Saat Melihat Manusia Menyimpan Emas & Perak

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Syaddad bin Aus radhiallahu ‘anhu,

“Wahai Syaddad bin Aus, apabila engkau melihat manusia telah menyimpan emas dan perak, simpanlah kalimat-kalimat ini.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الْأَمْرِ وَالْعَزِيْمَةَ عَلَى الرُّشْدِ، وَأَسْأَلُكَ شُكْرَ نِعْمَتِكَ، وَأَسْأَلُكَ حُسْنَ عِبَادَتِك، وَأَسْأَلُكَ قَلْبًا سَلِيمًا، وَأَسْأَلُكَ لِسَانًا صَادِقًا، وَأَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا تَعْلَمُ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا تَعْلَمُ وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا تَعْلَمُ، إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ

“Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu kekokohan di atas agama, istiqamah di atas jalan yang haq, bersyukur atas nikmat-Mu, kebagusan dalam ibadah kepada-Mu, kalbu yang selamat, dan lisan yang jujur. Aku memohon kebaikan yang Engkau ketahui. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang Engkau ketahui. Aku memohon ampun kepada-Mu dari yang Engkau ketahui. Sesungguhnya, Engkau Maha Mengetahui hal-hal yang gaib.”

(HR. Ahmad no. 17114, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam ash-Shahihah no. 3228)

Sabar yang Indah

“Sabar, ya?” demikian ucapan yang biasa kita dengar dari orang yang hendak menenangkan seseorang yang sedang emosi atau tengah dilanda duka. Sebenarnya apa hakikat sabar yang biasa terucap itu?

Menurut syariat, sabar adalah menahan diri dalam tiga urusan:

  1. Sabar dalam ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala
  2. Sabar dalam menjauhi apa yang dilarang oleh Allah subhanahu wa ta’ala
  3. Sabar dalam menghadapi takdir Allah subhanahu wa ta’ala yang pahit.

Kita lihat satu per satu macam kesabaran di atas.

Sabar Menjalankan Ketaatan

Seorang insan harus bersabar ketika menjalankan ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Sebab, ketaatan itu sebenarnya berat dan sulit bagi jiwa. Terkadang, berat pula bagi jasmani karena pada diri seseorang ada kelemahan dan kepayahan. Ibadah yang harus mengeluarkan harta juga berat, seperti mengeluarkan zakat dan berhaji.

Intinya, dalam ketaatan itu ada rasa berat bagi jiwa dan jasmani sehingga dibutuhkan kesabaran untuk menjalankannya.

Sabar Menjauhi Larangan

Seseorang harus menahan jiwanya dari berbuat maksiat. Sementara itu, jiwa itu ammarah bis su’, suka mengajak kepada kejelekan. Oleh karena itu, seorang insan harus membuat sabar jiwanya. Contoh hal yang diharamkan ialah berdusta, berkhianat, ghibah, memakan riba, mendengarkan musik, zina, mencuri, dan sebagainya.

Seseorang harus menahan jiwanya agar tidak melakukan semua itu. Dia harus berjuang untuk melawan ajakan berbuat haram dan mesti mengekang hawa nafsunya. Sabar di atas ketaatan lebih utama daripada sabar dalam menjauhi maksiat.

Sabar Menghadapi Takdir

Ketahuilah, ada dua macam takdir Allah subhanahu wa ta’ala yang mengenai manusia: mula’imah dan mu’limah. Mula’imah adalah yang sesuai dengan keinginan dan menyenangkan seorang insan. Orang yang menerima takdir ini harus bersyukur. Syukur termasuk amal ketaatan. Dengan demikian, sabar dalam hal ini termasuk jenis kesabaran yang pertama.

Mu’limah adalah sesuatu yang tidak menyenangkan, pahit dirasakan. Seseorang diuji pada tubuh, harta, dan keluarganya. Dia harus bersabar menghadapi musibah tersebut dengan tidak melakukan apa yang dilarang oleh Allah subhanahu wa ta’ala, yaitu berkeluh kesah, menampakkan marah atas musibah tersebut, apakah diucapkan dengan lisan, disimpan dalam kalbu, ataupun ditunjukkan dengan perbuatan anggota badan.

Tingkatan Manusia Menghadapi Musibah

Saat terjadi musibah, manusia berada di antara salah satu dari empat keadaan berikut.

 

  1. Dia murka atas musibah yang menimpanya.

Kemurkaan tersebut bisa terjadi dalam hati, terucap dengan lisan, atau diperbuat oleh anggota badan. Marah dengan kalbu terwujud dengan tersimpan dalam hatinya protes kepada Allah subhanahu wa ta’ala, marah, tidak terima, serasa ingin menuntut, menyalahkan Allah subhanahu wa ta’ala, dan merasa dizalimi dengan musibah tersebut. Na’udzu billah.

Marah dengan lisan terwujud dengan terucap doa kejelekan untuk dirinya karena musibah tersebut, “Duhai, celaka aku!”, “Betapa sengsaranya diri ini!”, atau “Mengapa harus datang musibah ini?”

Marah dengan anggota tubuh, terwujud dengan menampar pipi, menarik-narik rambut, merobek baju, meraung-raung, berguling-guling di lantai sambil meratap, dan sebagainya.

Orang yang berbuat hal-hal seperti di atas kala musibah melandanya adalah  orang yang diharamkan mendapatkan pahala. Sudah pun tidak “sukses” dengan musibah tersebut, dia justru berdoa kejelekan untuk dirinya. Akhirnya, dia tertimpa dua musibah, yaitu musibah pada agamanya dengan marah tersebut dan musibah pada dunianya dengan ditimpa hal yang menyakitkan.

 

  1. Dia bersabar atas musibah tersebut.

Kesabaran ini dilakukan dengan menahan diri dari apa yang tidak dibenarkan oleh syariat.

Sebenarnya dia benci dan tidak suka dengan musibah tersebut, tetapi dia menyabarkan dirinya. Lisannya ditahan agar tidak mengucapkan kata-kata yang mengundang kemurkaan Allah subhanahu wa ta’ala. Anggota tubuhnya dikekang agar tidak berbuat sesuatu yang mendatangkan kemarahan Allah subhanahu wa ta’ala. Di hatinya tidak ada prasangka yang buruk kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Dia sabar walau dia tidak suka dengan musibah tersebut.

Sabar yang seperti ini wajib dimiliki oleh setiap muslim saat menghadapi musibah.

 

  1. Ridha dengan musibah tersebut.

Dadanya merasa lapang dengan musibah yang menimpanya. Dia ridha sepenuhnya atas musibah, seakan-akan dia tidak tertimpa musibah.

 

  1. Bersyukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas musibah yang menimpa.

Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila ditimpa apa yang tidak disenangi, beliau berucap,

الْحَمْدُ لِلهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ

“Segala puji bagi Allah atas seluruh keadaan.”

Dia bersyukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas pahala yang diterimanya karena musibah tersebut jauh lebih besar dari musibah itu sendiri.

Syukur merupakan tingkatan yang tertinggi. Hukumnya sunnah sebagaimana halnya tingkatan ketiga, yaitu ridha.

 

Sabar Hukumnya Wajib

Sebagaimana disebutkan bahwa sabar itu hukumnya wajib karena diperintahkan oleh agama ini. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam tanzil- Nya,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱصۡبِرُواْ وَصَابِرُواْ وَرَابِطُواْ

“Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian (dalam menjauhi apa yang Allah haramkan), perkuatlah kesabaran (dalam menjalani ketaatan kepada-Nya), dan perbanyaklah kebaikan serta terus meneruslah di atasnya….” (Ali ‘Imran: 200)

Musibah merupakan keniscayaan sebagai ujian kehidupan. Allah subhanahu wa ta’ala menyatakan,

وَلَنَبۡلُوَنَّكُم بِشَيۡءٖ مِّنَ ٱلۡخَوۡفِ وَٱلۡجُوعِ وَنَقۡصٖ مِّنَ ٱلۡأَمۡوَٰلِ وَٱلۡأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ ١٥٥

“Dan sungguh Kami akan berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang bersabar.” (al-Baqarah: 155)

Dengan ujian, akan tampak para pemenang dan nyata orang-orang yang kalah.

وَلَنَبۡلُوَنَّكُمۡ حَتَّىٰ نَعۡلَمَ ٱلۡمُجَٰهِدِينَ مِنكُمۡ وَٱلصَّٰبِرِينَ

“Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kalian agar Kami mengetahui (menampakkan) orang-orang yang berjihad dan orang-orang yang bersabar di antara kalian.” (Muhammad: 31)

Pemenangnya adalah orang-orang yang bisa bersabar. Mereka dijanjikan akan beroleh pahala yang sangat besar tanpa perhitungan sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala,

إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجۡرَهُم بِغَيۡرِ حِسَابٖ ١٠

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (az-Zumar: 10)

Itulah pahala berlipat ganda dari Allah subhanahu wa ta’ala yang tidak mungkin manusia membilangnya. Bergembiralah orang-orang yang mau bersabar dengan kebersamaan Allah subhanahu wa ta’ala yang khusus, yaitu kebersamaan-Nya dengan para hamba pilihan-Nya,

إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ ١٥٣

“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bersabar.” (al-Baqarah: 153)

Perlu diketahui, ma’iyatulah (kebersamaan Allah dengan hamba-Nya) ada dua macam.

  1. Kebersamaan yang umum (ma’iyah ‘ammah)

Kebersamaan yang umum ini mencakup seluruh hamba-Nya. Contohnya seperti tersebut dalam ayat,

هُوَ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٖ ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰ عَلَى ٱلۡعَرۡشِۖ يَعۡلَمُ مَا يَلِجُ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَمَا يَخۡرُجُ مِنۡهَا وَمَا يَنزِلُ مِنَ ٱلسَّمَآءِ وَمَا يَعۡرُجُ فِيهَاۖ وَهُوَ مَعَكُمۡ أَيۡنَ مَا كُنتُمۡۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ بَصِيرٞ ٤

“Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari. Kemudian dia beristiwa di atas Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi, apa yang keluar darinya, apa yang turun dari langit, dan apa yang naik kepadanya. Dan Dia bersama kalian di mana saja kalian berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kalian kerjakan.” (al-Hadid: 4)

مَا يَكُونُ مِن نَّجۡوَىٰ ثَلَٰثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمۡ وَلَا خَمۡسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمۡ وَلَآ أَدۡنَىٰ مِن ذَٰلِكَ وَلَآ أَكۡثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمۡ أَيۡنَ مَا كَانُواْۖ

“Tidak ada pembicaraan rahasia antara tiga orang melainkan Dialah yang keempat. Dan tidak ada pembicaraan rahasia antara lima orang melainkan Dia yang keenamnya. Dan tidak pula pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia bersama mereka di mana pun mereka berada.” (al-Mujadilah: 7)

Tidak ada satu makhluk pun kecuali Allah subhanahu wa ta’ala bersamanya dengan ilmu-Nya, yang meliputi mendengar, menguasai, mengatur, dan melihat seorang hamba dari makna rububiyah-Nya.

 

  1. Kebersamaan yang khusus

Ini adalah kebersamaan yang berkonsekuensi pertolongan dan pengokohan dari-Nya. Ma’iyah ini khusus untuk para rasul dan pengikut mereka.

Contohnya ialah ayat yang mengabarkan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala bersama orang-orang yang bersabar. Seorang yang bersabar akan beroleh pertolongan dari Allah subhanahu wa ta’ala. Allah subhanahu wa ta’ala menguatkan dan membantunya hingga sempurna kesabarannya sesuai dengan yang Allah subhanahu wa ta’ala cintai.

Allah subhanahu wa ta’ala memerintah Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memberi kabar gembira kepada orang yang sabar. Siapakah mereka yang sabar itu?

وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ ١٥٥ ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَٰبَتۡهُم مُّصِيبَةٞ قَالُوٓاْ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيۡهِ رَٰجِعُونَ ١٥٦ أُوْلَٰٓئِكَ عَلَيۡهِمۡ صَلَوَٰتٞ مِّن رَّبِّهِمۡ وَرَحۡمَةٞۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُهۡتَدُونَ ١٥٧

“Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang bersabar. Yaitu orang-orang yang apabila mereka ditimpa musibah, mereka mengucapkan, ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.’ Mereka itulah yang beroleh pujian dari Rabb mereka (dipuji-puji di hadapan para malaikat) dan rahmat. Dan mereka itulah orang-orang yang mendapatkan petunjuk.” (al-Baqarah: 155—157)

Berikanlah kabar gembira, wahai Nabi dan orang-orang yang sampai kepadanya ayat ini. Berilah kabar gembira kepada orang yang sabar atas musibah yang menimpa, tidak menghadapinya dengan kemarahan tetapi dengan kesabaran. Lebih sempurna lagi dari itu adalah orang yang menghadapi musibah dengan perasaan ridha. Lebih sempurna lagi adalah yaitu menghadapinya dengan rasa syukur.

