. Tidak ada naungan pada hari itu kecuali naungan-Nya, yaitu di padang mahsyar tatkala mereka menghadap Allah l.

Beberapa golongan yang akan mendapatkan naungan-Nya, yaitu naungan Arsy-Nya, adalah sebagaimana yang Rasulullah n sebutkan dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah z. Beliau n bersabda:

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ؛ الْإِمَامُ الْعَادِلُ، وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ، وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ: إِنِّي أَخَافُ اللهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ أَخْفَى حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

“Ada tujuh golongan yang Allah l akan menaungi mereka di bawah naungan Arsy-Nya, pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan Arsy-Nya. Mereka adalah (1) imam (pemimpin) yang adil, (2) pemuda yang tumbuh dalam peribadahan kepada Rabbnya, (3) orang yang hatinya terkait di masjid, (4) orang yang saling mencintai karena Allah, berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya, (5) seorang lelaki yang diajak (berzina) oleh seorang wanita yang berkedudukan lagi cantik, namun dia berkata: ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allah’, (6) orang yang bersedekah namuan merahasiakannya, sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya, dan (7) orang yang mengingat Allah dalam keadaan sendirian hingga berlinang air matanya.” (Muttafaqun ‘alaih)

Dalam riwayat yang lain, Rasulullah n bersabda:

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللهُ فِي ظِلِّ عَرْشِهِ

“Ada tujuh golongan yang Allah k akan menaungi mereka dalam naungan Arsy-Nya….” (HR. Sa’id bin Manshur, dihasankan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 2/144, juga oleh Al-Albani dalam Al-Irwa’)

Maka, riwayat ini menjelaskan bahwa yang dimaksud naungan-Nya adalah naungan Arsy-Nya, bukan naungan Dzat-Nya, karena hal ini tidak sesuai dengan keagungan dan kemuliaan-Nya.

Golongan lain yang juga akan mendapatkan naungan Arsy-Nya adalah:

مَنْ أَنْظَرَ مُعْسِرًا أَوْ وَضَعَ لَهُ أَظَلَّهُ اللهُ فِي ظِلِّهِ

“Barangsiapa yang memberi kelonggaran kepada orang yang sedang kesulitan (membayar hutang) atau membebaskan (hutang tersebut) darinya, niscaya Allah l akan menaunginya dalam Arsy-Nya.” (HR. Muslim no. 3006)

Semoga Allah l menjadikan kita semua termasuk golongan mereka.


[1] Sebagaimana dalam riwayat Al-Imam Ahmad dan Ath-Thabarani dari Abu Umamah z, Rasulullah n bersabda:

يَعْرَقُونَ فِيهَا عَلَى قَدْرِ خَطَايَاهُمْ

“Mereka berkeringat padanya sesuai kadar dosa-dosa mereka.”

SETELAH MEREKA DIBANGKITKAN DARI KUBUR

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan)

 

Allah l berfirman:

Dan ditiuplah sangkakala, maka tiba-tiba mereka ke luar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Rabb mereka. Mereka berkata: “Aduh celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami (kubur)?” Inilah yang dijanjikan (Dzat) Yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul-rasul (Nya). Tidak adalah teriakan itu selain sekali teriakan saja, maka tiba-tiba mereka semua dikumpulkan kepada Kami. Maka pada hari itu seseorang tidak akan dirugikan sedikitpun dan kamu tidak dibalasi, kecuali dengan apa yang telah kamu kerjakan.” (Yasin: 51-54)

“Maka biarkanlah mereka tenggelam (dalam kebatilan) dan bermain-main sampai mereka menjumpai hari yang diancamkan kepada mereka, (yaitu) pada hari mereka keluar dari kubur dengan cepat seakan-akan mereka pergi dengan segera kepada berhala-berhala (sewaktu di dunia), dalam keadaan mereka menekurkan pandangannya (serta) diliputi kehinaan. Itulah hari yang dahulunya diancamkan kepada mereka.” (Al-Ma’arij: 42-44)

 

“Dan dengarkanlah (seruan) pada hari penyeru (malaikat) menyeru dari tempat yang dekat. (Yaitu) pada hari mereka mendengar teriakan dengan sebenar-benarnya, itulah hari keluar (dari kubur). Sesungguhnya Kami menghidupkan dan mematikan, serta hanya kepada Kami-lah tempat kembali (semua makhluk).” (Qaf: 41-43)

Dalam hadits Abdullah bin ‘Amr c yang telah lalu, Rasulullah n bersabda:

ثُمَّ يُنْفَخُ فِي الصُّورِ فَلَا يَسْمَعُهُ أَحَدٌ إِلَّا أَصْغَى لِيتًا وَرَفَعَ لِيتًا ثم لا يبقى أحد إلا صَعِقَ ثُمَّ يُنْزِلُ اللهُ مَطَرًا كَأَنَّهُ الطَّلُّ أَوْ الظِّلُّ -شَكَّ الرَّاوِي- فَتَنْبُتُ مِنْهُ أَجْسَادُ النَّاسِ ثُمَّ يُنْفَخُ فِيهِ أُخْرَى فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ، ثُمَّ يُقَالُ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ، هَلُمَّ إِلَى رَبِّكُمْ

“Kemudian Allah l menurunkan hujan seperti gerimis atau naungan –perawi ragu–, maka tumbuhlah jasad-jasad manusia karenanya. Lalu ditiuplah sangkakala untuk kali berikutnya, tiba-tiba mereka bangkit dari kuburnya dalam keadaan menanti (apa yang akan terjadi). Kemudian dikatakan kepada mereka: ‘Wahai sekalian manusia! Kemarilah kalian semua menuju Rabb kalian’.” (HR. Muslim)

Setelah ditiupnya sangkakala dengan tiupan yang membangkitkan (nafkhatul ba’tsi), mereka bangkit dari alam kubur (alam barzakh), untuk menghadap Allah l dalam rangka mempertanggungjawabkan amalan-amalan mereka ketika hidup di dunia.

 

Tulang yang tidak akan hancur

Manusia akan tumbuh dari tluang yang sangat kecil yang terletak di bagian bawah tulang sulbi (tulang ekor), setelah turunnya hujan pada hari kiamat. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah n:

ثُمَّ يُنْزِلُ اللهُ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَيَنْبُتُونَ كَمَا يَنْبُتُ الْبَقْلُ، لَيْسَ مِنَ الْإِنْسَانِ شَيْءٌ إِلَّا يَبْلَى إِلَّا عَظْمًا وَاحِدًا وَهُوَ عَجْبُ الذَّنَبِ، وَمِنْهُ يُرَكَّبُ الْخَلْقُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Kemudian Allah menurunkan air hujan dari langit. Lalu (jasad-jasad) mereka akan tumbuh seperti tumbuhnya sayuran. Jasad manusia akan hancur kecuali satu tulang yaitu ‘ajbu adz-dzanab. Dari tulang itulah manusia akan tumbuh kembali pada hari kiamat.”

Al-Imam An-Nawawi t berkata: “Ajbu adz-dzanab adalah tulang yang sangat kecil, terletak di bagian bawah tulang ekor dan dia adalah ujungnya. Tulang itulah yang pertama kali tercipta dari anak keturunan Adam q, dan yang akan tetap ada (tidak hancur) sehingga dia dibangkitkan darinya.” (Syarh Shahih Muslim, 9/292)

 

Manusia dibangkitkan telanjang, tanpa alas kaki, tidak dikhitan

Seluruh umat manusia, termasuk para nabi dan rasul dibangkitkan kemudian digiring menghadap Allah l di padang mahsyar dalam keadaan telanjang, tanpa alas kaki dan tidak dikhitan. Keadaan yang menunjukkan bahwa manusia itu fakir, miskin dan lemah di hadapan Allah l, Rabbul alamin.

Dari Ibnu Abbas c, dia berkata:

قَامَ فِينَا رَسُولُ اللهِ n بِمَوْعِظَةٍ، فَقَالَ: إِنَّكُمْ مَحْشُورُونَ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلًا {كَمَا بَدَأْنَا أَوَّلَ خَلْقٍ نُعِيدُهُ وَعْدًا عَلَيْنَا إِنَّا كُنَّا فَاعِلِينَ} وَأَوَّلُ مَنْ يُكْسَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِبْرَاهِيمُ

Rasulullah n memberi nasihat kepada kami, beliau berkata: “Wahai sekalian manusia. Sesungguhnya kalian akan digiring menghadap Allah l pada hari kiamat dalam keadaan tidak beralas kaki, telanjang dan tidak dikhitan (sebagaimana firman Allah):

 

‘Sebagaimana Kami telah menciptakannya, demikian pula Kami mengembalikannya, sebagai janji atas Kami. Sesungguhnya Kami akan benar-benar melakukannya.’ (Al-Anbiya: 104)

Ketahuilah, makhluk yang pertama kali akan dikaruniai pakaian pada hari kiamat adalah Ibrahim q.” (Muttafaqun ‘alaih)

Karena dahsyat dan mencekamnya keadaan waktu itu, kaum lelaki tidak peduli terhadap kaum wanita dan sebaliknya. Ummul Mukminin Aisyah x bertanya kepada Rasulullah n:

يَا رَسُولَ اللهِ، الرِّجَالُ وَالنِّسَاءُ يَنْظُرُ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ؟ فَقَالَ: الْأَمْرُ أَشَدُّ مِنْ أَنْ يُهِمَّهُمْ ذَاكِ

“Wahai Rasullullah, apakah para lelaki dan wanita sebagiannya akan melihat sebagian yang lain?” Beliau n menjawab: “Urusan (pada hari itu) lebih dahsyat daripada mereka memerhatikan hal tersebut.” (Muttafaqun ‘alaih)

 

Keadaan orang-orang kafir setelah dibangkitkan

Bagi orang-orang kafir, hari kiamat adalah hari yang sangat menyulitkan, disebabkan kekafiran dan kesyirikan mereka di dunia. Sebagaimana firman Allah l tentang mereka:

 

(Ingatlah) hari (ketika) seorang penyeru (malaikat) menyeru kepada sesuatu yang tidak menyenangkan (hari pembalasan), sambil menundukkan pandangan-pandangan mereka keluar dari kuburan seakan-akan mereka belalang yang beterbangan, mereka datang dengan cepat kepada penyeru itu. Orang-orang kafir berkata: “Ini adalah hari yang berat.” (Al-Qamar: 6-8)

 

“Dan Kami akan mengumpulkan mereka pada hari kiamat (diseret) atas muka mereka dalam keadaan buta, bisu dan pekak. Tempat kediaman mereka adalah neraka Jahannam. Tiap-tiap kali nyala api Jahannam itu akan padam Kami tambah lagi bagi mereka nyalanya.” (Al-Isra’: 97)

Allah l Mahakuasa melakukan apapun yang Dia kehendaki. Dari Anas bin Malik z:

أَنَّ رَجُلًا قَالَ: يَا نَبِيَّ اللهِ، كَيْفَ يُحْشَرُ الْكَافِرُ عَلَى وَجْهِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ؟ قَالَ: أَلَيْسَ الَّذِي أَمْشَاهُ عَلَى الرِّجْلَيْنِ فِي الدُّنْيَا قَادِرًا عَلَى أَنْ يُمْشِيَهُ عَلَى وَجْهِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ؟ -قَالَ قَتَادَةُ: بَلَى وَعِزَّةِ رَبِّنَا

Seseorang bertanya: “Wahai Nabi, bagaimana orang kafir bisa digiring (menuju mahsyar) dalam keadaan diseret di atas wajahnya?” Beliau n menyatakan: “Bukankah Dzat yang menjadikan dia bisa berjalan di atas kedua kakinya ketika hidup di dunia, Dia juga Mahakuasa untuk menjadikannya berjalan di atas wajahnya pada hari kiamat?” –Qatadah (perawi hadits ini dari Anas z) berkata: “Tentu, demi Keperkasaan Rabb kami.” (Muttafaqun ‘alaih)

 

PERISTIWA YANG SANGAT MENAKUTKAN SETELAH DITIUPNYA SANGKAKALA

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan)

Setelah ditiupnya sangkakala, terjadilah beberapa peristiwa yang sangat menakutkan.

