Hukum Bergambar Makhluk Bernyawa bagian 1

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Zulfa Husein Al-Atsariyyah)

Tanpa disadari, banyak keseharian kita yang dikelilingi hal-hal yang bertentangan dengan syariat. Salah satunya adalah dipajangnya gambar atau patung makhluk bernyawa di rumah kita. Foto keluarga hingga tokoh atau artis idola telah menjadi sesuatu yang sangat lazim dijumpai di rumah-rumah kaum muslimin. Bagaimana kita menimbang masalah ini dengan kacamata syariat?

Saudariku muslimah ….
Di rumah kita mungkin masih banyak bentuk/ gambar makhluk hidup, baik gambar dua dimensi ataupun tiga dimensi berupa patung, relief, dan semisalnya. Gambar–gambar itu seolah menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan kita, karena di mana-mana kita senantiasa menjumpainya. Di dinding rumah ada kalender bergambar fotomodel dengan pose seronok. Di tempat yang sama, ada lukisan foto keluarga. Di atas buffet, ada foto si kecil yang tertawa ceria. Di ruang tamu ada patung pahatan dari Bali.
Sedikit ke ruang tengah ada ukiran Jepara berbentuk burung-burung. Lebih jauh ke ruang keluarga ada lukisan bergambar manusia ataupun hewan. Begitu pula di kamar, di dapur bahkan di teras rumah, atau jauh di halaman ada patung dua ekor singa besar di kanan dan kiri pintu gerbang menyambut kehadiran anggota keluarga ataupun tamu yang hendak masuk rumah, seolah-olah merupakan patung selamat datang atau bahkan diyakini sebagai penjaga rumah dari marabahaya. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.
Belum lagi koleksi album foto keluarga, handai taulan, teman dan sahabat bertumpuk di meja tamu. Belum terhitung koran, majalah1, tabloid yang penuh dengan gambar dan lukisan dari yang sopan sampai yang paling tidak bermoral. Ini baru cerita di rumah kita, di rumah saudara, dan tetangga kita. Belum di tempat-tempat lain seperti di sekolah, di kantor, di toko, di perpustakaan, di pasar, di kampus, dan sebagainya. Benar-benar musibah yang melanda secara merata, wallahu al-musta’an.
Saudariku muslimah…
Kenapa kita katakan tersebarnya gambar tersebut sebagai musibah? Karena di sana terdapat pelanggaran terhadap aturan Allah I dan Rasul-Nya n, menyimpang dan berpaling dari hukum yang diturunkan dari langit. Untuk lebih memperjelas permasalahan ini, kami nukilkan secara ringkas (dan bersambung) beberapa pembahasan berikut dalil yang disebutkan Asy-Syaikh Al-Muhaddits Abu Abdurrahman Muqbil bin Hadi Al-Wadi‘i t dalam kitabnya yang sangat berharga Hukmu Tashwir Dzawatil Arwah yang bisa kita maknakan dalam bahasa kita “Hukum Gambar/ Menggambar Makhluk Yang Memiliki Ruh.”
Sebelumnya perlu kita ketahui bahwa yang dimaksud gambar bernyawa/ mempunyai ruh di sini adalah gambar manusia dan hewan. Adapun gambar pohon dan benda-benda mati lainnya tidaklah terlarang dan tidak masuk dalam ancaman yang disebutkan dalam hadits Rasulullah n.

Perintah Menghapus Gambar Makhluk yang Bernyawa
‘Ali bin Abi Thalib z berkata kepada Abul Hayyaj Al-Asadi: “Maukah aku mengutus-mu dengan apa yang Rasulullah n mengutusku? (Beliau mengatakan padaku ):

“Janganlah engkau membiarkan gambar kecuali engkau hapus dan tidak pula kubur yang ditinggikan kecuali engkau ratakan.”2
Ibnu ‘Abbas c berkata: “Ketika Nabi n melihat ada gambar-gambar di dalam Ka’bah, beliau tidak mau masuk ke dalamnya sampai beliau memerintahkan agar gambar tersebut dihapus. Dan beliau melihat gambar Nabi Ibrahim dan Isma’il e di mana di tangan keduanya ada azlam (batang anak panah yang digunakan oleh orang-orang jahiliyyah untuk mengundi guna menentukan perkara/ urusan mereka). Beliau bersabda:

“Semoga Allah memerangi mereka! Demi Allah, keduanya sama sekali tidak pernah mengundi nasib dengan azlam.”3
Ketika Rasulullah n masuk kota Makkah pada hari Fathu Makkah, beliau dapatkan di sekitar Ka’bah ada 360 patung/ berhala, maka mulailah beliau menusuk patung-patung tersebut dengan kayu yang ada di tangan beliau seraya berkata:

“Telah datang al-haq (kebenaran) dan musnahlah kebatilan. Telah datang al-haq dan kebatilan itu tidak akan tampak dan tidak akan kembali.”4

Larangan Membuat Gambar
Jabir z berkata:

“Rasulullah n melarang mengambil gambar (makhluk hidup) dan memasukkannya ke dalam rumah dan melarang untuk membuat yang seperti itu.”5

Rasulullah n Melaknat Pembuat/ Pelukis Gambar Makhluk yang Bernyawa
‘Aun bin Abi Juhaifah mengabarkan dari ayahnya bahwa ayahnya berkata:

“Sesungguhnya Nabi n melarang dari harga darah, harga anjing6, dan dari penghasilan budak perempuan (yang disuruh berzina). Beliau melaknat wanita yang membuat tato dan wanita yang minta ditato, demikian juga pemakan riba dan orang yang mengurusi riba. Sebagaimana beliau melaknat tukang gambar.”7

Gambar Bisa Disembah oleh Pengagungnya
‘Aisyah x mengabarkan: “Ketika Nabi n sedang sakit, sebagian istri-istri beliau8 ada yang bercerita tentang sebuah gereja bernama Mariyah yang pernah mereka lihat di negeri Habasyah. Mereka menyebutkan keindahan gereja tersebut dan gambar-gambar yang ada di dalamnya. Nabi n pun mengangkat kepalanya seraya berkata:

“Mereka itu, bila ada seorang shalih di kalangan mereka yang meninggal dunia, mereka membangun masjid/ rumah ibadah di atas kuburannya. Kemudian mereka membuat gambar-gambar itu di dalam rumah ibadah tersebut. Mereka itulah sejelek-jelek makhluk di sisi Allah.8

Semua Pembuat/ Pelukis Gambar Makhluk Bernyawa Tempatnya di Neraka
Seseorang pernah datang menemui Ibnu ‘Abbas c. Orang itu berkata: “Aku bekerja membuat gambar-gambar ini, aku mencari pengha-silan dengannya.” Ibnu ‘Abbas c berkata: “Mendekatlah denganku.” Orang itupun mendekati Ibnu ‘Abbas c. Ibnu ‘Abbas c berkata: “Mendekat lagi.” Orang itu lebih mendekat hingga Ibnu ‘Abbas c dapat meletakkan tangannya di atas kepala orang tersebut, lalu berkata: “Aku akan beritakan kepadamu dengan hadits yang pernah aku dengar dari Rasulullah n. Aku mendengar beliau n bersabda:

“Semua tukang gambar itu di neraka. Allah memberi jiwa/ ruh kepada setiap gambar (makhluk hidup) yang pernah ia gambar (ketika di dunia). Maka gambar-gambar tersebut akan menyiksanya di neraka Jahannam.”
Ibnu ‘Abbas c berkata kepada orang tersebut: “Jika kamu memang terpaksa mela-kukan hal itu (bekerja sebagai tukang gambar) maka buatlah gambar pohon dan benda-benda yang tidak memiliki jiwa/ ruh.”9
Rasulullah n juga bersabda:

“Siapa yang membuat sebuah gambar (makhluk hidup) di dunia, ia akan dibebani untuk meniupkan ruh kepada gambar tersebut pada hari kiamat, padahal ia tidak bisa meniupkannya.”10
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqalani t menerangkan bahwa pembuat gambar makh-luk hidup mendapatkan cercaan yang keras dengan diberi ancaman berupa hukuman yang ia tidak akan sanggup memikulnya, karena mustahil baginya untuk meniupkan ruh pada gambar-gambar yang dibuatnya. Ancaman yang seperti ini lebih mengena untuk mencegah dan menghalangi orang dari berbuat demikian serta menghentikan pelakunya agar tidak terus melakukan perbuatan tersebut. Adapun orang yang membuat gambar makhluk bernyawa karena menghalalkan perbuatan tersebut maka ia akan kekal di dalam azab. (Fathul Bari, 10/484)
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.
(bersambung, insya Allah)


1 Faedah: Asy-Syaikh Abdurrahman Al-’Adni berkata: “Masalah: membeli majalah dan koran yang di dalamnya ada gambar (makhluk hidup). Dalam hal ini ada dua jenis: Pertama, majalah dan koran pornografi, di mana gambar di dalamnya merupakan hal inti (yang diinginkan), yang bertujuan untuk membuat fitnah; Kedua, majalah dan koran yang berisi berita harian biasa dan berita politik. Jenis yang pertama, tidak boleh memperjualbelikannya dan ini merupakan keharaman yang nyata. Adapun jenis kedua, Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dan Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahumallah mengatakan tidak mengapa membeli majalah dan koran yang seperti ini, dan gambar di sini bukanlah hal yang diinginkan ketika membelinya.” (Lihat Syarhul Buyu’ war Riba min Kitab Ad-Darari hal. 21, ed)
2 HR. Muslim no. 2240, kitab Al-Jana`iz, bab Al-Amr bi Taswiyatil Qabr
3 HR. Al-Bukhari no. 3352, kitab Ahaditsul Anbiya‘, bab Qaulullahi ta’ala: Wattakhadzallahu Ibrahima Khalila
4 HR. Al-Bukhari no. 4287, kitab Al-Maghazi, bab Aina Rakazan Nabiyyu r Ar-Rayah Yaumal Fathi dan Muslim no. 4601, kitab Al-Jihad was Sair, bab Izalatul Ashnam min Haulil Ka’bah
5 HR. At-Tirmidzi no. 1749, kitab Al-Libas ‘An Rasulillah n, bab Ma Ja`a fish Shurah. Dihasankan Asy-Syaikh Muqbil dalam Hukmu Tashwir, hal. 17
6 Larangan memperjualbelikan darah dan anjing.
7 HR. Al-Bukhari no. 2238, kitab Al-Buyu’, bab Tsamanul Kalb
8 Yakni Ummu Salamah dan Ummu Habibah c yang pernah berhijrah ke Habasyah.
8 HR. Al-Bukhari no. 1341, kitab Al-Jana`iz, bab Bina‘ul Masajid ‘alal Qabr dan Muslim no. 1181, kitab Al-Masajid wa Mawadhi’ush Shalah, bab An-Nahyu ‘an Bina‘il Masajid ‘alal Qabr wat Tikhadzish Shuwar
9 HR. Muslim no. 5506, kitab Al-Libas waz Zinah, bab Tahrimu Tashwiri Shuratil Hayawan …
10 HR. Al-Bukhari no. 5963, kitab Al-Libas, bab Man Shawwara Shurawan Kullifa Yaumal Qiyamah An Yunfakhu fihar Ruh dan Muslim no. 5507, kitab Al-Libas waz Zinah, bab Tahrimu Tashwiri Shuratil Hayawan …

Hukum Alat Kontrasepsi untuk Mencegah Kehamilan

Apa hukumnya bila seorang suami menyetujui istrinya dipakaikan alat kontrasepsi oleh pihak rumah sakit guna mencegah kehamilan?

Jawab:
Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i t berfatwa: “Sang suami tidak boleh menyetujuinya, sementara Rasulullah n telah menyatakan: Menikahlah kalian sehingga jumlah kalian menjadi banyak karena sesungguhnya aku membanggakan (banyaknya) kalian di hadapan umat-umat lain pada hari kiamat.1
Dan juga Nabi n pernah mendoakan Anas bin Malik z agar dilipatkan jumlah harta dan anaknya2. Selain itu, bisa jadi kita akan dihadapkan dengan takdir Allah (berupa musibah kematian anaknya sehingga ia kehilangan si buah hati).
(Bila ada alasan untuk menunda kehamilan) maka ketika mendatangi istrinya (jima‘), sang suami diperbolehkan melakukan ‘azal3. Adapun (menunda kehamilan) dengan menggunakan obat-obatan/ pil, memotong rahim (pengangkatan rahim) atau yang lain, tidak diperbolehkan.
Perlu diketahui, musuh-musuh Islam menghias-hiasi perbuatan yang menyelisihi agama di hadapan kita. (Mereka menyerukan agar kaum muslimin membatasi kelahiran) sementara mereka sendiri, justru terus berupaya memperbanyak jumlah mereka. Dan benar-benar mereka telah melakukannya.
Aku bertanya kepada kalian, wahai saudara-saudaraku. Bila sekarang ini, di zaman ini, ada orang yang memiliki sepuluh anak, apakah kalian saksikan Allah I menyia-nyiakannya? Atau justru kalian melihat, Allah I membukakan rizki baginya dari arah yang tidak disangka-sangka?
Bila seseorang membatasi kelahiran karena alasan duniawi (takut rizki misalnya, –pent.), ia benar-benar telah keliru. Karena Rabbul ‘Izzah berfirman dalam kitab-Nya yang mulia:

“Dan tidak ada satu makhluk melata pun di bumi ini kecuali Allah-lah yang menanggung rizkinya.” (Hud: 6)
Dan juga firman-Nya:

“Berapa banyak hewan yang tidak dapat membawa (mengurus) sendiri rizkinya tapi Allah lah yang memberikan rizkinya dan juga memberikan rizki kepada kalian.” (Al-Ankabut: 60)
Namun bila ia melakukannya karena khawatir adanya mudharat/ bahaya yang bakal menimpa sang istri, maka diperbolehkan menunda kehamilan dengan melakukan ‘azal. Adapun kalau harus menggunakan alat/ obat yang berasal dari musuh-musuh Islam, baik berupa obat/ pil pencegah kehamilan atau lainnya, maka ini tidaklah kami anjurkan. ‘Azal sendiri sebenarnya makruh, namun diizinkan Rasulullah n. Beliau bersabda ketika mengizin-kan para shahabatnya untuk melakukan ‘azal:

“Tidak ada satu jiwa pun yang telah ditakdirkan untuk diciptakan sampai hari kiamat kecuali mesti akan ada/ tercipta.”
Jabir bin Abdillah c berkata:

“Kami melakukan ‘azal sementara Al-Qur`an (wahyu) masih turun (belum berhenti terus tersampaikan kepada Rasulullah n).”5
Maka Nabi n memberikan rukhshah (keringanan) untuk melakukan ‘azal. Walham-dulillah Rabbil ‘alamin. (Ijabatus Sa`il, hal. 467-468)
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin t mengatakan: “Adapun menggunakan sesuatu yang bisa mencegah kehamilan, ada dua:
Pertama: Mencegah kehamilan secara permanen. Hal ini tidak diperbolehkan karena akan memutus kehamilan sehingga memper-sedikit keturunan. Ini bertentangan dengan tujuan syariat memperbanyak jumlah umat Islam. Juga, ada kemungkinan bahwa anak-anaknya yang ada akan meninggal, sehingga si wanita menjadi tidak punya anak sama sekali.
Kedua: Mencegah kehamilan dalam jangka waktu tertentu. Seperti bila si wanita banyak hamil sedangkan hamil akan melemah-kannya, dan dia ingin mengatur kehamilan setiap dua tahun sekali atau semacamnya. Hal yang seperti ini diperbolehkan, dengan syarat seijin suaminya dan tidak memadharatkan si wanita. Dalilnya, para shahabat dahulu melakukan ‘azal  terhadap istri-istri mereka pada masa Nabi n dengan tujuan agar istri-istri mereka tidak hamil. Dan Nabi n tidak melarang hal itu.” (Risalah fid Dima’ Ath-Thibi’iyyah lin Nisa`, hal. 44) (ed)

 


 

1 Ma’qil bin Yasar z berkata: Seseorang datang menemui Nabi n, lalu ia berkata: “Sesungguhnya aku mendapatkan seorang wanita cantik dan memiliki kedudukan, namun ia tidak dapat melahirkan anak, apakah boleh aku menikahinya?” Nabi n menjawab: “Tidak boleh.” Orang itu datang lagi kepada Nabi n mengutarakan keinginan yang sama, namun Nabi n tetap melarangnya. Kemudian ketika ia datang untuk ketiga kalinya, Nabi n bersabda:

“Nikahilah oleh kalian wanita yang penyayang lagi subur (dapat melahirkan anak yang banyak) karena sesungguhnya aku berbangga-bangga dengan banyaknya kalian di hadapan umat-umat yang lain.” (HR. Abu Dawud no. 2050, dishahihkan Asy-Syaikh Muqbil dalam Ash-Shahihul Musnad 2/211) –pent.
2 Ummu Sulaim, ibu Anas bin Malik z, berkata kepada Rasulullah n: “Wahai Rasulullah, ini Anas pelayanmu, mohonkanlah kepada Allah kebaikan untuknya. Rasulullah n berdoa:

“Ya Allah, banyakkanlah harta dan anaknya. Dan berkahilah dia atas apa yang Engkau berikan kepadanya.” (HR. Al-Bukhari no. 6378 dan Muslim no. 1499) –pent.
3 Mengeluarkan air mani di luar kemaluan istri, di mana ketika akan inzal, sang suami menarik kemaluannya dari kemaluan istrinya sehingga air maninya terbuang di luar farji (kemaluan). (Fathul Bari)

4 Hadits di atas diriwayatkan dalam Ash-Shahihain. Al-Imam An-Nawawi t menerangkan makna hadits di atas: “Setiap jiwa yang telah Allah takdirkan untuk diciptakan, maka pasti akan Ia ciptakan. Sama saja baik kalian melakukan ‘azal atau tidak. Sedangkan apa yang Allah tidak takdirkan untuk diciptakan maka pasti tidak terjadi, sama saja baik kalian melakukan ‘azal atau tidak. Dengan demikian ‘azal kalian tidak ada faedahnya, bila Allah I telah mentakdirkan penciptaan satu jiwa, maka air mani kalian mendahului kalian (ada yang tertumpah ke dalam farji tanpa kalian sadari) sehingga tidaklah bermanfaat semangat kalian untuk mencegah penciptaan Allah.” (Al-Minhaj, 10/252)  –pent.
5 HR. Al-Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya. Tambahan faedah: Asy-Syaikh Al-Albani t mengatakan: “Adapun di masa ini, didapatkan sarana-sarana yang memungkinkan seorang lelaki mencegah air maninya agar tidak tertumpah sama sekali (di kemaluan) istri, seperti apa yang disebut dengan rabthul mawasir (mengikat saluran telur) dan kondom yang dipasangkan di kemaluan ketika jima’, dan yang semacamnya… Bagaimanapun juga, yang dimakruhkan menurutku adalah bila dalam dua perkara ini atau salah satunya (yaitu dua hal yang timbul akibat terhalangnya tertumpahnya mani: pertama, memberi madharat dengan mengurangi kenikmatan istri, kedua: menghilangkan sebagian tujuan pernikahan), tidak ada tujuan seperti tujuan orang kafir melakukan ‘azal. Seperti takut miskin karena banyak anak dan terbebani untuk menafkahi serta mendidik mereka. Bila disertai hal ini maka hukumnya naik dari makruh ke tingkat haram, karena  kesamaan niat orang yang melakukan ‘azal dengan tujuan orang kafir melakukannya. Di mana orang-orang kafir membunuh anak-anak mereka karena takut menafkahi dan takut miskin, sebagaimana telah diketahui. Berbeda halnya bila si wanita sakit, yang dokter mengkhawatirkan sakitnya akan bertambah parah bila hamil. Dalam keadaan ini, si wanita boleh memakai alat pencegah kehamilan untuk jangka waktu tertentu. Adapun bila sakitnya berbahaya dan dikhawatirkan menyebabkan kematian, si wanita boleh –dalam keadaan ini saja–  bahkan wajib melakukan rabthul mawasir untuk menjaga agar dia tetap hidup. Wallahu a’lam. (Adabuz Zifaf, hal. 136-137)

Hukum Ziarah Kubur Bagi Wanita (bagian 1)

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Zulfa Husein Al-Atsariyyah)

 

Setiap amalan yang disyariatkan dalam Islam memiliki batasan-batasan. Hal ini dimaksudkan agar agama ini tidak diaplikasikan secara berlebihan yang ujung-ujungnya kemudian menjadi amalan bid’ah. Demikian juga dengan ziarah kubur. Amalan yang dianjurkan ini bisa menjadi bid’ah jika batasan-batasan syariatnya dilanggar. Hal-hal apa saja yang mesti kita perhatikan dalam ziarah kubur? Dan bagaimana hukum amalan tersebut bagi wanita?

Ziarah Kubur Amalan yang Disyariatkan
Ziarah kubur merupakan amalan yang disyariatkan dalam agama ini. Ini bertujuan agar orang yang melakukannya bisa mengambil pelajaran dari kematian yang telah mendatangi penghuni kubur dan dalam rangka mengingat negeri akhirat. Tentunya disertai syarat, orang yang melakukannya tidak melakukan perbuatan yang dimurkai Allah I seperti berdoa meminta hajat/ kebutuhan dan istighatsah (minta tolong) kepada penghuni kubur, dan sebagainya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah t membagi ziarah kubur menjadi dua, yaitu: ziarah syar’iyyah (ziarah yang syar’i) dan ziarah bid’iyyah (ziarah yang bid’ah). Ziarah yang syar’i adalah ziarah yang dilakukan dengan maksud mengucapkan salam kepada mayat dan mendoakannya sebagaimana hal ini dilakukan ketika menshalati jenazahnya. Namun ziarah ini dilakukan tanpa syaddu rihal (menempuh perjalanan yang jauh/ safar). Adapun ziarah yang bid’ah adalah bila peziarah melakukannya dengan tujuan meminta kebutuhan/ hajat kepada mayat dan ini merupakan syirik akbar. Atau ia ingin berdoa di sisi kuburan, maka ini bid’ah yang diingkari dan mengantarkan kepada kesyirikan. Selain itu, yang demikian ini tidak pernah dicontohkan Nabi n, tidak pula oleh salaful ummah dan para imam dari kalangan umat ini. (Sebagaimana dinukil dalam Al-Mulakhkhash Al-Fiqhi, Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Alu Fauzan, 1/256 dan Taudhihul Ahkam, Asy-Syaikh Abdullah Alu Bassam, 3/258)
Asy-Syaikh Al-Albani t berkata: “Tidak diragukan lagi bahwa berdoa dan beristighatsah kepada mayat, serta meminta kepada Allah dengan menyebut hak si mayat yang dilakukan orang-orang awam dan selain mereka ketika berziarah, termasuk hujr1 yang paling besar dan ucapan yang batil. Semestinya ulama menerangkan hukum Allah terkait dengan masalah ini kepada mereka dan memahamkan mereka bagaimana ziarah kubur yang masyru’ah (ziarah yang syar’i) berikut tujuannya.” (Ahkamul Jana`iz, hal. 227-228)
Berikut ini dalil dari hadits Rasulullah n tentang disyariatkannya ziarah kubur beserta faedahnya:
Buraidah ibnul Hushaib z berkata: Rasulullah n bersabda:
“Aku pernah melarang kalian dari ziarah kubur maka (sekarang) ziarahilah kuburan.” (HR. Muslim no. 2257, kitab Al-Jana`iz, bab Isti`dzanun Nabi n Rabbahu U  fi Ziyarati Qabri Ummihi)
Dalam riwayat An-Nasa`i disebutkan:
“Siapa yang ingin ziarah kubur maka silahkan ia berziarah, namun jangan kalian mengucapkan hujran.”3
Abu Sa’id Al-Khudri z mengabarkan bahwa Rasulullah n bersabda:
“Sesungguhnya dulu aku melarang kalian dari ziarah kubur. Maka (sekarang) ziarahilah kuburan, karena dalam ziarah kubur ada ibrah/ pelajaran. Namun jangan kalian mengeluarkan ucapan yang membuat Rabb kalian murka.” (HR. Ahmad 3/38, 63, 66, Al-Hakim 1/374,375 dan ia mengatakan: “Shahih di atas syarat Muslim.” Adz-Dzahabi menyepakatinya. Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ahkamul Jana`iz hal. 228 mengatakan, kedudukan hadits ini sebagaimana dikatakan Al-Hakim dan Adz-Dzahabi)
Dalam riwayat Muslim dari Abu Hurairah z disebutkan faedah lain dari ziarah kubur. Nabi n bersabda:
“Ziarahilah kuburan karena sesungguhnya ziarah kubur itu mengingatkan kepada kema-tian.”4
Dalam riwayat Ahmad dari Buraidah z, Nabi n mengatakan:
“Agar ziarah kubur itu mengingatkan kalian kepada kebaikan.”5
Dalam riwayat Al-Hakim dari Anas bin Malik z disebutkan:
“Karena ziarah kubur itu melembutkan hati dan mengalirkan air mata, serta mengingatkan pada akhirat namun jangan kalian mengucapkan hujran.”6
Al-Imam An-Nawawi t berkata: “Ziarah kubur ini awalnya dilarang karena masih dekatnya masa mereka (para shahabat) dengan masa jahiliyah. Sehingga bisa jadi ketika melakukan ziarah kubur, mereka mengucapkan perkataan-perkataan jahiliyah yang batil. Maka ketika kaidah-kaidah Islam telah tegak, kokoh dan mantap, hukum-hukum Islam telah teratur dan terbentang, serta telah masyhur tanda-tandanya, dibolehkanlah bagi mereka untuk ziarah kubur. Namun Nabi n membatasinya dengan ucapan beliau:.” (Al-Majmu’, 5/285)
Al-Imam Ash-Shan’ani t berkata: “Semua hadits ini menunjukkan disyariatkannya ziarah kubur, menerangkan hikmahnya, dan dilakukannya dalam rangka mengambil pelajaran. Maka bila dalam ziarah kubur tidak tercapai hal ini berarti ziarah itu bukanlah ziarah yang dimaukan secara syar’i.” (Subulus Salam, 2/181)

Hukum Ziarah Kubur bagi Wanita
Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ahlul ilmi tentang bolehnya ziarah kubur bagi laki-laki7. Namun berbeda halnya bila berkenaan dengan wanita. Mereka terbagi dalam tiga pendapat dalam menetapkan hukumnya:
Pertama: Makruh tidak haram. Demikian satu riwayat dari pendapat Al-Imam Ahmad t, dengan dalil hadits Ummu ‘Athiyyah x:

“Kami dilarang (dalam satu riwayat: Rasulullah n melarang kami) untuk mengikuti jenazah, namun tidak ditekankan (larangan tersebut) terhadap kami.” 9
Mayoritas pengikut madzhab Syafi’iy-yah10 dan sebagian pengikut madzhab Hanafiyyah11 berpendapat seperti ini.
Kedua: Mubah tidak makruh. Demikian pendapat mayoritas Hanafiyyah, Malikiyyah dan riwayat lain dari Al-Imam Ahmad t12, berdalil dengan:
1. Hadits dari Buraidah z yang telah disebutkan di atas13.
2. Hadits ‘Aisyah x tentang ziarahnya ke kubur saudaranya Abdurrahman bin Abi Bakar c.14
3. Hadits ‘Aisyah x juga yang dikeluarkan Al-Imam Muslim tentang doa ziarah kubur yang diajarkan Rasulullah n kepada ‘Aisyah15 ketika ia berkata: “Apa yang aku ucapkan bila menziarahi mereka (penghuni kubur) wahai Rasulullah?”
Beliau mengajarkan: “Katakanlah:

“Salam sejahtera atas penghuni negeri ini dari kalangan mukminin dan muslimin. Semoga Allah merahmati orang-orang yang telah mendahului kami dan orang-orang yang belakangan. Insya Allah kami akan menyusul kalian. (HR. Muslim no. 2253, kitab Al-Jana`iz, bab Ma Yuqalu ‘inda Dukhulil Qubur wad Du’a li Ahliha)
4. Hadits Anas bin Malik z , ia berkata:

“Nabi n melewati seorang wanita yang sedang menangis di sisi kubur, maka Nabi pun menasehati si wanita: ‘Bertakwalah engkau kepada Allah17 dan bersabarlah.’
Wanita itu menjawab dalam keadaan ia belum mengenali siapa yang menasehatinya: “Biarkan aku karena engkau tidak ditimpa musibah seperti musibahku (tidak merasakan musibah yang aku rasakan, –pen.)”
Dikatakanlah kepada si wanita: “Yang menasehatimu adalah Nabi n.”
Wanita itu (terkejut) bergegas mendatangi Nabi n dan tidak didapatinya penjaga pintu di sisi (pintu) Nabi n. “Aku tadi tidak mengenal-mu”, katanya menyampaikan uzur.
Nabi bersabda: “Hanyalah kesabaran itu pada goncangan yang pertama.” 18
Ketiga: Haram. Demikian pendapat sebagian pengikut madzhab Malikiyyah, Syafi’iyyah, dan Hanafiyyah, serta pendapat ketiga dari Al-Imam Ahmad19, dan pendapat yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan muridnya Al-’Allamah Ibnul Qayyim, dengan dalil berikut:
1. Abu Hurairah z berkata:
“Sesungguhnya Rasulullah n melaknat wanita-wanita yang banyak berziarah ke kuburan.” (HR. Ahmad 2/337, At-Tirmidzi no. 1056, kitab Al-Jana`iz, bab Ma Ja`a fi Karahiyati Ziyaratil Qubur lin Nisa`, Ibnu Majah no. 1576, kitab Al-Jana`iz, bab Ma Ja`a fin Nahyi ‘an Ziyaratin Nisa` Al-Qubur. Dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi dan Shahih Sunan Ibni Majah, Irwa`ul Ghalil no. 762)
Ada hadits lain yang datang tidak dalam bentuk mubalaghah yaitu hadits Ibnu ‘Abbas c, ia berkata:
“Sesungguhnya Rasulullah n melaknat wanita-wanita yang berziarah ke kuburan.”20 (HR. An-Nasa`i no. 2043, kitab Al-Jana`iz, bab At-Taghlizh fit Tikhadzis Suruj ‘alal Qubur)
Namun sanad hadits ini dha’if sebagai-mana diterangkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Adh-Dha’ifah ketika membawakan hadits no. 225.
2. Abdullah bin ‘Amr ibnul ‘Ash c berkata: “Kami mengubur mayat bersama Rasulullah n. Setelah selesai, Rasulullah kem-bali pulang dan kami pun pulang bersama beliau. Ketika beliau bersisian dengan pintu rumahnya, beliau berdiri. Tiba-tiba kami melihat ada seorang wanita yang datang dan ternyata dia adalah Fathimah putri Rasulullah n. Beliau bertanya:
“Apa yang membuatmu keluar dari rumahmu, wahai Fathimah?”
“Ya Rasulullah, aku mendatangi keluarga orang yang meninggal di rumah itu untuk mendoakan rahmat bagi mereka dan menghibur mereka (berta’ziyah),” jawab Fathimah.
“Mungkin engkau sampai ke kuburan bersama mereka,” kata Rasulullah.
“Aku berlindung kepada Allah dari melakukan hal itu. Sungguh aku telah mendengar apa yang engkau sabdakan dalam masalah itu,” jawab Fathimah.
“Seandainya engkau sampai mendatangi kuburan bersama mereka, niscaya engkau tidak akan melihat surga sampai surga itu bisa dilihat oleh kakek ayahmu,” sabda beliau n. (HR. An-Nasa`i no. 1880, kitab Al-Jana`iz, bab An-Na’yu, namun hadits ini dhaif sebagaimana dalam Dha’if Sunan An-Nasa`i).
Yang rajih (kuat) dari perselisihan yang ada, wallahu a’lam, adalah pendapat yang membolehkan ziarah kubur bagi wanita bahkan hukumnya mustahab sebagaimana laki-laki, dengan beberapa alasan yang akan kami bawakan pada edisi mendatang, Insya Allah.
(bersambung, insya Allah)


1 Akan dijelaskan nantinya
2  Hujran atau hujr adalah ucapan-ucapan yang batil (Al-Majmu, 5/285) atau kata-kata yang keji/ kotor, termasuk juga banyak berbicara yang tidak sepantasnya. (An-Nihayah fi Gharibil Hadits wal Atsar, hal. 986)
3 HR. An-Nasa`i dalam Sunan-nya no. 2033, kitab Al-Jana`iz, bab Ziyaratul Qubur, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih Sunan An-Nasa`i
4 HR. Al-Imam Muslim dalam Shahih-nya no. 2256, kitab Al-Jana`iz, bab Isti`dzanun Nabi n Rabbahu U fi Ziyarati Qabri Ummihi
5 HR. Al-Imam Ahmad dalam Musnad-nya, 5/355
6 HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, 1/376
7Al-Iqna’ fi Masa`ilil Ijma’ 1/190, karya Ibnul Qaththan
8 Sebagaimana dinukil dari Al-Mughni, kitab Al-Jana`iz, mas’alah: Qala: Wa Tukrahu lin-Nisa` dan Jami’ul Fiqh lil Imam Ibni Qayyim Al-Jauziyyah , 2/497
9 HR. Al-Bukhari no. 1278 kitab Al-Jana`iz, bab Ittiba’in Nisa` Al-Jana`iz dan Muslim no. 2163, 2164, kitab Al-Jana`iz, bab Nahyin Nisa` ‘anit Tiba’il Jana`iz
10 Al-Majmu’ 5/285
11 Raddul Mukhtar 1/151
12 Al-Mughni, kitab Al-Jana`iz, mas’alah: Qala: Wa Tukrahu lin-Nisa` dan Jami’ul Fiqh lil Imam Ibni Qayyim Al-Jauziyyah, 2/497
13 Yaitu hadits:
14 Akan dijelaskan nantinya.
15 Hadits ini dan hadits Anas setelahnya, kata Al-Imam An-Nawawi t, termasuk dalil yang menunjukkan ziarah kubur itu tidak diharamkan bagi wanita. (Al-Majmu’, 5/286)
16 makna asalnya adalah pukulan pada sesuatu yang keras, kemudian digunakan secara majaz pada segala yang dibenci/ tidak disukai yang terjadi dengan tiba-tiba. (Syarhu Muslim 6/227)
17 Al-Imam Al-Qurthubi t berkata: “Yang dzahir di sini, tangisan si wanita melebihi perkara yang dibolehkan berupa niyahah dan selainnya, karena itulah Nabi n memerintahkannya untuk bertakwa (kepada Allah).” (Fathul Bari 3/184)
18 HR. Al-Bukhari no. 1283 dan Muslim no. 626
19 Al-Imam Ahmad diketahui memang memiliki tiga pendapat dalam masalah ini.
20 Bedakan antara lafadz: dengan . Lafadz merupakan shighat mubalaghah (berlebih-lebihan) artinya wanita-wanita yang banyak atau sering berziarah. Sehingga bila hanya sesekali mereka melakukan ziarah tidaklah mereka dikatakan , tetapi dikatakan yang maknanya wanita-wanita yang berziarah.

Ummu ‘Umarah

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman Anisah bintu ‘Imran)

 

Kehidupan dunia dengan segala penderitaannya seolah tak lagi berarti baginya, manakala dia telah mendengar janji indah tentang surga. Sepenuh pengorbanan jiwa dan raga dia berikan untuk Allah dan Rasul-Nya.

Mungkin orang yang belum pernah mendengar namanya akan mengernyitkan dahi sembari bertanya, siapakah dia? Namun tak mungkin diingkari, dia adalah seorang shahabiyah yang memiliki untaian kemuliaan besar. Kemuliaannya tertulis dalam sejarah kaum muslimin. Dia bernama Nusaibah bintu Ka’b bin ‘Amr bin Mabdzul bin ‘Amr bin Ghanam bin Mazin bin An Najjar x. Ibunya bernama Ar Rabbab bintu ‘Abdillah bin Habib bin Zaid bin Tsa’labah bin Zaid Manat bin Habib bin ‘Abdi Haritsah bin ‘Adlab bin Jasym bin Al Khazraj.
Ummu ‘Umarah dipersunting oleh Zaid bin ‘Ashim bin ‘Amr bin ‘Auf bin Mabdzul bin ‘Amr bin Ghanam bin Mazin bin An Najjar. Mereka dikaruniai dua orang putra, ‘Abdullah dan Habib, yang kelak di kemudian hari menjadi shahabat Rasulullah n yang menyertai beliau dalam medan peperangan. Sepeninggal suaminya, Ummu ‘Umarah menikah dengan Ghaziyah bin ‘Amr bin ‘Athiyah bin Khansa’ bin Mabdzul bin ‘Amr bin Ghanam bin Mazin bin An Najjar z. Dari pernikahan mereka, lahir Tamim dan Khaulah.
Ummu ‘Umarah x menyambut datangnya seruan Rasulullah n. Setelah keislamannya itu, Allah I menganugerahkan banyak kemuliaan padanya. Satu per satu peristiwa besar turut dilaluinya. Dia salah satu wanita yang hadir pada malam ‘Aqabah dan berbai’at kepada Rasulullah n. Medan Uhud, Hudaibiyah, Khaibar, ‘Umratul Qadla’, Hunain tak lepas dari sejarah perjalanan hidupnya bersama Rasulullah n. Bahkan semasa pemerintahan Abu Bakr Ash Shiddiq z, dia turut terjun memerangi Musailamah Al Kadzdzab dalam perang Yamamah.
Kisah indah dan mengesankan dalam medan pertempuran Uhud, tatkala Ummu ‘Umarah x ikut berperan dalam kancah itu bersama suaminya, Ghaziyah bin ‘Amr serta kedua putranya, ‘Abdullah dan Habib g. Dengan membawa geriba tempat air minum untuk memberi minum pasukan yang terluka, Ummu ‘Umarah berangkat bersama pasukan kaum muslimin di awal siang.
Pertempuran berlangsung dahsyat. Ketika pasukan kaum muslimin tercerai berai, tak tersisa di sisi Rasulullah n kecuali hanya beberapa orang yang tak sampai sepuluh orang banyaknya. Di saat yang genting itu, Ummu ‘Umarah terjun langsung dalam peperangan dengan pedangnya. Bersama suami dan dua putranya, Ummu ‘Umarah mendekati Rasulullah n, melindungi di depan beliau dengan segenap kemampuan.
Tanpa perisai Ummu ‘Umarah melindungi Rasulullah n, sementara sebagian besar pasukan muslimin lari kocar-kacir. Di antara orang-orang yang berlarian menjauh dari beliau, ada seseorang yang lari membawa perisainya. Beliau pun berseru, “Berikan perisaimu pada orang yang berperang!” Orang itu pun melemparkan perisainya dan segera diambil oleh Ummu ‘Umarah. Ummu ‘Umarah pun bertameng dengannya. Demikian keadaan yang mereka hadapi saat itu, sementara lawan mereka adalah pasukan berkuda kaum musyrikin.
Tiba-tiba datang seorang penunggang kuda memacu kudanya sembari menyabetkan pedangnya ke arah Ummu ‘Umarah. Ummu ‘Umarah menangkis tebasan itu dengan perisainya hingga orang itu tak berhasil berbuat sesuatu. Ummu ‘Umarah pun menebas kaki kudanya hingga penunggang kuda itu pun terjatuh. Menyaksikan hal itu, Rasulullah n segera memanggil salah seorang putra Ummu ‘Umarah, “Ibumu! Ibumu!” Dengan cepat putra Ummu ‘Umarah datang membantu ibunya hingga dapat melumpuhkan musuh Allah itu.
Di tengah berkecamuknya perang, putra Ummu ‘Umarah, ‘Abdullah bin Zaid terluka di lengan kirinya, ditebas oleh seseorang yang sangat cepat datangnya dan berlalu begitu saja, tanpa sempat dia kenali. Darah pun mengucur tak henti. Melihat itu, Rasulullah n berkata, “Balut lukamu!” Ummu ‘Umarah pun datang membawa pembalut yang dipersiapkannya untuk membalut luka-luka, segera mengikat luka putranya, sementara Rasulullah n berdiri mengawasi. Usai mengikat luka, Ummu ‘Umarah berkata pada putranya, “Bangkitlah! Perangilah orang-orang itu!” Mendengar ucapannya, Rasulullah n  mengatakan, “Siapa yang mampu melakukan seperti yang kaulakukan, wahai Ummu ‘Umarah?”
Kemudian datanglah orang yang melukai ‘Abdullah. Rasulullah n pun berkata, “Itu orang yang menebas putramu!” Ummu ‘Umarah segera menghadangnya dan menebas betisnya hingga orang itu terjatuh. Rasulullah n  tersenyum menyaksikannya hingga tampak gigi geraham beliau. Ummu ‘Umarah pun menebasnya bertubi-tubi hingga mati. Rasulullah n mengatakan pada Ummu ‘Umarah, “Segala puji milik Allah yang telah menolongmu serta menyenangkan hatimu dengan keadaan musuhmu dan memper-lihatkan pembalasan itu di depan matamu.”
Ummu ‘Umarah pun menderita luka-luka dalam peperangan itu. Luka yang paling besar terdapat di pundaknya, karena tikaman pedang seorang musuh Allah dan Rasul-Nya, Ibnu Qami’ah. Saat itu, Ibnu Qami’ah datang dan berseru, “Tunjukkan aku pada Muhammad! Aku tidak akan selamat kalau dia selamat!” Dia pun segera dihadang oleh Mush’ab bin ‘Umair z bersama para sahabat yang lain. Ummu ‘Umarah berada dalam barisan itu. Maka Ibnu Qami’ah menghunjamkan pedangnya ke pundak Ummu ‘Umarah. Ummu ‘Umarah pun membalas dengan beberapa kali tebasan, namun musuh Allah itu mengenakan baju perang yang melindunginya.
Tatkala melihat Ummu ‘Umarah terluka di pundaknya, Rasulullah n berseru pada ‘Abdullah, “Ibumu! Ibumu! Balutlah lukanya! Semoga Allah memberikan barakah kepada kalian wahai ahlul bait. Kedudukan ibumu pada hari ini lebih baik daripada kedudukan si Fulan dan si Fulan. Semoga Allah memberikan barakah kepada kalian wahai ahlul bait. Kedudukan suami ibumu lebih baik daripada kedudukan si Fulan dan si Fulan. Semoga Allah memberikan barakah kepada kalian wahai ahlul bait!” Ummu ‘Umarah pun meminta, “Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar kami menemanimu di dalam surga!” Beliau pun berdoa, “Ya Allah, jadikan mereka orang-orang yang menemaniku di dalam surga.” Ummu ‘Umarah berkata, “Aku tidak peduli lagi apa yang menimpaku di dunia.”
Dua belas luka didapatkan oleh Ummu ‘Umarah dalam peperangan itu. Tikaman pedang Ibnu Qami’ah itulah luka yang paling parah yang diderita oleh Ummu ‘Umarah, hingga dia harus mengobati luka itu setahun lamanya.
Keadaan luka yang sedemikian hebat tak menyurutkan semangat Ummu ‘Umarah untuk membela Allah dan Rasul-Nya. Ketika kaum muslimin diseru untuk bersiap menuju peperangan di Hamra`il Asad, Ummu ‘Umarah pun menyingsingkan bajunya. Namun, dia tak kuasa menahan kucuran darah dari lukanya. Dalam semalam lukanya terus diseka hingga pagi.

Sepulang dari peperangan di Hamra`il Asad, Rasulullah n mengutus ‘Abdullah bin Ka’b Al-Mazini untuk menanyakan keadaan Ummu ‘Umarah. ‘Abdullah bin Ka’b pun melaksanakan perintah beliau, kemudian menyampaikan kabar Ummu ‘Umarah kepada beliau.
Kecintaannya pada Allah dan Rasul-Nya terus diwujudkannya, sampai pun setelah Rasulullah n wafat. Ketika Abu Bakr Ash Shiddiq z menjabat sebagai khalifah, muncul seorang pendusta bernama Musailamah Al-Kadzdzab, yang mengaku sebagai nabi. Abu Bakr z pun memeranginya bersama pasukan kaum muslimin dalam perang Yamamah. Ummu ‘Umarah pun turut serta dalam pasukan itu. Di sanalah Ummu ‘Umarah terpotong tangannya dan menderita sebelas luka lainnya karena tebasan pedang dan tusukan tombak. Di sanalah pula Ummu ‘Umarah kehilangan putranya, Habib bin Zaid z.
Tak hanya dalam peperangan dia hadir di sisi Rasulullah n. Pun Ummu ‘Umarah meriwayatkan ilmu dari beliau, serta menyebarkannya pada manusia. Perwujudan cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya dengan segala pengorbanan jiwa dan raga sepanjang perjalanan kehidupannya di dunia, mengan-tarkan dirinya untuk mendapatkan kemuliaan yang kekal selama-lamanya.
Ummu ‘Umarah, semoga Allah meridhainya….
Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.

Sumber Bacaan:
Al-Ishabah, karya Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqalani (8/265-266)
Al-Isti’ab, karya Al-Imam Ibnu ‘Abdil Barr (4/1948-1949)
Ath-Thabaqatul Kubra, karya Al-Imam Ibnu Sa’d (8/412-415)
Siyar A’lamin Nubala`, karya Al-Imam Adz-Dzahabi (2/278-282)

Isti’dzan

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman Anisah bintu ‘Imran)

Kakak memperkosa adik gara-gara sering melihat adegan mesra orang tuanya, memang bukan berita baru lagi. Namun satu hal yang pasti, itu semua jelas membuat kita prihatin. Sudah demikian rusakkah moral anak-anak kita? Atau jangan-jangan kita tidak pernah menyadari, bahwa kita sendiri juga turut “menciptakan” fantasi kotor anak-anak kita, selain tentu saja film atau klip porno melalui VCD atau handphone?

Mendidik dan membesarkan anak tentu penuh liku-liku dan punya seluk-beluk tersendiri. Sehingga, orang tua mesti memiliki andil dalam berbagai sisi kehidupan si anak. Mulai pemeliharaan kesehatan badannya, menanam-kan akidah yang benar, membiasakan akhlak yang mulia, hingga menjaga kebersihan jiwa seorang anak.
Demikianlah Allah I mengajarkan kepada hamba-hamba-Nya, karena Islam adalah agama yang bersih, yang menjaga agar angan-angan, akal, hati dan lisan anak senantiasa dalam keadaan bersih. Di antara sekian banyak hal yang harus dilakukan untuk menjaga kebersihan jiwa seorang anak, ada satu hal yang teramat sering dilupakan orang tua. Padahal permasalahan ini diperintahkan oleh Allah I dalam Kitab-Nya:
“Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah budak laki-laki dan wanita yang kalian miliki dan orang-orang yang belum baligh di antara kalian, meminta izin kepada kalian tiga kali, yaitu sebelum shalat subuh, ketika kalian menang-galkan pakaian di tengah hari, dan setelah shalat ‘Isya. Itulah tiga aurat bagi kalian. Tidak ada dosa atasmu dan tidak pula atas mereka selain dari tiga waktu itu. Mereka melayani kalian, sebagian ada keperluan atas sebagian yang lainnya. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat ini bagi kalian, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha sempurna hikmah-Nya. Dan apabila anak-anakmu telah sampai umur baligh, maka hendaklah mereka meminta izin, seperti orang-orang yang sebelum mereka meminta izin. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (An-Nur: 58-59)
Dalam ayat yang mulia ini, Allah I memerintahkan kaum mukminin agar budak-budak yang mereka miliki dan anak-anak yang belum ihtilam (baligh) meminta izin kepada mereka pada tiga keadaan. Pertama, sebelum shalat subuh, karena pada saat itu orang-orang tengah tidur di pembaringan mereka; kedua, ketika kalian menanggalkan pakaian di tengah hari, yaitu pada waktu tidur siang (qailulah), karena pada saat itu terkadang seseorang menanggalkan pakaiannya bersama istrinya; ketiga, setelah shalat ‘Isya, karena ini adalah waktu tidur. Karena itulah para budak maupun anak-anak diperintahkan agar mereka tidak masuk menemui ahlul bait tanpa izin pada keadaan-keadaan ini. Sebab dikhawatirkan, saat itu seseorang sedang berada dalam posisi di atas istrinya (jima’, red.) atau hal-hal semacam itu. (Tafsir Ibnu Katsir 5/427)
Umumnya, pada waktu-waktu ini sese-orang bersama istrinya tengah menanggalkan pakaiannya, karena ini adalah waktu-waktu jima’. Maka orang tua diperintahkan untuk mengajari anak-anak mereka yang telah mumayyiz yang belum mencapai usia baligh (ihtilam) untuk meminta izin kepada mereka pada waktu-waktu ini. Karena terkadang seorang anak ketika masuk menemui orang tuanya mendapati mereka dalam keadaan yang tidak semestinya dilihat, seperti menanggalkan pakaian, jima’, atau yang lainnya. Kemudian si anak keluar, sementara di benaknya telah tergambar pemandangan yang dilihat dari ibu atau ayahnya hingga mengotori pikirannya. Dia pun berupaya mencari cara untuk memprak-tekkan apa yang dilihatnya. Hingga bisa jadi dia praktekkan dengan tetangga atau teman wanitanya. Bahkan dengan saudara perem-puannya, terutama dalam rumah yang tak terjaga dan yang tempat tidur anak laki-laki dan perempuannya tidak dipisah. Maka sangat mungkin anak laki-laki yang tidur di sisi saudara perempuannya dalam keadaan dia telah melihat pemandangan yang begitu mengge-lorakan dari ayah dan ibunya, kemudian melakukannya bersama saudara perempuan-nya. Sesungguhnya setan sangat menginginkan kerusakan, hingga terkadang setan menuntun-nya menuju kerusakan dan kehinaan bersama saudara perempuannya. (Fiqh Tarbiyatil Abna`, hal.148-149)
Pada ketiga keadaan inilah para budak dan anak-anak kecil seperti orang lain, tidak diperkenankan masuk tanpa izin. Adapun pada selain ketiga keadaan ini, Allah I berfir-man: (Tidak ada dosa atasmu dan tidak pula atas mereka selain dari tiga waktu itu).
Mereka tidak seperti yang lainnya, karena penghuni rumah itu senantiasa membutuhkan mereka, sehingga sulit bagi mereka bila harus meminta izin pada setiap waktu. Oleh karena itulah, Allah I berfirman:  (Mereka melayani kalian, sebagian ada keperluan atas sebagian yang lainnya) Mereka keluar masuk menemui kalian untuk meringankan kesibukan dan menunaikan kebu-tuhan kalian. (Taisirul Karimir Rahman, hal.573-574)
Inilah ayat Allah yang muhkamat dan tidaklah terhapus ayat ini hingga hari ini. Namun sangat disayangkan, perintah yang agung ini banyak dilupakan. Sampai-sampai Abdullah ibnu ‘Abbas c mengatakan:
“Satu ayat yang kebanyakan orang tidak mengimaninya, yaitu ayat tentang izin. Dan sungguh aku memerintahkan budak perempuan-ku ini untuk meminta izin kepadaku.” Abu Dawud berkata: Demikianlah ‘Atha` meriwa-yatkannya dari Ibnu ‘Abbas, bahwa beliau memerintahkan hal ini. (HR .Abu Dawud no. 5191, dikatakan Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih Sunan Abi Dawud: shahihul isnad mauquf)
Suatu ketika Ibnu ‘Abbas c pernah ditanya penduduk Iraq, “Wahai Ibnu ‘Abbas, bagaimana pandanganmu tentang ayat yang diperintahkan kepada kami, namun tidak diamalkan oleh seorang pun, yakni firman Allah U:
“Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah budak laki-laki dan wanita yang kalian miliki dan orang-orang yang belum baligh di antara kalian, meminta izin kepada kalian tiga kali, yaitu sebelum shalat subuh, ketika kalian menanggal-kan pakaian di tengah hari, dan setelah shalat ‘Isya. Itulah tiga aurat bagi kalian. Tidak ada dosa atasmu dan tidak pula atas mereka selain dari tiga waktu itu. Mereka melayani kalian, sebagian ada keperluan atas sebagian yang lainnya. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat ini bagi kalian, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha sempurna hikmah-Nya. Dan apabila anak-anak-mu telah sampai umur baligh, maka hendaklah mereka meminta izin, seperti orang-orang yang sebelum mereka meminta izin. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (An Nur: 58-59)
Ibnu ‘Abbas c menjawab:
“Sesungguhnya Allah Maha Penyantun dan Maha Penyayang terhadap kaum mukminin, Dia mencintai tabir. Sementara orang-orang dahulu, rumah-rumah mereka tidak memiliki tabir atau-pun penutup, sehingga terkadang budak, anak atau anak yatimnya masuk dalam keadaan seseorang sedang berada di atas istrinya. Maka Allah memerintahkan untuk meminta izin pada waktu-waktu aurat tersebut. Namun kemudian Allah datangkan pada mereka tabir dan kebaikan, sehingga setelah itu aku tidak melihat seorang pun mengamalkannya.” 1(HR. Abu Dawud no. 5192, dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih Sunan Abi Dawud: hasanul isnad mauquf)
Demikian pula Al-Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari t membawakan riwayat yang sanadnya sampai kepada Asy-Sya’bi t tentang firman Allah:  (hendaklah budak laki-laki dan wanita yang kalian miliki meminta izin kepada kalian).
Asy Sya’bi t mengatakan, “Ayat ini tidak dihapus.” Aku (Musa bin Abi ‘Aisyah) pun berkata, “Sesungguhnya orang-orang tidak mengamalkannya.” Beliau menjawab, “Allahul musta’an (hanya Allah-lah yang dimintai pertolongan).” (Tafsir Ath-Thabari 9/346)
Demikianlah satu hal yang tak boleh diremehkan orang tua dalam mendidik anak-anaknya, agar tumbuh dirinya dalam keadaan bersih hingga menuai keberuntungan di dunia dan di akhirat. Selayaknya orang tua memper-hatikan dan menerapkannya dalam keseharian.
Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.


1 Disebutkan dalam riwayat yang lain dari Ibnu ‘Abbas c:
“Setelah itu Allah mendatangkan tirai dan Allah luaskan rizki untuk mereka, maka merekapun membuat tirai dan penutup. Maka orang-orang memandang bahwa hal itu mencukupi mereka dari isti`dzan yang diperintahkan untuk mereka.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim, dan Ibnu Katsir menyatakan: “Ini adalah sanad yang shahih sampai Ibnu ‘Abbas.”) [Tafsir Ibnu Katsir, 3/315, cetakan Darul Ma’rifah, Beirut)
Abu Bakr Al-Jashshash mengatakan: “Dalam riwayat tersebut, Ibnu ‘Abbas memberitakan bahwa perintah untuk meminta izin dalam ayat ini terkait dengan suatu sebab. Sehingga, ketika sebab itu tidak ada, maka hukum itu pun tidak  berlaku. Ini menunjukkan, beliau tidak berpendapat bahwa ayat tersebut mansukh dan bahwa bila sebab yang semacam itu muncul lagi maka hukum itu pun akan berlaku.” (Ahkamul Qur`an, 3/330)
Lihat pula penjelasan yang semakna dalam ‘Aunul Ma’bud (14/99, cetakan Maktabah Ibnu Taimiyyah) dan Tafsir Al-Qurthubi (12/303). -ed

Permisalan Wanita yang Baik Bagi Insan Beriman

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Zulfa Husein Al-Atsariyyah)

Al-Qur`an telah bertutur tentang dua wanita shalihah yang keimanannya telah menancap kokoh di relung kalbunya. Dialah Asiyah bintu Muzahim, istri Fir’aun, dan Maryam bintu ‘Imran. Dua wanita yang kisahnya terukir indah di dalam Al-Qur`an itu merupakan sosok yang perlu diteladani wanita muslimah saat ini.

Allah I berfirman dalam Kitab-Nya yang mulia:
Dan Allah membuat istri Fir’aun sebagai perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika istri Fir’aun berkata: “Wahai Rabbku, bangunkanlah untukku di sisi-Mu sebuah rumah dalam surga. Dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang dzalim.” (Perumpamaan yang lain bagi orang-orang beriman adalah) Maryam putri Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami, dan dia membenarkan kalimat-kalimat Rabbnya dan kitab-kitab-Nya, dan adalah dia termasuk orang-orang yang taat. (At-Tahrim: 11-12)
Asiyah bintu Muzahim, istri Fir’aun, dan Maryam bintu ‘Imran adalah dua wanita kisahnya  terukir indah dalam Al-Qur`an. Ayat-ayat Rabb Yang Maha Tinggi menuturkan keshalihan keduanya dan mempersaksikan keimanan yang berakar kokoh dalam relung kalbu keduanya. Sehingga pantas sekali kita katakan bahwa keduanya adalah wanita yang manis dalam sebutan dan indah dalam ingatan. Asiyah dan Maryam adalah dua dari sekian qudwah (teladan) bagi wanita-wanita yang beriman kepada Allah I dan uswah hasanah bagi para istri kaum mukminin.
Al-Imam Ath-Thabari t berkata dalam kitab tafsirnya: “Allah yang Maha Tinggi berfirman bahwasanya Dia membuat permi-salan bagi orang-orang yang membenarkan Allah dan mentauhidkan-Nya, dengan istri Fir’aun yang beriman kepada Allah, mentauhidkan-Nya, dan membenarkan Rasulullah Musa u. Sementara wanita ini di bawah penguasaan suami yang kafir, satu dari sekian musuh Allah. Namun kekafiran suaminya itu tidak memudharatkannya, karena ia tetap beriman kepada Allah. Sementara, termasuk ketetapan Allah kepada makhluk-Nya adalah seseorang tidaklah dibebani dosa orang lain (tapi masing-masing membawa dosanya sendiri, -pent.1), dan setiap jiwa mendapatkan apa yang ia usahakan.” (Jami’ul Bayan fi Ta`wilil Qur`an/ Tafsir Ath-Thabari, 12/162)
Pada diri Asiyah dan Maryam, ada permisalan yang indah bagi para istri yang mengharapkan perjumpaan dengan Allah I dan hari akhir. Keduanya dijadikan contoh untuk mendorong kaum mukminin dan mukminat agar berpegang teguh dengan ketaatan dan kokoh di atas agama. (Al-Jami’ li Ahkamil Qur`an/ Tafsir Al-Qurthubi, 9/132)
Seorang istri yang shalihah, ia akan bersabar dengan kekurangan yang ada pada suaminya dan sabar dengan kesulitan hidup bersama suaminya. Tidaklah ia mudah berkeluh kesah di hadapan suaminya atau mengeluhkan suaminya kepada orang lain, apalagi mengghibah suami, menceritakan aib/ cacat dan kekurangan sang suami. Bagaimana pun kekurangan suaminya dan kesempitan hidup bersamanya, ia tetap bersyukur di sela-sela kekurangan dan kesempitan tersebut, karena Allah I memilihkan lelaki muslim yang beriman kepada Allah dan hari akhir sebagai pendamping hidupnya. Dan tidak memberinya suami seperti suami Asiyah bintu Muzahim yang sangat kafir kepada Allah I dan berbuat aniaya terhadap istri karena ia beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Tersebutlah, ketika sang durjana yang bergelar Fir’aun itu mengetahui keimanan Asiyah istrinya, ia keluar menemui kaumnya lalu bertanya: “Apa yang kalian ketahui tentang Asiyah bintu Muzahim?” Merekapun memujinya. Fir’aun berkata: “Ia menyembah Tuhan selain aku.” Mereka berkata: “Kalau begitu, bunuhlah dia.” Maka Fir’aun membuat pasak-pasak untuk istrinya, kemudian mengikat kedua tangan dan kedua kaki istrinya, kemudian menyiksanya di bawah terik matahari. Jika Fir’aun berlalu darinya, para malaikat menaungi Asiyah dengan sayap-sayap mereka. Asiyah berdoa: “Wahai Rabbku, bangunkanlah untukku di sisi-Mu sebuah rumah di dalam surga.”
Allah I pun mengabulkan doa Asiyah dengan membangunkan sebuah rumah di surga untuknya. Dan rumah itu diperlihatkan kepada Asiyah, maka ia pun tertawa. Bertepatan dengan itu Fir’aun datang. Melihat Asiyah tertawa, Fir’aun berkata keheranan: “Tidakkah kalian heran dengan kegilaan Asiyah? Kita siksa dia, malah tertawa.”
Menghadapi beratnya siksaan Fir’aun, hati Asiyah tidak lari untuk berharap kepada makhluk. Ia hanya berharap belas kasih dan pertolongan dari Penguasa makhluk, Allah I. Ia berdoa agar diselamatkan dari siksaan yang ditimpakan Fir’aun dan kaumnya serta tidak lupa memohon agar diselamatkan dari mela-kukan kekufuran sebagaimana yang diperbuat Fir’aun dan kaumnya.2
Akhir dari semua derita dunia itu, berujung dengan dicabutnya ruh Asiyah untuk menemui janji Allah I.3
Istri yang shalihah akan menjaga dirinya dari perbuatan keji dan segala hal yang mengarah ke sana. Sehingga ia tidak keluar rumah kecuali karena darurat, dengan izin suaminya. Kalaupun keluar rumah, ia memperhatikan adab-adab syar‘i. Dia menjaga diri dari bercampur baur apalagi khalwat (bersepi-sepi/ berdua-duaan) dengan laki-laki yang bukan mahramnya. Ia tidak berbicara dengan lelaki ajnabi (non mahram) kecuali karena terpaksa dengan tidak melembut-lembutkan suara. Dan ia tidak melepas pandangannya dengan melihat apa yang diharamkan Allah I. Ia ingat bagaimana Allah I memuji Maryam yang sangat menjaga kesucian diri, sehingga ketika dikabarkan oleh Jibril u bahwa dia akan mengandung seorang anak yang kelak menjadi rasul pilihan Allah, Maryam berkata dengan heran:

“Bagaimana aku bisa memiliki seorang anak laki-laki sedangkan aku tidak pernah disentuh oleh seorang manusia (laki-laki) pun dan aku bukan pula seorang wanita pezina.” (Maryam: 20)
Wanita shalihah akan mengingat bagaimana keimanan Maryam kepada Allah I dan bagaimana ketekunannya dalam beribadah, sehingga Allah I memilihnya dan mengutamakannya di atas seluruh wanita.

Ingatlah ketika malaikat Jibril berkata: “Wahai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilihmu, mensucikan dan melebihkanmu di atas segenap wanita di alam ini (yang hidup di masa itu).” (Ali ‘Imran: 42)
Rasulullah n pernah bersabda:

“Cukup bagimu dari segenap wanita di alam ini (empat wanita, yaitu:) Maryam putri Imran, Khadijah bintu Khuwailid, Fathimah bintu Muhammad, dan Asiyah istri Fir’aun.”4
Yakni cukup bagimu untuk sampai kepada martabat orang-orang yang sempurna dengan mencontoh keempat wanita ini, menyebut kebaikan-kebaikan mereka, kezuhudan mereka terhadap kehidupan dunia, dan tertujunya hati mereka kepada kehidupan akhirat. Kata Ath-Thibi, cukup bagimu dengan mengetahui/ mengenal keutamaan mereka dari mengenal seluruh wanita. (Tuhfatul Ahwadzi, kitab Al-Manaqib)
Beliau n juga bersabda memuji Asiyah dan Maryam5:

“Orang yang sempurna dari kalangan laki-laki itu banyak, namun tidak ada yang sempurna dari kalangan wanita kecuali Asiyah istri Fir’aun dan Maryam putri Imran. Sungguh keutamaan ‘Aisyah bila dibanding para wanita selainnya seperti kelebihan tsarid6 di atas seluruh makanan.”7
Di antara keutamaan Asiyah adalah ia memilih dibunuh daripada mendapatkan (kenikmatan berupa) kerajaan (karena suami-nya seorang raja). Dan ia memilih azab/ siksaan di dunia daripada mendapatkan kenikmatan yang tadinya ia reguk di istana sang suami yang dzalim. Ternyata firasatnya tentang Musa u benar adanya ketika ia berkata kepada Fir’aun saat mengutarakan keinginannya untuk menjadikan Musa u sebagai anak angkatnya: (agar ia menjadi penyejuk mata bagiku).8 (Fathul Bari 6/544)
Al-Imam Ibnul Qayyim t berkata: “Ayat-ayat ini (surat At-Tahrim ayat 10-12) mengandung tiga permisalan, satu untuk orang-orang kafir dan dua permisalan lagi untuk kaum mukminin.”
Setelah beliau menyebutkan permisalan bagi orang kafir, selanjutnya beliau berkata: “Adapun dua permisalan bagi orang-orang beriman, salah satunya adalah istri Fir’aun. Sisi permisalannya: Hubungan seorang mukmin dengan seorang kafir tidaklah bermudharat bagi si mukmin sedikitpun, apabila si mukmin memisahkan diri dari orang kafir tersebut dalam kekafiran dan amalannya. Karena maksiat yang diperbuat orang lain sama sekali tidak akan berbahaya bagi seorang mukmin yang taat di akhiratnya kelak, walaupun mungkin ketika di dunia ia mendapatkan kemudharatan dengan sebab hukuman yang dihalalkan bagi penduduk bumi bila mereka menyia-nyiakan perintah Allah, lalu hukuman itu datang secara umum (sehingga orang yang baik pun terkena). Istri Fir’aun tidaklah mendapatkan mudharat karena hubungannya dengan Fir’aun, padahal Firaun itu adalah manusia paling kafir. Sebagaimana istri Nabi Nuh dan Nabi Luth e tidak mendapatkan kemanfaatan karena hubungan keduanya dengan dua utusan Rabb semesta alam.
Permisalan yang kedua bagi kaum mukminin adalah Maryam, seorang wanita yang tidak memiliki suami, baik dari kalangan orang mukmin ataupun dari orang kafir. Dengan demikian, dalam ayat ini Allah menyebutkan tiga macam wanita:
Pertama: wanita kafir yang bersuamikan lelaki yang shalih.9
Kedua: wanita shalihah yang bersuami-kan lelaki yang kafir.
Ketiga: gadis perawan yang tidak punya suami dan tidak pernah berhubungan dengan seorang lelakipun.
Jenis yang pertama, ia tidak mendapatkan manfaat karena hubungannya dengan suami tersebut.
Jenis kedua, ia tidak mendapatkan mudharat karena hubungannya dengan suami yang kafir.
Jenis ketiga, ketiadaan suami tidak ber-mudharat sedikitpun baginya.
Kemudian, dalam permisalan-permi-salan ini ada rahasia-rahasia indah yang sesuai dengan konteks surat ini. Karena surat ini diawali dengan menyebutkan istri-istri Nabi n dan peringatan kepada mereka dari saling membantu menyusahkan beliau n10. Bila mereka (istri-istri Nabi) itu tidak mau taat kepada Allah dan Rasul-Nya serta tidak menginginkan hari akhirat, niscaya tidak bermanfaat bagi mereka hubungan mereka dengan Rasulullah n, sebagaimana istri Nuh dan istri Luth tidak mendapatkan manfaat dari hubungan keduanya dengan suami mereka. Karena itulah di dalam surah ini dibuat permisalan dengan hubungan nikah11 bukan hubungan kekerabatan.
Yahya bin Salam berkata: “Allah membuat permisalan yang pertama untuk memper-ingatkan ‘Aisyah dan Hafshah c. Kemudian memberikan permisalan kedua bagi keduanya untuk menganjurkan keduanya agar berpegang teguh dengan ketaatan.
Adapula pelajaran lain yang bisa diambil dari permisalan yang dibuat untuk kaum mukminin dengan Maryam. Yaitu, Maryam tidak mendapatkan mudharat sedikit pun di sisi Allah dengan tuduhan keji yang dilemparkan Yahudi dan musuh-musuh Allah terhadapnya. Begitu pula sebutan jelek untuk putranya, sedangkan Allah I mensucikan keduanya dari tuduhan tersebut. Perlakuan jahat dan tuduhan keji itu ia dapatkan padahal ia adalah seorang ash-shiddiqah al-kubra (wanita yang sangat benar keimanannya, sempurna ilmu dan amalnya12), wanita pilihan di atas segenap wanita di alam ini. Lelaki yang shalih (yakni Isa putra Maryam u) pun tidak mendapatkan mudharat atas tuduhan orang-orang fajir dan fasik terhadapnya.
Dalam ayat ini juga ada hiburan bagi ‘Aisyah Ummul Mukminin x (atas tuduhan keji yang ia terima dari orang-orang munafik), jika surat ini turun setelah peristiwa Ifk13. Dan sebagai persiapan bagi jiwanya untuk menghadapi apa yang dikatakan para pendusta, bila surat ini turun sebelum peristiwa Ifk.
Sebagaimana dalam permisalan dengan istri Nuh dan Luth ada peringatan bagi ‘Aisyah dan juga Hafshah dengan apa yang diperbuat keduanya terhadap Nabi n.” (At-Tafsirul Qayyim, hal. 396-498)
Demikian, semoga menjadi teladan dan pelajaran berharga bagi para istri shalihah…
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.


1 Sebagaimana Allah I berfirman dalam Tanzil-Nya:
“Dan tidaklah seseorang melakukan suatu dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri, dan seseorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.” (Al-An’am: 164)
2 Faedah: Al-’Allamah Al-Alusi t dalam tafsirnya mengatakan: “Dalam ayat ini terdapat dalil bahwa beristi`adzah (minta perlindungan) kepada Allah dan mohon keselamatan dari-Nya ketika terjadi ujian/ cobaan dan goncangan, merupakan kebiasaan yang dilakukan orang-orang shalih dan sunnah para nabi. Dan ini banyak disebutkan dalam Al-Qur`an.” (Ruhul Ma’ani fi Tafsir Al-Qur`anil ‘Azhim was Sab’il Matsani, 13/791)
3 Jami’ul Bayan fi Ta‘wilil Qur`an 12/162, Al-Jami’ li Ahkamil Qur`an/ Tafsir Al-Qurthubi 9/132, Ruhul Ma’ani 13/790, An-Nukat wal ‘Uyun Tafsir Al-Mawardi 6/47.
4 HR. At-Tirmidzi no. 3878, kitab Manaqib ‘an Rasulillah, bab Fadhlu Khadijah x, dari hadits Anas bin Malik z. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih At-Tirmidzi dan Al-Misykat no. 6181.
5 Ada sebagian atsar yang menyebutkan bahwa Maryam dan Asiyah diperistri Nabi n di surga, sebagaimana riwayat Ath-Thabrani dari Sa’ad bin Junadah, ia berkata: Rasulullah n bersabda:
“Sesungguhnya Allah menikahkan aku di surga dengan Maryam bintu Imran, istri Fir’aun (Asiyah), dan dengan (Kultsum) saudara perempuannya Musa u.”
Namun hadits ini lemah, Asy-Syaikh Al-Albani dalam Adh-Dha’ifah (no. 812) mengatakan hadits ini mungkar.
Adapun pendapat yang mengatakan Maryam dan Asiyah adalah nabi dari kalangan wanita sebagaimana Hajar dan Sarah, tidaklah benar karena syarat nubuwwah (kenabian) adalah dari kalangan laki-laki, menurut pendapat yang shahih. (Ruhul Ma’ani, 13/793)
Allah I berfirman:
“Tidaklah Kami mengutus rasul sebelummu kecuali dari kalangan laki-laki yang Kami berikan wahyu kepada mereka.” (An-Nahl: 43)
6 Tsarid adalah makanan istimewa berupa daging dicampur roti yang dilumatkan.
7 HR. Al-Bukhari no. 3411, kitab Ahaditsul Anbiya, bab Qaulillahi Ta’ala: Wa Dharaballahu Matsalan lilladzina Amanu… . Diriwayatkan pula oleh Al-Imam Muslim no. 6222, kitab Fadha`il Ash-Shahabah.
8 Allah I berfirman:
“Maka Musa dipungut oleh keluarga Fir’aun yang kemudian ia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka. Sesungguhnya
Fir’aun dan Haman beserta tentaranya adalah orang-orang yang bersalah. Dan berkatalah istri Fir’aun kepada suaminya: ‘Ia adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kalian membunuhnya, mudah-mudahan ia bermanfaat bagi kita atau kita ambil ia menjadi anak.’ Sedangkan mereka tiada menyadari.” (Al-Qashash: 8-9)
9 Yaitu istri Nabi Nuh u dan istri Nabi Luth u
10 Lihat surat At-Tahrim ayat 1 sampai 5.
11 Hubungan istri dengan suaminya; istri Nuh dengan suaminya, istri Luth dengan suaminya, dan Asiyah dengan suaminya Fir‘aun.
12 Taisir Al-Karimir Rahman, hal. 875
13 Kisah Ifk ini (tuduhan zina terhadap ‘Aisyah) beserta pernyataan kesucian ‘Aisyah diabadikan dalam Al-Qur`an, surah An-Nur ayat 11-26.

Al-Imam Al-Mujaddid Muhammad Syaikhul Islam bin Abdil Wahhab

(ditulis oleh: Al-Ustadz Zainul Arifin)

 

Nasab, Kelahiran, dan Perkembangan Beliau t
Beliau adalah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab bin Sulaiman bin ‘Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Rasyid At-Tamimi. Beliau dilahirkan pada tahun 1115 H -bertepatan dengan 1703 M- di negeri ‘Uyainah, daerah yang terletak di utara kota Riyadh, di mana keluarganya tinggal.
Beliau tumbuh di rumah ilmu di ba-wah asuhan ayahanda beliau, Abdul Wah-hab, yang menjabat sebagai hakim di masa pemerintahan Abdullah bin Muhammad bin Hamd bin Ma’mar. Kakek beliau, yakni Asy-Syaikh Sulaiman adalah seorang mufti yang menjadi referensi para ulama. Sementara seluruh paman-paman beliau sendiri juga ulama.
Beliau dididik ayah dan paman-pamannya semenjak kecil. Beliau telah menghafalkan Al-Qur`an sebelum menca-pai usia 10 tahun di hadapan ayahnya. Beliau juga memperdengarkan bacaan kitab-kitab tafsir dan hadits, sehingga beliau unggul di bidang keilmuan dalam usia yang masih sangat dini. Di samping itu, beliau sangat fasih lisannya dan cepat dalam menulis. Ayahnya dan para ulama di sekitarnya amat kagum dengan kecerdasan dan keunggulannya. Mereka biasa berdiskusi dengan beliau dalam permasalahan-permasalahan ilmiah, sehingga mereka dapat mengambil manfaat dari diskusi tersebut. Mereka mengakui keutamaan dan kelebihan yang ada pada diri beliau. Namun beliau tidaklah merasa cukup dengan kadar ilmu yang sedemikian ini, sekalipun pada diri beliau telah terkumpul sekian kebaikan. Beliau justru tidak pernah merasa puas terhadap ilmu.

Rihlah Beliau dalam Menuntut Ilmu
Beliau tinggalkan keluarga dan negerinya untuk berhaji. Seusai haji, beliau melanjutkan perjalanan ke Madinah dan menimba ilmu dari para ulama di negeri itu. Di antara guru beliau di Madinah adalah:
q Asy-Syaikh Abdullah bin Ibrahim bin Saif, dari Alu (keluarga) Saif An-Najdi. Beliau adalah imam dalam bidang fiqih dan ushul fiqih.
q Asy-Syaikh Ibrahim bin Abdillah, putra Asy-Syaikh Abdullah bin Ibrahim bin Sai, penulis kitab Al-‘Adzbul Fa`idh Syarh Alfiyyah Al-Fara`idh.
qAsy-Syaikh Al-Muhaddits Muham-mad Hayah As-Sindi, dan beliau mendapat-kan ijazah dalam periwayatannya dari kitab-kitab hadits.
Kemudian beliau kembali ke negerinya.
Tidak cukup ini saja, beliau lalu melanjutkan perjalanan ke negeri Al-Ahsa` di sebelah timur Najd. Di sana banyak ulama madzhab Hambali, Syafi’i, Maliki dan Hanafi. Beliau belajar dari mereka, khususnya ulama madzhab Hambali. Di antaranya adalah Muhammad bin Fairuz dan Abdul Wahhab bin Fairuz. Beliau belajar fiqih kepada mereka dan juga belajar kepada Abdullah bin Abdul Lathif Al-Ahsa`i.
Tidak cukup sampai di situ. Bahkan beliau menuju ke Iraq, khususnya Bashrah, yang pada waktu itu dihuni para ulama ahlul hadits dan fiqih. Beliau menimba ilmu dari mereka khususnya Asy-Syaikh Muhammad Al-Majmu’i, dan selainnya. Setiap kali pindah, jika beliau memperoleh buku-buku Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qayyim muridnya, beliau segera menyalin-nya dengan pena. Beliau menyalin banyak buku di Al-Ahsa` dan Bashrah, sehingga terkumpullah kitab-kitab beliau dalam jumlah besar.
Selanjutnya beliau bertekad menuju negeri Syam, karena di sana ketika itu terda-pat ahlul ilmi dan ahlul hadits, khususnya dari madzhab Hambali. Namun setelah menempuh perjalanan ke sana, terasa oleh beliau perjalanan yang sangat berat. Beliau ditimpa lapar dan kehausan, bahkan ham-pir saja beliau meninggal dunia di perja-lanan. Maka beliaupun kembali ke Bashrah dan tidak melanjutkan rihlah-nya ke negeri Syam.
Selanjutnya beliau bertolak ke Najd setelah berbekal ilmu dan memperoleh sejumlah besar kitab, selain kitab-kitab yang ada pada keluarga dan penduduk negeri beliau. Setelah itu, beliau pun berdakwah, mengadakan perbaikan dan menyebarkan ilmu yang bermanfaat serta tidak ridha dengan berdiam diri membiarkan manusia dalam kesesatan.

Dakwah Beliau
Kondisi keilmuan dan keagamaan manusia waktu itu benar-benar dalam keterpurukan yang nyata, hanyut dalam kegelapan syirik dan bid’ah. Sehingga, khurafat, peribadatan kepada kuburan, mayat, dan pepohonan merajalela. Sedang-kan para ulamanya sama sekali tidak punya perhatian terhadap aqidah salaf dan hanya mementingkan masalah-masalah fiqih. Bahkan di antara mereka justru memberikan dukungan kepada pelaku-pelaku kesesatan tersebut.
Adapun dari segi politik, mereka terpecah-belah, tidak memiliki pemerintahan yang menyatukan mereka. Bahkan setiap kampung mempunyai amir (penguasa) sendiri. ‘Uyainah mempunyai penguasa sendiri, begitu pula Dir’iyyah, Riyadh dan daerah-daerah lainnya. Sehingga pertem-puran, perampokan, pembunuhan dan berbagai tindak kejahatan pun terjadi di antara mereka.
Melihat kondisi yang demikian mengenaskan, bangkitlah ghirah (kecembu-ruan) beliau terhadap agama Allah I, juga rasa kasih sayang beliau terhadap kaum muslimin. Mulailah beliau berdakwah menyeru manusia ke jalan Allah I, mengajarkan tauhid, membasmi syirik, khurafat dan bid’ah-bid’ah serta mena-namkan manhaj Salafus Shalih. Sehingga berkerumunlah murid-murid beliau, baik dari Dir’iyyah maupun ‘Uyainah.
Selanjutnya beliau mendakwahi amir ‘Uyainah. Pada awalnya, sang amir menyambut baik dakwah tauhid ini dan membelanya. Sampai-sampai ia menghan-curkan kubah Zaid bin Al-Khaththab yang menjadi tempat kesyirikan, atas permintaan Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Namun karena adanya tekanan dan amir Al-Ahsa`, akhirnya amir ‘Uyainah pun menghendaki agar Asy-Syaikh keluar dari ‘Uyainah. Maka berangkatlah beliau menuju Dir’iyyah tanpa membawa sesuatupun kecuali sebuah kipas tangan guna melin-dungi wajahnya. Beliau terus berjalan di tengah hari seraya membaca:

“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah I, pasti Allah I memberinya jalan keluar dan menganugerahinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangka.” (Ath-Thalaq: 2-3)
Beliau terus mengulang-ulang ayat tersebut sampai tiba di tempat murid terbaiknya di Dir’iyyah yang bernama Ibnu Suwailim yang ketika itu merasa takut dan gelisah, mengkhawatirkan keselamatan dirinya dan juga syaikhnya karena penduduk negeri tersebut telah saling memperingatkan untuk berhati-hati dari syaikh. Maka beliau pun menenangkannya dengan mengatakan: “Jangan berpikir yang bukan-bukan, selama-lamanya. Bertawakkallah kepada Allah I, niscaya Dia akan menolong orang-orang yang membela agama-Nya.”
Berita kedatangan Asy-Syaikh diketa-hui seorang wanita shalihah, istri amir Dir’iyyah, Muhammad bin Su’ud. Dia lalu menawarkan kepada suaminya agar membela syaikh ini, karena beliau adalah nikmat dari Allah I yang dikaruniakan kepadanya, maka hendaknya dia bersegera menyambutnya. Sang istri berusaha mene-nangkan dan membangkitkan rasa cinta pada diri suaminya terhadap dakwah dan terhadap seorang ulama. Maka sang amir mengatakan: “(Tunggu) beliau datang kepa-daku.” Istrinya menimpali: “Justru pergilah Anda kepadanya, karena jika Anda mengirim utusan dan mengatakan ‘Datang-kan beliau kepadaku’, bisa jadi manusia akan mengatakan bahwa Amir meminta beliau datang untuk ditangkap. Namun jika Anda sendiri yang mendatangi-nya, maka itu merupakan suatu kehormatan bagi beliau dan bagi Anda.”
Sang amir akhirnya mendatangi Asy-Syaikh, mengucapkan salam dan menanyakan perihal kedatangannya. Asy-Syaikh t menerangkan bahwa tidak lain beliau hanya mengemban dakwah para rasul yakni menyeru kepada kalimat tauhid Laa ilaha illallah. Beliau jelaskan maknanya, dan beliau jelaskan pula bahwa itulah aqidah para rasul. Sang amir mengatakan: “Bergembiralah dengan pembelaan dan dukungan.” Asy-Syaikh t menimpali: “Berbahagialah dengan kemuliaan dan kekokohan. Karena barangsiapa  mene-gakkan kalimat Laa ilaha illallah ini, pasti Allah I akan memberikan kekokohan kepadanya.” Sang amir menjawab: “Tapi saya punya satu syarat untuk Anda.” Beliau bertanya: “Apa itu?” Sang amir menjawab: “Anda membiarkanku dan apa yang aku ambil dari manusia.” Jawab Asy-Syaikh t: “Mudah-mudahan Allah I memberi-kan kecukupan kepada Anda dari semua ini, dan membukakan pintu-pintu rizki dari sisi-Nya untuk Anda.” Kemudian keduanya berpisah atas kesepakatan ini. Mulailah Asy-Syaikh berdakwah dan sang amir melindungi dan membelanya, sehingga para thalabul ‘ilmi (penuntut ilmu) berduyun-duyun datang ke Dir’iyyah. Semenjak itu beliau menjadi imam shalat, mufti dan juga qadhi. Maka terbentuklah pemerintahan tauhid di negeri Dir’iyyah.
Kemudian Asy-Syaikh mengirim risalah ke negeri-negeri sekitarnya, menyeru mereka kepada aqidah tauhid, meninggalkan bid’ah dan khurafat. Sebagian mereka menerima dan sebagian lain menolak serta menghalangi dakwah beliau, sehingga merekapun diperangi oleh tentara tauhid di bawah komando amir Muhammad bin Su’ud dengan bimbingan dari beliau t. Hal itu menjadi sebab meluasnya dakwah tauhid di daerah Najd dan sekitarnya. Bahkan amir ‘Uyainah pun kini masuk di bawah kekuasaan Ibnu Su’ud, begitu pula Riyadh, dan terus meluas ke wilayah Kharaj dan daerah-daerah di belakang Kharaj, ke utara dan selatan. Di bagian utara sampai perbatasan Syam dan di bagian selatan hingga perbatasan Yaman, dan di bagian timur dari Laut Merah hingga Teluk Arab. Seluruhnya di bawah kekuasaan Dir’iyyah, baik daerah kota ataupun gurunnya.
Allah I melimpahkan kebaikan, rizki, kecukupan dan kekayaan kepada penduduk Dir’iyyah. Maka berdirilah pusat perdagang-an di sana, dan bersinarlah negeri tersebut dengan ilmu dan kekuasaan sebagai berkah dari dakwah salafiyah yang merupakan dakwah para rasul.

Karya-karya Beliau
Karya beliau sangat banyak, di antaranya:
–    Kitab At-Tauhid Al-Ladzi Huwa Haqqullah ‘ala Al-’Abid
–    Al-Ushul Ats-Tsalatsah
–    Kasyfusy Syubhat
–    Mukhtashar Sirah Rasul n
–    Qawa’idul Arba’ah, dan lainnya

Wafat Beliau
Beliau wafat pada tahun 1206 H. Semoga Allah I melimpahkan rahmat-Nya kepada beliau, meninggikan derajat dan kedudukannya di jannah-Nya yang luas serta mengumpulkan beliau bersama orang-orang shalih dan para syuhada`. Amin, ya Rabbal ‘alamin.
(Disarikan dari Syarh Ushul Ats-Tsalatsah, Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin, hal. 5, dan Syarh Kasyfusy Syubhat, Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan, hal. 3-12)

Faedah Muhasabah

(ditulis oleh: Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah)

 

Muhasabah adalah seorang hamba melihat hak Allah I atas dirinya kemudian memperhatikan apakah ia telah menunaikan sebagaimana mestinya…
Di antara faedah muhasabah adalah:
Mengetahui aibnya jiwa. Dan barang-siapa tidak mengetahui aib jiwanya, ia tidak dapat membersihkannya. Jika seseorang dapat melihat aib jiwanya, ia akan marah terhadap jiwanya karena Allah I.
Bakr bin Abdillah Al-Muzani t mengatakan: Ketika aku melihat jamaah haji di padang Arafah akupun menyangka bahwa mereka telah diberi ampunan, kalaulah aku tidak berada di tengah-tengah mereka.
Menjelang wafat Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri t, Abul Asyhab dan Hammad bin Salamah menjenguknya. Hammad-pun mengatakan: “Wahai Abu Abdillah (Sufyan Ats-Tsauri, red.), bukankah engkau sudah merasa aman dari apa yang kau khawa-tirkan dan engkau akan datang kepada apa yang kau harapkan? Allah Maha Besar kasih sayangnya.”
Maka Sufyan mengatakan: “Wahai Hammad bin Salamah, Apakah engkau masih punya harapan bagi orang seperti saya ini untuk selamat dari api neraka?” Hammad menjawab: “Ya, demi Allah. Sungguh aku berharap demikian pada dirimu.”
Seorang ulama bernama Muhammad bin Wasi’ t mengatakan: “Seandainya dosa itu berbau, tentu tidak seorangpun mampu duduk bersamaku.”
Tabiat jiwa selalu mengajak kepada hal-hal yang membinasakan, membantu musuh jiwa itu sendiri, cenderung kepada kejelekan dan mengikutinya. Sehingga jiwa dengan tabiatnya akan berlalu di tengah hamparan kesalahan.
Atas dasar itu, nikmat yang sangat besar adalah keluar dari tabiat itu, membebaskan diri darinya karena itu merupakan penghalang terbesar antara seorang hamba dengan Allah. Dan sungguh orang yang paling mengetahui jiwanya adalah orang yang paling tahu betapa hina jiwanya dan yang paling murka terhadap-nya.
Suatu ketika Abdurrahman menemui Ummu Salamah x. Ummu Salamah pun mengatakan: Aku mendengar Rasulullah n bersabda: “Sungguh di antara shahabatku ada yang tidak akan melihatku setelah kematianku selama-lamanya.” Maka Abdurahman pun keluar dari sisinya dalam keadaan takut sampai ia mendatangi ‘Umar z sembari mengatakan: “Dengarkan apa yang dikatakan oleh Ibumu (yakni Ibu kaum mukminin, Ummu Salamahx). Maka seketika itu bangkitlah ‘Umar z dan datang kepada Ummu Salamah, lalu bertanya kepadanya (tentang ucapannya) kemudian ‘Umar mengatakan lagi: “Aku memintamu sumpah dengan nama Allah apakah di antara yang dimaksud Nabi n adalah aku?” Ummu Salamah x menjawab: “Tidak, dan aku tidak akan lagi menyebutkannya setelah kamu ini.”
Aku (Ibnul Qayyim) mendengar guruku (Ibnu Taimiyah) mengatakan: “Ummu Salamah ingin menutup pintu pertanyaan semacam ini dan bukan maksudnya yakni bahwa engkaulah satu-satunya yang selamat bukan seluruh shahabat.”
Marah terhadap jiwa karena Allah adalah termasuk sifat-sifat shiddiqin (orang-orang yang sangat jujur). Dengannya, seorang hamba akan mendekat kepada Allah dalam sesaat, berlipat lebih cepat dari mendekatnya kepada Allah dengan beramal.
Di antara fae-dah muhasabah adalah bahwa dengan itu ia akan mengetahui hak Allah I. Dan barangsiapa tidak mengetahui hak Allah atasnya maka ham-pir-hampir ibadahnya tidak memberinya manfaat atau sedikit sekali manfaatnya. Sehingga di antara sesuatu yang sangat bermanfaat bagi qalbu adalah melihat hak Allah I atas hamba-hambanya. Karena, hal itu akan mewarisi rasa marah terhadap jiwa dan menganggapnya rendah serta akan membebaskannya dari sikap menyombong-kan diri, di samping juga akan membuka bagi dirinya pintu ketundukan dan penghinaan di hadapan Rabbnya. Ia pun akan menyadari bahwa keselamatan tidak akan diraih kecuali dengan maaf dari Allah I, ampunan, dan kasih sayang-Nya.
Dan di antara hak Allah I adalah agar Ia ditaati tidak dimaksiati, diingat tidak dilupakan, disyukuri tidak dikufuri.
Maka barangsiapa melihat hak Allah I ini atas dirinya, iapun akan mengetahui dengan ‘ilmul yaqin bahwa ia sesungguhnya belum melaksanakan hak tersebut sebagaimana mestinya dan tiada harapan baginya kecuali maaf dan ampunan dari-Nya. Sehingga apabila ia diperhitungkan dengan amalnya, tentu ia akan binasa. Demikianlah pandangan orang-orang yang mengenal Allah I terhadap Allah dan terhadap dirinya. Itulah yang membuat mereka putus asa atas diri mereka dan menjadikan mereka bergantung terhadap ampunan Allah I dan kasih sayangnya.
Apabila engkau memperhatikan keadaan mayoritas manusia tentu engkau akan mendapatkannya bertolak belakang de-ngan apa yang disebut-kan di atas. Mereka hanya melihat hak mereka, dan tidak melihat hak Allah I atas mereka. Dari titik inilah terputus hubung-an mereka dengan Allah I, qalbu merekapun tertutup untuk mengenal-Nya, mencintai-Nya, rindu untuk bertemu dengan-Nya, dan menikmati dzikir dengannya. Ini adalah puncak kebodohan manusia terhadap Rabbnya dan dirinya.
Jadi, muhasabah adalah seorang hamba melihat hak Allah atas dirinya lalu melihat apakah ia sudah menunaikannya sebagaimana mestinya? Sebaik-baik pikiran adalah berpikir dalam hal itu, karena dengan itu qalbu akan berjalan menuju kepada Allah dan akan mencampakkannya di hadapan-Nya dalam keadaan hina dan tunduk.
Wallahu a’lam bish-shawab.
(Diterjemahkan dan diringkas oleh Qomar ZA dari kitab Ighatsatul Lahafan karya Ibnul Qayyim)

Jadikan Istirahatmu Bernilai Disisi Allah

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah)

 

Istirahat atau tidur adalah salah satu aktivitas harian yang diharapkan bisa bernilai ibadah di sisi Allah. Melanjutkan edisi sebelumnya, bahasan kali ini akan menginjak permasalahan doa dan adab tidur lainnya.

Rasulullah n telah memberikan bimbingan agar berdoa di dalam tidur kita. Tentunya dengan harapan agar istirahat kita bisa berbarakah dan bernilai ibadah di sisi Allah. Rasulullah n bersabda:

“Barangsiapa duduk di sebuah tempat dan tidak berdzikir kepada Allah maka akan diberikan kekurangan oleh Allah. Dan barangsiapa mengambil tempat tidurnya dan tidak berdzikir kepada Allah maka dia tidak mendapatkan dari-Nya melainkan keku-rangan.”
Diriwayatkan oleh Al-Imam Abu Dawud dalam Sunan beliau no. 4805, 5059 dan An-Nasa`i dalam kitab ‘Amal Al-Yaum Wal Lailah no. 404, dan dihasankan oleh Asy-Syaikh Salim bin ‘Id Al-Hilali di dalam kitab Bahjatun Nazhirin 2/109, Asy-Syaikh Al-Albani di dalam kitab As-Shahihah no. 78, dan Shahih Sunan Abu Dawud no. 4065.
Dalam pembahasan sebelumnya, telah kita simak beberapa doa yang telah diajarkan Rasulullah n untuk diamalkan. Dan kita yakin, setiap bimbingan ada keutamaannya sendiri dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah. Abdullah bin Mas’ud z berkata:

“Tidur ketika berdzikir adalah dari setan dan jika kalian ingin (mengetahuinya) maka cobalah. Dan apabila seseorang dari kalian menuju pembaringannya dan dia ingin tidur, maka hendaklah dia berdzikir kepada Allah.”1
Ibnul Qayyim t menjelaskan: “Barangsiapa mempelajari sifat tidur dan bangun Rasulullah n, dia akan menjumpai bahwa tidur beliau adalah tidur paling nyaman dan lebih memberikan manfaat kepada badan dan semua anggotanya, serta memberikan kekuatan.
Beliau tidur di awal malam dan bangun pada akhir pertengahan kedua dari malam. Beliau bangun dan menggosok gigi dengan siwak dan berwudhu. Dan beliau mendirikan shalat yang telah diwajibkan Allah atas beliau. Dengan itu, badan, semua anggotanya, dan tenaga, mengambil manfaat dari tidur dan istirahatnya itu. Dan juga olahraga, bersamaan dengan limpahan pahala. Tentu ini merupakan puncak kebagusan hati dan badan, dunia dan akhirat.
Beliau tidak tidur melebihi kebutuhan dan tidak meninggalkannya melebihi yang dibutuhkan badan. Dan beliau melaksana-kannya dengan cara yang sempurna. Beliau tidur di atas lambung sebelah kanan dalam keadaan berdzikir kepada Allah hingga mata beliau terpejam.” (Lihat Zadul Ma’ad, 2/142)

Doa-doa ketika Hendak Tidur
Di antara doa-doa yang beliau baca adalah:
q Membaca Ayat Kursi
Hal ini dijelaskan oleh Rasulullah n dalam sunnah taqririyah beliau ketika setan mengajarkan tameng dari sebuah kejahatan kepada Abu Hurairah z, dia berkata:

“Apabila kamu menuju ranjang pembaringanmu, maka bacalah ayat kursi. Niscaya kamu terus bersama penolong dari Allah dan setan tidak akan mendekatimu sampai datang waktu pagi.” Rasulullah n bersabda: “Dia benar dan dia adalah seorang pendusta. Dia itu setan.”2
q Membaca Dua Surat yaitu Alif Lam Mim As-Sajadah dan Al-Mulk
Hal ini dijelaskan Rasulullah n dalam riwayat Jabir bin Abdullah z, beliau berkata:

“Adalah Rasulullah tidak tidur sehingga beliau membaca (surat) Alif Laam Mim Tanzil dan Tabaarakalladzi biyadihi Al-Mulk.”3
q Membaca Doa-doa di bawah ini:
1. Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunan beliau no. 5045 dari Hafshah x, beliau berkata: “Apabila Rasulullah n hendak tidur beliau meletakkan tangan kanannya di atas pipi beliau, dan berkata:

“Ya Allah, lindungilah aku dari adzabmu pada hari Engkau membangkitkan hamba-hamba-Mu.”
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Al-Imam At-Tirmidzi no. 3638 dari shahabat Hudzaifah bin Al-Yaman z dan dari shahabat Al-Bara` bin ‘Azib z no. 3639, dan Al-Imam Al-Bukhari dalam kitab Adab Al-Mufrad no. 1215.
2. Diriwayatkan oleh Al-Imam At-Tirmidzi no. 3636 dari shahabat Anas bin Malik z, berkata: “Adalah Rasulullah n apabila beranjak ke tempat pembaringan, beliau berdoa:

“Segala puji bagi Allah yang telah memberi kami makan, minum, yang telah mencukupi dan melindungi kami. Betapa banyak orang yang tidak memiliki yang akan mencukupi dan melindunginya.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim dalam Shahih beliau no. 2715, dan Al-Imam Abu Dawud no. 5053.
3.    Diriwayatkan Al-Imam Muslim dari shahabat Abu Hurairah no. 2714 bahwa Rasulullah n bersabda: “Apabila salah seorang dari kalian menuju pembaringannya, hendaklah dia mengambil ujung sarungnya lalu mengibaskannya ke tempat tidurnya. Dan hendaklah dia menyebut nama Allah karena dia tidak mengetahui apa yang akan terjadi kemudian. Dan bila dia akan berbaring, maka berbaringlah di atas lambung sebelah kanan dan mengucapkan:

“Maha Suci Engkau ya Allah, wahai Rabbku. Karena Engkau aku meletakkan lambungku dan karena Engkau aku mengang-katnya. Dan jika Engkau menahan jiwaku, maka ampunilah ia. Dan jika Engkau mele-paskannya kembali maka peliharalah ia sebagaimana Engkau memelihara hamba-hamba-Mu yang shalih.”
4.    Diriwayatkan Al-Imam Muslim dari Suhail dari Abu Shalih dan Abu Shalih mengatakan: Kami meriwayatkannya dari Abu Hurairah z. Suhail mengatakan Abu Shalih memerintahkan kami, apabila salah seorang dari kami akan tidur hendaklah dia tidur di atas lambung sebelah kanan kemudian berkata:

“Wahai Rabb kami, pemilik langit dan bumi serta pemilik ‘Arsy yang agung. Wahai Rabb kami dan Rabb segala sesuatu, Yang membelah biji-bijian, Yang menurunkan Taurat, Injil, dan Furqan. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan segala sesuatu, Engkaulah yang memegang ubun-ubunnya. Ya Allah, Engkau yang Awwal dan tidak ada sesuatupun sebelum-Mu, Engkau yang akhir dan tidak ada sesuatupun setelah-Mu, Engkau yang Dhahir tidak ada sesuatu di atas Engkau, dan Engkau yang Batin dan tidak ada sesuatu di bawah-Mu. Tunaikanlah hutang kami dan cukupkanlah kami dari kefakiran.”
Dan masih banyak lagi wirid-wirid yang dibaca Rasululah n dan jika dijabarkan tidak akan mencukupi dengan pembahasan singkat ini.
Al-Imam An-Nawawi t berkata: “Lebih utama bagi seseorang untuk mem-baca seluruh doa yang tersebut dalam bab ini. Namun bila tidak memungkinkan, hen-daknya dia membaca doa terpenting yang dia mampu.” (Al-Adzkar, hal. 80, ed)
Dan jika ingin mengetahui lebih jauh dapat dilihat dalam kitab Al-Adzkar karya Al-Imam An-Nawawi dan tahqiqnya.

Bila Terjaga di Malam Hari
Apakah ada tuntunan doa yang diajarkan Rasulullah n bila seseorang terjaga di malam hari?
Tentu ada. Diriwayatkan Al-Imam Abu Dawud (no. 5060) dari shahabat ‘Ubadah bin Ash-Shamit z berkata: Rasulullah n bersabda: “Barangsiapa terjaga lalu berdoa ketika bangunnya:

“La ilaha illallah tidak ada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya kerajaan dan pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Maha Suci Allah, dan segala pujian milik Allah dan tidak ada sesembahan yang benar melainkan Allah. Allah Maha Besar dan tidak ada daya dan kekuatan melainkan milik Allah lalu dia berdoa: “Wahai Rabbku ampunilah aku!” –Walid berkata– bila dia berdoa niscaya akan diampuni dan bila dia bangun kemudian berwudhu lalu shalat akan diterima shalatnya.”
Hadits ini diriwayatkan juga oleh Ibnu Majah (no. 3478) dan dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan keduanya (yakni Abu Dawud dan Ibnu Majah). Bahkan juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Shahih-nya dari ‘Ubadah bin Ash-Shamit z((ed).

Doa Bangun dari Tidur
Bila bangun dari tidur Rasulullah n berdoa:

“Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah matinya kami dan kepada-Nya kami akan dibangkitkan.”4

Bersiwak bila Bangun dari Tidur
Diceritakan oleh Hudzaifah bin Al-Yaman z tentang perbuatan Rasulullah n ketika bangun dari tidur:

“Adalah Rasulullah n apabila bangun di malam hari beliau menggosok mulut dengan siwak.”5

Cara Tidur yang Dilarang
Ya’isy bin Thikhfah Al-Ghifari berkata: “Bapakku menceritakan kepadaku bahwa ketika aku tidur di masjid di atas perutku (tengkurap), tiba-tiba ada seseorang yang menggerakkan kakiku dan berkata:

“Sesungguhnya tidur yang seperti ini dimurkai Allah.”
(bapakku berkata): “Setelah aku melihat ternyata beliau adalah Rasulullah n.”6
Dan hadits ini diriwayatkan dari shahabat yang lain yaitu Abu Dzar z, diriwayatkan Al-Imam Ibnu Majah no. 3724 dan dari Abu Hurairah z, diriwayatkan Al-Imam At-Tirmidzi no. 2230.

Bila Bermimpi
Di dalam kitab-kitab yang menghim-pun Sunnah Rasulullah n, ahlul hadits membawakan permasalahan mimpi dan ta’birnya. Hal ini menunjukkan bahwa ta’bir/takwil mimpi adalah sesuatu yang sangat penting untuk diilmui. Kita tidak hendak menjelaskannya secara detail di sini, hanya sebatas adab bila bermimpi.
Rasulullah n banyak menjelaskannya di dalam sabda-sabda beliau dan telah diriwayatkan sejumlah shahabat Rasulullah n di antaranya Abu Hurairah, ‘Ubadah bin Ash-Shamit, Anas bin Malik, Abu Qatadah, Jabir bin Abdullah, Abdullah bin Umar, dan selain mereka seperti:

“Apabila zaman berdekatan, hampir-hampir (mimpi) orang beriman tidak pernah meleset dan mimpinya orang yang beriman merupakan satu bagian dari 46 bagian nubuwwah.”7
a.    Macam Mimpi
Disebutkan oleh Rasulullah n bahwa mimpi ada tiga macam:
Pertama: Mimpi yang baik, dan ini merupakan kabar yang baik dari Allah.
Kedua: Mimpi yang buruk, dan ini dari setan.
Ketiga: Mimpi tentang apa yang terbetik di dalam diri.
Ketiga jenis mimpi ini disebutkan oleh Rasulullah n, dalam hadits yang diriwayat-kan Al-Imam Muslim dan selain beliau no. 2263 dari Abu Hurairah z.
b.    Adab bila Bermimpi
Ini termasuk kesempurnaan Islam. Tidak ada sesuatupun dalam Islam yang lepas dari bimbingan syariat. Maka berbaha-gialah orang yang menerima bimbingan Allah dan Rasul-Nya.
q Adab Bila Bermimpi yang Baik
Rasulullah n telah menjelaskan sebuah adab bila seseorang bermimpi dengan mimpi yang baik. Diriwayatkan Al-Imam Al-Bukhari no. 6985 dari shahabat Abu Sa’id Al-Khudri z bahwa beliau telah mendengar Rasululah bersabda:

“Apabila seseorang bermimpi yang disukainya maka sesungguhnya datang dari Allah, hendaklah dia memuji Allah dan menceritakannya kepada orang lain.”
Dalam hadits di atas ada dua adab yang disebutkan Rasulullah n bila bermimpi baik, yaitu memuji Allah dengan menga-takan: Alhamdulillah, dan menceritakannya kepada orang lain.
q Adab Bila bermimpi yang Buruk
Rasulullah n telah menjelaskannya dalam lanjutan hadits di atas yaitu:

“Apabila dia bermimpi yang selain itu (yakni yang tidak disukai), maka itu datangnya dari setan. Hendaklah dia berlindung dari (kejahatan) setan dan jangan menceritakannya kepada orang lain karena hal itu tidak akan membahayakannya.”
Di dalam hadits ini ada dua adab yang disebutkan Rasulullah n yaitu: berlindung kepada Allah dari kejahatan setan dan jangan dia menceritakannya kepada orang lain.”
Rasulullah n menyebutkan adab yang lain bila bermimpi buruk, seperti:
– Meludah tiga kali ke arah kiri
Hal ini dijelaskan Rasululah n dalam sabda beliau dari shahabat Abu Qatadah diriwayatkan Al-Imam Al-Bukhari no. 6986 dan Muslim no. 2261:

“Hendaklah dia meludah sedikit8 tiga kali.”
– Mengubah posisi tidur
Dijelaskan Rasulullah n dalam riwa-yat Jabir bin Abdullah z, diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim no. 2261:

“Dan hendaklah dia berpindah dari posisi tidur sebelumnya.”
– Shalat
Dijelaskan oleh Rasulullah n dalam sabda beliau sebagai-mana dalam riwayat Abu Hurairah z, diriwayatkan Al-Imam Muslim no. 2263:

“Maka hendaklah dia shalat.”
Ini beberapa pembahasan singkat bila bermimpi ketika tidur.

Penutup
Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa tidur itu ada dua fungsi dan faidah bagi setiap orang.
Pertama: Memberikan rasa nyaman kepada badan dari rasa lelah
Kedua: Menghancurkan makanan dan mematangkan segala campuran makanan. (Lihat Zadul Ma’ad 2/143)
Wallahu a’lam.


1 HR. Al-Imam Al-Bukhari dalam kitab Adabul Mufrad no. 1208 dan dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani di dalam Shahih Adabul Mufrad no. 918.
2 HR. Al-Imam Al-Bukhari
3 HR. Al- Imam Al-Bukhari di dalam kitab Adabul Mufrad no. 1207 dan Al-Imam At-Tirmidzi di dalam Sunan beliau no. 3066, dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani di dalam kitab beliau Shahih Sunan At-Tirmidzi no. 2316, Shahih Adabul Mufrad no. 917, Ash-Shahihah no. 585, Al-Misykat no. 2155 dan di dalam kitab Ar-Raudh no. 227
4 HR. Al-Imam Al-Bukhari no.6314 dan Muslim no. 2711 dari shahabat Abu Hurairah z
5 HR. Al-Imam Al-Bukhari no. 889, 1136 dan Muslim no. 255
6 HR. Al-Imam Abu Dawud di dalam Sunan beliau no. 5040, Ibnu Majah no. 3723, At-Tirmidzi no. 2768, Ibnu Hibban no.5549, Ahmad 3/429, 430, dan Al-Hakim, 4/271. Dan dihasankan oleh Asy-Syaikh Salim bin ‘Id Al-Hilali di dalam kitab Bahjatun Nazhirin (2/108) dan dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani di dalam Shahih Sunan Ibnu Majah no. 3000 dan Al-Misykat no. 4718.
7 Al-Bukhari dan Muslim
8 Makna at-tafl adalah meniup disertai sedikit ludah, dan at-tafl lebih besar daripada an-nafts. (An-Nihayah, ed)

Karamah

(ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar Sua’idi)

 

Karamah adalah sesuatu yang keluar dari adat kebiasaan, tidak diiringi dengan pengakuan kenabian, dan juga bukan muqaddimah kenabian. Di mana Allah I munculkan pada diri seorang hamba yang memiliki kebaikan, selalu mengikuti ajaran Nabi, berakidah serta beramal se-cara benar, baik orang tersebut mengetahui atau-pun tidak. (Lawa-mi’ Al-Anwar Al-Bahiyyah, 2/392)

Keterangan
Keluar dari adat kebiasaan: menyelisihi yang biasa terjadi dan biasa dialami manusia.
Tidak diiringi dengan pengakuan kenabian: ini untuk membedakan antara Karamah dan Mukjizat.
Bukan muqaddimah kenabian: yakni bukan hal-hal luar biasa yang terjadi menjelang diutusnya seorang Nabi.
Pada seorang hamba…: ini untuk membedakan antara karamah dengan sihir, sulap dan yang sejenisnya, yang muncul pada orang-orang yang menyeleweng karena kerjasama dengan setan. Ini disebut sebagian ulama dengan Ahwal Syaithan-iyyah.
Orang itu tahu atau tidak: menun-jukkan bahwa Karamah ini terkadang disadari oleh yang mendapatkannya dan terkadang tidak. Dan ini menunjukkan bahwa Karamah bukan sesuatu yang direkayasa atau diupayakan. Asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan t dalam bukunya Fathul Majid mengatakan: Karamah adalah sesuatu yang datang dari Allah I yang dengannya Ia muliakan wali-wali-Nya, tanpa kesengajaan dari mereka, tanpa unsur tantangan, serta tanpa ke-mampuan dan pengetahuan dari mereka. (Bab Al-Istighatsah, hal.198, tahqiq Al-Furayyan)

Tujuan Karamah
Bertujuan sebagai bantuan, dukung-an, dan pertolongan kepada hamba tersebut, atau untuk mengokohkannya dalam keimanan.

Dalam perkara apa Karamah?
Karamah bisa terjadi dalam urusan agama atau duniawi, Ibnu Taimiyyah t mengatakan: Di antara prinsip Ahlus Sunnah adalah mempercayai adanya Karamah para wali dan hal-hal luar biasa yang Allah munculkan pada mereka berupa beraneka ragam ilmu, Mukasyafah/ kemampuan memandang, dan berbagai kemampuan serta pengaruh lainnya. (Al-’Aqidah Al-Wasithiyyah syarah Al-Harras, hal. 119)
Contoh dalam hal ilmu dan pengeta-huan seperti yang saat itu terjadi pada Abu Bakr z. Di mana Allah I memperlihatkan apa yang ada dalam kandungan istrinya bahwa bayinya tersebut adalah wanita.
Contoh Mukasyafah/ kemampuan memandang seperti yang terjadi pada ‘Umar z. Di mana ketika itu dalam khutbah Jumatnya di Madinah, ia dapat melihat pasukan perangnya yang dikirim ke Iraq dan saat itu terdesak oleh musuh. Kemudian Umar z mengatakan: “Wahai pasukan, ke gunung, ke gunung!” Dan pasukan itupun mendengar ucapan ‘Umar z kemudian ke gunung maka akhirnya selamat.
Contoh kemampuan dan pengaruh, yaitu yang terjadi pada Maryam. Di mana hanya dengan menggoyang batang pohon korma, buah korma pun berjatuhan. Padahal secara akal dan kewajaran, tidak mungkin karena kuatnya pohon dan lemahnya wanita yang tengah hamil tua. Juga ada di antara anak buah Nabi Sulaiman u yang dapat memindahkan sebuah singgasana ratu dalam waktu kurang dari sekejap mata. (Syarh Al-Wasithiyyah, Ibnu ‘Utsaimin, hal. 631-632)
Faedah penting: Bahwa tidak mungkin Karamah seorang wali mencapai seperti mukjizat Nabi. (Ibnu Taimiyyah, Kitabun Nubuwwat dinukil dari Muqad-dimah kitab Syarh Ushul I’tiqad, 9/16)