Karena itu, apabila Anda ingin menjadi hamba yang utama dan mendapat pahala tiada batas, jika Anda ditimpa suatu musibah yang membutuhkan kesabaran, bersabarlah dan tanggunglah semuanya karena Allah subhanahu wa ta’ala. Ketahuilah dan ingatlah selalu,

أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ، وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ، وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً

“Pertolongan itu bersama kesabaran. Kelapangan itu bersama musibah. Sungguh bersama kesulitan itu ada kemudahan.”

Jadi, tiada rugi Anda menyabar-nyabarkan diri.

(Faedah dari keterangan Fadhilatusy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah dalam Syarhu Riyadhis Shalihin, Bab “ash-Shabr”, hlm. 89—99)

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

Menikah Disyariatkan Ketika Dibutuhkan

Apakah ada batasan usia layak menikah bagi pemuda dan pemudi?

Apakah ada perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang hukum poligami?

Jawab:

Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah menjawab[1],

“Tidak ada batasan usia tertentu untuk menikah. Perkaranya kembali kepada kebutuhan untuk menikah. Bila seorang pemuda atau pemudi butuh untuk menikah dalam usia berapa saja, maka disyariatkan kepada keduanya untuk menikah, tanpa membatasi umur, karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرَجِ

Wahai sekalian pemuda! Siapa di antara kalian yang memiliki kemampuan, hendaknyalah menikah. Sebab, menikah akan lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Secara umum pernikahan dilakukan setelah seseorang baligh. Akan tetapi, seandainya seorang pemuda menikah sebelum usia baligh, atau pemudi dinikahkan sebelum baligh, maka tidak ada larangan dalam hal ini. Sebab, tidak ada batasan usia layak menikah yang jika seseorang belum mencapai usia tersebut maka belum boleh menikah. Namun, saat baligh, kebutuhan untuk menikah lebih kuat. Kesimpulannya, pernikahan disyariatkan ketika ada kebutuhan untuk melakukannya.

Adapun masalah poligami, kebolehannya disepakati oleh kaum muslimin tanpa ada perbedaan pendapat, berdasar firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَإِنۡ خِفۡتُمۡ أَلَّا تُقۡسِطُواْ فِي ٱلۡيَتَٰمَىٰ فَٱنكِحُواْ مَا طَابَ لَكُم مِّنَ ٱلنِّسَآءِ مَثۡنَىٰ وَثُلَٰثَ وَرُبَٰعَۖ فَإِنۡ خِفۡتُمۡ أَلَّا تَعۡدِلُواْ فَوَٰحِدَةً أَوۡ مَا مَلَكَتۡ أَيۡمَٰنُكُمۡۚ

“Dan jika kalian khawatir tidak akan dapat berlaku adil terhadap perempuan yatim (bilamana kalian menikahinya), nikahilah perempuan-perempuan lain yang kalian senangi; dua, tiga, atau empat. Namun, jika kalian khawatir tidak akan dapat berlaku adil, nikahilah seorang perempuan saja atau budak-budak yang kalian miliki.” (an-Nisa: 3)

Poligami disepakati kebolehannya oleh ahlul ilmi, dengan syarat si lelaki menyakini dirinya dapat memenuhi kebutuhan para istri berupa nafkah belanja, pakaian, dan tempat tinggal.

Jika si lelaki dapat memenuhi kebutuhan para istri, dia boleh menikahi sampai empat wanita. Namun,apabila dia tidak mampu memenuhi kebutuhan istri dan khawatir berbuat curang dalam hal pembagian di antara para istri, dalam hal pemberian nafkah belanja, dan dalam hal pergaulan, dia mencukupkan dirinya dengan satu istri.

فَإِنۡ خِفۡتُمۡ أَلَّا تَعۡدِلُواْ فَوَٰحِدَةً

Jika kalian khawatir tidak akan dapat berlaku adil, nikahilah seorang perempuan saja…”

Yang dimaksud ‘adil’ dalam ayat di atas adalah adil dalam hal bergaul dengan istri, dalam hal pemberian nafkah belanja, tempat tinggal dan pakaian, serta halhal lain yang mampu diterapkan keadilan padanya.

Adapun kecondongan dan kecintaan hati, tidak ada seorang manusia pun yang sanggup mengaturnya (sehingga tidak mungkin seorang suami dituntut menyamakan cintanya kepada para istrinya –pent.).

Karena itulah, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلَن تَسۡتَطِيعُوٓاْ أَن تَعۡدِلُواْ بَيۡنَ ٱلنِّسَآءِ وَلَوۡ حَرَصۡتُمۡۖ فَلَا تَمِيلُواْ كُلَّ ٱلۡمَيۡلِ فَتَذَرُوهَا كَٱلۡمُعَلَّقَةِۚ

“Dan kalian sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara istri-istri kalian walaupun kalian sangat ingin berbuat demikian. Karena itu, janganlah kalian terlalu cenderung kepada istri yang lebih kalian cintai sehingga membiarkan istri yang lain (yang tidak atau kurang dicintai) terkatung-katung (tidak dipergauli dengan baik, namun tidak juga diceraikan –pent.)….” (an-Nisa: 129)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membagi di antara istri-istrinya dan beliau berbuat adil. Beliau berkata,

اللَّهُمَّ هَذَا قِسْمِي فِيْمَا أَمْلِكُ، فَلاَ تَلُمَّنِي فِيْمَا تَمْلِكُ وَلاَ أَمْلِكُ

“Ya Allah, inilah pembagianku dalam apa yang aku mampu. Janganlah Engkau mencelaku dalam apa yang Engkau kuasa sementara aku tidak kuasa.” (HR. Ashabus Sunan yang empat, dinyatakan sanadnya jayyid oleh al-Albani, al-Misykat no. 3235)

Yang beliau maksud dengan ‘yang aku tidak mampu’ adalah kecondongan dan kecintaaan kalbu. Karena itu, seorang lelaki tidak berdosa apabila dia lebih mencintai sebagian istrinya. Sebab, urusan cinta di luar kemampuannya (dia tidak bisa menguasai dan mengaturnya).

Dia dihukumi berdosa hanyalah ketika berlaku curang dan tidak adil dalam hal pembagian di antara para istri (dalam urusan yang disanggupi untuk berlaku adil). Hal inilah yang membuat seseorang berdosa apabila tidak adil. Hal ini pula yang membuat seseorang tidak boleh berpoligami, yakni ketika tidak sanggup berbuat adil.

Batasan poligami dengan empat istri merupakan hal yang disepakati. Bila ada pendapat yang mengatakan boleh menikahi lebih dari empat istri, pendapat tersebut ganjil. Ijma’ (kesepakatan) ulama menyelisihi pendapat yang ganjil tersebut. (Majmu’ Fatawa Fadhilatusy Syaikh, 2/529530)

 


Nikah Paksa

Apa hukumnya seorang pemudi atau pemuda menikah dengan paksaan keluarganya? Boleh atau tidak, mendurhakai (tidak menurut) kedua orang tua dalam hal ini?

Jawab:

Yang pertama, tidak sepantasnya seseorang dipaksa untuk menikah, baik dia lelaki maupun perempuan. Semestinya seseorang menikah karena keinginannya sendiri.

Terkait dengan masalah tidak menuruti orang tua dalam hal ini, perlu dirinci.

Apabila wanita yang dijodohkan denganmu oleh ayahmu secara paksa itu atau lelaki yang dijodohkan oleh seorang ayah dengan putrinya secara paksa, tidak cocok dari sisi agama[2], orang tua tidak boleh ditaati dalam hal ini. Sebab, ini berarti urusan maksiat, padahal tidak boleh ada ketaatan kepada makhluk dalam hal bermaksiat kepada al-Khaliq.

Apabila seseorang menolak pasangan yang dijodohkan dengannya oleh orang tua bukan karena alasan agama, melainkan alasan yang lain, bisa jadi karena perangai atau hal lain yang tidak terkait agama, sebaiknya engkau menaati orang tuamu. Bisa jadi, hal itu baik bagimu.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَعَسَىٰٓ أَن تَكۡرَهُواْ شَيۡ‍ٔٗا وَهُوَ خَيۡرٞ لَّكُمۡۖ

“Bisa jadi, kalian membenci sesuatu padahal itu lebih baik bagi kalian.” (al-Baqarah: 216)

فَإِن كَرِهۡتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰٓ أَن تَكۡرَهُواْ شَيۡ‍ٔٗا وَيَجۡعَلَ ٱللَّهُ فِيهِ خَيۡرٗا كَثِيرٗا ١٩

“Jika kalian tidak menyukai mereka (para istri), (bersabarlah) karena bisa jadi kalian tidak menyukai sesuatu padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (an-Nisa: 19)

Bisa jadi, ayahmu memiliki pandangan yang lebih baik dan lebih jauh daripada dirimu untuk kebaikan di kemudian hari.

Jadi, apabila ketidaksukaanmu kepada istri atau ketidaksukaan istri kepada suami (karena nikah paksa) bukan karena alasan agama, yang lebih baik dia mematuhi ayahnya. Dia tetap melangsungkan pernikahan. Mudah-mudahan dalam pernikahan itu ada kebaikan, insya Allah.” (Majmu’ Fatawa Fadhilatusy Syaikh, 2/540541)

[1] Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan berikutnya juga dari fatwa Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah.

[2] Maksudnya, orang yang akan dijodohkan itu tidak bagus agamanya, padahal syariat memerintahkan untuk memilih pasangan yang agamanya baik. (-pent.)

Nasihat Agung untuk Berpegang dengan Agama

Saudariku muslimah…

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala membaikkan hidupmu dengan ilmu dan iman, memakmurkan waktumu dengan ketaatan kepada-Nya, dan mengindahkan dirimu dengan hijab dan rasa malu.

Hendaknyalah engkau menyadari bahwa nikmat Allah subhanahu wa ta’ala kepadamu berupa agama ini sangatlah agung, anugerah-Nya atasmu dengan hidayah kepada agama ini amatlah besar.

Sebab, agama yang engkau anut adalah satu-satunya agama yang Dia ridhai untuk para hamba-Nya, Dia sempurnakan untuk mereka, dan Dia tidak menerima dari para hamba satu agama pun selain agamamu. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّ ٱلدِّينَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلۡإِسۡلَٰمُۗ

“Sesungguhnya agama di sisi Allah adalah Islam.” (Ali ‘Imran: 19)

وَمَن يَبۡتَغِ غَيۡرَ ٱلۡإِسۡلَٰمِ دِينٗا فَلَن يُقۡبَلَ مِنۡهُ وَهُوَ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ ٨٥

“Siapa yang mencari agama selain Islam maka tidak diterima agama tersebut darinya dan di akhirat kelak dia termasuk orang-orang yang merugi.” (Ali ‘Imran: 85)

ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَٰمَ دِينٗاۚ

“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kalian agama kalian, telah pula Ku-sempurnakan nikmat-Ku untuk kalian dan Aku ridhai Islam sebagai agama bagi kalian.” (al-Maidah: 3)

Islam adalah agama yang dengannya Allah subhanahu wa ta’ala memperbaiki keyakinan dan akhlak. Dengan Islam, Allah subhanahu wa ta’ala memperbaiki kehidupan dunia dan akhirat. Allah subhanahu wa ta’ala memperindah lahir dan batin seseorang dengan Islam. Allah subhanahu wa ta’ala memurnikan orang yang memeluknya dan berpegang teguh dengannya dari kotoran kebatilan, penyimpangan, dan kesesatan.

Islam agama yang diberkahi. Kebaikan, keberkahan, dan kemanfaatannya kembali kepada orang yang berpegang dengannya, baik di dunia maupun di akhirat.

Engkau perlu mengetahui beberapa urusan agung yang dapat membantumu berpegang dengan bimbingan agamamu dan arahan-arahannya yang bernilai tinggi. Dengan mengetahui urusan tersebut, engkau bisa menerima agamamu dengan penuh penerimaan, dada yang lapang, dan penuh ridha.

 

  1. Yakinilah bahwa hukum yang paling baik, paling lurus, paling sempurna, dan paling indah adalah hukum Rabbul Alamin, Sang Pencipta segenap alam.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَنۡ أَحۡسَنُ مِنَ ٱللَّهِ حُكۡمٗا لِّقَوۡمٖ يُوقِنُونَ ٥٠

“Siapakah yang paling baik hukumnya daripada Allah bagi orang-orang yang yakin?” (al-Maidah: 50)

أَلَيۡسَ ٱللَّهُ بِأَحۡكَمِ ٱلۡحَٰكِمِينَ ٨

“Bukankah Allah adalah sebaik-baik hakim?!” (at-Tin: 8)

وَهُوَ خَيۡرُ ٱلۡحَٰكِمِينَ ٨٧

“Dan Dia adalah sebaik-baik hakim.” (al-A’raf: 87)

Apabila engkau yakin akan hal ini, tentu engkau tidak akan ragu menerima hukum apa pun yang Dia subhanahu wa ta’ala tetapkan dan perintahkan.

 

  1. Ketahuilah, kebahagiaan dan kemuliaanmu sangat tergantung pada kekokohanmu dalam agama ini dan ketaatanmu kepada Rabbul Alamin serta kekuatanmu berpegang dengan hukum-Nya.