  1. Bumi digoncangkan, gunung-gunung hancur lebur.

Al-Imam Ibnu Katsir t menyatakan (An-Nihayah hal. 154): “Di antara peristiwa yang akan terjadi (setelah ditiupnya sangkakala) adalah bumi digoncang-goncangkan, penghuninya dimiring-miringkan ke kanan dan ke kiri. Sebagaimana berita yang Allah l sampaikan dalam firman-Nya:

Apabila bumi digoncangkan dengan goncangannya (yang dahsyat), dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya, dan manusia bertanya: “Mengapa bumi (jadi begini)?” (Az-Zalzalah: 1-3)

“Hai manusia, bertakwalah kepada Rabb kalian; sesungguhnya kegoncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat). (Ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangat keras.” (Al-Hajj: 1-2)

“Apabila terjadi hari kiamat, terjadinya kiamat itu tidak dapat didustakan (disangkal). (Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain), apabila bumi digoncangkan sedahsyat-dahsyatnya, dan gunung-gunung dihancur luluhkan sehancur-hancurnya, maka jadilah dia debu yang beterbangan.” (Al-Waqi’ah: 1-6)

Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di t menyatakan: “Allah l mengajak bicara seluruh manusia dan memerintahkan agar mereka bertakwa kepada Rabbnya, yang telah memelihara mereka dengan nikmat-nikmat-Nya, baik yang nampak maupun yang tidak tampak. Maka sudah sepantasnya mereka bertakwa kepada-Nya, dengan meninggalkan kesyirikan, kedurhakaan dan kemaksiatan. Sepantasnya pula mereka melaksanakan perintah-perintah-Nya selama mereka mampu melaksanakannya. Kemudian Allah l mengabarkan tentang hal-hal yang akan membantu mereka dalam bertakwa, dan memperingatkan mereka agar mereka tidak meninggalkan ketakwaan tersebut, yaitu berupa berita-berita tentang peristiwa menakutkan yang akan terjadi pada hari kiamat.” (Tafsir As-Sa’di hal. 532)

 

  1. Langit terpecah-belah, bintang-bintang berjatuhan, cahaya bulan menghilang, matahari dan bulan dikumpulkan.

Peristiwa-peristiwa ini akan terjadi pada hari kiamat, sebagaimana yang Allah l beritakan dalam surat At-Takwir, Al-Infithar dan Al-Insyiqaq.

Rasulullah n bersabda tentang keutamaan tiga surat tersebut:

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُ رَأْيُ عَيْنٍ فَلْيَقْرَأْ إِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ، وَإِذَا السَّمَاءُ انْفَطَرَتْ، وَإِذَا السَّمَاءُ انْشَقَّتْ

“Barangsiapa yang senang memerhatikan (peristiwa-peristiwa yang akan terjadi) pada hari kiamat, hendaknya dia membaca surat At-Takwir, Al-Infithar dan Al-Insyiqaq.” (HR. At-Tirmidzi dari Ibnu Umar c, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 1081)

 

  1. Allah l akan mengenggam bumi dan melipat langit dengan tangan kanan-Nya yang mulia

Hal ini sebagaimana dalam firman-Nya:

“Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.” (Az-Zumar: 67)

Juga dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah z, Rasulllah n bersabda:

يَقْبِضُ اللهُ الْأَرْضَ وَيَطْوِي السَّمَاءَ بِيَمِينِهِ ثُمَّ يَقُولُ: أَنَا الْمَلِكُ، أنا الجبار، أَيْنَ مُلُوكُ الْأَرْضِ؟ أَيْنَ الْجَبَّارُونَ؟ أَيْنَ الْمُتَكَبِّرُونَ؟

Allah l akan menggenggam bumi dan melipat langit dengan tangan kanannya. Kemudian Dia berfirman: “Akulah Raja di raja. Aku Maha Memaksa. Di mana raja-raja bumi? Di mana para pemaksa? Di mana orang-orang yang sombong?” (Muttafaqun ‘alaih)

 

  1. Hubungan nasab terputus

Karena dahsyatnya peristiwa-peristiwa yang terjadi, maka terputuslah hubungan nasab. Bapak tidak mampu menolong anaknya. Anakpun tidak mampu menolong orangtuanya. Suami tidak mampu menolong istrinya, sebagaimana seorang istri juga tidak mampu menolong suaminya. Masing-masing berlepas diri dan mencari keselamatan dirinya sendiri.

Hal ini sebagaimana dalam firman Allah:

“Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak ada pula mereka saling bertanya.” (Al-Mu’minun: 101)

“Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua), pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari isteri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya.” (‘Abasa: 33-37)

“(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali.” (Al-Baqarah: 166)

“(Yaitu) hari (ketika) seseorang tidak berdaya sedikitpun untuk menolong orang lain. Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah.” (Al-Infithar: 19)

Sampaipun para rasul yang termasuk Ulul Azmi e, tatkala mereka diminta untuk memberikan syafaat terhadap para makhluk di padang mahsyar, mereka menyatakan:

نَفْسِي، نَفْسِي

“Ya Allah, selamatkan diriku, selamatkan diriku.”

Kecuali Nabi kita Muhammad n, sebagaimana disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim tentang kisah asy-syafa’atul ‘uzhma (syafaat yang agung).

 

  1. Penyesalan pada hari itu tidaklah bermanfaat

Allah l berfirman:

Dan (ingatlah) hari (ketika) langit pecah belah mengeluarkan kabut putih dan diturunkanlah malaikat bergelombang-gelombang. Kerajaan yang hak pada hari itu adalah kepunyaan Rabb Yang Maha Pemurah. Dan adalah (hari itu), satu hari yang penuh kesukaran bagi orang-orang kafir. Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul.” Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab (ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur’an ketika Al-Qur’an itu telah datang kepadaku. Dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia. (Al-Furqan: 25-29)

Al-Imam Ibnu Katsir t berkata: “Dalam ayat-ayat ini, Allah l mengabarkan tentang (apa yang akan terjadi pada hari kiamat) berupa penyesalan orang-orang kafir yang tidak mau mengikuti jalan Rasul n dan apa yang beliau n bawa, berupa kebenaran nyata dari sisi Allah l yang tidak ada keraguan di dalamnya. Dia justru menempuh jalan yang lain. Maka, tatkala terjadi hari kiamat dia akan menyesal, dalam keadaan penyesalan itu tidak bermanfaat baginya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/280)

Wallahu a’lam.

Ditiupnya Sangkakala

Peristiwa mengerikan yang akan terjadi pertama kali pada hari kiamat adalah ditiupnya sangkakala (ash-shur) oleh malaikat Israfil q dengan perintah Allah l.

Makna ash-shur secara etimologi (bahasa) adalah al-qarn (tanduk). Sedangkan menurut istilah syariat, yang dimaksud adalah sangkakala yang sangat besar yang malaikat Israfil q telah memasukkannya ke dalam mulutnya (siap untuk meniupnya), dan dia sedang menunggu kapan dia diperintahkan untuk meniupnya. (Syarh Lum’atul I’tiqad karya Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 114)

Makna ini disebutkan dalam hadits shahih dari Abdullah bin ‘Amr c, dia berkata:

قَالَ أَعْرَابِيٌّ: يَا رَسُولَ اللهِ، مَا الصُّورُ؟ قَالَ: قَرْنٌ يُنْفَخُ فِيهِ

Seorang badui bertanya: “Wahai Rasulullah, apa itu ash-shur?” Beliau n menjawab: “Tanduk yang akan ditiup.” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi dan Abu Dawud. Hadits ini disebutkan dalam Al-Jami’ Ash-Shahih 6/113-114, karya Asy-Syaikh Muqbil t)

Juga sebagaimana dalam hadits Abu Sa’id Al-Khudri z, Rasulullah n bersabda:

كَيْفَ أَنْعَمُ وَصَاحِبُ الْقَرْنِ قَدِ الْتَقَمَ الْقَرْنَ وَاسْتَمَعَ الْإِذْنَ مَتَى يُؤْمَرُ بِالنَّفْخِ فَيَنْفُخُ

“Bagaimana aku akan senang hidup di dunia, sementara pemegang sangkakala telah memasukkannya ke mulutnya. Dia memasang pendengaran untuk diijinkan (meniupnya). Kapanpun dia diperintah meniupnya, dia akan meniupnya.” (HR. At-Tirmidzi, dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dengansyawahid (pendukung)nya dalam Ash-Shahihah no. 1079)

Banyak sekali dalil dari Al-Qur’an yang menunjukkan akan ditiupnya sangkakala pada awal terjadinya hari kiamat. Di antaranya, Allah l berfirman:

 

Dan benarlah perkataan-Nya di waktu Dia mengatakan: “Jadilah, lalu terjadilah”, dan di tangan-Nyalah segala kekuasaan di waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang ghaib dan yang nampak. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (Al-An’am: 73)

“Dan ditiuplah sangkakala, maka tiba-tiba mereka ke luar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Rabb mereka.” (Yasin: 51)

Sedangkan dalam As-Sunnah, Rasulullah n menyebutkan dalam sebuah hadits yang panjang:

ثُمَّ يُنْفَخُ فِي الصُّورِ فَلَا يَسْمَعُهُ أَحَدٌ إِلَّا أَصْغَى لِيتًا وَرَفَعَ لِيتًا ثُمَّ لَا يَبْقَى أَحَدٌ إِلَّا صَعِقَ ثُمَّ يُنْزِلُ اللهُ مَطَرًا كَأَنَّهُ الطَّلُّ أَوْ الظِّلُّ -شَكَّ الراوي- فَتَنْبُتُ مِنْهُ أَجْسَادُ النَّاسِ ثُمَّ يُنْفَخُ فِيهِ أُخْرَى فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ

“Kemudian ditiuplah sangkakala, maka tidak ada seorangpun yang mendengarnya kecuali akan mengarahkan pendengarannya dan menjulurkan lehernya (untuk memerhatikannya). Lalu, tidak tersisa seorangpun kecuali dia mati. Kemudian Allah l menurunkan hujan seperti gerimis atau naungan –perawi ragu–, maka tumbuhlah jasad-jasad manusia karenanya. Lalu ditiuplah sangkakala untuk kali berikutnya, tiba-tiba mereka bangkit dari kuburnya dalam keadaan menanti (apa yang akan terjadi).” (HR. Muslim dari Abdullah bin ‘Amr c)

 

Malaikat Israfil q, sang peniup sangkakala

Di antara dalil yang menunjukkan secara jelas bahwa malaikat yang diberi tugas untuk meniup sangkakala adalah Israfil q, adalah sebagai berikut:

  1. Hadits Abu Hurairah z

Ini adalah hadits yang panjang dan masyhur tentang ditiupnya sangkakala. Disebutkan di dalamnya bahwa Rasulullah n bersabda:

إِنَّ اللهَ تَعَالَى مُنْذُ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ خَلَقَ الصُّورَ فَأَعْطَاهُ إِسْرَافِيلَ فَهُوَ وَاضِعُهُ عَلَى فِيهِ

“Sesungguhnya Allah l semenjak menciptakan langit dan bumi, Dia ciptakan pula sangkakala lalu Dia berikan kepada Israfil. Israfil meletakkannya di mulutnya.” (HR. Ibnu Jarir Ath-Thabari dalam Tafsir-nya, dan Ath-Thabarani dalam Al-Muthawwalat)

Namun para ulama ahlul hadits, seperti Al-Bukhari, Ahmad, Abu Hatim Ar-Razi, AMr bin Ali Al-Fallas, Ibnu Katsir dan selainnya, menghukumi hadits ini sebagai hadits yang dhaif. Di dalam sanadnya ada seorang perawi yang dhaif, namanya Ismail bin Rafi’. Juga karena dalam matannya ada beberapa hal yang mungkar, ditambah pula sanadnya mudhtharib (goncang). (lihat Fathul Bari 11/368-369, Tafsir Ibnu Katsir pada surat Al-An’am ayat 73)

 

  1. Hadits Ibnu Abbas c

Dalam hadits ini disebutkan:

جِبْرِيلُ عَنْ يَمِينِهِ وَمِيكَائِيلُ عَنْ يَسَارِهِ وَهُوَ صَاحِبُ الصُّورِ –يَعْنِي إِسْرَافِيلَ

“Jibril berada di sebelah kanannya, Mikail di sebelah kirinya, sedangkan dia (yang di tengah) adalah pemegang sangkakala, yaitu Israfil.” (HR. Ahmad dan Al-Baihaqi)

Al-Hafizh Ibnu Hajar t mengatakan bahwa dalam sanad-sanadnya ada pembicaraan. (Fathul Bari, 11/368)[1]

 

  1. Ijma’ ulama

Al-Imam Al-Qurthubi t berkata: “Ulama kami berkata: Umat-umat telah bersepakat bahwa yang akan meniup sangkakala adalah Israfil q.” (At-Tadzkirah, hal. 208)

Al-Hafizh Ibnu Hajar t berkata: “Peringatan: Yang masyhur bahwa pemegang sangkakala adalah Israfil q. Al-Halimi t menukilkan ijma’ dalam masalah ini.” (Fathul Bari, 11/368)

 

Berapa kali sangkakala ditiup?

Tentang masalah ini, terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah. Secara ringkas, perbedaan pendapat tersebut menjadi dua, sebagaimana dikatakan Al-Imam Al-Qurthubi t dalam kitabnya At-Tadzkirah (hal. 209).

