Perbedaan Shabr, Tashabbur, Ishtibar, dan Mushabarah

Perbedaan istilah-istilah di atas dapat ditinjau dari keadaan seorang hamba dalam menerapkan kesabaran pada dirinya atau pada orang lain.

 Shabr

Menahan diri dan mengekangnya dari hal-hal yang tidak pantas disebut shabr (sabar), jika didasari oleh karakter asli dan akhlak bawaan.

 

Tashabbur

Jika menahan diri dan mengekangnya dengan memaksa diri, berlatih, dan berusaha menenggak pahitnya kesabaran, itu disebut tashabbur.

Hal ini ditunjukkan oleh bentuk kata tashabbur yang ditinjau dari ilmu etimologi bahasa Arab. Bentuk itu menunjukkan makna berusaha dan memaksakan diri, seperti kata tahallum (berusaha tenang), tasyajja’ (memberanikan diri), takarram (berusaha berderma), tahammul (berusaha memikul beban), dan semisalnya.

Apabila seorang hamba memaksa diri dan berupaya mendatangkan kesabaran, kesabaran akan menjadi sebuah kepribadian baginya. Dalam sebuah hadits, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللهُ

“Barang siapa berusaha bersabar, Allah akan memberinya kesabaran.” (HR. al-Bukhari)

Demikian pula akhlak yang lain, seperti seorang hamba yang berusaha menjaga iffah (kehormatan), lambat laun sifat tersebut akan menjadi karakternya.

Apakah akhlak bisa diusahakan? Ini merupakan masalah yang diperselisihkan oleh manusia.

Apakah mungkin mengusahakan suatu akhlak atau sama sekali tidak mungkin? Seperti perkataan penyair,

يُرادُ مِنَ الْقَلبِ نِسْيَانُكُم

وَتَأْبَى الطِّبَاعُ عَلَى النَّاقِلِ

Hati ini diminta untuk melupakan kalian

tetapi tabiat tidak mampu melakukan

 

Penyair lain berkata,

يَا أَيُّهَا الْمُتَحَلِّي غَيْرَ شِيمَتِهِ

إِنَّ التَّخَلُّقَ يَأْتِي دُوْنَهُ الْخُلُقُ

        Wahai orang yang mencoba berhias dengan selain akhlaknya,

 Sesungguhnya usahamu meraih akhlak akan disusul akhlak aslimu.

 

Dikatakan pula,

فَقُبْحُ التّطَبُّعِ شِيْمَةُ الْمَطْبُوعِ

        Jeleknya mengusahakan tabiat adalah tabiat yang sudah tercetak

 

Golongan ini mengatakan bahwa Allah ‘azza wa jalla telah menetapkan akhlak, penciptaan, rezeki, dan ajal, maka hal tersebut tidak mungkin untuk diubah.

Golongan lain berpendapat bahwa akhlak itu mungkin diusahakan sebagaimana halnya akal, kehati-hatian, kedermawanan, dan keberanian dapat diusahakan.

Realitas di alam ini merupakan bukti nyata. Mereka mengatakan bahwa latihan akan menghasilkan kepribadian. Maknanya, barang siapa melatih dirinya dengan sesuatu dan membiasakannya, ia akan memiliki sebuah akhlak, karakter, dan tabiat.

Kebiasaan hidup akan mengubah tabiat. Jika seorang hamba terus-menerus bertashabbur (berusaha bersabar), kesabaran akan menjadi karakter dirinya. Demikian pula halnya jika dia selalu mengusahakan sikap hati-hati, ketenangan, kewibawaan, dan keuletan, semua itu akan menjadi akhlak dan tabiatnya.

Alasan lainnya, Allah ‘azza wa jalla telah memberi manusia kemampuan untuk menerima perubahan dan kemampuan untuk belajar.

Oleh karena itu, mengubah sebuah tabiat bukanlah mustahil. Akan tetapi, perubahan terkadang sangat lemah sehingga tabiat asalnya mudah muncul kembali dengan sedikit penyebab saja. Bisa jadi juga perubahan itu kuat, tetapi belum sepenuhnya berpindah dari tabiat asal sehingga akan muncul kembali jika penyebabnya sangat kuat. Terkadang pula, tabiat bisa berpindah sepenuhnya.

 

Ishthibar

Ishthibar lebih dari sekadar tashabbur. Secara etimologi, kata ishtibar merupakan bentuk ifti’al dari shabr, yang memiliki makna kontinuitas.

Tashabbur (berusaha sabar) adalah awal dari ishthibar (perjuangan bersabar), sebagaimana takassub (bekerja) adalah awal dari iktisab (profesi). Jika terus-menerus bertashabbur, jadilah ishthibar.

 

Mushabarah

Adapun mushabarah adalah menghadapi musuh dalam medan kesabaran.

Sebab, bentuk kata mufa’alah menunjukkan perbuatan yang melibatkan dua belah pihak, seperti musyatamah (saling mencela) atau mudharabah (saling memukul).

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱصۡبِرُواْ وَصَابِرُواْ وَرَابِطُواْ

“Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah, bermushabarah, dan ribathlah kalian.” (Ali ‘Imran: 200)

 

Allah ‘azza wa jalla memerintahkan bersabar (terhadap dirinya sendiri), bermushabarah (terhadap seterunya), murabathah (komitmen dan kokoh dalam kesabaran dan mushabarah).

Seorang hamba terkadang bisa bersabar, tetapi tidak bisa bermushabarah. Bisa jadi, dia dapat bermushabarah, tetapi tidak bisa bermurabathah. Terkadang dia bisa bersabar, bermushabarah, dan bermurabathah, tetapi tanpa bertakwa.

Allah ‘azza wa jalla mengabarkan dalam kelanjutan ayat di atas, kunci semua itu adalah takwa, sedangkan kesuksesan dibangun di atas fondasi takwa.

وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ ٢٠٠

“Dan bertakwalah kalian kepada Allah agar kalian beruntung.” (Ali ‘Imran: 200)

Kata murabathah, selain bermakna menjaga benteng pertahanan dari serangan musuh secara lahiriah, juga bermakna menjaga hati dari serangan setan dan hawa nafsu.

Wallahul Muwaffiq.

