Jangan Dekati Zina!

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sang penyampai risalah dari langit, pernah bersabda,

        إِنَّ اللهَ تَعَالَى يَغَارُ وَغَيْرَةُ اللهِ تَعَالَى أَنْ يَأْتِيَ الْمَرْءُ مَا حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ

“Sesungguhnya Allah Mahacemburu. Cemburunya Allah subhanahu wa ta’ala adalah apabila seseorang (dari hamba-Nya) melakukan apa yang Allah subhanahu wa ta’ala haramkan atasnya.” (Muttafaqun ‘alaihi dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Manusia yang paling tahu tentang Sang Rabb ini memberitakan bahwa Dia Yang Mahasuci memiliki sifat cemburu sebagai suatu sifat yang hakiki bagi-Nya. Jangan merasa heran apabila Allah subhanahu wa ta’ala disifati dengan sifat ini! Apabila Anda heran, pastilah Anda sedang membayangkan cemburunya manusia.

Sifat cemburu Allah subhanahu wa ta’ala tidaklah sama dengan cemburu kita, para makhluk.

        لَيۡسَ كَمِثۡلِهِۦ شَيۡءٞۖ

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia….” (asy-Syura: 11)

Cemburu Allah subhanahu wa ta’ala sangat agung dan mulia sesuai dengan keagungan dan kemuliaan-Nya.

Dengan hikmah-Nya, Allah subhanahu wa ta’ala mewajibkan bagi hamba-hamba-Nya berbagai kewajiban. Dia mengharamkan atas mereka apa yang buruk, dan Dia menghalalkan apa yang baik dalam hukum-Nya.

Semua yang diwajibkan Allah subhanahu wa ta’ala pastilah baik bagi kita untuk agama dan dunia kita. Itu pastilah baik bagi kita untuk sekarang dan masa yang akan datang. Sebaliknya, yang diharamkan-Nya pastilah buruk bagi kita untuk semuanya; agama, dunia, waktu sekarang, dan masa yang akan datang.

Apabila Allah subhanahu wa ta’ala sudah mengharamkan sesuatu lantas masih saja seorang hamba melakukannya, Dia subhanahu wa ta’ala cemburu. Mengapa si hamba berbuat demikian padahal Allah subhanahu wa ta’ala mengharamkannya demi kemaslahatan si hamba?

Allah subhanahu wa ta’ala sendiri tidaklah termudaratkan dengan maksiat si hamba, sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala tidak beroleh manfaat dari ketaatan hamba.

Lantas, mengapa Allah subhanahu wa ta’ala cemburu?

Hendaklah setiap hamba mengetahui bahwa Allah subhanahu wa ta’ala adalah Dzat Yang Maha Memiliki hikmah, Maha Penyayang. Dia tidaklah melarang hamba-Nya dari sesuatu karena kikir terhadap mereka, tetapi demi kemaslahatan mereka.

Kemudian datanglah hamba yang lancang. Dengan kebodohan dan hawa nafsunya, dia terjang larangan Sang Khaliq. Dia lampaui batasan yang ditetapkan ar-Rahman. Dia bermaksiat kepada Rabbnya yang sebenarnya sangat sayang kepada hamba-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala cemburu karenanya.

 

Allah Cemburu Bila Hamba-Nya Berzina

Ada satu perbuatan haram yang dikaitkan secara khusus dengan sifat cemburu Allah subhanahu wa ta’ala . Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

        مَا مِنْ أَحَدٍ أَغْيَرُ مِنَ اللهِ تَعَالَى أَنْ يَزْنِيَ عَبْدُهُ أَوْ تَزْنِيَ أَمَتَهُ

“Tidak ada seorang pun yang lebih cemburu daripada Allah subhanahu wa ta’ala apabila hamba laki-laki-Nya atau hamba perempuan-Nya berzina.” (HR. al-Bukhari)

Mengapa demikian? Karena zina adalah perbuatan yang keji, amat rendah, dan sangat buruk. Karena itu, Allah subhanahu wa ta’ala mengharamkan perbuatan zina, bahkan semua hal yang mengantarkan kepada zina[1] Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          وَلَا تَقۡرَبُواْ ٱلزِّنَىٰٓۖ إِنَّهُۥ كَانَ فَٰحِشَةٗ وَسَآءَ سَبِيلٗا ٣٢

“Janganlah kalian mendekati zina, sungguh zina itu adalah perbuatan keji dan seburuk-buruk jalan.” (al-Isra: 32)

Apabila seorang hamba berzina, na’udzubillah, Allah subhanahu wa ta’ala sangat cemburu dan lebih besar kecemburuan-Nya daripada jika seorang hamba melakukan perbuatan haram selain zina. (Syarhu Riyadhish Shalihin, Ibnu Utsaimin, 1/338—339)

 

Mut’ah=Zina

Anehnya, ada zina yang dilegalkan atas nama agama. Ya , mut’ah namanya. Boleh kita sebut kawin kontrak; kontraknya bisa setahun, sebulan, sepekan, bahkan semalam, na’udzubillah. Setelah itu berpisah begitu saja, tanpa ada pertanggungjawaban. Lantas bagaimana jika perempuan yang dimut’ah itu akhirnya hamil?

Ada juga yang tidak menetapkan waktu. Artinya sesukanya, kalau sudah bosan ya pisah, cari yang lain lagi, sebagaimana praktik mut’ah yang terdata dilakukan oleh mahasiswa di universitas tertentu yang terkena racun Syi’ah.

Pada praktiknya, mut’ah dilakukan tanpa wali, tanpa saksi, tanpa pemberitahuan kepada orang-orang (tidak disebarkan beritanya), tanpa memberitahu wali si perempuan, dan tidak ada hubungan waris-mewarisi antara kedua pihak. Jadi, bagaimana hakikatnya? Si perempuan hanyalah berstatus istri sewaan.

Masih ragu bahwa mut’ah adalah zina?

Memang benar, dahulu pernikahan dengan cara mut’ah ini pernah dibolehkan[2]. Akan tetapi, kebolehannya telah dihapus dan diharamkan sampai hari kiamat. Kaum yang gemar mengumbar hawa nafsu, hanya mengejar kesenangan perut dan kemaluan, justru melegalisasi zina dengan istilah mut’ah. Merekalah Syiah Rafidhah.

Menurut mereka, seseorang yang melakukan mut’ah memiliki keutamaan yang besar. Tiga kali bermut’ah ganjarannya akan dikumpulkan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di surga.

Sebaliknya, mereka mengklaim siapa yang tidak pernah bermut’ah, dia bukanlah seorang muslim, dan siapa yang tidak menerima mut’ah berarti dia kafir. (sebagaimana disebutkan dalam kitab pegangan Syi’ah: Man La Yahdhuruhu al-Faqih, ash-Shaduq al-Qummi 3/366, dinukil dalam kitab Lillahi Tsumma lit Tarikh, hlm. 33—34)

Mereka membolehkan lelaki bermut’ah tidak hanya dengan para gadis atau janda. Bahkan, boleh bermut’ah dengan istri orang dan yang afdal tanpa sepengetahuan suaminya. Inna lillahi…. (kitab Syi’ah Furu’ al-Kafi, al-Kulaini, 5/463, dinukil dalam Lillahi Tsumma lit Tarikh hlm. 41)

Dilegalkannya mut’ah atas nama agama di kalangan orang-orang Syi’ah Rafidhah di Iran, sampai menyeret kepada pembolehan i’aratul farj (menyewakan farji). Pembolehannya difatwakan oleh tokoh ulama mereka, seperti as-Sayyid Luthfullah ash-Shafi.

Bagaimana bentuk i’aratul farj ini? Seorang lelaki memberikan istri atau budak perempuannya kepada lelaki lain dan memperbolehkan si lelaki “berhubungan” dengan istrinya atau melakukan terhadap istrinya sekehendak si lelaki.

Apabila seorang suami hendak safar, dia menitipkan istrinya kepada lelaki tetangganya, temannya, atau siapa saja yang dipilihnya. Dia membolehkan lelaki tersebut melakukan apa saja terhadap istrinya selama dia safar. Tujuannya agar dia bisa tenang dalam safarnya dan tidak khawatir istrinya melakukan perzinaan selama dia tinggalkan. Lho!

Bentuk yang kedua, apabila suatu kaum atau keluarga kedatangan tamu dan mereka hendak memuliakan tamu tersebut, si tuan rumah meminjamkan istrinya kepada si tamu selama dia tinggal bersama mereka. Si tamu boleh melakukan apa saja terhadap si istri. (Lillahi Tsumma lit Tarikh, hlm. 46—47)

Apa hakikat dari semua itu kalau bukan zina? Padahal Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jelas-jelas mengharamkan zina?!

 

Liwath Lebih Parah daripada Zina

Ada lagi yang lebih keji dari perbuatan zina yaitu liwath, perbuatan kaum Luth. Allah subhanahu wa ta’ala menukilkan ucapan Nabi Luth ‘alaihissalam kepada kaumnya,

أَتَأۡتُونَ ٱلۡفَٰحِشَةَ مَا سَبَقَكُم بِهَا مِنۡ أَحَدٖ مِّنَ ٱلۡعَٰلَمِينَ ٨٠ إِنَّكُمۡ لَتَأۡتُونَ ٱلرِّجَالَ شَهۡوَةٗ مِّن دُونِ ٱلنِّسَآءِۚ بَلۡ أَنتُمۡ قَوۡمٞ مُّسۡرِفُونَ ٨١

“Apakah kalian melakukan al-fahisyah yang tidak ada seorang pun dari penghuni alam semesta ini yang mendahului kalian (melakukannya).

Sungguh, kalian mendatangi lelaki untuk melampiaskan syahwat kalian, bukannya mendatangi perempuan. Sungguh, kalian adalah orang-orang yang melampaui batas.” (al-A’raf: 80—81)

Perhatikan ayat di atas! Perbuatan liwath disebut dengan fahisyah memakai alif lam (ma’rifah, yang berarti sudah tertentu), sedangkan zina dalam surat al-Isra ayat 32, disebut tanpa alim lam (nakirah, masih umum, tidak tertentu). Apa bedanya?

Kata Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah, “Zina adalah satu fahisyah/perbuatan keji dan kotor dari sekian banyak perbuatan fahsiyah. Adapun liwath adalah fahisyah yang paling besar.” (Syarhu Riyadhish Shalihin, Ibnu Utsaimin, 1/339)

Ternyata, kaum liberal dan yang sebarisan dengan mereka sama suaranya dengan Syiah ketika menyerukan agar LGBT dilegalkan di negeri tercinta ini—semoga Allah subhanahu wa ta’ala selamatkan negeri ini.

Mengapa demikian? Syi’ah adalah penyuka liwath, “berhubungan” sesama lelaki, terutama dengan amrad (anak muda belia yang belum tumbuh jenggotnya). Hal ini telah difatwakan oleh kebanyakan ulama mereka, seperti as-Sayyid Abdul Husain Syarafuddin al-Musawi. (Lihat Lillahi Tsumma lit Tarikh, hlm. 52—54)

Laa haula wa laa quwwata illa billah! Lengkap sudah kebejatan Syi’ah Rafidhah. Kalau mereka tidak mengaku Islam, tentu lebih ringan. Yang parah, mereka mengaku beragama Islam dan mengatasnamakan kebejatan akhlak mereka sebagai ajaran Islam.

Mereka membawakan riwayat-riwayat palsu penuh kedustaan atas nama para imam ahlul bait terkait penyimpangan moral yang diabsahkan. Hakikatnya, mereka ingin menjatuhkan kehormatan imam-imam ahlul bait dengan riwayat yang dibuat-buat oleh para zindiq. Sebab, kerendahan akhlak dan penyimpangan moral nantinya akan dianggap sebagai seruan dan ajaran para imam.

Mengapa para hamba demikian lancang berbuat dosa?

Wallahul musta’an.

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

[1] Allah subhanahu wa ta’ala mengharamkan wasilah (sarana yang mengantarkan) kepada zina, seperti memandang lawan jenis yang bukan mahram, ikhtilath (campur baur) lelaki dan perempuan tanpa hijab, khalwat (berdua saja) lelaki dan perempuan yang bukan mahram, bersentuhan antara lelaki dan perempuan yang bukan mahram dengan berjabat tangan misalnya, perempuan melembutkan suaranya saat berbicara dengan lelaki, perempuan keluar rumah bertabarruj, memakai wangi-wangian, dsb. Semua itu dalam rangka mencegah terjadinya zina.

[2] Silakan baca kembali Rubrik “Mengayuh Biduk” edisi ini yang membawakan sedikit riwayat tentang mut’ah.

Apa Itu Nikah Mut’ah?

Apa nikah mut’ah itu? Adakah ayat al-Qur’an atau hadits tentang nikah mut’ah? Apakah ada hadits yang mengharamkan nikah mut’ah ataukah sekadar makruh?

Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i rahimahullah menjawab:

“Mut’ah adalah seorang lelaki menikahi seorang perempuan untuk jangka waktu tertentu.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memang pernah mengizinkan para sahabat pada sebagian peperangan untuk melakukan nikah mut’ah (dengan perempuan setempat). Beliau juga mengizinkannya pada tahun Fathu Makkah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan nikah mut’ah ini pada sebagian peperangan[1] lalu melarangnya pada tahun Perang Khaibar[2]. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan lagi saat tahun Fathu Makkah sebagaimana disebutkan dalam hadits ar-Rabi’ ibnu Sabrah dari bapaknya[3], lalu melarangnya. Diizinkan juga dalam perang Hunain[4], kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melarangnya.

Maka dari itu, kaum muslimin semuanya mengharamkan nikah mut’ah. Sebagian sahabat, seperti Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma, membolehkan nikah mut’ah dan menyangka bahwa nikah mut’ah ini dibolehkan karena darurat. Namun, Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu mengingkari pendapat Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma tersebut. Ali berkata kepada Ibnu Abbas, “Sungguh, kamu adalah orang yang bingung yang keluar dari jalan yang lurus (dalam urusan ini).”[5] Adalah pantas Ali radhiallahu ‘anhu mengingkari Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma.

Nikah mut’ah haram sampai hari kiamat. Mereka yang membolehkan nikah mut’ah (orang-orang Syi’ah –pent.) menampakkan bukti terbesar bahwa mereka tidak mengikuti Ali bin Abi Thalib. Sebab, Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu meriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa mut’ah itu haram sampai hari kiamat. Ali radhiallahu ‘anhu juga mengingkari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma yang membolehkan mut’ah.

Orang-orang Syi’ah menganggap secara batil bahwa firman Allah subhanahu wa ta’ala,

فَمَا ٱسۡتَمۡتَعۡتُم بِهِۦ مِنۡهُنَّ فَ‍َٔاتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ فَرِيضَةٗۚ

“Maka istri-istri yang telah kalian nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka mahar-mahar mereka dengan sempurna sebagai suatu kewajiban.” (an-Nisa: 24)

turun tentang nikah mut’ah, padahal tidaklah demikian.

(Ijabah as-Sail ‘ala Ahammil Masail, hlm. 534—535)


Hukum Nikah Mut’ah dalam Islam

Apa hukum nikah mut’ah dalam Islam yang marak dilakukan oleh penganut agama Syi’ah?

 

Al-Lajnah ad-Daimah’[6] menjawab:

“Nikah mut’ah diharamkan dan batil (tidak sah) seandainya terjadi, berdasar riwayat al-Imam al-Bukhari dan al-Imam Muslim rahimahullah dari sahabat Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu bahwa pada waktu Perang Khaibar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang nikah mut’ah dan melarang memakan daging keledai ahliyah (keledai negeri/peliharaan). Dalam satu riwayat disebutkan, pada hari Khaibar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang memut’ah perempuan.

Al-Imam al-Khaththabi rahimahullah berkata, “Nikah mut’ah itu haram menurut ijma/kesepakatan ulama kaum muslimin, kecuali sebagian pengikut Syi’ah. Tidak sah kaidah mereka (orang-orang Syi’ah) untuk rujuk kepada Ali radhiallahu ‘anhu dalam urusan yang diperselisihkan. (Riwayat) yang sahih dari Ali radhiallahu ‘anhu justru menyebutkan bahwa nikah mut’ah telah dihapus (mansukh) pembolehannya.

Al-Imam al-Baihaqi rahimahullah menukilkan dari Jafar bin Muhammad, yang pernah ditanya tentang nikah mut’ah. Beliau menjawab, “Nikah mut’ah adalah zina itu sendiri (tidak beda dengan perzinaan).”

Pengharaman nikah mut’ah juga didasarkan hadits yang diriwayatkan al-Imam Muslim rahimahullah dalam kitab Shahih-nya dari Sabrah ibnu Ma’bad al-Juhani radhiallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bersabda,

        إِنِّي كُنْتُ قَدْ أَذَنْتُ لَكُمْ فِي الْاِسْتِمْتَاعِ مِنَ النِّسَاءِ وَإِنَّ اللهَ قَدْ حَرَّمَ ذَلِكَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، فَمَنْ كَانَ عِنْدَهُ مِنْهُنَّ شَيْءٌ فَلْيخل سَبِيْلَهُ وَلَا تَأْخُذُوْا مِمَّا آتَيْتُمُوْهُنَّ شَيْئًا

“Sungguh, aku pernah mengizinkan kalian untuk melakukan nikah mut’ah dengan para perempuan. Sungguh, (kemudian) Allah subhanahu wa ta’ala mengharamkannya sampai hari kiamat. Siapa di antara kalian memiliki istri yang dinikahi dengan cara mut’ah, hendaknya dia lepaskan dan jangan kalian ambil sedikit pun harta/pemberian yang telah kalian berikan kepada mereka.”

(Fatwa no. 3810, Fatawa al-Lajnah ad-Daimah, 18/441)


Menikah untuk Jangka Waktu Tertentu

Apa hukumnya dalam Islam, menikah hanya untuk jangka waktu tertentu?

Al-Lajnah ad-Daimah[7] menjawab:

“Menikah hanya untuk masa tertentu (setelah itu berpisah begitu saja) adalah nikah mut’ah yang batil, menurut kesepakatan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Sebab, nikah seperti ini hukumnya mansukh[8] oleh riwayat yang pasti dari hadits-hadits sahih yang melarang mut’ah. Apa yang dinyatakan terlarang berarti pernikahan yang batil/tidak sah.

‘Hubungan intim’ yang terjadi dengan pernikahan mut’ah itu teranggap zina sehingga berlaku hukuman berzina bagi diri pelakunya[9] dalam keadaan dia tahu batilnya mut’ah tersebut.”

(Fatwa no. 15952, Fatawa al-Lajnah, 18/445)


Menikah dengan Syiah Rafidhah

Apakah sah pernikahan dengan seorang Rafidhah atau dengan orang yang berkata bahwa shalat lima waktu tidak wajib baginya?

Jika dia bertobat dari pemahaman Rafidhah atau dia melakukan shalat dalam beberapa masa, kemudian dia kembali lagi menjadi Rafidhah atau kembali meninggalkan shalat, apakah dianggap sah pernikahan yang telah dilakukan dengannya?

