Fatwa Seputar Shalatnya Wanita (1)

009 - Al-Fateh-Mosque-in-Manama-Bahrain-(interior)

Wanita Sering Shalat Jamaah di Masjid

 

Pertanyaan:

Apakah wanita dibolehkan terus menerus shalat berjamaah di masjid dan apakah suaminya berhak untuk melarangnya?

 

Jawab[1]:

Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah mengatakan, “Wanita dibolehkan keluar rumah untuk mengerjakan shalat di masjid. Akan tetapi, shalatnya di rumahnya lebih utama karena lebih tertutup baginya dan lebih aman dari gangguan yang bisa menimpa dirinya atau menimpa orang lain karena dirinya.

Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لاَ تَمْنَعُوْا إِمَاءَ اللهِ مَسَاجِدَ اللهِ، وَبُيُوْتُهُنَّ خَيْرٌ لَهُنَّ

“Janganlah kalian melarang hamba-hamba perempuan Allah dari mengerjakan shalat di masjid-masjid Allah[2], namun rumah-rumah mereka lebih baik bagi mereka.”[3]

Apabila seorang wanita hendak keluar untuk shalat di masjid, tidak boleh dilarang, walaupun sebenarnya dia tetap tinggal dan shalat di rumahnya lebih utama daripada keluar untuk shalat di masjid. Namun, apabila keluar ke masjid, dia haruslah menjaga adab-adab syariat, di antaranya tidak memakai wewangian,menghindari pakaian perhiasan (pakaian yang cantik dan indah untuk berhias), tidak memakai perhiasan dan memamerkannya, tidak menampakkan sedikit pun dari anggota tubuhnya, dengan menutup wajah, dua telapak tangan dan dua telapak kaki[4]. Dan dia harus menutup dirinya dari lelaki.

Apabila semua adab-adab ini dia laksanakan, ia boleh keluar untuk shalat di masjid. Selain itu, tempatnya di dalam masjid terpisah dari lelaki, sehingga dia tidak bergabung dalam shaf lelaki dan tidak ikhtilath. Dia shalat di bagian paling belakang dari masjid. Apabila ada wanita lain bersamanya, hendaknya dia bergabung dalam shaf mereka. Jika tidak ada, dia bershaf sendiri di belakang shaf lelaki.

Jika si wanita keluar rumah tidak memerhatikan adab-adab syariat ini, suaminya boleh melarangnya keluar rumah.”

(Majmu’ Fatawa Fadhilatusy Syaikh Shalih ibn Fauzan, 1/349)


Shalat Memakai Pakaian Ketat & Tipis

 

Pertanyaan:

Apakah wanita boleh shalat dengan mengenakan celana panjang ketat (pantalon) dan bagaimana pula dengan lelaki? Apa pula hukumnya bila wanita mengenakan pakaian tipis di saat shalat namun tidak sampai menggambarkan auratnya? Berilah kami fatwa, jazakumullah khairan.

 

Jawab:

Pakaian yang sempit atau ketat, yang membentuk anggota tubuh, menampakkan bagian-bagian tubuh wanita dan lekukan-lekukannya, tidak boleh dikenakan. Lelaki pun tidak boleh memakai pakaian seperti itu, tetapi keharamannya bagi wanita lebih sangat, karena godaan yang diakibatkannya lebih besar.

Adapun tentang shalat, bila seseorang shalat dalam keadaan auratnya tertutup maka shalatnya sah, akan tetapi berdosa seseorang shalat dengan pakaian yang ketat, karena bisa jadi ada amalan shalat yang tidak dikerjakannya dengan semestinya disebabkan sempitnya pakaiannya. Ini satu sisi.

Ada sisi lain lagi sebagaimana yang telah kami sebutkan, yaitu pakaian yang ketat akan menggambarkan bentuk tubuh sehingga mengundang godaan, membuat pandangan mata tertuju/menoleh kepada si pemakai, terlebih lagi apabila dia seorang wanita. Maka dari itu, wanita wajib mengenakan pakaian yang longgar, luas lapang, yang dapat menutupi tubuhnya dan tidak membentuk tubuhnya sedikit pun, dan pandangan mata yang terfitnah tidak tertuju kepadanya[5]. Pakaiannya tidak boleh tipis atau transparan, tetapi harus pakaian yang dapat menutupi tubuhnya dengan sempurna, tidak terlihat sama sekali. Tidak boleh pula pakaian keluarnya itu pendek menampakkan betisnya, atau lengan bawahnya ataupun telapak tangannya. Tidak boleh pula dia membuka wajahnya, tapi harus menutupi seluruh tubuhnya.

Sekali lagi, pakaiannya tidak boleh tipis hingga tampak tubuh di baliknya atau warna kulitnya karena pakaian yang demikian tidak teranggap menutupi. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengabarkan dalam hadits yang sahih,

صِنْفَانِ مِنْ أُمَّتِي لَمْ أَرَهُمَا: رِجَالٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُوْنَ بِهِ النَّاسَ، وَنِسَاءٌ كاَسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مَائِلاَتٌ مُمِيْلاَتٌ لاَ يَجِدْنَ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ

“Ada dua golongan dari umatku yang belum pernah aku lihat, yaitu para lelaki yang membawa cemeti seperti ekor-ekor sapi yang dengan itu mereka memukul manusia. Dan para wanita yang berpakaian (kasiyat) tetapi telanjang, mereka miring dan memiringkan orang lain. Mereka tidak akan mendapati wanginya surga.” (HR. Muslim.)

Atau sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Makna kasiyat dalam hadits adalah para wanita itu mengenakan pakaian tetapi hakikatnya mereka telanjang. Sebab, pakaian mereka tidak menutupi aurat, hanya sekadar pakaian bermodel saja tidak menutupi tubuh yang ada di baliknya, entah karena tipis atau pendek, tidak lebar sehingga tidak cukup untuk menutupi tubuh. Para muslimah wajib memerhatikan hal ini. (1/349—350)


Wanita Shalat Jumat di Rumah

 

Pertanyaan:

Aku biasa shalat jumat sebagaimana lelaki, dengan bilangan 2 rakaat wajib dan 2 rakaat sunnah setelahnya. Akan tetapi, aku pernah membaca bahwa wanita tidak wajib shalat jumat. Apakah yang aku lakukan salah?

 

Jawab:

Apa yang Anda lakukan salah, karena tidak sah seorang wanita jumatan terkecuali apabila dia mengerjakannya di masjid berjamaah dengan para lelaki. Apabila si wanita hadir di masjid dan shalat bersama lelaki, shalatnya sah. (1/354)


[1] Semua pertanyaan dan jawaban diambil dari fatwa Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah dari kitab kumpulan fatwa beliau.

[2] HR. al-Bukhari dan Muslim.

[3] Tambahan ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunan-nya, dinyatakan sahih oleh al-Imam al-Albani dalam Shahih Abi Dawud.

[4] Karena asy-Syaikh Shalih Fauzan termasuk ulama yang berpendapat wajibnya wanita menutup seluruh tubuhnya tanpa kecuali saat keluar rumah atau di hadapan ajnabi.

[5] Pandangan mata menoleh kepadanya karena pakaian yang dikenakannya membentuk lekuk-lekuk tubuhnya disebabkan ketatnya, pandangan syahwat pun tertuju kepadanya.

Melepas Ikatan Rambut Saat Mandi

Al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

Bersuci

Mandi menjadi rutinitas kita sehari-hari. Paling tidak dua kali sehari kita melakukannya, pagi dan sore. Mandi seperti ini tidak ditentukan oleh syariat. Artinya, urusannya mubah saja, mau dikerjakan, ‘silakan’; ditinggalkan pun tidak berdosa, walau sebenarnya mengerjakan yang mubah bisa mendatangkan pahala kalau disertai niat kebaikan.

Ada mandi yang diatur oleh syariat karena mengiringi urusan ibadah. Apabila mandi itu tidak dilakukan, seseorang tidak bisa menjalankan ibadah shalat dan beberapa ibadah lainnya. Mandi yang dimaksud adalah mandi selesai dari haid, nifas, dan mandi janabah.

Di sini kita tidak membicarakan secara lengkap tata cara mandi yang disebutkan. Kita membatasi satu permasalahan terkait dengan mandi-mandi tersebut, yaitu apa hukumnya wanita melepas ikatan atau gelungan rambutnya saat mandi suci dari haid, nifas, dan janabah?

Ummu Salamah radhiallahu ‘anha pernah bertanya kepada suaminya yang mulia, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

يَا رَسُوْلَ اللهِ، إِنِّي امْرَأَةٌ أَشُدُّ ضُفْرَ رَأْسِي، أَفَأَنْقُضُهُ لِغُسْلِ الْجَنَابَةِ؟ قَالَ: لاَ، إِنَّماَ يَكْفِيْكِ أَنْ تَحِثِّي عَلَى رَأْسِكِ ثَلاَثَ حَثَيَاتٍ، ثُمَّ تُفِيْضِيْنَ عَلَيْكِ الْمَاءَ، فَتَطْهُرِيْنَ

“Wahai Rasulullah, saya adalah wanita yang menjalin rambut dengan kuat. Apakah saya harus melepaskan jalinan rambut tersebut saat mandi janabah?”

Rasulullah menjawab, “Tidak. Cukuplah bagimu menuangkan (air) di atas kepalamu tiga tuangan[1], lalu engkau siramkan air di atas tubuhmu, maka engkau pun suci.” (HR. Muslim no. 742)

Aisyah radhiallahu ‘anha mengisahkan bahwa Asma bintu Syakal[2] radhiallahu ‘anha pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang tata cara mandi suci dari haid. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَأْخُذُ إِحْدَاكُنَّ مَاءَهَا وَسِدْرَتَهَا فَتَطَهَّرُ فَتُحْسِنُ الطُّهُوْرَ، ثُمَّ تَصُبُّ عَلَى رَأْسِهَا فَتَدْلُكُهَا دَلْكًا شَدِيْدًا حَتَّى تَبْلُغَ شُؤُوْنَ رَأْسِهَا

“Hendaknya salah seorang dari kalian mengambil air mandi dan sidr[3], lalu bersuci dengan sebaik-baiknya[4], kemudian dia tuangkan air di atas kepalanya, lalu digosok-gosoknya dengan kuat hingga mencapai pokok rambutnya[5]….” (HR. Muslim no. 748)

Pembaca yang mulia, perhatikanlah dua hadits di atas, hadits dua ibunda kita Ummu Salamah radhiallahu ‘anha dan Aisyah radhiallahu ‘anha. Yang satu berbicara tentang mandi janabah seorang wanita dan yang satu lagi tentang mandi haid.

Dalam hadits Ummu Salamah radhiallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memerintah Ummu Salamah radhiallahu ‘anha menggerai rambutnya saat mandi. Artinya, Ummu Salamah radhiallahu ‘anha boleh mandi dalam keadaan rambutnya tetap terjalin, terkepang, atau terikat.

Adapun dalam hadits Aisyah radhiallahu ‘anha, saat menyiram air ke kepala, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah wanita yang mandi haid untuk menggosok-gosokkan air tersebut dengan sangat ke kepalanya agar air sampai ke pangkal rambut.

Dari sinilah muncul perbedaan pendapat tentang hukum melepas ikatan atau jalinan rambut saat mandi janabah dan mandi haid/nifas, apakah wajib atau tidak?

 

Perbedaan Pendapat Ulama

Penulis kitab asy-Syarhul Kabir (1/189—190), al-Imam ar-Rafi’ rahimahullah, menyatakan bahwa wanita tidak wajib melepas ikatan rambutnya saat mandi janabah, dan tidak ada perselisihan dalam hal ini, kecuali dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma dan an-Nakha’i rahimahullah. Tidak ada yang menyepakati keduanya menurut pengetahuan beliau. Dalilnya adalah hadits Ummu Salamah radhiallahu ‘anha di atas.

Al-Imam Ibnu Qudamah rahimahullah, menyatakan adanya kesepakatan imam yang empat tentang tidak wajibnya hal ini. (al-Mughni, “Kitab ath-Thaharah”)

Al-Imam at-Tirmidzi rahimahullah berkata setelah membawakan hadits Ummu Salamah radhiallahu ‘anha, “Yang diamalkan oleh para ulama ialah apabila seorang wanita mandi janabah tanpa melepaskan ikatan rambutnya, maka hal itu mencukupinya setelah dia mencurahkan air ke atas kepalanya.“ (Jami’ at-Tirmidzi, 1/71)

Adapun untuk mandi haid dan nifas, ulama berselisih pendapat, apakah wajib atau tidak melepas ikatan rambut saat mandi suci.

  1. Wajib melepas ikatan rambut.

Demikian pendapat yang masyhur dari ulama mazhab Hanbali (al-Mughni), Zhahiri (al-Muhalla, 2/53) dan sebagian ulama Maliki (al-Muntaqa, 1/96). Pendapat ini dipegangi oleh al-Hasan, Thawus, dan an-Nakha’i.

  1. Mustahab, tidak wajib.

Demikian pendapat jumhur ulama, di antara mereka ialah ulama mazhab Hanafi (Fath al-Qadir, 1/59I), ulama mazhab Maliki (al-Maunah, 1/132), ulama mazhab Syafi’i ( al-Majmu, 2/187), dan satu pendapat dalam mazhab Hanbali (satu riwayat dari al-Imam Ahmad rahimahullah yang dipilih oleh al-Muwaffaq, al-Majd, pensyarahnya, dan asy-Syaikh Taqiyuddin, serta selain mereka). Demikian pendapat yang dipegangi oleh Atha, al-Hakam, dan az-Zuhri. (al-Mughni, Fathul Bari, 1/542)

Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alusy Syaikh rahimahullah, Mufti Kerajaan Saudi Arabia pada masanya, berpendapat (sebagaimana dinukil dalam Taudhihul Ahkam) bahwa yang kuat secara dalil adalah pendapat yang menyatakan tidak wajib melepas ikatan rambut saat mandi haid, sebagaimana tidak wajib dalam mandi janabah. Hanya saja, saat mandi haid disunnahkan melepaskannya berdasarkan dalil-dalil yang ada, namun hal ini tidak wajib, dengan dalil hadits Ummu Sa lamah radhiallahu ‘anha . Pendapat ini yang dipilih oleh penulis kitab al-Inshaf. Adapun dalam mandi janabah, maka melepas ikatan rambut tidak disunnahkan sebagaimana disunnahkan dalam mandi haid.

Dalil mereka yang tidak mewajibkan adalah hadits Ummu Salamah radhiallahu ‘anha yang menyebutkan haid dan janabah[6]. Namun, kata al-Imam Ibnu Qayyim al- Jauziyah rahimahullah, yang sahih dalam hadits Ummu Salamah radhiallahu ‘anha hanyalah penyebutan janabah tanpa ada penyebutan haid, sedangkan melepas ikatan rambut untuk wanita yang mandi haid, maka tidak ada riwayat yang mahfuzh.

Al-Imam al-Albani rahimahullah berkata bahwa riwayatnya syadz. Dengan demikian, kata asy-Syaikh Alu Bassam, penulis Taudhihul Ahkam, mazhab al-Imam Ahmad rahimahullah dalam masalah ini kuat, dan memaknai dua hadits di atas dengan istihbab (hukumnya disunnahkan) adalah bagus. (Taudhihul Ahkam, 1/400—401)

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah menyatakan, mazhab jumhur tentang ikatan rambut wanita yang mandi adalah jika memungkinkan sampainya air ke seluruh rambut, baik bagian luar maupun bagian dalam, tanpa harus melepas ikatan rambut tersebut (mengurai rambut) maka mengurainya tidaklah wajib.

Namun, ketika tidak memungkinkan menyampaikan air ke seluruh rambut kecuali dengan mengurai, maka mengurainya wajib, tanpa membedakan mandi janabah dengan mandi haid dan nifas.

Adapun hadits Ummu Salamah radhiallahu ‘anha dipahami bahwa air bisa sampai ke seluruh bagian kepala dan rambut tanpa harus mengurai rambut tersebut. An-Nakha’i berpendapat wajibnya melepas ikatan rambut dalam seluruh keadaan. Al-Hasan dan Thawus berpendapat wajib ketika mandi haid dan tidak wajib saat mandi janabah dengan dalil hadits Ummu Salamahradhiallahu ‘anha. (al-Minhaj, 4/237)

Al-Imam al-Albani rahimahullah dalam kitabnya, Tamamul Minnah fi Ta’liq ‘ala Fiqhis Sunnah (hlm. 125), menyebutkan adanya perbedaan mandi janabah seorang wanita dengan mandi haidnya. Ketika mandi haid, si wanita harus menggosok-gosokkan air dengan kuat ke kepalanya, sedangkan saat mandi janabah tidak diharuskan demikian, sebagaimana hadits Ummu Salamah radhiallahu ‘anha menunjukkan tidak wajib mengurai rambut yang terikat saat mandi janabah.

