Baiknya Kalbu Baiknya Seluruh Jasad

Anda tentu pernah mendengar hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

        أَلآ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلآ وَهِيَ الْقَلْبُ

“Ketahuilah, sungguh di dalam tubuh itu ada segumpal daging. Jika daging tersebut baik, baiklah seluruh tubuh. Jika rusak, rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah kalbu (jantung).” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Hadits di atas adalah penggalan akhir dari sebuah hadits yang disampaikan oleh sahabat yang mulia, Abu Abdillah an-Nu’man ibnu Basyir radhiallahu ‘anhuma, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang awalnya berbicara tentang halal, haram, dan musytabihat (syubhat, tidak jelas halal haramnya).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitakan bahwa di dalam tubuh kita ada mudhghah, yaitu potongan daging yang ukurannya bisa dikunyah. Ukurannya kecil, namun kedudukannya besar. Dialah kalbu atau dalam bahasa kita jantung. Dalam ungkapan sehari-hari, sering disebut dengan istilah “hati”, meski sebenarnya jantung.

Jantung adalah organ yang vital bagi makhluk hidup. Di dalam jantung, Allah ‘azza wa jalla meletakkan pengaturan kemaslahatan yang diinginkan makhluk hidup. Anda dapati hewan dengan beragam jenisnya bisa mengetahui apa yang maslahat baginya. Ia dapat membedakan antara maslahat dan mudarat.

Adapun makhluk hidup yang bernama manusia, saya, Anda dan kita semua, Allah ‘azza wa jalla mengistimewakan dengan akal, yang Dia letakkan di jantung.

أَفَلَمۡ يَسِيرُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ فَتَكُونَ لَهُمۡ قُلُوبٞ يَعۡقِلُونَ بِهَآ أَوۡ ءَاذَانٞ يَسۡمَعُونَ بِهَاۖ

“Tidakkah mereka berjalan di muka bumi hingga mereka memiliki jantung-jantung yang dengannya mereka bisa berpikir (berakal) atau telinga yang dengannya mereka bisa mendengar?” (al-Hajj: 46) (Syarh al-Arba’in Haditsan an-Nawawiyah, karya al-Imam Ibnu Daqiqil ‘Id rahimahullah, hlm. 30—31)

 

Bagaimanakah keterkaitan jantung dengan akal?

Kata asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah, kita mengimani keterangan al-Qur’an bahwa akal terletak dalam jantung, meski kita tidak mengetahui bagaimana keterkaitannya. (Syarh al-Arba’in an-Nawawiyah, asy-Syaikh Ibnu Utsaimin, hlm. 134)

Allah ‘azza wa jalla menjadikan seluruh tubuh tunduk patuh kepada jantung. Apa yang menetap di dalam jantung akan tampak pada pergerakan tubuh. Jika jantung tersebut baik, tubuh baik pula. Sebaliknya, apabila buruk, tubuh pun buruk. Sebab, jantung merupakan sumber gerakan tubuh dan keinginan jiwa. Jika jantung menginginkan hal yang baik, tubuh bergerak dengan pergerakan yang baik. Demikian pula sebaliknya.

Kesimpulannya, kata sebagian ulama, jantung seperti raja dan tubuh seperti rakyat. Adapula yang mengatakan, jantung adalah raja, sedangkan anggota tubuh yang lain adalah tentaranya yang sangat patuh, mengikuti semua titah sang raja tanpa sedikit pun menyelisihinya.

Jantung bisa pula seperti sumber air, sementara tubuh adalah ladangnya. Atau ungkapan lain, jantung adalah tanah, sedangkan gerakan tubuh adalah tetumbuhan yang ada di atasnya.

وَٱلۡبَلَدُ ٱلطَّيِّبُ يَخۡرُجُ نَبَاتُهُۥ بِإِذۡنِ رَبِّهِۦۖ وَٱلَّذِي خَبُثَ لَا يَخۡرُجُ إِلَّا نَكِدٗاۚ

“Tanah yang baik akan keluar (tumbuh subur) tanam-tanamannya dengan izin Allah dan tanah yang jelek tidak bisa tumbuh (di atasnya) tumbuh-tumbuhan kecuali dalam keadaan merana.” (al-A’raf: 58)

Ada yang mengatakan, baiknya jantung bisa dicapai dengan lima hal:

  1. Membaca al-Qur’an dengan mentadabburinya,
  2. Mengosongkan perut (dengan banyak berpuasa),
  3. Shalat malam,
  4. Merendahkan diri kepada Allah ‘azza wa jalla ketika waktu sahur, dan
  5. Bermajelis dengan orang-orang salih.

Satu lagi sebagai pokoknya adalah memakan makanan yang halal. (al-Mu’in ‘ala Tafahhum al-Arba’in, al-Allamah Ibnul Mulaqqin rahimahullah, hlm. 126—127)

Hadits tentang kalbu alias jantung di atas mendorong agar kita memerhatikan kalbu kita lebih dari perhatian kita terhadap amalan anggota tubuh. Sebab, kalbu itulah poros amalan. Apa yang tersimpan dalam kalbu, itulah yang akan ditampakkan kelak pada hari kiamat.

أَفَلَا يَعۡلَمُ إِذَا بُعۡثِرَ مَا فِي ٱلۡقُبُورِ ٩ وَحُصِّلَ مَا فِي ٱلصُّدُورِ ١٠

“Maka apakah dia (manusia yang ingkar) tidak mengetahui apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur, dan dilahirkan (ditampakkan) apa yang ada di dalam dada.” (al-‘Adiyat: 9—10)

إِنَّهُۥ عَلَىٰ رَجۡعِهِۦ لَقَادِرٞ ٨  يَوۡمَ تُبۡلَى ٱلسَّرَآئِرُ ٩

“Sesungguhnya Allah benar-benar kuasa untuk mengembalikannya (menghidupkannya setelah mematikannya). Pada hari ditampakkan segala rahasia.” (ath-Thariq: 8—9)

Karena itu, pesan untuk kita semua: bersihkanlah kalbu dari noda syirik, kotoran bid’ah, sampah maksiat, dan kerendahan akhlak.

Satu lagi yang perlu menjadi perhatian kita. Hadits ini memuat bantahan kepada para pelaku maksiat yang ketika dilarang dari maksiat mereka berkata, “Yang penting itu yang di sini!” sembari menunjuk dada mereka. Seperti perempuan yang tidak berhijab, ketika dinasihati untuk menutup aurat, dia berkata, “Bagi saya yang paling penting adalah menghijabi hati.”

Subhanallah! Memang benar, yang penting adalah apa yang ada di dalam dada, yaitu kalbu. Di dalamnyalah letak takwa. Akan tetapi, apabila kalbu bertakwa, niscaya akan tampak pengaruhnya pada amalan tubuh. Pastilah amalan tubuhnya pun berupa ketakwaan.

Bagaimana bisa seseorang yang tubuhnya dia bawa berbuat maksiat, tubuhnya tidak dihijabi dari pandangan yang bukan mahram, lalu berdalih, “Yang penting yang di dalam, yang penting hijab hati.” Wallahul musta’an. (Lihat Syarh al-Arba’in an-Nawawiyah, hlm. 133—134)

Kalbu yang Sehat

Jika kalbu hamba sehat, tidak ada di dalamnya selain kecintaan kepada Allah ‘azza wa jalla, mencintai apa yang dicintai-Nya, takut kepada-Nya, dan takut apabila terjatuh dalam perbuatan yang dibenci-Nya, niscaya akan baik gerakan seluruh anggota tubuhnya.

Ini akan mengantarkan hamba untuk menjauhi seluruh yang diharamkan dan menjaga diri dari syubhat karena khawatir jatuh ke dalam yang haram.

Adapun kalbu yang rusak dan dikuasai oleh hawa nafsu, lantas mengikuti semua kesenangan jiwa walaupun dibenci oleh Allah ‘azza wa jalla , niscaya akan rusak seluruh gerakan anggota tubuhnya. Disusul pula dengan melakukan seluruh maksiat, mendekati yang syubhat sesuai dengan keinginan hawa nafsunya.

Di sisi Allah ‘azza wa jalla kelak, tidak bermanfaat selain qalbun salim, kalbu yang sehat, sebagaimana firman-Nya,

يَوۡمَ لَا يَنفَعُ مَالٞ وَلَا بَنُونَ ٨٨ إِلَّا مَنۡ أَتَى ٱللَّهَ بِقَلۡبٖ سَلِيمٖ ٨٩

“Hari yang tidak bermanfaat padanya harta dan anak-anak, kecuali yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat.” (asy-Syu’ara: 88—89)

Maksudnya, kalbu yang selamat dari penyakit-penyakit dan seluruh hal yang dibenci. Kalbu yang tidak ada di dalamnya selain mahabbatullah (cinta kepada Allah ‘azza wa jalla), takut kepada-Nya, dan khawatir jatuh ke dalam urusan yang dapat menjauhkan dari Allah ‘azza wa jalla.

Tidak akan baik sebuah kalbu kecuali apabila menetap padanya ma’rifatullah (mengenal Allah ‘azza wa jalla ), mengetahui keagungan-Nya, cinta dan takut kepada-Nya, berharap dan tawakal kepada-Nya.

Inilah hakikat tauhid yang merupakan makna La ilaha illallah. Tidak ada kebaikan bagi kalbu kecuali saat menjadikan Allah Yang Maha Esa sebagai sesembahan yang diibadahi, yang dicintai, dan ditakuti, tidak ada sekutu bagi-Nya.

Sebagai penutup, kita nukilkan ucapan al-Imam al-Hasan al-Bashri rahimahullah berikut ini. Beliau rahimahullah menghikayatkan dirinya, “Tidaklah aku memandang mataku, tidaklah lisanku berucap, tidak pula tanganku menggenggam, dan tidaklah kakiku melangkah, hingga aku memikirkan, apakah ini di atas ketaatan kepada Allah ‘azza wa jalla ataukah di atas maksiat? Jika untuk ketaatan, aku lakukan. Jika ternyata untuk maksiat, aku mundur, tidak jadi melanjutkannya.”

Masya Allah! Saya, Anda, dan kita semua, bagaimana?

Al-Hasan al-Bashri rahimahullah tergolong orang yang tatkala baik kalbunya dan tidak menyisakan keinginan kepada selain Allah ‘azza wa jalla, akan baiklah anggota tubuhnya yang lain. Anggota badannya tersebut tidak bergerak kecuali karena Allah ‘azza wa jalla, untuk melakukan sesuatu yang mendatangkan ridha-Nya. Wallahu a’lam. (Jami’ al-Ulum wal Hikam, al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hambali rahimahullah, hlm. 119—121)

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

 

Hajinya Wanita

Memakai Cincin Emas Saat Ihram

Apa hukum mengenakan cincin emas dan selainnya bagi wanita ketika sedang berihram, sementara wanita tersebut akan sering terlihat atau berada di antara lelaki yang bukan mahramnya?

Jawab:

Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjawab, “Tidak apa-apa wanita mengenakan perhiasan emas yang diinginkannya saat berihram, berupa cincin ataupun gelang pada kedua tangan. Asalkan tidak berlebih-lebihan. Akan tetapi, perhiasan yang dikenakannya tersebut harus dia tutup dari pandangan lelaki ajnabi (bukan mahram) karena khawatir (bila terlihat) akan timbul godaan.”

(Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibni Utsaimin, 22/201)

—————————————————————————————————————————

Pakaian Khusus Bagi Wanita Saat Haji

Apakah diharuskan wanita mengenakan pakaian berwarna tertentu di saat melaksanakan manasik haji?

Jawab:

Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah menjawab, “Tidak ada pakaian khusus yang harus dikenakan wanita saat berhaji. Pakaian yang dikenakannya adalah yang biasa dia pakai (saat keluar rumah atau di hadapan yang bukan mahram -pen.), yaitu pakaian yang menutupi tubuhnya, tidak diberi hiasan, dan tidak menyerupai lelaki.

Yang dilarang bagi wanita yang sedang berihram hanyalah mengenakan burqu’ dan niqab (cadar) yang dijahit atau ditenun untuk menutup wajah secara khusus, sebagaimana wanita dilarang mengenakan quffazain (kaos tangan) yang dijahit atau ditenun untuk menutup kedua telapak tangan secara khusus.

Wanita diharuskan tetap menutup wajahnya (saat berihram) dengan selain burqu’ dan niqab. Dia harus menutupi kedua telapak tangannya dengan selain quffazain. Sebab, wajah dan telapak tangan termasuk aurat yang harus ditutup.

Kesimpulannya, wanita tidaklah dilarang secara mutlak menutupi wajah dan kedua telapak tangannya saat ihram. Yang dilarang hanyalah menutup keduanya dengan burqu’, niqab, dan quffazain.”

(al-Muntaqa min Fatawa asy-Syaikh Shalih bin Fauzan, 3/184)

——————————————————————————————————————————

Wanita Berhaji Tanpa Mahram

Ada seorang ibu dari Saba yang dikenal salihah. Usianya sudah pertengahan, bahkan mendekati usia lanjut. Dia ingin melaksanakan ibadah haji, namun tidak memiliki mahram. Dari negerinya ada seorang lelaki yang juga dikenal saleh akan berhaji bersama para wanita dari kalangan mahramnya. Apakah dibolehkan ibu tersebut berhaji bersama lelaki tersebut karena si ibu tidak punya mahram yang bisa menemaninya berhaji, padahal dia memiliki kemampuan dari sisi harta? Berilah fatwa kepada kami.

Jawab:

Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjawab, “Tidak halal bagi ibu tersebut untuk berangkat haji tanpa mahram walaupun dia berangkat bersama rombongan wanita dan seorang lelaki yang tepercaya. Sebab, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkhutbah dengan menyatakan,

لَا تُسَافِرُ الْمَرْأَةُ إِلَّا مَعَ ذِيْ مَحْرَمٍ. فَقَامَ رَجُلٌ وَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، إِنَّ امْرَأَتِي خَرَجَتْ حَاجَّةً وَإِنِّي اكْتُتِبْتُ فِي غَزْوَةِ كَذَا وَكَذَا. فَقَال النَّبِيُّ: انْطَلِقْ فَحُجَّ مَعَ امْرَأَتِكَ  

“Wanita tidak boleh safar kecuali bersama mahramnya.”

Lalu seorang lelaki berdiri dan berkata, “Wahai Rasulullah, istri saya sungguh akan berangkat haji, sementara saya telah tercatat untuk mengikuti perang ini dan itu.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pergilah engkau, berhajilah bersama istrimu.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

 

Dalam kejadian di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak meminta perincian, apakah istrinya aman (dalam perjalanan nanti) ataukah tidak? Apakah bersamanya ada rombongan wanita dan lelaki yang bisa dipercaya, ataukah tidak? Karena tuntutan keadaan, sementara si suami telah tercatat untuk mengikuti peperangan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah si suami untuk meninggalkan peperangan dan keluar berhaji menemani istrinya.

Para ulama menyebutkan bahwa apabila wanita tidak memiliki mahram, ibadah haji tidaklah wajib baginya. Sampai pun dia meninggal dunia, dia tidak dihajikan dari harta yang ditinggalkannya. Sebab, semasa hidupnya dia tidak mampu (ada syarat yang tidak terpenuhi sehingga dia tidak memiliki kemampuan untuk berhaji, -pen.), sedangkan Allah ‘azza wa jalla mewajibkan haji bagi orang yang mampu.”

(Fatawa asy-Syaikh Muhammad Shalih al-Utsaimin, 2/592)

 

Wanita yang Berhaji Tanpa Mahram, Haruskah Mengulang?

Apabila seorang wanita telah berhaji tanpa ditemani mahramnya, haruskah dia berangkat haji lagi (mengulangi hajinya)?

 

Jawab:

Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjawab, “Apabila seorang wanita berhaji tanpa ditemani mahramnya, dia telah bermaksiat kepada Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Wanita tidak boleh safar kecuali bersama mahramnya.”

Lalu seorang lelaki berdiri dan berkata, “Wahai Rasulullah, istri saya sungguh akan berangkat haji, sementara saya telah tercatat untuk mengikuti perang ini dan itu.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pergilah engkau, berhajilah bersama istrimu.”

 

Akan tetapi, haji yang telah ditunaikannya sudah mencukupi baginya. Maksudnya, dia tidak perlu lagi mengulanginya (karena kewajiban haji yang sekali seumur hidup telah terpenuhi). Yang wajib dilakukannya (karena dahulu berhaji tanpa mahram) adalah bertobat kepada Allah ‘azza wa jalla dan beristighfar dari apa yang telah dia lakukan.”

(Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibni Utsaimin, 21/190)

Wahyu Turun Menjawab Masalah Seorang Wanita

Betapa dimuliakannya wanita dalam Islam. Bagaimana pun upaya musuh-musuh agama ini untuk mengaburkan kemuliaan tersebut, mereka tidak akan berhasil. Hanya orang-orang bodoh dan suka mengikuti hawa nafsu yang bisa mereka tipu, hingga ikut menuduh seperti tuduhan mereka.

Ayat Allah ‘azza wa jalla berikut ini pasti membuat orang-orang kafir putus asa dari makar mereka.

يُرِيدُونَ لِيُطۡفِ‍ُٔواْ نُورَ ٱللَّهِ بِأَفۡوَٰهِهِمۡ وَٱللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِۦ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡكَٰفِرُونَ ٨

        “Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut-mulut mereka sementara Allah menyempurnakan cahaya-Nya walaupun orang-orang kafir itu benci.” (ash-Shaf: 8)

Ada lima pendapat mufassirin, kata al-Imam al-Qurthubi rahimahullah, tentang maksud ‘cahaya (nur) Allah’:

1 . Al-Qur’an, mereka ingin membatilkannya dan mendustakannya dengan perkataan. Demikian pendapat Ibnu Abbas dan Ibnu Zaid radhiallahu ‘anhuma.

  1. Islam, mereka ingin menolaknya dengan ucapan-ucapan. Demikian kata as-Suddi rahimahullah.
  2. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam , mereka ingin membinasakan beliau dengan goncangan-goncangan. Demikian pendapat adh-Dhahhak rahimahullah.
  3. Hujah-hujah dan bukti-bukti dari Allah ‘azza wa jalla, mereka ingin membatilkannya dengan pengingkaran dan pendustaan mereka. Demikian kata Ibnu Bahr rahimahullah.
  4. Permisalan yang dibuat, yaitu siapa yang ingin memadamkan cahaya matahari dengan mulutnya, niscaya dia dapati itu mustahil, tidak akan sanggup dia lakukan, demikian pula bagi siapa yang ingin membatilkan al-haq. Ini dihikayatkan dari Ibnu Isa rahimahullah.

 

Menurut Atha rahimahullah , menuki ‘azza wa jalla keterangan dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, sebab turunnya (sabab an-nuzul) ayat ini adalah wahyu dari langit pernah terlambat turun kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai 40 hari.

Seorang Yahudi, Ka’b ibnul Asyraf, berkata, “Wahai sekalian orang Yahudi, bergembiralah kalian! Sungguh, Allah telah memadamkan cahaya Muhammad dalam apa yang Dia turunkan kepada Muhammad. Allah tidak akan menyempurnakan urusan Muhammad.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersedih. Allah ‘azza wa jalla lalu menurunkan ayat ini. Setelah itu, turunlah wahyu secara berkesinambungan (tidak terputus).

Allah ‘azza wa jalla menyempurnakan cahaya-Nya dengan memenangkannya di berbagai penjuru ufuk. (al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, 18/56)

Banyak bukti yang menunjukkan pemuliaan dan perhatian Islam terhadap wanita. Salah satunya adalah pernah turun wahyu dari langit untuk menjawab keluhan seorang wanita dan memberikan solusi atas masalahnya.

Anda pernah membaca surah al-Mujadilah, kan? Itulah wahyu yang kita maksudkan di sini.

Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu ‘anha, menyampaikan,

تَبَارَكَ الَّذِي أَوْعَى سَمْعهُ كُلّ شَيْءٍ إِنِّي لَأَسْمَعُ كَلاَمَ خَوْلَةَ بِنْتِ ثَعْلَبةَ وَيَخْفَى عَلَيَّ بَعْضُهُ وَهِيَ تَشْتَكِي زَوْجَهَا إِلَى رَسُوْلِ اللهِ وَهِيَ تَقُوْلُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، أَكَلَ مَالِيْ، وَأَفْنَى شَبَابِي، وَنَثَرْتُ لَهُ بَطْنِي، حَتَّى إِذَا كَبُرَتْ سِنّيِ وَانْقَطَعَ وَلَدِي ظَاهَرَ مِنّيِ. اللَّهُمَّ إِنِّي أَشْكُوْ إِلَيْكَ.

قَالَتْ: فَمَا بَرِحَتْ حَتَّى جَاءَ جِبْرِيْلُ بِهَذِهِ ا يْآلَةِ:

قَدۡ سَمِعَ ٱللَّهُ قَوۡلَ ٱلَّتِي تُجَٰدِلُكَ فِي زَوۡجِهَا وَتَشۡتَكِيٓ إِلَى ٱللَّهِ وَٱللَّهُ يَسۡمَعُ تَحَاوُرَكُمَآۚ إِنَّ ٱللَّهَ سَمِيعُۢ بَصِيرٌ ١

Mahasuci Dzat yang pendengaran-Nya meliputi segala sesuatu. Sungguh, aku mendengar ucapan Khaulah bintu Tsa’labah dan sebagiannya tidak terdengar olehku.

Dia mengeluhkan suaminya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan berkata, “Wahai Rasulullah, dia telah memakan hartaku, menghabiskan masa mudaku, dan aku telah melahirkan banyak anak untuknya. Ketika usiaku telah tua dan tidak bisa melahirkan lagi, dia menzhiharku. Ya Allah, aku adukan hal ini kepada-Mu.”

Kata Aisyah, “Tidaklah berapa lama hingga datang Jibril dengan ayat ini (yang artinya), ‘Sungguh, Allah telah mendengar ucapan seorang wanita yang mendebatmu dalam urusan suaminya dan mengadu kepada Allah. Allah mendengar percakapan antara kalian berdua (Rasul dan wanita tersebut). Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat’.” (HR. Ibnu Abi Hatim, dibawakan oleh al-Imam ath-Thabari rahimahullah dalam tafsirnya, 23/226)

Dalam riwayat al-Imam Ahmad rahimahullah (6/46), disebutkan bahwa Aisyah radhiallahu ‘anha berkata,

“Mahasuci Allah yang pendengaran-Nya luas meliputi semua suara. Sungguh, pernah datang seorang wanita kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia berbicara kepada Nabi sedangkan aku berada di satu sisi rumah. Aku tidak mendengar apa yang diucapkan wanita tersebut.