Seberapa bahagia dirimu, itu sesuai dengan sejauh mana ketaatanmu dan iltizam-mu. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِن تَجۡتَنِبُواْ كَبَآئِرَ مَا تُنۡهَوۡنَ عَنۡهُ نُكَفِّرۡ عَنكُمۡ سَيِّ‍َٔاتِكُمۡ وَنُدۡخِلۡكُم مُّدۡخَلٗا كَرِيمٗا ٣١

“Jika kalian menjauhi dosa-dosa besar yang kalian dilarang darinya, niscaya Kami akan menghapus kesalahan-kesalahan kalian dan Kami masukkan kalian ke tempat masuk yang mulia.” (an-Nisa: 31)

قَدۡ أَفۡلَحَ مَن زَكَّىٰهَا ٩ وَقَدۡ خَابَ مَن دَسَّىٰهَا ١٠

“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya. Dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.” (asy-Syams: 9—10)

 

  1. Sadarilah, ada banyak musuh yang dihadapi muslimah dalam hidup.

Mereka berusaha mencabik-cabik kemuliaannya, menyimpangkannya dari jalan kemuliaan dan kebahagiaan, lalu mencampakkannya dalam kubangan kehinaan dan kerusakan.

Musuh-musuh tersebut melakukan segala upaya yang mereka sanggupi untuk mewujudkan ambisi mereka. Tampil terdepan dari kalangan musuh tersebut adalah setan, musuh Allah subhanahu wa ta’ala, musuh agama, dan musuh orang-orang yang beriman. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّ ٱلشَّيۡطَٰنَ لَكُمۡ عَدُوّٞ فَٱتَّخِذُوهُ عَدُوًّاۚ إِنَّمَا يَدۡعُواْ حِزۡبَهُۥ لِيَكُونُواْ مِنۡ أَصۡحَٰبِ ٱلسَّعِيرِ ٦

“Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagi kalian, maka jadikanlah dia sebagai musuh. Dia hanyalah menyeru golongannya agar mereka termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala.” (Fathir: 6)

Karena itu, engkau wajib waspada dan sangat berhati-hati dari musuhmusuh tersebut.

 

  1. Imanilah dengan kokoh bahwa taufik, kesalehan, istiqamah, kebaikan, keberkahan, dan kemuliaan, hanyalah di tangan Allah subhanahu wa ta’ala.

Siapa yang Allah subhanahu wa ta’ala muliakan maka dia mulia. Sebaliknya, siapa yang Allah subhanahu wa ta’ala hinakan maka dia pasti hina. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَن يُهِنِ ٱللَّهُ فَمَا لَهُۥ مِن مُّكۡرِمٍۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَفۡعَلُ مَا يَشَآءُ۩ ١٨

“Siapa yang Allah hinakan maka sama sekali tidak ada baginya seorang pun yang dapat menjadikannya mulia, sesungguhnya Allah melakukan apa yang Dia inginkan.” (al-Hajj: 18)

Karena itu, kuatkanlah hubunganmu dengan Allah subhanahu wa ta’ala. Berlindunglah selalu dan mohonlah kepada-Nya hidayah, taufik, dan tsabat/kekokohan di atas agama ini. Mintalah kepada-Nya subhanahu wa ta’ala agar menyelamatkanmu dari berbagai ujian, membaikkan untukmu agamamu, melindungimu dari berbagai kejelekan, dan menjauhkanmu dari tempat-tempat yang hina.

Siapa yang menghadap kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan jujur, bersungguh-sungguh dalam berdoa kepada-Nya, dan berharap kepada-Nya, Allah subhanahu wa ta’ala pasti akan mengabulkan apa yang dia inginkan. Allah subhanahu wa ta’ala akan memudahkan baginya apa yang dicarinya.

Termasuk doa yang agung adalah doa yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini,

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِي دِيْنِي الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِيْ، وَأَصْلِحْ لِي دُنْيَايَ الَّتِي فِيْهَا مَعَاشِي، وَأَصْلِحْ لِي آخِرَتِي الَّتِي فِيْهَا مَعَادِيْ، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لِي فِي كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لِي مِنْ كُلِّ شَرٍّ

“Ya Allah, perbaikilah untukku agamaku yang merupakan penjagaan urusanku . Perbaikilah bagiku duniaku yang di dalamnya adalah penghidupanku. Perbaikilah akhiratku yang merupakan tempat kembaliku. Jadikanlah kehidupan ini sebagai tambahan bagiku dalam seluruh kebaikan, dan jadikanlah kematian sebagai istirahat bagiku dari seluruh kejelekan.” (HR. Muslim no. 7078)

 

  1. Jadikanlah perhatian terbesarmu dalam kehidupan ini adalah bagaimana engkau bisa mencapai kemuliaan di sisi Allah subhanahu wa ta’ala, sukses dengan kebahagiaan meraih ridha Allah subhanahu wa ta’ala, dan berbahagia dengan apa yang Dia siapkan untuk para hamba-Nya yang dimuliakan-Nya.

Hal ini sebagaimana yang Allah subhanahu wa ta’ala katakan tentang mereka,

 أُوْلَٰٓئِكَ فِي جَنَّٰتٖ مُّكۡرَمُونَ ٣٥

“Mereka itu dimuliakan dalam surga-surga.” (al-Ma’arij: 35)

Itulah kemuliaan yang hakiki. Kemuliaan itu diraih dengan takwa sebagaimana firman-Nya,

إِنَّ أَكۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَىٰكُمۡۚ

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa di antara kalian.” (al-Hujurat: 13)

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata,

قِيْلَ لِلنَّبِيِّ: مَنْ أَكْرَمُ النَّاسِ؟ قَالَ: أَكْرَمُهُمْ أَتْقَاهُمْ

Ditanyakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam , “Siapakah manusia yang paling mulia?”

“Yang paling mulia dari mereka adalah yang paling bertakwa,” jawab beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. (HR. al-Bukhari, no. 3374)

Barang siapa mencari kemuliaan selain kemuliaan di atas, sungguh hakikatnya dia berputar dalam fatamorgana dan mengupayakan sesuatu yang sia-sia lagi rugi.

 

  1. Ketahuilah, hukum syariat yang terkait dengan wanita adalah hukum yang berada di puncak kesempurnaan.

Sebagaimana hukum syariat yang lain, tidak ada cacat dan cela di dalamnya, tidak pula kezaliman.

Mengapa? Karena hal itu adalah hukum Dzat sebaik-baik penetap hukum, diturunkan dari Rabbul alamin, yang Mahahikmah dalam pengaturan-Nya, Yang Maha Mengetahui apa yang dibutuhkan para hamba-Nya, Mahatahu apa yang dapat mendatangkan kebahagiaan mereka, kesuksesan, dan keberuntungan di dunia dan di akhirat.

Oleh karena itu, merupakan permusuhan terbesar, dosa yang besar, serta kehinaan yang paling rendah apabila dikatakan bahwa ada hukum Allah subhanahu wa ta’ala terkait dengan wanita atau selainnya yang mengandung kezaliman atau ketimpangan di dalamnya.

Siapa yang berucap demikian, sungguh dia tidaklah memuliakan Allah subhanahu wa ta’ala dengan sebenar-benar pengagungan. Padahal Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

مَّا لَكُمۡ لَا تَرۡجُونَ لِلَّهِ وَقَارٗا ١٣

“Mengapa kalian tidak mengagungkan Allah dengan sebenar-benar pengagungan (dengan kalian tidak takut terhadap hukuman dan siksa-Nya)[1].” (Nuh: 13)

Termasuk bentuk pengagungan kepada-Nya subhanahu wa ta’ala adalah berpegang dengan hukum-Nya, menaati perintah-Nya, dan meyakini padanya ada keselamatan, kesempurnaan, dan ketinggian.

Siapa yang meyakini sebaliknya, maka amatlah jauh orang tersebut dari sikap mengagungkan Allah subhanahu wa ta’ala! Alangkah pantasnya dia di dunia ini dan di akhirat kelak beroleh kehinaan. Hendaknya engkau bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan mengagungkan hukum-hukum-Nya.

ذَٰلِكَۖ وَمَن يُعَظِّمۡ شَعَٰٓئِرَ ٱللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقۡوَى ٱلۡقُلُوبِ ٣٢

        “Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah maka sesungguhnya hal tersebut muncul dari ketakwaan hati.” (al-Hajj: 32)

Demikianlah beberapa urusan agung yang perlu selalu kita ingat agar hati ini menjadi lunak. Hendaknya kita menerima semua hukum Allah subhanahu wa ta’ala dengan dada yang lapang, jiwa yang tenang, dan menghadap penuh kepada hukum-Nya. Itulah sebab kebahagiaan dan jalan kesuksesan di dunia dan di akhirat.

Adapun tuduhan bahwa aturan agama ini, terkhusus untuk wanita, amat menyempitkan, memberikan madarat bagi wanita, dan menyusahkan mereka; semua itu adalah kesalahan besar dan ucapan tanpa ilmu terhadap Allah subhanahu wa ta’ala dan kalam-Nya, wahyu, dan hukum-Nya.

Perbuatan tersebut termasuk keharaman yang paling berat dan dosa yang paling besar. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman tentang perbuatan yang diharamkan-Nya, yang paling besar adalah,

وَأَن تَقُولُواْ عَلَى ٱللَّهِ مَا لَا تَعۡلَمُونَ ٣٣

“Dan (Dia mengharamkan) kalian berucap/mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kalian ketahui.” (al-A’raf: 33)

Wahai saudariku muslimah, tatkala engkau membaca satu ayat dari Kitabullah dan satu hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berisi arahan secara khusus bagi wanita, dengarkanlah ayat tersebut dengan penuh tadabbur, tenang, dan menerima dengan dada yang lapang.

Sebab, ucapan yang engkau dengar adalah ucapan Dzat yang menciptakanmu, menjadikanmu, dan memberimu anugerah berupa pendengaran, penglihatan, kekuatan, dan segala kenikmatan. Perbedaan antara ucapan-Nya dan ucapan makhluk-Nya tentu seperti perbedaan antara Dia subhanahu wa ta’ala dengan makhluk-Nya.

Berhati-hatilah apabila sampai terbetik dalam jiwamu perasaan enggan, tidak menerima, dan tidak suka dengan bimbingan/arahan Rabbul Alamin. Demikian pula terkait dengan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sahih dan tsabit dari beliau. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤۡمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيۡنَهُمۡ ثُمَّ لَا يَجِدُواْ فِيٓ أَنفُسِهِمۡ حَرَجٗا مِّمَّا قَضَيۡتَ وَيُسَلِّمُواْ تَسۡلِيمٗا ٦٥

“Maka demi Rabbmu, mereka pada hakikatnya tidak beriman hingga mereka menjadikanmu sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (an-Nisa: 65)

Mengamalkan hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berarti mengamalkan al-Qur’an, karena Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمۡ عَنۡهُ فَٱنتَهُواْ

        “Apa saja yang Rasulullah berikan kepada kalian, maka terimalah; dan apa saja yang beliau larang kalian darinya, maka tinggalkan (jangan dilakukan).” (al-Hasyr: 7)

Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata, “Allah subhanahu wa ta’ala melaknat wanita yang membuat tato dan minta ditato, wanita yang mencabut rambut alis, dan mengikir gigi untuk keindahan, wanita-wanita yang mengubah ciptaan Allah subhanahu wa ta’ala.”

Ucapan ini sampai kepada seorang wanita dari Bani Asad yang bernama Ummu Ya’qub. Dia datang menemui Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu seraya berkata, “Sampai kepadaku ucapan Anda bahwa Anda melaknat wanita yang begini dan begitu?”

Kata Ibnu Masud radhiallahu ‘anhu, “Mengapa aku tidak melaknat orang yang dilaknat oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dilaknat dalam Kitabullah?”

Kata si wanita, “Sungguh, aku telah membaca al-Qur’an dari awal sampai akhir, namun aku tidak mendapati apa yang Anda katakan.”

Kata Ibnu Masud radhiallahu ‘anhu, “Jika engkau benar membacanya niscaya engkau akan dapatkan. Tidakkah engkau pernah membaca ayat,

وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمۡ عَنۡهُ فَٱنتَهُواْ

‘Apa saja yang Rasulullah datangkan/berikan kepada kalian, maka ambil/terimalah dan apa saja yang beliau larang kalian darinya, maka tinggalkan (jangan dilakukan).’

Si wanita menjawab, “Ya.”

Kata Ibnu Masud radhiallahu ‘anhu, “Sungguh, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang perbuatan tersebut.” (HR. al-Bukhari no. 4886)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman kepada ummahatul mukminin,

وَٱذۡكُرۡنَ مَا يُتۡلَىٰ فِي بُيُوتِكُنَّ مِنۡ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ وَٱلۡحِكۡمَةِۚ

        “Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumah-rumah kalian dari ayat-ayat Allah dan hikmah.” (al-Ahzab: 34)

Hikmah adalah sunnah yang datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia.

