Memenuhi Seruan allah dan RasulNya (bagian ke-2)

Allah l berfirman,

“Oleh karena itu, sampaikanlah berita gembira itu kepada hamba-hamba-Ku, yaitu mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah dan mereka itulah orang-orang yang memiliki akal.” (az-Zumar: 17—18)
Sebagai hamba yang mengabdi dan berbakti kepada Penciptanya, kita dituntut untuk mendengar dan mengikuti kalamullah dan kalam Rasulullah n. Barang siapa pada hari ini tidak mau mendengar, niscaya besok dia akan menyesal saat orang-orang kafir berkata,
Dan mereka berkata, “Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala.” (al-Mulk: 10)
Kita diminta untuk menyempatkan waktu guna mendengar khutbah, ceramah-ceramah agama, menghadiri daurah dan kajian-kajian islami agar kita dapat mendengarkan hal-hal yang bermanfaat dan menambah pengetahuan agama kita. Kita pun diimbau mendengarkan acara-acara/siaran-siaran agama yang bermanfaat, yang alhamdulillah siarannya telah sampai ke setiap rumah dan tempat. Akan tetapi, amatlah disesalkan kebanyakan kita tidak mau mendengarnya. Seandainya pun mendengarkan, sebagian kita tidak mau memahaminya. Sungguh, bumi akan mati di kala lama tak turun hujan sehingga air tidak bisa sampai kepadanya. Demikian pula hati, apabila tidak sampai kepadanya wahyu dan zikir niscaya hati akan buta, sakit, dan akhirnya mati!
Apabila seseorang tidak biasa menghadiri khutbah agama dan tidak pernah mendengar nasihat, di samping enggan membaca al-Qur’an, apalagi hadits Rasulullah n, bagaimana gerangan keadaannya? Dari mana dia bisa mempelajari dan memahami agamanya? Bagaimana kiranya dia bisa memenuhi panggilan Allah l dan Rasul-Nya?
Memenuhi panggilan tidaklah mungkin dilakukan melainkan setelah mendengarkan dakwah.
Allah l telah memanggil kita dalam Kitab-Nya dan lewat lisan Rasul-Nya. Dia yang Mahasuci mengajak kepada Darussalam, negeri keselamatan dan kesejahteraan.
“Dia menyeru kalian untuk memberi ampunan kepada kalian dari dosa-dosa kalian…” (Ibrahim: 10)
Siapa yang mendengar panggilan Allah l, dia wajib menjawabnya.
ﮈ ﮉ ﮊ ﮋ ﮌ ﮍ ﮎ ﮏ ﮐ ﮑ ﮒ ﮓ ﮔ ﮕﮖ ﮗ ﮘ ﮙ ﮚ ﮛ
“Dan orang-orang yang tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Allah maka dia tidak akan dapat melepaskan diri dari azab Allah di muka bumi dan tidak ada baginya pelindung selain Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” (al-Ahqaf: 32)
Ada manusia yang sama sekali menolak ajakan/panggilan Allah l. Mereka adalah orang-orang kafir dan kaum munafik yang mengatakan, “Sami’na wa ‘ashaina.” Artinya, kami mendengar, namun kami mendurhakai.
Ada pula di antara manusia yang menerima panggilan tersebut apabila mencocoki selera nafsunya, namun menolaknya apabila tidak sesuai dengan hawa nafsunya. Orang seperti ini adalah hamba bagi hawa nafsunya. Dia bukanlah hamba Allah l yang mengikuti seruan Maulanya. Allah l berfirman,
“Jika mereka tidak menjawabmu (tantanganmu untuk mendatangkan sebuah kitab dari sisi Allah yang lebih dapat memberi petunjuk daripada Taurat dan Injil), ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka belaka. Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tanpa petunjuk dari Allah sedikit pun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (al-Qashash: 50)
Orang yang seperti ini serupa dengan orang yang beriman dengan sebagian al-Kitab dan mengingkari sebagian yang lain. Anda melihat apabila orang ini dipanggil dengan seruan azan untuk menghadiri shalat jamaah di masjid, dia tidak menjawabnya. Anda melihat dia diajak untuk meninggalkan riba, suap, dan muamalah yang diharamkan, namun dia tidak berpikir untuk meninggalkan dan menjauhkan diri darinya. Anda melihat dia diperintah kepada yang ma’ruf dan dilarang dari yang mungkar, namun dia tidak memeganginya. Padahal dia mengaku beragama Islam. Dia mengatakan bahwa dirinya termasuk kaum muslimin. Kalaupun orang ini selamat dari kekafiran, namun dia tidak selamat dari kefasikan, kemunafikan, dan akhlak yang buruk.
Seruan Allah l bisa sampai kepada setiap mukallaf dengan cara yang beragam. Ada yang melalui jalan membaca al-Qur’an dan sunnah Rasul-Nya, atau lewat perantaraan para da’i yang mengajak kepada Allah l. Ada pula yang melalui jalan orang-orang yang beramar ma’ruf nahi mungkar dan yang menyerukan shalat dalam sehari semalam sebanyak lima kali. Demikianlah. Tidaklah terlewat satu kesempatan pun melainkan seseorang bisa mendengar ajakan kepada Allah l. Tinggal dia yang memilih, apakah menerima atau menolak, apakah ingin pahala atau hukuman.
Saudariku… sangat disesalkan, ada orang-orang yang lebih memilih mendengarkan nyanyian dan seruling setan daripada mendengarkan kalam ar-Rahman. Ada yang lebih senang pergi ke bioskop, diskotek, dan tempat bersenang-senang lainnya daripada pergi ke masjid. Ada yang lebih asyik menikmati “suara merdu” artis Fulan daripada mendengar wejangan seorang pemberi nasihat. Orang-orang yang demikian termasuk dalam kelompok manusia yang difirmankan oleh Allah l,
“Dan di antara manusia ada orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna (lahwal hadits) untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah tanpa ilmu dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan beroleh azab yang menghinakan. Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah dia belum pernah mendengarnya, seakan-akan di kedua telinganya ada sumbatan. Maka beri kabar gembira padanya dengan azab yang pedih.” (Luqman: 6—7)
Ketahuilah wahai saudariku, ada beberapa hal yang dapat menghalangi seorang hamba memenuhi seruan dan ajakan kepada Allah l dan Rasul-Nya, di antaranya:
1. Sombong untuk menerima al-haq
Hal ini sebagaimana yang dahulu terjadi pada Iblis ketika Allah l memerintahkannya untuk sujud kepada Adam q. Dia pun enggan dan takabbur. “Aku lebih baik daripada Adam,” ujarnya pongah.
Nabi n pernah bersabda,
الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
“Sombong adalah menolak al-haq, tidak mau menerimanya, dan merendahkan manusia.” (HR. Muslim no. 91)
2. Hasad atau iri dengki
Hal ini sebagaimana yang terjadi pada Yahudi tatkala Rasulullah n mengajak mereka untuk beriman kepada beliau. Mereka tidak memenuhi ajakan tersebut, malah mengkufuri beliau karena hasad dari diri mereka setelah jelas bagi mereka al-haq tersebut.
3. Ta’ashub/fanatik terhadap suatu pendapat/mazhab dan taklid/membebek buta terhadap perkara yang dipegangi oleh nenek moyang
Hal ini telah terjadi pada Yahudi dan kaum musyrikin. Allah l berfirman,
Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Berimanlah kepada al-Qur’an yang diturunkan Allah,” mereka berkata, “Kami hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami.” Dan mereka kafir kepada al-Qur’an yang diturunkan sesudahnya, sedangkan al-Quran itu adalah kitab yang haq, yang membenarkan apa yang ada pada mereka. (al-Baqarah: 91)
Demikian pula firman-Nya,
Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab, “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari perbuatan nenek moyang kami.” (Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui sesuatu pun dan tidak mendapatkan petunjuk? (al-Baqarah: 170)
4. Mengikuti hawa nafsu
Allah l berfirman,
“Jika mereka tidak menjawab (tantanganmu), ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (al-Qashash: 50)
5. Takut celaan manusia dan tidak sabar menanggung gangguan mereka
Allah l berfirman tentang orang-orang kafir Quraisy,
Dan mereka berkata, “Jika Kami mengikuti petunjuk bersama kalian, niscaya kami akan diusir dari negeri kami.” (al-Qashash: 57)
Mereka sebenarnya mengakui bahwa apa yang dibawa oleh Rasulullah n adalah petunjuk dan apa yang mereka pegangi adalah kesesatan. Akan tetapi, mereka menyampaikan alasan tidak mengikutinya, yaitu rasa khawatir/takut mendapat gangguan manusia, takut keamanannya terganggu. Hal ini termasuk rusaknya gambaran dan terbaliknya fitrah karena pada hakikatnya rasa aman tidaklah bisa diperoleh selain dengan mengikuti petunjuk. Adapun rasa takut muncul hanyalah karena mengikuti kesesatan.
Ucapan orang kafir kemarin sama dengan ucapan kebanyakan orang di zaman sekarang. Mereka mengatakan, “Kami tahu bahwa Islam adalah agama yang benar, adapun selainnya batil. Akan tetapi, kami tidak bisa mengikutinya dan menerapkannya karena khawatir terhadap negeri-negeri kafir. Jangan sampai mereka menimpakan kejelekan kepada kami, atau mereka mengejek kami dengan mengatakan kami mundur dan terbelakang.”
Mereka yang berucap seperti ini tidak tahu bahwa perbuatan mereka tersebut justru menambah ketakutan, kelemahan, dan jatuhnya mereka di mata musuh mereka. Padahal Allah l berfirman,
“Janganlah kalian takut kepada mereka tapi takutlah hanya kepada-Ku.” (Ali Imran: 175)
Nabi n bersabda:
مَنِ الْتَمَسَ رِضَا النَّاسِ بِسَخَطِ اللهِ سَخِطَ اللهُ عَلَيْهِ وَأَسْخَطَ عَلَيْهَا النَّاسَ
“Siapa yang mencari ridha manusia dengan membuat Allah murka, niscaya Allah murka kepadanya dan Allah pun menjadikan manusia murka kepadanya.” (HR. at-Tirmidzi no. 2416)1
Oleh karena itu, bertakwalah kalian kepada Allah l, wahai para hamba Allah l! Berhati-hatilah dari berbagai sebab yang mendatangkan kemurkaan-Nya, berpeganglah dengan kitab Rabb kalian dan sunnah Nabi kalian, karena sebaik-baik ucapan adalah Kitabullah.
(Dinukilkan dengan beberapa perubahan dari kitab al-Khuthab al-Minbariyah fil Munasabat al-‘Ashriyah, Fadhilatusy Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah, 4/ 72—76, oleh Ummu Ishaq al-Atsariyah)

Catatan Kaki:

1 Dalam ash-Shahihah no. 2311, disebutkan hadits Aisyah x secara marfu’ yang berbunyi,
مَنْ أَرْضَى اللهَ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللهُ النَّاسَ، وَمَنْ أَسْخطَ اللهَ بِرِضَى النَّاسِ وَكَّلَهُ اللهُ إِلَى النَّاسِ
“Siapa yang membuat Allah l ridha walaupun menyebabkan manusia marah, Allah l akan mencukupinya dari manusia. Namun, siapa yang membuat Allah l murka karena mencari keridhaan manusia, Allah l akan menyerahkannya kepada manusia (tidak mau mengurusinya).”

KELUAR RUMAH BAGI WANITA

Allah l berfirman,
“Dan tetaplah kalian tinggal di rumah-rumah kalian dan janganlah bertabarruj sebagaimana tabarruj orang-orang jahiliah yang pertama.” (al-Ahzab: 33)
Apakah ayat ini khusus bagi istri-istri Rasulullah n? Apa pandangan syariat tentang wanita keluar rumah menuju masjid atau untuk menunaikan keperluannya?
Jawab:
Ayat yang disebutkan tidaklah khusus untuk istri-istri Nabi n. Bahkan, perintah dalam ayat di atas berlaku umum untuk seluruh wanita yang beriman. Walaupun ayat tersebut asalnya turun untuk istri-istri Nabi n, tetapi secara hukum mencakup seluruh wanita orang-orang yang beriman.
Maka dari itu, semua wanita mukminah diperintah untuk tetap tinggal di rumah-rumah mereka, untuk menaati Allah l dan Rasul-Nya, tidak melunakkan suara saat berbicara dengan lelaki dengan ucapan/suara yang membuat orang fasik dan menyimpan nifak punya keinginan syahwat terhadap mereka. Mereka hanyalah diperbolehkan berucap dengan ucapan yang ma’ruf, tidak dilembutkan dan tidak mendayu-dayu, serta bukan ucapan yang di luar kebiasaan. Tidak boleh pula mereka berhias dengan perhiasan orang-orang jahiliah yang pertama.
Akan tetapi, ada perbedaan antara istri-istri Nabi n dan wanita yang lainnya. Pada diri istri-istri Nabi n perkara ketaatan lebih ditekankan daripada terhadap wanita yang lain, karena keberadaan mereka yang menempati rumah kepemimpinan Islamiah (suami mereka adalah pemimpin umat). Ketaatan mereka akan menjaga kedudukan dan kemuliaan kepemimpinan tersebut serta memberikan pengaruh yang lebih besar kepada seluruh wanita mukmin yang lain. Oleh karena itu, dilipatgandakan balasan dan pahala mereka melebihi wanita-wanita yang lain. Demikian pula azab, apabila terjadi kemaksiatan.
Ayat tersebut tidak berarti melarang para wanita keluar rumah sama sekali. Mereka boleh keluar apabila ada kebutuhan, seperti ke masjid untuk mengerjakan shalat, mendengarkan nasihat, dan menghadiri perayaan islami dua hari Id di mushalla (tanah lapang tempat ditegakkannya shalat id). Demikian pula untuk menunaikan kemaslahatan yang dibutuhkan, seperti keluar untuk berobat, silaturahim dengan tetap memerhatikan hijab, tidak tabarruj (berhias), tidak memakai wangi-wangian, tidak lemah gemulai dalam berjalan, dan mendayu-dayu dalam berbicara. Hal ini karena para istri Nabi n dan seluruh wanita mukmin keluar rumah menuju masjid untuk shalat setelah turunnya ayat ini. Demikian pula untuk menunaikan haji dan umrah, buang hajat, ziarah, dan silaturahim di antara mereka. Siapa yang keluar namanya dalam undian (apabila suaminya memiliki istri lebih dari satu), dia pun bisa ikut suaminya dalam safar. Hal ini tidak diingkari oleh Rasulullah n. Setelah itu, perkara tersebut terus-menerus dilakukan tanpa ada pengingkaran, sepanjang yang kami tahu.
(Fatwa no. 3229, kitab Fatawa al-Lajnah ad-Daimah, 17/222—224. Ketua: Abdul Aziz ibn Abdillah ibn Baz. Wakil Ketua: Abdurrazzaq Afifi. Anggota: Abdullah ibn Qu’ud dan Abdullah bin Ghudayyan)

MEMAKAI WEWANGIAN UNTUK MENGURANGI BAU TIDAK SEDAP

Dalam hadits yang mulia disebutkan adanya larangan bagi wanita memakai minyak wangi dan wewangian yang semerbak lainnya ketika keluar rumah, terkhusus saat pergi ke masjid. Apakah diperkenankan bagi wanita memakai wewangian untuk mengurangi bau tidak sedap pada badannya yang tidak bisa dihilangkan oleh sabun?
Dijawab oleh al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts al-Ilmiyyah wal Ifta’:
Hukum asalnya, wanita tidak boleh memakai minyak wangi karena akan menebarkan aroma yang semerbak saat ia keluar rumahnya, sama saja baik ia keluar menuju masjid maupun lainnya. Dalilnya adalah keumuman sabda Nabi n,
أَيُّمَا امْرَأَةٍ اسْتَعْطَرَتْ ثُمَّ خَرَجَتْ فَمَرَّتْ عَلَى قَوْمٍ لِيَجِدُوْا رِيْحَهَا فَهِيْ زَانِيَةٌ وَكُلُّ عَيْنٍ زَانِيَةٌ
“Wanita mana saja yang memakai wangi-wangian kemudian keluar (dari rumahnya), lalu melewati orang-orang (lelaki) agar mereka bisa mencium wanginya maka wanita tersebut adalah pezina. Dan setiap mata (yang melihat) itu adalah mata yang berzina.” (HR. Ahmad, an-Nasa’i, dan al-Hakim dari hadits Abu Musa z)
Setahu kami, tidak ada bau pada badan yang tidak bisa dihilangkan oleh sabun sehingga si wanita masih butuh memakai minyak wangi (untuk menghilangkan bau badannya). Di samping itu, wanita tidak dituntut untuk shalat di masjid (sehingga ia harus keluar rumah), bahkan shalatnya di rumahnya lebih baik baginya daripada shalat di masjid. (Fatwa no. 2036, kitab Fatawa al-Lajnah ad-Daimah, 17/124—125. Ketua: Abdul Aziz ibn Abdillah ibn Baz. Wakil Ketua: Abdurrazzaq Afifi. Anggota: Abdullah ibn Qu’ud)

