Doa Meminta Perlindungan dari Musuh

رَبِّ أَعِنِّي وَلَا تُعْنَ عَلَيَّ، وَانْصُرْنِي وَلَا تَنْصُرْ عَلَيَّ، وَامْكُرْلِي وَلَا تَمْكُرْ عَلَيَّ، وَاهْدِنِي وَيَسِّرْ هُدَايَ إِلَيَّ، وَانْصُرْنِي عَلَى مَنْ بَغَى عَلَيَّ.

اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي لَكَ شَاكِرًا، لَكَ ذَاكِرًا، لَكَ رَاهِبًا، لَكَ مِطْوَاعًا، إِلَيْكَ مُخْبِتًا –أَوْ: مُنِيبًا–، رَبِّ تَقَبَّلْ تَوْبَتِي وَاغْسِلْ حَوْبَتِي وَأَجِبْ دَعْوَتِي وَثَبِّتْ حُجَّتِي وَاهْدِ قَلْبِي وَسَدِّدْ لِسَانِي وَاسْلُلْ سَخِيْمَةَ قَلْبِي

“Wahai Rabbku, tolonglah diriku atas musuh-musuhku dan janganlah Engkau tolong musuh-musuhku atas diriku. Balaslah makar atas musuhku dan janganlah Engkau membuat makar atas diriku. Tunjukilah diriku da mudahkanlah diriku mengikuti petunjuk. Tolonglah diriku atas orang yang melampaui batas terhadapku. Ya Allah, jadikanlah aku orang yang hanya bersyukur kepada-Mua, berdzikir kepada-Mua, takut kepada-Mu, tunduk dan kembali kepada-Mu. Wahai Rabbku, terimalah taubatku, bersihkanlah dosaku, kabulkanlah doaku, kokohkanlah hujjahku, tunjukilah hatiku, luruskanlah lisanku dan keluarkanlah sifat dendam dari hatiku.”

(HR. Abu Dawud no. 1510 dengan sanaad yang shahih, dari sahabat Ibnu Ababs c)

Perang Hunain (bagian 3)

Kaum Anshar dan Ghanimah

Al-Imam Ahmad t meriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri z, beliau berkata:

لَمَّا أَعْطَى رَسُولُ اللهِ n مَا أَعْطَى مِنْ تِلْكَ الْعَطَايَا فِي قُرَيْشٍ وَقَبَائِلِ الْعَرَبِ وَلَمْ يَكُنْ فِي الْأَنْصَارِ مِنْهَا شَيْءٌ وَجَدَ هَذَا الْحَيُّ مِنَ الْأَنْصَارِ فِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّى كَثُرَتْ فِيهِمُ الْقَالَةُ حَتَّى قَالَ قَائِلُهُمْ: لَقِيَ رَسُولُ اللهِ n قَوْمَهُ. فَدَخَلَ عَلَيْهِ سَعْدُ بْنُ عُبَادَةَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ هَذَا الْحَيَّ قَدْ وَجَدُوا عَلَيْكَ فِي أَنْفُسِهِمْ لِمَا صَنَعْتَ فِي هَذَا الْفَيْءِ الَّذِي أَصَبْتَ قَسَمْتَ فِي قَوْمِكَ وَأَعْطَيْتَ عَطَايَا عِظَامًا فِي قَبَائِلِ الْعَرَبِ وَلَمْ يَكُنْ فِي هَذَا الْحَيِّ مِنَ الْأَنْصَارِ شَيْءٌ. قَالَ: فَأَيْنَ أَنْتَ مِنْ ذَلِكَ، يَا سَعْدُ؟ قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، مَا أَنَا إِلاَّ امْرُؤٌ مِنْ قَوْمِي وَمَا أَنَا؟؟؟ قَالَ: فَاجْمَعْ لِي قَوْمَكَ فِي هَذِهِ الْحَظِيرَةِ. قَالَ: فَخَرَجَ سَعْدٌ فَجَمَعَ النَّاسَ فِي تِلْكَ الْحَظِيرَةِ، قَالَ: فَجَاءَ رِجَالٌ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ فَتَرَكَهُمْ فَدَخَلُوا وَجَاءَ آخَرُونَ فَرَدَّهُمْ فَلَمَّا اجْتَمَعُوا أَتَاهُ سَعْدٌ فَقَالَ: قَدِ اجْتَمَعَ لَكَ هَذَا الْحَيُّ مِنَ الْأَنْصَارِ. قَالَ: فَأَتَاهُمْ رَسُولُ اللهِ n فَحَمِدَ اللهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ بِالَّذِي هُوَ لَهُ أَهْلٌ ثُمَّ قَالَ: يَا مَعْشَرَ الْأَنْصَارِ، مَا قَالَةٌ بَلَغَتْنِي عَنْكُمْ وَجِدَةٌ وَجَدْتُمُوهَا فِي أَنْفُسِكُمْ، أَلَمْ آتِكُمْ ضُلاَّلاً فَهَدَاكُمُ اللهُ، وَعَالَةً فَأَغْنَاكُمُ اللهُ وَأَعْدَاءً فَأَلَّفَ اللهُ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ؟ قَالُوا: بَلِ اللهُ وَرَسُولُهُ أَمَنُّ وَأَفْضَلُ. قَالَ: أَلاَ تُجِيبُونَنِي يَا مَعْشَرَ الْأَنْصَارِ؟ قَالُوا: وَبِمَاذَا نُجِيبُكَ يَا رَسُولَ اللهِ؟ وَلِلهِ وَلِرَسُولِهِ الْمَنُّ وَالْفَضْلُ. قَالَ: أَمَا وَاللهِ لَوْ شِئْتُمْ لَقُلْتُمْ فَلَصَدَقْتُمْ وَصُدِّقْتُمْ، أَتَيْتَنَا مُكَذَّبًا فَصَدَّقْنَاكَ وَمَخْذُولاً فَنَصَرْنَاكَ وَطَرِيدًا فَآوَيْنَاكَ وَعَائِلاً فَأَغْنَيْنَاكَ، أَوَجَدْتُمْ فِي أَنْفُسِكُمْ يَا مَعْشَرَ الْأَنْصَارِ، فِي لُعَاعَةٍ مِنَ الدُّنْيَا تَأَلَّفْتُ بِهَا قَوْمًا لِيُسْلِمُوا وَوَكَلْتُكُمْ إِلَى إِسْلاَمِكُمْ، أَفَلاَ تَرْضَوْنَ يَا مَعْشَرَ اْلأَنْصَارِ أَنْ يَذْهَبَ النَّاسُ بِالشَّاةِ وَالْبَعِيرِ وَتَرْجِعُونَ بِرَسُولِ اللهِ n فِي رِحَالِكُمْ؟ فَوَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَوْلاَ الْهِجْرَةُ لَكُنْتُ امْرَأً مِنَ الْأَنْصَارِ، وَلَوْ سَلَكَ النَّاسُ شِعْبًا وَسَلَكَتِ الْأَنْصَارُ شِعْبًا لَسَلَكْتُ شِعْبَ الْأَنْصَارِ، اللهُمَّ ارْحَمِ الْأَنْصَارَ وَأَبْنَاءَ الْأَنْصَارِ وَأَبْنَاءَ أَبْنَاءِ الْأَنْصَارِ. قَالَ: فَبَكَى الْقَوْمُ حَتَّى أَخْضَلُوا لِحَاهُمْ وَقَالُوا: رَضِينَا بِرَسُولِ اللهِ قِسْمًا وَحَظًّا. ثُمَّ انْصَرَفَ رَسُولُ اللهِ n وَتَفَرَّقْنَا

Ketika Rasulullah n mulai membagi-bagikan ghanimah kepada beberapa tokoh Quraisy dan kabilah ‘Arab; sama sekali tidak ada dari mereka satu pun yang dari Anshar. Hal ini menimbulkan kejengkelan dalam hati orang-orang Anshar hingga berkembanglah pembicaraan di antara mereka, sampai ada yang mengatakan: “Rasulullah n sudah bertemu dengan kaumnya kembali.”

Kemudian masuklah Sa’d bin ‘Ubadah menemui Rasulullah n, katanya: “Wahai Rasulullah. Orang-orang Anshar ini merasa tidak enak terhadap anda melihat apa yang anda lakukan dengan harta rampasan yang anda peroleh dan anda bagikan kepada kaummu. Engkau bagikan kepada kabilah ‘Arab dan tidak ada satu pun Anshar yang menerima bagian.”

Rasulullah n bertanya: “Engkau sendiri di barisan mana, wahai Sa’d?”

Katanya: “Saya hanyalah bagian dari mereka.”

Kata Rasulullah n: “Kumpulkan kaummu di tembok ini.”

Lalu datang beberapa orang Muhajirin tapi beliau biarkan mereka, dan mereka pun masuk. Datang pula yang lain, tapi beliau menolak mereka. Setelah mereka berkumpul, Sa’d pun datang, katanya: “Orang-orang Anshar sudah berkumpul untuk anda.”

Rasulullah n pun menemui mereka, lalu beliau memuji Allah dan menyanjung-Nya dengan pujian yang layak bagi-Nya. Kemudian beliau bersabda: “Wahai sekalian orang Anshar, apa pembicaraanmu yang sampai kepadaku? Apa perasaan tidak enak yang kalian rasakan dalam hati kalian? Bukankah aku datang kepada kalian dalam keadaan sesat lalu Allah memberi hidayah kepada kamu melalui aku? Bukankah kamu miskin lalu Allah kayakan kamu denganku? Bukankah kamu dahulu bermusuhan lalu Allah satukan hati kamu?”

Kata mereka: “Bahkan Allah dan Rasul-Nya lebih banyak memberi kebaikan dan keutamaan.”

Rasulullah n menukas: “Mengapa kamu tidak membantahku, wahai kaum Anshar?”

“Dengan apa kami membantahmu, wahai Rasulullah? Padahal kepunyaan Allah dan Rasul-Nya semua kebaikan serta keutamaan,” jawab orang-orang Anshar.

Kata Rasulullah n: “Demi Allah, kalau kamu mau, kamu dapat mengatakan dan pasti kamu benar dan dibenarkan: ‘Engkau datang kepada kami dalam keadaan didustakan, lalu kami yang membenarkanmu. Engkau datang dalam keadaan terhina, kamilah yang membelamu. Engkau datang dalam keadaan terusir, kamilah yang memberimu tempat. Engkau datang dalam keadaan miskin, kamilah yang mencukupimu. Apakah kalian dapati dalam hati kamu, hai kaum Anshar keinginan terhadap sampah dunia, yang dengan itu aku melunakkan hati suatu kaum agar mereka menerima Islam, dan aku serahkan kamu kepada keislaman kamu. Tidakkah kamu ridha, hai orang-orang Anshar, manusia pergi dengan kambing dan unta mereka, sedangkan kamu pulang ke kampung halamanmu membawa Rasulullah n? Demi yang jiwa Muhammad di Tangan-Nya, kalau bukan karena hijrah, tentulah aku termasuk salah seorang dari Anshar. Seandainya manusia menempuh satu lembah, dan orang-orang Anshar melewati lembah lain, pastilah aku ikut melewati lembah yang dilalui orang-orang Anshar. Ya Allah, rahmatilah orang-orang Anshar, anak-anak kaum Anshar, dan cucu-cucu kaum Anshar.”

Mendengar ini, menangislah orang-orang Anshar hingga membasahi janggut-janggut mereka, sambil berkata: “Kami ridha bagian kami adalahRasulullah n.”

Kemudian Rasulullah n pergi, dan kami pun bubar.

Perang Thaif

Sebagian besar pasukan Hawazin dan Tsaqif yang melarikan diri akhirnya masuk ke benteng Thaif bersama panglima mereka, Malik bin ‘Auf An-Nadhari. Maka Rasulullah n pun bergerak mengejar mereka setelah mengumpulkan ghanimah di Ji’ranah bulan itu juga.

Khalid bin Al-Walid bersama seribu prajurit mendahului di barisan pelopor. Kemudin Rasulullah n menyusul ke Thaif. Dalam perjalanan itu pasukan muslimin diperintah menghancurkan benteng Malik bin ‘Auf yang ada di Liyyah. Setelah tiba di Thaif, mereka mengepung benteng tersebuthingga beberapa hari. Ada yang mengatakan empat puluh hari, tapi ahli sejarah menyebutkan sekitar dua puluh hari.

Dalam pengepungan ini terjadi saling lempar batu dan panah. Pada awal pengepungan itu, kaum muslimin diserang dari dalam benteng bertubi-tubi sehingga menyebabkan beberapa orang terluka dan sekitar dua belas orang gugur. Akhirnya mereka pindah ke tempat yang sekarang dibangun masjid Thaif dan bermarkas di sana.

Kemudian Rasulullah n memerintahkan untuk melemparkan manjaniq (peluru besi berapi) hingga melubangi dinding benteng. Beberapa pasukan berusaha menerobos masuk dari bawah gerobak, tetapi disambut dengan ranjau-ranjau besi yang membara. Akhirnya kaum muslimin keluar, dan mereka diserang lagi dengan panah sehingga beberapa orang muslimin gugur.

Melihat ini Rasulullah n memerintahkan agar menebang dan membakar ladang-ladang anggur mereka. Hal ini membuat cemas orang-orang Tsaqif, lalu mereka meminta kepada beliau n demi Allah dan kasih sayang, agar beliau membiarkan tanaman tersebut. Beliau pun membiarkannya.

Setelah itu, Rasulullah n memerintahkan agar diserukan bahwasanya siapa saja budak yang keluar dari benteng dan datang kepadaRasulullah n maka dia merdeka. Mendengar ini, keluar 23 orang budak termasuk Abu Bakrah. Dia memanjat dinding benteng dan turun dengan timba bulat yang dipakai untuk mengambil air minum lalu menemui Rasulullah n. Oleh Rasulullah n, dia pun diberi kuniah Abu Bakrah. Rasulullah nmembebaskan mereka dan menyerahkan masing-masing mereka kepada seorang muslim untuk diberi santunan. Hal ini semakin menyusahkan penghuni benteng.

Semakin lama pengepungan semakin berat dan menyusahkan pasukan muslimin. Terlebih lagi para penghuni benteng telah menyiapkan bekal untuk bertahan selama setahun. Akhirnya Rasulullah n bermusyawarah dengan para sahabatnya untuk meninggalkan benteng tersebut.

Naufal bin Mu’awiyah Ad-Daili menyarankan kepada beliau: “Mereka itu seperti pelanduk di liangnya. Kalau anda tetap mengepungnya niscaya anda dapat menangkapnya. Tapi kalau anda membiarkannya, maka dia tidak akan merugikan anda.”

Saat itulah Rasulullah n bertekad meninggalkan benteng. Beliau memerintahkan ‘Umar bin Al-Khaththab bahwa mereka akan pulang besok, Insya Allah. Tetapi ada sebagian sahabat yang tidak menerima dan merasa keberatan, kata mereka: “Kita pergi dari sini padahal kita belum menaklukkan mereka?”

Rasulullah n pun menukas: “Kita berangkat untuk perang.” Maka keesokan paginya mereka berangkat untuk menyerang, tetapi mereka malah mendapat serangan hebat hingga jatuh korban. Akhirnya Rasulullah n berkata pula: “Kita bersiap untuk pulang besok, Insya Allah.” Tentu saja hal ini menyenangkan para sahabat. Mereka pun tunduk menerima dan mulai bertolak untuk pulang, sedangkan Rasulullah n tertawa.

Ada yang mengatakan kepada Rasulullah n: “Ya Rasulullah, doakanlah kejelekan terhadap Tsaqif.”

Kata Rasulullah n: “Ya Allah, berilah hidayah kepada Tsaqif dan datangkanlah mereka.”

Akhirnya Rasulullah n kembali ke Ji’ranah menunggu beberapa hari sebelum membagi-bagikan ghanimah dengan harapan Hawazin akan datang dalam keadaan taubat dan menerima Islam, lalu beliau akan menyerahkan kepada mereka harta dan keluarga mereka. Akan tetapi tidak ada seorang pun dari mereka yang datang menemui beliau hingga beliau pun membagi-bagikan ghanimah tersebut.

Utusan Hawazin

Setelah membagi-bagikan ghanimah, tak berapa lama datanglah utusan Hawazin. Mereka ada 14 orang dipimpin oleh Zuhair bin Shurad termasuk Abu Burqan, paman susuan Rasulullah n. Mereka masuk Islam dan berbai’at lalu berkata: “Wahai Rasulullah. Sesungguhnya di antara yang jadi tawanan anda ini adalah ibumu dan saudara perempuanmu, ‘ammah (bibi dari pihak ayah) dan khalah (bibi dari pihak ibu, yakni dari susuan).”

Rasulullah n berkata kepada mereka: “Yang bersamaku adalah seperti yang kamu lihat. Yang paling aku sukai adalah perkataan yang paling jujur. Anak istri kalian yang lebih kalian sukai untuk dikembalikan ataukah harta kalian?”