 

Allah ‘azza wa jalla pun menurunkan ayat,

قَدۡ سَمِعَ ٱللَّهُ قَوۡلَ ٱلَّتِي تُجَٰدِلُكَ فِي زَوۡجِهَا وَتَشۡتَكِيٓ إِلَى ٱللَّهِ وَٱللَّهُ يَسۡمَعُ تَحَاوُرَكُمَآۚ إِنَّ ٱللَّهَ سَمِيعُۢ بَصِيرٌ ١

        “Sungguh, Allah telah mendengar ucapan seorang wanita yang mendebatmu dalam urusan suaminya dan mengadu kepada Allah. Allah mendengar percakapan antara kalian berdua (Rasul dan wanita tersebut). Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (al-Mujadilah: 1)

Diriwayatkan pula oleh al-Imam al-Bukhari rahimahullah dalam Shahih-nya, pada “Kitab at-Tauhid”, secara mu’allaq (tanpa membawakan sanad), an-Nasa’i, Ibnu Majah, dll. (ash-Shahihul Musnad min Asbab an-Nuzul, asy-Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i rahimahullah, hlm. 235)

Wahyu di atas turun dari atas langit sebagai jawaban atas keluhan Khaulah bintu Tsa’labah radhiallahu ‘anha, seorang wanita salihah, yang mengadukan perkaranya kepada Allah ‘azza wa jalla dan mendebat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terkait urusannya dengan suaminya, Aus bin ash-Shamit radhiallahu ‘anhu.

Disebutkan bahwa Aus menzhihar[1] istrinya, kemudian pergi begitu saja. Khaulah, sang istri, datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta fatwa tentang masalahnya dan mengadukan urusannya kepada Allah ‘azza wa jalla.

Riwayat al-Imam Ahmad rahimahullah (6/410) berikut ini lebih menjelaskan kisahnya.

Khuwailah[2] bintu Tsa’labah berkata,

“Demi Allah, tentang aku dan Aus bin ash-Shamit lah, Allah ‘azza wa jalla menurunkan awal ayat surat al-Mujadilah.” Khuwailah lalu berkisah….

Aku adalah istri Aus. Dia sudah tua renta, telah buruk perilakunya. Suatu hari dia menemuiku, aku menjawab (membantah) ucapannya dalam suatu urusan. Dia marah hingga berkata, ‘Kamu bagiku seperti punggung ibuku[3].’

Lalu dia keluar rumah. Dia duduk di tempat perkumpulan kaumnya beberapa waktu.

Aus masuk lagi ke rumah menemuiku, ternyata dia “menginginkan” diriku.

Aku katakan, “Jangan, demi Dzat yang jiwa Khuwailah berada di tangan-Nya. Janganlah kamu menggauliku karena kamu telah mengatakan apa yang kamu katakan, sampai Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya memutuskan urusan kita ini dengan hukum-Nya.”

Aus pun melompat untuk menguasaiku, namun aku menolaknya dan bisa mengalahkannya dengan kemampuan seorang wanita saat menghadapi lelaki tua yang lemah. Aku pun mendorongnya dariku.

Aku lalu keluar rumah menuju seorang tetanggaku. Aku pinjam darinya sebuah pakaian, lalu pergi menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku duduk di hadapan beliau. Aku ceritakan kepada beliau apa yang aku dapati dari Aus. Mulailah aku mengadu kepada beliau atas buruknya perilaku Aus yang aku dapati.

Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai Khuwailah, anak pamanmu itu (suamimu) adalah lelaki yang sudah tua. Bertakwalah engkau kepada Allah ‘azza wa jalla terkait dengan urusannya.”

“Demi Allah!” lanjut Khuwailah, “Aku terus-menerus mengadukan urusanku hingga turun ayat tentangku.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengalami apa yang biasa dialami manakala wahyu sedang turun. Setelah selesai, hilanglah apa yang tampak berat bagi beliau. Beliau lalu berkata kepadaku, “Wahai Khuwailah, Allah ‘azza wa jalla telah menurunkan ayat tentang urusanmu dan suamimu.”

Kemudian beliau membacakan kepadaku ayat,

قَدۡ سَمِعَ ٱللَّهُ قَوۡلَ ٱلَّتِي تُجَٰدِلُكَ فِي زَوۡجِهَا وَتَشۡتَكِيٓ إِلَى ٱللَّهِ وَٱللَّهُ يَسۡمَعُ تَحَاوُرَكُمَآۚ إِنَّ ٱللَّهَ سَمِيعُۢ بَصِيرٌ ١

sampai firman-Nya,

وَلِلۡكَٰفِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ ٤

 

“Suruhlah Aus untuk memerdekakan seorang budak,” kata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepadaku.

“Wahai Rasulullah, dia tidak punya apa-apa yang bisa digunakan untuk memerdekakan budak,” jawab Khuwailah.

“Kalau begitu, suruh dia puasa dua bulan berturut-turut,” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan solusi berikutnya.

“Demi Allah, dia lelaki tua yang sudah tidak mampu puasa,” jawab Khuwailah.

“Jika demikian, hendaknya dia memberi makan 60 orang miskin dengan satu wasaq[4] kurma,” titah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Demi Allah, wahai Rasulullah, dia tidak punya makanan tersebut,” jawab Khuwailah mengisyaratkan kemiskinan suaminya.

“Kami akan bantu dia dengan satu ‘araq[5] kurma,” kata Rasulullah.

“Wahai Rasulullah, saya juga akan membantunya dengan satu ‘araq.”

Rasulullah menanggapi, “Kamu benar dan telah berbuat baik. Pergilah lalu bersedekahlah dengan kurma tersebut untuk melepaskan suamimu dari masalahnya. Kemudian berbuat baiklah terhadap anak pamanmu itu.”

Kata Khuwailah, “Aku pun melakukan pesan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Diriwayatkan pula oleh Abu Dawud no. 2214 dengan sanad yang dinilai hasan oleh al-Imam al-Albani rahimahullah dalam Shahih Abi Dawud)

 

Hukum Zhihar

Terkait kasus Khaulah inilah ditetapkan hukum zhihar dan solusi untuk lepas darinya.

Hukum seorang suami menzhihar istrinya adalah haram berdasar al-Qur ’an, as-Sunnah, dan ijma’ (kesepakatan kaum muslimin).

Dari al-Qur’an, dalil pengharamannya adalah ayat,

          وَإِنَّهُمۡ لَيَقُولُونَ مُنكَرٗا مِّنَ ٱلۡقَوۡلِ وَزُورٗاۚ

“Sungguh mereka mengucapkan ucapan yang mungkar dan dusta.” (al-Mujadilah: 2)

Berucap mungkar dan dusta termasuk dosa besar. Sebab, makna ucapan suami yang menzhihar istrinya, “Engkau seperti punggung ibuku” adalah istrinya haram dia gauli sebagaimana ibunya haram baginya. Padahal Allah ‘azza wa jalla berfirman,

مَّا هُنَّ أُمَّهَٰتِهِمۡۖ إِنۡ أُمَّهَٰتُهُمۡ إِلَّا ٱلَّٰٓـِٔي وَلَدۡنَهُمۡۚ

“Istri-istri (para suami yang melakukan zhihar) bukanlah ibu-ibu mereka. Karena ibu-ibu mereka tidak lain kecuali perempuan-perempuan yang telah melahirkan mereka.” (al-Mujadilah: 2)

Dari as-Sunnah, dalilnya hadits Khaulah di atas.

Adapun ijma’ pengharaman zhihar dinyatakan oleh Ibnul Mundzir rahimahullah. (Taudhihul Ahkam, 5/534)

Bagaimana apabila ada suami yang mengucapkan kalimat zhihar dengan bercanda, apakah berlaku ketentuan zhihar terhadapnya?

Jawabannya bisa didapatkan dari penjelasan al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah terhadap akhir ayat ke-2 surah al- Mujadilah. Allah ‘azza wa jalla menutup ayat ke-2 dengan firman-Nya,

وَإِنَّ ٱللَّهَ لَعَفُوٌّ غَفُورٞ ٢

“Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.”

Kata beliau rahimahullah, “Sungguh, Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun terhadap apa yang kalian lakukan dalam keadaan jahiliah. Demikian pula Allah ‘azza wa jalla memaafkan dan mengampuni ucapan yang keluar dari lisan tanpa sengaja, si pengucap tidak memaksudkan hal tersebut sama sekali. Namun, apabila si pengucap memang memaksudkan demikian, istrinya haram ‘digauli’[6]. (al-Mishbah al-Munir fi Tahdzib Tafsir Ibni Katsir, hlm. 1373)

 

Pelajaran dari Ayat Zhihar

  1. Kelembutan Allah ‘azza wa jalla kepada para hamba-Nya dan perhatian-Nya

terhadap mereka

Perhatikanlah, Allah ‘azza wa jalla menyebutkan keluhan si wanita yang sedang dibelit problem, kemudian Allah ‘azza wa jalla menghilangkan kesulitannya. Bahkan, Allah ‘azza wa jalla menurunkan hukum yang bersifat umum bagi siapa saja yang mengalami masalah sepertinya.

  1. Zhihar diharamkan karena Allah ‘azza wa jalla menyebutnya sebagai ucapan mungkar.
  2. Kafarah zhihar ditunaikan manakala si suami ingin ‘aud (kembali). Tentang makna ‘aud, ada yang mengatakan bahwa maksudnya adalah suami berkeinginan untuk menggauli istrinya yang semula dizhihar. Ada pula yang berpendapat maknanya jima’ itu sendiri.
  3. Hikmah diwajibkannya kafarah sebelum jima’ adalah lebih mendorong si suami untuk menunaikan kafarahnya. Sebab, saat dia “berkeinginan” dan tidak mungkin terwujud keinginannya kecuali setelah menunaikan kafarah, mau tidak mau dia akan bersegera mengeluarkannya. (Taisir al-Karim ar-Rahman, hlm. 845)
  4. Kafarah zhihar itu berurutan, jika tidak mampu yang pertama baru beralih ke yang berikutnya sebagaimana tersebut di dalam ayat.

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

[1] Akan datang penjelasan tentang zhihar ini.

[2] Disebutkan nama Khaulah dengan tashghir dalam riwayat ini, Khuwailah.

[3] Aus menyamakan istrinya dengan ibunya, ‘sebagaimana ibu haram digauli, maka demikian pula kamu, haram bagiku’. Inilah yang dimaksud dengan zhihar. Dengan kalimat tersebut seorang suami ingin mengharamkan menggauli istrinya.

Ucapan zhihar tidak sebatas menyebut punggung, tetapi juga anggota tubuh yang lain. Tidak pula sebatas menyamakan dengan ibu, tetapi juga penyamaan dengan seluruh perempuan mahram yang haram digauli oleh si suami. Misalnya, si suami berkata, “Engkau seperti punggung adik perempuanku.”

Di masa jahiliah, zhihar ini dianggap talak. Jadi, apabila seorang suami menzhihar istrinya, berarti dia telah menalaknya. Namun, Allah ‘azza wa jalla memberikan keringanan bagi umat ini dengan menetapkan bahwa zhihar bukanlah talak, melainkan ucapan yang mungkar lagi dusta. Karena itu, suami yang menzhihar istrinya harus membayar kafarah manakala hendak kembali menggauli istrinya. Demikian yang dikatakan oleh lebih dari seorang dari kalangan salaf. (Tafsir Ibni Katsir, 8/39)

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata, “Apabila seorang suami di masa jahiliah bila berkata kepada istrinya, ‘Kamu seperti punggung ibuku’, maka si istri menjadi haram baginya. Orang pertama yang melakukan zhihar setelah datangnya Islam adalah Aus bin ash-Shamit radhiallahu ‘anhu. Istrinya adalah putri pamannya (saudari sepupunya) bernama Khaulah bintu Tsa’labah radhiallahu ‘anha.” (Tafsir ath-Thabari)

[4] Satu wasaq = 60 sha’, setara kurang lebih 122,4 kg.

[5] Satu ‘araq = 15 sha’, setara kurang lebih 30,6 kg.

Hadits ini menunjukkan bahwa Khaulah membayarkan kafarah suaminya tanpa meminta pendapat atau disuruh suaminya. Demikian kata Abu Dawud rahimahullah dalam Sunannya.

[6] Suami haram menggauli istri yang dizhihar sampai ditunaikan kafarah zhihar. Ini adalah kesepakatan ulama. (Taudhihul Ahkam, 5/536)

Rumahku Ketenteraman Kami

Telah kita sebutkan dalam edisi sebelum ini bahwa salah satu tugas perempuan atau istri di dalam rumah tangganya adalah menjadi sakan bagi suaminya dan berupaya agar rumahnya menjadi sakan bagi anggotanya.

Makna sakan pun telah kita pahami, di antaranya dari keterangan al-Imam asy-Syaukani rahimahullah yang berkata tentang ayat

لِّتَسۡكُنُوٓاْ إِلَيۡهَا[1]

yakni “Kalian merasa akrab dengannya dan hati kalian condong/cenderung kepadanya.” (Fathul Qadir, 4/263)

Jadi, dalam kata ini termuat makna kedekatan, cinta, kecondongan, dan ketenangan. Berarti rumah yang merupakan sakan bagi anggotanya adalah rumah yang memberikan ketenangan, ketenteraman bagi anggotanya, yang dipenuhi dengan cinta dan kecondongan hati.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan seorang perempuan untuk mewujudkan tujuan ini sebagaimana dijabarkan Fadhilatusy Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah dalam ceramahnya, yang berjudul Daur al Mar’ah fi Tarbiyah al-Usrah (Peranan Wanita dalam Mendidik Keluarga). Maka cobalah engkau, wahai perempuan, wahai istri muslimah, memerhatikan penjelasan di bawah ini.

 

  1. Ketaatan dan kepatuhan penuh kepada suami, dalam urusan yang bukan maksiat kepada Allah ‘azza wa jalla.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

ٱلرِّجَالُ قَوَّٰمُونَ عَلَى ٱلنِّسَآءِ

“Kaum lelaki adalah pemimpin bagi kaum wanita….” (an-Nisa: 34)

Ketaatan istri kepada suaminya merupakan fondasi ketenteraman rumah tangga. Suami hanya bisa menjalankan fungsinya dengan baik sebagai qawwam, pemimpin keluarga, bila dia ditaati. Terbayang tidak, apabila pemimpin tidak ditaati? Tentu kekacauan yang akan timbul. Kalau ditanya, apa hukumnya seorang istri menaati suaminya? Hukumnya wajib secara syar’i. Karena itu, seorang istri yang taat kepada suaminya akan beroleh pahala.

Sadarkah seorang istri bahwa taat kepada suami lebih dikedepankan daripada ibadah nafilah[2]? Hadits berikut ini merupakan salah satu buktinya.

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَصُوْم الْمَرْأَةُ وَبَعْلُهَا شَاهِدٌ إِلاَّ بِإِذْنِهِ

        “Seorang istri tidak boleh puasa dalam keadaan suaminya ada (di rumah) terkecuali dengan izinnya.” (Muttafaqun ‘alaihi)

 

Dalam hadits ini ada isyarat tentang pentingnya menaati suami sampai-sampai ketaatan tersebut didahulukan daripada ibadah puasa sunnah.

 

  1. Menunaikan pekerjaan rumah tangga yang merupakan penegak kehidupan keluarga, seperti memasak, mencuci, menjaga kebersihan, dan lain sebagainya.

Seorang istri harus pandai dalam tugas-tugas ini. Dia tidak boleh bekerja dengan asal-asalan dan merasa terbebani. Hendaknya dia mengerjakannya dengan hati lapang, senang, dan ridha serta menyadari bahwa pekerjaan rumah tangga tersebut bernilai ibadah apabila dia meniatkannya.

Perempuan-perempuan mulia sebelum kita juga melakukan pekerjaan rumah tangga. Jadi, tugas ini tidak boleh dianggap remeh dan sepele. Siapa pun dirimu, keturunan orang yang paling ningrat sekalipun, sekaya apa pun, setinggi mana pun kedudukanmu, Anda tidak mungkin melampaui kemuliaan perempuan yang akan kita bawakan kisahnya berikut ini.

Dia tidak enggan menjalankan tugasnya dalam rumah suaminya, seberapa pun berat dan sulitnya. Karena itu, kita tidak patut enggan untuk mengambilnya sebagai uswah.

Perempuan mulia itu adalah putri terkasih dari Khairul Anam shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dialah Fathimah bintu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, pemuka para wanita penduduk surga, semoga Allah ‘azza wa jalla meridhainya.

Dalam Musnad al-Imam Ahmad rahimahullah (1/153) disebutkan dengan sanad sampai kepada Ibnu A’bud, dia berkata,

“Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu pernah berkata kepadaku, “Maukah aku beritakan kepadamu tentang aku dan Fathimah radhiallahu ‘anha? Dia adalah putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, orang yang paling beliau muliakan dan kasihi di antara keluarga beliau, dan dia adalah istriku.

Dia menggiling gandum dengan alat penggilingan hingga alat tadi membekas pada tangannya. Dia mengangkut air dengan qirbah (wadah dari kulit) yang dikalungkan pada lehernya hingga qirbah tersebut membekas pada lehernya. Dia membersihkan rumah hingga berdebu pakaiannya. Dia menyalakan api di bawah periuk hingga kotor bajunya. Semua itu membuatnya tertimpa kepayahan.

(Suatu hari) didatangkan ke hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tawanan perang atau pembantu. Ali berkata, “Aku pun berkata kepada Fathimah, ‘Pergilah engkau menemui Rasulullah. Mintalah kepada beliau seorang pembantu yang akan meringankanmu dari kepayahan yang engkau dapati dalam pekerjaanmu.’

Fathimah pergi menemui sang ayah. Didapatinya di sisi beliau ada sekian pembantu. Namun, Fathimah segan sehingga dia pun pulang tanpa menyampaikan permintaannya. Lalu disebutkan kisahnya…

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Fathimah,

أَلآ أَدُلُّكِ عَلَى مَا هُوَ خَيْرٌ لَكِ مِنْ خَادِمٍ؟ إِذَا أَوَيْتِ إِلَى فِرَاشِكِ سَبِّحِيْ ثَلاَثًا وَثَلاَثِينَ, وَاحْمَدِي ثَلاَثاً وَثَلاَثِينَ، وَكَبِّرِي أَرْبَعًا وَثَلاَثِينَ. فَأَخْرَجَتْ رَأْسَهَا فَقَالَتْ: رَضِيْتُ عَنِ اللهِ وَرَسُوْلِهِمَرَّتَيْنِ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Maukah aku tunjukkan kepadamu sesuatu yang lebih baik bagimu daripada seorang pembantu? Apabila engkau beranjak ke tempat tidurmu (pada malam hari), bertasbihlah 33 kali, bertahmidlah 33 kali, dan bertakbirlah 34 kali. “

Fathimah mengeluarkan kepalanya dari selimut yang menutupinya seraya berkata, “Aku ridha kepada Allah dan Rasul-Nya.” (Dinyatakan hasan sanadnya oleh Ahmad Syakir. Hadits ini termasuk tambahan yang dimasukkan oleh Abdullah bin Ahmad bin Hambal rahimahullah dalam Musnad ayahnya)

Dalam kitab al-Ishabah fi Tamyiz Ash Shahabah, karya Ibnu Sa’d (8/159) disebutkan saat Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu mengusulkan agar Fathimah radhiallahu ‘anha meminta pembantu kepada ayahnya, Fathimah menyanggupi. Namun, saat sudah berhadapan dengan sang ayah, Fathimah merasa segan dan malu menyampaikan maksudnya.

Ketika ditanya oleh ayahnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam , “Ada keperluan apa engkau datang ke sini, wahai putriku?”

Fathimah menjawab, “Ananda datang untuk menyampaikan salam kepadamu, Ayah.”

Fathimah kembali pulang dan menyampaikan kepada Ali, suaminya, bahwa dia belum bicara tentang pembantu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena malu. Ali pun mengajak istrinya untuk bersama-sama menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian Ali menyampaikan kepada Rasulullah tentang keadaan Fathimah terkait dengan pekerjaannya dalam rumah, sekiranya ada pembantu tentu akan meringankan tugas Fathimah.

Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memenuhi permintaan keduanya. Beliau bersabda, “Tidak, demi Allah! Aku tidak akan memberikan pembantu kepada kalian berdua, sementara ahlus suffah aku biarkan menekuk perut mereka karena lapar. Aku tidak punya harta untuk memberi infak kepada mereka. Akan tetapi, aku akan jual budak-budak ini dan uang penjualannya akan aku infakkan kepada mereka.”

Ali dan Fathimah pun kembali ke rumah mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi rumah keduanya saat keduanya telah berbaring dengan tutupan selimut pendek. Selimut itu, apabila ditutupkan ke bagian kepala, akan tampaklah kaki keduanya. Apabila ditutupkan ke kaki, tersingkap bagian kepala keduanya.

Keduanya hendak bangkit, tetapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menahan agar mereka tetap di tempatnya. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajari keduanya sebuah amalan yang lebih baik daripada pembantu.

Kisah di atas juga dibawakan oleh al-Imam al-Bukhari rahimahullah dalam Shahihnya (Kitab an-Nafaqat, bab Amal al-Mar’ah fi Baiti Zaujiha dan bab Khadim al-Mar’ah, hadits no. 5361 dan 5362) dan al-Imam Muslim rahimahullah dalam Shahihnya (Kitab adz-Dzikr wad Du’a, bab at-Tasbih Awwal an-Nahar wa inda an-Naum, hadits no. 6853, 6854, 6855, dan 6856), namun kisahnya tidak sepanjang yang disebutkan dalam Musnad al-Imam Ahmad.

Dalam riwayat al-Bukhari dan Muslim ini, disebutkan bahwa Fathimah radhiallahu ‘anha tidak mendapati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan hanya bertemu dengan Aisyah radhiallahu ‘anha. Kepada Aisyah, pesan untuk sang ayah disampaikan.

