Buah Tanaman yang Dipupuk dengan Kotoran

Apakah tanaman yang dipupuk dengan pupuk kandang buahnya haram karena pupuk kandangnya berasal dari kotoran hewan?

Dijawab oleh al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad al-Makassari
Apabila pupuk kandangnya berasal dari kotoran hewan yang halal dimakan dagingnya, seperti kotoran ayam, sapi, kerbau, dan semisalnya, tidak jadi masalah, sebab kotoran tersebut suci.
Jika pupuk kandangnya berasal dari kotoran hewan yang haram dimakan dagingnya, masalah ini kembali pada perbedaan pendapat mengenai kesucian kotoran hewan yang haram dimakan dagingnya.
Jika dikatakan bahwa kotorannya suci—sebagaimana mazhab Zhahiri—, berarti tidak jadi masalah.
Jika dikatakan bahwa kotorannya najis—sebagaimana pendapat yang dipilih Ibnu Taimiyah—, inilah yang menjadi masalah. Begitu pula masalahnya jika dipupuk dengan kotoran manusia yang jelas kenajisannya, atau dipupuk dengan kotoran hewan yang najis karena hewan itu sendiri memang najis, seperti kotoran anjing dan babi. Termasuk kotoran keledai yang dagingnya dinyatakan najis oleh Rasulullah n dan bagal yang merupakan keturunan keledai dan kuda.
Terkait kehalalan hasil tanaman (buah, biji, dan sayur-mayur) yang dipupuk dengan najis atau disirami/diairi dengan air bernajis, ada perbedaan pendapat di antara ulama.
1. Haram dengan hujah bahwa perubahan substansi yang najis ke substansi lain (istihalah) tidak dapat menyucikannya. Dengan demikian, haram dimakan sampai disucikan dulu dengan cara dipupuk atau disirami/diairi dengan zat yang suci beberapa waktu lamanya hingga dianggap suci kembali. Ini adalah mazhab Hanbali.
2. Halal selama tidak tampak efek najis padanya, seperti bau busuk atau rasa najis. Sebab, substansi najis tersebut telah mengalami proses istihalah (perubahan) sekian kali, mulai dari istihalah yang terjadi dalam tanah hingga diserap oleh akar tanaman dan beredar dalam tubuh tanaman, yang menyebabkan eksistensinya berubah menjadi substansi yang suci dalam tubuh tanaman tersebut.
Hal itu terbukti dengan tidak tampaknya efek najis, seperti bau busuk atau rasa najis. Adapun jika tampak efek najis, seperti bau tidak sedap atau rasa najis, haram. Jika demikian, disucikan dulu dengan cara dipupuk atau disirami/diairi dengan zat yang suci beberapa waktu lamanya hingga efek najisnya hilang. Ini adalah mazhab jumhur (mayoritas) ulama dan dirajihkan oleh Ibnu ‘Utsaimin. Oleh karena itu, jumhur ulama membolehkan memupuk tanaman dengan kotoran yang najis. Pendapat jumhur ulama inilah yang benar. Wallahu a’lam.1

Catatan Kaki:

1 Lihat kitab al-Mughni (13/330, terbitan Dar ‘Alam al-Kutub), al-Majmu’ (9/32), al-Inshaf (10/368), dan asy-Syarh al-Mumti’ (8/122, 15/22, Dar Ibni al-Jauzi pada Program Maktabah Syamilah).

Orang-orang yang Terasing

(ditulis oleh: Ibnu Qayyim al-Jauziyah)

Allah l berfirman:
“Maka mengapa tidak ada dari umat-umat yang sebelum kalian orang-orang yang mempunyai keutamaan yang melarang dari (mengerjakan) kerusakan di muka bumi, kecuali sebagian kecil di antara orang-orang yang telah Kami selamatkan di antara mereka.” (Hud: 116)
Sesungguhnya, al-Ghuraba di dunia ini adalah para penyandang sifat-sifat yang disebutkan oleh ayat tersebut. Merekalah yang disebut oleh Rasulullah n dalam sabdanya:
بَدَأَ الْإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا، فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ. قِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ، وَمَنِ الْغُرَبَاءُ؟ قَالَ: الَّذِينَ يُصْلِحُونَ إِذَا فَسَدَ النَّاسُ
“Islam berawal dengan keasingan dan akan kembali asing sebagaimana mulanya, maka beruntunglah al-Ghuraba’.” Ditanyakan kepada beliau, “Wahai Rasulullah, siapakah al-Ghuraba’?” Beliau menjawab, “Orang-orang yang melakukan perbaikan saat manusia rusak.” (HR. Ahmad)
Merekalah al-Ghuraba yang terpuji. Orang lain merasa iri terhadap kebaikannya. Karena begitu sedikitnya jumlah mereka di tengah masyarakat, disebutlah mereka dengan Ghuraba (orang-orang yang asing). Orang Islam di tengah manusia seluruhnya adalah asing. Orang yang benar-benar beriman di tengah umumnya orang Islam adalah asing. Demikian pula, para ulama di tengah orang-orang yang benar-benar beriman adalah asing. Ahlus Sunnah yang benar-benar memilah sunnah dari bid’ah dan hawa nafsu, mereka juga al-Ghuraba. Orang yang berdakwah mengajak kepada Sunnah Nabi n dan bersabar terhadap gangguan orang-orang yang menyelisihi mereka adalah orang yang paling asing. Akan tetapi, mereka itulah golongan Allah l yang sebenarnya sehingga mereka tidak asing lagi. Keasingan mereka hanyalah di tengah mayoritas.
Keasingan ada tiga macam1. Yang pertama adalah keasingan golongan Allah l dan golongan Sunnah Rasul-Nya di tengah-tengah masyarakat. Itulah keasingan yang Rasulullah n memuji para penyandangnya. Ini pula yang beliau n beritakan tentang agamanya, agama ini “berawal dengan keasingan” dan akan “kembali dengan keasingan” serta “para pemeluknya menjadi orang-orang yang asing”.
Keasingan ini bisa jadi berada di satu tempat tertentu, di satu waktu tertentu, atau di satu kaum tertentu. Akan tetapi, penyandang keasingan ini adalah golongan Allah l yang hakiki. Mereka tidak berlindung kepada selain Allah l, dan tidak bernasab (dalam ajaran agama) kepada selain Rasul-Nya serta tidak mengajak kepada selain kepada apa yang dibawa Rasul-Nya.
Di antara sifat al-Ghuraba tersebut adalah berpegang teguh dengan sunnah (ajaran Nabi n) ketika orang-orang merasa benci terhadapnya. Mereka meninggalkan apa yang diada-adakan manusia, walaupun hal itu populer di tengah masyarakat. Mereka memurnikan tauhid walaupun mayoritas manusia mengingkarinya. Mereka tidak bernasab (dalam agama) kepada siapa pun selain Allah l dan Rasul-Nya; tidak kepada syaikh tertentu, tarekat tertentu, mazhab tertentu, atau kelompok tertentu. Al-Ghuraba hanyalah menyandarkan diri kepada Allah l—dengan beribadah hanya kepada-Nya—dan kepada Rasul-Nya—dengan mengikuti apa yang diajarkannya. Mereka itulah para pemegang bara api yang sebenarnya, dalam keadaan mayoritas manusia, bahkan seluruhnya, mencela mereka. Itu karena keasingan mereka di tengah umat. Mereka dianggap tidak lazim, membawa ajaran baru, dan tidak mengikuti umumnya manusia.
Islam yang benar—yang seperti itulah Nabi n dan para sahabatnya berada di atasnya—pada masa ini lebih asing daripada saat awal kemunculannya, walaupun simbol-simbol Islam itu tetap ada dan dikenal. Islam yang benar-benar sangat asing sekali. Para penyandangnya pun sangat asing di tengah-tengah manusia.
Bagaimana tidak sangat asing, satu kelompok di tengah 72 kelompok yang masing-masing memiliki pengikut dan pemimpin, kedudukan dan kekuasaan.
Bagaimana seorang mukmin yang berjalan menuju Allah l tidak asing di atas jalan sunnah Nabi n di tengah-tengah orang-orang yang mengekor kepada hawa nafsu, menganut selera rakus, dan bangga diri dengan pendapat masing-masing.
Maka dari itu, jika seorang mukmin—yang dikaruniai pemahaman oleh Allah l tentang agama-Nya, ajaran Rasul-Nya, dan kitab-Nya, serta dikaruniai pengetahuan tentang kondisi manusia beserta hawa nafsu, bid’ah, dan kesesatan mereka, serta jauhnya mereka dari jalan yang lurus yang Nabi n dan para sahabatnya berada di atasnya—berkeinginan menelusuri jalan lurus ini, hendaklah ia mempersiapkan dirinya untuk menerima lontaran cacian orang-orang jahil dan ahli bid’ah, olok-olok, serta pengucilan mereka terhadap dirinya, sebagaimana orang kafir pendahulu mereka melakukan hal tersebut terhadap panutan dan imamnya (yakni Nabi Muhammad n).

Dia asing dalam hal agamanya karena agama manusia rusak. Dia asing dalam hal keteguhannya memegang ajaran Nabi n karena keteguhan mereka dalam memegang bid’ah. Dia asing dalam hal keyakinannya karena keyakinan mereka telah rusak. Dia asing dalam hal shalatnya karena jeleknya shalat mereka. Dia asing dalam hal caranya karena kesesatan dan kerusakan cara mereka. Dia asing dalam hal penasabannya karena berbeda dengan penasaban mereka. Dia asing dalam hal pergaulannya dengan mereka karena dia bergaul dengan mereka tanpa mengikuti selera mereka.
Ringkasnya, dia asing dalam urusan dunia dan akhiratnya. Ia tidak mendapatkan ada yang membantunya dari kalangan orang-orang pada umumnya. Dia adalah orang yang berilmu di tengah orang bodoh, pemegang sunnah di antara penganut bid’ah, penyeru kepada jalan Allah l dan Rasul-Nya di antara para penyeru kesesatan dan bid’ah, pelopor kebaikan, pencegah dari kemungkaran di tengah kaum yang menganggap hal yang baik sebagai mungkar dan hal yang mungkar sebagai sesuatu yang baik.
(diterjemahkan dan diringkas oleh al-ustadz Qomar Suaidi, Lc dari kitab Madarijus Salikin)

Bangkit dari Ruku’ (sifat Shalat Nabi bagian ke 16)

(ditulis oleh: Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq)

Termasuk tata cara shalat Rasulullah n adalah bangkit dari ruku’ (berdiri i’tidal) yang merupakan salah satu rukun shalat. Shalat tidak sah tanpanya. Amalan ini disebutkan oleh Aisyah x, “Jika Nabi n mengangkat kepalanya dari ruku’, beliau tidak sujud hingga beliau berdiri tegak.” (HR. Muslim no. 498)
Nabi n juga bersabda kepada orang yang salah shalatnya (hadits al-musi’u shalatahu), “Kemudian bangkitlah engkau dari ruku’ hingga engkau tegak berdiri.” (HR. al-Bukhari no. 724 dan Muslim no. 397)
Rasulullah n mengangkat punggungnya dari ruku’ seraya mengucapkan tasmi’, yaitu:
سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ
“Allah Maha Mendengar orang yang memuji-Nya.”
Ketika telah tegak berdiri, beliau mengucapkan tahmid, yaitu:
رَبَّنا وَلَكَ الْحَمْدُ
“Wahai Rabb kami, hanya untuk-Mu lah segala pujian.” (HR. al-Bukhari no. 789 dan Muslim no. 866 dari hadits Abu Hurairah z)
Untuk lebih jelasnya kita lihat pembahasan berikut.
Tata Cara Bangkit dari Ruku’ (Berdiri I’tidal)
1. Saat mengangkat kepala dan punggung dari ruku’ ke posisi berdiri, beliau n mengangkat kedua tangannya sejajar dengan telinga atau kedua pundak seraya mengucapkan tasmi’.
2. Beliau kembali berdiri dengan posisi lurus hingga seluruh tulang/persendian kembali pada posisinya.
3. Saat tegak berdiri itulah beliau mengucapkan tahmid.
4. Cara seperti ini diperintahkan oleh Rasulullah n kepada setiap orang yang shalat, baik ia sebagai imam maupun sebagai makmum karena beliau bersabda:
صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُنِي أُصَلِّي
“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR. al-Bukhari no. 628 dan Muslim no. 1533)
Beliau n juga bersabda:
إِنَّمَا جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ …. وَإِذَا قَالَ: سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ؛ فَقُوْلُوا: اللَّهُمَّ رَبَّنا وَلَكَ الْحَمْدُ
“Imam itu diangkat hanyalah untuk diikuti/dicontoh… Ketika imam mengucapkan سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ, ucapkanlah اللَّهُمَّ رَبَّنا وَلَكَ الْحَمْدُ.” (HR. Muslim no. 934 dari Abu Hurairah z)
Ada juga riwayat Anas bin Malik z tentang hal ini (HR. al-Bukhari dalam Shahih-nya no. 805 dan Muslim no. 920) dan hadits-hadits dari sahabat yang lain, seperti Abu Musa al-Asy’ari z (HR. Muslim dalam Shahihnya no. 902).
Hadits-hadits ini menjadi dalil bagi mereka yang berpendapat bahwa imam hanya mengucapkan tasmi’, tidak mengucapkan tahmid. Menurut mereka, tahmid hanya diucapkan makmum setelah tasmi’ imam. Hadits-hadits ini juga dijadikan dalil bahwa makmum tidak mengucapkan tasmi’. (al-Minhaj, 3/342)

