Hidayah Itu Mahal

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah)

 

Pernahkah terpikirkan bahwa kita tengah berada dalam anugerah yang tiada ternilai dari Dzat yang memiliki kerajaan langit dan bumi, sementara begitu banyak orang yang dihalangi untuk memperolehnya?

Kita bisa tahu ajaran yang benar dari agama Islam ini. Tahu ini haq, itu batil… Ini tauhid, itu syirik…. Ini sunnah, itu bid’ah… Lalu kita dimudahkan untuk mengikuti yang haq dan meninggalkan yang batil. Sementara, banyak orang tidak mengerti mana yang benar dan mana yang sesat, atau ada yang tahu tapi tidak dimudahkan baginya untuk mengamalkan al-haq, malah ia gampang berbuat kebatilan.

Kita dapat berjalan mantap di bawah cahaya yang terang-benderang, sementara banyak orang yang tertatih meraba dalam kegelapan.

Kita tahu apa tujuan hidup kita dan kemana kita kan menuju. Sementara, ada orang-orang yang tidak tahu untuk apa sebenarnya mereka hidup. Bahkan kebanyakan mereka menganggap mereka hidup hanya untuk dunia, sekadar makan, minum, dan bersenang-senang di dalamnya.

Apa namanya semua yang kita miliki ini, wahai saudariku, kalau bukan anugerah terbesar, nikmat yang tiada ternilai? Inilah hidayah dan taufik dari Allah l kepada jalan-Nya yang lurus.

Dalam Tanzil-Nya, Allah l berfirman:

“Allah memberikan hidayah kepada siapa yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.” (Al-Baqarah: 213)

Fadhilatusy Syaikh Al-’Allamah Muhammad ibnu Shalih Al-Utsaimin t menerangkan dalam tafsirnya bahwa hidayah di sini maknanya adalah petunjuk dan taufik. Allah l berikan hidayah ini kepada orang yang pantas mendapatkannya, karena segala sesuatu yang dikaitkan dengan kehendak Allah l maka mesti mengikuti hikmah-Nya. Siapa yang beroleh hidayah maka memang ia pantas mendapatkannya. (Tafsir Al-Qur’anil Karim, 3/31)

Fadhilatusy Syaikh Shalih ibnu Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah ketika menjelaskan ayat:

beliau berkata, “Allah l tidak meletakkan hidayah di dalam hati kecuali kepada orang yang pantas mendapatkannya. Adapun orang yang tidak pantas memperolehnya, maka Allah l mengharamkannya beroleh hidayah tersebut. Allah Yang Maha Mengetahui, Maha Memiliki hikmah, Maha Mulia lagi Maha Tinggi, tidak memberikan hidayah hati kepada setiap orang, namun hanya diberikannya kepada orang yang diketahui-Nya berhak mendapatkannya dan dia memang pantas. Sementara orang yang Dia ketahui tidak pantas beroleh hidayah dan tidak cocok, maka diharamkan dari hidayah tersebut.”

Asy-Syaikh yang mulia melanjutkan, “Di antara sebab terhalangnya seseorang dari beroleh hidayah adalah fanatik terhadap kebatilan dan semangat kesukuan, partai, golongan, dan semisalnya. Semua ini menjadi sebab seseorang tidak mendapatkan taufik dari Allah l. Siapa yang kebenaran telah jelas baginya namun tidak menerimanya, ia akan dihukum dengan terhalang dari hidayah. Ia dihukum dengan penyimpangan dan kesesatan, dan setelah itu ia tidak dapat menerima al-haq lagi. Maka di sini ada hasungan kepada orang yang telah sampai al-haq kepadanya untuk bersegera menerimanya. Jangan sampai ia menundanya atau mau pikir-pikir dahulu, karena kalau ia menundanya maka ia memang pantas diharamkan/dihalangi dari hidayah tersebut. Allah k berfirman:

“Maka tatkala mereka berpaling dari kebenaran, Allah memalingkan hati-hati mereka.” (Ash-Shaf: 5)

“Dan begitu pula Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al-Qur’an) pada awal kalinya dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat.” (Al-An’am: 110) [I’anatul Mustafid bi Syarhi Kitabit Tauhid, 1/357]

Perlu engkau ketahui, hidayah itu ada dua macam:

1. Hidayah yang bisa diberikan oleh makhluk, baik dari kalangan para nabi dan rasul, para da’i atau selain mereka. Ini dinamakan hidayah irsyad (bimbingan), dakwah dan bayan (keterangan). Hidayah inilah yang disebutkan dalam ayat:

“Sesungguhnya engkau (ya Muhammad) benar-benar memberi hidayah/petunjuk kepada jalan yang lurus.” (Asy-Syura: 52)

2. Hidayah yang hanya bisa diberikan oleh Allah l, tidak selain-Nya. Ini dinamakan hidayah taufik. Hidayah inilah yang ditiadakan pada diri Rasulullah n, terlebih selain beliau, dalam ayat:

“Sesungguhnya engkau (ya Muhammad) tidak dapat memberi hidayah/petunjuk kepada orang yang engkau cintai, akan tetapi Allah lah yang memberi hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki.” (Al-Qashash: 56)

Yang namanya manusia, baik ia da’i atau selainnya, hanya dapat membuka jalan di hadapan sesamanya. Ia memberikan penerangan dan bimbingan kepada mereka, mengajari mereka mana yang benar, mana yang salah. Adapun memasukkan orang lain ke dalam hidayah dan memasukkan iman ke dalam hati, maka tak ada seorang pun yang kuasa melakukannya, karena ini hak Allah l semata. (Al-Qaulul Mufid Syarhu Kitabit Tauhid, Ibnu Utsaimin, sebagaimana dinukil dalam Majmu’ Fatawa wa Rasa’il beliau, 9/340-341)

Saudariku, bersyukurlah kepada Allah l ketika engkau dapati dirimu termasuk orang yang dipilih-Nya untuk mendapatkan dua hidayah yang tersebut di atas. Karena berapa banyak orang yang telah sampai kepadanya hidayah irsyad, telah sampai padanya dakwah, telah sampai padanya al-haq, namun ia tidak dapat mengikutinya karena terhalang dari hidayah taufik. Sementara dirimu, ketika tahu al-haq dari al-batil, segera engkau pegang erat yang haq tersebut dan engkau empaskan kebatilan sejauh mungkin. Berarti hidayah taufik dari Rabbul Izzah menyertaimu. Tinggal sekarang, hidayah itu harus engkau jaga, karena ia sangat bernilai dan sangat penting bagi kehidupan kita. Ia harus menyertai kita bila ingin selamat di dunia, terlebih di akhirat. Bagaimana tidak? Sementara kita di setiap rakaat dalam shalat diperintah untuk memohon kepada Allah l hidayah kepada jalan yang lurus.

“Tunjukilah (berilah hidayah) kami kepada jalan yang lurus.” (Al-Fatihah: 6)

Bila timbul pertanyaan, bagaimana seorang mukmin meminta hidayah di setiap waktu shalatnya dan di luar shalatnya, sementara mukmin berarti ia telah beroleh hidayah? Bukankah dengan begitu berarti ia telah meminta apa yang sudah ada pada dirinya?

Al-Hafizh Ibnu Katsir t memberikan jawabannya: Allah l membimbing hamba-hamba-Nya untuk meminta hidayah, karena setiap insan membutuhkannya siang dan malam. Seorang hamba butuh kepada Allah l setiap saat untuk mengokohkannya di atas hidayah, agar hidayah itu bertambah dan terus-menerus dimilikinya. Karena seorang hamba tidak dapat memberikan kemanfaatan dan tidak dapat menolak kemudaratan dari dirinya, kecuali apa yang Allah l kehendaki. Allah k pun membimbing si hamba agar di setiap waktu memohon kepada-Nya pertolongan, kekokohan, dan taufik. Orang yang bahagia adalah orang yang diberi taufik oleh Allah k untuk memohon hidayah, karena Allah k telah memberikan jaminan untuk mengabulkan permintaan orang yang berdoa kepada-Nya di sepanjang malam dan di pengujung siang. Terlebih lagi bila si hamba dalam kondisi terjepit dan sangat membutuhkan bantuan-Nya. Ini sebanding dengan firman-Nya:

“Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya…” (An-Nisa’: 136)

Dalam ayat ini, Allah k memerintahkan orang-orang yang telah beriman agar tetap beriman. Ini bukanlah perintah untuk melakukan sesuatu yang belum ada, karena yang dimaukan dengan perintah beriman di sini adalah hasungan agar tetap tsabat (kokoh), terus-menerus dan tidak berhenti melakukan amalan-amalan yang dapat membantu seseorang agar terus di atas keimanan. Wallahu a’lam. (Tafsir Al-Qur’anil ‘Azhim, 1/38)

Berbahagialah dengan hidayah yang Allah l berikan kepadamu dan jangan biarkan hidayah itu berlalu darimu. Mintalah selalu kekokohan dan keistiqamahan di atas iman kepada Dzat Yang Maha Mengabulkan doa. Teruslah mempelajari agama Allah k. Hadirilah selalu majelis ilmu. Dekatlah dengan ulama, cintai mereka karena Allah k. Bergaullah dengan orang-orang shalih dan jauhi orang-orang jahat yang dapat merancukan pemahaman agamamu serta membuatmu terpikat dengan dunia. Semua ini sepantasnya engkau lakukan dalam upaya menjaga hidayah yang Allah k anugerahkan kepadamu. Satu lagi yang penting, jangan engkau jual agamamu karena menginginkan dunia, karena ingin harta, tahta, dan karena cinta kepada lawan jenis. Sekali-kali janganlah engkau kembali ke belakang. Kembali kepada masa lalu yang suram karena jauh dari hidayah dan bimbingan agama. Ingatlah:

“Maka tidak ada sesudah kebenaran itu melainkan kesesatan.” (Yunus: 32)

Kata Al-Imam Al-’Allamah Muhammad Jamaluddin Al-Qasimi t, “Kebenaran dan kesesatan itu tidak ada perantara antara keduanya. Maka, siapa yang luput dari kebenaran mesti ia jatuh dalam kesesatan.” (Mahasinut Ta’wil, 6/24)

Lalu apa persangkaanmu dengan orang yang tahu kebenaran dari kebatilan, semula ia berjalan di atas kebenaran tersebut, berada di dalam hidayah, namun kemudian ia futur (patah semangat, tidak menetapi kebenaran lagi, red.) dan lisan halnya mengatakan ‘selamat tinggal kebenaran’? Wallahul Musta’an. Sungguh setan telah berhasil menipu dan mengempaskannya ke jurang yang sangat dalam.

Ya Allah, wahai Dzat Yang Membolak-balikkan hati tetapkanlah hati kami di atas agama-Mu, di atas ketaatan kepada-Mu. Amin ya Rabbal ‘alamin ….

Wallahu a’lam bish-shawab.

Hidup Bersama denga Pasangan yang Tidak Shalat

Istri saya tidak menunaikan shalat, puasa, dan kewajiban-kewajiban agama yang lain, demikian pula kewajibannya sebagai istri. Namun saya terus-menerus memberikan pengajaran kepadanya, hanya saja ia tetap tidak mengerjakan shalat lima waktu seluruhnya, bahkan sering meninggalkannya. Ia mengolok-olok saya ketika saya mengajarinya atau menyuruhnya shalat. Lalu apa hukumnya terus hidup bersamanya, sementara sulit untuk menikah dengan wanita lainnya yang shalihah, disebabkan mahar yang mahal dan sungguh ini menjadi penghalang besar dalam pernikahan?
Jawab:
Fadhilatusy Syaikh Shalih ibnu Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah menjawab, “Tidak boleh terus hidup bersama dengan wanita yang demikian sifatnya, ia mengolok-olok shalat, menertawakan orang yang menyuruhnya shalat, dan ia (sendiri) meninggalkan shalat. Wanita seperti itu kafir yang berarti tidak boleh hidup bersamanya, berdasarkan firman Allah l:
“Dan janganlah kalian tetap berpegang pada tali (perkawinan) dengan wanita-wanita kafir.” (Al-Mumtahanah: 10)
“Dan janganlah kalian menikahi wanita-wanita musyrik sampai mereka mau beriman. Sesungguhnya budak wanita yang beriman lebih baik daripada wanita musyrik walaupun dia menarik hatimu.” (Al-Baqarah: 221)
Wanita tersebut kafir selama ia tidak mengerjakan shalat, bahkan mengejek shalat berikut orang yang menyuruhnya shalat. Karenanya, tidak boleh engkau hidup bersamanya.
Adapun ucapanmu, sulit untuk menikah lagi, maka Allah l akan memudahkan hal-hal yang baik. Barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah k akan menggantikan yang lebih baik untuknya.
Kesimpulannya, tidak boleh seorang suami terus hidup bersama dengan istri yang demikian keadaannya, selama ia tidak mau bertaubat kepada Allah l dan menjaga shalat. Wanita seperti itu tidak boleh menjadi istri seorang muslim dan tidak boleh seorang muslim terus menahannya dalam ikatan pernikahan.” (Majmu’ Fatawa Fadhilatusy Syaikh Shalih Al Fauzan, 1/337)
Seorang wanita muslimah menikah dengan seorang lelaki yang sebelumnya tidak dikenalnya. Lelaki itu bekerja di Jerman. Ia meminta kepada ayah si wanita agar memperkenankan dirinya menikahi si wanita. Si wanita itu pun menyetujui pinangan tersebut. Usai pernikahan, si wanita ikut ke Jerman bersama lelaki yang kini telah menjadi suaminya. Setelah hidup berdampingan dengan suaminya, tersingkaplah bagi si istri bahwa suaminya ini tidak mengerjakan shalat dan tidak puasa. Bahkan pernah suaminya memaksanya agar memasakkan makanan untuknya di siang hari Ramadhan. Selain itu si suami terbiasa mengerjakan perbuatan mungkar lainnya. Si istri telah berupaya untuk memperbaiki keadaan suaminya akan tetapi tidak ada pengaruhnya. Itu semua mendorong si istri menuntut cerai dari suaminya dan pada akhirnya terjadilah perceraian. Apakah si wanita itu memang pantas menuntut cerai dari suami yang berperilaku demikian?
Kemudian, setelah perceraian si wanita pergi ke Belgia bersama beberapa tetangganya dahulu. Ia bekerja di Belgia untuk menghidupi dirinya dan ayahnya yang fakir. Ia tinggal sendirian bersama satu keluarga di sana. Ia cuma tinggal serumah dengan mereka. Adapun makan dan tidurnya sendirian, tidak bergabung dengan mereka. Keluarga tersebut memberikan kebebasan kepadanya untuk mengamalkan perintah agama berupa shalat, puasa, dan selainnya. Apakah tinggalnya si wanita seorang diri di negeri asing bersama satu keluarga di sana teranggap menyelisihi agama?
Jawab:
Fadhilatusy Syaikh Shalih ibnu Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah menjawab, “Pertama kali, kami bersyukur wahai penanya, dengan berpegangnya engkau terhadap agama ini serta semangatmu untuk melaksanakan syiar-syiar agama ini.
Adapun pertanyaanmu tentang perceraianmu dengan suami ketika engkau melihat ia tidak berpegang dengan agama, ia tidak mengerjakan shalat dan tidak puasa, maka itu memanwg wajib engkau lakukan. Engkau tidak boleh terus hidup bersama suami tersebut bila ia tetap demikian keadaannya. Karena, orang yang meninggalkan shalat secara sengaja, ia kafir1, tidak boleh seorang muslimah tetap dalam ikatan pernikahan dengannya. Engkau telah berbuat kebaikan dengan berpisah dari suami yang jelek tersebut dan engkau meninggalkannya karena ingin menyelamatkan agamamu.
Pertanyaanmu tentang kepergianmu ke Belgia seorang diri dan tinggalmu di sana bersama keluarga yang bukan mahrammu, maka ini tidak boleh.
Pertama: Safar seorang wanita tanpa mahram adalah tidak boleh.
Kedua: Si wanita tinggal bersama keluarga yang bukan mahramnya dan bersama orang-orang yang bukan mahramnya, ini haram bagi seorang muslimah.
Yang aku nasihatkan kepadamu, kembalilah ke negeri asalmu, atau ayahmu pergi menyertaimu bila memang engkau ingin safar ke Belgia atau ke negeri lain. Adapun bila engkau safar sendirian, tinggal sendirian atau bersama satu keluarga yang bukan mahrammu, maka ini perkara yang tidak diakui oleh Islam. Allah k tidak ridha karena wanita itu aurat, dan ia tidak boleh safar tanpa mahram, atau tinggal bersama satu keluarga yang di situ ada laki-laki yang bukan mahramnya, karena hal itu akan menyeret dirinya kepada fitnah, dan orang lain pun akan terfitnah dengannya. Wallahu a’lam. (Majmu’ Fatawa Fadhilatusy Syaikh Shalih Al-Fauzan, 1/337-338)

1 Ulama sepakat tentang kafirnya orang yang menentang kewajiban shalat. Namun, dalam hal hukum orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja, karena malas atau menggampang-gampangkannya, tanpa bermaksud menentang kewajibannya, maka ada perbedaan pendapat di kalangan mereka antara yang mengafirkan dan tidak mengafirkan.