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang, Aisyah radhiallahu ‘anha mengabarkan kedatangan Fathimah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mendatangi rumah putrinya. Beliau mendapati sang putri dan menantu terkasih telah berbaring di pembaringan. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta keduanya tetap berbaring.

Beliau duduk di antara keduanya hingga kata Fathimah radhiallahu ‘anha, “Aku dapati dinginnya kedua telapak kaki beliau pada perutku (atau dadaku).”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memberikan apa yang diharapkan oleh putrinya. Beliau justru menghimbau agar putrinya meneruskan apa yang biasa di lakukan dalam rumah suaminya. Beliau membimbing sang putri untuk melakukan ibadah zikir yang membantunya menjalankan pekerjaannya. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan bahwa ibadah yang beliau ajarkan itu lebih baik daripada pembantu.

Kata al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah, “Yang tampak, maksud dari ‘lebih baik daripada pembantu’ adalah manfaat zikir (tasbih dsb.) khusus di negeri akhirat,sedangkan manfaat pembantu hanya didapatkan di kehidupan dunia. Dan dipastikan bahwa akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.” (Fathul Bari, 9/627)

Sekarang kita kembali mengulang pertanyaan, adakah istri yang lebih mulia daripada Fathimah radhiallahu ‘anha?

Teladan berikutnya adalah Asma bintu Umais radhiallahu ‘anha. Tahukah Anda siapa dia?

Ya, sahabiyah yang mulia, pelaku dua kali hijrah; ke Habasyah dan ke Madinah. Beliau bersuamikan para lelaki yang mulia, tokoh para sahabat. Setelah menjanda dari Ja’far bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu yang gugur dalam Perang Mu’tah, Asma dinikahi oleh Abu Bakr ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu. Ketika Abu Bakr radhiallahu ‘anhu wafat, Asma diperistri oleh Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anha.

Sungguh, kemuliaan bagi Asma pernah bersanding dengan lelaki-lelaki ahlul jannah[3].

Apa yang dilakukan Asma di dalam rumahnya? Berikut ini beritanya.

Asma bintu Umais radhiallahu ‘anha berkisah,

لَمَّا أُصِيْبَ جَعْفَرٌ وَأَصْحَابُهُ دَخَلَ عَلَيَّ رَسُوْلُ اللهِ وَدَبَغْتُ أَرْبَعِ إِهاَبًا، وَعَجِنْتُ عَجِيْنِي، وَغَسَلْتُ بُنَيَّ وَدَهَنْتُهُمْ وَنَظَّفْتُهُمْ .قَالَتْ :فَقَالَ لِي رَسُوْلُ اللهِ :اِتِيْنِي بِبَنِي جَعْفَرٍ .قَالَتْ :فَأَتَيْتُهُ بِهِمْ فَشَمَّمَهُمْ وَذَرَفَتْ عَيْنَاهُ. فَقَالَتْ :يَا رَسُوْلَ اللهِ، بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي، مَا يُبْكِيْكَ؟ أَبَلَغَكَ عَنْ جَعْفَرٍ وَأَصْحَابِهِ شَيْءٌ؟ قَالَ :نَعَمْ، أُصِيْبُوْا هَذَا الْيَوْمَ

        Ketika Ja’far dan teman-temannya gugur, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke rumah kami. Waktu itu aku telah menyamak 40 kulit, mengadon adonan rotiku, memandikan anak-anakku, meminyaki rambut mereka dan membersihkan mereka.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku, “Datangkan putra-putra Ja’far ke hadapanku.”

Aku pun menghadirkan mereka ke hadapan beliau. Beliau mencium mereka dan mengalirlah air mata dari kedua mata beliau.

Asma berkata, “Wahai Rasulullah, ayah dan ibuku menjadi tebusan bagimu, apa yang membuat Anda menangis? Apakah sampai sesuatu berita kepadamu tentang Jafar dan teman-temannya?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Ya, mereka semua gugur pada hari ini….” (Sirah Ibni Hisyam, 4/22)

Dalam ath-Thabaqah al-Kubra karya Ibnu Sa’d disebutkan,

Aku berpagi hari dengan kegiatanku pada hari gugurnya Ja’far dan temantemannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang menemuiku. Saat itu aku telah menyamak 40 samakan dari kulit dan mengadon adonan rotiku. Aku ambil anak-anakku lalu membasuh wajah mereka dan meminyaki rambut mereka.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke rumahku, lalu berkata, “Wahai Asma, di mana putra-putra Ja’far?”

Aku pun mendatangkan anak-anakku ke hadapan beliau. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memeluk dan mencium mereka. Mengalirlah air mata beliau. Beliau menangis.

Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, mungkin ada sesuatu berita yang telah sampai kepada Anda tentang Ja’far?”

“Ya, dia terbunuh pada hari ini,” jawab beliau.

“Berdirilah aku seraya menjerit (menangis),” kata Asma, “Lalu berkumpullah para wanita di sekitarku (untuk menghiburku).”

Mendengar tangisku pecah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan, “Wahai Asma, jangan kamu mengucapkan ucapan yang mengandung dosa (karena meratapi musibah ini) dan jangan kamu memukul-mukul dadamu.” (10/267)

 

  1. Bersegera memenuhi “ajakan” suami dalam hal yang Allah ‘azza wa jalla halalkan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

       إِذَا دَعَا الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَأَبَتْ، فَبَات غَضْبَانَ عَلَيْهَا، لَعَنَتْهَا الْمَلآئِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ

“Apabila seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidurnya, lalu si istri menolak hingga suaminya bermalam dalam keadaan marah kepadanya, istri tersebut dilaknat oleh malaikat sampai pagi.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Dengan demikian, seorang istri tidak boleh “jual mahal” kepada suaminya, seakan-akan menghalangi suami dari dirinya, menjauh dari suaminya.

Semestinya istri selalu mendekat kepada suaminya tanpa harus diminta. Dia senantiasa bersolek dan berhias untuk suaminya.

 

  1. Menjaga rahasia suami dan kehormatannya.

Jangan sampai seorang istri membawa dirinya kepada keburukan dan keluar rumah dengan bertabarruj.

Janganlah seorang istri bermudah-mudah menampakkan dirinya kepada lelaki ajnabi, dengan berdiri di depan pintu rumah, melongok di jendela, atau keluar dari rumahnya. Apabila terpaksa keluar rumah, hendaknya seorang istri menjaga rasa malunya.

Jangan sekali-kali seorang istri memasukkan ke dalam rumah suaminya orang yang tidak disukai oleh suami. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan bahwa hal tersebut termasuk hak seorang suami terhadap istrinya.

Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhuma mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَأَمَّا حَقُّكُمْ عَلَى نِسَائِكُمْ فَلاَ يُوطِينَ فُرُشَكُمْ مَنْ تَكْرَهُوْنَ

“Adapun hak kalian terhadap istri-istri kalian adalah mereka tidak boleh membiarkan orang yang kalian benci menginjak permadani kalian.” (HR. Muslim)

Dalam riwayat at-Tirmidzi ada tambahan,

وَلاَ يَأْذَنْ فِي بُيُوْتِكُمْ لِمَنْ تَكْرَهُوْنَ

        “Dan tidak boleh mengizinkan orang yang kalian benci masuk ke rumah kalian.” (Dinyatakan hasan dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi)

 

  1. Menjaga harta

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda terkait tanggung jawab istri di rumah suaminya,

وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْؤُوْلَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا

“Perempuan adalah pemimpin dalam rumah suaminya dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits yang lain,

خَيْرُ النِّسَاءِ رَكِبْنَ الْإِبِلَ صَالِحُ نِسَاءِ قُرَيْشٍ، أَحْنَاهُ عَلَى وَلَدٍ فِي صِغَرِهِ وَأَرْعَاهُ عَلَى زَوْجٍ فِي ذَاتِ يَدِهِ

“Sebaik-baik perempuan yang menunggang unta adalah perempuan Quraisy yang saleh[4], paling penyayang terhadap anak ketika masih kecilnya, dan paling memerhatikan (menjaga) suami dalam harta yang dimiliki suami.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Maksud paling memerhatikan harta suami adalah paling menjaga dan memelihara harta suami dengan berbuat amanah dan tidak mubazir membelanjakannya. (Fathul Bari, 9/157)

Seorang istri dibebani tugas mengatur ‘dalam rumah’ suaminya, dan apa yang ada di dalam rumah umumnya adalah harta suami yang harus dijaga. Urusan penjagaan harta ini terkait beberapa hal, di antaranya:

  1. Menjaga dan merawat baik-baik apa yang ada di dalam rumah suami.
  2. Tidak mubazir dan boros.

radhiallahu ‘anhuma. Tidak membebani dan menuntut suami dengan nafkah yang melampaui kemampuannya.

 

  1. Bergaul dengan baik

Seorang istri harus dapat bermuamalah dengan baik terhadap suami yang sekaligus adalah pemimpinnya. Di antara bentuk muamalah yang baik dengan suami adalah sabar dan memaafkan kesalahan suami, meminta keridhaannya ketika dia marah, menampakkan rasa cinta dan pemuliaan kepada suami, mengucapkan kalimat-kalimat yang baik saat berbicara dengan suami, dan menampakkan wajah berseri-seri.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيْكَ لَكَ صَدَقَةٌ

“Senyummu terhadap saudaramu adalah sedekah bagimu.” (HR. at-Tirmidzi, dinyatakan sahih dalam ash- Shahihah no. 572)

Apabila senyuman kepada saudara dianggap sebagai kebaikan, bagaimana halnya dengan senyuman yang selalu disuguhkan istri di hadapan suaminya?

 

  1. Pandai mengatur waktu

Seorang istri harus pandai dan bersemangat mengatur dan memanfaatkan waktunya sehingga pekerjaan bisa tertunaikan.

 

  1. Menata rumah

Jadikanlah rumahmu laksana sebuah taman yang selalu terjaga kebersihan dan keteraturannya. Rumah itu menunjukkan “siapa” perempuan yang menghuninya. Dengan selalu bersih dan teratur rapi, niscaya rumah tampak menarik walaupun hanya sebuah gubuk yang diisi dengan perabotan ala kadarnya.

Sebaliknya, jika rumah kotor, tidak terawat dan semrawut, walau bangunannya megah, perabotannya mewah, niscaya ‘mata tak sedap memandang, hati pun enggan untuk tinggal’.

Saat suami dan anak-anak pulang dari pekerjaan dan sekolah mereka dalam keadaan lelah lagi penat, lantas mendapati rumah mereka bersih, tertata rapi, niscaya kelelahan terasa berkurang.

Sebaliknya, jika mereka kembali dalam keadaan rumah kotor, berantakan dan sebagainya, niscaya kepayahan mereka akan bertambah.

Dengan demikian, kebersihan dan kerapian tempat tinggal termasuk sebab yang paling penting untuk menjadikannya sebagai sakan.

 

  1. Jujur terhadap suami terkhusus saat suami tidak ada di rumah.

Seorang istri tidak boleh berdustadan menyembunyikan sesuatu yang seharusnya tidak boleh disembunyikan dari suaminya. Apabila satu kali istri selamat dari kedustaannya, saat itu suaminya tidak tahu bahwa dia dibohongi. Namun, pada waktu yang lain, belum tentu istri selamat. Bisa jadi, kedustaannya yang dahulu terbongkar hingga sirnalah kepercayaan suami kepadanya.

Bisa terbayang rasanya bila suami sudah tidak percaya pada kita? Tentu rumah tidak bisa lagi menjadi sakan yang menyenangkan, apalagi menjadi tempat tarbiyah yang baik.

 

  1. Apa yang Anda lakukan saat terjadi perselisihan dengan suami?

Kita menyadari bahwa kita adalah manusia yang pasti ada kelemahan. Suatu waktu pasti ada perselisihan dengan orang lain yang tinggal di sekitar kita atau yang kita berinteraksi dengannya. Tentu saja dengan suami yang selalu dekat dengan kita, tinggal serumah, sekamar dan setiap hari berinteraksi, lebih mungkin ada masalah yang timbul!

Yang penting dari semua itu bukanlah membahas ada atau tidak ada masalah, muncul atau tidaknya problem, perselisihan dan pertikaian. Yang penting adalah menyelesaikan persoalan yang muncul di antara suami istri.

Berikut ini beberapa arahan yang harusnya diperhatikan seorang istri saat terjadi perselisihan dengan suami.

  1. Jauhilah adu mulut saat dalam keadaan emosi. Biarkanlah kemarahan reda dan urat syaraf mengendor dari yang semula tegang. Lakukanlah upaya untuk menghilangkan kemarahan sebagaimana bimbingan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  2. Pakailah metode ‘membahas’, mencari tahu akar masalah dan sebabnya, bukan bertengkar.

radhiallahu ‘anhuma. Seorang istri tidak boleh berani membentak suaminya, bersuara keras dan kasar terhadap suami. Ingat selalu hal ini, walau sedang emosi.

  1. Hindari memotong pembicaraan dan enggan mendengar apa yang disampaikan.
  2. Setiap pihak tetap menunjukkan kecintaan kepada pasangannya sambil berusaha menyelesaikan masalah.
  3. Semestinya bersiap untuk mengalah. Jika tidak ada yang mau mengalah, niscaya perselisihan tidak akan selesai. Ia justru bertambah berat,bahkan terkadang berakhir dengan keluarnya ucapan, “Sudah, kita cerai saja!”

 

Demikianlah beberapa kiat yang sepantasnya dilakukan istri dalam rumahnya hingga bisa mewujudkan sakan yang hakiki, dengan pertolongan Allah ‘azza wa jalla.

Sebuah rumah yang dihuni oleh suami yang bisa merasakan ketenangan, ketenteraman, dan kebahagiaan, hingga suami bisa berbuat dan menghasilkan yang terbaik untuk umat.

Sebuah rumah yang di dalamnya anak-anak dididik dengan tarbiyah yang baik, hingga menjadi baiklah umat ini karena baiknya generasi yang terlahir dan keluar di tengah mereka.

Suami dan istri adalah dua asas keluarga. Apabila hubungan antara keduanya buruk, niscaya tidak ada ketenteraman dalam rumah yang dihuni keduanya.

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

(insya Allah bersambung)

 Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

[1] Surat ar-Rum: 21

[2] Ibadah tambahan di luar yang diwajibkan.

[3] Sebab, ketiga sahabat ini—Abu Bakr ash-Shiddiq, Ali bin Abi Thalib, dan saudaranya Ja’far, semoga Allah ‘azza wa jalla meridhai mereka semua—telah diberi janji dengan surga oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

[4] Yang dimaksud saleh, kata al-Hafizh Ibnu Hajar, adalah baik agamanya dan bagus pergaulannya dengan suami. (Fathul Bari, 9/157)

Mewaspadai Kaum Munafik

 

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ ١٠٢

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفۡسٖ وَٰحِدَةٖ وَخَلَقَ مِنۡهَا زَوۡجَهَا وَبَثَّ مِنۡهُمَا رِجَالٗا كَثِيرٗا وَنِسَآءٗۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ٱلَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلۡأَرۡحَامَۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيۡكُمۡ رَقِيبٗا ١

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَقُولُواْ قَوۡلٗا سَدِيدٗا ٧٠ يُصۡلِحۡ لَكُمۡ أَعۡمَٰلَكُمۡ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۗ وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ فَازَ فَوۡزًا عَظِيمًا ٧١

أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كَ مَالُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ وَشَرَّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.

 

Saudara saudaraku kaum muslimin, sidang jumat rahimakumullah…

Perkenankanlah kami selaku khatib dalam khutbah jumat kali ini mengajak jamaah sekalian mengenal sedikit tentang siapa orang-orang munafik dan sifat-sifatnya, supaya kita bisa lebih berhati-hati dari mereka dan jangan sampai kita tertipu atau terpengaruh oleh tipu daya serta makar-makar buruk mereka.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

          إِنَّ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ هُمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ ٦٧

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasik.” (at-Taubah: 67)

 

Oleh sebab itu, di antara yang diperintahkan oleh Allah ‘azza wa jalla kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah berjuang melawan orang-orang munafik. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

          يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِيُّ جَٰهِدِ ٱلۡكُفَّارَ وَٱلۡمُنَٰفِقِينَ وَٱغۡلُظۡ عَلَيۡهِمۡۚ وَمَأۡوَىٰهُمۡ جَهَنَّمُۖ وَبِئۡسَ ٱلۡمَصِيرُ ٧٣

“Wahai Nabi, berjuanglah untuk melawan orang-orang kafir dan orang-orang munafik, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah neraka jahanam, dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.” (at-Taubah: 73)

 

Orang munafik adalah yang menampakkan keislaman namun menyembunyikan kekafiran. Bahayanya terhadap Islam lebih besar daripada bahaya orang yang benar-benar kafir, karena mereka merusak Islam dari dalam.

Oleh karena itu, Allah ‘azza wa jalla akan menempatkan mereka bersama orang-orang kafir di neraka Jahannam.

 

          إِنَّ ٱللَّهَ جَامِعُ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ وَٱلۡكَٰفِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعًا ١٤٠

“Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan orang-orang munafik bersama dengan orang-orang kafir di neraka Jahannam.” (an-Nisa: 140)

 

Bahkan, Allah akan menempatkan orang munafik di lapisan neraka yang terbawah. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

          إِنَّ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ فِي ٱلدَّرۡكِ ٱلۡأَسۡفَلِ مِنَ ٱلنَّارِ وَلَن تَجِدَ لَهُمۡ نَصِيرًا ١٤٥

        “Sesungguhnya orang-orang munafik itu akan ditempatkan di lapisan neraka yang paling bawah, dan tidak akan ada penolong bagi mereka.” (an-Nisa: 145)

 

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah!

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

          وَلَيَعۡلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَلَيَعۡلَمَنَّ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ ١١

        “Dan Allah pasti mengenal siapa orang-orang yang beriman dan pasti mengenal siapa orang-orang yang munafik.” (al-‘Ankabut: 11)

 

Mari kita simak, bagaimana Allah ‘azza wa jalla membongkar kedok kejahatan kaum munafik. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

          وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَقُولُ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَبِٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَمَا هُم بِمُؤۡمِنِينَ ٨

        Dan di antara manusia ada yang berkata, “Kami beriman kepada Allah dan hari akhirat.” Padahal sesungguhnya mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman. (al-Baqarah: 8)

 

Mereka itulah orang orang munafik. Lihatlah perbuatan-perbuatan keji mereka terhadap Islam dan kaum muslimin, serta balasan Allah ‘azza wa jalla kepada mereka!

يُخَٰدِعُونَ ٱللَّهَ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَمَا يَخۡدَعُونَ إِلَّآ أَنفُسَهُمۡ وَمَا يَشۡعُرُونَ ٩

        “Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal merekalah yang tertipu tanpa mereka sadari.” (al-Baqarah: 9)

 

Selanjutnya, Allah ‘azza wa jalla menyebut mereka sebagai orang-orang yang hatinya berpenyakit dan suka berdusta.

فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٞ فَزَادَهُمُ ٱللَّهُ مَرَضٗاۖ وَلَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمُۢ بِمَا كَانُواْ يَكۡذِبُونَ ١٠

“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah tambah penyakit tersebut dan mereka menerima azab yang pedih karena mereka berdusta.” (al-Baqarah: 10)

Meski nyata-nyata menimbulkan kerusakan, mereka tetap menganggap diri mereka sebagai orang-orang yang melakukan perbaikan. Allah ‘azza wa jalla berfirman pada ayat selanjutnya,

وَإِذَا قِيلَ لَهُمۡ لَا تُفۡسِدُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ قَالُوٓاْ إِنَّمَا نَحۡنُ مُصۡلِحُونَ ١١ أَلَآ إِنَّهُمۡ هُمُ ٱلۡمُفۡسِدُونَ وَلَٰكِن لَّا يَشۡعُرُونَ ١٢

Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Janganlah kalian berbuat kerusakan di muka bumi ini!” Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang melakukan perbaikan.”

Ketahuilah, sesungguhnya mereka benar-benar pelaku kerusakan, namun mereka tidak menyadari. (al-Baqarah: 11—12)

 

Hadirin rahimakumullah!

Di masa kita sekarang, di negeri ini, tindakan-tindakan kemunafikan seperti ini diwarnai oleh kaum liberal yang berbaju muslim. Mereka mengeluarkan pernyataan atau melakukan tindakan yang bertentangan dengan al-Qur’an dan Sunnah serta bertentangan dengan akidah yang diyakini oleh kaum muslimin. Anehnya, mereka mengaku bahwa mereka sedang melakukan perbaikan.

Sebagai salah satu contoh yang baru-baru ini terjadi, saat alim ulama gencar melarang masyarakat ikut serta dalam acara-acara keagamaan agama lain, di antara mereka justru ada yang dengan bangga menjadi pembicara dalam acara natal di gereja-gereja, dengan slogan menjalin toleransi.

Saat kaum muslimin resah dengan isu perkawinan sesama jenis, di antara mereka justru ada yang meminta agar hal itu dilegalkan, dengan alasan hak asasi manusia.

Bahkan, saat masyarakat Indonesia diresahkan oleh isu tersebarnya paham komunis, antara mereka ada yang mendukungnya, dengan slogan yang sama, membela HAM (hak asasi manusia).

Saat para dai ingin membersihkan tradisi masyarakat yang masih berbau mistik dan bertentangan dengan ajaran agama Islam, terpaksa harus berhadapan dengan kaum liberal yang gigih melestarikannya, dengan berdalih bahwa Islam adalah agama yang rahmatan lil ‘alamin.

حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

 Maasyiral muslim rahimakumullah!