Syaikhul Islam rahimahullah menjawab,

“Tidak boleh seorang pun menikahkan perempuan yang di bawah perwaliannya dengan lelaki Rafidhah, sebagaimana tidak boleh menikahkannya dengan lelaki yang meninggalkan shalat.

Namun, apabila wali perempuan menikahkan perempuan mereka dengan lelaki yang dikira sunni dan mengerjakan shalat, kemudian di belakang hari diketahui bahwa si lelaki adalah Rafidhah yang tidak mengerjakan shalat, atau dia kembali menjadi Rafidhah (setelah rujuk menjadi sunni) lantas meninggalkan shalat, para wali tersebut dapat mem-fasakh pernikahannya.”

(Majmu’ Fatawa, 16/261)


Apakah Syiah Rafidhah Itu Muslim?

Apakah boleh menamakan Rafidhah dan orang-orang Iran sebagai kaum muslimin?

Asy-Syaikh al-Muhaddits Muqbil bin Hadi al-Wadi’i rahimahullah menjawab,

“Rafidhah itu berbeda-beda. Di antara mereka ada orang-orang awam yang tidak tahu apa-apa. Mereka ini tidak boleh kita kafirkan dan hukum asal mereka adalah Islam. Di antara mereka ada yang mengetahui akidah Rafidhah dan meyakininya, ini yang teranggap kafir. Yang saya maksudkan adalah akidah Khomeini.

Siapa di antara mereka yang meyakini akidah Khomeini atau akidah al-Kulaini penulis al-Kafi, dia kafir. Di antara mereka ada ulama yang tidak meyakini akidah tersebut, tetapi mereka terus-menerus di atas Rafidhahnya, maka mereka adalah mubtadi’.

Jadi, kita harus adil dalam hal ini. Siapa di antara mereka yang akidahnya seperti akidah Khomeini atau al-Kulaini, barulah dia dianggap kafir.

Mengapa kita mengatakan Khomeini kafir? Karena dia mengatakan sebagaimana dalam al-Hukumah al-Islamiyah, “Sungguh, para imam kita memiliki kedudukan yang tidak dapat dicapai oleh seorang nabi yang diutus, tidak pula bisa dicapai oleh malaikat yang dekat.” Ini baru satu kesesatan.

Yang kedua, “Nash-nash yang disampaikan oleh para imam kita sama dengan nash-nash al-Qur’an.”

Yang ketiga, “Sungguh, para nabi dan para imam ahlil bait tidak sukses melaksanakan tugas mereka sebagaimana kesuksesan yang akan diraih oleh al-Mahdi dalam tugasnya.”

Yang dimaksud al-Mahdi adalah khurafat mereka, yaitu penghuni Sirdab. Siapa yang meyakini akidah semacam ini, dia kafir. Wallahul musta’an.

Orang-orang awamnya tidak boleh kita hukumi kafir. Demikian pula ulama mereka yang tidak meyakini akidah tersebut dan tidak melakukan perbuatan-perbuatan kufur.”

(Ijabah as-Sail ‘ala Ahammil Masail, hlm. 526—527)

[1] Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata, “Kami berperang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa membawa serta istri kami.

Kami berkata, ‘Tidakkah sebaiknya kita mengebiri diri kita?’ Namun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kami melakukannya.

Beliau memberi rukhshah untuk kami menikahi perempuan setempat dengan mahar berupa pakaian sampai tempo waktu tertentu.” (HR. al-Bukhari dan Muslim, –pent.)

[2] HR. al-Bukhari dan Muslim, dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu. (–pent.)

[3] Kata Sabrah radhiallahu ‘anhu, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah kami melakukan mut’ah pada tahun Fathu Makkah ketika kami masuk kota Makkah. Tidaklah kami keluar dari Makkah hingga beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kami melakukan mut’ah.” (HR Muslim, –pent.)

[4] Perang Hunain terjadi setelah Fathu Makkah. (–pent.)

[5] HR. al-Bukhari dan Muslim. (–pent.)

[6] Ketua: asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz;

Wakil Ketua: asy-Syaikh Abdurrazzaq Afifi;

Anggota: asy-Syaikh Abdullah bin Ghudayyan dan asy-Syaikh Abdullah bin Qu’ud.

[7] Ketua: asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz;

Anggota: asy-Syaikh Abdullah bin Ghudayyan, asy-Syaikh

Shalih al-Fauzan, asy-Syaikh Abdul Aziz Alusy Syaikh, dan asy-Syaikh Bakr Abu Zaid.

[8] Dahulu pernah diperbolehkan namun pada akhirnya dilarang. (–pent.)

[9] Kalau masih lajang dicambuk 100 kali dan diasingkan. Yang sudah menikah dirajam sampai mati. Penegakan hukum had ini dilakukan oleh pihak penguasa, bukan individu atau kelompok. (–pent.)

Syiah Menistakan Kaum Hawa

Jika ingin tahu di mana ajaran yang ‘aneh tapi nyata’, jawabannya ada di agama Syiah. Kalau mau tahu ajaran sesat-menyesatkan, semuanya ada di Syiah.

Bagaimana tidak? Syiah mengoleksi demikian banyak keanehan, kejanggalan, sesuatu yang tidak bisa diterima oleh akal sehat, penyimpangan akidah, moral dan akhlak, serta menyelisihi fitrah manusia. Pun begitu, Syiah dianggap bagian dari Islam padahal Islam berlepas diri dari Syiah.

Berikut ini beberapa daftar kejahatan kaum yang rendah tersebut.

Dalam agama Syiah, kesyirikan bukanlah sesuatu yang dimungkiri. Seruan “Ya Husain!” biasa mereka ucapkan dalam perkumpulan mereka, dalam acara Husainiyat misalnya, seraya menepuk-nepuk dada. Lebih ngeri lagi syiriknya, mereka mengatakan bahwa Ali bin Abi Thalib, ayahanda Husain, adalah Rabb mereka pada hari kiamat.

Dalam agama Syiah ada pengagungan terhadap kuburan. Bahkan, beribadah dan sujud kepada kuburan tokoh-tokoh mereka adalah sesuatu yang biasa.

Dalam agama Syiah ada tuduhan bahwa al-Qur’an yang di tangan kaum muslimin itu kurang, tidak lengkap. Dalam agama Syiah ada penghinaan terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ahlul bait beliau.

Dalam agama Syiah ada pengafiran terhadap orang-orang terbaik dari umat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu para sahabat yang mulia radhiallahu ‘anhum, kecuali sedikit dari mereka.

Dalam agama Syiah ada legalisasi dusta dengan nama taqiyah. Bahkan, barang siapa tidak bertaqiyah, dia tidaklah beragama. Demikian anggapan mereka.

Dalam agama Syiah ada penghalalan darah orang-orang yang tidak mengikuti agama mereka, terutama darah Sunni (Ahlus sunnah) musuh besar Syiah.

Dalam agama Syiah ada kecintaan kepada Yahudi karena Syiah memang terlahir dari rahim Yahudi.

Dalam agama Syiah ada tindakan memakan harta manusia dengan cara batil yang dilakukan oleh tokoh agama mereka. Mereka menyebutnya khumus.

Dalam agama Syiah, shalat Jum’at tidak disyariatkan kecuali sekadar taqiyah, berpura-pura saja tanpa keyakinan. Bahkan, shalat lima waktu dikurangi menjadi tiga waktu. Yang lebih ngeri lagi, shalat dilakukan dengan menghadap foto atau poster tokoh agama mereka.

Dalam agama Syiah ada ritual menyantap najis, yaitu makan dan minum “kotoran” imam mereka. Mereka menganggap, barang siapa memakannya, ia akan selamat dari api neraka.

Dalam agama Syiah ada ritual sadis dengan memukul-mukul dahi dan punggung dengan benda tajam dalam peringatan Asyura.

Dalam agama Syiah ada kejahatan dan kezaliman yang diatasnamakan agama terhadap anak-anak kecil dengan menjadikan mereka berdarah-darah akibat pukulan pedang di dahi mereka. Anehnya, ini dilakukan sendiri oleh orang tua mereka dalam ritual acara Asyura.

Dalam agama Syiah dibolehkan sodomi, perbuatan kaum Luth (homoseks) juga dianggap halal.

Dalam agama Syiah ada penghalalan zina, penistaan terhadap perempuan atas nama mut’ah. Yang terakhir inilah yang ingin kita bicarakan secara khusus.

 

Nasib Perempuan Sebelum dan Setelah Islam

Islam dibawa oleh Sang Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam ke tengah manusia dalam keadaan nasib perempuan demikian terpuruk. Terkhusus di kalangan bangsa Arab pada masa jahiliah. Mereka membenci kelahiran bayi perempuan. Ada yang mengubur bayi perempuannya hidup-hidup. Ada pula yang membiarkannya hidup tetapi dalam keadaan terhina.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُم بِٱلۡأُنثَىٰ ظَلَّ وَجۡهُهُۥ مُسۡوَدّٗا وَهُوَ كَظِيمٞ ٥٨ يَتَوَٰرَىٰ مِنَ ٱلۡقَوۡمِ مِن سُوٓءِ مَا بُشِّرَ بِهِۦٓۚ أَيُمۡسِكُهُۥ عَلَىٰ هُونٍ أَمۡ يَدُسُّهُۥ فِي ٱلتُّرَابِۗ أَلَا سَآءَ مَا يَحۡكُمُونَ ٥٩

“Dan apabila salah seorang dari mereka diberi kabar dengan kelahiran anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) wajahnya dan dia sangat marah.

Dia menyembunyikan dirinya dari orang banyak disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memelihara anak perempuan tersebut dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup). Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.” (an-Nahl: 58—59)

Kalau ada bayi perempuan yang selamat dari penguburan hidup-hidup, dia tidak dipelihara dengan baik. Dia dibiarkan tumbuh dalam keadaan sengsara dan tersia-siakan.

Dia tidak berhak beroleh warisan dari kerabatnya yang meninggal walaupun kerabatnya tersebut kaya raya dan si perempuan fakir. Sebab, yang berhak mendapat warisan hanyalah kaum lelaki . Bahkan, apabila suaminya meninggal, si perempuan dan hartanya (apabila punya harta) menjadi warisan yang akan diambil oleh ahli waris suaminya. Mereka akan berbuat sesuka hati mereka kepadanya.

Di masa sebelum datangnya Islam, seorang lelaki bisa semaunya menikahi perempuan tanpa pembatasan dan tanpa peduli dengan keadaan istri-istri; kesempitan dan kezaliman, tidak ada mahar yang bisa dimiliki, tidak ada hak dan tidak ada pergaulan yang baik.

Keadaan pun berganti. Tatkala cahaya Islam bersinar menerangi bumi yang gulita, diangkatlah kezaliman terhadap perempuan. Islam menetapkan bahwa perempuan adalah manusia sebagaimana lelaki, keduanya berserikat dalam membentuk keturunan bangsa manusia.

          يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقۡنَٰكُم مِّن ذَكَرٖ وَأُنثَىٰ

“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang lelaki dan seorang perempuan….” (al-Hujurat: 13)

Keduanya pun berserikat dalam hal mendapatkan pahala atau hukuman atas perbuatan yang dilakukan.

مَنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا مِّن ذَكَرٍ أَوۡ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤۡمِنٞ فَلَنُحۡيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةٗ طَيِّبَةٗۖ وَلَنَجۡزِيَنَّهُمۡ أَجۡرَهُم بِأَحۡسَنِ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ٩٧

“Barang siapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, dalam keadaan beriman, sungguh akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sungguh akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (an-Nahl: 97)

          لِّيُعَذِّبَ ٱللَّهُ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ وَٱلۡمُنَٰفِقَٰتِ وَٱلۡمُشۡرِكِينَ وَٱلۡمُشۡرِكَ

“…sehingga Allah mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan….” (al-Ahzab: 73)

Allah subhanahu wa ta’ala mengharamkan perempuan dijadikan barang warisan.

          يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا يَحِلُّ لَكُمۡ أَن تَرِثُواْ ٱلنِّسَآءَ كَرۡهٗاۖ

“Wahai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kalian mewarisi perempuan dengan cara paksa….” (an-Nisa: 19)

        Bahkan, perempuan menjadi ahli waris atas harta yang ditinggalkan oleh kerabatnya yang wafat sebagaimana halnya kaum lelaki.

          لِّلرِّجَالِ نَصِيبٞ مِّمَّا تَرَكَ ٱلۡوَٰلِدَانِ وَٱلۡأَقۡرَبُونَ وَلِلنِّسَآءِ نَصِيبٞ مِّمَّا تَرَكَ ٱلۡوَٰلِدَانِ وَٱلۡأَقۡرَبُونَ مِمَّا قَلَّ مِنۡهُ أَوۡ كَثُرَۚ نَصِيبٗا مَّفۡرُوضٗا ٧

“Bagi para lelaki ada bagian dari harta peninggalan kedua orang tua dan karib kerabat. Dan bagi perempuan ada pula bagian dari harta peninggalan kedua orang tua dan karib kerabat, baik sedikit ataupun banyak menurut bagian yang telah ditetapkan.” (an-Nisa: 7)

        Dalam urusan nikah, Allah subhanahu wa ta’ala membatasi seorang lelaki untuk mengumpulkan maksimal empat orang istri, dengan syarat suami bisa berlaku adil di antara istri-istrinya dan bisa bergaul dengan baik dengan mereka.

          وَعَاشِرُوهُنَّ بِٱلۡمَعۡرُوفِۚ

        “Dan bergaullah kalian (para suami) dengan mereka (para istri) secara patut.” (an-Nisa: 19)

Diwajibkan bagi seorang lelaki untuk menyerahkan mahar kepada perempuan yang dinikahinya.

          وَءَاتُواْ ٱلنِّسَآءَ صَدُقَٰتِهِنَّ نِحۡلَةٗۚ

“Berikanlah mahar kepada perempuan yang kalian nikahi sebagai pemberian dengan penuh kerelaan….” (an-Nisa: 4)

Selain itu, suami diwajibkan memberi makan dan pakaian kepada istrinya, menurut penjelasan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hak istri dalam hadits beliau yang agung. (Tanbihat ‘ala Ahkam Takhtashshu bil Mu’minat, Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah, hlm. 5—6)

 

Perempuan dalam Ajaran Syiah

Lain perempuan dalam ajaran Islam, lain pula dalam ajaran Syiah. Syiah memperlakukan perempuan tidak seperti nilai-nilai yang ditanamkan oleh Islam. Mereka menjadikan perempuan sebagai budak nafsu mereka yang kotor. Namun, mereka menyembunyikan kebusukan tersebut dengan mengatasnamakan agama. Mut’ah namanya. Dibuatlah riwayat-riwayat yang palsu oleh para zindiq tentang keutamaan mut ’ah, lalu mereka sandarkan secara dusta kepada para imam ahlul bait yang mulia.

Dengan mut’ah, seorang lelaki dalam agama Syiah—apalagi sekelas Sayyid atau Ayatullah—bisa sesukanya “menikahi” perempuan, tidak harus ada wali dan tanpa harus ada saksi. Ketemuan berdua di jalan, suka sama suka, si lelaki berkata, “Aku ingin mut’ah denganmu.”

Jika si perempuan setuju, disepakatilah maharnya (baca: sewanya) dan bisa ditentukan berapa lama ingin menjalani mut’ah tersebut, hanya satu jam, semalam, atau lebih dari itu.

Disebutkan riwayat dari kitabrujukan utama mereka “al-Kafi[1], Khalaf bin Hammad berkata, “Aku mengutus seseorang untuk bertanya kepada Abu Hasan tentang batas minimal waktu mut’ah. Apakah diperbolehkan mut’ah dengan kesepakatan jangka waktu satu kali hubungan badan?” Jawabnya, “Ya, boleh.” (al-Kafi, 5/460)

Perempuan yang dinikahi secara mut’ah memang tidak layak disebut istri, tetapi perempuan sewaan (lantas apa bedanya dengan pelacur?). Mereka meriwayatkan secara jahat dan dusta lalu mereka sandarkan kepada Abu Abdillah al-Husain bin Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhuma. Kata riwayat dusta itu, Abu Abdillah berkata, “Menikahlah dengan seribu perempuan, karena perempuan yang dimut’ah adalah perempuan sewaan.” (al-Kafi, 5/452)

Setelah kontrak mut’ah habis, terus bagaimana? Ya, bubar begitu saja. Tidak ada hak dan kewajiban, tidak ada hubungan waris-mewarisi. Demikian pernyataan Ayatullah mereka, Ali as-Sistani, dalam bukunya, Minhaj as-Salihin (3/80, masalah ke-255).

Bagaimana kalau ternyata si perempuan yang dimut’ah hamil akibat hubungan tersebut, apakah si lelaki bertanggung jawab menafkahi anak yang dikandung?

Kata Ali as-Sistani dalam masalah ke-256 di kitab yang sama, “Laki-laki yang nikah mu’tah dengan seorang perempuan tidaklah wajib untuk menafkahi istri mut’ahnya, walaupun sedang hamil dari bibitnya.”

Bahkan, banyak kejadian di negeri Syiah sana, tidak diketahui siapa lelaki yang berhasil menanamkan benih di rahim si perempuan karena si perempuan berulang kali melakukan mut’ah dengan banyak lelaki dalam sebulan. Na’udzu billah.

Yang lucu, untuk mengobati hati perempuan pelaku mut’ah yang mungkin ‘hancur lebur’ karena hamil tanpa suami yang sah/permanen, dibuatlah ‘riwayat’ bahwa anak yang terlahir dari nikah mut’ah lebih utama daripada anak yang lahir dari pernikahan yang sah. Imam Ja’far versi mereka di kitab mereka berkata, “Dan anak hasil mut’ah lebih utama daripada anak dari istri da’im (dari nikah permanen).” (Tafsir Minhajus Shadiqin, al-Mulla al-Kasyani, 2/495)

Di negeri pengekspor ajaran Syiah atau yang mayoritas penduduknya beragama Syiah, anak-anak perempuan yang terlahir dari hasil mut’ah dibuatkan perkumpulan yang dinamakan Zainabiyat. Para perempuan Zainabiyat ini kelak siap dan suka hati menjadi “istri-istri” mut’ah.

Di sisi lain, para suami sah-sah saja menjadi dayyuts yang telah kehilangan akal sehatnya. Telah hilang rasa cemburu kepada istri-istri mereka. Mereka rela meminjamkan istrinya kepada tetangga, sahabat, atau siapa pun laki-laki yang dititipi selama si suami safar. Terserah yang dititipi mau berbuat apa saja terhadap istrinya.

Ini terjadi karena adanya fatwa ulama mereka tentang bolehnya i’aratul farj (menyewakan kemaluan). Ketika lelaki yang dititipi tersebut menggauli si istri, perbuatannya tidak dianggap zina, tetapi menikah sementara alias mut’ah selama suaminya safar. Na’udzu billah.