Kata mereka: “Kami tidak akan menukar anak-anak dan istri-istri kami dengan harta sedikitpun.”

Beliau pun berkata: “Seusai shalat zhuhur datanglah dan katakan: ‘Kami mencari syafaat kepada Rasulullah n menghadapi kaum muslimin dan mengharap syafaat kepada kaum muslimin menghadapi Rasulullah n agar mengembalikan kepada kami tawanan yang ada’.”

Selesai shalat zhuhur, mereka berdiri dan mengucapkan hal itu. Rasulullah n pun berkata: “Adapun yang di tanganku dan Bani ‘Abdil Muththalib maka itu dikembalikan kepada kalian. Aku akan mintakan hak kalian kepada kaum muslimin.”

Mendengar perkataan beliau, kaum Muhajirin dan Anshar berkata: “Apa yang ada di tangan kami maka itu untuk Rasulullah n.”

Al-Aqra’ bin Habis berkata: “Adapun saya dan Bani Tamim, tidak akan menyerahkan tawanan kami.”

‘Uyainah bin Hishn juga menukas: “Apa yang di tangan saya dan Bani Fazarah tidak akan kami serahkan.”

Al-‘Abbas bin Mirdas juga berucap: “Yang di tanganku dan Bani Sulaim tidak akan kami serahkan.” Tetapi Bani Sulaim justru mengatakan: “Apa yang di tangan kami maka itu milik Rasulullah n.”

Mendengar ini, Al-‘Abbas bin Mirdas berkata kecewa: “Kalian mempermalukanku.”

Rasulullah n pun berkata: “Sesungguhnya mereka ini datang dalam keadaan muslim. Aku sudah menjauhkan tawanan mereka dan memberi mereka pilihan. Tapi mereka tidak akan menukar anak istri mereka dengan apapun. Maka siapa yang masih menahan tawanan dan senang hatinya serta mau mengembalikan, itu adalah haknya. Dan siapa yang mau menahan haknya hendaklah dia mengembalikannya juga kepada mereka dan akan diganti haknya itu setiap bagiannya dengan enam kali lipat dari fai’ yang pertama Allah anugerahkan kepada kami.”

Akhirnya kaum muslimin pun berkata: “Kami senang menyerahkannya kepada Rasulullah n.”

Kata beliau: “Kami tidak tahu siapa di antara kamu yang rela dan yang tidak. Kembalilah hingga cerdik pandai di kalangan kamu menyerahkan urusannya kepada kami.”

Akhirnya, mereka pun mengembalikan anak-anak dan istri-istri orang-orang Hawazin tersebut. Tidak ada yang tertinggal kecuali ‘Uyainah bin Hishn yang akhirnya menyerahkan juga seorang wanita tua yang jadi tawanannya. Rasulullah n pun memberi pakaian kepada setiap tawanan.

Setelah selesai membagi dan mengembalikan tawanan, Rasulullah n menuju Ji’ranah dan bersiap ‘umrah lalu kembali pulang ke Madinah. Beliau tugaskan ‘Attab bin Usaid mengatur urusan kaum muslimin di Makkah.

Di bulan Dzul Qa’dah tahun ke-8 hijriah, rombongan kaum muslimin mulai bertolak kembali ke Madinah.

Utusan Tsaqif

Sebelum tiba di Madinah, salah seorang pemuka Tsaqif yaitu ‘Urwah bin Mas’ud datang menemui Rasulullah n setelah usai perang Thaif, di bulan Dzul Qa’dah. Dia masuk Islam lalu kembali kepada kaumnya untuk mengajak mereka masuk Islam. Karena kedudukannya sebagai pemuka yang ditaati di tengah-tengah kaumnya, ‘Urwah mengira mereka akan mengikuti pula jejaknya masuk Islam.

Tetapi, setelah dia mengajak mereka, ternyata mereka menembakinya dengan panah dari segala penjuru sampai akhirnya dia tewas.

Penduduk Tsaqif kembali seperti biasa selama beberapa bulan. Kemudian mereka bermusyawarah melihat kenyataan bahwa mereka tidak mungkin sanggup melawan kabilah ‘Arab di sekitar mereka yang sudah masuk Islam dan berbai’at. Akhirnya mereka ingin mengutus ‘Abd Ya Lail bin ‘Amr.

Tapi ‘Abd Ya Lail menolak. Dia khawatir kejadian yang menimpa ‘Urwah akan dialaminya juga, dia pun berkata: “Aku tidak mau kecuali kalian utus juga beberapa orang bersamaku.”

Mereka pun mengutus beberapa orang termasuk ‘Utsman bin Abil ‘Ash yang paling muda di antara mereka.

Ketika mereka menemui Rasulullah n, beliau sediakan kemah buat mereka di sudut masjid agar mereka mendengar Al-Qur’an dan melihat kaum muslimin mengerjakan shalat.

Akhirnya, mereka tinggal di sana silih berganti menemui Rasulullah n yang selalu mengajak mereka kepada Islam. Hingga suatu ketika, pemimpin rombongan itu meminta agar Rasulullah n membuat kesepakatan antara beliau dengan Tsaqif. Mereka minta agar beliau mengizinkan mereka berzina, minum khamr, memakan riba, dan membiarkan Al-Latta tetap jadi sesembahan mereka serta tidak mengerjakan shalat. Mereka juga minta agar berhala mereka tidak dihancurkan oleh tangan mereka sendiri.

Tapi, semua keinginan mereka itu ditolak oleh Rasulullah n. Melihat ini, utusan Tsaqif kehabisan akal dan melihat tidak ada jalan lain kecuali mereka harus menerima dan tunduk kepada Islam. Akhirnya mereka masuk Islam dan minta kepada Rasulullah n agar menugaskan orang lain menghancurkan Al-Latta.

Rasulullah n mengabulkan keinginan mereka dan mengangkat ‘Utsman bin Abil ‘Ash sebagai pemimpin mereka. Hal itu karena utusan tersebut setiap pagi datang kepada Rasulullah n dan meninggalkan ‘Utsman. Apabila mereka kembali dan tidur siang, maka ‘Utsman datang menemuiRasulullah n minta dibacakan Al-Qur’an dan bertanya tentang Islam. Kalau dia dapati Rasulullah n sedang tidur, dia datang menemui Abu Bakr dengan maksud yang sama, belajar tentang Islam.

Di kemudian hari, ‘Utsman menjadi orang yang paling besar mendatangkan keberkahan kepada kaumnya terlebih di zaman riddah (murtadnya beberapa kabilah). Ketika penduduk Tsaqif juga ikut-ikutan ingin murtad, dia berkata kepada mereka: “Wahai penduduk Tsaqif. Kalian adalah orang yang paling akhir masuk Islam, maka janganlah kalian menjadi orang yang pertama murtad.” Akhirnya mereka pun menyadari, dan tetap di atas Islam. Semoga Allah l meridhainya.

Para utusan itu kembali tetapi menyembunyikan kenyataan yang sebenarnya. Mereka menakut-nakuti penduduk lain bahwa mereka akan diserang dan dibunuh. Mereka nampakkan kesedihan dan kepedihan, bahwa Rasulullah n meminta mereka meninggalkan zina, khamr, riba dan sebagainya, kalau tidak dia akan memerangi mereka.

Hal itu mendorong bangkitnya sentimen jahiliah penduduk Tsaqif, maka mereka menolak hal itu. Mereka tenang selama dua atau tiga hari bersiap untuk perang. Kemudian Allah l masukkan ke dalam hati mereka rasa takut. Mereka pun menemui para utusan itu dan berkata: “Kembalilah kepadanya (Rasulullah n) dan berikan apa yang dimintanya.”

Saat itu juga para utusan itu memaparkan yang sebenarnya. Mereka menunjukkan kesepakatan yang telah ditetapkan antara Rasulullah ndengan mereka. Akhirnya, penduduk Tsaqif masuk Islam.

Allah Yang Maha pemurah, lagi Maha penyayang mengabulkan doa kekasih-Nya Muhammad n.

Tak lama, Rasulullah n mengirim beberapa orang untuk menghancurkan Al-Latta. Beliau mengangkat Khalid bin Al-Walid sebagai pemimpin rombongan.

Sesampai di sana, Al-Mughirah bin Syu’bah memukulkan palu yang ditangannya, kemudian dia terjatuh. Ini membuat penduduk Thaif ribut, dan berkata: “Semoga Allah jauhkan Al-Mughirah, semoga dia dibunuh dewi itu (Al-Latta).”

Al-Mughirah melompat dan berkata: “Semoga Allah memburukkan kamu. Dia hanyalah benda hina, sebongkah batu dan bulu.”

Dia pun menghancurkan pintu dan naik ke tembok tempat pemujaan. Lalu naik pula beberapa orang dan meruntuhkan bangunan itu serta meratakannya dengan tanah sampai mencabut pondasinya. Mereka keluarkan kain dan perhiasan pemujaan itu. Sementara orang-orang Tsaqif terdiam, melihat pujaan mereka tidak berdaya apa-apa.

Setelah itu, rombongan Khalid kembali dan menyerahkan perhiasan tempat pemujaan itu dan dibagi-bagikan oleh Rasulullah n hari itu juga sambil memuji Allah l atas pertolongan-Nya kepada Nabi-Nya dan agama-Nya.

(Insya Allah bersambung)

Pemutarbalikan Sejarah Islam

Sejarah (tarikh) tak bisa dipisahkan dari kehidupan umat manusia. Ia ibarat buku harian yang mengoleksi berbagai peristiwa penting dalam perjalanan hidup mereka. Dari sejarah, baik buruknya perjalanan suatu umat terungkap. Dari sejarah pula, eksistensi suatu umat -dalam setiap generasinya- teridentifikasi. Allah l berfirman:

“Itu adalah sebagian dari berita-berita negeri (yang telah dibinasakan) yang Kami ceritakan kepadamu (Muhammad). Di antara negeri-negeri itu ada yang masih kedapatan bekas-bekasnya dan ada (pula) yang telah musnah. Dan Kami tidaklah menganiaya mereka, tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri, karena itu tiadalah bermanfaat sedikit pun bagi mereka sesembahan-sesembahan yang mereka seru selain Allah, di waktu azab Rabbmu datang. Dan sesembahan-sesembahan itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali kebinasaan.” (Hud: 100-101)

Betapa besar perhatian Islam terhadap sejarah. Oleh karena itu, banyak sekali dijumpai paparan sejarah baik dalam Al-Quranul Karim maupun Sunnah Rasulullah n. Sejarah tentang awal mula kehidupan umat manusia, sejarah perjalanan hidup umat terdahulu bersama para nabi mereka, hingga sejarah tentang berakhirnya kehidupan dunia ini. Allah l berfirman:

“Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al-Quran ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan)nya termasuk orang-orang yang belum mengetahui.” (Yusuf: 3)

Tak ketinggalan pula peran para ulama umat ini -rahimahumullah- dalam membukukan sejarah melalui karya tulis ilmiah mereka, dengan bentuk dan metodelogi penulisannya yang beragam. Cukup banyak karya tulis ilmiah yang mereka sajikan seputar sejarah. Diantaranya adalah; Al-Bidayah Wan Nihayah karya Al-Imam Ibnu Katsir, Al-Kamil Fit Tarikh karya Al-Imam Ibnul Atsir, dan Tarikh Al-Islam karya Al-Imam Adz-Dzahabi.

Kupas sejarah tanpa iman dan ilmu? Berbahaya…!

Para pembaca yang mulia, satu hal penting yang patut diperhatikan oleh semua pihak, bahwa kemurnian sejarah sering kali dikotori oleh tangan usil orang-orang yang tak bertanggung jawab. Kupas sejarah tanpa iman dan kedepankan logika daripada ilmu seakan sebagai karakter yang lekat pada mereka. Karakter buruk yang tak dimiliki kecuali oleh orang-orang yang berhati sakit. Sebut saja; Zionisme Yahudi, Syi’ah Rafidhah, Orientalis Nashara, dan orang-orang yang meniti jejak jelek mereka. Merekalah diantara orang-orang usil yang tak bertanggung jawab itu.

Tak diragukan lagi bahwa iman dan ilmu merupakan kebutuhan primer dalam hidup ini. Keberadaannya sangat dibutuhkan dalam setiap keadaan, termasuk saat mempelajari dan mengupas sejarah. Kupas sejarah tanpa iman dan ilmu amat berbahaya. Tanpa keduanya, pembelajaran sejarah akan hampa dari ruh agama. Pemaparannya akan jauh dari norma-norma luhur dan akhlak mulia. Berkata tanpa berkaca dan menilai dengan yang tak bernilai pun akhirnya menjadi ciri khasnya. Akibatnya, berbagai rambu syariat dilanggar, validalitas suatu berita tak dihiraukan, dan kehormatan suatu kaum tak lagi diperhatikan. Bahkan, pemutarbalikan sejarah dan penempatannya tidak pada tempatnya pun menjadi fenomena yang tak terhindarkan.

Padahal, sejarah yang murni lagi valid merupakan cakrawala ilmu yang layak dikaji oleh setiap insan yang berakal. Apalagi sejarah para rasul dan orang-orang shalih yang notabene para bintang di dunia ini. Mereka telah mengukir sejarah dengan pengabdian yang tulus kepada Allah l dan beramal shalih. Dengan hikmah-Nya yang tinggi Allah l abadikan sejarah hidup mereka dalam Al-Quran, sebagai ladang ibrah (pengajaran) bagi orang-orang yang berakal. Allah l berfirman:

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang berakal.” (Yusuf: 111)

Lebih dari itu, Allah l menjadikannya sebagai peneguh hati Rasulullah n saat mengemban risalah suci-Nya. Allah l berfirman:

“Dan semua kisah dari para rasul itu Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu.” (Hud: 120)

Fenomena pemutarbalikan sejarah

Memutarbalikkan sejarah merupakan tindakan tercela yang jauh dari nilai-nilai kejujuran dan amanah, bahkan sangat lekat dengan kedustaan. Perangai buruk yang sangat dibenci dan dilarang melalui lisan Rasulullah n yang mulia:

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًاوَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَعِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا.

“Wajib bagi kalian untuk berlaku jujur karena kejujuran itu akan mengantarkan kepada kebaikan dan kebaikan akan mengantarkan kepada Al-Jannah (surga). Tidaklah seseorang senantiasa berlaku jujur dan bersungguh-sungguh dengan kejujuran tersebut hingga dicatat di sisi Allah sebagai seorang yang jujur. Hati-hatilah kalian dari kedustaan karena kedustaan itu akan mengantarkan kepada kejelekan dan kejelekan akan mengantarkan kepada An-Nar (neraka). Tidaklah seseorang senantiasa berdusta dan bersungguh-sungguh dengan kedustaan tersebut hingga dicatat di sisi Allah sebagai seorang pendusta.” (HR. Muslimno. 4721, dari sahabat Abdullah bin Mas’ud z)

Para pembaca yang mulia, berdasarkan hadits di atas dapatlah disimpulkan bahwa pemutarbalikan sejarah dan penempatannya tidak pada tempatnya -yang merupakan kedustaan- akan mengantarkan kepada kejelekan. Suatu kejelekan yang berdampak terhadap sejarah itu sendiri, bahkan terhadap akidah umat juga. Dengan pemutarbalikan sejarah validalitas suatu berita tak bisa dipertanggung jawabkan lagi. Sejarah pun akhirnya berbalik dari fakta yang sebenarnya. Yang baik nampak buruk, sedangkan yang buruk nampak baik. Dampaknya terhadap akidah umat sendiri tentu demikian amat besar. Di antaranya, meruaknya berbagai keyakinan batil pada umat yang disebabkan oleh pemutarbalikan sejarah tersebut. Keyakinan batil, baik yang berkaitan langsung dengan prinsip akidah, maupun yang berkaitan dengan sikap al-wala’ wal bara’ (kecintaan dan kebencian) terhadap suatu kaum atau individu tertentu. Suatu fenomena buruk yang tak bisa diabaikan begitu saja.

Namun demikian ada satu hal penting yang tak boleh dilupakan kala menyikapi fenomena buruk tersebut. Yaitu Allah l yang Maha Hakim lagi Maha Rahim tak membiarkan umat Islam -dalam setiap generasinya- lengang dari para ulama yang selalu siaga membela agama Allah l dari pemutarbalikan pengertian agama yang dilakukan oleh para ekstremis, kedustaan orang-orang sesat dengan kedok agama, dan penakwilan menyimpang yang dilakukan oleh orang-orang jahil. Maka dari itu, tak heran manakala muncul suatu makar terhadap Islam dan umat Islam (termasuk pemutarbalikan sejarah) bermunculan pula para ulama dari umat ini yang tampil membela al-haq dan membongkar segala makar tersebut. Berbagai karya tulis mereka pun sebagai saksi terbaik atas semua itu.

