Hulum Gambar Makhluk Bernyawa (bagian 3)

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Zulfa Husein Al-Atsariyyah)

Tema gambar, lukisan, atau patung makhluk bernyawa memang salah satu permasalahan yang membutuhkan pembahasan yang panjang. Edisi kali ini pun masih menyinggung hal tersebut. Ini dilakukan agar permasalahan menjadi lebih jelas dan tidak menumbuhkan keraguan di hati anda, pembaca.

Saudariku, dalam edisi yang lalu kita telah mengetahui larangan menggambar makhluk bernyawa dan menyimpannya. Pembahasan edisi inipun masih menyinggung tentang gambar makhluk bernyawa sehingga diharapkan permasalahan menjadi lebih gamblang lagi.
Al-Imam An-Nawawi t berkata: “Teman-teman kami (dari madzhab Syafi’iyyah, –pent.) dan selain mereka berkata: Meng-gambar makhluk yang bernyawa haram dengan sebenar-benarnya keharaman, termasuk dosa besar, karena diancam dengan ancaman yang keras sebagaimana tersebut dalam hadits-hadits. Baik orang yang membuat gambar itu bertujuan merendahkannya ataupun selainnya, perbuatannya tetap saja dihukumi haram, apapun keadaannya. Karena perbuatan demikian menandingi ciptaan Allah I. Baik gambar itu dibuat pada kain/ baju, hamparan/ permadani, dirham atau dinar, uang, bejana, tembok/ dinding, dan selainnya. Adapun menggambar pohon, pelana unta dan selainnya yang tidak mengandung gambar makhluk bernyawa, tidaklah diharamkan. Ini hukum gambar itu sendiri. Adapun mengambil gambar makhluk bernyawa untuk digantung di dinding, pada pakaian yang dikenakan, atau pada sorban dan semisalnya yang tidak terhitung direndahkan (bukan untuk diinjak-injak atau diduduki misalnya, –pent.) maka hukumnya haram. Bila gambar itu ada pada hamparan yang diinjak, pada bantalan dan semisalnya yang direndahkan maka tidaklah haram.”1
Al-Imam An-Nawawi t melanjutkan: “Tidak ada perbedaan dalam hal ini antara gambar yang memiliki bayangan dengan yang tidak memiliki bayangan (dua atau tiga dimensi, –pent.). Demikianlah kesimpulan madzhab kami dalam masalah ini. Jumhur ulama dari kalangan shahabat, tabi’in dan orang-orang setelah mereka juga berpendapat yang semakna dengan ini. Pendapat ini dipegangi Ats-Tsauri, Malik, Abu Hanifah, dan selain mereka.”
Az-Zuhri t menyatakan bahwa larangan menggambar ini umum, demikian pula penggunaannya, baik gambar itu berupa cap/ stempel/ lukisan pada baju/ kain ataupun bukan stempel. Baik gambar itu di dinding, kain, pada hamparan yang direndahkan (misal: perma-dani, red.), ataupun yang tidak direndahkan, sebagai pengamalan dzahir hadits, terlebih lagi hadits namruqah yang disebutkan Al-Imam Muslim. Ini pendapat yang kuat, kata Al-Imam An-Nawawi. (Al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim, 14/307-308)
Dalam masalah gambar yang berupa stempel/ lukisan pada kain, Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqalani t menguatkan pendapat yang menyatakan jika gambar tersebut utuh dan jelas bentuknya maka haram. Namun jika gambar itu dipotong kepalanya, atau terpisah-pisah bagian tubuhnya maka boleh. (Fathul Bari, 10/480)2

Malaikat Tidak Masuk ke dalam Rumah yang Ada Gambar Makhluk Hidupnya
Rasulullah n bersabda:

“Malaikat tidak akan masuk ke rumah yang di dalamnya ada anjing dan gambar-gambar.”3
Al-Imam An-Nawawi t berkata: “Ulama berkata: Faktor penyebab terhalang-nya mereka (para malaikat) untuk masuk ke rumah yang di dalamnya terdapat gambar adalah karena membuat dan menyimpan gambar merupakan perbuatan maksiat, perbuatan keji, dan menandingi ciptaan AllahI serta di antara gambar itu ada yang diibadahi selain ibadah kepada Allah I. Adapun sebab tercegahnya para malaikat itu untuk masuk rumah yang di dalamnya terdapat anjing karena anjing itu banyak memakan benda-benda yang najis. Dan juga di antara anjing itu ada yang dinamakan setan sebagaimana disebutkan dalam hadits.4 Sementara malaikat adalah lawan setan. Di samping itu, anjing memiliki aroma tidak sedap sedangkan malaikat tidak menyukai bau yang busuk, dan ada larangan dalam syariat ini untuk memelihara anjing5. Maka orang yang memelihara anjing di dalam rumahnya diberikan hukuman dengan diharamkannya para malaikat untuk masuk ke dalam rumahnya. Juga terhalang dari mendapatkan shalawat dan istighfar para malaikat, berikut keberkahannya dan penolakannya dari gangguan setan. Malaikat yang tidak masuk ke dalam rumah yang di dalamnya ada anjing atau gambar ini adalah malaikat yang berkeliling menyampaikan rahmah, barakah, dan mendoakan istighfar. Adapun malaikat hafazhah tetap masuk ke dalam semua rumah dan tidak pernah meninggalkan anak Adam dalam segala keadaan. Karena mereka diperintahkan untuk menghitung amalan anak Adam dan mencatatnya. Al-Khaththabi berkata: ‘Para malaikat itu hanyalah tidak masuk ke dalam rumah yang ada anjing atau gambar yang memang diharamkan. Adapun yang tidak diharamkan seperti anjing pemburu, anjing yang ditugasi menjaga sawah ladang dan hewan ternak, atau gambar yang dihinakan/ direndahkan yang ada di hamparan, bantal dan selainnya (yang diinjak/ diduduki), maka tidaklah mencegah masuknya para malaikat.’
Al-Qadhi mengisyaratkan semisal apa yang dikatakan Al-Khaththabi. Namun yang dzahir, ini meliputi seluruh anjing dan seluruh gambar makhluk hidup. Para malaikat tercegah untuk masuk karenanya, disebabkan hadits-hadits yang ada dalam masalah ini mutlak (tidak disebutkan adanya pengecualian atau pengkhususan, –pent.) Dan juga anjing kecil yang pernah ada di dalam rumah Nabi n tersembunyi di bawah tempat tidur. Ini merupakan udzur/ alasan yang besar tentunya, karena Nabi n tidak mengetahuinya. Namun ternyata tetap mencegah malaikat Jibril u untuk masuk ke rumah beliau. Seandainya udzur/ alasan adanya gambar dan anjing bisa diterima sehingga tidak mencegah masuknya para malaikat, niscaya malaikat Jibril pun tidak tercegah untuk masuk, wallahu a’lam.” (Al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim, 14/309-310)

Mainan Anak-anak
Dikecualikan dari larangan mengambil gambar ini adalah mainan anak-anak/ boneka yang terbuat dari bulu/ wol dan kain, kata Asy-Syaikh Muqbil t6, dengan dalil berikut ini:
Ar-Rubayyi’ bintu Mu’awwidz x berkata: “Nabi n mengirim utusan pada pagi hari ‘Asyura` (10 Muharram) ke kampung-kampung Anshar untuk mengumumkan:

“Siapa yang berpagi hari (di hari ini) dalam keadaan berbuka (tidak puasa) maka hendaklah ia sempurnakan sisa harinya (dengan berpuasa) dan siapa yang berpagi hari dalam keadaan puasa maka hendaklah ia terus puasa.”
Ar-Rubayyi’ berkata:

“Kami pun puasa pada hari ‘Asyura` tersebut dan melatih anak-anak kami untuk puasa. Kami membuatkan untuk mereka mainan anak-anakan (boneka) dari bulu/ wol. Bila salah seorang dari mereka menangis minta makan, kami memberikan mainan tersebut kepadanya, demikian sampai saatnya berbuka puasa.”7
‘Aisyah x berkisah:

“Ia biasa bermain boneka anak perempuan di sisi Rasulullah n. Ia berkata: ‘Teman-teman kecilku biasa datang untuk bermain bersamaku. Namun bila Rasulullah n datang, mereka sembunyi (karena segan dan malu kepada beliau) dan beliau pun menggiring mereka kepadaku’.”8
Al-Qadhi ‘Iyadh berkata: “Dalam hadits ini menunjukkan bolehnya bermain boneka/ anak-anakan.” Beliau juga mengatakan: “Boneka/ anak-anakan dikhususkan dari pelarangan yang ada dalam hadits ini, dan juga karena ingin memberikan pendidikan dini kepada wanita dalam mengatur perkara diri mereka, rumah, dan anak-anak mereka (kelak).” (Al-Minhaj, 15/200)
Demikian saudariku, penjelasan yang dapat kami bawakan untukmu sebagai nasehat bagimu berkaitan dengan gambar makhluk bernyawa. Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Catatan Kaki:

1 Nampaknya An-Nawawi membolehkan membiarkan gambar tanpa dipotong asalkan tidak dipajang, yakni dihinakan seperti pada karpet dan sejenisnya (ed). Menurut penulis, tentunya setelah gambarnya tidak lagi utuh tapi dipotong-potong. Lihat pembahasan masalah ini dalam edisi yang lalu ketika Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani t mendudukkan dua hadits Aisyah x yang seakan bertentangan.
2 Namun bila masih ada kepalanya, maka tetap tidak boleh, karena Ibnu ‘Abbas mengatakan: “Gambar itu dikatakan hidup bila memiliki kepala…” Lihat edisi 22, halaman 94. (ed)
3 HR. Al-Bukhari no. 5949 kitab Al-Libas, bab At-Tashawir dan Muslim no. 5481, 5482 kitab Al-Libas, bab Tahrim Tashwir Shurah Al-Hayawan…
4 Rasulullah n bersabda:
“Anjing hitam itu setan.” (HR. Muslim no. 1137, kitab Ash-Shalah, bab Qadru Ma Yasturul Mushalli)
5 Kecuali anjing pemburu dan anjing yang dilatih untuk tugas khusus.
6 Dalam kitabnya Hukmu Tashwir Dzawatil Arwah, hal. 59
7 HR. Al-Bukhari no. 1960 kitab Ash-Shaum, bab Shaumush Shibyan dan Muslim no. 2664 kitab Ash-Shiyam, bab Man Akala fi `Asyura` Falyakuffa Baqiyyata Yaumihi
8 HR. Muslim no. 6237 kitab Fadha`ilush Shahabah, bab Fi Fadhli `Aisyah x

Fatwa Ulama tentang Boneka

1. Ada beragam boneka, di antaranya yang terbuat dari kapas yang memiliki kepala, dua tangan, dan dua kaki. Ada pula yang sempurna menyerupai manusia. Ada yang bisa bicara, menangis, atau berjalan. Lalu apa hukum membuat atau membeli boneka semacam itu untuk anak-anak perempuan dalam rangka pengajaran sekaligus hiburan?

Jawab:
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin t menjawab: “Boneka yang tidak detail bentuknya menyerupai manusia/ makhluk hidup (secara sempurna) namun hanya berbentuk anggota tubuh dan kepala yang tidak begitu jelas maka tidak diragukan kebolehannya dan ini termasuk jenis anak-anakan yang dimainkan Aisyah x.
Adapun bila boneka itu bentuknya detail, mirip sekali dengan manusia sehingga seakan-akan kita melihat sosok seorang manusia, apalagi bila dapat bergerak atau bersuara, maka ada keraguan di jiwa saya untuk membolehkannya. Karena boneka itu menyerupai makhluk Allah I secara sempurna. Sedangkan yang dzahir, boneka yang dimainkan `Aisyah, tidaklah demikian modelnya (tidaklah rinci/ detail bentuknya). Dengan demikian menghindarinya lebih utama. Namun saya juga tidak bisa memastikan keharamannya, karena memandang, anak-anak kecil itu diberikan rukhshah/ keringanan yang tidak diberikan kepada orang dewasa seperti perkara ini. Disebabkan anak-anak memang tabiatnya suka bermain dan hiburan, mereka tidaklah dibebani dengan satu macam ibadah pun sehingga kita tidak dapat berkomentar bahwa waktu si anak sia-sia terbuang percuma dengan main-main. Jika seseorang ingin berhati-hati dalam hal ini, hendaknya ia melepas kepala boneka itu atau melelehkannya di atas api hingga lumer, kemudian menekannya hingga hilang bentuk wajah boneka tersebut (tidak lagi tampak/berbentuk hidung, mata, mulutnya, dsb, -pent.).”
(Majmu’ Fatawa wa Rasa`il Fadhilatusy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, no. 329, 2/277-278)

2. Banyak sekali dijumpai pendapat dan fatwa seputar permainan anak-anak. Lalu apa hukum boneka/ anak-anakan dan boneka hewan? Bagaimana pula hukumnya menggunakan kartu bergambar guna mengajari huruf dan angka pada anak-anak?

Jawab:
Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah menjawab: “Tidak boleh mengambil/ menyimpan gambar makhluk yang memiliki nyawa (kecuali gambar yang darurat seperti foto di KTP, SIM). Adapun yang selain itu tidaklah diperbolehkan. Termasuk pula dalam hal ini boneka untuk mainan anak-anak atau gambar yang digunakan untuk mengajari mereka (seperti memperkenalkan bentuk-bentuk hewan dengan memperlihatkan gambarnya, –pent), karena keumuman larangan membuat gambar dan memanfaatkannya. Padahal banyak kita dapatkan mainan anak-anak tanpa gambar/ berbentuk makhluk hidup. Dan masih banyak sarana yang bisa kita gunakan untuk mengajari mereka tanpa menggunakan gambar.
Adapun pendapat yang membolehkan mainan boneka untuk anak-anak, maka pendapatnya lemah karena bersandar dengan hadits tentang mainan ‘Aisyah x ketika ia masih kecil. Namun ada yang mengatakan hadits ‘Aisyah tersebut mansukh (dihapus hukumnya) dengan hadits-hadits yang menunjukkan diharamkannya gambar. Ada pula yang mengatakan bentuk boneka/ anak-anakan ‘Aisyah tidaklah seperti boneka yang ada sekarang, karena boneka ‘Aisyah terbuat dari kain dan tidak mirip dengan boneka berbentuk makhluk hidup yang ada sekarang. Inilah pendapat yang kuat, wallahu a’lam. Sementara boneka yang ada sekarang sangat mirip dengan makhluk hidup (detail/ rinci bentuknya). Bahkan ada yang bisa bergerak seperti gerakan makhluk hidup.”

(Kitabud Da’wah, 8/23-24, seperti dinukil dalam Fatawa ‘Ulama` Al-Baladil Haram hal. 1228-1229)

3. Apakah ada perbedaan bila boneka/ anak-anakan itu dibuat sendiri oleh anak-anak dengan kita yang membuatkannya atau membelikannya untuk mereka ?

Jawab:
Aku memandang –kata Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin– membuat boneka dengan bentuk yang menyerupai ciptaan Allah I haram hukumnya. Karena perbuatan ini termasuk tashwir yang tidak diragukan keharamannya. Akan tetapi bila mainan itu dibuat oleh orang-orang Nasrani dan kalangan non muslim, maka hukum memanfaatkannya sebagaimana yang pernah aku katakan. Tapi kalau kita harus membelinya maka lebih baik kita membeli mainan yang tidak berbentuk makhluk hidup seperti sepeda, mobil-mobilan dan semisalnya. Adapun boneka dari kapas/katun yang tidak detail bentuknya walaupun punya anggota-anggota tubuh, kepala dan lutut, namun tidak memiliki mata dan hidung, maka tidak apa-apa (dimainkan oleh anak-anak kita) karena tidak menyerupai makhluk ciptaan Allah I.” (Majmu’ Fatawa wa Rasa`il Fadhilatusy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, no. 330, 2/278)

4. Apakah benar pendapat sebagian ulama yang mengecualikan mainan anak-anak/boneka dari gambar yang diharamkan?

Jawab:
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin t berkata: “Pendapat yang mengecuali-kan mainan anak-anak/ boneka dari gambar yang diharamkan adalah pendapat yang benar. Namun perlu diperjelas, boneka seperti apakah yang dikecualikan tersebut? Apakah boneka yang dulu pernah ada (seperti yang dimainkan oleh Aisyah dengan sepengetahuan Nabi n -pent), yang modelnya tidaklah detail, tidak ada matanya, bibir dan hidung sebagaimana boneka yang dimainkan oleh anak-anak sekarang? Ataukah keringanan/pengecualian dari pengharaman tersebut berlaku umum pada seluruh boneka anak-anak, walaupun bentuknya seperti yang kita saksikan di masa sekarang ini? Maka dalam hal ini perlu perenungan dan kehati-hatian. Sehingga seharusnya anak-anak dijauhkan dari memainkan boneka-boneka dengan bentuk detail seperti yang ada sekarang ini. Dan cukup bagi mereka dengan model boneka yang dulu (tidak detail).”
(Majmu’ Fatawa wa Rasa`il Fadhilatusy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, no. 327, 2/275)

Ta’ziyah

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Zulfa Husein Al-Atsariyyah)

Banyak hal berkaitan dengan ta’ziyah yang mesti kita pahami. Ini tak lain karena banyak sekali amalan yang menyelisihi syariat kaitannya dengan hal ini. Juga banyak orang yang kemudian “sok” menyandarkan perbuatannya itu pada madzhab Syafi’i.