Masalah Tasmi’ dan Tahmid bagi Imam dan Makmum
Dalam masalah tasmi’ dan tahmid saat bangkit dari ruku’ ini ada perbedaan pendapat. Satu pendapat seperti yang kita singgung di atas. Pendapat yang lain mengatakan bahwa imam juga mengucapkan tahmid sebagaimana halnya makmum juga bertasmi’.
Dalam hadits Abu Hurairah z yang disebutkan di awal materi ini1, kita dapatkan Rasulullah n mengumpulkan tasmi’ dan tahmid.
Dalam banyak hadits memang diperoleh keterangan adanya pengumpulan tasmi’ dan tahmid, seperti hadits Ibnu Umar c yang diriwayatkan dalam ash-Shahihain dan hadits-hadits dari sahabat yang lain seperti Ibnu Abbas, Abu Sa’id al-Khudri, dan Hudzaifah g.
Amalan ini adalah mazhab jumhur ulama. Di antara yang berpendapat seperti ini adalah Atha’, Abu Burdah, Muhammad ibnu Sirin, Ishaq, dan Dawud. (Lihat al-Majmu’ 3/393)
Abu Dawud juga meriwayatkan dari al-Imam Ahmad pendapat seperti ini dalam Masail Abi Dawud (33). Pendapat ini dipegangi pula oleh Abu Yusuf dan Muhammad seperti yang disebutkan ath-Thahawi (1/140—142). Ath-Thahawi sendiri memilih pendapat ini, menyelisihi pendapat Abu Hanifah, Malik, dan selain keduanya yang menyatakan bahwa imam hanya membaca tasmi’ tanpa tahmid, berdalilkan dengan hadits Abu Hurairah z di atas.2 (Fathul Bari, 2/366, al-Muhalla, 2/292)
Yang paling kuat dari perbedaan pendapat yang ada, wallahu a’lam, adalah imam boleh mengucapkan tahmid sebagaimana halnya makmum boleh mengucapkan tasmi’.
Al-Hafizh Ibnu Hajar t berkata dalam Fathul Bari, “Tidak ada dalam konteks hadits ini3 sesuatu yang menunjukkan pelarangan. Didiamkannya suatu perkara tidaklah menunjukkan ditinggalkannya pengamalan perkara tersebut. Memang, dalam hadits ditunjukkan bahwa makmum mengucapkan رَبَّناَ لَكَ الْحَمْدُ setelah imam mengucapkan سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ. Tidak ada sama sekali sesuatu yang melarang imam mengucapkan رَبَّناَ لَكَ الْحَمْدُ. Bahkan, telah tsabit (sahih) kabar bahwa Rasulullah n mengumpulkan tasmi’ dan tahmid.”
Demikian pula melarang makmum mengucapkan tasmi’, tidak ada keterangannya. Bahkan, hadits yang umum menunjukkan bahwa makmum juga membacanya, yaitu sabda Rasulullah n:
صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُنِي أُصَلِّي
“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR. al-Bukhari no. 628 dan Muslim no. 1533)
Demikian juga hadits:
إِنَّمَا جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ
“Imam itu dijadikan hanyalah untuk diikuti/dicontoh….”
Termasuk kesempurnaan mengikuti imam adalah mengucapkan apa yang diucapkan imam, selain perkara yang memang dilarang dalam suatu dalil, seperti larangan ikut membaca al-Qur’an saat imam membaca al-Qur’an dalam shalat jahriyah (makmum diperintahkan diam mendengarkan bacaan imam, sebagaimana penjelasan yang telah kita lewati pada edisi-edisi yang telah lalu).
Al-Khaththabi t berkata dalam al-Ma’alim (1/210), “Tambahan ini, yaitu ucapan tasmi’, walaupun tidak secara nash/teks disebutkan dalam hadits ini, namun membacanya juga diperintahkan kepada makmum. Terdapat hadits:
إِنَّمَا جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ
“Hanyalah imam itu dijadikan untuk diikuti.”
Pengikutan ini dalam hal seluruh ucapan dan perbuatan imam. Sementara itu, dalam shalat, imam mengumpulkan keduanya (mengucapkan tasmi’ dan tahmid), maka demikian pula seharusnya makmum.”
Al-Imam an-Nawawi t berkata dalam al-Majmu’ (3/393), “Makna hadits4 adalah ucapkanlah رَبَّناَ لَكَ الْحَمْدُ ‘Wahai Rabb kami, hanya untuk-Mu lah segala pujian’, bersama dengan ucapan yang telah kalian ketahui, yaitu سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ ‘Allah Maha Mendengar dan Menyambut orang yang memuji-Nya’.
Ucapan tahmid dikhususkan penyebutannya dalam hadits5, padahal tasmi’ tidak disebutkan karena mereka yang shalat di belakang Nabi n mendengar beliau n mengucapkan سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ dengan suara keras6—karena demikian ajaran as-Sunnah, imam harus jahr mengucapkan tasmi’ (dalam shalat berjamaah)7—sedangkan ucapan tahmid رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ tidak mereka dengar karena Nabi n mengucapkannya dengan sirr/perlahan. Para sahabat g mengetahui sabda Nabi n:
صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُنِي أُصَلِّي
‘Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat’, seperti halnya mereka tahu kaidah meneladani Nabi n secara mutlak. Mereka pun bersepakat (meniru Nabi n) dalam ucapan tasmi’ (karena mereka mendengarnya) sehingga tidak perlu diperintahkan. Adapun ucapan tahmid tidak mereka ketahui sehingga mereka diperintah mengucapkannya. Wallahu a’lam.”
Ibnu Hazm t juga membantah mereka yang berpendapat tasmi’ khusus bagi imam sedangkan tahmid khusus bagi makmum. Beliau mengatakan, mereka tidak punya hujjah/argumen yang tepat dalam hal ini karena dalam hadits yang mereka jadikan sebagai dalil, Nabi n tidaklah melarang imam mengucapkan tahmid. Beliau n tidak pula melarang makmum mengucapkan tasmi’. Bahkan, ketika Rasulullah n menjadi imam, beliau n mengucapkan tahmid. Hal itu beliau amalkan sampai wafatnya. Dengan demikian, gugurlah pendapat yang menyelisihi hal ini. Para salaf pun mengamalkan seperti itu. (al-Muhalla, 2/292)
Al-Hafizh Ibnu Hajar t menuntaskan, “Pembahasan ini mirip dengan masalah ta’min (ucapan amin)—sebagaimana yang telah lewat8—. Ucapan Nabi n, “Apabila imam mengucapkan:
ﭯ ﭰ ﭱ ﭲ ﭳ
ucapkanlah oleh kalian (para makmum), ‘Amin’.”9
tidak berarti imam tidak ikut mengucapkan amin setelah ia membacaﭲ ﭳ . Memang, hadits ini tidak menyebutkan bahwa imam mengucapkan amin, sebagaimana halnya hadits tentang tasmi’ dan tahmid, tidak menyebutkan bahwa imam mengucapkan رَبَّنا َ لَكَ الْحَمْدُ. Akan tetapi, disyariatkannya ta’min dan tahmid bagi imam diambil dari dalil-dalil lain yang sahih lagi jelas, sebagaimana telah disebutkan dalam pembahasan ta’min. Dalam bab ini juga telah disebutkan bahwa Rasulullah n mengumpulkan antara tasmi’ dan tahmid.” (Fathul Bari, 2/366—367)
Orang yang shalat sendirian (munfarid) juga mengucapkan tasmi’ dan tahmid. Al-Imam ath-Thahawi t dan Imam Ibnu Abdil Barr t menukilkan adanya ijma’ tentang hal ini. Al-Imam ath-Thahawi berargumen bahwa imam mengumpulkan tasmi’ dan tahmid, padahal hukum imam dan munfarid itu sama. (Fathul Bari, 2/367)
Ibnu Qudamah t menyatakan, ucapan tahmid disyariatkan pada setiap orang yang shalat. Ini adalah pendapat yang masyhur dari al-Imam Ahmad. Ini pula pendapat mayoritas ahlul ilmi, di antaranya Ibnu Mas’ud, Ibnu Umar, Abu Hurairah g, asy-Sya’bi, Ibnu Sirin, Abu Burdah, asy-Syafi’i, Ishaq, dan Ibnul Mundzir rahimahumullah.
Dengan demikian, munfarid mengucapkan sama dengan ucapan imam karena adanya hadits-hadits sahih yang menyebutkan hal tersebut, tanpa membedakan keadaan imam dan munfarid. Di samping itu, bacaan dan zikir yang disyariatkan untuk imam juga disyariatkan untuk munfarid. (al-Mughni, kitab “ash-Shalah”, pasal “Yusannul jahr bit tasmi’ lil imam”)

Faedah
Abul Hasan al-Mawardi t menyatakan, imam hendaknya mengeraskan bacaan tasmi’ agar para makmum mendengar dan mengetahui bahwa imam telah berpindah gerakan (dari ruku’ ke posisi berdiri), sebagaimana halnya imam mengeraskan takbir. Adapun bacaan tahmid, imam mengucapkannya secara sirr (pelan) karena wirid ini dibaca saat berdiri i’tidal. Wirid ini dibaca sirr/pelan sebagaimana halnya bacaan tasbih saat ruku’ dan sujud. Adapun makmum mengucapkan tasmi’ dan tahmid secara sirr/pelan, sebagaimana halnya ia mensirrkan takbir. (al-Hawil Kabir, 2/124)

Catatan Kaki:

1 Yaitu hadits yang mengabarkan bahwa saat Rasulullah n mengangkat punggung dari ruku’, beliau mengucapkan سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ. Ketika telah tegak berdiri, beliau mengucapkan رَبَّناَ لَكَ الْحَمْدُ . (HR. al-Bukhari dan Muslim dari hadits Abu Hurairah z)
2 Yaitu hadits:
وَإِذَا قَالَ: سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ؛ فَقُوْلُوا: اللَّهُمَّ رَبَّنا وَلَكَ الْحَمْدُ
“Jika imam mengucapkan سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ, ucapkanlah رَبَّناَ لَكَ الْحَمْدُ .”
3 Sama dengan hadits yang disebutkan dalam catatan kaki no. 2.

4 Hadits di atas yang sedang dibahas.
5 Yaitu Rasulullah n hanya mengatakan, “Jika imam mengucapkan سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ, ucapkanlah رَبَّناَ لَكَ الْحَمْدُ.”
6 Dengan demikian, para makmum tinggal mengikuti beliau n mengucapkan tasmi’ tanpa perlu diperintahkan karena mereka telah mendengar sendiri beliau mengucapkannya.
7 Mengeraskan tasmi’ adalah sunnah bagi imam, sebagaimana halnya imam disunnahkan mengeraskan takbir. (al-Mughni, Kitab “ash-Shalah”, pasal “Yusannul jahr bit tasmi’ lil imam”)

8 Silakan lihat kembali pembahasan ucapan amin setelah imam membaca al-Fatihah.
9 HR. al-Bukhari no. 782.

Pahitnya Tawakal, Nabi Ibrahim dan Sara di Mesir bagian 2

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits)

