Memohon Kesucian Jiwa

اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا

أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا

 “Ya Allah, berilah ketakwaan kepada jiwaku, sucikanlah jiwaku. Engkaulah sebaik-baik Dzat yang dapat menyucikannya. Engkaulah yang menguasai dan yang menjaganya.”

(HR. Muslim no. 6844 dari sahabat Zaid bin Arqam radhiallahu ‘anhu)

 

An-Nawawi rahimahullah berkata,

“Makna ‘sucikanlah jiwaku’ adalah ‘bersihkanlah’. Adapun lafadz ‘Engkaulah sebaik-baik Dzat yang dapat menyucikannya’ maksudnya bukanlah untuk membandingkan (bahwa ada yang dapat menyucikan jiwa selain Allah). Akan tetapi, maknanya adalah ‘tidak ada yang dapat menyucikan jiwa kecuali Engkau’.”

(al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin al-Hajjaj, 17/44, cetakan Darul Ma’rifah Beirut)

Saat Ditimpa Kesulitan

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ الْعَظِيمُ الْحَلِيمُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمُ،

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمُ

 “Tidak ada sembahan yang haq kecuali Allah yang Mahaagung lagi Maha Penyayang. Tidak sembahan yang haq kecuali Allah, Rabb ‘Arsy yang Mahaagung. Tidak sembahan yang haq kecuali Allah, Rabb langitlangit dan bumi, Rabb ‘Arsy yang Mahamulia.”

(HR. al-Bukhari no. 6345, “Bab ad-Du’a ‘Inda al-Karb” dan Muslim no. 6858, “Bab ad-Du’a ‘Inda al-Karb” dari sahabat Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma)

 

Memohon Keistiqamahan

رَبَّنَا لَا تُزِغۡ قُلُوبَنَا بَعۡدَ إِذۡ هَدَيۡتَنَا وَهَبۡ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحۡمَةًۚ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡوَهَّابُ ٨

“Wahai Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kalbu kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, karena sesungguhnya Engkaulah yang Maha Pemberi (karunia).” (Ali Imran: 8)

 

Asy-Syaikh as-Sa’di rahimahullah berkata,

“Janganlah Engkau simpangkan kalbu kami dari kebenaran karena kebodohan dan penentangan kami. Jadikanlah kami orang-orang yang istiqamah, selalu mendapatkan petunjuk. Kokohkanlah kami di atas hidayah-Mu, dan selamatkanlah kami dari apa yang dengannya Engkau uji orang-orang yang menyimpang.”

(Tafsir as-Sa’di hlm. 106)

Doa Untuk Musafir

زَوَّدَكَ اللهُ التَّقْوَى وَغَفَرَ ذَنْبَكَ وَيَسَّرَ لَكَ الْخَيْرَ حَيْثُمَا كُنْت

“Semoga Allah membekalimu dengan ketakwaan, mengampuni dosamu, dan memudahkan kebaikan untukmu di manapun engkau berada.”

(HR. at-Tirmidzi dari Anas radhiallahu ‘anhu no. 3444, dihukumi hasan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam ash-Shahih al-Jami’no. 3579, lihat http://www.alalbany.net/mobile)

Doa Para Nabi & Pengikutnya

رَبَّنَا ٱغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسۡرَافَنَا فِيٓ أَمۡرِنَا وَثَبِّتۡ أَقۡدَامَنَا وَٱنصُرۡنَا عَلَى ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡكَٰفِرِينَ

“Ya Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang melampaui batas dalam urusan kami; kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” (Ali Imran: 147)

 Keterangan

Al-Israf adalah tindakan melampaui batasan yang telah diharamkan (oleh Allah subahanahu wa ta’ala, -pent.). (Tafsir as-Sa’di hlm. 151)

Zikir Setelah Shalat

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، حَوْلَ وَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ، إِلَهَ إِ اللهُ، وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ، لَهُ النِّعْمَةُ وَلَهُ الْفَضْلُ وَلَهُ الثَّنَاءُ الْحَسَنُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

 

“Tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah satu-satu-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kekuasaan dan segala pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah. Tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah dan kami tidak beribadah kecuali hanya kepada-Nya. Milik-Nya segala kenikmatan dan keutamaan serta sanjungan yang baik. Tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah, kami memurnikan seluruh peribadatan ini hanya untuk-Nya meskipun orang-orang kafir tidak menyukai.”