Yang Ketiga adalah Syaitan

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu ‘Ishaq al-Atsariyah)

“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, jangan sekali-kali ia berdua-duaan dengan wanita (ajnabiyah/ yang bukan mahram) tanpa disertai oleh mahram si wanita karena yang ketiganya adalah setan.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Dalam edisi yang lalu kita telah membicarakan tentang hal-hal yang menjaga kemuliaan dan kehormatan wanita. Di antaranya adalah larangan khalwat, yaitu berdua-duaan antara lelaki dan perempuan yang bukan mahram. Rubrik “Niswah” kita masih melanjutkan pembicaraan tentang khalwat sebagaimana yang ditulis oleh asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah dalam risalahnya, Tanbihat ‘ala Ahkam Takhtashshu bil Mu’minat (hlm. 68—71). Berikut ini kutipannya.
Sebagian wanita dan para wali mereka bermudah-mudahan dengan beberapa bentuk khalwat, di antaranya:
1. Khalwat yang dilakukan seorang wanita dengan kerabat suaminya dari kalangan lelaki dan membuka wajahnya di hadapan si lelaki.
Khalwat seperti ini sangat berbahaya dibandingkan yang lainnya. Nabi n pernah memperingatkan,
إِيَّاكُمْ وَالدُّخُوْلَ عَلَى النِّسَاءِ. فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الْأَنْصَارِ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، أَفَرَأَيْتَ الْحَمْوَ؟ قَالَ: الْحَمْوُ الْمَوْتُ
“Hati-hati kalian dari masuk ke tempat para wanita!” Ada seseorang dari kalangan Anshar berkata, “Wahai Rasulullah, apa pendapatmu dengan hamwu?” “Al-Hamwu adalah maut,” jawab Nabi. (HR. al-Bukhari)
Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani t dalam Fathul Bari (9/331) berkata menukilkan ucapan al-Imam an-Nawawi t, “Ahli bahasa sepakat bahwa al-ahma’ (bentuk jamak dari al-hamwu) adalah kerabat-kerabat suami, seperti ayah, paman, saudara laki-laki, keponakan laki-laki, misan/sepupu laki-laki (anak paman), dan semisalnya.”
Al-Imam an-Nawawi t juga menyatakan, “Yang dimaksud oleh hadits adalah kerabat-kerabat suami selain ayah (dan ke atas, red.) dan anak lelaki suami (dan ke bawah, red.) karena mereka termasuk mahram bagi si istri sehingga mereka boleh berkhalwat dengan si istri. Mereka tidak disifati sebagai maut.”
Beliau mengatakan, “Kebiasaan yang berjalan justru menganggap mudah/enteng khalwat dengan kerabat suami yang bukan mahram sehingga saudara lelaki biasa khalwat dengan istri dari saudara lelakinya (ipar)1. Rasulullah n menyerupakannya dengan maut dan ia paling utama dilarang untuk khalwat dengan istri saudaranya (iparnya).”
Al-Imam asy-Syaukani t berkata, “Ucapan Nabi n, ‘Al-Hamwu adalah maut,’ maksudnya kekhawatiran terhadapnya lebih besar daripada yang selainnya, sebagaimana ketakutan terhadap kematian lebih besar daripada takut terhadap selain kematian.” (Nailul Authar, 6/122)
Oleh karena itu, Anda, wahai muslimah, janganlah bermudah-mudahan dalam hal ini walaupun orang lain menganggap enteng. Yang menjadi pegangan adalah hukum syar’i, bukan kebiasaan manusia.

2. Sebagian wanita dan para wali mereka tidak khawatir apabila salah seorang kerabat wanita mereka pergi berdua dengan sopir yang bukan mahramnya, padahal ini termasuk khalwat yang diharamkan.
Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alusy Syaikh t yang pernah menjabat sebagai mufti Kerajaan Saudi Arabia berkata dalam fatwanya, “Sekarang, tidak lagi tersisa keraguan bahwa seorang wanita ajnabiyah yang berkendara mobil sendirian bersama lelaki pemilik mobil, tanpa ada mahram yang menemani si wanita, adalah kemungkaran yang nyata. Perbuatan ini mengandung beberapa kerusakan yang tidak boleh dianggap remeh. Lelaki yang ridha hal ini terjadi pada istrinya adalah lelaki yang lemah agamanya, kurang kejantanannya, dan sedikit rasa cemburunya terhadap mahramnya2. Padahal Rasulullah n telah bersabda,
لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ كَانَ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ
“Tidaklah sekali-kali seorang lelaki berkhalwat dengan seorang wanita, melainkan yang ketiganya adalah setan.”
Berkhalwat dalam mobil antara dua orang berlainan jenis ini lebih berbahaya daripada khalwat di sebuah rumah dan semisalnya. Sebab, sangat mungkin dan leluasa bagi si lelaki untuk pergi membawa si wanita ke mana saja di kota tersebut, atau bahkan keluar kota, baik si wanita rela maupun tidak. Hal ini tentu akan berdampak pada timbulnya kerusakan yang lebih besar daripada kerusakan semata berkhalwat.” (Majmu’ul Fatawa, 10/52)
Dipahami dari hadits yang disebutkan di awal pembahasan bahwa tidak teranggap khalwat apabila si wanita didampingi oleh mahramnya3, sehingga mereka menjadi bertiga; si lelaki, si wanita, dan seorang lelaki dari kalangan mahramnya. Mahram yang menemani si wanita ini haruslah lelaki yang sudah besar. Artinya, tidaklah mencukupi apabila yang menyertainya seorang anak kecil. Dengan demikian, sangkaan sebagian bahwa apabila ia telah ditemani anak lelaki kecil maka hilanglah khalwat (keberadaannya dengan seorang lelaki tidak teranggap sebagai khalwat) adalah sangkaan yang keliru.
Al-Imam an-Nawawi t mengatakan, “Apabila seorang lelaki berkhalwat dengan wanita yang bukan mahramnya tanpa ada orang ketiga bersama keduanya, haram hukumnya menurut kesepakatan ulama. Demikian pula apabila bersama keduanya ada orang ketiga, namun kehadirannya tidaklah membuat rasa malu4 karena usianya yang masih kecil (kanak-kanak), hal ini belum menggugurkan haramnya khalwat.” (al-Minhaj)

3. Menganggap enteng dan biasa ketika si wanita berduaan dengan seorang dokter lelaki dengan alasan si wanita butuh berobat.
Ini adalah kemungkaran yang besar dan bahaya yang sangat, tidak boleh diakui dan didiamkan.
Asy-Syaikh Muhammad ibn Ibrahim Alusy Syaikh t kembali berkata dalam Majmu’ul Fatawanya (10/13), “Bagaimana pun keadaannya, khalwat dengan wanita ajnabiyah diharamkan secara syar’i, sekalipun dengan dokter yang mengobatinya. Hal ini berdasarkan hadits,
لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ كَانَ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ
“Tidaklah sekali-kali seorang lelaki berkhalwat dengan seorang wanita, melainkan yang ketiganya adalah setan.”
Harus ada satu orang ikut hadir bersama keduanya di ruang periksa tersebut, baik suami si wanita maupun salah seorang lelaki dari kalangan mahramnya. Jika tidak ada kerabat lelakinya yang bisa menemani, bisa ditemani oleh seorang wanita dari kalangan kerabatnya. Apabila tidak ada juga dari mereka yang kita sebutkan, sedangkan sakitnya parah tidak mungkin ditunda pemeriksaannya, minimal ada perawat perempuan dan yang semisalnya guna menghilangkan khalwat yang dilarang.”
Tidak boleh pula seorang dokter berkhalwat dengan wanita yang bukan mahramnya, baik si wanita itu dokter seprofesinya maupun perawat.
Tidak boleh seorang guru lelaki berkhalwat dengan siswinya.
Tidak boleh seorang direktur berkhalwat dengan sekretarisnya.
Sungguh, khalwat yang seperti ini telah dianggap biasa dan enteng oleh manusia atas nama kemajuan, taklid buta (‘membebek’) kepada orang-orang kafir, dan ketidakpedulian terhadap hukum-hukum syariat. La haula wala quwwata illa billah.
Tidak boleh seorang lelaki berkhalwat dengan pembantu perempuan yang bekerja di rumahnya. Tidak boleh pula nyonya rumah berduaan dengan pembantu laki-lakinya. Memang, masalah pembantu ini menjadi persoalan gawat yang banyak menimpa manusia di zaman ini karena para wanita tersibukkan (dari mengurus rumahnya) dengan pendidikan, kursus-kursus, dan pekerjaan/karier di luar rumah. Kaum mukminin dan mukminah wajib sangat berhati-hati dan melakukan berbagai langkah penjagaan. Hendaknya ia tidak menganggap lumrah kebiasaan-kebiasaan yang buruk.

Berjabat Tangan
Sebagai penyempurna pembahasan, perlu pula kita peringatkan tentang mushafahah, jabat tangan, antara lelaki dan wanita nonmahram. Perbuatan yang dianggap lazim dan sering kita saksikan di sekitar kita ini adalah kemungkaran yang haram hukumnya.
Samahatusy Syaikh Abdul Aziz ibnu Abdillah ibnu Baz t berkata, “Tidak boleh secara mutlak seorang lelaki berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahram, baik wanita itu masih muda maupun sudah tua, baik si lelaki masih pemuda atau sudah kakek-kakek, karena akan menimbulkan godaan di antara keduanya. Rasulullah n bersabda dalam hadits yang sahih,
إِنِّي لَا أُصَافِحُ النِّسَاءَ
“Aku tidak pernah menjabat tangan wanita.”5
Aisyah x berkata,
مَا مَسَّتْ يَدُ رَسُوْلِ اللهِ n يَدَ امْرَأَةٍ قَطُّ، مَا كَانَ يُبَايِعُهُنَّ إِلاَّ بِالْكَلاَمِ
“Tangan Rasulullah sama sekali tidak pernah menyentuh tangan seorang wanita pun, tidaklah beliau membai’at mereka (para wanita) selain dengan ucapan.” (HR. Muslim)6
Tidak dibedakan apakah jabat tangan tadi dilakukan si wanita dengan memakai penghalang/penutup tangannya atau tidak, berdasarkan keumuman dalil. Selain itu, untuk menutup jalan yang mengantarkan kepada fitnah.” (al-Fatawa, 1/185)
Asy-Syaikh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi t dalam tafsirnya Adhwaul Bayan (6/602—603) menyatakan, “Ketahuilah, lelaki ajnabi tidak boleh menjabat tangan wanita ajnabiyah dan tidak boleh pula menyentuh sedikit pun tubuh si wanita, dengan dalil berikut ini.
Telah pasti berita dari Nabi n bahwa beliau bersabda,
إِنِّي لَا أُصَافِحُ النِّسَاءَ
Sementara itu, Allah l berfirman,
“Sungguh telah ada bagi kalian teladan yang baik pada diri Rasulullah.” (al-Ahzab: 21)
Hal ini mengharuskan kita untuk tidak berjabat tangan dengan wanita demi meneladani Rasulullah n.
Beliau melanjutkan, “Keadaan Rasulullah n yang tidak berjabat tangan dengan wanita saat bai’at adalah dalil yang jelas bahwa lelaki tidak boleh berjabat tangan dengan wanita dan tidak boleh pula menyentuh sedikit pun tubuh wanita, karena sentuhan yang paling ringan adalah berjabat tangan (apabila berjabat tangan saja dilarang, apalagi yang lebih dari itu). Lebih-lebih Rasulullah n menolak berjabat tangan dengan wanita justru pada saat yang memang dibutuhkan yaitu saat berbai’at (sebagaimana beliau membai’at kaum lelaki dengan berjabat tangan), hal ini menunjukkan jabat tangan dengan wanita ajnabiyah tidak diperbolehkan. Tidak pantas seorang muslim pun menyelisihi Rasulullah n karena beliaulah penetap syariat bagi umatnya dengan ucapan, perbuatan, dan ikrarnya.
Wanita seluruhnya adalah aurat—sebagaimana telah kita sebutkan (yakni dalam kitab beliau)—sehingga ia wajib berhijab (menutup diri dari lelaki ajnabi).
Perintah menundukkan pandangan itu ada karena kekhawatiran jatuh ke dalam fitnah. Tidaklah diragukan bahwa sentuhan antaranggota tubuh lebih kuat membangkitkan hasrat/syahwat dan lebih dahsyat mengajak kepada fitnah daripada sekadar pandangan mata. Setiap orang yang bersifat inshaf (mau melihat dan menimbang dengan jujur/adil) akan tahu kebenaran hal tersebut.
Berjabat tangan adalah perantara untuk bernikmat-nikmat dengan wanita ajnabiyah7 karena sedikitnya ketakwaan kepada Allah l di zaman ini, hilangnya amanah, dan tidak adanya sifat wara (berhati-hati menjaga diri) dari tuduhan berbuat jelek.
Berulang-ulang dikabarkan kepada kami adanya sebagian suami dari kalangan orang awam mencium saudara perempuan istrinya dengan meletakkan bibir di atas bibir8. Ciuman yang disepakati keharamannya ini mereka namakan salam. Jadi, kalau mereka mengatakan, “Salamlah kepadanya,” yang mereka maksudkan adalah kecuplah dia.
Yang benar dan seharusnya dilakukan adalah menjauhkan diri dari semua fitnah, dari tuduhan berbuat jelek dan sebab-sebabnya. Sebab yang paling besar adalah sentuhan lelaki terhadap bagian tubuh wanita ajnabiyah. Ini adalah perantara kepada yang haram, sedangkan perantara seperti ini wajib dicegah.”
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Wa shallallahu ‘ala Nabiyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam.

