Merasa Diawasi Allah

Muraqabah, sebuah kata yang asing bagi kita karena memang bukan berasal dari bahasa kita. Kata ini berasal dari bahasa Arab.

Lantas apa gerangan makna kata ini hingga kita bisa menjawab pertanyaan pada judul di atas?

Muraqabah memiliki dua sisi:

  1. Engkau selalu menghadirkan perasaan diawasi oleh Allah subhanahu wa ta’ala, engkau selalu mawas diri, memerhatikan dirimu yang engkau sadar dirimu senantiasa diawasi oleh-Nya.
  2. Engkau percaya bahwa Allah subhanahu wa ta’ala mengawasimu, sebagaimana firman-Nya,

          وَكَانَ ٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ رَّقِيبٗا ٥٢

“Dan adalah Allah Maha Mengawasi segala sesuatu.” (al-Ahzab: 52)

Dengan muraqabah ini, engkau yakin bahwa Allah subhanahu wa ta’ala mengetahui segala tindak tandukmu, apakah itu ucapanmu, perbuatanmu, ataupun keyakinan yang tersembunyi dalam kalbumu. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱلۡعَزِيزِ ٱلرَّحِيمِ ٢١٧ ٱلَّذِي يَرَىٰكَ حِينَ تَقُومُ ٢١٨  وَتَقَلُّبَكَ فِي ٱلسَّٰجِدِينَ ٢١٩

“Bertawakallah engkau kepada Dzat Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang. Yang Dia melihatmu ketika engkau berdiri (melakukan ibadah). Dan Dia melihat gerak-gerikmu di antara orang-orang yang sujud.” (asy-Syu’ara: 217—219)

Allah subhanahu wa ta’ala melihat apa yang engkau lakukan di tengah malam yang gulita saat tidak ada seorang pun melihat dirimu. Saat engkau berdiri untuk ibadah kepada-Nya, Dia tahu. Saat engkau sujud, Dia pun tahu.

Dengan muraqabah, engkau yakin Allah subhanahu wa ta’ala mendengar semua yang terucap oleh lisanmu. Karena itu, engkau jaga lisanmu agar tidak berucap kecuali kebenaran atau diam, sebagaimana bimbingan agung sang Rasul yang agung shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَ الْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata baik atau hendaknya dia diam.”

Dengan muraqabah, engkau jaga pandangan matamu agar tidak melihat sesuatu yang diharamkan walau sembunyi-sembunyi. Sebab, engkau yakin dengan firman-Nya,

يَعۡلَمُ خَآئِنَةَ ٱلۡأَعۡيُنِ وَمَا تُخۡفِي ٱلصُّدُورُ ١٩

“Dia mengetahui pandangan mata yang khianat dan apa yang tersimpan dalam dada.” (Ghafir: 19)

Dengan muraqabah, engkau selalu memerhatikan kalbumu. Adakah di dalamnya penyakit yang harus dibasmi seperti syirik, riya, penyimpangan, iri dengki, benci, amarah, loyal kepada orang kafir, dan semisalnya, yang tidak Allah subhanahu wa ta’ala ridhai?

Engkau selalu memerhatikan kalbumu dan berusaha memperbaikinya. Sebab, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ وَنَعۡلَمُ مَا تُوَسۡوِسُ بِهِۦ نَفۡسُهُۥۖ

“Sungguh Kami telah menciptakan manusia dan Kami mengetahui apa yang dibisikkan oleh jiwanya.” (Qaf: 16)

Bagaimana pun rapatnya engkau menyimpannya, di sudut hatimu yang paling dalam, Allah subhanahu wa ta’ala pasti mengetahuinya. Jangankan yang ada di kalbu, semua yang di bumi dan di langit, tidak ada yang tersembunyi bagi Allah subhanahu wa ta’ala.

Dia Yang Mahaagung berfirman,

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَخۡفَىٰ عَلَيۡهِ شَيۡءٞ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فِي ٱلسَّمَآءِ ٥

“Sesungguhnya bagi Allah, tidak ada sesuatu pun di bumi dan tidak pula di langit yang tersembunyi bagi-Nya.” (Ali Imran: 5)

Segala sesuatu yang di bumi dan di langit itu ada yang dirinci-Nya sebagaimana dalam ayat berikut,

وَعِندَهُۥ مَفَاتِحُ ٱلۡغَيۡبِ لَا يَعۡلَمُهَآ إِلَّا هُوَۚ وَيَعۡلَمُ مَا فِي ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِۚ وَمَا تَسۡقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا يَعۡلَمُهَا وَلَا حَبَّةٖ فِي ظُلُمَٰتِ ٱلۡأَرۡضِ وَلَا رَطۡبٖ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَٰبٖ مُّبِينٖ ٥٩

“Di sisi-Nyalah kunci-kunci perbendaharaan yang gaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia. Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan. Tidak ada selembar daun pun yang jatuh kecuali Dia mengetahuinya, tidak pula biji dalam kegelapan bumi, tidak pula yang basah dan tidak pula yang kering melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (al-An’am: 59)

Apabila demikian keluasan ilmu Allah subhanahu wa ta’ala, hendaklah setiap mukmin senantiasa merasa diawasi oleh Allah subhanahu wa ta’ala . Dia takut kepada-Nya di saat sendirian, sebagaimana halnya takut kepada-Nya saat terang-terangan.

Allah subhanahu wa ta’ala tidak pernah gaib dari hamba-hamba-Nya. Dia senantiasa bersama mereka di mana pun mereka berada. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَهُوَ مَعَكُمۡ أَيۡنَ مَا كُنتُمۡۚ

“Dan Dia bersama kalian di mana saja kalian berada.” (al-Hadid: 4)

Allah subhanahu wa ta’ala bersama kita tentu bukan maknanya Dia di bumi, satu tempat dengan kita. Tidak sama sekali! Ini pemahaman yang sesat dan batil. Mahasuci Dia!

Sebab, Allah subhanahu wa ta’ala di atas segala sesuatu, sebagaimana disebutkan dalam banyak firman-Nya, di antaranya,

ٱلرَّحۡمَٰنُ عَلَى ٱلۡعَرۡشِ ٱسۡتَوَىٰ ٥

“Ar-Rahman beristiwa (tinggi) di atas Arsy.” (Thaha: 5)

وَهُوَ ٱلۡقَاهِرُ فَوۡقَ عِبَادِهِۦۚ

“Dia Maha Memaksa di atas hamba-hamba-Nya.” (al-An’am: 18)

وَهُوَ ٱلۡعَلِيُّ ٱلۡعَظِيمُ ٢٥٥

“Dia Mahatinggi lagi Mahaagung.” (al-Baqarah: 255)

Allah subhanahu wa ta’ala tinggi dalam kedekatan-Nya dan dekat dalam ketinggian-Nya. Dzat Allah subhanahu wa ta’ala di atas sana, di atas seluruh makhluk-Nya, namun Dia senantiasa bersama para hamba-Nya karena ilmu-Nya meliputi mereka. Demikian pula pendengaran-Nya, penglihatan-Nya, kekuasaan-Nya, kehendak-Nya, pengaturan-Nya, dan selainnya. Tidak ada yang lepas dari-Nya subhanahu wa ta’ala.

Barang siapa memiliki muraqabah ini, niscaya dia dapat beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan ihsan. Apa ihsan itu?

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang ihsan, beliau menjawab,

أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

“Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak bisa merasa melihat-Nya, (yakinlah) bahwa Dia melihatmu.”

Al-Ihsan adalah derajat yang paling tinggi dalam dienul Islam, setelah derajat al-islam (amaliah zahir) dan aliman (amaliah batin).

Maka dari itu, beribadahlah kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan derajat ihsan, seakanakan engkau melihat dan menyaksikan-Nya dengan mata kepala. Inilah ibadah karena berharap dan rindu kepada Dzat yang diibadahi (ibadah raghbah).

Jika tidak bisa demikian, turunlah kepada derajat yang kedua, yaitu meyakini bahwa Allah subhanahu wa ta’ala melihatmu dalam ibadahmu. Inilah ibadah karena takut kepada Dzat yang diibadahi (ibadah rahbah).

Dengan muraqabah, seorang hamba akan berupaya menjadi pribadi yang senantiasa bertakwa kepada Rabbnya, menjalankan semua yang diperintahkan karena berharap pahala dari-Nya dan menjauhi semua yang dilarang karena takut akan siksa dan azab-Nya. Dia bersegera menyambut seruan kebaikan dan meninggalkan ajakan kepada keburukan.

Kalau pun terjatuh dalam kejelekan, sebagai layaknya anak Adam, dia segera bangkit menengadahkan kedua tangannya memohon ampun kepada Rabbnya, bertobat dengan sebenarnya (taubatan nashuha), beristighfar, dan memperbanyak kebaikan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menuntunkan,

وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا

“Ikutkanlah (susullah) keburukan dengan (perbuatan) kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapuskan keburukan.”

Setelah penjelasan ini, sudahkah kita memahami apa itu muraqabah dan sudahkah kita memilikinya?

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

 Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

Menikah adalah Setengah Agama

Sejauh manakah kebenaran orang yang berkata ketika hendak menikah, “Aku hendak menyempurnakan setengah agamaku,” maksudnya menikah.

Jawab:

Al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts al-Ilmiyah wa al-Ifta[1] menjawab,

“As-Sunnah menunjukkan disyariatkannya menikah. Menikah merupakan salah satu sunnah para rasul. Dengan menikah—setelah taufik dari Allah subhanahu wa ta’ala—seseorang mampu mengalahkan banyak ajakan kejelekan. Sebab, menikah lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan, sebagaimana diterangkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Al-Hakim meriwayatkan dalam al-Mustadrak dari Anas radhiallahu ‘anhu secara marfu’,

مَنْ رَزَقَهُ اللهُ امْرَأَةً صَالِحَةً فَقَدْ أَعَانَهُ اللهُ عَلَى شَطْرِ دِيْنِهِ, فَلْيَتَّقِ اللهَ فِي الشَّطْرِ الْبَاقِي

“Barang siapa yang Allah berikan rezeki berupa istri yang salihah, sungguh Allah subhanahu wa ta’ala telah membantunya atas setengah agamanya. Selanjutnya, hendaknya dia bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala pada setengah yang tersisa.”[2]

Al-Baihaqi dalam asy-Syu’ab meriwayatkan dari ar-Raqasyi dengan lafadz,

إِذَا تَزَوَّجَ الْعَبْدُ فَقَدْ كَمُلَ نِصْفَ الدِّيْنِ، فَلْيَتَّقِ اللهَ فِي النِّصْفِ الْآخَرِ

“Apabila seorang hamba telah menikah, sungguh dia telahmenyempurnakan setengah agamanya. Hendaknya dia bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala pada setengah yang lain.”[3]

Wa billahi at-taufiq.” (Fatwa no. 18121)


Yang Menjauhkan dari Syahwat

Apa sajakah yang dapat menjauhkan seseorang dari syahwat untuk berbuat zina atau masturbasi?

 Jawab:

Di antara yang dapat menjauhkan seseorang dari perbuatan yang diharamkan adalah takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan berharap dengan apa yang ada di sisi-Nya subhanahu wa ta’ala berupa kenikmatan yang diperuntukkan bagi para hamba yang taat dan (takut) dari neraka yang disiapkan-Nya untuk orang-orang yang durhaka.

Seorang muslim semestinya mengenal Rabbnya dengan sebenar-benarnya bahwa Allah adalah Yang Satu, Esa, Yang Melihat seluruh keadaan manusia dan rahasia-rahasianya (yang disembunyikannya), mengetahui bahwa Allah subhanahu wa ta’ala adalah Mahakuat yang tidak dapat dipaksa, Mahakuasa atas segala sesuatu, Yang meliputi segala sesuatu.

Dia subhanahu wa ta’ala menciptakan manusia dalam kehidupan dunia ini untuk beribadah kepada-Nya dan menaati-Nya. Dia subhanahu wa ta’ala menjadikan manusia di dunia ini dalam keadaan diuji dan diberi cobaan, untuk dibalas-Nya orang yang beruntung mengikuti perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya dengan surga.

Sebaliknya, pelaku maksiat yang menyelisihi perintah-Nya dan justru melakukan larangan-Nya akan dibalas-Nya dengan neraka. Di dalam surga ada kenikmatan abadi yang tidak akan sirna. Di dalam neraka, ada azab yang pedih yang tidak akan sanggup dipikul.

Apabila seorang muslim mengetahui hal tersebut, tentu akan muncul pada dirinya rasa takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan berharap dengan apa yang ada di sisi-Nya.

Untukmu (wahai penanya), hendaknya menjauhi segala hal yang dapat membangkitkan syahwatmu, seperti tempat-tempat orang tidak memakai busana[4] (atau berpakaian minim), nyanyian, alat musik, dan memandang wanita (nonmahram).

Anda harus bermajelis (duduk berkawan) dengan orang-orang saleh. Anda menyibukkan diri dengan urusan-urusan dunia yang bermanfaat dan tentu saja menyibukkan diri dengan urusan agama. Bacalah beberapa kitab yang bisa memberimu faedah, seperti kitab Riyadhush Shalihin. Bersamaan dengan itu, Anda memperbanyak tilawah al-Qur’an.

Siapa yang selamat dari maksiat ini, diharapkan dia beroleh kebaikan, bertambah derajatnya, dan tinggi kedudukannya di akhirat. Ini berdasarkan hadits yang sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ

“Ada tujuh golongan yang Allah subhanahu wa ta’ala naungi mereka dalam naungan-Nya pada hari tidak ada naungan kecuali naungan-Nya….”

Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tujuh golongan tersebut, di antaranya,

شَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللهِ، وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصَبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ: إِنِّي أَخَافُ اللهَ

Anak muda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan seorang lelaki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan, namun si lelaki berkata, “Sungguh, aku takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala.”[5]

Wa billahi at-taufiq. (Fatwa no. 14778)


Saudara Lelaki Jadi Wali, Ayah Masih Ada

Ada wanita dinikahkan oleh saudara lelakinya padahal ayah atau kakeknya masih hidup. Peralihan wali tersebut dengan persetujuan sang ayah atau kakek. Apakah sah akad nikah tersebut?

Jawab:

Apabila wali yang jauh menikahkan seorang wanita padahal ada wali yang lebih dekat, dalam keadaan wali yang lebih dekat tersebut tidak memiliki alasan syar’i untuk dialihkan perwaliannya, tidak ada pula wasiat atau pesan darinya untuk memindahkan hak perwaliannya, akad nikah tersebut batil, tidak sah pernikahan tersebut.

Sebab, wali yang lebih jauh tidak memiliki hak perwalian terhadap si wanita apabila ada wali yang lebih dekat dan lebih berhak daripada dirinya.

Akan tetapi, apabila yang berhak menikahkan seorang wanita (sebagai walinya) menyerahkan hak perwaliannya kepada wali yang di bawahnya atau mewasiatkan kepada orang yang pantas menjadi wali untuk menikahkan wanita yang di bawah perwaliannya, akad tersebut dibolehkan. Artinya, pernikahan tersebut sah.

Sebab, si wali berhak menyerahkan perwaliannya kepada orang yang diwakilkannya untuk menduduki posisinya. Berdasarkan hal ini, saudara lelaki boleh mengurusi akad nikah saudari perempuannya, jika memang wali yang lebih berhak telah mewakilkan dan menyerahkan urusan kepadanya.

Wa billahi at-taufiq. (Fatwa no. 19627)


Berjabat Tangan dengan Mantan Istri Ayah

Ayahku pernah menikah dengan seorang wanita, tetapi ayahku menalaknya sebelum “mencampuri”-nya. Apakah aku boleh menemui mantan istri ayahku, mengucapkan salam kepadanya, dan berjabat tangan dengannya?