Wanita itu Aurat

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah)

 

Al-Imam At-Tirmidzi t dalam Sunan-nya (no. 1173) berkata, “Telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Basysyar, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Ashim, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Hammam, dari Qatadah, dari Muwarriq, dari Abul Ahwash, dari Abdullah ibnu Mas’ud z, dari Nabi n, beliau bersabda:

الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ، فَإِذَا خَرَجَتِ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ

“Wanita itu aurat, maka bila ia keluar rumah, setan terus memandanginya (untuk menghias-hiasinya dalam pandangan lelaki sehingga terjadilah fitnah).” (Dishahihkan Al-Imam Al-Albani t dalam Shahih At-Tirmidzi, Al-Misykat no. 3109, dan Al-Irwa’ no. 273. Dishahihkan pula oleh Al-Imam Muqbil ibnu Hadi Al-Wadi’i t dalam Ash-Shahihul Musnad, 2/36)

Yang namanya aurat berarti membuat malu bila terlihat orang lain hingga perlu ditutupi dan dijaga dengan baik. Karena wanita itu aurat, berarti mengundang malu bila sampai terlihat lelaki yang bukan mahramnya. (Tuhfatul Ahwadzi, Kitab Ar-Radha’, bab ke-18)

Sehingga tetap tinggal di dalam rumah itu lebih baik bagi si wanita, lebih menutupi dirinya dan lebih jauh dari fitnah (godaan/gangguan). Bila ia keluar rumah, setan berambisi untuk menyesatkannya dan menyesatkan orang-orang dengan sebab dirinya. Tidak ada yang selamat dari fitnah ini kecuali orang-orang yang dirahmati Allah l. Yang disyariatkan bagi wanita muslimah yang beriman kepada Allah l dan hari akhir adalah tinggal di dalam rumahnya tanpa keluar kecuali bila ada kebutuhan, dengan mengenakan pakaian yang menutupi seluruh tubuhnya dan tidak memakai perhiasan berikut wangi-wangian, dalam rangka mengamalkan firman Allah l:

“Dan tetaplah kalian tinggal di rumah-rumah kalian dan janganlah bertabarruj sebagaimana tabarrujnya orang-orang jahiliah yang awal.” (Al-Ahzab: 33)

“Apabila kalian meminta sesuatu keperluan kepada mereka maka mintalah dari balik hijab/ tabir, yang demikian itu lebih suci bagi hati kalian dan hati mereka.” (Al-Ahzab: 53)

Bila wanita tidak mengamalkan tuntunan syariat yang suci ini, ia akan jatuh dalam jeratan dan perangkap para lelaki yang fasik dan pendosa. Terlebih lagi bila keluarnya itu menuju ke pasar, mal, tempat rekreasi, dan tempat-tempat keramaian yang di situ terjadi ikhtilath (campur baur lelaki dan wanita). Alangkah banyaknya wanita seperti itu di zaman ini. Demikian keterangan dari Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Buhuts Al-’Ilmiyyah wAl-Ifta’, fatwa no. 19930, yang ketika itu masih diketuai oleh Samahatusy Syaikh Ibnu Baz t.

Banyak orang tidak mengetahui hadits Nabi n di atas. Kalaupun ada yang mengetahuinya, mereka berusaha menolaknya karena tidak sesuai dengan hawa nafsu mereka dengan mengatakan haditsnya lemah, tidak terpakai, merendahkan kaum wanita, tidak sesuai dengan perkembangan zaman, dan ucapan semisalnya.

Demikianlah. Karena jauhnya zaman ini dengan masa kenabian, ditambah lagi kebodohan yang tersebar luas di kalangan kaum muslimin dan hawa nafsu yang mendominasi, banyak ajaran dan aturan agama Islam yang dianggap aneh, asing, dan tidak lumrah. Termasuk keberadaan wanita sebagai aurat, sehingga harus ditutupi dari pandangan lelaki ajnabi (non-mahram), sulit diterima oleh kebanyakan orang bahkan oleh kaum wanita sendiri. Yang dianggap biasa justru keberadaan wanita yang berkeliaran di luar rumah, hilir mudik tanpa malu di depan lelaki ajnabi, tanpa mengenakan busana yang syar’i, malah memamerkan kemolekan wajahnya dan keindahan anggota tubuhnya, kebagusan dandanannya, serta semerbak aroma tubuhnya. Wallahul musta’an (Hanya Allah l sajalah tempat meminta pertolongan).

Ketahuilah, hadits Nabi n di atas telah pasti keshahihannya. Bila suatu hadits dikatakan shahih dari ucapan Nabi n berarti benar-benar Nabi n yang mengucapkannya. Beliau berucap tidaklah dari hawa nafsu, tapi dari wahyu yang beliau terima sebagaimana firman Allah l:

“Dan tidaklah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya.” (An-Najm: 3-4)

Al-Hafizh Ibnu Katsir, semoga Allah l merahmati beliau, menerangkan tafsir ayat di atas, “Maksudnya Nabi n tidaklah mengucapkan satu ucapan/ perkataan karena dorongan hawa nafsu dan karena satu tujuan tertentu. Beliau hanyalah mengucapkan apa yang diperintahkan kepada beliau untuk disampaikan kepada manusia secara sempurna, utuh, tanpa ada tambahan dan pengurangan.” (Tafsir Al-Qur’anil ‘Azhim, 7/340)

Sahabat yang mulia, putra dari sahabat yang mulia, Abdullah ibnu ‘Amr ibnul ‘Ash c memberitakan, “Aku biasa menulis segala sesuatu yang aku dengar dari Rasulullah n karena aku ingin menghafalnya. Maka orang-orang Quraisy melarangku dengan mengatakan, ‘Jangan engkau tulis segala sesuatu yang engkau dengar dari Rasulullah n, karena Rasulullah itu manusia biasa, bisa berucap dalam keadaan marah maupun senang.’

Aku pun berhenti menulis apa yang kudengar dari beliau, lalu kuceritakan hal itu kepada beliau. Beliau memberi isyarat dengan jari beliau ke mulut beliau seraya bersabda:

اكْتُبْ، فَوَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ مَا يَخْرُجُ مِنْهُ إِلاَّ حَقٌّ

“Tulislah, demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidak ada yang keluar dari lisan ini kecuali al-haq/ kebenaran.” (HR. Abu Dawud no. 3646, dishahihkan Al-Imam Al-Albani t dalam Shahihul Jami’ no. 1196 dan Ash-Shahihah no. 1532)

Karena kepastian berita dari Rasulullah n bahwa wanita itu aurat, maka hendaklah wali para wanita, baik dari kalangan ayah, paman, kakek, saudara laki-laki ataupun suami, memerhatikan keberadaan wanita mereka serta memiliki kecemburuan terhadap wanita mereka. Jangan biarkan mereka (para wanita) keluar rumah tanpa ada kebutuhan, atau keluar rumah tanpa mengenakan pakaian yang syar’i, yang menutup tubuh mereka sebagai aurat mereka.

Bagi para wanita sendiri, hendaklah mereka bersegera berpegang dengan tuntunan Allah l dan Rasul-Nya n karena di dalamnya pasti ada kebaikan bagi mereka.

 

Apakah Suara Wanita Aurat?

Terkait dengan keberadaan wanita sebagai aurat, mungkin tersisa pertanyaan di benak. Bagaimana dengan suara wanita, apakah termasuk aurat? Lalu bagaimana dengan keberadaan sahabiyah dahulu yang berbicara dengan Nabi n atau dengan para sahabat? Bagaimana pula keberadaan Ummul Mukminin Aisyah x atau wanita-wanita selainnya, yang mengajarkan ilmu dan menyampaikan hadits Rasulullah n kepada para sahabat dan orang-orang yang datang setelah generasi sahabat? Bukankah ini menunjukkan wanita boleh berbicara dan memperdengarkan suaranya kepada lelaki ajnabi?

Al-Lajnah Ad-Da’imah dalam fatwa (no. 8567) pernah memberikan jawaban tentang hal ini. Disebutkan bahwa suara wanita bukanlah aurat, tidak haram bagi lelaki ajnabi untuk mendengarkannya terkecuali bila suara itu diucapkan dengan mendayu-dayu, mendesah dan dilembut-lembutkan karena yang seperti ini haram dilakukan si wanita di hadapan selain suaminya dan haram bagi lelaki ajnabi mendengarkannya, berdasarkan firman Allah l:

“Wahai istri-istri nabi, kalian tidak sama dengan wanita-wanita yang lain, jika kalian bertakwa maka janganlah kalian melembutkan suara dalam berbicara sehingga berkeinginlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (Al-Ahzab: 32)

Dalam fatwa no. 5167, Al-Lajnah menyatakan wanita merupakan tempat penunaian syahwat lelaki, maka kaum lelaki memiliki kecondongan kepada wanita agar tertunai nafsu syahwatnya. Bila si wanita mendayu-dayu dalam berbicara, tentunya fitnah akan semakin bertambah. Karena itulah Allah l memerintahkan kepada kaum mukminin, para sahabat Rasulullah n, bila mereka meminta kebutuhan atau suatu barang kepada wanita yang bukan mahramnya, hendaknya meminta dari balik hijab. Tidak langsung bertemu wajah dengan si wanita. Allah l berfirman:

“Apabila kalian meminta sesuatu keperluan kepada mereka maka mintalah dari balik hijab/tabir, yang demikian itu lebih suci bagi hati kalian dan hati mereka.” (Al-Ahzab: 53)

Allah l juga melarang para wanita melembutkan suara mereka ketika berbicara dengan lelaki ajnabi agar jangan sampai lelaki yang punya penyakit di hatinya berkeinginan jelek terhadap si wanita.

Bila perintah ini dititahkan di zaman Rasul n, dalam keadaan kaum mukminin kuat imannya dan mulia jiwanya, lalu bagaimana dengan zaman ini, di mana iman semakin melemah dan sedikit orang yang berpegang dengan agama? Karenanya, wajib bagimu wahai wanita untuk tidak bercampur baur dengan lelaki ajnabi dan tidak berbicara dengan mereka kecuali bila ada kebutuhan yang sifatnya darurat dengan tidak mendayu-dayukan dan melembutkan suara, berdasarkan dalil ayat yang telah disebutkan.

Dengan penjelasan ini tahulah engkau, wahai wanita, bahwa semata-mata suara yang tidak disertai dengan kelembutan dalam berbicara bukanlah aurat, karena dulunya para wanita/sahabiyah berbicara dengan Nabi n dan bertanya kepada beliau tentang perkara agama mereka. Demikian pula mereka mengajak bicara para sahabat sehubungan dengan kebutuhan mereka dan Nabi n tidak mengingkari perbuatan mereka tersebut. (dari kitab Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Buhuts Al-’Ilmiyyah wal Ifta’, 17/202-204)

Sehubungan dengan suara wanita ini, sangatlah disayangkan adanya sebagian orang yang bermudah-mudahan dengan berdalih suara wanita bukan aurat. Sampai-sampai ada guru lelaki yang mengajarkan Al-Qur’an kepada para wanita dengan men-tasmi’, yaitu mendengarkan bacaan Al-Qur’an para wanita yang diajarinya, guna membetulkannya bila ada kesalahan. Sementara kita semua maklum bagaimana suara wanita yang membaca Al-Qur’an. Siapa yang bisa menjamin wanita tersebut tidak melagukan suaranya saat melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an? Bila kondisinya seperti ini, bagaimana dengan sang guru, apakah ia bisa menjamin hatinya akan selamat dari fitnah?

Ada pula guru lelaki yang berani mengajarkan percakapan bahasa Arab (muhadatsah) kepada para wanita. Sementara, sebagai satu metode pengajaran muhadatsah, sang guru mengajak bicara satu atau lebih murid wanitanya untuk bercakap-cakap dalam bahasa Arab. Mungkin sang guru mengatakan, “Kaifa haluk?”

Muridnya menjawab, “Alhamdulillah ana bi khair, wa anta…?” Dan seterusnya.

Kita bisa membayangkan bagaimana nada suara murid wanita itu dalam percakapan tersebut! Wallahul musta’an.

Contoh di atas kita bawakan tidak lain sebagai nasihat dan peringatan bagi diri pribadi dan saudara-saudara sekalian, agar kita semua tidak menggampangkan permasalahan ini. Juga agar kita menjaga diri dari fitnah dan memerhatikan keselamatan hati-hati kita. Karena, sebagaimana perkataan hikmah dari ulama kita: Selamatnya hati tak dapat ditandingi/dibandingkan dengan sesuatu pun.

Semoga Allah l memberi taufik kita kepada apa yang diridhai dan dicintai-Nya. Amin.

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

‘Umamah bintu Hamzah Al-Hasyimiyah

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman bintu ‘Imran)

 

Tinggal sebagai muslimah di antara kaum musyrikin di Makkah bukanlah sesuatu yang diharapkan. Putri Singa Allah, Hamzah bin ‘Abdil Muththalib z ini mendambakan hidup bersama kaum muslimin di Madinah. Dia pun menanti, hingga saatnya tiba….