Catatan Kaki:

1 Tanpa ada pengingkaran dari yang melihat atau yang mengetahuinya karena dianggap sebagai saudara sendiri. Orang lain pun tidak menaruh curiga atau prasangka macam-macam. Hal ini justru lebih berbahaya karena saat berduaan, keduanya bisa saja jatuh dalam perbuatan tidak senonoh (ingat, setan hadir di antara keduanya) dalam keadaan merasa aman karena orang lain tidak akan curiga dan menuduh macam-macam. Perbuatan buruk tersebut bisa saja berulang terjadi karena khalwat yang kerap terjadi.
2 Lelaki seperti ini yang disebut dayyuts oleh Rasulullah n.
3 Ada pula hadits Rasulullah n yang berbunyi,
لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ مَعَ ذِيْ مَحْرَمٍ
“Janganlah sekali-kali seorang lelaki berkhalwat dengan seorang wanita melainkan bersama mahram si wanita.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

4 Keduanya tetap berani melakukan sesuatu yang tidak senonoh di hadapannya. Hadir atau tidaknya dia dianggap sama saja.

5 Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan al-Imam at-Tirmidzi dengan sanad yang sahih dari sahabiyah Umaimah bintu Raqiqah x, ia berkata,
بَايَعْتُ رَسُوْلَ اللهِ n فِي نِسْوَةٍ فَقَالَ لَنَا: فِيْمَا اسْتَطَعْتُنَّ وَأَطَقْتُنَّ. قُلْتُ: اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَرْحَمُ بِنَا مِنَّا بِأَنْفُسِنَا. فَقُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، بَايَعْنَا. –قَالَ سُفْيَانُ : تََعْنِي صَافِحْنَا- فَقاَلَ رَسُولُ الله n: إِنَّمَا قَوْلِي لِمِائَةِ امْرَأَة ٍكَقَوْلِي لامْرَأةٍ وَاحِدَةٍ
Aku pernah ikut berbai’at kepada Rasulullah n bersama para wanita. Beliau berkata kepada kami, “(Aku membai’at kalian) dalam apa yang kalian mampui dan sanggupi.” Aku berkata, “Allah dan Rasul-Nya lebih sayang kepada kami daripada sayangnya kami terhadap diri kami sendiri.” Lalu aku menyatakan, “Ya Rasulullah! Bai’atlah kami.” Kata Sufyan (perawi hadits ini), “Maksudnya, jabatlah tangan kami.”
Rasulullah n bersabda, “Hanyalah ucapanku kepada seratus wanita seperti ucapanku kepada seorang wanita.”
6 Dinyatakan oleh Aisyah x bahwa Rasulullah n mengambil bai’at dari wanita. Apabila si wanita memberikan bai’atnya (menyanggupi apa yang disebutkan dalam pembai’atan) beliau berkata, “Pergilah engkau karena sungguh aku telah membai’atmu.” (HR. Muslim)

7 Lelaki akan beroleh kesempatan ‘menikmati’ wanita ajnabiyah dengan menyentuh tangannya yang halus, lembut, dan—bisa jadi—wangi. Ia genggam dengan erat dan tidak jarang berbuat ‘nakal’ saat tangan si wanita dalam genggamannya, na’udzubillah. Padahal bisa jadi si wanita adalah istri orang. Di manakah rasa cemburu seorang suami saat melihat istrinya berjabat tangan dengan lelaki?
8 Karena meniru kebiasaan bobrok orang-orang kafir yang dianggap sebagai kemajuan.

Menemani anak Berteman

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman bintu ‘Imran)

Anak-anak tak selamanya berada dalam buaian orang tua. Seiring dengan tumbuh kembangnya, dia pun akan merambah ke dunia yang lebih luas. Pada saatnya, dia mulai memiliki teman. Entah di lingkungan rumah atau sekolahnya.

Ketika mulai berteman, anak mungkin akan bertemu dengan anak lain yang memiliki karakter dan latar belakang yang berbeda dengan dirinya. Terkadang, hal ini membawa ketidakcocokan yang berujung perselisihan. Maklum, anak-anak belum cukup matang jiwa dan akalnya untuk menolerir perbedaan itu.
Begitu pula egosentrisme yang memang ada pada anak. Sifat yang membuat seorang anak belum bisa tepa salira, toleransi dengan yang lain. Karena sifat ini, seringkali anak belum bisa memahami orang lain dan belum mengerti akibat sikap dan perbuatannya terhadap diri orang lain. Sementara itu, dia harus berhadapan dengan hak-hak temannya.
Membawa pulang mainan teman, misalnya. Terkadang jika kita telusuri, dia tak punya maksud sama sekali untuk mencuri. Dia hanya ingin memenuhi hasrat hatinya untuk bermain dengan mainan itu di rumahnya. Dia tidak menyadari perasaan temannya yang kehilangan dan tidak memahami bahwa itu terlarang.
Contoh yang lain, anak memukul teman yang enggan membagi makanan miliknya. Terkadang sumbernya adalah pikiran kanak-kanaknya bahwa si teman melarangnya untuk mencicipi makanan yang membuatnya berselera itu. Dia belum tahu, makanan itu adalah hak milik temannya. Ujung-ujungnya, keributan terjadi.
Demikianlah… Ternyata tugas kita belum selesai. Sebagai orang tua atau pendidik di sekolah, kita harus bisa menemani mereka, memberi bimbingan dan arahan agar mereka tak salah bersikap terhadap teman. Tentu, arahan yang kita pakai adalah tuntunan syariat yang mulia.
Yang perlu kita ingat, anak-anak belum sempurna akalnya dan belum mapan jiwanya. Kadang hari ini kita ajari atau kita beri peringatan, besok dia ulangi lagi. Oleh karena itu, dia selalu butuh bimbingan kita. Terus-menerus arahan kita berikan agar adab-adab yang baik itu melekat dan terwujud dalam pribadinya.

Mengarahkan Anak untuk Berteman dengan Teman yang Baik
Meniru. Ini adalah perilaku yang amat menonjol pada anak. Sering sepulang bermain ada tingkah atau kata-kata ‘aneh’ yang tak biasanya dia lakukan atau ucapkan. Usut punya usut, ternyata dia meniru teman bermainnya.
Hal seperti ini harus kita waspadai. Tanggung jawab kita sebagai orang tua dan pendidik untuk mengoreksinya jika memang hal itu adalah suatu kejelekan. Rasulullah n bersabda,
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيْمَانِ
“Barang siapa melihat suatu kemungkaran, hendaknya dia ubah dengan tangannya. Jika dia tidak mampu, dengan lisannya. Jika dia tidak mampu, dengan hatinya, dan ini adalah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim no. 49)
Awal kali tentunya dengan kelemahlembutan. Kadang peringatan ini harus datang berkali-kali manakala si anak mengulanginya lagi. Jika sekian kali masih berulang, dibutuhkan peringatan yang lebih keras.
Apabila kita mengetahui ada di antara teman yang sering memberikan pengaruh buruk pada anak, kita beri mereka arahan untuk tidak berteman dengannya. Hendaknya kita bisa memberikan pengertian kepada mereka tentang jeleknya perilaku temannya itu. Selanjutnya, mereka dibimbing dan diarahkan untuk memilih siapa di antara teman-temannya yang pantas dijadikan teman.
Pengawasan akan hal ini amatlah penting apabila kita ingin anak-anak menjadi anak yang saleh. Rasulullah n bersabda,
الْمَرْءُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
“Seseorang itu berada di atas agama temannya, maka hendaklah setiap orang melihat siapa yang dia jadikan teman.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud, dinyatakan hasan oleh al-Imam al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah no. 127)
Beliau juga memberikan permisalan,
مَثَلُ الْجَلِيْسِ الصَّالِحِ وَالسُّوءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيْرِ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيْحًا طَيِّبًا، وَنَافِخُ الْكِيْرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيْحًا خَبِيْثًا
“Permisalan teman yang baik dan teman yang jelek seperti pembawa minyak wangi dan pandai besi. Adapun pembawa minyak wangi, bisa jadi dia akan memberimu, atau engkau membeli darinya, atau engkau mencium bau yang wangi. Sementara itu, pandai besi, bisa jadi dia membakar pakaianmu, atau engkau mendapatkan bau yang tidak enak.” (HR. al-Bukhari no. 2101 dan Muslim no. 2628)
Anak dengan akal yang belum sempurna belum mampu selektif memilih teman. Oleh karena itu, dia amat membutuhkan bantuan kita untuk memilihkan teman yang baik bagi dirinya.

Mengajari Anak untuk Mencintai Temannya
Seorang muslim harus mencintai saudaranya sesama muslim. Banyak keutamaan yang Allah l dan Rasul-Nya janjikan manakala dia mencintai saudaranya. Di antaranya adalah kesempurnaan iman, sebagaimana sabda Rasulullah n yang disampaikan oleh Abu Hurairah z,
لَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلَنْ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا
“Kalian tidak akan masuk surga hingga beriman, dan tidak sempurna iman kalian hingga kalian saling mencintai.” (HR. Muslim no. 54)
Oleh karena itu, anak harus diajari untuk mencintai teman-temannya, terutama teman yang baik, dengan harapan dia akan meraih nilai-nilai keutamaan. Di samping itu, dia akan senantiasa membina hubungan baik dengan temannya.
Bisa pula kita tuturkan kepada mereka kisah yang dinukilkan oleh Abu Hurairah z dari Rasulullah n,
“Ada seseorang yang mengunjungi saudaranya di negeri lain. Allah mengutus malaikat di belakangnya. Tatkala malaikat itu sampai kepadanya, bertanyalah malaikat, ‘Engkau mau kemana?’ Orang itu menjawab, ‘Aku ingin mengunjungi saudaraku di negeri itu.’ Malaikat itu bertanya lagi, ‘Apakah ada utang budi (atau harta) yang engkau inginkan darinya?’ Dia menjawab, ‘Tidak, hanya saja aku mencintainya karena Allah.’ Malaikat itu pun berkata, ‘Aku adalah utusan Allah yang diutus kepadamu. Sesungguhnya Allah mencintaimu sebagaimana engkau telah mencintai temanmu di jalan-Nya’.” (HR. Muslim no. 2567)

Mengucapkan Salam Ketika Bertemu Teman
Ini adalah satu hal yang banyak dilupakan oleh anak-anak kaum muslimin. Saat datang atau bertemu teman, jarang ditemui mereka saling mengucapkan salam. Bahkan, kadang justru lebih terbiasa dengan sapaan lain, seperti ‘hai’, ‘halo’, dan sebagainya. Padahal ini bukan dari ajaran Islam, ini kebiasaan orang kafir.
Alangkah baiknya jika kita hidupkan syiar Islam ini. Kita dorong anak-anak mengucapkan salam ketika bertemu teman. Hal seperti ini juga akan menambah kecintaan di antara mereka. Abu Hurairah z menyampaikan bahwa Rasulullah n pernah bersabda,
أَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوْهُ تَحَابَبْتُمْ؟ أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ
“Maukah aku tunjukkan kalian satu amalan yang jika kalian amalkan niscaya kalian akan saling mencintai? (Yaitu) sebarkan salam di antara kalian.” (HR. Muslim no. 54)
Mengucapkan salam adalah amalan yang mudah dilakukan, bahkan oleh anak-anak sekalipun. Abu Hurairah z pernah mengatakan,
أَبْخَلُ النَّاسِ الَّذِي يَبْخَلُ بِالسَّلاَمِ
“Orang yang paling bakhil adalah orang yang bakhil untuk mengucapkan salam.” (HR. al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad, dikatakan oleh al-Imam al-Albani t dalam Shahih al-Adabil Mufrad no. 795, “Shahihul isnad mauqufan wa shahha marfu’an”)
Hendaknya anak diajari pula agar memberi salam kepada teman yang lebih tua. Begitu pula jika dia sedang berjalan melewati teman-temannya. Demikian yang diajarkan oleh Rasulullah n dalam ucapan beliau yang dinukilkan oleh Abu Hurairah z,
يُسَلِّمُ الصَّغِيْرُ عَلَى الْكَبِيْرِ، وَالْمَارُّ عَلَى الْقَاعِدِ، وَالْقَلِيْلُ عَلَى الْكَثِيْرِ
“Yang kecil memberi salam kepada yang besar, yang berjalan memberi salam kepada yang duduk, yang sedikit memberi salam kepada yang banyak.” (HR. al-Bukhari no. 6234 dan Muslim no. 2160)
Menghindari Hasad Terhadap Teman
Melihat teman memiliki mainan baru atau sesuatu yang menarik, terkadang menimbulkan rasa iri pada anak. Rasa iri atau hasad yang terpendam itu kadang muncul dalam bentuk perilaku negatif. Bisa jadi, dengan mencela mainan si teman, atau bahkan sampai merusak mainan tersebut. Tak jarang, anak dicap sebagai anak nakal karena perilakunya yang seperti ini.
Tentu kita tak ingin anak-anak memupuk sifat tercela seperti ini. Sifat hasad amat dibenci oleh syariat. Allah l banyak menyebutkan tercelanya sifat ini dalam Kitab-Nya yang mulia.
Sebelum anak menindaklanjuti rasa hasad yang mucul di hatinya, ketika melihat gejala-gejala hasad muncul pada perilaku anak, hendaknya kita mengingatkannya tentang kenikmatan-kenikmatan Allah l yang telah diberikan kepadanya. Misalnya, dia memiliki mainan lain yang bagus pula. Diingatkan pula tentang temannya yang lain yang tidak memiliki mainan sebagaimana yang dimilikinya. Diajarkan anak untuk bersyukur dengan apa yang dimilikinya. Demikian yang dituntunkan oleh Rasulullah n dalam sabda beliau yang disampaikan oleh Abu Hurairah z,
انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلُ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَلاَّ تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللهِ
“Lihatlah kepada orang yang lebih rendah daripada kalian dan jangan melihat kepada orang yang ada di atas kalian, karena hal ini lebih layak agar kalian tidak mengingkari nikmat Allah.” (HR. Muslim no. 2963)
Seiring dengan itu, kita ajari anak agar turut merasa senang dengan segala sesuatu yang dimiliki temannya, karena hal itu adalah tanda kesempurnaan iman seseorang.

Mengingatkan Anak Agar Tidak Mengganggu Teman
Terkadang, ada saja tingkah anak yang dia perbuat untuk mengganggu teman, bisa jadi dengan perbuatan atau ucapan. Akhirnya hubungan dengan teman-temannya pun terganggu. Mereka bertengkar, saling mendiamkan dan berjauhan, atau bahkan berkelahi.
Kita harus selalu berusaha mengingatkan mereka untuk tidak mengganggu temannya. Rasulullah n telah mengingatkan kita dalam sabdanya,
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
“Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya.” (HR. Muslim)

Membantu Kesulitan Teman
Menyaksikan teman jatuh saat lari-lari atau memanjat, melihat teman diusili teman yang lain, terkadang anak tidak bereaksi. Si teman mengaduh atau menangis, mereka hanya menjadi penonton.
Mengetahui keadaan semacam itu, hendaknya kita bisa mendorong anak mengulurkan bantuan dan pertolongan kepada temannya. Kita ingatkan mereka, jika kita menolong teman, Allah l akan menolong kita di saat kesulitan. Rasulullah n telah menjanjikan hal itu dalam sabda beliau yang disampaikan oleh Abu Hurairah z,
مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِى الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
“Barang siapa melepaskan satu kesulitan dunia dari orang mukmin, pasti Allah akan melepaskan darinya satu kesulitan hari kiamat. Barang siapa memudahkan orang yang kesulitan, pasti Allah akan memberinya kemudahan di dunia dan akhirat.” (HR. Muslim no. 2699)
Begitu pula jika suatu ketika anak bercerita melihat ada teman yang kekurangan. Hendaknya kita bisa mendorong mereka untuk memberikan apa yang dibutuhkan si teman apabila memungkinkan. Jika mereka membantu teman, niscaya Allah l akan memberikan ganti dari apa yang dia berikan. Demikian yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah z , bahwa beliau n bersabda,
مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيْهِ إِلاَّ مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ فَيَقُوْلُ أَحَدُهُمَا: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا؛ وَيَقُوْلُ الْآخَرُ: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا
“Tidak ada suatu hari yang dimasuki oleh seorang hamba melainkan pada hari itu ada dua malaikat yang turun. Salah seorang dari mereka berdoa, ‘Ya Allah, berikan ganti pada orang yang menginfakkan hartanya.’ Yang lainnya berdoa, ‘Ya Allah, berikan kemusnahan harta pada orang yang tidak mau memberi’.” (HR. al-Bukhari no. 1442)
Sikap seperti ini juga akan menumbuhkan kedermawanan dalam diri anak dan mengikis sifat bakhil dari dirinya.