Saudariku muslimah… Apabila engkau mencari keindahan yang hakiki dan perhiasan yang sempurna, ketahuilah bahwa Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلِبَاسُ ٱلتَّقۡوَىٰ ذَٰلِكَ خَيۡرٞۚ

“Dan pakaian takwa itulah yang paling baik.” (al-A’raf: 26)

Dalam doa yang ma’tsur,

اللَّهُمَّ زَيِّنَا بِزِيْنَةِ الْإِيْمَانِ

“Ya Allah, hiasilah kami dengan perhiasan iman.” (HR. an-Nasai dari Ammar bin Yasir radhiallahu ‘anhu, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih al-Jami’)

Keimanan, ketakwaan, berpegang dengan syariat Allah subhanahu wa ta’ala, hukum, dan bimbingan-Nya adalah perhiasan hakiki yang akan menjadikan kebahagiaan, keberuntungan, dan kesuksesan bagi wanita di dunia dan akhirat.

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

[1] Sebagaimana tafsir Ibnu Abbas terhadap ayat ini. (Tafsir Ibni Katsir, 8/183)

Melindungi Anak dari Setan

Berikut ini beberapa cara yang bisa ditempuh untuk melindungi anak dari gangguan setan.

  1. BERZIKIR KETIKA HENDAK MASUK RUMAH DAN HENDAK MAKAN

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا دَخَلَ الرَّجُلُ بَيْتَهُ فَذَكَرَ اسْمَ اللهِ حِينَ يَدْخُلُ وَحِينَ يَطْعَمُ قَالَ الشَّيْطَانُ: مَبِيتَ لَكُمْ وَ عَشَاءَ

“Apabila seseorang memasuki rumahnya dan menyebut nama Allah ketika memasukinya serta ketika makan, setan berkata (kepada teman-temannya), ‘Kalian tidak punya tempat bermalam, tidak pula makanan’.” (Shahihul Jami’ no. 519)

  1. BERDOA KETIKA HENDAK MENGGAULI ISTRI

Di antara sebab terjaganya anak sejak dilahirkan hingga beranjak dewasa ialah yang dibimbingkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma dalam Shahih Muslim (no. 1434),

إِذَا أَتَى أَحَدُكُمْ أَهْلَهُ

“Ketika seseorang mendatangi istrinya….”

Maksudnya, ketika hendak menggaulinya. Ada sebuah sunnah yang dilalaikan oleh banyak manusia dan para suami, yaitu berzikir kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan mengucapkan,

اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا

“Ya Allah, jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari (anak) yang Engkau karuniakan kepada kami.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan,

فَإِنَّهُ إِنْ يُقَدَّرْ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ فِي ذَلِكَ لَمْ يَضُرَّهُ شَيْطَانٌ أَبَدًا

“Sungguh, apabila ditakdirkan mereka berdua mendapatkan anak dari jima tersebut, setan tidak akan bisa membahayakannya selamanya.”

  1. MENGGUNAKAN RUMAH UNTUK BERZIKIR KEPADA ALLAH

Berilah bagian bagi rumah Anda untuk bacaan al-Qur’an yang Anda lakukan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَثَلُ الْبَيْتِ الَّذِي يُذْكَرُ اللهُ فِيهِ، وَالْبَيتِ الَّذِي لاَ يُذْكَرُ اللهُ فِيهِ، مَثَلُ الْحَيِّ والمَيِّتِ

“Permisalan rumah yang disebut nama Allah padanya dan yang tidak, seperti yang hidup dan yang mati.” (HR. Muslim no. 779)

Rumah yang hidup ialah rumah yang di dalamnya disebut nama Allah subhanahu wa ta’ala. Adapun rumah yang mati dan tidak berguna ialah rumah yang tidak disebut nama Allah ‘azza wa jalla di dalamnya.

Oleh karena itu, sepantasnya seorang muslim melakukan sebagian bacaan al-Qur’an dan dzikrullah di rumahnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اجْعَلُوا مِنْ صَ تَالِكُمْ فِي بُيُوتِكُمْ، وَ تَجْعَلُوهَا عَلَيْكُمْ قُبُورًا، وَإِنَّ البَيْتَ لَيُتْلَى فِيْهِ القُرْآنُ؛ فَيَتَرَاءَى لِأَهْلِ السَّمَاءِ كَمَا تَتَرَاءَى النُّجُومُ لِأَهْلِ الْأَرْضِ

“Lakukanlah sebagian shalat kalian di rumah kalian, dan jangan kalian jadikan rumah kalian sebagai kuburan. Sungguh, dibacakan al-Qur’an di sebuah rumah, lantas terlihat oleh penduduk langit sebagaimana terlihatnya bintang oleh penduduk bumi.” (dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam ash-Shahihah no. 3112)

Sebagaimana halnya kita melihat bintang-bintang berkilau di langit, demikian pula penduduk langit melihat rumah yang hidup, yang digunakan untuk membaca al-Qur’an dan berzikir kepada Allah ‘azza wa jalla.

  1. SERING MENUNAIKAN SHALAT DI RUMAH

Tentu saja yang dimaksud adalah shalat sunnah. Usahakanlah agar Anda terbiasa melakukan shalat sunnah di rumah, baik shalat rawatib maupun shalat witir.

Anda tunaikan shalat wajib di masjid, lalu pulang ke rumah mengerjakan shalat dua rakaat rawatib isya, maghrib, dan zhuhur. Demikian pula shalat rawatib sebelum asar.

Anda kerjakan semuanya di rumah. Anda memberi bagian ibadah shalat untuk rumah Anda.

لا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ قُبُورًا

“Jangan kalian jadikan rumah kalian sebagai kuburan.” (HR. Abu Dawud no. 2042)

Anda harus mengerjakan shalat di rumah agar dilihat oleh anak-anak sehingga mereka pun terbiasa melakukannya. Demikian pula anggota keluarga yang lain, bisa melihat Anda shalat sehingga teringat kepada Allah ‘azza wa jalla lantas menunaikan shalat.

  1. MEMOHON PERLINDUNGAN BAGI ANAK DARI GANGGUAN SETAN

Anda berdoa kepada Allah ‘azza wa jalla agar melindungi mereka dari setan yang terkutuk, sebagaimana halnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu melakukannya.

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memohon perlindungan (kepada Allah subhanahu wa ta’ala) bagi al-Hasan dan al- Husain dengan berdoa,

أُعِيذُكَ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطاَنٍ وَهَامَّةٍ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍ

“Aku memohon perlindungan untukmu dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, dari setiap setan, binatang berbisa, dan dari ‘ain yang menimpakan kejelekan.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda sebagaimana dalam Shahih al-Bukhari,

كَانَ إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ السَّ مَالُ يُعَوِّذُ بِهَا أَبْنَاءَهُ إِسْمِاعِيلَ وَإِسْحَاقَ

“Dahulu Ibrahim ‘alaihissalam memintakan perlindungan dengan doa ini bagi anak-anaknya, Ismail dan Ishaq.”

  1. MENAHAN ANAK TETAP DI RUMAH SAAT SHALAT MAGHRIB DAN SAAT MATAHARI TENGGELAM

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits Jabir radhiallahu ‘anhu,

كُفُّوا صِبْيَانَكُمْ عِنْدَ فَحْمَةِ الْعِشَاءِ، فَإِنُّكُمْ تَدْرُونَ مَا يَبُثُّ اللهُ مِنْ خَلْقِهِ، فَأَغْلِقُوا الْأَبْوَابَ وَأَطْفِئُوا ا صْملََابِيحَ، وَأَكْفِئُوا الْإِنَاءَ، وَأَوْكِئُوا السِّقَاءَ

“Tahanlah anak-anak kecil kalian ketika datang waktu malam. Sebab, kalian tidak tahu makhluk apa yang Allah tebarkan (saat itu). Karena itu, tutuplah pintu, padamkanlah lampu, tutuplah bejana, kencangkanlah tali penutup wadah minum.” (lihat ash-Shahihah no. 3454)

Maknanya, apabila waktu malam tiba, cahaya dipadamkan dan makanan tidak dibiarkan terbuka, tetapi ditutup. Hal ini sebagaimana disebutkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, jika tidak mendapati sesuatu untuk menutupi makanan atau wadah, Anda letakkan sesuatu di atasnya dengan menyebut nama Allah subhanahu wa ta’ala. Misalnya, Anda letakkan potongan (kayu) atau sendok di atasnya sembari mengucapkan, “Bismillah.”

Demikianlah Allah ‘azza wa jalla menjauhkan para setan dari makanan itu.

  1. MEMBACA SURAT AL-BAQARAH DI RUMAH

Membaca surat al-Baqarah di rumah benar-benar akan mengusir setan darinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ

“Sesungguhnya setan akan lari dari rumah yang dibacakan surat al-Baqarah di dalamnya.”

تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ

“Janganlah kalian jadikan rumah kalian sebagai pekuburan. Sungguh, setan akan lari dari rumah yang dibacakan surat al-Baqarah di dalamnya.” (lihat Shahihul Jami’ no. 7227)

Perhatikanlah kekuatan surat al-Baqarah. Allah subhanahu wa ta’ala menjadikannya sebagai salah satu sebab terusirnya setan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

اقْرَءُوا سُورَةَ الْبَقَرَةِ فَإِنَّ أَخْذَهَا بَرَكَةٌ وَتَرْكَهَا حَسْرَةٌ وَلا تَسْتَطِيعُهَا الْبَطَلَةُ

“Bacalah oleh kalian surat al-Baqarah! Sebab, membacanya adalah keberkahan dan meninggalkannya adalah kerugian; dan para tukang sihir tidak mampu melawannya.” (HR. Muslim no. 780)

Diriwayatkan pula dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ قَرَأَ الْآيَتَيْنِ مِنْ آخِرِ سُورَةِ الْبَقَرَةِ فِي لَيْلَةٍ كَفَتَاهُ

“Barang siapa membaca dua ayat terakhir dari surat al-Baqarah pada satu malam, keduanya akan mencukupi dirinya.” (HR. Abu Dawud no. 1397)

Semua ini menunjukkan bahwa seorang muslim seharusnya bersungguh-sungguh membacanya. Apabila seseorang membaca al-Baqarah di rumah, ketika itulah setan terjauhkan dari dari diri, keluarga, dan rumahnya. Hal ini akan menjadi sebab baiknya rumah.

  1. MENJAUHKAN GAMBAR MAKHLUK BERNYAWA DARI DALAM RUMAH

Di antara sebab terusirnya setan—atau sebaliknya: datangnya setan—adalah menggantungkan gambar makhluk bernyawa, baik gambar hewan, manusia, maupun orang tertentu. Menggantungkan gambar-gambar ini di rumah akan mengundang datangnya setan dan mengusir malaikat. Rumah yang tidak ditempati dan dimasuki malaikat, akan menjadi tempat masuk dan tinggalnya setan.

  1. TIDAK MEMELIHARA ANJING

Memelihara anjing termasuk sebab yang menghalangi malaikat untuk masuk ke rumah. Malaikat Jibril mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata,

إِنَّا لاَ نَدْخُلُ بَيْتًا فِيهِ صُورَةٌ وَلاَ كَلْبٌ

“Kami (para malaikat) tidak memasuki rumah yang di dalamnya ada gambar makhluk bernyawa dan anjing.” (HR. al-Bukhari no. 5960)

Memelihara anjing akan mengurangi pahala seseorang satu qirath setiap hari. Satu qirath (pahala) kebaikan itu sebesar Gunung Uhud. Setiap hari akan berkurang pahala kebaikannya sebesar Gunung Uhud karena dia memelihara anjing di rumahnya tanpa ada kebutuhan.

Berbeda halnya dengan anjing berburu dan anjing penjaga, ini diperbolehkan. Akan tetapi, ada orang yang memelihara anjing karena meniru kebiasaan orang Barat. Memelihara anjing yang seperti ini akan mengundang datangnya setan.

  1. MEMBIASAKAN DAN MENYURUH ANAK MENGHAFAL ZIKIR KELUAR RUMAH

Zikir keluar rumah cukup ringan. Apabila Anda keluar atau pergi ke manapun bersama anak-anak mengendarai mobil, biasakan mereka untuk membaca doa berikut ini.

Abu Dawud meriwayatkan (no. 5095) bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Apabila seseorang keluar dari rumah dan membaca,

بِسْمِ اللهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللهِ، حَوْلَ وَ قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ

“Dengan nama Allah, aku bertawakal kepada Allah, tidak ada daya dan kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah.”

Sebuah doa yang mudah, tidak panjang, hanya tiga kalimat. Lihatlah kekuatan dan pengaruh doa ini. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يُقَالُ حِينَئِذٍ: هُدِيتَ، وَكُفِيتَ، وَوُقِيتَ

Dikatakan kepadanya ketika itu, “Engkau diberi hidayah, dicukupi, dan dilindungi.”

Maksudnya, Anda mendapatkan hidayah, Allah menjaga Anda dari kejahatan dan melindungi Anda dari setan. Tiga kalimat tersebut membuahkan hasil yang dikatakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

فَتَتَنَحَّى لَهُ الشَّيَاطِينُ، فَيَقُولُ لَهُ شَيْطَانٌ آخَرُ: كَيْفَ لَكَ بِرَجُلٍ قَدْ هُدِيَ وَكُفِيَ وَوُقِيَ

“Para setan akan menghindar darinya. Setan yang lain berkata kepadanya, ‘Bagaimana bisa (engkau menggoda) seseorang yang telah diberi hidayah, dicukupi, dan dilindungi?’.”