Ketika ada kerabat, teman, tetangga ataupun famili yang meninggal dunia, kita ber-ta’ziyah kepada keluarga yang ditinggalkan. Maksud dari ta’ziyah1 ini adalah menasehati keluarga si mayat agar bersabar, mengharapkan pahala yang dijanjikan, sekaligus mendoakan si mayat dan keluarga yang ditinggalkannya.
Terdapat sabda dari Rasul yang mulia yang menunjukkan disyariatkannya ta’ziyah2. Qurrah Al-Muzani z berkisah: “Kebiasaan Nabiyullah n bila beliau duduk, ikut pula duduk bersama beliau sejumlah shahabatnya. Di antara mereka ada yang memiliki anak laki-laki yang masih kecil. Ketika sang ayah ini sedang duduk di majelis, anak itu datang dari arah belakang     punggungnya,maka ia mendudukkan-nya di hadapannya.
“Engkau mencintainya?” tanya Nabi n.
“Ya Rasulullah, semoga Allah mencintaimu sebagaimana aku mencintai anakku ini!” jawab lelaki tersebut.
Ternyata anak itu akhirnya meninggal dunia. Karena sedih mengingat putranya, lelaki tersebut tidak hadir di majelis, maka Nabi n pun merasa kehilangan.
“Kenapa aku tidak pernah lagi melihat si Fulan?” tanya beliau.
“Ya Rasulullah, anak kecilnya yang pernah engkau lihat telah meninggal dunia,” jawab mereka yang hadir di majelis.
Suatu ketika Nabi n menjumpainya, beliau bertanya tentang putranya. Ia mengabar-kan bahwa putranya telah meninggal dunia. Nabi n pun menyampaikan ta’ziyah. Kemudian beliau berkata: “Wahai Fulan, yang mana yang lebih engkau sukai, dipanjangkan umur anak itu selama hidupmu, atau tidaklah besok engkau mendatangi satu pintu dari pintu-pintu surga kecuali engkau dapatkan anakmu itu telah mendahuluimu untuk membukakan pintu surga bagimu?”
“Ya Nabiyullah, anakku itu mendahuluiku ke pintu surga lalu membukakannya untukku adalah lebih aku sukai,” jawabnya.
“Maka yang demikian itu yang akan engkau peroleh,” kata Nabi n.3
Anas bin Malik z pernah menyam-paikan sabda Nabi n:

“Siapa yang menyampaikan ta’ziyah kepada saudaranya dari kalangan mukmin karena musibah yang menimpanya, niscaya Allah akan memakaikannya pakaian berwarna hijau ‘yuhbaru biha’ pada hari kiamat. Ada yang bertanya kepada beliau: “Ya Rasulullah, apa yang dimaksud dengan ‘yuhbaru’?” “Membuat orang lain menginginkan pakaian seperti yang dikenakannya,” jawab beliau.4
Al-Imam An-Nawawi t berkata: “Al-Imam Asy-Syafi’i dan murid-muridnya (pengikut madzhabnya) rahimahumullah mengatakan: “Ta’ziyah itu mustahabbah (disenangi/ disunnahkan).” Mereka juga mengatakan: “Disenangi bagi seluruh kerabat mayat untuk menyampaikan ta’ziyah kepada keluarga mayat (anak dan istrinya, –pent.) baik yang besar, yang kecil, laki-laki dan perempuan. Terkecuali bila perempuan itu masih muda/ remaja maka yang menyampaikan ta’ziyah kepadanya hanyalah laki-laki dari kalangan mahramnya (tidak boleh laki-laki ajnabi/ non mahram karena khawatir fitnah, –pent.)” (Al-Majmu’, 5/277).
Demikian pula yang dinyatakan oleh Al-Imam Ibnu Qudamah t. (Al-Mughni, kitab Al-Jana`iz, fashl Ta’ziyah Ahlil Mayyit)

Wanita Diperbolehkan Menyampaikan Ta’ziyah kepada Keluarga Mayat
Setelah kita mengetahui pensyariatan ta’ziyah, mungkin terlintas pertanyaan di benak kita, apakah boleh wanita melakukan ta’ziyah? Maksud kami membawakan materi ta’ziyah dalam lembaran ini memang untuk menjawab pertanyaan tersebut.
Dalam hal ini, tidak ada larangan bagi wanita untuk melakukannya, wanita dalam hal ini sama dengan lelaki. Ia boleh menyampaikan ta’ziyah kepada keluarga mayat ketika bertemu di suatu tempat tanpa perlu datang ke rumah duka setelah mayat dikuburkan, kecuali bila ia kerabat yang dekat dengan keluarga mayat sehingga dikhawatirkan bila ia tidak datang ke rumah keluarga tersebut akan dianggap memutus silaturahim. Maka ia datang dan tinggal sejenak, mungkin sekitar 5 menit, setelahnya ia pulang kembali ke rumahnya5.
Al-Lajnah Ad-Da`imah lil Buhuts wal Ifta`6 pernah ditanya tentang boleh atau tidaknya seorang wanita keluar rumah untuk ta’ziyah dengan ditemani sesama wanita atau bersama salah seorang dari mahramnya. Maka dijawab: Boleh bagi wanita untuk keluar guna menyampaikan ta’ziyah yang disyariatkan, apabila bersamaan dengan keluarnya itu tidak ditemui perkara-perkara yang dilarang seperti memakai wewangian, tabarruj dan semisalnya yang bisa menyebabkan fitnah7.

Tidak Ada Batasan Waktu Penyampaian Ta’ziyah
Tidak ada batasan berapa hari kita bisa menyampaikan ta’ziyah setelah kejadian duka/ musibah. Tapi kapanpun kita melihat ada faedah untuk menyampaikannya, maka kita sampaikan. Karena hadits yang tersebar di kalangan orang-orang awam:

“Tidak ada ta’ziyah setelah lebih dari tiga hari (dari kejadian duka/ musibah).”
Kata Asy-Syaikh Al-Albani t tidak ada asalnya (Catatan kaki Ahkamul Jana`iz hal. 209).
Imam Al-Haramain t meng-hikayatkan tidak adanya batasan waktu untuk ta’ziyah. Bahkan bisa terus dilakukan meskipun telah lewat tiga hari (dari kejadian duka) dan walaupun telah lewat waktu yang panjang. Karena tujuan dari ta’ziyah adalah doa, mengajak untuk sabar dan melarang dari berkeluh kesah. (Al-Majmu’, 5/277)
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin t menyatakan waktu ta’ziyah itu sejak dari kematian mayat, atau saat terjadinya musibah sampai dilupakannya musibah tersebut dan hilang dari jiwa orang yang ditimpa musibah. Karena maksud dari ta’ziyah bukanlah sebagai ucapan selamat (tahni`ah atau tahiyyah) tapi maksudnya adalah untuk menguatkan hati/ jiwa orang yang ditimpa musibah guna menanggung musibah tersebut dan mengharapkan pahala. (Majmu’ Fatawa wa Rasa`il Fadhilatusy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, 17/340)

Ucapan ketika Menyampaikan Ta’ziyah
Kita ucapkan kepada keluarga yang sedang berduka dengan kata-kata yang sekiranya bisa menghibur mereka dan memupus kesedihan mereka. Kita ajak mereka untuk sabar dan ridha. Sebagaimana dilakukan Rasulullah n ketika dikabarkan bahwa cucu beliau sedang menghadapi sakaratul maut, beliau menitip salam lewat utusannya untuk disampaikan kepada putrinya (ibu dari cucunya tersebut) dan menyatakan:

“Sesungguhnya milik Allah lah apa yang diambil-Nya, dan milik Allah lah apa yang diberikan-Nya. Segala sesuatu memiliki ajal tertentu di sisi-Nya. Hendaklah putriku itu bersabar dan mengharapkan pahala dari Allah (dengan musibah yang menimpanya).” 8
Al-Imam An-Nawawi t dan selainnya menyatakan: “Ucapan yang paling bagus untuk disampaikan ketika ta’ziyah adalah hadits yang diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim dari Usamah bin Zaid c (yakni hadits di atas, –pent.).” (Al-Adzkar, hal. 137)
Ada seorang ibu dari kalangan Anshar yang ditinggalkan putra satu-satunya. Ia pun ditimpa kesedihan dan duka yang mendalam. Nabi n bersama beberapa shahabatnya menyempatkan datang ke rumah si ibu guna menyampaikan ta’ziyah, beliau memerintahkan si ibu agar bertakwa kepada Allah U dan bersabar. Dan beliau menghibur dengan sabdanya:

“Tidaklah ada seseorang atau seorang wanita muslimah yang tiga anaknya meninggal dalam keadaan ia mengharapkan pahala dari Allah dengan meninggalnya mereka, melainkan Allah memasukkannya bersama mereka ke dalam surga.” 9
Saat Nabi n menyampaikan bela-sungkawa kepada Ummu Salamah x atas kematian suaminya Abu Salamah z, beliau berdoa:

“Ya Allah, ampunilah Abu Salamah, tinggikanlah derajatnya di kalangan mahdiyyin10, gantikanlah dia dalam keturunannya dengan orang-orang yang masih tersisa (masih hidup). Ampunilah kami dan dia, wahai Rabbul Alamin, luaskan/ lapangkanlah dia dalam kuburnya dan berilah cahaya baginya di dalam kuburnya.”11
Ketika menyampaikan ta’ziyah, kita tidak disunnahkan untuk berjabat tangan, memeluk, ataupun mencium orang yang ditimpa musibah tersebut. Kalaupun ketika bertemu dengan orang yang ditimpa musibah lalu kita ucapkan salam kepadanya dan kita jabat tangannya, ini kita lakukan karena menjalankan sunnah yang dituntunkan bila bertemu dengan sesama muslim, bukan karena ta’ziyah. Karena itu berjabat tangan dan mencium keluarga mayat ketika ta’ziyah sebaiknya dihindari. Jangan dijadikan sebagai sunnah, karena hal itu tidak pernah dilakukan oleh Nabi n dan para shahabat beliau g12.

