Kitab-kitab yang Perlu Dipelajari

Kitab Akidah

Dengan penuh rasa syukur, saya berharap agar diberi arahan tentang kitab-kitab yang terbaik dalam masalah akidah dan kitab-kitab yang memerangi kebid’ahan dan khurafat, hingga saya bisa mendapatkannya berapa pun harganya. Semoga dengan mempelajari kitab-kitab tersebut, saya bisa memerangi kebid’ahan dengan izin Allah ‘azza wa jalla, dilandasi hujah yang pasti dan dalil al-Qur’an, atau dari hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jazakumullah khairan.

 

Jawab:

Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah menjawab, “Segala puji hanya bagi Allah ‘azza wa jalla yang telah memberimu anugerah berupa mengenal al-haq dan tahu mana yang benar. Kami memohon kepada Allah ‘azza wa jalla agar menambah ilmumu dan menjadikanmu faqih dalam agama-Nya. Semoga Dia mengokohkan kami dan Anda di atas al-haq. Adapun kitab-kitab yang mengajarkan akidah tauhid, alhamdulillah banyak dan mudah. Di antaranya:

  1. Fathul Majid, syarah/penjelasan dari Kitab at-Tauhid, karya asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan rahimahullah.
  2. Tsalatsah al-Ushul dan Kasyfu asy-Syubuhat, keduanya karya asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah.

Saya nasihatkan agar Anda mendapatkan kitab Majmu’ah at-Tauhid an-Najdiyah. Di dalamnya ada risalah-risalah yang ringkas tentang tauhid dan masalah akidah yang bermanfaat. Karena itu, sepantasnya Anda mencari kumpulan kitab yang diberkahi tersebut.

Demikian pula kitab Syarhu ath-Thahawiyah karya al-Imam al-’Izz ibnu Abil ‘Izz al-Hanafi rahimahullah, yang merupakan syarah yang berfaedah dan panjang lebar (dari kitab Aqidah ath-Thahawiyah). Kitab ini mencakup bab akidah.

Demikian pula kitab Ighatsah al-Lahafan min Mashaid asy-Syaithan, karya al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah. Sebab, kitab ini berfaedah dalam hal akidah, berisi peringatan dari kebid’ahan dan peringatan dari penyelisihan (terhadap al-haq). Kitab ini begitu berharga, tidak pantas penuntut ilmu tidak tahu tentangnya.

Demikianlah beberapa kitab yang khusus berbicara tentang akidah.

Adapun kitab-kitab yang khusus membahas tentang bid’ah dan peringatan dari bid’ah, terdapat kitab-kitab yang berfaedah dan mudah, hanya milik Allah-lah segala pujian. Di antaranya,

  1. Iqtidha’ ash-Shirath al-Mustaqim Mukhalafah Ashabul Jahim, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah
  2. al-I’tisham, karya al-Imam asy-Syathibi rahimahullah
  3. al-Hawadits wa al-Bida’, karya al-Imam ath-Thurthusyi rahimahullah
  4. al-Bida’ wa an-Nahyu ‘anha, karya Ibnu Wadhdhah rahimahullah
  5. al-Ba’its ‘ala Ingkar al-Bida’ wa al-Hawadits, al-Imam Abu Syamah rahimahullah
  6. al-Ibda’ fi Madhar al-Ibtida’, karya Syaikh Ali Mahfuzh
  7. as-Sunan wa al-Mubtada’at, karya asy-Syaikh Muhammad Abdus Salam Khidhir
  8. at-Tahdzir min al-Bida’, karya asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah

Inilah kitab-kitab yang mudah. Ada di antaranya yang dibagikan gratis, dan ada pula yang dijual dengan harga murah. Karena itu, semestinya Anda mendapatkannya atau mendapatkan apa yang mudah untuk Anda dapatkan dari beberapa kitab tersebut. Di dalamnya ada kebaikan, insya Allah.

Akan tetapi, di samping itu semua, aku nasihati Anda dan orang-orang semisal Anda agar tidak mencukupkan diri dengan membaca dan memahami sendiri kitab tersebut.

Seharusnya Anda mencari ahli ilmu yang muhaqqiq. Anda baca kitab tersebut di hadapannya agar orang yang berilmu tersebut memberikan penjelasan kepadamu tentang hal yang rumit atau sesuatu yang tidak jelas yang ada di dalamnya, dan dia menerangkan kepadamu al-haq yang ada di dalamnya. Allah ‘azza wa jalla-lah yang memberi taufik.”