Jawab:

Wanita yang telah melangsungkan akad nikah dengan ayahmu, walau kemudian dicerai sebelum ayahmu “mencampuri”-nya, dia telah menjadi haram bagimu dengan pengharaman selamanya (tidak terbatas waktu)[6].

Jadi, Anda termasuk dari kalangan mahram si wanita, berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَلَا تَنكِحُواْ مَا نَكَحَ ءَابَآؤُكُم مِّنَ ٱلنِّسَآءِ إِلَّا مَا قَدۡ سَلَفَۚ إِنَّهُۥ كَانَ فَٰحِشَةٗ وَمَقۡتٗا وَسَآءَ سَبِيلًا ٢٢

“Dan janganlah kalian menikahi wanita-wanita yang pernah dinikahi oleh ayah-ayah kalian kecuali kejadian yang telah lampau (sebelum datangnya larangan). Sesungguhnya menikahi mantan istri ayah merupakan perbuatan yang amat keji, dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh).” (an-Nisa: 22)

Wa billahi at-taufiq. (Fatwa no. 20503)


Menikahi Mantan Istri Ayah & Mantan Istri Anak

Apakah boleh seorang lelaki menikahi mantan istri ayahnya jika ayahnya belum sempat “bercampur” dengan si mantan istri?

Bolehkah seorang ayah menikahi mantan istri putranya jika si putra belum sempat “bercampur” dengan mantannya?

Jawab:

Istri ayah—walaupun ayah karena hubungan penyusuan[7]—dan istri semua kakek seterusnya ke atas[8], haram dinikahi untuk selama-lamanya oleh putra si ayah atau cucu si kakek walaupun terus ke garis bawah[9], dengan semata-mata berlangsungnya akad nikah, walaupun belum terjadi “percampuran”.

Bahkan, meski belum berduaan sekali pun. Hal ini berdasarkan keumuman firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَلَا تَنكِحُواْ مَا نَكَحَ ءَابَآؤُكُم مِّنَ ٱلنِّسَآءِ إِلَّا مَا قَدۡ سَلَفَۚ إِنَّهُۥ كَانَ فَٰحِشَةٗ وَمَقۡتٗا وَسَآءَ سَبِيلًا ٢٢

“Dan janganlah kalian menikahi wanita-wanita yang pernah dinikahi oleh ayah-ayah kalian kecuali kejadian yang telah lampau (sebelum datangnya larangan). Sesungguhnya menikahi mantan istri ayah merupakan perbuatan yang amat keji, dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh).” (an-Nisa: 22)

Demikian pula apabila seorang lelaki telah melangsungkan akad nikah dengan seorang wanita, wanita tersebut menjadi haram untuk dinikahi oleh ayah si lelaki (mertuanya), kakek si lelaki (kakek mertua), dan seterusnya ke atas[10].

Keharaman ini bersifat abadi, baik hubungan ayah-anak itu karena nasab maupun karena penyusuan, walaupun pasangan tersebut belum “bercampur” dan belum khalwat/berdua-duaan. Yang menunjukkan hal ini adalah keumuman firman Allah subhanahu wa ta’ala yang menyebutkan wanita-wanita yang haram dinikahi oleh seorang lelaki,

وَحَلَٰٓئِلُ أَبۡنَآئِكُمُ ٱلَّذِينَ مِنۡ أَصۡلَٰبِكُمۡ

“Dan istri-istri dari putra-putra kandung kalian.” (an-Nisa: 23)

dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

يُحْرَمُ مِنَ الرَّضَاعَةِ مَا يُحْرَمُ مِنَ النَّسَبِ

“Diharamkan karena penyusuan apa yang diharamkan karena nasab.”[11]

Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan dalam ayat bahwa yang haram dinikahi adalah mantan istri dari anak lelaki kandung untuk mengecualikan dari anak lelaki angkat. Perbuatan mengangkat anak lantas dinasabkan kepada ayah angkatnya[12] dahulu dilakukan oleh orang-orang jahiliah dan Islam datang mengharamkannya.

Wa billahi at-taufiq. (Fatwa no. 19764)

[1] Saat itu diketuai oleh Samahatusy Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah. Semua fatwa yang akan disebutkan dalam lembar fatwa kali ini dari al-Lajnah ad-Daimah, dinukil dari kitab Fatawa al-Lajnah ad-Daimah, kitab an-Nikah, jilid 17. (–pent.)

[2] Dinyatakan dha’if oleh al-Imam al-Albani rahimahullah dalam adh-Dhaifah dan Dhaif al-Jami’ no. 5599. –pent.

[3] Hadits ini hasan sebagaimana dalam ash-Shahihah no. 625 dan Shahih al-Jami’ no. 430 dengan lafadz,

إِذَا تَزَوَّجَ الْعَبْدُ فَقَدْ اسْتَكْمَلَ نِصْفَ الدِّيْنِ، فَلْيَتَّقِ اللهَ فِي النِّصْفِ الْبَاقِي

[4] Seperti kolam renang atau pantai tempat wisata. (–pent.)

[5] HR. Muslim. (-pent.)

[6] Diharamkan untuk menikah dengan mantan istri ayah (ibu tiri) selama-lamanya, dengan semata-mata akad, tidak dipersyaratkan harus “bercampur”. (–pent.)

[7] Bukan ayah kandung/karena hubungan nasab. (-pent.)

[8] Kakek langsung (ayahnya ayah) atau kakek buyut (kakeknya ayah) dan terus ke atas. (-pent.)

[9] Maksudnya, cucu dan seterusnya ke bawah dari garis keturunan seseorang, seperti cicit (anaknya cucu), anaknya cicit (cucunya cucu), dst. (-pent.)

[10] Buyut suami, ayah dari buyut suami, kakeknya, dan seterusnya. (-pent.)

[11] HR. Muslim. Kesimpulannya, mantan istri anak laki-laki kandung atau anak laki-laki karena susuan haram selamanya untuk dinikahi oleh ayah mertuanya. (-pent.)

[12] Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukannya sebelum turun ayat yang melarang. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan Zaid bin Haritsah radhiallahu ‘anhu sebagai anak angkat yang sangat beliau sayangi. Sampai-sampai Zaid dipanggil dengan Zaid bin Muhammad. Islam datang membatalkan kebiasaan jahiliah ini dan memerintahkan agar anak angkat dipanggil dengan penasaban kepada orang tua yang melahirkannya, bukan kepada orang tua angkatnya.

Menikahi mantan istri anak angkat tidak diharamkan oleh syariat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi Zainab bintu Jahsyin radhiallahu ‘anhu, mantan istri Zaid bin Haritsah radhiallahu ‘anhu. (-pent.)

Tak Ingin Menjadi yang Mayoritas…

Jumlah yang banyak sering kali menjadi tujuan dan kebanggaan. Akan tetapi, menurut syariat agama ini jumlah yang banyak bukanlah standar kebaikan, justru sebaliknya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          وَإِن تُطِعۡ أَكۡثَرَ مَن فِي ٱلۡأَرۡضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِۚ

“Jika engkau menaati kebanyakan orang yang ada di muka bumi niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (al-An’am: 116)

وَمَآ أَكۡثَرُ ٱلنَّاسِ وَلَوۡ حَرَصۡتَ بِمُؤۡمِنِينَ ١٠٣

“Tidaklah kebanyakan manusia itu beriman walau engkau sangat menginginkan (mereka beriman).” (Yusuf: 103)

          وَقَلِيلٞ مِّنۡ عِبَادِيَ ٱلشَّكُورُ ١٣

“Sedikit dari hamba-hamba-Ku yang mau bersyukur.” (Saba: 13)

Apalagi untuk berita yang satu ini, tentu semua akan berkata, “Aku tak ingin menjadi yang mayoritas.”

Berita apakah gerangan?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan berita besar bahwa penghuni neraka kebanyakannya adalah para wanita. Artinya, mayoritas kaum hawa adalah calon penghuni neraka. Duhai, karena dosa apakah? Silakan baca dan renungkan hadits-hadits berikut ini.

  1. Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu berkata,

خَرَجَ رَسُوْلُ اللهِ إِلَى الْمُصَلَّى فِي أَضْحَى أَوْ فِطْرٍ، فَمَرَّ عَلَى النِّسَاءِ فَقَالَ: يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ، تَصَدَّقْنَ فَإِنِّي أُرِيْتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ. فَقُلْنَ: وَبِمَا يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: تُكْثِرْنَ الْلَّعْنَ، وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ، مَا رَأَيْتُ مِنْ ناَقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِيْنٍ أَذْهَبَ لِلُبِّ الرَّجُلِ الْحَازِمِ مِنْ إِحْدَاكُنَّ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menuju tanah lapang pada hari Idul Adha atau Idul Fithri. Beliau melewati para wanita. Beliau bersabda, “Wahai sekalian kaum wanita, bersedekahlah kalian, karena aku melihat mayoritas kalian adalah penghuni neraka.”

Para wanita pun bertanya, “Kenapa demikian, wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab, “Kalian banyak melaknat dan mengingkari kebaikansuami. Aku belum pernah melihat orang yang kurang akal dan agamanya yang dapat menghilangkan akal lelaki yang kokoh daripada kalian.” (HR. al-Bukhari no. 304 dan Muslim no. 79)

  1. Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أُرِيْتُ النَّارَ فَإِذَا أَكْثَرُ أَهْلِهَا النِّسَاءُ يَكْفُرْنَ. قِيْلَ: أَيَكْفُرْنَ باِللهِ؟ قَالَ: يَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ وَيَكْفُرْنَ الْإِحْسَانَ، لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا، قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ

Diperlihatkan kepadaku neraka, ternyata mayoritas penghuninya adalah para perempuan yang kufur.

Ada yang bertanya, “Apakah mereka kufur kepada Allah ?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mereka mengkufuri suami dan mengkufuri kebaikannya. Seandainya kamu berbuat baik kepada salah seorang dari mereka sepanjang masa, kemudian dia melihat darimu sesuatu (yang tidak disukainya), dia akan berkata, ‘Aku sama sekali tidak pernah melihat kebaikan darimu’.” (HR. al-Bukhari no. 29)

  1. Usamah bin Zaid radhiallahu ‘anhuma menyampaikan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

قُمْتُ عَلَى بَابِ الْجَنَّةِ فَكَانَ عَامَّةَ مَنْ دَخَلَهُ الْمَسَاكِيْنُ وَأَصْحَابُ الْجَدِّ مَحْبُوسُوْنَ غَيْرَ أَنَّ أَصْحَابَ النَّارِ قَدْ أُمِرَ بِهِمْ إِلَى النَّارِ، فَإِذَا عَامَّةُ مَنْ دَخَلَهَا النِّسَاءُ

“Aku berdiri di pintu surga. Ternyata keumuman yang masuk ke dalamnya adalah orang-orang miskin. Adapun orang-orang kaya masih tertahan. Hanya saja, penghuni neraka telah diperintahkan masuk ke dalam neraka, dan teryata keumuman penghuni neraka adalah para perempuan.” (HR. al-Bukhari no. 5196 dan Muslim no. 6872)

  1. Imran radhiallahu ‘anhu menyampaikan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

اِطَّلَعْتُ فِي الْجَنَّةِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا الْفُقَرَاءَ، وَاطَّلَعْتُ فِي النَّارِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ

“Aku melongok ke dalam surga, ternyata aku lihat kebanyakan penghuninya adalah orang-orang miskin. Aku melongok ke dalam neraka, ternyata mayoritas penghuninya adalah para perempuan.” (HR. al-Bukhari no. 5198 dan Muslim no. 6873)

  1. Mutharrif ibnu Abdillah memiliki dua istri. Suatu ketika Mutharrif pulang dari tempat salah seorang istrinya.

Istri yang lain bertanya (dengan cemburu), “Apakah engkau baru kembali dari tempat si Fulanah?”

Mutharrif menjawab, “Aku baru kembali dari tempat Imran bin Hushain. Dia menceritakan kepada kami bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أَقَلَّ ساَكِنِي الْجَنَّةَ النِّسَاءُ

“Sesungguhnya minoritas penduduk surga adalah kaum perempuan.” (HR. Muslim no. 6877)

  1. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَشَرُّ نِسَائِكُمُ الْمُتَبَرِّجَاتُ الْمُتَخَيِّلاَتُ وَهُنَّ الْمُنَافِقَاتُ، لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مِنْهُنَّ إِلاَّ مِثْلُ الْغُرَابِ الْأَعْصَمِ

“Seburuk-buruk istri kalian adalah yang senang bertabarruj dan angkuh. Mereka adalah perempuan-perempuan munafik. Tidak akan masuk surga dari kalangan mereka kecuali semisal burung gagak yang paruh dan kedua kakinya berwarna merah.” (HR. al-Baihaqi dalam Sunannya no. 13478, dinyatakan sahih dalam ash-Shahihah no. 1849)

  1. ‘Ammarah bin Khuzaimah berkisah,

كُنَّا مَعَ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ فِي حَجٍّ أَوْ عُمْرَةٍ. فَلَمَّا كُنَّا بِمَرِّ الظَّهْرَانِ إِذَا نَحْنُ بِامْرَأَةٍ فِي هَوْدَجِهَا وَاضِعَةً يَدَهَا عَلَى هَوْدَجِهَا. فَلَمَّا نَزَلَ دَخَلَ الشِّعْبَ وَدَخَلْنَا مَعَهُ، فَقَالَ: كُنَّا مَعَ رَسُوْلِ اللهِ فِي هَذَا الْمَكَانِ، فَإِذَا نَحْنُ بِغِرْبَانٍ كَثِيْرٍ، فِيْهَا غُرَابٌ أَعْصَمُ أَحْمَرُ الْمِنْقَارِ وَالرِّجْلَيْنِ . فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ :لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مِنَ النِّسَاءِ إِلاَّ كَقَدْرِ هَذَا الْغُرَابِ مَعَ هَذَا الْغِرْبَانِ

Kami pernah bersama ‘Amr ibnul ‘Ash radhiallahu ‘anhu dalam perjalanan haji atau umrah. Tatkala di Marru azh-Zhahran, kami berpapasan dengan seorang perempuan di dalam sekedupnya yang meletakkan tangannya di atas sekedupnya.

Saat kami singgah, ‘Amr masuk ke lembah. Kami pun masuk bersamanya. ‘Amr berkata, “Kami pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di tempat ini. Tiba-tiba, kami berada mendapati sekumpulan burung gagak. Di antaranya ada seekor burung gagak yang paruh dan dua kakinya berwarna merah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kaum perempuan tidak akan masuk surga, kecuali semisal burung gagak ini di antara burung-burung gagak yang lain.” (HR. an-Nasa’i dalam as-Sunan al-Kubra no. 9223)

Al-Hakim meriwayatkan dalam Mustadraknya, perawi hadits ini berkata,

وَاضِعَةٌ يَدَهَا عَلَى هَوْدَجِهَا فِيْهَا خَوَاتِيْمُ

“Si perempuan meletakkan tangannya di atas sekedupnya dalam keadaan cincin-cincin melingkar pada jari-jemarinya.”