(diambil dari ‘Uddatush Shabirin wa Dzakhiratu asy-Syakirin hlm. 21—23 cetakan Darul Afaq al-Jadidah, Beirut)

ditulis oleh al-Ustadz Abu Muhammad Abdul Jabbar

Mengutamakan Akhirat di Atas Dunia

Seandainya kalbu:

1) merenungi kefanaan kehidupan dunia dan tidak langgengnya kesenangan-kesenangan yang ada padanya, dan akan berakhirnya berbagai kenikmatan yang ada di dalamnya, sambil menghadirkan kesempurnaan kenikmatan dan kelezatan akhirat, keabadian kehidupan padanya;

2) merenungi pula kelebihan dan keutamaan kenikmatan akhirat atas kenikmatan dunia; dan meyakini dengan pasti tentang benarnya kedua pengetahuan ini, maka renungannya akan menghasilkan pengetahuan yang ketiga:

Akhirat dengan kenikmatannya yang sempurna dan kekal abadi tentu lebih pantas diutamakan oleh setiap orang yang berakal daripada kehidupan dunia yang fana dan menipu.

Dalam hal pengetahuan tentang akhirat, ada dua keadaan manusia:

  1. Dia mendengar pengetahuan itu dari orang lain dalam keadaan kalbunya tidak benar-benar yakin terhadap akhirat dan tidak mau bersungguh-sungguh memahami hakikatnya.

Ini adalah keadaan kebanyakan manusia. Ada tarik-menarik antara dua kutub di dalam dirinya. Daya tarik yang pertama memikatnya untuk lebih mengutamakan dunia, dan inilah yang terkuat dalam dirinya. Sebab, dunia bisa disaksikan dan dirasakan langsung oleh pancaindra.

Adapun daya tarik yang kedua, yakni akhirat, lemah karena pengetahuan tentangnya hanya dari pendengaran saja (belum bisa dirasakan oleh pancaindra). Hatinya belum benar-benar meyakininya, dia pun tidak bersungguh-sungguh merenunginya.

Apabila ia mengutamakan akhirat dengan mengorbankan dunianya, jiwanya berbisik bahwa dirinya telah meninggalkan sesuatu yang pasti dan nyata, menuju sesuatu yang abstrak dan hanya berdasarkan prasangka. Seolah-olah jiwanya menyeru, “Tentu aku tidak boleh melepaskan sebiji jagung yang jelas terlihat di depan mata, demi mendapatkan sebuah berlian yang baru sekedar janji.”

Penyakit inilah yang menghalangi jiwa-jiwa manusia untuk mempersiapkan dirinya menghadapi akhirat, beramal dan berusaha bersungguh-sungguh untuk menyongsongnya. Ini terjadi karena lemahnya ilmu dan keyakinan tentang negeri akhirat.

Seandainya jiwanya meyakini kehidupan akhirat seyakin-yakinnya, tanpa ada celah keraguan di kalbunya, tentu dia tidak akan meremehkannya. Pasti dia akan bersungguh-sungguh mempersiapkan bekal menuju akhirat.

Oleh karena itu, jika dihidangkan makanan yang paling lezat lagi nikmat kepada seseorang dan dia sedang kelaparan, lalu ada yang memberitahu bahwa makanan itu beracun, tentu ia tidak akan menyantapnya. Sebab, dia tahu bahwa bahaya makanan tersebut melampaui kelezatan menyantapnya.

(Jika dalam hal makanan saja demikian) mengapa keimanan seseorang terhadap akhirat tidak tertanam seperti itu dalam hatinya? Ini tidak lain karena lemah dan tidak terhunjamnya pohon ilmu dan iman terhadap kehidupan akhirat dalam hatinya.

Begitu pula saat ia akan melewati suatu jalan. Dia lalu diberitahu bahwa di ujung jalan ada perampok dan begal yang membunuhi orang yang melintas lalu merampas barang-barangnya. Orang itu tidak akan melewati jalan tersebut, kecuali apabila dirinya:

1) tidak percaya kepada yang memberitahunya, atau

2) percaya diri akan kesanggupannya untuk melawan dan mengalahkan mereka.

Kalau saja dia memercayai berita itu sepenuhnya dan merasa tidak sanggup melawan para perampok tersebut, pasti dia tidak akan menempuh jalan itu.

Sekiranya kedua pengetahuan ini telah ada pada diri seseorang, tentu dia tidak akan mengutamakan dunia dan syahwatnya daripada akhirat.

Jadi, dapat dipahami bahwa mengutamakan urusan dunia dan tidak mempersiapkan diri untuk negeri akhirat, tidak akan terjadi pada orang yang imannya benar-benar jujur.

 

  1. Dia benar-benar yakin tanpa ragu sedikit pun bahwa akan ada kehidupan yang pasti dia menetap di dalamnya setelah kehidupan di dunia ini.

Dia yakin ada tempat kembali yang telah dipersiapkan untuknya, dan dunia ini hanyalah jalan yang akan mengantarkannya ke tempat kembalinya tersebut. Dunia ini hanya sekadar tempat persinggahan. Bersamaan dengan itu dia yakin bahwa negeri akhirat tersebut kekal. Nikmat dan azabnya juga tidak akan sirna.

Seandainya bisa dibandingkan antara kenikmatan dan azab di dunia dengan yang ada di akhirat, hanyalah seperti mencelupkan jari ke laut, lalu jari itu diangkat lagi: Air yang membasahi jari itulah permisalan dunia, sedangkan air laut itulah akhirat.

Pengetahuan ini tentu mendorong seseorang untuk mengutamakan, mencari, dan bersungguh-sungguh mempersiapkan diri menghadapi kehidupan akhirat.