Menelisik beberapa kasus pemutarbalikan sejarah dan penempatannya tidak pada tempatnya

Diantara contoh kasus pemutarbalikan sejarah dan penempatannya tidak pada tempatnya adalah sebagai berikut:

1. Kehormatan Ummul Mukminin Aisyah x yang ternodai

Ummul Mukminin Aisyah x merupakan istri Rasulullah n yang mulia. Kecintaan dan keridhaan Rasulullah n kepada beliau x tak pernah padam selama hayat masih dikandung badan. Namun gerombolan kaum munafik Madinah pimpinan Abdullah bin Ubay bin Salul (yang hidup di masa Rasulullah n) benar-benar telah mencemarkan keharuman nama Ummul Mukminin Aisyah x dan menodai kehormatannya. Dengan penuh kekejian mereka tebarkan berita bohong (haditsul ifki) bahwa Ummul Mukminin Aisyah x telah berbuat zina dengan sahabat Shafwan bin Mu’aththal z, sepulang dari pertempuran Bani Mushthaliq.

Allah l Yang Maha mengetahui lagi Maha pengasih tak membiarkan orang-orang rendahan tersebut leluasa berkata tanpa berkaca dengan menebar kezaliman terhadap istri rasul-Nya yang mulia. Allah l turunkan beberapa ayat dari surah An-Nur yang mengabadikan kesucian diri Aisyah x dan sekaligus kebusukan hati para penyebar berita bohong (haditsul ifki) tersebut. Hukuman keras pun akhirnya Allah l timpakan kepada mereka semua, sebagaimana dalam firman-Nya l:

“Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik. Kecuali orang-orang yang bertaubat sesudah itu dan memperbaiki (dirinya), maka sesungguhnya Allah Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (An-Nur: 4-5)

Namun demikian, orang-orang yang berhati sakit dari kalangan Syi’ah Rafidhah tak berakal sehat. Mereka justru melanjutkan gerakan fitnah yang dilakukan gerombolan kaum munafik tempo dulu itu. Dengan kejinya mereka sematkan gelar pelacur terhadap Ummul Mukminin Aisyah x yang diabadikan dalam kitab sesat mereka Ikhtiyar Ma’rifatir Rijal, karya Ath-Thusi hal. 57-60 dan yang lainnya. Mereka putarbalikkan sejarah. Tak mau tahu, walau nyata bertentangan dengan kitab suci Al-Quran. Karena memang menurut akidah mereka yang sesat, Al-Quran yang ada pada umat Islam telah terjadi berbagai perubahan/penyimpangan dan tak lagi sebagai kitab suci.[1] Wallahul Musta’an

2. Abu Thalib seorang muslim?!

Tidak sedikit dari buku sejarah -terutama yang berhaluan Syi’ah- yang menyebutkan bahwa Abu Thalib paman Rasulullah n meninggal dunia dalam keadaan muslim. Padahal semua riwayat seputar masuk Islamnya Abu Thalib derajatnya lemah, tak satu pun yang shahih. Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani t berkata: “Aku telah membaca sebuah kitab hadits dari kalangan Syi’ah Rafidhah, di dalamnya banyak dimuat hadits-hadits lemah seputar masuk Islamnya Abu Thalib, tak satu pun yang shahih, wabillahit taufiq. Dan aku telah meringkasnya dalam kitab Al-Ishabah, pada biografi Abu Thalib.” (Fathul Bari juz 7, hal. 234)

Lebih dari itu, semua hadits shahih seputar kesudahan hidup Abu Thalib menunjukkan bahwa dia meninggal dunia dalam keadaan kafir. Di antaranya adalah apa yang terdapat dalam kitab Shahih Al-Bukhari no. 3884:

“…Hingga saat menjelang kematiannya, kata terakhir yang diucapkan Abu Thalib kepada mereka (Abu Jahl dan Abdullah bin Abi Umayyah) adalah: ‘(Aku) di atas agama Abdul Muththalib (menyembah berhala)’.”[2]

Demikian pula secara lebih tegas disebutkan dalam kitab Shahih Muslim no. 39: “…Dia (Abu Thalib) berada di atas agama Abdul Muththalib (menyembah berhala) dan tidak mau mengucapkan kalimat Laa ilaaha illallaah.”

3. Sahabat Utsman bin Affan z, khalifah yang terzalimi

Utsman bin Affan z adalah sahabat Rasul yang mulia. Suatu kehormatan telah beliau z raih manakala namanya berderet di antara para sahabat yang terdahulu masuk Islam (as-sabiqunal awwalun). Bahkan berderet di antara sepuluh orang sahabat yang mendapatkan janji surga (al-‘asyarah al-mubasysyaruna biljannah) melalui lisan Rasulullah n. Perjuangan beliau z dalam membela agama Allah l dan Rasul-Nya n pun sangat besar. Tak hanya jiwa dan raga yang beliau z persembahkan di jalan Allah (fii sabillah). Harta yang tak terhitung banyaknya pun senantiasa beliau z infakkan di berbagai momen strategis perjuangan Islam.

Betapa besar kecintaan Rasulullah n kepada sahabat Utsman bin Affan z. Tak heran bila kemudian beliau z berposisi sebagai menantu Khairul Anam. Pada kali yang pertama beliau z dinikahkan dengan putri Rasulullah n yang bernama Ruqayyah x. Hingga ketika Ruqayyah x wafat, Utsman pun dinikahkan kembali dengan putri Rasulullah n lainnya yang bernama Ummu Kultsum x. Dengan itulah kemudian beliau z bergelar “Pemilik Dua Cahaya” (Dzun Nurain). Suatu gelar kehormatan yang tak dimiliki oleh siapapun selain beliau z. Semakin lengkap pula kehormatan yang beliau z raih manakala (sepeninggal Rasulullah n) dinobatkan sebagai Khalifah ketiga, setelah Abu Bakr Ash-Shiddiq z dan Umar bin Al-Khaththab z. Orang-orang besar yang telah mengantarkan umat Islam menuju kejayaannya. Betapa banyak riwayat-riwayat shahih seputar keutamaan sahabat Utsman bin Affan z yang terabadikan dalam kitab-kitab hadits yang terpercaya.[3]

Namun demikian, diantara para sejarawan ada yang menikam sahabat Utsman bin Affan z -sengaja atau tidak- dengan membawakan sejarah beliau z yang berbalik dari fakta sebenarnya dan menempatkannya tidak pada tempatnya. Dengan berdasar pada referensi lemah bahkan narasumber pendusta, mereka tebarkan informasi timpang seputar sahabat Utsman bin Affan z yang berbalik dari faktanya.[4] Rahimallahu (semoga Allah merahmati) Al-Qadhi Abu Bakr Ibnul Arabi yang telah mendudukkan semua informasi timpang tersebut dan membantahnya dengan penuh obyektif dan proporsional dalam karya tulis beliau yang monumental Al-‘Awashim minal Qawashim fi Tahqiqi Mawaqifish Shahabah Ba’da Wafatin Nabi.

Demikian pula syaikh kami yang mulia, Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali -hafizhahullah- yang telah menyingkap berbagai kesesatan Sayyid Quthb, termasuk tikamannya terhadap sahabat Utsman bin Affan z. Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali -hafizhahullah- memaparkan sejarah hidup sahabat Utsman bin Affan z dengan sejelas-jelasnya. Seiring dengan itu, beliau -hafizhahullah- dudukkan berbagai tikaman Sayyid Quthb terhadap sahabat Utsman bin Affan z dengan penuh obyektif dan proporsional, sebagaimana dalam karya tulis beliau Matha’in Sayyid Quthb fii Ashhabi Rasulillah hal. 57-285. Tahukah anda berbagai tikaman Sayyid Quthb terhadap sahabat Utsman bin Affan z? Di antara tikaman itu adalah; bahwa Utsman bin Affan z adalah seorang (khalifah) yang zalim dan kejam, telah menyimpang dari ruh Islam, berlebihan dalam membagi-bagikan uang negara hingga banyak sekali uang kas negara yang terpakai di masanya, di masanya pula asas-asas Islam berguguran, membidani berdirinya kekhalifahan Bani Umayyah yang jauh dari ruh Islam, para pembunuh Utsman bin Affan z (menurut Sayyid Quthb) lebih dekat kepada ruh Islam daripada Utsman bin Affan z.[5]

4. Penilaian buruk terhadap Sahabat Mu’awiyah bin Abi Sufyan z

Mu’awiyah bin Abi Sufyan z adalah sahabat Rasul yang mulia. Ketika Rasulullah n menunaikan umratul qadha’ (tahun 7 Hijriyah), sahabat Mu’awiyah bin Abi Sufyan z masuk Islam secara sembunyi-sembunyi (tanpa sepengetahuan kaum Quraisy). Beliau z baru menampakkan keislaman saat penaklukan Kota Makkah (Fathu Makkah) tahun 8 Hijriyah. Pada saat itu pula kedua orangtua beliau z (Abu Sufyan bin Harb dan Hindun binti ‘Uthbah) dan juga saudara lelaki beliau z (Yazid bin Abi Sufyan) masuk Islam. Semenjak itu posisi Mu’awiyah bin Abi Sufyan z tergolong dekat dengan Rasulullah n. Di samping sebagai adik ipar, beliau z juga sebagai sekretaris pribadi Rasulullah n.

Di masa Khalifah Abu Bakr Ash-Shiddiq z, beliau z diangkat sebagai wakil panglima perang untuk pasukan yang dikirim ke Negeri Syam dengan misi penaklukan (ekspansi). Di masa Khalifah Umar bin Khaththab z, beliau z diangkat sebagai Gubernur Damaskus dan Yordania menggantikan sang kakak Yazid bin Abi Sufyan z yang meninggal dunia. Di masa Khalifah Utsman bin Affan z, ketika Umair bin Sa’ad Al-Anshari (Gubernur Himsh dan Qansirin) sakit dan minta dipulangkan ke tengah-tengah keluarganya, berikutnya Abdurrahman bin Alqamah (Gubernur Palestina) meninggal dunia, diangkatlah sahabat Mu’awiyah z sebagai gubernur tunggal Negeri Syam. Sejarah mencatat, tergabungnya semua wilayah Negeri Syam di bawah kepemimpinan beliau z terjadi pada dua tahun pertama dari kekhalifahan Utsman bin Affan z.

Para pembaca yang mulia, mungkinkah Rasulullah n, Khalifah Abu Bakr Ash-Shiddiq z, Khalifah Umar bin Khaththab z, dan Khalifah Utsman bin Affan z memberikan kedudukan kepada sembarang orang atau bahkan orang yang jahat? Tentunya akal sehat mengatakan, tak mungkin. Sehingga, tidaklah mereka memberikan satu kedudukan kepada sahabat Mu’awiyah bin Abi Sufyan z melainkan beliau adalah ahlinya yang terpercaya baik dalam hal kepemimpinan maupun kedalaman ilmu agama.

Sahabat Abdullah bin Amr bin Al-Ash c dan juga sahabat Abdullah bin Umar bin Al-Khaththab c mengatakan: “Aku tidak melihat seorang pun (setelah Rasulullah n) yang lebih memiliki jiwa kepemimpinan daripada Mu’awiyah z.’ Berkata Jabalah bin Suhaim: ‘Bagaimana dengan Umar bin Al-Khaththab z?’ Abdullah bin Amr bin Al-Ash z berkata: ‘Umar bin Al-Khaththab z lebih mulia dari Mu’awiyah z, akan tetapi Mu’awiyah z lebih memiliki jiwa kepemimpinan’.” Sahabat Abdullah bin Al-Abbas c mengatakan: “Aku tidak melihat seorang pun yang melebihi Mu’awiyah dalam hal kepemimpinan.” Beliau z juga mengatakan: “Sungguh Mu’awiyah adalah seorang yang mendalam ilmu agamanya (faqih).”

Terbukti, ketika Khalifah Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib c menyerahkan tampuk kepemimpinan umat kepada Mu’awiyah bin Abi Sufyan z, semua komponen umat yang sebelumnya (selama bertahun-tahun) terpecah-belah pun dapat segera disatukan di bawah kepemimpinan beliau z, hingga tahun itu dikenang sebagai tahun persatuan (‘amul jama’ah). Sejarah pun mencatat, selama dua puluh tahun Mu’awiyah bin Abi Sufyan z menjadi Gubernur Syam, dan dua puluh tahun berikutnya menjadi khalifah umat Islam (hingga meninggal dunia), tak pernah ada kendala berarti dalam memimpin umat. Semua itu beliau z jalani dalam keadaan dekat dengan rakyat dan rakyat pun amat mencintainya. Lebih dari itu, empat puluh tahun masa kepemimpinan yang penuh rahmat tersebut beliau z jalani di wilayah Syam yang berbatasan langsung dengan Kekaisaran Romawi, musuh terkuat umat Islam. Setiap saat harus bersiaga tempur. Manakala terjadi pertempuran, tak jarang beliau z sendiri yang memimpin langsung pertempuran. Perjalanan penuh sejarah yang tak bisa dipisahkan dari barakah doa Rasulullah n: “Ya Allah, jadikanlah Mu’awiyah seorang pemberi petunjuk yang senantiasa ditunjuki. Ya Allah, tunjukilah (manusia) dengan perantaranya.”[6]

Namun perjalanan sahabat Mu’awiyah bin Abi Sufyan z yang penuh sejarah tersebut dikotori oleh tangan orang-orang yang tak tahu diri. Menilai dengan sesuatu yang tak bernilai, berkata tanpa berkaca, serta berbicara tanpa berlandaskan iman dan norma. Hadits-hadits lemah dan palsu sebagai senjatanya, kitab-kitab tak bermutu sebagai referensinya, dan para pendusta sebagai nara sumbernya. Hingga berbaliklah sejarah dari faktanya. Para ulama Islam tak tinggal diam. Hadits-hadits palsu seputar sahabat Mu’awiyah z disingkap oleh Al-Imam Ibnul Jauzi t dalam kitab beliauAl-Maudhu’at. Sedangkan berbagai tuduhan keji seputar sahabat Mu’awiyah z telah dibantah dan didudukkan secara obyektif dan proporsional oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t di beberapa tempat dari kitab beliau Minhajus Sunnah, Al-Qadhi Abu Bakr Ibnul Arabi t dalam kitab beliau Al-‘Awashim Minal Qawashim Fi Tahqiqi Mawaqifish Shahabah Ba’da Wafatin Nabi,[7] Al-Faqih Ahmad bin Hajar Al-Haitami dalam kitab beliau Tathhirul Jinan Wallisan ‘Anil Khuthur Wattafawwuh Bitsalbi Sayyidina Mu’awiyah bin Abi Sufyan, dan para ulama lainnya -rahimahumullah-.

Para pembaca yang mulia, demikianlah sekelumit pembahasan tentang pemutarbalikan sejarah dan penempatannya tidak pada tempatnya, berikut beberapa contoh kasusnya. Semoga dapat menyibak berbagai kabut hitam yang menyelimuti cakrawala sejarah Islam dan mengikis berbagai keyakinan batil yang merusak akidah umat (akibat pemutarbalikan sejarah tersebut). Wallahul Muwaffiq

(Ruwaifi’ bin Sulaimi)


[1] Untuk lebih jelasnya, silakan lihat kajian Manhaji “Membongkar Kesesatan Syi’ah” pada edisi 05/Pebruari 2004/DzulHijjah 1424H.

[2] Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani t berkata: “Di antara sesuatu yang aneh tapi nyata adalah bahwa paman Nabi n yang mendapati masa keislaman ada empat orang; dua orang tidak masuk Islam dan yang dua lagi masuk Islam. Nama dua orang yang tidak masuk Islam tersebut bukan nama muslim; yaitu Abu Thalib yang namanya Abdu Manaf dan Abu Lahab yang namanya Abdul ‘Uzza. Hal ini berbeda dengan nama dua orang paman Rasul n yang masuk Islam (nama asli mereka, nama muslim); yaitu Hamzah dan Al-Abbas c.” (Fathul Bari juz 7, hal. 236)

[3] Di antaranya yang terdapat dalam Shahih Al-Bukhari kitab Al-Manaqib, bab Manaqib Utsman bin Affan Abi Amr Al-Qurasyi, dan Shahih Muslim kitab Al-Fadhail, bab Min Fadhail Utsman bin Affan.