Abu Ya’la dalam Musnadnya menyebutkan dengan lafadz,

فَإِذَا نَحْنُ باِمْرَأَةٍ عَلَيْهَا جَبَائِرَأَيْ أَسَاوِرَ فِ مِعْصَمِهَا مِنْ ذَهَبٍ أَوْ فِضَّةٍلَهاَ وَخَوَاتِيْم وَقَدْ بَسَطَتْ يَدَهَا إِلَى الْهَوْدَجِ

“Tiba-tiba kami berpapasan dengan seorang perempuan yang pergelangan tangannya mengenakan gelang-gelang dari emas atau perak, begitu pula pada jemarinya ada cincin-cincin. Si perempuan membentangkan tangannya ke sekedupnya.” (Hadits di atas dinyatakan sahih sanadnya dalam ash-Shahihah no. 1850)

Burung gagak dengan sifat yang disebutkan dalam hadits yaitu ala’sham, sangat jarang ditemukan. Paruhnya berwarna merah, demikian pula kedua kakinya, langka ditemukan pada kumpulan burung gagak. Ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits di atas merupakan kiasan untuk menunjukkan sedikitnya perempuan yang masuk surga. (an-Nihayah fi Gharibil Hadits)

Apabila tidak masuk ke surga, berarti di mana tempatnya?

Wanita menghuni surga karena perbuatan mereka sendiri. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلَا يَظۡلِمُ رَبُّكَ أَحَدٗا ٤٩

“Dan Rabbmu tidaklah menzalimi seorang pun.” (al-Kahfi: 49)

Hadits-hadits di atas tidaklah dimaksudkan untuk membuat kaum perempuan putus asa dari rahmat Allah subhanahu wa ta’ala . Namun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikannya sebagai nasihat dan peringatan kepada mereka dari berbagai hal yang bisa mendatangkan kemurkaan Allah subhanahu wa ta’ala dan hukuman-Nya.

Alangkah pantasnya seorang perempuan yang mengaku beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan hari akhir merenungi hadits-hadits di atas, lalu menjauh dari sebab-sebab datangnya siksa.

Seharusnya seorang muslimah menjaga diri dari perbuatan mencaci maki, tidak bersyukur kepada suami, melupakan kebaikannya, bertabarruj, bersikap angkuh, melakukan tindakan yang meenimbulkan godaan bagi lelaki. Sampai-sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا رَأَيْتُ مِنْ ناَقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِيْنٍ أَذْهَبَ لِلُبِّ الرَّجُلِ الْحَازِمِ مِنْ إِحْدَاكُنَّ

“Aku belum pernah melihat orang yang kurang akal dan agamanya yang dapat menghilangkan akal lelaki yang kokoh daripada kalian.”

Ketika sahabat yang mulia, ‘Amr ibnul Ash radhiallahu ‘anhu, melihat seorang perempuan yang membiarkan tangannya terbuka, terlihat dari luar sekedupnya, dengan tangan dihiasi gelang dan cincin emas, beliau teringat dengan titah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas.

Kira-kira,bagaimana reaksi beliau bila melihat banyak perempuan di masa ini yang tampil keluar rumah dengan bertabarruj, mempertontonkan keindahan tubuh dan perhiasannya, bersolek dengan aneka hiasan, dengan harum semerbak, dan lenggak-lenggok tubuh yang menggoda? Wallahul musta’an.

Tidakkah para perempuan itu bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala? Tidakkah mereka takut saat nanti berdiri di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala untuk mempertanggungjawabkan perbuatan mereka saat hidup di dunia?

Perempuan yang cerdas tentu akan menjauh dari perbuatan yang terlarang tersebut karena rasa takut kepada Allah Rabbul Alamin subhanahu wa ta’ala dan semangat untuk menaati serta meraih ridha-Nya.

Cobalah perempuan yang salihah memerhatikan hadits yang diriwayatkan al-Imam Ahmad rahimahullah dalam Musnadnya dari Abdurrahman bin Auf radhiallahu ‘anhu berikut ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا، قِيْلَ لَهَا: اُدْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ

Jika seorang perempuan menegakkan shalat lima waktu, berpuasa di bulan puasa (Ramadhan), menjaga kemaluannya, dan menaati suaminya, dikatakan kepadanya (pada hari kiamat kelak), “Masuklah engkau ke dalam surga dari pintu mana saja yang engkau mau.”

Berbahagialah perempuan muslimah dengan janji yang mulia dan keutamaan yang agung ini. Dia selalu membingkai cerita hidupnya dalam ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, berpegang teguh dengan Kitabullah, melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Bergembiralah dia pada hari kiamat kelak dengan keridhaan Rabbnya, pahala yang besar, selamat dari azab neraka; tidak menjadi yang mayoritas, bahkan sukses memasuki Darussalam nan penuh kenikmatan.

وَٱلَّذِينَ يُمَسِّكُونَ بِٱلۡكِتَٰبِ وَأَقَامُواْ ٱلصَّلَوٰةَ إِنَّا لَا نُضِيعُ أَجۡرَ ٱلۡمُصۡلِحِينَ ١٧٠

“Orang-orang yang berpegang teguh dengan Kitabullah dan mereka menegakkan shalat, sungguh Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat islah (melakukan perbaikan di muka bumi dengan amal ketaatan).” (al-A’raf: 170)

Wallahul Musta’an.

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

Hijab & Anak-Anak

Tidak Wajib Berhijab di Hadapan Anak yang Belum Baligh

Pernah ditanyakan kepada al-Lajnah Daimah lil Buhuts al-’Ilmiyah wal Ifta’,

“Apakah ada dalil bahwa seorang wanita harus berhijab bila ditemui oleh anak kecil yang berusia 7 atau 9 tahun? Sebab, ada wanita yang jika melihat anak berusia tujuh tahun, dia mengenakan penutup wajahnya. Tentu tidak diragukan lagi, wahai Syaikh, wanita harus berhijab apabila bertemu dengan laki-laki yang sudah baligh. Ini hal yang disepakati.

Namun, apakah ada dalil tentang anak-anak? Jika memang harus berhijab, apakah makna ayat,

أَوِ ٱلطِّفۡلِ ٱلَّذِينَ لَمۡ يَظۡهَرُواْ عَلَىٰ عَوۡرَٰتِ ٱلنِّسَآءِۖ

“Atau anak laki-laki yang belum mengerti tentang aurat wanita.”

Kami mengharapkan jawaban Anda.

Jawab:

Hijab wanita wajib hukumnya (bila berhadapan, -pent.) dengan lakilaki baligh yang bukan mahramnya. Adapun terhadap anak-anak atau laki-laki dari kalangan mahramnya, wanita tidak wajib berhijab. Sebab, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلَا يُبۡدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنۡهَاۖ وَلۡيَضۡرِبۡنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّۖ وَلَا يُبۡدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوۡ ءَابَآئِهِنَّ أَوۡ ءَابَآءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوۡ أَبۡنَآئِهِنَّ أَوۡ أَبۡنَآءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوۡ إِخۡوَٰنِهِنَّ أَوۡ بَنِيٓ إِخۡوَٰنِهِنَّ أَوۡ بَنِيٓ أَخَوَٰتِهِنَّ أَوۡ نِسَآئِهِنَّ أَوۡ مَا مَلَكَتۡ أَيۡمَٰنُهُنَّ أَوِ ٱلتَّٰبِعِينَ غَيۡرِ أُوْلِي ٱلۡإِرۡبَةِ مِنَ ٱلرِّجَالِ أَوِ ٱلطِّفۡلِ ٱلَّذِينَ لَمۡ يَظۡهَرُواْ عَلَىٰ عَوۡرَٰتِ ٱلنِّسَآءِۖ وَلَا يَضۡرِبۡنَ بِأَرۡجُلِهِنَّ لِيُعۡلَمَ مَا يُخۡفِينَ مِن زِينَتِهِنَّۚ وَتُوبُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ ٣١

“Dan hendaknya mereka tidak menampakkan perhiasan mereka kecuali apa yang biasa tampak dari mereka, dan hendaknya mereka menutupkan kain kerudung ke dada mereka, dan hendaknya mereka tidak menampakkan perhiasan mereka kecuali kepada suami mereka, atau ayah-ayah mereka, atau ayah-ayah suami mereka, atau anak laki-laki mereka, atau anak laki-laki suami mereka, atau saudara laki-laki mereka, atau anak laki-laki saudara mereka, atau anak laki-laki saudari mereka, atau wanita-wanita mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau laki-laki yang tidak memiliki keinginan terhadap wanita, atau anakanak yang belum mengerti tentang aurat wanita, dan hendaknya mereka tidak memukulkan kaki-kaki mereka agar diketahui perhiasan mereka, dan bertobatlah kalian semua kepada Allah, mudah-mudahan kalian beruntung.” (an-Nur: 31)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman pula,

       وَإِذَا بَلَغَ ٱلۡأَطۡفَٰلُ مِنكُمُ ٱلۡحُلُمَ فَلۡيَسۡتَ‍ٔۡذِنُواْ كَمَا ٱسۡتَ‍ٔۡذَنَ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡۚ

“Dan apabila anak-anak kalian telah sampai pada usia baligh, hendaknya mereka meminta izin sebagaimana orang-orang sebelum mereka meminta izin.” (an-Nur: 59)

(Fatawa al-Lajnah no. 16390)

 

Kapan Anak Laki-laki Dilarang Masuk Menemui Wanita?

Pernah ditanyakan kepada al-Lajnah Daimah lil Buhuts al-’Ilmiyyah wal Ifta’,

“Kapan anak laki-laki dilarangmasuk menemui wanita yang bukan mahramnya? Dan apa makna firman Allah,

أَوِ ٱلطِّفۡلِ ٱلَّذِينَ لَمۡ يَظۡهَرُواْ عَلَىٰ عَوۡرَٰتِ ٱلنِّسَآءِۖ

“Atau anak laki-laki yang belum mengerti tentang aurat wanita.”

Jawab:

Jika anak laki-laki itu masih kecil dan belum ihtilam, belum paham sedikit pun tentang berbagai keadaan wanita, tidak mengapa dia masuk menemui wanita.Para wanita pun tidak harus berhijab darinya.

Adapun makna firman Allah subhanahu wa ta’ala,

أَوِ ٱلطِّفۡلِ ٱلَّذِينَ لَمۡ يَظۡهَرُواْ عَلَىٰ عَوۡرَٰتِ ٱلنِّسَآءِۖ

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Karena kecilnya (usia, -pent.) mereka, mereka belum memahami segala macam keadaan wanita dan auratnya, seperti ucapan mereka yang lembut, gemulainya mereka ketika berjalan, gerakan dan diamnya mereka. Jika si anak masih kecil, belum memahami itu semua, ia boleh masuk menemui wanita.”

(Fatawa al-Lajnah no. 6011)

 

Usia Anak Laki-laki yang Mewajibkan Wanita Berhijab Darinya

Fadhilatusy Syaikh Ibnu ’Utsaimin rahimahullah pernah ditanya,

“Berapa batasan usia anak laki-laki yang para wanita diwajibkan berhijab darinya? Apakah usia tamyiz ataukah baligh?”

Jawab:

“Allah subhanahu wa ta’ala berfirman ketika menerangkan pihak yang para wanita boleh menampakkan perhiasan mereka kepadanya,

أَوِ ٱلطِّفۡلِ ٱلَّذِينَ لَمۡ يَظۡهَرُواْ عَلَىٰ عَوۡرَٰتِ ٱلنِّسَآءِۖ

“Atau anak kecil yang belum mengerti tentang aurat wanita.”

Jika anak kecil telah mengerti aurat wanita sehingga tertarik memandang wanita dan sering membicarakan tentang mereka, wanita tidak boleh membuka hijab di hadapannya. Ini berbeda-beda tergantung dengan siapa mereka biasa bergaul. Terkadang anak kecil punya pikiran tertentu tentang wanita karena sering bergaul dengan orang-orang yang sering membicarakan wanita. Kalau tidak demikian, biasanya anak kecil tidak punya perhatian khusus terhadap wanita.

(Majmu’atu As’ilah Tuhimmul Usrah)

 

Batasan Usia Anak Perempuan Harus Berhijab

Pernah ditanyakan kepada al-Lajnah Daimah lil Buhuts al-’Ilmi yah wal Ifta’,

“Berapa batasan usia seorang remaja putri diwajibkan mengenakan hijab? Apakah kami juga harus mewajibkannya terhadap para siswi, meski mereka tidak suka mengenakannya?”

Jawab:

“Jika anak perempuan telah mencapai usia baligh, dia wajib mengenakan pakaian yang menutup seluruh auratnya, termasuk wajah, kepala, dan telapak tangan, baik dia seorang siswi maupun bukan.

Walinya wajib mengharuskan dia untuk mengenakannya jika dia enggan. Semestinya, walinya melatihnya berhijab sebelum dia mencapai usia baligh sehingga akan terbiasa dan akhirnya mudah untuk melaksanakannya.”

(Fatawa al-Lajnah no. 4470)

 

Anak Perempuan Keluar Tanpa Mengenakan Hijab

Pernah ditanyakan kepada Lajnah Daimah lil Buhuts al-’Ilmiyyah wal Ifta’,

“Bagaimana hukum anak perempuan yang belum baligh, bolehkah keluar tanpa mengenakan hijab? Bolehkah dia shalat tanpa mengenakan kerudung?”

Jawab:

“Wajib atas wali anak itu untuk mendidiknya dengan adab Islami. Maka dari itu, walinya harus memerintah si anak agar tidak keluar rumah kecuali mengenakan pakaian yang menutup auratnya karena dikhawatirkan terjadi fitnah. Di samping itu, perintah ini juga agar anak mengenal akhlak yang mulia, sehingga dia tidak menjadi penyebab tersebarnya kerusakan.

Selain itu, hendaknya wali juga memerintahnya untuk shalat mengenakan kerudung. Kalaupun dia shalat tanpa mengenakan kerudung, shalatnya sah. Sebab, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَقْبَلُ اللهُ صَلَاةَ حَائِضٍ إِلاَّ بِخِمَارٍ

“Allah tidak menerima shalat seorang wanita yang telah haid kecuali dengan mengenakan kerudung.”

(Fatawa al-Lajnah no. 4246)

(Dinukil dan diterjemahkan oleh Ummu ‘Abdirrahman bintu ‘Imran dengan sedikit perubahan dari Fatawa Tarbiyatil Aulad, al-Qismu al-’Ilmi Dar al-Ikhlash wa ash-Shawab, cetakan ke-2, 1435H/2014M, hlm. 39—43)

Wanita dalam Istananya

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفۡسٖ وَٰحِدَةٖ وَخَلَقَ مِنۡهَا زَوۡجَهَا وَبَثَّ مِنۡهُمَا رِجَالٗا كَثِيرٗا وَنِسَآءٗۚ

“Wahai sekalian manusia, bertakwalah kalian kepada Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dari jiwa yang satu, dan dari jiwa yang satu itu Dia menciptakan pasangannya, dan dari keduanya Dia memperkembangbiakkan lelaki dan perempuan yang banyak.” (an-Nisa’: 1)

Dalam ayat di atas, Rabb kita memberitakan bahwa bangsa manusia itu awalnya dari satu keluarga, dari sepasang suami istri, bapak kita, Adam dan ibu kita, Hawwa. Dari pasangan tersebut Allah subhanahu wa ta’ala mengembangbiakkan keluarga yang banyak.

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman,

وَهُوَ ٱلَّذِي خَلَقَ مِنَ ٱلۡمَآءِ بَشَرٗا فَجَعَلَهُۥ نَسَبٗا وَصِهۡرٗاۗ وَكَانَ رَبُّكَ قَدِيرٗا ٥٤

“Dia-lah yang menciptakan manusia dari air (mani), lalu Dia jadikan manusia tadi memiliki nasab (keturunan) dan periparan (atau hubungan yang terjalin karena pernikahan).” (al-Furqan: 54)

Dari satu keluarga manusia berasal, kemudian berkembang menjadi keluarga yang banyak. Keluarga-keluarga baru tersebut terbentuk dengan adanya pernikahan. Seandainya tidak ada pembentukan keluarga lewat pernikahan yang sah, niscaya bangsa manusia akan hidup dalam kekacauan dan tidak dapat berkembang dengan tatanan yang semestinya.