 

Bacalah perlahan dan renungilah firman Allah subhanahu wa ta’ala,

ٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَا لَعِبٞ وَلَهۡوٞ وَزِينَةٞ وَتَفَاخُرُۢ بَيۡنَكُمۡ وَتَكَاثُرٞ فِي ٱلۡأَمۡوَٰلِ وَٱلۡأَوۡلَٰدِۖ كَمَثَلِ غَيۡثٍ أَعۡجَبَ ٱلۡكُفَّارَ نَبَاتُهُۥ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَىٰهُ مُصۡفَرّٗا ثُمَّ يَكُونُ حُطَٰمٗاۖ وَفِي ٱلۡأٓخِرَةِ عَذَابٞ شَدِيدٞ وَمَغۡفِرَةٞ مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضۡوَٰنٞۚ وَمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلۡغُرُورِ ٢٠

سَابِقُوٓاْ إِلَىٰ مَغۡفِرَةٖ مِّن رَّبِّكُمۡ وَجَنَّةٍ عَرۡضُهَا كَعَرۡضِ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ أُعِدَّتۡ لِلَّذِينَ ءَامَنُواْ بِٱللَّهِ وَرُسُلِهِۦۚ ذَٰلِكَ فَضۡلُ ٱللَّهِ يُؤۡتِيهِ مَن يَشَآءُۚ وَٱللَّهُ ذُو ٱلۡفَضۡلِ ٱلۡعَظِيمِ ٢١

“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah di antara kalian serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak. Seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani. Kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning lalu menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras, begitu pula ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.

Berlomba-lombalah kamu kepada ampunan dari Rabb-mu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi. (Surga yang) disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Itulah karunia yang Allah berikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (al-Hadid: 20—21)

 

يَسۡ‍َٔلُونَكَ عَنِ ٱلسَّاعَةِ أَيَّانَ مُرۡسَىٰهَا ٤٢ فِيمَ أَنتَ مِن ذِكۡرَىٰهَآ ٤٣  إِلَىٰ رَبِّكَ مُنتَهَىٰهَآ ٤٤  إِنَّمَآ أَنتَ مُنذِرُ مَن يَخۡشَىٰهَا ٤٥  كَأَنَّهُمۡ يَوۡمَ يَرَوۡنَهَا لَمۡ يَلۡبَثُوٓاْ إِلَّا عَشِيَّةً أَوۡ ضُحَىٰهَا ٤٦

 “(Orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari kebangkitan. Kapankah terjadinya? Siapakah kamu (sehingga) dapat menyebutkan (waktunya)? Kepada Rabb-mulah dikembalikan kesudahannya (ketentuan waktunya). Kamu hanyalah pemberi peringatan bagi siapa yang takut kepadanya (hari berbangkit). Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) kecuali hanya (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari.” (an-Nazi’at: 42—46)

 

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا أَنَا فِي الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا

“Tidaklah aku hidup di dunia ini melainkan seperti seorang pengembara yang sedang istirahat berteduh di bawah naungan pohon. Kemudian pengembara tersebut pergi meninggalkannya.” (HR. at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan dihukumi sahih oleh asy-Syaikh al-Albani)

 

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menggolongkan kita sebagai hamba-hamba-Nya yang jujur keimanannya dan senantiasa mengutamakan akhirat di atas dunia. Amin.

(Miftah Daris Sa’adah 1/542, dengan beberapa penambahan)

 

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Muhammad Abdul Jabbar

 

Agar Sabar Menghadapi Gangguan (2)

Berikut ini lanjutan penjelasan tentang beberapa hal yang bisa membantu seorang hamba untuk bersabar menghadapi gangguan orang lain.

  1. Apabila dia disakiti karena amalannya yang ikhlas untuk Allah subhanahu wa ta’ala, karena ketaatan yang diperintah oleh-Nya, atau karena maksiat yang dilarang oleh-Nya, dia wajib bersabar dan tidak boleh membalas.

Sebab, dia disakiti di jalan Allah subhanahu wa ta’ala, maka Allah subhanahu wa ta’ala yang akan memberi pahala untuknya. Karena itulah, ketika para mujahidin fi sabilillah kehilangan darah dan harta mereka di jalan Allah subhanahu wa ta’ala, tidak ada ganti ruginya.

Sebab, Allah subhanahu wa ta’ala telah membeli jiwa dan harta mereka dari diri-diri mereka, sedangkan harganya akan dibayar oleh Allah subhanahu wa ta’ala, bukan oleh makhluk. Barang siapa meminta bayaran dari makhluk, Allah subhanahu wa ta’ala tidak akan memberinya bayaran. Sebab, barang siapa yang binasa karena Allah subhanahu wa ta’ala, Dia-lah yang akan memberinya ganti.

Apabila disakiti karena mendapat musibah, kembalikanlah celaan kepada diri sendiri. Mencela diri sendiri akan menyibukkan diri sehingga tidak memiliki kesempatan untuk mencela orang yang menyakitinya.

Apabila disakiti karena mendapatkan karunia, mantapkanlah diri untuk bersabar. Sebab, tidak mendapatkan karunia, urusannya lebih pahit daripada bersabar.

Barang siapa tidak sabar terhadap teriknya tengah hari, hujan, salju, kesusahan dalam safar, dan perampok, tidak perlu dia berada di tempat dagangnya.

Ini adalah urusan yang sudah diketahui oleh manusia: siapa yang jujur mencari sesuatu, kesabaran untuk mendapatkannya akan diganti sesuai dengan kadar kejujurannya saat mencarinya.

 

  1. Menyadari kebersamaan Allah subhanahu wa ta’ala dengannya, kecintaan, dan keridhaan-Nya apabila dia bersabar.

Barang siapa yang Allah subhanahu wa ta’ala bersamanya, Dia akan menghindarkan segala macam gangguan dan bahaya dari dirinya, dengan penghindaran yang tidak bisa dilakukan oleh salah satu makhluk-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَٱصۡبِرُوٓاْۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ ٤٦

        “Dan bersabarlah, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”  (al-Anfal: 46)

وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلصَّٰبِرِينَ ١٤٦

        “Allah menyukai orang-orang yang sabar.” (Ali Imran: 146)

 

  1. Menyadari bahwa kesabaran adalah separuh iman.

Dengan demikian, dia tidak akan mengganti sebagian keimanannya dengan balasan berupa pembelaan pribadinya. Jika bersabar, sungguh dia telah menjaga keimanannya dan melindunginya dari kekurangan. Dan Allah subhanahu wa ta’ala lah yang akan membela orang-orang yang beriman.

 

  1. Menyadari bahwa kesabaran hamba akan mengatur, mengalahkan, dan mendominasi nafsunya.

Ketika nafsu terkalahkan dan didominasi oleh kesabaran, nafsu tidak akan memperbudak dan menawan dirinya lantas mencampakkannya dalam kebinasaan.

Sebaliknya, apabila dirinya taat, mendengar, dan dikalahkan oleh nafsu, nafsunya akan senantiasa bersama dirinya hingga menghancurkannya, kecuali jika dirinya diselamatkan oleh rahmat dari Rabbnya.

Seandainya tidak ada faedah kesabaran selain menundukkan nafsu dan setannya, sehingga kekuasaan kalbu tampak nyata, bala tentaranya pun teguh, gembira dan bertambah kuat, dan mengusir musuh, (tentu hal ini sudah cukup).

 

  1. Mengetahui bahwa apabila hamba bersabar, Allah subhanahu wa ta’ala lah yang menolongnya, dan itu pasti.

Allah subhanahu wa ta’ala adalah pelindung orang yang bersabar dan menyerahkan orang

yang menzaliminya kepada-Nya. Adapun orang yang membela kepentingan pribadinya, Allah subhanahu wa ta’ala akan kuasakan dia kepada jiwanya. Jadilah dirinya semata yang menolong jiwanya.

Manakah yang lebih lemah penolongnya, orang yang menjadikan Allah subhanahu wa ta’ala sebaik-baik pemberi pertolongan ataukah orang yang menjadikan dirinya sendiri sebagai penolong?

 

  1. Kesabaran dan ketabahan hamba menanggung gangguan orang lain akan menyebabkan musuhnya rujuk dari kezaliman, menyesal, meminta maaf, dan manusia akan mencela orang tersebut.

Setelah menyakiti, dia pun pulang dengan menanggung malu dan menyesali perbuatannya. Bahkan, dia akan menjadi orang yang paling loyal terhadap si hamba. Inilah makna firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَلَا تَسۡتَوِي ٱلۡحَسَنَةُ وَلَا ٱلسَّيِّئَةُۚ ٱدۡفَعۡ بِٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُ فَإِذَا ٱلَّذِي بَيۡنَكَ وَبَيۡنَهُۥ عَدَٰوَةٞ كَأَنَّهُۥ وَلِيٌّ حَمِيمٞ ٣٤ وَمَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ٱلَّذِينَ صَبَرُواْ وَمَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٖ ٣٥

        “Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” (Fushshilat: 34—35)

 

  1. Pembalasan yang hamba lakukan bisa jadi menyebabkan musuhnya semakin jahat, semakin bernafsu, dan semakin memikirkan beragam gangguan yang akan dilancarkan terhadap diri si hamba.

Hal ini terjadi sebagaimana yang telah disaksikan.

Apabila bersabar dan memaafkan, hamba akan aman dari bahaya ini. Orang yang berakal tidak akan memilih bahaya yang lebih besar dan menyingkirkan bahaya yang lebih kecil.

Betapa sering pembalasan justru menyebabkan kejahatan lain yang hamba tidak mampu menghindarinya. Betapa banyak jiwa, kekuasaan, dan harta yang hilang, padahal jika orang yang terzalimi mau memaafkan, semua itu akan tetap ada pada dirinya.

 

  1. Barang siapa membiasakan diri membalas keburukan dan tidak bersabar, pasti dia berbuat zalim.

Sebab, jiwa tidak puas jika hanya membalas dengan yang seimbang. Terkadang jiwa tidak mampu menahan diri untuk membalas sekadar haknya. Kemarahan akan membawa pemiliknya sampai pada taraf tidak mampu memikirkan apa yang dia ucapkan dan lakukan.

Akibatnya, dia yang sebelumnya berstatus “terzalimi” dan menunggu pertolongan serta pemuliaan (dari Allah subhanahu wa ta’ala), berubah menjadi “menzalimi” dan ditunggu oleh kemurkaan dan hukuman (dari Allah subhanahu wa ta’ala).

 

  1. Kezaliman yang dilakukan terhadap hamba akan menghapus keburukan-keburukan yang pernah dilakukannya atau mengangkat derajatnya.

Apabila dia membalas dan tidak bersabar, kezaliman tersebut tidak bisa menghapus keburukan ataupun mengangkat derajatnya.

  1. Pemaafan dan kesabaran hamba adalah bala tentara terbesar menghadapi musuhnya.

Sebab, kesabaran dan pemaafan hamba tersebut akan merendahkan musuhnya, membuatnya takut dari hamba tersebut dan dari manusia. Orang lain tidak akan tinggal diam terhadap musuhnya, meskipun si hamba diam.

Akan tetapi, ketika hamba membalas, hilanglah semua hal tersebut. Oleh karena itu, Anda dapati mayoritas manusia ketika mencela atau menyakiti orang lain, dia ingin agar orang lain tersebut juga mengambil haknya dari dirinya. Ketika orang lain mengimbanginya, dia pun merasa lapang dan mencampakkan rasa berat yang sebelumnya dia rasakan.

 

  1. Apabila si hamba memaafkan, musuhnya akan menyadari bahwa si hamba tersebut lebih tinggi kedudukannya.

Musuhnya pun merasa bahwa si hamba telah berhasil mengambil keuntungan darinya. Setelah itu, musuhnya akan selalu memandang bahwa dirinya lebih rendah dari si hamba.

Cukuplah hal ini menjadi keutamaan dan kemuliaan sikap memaafkan.

 

  1. Apabila hamba memaafkan dan tidak lagi mengungkitnya, hal ini menjadi kebaikan baginya, yang akan melahirkan kebaikan yang lain.

Kebaikan yang lain itu akan melahirkan kebaikan berikutnya, begitu seterusnya. Dengan demikian, kebaikan si hamba akan senantiasa bertambah. Sebab, di antara balasan kebaikan adalah kebaikan pula, sebagaimana halnya balasan kejelekan adalah kejelekan berikutnya.

Bisa jadi, ini menjadi sebab keselamatan dan kebahagiaan yang abadi bagi hamba. Akan tetapi, jika dia membalas dan membela diri, hilanglah semua hal tersebut.

 

(Jami’ul Masail li Syaikhil Islam Ibnu Taimiyah, 1/168—174; diterjemahkan dari http://www.sahab.net/home/?p=1061, dengan beberapa penyesuaian)

Agar Sabar Menghadapi Gangguan (1)

Buah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah

Ada beberapa hal yang bisa membantu seorang hamba untuk bersabar jenis yang ini.

  1. Menyadari bahwa Allah subhanahu wa ta’ala yang menciptakan perbuatan para hamba

Perbuatan hamba, baik gerak, diam, maupun keinginannya, semua adalah ciptaan Allah subhanahu wa ta’ala. Apa yang Allah subhanahu wa ta’ala kehendaki pasti terjadi, sedangkan yang tidak Dia kehendaki tidak akan terjadi. Tidak ada hal sekecil apa pun yang bergerak, di alam yang tinggi dan yang rendah, kecuali dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala dan kehendak-Nya. Para hamba adalah alat.

Karena itu, pandanglah kepada Dzat yang menguasakan mereka atas diri Anda, jangan Anda lihat perbuatan mereka terhadap Anda. Dengan demikian, Anda akan bisa terlepas dari kecemasan dan kesedihan.

  Lanjutkan membaca Agar Sabar Menghadapi Gangguan (1)

Hamba Senantiasa Membutuhkan Kesabaran

Seorang hamba tidak terlepas dari menjalankan perintah yang wajib dia laksanakan, larangan yang wajib untuk dia tinggalkan, takdir yang pasti terjadi, dan kenikmatan yang wajib dia syukuri kepada Pemberinya. Karena semua keadaan ini tidak mungkin lepas darinya, dia pun wajib bersabar sampai meninggal. Lanjutkan membaca Hamba Senantiasa Membutuhkan Kesabaran

Merasa Nyaman dengan Hukuman

Hukuman terberat adalah ketika seorang yang dihukum tidak merasakan hukuman tersebut. Parahnya lagi ketika ia justru senang dengan hukuman itu. Ini seperti seorang yang bahagia dengan harta yang haram dan merasa nyaman dengan dosanya. Orang yang semacam ini tidak akan beruntung.

Sungguh, saya perhatikan keadaan kebanyakan ulama dan ahli zuhud, saya memandang mereka berada dalam suatu hukuman tetapi mereka tidak merasakannya. Kebanyakannya karena mereka punya orientasi mencari kepemimpinan.

Seorang yang berilmu dari mereka marah ketika kesalahannya dibantah. Seorang penceramah membuat-buat keindahan dalam ceramahnya. Seorang yang ahli zuhud, ternyata munafik dan mengharap pujian.

Awal hukuman bagi mereka adalah berpalingnya mereka dari kebenaran karena sibuk mencari perhatian makhluk. Barang siapa yang hukumannya tidak tampak, ia akan kehilangan manisnya bermunajat dengan Allah ‘azza wa jalla, dan kehilangan kelezatan ibadah.

Kecuali orang-orang yang beriman, baik laki-laki maupun perempuan, Allah ‘azza wa jalla menjaga bumi dengan mereka. Batin mereka sama dengan lahiriah mereka. Bahkan, batin mereka lebih tampak. Yang tersembunyi sama dengan yang tampak, bahkan lebih jelas. Cita-cita mereka setinggi bintang kejora, bahkan lebih tinggi lagi.

Apabila dikenal. mereka justru tidak suka. Jika Anda lihat karamah (hal keluarbiasaan) pada mereka, mereka merasa tidak punya karamah.

Manusia tidak sadar dengan keberadaan mereka, sementara mereka sudah jauh melintasi padang sahara.

Mereka dicintai belahan bumi dan para malaikat di langit berbangga dengan mereka.

Kami memohon kepada Allah taufik-Nya untuk bisa mengikuti jejak mereka dan menjadikan kita termasuk pengikut mereka. (Ibnul Jauzi, kitab ash-Shaid)

ditulis oleh Al-Ustadz Qomar Suaidi

Kalbu yang Selamat

Kalbu yang selamat yang terbebas dari azab Allah subhanahu wa ta’ala adalah kalbu yang pasrah kepada Rabbnya, yang tunduk kepada perintah-Nya dan tidak ada padanya rasa penentangan terhadap perintah-Nya; tidak pula ada pengingkaran terhadap kabar yang datang dari-Nya. Dialah kalbu yang selamat dari selain Allah subhanahu wa ta’ala.

Tidak ada yang ia inginkan selain Allah subhanahu wa ta’ala. Tidaklah dia berbuat kecuali apa yang Allah subhanahu wa ta’ala perintahkan. Allahlah satu-satunya yang ia tuju. Perintah dan syariat-Nya ia jadikan sebagai wasilah dan jalan hidupnya. Tidak ada sedikit keraguan yang mejadi penghalang baginya untuk membenarkan berita yang datang dari-Nya. Tidaklah keraguan datang kecuali hanya terlintas sejenak saja. Kemudian ia tahu bahwa ia tidak bisa menetap di kalbu tersebut. Demikian pula hawa nafsu, ia tidak mampu menghalangi kalbu tersebut dari mengikuti keridhaan Allah.

Tatkala kalbu itu demikian keadaannya, ia akan selamat dari kesyirikan, kebid’ahan, penyimpangan, dan kebatilan. Seluruh pendapat yang menafsirkan makna qalbun salim tercakup dalam penjelasan di atas.

Pada hakikatnya, kalbu yang selamat adalah kalbu yang tunduk dan pasrah untuk beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan penuh rasa malu, takut, dan harap. Ia mencukupkan diri dengan kecintaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari kecintaan kepada selain-Nya, dengan rasa takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari takut kepada selain-Nya, dan dengan rasa harap kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari berharap kepada selain-Nya.

Ia menerima segala perintah-Nya dan perintah Rasul-Nya sebagai bentuk keimanan dan ketaatannya. Ia menerima segala takdir dan ketetapan-Nya sehingga ia tidak berprasangka buruk, tidak menentang atau marah terhadap segala ketetapan-Nya. Ia senantiasa berserah diri kepada Allah dengan penuh ketaatan, kerendahan diri, kehinaan, dan penghambaan.

Ia menyerahkan setiap keadaan, perkataan, perbuatan, perasaan, dan daya-upayanya, baik lahir maupun batin, kepada tuntunan Rasul-Nya dan menolak segala sesuatu yang datang dari selainnya. Yang sesuai dengan tuntunan Rasulnya ia terima, dan apa yang menyelisihinya ia tolak. Adapun sesuatu yang belum jelas baginya apakah itu sejalan dengan tuntunan Rasulnya ataukah bertentangan, ia menunda dan mengakhirkannya sampai hal itu menjadi jelas.