  1. Tiga kali tiupan

Masing-masingnya adalah:

    1. Nafkhatul faza’ (tiupan yang mengejutkan, menakutkan)

Ini sebagaimana firman Allah l:

“Dan (ingatlah) hari (ketika) ditiup sangkakala, maka terkejutlah segala yang di langit dan segala yang di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Dan semua mereka datang menghadap-Nya dengan merendahkan diri.” (An-Naml: 87)

    1. Nafkhatu ash-sha’qi (tiupan yang mematikan, membinasakan)
    2. Nafkhatul ba’tsi (tiupan yang membangkitkan)

Kedua tiupan ini terdapat dalam firman Allah l:

“Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi, maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing).” (Az-Zumar: 68)

Sedangkan dalil dari As-Sunnah adalah hadits Abu Hurairah z yang diriwayatkan oleh Al-Imam Abul Qasim Ath-Thabarani dalam kitabnya Al-Muthawwalat. Namun hadits ini dhaif sebagaimana penjelasan yang telah lalu. Seandainya hadits ini shahih, maka ini adalah hakim yang memastikan bahwa pendapat ini yang benar. Karena dalam hadits tersebut terdapat pernyataan yang jelas dan pasti bahwa sangkakala ditiup tiga kali. Lafadz hadits tersebut sebagai berikut:

يَنْفُخُ فِيهِ ثَلَاثُ نَفَخَاتٍ، النَّفْخَةُ الْأُوْلَى نَفَخْةُ الْفَزَعِ، وَالثَّانِيَةُ نَفْخَةُ الصَّعْقِ، وَالثَّالِثَةُ نَفْخَةُ الْقِيَامِ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ

“Israfil meniup sangkakala tiga tiupan. Tiupan yang pertama adalah yang mengejutkan. Tiupan yang kedua adalah yang mematikan. Sedangkan tiupan ketiga adalah yang membangkitan (makhluk) menghadap Rabbul ‘alamin.”

Ulama yang memilih pendapat yang menyatakan bahwa tiupan ini tiga kali, di antaranya Ibnul ‘Arabi, Ibnu Taimiyyah, Ibnu Katsir, juga Al-Lajnah Ad-Da’imah, Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan dan selain mereka.

 

  1. Dua kali tiupan

Kedua tiupan tersebut adalah:

    1. Nafkhatul faza’ sekaligus juga nafkhatu ash-sha’qi

Karena kedua tiupan ini –kata Al-Imam Al-Qurthubi t– tidak ada jeda waktunya. Maksudnya, mereka terkejut dan mati karenanya, kecuali siapa yang dikehendaki Allah l.

    1. Nafkhatul ba’tsi

Al-Imam Al-Qurthubi t berkata: “As-Sunnah yang tsabit (pasti, shahih) menunjukkan tiupan terjadi dua kali. Misalnya hadits Abu Hurairah[2]z, hadits Abdullah bin ‘Amr c (HR. Muslim no. 7307) dan selainnya, menunjukkan bahwa peniupan sangkakala itu terjadi dua kali, bukan tiga kali. Ini adalah pendapat yang benar, insya Allah.”

Sedangkan firman Allah l:

“Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi, maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing).” (Az-Zumar: 68)

menurut beliau t, pengecualian dalam ayat ini sebagaimana pengecualian dalam nafkhatul faza’. Sedangkan firman Allah l:

“Dan (ingatlah) hari (ketika) ditiup sangkakala, maka terkejutlah segala yang di langit dan segala yang di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Dan semua mereka datang menghadap-Nya dengan merendahkan diri.” (An-Naml: 87)

ini menunjukkan bahwa nafkhatul faza’ dan nafkhatu ash-sha’qi adalah sama (terjadi satu kali).

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin t berkata: “Para ulama telah berbeda pendapat, apakah ditiupnya sangkakala itu tiga kali ataukah dua kali saja. Dua kali dengan anggapan bahwa nafkhatul faza’ sama dengan nafkhatu ash-sha’qi yang terjadi pertama kali, maka manusia terkejut lalu mereka mati. Kemudian tiupan yang kedua, mereka dibangkitkan dari kubur mereka untuk menghadap Allah l, Rabbul ‘alamin. Pendapat ini adalah yang lebih mendekati kebenaran. Namun perbedaan pendapat ini sangatlah dekat. Seandainya ada yang menyatakan bahwa ditiupnya sangkakala pertama maka manusia terkejut, lalu ditiup untuk yang kedua kali maka mereka mati, pendapat ini tidaklah bertentangan (dengan pendapat kedua). Hanya saja yang lebih dekat adalah bahwa ditiupnya sangkakala itu terjadi dua kali saja.” (Syarh Al-‘Aqidah As-Safariniyyah, hal. 473-474)

 

Jeda waktu antara dua tiupan sangkakala

Rasulullah n bersabda:

مَا بَيْنَ النَّفْخَتَيْنِ أَرْبَعُونَ

“Jarak antara dua tiupan itu adalah empatpuluh.”

Mereka bertanya: “Wahai Abu Hurairah, apakah yang dimaksud empatpuluh hari?” Beliau z berkata: “Aku menolak (menjawabnya).” Mereka bertanya lagi: “Apakah empatpuluh bulan?” Beliau z berkata: “Aku menolak (menjawabnya).” Mereka bertanya kembali: “Apakah empatpuluh tahun?” Beliau z tetap menjawab: “Aku menolak (menjawabnya).”

Al-Imam An-Nawawi t berkata: “Makna ucapan Abu Hurairah z (dalam hadits tersebut) adalah “Aku menolak untuk menyatakan dengan pasti bahwa yang dimaksud adalah empatpuluh hari atau bulan atau tahun. Yang aku nyatakan dengan pasti adalah empatpuluh, tanpa tambahan hari, bulan atau tahun.” Terdapat riwayat yang menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah empatpuluh tahun, namun bukan dalam Shahih Muslim.” (Syarh Shahih Muslim, 9/292)

Al-Hafizh Ibnu Hajar t menyatakan: “Sebagian ulama yang mensyarah Shahih Muslim menyatakan bahwa dalam riwayat Muslim ada yang menyebutkan dengan empatpuluh tahun. Namun sebenarnya riwayat ini tidak ada (dalam Shahih Muslim, -ed). Memang ada yang diriwayatkan oleh Ibnu Mardawaih t dari jalan Sa’id bin Ash-Shald, dari Al-A’masy, dengan menyebutkan arba’una sanah (empatpuluh tahun). Namun riwayat ini syadz(ganjil).” (Fathul Bari, 8/552)

Wallahu a’lam bish-shawab.

 


[1] Al-Akh Yasin bin Ali Al-Adni mengatakan dalam ta’liqnya terhadap Syarh Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah: “Saya belum menemukan hadits shahih yang marfu’ (sampai kepada Rasulullah n) yang menyebutkan dengan jelas bahwa pemegang sangkakala adalah Israfil q.

[2] Rasulullah n bersabda:

مَا بَيْنَ النَّفْخَتَيْنِ أَرْبَعُونَ

“Jarak antara kedua peniupan itu adalah empatpuluh.” (HR. Al-Bukhari no. 4935 dan Muslim no. 7340)

Peristiwa-peristiwa Pada hari Kiamat

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan)

 

Allah l berfirman di awal surat Al-Baqarah:

 

“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib….” (Al-Baqarah: 2-3)

Maka, sifat pertama dari orang-orang beriman yang disebutkan Allah l di awal surat Al-Baqarah adalah beriman kepada yang ghaib. Yaitu hal-hal yang tidak mampu mereka jangkau dengan panca inderanya. Namun mereka mengimaninya karena bersandarkan berita-berita yang benar, berita dari Allah l dan Rasul-Nya n. Sehingga mereka beriman dengannya seakan-akan mereka bisa melihatnya dengan mata kepala mereka.

Hal-hal ghaib, yang sudah maupun yang akan terjadi, tidak boleh disandarkan kepada akal dan pendapat semata. Hal-hal ini hanyalah disandarkan kepada berita-berita yang benar, bersumber dari Allah l, Dzat Yang Maha Mengetahui segala yang tampak maupun tidak tampak, dan Rasul-Nya n, orang yang tidak berbicara menurut hawa nafsunya. Yang beliau beritakan hanyalah wahyu dari Allah l. Allah l berfirman:

 

“Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (An-Najm: 3-4)

Hal-hal yang termasuk perkara ghaib banyak sekali. Di antaranya berita tentang peristiwa-peristiwa yang telah terjadi, seperti apa yang terjadi antara Adam q dengan para malaikat yang diperintahkan sujud kepadanya. Juga berita atau kisah tentang umat-umat terdahulu, semisal kaum Nabi Nuh q, kaum ‘Ad, kaum Tsamud, Kaum Nabi Ibrahim q, penduduk Madyan, dan selain mereka. Allah l telah memberitakan tentang mereka dalam kitab-Nya. Demikian juga Rasulullah n mengabarkannya dalam Sunnahnya. Sehingga, kita wajib beriman dengannya.

Demikian juga tentang hal-hal ghaib yang akan terjadi, semisal tanda-tanda akan datangnya kiamat, adzab dan nikmat kubur. Juga berbagai peristiwa yang akan terjadi pada hari akhir, seperti ditiupnya sangkakala, dibangkitkannya manusia dari kuburnya, lalu digiring ke padang mahsyar, dihisab dan ditimbangnya amalan mereka, telaga Nabi n (al-haudh), shirath (jembatan yang dibentangkan di antara dua tepi neraka), dan akhirnya tentang surga dan neraka. Inilah contoh peristiwa ghaib yang akan terjadi pada hari kiamat. (Syarh Lum’atul I’tiqad, Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan, hal. 182)

Wallahu a’lam.

Tanda-tanda Kedatangan Hari Kiamat

(ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc.)

 

Puji dan syukur kita haturkan kepada Allah Yang Maha Berilmu atas segala sesuatu. Ilmu-Nya meliputi segala yang ada di alam semesta. Dia Maha mengetahui apa yang telah terjadi, dan apa yang akan terjadi serta yang tidak terjadi, dan bagaimana kejadiannya ketika terjadi. Dia tetapkan kapan bangkit hari kiamat, dan Dia sembunyikan pengetahuannya, sehingga tidak seorangpun dari makhluk-Nya mengetahui kapan terjadinya. Allah l berfirman:

 

“Sesungguhnya hari kiamat itu akan datang Aku merahasiakan (waktunya) agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang ia usahakan.” (Thaha: 15)

 

Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: “Bilakah terjadinya?” Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Rabbku; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba.” Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang bari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Al-A’raf: 187)

Ya, sampai makhluk yang paling Dia cintaipun –Nabi Muhammad, semoga shalawat dan salam-Nya tercurah kepadanya– tidak mengetahui kapan terjadinya. Demikian juga Malaikat Jibril.

Suatu ketika Malaikat Jibril berkata kepada Nabi Muhammad n: “Beritahukan kepadaku tentang hari kiamat?” Nabi n menjawab: “Tidaklah yang ditanya tentangnya lebih mengetahui daripada yang bertanya.”

Akan tetapi hari kiamat pasti datang dan bisa jadi sudah dekat. Allah l berfirman:

 

Manusia bertanya kepadamu tentang hari berbangkit. Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang hari berbangkit itu hanya di sisi Allah.” Dan tahukah kamu (hai Muhammad), boleh jadi hari berbangkit itu sudah dekat waktunya. (Al-Ahzab: 63)

Memang sudah semakin dekat dan tanda-tandanya telah muncul. Allah l berfirman:

“Maka tidaklah yang mereka tunggu-tunggu melainkan hari kiamat (yaitu) kedatangannya kepada mereka dengan tiba-tiba, karena sesungguhnya telah datang tanda-tandanya. Maka apakah faedahnya bagi mereka kesadaran mereka itu apabila Kiamat sudah datang?” (Muhammad: 18)

 

“Telah dekat datangnya saat itu (hari kiamat) dan telah terbelah bulan.” (Al-Qamar: 1)

Nabi n pun bersabda:

بُعِثْتُ أنا وَالسَّاعَةُ كَهَاتَيْنِ

“Diutusku dan kiamat bagaikan jarak dua jari ini.” (ShahihHR. Al-Bukhari dan Muslim)

Beliau mengisyaratkan dengan dua jarinya, jari tengah dan jari telunjuknya.

Sungguh, bila diperhatikan sejak diutusnya Nabi Muhammad n di tengah umat ini, mulai bermunculanlah tanda-tanda kecil kiamat. Meninggalnya beliau n, terbukanya Baitul Maqdis, munculnya berbagai peristiwa fitnah semacam terbunuhnya Utsman z, bermunculannya nabi-nabi palsu, hilangnya amanah, lenyapnya ilmu dan menyebarnya kebodohan terhadap ilmu agama, merebaknya zina dan riba, menyemaraknya musik dan minuman yang memabukkan, merajalelanya pembunuhan, merapatnya pasar, putusnya silaturrahmi dan jeleknya hubungan ketetanggaan, menyebarnya sifat kikir, banyaknya gempa bumi, bermunculannya wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang dengan menampilkan bentuk auratnya bahkan auratnya sekaligus, menjamurnya kedustaan dan kesaksian palsu, dan masih banyak lagi. Semua tanda-tanda kecil hari kiamat itu telah kita saksikan bersama, bahkan semakin hari kian menyeruak.