Karena pentingnya keberadaan keluarga bagi kelangsungan hidup umat manusia, Islam mendorong pemeluknya untuk membentuk keluarga manakala ada kemampuan untuk itu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepada para pemuda,

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ...

“Wahai sekalian pemuda, siapa di antara kalian yang memil iki kemampuan, hendaknyalah dia menikah….” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam sabda yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengasung para lelaki yang ingin menikah untuk memilih wanita yang bisa melahirkan keturunan yang banyak.

Bagaimana caranya?

Tentu dengan melihat ibu atau saudari si perempuan; berapa anak yang dilahirkan ibunya, atau berapa anak yang dimiliki sejumlah saudarinya yang telah menikah. Sebab, biasanya seseorang itu menyerupai karib kerabatnya. (Aunul Ma’bud, Kitab an-Nikah, Bab an-Nahyu ‘an Tazawwuj Man lam Yalid min an-Nisa’)

Pertimbangan ini menjadi sangat penting ketika memilih perempuan yang akan dinikahi. Seperti yang dinyatakan di atas sang Rasul-lah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memerintahkannya,

تَزَوَّجُوْا الْوَدُوْدَ الْوَلُوْدَ فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ الْأُمَم

“Menikahlah kalian dengan perempuan yang penyayang lagi subur rahimnya karena aku berbangga-bangga dengan banyaknya kalian di hadapan umat-umat (yang lain).(HR. Abu Dawud dan an-Nasa’i. Hadits ini hasan sahih sebagaimana dalam Irwa’ul Ghalil no. 1784 dan Adab az-Zafaaf hlm. 61)

Karena ada perintah demikian, berarti seorang lelaki dilarang menikahi seorang perempuan yang diketahui mandul atau sulit memiliki keturunan, walau mengagumkan parasnya.

Karena itulah, al-Imam Abu Dawud rahimahullah memberi judul dalam Shahihnya untuk hadits di atas, Bab “an-Nahyu ‘an Tazawwuj Man lam Yalid min an-Nisa’”. Artinya, Bab “Larangan Menikah dengan Perempuan yang Tidak Bisa Melahirkan (Mandul)”.

Al-Imam an-Nasa’i rahimahullah memberinya judul Bab “Karahiyah Tazwij al-’Aqim”, artinya Bab “Dibenci Menikahi Perempuan yang Mandul”.

Hadits di atas sendiri dititahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena suatu sebab, sebagaimana penuturan sahabat yang mulia berikut ini. Ma’qil bin Yasar radhiallahu ‘anhu berkata, “Seorang lelaki menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, ‘Saya tertarik dengan seorang perempuan yang berparas cantik dan bernasab tinggi, hanya saja dia tidak bisa melahirkan. Apakah boleh saya menikahinya?’

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Tidak boleh.’

Lelaki itu datang lagi pada kali yang kedua untuk meminta izin menikahi si perempuan, namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap melarangnya. Demikian juga pada kali yang ketiga, ia masih meminta izin untuk menikahi si perempuan yang mandul. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu memberikan bimbingan di atas.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengaitkan sifat wadud (sangat mencintai)[1] dengan walud (banyak melahirkan atau subur rahimnya). Sebab, rasa cinta merupakan perantara kepada “hubungan” yang menjadi sebab terciptanya keturunan. (Sunan an-Nasa’i dengan Hasyiyah al-Imam as-Sindi, 6/66)

Semua itu bertujuan untuk memperbanyak populasi umat dan keluarga yang terbentuk dalam Islam.

Syariat Islam mengatur tatanan keluarga dan menjaganya agar tidak tercerai berai. Karena itulah, dalam Islam ada hukum-hukum yang mengatur tentang pernikahan, talak, iddah, hak ayah dan ibu, dan selainnya. Ini menunjukkan pentingnya keberadaan keluarga dalam Islam, karena memang keluarga adalah tempat tumbuhnya generasi umat manusia.

Bagaimana keadaan keluarga, maka demikianlah gambaran masa depan umat. Apabila keluarga dalam masyarakat Islam baik, baik pula masa depan umat ini.

 

Peran Penting Kaum Hawa dalam Keluarga

Perempuan adalah pilar yang penting dalam bangunan keluarga. “Di belakang setiap tokoh, ada perempuan yang mendidiknya”, kalimat ini bukan sekadar isapan jempol, namun memang pantas diucapkan.

Lantas, mengapa ada tudingan bahwa perempuan yang mengkhususkan diri untuk “mengurusi” rumah dan keluarganya adalah pengangguran? Tidak memberikan keuntungan materi bagi masyarakatnya, bahkan merugikan setengah dari potensi masyarakat manusia?

Sungguh,tuduhan yang tidak berdasar!

Sadarilah, sebagai ibu di rumah tangganya, seorang perempuan tidak hanya bertugas mengandung dan melahirkan ‘manusia’. Di pundaknya ada tanggung jawab tarbiyah guna mempersiapkan pribadi yang saleh.

Tugas perempuan di rumahnya membutuhkan keahlian khusus: ilmu, pemikiran, ketelitian, strategi, kelembutan, dan kasih sayang, yang sejatinya kaum lelaki tidak sanggup mengembannya.

Pekerjaan perempuan di rumahnya bernilai ibadah, bukan sekadar rutinitas, bila dia niatkan untuk beroleh pahala dan ridha Ilahi. Pekerjaannya memiliki ruh yang bisa dirasakan oleh orang yang mengerti tujuan kehidupan dan rahasia adanya manusia.

Demikian kata alim yang mulia Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah. (Dari ceramah yang beliau sampaikan di Riyadh pada tanggal 6/11/1411 H, berjudul Daur al-Mar’ah fi Tarbiyah al-Usrah)

Kita akan menengok apa saja tugas perempuan di rumahnya yang insya Allah mengantarkan kita kepada kesimpulan bahwa tugasnya tersebut tidak bisa dianggap remeh. Ia justru bernilai amat agung.

  1. Di rumahnya, seorang perempuan bisa dengan tenang menunaikan ibadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala

Untuk itulah manusia dicipta, untuk menghamba kepada-Nya.

وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ ٥٦

“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (adz-Dzariyat: 56)

Karena itu pula, tatkala para ibu orang-orang yang beriman ‘ummahatul mukminin’, istri Khairul Anam (sebaik-baik manusia) shallallahu ‘alaihi wa sallam, diperintah untuk berdiam di rumah mereka—semoga Allah subhanahu wa ta’ala meridhai mereka semuanya—Allah subhanahu wa ta’ala mengarahkan mereka untuk melakukan ibadah kepada-Nya di dalam rumah mereka.

          وَقَرۡنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجۡنَ تَبَرُّجَ ٱلۡجَٰهِلِيَّةِ ٱلۡأُولَىٰۖ وَأَقِمۡنَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتِينَ ٱلزَّكَوٰةَ وَأَطِعۡنَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓۚ

 “Dan berdiamlah kalian (wahai istri-istri Nabi) di dalam rumah-rumah kalian, janganlah bertabarruj sebagaimana tabarrujnya orang-orang jahiliah yang awal, tegakkanlah shalat, bayarkanlah zakat, serta taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya.” (al-Ahzab: 33)

Walaupun pelaksanaan syiar-syiar ibadah seperti shalat, puasa, zakat, dan semisalnya, termasuk tujuan ibadah yang terbesar, sebenarnya ibadah itu lebih luas lagi cakupan dan maknanya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mendefinisikan ibadah sebagai,

اِسْمٌ جَامِعٌ لِكُلِّ مَا يُحِبُّهُ اللهُ وَيَرْضَاهُ مِنَ الْأَقْوَالِ وَالْأَفْعَالِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ

“Nama yang mencakup seluruh perkara yang Allah subhanahu wa ta’ala cintai dan ridhai, baik ucapan dan perbuatan, yang lahir dan yang batin.” (Fathul Majid Syarhu Kitab at-Tauhid, hlm. 17)

Menunaikan ibadah dengan baik dan benar merupakan pendukung terbesar bagi wanita untuk menjalankan perannya dengan sebaik-baiknya di dalam rumahnya.

Wanita salihah yang menunaikan ibadah kepada Rabbnya dengan khusyuk dan thuma’ninah akan memberi pengaruh yang besar terhadap orang-orang di dalam rumahnya, baik itu anak-anaknya maupun selainnya.

Ketika seorang wanita mukminah membaguskan wudhu, misalnya, kemudian berdiri di hadapan Rabbnya dengan tunduk khusyuk, niscaya makna ini akan membekas pada anak-anaknya sebagai qudwah hasanah atau teladan. Ini akan menambah makna bimbingan yang dia berikan lewat ucapan.

 

  1. Wanita di rumahnya adalah sakan, memberikan ketenangan dan ketenteraman bagi suaminya.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          وَمِنۡ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنۡ خَلَقَ لَكُم مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ أَزۡوَٰجٗا لِّتَسۡكُنُوٓاْ إِلَيۡهَا وَجَعَلَ بَيۡنَكُم مَّوَدَّةٗ وَرَحۡمَةًۚ

 “Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari jenis kalian agar kalian merasa tenang kepadanya (istri tersebut) dan Dia menjadikan di antara kalian mawaddah dan rahmah.” (ar-Rum: 21)

Sakan adalah kalimat yang mencakup makna menetapi, ketenangan, dan kesenangan di dalam rumah. Al-Imam asy-Syaukani rahimahullah berkata tentang ayat لِّتَسۡكُنُوٓاْ إِلَيۡهَا, “Kalian merasa akrab dengannya dan condong/cenderung hati kalian kepadanya.” (Fathul Qadir, 4/263)

Sebelumnya, perhatikanlah! Di dalam ayat di atas Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan dengan lafadz , لِّتَسۡكُنُوٓاْ إِلَيۡهَا (sakan ila) yang berarti, “agar kalian merasa tenang kepadanya.”

Allah subhanahu wa ta’ala tidak menyebutkan dengan lafadz لِّتَسۡكُنُوٓاْ مَعَهَا (sakan ma’a), karena sakan bersama sesuatu (sakan ma’a) sifatnya umum, bisa disertai kecintaan kepada sesuatu tersebut dan bisa pula tanpa cinta.

Adapun sakan kepada sesuatu (sakan ila), mengandung makna yang lebih besar, berupa kedekatan, cinta, kecondongan, dan ketenangan. Sepanjang apa pun pencarian seseorang dalam hidupnya guna beroleh teman yang dapat membuatnya tenang dan jiwanya tenteram saat berdekatan, dia tidak akan dapatkan teman yang semisal seorang istri.

Sebaliknya juga demikian, seorang perempuan tidak akan beroleh teman semisal suami. Inilah fitrah insan yang kita tidak bisa lari dan lepas darinya.

Seorang perempuan tidak akan mampu menjadi sakan bagi suaminya sampai dia memahami hak suaminya dan kedudukannya , kemudian menunaikannya dalam rangka menaati Rabbnya, dengan hati gembira dan ridha.

Mengapa wanita harus memerhatikan muamalahnya dengan suaminya?

Jawabannya, karena Islam mengukuhkan tingginya kedudukan suami atas istrinya dan besarnya hak suami terhadap istrinya. Hadits-hadits berikut ini memberikan gambarannya, maka pahamilah, wahai para istri.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدٍ, لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا مِنْ عِظَمِ حَقِّهِ عَلَيْهَا

“Seandainya aku boleh memerintah seseorang untuk sujud kepada orang lain, niscaya aku akan memerintah seorang istri untuk sujud kepada suaminya karena besarnya hak suami terhadapnya.” (HR. Ahmad, sahih dalam Irwa’ul Ghalil no. 1998 dan ash-Shahihah no. 3366)

Bibi Hushain bin Mihshan radhiallahu ‘anhu pernah menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya,

أَ ذَاتُ زَوْجٍ أَنْتِ؟ قَالَتْ: نَعَمْ. قاَلَ: كَيْفَ أَنْتِ لَهُ؟ قاَلَتْ: مَا آلُوْهُ إِلاَّ مَا عَجَزْتُ عَنْهُ. قَالَ: فَانْظُرِيْ أَيْنَ أَنْتِ مِنْهُ, فَإِنَّمَا هُوَ جَنَّتُكِ وَ نَارُكِ

“Apakah engkau punya suami?”

Dia menjawab, “Ya.”

Kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lagi, “Bagaimana yang engkau lakukan terhadap suamimu?”

Dia menjawab, “Aku tidak pernah mengurang-ngurangi dalam menaatinya dan berkhidmat padanya kecuali dalam urusan yang memang aku tidak mampu.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menasihati, “Perhatikanlah di mana keberadaanmu dalam pergaulanmu dengan suamimu, karena dia adalah surga dan nerakamu.” (HR. Ahmad, an-Nasa’i, al-Hakim. Sanadnya sahih, lihat Adabuz Zafaf, hlm. 214 dan ash-Shahihah no. 2612)

Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu menyampaikan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

وَالَّذِي نَفْسِيْ بِيَدِهِ لَوْ كَانَ مِنْ قَدَمِهِ إِلَى مفْرقِ رَأْسِهِ قرْحَةٌ تَجْرِي بِالْقَيْحِ وَالصَّدِيْدِ، ثُمّ اسْتَقْبَلَتْهُ فََلَحِسَتْهُ مَا أَدَّتْ حَقَّهُ

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangannya, seandainya pada telapak kaki sampai belahan rambut suaminya ada luka/borok yang mengucurkan nanah bercampur darah, kemudian istri menghadap suaminya dan menjilati luka/borok tersebut, niscaya dia belum purna menunaikan hak suaminya.” (HR. Ahmad, dinyatakan sahih oleh al-Haitsami 4/9, al-Mundziri 3/55, dan Abu Nu’aim dalam ad-Dalail 137. Catatan kaki Musnad al-Imam Ahmad, 10/513)

Abdul lah ibnu Abi Aufa radhiallahu ‘anhu memberitakan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لاَ تُؤَدِّي الْمَرْأَةُ حَقَّ رَبِّهَا حَتَّى تُؤَدِّيَ حَقَّ زَوْجِهَا، وَلَوْ سَأَلَهَا نَفْسَهَا وَهِيَ عَلى قَتَبٍ لَمْ تَمْنَعْهُ

“Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seorang istri dapat menunaikan hak Rabbnya hingga dia menunaikan hak suaminya. Seandainya suaminya meminta dirinya (mengajaknya jima’) saat dia sedang berada di atas qatab[2], dia tidak boleh mencegah suaminya.” (HR. Ibnu Majah, Ahmad. Lihat ash-Shahihah, no 173)

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أُرِيْتُ النَّارَ فَإِذَا أَكْثَرُ أَهْلِهَا النِّسَاءُ، يَكْفُرْنَ. قِيْلَ: أَيَكْفُرْنَ باِللهِ؟ قَالَ: يَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ وَيَكْفُرْنَ الْإِحْسَانَ، لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا, قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ

Diperlihatkan kepadaku neraka, ternyata mayoritas penghuninya adalah para wanita yang kufur.

Ada yang bertanya, “Apakah mereka kufur kepada Allah subhanahu wa ta’ala?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mereka mengkufuri suami dan mengkufuri kebaikannya. Seandainya kamu berbuat baik kepada salah seorang dari mereka sepanjang masa, kemudian dia melihat darimu sesuatu (yang tidak disukainya), dia akan berkata, ‘Aku sama sekali tidak pernah melihat kebaikan darimu’.” (HR. al-Bukhari)

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَحَصَّنَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ بَعْلَهَا، دَخَلَتْ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شَاءَتْ

“Apabila seorang istri mengerjakan shalat lima waktunya, menjaga kemaluannya, dan menaati suaminya, dia akan masuk surga dari pintu surga mana pun yang dia inginkan.” (HR. ath-Thabarani dalam al-Ausath, Ibnu Hibban dalam Shahihnya sebagaimana dalam at-Targhib, 3/73)

Bahkan, setelah seorang suami wafat mendahului istrinya, dia masih memiliki kedudukan. Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini mengisyaratkan hal tersebut.