Nabi Ibrahim q menantang mereka agar bertanya kepada berhala paling besar yang masih utuh dan berkalung kapak….
Mereka tertunduk diam seribu bahasa. Sejenak kemudian, mereka berkata, “Hai Ibrahim, bukankah kamu tahu patung-patung ini tidak bisa bicara?”
“Kalau begitu, mengapa kalian menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat dan mudarat sedikit pun kepada kalian?” kata Nabi Ibrahim q, “Alangkah celaka dan ruginya kalian.”
Ketika alasan mereka dipatahkan dengan sangat mudah oleh Nabi Ibrahim q—demikianlah semua bentuk kesyirikan; tidak ada dasarnya—, bangkitlah kesombongan mereka. Apalagi ketika melihat penguasa berpihak kepada mereka dan jumlah mereka banyak. Mulailah mereka menggunakan kekuatan dan kekuasaan. Tak ada alasan bagi mereka selain karena ingin membela budaya leluhur, adat istiadat, kehormatan orang-orang tua, persatuan, dan lain-lain.
“Bakarlah dia! Ayo, bela sesembahan kalian!” seru mereka.
Nabi Ibrahim ditangkap dan diikat, sementara mereka bersegera mencari kayu api untuk membakarnya. Tak lama kemudian, kayu bakar pun terkumpul bagaikan bukit. Mereka mulai menyalakan api, dan berkobarlah api yang sangat besar, mengerikan. Dalam keadaan terikat, Nabi Ibrahim q diletakkan pada salah satu manjanik (pelontar peluru/batu), lalu dilemparkan ke dalam kobaran api tersebut. Diceritakan, bahwa yang melontarkannya adalah ayahnya sendiri, Azar. Wallahu a’lam bish-shawab.
Pada waktu dilemparkan itu, beliau mengucapkan:
حَسْبِيَ اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ
“Cukuplah Allah bagiku, dan Dia sebaik-baik Pelindung.” (HR. al-Bukhari no. 4563 dari Ibnu ‘Abbas c)
Ketika beliau q sedang melayang di udara itu, tiba-tiba Jibril q datang menawarkan bantuannya, “Apakah engkau membutuhkan sesuatu?”
Nabi Ibrahim q berkata, “Adapun kepadamu, tidak. Akan tetapi, kalau kepada Allah, tentu.” (Tafsir Ibnu Katsir, Surat al-Anbiya)
Sebuah keyakinan yang kokoh bagai karang di lautan yang tak goyah diterjang ombak yang ganas. Meski ditawarkan, oleh makhluk yang dikatakan Allah l:
ﭦ ﭧ ﭨ ﭩ ﭪ ﭫ ﭬ ﭭ
“Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat, yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli.” (an-Najm: 5—6)
Dan:
ﮙ ﮚ ﮛ ﮜ ﮝ ﮞ ﮟ ﮠ ﮡ ﮢ ﮣ ﮤ ﮥ ﮦ ﮧ ﮨ
“Sesungguhnya al-Qur’an itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai ‘Arsy, yang ditaati di sana lagi dipercaya.” (at-Takwir: 19—21)
Nabi Ibrahim q sama sekali tidak meminta kepada Jibril q, tetapi beliau ditawari bantuan oleh Jibril q. Akan tetapi, ternyata tawaran itu pun ditolak oleh Ibrahim karena sangat yakin akan pertolongan Allah l. Kenyataan ini tentu saja bertolak belakang dengan perbuatan para pemuja (penyembah) wali-wali Allah.
Mereka—para pemuja wali-wali tersebut—berdalih dengan kisah ini, bahwa seandainya istighatsah kepada sesuatu selain Allah l dilarang atau kesyirikan, tentu Jibril tidak akan menawarkannya kepada Ibrahim. Mahasuci Allah yang mengunci mati hati-hati mereka. Ke manakah akal yang mereka bangga-banggakan?
Bukankah tidak sama apa yang mereka lakukan dengan apa yang dialami Khalil Allah yang mulia ini?
Tidakkah mereka memerhatikan bahwa apa yang mereka lakukan sangat jauh bedanya dengan apa yang dialami oleh Nabi Ibrahim q?
Mereka datang meminta kepada para wali, beriba-iba, memelas, menangis, merintih, bahkan kadang-kadang histeris memohon pertolongan kepada jasad-jasad yang sudah terbujur di balik kafan mereka, atau tidak diketahui di mana dan bagaimana keadaannya? Adapun Nabi Ibrahim q sama sekali tidak meminta dan mengharapkan pertolongan siapa pun selain Allah l. Buktinya adalah ucapan beliau, “Cukuplah Allah bagiku, dan Dia sebaik-baik Pelindung.”
Bahkan, tawaran Jibril q pun beliau tolak.
Kalimat manakah yang lebih sempurna menunjukkan ketawakalan selain ucapan ini?
Seandainya ada seorang hartawan melihat seorang yang miskin lalu menawarkan sebagian hartanya kepada orang miskin itu, apakah sebagai pinjaman, utang, ataukah hadiah, tanpa imbalan apa pun, tetapi si miskin tersebut sudah merasa cukup dengan apa yang diberikan Allah l kepadanya, dan bersabar, lalu menolak secara halus tawaran si hartawan, dapatkah dikatakan si miskin ini meminta bantuan kepada si hartawan tersebut?
Bandingkanlah istighatsah yang dilakukan oleh para pemuja wali dan apa yang dialami oleh Nabi Ibrahim q. Tidakkah kalian memikirkan?
Adapun Jibril, dengan kekuatannya, yang telah dijelaskan Allah l dalam ayat di atas, dia mampu—setelah izin Allah l—menyelamatkan Khalil Allah, Ibrahim q, dari kobaran api yang dahsyat itu. Dengan kemampuannya, Jibril bisa saja menghancurkan orang-orang yang ada di sekitar api tersebut. Dengan kehebatannya, Jibril q bisa saja mengambil api itu lalu melemparkannya ke timur atau ke barat. Atau memadamkan api itu dan meletakkan Nabi Ibrahim q ke tempat yang sangat jauh.
Sungguh, Mahabenar Allah yang berfirman:
“Maka tidak ada sesudah kebenaran itu selain kesesatan.” (Yunus: 32)
Ambillah pelajaran, wahai orang-orang yang berakal!

Arti Sebuah Kejujuran
Itulah ‘kedustaan’1 yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim q dalam hidupnya, yang sebetulnya adalah tauriyah atau ta’ridh, bukan murni kedustaan. Mengapa? Karena makna batin yang ada dalam kalimat tersebut adalah hakiki, sesuai dengan kenyataan. Artinya, ketika beliau mengatakan kepada Raja Mesir yang zalim itu bahwa Sarah adalah saudaranya, adalah benar. Walaupun seorang istri bukanlah saudara suaminya, tetapi beliau menginginkan makna yang sesungguhnya, bahwa Sarah adalah saudaranya di jalan Allah l, sama-sama mukmin.
Demikian pula jawaban beliau ketika ditanya siapa yang menghancurkan patung-patung yang disembah oleh bangsanya, bahwa yang melakukannya adalah yang paling besar.
Akan tetapi, itu pun beliau nyatakan sebagai sebuah kesalahan besar. Mengapa? Tidak lain karena sikap Nabi Ibrahim q yang sangat memuliakan Allah l, sehingga rasa malu dan takutnya kepada Allah l membuat beliau segan memintakan syafaat kepada Allah l untuk manusia.
Seandainya hal itu dianggap dusta, lalu menjadi sebab terhalangnya beliau memberi syafaat, tentu perkataan beliau ketika melihat bintang, bulan, dan matahari—sebagaimana dalam firman Allah l:
“Inilah rabbku…” (al-An’am: 76)
lebih pantas dikatakan sebagai kedustaan.
Padahal, ucapan beliau sebagaimana dalam firman Allah l:
“Sesungguhnya saya sakit.” (ash-Shaffat: 89)
tidak ada indikasi yang mengarah kepada kedustaan. Sakit itu sendiri, tidak hanya menyerang fisik, tetapi juga batin seseorang, Lebih-lebih lagi Nabi Ibrahim q. Siapakah yang tidak merasa sakit batinnya, tidak perih hatinya, melihat hak Allah q dilanggar, kesyirikan menyebar di mana-mana?
Alhasil, tidak mungkin seorang mukmin, apalagi seagung Khalil Allah Ibrahim q, berdusta. Tiga tauriyah itu pun tidak beliau lakukan melainkan dalam kondisi sangat darurat.
Alangkah jauhnya kita dari jalan yang telah mereka contohkan. Begitu mudah kita menggoyang lidah melepas beribu dusta. Tidak hanya dalam pembicaraan biasa, melainkan juga dalam bersumpah—dengan menyebut nama Allah l.
Wallahul musta’an.

Catatan Kaki:

1 Ketika Nabi Ibrahim mengucapkan:
“Bahkan, telah melakukannya yang paling besar ini.” (al-Anbiya: 23)
sebenarnya beliau tidak berdusta. Sebagian ulama mengatakan bahwa maksud ucapan beliau ﭼ ﭽ adalah “Bahkan (dia) telah melakukannya” titik! Lalu berhenti sejenak dan menyatakan ﭾ ﭿ “Inilah yang besar”, sebagai kalimat baru yang terpisah. Ada juga yang mengarahkannya kepada makna yang lain. (Lihat Zadul Masir karya Ibnul Jauzi -ed.)

Bara Fitnah Mulai Berkobar

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits )

Setan yang selalu mengintai tak henti-hentinya memancing kekeruhan di antara manusia. Dia mulai menyalakan kebencian dan menancapkan akar-akar perselisihan di tubuh kaum muslimin. Akan tetapi, Allah l tidak menginginkan kecuali tetap menyempurnakan cahaya-Nya dan meninggikan Kalimat-Nya serta menepati janji-Nya.
Berita wafatnya Rasulullah n terdengar pula oleh penduduk Makkah. Sebagian mereka sempat berkeinginan untuk kembali ke agama nenek moyang mereka. Melihat keadaan ini, sahabat Anshar, ‘Attab bin Usaid z yang ditugasi oleh Rasulullah n mengajari warga Makkah, mulai mengkhawatirkan dirinya. Akhirnya dia menyembunyikan diri selama beberapa hari.
Beberapa sahabat lain dari kalangan pembesar Quraisy sempat merasa khawatir melihat perkembangan ini. Akhirnya, bangkitlah Suhail bin ‘Amr z berpidato di hadapan masyarakat Makkah. Setelah memuji Allah l dan bertasyahhud, dia menerangkan wafatnya Rasulullah n, kemudian, “… Siapa yang ilahnya (sesembahan yang ditujunya dengan semua jenis ibadah, –ed) adalah Muhammad (n), maka sesungguhnya Muhammad (n) sudah meninggal dunia, sedangkan (yang ilahnya adalah) Allah (l), maka Dia Mahahidup, tidak akan mati. Kejadian ini tidak menambah apa pun bagi Islam selain kekuatan, maka siapa yang membuat kami ragu terhadapnya, akan kami tebas lehernya.”
Sebagian orang yang menuju Makkah ketika mendengar berita duka tentang wafatnya Rasulullah n, tiba di Makkah, melihat Suhail bin ‘Amr berpidato di hadapan masyarakat Makkah. Dia menyampaikan khutbah seperti yang disampaikan Abu Bakr ash-Shiddiq z seolah-olah dia hadir ketika Abu Bakr z berbicara mengingatkan kaum muslimin akan wafatnya Rasulullah n.
‘Umar yang mendengar berita gembira ini, berseru, “Saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan (Rasul) Allah dan apa yang dibawa beliau adalah haq (pasti benar). Inilah yang diberitakan beliau n kepadaku (ketika ingin mematahkan gigi Suhail dalam peristiwa Hudaibiyah).”
Sesudah itu, mereka tidak jadi berbalik kepada agama nenek moyang mereka dan ‘Attab pun keluar menampakkan diri.
Lain halnya dengan suku Thayyi’, keluarga ‘Adi bin Hatim z.
Ketika sampai berita wafatnya Rasulullah n kepada mereka, timbullah perselisihan. Di antara mereka ada yang kembali (murtad), ada pula yang tetap dalam Islam menunaikan kewajibannya kepada Abu Bakr sebagai khalifah baru, termasuk ‘Adi bin Hatim z.
Di tangan ‘Adi ada seekor unta yang berasal dari zakat masyarakat Thayyi’. Setelah beberapa suku ‘Arab lain murtad—Bani Asad tetangga mereka—, para pemuka Thayyi’ menemui ‘Adi dan berkata, “Pria ini (Rasulullah n) sudah meninggal dunia, dan sudah banyak orang yang murtad sepeninggalnya. Sebagian suku menahan zakat yang pernah mereka tunaikan, sedangkan kami lebih berhak terhadap harta kami dari segelintir orang.”
‘Adi berkata, “Bukankah kalian telah menyepakati perjanjian, sukarela ataupun terpaksa?”
“Betul,” jawab mereka, “Tetapi, ada peristiwa lain terjadi, dan orang banyak berbuat demikian (menolak zakat, murtad).”
‘Adi mulai berang dan berkata, “Demi yang jiwa ‘Adi di tangan-Nya, aku tidak akan melanggar perjanjian itu selama-lamanya. Kalau kalian menolak, demi Allah, aku pasti memerangi kalian. Biarlah ‘Adi bin Hatim menjadi orang pertama yang terbunuh demi menepati perjanjian itu, atau menyerahkannya. Oleh karena itu, janganlah kalian berambisi mencela Hatim di kuburnya, sedangkan ‘Adi adalah putranya. Janganlah menyeret kalian perbuatan orang yang melanggar perjanjian itu hingga kalian ikut melanggarnya. Sesungguhnya setan selalu mengintai setiap kali seorang nabi meninggal dunia untuk menjerumuskan orang-orang yang jahil dan mengusung mereka ke dalam fitnah.
Itulah kebengkokan, tidak ada keteguhan padanya. Sungguh, Rasulullah n mempunyai pengganti yang mengatur urusan ini. Dalam agama Allah l ini ada tokoh-tokohnya yang akan mendukungnya dan memperjuangkannya, sepeninggal Rasulullah n.
Kalau kalian lakukan juga, pasti akan dihancurkan harta dan istri-istri kalian setelah ‘Adi terbunuh dan kalian melanggar janji. Kalau sudah begitu, jadi apakah kalian?”
Melihat keseriusan ‘Adi, mereka pun menahan diri dan tunduk kepadanya.
Kelak, di zaman ‘Umar, ketika ‘Adi melihat kekasaran ‘Umar, dia berkata kepada ‘Umar, “Agaknya Anda tidak mengenal saya?”
Kata ‘Umar, “Bahkan, demi Allah. Allah di langit mengenalmu, saya juga, demi Allah, mengenalmu. Engkau masuk Islam pada saat mereka ingkar, dan memenuhi perjanjian ketika mereka melanggarnya, dan datang ketika mereka berbalik. Demi Allah, saya mengenalmu.”
Peristiwa selanjutnya baik yang terkait dengan orang-orang yang murtad maupun yang lainnya disajikan dalam kisah selanjutnya, yaitu al-Khulafa ar-Rasyidin. Kita akan mulai tentang Abu Bakr ash-Shiddiq z, insya Allah.

 

Jalan Menuju Surga

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Abdulmu’thi, Lc.)

Surga, itulah puncak tujuan dan harapan yang tertanam dalam sanubari setiap mukmin. Harapan meraih surga itu pula yang menjadi mesin penggerak generasi awal umat Islam dalam menyambut ajakan Allah l dan Rasul-Nya, membela agama-Nya, dan bersegera meraih keridhaan-Nya. Dengan surga, Rasulullah n membangkitkan ruh juang pasukannya ketika Perang Badr. Nabi n bersabda di tengah-tengah pasukannya, “Majulah kalian menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi!” (HR. Muslim)
Di sini, Rasulullah n tidaklah menjanjikan kedudukan atau harta. Yang beliau janjikan adalah surga. Dengan penyemangat ini, pasukan Nabi n seolah-olah telah melihat surga terpampang di depan mata sehingga kehidupan dunia menjadi tidak berarti di mata mereka. Di kala itu, ada seorang anggota pasukan yang melemparkan kurma yang masih tersisa di tangannya dan maju berperang hingga terbunuh. Orang ini menganggap terlalu lama untuk masuk surga jika harus menghabiskan kurma yang ada di tangannya.