Dia adalah Umamah bintu Hamzah bin ‘Abdil Muththalib bin Hasyim bin ‘Abdi Manaf bin Qushai Al-Hasyimiyah x. Ibunya bernama Salma bintu ‘Umais bin Ma’d bin Taim bin Malik bin Quhafah dari Khats’am, saudara perempuan Asma’ bintu ‘Umais x. Sementara sang ayah, Hamzah bin ‘Abdil Muththalib z adalah paman Rasulullah yang syahid dalam pertempuran Badr. Sepeninggal ayahnya, ‘Umamah bintu Hamzah masih tetap tinggal di Makkah.
Sekian lama tinggal di negeri Madinah, rombongan kaum muslimin bersama Rasulullah n menunaikan ‘umrah qadha’, setelah setahun sebelumnya mereka urung menunaikan ‘umrah ke Makkah karena dihadang kaum musyrikin. Hanya tiga hari waktu yang diberikan pada kaum muslimin untuk tinggal di Makkah. Setelah itu, kaum musyrikin mengingatkan kaum muslimin agar segera meninggalkan Makkah.
Ketika rombongan Rasulullah n hendak kembali ke Madinah, ‘Umamah bintu Hamzah mengikuti rombongan. Dia berseru memanggil-manggil, “Paman! Paman!”
‘Ali bin Abi Thalib z bertanya kepada Rasulullah n, “Mengapa engkau biarkan putri paman kita dalam keadaan yatim di antara kaum musyrikin?”
Ali pun mengusulkan kepada beliau untuk membawa ‘Umamah dari Makkah. Rasulullah n tak melarang ‘Ali untuk membawa ‘Umamah.
“Bawa serta putri paman ayahmu!” ujar ‘Ali kepada istrinya, Fathimah x. Maka berangkatlah ‘Umamah bintu Hamzah bersama rombongan kaum muslimin menuju Madinah.
Namun permasalahannya, siapa yang paling berhak untuk mengasuh putri yatim Hamzah bin ‘Abdil Muththalib z ini.
Di antara yang merasa berhak adalah Zaid bin Haritsah z yang diberi wasiat oleh Hamzah bin ‘Abdil Muththalib z. Juga Rasulullah n mempersaudarakannya dengan Hamzah saat beliau mempersaudarakan kaum Muhajirin. “Aku lebih berhak untuk mengasuh anak saudaraku,” katanya.
Mendengar hal itu, Ja’far bin Abi Thalib bin ‘Abdil Muththalib z berujar, “Aku lebih berhak untuk mengasuhnya, karena Asma’ bintu ‘Umais bibinya adalah istriku, sementara kedudukan bibi seperti kedudukan ibu!”
‘Ali pun merasa keberatan. “Mengapa kalian bertikai tentang permasalahan putri pamanku, sementara aku yang membawanya keluar dari Makkah di antara kaum musyrikin. Kalian pun tidak lebih dekat nasabnya dengan ‘Umamah daripada aku. Aku lebih berhak untuk mengasuhnya!”
Mereka adalah para sahabat yang mulia. Segala perselisihan, tak ada tempat lain untuk kembali kecuali pada Rasulullah n. Mereka adukan pertikaian mereka, hingga beliau pun memberikan jalan yang terbaik. “Aku akan memutuskan perkara kalian,” kata beliau. “Adapun engkau, wahai Zaid, engkau adalah maula Allah dan maula Rasul-Nya. Adapun dirimu, wahai ‘Ali, engkau saudara dan sahabatku. Sedangkan engkau, wahai Ja’far, orang yang paling mirip denganku. Dan engkau, wahai Ja’far, orang yang paling pantas untuk mengasuhnya, karena istrimu adalah bibinya. Lebih-lebih lagi seseorang tak boleh menikahi wanita yang bibi wanita itu menjadi istrinya.”
Rasulullah n memutuskan hak pengasuhan ‘Umamah bintu Hamzah untuk Ja’far.
‘Ali bin Abi Thalib z pernah mengusulkan kepada Rasulullah n, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau tidak menikah dengan ‘Umamah?” “Dia itu anak saudaraku sesusuan1,” jawab Rasulullah n, “Dan sesungguhnya Allah mengharamkan karena susuan segala sesuatu yang diharamkan karena nasab.”
‘Umamah bintu Hamzah, kisah kehidupannya memberikan pelajaran bagi kaum muslimin hingga akhir zaman. ‘Umamah bintu Hamzah, semoga Allah l meridhainya….
Wallahu a’lamu bish-shawab.
Sumber Bacaan:
Al-Ishabah, Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani (8/22-23)
Ath-Thabaqatul Kubra, Al-Imam Ibnu Sa’d (10/152-154)
Shahih Al-Bukhari, Kitab Al-Maghazi Bab ‘Umratil Qadha’

1 Karena Rasulullah n dan Hamzah z pernah disusui oleh ibu susu yang sama.

Tidur Siang

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman bintu ‘Imran)

Masa anak-anak masa penuh aktivitas. Anak-anak seolah tak berhenti bergerak, dari satu aktivitas ke aktivitas yang lain. Lebih-lebih lagi bermain, sebuah aktivitas yang menjadi favorit dalam dunia anak. Kadang karena asyik bermain atau melakukan aktivitas yang lain, anak jadi susah diminta tidur siang. Bahkan tidur siang menjadi sesuatu yang menjengkelkan karena memutuskannya dari kegembiraan aktivitas yang dilakukannya.

Ternyata faktor yang menghalangi anak-anak istirahat di siang hari bukan hanya datang dari diri mereka sendiri. Bahkan terkadang, ada orangtua yang justru menghasung anak-anak untuk menyibukkan waktunya dengan segudang kegiatan, tanpa istirahat siang. Les ini, les itu, kegiatan ini dan itu, bersiap menyongsong ini dan itu, sehingga anak tak berhenti dari satu kesibukan ke kesibukan yang lain.

Kita –orangtua– seyogianya tidak membiarkan anak-anak tanpa tidur siang ataupun sekadar beristirahat di siang hari. Dari sisi kesehatan, tentu hal ini banyak manfaatnya, mengistirahatkan tubuh sejenak dari aktivitas agar bugar kembali untuk menyambut aktivitas berikutnya.

Tak hanya dari sisi kesehatan tinjauannya. Jauh lebih penting lagi, tidur siang adalah sunnah yang diajarkan dan dilakukan oleh Rasulullah n. Beliau memerintahkan kita untuk tidur siang dalam sabda beliau yang dinukilkan oleh Anas bin Malik z:

قِيْلُوا فَإِنَّ الشَّيَاطِيْنَ لاَ تَقِيْلُ

“Qailulah-lah (istirahat sianglah) kalian, sesungguhnya setan-setan itu tidak pernah istirahat siang.” (HR. Abu Nu’aim dalam Ath-Thibb, dikatakan oleh Al-Imam Al-Albani t dalam Ash-Shahihah no. 1637: isnadnya shahih)

Yang dimaksud dengan qailulah adalah istirahat di tengah hari, walaupun tidak disertai tidur. (An-Nihayah fi Gharibil Hadits)

Apa yang dilakukan dan dihasung oleh Rasulullah n ini juga diikuti oleh para sahabat g. Di antaranya ‘Abdullah bin Mas’ud z dalam riwayat dari ‘Umar ibnul Khaththab z:

رُبَّمَا قَعَدَ عَلَى بَابِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ رِجَالٌ مِنْ قُرَيْشٍ، فَإِذَا فَاءَ الْفَيْءُ قَالَ: قُوْمُوا فَمَا بَقِيَ فَهُوَ لِلشَّيْطَانِ. ثُمَّ لاَ يَمُرُّ عَلَى أَحَدٍ إِلاَّ أَقَامَهُ

Pernah suatu ketika ada orang-orang Quraisy yang duduk di depan pintu Ibnu Mas’ud. Ketika tengah hari, Ibnu Mas’ud mengatakan, “Bangkitlah kalian (untuk istirahat siang, pent.)! Yang tertinggal hanyalah bagian untuk setan.” Kemudian tidaklah Umar melewati seorang pun kecuali menyuruhnya bangkit.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no.1238, dikatakan oleh Al-Imam Al-Albani t dalam Shahih Al-Adabil Mufrad no. 939: hasanul isnad)

Dalam riwayat yang lainnya disebutkan:

كَانَ عُمَرُ z يَمُرُّ بِنَا نِصْفَ النَّهَارِ –أَوْ قَرِيْبًا مِنْهُ – فَيَقُوْلُ: قُوْمُوا فَقِيْلُوا، فَمَا بَقِيَ فَلِلشَّيْطَانِ

Biasanya ’Umar z bila melewati kami pada tengah hari atau mendekati tengah hari mengatakan, “Bangkitlah kalian! Istirahat sianglah! Yang tertinggal menjadi bagian untuk setan.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no.1239, dikatakan oleh Al-Imam Al-Albani t dalam Shahih Al-Adabil Mufrad no. 939: hasanul isnad)

Begitulah kebiasaan para sahabat g. Diceritakan oleh Anas bin Malik z, ketika datang pengharaman khamr, para sahabat sedang duduk-duduk minum khamr di rumah Abu Thalhah z. Dengan segera mereka menuangkan isi bejana khamr, lalu mereka istirahat siang di rumah Ummu Sulaim x, istri Abu Thalhah z. Anas z menuturkan:

مَا كَانَ لِأَهْلِ الْمَدِيْنَةِ شَرَابٌ– حَيْثُ حُرِّمَتِ الْخَمْرُ –أَعْجَبُ إِلَيْهِمْ مِنَ التَّمْرِ وَالْبُسْرِ، فَإِنِّي لَأُسْقِي أَصْحَابَ رَسُوْلِ اللهِ n وَهُمْ عِنْدَ أَبِي طَلْحَةَ، مَرَّ رَجُلٌ قَالَ: إِنَّ الْخَمْرَ قَدْ حُرِّمَتْ. فَمَا قَالُوا: مَتَى؟ أَوْ حَتَّى نَنْظُرَ. قَالُوا: يَا أَنَسُ، أَهْرِقْهَا، ثُمَّ قَالُوا عِنْدَ أُمِّ سُلَيْمٍ حَتَّى أَبْرَدُوا وَاغْتَسَلُوا، ثُمَّ طَيَّبَتْهُمْ أُمُّ سُلَيْمٍ ثُمَّ رَاحُوا إِلَى النَّبِيِّ n فَإِذَا الْخَبَرُ كَمَا قَالَ الرَّجُلُ. قَالَ أَنَسٌ: فَمَا طَعِمُوهَا بَعْدُ

“Tidak ada minuman yang paling disukai penduduk Madinah tatkala diharamkannya khamr, selain (khamr dari) rendaman kurma. Sungguh waktu itu aku sedang menghidangkan minuman itu kepada para sahabat Rasulullah n yang sedang berada di rumah Abu Thalhah. Tiba-tiba lewat seseorang, dia mengatakan, “Sesungguhnya khamr telah diharamkan!” Sama sekali para sahabat tidak menanyakan, “Kapan?” atau “Kami lihat dulu.” Mereka justru langsung mengatakan, “Wahai Anas, tumpahkan khamr itu!” Lalu mereka pun beristirahat siang di rumah Ummu Sulaim sampai hari agak dingin, setelah itu mereka mandi. Kemudian Ummu Sulaim memberi mereka minyak wangi. Setelah itu mereka beranjak menuju ke hadapan Nabi n. Ternyata beritanya memang seperti yang dikatakan orang tadi. Maka mereka tak pernah lagi meminumnya setelah itu.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no.1241, dikatakan oleh Al-Imam Al-Albani t dalam Shahih Al-Adabil Mufrad no. 940: shahihul isnad)

Anas bin Malik z mengabarkan kebiasaan para sahabat Rasulullah n dahulunya:

كَانُوا يُجَمِّعُوْنَ ثُمَّ يَقِيْلُوْنَ

“Mereka (para sahabat) dulu biasa melaksanakan shalat Jum’at, kemudian istirahat siang.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no.1240, dikatakan oleh Al-Imam Al-Albani t dalam Shahih Al-Adabil Mufrad no. 939: shahihul isnad)

Jika para sahabat saja bersemangat mengikuti perintah Rasulullah n serta mengajak yang lainnya melakukan kebaikan ini, tentu kita tak pantas meninggalkannya. Kita melakukan dan kita ajak anak-anak kita untuk melakukannya pula.

Manfaat yang besar akan mereka dapatkan; tubuh akan terasa segar untuk melaksanakan berbagai ketaatan kepada Allah l, juga menyelisihi kebiasaan setan yang tak pernah istirahat di siang hari. Lebih penting lagi, membiasakan diri mereka untuk meneladani sunnah Rasulullah n.

Wallahu a’lamu bish-shawab.

 

Berbuat Baik Kepada Sesama

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah)

 

Menyambung pembicaraan terdahulu tentang kunci-kunci rezeki, maka perlu kita ketahui ada amalan lain yang bila dilakukan seorang hamba akan memudahkan datangnya rezekinya. Amalan tersebut adalah berinfak fi sabilillah.

Siapa yang menginfakkan atau membelanjakan hartanya dalam kebaikan, Allah l akan menggantinya di dunia, dan kelak di akhirat disediakan pahala yang berlipat ganda. Allah l berfirman:

“Katakanlah (wahai Nabi), ‘Sesungguhnya Rabbku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi siapa yang dikehendaki-Nya.’ Dan apa saja yang kalian nafkahkan/infakkan maka Dia akan menggantinya dan Dia lah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” (Saba’: 39)

Orang yang berinfak di dunia akan beroleh ganti dan di akhirat kelak mendapatkan ganjaran dan pahala, kata Al-Hafizh Ibnu Katsir t dalam tafsirnya. (Tafsir Ibni Katsir, 6/331)

Al-’Allamah Asy-Syaikh Abdurrahman ibnu Nashir As-Sa’di t mengatakan, “Dan apa saja yang kalian nafkahkan/infakkan, berupa nafkah yang wajib ataupun mustahab/sunnah, untuk kerabat, tetangga, orang miskin, anak yatim, atau selainnya, maka Dia l akan menggantinya. Karenanya, janganlah kalian menyangka berinfak itu mengurangi rezeki. Bahkan Allah l –Dzat yang melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkannya bagi siapa yang dikehendaki-Nya– berjanji akan memberi ganti kepada orang yang berinfak. Dia lah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya, maka mintalah rezeki dari-Nya dan berupayalah menempuh sebab-sebab yang diperintahkan-Nya kepada kalian.” (Taisir Al-Karimir Rahman fi Tafsir Kalamil Mannan)

Ayat lain yang bisa kita bawakan sebagai bukti bahwa orang yang berinfak akan murah rezekinya adalah firman Allah l:

“Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kalian dengan kefakiran dan menyuruh kalian berbuat fahisyah (kikir), sedangkan Allah menjanjikan ampunan dari-Nya untuk kalian dan karunia-Nya.” (Al-Baqarah: 268)

Ibnu ‘Abbas c berkata tentang ayat di atas, “Dua dari Allah l dan dua dari setan. Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kalian dengan kefakiran, ia berkata, ‘Jangan engkau infakkan hartamu dan tahanlah karena engkau membutuhkannya.’ Dan ia menyuruh kalian berbuat fahisyah (kikir). Sementara Allah l, Dia menjanjikan ampunan dari-Nya untuk kalian, dari maksiat-maksiat yang dilakukan, dan berjanji memberikan karunia-Nya berupa kelebihan/keutamaan dalam rezeki.” (Tafsir Ath-Thabari, 3/88, atsar no. 6167)

Dalam Tafsir Al-Khazin1 (1/204) dinyatakan bahwa ampunan merupakan isyarat yang menunjukkan pada kemanfaatan akhirat, sedangkan karunia/keutamaan menunjukkan kemanfaatan dunia dan rezeki berikut ganti yang diperoleh.

Al-Qadhi Ibnu ‘Athiyyah2 t berkata dalam tafsirnya, “Maghfirah atau ampunan adalah ditutup/ dihapusnya kesalahan para hamba-Nya di dunia dan di akhirat. Sedangkan Al-Fadhl atau karunia/keutamaan adalah rezeki di dunia, beroleh keluasan di dalamnya dan mendapatkan nikmat di akhirat.” (Al-Muharrarul Wajiz fi Tafsir Al-Kitabil ‘Aziz, 1/364)

Fadhilatusy Syaikh Al-’Allamah Muhammad ibnu Shalih Al-Utsaimin t menyebutkan beberapa faedah dari ayat di atas. Di antaranya:

1. Setan dapat memberikan tipu daya guna menyesatkan manusia, ditunjukkan dalam firman-Nya:

“Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kalian dengan kefakiran.” (Al-Baqarah: 268)

2. Setan dapat memengaruhi manusia untuk berani berbuat sesuatu atau menghalangi untuk berbuat sesuatu. Misalnya, setan menyuruhnya berzina dan menghias-hiasi perbuatan zina tersebut hingga akhirnya ia berani berzina. Di arah lain, setan menyuruhnya kikir dan menakut-nakutinya dengan kemiskinan bila ia menginfakkan hartanya sehingga ia pun enggan berinfak.

3. Tidak ada yang membuka pintu-pintu kesialan kecuali para setan. Setan ini membuka untukmu pintu kesialan, ia berkata, “Bila hari ini engkau berinfak besok engkau akan jadi orang miskin, karenanya jangan berinfak.”

4. Kikir termasuk perbuatan fahisyah.

5. Siapa yang menyuruh orang lain untuk menahan harta agar tidak diinfakkan di jalan kebaikan, berarti ia serupa dengan setan.

6. Kabar gembira bagi orang yang berinfak, ia akan beroleh ampunan dan tambahan harta.

Bila ada yang bertanya, “Bagaimana bentuk tambahan yang diperoleh orang yang berinfak, sementara kenyataannya bila dikeluarkan infak maka harta akan berkurang? Seperti seseorang yang sebelumnya memiliki sepuluh dirham, lalu diinfakkannya satu dirham, niscaya hartanya tinggal sembilan dirham. Lalu dari sisi mana tambahannya?

Jawabannya: Tambahan pahala di akhirat kelak tentunya jelas, karena satu kebaikan akan dibalas sepuluh kali lipat sampai 700 kali, bahkan berlipat ganda. Adapun tambahan di dunia, maka dari beberapa sisi:

Pertama: Terkadang Allah l membukakan satu pintu rezeki bagi seseorang yang sebelumnya tidak terpikirkan di benaknya, sehingga bertambahlah hartanya.