Pada ayat berikutnya Allah ‘azza wa jalla berfirman,

          وَإِذَا قِيلَ لَهُمۡ ءَامِنُواْ كَمَآ ءَامَنَ ٱلنَّاسُ قَالُوٓاْ أَنُؤۡمِنُ كَمَآ ءَامَنَ ٱلسُّفَهَآءُۗ أَلَآ إِنَّهُمۡ هُمُ ٱلسُّفَهَآءُ وَلَٰكِن لَّا يَعۡلَمُونَ ١٣

Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Berimanlah kalian sebagaimana berimannya orang-orang (mukmin),” mereka menjawab, “Apakah kami harus beriman seperti imannya orang-orang yang akalnya kurang itu?” Ketahuilah, justru mereka itulah yang kurang akalnya, namun mereka tidak tahu.” (al-Baqarah: 13)

Betapa angkuhnya mereka. Begitu mudahnya mereka menolak nasihat. Begitu mudahnya mereka melecehkan kaum muslimin. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.” (HR. Muslim dari sahabat Abdullah bin Masud radhiallahu ‘anhu)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ

“Tidak akan masuk surga, orang yang ada di hatinya kesombongan seberat semut.” ( HR. Muslim dari sahabat Abdullah bin Masud radhiallahu ‘anhu)

Namun, apa mau dikata, itu sudah sunnatullah.

          فَلَمَّا زَاغُوٓاْ أَزَاغَ ٱللَّهُ قُلُوبَهُمۡۚ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡفَٰسِقِينَ ٥

        “Maka, ketika mereka berpaling (dari kebenaran), Allah sesatkan hati-hati mereka, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.” (ash-Shaff: 5)

 

نَسْأَلُ اللهَ السَّ مَالَةَ وَالْعَافِيَةَ

Kita memohon keselamatan dan afiat.

Allah ‘azza wa jalla telah berkata kepada Nabi-Nya,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِيُّ ٱتَّقِ ٱللَّهَ وَلَا تُطِعِ ٱلۡكَٰفِرِينَ وَٱلۡمُنَٰفِقِينَۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمٗا ١ وَٱتَّبِعۡ مَا يُوحَىٰٓ إِلَيۡكَ مِن رَّبِّكَۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِيرٗا ٢ وَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِۚ وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ وَكِيلٗا ٣

        “Wahai Nabi, bertakwalah kepada Allah dan janganlah engkau menuruti (keinginan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik. Sesungguhnya Allah Mahamengetahui lagi Mahabijaksana.

Ikutilah apa yang diwahyukan kepadamu dari Rabbmu. Sesungguhnya Allah Mahatahu terhadap apa yang kamu kerjakan, dan bertawakallah kepada Allah, dan cukuplah Allah sebagai penjagamu.” (al-Ahzab: 1—3)

 

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، أَقُولُ قَوْلِي وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، وَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمِ، وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

 

 

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ الَّذِي لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، أَنْجَزَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُولِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ، فَرَضِينَا بِاللهِ رَبًّا وَبِالْإِسْ مَالِ دِيناً وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا.

 

Jamaah sidang jumat rahimakumullah!

Akhir-akhir ini kaum liberal dan kaum sekuler semakin berani melakukan penistaan terhadap agama Islam. Lebih disayangkan lagi, mereka mendapat tempat di sebagian ormas (organisasi masyarakat) dan perguruan tinggi yang membawa nama Islam.

Di antara mereka ada yang berani menghina dan melecehkan para nabi. Bahkan, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tidak luput dari cacian mereka. Al-Qur’an mereka anggap tidak otentik, bahkan di antara mereka ada yang terang-terangan membantah ayat-ayat al-Qur’an.

Yang lebih kufur dari semua itu, ada di antara mereka yang berani menghina Allah ‘azza wa jalla. Tidak sampai hati kami menyebutkan contoh-contoh ucapan mereka.

Anehnya, mereka tetap menganggap diri mereka muslim dan bangga dengan Islam model mereka. Kita hanya bisa mengucapkan,

عَلَيْهِمْ مِنَ اللهِ مَا يَسْتَحِقُّونَ

“Semoga mereka mendapatkan (siksaan) yang sepantasnya dari Allah.”

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

          قُلۡ أَبِٱللَّهِ وَءَايَٰتِهِۦ وَرَسُولِهِۦ كُنتُمۡ تَسۡتَهۡزِءُونَ ٦٥ لَا تَعۡتَذِرُواْ قَدۡ كَفَرۡتُم بَعۡدَ إِيمَٰنِكُمۡۚ

        Katakanlah, “Mengapa kalian memperolok Allah dan ayat-ayat-Nya, serta Rasul-Nya? Tidak perlu kalian meminta maaf. Sungguh, kalian telah kafir setelah kalian beriman.” (at-Taubah: 65—66)

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

          يَحۡلِفُونَ بِٱللَّهِ مَا قَالُواْ وَلَقَدۡ قَالُواْ كَلِمَةَ ٱلۡكُفۡرِ وَكَفَرُواْ بَعۡدَ إِسۡلَٰمِهِمۡ      

“Mereka bersumpah tidak mengatakannya, padahal sungguh mereka telah mengatakan kalimat kekafiran, dan mereka telah menjadi kafir setelah berislam.” (at-Taubah: 74)

 

Kaum muslimin rahimakumullah,

Mereka sangatlah dekat dan loyal dengan agama lain dan para pemeluknya. Ada di antara mereka yang hadir dan berceramah di gereja dalam acara natal, ada pula yang memberi dukungan kepada orang kafir untuk menjadi calon pemimpin di negeri ini.

Padahal Allah ‘azza wa jalla telah berfirman,

          يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّخِذُواْ ٱلۡكَٰفِرِينَ أَوۡلِيَآءَ مِن دُونِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَۚ أَتُرِيدُونَ أَن تَجۡعَلُواْ لِلَّهِ عَلَيۡكُمۡ سُلۡطَٰنٗا مُّبِينًا ١٤٤

        “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin selain dari orang-orang yang beriman. Apakah kalian menginginkan hal itu sebagai alasan yang jelas untuk Allah menyiksa kalian?” (an-Nisa: 144)

 

Kaum muslimin rahimakumullah!

Sejatinya, mereka adalah orang-orang yang bingung menentukan sikap. Sebagaimana yang telah disebutkan sifatnya oleh Allah ‘azza wa jalla dalam firman-Nya,

          مُّذَبۡذَبِينَ بَيۡنَ ذَٰلِكَ لَآ إِلَىٰ هَٰٓؤُلَآءِ وَلَآ إِلَىٰ هَٰٓؤُلَآءِۚ

        “Mereka bingung menentukan sikap, tidak memihak kepada orang-orang kafir, tidak juga memihak kepada mereka orang-orang mukmin.” (an-Nisa: 143)

 

نَسْأَلُ اللهَ السَّلاَمَةَ وَالْعَافِيَةَ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ وَأَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ، وَالْحَمْدُ رَبِّ الْعَالَمِينَ

 

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Ishaq Abdullah Nahar

Seputar Qunut Witir (1)

Ada beberapa pertanyaan yang masuk ke Redaksi seputar qunut witir. Di antaranya:

Saya mau bertanya, saat imam membaca qunut witir, apa yang dilakukan oleh makmum? Apakah mengamini di sela-sela doa qunut ada syariatnya? Saat itu bolehkah mengangkat kedua tangan menengadah?

IRT di Wonosari

Dijawab oleh al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad as-Sarbini

 Kesimpulan masalah qunut witir kami rangkum sebagai berikut.

  1. Hukumnya sunnah, tidak hanya di separuh terakhir Ramadhan, tetapi disunnahkan dilakukan sepanjang tahun; tidak secara terus-menerus setiap kali witir, tetapi terkadang qunut dan terkadang tidak. Ini menurut pendapat yang rajih.
  2. Dilakukan di rakaat terakhir, bisa sebelum rukuk (setelah membaca surat) atau setelah rukuk (seusai baca zikir i’tidal).
  3. Qunut dilakukan dengan mengangkat kedua tangan.
  4. Membaca doa qunut yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada al-Hasan radhiallahu ‘anhu dan bershalawat atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  5. Pada shalat jamaah, imam mengeraskan doa qunut dengan mengganti dhamir (kata ganti diri) dengan dhamir yang bermakna “kami” agar doa itu mencakup imam dan makmum. Adapun makmum cukup mengaminkan saja.

Adapun keterangannya secara detail akan kami jabarkan satu per satu, bi idznillah.

 Hukum Qunut Witir

Terdapat perbedaan pendapat yang cukup alot di antara ulama mengenai hukum qunut witir dan intensitas pelaksanaannya. Kami menyimpulkan pendapat-pendapat itu menjadi tiga golongan.

  1. Golongan yang tidak qunut witir dan mengingkari qunut witir.
  2. Golongan yang berpendapat tidak ada ada hadits yang sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang qunut witir, tetapi dari ‘Umar radhiallahu ‘anhu dan sekelompok sahabat lainnya pada separuh terakhir Ramadhan.

radhiallahu ‘anhuma. Golongan yang berpendapat telah datang hadits yang sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang qunut witir secara mutlak dan didukung oleh amalan sekelompok sahabat yang melakukan qunut witir sepanjang tahun, tanpa pembatasan di separuh terakhir Ramadhan.

 Golongan pertama, ulama yang tidak qunut witir dan mengingkari qunut witir.

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma bahwa beliau tidak qunut witir. Diriwayatkan pula pengingkaran terhadap qunut witir dari al-Imam Malik.

Ibnu Abdil Barr menerangkan dalam kitab al-Istidzkar (2/Kitab ash-Shalah

fi Ramadhan, Bab Ma Ja’a fi Qiyam Ramadhan) bahwa ada perbedaan versi riwayat dari Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma, “Salah satunya adalah riwayat Ibnu Numair, dari ‘Ubaidillah bin ‘Umar, dari Nafi’, dari Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma,

إِنَّهُ كَانَ يَقْنُتُ فِي الْفَجْرِ وَلاَ فِي الْوِتْرِ

        “Sesungguhnya Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma tidak pernah qunut pada shalat subuh dan shalat witir.”[1]

Riwayat Malik dari Nafi’ dari Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma semisal dengan itu.”

Riwayat dengan versi lain dari Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma akan disebutkan pada pengkhususan qunut witir di pertengahan terakhir Ramadhan.

Dalam kitab al-Istidzkar, Ibnu ‘Abdil Barr menukil pengingkaran al-Imam Malik terhadap riwayat ahlu Mishr (sahabat Malik dari kalangan penduduk Mesir, yaitu Ibnul Qasim, Asyhab, dan Ibnu Wahbin) bahwa Malik ditanya apakah disyariatkan seseorang melakukan qunut witir? Ia menjawab, “Tidak.”

 Golongan kedua, yang berpandangan tidak ada hadits yang sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang qunut witir, tetapi dari ‘Umar dan sekelompok sahabat lainnya pada separuh terakhir Ramadhan.

Al-Khallal meriwayatkan bahwa al-Imam Ahmad berkata, “Tidak ada hadits sahih bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan qunut witir. Akan tetapi, ‘Umar radhiallahu ‘anhu lah yang melakukan qunut witir.”

Kata Ibnu ‘Abdil Barr dalam kitab al-Istidzkar, “Tidak ada hadits musnad (yang sanadnya bersambung) dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sahih tentang qunut witir.”

Ibnul ‘Abdil Barr juga berkata, “Adapun (pengamalan) qunut witir oleh sahabat radhiallahu ‘anhum telah diriwayatkan dari sekelompok sahabat radhiallahu ‘anhum.”

Ibnu ‘Abdil Barr kemudian berkata, “Ulama yang membolehkan qunut pada shalat witir pada rangkaian shalat tarawih di sepuluh terakhir Ramadhan berhujah dengan riwayat-riwayat tersebut. Sebab, hal itu telah dicontohkan oleh sejumlah sahabat yang mulia. Ia adalah amalan yang nyata di kota Madinah di zaman itu, dan tidak diketahui seorang pun dari kalangan sahabat yang mengingkarinya.”

Di antara riwayat-riwayat itu adalah riwayat yang dikeluarkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya (2/no. 1100, terbitan al-Maktab al-Islami) dengan sanad yang dinilai sahih oleh al-Albani[2] dengan lafadz,

أَنَّ عُمَرَ خَرَجَ لَيْلَةَ فِي رَمَضَانَ، فَخَرَجَ مَعَهُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَبْدِ الْقَارِي، فَطَافَ بِالْمَسْجِدِ وَأَهْلُ الْمَسْجِدِ أَوْزَاعٌ مُتَفَرِّقُوْنَ يُصَلِّيْ الرَّجُلُ لِنَفْسِهِ وَيُصَلِّيْ الرَّجُلُ فَيُصَلِّيْ بِصَلاَتِهِ الرَّهْطُ.

فَقَالَ عُمَرُ: وَاللهِ إِنِّيْ أَظُنُّ لَوْ جَمَعْنَا هَؤُلاَءِ عَلَى قَارِئٍ وَاحِدٍ لَكَانَ أَمْثَلَ. ثُمَّ عَزَمَ عُمَرُ عَلَى ذَلِكَ وَأَمَرَ أُبَيَّ بْنَ كَعْبٍ أَنْ يَقُوْمَ لَهُمْ فِي رَمَضَانَ، فَخَرَجَ عُمَرُ عَلَيْهِمْ وَالنَّاسُ يُصَلُّوْنَ بِصَلاَةِ قَارِئِهِمْ.

فَقَالَ عُمَرُ: نِعْمَ الْبِدْعَةُ هِيَ، وَالَّتِيْ تَنَامُوْنَ عَنْهَا أَفْضَلُ مِنَ الَّتِيْ تَقُوْمُوْنَيُرِيْدُ آخِرَ اللَّيْلِفَكَانَ النَّاسُ يَقُوْمُوْنَ أَوَّلَهُ.

وَكَانُوْا يَلْعَنُوْنَ الْكَفَرَةَ فِي النِّصْفِ: اللَّهُمَّ قَاتِلِ الْكَفَرَةَ الَّذِيْنَ يَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِكَ، وَيُكَذِّبُوْنَ رُسُلَكَ، وَلاَ يُؤْمِنُوْنَ بِوَعْدِكَ، وَخَالِفْ بَيْنَ كَلِمَتِهِمْ، وَأَلْقِ فِي قُلُوْبِهِمُ الرُّعْبَ، وَأَلْقِ عَلَيْهِمْ رِجْزَكَ وَعَذَابَكَ، إِلهُ الْحَقُّ.

 ثُمَّ يُصَلِّيْ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيَدْعُو لِلْمُسْلِمِيْنَ بِمَا اسْتَطَاعَ مِنْ خَيْرٍ، ثُمَّ يَسْتَغْفِرُ لِلْمُؤْمِنِيْنَ. وَكَانَ يَقُوْلُ إِذَا فَرَغَ مِنْ لَعْنَةِ الْكَفَرَةِ وَصَلاَتِهِ عَلَى النَّبِيِّ وَاسْتِغْفَارِهِ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَمَسْأَلَتَهُ: اللَّهُمَّ إِيَّاكَ نَعْبُدُ، وَلَكَ نُصَلِّيْ وَنَسْجُدُ، وَإِلَيْكَ نَسْعَى وَنَحْفِدُ، وَنَرْجُوْ رَحْمَتَكَ رَبَّنَا، وَنَخَافُ عَذَابَكَ الجِدَّ، إِنْ عَذَابَكَ لِمَنْ عَادَيْتَ مُلْحِقٌ؛ ثُمَّ يُكَبِّرُ وَيَهْوِيْ سَاجِدًا.

Sesungguhnya Umar radhiallahu ‘anhu pernah keluar dari rumahnya di bulan Ramadhan dan Abdur Rahman bin Abdil Qari ikut keluar bersamanya. Umar radhiallahu ‘anhu berkeliling di dalam masjid, sementara penghuni masjid shalat tarawih berjamaah dengan berpencar-pencar; setiap imam mengimami sekitar 3—10 orang.

Lantas Umar berkata, “Demi Allah, sungguh aku beranggapan bahwa seandainya kami kumpulkan mereka semua dengan seorang imam, hal itu lebih sesuai dengan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Umar kemudian bertekad atas hal itu dan memerintah Ubay bin Ka’ab mengimami mereka shalat tarawih pada bulan Ramadhan. Lalu Umar keluar untuk melihat mereka, sementara mereka shalat tarawih berjamaah dengan imam mereka.

Umar berkata, “Ini adalah sebaik-baik perkara baru (yang dihidupkan kembali setelah lama ditinggalkan). Shalat tarawih di akhir malam (saat kalian tidur) lebih baik daripada shalat yang kalian laksanakan sekarang di awal malam.”

Mereka melaksanakannya di awal malam. Mereka berdoa qunut melaknat orang-orang kafir di separuh terakhir Ramadhan, “Ya Allah, perangilah orang-orang kafir yang menghalangi dari jalan-Mu, mendustakan para rasul-Mu, tidak beriman dengan janji-Mu. Cerai-beraikanlah persatuan mereka, campakkanlah ke dalam kalbu-kalbu mereka rasa takut, timpakanlah azab atas mereka. Engkaulah Ilah (sembahan) yang Mahabenar.”

Ubay kemudian bershalawat atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mendoakan semampunya kebaikan bagi kaum muslimin, kemudian memintakan ampun bagi mereka. Setelah melaknat orang-orang kafir, bersalawat atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beristigfar untuk kaum mukminin dan mukminat, dan apa yang dimintanya, Ubay membaca,

“Ya Allah, hanya kepada-Mu kami menyembah, hanya untuk-Mu kami shalat dan sujud, hanya kepada-Mu kami bergegas dan bersegera dalam beramal, kami berharap rahmat-Mu, wahai Rabb kami. Kami takut azab-Mu yang benar adanya, sesungguhnya azab-Mu pasti akan menimpa orang yang memusuhi-Mu.”

Ia kemudian bertakbir dan sujud.

 Abdur Razzaq dan Ibnu Abi Syaibah mengeluarkan riwayat Ibnu Juraij dari Atha’ dari Umar radhiallahu ‘anhuma,

قَالَ ابْنُ جُرَيْجٍ: قُلْتُ لِعَطَاءٍ: الْقُنُوتُ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ؟ قَالَ: عُمَرُ أَوَّلُ مَنْ قَنَتَ. قُلْتُ: النِّصْفُ الْآخِرُ؟ قَالَ: نَعَمْ.

Kata Ibnu Juraij, “Aku berkata kepada Atha’, apakah qunut dilakukan pada bulan Ramadhan?”

Atha’ menjawab, “Yang pertama kali melakukannya adalah ‘Umar radhiallahu ‘anhu.”

Ibnu Juraij berkata, “Di pertengahan terakhir Ramadhan?”

Atha’ menjawab, “Ya.”[3]

Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya dan Abu Dawud dalam Sunan-nya juga mengeluarkan riwayat al-Hasan al-Bashari bahwa Umar radhiallahu ‘anhu memerintah Ubay bin Ka’b radhiallahu ‘anhu untuk mengimami kaum muslimin shalat tarawih dan menyuruhnya qunut witir di separuh terakhir Ramadhan.

Namun, riwayat ini divonis dha’if (lemah) oleh al-Albani dalam kitab Dha’if Sunan Abi Dawud—al-Umm (2/no. 258, terbitan Muassasah Ghiras), karena sanadnya putus antara al-Hasan dan ‘Umar radhiallahu ‘anhu.

Hal ini juga telah diamalkan oleh Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma pada riwayat versi kedua darinya yang dinukil oleh Ibnu ‘Abdil Barr dalam kitab al-Istidzkar, yaitu riwayat Ibnu ‘Ulayyah, dari Ayyub, dari Nafi’, dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma,

أَنَّهُ كَانَ لاَ يَقْنُتُ إِلاَّ فِي النِّصْفِ مِنْ رَمَضَانَ.

“Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma tidak melakukan qunut witir kecuali pada separuh terakhir Ramadhan.”[4]

Kata asy-Syaukani dalam Nailul Authar (Kitab ash-Shalah, Bab Waqti Shalatil Witri wal Qira’ah fiha wal Qunut), “Muhammad bin Nashr telah meriwayatkan dengan sanad yang sahih bahwa Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma tidak qunut subuh dan tidak qunut witir selain pada separuh terakhir Ramadhan.”

Berdasarkan ini, muncullah pendapat bahwa qunut hanya disunnahkan pada rakaat terakhir shalat witir pada separuh terakhir Ramadhan (setelah 16 Ramadhan), tidak di malam-malam selainnya sepanjang tahun. An-Nawawi menukil dalam kitab al-Majmu’ (3/510) bahwa ini yang masyhur pada mazhab Syafi’i, yang dipegang oleh jumhur fuqaha Syafi’iyah dan telah ditegaskan langsung oleh al-Imam asy-Syafi’i.

Ibnu ‘Abdil Barr dalam al-Istidzkar menukil pendapat ini dari Malik pada riwayat penduduk Madinah.

Ibnu Qudamah dalam kitab al-Mughni (2/580) dan al-Murdawi dalam kitab al-Inshaf (2/170) menukil bahwa ini adalah salah satu riwayat dari Ahmad.

Ibnu Qudamah juga menukil bahwa ini adalah pendapat Ibnu Sirin dan az-Zuhri dari kalangan tabi’in, sebagaimana telah diriwayatkan hal itu dari keduanya.[5]

 Golongan ketiga, yang berpendapat telah datang hadits yang sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang qunut witir secara mutlak dan didukung oleh amalan sekelompok sahabat melakukan qunut witir sepanjang tahun di setiap shalat, tanpa pembatasan pada separuh terakhir Ramadhan.

Hadits itu adalah hadits al-Hasan bin ‘Ali radhiallahu ‘anhuma,

عَلَّمَنِي رَسُولُ اللهِ كَلِمَاتٍ أَقُولُهُنَّ فِي الْوِتْرِ : اللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْتَ، وَعَافِنِي فِيمَنْ عَافَيْتَ، وَتَوَلَّنِي فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ، وَبَارِكْ لِي فِيمَا أَعْطَيْتَ، وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ، فَإِنَّكَ تَقْضِي وَ يُقْضَى عَلَيْكَ، وَإِنَّهُ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ، وَ يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ، تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajariku kalimat-kalimat untuk kubaca pada qunut witir,

“Ya Allah, berilah aku hidayah bersama orang-orang yang Engkau beri hidayah; berilah aku keselamatan dunia akhirat bersama orang-orang yang Engkau beri keselamatan dunia akhirat; perhatikan dan jagalah urusan-urusanku bersama orang-orang yang Engkau perhatikan dan jaga urusannya; berkahilah aku pada apa-apa yang yang Engkau berikan; jagalah aku dari kejelekan apa saja yang Engkau tetapkan; sesungguhnya tidak akan hina orang yang menjadi wali-Mu (dalam penjagaan dan pertolongan-Mu) dan tidak akan mulia orang yang Engkau musuhi; Mahaberkah Engkau, wahai Rabb kami, lagi Mahatinggi.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, Ibnu Majah, al-Hakim, al-Baihaqi, dan lainnya; dinilai sahih oleh al-Albani dalam kitab al-Irwa’ [2/no. 429] dan al-Wadi’i dalam al-Jami’ ash-Shahih [2/144—147])[6]

Hal ini didukung pula oleh beberapa amalan sahabat melakukan qunut witir sepanjang tahun. Di antaranya adalah atsar Umar, Ali, dan Ibnu Mas’ud yang dikeluarkan oleh Muhammad bin Nashr, sebagaimana kata al-Albani dalam kitab Ashlu Shifati ash-Shalah.