Sebuah Renungan
Seorang mukmin yakin bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara. Dia yakin pula bahwa perjalanan masih panjang karena masih ada dua jenjang kehidupan lagi setelah ini, yaitu kehidupan di alam kubur dan kehidupan akhirat yang kekal abadi. Setiap mukmin yang membaca ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi n yang menerangkan tentang surga dengan beragam kenikmatannya, niscaya akan ada harapan untuk mendapatkannya. Tentu ini merupakan cita-cita mulia dan akan menjadi kenyataan, dengan izin Allah l, jika diiringi dengan amal usaha. Nabi n bersabda:
مَا رَأَيْتُ مِثْلَ النَّارِ نَامَ هَارِبُهَا وَلَا مِثْلَ الْجَنَّةِ نَامَ طَالِبُهَا
“Aku tidaklah melihat seperti api neraka, orang yang lari darinya itu (malah) tidur, dan aku juga tidak melihat seperti surga orang yang mencarinya (malah) tidur.” (HR. at-Tirmidzi dan dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam ash-Shahihah no. 953)
Memang, untuk menggapai sesuatu yang mulia dibutuhkan upaya maksimal dan menelusuri jalannya, bukan hanya berangan-angan. Allah l berfirman ketika menyebutkan nikmat yang dianugerahkan kepada penduduk surga:
“Untuk kemenangan serupa ini hendaklah berusaha orang-orang yang bekerja.” (ash-Shaffat: 61)
Al-Imam Muslim t meriwayatkan hadits dari sahabat Abu Ayyub z bahwa ia berkata, “Seorang lelaki datang kepada Rasulullah n dan berkata, ‘Tunjukilah aku suatu amalan yang akan aku amalkan, dengannya aku akan dekat kepada surga dan jauh dari api neraka!’
Nabi n bersabda:
تَعْبُدُ اللهَ لَا تُشْرِكُ بِه شَيْئًا، وَتُقِيْمُ الصَّلَاةَ وَتُؤْتِيْ الزَّكَاةَ وَتَصِلُ ذَا رَحِمِكَ
“Engkau menyembah Allah l, tidak mempersekutukan apa pun dengan-Nya, menegakkan shalat, mengeluarkan zakat, dan menyambung silaturahmi.”
Tatkala orang itu pergi, Rasulullah n bersabda, ‘Jika orang itu berpegang teguh dengan apa yang diperintahkan, niscaya ia masuk surga’.” (Shahih Muslim, “Kitabul Iman” no. 4)
Saudaraku, lihatlah bagaimana surga yang tidaklah diraih melainkan bila mengikhlaskan peribadahan hanya untuk Dzat yang mencipta alam semesta dan mengamalkan perintah agama. Lihat pula bagaimana generasi awal umat ini, perkara yang menyibukkan pikiran mereka adalah upaya meraih surga Allah l dan menjauh dari azab-Nya. Mereka datang meminta bimbingan dan arahan kepada Nabi n tentang jalan yang mengantarkan kepada cita-cita yang mulia ini.
Masih adakah kiranya orang di zaman sekarang yang meminta bimbingan kepada ulama dan nasihat mereka? Manusia kebanyakan lebih memikirkan bagaimana memakmurkan dunianya, walaupun harus binasa akhiratnya. Allah l berfirman:
“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedangkan mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (ar-Rum: 7)

Akhlak yang Mengantarkan Seseorang Menuju Surga
Secara garis besar, jalan yang menyampaikan seseorang kepada surga—tentunya setelah rahmat Allah l—adalah taat kepada Allah l dan Rasul-Nya, yaitu dengan memercayai segala berita yang datang dalam al-Qur’an dan as-Sunnah, menjalankan perintah-perintah yang ada pada keduanya, serta menjauhi larangannya. Allah l berfirman:
“Barang siapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dan mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar.” (an-Nisa’: 13)
Rasulullah n bersabda:
كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى. قَالُوا: يَا رَسُولَ الله، وَمَنْ يَأْبَى؟ قَالَ: مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى
“Semua umatku masuk ke dalam surga kecuali orang yang menolak.” Mereka (para sahabat) berkata, “Siapa yang menolak, wahai Rasulullah?” Rasulullah bersabda, “Barang siapa taat kepadaku, ia masuk ke dalam surga. Barang siapa bermaksiat kepadaku (menentangku), sungguh ia telah menolak (masuk surga).” (HR. al-Bukhari dari Abu Hurairah z)
Di antara amalan terbesar yang mengantarkan seorang kepada negeri kedamaian adalah menuntut ilmu yang bermanfaat, yaitu mempelajari al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi n serta mengamalkan isi kandungannya. Nabi n bersabda:
وَمَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى الْجَنَّةِ
“Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya dengan itu jalan menuju surga.” (HR. Muslim)
Tidak diragukan bahwa akhlak mulia termasuk faktor utama yang menyampaikan seseorang kepada surga. Hal ini sebagaimana yang ditegaskan oleh Nabi n ketika ditanya tentang hal yang banyak memasukkan seorang ke dalam surga. Beliau n menjawab:
التَّقْوَى وَحُسْنُ الْخُلُقِ
“Takwa dan akhlak yang mulia.” (Dihasankan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah no. 3443)
Di antara akhlak mulia tersebut adalah sebagai berikut.

Silaturahmi
Silaturahmi diwujudkan dengan berbuat baik kepada karib kerabat, baik dalam bentuk perbuatan, ucapan, harta, maupun yang lainnya. Tentunya, semakin dekat hubungan kekerabatan, semakin besar pula kewajiban untuk berbuat baik kepadanya.

Menebarkan Salam
Nabi n bersabda:
أَفْشِ السَّلَامَ، وَأَطْعِم ِالطَّعَامَ، وَصِلِ الْأَرْحَامَ، وَقُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ، وَادْخُلِ الْجَنَّةَ بِسَلَامٍ
“Tebarkanlah salam, berilah (orang) makanan, sambunglah karib kerabat (silaturahmi), berdirilah (shalat) di malam hari ketika manusia tidur, dan masuklah kamu ke dalam surga dengan selamat.” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban, dan al-Hakim dari Abu Hurairah z. Dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani t dalam Shahih al-Jami’)
Menebarkan salam akan mewujudkan kecintaan di tengah-tengah umat sehingga persatuan akan lebih erat dan gesekan-gesekan akan berkurang.

Jujur dalam Ucapan dan Perbuatan
Nabi n bersabda:
عَلَيْكُمْ بِالصّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِّرِ وَإِنَّ الْبِّرَ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ
“Hendaklah kalian jujur, karena kejujuran akan menunjukkan kepada kebaikan, dan kebaikan akan menunjukkan kepada surga.” (Muttafaqun ‘alaihi dari Ibnu Mas’ud z)
Kejujuran termasuk pilar keselamatan dunia dan akhirat. Kejujuran juga sebagai bukti indahnya perjalanan hidup seseorang, bersihnya hati, dan kuatnya akal.

Berbuat Baik kepada Orang Lain dengan Berinfak kepada Mereka di Saat Lapang atau Sempit
Hal ini menunjukkan kecintaan seseorang terhadap saudaranya dan membuktikan kebenaran imannya. Dia tidak takut fakir dengan berinfak, bahkan dia berharap pahala dan berkah pada hartanya.

Memaafkan Kesalahan Orang Lain dan Mengendalikan Diri Ketika Marah
Orang yang memiliki sifat seperti ini, dialah orang kuat yang sesungguhnya. Dia akan mulia di sisi Allah l dan terhormat di mata manusia. Allah l berfirman:
“Bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Rabb mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.” (Ali Imran: 133—136)
Nabi n juga bersabda, “Barang siapa menahan amarahnya padahal dia mampu melampiaskan kemarahannya, maka Allah l akan memanggil dia di hari kiamat di hadapan para makhluk sehingga Allah l memberi pilihan kepadanya bidadari (surga) yang ia inginkan.” (HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, dll. Dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih al-Jami’)

Berbakti kepada Kedua Orang Tua
Orang yang berbakti kepada kedua orang tuanya sangat besar harapannya untuk masuk ke dalam surga. Lebih-lebih jika orang tua sudah tua, lemah, dan membutuhkan bantuan anaknya. Sebaliknya, orang yang durhaka dan tidak berbakti kepada keduanya, dialah orang yang hina sebagaimana sabda Nabi n, “Terhina, terhina kemudian terhina.”
Beliau ditanya, “Siapa, wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab, “Orang yang mendapati salah satu atau kedua orang tuanya dalam keadaan tua renta, lalu dia tidak masuk ke dalam surga.” (HR. Muslim)
Al-Imam an-Nawawi t berkata, “Dalam hadits ini ada anjuran untuk berbakti kepada kedua orang tua dan penjelasan tentang besarnya pahala amalan ini. Berbakti adalah berbuat baik kepada keduanya di saat sudah tua dan lemah dengan memberikan pelayanan, nafkah, atau hal lainnya yang menyebabkan seseorang masuk surga. Oleh karena itu, barang siapa menyia-nyiakan (kesempatan) untuk berbuat baik berarti telah luput darinya (sebab) masuk surga sehingga Allah l menghinakannya.” (Syarh Shahih al-Adab 1/38)

Mengasuh dan Menyantuni Anak Yatim
Nabi n bersabda sebagaimana disebutkan oleh sahabat Sahl bin Sa’d z:
أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيْم فِي الْجَنَّةِ هَكَذَا-وَقَالَ بِإِصْبِعَيْهِ السَّبَّابَةَ وَالْوُسْطَى
“Saya dengan pengasuh anak yatim di surga seperti ini.” Nabi n mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan jari tengahnya. (HR. al-Bukhari dalam Kitabul Adab)
Anak yatim adalah anak yang ditinggal mati ayahnya dalam keadaan belum baligh. Dengan mengasuh, menyantuni, dan berbuat baik kepada anak yatim, seseorang telah memberikan kebahagiaan dan kasih sayang kepada anak yang sangat merasakan kehilangan kasih sayang orang tuanya. Dengan demikian, kesedihan hatinya terobati dan jiwanya menjadi besar.

Menyingkirkan Gangguan dari Jalan
Nabi n bersabda:
مَرَّ رَجُلٌ بِغُصْنِ شَجَرَةٍ عَلَى ظَهْرِ طَرِيْقٍ فَقَالَ: وَاللهِ لَأُنَحِّيَنَّ هَذَا عَنِ الْمُسْلِمِيْنَ، لَا يُؤْذِيْهِمْ. فَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ
Seorang lelaki melewati dahan pohon yang ada di tengah jalan lalu berkata, “Demi Allah, aku akan singkirkan dahan ini dari (jalan) kaum muslimin supaya tidak mengganggu mereka.” Lalu orang tersebut dimasukkan (oleh Allah) ke dalam surga. (HR. Muslim)
Lihatlah wahai saudaraku! Karena kecintaannya terhadap kaum muslimin, dengan tulus ia menyingkirkan dahan yang ada di jalan sehingga tidak mengganggu mereka, padahal itu hanya dahan pohon yang mungkin tidak terlalu mengganggu. Seperti inilah hendaknya kecintaan kita terhadap saudara-saudara kita.

Meninggalkan Berdebat
Berbantah-bantahan bisa menyulut api permusuhan, menyebabkan perpecahan, dan menyeret kepada kedustaan. Akan tetapi, jika kondisi menuntut untuk berdebat, hendaknya seseorang melakukannya dengan kepala dingin dan bertujuan untuk menggapai kebenaran. Tentu saja, hal ini dilakukan cara yang lemah lembut dan baik. Allah l berfirman:
ﮮ ﮯ ﮰ ﮱﯓ
“Bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (an-Nahl: 125)
Namun, jika sudah keluar dari adab kesopanan, seperti berteriak-teriak di majelis, debat kusir, keras kepala, dan tidak ada itikad mencari kebenaran, hendaknya perdebatan dihentikan dan ditinggalkan.
Nabi n bersabda, “Aku menjamin dengan rumah di bagian bawah surga bagi orang yang meninggalkan berbantah-bantahan meskipun ia berada pada posisi yang benar; dan rumah di tengah-tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta meskipun dalam bercanda; dan dengan rumah bagian atas surga bagi yang baik akhlaknya.” (HR. Abu Dawud dan dinyatakan sahih oleh an-Nawawi t dalam Riyadhush Shalihin)

Mengekang Hawa Nafsu
Jika hawa nafsu telah menguasai seseorang, akan sulit baginya memandang sesuatu dengan jernih. Jika hati telah gelap dan tidak bisa memandang dengan baik, hati itu akan terhinggapi penyakit yang sangat berbahaya, yaitu mencintai kekufuran, kefasikan, dan kemaksiatan. Pada tahap berikutnya, kemuliaan akhlak pada dirinya akan pudar. Orang yang seperti ini hendaknya dibimbing agar kembali kepada jalan kebenaran dan disadarkan bahwa perjuangan melawan hawa nafsu, meskipun sulit, tetapi buah yang akan dipetik adalah ketenteraman hidup di dunia dan surga di akhirat. Allah l berfirman:
“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal (nya).” (an-Nazi’at: 40—41)
Tidak cukup kita menghiasi diri dengan perangai yang mulia. Kita juga harus membersihkan diri dari noda dan hawa nafsu agar amal kita tidak sia-sia.