Itulah sebabnya Aisyah radhiallahu ‘anha menyatakan pengingkaran terhadap Abdullah bin Amr radhiallahu ‘anhuma ketika sampai kabar kepada Aisyah radhiallahu ‘anha bahwa Abdullah bin Amr radhiallahu ‘anhuma menyuruh kaum wanita agar melepaskan ikatan rambut mereka saat mandi. Aisyah radhiallahu ‘anha berkata,

يَا عَجَبًا بِالْنِ عَمْرٍو هَذَا! يَأْمُرُ النِّسَاءَ إِذَا اغْتَسَلْنَ أَنْ يَنْقُضْنَ رُؤُوسَهُنَّ، أَفَلاَ يَأْمُرُهُنَّ أَنْ يَحْلِقْنَ رُؤُوسَهُنَّ؟ لَقَدْ أَغْتَسِلُ أَناَ وَرَسُوْلُ اللهِ مِنْ إِنَاءٍ وَاحِدٍ، فَمَا أَزِيْدُ عَلَى أَنْ أُفْرِغَ  عَلَى رَأْسِي ثَلاَثَ إِفْرَغَاتٍ

“Aneh sekali Ibnu Amr itu! Dia memerintah para wanita melepaskan ikatan rambut mereka saat mandi. Mengapa dia tidak menyuruh mereka mencukur rambut sekalian? Dahulu aku pernah mandi bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari satu bejana[7], dan aku tidak lebih dari sekadar menuangkan ke atas kepalaku tiga tuangan.” (HR. Muslim no. 745)

Dengan demikian kata al-Imam rahimahullah, tidak ada pertentangan di antara hadits-hadits tersebut berdasarkan perincian ini, yaitu saat mandi haid diwajibkan melepas ikatan rambut, sedangkan ketika mandi janabah tidak wajib. Di antara yang berpendapat dengan perincian ini adalah al-Imam Ahmad rahimahullah dan pendapat ini dinyatakan benar oleh Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Tahdzib as-Sunan (91/165—168). Ini juga pendapat Ibnu Hazm rahimahullah dalam al-Muhalla (2/37—40).

Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan rahimahullah dalam syarahnya terhadap Bulughul Maram, yaitu Tashil al-Ilmam (1/282—284) menyatakan tidak wajib melepas ikatan rambut saat mandi janabah karena hal itu akan menyulitkan. Sebab, mandi ini bisa berulang-ulang dilakukan sehingga apabila si wanita harus mengurai rambutnya setiap kali mandi tentu akan menyulitkannya. Sementara itu, agama ini datang memberikan keringanan dan menghilangkan segala kesulitan dari pemeluknya. Adapun untuk mandi haid ada tiga pendapat ulama:

  1. Rambut harus diurai karena mandi haid dan nifas tidak berulang-ulang dilakukan sehingga tidak mendatangkan kesulitan apabila harus melepas ikatan rambut.

Selain itu, ada perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar Aisyah radhiallahu ‘anha melepas ikatan rambutnya saat mandi haid[8]. Ini adalah pendapat al-Imam Ahmad dan al-Imam Malik. (al-Mughni dan al-Mudawwanah 1/28)

  1. Tidak wajib mengurai rambut saat mandi janabah, demikian pula mandi haid dan nifas, tetapi cukup menuangkan air tiga tuangan sebagaimana disebutkan dalam hadits[9].

Ini adalah pendapat mazhab Syafi’i dan Hanafi[10] (lihat al-Umm dan al-Bahru ar-Raiq 1/54)

  1. Melepas ikatan rambut saat mandi haid dan nifas hukumnya sunnah, tidak wajib.

Pendapat ini diriwayatkan dari al- Imam Ahmad dan sekelompok ulama. (Kasysyaf al-Qana’ 1/367)

Al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts al-Ilmiyah yang saat itu diketuai oleh Samahatusy Syaikh Ibnu Baz rahimahullah mengeluarkan fatwa bernomor no. 1191 menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut.

  • Apakah ada perbedaan antara mandi janabah lelaki dan wanita?
  • Apakah wanita harus melepas ikatan rambutnya atau cukup baginya menuangkan air ke atas kepalanya sebanyak tiga kali berdasar hadits yang ada?
  • Apa perbedaan mandi janabah dengan mandi haid?

Al-Lajnah menjawab, tidak ada perbedaan tata cara mandi janabah lelaki dan wanita. Masing-masing tidak wajib melepas ikatan rambut saat mandi. Dia cukup menuangkan air di atas kepalanya sebanyak tiga kali, kemudian menuangkan air di atas seluruh tubuhnya, berdasarkan hadits Ummu Salamah radhiallahu ‘anha.

Apabila rambut lelaki atau wanita itu dilumuri daun bidara, daun inai, atau semisalnya yang dapat menghalangi sampainya air ke kulit kepala, wajib dihilangkan. Akan tetap, apabila lumuran tersebut tipis sehingga tidak menghalangi sampainya air ke kulit kepala, tidak wajib dihilangkan[11].

Adapun tentang mandi haid wanita, ada perselisihan masalah wajib tidaknya ikatan rambut dilepas saat mandi. Pendapat yang benar ialah tidak wajib, berdasarkan sebagian riwayat hadits Ummu Salamah radhiallahu ‘anha[12]. Namun, afdalnya dilepas dalam rangka kehatihatian dan keluar dari perselisihan serta mengumpulkan dalil-dalil yang ada.

Kesimpulan masalah ini, untuk mandi janabah tidak ada kewajiban ikatan rambut dilepas sebagaimana dipahami dengan jelas dari hadits Ummu Salamah radhiallahu ‘anha. Yang menjadi pembahasan panjang adalah mandi haid dan nifas, antara yang mengatakan wajib dan mustahab/sunnah[13]. Wallahu a’lam.

 

Faedah Hadits Ummu Salamah

Sebelum menutup pembicaraan, kami ingin berbagi dengan pembaca yang mulia beberapa faedah hadits Ummu Salamah radhiallahu ‘anha yang disebutkan oleh dua syaikh yang mulia, Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah dan Fadhilatusy Syaikh Shalih al-Fauzan rahimahullah berikut ini.

  1. Rasa malu tidak menghalangi para wanita sahabiyah untuk bertanya tentang masalah agama mereka.
  2. Merujuk kepada ulama dan bertanya kepada mereka ketika ada urusan agama yang tidak dipahami. Sebab, seseorang tidak boleh diam dalam kebodohannya, tidak boleh pula sekadar menebak-nebak dan menduga-duga. Dia harus bertanya, namun tidak kepada orang-orang bodoh, tetapi kepada ulama. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Bertanyalah kepada ahlu adz-dzikr jika memang kalian tidak mengetahui.” (an-Nahl: 42)

Yang dimaksud ahlu adz-dzikr adalah ulama.

  1. Wanita boleh mengikat rambut, mengepang, atau mengurainya.

Yang terlarang ialah mengumpulkan rambut di atas kepala karena bisa menjadi sebab dia menjadikan kepalanya seperti punuk unta yang miring. Sementara itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا: قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُوْنَ بِهَا النَّاسَ، وَنِسَاءٌ كاَسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيْلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُؤُوْسُهُنَّ كَأَسْنَمَةِ الْبُخْتِ الْمَائلَةِ، لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيْحَهَا، وَإِنَّ رِيْحَهَا لَيُوْجَدُ مِنْ مَسِيْرَةِ كَذَا وَكَذَا

“Ada dua golongan penduduk neraka yang belum pernah aku lihat keduanya:

(1) orang-orang yang membawa cemeti seperti ekor-ekor sapi yang dengannya mereka memukul manusia, dan

(2) para wanita yang berpakaian tetapi telanjang, mereka miring dan memiringkan orang lain. Kepala mereka seperti punuk unta al-bukht yang miring.

Mereka tidak akan masuk surga dan tidak mencium wanginya, padahal wanginya surga bisa dicium dari jarak perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim no. 5547)

Al-Bukht dalam hadits di atas ialah unta-unta dari timur yang memiliki dua punuk. Jadi, wanita yang mengumpulkan rambutnya di atas kepala lantas mengikatnya hingga rambutnya tampak besar, seakan-akan dia memiliki dua kepala, yaitu kepalanya yang sebenarnya dan kepala palsu dari rambutnya.

  1. Hadits ini menunjukkan bahwa istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memanjangkan rambut sehingga bisa diikat atau dijalin. Sebab, rambut yang panjang ialah perhiasan keindahan bagi wanita sebagaimana jenggot menjadi ketampanan bagi lelaki. Maka dari itu, biarkanlah rambut itu tumbuh panjang terkecuali karena suatu kebutuhan yang tidak dapat dielakkan.
  2. Hadits ini menjadi dalil kaidah raf’ul haraj (dihilangkannya keberatan atau kesulitan) dalam syariat Islam. Ini tersirat dari tidak diwajibkannya melepas ikatan rambut saat mandi karena adanya kesulitan sebagaimana disinggung di atas. Cukup menuangkan air ke rambut kepala sebanyak tiga kali.

Bisa jadi, akan timbul pertanyaan, apakah boleh kurang dari tiga tuangan? Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan boleh, tetapi kepala yang memiliki rambut tentu perlu dibersihkan dengan sungguh-sungguh sehingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menuntunkan agar dituangkan air tiga kali ke atasnya. Akan tetapi, apabila satu tuangan kita yakini dapat mencapai pokok rambut, maka tidak harus menambah lebih darinya, karena Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Jika kalian junub maka bersucilah (mandilah)….” (al-Maidah: 6)

(Fathu Dzil Jalal wal Ikram bi Syarhi Bulughil Maram, hlm. 612—613; Tashil al-Ilmam, 1/282—284)

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.


[1] Sepenuh dua telapak tangan.

[2] Demikian kabar yang masyhur, kata al-Imam an-Nawawi rahimahullah. Adapun menurut al-Khathib al-Baghdadi rahimahullah dalam kitabnya, al-Asma’ al-Mubhamah, dan ulama yang lain, si penanya adalah Asma bintu Yazid ibnus Sakan radhiallahu ‘anha yang digelari khathibah an-nisa’, artinya kurang lebih juru bicara para wanita. Wallahu a’lam.

[3] Daun bidara dalam bahasa kita. Fungsinya sebagai pembersih seperti sabun.

[4] Menurut al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah, bersuci di sini maksudnya adalah membersihkan diri dari darah haid dan bagian tubuh yang terkena darah tersebut. Namun, yang tampak, kata al-Imam an-Nawawi rahimahullah, yang dimaksud dengan bersuci di sini adalah berwudhu sebagaimana disebutkan dalam hadits yang tentang tata cara mandi janabah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sementara itu, tata cara mandi janabah sama dengan mandi haid dan nifas. Yang membedakan hanyalah ketika mandi haid dan nifas disunnahkan mengusap bagian sekitar kemaluan yang terkena darah dengan kain atau kapas yang telah diberi misik, sebagaimana ditunjukkan oleh hadits Aisyah radhiallahu ‘anha (HR. al-Bukhari no. 314 dan Muslim no. 746)

Makna membaguskan atau membaikkan wudhu ialah menyempurnakan tata caranya. (al-Minhaj, 4/238—240)

[5] Bagian rambut yang paling bawah.

[6] Dari jalur Abdur Razzaq disebutkan dengan lafadz,

أَفَأَنْقُضُهُ لِلْحَيْضَةِ وَالْجَنَابَةِ؟

(HR. Muslim dalam Shahih-nya no. 743)

Namun, tambahan lafadz لِلْحَيْضَةِ ini bermasalah, sebagaimana akan disebutkan.

[7] Yang tampak, mandi Aisyah bersama Rasulullah adalah mandi janabah, sebagaimana ditunjukkan oleh hadits berikut ini. Aisyah radhiallahu ‘anha berkata,

كُنْتُ أَغْتَسِلُ أَنَا وَالنَّبِيُّ مِنْ إِنَاءٍ وَاحِدٍ، كِلاَنَا جُنُبٌ

Aku pernah mandi bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari satu bejana. Kami berdua dalam keadaan junub.(HR. a-Bukhari no. 299)

[8] Namun, ada yang mengatakan bahwa mandi Aisyah radhiallahu ‘anha di saat itu bukanlah mandi suci dari haid, melainkan mandi untuk ihram. Sebab, semula Aisyah ingin melaksanakan haji dan berihram untuk umrah, kemudian beliau ditimpa haid sebelum sampai ke Baitullah sehingga hal tersebut menyedihkannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata kepadanya, “Lakukanlah semua yang dilakukan oleh orang yang berhaji selain thawaf, sampai engkau suci dari haid.” (HR. al-Bukhari no. 294 dan Muslim no. 1411)

Ketika datang hari Arafah, Aisyah radhiallahu ‘anha masih dalam keadaan haid. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memerintahnya berihram untuk haji dan memasukkan amalan haji ke umrah, sehingga hajinya adalah haji qiran sebagai pengganti haji tamattu’.

Dengan demikian, tujuan dari perintah melepas ikatan rambut saat itu ialah membersihkan diri dalam rangka ihram, bukan bersuci dari haid karena Aisyah radhiallahu ‘anha belum selesai dari haidnya. (Tashil al-Ilmam, 1/282—284)

[9] Berdalil dengan tambahan lafadz haid dalam hadits Ummu Salamah radhiallahu ‘anha.

[10] Pendapat ini dipegangi oleh ash-Shan’ani dan asy-Syaukani (Subulus Salam dan Nailul Authar).

[11] Ada hadits yang menyebutkan masalah ini. Abu Dawud rahimahullah meriwayatkan dalam Sunannya dari Aisyah radhiallahu ‘anha, beliau menyatakan, “Kami mandi dalam keadaan di kepala kami ada balutan, dalam keadaan kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat kami halal (tidak berihram) dan saat kami muhrim (berihram). “ (dinyatakan sahih oleh al-Imam Muqbil bin Hadi al-Wadi’i rahimahullah dalam al-Jami’ ash-Shahih, 1/547—548)

Diterangkan dalam Aunul Ma’bud yang dinukil oleh al-Imam al-Wadi`i dalam al-Jami’ ash-Shahih di atas, makna hadits ini ialah kami melumuri jalinan-jalinan rambut kami dengan wewangian, daun-daun yang berbau wangi dan selainnya, setelah itu kami mandi dalam keadaan apa yang kami lumurkan di atas rambut kami tidak hilang, tetap ada sebagaimana semula karena ikatan/jalinan rambut tersebut tidak dilepas.

[12] Namun, sudah diterangkan bahwa riwayat dengan tambahan ini adalah syadz.

[13] Kami (penyusun) sendiri lebih condong kepada pendapat jumhur yang mengatakan mustahab. Wallahu a’lam wal ‘ilmu ‘indallah. Namun, untuk keluar dari perselisihan serta kehati-hatian, ikatan/jalinan rambut dilepas agar bisa dipastikan air sampai ke kulit kepala, sebagaimana dinyatakan oleh fatwa al-Lajnah ad-Daimah di atas.

Membantu Anak Menghadapi Masalah

Sebagai orang tua, terkadang kita bertanya-tanya ketika anak kita tiba-tiba melakukan sebuah tindakan menyimpang, apa sebabnya? Ketika anak yang memasuki usia remaja mengalami problem, apa yang harus kita lakukan sebagai orang tua? Berikut ini pemaparan asy-Syaikh Abdullah bin Abdir Rahim al-Bukhari hafizhahullah tentang hak anak dalam masalah tersebut. Kami bawakan dari kitab beliau, Huquq al-Aulad ‘alal Aba wal Ummahat.

Bright-mixed-colors-bright-colors

Memerhatikan Kebutuhan Anak dan Duduk Bersama Mereka untuk Menyelesaikan Problem yang Mereka Hadapi

Tidak diragukan lagi, di antara sifat seorang manusia—terkhusus anak-anak kita, yang lelaki dan perempuan—adalah selalu menghadapi masalah dan kesulitan hidup. Apalagi jika mereka sudah beranjak dewasa. Perhatian yang mereka dapatkan tidak lagi sebagaimana ketika masih pada fase kanak-kanak.

Benar bahwa mereka memiliki hak-hak yang bahkan harus sudah ditunaikan oleh orang tua sejak sebelum dilahirkan ke dunia, ketika masih berada dalam perut sang ibu, ketika menjadi bayi yang menyusu, memasuki masa kanak-kanak, fase setelahnya, kemudian memasuki masa remaja dan pemuda, lalu masa dewasa. Pada setiap fase tersebut, mereka memiliki hak yang harus dipenuhi. Hak itu pun tidak lantas berhenti ditunaikan ketika mereka memasuki fase berikutnya. Setiap fase memiliki hal-hal spesifik yang terkait dengannya. Selain itu, setiap fase juga memiliki penanganan dan metode tersendiri.

Penumbuhan yang baik sejak kecil akan bermanfaat bagi seseorang ketika dewasa. Barang siapa yang melalaikan sisi ini—yakni tarbiyah anak semasa kecil—, perilaku anak menjadi jelek ketika dewasa. Jelek pula sikapnya terhadap ayah ibunya, dan akan muncul sejenis pembangkangan. Bisa jadi, saat itu orang tua akan bertanya-tanya, apa sebabnya? Padahal, sebabnya bisa jadi terletak pada diri orang tua: mereka melalaikan tarbiyah anaknya.