(Majmu’ Fatawa Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan, 1/65—66)

Kitab Tentang Surga dan Neraka

Saya berharap diberikan arahan tentang kitab-kitab yang memberi kabar gembira tentang surga serta kenikmatannya dan kitab-kitab yang memperingatkan dari neraka serta azabnya.

Jawab:

“Yang membahas tentang hal tersebut adalah Kitabullah. Seharusnya Anda membaca al-Qur’anul Azhim dan mentadabburi kandungannya. Dalam al-Qur’an, ada dorongan untuk memeroleh surga dan anjuran melakukan amalan saleh. Di dalamnya ada ancaman yang menakut-nakuti dari neraka dan larangan melakukan perbuatan yang dapat mengantarkan ke neraka.

Al-Qur’an yang agung mengandung janji dan ancaman. Hal ini sebagaimana firman Allah ‘azza wa jalla,

وَكَذَٰلِكَ أَنزَلۡنَٰهُ قُرۡءَانًا عَرَبِيّٗا وَصَرَّفۡنَا فِيهِ مِنَ ٱلۡوَعِيدِ لَعَلَّهُمۡ يَتَّقُونَ أَوۡ يُحۡدِثُ لَهُمۡ ذِكۡرٗا ١١٣

Demikianlah Kami menurunkan al-Qur’an dalam bahasa Arab dan Kami telah menerangkan dengan berulang kali di dalamnya sebagian dari ancaman, agar mereka bertakwa atau agar al-Qur’an itu membuat peringatan/pelajaran untuk mereka.” (Thaha: 113)

Oleh karena itu, semestinya Anda memperbanyak membaca al-Qur’an al-‘Azhim dengan tadabbur dan berupaya memahami apa yang dituntut oleh al-Qur’an terhadap seorang muslim.

Beberapa hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga berisi targhib (mendorong/memberikan kabar gembira) dan tarhib (menakut-nakuti/mengancam). Kitab yang membahas tentang hal ini di antaranya at-Targhib wa at-Tarhib karya al-Hafizh al-Mundziri rahimahullah. Kitab ini bernilai tinggi, di dalamnya ada bab tentang targhib dan tarhib. Dibawakan di dalamnya hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang pembahasan ini. Semestinya Anda mendapatkannya dan banyak membacanya. Demikian pula kitab Riyadhus Shalihin karya al-Hafizh an-Nawawi rahimahullah.”

(Majmu’ Fatawa Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan, 1/67—68)

Membaca Surat dalam Shalat dengan Melihat Mushaf

Apakah diperbolehkan membawa mushaf dalam shalat dan membaca dari mushaf tersebut (dengan melihat mushaf), jika orang yang shalat tidak hafal surat yang dibaca? Demikian pula doa, apakah boleh ditulis di kertas dan dibaca di dalam shalat?

Bagaimana cara yang benar lagi berfaedah untuk menghafal al-Qur’an serta aman dari hilangnya hafalan tersebut dari dada ?

Jawab:

“Cara untuk mengokohkan hafalan al-Qur’an dalam dada adalah Anda harus banyak membacanya dan menjaganya, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mewasiatkan untuk menjaga al-Qur’an ini. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّهُ أَشَدُّ تَفَلُّتًا مِنَ الْإِبِلِ ف عُقُلِهَا

“Al-Qur’an itu lebih cepat hilangnya daripada unta yang lepas dari ikatannya.” (HR Muslim)

Anda harus banyak membaca dan mengulang-ulanginya hingga kokoh dalam dada. Sama saja baik dibaca dalam shalat maupun di luar shalat, karena memang tidak ada cara yang efektif untuk menghafal al-Qur’an kecuali dengan dua hal:

  1. Memperbanyak membacanya.
  2. Mengamalkan al-Qur’an.

Sebab, mengamalkannya akan mengantarkan kepada kokohnya al-Qur’an di dalam kalbu dan terus teringat kepadanya. Ini yang aku pesankan kepada Anda.

Adapun menulis doa-doa di lembaran kertas untuk dibaca dalam shalat, saya memandang agar hal itu tidak dilakukan. Berdoalah dengan doa yang mudah bagi Anda dan yang Anda hafal. Tidak perlu membebani diri dengan menulis dan membacanya pada lembar tertulis, karena hal itu akan menyibukkan Anda dalam shalat.