Memohon Surga kepada Allah l
Di antara usaha yang tak boleh diremehkan agar meraih surga adalah berdoa. Karena surga milik Allah l, maka dari-Nya kita cari dan kepada-Nya kita bermohon. Jika permohonan keluar dari hati yang tulus, niscaya Allah l tidak akan mengecewakan harapannya. Nabi n bersabda:
مَنْ سَأَلَ اللهَ الْجَنَّةَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ قَالَتِ الْجَنَّةُ: اللَّهُمَّ أَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ. وَمَنِ اسْتَجَارَ مِنَ النَّارِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ قَالَتِ النَّارُ: اللَّهُمَّ أَجِرْهُ مِنَ النَّارِ
Barang siapa memohon surga kepada Allah tiga kali, surga akan mengatakan, “Wahai Allah, masukkanlah ia ke dalam surga!” Barang siapa meminta perlindungan (kepada Allah) dari api neraka tiga kali, neraka akan mengatakan, “Wahai Allah, lindungilah ia dari neraka.” (HR. at-Tirmidzi dll, dari sahabat Anas bin Malik z. Dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 6275)
Akhirnya, hanya kepada Allah l kita memohon agar Dia menunjuki kita kepada jalan yang mengantarkan kepada surga-Nya.
Wallahu ta’ala a’lam.

Dahsyatnya Neraka

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abdurrahman Mubarak)

Iman tentang adanya surga dan neraka adalah satu prinsip dalam akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Al-Imam Ahmad t berkata, “Surga dan neraka adalah dua makhluk Allah l yang telah diciptakan, sebagaimana sabda Rasulullah n:
“Aku masuk ke surga, aku pun melihat istana di sana.”
“Aku juga melihat al-Kautsar.”
“Aku melihat ke surga, ternyata kebanyakan penduduk surga adalah demikian (yakni orang-orang fakir). Aku juga melihat neraka dan ternyata kebanyakan penghuninya adalah demikian (yakni wanita –pent.).”
Barang siapa menganggap keduanya belum ada saat ini, berarti dia telah mendustakan al-Qur’an. Saya menduga, orang tersebut tidaklah mengimani adanya surga dan neraka.” (Lihat Ushulus Sunnah)
Al-Imam ath-Thahawi t berkata, “Surga dan neraka adalah dua makhluk yang telah diciptakan, tidak akan punah, dan tidak akan hancur.” (al-Aqidah ath-Thahawiyah)
Ibnu Abil ‘Izzi t berkata, “Ahlus Sunnah telah bersepakat bahwa surga dan neraka adalah dua makhluk yang telah ada sekarang.” (Syarah al-Aqidah ath-Thahawiyah)

Dalil-Dalil Adanya Surga & Neraka
Dalil-dalil masalah ini dalam al-Qur’an dan as-Sunnah sangatlah banyak, di antaranya:
Allah l berfirman:
“Dan bersegeralah kalian kepada ampunan dari Rabb kalian dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (Ali Imran: 133)
Allah l juga berfirman tentang neraka:
“Jika kalian tidak dapat membuat(nya), dan pasti kalian tidak akan dapat membuat(nya), jagalah diri kalian dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir.” (al-Baqarah: 24)
Allah l berfirman:
“Dan sesungguhnya dia (Nabi Muhammad) telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain. (Yaitu) di Sidratul Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal.” (an-Najm: 13—15)

Adapun dalam sunnah Rasulullah n, banyak hadits yang menerangkan masalah ini, di antaranya:
Dari Imran bin Hushain z, dari Nabi n:
اطَّلَعْتُ فِي الْجَنَّةِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا الْفُقَرَاءَ وَاطَّلَعْتُ فِي النَّارِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ
“Aku melihat surga, ternyata kebanyakan penghuninya adalah fuqara. Aku pun melihat neraka dan ternyata kebanyakan penghuninya adalah wanita.” (HR. al-Bukhari no. 3241 dan Muslim no. 2738)
Dari Abu Sa’id al-Khudri z, Rasulullah n bersabda:
أَبْرِدُوا بِالظُّهْرِ فَإِنَّ شِدَّةَ الْحَرِّ مِنْ فَيْحِ جَهَنَّمَ
“Tundalah pelaksanaan shalat zhuhur hingga cuaca dingin, karena panas yang sangat terik adalah panas dari neraka Jahannam.” (HR. al-Bukhari no. 3259)
Dari Anas bin Malik z, Rasulullah n bersabda:
وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَوْ رَأَيْتُمْ مَا رَأَيْتُ لَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا وَلَضَحِكْتُمْ قَلِيلًا. قَالُوا: مَا رَأَيْتَ، يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: رَأَيْتُ الْجَنَّةَ وَالنَّارَ
“Demi Dzat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, kalau kalian melihat apa yang aku lihat, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.” Para sahabat berkata, “Apa yang engkau lihat, wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab, “Aku telah melihat surga dan neraka.” (HR. Muslim no. 426)
Dalam tulisan ini, kami hanyalah membahas tentang neraka. Kita akan mencoba mengilmui sebagian pembahasan tentang neraka: sifat-sifatnya, macam-macam siksa di dalamnya, dan cara menyelamatkan diri dari neraka.

Sifat-Sifat Neraka
Telah banyak nash dalam al-Qur’an dan as-Sunnah yang menjelaskan sifat-sifat neraka. Kami hanya akan menyampaikan sebagian kecilnya, mudah-mudahan menjadi nasihat bagi kita semua.

1. Neraka memiliki tujuh pintu
Allah l berfirman:
“Jahannam itu mempunyai tujuh pintu. Tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) untuk golongan yang tertentu dari mereka.” (al-Hijr: 44)

2. Malaikat penjaga neraka
Allah l berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (at-Tahrim: 6)
Dalam ayat lain:
“Mereka berseru, ‘Wahai Malik, biarlah Rabbmu membunuh kami saja.’ Dia menjawab, ‘Kamu akan tetap tinggal (di neraka ini)’.” (az-Zukhruf: 77)
3. Besar neraka
Dari Ibnu Mas’ud z, Nabi n bersabda:
يُؤْتَى بِجَهَنَّمَ يَوْمَئِذٍ لَهَا سَبْعُونَ أَلْفَ زَمَامٍ، مَعَ كُلِّ زَمَامٍ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ يَجُرُّونَهَا
“Didatangkan neraka di hari itu, dalam keadaan ia memiliki 70.000 tali kekang, setiap tali kekang diseret 70.000 malaikat.” (HR. Muslim dan at-Tirmidzi)

4. Panas neraka
Allah l berfirman:
ﮁ ﮂ ﮃ ﮄ ﮅﮆ ﮇ ﮈ ﮉ ﮊ
Katakanlah, “Api neraka Jahannam itu lebih sangat panas(nya),” jika mereka mengetahui. (at-Taubah: 81)
Rasulullah n bersabda:
نَارُكُمْ هَذِهِ الَّتِي يُوقِدُ ابْنُ آدَمَ جُزْءٌ مِنْ سَبْعِينَ جُزْءًا مِنْ حَرِّ جَهَنَّمَ
“Api kalian, yang dinyalakan bani Adam, adalah satu bagian dari tujuh bagian panasnya api neraka.” (HR. al-Bukhari no. 3265 dan Muslim no. 2843)

5. Kedalaman neraka
Ketika Rasulullah n sedang bersama sahabatnya, tiba-tiba mereka mendengar suara. Beliau n berkata:
تَدْرُونَ مَا هَذَا؟ قَالَ: قُلْنَا: اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: هَذَا حَجَرٌ رُمِيَ بِهِ فِي النَّارِ مُنْذُ سَبْعِينَ خَرِيفًا فَهُوَ يَهْوِي فِي النَّارِ الْآنَ حَتَّى انْتَهَى إِلَى قَعْرِهَا
“Tahukah kalian, apakah itu?” Mereka berkata, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Beliau berkata, “Itu adalah batu yang dilemparkan ke dalam Jahanam sejak tujuh puluh musim yang lalu. Sekarang baru sampai dasarnya.” (HR. Muslim no. 2844)

6. Makanan dan minuman penduduk neraka
Allah l berfirman:
“Kemudian sesungguhnya kalian, wahai orang-orang yang sesat lagi mendustakan, benar-benar akan memakan pohon zaqqum, yang akan memenuhi perut kalian. Sesudah itu, kalian akan meminum air yang sangat panas. Maka kalian minum seperti unta yang sangat haus. Itulah hidangan untuk mereka pada hari pembalasan.” (al-Waqi’ah: 51—56)
Rasulullah n berkata, “Seandainya satu tetes zaqqum menetes di dunia, niscaya akan merusak kehidupan penduduk dunia. Bagaimana (kira-kira pengaruhnya) bagi orang yang memakannya.” (HR. Ahmad, at-Tirmidzi, dan an-Nasa’i, lihat Shahih Jami’ no. 5126)
Allah l berfirman:
“… Sesungguhnya Kami telah menyediakan bagi orang-orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.” (al-Kahfi: 29)
Allah l berfirman:
“Di hadapannya ada Jahannam dan dia akan diberi minuman dengan air nanah.” (Ibrahim: 16)

Sifat dan Keadaan Penghuni Neraka
Tubuh penduduk neraka akan dijadikan besar oleh Allah l.

1. Tebal kulitnya
Dari Abu Hurairah z, Rasulullah n bersabda:
“Sesungguhnya, tebal kulit seorang kafir (di neraka) ialah 42 hasta ukuran orang kuat yang besar. Giginya sebesar Gunung Uhud, dan sungguh tempat duduknya dia di Jahannam seluas Makkah dan Madinah.” (HR. at-Tirmidzi dan al-Hakim. Lihat Shahihul Jami’ no. 2110)
Namun, karena dahsyatnya neraka, kulit tersebut matang ketika terbakar. Allah l berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (an-Nisa: 56)

2. Gigi penghuni neraka
Dari Abu Hurairah z, Rasulullah n berkata, “Gigi orang kafir (di neraka) atau gigi taringnya seperti Gunung Uhud.” (HR. al-Bazzar. Lihat Shahihul Jami’ no. 3784)

Macam-Macam Azab di Neraka
Azab yang terjadi di neraka bermacam-macam. Kami akan menyebutkan beberapa hal yang sering kita dengar.

1. Orang yang paling dahsyat siksanya
Dari Ibnu Mas’ud z, Rasulullah n berkata:
إِنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَذَابًا عِنْدَ اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْمُصَوِّرُونَ
“Orang yang paling dahsyat siksanya pada hari kiamat adalah orang-orang yang menggambar (makhluk bernyawa).” (HR. Ahmad. Lihat Shahihul Jami’ no. 1559)
Dari Ibnu Mas’ud z juga, Rasulullah n berkata, “Sesungguhnya orang yang paling dahsyat siksanya pada hari kiamat adalah seseorang yang membunuh nabi atau dibunuh oleh nabi, dan seseorang yang membuat berhala.” (HR. Ahmad. Lihat Shahihul Jami’ no. 1011)
Dari Khalid bin Walid z, Rasulullah n berkata, “Manusia yang paling dahsyat siksanya adalah orang yang paling bengis ketika menyiksa manusia di dunia.” (HR. Ahmad. Lihat Shahihul Jami’ no. 1009)

2. Tangisan penduduk neraka
Allah l berfirman:
“Mereka merintih di dalam api dan mereka di dalamnya tidak bisa mendengar.” (al-Anbiya: 100)
Dari Abdullah bin Qais z, Rasulullah n berkata, “Sungguh penduduk neraka akan menangis. Seandainya perahu dijalankan di genangan air mata mereka, niscaya perahu tersebut akan berjalan. Kemudian mereka akan menangis darah sebagai ganti air mata mereka.” (HR. Ibnu Majah, lihat ash-Shahihah no. 1679)

3. Lolongan penghuni neraka
Dari Abu Umamah al-Bahili z, dia mengatakan, “Aku mendengar Rasulullah n berkata, “Datang dua orang laki-laki, lalu memegang kedua lenganku dan membawaku ke gunung yang susah dilalui. Keduanya berkata, ‘Naiklah.’ Aku jawab, ‘Aku tidak bisa.’ Keduanya berkata, ‘Kami akan mempermudahmu.’ Aku pun naik. Ternyata aku di dataran gunung. Tiba-tiba aku mendengar suara yang keras. Aku katakan, ‘Suara apa itu?’ Keduanya berkata, ‘Itu adalah lolongan penduduk neraka’.” (HR. Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban. Lihat ash-Shahihah no. 3951, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh Muqbil dalam ash-Shahihul Musnad)

4. Azab bagi orang yang berbuka di bulan Ramadhan sebelum waktunya
Dari Abu Umamah al-Bahili z, Rasulullah n berkata, “… Kemudian keduanya membawaku, ternyata ada satu kaum yang digantung dalam keadaan kaki di atas dan mulut mereka robek-robek. Darah mengalir dari mulut mereka. Aku berkata, ‘Siapa mereka?’ Keduanya menjawab, ‘Mereka adalah orang yang berbuka di bulan puasa sebelum dihalalkan berbuka’.” (HR. Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban. Lihat ash-Shahihah no. 3951, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh Muqbil dalam ash-Shahihul Musnad)