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Betapa banyak orang yang mencelakakan anaknya, belahan jiwanya, di dunia dan di akhirat, dengan sebab tidak memberi anak pendidikan adab. Ia justru membantu anak mewujudkan segala keinginan syahwatnya. Dia menyangka bahwa dengan demikian berarti dia telah memuliakan si anak, padahal justru menghinakannya. Dia sangka bahwa dia telah memberi kasih sayang kepada anak, padahal justru menzaliminya. Akibatnya, dia pun tidak bisa mengambil manfaat dari keberadaan anak. Dia pun menyebabkan sang anak tidak mendapat bagian di dunia dan di akhirat. Apabila memerhatikan kerusakan yang terjadi pada anak-anak, engkau akan melihat bahwa mayoritas penyebabnya berasal dari orang tuanya.” (Tuhfatul Maudud biAhkamil Maulud, hlm. 351)

Oleh karena itu, saya (asy-Syaikh Abdullah al-Bukhari, -pent.) katakan, di antara hak anak yang wajib ditunaikan oleh ayah dan ibunya ialah memberi perhatian terhadap masalah yang dihadapi oleh anak, mencari solusinya dengan akal yang bagus dan mencermatinya dengan hikmah yang sempurna.

Sebagian masalah perlu diperketat, sebagian lain perlu dibiarkan, sesuai dengan kadar masalah dan kesulitan yang dihadapi. Bisa jadi, sebenarnya tidak ada masalah, tetapi bagi si remaja hal itu menjadi urusan mengkhawatirkan yang perlu dimusyawarahkan. Dan orang terbaik yang bisa dia ajak bermusyawarah ialah kedua orang tua.

Apabila hubungan dengan orang tua telah terjalin dengan baik dan “jembatan” telah terbentang, di atas rasa percaya penuh kepada Allah ‘azza wa jalla dan kejujuran kepada-Nya ketika mendidik anak dengan baik, tentu hal ini akan sangat meringankan masalah yang dihadapi oleh anak dan membantu dirinya untuk melaluinya—dengan izin Allah. Berbeda halnya jika ternyata ada dinding penghalang dan penolakan, tentu orang tua tidak bisa ikut menyelesaikan masalah seperti itu.

Walhasil, pada masa kita ini banyak sekali hal-hal yang memalingkan dari kebenaran. Demikian pula hal-hal yang menyibukkan, lebih banyak. Hal-hal yang melalaikan pun sangat banyak. Anak-anak kita—yang lelaki dan perempuan—membutuhkan bantuan dan perhatian penuh. Mereka perlu dibiasakan merasa takut, berharap, cinta kepada Allah ‘azza wa jalla, memasrahkan diri di hadapan-Nya, dan menanamkan hal itu dalam jiwa mereka. Semua ini adalah hal penting yang wajib ditanamkan kepada anak-anak.

Kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah beberapa hari dan malam yang akan terhenti. Barang siapa mempersiapkan kebaikan, dia pun akan mendapat kebaikan. Sebaliknya, siapa yang mempersiapkan keburukan, dia pun akan mendapatkan keburukan. Hendaknya seseorang tidak mencela selain dirinya sendiri.

Apabila dia telah menunaikan kewajibannya dan melakukan tanggung jawabnya di hadapan Allah ‘azza wa jalla, sungguh dia telah terbebas dari beban yang menjadi tanggung jawabnya. Allah tidak membebani sebuah jiwa selain apa yang telah Dia berikan kepadanya.

 

Menyibukkan Waktu Luang Mereka dengan Hal yang Bermanfaat

Tidak tersembunyi bagi orang yang berakal dan cerdik tentang pentingnya waktu dalam kehidupan manusia. AlImam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Menyia-nyiakan waktu lebih dahsyat daripada kematian. Sebab, menyia-nyiakan waktu akan memutus Anda dari Allah dan negeri akhirat, sedangkan kematian hanya memutus Anda dari dunia dan penghuninya.” (al-Fawaid hlm. 33)

Oleh karena itu, apabila tidak diisi dengan hal yang bermanfaat, waktu akan terisi dengan hal-hal yang berbahaya dan buruk. Kita memohon perlindungan kepada Allah. Orang yang memerhatikan perjalanan hidup para salaf—semoga Allah meridhai mereka dan membuat mereka ridha—akan mendapati bahwa mereka tidak menyia-nyiakan waktu atau hari mereka dengan sesuatu yang berbahaya atau buruk.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Dua nikmat yang banyak manusia teperdaya padanya, kesehatan dan waktu luang.” (HR. al-Bukhari no. 6412 dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma)

Al-Imam al-Hasan al-Bashri rahimahullah mengatakan, “Aku pernah mendapati beberapa kaum, yang semuanya sangat pelit terhadap umur mereka daripada dirham mereka.” (Syarhus Sunnah, al-Baghawi, 14/225)

Al-‘Allamah Muhammad bin Abdil Baqi as-Sulami rahimahullah, “Aku tidak pernah mengetahui bahwa aku menyia-nyiakan sepotong waktu dari umurku dalam hal yang sia-sia dan main-main.” (Siyar A’lam an-Nubala, adz-Dzahabi, 20/26; al-Adab asy-Syar’iyyah, Ibnu Muflih, 3/467)

Disebutkan dalam biografi Abdul Wahhab bin Abdil Wahhab bin al-Amin dalam Ma’rifat al-Qurra’ al-Kibar (2/283) karya adz-Dzahabi bahwa seluruh waktunya terjaga. Tidak berlalu sesaat pun kecuali beliau dalam keadaan membaca, berzikir, tahajud, atau tasmi’ (memperdengarkan hafalan al-Qur’an).

Dahulu, al-Khalil bin Ahmad al-Farahidi, seorang ulama bahasa Arab yang masyhur mengatakan, “Waktu yang paling berat aku lalui ialah waktu untuk makan.” (al-Hatstsu ‘ala Thalabil ‘Ilmi, Abu Hilal al-‘Askari hlm. 87)

Intinya, hendaknya waktu sang anak diisi dengan hal yang bermanfaat yang faedahnya akan kembali kepada kebaikan diri mereka di dunia dan di akhirat; berupa ilmu yang bermanfaat dan mengajari mereka urusan yang agama dan akhirat.

Tidak mengapa orang tua memberi waktu khusus dan mengaturnya. Dia bisa membuat waktu-waktu—atau bisa Anda sebut jadwal—yang mengatur kegiatan mereka: kegiatan yang terkait dengan ilmu (baca: belajar), hiburan, wawasan, makan, dan seterusnya. Kegiatan-kegiatan yang mengisi waktu mereka akan bermanfaat bagi mereka, mereka pun bisa bermanfaat kelak bagi masyarakatnya. Mereka bisa menjadi batu bata yang baik dalam bangunan masyarakat ini.

Demikian pula, berbagai metode yang beragam bisa dipakai untuk mengisi waktu anak dengan hal yang bermanfaat.

Apabila kita memandang sebagian anak kita yang pikirannya menyeleweng, baik pikiran syahwat dan kebebasan maupun pikiran syubhat dan penyimpangan (dalam hal agama), kita dapati sebab terbesarnya ialah tidak adanya perhatian keluarga dari kedua orang tua dan tidak ditunaikannya hak-hak anak.

Penjelasannya mudah. Sebabnya ialah tidak adanya kesibukan untuk mengisi waktu mereka dengan sesuatu yang bermanfaat bagi mereka. Atau bisa jadi, justru orang tualah yang berada dalam penyimpangan sehingga anak-anak tumbuh sebagaimana keadaan orang tuanya.

وَيَنْشَأُ نَاشِئُ الْفِتْيَانِ مِنَّا

 عَلَى مَا كَانَ عَوَّدَهُ أَبُوهُ            

Pemuda yang baru tumbuh di antara kami

               Tumbuh di atas apa yang dibiasakan oleh ayahnya

Karena teladan yang baik tidak ada, dia pun menyimpang, baik ke arah syahwat maupun syubhat. Karena itu, kita dapati sebagian ahli bid’ah mencuri waktu luang para penuntut ilmu dan pemuda di antara anak-anak kita, lalu dia mengumpulkan dan memalingkan mereka dari jalan yang lurus. Ini terjadi ketika kedua orang tua tidak menemukan atau tidak mengetahui metode untuk mengisi waktu anak-anak mereka.

Setelah beberapa waktu, tiba-tiba dia dapati anaknya menentangnya dan mendurhakainya dari sisi yang lain. Anaknya, misalnya, terpengaruh oleh pemikiran dari luar yang menyimpang dan sesat atau satu bentuk penyimpangan dalam hal akidah dan manhaj. Bisa jadi pula, si remaja menyimpang dalam hal perilaku (akhlak).

Ketika itu, sang ayah pun menjerit. Akan tetapi, (sudah terlambat), itu bukan saatnya menyesal! Jeritan ini tidak lagi bermanfaat. Tidak pula ratapan ini (bermanfaat) setelah lewat waktunya! Bisa jadi, sebabnya ada pada kedua orang tua, yaitu mereka berdua memang menyimpang. Atau bisa jadi pula tidak seperti itu, yaitu hal itu memang semata-mata ujian, namun keduanya tidak menyempatkan diri untuk berdoa secara sembunyi-sembunyi dan tidak jujur mengembalikan urusan kepada Allah ‘azza wa jalla.

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Betapa banyak orang yang mencelakakan anaknya, belahan jiwanya, di dunia dan di akhirat, dengan sebab tidak memberi anak pendidikan adab. Ia justru membantu anak mewujudkan segala keinginan syahwatnya. Dia menyangka bahwa dengan demikian berarti dia telah memuliakan si anak, padahal justru menghinakannya. Dia sangka bahwa dia telah memberi kasih sayang kepada anak, padahal justru menzaliminya. Akibatnya, dia pun tidak bisa mengambil manfaat dari keberadaan anak. Dia pun menyebabkan sang anak tidak mendapat bagian di dunia dan di akhirat. Apabila engkau memerhatikan kerusakan yang terjadi pada anak-anak, engkau akan melihat bahwa mayoritas penyebabnya berasal dari orang tuanya.” (Tuhfatul Maudud bi Ahkamil Maulud, hlm. 351)

Beliau mengatakan pula, “Kerusakan mayoritas anak disebabkan oleh orang tua dan kelalaian mereka terhadap anak. Mereka tidak mengajari urusan agama yang wajib dan yang sunnah. Mereka menyia-nyiakan anak semasa kecilnya. Anak pun tidak bermanfaat bagi diri sendiri dan tidak bermanfaat bagi orang tuanya ketika lanjut usia. Sebagaimana ketika sebagian mereka mencela anaknya karena durhaka, anaknya menjawab, ‘Wahai ayahku, engkau telah mendurhakaiku semasa aku kecil. Maka, sekarang aku mendurhakaimu ketika engkau lanjut usia. Engkau menyia-nyiakanku sewaktu anak-anak, sekarang aku menyia-nyiakanmu saat engkau tua renta’.” (Tuhfatul Maudud bi Ahkamil Maulud, hlm. 337)

Oleh karena itu, teladan yang baik adalah sangat penting dalam hal mendidik anak. Hal ini wajib diperhatikan oleh orang tua. Orang tua hendaknya selalu berhias dengan akhlak yang baik dan perilaku yang lurus. Seseorang tidak boleh menyuruh anak lelaki atau perempuannya melakukan sesuatu sementara ia sendiri meremehkannya. Hal ini diketahui secara teori dan akal.

وَغَيرُ تَقِيٍّ يَأْمُرُ النَّاسَ باِلتُّقَى

طَبِيْبٌ يُدَاوِي وَالطَّبِيبُ عَلِيلُ             

Orang yang tidak bertakwa menyuruh manusia untuk bertakwa

       (layaknya) dokter yang mengobati, namun dia sendiri berpenyakit

Hal ini tidak mungkin. Sebab, anak-anak memiliki tabiat meniru orang tua, baik dia ingin maupun tidak. Karena itu, kita dapati bahwa penyimpangan terkadang disebabkan (pergaulan) di rumah. Si pemuda atau pemudi melihat ayah atau ibunya melakukan sesuatu, maka dia menyerapnya, baik dia tahu maupun tidak, sadar maupun tidak. Setelah itu, dia meniru perkara yang dilakukan kedua orang tuanya tersebut.

Jadi, perhatian terhadap hal ini (teladan yang baik) sangat besar pengaruhnya. Teladan yang baik merupakan suatu hal yang dituntut dan dianjurkan oleh agama kita. Agama kita memosisikan keteladanan yang baik sebagai sebab kebahagiaan bagi yang menginginkan keselamatan.

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (al-Ahzab: 21)

Jadi, barang siapa menginginkan keselamatan bagi anak-anaknya, hendaknya dia menjadi teladan yang baik, mengadakan perbaikan, lurus, menegakkan perintah Allah ‘azza wa jalla, tidak melanggar batasan-batasan Allah dan melampauinya.

“Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya.” (al-Baqarah: 229)

“Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya.” (al-Baqarah: 187)

“Dan barang siapa melanggar hukum-hukum Allah, maka sesungguhnya dia telah berbuat lalim terhadap dirinya sendiri.” (ath-Thalaq: 1)

Ringkasnya, pendidikan anak adalah urusan yang penting, agung, besar, dan berat. Akan tetapi, hal itu menjadi mudah bagi orang yang diberi kemudahan oleh Allah. Karena itu, sepantasnya seorang hamba berdoa kepada Allah di awal dan di akhir, serta memohon pertolongan kepada-Nya agar memberinya petunjuk ke jalan yang lurus, memberinya karunia berupa keturunan yang baik, dan memperbaiki keadaan dirinya dan semuanya, sekarang dan masa yang akan datang.

Kita memohon kepada Allah ‘azza wa jalla agar memberikan karunia kepada kita dan Anda berupa keturunan yang baik, memberi manfaat, dan mengadakan perbaikan. Sesungguhnya Dia Maha Memberi dan Mahadermawan.

(diterjemahkan dari Huququl Aulad ‘alal Aba wal Ummahat, karya asy-Syaikh Abdullah bin Abdir Rahim al-Bukhari hafizhahullah, hlm. 44—50)

Kulit Bangkai yang Tersucikan dengan Disamak

Pertanyaan:

Mau tanya, kulit binatang haram apakah menjadi suci setelah disamak? Hujahnya? Syukran.

Ika—Pekalongan

 kulit-sapi

Dijawab oleh al-ustadz Abu Abdillah Muhammad as-Sarbini

Masalah kulit bangkai yang disamak diperselisihkan oleh ulama.

Di antara pendapat itu, pendapat yang mengatakan kulit bangkai secara umum tidak tersucikan dengan penyamakan. Ini riwayat yang paling masyhur dari Malik dan Ahmad yang menjadi mazhab bagi fuqaha Hanbali. Namun, keduanya membolehkan pemanfaatannya untuk sesuatu yang kering, tidak yang basah/lembab. Pendapat ini berdalil dengan hadits Abdullah bin ‘Ukaim,

كَتَبَ إِلَيْنَا رَسُولُ اللهِ قَبْلَ وَفَاتِهِ بِشَهْرٍ  :أَنْ لاَ تَنْتَفِعُوا مِنَ الْمَيْتَةِ بِإِهَابٍ وَلاَ عَصَبٍ.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menulis kepada kami sebulan sebelum wafat, ‘Jangalah kalian memanfaatkan kulit bangkai dan urat syarafnya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah)

Mereka mengatakan bahwa hadits ini menghapus hadits-hadits pemanfaatan kulit bangkai setelah disamak. Akan tetapi, hadits ini diperselisihkan keabsahannya. Kebanyakan pakar hadits dari kalangan para hafizh (penghafal hadits), seperti Ibnu Ma’in, Abu Hatim ar-Razi, al-Baihaqi, al-Khaththabi,dan Ibnu Hajar, menghukuminya dha’if (lemah).

Ibnu Ma’in mengatakan, “Hadits tersebut bukan sesuatu (hujah).”

Abu Hatim ar-Razi, al-Khaththabi, dan al-Baihaqi menyatakannya mursal (putus antara Ibnu ‘Ukaim dengan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam), karena Ibnu ‘Ukaim bukan sahabat.

At-Tirmidzi menukil bahwa pada mulanya al-Imam Ahmad berpendapat dengan hadits ini karena merupakan hukum terakhir dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi akhirnya beliau meninggalkan hadits ini tatkala mendapati kegoncangan (idhthirab) pada sanadnya dengan sebagian mereka meriwayatkannya dari Ibnu ‘Ukaim, dari sekelompok syaikh dari Juhainah yang datang kepada mereka kitab dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berisi hadits tersebut. Al-Khallal juga meriwayatkan hal yang sama dari Ahmad.

Sementara itu, al-Albani menghukuminya sebagai hadits sahih. Alasannya, perselisihan riwayat itu bukan kegoncangan yang mencacati hadits, sedangkan klaim mursal itu pun tidak tepat. Sekelompok syaikh dari Juhainah tersebut adalah sahabat yang datang kepada mereka kitab dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas dibacakan kepada mereka, dan boleh jadi Ibnu ‘Ukaim hadir saat pembacaan kitab itu kepada mereka mengingat dia mendapati zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kendati tidak mendengar darinya—sebagaimana kata al-Bukhari dan lainnya.

Hal ini telah diakui sendiri oleh Ibnu Hajar dalam kitab Taqrib at-Tahdzib pada biografi Ibnu ‘Ukaim, ia berkata, “Abdullah bin ‘Ukaim al-Juhani, Abu Ma’bad al-Kufi, mukhadhram[1], dia telah mendengar kitab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ditulis kepada (kabilah) Juhainah.”

Alhasil, seandainya hadits itu sahih, tidak bisa dijadikan sebagai penghapus hadits-hadits yang menunjukkan bahwa penyamakan dapat menyucikan kulit bangkai. Sebab, tidak bisa dipastikan bahwa hadits ‘Ukaim datang belakangan setelah hadits-hadits tersebut.