لاَ يَحِلُّ مِالْرَأَةٍ تُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ أَنْ تُحِدَّ عَلَى مَيِّتٍ إِلاَّ مِنْ زَوْجٍ تُحِدُّ أَرْبَعَةَ عَشَرَ وَعِشْرِيْنَ

“Tidak halal bagi seorang perempuan yang beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan hari akhir untuk berihdad[3] karena kematian seseorang lebih dari tiga hari, kecuali\ karena kematian suami. Dia harus berihdad selama 4 bulan 10 hari.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

(Insya Allah bersambung)

ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

[1] Hal ini tercapai, wallahu a’lam, dengan menikahi perempuan yang masih gadis/perawan. Sebab, seorang gadis—yang terjaga dalam bimbingan Islam—tidak mengenal selain lelaki yang menikahinya. Dengan demikian, cintanya kepada suaminya adalah cinta yang pertama, atau dia baru mengenal cinta dengan pernikahannya tersebut sehingga benar-benar mencintai suaminya.

Sifat wadud, memiliki rasa cinta yang lebih kepada suami, bisa pula diketahui dengan melihat karib kerabatnya. Ibunya,misalnya,bagaimana cinta ibunya kepada ayahnya.

[2] Qatab adalah rahl (pelana). Dalam ash-Shihhah disebutkan, maknanya adalah pelana kecil seukuran punuk unta.

Makna hadits ini adalah dorongan kepada para istri untuk menaati suami mereka. Sungguh, mereka tidak boleh menolak ajakan suami mereka walau dalam keadaan demikian (di atas pelana). Lantas bagaimana halnya pada keadaan selainnya?

[3] Ihdad berarti meninggalkan perhiasan dan semua yang bermakna berhias.

Mewaspadai Kebangkitan Komunisme

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ ١٠٢

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفۡسٖ وَٰحِدَةٖ وَخَلَقَ مِنۡهَا زَوۡجَهَا وَبَثَّ مِنۡهُمَا رِجَالٗا كَثِيرٗا وَنِسَآءٗۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ٱلَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلۡأَرۡحَامَۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيۡكُمۡ رَقِيبٗا ١

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَقُولُواْ قَوۡلٗا سَدِيدٗا ٧٠ يُصۡلِحۡ لَكُمۡ أَعۡمَٰلَكُمۡ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۗ وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ فَازَ فَوۡزًا عَظِيمًا ٧١

أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كَ مَالُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ وَشَرَّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ

 

Jamaah jumat rahimakumullah,

Perkenankanlah kami pada kesempatan khutbah kali ini menyampaikan informasi seputar bahayanya paham komunisme terhadap NKRI.

Akhir-akhir ini, ada pihak-pihak yang berusaha memunculkan kembali paham yang berbahaya ini di bumi persada. Mereka berupaya dengan memasang poster para tokohnya, menggunakan atribut dan lambang palu arit. Bahkan, ada yang membanggakan dirinya sebagai anak PKI lantas menulis buku untuk menggambarkan kebanggaannya tersebut. Wal ‘iyadzu billah.

 

Jamaah jumat rahimakumullah!

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,

لاَ يُلْدَغُ الْمُؤْمِنُ مِنْ جُحْرٍ وَاحِدٍ مَرَّتَيْنِ

“Tidak sepantasnya seorang mukmin tersengat sampai dua kali dari lubang yang sama.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Kita kaum muslimin yang berwarga negara Indonesia sudah merasa jera dan trauma dengan yang namanya gerakan dan paham komunisme. Sejarah kelam dan tragedi berdarah yang dimotori oleh gerakan komunis jangan sampai terulang lagi di negeri kita tercinta ini.

Sebagaimana yang telah kita ketahui bersama, paham komunisme dicetuskan oleh orang-orang ateis yang antiagama dan tidak percaya dengan adanya Allah.

Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman,

أَمۡ خُلِقُواْ مِنۡ غَيۡرِ شَيۡءٍ أَمۡ هُمُ ٱلۡخَٰلِقُونَ ٣٥

“Apakah mereka tercipta tanpa asal usul ataukah mereka menciptakan diri mereka sendiri?” (ath-Thur: 35)

 

Saudara-saudaraku kaum muslimin… semoga kita dirahmati oleh Allah

Kita telah ridha dengan Allah subhanahu wa ta’ala sebagai Rabb kita, Islam sebagai agama kita, dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai nabi kita. Maka dari itu, kita tidak akan rela paham komunisme ada di tengah-tengah kita.

Agama Islam memiliki konsep:

لاَ ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ

Artinya, menolak madarat terhadap dirinya dan menolak madarat terhadap pihak lain, sebagaimana yang telah disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sungguh, paham komunisme sangatlah bermadarat bagi individu, masyarakat, agama, dan bangsa.

 

Hadirin rahimakumullah,

Mari kita dukung bangsa kita dalam menolak paham komunisme. Agama dan negara kita menolak terorisme, dan komunisme tidak lepas dari praktik terorisme.

Agama dan negara kita menolak tindakan anarkisme (tindakan kekejaman), dan komunisme tidak bisa lepas dari praktik anarkisme.

Semoga taufik Allah senantiasa tercurahkan kepada kita dan para pemimpin negara ini untuk berjalan di atas jalan yang lurus.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآياَتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، أَقُولُ مَا تَسْمَعُونَ وَأَسْتَغْفِرُ اللهِ لِي وَلَكُمْ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمِ

 

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ ا لْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ

Hadirin rahimakumullah,

Memang benar bahwa agama Islam selalu mengajak untuk bersikap adil. Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman,

إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ

“Sesungguhnya Allah memerintahkan agar bersikap adil….” (an-Nahl: 90)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman pula,

ٱعۡدِلُواْ هُوَ أَقۡرَبُ لِلتَّقۡوَىٰۖ

“Bersikap adillah, karena sikap adil lebih dekat kepada takwa.” (al-Maidah: 8)

Pada ayat yang lain,

وَأَقۡسِطُوٓاْۖ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُقۡسِطِينَ ٩

“Dan berbuat adillah, karena sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat adil.” (al-Hujurat: 9)

Sekian banyak ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi yang mengajari kita untuk menjadi orang yang adil.

Akan tetapi, bukan seperti keadilan yang disuarakan oleh orang-orang yang bepemahaman komunis, yang seakan-akan ingin memperjuangkan para petani, pekerja, dan kaum buruh. Padahal apa yang mereka lakukan jauh dari keadilan dan tidak pula membela hak rakyat. Mereka justru merampas hak rakyat.

Sebagai contoh, konsep keadilandalam paham komunisme adalah alat-alat produksi, tanah, modal, dan tenaga kerja menjadi milik bersama, diatur oleh negara; tidak ada kepemilikan individu. Sudah barang tentu, konsep ini bertentangan dengan akal sehat, fitrah, dan syariat Islam

Syariat Islam mengakui adanya kepemilikan manusia secara individu. Akan tetapi, Islam mengatur agar manusia menggunakan hartanya dalam hal-hal bermanfaat dan tidak menimbulkan madarat. Selain itu, Islam mewajibkan umatnya untuk mengeluarkan sebagian kecil dari hartanya sebagai zakat yang disalurkan kepada para fakir miskin.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَن يَبۡتَغِ غَيۡرَ ٱلۡإِسۡلَٰمِ دِينٗا فَلَن يُقۡبَلَ مِنۡهُ وَهُوَ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ ٨٥

“Dan barang siapa memilih selain Islam sebagai agamanya, maka tidak akan diterima darinya, dan di akhirat kelak dia termasuk orang yang merugi.” (Ali Imran: 85)

لاَ حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلاَّ باِللهِ، رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا، وَالْحَمْدُ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Ishaq Abdullah Nahar

Najiskah Tubuh Orang Kafir?

Bismillah. Apakah orang kafir dianggap najis?

 Dijawab oleh al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad as-Sarbini

Masalah orang kafir najis secara fisik atau tidak, termasuk masalah khilafiah di antara alim ulama.

  1. Pendapat bahwa fisik orang kafir yang bernyawa dan mayatnya adalah najis dinyatakan oleh mazhab sebagian fuqaha Zahiriah, seperti Ibnu Hazm az-Zahiri dalam kitab al-Muhalla.

Dalilnya adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala,

          يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِنَّمَا ٱلۡمُشۡرِكُونَ نَجَسٞ فَلَا يَقۡرَبُواْ ٱلۡمَسۡجِدَ ٱلۡحَرَامَ بَعۡدَ عَامِهِمۡ هَٰذَاۚ

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis. Oleh karena itu, janganlah mereka mendekati Masjidil Haram sesudah tahun ini.” (at-Taubah: 28)

Yang dimaksud adalah fisik orang kafir adalah najis sehingga tidak boleh mendekati Masjidil Haram, apalagi memasukinya.

 

  1. Ada pula yang berpendapat bahwa fisik orang kafir yang bernyawa adalah suci seperti kesucian fisik muslim.

Pendapat ini adalah mazhab jumhur (mayoritas) ulama, termasuk empat imam mazhab (Abu Hanifah, Malik, asy-Syafi’i, dan Ahmad).

Pendapat ini dirajihkan (dikuatkan) oleh an-Nawawi, Ibnu Qudamah, as-Sa’di, asy-Syaukani, dan al-‘Utsaimin.

Dalilnya adalah,

  1. Hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu,

بَعَثَ النَّبِيُّ خَيْلاً قِبَلَ نَجْدٍ، فَجَاءَتْ بِرَجُلٍ مِنْ بَنِي حَنِيفَةَ يُقَالُ لَهُ ثُمَامَةُ بْنُ أُثَالٍ، فَرَبَطُوهُ بِسَارِيَةٍ مِنْ سَوَارِي الْمَسْجِدِ، فَخَرَجَ إِلَيْهِ النَّبِيُّ فَقَالَ: أَطْلِقُوا ثُمَامَةَ !فَانْطَلَقَ إِلَى نَخْلٍ قَرِيبٍ مِنَ الْمَسْجِدِ، فَاغْتَسَلَ، ثُمَّ دَخَلَ الْمَسْجِدَ، فَقَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirim pasukan berkuda ke arah Najd. Kemudian pasukan tersebut kembali dengan membawa seorang tawanan dari Bani Hanifah yang bernama Tsumamah bin Utsal. Mereka lantas mengikatnya di salah satu tiang Masjid Nabawi. Saat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menemuinya, beliau berkata, ‘Bebaskan Tsumamah!’ Lalu Tsumamah beranjak ke pohon kurma yang tidak jauh dari Masjid Nabawi, mandi, lalu masuk masjid, lantas berkata, ‘Aku bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang benar selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah’.” (Muttafaq ‘alaih)

Di dalam hadits ini, para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengikat tubuh Tsumamah yang masih kafir di salah satu tiang masjid. Seandainya fisik orang kafir itu najis, tidak mungkin ia dimasukkan ke Masjid Nabawi yang suci.

 

  1. Allah subhanahu wa ta’ala membolehkan memakan sembelihan ahli kitab dan menikah dengan wanita mereka, sebagaimana pada surat al-Ma’idah ayat 5.

Tentu tidak bisa dimungkiri bahwa ahli kitab menjamah sembelihan mereka, dan muslim yang menikahi wanita ahli kitab akan menjamah tubuh istrinya, sementara tidak ada perintah untuk menyucikan diri dari najis akibat persentuhan itu.

 

  1. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membolehkan penggunaan bejana-bejana makan/minum bekas orang kafir tanpa harus dicuci.

Hal ini berdasarkan hadits Jabir radhiallahu ‘anhu,

كُنَّا نَغْزُو مَعَ رَسُولِ اللهِ فَنُصِيبُ مِنْ آنِيَةِ الْمُشْرِكِينَ وَأَسْقِيَتِهِمْ فَنَسْتَمْتِعُ بِهَا فَ يَعِيبُ ذَلِكَ عَلَيْهِمْ

“Adalah kami biasa berperang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian kami berhasil merampas bejana-bejana dan wadah-wadah air dari kulit milik orang-orang musyrik. Lantas kami menggunakannya (untuk makan dan minum). Ternyata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mencela mereka karena hal itu.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud, dinyatakan sahih oleh al-Albani dan al-Wadi’i)[1]

Dalam hadits ‘Imran bin Hushain radhiallahu ‘anhu yang panjang, di antara isinya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sahabatnya berwudhu dari mazadah (kantong air yang terbuat dari kulit bangkai yang telah disamak) milik wanita musyrik. (Muttafaq ‘alaih)[2]

Namun, Abu Tsa’labah al-Khusyani radhiallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَمَّا مَا ذَكَرْتَ أَنَّكَ بِأَرْضِ قَوْمٍ أَهْلِ الْكِتَابِ تَأْكُلُ فِي آنِيَتِهِمْ، فَإِنْ وَجَدْتُمْ غَيْرَ آنِيَتِهِمْ فَلاَ تَأْكُلُوا فِيهَا، وَإِنْ لَمْ تَجِدُوا فَاغْسِلُوهَا، ثُمَّ كُلُوا فِيهَا

“Adapun yang kamu sebutkan bahwa kamu berada di daerah ahli kitab, yang kamu makan dari bejana-bejana mereka; Jika kamu bisa mendapatkan selain bejana-bejana mereka, jangan makan dari bejana-bejana mereka. Jika kamu tidak bisa mendapatkan selain dari bejana-bejana mereka, cucilah terlebih dahulu lalu makanlah darinya.” (Muttafaq ‘alaih)

Jawabannya, terdapat dua tafsir dalam memahami hadits ini.

  1. Larangan pada hadits ini bersifat makruh, tidak haram.
  2. Hadits ini tertuju kepada orang-orang kafir yang sering makan daging babi dan mereka menampakkan hal itu secara terang-terangan.

Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah mendukung tafsir yang kedua. Al-Albani rahimahullah juga memilih tafsir yang kedua berdasarkan riwayat lain dari hadits tersebut dengan lafadz, Abu Tsa’labah al-Khusyani radhiallahu ‘anhu berkata,

يَا نَبِيَّ اللهِ، إِنَّ أَرْضَنَا أَرْضُ أَهْلِ كِتَابٍ وَإِنَّهُمْ يَأْكُلُونَ لَحْمَ الْخِنْزِيرِ وَيَشْرَبُونَ الْخَمْرَ، فَكَيْفَ أَصْنَعُ بِآنِيَتِهِمْ وَقُدُورِهِمْ؟ قَالَ: إِنْ لَمْ تَجِدُوا غَيْرَهَا فَارْحَضُوهَا وَاطْبَخُوا فِيهَا وَاشْرَبُوا

“Wahai Nabi Allah, sesungguhnya daerah kami adalah daerah ahli kitab dan mereka makan daging babi dan minum khamr. Apa yang mesti saya lakukan dengan bejana-bejana dan panci-panci mereka?”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika kalian tidak mendapatkan selainnya, cucilah terlebih dahulu, memasaklah dengannya, dan minumlah darinya.” (HR. Ahmad. Dinyatakan sahih oleh al-Albani menurut syarat al-Bukhari & Muslim)[3]

Berdasarkan dalil-dalil di atas, tampak jelas bahwa fisik orang kafir tidak najis. Tampak pula bahwa yang dimaksud oleh firman Allah subhanahu wa ta’ala,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِنَّمَا ٱلۡمُشۡرِكُونَ نَجَسٞ فَلَا يَقۡرَبُواْ ٱلۡمَسۡجِدَ ٱلۡحَرَامَ بَعۡدَ عَامِهِمۡ هَٰذَاۚ

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis. Oleh karena itu, janganlah mereka mendekati Masjidil Haram sesudah tahun ini.” (at-Taubah: 28)

Najis dalam ayat di atas adalah najis maknawi (akidah dan amalan mereka). Artinya, mereka najis dengan kekufuran dan kesyirikan mereka sehingga tidak pantas dan tidak boleh mendekati Masjidil Haram, apalagi memasukinya. Inilah pendapat yang rajih dalam masalah ini.