Nanti bilamana tanda-tanda besar kiamat telah muncul maka dunia tinggal menunggu kehancurannya, untuk kemudian masing masing manusia diberi balasan atas segala amalnya. Allah l berfirman:

 

“Sesungguhnya hari kiamat itu akan datang Aku merahasiakan (waktunya) agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang ia usahakan. (Thaha: 15)

Munculnya Imam Mahdi, Dajjal, turunnya Nabi Isa q, keluarnya Ya’juj dan Ma’juj, terjadinya tiga khusuf yaitu tenggelamnya suatu daerah ke dalam perut bumi, penampakan asap yang menyelimuti manusia, terbitnya matahari dari arah barat, munculnya Daabbah yaitu binatang darat yang mampu berbicara, dan munculnya api yang menggiring manusia. Dari Hudzaifah bin Usaid Al-Ghifari z, ia berkata:

اطَّلَعَ النَّبِيُّ n عَلَيْنَا وَنَحْنُ نَتَذَاكَرُ فَقَالَ: َما تَذَاكَرُونَ؟ قَالُوا: نَذْكُرُ السَّاعَةَ. قَالَ: إِنَّهَا لَنْ تَقُومَ حَتَّى تَرَوْنَ قَبْلَهَا عَشْرَ آيَاتٍ. فَذَكَرَ الدُّخَانَ وَالدَّجَّالَ وَالدَّابَّةَ وَطُلُوعَ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا وَنُزُولَ عِيسَى بْنِ مَرْيَمَ n وَيَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ وَثَلَاثَةَ خُسُوفٍ؛ خَسْفٌ بِالْمَشْرِقِ وَخَسْفٌ بِالْمَغْرِبِ وَخَسْفٌ بِجَزِيرَةِ الْعَرَبِ، وَآخِرُ ذَلِكَ نَارٌ تَخْرُجُ مِنَ الْيَمَنِ تَطْرُدُ النَّاسَ إِلَى مَحْشَرِهِمْ

Nabi muncul kepada kami saat kami sedang saling berbincang, maka beliau berkata: “Kalian sedang saling mengingat apa?” Mereka menjawab: “Kami sedang mengingat hari kiamat.” Beliau mengatakan: “Sesungguhnya kiamat tidak akan bangkit sehingga kalian melihat sebelumnya sepuluh tanda.” Lalu beliau menyebutkan asap, Dajjal, Daabbah, terbitnya matahari dari arah barat, turunnya Isa bin Maryam, Ya’juj dan Ma’juj, dan tiga khusuf; khusuf di timur, khusuf di barat dan khusuf di Jazirah Arab, dan yang terakhir adalah api yang keluar dari Yaman, menggiring manusia ke tempat dikumpulkannya mereka. (ShahihHR. Muslim)

Bila satu muncul dari tanda-tanda besar ini maka akan bermunculan yang lain secara silih berganti. Nabi n bersabda:

خُرُوجُ الْآيَاتِ بَعْضِهَا عَلَى إِثْرِ بَعْضٍ يَتَتَابَعْنَ كَمَا تَتَتَابَعُ الْخرْزُ فِي النِّظَامِ

“Munculnya tanda-tanda (kiamat) sebagiannya setelah sebagian yang lain itu beriringan sebagaimana beriringnya permata pada rangkaiannya.”(Shahih, HR. At-Thabarani dalam Al-Ausath dan Ibnu Hibban sebagaimana dalam Al-Mawarid, dari Abu Hurairah z. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih Al-Jami’)

Dari Abdullah bin ‘Amr c, ia berkata: Rasulullah n telah bersabda:

الْآيَاتُ خَرَزَاتٌ مَنْظُومَاتٌ فِي سِلْكٍ فَإِنْ يُقْطَعِ السِّلْكُ يَتْبَعْ بَعْضُهَا بَعْضاً

“Tanda-tanda (kiamat) adalah butiran-butiran permata yang tersusun pada sebuah benang. Bila benang itu diputus, maka sebagiannya akan (lepas) mengikuti yang lain.” (Shahih, HR. Ahmad, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Ahmad Syakir, dinukil dari Asyrathus Sa’ah hal. 246)

Wahai saudaraku seislam. Ambillah hikmah dari tanda-tanda kiamat yang telah bermunculan. Al-Imam Al-Qurthubi t berkata:

“Para ulama berkata, hikmah didahulukannya tanda-tanda kiamat dan ditunjukkanya kepada manusia adalah untuk mengingatkan mereka dari tidur mereka. Juga memotivasi mereka agar berhati-hati untuk diri mereka dengan bertaubat dan kembali kepada Allah, agar mereka tidak dikejutkan dengan sesuatu yang menghalangi mereka dengan pertolongan terhadap diri mereka. Maka, setelah munculnya tanda-tanda kiamat semestinya manusia telah memperhatikan diri-diri mereka, dan memutus diri dari dunia serta mempersiapkan untuk kiamat yang telah dijanjikan.” (At-Tadzkirah, 2/732, dinukil dari Asyrathus Sa’ah karya Al-Ghufaili)

Merangkai Faedah dari Mutiara Sejarah

Inilah al-baitul qashid –maksud– dari penukilan beberapa riwayat tarikh pada lembaran-lembaran yang telah lalu, yaitu mengambil pelajaran dari sejarah generasi terbaik.

Tarikh sahabat bukan sekadar cerita bacaan. Akan tetapi yang lebih penting dari itu adalah bagaimana kita mengambil ibrah (pelajaran) dari kehidupan generasi terbaik dalam mengamalkan Al-Kitab dan As-Sunnah. Dengan memohon pertolongan Rabbul ‘Izzah, kita tutup majelis kita dengan memetik beberapa pelajaran dari kisah-kisah di atas. Semoga Allah l selalu memberikan hidayah kepada kita hingga berjumpa dengan-Nya dan menatap Wajah-Nya yang mulia.

 

Pertama: Sahabat adalah bintang-bintang bagi umat Muhammad n

Meyakini keutamaan sahabat dan mencintai mereka adalah kewajiban agama, fardhu ‘ain atas seluruh manusia sebagaimana ditunjukkan nash Al-Qur’an dan As-Sunnah. Mencintai sahabat adalah iman. Sebaliknya, membenci mereka adalah kemunafikan. Rasulullah n bersabda:

آيَةُ الْإِيْمَانِ حُبُّ الْأَنصَارِ وَآيَةُ النِّفَاقِ بُغْضُ الْأَنْصَارِ

Tanda keimanan adalah mencintai sahabat Anshar, dan tanda kemunafikan adalah membenci sahabat Anshar.” (Muttafaqun ‘Alaihi dari Anas bin Malik z)

Apabila mencintai sahabat Anshar termasuk iman, maka terlebih lagi mencintai sahabat Muhajirin dan Al-Khulafaur Rasyidin; Abu Bakr, Umar, Utsman dan Ali.

Jauhnya umat dari generasi awal yang Allah l ridhai adalah sebab kebinasaan dan sebab dijauhkannya seorang dari jalan kebenaran. Ibarat seorang musafir di tengah sahara yang berjalan tanpa petunjuk.

Pernahkah terbayang bagaimana seorang musafir di tengah lautan atau padang sahara berjalan di tengah kegelapan? Mereka sangat butuh dengan bintang di langit sebagai penunjuk arah. Demikianlah perumpamaan sahabat bagi umat Rasulullah n.

Ketika kemuliaan sahabat dinodai dengan penghinaan, fitnah pasti akan menimpa. Kerusakan akidah akan melingkupi jiwa. Demikian pula sikap dan tindakan tercela akan muncul sebagaimana tejadi di masa lalu, di masa kekhilafahan ‘Utsman bin ‘Affan z dan Ali bin Abi Thalib z. Demikian pula saat ini dan masa yang akan datang.

 

Kedua: Menjatuhkan keutamaan sahabat Rasulullah n adalah makar musuh-musuh Islam

Islam tidaklah sampai kepada kita melainkan melalui jalan sahabat. Dengan penuh pengorbanan, mereka menjaga syariat Rasulullah n hingga kita pun merasakan cahaya Islam. Darah dan jiwa, mereka korbankan bersama Rasulullah n di masa hidupnya, demikian pula setelah wafatnya. Mereka menebarkan Islam ke seluruh penjuru dunia dengan jihad fi sabilillah yang penuh dengan rahmah dan keindahan.

Karena demikian agungnya kedudukan sahabat dalam agama ini, maka mencela sahabat adalah pangkal kerusakan agama. Oleh karena itu Nabi n berwasiat dalam sebuah sabdanya:

لَا تَسُبُّوا أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِي فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَوْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ

“Janganlah kalian mencela seorangpun dari sahabat-sahabatku, karena seandainya kalian berinfak emas sebesar gunung Uhud tidaklah infak itu mencapai (pahala infaq) salah seorang sahabatku sebanyak satu mud atau separuh mud.[1]

Melalui pintu inilah musuh-musuh Islam dari kalangan orang kafir dan munafik berusaha merusak Islam dan menjauhkan umat dari Al-Kitab dan As-Sunnah. Abu Zur’ah t berkata:

إِذَا رَأَيْتَ الرَّجُلَ يَنْتَقِصُ أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللهِ فَاعْلَمْ أَنَّهُ زِنْدِيقٌ وَذَلِكَ أَنَّ الرَّسُولَ عِنْدَنَا حَقٌّ وَالْقُرْآنَ حَقٌّ وَإِنَّمَا أَدَّى إِلَيْنَا هَذَا الْقُرْآنَ وَالسُّنَنَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللهِ وَإِنَّمَا يُرِيدُونَ أَنْ يَجْرَحُوا شُهُودَنَا لِيُبْطِلُوا الْكِتَابَ وَالسُّنَّةَ، وَالْجَرْحُ بِهِمْ أَوْلَى وَهُمْ زَنَادِقَةٌ

“Jika engkau melihat seorang mencela (meremehkan) satu sahabat Rasulullah, maka ketahuilah sesungguhnya dia adalah zindiq. Karena kita yakin bahwa Rasulullah adalah haq, demikian pula Al-Qur’an adalah haq, dan yang menyampaikan Al-Qur’an dan sunnah-sunnah ini adalah sahabat-sahabat Rasulullah. Yang mereka kehendaki adalah mencela saksi-saksi kita (yakni para sahabat) untuk menolak Al-Qur’an dan As-Sunnah. Namun merekalah yang lebih pantas dicela, dan mereka adalah kaum zindiq.”[2]

Tarikh Islam membuktikan apa yang dilakukan musuh-musuh Allah l dengan makarnya. Melalui pintu pencelaan sahabat Rasul n mereka berusaha merobohkan pilar-pilar Islam. Makar inilah yang dilakukan Abdullah bin Saba’ Al-Yahudi, dengan menebarkan celaan kepada Utsman bin Affan z, manusia terbaik di muka bumi saat itu.

Terlalu berani dan gegabah bagi Ibnu Saba’ dan manusia buruk sejenisnya untuk mencela Rasulullah n di hadapan muslimin, karena tabir makar itu akan segera tersingkap. Namun dengan jalan mencela sahabat, mereka memiliki sedikit celah untuk membuat makar di tengah kaum muslimin.

 

Ketiga: Berhati-hati dari makar Yahudi dan penyusup di barisan kaum muslimin

Ahlul kitab, Yahudi dan Nasrani tidak pernah ridha hingga kaum muslimin mengikuti millah (agama) mereka. Allah l kabarkan hal ini dalam firman-Nya:

 

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka.” (Al-Baqarah: 120)

Berbagai upaya mereka tempuh untuk meluapkan kedengkian terhadap Islam. Di antara makar tersebut adalah menyebarkan pemikiran-pemikiran yang merusak Islam. Terlebih di zaman ini, zaman yang seringkali dibanggakan sebagai era informasi dan teknologi. Yahudi beserta barisan munafikin melancarkan perang pemikiran dengan berbagai media yang mereka miliki. Allahul musta’an.

Dalam tarikh Islam, Ibnu Saba’ adalah contoh nyata dari upaya tersebut. Lihatlah bagaimana penyusup ini membentuk kekuatan dengan menyebarkan kesesatan, menjatuhkan keutamaan sahabat di tengah-tengah orang-orang bodoh, hingga terbunuhlah khalifah ‘Utsman bin ‘Affan z.

Tidak berhenti dengan wafatnya ‘Utsman z, di masa ‘Ali z pun dia berusaha menyusupkan akidah-akidah sesat. Ia tebarkan sikap ghuluw (melampaui batas dalam mengagungkan Ali z) sampai taraf menuhankan beliau. Hingga muncullah agama Syi’ah Rafidhah di tengah kaum muslimin, yang pengaruhnya terus dirasakan hingga saat ini. Bahkan mereka memiliki sebuah negara yang memperjuangkan agama Rafidhah.