Kedua: Allah l menjaga harta seseorang dari rusak/hilang dan semisalnya. Seandainya si pemilik tidak bersedekah niscaya harta itu akan binasa, maka dengan berinfak akan melindungi harta dari kebinasaan.

Ketiga: Diperolehnya barakah dalam berinfak di mana dengan berinfak walau sedikit akan didapatkan buah yang sangat besar. Sementara bila dicabut barakah pada harta niscaya akan dihambur-hamburkan dalam perkara yang tidak bermanfaat atau bahkan memudaratkan si pemiliknya. (Tafsir Al-Qur’anil Karim, 3/347-349)

Abu Hurairah z menyampaikan hadits dari Rasulullah n:

قَالَ اللهُ تَعَالَى: أَنْفِقْ يَا ابْنَ آدَمَ أُنْفِقْ عَلَيْكَ

Allah l berfirman, “Berinfaklah wahai anak Adam, niscaya Aku akan memberi infak kepadamu.” (HR. Al-Bukhari no. 5352 dan Muslim no. 2305)

Dalam hadits yang lain, Rasulullah n bersabda:

مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيْهِ إِلاَّ مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ فَيَقُوْلُ أَحَدُهُمَا: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا. وَيَقُوْلُ الْآخَرُ: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا

Tidak ada satu hari pun di mana para hamba berpagi hari di dalamnya melainkan ada dua malaikat yang turun, salah satunya berkata, “Ya Allah, berilah ganti kepada orang yang berinfak.” Yang lain mengatakan, “Ya Allah, berilah kebangkrutan kepada orang yang kikir.” (HR. Al-Bukhari no. 1442 dan Muslim no. 2333)

Sementara kita tahu doanya malaikat mustajab di sisi Allah l karena mereka tidaklah mendoakan seseorang melainkan dengan izin Allah l. Allah l berfirman:

“Dan mereka (para malaikat itu) tidaklah memberikan syafaat (untuk seorang pun) kecuali orang yang Allah ridhai dan mereka takut kepada-Nya.” (Al-Anbiya’: 28)

Al-Imam Al-­Baihaqi t meriwayatkan dari Abu Hurairah z bahwa Nabi n berkata kepada Bilalz:

أَنْفِقْ يَا بِلَالُ، وَلاَ تَخْشَ مِنْ ذِيْ العَرْشِ إِقْلاَلاً

“Berinfaklah wahai Bilal! Jangan engkau khawatir menjadi fakir dan tidak memiliki apa-apa dari Dzat Pemilik Arsy.” (diriwayatkan dalam Syu’abul Iman, dishahihkan Al-Imam Al-Albani t karena banyak jalan/jalurnya. Lihat Al-Misykat hadits no. 1885)

Alangkah kuatnya jaminan yang diberikan untuk orang yang berinfak! Apakah mungkin Dzat yang memiliki Arsy, Allah l, akan menghinakan orang yang berinfak di jalan-Nya sehingga akhirnya orang itu meninggal dalam keadaan fakir, tidak memiliki apa-apa? Tentu jawabnya tidak.

Asy-Syaikh Al-Mulla Ali Al-Qari t menjelaskan hadits di atas, “Apakah engkau takut Dzat yang mengatur perkara dari langit ke bumi akan menyia-nyiakan orang yang semisalmu? Maksudnya, apa engkau takut Dzat yang rahmat-Nya meliputi seluruh penduduk langit dan bumi, yang mukmin maupun yang kafir, burung-burung ataupun hewan melata, akan mengecewakan harapanmu dan menyedikitkan rezekimu?” (Mirqatul Mafatih, 4/389)

Nabi n pernah berkisah:

بَيْنَا رَجُلٌ بِفَلاَةٍ مِنَ الْأَرْضِ، فَسَمِعَ صَوْتًا فِي سَحَابَةٍ: اسْقِ حَدِيْقَةَ فُلاَنٍ. فَتَنَحَّى ذَلِكَ السَّحَابُ، فَأَفْرَغَ مَاءَهُ فِي حَرَّةٍ، فَإِذَا شَرْجَةٌ مِنْ تِلْكَ الشِّرَاجِ قَدِ اسْتَوْعَبَتْ ذَلِكَ الْمَاءَ كُلَّهُ. فَتَتَبَّعَ الْمَاءَ، فَإِذَا رَجُلٌ قَائِمٌ فِي حَدِيْقَتِهِ يُحَوِّلُ الْمَاءَ بِمِسْحَاتِهِ. فَقَالَ لَهُ: يَا عَبْدَ اللهِ، مَا اسْمُكَ؟ قَالَ: فُلاَنٌ؛ لِلْاِسْمِ الَّذِي سَمِعَ فِي السَّحَابَةِ. فَقَالَ لَهُ: يَا عَبْدَ اللهِ، لِمَ تَسْأَلُنِي عَنِ اسْمِي؟ فَقَالَ: إِنِّي سَمِعْتُ صَوْتًا فِي السَّحاَبِ الَّذي هَذا مَاؤُهُ، يَقُوْلُ: اسْقِ حَدِيْقَةَ فُلاَنٍ؛ لِاسْمِكَ، فَمَا تَصْنَعُ فِيْهَا؟ قَالَ: أَمَّا إِذَا قُلْتَ هَذَا، فَإِنِّي أَنْظُرُ إِلَى ماَ يَخْرُجُ مِنْهَا، فَأَتَصَدَّقَ بِثُلُثِهِ، وَآكُلُ أَنَا وَعِيَالِي ثُلُثًا، وَأَرُدُّ فِيْهَا ثُلُثَهُ -وَفِي رِوَايَةٍ: وَأَجْعَلُ ثُلُثَهُ فِي الْمَسَاكِيْنِ وَالسَّائِلِْينَ وَابْنِ السَّبِيْلِ

Tatkala seorang lelaki berada di padang yang luas, ia mendengar sebuah suara di awan, “Airilah kebun si Fulan.” Maka awan tersebut mengarah ke suatu tempat, lalu ia mencurahkan airnya di tanah yang bercampur bebatuan hitam. Ternyata satu selokan dari beberapa selokan yang ada telah menampung air hujan itu seluruhnya. Lelaki tersebut mengikuti aliran air, pada akhirnya membawanya bertemu dengan seorang lelaki yang berdiri di kebunnya sedang memindahkan air dengan cangkulnya. Ia pun bertanya, “Wahai hamba Allah! Siapakah namamu?”

“Fulan,” jawabnya, dengan menyebut nama yang didengarnya di awan. “Wahai hamba Allah! Mengapa engkau menanyakan namaku?” si pemilik kebun balik bertanya. “Aku mendengar sebuah suara di awan yang mencurahkan airnya ke kebunmu ini, awan itu berkata, ‘Airilah kebun si Fulan.’ Dengan menyebut namamu. Maka aku ingin tahu apa yang engkau lakukan pada kebunmu ini sehingga engkau mendapat pengkhususan demikian,” katanya meminta penjelasan. Si pemilik kebun menjelaskan, “Adapun bila memang seperti yang engkau katakan, maka aku biasa melihat hasil panen kebunku ini untuk aku sedekahkan sepertiganya. Sepertiga lagi untuk aku makan berikut keluargaku, dan sepertiga yang tersisa aku kembalikan ke kebunku (untuk keperluan menanam kembali).”

Dalam satu riwayat, “Aku berikan sepertiganya untuk orang-orang miskin, peminta-minta, dan ibnu sabil.” (HR. Muslim no. 7398)

Al-Imam An-Nawawi t berkata, “Hadits ini menunjukkan keutamaan sedekah dan berbuat baik kepada orang miskin dan ibnu sabil. Sebagaimana hadits ini menunjukkan keutamaan seseorang yang makan dari hasil usaha/ keringatnya sendiri dan keutamaan memberi infak kepada keluarga.” (Al-Minhaj, 18/315)

 

Infak untuk Penuntut Ilmu Syar’i

Anas bin Malik z berkata:

كَانَ أَخَوَانِ عَلَى عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ n، فَكَانَ أَحَدُهُمَا يَأْتِي النَّبِيَّ n -وَفِي رِوَايَةٍ: يَحْضُرُ حَدِيْثَ النَّبِيِّ n وَمَجْلِسَهُ- وَالْآخَرُ يَحْتَرِفُ. فَشَكَا الْمُحْتَرِفُ أَخَاهُ إِلَى النَّبِيَّ n (فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، إِنَّ هَذَا أَخِيْ لاَ يُعِيْنُنِيْ بِشَيْءٍ) فَقَالَ: لَعَلَّكَ تُرْزَقُ بِهِ

Ada dua orang bersaudara di masa Rasulullah n yang satu biasa mendatangi Nabi n (dalam satu riwayat: ia menghadiri hadits Nabi n dan mejelis beliau) sedangkan yang satunya lagi sibuk bekerja. Suatu ketika yang bekerja mengadukan saudaranya kepada Nabi n. (Ia berkata, “Wahai Rasulullah, saudaraku ini tidak membantuku sedikitpun untuk mencari penghidupan.”) Nabi n malah mengatakan, “Mungkin kamu diberi rezeki karena dia.” (HR. At-Tirmidzi no. 2345, dishahihkan dalam Al-Misykat no. 5308 dan Ash Shahihah no. 2769)

Al-Mubarakfuri menjelaskan hadits ini, “Mungkin kamu diberi rezeki karena dia.” Maksudnya aku berharap dan aku khawatir kamu diberi rezeki justru karena barakah saudaramu itu karena dia diberi rezeki dari hasil pekerjaanmu. Oleh sebab itu kamu jangan merasa telah memberi anugerah kepadanya dengan perbuatanmu.” (Tuhfatul Ahwadzi, Kitabuz Zuhd, bab At-Tawakkul ‘alallah)

Hadits di atas menunjukkan bahwa memberi infak kepada penuntut ilmu syar’i yang mempelajari agama Allah l, belajar Al-Qur’an dan hadits-hadits nabawi, juga termasuk kunci rezeki.

 

Berbuat Baik Kepada Orang-Orang Lemah

Mush’ab ibnu Sa’d ibnu Abi Waqqash menceritakan bahwa ayahnya, Sa’d z merasa punya kelebihan/keutamaan dibanding para sahabat yang lain, maka Nabi n mengingatkan:

هَلْ تُنْصَرُوْنَ وَتُرْزَقُوْنَ إِلاَّ بِضُعَفَائِكُمْ

“Tidakkah kalian ditolong terhadap musuh-musuh kalian, dan tidakkah kalian diberi rezeki melainkan karena orang-orang lemah kalian?” (HR. Al-Bukhari no. 2896)

Al-Muhallab berkata sebagaimana dinukil dalam Fathul Bari (6/109), “Nabi n menginginkan dengan ucapan tersebut untuk mendorong Sa’d agar tawadhu’, tidak menyombongkan diri di hadapan orang lain dan tidak meremehkan seorang muslim dalam seluruh keadaan.”

Dengan demikian, siapa yang ingin mendapatkan pertolongan Allah l dan beroleh rezeki dari-Nya, hendaklah ia berbuat baik kepada orang-orang lemah dari kalangan orang fakir, miskin, anak yatim, janda dan semisalnya. Mengapa pertolongan Allah l diberikan lewat mereka? Diterangkan Al-Mundziri bahwa ibadah orang-orang lemah dan doa mereka lebih ikhlas, karena hati mereka bersih dari ketergantungan terhadap perhiasan dunia. Juga karena keinginan mereka itu satu, makanya doa mereka dikabulkan dan amalan mereka bersih. (‘Aunul Ma’bud, kitabul Jihad, bab fil Intishar bi Radzlil Khail wadh Dha’fah)

Nabi yang mulia n pernah menyatakan bahwa ridha beliau didapatkan dengan berbuat ihsan/kebaikan kepada orang-orang lemah. Al-Imam Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim meriwayatkan dari Abud Darda z, ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah n bersabda:

أَبْغُوْنِي الضُّعَفَاءَ،  فَإِنَّمَا  تُرْزَقُوْنَ  وَتُنْصَرُوْنَ بِضُعَفَائِكُمْ

“Carilah keridhaanku dengan berbuat baik kepada orang-orang lemah kalian, karena kalian diberi rezeki dan ditolong disebabkan orang-orang lemah kalian.” (Dishahihkan Al-Imam Al-Albani t dalam Ash-Shahihah no. 779)

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.


1 Nama lainnya Lubabut Ta’wil fi Ma’anit Tanzil, karya ‘Alauddin ibnu Ali ibni Muhammmad ibni Ibrahim Al-Baghdadi, semoga Allah l merahmati beliau, yang masyhur dengan sebutan Al-Khazin, wafat tahun 725 H.
2 Beliau adalah Al-Qadhi Abu Muhammad Abdul Haq ibnu Ghalib ibnu Athiyyah Al-Andalusi t, wafat tahun 546 H.

Kedudukan Zakat dalam Agama Islam

(ditulis oleh: Al-Ustadz Saifuddin Zuhri, Lc)

 

الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، جَعَلَ فِيْ أَمْوَالِ الْأَغْنِيَاءِ حَقًّا لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِيْنِ، وَلِلْمَصَارِفِ الَّتِي بِهَا صَلاَحُ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاه مُخْلِصِيْنَ مُوَحِّدِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الصَّادِقُ الْأَمِيْنُ صَلَّى اللهُ عَلَيْه وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ:

أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوْا اللهَ تَعَالىَ وَأَدُّوْا مَا أَوْجَبَ اللهُ عَلَيْكُمْ فِيْ أَمْوَلِكُمْ.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Segala puji dan syukur kita panjatkan ke hadirat Allah l atas berbagai nikmat dan karunia-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang senantiasa mengikuti petunjuknya.
Hadirin rahimakumullah,
Sesungguhnya seorang mukmin tidak dikatakan sebagai mukmin yang sebenar-benarnya kecuali jika dia telah menundukkan dirinya untuk menerima dan menjalankan syariat Allah l. Di antara kewajiban paling besar dari kewajiban-kewajiban yang Allah l perintahkan, adalah kewajiban menunaikan zakat. Bahkan kewajiban ini merupakan rukun Islam yang ketiga dan senantiasa diiringkan penyebutannya dengan kewajiban shalat dalam banyak ayat di dalam Al-Qur’an.
Oleh karena itu wajib bagi setiap muslim yang terpenuhi pada dirinya syarat-syarat yang mewajibkan zakat untuk menunaikannya. Seperti orang yang memiliki emas atau perak, maka wajib baginya untuk mengeluarkan zakatnya apabila emas dan perak yang dimilikinya telah mencapai nishab serta setelah melewati haul (yaitu satu tahun) juga masih mencapai nishab. Adapun besarnya zakat yang harus dikeluarkan adalah 2,5% (dua setengah persen) dari berat emas atau perak yang dimilikinya. Begitu pula orang yang memiliki uang senilai nishab emas atau perak, maka wajib untuk dikeluarkan zakatnya apabila setelah satu tahun jumlah uang yang dimilikinya masih mencapai nishab. Namun apabila uang yang dimilikinya tidak pernah mencapai nishab maka tidak ada kewajiban untuk dikeluarkan zakatnya, meskipun dia mendapatkan gaji setiap bulannya. Begitu pula jika uang yang dimilikinya telah mencapai nishab, namun sebelum satu tahun uang tersebut (sebagian atau seluruhnya) telah dipakai sehingga tidak lagi mencapai nishab atau sebelum melewati satu tahun si pemilik uang tersebut meninggal dunia, maka tidak ada kewajiban untuk dikeluarkan zakatnya. Adapun lebih lengkapnya tentang hal-hal yang berkaitan dengan zakat maka bisa dipelajari atau ditanyakan dalam majelis-majelis ilmu.
Hadirin rahimakumullah,
Kewajiban zakat, memiliki faedah dan maslahat yang besar. Di antaranya adalah sebagai bentuk bantuan kepada fakir miskin dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Begitu pula, untuk membersihkan jiwa orang yang mengeluarkannya sehingga memiliki sifat kasih sayang, kepedulian, serta terbebas dari sifat yang tercela seperti bakhil, kikir, dan semisalnya. Disamping itu, kewajiban zakat ini juga bisa menghilangkan pada diri fakir miskin sifat iri, dengki, serta menginginkan apa yang dimiliki orang lain. Sehingga dengan ditunaikannya kewajiban zakat ini, akan terwujud hubungan yang penuh kasih sayang dan saling menghormati terutama di antara orang yang kaya dengan fakir miskin. Allah l menyebutkan dalam firman-Nya:
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, yang dengan zakat itu kamu akan membersihkan mereka (dari akhlak yang jelek) dan menyucikan mereka (sehingga memiliki akhlak yang mulia) serta berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (At-Taubah: 103)
Termasuk juga dari hikmahnya adalah bahwa kewajiban zakat akan menjadi sebab bertambahnya atau semakin barakahnya harta orang yang mengeluarkannya. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam firman Allah l:
“Dan apa saja yang kamu keluarkan (di jalan Allah l), maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” (Saba’: 39)
Hadirin rahimakumullah,
Ketahuilah bahwasanya seorang muslim yang mengingkari kewajiban zakat, sebagaimana diterangkan para ulama, dia dihukumi sebagai orang kafir yang keluar dari agamanya. Adapun orang yang meyakini kewajibannya namun tidak mau mengeluarkan zakat karena bakhil atau pelit, maka dipaksa untuk mengeluarkannya zakatnya. Namun apabila dipaksa juga tidak bisa dilakukan, maka penguasa berhak untuk memeranginya, sebagaimana hal ini telah dilakukan oleh para sahabat g.
Jamaah jum’ah rahimakumullah,
Demikian hukuman bagi orang yang tidak mau mengeluarkan zakatnya di dunia. Bahkan mungkin pula Allah l akan menimpakan berbagai musibah sebagai hukuman lainnya atas mereka di dunia. Adapun hukumannya di akhirat, Allah l telah sebutkan di dalam firman-Nya:
“Maka janganlah sekali-kali orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi, dan Allah mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (Ali ‘Imran: 180)
Berkaitan dengan ayat ini, Rasulullah n bersabda:
مَنْ آتَاهُ اللهُ مَالاً فَلَمْ يُؤَدِّ زَكَاتَهُ مُثِّلَ لَهُ مَالُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ شُجَاعًا أَقْرَعَ لَهُ زَبِيْبَتَانِ يُطَوِّقُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثُمَّ يَأْخُذُ بِلِهْزِمَتَيْهِ (يَعْنِي بِشِدْقَيْهِ) ثُمَّ يَقُوْلُ: أَنَا مَالُكَ، أَنَا كَنْزُكَ…
“Barangsiapa yang diberi harta oleh Allah l namun tidak mau menunaikan zakatnya, pada hari kiamat hartanya akan dijadikan sebagai ular jantan yang aqra’ (banyak mengandung racun pada kepalanya), yang berbusa pada kedua sudut mulutnya. (Ular itu) dikalungkan pada lehernya pada hari kiamat, kemudian akan mencengkeram (tangan orang tersebut) dengan kedua rahangnya kemudian berkata: ‘Aku hartamu, aku harta simpananmu…’.” (HR. Al-Bukhari)
Di dalam ayat lainnya, Allah l berfirman:
“Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak, serta tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih. Pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: ‘Inilah harta benda kalian yang kalian simpan untuk diri kalian sendiri. Maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kalian simpan itu’.” (At-Taubah: 34-35)
Ayat ini pun telah dijelaskan oleh Nabi n dalam sabdanya:
مَا مِنْ صَاحِبِ ذََهَبٍ وَلاَ فِضَّةٍ لاَ يُؤَدِّي مِنْهَا حَقَّهَا إِلاَّ إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ صُفِّحَتْ لَهُ صَفَائِحُ مِنْ نَارٍ فَأُحْمِيَ عَلَيْهَا فِيْ ناَرِ جَهَنَّمَ فَيُكْوَى بِهَا جَنْبُهُ وَجَبِيْنُهُ وَظَهْرُهُ، كُلَّمَا بَرَدَتْ أُعِيْدَتْ لَهُ فِيْ يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِيْنَ أَلْفَ سَنَةٍ حَتَّى يُقْضَى بَيْنَ الْعِبَادِ فَيُرَى سَبِيْلُهُ، إِمَّا إِلَى الْجَنَّةِ وَإِمَّا إِلَى النَّارِ
“Tidaklah orang yang memiliki emas ataupun perak, yang tidak menunaikan haknya darinya (mengeluarkan zakatnya) kecuali pada hari kiamat nanti akan dijadikan lempengan-lempengan dari neraka kemudian dipanaskan di dalam neraka lalu dibakarlah dahi, lambung, dan punggungnya. Setiap lempengan itu dingin, akan dipanaskan kembali (untuk menyiksanya) pada hari yang satu hari ukurannya 50.000 tahun, sehingga diputuskan hukuman di antara hamba. Maka diketahui jalannya, ke surga atau ke neraka.” (Muttafaqun ‘alaih, dan ini lafadz Al-Imam Muslim t)
Hadirin rahimakumullah,
Maka jelaslah, betapa tingginya kedudukan zakat dalam Islam dan sudah semestinya bagi kita untuk memerhatikan masalah ini. Mudah-mudahan Allah l senantiasa memberikan kemudahan kepada kita untuk mampu menjalankan syariat-Nya. Wallahu a’lam bish-shawab.
Walhamdulillahi rabbil ‘alamin.
Khutbah Kedua:
الْحَمْدُ لِلهِ حَقَّ حَمْدِهِ وَالصَّلاَةُ عَلَى مَنْ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ وَعَلىَ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ وَاهْتَدَى بِهَدْيِهِ إِلَى يَوْمِ لِقَاهُ، أَمَّا بَعْدُ:
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Segala puji bagi Allah l atas kesempurnaan nama-nama-Nya yang husna dan seluruh sifat-Nya. Dialah Allah yang Maha Kaya yang tidak membutuhkan apapun dari hamba-hamba-Nya.
Hadirin rahimakumullah,
Sebagimana ibadah yang lainnya, zakat juga merupakan kewajiban yang telah ditetapkan aturannya di dalam syariat. Baik yang berkaitan dengan jenis harta yang harus dizakati maupun orang-orang yang berhak menerimanya. Oleh karena itu, tidak diperbolehkan bagi seseorang untuk menetapkannya dari dirinya sendiri tanpa ada landasan dari Al-Qur’an ataupun hadits yang shahih. Seperti menetapkan adanya zakat pada harta yang berupa rumah, tanah, kendaraan, dan yang semisalnya, padahal tidak ada dalil yang menunjukkan hal tersebut. Meskipun hal ini bukan berarti tidak menganjurkan pemiliknya untuk bersedekah membantu meringankan saudaranya yang tidak mampu. Bahkan hal ini tentunya sangat dianjurkan. Karena Allah l akan bersama dengan orang-orang yang berbuat baik, Nabi n juga menyebutkan dalam haditsnya:
مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيْهِ إِلاَّ مَلكَانِ يَنْزِلاَنِ فَيَقُوْلُ أَحَدُهُمَا: اللَهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا. وَيَقُوْلُ الْآخَرُ: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا
“Tidaklah ada satu hari pun yang seorang hamba berada di dalamnya kecuali pada pagi harinya turun dua malaikat, salah satunya berdoa: ‘Ya Allah, berikanlah kepada orang yang bersedekah pemberian yang lainnya.’ Sedangkan yang satunya lagi mengatakan: ‘Ya Allah, berikanlah kepada orang yang tidak bersedekah kehancuran apa yang dimilikinya.” (Muttafaqun ‘alaih)
Adapun tentang siapa saja yang berhak menerima zakat, Allah l telah menyebutkan di dalam firman-Nya:
“Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, amil zakat, para muallaf (yang dilembutkan) hati mereka (untuk menerima Islam), untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang terlilit hutang, untuk orang-orang yang berjihad, dan untuk musafir yang mendapatkan kesulitan dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (At-Taubah: 60)
Hadirin rahimakumullah,
Dari ayat tersebut, kita mengetahui bahwa orang yang kaya atau telah mampu untuk memenuhi kebutuhannya sehari-harinya untuk makan, minum, serta tempat tinggal dan semisalnya, tidak boleh baginya untuk menerima zakat. Nabi n bersabda:
مَنْ سَأَلَ النَّاسَ تَكَثُّرًا فَإِنَّمَا يَسْأَلُ جَمْرًا، فَلْيَسْتَقِلَّ أَوْ لِيَسْتَكْثِرْ
“Barangsiapa meminta-minta kepada orang untuk memperbanyak hartanya, maka sesungguhnya tidaklah yang dia minta kecuali bara api. Maka mungkin dia meminta sedikit atau dia meminta banyak (tergantung sebanyak apa dia memintanya).” (HR. Muslim)
Hadirin rahimakumullah,
Disamping itu, menurut pendapat sebagian besar para ulama, zakat juga tidak boleh diberikan untuk pembangunan masjid, madrasah serta untuk membiayai acara-acara taklim atau pengajian, dan yang semisalnya. Maka, marilah kita senantiasa bertakwa kepada Allah l dalam masalah kewajiban zakat ini.
Jangan sampai kita menyalahgunakan harta zakat atau membuat aturan baru terkait dengan kewajiban yang mulia ini. Bahkan kita harus senantiasa ingat bahwa sebaik-baik perkataan adalah kitab Allah l dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah n. Adapun sejelek-jelek perkara adalah aturan ibadah yang diada-adakan, dan perbuatan tersebut adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat.
Akhirnya, mudah-mudahan kita semua selalu diberi taufiq oleh Allah l, sehingga amal ibadah yang kita lakukan senantiasa dibangun di atas keikhlasan dan sesuai dengan syariat yang dibawa oleh Rasulullah n.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ وَعَنْ جَمِيْعِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمَ الدِّيْنِ.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِينَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِماتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّهُ سَمِيْعٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، اذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ الْجَلِيْلَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.

Zakat Perhiasan

Sesungguhnya saya berharap dari anda para ulama untuk menerangkan kepada saya dan saudara-saudara saya tentang zakat emas atau perhiasan emas yang disiapkan untuk dipakai, bukan untuk jual beli. Sebagian orang mengatakan bahwa yang demikian ada zakatnya baik untuk dipakai atau untuk diperdagangkan, dan bahwa hadits-hadits tentang zakat pada emas yang untuk dipakai lebih kuat daripada hadits-hadits yang datang serta menerangkan bahwa tidak ada zakatnya. Saya berharap dari anda para ulama untuk berkenan menjawab saya secara tertulis dengan jawaban yang jelas. Semoga Allah l membalas anda sekalian dengan kebaikan atas jasa anda sekalian terhadap Islam dan muslimin.
Jawab:
Para ulama sepakat tentang wajibnya zakat atas perhiasan emas dan perak bila itu adalah perhiasan yang haram untuk dipakai1, atau disiapkan untuk diperdagangkan atau sejenisnya.
Adapun bila itu adalah perhiasan yang diperbolehkan, yang disiapkan untuk dipakai atau dipinjamkan, seperti cincin perak dan perhiasan untuk kaum wanita serta apa yang dihalalkan dari perhiasan pada senjata, maka ulama telah berbeda pendapat dalam hal wajibnya zakat atasnya.
Sebagian mereka berpendapat wajib zakat padanya karena masuk dalam keumuman makna firman Allah l:
“Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih.” (At-Taubah: 34)
Al-Qurthubi t mengatakan dalam tafsirnya yang redaksinya berikut ini: Ibnu Umar c telah menerangkan –dalam Shahih Al-Bukhari– makna ini, di mana seorang Arab Badui mengatakan kepadanya: ‘Beritahukan kepadaku tentang firman Allah l:
”Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak.” (At-Taubah: 34)
Ibnu Umar c mengatakan: ”Barangsiapa menyimpannya lalu tidak menunaikan kewajibannya maka celakalah dia. Ini sebelum turunnya kewajiban zakat. Maka setelah turunnya kewajiban zakat, Allah l menjadikan zakat sebagai pembersih harta.”
Juga dengan alasan adanya hadits-hadits yang menegaskan wajibnya zakat. Di antaranya apa yang diriwayatkan Abu Dawud, An-Nasa’i, dan At-Tirmidzi dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya:
أَنَّ امْرَأَةً أَتَتْ رَسُولَ اللهِ n وَمَعَهَا ابْنَةٌ لَهَا وَفِى يَدِ ابْنَتِهَا مَسَكَتَانِ غَلِيظَتَانِ مِنْ ذَهَبٍ، فَقَالَ لَهَا: أَتُعْطِينَ زَكَاةَ هَذَا؟ قَالَتْ: لاَ. قَالَ: أَيَسُرُّكِ أَنْ يُسَوِّرَكِ اللهُ بِهِمَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ سِوَارَيْنِ مِنْ نَارٍ؟ قَالَ: فَخَلَعَتْهُمَا فَأَلْقَتْهُمَا إِلَى النَّبِيِّ n وَقَالَتْ: هُمَا لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلِرَسُولِهِ.
Seorang wanita datang kepada Nabi n dan bersamanya ada anak perempuannya. Di tangan anaknya melingkar dua gelang yang tebal dari emas. Maka Nabi n mengatakan kepadanya: “Apakah kamu telah memberikan zakatnya ini?” Ia menjawab: “Belum.” Nabi n berkata: “Apakah kamu senang bila Allah memakaikan gelang kepadamu sebagai ganti keduanya berupa gelang dari api neraka?” Maka ia melepaskan keduanya lalu melemparkannya kepada Rasulullah n sambil mengatakan: “Keduanya untuk Allah dan Rasul-Nya.”
Juga hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunan-nya, Al-Hakim dalam kitabnya Al-Mustadrak, Ad-Daruquthni, serta Al-Baihaqi dalam Sunan-nya dari Aisyah x, ia berkata:
دَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللهِ n فَرَأَى فِى يَدِي فَتَخَاتٍ مِنْ وَرِقٍ فَقَالَ: مَا هَذَا يَا عَائِشَةُ؟ فَقُلْتُ: صَنَعْتُهُنَّ أَتَزَيَّنُ لَكَ يَا رَسُولَ اللهِ. قَالَ: أَتُؤَدِّينَ زَكَاتَهُنَّ؟ قُلْتُ: لاَ -أَوْ مَا شَاءَ اللهُ-. قَالَ: هُوَ حَسْبُكِ مِنَ النَّارِ.
Rasulullah masuk menemuiku lalu beliau melihat di tanganku ada cincin dari perak, beliau pun berkata: “Apa ini, wahai Aisyah?” Aisyah menjawab: “Saya membuatnya untuk saya berhias dengannya untukmu, wahai Rasulullah.” “Apakah kamu sudah memberikan zakatnya?” Aku menjawab: “Belum”, atau “Masya Allah.” Nabi bersabda: “Itu cukup bagimu dari neraka.”
Juga apa yang mereka riwayatkan dari Ummu Salamah x, ia mengatakan:
كُنْتُ أَلْبَسُ أَوْضَاحًا مِنْ ذَهَبٍ فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَكَنْزٌ هُوَ؟ فَقَالَ: مَا بَلَغَ أَنْ تُؤَدَّى زَكَاتُهُ فَزُكِّيَ فَلَيْسَ بِكَنْزٍ.
Aku memakai perhiasan dari emas, maka aku mengatakan: “Wahai Rasulullah, apakah ini termasuk kanzun (harta simpanan yang pemiliknya diancam oleh Allah l)?” Beliau menjawab: “Apa yang mencapai batas untuk ditunaikan zakatnya lalu dizakati maka itu bukanlahh termasuk kanzun.”
Sementara sebagian ulama berpendapat bahwa tidak ada zakat atasnya. Dengan argumen bahwa dengan dipakainya hukum yang mubah maka (perhiasan) itu sejenis dengan pakaian dan barang-barang yang lain, bukan dari jenis sesuatu yang berharga.
Mereka menjawab dalil keumuman makna ayat (di atas) bahwa itu telah dikhususkan oleh amalan para sahabat. Karena telah terdapat riwayat dari Aisyah x dengan sanad yang shahih, bahwa beliau mengurusi anak-anak perempan dari saudara perempuan beliau yang yatim di pengasuhannya, dan mereka memiliki perhiasan di mana Aisyah x tidak mengeluarkan zakatnya.
Ad-Daruquthni juga meriwayatkan dengan sanadnya sampai kepada Asma’ bintu Abu Bakr c bahwa ia memakaikan anak-anak perempuannya emas dan ia tidak menzakatinya sekitar 50.000.
Abu Ubaid mengatakan dalam kitabnya Al-Amwal: “Isma’il bin Ibrahim telah mengabarkan kepada kami, dari Ayyub, dari Nafi’, dari Ibnu Umar c bahwa ia mengawinkan anak wanitanya dengan mahar 10.000. Lalu menjadikan 4.000 sebagai perhiasannya. Ia berkata: Mereka tidak memberikan dari hiasan itu, yakni zakatnya.”
Beliau berkata juga: “Isma’il bin Ibrahim telah mengabarkan kepada kami, dari Ayyub, dari ‘Amr bin Dinar, ia berkata: Jabir bin Abdillah z ditanya, “Apakah dalam perhiasan ada zakatnya?” Ia berkata: “Tidak.” Ditanya lagi, “Walaupun mencapai 10.000?” Ia menjawab: “Banyak.”
Mereka menjawab tentang hadits-hadits yang menyebutkan wajibnya zakat pada perhiasan tersebut, bahwa dalam sanad-sanadnya terdapat kelemahan.
Ibnu Hazm dalam kitab Al-Muhalla menyifati bahwa riwayat-riwayat itu adalah riwayat yang lemah, tidak ada alasan untuk menyibukkan dengannya.
At-Tirmidzi mengatakan setelah menyebutkan hadits Amr bin Syu’aib dari ayahya dari kakeknya: “Tidak ada hadits yang shahih sedikitpun dari Nabi n dalam masalah ini.”
Ibnu Badr Al-Maushili t mengatakan dalam kitabnya Al-Mughni ‘Anil Hifzhi wal Kitab fima la Yashihhu fihi Syai’un minal Ahadits fil Bab: “Bab Zakat perhiasan, tidak ada yang shahih dalam bab ini sedikitpun dari Nabi.”
Disebutkan pula oleh Asy-Syaukani t dalam kitab As-Sailul Jarrar mengomentari apa yang ada dalam kitab Al-Mughni ‘Ani Hifzhi wal Kitab, tidak terdapat dalam hal zakat perhiasan hadits yang shahih, sebagian mengatakan: “Zakatnya adalah peminjamannya.”
Yang terkuat dari dua pendapat, adalah pendapat ulama yang mengatakan wajibnya zakat perhiasan, bila mencapai nishab2, atau si pemiliknya memiliki emas dan perak, atau barang dagangan yang mengantarkannya mencapai nishab, dengan dalil dan alasan keumuman makna hadits-hadits yang mewajibkan zakat emas dan perak3 serta tidak ada yang mengkhususkannya4 dengan sanad yang shahih, sepengetahuan kami. Juga berdasarkan hadits-hadits Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash, ‘Aisyah, dan Ummu Salamah gyang telah lalu, dan itu adalah hadits-hadits yang sanadnya bagus, tidak ada cacat yang berpengaruh padanya. Maka wajib kita mengamalkannya.
Adapun penganggapan lemah dari Al-Imam At-Tirmidzi, Ibnu Hazm, dan Al-Maushili, maka tidak ada alasannya sepengetahuan kami. Sedangkan At-Tirmidzi, beliau mendapat udzur pada apa yang beliau sebutkan karena beliau menyebutkan sanad hadits Abdullah bin ‘Amr c dari jalan yang lemah. Sementara telah diriwayatkan oleh Abu Dawud dan An-Nasa’i, juga Ibnu Majah, dari jalan lain yang shahih. Barangkali beliau belum mengetahuinya.
Allah l lah yang memberi taufiq, semoga Allah k memberikan shalawatnya dan salam-Nya kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.
Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Buhuts Al-Ilmiyyah wal Ifta’ (Panitia tetap untuk pembahasan ilmiah dan fatwa)
Ketua: Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
Wakil: Abdurrazzaq Afifi
Anggota: Abdullah bin Qu’ud dan Abdullah bin Ghudayyan