Adapun mayatnya, jumhur berbeda pendapat. Ada yang mengatakan suci dan ada yang mengatakan najis.

Di kalangan fuqaha mazhab Hanbali dan Syafi’i, terdapat dua pendapat tersebut. Akan tetapi, yang dianggap benar dan menjadi pegangan mazhab Hanbali dan Syafi’i adalah pendapat yang mengatakan suci.

Ulama yang berpendapat najis berdalil dengan ayat di atas dan berhujah bahwa mayat orang kafir tidak disyariatkan dimandikan. Hal itu menunjukkan kenajisannya, karena sesuatu yang substansinya najis, tidak ada gunanya dicuci/dimandikan.

Yang berpendapat suci menjawab bahwa yang dimaksud dengan najis pada ayat itu adalah najis maknawi sebagaimana telah diulas di atas.

Adapun bahwa mayat kafir tidak dimandikan, itu bukan karena kenajisannya. Illat (faktor) hukum mayat muslim dimandikan adalah untuk memuliakannya, sedangkan orang kafir tidak pantas dan tidak berhak dimuliakan sehingga mayatnya tidak dimandikan.

An-Nawawi, Ibnu Qudamah, as-Sa’di, dan Ibnu ‘Utsaimin merajihkan pendapat bahwa mayat orang kafir adalah suci.

Wallahu a’lam.[4]



SYARAT TOBAT

Jika seorang muslim mencabut diri dari dosa-dosa yang dahulu dia lakukan, apa saja syarat yang harus dipenuhi terkait orang yang bertobat dari sebuah dosa? Apa nasihat Anda untuk orang yang melakukan kemaksiatan agar dia bisa bertobat sebelum datang ajalnya—sehingga dia merugi dan menyesal?

 Jawab:

  1. Dia harus memenuhi syarat-syarat taubat sebagai berikut:
    • Seseorang bertobat dengan tobat yang jujur dan tulus,
    • menyesali dosa yang telah dilakukan,
    • bertekad kuat untuk tidak mengulanginya,
    • jika dosanya terkait dengan sesuatu yang bisa dikembalikan seperti harta, dia kembalikan kepada pemiliknya; jika tidak terkait dengan sesuatu yang bisa dikembalikan, dia meminta kemurahan dan maaf dari pihak-pihak yang dizalimi, disertai doa kebaikan untuk mereka dan pujian terhadap kebaikan mereka yang dia ketahui.
  1. Kami nasihatkan agar dia:
    • membaca al-Qur’an dan hadits-hadits tentang targhib (anjuran berbuat kebaikan) dan tarhib (ancaman atas perbuatan dosa),
    • mengingat negeri akhirat dan berbagai keadaannya yang menakutkan,
    • bergaul dengan orang-orang yang baik dan menjauhi orang-orang yang buruk.

Semoga Rabbnya akan menerima tobatnya dari dosa dan mengampuninya, dan dia bisa menolak bisikan nafsunya yang mengajak kepada maksiat.

Wa billahit taufiq, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa alihi wa shahbihi wa sallam.

Ketua: Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz; Wakil Ketua: Abdur Razzaq Afifi;

Anggota: Abdullah bin Ghudayyan, Abdullah bin Qu’ud

(Fatawa al-Lajnah 24/297—298, pertanyaan ke-6 dari fatwa no. 3866)


APAKAH SHALAT ADALAH SYARAT TOBAT?

Saya telah kembali kepada Allah dan bertobat dari segala dosa—saya memohon ampunan kepada Allah. Saya mendengar bahwa orang yang bertobat harus melakukan shalat dua rakaat tanpa ada waswas padanya, lalu dia bertobat setelah atau saat sedang melakukan shalat tersebut.

Saya telah bertanya kepada salah seorang saudara di jalan Allah, dia menjawab, “Tobat dilakukan tanpa harus shalat. Kapanpun waktunya, engkau bisa bertobat. Engkau tidak perlu shalat (untuk bertobat).

Apa yang seharusnya saya lakukan? Berilah bimbingan kepada saya. Semoga Allah membalasi Anda dengan kebaikan.

Jawab:

Shalat dua rakaat tidak menjadi syarat sahnya tobat.

Yang dipersyaratkan adalah mencabut diri dari dosa, bertekad kuat untuk tidak mengulangi, menyesali apa yang telah luput, dan membebaskan diri dari hak-hak para makhluk. Allah akan menerima tobat kami dan Anda.

Akan tetapi, barang siapa bersuci dan shalat dua rakaat kemudian bertobat kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan menyesali dosa yang telah berlalu, mencabut diri darinya, bertekad dengan jujur tidak mengulanginya, tentu ini lebih sempurna dan lebih mendekatkan kemungkinan tobatnya diterima.

Ini berdasarkan hadits dari Abu Bakr ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ رَجُلٍ يُذْنِبُ ذَنْبًا فَيَتَوَضَّأُ فَيُحْسِنُ الْوُضُوءَ ثُمَّ يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ فَيَسْتَغْفِرُ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا غَفَرَ لَهُ

“Tidak ada seseorang yang berbuat dosa lalu berwudhu dan memperbagusnya, kemudian shalat dua rakaat dan memohon ampunan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, kecuali Dia subhanahu wa ta’ala akan mengampuninya.” (HR. Ahmad dalam al-Musnad)[5]

Wa billahit taufiq, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa alihi wa shahbihi wa sallam.

Ketua: Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz;

Wakil Ketua: Abdul Aziz bin Abdillah Alu Syaikh;

Anggota: Shalih bin Fauzan al-Fauzan

(Fatawa al-Lajnah, 24/309—310, pertanyaan kedua dari fatwa no. 19045)

 


TOBAT, TETAPI BERBUAT DOSA LAGI

Apa hukum orang yang bertobat dari sebuah dosa kemudian jatuh lagi pada dosa yang sama?

 Jawab:

Apabila dahulu dia telah bertobat dari dosa tersebut dengan ikhlas, niat yang jujur, mencabut diri dari dosa tersebut, dan menyesalinya, kemudian setan membisikinya dan dia dikalahkan oleh hawa nafsunya yang memerintahkan kepada kejelekan hingga terjatuh lagi dalam dosa yang sama untuk kedua kali, ketiga kali, dan seterusnya; tidak akan kembali dosa yang dahulu dia telah bertobat darinya dengan jujur.

Hendaknya dia kembali bertobat setelah melakukan dosa tersebut yang kedua kali atau ketiga kali. Selain itu, hendaknya ia juga menempuh sebab yang menjauhkan dirinya dari perbuatan dosa tersebut.

Wa billahit taufiq, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa alihi wa shahbihi wa sallam.

Ketua: Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz;

Wakil Ketua: Abdur Razzaq Afifi

(Fatawa al-Lajnah, 24/318—319, pertanyaan ketiga dari fatwa no. 3025)

 


Seseorang berbuat dosa lalu beristighfar, kemudian berbuat dosa lagi dan beristighfar lagi, begitu seterusnya. Selama beberapa waktu dia berhenti berbuat dosa, tetapi kemudian melakukannya lagi. Bagaimana hukumnya?

 Jawab:

Apabila dia beristighfar (memohon ampunan) kepada Allah subhanahu wa ta’ala, bertobat dengan tobat nasuha, dan mencabut diri dari dosa tersebut, Allah subhanahu wa ta’ala menerima tobatnya dan mengampuninya.

Apabila ia kembali melakukan dosa tersebut lalu memohon ampunan (kepada Allah), bertobat dengan tobat nasuha, dan mencabut diri dari dosa tersebut, Allah akan menerima tobatnya dan mengampuninya. Demikian seterusnya.

Dosa yang terdahulu tidaklah kembali setelah dia melakukan tobat yang jujur. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَإِنِّي لَغَفَّارٞ لِّمَن تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ صَٰلِحٗا ثُمَّ ٱهۡتَدَىٰ ٨٢

“Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertobat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar.” (Thaha: 82)

إِنَّ رَبَّكَ وَٰسِعُ ٱلۡمَغۡفِرَةِۚ

        “Sesungguhnya Rabbmu Mahaluas ampunan-Nya.” (an-Najm: 32)

Wa billahit taufiq, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa alihi wa shahbihi wa sallam.

Ketua: Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz;

Wakil Ketua: Abdur Razzaq Afifi;

Anggota: Abdullah bin Ghudayyan, Abdullah bin Qu’ud

(Fatawa al-Lajnah 24/319, pertanyaan ke-2 dari fatwa no. 7825)

[1] al-Irwa’ (1/76) dan al-Jami’ ash-Shahih (1/429).

[2] Kitab Bulughul Maram (Bab “al-Aniyah” no. 22 ), al-Irwa’ (1/no. 36), dan ats-Tsamar al-Mustathab (1/8).

[3] ats-Tsamar al-Mustathab (1/8)

[4] al-Muhalla (1/no.134), al-Mughni (1/63), al-Inshaf (1/337—338), Manhajus Salikin li as-Sa’di, al-Majmu’ (2/579—581), al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim (4/Kitab al-Haidh, Bab “ad-Dalil ‘ala Anna al-Muslima La Yanjusu”), Fathul Bari (1/Kitab al-Ghusli, Bab “Araq al-Junubwa Anna al-Muslima La Yanjus”, 3/Kitab al-Jana’iz, Bab “Ghusli al-Mayyit wa Wudhu’ihi”), Majmu’ al-Fatawa (21/67), Nailul Authar (1/Kitab ath-Thaharah, Bab “Thaharah al-Ma’i al-Mutawadhdhai bihi”, syarah hadits Hudzaifah radhiallahu ‘anhu), as-Sail al-Jarrar (1/38—39), Fathul Qadir (tafsir at-Taubah ayat ke-28), Tafsir Ibni Katsir (tafsir at-Taubah ayat ke-28), dan asy-Syarh al-Mumti’ (1/447—448).

[5] HR. Ahmad (1/2) Abu Dawud (2/180 no. 1521), at-Tirmidzi (2/258, 5/228 no. 406 & 3006), dan lainnya.

Agar Sabar Menghadapi Gangguan (2)

Berikut ini lanjutan penjelasan tentang beberapa hal yang bisa membantu seorang hamba untuk bersabar menghadapi gangguan orang lain.

  1. Apabila dia disakiti karena amalannya yang ikhlas untuk Allah subhanahu wa ta’ala, karena ketaatan yang diperintah oleh-Nya, atau karena maksiat yang dilarang oleh-Nya, dia wajib bersabar dan tidak boleh membalas.

Sebab, dia disakiti di jalan Allah subhanahu wa ta’ala, maka Allah subhanahu wa ta’ala yang akan memberi pahala untuknya. Karena itulah, ketika para mujahidin fi sabilillah kehilangan darah dan harta mereka di jalan Allah subhanahu wa ta’ala, tidak ada ganti ruginya.

Sebab, Allah subhanahu wa ta’ala telah membeli jiwa dan harta mereka dari diri-diri mereka, sedangkan harganya akan dibayar oleh Allah subhanahu wa ta’ala, bukan oleh makhluk. Barang siapa meminta bayaran dari makhluk, Allah subhanahu wa ta’ala tidak akan memberinya bayaran. Sebab, barang siapa yang binasa karena Allah subhanahu wa ta’ala, Dia-lah yang akan memberinya ganti.

Apabila disakiti karena mendapat musibah, kembalikanlah celaan kepada diri sendiri. Mencela diri sendiri akan menyibukkan diri sehingga tidak memiliki kesempatan untuk mencela orang yang menyakitinya.

Apabila disakiti karena mendapatkan karunia, mantapkanlah diri untuk bersabar. Sebab, tidak mendapatkan karunia, urusannya lebih pahit daripada bersabar.

Barang siapa tidak sabar terhadap teriknya tengah hari, hujan, salju, kesusahan dalam safar, dan perampok, tidak perlu dia berada di tempat dagangnya.

Ini adalah urusan yang sudah diketahui oleh manusia: siapa yang jujur mencari sesuatu, kesabaran untuk mendapatkannya akan diganti sesuai dengan kadar kejujurannya saat mencarinya.

 

  1. Menyadari kebersamaan Allah subhanahu wa ta’ala dengannya, kecintaan, dan keridhaan-Nya apabila dia bersabar.

Barang siapa yang Allah subhanahu wa ta’ala bersamanya, Dia akan menghindarkan segala macam gangguan dan bahaya dari dirinya, dengan penghindaran yang tidak bisa dilakukan oleh salah satu makhluk-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَٱصۡبِرُوٓاْۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ ٤٦

        “Dan bersabarlah, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”  (al-Anfal: 46)

وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلصَّٰبِرِينَ ١٤٦

        “Allah menyukai orang-orang yang sabar.” (Ali Imran: 146)

 

  1. Menyadari bahwa kesabaran adalah separuh iman.

Dengan demikian, dia tidak akan mengganti sebagian keimanannya dengan balasan berupa pembelaan pribadinya. Jika bersabar, sungguh dia telah menjaga keimanannya dan melindunginya dari kekurangan. Dan Allah subhanahu wa ta’ala lah yang akan membela orang-orang yang beriman.

 

  1. Menyadari bahwa kesabaran hamba akan mengatur, mengalahkan, dan mendominasi nafsunya.

Ketika nafsu terkalahkan dan didominasi oleh kesabaran, nafsu tidak akan memperbudak dan menawan dirinya lantas mencampakkannya dalam kebinasaan.

Sebaliknya, apabila dirinya taat, mendengar, dan dikalahkan oleh nafsu, nafsunya akan senantiasa bersama dirinya hingga menghancurkannya, kecuali jika dirinya diselamatkan oleh rahmat dari Rabbnya.

Seandainya tidak ada faedah kesabaran selain menundukkan nafsu dan setannya, sehingga kekuasaan kalbu tampak nyata, bala tentaranya pun teguh, gembira dan bertambah kuat, dan mengusir musuh, (tentu hal ini sudah cukup).

 

  1. Mengetahui bahwa apabila hamba bersabar, Allah subhanahu wa ta’ala lah yang menolongnya, dan itu pasti.

Allah subhanahu wa ta’ala adalah pelindung orang yang bersabar dan menyerahkan orang

yang menzaliminya kepada-Nya. Adapun orang yang membela kepentingan pribadinya, Allah subhanahu wa ta’ala akan kuasakan dia kepada jiwanya. Jadilah dirinya semata yang menolong jiwanya.

Manakah yang lebih lemah penolongnya, orang yang menjadikan Allah subhanahu wa ta’ala sebaik-baik pemberi pertolongan ataukah orang yang menjadikan dirinya sendiri sebagai penolong?

 

  1. Kesabaran dan ketabahan hamba menanggung gangguan orang lain akan menyebabkan musuhnya rujuk dari kezaliman, menyesal, meminta maaf, dan manusia akan mencela orang tersebut.

