Meninggalkan Urusan yang Tidak Ada Kepentingannya

Muhammad bin Ka’b mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepada para sahabat, “Orang yang pertama kali akan masuk kepada kalian adalah lelaki penghuni surga.”

Masuklah Abdullah bin Salam radhiallahu ‘anhu. Mereka pun berdiri dan memberi tahunya tentang kabar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut. Mereka bertanya, “Beri tahu kami tentang amalan yang paling engkau pegangi.”

Abdullah bin Salam menjawab, “Sesungguhnya amalanku sangat lemah. Amalan yang paling aku harapkan adalah selamatnya hatiku (dari niat buruk) dan meninggalkan sesuatu yang tidak ada kepentingannya denganku.”

Muwarriq al-Ijli berkata, “Aku telah berjalan sekian tahun mencarinya, namun aku masih belum mampu. Akan tetapi, aku tidak akan berhenti mencarinya.”

Orang-orang berkata, “Apakah itu?”

Dia menjawab, “Menahan diri dari sesuatu yang tidak ada kepentingannya denganku.”

(Jami’ul Ulum wal Hikam, hlm. 151-152)

Ketika Bangun Tidur

Dari Hudzaifah radhiallahu ‘anhu dan Abu Dzar radhiallahu ‘anhu, keduanya berkata:

كَانَ رَسُولُ اللهِ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ قَالَ: بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَحْيَا وَأَمُوتُ؛ وَإِذا اسْتَيْقَظَ قَال: الْحَمْدُ الَّذِي أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ

Dahulu jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi tempat tidurnya, beliau mengucapkan:

بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَحْيَا وَأَمُوتُ

“Dengan nama-Mu, ya Allah, aku hidup dan aku mati.”

Ketika bangun, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan:

الْحَمْدُ الَّذِي أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ

“Segala puji hanya bagi Allah, yang telah menghidupkan aku setelah mematikan aku, dan kepada-Nyalah (aku) akan dikumpulkan.” (HR. al-Bukhari)

Mengatasi Gangguan Ringan Selama Kehamilan

Kehamilan bukan hal yang asing bagi kaum wanita. Banyak perkara yang harus diperhatikan seorang ibu saat sedang hamil. Hal ini karena masa kehamilan merupakan kondisi yang kompleks, yang berbeda dari keadaan biasanya.

 aqua010

Wanita hamil umumnya akan mengalami perubahan-perubahan secara anatomi (fisik) maupun fisiologi (terkait dengan hormonal). Dampak dari hal ini sering dirasakan sebagai gangguan bagi ibu hamil. Berikut adalah gangguan-gangguan ringan yang sering dialami ibu hamil serta cara mengatasinya.

1.    Mual dan muntah
Biasanya terjadi paling hebat pada pagi hari, selama bulan kedua atau ketiga dari kehamilan. Rasa mual ini dapat dikurangi dengan makan makanan kering seperti biskuit atau roti bakar sebelum bangkit dari tempat tidur pada pagi hari. Jangan makan sekaligus banyak, sebaiknya makan sedikit-sedikit beberapa kali sehari.

2.    Rasa terbakar (sakit) pada uluhati atau dada
Hal ini disebabkan produksi asam yang berlebih. Jika ini terjadi, makanlah teratur dengan porsi sedikit tapi sering, banyak minum, serta menghindari minum kopi, makan makanan berlemak dan pedas. Usahakan tidur dengan kepala dan dada ditinggikan dengan bantal atau tumpukan selimut.

3.    Kaki bengkak
Seringlah beristirahat pada siang hari dengan mengangkat kedua kaki. Hindari makanan yang asin-asin dan bisa juga dengan minum seduhan rambut jagung.
4.    Sakit pada punggung bagian bawah
Lakukan gerak badan, berdiri, dan duduk dengan punggung lurus atau tegak, dan tidur pada permukaan yang rata dan keras.

5.    Kurang darah dan kurang gizi
Makanlah makanan yang kaya akan protein dan zat besi, misalnya: buncis, kacang tanah, daging ayam, susu, telur, ikan, daging sapi, keju, dan sayur-sayuran yang berwarna hijau gelap. Dapat ditambahkan minum pil zat besi dan vitamin C.

6.    Pembuluh darah vena menggembung (varices)
Angkatlah kedua kaki sering-sering, waktu tidur kaki ditinggikan (diganjal bantal). Jangan duduk terlalu lama dengan kaki tergantung. Jika pembuluh darah vena sangat menggembung dan sakit, balutlah kedua tungkai dengan pembalut yang lentur (elastis). Lepaskan pembalut tersebut pada malam hari.

7.    Wasir (ambeien/hemorhoid)
Untuk mengurangi rasa sakit lakukanlah gerakan menungging.

8.    Sembelit (konstipasi)
Minum banyak air, makan buah-buahan dan makanan berserat (seperti singkong atau jagung), serta banyak bergerak. Yang perlu diperhatikan, jangan menggunakan obat pencuci perut (urus-urus) yang kuat karena dapat menyebabkan dehidrasi yang membahayakan kesehatan ibu dan janin.
Wallahu a’lam.

Hak Pengasuhan Anak

Sepasang suami-istri bercerai, sementara mereka memiliki dua anak yang masih balita. Ketika awal perceraian, kedua anak tersebut mengikuti ibunya. Namun sekarang ayahnya ingin mengambil keduanya untuk diasuhnya. Pertanyaan kami: di dalam syariat Islam, siapa sebenarnya yang lebih berhak terhadap dua anak tersebut, ibunya ataukah ayahnya? Apakah ada syarat yang ditetapkan bagi pihak yang mengasuh anak tersebut? Jazakumullah khairan atas jawabannya.
(Ummu Fulan di bumi Allah)

 

Jawab:

Istri (ibu) adalah pihak yang paling berhak untuk mengasuh anaknya yang masih kecil apabila ia berpisah dengan suaminya. Namun sang ibu harus memenuhi beberapa syarat seperti yang ditetapkan oleh fuqaha. Bila si ibu tidak memiliki syarat yang telah ditentukan tersebut maka gugurlah haknya untuk mengasuh anaknya. Adapun syarat yang dimaksud adalah sebagai berikut:

  1. Beragama Islam, tidak boleh ibu yang kafir diserahi pengasuhan anak
  2. Berakal
  3. Baligh
  4. Mampu untuk mendidik dan mengurusi anak tersebut
  5. Belum menikah lagi dengan pria lain (Zadul Ma’ad, 4/132)

Dari kasus yang ditanyakan di atas, maka yang berhak mengasuh anak tersebut adalah ibunya selama ia belum menikah atau memenuhi syarat-syarat di atas.

Ketika ada seorang wanita mengadu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata, “Wahai Rasulullah, dulunya perutku menjadi tempat tinggal bagi anakku ini. Air susuku menjadi minumannya, dan pangkuanku menjadi tempat meringkuknya. Ayah anak ini kemudian menceraikan aku dan dia ingin merebut anak ini dariku.”

Mendengar pengaduan tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَنْتِ أَحَقُّ بِهِ مَا لَمْ تَنْكِحِي

“Engkau lebih berhak terhadap anak ini selama engkau belum menikah.” (HR. Ahmad 2/182, Abu Dawud no. 2276, dan selainnya. Dihasankan oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah dalam al-Irwa’ no. 2187)

Al-Imam ash-Shan’ani rahimahullah berkata, “Hadits ini menunjukkan apabila si ibu menikah, gugurlah haknya untuk mengasuh anaknya. Demikian pendapat jumhur ulama.”

Ibnul Mundzir berkata, “Telah sepakat ulama yang kami hafal dari mereka akan hal ini.” Beliau rahimahullah juga menyinggung kedudukan hadits ini, bahwasanya hadits ini diterima dan diamalkan oleh para imam, seperti al-Bukhari, Ahmad, Ibnul Madini, al-Humaidi, Ishaq bin Rahuyah, dan semisal mereka, sehingga tidak perlu menoleh pada orang yang menganggap hadits ini cacat. (Subulus Salam, 3/353—354)

Demikian pula jawaban yang diberikan asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alusy-Syaikh rahimahullah dalam Fatawa wa Rasa’il Samahatusy Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alusy Syaikh (11/219), sebagaimana dinukilkan dalam Fatawa al-Mar’ah (2/874).

Wallahu a’lam.

Shalat Berjamaah Berbeda Tempat

Kami (kaum wanita) tinggal bersebelahan dengan masjid, sehingga kami bisa mendengar adzan, iqamah, dan bacaan imam. Apakah kami boleh mengikuti shalat bersama imam sementara kami tetap berada di rumah? Jazakumullah khairan.

(Hamba Allah di Jateng) 

Jawab:

Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Ibnu Baz rahimahullah ketika ditanya dengan pertanyaan yang semakna, menjawab, “Tidak dibolehkan mengikuti imam di masjid dengan cara demikian kecuali bila ia melihat imam atau sebagian makmum. Jika ia tidak dapat melihat mereka semuanya maka yang kuat dari pendapat ahli ilmu adalah tidak boleh mengikuti imam dalam shalatnya. Wallahu a’lam.”

(Fatawa al-Mar’ah, 2/35—36, sebagaimana dinukil dalam al-Qaulul Mubin fi Ma‘rifati Ma Yuhammimul Mushallin, hlm. 567—568)

Rumahmu Lebih Baik Bagimu

Shalat berjamaah di masjid merupakan perkara yang lazim. Namun sesungguhnya Islam telah mengatur hal-hal khusus bagi wanita. Dan bagaimana Islam menyikapi kondisi saat ini di mana para wanita datang ke masjid dengan bersolek dan membuka auratnya? Simak bahasan berikut.

Lanjutkan membaca Rumahmu Lebih Baik Bagimu

Ummu Habibah Pengantin Rasulullah di Negri Seberang

Mungkin tak pernah tersirat di dalam hati Abu Sufyan, akan ada seseorang dari kalangan Quraisy yang akan menentangnya, sementara dia adalah tokoh Makkah yang ditaati. Namun putrinya telah memorak-porandakan keyakinannya ini, manakala sang putri mengingkari sesembahan ayahnya dan beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala semata, membenarkan risalah Nabi-Nya Muhammad bin ‘Abdillah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Lanjutkan membaca Ummu Habibah Pengantin Rasulullah di Negri Seberang

Kubimbing Buah Hatiku Di Atas Jalan Para Nabi

Salah satu tahapan yang dilalui seorang anak menuju dewasa (baligh) adalah prosesi khitan. Islam sebagai agama yang sempurna telah memberikan bimbingannya dalam masalah ini. Bahkan Islam menjadikan khitan sebagai salah satu pembeda antara orang Islam dan orang kafir. Lanjutkan membaca Kubimbing Buah Hatiku Di Atas Jalan Para Nabi