Hal-hal yang Harus Dihindari
Dalam kaitannya dengan ta’ziyah ada dua perkara yang harus kita hindari:
1.    Berkumpul dalam rangka ta’ziyah di tempat yang khusus seperti di rumah duka, di kubur atau di masjid.
2.    Keluarga mayat membuatkan makan-an untuk menjamu tamu yang datang ber-ta’ziyah.
Dua perkara di atas terlarang karena merupakan perkara muhdats, bid’ah yang diada-adakan dalam agama ini. Padahal sungguh dua perkara di atas sudah dianggap kelaziman di tengah masyarakat kita. Malahan, jika tidak ada kumpul-kumpul setelah kematian si mayat dan tidak ada jamuan untuk tamu, akan dianggap menyimpang dan bakal jadi gunjingan. Tuduhan sesat pun datang dari masyarakat, wallahu al-musta’an. Betapa kejahilan telah menguasai mereka dan alangkah jauhnya mereka dari bimbingan Nabi mereka.
Jarir bin Abdillah Al-Bajali z berkata:

“Kami menganggap (dalam satu riwayat: memandang) berkumpul-kumpul di tempat keluarga mayat dan (keluarga mayat) membuat makanan sebagai jamuan untuk tamu setelah mayatnya dikubur termasuk perbuatan niyahah.”13
Al-Imam Asy-Syaukani t menjelaskan hadits di atas: “Yakni, mereka menganggap berkumpul di sisi keluarga mayat setelah mayat dikuburkan dan menyantap hidangan di tempat keluarga mayat sebagai salah satu jenis niyahah. Karena yang demikian itu memberatkan dan menyibukkan mereka. Padahal pikiran/jiwa mereka tengah disibukkan dengan kematian si mayat. Dan juga perbuatan demikian menyelisihi As-Sunnah. Karena yang sebenar-nya dimaukan adalah mereka diperintah untuk membuatkan makanan untuk keluarga mayat. Namun ternyata mereka menyelisihinya dan justru membebani pembuatan/ penyajian makanan untuk orang lain kepada keluarga mayat.” (Nailul Authar, 4/130)
Al-Imam An-Nawawi t berkata: “Adapun duduk-duduk untuk ta’ziyah, maka Al-Imam Asy-Syafi’i, penulis Al-Muhadzdzab (yakni Asy-Syairazi) dan seluruh pengikut madzhab Syafi’iyyah menetapkan kemakruhan-nya. Mereka menyatakan: ’Yang dimaksud dengan duduk-duduk untuk ta’ziyah adalah keluarga mayat berkumpul di satu rumah, sehingga orang-orang yang ingin ta’ziyah menuju ke tempat mereka.” Mereka juga menyatakan: “Bahkan sepantasnya mereka (keluarga mayat) berlalu guna menunaikan keperluan-keperluan mereka (jangan sengaja kumpul-kumpul, –pent.). Bila ada orang yang kebetulan bertemu mereka (di mana saja), ia pun menyampaikan ta’ziyah kepada mereka. Tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam kemakruhan perkara ini.” (Al-Majmu’, 5/278)
Al-Imam Asy-Syafi’i t berkata: “Aku membenci al-ma’atim yaitu berkumpul-kumpul (di rumah duka atau di tempat lain secara khusus, –pent.), walaupun mereka yang kumpul-kumpul itu tidak menangis. Karena perbuatan demikian memperbaharui kese-dihan, memberatkan biaya….” (Al-Umm, kitab Al-Jana`iz, bab Al-Qiyam lil Jana`iz)
Kumpul-kumpul ini dibenci baik di hari pertama dari kejadian duka, maupun hari kedua, ketiga, keempat, ketujuh, sebulan, setahun dan seterusnya. Demikian kata Ath-Thurthusyi sebagaimana dinukil dalam Taudhihul Ahkam (3/271).
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin t dalam fatwa beliau14 mengatakan: “Al-Ma’atim15 seluruhnya bid’ah, baik dilakukan pada hari ketiga, sepekan, atau 40 hari kematian. Karena hal ini tidak pernah dilakukan As-Salafus Shalih –semoga Allah I meridhai mereka–. Seandainya perkara itu merupakan kebaikan, niscaya mereka akan mendahului kita dalam mengamalkannya. Di samping itu, melakukan al-ma’atim akan menyia-nyiakan harta dan membuang waktu.
Bahkan terkadang dalam acara tersebut terjadi suatu kemungkaran seperti meratapi orang yang meninggal, sehingga masuklah pelakunya dalam laknat. Karena Nabi n melaknat wanita yang melakukan niyahah dan melaknat pula orang yang sengaja mendengar-kan niyahah tersebut16.
Kemudian, bila dana yang dipakai untuk acara tersebut diambil dari harta si mayat, yakni dari 1/3 hartanya, maka hal itu merupakan pelanggaran/ perbuatan dosa kepada si mayat karena harta tersebut dipakai untuk selain perbuatan ketaatan. Kalau dana/ biaya yang dipakai untuk acara tersebut diambil dari harta ahli waris yang masih kecil/ anak-anak atau orang yang lemah yang tidak dapat meng-gunakan/ mengatur hartanya dengan baik, maka ini hal ini juga pelanggaran terhadap hak mereka, karena orang yang diberi amanah untuk menjaga harta mereka seharusnya menunaikan amanah dengan baik. Tidak boleh ia belanjakan/ gunakan kecuali dalam perkara yang memberi kemanfaatan untuk mereka. Kalaupun dananya diambil dari harta orang-orang yang berakal, sudah baligh lagi cerdas maka hal ini juga terhitung perbuatan bodoh. Karena membelanjakan harta dalam perkara yang tidak mendekatkan seorang hamba kepada Allah I, atau tidak memberi manfaat kepada seseorang dalam kehidupan dunianya, merupakan perkara yang teranggap sebagai kebodohan dan teranggap pula membuang-buang harta. Sementara Nabi n telah melarang kita untuk membuang-buang harta.”17
Lalu apa yang sebenarnya harus dilakukan oleh keluarga yang berduka setelah mayat mereka dikuburkan? Bukannya mereka berkumpul di rumah duka untuk menerima kedatangan orang-orang yang datang ber-ta’ziyah, namun mereka kembali ke tempat mereka masing-masing sebagaimana biasa dan mereka menutup pintu rumah mereka. Adapun orang yang ingin berta’ziyah tidak perlu datang ke rumah duka (setelah mayat dikuburkan). Bahkan hal itu tidak ada asalnya dalam syariat ini.18 Jika kebetulan bertemu dengan keluarga yang berduka di mana saja, mungkin di jalan, di toko atau di tempat lain, barulah ia menyam-paikan ta’ziyah bila memang keluarga yang berduka tersebut belum melupakan musibah yang menimpanya.
Namun ada pengecualian dalam hal ini, kata Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin t, bila ia merupakan kerabat atau orang yang dekat dengan keluarga mayat dan dikhawatirkan bila ia tidak pergi ke tempat keluarga mayat akan memutuskan silaturahimnya dengan mereka, maka tidak apa-apa ia mendatangi rumah duka. Namun keluarga mayat tetap tidak boleh berkumpul di rumah tersebut guna menyambut orang yang datang untuk ta’ziyah. (Majmu’ Fatawa, 17/342-343)

Membuatkan Makanan untuk Keluarga yang Berduka
Sebenarnya bukan kita, para penta’ziyah, yang dibuatkan jamuan oleh pihak keluarga yang berduka. Yakni, kita datang ke tempat mereka, lalu pihak keluarga yang berduka mengeluarkan teh, kopi, kue-kue kering atau kue basah, bahkan nasi lengkap dengan lauk pauknya misalnya untuk disantap oleh para penta’ziyah. Bukan demikian yang diajarkan dalam syariat kita yang mulia ini. Karena hal itu merupakan bid’ah yang buruk disebabkan beberapa perkara:
Pertama: menyelisihi As-Sunnah dan apa yang menyelisihi As-Sunnah berarti bid’ah.
Kedua: tasyabbuh dengan perbuatan orang-orang jahiliyyah yang biasa melakukan penyembelihan hewan ketika tokoh-tokoh mereka meninggal.
Ketiga: membelanjakan harta untuk perkara yang diharamkan sehingga hal ini termasuk israf (menghambur-hamburkan harta).
Keempat: keluarga mayat tengah didera kesibukan dengan musibah tersebut sehingga membebani mereka bila harus menyiapkan makanan dan menjamu orang-orang yang datang.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah t menyatakan, berkumpulnya manusia di tempat keluarga yang ditimpa musibah dengan perjamuan yang diberikan oleh keluarga mayat tidaklah dikenal di kalangan salaf. Bahkan sekelompok ulama membencinya dan sejumlah ulama menganggapnya termasuk niyahah. (sebagaimana dinukil dari Taudhihul Ahkam, 3/270)
Dengan demikian, yang sunnah adalah kita yang membuatkan makanan untuk diantarkan ke keluarga mayat hingga menge-nyangkan mereka.19 Dengan dalil hadits Abdullah bin Ja’far c, ia berkata:

Ketika datang berita kematian Ja’far saat ia gugur (di medan jihad), Nabi n bersabda: “Buatkanlah makanan untuk keluarga Ja’far, sungguh telah mendatangi mereka suatu perkara yang menyibukkan mereka, atau datang kepada mereka apa yang menyibukkan mereka.”20
Dalam hadits di atas menunjukkan disyariatkannya berbuat baik kepada keluarga mayat dengan membuatkan makanan untuk mereka karena mereka tersibukkan dengan musibah kematian tersebut. (Subulus Salam, 2/186)
Al-Imam Asy-Syafi’i t berkata: “Aku menyenangi agar tetangga si mayat atau kerabatnya membuatkan makanan untuk keluarga si mayat pada hari dan malam kema-tiannya dengan makanan yang mengenyangkan mereka. Karena yang demikian itu merupakan sunnah dan perbuatan mulia serta termasuk perbuatan orang-orang yang baik sebelum dan sesudah kita.” Kemudian beliau t membawakan hadits Abdullah bin Ja’far di atas. (Al-Umm, kitab Al-Jana`iz, bab Al-Qaulu `inda Dafnil Mayyit)
Sebelum kita menutup pembahasan ini ada faedah yang kita dapatkan dari ucapan Al-Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi t. Beliau mengatakan, bila keadaan mendesak (di mana keluarga mayat harus membuatkan makanan untuk orang yang  datang kepada mereka) maka dibolehkan. Karena bisa jadi orang yang menghadiri penyelenggaraan mayat mereka itu ada yang berasal dari daerah yang jauh, sehingga ia harus bermalam di keluarga tersebut. Maka mau tidak mau harus disediakan makanan untuknya. (Al-Mughni, kitab Al-Jana`iz, fashl Ash-Shabru wal Isti’anah bish Shalah, masalah Wala Ba`sa An Yushliha li Ahlil Mayyit Tha’aman Yub’atsu Ilaihim…)
Sebagai akhir, kita simak nasehat Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin t berikut ini: “Wajib bagi penuntut ilmu untuk menerangkan kepada orang-orang awam bahwa kumpul-kumpul dan mengadakan perjamuan sebagai peringatan kematian tidaklah disyariatkan. Bahkan bila mereka melakukannya, mereka lebih dekat kepada perbuatan dosa daripada keselamatan. Dan wajib bagi generasi belakangan dari umat ini untuk mengikuti salaf mereka (pendahulu mereka yang shalih). Pikirkanlah, apakah Nabi n pernah duduk-duduk karena kematian putra-putranya untuk menerima para penta’ziyah? Apakah beliau melakukannya ketika meninggalnya Khadijah atau Zainab bintu Khuzaimah c, kedua istri beliau? Apakah Abu Bakar z pernah melakukannya? Apakah ‘Umar ibnul Khaththab z melakukannya? Demikian pula ‘Utsman dan ‘Ali, atau salah seorang saja dari shahabat Rasulullah y? Tidak ada sama sekali! Dan tidaklah diragukan bahwa sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad n.
Adapun perkara yang kita warisi dari nenek moyang yang akhirnya menjadi adat/ tradisi maka mesti dihadapkan pada Kitabullah, Sunnah Rasulullah n, dan petunjuk/ bimbingan as-salafus shalih. Bila sesuai, tidak bertentangan, maka diterima. (Dan itu diterima) bukan karena hal itu telah menjadi adat/ kebiasaan, tapi karena sesuai As-Sunnah. Namun bila bertentangan, maka wajib ditolak.
Tidak sepantasnya penuntut ilmu tunduk kepada adat kebiasaan dan mengatakan: Bagaimana mungkin kita mengingkari sesuatu yang telah biasa dilakukan oleh bapak, ibu, dan saudara-saudara kita? Karena bila kita berpola pikir seperti itu, yakni tidak melakukan pengingkaran, niscaya perkaranya tetap demikian tanpa ada perbaikan.” (Majmu’ Fatawa, 17/372)
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Catatan Kaki:

1 Ta’ziyah dari kata ‘aza, secara bahasa maknanya kesabaran yang baik. Ta’ziyah adalah menyabar-nyabarkan. (Nailul Authar, 4/129)
2 Disenangi untuk melakukan ta’ziyah ini dalam rangka mengikuti As-Sunnah dan mencari pahala. (Al-Hawil Kabir, 3/65)
3 HR. An-Nasa`i no. 2088, kitab Al-Jana`iz, bab Fit ta’ziyah, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih Sunan An-Nasa`i
4 HR. Al-Khathib dalam Tarikh Baghdad (7/397) dan Ibnu `Asakir dalam Tarikh Dimasyq (15/91/1). Kata Asy-Syaikh Al-Albani, hadits ini memiliki syahid (penguat) dari riwayat Thalhah bin ’Ubaidillah bin Kuraiz secara maqthu’. Dan dengan dua jalan ini, hadits di atas hasan. Demikian beliau terangkan dalam Irwa`ul Ghalil, 3/217, ketika membawakan hadits no. 764.
5 Majmu’ Fatawa wa Rasa`il Fadhilatusy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, 17/351
6 Ketika itu lajnah masih diketuai oleh Asy-Syaikh Abdul `Aziz bin Abdillah bin Baz t
7 Fatwa no. 7579 sebagaimana dikumpulkan dalam kitab Fatawa Al-Lajnah Ad-Da`imah lil Buhuts Al-’Ilmiyyah wal Ifta`, 9/131-132.
8 HR. Al-Bukhari no. 1284 dan Muslim no. 923
9 HR. Al-Bazzar (857), dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Ahkamul Jana`iz, hal. 208
10 Orang-orang yang diberi hidayah oleh Allah I, ditunjukkan kepada jalan kebenaran dan kelurusan dalam kehidupan mereka dan ketika mereka meninggal. (Taudhihul Ahkam min Bulughil Maram, 3/152)
11 HR. Muslim no. 920
12 Demikian jawaban yang diberikan Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin t ketika ada yang bertanya kepada beliau tentang hal ini. (Majmu’ Fatawa wa Rasa`il Fadhilatusy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, 17/340, 352)
13 HR. Ahmad, Ibnu Majah no. 1610, dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Ibnu Majah dan Al-Misykat no. 1739.
14 Sebagaimana dikumpulkan dalam kitab kumpulan fatwa beliau berjudul Majmu’ Fatawa wa Rasa`il Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin, fatawa Al-Fiqh, Al-Jana`iz, 17/411-412.
15 Berkumpul-kumpul di rumah duka atau di tempat lain secara khusus disertai adanya jamuan dari tuan rumah untuk memperingati kematian salah seorang keluarga si tuan rumah.
16 Sebagaimana hadits yang diriwayatkan Abu Dawud dalam Sunan-nya, no. 3128, kitab Al-Jana`iz, bab Fin Nauh. Namun didhaifkan sanadnya oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Dha’if Abi Dawud.
17 Sebagaimana hadits yang diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya.
18 Dalam hal ini terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama. Silakan dilihat pada Rubrik Problema Anda edisi ini.
19 Walaupun ada ahlul ilmi yang memakruhkannya seperti Sufyan Ats-Tsauri, beliau mengatakan: “Membuat makanan untuk keluarga mayat itu adalah perbuatan orang-orang jahiliyyah.” (Al-Hawil Kabir, 3/66)
20 HR. At-Tirmidzi no. 998, Ibnu Majah no. 1610. Dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Tirmidzi dan Al-Misykat no. 1739

Ummu Hani’ Bintu Abi Thalib Al-Hasyimiyah

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Abdirrahman Anisah bintu ‘Imran)

Dia begitu mengerti tentang agungnya hak seorang suami. Dia pun mengerti tentang hak anak-anak yang ditinggalkan suaminya dalam asuhannya. Dia tak ingin menyia-nyiakan satu pun dari keduanya, hingga dia dapatkan pujian yang begitu mulia, “Sebaik-baik wanita penunggang unta adalah wanita Quraisy, sangat penyayang terhadap anak-anaknya.”