Memberikan Hadiah kepada Teman
Suatu saat, mungkin anak kita memiliki kue, cokelat, atau barang yang berlebih. Kita bisa memberi gagasan kepadanya untuk memberikan hadiah kecil untuk temannya. Kita jelaskan pula bahwa yang seperti ini akan membuat dia dicintai teman-temannya. Rasulullah n pernah bersabda,
تَهَادُوا تَحَابُّوا
“Saling memberi hadiahlah, niscaya kalian akan saling mencintai.” (HR. al-Baihaqi, dinyatakan hasan oleh al-Imam al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 3004)

Memberikan Pengertian kepada Anak tentang Hak Milik Orang Lain
Anak harus mengerti, tak semua yang dia inginkan harus dia dapatkan. Khususnya jika berkaitan dengan milik orang lain. Sesuatu yang bukan miliknya tak boleh dia ambil seenaknya, baik dengan maksud memiliki maupun hanya main-main. Dia harus meminta izin kepada pemiliknya. Rasulullah n telah memperingatkan kita dari hal ini dalam sabda beliau yang diriwayatkan dari Abdullah bin as-Sa’ib bin Yazid dari ayahnya dari kakeknya,
لاَ يَأْخُذُ أَحَدُكُمْ مَتَاعَ أَخِيْهِ، لاَ لاَعِبًا وَلاَ جَادًّا، وَمَنْ أَخَذَ عَصَا أَخِيْهِ فَلْيَرُدَّهُ
“Janganlah salah seorang dari kalian mengambil barang saudaranya, baik untuk main-main maupun sungguhan. Siapa yang mengambil tongkat saudaranya, hendaknya dia mengembalikannya.” (HR. Abu Dawud no. 5003, dinyatakan hasan oleh al-Imam al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud)
Begitu pula jika dia meminjam sesuatu, dia harus menjaga barang pinjaman itu sebaik-baiknya dan mengembalikannya. Ini adalah perwujudan sikap amanah pada dirinya, sebagaimana yang Allah l perintahkan dalam firman-Nya,

“Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menunaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.” (an-Nisa’: 58)
Demikianlah, masih panjang tugas kita sebagai orang tua sekaligus pendidik anak-anak kita. Tugas berat yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Rabb seluruh alam. Karena itulah, kita senantiasa berendah hati menerima tuntunan syariat dalam menjalankan tugas mulia ini.
Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.

Bahtera Itu Akhirnya Berlayar

Akad nikah terlaksana sudah. Dimulailah kehidupan baru sepasang insan, yang satu dengan lainnya sebelumnya masih asing1. Namun, kini sebuah atap menjadi naungan bersama dan sebuah kamar menjadi tempat peristirahatan berdua. Padahal sebelumnya tidak ada hubungan dan tidak ada ikatan, bahkan mungkin tidak saling mengenal dengan baik. Karena itu, di masa-masa awal ini, keduanya akan melewati tahapan yang menentukan.

Apabila masing-masing tidak mau “belajar” bagaimana bergaul yang baik dengan pasangannya dan tidak mau memahami sifat teman hidupnya, bagaimana dia, kesenangannya, apa yang tidak disukainya, dan yang lainnya, dikhawatirkan istana yang baru saja dibangun akan runtuh. Bulan-bulan awal kehidupan berumah tangga adalah masa untuk mempelajari dan memahami tabiat teman hidup. Lalu setiap pihak memosisikan diri agar bisa sesuai dengan pasangannya, bagaimana menyiasati perbedaan yang ada dan menutupi kekurangan yang pasti ada. Semuanya dimaksudkan agar terwujud kehidupan rumah tangga yang bahagia.
Seorang suami harus menyadari bahwa keberadaan istrinya seperti tawanan di sisinya2. Sebelumnya, dia hidup merdeka di rumah orang tuanya, tanpa ada yang bisa memaksakan kemauan dan pendapat kepadanya. Dengan menikah, keadaan pun berubah. Si istri terikat dengan keharusan taat dalam urusan yang bukan dosa, tanpa bisa menghindarinya. Dia tak lagi bisa bebas melakukan apa yang diinginkannya tanpa musyawarah dengan suaminya. Sementara itu, tawanan dalam Islam memiliki hak untuk dimuliakan, dikasihi, tidak dizalimi, dan harus diperlakukan dengan baik.
Seorang istri harus menerima kenyataan bahwa ikatan yang dijalinnya dengan sang suami menjadikan keadaannya sekarang berbeda dengan sebelumnya. Dia tidak lagi bebas melakukan apa yang diinginkannya karena sekarang sering ada yang berkata kepadanya, “Tinggalkan itu!” atau “Lakukan ini!” Seorang wanita yang berakal budi tentunya tidak akan merasa enggan dengan keadaan baru yang didapatinya. Ia tidak memandang hal itu sebagai pengekangan terhadap kebebasannya. Bahkan, wanita yang berakal lurus rela melepas semuanya, menjadi apa yang diinginkan suaminya, demi kebahagiaan dan ketenangan hidup bersama suaminya.
Di hari-hari awal, bisa jadi seorang suami mendapati istrinya bukanlah wanita yang seperti dalam impiannya atau yang masuk kriterianya. Apabila hal ini terjadi, janganlah si suami terburu-buru mengambil tindakan yang bisa jadi akan berbuah sesal. Boleh jadi, setelah lewat hari-hari yang berbilang atau berlalu masa yang panjang, dia temukan kebahagiaan yang sama sekali tidak pernah dibayangkannya atau tidak pernah ada dalam mimpinya. Hendaklah sabda Rasulullah n berikut ini menjadi perhatian,
لاَ يَفْرَكُ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً، إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ
“Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah. Bisa jadi, ia benci dari si istri satu perangai, dia akan ridha terhadap perangainya yang lain.” (HR. Muslim no. 1469 dari sahabat Abu Hurairah z)
Hadits ini, kata al-Imam an-Nawawi t, memberi arahan agar seorang suami tidak membenci istrinya. Sebab, apabila ada perangai yang tidak disukainya dari si istri, dia bisa mendapatkan perangai lain yang disenanginya. Misalnya, ada sikap yang tidak baik dari si istri terhadapnya, namun istrinya seorang wanita yang berpegang dengan agama, berparas cantik, pandai menjaga kehormatan dirinya, seorang yang lemah lembut, atau kelebihan lainnya yang menyenangkannya. (al-Minhaj, 10/58)
Dengan demikian, apabila suami tidak menyukai sesuatu dari istrinya, janganlah yang dia pandang hanya perkara yang tidak disukainya. Carilah sisi-sisi positif dari si istri sehingga ketidaksukaannya tersebut tidak membuatnya membenci istrinya yang berujung dengan menceraikannya.
Bisa jadi, si suami melihat istrinya punya kekurangan di satu sisi, tetapi di sisi lain dia adalah wanita yang paling utama dan terbaik.
Janganlah seorang lelaki melihat wanita dari sisi kecantikannya saja karena kecantikan bukanlah segalanya. Betapa banyak wanita cantik, tetapi menyimpan lisan yang jelek, suka membocorkan rahasia suaminya. Rambut suaminya cepat beruban karena memikirkan tingkah istrinya yang jelita. Mau dicerai, khawatir anak-anak jadi korban! Apabila seperti ini yang terjadi, apa artinya kecantikan?
Di samping itu, kecantikan sendiri adalah perkara nisbi atau relatif, berbeda-beda menurut pandangan dan penilaian orang. Bisa jadi, seorang wanita dinilai cantik oleh seseorang, namun bagi yang lain tidaklah cantik, atau sebaliknya.
Betapa banyak wanita yang kebagusan akhlaknya menjadikannya cantik sehingga bagi suaminya dia adalah sesuatu yang paling mahal di dunia. Betapa banyak kita saksikan lelaki mencintai seorang wanita yang tidak cantik, namun di sisi si lelaki kekasihnya itu adalah wanita tercantik.
Disebutkan, Ismail ibnu Jami’ menikah dengan seorang wanita berkulit hitam bekas sahaya. Maryam namanya. Suatu ketika saat safar meninggalkan istrinya, rasa rindu kepada kekasih yang halal menyergapnya. Syair kerinduan pun didendangkannya, disanjungnya sang istri yang digambarkannya bak bidadari. Ketika mendengar syairnya, ar-Rasyid bertanya, “Siapa Maryam-mu yang kau sifati seperti hurun ‘in (wanita surga)?” “Istriku,” jawab Ismail. Padahal kenyataannya istrinya tidaklah seperti yang disifatkannya. Memang, cinta menjadikan segalanya indah!
Apa yang kita katakan tentang wanita, juga berlaku bagi lelaki. Ketampanan seorang lelaki ada pada akhlak dan pergaulannya yang baik terhadap istrinya.
Kita kembali pada pembicaraan semula….
Apabila seorang suami tidak mendapati adanya rasa cinta kepada istrinya, hendaklah dia berusaha dengan sungguh-sungguh memupuk cinta tersebut. Ibarat sebuah kebun, apabila digarap dan ditanami, ia akan tumbuh. Namun, apabila disia-siakan dan dibiarkan begitu saja, ia akan menjadi kering, tandus, dan tidak memberi hasil seperti yang diharapkan. Oleh karena itu, hendaknya dia menyabarkan diri bergaul secara baik dengan istrinya, melihat sisi-sisi kebaikannya, menghargai apa yang dilakukan si istri untuknya, dan terus menemaninya. Semoga di suatu hari kelak, cinta akan bersemi, seperti kata orang, “Cinta itu tumbuh karena sering bersama (witing tresno jalaran soko kulino, Jw.).”
Terkadang, cinta itu memang datang di kemudian hari, ketika usia tidak muda lagi. Ada suami istri, di saat-saat awal pernikahan sering timbul perselisihan di antara mereka. Kemudian mereka tersibukkan dengan anak-anak yang lahir di tengah mereka. Mengasuh, membesarkan, mendidik, dan mencari rezeki untuk menghidupi anak-anak adalah pekerjaan yang berat bagi mereka, menyita waktu dan pikiran. Mereka tersibukkan dengan semua itu dari memikirkan “adakah cinta?” Tatkala keduanya mencapai usia empat puluh tahun, di saat anak-anak berangkat remaja atau bahkan satu per satu meninggalkan rumah mereka guna mencari penghidupan di kota lain atau membentuk keluarga sendiri, masing-masing merasa bahwa pasangannya demikian berharga bagi dirinya. Datanglah rahmah dan mawaddah di tengah-tengah kebersamaan mereka. Sebuah rasa yang sepertinya dahulu belum pernah hadir di antara mereka.
Sudah menjadi kemestian bagi sepasang suami istri untuk memilih ucapan-ucapan yang baik saat berbicara dengan pasangannya. Seorang istri saat berbicara dengan suaminya hendaknya tidak bersuara lantang dan keras karena hal itu menunjukkan buruknya tabiat. Hendaklah seorang istri lembut dalam berbicara dengan suaminya dan merendahkan suara di hadapannya. Jangan memandang suami terus-menerus dengan pandangan tajam sebagaimana halnya tatapan orang yang marah atau penuh selidik. Namun tataplah suami, tunduk dan arahkan pandangan ke bawah karena segan, hormat, dan malu kepadanya.
Saat diajak bicara oleh suaminya, tidak pantas seorang istri berpaling dari suaminya atau menyibukkan diri dengan urusan lain, padahal bisa jadi suaminya mengajaknya bicara dalam suatu urusan yang menurut suami adalah urusan yang sangat penting.
Demikian juga betapa pantasnya bagi suami jika memilih kata-kata yang baik, kalimat-kalimat yang menyenangkan saat berbicara dengan istrinya. Hal ini akan menambah rasa sayang dan cinta istri kepadanya. Jangan sampai seorang suami menjelekkan istrinya, menyebut-nyebut kekurangannya karena indahnya ucapan adalah kenikmatan.
Mengapa ada orang-orang yang berusaha mempelajari cara berkata-kata yang baik kepada semua orang, sedangkan dia tidak berusaha demikian terhadap istrinya yang adalah serikat hidupnya?
Rasulullah n pernah bersabda,
الْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ
“Ucapan yang baik itu adalah sedekah.”
Maka dari itu, periksalah dirimu, wahai suami. Adakah lisanmu bergandengan selalu dengan kalimat-kalimat yang baik dan menyenangkan hati istrimu?
Lihatlah dirimu, wahai istri. Adakah Anda jadikan ucapan yang baik sebagai perantara untuk masuk menempati hati suamimu? Saat dia masuk rumah, adakah dia mendengar perkataan indah mengalir dari lisanmu? Apakah ketika lama dia meninggalkan rumah, datang telepon menanyakan kabarnya dengan kalimat yang indah? Atau datang kepadanya surat menuturkan kerinduan?
Al-Hafizh Ibnu Katsir t menyatakan, suami hendaknya memperindah ucapannya saat berbicara dengan istrinya dan membaguskan perbuatan serta penampilannya sesuai dengan kemampuannya. Sebagaimana halnya seorang suami menuntut yang demikian dari istrinya, dia pun berbuat yang sama karena Allah l berfirman,
“Dan para istri memiliki hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf.” (al-Baqarah: 228). (Tafsir al-Qur’anil Azhim, 2/173)
Betapa indahnya ketika senyuman menjadi syiar di antara suami istri. Senyum memiliki pengaruh yang dalam untuk melunakkan hati dan menggembirakan orang yang diberi senyuman. Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila Rasul yang mulia n menyatakan,
تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيْكَ صَدَقَةٌ
“Senyumanmu di wajah saudaramu adalah sedekah.” (HR. at-Tirmidzi dan selainnya, hadits ini hasan sebagaimana dinyatakan demikian dalam ash-Shahihah no. 572)
Rasulullah n adalah seorang yang murah senyum, sebagaimana persaksian Jarir ibnu Abdillah al-Bajali z terkait dengan dirinya,
مَا حَجَبَنِي رَسُوْلُ اللهِ n مُنْذُ أَسْلَمْتُ وَمَا رَآنِي إِلاَّ تَبَسَّمَ
“Rasulullah n tidak pernah melarangku untuk masuk menemui beliau sejak aku berislam dan tidaklah beliau melihatku selain dalam keadaan tersenyum.” (HR. al-Bukhari no. 3822 dan Muslim no. 6313)
Senyuman memang memiliki pengaruh yang besar di hati orang yang Anda jumpai. Lantas, bagaimana kiranya apabila yang tersenyum itu adalah teman yang selalu menyertai dalam merajut hari-hari?
Bisa jadi, seseorang mendapati pasangannya memiliki kekurangan dalam satu sisi pergaulannya. Apabila demikian, janganlah dia membalas dengan bersikap kurang pula. Semestinya, dia berbuat karena Allah l. Allah l-lah yang memerintahkannya untuk bergaul secara ma’ruf dengan pasangannya. Seharusnya dia melakukan sesuatu yang membuat Allah l ridha terhadapnya walau apa yang dilakukannya tidak diimbangi oleh pasangannya. Seseorang yang selalu menghadirkan pengawasan Allah l terhadap dirinya tentu pantas sekali beroleh pertolongan-Nya dan diberi taufik kepada kebaikan.
Seorang istri hendaklah memerhatikan, adakah dirinya menjadi ketenteraman bagi suaminya, yang suaminya merasa tenteram dan tenang padanya, menemukannya sebagai tempat berlabuh setelah kepayahan di luar sana, tempat berbagi rasa, suka, dan derita. Tempatnya beristirahat dari kepenatannya mencari penghidupan. Kembali ke rumah didapatkannya sambutan yang manis, rumah yang penuh keteduhan dan terjaga kebersihannya. Tidaklah dia mendengar selain kebaikan. Matanya tidak mendapati selain yang baik. Sungguh, apabila istri menghendaki suaminya menjadi penyejuk matanya, hendaklah dia juga menjadi penyejuk mata bagi suaminya.