Seandainya benar bahwa hadits ‘Ukaim yang terakhir datangnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetap tidak bisa dijadikan sebagai penghapus hadits-hadits sebelumnya, karena kedua dalil yang seakan bertentangan tersebut masih bisa dipadukan dengan metode al-jam’u baina ad-dalilain, yaitu dengan mengatakan bahwa hadits ‘Ukaim pada dasarnya tidak mengandung larangan pemanfaatan kulit bangkai setelah disamak, tetapi larangan pemanfaatannya sebelum disamak. Menurut sebagian ahli bahasa, kata ‘ihab’ ( إِهَابٌ ) digunakan untuk kulit yang belum disamak, sedangkan kulit yang sudah disamak dinamakan ‘adim’ (أَدِيمٌ).

Jika sistem pemaduan tersebut enggan diterima, harus ditempuh metode tarjih (memilih yang terkuat). Jika begitu, tentu saja hadits-hadits sahih yang menunjukkan kesucian kulit bangkai yang telah disamak lebih kuat dan lebih pantas diamalkan daripada hadits ‘Ukaim yang diperselisihkan keabsahannya.

Ada sebuah diskusi ilmiah yang menarik antara al-Imam asy-Syafi’i dan al-Imam Ishaq bin Rahawaih. Kata Ibnul Mulaqqin dalam al-Badru al-Munir, “Al-Hazimi meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu asy-Syaikh al-Hafizh bahwa ia berkata, ‘Telah dihikayatkan bahwasanya Ishaq bin Rahawaih berdebat ilmiah dengan asy-Syafi’i—sedangkan Ahmad bin Hanbal hadir—mengenai kesucian kulit bangkai apabila disamak.

Kata asy-Syafi’i, ‘Penyamakannya menjadikannya suci.’

Kata Ishaq, ‘Apa dalilnya?’

Kata asy-Syafi’i, ‘Hadits az-Zuhri, dari ‘Ubaidullah bin ‘Abdillah, dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma, dari Maimunah radhiallahu ‘anha bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Tidakkah kalian memanfaatkan kulit bangkai itu?’[2]

Lantas Ishaq berkata kepadanya, ‘Bagaimana dengan hadits Ibnu ‘Ukaim, ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menulis kepada kami sebulan sebelum wafat, ‘Janganlah kalian memanfaatkan kulit bangkai dan urat syarafnya’.” Hadits ini semacam hukum baru yang menghapuskan hadits Maimunah radhiallahu ‘anha, karena datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebulan sebelum wafatnya.’

Kata asy-Syaifi’i, ‘Ini adalah kitab (ditulis oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), sedangkan itu adalah sama’ (sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang didengar langsung darinya).’[3]

Kata Ishaq lagi, ‘Jika demikian, sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menulis surat kepada Kisra dan Kaisar, lantas itu menjadi hujah di kalangan ahli hadits di sisi Allah.’

Akhirnya asy-Syafi’i terdiam.

Tatkala Ahmad mendengar hasil perdebatan keduanya, ia lantas berpendapat mengikuti hadits Ibnu ‘Ukaim dan berfatwa dengannya, sedangkan Ishaq sendiri justru rujuk kepada hadits (hujah) asy-Syafi’i.”

Wallahu a’lam.[4]

Jika telah jelas kelemahan mazhab ini, tampaklah bahwa yang benar adalah pendapat yang mengatakan bahwa kulit bangkai akan tersucikan dari kenajisannya dengan penyamakan sehingga bisa dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, baik untuk sesuatu yang kering maupun basah.[5] Ini adalah mazhab Abu Hanifah, asy-Syafi’i, riwayat lain dari Malik dan Ahmad, serta pendapat jumhur ulama. Pendapat ini yang dirajihkan oleh Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, ash-Shan’ani, asy-Syaukani, Ibnu Baz, al-Albani, dan Ibnu ‘Utsaimin.

Dalilnya adalah hadits-hadits berikut:

  1. Hadits Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا دُبِغَ الْإِهَابُ فَقَدْ طَهُرَ.

“Jika kulit bangkai disamak, sungguh menjadi suci.” (HR. Muslim)

Pada riwayat Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah dengan lafadz,

أَيُّمَا إِهَابٍ دُبِغَ فَقَدْ طَهُرَ.

“Kulit bangkai apa saja yang disamak maka sungguh menjadi suci.” (Dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 2711)

  1. Hadits Maimunah radhiallahu ‘anha:

مَرَّ عَلَى رَسُولِ اللهِ رِجَالٌ مِنْ قُرَيْشٍ يَجُرُّونَ شَاةً لَهُمْ مِثْلَ الْحِمَارِ، فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللهِ  :لَوْ أَخَذْتُمْ إِهَابَهَا؟ قَالُوا :إِنَّهَا مَيْتَةٌ. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ : يُطَهِّرُهَا الْمَاءُ وَالْقَرَظُ.

“Beberapa pria Quraisy yang sedang menarik (bangkai) kambing sebesar keledai melintas di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada mereka, ‘Sekiranya kalian memanfaatkan kulitnya?’ Mereka berkata, ‘Sesungguhnya kambing ini adalah bangkai.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Kulitnya dapat disucikan dengan air dan qarazh[6].” (HR. Ahmad, Abu Dawud, an-Nasa’i, dan lainnya. Dinyatakan sahih oleh al-Albani dengan penguatnya dalam ash-Shahihah)[7]

  1. Hadits Salamah bin al-Muhabbiq radhiallahu ‘anhu yang dikeluarkan oleh Ahmad, Abu Dawud, an-Nasa’i, dan Ibnu Hibban dari jalan riwayat Qatadah, dari al-Hasan, dari Jaun bin Qatadah, dari Salamah bin al-Muhabbiq radhiallahu ‘anhu. Riwayat Abu Dawud dengan lafadz,

أَنَّ رَسُولَ اللهِ فِي غَزْوَةِ تَبُوكَ أَتَى عَلَى بَيْتٍ فَإِذَا قِرْبَةٌ مُعَلَّقَةٌ، فَسَأَلَ الْمَاءَ فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّهَا مَيْتَةٌ. فَقَالَ: دِبَاغُهَا طُهُورُهَا.

“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada perang Tabuk mendatangi sebuah rumah, ternyata ada geriba yang digantung. Lantas Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam minta air. Mereka menjawab, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya geriba itu dari bangkai.’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Penyamakannya adalah kesuciannya’.”

Riwayat Ahmad lainnya dengan lafadz,

دِبَاغُهَا طُهُورُهَا أَوْ ذَكَاتُهَا.

“Penyamakannya adalah kesuciannya atau penyembelihannya.”

Riwayat Ahmad dan an-Nasa’i dengan lafadz,

دِبَاغُهَا ذَكَاتُهَا.

“Penyamakannnya adalah penyembelihannya.”

Riwayat Ibnu Hibban dengan lafadz:

ذَكَاةُ الْأَدِيْمِ دِبَاغُهَ.

“Penyembelihan kulit bangkai adalah penyamakannya.”

Pada sanadnya terdapat Jaun bin Qatadah yang diperselisihkan keadaannya. Kata an-Nawawi dalam al-Majmu’, “Sanadnya sahih, hanya saja Jaun diperselisihkan. Ahmad mengatakan bahwa dia majhul (tidak dikenal), sedangkan Ibnul Madini mengatakan bahwa dia ma’ruf (dikenal).”

Ibnul Mulaqqin juga telah berbicara panjang lebar tentang Jaun lebih dari keterangan an-Nawawi dalam kitab al-Badru al-Munir, dan ia menyatakan hadits ini sahih.[8]

Kata al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Taqrib at-Tahdzib, “Maqbul (diterima)”, yakni diterima jika riwayatnya diikuti oleh rawi lain.

Kata al-Albani dalam al-Misykat (no. 511), “Sanadnya hasan untuk penguat.” Terdapat hadits-hadits lain yang saling menguatkan dengannya sehingga dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam kitab Shahih Sunan Abi Dawud (no. 4125), Shahih Sunan an-Nasa’i (no. 4254), dan Ghayatul Maram (no. 26).

Di antara penguatnya adalah hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha yang juga datang dengan dua lafadz seperti di atas. Riwayat Ahmad, an-Nasa’i, dan Ibnu Hibban[9]:

سُئِلَ النَّبِيُّ عَنْ جُلُودِ الْمَيْتَةِ فَقَالَ: دِبَاغُهَا طُهُورُهَا.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang kulit bangkai. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Penyamakan adalah kesuciannya.”

Riwayat an-Nasa’i lainnya dengan lafadz:

ذَكَاةُ الْمَيْتَةِ دِبَاغُهَ.

“Penyembelihan bangkai adalah penyamakannya.”

Hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam Shahih al-Jami’ (no. 3432) dan Shahih an-Nasa’i (no. 4255, 4256, 4257, 4258).

Akan tetapi, ada perbedaan pendapat di antara jumhur ulama mengenai rincian kulit bangkai binatang apa saja yang dapat tersucikan dengan penyamakan.

  1. Kulit bangkai seluruh jenis binatang, termasuk kulit anjing dan babi.

Ini adalah mazhab Dawud azh-Zhahiri dan Ibnu Hazm azh-Zhahiri yang dirajihkan oleh ash-Shan’ani dan asy-Syaukani. Dalilnya adalah keumuman makna hadits Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma di atas,

أَيُّمَا إِهَابٍ دُبِغَ فَقَدْ طَهُرَ.

“Kulit bangkai apa saja yang disamak maka sungguh menjadi suci.”

  1. Kulit bangkai binatang yang pada asalnya suci di masa hidupnya, termasuk hewan yang tergolong haram dimakan melalui penyembelihan, seperti kulit bangkai macan, ular, dan semacamnya.

Dalilnya adalah keumuman makna hadits-hadits tersebut di atas, kecuali hewan yang memang najis semasa hidupnya tidak bisa disucikan kulitnya dengan penyamakan selamanya. Pendapat ini adalah mazhab Abu Hanifah, salah satu riwayat dari asy-Syafi’i yang menjadi mazhab bagi ahli fikih mazhab Syafi’i, dan salah satu riwayat dari Ahmad. Ini salah satu pendapat Ibnu Taimiyah—sebagaimana dalam al-Ikhtiyarat dan al-Inshaf. Dalam hal ini asy-Syafi’i dan Ahmad memperkecualikan babi dan anjing karena meyakini keduanya najis, sedangkan Abu Hanifah hanya memperkecualikan babi karena meyakini anjing adalah suci kecuali air liurnya najis.

  1. Kulit bangkai binatang yang tergolong hewan yang halal dimakan melalui penyembelihan, seperti kulit bangkai sapi, kambing, buaya, dan semisalnya. Adapun kulit bangkai macan, ular, dan semisalnya tidak tersucikan dengan penyamakan, karena hewan-hewan tersebut tergolong haram dimakan melalui penyembelihan.

Ini adalah riwayat lain dari asy-Syafi’i dan Ahmad. Ini pendapat kedua Ibnu Taimiyah yang menurutnya berhasil memadukan seluruh hadits-hadits dalam masalah ini—sebagaimana dalam Majmu’ al-Fatawa. Ini pula yang dipilih oleh as-Sa’di dan Ibnu ‘Utsaimin.

Dalilnya adalah hadits Salamah bin al-Muhabbiq radhiallahu ‘anhu dan hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha di atas yang menyebutkan bahwa penyamakan kulit bangkai berkedudukan seperti penyembelihan hewan itu. Artinya, penyamakan dapat menyucikan kulit bangkai hewan yang tergolong halal dimakan melalui penyembelihan. Adapun yang haram dimakan meskipun disembelih secara syar’i, kulitnya tidak bisa disucikan dengan penyamakan. Apalagi anjing dan babi yang pada asalnya memang najis, lebih jelas lagi tidak bisa disucikan dengan penyamakan selamanya.

Hal ini semakin kuat dengan hadits al-Miqdam bin Ma’dikarib radhiallahu ‘anhu yang berkata kepada Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiallahu ‘anhuma,

نَهَى shallallahu ‘alaihi wa sallam فَأَنْشُدُكَ بِاللهِ، هَلْ تَعْلَمُ أَنَّ رَسُولَ اللهِ عَنْ لُبْسِ جُلُودِ السِّبَاعِ وَالرُّكُوبِ عَلَيْهَا؟ قَالَ: نَعَمْ.

“Aku menyumpahmu demi Allah, apakah engkau tahu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang dari memakai kulit hewan buas dan menjadikannya sebagai pelana?”

Mu’awiyah radhiallahu ‘anhu menjawab, “Ya.” (HR. Abu Dawud dan an-Nasa’i. Dinyatakan sahih oleh al-Albani dan memiliki penguat)[10]

Ibnu Baz rahimahullah berfatwa agar berhati-hati dalam permasalahan ini dengan memilih pendapat ini.

Alhasil, yang terbaik adalah pendapat ketiga demi kehati-hatian.

Wallahu a’lam.[11]


[1] Mukhadhram adalah orang yang hidup mendapati masa jahiliah dan masa kenabian tetapi tidak sempat berjumpa dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun ia beriman dan mati di atas Islam.

[2] Hadits ini akan kami sebutkan nanti secara lengkap insya Allah.

[3] Maksudnya, hadits Maimunah radhiallahu ‘anha lebih kuat daripada hadits ‘Ukaim.

[4] Lihat kitab Talkhish al-Habir (1/76—78), al-Badru al-Munir (1/587—600), dan al-Irwa’ (1/76—79, no. 38).

[5] Seperti pada hadits ‘Imran bin Hushain radhiallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sahabatnya berwudhu dari mazadah (kantong air yang terbuat dari kulit bangkai yang telah disamak) milik wanita musyrik, padahal sembelihan orang musyrik adalah bangkai.

[6] Sejenis tumbuhan. An-Nawawi menegaskan bolehnya penyamakan dengan apa saja yang dapat menyerap keluar kotoran yang ada dalam kulit bangkai, membersihkannya, dan mencegahnya dari kerusakan (mengawetkannya).

Contohnya, qarazh, kulit delima, syabb (batu tawas), dan obat-obatan yang suci semacamnya. Ibnu Qudamah juga menyatakan hal yang semakna dengan ini. Setelah itu, wajib dicuci dengan air untuk menyucikannya, menurut pendapat yang terkuat. Ini yang dirajihkan oleh Ibnu Qudamah.Wallahu a’lam.

Lihat kitab al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim (4/Kitab ath-Thaharah, pada Bab “Thaharah Julud al-Maitah bi ad-Dibagh”), al-Majmu’ (1/276—281), dan al-Mughni (1/95—96).

[7] Pada sanadnya terdapat dua rawi yang tidak dikenal, tetapi memiliki penguat (syahid) dari hadits Ibnu ‘Abbas rahimahullah riwayat ad-Daraquthni dan al-Baihaqi dengan sanad yang dihukumi oleh al-Albani sebagai hadits sahih menurut syarat al-Bukhari-Muslim. Lengkapnya lihat ash-Shahihah (5/no. 2163).

[8] Lihat kitab al-Badru al-Munir (1/608—612, Darul Hijrah, program Maktabah Syamilah).

[9] Pada Kitab ath-Thaharah, Bab “Julud al-Maitah” , no. 1290.

[10] Lihat kitab ash-Shahihah (3/no. 1011).

[11] Lihat kitab al-Muhalla (1/no. 129), Bidayah al-Mujtahid (1/78—79), al-Mughni (1/89—95), al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim (4/Kitab ath-Thaharah, pada Bab “Thaharah Julud al-Maitah bi ad-Dibagh”), al-Majmu’ (1/268, 270—276), Majmu’ al-Fatawa (21/90—96), al-Ikhtiyarat (hlm. 42), Zadul Ma’ad (5/757—758), al-Inshaf (1/86—87), Nailul Authar (1/Bab “Ma Ja’a fi Tathhir ad-Dibagh”), Subulus Salam (Kitabath-Thaharah, Bab “al-Aniyah”, syarah hadits Ibnu ‘Abbas, hadits Salamah, dan haditsMaimunah), al-Mukhtarat al-Jaliyyah (hlm. 42—43), ats-Tsamar al-Mustathab (hlm. 6—7), Majmu’ Fatawa Ibni Baz (6/354), asy-Syarh al-Mumti’ (1/85—92), dan Fath Dzil Jalal wal Ikram.

Amirul Mukminin Umar bin al-Khaththab (9)

 

Traditional-Arabic-Chair

Memberhentikan Pejabat

Di antara bukti kezuhudan para pejabat yang sangat diperhatikan oleh beliau radhiallahu ‘anhu ketika menugaskannya adalah sikap zuhud mereka terhadap jabatan itu sendiri. ‘Umar radhiallahu ‘anhu menganggap orang-orang yang memiliki keinginan terhadap jabatan tertentu adalah orang-orang yang tidak mampu menjalankan tugas, apalagi ikhlas dalam melaksanakannya.

Dalam beberapa kesempatan, ‘Umar radhiallahu ‘anhu menegaskan, “Siapa saja yang berambisi terhadap kepemimpinan, niscaya dia tidak akan bisa berlaku adil di dalamnya.”

Dalam benaknya, urusan kaum muslimin adalah persoalan yang sangat penting dan berat. Beliau radhiallahu ‘anhu pernah berandai-andai, jika saja tokoh utama di antara para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ada di tengah-tengah mereka, tentu merekalah yang akan ditugaskan memimpin kaum muslimin di daerah mereka.