Membaca al-Qur’an dari mushaf dalam keadaan shalat, jika memang seseorang sama sekali tidak memiliki hafalan al-Qur’an, tidaklah terlarang. Sebagian salaf memberikan keringanan untuk melakukannya. Ini adalah mazhab sekelompok ahlul ilmi. Dengan syarat, orang tersebut memang tidak mampu membaca dari hafalannya dan tidak punya hafalan sama sekali. Atau dia ingin shalat malam, misalnya, dan dia ingin membaca surat al-Qur’an yang banyak atau panjang, padahal dia tidak hafal. Dalam hal ini, tidak ada larangan baginya untuk membaca dari mushaf. Demikian pula dalam shalat tarawih, jika dia tidak hafal al-Qur’an, tidak ada larangan baginya membaca dari mushaf karena adanya kebutuhan.”

(Majmu’ Fatawa Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan, 1/115)

Wasiat untuk Pendamba Surga

Kenikmatan surga luar biasa tak terbayangkan.

فَلَا تَعۡلَمُ نَفۡسٞ مَّآ أُخۡفِيَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعۡيُنٖ

“Tidak ada satu jiwa pun yang mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka dari kenikmatan yang menyenangkan pandangan mata….” (as-Sajdah: 17)

Rasul yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam pun pernah bertitah tentang kenikmatan surga. Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَالَ اللهُ تَعَالَى: أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ مَا لاَ عَيْنٌ رَأَتْ، وَلاَ أُذُنٌ سَمِعَتْ، وَلاَ خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ

Allah ‘azza wa jalla berfirman, “Aku telah menyiapkan untuk hamba-hamba-Ku yang saleh (kenikmatan yang) tidak pernah terlihat oleh mata, tidak pula terdengar oleh telinga, dan tidak pernah terbetik dalam kalbu.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Karena mengetahui nikmat yang sangat agung tersebut, setiap insan yang beriman kepada Allah ‘azza wa jalla dan percaya adanya hari akhir hendaknya menjadikan surga sebagai impian puncak dan cita-cita tertinggi.

Bagaimana tidak, surga adalah kenikmatan yang tidak ada duanya, kekal abadi, tiada pernah berakhir. Barang siapa masuk ke dalamnya, dia akan terus bersenang-senang dan tidak pernah keluar darinya. Barang siapa dimasukkan ke dalam surga, sungguh dia telah beruntung karena selamat dari kengerian api neraka.

Apabila Anda, wahai muslimah, termasuk pendamba surga abadi, ada sebuah wasiat yang perlu Anda cermati. Wasiat ini disampaikan oleh sayyidul basyar, pemuka dan junjungan anak manusia, yang memiliki sifat pengasih penyayang kepada umatnya shallallahu ‘alaihi wa sallam[1]. Apakah wasiat tersebut?

Sahabat yang mulia, Abdullah ibnu ‘Amr ibnul Ash radhiallahu ‘anhuma meridhai beliau dan ayahnya, berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُزَحْزَحَ عَنِ النَّارِ وَيُدْخَلَ الْجَنَّةَ، فَلْتَأْتِهِ مَنِيَّتُهُ وَهُوَ يُؤْمنُ باِللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ، وَلْيَأْتِ إِلَى النَّاسِ مَا يُحِبُّ أَنْ يُؤْتَى إِلَيْهِ

“Siapa yang ingin dijauhkan dari api neraka dan dimasukkan ke dalam surga, hendaknya dalam keadaan beriman kepada Allah ‘azza wa jalla dan hari akhir saat kematian mendatanginya. Hendaklah dia berbuat kepada manusia apa yang dia suka untuk diperbuat terhadap dirinya.” (HR. Muslim)

Dalam wasiat yang terangkum dalam hadits di atas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan dua sebab meraih kesuksesan hakiki—dijauhkan dari api neraka dan dimasukkan ke dalam surga, yaitu:

  1. Beriman kepada Allah ‘azza wa jalla dan kepada hari akhir.
  2. Berbuat baik kepada manusia, dalam bentuk ucapan, perbuatan, harta, muamalah, dan sebagainya.