Nasihat Indah untuk Pengantin Putri
Abdullah ibnu Ja’far c3 menasihati putrinya di saat pernikahannya, “Hati-hatilah dirimu dari cemburu yang tidak pada tempatnya karena itu adalah kunci perceraian. Hati-hati dari banyak mencela karena hal itu akan mewariskan kebencian. Selalulah Ananda memakai celak karena celak adalah perhiasan yang paling bagus. Dan wewangian yang terbaik adalah air.”
Seorang ibu pernah menasihati putrinya pada malam pengantinnya, “Haruslah Ananda bersifat qana’ah, menerima apa adanya dan merasa cukup, mendengar dan taat kepada suamimu.
Jagalah kehormatan dirimu dan harta suamimu. Bantulah dia dalam pekerjaannya. Lakukan apa yang membuatnya senang, jaga rahasianya dan jangan Ananda langgar perintahnya. Tutuplah kekurangannya. Jaga lisanmu. Perhatikan tetanggamu dan tetaplah kokoh dalam keimananmu.”
Dalam kitab Tuhfatul ‘Arus karya Mahmud Mahdi al-Istambuli (hlm. 85—86) dibawakan nasihat indah yang mengharukan dari seorang ibu kepada putrinya sebelum pernikahan sang putri.
Ummu Mu’ashirah, demikian kuniah ibu tersebut, berkata kepada putrinya sambil tersenyum dan berlinang air mata, “Wahai putriku! Engkau akan menghadapi kehidupan yang baru. Kehidupan yang di dalamnya tidak ada tempat bagi ibumu, ayahmu, atau seorang pun dari saudara-saudaramu.
Engkau akan menjadi teman bagi seorang lelaki yang dia tidak ingin ada seorang pun menyertainya dalam memilikimu, sampai pun itu daging dan darahmu. Jadilah dirimu, wahai putriku, sebagai istri (yang baik) baginya dan jadilah engkau ibu baginya. Jadikanlah dia merasa bahwa engkau adalah segalanya dalam hidupnya dan segalanya bagi dunianya.
Ingatlah selalu bahwa lelaki itu, siapa pun dia, sebenarnya adalah anak kecil yang sudah besar sehingga sedikit saja kata yang manis sudah membuatnya senang. Jangan sampai engkau membuat dia merasa bahwa pernikahannya denganmu telah menghalangimu dari keluargamu dan kerabatmu. Sungguh, perasaan demikian terkadang menyergapnya. Dia juga harus meninggalkan rumah kedua orang tuanya dan meninggalkan keluarganya karena dirimu. Hanya saja, perbedaan antara engkau dan dia adalah perbedaan antara perempuan dan lelaki. Perempuan selalu merindukan keluarganya, rumahnya tempat dia dilahirkan, tumbuh dan besar, dan tempat dia belajar banyak hal.
Akan tetapi, mau tidak mau dia memang harus membiasakan dirinya dengan kehidupan yang baru. Dia harus membentuk kehidupannya yang baru bersama seorang lelaki yang telah menjadi suaminya, menjadi seorang pemimpinnya dan ayah bagi anak-anaknya kelak.
Inilah duniamu yang baru.
Wahai putriku, inilah yang akan engkau hadapi sekarang. Inilah masa depanmu. Inilah keluargamu yang akan menyertai kalian berdua—engkau dan suamimu—dalam membentuk kehidupan barumu.
Adapun ayah dan ibumu, keduanya adalah masa lalumu. Ibu tidak bermaksud memintamu untuk melupakan ayah, ibu, dan saudara-saudaramu, karena mereka sendiri selamanya tidak mungkin melupakanmu, wahai sayangku! Bagaimana mungkin seorang ibu bisa melupakan buah hati, belahan jiwanya? Akan tetapi, yang ibu minta darimu, cintailah suamimu, hiduplah menyertainya, dan berbahagialah dengan kehidupanmu bersamanya.”
Perhatikan nasihat di atas. Adakah Anda, wahai istri, telah mewujudkannya dalam kehidupan bersama seorang lelaki yang dinyatakan oleh Rasulullah n,
هُوَ جَنَّتُكِ وَنَارُكِ
“Dia adalah surgamu dan nerakamu.” (HR. Ahmad 4/3412, an-Nasa’i no. 8962, al-Hakim 2/206, dengan sanad yang sahih. Lihat Adabuz Zifaf hlm. 214 dan ash-Shahihah no. 2612)
Sebagai penutup, kita ingatkan bahwa sebelum seseorang menuntut orang lain berbuat sesuatu untuknya, hendaklah dia pikirkan bagaimanakah yang diperbuatnya terhadap orang tersebut? Apakah dia pun melakukan apa yang diinginkan oleh orang itu terhadapnya?
Rasulullah n pernah bersabda,
فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُزَحْزَحَ عَنِ النَّارِ وَ يُدْخَلَ الْجَنَّةَ، فَلْتَأْتِهِ مَنِيَّتُهُ وَهُوَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ، وَلْيَأْتِ إِلَى النَّاسِ الَّذِي يُحِبُّ أَنْ يُؤْتَى إِلَيْهِ
“Siapa yang senang dijauhkan dari api neraka dan masuk surga, hendaklah kematian menjemputnya dalam keadaan dia beriman kepada Allah dan hari akhir. Dan dia memperlakukan manusia dengan sesuatu yang dia senang apabila hal itu diperlakukan kepadanya.” (HR. Muslim no. 4753 dari sahabat Abdullah ibnu ‘Amr ibnul Ash c)
Makna kalimat yang ditebalkan dari hadits di atas, kata Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin t, hendaknya seseorang bermuamalah dengan orang dengan apa yang dia sukai apabila orang lain berbuat demikian kepadanya. Dia pun menasihati orang lain sebagaimana dia menasihati dirinya. Dia tidak suka apabila orang lain tertimpa oleh suatu perkara yang dia benci apabila hal itu menimpanya. Orang seperti ini akan berlaku lemah lembut kepada orang lain sebagaimana dia senang diperlakukan dengan lembut. Dia akan membaguskan ucapan kepada orang lain sebagaimana dia senang mendengarkan ucapan lembut dari orang lain kepadanya. (Syarhu Riyadhis Shalihin, 2/462)

(Disusun kembali oleh Ummu Ishaq al-Atsariyah dengan beberapa perubahan dari tulisan asy-Syaikh Salim al-’Ajmi hafizhahullah yang dimuat di Muntadayat al-Ukht as-Salafiyyah dengan judul Walyasa’ki Baituki min Ajli Hayah Zaujiyah Hani’ah disertai tambahan dari sumber/rujukan yang lain)
(insya Allah bersambung)

Catatan Kaki:

1 Islam tidak mengenal hubungan kasih pranikah yang diistilahkan pacaran, bahkan Islam mengharamkannya. Lihat pembahasan masalah ini dalam Asy-Syariah Vol. IV no. 39/1429 H/2008, rubrik “Niswah” berjudul Tidak Ada Pacaran Islami! Lihat pula rubrik “Hadits” Asy-Syariah Vol. VII no. 76, Katakan Tidak untuk Pacaran.
2 Rasulullah n bersabda,
اسْتَوْصُوْا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا فَإِنَّهُنَّ عَوَانٌ عِنْدَكُمْ
“Mintalah wasiat kebaikan dalam perkara istri-istri kalian karena mereka itu di sisi kalian hanyalah sebagai tawanan….” (HR. Ahmad 5/72, at-Tirmidzi no. 1173, Ibnu Majah no. 1851, hadits ini hasan sebagaimana dinyatakan demikian dalam Shahih at-Tirmidzi dan Shahih Ibni Majah)

3 Ia adalah putra dari pemilik dua sayap di surga, Ja’far bin Abi Thalib. Ia terhitung shigharush shahabah (sahabat kecil). Saat ia menjadi yatim karena ayahnya syahid di medan Mu’tah menghadapi Romawi, ia dipelihara oleh Nabi n dan tumbuh dalam asuhan beliau. (Siyar A’lamin Nubala, 3/456)

 

Banyak Bertakbir dari Awal Dzulhijjah?

Apakah benar disyariatkan untuk banyak bertakbir mulai dari awal bulan Dzulhijjah hingga akhir hari-hari tasyriq? Apa yang dimaksud dengan takbir mutlak dan muqayyad serta pelaksanaannya?

Jawab:
Takbir mutlak adalah bertakbir kapan saja selain seusai shalat dan di mana saja selain tempat yang terlarang (toilet/WC). Takbir muqayyad adalah bertakbir setelah shalat lima waktu (termasuk shalat Jum’at).
Bertakbir di malam dan hari ‘Idul Adha (10 Dzulhijjah), hal itu adalah ijma’ (kesepakatan) ulama.1
Adapun disyariatkan takbir mutlak pada tanggal 1—9 Dzulhijjah adalah menurut mazhab Ahmad. Pendapat ini yang dirajihkan (dikuatkan) oleh Ibnu Qudamah, Ibnu Taimiyah, Ibnu Baz, dan al-‘Utsaimin. Yang masyhur pada mazhab Hanbali, disyariatkan bertakbir meskipun seseorang tidak melihat hewan-hewan kurban yang akan disembelih.
Syariat bertakbir dari malam 1—10 Dzulhijjah, hal itu masuk dalam keumuman makna dua dalil berikut.
1. Firman Allah k,
“Supaya mereka (jamaah haji) menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan berzikir membesarkan nama Allah pada hari-hari yang telah diketahui (ditentukan) atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa hewan-hewan ternak (penyembelihan hewan kurban).” (al-Hajj: 27—28)
Menurut salah satu tafsiran ayat ini, hari-hari yang telah diketahui (ditentukan) tersebut adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Ini adalah tafsiran Ibnu ‘Abbas c.
2. Hadits Ibnu ‘Abbas c,
مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنْ هِذِهِ اْلأَيَّامِ -يَعْنِي أَيَّامَ اْلعَشْرِ-. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، وَلاَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ؟ قَالَ: وَلاَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ، إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيءٍ.
“Tidak ada hari-hari yang amal saleh di dalamnya lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini—yaitu sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.”
Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, begitu pula halnya dibandingkan dengan jihad di jalan Allah?”
Beliau menjawab, “Begitu pula halnya dibandingkan dengan jihad di jalan Allah, selain seorang mujahid yang keluar berjihad di jalan Allah dengan jiwa raga dan hartanya, lalu dia tidak kembali dengan sesuatu pun darinya (gugur sebagai syahid).” (HR. al-Bukhari, Ahmad, at-Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan lainnya)2
Bertakbir termasuk amalan saleh yang dicintai oleh Allah k yang masuk dalam keumuman makna hadits ini.3
Keumuman makna dua dalil ini dikuatkan dengan dua dalil khusus berikut.
1. Hadits Muhammad bin Abi Bakr ats-Tsaqafi
Ia bertanya kepada Anas z ketika bersama dengannya dari Mina ke Arafah, “Apa amalan kalian pada hari ini bersama Rasulullah n?”
Anas z menjawab,
كَانَ يُلَبِّي الْمُلَبِّي فَلاَ يُنْكَرُ عَلَيْهِ، وَيُكَبِّرُ الْمُكَبِّرُ فَلاَ يُنْكَرُ عَلَيْهِ.
“Ada yang membaca talbiyah dan tidak diingkari. Ada pula yang bertakbir dan tidak diingkari.” (Muttafaq ‘alaih)
Hadits ini menunjukkan disyariatkannya bertakbir pada hari-hari itu.
2. Atsar Ibnu ‘Umar dan Abu Hurairah g
كَانَ ابْنُ عُمَرَ وَأَبُو هُرَيْرَةَ يَخْرُجَانِ إِلَى السُّوقِ فِيْ أَيَّامِ الْعَشْرِ يُكَبِّرَانِ، وَيُكَبِّرُ النَّاسُ بِتَكْبِيرِهِمَا.
“Adalah Ibnu ‘Umar dan Abu Hurairah g keluar ke pasar pada sepuluh hari awal Dzulhijjah dengan bertakbir, dan kaum muslimin ikut bertakbir bersama keduanya.” (Dikeluarkan oleh al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab al-’Idain, pada Bab “Fadhlu al-’Amal fi Ayyam at-Tasyriq” secara ta’liq/tanpa penyebutan sanad dengan shigat periwayatan yang tegas)4
Takbir mutlak ini terus berlanjut hingga hari-hari tasyriq (11, 12, dan 13 Dzulhijjah) dan berakhir dengan tenggelamnya matahari di akhir hari tasyriq. Ini menurut pendapat yang rajih yang dipilih Ibnu Qudamah, Ibnu Baz, dan Ibnu ‘Utsaimin. Dalilnya adalah:
1. Firman Allah k,
ﭒ ﭓ ﭔ ﭕ ﭖﭗ
“Dan hendaklah kalian berzikir (menyebut Allah) pada hari-hari berbilang.” (al-Baqarah: 203)
Hari-hari berbilang adalah hari-hari tasyriq.
2. Sabda Rasulullah n,
أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَذِكْرٍ لِلهِ.
“Hari-hari tasyriq adalah hari-hari untuk makan, minum, dan berzikir kepada Allah l.” (HR. Muslim no. 1141 dari Nubaisyah al-Hudzali x)
Terdapat beberapa atsar yang mendukung pendapat ini. Atsar-atsar itu disebutkan oleh al-Bukhari secara mu’allaq (tanpa penyebutan sanad) dengan shigat periwayatan yang tegas, yaitu:
1. Atsar ‘Umar bin al-Khaththab z,
كَانَ عُمَرُ z يُكَبِّرُ فِي قُبَّتِهِ بِمِنًى فَيَسْمَعُهُ أَهْلُ الْمَسْجِدِ، فَيُكَبِّرُونَ وَيُكَبِّرُ أَهْلُ اْلأَسْوَاقِ، حَتَّى تَرْتَجَّ مِنًى تَكْبِيرًا.
“Adalah ‘Umar bin al-Khaththab z bertakbir di kubahnya di Mina5 hingga didengar oleh penghuni masjid, sehingga mereka dan kaum muslimin yang ada di pasar-pasar pun ikut bertakbir hingga Mina bergelora dengan takbiran.”
Ibnu Hajar t menyatakan, “Atsar ini dikeluarkan oleh Sa’id bin Manshur dengan sanad yang bersambung.”
2. Atsar Ibnu ‘Umar c,
كَانَ ابْنُ عُمَرَ يُكَبِّرُ بِمِنًى تِلْكَ الْأَيَّامَ وَخَلْفَ الصَّلَوَاتِ، وَعَلَى فِرَاشِهِ، وَفِي فُسْطَاطِهِ، وَمَجْلِسِهِ وَمَمْشَاهُ تِلْكَ الْأَيَّامَ جَمِيعًا.
“Adalah Ibnu ‘Umar bertakbir di Mina pada hari-hari itu6; bertakbir di belakang shalat-shalatnya, di atas kasurnya, di dalam kemahnya, di majelisnya (tempat duduknya), dan di jalan yang dilaluinya, pada hari-hari itu seluruhnya.”
Ibnu Hajar t mengatakan, “Atsar ini dikeluarkan dengan sanad yang bersambung oleh Ibnul Mundzir dan al-Faqihi dalam kitab Akhbar Makkah.”
Adapun takbir muqayyad (takbir terikat), terjadi silang pendapat di antara para ulama mengenai waktu pelaksanaannya. Yang terkuat adalah pendapat yang mengatakan bahwa takbir muqayyad dimulai dari usai shalat subuh tanggal 9 Dzulhijjah (hari Arafah) hingga diakhiri dengan takbir muqayyad seusai shalat ashar tanggal 13 Dzulhijjah. Ini adalah mazhab al-Imam Ahmad, sebagaimana disebutkan dalam al-Mughni dan al-Inshaf, yang dipilih oleh Syaikhul Islam, asy-Syaikh Ibnu Baz, dan Ibnu ‘Utsaimin rahimahumullah.
Ini pula salah satu pendapat asy-Syafi’i, yang dipilih oleh Ibnul Mundzir, al-Baihaqi, dan an-Nawawi rahimahumullah, sebagaimana dalam al-Majmu’.
Terdapat beberapa atsar dari sahabat yang mendukung pendapat ini. Adapun hadits dari Rasulullah n dalam masalah ini, tidak ada yang sahih.7
Dalam Fathul Bari (Kitab al-’Idain pada Bab “At-Takbir Ayyama Mina”), Ibnu Hajar t berkata, “Tidak ada hadits yang tsabit (tetap) dari Nabi n. Adapun atsar dari sahabat yang paling sahih dalam masalah ini adalah atsar ‘Ali dan atsar Ibnu Mas’ud bahwa (takbir muqayyad) dimulai dari subuh hari Arafah hingga akhir hari tasyriq.”
Lafadz Atsar ‘Ali bin Abi Thalib z adalah sebagai berikut.
أَنَّهُ كَانَ يُكَبِّرُ بَعْدَ صَلاَةِ الْفَجْرِ يَومَ عَرَفَةَ إِلَى صَلاَةِ الْعَصْرِ مِنْ آخِرِ أَيَّامَ التَّشْرِيقِ وَيُكَبِّرُ بَعْدَ الْعَصْرِ.
“Sesungguhnya ‘Ali pernah bertakbir seusai shalat subuh pada hari Arafah hingga shalat ashar pada akhir hari-hari tasyriq dan bertakbir seusai shalat ‘ashar.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, al-Hakim, dan al-Baihaqi)
Atsar Ibnu Mas’ud z serupa dengan atsar ‘Ali, dikeluarkan oleh al-Hakim. Atsar yang serupa dari Ibni ‘Abbas juga dikeluarkan oleh al-Baihaqi. Ketiga atsar ini dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam al-Irwa’ (3/125).
Ibnu ‘Umar c juga melakukan takbir muqayyad di hari-hari tasyriq, sebagaimana pada atsar Ibnu ‘Umar yang telah kami sebutkan sebelumnya.
Al-Hafizh Ibnu Hajar t dalam Fathul Bari (Kitab al-’Idain pada Bab “At-Takbir Ayyama Mina”) mengatakan, “Atsar-atsar yang disebutkan oleh al-Bukhari t tersebut menunjukkan adanya takbir pada hari-hari tersebut (‘Idul Adha dan hari-hari tasyriq) seusai shalat dan selainnya.
Dalam masalah ini terdapat perbedaan pendapat di antara ulama pada beberapa hal. Di antara mereka ada yang mengkhususkan takbir hanya di belakang shalat saja (tidak ada takbir mutlak). Ada juga yang mengkhususkan takbir muqayyad hanya di belakang shalat lima waktu, tidak di belakang shalat sunnah. Ada yang mengkhususkannya untuk kaum lelaki saja dan tidak bagi kaum wanita, di belakang shalat lima waktu secara berjamaah dan tidak bagi yang shalat sendiri, yang dilaksanakan pada waktunya dan tidak untuk yang diqadha (di luar waktu), yang bermukim dan tidak bagi musafir, penduduk perkotaan dan tidak bagi penduduk perdesaan. Tampaknya, yang dipilih oleh al-Imam al-Bukhari t adalah bahwa syariat bertakbir mencakup semuanya, dan atsar-atsar yang disebutkannya mendukungnya.”8
Atsar-atsar tersebut adalah:
1. Atsar ‘Umar z yang telah kami sebutkan sebelumnya.
2. Atsar Ibnu ‘Umar c yang juga telah kami sebutkan sebelumnya.
3. Atsar Maimunah x,
كَانَتْ مَيْمُونَةُ تُكَبِّرُ يَوْمَ النَّحْرِ
“Adalah Maimunah bertakbir pada Hari Raya ‘Idul Kurban.” (Al-Hafizh Ibnu Hajar t tidak menemukan siapa yang mengeluarkannya dengan sanad yang bersambung)
4. Atsar:
كُنَّ النِّسَاءُ يُكَبِّرْنَ خَلْفَ أَبَانَ بْنِ عُثْمَانَ وَعُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزَ لَيَالِيَ التَّشْرِيقِ مَعَ الرِّجَالِ فِيْ الْمَسْجِدِ
“Adalah kaum muslimat bertakbir di belakang Aban bin ‘Utsman9 dan di belakang ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz pada malam-malam tasyriq bersama kaum muslimin di masjid.”
Ibnu Hajar t berkata, “Dikeluarkan dengan sanad yang bersambung oleh Ibnu Abi ad-Dunya dalam Kitab al-’Idain.”
Masalah ini seperti kata al-Imam Ibnu ‘Utsaimin t dalam Majmu’ ar-Rasail (16/263), “Semestinya diketahui bahwa tidak ada nash yang sahih dan gamblang dari Rasulullah n yang menetapkan adanya takbir muqayyad. Yang ada adalah beberapa atsar dari sahabat dan ijtihad sebagian ulama. Maka dari itu, terdapat kelonggaran dalam masalah ini. Meskipun seseorang meninggalkannya sama sekali dan mencukupkan diri dengan zikir setelah shalat, hal itu tidak mengapa, karena semuanya merupakan zikir kepada Allah k.”