Setelah menyakiti, dia pun pulang dengan menanggung malu dan menyesali perbuatannya. Bahkan, dia akan menjadi orang yang paling loyal terhadap si hamba. Inilah makna firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَلَا تَسۡتَوِي ٱلۡحَسَنَةُ وَلَا ٱلسَّيِّئَةُۚ ٱدۡفَعۡ بِٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُ فَإِذَا ٱلَّذِي بَيۡنَكَ وَبَيۡنَهُۥ عَدَٰوَةٞ كَأَنَّهُۥ وَلِيٌّ حَمِيمٞ ٣٤ وَمَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ٱلَّذِينَ صَبَرُواْ وَمَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٖ ٣٥

        “Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” (Fushshilat: 34—35)

 

  1. Pembalasan yang hamba lakukan bisa jadi menyebabkan musuhnya semakin jahat, semakin bernafsu, dan semakin memikirkan beragam gangguan yang akan dilancarkan terhadap diri si hamba.

Hal ini terjadi sebagaimana yang telah disaksikan.

Apabila bersabar dan memaafkan, hamba akan aman dari bahaya ini. Orang yang berakal tidak akan memilih bahaya yang lebih besar dan menyingkirkan bahaya yang lebih kecil.

Betapa sering pembalasan justru menyebabkan kejahatan lain yang hamba tidak mampu menghindarinya. Betapa banyak jiwa, kekuasaan, dan harta yang hilang, padahal jika orang yang terzalimi mau memaafkan, semua itu akan tetap ada pada dirinya.

 

  1. Barang siapa membiasakan diri membalas keburukan dan tidak bersabar, pasti dia berbuat zalim.

Sebab, jiwa tidak puas jika hanya membalas dengan yang seimbang. Terkadang jiwa tidak mampu menahan diri untuk membalas sekadar haknya. Kemarahan akan membawa pemiliknya sampai pada taraf tidak mampu memikirkan apa yang dia ucapkan dan lakukan.

Akibatnya, dia yang sebelumnya berstatus “terzalimi” dan menunggu pertolongan serta pemuliaan (dari Allah subhanahu wa ta’ala), berubah menjadi “menzalimi” dan ditunggu oleh kemurkaan dan hukuman (dari Allah subhanahu wa ta’ala).

 

  1. Kezaliman yang dilakukan terhadap hamba akan menghapus keburukan-keburukan yang pernah dilakukannya atau mengangkat derajatnya.

Apabila dia membalas dan tidak bersabar, kezaliman tersebut tidak bisa menghapus keburukan ataupun mengangkat derajatnya.

  1. Pemaafan dan kesabaran hamba adalah bala tentara terbesar menghadapi musuhnya.

Sebab, kesabaran dan pemaafan hamba tersebut akan merendahkan musuhnya, membuatnya takut dari hamba tersebut dan dari manusia. Orang lain tidak akan tinggal diam terhadap musuhnya, meskipun si hamba diam.

Akan tetapi, ketika hamba membalas, hilanglah semua hal tersebut. Oleh karena itu, Anda dapati mayoritas manusia ketika mencela atau menyakiti orang lain, dia ingin agar orang lain tersebut juga mengambil haknya dari dirinya. Ketika orang lain mengimbanginya, dia pun merasa lapang dan mencampakkan rasa berat yang sebelumnya dia rasakan.

 

  1. Apabila si hamba memaafkan, musuhnya akan menyadari bahwa si hamba tersebut lebih tinggi kedudukannya.

Musuhnya pun merasa bahwa si hamba telah berhasil mengambil keuntungan darinya. Setelah itu, musuhnya akan selalu memandang bahwa dirinya lebih rendah dari si hamba.

Cukuplah hal ini menjadi keutamaan dan kemuliaan sikap memaafkan.

 

  1. Apabila hamba memaafkan dan tidak lagi mengungkitnya, hal ini menjadi kebaikan baginya, yang akan melahirkan kebaikan yang lain.

Kebaikan yang lain itu akan melahirkan kebaikan berikutnya, begitu seterusnya. Dengan demikian, kebaikan si hamba akan senantiasa bertambah. Sebab, di antara balasan kebaikan adalah kebaikan pula, sebagaimana halnya balasan kejelekan adalah kejelekan berikutnya.

Bisa jadi, ini menjadi sebab keselamatan dan kebahagiaan yang abadi bagi hamba. Akan tetapi, jika dia membalas dan membela diri, hilanglah semua hal tersebut.

 

(Jami’ul Masail li Syaikhil Islam Ibnu Taimiyah, 1/168—174; diterjemahkan dari http://www.sahab.net/home/?p=1061, dengan beberapa penyesuaian)

Al-Muqit

Di antara asmaul husna adalah al-Muqit. Allah subhanahu wa ta’ala telah menyebutkan nama ini pada satu ayat dalam al-Qur’an,

مَّن يَشۡفَعۡ شَفَٰعَةً حَسَنَةٗ يَكُن لَّهُۥ نَصِيبٞ مِّنۡهَاۖ وَمَن يَشۡفَعۡ شَفَٰعَةٗ سَيِّئَةٗ يَكُن لَّهُۥ كِفۡلٞ مِّنۡهَاۗ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ مُّقِيتٗا ٨٥

        “Barang siapa memberikan syafaat yang baik, niscaya ia akan memperoleh bahagian (pahala) darinya. Dan barang siapa memberi syafaat yang buruk, niscaya ia akan memikul bagian (dosa) darinya. Allah adalah Muqit atas segala sesuatu.” (an-Nisa’: 85)

Para ulama menyebutkan beberapa makna nama Allah subhanahu wa ta’ala al-Muqit sebagaimana berikut.

  1. Yang Mahamampu, al-Muqtadir. Makna ini disebutkan oleh Ibnu Abbas, Ibnu Jarir, Abu Ubaid, dll.
  2. Yang Maha Menjaga, yakni yang memberikan penjagaan terhadap sesuatu sesuai dengan kebutuhannya, al-Hafizh. Hal ini disebutkan oleh Ibnu Abbas, Qatadah, dan yang lain.
  3. Yang Maha Menyaksikan, asy-Syahid. Ini dinyatakan oleh Mujahid.
  4. Al-Hasib, Yang Maha Mencukupi. Ini diriwayatkan dari Mujahid.
  5. Yang Maha Mengawasi. Makna ini diriwayatkan dari Atha’.
  6. Yang Mahakekal. Makna ini diriwayatkan oleh Ibnu Juraij dari Abdullah bin Katsir.
  7. Yang Maha Memberi makanan pokok. Ini diriwayatkan dari Muqatil bin Sulaiman dan al-Khaththabi.

Itulah beberapa makna al-Muqit sebagaimana disebutkan oleh para ulama. Pembaca bisa melihat dalam buku-buku tafsir, seperti Zadul Masir karya Ibnul Jauzi rahimahullah, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir al-Baghawi, dan lain-lain. Tafsiran-tafsiran tersebut tidaklah saling bertentangan.

 

Buah Mengimani Nama Allah, al-Muqit

Seperti disebutkan oleh para ulama, al-Muqit memiliki beberapa makna. Mengimani dan mengetahui maknanya akan membuahkan banyak hal dalam perilaku kita.

  1. Kita akan mengagungkan-Nya karena Dia Mahamampu.
  2. Kita akan bersyukur kepada-Nya, karena Dia Maha Menjaga dan Maha Memberi Rezeki kepada kita serta mencukupi kita.
  3. Kita akan berhati-hati dalam berbuat, karena Dia Maha Menyaksikan dan Maha Mengawasi.

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa merahmati kita.

Ditulis oleh al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc.

Al-Amtsaaal; Perumpamaan-Perumpamaan

Sekilas Tentang Al-Qur’an

Segala puji hanya milik Allah Yang telah menurunkan al-Furqan kepada hamba-Nya, Kitab yang memisahkan yang halal dari yang haram,  memisahkan pula antara orang-orang yang berbahagia dan orang-orang yang celaka, serta antara yang haq dan yang batil.

Dengan rahmat-Nya, Dia menjadikan Kitabnya ini sebagai petunjuk bagi manusia secara umum dan bagi orang-orang yang bertakwa secara khusus. Dia menurunkan Kitab-Nya sebagai obat bagi penyakit yang ada di dalam dada manusia, baik penyakit syahwat maupun penyakit syubhat. Juga sebagai obat bagi penyakit-penyakit yang menimpa tubuh manusia.

Allah subhanahu wa ta’ala menerangkan bahwa Kitab-Nya ini tidak ada keraguan di dalamnya, dari sisi manapun. Hal itu tidak lain adalah karena isinya yang mengandung kebenaran yang agung, baik dalam hal berita maupun perintah dan larangannya.

Allah subhanahu wa ta’ala bersumpah dengan al-Qur’an ini dan menyebutkan sifatnya bahwa dia adalah majid, yaitu yang luas dan agung sifat-sifatnya. Hal itu tidak lain adalah karena luas dan agungnya makna-makna al-Qur’an.

Allah subhanahu wa ta’ala juga menerangkan bahwa Kitab-Nya ini adalah dzu adz-dzikr, yaitu yang dengannya diingat ilmui-lmu Ilahiah, akhlak yang baik, amal saleh, dan orang-orang yang takut akan mendapatkan nasihat.[1]

Allah subhanahu wa ta’ala bahkan telah menjelaskan bahwa Kitab yang sarat dengan kebaikan ini diturunkan tidak lain adalah agar ditadaburi lalu menjadi peringatan bagi orang-orang yang berakal. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

كِتَٰبٌ أَنزَلۡنَٰهُ إِلَيۡكَ مُبَٰرَكٞ لِّيَدَّبَّرُوٓاْ ءَايَٰتِهِۦ وَلِيَتَذَكَّرَ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ ٢٩

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.” (Shad: 29)

Untuk tujuan tersebut, Allah subhanahu wa ta’ala menjamin kemudahannya, mudah dibaca huruf-hurufnya dan mudah pula dipahami makna-maknanya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلَقَدۡ يَسَّرۡنَا ٱلۡقُرۡءَانَ لِلذِّكۡرِ فَهَلۡ مِن مُّدَّكِرٖ ١٧

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (al-Qamar: 17)

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman,

فَإِنَّمَا يَسَّرۡنَٰهُ بِلِسَانِكَ لَعَلَّهُمۡ يَتَذَكَّرُونَ ٥٨

     “Sesungguhnya Kami mudahkan al-Qur’an itu dengan bahasamu supaya mereka mendapat pelajaran.” (ad-Dukhan: 58)

فَإِنَّمَا يَسَّرۡنَٰهُ بِلِسَانِكَ لِتُبَشِّرَ بِهِ ٱلۡمُتَّقِينَ وَتُنذِرَ بِهِۦ قَوۡمٗا لُّدّٗا ٩٧

    “Maka sesungguhnya telah Kami mudahkan al-Qur’an itu dengan bahasamu, agar kamu dapat memberi kabar gembira dengan al-Qur’an itu kepada orang-orang yang bertakwa, dan agar kamu memberi peringatan dengannya kepada kaum yang membangkang.” (Maryam: 97)

Alhasil, al-Qur’anul Karim adalah ayat-ayat yang mudah dan jelas menunjukkan kebenaran, baik dalam bentuk perintah, larangan maupun beritanya. Allah subhanahu wa ta’ala memudahkannya untuk dijaga oleh para ulama dengan menghafal, membaca, dan menafsirkannya.

Kitab ini mudah dicerna oleh akal manusia, membuat hati menjadi lembut, tidak membuat bosan dan jemu orang yang memerhatikan dan mendengarnya, meskipun di dalamnya sarat dengan rahasia dan ilmu-ilmu yang hanya dimengerti oleh orang-orang yang kokoh ilmunya.

Oleh sebab itu, siapa yang ingin menjadi ahli dzikr, hendaklah dia memasukkan dirinya ke dalam golongan orang-orang yang benar-benar membaca Kitab Allah, di masjid, rumah, tempat dia bekerja; dan tidak lalai dari al-Qur’an serta tidak membacanya hanya khusus pada bulan Ramadhan.

Sebagaimana disebutkan dalam surat Shad di atas, al-Qur’anul Karim ini adalah Kitab yang mengandung banyak kebaikan. Ia diturunkan adalah untuk menjadi pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal yang sehat.

Maka dari itu, apabila lafadz-lafadz al-Qur’anul Karim ini tidak bisa dipahami oleh mereka yang membaca atau mendengarnya, tentu tidak ada faedahnya perintah untuk mentadaburinya. Apabila tidak dapat ditadaburi, tentu tidak lagi akan menjadi hidayah bagi manusia.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman tentang Kitab-Nya yang mulia ini,

طه ١  مَآ أَنزَلۡنَا عَلَيۡكَ ٱلۡقُرۡءَانَ لِتَشۡقَىٰٓ ٢  إِلَّا تَذۡكِرَةٗ لِّمَن يَخۡشَىٰ ٣

“Thaha. Kami tidak menurunkan al-Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah; tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah).” (Thaha: 1—3)

Tujuan wahyu, diturunkannya al-Qur’an kepadamu (wahai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) dan ditetapkannya syariat bukanlah agar kamu menjadi susah. Di dalam syariat ini tidak pula ada beban yang memberatkan orang-orang yang mukallaf (baligh dan berakal) serta tidak mampu dipikul oleh kekuatan manusia.

Wahyu, al-Qur’an dan syariat ini tidak lain diturunkan oleh Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dia menjadikan al-Qur’an ini sebagai pengantar menuju kebahagiaan, kemenangan, dan keberuntungan. Bahkan, Dia memudahkannya dengan semudah-mudahnya, serta membentangkan pintu-pintu dan jalan-jalannya, juga menjadikannya sebagai gizi bagi hati dan ruhani serta ketenangan jasmani. Karena itu, fitrah-fitrah yang masih bersih menyambutnya, akal-akal yang sehat pun menerimanya dengan penuh ketundukan, karena mengetahui di dalamnya sarat dengan kebaikan dunia dan akhirat.

Oleh sebab itulah, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِلَّا تَذۡكِرَةٗ لِّمَن يَخۡشَىٰ

“Tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah).”

Dikhususkan penyebutan orang yang takut kepada Allah adalah karena selain mereka tidak akan dapat memetik manfaat dari Kitab Suci ini. Tentu saja, bagaimana mungkin orang yang tidak beriman kepada surga dan neraka, tidak pula ada rasa takut—walaupun sebesar biji sawi—dalam hatinya kepada Allah?

Tidak mungkin. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

سَيَذَّكَّرُ مَن يَخۡشَىٰ ١٠ وَيَتَجَنَّبُهَا ٱلۡأَشۡقَى ١١

“Orang yang takut (kepada Allah) akan mendapat pelajaran, orang-orang yang celaka (kafir) akan menjauhinya.” (al-A’la: 10—11)

Orang-orang yang takut kepada Allah ini, apabila disebut nama Allah dan diingatkan tentang Allah, tergetar hatinya. Dia segera ingat kepada Allah, lalu memohon ampunan kepada Allah.

Siapakah mereka?

Orang-orang yang takut kepada Allah adalah orang-orang yang Allah subhanahu wa ta’ala terangkan dalam firman-Nya,

          إِنَّمَا يَخۡشَى ٱللَّهَ مِنۡ عِبَادِهِ ٱلۡعُلَمَٰٓؤُاْۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ ٢٨

    “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Maha Pengampun.” (Fathir: 28)

Kemudian, sebagaimana dipaparkandi atas, al-Qur’anul Karim ini adalah Kitab yang banyak kebaikan di dalamnya. Allah subhanahu wa ta’ala menurunkannya untuk menjadi pedoman bagi manusia secara umum, dan orang-orang yang bertakwa secara khusus.