Maksudnya, setan tidak akan sampai kepada dirinya yang telah mengucapkan doa ini. Sebab, dia telah diberi hidayah, dicukupi, dan dilindungi (oleh Allah).

Buah karya  asy-Syaikh Khalid azh-Zhafiri hafizhahullah

(diterjemahkan dari http://www.sahab.net/home/?p=1675 dengan beberapa penyesuaian)

Sosok Suami yang Adil

Apabila para suami ingin meneladani seseorang yang bisa berbuat adil di antara para istri, dialah sosok Rasul yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pribadi beliau sangat dan pasti mencukupi dijadikan teladan, karena Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

لَّقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِي رَسُولِ ٱللَّهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ لِّمَن كَانَ يَرۡجُواْ ٱللَّهَ وَٱلۡيَوۡمَ ٱلۡأٓخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرٗا ٢١

“Sungguh telah ada bagi kalian uswah hasanah pada diri Rasulullah, bagi siapa yang mengharapkan Allah dan hari akhir, serta banyak mengingat Allah.” (al-Ahzab: 21)

Seorang yang beriman, mengharapkan pertemuan dengan Allah subhanahu wa ta’ala, membenarkan hari kebangkitan saat amalan mendapat balasan, takut akan hukuman Allah subhanahu wa ta’ala, dan berharap pahala-Nya, tentu tidak ragu menjadikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai uswah/teladan.

Tentang hukum beruswah dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini, ada perbedaan pendapat di kalangan ulama. Sebagian mereka mengatakan hukumnya wajib, sampai ada dalil yang menunjukkan sunnah/mustahab. Sebagian yang lain berpendapat hukumnya mustahab/sunnah sampai ada dalil yang menunjukkan wajib.

Kata al-Imam al-Qurthubi rahimahullah, bisa jadi dirinci, (1) hukumnya wajib apabila terkait dengan urusan agama dan (2) hukumnya mustahab dalam urusan dunia. (al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, 13/103)

Kita ketahui bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki banyak istri. Di antara para istri tersebut ada yang lebih beliau cintai daripada yang lain. Sebab, cinta adalah urusan hati yang berada di Tangan ar-Rahman, sesuatu yang di luar kemampuan hamba.

Oleh karena itu, tidaklah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dicela karena memiliki rasa cinta yang berbeda terhadap para istrinya. Memang, siapa pun tidak mungkin berbuat adil dalam urusan rasa cinta. Hanya saja, meski beliau lebih mencintai sebagian istrinya dibanding yang lain, hal itu tidaklah menghalangi beliau untuk berbuat adil secara zahir di antara mereka.

Aisyah radhiallahu ‘anha adalah istri yang paling dicintai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari mana kita tahu? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri yang menyatakan dan mengakuinya.

قِيْلَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَنْ أَحَبُّ النَّاسِ إِلَيْكَ؟ قَالَ: عَائشَةُ. قِيْلَ: مِنَ الرِّجَالِ؟ قَالَ: أَبُوْهَا

Ditanyakan kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling Anda cintai?”

Beliau menjawab, “Aisyah.”[1]

Ditanyakan lagi, “(Kalau) dari kalangan lelaki?”

“Ayahnya[2],” jawab beliau. (HR at-Tirmidzi, dinyatakan sahih oleh al-Albani rahimahullah dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi no. 3890)

Aisyah radhiallahu ‘anha mempersaksikan tentang keadilan sang suami dalam kisahnya berikut ini.

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ لاَ يُفَضِّلُ بَعْضَنَا عَلَى بَعْضٍ فِي الْقِسْمِ مِنْ مُكْثِهِ عِنْدَنَا. وَكَانَ قَلَّ يَوْمٌ إِلاَّ وَهُوَ يَطُوْفُ عَلَيْنَا جَمِيْعًا، فَيَدْنُو مِنْ كُلِّ امْرَأَةٍ مِنْ غَيْرِ مَسِيْسٍ حَتَّى يَبْلُغَ إِلَى الَّتِي هُوَ يَوْمُهَا فَيَبْيِتُ عِنْدَهَا. وَلَقَدْ قَالَتْ سَوْدَةُ بِنْتُ زَمْعَةَ حِيْنَ أَسَنَّتْ وَفَرِقَتْ أَنْ يُفَارِقَهَا رَسُوْلُ اللهِ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، يَوْمِيْ لِعَائِشَةَ. فَقَبِلَ ذَلِكَ رَسُوْلُ اللهِ مِنْهَا. قَالَتْ: نَقُوْلُ فِي ذَلِكَ: أَنْزَلَ اللهُ تَعَالَى وَفِي أَشْبَاهِهَا أُرَاهُ قَالَ:

وَإِنِ ٱمۡرَأَةٌ خَافَتۡ مِنۢ بَعۡلِهَا نُشُوزًا

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membedakan pembagian giliran di antara kami kami. Setiap hari beliau berkeliling menemui kami semua. Beliau mendekati semua istrinya tanpa ‘menyentuhnya’, hingga sampai di rumah istri yang beroleh giliran di hari tersebut, lalu beliau bermalam di rumahnya.

Tatkala Saudah radhiallahu ‘anha telah lanjut usia dan khawatir bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menceraikannya, dia berkata, “Giliran hariku untuk Aisyah.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menerima tawaran tersebut.” Terhadap masalah seperti yang dialami oleh Saudah inilah turun ayat Allah subhanahu wa ta’ala,

وَإِنِ ٱمۡرَأَةٌ خَافَتۡ مِنۢ بَعۡلِهَا نُشُوزًا

        “Apabila seorang istri mengkhawatirkan nusyuz dari suaminya….” (HR. Abu Dawud no. 2135, hadits ini hasan sahih sebagaimana dalam Shahih Sunan Abi Dawud)

Aisyah radhiallahu ‘anha berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggilir setiap istri beliau, siang dan malamnya, kecuali Saudah bintu Zam’ah radhiallahu ‘anha. Dia telah menghadiahkan siang dan malamnya untuk Aisyah istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam rangka mencari ridha Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. al-Bukhari no. 2593)

Ketika hendak safar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengutamakan istri yang beliau cintai untuk selalu diajak bersama beliau. Beliau justru mengundi istri-istri beliau, siapa yang akan dibawa serta dalam safar. Hal ini sebagaimana sebagaimana penuturan Aisyah radhiallahu ‘anha,

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ إِذَا أَرَادَ سَفَرًا أَقْرَعَ بَيْنَ نِسَائهِ فَأَيَّتُهُنَّ أَخْرَجَ سَهْمَهَا خرَجَ بِهَا مَعَهُ

“Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin safar, beliau mengundi istri-istri beliau. Siapa yang keluar namanya dalam undian tersebut, dia akan dibawa serta oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam safarnya.” (HR. al-Bukhari no. 2593)

Termasuk keadilan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah ketika menikahi janda, beliau bermalam di kediamannya selama tiga hari agar terjalin kedekatan dengan istri yang baru tersebut. Setelah tiga hari, giliran istri yang baru tersebut sama dengan istri-istri yang lain.

Ummu Salamah radhiallahu ‘anha menyampaikan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tinggal di kediamannya selama tiga hari setelah pernikahan mereka. Ketika beliau hendak meninggalkan rumah, Ummu Salamah menarik baju beliau, mengharap beliau masih mau berdiam di rumahnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنْ شِئْتِ أَنْ أُسَبِّعَ لَكِ وَأُسَبِّعَ لِنِسَائِي، وَإِنْ سَبَّعْتُ لَكِ سَبَّعْتُ لِنِسَائِي

“Jika kamu mau agar aku berdiam di sisimu selama tujuh hari dan berdiam di sisi istri-istriku yang lainnya selama tujuh hari, (akan kulakukan). Sebab, jika aku memberi waktu tujuh hari untukmu, berarti aku juga harus memberi waktu tujuh hari untuk istri-istriku.” (HR. Muslim no. 3610)

Keadilan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini tidaklah berkurang, sampai pun beliau sakit. Beliau tetap menggilir istri-istri beliau di rumah-rumah mereka, sampai akhirnya beliau merasakan kepayahan karena sakit beliau yang semakin parah. Aisyah radhiallahu ‘anha menuturkan,

لمَاَّ ثَقُلَ رَسُوْلُ اللهِ وَاشْتَدَّ وَجْعُهُ اسْتَأْذَنَ أَزْوَاجَهُ أَنْ يُمرَّضَ فِي بَيْتِي فَأَذِنَّ لَهُ

“Ketika sakit Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertambah parah, beliau meminta izin kepada istri-istrinya untuk dirawat di rumahku. Mereka pun mengizinkan beliau….” (HR. al-Bukhari no. 5714)

Dalam sebuah riwayat, Aisyah radhiallahu ‘anha berkata,

أَنَّ رَسُوْلُ اللهِ كَانَ يَسْأَلُ فِي مَرَضِهِ مَاتَ فِيْهِ يَقُوْلُ: أَيْنَ أَنَا غَدًا؟ أَيْنَ أَنَا غَدًا؟ يُرِيْدُ يَوْمَ عَائِشَةَ، فَأَذِنَ لَهُ أَزْوَاجُهُ يَكُوْنُ حَيْثُ شَاءَ، فَكَانَ فِي بَيْتِ عَائِشَةَ حَتَّى مَاتَ عِنْدَهَا

Rasulullah bertanya saat sakit yang mengantarkan beliau kepada ajalnya,

“Di mana saya besok? Di mana saya besok?” Beliau menginginkan hari giliran Aisyah.

Istri-istri beliau pun memperkenankan beliau untuk berdiam di tempat yang beliau inginkan. Beliau pun tinggal di rumah Aisyah sampai meninggal di sisi Aisyah….” (HR. al-Bukhari no. 5217)

Bersamaan dengan keadilan yang sempurna tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta ampun kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari perbuatan tidak adil dalam urusan yang beliau tidak mampu. Aisyah radhiallahu ‘anha berkata,

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ يَقْسِمُ بَيْنَ نِسَائِهِ فَيَعْدِلُ وَيَقُوْلُ: اللَّهُمَّ هَذَا قِسْمَتِي فِيْمَا أَمْلِكُ، فَلاَ تَلُمْنِي فِيْمَا تَمْلِكُ وَلاَ أَمْلِكُ

Rasulullah membagi giliran di antara istri-istrinya dan beliau berlaku adil. Beliau berdoa, “Ya Allah, ini adalah pembagianku yang aku mampui. Janganlah Engkau mencelaku dalam apa yang Engkau kuasa sementara aku tidak kuasa.”[3]

Urusan yang beliau tidak sanggup berlaku adil adalah masalah kecondongan hati , yaitu cinta sebagaimana ditafsirkan oleh at-Tirmidzi. (Sunan at-Tirmidzi)

Memang dalam pembagian secara indrawi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam benar-benar berbuat adil, tanpa kurang sedikit pun. Sebab, beliau sanggup dan mampu melakukan hal itu. Akan tetapi, urusan hati berada di tangan Allah subhanahu wa ta’ala.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mencintai Aisyah radhiallahu ‘anha lebih daripada istri-istri yang lain. Yang seperti ini di luar kemampuan dan keinginan beliau. Di samping itu, memang tidak ada tuntutan untuk berbuat adil dalam urusan hati. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلَن تَسۡتَطِيعُوٓاْ أَن تَعۡدِلُواْ بَيۡنَ ٱلنِّسَآءِ وَلَوۡ حَرَصۡتُمۡۖ

“Kalian tidak akan sanggup untuk berbuat adil di antara istri-istri kalian walaupun kalian sangat ingin untuk melakukannya.” (an-Nisa: 129)

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma menafsirkan urusan yang tidak dimampu yang tersebut dalam ayat di atas adalah, “Urusan cinta dan jima’.” (dinukil dalam Fathul Bari, 9/389)

Adapun dalam urusan lahiriah, seperti bermalam dan nafkah, suami wajib berlaku adil di antara istri-istrinya. Jika tidak, ia akan beroleh ancaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini.

مَنْ كَانَتْ لَهُ امْرَأَتَانِ مَالَ إِلَى إِحْدَاهُمَا جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَحَدُ شَقَّيْهِ مَائِلٌ

“Siapa yang memiliki dua istri lantas condong kepada salah satunya (tidak berlaku adil), dia akan datang pada hari kiamat dalam keadaan salah satu sisi tubuhnya miring.” (HR. Ahmad, dll; dinyatakan sahih dalam ash-Shahihah no. 2077)

Pergaulan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan istri-istri beliau merupakan teladan bagi orang-orang beriman. Oleh karena itu, seharusnya kita mengenali dan mempelajarinya, lantas mencontohnya. Sebab, apa yang dilakukan beliau adalah bentuk pensyariatan dan petunjuk kepada umat beliau, agar dicontoh dan diteladani, selain dalam urusan yang menjadi kekhususan beliau.