[4] Di antaranya adalah: memukul sahabat Ammar bin Yasir z hingga putus ususnya, memukul sahabat Abdullah bin Mas’ud z hingga patah tulang rusuknya dan tidak memberikan hak (jatah)nya, melakukan bid’ah penyusunan Al-Quran dan membakar mushaf yang disusun di masa Abu Bakr Ash-Shiddiq z, membuat lokalisasi pengembalaan hewan ternak milik pemerintah (hima), mengasingkan sahabat Abu Dzar z ke daerah Rabadzah, mengeluarkan sahabat Abu Darda’ z dari Negeri Syam, mengembalikan Al-Hakam yang sebelum diasingkan oleh Rasulullah n, meniadakan sunnah qashar dalam shalat ketika safar, memberikan jabatan kepada Mu’awiyah z, Abdullah bin Amir bin Kuraiz t, dan Marwan bin Al-Hakam t, demikian pula Al-Walid bin Uqbah z padahal ia seorang fasik yang tak layak diberi jabatan, memberikan khumus Afrika kepada Marwan bin Al-Hakam t, Utsman bin Affan z jika mendera (sebagai hukuman) dengan menggunakan tongkat kayu yang panjang padahal sebelumnya Umar bin Al-Khaththab z menggunakan tongkat pendek (yang biasa dipegang oleh para komandan), meninggikan tangga mimbarnya di atas tangga mimbar Rasulullah n padahal Abu Bakr z dan Umar z telah menjadikannya lebih rendah, tidak ikut dalam pertempuran Badr, melarikan diri dalam pertempuran Uhud, tidak hadir dalam bai’at ridhwan, tidak menjatuhkan hukuman mati terhadap Ubaidullah bin Umar sang dalang di balik pembunuhan Khalifah Umar bin Al-Khaththab z, mengirim surat rahasia kepada Ibnu Abi Sarh yang berisikan daftar nama-nama orang yang harus dibunuh, dan lain sebagainya.

[5] Untuk mengetahui rincian bantahan terhadap berbagai tikaman tersebut dan yang lainnya, silakan lihat kitab Matha’in Sayyid Quthb Fii Ashhabi Rasulillah hal. 57-285.

[6] Untuk mengetahui biografi sahabat Mu’awiyah bin Abi Sufyan z secara lebih rinci, silakan merujuk kitab Usdul Ghabah dan Al-Kamil Fittarikh karya Al-Imam Ibnul Atsir, Al-Bidayah Wan Nihayah karya Al-Imam Ibnu Katsir, Al-‘Awashim Minal Qawashim Fi Tahqiqi Mawaqifish Shahabah Ba’da Wafatin Nabi karya Abu Bakr Ibnul Arabi beserta catatan kaki Asy-Syaikh Muhibbuddin Al-Khathib terhadapnya, Minhajus Sunnah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Tathhirul Jinan Wallisan ‘Anil Khuthur Wattafawwuh Bitsalbi Sayyidina Mu’awiyah bin Abi Sufyan karya Al-Faqih Ahmad bin Hajar Al-Haitami, Mukadimah kitab Matha’in Sayyid Quthb Fii Ashhabi Rasulillah (bantahan Asy-Syaikh Mahmud Syakir terhadap Sayyid Quthb), dll.

[7] Tak ketinggalan pula Asy-Syaikh Muhibbuddin Al-Khathib dalam catatan kakinya terhadap kitab Al-‘Awashim Minal Qawashim Fi Tahqiqi Mawaqifish Shahabah Ba’da Wafatin Nabi.

Surat Pembaca edisi 57

Halaman Khusus Tanya Jawab

Naik harga karena tambah halaman, tidaklah mengapa untuk nasihat kepada umat. Ana usul tambah halaman khusus untuk tanya jawab tentang pembahasan edisi Asy-Syariah sebelumnya yang belum dimengerti. Tolong masalah waris dimuat lagi disertai contoh pembagiannya secara mendetail

Abu Ahmad-Bolmong

0856570xxxxx

Redaksi meminta maaf jika apa yang kami sajikan masih sering menyisakan ganjalan atau pertanyaan di benak pembaca. Walaupun telah melalui proses editing -yang menurut kami- cukup ketat, namun sebagai insan yang lemah, kami sadar bahwa kesalahan dan kekurangan akan selalu ada dan menyertai upaya kami. Apa yang anda usulkan layak kami pertimbangkan dan menjadi bahan evaluasi bagi kami ke depan. Jazakumullahu khairan.

(Lagi) Soal Aliran-aliran Menyimpang di Indonesia

Tolong dibahas aliran Jama’ah Asy-Syahadatain. Mereka mengadakan bai’at terhadap habib-habib yang menurut mereka keturunan Nabi Muhammad n. Jama’ah ini menyebar di wilayah Cirebon, Brebes, Kuningan, Indramayu, Cilacap, dan sekitarnya.

Wahyudin-Bumiayu

0852912xxxxx

Ada aliran Millah Ibrahim di Cirebon, alìran MTA (Majelis Tafsir Al-Qur’an) di Surabaya –sudah menyebar luas di Jawa, red.– yang ingkar sunnah, dan aliran Bahaiyyah. Mohon dibongkar kesesatan mereka.

Brilly-Lamongan

0856488xxxxx

Sejauh ini, di luar aliran besar yang ada di dunia (seperti Sufi dan Syiah), redaksi memang masih membahas secara umum tentang penyimpangan kelompok-kelompok sempalan yang ada, baik yang sifatnya lokal (hanya ada di Indonesia) maupun yang telah mengglobal (ada di banyak negara) seperti praktik bai’atnya, pengingkarannya terhadap As-Sunnah, soal kerasulan, dan lain sebagainya. Pengecualian dalam hal ini adalah kelompok-kelompok yang sudah besar dan menggurita seperti Ahmadiyah. Karena sepak terjangnya yang telah demikian luas, para ulama pun telah banyak membahasnya sehingga kami memiliki referensi yang cukup untuk membahasnya secara khusus. Namun demikian, bukan berarti kami mengecilkan kelompok-kelompok tersebut. Mengupas satu persatu kelompok sebagaimana yang ditanyakan tentunya butuh kajian mendalam, data-data yang akurat dan lengkap sehingga tulisan (bantahan) yang kami suguhkan nantinya bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Tetapi sejatinya jika kita runut, inti dari ajaran kelompok-kelompok tersebut sebenarnya telah lama ada, beberapa di antaranya bahkan sudah ada di zaman sahabat, seperti aliran nabi palsu, inkarus sunnah, dan sebagainya. Dalam perjalanannya, pelbagai kelompok ini hanya bermetamorfosa, berganti baju, berkombinasi, atau seperti yang dilakukan kelompok Ikhwanul Muslimin, menyatukannya. Jazakumullahu khairan atas masukannya.

 

Pembahasan tentang Nabi Isa q

 

Menurut manhaj salaf, Nabi Isa q itu disalib/tidak? Kalau disalib dan hanya pingsan kok saya sedikit banyak tahu cuma sepotong penjelasannya dan katanya beliau belum meninggal. Mohon dengan sangat agar majalah berkenan membahasnnya.

 

Iphunge-Bumiayu Kota

0818047xxxxx

 

Tentang apa yang anda tanyakan sebenarnya telah disinggung di Vol. III/No. 35/1428 H/2007 tentang Turunnya Nabi Isa q. Silakan dibuka kembali. Jazakumullahu khairan.

MENCARI SOSOK PENDIDIK ANAK

Seorang ibu mengadukan permasalahan putranya, si Fulan. Dia menerima perlakuan yang melampaui batas dari gurunya. Sang guru menjewer telinganya dengan keras sampai cedera dan berdarah bagian dalam telinganya, lantaran si Fulan terlambat masuk kelas. Padahal alasan si Fulan adalah alasan yang bisa diterima.

Di kota lain, si Fulanah yang masih kanak-kanak harus menanggung sakit di bibirnya yang robek berdarah karena tergores kuku tangan seseorang yang mencubitnya, hanya gara-gara ‘salah bicara’. Lagi-lagi justru sang gurulah yang melakukannya.

Beberapa kisah senada yang memiriskan hati telah terdengar. Seorang murid harus menerima sabetan sarung tanpa penjelasan apapun, ditarik kedua telinganya hingga terangkat kakinya…. Menyedihkan! Bocah-bocah yang amat membutuhkan kasih sayang dan bimbingan pendidiknya justru merasakan kekejaman yang tak pernah dia bayangkan akan dialami. Pendidik yang dia harapkan sebagai pengganti orang tuanya di tempat belajarnya justru menjelma bak algojo yang siap menghukum. Padahal kadang dia belum bisa mencerna, di mana letak kesalahannya.

Di sisi lain, ada pula guru yang kurang bisa menyikapi pelanggaran yang dilakukan anak didiknya. Dengan leluasa si anak berbicara kotor, bercerita dusta, bahkan melampiaskan kenakalanannya pada si teman di depan sang guru tanpa ada sanksi apa-apa. Bahkan ketika si murid menampakkan adab yang jelek, tak ada reaksi apapun dari sang guru. Alhasil, bukan mereka bertambah mengerti peraturan, justru semakin bengal. Pendidikan di tempat belajar yang diharapkan semakin membentuk pribadi anak yang matang tak bisa berperan optimal.

Melihat kenyataan seperti ini, penting kiranya kita yang diembani amanah sebagai pendidik – baik sebagai orang tua maupun guru– menyimak nasihat dari seorang alim, pendidik yang telah puluhan tahun mendidik umat ini, Asy-Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu hafizhahullah. Nasihat beliau ini membuat kita mengaca diri, selama ini sejauh manakah kita melaksanakan amanah besar ini? Telah pantaskah kita memandang diri kita sendiri sebagai pendidik yang baik bagi anak-anak maupun murid-murid kita?

Dalam nasihat ini, beliau memaparkan, bagaimana menjadi seorang pendidik yang bisa diharapkan keberhasilannya dalam mendidik anak. Nasihat ini termaktub dalam beberapa bab di kitab beliau, Nida’ ilal Murabbiyin wal Murabbiyyat.

Beliau mengingatkan di awal tulisannya, “Sesungguhnya di antara tujuan pendidikan dan pengajaran adalah membentuk sesosok pribadi yang memiliki sifat-sifat mulia, senantiasa terkait dengan Rabbnya, tatanan hidupnya bersandar kepada-Nya, berusaha membenahi masyarakatnya dan meluruskan pemahamannya di atas prinsip-prinsip yang benar.”

Selanjutnya beliau menyatakan, “Asas pendidikan dalam masyarakat Islam berdiri di atas akidah yang benar, adab-adab yang tinggi, yang semua itu terwujud dalam hubungan anak didik dengan Rabbnya, pengajarnya, teman-teman, maupun lembaga pendidikannya, serta dengan keluarganya.

Jika kita ingin mewujudkan pribadi semacam ini, maka tentu kita perlu membentuk lebih dulu sosok pendidik yang akan berhasil dalam pendidikan dan pengajarannya. Pendidik ini haruslah memenuhi berbagai persyaratan dan adab, sehingga dia nantinya menjadi seorang pendidik yang baik dan pengajar yang bisa memberi manfaat.”

 

Syarat-syarat seorang pendidik

1. Mahir dalam bidangnya, kreatif dalam metode pengajarannya, serta mencintai profesi dan anak didiknya. Dia selalu berusaha mendidik murid-muridnya dengan baik dan berupaya menjauhkan mereka dari berbagai kebiasaan buruk. Jadi, dia mengajar sekaligus mendidik.

 

2. Bisa menjadi teladan bagi orang lain, baik dari sisi ucapan, perbuatan, maupun perilakunya. Dia selalu melaksanakan kewajibannya terhadap Rabbnya, umat ini, dan terhadap murid-muridnya. Dia menginginkan kebaikan bagi mereka sebagaimana yang diinginkannya bagi diri dan anak-anaknya. Dia selalu lapang dan memaafkan kesalahan. Kalaupun menghukum, dia menghukum dengan kasih sayang.

Rasulullah n bersabda:

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidak sempurna keimanan salah seorang dari kalian sampai dia mencintai kebaikan bagi saudaranya seperti yang dia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Al-Bukhari no. 13 dan Muslim no. 45)

 

3. Melaksanakan apa yang dia perintahkan pada murid-muridnya, baik berupa adab, akhlak maupun ilmu-ilmu yang lainnya. Jangan sampai perbuatannya berbeda dengan ucapannya. Allah berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan apa tidak kalian lakukan? Amat besar kemurkaannya di sisi Allah jika kalian mengatakan sesuatu yang tidak kalian lakukan.” (Ash-Shaff: 2-3)

Ini merupakan pengingkaran terhadap orang yang mengatakan sesuatu yang tidak dia lakukan.

Rasulullah n bersabda:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat.” (HR. Muslim)

Yakni ilmu yang tidak aku amalkan, tidak aku sampaikan pada orang lain, dan tidak pula bisa memperbaiki akhlakku.

Seorang penyair mengatakan:

Wahai orang yang mengajar orang selainmu

Mengapa tak ada pengajaran pada dirimu

 

4. Mengetahui bahwa profesi yang dia tekuni itu serupa dengan tugas para nabi yang diutus oleh Allah untuk memberi petunjuk dan mengajari manusia, mengenalkan mereka pada Rabb dan Pencipta mereka. Di samping itu, dia menduduki peran orang tua dalam hal kasih sayang dan cintanya kepada murid-muridnya. Dia juga bertanggungjawab dalam hal kehadiran mereka, perhatian mereka terhadap pelajaran, bahkan juga membantu mereka mengatasi berbagai problema yang mereka hadapi, serta peran-peran lain yang tercakup dalam tanggung jawabnya.

Rasulullah n bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مُسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Masing-masing diri kalian adalah pemimpin, dan masing-masing akan ditanya tentang yang dipimpinnya.” (HR. Al-Bukhari no. 5188 dan Muslim no. 1829)

Hendaknya dia mengetahui pula bahwa dia nanti akan ditanya di hadapan Allah tentang anak didiknya. Apa yang telah diajarkannya pada mereka? Apakah dia telah ikhlas dalam mencari berbagai jalan untuk membimbing mereka dan mengarahkan mereka dengan pengarahan yang baik?

Rasulullah n bersabda:

إِنَّ اللهَ سَائِلُ كُلِّ رَاعٍ عَمَّا اسْتَرْعَاهُ، أَحَفِظَ ذَلِكَ أَمْ ضَيَّعَهُ؟ حَتَّى يَسْأَلَ الرَّجُلَ عَنْ أَهْلِ بَيْتِهِ

“Sesungguhnya Allah akan menanyai setiap pemimpin tentang apa yang dipimpinnya, apakah dia menjaganya atau menyia-nyiakannya. Sampai-sampai seseorang akan ditanya tentang keluarganya.” (HR. An-Nasa’i dalam ‘Isyratun Nisa’, dishahihkan oleh Al-Imam Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 1636)

Selanjutnya, seorang guru harus bisa mengajak bicara murid-muridnya sesuai tingkat pemahamannya, karena masing-masing anak memiliki tingkat pemahaman tersendiri. Ali z mengatakan:

حَدِّثُوا النَّاسَ بِمَا يَعْرِفُوْنَ، أَتُحِبُّوْنَ أَنْ يُكَذَّبُ اللهُ وَرَسُوْلُهُ؟

“Ajaklah bicara manusia sesuai dengan apa yang dia mengerti. Apakah kalian senang jika Allah dan Rasul-Nya didustakan?” (HR. Al-BukhariKitabul ‘Ilmi, Bab Man khashsha bil ‘ilmi qauman duna qaumin karahiyatan an la yafhamu)

 

5. Seorang guru, sesuai dengan ketetapan bidangnya, hidup di antara anak didik yang berlainan tingkatan akhlak, pendidikan dan kecerdasannya. Karena itu, dia harus bisa meratai mereka semua dengan akhlaknya, sehingga dia bagaikan orang tua bersama anak-anaknya. Ini sebagai pengamalan sabda Sang Pendidik yang agung, Nabi kita Muhammad n:

إِنَّمَا أَنَا لَكُمْ بِمَنْزِلَةِ الْوَالِدِ أُعَلِّمُكُمْ

“Sesungguhnya aku ini bagaikan orangtua bagi kalian, di mana aku mengajari kalian.” (HR Abu Dawud no. 8, dihasankan oleh Al-Imam Al-Albani dalamShahih Sunan Abi Dawud)

 

6. Saling membantu dengan teman-teman seprofesi, saling menasihati dan bermusyawarah dengan mereka untuk kebaikan anak didik. Juga hendaknya dia menjadi teladan yang baik bagi anak didiknya tersebut, dan meneladani Rasulullah n, yang Allah berfirman kepada seluruh kaum muslimin dengan ayat-Nya:

“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah teladan yang baik bagi kalian.” (Al-Ahzab: 21)

 

7. Tawadhu’ terhadap ilmu

Mengakui suatu kebenaran merupakan keutamaan. Kembali pada kebenaran lebih baik daripada terus-menerus berada dalam kesalahan. Karena itu, seorang guru harus mencontoh para pendahulu kita yang shalih dalam hal mencari dan tunduk terhadap kebenaran, tatkala telah jelas bagi mereka bahwa ternyata kebenaran itu berbeda dengan apa yang selama ini mereka katakan dan mereka yakini.