Kesimpulan
Tersimpulkan dari pembahasan di atas hal-hal berikut ini.
1. Takbir mutlak berlangsung mulai dari malam hari tanggal 1 Dzulhijjah dan berakhir dengan terbenamnya matahari 13 Dzulhijjah yang mengakhiri hari-hari tasyriq.
2. Takbir muqayyad berlangsung sejak usai shalat subuh hari Arafah 9 Dzulhijjah dan berakhir dengan takbir muqayyad seusai shalat ashar pada 13 Dzulhijjah.
Alhasil, sejak 1 Dzulhijjah hingga subuh 9 Dzulhijjah hanya terdapat takbir mutlak tanpa takbir muqayyad. Sejak usai shalat subuh 9 Dzulhijjah hingga 13 Dzulhijjah terdapat takbir mutlak dan takbir muqayyad.10
Adapun tata cara pelaksanaan takbir muqayyad di belakang shalat lima waktu (termasuk shalat Jum’at), terdapat beberapa pendapat, di antaranya:
1. Setelah imam salam, terlebih dahulu ia beristighfar dan membaca:
اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ …. الخ
Allahumma antas salam …. dst.
Setelah itu, ia bergeser dari arah kiblat kemudian bertakbir. Hal ini karena kedua zikir tersebut lebih melekat dengan shalat daripada takbir.
Pendapat ini yang dipilih oleh Ibnu ‘Utsaimin. Inilah pendapat terkuat, insya Allah l.
2. Setelah imam salam, ia langsung bertakbir dengan tetap menghadap ke kiblat. Setelah itu baru ia membaca zikir shalat tersebut.
3. Jika imam telah salam, ia langsung bergeser dari arah kiblat kemudian bertakbir. Setelah itu ia baru membaca zikir shalat tersebut.11
Inilah yang dapat kami terangkan dalam masalah ini, wallahu a’lam.
Semoga Allah k memberi kita hidayah dan taufik untuk mengetahui al-haq serta mengamalkannya.

Catatan Kaki:

1 Lihat kitab al-Mughni (3/287), Syarhu Muslim lin-Nawawi (6/Kitab Shalatul ‘Idain pada Bab “Dzikri Ibahati Khuruji an-Nisa’ fil ‘Idain”), Majmu’ al-Fatawa (24/221), dan Tafsir Ibni Katsir (pada tafsir al-Baqarah: 185)

2 Lihat kitab Irwa’ al-Ghalil no. 953.
3 Pada sebagian jalan riwayat hadits ini ada tambahan lafadz:
فَأَكْثِرُوا فِيهِنَّ التَّهْلِيلَ وَالتَّحْمِيدَ وَالتَّكْبِيرَ.
“Maka dari itu, perbanyaklah membaca tahlil, tahmid, dan takbir di hari-hari itu!”
Namun, tambahan riwayat ini dha’if (lemah), dinyatakan lemah oleh al-Hafizh Ibnu Hajar t dalam Fathul Bari (2/Kitab al-‘Idain pada Bab “Fadhli al-‘Amal fi Ayyam at-Tasyriq”) dan al-Muhaddits al-Albani t dalam Dha’if at-Targhib wat Tarhib no. 735.
4 Ibnu Hajar tidak menemukan riwayat maushul (sanad yang bersambung) dalam periwayatan atsar ini. Al-Albani menyatakannya sahih dalam al-Irwa’ no. 651. Wallahu a’lam.

5 Yaitu hari ‘Idul Adha dan hari-hari tasyriq.
6 Yaitu hari ‘Idul Adha dan hari-hari tasyriq.
7 Adapun hadits Jabir bin ‘Abdillah c yang menyebutkan bahwa seusai Nabi n melaksanakan shalat subuh di hari Arafah, beliau menghadap kepada para sahabat dan bertakbir hingga akhir hari tasyriq, tidak bisa dijadikan hujjah sama sekali. Hadits tersebut diriwayatkan oleh ad-Daraquthni dan lainnya, dihukumi dha’if jiddan (sangat lemah) oleh al-Albani. Pada sanadnya terdapat rawi bernama ‘Amr bin Syamr dari kalangan orang-orang yang rusak (binasa), haditsnya sangat lemah dan munkar (keliru/ganjil). Bahkan, ada yang menjarahnya sebagai penyeleweng dan pendusta. Selain itu, pada sanadnya ada Jabir al-Ju’fi yang juga lemah. Lihat al-Irwa’ no. 653.

8 Lihat kitab Fathul Bari (2/Kitab al-‘Idain pada Bab “At-Takbir Ayyama Mina”).

9 Amir (gubernur) Madinah pada masa pemerintahan Abdul Malik bin Marwan, sebagaimana dalam Fathul Bari.
10 Adapun pendapat yang mengatakan bahwa takbir mutlak hanya sampai imam selesai dari khutbah ‘Idul Adha dan setelahnya yang ada hanyalah takbir muqayyad, ini adalah pendapat yang marjuh (lemah).
Lihat kitab al-Mughni (3/291—292, 294) terbitan Dar ‘Alam al-Kutub, al-Majmu’ (5/39—45, 46—47), Majmu’ al-Fatawa (24/220, 225—228), Fathul Bari (2/Kitab al-‘Idain pada Bab “Fadhli al-‘Amal fi Ayyam at-Tasyriq” dan Bab “At-Takbir Ayyama Mina”), al-Inshaf (2/435—437), Majmu’ Fatawa Ibni Baz (13/18—19), asy-Syarh al-Mumti’ (5/215—216, 222) terbitan Muassasah Asam.
11 Lihat kitab al-Inshaf (2/437) dan asy-Syarh al-Mumti’ (5/216).

 

 

Permisalan Seorang Muslim

(ditulis oleh: Ibnu Qayyim al-Jauziyah)

Dari Ibnu Umar c, ia berkata bahwa Rasulullah n bersabda,
إِنَّ مِنَ الشَّجَرِ شَجَرَةً لاَ يَسْقُطُ وَرَقُهَا، وَإِنَّهَا مَثَلُ الْمُسْلِمِ، فَحَدِّثُونِي مَا هِيَ. فَوَقَعَ النَّاسُ فِي شَجَرِ الْبَوَادِي قَالَ عَبْدُ اللهِ: وَوَقَعَ فِي نَفْسِي أَنَّهَا النَّخْلَةُ، فَاسْتَحْيَيْتُ. ثُمَّ قَالُوا: حَدِّثْنَا مَا هِيَ، يَا رَسُولَ اللهِ. قَالَ: هِيَ النَّخْلَةُ
“Di antara pepohonan, ada yang daunnya tidak rontok. Sungguh, itu adalah permisalan seorang muslim. Beri tahukan kepadaku, pohon apakah itu?” Orang-orang menyebut pohon-pohon yang ada di lembah-lembah. Ibnu Umar mengatakan, “Terlintas dalam diriku bahwa itu adalah pohon kurma, tetapi aku malu (untuk mengatakannya).” Kemudian para sahabat mengatakan, “Beri tahukan kepada kami, wahai Rasulullah.” Beliau menjawab, “Pohon kurma.” (HR. al Bukhari)
Perumpamaan ini mengandung rahasia, ilmu, dan pengetahuan, yang sesuai dengan kebesaran Allah l, ilmu dan hikmah-Nya.
Di antaranya, pohon itu mesti ada akar, batang, cabang, daun, dan buahnya. Demikian pula pohon iman dan Islam, agar sesuai antara yang diumpamakan dan perumpamaannya. Akar pohon iman adalah ilmu, pengetahuan, dan keyakinan; batangnya adalah keikhlasan; cabangnya adalah amalan; buahnya adalah akibat dari amal saleh berupa perangai dan sifat yang terpuji, akhlak yang baik, penampilan yang baik, dan kepribadian yang diridhai. Hal-hal tersebut menjadi bukti menancapnya pohon tersebut dalam kalbu dengan kokoh.
Apabila sebuah ilmu benar dan sesuai dengan apa yang diturunkan oleh Allah l dalam kitab-Nya, keyakinannya tentang Allah l juga sesuai dengan apa yang diberitakan oleh Allah l dan para rasul-Nya, lalu keikhlasan tegak dalam kalbu, amalan sesuai dengan perintah, dan kepribadian serupa dengan prinsip-prinsip tersebut; maka dapat diketahui bahwa akar pohon iman dalam kalbu telah kokoh dan cabangnya menjulang di langit. Akan tetapi, jika ternyata sebaliknya, dapat diketahui bahwa yang tegak dalam kalbu hanyalah pohon yang jelek, yang mudah tercabut dari tanah dan tidak kokoh.
Di antara (tabiat pohon) adalah ia tidak akan hidup melainkan dengan adanya sesuatu yang menyirami dan menumbuhkannya. Jika penyiraman itu terputus/terhenti, bisa dipastikan pohon itu mengering. Demikian pula pohon Islam dalam kalbu. Jika pemiliknya tidak menjaganya dengan cara menyiraminya setiap saat dengan ilmu yang bermanfaat dan amal yang saleh, lalu kembali mengingat dan berpikir, kemudian berpikir dan mengingat lagi, tentu ia akan mengering.
Terdapat (hadits) dalam Musnad Ahmad dari hadits Abu Hurairah z, ia berkata bahwa Rasulullah n bersabda,
إِنَّ الْإِيمَانَ يَخْلَقُ فِي الْقَلْبِ كَمَا يَخْلَقُ الثَّوْبُ فَجَدِّدُوا إِيْمَانَكُمْ
“Sesungguhnya iman dalam kalbu bisa rusak sebagaimana rusaknya baju, maka perbaruilah iman kalian.”1
Secara global, jika pemilik sebuah tanaman tidak senantiasa menjaganya, niscaya tanamannya akan mati. Dari sini kita tahu betapa butuhnya seorang hamba akan perintah-perintah Allah l yang berupa berbagai ibadah seiring dengan bergantinya waktu. Selain itu, termasuk kebesaran Allah l, kesempurnaan nikmat dan kebaikan-Nya kepada para hamba-Nya adalah Allah l menugaskan hamba-Nya untuk itu. Allah l juga menjadikan hal itu sebagai bahan untuk menyirami tanaman tauhid (dan iman) yang dia tanam dalam kalbunya.
Sudah menjadi tabiat yang diciptakan Allah l pada tanaman yang bermanfaat, ia akan tumbuh bercampur dengan semak-semak dan tetumbuhan yang asing, berbeda jenisnya (gulma, tumbuhan pengganggu, -red.). Apabila pemiliknya menjaganya dari itu semua, membersihkannya, dan mencabutinya, tanaman itu akan sempurna dan kokoh. Pertumbuhannya pun menjadi maksimal sehingga buahnya akan lebih lebat, lebih bagus, dan lebih bersih. Namun, apabila dia biarkan, niscaya semak-semak dan tetumbuhan asing itu justru akan mendominasi sehingga semak-semak itulah yang unggul dan tanaman pokoknya akan melemah. Akibatnya, buahnya jelek dan tidak maksimal sesuai dengan banyak dan sedikitnya tumbuhan asing tersebut.
Orang yang tidak memiliki kepahaman terhadap jiwanya dalam hal ini dan tidak mengetahuinya, dia akan kehilangan keberuntungan yang besar dalam keadaan dia tidak merasa. Maka dari itu, seorang mukmin selalu berusaha dalam dua hal: menyirami pohon ini dan membersihkan sekelilingnya. Menyirami akan menyebabkan pohon tetap hidup dan tumbuh, adapun membersihkan sekelilingnya akan menyempurnakan pertumbuhannya.
Allah l lah tempat memohon pertolongan dan tempat bertawakal, wa lahaula wa laquwwata illa billah.
Inilah beberapa hikmah yang terkandung dalam perumpamaan yang agung ini. Bisa jadi, apa yang disebutkan di atas hanya setetes dari air lautan, sesuai dengan kemampuan akal pikiran kita yang serba terbatas, kalbu kita yang kurang tenang, ilmu kita yang sedikit, serta amalan kita yang membutuhkan taubat dan istighfar. Padahal apabila kalbu kita suci, pikiran kita jernih, jiwa kita suci, amalan juga ikhlas, pikiran pun berkonsentrasi untuk menerima ilmu dari Allah l dan Rasul-Nya, tentu kita akan menyaksikan makna-makna kalamullah, berbagai rahasia dan hikmahnya. Segala ilmu akan terasa dangkal di hadapannya. Semua pengetahuan makhluk pun seakan-akan lenyap di hadapannya.