Lebih jauh lagi, mut’ah tidak hanya dilakukan dengan seorang gadis atau perempuan yang tidak memiliki suami sah. Mut’ah boleh dilakukan dengan istri orang lain, walau tanpa sepengetahuan dan ridha suaminya. Tidak hanya perempuan baligh yang menjadi korban ganasnya mut’ah, bahkan gadis kecil berusia kurang dari sepuluh tahun pun boleh dimut’ah, menurut fatwa ulama mereka.

Bahkan dikisahkan oleh Husain al-Musawi[2], Khomeini—imam Syiah yang sangat jahat dan Allah subhanahu wa ta’ala cukupkan kita dari kejahatannya dengan kematiannya—pernah melakukan mut’ah dengan bocah perempuan berusia 4 atau 5 tahun. (Lillahi Tsumma lit Tarikh, as-Sayyid Husain al-Musawi, hlm. 35—37)

Melengkapi kejahatannya, Khomeini memandang bolehnya mut’ah dengan bayi perempuan yang masih menyusu sekalipun, sebagaimana dalam bukunya Tahrir al-Wasilah (2/241, masalah no. 12).

Apa yang kita simpulkan dari pemaparan di atas?

Perempuan, dari bayi sampai yang dewasa, tidak memiliki kehormatan di sisi Syiah. Perempuan dihinakan, hanya menjadi objek pemuas nafsu setan. Kalau si lelaki masih suka, dia tahan dalam hubungan mut’ah. Apabila sudah bosan, ditinggalkan begitu saja. Sungguh sengsara!

Betapa banyak lelaki yang melakukan mut’ah dengan seorang perempuan dan dengan ibunya. Dia melakukan mut’ah dengan si ibu dan dengan putri si ibu. Terjadi juga perempuan bersaudara dimut’ah oleh lelaki yang sama. Bahkan, ada seorang perempuan dimut’ah oleh seorang lelaki. Di belakang hari, si lelaki memut’ah putrinya sendiri dari hasil mut’ah sekian tahun sebelumnya. (Lillahi Tsumma lit Tarikh, hlm. 44)

Husain al-Musawi memberikan persaksian, “Pernah datang kepadaku[3] seorang ibu, meminta penjelasan dariku tentang kejadian yang menimpa dirinya. Dia beritakan kepadaku bahwa seorang tokoh agama Syiah, yaitu Sayyid Husain ash-Shadr, pernah mut’ah dengannya lebih dari 20 tahun yang lalu. Dia hamil dari hasil hubungan tersebut. Ketika Sayyid Husain ash-Shadr sudah tidak menginginkan dirinya, dia pun ditinggalkan.

Beberapa waktu kemudian dia melahirkan seorang anak perempuan. Dia bersumpah bahwa anak itu adalah hasil hubungannya dengan Sayyid Husain ash-Shadr karena waktu itu tidak ada seorang lelaki pun yang melakukan mut’ah dengannya selain Sayyid Husain.

Setelah si anak perempuan tumbuh besar, menjadi seorang remaja putri yang cantik dan siap menikah, ternyata si ibu mengetahui bahwa putrinya telah hamil. Saat ditanya sebab hamilnya, putrinya memberitakan bahwa Sayyid Husain ash-Shadr telah melakukan mut’ah dengannya hingga hamil. Si ibu bingung, apa yang semestinya dia lakukan?”

Kemudian al-Musawi mengatakan bahwa kejadian seperti di atas sering sekali terjadi. Ada yang melakukan mut’ah dengan seorang remaja putri yang ternyata adalah saudari perempuannya dari hasil mut’ah. Ada yang melakukan mut’ah dengan istri ayahnya. Di Iran, kejadian seperti ini tidak mampu dihitung karena banyaknya. (Lillahi Tsumma lit Tarikh, hlm. 44)

Demikian gambaran penistaan kaum Syiah terhadap kaum wanita. Maka dari itu, wahai kaum Hawa, jagalah dirimu jangan sampai mengikuti ajaran sesat Syiah! Jangan sampai engkau tertipu oleh mulut manis saudara setan dengan dalih agama.

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

[1] Merupakan kitab hadits dan riwayat. Al-Kafi ini kedudukannya seperti Shahih al-Bukhari dalam agama Syiah. Penulisnya, Muhammad bin Ya’qub al-Kulaini, digelari Tsiqatul Islam.

[2] Beliau mantan ulama Syiah yang sudah bertobat. Beliau menulis buku berjudul Lillahi Tsumma lit Tarikh, yang membeberkan kebobrokan Syiah.

[3] Saat beliau masih bergabung dengan Syiah.

Nasib Malang Anak-Anak dalam Cengkeraman Syiah

Berbicara tentang anak-anak, tentu yang tergambar di benak adalah sesosok makhluk yang lemah. Cinta dan kasih sayang, itu yang terlintas untuk diberikan kepada mereka. Namun, apakah manusia-manusia yang terbelenggu pemahaman Syiah seperti itu juga?

Allah subhanahu wa ta’ala menganugerahkan cinta dan kasih sayang yang amat besar kepada seorang anak melalui kedua orang tuanya. Syariat ini pun memuji setiap orang yang memiliki rasa kasih sayang kepada anak-anak.

Bila kita membuka lembaran kitabullah, tercantum ayat-ayat tentang kisah Luqman tatkala mewujudkan kasih sayangnya kepada anaknya dalam bentuk bimbingan yang penuh hikmah. Luqman menyampaikan wasiat kepada putranya, seseorang yang paling dikasihi dan dicintainya serta paling berhak mendapatkan ilmu pengetahuan yang paling utama. Karena itulah, wasiat pertama yang dia sampaikan adalah agar sang putra hanya beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala semata, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun. (Tafsir al-Qur’an al-’Azhim, 6/192)

Pada ayat yang lain, Allah subhanahu wa ta’ala memerintah hamba-hamba-Nya yang beriman untuk menjaga keluarga—termasuk anak-anak mereka—dari ancaman api neraka.

        يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارٗا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ عَلَيۡهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٞ شِدَادٞ لَّا يَعۡصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمۡ وَيَفۡعَلُونَ مَا يُؤۡمَرُونَ ٦

Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Di neraka itu ada malaikat-malaikat penjaga yang keras lagi kasar, yang tidak pernah mendurhakai Allah dalam segala yang diperintahkan-Nya dan senantiasa melaksanakan apapun yang diperintahkan kepada mereka.” (at-Tahrim: 6)

Karena itulah, seorang hamba yang beriman harus menjaga dirinya dengan mewajibkan dirinya untuk melaksanakan perintah Allah subhanahu wa ta’ala , menjauhi segala larangan Allah subhanahu wa ta’ala, serta bertobat dari setiap perbuatan yang membuat murka Allah subhanahu wa ta’ala dan mendatangkan azab-Nya. Diiringi pula dengan upaya menjaga istri dan anak-anak dengan cara mendidik dan mengajari mereka, serta mengharuskan mereka melaksanakan segala perintah Allah subhanahu wa ta’ala. (Taisir al-Karim ar-Rahman, hlm. 874)

Dalam sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, betapa mudahnya kita menemukan berbagai bimbingan dan teladan untuk orang tua dalam mencurahkan kecintaan dan kasih sayang kepada anak-anak.

Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu mengungkapkan, bagaimana rasa sayang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada putranya yang lahir dari rahim Mariyah al-Qibthiyah radhiallahu ‘anha.

مَا رَأَيْتُ أَحَدًا كَانَ أَرْحَمَ بِالْعِيَالِ مِنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. قَالَ: كَانَ إِبْرَاهِيمُ مُسْتَرْضِعًا لَهُ فِي عَوَالِي الْمَدِينَةِ، فَكَانَ يَنْطَلِقُ وَنَحْنُ مَعَهُ، فَيَدْخُلُ الْبَيْتَ وَإِنَّهُ لَيَدَّخِنُ، وَكَانَ ظِئْرُهُ قَيْنًا، فَيَأْخُذُهُ فَيُقَبِّلُهُ ثُمَّ يَرْجِعُ

“Aku tak pernah melihat seseorang yang lebih besar kasih sayangnya kepada keluarganya dibandingkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Anas berkata lagi, “Waktu itu Ibrahim sedang dalam penyusuan di daerah ‘Awali dekat Madinah. Beliau berangkat untuk menjenguknya dan kami menyertai beliau. Kemudian beliau masuk rumah yang saat itu tengah berasap hitam, karena ayah susuan Ibrahim adalah seorang pandai besi. Kemudian beliau merengkuh Ibrahim dan menciumnya, lalu beliau kembali. (HR. Muslim no. 2316)

Tak hanya kepada putra-putri beliau sendiri, bahkan pada keumuman anak-anak para sahabat. Tak cukup satu-dua lembar untuk mengungkapkan teladan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang wujud kasih sayang dan bimbingan beliau kepada mereka. Begitu pula anjuran beliau terhadap para sahabat radhiallahu ‘anhum untuk memupuk kasih sayang pada anak-anak.

Demikianlah Islam menjaga dan memupuk anugerah Allah subhanahu wa ta’ala kepada orang tua, berupa rasa kasih sayang yang besar kepada anak-anak.

Namun, betapa tersayat jika kita menyaksikan perlakuan penganut agama Syi’ah terhadap anak-anak, baik anak sendiri, terlebih lagi anak-anak kaum muslimin. Sungguh, hampir tak sanggup tangan menuliskan ungkapan gambaran kebengisan dan kekejaman mereka. Tak sekadar merusak fisik dan mental, agamanya pun mereka berangus.

 

Syiah Mengajari Anak Kekufuran dan Kesesatan

Dalam Islam, orang tua memikul kewajiban untuk mengajari anak mengucapkan kalimat tauhid. Ketika anak beranjak dewasa, orang tua berkewajiban memahamkan makna kalimat mulia tersebut. Orang tua juga berkewajiban menanamkan kecintaan dan keimanan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, bahwa Allah subhanahu wa ta’ala sajalah yang mencipta, memberi rezeki, dan menolong saat berada dalam kesusahan, tidak ada sekutu bagi-Nya.

Namun, apa yang diajarkan oleh penganut agama Syiah kepada anakanak? Amat jauh bertolak belakang dengan Islam. Bagaimana tidak? Karena mereka bukan Islam, tentu yang mereka ajarkan pada anak-anak mereka adalah akidah dan agama kufur. Agama yang jauh dari sebutan agama rahmah, tetapi agama sadis dan bengis!

Dalam perayaan hari Asyura, dengan dalih mengenang penderitaan Husain bin Ali bin Abi Thalib di Karbala, mereka tak sekadar membacok dan melukai kepala mereka sendiri. Sampai hati pula mereka mengarahkan dan mengayunkan pisau besar nan tajam atau sebilah pedang, lalu membacok dan melukai kepala anak-anak dan bayi-bayi mereka. Sembari tersenyum mereka menyaksikan anak-anak itu bersimbah darah, seakan-akan itu bukan buah hati mereka!

Mendapatkan bukti tentang hal ini insya Allah tidaklah sulit bagi yang menginginkannya. Berbagai media informasi yang tersebar di seluruh penjuru dunia telah memuatnya.

Masih berkenaan dengan hari Asyura, mereka mengajari anak-anak mereka melakukan ritual penyiksaan diri. Diiringi dendangan “Ya Husain… Ya Husain…!” dengan bertelanjang dada, anak-anak laki-laki itu sepenuh tenaga memukuli tubuhnya sendiri dengan segepok besi berbentuk pisau.

(lihat http://www.youtube.com/watch?feature=player_detailpage&v=jgtOlAiJnhs)

Nas’alullaha as-salamah!

Penindasan terhadap agama anak tak hanya terjadi pada anak-anak mereka. Sebutlah apa yang terjadi di Suriah, negeri yang hancur di bawah kekuasaan seorang Syiah Nushairiyah. Pemerintahnya memaksa rakyat untuk menuhankan pemimpin negerinya, sebagai bagian dari akidah sesat mereka.

Yang menolak mengikrarkan atau bersujud pada potret penguasa, niscaya akan berhadapan dengan beragam bentuk siksaan atau pembunuhan yang sadis. Wal ‘iyadzu billah… Kaum muslimin di sana benar-benar tertindas dan terusir.

Kekufuran semacam itu tidak hanya mereka jejalkan kepada orang dewasa, tetapi juga kepada anak-anak. Suatu ketika, seorang anak kaum muslimin tertangkap oleh tentara Syiah. Dia pun diancam dan dipaksa menyatakan ucapan kufur. Akhirnya terjadi dialog antara orang-orang Syiah dengan anak yang malang ini. Berikut ini kurang lebih isi dialog itu.

“Siapakah penciptamu?”

“Bashar Assad.”

“Kepada siapa kamu berdoa?”

“Bashar Assad.”

“Siapa yang kamu sembah?”

“Bashar Assad.”

“Sekarang kamu paham…. Siapa Allah?”

“Bashar Assad.”

“Siapa Muhammad?”

“Bashar Assad.”

“Siapa        yang lebih kuat? Allah atau Bashar?”

“Allah Syria, Bashar.”

“Siapakah yang lebih baik? Allah atau Bashar?”

“Bashar.”

Anak itu pun dipaksa mengatakan, “Laa ilaha illa Bashar!”

(https://youtu.be/nkB0in0mtkg)

Sungguh, sekali lagi terasa berat untuk menukilkan dan menuliskan peristiwa semacam ini. Suatu peristiwa yang akan menghunjamkan luka yang tak terperikan sakit dan pedihnya dalam kalbu seorang yang bertauhid. Ini bukanlah satu-satunya kejadian yang ada di sana.

 

Syiah Melegalkan Prostitusi terhadap Anak

Salah satu syariat yang menunjukkan rusaknya agama Syiah adalah nikah mut’ah. Nikah yang telah diharamkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini pun dianggap sebagai bagian dari agama mereka. Bahkan, mereka hiasi dengan sederet janji palsu bagi pelakunya.

Kenyataan ini semakin menyesakkan dada orang yang mengetahui kebenaran, manakala melihat pelaksanaan mut’ah tak hanya pada wanita dewasa. Anak-anak balita, bahkan bayi yang masih menyusu pun menjadi incaran pelampiasan syahwat mereka.

Sayyid Husain al-Musawi, seorang ulama Syiah yang akhirnya kembali kepada kebenaran, adalah satu di antara murid dan orang terdekat pemimpin besar Syiah pada masanya, Khomeini. Dia menuturkan apa yang pernah terjadi pada pemimpin besar Syiah ini dalam perjalanan pulang dari salah satu lawatannya.

Ketika tiba di Baghdad, mereka melepas lelah di rumah Sayyid Shahib, seorang lelaki asal Iran, yang berada di kawasan al-’Athifiyah. Mereka disambut hangat oleh tuan rumah yang memang kenal dekat dengan Khomeini. Singkat cerita, dituturkan oleh al-Musawi berikut ini.

Menjelang waktu tidur, saat semua hadirin meninggalkan tempat kecuali sang tuan rumah, Imam Khomeini melihat gadis kecil berusia empat atau lima tahun yang sangat cantik. Imam meminta kepada ayahnya, Sayyid Shahib, untuk mut’ah dengan gadis kecil itu. Ayahnya pun menyetujui dengan amat gembira.

Imam Khomeini bermalam dan gadis kecil itu berada dalam dekapannya. Sementara itu, kami mendengar suara tangisan dan teriakannya! Yang jelas, imam telah melalui malam itu.

Ketika pagi tiba, kami duduk sarapan pagi bersama. Imam memandangku dan melihat tanda ketidaksenangan tampak jelas di wajahku. Bagaimana dia bisa melakukan mut’ah dengan seorang anak kecil, sedangkan di rumah itu banyak wanita muda yang baligh, berakal, yang memungkinkan bagi Khomeini melakukan mut’ah dengan salah seorang dari mereka? Mengapa dia tidak berbuat demikian?

Dia pun bertanya, “Sayyid Husain, apa pendapatmu tentang mut’ah dengan anak kecil?”

Aku menjawab, “Kata pemutus adalah ucapan Anda, kebenaran adalah perbuatan Anda, dan Anda adalah imam mujtahid. Orang seperti saya tidak mungkin berpandangan dan berpendapat kecuali sebagaimana pandangan dan pendapat Anda.”

Amat tidak memungkinkan bagiku untuk membantahnya saat itu.

Dia lalu mengatakan, “Sayyid Husain, sesungguhnya dibolehkan mut’ah dengan anak kecil, tetapi hanya dengan cumbuan, ciuman, dan tafkhidz (menghimpitkan kemaluan di antara dua paha, –pent). Adapun jima’, dia belum mampu melakukannya.”

Imam Khomeini juga membolehkan mut’ah dengan bayi perempuan yang masih menyusu. Dia mengatakan, “Tidak mengapa mut’ah dengan bayi yang masih menyusu, dengan pelukan, tafkhidz, dan ciuman.” Lihat kitabnya Tahrirul Wasilah 2/241, masalah no. 12. (Lillahi Tsumma lit Tarikh, hlm. 36—37)

 

Syiah Membenarkan Hubungan sejenis

Satu lagi yang menunjukkan tindakan amoral Syiah kepada anak-anak. Dituturkan oleh al-Musawi, ulama Syiah tidak hanya membolehkan menggauli

istri melalui duburnya, bahkan membolehkan liwath (hubungan seks sejenis) dengan laki-laki atau anak lelaki yang masih belia. Pembolehan itu didukung dengan riwayat palsu yang mereka sandarkan kepada imam mereka, Abu Abdillah Ja’far ash-Shadiq.

Dalam kitabnya ini, al-Musawi juga menuturkan kejadian-kejadian liwath yang dilakukan oleh para sayyid kepada anak-anak lelaki yang masih belia. (Lillahi tsumma lit Tarikh, hlm. 52—55)

Apakah masih ada orang yang sehat akalnya dan bersih jiwanya merasa aman dan yakin dengan agama palsu ini? Nas’alullaha as-salamah!

 

Syiah Membantai Anak-anak Kaum Muslimin

Apabila kaum muslimin hidup di negeri yang dikuasai oleh orang-orang Syiah, mereka hidup dalam keadaan dinistakan, dianiaya, bahkan dibunuh dengan berbagai cara yang sungguh jauh dari kata beradab. Sebutlah negeri-negeri seperti Iran, Lebanon, dan Suriah. Peperangan dilancarkan oleh penguasa Syiah beserta kaki-tangannya untuk menindas kaum muslimin, tanpa pandang bulu. Tak memandang usia, wanita, anak-anak dan lanjut usia, semua dibinasakan tanpa sedikit pun belas kasihan.

Sudah terlalu banyak bukti terpampang di berbagai media. Keterangan saksi mata, foto dan video sudah banyak tersebar berbicara kepada dunia, mengungkap tindakan sadis dan bengis mereka terhadap anak-anak. Padahal mereka bukanlah orang yang dibolehkan dibunuh dalam peperangan.

Diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma,

وُجِدَتِ امْرَأَةٌ مَقْتُولَةً فِي بَعْضِ مَغَازِي رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَهَى رَسُولُ اللهِ عَنْ قَتْلِ النِّسَاءِ وَالصِّبْيَانِ

Didapati seorang wanita terbunuh di salah satu peperangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Rasulullah pun melarang membunuh wanita dan anak-anak.” (HR. al-Bukhari no. 3015)

Memang, Syiah bukan Islam. Mereka sangat membenci Islam dan kaum muslimin. Karena itu, mereka tumpahkan kebencian itu dalam tindakan-tindakan yang sesuai dengan ajaran agama mereka, yang tentu saja jauh dari kata beradab sebagaimana yang diajarkan oleh Islam.

Masihkah kita akan percaya dengan agama amoral seperti ini?

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Abdirrahman bintu Imran

Pembelaan untuk Aisyah dari Celaan Syiah Rafidhah

Terlahir dari dua orang tua yang telah beriman dan memiliki kemuliaan, merupakan keistimewaan tersendiri bagi ibunda kaum mukminin, ‘Aisyah radhiallahu ‘anha[1]. Belum lagi sekian banyak kelebihan dan keutamaan yang disandang Humaira’[2], sebutan yang disematkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada beliau[3], dari sisi kebaikan akhlak, kezuhudan, kecerdasan, amal ibadah, dan sebagainya.

Semua itu mengokohkan rasa cinta dan penghormatan kaum muslimin kepada beliau radhiallahu ‘anha. Apalagi Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          ٱلنَّبِيُّ أَوۡلَىٰ بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ مِنۡ أَنفُسِهِمۡۖ وَأَزۡوَٰجُهُۥٓ أُمَّهَٰتُهُمۡۗ

“Nabi itu lebih berhak untuk dicintai oleh orang-orang beriman daripada diri mereka sendiri, sedangkan istri-istri beliau adalah ibu-ibu mereka (orang-orang beriman).” (al-Ahzab: 6)

Tidak ada seorang Ahlus Sunnah pun kecuali mencintai dan memuliakan ‘Aisyah radhiallahu ‘anha sebagai salah seorang dari ibu mereka. Bahkan, beliau adalah yang paling afdal di antara ummahatul mukminin bersama dengan Khadijah bintu Khuwailid radhiallahu ‘anha.

Menuliskan keistimewaan ‘Aisyah radhiallahu ‘anha niscaya akan memenuhi lembaran-lembaran kita. Beberapa di antaranya bisa kita nukilkan di bawah ini.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Keutamaan ‘Aisyah dibanding semua wanita seperti keistimewaan tsarid[4] dibanding semua makanan.” (HR. al-Bukhari no. 3770 dan Muslim no. 6249)

‘Aisyah radhiallahu ‘anha menempati tempat yang istimewa di hati Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melebihi ummahatul mukminin yang lain. Ini bukanlah rahasia karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengakuinya.

Sahabat yang mulia, ‘Amr ibnul ‘Ash radhiallahu ‘anhuma pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah orang yang paling engkau cintai?”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Aisyah.[5] (HR. al-Bukhari no. 4358 dan Muslim no. 6127)

Rasa cinta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lebih kepada ‘Aisyah radhiallahu ‘anha ini pun tak tersamarkan oleh para sahabat beliau. Jadi, apabila ingin memberi hadiah kepada Rasul, mereka menunggu saat hari giliran ‘Aisyah, saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di rumah Aisyah radhiallahu ‘anha, agar lebih menyenangkan hati dan membuat ridha beliau[6].

Kenyataannya, saat-saat bersama ‘Aisyah radhiallahu ‘anha adalah sesuatu yang dinantikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tanpa mengurangi hak istri-istri beliau yang lain karena beliau adalah suami yang sangat adil.

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sakit menjelang wafat, beliau selalu bertanya, “Di rumah siapa saya hari ini? Di rumah siapa saya besok?”, dalam keadaan beliau mengharapkan giliran Aisyah radhiallahu ‘anha.

Saat sakit beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bertambah parah, para istri beliau yang salihah mengizinkan beliau untuk dirawat di rumah istri yang mana pun yang beliau inginkan.

Akhirnya, asa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk selalu dekat dengan al-Humaira’ terpenuhi. Beliau dirawat di rumah ‘Aisyah hingga ajal menjemput dalam keadaan kepala beliau berada dalam dekapan ‘Aisyah[7].

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertitah kepada putri beliau Fathimah radhiallahu ‘anha, “Wahai putriku, tidakkah engkau mencintai apa yang aku cintai?”

Fathimah menjawab, “Tentu.”

Rasulullah bersabda, “Kalau begitu, cintai dia ( yakni ‘Aisyah).” (HR. al-Bukhari no. 2581 dan Muslim no. 6240)

Pernikahan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan ‘Aisyah radhiallahu ‘anha bukan semata didorong karena ‘Aisyah adalah putri sahabat beliau yang utama, Abu Bakr ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu, melainkan karena wahyu Allah subhanahu wa ta’ala.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada ‘Aisyah, “Engkau ditampakkan padaku dalam mimpi selama tiga malam. Seorang malaikat datang membawamu dengan mengenakan pakaian sutra putih, lalu malaikat itu berkata, ‘Ini adalah istrimu.’ Aku menyingkap wajahmu dan ternyata engkau.” (HR. al-Bukhari no. 5125 dan Muslim no. 6233)

Keistimewaan ‘Aisyah radhiallahu ‘anha juga tampak dengan wahyu yang turun dari langit hanya saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berada dalam selimut ‘Aisyah, tidak dalam selimut istri-istri yang lain.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada salah seorang istri beliau, “Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala tidak pernah menurunkan wahyu kepadaku ketika aku sedang berada di selimut salah seorang dari kalian selain ‘Aisyah.” (HR. al-Bukhari no. 3775)

‘Aisyah radhiallahu ‘anha pernah mendapatkan salam dari malaikat yang mulia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjadi penyampainya, kata beliau, “Malaikat Jibril mengucapkan salam kepadamu.”

‘Aisyah menjawab, “Wa’alaihissalam wa rahmatullah.” (HR. al-Bukhari no. 6253 dan Muslim no. 6251)

Orang-orang munafik pernah mencoba menjatuhkan kehormatan ‘Aisyah radhiallahu ‘anha dengan menuduhnya berzina dengan sahabat Shafwan ibnul Mu’aththal radhiallahu ‘anhu saat tertinggal dari rombongan dalam perjalanan pulang dari pertempuran menghadapi Bani Musthaliq.

Allah subhanahu wa ta’ala tidak membiarkan derita ‘Aisyah dan kehormatan keluarga Nabi-Nya terus diinjak-injak. Turunlah ayat-ayat dari atas langit sebagai pembelaan atas kehormatan ‘Aisyah. Surat an-Nur ayat 11 sampai 26 membantah tuduhan keji dan dusta kepada belahan jiwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam itu.

Allah subhanahu wa ta’ala mengisyaratkan dalam ayat-ayat tersebut bahwa ‘Aisyah adalah wanita yang baik dan menjaga kesuciannya. Adapun orang-orang yang memfitnahnya, Allah subhanahu wa ta’ala ancam dengan siksa yang pedih di dunia dan di akhirat.

Adapula satu kejadian yang menimpa ‘Aisyah radhiallahu ‘anha yang menjadi sebab keberkahan bagi umat Islam. Dalam satu safarnya bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para rombongan, ‘Aisyah radhiallahu ‘anha mengenakan kalung yang dipinjamnya dari saudarinya, Asma’ radhiallahu ‘anha. Kalung itu hilang dalam perjalanan. Merasa bertanggung jawab dengan kalung pinjaman tersebut, ‘Aisyah menyampaikan kepada suaminya tentang perihal kalung itu.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu mengutus sahabatnya untuk mencarinya sampai masuk waktu shalat. Padahal di tempat tersebut tidak ada air untuk berwudhu. Mereka pun shalat tanpa berwudhu. Ketika berjumpa dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka adukan hal itu kepada beliau. Allah subhanahu wa ta’ala lalu menurunkan ayat tentang tayammum.

Hal ini mendorong Usaid bin Hudhair radhiallahu ‘anhu berkata kepada ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, “Jazakillahu khairan (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan). Demi Allah, tidaklah menimpamu sesuatu yang engkau benci melainkan Allah menjadikan padanya kebaikan bagimu dan keberkahan bagi kaum muslimin.” (HR. al-Bukhari no. 3773)

Menjadi istri pengajar kebaikan bagi umat manusia tidak disia-disiakan begitu saja oleh Aisyah radhiallahu ‘anha. Aisyah radhiallahu ‘anha belajar, berguru, dan mengambil ilmu serta keteladanan dari suami shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sungguh-sungguh. Tidak mengherankan apabila ‘Aisyah mengumpulkan banyak ilmu dan riwayat. Bahkan, ‘Aisyah termasuk sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Keilmuan yang mendalam ini dipersaksikan oleh para sahabat dan tabi’in yang berguru kepada ‘Aisyah radhiallahu ‘anha.

Abu Musa al-As’ari radhiallahu ‘anhu, mengatakan, “Tidaklah para sahabat Rasulullah mengeluhkan sesuatu kecuali mereka bertanya kepada ‘Aisyah. Mereka akan mendapati di sisi ‘Aisyah ada ilmu tentang hal tersebut.” (Thabaqat Ibni Sa’d, 2/322)

Urwah bin az-Zubair mempersaksikan keilmuan bibinya, “Aku tidak pernah melihat orang yang lebih mengerti tentang fikih, dunia pengobatan, dan syair daripada ‘Aisyah.” (Siyar A’lam an-Nubala, 2/183)

Masruq pernah ditanya, “Apakah ‘Aisyah pandai dalam ilmu waris?”

Dia menjawab, “Demi Allah, aku menyaksikan para pemuka sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada ‘Aisyah tentang ilmu waris.” (Thabaqat Ibni Sa’d, 10/66)

Az-Zuhri berkata, “Kalau ilmu ‘Aisyah dibandingkan dengan ilmu seluruh wanita, pastilah ilmu ‘Aisyah lebih banyak.” (Siyar A’lam an-Nubala, 2/185)

Adz-Dzahabi menyebut ‘Aisyah sebagai wanita umat ini yang paling faqih secara mutlak. (Siyar A’lam an-Nubala, 2/135)

 

Syiah Membenci Aisyah radhiallahu ‘anha

Lain Ahlus Sunnah, lain pula Syiah. Keduanya tidak bisa didekatkan apalagi disatukan. Bak minyak dan air, tidak mungkin keduanya menyatu.

Amat dekat dengan sang Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, putri dari orang yang dekat dengan Rasul dan berilmu banyak tentang syariat Islam. Bisa jadi, itu sebabnya Syiah sangat membenci ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, di samping juga membenci dan mengafirkan para sahabat yang lain, selain sejumlah nama yang tidak melampaui lima jari.

Syiah ingin meruntuhkan Islam dan membangun kembali imperium Majusi Persia yang dahulu diluluhlantakkan oleh kaum Muslimin. Caranya ialah dengan mencela para pembawa panji Islam. Syiah hendak menghancurkan kemuliaan Rasul umat Islam dengan mencacati orang-orang dekat beliau. Tujuan akhirnya ialah kesimpulan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang jelek karena beristrikan para perempuan jelek, bersahabat dengan manusia-manusia buruk. Na’udzubillah!

‘Aisyah radhiallahu ‘anha, istri yang paling beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam cintai, justru dinista oleh Syiah. Celaan, hinaan, sumpah serapah, mereka tujukan kepada Ibunda kaum mukminin tersebut. Tujuannya agar semua hadits yang disampaikan oleh ‘Aisyah ditolak dan tidak dijadikan pedoman dalam syariat Islam. Padahal dikatakan bahwa seperempat hukum syariat dinukilkan dari ‘Aisyah. (Fathul Bari, 7/135)

Bayangkan, apa jadinya apabila Syiah berhasil menanamkan kebencian tersebut di hati kaum muslimin. Na’udzubillah.

Sebenarnya, tidak sanggup tangan ini untuk menuliskan celaan dan hinaan Syiah yang sangat keji kepada Sang Ibunda. Hati pun tidak sanggup menanggungnya. Akan tetapi, bukti perlu didatangkan agar kaum muslimin yakin bahwa Syiah amat jauh dari Islam; tidak mungkin berkompromi dengan mereka; dan tidak tertipu dengan taqiyah mereka bahwa Syiah tidak membenci ‘Aisyah.

Berikut ini beberapa bentuk penghinaan dan tuduhan mereka kepada Aisyah.

  1. Ali bin Ibrahim al-Qummi dalam Tafsir-nya (2/192) menyebutkan bahwa ‘Aisyah memiliki akhlak dan perangai yang buruk.
  2. Dalam kitab Ikhtiyar Ma’rifatur Rijal karya ath-Thusi (hlm. 57—60) dinukilkan secara dusta bahwa Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma pernah berkata kepada ‘Aisyah, “Kamu tidak lain hanyalah seorang pelacur dari sembilan pelacur yang ditinggalkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
  3. Ali al-’Amili al-Bayadhi dalam kitabnya, ash Shirathal Mustaqim (3/135 & 161) mengatakan bahwa ‘Aisyah digelari Ummu asy-Syurur (ibu kejelekan) dan Ummu asy-Syaithan (ibu setan).
  4. Di dalam Tafsirul Ayyasyi (1/342) karya Muhammad bin Mahmud al-Ayyasyi disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal karena diracun oleh ‘Aisyah dan Hafshah.
  5. Al-Bayadhi juga menyatakan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala belum membebaskan ‘Aisyah dari tuduhan orang-orang munafik dalam peristiwa haditsul ‘ifk.

Sebab, menurut mereka surat an-Nur ayat 26 turun tidak untuk membebaskan ‘Aisyah dari tuduhan, tetapi menyucikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari perbuatan zina. Jadi, mereka sepakat dengan orang-orang munafik bahwa ‘Aisyah benar-benar berbuat serong. (ash-Shirathal Mustaqim, 2/165)

  1. Ash-Shaduq dalam ‘Ilal asy-Syara’i (hlm. 303) dari Abdurrahim al-Qushahir berkata, “Abu Ja’far berkata kepadaku, ‘Ketika Imam kami (al-Qaim, imam Mahdi versi Syiah) sudah bangkit, Humaira’ akan dibawa kepadanya hingga Imam mencambuknya sebagai hukuman had dan membalaskan dendam untuk putri Muhammad, yaitu Fathimah’.”
  2. Muhammad Baqir al-Majlisi dalam kitabnya yang berbahasa Persia Haqqul Yaqin (hlm. 519) mengatakan, “Akidah kami (Syiah) dalam berlepas diri adalah sungguh kami berlepas diri dari empat berhala; Abu Bakr, Umar, ‘Utsman, dan Mu’awiyah. Kami berlepas diri dari empat wanita; ‘Aisyah, Hafshah, Hindun, dan Ummul Hakam. Kami juga berlepas diri dari semua pengikut dan kelompok mereka. Mereka adalah seburuk-buruk makhluk Allah subhanahu wa ta’ala di muka bumi.”
  3. Dalam al-Kafi (hlm. 17) disebutkan klaim mereka bahwa ‘Aisyah kafir sebagaimana istri Nabi Nuh dan Nabi Luth ‘alaihimassalam.
  4. Khomeini yang dielu-elukan sebagai pahlawan revolusi Islam Iran dalam bukunya, Thaharah (3/457) berkata, “Aisyah, Thalhah, Zubair, Mu’awiyah, dan orang-orang yang sejenisnya—meskipun secara lahiriah tidak najis—lebih buruk dan menjijikkan daripada anjing dan babi.”
  5. Pada 10 Muharram, orang Syiah mendatangkan kambing betina yang diberi nama ‘Aisyah. Mereka lalu mencabuti bulunya memukulinya dengan sepatu sampai mati. (Tabdhiduzh Zhalam wa Tanbihun Niyam, hlm. 27)

 

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menghancurkan kaum yang ingin merusak kehormatan wanita yang mulia ini. Wanita yang telah beroleh jaminan menjadi istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dunia dan di surga kelak[8].

Kita tentu akan mendustakan semua celaan dan hinaan Syiah terhadap wanita yang kita agungkan. Kemuliaan ‘Aisyah radhiallahu ‘anha tidak luntur di mata dan sanubari kaum muslimin karena celaan Syiah, kaum pendusta yang amat jahat. Al-Qur’an dan hadits yang menjadi pegangan kita, bukan ucapan para pendusta dan pendengki.

Orang Syiah jelas tidak percaya kalau kita sampaikan kepada mereka hadits-hadits tentang keutamaan ‘Aisyah. Sebab, mereka tidak memercayai hadits-hadits yang diriwayatkan oleh Ahlus Sunnah. Mereka hanya percaya dengan hadits-hadits yang ada di kitab mereka, seperti al-Kafi yang hendak dijadikan tandingan bagi Shahih al-Bukhari, kitab yang paling sahih setelah al-Qur’an.

Kita katakan, “Berbahagialah Humaira dengan keutamaan yang Allah subhanahu wa ta’ala berikan kepadanya, dan sungguh celaka Syiah yang membencinya….”

Wallahu ta’ala bish-shawab.

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Abdirrahman bintu Imran

[1] Beliau adalah Ummu ‘Abdillah ‘Aisyah bintu Abi Bakr ‘Abdullah bin Abi Quhafah ‘Utsman bin ‘Amir bin ‘Amr bin Ka’b bin Sa’d bin Taim bin Murrah bin Ka’b bin Lu’aI al-Qurasyiyah at-Taimiyah al-Makkiyah—semoga Allah subhanahu wa ta’ala meridhai beliau dan ayahnya.

[2] Disebut demikian karena ‘Aisyah adalah wanita jelita yang berkulit putih. (Siyar A’lam an-Nubala, 2/140)

Syiah tidak setuju bila dikatakan ‘Aisyah adalah wanita jelita berkulit putih.

[3] Silakan lihat kembali Majalah Syariah, lembar Sakinah, vol. I, No. 03, Juni 2003/Rabiul Akhir 1424 H

[4] Tsarid adalah bubur daging dan roti, makanan istimewa dan kebanggaan bangsa Arab.

[5] Dalam lanjutan hadits ini, ‘Amr bertanya siapa yang paling beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam cintai dari kalangan lelaki. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Ayah ‘Aisyah.”

Ini adalah berita yang pasti, kata al-Imam adz-Dzahabi, walaupun Syiah Rafidhah membencinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mungkin mencintai kecuali yang baik. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam mencintai lelaki yang paling utama dari umat beliau dan mencintai wanita yang paling utama dari umat beliau. Jadi, barang siapa membenci kekasih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia pantas dibenci oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya. (Siyar, 2/142)

[6] (HR. al-Bukhari no. 2574 dan Muslim no. 6239)

[7] (HR. al-Bukhari no. 3774 dan Muslim no. 6242)

[8] (HR. al-Bukhari no. 3772)

Pernikahan Rasulullah & Zainab Dalam Pandangan Syiah Rafidhah

Setahun sudah masa yang dilalui oleh Zaid bin Haritsah radhiallahu ‘anhu mengayuh bahtera rumah tangganya bersama sang istri, Zainab bintu Jahsy al-Asadiyah radhiallahu ‘anha. Hanya saja ketidakcocokan di antara keduanya terus membayangi keutuhan rumah tangga tersebut. Pernikahan keduanya yang sebenarnya diurus langsung oleh insan termulia, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, di ambang kehancuran.