Iran, demikian nama negara yang siap terus menjadi kaki tangan Yahudi merusak keindahan Islam dan mencemarkan sahabat Rasulullah n. Khumaini Al-Khabits adalah misal yang tidak dapat dipungkiri. Mulutnya yang kotor dan najis penuh dengan celaan dan cercaan kepada sahabat-sahabat Rasulullah, istri-istri Rasulullah n, bahkan dipenuhi dengan ucapan-ucapan kufur. Wal-’iyadzu billah.

Pembaca rahimakumullah. Jika musuh-musuh Islam berusaha menyusup di tengah muslimin di masa sahabat, lalu bagaimana di masa kita? Tentu mereka lebih banyak dan lebih leluasa. Di sinilah kita harus terus meminta kepada Allah l pertolongan dan harus ada upaya untuk menghadapi mereka, yaitu dengan jihad baik dengan lisan, tulisan, atau kekuatan sesuai dengan aturan syariat.

 

Keempat: Memberontak kepada penguasa muslim adalah jalan Khawarij yang penuh kerusakan

Menaati umara dalam hal-hal yang baik adalah pokok penting dalam Islam, sebagaimana ditunjukkan Al-Kitab dan As-Sunnah.

Mematahkan/ menghancurkan ketaatan pada umara’ –meskipun mereka fajir– dengan memberontak atau melakukan tindakan-tindakan yang menyelisihi syariat, seperti aksi demonstrasi dan membuka aib-aib umara di podium dan jalan umum adalah sebab fitnah dan tercabutnya keamanan.

Hal ini bukan berarti kita diam atas kemungkaran umara. Namun syariat telah memberi aturan yang baku tentang cara menasihati penguasa dan sikap apa yang kita lakukan kala melihat kemungkaran mereka.

Di antara aturan tersebut tampak dalam sabda Rasulullah n:

مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِذِي سُلْطَانٍ فَلَا يُبْدِهِ عَلَانِيَةً وَلَكِنْ يَأْخُذْ بِيَدِهِ فَيَخْلُوا بِهِ فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ وَإِلَّا كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ

“Barangsiapa hendak menasihati penguasa maka janganlah dia tampakkan nasihatnya terang-terangan. Akan tetapi ambillah tangannya dan rahasiakanlah nasihat itu. Jika dia menerimanya maka itulah yang diharapkan. Namun jika ia menolaknya, sesungguhnya kewajiban memberi nasihat telah ia tunaikan.”[3]

Adapun pemberontakan dengan segala bentuknya, semua itu adalah sunnah sayyi’ah Ibnu Saba’. Pemberontakan dengan gaya Ibnu Saba’ begitu jelas kita saksikan di negeri kita ini. Perhatikan apa yang terjadi di tengah umat. Berbagai jamaah hizbiyyah terus menanamkan kebencian kepada wulatul umur. Dengan mudah mereka memberikan vonis kafir tanpa mempertimbangkan syarat-syarat dan faktor-faktor penghalang (mawani’). Dengan mudah pula mereka menilai sebuah negeri sebagai negeri kafir –seperti negeri kita ini–. Massa pun disusun, kekuatan pun dibangun untuk menggulingkan pemerintahan.

Apakah reformasi ala Abdulah bin Saba’ mendatangkan kebaikan? Tidak! Justru kerusakan dan hilangnya keamanan, itulah yang akan dituai.

 

Kelima: Al-Jahl (kebodohan) adalah sebab terjatuhnya seseorang dalam fitnah, dan ilmu adalah obatnya

Siapakah orang-orang yang dihasut Abdullah bin Saba’? Apakah yang dia hasut adalah sahabat-sahabat Rasulullah n atau ulama-ulama tabi’in? Atau orang-orang yang mengitari ulama, bertanya pada mereka dan kembali kepada mereka di saat ada perkara yang tidak diketahui?

Jawabnya: Bukan salah satu jenis di atas! Yang ia pengaruhi adalah orang-orang bodoh yang jauh dari ilmu dan ulama.

Ibnu Sauda’ tidak berhasil memengaruhi penduduk Madinah untuk menumpahkan darah ‘Utsman. Tetapi dia berhasil memprovokasi orang-orang bodoh dan jauh dari ulama ketika dia menginjakkan kaki di Mesir.[4]

Demikianlah jika kebodohan telah meliputi jiwa dan hawa nafsu telah merasuk dalam kalbunya, terlebih jika keadaan itu disertai sikap acuh dan antipati pada ulama.[5] Orang seperti ini akan sangat mudah dibawa gelombang fitnah, sebagaimana terjadi pada para pemberontak Utsman bin ‘Affan dan Ali bin Abi Thalib c. Mereka bodoh akan dalil-dalil muhkam (yang sangat terang) yang menunjukkan keutamaan ‘Utsman dan Ali c serta jaminan jannah untuk keduanya. Hawa nafsu dan nash yang mutasyabihat (samar) lebih mereka kedepankan ketimbang bertanya kepada ahlul ilmi yakni para sahabat untuk menghilangkan kebodohan tersebut. Sebagaimana hal ini juga tampak pada argumen-argumen Khawarij dalam dialog mereka bersama Ibnu ‘Abbas z. Merekapun binasa.

Berbeda dengan sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan ihsan (baik). Tidak ada seorang sahabatpun terlibat dalam pemberontakan atau bahkan pembunuhan Utsman z atau Ali bin Abi Thalib z.[6] Semua itu karena pertolongan Allah l, kemudian ilmu yang ada pada mereka hingga mengerti mauqif (sikap) yang benar saat terjadinya fitnah.

Benarlah sabda Rasulullah n dari sahabat Mu’awiyah bin Abi Sufyan z:

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

“Siapa yang Allah l kehendaki kebaikan padanya, Allah l akan fahamkan dia dalam agama.”

Demikianlah, ketika Allah l kehendaki kebaikan pada beberapa ribu Khawarij untuk selamat dari fitnah pemberontakan kepada Ali, Allah l berikan taufik kepada mereka untuk memahami dialog Ibnu ‘Abbas z yang membantah syubhat-syubhat mereka, hingga mengantarkan sebagian mereka bertaubat dan kembali pada jalan yang benar.

 

Keenam: Bid’ah besar berawal dari bid’ah yang kecil, maka berhati-hatilah dengan segala kebidahan

Al-Imam Al-Barbahari (329 H) t berkata: “Berhati-hatilah dari perkara-perkara muhdats (bid’ah) yang kecil, karena bidah yang kecil akan menjadi besar. Dan demikianlah, semua kebid’ahan yang muncul di umat ini pada awalnya menyerupai kebenaran, maka tertipulah mereka yang masuk ke dalamnya, hingga kemudian tidak mampu untuk keluar darinya….” (Syarh As-Sunnah hal. 37)[7]

Al-Imam Ad-Darimi meriwayatkan bahwasanya Abdullah bin Mas’ud z menjumpai sekelompok manusia berkumpul di masjid membentuk lingkaran. Masing-masing memegang kerikil-kerikil, dan di tengah mereka ada seseorang yang duduk dan mengatakan: “Bertasbihlah kalian seratus kali! Bertahlillah seratus kali! Bertakbirlah seratus kali!” Dengan kerikil-kerikil itu mulailah mereka menghitung dzikir (bersama-sama). Maka berdirilah Abdullah bin Mas’ud mengingkarinya seraya berkata: “Apa yang kalian lakukan ini?” Mereka menjawab: “Wahai Abu ‘Abdirrahman, kami menghitung takbir, tasbih dan tahlil dengan kerikil-kerikil ini.” Berkatalah Ibnu Mas’ud z: “Hitung saja kesalahan-kesalahan kalian. Aku jamin kebaikan kalian tidak disia-siakan sedikitpun. Wahai umat Muhammad n, betapa celakanya kalian! Betapa cepatnya kehancuran kalian! (Bukankah) sahabat Nabi kalian masih banyak, dan pakaian Rasulullah n belum lagi hancur? Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, apakah yang kalian lakukan ini berada di atas agama yang lebih baik dari agama Muhammad n, ataukah kalian telah membuka pintu-pintu kesesatan!?” Mereka menjawab: “Demi Allah l! Wahai Abu Abdurrahman, tidaklah kami menginginkan kecuali kebaikan!” Ibnu Mas’ud z berkata: “Betapa banyak orang menginginkan kebaikan akan tetapi tidak mendapatkannya.”

‘Amr bin Salamah berkata: “Sungguh kami melihat bahwa semua mereka yang berada di halaqah-halaqah tersebut memerangi kami di hari Nahrawan bersama barisan Khawarij.” (Diriwayatkan oleh Ad-Darimi dalam As-Sunan dan dishahihkan Al-Albani dalam Ash-Shahihah, 5/11, no. 2005)

Pertempuran Nahrawan adalah pertempuran besar antara Ali z dan Khawarij. Terbunuh pada perang ini tokoh-tokoh Khawarij, termasuk di antara mereka adalah orang-orang yang terlibat pembunuhan khalifah Utsman bin ‘Affan z.

Asy-Syaikh Al-Albani t berkata menerangkan faedah dari riwayat Ad-Darimi ini: “Sesungguhnya bid’ah yang kecil akan mengantarkan kepada bid’ah yang besar.” (Ash-Shahihah, 5/11)

 

Ketujuh: Al-Qur’an wajib ditadabburi dan diamalkan

Allah l turunkan Al-Qur’an untuk ditadabburi maknanya dan diamalkan kandungannya. Bukan hanya dibaca kemudian tidak direnungkan, atau bahkan menyelisihinya dalam pengamalan. Allah l berfirman:

 

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (Shad: 29)

Mentadaburi Al-Qur’an dan mengamalkannya adalah manhaj sahabat dan generasi salaf umat ini. Abu ‘Abdurrahman As-Sulami t berkata: “Berkata kepada kami para sahabat yang membacakan Al-Qur’an kepada kami seperti ‘Utsman bin Affan z, Abdullah bin Mas’ud z dan selain keduanya, bahwasanya jika mereka belajar dari Nabi n sepuluh ayat, tidaklah mereka melampauinya hingga mempelajari apa yang terkandung dalam sepuluh ayat tersebut berupa ilmu dan amal, maka kami (ATAU: mereka???) mempelajari Al-Qur’an, kandungannya sekaligus pengamalannya.”[8]

Namun ketika Al-Qur’an hanya dibaca tanpa dipahami dengan pemahaman yang benar, seorang akan terjatuh dalam penyimpangan dan kesesatan. Abdurrahman bin Muljam dan barisannya adalah contoh dalam hal ini. Ia adalah sosok ahli ibadah dan penghafal Al-Qur’an. Namun ketika Al-Qur’an tidak mereka fahami dengan pemahaman sahabat, bahkan mereka fahami dengan pemahaman Khawarij, terbawalah ia dalam arus fitnah. Ia pun tergulung oleh ombak kebinasaan.

 

Kedelapan: Di antara makar musuh Islam adalah merusak sejarah

Sejarah salaf umat ini adalah sejarah gemilang dan penuh pelajaran berharga bagi generasi sesudahnya. Semua mata rantainya tidak lepas dari faedah dan pelajaran. Oleh karenanya, musuh-musuh Islam berusaha merusak tarikh tersebut sebagai upaya menjauhkan umat dari generasi terbaiknya. Sebagaimana kita bisa melihat contohnya berupa upaya musuh-musuh Islam membuang Ibnu Saba’ dari catatan tarikh, atau upaya mereka membuat kedustaan-kedustaan dalam riwayat tarikh sahabat sebagaimana diisyaratkan Ibnu Taimiyah t. Maka berhati-hatilah dari makar musuh-musuh Islam melalui pintu ini maupun pintu lainnya.

 

Kesembilan: Fitnah akan padam dengan taqwa

Semua fitnah akan padam dengan taqwa, yaitu menghadapinya dengan bimbingan Rasulullah n. Inilah yang dilakukan ‘Utsman bin Affan z. Beliau terus berpegang teguh dengan Sunnah Rasulullah n dan wasiat-wasiatnya dalam menghadapi fitnah, sebagaimana ditunjukkan riwayat-riwayat yang shahih.

Beliau lebih memilih untuk sendiri dalam menghadapi bughat sebagaimana wasiat Rasulullah n, dengan harapan mereka sadar dan tidak melanjutkan pemberontakan.

Utsman melarang sahabat melakukan pembelaan atas dirinya karena mafsadah (kerusakan) besar yang akan terjadi yaitu pertumpahan darah di kalangan kaum muslimin, dan yang akan menjadi korban adalah para sahabat. Beliau ambil mafsadah terkecil dari dua mafsadah yang ada di hadapan beliau. Fitnahpun reda tanpa adanya pertumpahan darah di tengah kaum muslimin.