Berdasarkan ini semua, sebagian ulama berpendapat disunnahkan qunut pada rakaat terakhir setiap shalat witir yang dilakukan sepanjang tahun, bukan hanya pada separuh terakhir Ramadhan.

Setelah meriwayatkan hadits al-Hasan bin ‘Ali radhiallahu ‘anhuma tersebut, at-Tirmidzi dalam Sunan at-Tirmidzi (2/Kitab ash-Shalah, bab Ma Ja’a fil Qunut fil Witri) mengatakan, “Ini adalah pendapat sebagian ulama. Yang berpendapat dengan ini ialah Sufyan ats-Tsauri, Ibnul Mubarak, Ishaq, dan ulama penduduk Kufah.”

Ini juga pendapat al-Imam Ahmad—pada riwayat lain darinya—yang dipilih oleh mayoritas fuqaha mazhab Hanbali dan menjadi pegangan pada mazhab tersebut.

Ibnu Qudamah menukil riwayat al-Marrudzi dari Ahmad bahwa beliau rujuk kepada pendapat ini dan meninggalkan pendapat yang mengkhususkan qunut witir hanya dilakukan pada pertengahan terakhir Ramadhan. Al-Murdawi juga menukil riwayat Khaththab dari Ahmad mengenai rujuknya beliau dalam masalah ini.

Al-Imam Ibnu Baz mendukung pendapat ini dalam Majmu’ al-Fatawa (30/32—33) dengan hujah ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajari al-Hasan bin ‘Ali radhiallahu ‘anhuma doa qunut witir, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memerintahnya untuk terkadang meninggalkannya ataupun untuk terus-menerus melakukannya.

Dengan demikian, ini menunjukkan bahwa qunut witir disunnahkan terus-menerus sepanjang tahun.

Menurut Ibnu Baz, amalan Ubay bin Ka’b radhiallahu ‘anhu meninggalkannya pada separuh pertama Ramadhan, barangkali untuk menunjukkan bahwa qunut witir tidak wajib.

Adapun al-‘Utsaimin dan al-Albani, keduanya berpendapat bahwa qunut witir disunnahkan secara mutlak kapan saja sepanjang tahun, tidak khusus pada separuh terakhir Ramadhan. Hanya saja, qunut tidak dilakukan terus-menerus setiap kali witir, tetapi terkadang dilakukan dan terkadang tidak.

Kata al-‘Utsaimin dalam asy-Syarh al-Mumti’ (4/19-20), “Yang mengamati shalat malam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan mengetahui bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak qunut pada witirnya, tetapi hanya mengakhiri shalat malamnya dengan satu rakaat witir. Inilah yang terbaik.

“Anda jangan melakukan qunut witir terus menerus karena hal itu tidak tsabit (benar) riwayatnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajari al-Hasan bin ‘Ali radhiallahu ‘anhuma doa yang dibaca pada qunut witir, yang menunjukkan bahwa qunut witir hukumnya sunnah. Hal itu berdasarkan sabdanya, bukan berdasarkan amalannya shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Bahkan, dalam hal ini al-Albani menilai sahih hadits Ubay bin Ka’ab radhiallahu ‘anhu dengan lafadz,

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّمَ كَانَ يُوتِرُ فَيَقْنُتُ قَبْلَ الرُّكُوْعِ.

“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa qunut witir sebelum rukuk.” (HR. an-Nasa’i, Ibnu Majah, ad-Daraquthni, al-Baihaqi, dan lainnya)

Dengan pendapat ini, al-Albani menyelisihi sejumlah imam-imam ahli hadits masa lalu yang memvonis hadits ini dha’if (lemah), terutama al-Imam Ahmad—sebagaimana telah disebutkan sebelumnya. Abu Dawud memvonis hadits ini cacat dengan alasan penyebutan qunut pada riwayat ini berstatus syadz (keliru/ganjil). Begitu pula Ibnu Khuzaimah, Ibnul Mundzir, dan al-Baihaqi memvonisnya dha’if.

Akan tetapi, al-Albani berupaya menghukuminya dengan menilainya sebagai tambahan riwayat dari sejumlah rawi tsiqah (tepercaya) yang patut diterima (ziyadah ats-tsiqah) dan dikuatkan pula oleh hadits-hadits yang semakna dengannya (syawahid).[7]

Lantas al-Albani berkata dalam Ashlu Shifat ash-Shalah (3/970), “Ketahuilah, kami mengatakan bahwa qunut witir hanyalah disunnahkan dengan sifat kadang-kadang (tidak terus-menerus setiap kali witir). Sebab, kami telah menelusuri/meneliti hadits-hadits mengenai witir Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam—yang jumlahnya banyak—lantas kami menemukan mayoritas hadits-hadits itu tidak menyinggung qunut sama sekali, seperti hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, hadits Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma, dan lainnya.

“Kaidah menuntut untuk memadukan antara hadits-hadits itu, hadits Ubay, dan hadits yang semakna dengannya, dengan mengatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terkadang qunut witir dan terkadang tidak. Sebab, andaikan beliau melakukan qunut terus-menerus, tentulah tidak akan tersembunyi dari pengetahuan mayoritas sahabat yang telah meriwayatkan shalat witir Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”[8]

Inilah yang terbaik dalam masalah ini. Wallahul muwaffiq.

(insya Allah bersambung)

[1] Riwayat ini dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam kitab al-Mushannaf (Kitab ash-Shalah, bab Man Kana La Yaqnutu fil witri, no. 7018).

[2] Pada kitab Shifat ash-Shalah (hlm. 180).

[3] Lihat kitab Mushannaf Abdir Razzaq (4/Kitab ash-Shiyam, bab Qiyam Ramadhan, no. 7728, terbitan al-Maktabah al-Islami) dan Mushannaf Ibni Abi Syaibah (Kitab ash-Shalah, bab Man Qala al-Qunut fi an-Nishfi min Ramadhan, no. 7009).

[4] Riwayat ini dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam kitab al-Mushannaf (Kitab ash-Shalah, bab Man Qala al-Qunut fi an-Nishfi min Ramadhan, no. 7005)

[5] Sebagian ulama berpendapat disunnahkan qunut pada shalat witir pada rangkaian shalat tarwih di bulan Ramadhan sebulan penuh, tidak di luar Ramadhan. Ibnu ‘Abdil Barr menukil pendapat ini dari al-Auza’i; dan an-Nawawi menukilnya dari sebagian fuqaha mazhab Syafi’i.

[6] Guru besar kami, Muqbil bin Hadi al-Wadi’i rahimahullah, menukil bahwa hadits ini termasuk dari sederetan hadits-hadits yang ad-Daraquthni menuntut al-Imam al-Bukhari dan Muslim seharusnya mengeluarkannya dalam kitab Shahih keduanya.

[7] Lihat kitab Talkhish Habir (2/39, no. 533, Muassasah Qurthubah), al-Irwa’ (2/167-168, no. 426), dan Ashlu Shifat ash-Shalah (3/968-969).

[8] Kata al-Albani dalam kitab Ashlu Shifati ash-Shalati (3/970) , “Hal itu menunjukkan bahwa qunut witir tidak wajib, tetapi hanya sunnah sebagaimana mazhab jumhur sahabat, tabi’in dan ulama setelahnya. Ini pula mazhab Abu Yusuf dan Muhammad (asy-Syaibani), berbeda dengan mazhab ustadz mereka yang mengatakan bahwa qunut witir wajib.” Maksudnya, wajib pada setiap kali witir.

Sekelumit Akhlak Kaum Liberal

Adab dan akhlak mulia merupakan salah satu pilar utama untuk tegaknya suatu bangsa. Ia pula yang menjadi perekat hubungan dalam kehidupan bermasyarakat. Bilamana pilar utama ini tidak lagi dijunjung tinggi oleh suatu bangsa, dengan sendirinya bangsa itu akan lenyap. Hubungan di tengah-tengah masyarakat menjadi retak. Kedamaian yang sebelumnya dirasakan oleh segala lapisan masyarakat menjadi sirna.

Sebagai contoh dan perbandingan adalah apa yang dialami oleh Kisra, Raja Persia, dan Kaisar Romawi (Heraklius). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirim surat kepada keduanya mengajak mereka masuk Islam. Keduanya menolak masuk Islam. Bedanya, Kaisar Heraklius memuliakan surat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan utusannya, sedangkan Kisra sebaliknya. Ia merobek-robek surat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menghinakan utusannya. Tidak berselang lama setelah perbuatan Kisra ini, Allah ‘azza wa jalla menghinakannya dan mencabik-cabik kerajaannya hingga lenyap kekuasaannya. (ash-Sharimul Maslul hlm. 164)

Berbicara tentang adab tidak hanya yang berkaitan dengan interaksi antarsesama manusia, tetapi juga adab terhadap Allah ‘azza wa jalla Sang Pengatur jagat raya. Bahkan, adab terhadap Allah ‘azza wa jalla adalah seutama-utama adab. Manakala ini dilanggar, ancamannya adalah azab yang pedih.

Adab terhadap Allah ‘azza wa jalla terkumpul dalam memercayai seluruh berita yang datangnya dari Allah ‘azza wa jalla, melaksanakan perintah, dan menjauhi larangan-Nya.

Allah ‘azza wa jalla berfirman menyebutkan ucapan Nabi Musa dan Harun ‘alaihimassalam di hadapan Fir’aun,

إِنَّا قَدۡ أُوحِيَ إِلَيۡنَآ أَنَّ ٱلۡعَذَابَ عَلَىٰ مَن كَذَّبَ وَتَوَلَّىٰ ٤٨

“Sesungguhnya telah diwahyukan kepada kami bahwa siksa itu( ditimpakan) atas orang-orang yang mendustakan dan berpaling.” (Thaha: 48)

Maksudnya, azab semata-mata diperuntukkan bagi orang yang mendustakan ayat-ayat Allah ‘azza wa jalla dan berpaling dari menaati-Nya.

Fir’aun dan kaumnya tetap keras kepala dan menentang kebenaran yang dibawa oleh Nabi Musa dan Harun ‘alaihimassalam, padahal beragam mukjizat telah dipaparkan. Akibatnya, mereka ditenggelamkan di Laut Merah sebagai azab.

Beragam hukuman yang Allah ‘azza wa jalla timpakan kepada penentang kebenaran yang datang dari Allah ‘azza wa jalla, semestinya menjadi pelajaran. Sebab, siapa pun yang menentang kebenaran, dia akan mengalami nasib yang serupa.

Penentangan orang kafir terhadap kebijakan Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya bisa dikatakan hal yang ‘lumrah’ karena mereka tidak beriman kepada Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya. Namun, akan sangat ironis bila penentangan itu muncul dari orang yang masih mengaku sebagai muslim. Muslim tetapi bergabung dalam barisan kaum liberalis.

Sungguh, fenomena munculnya kaum liberalis di tengah umat tak bisa dipandang sebelah mata. Sebab, mereka sangat berani mengkritisi kebijakan Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya serta merendahkan nilai-nilai syariat Islam.

 

Modus Lama

Munculnya Jaringan Islam Liberal (JIL)—yang sejatinya adalah para pemuja akal, bahkan tak mustahil sekaligus menjadi jongos bayaran orang kafir—di tengah-tengah umat Islam sesungguhnya tidak mengherankan.

Dahulu juga sudah muncul kelompok yang disebut Mu’tazilah. Kelompok ini mempunyai beberapa pandangan yang sesat. Di antaranya, apabila dalil-dalil syariat (al-Qur’an dan Hadits) bertolak belakang dengan akal, mereka akan menolaknya atau berusaha menafsirkan dengan penafsiran yang sangat jauh dari kebenaran.

Dari sisi ini, orang-orang JIL ada kemiripan dengan orang-orang Mu’tazilah, bahkan lebih sesat, karena kaum JIL sudah terang-terangan melecehkan Islam dan menerjang syariat. Mereka juga menganggap seluruh agama itu sama. Hal ini memperkuat anggapan bahwa mereka adalah corong-corong orang kafir untuk mengobok-obok Islam dan muslimin.

Ya, mereka tercatat dalam sejarah sebagai pengkhianat umat. Mereka seperti kaum munafik di zaman Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjadi duri dalam daging.

 

Tidak Beda dengan Teroris

Keberadaan dan bahaya kaum JIL di tengah-tengah umat bak kaum teroris semisal ISIS. Apabila para teroris dengan aksi-aksi konyolnya telah mencoreng citra Islam dan muslimin, demikian pula orang-orang JIL dengan statemen miring mereka—berupa pelecehan terhadap syariat Islam yang membuat umat bingung. Akibat ulah para teroris dan pernyataan kaum liberal, umat berpecah-belah dan mengarah kepada konflik yang mengancam stabilitas umat dan bangsa.

Kemunculan mereka tidak memberi kontribusi apa pun bagi umat selain memunculkan sikap ragu tentang kebenaran Islam. Apabila umat telah terkotak-kotak menyikapi keberadaan mereka, jangan ditanya lagi tentang orang kafir; seperti apa kebencian mereka terhadap Islam dan muslimin. Alih-alih masuk Islam, mereka tidak memberikan statemen miring terhadap Islam itu sudah ‘mending’.

Oleh karena itu, umat Islam harus waspada dengan kaum JIL. Meski tidak frontal dengan aksi terornya seperti ISIS, namun mereka frontal dengan berbagai pernyataannya yang meneror akidah umat. Lagi pula, mereka bisa menyusup di tengah-tengah ormas, partai politik, bahkan masuk dalam lingkaran kekuasaan.

Umat tidak boleh tertipu dengan gaya intelektual dan ilmiah mereka serta gelar yang disandangnya. Sebab, sesungguhnya kebodohan mereka amat jelas bagi orang yang sedikit saja telah menimba khazanah keilmuan Islam.

 

Bodoh, Tetapi Lancang

Kaum JIL berbicara tentang Islam, namun tidak mau kembali kepada pemahaman sahabat dan pemahaman ulama Islam yang alim dan saleh. Mereka hanya menggunakan tinjauan-tinjauan akal yang dangkal. Mungkin saja mereka memosisikan akal mereka sejajar dengan wahyu syariat (al-Qur’an dan hadits), atau bahkan lebih tinggi, sehingga mereka bebas menggugat dan merendahkan wahyu.

Lihatlah bagaimana seorang dosen universitas kenamaan, UI, dengan lancangnya mengatakan bahwa hadits-hadits (Sunnah) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu menggelikan. Ia mencontohkan tentang hadits anjuran makan dan minum dengan tangan kanan. Dia berkata, “Apa salahnya makan dengan tangan kiri, dan masak sih hanya setan yang makan dengan tangan kiri?”

Ada juga di antara mereka yang mengelu-elukan komunis sebagai ideologi yang bagus. Umat tidak boleh lengah tentang bahaya mereka karena sebagian mereka adalah tokoh sentral dalam ormas keagamaan, dosen di perguruan tinggi (Islam), tokoh masyarakat, bahkan pejabat di pemerintahan.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ مِمَّا أَتَخَوَّفُ مِنْهُ عَلَى أُمَّتِي أَئِمَّةً مُضِلِّينَ

        “Sesungguhnya di antara yang saya khawatirkan atas umatku adalah para pemimpin yang menyesatkan.” (Shahih Sunan Ibnu Majah no. 3207)

Membentengi umat dari bahaya mereka lebih penting daripada berperang melawan orang kafir. Sebab, hal ini merupakan upaya untuk menjaga modal, yaitu menjaga umat Islam agar tetap kokoh di atas Islamnya dan tidak ragu tentang agamanya.

Al-Imam Yahya an-Naisaburi rahimahullah berkata, “Membela Sunnah (agama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) lebih utama dari jihad.”  (Manhaju Ahlis Sunnah fi Naqdi ar-Rijal hlm. 191)

 

Media Sekuler Mendukung JIL

Pemikiran liberal dan pemahaman sesat lainnya tidak hanya dimonopoli oleh para pengusung dan pengikutnya, tetapi mereka jajakan di tengah-tengah manusia. Mereka pun berusaha mencari mangsa.

Berangkat dari sini, umat Islam sudah semestinya memproteksi diri dengan meningkatkan kualitas ilmu dan amalannya. Kaum liberal sangat aktif menebarkan kesesatannya dengan beragam media. Bahkan, tidak sedikit media masa sekuler secara massif menampilkan dan menayangkan pemahaman-pemahaman kaum liberal.

Ada apa dengan media-media tersebut sehingga gencar menampilkan pemikiran-pemikiran liberal?

Ya, karena pernyataan JIL sangat menguntungkan orang-orang kafir dari sisi bisa melanggengkan kekufuran dan pelecehan mereka terhadap Islam yang mereka anggap sebagai musuh dan benalu.

 

Sekelumit Adab Pengusung JIL

Apabila kalbu sudah menjadi sarang pemahaman yang menyimpang dari syariat Islam, jangan Anda tanya tentang apa yang akan mencuat dari kalbu yang busuk tersebut.

Akibat ulah JIL, umat berpecah-belah, syariat dan ketentuan agama dilecehkan, dan sebagian umat Islam menjadi ragu dengan agamanya sendiri sedangkan orang kafir tetap di atas kekafirannya. Bahkan, seolah mereka menemukan jalan untuk mengolok-olok Islam dan muslimin. Ini minimalnya dampak negatif dari pemahaman liberal yang terasa di tengah-tengah umat.

Apabila demikian, lalu apa kontribusi kaum JIL untuk umat? Bisa jadi, kaum tersebut akan menjawab bahwa dengan pemahaman ini, keragaman di masyarakat akan terjaga.

Kita katakan bahwa tidak sedikit pernyataan mereka justru menimbulkan polemik di tengah-tengah umat dan mengotak-kotakkan mereka. Bahkan, kalangan nonmuslim seolah-olah menemukan alat dan mendapat energi untuk menghujat Islam serta muslimin.

Kaum JIL berlagak ingin menampilkan Islam moderat yang menurut mereka akan dihargai dan dihormati. Padahal apabila tidak buta sejarah, kita akan menemukan bahwa indahnya Islam betul-betul terwujud di tengah-tengah masyarakat yang dipimpin oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan generasi awal umat Islam yang saleh. Kala itu Islam dan muslimin betul-betul mulia dan berwibawa.

Kaum JIL mencontohkan bentuk sikap moderat mereka dengan meminta kaum muslimin untuk menghargai hak-hak nonmuslim. Di sisi lain, mereka membisu saat hak-hak muslimin dipasung oleh kalangan nonmuslim. Mereka seakanakan buta tentang Islam yang telah menjaga hak-hak binatang lebih-lebih hak manusia, tentu saja hak-hak yang tidak bertentangan dengan ketentuan agama dan aturan pemerintah yang baik.

Saat pemerintah suatu daerah yang penduduknya mayoritas muslimin menerbitkan Perda tentang larangan buka rumah makan siang hari Ramadhan untuk menghormati kaum muslimin yang sedang berpuasa, kaum JIL tanpa malu-malu meminta untuk mencabut Perda tersebut dengan dalih menjaga keragaman. Sikap moderat ala JIL ini akan berbeda bila kondisi muslimin menjadi minoritas dan hak-hak mereka dipasung oleh mayoritas yang nonmuslim.

 

Berikut ini beberapa akhlak kaum JIL selain yang telah disinggung di atas.

 

  1. Mengkritisi Kebijakan Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya

Prinsip “bebas berpikir, berpendapat, dan berekspresi” yang dianut oleh JIL telah merusak tatanan hidup beragama dan bermasyarakat. Dengan prinsip tersebut, seseorang bisa saja menuduh Allah ‘azza wa jalla tidak adil atau ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah tidak lagi relevan.

Dengan prinsip ini, orang bisa saja menabrak norma-norma kesopanan masyarakat. Akhirnya seseorang menjadi tidak tahu kadar dirinya dan sombong. Dia lupa bahwa dirinya adalah makhluk yang diatur, sedangkan Allah ‘azza wa jalla adalah Dzat Yang Maha mengatur.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

          وَمَا كَانَ لِمُؤۡمِنٖ وَلَا مُؤۡمِنَةٍ إِذَا قَضَى ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥٓ أَمۡرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ ٱلۡخِيَرَةُ مِنۡ أَمۡرِهِمۡۗ وَمَن يَعۡصِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ ضَلَّ ضَلَٰلٗا مُّبِينٗا ٣٦

        “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin ,apabila Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan ,akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Barang siapa mendurhakai Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya, sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (al-Ahzab: 36)

 

Di antara hasil produk prinsip di atas, website Islam liberal memuat ucapan Moeslim Abdurrahman yang mengatakan, “Kalau syariat Islam diterapkan, maka yang jadi korban pertama adalah perempuan.”

Ucapan ini tentu mengandung konsekuensi bahwa Allah ‘azza wa jalla itu zalim, padahal Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَلَا يَظۡلِمُ رَبُّكَ أَحَدٗا ٤٩

“Dan Rabbmu tidak menganiaya seorang pun.” (al-Kahfi: 49)

Ada pula tokoh JIL perempuan yang mengatakan bahwa poligami tidak sah, waris laki-laki dan perempuan sama. Kaum JIL tidak tahu atau pura-pura tidak tahu bahwa Allah ‘azza wa jalla Dzat Yang Maha Penyayang terhadap hamba-Nya.

Tidaklah Allah ‘azza wa jalla menentukan sesuatu kecuali karena sifat adil dan bijak yang ada pada-Nya. Allah ‘azza wa jalla lebih tahu kemaslahatan hamba daripada diri hamba sendiri. Mereka tidak tahu bahwa Islamlah yang mengangkat harkat dan martabat wanita yang sebelumnya dipasung oleh adat istiadat jahiliah.