Masalahnya mungkin bisa dirunut sebelum rumah tangga itu terbentuk. Zaid bin Haritsah al-Kalbi radhiallahu ‘anhuma adalah bekas budak yang kemudian dimerdekakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam . Saking sayangnya, sebelum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima wahyu sebagai utusan Allah subhanahu wa ta’ala , beliau mengangkat Zaid sebagai anak sehingga sempat disebut Zaid bin Muhammad.

Demikian keadaannya sampai turun ayat yang melarang menisbatkan nasab kepada selain ayah kandung.

وَمَا جَعَلَ أَدۡعِيَآءَكُمۡ أَبۡنَآءَكُمۡۚ ذَٰلِكُمۡ قَوۡلُكُم بِأَفۡوَٰهِكُمۡۖ وَٱللَّهُ يَقُولُ ٱلۡحَقَّ وَهُوَ يَهۡدِي ٱلسَّبِيلَ ٤ ٱدۡعُوهُمۡ لِأٓبَآئِهِمۡ هُوَ أَقۡسَطُ عِندَ ٱللَّهِۚ

“Allah tidaklah menjadikan anak-anak angkat kalian sebagai anak-anak kandung kalian. Hal itu sekadar ucapan di mulut-mulut kalian. Dan Allah mengucapkan yang haq (ucapan yang adil) dan Dia memberi petunjuk kepada jalan (yang lurus).

Panggillah mereka (anak-anak angkat tersebut) dengan menasabkan mereka kepada bapak-bapak (kandung) mereka, hal itu lebih adil di sisi Allah.” (al-Ahzab: 4—5)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin mencarikan pendamping hidup untuk orang yang beliau kasihi tersebut. Pilihan beliau jatuh kepada Zainab bintu Jahsy radhiallahu ‘anha yang masih kerabat dekat beliau, saudari sepupu. Ibu Zainab adalah bibi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari pihak ayah, Umaimah bintu Abdil Muththalib.

Awalnya, saat dipinang untuk Zaid, Zainab keberatan. Sebab, dari sisi nasab dia merasa lebih mulia. Dia dari keturunan bangsawan, sementara Zaid adalah maula, bekas budak. Kemudian turunlah ayat menegur keengganan tersebut,

          وَمَا كَانَ لِمُؤۡمِنٖ وَلَا مُؤۡمِنَةٍ إِذَا قَضَى ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥٓ أَمۡرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ ٱلۡخِيَرَةُ مِنۡ أَمۡرِهِمۡۗ وَمَن يَعۡصِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ ضَلَّ ضَلَٰلٗا مُّبِينٗا ٣٦

“Tidak pantas bagi lelaki yang beriman dan tidak pula bagi perempuan yang beriman, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan satu perkara, lalu ada pilihan lain bagi mereka (tidak tunduk kepada pilihan Allah dan Rasul-Nya). Siapa yang bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya, sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata.” (al-Ahzab: 36)[1]

Zainab radhiallahu ‘anha akhirnya menerima pinangan tersebut dalam rangka taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan mewujudkan harapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menginginkan agar pinangan beliau untuk maulanya bisa diterima.

Singkat cerita, keduanya menikah. Namun, memasuki tahun pertama, pilar rumah tangga itu tidak mampu lagi berdiri tegak. Mengadulah Zaid kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Zainab menyakitiku dengan ucapannya, dia melakukan ini dan itu. Aku ingin menceraikannya,” ujar Zaid.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang Zaid dari keinginannya tersebut dan menyuruhnya bersabar dengan istrinya. “Tahanlah istrimu untuk tetap bersamamu dan bertakwalah engkau kepada Allah!” nasihat sang Rasul.

Sementara itu, kabar dari atas langit telah turun kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa Zaid akan menceraikan Zainab dan setelah ‘iddah berlalu, Zainab akan menjadi istri beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kabar samawi tersebut membuat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam khawatir dan takut dengan omongan orang bahwa beliau menikahi bekas istri anak beliau. Hal tersebut tabu dan terlarang di masa jahiliah.

Allah subhanahu wa ta’ala menegur dan mengingatkan Rasul-Nya dalam ayat berikut ini,

          وَإِذۡ تَقُولُ لِلَّذِيٓ أَنۡعَمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِ وَأَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِ أَمۡسِكۡ عَلَيۡكَ زَوۡجَكَ وَٱتَّقِ ٱللَّهَ وَتُخۡفِي فِي نَفۡسِكَ مَا ٱللَّهُ مُبۡدِيهِ وَتَخۡشَى ٱلنَّاسَ وَٱللَّهُ أَحَقُّ أَن تَخۡشَىٰهُۖ

Ketika engkau berkata kepada orang yang telah Allah berikan nikmat kepadanya dan engkau pun telah memberinya nikmat (yakni Zaid bin Haritsah), “Tahanlah istrimu untuk tetap bersamamu dan bertakwalah kepada Allah!” Engkau sembunyikan dalam jiwamu apa yang akan Allah tampakkan. Engkau takut kepada manusia padahal Allah-lah yang lebih patut engkau takuti. (al-Ahzab: 37)

مَّا كَانَ عَلَى ٱلنَّبِيِّ مِنۡ حَرَجٖ فِيمَا فَرَضَ ٱللَّهُ لَهُۥۖ سُنَّةَ ٱللَّهِ فِي ٱلَّذِينَ خَلَوۡاْ مِن قَبۡلُۚ وَكَانَ أَمۡرُ ٱللَّهِ قَدَرٗا مَّقۡدُورًا ٣٨

“Tidak ada suatu keberatan pun atas Nabi tentang apa yang telah ditetapkan Allah baginya. (Allah telah menetapkan yang demikian) sebagai sunnah-Nya pada nabi-nabi terdahulu. Dan adalah keputusan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku.” (al-Ahzab: 38)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditegur oleh Allah subhanahu wa ta’ala karena menyembunyikan apa yang telah Allah subhanahu wa ta’ala beritahukan kepada beliau, yaitu terjadinya perceraian Zaid dan Zainab, kemudian beliau akan menikahi Zainab.

وَتَخۡشَى ٱلنَّاسَ وَٱللَّهُ أَحَقُّ أَن تَخۡشَىٰهُۖ

“Engkau khawatir dengan ucapan manusia dan celaan mereka kepadamu padahal Allah subhanahu wa ta’ala lah yang lebih pantas untuk engkau takuti. Karena itu, sampaikanlah apa yang Allah subhanahu wa ta’ala wahyukan kepadamu tanpa peduli dengan celaan manusia,” demikian makna ayat.

Setelah berlalu masa ‘iddah Zainab, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meminangnya untuk diri beliau. Allah subhanahu wa ta’ala yang menikahkan keduanya dari atas Arsy-Nya, dengan Allah subhanahu wa ta’ala mewahyukan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk masuk menemui Zainab yang telah sah menjadi istrinya dengan titah Allah subhanahu wa ta’ala. ‘Pernikahan istimewa lagi khusus’ tanpa ada wali, tanpa akad, tanpa mahar, dan tanpa saksi dari kalangan manusia.

فَلَمَّا قَضَىٰ زَيۡدٞ مِّنۡهَا وَطَرٗا زَوَّجۡنَٰكَهَا لِكَيۡ لَا يَكُونَ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ حَرَجٞ فِيٓ أَزۡوَٰجِ أَدۡعِيَآئِهِمۡ إِذَا قَضَوۡاْ مِنۡهُنَّ وَطَرٗاۚ وَكَانَ أَمۡرُ ٱللَّهِ مَفۡعُولٗا ٣٧

“Tatkala Zaid telah menyelesaikan hajatnya dari istrinya (tidak ada lagi keinginannya kepada Zainab dan menceraikannya dengan kemauan sendiri), Kami nikahkan engkau dengannya, agar supaya tidak ada keberatan bagi orang-orang beriman untuk menikahi istri anak-anak angkat mereka apabila anak-anak angkat tersebut telah menceraikan istri-istri mereka. Dan perkara yang telah Allah tetapkan dan tentukan, pastilah terlaksana.” (al-Ahzab: 37)

Dalam riwayat al-Imam Muslim rahimahullah dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu disebutkan,

لمَاَّ انْقَضَتْ عِدَّةُ زَيْنَبَ قَالَ رَسُوْلُ الله لِزَيْدٍ: فَاذْكُرْهَا عَلَيَّ قَالَ: فَانْطَلَقَ زَيْدٌ حَتَّى أَتَاهَا وَهِيَ تُخَمِّرُ عَجِيْنَهَا. قَالَ: فَلَمَّا رَأَيْتُهَا عَظُمَتْ فِي صَدْرِيْ حَتَّى مَا أَسْتَطِيْعُ أَنْ أَنْظُرَ إِلَيْهَا، أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ذَكَرَهَا فَوَلَّيْتُهَا ظَهْرِيْ وَنَكَصْتُ عَلَى عَقَبِي . فَقُلْتُ: يَا زَيْنَبُ، أَرْسَلَ رَسُولُ اللهِ يَذْكُرُكِ. قَالَتْ: مَا أَنَا بِصَانِعَةٍ شَيْئًا حَتَّى أُوَامِرَ رَبِّي. فَقَامَتْ إِلَى مَسْجِدِهَا وَنَزَلَ القُرْآنُ. وَجَاءَ رَسُوْلُ اللهِ فَدَخَلَ عَلَيْهَا بِغَيْرِ إِذْنٍ

Ketika selesai ‘iddah Zainab, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Zaid, “Sampaikan kepada Zainab, aku ingin meminangnya.”

Zaid pun pergi menemui Zainab yang sedang memberi ragi ke adonannya. Kata Zaid, “Ketika aku melihat Zainab, dia begitu agung dalam dadaku hingga aku tidak sanggup memandangnya[2], karena Rasulullah menyebutnya.” Aku pun memunggunginya dan berbalik ke belakang, lalu berkata, “Wahai Zainab, Rasulullah mengutusku, beliau ingin meminangmu.”

Zainab menjawab, “Saya tidak akan melakukan apa-apa sampai saya memohon petunjuk kepada Rabbku.”

Zainab pun bangkit menuju tempat shalatnya. Ketika itu al-Qur’an telah turun. Datanglah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu masuk menemui Zainab tanpa meminta izin. (Shahih Muslim, no. 3488)

Dengan pernikahan yang mubarak tersebut, Allah subhanahu wa ta’ala membatalkan kebiasaan mengangkat anak yang dikenal di kalangan orang-orang jahiliah dengan menasabkan anak angkat kepada ayah angkatnya[3], dengan penghalalan menikah dengan istri anak angkat setelah si anak angkat menceraikan istrinya atau dia meninggal dunia (cerai mati).

Yang haram dinikahi hanyalah mantan istri anak kandung sebagaimana firman-Nya tentang perempuan-perempuan yang haram dinikahi,

            وَحَلَٰٓئِلُ أَبۡنَآئِكُمُ ٱلَّذِينَ مِنۡ أَصۡلَٰبِكُمۡ

“(Diharamkan pula bagi kalian untuk menikahi) istri-istri dari putra-putra kalian yang terlahir dari sulbi kalian (anak lelaki kandung).” (an-Nisa: 23)

Demikianlah kisah pernikahan yang penuh hikmah Ilahi tersebut. Kisah yang melapangkan hati orang-orang beriman dan membuat takjub mereka. Pernikahan yang tidak ada duanya. Bayangkan! Allah subhanahu wa ta’ala yang langsung menikahkan kedua mempelai dengan menurunkan ayat dari atas langitnya,

زَوَّجۡنَٰكَهَا

     “Kami nikahkan engkau (wahai Muhammad) dengannya (Zainab).”

Orang-orang yang menyimpan kebenc ian dan dendam kepada Islam tidak senang kecuali sesuatu yang memperkeruh atau mencoreng kebaikan Islam. Di antara yang tidak senang tersebut adalah Syiah Rafidhah. Mereka mencari celah untuk memburukkan Islam dan Nabi umat Islam, walau dengan cara dusta dan khianat.

Terkait dengan pernikahan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Zainab radhiallahu ‘anha, ada riwayat batil yang menyenangkan hati orang-orang Rafidhah. Apakah itu?

Disebutkan bahwa suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang mencari Zaid di rumahnya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Zainab sedang berdiri. Zainab adalah wanita yang berkulit putih, cantik, dan berpostur bagus, termasuk wanita Quraisy yang paling sempurna keindahannya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menyukainya dan berkata, “Mahasuci Allah yang membolak-balikkan hati.”

Zainab mendengar ucapan tasbih tersebut maka dia menceritakannya kepada Zaid. Zaid pun paham. Dia berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam , “Wahai Rasulullah, izinkan saya untuk menceraikan Zainab, karena pada dirinya ada sifat sombong, merasa lebih mulia daripada saya, dan dia menyakiti saya dengan ucapannya.”

Namun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam malah berkata, “Tahanlah istrimu dan bertakwalah kepada Allah!”

Adapula riwayat batil lain yang menyebutkan bahwa saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke rumah Zaid, Allah subhanahu wa ta’ala mengutus angin sehingga terangkatlah gorden yang menutupi dalam rumah. Ketika itu Zainab mengenakan pakaian yang biasa dikenakan oleh seorang istri dalam rumahnya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun melihat Zainab hingga jatuh hati kepadanya.

Saat itu Zainab merasa bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tertarik kepadanya. Ketika Zaid pulang, Zainab menceritakan hal tersebut, maka Zaid ingin menceraikan Zainab.“Engkau sembunyikan dalam jiwamu rasa cinta kepada Zainab dan engkau takut, merasa malu kepada manusia.“ Demikian ayat mereka tafsirkan.

Lihatlah kisah di atas. Entah siapa yang pertama kali mengarangnya. Tanpa melihat sanad riwayat pun, hati orang-orang beriman pastilah menolaknya.

Dusta! Tidak mungkin!

Apalagi tidak ada satu pun jalur yang sahih untuk kisah di atas.

Al-Imam al-Qurthubi rahimahullah menyatakan, justru yang dipegangi oleh ahlu tahqiq dari kalangan mufassirin dan ulama rasikhin (yang mendalam ilmunya) seperti az-Zuhri, al-Qadhi Bakr ibnu al-‘Ala’ al-Qusyairi, al-Qadhi Abu Bakr ibnul ‘Arabi, adalah kisah yang telah kita bawakan di awal tulisan.

Riwayat yang menyebutkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam jatuh cinta kepada Zainab bersumber dari orang yang tidak tahu tentang kemaksuman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari perbuatan semacam itu, atau dari orang yang ingin merendahkan kehormatan/kemuliaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, 14/124)

Para nabi adalah orang-orang yang kedudukannya agung, paling menjaga ‘iffah, paling mulia akhlaknya, paling tinggi dan paling mulia martabatnya untuk melakukan hal yang disebutkan oleh kisah dusta di atas.

Selain itu, bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang meminang Zainab untuk Zaid? Seandainya dari awal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah terpaut hatinya kepada Zainab, tentu beliau yang akan menikahi Zainab, bukan malah diberikan kepada Zaid. Apalagi Zainab pada awalnya keberatan menikah dengan Zaid. (Fatawa al-Lajnah ad-Daimah, 18/138—140)

Kalau dikatakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam baru melihat kecantikan Zainab setelah diperistri Zaid, ini mustahil. Sebab, dekatnya hubungan kekerabatan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Zainab memberi kemungkinan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tahu “bagaimana” Zainab. Bukankah saat itu syariat hijab belum turun?

Dengan demikian, makna ayat “Engkau sembunyikan dalam jiwamu apa yang Allah akan menampakkannya”, bukanlah rasa cinta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Zainab yang masih berstatus sebagai istri Zaid; bukan pula keinginan kuat beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam agar Zaid menceraikan Zainab sehingga beliau bisa memperistri Zainab.

Yang benar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembunyikan kabar dari langit bahwa Zaid akan menceraikan Zainab, kemudian akan diperistri beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mengapa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sembunyikan? Karena khawatir dan malu, apa kata orang apabila beliau menikah dengan mantan istri anak angkatnya?

Ketika Zaid mengutarakan keinginannya untuk bercerai, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengiyakan. Beliau justru mengatakan, “Tahanlah istrimu dan bertakwalah kepada Allah!”

Dalil kebenaran penafsiran ini dari dua sisi, kata al-Imam asy-Syinqithi,

  1. Ayat “Engkau sembunyikan dalam jiwamu apa yang Allah akan menampakkannya”, ternyata yang Allah ‘azza wa jalla tampakkan adalah pernikahan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Zainab radhiallahu ‘anha pada firman-Nya, “Tatkala Zaid telah menyelesaikan hajatnya dari istrinya (tidak ada lagi keinginannya kepada Zainab dan menceraikannya dengan kemauan sendiri), Kami nikahkan engkau dengannya….”

Allah ‘azza wa jalla sama sekali tidak menampakkan kebenaran tuduhan mereka bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jatuh cinta kepada Zainab. Seandainya demikian, niscaya Allah subhanahu wa ta’ala akan menunjukkannya.

 

  1. Allah subhanahu wa ta’ala secara jelas menyebutkan dalam ayat bahwa Dia-lah yang menikahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Zainab radhiallahu ‘anha.

Hikmah ilahi dalam pernikahan tersebut adalah untuk memutus anggapan haramnya menikahi mantan istri anak angkat.

Firman-Nya, “Tatkala Zaid telah menyelesaikan hajatnya dari istrinya (tidak ada lagi keinginannya kepada Zainab dan menceraikannya dengan kemauan sendiri), Kami nikahkan engkau dengannya, supaya tidak ada keberatan bagi orang-orang beriman untuk menikahi istri anak-anak angkat mereka apabila anak-anak angkat tersebut telah menceraikan istri-istri mereka.”

Firman-Nya, “supaya tidak ada keberatan bagi orang-orang beriman…”, adalah alasan yang jelas Allah ‘azza wa jalla menikahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Zainab radhiallahu ‘anha.

Hikmah agung pernikahan ini juga menunjukkan secara nyata bahwa sebab pernikahan itu bukanlah karena Rasulullah jatuh cinta kepada Zainab—yang mereka katakan sebagai sebab Zaid menceraikan Zainab.

Yang lebih memperjelas hal ini adalah firman Allah ‘azza wa jalla, “Tatkala Zaid telah menyelesaikan hajatnya dari istrinya….