“Berangan-anganlah kalian,” katanya suatu ketika kepada para sahabat dekatnya.

“Aku ingin, seandainya rumah ini penuh dengan emas, lalu aku infakkan di jalan Allah ‘azza wa jalla dan aku sedekahkan,” kata sebagian mereka.

“Aku ingin, seandainya rumah ini penuh dengan intan permata, lalu aku infakkan dan sedekahkan di jalan Allah ‘azza wa jalla,” kata yang lain.

“Berangan-anganlah kalian,” lanjut ‘Umar radhiallahu ‘anhu.

“Kami tidak mengerti, wahai Amirul Mukminin,” sahut mereka.

“Aku ingin, seandainya negeri ini dipenuhi oleh orang-orang yang keadaannya seperti Abu ‘Ubaidah ibnul Jarrah, Mu’adz bin Jabal, Salim maula Abu Hudzaifah, dan Hudzaifah ibnul Yaman radhiallahu ‘anhum, lalu aku angkat mereka menjadi pejabat di atas ketaatan kepada Allah ‘azza wa jalla.”

Nama-nama sahabat g yang disebutkan oleh ‘Umar radhiallahu ‘anhu ini adalah orang-orang yang utama di kalangan sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka adalah orang yang mula-mula masuk Islam, dikenal takwa, wara’, zuhud, berilmu, ahli fikih, pemberani, dan sifat terpuji lainnya.

Karena itulah, dalam menjalankan tugasnya sebagai pelayan kaum muslimin, ‘Umar radhiallahu ‘anhu benar-benar meneliti secara cermat orang-orang yang akan ditugaskannya di sebagian wilayah Islam. Sudah tentu, ketika melihat sebagian pejabatnya ternyata kurang baik menjalankan tugasnya, ‘Umar radhiallahu ‘anhu segera menggantinya dengan yang lain.

Dari sejarah hidup beliau radhiallahu ‘anhu, disimpulkan oleh sebagian ulama bahwa ada beberapa alasan beliau radhiallahu ‘anhu mencopot pejabat yang pernah ditunjuknya. Hal ini memberikan gambaran bahwa ‘Umar betul-betul cermat dalam memilih dan menggeser kedudukan seseorang, bukan karena sentimen pribadi.

Beberapa alasan itu antara lain sebagai berikut.

  1. Ketidakmampuan pejabat itu dalam bertugas atau kurang sempurna dalam menjalankannya.

Siapapun tidak meragukan keutamaan ‘Ammar bin Yasir radhiallahu ‘anhu, sahabat yang diberitakan diselamatkan oleh Allah ‘azza wa jalla dari neraka. Akan tetapi, ketika sebagian sahabat lain menjadi saksi akan kelemahannya dalam sebagian kewajibannya, ‘Umar radhiallahu ‘anhu mencopot ‘Ammar radhiallahu ‘anhu dari kedudukannya sebagai pemimpin.

Demikian pula yang dialami oleh Syurahbil bin Hasanah radhiallahu ‘anhu. Panglima ini dicopot oleh ‘Umar dan digantikan dengan orang yang lebih ahli daripadanya.

  1. Adanya pengaduan rakyat tentang pejabat tersebut

Sa’ad bin Abi Waqqash radhiallahu ‘anhu adalah salah seorang sahabat yang dijamin oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk surga. Beliau radhiallahu ‘anhu pernah diberi tugas sebagai gubernur di Kufah. Akan tetapi, sebagian penduduk Kufah mencelanya dan menuduh bahwa Sa’ad radhiallahu ‘anhu tidak shalat dengan benar ketika mengimami mereka. Sa’ad radhiallahu ‘anhu juga dituduh tidak membagi dengan adil.

Meskipun yakin bahwa tuduhan itu tidak benar, ‘Umar radhiallahu ‘anhu tetap mencopot Sa’ad radhiallahu ‘anhu dari kedudukannya sebagai gubernur. Semua itu beliau radhiallahu ‘anhu lakukan untuk menutup celah timbulnya kejelekan, yaitu tidak senangnya rakyat kepada penguasa mereka lalu tidak mau menaatinya dalam kebaikan.

Dalam sebagian kesempatan, beliau radhiallahu ‘anhu menjelaskan bahwa Sa’ad radhiallahu ‘anhu dicopot bukan karena dia khianat atau ketidakmampuannya menjalankan tugas.

radhiallahu ‘anhuma. Pejabat melakukan perbuatan yang tidak disukai oleh ‘Umar radhiallahu ‘anhu

Seperti yang beliau radhiallahu ‘anhu lakukan terhadap Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu yang pulang membawa harta yang cukup banyak dari Bahrain. Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu ditanya dari mana kekayaan tersebut. Abu Hurairah menjelaskan dengan jujur. Akan tetapi, tabiat ‘Umar yang tidak ingin pejabatnya dicurigai oleh rakyatnya menggunakan jabatannya untuk memperkaya diri, mencopot Abu Hurairah dari jabatannya. Setelah diteliti dengan saksama, ternyata harta itu memang sebagaimana yang diterangkan oleh Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu. ‘Umar radhiallahu ‘anhu memanggilnya untuk ditugaskan kembali.

Akan tetapi, Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu menolak, karena khawatir kehormatannya rusak dan punggungnya dicambuk, apabila salah melangkah.

Bahkan, seringan apapun kesalahan seorang pejabatnya, tetapi tidak layak dilakukannya karena dia adalah orang yang menjadi ikutan, beliau radhiallahu ‘anhu tidak segan-segan mencopotnya dari kedudukannya. Seperti yang beliau radhiallahu ‘anhu lakukan terhadap seorang sahabat yang menyenandungkan syair berisi pujian terhadap khamr. Meskipun hanya sekadar bersyair dan alasan itu diterima oleh ‘Umar radhiallahu ‘anhu, namun ‘Umar tetap menurunkan sahabat tersebut dari jabatannya.

  1. Pejabat mengajukan uzur syar’i untuk menolak tugas.

Seperti yang terjadi pada Nu’man bin Muqarrin radhiallahu ‘anhu.

Wallahu a’lam.

 

Penyayang terhadap Rakyatnya

Kita mengenang kembali ‘Umar radhiallahu ‘anhu sebelum masuk Islam. Betapa ganas dan tanpa belas kasihan dia menyiksa seorang budak wanita yang beriman. Siksaan itu berhenti setelah ‘Umar radhiallahu ‘anhu kepayahan, sedangkan budak itu tetap tegar dalam keimanannya.

Hampir tidak kita dapati dalam riwayat bahwa ‘Umar radhiallahu ‘anhu pernah merasa iba melihat penderitaan orang lain, lebih-lebih kaum muslimin. Kecuali saat itu, ketika dia melihat Ummu ‘Abdillah bintu Abi Hatsmah radhiallahu ‘anha yang menyiapkan bekal untuk hijrah ke Habasyah. Ummu ‘Abdillah radhiallahu ‘anha melihat seolah-olah ‘Umar radhiallahu ‘anhu merasa kasihan kepada mereka. Akan tetapi, ‘Amir radhiallahu ‘anhu sang suami mengingkari, “Dia tidak akan masuk Islam sampai keledai al-Khahthab masuk Islam.” Abu ‘Abdillah radhiallahu ‘anhu merasa putus asa melihat kekejaman dan kekasaran ‘Umar radhiallahu ‘anhu terhadap kaum muslimin.

Itulah ‘Umar radhiallahu ‘anhu sebelum masuk Islam.

Setelah masuk Islam, hampir sepanjang kehidupannya yang sampai kepada kita, banyak menceritakan betapa pilu hatinya ketika mengetahui kesengsaraan dan kepedihan yang dirasakan oleh sebagian kaum muslimin.

Beliau radhiallahu ‘anhu juga tidak rela apabila kesulitan yang dirasakan oleh rakyat itu diperparah oleh kelakuan sebagian pejabat yang ditugaskannya.

Diceritakan bahwa ‘Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu selalu meminta para pejabatnya bertemu dengannya di setiap musim haji. Di situ, Amirul Mukminin radhiallahu ‘anhu selalu mengingatkan mereka, “Hai kaum muslimin, saya tidak mengangkat petugas kalian atau pejabatku itu untuk memukul kalian atau merampas harta kalian. Tidak pula meruntuhkan kehormatan kalian. Akan tetapi, saya mengangkat seorang pejabat untuk menjadi pelindung kalian dan membagi ghanimah di antara kalian. Karena itu, siapa saja di antara kalian yang terzalimi oleh mereka, hendaklah dia berdiri.”

Namun, tidak ada yang berdiri kecuali seorang laki-laki yang berkata, “Wahai Amirul Mukminin, seorang petugasmu memukulku seratus kali cambukan.”

Kata beliau radhiallahu ‘anhu, “Bangkitlah dan balaslah.”

Tiba-tiba ‘Amr bin ‘Ash radhiallahu ‘anhu berdiri dan berkata, “Wahai Amirul Mukminin, seandainya Anda membuka masalah ini terhadap para pejabatmu, tentu akan menjadi sunnah yang tetap diberlakukan oleh orang-orang yang datang sesudahmu.”

Beliaupun berkata, “Saya tidak mengkisasnya, tetapi saya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerahkan dirinya untuk dikisas.”

Kata ‘Amr radhiallahu ‘anhu, “Biarkan kami meminta kerelaannya.”

“Buatlah dia rela,” kata ‘Umar radhiallahu ‘anhu.

Akhirnya, mereka membuat orang itu rela dengan menerima tebusan sebanyak duaratus dinar. Setiap cambukan dihargai dua dinar.[1]

Itulah ‘Umar al-Faruq putra al-Khaththab radhiallahu ‘anhu. Dia juga tidak senang keluarganya menerima fasilitas negara karena hubungan mereka dengan pribadinya. Oleh sebab itu, ketika dibuat sensus penduduk untuk menerima jatah subsidi dari pemerintah, ada beberapa orang menyarankan agar memasukkan keluarga ‘Umar (Bani ‘Adi) di deretan atas. Akan tetapi, dengan tegas beliau menolak dan justru menempatkannya di bagian paling akhir.

“Jangan sampai orang mengatakan bahwa mereka menerima fasilitas atau jatah itu karena keluarga Amirul Mukminin.”

Pernah diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam Sunannya, al-Kubra, dari Salim, bahwa ayahnya, ‘Abdullah bin ‘Umar bercerita,

Dahulu kami pernah tinggal di Mesir, pada masa ‘Amr bin ‘Ash radhiallahu ‘anhu menjadi gubernur. Saudaraku, ‘Abdurrahman bin ‘Umar dan Abu Sirwa’ah ‘Uqbah bin al-Harits radhiallahu ‘anhuma minum khamr sampai mabuk. Setelah keduanya sadar, mereka menemui ‘Amr bin ‘Ash radhiallahu ‘anhu dan berkata, “Sucikan kami, karena kami mabuk oleh minuman yang kami minum.”

Kata ‘Abdullah, “Saya tidak tahu kalau mereka ternyata sudah menemui ‘Amr bin ‘Ash.”

Saudaraku itu mengatakan bahwa dia mabuk.

Kata ‘Abdullah radhiallahu ‘anhu, “Masuklah ke rumah, aku akan menghukummu.”

Dia mengatakan bahwa dia telah menyampaikan kepada gubernur.

Kata ‘Abdullah radhiallahu ‘anhu, “Demi Allah, kamu tidak akan dicukur di hadapan orang banyak. Masuklah, aku akan mencukur kepalamu.”

Dahulu, mereka mencukur rambut orang yang mabuk ditambah dengan hukuman had (cambukan). Diapun masuk bersamaku, lalu aku mencukur saudaraku dengan tanganku sendiri, kemudian dicambuk oleh ‘Amr bin ‘Ash radhiallahu ‘anhu.

Ternyata, peristiwa ini didengar oleh ‘Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu, maka beliau radhiallahu ‘anhu menulis surat memerintahkan ‘Amr radhiallahu ‘anhu mengirim ‘Abdurrahman radhiallahu ‘anhu pulang ke Madinah.

Setelah sampai di Madinah, ‘Umar zmencambuk putranya dan menghukumnya karena kedudukannya sebagai putra Amirul Mukminin. Setelah itu, beliau melepaskan putranya. Beberapa bulan kemudian, dalam keadaan sudah sehat, takdir Allah ‘azza wa jalla harus dijalaninya, ‘Abdurrahman radhiallahu ‘anhu meninggal dunia. Orang banyak mengira dia meninggal karena dicambuk oleh ayahnya, Amirul Mukminin ‘Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu, padahal tidak demikian.

Sesungguhnya demikianlah, ‘Abdurrahman radhiallahu ‘anhu dicambuk oleh ayahnya sendiri bukan sebagai hukuman had, melainkan ta’zir (hukuman ringan), karena hukuman had itu tidak diulangjika sudah dijatuhkan.

Wallahu a’lam.

 (insya Allah bersambung)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits


[1] Diriwayatkan oleh al-Baihaqi (al-Kubra) secara maushul dan mursal.

Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman; bagian ke-1

Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

WALL

Pertempuran antara Thalut dan Jalut berakhir dengan kemenangan kaum muslimin yang dipimpin Thalut (Saul). Jalut yang terkenal lalim dan ahli dalam peperangan tewas di tangan seorang prajurit muda, yaitu Dawud.

Sebagian ahli sejarah mengisahkan, ketika menghasung Bani Israil berperang dan menghadapi pasukan Jalut, Raja Thalut menjanjikan, siapa saja yang berhasil membunuh Jalut akan dinikahkannya dengan putrinya dan akan diberi separuh dari kerajaannya. Setelah perang selesai, Raja Thalut menepati janji dan menikahkan Dawud dengan putrinya serta membagi dua kerajaan Bani Israil.

Para ahli sejarah berbeda-beda dalam menguraikan kisah yang terjadi sejak Bani Israil yang dipimpin oleh Thalut menyeberangi sungai sampai berkecamuknya pertempuran hingga terbunuhnya Jalut yang lalim dan berkuasanya Dawud sebagai Raja Bani Israil. Kisah tersebut telah dipaparkan pada beberapa edisi yang lalu.

Yang jelas, Nabi Dawud ‘alaihissalam akhirnya menjadi raja Bani Israil dan memimpin serta membimbing mereka di jalan Allah.

Sebelum menjadi raja, Nabi Dawud ‘alaihissalam hanya seseorang di antara rakyat jelata di kalangan Bani Israil. Di masa kecil dan remajanya, beliau bekerja menggembala kambing, tetapi Allah ‘azza wa jalla menganugerahkan kekuatan yang sangat besar pada tubuh beliau.

Sebagian ahli sejarah menyebutkan nasab beliau adalah Dawud bin Isya bin ‘Uwaid bin ‘Abir bin Salmun bin Nahsyun bin ‘Uwainadib bin Iram bin Hashrun bin Faridh bin Yahuda bin Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim al-Khalil ‘alaihissalam.

Beliau diberi suara yang merdu oleh Allah ‘azza wa jalla, hingga burung-burung berhenti terbang untuk mengiringi beliau bertasbih memuji Allah ‘azza wa jalla. Beliaulah yang pertama kali membuat perisai dan pakaian perang dari besi.

Beliau diberi karunia usia yang panjang, sampai seratus tahun, yang diambil dari usia bapaknya, Adam ‘alaihissalam, sebagaimana diceritakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لَمَّا خَلَقَ اللهُ آدَمَ مَسَحَ ظَهْرَهُ فَسَقَطَ مِنْ ظَهْرِهِ كُلُّ نَسَمَةٍ هُوَ خَالِقُهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، ثُمَّ جَعَلَ بَيْنَ عَيْنَيْ كُلِّ إِنْسَانٍ مِنْهُمْ وَبِيصاً مِنْ نُورٍ ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى آدَمَ فَقَالَ: أَيْ رَبِّ، مَنْ هؤُلاَءِ؟ قالَ: هؤُلاَءِ ذُرِّيَّتُكَ. فَرَأَى رَجُلاً مِنْهُمْ أَعْجَبَهُ نُورُ مَا بَيْنَ عَيْنَيْهِ، فَقَالَ: أَيْ رَبِّ، مَنْ هَذَا؟ قَالَ: رَجُلٌ مِنْ ذُرِّيَّتِكَ فِي آخِرِ الْأُمَمِ يُقَالُ لَهُ دَاوُدُ. قاَلَ: أَيْ رَبِّ، كَمْ عُمْرُهُ؟ قَالَ: سِتُّونَ سَنَةً. قالَ: فَزِدْهُ مِنْ عُمْرِي أَرْبَعِينَ سَنَةً. قَالَ: إِذَنْ يُكْتَبُ وَيُخْتَمُ وَلاَ يُبَدَّلُ. فَلَمَّا انْقَضَى عُمْرُ آدَمَ جَاءَ مَلَكُ الْمَوْتِ فَقَالَ: أَوَلَمْ يَبْقَ مِنْ عُمْرِي أَرْبَعُونَ سَنَةً؟ قَالَ: أَوَلَمْ تُعْطِهَا ابْنَكَ دَاوُدَ؟ فَجَحَدَ فَجَحَدَتْ ذُرِّيَّتُهُ وَنَسِيَ آدَمُ فَنَسِيَتْ ذُرِّيَّتُهُ وَخَطِىءَ آدَمَ فَخَطِئَتْ ذُرِّيَّتُهُ

Setelah Allah menciptakan Adam, Dia mengusap punggung Adam, maka bertaburanlah semua ruh yang Allahlah Yang menciptakannya sampai hari kiamat. Kemudian Dia letakkan di antara kedua mata masing-masing mereka itu seberkas cahaya, lalu Dia tunjukkan kepada Adam.