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

[1] Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menghancurkan Rafidhah sehancur-hancurnya, mereka sangat membenci wanita yang justru sangat dicintai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini.

[2] Sekali lagi, kebinasaan bagi Rafidhah yang sangat membenci Abu Bakr ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu, sahabat yang paling dicintai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

[3] Diriwayatkan oleh imam yang empat dan dinyatakan sahih oleh Ibnu Hibban dan al-Hakim, dari jalan Hammad bin Salamah. Demikian kata Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari [9/389]. Kata at-Tirmidzi, “Diriwayatkan oleh Hammad bin Zaid dan lebih dari satu orang, dari Ayyub, dari Abu Qilabah secara mursal. Riwayat yang mursal ini lebih sahih daripada riwayat Hammad bin Salamah.”

Adapun al-Imam al-Albani menyatakan hadits ini lemah dalam Dhaif Sunan at-Tirmidzi.

Riba Mendatangkan Petaka

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Ishaq Abdullah Nahar

 KHUTBAH PERTAMA:

 

إِنَّ الْحَمْدَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ ١٠٢

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفۡسٖ وَٰحِدَةٖ وَخَلَقَ مِنۡهَا زَوۡجَهَا وَبَثَّ مِنۡهُمَا رِجَالٗا كَثِيرٗا وَنِسَآءٗۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ٱلَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلۡأَرۡحَامَۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيۡكُمۡ رَقِيبٗا ١

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَقُولُواْ قَوۡلٗا سَدِيدٗا ٧٠ يُصۡلِحۡ لَكُمۡ أَعۡمَٰلَكُمۡ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۗ وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ فَازَ فَوۡزًا عَظِيمًا ٧١

أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كَلَامُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ وَشَرَّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ. أَمَّا بَعْدُ؛

 

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman di dalam al-Qur’an surat an-Nisa’ ayat 29 sebagai seruan bagi kaum muslimin,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَأۡكُلُوٓاْ أَمۡوَٰلَكُم بَيۡنَكُم بِٱلۡبَٰطِلِ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memakan harta kalian sesama kalian dengan cara batil.”

Memakan harta manusia dengan cara batil adalah makan harta yang haram dan makan makanan yang tidak baik. Allah subhanahu wa ta’ala telah memerintah manusia agar mengonsumsi makanan yang halalan thayyiban, halal dan baik, sebagaimana firman-Nya,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ كُلُواْ مِمَّا فِي ٱلۡأَرۡضِ حَلَٰلٗا طَيِّبٗا وَلَا تَتَّبِعُواْ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِۚ إِنَّهُۥ لَكُمۡ عَدُوّٞ مُّبِينٌ ١٦٨

“Wahai manusia, makanlah dari makanan yang halal dan yang baik dari apa yang terdapat di bumi ini. Dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagi kalian.” (al-Baqarah: 168)

Anjuran agar mengonsumsi makanan yang halal dan baik ini ditinjau dari sisi zat makanannya dan dari sisi cara mendapatkannya. Daging babi dan minuman keras, misalnya. Secara asal zatnya, keduanya merupakan makanan dan minuman yang haram sehingga dikatakan tidak halal dan tidak baik. Misal yang kedua, harta riba dan hasil curian. Keharamannya karena didapatkan dan diperoleh dengan cara yang batil, meski asal muasal zatnya halal.

 

Hadirin rahimakumullah,

Ketahuilah, pertumbuhan jasmani seseorang yang berasal dari makanan dan minuman haram akan terancam siksa neraka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ جِسْمٍ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ فَالنَّارُ أَوْلَى بِهِ

“Setiap tubuh yang tumbuh dari makanan yang haram, maka neraka yang paling berhak dengannya.” (HR. Ahmad)

Makanan, minuman, dan pakaian haram yang dikonsumsi atau dikenakan oleh seseorang merupakan salah satu penyebab tidak terkabulnya doa.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkisahtentang seseorang yang menengadahkan kedua tangannya untuk berdoa, “Wahai Rabbku, wahai Rabbku!” Akan tetapi, makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan sumber gizinya dari harta yang haram. Bagaimana mungkin doanya akan terkabulkan?! (HR. Muslim, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

 

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Di antara harta haram yang didapatkan dengan cara batil adalah harta riba. Semoga kita dijauhkan dari harta yang mendulang petaka ini. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَأۡكُلُواْ ٱلرِّبَوٰٓاْ أَضۡعَٰفٗا مُّضَٰعَفَةٗۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ ١٣٠

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memakan riba yang berlipat-lipat (bunganya) dan bertakwalah kepada Allah agar kalian beruntung.” (Ali ‘Imran: 130)

Pada ayat yang lain Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَأَحَلَّ ٱللَّهُ ٱلۡبَيۡعَ وَحَرَّمَ ٱلرِّبَوٰاْۚ

“Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (al-Baqarah: 275)

Riba adalah harta yang tidak berkah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَمۡحَقُ ٱللَّهُ ٱلرِّبَوٰاْ وَيُرۡبِي ٱلصَّدَقَٰتِۗ

“Allah akan mencabut berkah dariharta riba. Dan Allah akan memelihara harta yang disedekahkan.” (al-Baqarah: 276)

Bermuamalah dengan praktik riba dan makan harta dari riba merupakan dosa besar yang akan membinasakan pelakunya. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اجْتَنِبُو السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ

“Jauhilah tujuh hal yang membinasakan!”

Para sahabat radhiallahu ‘anhum bertanya, “Apa saja wahai Rasulullah?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

الشِّرْكُ، وَالسِّحْرُ، وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ، وَأَكْلُ الرِّبَا، وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ، وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ، وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْغَافِ تَالِ

Ketujuh dosa yang membinasakan tersebut adalah:

  1. Syirik
  2. Sihir
  3. Membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah tanpa alasan yang dibenarkan
  4. Memakan harta riba
  5. Memakan harta anak yatim
  6. Lari ketika perang sedang berkecamuk
  7. Menuduh wanita mukminah yang menjaga kehormatannya dengan tuduhan keji. (HR. al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Pemakan, pemberi, juru tulis, saksi muamalah harta riba adalah orang-orang yang dilaknat oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata,

لَعَنَ رَسُولُ اللهِ آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat si pemakan riba dan pemberinya.” (HR. Muslim)

Dalam riwayat al-Imam at-Tirmidzi ada tambahan lafadz,

وَشَاهِدَيْهِ وَكَاتِبَهُ

“Juga yang menjadi saksi dan juru tulisnya.”

Sungguh, keberadaan riba di rumah tangga dan lingkungan kita sangat mengerikan bahayanya dan sangat buruk akibatnya. Oleh karena itu, Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kaum muslimin untuk segera meninggalkannya.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَذَرُواْ مَا بَقِيَ مِنَ ٱلرِّبَوٰٓاْ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ٢٧٨

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman.”

فَإِن لَّمۡ تَفۡعَلُواْ فَأۡذَنُواْ بِحَرۡبٖ مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦۖ

“Jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu.”

وَإِن تُبۡتُمۡ فَلَكُمۡ رُءُوسُ أَمۡوَٰلِكُمۡ لَا تَظۡلِمُونَ وَلَا تُظۡلَمُونَ ٢٧٩

“Dan jika kamu bertobat (dari pengambilan riba), bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.” (al-Baqarah: 278—279)

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، أَقُولُ مَا تَسْمَعُونَ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوهُ وَتُوبُوا إِلَيْهِ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمِ

 

 KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ وَالصَّ ةَالُ وَالسَّ مَالُ عَلَى رَسُولِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ؛ أَمَّا بَعْدُ: فَإِلَى اللهِ الْمُشْتَكَى

Hanya kepada Allah-lah kita mengadu atas merebaknya praktik riba di masyarakat kita sekarang ini. Berbagai bentuk muamalah riba ada dan terjadi di lingkungan kita.

Ada yang melakukan jual beli emas atau perak dengan sistem tukar tambah. Perhiasan emas yang lama langsung ditukar dengan yang baru di toko emas dengan tambahan biaya.

Praktik riba seperti inilah yang disebut riba fadhl dan dilarang keras oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya,

لاَ تَبِيعُوا الذَّهَبَ بِالذَّهَبِ إِلاَّ مِثْلاً بِمِثْلٍ

“Janganlah kalian berjual-beli emas dengan emas, kecuali harus sama dengan timbangannya.”

وَلَا تَشِفُّوا بَعْضَهَا عَلَى بَعْضٍ

“Janganlah kalian melebihkan sebagian atas yang lain (maksudnya tukar tambah emas).”

وَلَا تَبِيْعُوا الْوَرِقَ بِالْوَرِقِ إِلاَّ مِثْ بِمِثْلٍ

“Janganlah kalian jual beli perak dengan perak kecuali sama timbangannya.”

وَلَا تَشِفُّوا بَعْضَهَا عَلَى بَعْضٍ

Janganlah kalian melakukan tukar tambah antara perak dengan perak.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Abu Said al-Khudri radhiallahu ‘anhu)

الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَزْنًا بِوَزْنٍ مِثْ بِمِثْلٍ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَزْنًا بِوَزْنٍ مِثْ بِمِثْلٍ فَمَنْ زَادَ أَوِ اسْتَزَادَ فَهُوَ رِبًا

“Emas dengan emas harus dengan timbangan yang sama, perak dengan perak harus dengan timbangan yang sama. Barang siapa melebihkan atau meminta untuk dilebihkan, maka itulah riba.” (HR. Muslim, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

 

Kaum muslimin rahimakumullah,

Di antara praktik riba yang terjadi di tengah masyarakat kita adalah jual beli emas/perak dengan sistem bayar angsur (kredit) atau sebaliknya, dengan pembayaran di muka sedangkan emas/perak yang dibeli diterima pada lain waktu.

Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,

الذَّهَبُ بِالْوَرِقِ رِبًا إِلاَّ هَاءً وَهَاءً

“Emas dibayar dengan perak adalah riba kecuali jika dibayar tunai.” (HR. al-Bukhari dan Muslim, dari Umar radhiallahu ‘anhu)

وَلاَ تَبِيعُوا مِنْهَا غَائِبًا بِنَاجِزٍ

“Janganlah kalian jual beli emas/perak dengan utang-piutang.” (HR. al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Sa’id radhiallahu ‘anhu)

 

Hadirin rahimakumullah,

Hal yang semisal dengan emas dan perak adalah mata uang yang berfungsi sebagai alat tukar/transaksi. Tidak dibenarkan tukar-menukar mata uang yang sejenis (misalnya rupiah dengan rupiah) kecuali harus sama jumlah nominalnya dan harus tunai diterima pada satu majelis.

Tidak dibenarkan pula tukar-menukar dua mata uang yang berbeda (misalnya rupiah dengan dollar) kecuali keduanya harus diterima secara tunai dan pada satu majelis.

Di antara praktik riba yang tumbuh subur di masyarakat kita adalah simpan-pinjam dengan sistem bunga. Riba jenis inilah yang dimaksud dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam surat Ali ‘Imran ayat 130,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَأۡكُلُواْ ٱلرِّبَوٰٓاْ أَضۡعَٰفٗا مُّضَٰعَفَةٗۖ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memakan riba dengan

bertambah berlipat-lipat….” sebagaimana yang telah dijelaskan oleh para ahli tafsir.

Perlu kita sadari bahwa praktik riba seringkali disitilahkan dengan bahasa yang menarik dan memikat. Padahal penamaan tidaklah mengubah hakikat. Dengan istilah yang baru, riba tersebut menjadi terselubung.

Akan tetapi, riba tetaplah riba meskipun dinamakan “dana kredit” atau “mudharabah”, yang hakikatnya adalah pinjaman berbunga. Praktik-praktik seperti inilah yang menjadi salah satu sebab kehinaan pada suatu kaum. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memperingatkan kita dari hal ini,

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمْ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ

“Jika kalian telah berjual beli dengan sistem ‘inah, kalian memegang ekor-ekor sapi (sibuk dengan ternak), kalian puas dengan cocok tanam, dan kalian meninggalkan jihad, niscaya Allah subhanahu wa ta’ala akan menimpakan kehinaan kepada kalian sampai kalian kembali kepada agama kalian.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad, dari Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma, dinyatakan sahih oleh al-Albani)

Sistem ‘inah adalah salah satu bentuk riba yang terselubung. Gambarannya, Si A menjual barang kepada Si B secara kontan. Kemudian barang tersebut dibeli kembali oleh Si A dengan harga yang lebih tinggi dengan pembayaran secara tempo.

Hakikatnya, Si A meminjam uang dari Si B dan harus mengembalikannya dengan nilai lebih tinggi.

نَسْألُ اللهَ السَّ مَالَةَ وَالْعَافِيَةَ

Kita memohon kepada Allah keselamatan dan kesejahteraan.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَ مُتَقَبَّلَا

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَالْحَمْدُ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Pekerjaan yang Mengandung Keharaman

Apabila harta yang didapat dari cara yang halal bercampur dengan harta dari jalan yang haram, bagaimana hukumnya? Hal ini terjadi pada transaksi dengan personal dan dengan lembaga negara.