Dalil dari hal ini adalah apa yang disebutkan oleh Ibnu Abi Hatim dalam kitabnya Muqaddimah Al-Jarh wat Ta’dil, ketika beliau mengisahkan tentang rujuk Al-Imam Malik dari fatwa beliau ketika mendengar suatu hadits. Ibnu Abi Hatim menyebutkan kisah tersebut dengan judul Bab kisah ittiba’ Al-Imam Malik terhadap atsar-atsar Nabi dan pembatalan fatwanya ketika disampaikan hadits dari Nabi yang berbeda dari fatwanya.

Ibnu Wahb berkata: Aku pernah mendengar Al-Imam Malik ditanya tentang menyela-nyelai jari-jemari kaki ketika berwudhu. Beliau menyatakan, “Hal itu tidak harus dilakukan.” Aku pun membiarkannya sampai orang-orang yang ada di majlis itu berkurang. Lalu aku mengatakan padanya, “Kami mempunyai sunnah dalam hal itu.”

“Apa itu?” tanya beliau.

“Al-Laits ibnu Sa’d dan Ibnu Lahi’ah dan ‘Amr ibnul Harits telah menyampaikan pada kami, dari Yazid ibni ‘Amr Al-Mu’afiri, dari Abi ‘Abdirrahman Al-Habli dari Al-Mustaurid ibni Syaddad Al-Qurasyi, dia mengatakan, ‘Aku melihat Rasulullah menggosok antara jari-jemari kaki beliau dengan kelingkingnya’,” paparku.

“Hadits ini hasan, dan aku belum pernah mendengarnya sebelum ini,” kata beliau. Kemudian aku mendengar setelah itu beliau ditanya tentang hal ini, maka beliau pun memerintahkan untuk menyela-nyelai jari-jemari.” (Lihat Muqaddimah Al-Jarh wat Ta’dil hal. 30)

Kalau kita ingin mencari berbagai contoh dari kehidupan para salaf, maka lembaran ini tak akan mencukupi. Oleh karena itu, wajib atas seorang guru yang ingin berhasil dalam tugasnya untuk tunduk terhadap kebenaran dan mau kembali dari kesalahannya jika dia bersalah. Dia juga harus mengajari murid-muridnya agar memiliki akhlak yang agung ini, serta menerangkan pada mereka tentang keutamaan sikap tawadhu’ dan kembali kepada kebenaran, dan dia terapkan hal ini di dalam kelas. Apabila dia melihat jawaban murid-muridnya lebih baik daripada jawaban yang dia miliki, hendaknya dia mengutarakan hal ini dan mengakui keutamaan jawaban murid tersebut. Ini akan lebih mendorong tumbuhnya kepercayaan dan kecintaan para murid padanya.

Aku (Asy-Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu –pen) telah hidup sebagai seorang guru dan pendidik hampir 40 tahun lamanya. Kalaupun ada yang aku lupa, maka aku tak pernah melupakan seorang guru yang pernah salah dalam membacakan suatu hadits. Ketika beberapa murid menyanggahnya, dia tetap bersikukuh dalam kesalahannya, sehingga dia berdebat dengan kebatilan. Jatuhlah si guru ini dalam pandangan murid-muridnya dan tak pernah kembali lagi kepercayaan mereka.

 

8. Jujur dan menepati janji

Seorang guru harus senantiasa jujur ucapannya, karena kejujuran itu seluruhnya baik. Jangan sampai dia mendidik murid-muridnya untuk berdusta, walaupun menurutnya ada kebaikannya.

Suatu ketika, ada seorang murid yang bertanya kepada gurunya dengan maksud mengingkari perbuatan merokok yang dilakukan oleh salah seorang guru. Ternyata guru itu memberikan jawaban yang membela temannya (rekan sesama guru), bahwasanya penyebab dia merokok adalah saran dokter padanya. Ketika keluar dari kelas, sang murid pun menggerutu, “Guru itu telah membohongi kita!”

Amatlah disayangkan. Andai guru itu jujur dalam menjawab dan menjelaskan kesalahan temannya, bahwasanya merokok itu haram karena membahayakan tubuh, mengganggu orang lain di sekitarnya, dan memboroskan harta. Kalaulah dia lakukan hal itu, dia akan memperoleh kepercayaan dan kecintaan murid-muridnya. Dia pun bisa mengatakan pada murid-muridnya, “Sesungguhnya guru itu adalah manusia biasa yang memiliki tabiat seorang manusia. Bisa benar bisa pula salah. Nabi kita Muhammad n menyatakan hal ini dalam hadits beliau:

كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ

“Setiap anak Adam itu banyak berbuat kesalahan, dan sebaik-baik orang yang banyak berbuat salah adalah yang banyak bertaubat.” (HR. Ahmad dan hadits ini shahih)

Sesungguhnya amatlah memungkinkan untuk menjadikan pertanyaan si murid tadi sebagai pengajaran bagi seluruh murid tentang bahayanya merokok serta hukumnya dalam syariat. Juga memaparkan pendapat para ulama tentang hal itu beserta dalil-dalilnya, sehingga dapat diambil faidah dari pertanyaan tadi dan digunakan sebagai sarana pendidikan serta pengarahan.

Rasulullah n bersabda:

وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيْقًا … الْحَدِيثَ

“Sesungguhnya seseorang senantiasa jujur dan membiasakan diri untuk selalu jujur, hingga dia dicatat di sisi Allah sebagai seorang yang jujur….” (HR. Al-Bukhari no. 6094 dan Muslim no. 2607)

Kejujuran adalah sebuah akhlak yang agung. Selayaknya seorang guru menanamkan, membiasakan dan menjadikan murid-muridnya mencintai akhlak ini. Juga hendaknya dia terapkan hal ini dalam ucapan ataupun perbuatannya, sampaipun dalam gurauannya dengan murid-muridnya. Dulu Rasulullah n biasa bergurau, namun tak pernah beliau mengatakan kecuali sesuatu yang benar. Jangan sampai seorang guru berbohong kepada murid-muridnya, walaupun dalam rangka bergurau atau berdiplomasi.

Jika menjanjikan sesuatu pada murid-muridnya, hendaknya dia memenuhi janjinya. Sehingga mereka pun akan belajar jujur dan memenuhi janji dari sang guru, baik dalam ucapan maupun amalan. Murid-murid akan tahu jika gurunya berdusta, walaupun mereka tidak mampu membantahnya karena rasa segan terhadap gurunya.

 

9. Sabar

Seorang guru harus berhias dengan kesabaran dalam menghadapi segala problema murid maupun pengajaran, karena kesabaran merupakan penolong terbesar dalam menjalankan tugasnya yang mulia ini.

 

Tugas seorang guru

Tugas seorang guru tak hanya semata mengisi otak murid-muridnya dengan berbagai mata pelajaran. Namun lebih dari itu, dia juga menjalankan pendidikan yang komprehensif untuk memurnikan akidah dan akhlak mereka dari segala sesuatu yang dapat merusak agama yang lurus ini. Karena itu, seorang guru harus bisa menjadikan segala ucapan dan perilaku murid-muridnya di dalam kelas selalu berpijak pada petunjuk nabawi yang shahih. Allah l berfirman:

“Katakanlah (wahai Muhammad), jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.” (Ali ‘Imran: 31)

Sejarah hidup Rasulullah n pun menunjukkan bahwa beliau merupakan seorang pendidik yang penuh hikmah, pengajar, pembimbing, pemberi nasihat yang penuh kasih sayang dan yang dicintai oleh para sahabatnya, serta ikhlas. Maka hendaknya seorang guru pun memiliki sifat-sifat ini pula, terutama keikhlasan. Dia harus ikhlas dalam menjalankan tugasnya, hanya untuk Allah, tidak memandang pada materi. Jika diberi walau sedikit, dia bersyukur. Kalaupun tidak, dia sabar. Nanti Allah l akan memberinya rezeki di dunia ini dan mencatat baginya pahala di akhirat nanti.

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

(Diterjemahkan dengan sedikit perubahan dari kitab Nida’ ilal Murabbiyin wal Murabbiyat hal. 9-16 oleh Ummu ‘Abdirrahman bintu ‘Imran)

Bimbingan Kedelapan: Menghindari gambar makhluk bernyawa

Bimbingan Kedelapan: Menghindari gambar makhluk bernyawa

Sesungguhnya di antara perkara haram yang kebanyakan manusia gampang terjatuh ke dalamnya adalah sikap mengikuti hawa nafsu, dengan menggambar makhluk bernyawa, baik berupa manusia, hewan, burung, ataupun yang lainnya.

Dalil-dalil dalam permasalahan ini menunjukkan larangan menggambar makhluk bernyawa secara keseluruhan. Adapun yang mengatakan ada beberapa pengecualian, maka wajib baginya untuk menunjukkan dalilnya. Di antara dalil yang menerangkan permasalahan ini adalah sabda Nabi n:

كُلُّ مُصَوِّرٍ فِي النَّارِ يُجْعَلُ لَهُ بِكُلِّ صُورَةٍ صَوَّرَهَا نَفْسًا فَتُعَذِّبُهُ فِي جَهَنَّمَ

“Semua tukang gambar tenpatnya di an-nar (neraka). Setiap yang dia gambar akan dijadikan ruh untuknya yang kemudian (gambar yang sudah memiliki ruh tersebut) akan mengadzabnya di jahannam.” (Al-Bukhari no. 345, Muslim no. 213 dari sahabat Ibnu Abbas c)

Di antara dalilnya juga adalah hadits dengan lafadz:

إِنَّ الَّذِينَ يَصْنَعُونَ هَذِهِ الصَّوَرَ يُعَذَّبُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، يُقَالُ لَهُمْ: أَحْيَوْا مَا خَلَقْتُمْ

“Sesungguhnya orang-orang yang menggambar gambar-gambar (bernyawa) ini akan diadzab pada hari kiamat. Dikatakan kepada mereka: “Hidupkan apa yang telah kalian ciptakan ini.” (Al-Bukhari no. 5607, Muslim no. 2108 dari sahabat Ibnu ‘Umar c)

Dalil-dalil yang menunjukkan haramnya menggambar makhluk bernyawa sangatlah banyak. Silakan merujuk kepada kitab-kitab yang membahas permasalahan tersebut.[1]

Al-Lajnah Ad-Da’imah ditanya dengan pertanyaan berikut (fatwa no. 16205):

Apakah menggambar menggunakan kamera video termasuk dalam hukum menggambar dengan alat fotografi (kamera)??

Jawab:

Ya, hukum menggambar dengan video sama dengan menggambar dengan fotografi dalam hal pelarangan dan pengharamannya, berdasarkan keumuman dalil-dalil yang ada.

Al-Lajnah Ad-Da’imah Lil Buhuts Al-Ilmiyyah Wal Ifta’.

Ketua: ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz

Wakil ketua: ‘Abdurrazzaq ‘Afifi

Anggota: ‘Abdul ‘Aziz Alu Asy-Syaikh, ‘Abdullah bin Ghudayyan, Shalih bin Al-Fauzan, Bakr Abu Zaid.

Yang lebih parah dari itu, sebagian orang mengambil gambar mahramnya atau istrinya untuk disimpan di dalam HP. Ini adalah kesalahan dan merupakan bahaya yang besar.

HP yang di dalamnya terdapat gambar (foto) istrinya misalnya, atau gambar (foto) anak perempuannya terkadang bisa hilang, atau seseorang lalai sehingga tertinggal di rumah orang-orang yang anda anggap teman. Padahal mereka tidak amanah dan tidak punya sikap takwa. Dengan segera mereka akan membuka gambar-gambar pada HP tersebut yang kemudian mereka melihat gambar yang disukainya. Akhirnya mereka memindahkan gambar tersebut ke HP nya, kemudian ke HP orang-orang yang semisal dengannya (tidak amanah dan tidak punya ketakwaan). Sehingga pada suatu hari mata Anda akan melihat sesuatu yang pahit dan terjadilah musibah yang berakibat pada rusaknya rumah tangga. Wal ‘iyadzubillah.

Ada pertanyaan yang diajukan kepada Fadhilatu Asy-Syaikh Shalih bin ‘Abdillah Ad-Duwaisy –qadhi (hakim) di Mahkamah Al-Qathif– seputar HP yang menyediakan fasilitas alat gambar (pemotret/kamera)?

 

Jawaban:

1. Fasilitas-fasilitas yang ada pada HP, di antaranya adalah fasilitas alat penggambar (alat pemotret) teknologi tinggi, merupakan alat gambar tersembunyi. Menggambar itu ada hukum-hukumnya sendiri dalam syariat. Pada asalnya, hukum menggambar (makhluk bernyawa) adalah haram. Rasulullah n bersabda:

أَشَدُّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الَّذِينَ يُضَاهُونَ بِخَلْقِ اللهِ

Orang yang paling keras siksaannya pada hari kiamat adalah orang-orang yang membuat sesuatu yang serupa dengan makhluk Allah. (Muttafaqun ‘alaihidari Aisyah x)

Dari Ibnu Abbas c, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah n bersabda:

كُلُّ مُصَوِّرٍ فِي النَّارِ يَجْعَلُ اللهُ لَهُ بِكُلِّ صُورَةٍ صَوَّرَهَا نَفْسًا يُعَذَّبُ بِهَا فِي جَهَنَّمَ

“Semua tukang gambar tempatnya di an-nar (neraka). Setiap yang dia gambar akan dijadikan ruh untuknya yang kemudian (gambar yang sudah memiliki ruh tersebut) akan mengadzabnya di jahannam.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Dalil-dalil ini bersifat umum, para ulama mengecualikannya pada kondisi tertentu selama ada kebutuhan.

2. Dalam fasilitas tersebut terdapat kemudahan untuk memerangi kaum muslimin dan muslimat serta kemudahan untuk menghinakan kehormatan mereka ketika gambar (foto-foto) mereka diambil dalam keadaan mereka tidak sadar. Hal itu akan mengakibatkan munculnya kerusakan yang besar. Allah menjadikan hal itu termasuk dosa besar. Allah berfirman:

“Dan barangsiapa yang mengerjakan kesalahan atau dosa, kemudian dituduhkannya kepada orang yang tidak bersalah, maka sesungguhnya ia telah berbuat suatu kebohongan dan dosa yang nyata.” (An-Nisa’: 112)

Allah l juga berfirman:

“Orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (Al-Ahzab: 58)

3. Orang-orang yang memiliki jiwa berpenyakit dan penuh syahwat itu akan menempuh segala cara untuk merusak rumah tangga seseorang, di antaranya adalah dengan gambar ini. Ini sangat banyak terjadi. Aku mengatakan ini berdasarkan fakta yang aku ketahui secara langsung berupa problem-problem rumah tangga dan penyimpangan-penyimpangan akhlak, bahkan pernah terjadi peristiwa pembunuhan disebabkan ‘gambar’. Cukuplah bagi engkau (sebagai peringatan) kejadian talak (perceraian), pemukulan, boikot, tuduhan (fitnah), laknat, dan kezaliman yang terlalu panjang untuk diceritakan.

Dari penjelasan yang lalu, akan tampak jelas bagi Anda tentang hukum syar’i tentang fasilitas ini, yakni hukumnya haram. Tidak boleh menjual dan membelinya. Seseorang wajib melarang orang yang berada di bawah tanggung jawabnya dan senantiasa mengontrol mereka. Karena keberadaannya merupakan kerusakan yang tidak tersamarkan lagi. Wallahu a’lam.[2]

Bimbingan Kesembilan: Jagalah akhlakmu

Fasilitas ini bisa memberikan pengaruh yang besar terhadap rusaknya kehidupan pribadi dan masyarakat, menganggap perkara yang hina sebagai hal yang mulia, disebabkan jeleknya dalam menggunakan HP ini, dan kemampuannya mengarahkan kepada kerusakan.

Sungguh sangat disesalkan! Betapa banyak rumah tangga berantakan, aib di dalam rumah terbongkar, kemudian mereka terjerumus ke dalam jerat setan, antara membunuh atau mencederai orang lain. Seorang muslim itu adalah orang yang Allah selamatkan dari cobaan ini.

Mereka terjatuh ke dalam keadaan demikian karena melakukan tiga perkara:

 

1. Mengirim SMS yang mengandung cinta asmara dan kasih sayang

Sesungguhnya di antara perkara yang memprihatinkan sekali adalah apa yang engkau lihat dan engkau dengar berupa perbuatan orang-orang fasik dari kalangan laki maupun perempuan, yang saling mengirim SMS tidak senonoh. Ujungnya akan membawa pelakunya kepada perbuatan zina, liwath(homoseks), dan akhlak yang buruk.

Bagaimana pendapat Anda, wahai saudaraku, apakah HP bagi orang yang demikian keadaannya menjadi sesuatu yang membangun, ataukah justru menjadi sesuatu yang merusak?!