Dengan demikian, sebab pertama agar seseorang dimasukkan ke dalam surga mengandung penunaian terhadap hak Allah ‘azza wa jalla. Adapun sebab kedua mengandung penunaian hak sesama insan. (Bahjah Qulub al-Abrar, asy-Syaikh al-Allamah as-Sa’di, hlm. 218)

Beriman kepada Allah ‘azza wa jalla

Beriman kepada Allah ‘azza wa jalla mencakup beriman akan wujud-Nya, beriman akan hak rububiyah-Nya[2], beriman akan uluhiyah-Nya[3], dan beriman akan nama dan sifat-Nya[4]. Apabila hilang salah satu dari empat pokok ini pada diri seorang hamba, niscaya cacatlah keimanannya kepada Allah ‘azza wa jalla. (Syarh Tsalatsah al-Ushul, Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin)

Beriman kepada Hari Akhir

Beriman kepada hari akhir mencakup tiga hal:

  • Mengimani adanya kebangkitan dari dalam kubur,
  • Mengimani adanya hisab atau perhitungan amalan dan balasannya, dan
  • Mengimani adanya surga dan neraka.

Termasuk dalam keimanan kepada hari akhir adalah memercayai seluruh kejadian setelah kematian, seperti adanya fitnah (ujian) kubur—pertanyaan dua malaikat kepada si mayat tentang tiga masalah—dan mengimani adanya nikmat dan azab kubur. (Syarh Tsalatsah al-Ushul)

Keimanan terhadap hari akhir ini berkonsekuensi seseorang beramal untuk “menyambut” hari tersebut. Tidaklah bermanfaat sekadar percaya tanpa dibarengi usaha.

Berbuat Baik kepada Manusia

Timbangan yang menjadi tolok ukur berbuat baik kepada manusia adalah lakukan kepada manusia apa yang Anda suka dilakukan kepada Anda.

Di sisi lain, tinggalkan semua kelakuan atau perbuatan kepada manusia yang Anda tidak suka apabila Anda diperlakukan demikian.

Semua yang Anda suka untuk diperbuat kepada Anda, maka lakukanlah kepada manusia. Sebaliknya, apa saja yang Anda tidak sukai untuk diperlakukan kepada Anda, jangan lakukan hal tersebut kepada manusia.

Abu Hamzah Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, sahabat yang sejak berusia 10 tahun berkhidmat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam , menyampaikan sebuah hadits dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidak beriman salah seorang dari kalian hingga dia menyukai untuk saudaranya apa yang dia sukai untuk dirinya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Apabila ada sebuah kejelekan yang Anda tidak sukai jika menimpa Anda, tetapi Anda lakukan hal tersebut kepada manusia, berarti Anda telah menyianyiakan pokok yang agung ini.

Hadits Anas radhiallahu ‘anhu di atas menunjukkan wajibnya mencintai untuk saudara seiman apa yang kita sukai untuk diri kita. Sebab, ditiadakannya keimanan (yang sempurna) dari orang yang tidak sukai untuk saudaranya apa yang dia sukai untuk dirinya sendiri, menunjukkan bahwa hal tersebut hukumnya.

Selain itu, hadits di atas memperingatkan kita dari sifat hasad dan iri dengki kepada sesama saudara seiman. Sebab, orang yang hasad jelas tidak suka kebaikan diperoleh orang lain, dan justru menginginkan yang sebaliknya.

Apabila ada yang menganggap bahwa hal ini sulit, yakni beratnya mencintai kebaikan agar diperoleh orang lain, sebenarnya tidak demikian. Tidak ada kesulitan asalkan seseorang mau melatih jiwanya untuk berbuat demikian. Apabila sudah terlatih, dengan izin Allah ‘azza wa jalla akan mudah. Sebaliknya, apabila seseorang mengikuti keinginan jiwa dan hawa nafsunya, tentu akan sulit baginya. (Syarh al-Arba’in an-Nawawiyah, Fadhilatusy Syaikh al-Allamah Ibnu Utsaimin, hlm. 186—187)

Hasil dari menjalankan dua sebab di atas (iman kepada Allah ‘azza wa jalla dan hari akhir, serta mencintai kebaikan untuk manusia) tentulah sangat kita impikan. Sebab, itulah kesuksesan sejati. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

فَمَن زُحۡزِحَ عَنِ ٱلنَّارِ وَأُدۡخِلَ ٱلۡجَنَّةَ فَقَدۡ فَازَۗ

“Siapa yang dijauhkan dari api neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh dia telah sukses/beruntung.” (Ali ‘Imran: 185)

Makna “zuhziha” (زُحۡزِحَ ) adalah didorong mundur. Sebab, neraka dikelilingi oleh syahwat yang jiwa sebenarnya condong kepadanya. Jiwa ini sebenarnya sangat suka dan menyenanginya. Hampir-hampir seorang insan tidaklah berpaling dari syahwat ini kecuali karena didorong mundur agar menjauhinya. Allah ‘azza wa jalla mengatakan,

فَمَن زُحۡزِحَ عَنِ ٱلنَّارِ

Maknanya, dia didorong mundur agar menjauh dari neraka.