Adam pun bertanya, “Duhai Rabbku, siapakah mereka ini?”

Kata Allah, “Mereka ini adalah anak cucumu.”

Lalu dia melihat salah seorang dari mereka yang cahaya orang itu menakjubkannya, katanya, “Duhai Rabbku, siapakah dia ini?”

Kata Allah, “Dia salah seorang anak cucumu di kalangan umat belakangan, namanya Dawud.”

“Duhai Rabbku, berapakah panjang umurnya?”

“Enam puluh tahun.”

“Tambahkanlah untuk dia dari umurku sebanyak empat puluh tahun.”

“Kalau begitu, akan ditulis dan ditetapkan serta tidak akan diubah lagi.”

Ketika habis usia Adam, datanglah Malakul Maut. Beliau pun berkata, “Bukankah masih tersisa usiaku ini empat puluh tahun?”

“Bukankah telah engkau berikan untuk putramu Dawud?” jawab Malakul Maut.

Adam mengingkari, anak cucunya juga demikian. Adam lupa, maka lupa pula anak cucunya. Adam bersalah, maka anak cucunya juga bersalah.[1]

Demikianlah, Nabi Dawud ‘alaihissalam hidup di dunia selama seratus tahun. Sebagian besarnya adalah sebagai seorang nabi sekaligus raja Bani Israil dengan kekuasaan yang sangat luas.

Akan tetapi, kehidupan sebagai seorang raja, bahkan nabi sekalipun, tidak membuat beliau berbeda dengan kebanyakan manusia. Beliau tetap sebagai manusia biasa, yang kadang sedih, marah, dan gembira. Beliau juga bisa lupa dan keliru. Begitulah sunnatullah dalam hidup manusia.

Tidak ada satupun yang lolos dari sunnatullah. Itulah kebaikan dan keburukan yang diberikan Allah ‘azza wa jalla kepada hamba-hamba-Nya, sebagai ujian bagi mereka.

Memang demikianlah. Tiada satupun makhluk yang lepas dari ujian. Namun, ujian itu berbeda-beda tingkatannya, sesuai dengan keadaan iman dalam diri masing-masing. Itulah yang diberitakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya, ketika ditanya, “Siapakah yang sangat berat cobaan yang menimpanya?”

الْأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ، يُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلَاؤُهُ، وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَمَا يَبْرَحُ الْبَلَاءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى الْأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ

“(Yang paling berat ujiannya ialah) para nabi, kemudian yang lebih mulia setelah mereka, lalu yang lebih utama di bawahnya. Seseorang akan diuji sesuai dengan kadar agamanya. Apabila agamanya kokoh, beratlah ujian yang dirasakannya. Kalau dalam agamanya ada kelemahan, dia diuji sesuai dengan kadar agamanya. Tidak henti-hentinya ujian itu menimpa seorang hamba sampai meninggalkannya berjalan di muka bumi dalam keadaan (hamba itu) tidak lagi mempunyai kesalahan.”[2]

Ada beberapa kejadian di masa pemerintahan beliau, seperti kisah petani dan penggembala kambing, juga tentang dua orang wanita yang memperebutkan seorang bayi. Semua ini telah dikisahkan dalam edisi-edisi yang lalu bersama putranya Sulaiman ‘alaihissalam.

Karena itu, dalam edisi kali ini, kami paparkan sebuah kisah yang diabadikan dalam al-Qur’an tentang ujian yang beliau terima.

 

Dua Orang yang Bertikai

Allah ‘azza wa jalla berfirman yang artinya,

Dan adakah sampai kepadamu berita orang-orang yang berperkara ketika mereka memanjat pagar?

Ketika mereka masuk (menemui) Dawud lalu ia terkejut karena kedatangan) mereka. Mereka berkata, “Janganlah kamu merasa takut; (kami) adalah dua orang yang berperkara yang salah seorang dari kami berbuat zalim kepada yang lain; maka berilah keputusan antara kami dengan adil dan janganlah kamu menyimpang dari kebenaran dan tunjukilah kami ke jalan yang lurus.”

“Sesungguhnya saudaraku ini mempunyai sembilan puluh sembilan ekor kambing betina dan aku mempunyai seekor saja. Maka dia berkata, ‘Serahkanlah kambingmu itu kepadaku,’ dan dia mengalahkan aku dalam perdebatan.”

Dawud berkata, “Sesungguhnya dia telah berbuat zalim kepadamu dengan meminta kambingmu itu untuk ditambahkan kepada kambingnya. Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebagian mereka berbuat zalim kepada sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh; dan amat sedikitlah mereka ini.”

Dan Dawud mengetahui bahwa Kami mengujinya; maka ia meminta ampun kepada Rabbnya lalu menyungkur sujud dan bertobat. Maka Kami ampuni baginya kesalahannya itu. Dan sesungguhnya dia mempunyai kedudukan dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik.

Hai Dawud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan. (Shad: 21—26)

Demikianlah kisah yang diceritakan oleh Allah ‘azza wa jalla dalam Kitab-Nya. Memang benarlah sebuah berita yang menakjubkan.

Seperti biasa, Nabi Dawud ‘alaihissalam tidak lupa beribadah kepada Rabbnya. Pada waktu itu, tidak ada seorangpun boleh mengganggu. Namun, di luar istana, dua orang dengan tenang memanjat pagar tembok istana tanpa diketahui oleh siapapun. Dengan cepat keduanya menuju ruangan tempat Nabi Dawud ‘alaihissalam biasa beribadah.

Nabi Dawud yang sedang khusyuk beribadah tersentak kaget. Rasa takut mulai merayapi hati beliau, karena tiba-tiba melihat dua orang telah berada di mihrab tempat beliau beribadah.

Melihat kekagetan dan rasa takut Nabi Dawud ‘alaihissalam, dua orang ini berkata, “Jangan takut, kami adalah dua orang yang sedang bertikai. Salah satu dari kami berbuat zalim kepada yang lain, maka berilah keputusan antara kami dengan adil tanpa berpihak kepada salah satu dari kami. Jangan pula menyimpang dan tunjukilah kami kepada jalan yang lurus.”

Mendengar keterangan mereka, bahwa mereka menginginkan kebenaran, Nabi Dawud tidak lagi marah dan takut. Kemudian salah satu dari mereka berkata (sebagaimana dalam ayat),

“Sesungguhnya saudaraku ini,” yang seiman dan satu manhaj, bukan senasab, sehingga apabila muncul sikap bermusuhan dari saudara tentu lebih besar urusannya. Dia melanjutkan (sebagaimana dalam ayat),

“Mempunyai sembilan puluh sembilan ekor kambing betina,” yakni istri, sebagaimana kebiasaan orang Arab. Tentu saja keadaan itu merupakan kebaikan dan mengharuskan dia merasa cukup serta bersyukur dengan apa yang diberikan oleh Allah ‘azza wa jalla kepadanya.

Orang itu melanjutkan, “Sedangkan aku hanya mempunyai seekor kambing betina,” yakni hanya seorang istri.

Lalu dia menginginkannya dan mengatakan, “Serahkanlah kambing itu (istrimu) untukku agar menjadi tanggunganku dan dia mengalahkan alasan-alasanku,” bahkan kalaupun aku memukul, dia lebih keras memukulku sampai dia berhasil memperolehnya.

Sebelum mendengarkan dari pihak yang lain, Nabi Dawud sudah mendahului berkata, “Sungguh, dia telah berbuat zalim kepadamu, ketika memaksa meminta kambingmu untuk menjadi milik dan tanggungannya. Sungguh, kebanyakan orang yang bekerja sama itu sebagin mereka berbuat zalim kepada yang lain. Kecuali, orang-orang yang beriman dan beramal saleh, karena iman dan amal saleh itu akan mencegah mereka berbuat zalim. Akan tetapi, alangkah sedikitnya jumlah mereka di tengah-tengah manusia.”

Namun, seketika itu juga Nabi Dawud memahami, ketika memutuskan perkara di antara kedua orang tersebut, bahwa itu adalah ujian dari Allah. Segera saja, Nabi Dawud meminta ampunan dan tobat dengan sebenar-benarnya kepada Rabbnya dan menyungkur sujud sambil menangis.

Allah ‘azza wa jalla mengampuni dan menerima tobat Nabi Dawud. Sungguh, beliau memiliki kedudukan sangat dekat lagi mulia di sisi Allah ‘azza wa jalla serta tempat kembali yang baik.

Kata asy-Syaikh as-Sa’di rahimahullah dalam tafsirnya, Allah tidak memaparkan dosa apa yang diperbuat oleh Nabi Dawud sehingga mendorong beliau meminta ampun dan bertobat, karena memang tidak ada gunanya diterangkan. Mencoba menguraikan hanya memberat-beratkan diri.

Yang jelas, faedah kisah ini ialah apa yang diterangkan Allah kepada kita ini, yaitu kelembutan-Nya kepada Nabi Dawud, tobat dan inabah (sikap kembali) beliau, serta terangkatnya kedudukan beliau. Bahkan, setelah bertobat, keadaan beliau lebih baik daripada sebelumnya. Kemudian, Allah ‘azza wa jalla mewahyukan kepada beliau,

“Hai Dawud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi,” memberlakukan padanya ketetapan agama dan dunia,

“Maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan haq,” yakni adil. Tentu saja, hal ini tidak mungkin beliau mampu melaksanakannya kecuali dengan mempunyai ilmu yang wajib dan ilmu-ilmu tentang persoalan kekinian (di masa itu), serta kemampuan untuk memberlakukan yang haq;

“Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu.” Janganlah berjalan di belakang hawa nafsu dalam hal memberi keputusan, lalu berpihak kepada salah satu pihak, apakah karena dia kerabat, teman, orang yang dicintai, atau karena membenci pihak lain, karena hal itu akan membuatmu menyimpang dari jalan Allah dan menyebabkanmu tersesat dari jalan yang lurus.

Kemudian Allah ‘azza wa jalla memperingatkan, “Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah,” terutama orang-orang yang sengaja di antara mereka;

“Akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.”

Sebab, andaikata mereka mengingatnya, lalu tumbuh rasa takut dalam hati mereka, niscaya mereka tidak akan menyimpang bersama hawa nafsu yang menyesatkan.

Begitu hebat tobat Nabi Dawud, hingga dalam sebagian riwayat yang sampai kepada Wahb bin Munabbih disebutkan, akibat tangis beliau begitu pilu dan panjangnya sujud beliau sambil menangis, tumbuhlah lumut di tempat sujud itu.

Demikianlah, seorang Nabi dan raja besar, yang tentu saja maksum, merasakan betapa dia memiliki kesalahan yang sangat besar, hingga mendorongnya menjatuhkan diri sujud kepada Rabbnya.

(insya Allah bersambung)


[1] HR. at-Tirmidzi dan dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahihul Jami’ (no. 5208).

[2] HR. Ahmad (no. 1607), at-Tirmidzi (no. 2400) dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahihul Jami’ (no. 992).

Al-Mutakabbir

Al-Ustadz Qomar Suaidi

 al-mutakabbir

Al-Mutakabbir adalah salah satu nama Allah ‘azza wa jalla yang agung dan mulia. Al-Mutakabbir artinya yang memiliki sifat kibriya’. Sifat kibriya’ biasa diterjemahkan dengan kesombongan sehingga mungkin ketika terdengar, pertama kali ada kesan tidak baik, karena sombong diharamkan oleh Allah ‘azza wa jalla sendiri.

Akan tetapi, pada hakikatnya terjemahan sombong terhadap kata kibriya’ belum mewakili makna kibriya’.  Hanya saja, keterbatasan bahasa kita menyebabkan kita menerjemahkan dengan sebagian maknanya. Padahal apabila merujuk kepada penjelasan ulama, kita akan dapati bahwa makna kibriya’ mengandung makna-makna lain yang sangat mulia dan agung, sebagaimana nanti kami akan sebutkan insya Allah.

Di samping itu, apabila sifat sombong disandarkan pada Allah ‘azza wa jalla, sama sekali tidak mengandung sifat negatif karena Allah Mahabaik, Mahamulia, Mahabijaksana.

Pantaslah bagi Allah ‘azza wa jalla untuk sombong, karena Allah ‘azza wa jalla Mahakuasa tak tertandingi, Mahabesar, Maha memiliki, Mahakaya, Pencipta alam semesta, Pemilik dan Pengaturnya. Segala urusan ada di tangan-Nya dan akan kembali kepada-Nya. Demikian pula berbagai sifat kebesaran dan keagungan yang lain yang dimilikinya, membuat sifat kesombongan yang dimiliki-Nya pada tempatnya.

Adapun makhluk, tidak pantas baginya untuk memiliki sifat sombong. Dia hendak sombong dengan apa? Dengan harta kekayaan yang dimilikinya? Dengan pangkat dan jabatan yang disandangnya? Dengan nasab nenek moyangnya? Dengan kekuatan yang dia miliki? Dengan banyaknya pengikut yang menuruti titahnya?

Semua itu hanyalah pemberian Allah ‘azza wa jalla kepadanya. Jadi, pantaskah dia sombong dengan sesuatu yang hakikatnya tidak dia miliki?! Sepantasnya seorang hamba justru merendahkan diri dan tawadhu’.

Lagipula kesombongan pada makhluk identik dengan sifat-sifat negatif lainnya. Seringkali kesombongan manusia mengantaran kepada kediktatoran, kezaliman, merendahkan orang lain, tidak mensyukuri nikmat Allah ‘azza wa jalla, menggunakan apa yang Allah ‘azza wa jalla berikan pada sesuatu yang bukan pada tempatnya, lupa diri, dan berbagai sifat negatif lain.

Beda halnya dengan kesombongan Allah ‘azza wa jalla, kesombongan yang beriring dengan sifat bijaksana-Nya, keadilan-Nya, syukur-Nya kepada hamba-Nya, menerima taubat mereka, pemuliaannya terhadap hamba-Nya, kasih sayang-Nya, kelembutan-Nya, dan berbagai sifat mulia yang lain.

Lebih dari itu, ternyata al-Mutakkabir bukan hanya bermakna sombong.

Ibnul Jauzi rahimahullah mengatakan bahwa tentang makna nama Allah ‘azza wa jalla, al-Mutakabbir, di dalamnya ada lima pendapat:

  1. Yang Mahatinggi dari segala yang jelek. Ini penafsiran Qatadah.
  2. Yang Mahatinggi untuk berbuat zalim terhadap hamba-Nya. Ini penafsiran az-Zajjaj.
  3. Yang memiliki sifat kibriya’ yang berarti kerajaan. Ini penafsiran Ibnul Anbari.
  4. Yang Mahatinggi untuk menyerupai sifat-sifat makhluk.
  5. Yang Mahasombong terhadap hamba-Nya yang membangkang.

Demikian penafsiran para ulama. Semuanya adalah makna yang baik dan mulia.

Allah ‘azza wa jalla telah menyebutkan nama ini dalam beberapa ayat, di antaranya,

Dia-lah Allah Yang tiada Rabb (yang berhak disembah) selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Mahaperkasa, Yang Mahakuasa, Yang Memiliki segala keagungan, Mahasuci, Allah dari apa yang mereka persekutukan. (al-Hasyr: 23)

Dan bagi-Nya lah keagungan di langit dan di bumi, Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (al-Jatsiyah: 37)

Dalam hadits dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَالَ اللهُ  :الْكِبْرِيَاءُ رِدَائِي وَالْعَظَمَةُ إِزَارِي، فَمَنْ نَازَعَنِي وَاحِدًا مِنْهُمَا قَذَفْتُهُ فِي النَّارِ

“Allah ‘azza wa jalla berfirman, ‘Al-Kibriya’ adalah selendang-Ku dan keagungan adalah sarung-Ku. Barang siapa merebut salah satunya dari-Ku, maka Aku akan melemparkannya dalam neraka.” (Sahih, HR. Abu Dawud, diriwayatkan juga oleh Muslim dengan lafadz yang semakna)

 

Buah Mengimani Nama Allah ‘azza wa jalla, al-Mutakabbir

Dengan mengimani nama Allah ‘azza wa jalla tersebut, kita semakin mengetahui kelemahan kita selaku makhluk, sehingga tidak pantas bagi kita untuk bersikap sombong. Akan tetapi, justru sikap merendahkan diri dan tawadhu’ itulah yang pantas bagi kita.

Kita juga mengetahui kebesaran Allah ‘azza wa jalla dengan segala sifat mulia-Nya. Dialah ‘azza wa jalla yang berhak memiliki sifat sombong dengan makna yang positif sebagaimana dijelaskan di atas.

Wallahu a’lam.

Kejujuran

Al-Ustadz Abu Muhammad Abdul Jabbar

daunkl1daunkering

Dalam syariat Islam yang penuh keindahan ini, kejujuran adalah akhlak mulia yang sangat dijunjung tinggi, sedangkan kedustaan adalah dosa besar yang sangat dicela. Sebaliknya, dalam agama Syiah Rafidhah, taqiyyah (baca: dusta) adalah salah satu kewajiban bahkan rukun agama. Oleh karena itu, kaum Rafidah begitu dikenal sebagai kaum yang paling pendusta. Dusta adalah ciri khas bagi kaum Rafidhah.