Wallahu a’lam bish-shawab. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

 

 

 

 

 


[1] HR. Al-Bukhari no. 3673 dan Muslim (4/1967) no. 2541.

[2] Diriwayatkan Al-Khathib Al-Bagdadi dalam Al-Kifayah (hal. 98) dan Ibnu ‘Asakir dalam Tarikh Dimasyq (38/32).

[3] Diriwayatkan Ahmad dalam Al-Musnad (3/404), Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-Sunnah no. 1096 dari sahabat ‘Iyadh bin Ghunm. Dishahihkan Al-Albani dalam Zhilal Al-Jannah.

[4] Lihat kajut: Kontroversi Ibnu Saba’ Al-Yahudi.

[5] Sehingga di antara makar musuh-musuh sunnah adalah menjatuhkan kehormatan ulama agar umat jauh dari mereka. Di masa kita misalnya, Khawarij menjatuhkan kehormatan masyayikh sunnah, seperti Asy-Syaikh Ibnu Baz,Asy- Syaikh Al-Albani, Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin, Asy-Syaikh Muqbil, Asy-Syaikh Shalih Fauzan, Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi, Asy-Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad, dan masyayikh lainnya.

[6] Tidak ada seorang sahabat pun yang terjatuh pada fitnah pembunuhan Utsman z, bahkan pembunuhan itu terjadi di saat sebagian besar sahabat menunaikan ibadah haji tahun 35 H. Adapun Muhammad bin Abu Bakr Ash-Shiddiq yang disebut-sebut termasuk mereka yang mengepung ‘Utsman bin Affan z, bahkan sempat masuk di hari pembunuhan kemudian insaf dan pergi meninggalkan fitnah, ia bukan termasuk sahabat. Hal ini diterangkan Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah Wan-Nihayah.

[7] Ucapan Al-Barbahari ini dinukilkan Adz-Dzahabi dalam Siyar A’lamin Nubala‘ (15/91) pada biografi Al-Imam Al-Barbahari.

[8] Disebutkan Syaikhul Islam dalam Muqadimah Tafsir, lihat Majmu’ Fatawa (13/330).

MANUSIA PALING CELAKA ADALAH PEMBUNUHMU, WAHAI ALI

Wafatnya khalifah ‘Utsman bin ‘Affan z bukan akhir dari musibah yang menimpa umat. Rantai fitnah terus bersambung menimpa umat sebagai ujian dari Allah l, sebagaimana Rasulullah n kabarkan dalam sabdanya:

وَإِذَا وَقَعَ عَلَيْهِمُ السَّيْفُ لَمْ يُرْفَعْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

“Jika pedang telah dijatuhkan atas muslimin, pedang itu tidak akan diangkat hingga hari kiamat.”[1]

Berita ini terjadi seperti apa yang Rasul kabarkan. Ketika khalifah Ar-Rasyid, Amirul Mukminin ‘Utsman z terbunuh, sejak saat itulah peperangan terus berlangsung di tengah kaum muslimin, dan akan berlanjut hingga hari kiamat. La haula wala quwwata illa billah…[2]

Setelah wafatnya ‘Ustman z, menjadi besarlah dua firqah sesat yang saling bertolak belakang, Khawarij dan Rafidhah. Rafidhah melampaui batas dalam mengagungkan Ali z dan ahlul bait hingga mengatakan bahwa Ali adalah pencipta dan sesembahan. Sementara Khawarij, mereka mengkafirkan sang khalifah, hingga darah beliau pun mereka halalkan.

Khawarij yang dulunya bermula dari pemikiran sebagaimana tampak dalam kisah Dzul Khuwaishirah[3], kini muncul sebagai sebuah firqah sesat yang memiliki akar dan kekuatan.

 

Sekilas biografi dan keutamaan Ali bin Abi Thalib z

Beliau adalah Ali bin Abi Thalib bin ‘Abdil Muththalib bin Hasyim Al-Qurasyi z, putra paman Rasulullah n. Sahabat yang termasuk sepuluh orang yang dijamin masuk jannah ini lahir sebelum kerasulan, tercatat sebagai sahabat pertama yang masuk Islam di masa kecilnya.[4]

Tersohor sebagai sosok pemberani, hingga Rasulullah n menugaskannya tidur di rumah beliau saat hijrah ke Madinah, di tengah kepungan pemuda-pemuda Quraisy yang siap dengan pedang-pedang tajam yang terhunus.

Ramadhan, tahun 2 Hijriyah, beliau membawa panji perang Badr[5], peperangan dahsyat yang telah mengukir kejayaan Islam. Janji Allah l pun beliau raih bersama seluruh ahlu Badr, berupa jaminan ampunan-Nya. Allah l berfirman tentang Ahlu Badr:

اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ فَقَدْ وَجَبَتْ لَكُمُ الْجَنَّةُ

“Berbuatlah sekehendak kalian, sungguh telah pasti atas kalian Al-Jannah.”[6]

Tahun 7 Hijriyah, Rasulullah n kembali memberi kepercayaan kepadanya memegang bendera perang Khaibar. Dalam perang itu, Ali mendapat jaminan bahwa Allah l dan Rasul-Nya n telah mencintainya. Malam hari sebelum perang Rasul n bersabda:

لَأُعْطِيَنَّ الرَّايَةَ غَدًا رَجُلًا يُحِبُّ اللهَ وَرَسُولَهُ وَيُحِبُّهُ اللهُ وَرَسُولُهُ، يَفْتَحُ اللهُ عَلَى يَدَيْهِ

“Sungguh aku akan berikan esok hari bendera perang pada seorang yang mencintai Allah l dan Rasul-Nya dan Allah l serta Rasul-Nya mencintainya, melalui tangannya Allah l bukakan kemenangan.”[7]

Ali bin Abi Thalib z adalah sosok yang masyhur dalam kefasihan dan ketajaman bicara, hingga Rasulullah n memercayainya untuk menyampaikan ayat-ayat dari awal surat At-Bara’ah (At-Taubah) kepada orang-orang kafir Quraisy di musim haji tahun 9 H[8].

Ali bin Abi Thalib menyertai Rasulullah n dalam semua peperangan, kecuali perang Tabuk. Beliau tidak mengikutinya karena Rasulullah n memberi kepercayaan mengganti posisi Rasulullah n di Madinah, satu amanah yang besar tentunya. Sempat beliau bersedih karena tidak bisa menyertai Rasul n dalam perang tersebut. Namun sekali lagi justru Rasul n memberikan berita yang menyejukkan, sabda yang menunjukkan keutamaan beliau. Rasul n berkata: “Engkau denganku seperti kedudukan Harun dari Musa, hanya saja tidak ada nabi sesudahku.”[9]

Cukuplah sebagian berita di atas sebagai hujjah yang menggambarkan keutamaan beliau di sisi Allah l.

 

Profil pembunuh Khalifah Ali bin Abi Thalib n

Pernahkah terbayang bahwa sahabat semulia beliau dan orang yang sangat dekat darahnya dengan Rasulullah n akan dibunuh oleh seorang yang dzahirnya ahli ibadah?

Abdurrahman bin Muljam Al-Muradi, bukan orang jalanan yang terkenal peminum khamr, pezina, atau seorang fasik. Bukan! Justru orang akan heran ketika mendengar bahwa Ibnu Muljam adalah seorang ahli ibadah, ahli shalat, shaum, dan penghafal Al-Qur’an.

Akan tetapi demi Allah l, kecerdasan dan semangat ibadahnya tidak disertai dengan kesucian jiwa. Dia tenggelam dalam fitnah Khawarij.

Khawarij memiliki sekian sifat sebagaimana Rasulullah n sabdakan, yang seluruhnya ada pada diri Ibnu Muljam. Di antaranya, mereka adalah kaum yang banyak membaca Al-Qur’an tetapi tidak memahami apa yang dibaca. Bahkan memahaminya dengan pemahaman yang menyimpang dari kebenaran, bacaannya hanya sekadar melewati kerongkongan. Di antara sifat Khawarij, mereka biarkan para penyembah berhala dan mengkafirkan serta memerangi ahlul Islam. Cukuplah sebagai bukti hal ini, mereka memerangi para shahabat generasi terbaik dari umat ini.

 

Rencana pembunuhan Ali bin Abi Thalib z

Gambaran kerusakan fikrah (pemikiran) Khawarij tampak dalam pertempuran Nahrawan (39 H). Peperangan besar antara Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib z dan firqah Khawarij tersebut menyisakan api fitnah dan bara kebencian di dada-dada Khawarij.

Dalam perang ini Ali bin Abi Thalib z menumpas habis sebagian besar Khawarij. Apa yang beliau lakukan sesuai dengan perintah Rasulullah n di masa hidup beliau. Ali bin Abi Thalib z berkata di hari Nahrawan:

أُمِرْتُ بِقِتَالِ الْمَارِقِينَ وَهَؤُلَاءِ الْمَارِقُونَ

“Aku diperintah (Rasulullah) untuk memerangi Al-Mariqin, dan mereka adalah Al-Mariqin.”[10]

Sisa-sisa Khawarij dalam perang Nahrawan lari dengan membawa kebencian kepada Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib z, hingga kemudian mereka melakukan pembicaraan rahasia merancang pembunuhan terhadap Ali z.

Demikian sunnatullah atas hamba-Nya yang beriman. Allah l menetapkan cobaan sesuai kadar keimanan mereka. Allah l telah catat wafatnya Ali bin Abi Thalib z dengan musibah yang mengangkat beliau kepada derajat tinggi dan mulia di sisi-Nya.

 

Kabar Rasulullah n dan rencana pembunuhan

Jauh-jauh hari, Rasulullah n telah mengabarkan kepada Ali z tentang musibah yang akan menimpanya. Beliau bersabda:

أشْقَى الْأَوَّلِينَ عَاقِرُ النَّاقَةِ وَأَشْقَى الْآخِرِينَ الَّذِي يَطْعَنُكَ يَا عَلِيُّ-وَأَشَارَ حَيْثُ يُطْعَنُ

“Orang yang paling binasa dari umat terdahulu adalah penyembelih unta (dari kaum Nabi Shalih). Dan manusia paling celaka dari umat ini adalah orang yang membunuhmu, wahai ‘Ali!seraya Rasulullah n menunjuk letak tubuh mana Ali ditikam.

Hadits ini diriwayatkan Ibnu Sa’d dalam Ath-Thabaqatul Kubra (3/35) dengan sanad mursal[11], akan tetapi memiliki syawahid (penguat-penguat) dari hadits lain. (Lihat pembahasan hadits ini dalam Ash-Shahihah 3/78 no. 1088)

Hadits di atas adalah kabar akan wafatnya Ali bin Abi Thalib z dalam keadaan syahid, sekaligus hukum kesesatan bagi mereka yang membunuh beliau.

 

Jika kesesatan telah masuk ke relung hati

Kesesatan telah melingkupi hati-hati Khawarij hingga timbangan kebenaran pun terbalik. Menilai manusia paling mulia di muka bumi saat itu sebagai orang yang pantas ditumpahkan darahnya.

Abdurrahman bin Muljam Al-Muradi, Al-Burak bin Abdillah At-Tamimi, dan ‘Amr bin Bukair At-Tamimi, mereka –tiga orang Khawarij– berkumpul di Makkah membuat kesepakatan bersama, dan tekad bulat untuk membunuh tiga sahabat mulia, Ali bin Abi Thalib, Mu’awiyah bin Abi Sufyan, dan ‘Amr bin Al-Ash g.

Demikianlah ketika hati telah mengeras dan hidayah telah jauh dari seseorang. Tidakkah mereka renungkan kemuliaan sahabat Rasulullah n? Tidak sadarkah mereka bahwa Rasulullah n telah menjamin jannah bagi Ali bin Abi Thalib z? Kalau memang Ali kafir, mengapa Allah l memberikan jaminan jannah? Apakah Allah l tidak tahu?

 

Katakanlah: “Apakah kamu yang lebih mengetahui ataukah Allah l?” (Al-Baqarah: 140)

Makar busuk itu mereka mulai. Segala jalan mereka tempuh untuk menyudahi orang-orang mulia yang telah Allah l ridhai dan Allah l cintai.

Dalam pertemuan rahasia tersebut, Abdurrahman bin Muljam berkata: “Serahkan pembunuhan Ali kepadaku.”

Al-Burak berkata, “Serahkan Muawiyah kepadaku.”

Lalu ‘Amr bin Bukair berkata: “Aku akan bunuh Al-Ash untuk kalian.”

Demikian pembicaraan mereka di Makkah, kota Al-Haram. Kekejian telah mereka sepakati, tekad bulat telah mereka tetapi, dan semua berjanji untuk tidak saling berkhianat dalam menuju sahabat-sahabat yang akan dibunuh hingga berhasil membunuhnya, atau harus terbunuh dalam menunaikan makar ini.