Dia pun kemudian dimasukkan ke dalam surga. Dengan demikian, dia meraih kesuksesan, selamat dari apa yang ditakuti dan mendapat apa yang dicari. (Tafsir al-Qur’an al-Karim, al-‘Allamah Ibnu Utsaimin, 2/512)

Kesuksesan atau keberuntungan tidak akan sempurna kecuali dengan dua hal, yaitu diselamatkan dari api neraka dan dimasukkan ke dalam surga. Telah dimaklumi, siapa yang diselamatkan dari neraka, tentulah akan dimasukkan ke dalam surga. Sebab, di akhirat hanya ada dua negeri, yaitu surga dan neraka.

Hendaknya setiap kita melihat diri masing-masing. Apabila kita dapati diri kita beriman kepada Allah ‘azza wa jalla dan hari akhir, dan suka memperlakukan manusia dengan apa yang kita sukai untuk diperbuat kepada kita, hendaknya kita bergembira dengan hadits ini. Sebaliknya tentunya….

Wallahul musta’an. (Bahjah Qulub al-Abrar, hlm. 515)

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab

 

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah


[1] Allah ‘azza wa jalla berfirman menyebutkan sifat Nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لَقَدۡ جَآءَكُمۡ رَسُولٞ مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ عَزِيزٌ عَلَيۡهِ مَا عَنِتُّمۡ حَرِيصٌ عَلَيۡكُم بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ رَءُوفٞ رَّحِيمٞ ١٢٨

“Sungguh, telah datang kepada kalian seorang rasul dari diri-diri kalian, terasa berat atas Rasul tersebut apa yang menyusahkan kalian, dia sangat bersemangat agar kalian beroleh kebaikan, terhadap orang-orang beriman beliau memiliki sifat pengasih lagi penyayang.(at-Taubah: 128)

[2] Dia bersendiri dalam hak rububiyah ini. Dia-lah sendiri yang menciptakan, yang memiliki, memerintah, mengatur, memberi rezeki, dan sebagainya. Secara ringkas, bisa dikatakan tauhid rububiyah adalah mengesakan Allah ‘azza wa jalla dalam perbuatan-Nya.

[3] Hanya Dia sendiri yang pantas dan berhak untuk diibadahi, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam seluruh macam ibadah. Hak uluhiyah bisa dimaknakan mengesakan Dia dalam perbuatan hamba. Sebab, ibadah adalah perbuatan hamba; dan semuanya secara total ditujukan kepada Allah ‘azza wa jalla semata.

[4] Allah ‘azza wa jalla sajalah yang memiliki al-Asma’ul Husna, nama-nama yang baik yang mencapai puncak kebaikan; Dia sajalah yang memiliki ash-Shifah al-Ulya, sifat-sifat yang tinggi. Nama-nama dan sifat-sifat tersebut (sesuai dengan kabar yang datang dalam al-Qur’an dan as-Sunnah) ditetapkan untuk Allah ‘azza wa jalla sesuai dengan sisi yang layak bagi-Nya, tanpa memalingkannya, menolaknya, memisalkan, ataupun menyerupakannya dengan makhluk.

Sebab, Dia Yang Mahasuci berfirman,

لَيۡسَ كَمِثۡلِهِۦ شَيۡءٞۖ

“Tidak ada sesuatu pun yang semisal dengan-Nya.” (asy-Syura: 11)

Wanita Juga Ihtilam

Ada satu dari sekian banyak bimbingan ilmu nubuwwah yang tidak sepantasnya dilewatkan oleh setiap muslim dan muslimah, terkhusus bagi mereka yang telah berumah tangga. Bimbingan ini diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lewat pertanyaan seorang wanita yang rasa malu tidak menghalanginya untuk tafaqquh fid din.