(HR. Muslim no. 1342 dari Ibnu Zubair radhiallahu ‘anhu)

Saat Melihat Manusia Menyimpan Emas & Perak

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Syaddad bin Aus radhiallahu ‘anhu,

“Wahai Syaddad bin Aus, apabila engkau melihat manusia telah menyimpan emas dan perak, simpanlah kalimat-kalimat ini.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الْأَمْرِ وَالْعَزِيْمَةَ عَلَى الرُّشْدِ، وَأَسْأَلُكَ شُكْرَ نِعْمَتِكَ، وَأَسْأَلُكَ حُسْنَ عِبَادَتِك، وَأَسْأَلُكَ قَلْبًا سَلِيمًا، وَأَسْأَلُكَ لِسَانًا صَادِقًا، وَأَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا تَعْلَمُ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا تَعْلَمُ وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا تَعْلَمُ، إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ

“Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu kekokohan di atas agama, istiqamah di atas jalan yang haq, bersyukur atas nikmat-Mu, kebagusan dalam ibadah kepada-Mu, kalbu yang selamat, dan lisan yang jujur. Aku memohon kebaikan yang Engkau ketahui. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang Engkau ketahui. Aku memohon ampun kepada-Mu dari yang Engkau ketahui. Sesungguhnya, Engkau Maha Mengetahui hal-hal yang gaib.”

(HR. Ahmad no. 17114, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam ash-Shahihah no. 3228)

Memohon Keutamaan dan Rahmat Alllah

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ وَرَحْمَتِكَ فإِنَّهُ لَا يَمْلِكُهَا إِلاَّ أَنْتَ

“Ya Allah, aku meminta kepada-Mu keutamaan dan rahmat-Mu, sesungguhnya tidak ada yang memilikinya kecuali diri-Mu.”

 

(HR. Abu Nu’aim dalam al-Hilyah 5/36 dan 7/239 dari Abdullah radhiallahu ‘anhu; dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam ash-Shahihah 4/57 no. 1543)

Meminta Surga dan Berlindung dari Neraka

Anas radhiallahu ‘anhu menuturkan, Rasulullah shallallahu ‘allaihi wa sallam bersabda,

مَا يَسْأَلُ رَجُلٌ مُسْلِمٌ اللهَ الْجَنَّةَ ثَلَاثًا إِلَّا قَالَتْ الْجَنَّةُ :اللَّهُمَّ أَدْخِلْهُ. وَلَا

اسْتَجَارَ رَجُلٌ مُسْلِمٌ اللهَ مِنَ النَّارِ ثَلَاثًا إِلَّا قَالَتِ النَّارُ: اللَّهُمَّ أَجِرْهُ

“Tidaklah seorang muslim meminta surga kepada Allah sebanyak tiga kali, melainkan surga akan berkata, ‘Ya Allah, masukkanlah dia.’ Dan tidaklah seorang muslim berlindung dari neraka sebanyak tiga kali, melainkan neraka akan berkata, ‘Ya Allah lindungilah dia’.” (HR. Ahmad juz 2 hlm. 141) Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah mengatakan bahwa hadits ini sahih. (al-Jami’ ash-Shahih mimma Laisa fi ash-Shahihain juz 2 hlm. 472)

Memohon Ilmu yang Bermanfaat

اللَّهُمَّ انْفَعْنِي بِمَا عَلَّمْتَنِي، وَعَلِّمْنِي مَا يَنْفَعُنِي، وَارْزُقْنِي عِلْمًا تَنْفَعُنِي بِهِ

“Ya Allah, berilah aku manfaat dengan apa yang telah Engkau ajarkan kepadaku; Ajarilah aku apa yang bermanfaat bagiku; Berilah aku rezeki berupa ilmu yang dengannya Engkau memberi manfaat kepadaku.” (HR. al-Hakim [1/510], al-Baihaqi dalam ad-Da’awat al-Kabir [157—158], ath-Thabarani dalam ad-Du’a [3/1405/1455]; dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu. Lihat Silsilah ash-Shahihah no. 3151)