1 Misalnya emas bagi kaum laki-laki, karena dalam hadits yang diriwayatkan Ali bin Abi Thalib z, disebutkan: Nabi n mengambil sutera dan memegangnya dengan tangan kanan beliau, lalu mengambil emas dan memegangnya di tangan kiri beliau, kemudian bersabda:
إِنَّ هَذَيْنِ حَرَامٌ عَلَى ذُكُورِ أُمَّتِي
“Sesungguhnya dua benda ini haram bagi kaum lelaki umatku.” (HR. Abu Dawud)
2 Nishabnya bila emas, 20 dinar setara dengan kira-kira 85 gram dan bila perak, 200 dirham setara dengan kira-kira 595 gram. Namun ada sedikit perbedaan pendapat dalam penentuan dinar dan dirham dalam gram.
3 Sehingga mencakup yang dijadikan perhiasan.
4 Misal, mengkhususkan yang bukan perhiasan saja yang wajib.

Bernadzar Tanpa Melafadzkannya

Wajibkah saya menunaikan kaffarah nadzar yang hanya terbersit dalam hati (nadzar tersebut tidak saya ucapkan dengan lisan) dan apakah pilihan kaffarah juga harus urut sedangkan saya belum bekerja?
Abu Musa, Temanggung, Jawa Tengah
Dijawab Oleh: Al-Ustadz Abu ‘Abdillah Muhammad Al-Makassari
Apa yang terbersit dalam qalbu (hati) tidak dianggap sebagai nadzar hingga dilafadzkan dengan lisan. Hal itu hanya sebatas niat untuk bernadzar dan tidak menjadi nadzar sampai benar-benar diucapkan dengan lisan.
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin t berkata dalam Syarhu Bulughil Maram1: “Nadzar adalah mewajibkan sesuatu atas dirinya, sama saja baik dengan lafadz nadzar, ‘ahd (perjanjian), atau yang lainnya.”
Dalam Asy-Syarhul Mumti’ (6/450-451)/Darul Atsar beliau berkata: “Nadzar menurut bahasa adalah mewajibkan, jika dikatakan: “Aku menadzarkan hal ini atas diriku” artinya “aku mewajibkannya atas diriku.”
Adapun secara syariat, nadzar adalah mewajibkan sesuatu dengan sifat yang khusus, yaitu amalan seorang mukallaf mewajibkan atas dirinya sesuatu yang dimilikinya dan bukan sesuatu yang mustahil. Suatu nadzar dianggap sah (sebagai nadzar) dengan ucapan (melafadzkannya), dan tidak ada shighah (bentuk ucapan) tertentu untuk itu. Bahkan seluruh shighah yang menunjukkan makna “mewajibkan sesuatu atas dirinya” maka dikategorikan sebagai nadzar. Apakah dengan mengucapkan:
لِلهِ عَلَيَّ عَهْدٌ
“Wajib atas diri saya suatu janji karena Allah”
atau mengucapkan:
لِلهِ عَلَيَّ نَذْرٌ
“Wajib atas diri saya suatu nadzar karena Allah,”
Ataukah lafadz-lafadz serupa yang menunjukkan bahwa seseorang mewajibkan sesuatu atas dirinya, seperti:
لِلهِ عَلَيَّ أَنْ أَفْعَلَ كَذَا
“Wajib atas diri saya untuk melakukan demikian”, meskipun tidak menyebut kata janji atau nadzar.
Berdasarkan keterangan ini, maka apa yang terbersit dalam qalbu anda tidak dianggap sebagai nadzar dan dengan sendirinya tidak ada pembicaraan tentang kaffarah nadzar. Wallahu a’lam.

1 Masih berupa rekaman.

Adzan dan Iqomat (bagian tiga)

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim Al-Atsari)

Adzan Dikumandangkan Pada Waktunya

Bila telah masuk waktu shalat, dikumandangkanlah adzan sebagai ajakan untuk menghadiri shalat berjamaah. Namun ada adzan yang diserukan sebelum masuk waktu shalat, yaitu adzan sebelum shalat subuh yang dikenal dengan adzan pertama. Kata Ibnu Hazm t, “Tidak boleh diserukan adzan untuk shalat sebelum masuk waktunya terkecuali shalat subuh saja (adzan pertama, pen.).” (Al-Muhalla, 2/159)

Untuk subuh memang ada dua adzan. Adzan pertama dikumandangkan beberapa waktu sebelum shalat subuh dengan tujuan membangunkan orang yang tidur, mengingatkan orang yang shalat tahajjud/qiyamul lail agar tidur sejenak hingga nantinya mengerjakan shalat subuh dalam keadaan segar. Tujuan lainnya, agar orang yang ingin puasa keesokan harinya bisa segera makan sahur. Adapun adzan kedua diserukan ketika masuk waktunya1.

Ibnu Umar c berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah n bersabda:

إِنَّ بِلاَلاً يُؤَذِّنُ بِلَيْلٍ، فَكُلُوْا وَاشْرَبُوا حَتَّى يُنَادِيَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُوْمٍ. ثُمَّ قَالَ: وَكَانَ رَجُلاً أَعْمَى لاَ يُنَادِي حَتَّى يُقَالَ لَهُ: أَصْبَحْتَ، أَصْبَحْتَ

“Sesungguhnya Bilal adzan di waktu malam, maka makan dan minumlah kalian (yang berniat puasa di esok hari) sampai Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan adzan.” Kemudian Ibnu Umar c berkata, “Ibnu Ummi Maktum adalah seorang yang buta. Ia tidak mengumandangkan adzan sampai ada yang berkata kepadanya, ‘Engkau telah berada di waktu pagi/subuh, engkau telah berada di waktu pagi/subuh’.” (HR. Al-Bukhari no. 617 dan Muslim no. 2533)

Jarak antara dua adzan ini tidaklah berjauhan, sebagaimana diisyaratkan dalam ucapan Ibnu Umar c dari hadits di atas yang diriwayatkan Al-Imam Muslim t:

وَلَمْ يَكُنْ بَيْنَهُمَا إِلاَّ أَنْ يَنْزِلَ هَذَا وَيَرْقَى هَذَا.

“Tidaklah jarak antara kedua adzan ini kecuali sekadar muadzin yang satu turun dari tempatnya beradzan dan muadzin yang lain naik.”

Al-Imam An-Nawawi t menjelaskan: Para ulama mengatakan, “Makna kalimat di atas adalah Bilal biasa mengumandangkan adzan sebelum fajar. Setelah itu ia mengisi waktunya dengan berdoa dan semisalnya. Kemudian ia melihat-lihat fajar. Apabila telah dekat terbitnya fajar, ia turun untuk mengabarkannya kepada Ibnu Ummi Maktum. Maka Ibnu Ummi Maktum pun bersiap-siap dengan bersuci dan selainnya. Setelahnya ia naik dan mulai mengumandangkan adzan bersamaan dengan awal terbitnya fajar. Wallahu a’lam.” (Al-Minhaj, 7/203)

Al-Imam Al-Albani t dalam Tamamul Minnah (hal. 146) memperkirakan adzan pertama itu diserukan sekitar seperempat jam sebelum masuk waktu shalat subuh.

Faedah

Termasuk sunnah yang ditinggalkan oleh kaum muslimin pada hari ini adalah tidak mengangkat/menjadikan dua muadzin (penyeru/pengumandang adzan) dalam adzan fajar, yang dengannya dapat dibedakan muadzin pada adzan yang pertama dengan muadzin pada adzan yang kedua. (Tamamul Minnah, hal. 148)

Tambahan dalam Lafadz Adzan

Telah kita sebutkan adanya tiga macam sifat adzan:

1. Adzan yang lafadznya sejumlah 19 kalimat

2. Adzan yang lafadznya sejumlah 17 kalimat

3. Adzan yang lafadznya sejumlah 15 kalimat.

Tidak dibolehkan menambah lafadz adzan dari lafadz-lafadz yang telah ada kecuali dalam dua tempat:

Tempat pertama: Dalam adzan yang pertama (bukan yang kedua) pada adzan subuh,  setelah      mengucapkan    lafadz: حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ, disyariatkan menyerukan tatswib yaitu ucapan: الصَّلاَةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ sebanyak dua kali. Dalilnya antara lain:

– Hadits Anas bin Malik z yang sifatnya umum:

مِنَ السُّنَّةِ إِذَا قَالَ الْمُؤَذِّنُ فِي أَذَانِ الْفَجْرِ: حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ، قَالَ: الصَّلاَةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ، الصَّلاَةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ

“Termasuk sunnah bila muadzin mengatakan dalam adzan fajar: hayya ‘alal falah, setelahnya ia mengatakan: ash-shalatu khairun minan naum, ash-shalatu khairun minan naum.” (HR. Ad-Daraquthni no. 90, Ibnu Khuzaimah, Al-Baihaqi 1/432, dan ia mengatakan, “Sanadnya shahih.”)

– Hadits Abu Mahdzurah z2, ia mengabarkan, bahwa Nabi n mengajarinya mengucapkan: الصَّلاَةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ، الصَّلاَةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ  pada adzan yang awal dari subuh. Haditsnya diriwayatkan oleh Ath-Thahawi t (no. 809), Al-Imam Al-Albani t berkata, “Sanadnya jayyid.” (Ats-Tsamar, 1/131)

– Hadits Ibnu ‘Umar c, ia berkata:

كَانَ فِي الْأَذَانِ الْأَوَّلِ بَعْدَ الْفَلاَحِ: الصَّلاَةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ، الصَّلاَةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ

“Adalah dalam adzan yang awal setelah hayya ‘alal falah, diserukan: ash-shalatu khairun minan naum (shalat itu lebih baik daripada tidur), ash-shalatu khairun minan naum.” (HR. Al-Baihaqi 1/423, Ath-Thahawi no. 811, dan sanadnya hasan kata Al-Hafizh Ibnu Hajar t dalam At-Talkhish, 1/331)

Masih banyak hadits lain namun dalam sanad-sanadnya ada kelemahan.

Al-Imam Ash-Shan’ani t berkata setelah membawakan riwayat An-Nasa’i (no. 647) tentang adzan Abu Mahdzurah z untuk Rasulullah n pada adzan fajar yang awal dengan mengucapkan الصَّلاَةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ3, “Dalam riwayat ini ada taqyid (pengikatan/pembatasan) bagi riwayat-riwayat yang menyebutkan secara mutlak/umum.” Ibnu Ruslan t berkata, “Ibnu Khuzaimah t menshahihkan riwayat ini.”

Beliau juga mengatakan, “Pensyariatan tatswib hanyalah dalam adzan yang awal dari fajar, karena tujuannya membangunkan orang yang tidur. Adapun adzan yang kedua adalah untuk memberitahukan masuknya waktu shalat fajar/subuh serta ajakan untuk mengerjakan shalat.” (Subulus Salam, 2/47)

Al-Imam Al-Albani t berkata, “Ketahuilah, sejauh pengetahuan kami tidak satu pun dari riwayat yang ada yang secara jelas menyebutkan, ucapan: اَلصَّلاَةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ diserukan dalam adzan kedua dari adzan subuh. Bahkan hadits yang ada dalam masalah ini ada dua bagian: di antaranya secara jelas menyebutkan bahwa tambahan itu diucapkan dalam adzan yang awal sebagaimana dalam hadits Abu Mahdzurah dan Ibnu Umar c. Bagian kedua, hadits yang mutlak/umum, tidak menyebutkan adzan awal atau adzan kedua, sebagaimana disebutkan dalam hadits Anas, dan hadits-hadits lain yang tidak shahih sanadnya. Hadits yang mutlak ini dibawa kepada hadits-hadits yang muqayyad (ada pembatasan/penentuannya) sebagaimana dinyatakan dalam kaidah-kaidah yang ada. Berdasarkan hal ini, الصَّلاَةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ bukanlah termasuk lafadz adzan yang disyariatkan sebagai ajakan mengerjakan shalat dan sebagai pengabaran masuknya waktu shalat. Tetapi lafadz ini termasuk lafadz yang disyariatkan untuk membangunkan orang yang tidur.” (Ats-Tsamar 1/132,133)

Sebagian ahlul ilmi yang lain berpandangan bahwa lafadz tatswib itu pada adzan masuknya waktu subuh (adzan kedua dalam pandangan di atas). Mereka berhujjah bahwa adzan pertama adalah ketika masuknya waktu subuh, bukan adzan yang dikumandangkan sebelum masuk waktu yang sebagai peringatan bagi orang yang tidur untuk menegakkan qiyamul lail atau bagi seorang yang hendak makan sahur.