Wajib bagi seorang muslim, seorang yang berakidah dengan akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah untuk berhias dengan kejujuran dan meninggalkan dusta sejauh-jauhnya. Lebih-lebih lagi jika Anda adalah seorang da’i yangmenyeru ke jalan Allah ‘azza wa jalla. Sebab, kedustaan dapat merusak pemahaman Anda dan pemahaman orang-orang yang Anda dakwahi.

Simaklah peringatan al-Allamah Ibnul Qayyim rahimahullah akan bahaya dusta dalam kitab beliau, al-Fawaid, “Berhati-hatilah dari dusta! Sebab, perbuatan dusta akan merusak pemahaman Anda terhadap suatu perkara sehingga Anda tidak bisa memahaminya sebagaimana hakikatnya. Selanjutnya, dusta akan membuat Anda tidak bisa menggambarkan perkara tersebut dan menjelaskannya kepada manusia sesuai dengan keadaan sebenarnya. Sebab, seseorang yang berdusta menggambarkan sesuatu yang tidak ada menjadi ada dan sesuatu yang ada menjadi tidak ada. Dusta juga menggambarkan suatu kebenaranmenjadi kebatilan dan suatu kebatilan menjadi suatu kebenaran. Dusta dapat pula menggambarkan kebaikan sebagai suatu kejelekan dan kejelekan menjadi suatu kebaikan.

Sebagai hukuman atas perbuatan dusta tersebut, pemahaman dan ilmu seorang pendusta akan rusak. Kemudian dia akan menyampaikan pemahaman dan ilmu yang rusak kepada si pendengar yang telah teperdaya dan condong kepadanya, hingga pemahaman dan ilmu si pendengar itu juga ikut rusak. Jiwa seorang pendusta selalu berpaling dari hakikat yang ada, cenderung kepada hal yang tidak hakiki dan mengedepankan kebatilan.

Apabila pemahaman dan ilmu—yang merupakan sumber segala perbuatan—telah rusak, akan rusak pula amal perbuatannya. Sifat dusta akan menjangkiti amalan-amalannya. Munculnya amalan-amalan dari dirinya bagaikan munculnya dusta dari lisannya sehingga dia tidak mendapat manfaat dari amalan dan lisannya. Oleh karena itu, kedustaan merupakan asas perbuatan dosa, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ

“Sesungguhnya dusta mengantarkan kepada perbuatan dosa, dan sesungguhnya perbuatan dosa akan mengantarkan kepada neraka.”

Awalnya, kedustaan akan menjalar dari jiwa menuju lisan kemudian merusaknya. Setelah itu, ia menjalar menuju anggota badan dan merusak amalan anggota badannya sebagaimana dusta membuat rusak ucapan-ucapan yang keluar dari lisannya. Akhirnya, kedustaan akan meliputi ucapan, amalan, dan segala kondisinya, yang akan mengantarkan pada kerusakan.

Penyakitnya ini akan melemparkannya kepada kebinasaan jika Allah ‘azza wa jalla tidak menyelamatkannya dengan obat berupa kejujuran yang akan mencabut penyakit itu hingga akarnya.

Oleh karena itu, sumber segala amalan hati adalah kejujuran, sedangkan lawannya, seperti riya’, ujub, sombong, bangga diri, angkuh, semena-mena, lemah, malas, pengecut, rendahan, dan lainnya, bersumber dari kedustaan. Setiap amalan saleh yang tampak maupun tidak tampak bersumber dari kejujuran, sedangkan setiap amalan jelek yang tampak maupun tidak tampak bersumber dari kedustaan.

Allah ‘azza wa jalla menghukum pendusta dengan membuatnya malas dan lamban dari hal-hal yang bermanfaat dan bermaslahat untuknya. Allah ‘azza wa jalla memberi ganjaran bagi orang yang jujur dengan memberinya taufik untuk mengerjakan hal yang bermanfaat untuk agama dan dunianya.

Tidak ada suatu perangai yang bisa mendatangkan kebaikan dunia dan akhirat semisal kejujuran. Tidak ada suatu perangai yang bisa mendatangkan kerusakan dunia dan akhirat semisal kedustaan. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaknya kalian bersama dengan orang-orang yang jujur.” (at-Taubah: 119)

“Ini (hari pembalasan) adalah hari yang kejujuran orang-orang jujur akan bermanfaat bagi mereka.” (al-Maidah: 119)

“Apabila telah tetap sebuah perintah, kalau seandainya mereka jujur kepada Allah (dalam melaksanakannya), maka itu akan lebih baik bagi mereka.” (Muhammad: 21)

“Dan datang (kepada Nabi) orang-orang yang mengemukakan uzur, yaitu orang-orang Arab Badui agar diberi izin bagi mereka (untuk tidak pergi berjihad), sedang orang-orang yang mendustakan Allah dan Rasul-Nya, duduk berdiam diri saja. Kelak orang-orang yang kafir di antara mereka itu akan ditimpa azab yang pedih.” (at-Taubah: 90) (al-Fawaid, hlm. 166)

Demikian peringatan keras beliau akan bahaya dusta dan akibat-akibatnya. Betapa berbahayanya sifat dusta bagi seorang muslim, lebih-lebih lagi seorang da’i. Sungguh, setiap dari kita adalah da’i bagi keluarganya.

Semoga Allah ‘azza wa jalla mengaruniakan kejujuran dalam setiap ucapan dan amal perbuatan kita semua. Wallahu a’lam.

Adab Para Pembawa Al-Qur’an

Al-Ustadz Abdul Mu’thi Sutarman, Lc

quran_cover

Sepanjang sejarah manusia, belum pernah terdengar ada sebuah kitab yang seagung kitab suci al-Qur’an. Di dalamnya termuat beragam ilmu pengetahuan yang sangat dibutuhkan oleh manusia dan terkandung ajakan kepada segala kebaikan yang dengan mengamalkannya manusia akan menjadi sebaik-baik makhluk ciptaan Allah ‘azza wa jalla. Padanya ada kisah-kisah umat terdahulu yang dijadikan pelajaran bagi orang yang datang setelahnya.

Barang siapa berhukum dengan al-Qur’an niscaya ia akan menemukan keadilan yang sesungguhnya. Ayat-ayatnya bagaikan lampu dan rambu-rambu jalan yang menyinari dan menunjuki manusia dalam menapaki kehidupan dunia yang fana ini untuk menuju alam yang hakiki nan abadi.

Al-Qur’an memiliki keutamaan yang banyak, yang terbesarnya adalah al-Qur’an merupakan kalam Allah ‘azza wa jalla. Allah ‘azza wa jalla telah memuji al-Qur’an dalam ayat-ayat-Nya yang banyak, seperti firman-Nya,

“Dan ini (al-Qur’an) adalah kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi.” (al-An’am: 92)

Dan firman-Nya, “Sesungguhnya al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus.” (al-Isra’: 9)

Di antara keistimewaan al-Qur’an, ia telah mendapatkan jaminan penjagaan dari Allah ‘azza wa jalla sehingga ia selalu terjaga kemurniannya dari ulah tangan-tangan yang jahat. Hal ini tentu berbeda denganat-Taurat dan al-Injil.

Al-Qur’an telah disifati dengan sifat-sifat kemuliaan, seperti petunjuk, rahmat, cahaya, obat, diberkahi, dan mulia. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Katakanlah, ‘Al-Qur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin’.” (Fushshilat: 44)

Sifat-sifat kemuliaan yang ada pada al-Qur’an juga akan didapat pada orang yang membacanya, memahaminya, dan yang mengamalkannya.

 

Berita Gembira

Bagi seorang mukmin, mengimani al-Qur’an adalah suatu keharusan karena meyakininya merupakan salah satu dari rukun iman yang enam. Bentuk mengimaninya adalah dengan meyakini al-Qur’an adalah kalam Allah ‘azza wa jalla dan bukan makhluk, memercayai seluruh berita yang ada padanya, menjalankan segala perintah yang termuat di dalamnya dan meninggalkan semua larangan yang tertera pada ayat-ayatnya.

Jika seperti ini keyakinan seseorang terhadap al-Qur’an, ia berhak mendapat berita gembira dari Allah ‘azza wa jalla berupa kesejahteraan hidup di dunia yang berlanjut dengan kehidupan yang serba menyenangkan di akhirat kelak. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (Thaha: 123)

Petunjuk Allah ‘azza wa jalla di sini adalah al-Qur’an.

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma mengatakan, Allah ‘azza wa jalla telah menjamin bagi siapa saja yang membaca al-Qur’an dan mengikuti apa yang ada padanya bahwa ia tidak akan sesat di dunia dan tidak akan celaka di akhirat. (Tafsir ath-Thabari, 16/225)

Dengan mengikuti al-Qur’an seseorang akan terangkat harkat dan martabatnya sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّ اللهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِيْنَ

“Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla mengangkat dengan al-Qur’an ini suatu kaum dan Allah ‘azza wa jalla rendahkan dengan al-Qur’an ini kaum yang lain.” (HR. Muslim dari sahabat Umar radhiallahu ‘anhu)

Diangkat kedudukan orang yang mengikuti al-Qur’an pada posisi yang terpandang yang tak terbayang sebelumnya dan dihinakan orang yang menentangnya meskipun ia berangkat dari keluarga yang terpandang.

Tiada bukti yang lebih jelas untuk hal ini melebihi kondisi bangsa Arab sebelum diutusnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka sebelumnya telah berada di tepi jurang kehancuran di mana telah berlaku di tengah-tengah mereka hukum rimba, yang kuat mencaplok yang lemah, kejahatan sosial merupakan pemandangan yang lumrah, sehingga bangsa-bangsa lain menganggapnya remeh dan rendah.

Namun, ketika cahaya kenabian menyinari Jazirah Arab, kemudian mereka mengikuti Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengimani kitab yang dibawanya, berubahlah mereka menjadi bangsa yang disegani dan ditakuti oleh lawan-lawannya. Dalam waktu yang singkat mereka mampu mematahkan kecongkakan dua negeri adikuasa di masa itu yaitu Persia dan Romawi, ketika dua bangsa ini menentang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kitab suci yang dibawanya.

Sungguh, telah datang dalil yang banyak tentang keutamaan ahli al-Qur’an. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Dan orang-orang yang berpegang teguh dengan al-Kitab serta mendirikan shalat, (akan diberi pahala) karena sesungguhnya Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengadakan perbaikan.” (al-A’raf: 170)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengabarkan bahwa al-Qur’an nanti datang di hari kiamat memberi syafaat (pembelaan) kepada orang yang membacanya. Bagi yang membacanya, setiap satu huruf yang ia baca akan memperoleh satu kebaikan dan satu kebaikan akan dilipatgandakan menjadi sepuluh kebaikan. Bahkan, orang yang mahir (pandai) dalam membaca al-Qur’an di akhirat kelak akan bersama para utusan yang mulia dari kalangan malaikat, sedangkan yang membacanya terbata-bata maka mendapat dua pahala.

 

Macam-Macam Pembawa al-Qur’an

Membaca al-Qur’an termasuk sebaik-baik zikir dan para pembawanya tergolong manusia yang terbaik sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya.” ( HR. al-Bukhari dari sahabat ‘Utsman bin ‘Affan radhiallahu ‘anhu)

Akan tetapi untuk mendapatkan predikat sebaik-baik manusia tidak cukup hanya membaca dan mempelajarinya, tentu di sana ada persyaratan yang lain seperti ikhlas dan mengamalkan isi kandungannya.

Berikut ini macam-macam pembawa al-Qur’an.

  1. Orang yang membacanya sesuai dengan kaidah-kaidah membaca al-Qur’an dengan memahami ayat-ayatnya serta mengamalkannya. Berita-beritanya ia percayai, segala perintahnya ia laksanakan dan semua larangannya ia tinggalkan. Ia lakukan semua ini karena mengharap ridha Allah ‘azza wa jalla. Orang seperti ini tergolong manusia terbaik. Ia mulia di hadapan Allah ‘azza wa jalla dan terhormat di tengah-tengah manusia.
  2. Orang yang menegakkan hurufhurufnya, yakni ia membaca al-Qur’an sesuai dengan kaidah bacaannya namun tidak menegakkan hukum-hukum al-Qur’an.

Ini jenis orang yang merugi, kelak al-Qur’an akan menjadi penghujat atasnya.

  1. Orang yang menjadikan al-Qur’an sebagai jembatan untuk meraih pengakuan di mata manusia dan untuk menggapai posisi duniawi.

Ia tidak memuliakan al-Qur’an sebagaimana mestinya. Yang halal tidak dihalalkan dan yang haram tidak diharamkan. Orang seperti ini tak ada bedanya dengan orang yang bodoh.

  1. Orang yang menjadikan al-Qur’an sebagai tangga untuk mendapatkan pekerjaan yang rendah, seperti seorang menghafal al-Qur’an agar kelak disewa pada banyak kesempatan. Tujuannya, ia bisa mendapatkan uang/materi darinya.

Misalnya, ia disewa untuk membaca al-Qur’an pada acara-acara kematian dan di sisi kuburan. Seperti inilah bagiannya dari menghafal al-Qur’an. Apabila kita lihat akhlak kesehariannya, sangat bertolak belakang dari petunjuk al-Qur’an.

 

Etika-Etika Pembawa al-Qur’an

Karena mulianya al-Qur’an dan tingginya kedudukan orang yang membawanya maka sudah sepantasnya bagi para pembawa al-Qur’an untuk mengetahui adab-adab yang sesuai dengan kedudukannya.

Di antara adab-adab tersebut adalah:

  1. Selalu menjaga keikhlasan hati dan hanya mengharap ridha Allah ‘azza wa jalla ketika ia membaca al-Qur’an atau menghafalnya. Tiada ambisi keduniawian di saat membacanya baik berupa pujian, harta, kepemimpinan, kedudukan di mata manusia, atau merasa tinggi di sisi rekan-rekannya.
  2. Hendaknya waspada dari sikap sombong dan bangga diri di saat banyak manusia yang belajar kepadanya. Demikian pula waspada dari sikap iri dan tidak suka jika ada orang belajar al-Qur’an dari selain dia.

Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah menjelaskan, “Aku ingin bila manusia itu mempelajari ilmu ini—yakni ilmu dan kitab-kitabnya—lalu tidak disandarkan kepadaku satu huruf pun darinya.”

  1. Menghiasi diri dengan akhlak yang terpuji dan perangai yang diridhai, seperti sifat zuhud (tidak ada ketergantungan) terhadap dunia, dermawan, wajah yang murah senyum, sabar, tidak terburu-buru dalam menyikapi sesuatu, menjaga diri dari menggeluti usaha yang tidak mulia, khusyuk dan rendah hati, serta menjauhkan diri dari (banyak) tertawa dan sering bercanda.
  2. Menjaga kebersihan badan dengan menghilangkan kotoran yang melekat dan hal-hal yang diperintahkan oleh syariat untuk dibersihkan dari tubuh seperti memangkas kumis, memotong kuku, dan menghilangkan bau-bau yang tidak sedap.
  3. Waspada dari sifat iri dengki, riya, bangga diri, dan dari sikap merendahkan orang lain meskipun orang tersebut kedudukannya di bawahnya.
  4. Mempraktikkan hadits-hadits yang datang tentang (keutamaan) bertasbih, bertahlil, dan yang lainnya dari wirid-wirid dan doa.
  5. Selalu merasa diawasi oleh Allah ‘azza wa jalla baik di saat sepi maupun di hadapan orang lain, serta selalu bersandar (bertawakal) kepada Allah ‘azza wa jalla dalam setiap urusannya. (lihat Adab Hamatil Qur’an, al-Imam an-Nawawi hlm. 50—54)
  6. Tidak pantas pembawa al-Qur’an untuk memiliki perangai yang kaku, sikap masa bodoh, suka berteriak-teriak, dan gampang marah.

Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata, “Seyogianya orang yang membawa al-Qur’an dikenal (ketaatannya) di malam hari saat manusia tidur, dan dikenal (puasanya) di siang hari saat manusia tidak berpuasa, dikenal kesedihannya (karena memikirkan dirinya) saat manusia bersuka ria, diketahui sedang menangis saat manusia sedang tertawa-tawa, diketahui bersikap diam (berbicara seperlunya) saat manusia tenggelam dalam pembicaraan, dan dikenal khusyuk saat manusia memiliki sikap angkuh.”

Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Pembawa al-Qur’an adalah pembawa panji-panji Islam. Ia tidak pantas berkatakata yang sia-sia dan tidak pantas untuk lalai dan bermain-main bersama orang yang lalai dan bermain-main karena mengagungkan Allah ‘azza wa jalla.”