Ketika umat dibuat heboh dengan munculnya karikatur Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memakai serban dengan bom di tangan, kaum JIL berpandangan bahwa karikatur seperti itu adalah lumrah, karena itu adalah karya seni. Padahal masalahnya bukan hanya haramnya menggambar makhluk bernyawa, lebih dari itu adanya pesan yang terkandung bahwa Islam datang membawa teror dan Nabi Islam sang penebar teror.

Apabila kaum JIL beralasan bahwa karikatur tersebut sebagai reaksi balik atas banyaknya aksi-aksi teror kaum teroris, hal itu juga tidak bisa diterima. Sebab, aksi kaum teroris tidaklah mewakili ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi justru bertentangan.

 

  1. Menghalalkan yang Haram

Ini tentu saja sebuah bentuk kekufuran, apa pun alasannya. Lebih-lebih apabila yang haram itu justru dikampanyekan sebagai sesuatu yang lumrah. Misalnya, mereka memandang bolehnya homoseks, lesbi, dan kawin sesama jenis.

Dalam sebuah diskusi, tokoh perempuan JIL, Siti Musdah Mulia, mengeluarkan pernyataan, “Homoseksual dan homoseksualitas adalah kelaziman dan dibuat oleh Tuhan, dengan begitu diizinkan juga dalam agama Islam.”

Begitu jauh melencengnya kaum tersebut, tidak cukup menisbatkan halalnya homoseks kepada pendapat mereka, tetapi menisbatkannya kepada Islam!

Datangkan dalil dari al-Qur’an dan hadits tentang bolehnya homoseks, wahai kaum JIL!

Dalam al-Kabair (hlm. 90) al-Imam adz-Dzahabi rahimahullah berkata, “Allah ‘azza wa jalla telah menceritakan kepada kita kisah kaum Luth (kaum yang kebiasaannya melakukan homoseks) pada banyak ayat al-Qur’an dan bahwa Dia ‘azza wa jalla membinasakan mereka karena perbuatan mereka yang jelek.”

Kaum muslimin dari seluruh golongan telah sepakat bahwa homoseks termasuk dosa besar.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

          أَتَأۡتُونَ ٱلذُّكۡرَانَ مِنَ ٱلۡعَٰلَمِينَ ١٦٥ وَتَذَرُونَ مَا خَلَقَ لَكُمۡ رَبُّكُم مِّنۡ أَزۡوَٰجِكُمۚ بَلۡ أَنتُمۡ قَوۡمٌ عَادُونَ ١٦٦

        “Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia dan kamu tinggalkan istri-istri yang dijadikan oleh Rabbmu untukmu? Bahkan, kalian adalah orang-orang yang melampaui batas.” (asy-Syu’ara: 165—166)

Jangan disangka bahwa kaum Luth diazab karena kekafirannya saja. Karena di samping mereka kafir mereka melakukan perbuatan yang sangat keji ini sehingga azab yang ditimpakan kepada mereka sangat mengerikan. Jangan pula ada yang menyangka bahwa itu hanya dilarang di zaman Nabi Luth saja, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اقْتُلُوا الْفَاعِلَ وَالْمَفْعُولَ بِهِ

“Bunuhlah pelaku (homoseks) dan objeknya.” ( HR . Abu Dawud, at- Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Kalau kaum JIL mengatakan bahwa efek homoseks tidak seperti zina, dari sisi hamil di luar nikah dan perasaan malu di tengah masyarakat, sehingga dibolehkan; kita katakan, cara pandang yang seperti itu sangat keliru. Sebab, apa pun yang diharamkan agama tetap haram dan homoseks merupakan seks yang menyimpang yang menyelisihi kodrat yang akan memunculkan banyak kemudaratan.

Kalau mereka mengatakan bahwa itu adalah anugerah Tuhan, kita katakan bahwa Allah ‘azza wa jalla tidak meridhai kemaksiatan. Benar bahwa Allah ‘azza wa jalla yang mencipta kebaikan dan kejelekan, namun Allah ‘azza wa jalla juga memberi kemampuan kepada manusia untuk memilih jalan kebaikan atau keburukan. Kalau dalih mereka dibenarkan, siapa pun yang berbuat maksiat seperti mencuri, korupsi, dsb., bisa berdalih bahwa ini adalah anugerah Tuhan. Akal sehat mana yang bisa menerima?

 

  1. Mengolok-Olok Orang yang Mengamalkan Agama

Termasuk ciri-ciri munafik adalah menggembosi orang-orang yang beramal kebaikan. Tidak mendukung kebaikan, tetapi malah mencela. Tidak menambal yang bolong, tetapi justru merusak.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

          وَمِنۡهُم مَّن يَلۡمِزُكَ فِي ٱلصَّدَقَٰتِ

        “Dan di antara mereka ada orang yang mencelamu tentang (distribusi) zakat.” (at-Taubah: 58)

Muhammad Guntur Romli berkata, “Pramugari Garuda kan gak pake jilbab, kok rajin shalat ya? Kan jadi aneh ya, gak jilbab juga shalihah? Gak jilbab juga banyak rajin shalat.”

Dia juga berkata, “Lucu juga orang kota, liat pramugari pesawat Garuda shalat di pesawat jd berita berhari2.”

Kita katakan, apakah kalau orang tidak berjilbab harus tidak shalat, padahal dua-duanya adalah kewajiban agama? Wanita yang keluar rumah dan tidak berjilbab/berhijab, dia telah meninggalkan satu kewajiban. Tentu lebih jelek lagi apabila dia juga tidak shalat tanpa ada alasan.

 

  1. Ingin Mengubah-Ubah Ketentuan Allah

Sebagian kaum JIL mengusulkan agar pelaksanaan ibadah haji bisa diselesaikan pada salah satu dari tiga bulan-bulan haji, yaitu Syawal, Dzulqa’dah, dan Dzulhijjah, bukan hanya 8—13 Dzulhijjah saja. Hal ini adalah bentuk mengubah waktu-waktu haji yang telah ditentukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sekiranya mereka beralasan bahwa itu untuk menghindari jatuhnya korban berdesak-desakan di Mina (jamarat), kita katakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih sayang kepada umatnya daripada mereka. Ibadah haji sudah ada ketentuannya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga tidak perlu diubah-ubah.

Seharusnya, yang dipikirkan adalah teknik agar jamaah haji terhindar dari berdesak-desakan yang membahayakan; bukan mengubah-ubah syariat yang sudah ada ketentuannya dalam agama.

 

Demikian sekelumit sikap mereka yang nyeleneh. Apabila disimpulkan, prinsip bebas berpendapat dijadikan alat untuk menumbangkan sendi-sendi akidah dan moralitas.

Hal ini jauh berbeda dengan muslim yang taat kepada Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya; mereka siap menjalankan perintah agama, meninggalkan larangan-Nya, dan memercayai berita-berita syariat.

Seorang muslim mengetahui kadar dirinya sebagai hamba yang diatur, sedangkan Allah ‘azza wa jalla adalahg Dzat Yang Mengatur. Seorang muslim tidak akan protes dan menentang kebijakan Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya.

Wallahu a’lam bish-shawab.

 Ditulis oleh al-Ustadz Abdul Mu’thi Sutarman, Lc

Penyatuan Agama Dakwah kepada Kekafiran

Berbagai aliran sesat mengancam akidah umat. Sebagian paham sesat tersebut tampak jelas di kalangan umat Islam, seperti al-Qiyadah al-Islamiyah, Gafatar, Ahmadiyah, dan lainnya.

Di sisi lain, tidak sedikit dari paham sesat tersebut yang tidak kentara namun menipu dan memakan banyak korban. Lebih-lebih apabila kesesatan tersebut diserukan oleh orang-orang yang dianggap sebagai kaum intelektual dan cendekiawan, padahal jauh dari ilmu agama.

Ini adalah satu bukti ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّهَا سَتَأْتِي عَلَى النَّاسِ سِنُونَ خَدَّاعَةٌ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ. قِيلَ: وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ؟ قَالَ: السَّفِيهُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ

“Akan datang kepada kalian tahun-tahun yang menipu. Ketika itu seorang pendusta akan dianggap benar dan seorang yang jujur akan didustakan, pengkhianat akan diberi amanat, seorang yang amanah dianggap khianat, dan akan berbicara ketika itu Ruwaibidhah.”

Para sahabat bertanya, “Siapa Ruwaibidhah?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Seseorang yang rendah dan kurang akal, berbicara tentang urusan orang banyak.” (HR. Ahmad dan dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahihul Jami’)

 

Di antara paham sesat yang terus bergulir di masyarakat kita dan menipu sebagian muslimin adalah pluralisme agama. Padahal pada 28 Juli 2005, Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah menerbitkan fatwa yang melarang paham pluralisme dalam agama Islam.

Dalam fatwa tersebut, Pluralisme didefinisikan sebagai “suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relatif. Oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim hanya agamanya saja yang benar….” (Keputusan Fatwa MUI Nomor 7/Munas VII/MUI/II/2005 tentang pluralisme, liberalisme, dan sekulerisme)

Paham ini meruntuhkan fondasi agama kita yang paling utama, yakni al-wala’ wal bara’. Para pengusung paham ini menyerukan seruan sesat “persamaan agama” atau “penyatuan agama”.

Di Indonesia, pendukung dan corong pluralisme ini adalah Jaringan Islam Liberal (JIL). Di halaman utama situs mereka tertulis slogan mereka, “Dengan nama Allah, Tuhan Pengasih, Tuhan Penyayang, Tuhan Segala Agama”.

 

Maka dari itu, sangatlah penting bagi kita untuk terus menggali ilmu agama dalam rangka menjaga akidah kita dan mengingat kembali prinsip-prinsip agama kita: akidah Islam. Dengan mengetahui akidah dan prinsip Islam, kita akan tahu kesesatan dan kekafiran paham pluralisme tersebut.

Berikut adalah ringkasan beberapa poin dari fatwa para ulama Ahlus Sunnah yang tergabung dalam al-Lajnah ad-Daimah. Poin-poin ini menerangkan prinsip-prinsip mendasar dalam Islam.

 

  1. Di antara pokok akidah Islam yang pasti diketahui setiap muslim dan kaum muslimin telah berijma’ tentangnya adalah bahwa agama yang benar di muka bumi ini hanyalah Islam, Islam adalah penutup agama yang telah ada dan menghapus semua agama dan syariat yang telah ada.

Beribadah kepada Allah ‘azza wa jalla sekarang ini hanyalah dengan Islam, tidak boleh dengan agama lainnya. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

          إِنَّ ٱلدِّينَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلۡإِسۡلَٰمُۗ

“Sesungguhnya agama yang benar di sisi Allah hanyalah Islam.” (Ali Imran: 19)

 

Dalam ayat yang lain,

          ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَٰمَ دِينٗاۚ

        “Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, telah Aku sempurnakan nikmat-Ku kepada kalian, dan aku ridhai Islam sebagai agama kalian.” (al-Maidah: 3)

 

Dalam ayat yang lain,

وَمَن يَبۡتَغِ غَيۡرَ ٱلۡإِسۡلَٰمِ دِينٗا فَلَن يُقۡبَلَ مِنۡهُ وَهُوَ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ ٨٥

        “Barang siapa menginginkan agama selain Islam, tidak akan diterima darinya, dan di akhirat nanti dia termasuk seorang yang merugi.” (Ali Imran: 85)

 

  1. Di antara prinsip pokok akidah Islam; Kitabullah al-Qur’anul Karim adalah kitab yang terakhir diturunkan, memansukh (menghapus) kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya: Taurat, Zabur, Injil, dan lainnya.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

          وَأَنزَلۡنَآ إِلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ بِٱلۡحَقِّ مُصَدِّقٗا لِّمَا بَيۡنَ يَدَيۡهِ مِنَ ٱلۡكِتَٰبِ وَمُهَيۡمِنًا عَلَيۡهِۖ

        “Kami turunkan kepadamu kitab (al-Qur’an) dengan haq sebagai pembenar kitab-kitab yang sebelumnya dan menghapus kitab-kitab sebelumnya….” (al-Maidah: 48)

 

  1. Di antara pokok akidah Islam: Taurat dan Injil telah dimansukh (dihapus) oleh al-Qur’an; keduanya telah mengalami penyelewengan dan perubahan, yaitu ditambah dan dikurangi.

Hal ini dijelaskan dalam beberapa ayat,

        فَبِمَا نَقۡضِهِم مِّيثَٰقَهُمۡ لَعَنَّٰهُمۡ وَجَعَلۡنَا قُلُوبَهُمۡ قَٰسِيَةٗۖ يُحَرِّفُونَ ٱلۡكَلِمَ عَن مَّوَاضِعِهِۦ وَنَسُواْ حَظّٗا مِّمَّا ذُكِّرُواْ بِهِۦ

“(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami laknat mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka menyelewangkan firman-firman Allah dari makna yang sebenarnya dan mereka lupa bagian yang telah diingatkan kepada mereka….” (al-Maidah: 13)

 

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

          فَوَيۡلٞ لِّلَّذِينَ يَكۡتُبُونَ ٱلۡكِتَٰبَ بِأَيۡدِيهِمۡ ثُمَّ يَقُولُونَ هَٰذَا مِنۡ عِندِ ٱللَّهِ لِيَشۡتَرُواْ بِهِۦ ثَمَنٗا قَلِيلٗاۖ فَوَيۡلٞ لَّهُم مِّمَّا كَتَبَتۡ أَيۡدِيهِمۡ وَوَيۡلٞ لَّهُم مِّمَّا يَكۡسِبُونَ ٧٩

        Maka kebinasaan bagi orang-orang yang menulis al-Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya, “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Kebinasaan bagi mereka akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kebinasaan bagi mereka akibat apa yang mereka kerjakan.” (al-Baqarah: 79)

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَإِنَّ مِنۡهُمۡ لَفَرِيقٗا يَلۡوُۥنَ أَلۡسِنَتَهُم بِٱلۡكِتَٰبِ لِتَحۡسَبُوهُ مِنَ ٱلۡكِتَٰبِ وَمَا هُوَ مِنَ ٱلۡكِتَٰبِ وَيَقُولُونَ هُوَ مِنۡ عِندِ ٱللَّهِ وَمَا هُوَ مِنۡ عِندِ ٱللَّهِ وَيَقُولُونَ عَلَى ٱللَّهِ ٱلۡكَذِبَ وَهُمۡ يَعۡلَمُونَ ٧٨

        “Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca al-Kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari al-Kitab, padahal ia bukan dari al-Kitab dan mereka mengatakan, ‘Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah’, Padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah sedang mereka mengetahui.” (Ali Imran: 78)

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata ketika melihat Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu memegang secarik kertas Taurat,

“Apakah engkau ragu, wahai Ibnul Khaththab? Seandainya saudaraku Musa masih hidup, niscaya tidak ada pilihan untuknya kecuali harus mengikutiku.”

 

  1. Di antara pokok akidah Islam: Nabi kita dan Rasul kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah penutup nabi dan rasul, sebagaimana firman Allah ‘azza wa jalla,

          مَّا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَآ أَحَدٖ مِّن رِّجَالِكُمۡ وَلَٰكِن رَّسُولَ ٱللَّهِ وَخَاتَمَ ٱلنَّبِيِّ‍ۧنَۗ وَكَانَ ٱللَّهُ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٗا ٤٠

        “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kalian, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (al-Ahzab: 40)

Tidak ada lagi nabi selain beliau yang wajib diikuti. Seandainya ada nabi yang masih hidup, tidak ada kelapangan baginya kecuali mengikuti Nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Termasuk prinsip yang pokok dalam Islam adalah meyakini bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus kepada seluruh umat manusia. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

          وَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ إِلَّا كَآفَّةٗ لِّلنَّاسِ بَشِيرٗا وَنَذِيرٗا وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ ٢٨

        “Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada seluruh umat manusia, sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” (Saba: 28)

Dalam ayat yang lain,

          قُلۡ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنِّي رَسُولُ ٱللَّهِ إِلَيۡكُمۡ جَمِيعًا

        Katakanlah, “Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian semua….” (al-A’raf: 158)

 

  1. Di antara pokok prinsip Islamyang penting adalah kewajiban meyakini kafirnya orang-orang yang tidak masuk Islam, baik orang Yahudi, Nasrani, dan selain mereka.

Mereka adalah orang kafir, musuh Allah ‘azza wa jalla dan rasul-Nya, dan mereka adalah penghuni neraka. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

          لَمۡ يَكُنِ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ وَٱلۡمُشۡرِكِينَ مُنفَكِّينَ حَتَّىٰ تَأۡتِيَهُمُ ٱلۡبَيِّنَةُ ١

        “Orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata.” (al-Bayyinah: 1)

 

Dalam ayat lain,

          إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ وَٱلۡمُشۡرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَٰلِدِينَ فِيهَآۚ أُوْلَٰٓئِكَ هُمۡ شَرُّ ٱلۡبَرِيَّةِ ٦

        “Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (al-Bayyinah: 6)

 

Dalam riwayat al-Imam Muslim rahimahullah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ ل يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَ نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

“Demi Dzat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, tidak ada seorang pun dari umat ini, baik Yahudi maupun Nasrani, yang mendengar tentang aku (dakwah Islam) kemudian mati dalam keadaan tidak beriman kepada (syariat) yang aku bawa, kecuali dia adalah penghuni neraka.” (HR . Muslim no. 153)

 

Apa yang disebutkan di atas adalah ringkasan dari sebagian fatwa al-Lajnah ad-Daimah (12/275 no. fatwa 19402).

Poin-poin di atas penting untuk kita pahami. Ketika seorang muslim memahaminya, niscaya dia akan yakin tentang sesatnya para penyeru persatuan agama. Bahkan, al-Lajnah ad-Daimah dalam fatwa yang penulis isyaratkan di atas dengan tegas menyatakan,

Dakwah pada penyatuan agama, kalau muncul dari seorang muslim, itu teranggap sebagai bentuk kemurtadan yang jelas….

Pada poin keenam dalam fatwa tersebut, al-Lajnah ad-Daimah menegaskan,

“Seruan penyatuan agama adalah dakwah yang busuk dan penuh makar. Tujuannya adalah mencampuradukkan al-haq dengan kebatilan, merobohkan dan meruntuhkan tonggak-tonggak Islam, serta menyeret umat Islam kepada kemurtadan. Ini adalah bukti firman Allah,

          وَلَا يَزَالُونَ يُقَٰتِلُونَكُمۡ حَتَّىٰ يَرُدُّوكُمۡ عَن دِينِكُمۡ

        “Mereka akan terus memerangi kalian hingga memurtadkan kalian dari agama kalian.” (al-Baqarah: 217)

 

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَدُّواْ لَوۡ تَكۡفُرُونَ كَمَا كَفَرُواْ فَتَكُونُونَ سَوَآءٗۖ

“Mereka menginginkan kalian kafir sebagaimana mereka telah kafir, hingga kalian pun sama.” (an-Nisa: 89)

 

Pernyataan Ulama tentang Para Penyeru Persamaan dan Penyatuan Agama

Ulama Ahlus Sunnah sangat keras mengingkari paham sesat ini. Ketika muncul paham sesat ini, ulama Ahlus Sunnah tampil mengingkari dan menjelaskan kesesatannya kepada umat.

Berikut ini adalah nukilan ucapan sebagian ulama kita; ulama Ahlus Sunnah yang hidup di zaman kita ini.

Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi berkata, “Seruan penyatuan agama, persaudaraan agama, persamaan agama adalah dakwah yang bertentangan dengan Islam; bertentangan dengan al-Qur’an, sunnah, dan dakwah seluruh rasul.” (Bantahan terhadap Adnan ‘Ar’ur)

 

Di antara bukti yang menunjukkan batilnya seruan penyatuan agama:

Al-Imam Ahmad dan lainnya meriwayatkan hadits dari Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu,

أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ أَتَى النَّبِيَّ بِكِتَابٍ أَصَابَهُ مِنْ بَعْضِ أَهْلِ الْكُتُبِ فَقَرَأَهُ النَّبِيُّ فَغَضِبَ فَقَالَ: أَمُتَهَوِّكُونَ فِيهَا يَا ابْنَ الْخَطَّابِ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَقَدْ جِئْتُكُمْ بِهَا بَيْضَاءَ نَقِيَّةً، تَسْأَلُوهُمْ عَنْ شَيْءٍ فَيُخْبِرُوكُمْ بِحَقٍّ فَتُكَذِّبُوا بِهِ أَوْ بِبَاطِلٍ فَتُصَدِّقُوا بِهِ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَوْ أَنَّ مُوسَى كَانَ حَيًّا مَا وَسِعَهُ إِ أَنْ يَتَّبِعَنِي

Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membawa kitab yang beliau dapat dari ahlul kitab. Beliau membacakannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun marah dan berkata, “Apakah engkau ragu, wahai Ibnul Khaththab? Demi Yang jiwaku di tangan-Nya, aku telah membawa (syariat ini) untuk kalian dalam keadaan putih bersih. Jangan kalian bertanya tentang sesuatu kepada Ahlul Kitab, sehingga mereka mengabarkan yang benar lantas kalian (bisa jadi) mendustakannya, atau mengabarkan yang dusta lantas kalian membenarkannya.

Demi Yang jiwaku di tangan-Nya, seandainya Musa masih hidup, tidak ada kelapangan baginya selain mengikutiku.” (Dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam ta’liq kitab as-Sunnah Ibnu Abi Ashim [50] dan dalam ta’liq Misykah no. 177)

 

Al-Qur’an telah menegaskan tahrif[1] yang mereka lakukan.

Sahabat yang mulia Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata, “Bagaimana bisa kalian (sudi) bertanya kepada ahlul kitab padahal kitab kalian yang diturunkan Allah ‘azza wa jalla kepada Rasul-Nya lebih baru? Kalian membacanya masih murni, belum tercampur yang lain. Al-Qur’an telah memberitakan bahwa ahlul kitab telah mengganti Kitabullah dan mengubahnya. Mereka menulis kitab dengan tangan-tangan mereka kemudian berkata, ‘Ini dari Allah’ untuk menukarnya dengan harga yang murah.