Pembaca rahimakumullah. Pembunuhan berencana itu apakah mereka anggap sebagai dosa? Ternyata tidak. Justru pembunuhan itu mereka yakini sebagi ibadah, jihad dan taqarrub kepada Allah l. Mahasuci Allah l! Kemana akal-akal mereka? Di mana hati mereka? Tidakkah mereka membaca ayat-ayat Al-Qur’an yang telah mereka hafal dalam dada mereka tentang keutamaan sahabat? Tidakkah mereka cermati sabda Rasulullah n dan wasiat beliau?

Namun hati telah terkunci, akal telah diliputi kesesatan. Pergilah mereka bertiga melangkahkan kaki menuju negeri kediaman tiga sahabat tersebut untuk sebuah tekad, pembunuhan orang-orang terbaik di muka bumi!

Kita tinggalkan kisah Al-Burak dan ‘Amr bin Bukair… Kita ikuti perjalanan Ibnu Muljam Al-Muradi.

Ibnu Muljam menginjakkan kakinya di Kufah. Dia menampakkan kebaikan dan ibadah serta menyembunyikan rencana jahatnya untuk membunuh Amirul Mukminin, Ali bin Abi Thalib z.

Dengan rahasia, dia temui kawan-kawan Khawarijnya. Dalam waktu yang cukup lama di Kufah dia matangkan rencana, dia siapkan pedang, dia rendam dalam racun, untuk menegakkan jihad”membunuh Amirul Mukminin z. Demikian setan membisikkan kesesatan di relung hatinya.

 

Detik-detik wafatnya Ali bin Abi Thalib z

Malam Jum’at, 17 Ramadhan[12] adalah waktu yang direncanakan Ibnu Muljam untuk membunuh Ali z. Keluarlah orang yang paling celaka ini untuk mewujudkan kebinasaanya.

Di tengah keheningan akhir malam, dia dapati Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib z berjalan.

Dengan penuh ketawadhu’an kepada Allah l dan penuh kecintaan pada Rabbul ‘alamin, Ali bin Abi Thalib z keluar menuju shalat shubuh, untuk berdiri di hadapan Allah l. Wajah bersinar dan hati yang hidup tampak dari sosok mulia menantu Rasulullah n, putera paman Rasulullah n. Beliau berjalan menuju saat-saat yang telah Allah l tetapkan.

Dengan tiba-tiba Ibnu Muljam menebaskan pedangnya dengan penuh kekuatan ke arah Ali bin Abi Thalib z, tepat mengenai kening yang diisyaratkan Rasulullah n dengan telunjuk beliau yang mulia. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un!

Pedang beracun tepat mengenai kening Ali bin Abi Thalib z. Bukan sekadar goresan, namun luka yang demikian dalam hingga mencapai ubun-ubunnya –semoga Allah l meridhai Ali z. Kening yang senantiasa bersujud kepada Allah l, kening yang dipandang Rasulullah n dengan penuh cinta dan kasih sayang, kening yang telah penuh dengan debu jihad bersama Rasul, kening yang telah dijamin selamat dari api neraka, kini disambar pedang Ibnu Muljam.

Darah pun bersimbah… Awan kelabu meliputi Kufah, menorehkan kesedihan dalam catatan sejarah.

Allah l tetapkan syahadah bagi beliau z, dan Allah l tetapkan kecelakaan bagi Ibnu Muljam Al-Khariji, sebagaimana sabda Rasulullah n:

وَأَشْقَى الْآخِرِينَ الَّذِي يَطْعَنُكَ يَا عَلِيُّ

“Dan manusia paling celaka dari umat ini adalah orang yang membunuhmu, wahai ‘Ali!”

Ketika pedang mengenai Ali, beliau berseru: “Jangan biarkan orang ini lepas!” Orang-orang yang mendengar seruan Ali bergegas menangkap Ibnu Muljam. Saat itu datanglah Ummu Kultsum, putri Ali bin Abi Thalib z.

Ummu Kultsum berkata: “Wahai musuh Allah l, engkau telah membunuh Amirul Mukminin!”

Ibnu Muljam berkata: “Dia hanya sekadar bapakmu.” (bukan Amirul mukminin, pen.).

Kata Umu Kultsum: “Demi Allah l, aku benar-benar berharap semoga Amirul Mukninin tidak apa-apa.” Tetes-tetes air mata cinta dan kesedihan pun mengalir membasahi pipi Ummu Kultsum, putri Ali bin Abi Thalib.” Ya, tetes air mata rahmah…

Dengan ketus Ibnu Muljam berkata: “Kenapa kau menangis? Demi Allah l aku telah rendam pedangku ini dalam racun selama sebulan, sungguh tidak mungkin dia akan hidup setelah aku mati, aku pasti berhasil membunuhnya!”

Malam Ahad, sebelas hari tersisa dari bulan Ramadhan tahun 40 H, wafatlah Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib z. Beliau dimandikan kedua putranya, Al-Hasan dan Al-Husain c, dua cucu Rasulullah n, serta Abdullah bin Ja’far z (keponakannya), dan dikafani dengan tiga lembar kain tanpa memakai gamis, sebagaimana Rasulullah n dikafani.[13]

Ali z dibunuh dalam keadaan menuju shalat shubuh dan mengajak manusia untuk shalat. Meninggal setelah 4 tahun 8 bulan 22 hari masa kekhilafahan, di umur beliau yang ke-63. Hasbunallah wani’mal wakil.

 


[1] HR. Abu Dawud no. 4252 dan Ibnu Majah no. 3952 dan dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 1773.

[2] I’anatul Mustafid (1/337) karya Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan.

[3] Kisah Dzul Khuwashirah dapat dilihat dalam Shahih Al-Bukhari no. 3610.

[4] Terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang umur beliau saat masuk Islam, dikatakan ketika lima tahun, delapan tahun, atau sepuluh tahun.

[5] Al-Mustadrak (3/111). Al-Hakim berkata: “Hadits ini shahih sesuai syarat Syaikhain.” Disepakati oleh Adz-Dzahabi dalam At-Talkhish.

[6] Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no. 438, dishahihkan Al-Albani.

[7] Muttafaqun ‘alaihi dari hadits Sahl bin Sa’d z.

[8] Sebagaimana diriwayatkan Al-Imam Ahmad dalam Al-Musnad (1/156 dan 2/32), dishahihkan Asy-Syaikh Ahmad Syakir t.

[9] Shahih MuslimKitab Fadhail ash-shahabah no. 2404.

[10] Shahih lighairihi, lihat Fi Zhilalil Jannah hadits no. 907, dari ‘Alqamah t.

[11] Terputus sanadnya antara tabi’in dan Rasulullah n.

[12] Demikian Ibnu Sa’d menyebutkan dalam Ath-Thabaqat pada juz ketiga.

Faedah: Ibnu Hajar dalam At-Tahdzib pada biografi ‘Utsman bin Affan(????) menyebutkan adanya perbedaan pendapat mengenai tanggal terjadinya pembunuhan. Ibnu Hajar berkata: “Dia (Ibnu Muljam) membunuh Ali z pada malam Jumat 13 hari berlalu, atau dikatakan 13 hari tersisa dari bulan Ramadhan tahun 40 H. Dikatakan pula awal malam sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan.”

[13] Ath-Thabaqatul Kubra (3/33), dinukil Ibnul Jauzi dalam Talbis Iblis.

DIALOG IBNU ABBAS DENGAN KAUM KHAWARIJ

Wajibnya kembali kepada sahabat dalam memahami Islam

Jauh dari jalan sahabat Rasulullah n dalam memahami Al-Kitab dan As-Sunnah, adalah pertanda kesesatan dan alamat kebinasaan. Dalam sebuah wasiatnya yang agung, Rasulullah n mewanti-wanti umat ini agar selalu berjalan di atas jalan mereka yang lurus. Beliau n bersabda:

فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

“Maka sungguh, siapa yang hidup di antara kalian akan menyaksikan perselisihan yang banyak, maka wajib atas kalian mengikuti sunnahku dan sunnah Al-Khulafa yang mendapat bimbingan dan petunjuk, pegang eratlah sunnah itu dan gigitlah dengan geraham-geraham kalian.”[1]

Nasihat ini ternyata tidak dihiraukan oleh orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya, kaum Khawarij misalnya. Meski mereka orang yang rajin ibadah, tekun berzikir bahkan jidat-jidat mereka hitam terluka karena banyaknya shalat malam, namun tatkala jalan yang mereka tempuh bukan jalan sahabat Rasulullah n –salaf (pendahulu) umat ini– mereka pun Allah l sesatkan hingga terjerumus dalam jurang kebinasaan. Demikianlah ketentuan Allah l atas mereka yang menentang Rasul n dan meninggalkan jalan sahabat-sahabatnya.

 

“Dan barangsiapa menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasinya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (An-Nisa: 115)

Rentetan peristiwa tarikh adalah mata rantai-mata rantai bersambung yang tak terpisahkan. Wafatnya Khalifah Ar-Rasyid Utsman bin Affan z dan Ali bin Abi Thalib z dalam keadaan syahid dan terzalimi adalah bagian dari akibat buruk pemahaman Khawarij yang jauh dari sahabat Rasulullah n. Mereka memang ahli baca Qur’an, bahkan menghafalnya. Mereka ahli ibadah, bahkan di sebagian besar waktunya. Namun ketika mereka telah tinggalkan sahabat dalam memahami wahyu Allah l, mereka pun terjatuh dalam jurang kebinasaan.

Bukti kebodohan Khawarij dan jauhnya mereka dari salaf umat ini terlalu banyak untuk disebutkan. Cukuplah dalam lembar berikut kita simak dialog mereka bersama Ibnu Abbas z, putra paman Rasulullah n, habrul ummah (ulama umat ini). Dalam dialog tersebut kita bisa menyimak sejauh mana mereka menyimpang dari jalan sahabat, dan bagaimana mereka lebih mengedepankan ra’yu(logika) dan perasaan ketimbang jalan lurus yang telah Rasulullah n gariskan.

Kita tinggalkan Abul Faraj Ibnul Jauzi t meriwayatkan dialog tersebut dalam bukunya, Talbis Iblis, dengan sanadnya hingga Abdullah bin ‘Abbas bin Abdul Muththalib c….

 

Cermin kebodohan Khawarij dalam memahami agama

Ibnu ‘Abbas z berkata: “Orang-orang Khawarij memisahkan diri dari Ali z, berkumpul di satu daerah untuk keluar dari ketaatan (memberontak) kepada khalifah. Mereka ketika itu berjumlah enam ribu orang.

Semenjak Khawarij berkumpul, tidaklah ada seorang yang mengunjungi Ali z melainkan dia berkata –mengingatkan beliau–: “Wahai Amirul Mukminin, mereka kaum Khawarij telah berkumpul untuk memerangimu.”

Beliau menjawab: “Biarkan mereka, aku tidak akan memerangi mereka hingga mereka memerangiku, dan sungguh mereka akan melakukannya.”

Hingga di suatu hari yang terik, saat masuk waktu dhuhur aku menjumpai Ali z. Aku berkata: “Wahai Amirul Mukminin, tunggulah cuaca dingin untuk shalat dhuhur, sepertinya aku akan mendatangi mereka (Khawarij) berdialog.”

‘Ali bin Abi Thalib z berkata: “Wahai Ibnu Abbas, sungguh aku mengkhawatirkanmu!”

Ibnu Abbas z: “Wahai Amirul Mukminin, janganlah kau khawatirkan diriku. Aku bukanlah orang yang berakhlak buruk dan aku tidak pernah menyakiti seorang pun.” Maka Ali z mengizinkanku.

“Jubah terbaik dari Yaman segera kupakai, kurapikan rambutku, dan kulangkahkan kaki ini hingga masuk di barisan mereka di tengah siang.”

Ibnu Abbas z berkata: “Sungguh aku dapati diriku masuk di tengah kaum yang belum pernah sama sekali kujumpai satu kaum yang sangat bersemangat dalam ibadah seperti mereka. Dahi-dahi penuh luka bekas sujud, tangan-tangan menebal bak lutut-lutut unta. Wajah-wajah mereka pusat pasi karena tidak tidur, menghabiskan malam untuk beribadah.”

Kuucapkan salam pada mereka. Serempak mereka menyambutku: “Marhaban, wahai Ibnu ‘Abbas z. Apa gerangan yang membawamu kemari?”

Aku berkata: “Sungguh aku datang pada kalian dari sisi sahabat Muhajirin dan sahabat Anshar, juga dari sisi menantu Rasulullah n,[2] yang kepada merekalah Al-Qur’an diturunkan dan merekalah orang-orang yang paling mengerti makna Al-Qur’an daripada kalian.”