 

2. Percakapan yang dipenuhi canda dan tawa

Terkadang perkara ini bahayanya lebih besar dari yang disebutkan tadi. Karena sifat HP yang tersembunyi, maka setiap orang akan berbicara dengan orang lain dengan pembicaraan yang tidak ada seorang pun yang mengawasinya kecuali Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

 

3. Tukar-menukar gambar yang haram

Sudah terlalu banyak kerusakan dan perusakan yang menimpa hati. Betapa celakanya orang yang mempromosikan dan menyebarkan perbuatan ini, kalau dia tidak mendapatkan rahmat dari Allah dan meninggal dalam keadaan belum bertaubat.

Betapa banyak hati yang mereka rusak, fitrah yang mereka simpangkan, rumah tangga yang mereka berantakkan. Akhirnya mereka akan menanggung dosa sesuai dengan tingkat kerusakan yang mereka perbuat.

Allah berfirman:

 

“(Ucapan mereka) menyebabkan mereka memikul dosa-dosanya dengan sepenuh-penuhnya pada hari kiamat, dan sebahagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikitpun (bahwa mereka disesatkan). Ingatlah, amat buruklah dosa yang mereka pikul itu.” (An-Nahl: 25)

Allah berfirman:

 

“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. dan Allah mengetahui, sedang kalian tidak mengetahui.” (An-Nur: 19)

Bimbingan Kesepuluh: Jagalah aqidahmu

Karena mudahnya berhubungan dengan orang lain baik luar maupun dalam negeri terkhusus jika dilakukan dengan sarana internet, menjadi mudahlah untuk mengetahui informasi dan keadaan mereka, termasuk aqidah kufur maupun bid’ah. Hal ini bisa berpengaruh terutama kepada orang yang hatinya berpenyakit dan yang tidak memiliki benteng berupa dalil-dalil yang bersumber dari Al-Qur`an dan As-Sunnah untuk melindungi dirinya.

Oleh karena itu, wajib untuk berhati-hati dari bahaya fasilitas ini, terkhusus dalam masalah aqidah, karena ini adalah masalah besar. Bukanlah perkara yang ringan jika hati seseorang terasuki syubhat Yahudi, Nasrani, Majusi, Komunisme, Kapitalisme, Sekulerisme, Sufiyah, Rafidhiyah, dan Hizbiyyah. Kita memohon kepada Allah keselamatan.

 

(bersambung Insya Allah, diterjemahkan oleh Al-Ustadz Abu Abdillah Kediri, dari http://www.sahab.net/forums/showthread.php?t=368419)

 

 


[1] Di antaranya:

1. Tahrimu Tashwiri Dzawatil Arwah karya Asy-Syaikh Al-‘Allamah Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i t.

2. Al-Qaulul Mufid fi Hukmi At-Tashwir karya Samahatusy Syaikh Ibnu Baz t.

[2] Aku katakan: Terkait alat gambar (pemotret), diharamkan untuk menggambar makhluk yang bernyawa, kecuali dalam keadaan darurat seperti foto untuk kartu (KTP) ataupun foto paspor. Fasilitas tersebut boleh digunakan asalkan sesuai dengan pedoman-pedoman syariat, yang sebagainnay disebutkan dalam risalah ini. Wallahu a’lam.

Membentengi Rumah dari Syaithan (bagian 3)

Sembilan benteng telah kami sebutkan guna mengupayakan terjaganya rumah dari musuh yang terkutuk. Berikut ini kelanjutan dari dua tulisan sebelumnya sebagai akhir dari pembahasan ini:

 

Ucapan yang baik dan wajah yang cerah

Setan pasti punya ambisi untuk menghancurkan masyarakat Islam hingga ia membuat rencana, makar dan tipu daya. Di antara rencana yang diprogramkannya adalah menggoyahkan pondasi rumah tangga keluarga muslim, di mana rumah tangga ini merupakan batu bata awal dalam bangunan sebuah masyarakat. Sebagaimana telah kita ketahui dari hadits Jabir ibnu Abdillah c, ia berkata, “Rasulullah n bersabda:

إِنَّ إِبلِيسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْماَءِ ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ فَأَدْنَاهُمْ مِنهُ مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً، يَجِيءُ أَحَدُهُم فَيَقُولُ: فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا. قَالَ: مَا صَنَعْتَ شَيْئًا. ثُمَّ يَجِيْءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُولُ: مَا تَرَكْتُهُ حَتَّى فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ. قَالَ: فَيُدْنِيهِ مِنْهُ وَيَقُولُ: نِعْمَ أَنْتَ

Sesungguhnya iblis meletakkan singgasananya di atas air lantas ia mengirim kan tentara-tentaranya. Maka yang paling dekat di antara mereka dengan iblis adalah yang paling besar fitnah yang ditimbulkannya. Datang salah seorang dari anak buah iblis menghadap iblis seraya berkata, “Aku telah melakukan ini dan itu.” Iblis menjawab, “Engkau belum melakukan apa-apa.” Lalu datang setan yang lain melaporkan, “Tidaklah aku meninggalkan dia (anak Adam yang diganggunya) hingga aku berhasil memisahkan dia dengan istrinya.” Maka iblis pun mendekatkan anak buahnya tersebut dengan dirinya dan memujinya, “Engkaulah yang terbaik.” (HR. Muslim no. 7037)

Dengan terpisahnya pasangan suami istri niscaya pada akhirnya akan hancur pondasi suatu masyarakat. Hancurnya masyarakat manusia inilah yang didambakan oleh si musuh besar anak manusia.

Mengingat akan hal ini dan yang lainnya, maka sudah menjadi kemestian bagi seorang suami untuk bergaul dengan baik terhadap istrinya, karena Allah k telah memerintahkan:

“Dan bergaullah kalian (para suami) terhadap mereka (para istri) dengan baik.” (An-Nisa: 19)

Suami selaku qawwam[1] dalam sebuah keluarga semestinya memberikan kalimat-kalimat yang baik kepada istrinya, sehingga setan tidak memancing di air keruh dalam hubungan dia dengan istrinya. Bukankah Rabbul Izzah telah berfirman:

Katakanlah (ya Muhammad) kepada hamba-hamba-Ku, “Hendaknyalah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik. Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.” (Al-Isra’: 53)

Al-Hafizh Ibnu Katsir t, “Allah tabaraka wa ta’ala memerintahkan hamba-Nya dan Rasul-Nya n, untuk menyuruh hamba-hamba Allah yang beriman agar berbicara dan bercakap-cakap menggunakan perkataan-perkataan yang paling baik dan kalimat-kalimat thayyibah/bagus. Karena bila mereka tidak melakukan hal tersebut, niscaya setan akan menimbulkan perselisihan di antara mereka dan meningkatkan ucapan kepada perbuatan/tindakan. Hingga terjadilah kejelekan, pertikaian dan perkelahian. Karena setan, musuh Adam dan anak turunan Adam sejak saat iblis (nenek moyang para setan) menolak untuk sujud kepada Adam, dan permusuhannya ini tampak nyata….” (Tafsir Al Qur’anil Azhim, 5/66)

Al-‘Allamah Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di t berkata saat menafsirkan ayat di atas, “Ini merupakan perintah untuk mengucapkan seluruh perkataan yang dapat mendekatkan seorang hamba kepada Allah, baik berupa membaca Al-Qur’an, berzikir, menyampaikan ilmu atau diskusi ilmiah, amar ma’ruf, nahi mungkar dan kalimat-kalimat baik yang lembut terhadap sesama makhluk dengan perbedaan martabat dan kedudukan mereka. Bila beredar suatu perkara di antara dua perkara yang baik, maka kita diperintah untuk mengutamakan yang paling baik di antara keduanya, jika memang tidak mungkin keduanya disatukan atau dikumpulkan.

Perkataan yang baik akan mengajak kepada seluruh akhlak yang indah dan amal yang shalih. Karena siapa yang dapat menguasai lisannya niscaya ia dapat menguasai seluruh perkaranya.

Firman Allah:

“Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka”, yaitu setan mengupayakan perkara yang dapat merusak agama dan dunia mereka. Maka obat dari hal ini adalah mereka tidak menaati setan yang mengajak mereka agar mengucapkan perkataan-perkataan yang tidak baik. Bahkan hendaknya mereka bersikap lunak di antara sesama mereka agar mematahkan setan yang ingin menimbulkan perselisihan di antara mereka. Karena setan adalah musuh mereka yang hakiki, hingga pantaslah mereka memeranginya. Apatah lagi si musuh ingin mengajak mereka, agar mereka termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala.

Karena setan ini terus berupaya menimbulkan perselisihan di antara mereka dan permusuhan, maka yang seharusnya dan semestinya mereka lakukan adalah berupaya melawan musuh mereka dan mematahkan jiwa-jiwa mereka yang memerintahkan kepada kejelekan, di mana setan masuk dari arah tersebut. Dengan begitu, berarti mereka menaati Rabb mereka. Akan luruslah perkara mereka, dan mereka akan terbimbing kepada kebenaran/kelurusan.” (Taisir Al-Karimir Rahman, hal. 460)

Kata-kata yang baik akan melapangkan dada, melanggengkan pergaulan, menebarkan kebahagiaan di antara suami istri, mewujudkan ketenangan yang diharapkan dari diciptakannya para istri untuk para lelaki, memperkuat unsur-unsur mawaddah/ cinta dan menyuburkanrahmah/kasih sayang di antara suami istri. Allah l berfirman:

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untuk kalian pasangan hidup/istri-istri dari jenis kalian sendiri, agar kalian cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kalian rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda bagi orang-orang yang berpikir.” (Ar-Rum: 21)

Bayangkanlah keadaan sebuah rumah tangga di mana sang suami suka berkata kasar kepada istrinya, menghardik dan membentak. Atau ia suka mengungkit apa yang telah diberikannya kepada istrinya, seperti mengatakan, “Aku yang capek cari duit. Kamu enak aja tinggal pakai. Makanya harus tahu diri, jangan seenaknya menggunakan duitku! “

Kalimat seperti ini tentunya melukai seorang istri, walaupun memang dalam kenyataannya si suami yang mencari nafkah dan uang yang ada dalam rumah adalah miliknya. Kalau tujuan si suami hendak menegur istrinya dalam hal pengaturan belanja rumah tangga, maka suami yang cerdas tentunya tidak akan mengungkapkannya dengan kalimat yang dapat menorehkan luka di dada istrinya.

Lalu apa persangkaan kita terhadap si suami bila ia suka mengucapkan kalimat demikian, padahal istrinya telah berupaya hemat dalam membelanjakan uang yang diberikan suaminya dan berlaku amanah terhadap harta suaminya? Tidak lain karena lisannya yang memang buruk dan tidak pandai bergaul baik dengan istrinya. Kepada suami yang demikian, hendaklah ia menyadari keburukan lisannya. Jangan terus menyakiti istrinya. Waspadalah dari kehancuran mahligai yang telah dibangun bersama istrinya, karena seperti yang telah disinggung di atas bahwa setan bisa menyusup antara dia dan istrinya untuk menimbulkan perselisihan di antara mereka.

Di sisi lain, seorang istri juga lebih utama dituntut untuk bertutur kata yang baik kepada suaminya dan penuh adab dalam menyampaikan ucapan, sehingga istri tidak mengangkat suaranya lebih dari suara suaminya.

 

Membentengi istri

Abdullah ibnu ‘Amr ibnul ‘Ash c mengabarkan sabda Rasulullah n:

إِذَا تَزَوَّجَ أَحَدُكُمُ امْرَأَةً أَوِ اشْتَرَى خَادِمًا، فَليَقُلْ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيرَهَا وَخَيرَ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيهِ وَأَعُوذُ بِكَ مِن شَرِّهَا وَمِن شَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيهِ؛ وَإِذَا اشْتَرَى بَعِيرًا فَلْيَأخُذ بِذَرْوَةِ سَنَامِهِ وَلْيَقُلْ مِثْلَ ذَلِكَ.

قَالَ أَبو داود: زاد أبو سعيد: (

“Apabila salah seorang dari kalian menikahi seorang wanita atau membeli seorang budak, hendaknya ia mengucapkan ; Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan apa yang Engkau ciptakan dia di atasnya dan aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan apa yang Engkau ciptakan dia di atasnya. Apabila ia membeli seekor unta, hendaklah ia memegang puncak punuk untanya dan hendaknya ia mengucapkan doa semisal di atas.”

Abu Dawud berkata, “Abu Said menambahkan:

ثُمَّ لِيَأخُذْ بِنَاصِيَتِهَا وَلْيَدْعُ باِلْبَرَكَةِ فِي الْمَرأَةِ وَالْخَادِمِ

“Kemudian hendaknya ia memegang ubun-ubun istrinya dan mendoakan keberkahan pada istri atau si budak.” (HR. Abu Dawud no. 2160, dihasankan dalam Shahih Abi Dawud)

Disenangi bagi seorang pengantin menunaikan shalat dua rakaat bersama istrinya saat ia masuk menemui istrinya sebagai upaya menjaga kehidupan rumah tangganya kelak dari setiap perkara yang tidak disenangi. Hal ini dinukilkan dari salaf. Salah satunya dari Syaqiq, ia berkata, “Datang seseorang bernama Abu Hariz. Ia mengabarkan, “Aku telah menikahi seorang gadis perawan yang masih muda dan aku khawatir ia akan membenciku.” Ibnu Mas’ud z berkata:

إِنَّ الْإِلْفَ مِنَ اللهِ وَالْفِرْكَ مِنَ الشَّيْطَانِ، يُرِيدُ أَنْ يُكَرِهَّ إِلَيْكُمْ مَا أَحَلَّ اللهُ لَكُم. فَإِذَا أَتَتْكَ فَأْمُرْهَا أَنْ تُصَلِّيَ وَرَاءَكَ رَكْعَتَينِ.

“Sesungguhnya kedekatan itu dari Allah dan kebencian itu dari setan. Setan ingin membuat kalian benci terhadap apa yang Allah halalkan kepada kalian. Maka bila engkau mendatangi istrimu, suruhlah dia shalat dua rakaat di belakangmu.”

Dalam riwayat lain dari Ibnu Mas’ud ada tambahan:

وَقُلْ: اللَّهُمَّ بَارِكْ لِي فِي أَهْلِي وَبَارِكْ لَهُمْ فِيَّ، اللَّهُمَّّ اجْمَعْ بَينَنَا مَا جَمَعْتَ بِخَيرٍ وَفَرِّقْ بَيْنَنَا إِذَا فَرَّقْتَ إِلَى خَيرٍ

“Dan ucapkanlah: Ya Allah, berilah berkah untukku pada keluarga/isteriku dan berilah berkah untuk mereka pada diriku. Ya Allah, kumpulkanlah kami selama Engkau mengumpulkannya dengan kebaikan dan pisahkanlah kami jika memang Engkau memisahkannya kepada kebaikan. (HR. Ibnu Abu Syaibah danAbdurrazzaq dalam Mushannafnya 6/191/10460-10461. Sanadnya shahih kata Al-Imam Al-Albani t. Diriwayatkan pula oleh Ath-Thabsrani, 3/21/2, dengan dua sanad yang shahih. Lihat Adabuz Zafaf hal. 96)

 

 

Menjaga anak dari gangguan setan

Seorang muslim semestinya menjaga zikir yang diucapkan ketika hendak berhubungan intim dengan istrinya. Karena dengan mengucapkan zikir yang demikian berarti ada upaya menjaga anak dari gangguan setan. Ibnu Abbas c menyampaikan dari Nabi n, sabda beliau, “Seandainya salah seorang dari kalian ketika mendatangi istrinya mengucapkan:

بِسمِ اللهِ اللُّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيطاَنَ مَا رَزَقتَناَ؛ فَإِنْ قَضَى اللهُ بَينَهُمَا وَلَدًا لَمْ يَضُرَّهُ الشَّيطَانُ أَبَدًا

“Dengan nama Allah, Ya Allah jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari apa yang Engkau rezkikan pada kami,” lalu Allah tetapkan lahirnya anak dari hubungan keduanya, niscaya setan tidak akan membahayakan si anak selama-lamanya. (HR. Al-Bukhari no. 5165 dan Muslim no. 3519)

Al-Qadhi Iyadh t berkata tentang bahaya yang disebutkan dalam hadits, “Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah setan tidak dapat merasuki anak yang lahir tersebut (terjaga dari kesurupan jin –pent.). Ada yang mengatakan setan tidak akan menusuk anak tersebut saat lahirnya sebagaimana disebutkan dalam hadits tentang hal ini[2]. Tidak ada seorangpun yang membawa pengertian bahaya dalam hadits di atas kepada keumuman yang berupa penjagaan dari seluruh kemadaratan, was-was dan penyimpangan[3].” (Al-Ikmal, 4/610)

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani t menyebutkan adanya berbagai pendapat tentang maksud penjagaan si anak dari bahaya yang ditimbulkan setan seperti dinyatakan dalam hadits. Ada yang memaknakan, setan tidak apat menguasai si anak karena berkah tasmiyah (ucapan bismillah). Bahkan si anak termasuk dalam sejumlah hamba-hamba yang Allah nyatakan:

“Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, tidak ada kekuasaanmu atas mereka (engkau tidak bisa menguasai mereka) terkecuali orang-orang yang mengikutimu dari kalangan orang-orang sesat/menyimpang.” (Al-Hijr: 42)

Ada pula yang mengatakan setan tidak akan menusuk perut si anak. Namun pendapat ini jauh dari kebenaran, karena bertentangan dengan zahir hadits yang menyebutkan:

كُلَّ بَنِي آدَمَ يَطْعُنُ الشَّيطَانُ فِي جَنْبَيهِ بِإِصْبِعَيْهِ حِينَ يُولَدُ، غَيرَ عِيسَى بْنِ مَريَمَ ذَهَبَ يَطعُنُ فَطَعَنَ فِي الْحِجَابِ

Ada yang berpendapat, setan tidak dapat membuatnya kesurupan. Ada pula yang berpandangan, setan tidak dapat membahayakan tubuh si anak. Ibnu Daqiqil ‘Id t berkata, “Dimungkinkan setan tidak dapat memadaratkan si anak pada agamanya juga.” Akan tetapi pendapat ini juga dipermasalahkan, karena tidak ada manusia yang maksum (terjaga dari dosa). Kata Ad-Dawudi tentang makna setan tidak akan memadaratkan si anak adalah, “Setan tidak dapat memfitnah si anak dari agamanya hingga ia keluar dari agamanya kepada kekafiran. Bukan maksudnya si anak terjaga dari berbuat maksiat.”