Ayat ini menunjukkan bahwa Zaid sudah menyelesaikan urusannya dengan Zainab. Tidak tersisa lagi keinginan kepada Zainab, lalu Zaid menceraikan Zainab dengan kemauan sendiri. (Adhwa’ul Bayan, 6/582—583)

Kalau ditanya, apa bukti bahwa kaum Rafidhah memiliki tuduhan jelek kepada sang Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam terkait hubungan beliau dengan Zainab?

Dalam kitab pegangan Rafidhah yang berjudul ‘Uyun Akhbar ar-Ridha (hlm. 113) disebutkan bahwa ash-Shaduq menukilkan dari ar-Ridha tentang firman Allah subhanahu wa ta’ala pada surat al-Ahzab ayat 37, “Ketika engkau berkata kepada orang yang telah Allah berikan nikmat kepadanya dan engkau pun telah memberinya nikmat (yakni Zaid bin Haritsah), “Tahanlah istrimu untuk tetap bersamamu dan bertakwalah kepada Allah.” Engkau sembunyikan dalam jiwamu apa yang Allah akan menampakkannya.

Ar-Ridha menafsirkan ayat ini, “Sungguh, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menuju rumah Zaid bin Haritsah untuk suatu urusan yang beliau inginkan. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Zainab, istri Zaid, sedang mandi.

Beliau berkata shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Zainab, “Mahasuci Dzat yang menciptakanmu.” (Sebagaimana dinukil dalam kitab Lillahi Tsumma lit Tarikh, hlm. 20, karya as-Sayyid Husain al-Musawi[4])

As-Sayyid Husain al-Musawi mengomentari setelah itu, “Apakah mungkin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memandang istri seorang muslim, menyukainya, dan terkagum-kagum kepadanya dengan mengatakan kepadanya, ‘Mahasuci Dzat yang telah menciptakanmu’?! Bukankah ini celaan terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?!”

Kemudian Sayyid Husain menukilkan celaan-celaan lain yang diarahkan Syiah Rafidhah kepada diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia[5]. Semuanya menjadi bukti bahwa Syiah tidak memuliakan dan tidak mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ahlul bait beliau.

Wallahul musta’an.

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

Sumber Bacaan:

  • Adhwaul Bayan, al-Imam asy-Syinqithi
  • al-Jami’ li Ahkamil Quran, al-Imam al-Qurthubi
  • ash-Shahih al-Musnad min Asbab an-Nuzul, asy-Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i
  • Fatawa al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts al-Ilmiyah wal Ifta
  • Lillahi Tsumma lit Tarikh, as-Sayyid Husain al-Musawi
  • Shahih Muslim, al-Imam Muslim an-Naisaburi
  • Tafsir al-Qur’an al-Azhim, al-Hafizh Ibnu Katsir

[1]              Ada sebab lain yang disebutkan sebagai sababun nuzul ayat ini, selain kejadian Zainab di atas, yaitu kisah Julaibib yang meminang seorang gadis dari kalangan Anshar. Kedua kejadian tersebut bisa tercakup dalam ayat, sebagaimana kata al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah, “Ayat ini umum dalam seluruh urusan. Sebab, apabila Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya telah menetapkan hukum sesuatu, tidak boleh bagi seorang pun menyelisihinya. Tidak ada lagi pilihan lain bagi seorang pun, tidak pula pendapat dan ucapan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤۡمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيۡنَهُمۡ ثُمَّ لَا يَجِدُواْ فِيٓ أَنفُسِهِمۡ حَرَجٗا مِّمَّا قَضَيۡتَ وَيُسَلِّمُواْ تَسۡلِيمٗا ٦٥

“Maka sekali-kali tidak demi Rabbmu, mereka tidaklah beriman hingga mereka menjadikanmu sebagai hakim pemutus dalam apa yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak mendapati adanya keberatan dalam jiwa mereka terhadap apa yang engkau putuskan dan mereka tunduk dengan sebenar-benarnya.” (an-Nisa: 65)

[2]               Saat itu belum turun perintah hijab. Ayat tentang hijab baru turun ketika walimah pernikahan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Zainab, sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu.

[3]               Ayatnya telah turun terlebih dahulu dan ditekankan lagi dengan pernikahan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mantan istri anak angkat beliau.

[4] Mantan ulama Syiah yang bertobat dan kembali kepada al-haq kemudian membongkar kesesatan Syiah.

[5] Lillahi Tsumma lit Tarikh, hlm. 21

Konsekuensi Berislam

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ ١٠٢

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفۡسٖ وَٰحِدَةٖ وَخَلَقَ مِنۡهَا زَوۡجَهَا وَبَثَّ مِنۡهُمَا رِجَالٗا كَثِيرٗا وَنِسَآءٗۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ٱلَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلۡأَرۡحَامَۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيۡكُمۡ رَقِيبٗا ١

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَقُولُواْ قَوۡلٗا سَدِيدٗا ٧٠ يُصۡلِحۡ لَكُمۡ أَعۡمَٰلَكُمۡ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۗ وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ فَازَ فَوۡزًا عَظِيمًا ٧١

أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كَ مَالُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ وَشَرَّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ

 

Jamaah sidang jumat rahimakumullah,

Perkenankanlah kami selaku khatib, pada kesempatan ini menyampaikan sedikit nasihat terutama untuk kami pribadi dan segenap kaum muslimin.

Pertama-tama, marilah kita bersama-sama meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Sebab, ketakwaan merupakan sebaik-baik bekal dan sebaik-baik perhiasan bagi seorang muslim. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          وَتَزَوَّدُواْ فَإِنَّ خَيۡرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقۡوَىٰۖ وَٱتَّقُونِ يَٰٓأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِ ١٩٧

“Dan berbekallah kalian! Karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah ketakwaan. Maka bertakwalah, wahai orang-orang yang berpikir.” (al-Baqarah: 197)

وَلِبَاسُ ٱلتَّقۡوَىٰ ذَٰلِكَ خَيۡرٞۚ

“Dan pakaian ketakwaan itulah yang lebih baik.” (al-A’raf: 26)

فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ

“Sungguh telah beruntung orang-orang yang bertakwa.”

Kemudian, marilah kita bersama-sama meningkatkan rasa syukur kita ke hadirat Allah subhanahu wa ta’ala yang telah mencurahkan berbagai bentuk kenikmatan lahir batin bagi kita. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَٱشۡكُرُواْ لِلَّهِ إِن كُنتُمۡ إِيَّاهُ تَعۡبُدُونَ ١٧٢

“Dan bersyukurlah kepada Allah jika kalian hanya beribadah kepada-Nya.” (al-Baqarah: 172)

          وَإِن تَشۡكُرُواْ يَرۡضَهُ لَكُمۡۗ

        “Dan jika kalian bersyukur, niscaya Dia akan meridhai kalian.” (az-Zumar: 7)

 

Hadirin rahimakumullah,

Kita perlu senantiasa menyadari bahwa segala kenikmatan yang sampai kepada kita datangnya dari Allah subhanahu wa ta’ala,

          وَمَا بِكُم مِّن نِّعۡمَةٖ فَمِنَ ٱللَّهِۖ

        “Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya).” (an-Nahl: 53)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          وَأَسۡبَغَ عَلَيۡكُمۡ نِعَمَهُۥ ظَٰهِرَةٗ وَبَاطِنَةٗۗ

“Dan Dia (Allah) telah mencurahkan bagi kalian kenikmatan-kenikmatan-Nya, baik secara lahir maupun batin.” (Luqman: 20)

Allah subhanahu wa ta’ala telah berjanji akan selalu menambahkan nikmat-Nya bagi manusia yang mau bersyukur, sebagaimana dalam firman-Nya,

          وَإِذۡ تَأَذَّنَ رَبُّكُمۡ لَئِن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِيدَنَّكُمۡۖ وَلَئِن كَفَرۡتُمۡ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٞ ٧

“Dan ingatlah ketika Allah menyatakan, ‘Sungguh, jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambahkan (nikmat-Ku) kepada kalian. Namun, jika kalian mengingkari nikmat-Ku, maka pasti azab-Ku sangat pedih’.” (Ibrahim: 7)

Seseorang yang bersyukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala, hakikatnya syukurnya untuk kebaikan dirinya sendiri. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          وَمَن شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشۡكُرُ لِنَفۡسِهِۦۖ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيّٞ كَرِيمٞ ٤٠

“Barangsiapa bersyukur, sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya. Namun, barang siapa ingkar, sesungguhnya Rabbku Mahakaya lagi Mahamulia.” (an-Naml: 40)

 

Jamaah Jum’ah rahimakumullah,

Oleh karena itu, sudah sepantasnya kita memperbanyak doa seperti doa Nabi Sulaiman ‘alaihissalam,

          رَبِّ أَوۡزِعۡنِيٓ أَنۡ أَشۡكُرَ نِعۡمَتَكَ ٱلَّتِيٓ أَنۡعَمۡتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَٰلِدَيَّ وَأَنۡ أَعۡمَلَ صَٰلِحٗا تَرۡضَىٰهُ وَأَدۡخِلۡنِي بِرَحۡمَتِكَ فِي عِبَادِكَ ٱلصَّٰلِحِينَ ١٩

“Ya Rabbku, jadikanlah diriku seorang yang (senantiasa) bersyukur atas kenikmatan yang Engkau karuniakan untukku, agar aku menjadi orang yang beramal saleh, serta masukkanlah diriku dengan rahmat-Mu ke golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.” (an-Naml: 19)

Di antara doa yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

        اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِعِبَادَتِكَ

“Ya Allah, bantulah diriku untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, serta beribadah dengan baik kepada-Mu.” (HR. Ahmad dan an-Nasai, dari Muadz radhiallahu ‘anhu)

 

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah!

Kenikmatan yang paling agung dan yang paling berharga yang Allah subhanahu wa ta’ala anugerahkan kepada kita adalah nikmat Islam dan nikmat iman. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          بَلِ ٱللَّهُ يَمُنُّ عَلَيۡكُمۡ أَنۡ هَدَىٰكُمۡ لِلۡإِيمَٰنِ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ ١٧

“Sebenarnya Allah-lah yang telah melimpahkan nikmat kepada kalian dengan menunjukkan kalian kepada keimanan, jika kalian itu orang-orang yang jujur.” (al-Hujurat: 17)

Sudah sepantasnya kita selalu mengucapkan,

ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ ٱلَّذِي هَدَىٰنَا لِهَٰذَا وَمَا كُنَّا لِنَهۡتَدِيَ لَوۡلَآ أَنۡ هَدَىٰنَا ٱللَّهُۖ

“Segala puji bagi Allah yang telah menunjukkan kami ke dalam agama Islam ini. Tidaklah kami akan mendapat petunjuk sekiranya Allah tidak memberi petunjuk kepada kami.” (al-A’raf: 43)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          وَمَن يَبۡتَغِ غَيۡرَ ٱلۡإِسۡلَٰمِ دِينٗا فَلَن يُقۡبَلَ مِنۡهُ وَهُوَ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ ٨٥

“Dan barang siapa memilih agama selain Islam, maka tidak akan diterima. Dia di akhirat kelak termasuk orang yang merugi.” (Ali Imran: 85)

Hal ini karena,

          إِنَّ ٱلدِّينَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلۡإِسۡلَٰمُۗ

“Sesungguhnya agama di sisi Allah hanyalah Islam.” (Ali Imran: 19)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱدۡخُلُواْ فِي ٱلسِّلۡمِ كَآفَّةٗ

“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan.” (al-Baqarah: 208)

Maksudnya adalah dengan mewujudkan tuntutan utama Islam berupa,

الْاِسْتِسْلَامُ بِالتَّوْحِيدِ

“Menyerahkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan mentauhidkan-Nya,”

وَ الْاِنْقِيَادُ لَهُ باِلطَّاعَةِ

“Tunduk patuh kepada-Nya dengan menaati-Nya,”

وَالْبَرَاءَةُ مِنَ الشِّرْكِ وَأَهْلِهِ

“dan berlepas diri dari kesyirikan dan para pelakunya.”

 

Ketika seseorang telah menjadikan Islam sebagai agamanya, dia harus mewujudkan ketiga perkara tersebut.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآياَتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، أَقُولُ مَا تَسْمَعُونَ وَأَسْتَغْفِرُ اللهِ لِي وَلَكُمْ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمِ

 

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ الْقَائِلِ

ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَٰمَ دِينٗاۚ

وَأَشْهَدُ أَنْ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ أَجْمَعِينَ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا، أَمَّا بَعْدُ

 

Saudaraku kaum muslimin yang kami muliakan!

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengirim surat kepada Hiraklius selaku Raja Romawi ketika itu. Di antara isi suratnya,

أَسْلِمْ تَسْلَمْ

        “Masuk Islamlah, niscaya dirimu akan selamat!” (HR. al-Bukhari, dari Abu Sufyan radhiallahu ‘anhu)

Perkataan demikian juga pernah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ucapkan kepada Adi bin Hatim radhiallahu ‘anhu, yang menunjukkan bahwa agama Islam adalah satu-satunya jalan keselamatan.

Tentunya, agama Islam tidak bisa menjadi jalan keselamatan kecuali jika penganutnya mewujudkan kewajiban dalam agama. Sesungguhnya dengan demikian itulah, Islam menjadi rahmatan lil ‘alamin.

Islam adalah agama yang membebaskan pemeluknya dari penghambaan kepada makhluk, menjadi penghambaan murni hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala semata.

Islam adalah agama yang menyelamatkan pemeluknya dari pengikut hawa nafsu menjadi pengikut sejati ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam; yaitu dengan membenarkan berita dari beliau, melaksanakan perintah beliau, menjauhi larangan beliau, dan beribadah sesuai dengan syariat beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Di antara tuntutan Islam yang berkaitan dengan sesama muslim ialah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin merasa selamat dari gangguan lisan dan tangannya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim, dari Abdullah bin Amr radhiallahu ‘anhuma)

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ، سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ إِلَهَ إِ أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ، وَالْحَمْدُ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Ishaq Abdullah Nahar

 

Jual Beli Barang Yang Belum Dikuasai

Ada calon pembeli pesan barang kepada penjual. Sudah terjadi kesepakatan harga, namun pembeli belum melakukan pembayaran. Kemudian penjual membeli barang dimaksud ke pemilik barang/supplier. Terjadi transaksi antara penjual dan supplier, lantas penjual membayar ke supplier. Barang dikirim ke penjual, kemudian penjual mengirimnya ke pembeli. Apakah model transaksi ini dibenarkan oleh syariat?

 

Dijawab oleh al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad as-Sarbini

Model transaksi yang digambarkan pada pertanyaan di atas tidak dibolehkandalam syariat yang agung ini, karena tergolong transaksi jual beli barang yang belum dimiliki.

Telah terjadi kesepakatan harga barang antara penjual dan pembeli meskipun belum dibayar. Artinya, telah terjadi akad transaksi jual beli antara keduanya padahal penjual belum punya barangnya. Setelah transaksi itu barulah penjual membeli barang tersebut kepada pemilik barang/supplier, lantas barang itu dikirim ke pembeli dan minta dikirim bayarannya.

Sebagian berdalih bahwa dirinya adalah wakil pemilik barang/supplier dan telah terjadi pembicaraan untuk menjualkan barangnya. Akan tetapi, realitasnya adalah setelah dia bertransaksi dengan pembeli, dia baru menghubungi pemilik barang/supplier untuk membeli darinya barang yang telah dipesan oleh pembeli.

Transaksi yang dilakukan antara penjual dan supplier—setelah penjual melakukan transaksi dengan pembeli—menunjukkan bahwa sesungguhnya dia bukan wakil, dan dia telah menjual barang yang tidak dimilikinya.

Yang namanya wakil adalah orang diamanati sebagai wakil pemilik barang untuk menjualkan barangnya kepada pembeli yang mau, dengan kesepakatan tertentu antara pemilik barang dengan wakil mengenai harga jual dan jasanya sebagai wakil dalam melariskan barangnya.

Misalkan, wakil dipersilakan menjual di atas harga yang ditetapkan supplier dan selisihnya sebagai jasanya, atau wakil diberi kebebasan menentukan harga jual lantas ia diberi jasa sekian persen dari harga jual itu. Jadi, transaksi yang terjadi hanya satu kali, yaitu antara pembeli dengan wakil pemilik barang.

Adapun mengaku sebagai wakil, tetapi setelah bertransaksi dengan pembeli ia pun bertransaksi dengan pemilik barang sesuai yang diinginkan pembeli, itu bukan perwakilan. Itu namanya menjual sesuatu yang belum dimiliki dan hal itu haram.

Di antara syarat jual beli adalah transaksi dilakukan oleh pemilik barang atau wakilnya. Begitu pula, di antara syarat jual beli adalah menjual sesuatu yang telah dikuasai penuh sehingga mampu diserahkan kepada pembeli. Apabila kedua syarat ini dilanggar, berarti ia menjual sesuatu yang tidak dimiliki dan termasuk dalam kategori gharar (spekulasi judi) yang merupakan transaksi yang batil.

Terdapat nash dalam as-Sunnah yang menetapkan syarat kepemilikan barang, yaitu hadits Hakim bin Hizam radhiallahu ‘anhu,

        يَارَسُولَ اللهِ، يَأْتِينِيْ الرَّجُلُ فَيُرِيدُ مِنِّي الْبَيْعَ لَيْسَ عِنْدِيْ، أَفَأَبْتَاعُهُ لَهُ مِنَ السُّوقِ؟ فَقَالَ: لاَ تَبِعْ مَا لَيْسَ عِنْدَكَ

“Wahai Rasulullah, seorang pria datang kepadaku lalu ia ingin bertransaksi jual beli denganku yang tidak kumiliki. Apakah boleh aku belikan untuknya dari pasar?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kamu jangan menjual apa yang tidak kamu miliki.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi—dengan berkata, “Hadits ini hasan”—, an-Nasa’i, Ibnu Majah, dan lainnya. Dinilai sahih oleh al-Albani)[1]

Terdapat tiga pendapat yang berbeda dalam menafsirkan hadits ini yang dinukil oleh Ibnu Taimiyah dan dinukil darinya oleh muridnya, Ibnul Qayyim, dalam Zadul Ma’ad.[2]

Tafsir yang dianggap paling tampak kebenarannya oleh Ibnul Qayyim rahimahullah adalah larangan penjualan sesuatu yang disifatkan dalam dzimmah/tanggung jawab tanpa penentuan fisik barangnya (bersifat mutlak) yang tidak dimiliki dan tidak mampu diserahkan kepada pembeli.

Dengan akad itu berarti penjual telah mengeruk laba sebelum dia memiliki barangnya, sebelum menjadi tanggung jawabnya, dan sebelum mampu ia serahkan. Ini termasuk dalam kategori jual beli yang mengandung gharar (spekulasi judi).

Apabila hadits ini melarang penjualan sesuatu yang disifatkan dalam dzimmah/tanggung jawab (bersifat mutlak), lebih terlarang lagi tidak boleh menjual sesuatu barang yang telah ditentukan fisik barangnya (bersifat mua’yyan) yang merupakan harta benda milik orang lain.

Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah menjelaskan bahwa spekulasi (mukhatharah) ada dua macam:

  1. Spekulasi perdagangan.

Seseorang membeli barang dagangan dengan maksud berdagang dan meraih laba, dan ia bertawakal kepada Allah subhanahu wa ta’ala pada perdagangannya. Pedagang yang berspekulasi dengan membeli barang dagangan, kemudian harganya turun di pasaran (sehingga pedagang rugi), hal seperti itu Allah subhanahu wa ta’ala yang mengaturnya, tidak ada upaya manusia atas hal ini.

Pada perdagangan ini, pihak pembeli tidak terzalimi oleh penjual (ketika mengambil untung dari penjualannya).

 

  1. Spekulasi perjudian.

Ini adalah spekulasi adu nasib yang mengandung perbuatan memakan harta secara batil. Lantas Ibnul Qayyim menyebutkan contoh-contohnya.

Kemudian Ibnul Qayyim menegaskan pula bahwa penjualan sesuatu yang tidak dimiliki adalah termasuk kategori perjudian/mengadu nasib. Dalam hal ini pembeli tidak tahu bahwa penjual telah menjual kepadanya suatu barang yang tidak dimilikinya, lalu ia membelinya dari orang lain setelah itu. Jika orang banyak mengetahui hal itu, mereka tidak akan mau membeli darinya. Tentu saja mereka akan pergi sendiri ke tempat ia membelinya.

Jenis ini bukan spekulasi para pedagang yang berdagang, melainkan spekulasi orang yang terburu-buru menjual suatu barang sebelum ia berkemampuan menyerahkannya kepada pembeli. Apabila pedagang telah membeli barang yang ingin diperdagangkannya dan telah menggenggam dan menguasainya, hal itu masuk dalam kategori spekulasi perdagangan. Dia menjualnya dalam perdagangan sesuai dengan yang Allah subhanahu wa ta’ala halalkan pada firman-Nya,

          يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَأۡكُلُوٓاْ أَمۡوَٰلَكُم بَيۡنَكُم بِٱلۡبَٰطِلِ إِلَّآ أَن تَكُونَ تِجَٰرَةً عَن تَرَاضٖ مِّنكُمۡۚ

‘Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian saling memakan harta di antara kalian dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan rela sama rela di antara kalian.’ (an-Nisa’: 29)[3]

Dari keterangan Ibnul Qayyim rahimahullah di atas, kita ketahui bahwa kendati seseorang telah memiliki suatu barang dengan membelinya melalui akad yang sempurna, barang itu belum boleh ia jual kembali kepada siapapun hingga ia kuasai secara penuh, karena masih mengandung gharar (spekulasi judi). Sebab, selama ia belum menguasainya secara penuh, boleh jadi penjual menyerahkan kepadanya dan boleh jadi tidak.

Apalagi jika penjual melihatnya telah mengeruk laba dari barang itu sebelum diangkut dari tempatnya, sehingga ia berusaha membatalkan akad dengan mengingkari atau rekayasa pembatalan.

Di samping itu, dikhawatirkan pula timbul kebencian/permusuhan antara keduanya. Inilah sebab/faktor dilarangnya hal itu dilarang—menurut pendapat yang rajih—sebagaimana telah ditegaskan oleh Ibnu Taimiyah dan Ibnu ‘Utsaimin.

Jadi, untuk bisa menjual barang belian itu, ia terlebih dahulu harus menggenggamnya/menguasainya secara penuh dengan cara mengangkutnya/memindahnya dari tempat penjual ke tempatnya, seperti rumah, toko, atau semisalnya. Dalilnya adalah:

  • Hadits Zaid bin Tsabit radhiallahu ‘anhu, ia berkata,

إِنَّ رَسُولَ اللهِ نَهَى أَنْ تُبَاعَ السِّلَعُ حَيْثُ تُبْتَاعُ حَتَّى يَحُوزَهَا التُّجَّارُ إِلَى رِحَالِهِمْ

“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang penjualan barang-barang dagangan di tempat dibelinya barang-barang itu hingga para pedagang mengangkutnya ke rumah-rumah mereka.” (HR. Abu Dawud, dinyatakan hasan oleh al-Albani dengan penguatnya)[4]

  • Hadits Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma, ia berkata,

قَدْ رَأَيْتُ النَّاسَ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللهِ إِذَا ابْتَاعُوا الطَّعَامَ جِزَافًا يُضْرَبُونَ فِيْ أَنْ يَبِيعُوهُ فِي مَكَانِهِمْ، وَذَلِكِ حَتَّى يُؤْوُوهُ إِلَى رِحَالِهِمْ

“Sungguh, aku telah menyaksikan di masa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, apabila mereka membeli makanan dengan system borong, mereka dipukul[5] karena menjualnya di tempat pembeliannya, hingga mereka mengangkutnya ke rumah-rumah mereka.” (Muttafaq ‘alaih)

Namun, jika pembeli telah mengangkutnya/memindahnya dari tempat penjual ke tempat lain yang berada di luar wewenang penjual, hal itu sudah cukup.

Ini adalah pendapat jumhur ulama yang difatwakan oleh al-Lajnah ad-Da’imah (yang saat itu diketuai oleh Ibnu Baz). Hal ini ditunjukkan oleh hadits Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma di atas pada riwayat Muslim lainnya dengan lafadz,

كُنَّا نَشْتَرِي الطَّعَامَ مِنَ الرُّكْبَانِ جِزَافًا، فَنَهَانَا رَسُولُ اللهِ أَنْ نَبِيعَهُ حَتَّى نَنْقُلَهُ مِنْ مَكَانِهِ

“Kami membeli makanan dari para pedagang asing dengan system borong, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kami menjualnya hingga kami mengangkutnya dari tempatnya.”

Pada riwayat Muslim lainnya dengan lafadz,

كُنَّا فِي زَمَانِ رَسُولِ اللهِ نَبْتَاعُ الطَّعَامَ، فَيَبْعَثُ عَلَيْنَا مَنْ يَأْمُرُنَا بِانْتِقَالِهِ مِنَ الْمَكَانِ الَّذِي ابْتَعْنَاهُ فِيهِ إِلَى مَكَانٍ سِوَاهُ قَبْلَ أَنْ نَبِيعَهُ

“Pada zaman Rasulullah, kami membeli makanan, lantas beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus kepada kami petugas yang memerintahkan agar barang itu diangkut dari tempat kami membelinya ke tempat lain sebelum kami menjualnya.”

Al-Imam Ahmad rahimahullah pada salah satu riwayat darinya mengkhususkan hukum ini berlaku pada makanan. Beliau berdalil dengan hadits Jabir bin ‘Abdillah radhiallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا ابْتَعْتَ طَعَامًا فَلَا تَبِعْهُ حَتَّى تَسْتَوْفِيَهُ

“Apabila engkau membeli makanan, jangan engkau jual hingga engkau mengangkutnya ke tempatmu.” ( HR. Muslim)

Menurut pendapat ini, jika membeli binatang, kendaraan, perabot rumah, dan semacamnya selain makanan, boleh dijual lagi walaupun di tempat transaksi.

Namun, pendapat ini lemah. Yang rajih, hukum ini umum meliputi seluruh jenis barang. Ini adalah pendapat Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma, asy-Syafi’i, dan riwayat lain dari Ahmad, yang dipilih Ibnu ‘Aqil, Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, asy-Syaukani, ash-Shan’ani, dan al-‘Utsaimin.

Dalilnya adalah keumuman makna hadits Zaid bin Tsabit yang telah disebutkan sebelumnya dan hadits Hakim bin Hizam radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا اشْتَرَيْتَ بَيْعًا فَلاَ تَبِعْهُ حَتَّى تَقْبِضَهُ

“Jika kamu membeli suatu barang, jangan kamu jual hingga kamu menggenggamnya.” (HR. Ahmad, an-Nasa’i, dan Ibnu Hibban; dinyatakan sahih oleh al-Albani)[6]

Hanya saja, untuk harta yang bersifat tetap (tidak bergerak), seperti tanah, rumah, gedung, dan semacamnya, penggenggamannya dilakukan dengan cara takhliyah (pembeli dipersilakan dan dibiarkan dengan harta itu secara bebas tanpa ada penghalang).[7]

Buah di pohon boleh dijual setelah takhliyah meskipun belum dipetik, menurut riwayat terkuat dari Ahmad yang dipilih oleh Ibnu Taimiyah dan Ibnu ‘Utsaimin. Sebab, menggenggam buah di pohon selama masa penantian waktu panen adalah di luar kemampuan pembeli.

Ini seperti dibolehkannya penyewa suatu barang untuk menyewakannya kepada orang lain setelah diserahkan kepadanya, padahal tanggung jawab harta itu—pada kedua masalah ini—masih di tangan pemiliknya.

Ibnu Taimiyah memperkecualikan dua perkara yang dibolehkan kendati belum digenggam/dikuasai penuh, yaitu,

  1. menjualnya kembali kepada penjual itu sendiri
  2. menjualnya kepada orang lain secara tauliyah (kembali modal), tidak mengeruk keuntungan sepeser pun.

Alasannya, illat/faktor hukum larangan itu ternafikan pada kedua masalah ini.

Sementara itu, Ibnu ‘Utsaimin tidak menyetujui pengecualian tersebut, karena illat hukum tersebut adalah hasil ijtihad semata, yang mungkin benar dan mungkin pula keliru. Jadi, ia tidak kuat untuk dijadikan alasan pengkhususan sebagian masalah keluar dari keumuman makna nash.

Yang terbaik adalah menetapkan keumuman makna hadits tanpa pengecualian apapun demi mengikuti lahiriah hadits. Tentu saja, apa yang dikatakan Ibnu ‘Utsaimin lebih hati-hati. Wallahu a’lam.[8]

[1] Lihat kitab al-Irwa’ no. 1292.

[2] Lihat kitab ZadulMa’ad (5/811—813)

[3] Lihat kitab Zadul Ma’ad (5/816).

[4] Lihat kitab Shahih Sunan Abi Dawud (no. 3499).

[5] Yakni sebagai hukuman agar jera.

[6] Lihat kitab Shahih al-Jami’ (no. 342).

[7] Misalnya, jika harta itu berupa rumah, caranya ialah diberi kuncinya.

[8] Lihat kitab Syarhu Muslim lin Nawawi (pada “Bab Buthlan Bai’ al-Mabi’I Qabla al-Qabdhi”), Fathul Bari (pada “Bab Bai’ ath-Tha’am Qabla an Yuqbadha”), al-Mughni (6/181—184, 186—191, 194), al-Ikhtiyarat (hlm. 187—188), Nailul Authar (pada “Bab Nahyi al-Musytari ‘an Bai’ Ma Isytarahu Qabla Qabdhihi”), as-Sail al-Jarrar (3/15—16), Subulus Salam, Fathu Dzil Jalal wal Ikram (pada “Bab Syuruthihi wa Ma Nuhiya ‘anhu” syarah hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dan hadits Zaid bin Tsabit radhiallahu ‘anhu), asy-Syarh al-Mumti’ (8/366—372, 376—380, 385—387), dan Fatawa al-Lajnah (13/ 240, 247, 258—259).

Perumpamaan Al-Haq dan Al-Bathil (1)

Terhadap setiap kenikmatan yang dirasakan oleh seorang manusia tentu ada yang mendengkinya. Terutama kenikmatan yang paling utama yang dianugerahkan Allah subhanahu wa ta’ala kepada seorang manusia, yaitu nikmat keimanan. Itulah salah satu bentuk ujian yang Allah subhanahu wa ta’ala tetapkan bagi manusia.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          تَبَٰرَكَ ٱلَّذِي بِيَدِهِ ٱلۡمُلۡكُ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٌ ١ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلۡمَوۡتَ وَٱلۡحَيَوٰةَ لِيَبۡلُوَكُمۡ أَيُّكُمۡ أَحۡسَنُ عَمَلٗاۚ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡغَفُورُ ٢

“Mahasuci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu, Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun.” (al-Mulk: 1—2)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّا جَعَلۡنَا مَا عَلَى ٱلۡأَرۡضِ زِينَةٗ لَّهَا لِنَبۡلُوَهُمۡ أَيُّهُمۡ أَحۡسَنُ عَمَلٗا ٧

“Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.” (al-Kahfi: 7)

          وَهُوَ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٖ وَكَانَ عَرۡشُهُۥ عَلَى ٱلۡمَآءِ لِيَبۡلُوَكُمۡ أَيُّكُمۡ أَحۡسَنُ عَمَلٗاۗ

“Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah Arsy-Nya di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (Hud: 7)

Ayat-ayat yang mulia ini menerangkan kepada kita bahwa di antara hikmah Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan semua yang ada di alam semesta ini tidak lain adalah sebagai ujian bagi para hamba-Nya, siapakah di antara mereka yang paling baik amalannya. Yang dimaksud dengan yang lebih baik amalnya ialah yang paling ikhlas (beramal hanya karena Allah subhanahu wa ta’ala) dan yang paling benar (paling sesuai dengan sunnah Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam).

Tidak ada satu pun manusia yang akan lolos dari ujian tersebut. Ujian-ujian yang diberikan kepada manusia beraneka ragam dan sesuai dengan keadaan iman yang ada di dalam hati setiap manusia. Semakin kuat keimanannya, semakin berat ujian yang diterima oleh seorang manusia.

Al-Imam Ahmad meriwayatkan dari Sa’d bin Abi Waqqash radhiallahu ‘anhu yang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

        أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلَاءً؟ قَالَ: فَقَالَ: الْأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ، يُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلَاؤُهُ، وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَمَا يَبْرَحُ الْبَلَاءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى الْأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ

“Siapakah manusia yang paling berat ujiannya?”

Kata beliau, “(Yaitu) para nabi, kemudian orang-orang yang mulia dan baik (satu demi satu sesuai kedudukannya, –ed.). Seseorang diuji sesuai dengan kadar agamanya. Apabila agamanya kokoh, ujiannya pun berat. Jika dalam agamanya ada kelemahan, dia diuji sesuai dengan kadar agamanya.

Ujian itu akan selalu menimpa seorang hamba sampai membiarkannya berjalan di muka bumi tanpa ada dosa melekat pada dirinya.” (HR. Ahmad (1607), at-Tirmidzi (2398), dinyatakan hasan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani.)

Menurut ath-Thahawi dalam Syarh Musykilul Atsar[1], ujian yang disesuaikan dengan kadar iman ini, berlaku atas manusia biasa, bukan atas para nabi dan rasul shalawatullahi wa salamuhu ‘alaihim. Alasannya, karena pada para nabi itu tidak ada kelemahan atau kerapuhan di dalam agama mereka. Di dalam hadits ini juga dijelaskan bahwa kaum muslimin, selain para nabi dan rasul, dibersihkan dari dosa atau kesalahan mereka melalui ujian tersebut. Itu pun berlaku jika mereka mengharapkan pahala dan bersabar menghadapinya. Adapun para nabi tidak seperti orang biasa, karena para nabi itu tidak mempunyai dosa.

Karena kemaksuman inilah, sebagian ulama memandang bahwa ujian yang ditimpakan kepada para nabi dan rasul shalawatullahi wa salamuhu ‘alaihim adalah untuk menaikkan derajat mereka lebih tinggi lagi. Jadi, bukan sebagai pembersih bagi dosa, karena mereka terpelihara dari dosa. Wallahu a’lam.

Ujian-ujian tersebut sudah dimulai sejak Allah subhanahu wa ta’ala menguji bapak kita, Adam ‘alaihissalam, dengan sosok Iblis yang enggan dan merasa tinggi (sombong) untuk meletakkan kepalanya sejajar dengan kakinya demi menghormati Adam. Padahal, sujud tersebut sejatinya adalah wujud ketaatan kepada Allah ’azza wa jalla yang telah menciptakannya dari tidak ada menjadi ada.

Karena membangkang dan menolak perintah Allah ’azza wa jalla untuk sujud, Iblis diusir dan dijauhkan dari rahmat Allah subhanahu wa ta’ala sampai hari kiamat. Akan tetapi, bukannya bertobat, Iblis justru semakin angkuh karena dendam dan dengki melihat keutamaan Adam ‘alaihissalam.

Karena itu, dia bersumpah, sebagaimana dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala,

قَالَ فَبِمَآ أَغۡوَيۡتَنِي لَأَقۡعُدَنَّ لَهُمۡ صِرَٰطَكَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ ١٦ ثُمَّ لَأٓتِيَنَّهُم مِّنۢ بَيۡنِ أَيۡدِيهِمۡ وَمِنۡ خَلۡفِهِمۡ وَعَنۡ أَيۡمَٰنِهِمۡ وَعَن شَمَآئِلِهِمۡۖ وَلَا تَجِدُ أَكۡثَرَهُمۡ شَٰكِرِينَ ١٧

Iblis menjawab, “Karena Engkau telah menghukum aku tersesat, aku benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian aku akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (al-A’raf: 16—17)

Mulanya, ketika dia mengucapkan sumpah tersebut, Iblis tidak yakin akan berhasil. Akan tetapi, pada kenyataannya, usahanya berhasil dan banyak manusia yang menjadi korban. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman menerangkan hal ini,

          وَلَقَدۡ صَدَّقَ عَلَيۡهِمۡ إِبۡلِيسُ ظَنَّهُۥ فَٱتَّبَعُوهُ إِلَّا فَرِيقٗا مِّنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ٢٠

“Dan sesungguhnya Iblis telah dapat membuktikan kebenaran sangkaannya terhadap mereka lalu mereka mengikutinya, kecuali sebagian orang-orang yang beriman.” (Saba’: 20)

 

Antara Al-Haq dan Al-Bathil

Demikianlah perjalanan hidup manusia, dan sejak saat itu pula dimulailah pertentangan antara yang haq dan yang batil. Tidak akan pernah berhenti perseteruan dan pertarungan antara yang haq dan yang batil, kapan dan di mana pun.

Tidak mungkin pula al-haq dan al-bathil hidup rukun dan damai, selamanya. Pasti, salah satu dari keduanya akan berusaha menyingkirkan yang lain, karena keduanya bertolak belakang dan saling bertentangan.

Hal itu sudah pasti, meskipun kadang-kadang al-haq itu yang menang, tetapi tidak jarang pula kebatilan dan kesesatan itu yang merajalela. Al-haq dan para pembelanya terkucil, ditindas serta terusir dari kampung halaman mereka. Bahkan, tidak sedikit para pembela al-haq itu harus menanggung siksa atau dibunuh.

Demikianlah, Allah subhanahu wa ta’ala selalu menguji wali-wali-Nya dengan musuh-musuh-Nya, atau sebaliknya, silih berganti. Terkadang musuh-musuh-Nya yang menang dan menindas para wali-Nya, tetapi tidak jarang pula para wali Allah subhanahu wa ta’ala itu yang berkuasa. Dan ujian itu terus berlangsung sampai Allah subhanahu wa ta’ala saja yang mewarisi alam semesta ini.