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin t menyatakan bahwa tatswib memang diucapkan pada adzan yang awal dari shalat subuh. Namun sebagian orang telah salah sangka di mana mereka menganggap bahwa adzan yang awal itu adalah yang diserukan pada akhir malam (adzan pertama dalam pandangan di atas). Padahal di sini yang diinginkan adalah adzan masuknya waktu subuh, juga untuk membedakannya dengan iqamat, karena iqamat juga dinamakan adzan karena berisi pemberitahuan untuk menegakkan shalat seperti tersebut dalam hadits yang shahih:

بَيْنَ كُلِّ أَذَنَيْنِ صَلاَةٌ

“Di antara setiap dua adzan (adzan pemberitahuan waktu shalat dan iqamat, pen.) ada shalat (sunnah).” (HR. Al-Bukhari no. 627)

Adzan secara bahasa bermakna pemberitahuan, iqamat juga pemberitahuan. Dengan begitu, yang dimaksudkan dengan adzan awal di dalam hadits yang menyebutkan tentang hal ini adalah adzan yang dikumandangkan setelah terbit fajar, karena adzan yang dikumandangkan sebelumnya bukanlah untuk pelaksanaan shalat fajar/subuh. (Asy-Syarhul Mumti’ 2/61-64, Fathu Dzil Jalali wal Ikram bi Syarhi Bulughil Maram, 2/135-137)

Tempat kedua: Apabila turun hujan atau di malam yang sangat dingin maka setelah mengucapkan lafadz: حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ atau selesai adzan4, ataupun dengan mengganti  lafadz حَيَّ عَلَى الْصَّلاَة, muadzin mengatakan: صَلُّوا فِي الرِّحَالِ (shalatlah kalian di tempat/rumah kalian) atau mengatakan: وَمَنْ قَعَدَ فَلاَ حَرَجَ (siapa yang tetap duduk di tempatnya/tidak datang ke masjid untuk berjamaah, maka tidak ada dosa baginya) ataupun lafadz semisalnya. Tentang tambahan ini disebutkan dalam beberapa hadits:

1. Abdullah ibnul Harits berkata, “Ibnu Abbas c pernah berkhutbah di hadapan kami pada saat turun hujan. Di saat muadzin yang sedang mengumandangkan adzan sampai pada ucapannya: حَيَّ عَلَى الْصَّلاَة , Ibnu Abbas c menyuruhnya agar menyeru:

الصَّلاَةُ فِي الرِّحَالِ

Maka sebagian yang hadir saling memandang dengan yang lain. Ibnu Abbas c pun menjelaskan, “Telah melakukan hal ini orang yang lebih baik darinya.” (HR. Al-Bukhari no. 616 dan Muslim no. 1602).

Al-Imam Muslim dalam Shahihnya (no. 1602) meriwayatkan dengan lafadz, “Bahwa Ibnu Abbas c berkata kepada si muadzin pada saat turun hujan, “Bila engkau telah menyerukan:

أَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ أَشْهَدُ أن مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ

Jangan engkau mengatakan:

حَيَّ عَلَى الْصَّلاَةِ

Tapi serukanlah:

صَلُّوا فِي بُيُوْتِكُمْ

Riwayat Al-Imam Muslim ini menunjukkan bahwa muadzin dalam adzannya tidak menyerukan: حَيَّ عَلَى الْصَّلاَة tapi diganti dengan الصَّلاَةُ فِي الرِّحَالِ . Sebagian muhadditsin berpendapat demikian. Ibnu Khuzaimah diikuti oleh Ibnu Hibban, kemudian Al-Muhibb Ath-Thabari, semoga Allah l merahmati mereka semuanya, membuat satu bab dalam kitab mereka tentang dihapusnya  lafadz: حَيَّ عَلَى الْصَّلاَة pada saat hujan.

2. Nafi’ berkata, “Ibnu Umar c adzan pada suatu malam yang dingin di Dhajnan. Ia berkata ketika itu: صَلُّوا فِي رِِحَالِكُمْ, lalu ia mengabarkan bahwa Rasulullah n dulunya memerintahkan seorang muadzin mengumandangkan adzan, kemudian setelah adzan menyerukan: أَلاَ صَلُّوا فِي الرِّحَال di malam yang dingin atau malam saat turun hujan dalam suatu safar.” (HR. Al-Bukhari no. 632 dan Muslim no. 1598, 1599, 1600)

3. Nu’aim ibnun Nahham berkata, “Muadzin Nabi n mengumandangkan adzan di malam yang dingin sementara aku sedang berada di bawah selimutku. Maka aku berangan-angan andai Allah l melontarkan pada lisannya ucapan: وَلاَ حَرَجَ (tidak ada dosa bagi yang tidak datang berjamaah di masjid, pen.) Ternyata muadzin itu benar mengatakan: وَلاَ حَرَجَ. (Riwayat Abdurrazzaq 1/502, dishahihkan Syaikhun Al-Muhaddits Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i t dalam Al-Jami’ush Shahih Mimma Laisa fish Shahihain, 2/66)

Dalam lafadz lain disebutkan bahwa Nu’aim mengatakan, “Andai muadzin itu menyerukan: وَمَنْ قَعَدَ فَلاَ حَرَجَ. Ternyata di akhir adzan si muadzin menyerukan demikian. (Dikeluarkan oleh Al-Imam Ahmad t dalam Musnad 4/220 dan dikuatkan oleh Al-Imam Al-Albani dalam Al-Irwa’ 2/342)

Satu Kali Adzan Untuk Shalat Jama’

Bila shalat dikerjakan dengan jama’, baik jama’ taqdim atau jama’ ta’khir maka cukup satu kali adzan5 sebagaimana dilakukan Rasulullah n ketika di Arafah dan Muzdalifah. Seperti tersebut dalam kisah haji beliau n yang disampaikan oleh Jabir c dalam hadits yang panjang, diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim (2492) dan selainnya.

Satu Kali Adzan Untuk Beberapa Shalat Yang Luput Dikerjakan

Ibnu Mas’ud z mengabarkan, “Orang-orang musyrikin menyibukkan Rasulullah n dari mengerjakan empat shalat pada waktu perang Khandaq hingga berlalu sebagian waktu malam sesuai dengan apa yang Allah l inginkan. Beliau pun memerintahkan Bilal untuk adzan kemudian iqamat. Beliau mengerjakan shalat zuhur. Seselesainya dari shalat zuhur, Bilal iqamat, beliau lalu mengerjakan shalat ashar. Seselesainya, Bilal iqamat lagi, beliau pun mengerjakan shalat maghrib. Bilal iqamat lagi, beliau kemudian mengerjakan shalat isya. (HR. At-Tirmidzi no. 179 dan dihasankan Al-Imam Al-Albani t dalam Shahih At-Tirmidzi dan Al-Irwa’, 1/257)

Hal ini beliau lakukan sebelum disyariatkannya shalat khauf.

Syarat-syarat Adzan

Adzan memiliki beberapa syarat berikut ini:

1. Diucapkan secara berurutan, karena adzan itu ibadah maka tidak diterima kalau tidak sesuai dengan As-Sunnah.

2. Selesai lafadz yang satu menyusul lafadz berikutnya (susul-menyusul). Tidak boleh dipisahkan dengan waktu yang panjang, karena adzan merupakan ibadah yang satu sehingga tidak sah bila dipisahkan bagian-bagiannya, kecuali si muadzin beruzur seperti bersin atau batuk maka ia meneruskan adzannya.

3. Jumlah dan tambahannya sesuai yang disebutkan dalam As-Sunnah sehingga seseorang tidak menambah ataupun mengurangi terkecuali ada dalilnya.

Faedah

Telah kita ketahui bersama bahwasanya lafadz adzan dan jumlahnya datang dalam As-Sunnah dengan jumlah yang beragam, sehingga dalam pengamalannya diperkenankan pula dengan keragaman tersebut sebagaimana kaidah “Ibadah yang datang dengan beragam caranya sepantasnya bagi manusia untuk mengamalkan keragaman tersebut”. Di antara hikmah keragaman tersebut adalah:

– memudahkan bagi mukallaf, karena di antara amalan tersebut ada yang lebih ringan sehingga memudahkan pengamalannya.

– bisa menghadirkan hati dalam pengamalannya dan mengurangi kebosanan.

– penjagaan terhadap sunnah dengan keragamannya dan menyebarkannya di kalangan manusia.

– mengamalkan syariat dengan segala keragamannya.

Namun perlu dicamkan, pengamalan sunnah ini bukanlah artinya mengamalkannya walaupun menimbulkan kemudaratan. Karena ketika menimbulkan kemudaratan maka kemudaratan tersebut wajib untuk dihindari. Dalam kaidah fiqhiyah dikatakan “Menghindari kemudaratan (yang pasti dan nampak) lebih didahulukan daripada mengambil maslahat.”

Oleh karena itu, ketika hendak menyerukan keragaman adzan yang sunnah dalam keadaan bisa menimbulkan fitnah dan kesalahpahaman di kalangan manusia, karena mereka belum mengetahui perkara tersebut, maka di sini wajib bagi kita untuk menahan diri dan mencukupkan apa yang masyhur menurut mereka untuk sementara waktu, sampai mereka mendapatkan pengajaran dan bimbingan.

Nabi n dulunya meninggalkan pembangunan Ka’bah di atas fondasi Ibrahim karena khawatir terjadinya fitnah (dikeluarkan oleh Al-Bukhari no. 126 dan Muslim no. 1333). Demikian pula beliau n hendak menginfaqkan perbendaharaan Ka’bah di jalan Allah l, namun karena mengkhawatirkan terjadinya kesalahpahaman dan fitnah pada kaum muslimin di Makkah yang baru masuk Islam, akhirnya beliau pun menahan diri dan mengurungkannya.

Oleh karena itu, sepantasnyalah diajarkan kepada manusia terlebih dahulu tentang keragaman sunnah tersebut. Sehingga apabila hati mereka telah menerima, mapan dan tenang, lapang jiwa mereka dengan pengajaran dan bimbingan, insya Allah l akan dapat ditegakkan amalan tersebut dan diperoleh maksud penegakan As-Sunnah tanpa fitnah, kekacauan dan kesalahpahaman. Rasulullah n bersabda:

بَشِّرُوا وَلاَ تُنَفِّرُوا وَيَسِّرُوْا وَلاَ تُعَسِّرُوا

“Gembirakanlah dan jangan kalian membuat lari orang-orang, ringankanlah dan jangan mempersulit.” (HR. Muslim no. 4500)

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

4. Ketika diucapkan tidak boleh ada lahn, yaitu kesalahan berupa penyelisihan terhadap kaidah-kaidah bahasa Arab. Namun perlu diketahui, lahn itu ada dua macam:

Pertama: yang merusak maknanya. Lahn seperti ini menyebabkan adzan tidak sah. Contohnya seorang muadzin mengatakan: اَللهُ أَكْبَار. Lafadz seperti ini mengubah makna karena أَكْبَار bentuk jamak dari كَبَرٌ yang berarti gendang.

Kedua: lahn yang tidak merusak makna. Adzan dengan lahn seperti ini sah tapi dibenci/makruh. Contohnya seorang muadzin mengatakan: اَللهُ وَكْبَر

Yang seperti ini dibolehkan dalam bahasa Arab karena ada kaidah dalam ilmu sharf bila huruf hamzah yang difathah terletak setelah dhammah maka hamzah tadi diubah menjadi huruf wawu6.

5. Dikumandangkan ketika telah masuk waktu shalat terkecuali adzan pertama subuh. Dalilnya sabda Nabi n:

فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلاَةُ فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدُكُمْ وَلْيَؤُمَّكُمْ أَكْبَرُكُمْ

“Bila telah datang waktu shalat, hendaklah salah seorang dari kalian mengumandangkan adzan dan hendaknya yang paling besar/tua dari kalian menjadi imam.” (HR. Al-Bukhari no. 628, 7246 dan Muslim no. 1533)

Sifat-sifat Muadzin

1. Ia adzan karena mengharapkan pahala, bukan karena ingin bayaran.

Utsman bin Abil Ash z mengatakan, “Akhir perjanjian yang diambil Rasulullah n dariku adalah angkatlah seorang muadzin yang tidak mengambil upah/bayaran dengan adzannya.” (HR. At-Tirmidzi no. 209, dishahihkan Al-Imam Al-Albani t dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi)

Al-Imam At-Tirmidzi t berkata setelah membawakan hadits di atas, “Ahlul ilmi mengamalkan hal ini. Mereka benci bila seorang muadzin mengambil upah atas adzannya, dan mereka menganggap mustahab (sunnah) bagi muadzin untuk ihtisab (mengharap pahala) dengan adzannya.” (Sunan At-Tirmidzi, 1/135)

Namun bila si muadzin diberi sesuatu yang tidak dimintanya, hendaknya ia menerimanya dan tidak menolak. Karena, itu adalah rezeki dari Allah l yang diarahkan untuknya.

Khalid ibnu ‘Adi Al-Juhani berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah n bersabda:

مَنْ بَلَغَهُ مَعْرُوْفٌ عَنْ أَخِيْهِ مِنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ وَلاَ إِشْرَافِ نَفْسٍ، فَلْيَقْبَلْهُ وَلاَ يَرُدَّهُ، فَإِنَّمَا هُوَ رِزْقٌ سَاقَهُ اللهُ U إِلَيْهِ

“Siapa yang sampai kepadanya kebaikan/pemberian dari saudaranya tanpa ia memintanya dan tanpa ambisi jiwa, hendaklah ia menerimanya dan jangan menolaknya karena itu merupakan rezeki yang Allah giring untuknya.” (HR. Ahmad 4/221, berkata Al-Imam Al-Haitsami dalam Majma’uz Zawaid, 3/100-101, “Para perawinya adalah perawi kitab shahih.”)

2. Suaranya bagus, lantang, dan keras

Rasulullah n bersabda kepada Abdullah bin Zaid z yang mimpi mendengar adzan:

إِنَّهَا لَرُؤْيَا حَقٌّ إِنْ شَاءَ اللهُ، فَقُمْ مَعَ بِلاَلٍ فَأَلْقِ عَلَيْهِ مَا رَأَيْتَ، فَلْيُؤَذِّنْ بِهِ، فَإِنَّهُ أَنْدَى صَوْتًا مِنْكَ

“Mimpimu itu adalah mimpi yang benar Insya Allah. Bangkitlah engkau bersama Bilal, sampaikan padanya apa yang kau dapatkan dalam mimpimu agar dia mengumandangkan adzan tersebut, karena dia lebih lantang suaranya darimu.” (HR. Ahmad 3/43, Ashabus Sunan kecuali An-Nasa’i, dan selainnya. Hadits ini dihasankan Al-Imam Al-Albani t sebagaimana dalam Al-Irwa’ no. 246 )

Kata Al-Imam An-Nawawi t, “Sabda beliau: فَإِنَّهُ أَنْدَى صَوْتًا مِنْكَ ada yang mengatakan maknanya adalah lebih keras suaranya. Adapula yang memaknakan lebih bagus suaranya. Dari sini diambil faedah disenanginya muadzin itu keras dan bagus suaranya. Ini adalah perkara yang disepakati.” (Al-Minhaj, 4/299)

Al-Imam Asy-Syafi’i t menyatakan disenanginya memilih muadzin yang bagus suaranya karena akan lebih menyentuh hati pendengarnya. Seorang muadzin juga tidak boleh memanjang-manjangkan dan melagukan/mendayu-dayukan adzan. (Al-Umm, kitab Ash-Shalah, bab Raf’ush Shaut bil Adzan )

Abu Sa’id Al-Khudri z pernah berpesan kepada Abdullah bin Abdurrahman ibnu Abi Sha’sha’ah Al-Anshari bila ingin adzan, “Keraskan suaramu ketika mengumandangkan adzan, karena Rasulullah n bersabda:

لاَ يَسْمَعُ مَدَى صَوْتِ الْمُؤَذِّنِ جِنٌّ وَلاَ إِنْسٌ وَلاَ شَيْءٌ، إِلاَّ شَهِدَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Tidaklah jin dan manusia dan tidak ada sesuatu pun yang mendengar akhir suara keras/lantang seorang muadzin melainkan akan menjadi saksi kebaikan bagi si muadzin pada hari kiamat.” (HR. Al-Bukhari no. 609)

Al-Imam Al-Bukhari t memberi judul hadits di atas dengan bab Raf’ush Shaut bin Nida’ artinya mengeraskan suara ketika adzan.