Lanjutkan membaca Wanita Juga Ihtilam

Bahaya Mencari Popularitas

KHUTBAH PERTAMA:

 

إِنَّ الْحَمْدَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ ١٠٢

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفۡسٖ وَٰحِدَةٖ وَخَلَقَ مِنۡهَا زَوۡجَهَا وَبَثَّ مِنۡهُمَا رِجَالٗا كَثِيرٗا وَنِسَآءٗۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ٱلَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلۡأَرۡحَامَۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيۡكُمۡ رَقِيبٗا ١

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَقُولُواْ قَوۡلٗا سَدِيدٗا ٧٠ يُصۡلِحۡ لَكُمۡ أَعۡمَٰلَكُمۡ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۗ وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ فَازَ فَوۡزًا عَظِيمًا ٧١

أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كَلَامُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ وَشَرَّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ. أَمَّا بَعْدُ؛

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Marilah kita bersama-sama meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah ‘azza wa jalla. Sungguh, telah beruntung orang-orang yang bertakwa.

Di dalam sebuah hadits sahih yang diriwayatkan oleh al-Imam Muslim rahimahullah dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

        إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: قَاتَلْتُ فِيكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ. قَالَ: كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لِأَنْ يُقَالَ جَرِيءٌ، فَقَدْ قِيلَ. ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ

Sesungguhnya manusia yang pertama dihisab pada hari kiamat adalah seorang laki-laki yang mati syahid, hingga dipanggil seraya ditunjukkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya dan dia pun mengakuinya. Kemudian ditanyakan, “Apa yang telah kamu kerjakan terhadap kenikmatan ini?”

Dia pun menjawab, “Aku telah berperang di jalan-Mu hingga aku terbunuh mati syahid.”

Allah ‘azza wa jalla pun berkata kepadanya, “Sungguh, Engkau telah berdusta. Engkau berperang agar disebut sebagai seorang pejuang dan sebutan itu pun sudah engkau dapatkan.”

Kemudian orang tersebut diseret secara tengkurap hingga dilemparkan ke api neraka.

 

Ma’asyiral muslimin rahimani warahimakumullah,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan sabdanya,

        وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيكَ الْقُرْآنَ. قَالَ: كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ عَالِمٌ وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِئٌ فَقَدْ قِيلَ. ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ

(Yang kedua,) seorang pria yang menuntut ilmu lalu mengajarkannya dan mampu membaca (serta menghafal) al-Qur’an. Dia dipanggil (untuk dihisab) dengan ditunjukkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya. Dia pun mengakuinya. Ditanyakan kepadanya, “Apa yang telah kamu lakukan terhadap kenikmatan-kenikmatan ini?”

Dia menjawab, “Aku telah menuntut ilmu kemudian mengajarkannya dan aku membaca (dan menghafal) al-Qur’an.”

Allah ‘azza wa jalla pun berkata kepadanya, “Sungguh, engkau telah berdusta. Engkau menuntut ilmu agar disebut sebagai alim ulama. Engkau membaca (dan menghafal) agar disebut qari’, dan gelar itu sudah engkau dapatkan.”

Kemudian pria tersebut diseret secara tengkurap hingga dilemparkan ke api neraka.

 

Hadirin rahimani wa rahimakumullah,

Selanjutnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

        وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ وَأَعْطَاهُ مِنْ أَصْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: مَا تَرَكْتُ مِنْ سَبِيلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيهَا إِ أَنْفَقْتُ فِيهَا لَكَ. قَالَ: كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ هُوَ جَوَادٌ فَقَدْ قِيلَ. ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِ

 Dan orang (yang ketiga yang didahulukan hisabnya pada hari kiamat) adalah seorang yang Allah ‘azza wa jalla melapangkan kehidupan baginya dan mengaruniainya semua jenis harta kekayaan. Dia dipanggil (untuk dihisab) seraya ditunjukkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya dan dia pun mengakuinya. Kemudian ditanyakan kepadanya, “Apa yang telah kamu kerjakan terhadap kenikmatan-kenikmatan ini?”

Dia pun menjawab, “Tidak ada satu pun dari jalan yang Engkau inginkan untuk diinfakkan padanya kecuali telah aku infakkan semua demi Engkau, ya Allah!”

Allah ‘azza wa jalla pun berkata kepadanya, “Sungguh, engkau telah berdusta. Engkau lakukan itu semua agar engkau disebut sebagai dermawan, dan sebutan itu sudah engkau dapatkan.”

Lalu diperintahkan agar dia diseret secara tengkurap kemudian dilemparkan ke api neraka.

 

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Hadits di atas menunjukkan betapa pentingnya seseorang mengikhlaskan segala bentuk peribadatannya hanya semata-mata untuk Allah ‘azza wa jalla. Ketiga amalan tersebut merupakan amalan-amalan yang paling afdal dan paling mulia di sisi Allah ‘azza wa jalla, apabila diniatkan ikhlas karena Allah ‘azza wa jalla. Pada asalnya, semua amalan tersebut adalah jalan menuju ke surga.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤۡتُواْ ٱلزَّكَوٰةَۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلۡقَيِّمَةِ ٥

“Dan tidaklah mereka diperintahkan kecuali untuk mengikhlaskan agama mereka hanya bagi Allah dan agar mereka menegakkan shalat, menunaikan zakat. Dan demikian itulah agama yang lurus.(al-Bayyinah: 5)

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرآنِ الْكَرِيم،ِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتَ وَالذِّكْرِ الْحَكِيم. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمِ.

 

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَاهُ، وَأشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ:

Allah ‘azza wa jalla berfirman tentang jihad,

إِنَّ ٱللَّهَ ٱشۡتَرَىٰ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ أَنفُسَهُمۡ وَأَمۡوَٰلَهُم بِأَنَّ لَهُمُ ٱلۡجَنَّةَۚ

“Sesungguhnya Allah membeli dari kaum mukminin jiwa-raga dan harta mereka dengan bayaran surga.” (at-Taubah: 111)

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang keutamaan penuntut ilmu,

        مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barang siapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu, Allah ‘azza wa jalla akan mudahkan baginya dengan ilmunya jalan menuju surga.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Demikian juga tentang infak, Allah ‘azza wa jalla berfirman,

مَّثَلُ ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمۡوَٰلَهُمۡ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنۢبَتَتۡ سَبۡعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنۢبُلَةٖ مِّاْئَةُ حَبَّةٖۗ وَٱللَّهُ يُضَٰعِفُ لِمَن يَشَآءُۚ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ ٢٦١

“Perumpamaan orang yang menginfakkan di jalan Allah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh tangkai. Pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui.” (al-Baqarah: 261)

Namun, ketika tidak ikhlas atau diiringi dengan tendensi duniawi untuk mencari kedudukan serta popularitas, amalan tersebut justru bisa menjadi bumerang bagi pelakunya dan berakhir dengan kesengsaraan seperti yang dialami oleh tiga pria tersebut. Semoga Allah ‘azza wa jalla menyelamatkan kita darinya.

        وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَالْحَمْدُ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

Hamba Senantiasa Membutuhkan Kesabaran

Seorang hamba tidak terlepas dari menjalankan perintah yang wajib dia laksanakan, larangan yang wajib untuk dia tinggalkan, takdir yang pasti terjadi, dan kenikmatan yang wajib dia syukuri kepada Pemberinya. Karena semua keadaan ini tidak mungkin lepas darinya, dia pun wajib bersabar sampai meninggal. Lanjutkan membaca Hamba Senantiasa Membutuhkan Kesabaran

Jangan Frustasi Menghadapi Kristenisasi

Nasrani (Kristen) adalah salah satu agama kafir yang mengajarkan berbagai kekafiran, kesyirikan, dan kemungkaran. Agama itu dinisbatkan kepada Nabi Isa al-Masih ‘alaihissalam yang mereka sebut “Yesus Kristus”.

Namun, Nabi Isa bin Maryam al-Masih ‘alaihissalam berlepas diri dari ajaran tersebut. Lanjutkan membaca Jangan Frustasi Menghadapi Kristenisasi

Keharusan Membenci dan Berlepas Diri dari Orang Kafir

Di antara prinsip yang agung dalam akidah Islam adalah al-wala wal bara’. Al-wala wal bara’ adalah prinsip yang terkandung dalam dua kalimat syahadat. Jadi, prinsip ini sangat erat kaitannya dengan masalah akidah.

Asy-Syaikh Muhamad bin Abdul Wahab berkata ketika mendefinisikan Islam, “Islam adalah berserah diri kepada Allah dengan mentauhidkan-Nya, tunduk kepada-Nya dengan menaati-Nya, dan ber-bara’ah (berlepas diri) dari kesyirikan dan orang-orang berbuat kesyirikan.”

Apakah yang dimaksud dengan alwala’ wal bara’ karena Allah? Lanjutkan membaca Keharusan Membenci dan Berlepas Diri dari Orang Kafir