5. Azab bagi pezina
Masih hadits dari Abu Umamah al-Bahili z, Rasulullah n berkata, “… Kemudian keduanya membawaku, ternyata ada satu kaum yang tubuh mereka sangat besar, bau tubuhnya sangat busuk, paling jelek dipandang, dan bau mereka seperti bau tempat pembuangan kotoran (comberan). Aku tanyakan, ‘Siapakah mereka?’ Keduanya menjawab, ‘Mereka adalah pezina laki-laki dan perempuan’.” (HR. Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban. Lihat ash-Shahihah no. 3951, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh Muqbil dalam ash-Shahihul Musnad)

6. Azab bagi wanita yang tidak mau menyusui anaknya
Pada lanjutan hadits Abu Umamah al-Bahili z di atas, Rasulullah n berkata, “… Kemudian keduanya berangkat membawaku, ternyata ada wanita-wanita yang puting susu mereka digigit ular. Aku bertanya, ‘Siapa mereka?’ Keduanya menjawab, ‘Mereka adalah wanita yang tidak mau memberikan air susu mereka kepada anak-anak mereka’.” (HR. Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban. Lihat ash-Shahihah no. 3951, dan dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh Muqbil dalam ash-Shahihul Musnad)

7. Ular dan kalajengking neraka
Rasulullah n memberitakan bahwa jika ular di neraka menyengat satu gigitan, akan menyebabkan panas demam selama empat puluh musim. Demikian juga kalajengking di neraka, apabila menggigit satu gigitan akan menyebabkan panas demam selama empat puluh musim. (HR. al-Baihaqi, lihat ash-Shahihah no. 3429)

8. Penduduk neraka yang paling ringan azabnya
Dari Abu Hurairah z, Nabi n berkata, “Sesungguhnya penduduk neraka yang paling ringan siksanya adalah seseorang yang dipakaikan kepadanya dua sendal dari api neraka, lantas mendidih otaknya karenanya.” (HR. Ahmad dan al-Hakim, lihat ash-Shahihah no. 1680)

Penutup
Sebagai penutup, penulis ingin mengingatkan bahwa iman kepada neraka mestinya mengharuskan kita memperbanyak amal saleh yang merupakan sebab selamatnya seseorang dari api neraka.
Di antara amalan terpenting yang mesti kita lakukan adalah memperkuat tauhid. Tauhid adalah faktor utama yang menjadi sebab selamatnya seseorang dari api neraka. Dari Jabir z, Rasulullah n berkata, “Barang siapa berjumpa dengan Allah (meninggal) dalam keadaan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun pasti masuk surga.”
Dari Itban z, Rasulullah n berkata, “Allah mengharamkan neraka dari seseorang yang mengucapkan, ‘La ilaha illallah,’ dalam keadaan mengharapkan wajah Allah.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Setelah itu, hal penting lain yang perlu diperhatikan adalah meninggalkan perkara-perkara bid’ah dengan cara senantiasa mengikuti jejak Rasulullah n dan para sahabatnya g. Rasulullah n berkata, “Umatku akan terpecah menjadi 73 golongan: 72 golongan masuk neraka dan satu golongan masuk surga, yaitu al-jamaah.”
Dalam satu riwayat, “Yaitu orang-orang yang mengikuti jalanku dan jalan sahabatku sekarang ini.” (HR. Abu Dawud dan dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh al-Albani t)
Tidak kalah pentingnya, selain beramal, seseorang juga hendaknya mengiringinya dengan banyak berdoa kepada Allah l. Di antaranya adalah berdoa minta dimasukkan ke surga dan dilindungi dari neraka.
Rasulullah n berkata, “Barang siapa meminta surga kepada Allah tiga kali, surga akan berkata, ‘Ya Allah, masukkanlah dia ke surga.’ Barang siapa meminta perlindungan dari neraka kepada Allah tiga kali, neraka akan berkata, ‘Ya Allah, lindungilah dia dari neraka.’ (Shahihul Jami’ no. 6151)
Mudah-mudahan Allah l menyelamatkan kita dari dahsyatnya api neraka dan memasukkan kita dengan rahmat-Nya ke dalam surga-Nya yang abadi.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَنَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ
“Ya Allah, kami memohon surga kepada-Mu dan berlindung kepada-Mu dari neraka.”

Surga Kenikmatan Abadi yang Telah Ada

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc.)

Dari Abu Hurairah z, Rasulullah n bersabda,
قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ مَا لاَ عَيْنٌ رَأَتْ، وَلاَ أُذُنٌ سَمِعَتْ، وَلاَ خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ
“Allah k berfirman, ‘Aku telah menyediakan bagi hamba-hamba-Ku yang saleh kenikmatan yang belum pernah mata melihatnya, belum pernah telinga mendengarnya, dan belum pernah pula terbetik dalam kalbu manusia’.”
Takhrij Hadits
Hadits qudsi yang agung ini diriwayatkan al-Bukhari dalam ash-Shahih no. 3244 dan 4779, Muslim dalam ash-Shahih no. 2824, al-Humaidi dalam al-Musnad no. 1133, at-Tirmidzi dalam as-Sunan no. 3197, Abu Ya’la al-Mushili dalam al-Musnad no. 6276, dan Ibnu Hibban dalam ash-Shahih no. 369. Semua meriwayatkan hadits ini dari jalan Abu Zinad, dari al-A’raj, dari Abu Hurairah z.
Abdullah bin al-Mubarak t meriwayatkan hadits ini dalam az-Zuhd no. 273. Melalui jalan Ibnul Mubarak inilah, al-Bukhari mengeluarkannya dalam ash-Shahih no. 7498, dari Ma’mar.
Hadits yang serupa diriwayatkan pula dari sahabat Abu Sa’id al-Khudri z dalam Hilyatul Auliya (2/262), dan sahabat Sahl bin Sa’d as-Sa’idi z dalam Musnad al-Imam Ahmad (5/334).
Jannah (Surga) Telah Ada
Ahlus Sunnah wal Jamaah meyakini bahwa al-jannah (surga) dan an-naar (neraka) adalah dua makhluk Allah l yang telah diciptakan. Artinya, saat ini keduanya telah ada. Berbeda halnya dengan golongan Mu’tazilah yang mengatakan bahwa keduanya belum diciptakan oleh Allah l.
Ahlus Sunnah wal Jamaah juga meyakini bahwa al-jannah dan an-naar kekal selama-lamanya. Berbeda halnya dengan golongan al-Jahmiyah yang mengatakan bahwa al-jannah dan an-naar tidak kekal.
Hadits qudsi yang sedang kita bahas adalah salah satu dalil Ahlus Sunnah wal Jamaah bahwa al-jannah telah diciptakan oleh Allah l dan sudah ada saat ini. Perhatikan hadits qudsi di atas, Allah l berfirman:
أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ
“Aku telah menyediakan bagi hamba-hamba-Ku yang saleh.”
Kata (أَعْدَدْتُ) dalam bahasa Arab adalah fi’il madhi (kata kerja lampau) yang menunjukkan telah berlalunya satu pekerjaan. Dengan demikian, artinya adalah “Aku telah menyediakan.” Yakni, al-jannah telah disediakan oleh Allah l, telah diciptakan oleh-Nya. Oleh karena itu, al-Imam al-Bukhari t memberi satu judul bab bagi hadits ini, Bab “Ma ja’a fi Shifatil Jannah wa an-Naha Makhluqah (bab tentang sifat al-jannah dan bahwa ia telah diciptakan oleh Allah l)”.
Bentuk fi’il madhi ini juga disebutkan dalam al-Qur’an. Di antaranya adalah firman Allah l:
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada jannah yang luasnya seluas langit dan bumi yang telah disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.” (Ali Imran: 133)
Juga firman-Nya:
“Peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang telah disediakan bagi orang-orang kafir.” (al-Baqarah: 24)
Dalil yang lain tentang keberadaan al-jannah dan an-naar sebagai dua makhluk yang telah diciptakan oleh Allah l adalah sabda Rasulullah n tentang keutamaan bulan Ramadhan. Beliau n bersabda:
إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَغُلِقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ، وَصُفِدَتِ الشَّيَاطِينُ
“Apabila bulan Ramadhan datang, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.” (Muttafaqun ‘alaihi dari hadits Abu Hurairah z)
Ketika Rasulullah n melakukan perjalanan Isra’ dan Mi’raj, beliau melihat al-jannah dan an-naar. Perjalanan agung tersebut adalah perjalanan jasad dan ruh, bukan mimpi. Hadits-hadits tentang Isra’ juga dalil yang sangat kokoh tentang keberadaan kedua makhluk Allah l ini. Beliau bersabda, “Lalu aku dimasukkan ke dalam al-jannah, ternyata di dalamnya ada kubah-kubah dari mutiara dan ternyata tanahnya adalah misik.”

Menjawab Keyakinan Bid’ah Mutazilah
Dengan akalnya yang berpenyakit, golongan Mu’tazilah berkata, “Keduanya belum diciptakan oleh Allah l. Jika keduanya sudah diciptakan oleh Allah l berarti Dia telah melakukan perbuatan yang sia-sia. Bukankah manusia saat ini masih di alam dunia? Bukankah hari kebangkitan belum datang? Untuk apa keduanya diciptakan padahal manusia masih di dunia dan belum memakainya?”
Ucapan Mu’tazilah ini tidak ada sedikit pun nilainya di hadapan timbangan syariat. Cukuplah dalil-dalil yang sahih sebagai bantahan atas kebatilan ucapan mereka. Dalil tentang keberadaan jannah adalah dalil mutawatir yang tidak bisa dimungkiri. Demikian pula, Ahlus Sunnah telah bersepakat di atas keyakinan tersebut.
Bahkan, telah sahih bahwa arwah orang yang beriman berada di jannah. Ini menunjukkan bahwa jannah tidak diciptakan oleh Allah l dengan sia-sia sebagaimana ucapan Mu’tazilah yang tidak beradab. Al-Imam Ibnu Majah t meriwayatkan bahwa Rasulullah n bersabda:
إِنَّمَا نَسَمَةُ الْمُؤْمِنِ طَائِرٌ يَعْلُقُ فِي شَجَرِ الْجَنَّةِ حَتَّى يَرْجِعَ إِلَى جَسَدِهِ يَوْمَ يُبْعَثُ
“Sesungguhnya ruh seorang mukmin terbang—makan dan mendapatkan nikmat—di pohon jannah, sampai Allah l mengembalikan kepada jasadnya nanti di hari kebangkitan.”1

Al-Jannah, Kenikmatan yang Belum Pernah Tebersit dalam Hati
Jannah adalah kenikmatan luar biasa yang belum pernah dilihat mata, belum pernah terdengar oleh telinga, dan belum pernah tebersit dalam kalbu manusia. Dalam sebagian riwayat hadits qudsi di atas, setelah Rasulullah n meriwayatkan firman Allah l, beliau bersabda, “Jika kalian mau, bacalah firman Allah l:
“Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka, yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.” (as-Sajdah: 17)
Lalu beliau n bersabda:
“Dan di dalam jannah ada sebuah pohon yang jika seorang penunggang kuda mengelilingi pohon selama seratus tahun, belum selesai mengelilinginya. Bacalah firman Allah jika kalian mau (yang maknanya), ‘dan naungan yang terbentang luas’ (al-Waqi’ah: 30).”
“Dan tempat cemeti di jannah lebih baik daripada dunia seisinya. Bacalah jika kalian mau firman Allah (yang maknanya), ‘… Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya’.” (Ali Imran: 185) (HR. at-Tirmidzi kitab “Tafsir al-Waqiah” no. 3292. Beliau berkata, “Hadits hasan sahih.”)

Perjalanan Menuju Jannah
Sadar atau tidak, seluruh anak Adam sedang melangkah menuju hari-hari abadi. Perjalanan itu berakhir di jannah Allah l atau neraka-Nya, wal ‘iyadzubillah. Cukuplah kiranya hadits qudsi di atas mendorong seorang mukmin berlomba mendapatkan jannah Allah l. Negeri yang sangat indah, kampung halaman yang sangat memesona dan penuh kebahagiaan.
Di antara perjalanan yang akan dilalui, akan datang suatu masa ketika manusia menyaksikan Jahannam. Akan datang pula masa ketika shirath (jembatan) akan dipancangkan oleh Allah l di atas neraka Jahannam. Shirath itu harus dilalui sebelum Allah l mengizinkan hamba-Nya memasuki al-jannah. Allah l berfirman:
“Dan tidak ada seorang pun dari kalian, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Rabbmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan.” (Maryam: 71)
Setelah jembatan—yang sangat mencekam, lebih tajam dari pedang dan lebih lembut dari rambut—itu dilalui, dengan penuh kebahagiaan kaum mukminin memuji Allah l seraya berseru:
الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِي نَجَّانَا مِنْكِ بَعْدَ الَّذِي أَرَانَاكِ لَقَدْ أَعْطَانَا اللهُ مَا لَمْ يُعْطَ أَحَدًا
“Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan kami darimu (Jahannam) setelah Dia perlihatkan engkau kepada kami. Sungguh Allah telah mengaruniai kami nikmat yang tidak Dia berikan kepada seorang pun.”2
Betapa indah saat itu, saat seseorang diselamatkan dari Jahannam. Kemudian mereka berkumpul di qantharah, yaitu tempat di antara al-jannah dan an-naar. Di sana, berlangsunglah qishash di antara kaum mukminin sehingga hati-hati ahlul jannah bersih dan tidak tersisa sedikit pun dendam dan dengki.
“Dan Kami cabut segala macam dendam yang berada di dalam dada mereka….” (al-A’raf: 43)
Saat memasuki jannah semakin dekat, namun delapan pintu jannah masih saja tertutup. Kaum mukminin berbondong-bondong menuju Adam q dan meminta agar beliau memohon dibukakan pintu jannah. Nabi Adam q hanya menjawab, “Bukankah aku ini yang menyebabkan kalian keluar dari jannah? Pergilah kepada anakku Ibrahim!”
Manusia pun datang kepada Khalilullah, Ibrahim q. Namun, beliau pun menolaknya. Mereka lalu mendatangi Musa q, kemudian Isa q, hingga manusia datang kepada sayyidul mursalin, Muhammad n.3
Allahu Akbar. Untuk kesekian kalinya, Allah l menampakkan kemuliaan Nabi-Nya di hadapan hamba-hamba-Nya. Beliau n lalu memohon agar pintu jannah dibuka. Syafaat beliau n pun diterima. Rasulullah n bersabda,
آتِي بَابَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَأَسْتَفْتِحُ فَيَقُولُ الْخَازِنُ: مَنْ أَنْتَ؟ فَأَقُولُ: مُحَمَّدٌ. فَيَقُولُ: بِكَ أُمِرْتُ، لاَ أَفْتَحُ لِأَحَدٍ قَبْلَكَ
Aku mendatangi pintu jannah di hari kiamat dan meminta pintu dibuka. Penjaga jannah berkata, “Siapa engkau?” Jawabku, “Aku Muhammad.” Ia berkata, “Untukmu aku diperintah untuk tidak membukakan bagi seorang pun sebelummu.”4
Dibukalah delapan pintu jannah. Kaki-kaki kaum mukminin pun melangkah ke dalamnya, meraih kenikmatan yang abadi dan keberuntungan yang nyata.
“… Dan barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (Ali Imran: 185)
Rombongan demi rombongan, sesuai kedudukan mereka di sisi Allah l, memasuki negeri keabadian. Dengan sangat terhormat mereka disambut malaikat-malaikat Allah l dengan salam. Allah l berfirman:
“Dan orang-orang yang bertakwa kepada Rabbnya dibawa ke dalam surga berombong-rombongan (pula). Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya, ‘Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu, berbahagialah kamu! Maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya’.” (az-Zumar: 73)
Rasulullah n bersabda:
إِنَّ أَوَّلَ زُمْرَةٍ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ عَلَى صُوْرَةِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ، وَالَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ عَلَى أَشَدِّ كَوْكَبٍ دُرِّيٍّ فِي السَّمَاءِ إِضَاءَةً، لاَ يَبُوْلُونَ وَلاَ يَتَغَوَّطُونَ وَلاَ يَتْفُلُوْنَ وَلاَ يَمْتَخِطُونَ، أَمْشَاطُهُمُ الذَّهَبُ، وَرَشْحُهُمُ الْمِسْكُ، وَمَجَامِرُهُمُ الْأَلُوَّةُ، وَأَزْوَاجُهُمْ الْحُوْرُ الْعِينُ، عَلَى خَلْقِ رَجُلٍ وَاحِدٍ عَلىَ صُورَةِ أَبِيهِ آدَمَ سِتُّونَ ذِرَاعًا فِي السَّماءِ
“Sesungguhnya, rombongan pertama yang masuk jannah seperti bulan di malam purnama. Rombongan berikutnya bercahaya seperti bintang-bintang gemerlap laksana mutiara di langit. Mereka tidak buang air kecil, tidak buang air besar, tidak meludah, dan tidak pula membuang ingus. Sisir-sisir mereka dari emas. Keringat mereka adalah misik. Pengasapan mereka adalah al-aluwwah (kayu gaharu). Istri-istri mereka adalah al-hurul ‘in (bidadari-bidadari bermata jeli) dengan perawakan yang serupa, sama dengan bapak mereka Adam, setinggi enam puluh hasta.”5
Masuklah kaum mukminin ke dalam jannah Allah l, negeri kenikmatan yang difirmankan oleh Allah l dalam hadits qudsi:
أَعْدَدْتُ لِعِبَادِيَ الصَّالِحِينَ مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ، وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ، وَلاَ خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ
“Telah Aku sediakan bagi hamba-hamba-Ku yang saleh kenikmatan yang belum pernah mata melihatnya, belum pula telinga pernah mendengarnya, dan belum pernah terbetik dalam kalbu manusia.”

Kenikmatan al-Jannah
Kenikmatan jannah adalah perkara gaib. Jalan untuk mengetahui sifatnya hanyalah berita-berita langit: ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits Rasul n.
Hidangan pertama ahlul jannah adalah hati ikan. Kemudian disembelihkan sapi jannah untuk mereka. Mereka minum dari mata air salsabil. Rasulullah n bersabda:
وَأَمَّا أَوَّلُ طَعَامٍ يَأْكُلُهُ أَهْلُ الْجَنَّةِ فَزِيَادَةُ كَبِدِ الْحُوتِ
“Adapun hidangan pertama yang dimakan ahlul jannah adalah bagian terlezat dari hati ikan.”6
Seorang Yahudi mendatangi Rasulullah n dan mengajukan beberapa pertanyaan yang tidak mungkin ada yang bisa menjawabnya selain seorang nabi. Ia berkata:
فَمَا تُحْفَتُهُمْ حِينَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ؟ قَالَ: زِيَادَةُ كَبِدِ النُّونِ. قَالَ: فَمَا غَذَاؤُهُمْ عَلَى إِثْرِهَا؟ قَالَ: يُنْحَرُ لَهُمْ ثَوْرُ الْجَنَّةِ الَّذِي كَانَ يَأْكُلُ مِنْ أَطْرَافِهَا. قَالَ: فَمَا شَرَابُهُمْ عَلَيْهِ؟ قَالَ: مِنْ عَيْنٍ فِيهَا تُسَمَّى سَلْسَبِيلًا
“Suguhan apakah yang diberikan kepada penduduk jannah ketika memasukinya?” Beliau menjawab, “Bagian terlezat dari hati ikan.” Si Yahudi bertanya lagi, “Hidangan apakah yang diberikan setelahnya?” Rasul menjawab, “Disembelihkan untuk mereka sapi jannah yang mencari makan di tepi-tepi jannah.” Si Yahudi berkata, “Apakah minuman mereka?” “Dari mata air bernama Salsabil.” (HR. Muslim dari Tsauban z maula Rasulullah n)
Penduduk jannah makan dan minum tanpa harus kencing dan buang air besar. Hanyalah sendawa dan keringat yang lebih harum dari misik. Rasulullah n bersabda:
لاَ يَبُوْلُونَ وَلاَ يَتَغَوَّطُونَ وَلاَ يَتْفُلُوْنَ وَلاَ يَمْتَخِطُونَ، أَمْشَاطُهُمُ الذَّهَبُ، وَرَشْحُهُمُ الْمِسْكُ، وَمَجَامِرُهُم الْأَلُوَّةُ، وَأَزْوَاجُهُمُ الْحُوْرُ الْعِينُ، عَلَى خَلْقِ رَجُلٍ وَاحِدٍ عَلىَ صُورَةِ أَبِيهِ آدَمَ سِتُّونَ ذِرَاعًا فِي السَّماءِ
“Mereka tidak buang air kecil, tidak buang air besar, tidak meludah, dan tidak pula membuang ingus. Sisir-sisir mereka dari emas. Keringat mereka adalah misik. Pengasapan mereka adalah al-aluwwah (kayu gaharu). Istri-istri mereka adalah al-hurul ‘in (bidadari-bidadari bermata jeli), dengan perawakan yang serupa, sama dengan bapak mereka Adam, setinggi enam puluh hasta.”7
Bejana-bejana yang mereka gunakan terbuat dari emas dan perak. Allah l berfirman:
“Diedarkan kepada mereka piring-piring dari emas dan piala-piala, serta di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kamu kekal di dalamnya.” (az-Zukhruf: 71)
“Dan diedarkan kepada mereka bejana-bejana dari perak dan piala-piala yang bening laksana kaca.” (al-Insan: 15)
Ahlul jannah mendapatkan buah-buahan yang diingini dan semua daging yang dikehendaki. Allah l berfirman:
“Dan Kami beri mereka tambahan dengan buah-buahan dan daging dari segala jenis yang mereka ingini.” (ath-Thur: 22)
Jannah memiliki sungai-sungai yang sangat indah.
“… Di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tiada berubah rasanya, sungai-sungai dari khamr (arak) yang lezat rasanya bagi peminumnya, dan sungai-sungai dari madu yang disaring; dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Rabb mereka….” (Muhammad: 15)
Jannah memiliki istana-istana dan kerajaan-kerajaan besar. Allah l berfirman:
“Dan apabila kamu melihat di sana (surga), niscaya kamu akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kerajaan yang besar.” (al-Insan: 20)
Rasulullah n bersabda:
بَيْنَا أَنَا نَائِمٌ رَأَيْتُنِي فِي الْجَنَّةِ، فَإِذَا امْرَأَةٌ تَتَوَضَّأُ إِلَى جَانِبِ قَصْرٍ، فَقُلْتُ: لِمَنْ هَذَا الْقَصْرُ؟ قَالُوا: لِعُمَرَ. فَذَكَرْتُ غِيْرَتَهُ، فَوَلَّيْتُ مُدْبِرًا). فَبَكَى عُمَرُ وَقَالَ: أَعَلَيْكَ أَغَارُ، يَا رَسُولَ اللهِ؟
“Saat aku tidur, aku melihat diriku di dalam jannah. Aku melihat seorang wanita berwudhu di samping sebuah istana.” Aku pun bertanya, “Milik siapakah istana ini?” Mereka menjawab, “Milik Umar.” Segera aku teringat kecemburuan Umar dan aku pun meninggalkan istana itu. Umar menangis dan berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana mungkin aku cemburu kepadamu?”8
Di sana ada pula kubah-kubah dan tenda-tenda yang menjulang.
إِنَّ لِلْمُؤْمِنِ فِي الْجَنَّةِ لَخَيْمَةً مِنْ لُؤْلُؤَةٍ وَاحِدَةٍ مُجَوَّفَةٍ، طُولُهَا سِتُّونَ مِيلًا، لِلْمُؤْمِنِ فِيهَا أَهْلُونَ يَطُوفُ عَلَيْهِمُ الْمُؤْمِنُ فَلَا يَرَى بَعْضُهُمْ بَعْضًا
“Sungguh bagi seorang mukmin di jannah tenda dari lu’lu’ (mutiara) yang berongga. Panjangnya enam puluh mil. Di dalamnya ada keluarga (istri-istri) yang ia berkeliling pada mereka tanpa mereka saling melihat.”9

Nikmat yang Kekal
Semua kenikmatan ahlul jannah yang diberikan oleh Allah l kepada hamba-hamba-Nya yang saleh adalah nikmat yang tidak pernah putus, kekal.
Demikianlah Allah l mengabarkan dalam al-Qur’an. Demikian pula Rasulullah n menyabdakan dalam haditsnya yang mulia.
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Rabb mereka ialah surga Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Rabbnya.” (al-Bayyinah: 7—8)
Dalam hadits yang sahih, Rasulullah n bersabda:
Akan diserukan bagi penduduk lamanya. Bagi kalian kehidupan, maka kalian tidak akan mati selama-lamanya. Bagi kalian umur yang muda, maka kalian tidak akan menjadi tua selama-lamanya. Bagi kalian kenikmatan, maka tidak akan ada kesusahan selama-lamanya. Itulah firman Allah l, ‘… Dan diserukan kepada mereka, [Itulah surga yang diwariskan kepadamu, disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan]’. (al-A’raf: 43)”

Wahai jiwa, jalan menuju jannah telah dijelaskan oleh kekasih Allah l(Rasulullah n). Pintu-pintu jannah hanya akan dibuka bagi mereka yang mentauhidkan Allah l dan menjauhkan diri dari kesyirikan. Bersemangatlah, mintalah pertolongan kepada Allah l dan janganlah engkau malas!
Dunia adalah negeri asing. Negerimu sesungguhnya adalah al-jannah. Abdullah bin Umar c berkata:
أَخَذَ رَسُولُ اللهِ n بِمَنْكِبَيَّ فَقَالَ: كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ.
وَكَان ابْنُ عُمَرَ c يَقُولُ: إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ
Rasulullah n memegang kedua pundakku dan berkata, “Jadilah engkau di dunia seakan-akan orang asing atau seseorang yang sekadar lewat.” Ibnu Umar c mengatakan, “Jika engkau memasuki waktu sore, janganlah menunggu waktu pagi. Jika engkau memasuki waktu pagi, janganlah engkau menunggu waktu sore. Ambillah keadaan sehatmu sebelum keadaan sakitmu dan hidupmu sebelum engkau mati.” (HR. al-Bukhari)
Wallahu a’lam.

Catatan Kaki:

1 HR. Ibnu Hibban (10/513) no. 4657 dan Ibnu Majah dalam as-Sunan, Kitab “az-Zuhd” no. 4271, dinyatakan sahih oleh al-Albani.

2 Potongan hadits panjang yang diriwayatkan oleh al-Hakim dalam al-Mustadrak (2/408) no. 3424 dan dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam takhrij beliau terhadap al-Aqidah ath-Thahawiyah hlm. 469.
3 Lihat Shahih Muslim (1/187) no. 195.
4 HR. Muslim no. 196 dari Anas bin Malik z.