3. Muadzin harus memiliki sifat amanah, karena ia bertanggung jawab akan masuknya waktu shalat dan ketepatannya. Juga karena adzan ini sangat berkaitan dengan puasa dan berbukanya kaum muslimin.

Rasulullah n bersabda:

الْإِمَامُ ضَامِنٌ وَالْـمُؤَذِّنُ مُؤْتَمَنُ…

“Imam adalah penjamin, sedangkan muadzin adalah orang yang diamanahi…” (HR. Ibnu Hibban dalam Shahihnya no.1669, dan hadits ini dishahihkan oleh Al-Imam Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wat Tarhib no. 239)

Al-Imam Al-Baihaqi t dalam Sunan beliau membuat satu bab yang berjudul: “Tidak boleh mengumandangkan adzan kecuali seorang yang adil (yakni shalih) lagi terpercaya, karena dari tempat yang tinggi ia dapat memonitor aurat manusia dan dia dipercaya oleh orang-orang tentang waktu-waktu shalat.”

4. Mengetahui waktu-waktu shalat dengan sendirinya atau dengan pengabaran orang yang dipercaya, sehingga muadzin mengumandangkan adzan tepat ketika telah masuk waktu shalat tanpa mengakhirkannya.

Karena tidaklah sah adzan di luar waktunya menurut kesepakatan ahlul ilmi. Dari Jabir bin Samurah z, dia mengatakan:

كَانَ بِلاَلٌ لاَ يُؤَخِّرُ الْأَذَانَ عَنِ الْوَقْتِ، وَرُبَّمَا أَخَّرَ الْإِقَامَةَ شَيْئًا

“Bilal tidak pernah mengakhirkan adzan dari waktunya, namun terkadang dia mengundurkan sedikit iqamah.” (HR. Ibnu Majah no. 713, dan hadits ini dihasankan oleh Al-Imam Al-Albani dalam Shahih Sunan Ibni Majah)

5. Disenangi bagi muadzin mengumandangkan adzan dalam keadaan suci.

Dalilnya adalah sabda Rasulullah n:

إِنِّي كَرِهْتُ أَنْ أَذْكُرَ اللهَ إِلاَّ عَلَى طُهْرٍ، أَوْ قَالَ: عَلَى طَهَارَةٍ

“Aku tidak suka berzikir kepada Allah kecuali dalam keadaan suci.” (HR. Abu Dawud no. 17, dishahihkan dalam Shahih Abi Dawud dan Ash-Shahihah no. 834)

Al-Imam At-Tirmidzi t berkata, “Ahlul ilmi berbeda pendapat dalam masalah mengumandangkan adzan tanpa berwudhu (sebelumnya). Sebagian ahlul ilmi membencinya, ini pendapat Asy-Syafi’i dan Ishaq. Sebagian ahlul ilmi yang lain memberikan rukhshah adzan tanpa berwudhu. Ini pendapat Sufyan Ats-Tsauri, Ibnul Mubarak, dan Ahmad.” (Sunan At-Tirmidzi, 1/129)

Al-Imam Al-Albani t ketika ditanya tentang hal ini, beliau menjawab, “Asalnya dalam berzikir, sampai pun mengucapkan salam, kalau bisa engkau berada di atas thaharah dan ini yang utama/afdhal. Mengumandangkan adzan tentunya lebih utama lagi dalam keadaan suci. Akan tetapi kami katakan, siapa yang adzan dalam keadaan tidak berwudhu maka hukumnya makruh karahah tanzih (tidak sampai haram).” (Al-Mausu’ah Al Fiqhiyyah Al-Muyassarah, 1/277)

6. Ia adzan dalam keadaan berdiri.

Hal ini seperti disebutkan dalam hadits Abdurrahman ibnu Abi Laila tentang mimpi seorang lelaki dari kalangan Anshar. Laki-laki tersebut melihat seseorang memakai dua potong pakaian berwarna hijau. Ia berdiri di atas masjid lalu adzan. Kemudian ia duduk beberapa waktu. Setelahnya ia berdiri kembali untuk menyerukan iqamat. (HR. Abu Dawud no. 506, hadits shahih sebagaimana dalam Shahih Abi Dawud)

7. Mengumandangkan adzan di tempat yang tinggi karena di tempat yang tinggi suara akan terdengar jauh dan lebih menyampaikan kepada manusia.

Dalilnya adalah hadits di atas dan juga hadits:

وَلَمْ يَكُنْ بَيْنَ أَذَانَيْهِمَا إِلاَّ أَنْ يَنْزِلَ هَذَا وَيَصْعَدَ هذَا

yang telah lewat penyebutannya dari hadits Ibnu Umar z yang diriwayatkan Al-Imam Muslim t dalam Shahihnya.

Demikian pula hadits hadits Uqbah bin Amir z, yaitu sabda Rasulullah n:

يَعْجَبُ رَبُّكُمْ مِنْ رَاعِي غَنَمٍ فِي رَأْسِ شَظِيَّةٍ بِجَبَلٍ، يُؤَذِّنُ بِالصَّلاَةِ وَيُصَلِّي …

“Rabb kalian kagum dengan seorang penggembala kambing di puncak gunung yang mengumandangkan adzan untuk shalat dan setelahnya ia menunaikan shalat …” (HR. Abu Dawud no. 1203, An-Nasa’i no. 666, dan Ahmad 4/157. Hadits shahih sebagaimana dalam Ash-Shahihah no.41)

Kata الشَظِيَّة adalah bagian yang tinggi dari puncak gunung. Di sini ada isyarat disenanginya mengumandangkan adzan di atas tempat yang tinggi walaupun si muadzin berada di atas gunung.” (Ats-Tsamar, 1/160)

Para ulama –semoga Allah l merahmati mereka semuanya– menyatakan, karena tujuan keberadaan muadzin di tempat yang tinggi itu untuk menyampaikan suaranya kepada manusia, maka di zaman ini dengan adanya mikrofon yang bisa menambah keras dan bagusnya suara, corongnya bisa ditempatkan di tempat yang tinggi, merupakan satu sarana yang dibutuhkan dan dibenarkan oleh syariat ketika mengumandangkan adzan. (Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah, 6/67-68)

Faedah

Adzan adalah ibadah yang pelaksanaannya dan pengumandangannya harus secara langsung ketika masuk waktu shalat, sehingga tidak sah apabila disandarkan terhadap hasil rekaman adzan muadzin. Karena hal itu merupakan ungkapan adzan yang telah lewat waktunya. Maka mencukupkan dengan rekaman berarti tidak menegakkan ketetapan fardhu kifayahnya, sebagaimana halnya tidak sah menjadi makmum atau shalat di belakang hasil rekaman suara imam masjid. (Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah, 6/68-69, Asy-Syarhul Mumti’ 2/69)

8. Menghadap kiblat

Dalilnya adalah hadits Abdullah bin Zaid z tentang turunnya malaikat lalu mengumandangkan adzan. Abdullah berkata, “Ketika aku berada di antara tidur dan jaga, tiba-tiba aku melihat seorang lelaki memakai dua potong pakaian hijau, ia lalu menghadap kiblat dan berkata: Allahu Akbar, Allahu Akbar…” (HR. Ahmad 5/246-247, Abu Dawud no. 507, dan dishahihkan oleh Al-Imam Al-Albani t)

Dalam Al-Mughni (Kitabush Shalah, fashl La Yashihhul Adzan illa Murattaban), Al-Imam Ibnu Qudamah t berkata, “Disenangi bagi muadzin menghadap kiblat dan kami tidak mengetahui adanya perselisihan dalam hal ini. Karena para muadzin Nabi n mengumandangkan adzan dalam keadaan menghadap kiblat. “

9. Meletakkan dua jari ke dalam dua telinga.

Abu Juhaifah berkata, “Aku melihat Bilal adzan, ia memutar kepalanya (ke kanan dan kiri, pen.), mulutnya ke sana dan ke sini, sementara dua jarinya berada dalam dua telinganya…” (HR. At-Tirmidzi no. 197, hadits shahih sebagaimana dalam Shahih At-Tirmidzi)

Al-Hafizh t menukilkan ucapan ulama bahwa dalam hal ini ada dua faedah.

Pertama: terkadang hal itu lebih mengeraskan suara muadzin.

Kedua: sebagai tanda bahwa ia muadzin bagi orang yang melihatnya dari kejauhan atau tanda bagi orang bisu bahwa ia muadzin.

Tidak ada keterangan jari mana yang dimasukkan tersebut, namun Al-Imam An-Nawawi t memastikan bahwa jari yang dimasukkan adalah telunjuk. (Fathul Bari, 2/152)

11. Menolehkan kepala sedikit ke kanan ketika mengucapkan: حَيَّ عَلَى الْصَّلاَةِ حَيَّ عَلَى الْصَّلاَةِ. Dan menoleh ke kiri saat menyerukan: حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ, حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ,

Inilah yang masyhur dan sesuai zahir nash. Dalilnya hadits Abu Juhaifah z, ia berkata:

أَتَيْتُ النَّبِيَّ n بِمَكَّةَ وَهُوَ بِالْأَبْطَحِ فِي قُبَّةٍ لَهُ حَمْرَاءَ مِنْ أَدَمٍ. قَالَ: فَخَرَجَ بِلاَلٌ بِوَضُوْئِهِ، فَمِنْ نَائِلٍ وَنَاضِحٍ. قَالَ: فَخَرَجَ النَّبِيُّ n عَلَيْهِ حُلَّةٌ حَمْرَاءُ كَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَى بَيَاضِ سَاقَيْهِ. قَالَ: فَتَوَضَّأَ وَأَذَّنَ بِلاَلٌ. قَالَ: فَجَعَلْتُ أَتَتَبَّعُ فَاهُ هَهُنَا ههُنَا يَقُوْلُ يَمِيْنًا وَشِمَالاً يَقُوْلُ: حَيَّ عَلَى الْصَّلاَةِ، حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ.

“Aku mendatangi Nabi n di Makkah saat beliau di Abthah dalam kemah merah dari kulit milik beliau. Bilal lalu keluar membawa air wudhu beliau, maka di antara sahabatnya ada yang mengambil bekas air wudhu tersebut dan ada yang memercikkannya kepada yang lain (bertabarruk, pen.) Nabi n keluar dari kemahnya dengan mengenakan sepasang pakaian berwarna merah seakan-akan aku melihat putihnya dua betis beliau. Setelah beliau berwudhu dan Bilal pun adzan. Mulailah aku mengikuti mulut Bilal ke sana dan ke sini, yaitu ke kiri dan ke kanan dengan mengucapkan: hayya ‘alash shalah, hayya ‘alal falah.” (HR. Muslim no. 1119)

Dalam riwayat Abu Dawud (no. 520) disebutkan:

فَلَمَّا بَلَغَ: حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ؛ لَوَى عُنُقَهُ يَمِيْنًا وَشِمَالاً وَلَمْ يَسْتَدِرْ

Ketika Bilal sampai pada ucapan: hayya ‘alash shalah, hayya ‘alal falah, ia memalingkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, dan ia tidak berputar.” (Dishahihkan Al-Imam An-Nawawi t dalam Al-Majmu’ 3/116)

Al-Imam Ibnu Khuzaimah t berkata ketika memberikan bab terhadap hadits di atas dalam Shahihnya, “Menolehnya muadzin ketika mengatakan hayya ‘alash shalaah hayya ‘alal falaah cukup dengan mulutnya saja, tidak dengan seluruh badannya.” Beliau juga mengatakan, “Sesungguhnya menolehkan mulut hanyalah dimungkinkan dengan ditolehkannya wajah.”

Di antara ahlul ilmi ada juga yang mengatakan menoleh ke kanan dan ke kiri untuk yang pertama kali dengan حَيَّ عَلَى الْصَّلاَةِ dan yang kedua menoleh ke kanan dan ke kiri dengan حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ.

Ada juga yang mengatakan, menoleh ke kanan dengan mengucapkan حَيَّ عَلَى الْصَّلاَةِ, lalu kembali ke arah kiblat, lalu menoleh lagi ke kanan sambil mengucapkan حَيَّ عَلَى الْصَّلاَة. Setelah itu menoleh ke kiri sambil mengucapkan حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ, lalu kembali ke arah kiblat, lalu menoleh lagi ke kiri sambil mengucapkan حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ. (Al-Minhaj, 4/218)

12. Lambat-lambat (tartil) mengucapkan lafadz adzan, tidak cepat-cepat sebagaimana dalam iqamat.

Al-Imam Asy-Syafi’i t berkata, “Hadits yang menyebutkan diangkat dan dikeraskannya suara ketika adzan menunjukkan dikumandangkannya adzan dengan lambat-lambat (tartil).” Oleh karena itu, Al-Imam Al-Baihaqi dalam kitabnya As-Sunan memberikan judul hadits dari Abu Sa’id z tentang mengeraskan suara ketika adzan: “Dilambatkannya Pengucapan Adzan dan Dicepatkannya Pengucapan Iqamah.”

Ibnu Qudamah t berkata, “Adzan diucapkan dengan perlahan-lahan, tidak cepat-cepat/terburu-buru, sedangkan iqamat diucapkan dengan cepat.” (Al-Mughni, kitab Ash-Shalah, Mas’alah Qala: Wa Yatarassalu fil Adzan wa Yahdurul Iqamah)

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

(insya Allah bersambung)

1 Dua adzan ini hanya dikhususkan untuk shalat subuh. Hikmahnya adalah sebagai hasungan untuk mengerjakan shalat di awal waktu, karena di waktu subuh ini umumnya orang masih tidur atau baru terjaga dari tidur. Sehingga amat sesuai dikumandangkan adzan sebelum waktunya agar membangunkan orang yang masih tidur sehingga mereka bersiap-siap dan dapat beroleh waktu yang fadhilah. Demikian diterangkan Al-Imam Asy-Syaukani t dalam Nailul Authar (1/507).

2 Faedah: Abu Mahdzurah z termasuk sahabat yang paling bagus suaranya. Beliau merupakan muadzdzin Rasulullah n untuk Makkah. Keturunannya turun-temurun menjadi muadzdzin di Makkah.

3 Haditsnya shahih sebagaimana dalam Shahih Sunan An-Nasa’i.

4 Kedua-duanya boleh. Demikian dinyatakan Al-Imam Asy Syafi’i t dalam Al-Umm di Kitab Al-Adzan. Pendapat beliau ini diikuti oleh jumhur pengikut madzhabnya. Tapi ada yang berpendapat bahwa diucapkan setelah selesai lafadz-lafadz adzan adalah lebih baik, agar susunan adzan tetap pada tempatnya. (Al-Minhaj, 5/213)

5 Adapun iqamat dua kali pada masing-masing shalat.6 Lihat lafadz: اَللهُ أَكْبَرُ, hamzah dalam lafadz  أَكْبَرُ didahului dhammah yang terdapat di atas huruf هُ dalam lafzhul jalalah اَللهُ. Menurut kaidah, hamzah tersebut dapat diubah menjadi huruf wawu sehingga jadilah: اَللهُ وَكْبَ

1 Menoleh hanya dengan kepala, sementara dada tetap ke depan karena tidak ada asalnya dalam As-Sunnah menolehkan kepala disertai dada. (Tamamul Minnah, hal. 150)

2 Karena beliau n mengangkat pakaiannya sampai setengah betis. (Al-Minhaj, 4/443)