  1. Tidak pantas bagi pembawa al-Qur’an untuk meletakkan kebutuhannya kepada orang lain. Semestinya, manusialah yang menaruh kebutuhan mereka kepadanya. (Mukhtashar Minhaj al-Qashidin 66)

 

Beberapa Adab Saat Membaca Al-Qur’an

  1. Bila seorang ingin membaca al-Qur’an seyogianya untuk membersihkan mulutnya dengan siwak atau semisalnya.
  2. Disunnahkan untuk membaca al-Qur’an dalam keadaan suci dan seandainya seorang membaca dalam keadaan berhadats maka boleh menurut kesepakatan (ulama) kaum muslimin.
  3. Disunnahkan untuk membaca al-Qur’an di tempat yang bersih seperti masjid.
  4. Bagus kiranya orang yang membaca al-Qur’an selain dalam shalat untuk menghadap kiblat dan duduk dengan tenang. Akan tetapi, boleh juga membaca dengan berdiri ataupun berbaring karena dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah membaca al-Qur’an dan kepala beliau pada pangkuan ‘Aisyah radhiallahu ‘anha. ( al-Bukhari)
  5. Ketika akan membaca al-Qur’an membaca ta’awudz.
  6. Ketika membaca hendaklah ia tenang dan memahami isi kandungannya, karena seperti inilah tujuan al-Qur’an diturunkan. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Maka apakah mereka tidak memahami (isi kandungan) al-Qur’an?!” (Muhammad: 24)

  1. Disunnahkan bila melewati ayat tentang rahmat (kasih sayang Allah ‘azza wa jalla) untuk meminta rahmat dan bila melewati ayat azab ia meminta perlindungan kepada Allah ‘azza wa jalla seperti yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (Shahih Muslim dari Hudzaifah radhiallahu ‘anhu, lihat at-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an, karya an-Nawawi)

Wallahu a’lam.

Meraih Kemuliaan dengan Al-Qur’an

Al-Ustadz Abdurrahman Mubarak

Al_Quran

Pembaca yang budiman, ketahuilah Allah ‘azza wa jalla telah menjamin jika seorang berpegang dengan al-Qur’an, dia tidak akan tersesat di dunia dan akhirat. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Apabila datang petunjuk dari-Ku, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, maka dia tak akan tersesat dan tak akan celaka.” (Thaha: 123)

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata, “Allah ‘azza wa jalla menjamin bagi orang yang membaca al-Qur’an dan mengikuti apa yang ada padanya, tak akan tersesat di dunia dan tak akan celaka di akhirat.” (Tafsir at-Thabari)

Adapun orang yang berpaling darinya akan mendapatkan kehidupan yang sempit,

“Dan barang siapa yang berpaling dari peringatan-Ku (dari al-Qur’an), maka dia akan mendapatkan kehidupan yang sempit dan kami akan kumpulkan dia pada hari kiamat nanti dalam keadaan buta.” (Thaha:124)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla akan mengangkat derajat satu kaum dengan al-Qur’an dan merendahkan sebagian kaum dengannya.” (HR. Muslim)

Dengan ini kita tahu bahwasanya al-Qur’an adalah sumber kebahagiaan jika seorang muslim senantiasa berpegang teguh dengannya dan beramal dengannya. Namun, jika seorang berpaling dari al-Qur’an, dia terancam dengan kehinaan dan kecelakaan. Lebih-lebih lagi jika melakukan hal-hal yang justru bertentangan dengan al-Qur’anul Karim.

 

Sebelas Perkara yang Menyelisihi Tuntunan al-Qur’an

Pembaca yang budiman, dalam tulisan ini penulis ingin menyebutkan beberapa perbuatan sebagian muslimin yang jauh bahkan bertentangan dengan tuntunan al-Qur’an.

Perkara-perkara ini terjadi ketika seorang muslim tidak mempelajari al-Qur’an sebagaimana mestinya dan tidak mengamalkan al-Qur’an sebagaimana amalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya yang mulia.

Hal ini kita paparkan untuk kita bisa menjauhi dan meninggalkannya, sebagaimana sahabat yang mulia Hudzaifah ibnul Yaman radhiallahu ‘anhu berkata, “Dahulu orang-orang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kebaikan. Adapun aku bertanya kepada beliau tentang kejelekan khawatir akan mengenai diriku.”

Di antara perkara yang harus kita jauhi adalah:

  1. Mengingkari keyakinan al-Qur’an kalamullah

 Telah kita singgung dalam edisi sebelumnya[1] bahwa akidah kita Ahlus Sunnah adalah meyakini al-Qur’an adalah kalamullah bukan makhluk. Kemudian muncullah bid’ah jahmiyah yang menyuarakan bahwa al-Qur’an adalah makhluk. Bahkan, pada masa al-Imam Ahmad hidup, penguasa ketika itu memaksakan kepada rakyatnya untuk menyatakan demikian.

Bid’ah Mu’tazilah ini terus bergulir di zaman kita ini seiring menyebarnya tokoh-tokoh mereka. Demikian juga di Indonesia, sebagai contoh tokoh-tokoh JIL terus menyerukan dan mempropagandakan pemikiran Mu’tazilah tersebut.[2]

 

  1. Istihza’ (memperolok) ayat-ayat Allah ‘azza wa jalla

Al-Qur’an adalah kalamullah yang harus diagungkan. Melecehkan dan memperolok al-Qur’an adalah satu bentuk kekufuran. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

Katakanlah (wahai Muhamad), “Apakah kepada Allah, kepada ayat-ayat dan rasul-Nya kalian mengolok-olok? Tidak ada uzur bagi kalian. Kalian telah kafir setelah keimanan kalian.” (at-Taubah: 66—65)

Asy-Syaikh Abdurahman as-Sa’di rahimahullah berkata, “Sesungguhnya mengolok-olok Allah ‘azza wa jalla, ayat, dan Rasul-Nya adalah kekufuran yang mengeluarkan dari Islam.…” (Tafsir as-Sa’di)

Di antara bentuk istihza’ kepada al-Qur’an,

  1. Menyebut satu ayat tertentu untuk bahan tertawaan atau membuat tertawa orang lain,
  2. Membawakan ayat Allah k dalam lagu-lagu dan semisalnya.
  3. Menggantungkan ayat-ayat Allah ‘azza wa jalla sebagai hiasan termasuk bentuk istihza’ (Liqa’ Bab al-Maftuh).

Di antara bentuk istihza adalah apa yang dilakukan Muhammad al-‘Arifi ketika dia mengucapkan beberapa kalimat kemudian dengan lancang dia sebut sebagai surat tuffah (apel). Alhamdulillah, ucapan kufurnya tersebut telah dibantah oleh asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah.

 

  1. Tabarruk dengan al-Qur’an

Al-Qur’anul Karim diturunkan untuk dibaca, dipahami, dan diamalkan apa yang terkandung padanya; bukan untuk dicari berkah dengan lembaran kertas mushafnya.

Di antara kesalahan sebagian kaum muslimin adalah mencari berkah dengan lembaran-lembaran mushaf semata seperti:

  1. Mencelupkan beberapa lembaran mushaf ke dalam wadah air untuk mencari berkah dengan meminum airnya.
  2. Mencelupkan beberapa lembaran mushaf ke dalam wadah berisi air kemudian meminum airnya supaya bisa hafal al-Qur’an.

Di sebagian daerah Jawa Barat terdapat hari “Rebo wekasan” yang biasa dilakukan pada hari Rabu terakhir bulan Shafar. Mereka melakukan acara pada hari tersebut dengan mengaji meletakkan lembaran-lembaran ayat Kursi di wadah yang telah berisi air. Kemudian mereka membagikan air ini dengan keyakinan bisa menolak penyakit yang menyebar pada waktu tersebut.

Cara mencari berkah al-Qur’an yang benar dari Allah ialah dengan membacanya dan mengamalkannya.

  1. Menjadikan al-Qur’an sebagai tamimah

Tamimah adalah sesuatu yang digantungkan atau dipakaikan seseorang pada tubuhnya, anaknya, hewan tunggangannya, atau rumahnya dengan keyakinan untuk menolak bala. Rasulullah berkata, “Sesungguhnya ruqyah[3], tamimah[4], dan thiyarah[5] adalah perbuatan syirik.” (HR. Abu Dawud, sahih)

Apakah boleh membuat tamimah dari al-Qur’an?

Inilah pembahasan kita. Asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh telah menjawab bahwa tidak bolehnya membuat tamimah dari al-Qur’an dengan tiga alasan,

  1. Keumuman larangan menggantungkan tamimah dan tidak ada dalil khusus yang membolehkan.
  2. Dalam rangka menutup pintu kesyirikan.
  3. Jika dibolehkan tamimah dari al-Qur’an, tentu akan mengantarkan kepada perbuatan menghinakan al-Qur’an. (Fathul Majid Syarah Kitab Tauhid)

Asy-Syaikh Muhammad al-Wushabi rahimahullah menyampaikan bahwa tamimah yang terbuat dari al-Qur’an adalah bid’ah. (al-Qaulul Mufid fi Adilati at-Tauhid)

 

  1. Tathayur dengan al-Qur’an

Sebagaimana telah dibahas dalam edisi-edisi sebelumnya, tathayur adalah satu perbuatan syirik yang harus dijauhi oleh seorang muslim.

Sangat disayangkan, karena jauhnya sebagian muslimin hingga mereka mencari sebab kebaikan dengan cara apa pun. Salah satu yang mereka lakukan adalah bertatahyur dengan mushaf al-Qur’an. Di antara bentuk tathayur yang mereka lakukan adalah saat membuka lembaran mushaf dan terbuka ayat tentang surga, maka mereka menganggap ini tanda kebaikan. Namun, bila yang terbuka tentang neraka, maka ini adalah tanda kejelekan

 

  1. Mentahrif al-Qur’an

Di antara perkara yang dilakukan ahlul batil adalah men-tahrif kitabullah; yakni menyelewengkan makna ayat dari makna yang sebenarnya. Tahrif ada dua; tahrif lafdzi dan tahrif maknawi.

Tahrif lafdzi adalah mengubah makna ayat dari makna yang benar kepada makna yang batil disertai mengubah lafadznya. Sebagai contohnya adalah tahrif yang dilakukan pada ayat Allah ‘azza wa jalla,

“Ar-Rahman berada di atas arsy.” (Thaha: 5)

Inilah makna yang haq dari ayat ini. Muncullah ahlul ahwa memaknakan ayat ini dengan mengartikannya ‘menguasai Arsy’.

Ini adalah tahrif yang batil, menyelewengkan makna ayat dari makna sebenarnya. Kalau kita perhatikan, mereka mengartikan seperti ini setelah mengubah lafadz اسْتَوَى menjadi .اسْتَوْلَى

Adapun tahrif maknawi adalah mengubah makna ayat tanpa mengubah lafadznya. Misalnya, memaknai yad (tangan) sebagai kekuasaan.

 

  1. Membaca al-Qur’an di kuburan

Di antara perkara bid’ah yang banyak dilakukan kaum muslimin adalah membaca al-Qur’an di kuburan. Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “Membaca al-Qur’an di sisi kubur adalah bid’ah, baik yang dibaca itu al-Fatihah, al-Ikhlas, maupun Yasin. Seorang tidak sepatutnya membaca al-Qur’an di pekuburan. Dia cukup mengucapkan apa yang ada dalam sunnah,

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لاَحِقُونَ، يَرْحَمُ اللهُ الْمُسْتَقْدِمِينَ مِنْكُمْ وَالْمُسْتَأْخِرِينَ، نَسْأَلُ اللهَ لَنَا وَلَكُمُ الْعَافِيَةَ، اللَّهُمَّ لاَ تَحْرِمْنَا أَجْرَهُمْ، وَ تَفْتِنَّا بَعْدَهُمْ، وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُمْ

“Semoga keselamatan atas kalian wahai para penghuni negeri (kubur) ini dari kalangan orang mukmin dan muslim. Kami insya Allah akan menyusul kalian. Semoga Allah merahmati yang terdahulu di antara kalian dan yang kemudian. Kami memohon kepada Allah keselamatan untuk diri kami dan kalian. Ya Allah, janganlah engkau haramkan pahala mereka bagi kami, janganlah engkau meimpakan musibah kepada kami sepeninggal mereka, ampunilah kami dan mereka.”

Kemudian pergi tanpa menambahnya dengan membaca surat tersebut ataupun yang lainnya. (Liqa’ Bab al-Maftuh)

 

  1. Menghinakan al-Qur’an

Di antara perkara yang harus dijauhi seorang muslim adalah menghinakan al-Qur’an. Kadang seorang muslim tidak tahu kalau perkara yang dilakukannya adalah bentuk menghinakan al-Qur’an.

Di bawah ini adalah perkara-perkara yang dihukumi oleh asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah sebagai bentuk menghinakan al-Qur’an,

  1. Memutar murotal di mobil, padahal speaker ada di bawah telapak kaki.
  2. Memutar murotal tetapi tersibukkan dengan yang lain.
  3. Menulis ayat kursi dan semisalnya di meja tempat bertelekan atau lembaran alas makanan. (Liqa’ Bab al-Maftuh)

 

  1. Menggantungkan mushaf atau lembaran mushaf di rumah

Ada pertanyaan kepada asy-Syaikh Muhamad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah, “Apa hukum menggantungkan al-Qur’an atau ayat al-Qur’an di rumah? Apakah termasuk tiwalah?”

Beliau rahimahullah menjawab, “Menggantungkan ayat al-Qur’an di rumah, kalau diniatkan mencari berkah, maka ini adalah bid’ah. Demikian pula kalau berniat ibadah dengannya, maka itu adalah bid’ah. Adapun kalau niatnya untuk mengingatkan, maka itu pun tak ada faedahnya, karena kadang ditulis di majelis dan orang yang duduk tahu ada tulisan di atas kepala mereka

“Janganlah sebagian kalian menggibahi yang lain.” (al-Hujurat: 12)

Namun, keadaan perbincangan mereka semuanya adalah ghibah. Ini adalah bentuk penghinaan kepada al-Qur’an, bahkan bisa masuk ke dalam memperolok ayat-ayat Allah ‘azza wa jalla.

Demikian salafus shalih adalah orang lebih semangat dari kita dalam memberikan peringatan dan mengingatkan. Namun mereka tidak melakukan hal yang demikian. (Liqa’ Bab al-Maftuh)

 

  1. Membakar al Qur’an

Membakar mushaf al-Qur’an kalau didasari kebencian kepadanya adalah satu bentuk kekufuran. Pernah dilontarkan satu pertanyaan kepada syaikh Ibnu Abdul Aziz bin Baz rahimahullah, “Apa balasan bagi seorang yang pernah membakar al-Qur’anul karim karena lupa dan tidak mengetahuinya kecuali setelah beberapa lama?”

Asy-Syaikh rahimahullah menjawab, “Tidak ada kewajiban apa pun atas dia jika melakukan karena lupa, seperti dia membakarnya dalam keadaan tidak tahu itu adalah al-Qur’an. Dia juga tidak berdosa jika membakar potongan (lembaran) mushaf yang tidak dimanfaatkan lagi agar tidak dihinakan. Sebab, al-Qur’an yang tercecer, robek, dan tidak dimanfaaatkan lagi, dibakar atau ditimbun di tempat yang baik hingga tidak dihinakan. Adapun jika membakar al-Qur’an karena ketidaksenangan, mencerca, dan membencinya, ini kemungkaran yang besar dan kemurtadan dari Islam.

Demikian pula kalau dia menduduki mushaf al-Qur’an, menginjaknya dengan kaki dalam rangka menghinakannya, melumurinya dengan najis, atau mencercanya dan mencerca orang yang berbicara dengannya, ini semua adalah kufur akbar dan kemurtadan dari Islam—kita berlindung kepada Allah ‘azza wa jalla darinya.” (Fatawa Nur Ala Darb asy-Syaikh Ibn Baz)

 

  1. Meninggalkan al-Qur’an

Di antara masalah yang ingin penulis ingatkan adalah jauhnya sebagian muslimin dari al-Qur’an; dari membaca, menelaah makna, dan mengamalkannya. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Wahai Rabku, sesungguhnya kaumku menjadikan al-Qur’an sebagai sesuatu yang ditinggalkan.” (al-Furqan: 30)

Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan beberapa perkara yang dimasukkan sebagai bentuk hajr al-Qur’an.

  1. Meninggalkan iman kepada-Nya, tidak mendengar, dan memerhatikannya
  2. Meninggalkan amal dengannya serta tidak mengikuti apa yang dihalalkan dan diharamkannya, walaupun membacadan mengimaninya.
  3. Tidak berhukum dengannya dalam perkara ushuluddin dan furu’-nya.
  4. Tidak mentadaburinya untuk mengetahui maksud yang mengucapkannya.
  5. Tidak berobat dengannya untuk mengobati seluruh penyakit hati. Dia justru mencari obat selain al-Qur’an dan tidak berobat dengannya.

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan bahwa semua hal ini termasuk makna surat al-Furqan ayat 30 (yang telah kami sebutkan di atas, -ed) walaupun sebagiannya lebih ringan dibandingkan dengan yang lain. (al-Fawaid)

Mudah-mudahan Allah ‘azza wa jalla memberikan taufik kepada kita untuk membaca, memahami, dan mengamalkan al-Qur’anul Karim.

Wallahul Muwaffiq.


[1] Lihat rubrik “Akidah” Majalah Asy Syariah edisi 93.

[2] Tentang kelompok JIL dan faham sesat mereka silahkan lihat Majalah Asy Syariah edisi 09. Bisa dibaca pula di www.asysyariah.com.

[3] Ruqyah adalah doa dan bacaan-bacaan yang mengandung permintaan tolong dan perlindungan kepada Allahluntuk mencegah atau mengangkat bala/penyakit. (-red.)

[4] Tamimah adalah sesuatu yang digantungkan pada seorang anak untuk menolak ‘ain atau musibah. (-red.)

[5] Thiyarah atau tathayur ialah beranggapan sial dengan waktu tertentu, tempat tertentu, atau sesuatu yang dilihat, didengar, atau diketahui. (-red.)