 

Obat Bagi Semua Penyakit

Di dalam Kitab Suci ini terkandung obat bagi semua penyakit yang diderita oleh manusia, lahir dan batin. Penyakit syahwat dan penyakit syubhat.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          وَنُنَزِّلُ مِنَ ٱلۡقُرۡءَانِ مَا هُوَ شِفَآءٞ وَرَحۡمَةٞ لِّلۡمُؤۡمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ ٱلظَّٰلِمِينَ إِلَّا خَسَارٗا ٨٢

“Dan Kami turunkan dari al-Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (al-Isra: 82)

Dalam ayat yang lain, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ قَدۡ جَآءَتۡكُم مَّوۡعِظَةٞ مِّن رَّبِّكُمۡ وَشِفَآءٞ لِّمَا فِي ٱلصُّدُورِ وَهُدٗى وَرَحۡمَةٞ لِّلۡمُؤۡمِنِينَ ٥٧

“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Rabbmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Yunus: 57)

          وَلَوۡ جَعَلۡنَٰهُ قُرۡءَانًا أَعۡجَمِيّٗا لَّقَالُواْ لَوۡلَا فُصِّلَتۡ ءَايَٰتُهُۥٓۖ ءَا۬عۡجَمِيّٞ وَعَرَبِيّٞۗ قُلۡ هُوَ لِلَّذِينَ ءَامَنُواْ هُدٗى وَشِفَآءٞۚ وَٱلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ فِيٓ ءَاذَانِهِمۡ وَقۡرٞ وَهُوَ عَلَيۡهِمۡ عَمًىۚ أُوْلَٰٓئِكَ يُنَادَوۡنَ مِن مَّكَانِۢ بَعِيدٖ ٤٤

Dan jikalau Kami jadikan al-Qur’an itu suatu bacaan dalam selain bahasa Arab tentulah mereka mengatakan, “Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?”

Apakah (patut al-Qur’an) dalam bahasa asing, sedangkan (rasul adalah orang) Arab?

Katakanlah, “Al-Qur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedangkan al-Qur’an itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) orang-orang yang dipanggil dari tempat yang jauh.” (Fushshilat: 44)

Demikianlah al-Qur’anul Karim ini, dia adalah obat semua penyakit syubhat; yaitu apa saja yang mengotori keyakinan manusia tentang Rabbnya, sekaligus obat bagi penyakit syahwat yang menghalangi manusia untuk tunduk kepada syariat-Nya.

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala merahmati Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yang menegaskan: Siapa yang mentadaburi al-Qur’an untuk memperoleh petunjuk (hidayah) dari al-Qur’an, tentu jelas baginya jalan kebenaran.[2]

Di dalamnya terkandung berbagai ilmu yang diperlukan oleh manusia untuk meraih kebahagiaannya di dunia dan akhirat. Salah satu ilmu yang bermanfaat bagi manusia di dalam Kitab yang mulia ini adalah ilmu tentang al-amtsaal. Bahkan, dikatakan pula sebagai salah satu ilmu-ilmu al-Qur’an yang paling utama, dan seorang mujtahid harus bisa memahaminya.[3] Wallahu a’lam.

Berbagai hakikat yang tinggi makna dan sasarannya menjadi lebih indah ketika dibuat dalam bentuk konkret yang mendekatkan kepada pemahaman melalui kias yang telah diketahui secara yakin. Tamsil adalah pola yang dapat menonjolkan berbagai pengertian dalam bentuk yang hidup dan mapan di alam pikiran, dengan menyerupakan hal-hal yang gaib atau abstrak dengan sesuatu yang nyata atau konkret, dan mengkiaskan sesuatu dengan yang serupa.

Betapa banyak makna yang indah menjadi lebih menarik karena pemaparannya menggunakan tamsil. Itulah sebabnya jiwa lebih terdorong untuk menerimanya dan akal merasa lebih puas mencernanya. Inilah salah satu uslub al-Qur’anul Karim mengungkapkan penjelasan dan kemukjizatannya.

Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah memasukkannya dalam bidang yang wajib diketahui oleh setiap mujtahid. Kata beliau, “Kemudian mengetahui perumpamaan-perumpamaan yang menunjukkan kepada ketaatan kepada-Nya….”[4]

Para ulama terdahulu ada yang menulis sebuah kitab khusus tentang tamsil ini, contohnya ialah al-Hasan bin Fadhl. Ada juga yang meletakkannya dalam salah satu bab dalam kitabnya, seperti Ibnul Qayyim rahimahullah.

 

Pengertian Secara Bahasa dan Istilah

Amtsal adalah bentuk jamak dari matsal yang secara harfiah artinya perumpamaan atau tamsil. Dalam bahasa Arab, matsal, mitsil dan matsiil adalah sama dengan syibh, syabah, dan syabiih, baik lafadz maupun maknanya.

Kadang kata matsal dan syabah digunakan untuk mengungkapkan keadaan atau sifat sesuatu. Misalnya firman Allah subhanahu wa ta’ala,

مَّثَلُ ٱلۡجَنَّةِ ٱلَّتِي وُعِدَ ٱلۡمُتَّقُونَۖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُۖ أُكُلُهَا دَآئِمٞ وَظِلُّهَاۚ تِلۡكَ عُقۡبَى ٱلَّذِينَ ٱتَّقَواْۚ وَّعُقۡبَى ٱلۡكَٰفِرِينَ ٱلنَّارُ ٣٥

“Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang takwa ialah (seperti taman). mengalir sungai-sungai di dalamnya; buahnya tak henti-henti, sedang naungannya (demikian pula). Itulah tempat kesudahan bagi orangorang yang bertakwa; sedang tempat kesudahan bagi orang-orang kafir ialah neraka.” (ar-Ra’d: 35)[5]

Kadang kata mitsl digunakan juga untuk mengungkapkan sesuatu yang serupa dengan yang lainnya dalam salah satu makna, apa saja. Jadi, dia lebih umum untuk menerangkan kesamaan.

Akan tetapi, amtsalul Quran tidak bisa dibawakan kepada asal makna secara bahasa, yaitu keserupaan dan kesamaan. Sebab, matsal al-Qur’an juga bukan perkataan yang digunakan untuk menyerupakan sesuatu dengan isi perkataan tersebut.

Kata Syaikh as-Sa’di, “Ketahuilah bahwa al-Qur’an berisi hal-hal yang sangat tinggi, sempurna, dan bermanfaat yang diperlukan oleh manusia. Di dalamnya terdapat metode pendidikan yang paling baik, penyampaian makna ke dalam hati dengan cara paling mudah dan jelas.

Di antara cara pendidikannya yang tinggi ialah membuat perumpamaan-perumpamaan. Terkait hal ini, disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala yang Maha Menciptakan manusia tentang urusan-urusan yang penting, seperti tauhid, keadaan orang-orang yang bertauhid, tentang syirik dan para pemujanya, serta amalan yang umum dan mulia.

Tujuannya semua itu adalah untuk menjelaskan makna-makna yang bermanfaat, menyerupakannya dengan hal-hal yang dapat ditangkap oleh indra agar pembaca menyaksikannya seakan-akan melihatnya dengan mata kepalanya.

Ada pula ulama yang menyebutkan hakikat tamsil ini ialah mengeluarkan makna yang tersembunyi menjadi lebih terlihat. Tamsil terbagi dua:

  1. Tamsil yang bersifat zahir atau terang-terangan menyebutkan perumpamaan, dan
  2. Tamsil yang bersifat tertutup (kamin), yaitu yang tidak disebutkan padanya perumpamaan dengan tegas, tetapi hukumnya sama seperti amtsal.[6]

Jenis yang pertama sangat banyak terdapat dalam al-Qur’an. Misalnya firman Allah subhanahu wa ta’ala,

مَثَلُهُمۡ كَمَثَلِ ٱلَّذِي ٱسۡتَوۡقَدَ نَارٗا فَلَمَّآ أَضَآءَتۡ مَا حَوۡلَهُۥ ذَهَبَ ٱللَّهُ بِنُورِهِمۡ وَتَرَكَهُمۡ فِي ظُلُمَٰتٖ لَّا يُبۡصِرُونَ ١٧ صُمُّۢ بُكۡمٌ عُمۡيٞ فَهُمۡ لَا يَرۡجِعُونَ ١٨ أَوۡ كَصَيِّبٖ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ فِيهِ ظُلُمَٰتٞ وَرَعۡدٞ وَبَرۡقٞ يَجۡعَلُونَ أَصَٰبِعَهُمۡ فِيٓ ءَاذَانِهِم مِّنَ ٱلصَّوَٰعِقِ حَذَرَ ٱلۡمَوۡتِۚ وَٱللَّهُ مُحِيطُۢ بِٱلۡكَٰفِرِينَ ١٩ يَكَادُ ٱلۡبَرۡقُ يَخۡطَفُ أَبۡصَٰرَهُمۡۖ كُلَّمَآ أَضَآءَ لَهُم مَّشَوۡاْ فِيهِ وَإِذَآ أَظۡلَمَ عَلَيۡهِمۡ قَامُواْۚ وَلَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ لَذَهَبَ بِسَمۡعِهِمۡ وَأَبۡصَٰرِهِمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ٢٠

“Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat.

Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar). Atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar suara) petir, sebab takut akan mati. Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir.

Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.” (al-Baqarah: 17—20)

Di dalam ayat-ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala membuat perumpamaan tentang orang-orang munafik dengan dua contoh, yaitu api dan air.

Jenis yang kedua, meskipun tidak terang-terangan menyebutkan perumpamaan, tetapi sudah menunjukkan kepada makna yang menarik meskipun diungkap dengan cara yang ringkas, namun tetap memberikan pengaruh tersendiri jika dipindahkan kepada halhal yang menyerupainya.

Misalnya ayat yang semakna dengan ungkapan

كَمَا تَدِيْنُ تُدَانُ

(sebagaimana kamu berbuat, seperti itu kamu dibalas) ialah firman Allah subhanahu wa ta’ala,

          مَن يَعۡمَلۡ سُوٓءٗا يُجۡزَ بِهِۦ

“Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu.” (an-Nisa: 123)

Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan di dalam Kitab-Nya yang mulia bahwa Dia membuat sejumlah perumpamaan atau amtsal. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          وَلَقَدۡ صَرَّفۡنَا لِلنَّاسِ فِي هَٰذَا ٱلۡقُرۡءَانِ مِن كُلِّ مَثَلٖ فَأَبَىٰٓ أَكۡثَرُ ٱلنَّاسِ إِلَّا كُفُورٗا ٨٩

“Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulang kepada manusia dalam al-Qur’an ini tiap-tiap macam perumpamaan, tetapi kebanyakan manusia tidak menyukai kecuali mengingkari(nya).” (al-Isra: 89)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلَقَدۡ صَرَّفۡنَا فِي هَٰذَا ٱلۡقُرۡءَانِ لِلنَّاسِ مِن كُلِّ مَثَلٖۚ وَكَانَ ٱلۡإِنسَٰنُ أَكۡثَرَ شَيۡءٖ جَدَلٗا ٥٤

“Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulangi bagi manusia dalam al-Qur’an ini bermacam-macam perumpamaan. Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah.” (al-Kahfi: 54)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          وَلَقَدۡ ضَرَبۡنَا لِلنَّاسِ فِي هَٰذَا ٱلۡقُرۡءَانِ مِن كُلِّ مَثَلٖۚ وَلَئِن جِئۡتَهُم بِ‍َٔايَةٖ لَّيَقُولَنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ إِنۡ أَنتُمۡ إِلَّا مُبۡطِلُونَ ٥٨

Dan sesungguhnya telah Kami buat dalam al-Qur’an ini segala macam perumpamaan untuk manusia. Dan sesungguhnya jika kamu membawa kepada mereka suatu ayat, pastilah orang-orang yang kafir itu akan berkata, “Kamu tidak lain hanyalah orang-orang yang membuat kepalsuan belaka.” (ar-Rum: 58)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          وَلَقَدۡ ضَرَبۡنَا لِلنَّاسِ فِي هَٰذَا ٱلۡقُرۡءَانِ مِن كُلِّ مَثَلٖ لَّعَلَّهُمۡ يَتَذَكَّرُونَ ٢٧

“Sesungguhnya telah Kami buatkan bagi manusia dalam al-Qur’an ini setiap macam perumpamaan supaya mereka dapat pelajaran.” (az-Zumar: 27)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          وَتِلۡكَ ٱلۡأَمۡثَٰلُ نَضۡرِبُهَا لِلنَّاسِۖ وَمَا يَعۡقِلُهَآ إِلَّا ٱلۡعَٰلِمُونَ ٤٣

“Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.” (al-‘Ankabut: 43)

Demikian pula dalam hadis-hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, misalnya,

مَثَلُ المُؤْمِنينَ في تَوَادِّهِمْ وتَرَاحُمهم وَتَعَاطُفِهمْ مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْه عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الجَسَدِ بِالسَّهَرِ والْحُمَّى

“Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal cinta, kasih sayang dan perasaan iba mereka, seperti satu jasad. Apabila satu anggota tubuh itu mengeluh (sakit), tentu seluruh jasad itu saling memanggil, merasakan tidak bisa tidur dan demam.”[7]

Demikianlah al-Qur’anul Karim, di dalamnya terdapat banyak hal yang mendidik dan membina jiwa manusia, meningkatkan pengertiannya untuk tetap istiqamah di atas jalan yang lurus.

 

Hikmah dan Faedah Amtsal

Para ulama menyebutkan beberapa faedah yang dapat dipetik dari pemaparan tamsil ini, baik dari dalam Kitab Suci al-Qur’anul Karim, maupun sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sahih. Di antaranya ialah sebagai peringatan, nasihat, dorongan, sekaligus upaya mencegah dari suatu kejelekan.

Lebih lanjut, faedah adanya perumpamaan ini antara lain ialah:

  1. Menonjolkan makna yang abstrak (yang dipahami oleh akal) dalam bentuk yang tertangkap oleh indra.
  2. Amtsal akan menyingkap berbagai hakikat dan menampakkan sesuatu yang gaib sebagai sebuah keadaan yang nyata.
  3. Amtsal mendorong pihak yang diberi perumpamaan agar berbuat sesuai dengan isi perumpamaan. Misalnya, orang-orang yang beriman diperumpamakan dengan keadaan Maryam yang tidak dirugikan oleh tuduhan orang-orang Yahudi terhadapnya. Ini menjadi hiburan bagi Bunda ‘Aisyah yang menerima tuduhan orang-orang munafik.
  4. Amtsal al-Qur’an juga mencakup penjelasan tentang perbedaan pahala, pujian dan celaan, ganjaran dan siksa.
  5. Amtsal al-Qur’an menjadikan urusan yang dibuat perumpamaannya sebagai sesuatu yang besar dan penting; atau sebaliknya, merendahkan urusan tersebut.
  6. Amtsal al-Qur’an menunjukkan penegasan tentang suatu persoalan atau pembatalannya.
  7. Amtsal membuat orang yang diberi perumpamaan menjauh dari sesuatu yang disebutkan perumpamaannya.

Al-Qur’anul Karim juga mengarahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar memberikan perumpamaan untuk mendekatkan pemahaman mereka kepada tujuan yang baik dan terpuji. Wallahu a’lam.

(insya Allah bersambung)

 Ditulis oleh al-Ustadz Abu Muhammad Harits

[1] Diringkas dari mukadimah Tafsir as-Sa’di rahimahullah.

[2] Lihat al-’Aqidah al-Wasithiyah.

[3] Lihat al-Itqan karya as-Suyuthi.

[4] al-Burhan, al-Imam az-Zarkasyi (1/486).

[5] Bashairu Dzawi Tamyiz, al-Fairuz Abadi (1/1401).

[6] Ibid.

[7] HR. al-Bukhari (no. 6011) dan Muslim (2586) (66)