Ada pula yang berpandangan, setan tidak akan memadaratkan si anak dengan menyertai ayahnya menggauli ibunya, sebagaimana riwayat dari Mujahid, “Seorang lelaki yang berhubungan intim dengan istrinya dan ia tidak mengucapkan bismillah, setan akan meliliti saluran kencingnya lalu ikut menggauli istrinya bersamanya. Mungkin ini jawaban yang paling dekat. Dalam hadits ini ada beberapa faedah. Di antaranya, hadits ini mengisyaratkan setan itu terus menyertai anak Adam, tidak terusir darinya kecuali dengan berzikir kepada Allah.” (Fathul Bari, 9/285-286)

 

Menjaga anak dari hewan berbisa dan dari pandangan hasad

Anak kita yang masih kecil belum bisa membentengi dirinya sendiri dengan zikir dan doa, termasuk tentunya zikir pagi dan petang yang dengannya Allah menjanjikan penjagaan bagi hamba yang mengamalkannya. Karenanya, kitalah sebagai orangtua yang membacakan doa perlindungan untuk si anak setiap pagi dan petang. Sambil mengusap kepalanya, kita berdoa:

أُعِيذُكُمْ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّةِ مِن كُلِّ شَيطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍ

“Aku melindungkan kalian dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari setiap setan[4], hewan berbisa dan dari setiap pandangan mata yang menyakiti.”

Rasulullah n dahulu melindungkan kedua cucu beliau, Al-Hasan dan Al-Husain, dengan doa perlindungan ini, dan bersabda:

إِنَّ أَبَاكُمَا كَانَ يُعَوِّذُ بِهَا إِسمَاعِيلَ وَإِسحَاقَ

“Sesungguhnya ayah kalian berdua[5] dulunya mengucapkan doa perlindungan ini untuk Ismail dan Ishaq.” (HR. Al-Bukhari no. 3371)

Demikianlah beberapa benteng yang dapat kita upayakan untuk menjaga rumah kita. Bila kita berpegang dengannya niscaya setan akan terusir sehingga kedamaian dan ketentraman pun bisa kita peroleh dalam rumah kita, Insya Allah.

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

 

 


[1] Sebagaimana Allah k berfirman:

“Kaum lelaki adalah qawwam/pemimpin atas kaum wanita….” (An-Nisa’: 34)

[2] Abu Hurairah z menyampaikan sabda Rasulullah n:

كُلَّ بَنِي آدَمَ يَطعُنُ الشَّيطَانُ فِي جَنْبَيهِ بِإِصْبِعَيْهِ حِينَ يُولَدُ، غَيرَ عِيسَى بْنِ مَريَمَ ذَهَبَ يَطعُنُ فَطَعَنَ فِي الْحِجَابِ

“Setiap anak Adam ditusuk oleh setan dengan dua jemarinya pada dua rusuk si anak Adam saat ia dilahirkan kecuali Isa ibnu Maryam. Setan ingin menusuknya ternyata setan menusuk pada hijab/tabir penghalang.” (HR. Al-Bukhari no. 3286)

Dalam riwayat lain dari Abu Hurairah z juga, ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah n bersabda:

ماَ مِنْ بَنِي آدَمَ مَوْلُودٌ إِلاَّ يَمَسُّهُ الشَّيطَانُ حِيْنَ يُوْلَدُ فَيَسْتَهِلُّ صَارِخًا مِنْ مَسِّ الشَّيطَانِ، غَيرَ مَريَمَ وَابْنِهَا. ثُمَّ يَقُولُ أَبُو هُرَيرَةَ: {ﯨ ﯩ ﯪ ﯫ ﯬ ﯭ ﯮ ﯯ }

“Tidak ada seorang pun dari anak Adam yang lahir melainkan setan menyentuhnya (menusuknya) saat ia lahir. Maka bayi yang baru lahir itu pun menjerit karena tusukan setan tersebut, selain Maryam dan putranya. Kemudian Abu Hurairah membaca ayat: “Dan sesungguhnya aku melindungkan dia (Maryam) dan anak turunannya kepada-Mu dari setan yang terkutuk.” (Ali ‘Imran: 36)

Disebabkan tusukan setan inilah, bayi yang baru lahir menangis karena rasa sakit yang didapatkannya. (Fathul Bari, 9/573)

[3] Maksudnya tidak ada satu ulama pun yang berpendapat si anak terjaga dari seluruh bahaya sehingga tak satupun bahaya dapat menyentuhnya.

[4]) Termasuk di dalamnya setan dari kalangan jin dan manusia.) Fathul Bari, 6/497)

[5] ) Yakni Ibrahim u. Rasulullah n menyebutnya dengan ayah karena Ibrahim adalah kakek buyut mereka.

Maksud Kurang Akal dan Agama

Kita sering mendengar hadits:

النِّسَاءُ نَاقِصَاتُ عَقلٍ وَدِينٍ

“Wanita itu kurang akal dan agamanya.”

Sehingga dengan itu ada sebagian lelaki menjadikannya sebagai cercaan terhadap wanita. Sebenarnya ada makna hadits tersebut?

Jawab:

Samahatusy Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah ibnu Baz t menjawab, “Makna hadits Rasulullah n:

مَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِينٍ أَغلَبُ لِلُبِّ الرَّجُلِ الْحَازِمِ مِنْ إِحْدَاكُنَّ. فَقِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ، مَا نُقْصَانُ عَقْلِهَا؟ قاَلَ: أَلَيْسَتْ شَهَادَةُ الْمَرْأَتَيْنِ بِشَهَادَةِ رَجُلٍ؟ قِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ، مَا نُقصَانُ دِينِهَا؟ قَالَ: أَلَيْسَتْ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ

“Aku tidak pernah melihat orang yang kurang akal dan agamanya paling bisa mengalahkan akal lelaki yang kokoh daripada salah seorang kalian (kaum wanita).” Maka ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, apa maksudnya kurang akalnya wanita?” Beliau menjawab, “Bukankah persaksian dua orang wanita sama dengan persaksian seorang lelaki?” Ditanyakan lagi, “Ya Rasulullah, apa maksudnya wanita kurang agamanya?” “Bukankah bila si wanita haid ia tidak shalat dan tidak pula puasa?” jawab beliau.

Rasulullah n menerangkan kurangnya akal wanita dari sisi lemahnya ingatan/hapalannya. Persaksiannya baru diterima bila disertai persaksian wanita yang lainnya, guna memperkuat/mengokohkan persaksian yang ada. Karena bila si wanita bersendirian dalam memberikan persaksian terkadang ia lupa sehingga ia menambah ataupun mengurangi dalam persaksian tersebut. Sebagaimana Allah l berfirman:

“Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari kaum lelaki di antara kalian. Jika tidak ada dua orang lelaki, maka boleh seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kalian ridhai, supaya jika salah seorang dari wanita itu lupa maka yang seorang lagi mengingatkannya.”(Al-Baqarah: 282)

Adapun kurangnya agama si wanita karena saat ia haid dan nifas, ia harus meninggalkan shalat dan puasa, tanpa tuntutan mengqadha shalat yang ditinggalkan. Ini sisi kurangnya agamanya. Akan tetapi kekurangan ini bukan celaan baginya dan ia tidak berdosa karenanya. Karena kekurangan tersebut didapatkannya dengan ketentuan syariat Allah k. Allah k lah yang mensyariatkan hal tersebut kepada kaum wanita sebagai kasih sayang/kelembutan terhadapnya dan kemudahan baginya. Karena bila si wanita puasa dalam keadaan ia haid atau nifas, niscaya akan memadaratkannya. Maka termasuk rahmat Allah, Dia mensyariatkan kepada wanita untuk tidak berpuasa saat haid dan nifas. Sebagai gantinya, ia mengqadha di waktu yang lain setelah suci.

Untuk shalat yang harus ditinggalkannya saat haid dan nifas, karena ketika dalam keadaan haid si wanita mendapati pada dirinya sesuatu yang mencegahnya dari thaharah/bersuci[1]. Maka termasuk rahmat Allah k, Dia mensyariatkan si wanita untuk meninggalkan shalat. Demikian pula saat nifas. Kemudian Allah mensyariatkan shalat yang ditinggalkan tersebut tidak diqadha, karena kalau ada qadha niscaya akan memberikan keberatan yang besar. Di mana pengerjaan shalat fardhu akan berulang dalam sehari semalam sebanyak lima kali. Sedangkan haid terkadang waktunya lama/beberapa hari, bisa 7 hari atau 8 hari atau bahkan lebih. Nifas lebih lama lagi, kadang sampai 40 hari. Maka termasuk rahmat Allah kepada si wanita dan kebaikan Allah kepadanya, Dia gugurkan penunaian shalat baginya dan gugur pula qadha shalat tersebut.

Yang perlu diingat, tidak mesti wanita itu kurang akalnya dalam segala hal. Demikian pula tidak mesti agamanya kurang dalam segala hal. Rasulullah n hanya menerangkan kurangnya akal wanita dari sisi kurangnya ingatannya dalam memberikan persaksian. Dalam hal kurangnya agama, Rasulullah n hanya menyebutkan dari sisi ia meninggalkan shalat dan puasa di saat haid dan nifas. Sehingga kekurangan tersebut tidak mesti menjadikan si wanita berada di bawah lelaki (kurang dari lelaki) dalam segala hal dan tidak mesti lelaki lebih utama dari si wanita dalam segala hal. Memang dari sisi jenis, secara umum kaum lelaki lebih utama dari kaum wanita karena sebab yang banyak. Sebagaimana Allah l berfirman:

“Kaum lelaki adalah pemimpin atas kaum wanita, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita) dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (An-Nisa’: 34)

Akan tetapi terkadang wanita melampaui lelaki pada beberapa keadaan, dalam banyak perkara. Ada wanita yang akal, agama dan kekokohan hapalannya melebihi banyak lelaki[2]. Yang datang beritanya dari Nabi n hanyalah penyataan bahwa jenis wanita berada di bawah jenis lelaki dalam hal akal dan agama dari dua sisi yang telah diterangkan oleh Nabi n.

Terkadang ada wanita yang memiliki banyak amal shalih sehingga ia melampui banyak lelaki dalam amal shalihnya tersebut dan dalam ketakwaannya kepada Allah k. Demikian pula dalam hal kedudukannya di akhirat kelak. Terkadang ada wanita yang memiliki perhatian terhadap sebagian perkara lalu ia menghapal/mengingatnya dengan kuat, lebih kuat dari ingatan/hapalan sebagian lelaki dalam banyak permasalahan yang diperhatikan si wanita dan ia bersungguh-sungguh dalam menghapal dan mengingatnya. Jadilah si wanita sebagai rujukan dalam sejarah Islam dan dalam banyak hal. Hal ini tampak jelas bagi orang yang memperhatikan keadaan para wanita di masa Nabi n dan setelahnya. Dengan demikian, diketahuilah bahwa kekurangan yang ada tidaklah menjadi penghalang untuk menjadikan wanita sebagai sandaran dalam periwayatan. Demikian pula dalam persaksian bila ia disertai dengan wanita lainnya. Kekurangan tersebut tidak pula menghalangi si wanita untuk bertakwa kepada Allah dan menjadi sebaik-baik hamba Allah, bila ia tetap istiqamah dalam agamanya. Walaupun gugur darinya kewajiban puasa saat haid dan nifas, namun tidak gugur kewajiban mengqadha. Sekalipun gugur darinya kewajiban penunaian shalat saat haid dan nifas berikut qadhanya. Semua ini tidaklah mengharuskan si wanita dianggap kurang dalam segala hal, dari sisi ketakwaannya kepada Allah, dari sisi penunaiannya terhadap perintah Allah dan dari sisi ingatannya terhadap perkara yang mendapatkan perhatiannya. Ia kurang, khusus dalam akal dan agama sebagaimana yang diterangkan Nabi n.

Oleh karena itu, tidak sepantasnya seorang mukmin melemparkan tuduhan bahwa si wanita punya kekurangan dalam segala hal dan lemah agamanya dalam segala perkara. Lemahnya dia dalam agama hanya dalam perkara khusus. Lemahnya dia dalam hal akal juga hanya sebatas perkara yang berkaitan dengan ingatan saat memberi persaksian dan semisalnya. Maka permasalahan ini harus dijelaskan dan ucapan Nabi n harus dibawa kepada maknanya yang paling baik dan paling bagus[3]Wallahu ta’ala a’lam. (Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, 4/292-294)


[1] Dengan terus keluarnya darah yang najis dari kemaluannya. –pent.

[2] Contohnya Ummul Mukminin Aisyah, semoga Allah meridhainya. –pent.

[3] Jangan dimaknakan semaunya, tak sesuai dengan yang dimaksudkan Nabi n. –pent.

UMAIMAH BINTU RUQAIQAH AT-TAMIMIYAH

Sebenarnya dia adalah Umaimah bintu ‘Abd bin Bijad bin ‘Umair bin Al-Harits bin Haritsah bin Sa’d bin Taim bin Murrah bin Ka’b bin Lu’ay bin Ghalib. Adapun Ruqaiqah adalah nama ibunya, Ruqaiqah bintu Khuwailid bin Asad bin ‘Abdil ‘Uzza, saudari Khadijah bintu Khuwailid x, istri Nabi n.

Umaimah disunting oleh Habib bin Ku’aib bin ‘Utair Ats-Tsaqafi.

Dia adalah salah satu wanita yang beriman kepada Rasulullah n dan berbai’at pada beliau. Para wanita itu pun menyatakan, tidak akan menyekutukan Allah dengan sesuatu pun, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anak mereka, dan tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka, serta tidak akan mendurhakai Rasulullah n dalam perkara yang ma’ruf.

Umaimah menuturkan sendiri kisah bai’at tersebut. Ia berkata:

بَايَعْتُ رَسُولَ اللهِ n فِي نِسوَةٍ، فَقَالَ لَنَا: فِيمَا اسْتَطَعْتُنَّ وَأَطَقْتُنَّ. قُلتُ: اللهُ وَرَسُولُهُ أَرْحَمُ بِنَا مِنَّا بِأَنفُسِنَا. فَقُلتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، بَايِعْنَا. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ n: إِنَّمَا قَوْلِي لِمِائَةِ امْرَأَةٍ كَقَولِي لِامْرَأَةٍ وَاحِدَةٍ

“Aku membai’at Rasulullah n bersama para wanita.

Maka bersabdalah Rasulullah n kepada kami, “Dalam perkara-perkara yang kalian mampu dan sanggupi. “

“Allah dan Rasul-Nya lebih penyayang terhadap kami daripada sayangnya kami terhadap diri kami sendiri,” ujarku.

“Wahai Rasulullah, bai’atlah kami!” pintaku[1].

Rasulullah n menjelaskan bahwa beliau tidak berjabat tangan dengan wanita (yang tidak halal bagi beliau), “Ucapanku terhadap seratus wanita sama dengan ucapanku terhadap seorang wanita[2].”[3]

Umaimah meriwayatkan hadits dari Rasulullah n dan istri-istri beliau. Kemudian riwayatnya diambil oleh putrinya, Hukaimah dan Muhammad ibnul Munkadir. Kehidupannya diwarnai teladan bagi orang-orang setelahnya.