Dengan begitu, kita akan menyadari betapa tingginya ilmu para sahabat dan pengetahuan mereka. Di samping itu, kita juga akan mengetahui bahwa perbandingan antara ilmu mereka dan ilmu orang yang setelah mereka layaknya perbedaan perbandingan keutamaan mereka dengan selain mereka. Allah l lah yang Mahatahu di manakah ia berikan keutamaan-Nya dan kepada siapakah Dia beri kekhususan dengan rahmat-Nya.
(diterjemahkan oleh Qomar Suaidi dari kitab I’lamul Muwaqqi’in)

Catatan Kaki:

1 Lafadznya dalam Musnad Ahmad,
جَدِّدُوا إِيْمَانَكُمْ. قِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ، وَكَيْفَ نُجَدِّدُ إِيمَانَنَا؟ قَالَ: أَكْثِرُوا مِنْ قَوْلِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ
“Perbaruilah iman kalian!” Ditanyakan kepada beliau, “Bagaimana kami memperbarui iman kami?” Beliau menjawab, “Perbanyaklah mengucapkan La ilaha Illallah.”
Al-Hakim meriwayatkan yang semakna dengan itu dalam kitab Mustadrak-nya,
إِنَّ الْإِيْمَانَ لَيَخْلَقُ فِي جَوْفِ أَحَدِكُمْ كَمَا يَخْلَقُ الثَّوُبُ، فَاسْأَلُوا اللهَ أَنْ يُجَدِّدَ الْإِيْمَانَ فِي قُلوْبِكُمْ
“Sesungguhnya iman akan rusak dalam diri kalian laksana rusaknya baju, maka mohonlah kepada Allah untuk memperbarui iman dalam kalbu kalian.”
Hadits ini dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam ash-Shahihah no. 1585.

Tangan Atau Lutut dahulu Ketika Hendak Sujud? Sifat Shalat Nabi (bagian ke 19)

(ditulis oleh: Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq)

Kedua Telapak Tangan Terlebih dahulu Menyentuh Lantai Saat Sujud
Rasulullah n meletakkan kedua telapak tangan beliau ke atas tanah mendahului kedua lutut beliau sebagaimana ditunjukkan dalam hadits Ibnu Umar c yang diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah (no. 627), ad-Daraquthni (no. 1288), ath-Thahawi dalam Syarhul Ma’ani (1/329, no. 1476), dan al-Hakim (1/226). Al-Hakim berkata, “Sahih menurut syarat Muslim,” dan hal ini disepakati oleh adz-Dzahabi. Al-Imam al-Albani t berkata, “Hadits ini sebagaimana yang dikatakan keduanya (al-Hakim dan adz-Dzahabi).” (al-Ashl, 2/714)
Dalam hadits Abu Hurairah z disebutkan bahwa Rasulullah n bersabda,
إِذَا سَجَدَ أَحَدُكُمْ فَلاَ يَبْرُكْ كَمَا يَبْرُكُ الْبَعِيْرُ، وَلْيَضَعْ يَدَيْهِ قَبْلَ رُكْبَتَيْهِ
“Apabila salah seorang dari kalian sujud maka janganlah ia turun sujud sebagaimana menderumnya unta, dan hendaklah ia meletakkan kedua tangannya sebelum kedua lututnya.” (HR. Abu Dawud no. 840 dengan sanad yang sahih)
Secara lahiriah, perintah dalam hadits Abu Hurairah z di atas memberikan faedah wajibnya meletakkan kedua tangan (telapak tangan) terlebih dahulu sebelum kedua lutut ketika hendak sujud, sebagaimana hal ini dinyatakan oleh al-Imam Ibnu Hazm t dalam al-Muhalla (3/44). Wallahu a’lam.
Namun, terdapat beberapa hadits yang menyelisihi redaksi hadits di atas. Hadits-hadits itu menyebutkan bahwa kedua lutut mendahului kedua telapak tangan saat menyentuh lantai/tanah, di antaranya adalah:
– Dari Wail ibnu Hujr z, ia berkata,
رَأَيْتُ النَّبِيَّ n إِذَا سَجَدَ وَضَعَ رُكْبَتَيْهِ قَبْلَ يَدَيْهِ، وَإِذَا نَهَضَ رَفَعَ يَدَيْهِ قَبْلَ رُكْبَتَيْهِ
“Aku pernah melihat Nabi n ketika sujud meletakkan kedua lutut beliau sebelum kedua tangannya. Saat bangkit, beliau mengangkat kedua tangannya sebelum kedua lututnya.” (HR. Abu Dawud no. 838, an-Nasa’i no. 1089, Ibnu Majah no. 882, at-Tirmidzi no. 268, dan beliau menyatakannya hasan)
Namun, sanad hadits ini dhaif (lemah) karena ada perawi yang bernama Syarik ibnu Abdillah an-Nakha’i1. Ad-Daraquthni berkata, “Syarik tidaklah kuat apabila dia bersendiri dalam meriwayatkan.”2
Sementara itu, hadits di atas termasuk riwayat yang Syarik bersendiri dalam periwayatannya (diistilahkan dengan tafarrada bihi)3.
Bersendirinya Syarik dalam riwayat ini dari Ashim ibnu Kulaib juga dinyatakan oleh at-Tirmidzi dan al-Baihaqi. (at-Talkhish, 1/413)

– Dari Anas bin Malik z, ia berkata,
رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ n انْحَطَّ بِالتَّكْبِيْرِ فَسَبَقَتْ رُكْبَتَاهُ يَدَيْهِ
“Aku pernah melihat Nabi n turun (untuk sujud dari posisi berdiri) dengan mengucapkan takbir, maka kedua lutut beliau mendahului kedua tangannya.” (HR. ad-Daraquthni no. 1293, al-Hakim 1/226, dll)
Dalam sanadnya ada seorang perawi bernama al-‘Ala’ ibnu Ismail yang bersendiri dalam periwayatannya, sedangkan dia adalah rawi yang majhul sebagaimana disebutkan dalam at-Talkhish (1/414).
Menurut Abu Hatim ar-Razi t sebagaimana termuat dalam ‘Ilal ibni Abi Hatim (1/188), hadits ini mungkar.
Al-Hafizh t dalam biografi al-‘Ala’ pada kitabnya, Lisanul Mizan (5/183), menyatakan, “Umar bin Hafsh ibn Ghiyats menyelisihi riwayat al-‘Ala’ ini, padahal Umar adalah atsbatun nas (orang yang paling kuat) dalam hal pengambilan riwayat dari ayahnya4. Umar meriwayatkan hadits ini dari ayahnya, dari al-A’masy, dari Ibrahim, dari Alqamah dan selainnya, dari Umar ibnul Khaththab z secara mauquf. Riwayat yang mauquf inilah yang mahfuzh (benar/terjaga).”

– Dari Abu Hurairah z,
أَنَّ النَّبِيَّ n كاَنَ إِذَا سَجَدَ بَدَأَ بِرُكْبَتَيْهِ قَبْلَ يَدَيْهِ
“Apabila bersujud, Nabi n memulai dengan kedua lututnya sebelum kedua tangannya.”
Hadits ini diriwayatkan oleh ath-Thahawi (1/330, no. 1479) dengan sanad yang sangat dhaif karena ada perawi yang bernama Abdullah ibnu Sa’id al-Maqburi. Dalam at-Taqrib (hlm. 320, no. 3356) disebutkan bahwa dia matruk (haditsnya ditinggalkan).
Ada lagi beberapa hadits yang semakna, namun semuanya bermasalah karena lemahnya hadits-hadits tersebut dan tidak lepas dari pembicaraan.
Ahlul ilmi berbeda pendapat dalam masalah ini. Sebagian mereka berpendapat bahwa meletakkan kedua tangan sebelum kedua lutut lebih utama. Demikian pendapat al-Imam Malik dan al-Auza’i. Al-Auza’i menyatakan, “Aku dapatkan orang-orang meletakkan tangan-tangan mereka sebelum lutut mereka.”5
Adapun ulama yang lainnya menyelisihi mereka dengan berpandangan bahwa meletakkan kedua lutut sebelum kedua tangan lebih utama. Ini adalah pendapat jumhur (mayoritas), di antara mereka adalah Umar ibnul Khaththab z dari kalangan sahabat, Ibrahim ibnu Yazid an-Nakha’i, Muslim ibnu Yasar, Sufyan at-Tsauri, asy-Syafi’i, Ahmad, Ishaq, Abu Hanifah, dan pengikutnya, semoga Allah l merahmati mereka semuanya. (al-Isyraf ‘ala Madzahibil Ulama lil Imam Ibnul Mundzir, 2/30—31, salinan manuskrip al-I’tibar fin Nasikh wal Mansukh lil Imam Abi Bakr Muhammad ibni Musa al-Hazimi, hlm. 36)
Al-Imam Albani t berkata, “Argumen mereka (yang berpandangan kedua lutut diletakkan sebelum kedua tangan) adalah hadits-hadits yang telah disebutkan6. Seandainya hadits-hadits itu sahih niscaya kita katakan kedua cara tersebut boleh (kedua lutut yang lebih dahulu atau kedua tangan), sebagaimana riwayat dari Malik dan Ahmad dalam Fathul Bari. Jika tidak sahih, yang jadi sandaran adalah pendapat yang dipegangi kelompok yang pertama. Ini adalah pendapat ashabul hadits, sebagaimana kata Ibnu Abi Dawud dan yang dinukil oleh Ibnul Qayyim dalam Zadul Ma’ad. Argumen mereka adalah hadits ini (hadits Ibnu Umar di atas).” (al-Ashl, 2/719)

Cara Unta Menderum
Unta menderum dengan meletakkan kedua kaki depannya terlebih dahulu yang kita anggap sebagai dua tangannya sebelum kedua kaki belakangnya. Apabila demikian, samakah dengan cara sujud yang Nabi n perintahkan; hendaklah ia meletakkan kedua tangannya sebelum kedua lututnya?
Jawabannya, tidak sama, karena kedua lutut unta ada pada kedua tangannya. Ibnu Hazm t mengatakan, “Dua lutut unta ada pada kedua lengan bawahnya.” (al-Muhalla, 3/45)
Demikian dalam Lisanul ‘Arab (4/227) dan dinyatakan bahwa unta meletakkan terlebih dahulu kedua lututnya yang ada pada kedua tangannya.
Al-Imam ath-Thahawi t mengatakan dalam kitab beliau, Syarhu Musykilul Atsar (1/168—169), dan yang semakna dengan itu di kitabnya, Syarhu Ma’anil Atsar (1/330), “Ada orang yang berkata bahwa ini adalah ucapan yang mustahil karena Nabi n melarang seseorang saat sujud untuk menurunkan tubuhnya ke tanah/lantai sebagaimana unta menderum, padahal unta menurunkan kedua tangannya (kaki depan) terlebih dahulu (saat menderum). Setelah melarang menyerupai unta, Nabi n mengatakan, ‘Akan tetapi, hendaklah ia meletakkan kedua tangannya sebelum kedua lututnya.’
Artinya, dalam hadits ini ada sesuatu yang pada awalnya dilarang oleh Nabi n, namun di akhirnya beliau memerintahkannya. Kami pun merenungkan apa yang diucapkan oleh Nabi n. Ternyata kami dapatkan tidak ada yang mustahil. Kami dapati hadits tersebut lurus, tidak ada kemustahilan. Dua lutut unta ada pada kedua tangannya (kaki depan), demikian pula setiap hewan berkaki empat. Berbeda halnya dengan anak Adam yang lutut mereka ada pada kaki, bukan pada tangan.
Dalam hadits ini, Rasulullah n melarang orang yang shalat untuk turun sujud di atas kedua lututnya yang ada pada kedua kakinya, dan ia semestinya turun sujud dengan cara yang menyelisihi hal tersebut, yaitu turun sujud di atas kedua tangannya yang tidak ada lututnya (karena lutut manusia ada pada kakinya). Berbeda halnya dengan unta yang turun menderum dengan menjatuhkan kedua tangannya terlebih dahulu, yang di situlah letak kedua lututnya. Jadi, jelaslah—dengan pujian kepada Allah l dan berkat nikmat-Nya—bahwa apa yang ada dalam hadits ini dari Rasulullah n adalah ucapan yang sahih, tidak ada kontradiksi dan kemustahilan.”

Hikmah Larangan Menyerupai Unta Menderum
Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin t dalam Majmu’ Fatawa-nya (13/170—171) mengatakan, “Rasulullah n melarang seseorang turun ke sujud seperti halnya unta menderum karena Allah l melebihkan Bani Adam di atas seluruh makhluk hidup, lebih-lebih dalam hal ibadah yang paling mulia, yaitu shalat. Dengan demikian, apabila seorang manusia menyerupai hewan, berarti ia menyelisihi maksud/tujuan shalat serta menyelisihi hakikat kemuliaan manusia dibandingkan dengan hewan dan makhluk hidup lainnya.
Oleh karena itu, Allah l tidak menyebutkan penyerupaan manusia dengan hewan selain dalam bentuk celaan, seperti dalam firman-Nya,
“Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepada mereka Taurat kemudian mereka tidak memikulnya (mengamalkan isinya) adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal….” (al-Jumu’ah: 5)
“Maka perumpamaannya seperti anjing, jika engkau menghalaunya dijulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia menjulurkan lidahnya juga….” (al-A’raf: 176)
Demikian juga sabda Nabi n,
مَنْ تَكَلَّمَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ فَهُوَ كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا
“Siapa yang berbicara pada hari Jum’at di saat imam sedang berkhutbah maka ia semisal keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal.” (HR. Ahmad 3/475)
Sabda beliau n,
الْعَائِدُ فِي هِبَتِهِ كَالْكَلْبِ يَقِيءُ ثُمَّ يَعُوْدُ فِي قَيْئِهِ
“Orang yang meminta kembali hadiahnya (yang telah diberikan kepada orang lain) seperti anjing yang muntah kemudian menjilati kembali muntahnya.” (HR. al-Bukhari no. 2621 dan Muslim no. 4146)