Bagaimana pula hukum menggunakan harta yang saya ketahui berasal dari jalan yang mencurigakan? Saya mengingkarinya di hadapan orang yang membawa harta seperti ini. Bolehkah saya menggunakan harta tersebut?

Bolehkah saya bekerja di perusahaan seperti ini dalam keadaan saya tahu bahwa hal-hal di atas terjadi pada perusahaan tersebut, dan saya tetap mengingkari perbuatan mereka dengan keras?! Sebagai pertimbangan, ayah saya mendesak saya untuk bekerja bersamanya (di perusahaan tersebut) dalam bidang akuntansi.

Apabila ayah saya berkata kepada saya bahwa dia yang akan menanggung dosanya, bolehkah saya memenuhi permintaan ayah saya untuk mengambil pekerjaan tersebut? Apakah boleh saya memakan hasil pekerjaan tersebut? Perlu diketahui, saya mampu untuk bekerja di tempat mana pun, dengan gaji berapa pun, tetapi ayah saya tentu akan marah karena tidak terima.

Bolehkah saya tetap tinggal di rumah dengan keluarga yang seperti ini? Kepergian saya akan mengakibatkan kerusakan yang besar terhadap kondisi keluarga.

Saya mengharap kepada Yang Mulia (Mufti) agar surat saya ini dipelajari dengan saksama, dengan mempertimbangkan kondisi saya dari segala sisi. Agama ini menuntut saya untuk tidak menumbuhkan tubuh saya dalam keharaman—apabila ada sesuatu yang haram (dalam urusan saya ini).

Kondisi saya di dalam rumah cukup berat. Dari satu sisi, saya tidak mampu meninggalkan rumah, demikian pula saudara-saudara saya. Sebab, kami tidak pernah berpikir untuk itu. Justru keberadaan saya di rumah memberi pengaruh, yaitu bisa meniadakan beberapa hal yang tidak diridhai oleh syariat. Jika saya tidak tinggal, bisa jadi hal-hal tersebut tersebar di dalam rumah.

 

Jawab:

  1. Memberi suap dan menerimanya adalah haram, baik bagi yang menyuap, yang disuap, maupun yang menjadi perantaranya.

 

  1. Kami telah mengeluarkan fatwa tentang hukum memanfaatkan harta yang tercampur padanya antara yang halal dan yang haram, dengan nomor 2512, tanggal 28/7/1399 H.

Berikut ini teksnya.

  1. Apabila Anda mengetahui bahwa hadiah yang diberikan kepada Anda atau makanan yang disajikan kepada Anda adalah barang yang haram, Anda tidak boleh menerima atau memakannya.
  2. Apabila tidak terpisahkan antara penghasilan mereka yang halal dan penghasilan yang haram, ada perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang hukum menerima hadiahnya, memakan makanan yang disuguhkan ketika kita bertamu, dan yang semisalnya.
  • Ada yang berpendapat, hukumnya haram secara mutlak.
  • Ada yang menyatakan, apabila yang haram melebihi sepertiga dari penghasilan total, haram memakan suguhannya dan menerima hadiahnya.
  • Ada pula yang menyatakan, apabila penghasilan yang haram lebih banyak daripada yang halal, haram memakan suguhannya dan menerima hadiahnya.
  • Ada juga yang menyatakan, tidak haram secara mutlak sehingga hadiahnya diterima dan makanan pemberiannya boleh dimakan.

Pendapat (yang terakhir) ini yang tampak (kebenarannya). Sebab, dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima pemberian daging kambing bakar dari seorang perempuan Yahudi dan memakan sebagiannya.

Alasan lainnya, karena keumuman firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَطَعَامُ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ حِلّٞ لَّكُمۡ

“Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi al-Kitab itu halal bagimu.” (al-Maidah: 5)

Telah diketahui bahwa orang Yahudi dan Nasrani memakan riba. Mereka tidak memilih penghasilan yang halal. Mereka mendapat penghasilan dari yang haram dan yang halal. Meski demikian, Allah subhanahu wa ta’ala mengizinkan memakan makanan mereka. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri memakan darinya.

Sekelompok ulama meriwayatkan hadits dari Sufyan ats-Tsauri, dari Salamah bin Kuhail, dari Dzar bin Abdillah, dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu; seseorang bertanya kepada beliau radhiallahu ‘anhu, “Aku memiliki tetangga yang makan (dari penghasilan) riba. Dia selalu mengundangku (makan).”

Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu menjawab, “Suguhannya untukmu, dosanya menjadi tanggungannya.”

Akan tetapi, jika seorang muslim membersihkan diri dengan tidak bergaul dengan mereka dan sering saling memberi hadiah dan berkunjung dengan mereka, lantas mencukupkan diri sebatas tuntutan maslahat atau kebutuhan, tentu saja hal ini lebih baik baginya.

  1. Anda tidak boleh bekerja di perusahaan tersebut meski di bagian akuntansi dalam keadaan tahu kondisinya sebagaimana yang disebutkan dalam pertanyaan. Sebab, hal itu termasuk saling menolong dalam hal dosa dan pelanggaran. Padahal Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلَا تَعَاوَنُواْ عَلَى ٱلۡإِثۡمِ وَٱلۡعُدۡوَٰنِۚ

“Dan janganlah kalian tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (al-Maidah: 2)

Berbeda halnya jika Anda memiliki kekuasaan dan kekuatan untuk mengubah hal-hal yang haram yang ada pada perusahaan tersebut. Dalam hal ini, Anda tetap bekerja di situ lebih baik daripada meninggalkannya. Sebab, keberadaan Anda di situ termasuk perbaikan dan mengubah kemungkaran.

  1. Janji ayah Anda untuk menanggung dosa yang terjadi dalam operasional perusahaan adalah kemungkaran. Hal ini tidak bermanfaat bagi Anda, berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٞ وِزۡرَ أُخۡرَىٰۚ

        “Dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.” (al-An’am: 164)

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُواْ رَبَّكُمۡ وَٱخۡشَوۡاْ يَوۡمٗا لَّا يَجۡزِي وَالِدٌ عَن وَلَدِهِۦ وَلَا مَوۡلُودٌ هُوَ جَازٍ عَن وَالِدِهِۦ شَيۡ‍ًٔاۚ

“Hai manusia, bertakwalah kepada Rabbmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikit pun.” (Luqman: 33)

Berdasarkan hal ini, Anda tidak boleh memenuhi permintaannya untuk mengambil pekerjaan itu, meski dia marah. Sebab, tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam hal kemaksiatan kepada al-Khaliq. Ketaatan hanyalah dalam hal yang baik. Kecuali jika Anda mampu mengubah kemungkaran tersebut dan berharap bisa mengubahnya.

  1. Jika Anda tetap tinggal dengan keluarga di rumah diharapkan bisa memperbaiki kondisi keislaman mereka dengan menasihati mereka sehingga mereka berhenti melakukan hal-hal yang menyelisihi syariat, tentu lebih baik Anda tinggal bersama mereka.

Jika tidak demikian, Anda jangan tinggal bersama mereka. Hanya saja, bergaullah dengan mereka dengan baik di dunia dan tetap menyambung silaturahim. Ikutilah jalan orang-orang yang kembali kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Dalam hal ini, Anda lebih tahu, apakah Anda memiliki kekuatan untuk memperbaiki dan mengubah kemungkaran atau tidak.

Allah subhanahu wa ta’ala sajalah yang memberi taufik. Semoga shalawat dan salam terlimpah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, dan para sahabat beliau.

 Komite Tetap untuk Pembahasan Ilmiah dan Pemberian Fatwa

Ketua: Abdul Aziz bin Abdullah bin

Baz; Wakil Ketua: Abdur Razzaq Afifi;

Anggota: Abdullah bin Qu’ud.

(Fatawa al-Lajnah, 26/312—315, fatwa no. 477

 


Komitmen dengan Agama Tidak Menghalangi Mencari Nafkah

Apa yang wajib diperbuat oleh seorang muslim sesuai dengan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, terkait dengan seorang pemuda muslim yang komitmen terhadap Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan membiarkan jenggot? Hal ini mengakibatkan dia kesusahan mencari nafkah, terkadang ditangkap dan mendapatkan berbagai bentuk siksaan. Setiap kali melamar sebuah pekerjaan, hal ini memberatkannya. Dia tidak diterima karena berjenggot.

Berilah kami fatwa, semoga Anda mendapatkan balasan karena memberi perhatian terhadap keadaan kaum muslimin di Republik Mesir.

 

Jawab:

Mencari nafkah tidak hanya dengan bekerja menjadi pegawai pemerintahan. Jalan-jalan mencari nafkah yang tidak mengikat cukup banyak.

Maka dari itu, carilah jalan pekerjaan yang tidak mengikat, tetaplah komitmen dengan agama Anda, jauhilah sumber keburukan dan masalah, dalam rangka mencari keselamatan diri darinya.

Allah subhanahu wa ta’ala sajalah yang memberi taufik. Semoga shalawat dan salam terlimpah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, dan para sahabat beliau.

 

Komite Tetap untuk Pembahasan Ilmiah dan Pemberian Fatwa

Ketua: Abdul Aziz bin Abdullah bin

Baz; Wakil Ketua: Abdur Razzaq Afifi;

Anggota: Abdullah bin Ghudayyan.

(Fatawa al-Lajnah, 15/77—78, fatwa no. 10575, pertanyaan no. 1)


 

Gaji Pekerjaan yang Didapat Dengan Ijazah Hasil Mencontek

Seseorang mendapatkan pekerjaan dengan sebuah ijazah dalam disiplin ilmu tertentu. Dia telah melakukan penipuan ketika menempuh ujian guna mendapatkan ijazah ini. Sekarang, dia telah bekerja dengan baik dengan persaksian dari bawahan. Apa hukum gaji yang dia dapatkan, halal ataukah haram?[1]

 

Jawab:

Insya Allah tidak mengapa. Hanya saja, dia harus bertobat kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari penipuan yang dia lakukan. Apabila dia bisa menunaikan tugasnya sebagaimana mestinya, penghasilannya tidak apa-apa. Akan tetapi, dia bersalah dalam hal penipuan yang dilakukannya dahulu. Dia harus bertobat kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari perbuatan tersebut.

 

(Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah, 19/31—32)

[1] Pertanyaan ini termuat dalam sekumpulan soal yang diajukan kepada Samahatusy Syaikh Ibnu Baz rahimahullah pada musim haji 1415 H.

Al-Muqaddim & Al-Muakhkhir

Dua nama dari asmaul husna, dalam hadits disebutkan,

أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Engkaulah, al-Muqaddim dan Engkaulah, al-Muakhkhir. Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.” (Muttafaqun alaih)

Asy-Syaikh Muhammad Khalil Harras menerangkan, “Di antara nama Allah subhanahu wa ta’ala adalah al-Muqaddim dan al-Muakhkhir. Keduanya termasuk nama yang saling berpasangan, tidak boleh salah satunya dipisahkan dari yang lain. Jadi, Allah subhanahu wa ta’ala adalah al-Muqaddim yakni yang mendahulukan sebagian sesuatu atas sebagian yang lain, baik pendahuluan dalam penciptaan, seperti pendahuluan sebagian makhluk atas yang lain dalam menciptakannya, maupun dalam hal mendahulukan sebab atas akibatnya, syarat atas yang dipersyaratkan; atau pendahuluan dalam hal maknawi atau dalam hal syariat, seperti diutamakannya sebagian nabi atas seluruh manusia yang lain, diutamakannya nabi atas sebagian nabi yang lain, dan diutamakan sebagian hamba atas hamba yang lain.

Allah subhanahu wa ta’ala juga al-Muakhkhir, yang mengakhirkan sebagian dari sebagian yang lain, baik dalam sisi waktunya maupun dalam sisi syariat. Dua sifat Allah subhanahu wa ta’ala (yang terkandung dalam dua nama ini) termasuk yang disebut dengan sifat fi’il (sifat perbuatan) yang mengikuti kehendak Allah subhanahu wa ta’ala dan hikmah-Nya, (yakni kapan Allah subhanahu wa ta’ala menghendaki, Allah subhanahu wa ta’ala akan melakukannya sesuai dengan hikmah-Nya, pen.). Keduanya juga termasuk yang disebut dengan sifat zat. Keduanya berada pada sebuah zat (yakni tidak berdiri sendiri, pen.).

Demikianlah semua sifat fi’il dari sudut pandang ini termasuk sifat zat. Zat (Allah subhanahu wa ta’ala) bersifat dengannya dan dari sisi keterkaitan sifat itu dengan sumber munculnya, baik berupa perkataan maupun perbuatan yang disebut sifat fi’il.” (Syarah Qashidah Nuniyah, 2/120)

 

Buah Mengimani Nama Allah subhanahu wa ta’ala, al-Muqaddim dan al-Muakhkhir

Dengan mengimani dua nama Allah subhanahu wa ta’ala tersebut, akan bertambah kepasrahan seorang hamba kepada Allah subhanahu wa ta’ala dalam hal kemajuannya atau kemundurannya, keutamaannya atauberkurangnya keutamaan itu. Semuanya Allah subhanahu wa ta’ala yang menentukan.