5 HR. al-Bukhari (no. 3327), Muslim (8/146), dan Ibnu Majah (no. 4333), dari hadits Abu Hurairah z. Lihat takhrij hadits ini dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah (7/3/1472) no. 3519.
6 HR. al-Bukhari “Kitab Fadhail”, hadits Anas z tentang kisah Islamnya Abdullah bin Salam z (7/272 no. 3938, Fathul Bari).

7 HR. al-Bukhari (no. 3327), Muslim (8/146), dan Ibnu Majah (no. 4333), dari hadits Abu Hurairah z. Lihat takhrij hadits ini dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah (7/3/1472) no. 3519.

8 HR. al-Bukhari, Kitab “Fadhail ash-Shahabah”, bab “Manaqib Umar bin al-Khaththab z” dari Abu Hurairah z.
9 HR. Muslim, Bab “Sifat Tenda Jannah” no. 5070.

Dunia dalam Pandangan Penghuninya

Dunia memang manis, indah, dan hijau, seperti kata Rasulullah n:

إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ …
“Sesungguhnya dunia itu manis lagi hijau….” (HR. Muslim dalam Shahih-nya dari Abu Sa’id al-Khudri z)
Tak heran, banyak manusia yang tertipu dengannya sehingga mereka mati-matian mengejarnya. Padahal yang mereka kejar hanyalah tsaman qalil atau mata’un qalil, kata kitab suci kita, yakni harga yang murah dan perhiasan yang sedikit.

“Janganlah kalian menjual/menukar ayat-ayat Kami dengan harga yang murah (dunia)….” (al-Baqarah: 41)
Katakanlah, “Perhiasan dunia itu kecil (remeh tiada bernilai) dan akhirat itu lebih baik bagi orang yang bertakwa….” (an-Nisa: 77)
Cara pandang manusia terhadap dunia ada dua macam.
1. Pandangan materialisme
Pikiran/pandangan seseorang terbatas dan terfokus untuk mencapai kenikmatan-kenikmatan dunia. Perbuatannya pun semata-mata untuk meraih angan-angan duniawinya. Pikirannya tidak bisa melampaui apa yang ada di balik ambisi dunianya, yaitu akibat-akibat buruk yang bakal diperoleh. Tidak pula ia berbuat untuk kehidupan setelah hidup di dunia, bahkan menaruh perhatian pun tidak! Ia tidak tahu bahwa Allah l menjadikan kehidupan dunia ini sebagai ladang untuk akhirat. Seharusnya ia menjadikan dunia sebagai negeri amal sedangkan akhirat sebagai negeri balasan.
Siapa yang menyibukkan dirinya di dunia ini dengan amal saleh maka ia akan beroleh keberuntungan di dua negeri. Sebaliknya, siapa yang menyia-nyiakan dunia (tidak dipakai untuk beramal saleh) maka akan hilang akhiratnya. Allah l berfirman:
“Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (al-Hajj: 11)
Allah l tidaklah menciptakan dunia ini sia-sia. Dia menciptakannya untuk suatu hikmah yang agung. Allah l berfirman:
“Yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian, siapakah yang paling baik amalannya.” (al-Mulk: 2)
“Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan bagi bumi untuk Kami menguji mereka, siapakah di antara mereka yang terbaik amalan/perbuatannya.” (al-Kahfi: 7)
Dalam kehidupan dunia ini, Allah l menciptakan berbagai perhiasan: harta, anak, kedudukan, kekuasaan, dan seluruh kelezatan yang hanya Allah l yang tahu.
Umumnya, manusia membatasi pandangannya hanya kepada lahiriah kehidupan dunia berikut kesenangan-kesenangan dunia yang menipu. Ia menyenangkan dirinya dengan dunia tanpa merenungkan rahasia penciptaan dunia. Ia pun tersibukkan meraih dunia, mengumpulkan serpihan-serpihannya, dan bernikmat-nikmat dengannya, hingga lalai dari beramal untuk hidup setelah kehidupan di dunia. Lebih parah lagi, ia mengingkari adanya kehidupan selain kehidupan dunia, sebagaimana Allah l berfirman:
Dan tentu mereka akan mengatakan (pula), “Tidak ada kehidupan selain kehidupan kita di dunia ini dan kita sekali-kali tidak akan dibangkitkan.” (al-An’am: 29)
Allah l telah memberikan ancaman atas materialisme seperti ini dengan firman-Nya:
“Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengannya, terhadap ayat-ayat Kami pun mereka melalaikannya, mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan apa yang dahulunya selalu mereka kerjakan.” (Yunus: 7—8)
Ancaman ini tertuju kepada orang-orang yang memiliki paham materialisme, baik dalam bentuk melakukan amalan akhirat namun bertujuan ingin beroleh dunia—seperti yang dilakukan orang munafik dan orang yang riya’—maupun orang-orang kafir yang sama sekali tidak beriman dengan hari kebangkitan dan hisab/perhitungan amalan, seperti keadaan orang-orang jahiliah dan pengikut pemikiran sesat dari kalangan komunis, atheis, dan mulhidin.
Mereka tidak mengetahui kadar kehidupan. Pandangan mereka tidak mampu menjangkaunya, seperti halnya pandangan hewan ternak. Bahkan, lebih bodoh daripada hewan karena menyia-nyiakan akal, kemampuan, dan membuang-buang waktu mereka dalam hal yang tidak berfaedah. Mereka tidak beramal untuk (mempersiapkan) tempat kembali yang menanti mereka dan pasti bersua dengan mereka. Adapun hewan (yang dijadikan sebagai perbandingan dengan orang-orang itu) tidak memiliki tempat kembali yang menantinya. Hewan juga tidak punya akal yang bisa dipakai untuk berpikir. Berbeda halnya dengan orang-orang tersebut.
Oleh karena itu, Allah l berfirman tentang mereka:
“Apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu bisa mendengar atau memahami (berakal)? Mereka itu tidak lain hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).” (al-Furqan: 44)
Allah l menyebutkan bahwa orang-orang yang berpikir materi duniawi semata sebagai orang-orang yang tidak memiliki ilmu, alias bodoh. Dia Yang Mahasuci berfirman:
“Akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Mereka hanya mengetahui yang lahir (zahir) saja dari kehidupan dunia, sedangkan tentang kehidupan akhirat mereka lalai.” (ar-Rum: 6—7)
Orang-orang tersebut—walau dianggap punya kelebihan dalam industri dan teknologi—hakikatnya adalah orang-orang bodoh yang tidak pantas disebut berilmu karena ilmu yang mereka ketahui tidak lebih dari lahiriah kehidupan dunia. Ilmu yang seperti ini adalah ilmu yang kurang. Pemiliknya tak pantas menyandang sebutan yang mulia, yaitu ulama, karena yang berhak disebut ulama/orang yang berilmu adalah orang yang mengenal Allah l dan takut kepada-Nya, sebagaimana Allah l berfirman:
“Yang takut kepada Allah dari kalangan hamba-hamba-Nya hanyalah ulama.” (Fathir: 28)
Termasuk pandangan materialisme terhadap kehidupan dunia adalah apa yang disebutkan tentang kisah Qarun dan perbendaharaan harta yang dilimpahkan oleh Allah l kepadanya.
ﭰ ﭱ ﭲ ﭳ ﭴﭵ ﭶ ﭷ ﭸ ﭹ ﭺ ﭻ ﭼ ﭽ ﭾ ﭿ ﮀ ﮁ ﮂ ﮃ ﮄ ﮅ
Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia, “Andai kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun, sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar.” (al-Qashash: 79)
Para penonton ‘pamer kekayaan’ yang dilakukan oleh Qarun berangan-angan ingin menjadi semisal Qarun. Mereka iri terhadap apa yang ada pada Qarun. Mereka menyebut Qarun sebagai orang yang beroleh keberuntungan yang besar. Anggapan mereka ini dibangun di atas materialisme, sebagaimana keadaan negeri-negeri kafir sekarang dengan kemajuan industri dan kepesatan ekonominya. Kaum muslimin yang lemah imannya memandang orang-orang kafir di negeri ‘maju’ tersebut dengan pandangan kagum, tanpa mau menoleh kepada kekafiran mereka berikut tempat kembali yang buruk yang menanti.
Pandangan yang salah ini membangkitkan sikap pengagungan terhadap orang-orang kafir, menyimpan keseganan dan rasa minder terhadap orang-orang kafir. Buntutnya adalah sikap tasyabbuh/menyerupai atau membebek kepada mereka dalam hal akhlak dan kebiasaan mereka yang buruk. Akan tetapi, kesungguh-sungguhan, etos kerja, persiapan kekuatan, dan hal-hal bermanfaat lain berupa penemuan dan industri yang ada pada orang-orang kafir justru tidak diikuti/ditiru.

2. Pandangan yang benar terhadap kehidupan dunia
Seseorang menganggap apa yang ada dalam kehidupan dunia: harta, kekuasaan, dan kekuatan materi sebagai perantara yang dapat digunakan untuk beramal akhirat.
Oleh karena itu, pada hakikatnya dunia tidak dicela kelezatannya. Pujian dan celaan hanyalah ditujukan kepada perbuatan hamba dalam kehidupan dunia. Dunia merupakan jembatan dan alat penyeberangan yang dapat mengantarkan ke akhirat. Dari dunia, kita beroleh bekal menuju surga. Kehidupan yang baik bergelimang nikmat yang diperoleh penduduk surga hanya didapatkan dengan apa yang mereka tanam di dunia. Dengan demikian, dunia menjadi negeri berjihad, menunaikan shalat, puasa, infak fisabilillah, dan berlomba-lomba dalam hal kebaikan.
Allah l berfirman kepada penduduk surga:
(Dikatakan kepada penghuni surga), “Makan dan minumlah kalian dengan nikmat disebabkan amal saleh yang telah kalian kerjakan pada hari-hari yang telah lalu.” (al-Haqqah: 24)
Yakni, amal saleh yang dahulunya dikerjakan di dunia.
Wallahu a’lam bish-shawab. Semoga kita termasuk orang-orang yang berpandangan dengan pandangan yang kedua ini.
(Sumber: Kitabut Tauhid, karya Fadhilatusy Syaikh Shalih ibnu Fauzan al-Fauzan, hlm. 58—61. Diterjemahkan oleh Ummu Ishaq al-Atsariyah)

MIMPI MELIHAT NABI

Disebutkan dalam hadits Rasulullah n:
مَنْ رَآنِيْ فِي الْمَنَامِ فَقَدْ رَآنِي فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لاَ يَتَمَثَّلُ بِيْ
“Siapa yang melihatku dalam mimpi maka sungguh ia benar-benar telah melihatku karena setan tidak bisa menyerupaiku.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Sebagian orang mengaku bahwa Nabi n mendatanginya dalam mimpi dan memberinya wirid/bacaan-bacaan yang harus diulangnya sekian kali. Yakni, dia diminta mengucapkan wirid tersebut dalam rangka ibadah dan agar dia memberitahukannya kepada orang lain. Tentu pengakuan seperti ini bertentangan dengan ayat yang mulia:
“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kalian agama kalian, telah Ku-cukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu menjadi agama kalian.” (al-Maidah: 3)
Apakah pengakuan orang seperti itu benar atau dusta?
Jawab:
Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah menjawab,
“Melihat Nabi n dalam mimpi sungguh bisa terjadi karena hadits yang memberitakan tentang hal tersebut sahih. Akan tetapi, hal itu bisa terjadi pada orang yang mengenali Rasulullah n. Jika saat terjaga orang itu mengetahui dan mengenal sifat-sifat/ciri-ciri beliau, setan tidak mungkin bisa menyerupai ciri-ciri dan kepribadian beliau. Siapa yang kenal beliau dengan sebenar-benarnya dan bisa dengan tepat membedakan beliau dari yang lain, sungguh orang seperti ini benar melihat beliau dalam mimpi.
Adapun orang yang tidak mengenal ciri-ciri Rasulullah n dan tidak bisa membedakan kepribadian beliau yang mulia (lantas mengaku melihat Rasul n dalam mimpi), bisa jadi orang ini didatangi setan dalam tidurnya yang mengaku sebagai Rasulullah n serta menyesatkannya dalam agamanya.
Dengan demikian, masalah mimpi melihat Rasul n tidak berlaku secara mutlak. Orang bermimpi melihat Nabi n mesti mimpi yang shadiqah/benar, jika memang ia kenal Nabi n dan bisa membedakan beliau dari yang lain. Adapun orang yang tidak mengenal Nabi n dan tidak mengetahui ciri-ciri beliau, tidak bisa pula membedakan ciri-ciri dan kepribadian beliau dari yang lain, berarti orang ini ditipu oleh setan. Setan bisa mendatanginya dan mengaku sebagai Rasulullah n.
Dari sisi yang kedua, Rasul n mengajarinya wirid dalam mimpi, maka sebagaimana kata penanya, ini adalah perkara batil karena penetapan syariat telah berakhir/selesai dengan wafatnya Nabi n. Allah l berfirman:
“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kalian agama kalian, telah Ku-cukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu menjadi agama kalian.” (al-Maidah: 3)
Setelah wafat Rasulullah n, tidak ada lagi pensyariatan sesuatu dan penambahan sesuatu terhadap ajaran yang beliau tinggalkan sebelum wafatnya, baik dalam bentuk wirid maupun selainnya. Maka dari itu, hendaknya hal ini menjadi perhatian.”
(Majmu’ Fatawa Fadhilatusy Syaikh Shalih al-Fauzan, 1/49—50)