Perselisihan yang Terjadi adalah Perselisihan Ijtihad
Kami, penulis, memilih pendapat ahlul hadits, kedua tangan didahulukan menyentuh lantai di saat sujud daripada kedua lutut. Hanya saja, karena masalah ini adalah masalah ijtihad, kita tidak dapat mengingkari atau membatilkan yang lainnya serta tidak bisa saling menganggap sesat atau bid’ah. Wallahu a’lam.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t berkata, “Shalat dengan mendahulukan dua lutut terlebih dahulu atau dua telapak tangan (ketika turun sujud), semuanya boleh menurut kesepakatan ulama. Jika orang yang shalat mau, ia bisa meletakkan kedua lututnya terlebih dahulu sebelum kedua tangannya. Jika mau pula, ia bisa meletakkan kedua telapak tangannya, baru kedua lututnya. Shalatnya teranggap benar dalam dua keadaan yang disebutkan menurut kesepakatan ulama. Akan tetapi, mereka berbeda pendapat tentang mana yang lebih utama/afdal. Ada yang mengatakan bahwa yang pertama lebih afdal (lutut terlebih dahulu sebelum tangan), sebagaimana mazhab Abu Hanifah, asy-Syafi’i, dan Ahmad dalam salah satu dari dua riwayatnya. Ada pula yang mengatakan bahwa yang kedua lebih afdal, sebagaimana mazhab Malik dan Ahmad dalam riwayat yang lain. Masing-masing pendapat mendasarkannya kepada riwayat hadits dalam kitab as-Sunan dari Nabi n. Dalam kitab as-Sunan tersebut dinyatakan bahwa apabila Nabi n shalat, (saat sujud) beliau meletakkan kedua lutut, kemudian kedua tangan beliau. Saat bangkit dari sujud, beliau mengangkat kedua tangan beliau, lalu kedua lutut7. Dalam Sunan Abi Dawud dan selainnya disebutkan bahwa Rasulullah n bersabda, ‘Apabila salah seorang dari kalian sujud, janganlah ia turun sujud sebagaimana menderumnya unta, dan hendaklah ia meletakkan kedua tangannya sebelum kedua lututnya.’ Telah diriwayatkan kebalikan riwayat ini (dengan mendahulukan kedua lutut baru telapak tangan), ada juga yang menyatakan riwayat ini mansukh (telah dihapus hukumnya), wallahu a’lam.” (Majmu’ Fatawa, 11/618)
Samahatusy Syaikh al-Imam Ibnu Baz t dalam Majmu’ Fatawa-nya (11/151) memandang bahwa dalam masalah ini urusannya mudah, baik mendahulukan kedua lutut maupun kedua tangan, sebagaimana pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t. Hanya saja, yang afdal (menurut beliau) adalah mendahulukan kedua lutut sebelum kedua tangan. Namun, tidak ada masalah apabila ada orang yang shalat menyelisihinya karena tidak memengaruhi keabsahan shalat.
Asy-Syaikh al-Imam Ibnu Utsaimin t berpandangan bahwa yang benar lutut terlebih dahulu dan kedua tangan dilarang mendahului lutut. Namun, beliau menyatakan tidak suka apabila masalah seperti ini menjadi ajang perdebatan, permusuhan, kebencian, menyesatkan pihak lain, dan yang semisalnya, karena ini adalah masalah ijtihad yang seseorang diberi uzur dengannya. Berbeda halnya apabila pada satu masalah tidak diperkenankan adanya ijtihad, maka tidak boleh didiamkan, harus ditegaskan antara yang benar dan yang batil. Dahulu para sahabat g berbeda pendapat dalam banyak masalah ijtihad yang lebih besar dari masalah ‘lutut atau tangan dahulu’, namun bersamaan dengan itu hati mereka tetap satu, tujuan mereka satu, dan kedekatan di antara mereka tetap terwujud. (Majmu’ Fatawa wa Rasail, 13/179)
Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah mengatakan, “Di sini saya memandang perlu untuk mengingatkan bahwa masalah semacam ini adalah masalah khilafiyah, yang tidak semestinya menjadi sumber perpecahan dan permusuhan. Lebih-lebih bagi kalangan penuntut ilmu yang pemula. Masalah yang semisal ini termasuk dalam urusan yang mustahab dan makruh, bukan urusan yang wajib dan haram. Masing-masing memiliki dalil. Masing-masing memiliki ijtihad. Yang terpenting, setiap pihak memiliki sandaran syar’i. Oleh karena itu, sepantasnya penuntut ilmu bersikap saling mencintai dan saling memberikan uzur satu sama lain meskipun ijtihad mereka berbeda, selama semuanya menginginkan al-haq (kebenaran) dalam agama Allah l ini dan selama perkaranya bukan dalam masalah akidah.” (Tashilul Ilmam, 2/270)

Catatan Kaki:

1 Yang membawakan riwayat ini dari Ashim bin Kulaib, dari ayahnya, dari Wail.
2 Menurut jumhur ahlul hadits, Syarik sayyi’ul hifzh (hafalannya jelek). Sebagian yang lain mengatakan bahwa hafalannya tercampur. Oleh karena itu, dia tidak bisa dijadikan hujah apabila bersendiri dalam membawakan sebuah riwayat, lebih-lebih lagi apabila dia menyelisihi para perawi yang tsiqah lagi penghafal hadits/huffazh. (Kasyif adz-Dzahabi, al-Kawakibun Nayyirat, Syarhu ‘Ilal ibnu Rajab)

3 Berbeda halnya dengan periwayatan yang dibawakan oleh murid-murid Ashim yang lainnya, semua membawakan hadits ini dari Ashim—dengan sanad yang sama dari Wail—tentang tata cara shalat Nabi n, tanpa ada penyebutan lafadz seperti yang disebutkan oleh Syarik.
4 Hadits ini diambil oleh al-‘Ala dari ayah Umar, yaitu Hafsh bin Ghiyats, dari Ashim al-Ahwal, dari Anas z.
5 Diriwayatkan oleh al-Marwazi dalam Masailnya (1/147/1) dengan sanad yang sahih dari al-Auza’i.

6  Di antaranya adalah tiga hadits di atas.

7 Derajat hadits ini sudah dijelaskan di atas.

 

Pelajaran Penting Untuk Para Hartawan

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits Abrar Thalib)

Mukadimah
Sudah bukan rahasia lagi kalau cita-cita kebanyakan orang saat ini—termasuk tak sedikit dari kaum muslimin—, adalah mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya, dengan cara apa saja. Banyak pula di antara mereka yang tidak peduli dari mana harta itu mereka dapatkan, bersumber dari sesuatu yang halal ataukah haram?
Kenyataannya, banyak dari kita justru berpandangan, “Yang haram saja sulit (untuk mendapatkannya), apalagi yang halal.” Keadaan kaum muslimin pun juga tak jauh berbeda dengan kebanyakan manusia. Bagi kaum muslimin, saat ini yang halal adalah apa yang ada di tangannya, sedangkan yang haram adalah yang tidak sampai ke tangannya. Oleh sebab itu, apa dan bagaimana caranya dia memperoleh kekayaan sudah bukan persoalan yang perlu dipikirkan. Wallahul musta’an (Allah l-lah yang dimintai pertolongan).
Akhirnya, pantaslah berlaku atasnya firman Allah l,
“Dan kamu memakan harta pusaka dengan cara mencampurbaurkan (yang halal dan yang batil), dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.” (al-Fajr: 19—20)
Di sana-sini selalu ada pelatihan melejitkan potensi dan pengembangan diri, untuk apa? Melejitkan kedudukan dan kekayaan? Hanya seputar itu. Ada yang dengan merakit ayat-ayat suci al-Qur’an dan hadits Nabi n, ada pula yang dengan kisah-kisah nyata ‘keberhasilan’ sejumlah konglomerat di seluruh dunia. Wallahul musta’an.

Qarun
Siapa yang tidak kenal Qarun? Kekayaannya yang berlimpah menjadi buah bibir, bahkan menjadi mimpi dan angan-angan bagi orang-orang yang datang belakangan. Sampai saat ini, setiap orang yang menemukan harta terpendam atau memperoleh kekayaan yang berlimpah, selalu disebut mendapat harta Qarun (diindonesiakan menjadi harta karun, -red.).
Siapakah Qarun dan mengapakah dia, sehingga menjadi tamsil (permisalan) bagi orang-orang yang datang sesudahnya? Pelajaran apa yang dapat diambil dari perjalanan hidupnya? Mudah-mudahan kisah ini memberi pelajaran berharga bagi kita.
Para ulama berbeda pendapat tentang nasabnya. Ada yang mengatakan dia adalah putra paman Nabi Musa q, yaitu Qarun bin Yashhur bin Qahits bin Lewi bin Ya’qub, sedangkan Nabi Musa adalah putra ‘Imran bin Qahits.1
Ahli sejarah Muhammad bin Ishaq bin Yasar berpendapat bahwa dia adalah paman Nabi Musa q sendiri. Akan tetapi, pendapat yang masyhur adalah yang pertama. Wallahu a’lam.
Kita tidak akan mempersoalkannya lebih jauh karena berita al-Qur’an sudah jelas menyatakan bahwa dia adalah salah seorang dari kaum Nabi Musa q. Jadi, termasuk salah seorang dari Bani Israil, keturunan Nabi Ishaq bin Ibrahim al-Khalil q.
Sebagaimana telah dijelaskan pada beberapa edisi yang lalu, kisah-kisah yang termaktub di dalam al-Qur’anul Karim pasti mengandung pelajaran yang sangat berharga. Akan tetapi, siapakah yang mampu memetik hikmahnya dan menerapkannya dalam kehidupannya? Jawabnya sudah tentu orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang mempunyai akal sehat atau akal itu masih berfungsi.
Allah l berfirman,
“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.” (Yusuf: 111)
Kisah ini diceritakan oleh Allah l sesudah memaparkan tentang Fir’aun dan kekuasaannya. Allah l berfirman,
Sesungguhnya Qarun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya, “Janganlah kamu terlalu bangga. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri.” Carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi; berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. Qarun berkata, “Sesungguhnya aku diberi harta itu tidak lain karena ilmu yang ada padaku.” Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka. Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia, “Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun. Sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar.” Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu, “Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, serta tidak diperoleh pahala itu, melainkan oleh orang-orang yang sabar.” Maka Kami benamkanlah Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golongan pun yang menolongnya dari azab Allah, dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya).” (al-Qashash: 76—81)
Dalam ayat-ayat ini, Allah l menceritakan keadaan Qarun, perbuatannya, dan apa yang diterimanya, termasuk nasihat dan peringatan yang sampai kepadanya dengan jelas dan gamblang.
Qarun adalah salah seorang kaum Nabi Musa q. Termasuk salah seorang di antara Bani Israil yang telah dilebihkan oleh Allah l di atas manusia pada masa itu. Akan tetapi, Qarun justru melampaui batas dan zalim terhadap sesamanya. Dia merasa dirinya serba lebih dari orang lain karena diberi harta yang berlimpah. Harta itu demikian banyaknya, sampai-sampai kunci gudang hartanya harus dipikul oleh beberapa pria yang kekar.
Entah sudah berapa banyak orang yang berilmu memberi nasihat dan mengingatkan Qarun agar tidak merasa bangga dan melampaui batas terhadap orang lain dengan harta yang dimilikinya. Allah l berfirman,
“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri. Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat.”
Demikianlah nasihat yang mereka berikan kepada Qarun. Artinya, hendaklah yang menjadi tekad dan cita-cita atau tujuan hidupmu adalah mencari pahala dari Allah l di akhirat (surga). Sebab, itulah kesenangan yang lebih baik dan lebih kekal. Akan tetapi, jangan pula melupakan bagianmu dari urusan dunia ini. Carilah dengan hartamu itu apa yang sudah dihalalkan oleh Allah l untukmu, dan berbuat baiklah, sebagaimana Allah l berbuat baik kepadamu. Jangan sekali-kali engkau melakukan perbuatan yang merusak—dengan berbuat jahat kepada hamba Allah l—sebagai balasanmu atas kebaikan yang telah diberikan oleh Allah l kepadamu. Sesungguhnya Allah l tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.
Begitu lembut nasihat mereka. Hal ini menunjukkan bahwa mereka menginginkan kebaikan bagi Qarun. Itulah salah satu bukti keimanan sekaligus tanda cinta terhadap sesama muslim di dalam hati mereka yang memberi nasihat tersebut. Rasulullah n bersabda,
لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحبُّ لِنَفْسِه
“Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian hingga dia mencintai untuk saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya.”2
Akan tetapi, Qarun tidak menerima nasihat dan peringatan tersebut, bahkan menyombongkan diri dan melampaui batas. Dia berkata (sebagaimana dalam ayat),
“Sesungguhnya aku diberi harta itu tidak lain karena ilmu yang ada padaku.”
Artinya, dia mengatakan kepada mereka bahwa harta yang dimilikinya itu diperolehnya karena pengetahuannya tentang berbagai bentuk usaha dan sebab kecerdasannya. Atau karena ilmu Allah l bahwa dia memang pantas menerimanya. Oleh sebab itu, mereka tidak perlu menasihatinya tentang apa yang diberikan oleh Allah l kepadanya.
Alangkah halusnya sebuah kesyirikan. Begitu perlahan dia menyelinap dalam hati setiap orang, bagai langkah-langkah semut hitam di atas batu hitam di dalam kegelapan malam yang pekat. Betapa kita sering mengucapkan, “Kalau tidak ada dia, pasti kita gagal atau celaka,” “Untung ada satpam,” atau kalimat lain yang mengandung ungkapan lupa terhadap Allah l yang memberinya nikmat. Padahal, kalimat-kalimat ini ternyata masuk dalam syirik ashghar (syirik kecil).3
Syirik ashghar ini mengurangi kesempurnaan tauhid, bahkan bisa menyeret pemiliknya kepada syirik akbar, yang apabila dia mati sebelum bertobat, akan kekal di neraka selama-lamanya.
Oleh karena itu, tidak selayaknya kita menyandarkan kesenangan atau keberhasilan kita kepada sesuatu selain Allah l. Dialah yang menjadikan semua sebab, dan Dia pula yang menjadikan akibat dari sebab tersebut, serta Dia pula yang menentukan akibat itu berhubungan dengan sebabnya ataukah tidak.
Seperti itu pula kenyataan yang ada di sekitar kita. Betapa banyak orang-orang yang ‘berhasil’ dalam urusan dunianya—ataupun akhiratnya—, menyandarkan keberhasilan/kesuksesan itu kepada keuletan, kesungguhan, kecerdasan, kemauan belajar, dan etos kerjanya untuk meraih keberhasilan tersebut.
Mereka lupa bahwa Allah l-lah yang memberi karunia kepada mereka berupa keberhasilan tersebut. Allah l-lah yang memberi jalan kepada mereka, memudahkan berbagai urusan mereka untuk meraih sesuatu yang dianggap ‘keberhasilan’ itu. Mulai dari pemikiran, perencanaan, pengelolaan, pemeliharaan, pengembangan, dan seterusnya. Semua itu adalah karunia Allah l, di awal perjalanan kariernya, dan di akhir setiap usahanya, bahkan kehidupannya.
Kebanyakan kita tidak menyadari, apabila rezeki-rezeki kita terhalang dari satu pintu, pasti akan terbuka melalui pintu yang lain.
Perhatikanlah janin di dalam rahim ibunya. Apa usahanya mencari rezeki demi kelangsungan hidupnya? Dari mana rezekinya (makanannya)? Dari ibunya, melalui plasenta. Itulah jalan satu-satunya. Siapa yang mengatur rezeki itu agar sampai kepada janin tersebut? Allah Yang Mahakuasa, Yang Maha Mengatur lagi Maha Penyayang.
Setelah dia lahir, dari mana rezekinya? Ingat, Allah l berfirman,
“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun.” (an-Nahl: 78)
Tentu saja termasuk sesuatu yang tidak dia ketahui, adalah usaha mencari rezeki. Akan tetapi, dengan rahmat-Nya, bayi itu memperoleh rezeki berupa ASI dan makanan tambahan, yang lebih lezat daripada makanannya yang pertama selama di dalam rahim.

Setelah sempurna penyusuan, minimal dua tahun, dia disapih, maka dari mana lagi rezekinya? Ternyata Allah l masih membukakan pintu rezekinya berupa dua jenis makanan (nabati dan hewani) dan dua jenis minuman (air dan susu).
Setelah dia mati, tertutuplah jalur makanan dan minumannya. Akan tetapi, Allah l masih memberinya rezeki—kalau dia termasuk golongan kanan—dari delapan jalur, yaitu delapan pintu surga yang boleh dimasukinya dari pintu mana saja.
Itulah kekuasaan dan kemurahan Allah l. Dia tidaklah menghalangi seorang mukmin pun dari dunia sama sekali, namun justru memberinya sesuatu yang lebih berharga dan bermanfaat, yang tidak diberikan-Nya kepada selain mukmin.
Rasulullah n bersabda,
لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ
“Seandainya dunia ini di sisi Allah setara dengan sehelai sayap nyamuk, niscaya Dia tidak akan memberi minum seorang kafir pun meskipun seteguk air.”4
Ibnu Mas’ud z pernah mengatakan, “Sesungguhnya Allah l memberikan harta itu kepada siapa saja, baik yang dicintai-Nya maupun tidak. Akan tetapi, Dia tidak memberikan keimanan itu selain kepada yang Dia cintai.”

Catatan Kaki:

1 Demikian dinukil dari Qatadah dan an-Nakha’i serta yang lainnya. Wallahu a’lam.

2 HR. al-Bukhari no. 13 dan Muslim (1/49, no. 45 dan 71).
3 Pelakunya tidak keluar dari Islam, tetapi melakukan salah satu dosa yang paling besar. Wallahu a’lam.