Ketahuilah, ilmu yang telah datang kepada kalian telah melarang kalian bertanya kepada mereka. Demi Allah, kami tidak pernah melihat seorang pun dari mereka (ada yang mau) bertanya kepada kalian tentang (kitab) yang diturunkan kepada kalian.”

Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata tentang ahlul kitab, “Allah ‘azza wa jalla telah mengabarkan kepada kita bahwa mereka telah mengganti kitab Allah dan menulis kitab dengan tangan mereka kemudian berkata, ‘Ini dari Allah ‘azza wa jalla’ untuk mendapatkan sesuatu yang berharga murah.” (as-Sunan al-Kubra karya al-Baihaqi)

 

Kaum mukminin diperintahkan untuk berjihad menghadapi seluruh agama

kafir baik Yahudi, Nasrani, Hindu, dan Majusi sampai mereka mau bersyahadat; bersaksi tidak ada sesembahan yang haq selain Allah ‘azza wa jalla dan Muhammad adalah utusan Allah ‘azza wa jalla.

Kaum mukminin diperintahkan untuk mendakwahi mereka kepada Islam, bukan bersatu dengan mereka. (dinukil dari bantahan asy-Syaikh Rabi’ kepada Adnan ‘Ar‘ur)

 

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin berkata, Kesimpulan jawaban: Barang siapa meyakini bolehnya seorang memilih agama yang dia inginkan, bebas memilih agama yang dia mau; orang yang memiliki keyakinan seperti telah kafir kepada Allah ‘azza wa jalla. Sebab, Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَمَن يَبۡتَغِ غَيۡرَ ٱلۡإِسۡلَٰمِ دِينٗا فَلَن يُقۡبَلَ مِنۡهُ

        “Barang siapa menginginkan agama selain Islam, tidak akan diterima darinya.” (Ali Imran: 85)

 

إِنَّ ٱلدِّينَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلۡإِسۡلَٰمُۗ

“Sesungguhnya agama yang benar di sisi Allah hanyalah Islam.” (Ali Imran: 19)

Seorang tidak boleh berkeyakinan ada agama selain Islam yang boleh digunakan untuk beribadah kepada Allah ‘azza wa jalla. Barang siapa memiliki keyakinan demikian, para ulama telah menegaskan bahwa dia telah kafir keluar dari Islam. (Majmu’ Fatawa no. 459 3/99)

 

Asy-Syaikh Ahmad an-Najmi menerangkan, Barang siapa menyatakan Islam sama dengan agama lainnya yang telah mansukh dan diubah-ubah, dia telah kafir. Demikian juga seorang yang menyatakan ada kelapangan untuk keluar dari agama Islam dan memeluk agama yang lain, dia pun telah kafir.

 

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab berkata tentang pembatal-pembatal keislaman. Barang siapa meyakini adanya keluasan bagi sebagian orang untuk keluar dari syariat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam berdasarkan firman Allah ‘azza wa jalla,

وَمَن يَبۡتَغِ غَيۡرَ ٱلۡإِسۡلَٰمِ دِينٗا فَلَن يُقۡبَلَ مِنۡهُ وَهُوَ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ ٨٥

Barang siapa menginginkan agama selain Islam, tidak akan diterima darinya dan di akhirat nanti termasuk orang merugi.” (Ali Imran: 85) (Fatawa Jaliyah Anil Manahij ad-Da’awiyah 2/91—92)

 

Maka dari itu, kita harus berbuat untuk menjaga akidah kita, akidah anak-anak dan karib kerabat kita, bahkan akidah kaum muslimin secara umum.

Sampaikan dan terangkanlah ucapan-ucapan ulama kita, penjelasan bahwa seruan pluralisme agama adalah dakwah kepada kesesatan yang harus dijauhi kaum muslimin.

Mari banyak berdoa agar Allah ‘azza wa jalla memberikan keistiqamahan kepada kita di atas Islam dan memberi bimbingan kepada para penguasa (pemerintah) kaum muslimin.

 

Ditulis oleh al-Ustadz Abdur Rahman Mubarak

[1] Tahrif adalah memalingkan makna lafadz al-Qur’an kepada makna yang batil, baik dengan mengubah bentuk lafadznya maupun tidak. (–pen.)

Ruwaibidhah: Fenomena Akhir Zaman

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتٌ؛ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ.

قِيلَ: وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ؟ قَالَ: الرَّجُلُ التَّافِهُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ

“Sungguh, akan datang kepada manusia tahun-tahun yang sangat menipu. Para pendusta pada zaman itu dianggap sebagai orang yang jujur, sementara orang yang jujur dianggap pendusta. Para pengkhianat pada zaman itu dipercaya, sementara orang-orang yang amanah dianggap pengkhianat. Pada zaman itu pula Ruwaibidhah banyak berbicara.”

Rasulullah pun ditanya, “Siapa Ruwaibidhah, wahai Rasulullah?”

Beliau kemudian menjawab, “Orang dungu yang membicarakan urusan manusia.”

 

Tahkrij Hadits

Hadits dengan lafadz di atas diriwayatkan oleh al-Imam Ibnu Majah dalam as-Sunan no. 4042. Diriwayatkan pula oleh Abu Abdillah al-Hakim dalam al-Mustadrak (4/465, 512), Ahmad bin Hanbal dalam al-Musnad (2/291).

Semuanya melalui jalan Abdul Malik bin Qudamah, dari Ishaq bin Abil Furat, dari al-Maqburi, dari sahabat Abu Hurairah, Abdur Rahman bin Shakhr ad-Dausi radhiallahu ‘anhu.

Sanad ini dha’if (lemah) karena di dalamnya ada Abdul Malik bin Qudamah, seorang yang dha’if (lemah). Demikian adz-Dzahabi dalam Mizanul I’tidal menukilkan perkataan sejumlah ulama yang mendha’ifkannya.

Dalam sanad ini ada illat (cacat) lain, yaitu Ishaq bin Bakr. Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani berkata tentangnya, “Majhul (tidak dikenal).”

 

Meskipun demikian, hadits ini bisa dikuatkan karena diriwayatkan melalui jalan lain.

Al-Imam Ahmad dalam al-Musnad (2/338) meriwayatkan hadits ini melalui jalan dua guru beliau, Yunus dan Suraih. Keduanya meriwayatkan dari Fulaih bin Sa’id, dari Ubaidillah bin Sabbaq, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَبْلَ السَّاعَةِ سِنُونَ خَدَّاعَةٌ يُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ

“Sebelum tegak kiamat, akan datang tahun-tahun yang sangat menipu. Pada zaman itu, orang yang jujur didustakan, orang yang pendusta dibenarkan, orang yang tepercaya dianggap berkhianat, dan orang yang berkhianat diberi kepercayaan. Pada masa itu, Ruwaibidhah berbicara.”

Semua perawi dalam sanad ini tsiqat, kecuali Fulaih. Dia adalah Fulaih bin Sulaiman al-Khuza’i, ada pembicaraan tentangnya dari sisi hafalannya. Al- Hafizh Ibnu Hajr berkata, “Shaduq yukhti’u katsiran.”

 

Hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu diperkuat pula oleh adanya syahid (penguat) dari hadits Anas bin Malik yang diriwayatkan al-Imam Ahmad dalam al-Musnad (3/220), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أَمَامَ الدَّجَّالِ سِنِينَ خَدَّاعَةً يُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيَتَكَلَّمُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ. قِيلَ: وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ؟ قَالَ: الْفُوَيْسِقُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ

“Sesungguhnya menjelang keluarnya Dajjal, ada tahun-tahun yang menipu. Di zaman itu orang yang jujur didustakan, para pendusta dianggap benar, para pengkhianat dipercaya, sementara orang-orang yang amanah dianggap pengkhianat. Pada zaman itu pula Ruwaibidhah banyak berbicara.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, “Apa itu Ruwaibidhah, wahai Rasulullah?”

Beliau kemudian menjawab,

الْفُوَيْسِقُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ

“Orang yang sangat fasik (lagi hina), membicarakan perkara publik (masyarakat umum).”

Hadits Anas ini diriwayatkan Ahmad melalui jalan Muhammad bin Ishaq dari Muhammad bin al-Munkadir. Para perawinya tsiqat, hanya saja dalam sanad ini ada ‘an’anah Ibnu Ishaq, dan ia seorang mudallis.

 

Makna Hadits

Dalam hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan akan datangnya tahun-tahun yang disifati beliau dengan (سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتٌ), tahun-tahun yang sangat menipu.

Masa itu disifati demikian karena kondisinya benar-benar terbalik, sebagaimana ditafsirkan oleh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Saat itu, yang benar tampak batil/salah, sebaliknya kebatilan tampak sebagai kebenaran. Beliau bersabda,

“… Para pendusta di zaman itu dianggap sebagai orang yang jujur, orang yang jujur dianggap pendusta. Para pengkhianat di zaman itu dipercaya, orang-orang yang amanah dianggap pengkhianat….”

 

Inilah empat hal yang akan terjadi pada zaman tersebut. Beliau juga menyebutkan yang kelima,

وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ

“… pada zaman itu Ruwaibidhah banyak berbicara….”

Para sahabat lalu menanyakan tentang siapa Ruwaibidhah. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

الرَّجُلُ التَّافِهُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ

“… Orang dungu yang membicarakan urusan manusia.”

Pada sebagian riwayat hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan tentang siapa

mereka.

الْفُوَيْسِقُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ

“Orang yang sangat fasik (lagi hina), membicarakan urusan publik (umum).”

 

Menjelaskan makna Ruwaibidhah, al-Imam al-Baghawi berkata dalam Syarhus Sunnah (1/12), “Ruwaibidhah secara bahasa adalah bentuk tashghir (pengecilan/perendahan) dari kata ar-Rabidhah. Maknanya adalah penggembala kambing. Rabidh sendiri bermakna kambing/domba.”

 

Tanda Kenabian

Dalam hadits ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan kepada kita berita gaib, yaitu beberapa hal yang akan terjadi di akhir zaman. Kabar beliau ternyata benar-benar terjadi.

Berita-berita seperti ini termasuk tanda dan bukti kenabian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan betapa banyak yang serupa.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memang tidak mengerti perkara gaib. Itulah keyakinan Ahlus Sunnah. Kita meyakini hanya Allah ‘azza wa jalla lah yang mengetahui perkara gaib. Akan tetapi, Allah ‘azza wa jalla mewahyukan sebagian perkara gaib kepada para nabi dan rasul-Nya. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

          عَٰلِمُ ٱلۡغَيۡبِ فَلَا يُظۡهِرُ عَلَىٰ غَيۡبِهِۦٓ أَحَدًا ٢٦ إِلَّا مَنِ ٱرۡتَضَىٰ مِن رَّسُولٖ فَإِنَّهُۥ يَسۡلُكُ مِنۢ بَيۡنِ يَدَيۡهِ وَمِنۡ خَلۡفِهِۦ رَصَدٗا ٢٧

        “(Dia adalah) Yang Mengetahui yang gaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang gaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.” (al-Jin: 26—27)

 

Perhatikan fenomena di zaman kita. Betapa sesuainya keadaan zaman ini dengan berita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Betapa banyak orang jujur lagi mulia yang didustakan. Banyak pula para pendusta yang ucapannya dianggap kebenaran. Sebagaimana sabda beliau,

يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ

“… para pendusta di zaman itu dianggap sebagai orang yang jujur, sementara orang yang jujur dianggap pendusta….”

 

Mungkin contoh nyata yang bisa kita saksikan adalah perlakuan ahlul bid’ah kepada ulama-ulama Ahlus Sunnah. Sosok al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah, imam Ahlus Sunnah wal Jamaah, murid terkemuka al-Imam asy Syafi’i rahimahullah, diperlakukan demikian kasar. Beliau disiksa, dipenjara, bahkan hendak dibunuh.

Apa sebab beliau disiksa? Ternyata karena beliau sedemikian gigih mempertahankan kebenaran, mempertahankan akidah Ahlus Sunnah. Beliau mempertahankan keyakinan bahwa al-Qur’an adalah kalamullah (firman Allah ‘azza wa jalla), bukan makhluk.

 

Al-Qur’an adalah kalamullah, sebagaimana ditunjukkan oleh al-Kitab, as-Sunnah, dan ijma’. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

          وَإِنۡ أَحَدٞ مِّنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ٱسۡتَجَارَكَ فَأَجِرۡهُ حَتَّىٰ يَسۡمَعَ كَلَٰمَ ٱللَّهِ ثُمَّ أَبۡلِغۡهُ مَأۡمَنَهُۥۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمۡ قَوۡمٞ لَّا يَعۡلَمُونَ ٦

        “Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar kalam Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui.” (at-Taubah: 6)

Kebenaran mana yang melebihi kebenaran al-Qur’an? Kejujuran mana yang melebihi sabda-sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Namun, pada zaman al-Imam Ahmad rahimahullah kebenaran ini didustakan dan ditolak.

 

Demikian pula keadaan ulama Ahlus Sunnah di zaman ini, semisal asy-Syaikh al-Albani, asy-Syaikh Rabi’ al-Madkhali, dan masyayikh Ahlus Sunnah lainnya. Ucapan-ucapan mereka yang penuh hikmah didustakan. Nasihat-nasihat mereka memperingatkan umat dari kesyirikan dan penyerunya, kebid’ahan dan pengusungnya dianggap sebagai kedunguan, ghibah, dan memecah belah umat. Padahal maksud mereka adalah memberi nasihat yang tulus bagi umat.

Mereka, ulama Ahlus Sunnah yang penuh kejujuran dan semangat justru dicela dan dipojokkan dengan tuduhan-tuduhan yang jauh dari kenyataan. Mereka penuh kejujuran, namun didustakan oleh penyeru kesyirikan, pengusung kebid’ahan dan kesesatan.

 

Sebaliknya, banyak para pendusta, tokoh-tokoh penyesat, pembawa panji-panji kesyirikan, kebid’ahan dan pemikiran-pemikiran sesat, ucapan mereka justru dibenarkan.

Melalui berbagai media cetak dan elektronik, tokoh-tokoh pendusta diorbitkan. Dengan seenaknya mereka melecehkan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengolok-olok agama Islam. Ucapan mereka yang sedemikian keji dianggap sebagai sebuah kebenaran hanya karena dia menyandang gelar profesor doktor. Sejatinya, dia hanyalah pendusta, dajjal yang penuh dengan kehinaan.

Ucapan mereka seakan-akan kebenaran. Sesungguhnya mereka memutarbalikkan fakta. Tersebarlah kedustaan di tengah umat ini dan dianggap sebagai sebuah kebenaran yang harus diterima secara mutlak.

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Sosok Penyayang

Siapa pun yang merenungi hadits ini akan melihat betapa sayang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

          لَقَدۡ جَآءَكُمۡ رَسُولٞ مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ عَزِيزٌ عَلَيۡهِ مَا عَنِتُّمۡ حَرِيصٌ عَلَيۡكُم بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ رَءُوفٞ رَّحِيمٞ ١٢٨

“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (at-Taubah: 128)

 

Bukti kasih sayang beliau sangat banyak. Demi Allah, semua perjalanan hidup Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah bukti kasih sayang beliau.

Mungkin Anda masih ingat, suatu saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat. Sedianya beliau ingin memperlama bacaan, tiba-tiba terdengar tangisan anak kecil. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menyegerakan shalatnya. Beliau mengurungkan niat untuk memperlama bacaan sebagaimana kebiasaan beliau.

Beliau sangat khawatir ibu sang bocah ikut shalat bersama beliau, sehingga kegelisahan menimpanya di tengah shalat. Beliau tidak ingin kegelisahan menimpa ibu dan sang bocah.

 

Di antara bentuk kasih sayang beliau adalah semangat beliau memperingatkan umat dari segala kejelekan yang beliau ketahui, seperti hadits yang sedang kita telaah.

Beliau mengabarkan keadaan zaman sepeninggal beliau. Beliau menyebutkan suatu zaman yang demikian besar fitnahnya. Semua itu adalah kasih sayang beliau agar umat bersiap menghadapi kejelekan.

 

Hikmah Peringatan Kejelekan Akhir Zaman

Hadits ini bukan satu-satunya hadits yang berbicara tentang kejelekan di akhir zaman.

Alhamdulillah, semua hadits yang dibutuhkan umat untuk mengenal kejelekan akhir zaman terjaga dalam kitab-kitab ahlul hadits, kitab-kitab shahih, sunan, musnad, dan kitab hadits lainnya yang semestinya kita buka dan telaah.

Peringatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari berbagai kejelekan di akhir zaman memiliki faedah-faedah besar, di antaranya:

  1. Menambah keimanan.

Orang yang membaca berita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang fitnah akhir zaman, kemudian mendapatkan kebenaran sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tentu kebenaran berita tersebut akan menambah keimanannya.

  1. Seorang mukmin akan lebih waspada dari berbagai kejelekan, kemudian segera menyiapkan berbagai upaya untuk menghadapi kejelekan tersebut sesuai bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  2. Seorang mukmin semakin meyakini akan datangnya Hari Kiamat ketika menyaksikan tanda-tandanya bermunculan sebagaimana dikabarkan.
  3. Tanda-tanda hari kiamat akan mengingatkan orang-orang yang lalai untuk bersegera menuju ampunan Allah ‘azza wa jalla dan keridhaan-Nya.

 

Petaka Ruwaibidhah

Ruwaibidhah adalah orang yang fasik lagi hina, pendosa, dan jahil. Namun, dengan lancang mereka memosisikan diri untuk membicarakan masalah umat.

Allahu Akbar! Apa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kabarkan dalam hadits ini benar-benar terjadi. Ruwaibidhah bermunculan berbicara tentang urusan umat.

Betapa banyak manusia dungu dan jahil dalam urusan agama dengan lancang berbicara dan berfatwa di tengah halayak. Bisa dibayangkan betapa besar kerusakan yang menimpa umat manusia ketika orang seperti mereka membicarakan urusan yang bukan kapasitasnya.

 

Dengan entengnya Ruwaibidhah berbicara tentang agama tanpa ilmu, Dengan seenaknya mereka bicara urusan darah kaum muslimin. Dengan serampangan mereka berbicara jihad. Muncullah berbagai kerusakan yang kita saksikan saat ini seperti fenomena: takfirul hukkam wal muslimin (pengkafiran terhadap penguasa dan kaum muslimin) dan pemikiran lainnya.

Dengan fatwa-fatwa yang tidak bertanggung jawab, Ruwaibidhah mengafirkan para penguasa dan masyarakatnya. Dengan dalih jihad mereka membunuh orang kafir yang tidak boleh dibunuh, bahkan orang muslim pun tidak luput menjadi korban kejahatan mereka.

 

Jangan menengok terlalu jauh, saksikanlah apa yang terjadi di negeri ini. Saat kampanye reformasi digelar. Kekacauan terjadi di seluruh penjuru negeri.

Tokoh-tokoh pengusung reformasi bukanlah ulama, bukan pula orang-orang yang mengerti maslahat dan mafsadah sebagaimana diajarkan dalam agama ini. Mereka tidak lain adalah para pendusta, politikus, dan orang-orang yang gila kekuasaan. Bukan agama yang diperjuangkan, melainkan dunia. Mereka adalah Ruwaibidhah.

Akibatnya, kejelekan terbuka sedemikian lebar. Saat ini, semua kesesatan bisa berkembang bebas meracuni anak-anak bangsa: liberalisme, komunisme, radikalisme, dan terorisme. Pemberontakan, hujatan kepada penguasa, sesuatu yang sudah sangat akrab di telinga kita. Demikian tragis nasib negeri ini, ketika Ruwaibidhah berbicara.

 

Tidak diragukan—wallahu a’lam—bahwa Ruwaibidhah termasuk golongan ashaghir yang disebutkan dalam hadits Abu Umayyah al-Jumahi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُلْتَمَسَ الْعِلْمُ عِنْدَ الْأَصَاغِرِ

“Sesungguhnya di antara tanda-tanda hari kiamat adalah diambilnya ilmu dari ashaghir (orang-orang kecil/muda).” (HR. ath-Thabarani, dinyatakan sahih dalam Shahih al-Jami’)

Para ulama menerangkan, di antara makna ashagir adalah ahlul bid’ah. Ya, ahlul bid’ah, dijadikan sebagai rujukan ilmu.

Jika urusan umat dipegang oleh para ulama, orang-orang yang mumpuni dalam ilmu dan berumur, harapkanlah kebaikan. Sebaliknya, jika yang berbicara dan dijadikan rujukan adalah orang-orang fasik lagi jahil, kejelekan akan menimpa umat ini.

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللهَ تَعَالَى لاَ يَقبِضُ الْعِلمَ انتِزَاعًا يَنتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ، وَلَكِنْ يَقبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُؤَسَاءَ جُهَّالاً، فَسُئِلُوا فَأَفتَوْا بِغَيرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

“Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla tidak akan mencabut ilmu dari umat manusia dengan sekali cabut. Akan tetapi, Dia akan mencabut dengan mematikan para ulama (ahlinya). Sampai apabila Dia tidak menyisakan seorang alim, umat manusia akan menjadikan orang-orang yang bodoh sebagai pimpinan-pimpinan mereka. Mereka ditanya (oleh umatnya) lantas menjawab tanpa ilmu, sehingga mereka sesat dan menyesatkan.” (Muttafaqun ‘alaih)

 

Ibnu Qutaibah rahimahullah berkata, “Manusia senantiasa dalam kebaikan, selama yang menjadi ulama (panutan) mereka adalah masyayikh (orang-orang yang tua, baik dalam hal ilmu maupun usia), bukan orang-orang yang masih muda. Sebab, orang yang telah berumur, telah hilang darinya sifat kekasaran, main-main, dan ketergesa-gesaan (yang biasa ada) pada anak muda.

Orang yang tua juga penuh dengan pengalaman dalam urusannya. Karena itu, ilmunya tidak tercampur dengan kerancuan (syubhat), tidak pula hawa nafsu menyimpangkannya, tidak pula mudah dijerumuskan setan.

Adapun kaum muda, seringkali hal-hal tersebut menimpanya—yang kaum tua selamat darinya. Apabila hal itu terjadi, kemudian ia berfatwa, sungguh dia akan binasa dan membinasakan.”