Ia senantiasa sejalan dengan wali-wali Allah dan golongan-Nya yang beruntung, yang senantiasa membela agama-Nya dan sunnah Nabi-Nya serta menegakkannya.

Ia pun memusuhi musuh-musuh Allah yang selalu menyelisihi kitab-Nya dan sunnah Nabi-Nya, yang keluar dari bimbingan keduanya, bahkan menyeru manusia untuk menyelisihi keduanya.

 

(Diambil dari kitab Miftah Daris Sa’adah, karya al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah, hlm. 54, cet. Darul Hadits, Kairo)

 

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Abdul Jabbar

Kenalilah Teman Pergaulanmu

Sebuah nasehat dari al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah

Sudah semestinya seorang hamba bergaul sebatas kebutuhan. Ia kelompokkan manusia dalam pergaulannya menjadi empat golongan. Jika golongan tersebut dicampurkan dan tidak dibeda-bedakan, dia akan dimasuki berbagai kejelekan.

 

Golongan pertama adalah seseorang yang bergaul dengan kita ibarat nutrisi yang masuk dalam tubuh kita. Kita senantiasa membutuhkannya siang dan malam. Jika dia sudah mengambil kebutuhan pergaulan tersebut, ia tinggalkan. Apabila ia butuhkan kembali, dia bergaul lagi; dan seterusnya.

Golongan yang seperti ini adalah golongan yang sangat bernilai. Mereka adalah para ulama yang berilmu tentang Allah, perintah-Nya, tipu daya musuh-musuh-Nya, serta penyakit kalbu dan obatnya. Mereka benar-benar orang yang mempunyai keyakinan yang baik terhadap Allah ‘azza wa jalla, kitab-kitab, para rasul, dan terhadap makhluk-Nya. Berbaur denganmereka adalah keuntungan yang murni.

 

Golongan kedua adalah orang yang bergaul dengan kita ibarat obat. Dia membutuhkannya saat sakit. Ketika kita dalam keadaan sehat, kita tidak membutuhkan bergaul dengannya. Yang dimaksud adalah orang yang kita butuhkan dalam hal maslahat duniawi dan menegakkan urusan yang kita perlukan (muamalah, serikat kerja, atau saran duniawi). Jika telah selesai kebutuhan bergaul dengan mereka, namun kita tetap bergaul dengan mereka, pergaulan ini termasuk golongan ketiga.

 

Golongan ketiga adalah orang yang bergaul dengan kita ibarat penyakit dengan berbagai tingkatan keparahannya. Ada di antara orang yang bergaul dengan kita ibarat penyakit yang ganas dan tidak bisa disembuhkan. Mereka ini adalah orang yang tidak mendatangkan keuntungan agama maupun dunia bagi kita apabila kita bergaul dengannya. Bergaul dengan orang seperti ini hanya akan mendatangkan kerugian, baik agama maupun dunia, atau bahkan keduanya. Apabila pergaulan kita dengan golongan ini semakin kuat dan lekat, akan menyebabkan kematian yang menakutkan bagi kita, yakni kematian kalbu. Pergaulan dengan mereka ibarat sakit gigi; akan menjadi sangat sakitdalam keadaan tertentu. Ketika gigi tersebut lepas, hati kita akan menjadi tenang dari sakit gigi itu. Ada pula di antara mereka yang bergaul dengan kita ibarat penyakit demam.

 

Golongan keempat adalah orang yang bergaul dengan kita dan mengakibatkan kebinasaan. Pergaulan dengan mereka ibarat memakan racun. Jika racun tersebut bertepatan dengan adanya penawar dalam tubuh kita, kita akan selamat. Namun, jika tidak, saatnya kita ditakziahi. Betapa banyak golongan ini di tengah manusia. Semoga Allah ‘azza wa jalla tidak memperbanyak mereka.

Yang dimaksud dengan golongan ini adalah ahli bid’ah, orang yang mengikuti jalan kesesatan, menghambat sunnah Rasulullah, dan mengajak pada amalan serta keyakinan yang berbeda dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Mereka adalah orang yang menghalangi dari jalan Allah ‘azza wa jalla dan menginginkan jalan yang bengkok. Mereka menjadikan sunnah sebagai bid’ah, bid’ah sebagai sunnah. Mereka menganggap hal yang ma’ruf sebagai yang mungkar, dan sebaliknya. Jika kita memurnikan tauhid di tengah-tengah mereka, mereka akan mengatakan bahwa kita tidak menghormati para wali dan orang-orang saleh. Jika kita memurnikan mutaba’ah (mengikuti) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka akan mengatakan bahwa kita menyia-nyiakan dan tidak mengikuti para imam dan tidak mengikuti mereka.

(Diringkas dari Badai’ul Fawaid hlm. 498-499, jilid ke-2, oleh al-Ustadz Qomar Suaidi)

Akibat Buruk Kemaksiatan

Al-Ustadz Abu Muhammad Abdul Jabbar

Kemaksiatan memiliki sekian banyak dampak buruk dan tercela yang merusak hati dan jasmani, di dunia maupun di akhirat; yang hanya Allah subhanahu wa ta’ala saja yang mengetahuinya.

Di antaranya sebagai berikut.

 Tirai

  1. Terhalang mendapatkan ilmu.

Ilmu adalah cahaya yang dimasukkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala ke dalam hati seorang hamba, sedangkan maksiat akan memadamkan cahaya tersebut.

Tatkala al-Imam asy-Syafi’i duduk dan membacakan kitab di hadapan al-Imam Malik, beliau (al-Imam Malik) kagum dengan kecerdasan dan kesempurnaan pemahamannya.

Al-Imam Malik berkata kepada al-Imam asy-Syafi’i, “Sungguh, aku melihat bahwa Allah subhanahu wa ta’ala telah memberikan cahaya di hatimu. Janganlah engkau memadamkannya dengan kemaksiatan.”

Al-Imam asy-Syafi’i berkata, “Aku mengeluhkan kepada al-Imam Waki’ tentang buruknya hapalanku. Beliau kemudian membimbingku agar meninggalkan kemaksiatan. Beliau berkata, ‘Ketahuilah! Sesungguhnya ilmu itu adalah keutamaan, sedangkan keutamaan Allah subhanahu wa ta’ala itu tidak diberikan kepada orang yang bermaksiat’.”

 

  1. Terhalang mendapatkan rezeki.

Diriwayatkan di dalam al-Musnad, “Sesungguhnya seorang hamba akan terhalang dari mendapatkan rezeki karena dosa yang dia kerjakan.”

Ketakwaan akan mendatangkan rezeki, sedangkan meninggalkannya akan mendatangkan kefakiran. Tidak ada sesuatu yang bisa mendatangkan rezeki yang semisal dengan meninggalkan kemaksiatan.

 

  1. Menimbulkan rasa gundah dan gelisah di dalam hati.

Hal ini dirasakan oleh pelaku maksiat ketika menjalin hubungan antara dirinya dan Allah. Ia merasakan kegelisahan yang sama sekali tidak sebanding dengan kenikmatan yang ia dapat dari kemaksiatan.

Kalaupun terkumpul padanya berbagai kenikmatan dunia, semua itu tidak bisa mengobati kegelisahan yang ia rasakan. Tidaklah ada yang bisa merasakan hal ini kecuali orang yang dalam hatinya masih ada kehidupan; sebagaimana sakitnya luka tidak bisa dirasakan oleh seorang yang telah mati.

Seandainya tidak ada alasan seorang meninggalkan kemaksiatan selain khawatir ditimpa kegelisahan ini, tentu orang yang berakal akan memilih untuk meninggalkannya.

Suatu ketika ada seseorang yang mengeluh kepada sebagian orang bijak tentang kegelisahan yang dia rasakan. Orang bijak itu berkata, “Jika dosa-dosa itu telah membuatmu gelisah, tinggalkanlah dosa itu jika kau mau, niscaya engkau akan merasakan ketenangan.”

Sungguh, tidak ada sesuatu yang terasa lebih pahit di dalam hati seseorang melebihi rasa gelisah akibat perbuatan dosa yang dia kerjakan.

 

  1. Muncul rasa gelisah tatkala bermuamalah dengan manusia, terkhusus orang saleh di antara mereka.

Jika kegelisahan itu semakin kuat, ia akan semakin menjauh dari mereka. Ia pun akan menjauh dari majelis mereka, terhalang dari barakah kebaikan mereka, dan semakin dekat dengan golongan setan sesuai dengan kadar jauhnya dari golongan Allah.

Akibatnya, kegelisahan itu semakin menguat hingga menguasai dirinya. Kegelisahan itu akan terasa tatkala dia bermuamalah dengan istri, anak, kerabat, bahkan dengan jiwanya sendiri. Engkau akan melihat dia benci terhadap dirinya sendiri.

Sebagian salaf berkata, “Sungguh, tatkala aku bermaksiat kepada Allah, aku melihat dampak buruknya pada tingkah laku istriku dan tungganganku.”

 

  1. Segala urusannya menjadi terasa sulit.

Tidaklah dia menghadapi suatu masalah kecuali dia merasa bahwa semua jalan keluar telah tertutup atau semakin sulit.

Hal ini sebagaimana orang yang bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala akan dijadikan urusannya menjadi mudah. Adapun orang yang tidak bertakwa kepada Allah akan dijadikan sulit segala urusannya.

Sungguh mengherankan! Bagaimana bisa seorang hamba mendapati pintu kebaikan tertutup untuknya dan jalan kebaikan terasa sulit baginya, sedangkan dia tidak tahu mengapa hal itu bisa menimpanya?

 

  1. Kegelapan yang sangat dia rasakan di dalam hatinya sebagaimana dia merasakan gelapnya malam yang telah gulita.

Kegelapan maksiat di hatinya seperti gelapnya malam pada pandangan mata. Sebab, sesungguhnya ketaatan adalah cahaya dan kemaksiatan adalah kegelapan. Tatkala kegelapan itu semakin bertambah, bertambah pula rasa bimbangnya. Akhirnya, dia terjatuh dalam kebid’ahan, kesesatan, dan perkara yang membinasakannya yang tidak dia sadari.

Bagaikan seorang buta, ia keluar dan berjalan seorang diri di kegelapan malam. Kegelapan itu menguat sampai tampak pada matanya, dan terus bertambah hingga tampak pada wajahnya. Wajahnya pun menjadi hitam yang dapat dilihat oleh setiap orang.

Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata, “Sesungguhnya kebaikan itu akan memunculkan sinar pada wajah, cahaya dalam hati, kelapangan rezeki, kekuatan badan, dan kecintaan di hati manusia. Sebaliknya, kejelekan itu akan menimbulkan kesuraman pada wajah, kegelapan dalam hati, kelemahan badan, kurangnya rezeki, dan kebencian di hati manusia.”

 

  1. Melemahkan hati dan badan.

Kelemahan hati akibat kemaksiatan sangatlah tampak. Bahkan, kemaksiatan itu akan terus melemahkan hati sampai hilang kehidupan dalam hati tersebut secara menyeluruh.

Adapun lemahnya badan akibat kemaksiatan, hal itu karena kekuatan orang yang beriman bersumber dari hatinya. Semakin kuat hatinya, semakin kuat pula badannya.

Meski orang fajir tampak kuat badannya, dia akan menjadi lemah tatkala membutuhkan kekuatannya. Seolah-olah, kekuatan itu mengkhianatinya saat dia sangat membutuhkannya. Perhatikanlah bagaimana kekuatan pasukan Persia dan Romawi yang seolah-olah mengkhianati mereka di saat mereka membutuhkannya. Justru orang-orang berimanlah yang menguasai mereka dengan sebab kekuatan badan dan hati mereka.

 

  1. Menghalangi dari ketaatan.

Seandainya tidak ada hukuman untuk sebuah dosa kecuali pelakunya terhalang dari mengerjakan satu amal saleh menuju amal saleh berikutnya, sungguh dengan sebab dosa tersebut ia telah terhalang dari amal saleh yang banyak. Padahal setiap amal saleh itu lebih baik baginya daripada dunia dan seisinya.

Hal ini seperti orang yang memakan satu makanan yang mengakibatkan kemudaratan yang panjang untuk dirinya, dan membuatnya terhalang memakan sekian banyak makanan lain yang lebih baik.

Wallahu a’lam.

Kejujuran

Al-Ustadz Abu Muhammad Abdul Jabbar

daunkl1daunkering

Dalam syariat Islam yang penuh keindahan ini, kejujuran adalah akhlak mulia yang sangat dijunjung tinggi, sedangkan kedustaan adalah dosa besar yang sangat dicela. Sebaliknya, dalam agama Syiah Rafidhah, taqiyyah (baca: dusta) adalah salah satu kewajiban bahkan rukun agama. Oleh karena itu, kaum Rafidah begitu dikenal sebagai kaum yang paling pendusta. Dusta adalah ciri khas bagi kaum Rafidhah.

Wajib bagi seorang muslim, seorang yang berakidah dengan akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah untuk berhias dengan kejujuran dan meninggalkan dusta sejauh-jauhnya. Lebih-lebih lagi jika Anda adalah seorang da’i yangmenyeru ke jalan Allah ‘azza wa jalla. Sebab, kedustaan dapat merusak pemahaman Anda dan pemahaman orang-orang yang Anda dakwahi.

Simaklah peringatan al-Allamah Ibnul Qayyim rahimahullah akan bahaya dusta dalam kitab beliau, al-Fawaid, “Berhati-hatilah dari dusta! Sebab, perbuatan dusta akan merusak pemahaman Anda terhadap suatu perkara sehingga Anda tidak bisa memahaminya sebagaimana hakikatnya. Selanjutnya, dusta akan membuat Anda tidak bisa menggambarkan perkara tersebut dan menjelaskannya kepada manusia sesuai dengan keadaan sebenarnya. Sebab, seseorang yang berdusta menggambarkan sesuatu yang tidak ada menjadi ada dan sesuatu yang ada menjadi tidak ada. Dusta juga menggambarkan suatu kebenaranmenjadi kebatilan dan suatu kebatilan menjadi suatu kebenaran. Dusta dapat pula menggambarkan kebaikan sebagai suatu kejelekan dan kejelekan menjadi suatu kebaikan.

Sebagai hukuman atas perbuatan dusta tersebut, pemahaman dan ilmu seorang pendusta akan rusak. Kemudian dia akan menyampaikan pemahaman dan ilmu yang rusak kepada si pendengar yang telah teperdaya dan condong kepadanya, hingga pemahaman dan ilmu si pendengar itu juga ikut rusak. Jiwa seorang pendusta selalu berpaling dari hakikat yang ada, cenderung kepada hal yang tidak hakiki dan mengedepankan kebatilan.

Apabila pemahaman dan ilmu—yang merupakan sumber segala perbuatan—telah rusak, akan rusak pula amal perbuatannya. Sifat dusta akan menjangkiti amalan-amalannya. Munculnya amalan-amalan dari dirinya bagaikan munculnya dusta dari lisannya sehingga dia tidak mendapat manfaat dari amalan dan lisannya. Oleh karena itu, kedustaan merupakan asas perbuatan dosa, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ

“Sesungguhnya dusta mengantarkan kepada perbuatan dosa, dan sesungguhnya perbuatan dosa akan mengantarkan kepada neraka.”

Awalnya, kedustaan akan menjalar dari jiwa menuju lisan kemudian merusaknya. Setelah itu, ia menjalar menuju anggota badan dan merusak amalan anggota badannya sebagaimana dusta membuat rusak ucapan-ucapan yang keluar dari lisannya. Akhirnya, kedustaan akan meliputi ucapan, amalan, dan segala kondisinya, yang akan mengantarkan pada kerusakan.

Penyakitnya ini akan melemparkannya kepada kebinasaan jika Allah ‘azza wa jalla tidak menyelamatkannya dengan obat berupa kejujuran yang akan mencabut penyakit itu hingga akarnya.

Oleh karena itu, sumber segala amalan hati adalah kejujuran, sedangkan lawannya, seperti riya’, ujub, sombong, bangga diri, angkuh, semena-mena, lemah, malas, pengecut, rendahan, dan lainnya, bersumber dari kedustaan. Setiap amalan saleh yang tampak maupun tidak tampak bersumber dari kejujuran, sedangkan setiap amalan jelek yang tampak maupun tidak tampak bersumber dari kedustaan.

Allah ‘azza wa jalla menghukum pendusta dengan membuatnya malas dan lamban dari hal-hal yang bermanfaat dan bermaslahat untuknya. Allah ‘azza wa jalla memberi ganjaran bagi orang yang jujur dengan memberinya taufik untuk mengerjakan hal yang bermanfaat untuk agama dan dunianya.

Tidak ada suatu perangai yang bisa mendatangkan kebaikan dunia dan akhirat semisal kejujuran. Tidak ada suatu perangai yang bisa mendatangkan kerusakan dunia dan akhirat semisal kedustaan. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaknya kalian bersama dengan orang-orang yang jujur.” (at-Taubah: 119)

“Ini (hari pembalasan) adalah hari yang kejujuran orang-orang jujur akan bermanfaat bagi mereka.” (al-Maidah: 119)

“Apabila telah tetap sebuah perintah, kalau seandainya mereka jujur kepada Allah (dalam melaksanakannya), maka itu akan lebih baik bagi mereka.” (Muhammad: 21)

“Dan datang (kepada Nabi) orang-orang yang mengemukakan uzur, yaitu orang-orang Arab Badui agar diberi izin bagi mereka (untuk tidak pergi berjihad), sedang orang-orang yang mendustakan Allah dan Rasul-Nya, duduk berdiam diri saja. Kelak orang-orang yang kafir di antara mereka itu akan ditimpa azab yang pedih.” (at-Taubah: 90) (al-Fawaid, hlm. 166)

Demikian peringatan keras beliau akan bahaya dusta dan akibat-akibatnya. Betapa berbahayanya sifat dusta bagi seorang muslim, lebih-lebih lagi seorang da’i. Sungguh, setiap dari kita adalah da’i bagi keluarganya.

Semoga Allah ‘azza wa jalla mengaruniakan kejujuran dalam setiap ucapan dan amal perbuatan kita semua. Wallahu a’lam.