Belakangan ini, dakwah salafiyah khususnya, dan Islam secara umum semakin gencar mendapat tekanan dan gangguan dari musuh-musuh Islam dan musuh-musuh dakwah. Dengan berbagai cara mereka berusaha memadamkan cahaya Islam dengan dakwah salafiyah ini melalui berbagai propaganda lisan dan tulisan mereka di berbagai media.

Musuh-musuh dakwah salafiyah yang penuh berkah ini bergandengan tangan dengan mesra sesama mereka. Tidak hanya di kalangan mereka yang masih mengaku muslim, tetapi juga dengan musuh-musuh dari luar diri mereka, baik itu musyrikin, ateis, maupun ahli kitab (Yahudi dan Nasrani).

Sungguh, tidak ada yang paling dibenci oleh mereka selain dakwah salafiyah yang ingin mengembalikan manusia kepada fitrah yang suci. Melalui dakwah ini mereka dikembalikan kepada keimanan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan semua konsekuensi keimanan itu, sebagaimana diajarkan dan dipraktikkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.

(insya Allah bersambung)

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Muhammad Harits

 

 

[1] Syarh Musykilul Atsar (5/457).

Mut’ah Lebih Keji Daripada Zina

Pada Rubrik Akhlak edisi ini, redaksi akan berusaha melengkapi beberapa artikel terkait dengan nikah mut’ah yang pernah dimuat di Majalah Asy-Syariah. Penulis mengharapkan hidayah, taufik, dan pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala semata.

 Islam Menjaga Kehormatan dan Kesucian

Seorang muslim yang beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam tentu berkeyakinan bahwa Islam datang membawa syariat yang mulia dan sempurna.

Di antara bukti kemuliaan dan kesempurnaan syariat Islam adalah perintah Allah subhanahu wa ta’ala dalam Kitab-Nya dan perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sunnahnya untuk menjaga kehormatan dan kesucian diri dari berbagai hal yang keji, seperti zina, mut’ah, hubungan sesama jenis, dan onani.

Di antara dalil-dalil dari al-Qur’an yang memerintahkan menjaga kehormatan dan kesucian adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala,

          قُل لِّلۡمُؤۡمِنِينَ يَغُضُّواْ مِنۡ أَبۡصَٰرِهِمۡ وَيَحۡفَظُواْ فُرُوجَهُمۡۚ ذَٰلِكَ أَزۡكَىٰ لَهُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا يَصۡنَعُونَ ٣٠ وَقُل لِّلۡمُؤۡمِنَٰتِ يَغۡضُضۡنَ مِنۡ أَبۡصَٰرِهِنَّ وَيَحۡفَظۡنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبۡدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنۡهَاۖ

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.”

Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak darinya….” (an-Nur: 30—31)

Asy-Syaikh Abdur Rahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah menjelaskan dalam Tafsir-Nya,

“… Agar mereka menjaga kemaluan mereka tidak bersetubuh dengan cara yang haram, pada kemaluan, dubur, atau lainnya. Demikian pula, mereka tidak membiarkan orang lain meraba dan melihatnya. Sebab, menjaga pandangan dan kemaluan lebih terhormat dan lebih suci, serta akan menumbuhkan amalan-amalan yang baik bagi mereka.

Sebab, barang siapa menjaga kemaluan dan pandangan mata, niscaya dia akan suci dari hal-hal yang keji/kotor. Amalan-amalannya pun akan bersih karena dia menjauhi hal-hal yang haram tersebut.

Meski demikian, hawa nafsu tentu tetap akan condong dan mengajak melakukan yang diharamkan itu. Maka dari itu, barang siapa meninggalkan sesuatu karena Allah subhanahu wa ta’ala, niscaya Dia akan menggantinya dengan yang lebih baik.”

Allah ‘azza wa jalla mengabarkan kepada para hamba-Nya tentang sifat-sifat para pewaris surga,

          وَٱلَّذِينَ هُمۡ لِفُرُوجِهِمۡ حَٰفِظُونَ ٥ إِلَّا عَلَىٰٓ أَزۡوَٰجِهِمۡ أَوۡ مَا مَلَكَتۡ أَيۡمَٰنُهُمۡ فَإِنَّهُمۡ غَيۡرُ مَلُومِينَ ٦

“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.” (al-Mu’minun: 5—6)

Asy-Syaikh as-Sa’di rahimahullah menjelaskan dalam Tafsir-nya, “Mereka adalah orang-orang yang menjaga kehormatan dari perbuatan zina. Termasuk yang akan menyempurnakan penjagaan kehormatan adalah menjauhi segala sesuatu yang akan menyeret pada perbuatan zina, seperti memandang, meraba, dan lainnya.

Mereka menjaga kehormatan dari siapapun selain istri dan budak perempuan yang mereka miliki sepenuhnya. ‘Mendekati’ istri dan budak perempuan tidaklah tercela karena Allah subhanahu wa ta’ala menghalalkan keduanya.

Barang siapa mencari selain itu—selain istri dan budak perempuan miliknya—berarti telah melampaui batas yang dihalalkan oleh Allah, menuju hal-hal yang diharamkan-Nya. Mereka adalah orang-orang yang lancang terhadap keharaman yang Allah tetapkan.”

Selanjutnya, beliau rahimahullah mengatakan, “Keumuman ayat menunjukkan haramnya nikah mut’ah. Sebab, wanita yang dinikah mut’ah bukanlah istri hakiki yang diniatkan untuk terus mendampinginya, bukan pula budak yang dimiliki.”

Menjaga kehormatan adalah salah satu prinsip dasar yang diajarkan oleh seluruh nabi dan rasul ‘alaihimussalam, terkhusus Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini tecermin dari kisah pertemuan Heraklius penguasa Romawi di Syam dengan Abu Sufyan radhiallahu ‘anhu yang saat itu belum masuk Islam.

Heraklius bertanya, “Apa yang dia (Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam) perintahkan”

Abu Sufyan menjawab, “Dia berkata, ‘Tinggalkanlah kepercayaan nenek moyang kalian.’ Dia juga memerintah kami untuk shalat, jujur, menjaga kehormatan, dan menyambung silaturahim.” (Muttafaqun alaih)

Bahkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan perintahnya untuk menjaga kehormatan dalam sabdanya,

مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ

“Barang siapa menjaga apa yang ada di antara jenggot dan kumisnya (lisan/mulut) dan apa yang ada di antara kedua kakinya (kemaluan), niscaya aku jamin baginya surga.” (Muttafaqun alaih dari Sahl bin Sa’d radhiallahu ‘anhu)

 

Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam Mengharamkan Mut’ah

Sebelum kita paparkan beberapa dalil yang mengharamkan nikah mut’ah, kita perlu membaca dan memahami penjelasan asy-Syaikh Abdullah bin Abdur Rahman Alu Bassam dalam kitabnya, Taudhihul Ahkam (5/294) tentang nikah mut’ah.

“Mut’ah adalah pecahan kata dari التمتع بالشيء (bersenang-senang dengan sesuatu). Ikatan perjanjan tersebut disebut mut’ah karena seorang lelaki bertujuan untuk bersenang-senang dengan seorang wanita dengan perjanjian tersebut sampai waktu tertentu.

Pengertian ikatan perjanjiannya adalah seorang lelaki menikahi seorang wanita sampai waktu tertentu atau waktu yang belum ditentukan. Aturannya menurut Syiah Rafidhah, adalah menikah dengan batas waktu tertentu, baik yang disepakati maupun belum, dan paling lama adalah 45 hari. Setelah itu, ikatan perjanjian tersebut secara otomatis selesai dengan berakhirnya batas waktu tersebut.

Menurut mereka, ikatan tersebut

  • tidak berkonsekuensi pemberian nafkah kepada si wanita,
  • tidak mengakibatkan saling mewarisi (jika salah satu pihak meninggal saat masih dalam ikatan perjanjian),
  • (jika si wanita hamil karena hubungan itu) anaknya tidak dinasabkan kepada si lelaki,
  • tidak memiliki masa iddah, hanya memastikan bahwa rahim bersih dari janin.”

Di antara dalil yang mengharamkan nikah mut’ah adalah hadits Rabi’ bin Sabrah, dari ayahnya radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنِّي كُنْتُ أَذِنْتُ لَكُمْ فِي ا سِالْتِمْتَاعِ مِنَ النِّسَاءِ وَإِنَّ اللهَ قَدْ حَرَّمَ ذَلِكَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ فَمَنْ كَانَ عِنْدَهُ مِنْهُنَّ شَيْءٌ فَلْيُخَلِّ سَبِيلَهُ وَ تَأْخُذُوا مِمَّا آتَيْتُمُوهُنَّ شَيْئًا

“Sungguh, aku dahulu pernah mengizinkan kalian untuk melakukan nikah mut’ah terhadap para wanita. Dan sungguh, sekarang Allah subhanahu wa ta’ala telah mengharamkannya sampai hari kiamat.

Barang siapa masih memiliki suatu ikatan dengan mereka, hendaknya dia melepaskannya. Apabila kalian telah memberikannya kepada mereka, jangan kalian ambil sedikit pun.” (HR. Muslim)

Demikian pula hadits Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu,

نَهَى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْمُتْعَةِ عَامَ خَيْبَرَ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang nikah mut’ah pada tahun Perang Khaibar.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

 

Zina Berujung Kerusakan Dunia & Agama

Allah subhanahu wa ta’ala melarang para hamba-Nya berbuat zina,

وَلَا تَقۡرَبُواْ ٱلزِّنَىٰٓۖ إِنَّهُۥ كَانَ فَٰحِشَةٗ وَسَآءَ سَبِيلٗا ٣٢

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (al-Isra: 32)

Asy-Syaikh Abdur Rahman as-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat di atas dalam Tafsir-nya,

“Allah menyebutkan zina dan kejelekannya sebagai perbuatan yang keji dan kotor. Maksudnya, ia adalah perbuatan dosa besar yang dianggap keji oleh syariat, akal sehat, dan fitrah. Sebab, zina mengandung sikap lancang terhadap hak Allah subhanahu wa ta’ala, hak wanita yang dizinai, dan hak keluarga atau suaminya. Selain itu, zina merusak rumah tangga, dan menyebabkan tercampurnya nasab dan berbagai kerusakan lainnya. “

Karena itu, pantas apabila Allah subhanahu wa ta’ala mengancam para pezina dengan hukuman yang sangat pedih di dunia dan di akhirat. Allah Yang Mahaperkasa berfirman,

ٱلزَّانِيَةُ وَٱلزَّانِي فَٱجۡلِدُواْ كُلَّ وَٰحِدٖ مِّنۡهُمَا مِاْئَةَ جَلۡدَةٖۖ وَلَا تَأۡخُذۡكُم بِهِمَا رَأۡفَةٞ فِي دِينِ ٱللَّهِ إِن كُنتُمۡ تُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِۖ وَلۡيَشۡهَدۡ عَذَابَهُمَا طَآئِفَةٞ مِّنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ٢

“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegahmu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang yang beriman.” (an-Nur: 2)

Hukuman yang Allah ancamkan dalam ayat di atas adalah bagi pelaku zina laki-laki dan perempuan yang belum menikah. Adapun pelaku zina yang sudah menikah dan telah merasakan kehidupan suami istri, di dunia mendapat hukuman dibunuh dengan cara dirajam.

Khalifah Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu berkata dalam khutbahnya, “Sungguh, Allah subhanahu wa ta’ala telah mengutus Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam membawa kebenaran. Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan al-Qur’an kepada beliau. Termasuk wahyu yang Allah turunkan kepada beliau adalah ayat rajam. Kami telah membaca, menghafal, dan memahaminya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah merajam, kami pun akan merajam sepeninggal beliau.

Dengan berlalunya masa yang panjang pada umat manusia, aku khawatir akan ada yang berkata, ‘Kami tidak mendapati hukum rajam dalam Kitabullah.’ Lantas mereka tersesat karena meninggalkan kewajiban yang telah Allah subhanahu wa ta’ala wajibkan ini.

Hukum rajam benar adanya dalam Kitabullah, terhadap pelaku zina yang sudah menikah, baik lelaki maupun perempuan; apabila telah tegak para saksi, atau (si wanita) hamil, atau mengakuinya.” (Muttafaqun alaih)

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah telah menjelaskan berbagai kerusakan akibat zina. Kata beliau, “Kerusakan yang ditimbulkan oleh zina bertentangan dengan kepentingan hidup manusia. Jika berzina, seorang wanita telah memasukkan hal yang sangat memalukan terhadap keluarga, suami, dan sanak kerabatnya. Dia membuat mereka sangat malu di hadapan masyarakat.

Jika dia hamil karena zina, lantas dia membunuh anaknya itu, dia telah mengumpukan dosa zina dan dosa membunuh anak. Jika dia menisbahkan si anak kepada suaminya, berbarti dia telah memasukkan orang asing ke dalam keluarga suami dan keluarganya sendiri.

Selanjutnya, si anak akan mendapatkan warisan dari mereka padahal dia bukan ahli waris. Selain itu, si anak akan melihat dan berkhalwat (berduaan) dengan salah seorang dari mereka. Si anak akan menisbahkan diri kepada mereka padahal bukan bagian mereka. Dan masih ada berbagai kerusakan lain yang ditimbulkan oleh wanita yang berzina.

Lelaki yang berzina juga akan mengakibatkan rusaknya nasab. Dia juga telah merusak seorang wanita yang terjaga. Dia telah menghadapkan si wanita pada kebinasaan dan kerusakan. Jadi, perbuatan dosa besar ini akan mengakibatkan kerusakan-kerusakan dalam hal dunia dan agama.” (ad-Da’u wad Dawa’ hlm. 232)

Di samping itu, perbuatan zina juga merusak kesehatan masyarakat dengan munculnya berbagai jenis penyakit seperti AIDS, gonorrhea, dan sipilis.

 

Nikah Mut’ah Lebih Keji & Kotor daripada Zina

Berbagai kerusakan dunia dan agama yang ditimbulkan oleh perbuatan zina sebagaimana disebutkan di atas, juga ditimbulkan oleh nikah mut’ah yang diajarkan oleh Syiah Rafidhah. Bahkan, dalam beberapa hal, nikah mut’ah lebih keji dan kotor daripada zina.

Mengapa demikian?

Sebab, mut’ah adalah bid’ah yang dianggap sebagai ajaran agama Islam, padahal telah dihapus hukumnya (dimansukh). Adapun zina, setiap muslim, bahkan nonmuslim pun, mengakui bahwa itu adalah perbuatan keji, kotor, dan menjijikkan.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman menjelaskan kedustaan orang yang mengada-ada dalam urusan agama,

وَلَا تَقُولُواْ لِمَا تَصِفُ أَلۡسِنَتُكُمُ ٱلۡكَذِبَ هَٰذَا حَلَٰلٞ وَهَٰذَا حَرَامٞ لِّتَفۡتَرُواْ عَلَى ٱللَّهِ ٱلۡكَذِبَۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَفۡتَرُونَ عَلَى ٱللَّهِ ٱلۡكَذِبَ لَا يُفۡلِحُونَ ١١٦

Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta, “Ini halal dan ini haram,” untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. (an-Nahl: 116)

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman tentang kezaliman dan kejahatan mereka,

          وَمَنۡ أَظۡلَمُ مِمَّنِ ٱفۡتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ ٱلۡكَذِبَ وَهُوَ يُدۡعَىٰٓ إِلَى ٱلۡإِسۡلَٰمِۚ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّٰلِمِينَ ٧ يُرِيدُونَ لِيُطۡفِ‍ُٔواْ نُورَ ٱللَّهِ بِأَفۡوَٰهِهِمۡ وَٱللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِۦ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡكَٰفِرُونَ ٨

“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah sedang dia diajak kepada agama Islam? Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.

Mereka ingin hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci.” (ash-Shaff: 7—8)

Di sisi lain, Syiah Rafidhah telah menjadikan imam-imam mereka sebagai rabb dan tandingan bagi Allah subhanahu wa ta’ala. Tentang kaum yang menjadikan pembesar mereka sebagai tandingan bagi-Nya, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          ٱتَّخَذُوٓاْ أَحۡبَارَهُمۡ وَرُهۡبَٰنَهُمۡ أَرۡبَابٗا مِّن دُونِ ٱللَّهِ

“Mereka menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah….” (at-Taubah: 31)

Oleh karena itulah, para imam kaum muslimin senantiasa memperingatkan umat dari bid’ah dan ahli bid’ah. Peringatan mereka terhadap bid’ah dan ahli bid’ah lebih keras daripada terhadap kemaksiatan dan pelakunya.

Di antara para imam tersebut ialah al-Imam Sufyan ats-Tsauri rahimahullah. Beliau berkata, “Bid’ah lebih disukai oleh Iblis daripada perbuatan maksiat. Sebab, kemaksiatan (masih diharapkan pelakunya) bertobat, sedangkan bid’ah (hampir tidak mungkin pelakunya) bertobat darinya.”

Di antara mereka pula ialah Yunus bin Ubaid rahimahullah. Dia menasihati anaknya, “Aku melarangmu berzina, mencuri, dan meminum khamr. Sungguh, apabila engkau bertemu dengan Allah membawa dosa ini, lebih aku senangi daripada engkau bertemu dengan-Nya membawa bid’ah pemikiran Amr bin Ubaid dan para muridnya.”

Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan, “Ahli bid’ah lebih keras azabnya daripada pelaku kemaksiatan. Sebab, bid’ah lebih jahat daripada maksiat. Bid’ah lebih disukai oleh setan daripada maksiat. Pelaku maksiat (ada harapan) untuk bertobat. Adapun ahli bid’ah, amat sedikit yang bertobat (dari bid’ahnya) karena dia merasa berada di atas kebenaran.

Berbeda halnya dengan pelaku kemaksiatan, dia menyadari bahwa dirinya melakukan kemaksiatan. Adapun ahli bid’ah berkeyakinan bahwa yang dilakukannya adalah ketaatan. Dia meyakini dirinya di atas ketaatan.

Oleh karena itu, bid’ah lebih jelek daripada maksiat. Karena itu pula, para ulama salaf (senantiasa) memperingatkan umat dari ahli bid’ah karena mereka akan mempengaruhi teman-teman duduknya untuk mengikuti bid’ahnya. Jadi, bahaya mereka lebih besar.

Tidak ada keraguan lagi bahwa bid’ah lebih jelek/berbahaya daripada kemaksiatan. Bahaya ahli bid’ah lebih besar daripada bahaya pelaku kemaksiatan terhadap umat manusia.” (al-Ajwibah al-Mufidah hlm. 26)

Mudah-mudahan Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa melimpahkan hidayah taufik-Nya kepada kita dan kaum muslimin semuanya. Semoga Allah menyelamatkan kita dari berbagai bid’ah yang menyesatkan dari jalan-Nya yang lurus. Amin.