Umaimah bintu Ruqaiqah, semoga Allah meridhainya….

Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.

 

Sumber bacaan:

Al-Ishabah, Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani (8/31-32)

Al-Isti’ab, Al-Imam Ibnu ‘Abdil Barr (2/488)

Tahdzibul Kamal, Al-Imam Al-Mizzi (35/130-131)


[1] Umaimah mengucapkan demikian karena yang ia tahu berbaiat itu dengan cara berjabat tangan sebagaimana dilakukan para lelaki saat membai’at Rasulullah n. Karenanya kata Sufyan, salah seorang perawi hadits di atas, yang dimaukan dengan Umaimah adalah, “Jabatlah tangan kami.”

[2] Rasulullah n membai’at mereka, para wanita, hanya dengan ucapan tanpa menjabat tangan mereka, karena seperti kata Ummul Mukminin Aisyah x dalam hadits yang diriwayatkan Al-Imam Muslim dalam Shahihnya:

مَا مَسَّ رَسُولُ اللهِ n بِيَدِهِ امْرَأَةً قَطُّ إِلاَّ أَن يَأخُذَ عَلَيْهَا فَأَعْطَتْهُ، قَالَ: اذْهَبِي فَقَدْ بَايَعْتُكِ

“Rasulullah n tidak pernah sama sekali menyentuh tangan seorang wanita (yang tidak halal bagi beliau). Dalam berbaiat tidak lain yang beliau lakukan hanyalah mengambil perjanjian bai’at dari si wanita lalu si wanita memberikan janjinya kepada beliau. Setelahnya beliau bersabda, “Pergilah engkau karena sungguh aku telah membai’atmu.”

Bahkan beliau n pernah bersabda:

لَأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأسِ أَحَدِكُمْ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيدٍ خَيرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمُسَّ امْرَأَةً لاَ تَحِلُّ لَهُ

“Ditusuk kepada salah seorang dari kalian dengan jarum dari besi itu lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (HR. Ath-Thabarani dalam Al-Mu’jamul Kabir dengan sanad yang hasan)

[3] HR. At-Tirmidzi dengan sanad yang shahih.

Sifat Shalat Nabi (3) : Bersedekap

Bersedekap dengan meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri

Termasuk petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam masalah shalat adalah setelah mengangkat tangan dalam takbiratul ihram, tangan kanan diletakkan di atas tangan kiri saat bersedekap. Beliau bersabda:

“Kami, segenap para nabi, diperintahkan untuk menyegerakan berbuka puasa, mengakhirkan makan sahur, dan kami diperintah untuk meletakkan tangan-tangan kanan kami di atas tangan-tangan kiri kami di dalam shalat.” (HR. Ath-Thabarani dalam Al-Kabir no. 11485, dan selainnya dari hadits Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, dishahihkan dalam Ashlu Shifah Shalatin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, 1/206)

Jabir radhiallahu ‘anhuma mengabarkan, di saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati seorang lelaki yang sedang shalat dengan meletakkan tangan kirinya di atas tangan kanannya, beliau pun melepaskan tangan tersebut lalu membetulkannya dengan meletakkan tangan kanan orang tersebut di atas tangan kirinya. (HR. Ahmad 3/381. Al-Haitsami rahimahullah berkata, “Rijalnya rijal Ash-Shahih.” Majma’ Az-Zawaid 2/105)

Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatku meletakkan tangan kiri di atas tangan kananku di dalam shalat. Beliau pun mengambil tangan kananku lalu diletakkannya di atas tangan kiriku.” (HR. Abu Dawud no. 755, dihasankan dalam Shahih Abi Dawud dan Fathul Bari, 2/291)

Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah dalam kitab Shahihnya menyebutkan Bab Wadh’il yumna ‘alal yusra (peletakan tangan kanan di atas tangan kiri) dan membawakan riwayat Sahl ibnu Sa’d radhiallahu ‘anhu yang mengabarkan: “Adalah orang-orang diperintah agar seseorang meletakkan tangan kanannya di atas lengan kiri bagian bawah (lengan bawah/hasta) di dalam shalat.”

Abu Hazim, perawi yang meriwayatkan dari Sahl mengatakan, “Aku tidak mengetahui dari Sahl kecuali dia menyandarkannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Al-Bukhari no. 740)

Faedah

Para ulama menjelaskan, di antara hikmah meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri adalah hal ini merupakan tata cara seorang peminta yang hina (meminta dengan menghinakan diri di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala). Cara seperti ini paling menahan/menghalangi dari berbuat main-main dalam shalat dan lebih dekat pada kekhusyukan.” (Fathul Bari, 2/291)

Cara peletakannya

Tangan kanan tadi diletakkan di atas tangan kiri dengan:

– al-wadha’: diletakkan saja di atas punggung telapak tangan kiri, pergelangan, dan hasta/lengannya (antara siku dan telapak tangan).

Dalilnya adalah hadits Wa’il ibnu Hujr radhiallahu ‘anhu, ia berkata, “Sungguh-sungguh aku akan melihat kepada shalatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengetahui secara tepat bagaimana shalat beliau. Aku pun mengamati beliau. Beliau berdiri, lalu bertakbir dan mengangkat kedua tangannya hingga berhadapan dengan bagian atas kedua telinga beliau. Kemudian beliau meletakkan tangan kanannya di atas punggung telapak tangan kiri, pergelangan, dan hastanya….” (HR. Abu Dawud no. 727, An-Nasa’i no. 889, dishahihkan dalam Al-Irwa’ 2/68-69)

Atau bisa pula dengan cara:

– al-qabdh: tangan kanan menggenggam tangan kiri.

Cara ini disebutkan dalam sebagian riwayat hadits Wail ibnu Hujr radhiallahu ‘anhu seperti dalam riwayat An-Nasa’i (no. 887). Wail berkata: “Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bila berdiri dalam shalat, beliau menggenggamkan tangan kanannya di atas tangan kirinya.” (Sanadnya shahih sebagaimana dalam Shahih Sunan An-Nasa’i)

 Al-Imam Al-Albani rahimahullah berkata, “Tidaklah samar bahwa antara qabdh dengan wadha’ ada perbedaan yang jelas. Karena qabath lebih khusus daripada sekadar meletakkan (wadha’). Setiap orang yang menggenggam berarti ia meletakkan dan tidak sebaliknya.” Beliau mengatakan, “Sebagaimana hadits tentang wadha’shahih, demikian pula tentang qabdh. Maka yang mana saja dari keduanya dilakukan oleh orang yang shalat berarti sungguh ia telah mengerjakan Sunnah. Yang lebih utama, bila sekali waktu ia lakukan yang ini dan di waktu yang lain ia lakukan yang itu.

Adapun menggabungkan antara wadha’ dengan qabdh yang dianggap baik oleh sebagian orang-orang yang belakangan dari kalangan Hanafiyah adalah bid’ah. Gambarannya –sebagaimana yang mereka sebutkan– adalah seseorang meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya dengan mengambil/menggenggam pergelangan tangan kiri dengan jari kelingking dan ibu jarinya yang kanan, sementara tiga jari yang lain dibentangkan. Cara ini seperti yang disebutkan dalam Hasyiyah Ibnu Abidin alad Dur (1/454).” (Ashlu Shifah, 1/211­-215)

Tempat kedua tangan yang disedekapkan

Dalam hal ini terdapat hadits-hadits yang menyebutkan bahwa kedua tangan tersebut diletakkan di bawah pusar, di atas pusar, atau di atas dada. Bila hadits-hadits tersebut tsabit niscaya ini termasuk keragaman dalam ibadah, di mana masing-masing sahabat meriwayatkan apa yang ia saksikan, maka semuanya berarti disyariatkan. Akan tetapi kata guru besar kami, muhaddits dari negeri Yaman, Al-Imam Abu Abdirrahman Muqbil ibnu Hadi Al-Wadi’i rahimahullah, “Hadits-hadits yang menyebutkan di bawah pusar dan di atas pusar, beredar pada rawi yang bernama Abdurrahman ibnu Ishaq Al-Kufi, sementara ia dhaif/lemah.

Diperselisihkan riwayat yang dibawakannya karena ada kegoncangan (idhthirab) dalam haditsnya. Terkadang ia meriwayatkan dari Ziyad ibnu Zaid sehinggaperiwayatannya tergolong dalam musnad Ali radhiallahu ‘anhu. Sekali waktu ia meriwayatkan dari Sayyar ibnul Hakam dan dijadikannya mauquf (berhenti sanadnya) sampai Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu. Terkadang pula ia meriwayatkan dari An-Nu’man ibnu Sa’d sebagaimana dalam riwayat Al-Baihaqi (juz 2, hal. 11) sehingga tergolong dalam musnad Ali. Al-Baihaqi rahimahullah telah mengisyaratkan sebagian perbedaan ini, kemudian beliau berkata, “Abdurrahman ibnu Ishaq matruk (ditinggalkan haditsnya).”

“Di sana ada riwayat lain dari jalur Ghazwan ibnu Jarir Adh-Dhibbi, dari ayahnya, dari perbuatan Ali radhiallahu ‘anhu, tidak marfu’ (sampai) kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pada Ghazwan dan ayahnya sendiri ada jahalah (majhul).

Hanya saja riwayat keduanya bisa dijadikan syawahid dan mutaba’ah, sebagaimana penjelasan yang telah lewat. Adapun kalau keduanya bersendiri dalam penetapan suatu hukum maka tidak bisa. Apatah lagi apa yang mereka sebutkan adalah dari perbuatan Ali radhiallahu ‘anhu, sementara perbuatan seorang sahabat bukan hujjah.

Adapun riwayat yang menyebutkan kedua tangan diletakkan di atas dada yang diriwayatkan Ibnu Khuzaimah, maka riwayat tersebut dari jalur Muammal ibnu Ismail. Dia lebih dekat kepada kedhaifan. Terlebih lagi dia bersendiri dalam riwayatnya dari sekelompok huffazh, sebagaimana dalam ta’liq terhadap Nashbur Rayah. Akan tetapi hadits Wail diriwayatkan dari jalur Abdul Jabbar ibnu Wa’il, dari ibunya, dari ayahnya, yang dibawakan Al-Imam Ahmad dan dalam sanadnya ada Qubaishah ibnu Halb. Kata Ibnul Madini, “(Qubaishah ini) majhul, tidak ada yang meriwayatkan darinya kecuali Sammak.” An- Nasa’i berkata, “Dia majhul.” Kata Al-‘Ijli, “Dia seorang tabi’in yang tsiqah.” Ibnu Hibban menyebutkannya dalam Ats-Tsiqat sebagaimana dalam Tahdzibut Tahdzib. Yang terpilih dalam hal ini adalah ucapan Ibnul Madini dan An-Nasa’i, karena Al-‘Ijli dan Ibnu Hibban diketahui sering mentsiqahkan orang yang majhul.

Yang paling shahih dalam masalah ini adalah hadits Thawus yang diriwayatkan oleh Abu Dawud. Di dalamnya disebutkan peletakan tangan di atas dada. Akan tetapi haditsnya mursal, sementara mursal termasuk bagian hadits dhaif. Sehingga yang tampak bagiku adalah perkara di mana kedua tangan itu diletakkan ketika sedekap termasuk perkara yang lapang (tidak dibatasi), sama saja apakah diletakkan di atas pusar, di bawah pusar, ataupun di atas dada. Walaupun riwayat mursal (yang telah kami sebutkan di atas, yaitu meletakkan tangan di atas dada) merupakan riwayat yang paling shahih dalam permasalahan ini. Wallahu a’lam.” (Riyadhul Jannah fir Raddi ‘ala A’da’is Sunnah, hal. 127-128)

Hukum melepaskan tangan tanpa bersedekap

Guru kami yang mulia, Asy-Syaikh Muqbil ibnu Hadi Al-Wadi’i rahimahullah berkata, “Telah datang atsar tentang melepaskan tangan tanpa bersedekap di dalam shalat dari sebagian salaf, seperti ‘Abdullah bin Az-Zubair, Ibrahim An-Nakha’i, Sa’id bin Jubair, dan ‘Atha’ bin Abi Rabah, sebagaimana yang ada dalam Mushannaf Ibn Abi Syaibah (1/391) dan Mushannaf ‘Abdir Razzaq (2/276).

Jawaban akan hal ini: Bisa jadi tidak sampai kepada sebagian mereka hadits-hadits tentang meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri dalam shalat, sementara hadits-hadits itu sampai kepada yang lain. Juga bisa jadi mereka menganggap baik dan memandang bahwa melepaskan tangan tanpa bersedekap bisa membantu untuk khusyu’.

Adapun yang tidak sampai padanya dalil-dalil peletakan tangan kanan di atas tangan kiri dalam shalat, maka mereka mendapatkan uzur. Sementara yang menganggap baik hal itu dalam keadaan telah mendapati nash, maka anggapan mereka itu tertolak, siapa pun dia. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala meridhai Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu ketika beliau mengatakan: “Aku tak pernah meninggalkan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena pendapat seseorang”, atau ucapan yang semakna dengan ini.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

لَّقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِي رَسُولِ ٱللَّهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ لِّمَن كَانَ يَرۡجُواْ ٱللَّهَ وَٱلۡيَوۡمَ ٱلۡأٓخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرٗا ٢١

“Telah ada pada diri Rasulullah teladan yang baik bagi kalian, bagi orang yang mengharapkan pertemuan dengan Allah dan hari akhir.”(Al–Ahzab: 21)

ٱتَّبِعُواْ مَآ أُنزِلَ إِلَيۡكُم مِّن رَّبِّكُمۡ وَلَا تَتَّبِعُواْ مِن دُونِهِۦٓ أَوۡلِيَآءَۗ قَلِيلٗا مَّا تَذَكَّرُونَ ٣

“Ikutilah apa yang telah diturunkan kepada kalian dari Rabb kalian, dan janganlah kalian ikuti selain-Nya sebagai wali. Alangkah sedikitnya kalian ingat.” (Al–A’raf: 3)

Karena itu, tidak halal bagi seseorang untuk meninggalkan syariat Allah subhanahu wa ta’ala karena pendapat Fulan dan Fulan. Adapun orang-orang yang berpendapat melepaskan tangan, bisa jadi dia tidak mengetahui dalil dan dia diberi uzur, atau dia seorang alim mujtahid yang diberi pahala dengan ijtihadnya, atau seorang pembangkang yang pantas diberikan hukuman. Tidaklah halal mengikuti mereka semua dalam perkara yang menyelisihi Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam….

Al-Imam Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah telah menetapkan bahwasanya melepaskan tangan itu tidak tsabit (shahih) dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Riyadhul Jannah, hal. 131-133)

Larangan berkacak pinggang di dalam shalat

Dalam hadits dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Seseorang dilarang shalat dalam keadaan berkacak pinggang.” (HR. Al-Bukhari no. 1220)

Juga dari Ziyad bin Shabih Al-Hanafi, dia mengatakan:

Aku pernah shalat di sisi Ibnu ‘Umar. Maka aku meletakkan kedua tanganku di kedua pinggangku. Ketika telah selesai shalat, Ibnu ‘Umar mengatakan, “Ini adalah perbuatan yang menyerupai salib di dalam shalat, dan dulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang yang seperti ini.” (HR. Abu Dawud no.903, dishahihkan oleh Al-Imam Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud)

Ibnu Sirin rahimahullah mengatakan bahwa yang dimaksud dalam hadits (Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu) di atas adalah meletakkan tangan di pinggang ketika shalat. Ini pula yang ditetapkan oleh Abu Dawud dan dinukilkan oleh At-Tirmidzi dari sebagian ahlul ilmi. Ini merupakan pendapat yang masyhur tentang penafsiran ikhtishar dalam shalat. (Fathul Bari 3/115)

Al-Imam At-Tirmidzi rahimahullah mengatakan: “Yang dimaksud ikhtishar adalah seseorang meletakkan tangannya di pinggang ketika shalat. Sebagian ahlul ilmi membenci jika seseorang berjalan dengan berkacak pinggang. Diriwayatkan bahwa iblis bila berjalan sambil berkacak pinggang.” (Sunan At-Tirmidzi, 1/237)

Al-Imam Asy-Syaukani mengatakan: “Hadits ini menunjukkan haramnya berkacak pinggang di dalam shalat. Demikian pendapat ahlu zhahir. Sementara Ibnu ‘Abbas, Ibnu ‘Umar, ‘Aisyah, Ibrahim An-Nakha’i, Mujahid, Ibnu Majlaz, Malik, Al-Auza’i, Asy-Syafi’i, ulama ahlul Kufah dan yang lainnya berpendapat makruh. Yang kuat adalah apa yang dipegangi oleh ahlu zhahir, karena tidak adanya dalil-dalil penyerta yang dapat memalingkan larangan ini dari pengharaman yang merupakan maknanya yang hakiki. Inilah yang benar.” (Nailul Authar, 2/223)