Meski demikian, maju atau mundur, utama atau tidak, semuanya ada sebabnya yang Allah subhanahu wa ta’ala kaitkan dengannya. Kita mesti melakukan segala sebab keutamaan dan kemajuan serta menghindari sebab kemunduran. Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala -lah yang memutuskan hasilnya.

Sebagai contoh, dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat para sahabatnya lambat dalam maju ke shaf depan. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَقَدَّمُوا فَأَتِمُّوا بِي، وَلْيَأْتَمَّ بِكُمْ مَنْ بَعْدَكُمْ، لَا يَزَالُ قَوْمٌ يَتَأَخَّرُونَ حَتَّى يُؤَخِّرُهُمُ اللهُ

“Majulah dan ikuti aku. Yang di belakang kalian akan mengikuti kalian. Akan tetap ada orang-orang yang memilih berada di belakang hingga Allah subhanahu wa ta’ala mengakhirkan mereka.” (Sahih, HR. Muslim dari Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu)

Wallahul Muwaffiq.

Ditulis oleh al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc.

Iblis VS Manusia (5)

Sebagaimana sudah diceritakan bahwa setan menjerumuskan manusia ke jurang kebinasaan sekaligus menyeret mereka kepada kekafiran dan kesyirikan, tidaklah secara langsung. Tetapi berangsur-angsur, selangkah demi selangkah.

Enam pintu yang telah dijelaskan pada edisi sebelumnya adalah cara yang umum digunakan oleh setan menghancurkan manusia. Selain enam pintu ini masih ada jalan-jalan lain yang memperjelas pintu-pintu tersebut.

 

Berlindung dari Setan

Allah subhanahu wa ta’ala Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang tidak membiarkan kita begitu saja melawan musuh yang satu ini. Dengan rahmat-Nya, Dia mengajari manusia cara untuk menghadapi musuh yang paling berat ini.

Satu hal yang harus kita ingat, bagaimanapun banyaknya tipu muslihat setan untuk menghancurkan manusia, semua tipu muslihat itu lemah. Sangat lemah bagi orang-orang yang beriman dan taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala, tetap istiqamah di atas jalan yang lurus dan senantiasa istighfar dan bertobat.

Allah subhanahu wa ta’ala dengan kasih sayang-Nya membimbing kita kepada hal-hal yang membuat kita terjaga dari makar dan godaan setan. Yang paling penting di antara upaya berlindung dari gangguan dan tipu daya setan itu adalah bertauhid, bertawakal dan bersandar sepenuhnya kepada Allah subhanahu wa ta’ala serta memurnikan (ikhlas) ibadah hanya karena Allah subhanahu wa ta’ala.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّ عِبَادِي لَيۡسَ لَكَ عَلَيۡهِمۡ سُلۡطَٰنٌ إِلَّا مَنِ ٱتَّبَعَكَ مِنَ ٱلۡغَاوِينَ ٤٢

“Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikut kamu, yaitu orang-orang yang sesat.” (al-Hijr: 42)

Hamba yang dimaksud dalam ayat ini adalah orang-orang yang bertakwa dan ikhlas mengabdi hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Dia menyandarkan mereka kepada-Nya dengan ungkapan عِبَادِي (hamba-hamba-Ku), sehingga tidak termasuk di dalamnya orang-orang yang ghawi (sesat, menyimpang setelah menerima ilmu).

Al-Qurthubi rahimahullah menukil pendapat ulama yang menerangkan bahwa kekuasaan tersebut adalah terhadap hati-hati mereka.

Merekalah yang dikecualikan oleh Iblis dalam sumpahnya, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala,

قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغۡوِيَنَّهُمۡ أَجۡمَعِينَ ٨٢  إِلَّا عِبَادَكَ مِنۡهُمُ ٱلۡمُخۡلَصِينَ ٨٣

Iblis menjawab, “Demi kekuasaan-Mu, aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka.” (Shad: 82—83)

Wallahu a’lam.

Sebagian ulama ada yang berbicara tentang tempat masuk setan ke dalam hati manusia. Beliau menerangkan, “Hati itu seperti sebuah benteng yang tinggi, sedangkan setan adalah musuh yang ingin menyelinap ke dalam benteng itu untuk menguasainya. Benteng itu tidak mungkin dipertahankan kecuali dengan menjaga semua pintu dan celah yang ada. Hal itu juga tidak mungkin kecuali dengan mengenal semua pintu dan celah atau setiap sudut benteng tersebut.

Kita tidak mungkin mampu mengusir setan itu kecuali dengan mengetahui arah dari mana dia biasanya memasuki hati kita. Oleh karena itu, memahami perkara ini menjadi sebuah hal yang wajib, karena melindungi dan menjaga hati dari gangguan setan adalah wajib.

Ulama menyebutkan bahwa pintu-pintu dan tempat jalan masuk setan adalah sifat-sifat yang ada pada manusia itu sendiri. Sifat-sifat itu melekat pada dirinya sejak dia diciptakan. Akan tetapi, sifat-sifat itu adalah sesuatu yang harus dikendalikan, bukan dibiarkan begitu saja. Di antaranya ialah syahwat, marah, sadis, rakus, dsb.

Ada sepuluh jalan yang disebutkan oleh ulama tersebut, yaitu:

 

  1. Dengki dan tamak (rakus) yang merupakan jalan utamanya.

Karena dengki inilah setan dilaknat menjadi makhluk yang terkutuk sampai hari kiamat, dan karena sifat rakus (tamak) ini dia memperoleh apa yang diinginkannya dari Adam ‘alaihissalam.

Dihalalkan semua yang ada di surga untuk Adam ‘alaihissalam kecuali satu pohon, lalu dia menggoda Adam ‘alaihissalam agar memakannya.

 

  1. Jalan yang kedua, syahwat dan hawa marah.

Keduanya adalah muslihat paling besar setan. Seberapa pun marahnya seseorang, setan tentu mempermainkannya, hingga seperti anak kecil memainkan bola yang ada di tangannya.

 

  1. Jalan yang ketiga, menyukai syahwat dan berhias dalam urusan dunia, pakaian, perabotan, rumah, dan kendaraan.

Ketika setan mengetahui bahwa hal itulah yang menguasai hati manusia, dia pun bersukacita. Lalu, dia pun tak henti-hentinya mengajak manusia itu agar meramaikan dunia dan menghiasi atap dan dinding serta meluaskan rumahnya. Atau, memperindah pakaiannya.

Setelah berhasil menenggelamkan manusia itu dalam kesenangan dunia, dia tidak lagi perlu mengulangi, karena sebagian dunia itu akan menyeret kepada yang lain, sampai orang itu mendekati ajal dan mati dalam keadaan berselimut angan-angan.

 

  1. Jalan yang keempat, sikap tamak, loba, atau rakus.

Apabila sifat-sifat ini sudah menguasai hati, setan akan selalu mendorongnya melakukan tindakan membuat-buat satu perilaku agar menarik simpati orang lain yang dia inginkan sesuatu darinya.

 

  1. Jalan yang kelima, sikap tergesa-gesa dalam banyak hal, sembrono, dan apatis.

 

  1. Jalan yang keenam, dinar dan dirham serta segala jenis harta, kendaraan dan tanah yang melebihi batas yang diperlukan.

 

  1. Jalan yang ketujuh, sifat kikir dan takut miskin, karena kikir adalah pangkal semua kesalahan.

 

  1. Jalan yang kedelapan, buruk sangka terhadap kaum muslimin.

Siapa yang memutuskan sesuatu terhadap orang lain dengan sangkaan, setan akan mendatanginya agar melakukan gibah, maka dia pun binasa. Atau, kurang dalam memenuhi hak orang lain atau enggan memuliakannya, atau merendahkannya, atau memandang dirinya lebih baik dari orang itu.

Jika Anda melihat seseorang berburuk sangka terhadap orang lain, mencari-cari aibnya, ketahuilah bahwa orang ini batinnya keji. Sebab, orang yang beriman itu justru mencari-cari uzur buat orang lain, dan orang yang munafik itulah yang suka mencari-cari aib orang lain.

 

  1. Jalan yang kesembilan, kekenyangan dan menyukai makanan mewah, karena kekenyangan akan menguatkan syahwat dan menjadi senjata setan.

 

  1. Jalan kesepuluh, menyeret orang awam memikirkan Dzat Allah subhanahu wa ta’ala.

 

Bagaimana Cara Menolak Gangguan Setan?

Mungkinkah kita bisa mengusir setan setiap kali dia datang?

Ada sebuah perumpamaan diberikanoleh sebagian ulama kepada muridnya. Apabila engkau hendak melewati sebuah ladang gembalaan yang dijaga oleh anjing-anjing yang ganas, apa yang akan engkau lakukan? Sementara itu, tidak ada jalan lain kecuali melewati tempat penggembalaan itu.

Si murid berkata, “Aku akan berusaha mengusirnya dengan tongkat ataupun batu.”

“Dia pasti datang lagi,” kata gurunya.

“Aku akan mengusirnya lagi lebih keras,” kata muridnya.

“Sampai kapan, dan kapan kamu akan sampai tujuan?” tanya gurunya.

“Ada jalan yang lebih cepat, yaitu meminta pemilik anjing itu agar menahan anjingnya supaya tidak menggonggongmu atau mengejarmu.”

Itulah cara yang lebih tepat dan cepat, meminta pertolongan kepada Penguasa dan Pemilik setan tersebut agar menghalanginya untuk mendekati kita, yaitu dengan doa dan isti’adzah (meminta perlindungan).

Sudah tentu, lebih dahulu hati yang diincar oleh setan ini harus dibersihkan sebersih-bersihnya. Semua “makanan” setan yang ada di dalam hati harus benar-benar disingkirkan, sehabis-habisnya jangan sampai tersisa. Jika masih tersisa, bagaimana mungkin setan akan segera pergi ketika kita mengusirnya dengan doa dan isti’adzah karena apa yang diincarnya belum berhasil diraihnya.

Sebagian ulama mengumpamakan setan itu adalah anjingnya manusia. Apabila pada manusia itu ada sesuatu yang disukai oleh seekor anjing, berupa makanan atau apa saja, dia akan selalu berusaha mendekati manusia itu sampai dia memperolehnya. Anda mengusirnya, membentaknya, memukul atau melemparnya dengan batu, dia tetap akan kembali berusaha mendekat sampai Anda menyerahkan apa yang diinginkan anjing itu, atau dia memperolehnya.

Sebuah perumpamaan lain, tentang dua buah rumah. Yang satu berdiri megah, isinya penuh dengan perabotan dan makanan. Yang satu lagi, sudah runtuh atapnya, dindingnya banyak yang berlubang dan kosong, tidak ada barang dan makanan di situ selain sampah, puing-puing reruntuhan.

Manakah yang diincar oleh para perampok dan pencuri? Tentu rumah yang masih berdiri megah dengan isinya yang lengkap. Mereka akan berusaha memasuki rumah itu untuk mendapatkan makanan atau barang yang berharga, dengan sembunyi-sembunyi atau terang-terangan.

Adapun rumah yang sudah tinggal puing-puing dan sampah, tidak lagi diincar oleh mereka, tetapi justru mereka jadikan markas, tempat menetap atau bersembunyi.

Seperti itu pula kalbu kita, yang selalu berdetak di balik tulang-tulang dada kita. Apabila kalbu itu masih hidup, bersih, dan sehat karena terisi keimanan dan keyakinan serta keikhlasan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, tentu akan selalu menjadi incaran setan. Semakin seseorang berusaha membersihkan dan menjaga hatinya, seperti itu pula usaha setan berusaha menggagalkannya. Wallahul Musta’an.

Sebaliknya, jika hati itu sudah rusak, tidak ada lagi kehidupan dan cahayanya, dia menjadi sarang para setan.

Inilah sebabnya dikatakan bahwa shalat orang yang tidak dihinggapi waswas adalah shalat orang-orang Yahudi dan Nasrani.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman menerangkan sebagian sifat hamba-hamba-Nya yang bertakwa,

إِنَّ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوۡاْ إِذَا مَسَّهُمۡ طَٰٓئِفٞ مِّنَ ٱلشَّيۡطَٰنِ تَذَكَّرُواْ فَإِذَا هُم مُّبۡصِرُونَ ٢٠١

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa apabila ditimpa waswas dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.” (al-A’raf: 201)

Akan tetapi, zikir ini akan tumpul kekuatannya jika kalbu yang menggerakkannya tidak terisi dengan rasa khauf (takut) dan takwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Seperti orang yang meminum obat, tetapi lokasi tempat menguraikan dan mengolah obat itu rusak atau tidak berfungsi, tentu penyakitnya tidak akan sembuh.

Zikir itu diumpamakan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah seperti obat, kemudian takwa adalah upaya menjaga diri. Ketika zikir itu digerakkan oleh kalbu yang selalu terjaga, terusirlah setan dan hilanglah gangguannya.

Wallahul Muwaffiq.

(insya Allah bersambung)

 Ditulis oleh al-Ustadz Abu Muhammad Harits