Pembaca rahimakumullah, sebelum kita lanjutkan penuturan Ibnul Jauzi t, perhatikan sejenak jawaban Ibnu ‘Abbas z yang sarat makna dan penuh keindahan. Kata-kata itu sesungguhnya mutiara yang sangat berharga, yang mengingatkan akan kedudukan sahabat Muhajirin dan Anshar sekaligus nasihat bagaimana seharusnya prinsip seorang muslim dalam memahami Al-Kitab dan As-Sunnah yaitu: mengembalikan kepada pemahaman sahabat yang kepada merekalah Al-Qur’an diturunkan, dan merekalah orang yang paling mengerti Al-Kitab dan As-Sunnah. Dalam jawaban ini, beliau juga ingin tegaskan besarnya kedudukan Ali bin Abi Thalib z di sisi Allah l, sebagai menantu Rasulullah n. Mungkin dengan ini mereka menyadari kesesatan yang mereka berada di atasnya dan segera bertaubat untuk tidak memerangi Ali z.

Begitu mendengar ucapan Ibnu Abbas z yang penuh makna dan merupakan prinsip hidup –yang tentunya tidak mereka sukai karena menyelisihi prinsip sesat mereka–, berkatalah sebagian Khawarij memberi peringatan: “Jangan sekali-kali kalian berdebat dengan seorang Quraisy (yakni Ibnu ‘Abbas z, pen.). Sesungguhnya Allah l berfirman:

ﯬ ﯭ ﯮ ﯯ ﯰ

“Sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar.” (Az-Zukhruf: 58)

Betapa bodohnya mereka gunakan ayat ini untuk mencela Ibnu Abbas z, padahal beliau lebih mengerti Al-Qur’an, sebagaimana Rasulullah n berdoa untuknya: “Ya Allah, faqihkan ia dalam agama dan ajarkanlah ia tafsir.”

Ibnul Jauzi t kembali melanjutkan riwayat kisah ini: Berkata dua atau tiga orang dari mereka: “Biarlah kami yang akan mendebatnya!”.

Aku berkata: “Wahai kaum, datangkan untukku alasan, mengapa kalian membenci menantu Rasulullah n beserta sahabat Muhajirin dan Anshar, padahal kepada merekalah Al-Qur’an diturunkan, Tidak ada pula seorang pun dari sahabat yang bersama kalian, dan ia (Ali z adalah orang) yang paling mengerti dengan tafsir Al-Qur’an?”

Mereka berkata: “Kami punya tiga alasan.”

Aku berkata: “Sebutkan (tiga alasan kalian).”

Mereka berkata: “Pertama: Sungguh dia telah jadikan manusia sebagai hakim (pemutus perkara) dalam urusan Allah l, padahal Allah l berfirman:

 

“…Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah l...” (Yusuf: 40)

Hukum manusia tidak ada artinya di hadapan firman Allah l.[3]

Aku berkata: “Ini alasan kalian yang pertama. Lalu apa lagi?”

Mereka berkata: “Adapun yang kedua, sesungguhnya dia telah berperang dan membunuh[4] tapi kenapa tidak mau menawan dan mengambil ghanimah? Kalau mereka (Aisyah dan barisannya) itu mukmin tentu tidak halal bagi kita memerangi dan membunuh mereka. Tidak halal pula tawanan-tawanannya.”

Ibnu Abbas z berkata: “Lalu apa alasan kalian yang ketiga?”

Mereka berkata: “Ketiga: Dia telah hapus sebutan Amirul Mukminin dari dirinya. Kalau dia bukan amirul mukminin (karena menghapus sebutan itu) berarti dia adalah amirul kafirin(pemimpin orang-orang kafir).”

Ibnu ‘Abbas z berkata: “Adakah pada kalian alasan selain ini?” Mereka berkata: “Cukup sudah bagi kami tiga perkara ini!”

 

Bantahan Ibnu ‘Abbas z atas kebodohan Khawarij

Pembaca rahimakumullah, lihatlah bagaimana Khawarij bermudah-mudah mengambil vonis kafir, dan mengambil sikap memberontak bahkan kepada khalifah Ar-Rasyid yang penuh keutamaan dan kemuliaan. Alasan-alasan mereka adalah syubhat yang sangat lemah dan menunjukkan kebodohan mereka dalam memahami Al-Kitab dan As-Sunnah serta an jauhnya mereka dari pemahaman sahabat.

Selanjutnya, mari kita simak bagaimana Ibnu Abbas z mendudukkan syubhat-syubhat tersebut.

Ibnu ‘Abbas z berkata: “Ucapan kalian bahwa Ali z telah menggunakan manusia dalam memutuskan perkara (untuk mendamaikan persengketaan antara kaum muslimin -pen), sebagai jawabannya akan kubacakan ayat yang membatalkan syubhat kalian. Jika ucapan kalian terbantah, maukah kalian kembali (kepada jalan yang benar)?”

Mereka berkata: “Ya, tentu kami akan kembali.”

Ibnu ‘Abbas z berkata: “Ketahuilah, sesungguhnya Allah l telah menyerahkan di antara hukum-Nya kepada hukum (keputusan) manusia, seperti dalam menentukan harga kelinci (sebagai tebusan atas kelinci yang dibunuh saat ihram[5].) Allah l berfirman:

 

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh binatang buruan, ketika kamu sedang ihram. Barangsiapa di antara kamu membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak seimbang dengan buruan yang dibunuhnya, menurut putusan (hukum) dua orang yang adil di antara kamu, sebagai hadyu yang dibawa sampai ke Ka’bah, atau (dendanya) membayar kafarat dengan memberi makan orang-orang miskin, atau berpuasa seimbang dengan makanan yang dikeluarkan itu, supaya dia merasakan akibat buruk dari perbuatannya. Allah telah memaafkan apa yang telah lalu. Dan barangsiapa yang kembali mengerjakannya, niscaya Allah akan menyiksanya. Allah Maha Kuasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) menyiksa.” (Al-Maidah: 95)

Demikian pula dalam perkara perempuan dan suaminya yang bersengketa, Allah l juga menyerahkan hukumnya kepada hukum (keputusan) manusia untuk mendamaikan antara keduanya. Allah l berfirman:

 

“Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-istri itu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha mengenal.” (An-Nisa: 35)

Maka demi Allah l, jawablah oleh kalian. Apakah diutusnya seorang manusia untuk mendamaikan hubungan mereka dan mencegah pertumpahan darah di antara mereka[6] lebih pantas untuk dilakukan, atau hukum manusia perihal darah seekor kelinci dan urusan pernikahan wanita? Menurut kalian manakah yang lebih pantas?”

Mereka katakan: “Bahkan inilah (yakni mengutus manusia untuk mendamaikan manusia dari pertumpahan darah) yang lebih pantas.”

Ibnu ‘Abbas z berkata: “Apakah kalian telah keluar dari masalah pertama?” Mereka berkata: “Ya.”

Ibnu Abbas melanjutkan: “Adapun ucapan kalian bahwa Ali z telah memerangi tapi tidak mau mengambil ghanimah dari yang diperangi dan tidak menjadikan mereka sebagai tawanan, sungguh (dalam alasan kedua ini) kalian telah mencerca ibu kalian (yakni Aisyah). [7]

Demi Allah l! Kalau kalian katakan bahwa Aisyah bukan ibu kita (yakni kafir), kalian sungguh telah keluar dari Islam (karena mengingkari firman Allah l). Demikian pula kalau kalian menjadikan Aisyah sebagai tawanan perang dan menganggapnya halal sebagaimana tawanan lainnya (sebagaimana layaknya orang-orang kafir), maka kalianpun keluar dari Islam. Sesungguhnya kalian berada di antara dua kesesatan, karena Allah l berfirman:

 

“Nabi itu lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka.” (Al-Ahzab: 6)

Ibnu Abbas z berkata: “Apakah kalian telah keluar dari masalah ini?”

Mereka menjawab: “Ya.”

Ibnu Abbas z berkata lagi: “Adapun ucapan kalian bahwasanya Ali z telah menghapus sebutan Amirul Mukminin dari dirinya, maka (sebagai jawabannya) aku akan kisahkan kepada kalian tentang seorang yang kalian ridhai, yaitu Rasulullah n. Ketahuilah, bahwasanya beliau di hari Hudaibiyah (6 H) melakukan shulh (perjanjian damai) dengan orang-orang musyrikin, Abu Sufyan dan Suhail bin ‘Amr. Tahukah kalian apa yang terjadi?

Ketika itu Rasulullah n bersabda kepada Ali z: “Wahai Ali, tulislah perjanjian untuk mereka.” Ali menulis: “Inilah perjanjian antara Muhammad Rasulullah…

Segera orang-orang musyrik berkata: “Demi Allah l! Kami tidak tahu kalau engkau rasul Allah l. Kalau kami mengakui engkau sebagai rasul Allah l tentu kami tidak akan memerangimu.”

Rasulullah n bersabda: “Ya Allah l, sungguh engkau mengetahui bahwa aku adalah Rasulullah. Wahai Ali tulislah: Ini adalah perjanjian antara Muhammad bin Abdilah…’.” (Rasulullah memerintahkan Ali untukmenghapus sebutan Rasulullah dalam perjanjian, pen.)

Ibnu Abbas z berkata: “Demi Allah l, sungguh Rasulullah n lebih mulia dari Ali z. Meskipun demikian, beliau menghapuskan sebutan Rasulullah dalam perjanjian Hudaibiyah…” (Apakah dengan perintah Rasul menghapuskan kata Rasulullah dalam perjanjian kemudian kalian mengingkari kerasulan beliau? Sebagaimana kalian ingkari keislaman Ali karena menghapus sebutan Amirul Mukminin?)

Ibnu Abbas z berkata: “Maka kembalilah dua ribu orang dari mereka, sementara lainnya tetap memberontak (dan berada di atas kesesatan), hingga mereka diperangi dalam sebuah peperangan besar (yakni perang Nahrawan).”[8]

Demikian tiga syubhat Khawarij yang mereka jadikan sebagai alasan memberontak dan memerangi Ali z. Semua syubhat tersebut terbantah dalam dialog mereka dengan Ibnu ‘Abbas z. Maka selamatlah mereka yang mau mendengar sahabat dan menjadikan mereka sebagai rujukan dalam memahami Al-Kitab dan As-Sunnah. Sedangkan mereka yang tidak mau kembali pada sahabat Rasulullah n tetap dalam kebinasaan.

Hingga terjadilah pertempuran Nahrawan. Fitnah pun berlanjut dan terjadilah pembunuhan Khalifah Ar-Rasyid Ali bin Abi Thalib z.


[1] HR. Abu Dawud no. 4607 dan At-Tirmidzi no. 2676.

[2] Yakni Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib z.

[3] Maksud mereka: Kenapa Ali z melakukan tahkim (berhukum) dengan keputusan Abu Musa Al-Asy’ari z dari pihak beliau dan ‘Amr bin Al-Ash z dari pihak Mu’awiyah bin Abi Sufyan z untuk melakukan shulh (perdamaian), demi menjaga darah-darah muslimin setelah sebelumnya terjadi perang Shiffin di bulan Shafar tahun 37 H.

[4] Yaitu perang Jamal tahun 36 H. Perang antara barisan ‘Ali bin Abi Thalib z dan barisan Aisyah x. Hal yang harus diketahui tentang perang Jamal, bahwasanya dalam perang tersebut sama sekali Ali bin Abi Thalib maupun Aisyah tidak menginginkan adanya peperangan. Yang terjadi adalah keinginan Aisyah untuk melakukan ishlah (perbaikan hubungan) antara dua barisan kaum muslimin. Berangkatlah Aisyah menuju Bashrah bersama Thalhah, Az-Zubair dan sejumlah kaum muslimin dengan tujuan ishlah. Perdamaian pun terjadi di antara kedua belah pihak. Namun para penyulut fitnah tidak tinggal diam dengan ketenangan dan perdamaian yang terwujud. Mereka melakukan makar dengan memunculkan penyerangan dari dua kubu sekaligus. Maka Ali menyangka beliau diserang, sehingga harus membela diri. Demikian pula Aisyah menyangka diserang sehingga harus membela diri, hingga terjadilah peperangan yang sesungguhnya tidak diinginkan. Yang harus diketahui pula, bahwasanya tidak ada seorang sahabat pun yang ikut dalam fitnah tersebut. (Lihat Tasdid Al-Ishabah Fima Syajara Bainash-Shahabah, oleh Dziyab bin Sa’d Al-Ghamidi)

[5] Haji atau ‘umrah.

[6] Sebagaimana dilakukan Ali bin Abi Thalib z mengirim Abu Musa Al-Asy’ari z untuk menghentikan perang Shiffin.

[7] Karena konsekuensinya adalah menjadikan Aisyah x sebagai tawanan perang, budak yang boleh dinikahi, padahal beliau adalah Ummul Mukminin yang haram bagi siapapun menikahi beliau sesudah wafatnya Rasulullah n.

[8] Talbis Iblis Ibnul Jauzi dengan beberapa perubahan.