 

Dahulu, salaf kita bersedih ketika melihat orang jahil berbicara memberi fatwa. Lantas apa pendapat Anda jika mereka menyaksikan rusaknya zaman kita ini? Semua orang bebas berbicara, bahkan berfatwa. Sebebas-bebasnya, tanpa batas.

Ibnu Abdil Barr al-Andalusi rahimahullah meriwayatkan dalam Jami Bayani Ilmi fa Fadhluhi melalui jalan Abdullah bin Wahb, dari al-Imam Malik, beliau berkata,

Seorang mengabarkan kepadaku: Suatu saat aku masuk menemui Rabi’ah bin Abdur Rahman. Ketika itu beliau sedang menangis. Aku pun bertanya, “Apa yang membuatmu menangis?”

Rabi’ah bertambah tangisnya. Aku bertanya kembali, “Apakah ada musibah yang menimpamu?”

Rabi’ah menjawab, “Tidak, (bukan karena itu aku menangis). Akan tetapi, saat ini orang yang tidak berilmu dimintai fatwa, dan muncullah perkara besar dalam Islam. Sungguh, sebagian dari mereka yang berfatwa (tanpa ilmu itu) lebih pantas untuk dipenjara daripada para pencuri!”

 

Saudaraku, mari kita kuatkan semangat mendidik diri kita dan generasi kita dengan ilmu al-Kitab dan as-Sunnah. Tuntutlah ilmu al-Kitab dan as-Sunnah sebelum ilmu dicabut dengan wafatnya para ulama.

Bekali generasi kita untuk menghadapi tahun-tahun yang memilukan dengan al-Kitab dan as-Sunnah dengan pemahaman salaf umat ini. Tidak ada benteng yang kokoh kecuali dengan berpegang teguh dengan keduanya.

Allahul musta’an.

Ditulis oleh al-Ustadz Muhammad Rijal, Lc

Larangan Condong Kepada Orang Zalim

 

وَلَا تَرۡكَنُوٓاْ إِلَى ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ فَتَمَسَّكُمُ ٱلنَّارُ وَمَا لَكُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ مِنۡ أَوۡلِيَآءَ ثُمَّ لَا تُنصَرُونَ ١١٣

“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolong pun selain Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.” (Hud: 113)

 

Penjelasan Beberapa Mufradat Ayat

وَلَا تَرۡكَنُوٓاْ

“Dan janganlah kamu cenderung…”

Asalnya dari kata “rukun”, yang dalam bahasa Arab bermakna bersandar, merasa tenang, dan ridha terhadap sesuatu.

Qatadah rahimahullah berkata bahwa maknanya adalah, “Janganlah kalian mencintai dan menaati mereka.”

Ibnu Juraij rahimahullah berkata, “Janganlah kalian condong kepada mereka.”

Abul Aliyah rahimahullah berkata, “Janganlah kalian meridhai amalan-amalan mereka.”

Al-Qurthubi rahimahullah mengatakan, “Semua penafsiran ini memiliki makna yang berdekatan.”

 

إِلَى ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ

“…kepada orang-orang yang zalim…”

Ada beberapa penafsiran para ulama tentang makna orang-orang yang zalim yang dimaksud oleh ayat ini. Sebagian ulama berkata bahwa yang dimaksud adalah kaum musyrikin. Ada pula yang menyatakan bahwa ayat ini bersifat umum meliputi seluruh para pelaku maksiat, seperti halnya firman Allah ‘azza wa jalla,

وَإِذَا رَأَيۡتَ ٱلَّذِينَ يَخُوضُونَ فِيٓ ءَايَٰتِنَا فَأَعۡرِضۡ عَنۡهُمۡ حَتَّىٰ يَخُوضُواْ فِي حَدِيثٍ غَيۡرِهِۦۚ وَإِمَّا يُنسِيَنَّكَ ٱلشَّيۡطَٰنُ فَلَا تَقۡعُدۡ بَعۡدَ ٱلذِّكۡرَىٰ مَعَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلظَّٰلِمِينَ ٦٨

“Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, tinggalkanlah mereka hingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Jika setan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu).” (al-An’am: 68)

فَتَمَسَّكُمُ ٱلنَّارُ

“… yang menyebabkan kamu disentuh api neraka…”

Maksudnya, neraka akan membakarmu karena engkau bergaul dengan mereka dan menyetujui sikap berpalingnya mereka dari kebenaran.

 

Larangan Membantu Orang Zalim

Ayat Allah ‘azza wa jalla yang mulia ini melarang seorang muslim untuk turut membantu, menolong, dan menampakkan kecondongannya kepada orang-orang yang zalim atas kezaliman yang mereka perbuat.

Al-‘Allamah as-Sa’di rahimahullah menerangkan, “Jangan kalian condong kepada orang-orang yang zalim. Sebab, jika kalian condong kepada mereka, menyetujui kezaliman yang mereka lakukan, atau meridhai kezaliman yang mereka perbuat, kalian akan dibakar oleh api neraka.

“Jika melakukan hal tersebut, kalian tidak memiliki penolong selain Allah l yang dapat mencegah kalian dari azab Allah ‘azza wa jalla. Mereka tidak akan mampu menghasilkan untuk kalian pahala dari Allah ‘azza wa jalla, lalu kalian tidak akan diberi pertolongan. Maksudnya, tidak ada yang mampu menghalangi kalian dari azab apabila telah menimpa kalian.

“Jadi, ayat ini merupakan peringatan agar tidak condong kepada setiap orang zalim. Yang dimaksud تَرۡكَنُوٓاْ adalah kecondongan, bergabung dengan kezalimannya, menyepakatinya dalam hal tersebut, serta ridha dengan kezaliman yang diperbuat.

“Jika ini adalah ancaman bagi orang yang condong kepada orang-orang yang zalim, lantas bagaimana lagi keadaan orang-orang zalim itu sendiri? Kita memohon kepada Allah ‘azza wa jalla agar diselamatkan dari perbuatan zalim.” (Taisir al-Karim ar-Rahman)

 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Orang yang zalim tidak boleh sama sekali ditolong untuk melakukan kezaliman. Sebab, Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَتَعَاوَنُواْ عَلَى ٱلۡبِرِّ وَٱلتَّقۡوَىٰۖ وَلَا تَعَاوَنُواْ عَلَى ٱلۡإِثۡمِ وَٱلۡعُدۡوَٰنِۚ

        “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (al-Maidah: 2)

 

Firman-Nya,

          قَالَ رَبِّ بِمَآ أَنۡعَمۡتَ عَلَيَّ فَلَنۡ أَكُونَ ظَهِيرٗا لِّلۡمُجۡرِمِينَ ١٧

        Musa berkata, “Wahai Rabbku, demi nikmat yang telah Engkau anugerahkan kepadaku, aku sekali-kali tiada akan menjadi penolong bagi orang-orang yang berdosa.” (al-Qashash: 17)

 

Firman-Nya,

وَلَا تَرۡكَنُوٓاْ إِلَى ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ فَتَمَسَّكُمُ ٱلنَّارُ وَمَا لَكُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ مِنۡ أَوۡلِيَآءَ ثُمَّ لَا تُنصَرُونَ ١١٣

“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolong pun selain Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.” (Hud: 113)

 

Firman-Nya,

          مَّن يَشۡفَعۡ شَفَٰعَةً حَسَنَةٗ يَكُن لَّهُۥ نَصِيبٞ مِّنۡهَاۖ وَمَن يَشۡفَعۡ شَفَٰعَةٗ سَيِّئَةٗ يَكُن لَّهُۥ كِفۡلٞ مِّنۡهَاۗ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ مُّقِيتٗا ٨٥

        “Barang siapa memberi syafaat yang baik, niscaya ia akan memperoleh bagian (pahala) darinya. Dan barang siapa memberi syafaat yang buruk, niscaya ia akan memikul bagian (dosa) darinya. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (an-Nisa: 85)

 

“Makna asy-syafi’ adalah yang menolong. Jadi, siapa yang menolong seseorang untuk melakukan sesuatu, sungguh dia telah memberi syafaat kepadanya. Maka dari itu, siapa pun tidak boleh untuk dibantu, baik penguasa maupun yang lainnya, untuk melakukan apa yang diharamkan oleh Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya.

“Adapun seseorang yang memiliki perbuatan dosa, sementara dia sedang melakukan satu kebaikan, jika ia dibantu untuk melakukan satu kebaikan, ini tidaklah diharamkan. Ini sebagaimana halnya seorang pelaku dosa yang hendak menunaikan zakat, menunaikan ibadah haji, melunasi utang, hendak mengembalikan berbagai bentuk kezaliman yang dia lakukan (kepada pemiliknya), atau mewasiatkan kepada sebagian putrinya. Jika dia dibantu untuk melakukannya, ini merupakan bentuk memberi pertolongan di atas kebaikan dan takwa, bukan di atas dosa dan permusuhan.” (Minhajus Sunnah an-Nabawiyah, 6/117)

 

Penjelasan para ulama di atas menunjukkan bahwa orang-orang zalim yang dimaksud dalam ayat ini bersifat umum, mencakup siapa saja yang melakukan berbagai bentuk kemungkaran: perbuatan syirik, kekafiran, bid’ah dengan berbagai macamnya, serta kemungkaran lainnya. Termasuk pula segala bentuk kelompok kufur dan bid’ah, seperti komunis, liberalis, Syi’ah, Khawarij, dan lainnya. Demikian pula setiap ajaran yang menyimpang dari ajaran Islam dan akidahnya.

 

Setelah menyebut firman Allah ‘azza wa jalla,

          يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن تُطِيعُواْ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ يَرُدُّوكُمۡ عَلَىٰٓ أَعۡقَٰبِكُمۡ فَتَنقَلِبُواْ خَٰسِرِينَ ١٤٩

        “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menaati orang-orang yang kafir itu, niscaya mereka mengembalikan kamu ke belakang (kepada kekafiran), lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi.” (Ali ‘Imran: 149)

Al-‘Allamah Rabi’ bin Hadi hafizhahullah mengatakan, “Kami memperingatkan kaum muslimin agar tidak menaati orang-orang kafir dan mengikuti mereka. Sebab, orang-orang kafir berusaha menyebarkan kerusakan di negeri-negeri Islam. Di antaranya adalah kerusakan akidah, kerusakan dalam hal berhukum dengan selain apa yang diturunkan Allah ‘azza wa jalla, serta mengajak kaum muslimin untuk menyimpang dan berhukum dengan selain apa yang diturunkan Allah ‘azza wa jalla, berhukum dengan sistem demokrasi. Demikian pula berbagai kesesatan lain yang diserukan oleh musuh-musuh Islam, yang bertujuan untuk mengeluarkan kaum muslimin dari agama Islam, berpindah kepada keyakinan batil mereka.

“Kami memperingatkan kaum muslimin seluruhnya, baik penguasa maupun rakyat, agar tidak menaati musuh-musuh Allah ‘azza wa jalla, condong kepada mereka, dan mengikuti mereka dalam berbagai urusan.” (http://www.ajurry.com/vb/showthread.php?rahimahullah=35887)

 

Anjuran Memboikot Pelaku Maksiat

Al-Qurthubi rahimahullah berkata tentang ayat ini, “Pendapat inilah yang sahih tentang penjelasan makna ayat ini. Ayat ini menunjukkan tentang diboikotnya para pelaku kekufuran, kemaksiatan, ahli bid’ah, dan lainnya. Sebab, bersahabat dengan mereka merupakan kekufuran atau kemaksiatan karena persahabatan tidak mungkin terjadi kecuali didasari rasa saling cinta. Seorang yang bijak berkata,

        عَنِ الْمَرْءِ لَا تَسْأَلْ وَسَلْ عَنْ قَرِينِهِ، فَكُلُّ قَرِينٍ بِالْمُقَارَنِ يَقْتَدِي

“Jangan engkau bertanya tentang seseorang, namun bertanyalah tentang teman dekatnya. Sebab, setiap teman akan mengikuti siapa yang menjadi teman dekatnya.” (Tafsir al-Qurthubi)

 

Memberi peringatan, memboikot, dan tidak bermajelis dengan setiap orang yang mengikuti hawa nafsu, adalah bagian yang terpenting dalam Islam yang diperintahkan oleh Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَإِذَا رَأَيۡتَ ٱلَّذِينَ يَخُوضُونَ فِيٓ ءَايَٰتِنَا فَأَعۡرِضۡ عَنۡهُمۡ حَتَّىٰ يَخُوضُواْ فِي حَدِيثٍ غَيۡرِهِۦۚ وَإِمَّا يُنسِيَنَّكَ ٱلشَّيۡطَٰنُ فَلَا تَقۡعُدۡ بَعۡدَ ٱلذِّكۡرَىٰ مَعَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلظَّٰلِمِينَ ٦٨

“Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, tinggalkanlah mereka hingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Jika setan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu).” (al-An’am: 68)

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata menjelaskan ayat ini, “Yang dimaksud ayat ini adalah setiap individu dari kalangan umat ini tidak boleh duduk bersama dengan orang-orang yang mendustakan, yang melakukan perubahan atas ayat-ayat Allah ‘azza wa jalla dan meletakkannya tidak pada tempat yang sebenarnya. Jika duduk bersama mereka karena lupa, jangan sekali-kali engkau duduk bersama mereka setelah mengingatnya.” (Tafsir Ibnu Katsir)

 

Demikian pula firman-Nya,

          وَقَدۡ نَزَّلَ عَلَيۡكُمۡ فِي ٱلۡكِتَٰبِ أَنۡ إِذَا سَمِعۡتُمۡ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ يُكۡفَرُ بِهَا وَيُسۡتَهۡزَأُ بِهَا فَلَا تَقۡعُدُواْ مَعَهُمۡ حَتَّىٰ يَخُوضُواْ فِي حَدِيثٍ غَيۡرِهِۦٓ إِنَّكُمۡ إِذٗا مِّثۡلُهُمۡۗ إِنَّ ٱللَّهَ جَامِعُ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ وَٱلۡكَٰفِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعًا ١٤٠

        “Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam al-Qur’an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), janganlah kamu duduk beserta mereka, hingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Sebab, sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahanam.” (an-Nisa: 140)

 

Demikian pula firman Allah ‘azza wa jalla,

هُوَ ٱلَّذِيٓ أَنزَلَ عَلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ مِنۡهُ ءَايَٰتٞ مُّحۡكَمَٰتٌ هُنَّ أُمُّ ٱلۡكِتَٰبِ وَأُخَرُ مُتَشَٰبِهَٰتٞۖ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمۡ زَيۡغٞ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَٰبَهَ مِنۡهُ ٱبۡتِغَآءَ ٱلۡفِتۡنَةِ وَٱبۡتِغَآءَ تَأۡوِيلِهِۦۖ وَمَا يَعۡلَمُ تَأۡوِيلَهُۥٓ إِلَّا ٱللَّهُۗ وَٱلرَّٰسِخُونَ فِي ٱلۡعِلۡمِ يَقُولُونَ ءَامَنَّا بِهِۦ كُلّٞ مِّنۡ عِندِ رَبِّنَاۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّآ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ ٧

        Dia-lah yang menurunkan al-Kitab (al-Qur’an) kepadamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok isi al-Qur’an, dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya selain Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata, “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari Rabb kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (darinya) melainkan orang-orang yang berakal. (Ali Imran: 7)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda setelah membaca ayat ini,

        إِذَا رَأَيْتُمُ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ، فَأُولَئِكَ الَّذِينَ سَمَّى اللهُ فَاحْذَرُوهُمْ

“Apabila kalian melihat orang-orang yang mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat tersebut, mereka itulah orang-orang yang Allah ‘azza wa jalla sebutkan. Karena itu, berhati-hatilah kalian dari mereka.” (Muttafaqun ‘alaih dari hadits Aisyah radhiallahu ‘anha)

 

Jika kita memerhatikan zaman kita ini, begitu banyak manusia yang muncul dan membawa berbagai pemikiran yang menyimpang dari syariat Allah ‘azza wa jalla. Pemikiran-pemikiran tersebut sangat bertentangan dengan prinsip-prinsip kebenaran Islam yang disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umat.

Ada yang membawa paham komunis, yang hakikat inti ajarannya adalah pengingkaran terhadap adanya Allah ‘azza wa jalla sebagai pencipta alam semesta, apalagi menjadikannya sebagai sesembahan satu-satunya. Ideologi ini merupakan bentuk pengingkaran terhadap rububiyah Allah ‘azza wa jalla.

Ada pula yang membawa paham liberal terlaknat. Dengan bendera “Islam liberal”, mereka berhasil menyusup ke dalam tubuh umat Islam dan memengaruhi sekian banyak kaum muslimin yang jahil dan tidak mengerti prinsip-prinsip Islam yang diajarkan oleh Allah ‘azza wa jalla dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka pun jatuh ke dalam kubangan kekafiran dalam keadaan mereka masih merasa sebagai seorang muslim.

 

Perhatikanlah apa yang diucapkan oleh seorang tokoh liberal yang bernama Ahmad Wahib. Dalam salah satu makalahnya, dia berkata, “Aku bukan nasionalis, bukan Katolik, bukan sosialis. Aku bukan Budha, bukan Protestan, bukan westernis. Aku bukan komunis. Aku bukan humanis. Aku adalah semuanya. Mudah-mudahan inilah yang disebut muslim. Aku ingin orang memandang dan menilaiku sebagai suatu kemutlakan (absolute entity) tanpa menghubung-hubungkan dari kelompok mana aku termasuk serta dari aliran mana saya berangkat.” (Pergolakan Pemikiran Islam: Catatan Harian Ahmad Wahib)

Perhatikanlah ucapan jahat nan kufur yang keluar dari tulisan seorang liberalis ini. Dia hendak menyamakan Islam dengan seluruh keyakinan kufur dan syirik. Tidak tersisa satu keyakinan pun di muka bumi ini kecuali semua dianggap benar oleh mereka. Tidak ada syirik, tidak ada kekufuran, tidak ada penyimpangan; semua adalah benar, semuanya adalah sama.

 

Tidak kalah jahatnya, tokoh liberal lain yang bernama Abdul Munir Mulkhan, berkata, “Jika semua agama memang benar sendiri, penting diyakini bahwa surga Tuhan yang satu itu sendiri terdiri dari banyak pintu dan kamar. Tiap pintu adalah jalan pemeluk tiap agama memasuki kamar surganya. Syarat memasuki surga ialah keikhlasan pembebasan manusia dari kelaparan, penderitaan, kekerasan, dan ketakutan, tanpa melihat agamanya. Inilah jalan universal surga bagi semua agama. Dari sini, kerja sama dan dialog pemeluk berbeda agama jadi mungkin.” (Abdul Munir Mulkhan, dari buku Ajaran dan Jalan Kematian Syekh Siti Jenar)

 

Demikian pula yang disebutkan oleh Sumanto al-Qurtuby, tatkala menjawab pertanyaan, “Agama manakah yang benar?”

Dia berkata dengan pandangan akalnya yang bodoh, “Jika kelak di akhirat, pertanyaan di atas diajukan kepada Tuhan, mungkin Dia hanya tersenyum simpul. Sambil menunjukkan surga-Nya Yang Mahaluas, di sana ternyata telah menunggu banyak orang, antara lain Jesus, Muhammad, sahabat Umar, Gandhi, Luther, Abu Nawas, Romo Mangun, Bunda Teresa, Udin, Baharudin Lopa, dan Munir!” (Sumanto al-Qurtuby, dari buku Lubang Hitam Agama)

 

Beberapa ucapan ini hanyalah sedikit dari sekian banyak pernyataan kekafiran yang diucapkan oleh tokoh-tokoh liberal. Pernyataan-pernyataan tersebut hakikatnya mengajak manusia untuk berlomba-lomba memasuki pintu-pintu kekafiran dan kemurtadan. Wal ‘iyadzu billah (kita berlindung kepada Allah).

Sudah sepantasnya kaum muslimin mewaspadai dari berbagai pemahaman dan pemikiran yang dapat merobohkan fondasi-fondasi agamanya. Sikap waspada tersebut direalisasikan dengan cara menjauhkan diri, berpaling sejauh-jauhnya, dan tidak mengikuti orang-orang yang zalim yang mengajak kepada kesesatan.

 

Diriwayatkan dari Imran bin Hushain radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

        مَنْ سَمِعَ بِالدَّجَّالِ فَلْيَنْأَ عَنْهُ، فَوَاللهِ، إِنَّ الرَّجُلَ لَيَأْتِيهِ وَهُوَ يَحْسِبُ أَنَّهُ مُؤْمِنٌ فَيَتَّبِعُهُ، مِمَّا يَبْعَثُ بِهِ مِنَ الشُّبُهَاتِ

“Barang siapa mendengar tentang Dajjal, hendaknya dia segera menjauh darinya. Demi Allah, sesungguhnya seorang lelaki mendatanginya dalam keadaan menyangka bahwa dirinya aman hingga dia mengikutinya, karena berbagai syubhat yang dia sampaikan.” (HR. Abu Dawud dengan sanad yang sahih)

Al-‘Allamah Abdul Muhsin al-Abbad y mengatakan, “Dari hadits ini dipetik faidah: menjauhkan diri dari ahli bid’ah dan bermajelis dengan mereka, karena mereka adalah para dajjal dan karena khawatir dari berbagai syubhat mereka. Seseorang yang tidak memiliki ilmu mudah terpengaruh—kecuali yang dirahmati oleh Allah ‘azza wa jalla—oleh kefasihan dan keindahan bahasa mereka. Oleh karena itu, menjauhkan diri dari mereka merupakan hal yang dituntut.” (Syarah Abu Dawud)

Al-‘Allamah Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Tidak ada cara yang lebih ampuh untuk membantu seseorang agar terbebas dari kejahatan, selain menjauhkan diri dari sebab-sebabnya. Ini merupakan perbuatan setan yang sangat tersamarkan. Tidak akan selamat darinya selain orang yang cerdik. Setan memperlihatkan beberapa kebaikan pada jalan kejahatan tersebut, dan mengajaknya untuk meraih kebaikan tersebut. Tatkala orang itu telah mendekat, setan segera menjerumuskannya ke dalam jeratannya.” (‘Uddatus Shabirin, Ibnul Qayyim hlm. 63)

Semoga Allah ‘azza wa jalla menyelamatkan kita dari berbagai keburukan dan kesesatan. Wallahul Muwaffiq.

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal