AMANAH DALAM ZAKAT

Sesungguhnya banyak problem zakat yang mengitari umat. Salah satunya adalah soal pendistribusian zakat. Amil zakat baik berupa lembaga maupun badan yang profesional memang sudah menjamur. Demikian juga dengan badan yang dibentuk Pemerintah Daerah atau Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota juga sudah mapan dalam menggenjot potensi zakat sebagian masyarakat. Belum termasuk amil zakat yang dibentuk tahunan menjelang Idul Fitri sebagaimana tampak di masjid-masjid. Namun, penditribusian yang tidak tepat sasaran tetap menjadi ganjalan hingga kini.
Zakat, meskipun dari dan untuk umat, tetap punya peruntukan tersendiri. Jadi, ia tidak bisa disalurkan untuk kepentingan di luar yang telah digariskan syariat. Pembangunan masjid/mushalla, pembangunan pondok pesantren, insentif karyawan tidak tetap atau honorer, dana untuk ormas atau partai berlabel Islam—langsung/tidak langsung—, sering diambilkan dari dana zakat. Padahal kita tidak boleh gegabah dalam menyalurkan zakat karena itu menyangkut amanah yang mesti dipertanggungjawabkan di hadapan Allah l kelak. Karena itu, tidak bisa kita bermudah-mudah dalam menyalurkan dana zakat dengan dalih demi “Islam”, demi “dakwah”, dan sebagainya.
Tumpang tindihnya peruntukan zakat ini tak bisa dimungkiri menjadi faktor yang menyebabkan “energi” zakat menjadi tidak maksimal. Banyak tokoh agama yang terhitung mampu justru rutin mendapat gelontoran dana zakat—dengan istilah bisyarah atau lainnya—, padahal masih banyak tetangganya yang hidup menderita. Banyak masjid berdiri megah—meski tempatnya sangat berdekatan—yang dana pembangunannya bersumber dari zakat. Sementara di tempat lain, banyak masyarakat miskin yang tidak bisa makan secara layak. Lebih parah lagi, kemegahan masjid tersebut ternyata tak diimbangi dengan jumlah orang yang memakmurkannya.
Ini tentu ironis. Kita acapkali bersemangat ketika berbicara pemurtadan karena faktor ekonomi yang dialami saudara-saudara kita. Namun, kepekaan kita ternyata masih tumpul kala berbicara tentang zakat. Banyak orang justru berdalih macam-macam untuk menghindari kewajiban zakat. Alhasil, kerabat atau tetangga dekat kita yang miskin saja nyaris tak tersentuh.
Zakat, ditambah sedekah dan infak, sebenarnya punya kekuatan besar bila dikelola dengan benar. Itulah sebabnya, kita mesti memahami fikih zakat dan adab-adab penyalurannya agar kita—terutama yang menjadi petugas zakat atau amil—tidak serampangan menyalurkannya. Tafsir tentang siapa-siapa yang berhak menerima zakat harus dipahami dulu agar kita tidak salah bertindak. Alih-alih menyoal tepat sasaran, sikap amanah kita dalam hal zakat sendiri nyata-nyata masih perlu diuji.

 

Jangan Percaya Lamaran Bintang

(Ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al Atsariyyah)

 

Horoskop atau mudahnya kita sebut ramalan nasib seseorang dengan melihat bintang kelahirannya, termasuk satu kolom atau rubrik yang laris manis di surat kabar, tabloid, ataupun majalah. Bahkan bisa ditanyakan lewat sms ke paranormal tertentu yang memasang iklan di sejumlah media. Yang berbintang pisces, pantasnya berjodoh dengan yang berbintang A. Keberuntungannya di tahun ini demikian dan demikian… Dalam waktu-waktu dekat ini ia jangan bepergian keluar kota karena bahaya besar mengancamnya di perjalanan. Untuk yang berbintang sagitarius, tahun ini lagi apes… Tapi di pengujung tahun akan untung besar, maka bagusnya ia usaha begini dan begitu… Cocoknya ia mencari pasangan gemini. Demikian contoh ramalan yang ada!

Anehnya, ramalan dusta seperti ini banyak yang percaya. Bahkan di antara mereka bila melihat surat kabar atau majalah, rubrik dusta ini yang pertama kali mereka baca. Khususnya yang menyangkut bintang kelahiran mereka atau bintang kelahiran kerabat dan sahabat mereka. Ada yang menggantungkan usaha mereka dengan ramalan bintang, untuk mencari jodoh lihat apa kata bintangnya dan seterusnya.

Meyakini bahwa bintang-bintang memiliki pengaruh terhadap kejadian di alam ini hukumnya haram. Keyakinan seperti ini bukan muncul belakangan bahkan merupakan keyakinan kuno, keyakinan kaum Namrud, raja yang kafir zalim, yang kepada mereka Nabiullah Ibrahim q diutus. Mereka dinamakan kaum Shabi`ah, para penyembah bintang-bintang. Mereka membangun haikal dan rumah-rumah ibadah untuk menyembah bintang-bintang tersebut. Mengakar dalam keyakinan mereka bahwa bintang-bintang mengatur perkara di alam ini. Wallahul musta’an (Allah l sajalah yang dimintai pertolongan-Nya), keyakinan syirik tersebut terus diwarisi oleh umat yang datang setelah mereka. (I’anatul Mustafid bi Syarhi Kitabit Tauhid, Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah, 2/19)

Padahal Allah k menciptakan bintang-bintang bukan untuk dijadikan tandingan-Nya sebagai pengatur alam semesta ini, atau sekadar memberi pengaruh terhadap kejadian di muka bumi. Sungguh, bintang-bintang tidak ada hubungannya dengan nasib dan keberuntungan seseorang.

Qatadah ibnu Di’amah As-Sadusi t, seorang imam yang mulia dalam masalah tafsir, hadits, dan ilmu yang lainnya mengatakan, “Allah k menciptakan bintang-bintang ini untuk tiga hikmah atau faedah. Pertama: sebagai penghias langit. Kedua: sebagai pelempar setan. Ketiga: sebagai tanda-tanda yang dijadikan petunjuk. Siapa yang menafsirkan dengan selain tiga faedah tersebut, sungguh ia telah salah dan menyia-nyiakan bagiannya1. Ia juga telah membebani dirinya dengan sesuatu yang ia tidak memiliki ilmu tentangnya.” (Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari t dalam Shahih-nya, Kitab Bad`ul Khalqi, bab Fin Nujum)

Faedah pertama dari penciptaan bintang-bintang ditunjukkan seperti dalam firman Allah k:

“Sesungguhnya Kami menghiasi langit dunia dengan perhiasan bintang-bintang.” (Ash Shaffat: 6)
Faedah kedua sebagai pelempar setan, seperti dalam ayat:
“Sungguh Kami telah menghiasi langit dunia dengan pelita-pelita dan Kami jadikan pelita-pelita tersebut sebagai pelempar para setan.” (Al-Mulk: 5)
Kenapa setan-setan itu dilempar? Karena mereka berupaya mencuri berita dari para malaikat di langit untuk kemudian disampaikan kepada dukun/tukang ramal, kekasih mereka dari kalangan manusia. Lalu dukun ini mencampurinya dengan seratus kedustaan.
Sebelum Rasulullah n diutus, para setan ini bebas mencuri berita dari langit. Namun ketika beliau telah diangkat sebagai nabi dan rasul, Allah k menjaga langit dengan panah-panah api yang dilepaskan dari bintang-bintang sehingga membakar dan membinasakan setan yang jahat tersebut. Allah k menyampaikan kepada kita pengabaran para jin tentang diri mereka dalam ayat-Nya yang mulia:
“Dan sesungguhnya kami telah mencoba mengetahui rahasia langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api. Dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan berita-beritanya. Tetapi sekarang barangsiapa yang mencoba mendengar-dengarkan seperti itu tentu akan menjumpai panah api yang mengintai untuk membakarnya. Dan sungguh dengan adanya penjagaan tersebut kami tidak mengetahui apakah keburukan yang dikehendaki bagi orang yang di bumi ataukah Rabb mereka menghendaki kebaikan bagi mereka.” (Al-Jin: 8-10)
Faedah ketiga, bintang-bintang dijadikan sebagai tanda/penunjuk arah dan semisalnya. Sebagaimana Allah k berfirman: “Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi agar bumi itu tidak goncang bersama kalian dan Dia menciptakan sungai-sungai dan jalan-jalan agar kalian mendapatkan petunjuk. Dan Dia ciptakan tanda-tanda (penunjuk jalan). Dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk.” (An-Nahl: 15)
Allah k menjadikan tanda-tanda di bumi dan di langit bagi musafir sebagai penunjuk arah bagi mereka. Tanda-tanda di bumi seperti jalan-jalan dan gang-gang, demikian pula gunung-gunung. Tanda-tanda di langit berupa bintang, matahari, dan bulan. Orang-orang menjadikan bintang-bintang sebagai petunjuk/tanda bagi mereka ketika mereka melakukan perjalanan. Terlebih lagi di tengah lautan yang tidak bergunung dan tidak ada rambu-rambu. Demikian pula perjalanan di malam hari, dengan melihat bintang tertentu mereka jadi mengerti arah sehingga mereka bisa menuju arah yang mereka inginkan. (I’anatul Mustafid bi Syarhi Kitabit Tauhid, 2/21)
Allah k berfirman:
“Dan Dia-lah yang menjadikan bintang-bintang untuk kalian agar kalian menjadikannya sebagai petunjuk dalam kegelapan di daratan dan di lautan.” (Al-An`am: 97)
Maksudnya, dengan bintang-bintang tersebut kalian dapat mengetahui arah tujuan kalian (dalam perjalanan). Bukanlah yang dimaksudkan di sini bahwa bintang-bintang itu dijadikan petunjuk dalam ilmu gaib, sebagaimana diyakini oleh para ahli nujum. (Fathul Majid, 2/529)
Siapa yang ingin menambah lebih dari tiga perkara ini seperti meyakini bintang-bintang itu menunjukkan kejadian di muka bumi, turunnya hujan, berembusnya angin, kematian atau kehidupan seseorang, maka semuanya itu mengada-ada dan mengaku-aku tahu ilmu gaib. Padahal tidak ada yang tahu tentang perkara gaib kecuali hanya Allah k. Dia Yang Maha Suci berfirman:
“Katakanlah (ya Muhammad) tidak ada seorang pun yang ada di langit dan di bumi mengetahui perkara gaib kecuali Allah saja.” (An-Naml: 65)
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alusy Syaikh t berkata mengomentari ucapan Qatadah di atas, “Perhatikanlah kemungkaran yang diingkari oleh Imam ini yang terjadi di masa tabi’in. Dan terus menerus kejelekan bertambah pada setiap masa setelah zaman para tabi’in hingga sampai pada puncaknya di masa-masa ini. Bala merata di seluruh penjuru negeri, baik sedikit ataupun banyak. Namun jarang didapatkan orang yang mengingkarinya sehingga menjadi besarlah musibah dalam agama. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” (Fathul Majid 2/528,529)
Meramal nasib dengan gerakan-gerakan bintang dan bentuknya termasuk dalam apa yang diistilahkan dengan ilmu ta`tsir, yaitu keyakinan bahwa bintang-bintang memberi pengaruh di alam ini. Ilmu ini haram hukumnya. Ilmu ini terbagi tiga macam, sebagiannya lebih haram daripada yang lainnya.
Pertama: meyakini bahwa bintang-bintang itulah yang menjadikan peristiwa-peristiwa di alam ini baik berupa kebaikan ataupun kejelekan, sakit ataupun sehat, paceklik ataupun panen raya, dan selainnya. Sumber kejadian di alam ini adalah gerakan-gerakan dan bentuk-bentuk bintang. Keyakinan kaum Shabi`ah ini merupakan penentangan kepada Sang Pencipta k, karena menganggap adanya pencipta selain Dia, dan merupakan kekufuran yang nyata berdasarkan kesepakatan kaum muslimin.
Kedua: seseorang tidak meyakini bahwa bintang-bintang itu yang menjadikan peristiwa di alam ini. Tapi menurutnya bintang-bintang itu hanya sebab yang memberi pengaruh. Adapun yang menciptakan adalah Allah k. Keyakinan ini pun batil, karena Allah  l tidak pernah menjadikan bintang-bintang itu sebagai sebab, dan bintang tersebut tidak ada hubungannya dengan apa yang berlangsung di alam ini.
Ketiga: menjadikan bintang-bintang sebagai petunjuk atas kejadian yang akan datang. Ini merupakan bentuk pengakuan terhadap ilmu gaib, masuk dalam kategori perdukunan serta sihir. Hukumnya kafir menurut kesepakatan kaum muslimin. (Al-Qaulul Mufid ‘ala Kitabit Tauhid, Asy-Syaikh Muhammad Shalih Al-Utsaimin t 2/5,6)
Ketiga macam ilmu ta`tsir ini batil, kata Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah. Namun sayangnya, perkara batil ini disebarkan di kolom khusus pada sebagian majalah yang tidak berpegang dengan ajaran Islam. Disebutkan bahwa pada bintang A akan diperoleh ini dan itu bagi siapa yang melangsungkan pernikahan, atau siapa yang berjual beli akan beroleh laba. Sementara bintang B nahas/sial. Semua ini temasuk keyakinan jahiliah. (I’anatul Mustafid bi Syarhi Kitabit Tauhid, Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah, 2/25)
Al-Khaththabi t berkata, “Ilmu nujum (perbintangan) yang terlarang adalah ilmu yang diakui-aku oleh ahli nujum bahwa mereka punya pengetahuan tentang alam dan peristiwa-peristiwa yang akan terjadi di masa datang. Seperti, kapan waktu berembusnya angin dan datangnya hujan, dan kapan terjadi perubahan harga, ataupun yang semakna dengannya berupa perkara-perkara –menurut pengakuan dusta mereka– yang dapat diketahui dari perjalanan bintang-bintang di garis edarnya dan dari berkumpul atau berpisahnya bintang-bintang tersebut. Mereka mengaku-aku bahwa bintang-bintang tersebut punya pengaruh terhadap alam bawah (bumi).” (Ma’alimus Sunan 4/230, sebagaimana dinukil dalam Fathul Majid 2/527)
Demikianlah. Maka jangan percaya dengan bualan si tukang ramal, apapun sebutan untuknya. Jangan pula percaya dengan omong kosong ramalan bintang. Jangan korbankan akidah dan jangan rusak tauhid anda! Wallahu a’lam bish-shawab.

1 Karena ia telah menyibukkan dirinya dengan perkara yang memudaratkannya dan tidak memberikan manfaat kepadanya. (Fathul Majid, 2/530)

Da’i Wanita Memberikan Taklim kepada para Wanita di Masjid

Tanya: Bolehkah seorang wanita (da’iyah) memberikan pengajaran dan nasihat agama atau yang berhubungan dengan ilmu agama khusus untuk para wanita di masjid-masjid, sebagaimana hal ini biasa dilakukan oleh para da’i (laki-laki)?
Jawab:
Permasalahan semacam ini terjawab dengan penjelasan yang diberikan oleh Al-Imam Al-Albani t terhadap peristiwa yang terjadi di Damaskus.
Beliau t berkata, “Adapun yang marak belakangan ini di sini, di Damaskus, yakni datangnya para wanita ke masjid-masjid pada waktu-waktu tertentu untuk mendengarkan pelajaran dari salah seorang mereka, yang mereka sebut da’iyah maka hal ini termasuk perkara muhdatsah (bid`ah) yang belum pernah ada di masa Nabi n, tidak pula di masa as-salafus shalih. Yang ada di masa-masa tersebut, para ulama yang shalih yang memberikan pengajaran (taklim) kepada mereka di tempat yang khusus sebagaimana tampak dalam hadits ini2. Atau para wanita itu ikut dalam pelajaran yang diberikan untuk para lelaki dalam keadaan terpisah dari para lelaki di dalam masjid, apabila hal itu memungkinkan. Karena biasanya para lelaki akan mendominasi majelis, sehingga para wanita tidak bisa mendengarkan ilmu dengan nyaman dan tidak dapat bertanya tentang ilmu.
Apabila pada hari ini didapatkan di kalangan wanita ada yang bisa memberikan suatu ilmu dan fiqih yang lurus, yang diambil dari Al-Qur`an dan As-Sunnah, tentunya tidak apa-apa si wanita ini mengadakan majelis khusus untuk para wanita di rumahnya sendiri atau di rumah salah seorang dari mereka. Bahkan taklim di rumah seperti ini lebih baik bagi mereka. Bagaimana tidak, sementara Nabi n bersabda tentang shalat berjamaah di masjid bagi para wanita:
وَبُيُوْتُهُنَّ خَيْرٌ لَهُنَّ
“Dan rumah-rumah mereka lebih baik bagi mereka.”3
Bila dalam ibadah shalat perkaranya demikian (lebih baik di rumah daripada di masjid, pent.), lalu bagaimana pengajaran ilmu di rumah-rumah tidak dianggap lebih utama bagi mereka (daripada di masjid)? Terlebih lagi sebagian mereka biasa mengangkat suara (bersuara keras). Terkadang temannya juga ikut angkat suara. Terdengarnya suara mereka di masjid tentunya hal yang jelek dan tercela. Dengan sangat disesalkan, hal ini termasuk yang biasa kami dengar dan kami saksikan.
Kemudian kami melihat bid’ah ini juga sampai ke negeri-negeri lain seperti ‘Umman. Kami mohon kepada Allah l keselamatan dari setiap bid’ah muhdatsah (perkara agama yang diada-adakan). (Ash-Shahihah, 6/401)
Catatan Kaki:
2 Yang beliau maksudkan adalah hadits Abu Hurairah z berikut ini:
جَاءَ نِسْوَةٌ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ n فَقُلْنَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَا نَقْدِرُ عَلَيْكَ فِي مَجْلِسِكَ مِنَ الرِّجَالِ، فَوَاعِدْنَا مِنْكَ يَوْمًا نَأْتِيْكَ فِيْهِ. قَالَ: مَوْعِدُكُنَّ بَيْتَ فُلاَنٍ. وَأَتَاهُنَّ فِي ذَلِكَ الْيَوْمَ وَلِذَلِكَ الْمَوْعِدِ. قَالَ: فَكَانَ مِمَّا قَالَ لَهُنَّ، يَعْنِي: مَا مِنِ امْرَأَةٍ تُقَدِّمُ ثَلاَثًا مِنَ الْوَلَدِ تَحْتَسِبُهُنَّ إِلاَّ دَخَلَتِ الْجَنَّةَ. فَقَالَتِ امْرَأَةٌ مِنْهُنَّ: أَوِ اثْنَانِ؟ قَالَ: أَوِ اثْنَانِ
Datang para wanita kepada Rasulullah n. Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, kami tidak mampu mendatangi majelismu karena dipenuhi dengan para lelaki. Maka berikanlah waktumu sehari saja untuk kami yang nantinya kami akan mendatangimu guna mendapatkan pengajaranmu.” Beliau menanggapi, “Janji pertemuan dengan kalian adalah di rumah si Fulan.” Beliau lalu mendatangi mereka pada hari tersebut dan untuk janji tersebut. Di antara yang beliau ucapkan kepada mereka adalah, “Tidak ada seorang wanita pun yang tiga putranya mendahuluinya (meninggal dunia) dalam keadaan ia mengharapkan pahala atas musibah tersebut melainkan ia akan masuk surga.” Salah seorang dari wanita yang hadir bertanya, “Bagaimana kalau yang meninggal dua anak?” Beliau menjawab, “Ya, dua juga.” (HR. Ahmad 2/246, kata Asy-Syaikh Al-Albani, “Ini sanadnya shahih di atas syarat Muslim”, lihat Ash-Shahihah, hadits no. 2680)
Al-Imam Al-Albani menyebutkan beberapa faedah dari hadits di atas. Di antaranya:
1. Hadits ini menunjukkan keutamaan wanita shahabiyah dan menunjukkan semangat mereka untuk mempelajari perkara-perkara agama mereka.
2. Hadits ini menunjukkan bolehnya wanita bertanya tentang perkara agama mereka dan mereka boleh berbicara dengan lelaki untuk bertanya tentang agama, serta dalam perkara yang memang mereka butuhkan.
3. Bolehnya mengadakan janji pertemuan (waktu khusus) untuk taklim. Al-Imam Al-Bukhari memberi judul untuk hadits ini dengan: “Apakah boleh menetapkan waktu tertentu untuk memberikan pengajaran ilmu kepada para wanita?”
3 Untuk mereka shalat di dalamnya, daripada mereka datang ke masjid untuk menghadiri shalat berjamaah. (–pent)

 

Menyimak Bacaan Imam dengan Melihat Mushaf

Bolehkah seorang wanita ataupun seorang lelaki mengikuti/menyimak bacaan imam dengan melihat mushaf dalam pelaksanaan shalat tarawih?

Jawab:

Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan hafizhahullah menjawab, “Tidak boleh bagi makmum, baik pria ataupun wanita mengikuti bacaan imam dengan melihat mushaf. Karena hal itu akan menyibukkannya dari amalan shalatnya tanpa ada hajat/kebutuhan untuk melakukan hal tersebut. Perbuatan seperti ini biasa dilakukan oleh sebagian pemuda sekarang. Padahal sepanjang yang kami ketahui, ini bukanlah amalan salaf, maka wajib ditinggalkan dan dilarang. Jangankan makmum, bagi imam yang memang berhajat untuk melihat mushaf saja diperselisihkan oleh ulama. Apatah lagi dengan makmum?” (Al-Muntaqa min Fatawa Fadhilatisy Syaikh Shalih bin Fauzan, 3/196,197)

Shaf Wanita dalam Shalat

Apakah dalam shaf wanita disyaratkan harus lurus dan teratur? Apakah hukum shaf yang pertama dengan shaf yang lainnya sama bagi wanita terkhususkan bila tempat shalat mereka jauh terpisah/tersendiri dari tempat jamaah laki-laki?

 

Jawab:

Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan hafizhahullah menjawab, “Apa yang disyariatkan dalam shaf lelaki juga berlaku bagi shaf wanita dari sisi kelurusan dan keteraturannya. Shaf yang ada harus disempurnakan (dipenuhi) terlebih dahulu, baru dibuat shaf yang berikutnya dan celah yang ada harus ditutup. Apabila di antara shaf wanita dengan shaf lelaki tidak ada penutup, maka sebaik-baik shaf mereka (para wanita) adalah yang paling akhir karena lebih jauh dari lelaki sebagaimana disebutkan dalam hadits1. Namun bila ada pemisah dan penutup antara shaf keduanya maka yang tampak adalah shaf terdepanlah yang paling baik bagi mereka, karena hilangnya perkara yang dikhawatirkan dan juga karena maslahat lebih dekat dengan imam. Wallahu a’lam.” (Al-Muntaqa min Fatawa Fadhilatisy Syaikh Shalih bin Fauzan, 3/157,158)

 

Catatan Kaki:

1 Rasulullah n bersabda:
خَيْرُ صُفُوْفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا وَشَرُّهَا آخِرُهَا، وَخَيْرُ صُفُوْفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا
“Sebaik-baik shaf lelaki adalah shaf yang awal dan sejelek-jelek shaf lelaki adalah yang akhirnya. Sebaik-baik shaf wanita adalah shaf yang terakhir dan sejelek-jelek shaf wanita adalah yang paling awal.” (HR. Muslim)

Kedudukan Seorang Ibu

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyah)

 

Dalam Tanzil-Nya yang mulia, Allah k berfirman:

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (untuk berbakti kepada) kedua orangtuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun maka bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orangtuamu dan hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Luqman: 14)

Di tempat lain, Dia Yang Maha Suci berfirman:

“Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orangtuanya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah pula. Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan….” (Al-Ahqaf: 15)
Dua ayat yang mulia di atas berisi perintah berbakti kepada orangtua sebagai suatu kewajiban dalam agama yang mulia ini. Bahkan Allah k menggandengkan perintah berbakti ini dengan perintah beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun. Seperti dalam ayat:
“Beribadahlah kalian kepada Allah dan janganlah menyekutukan-Nya dengan sesuatupun serta berbuat baiklah kepada kedua orangtua.” (An-Nisa`: 36)
Ayah dan ibu berserikat dalam hal memiliki hak terhadap anaknya untuk memperoleh bakti. Hanya saja ibu memiliki bagian dan porsi yang lebih besar dalam hal beroleh bakti. Karena Nabi n bersabda ketika ditanya oleh seorang sahabatnya:
يَا رَسُولَ اللهِ، مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِيْ؟ قَالَ: أُمُّكَ. قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: أُمُّكَ. قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: أُمُّكَ. قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: ثُمَّ أَبُوْكَ
“Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak untuk kupergauli dengan baik?” Beliau berkata, “Ibumu.” Laki-laki itu kembali bertanya, “Kemudian siapa?” “Ibumu”, jawab beliau. “Kemudian siapa?”, tanya laki-laki itu. “Ibumu”, jawab beliau. “Kemudian siapa?” tanyanya lagi. “Kemudian ayahmu”, jawab beliau.” (HR. Al-Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 6447)
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani t berkata menukilkan ucapan Ibnu Baththal t, “Kandungan hadits ini adalah seorang ibu memiliki hak untuk mendapatkan kebaikan yang disebutkan tiga kali daripada hak seorang ayah.” Ibnu Baththal juga mengatakan, “Yang demikian itu diperoleh karena kesulitan yang didapatkan saat mengandung, kemudian melahirkan lalu menyusui. Tiga perkara ini dialami sendiri oleh seorang ibu dan ia merasakan kepayahan karenanya. Kemudian ibu menyertai ayah dalam memberikan tarbiyah (pendidikan kepada anak). Isyarat akan hal ini terdapat dalam firman Allah l:
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (untuk berbakti kepada) kedua orangtuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun.” (Luqman: 14)
Allah l menyamakan antara ayah dan ibu dalam mendapatkan bakti, dan Dia mengkhususkan ibu dengan tiga perkara (mengandung, melahirkan, dan menyusui).” (Fathul Bari, 10/493)
Al-Imam An-Nawawi t menyatakan, “Dalam hadits ini ada hasungan untuk berbuat baik kepada kerabat1. Ibu adalah yang paling berhak mendapatkan bakti di antara kerabat yang ada, kemudian ayah, kemudian kerabat yang terdekat. Ulama berkata, ‘Sebab didahulukannya ibu adalah karena banyaknya kepayahan yang dialaminya dalam mengurusi anak. Di samping karena besarnya kasih sayangnya, pelayanannya, kepayahan yang dialaminya saat mengandung si anak, kemudian saat melahirkannya, menyusuinya, mendidiknya, melayaninya, mengurusi/merawatnya tatkala sakit dan selainnya’.” (Al-Minhaj, 16/318)
Al-Allamah Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa`di t berkata dalam tafsirnya terhadap surah Al-Ahqaf ayat 15, “Ini merupakan kelembutan Allah l terhadap hamba-hamba-Nya dan kesyukuran-Nya kepada kedua orangtua. Di mana Dia mewasiatkan kepada anak-anak agar berbuat baik kepada kedua orangtua mereka dengan menujukan kepada keduanya perkataan yang lembut, kalimat yang lunak/halus, memberikan harta dan nafkah serta sisi-sisi kebaikan lainnya. Kemudian Allah l memberikan peringatan dengan menyebutkan sebab seorang anak harus berbuat baik kepada orangtuanya. Dia menyebutkan kesulitan-kesulitan yang ditanggung/dipikul oleh seorang ibu saat mengandung anaknya, kemudian kesulitan yang besar saat melahirkannya, lalu kepayahan menyusuinya dan memberikan pelayanan dalam mengasuhnya. Kesulitan dan kepayahan yang disebutkan ini dihadapi bukan dalam masa yang pendek/singkat, sejam atau dua jam. Tapi dihadapi dalam kadar masa yang panjang “tiga puluh bulan”, masa kehamilan selama sembilan bulan atau sekitarnya dan waktu yang tersisa untuk masa penyusuan. Ini yang umum terjadi. Ayat ini dengan firman-Nya:
“Dan para ibu hendaknya menyusui anak-anak mereka selama dua tahun yang sempurna.” (Al-Baqarah: 233)
dijadikan sebagai dalil untuk menyatakan bahwa minimal masa kehamilan itu enam bulan. Karena masa menyusui (sebagaimana dinyatakan dalam ayat di atas, pent.) lamanya dua tahun (24 empat bulan, pent.). Bila diambil dua tahun (24 bulan, pent.) dari masa 30 bulan tersisalah enam bulan sebagai masa kehamilan.” (Taisir Al-Karimir Rahman, hal. 781)
Dari ayat, hadits dan penjelasan di atas tampaklah bagi kita peran agung seorang ibu. Ia telah mengandung anaknya selama sembilan bulan lebih beberapa hari, dengan kepayahan, keberatan, dan kesulitan. Tiba saat melahirkan, ia pun berjuang menghadapi maut. Sakit yang sangat pun dialaminya untuk mengeluarkan buah hatinya ke dunia. Tidak sampai di situ, setelah si anak lahir dengan penuh kasih disusuinya kapan saja si anak membutuhkan. Tak peduli siang ataupun malam sehingga harus menyita waktu istirahatnya. Kelelahan demi kelelahan dilewatinya dengan penuh kesabaran dan lapang dada, demi sang permata hati …
Demikianlah. Sehingga pantaslah syariat yang suci ini memberinya pemuliaan dengan memerintahkan anak agar berbakti kepadanya, selain kepada sang ayah. Bakti ini terus diberikan sampai akhir hayat keduanya. Bahkan juga sepeninggal keduanya, dengan menyambung silaturahim dan berbuat baik kepada sahabat/orang-orang yang dikasihi keduanya. Karena Rasulullah n bersabda:
إِنَّ أَبَرَّ البِرِّ أَنْ يَصِلَ الرَّجُلُ وُدَّ أَبِيْهِ
“Sesungguhnya berbuat baik yang paling baik adalah seseorang menyambung hubungan dengan orang yang dikasihi ayahnya.” (HR. Muslim no. 6461)
Abdullah bin ‘Umar c yang meriwayatkan hadits di atas dari Rasulullah n mencontohkan pengamalan hadits ini dengan perbuatannya. Disebutkan, ada seorang Arab gunung bertemu dengan Abdullah di jalanan Makkah. Abdullah mengucapkan salam kepadanya, lalu menyerahkan keledai yang ditungganginya agar dinaiki oleh orang tersebut dan memberinya sorban yang semula dipakainya. Ibnu Dinar, seorang perawi hadits ini bertanya kepada Abdullah, “Semoga Allah memperbaikimu! Mereka itu orang gunung (A’rab) dan mereka sudah cukup senang dengan pemberian yang sedikit.” Abdullah berkata menjelaskan sebab ia berbuat demikian kepada si A’rabi, “Ayah orang Arab gunung itu dulunya sahabat yang dikasihi oleh ‘Umar ibnul Khaththab. Sementara aku pernah mendengar Rasulullah n bersabda, ‘Sesungguhnya berbuat baik yang paling baik adalah seorang anak menyambung hubungan dengan orang yang dikasihi ayahnya’.” (HR. Muslim no. 6460)
Satu lagi atsar yang menunjukkan keutamaan berbakti kepada ibu. Diriwayatkan dari ‘Atha` bin Yasar, dari Ibnu ‘Abbas c, ada seseorang datang kepada Ibnu Abbas seraya berkata, “Aku telah meminang seorang wanita, namun wanita itu menolak untuk menikah denganku. Kemudian ada lelaki lain yang meminangnya dan ternyata ia senang menikah dengan lelaki tersebut. Aku pun cemburu hingga membawaku membunuh wanita tersebut. Lalu, adakah taubat untukku?” Ibnu Abbas c bertanya, “Apakah ibumu masih hidup?”
“Tidak,” jawab lelaki tersebut.
“Bertaubatlah kepada Allah k dan taqarrub-lah (mendekat dengan melakukan amal shalih) kepada-Nya semampumu.”
‘Atha` bin Yasar berkata, “Aku pergi lalu bertanya kepada Ibnu ‘Abbas, ‘Kenapa engkau menanyakan tentang kehidupan ibunya (masih hidup atau tidak)?’.”
Ibnu ‘Abbas c menjawab, “Sungguh aku tidak mengetahui adanya suatu amalan yang lebih mendekatkan kepada Allah k daripada berbakti kepada ibu.” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari t dalam Al-Adabul Mufrad dan dishahihkan dalam Ash-Shahihah no. 2799)
Karena berbakti kepada orangtua –khususnya ibu yang sedang menjadi pembicaraan kita– telah diperintahkan oleh agama Islam, maka kita tidak membutuhkan perayaan Hari Ibu untuk mengenang jasa-jasa seorang ibu dan menjadikannya sebagai momen untuk memberi hadiah-hadiah kepada ibu. Atau memberikan perhatian khusus kepadanya dan meng-’istirahat’-kannya dari pekerjaan pada hari tersebut. Seorang anak, dalam Islam, harus berbuat baik kepada ibunya kapan pun. Di setiap waktu dan di setiap keadaan, tanpa menunggu datangnya Hari Ibu yang justru merupakan suatu perayaan yang diada-adakan tanpa perintah dari agama. Bahkan semata taklid kepada budaya Barat yang memang tidak mengenal istilah ‘berbakti kepada orangtua’ dalam budaya mereka.
Contoh Anak yang Berbakti
Abu Hurairah z dikenal sebagai seorang yang berbakti kepada ibunya dan tidak melupakan untuk meminta ampun bagi ibunya bila ia beristighfar kepada Allah l. Muhammad bin Sirin t berkata, “Kami sedang berada di sisi Abu Hurairah pada suatu malam. Saat itu Abu Hurairah berdoa, ‘Ya Allah, ampunilah Abu Hurairah dan ibuku, serta ampunilah orang yang memintakan ampun untuk Abu Hurairah dan ibunya’.” Muhammad berkata, “Maka kami pun memintakan ampun untuk keduanya agar kami dapat masuk dalam doa Abu Hurairah.” (Diriwayatkan Al-Bukhari t dalam Al-Adabul Mufrad no. 37 dan dishahihkan sanadnya oleh Al-Albani t dalam Shahih Al-Adabil Mufrad)
Sebelumnya, ibu Abu Hurairah enggan masuk Islam. Abu Hurairah berkisah, “Aku mengajak ibuku yang masih musyrik untuk masuk Islam. Suatu hari aku mendakwahinya maka ia memperdengarkan kepadaku ucapan yang kubenci tentang Rasulullah n. Aku mendatangi Rasulullah n dalam keadaan menangis. Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah! Aku mengajak ibuku masuk Islam namun ia menolak. Suatu hari aku mendakwahinya, namun ia memperdengarkan kepadaku ucapan yang kubenci tentangmu. Maka doakanlah kepada Allah l agar memberi hidayah kepada ibu Abu Hurairah.’ Rasulullah n pun berdoa:
اللَّهُمَّ اهْدِ أُمَّ أَبِي هُرَيْرَةَ
“Ya Allah, berilah hidayah kepada ibu Abi Hurairah.”
Aku pun keluar dalam keadaan gembira dengan doa Nabiullah n. Ketika tiba di rumah, aku menuju pintu yang ternyata sedang tertutup. Ibuku mendengar suara gesekan dua telapak kakiku di tanah, maka ia berkata, “Tetaplah di tempatmu, wahai Abu Hurairah.” Aku mendengar suara gerakan/percikan air. Ternyata ibuku mandi, lalu mengenakan pakaian dan kerudungnya. Setelahnya ia membuka pintu, kemudian berkata, “Wahai Abu Hurairah! Aku bersaksi Laa ilaaha illallah dan bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.” Aku pun kembali menemui Rasulullah n dalam keadaan menangis karena bahagia. Aku berkata, “Wahai Rasulullah! Bergembiralah, sungguh Allah l telah mengabulkan doamu dan memberi hidayah kepada ibu Abu Hurairah.” Beliau pun memuji Allah k dan menyanjung-Nya. (HR. Muslim no. 6346)
Ada lagi seorang tokoh tabi’in yang dikenal sangat berbakti kepada ibunya. Dia adalah Uwais Al-Qarani t. Rasulullah n bersabda tentangnya kepada ‘Umar ibnul Khaththab z, “Suatu saat nanti akan datang kepada kalian Uwais bin ‘Amir bersama rombongan pasukan penduduk Yaman. Dia berasal dari kabilah Murad, dari Qaran. Dulu dia terkena penyakit belang, lalu dia disembuhkan dari penyakitnya itu, kecuali sebesar dirham di pusarnya. Dia memiliki seorang ibu dan sangat berbakti kepadanya. Kalau dia bersumpah kepada Allah, pasti Allah l kabulkan sumpahnya. Kalau engkau bisa memintanya agar memohonkan ampun untukmu maka lakukanlah2.” (HR. Muslim no. 6439)
Haramnya Durhaka kepada Ibu
Perintah berbakti kepada ibu telah jelas bagi kita. Kebalikan dari berbakti adalah berbuat durhaka. Rasulullah n melarang perbuatan durhaka ini, dalam hadits beliau n:
إِنَّ اللهَ حَرَّمَ عَلَيْكُمْ عُقُوْقَ الْأُمَّهَاتِ…
“Sesungguhnya Allah mengharamkan bagi kalian berbuat durhaka kepada para ibu….” (HR. Al-Bukhari no. 5975 dan Muslim no. 4457)
Al-Imam An-Nawawi t berkata, “Durhaka kepada ibu adalah haram dan termasuk dosa besar, menurut kesepakatan ulama. Betapa banyak hadits shahih yang memasukkannya ke dalam dosa besar. Demikian pula berbuat durhaka kepada ayah termasuk dosa besar. Dalam hadits ini dibatasi penyebutan durhaka kepada ibu (tanpa menyebutkan durhaka kepada ayah) karena kehormatan mereka (para ibu) lebih ditekankan daripada ayah. Karenanya, ketika ada yang bertanya kepada Rasulullah n tentang siapakah yang paling berhak mendapatkan kebaikannya, Rasulullah n menjawab, “Ibumu kemudian ibumu”, sebanyak tiga kali. Setelah itu, pada kali yang keempat beliau baru menyebutkan, “Kemudian ayahmu.” Juga karena kebanyakan perbuatan durhaka dari anak diterima/dirasakan oleh para ibu.” (Al-Minhaj, 11/238)
Taat Hanya dalam Perkara yang Selain Dosa dan Maksiat
Sa’d bin Abi Waqqash z menyebutkan bahwa telah turun beberapa ayat Al-Qur`an yang berkaitan dengan dirinya. Ia berkisah bahwa Ummu Sa’d (yakni ibunya) bersumpah tidak akan mengajaknya bicara selama-lamanya sampai ia mau meninggalkan agama Islam. Dia juga bersumpah tidak akan makan dan minum. Si ibu berkata, “Engkau mengaku bahwa Allah l mewasiatkanmu untuk berbakti kepada kedua orangtuamu. Sementara aku adalah ibumu dan aku memerintahkanmu untuk meninggalkan agama baru yang engkau anut.” Sa’d berkata, “Ibuku melewati tiga hari dengan melaksanakan sumpahnya untuk tidak makan dan minum, hingga ia jatuh pingsan karena kepayahan yang dideritanya. Maka bangkitlah putranya yang bernama Umarah lalu memberinya minum. Mulailah si ibu mendoakan kejelekan untuk Sa’d. Allah k pun menurunkan dalam Al-Qur`an, ayat berikut:
“Dan Kami perintahkan kepada manusia untuk berbuat baik kepada kedua orangtuanya.” (Al-’Ankabut: 8)
“Namun bila keduanya memaksamu untuk menyekutukan Aku….”
Dalam ayat tersebut dinyatakan:
“Maka janganlah engkau menaati keduanya dan bergaullah kepada keduanya di dunia dengan ma’ruf.” (Luqman: 15) (HR. Muslim no. 6188)
Rasulullah n bersabda:
لاَ طَاعَةَ فِي الْمَعْصِيَةِ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوْفِ
“Tidak ada ketaatan dalam perkara maksiat. Hanyalah ketaatan itu dalam perkara yang ma’ruf.” (HR. Al-Bukhari no. 7257 dan Muslim no. 4742)
Bolehnya Menyambung Hubungan dengan Ibu yang Musyrik
Dibolehkan bagi seorang anak untuk tetap menjaga hubungan baik dengan ibunya yang berbeda agama dengannya alias kafir. Karena Allah k berfirman:
“Allah tidak melarang kalian untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak pula mengusir kalian dari negeri kalian. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kalian menjadikan sebagai kawan kalian orang-orang yang memerangi kalian karena agama, mengusir kalian dari negeri kalian, dan membantu orang lain untuk mengusir kalian. Dan barangsiapa yang menjadikan mereka sebagai kawan maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (Al-Mumtahanah: 8-9)
Asma bintu Abi Bakr Ash-Shiddiq c berkata:
قَدِمَتْ عَلَيَّ أُمِّيْ وَهِيَ مُشْرِكَةٌ فِي عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ n فَاسْتَفْتَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ n قُلْتُ: إِنَّ أُمِّي قَدِمَتْ وَهِيَ رَاغِبَةٌ، أَفَأَصِلُ أُمِّي؟ قَالَ: نَعَمْ، صِلِيْ أُمَّكِ
“Ibuku datang menemuiku dalam keadaan ia masih musyrikah di masa perjanjian Rasulullah n (dengan kafir Quraisy). Aku pun meminta fatwa kepada Rasulullah n. Aku berkata, “Ibuku datang menemuiku untuk meminta baktiku kepadanya dalam keadaan mengharap kebaikan putrinya. Apakah aku boleh menyambung hubungan dengan ibuku?” Rasulullah n menjawab, “Iya, sambunglah hubungan dengan ibumu.” (HR. Al-Bukhari no. 2620 dan Muslim no. 2322)
Lalu bila timbul pertanyaan, bagaimana dengan ayat Allah k yang menyatakan:
“Engkau tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.” (Al-Mujadilah: 22)
Juga ayat:
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan bapak-bapak dan saudara-saudara kalian sebagai kekasih, jika mereka lebih mencintai/mengutamakan kekafiran daripada keimanan. Dan siapa di antara kalian yang berloyalitas dengan mereka maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (At-Taubah: 23)
Maka dijawab, bahwa berbuat baik dan menyambung hubungan tidak mengharuskan adanya rasa saling cinta. Al-Imam Asy-Syafi’i t berkata dalam tafsir ayat-ayat ahkam sebagaimana dinukil oleh ‘Athiyyah Muhammad Salim dalam kitab pelengkap (Titimmah) Adhwa`ul Bayan (8/154), “Menyambung hubungan dengan memberikan harta, berbuat baik, berlaku adil, berbicara lembut dan surat-menyurat, dengan hukum Allah l tidaklah termasuk loyalitas yang terlarang bagi kaum muslimin terhadap orang yang tidak boleh mereka berikan sikap wala` (loyalitas) karena permusuhannya dengan kaum muslimin. Berlaku baik dan adil seperti itu dibolehkan Allah k dan tidak haram untuk dilakukan kepada orang-orang musyrikin yang tidak memusuhi kaum muslimin. Bahkan Allah l menyebutkan tentang orang-orang yang menampakkan permusuhan kepada kaum muslimin, kepada mereka ini kita dilarang untuk berloyalitas apabila bentuk loyalitas tersebut selain berbuat baik dan bersikap adil….”
Al-Hafizh Ibnu Hajar t berkata, “Kemudian berbakti, menyambung hubungan dan berbuat baik tidaklah mengharuskan saling cinta dan sayang-menyayangi yang dilarang dalam firman-Nya: ‘Engkau tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan rasul-Nya….’ Karena ayat ini umum mencakup diri orang yang memerangi dan orang yang tidak memerangi.” (Fathul Bari)
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

1 Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Rasulullah n menjawab:
أُمُّكَ، ثُمَّ أُمُّكَ، ثُمَّ أُمُّكَ، ثُمَّ أَبُوْكَ، ثُمَّ أَدْنَاكَ أَدْناَكَ
“Ibumu, kemudian ibumu, kemudian ibumu, kemudian ayahmu. Kemudian kerabat yang paling dekat denganmu, dan yang paling dekat denganmu.” (HR. Muslim no. 6448)
2 Kata Al-Imam An-Nawawi t, “Hadits Uwais ini menunjukkan keutamaan berbakti kepada kedua orangtua….” (Al-Minhaj, 16/312)

Khaulah Bintu Hakim

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirahman bintu ‘Imran)

 

Khaulah bintu Hakim bin Umayyah bin Haritsah bin Al-Auqash bin Murrah bin Hilal bin Falij bin Tsa’labah bin Dzakwan bin Imri`il Qais bin Buhtsah bin Sulaim As-Sulamiyyah x, dikenal pula dengan kunyahnya, Ummu Syarik. Ibunya adalah Dha’ifah bintu Al-’Ash bin Umayyah bin ‘Abdi Syams.

Dialah yang turut mengantarkan Saudah bintu Zam’ah dan ‘Aisyah bintu Abi Bakr c ke dalam rumah tangga Rasulullah n, sebagai ummahatul mukminin. Ketika Khadijah bintu Khuwailid x meninggal, Khaulah menemui Rasulullah n yang sedang dirundung duka. “Wahai Rasulullah,” katanya, “Tidakkah engkau ingin menikah lagi?” “Dengan siapa?” “Kalau engkau menghendaki, ada yang gadis. Atau kalau engkau menghendaki, ada yang janda,” jawab Khaulah. “Siapa yang gadis dan siapa yang janda?” “Yang gadis, ‘Aisyah, putri seseorang yang paling engkau cintai. Sedangkan yang janda, Saudah bintu Zam’ah, seorang wanita yang beriman kepadamu dan mengikutimu,” jelas Khaulah. “Pinangkanlah mereka berdua untukku,” utus Rasulullah n.

Khaulah pun mendatangi Ummu Ruman, ibu ‘Aisyah. “Wahai Ummu Ruman, kebaikan dan berkah apa kiranya yang akan Allah k datangkan bagi kalian?” “Apa itu?” tanya Ummu Ruman. “Rasulullah n meminang ‘Aisyah,” jawab Khaulah.

“Tunggu sebentar! Sebentar lagi Abu Bakr datang,” kata Ummu Ruman.

Tak lama, Abu Bakr pun datang. Khaulah pun menyampaikan maksudnya kepada Abu Bakr. “Apakah ‘Aisyah pantas menikah dengan beliau, sementara ‘Aisyah adalah anak saudaranya?” tanya Abu Bakr. Ketika Khaulah menyampaikan pertanyaan ini kepada Rasulullah n, beliau pun menjawab, “Aku saudaranya dan dia saudaraku, dan putrinya boleh menikah denganku.”

“Sesungguhnya Al-Muth’im bin ‘Adi pernah meminang ‘Aisyah untuk anaknya. Sungguh, aku tidak bisa menyelisihi janji,” kata Ummu Ruman pada Khaulah. Abu Bakr pun segera menemui Al-Muth’im. “Bagaimana pandanganmu tentang urusan anak gadis ini?” tanya Abu Bakr. Al-Muth’im memandang istrinya sambil bertanya, “Apa yang akan kau katakan?” Istri Al-Muth’im memandang Abu Bakr. “Sepertinya kalau kami nikahkan anak kami dengan anak perempuanmu, engkau akan memasukkan anak kami dalam agamamu,” kata istri Al-Muth’im. Abu Bakr mengalihkan pandangan pada Al-Muth’im, “Kau sendiri, apa yang hendak kau katakan?” “Dia telah mengatakan apa yang sudah kau dengar tadi,” jawab Al-Muth’im.

Abu Bakr segera beranjak pergi. Sekarang, tak ada janji apa pun yang harus dia penuhi dengan Al-Muth’im. “Katakan pada Rasulullah, dia bisa datang,” kata Abu Bakr pada Khaulah. Rasulullah n pun datang dan menikah dengan ‘Aisyah.

Khaulah bintu Hakim, salah seorang di antara para shahabiyah yang pernah menghibahkan dirinya kepada Rasulullah n, namun kemudian dinikahi oleh seorang shahabat, ‘Utsman bin Mazh’un z.

Dalam perjalanan rumah tangganya dengan ‘Utsman bin Mazh’un z, ada satu peristiwa yang memberikan banyak faedah bagi kaum muslimin. Suatu hari, Khaulah x mendatangi ‘Aisyah x dengan penampilan yang kusut dan jelek. ‘Aisyah merasa heran melihatnya, “Mengapa keadaanmu seperti itu?” “Suamiku selalu menegakkan shalat sepanjang malam dan selalu berpuasa di siang hari,” jawab Khaulah menjelaskan keadaannya. Ketika Rasulullah n datang, ‘Aisyah menceritakan keadaan Khaulah kepada beliau. Rasulullah n pun menemui ‘Utsman seraya menasihati, “Wahai ‘Utsman, sesungguhnya rahbaniyyah1 itu tidak ditetapkan bagi kita. Pada diriku ini ada contoh yang baik untukmu. Demi Allah, aku ini orang yang paling takut dan paling menjaga batasan-batasan Allah k.”

Dia pernah meriwayatkan ilmu dari Rasulullah n. Banyak yang mengambil ilmu darinya. Di antaranya Sa’d bin Abi Waqqash z tentang hadits ta’awwudz (meminta perlindungan kepada Allah k) dengan kalimat-kalimat Allah l yang sempurna ketika singgah di suatu tempat dalam perjalanan. Juga Sa’id ibnul Musayyab, Busr bin Sa’id, dan ‘Urwah bin Az-Zubair bin Al-Awwam.

Khaulah bintu Hakim x, seorang wanita shalihah dan penuh keutamaan. Semoga Allah l meridhainya….

Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.

 

Sumber Bacaan:

• Al-Ishabah, karya Al-Hafizh Ibnu Hajar (8/116-117)

• Al-Isti’ab, karya Al-Imam Ibnu ‘Abdil Barr (2/514-515)

• Ath-Thabaqatul Kubra, karya Al-Imam Ibnu Sa’d (10/152)

• Siyar A’lamin Nubala’, karya Al-Imam Adz-Dzahabi (1/157-158, 2/149-150)


1 Rahbaniyyah adalah cara hidup kependetaan yang berasal dari Nasrani, dengan menjauhi kesibukan dunia, meninggalkan segala kesenangan dunia, merasa tidak butuh terhadap dunia, menjauhkan diri dari istri dan keluarganya. Sampai-sampai di antara mereka ada yang mengebiri dirinya, memasang rantai di lehernya, maupun bentuk-bentuk penyiksaan diri lainnya.

Meninggalkan Istri

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah)

 

Terpisahnya jarak antara suami dengan istrinya adalah hal lumrah. Terlebih karena didesak oleh kebutuhan dan situasi yang syar’i. Namun demikian seyogianya suami tidak meninggalkan istrinya untuk waktu yang sangat lama. Sebaliknya juga, dibutuhkan kesabaran seorang istri manakala situasi menuntut yang demikian.

Sudah menjadi kewajiban bagi seorang suami untuk bergaul dengan istrinya dengan ma’ruf. Karena Allah k memerintahkan dalam firman-Nya yang agung:
“Bergaullah kalian (wahai para suami) dengan mereka (para istri) dengan cara yang ma’ruf.” (An-Nisa`: 19)
Hak untuk mendapatkan pergaulan dengan ma’ruf ini merupakan hak yang wajib ditunaikan suami terhadap istrinya. Sebagaimana pula seorang istri dituntut untuk berlaku demikian terhadap suaminya karena istri pun punya kewajiban. Sebagaimana Allah k berfirman:
“Mereka (para istri) punya hak yang sebanding dengan kewajiban mereka dengan cara yang ma’ruf.” (Al-Baqarah: 228)
Al-Imam Al-Qasimi t berkata dalam tafsirnya, “Dalam ayat di atas Allah l menetapkan adanya hak seorang istri terhadap suaminya, seperti halnya suami punya hak yang harus ditunaikan istrinya. Maka masing-masingnya melaksanakan apa yang semestinya mereka tunaikan untuk pasangannya dengan cara yang ma’ruf.” (Mahasinut Ta`wil, 2/175)
Termasuk bergaul dengan ma’ruf adalah seorang suami tidak bepergian meninggalkan istrinya dalam waktu yang lama. Adalah merupakan hak istri untuk menikmati pergaulan suaminya, sebagaimana seorang suami menikmati pergaulan dengan istrinya. Namun terkadang sepasang suami istri terpaksa “berpisah” dalam waktu lama dengan alasan suami harus mencari pekerjaan di kota lain, atau bahkan di luar negeri untuk menghidupi keluarganya. Atau suami harus bepergian lama dengan alasan tugas/dinas, atau suami merantau ke negeri orang dalam rangka mencari ilmu. Lalu timbullah pertanyaan, bolehkah hal ini dilakukan oleh suami? Berdosakah dia?
Bila perginya si suami karena menunaikan kewajiban yang khusus baginya atau yang berkaitan dengan istrinya atau kepentingan umum bagi dirinya dan bagi umat, maka tidak ada dosa bagi si suami. Demikian pula bila ia pergi dalam waktu lama tanpa udzur dan bukan karena menunaikan kewajiban namun istrinya ridha, ia tidaklah berdosa. Akan tetapi bila istrinya tidak ridha maka si suami berdosa dan pantas mendapatkan hukuman. Karena dia telah menyia-nyiakan kewajiban dalam hidup berkeluarga. Walaupun si istri tercukupi dari sisi penghasilan, pakaian, tempat tinggal dan makanan, namun ia juga punya hak untuk memperoleh nafkah batin. (Fatawa Al-Lajnah Ad-Da`imah, fatwa no. 606, 19/338)
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin t berkata, “Bila seorang istri ridha dengan kepergian suami walaupun dalam masa yang lama, maka itu merupakan hak istri. Si suami tidaklah berdosa. Namun dengan syarat si suami meninggalkan istrinya di tempat aman, yang tidak dikhawatirkan akan terjadi apa-apa pada istrinya. Apabila seorang suami pergi jauh untuk mencari rizki dalam keadaan istrinya ridha maka suami tersebut tidak berdosa walaupun ia tidak pulang hingga dua tahun atau lebih. Adapun bila si istri menuntut haknya agar suaminya kembali/pulang, maka perkaranya dalam hal ini dikembalikan kepada mahkamah syar’iyah. Apa yang ditetapkan mahkamah syar’iyah maka itulah yang dilaksanakan.” (Fatawa Nurun ‘Alad Darb, hal. 17)
Dengan demikian, bila istri ridha untuk sementara berjauhan dengan suaminya baik dalam waktu singkat ataupun waktu yang lama, dan masing-masing dapat menjaga kehormatan diri, maka tidak ada dosa bagi keduanya. Namun bila si istri khawatir dirinya atau suaminya akan terjatuh ke dalam fitnah meski ada kebutuhan untuk mencari penghidupan, ia bisa menuntut untuk berkumpul kembali dalam rangka menjaga kehormatan diri dan menjaga kemaluan. Akan tetapi bila si suami enggan untuk segera kembali, istri dapat mengangkat perkaranya kepada hakim agama (mahkamah syar’iyah) agar memutuskan perkara antara dia dan suaminya sesuai dengan apa yang Allah k syariatkan. (Fatawa Al-Lajnah Ad-Da`imah, fatwa no. 1545, 19/339, 340)
Berapa Lama Seorang Suami Diperkenankan Meninggalkan Istrinya?
Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Batasan yang ditetapkan secara syar’i tentang perginya suami meninggalkan istrinya adalah selama empat bulan, tidak boleh lebih. Kecuali bila si istri ridha, dengan catatan aman dari fitnah baik bagi si istri maupun bagi si suami. Terkecuali orang yang dipaksa oleh keadaan darurat untuk pergi dalam waktu yang lama, maka ia diberi udzur karenanya.
Dalam masa kepergiannya itu, ketika memungkinkan bagi si suami untuk kembali guna bertemu istrinya, menjaganya dan menunaikan kebutuhannya maka wajib baginya untuk kembali. Khususnya di zaman kita ini, yang banyak terjadi fitnah dan perkara-perkara menipu yang dapat merusak akhlak. Maka tidak sepantasnya suami berjauhan dari istrinya kecuali karena kebutuhan dan karena darurat disertai keinginan yang besar untuk cepat-cepat menyelesaikan keperluan lalu segera kembali kepada istri sesuai kesempatan yang ada.” (Al-Muntaqa min Fatawa Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan, 3/248)
Sebagaimana yang kita maklumi, seorang istri tidak hanya berhak mendapatkan nafkah lahir, namun juga nafkah batin. Sehingga seorang suami tidak cukup sekadar mencukupi kebutuhan lahiriah istrinya berupa sandang, pangan, dan papan. Namun juga harus menaruh perhatian terhadap kebutuhan batin istrinya. Bila ia bepergian dalam waktu lama berarti kebutuhan yang satu ini akan terabaikan. Al-Lajnah Ad-Da`imah lil Buhuts Al-’Ilmiyyah wal Ifta`(Komisi Tetap untuk Pembahasan dan Fatwa, Dewan Ulama Besar, KSA) yang saat itu diketuai oleh Samahatusy Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz t, ketika ditanya tentang berapa lama seorang istri harus bersabar ditinggalkan suaminya tanpa memperoleh nafkah batin, memberikan jawaban, “Masa yang mungkin bagi seorang istri untuk bersabar dalam masalah jima’ secara umum adalah empat bulan. Empat bulan ini adalah masa yang ditetapkan secara syar’i bagi seorang yang meng-ilaa` istrinya, yaitu suami yang bersumpah tidak akan menggauli istrinya. Waktu empat bulan ini lebih pantas ditetapkan sebagai batasan waktu seorang istri dapat bersabar tidak mendapat nafkah batin dari suaminya. Allah k berfirman:
“Bagi orang-orang (para suami) yang meng-ilaa` istrinya diberi tangguh empat bulan. Kemudian bila mereka kembali kepada istrinya (mau kembali menggauli istrinya) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha penyayang.” (Al-Baqarah: 226) [Fatwa no. 606, 19/338, 339]
Diriwayatkan sebuah atsar dari Umar ibnul Khathathab z saat beliau menjadi Amirul Mukminin. Dikisahkan, suatu malam Umar mengelilingi kota Madinah guna memeriksa keadaan rakyatnya. Bertepatan ketika melewati sebuah rumah, Umar mendengar suara seorang wanita yang sedang mendendangkan syair:
Amat panjangnya malam ini dan tertutup sisinya
Ia menaruh belas kasihan kepadaku karena tidak ada teman berbaring yang kudapat bersenda gurau dengannya
Aku bersenda gurau dengannya setingkat demi setingkat
Seakan-akan bulan yang memunculkan alisnya dalam kegelapan malam
Orang yang bermain dengannya dibuat senang karena berdekatan dengannya
Lunak pangkuannya, tidak dimiliki oleh kerabatnya
Maka demi Allah, seandainya bukan karena Allah, aku tidak peduli dengan selain-Nya
Niscaya akan bergerak sisi-sisi tempat tidur ini
Akan tetapi aku takut dengan malaikat yang dekat yang ditugasi mencatat amal diri-diri kita
Pencatat amal itu tidak pernah berhenti mencatat sepanjang masa
Karena takut kepada Rabbku dan juga rasa malu menahanku
Demikian pula karena memuliakan suamiku untuk dicapai martabatnya
Umar pun menanyakan kepada orang-orang tentang siapa wanita tersebut. Dikabarkan kepada Umar, wanita itu adalah Fulanah yang suaminya sedang pergi jauh untuk berperang fi sabilillah. Maka ‘Umar pun mengirim utusan untuk memanggil suami wanita itu agar pulang menjumpai istrinya. Kemudian Umar masuk ke tempat putrinya, Hafshah c untuk bertanya, “Wahai putriku, berapa lama seorang wanita dapat bersabar berpisah dengan suaminya dan tidak bergaul dengan suaminya?”
Hafshah menjawab, “Subhanallah, orang yang semisal ayah bertanya kepadaku tentang perkara seperti ini?”
“Kalaulah bukan karena ingin memerhatikan urusan kaum muslimin, aku tidak akan bertanya kepadamu,” tukas Umar.
“Lima bulan… dan bisa juga enam bulan,” Hafshah menjelaskan.
Setelah mendapatkan keterangan dari putrinya, ‘Umar pun menetapkan waktu peperangan bagi pasukannya selama enam bulan. Dengan perincian mereka berjalan selama sebulan, tinggal di tempat peperangan empat bulan dan berjalan pulang selama sebulan. (Tuhfatul ‘Arus, Al-Istambuli, hal. 200)
Bila ada yang bertanya, apakah dengan meninggalkan istri dalam waktu bertahun-tahun berarti telah jatuh talak kepada si istri, dan ketika suaminya kembali dari bepergiannya tersebut harus menjalin akad nikah yang baru? Maka dijawab oleh Al-Lajnah Ad-Da`imah lil Buhuts Al-’Ilmiyyah wal Ifta’, “Meninggalkan istri dalam waktu sekian lama tersebut tidaklah teranggap jatuh talak kepada si istri, sehingga jelas tidak butuh akad nikah yang baru bila si suami kembali kepada istrinya.” (Fatwa no. 9822, 19/341)
Seorang penanya mengajukan permasalahannya kepada Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah, “Saya tinggal di Sudan. Ketika berusia 17 tahun, saya menikahi seorang gadis. Setelah menikahinya saya hanya sempat mendampinginya selama tiga bulan karena saya harus safar ke Libia dalam rangka mencari rizki yang halal. Sekarang telah lewat masa dua tahun, saya belum juga dapat kembali ke negara saya dan kepada istri saya karena tidak punya biaya untuk pulang, karena musibah kecelakaan mobil yang berakibat patahnya tangan saya hingga saya tidak dapat bekerja. Lalu apa jalan keluar terhadap keadaan ini? Apakah saya harus mengirim surat cerai kepada istri saya yang telah saya tinggalkan lebih dari dua tahun dan mungkin akan terus bertambah waktu yang ada disebabkan kecelakaan yang menimpa saya ini? Namun perlu diketahui, istri saya tersebut tinggal bersama ayah dan keluarga saya. Ia tidak mengalami kekurangan sedikitpun dari sisi penghidupan/nafkah. Berilah kami fatwa, jazakumullah khairan!”
Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah memberikan jawaban, “Apa yang disebutkan penanya bahwa ia safar meninggalkan istrinya dan ada penghalang yang membuatnya tidak dapat kembali kepada istrinya, lalu apakah ia harus mengirim surat cerai kepada si istri? Jawabannya: Anda, wahai penanya, diberi udzur dalam apa yang anda sebutkan. Anda tidak harus menceraikan istri anda selama anda punya udzur. Karena anda sebutkan tentang musibah yang menimpa anda dan ketidakmampuan anda untuk melakukan perjalanan/safar. Ini merupakan udzur bagi anda dan tidak ada alasan untuk menggugat anda. Kecuali kalau anda mampu menempuh perjalanan guna bertemu istri anda dan berkumpul kembali dengannya tapi anda tidak mau melakukannya. Bila seperti ini keadaannya, istri anda diberi pilihan; ia mau bersabar menanti anda kembali, ataukah ia menuntut haknya terhadap anda. Karena itu, anda lihat keadaan anda. Jalan keluar itu dekat, Insya Allah, bila niat dan ketetapan hati anda benar. Terlebih lagi ayah anda telah menanggung kebutuhan hidup istri anda. Maka tidak ada alasan bagi anda untuk gundah gulana dan gelisah.” (Fatawa Al-Mar`ah Al-Muslimah, hal. 283-283)
Contoh Kesabaran Seorang Istri Berpisah dengan Suaminya
Kami ingin membawakan sebuah contoh dari kisah orang terdahulu berkaitan dengan kesabaran seorang istri ditinggal pergi dalam waktu lama oleh suaminya. Perpisahan itu terjadi karena si suami hendak menuntut ilmu agama ke negeri lain, untuk duduk di hadapan seorang alim yang besar dan terdepan di masa itu.
Dikisahkan, Abdullah bin Al-Qasim Al-’Ataki Al-Mishri hendak safar meninggalkan Kairo menuju ke Madinah guna menuntut ilmu di sisi Al-Imam Malik t. Istri Abdullah ketika itu sedang hamil maka ia berkata kepada istrinya, “Aku telah berketetapan hati untuk melakukan perjalanan guna menuntut ilmu dan aku tidak melihat akan kembali ke negeri Mesir ini kecuali setelah berlalu masa yang panjang. Bila engkau ingin agar aku menceraikanmu, aku akan ceraikan sehingga engkau bisa menikah dengan siapapun yang engkau inginkan. Namun bila engkau tetap ingin menjadi istriku, aku pun akan melakukannya akan tetapi aku tak tahu kapan aku dapat kembali kepadamu.”
Istri Abdullah memilih untuk tetap menjadi istrinya. Abdullah atau yang lebih sering disebut dengan Ibnul Qasim kemudian menempuh perjalanan untuk bertemu dengan Al-Imam Malik dan tinggal di Madinah untuk mulazamah dengan Al-Imam Malik selama 17 tahun. Ia tidak tersibukkan dengan jual beli/perdagangan, tapi semata-mata perhatiannya ditujukan untuk menimba ilmu. Dalam masa tersebut, istrinya telah melahirkan seorang anak laki-laki dan jelas telah tumbuh besar. Namun Ibnul Qasim tidak mengetahui berita kelahiran putranya ini, karena hubungan/komunikasinya dengan istrinya telah terputus sejak ia pergi.
Ibnul Qasim berkisah sendiri, “Ketika suatu hari aku sedang berada di sisi Al-Imam Malik dalam majelis beliau, tiba-tiba datang menemui kami seorang pemuda dari Mesir dalam keadaan menutup wajahnya. Ia mengucapkan salam kepada Al-Imam Malik kemudian bertanya, “Apakah di antara kalian ada Ibnul Qasim?” Orang-orang yang hadir pun menunjuk Ibnul Qasim yang ditanya si pemuda. Pemuda itu menghadap kepadaku, merangkulku, dan mengecup di antara dua mataku. Aku mendapati perasaan bahwa ia adalah anakku. Ternyata ia memang anakku yang dulunya aku tinggalkan masih dalam kandungan istriku. Sekarang ia telah besar dan menjadi seorang pemuda.” (Waratsatul Anbiya`, hal. 41)
Lihatlah kesabaran yang mencengangkan dari istri Ibnul Qasim. Dalam keadaan mengandung ditinggal oleh sang suami, hingga ia melahirkan dan membesarkan anaknya, sampai si anak dapat menyusul sang ayah di negeri penuntutan ilmunya, di sisi alim besar di masanya, imam Darul Hijrah.
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Syarat Sahnya Shalat

الْحَمْدُ لِلهِ ذِي الفَضْلِ وَالإِحْسَانِ، جَعَلَ إِقَامَةَ الصَّلاَةِ مِنْ أَعْظَمِ صِفَاتِ أَهْلِ الإِيْمَانِ، وَأشْهَدُ أَنْ لاَ إلَهَ إلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ شَهَادَةً تُنْجِيْ مَنْ قَالَهَا وَعَمِلَ بِهَا مِنَ النِّيْرَانِ، وَتُوْجِبُ لَهُ دُخُوْلَ الجَنَانِ، وَأَشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُؤَيَّدُ بِالمُعْجِزَاتِ وَالبُرْهَانِ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأصْحَابِهِ وَالَّذِيْنَ اتَّبَعُوْهُمْ بِإِحْسَانٍ، وَسَلَّمَ تَسْلِيْمً كَثِيْرًا؛

أَمّا بَعْدُ: أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ سُبْحَانَ وَتَعَالَى أَمَرَ بِإِقَامَةِ الصَّلاَةِ

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Segala puji kita panjatkan kehadirat Allah l, Rabb yang menciptakan dan menguasai serta mengatur seluruh alam semesta. Kita senantiasa memuji-Nya dalam keadaan apapun dan di manapun kita berada. Dialah satu-satunya yang berhak untuk diibadahi dan tidak ada sesembahan selain-Nya. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah n, keluarganya, para sahabatnya, dan seluruh kaum muslimin yang senantiasa berjalan di atas petunjuknya.

 

Saudara-saudaraku kaum muslimin rahimakumullah,

Shalat lima waktu adalah perintah Allah l yang paling besar setelah kewajiban bertauhid kepada-Nya. Bahkan Allah l memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya untuk menegakkannya. Hal ini mengandung pengertian lebih dari sekadar menjalankannya. Menegakkan shalat sebagaimana diterangkan oleh para ulama adalah menjalankannya sebagaimana diperintahkan Allah l yaitu secara berjamaah di masjid bagi kaum laki-laki dengan memenuhi syarat-syarat, rukun-rukun, serta kewajiban-kewajibannya. Dan akan lebih sempurna apabila dengan menjalankan sunnah-sunnahnya.

 

Hadirin jamaah shalat jum’at rahimakumullah,

Berdasarkan petunjuk dari Al-Qur`an dan hadits Nabi n, para ulama menyebutkan bahwa syarat sahnya shalat ada 9 (sembilan). Syarat-syarat ini harus dipenuhi ketika seseorang hendak mulai mengerjakan hingga dia menyelesaikan shalatnya. Kesembilan syarat tersebut adalah: Islam, berakal, tamyiz, suci dari hadats, suci dari najis, menutup aurat, telah masuk waktunya, menghadap kiblat dan niat. Berdasarkan syarat pertama, yaitu Islam, maka tidak sah dan tidak diterima shalat seseorang apabila dia mengerjakannya dalam keadaan dirinya masih kafir. Bahkan ibadah apapun yang dia lakukan tidak akan diterima oleh Allah l selama dia melakukannya dalam keadaan kafir. Oleh karena itu, wajib bagi kaum muslimin untuk mengetahui agamanya dengan benar serta menjaga dirinya dari melakukan perbuatan-perbuatan yang bisa mengeluarkannya dari agamanya. Karena bisa jadi seseorang merasa dirinya muslim, namun sesungguhnya dia telah keluar dari agamanya karena terjatuh pada perbuatan syirik atau pembatal Islam lainnya. Sehingga dirinya menyangka akan mendapatkan balasan kebaikan dari Allah l, namun ternyata dia tidak bakal mendapatkannya. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah l tentang keadaan orang-orang kafir:

“Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar. Orang yang dahaga menyangkanya (ada) air, namun ketika mendatanginya dia tidak mendapati air sedikitpun.” (An-Nur: 39)

 

Hadirin yang mudah-mudahan senantiasa dirahmati Allah l,

Adapun syarat sahnya shalat yang kedua yaitu berakal, menunjukkan bahwasanya seseorang apabila dia mengerjakannya dalam keadaan gila maka shalatnya tidak sah. Begitu pula orang yang mabuk, tidur, dan semisalnya. Hal ini karena mereka tidak menyadari apa yang dilakukannya. Hanya saja orang yang meninggalkan shalat karena gila atau karena tertidur tidak dicatat sebagai orang yang berbuat dosa, sebagaimana disebutkan oleh Nabi n dalam sabdanya:

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلاَثَةٍ: النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ، وَالْمَجْنُوْنِ حَتَّى يَفِيْقَ، وَالصَّغِيْرِ حَتَّى يَبْلُغََ

“Diangkat pena dari tiga orang, (yaitu): orang yang tertidur sampai dia bangun, orang yang gila sampai dia sadar dan anak kecil sampai dia baligh.” (HR. Ahmad dan lainnya disahihkan Al-Albani t dalam Al-Irwa`)

Akan tetapi orang yang meninggalkannya karena sebab tertidur, setelah dia bangun maka dia wajib mengerjakan shalat-shalat yang ditinggalkannya. Hal ini disebutkan oleh sabda Nabi n:

مَنْ نَسِيَ صَلاَةً أَوْ نَامَ عَنْهَا فَكَفَّارَتُهَا أَنْ يُصَلِّيَهَا إِذَا ذَكَرَهَا

“Barangsiapa yang lupa (dari mengerjakan) shalat atau dia tertidur dari shalat (sehingga meninggalkannya), maka kewajibannya adalah mengerjakannya ketika dia ingat.” (HR. Muslim)

 

Saudara-saudaraku, kaum muslimin rahimakumullah,

Adapun syarat yang ketiga adalah tamyiz, yaitu telah berusia 7 (tujuh) tahun atau lebih. Hal ini sebagaimana sabda Nabi n:

مُرُا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ لِسَبْعٍ وَاضْرِبُوْهُمْ عَلَيْهَا لِعَشْرٍ وَفَرِّقُوْا بَيْنَهُمْ فِيْ الْمَضَاجِعِ

“Perintahkan anak-anak kalian untuk shalat ketika telah mencapai umur tujuh tahun dan pukullah mereka apabila tidak mau shalat ketika sudah berumur sepuluh tahun, serta pisahkan mereka (pada usia tersebut) dari tempat tidurnya.” (HR. Ahmad dan lainnya disahihkan Al-Albani t dalam Al-Irwa`)

Hadits ini menunjukkan bahwa apabila seorang anak mengerjakan shalat ketika usianya telah mencapai tujuh tahun maka shalatnya sah, meskipun belum ada kewajiban atasnya untuk menjalankannya. Adapun anak yang belum berumur tujuh tahun maka belum diperintahkan untuk shalat. Sehingga tidak semestinya bagi anak yang usianya belum mencapai tujuh tahun untuk ditempatkan di shaf bersama-sama orang-orang dewasa yang telah memenuhi syarat ketika menjalankan shalat. Karena dia tidak dianggap orang yang sedang shalat sehingga keberadaannya di dalam shaf secara tidak langsung bisa memutus shaf. Wallahu a’lam bish-shawab.

 

Hadirin, jamaah shalat jum’at rahimakumullah

Syarat yang keempat adalah bersuci dari hadats, baik berupa hadats besar yaitu dengan mandi ataupun hadats kecil yaitu dengan berwudhu. Akan tetapi dalam keadaan tertentu seseorang diberi kemudahan untuk bertayammum sebagai pengganti dari berwudhu ataupun mandi. Yaitu apabila seorang dalam keadaan tidak mendapatkan air, atau ada air namun dikhawatirkan akan menyebabkan bertambah parahnya sakit yang dideritanya atau memperlambat kesembuhannya. Allah l berfirman:

“Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air atau menyentuh perempuan (maksudnya melakukan jima’), lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); usaplah wajah dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.” (Al-Ma`idah:6)

 

Hadirin rahimakumullah,

Adapun syarat sahnya shalat yang kelima adalah suci dari najis, baik yang mengenai badannya, pakaian atau tempat yang digunakan untuk shalat. Namun jika baru ingat atau mengetahui adanya najis setelah selesai dari shalat, maka shalatnya sah. Hal ini sebagaimana tersebut di dalam hadits yang menyebutkan bahwa Nabi n ketika diberitahu oleh malaikat Jibril di tengah-tengah shalatnya bahwa pada sandal yang dipakai oleh beliau n ada najisnya, maka beliau n melemparkan sandalnya dan melanjutkan shalatnya tanpa mengulangi shalatnya dari awal.

 

Hadirin yang mudah-mudahan senantiasa dirahmati Allah l,

Syarat yang keenam dari syarat sahnya shalat adalah menutup aurat. Allah l berfirman:

“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah ketika (menuju) masjid (untuk menjalankan shalat).” (Al-A’raf: 31)

Ayat ini memerintahkan kepada kita untuk tidak sekadar menutup aurat, namun memerintahkan kita untuk berpenampilan yang baik ketika hendak menjalankan shalat. Maka sudah semestinya bagi kita untuk berpakaian yang bersih dan rapi ketika hendak mengerjakannya. Bukankah seseorang juga malu untuk memakai pakaian yang kotor dan bau ketika ingin menghadap pimpinannya? Maka semestinya seseorang lebih malu untuk berpenampilan seenaknya ketika hendak berhubungan dengan Allah l melalui shalat. Begitu pula seseorang semestinya memerhatikan aturan syariat dalam berpakaian baik di luar shalat maupun ketika shalat. Seperti tidak menggunakan pakaian yang menyerupai model pakaian orang kafir, baik pakaian yang sangat ketat maupun sangat tipis. Begitupula tidak mengenakan pakaian yang terdapat gambar makhluk yang bernyawa, serta tidak memakai pakaian yang menutup bagian mata kakinya (bagi laki-laki, ed.) dan yang lainnya.

 

Hadirin yang mudah-mudahan senantiasa dirahmati Allah l,

Syarat sahnya shalat yang ketujuh adalah telah masuk waktu shalat, sebagaimana tersebut dalam firman Allah l:

“Sesungguhnya shalat itu telah diwajibkan pada waktu yang telah ditentukan atas orang-orang yang beriman.” (An-Nisa`: 103)

Sehingga tidaklah benar apa yang dilakukan oleh sebagian orang yang menunda-nunda waktu shalat sampai keluar waktunya dengan alasan dalam perjalanan atau karena sakit. Bahkan semestinya mereka menjalankannya pada waktu yang telah ditetapkan atau menjamak shalat-shalat yang bisa dijamak. Adapun menjalankan shalat yang diwajibkan pada malam hari dengan dilakukan di siang hari dan sebaliknya, atau menjalankan shalat fajar setelah terbitnya matahari, maka ini adalah perbuatan yang melanggar syariat Allah l. Wallahu a’lam bish-shawab.

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، أَمَرَ بِالْـمُحَافَظَةِ عَلىَ الصَّلاَةِ إِلَى الْمَمَاتِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إلَهَ إلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ فِيْ رُبُوْبِيَّتِهِ وإِلَهِيَّتِهِ وَمَا لَهُ مِنَ اْلأَسْماءِ وَالصِّفَاتِ، وَأَشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ ورَسُوْلُهُ الْـمُؤَيَّدُ بِالمُعْجِزَاتِ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ ذَوِيْ الْمَنَاقِبِ العَظِيْمَةِ وَالْكَرَامَاتِ، وَسَلَّمَ تَسْلِيْمً كَثِيْرًا، أَمّا بَعْدُ: أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى فَإِنَّ تَقْوَاهُ سَبَبٌ لِنَيْلِ العِلْمِ النَّافِعِ

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa berusaha untuk mempelajari agama Islam dan mengamalkannya. Karena dengan itu Allah l akan mengaruniakan kepada kita ilmu yang bermanfaat. Sebagaimana tersebut dalam firman-Nya:

“Dan bertakwalah kepada Allah, maka Allah akan mengaruniakan ilmu kepada kalian, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Al-Baqarah: 282)

 

Jamaah jum’at rahimakumullah,

Masih berkaitan dengan syarat-syarat sahnya shalat, syarat yang kedelapan adalah menghadap kiblat. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah l:

“Hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, hadapkanlah wajahmu ke arahnya.” (Al-Baqarah:144)

Berkaitan dengan syarat ini, maka seseorang yang tidak berusaha mencari tahu arah kiblat dalam keadaan dia tidak tahu arah, kemudian setelah shalat dia baru tahu bahwa shalatnya tidak menghadap kiblat, maka shalatnya tidak sah. Syarat ini juga tetap berlaku meskipun orang yang menjalankannya dalam keadaan sakit. Sehingga wajib bagi orang yang sakit untuk menghadap kiblat meskipun dia shalat dalam keadaan berbaring miring, baik di atas sisi kanannya maupun sisi kirinya. Apabila shalatnya sambil berbaring di atas punggungnya maka dia menjadikan kakinya ke arah kiblat. Kecuali kalau tidak memungkinkan untuk melakukan itu semua, maka tidak mengapa baginya untuk shalat wajib ke arah mana yang dia mampu untuk melakukannya.

 

Hadirin rahimakumullah,

Adapun syarat yang kesembilan adalah niat, yaitu keinginan yang kuat untuk melakukan shalat tertentu dalam rangka beribadah kepada Allah l. Namun niat tempatnya di hati. Sehingga ketika seseorang telah bewudhu kemudian masuk shaf bersama-sama orang yang shalat berarti telah melekat niat pada dirinya meskipun tidak dia ucapkan. Bahkan para ulama menyebutkan bahwa mengucapkan niat dengan mengatakan nawaitu ushalli dan seterusnya baik dengan lisannya maupun di dalam hatinya adalah bid’ah. Sehingga sudah semestinya kita tidak melakukannya, karena hal ini tidak sesuai dengan tuntunan Rasulullah n. Begitu pula wajib bagi kita untuk hati-hati dari penyakit was-was atau keraguan yang sering dimunculkan oleh setan. Sehingga terkadang ada orang yang bertakbir berkali-kali karena setan membisikkan kepadanya bahwa niatnya belum muncul dengan benar, atau ucapan takbirnya kurang benar.

Mudah-mudahan Allah l menjadikan kita sebagai orang-orang yang bisa menegakkan shalat. Sehingga kita tidak tergolong orang-orang yang shalat namun dikatakan sebagai orang yang celaka. Sebagaimana seseorang yang secara lahiriah mengerjakan gerakan-gerakan shalat namun di hadapan Allah l tidak dihukumi sebagai orang yang sedang shalat, karena dia mengakhirkan waktu shalatnya. Allah l berfirman:

“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.” (Al-Ma’un:4-5)

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ جَمِيْعِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمَ الدِّيْنِ. اللَّهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّينِ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمينَ فِي كُلِّ مَكانٍ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِنَ وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Allah ada di mana-mana?

Bagaimana membantah orang-orang yang mengatakan: Bahwa Allah l di mana-mana? Maha Tinggi Allah dari hal itu. Dan apa hukum orang yang mengatakannya?

Jawaban:

Ahlus Sunnah wal Jamaah berkeyakinan bahwa Allah l berada di atas Arsy (singgasana)-Nya. Tidak di dalam alam, bahkan terpisah darinya. Dan Dia mengetahui serta melihat segala sesuatu. Tiada yang tersembunyi baginya sesuatupun baik di bumi maupun di langit. Allah l berfirman:

“Sesungguhnya Rabb kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia ber-istiwa` (berada/naik) di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Rabb semesta alam.” (Al-A’raf: 54)

“(Yaitu) Rabb Yang Maha Pemurah, Yang ber-istiwa` di atas ‘Arsy.” (Thaha: 5)

“Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia ber-istiwa` di atas ‘Arsy, (Dialah) Yang Maha Pemurah, maka tanyakanlah (tentang Allah) kepada yang lebih mengetahui (Muhammad) tentang Dia.” (Al-Furqan: 59)

“Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia ber-istiwa` di atas ‘Arsy. Tidak ada bagi kamu selain daripada-Nya seorang penolongpun dan tidak (pula) seorang pemberi syafaat. Maka apakah kamu tidak memerhatikan?” (As-Sajdah: 4)

“Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah ‘Arsy-Nya di atas air.” (Hud: 7)

Di antara yang menunjukkan ketinggian Allah di atas makhluk-Nya adalah turunnya Al-Qur`an dari-Nya. Dan tidaklah dikatakan turun kecuali dari atas ke bawah. Allah l berfirman:

“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al-Qur`an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu.” (Al-Ma`idah: 48)

“Haa Miim. Diturunkan Kitab ini (Al-Qur`an) dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” (Ghafir: 1-2)

“Haa Miim. Diturunkan dari Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (Fushshilat: 1-2)

Dan ayat-ayat yang lain yang menunjukkan ketinggian Allah l di atas makhluk-Nya.

Dalam hadits Mu’awiyah bin Al-Hakam As-Sulami z, ia mengatakan: “Aku memiliki seorang budak wanita yang menggembalakan kambingku di daerah Uhud dan Al-Jawwaniyyah. Pada suatu hari, aku melihat ternyata seekor serigala telah membawa seekor kambing yang digembalanya. Aku adalah seorang manusia dari bani Adam, yang bisa marah sebagaimana orang-orang marah, hingga aku menamparnya satu kali. Maka aku datang kepada Rasulullah n, lantas beliau menilainya sebagai suatu perkara besar atasku. Sehingga aku katakan: ‘Tidakkah kubebaskan saja dia?’ Beliau menjawab: ‘Bawa dia kemari.’ Akupun membawanya kepada beliau. Beliaupun mengatakan kepadanya: ‘Di manakah Allah?’, ‘Di atas langit,’ jawabnya. ‘Siapakah aku?’ tanya Rasulullah. ‘Engkau adalah Rasulullah,’ jawabnya. Lantas beliau mengatakan: ‘Bebaskan dia, sesungguhnya dia adalah wanita mukminah.’ Diriwayatkan oleh Muslim, Abu Dawud, An-Nasa`i, dan yang lain.

Dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Sa’id Al-Khudri z, ia mengatakan: Rasulullah n bersabda:

أَلَا تَأْمَنُونِي وَأَنَا أَمِينُ مَنْ فِي السَّمَاءِ يَأْتِينِي خَبَرُ السَّمَاءِ صَبَاحًا وَمَسَاءً

“Tidakkah kalian percaya kepadaku, sementara aku adalah kepercayaan Yang di atas langit? Datang kepadaku berita langit pagi dan petang hari.”

Kedua: Barangsiapa meyakini bahwa Allah l berada di mana-mana maka dia tergolong aliran Hululiyyah (yang meyakini bahwa Allah l bersatu dengan makhluk-Nya, red.). Orang seperti itu dibantah dengan dalil-dalil yang telah lalu, yang menunjukkan bahwa Allah berada pada ketinggian dan berada di atas Arsy-Nya, terpisah dari makhluk-Nya. Kalau dia tunduk kepada apa yang telah ditunjukkan oleh Al-Qur`an dan As-Sunnah serta ijma (kesepakatan) (maka itu yang seharusnya, red.). Kalau tidak tunduk maka dia kafir, murtad dari agama Islam.

Adapun firman Allah l:

“Dan dia bersama kalian di manapun kalian berada.” (Al-Hadid: 4) Maknanya menurut Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah bahwa Allah l bersama mereka dengan ilmu-Nya, Dia mengetahui keadaan mereka.

Adapun firman Allah l:

”Dan Dialah Allah (Yang disembah), baik di langit maupun di bumi; Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan dan mengetahui (pula) apa yang kamu usahakan.” (Al-An’am: 3)

Maka maknanya bahwa Allah l adalah Dzat yang diibadahi penghuni langit dan bumi.

Adapun firman Allah l:

”Dan Dia-lah Ilah (Yang disembah) di langit dan Ilah (Yang disembah) di bumi dan Dia-lah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (Az-Zukhruf: 84)

Maknanya bahwa Allah l adalah sesembahan penduduk langit dan penduduk bumi, tiada yang diibadahi dengan benar selain Dia. Demikianlah penggabungan antara ayat-ayat dan hadits-hadits yang datang dalam masalah ini menurut pemeluk kebenaran.

Wa billahi taufiq washallahu ‘ala nabiyyina Muhammad, wa alihi wa shahbihi wa sallam.

 

Ditandatangani oleh:

Ketua: Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Anggota: Abdurrazzaq Afifi, Abdullah Ghudayyan, dan Abdullah bin Qu’ud

(Fatawa Al-Lajnah Ad-Da`imah, 3/218)