Dia bernama Fakhitah, seorang wanita dari kalangan bangsawan Quraisy. Putri paman Rasulullah n, Abu Thalib Abdu Manaf bin Abdil Muththalib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushay. Ibunya bernama Fathimah bintu Asad bin Hasyim bin Abdi Manaf. Dia saudari sekandung ‘Ali, ‘Aqil dan Ja’far, putra-putra Abu Thalib.
Semasa jahiliyah, Rasulullah n pernah meminangnya. Pada saat bersamaan, seorang pemuda bernama Hubairah bin Abi Wahb Al-Makhzumi pun meminangnya pula. Abu Thalib menjatuhkan pilihannya pada Hubairah hingga akhirnya Abu Thalib menikahkan Hubairah dengan putrinya. Dari pernikahan ini, lahirlah putra-putra Hubairah, di antaranya Ja’dah bin Hubairah yang kelak di kemudian hari diangkat ‘Ali bin Abi Thalib z -ketika menjabat sebagai khalifah- sebagai gubernur di negeri Khurasan. Putra-putra yang lainnya adalah `Amr –yang dulunya Ummu Hani` berkunyah dengannya, namun putranya ini meninggal ketika masih kecil– serta Hani` dan Yusuf.
Namun pada akhirnya, Islam memisahkan mereka berdua. Ketika Allah I membukakan negeri Makkah bagi Rasul-Nya n dan manusia berbondong-bondong masuk Islam, Ummu Hani` x pun berislam bersama yang lainnya. Mendengar berita keislaman Ummu Hani`, Hubairah pun melarikan diri ke Najran.
Pada hari pembukaan negeri Makkah itu, ada dua kerabat suami Ummu Hani` dari Bani Makhzum, Al-Harits bin Hisyam dan Zuhair bin Abi Umayyah bin Al-Mughirah, datang kepada Ummu Hani` untuk meminta perlin-dungan. Waktu itu datang pula ‘Ali bin Abi Thalib z menemui Ummu Hani` sambil menga-takan, “Demi Allah, aku akan membunuh dua orang tadi!” Ummu Hani` pun menutup pintu rumahnya dan bergegas menemui Rasulullah n.
Saat itu Rasulullah n tengah mandi, ditutup oleh putri beliau, Fathimah x dengan kain. Ummu Hani` pun mengucapkan salam, hingga Rasulullah n bertanya, “Siapa itu?” “Saya Ummu Hani`, putri Abu Thalib,” jawab Ummu Hani`. Rasulullah n pun menyam-butnya, “Marhaban, wahai Ummu Hani`!”
Lalu Ummu Hani` mengadu kepada Rasulullah n tentang kedatangan dua kerabat suaminya untuk meminta perlindungan kepadanya sementara ‘Ali berkeinginan membunuh mereka. Maka beliau pun menjawab, “Aku melindungi orang yang ada dalam perlindunganmu dan memberi jaminan keamanan pada orang yang ada dalam jaminan keamananmu.” Usai mandi, Rasulullah n menunaikan shalat delapan rakaat. Waktu itu adalah waktu dhuha.
Setelah Ummu Hani` berpisah dari suaminya karena keimanan, Rasulullah n datang untuk meminang Ummu Hani`. Namun dengan halus Ummu Hani` menolak, “Sesungguhnya aku ini seorang ibu dari anak-anak yang membutuhkan perhatian yang menyita banyak waktu. Sementara aku mengetahui betapa besar hak suami. Aku khawatir tidak akan mampu untuk menunaikan hak-hak suami.” Maka Rasulullah n mengurungkan niatnya. Beliau mengatakan, “Sebaik-baik wanita penunggang unta adalah wanita Quraisy, sangat penyayang terhadap anak-anaknya.”
Ummu Hani` x meriwayatkan hadits-hadits dari Rasulullah n yang hingga saat ini termaktub dalam Al-Kutubus Sittah. Dia pun menyebarkan ilmu yang telah dia dulang hingga saat akhir kehidupannya, jauh setelah masa khilafah saudaranya, ‘Ali bin Abi Thalib z, pada tahun ke-50 H. Ummu Hani` Al-Hasyimiyyah, semoga Allah I meridhainya….
Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.

Sumber Bacaan:
q Al-Bidayah wan Nihayah, Al-Imam Ibnu Katsir (4/292-293)
q    Al-Ishabah, Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqalani (7/317)
q Al-Isti’ab, Al-Imam Ibnu Abdil Barr (4/1963-1964)
q Ath-Thabaqatul Kubra, Al-Imam Ibnu Sa’d (8/47)
q    Siyar A’lamin Nubala`, Al-Imam Adz-Dzahabi (2/311-314)
q Tahdzibul Kamal, Al-Mizzi (35/389-390)

Kebaikanku Untukmu

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Abdirrahman Anisah bintu ‘Imran)

Ketika melihat seorang anak yang berperangai buruk, tak jarang orang berkata: Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Pepatah ini menggambarkan bahwa keadaan seorang anak (utamanya dalam hal watak) biasanya tak beda jauh dengan keadaan orang tuanya. Barangkali memang ada benarnya. Di dalam syariat Islam juga diterangkan bahwa amalan yang biasa dikerjakan orang tua, entah baik atau buruk, sangat berpengaruh terhadap pembentukan karakter anak-anaknya. Karenanya, orang tua dianjurkan untuk banyak melakukan amal shalih agar bisa menular kepada anak-anaknya.

Setiap orang tua yang mendambakan anak-anaknya menjadi anak yang shalih selayaknya tak hanya memfokuskan perhatian pada tingkah laku anak-anaknya semata. Semestinya dia juga tidak melalaikan dirinya. Dia akan membiasakan dan menyibukkan dirinya dengan amalan-amalan yang baik, karena kebaikan yang dia lakukan akan membuahkan kebaikan bagi sang anak di dunia dan di akhirat kelak. Sebaliknya, dia akan berupaya menjauhi perbuatan-perbuatan buruk, karena hal itu akan menimbulkan pengaruh buruk dalam perja-lanan mendidik anak-anaknya.
Terkadang bentuk balasan amalan orang tua terwujud pada diri anak-anaknya, baik dalam bentuk kebaikan si anak, penjagaan, kelapangan rizki serta kesehatan mereka, ataupun dalam bentuk penyimpangan mereka, musibah, penyakit dan segala problem yang menimpa mereka. Oleh karena itulah orang tua harus memperbanyak amalan shalihah hingga dampaknya pun mengalir pada diri anak-anaknya.
Perbuatan baik yang dilakukan orang tua akan berbuah barakah dan balasan yang baik dari sisi Allah I. Hal ini tercermin dalam kisah yang terabadikan dalam Al-Qur`an, tatkala Nabiyullah Musa u bersama Nabiyullah Khidhir u mendatangi suatu daerah dan meminta penduduknya agar menjamu mereka. Namun penduduk di daerah itu menolak. Lalu mereka berdua mendapati di situ ada sebuah dinding yang miring hampir roboh. Nabi Khidhir u pun memperbaikinya hingga membuat Nabi Musa u keheranan dan mengatakan, “Seandainya engkau mau, engkau bisa meminta upah dari mereka.”
Ternyata inilah jawaban dari peristiwa yang mengherankan itu:

“Adapun dinding itu milik dua orang anak yatim di kota ini dan di bawahnya tersimpan harta milik mereka berdua, sementara ayah mereka adalah seorang yang shalih. Maka Rabbmu menghendaki mereka berdua mencapai usia dewasa dan mengeluarkan harta simpanan itu sebagai rahmat dari Rabbmu.” (Al-Kahfi: 82)
Keadaan kedua anak yatim itu menimbulkan perasaan iba dan kasih sayang terhadap mereka, karena mereka adalah dua orang anak kecil yang tak memiliki ayah. Maka Allah I menjaga mereka berdua karena kebaikan ayah mereka. (Taisirul Karimir Rahman, hal. 483)
Kalam Allah I ini menunjukkan bahwa seorang yang shalih akan terjaga keturunannya dan barakah ibadahnya akan meliputi mereka di dunia dan di akhirat nanti dengan adanya syafaat orang yang shalih itu bagi keturunannya, serta diangkat derajat anak keturunannya itu hingga mencapai derajat paling tinggi di dalam surga, agar menyenangkan hati orang shalih tersebut, sebagaimana hal ini pun dijelaskan oleh Al-Qur`an dan As-Sunnah.
Sa’id bin Jubair t meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas c, “Mereka berdua dijaga dengan sebab keshalihan ayah mereka.” (Tafsir Ibnu Katsir, 5/141)
Di samping itu, orang tua harus menjaga makanan, minuman dan pakaian yang dikena-kannya. Hal ini jelas memiliki pengaruh pada ke-shalihan anak, karena orang tua tak lepas dari doa kebaikan bagi anak-anak mereka. Dengan demikian, dia mena-dahkan tangan untuk memohon kebaikan anak-anak mereka kepada Allah I dengan tangan yang bersih dan jiwa yang suci, hingga terkabul permohonan-nya.

“Sesungguhnya Allah hanya menerima amalan orang-orang yang bertakwa.” (Al-Ma`idah: 27)
Tentang hal ini, Abu Hurairah z menyampaikan bahwa Nabi n bersabda:

“Wahai manusia, sesungguhnya Allah itu baik dan tidak menerima kecuali yang baik, dan Allah memerintahkan kepada orang-orang yang beriman apa yang Dia perintahkan terhadap para rasul. Allah berfirman, ‘Wahai para rasul, makanlah makanan yang baik-baik dan berbuatlah amalan shalih, sesungguhnya Aku Maha Mengetahui segala yang kalian perbuat.’ Dan Allah berfirman, ‘Wahai orang-orang yang beriman, makanlah makanan yang baik yang Kami rizkikan kepada kalian.’ Kemudian beliau menyebutkan tentang seseorang yang menem-puh perjalanan panjang dalam keadaan kusut masai rambutnya dan berdebu, menadahkan kedua tangannya ke langit, ‘Wahai Rabbku, wahai Rabbku!’, sementara minumannya haram, makanannya haram, pakaiannya haram, dan disuapi dengan sesuatu yang haram. Bagaimana bisa dikabulkan doanya?” (HR. Muslim no. 1015)
Diriwayatkan, salah seorang dari kalangan Salaf berkata kepada anaknya:

“Wahai anakku, sungguh aku akan memperbanyak shalatku karenamu.”
Sebagian ulama mengatakan bahwa maknanya: Aku akan shalat sebanyak mungkin dan berdoa sebanyak mungkin dalam shalatku. (Fiqh Tarbiyatil Abna`, hal. 22)
Sisi lain pentingnya amalan shalih orang tua bagi anak, anak yang senantiasa melihat orang tuanya melaksanakan ketaatan dan kebaikan akan mendapati teladan yang baik. Anak akan mencontoh perbuatan baik yang dilakukan orang tuanya, hingga dia pun akan terbiasa melakukannya. Sebaliknya, anak yang biasa menyaksikan perbuatan-perbuatan mungkar yang dilakukan orang tuanya akan terbiasa dengan hal itu dan dia pun akan mencontoh perbuatan mungkar itu pula. Wal ‘iyadzu billah!
Selain itu pula, amalan shalih orang tua akan membuahkan pujian orang terhadap si anak. Apabila orang memuji dan menyebut-nyebut kebaikan yang dilakukan orang tua di hadapan si anak, anak pun akan besar jiwanya dan termotivasi untuk turut melakukan per-buatan-perbuatan yang baik. Sementara amalan buruk akan menggiring celaan dan hinaan orang terhadapnya. Apabila seorang anak mendengar orang-orang menjulukinya dengan julukan jelek maupun mencelanya karena perbuatan ayahnya, hal ini pun nantinya akan mempengaruhi dan merusak jiwa anak.
Tak hanya di dunia buah kebaikan itu dapat diraih, bahkan di akhirat pun anak akan menuai kebaikan karena keshalihan orang tuanya. Demikian yang difirmankan Allah I:

“Dan orang-orang yang beriman dan yang anak keturunan mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, akan Kami pertemukan anak keturunan mereka itu dengan mereka dan Kami tidak mengurangi pahala amalan mereka sedikit pun. Setiap orang terikat dengan apa yang diusahakannya.” (Ath-Thur: 21)
Dalam firman-Nya ini Allah I menga-barkan tentang keutamaan-Nya, kederma-wanan-Nya, anugerah-Nya, kelembutan-Nya terhadap makhluk-makhluk-Nya serta kebaikan-Nya, bahwa orang-orang yang beriman apabila anak keturunan mereka mengikuti mereka dalam keimanan, maka Allah I akan mempertemukan anak keturunan itu dengan ayah mereka yang shalih, walaupun amalan anak keturunan itu tidak bisa menyamai amalan ayah mereka, untuk menyenangkan hati ayah mereka dengan adanya anak keturunan itu di sisinya. Maka Allah I menghimpun mereka dalam bentuk yang paling baik, dengan mengangkat derajat orang yang kurang sempurna amalannya di sisi orang yang sempurna amalannya, tanpa mengurangi pahala amalan dan derajat orang yang sempurna amalannya tersebut. (Tafsir Ibnu Katsir, 7/332)
Demikian pulalah doa para malaikat yang memikul ‘Arsy dan para malaikat yang di sekeliling ‘Arsy bagi orang-orang yang beriman:

“Wahai Rabb kami, masukkanlah mereka ke dalam surga `Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka beserta orang-orang yang shalih dari kalangan ayah-ayah mereka, istri-istri mereka dan anak-anak mereka.” (Ghafir: 8)
Para malaikat itu memohon, kumpulkan-lah di antara mereka untuk menyenangkan hati mereka dengan mempertemukan mereka pada tempat-tempat yang berdampingan. (Tafsir Ibnu Katsir, 7/98)
Dengan begitu, layaklah kiranya setiap orang tua mempersiapkan segala amalan shalih yang tak hanya membawa kebaikan bagi dirinya. Namun lebih dari itu, kebaikan itu pun akan merambah pada anak keturunannya di dunia dan di akhirat.
Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.

Ada Saatnya…

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Zulfa Husein Al-Atsariyyah)

Manusia tidak selamanya bisa menghadirkan hati untuk selalu mengingat akhirat. Dalam hidup berumah tangga, ada saat-saat bagi kita untuk bercanda dengan anak-anak, bermesraan dengan suami, dan kesenangan-kesenangan dunia lainnya. Bagaimana mengelola itu semua sehingga kehidupan kita senantiasa dalam naungan syariat?

Mungkin pernah terlintas di benak kita bahwa hari-hari bersama suami dan anak-anak kadang dipenuhi dengan kelalaian. Kita disibukkan untuk melayani mereka, mengurusi dan mempersiapkan kebutuhan mereka. Belum lagi menyempatkan diri untuk duduk bermes-raan dan bercengkerama dengan suami, ditambah dengan bermain dan bersenda gurau dengan anak-anak. Bersama mereka, kita selalu tertawa dan seakan lupa dengan kehidupan setelah kehidupan ini. Bersama mereka, seakan kita merasa kebersamaan ini akan kekal, tidak akan ada perpisahan. Yang ada hanyalah kebahagiaan demi kebahagiaan, kesenangan demi kesenangan. Bersama mereka seakan kita hidup hanya untuk dunia… Bersama mereka kita terbuai, lupa dan lalai…
Namun saat duduk sendiri dalam keheningan malam, bersimpuh di hadapan Ar-Rahman, ketika orang-orang yang dikasihi sedang terlelap dalam mimpi-mimpi indah mereka, timbul ingatan dan kesadaran bahwa semua itu tidaklah kekal, bahwa ada saat perjumpaan dengan Ar-Rahman. Di sana ada kenikmatan yang menanti dan ada azab yang tak terperikan. Hati menjadi lunak hingga mata pun mudah meneteskan butiran beningnya, terasa tak ingin berpisah dengan perasaan seperti ini. Ingin selalu rasa ini menyertai, ingin selalu tangis ini mengalir membasahi pipi…. Ingin dan ingin selalu ingat dengan akhirat, berpikir tentang akhirat di sepanjang waktu tanpa lupa sedetik pun dan tanpa lalai sekerdip mata pun.
Demikian pula ketika kita duduk di majelis dzikir, majelis ilmu yang haq, mendengar ceramah seorang ustadz tentang dunia dengan kefanaan dan kerendahannya, tentang akhirat dengan kemuliaannya, tentang targhib dan tarhib, tentang kenikmatan surga dan azab neraka… Kembali kita ingat bahwa tawa canda dan kegembiraan kita dalam rumah tangga, bersama suami dan anak-anak, adalah kefanaan. Ada kehidupan setelah kehidupan dunia yang hanya sementara ini.
Pikiran seperti ini bisa saja suatu saat timbul di benak kita, sehingga terkadang membuat kita terusik, didera keresahan dan kebimbangan. Benarkah sikapku? Salahkah perbuatanku?
Saudariku…
Perasaan yang mungkin agak mirip dengan yang pernah engkau rasakan juga pernah dialami para shahabat Rasulullah n yang mulia. Hanzhalah Al-Asadi z seorang shahabat yang terhitung dalam jajaran juru tulis Rasulullah n bertutur:
Suatu ketika, aku berjumpa dengan Abu Bakr Ash-Shiddiq z.
“Ada apa denganmu, wahai Hanzhalah?” tanyanya1.
“Hanzhalah ini telah berbuat nifaq,” jawabku.
“Subhanallah, apa yang engkau ucapkan?” tanya Abu Bakr.
“Bila kita berada di sisi Rasulullah n, beliau mengingatkan kita tentang neraka dan surga hingga seakan-akan kita bisa melihatnya dengan mata kepala kita. Namun bila kita keluar meninggalkan majelis Rasulullah n, istri, anak dan harta kita (sawah ladang ataupun pekerjaan, –pent.) menyibukkan kita2, hingga kita banyak lupa/ lalai,” kataku.
“Demi Allah, kami juga menjumpai yang semisal itu3,” Abu Bakr menanggapi perasaan Hanzhalah.
Aku pun pergi bersama Abu Bakar menemui Rasulullah n hingga kami dapat masuk ke tempat beliau n.
“Hanzhalah ini telah berbuat nifaq, wahai Rasulullah,” kataku.
“Apa yang engkau katakan? Mengapa engkau bicara seperti itu?” tanya beliau n.
“Wahai Rasulullah, bila kami berada di sisimu, engkau mengingatkan kami tentang neraka dan surga hingga seakan-akan kami dapat melihatnya dengan mata kepala kami. Namun bila kami keluar meninggalkan majelismu, istri, anak dan harta kami (sawah ladang ataupun pekerjaan, –pent.) melalaikan kami, hingga kami banyak lupa/ lalai4,” jawabku.
Mendengar penuturan yang demikian itu, Rasulullah n bersabda:

“Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya kalian tetap berada dalam perasaan sebagaimana yang kalian rasakan ketika berada di sisiku dan selalu ingat demikian, niscaya para malaikat akan menjabat tangan kalian di atas tempat tidur kalian dan di jalan-jalan kalian. Akan tetapi wahai Hanzhalah, ada saatnya begini dan ada saatnya begitu.” Rasulullah n mengucapkannya tiga kali. (HR. Muslim no. 6900, kitab At-Taubah, bab Fadhlu Dawamidz Dzikr wal Fikr fi Umuril Akhirah wal Muraqabah, wa Jawazu Tarki Dzalik fi Ba’dhil Auqat wal Isytighal bid Dunya)
Dalam riwayat lain disebutkan sabda Rasulullah n di atas dengan lafadz:

“Wahai Hanzhalah, ada saatnya begini, ada saatnya begitu. Seandainya hati-hati kalian senantiasa keadaannya sebagaimana keadaan ketika ingat akan akhirat, niscaya para malaikat akan menjabat tangan kalian, hingga mereka mengucapkan salam kepada kalian di jalan-jalan.” (HR. Muslim no. 6901)
Hanzhalah z dengan kemuliaan dirinya sebagai salah seorang shahabat Rasulullah n , tidaklah membuatnya merasa aman dari makar Allah I. Bahkan ia merasa khawatir bila ia termasuk orang munafik, karena saat berada di majelis Nabi n rasa khauf (takut kepada Allah I dan azab-Nya yang pedih) terus menyertainya, dibarengi muraqabah (merasa terus dalam pengawasan Allah I), berpikir dan menghadapkan diri kepada akhirat. Namun ketika keluar meninggalkan majelis Rasulullah n, ia disibukkan dengan istri, anak-anak dan penghidupan dunia. Hanzhalah khawatir hal itu merupakan kemunafikan, maka Nabi n pun mengajari Hanzhalah dan para shahabat yang lain bahwa keadaan seperti itu bukanlah kemunafikan. Karena mereka tidaklah dibebani untuk terus menerus harus memikirkan dan menghadapkan diri hanya pada kehidupan akhirat. Ada waktunya begini dan ada waktunya begitu. Ada saatnya memikirkan akhirat dan ada saatnya mengurusi penghidupan di dunia. (Al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim, 17/70)
Ketika Hanzhalah z mengeluhkan perasaan dan keadaan dirinya yang demikian itu, Rasulullah n menyatakan bila keadaannya sama dengan keadaannya ketika bersama beliau, merasa hatinya itu lunak dan takut kepada Allah. Terus keadaannya demikian di mana pun ia berada, niscaya para malaikat dengan terang-terangan akan menyalaminya di majelisnya, di atas tempat tidurnya dan di jalan-jalannya.
Namun yang namanya manusia tidaklah bisa demikian. Ada waktunya ia bisa menghadirkan hatinya untuk mengingat akhirat, dan ada saatnya ia lemah dari ingatan akan akhirat. Ketika waktunya ingat akan akhirat, ia bisa menunaikan hak-hak Rabbnya dan mengatur perkara agamanya. Saat waktunya lemah, ia mengurusi bagian dari kehidupan dunianya ini. Dan tidaklah seseorang dianggap munafik bila demikian keadaannya, karena masing-masingnya merupakan rahmah atas para hamba. (Tuhfatul Ahwadzi, kitab Shifatul Qiyamah war Raqa`iq wal Wara’, bab ke 59, Syarhu Sunan Ibni Majah, 2/560)
Al-Imam As-Sindi t menjelaskan sabda Nabi n () : “Nabi n memperingatkan mereka bahwa biasanya hati itu tidak selamanya dapat dihadirkan untuk selalu ingat akhirat. Namun hal itu tidaklah memudharatkan bagi keberadaan iman di dalam hati, karena kelalaian/ saat hati itu lupa tidaklah melazimkan (mengharuskan) hilangnya keimanan.” (Syarhu Sunan Ibni Majah, 2/559-560)
Demikianlah ajaran yang diberikan Rasulullah n kepada umatnya, kepada para suami dan tentunya juga untuk para istri. Kesibukan dalam rumah tangga, bersenda gurau dengan suami dan bermain-main dengan anak-anak hingga kadang membuat lupa dan lalai, bukanlah suatu dosa yang dapat menghilangkan keimanan dalam hati.
Ada saatnya memang manusia itu lupa dan lalai karena memang demikian tabiat mereka yang Allah I ciptakan. Yang dicela hanyalah bila ia terus tenggelam dalam kelalaian, ridha terlena dengan keadaan yang demikian, dan memang enggan untuk bangkit memperbaiki diri. Pikirannya hanya dunia dan dunia, tanpa mengingat akhirat. Namun bila terkadang lupa kemudian ingat, ia bersemangat kembali. Demikianlah sifat manusia, manusia bukanlah malaikat yang mereka memang diciptakan semata untuk taat dan selalu beribadah kepada Allah I, selalu mengerjakan dengan sempurna apa yang diperintahkan, tanpa lalai sedikitpun.

“Dan malaikat-malaikat yang di sisi-Nya, mereka tiada mempunyai rasa angkuh untuk beribadah kepada-Nya dan tidak pula mereka merasa letih. Mereka selalu bertasbih kepada Allah siang dan malam tiada hentinya-hentinya.” (Al-Anbiya`: 19-20)
Para malaikat itu tidak pernah lelah, tidak pernah bosan dan jenuh karena kuatnya raghbah (harapan) mereka (kepada Allah I), sempurna-nya mahabbah (cinta) mereka, dan kuatnya tubuh mereka. Mereka tenggelam dalam ibadah dan bertasbih di seluruh waktu mereka. Sehingga tidak ada waktu mereka yang terbuang sia-sia dan tidak ada waktu mereka yang luput dari ketaatan. Tujuan mereka selalu lurus, sebagaimana lurusnya amalan mereka. Dan mereka diberi kemampuan untuk melakukan semua itu, sebagaimana Allah I berfirman:

“Mereka tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (At-Tahrim: 6) [Al-Mishbahul Munir fi Tahdzib Tafsir Ibni Katsir hal. 862, Taisir Al-Karimir Rahman hal. 520-521]
Itulah sifat-sifat malaikat Allah I yang mulia. Dan manusia, sekali lagi bukanlah malaikat. Pada diri manusia ada kelalaian dan sifat lupa. Kadang semangat dalam menjalankan ketaatan, kadang pula futur (lemah semangat). Kadang hatinya tersibukkan mengingat kematian dan kampung akhirat, kadang pula ia sibuk mengurus dunianya. Begitulah sifat manusia, ada saatnya begini, ada saatnya begitu. Dan orang yang demikian keadaannya tidaklah bisa dicap munafik, sebagaimana Rasulullah n menolak cap seperti itu ketika diucapkan oleh Hanzhalah z.
Dengan penjelasan di atas, kita berharap dapat mengambil pelajaran bahwa kita tidaklah dituntut untuk menjadi seorang yang ghuluw (berlebihan melampaui batas). Sehingga karena tak ingin dilalaikan dengan kesibukan rumah tangga, dengan suami dan anak, kita pun memilih hidup membujang agar bisa sepenuhnya beribadah kepada Allah I. Atau jika kita sudah berumah tangga, lalu kita terapkan sikap ekstrim; tidak boleh ada canda tawa dengan suami, tak boleh ada gurauan karena dianggap sia-sia, harus diam berzikir. Tidak ada berkasih mesra karena membuang waktu dan itu hanyalah perbuatan ahlud dunya, orang-orang yang cinta dunia, sementara kita orientasinya akhirat. Tidak perlu mengajak anak-anak bermain. Rumah tidak perlu terlalu diurusi dan ditata, masak sekedarnya tidak usah enak-enak, tidak perlu ada perawatan tubuh dan kecantikan, tidak perlu repot dengan dandanan dan penampilan di depan suami, tidak mengapa pakai baju yang sudah sobek, semuanya sekedarnya… Toh ini cuma kehidupan dunia, toh semua ini melalaikan dan buang waktu… Benarkah? Tentunya tidak! Bila ada seorang istri yang melakukannya atau berpikir seperti itu, maka benar-benar hal itu bersumber dari kebodohannya.
Tapi kita katakan, urusilah rumah tanggamu dengan baik. Perhatikan suami dan anak-anakmu. Usahakan untuk memberikan yang terbaik dan ternyaman untuk mereka, baik dari sisi pelayanan, penyediaan makanan, penataan rumah dan sebagainya sesuai dengan kemampuan yang ada dengan tiada memberatkan. Kalau dikatakan hal itu melalaikan dari akhirat maka jawabannya hadits Hanzhalah z di atas.
Dan tengok pula rumah tangga nabawiyyah yang kerap kami singgung kisahnya dalam rubrik ini. Bagaimana Rasulullah n berumah tangga dan bagaimana istri-istri beliau, demikian pula istri-istri para shahabat y. Merekalah sebaik-baik contoh.
Demikianlah, semoga Allah I memberi taufik kepada kita semua. Amin!!!
Wallahul musta’an, wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Catatan Kaki:

1 Karena saat itu Hanzhalah melewati Abu Bakr dalam keadaan Hanzhalah menangis. (Sebagaimana disebutkan dalam riwayat At-Tirmidzi dalam Sunannya no. 2514)
2 Karena kita harus memperbaiki penghidupan/mata pencaharian kita dan mengurusi mereka. (Al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim, 17/70)
Dalam riwayat lain, Hanzhalah z berkata mengeluhkan keadaan dirinya: “Kemudian aku pulang ke rumah lalu tertawa ceria bersama anak-anakku dan bermesraan dengan istriku.” (HR. Muslim no. 6901)
3 Dalam riwayat lain, Abu Bakar Ash-Shiddiq z berkata: “Aku juga melakukan seperti apa yang engkau sebutkan.”
4 Seakan-akan kami belum pernah mendengar sesuatu pun darimu. (Tuhfatul Ahwadzi, kitab Shifatul Qiyamah war Raqaiq wal Wara’, bab ke 59)

Berkumpulnya Keluarga Mayit untuk Menerima Ta’ziyah setelah Mayit Dimakamkan

Sebuah pertanyaan diajukan kepada Asy-Syaikh Shalih Alusy-Syaikh: Saya memiliki sebuah pertanyaan yang penting sekali. Telah banyak perbincangan dalam masalah ta’ziyah kepada keluarga mayit dan duduknya keluarga mayit untuk menerima orang-orang yang berta’ziyah. Sungguh saya telah bertanya kepada salah seorang ulama besar di negeri yang baik ini (yakni Saudi Arabia, red), dan ia mengatakan tidak mengapa seseorang menentukan suatu hari dan duduk untuk menerima ta’ziyah. Dalilnya adalah bahwasanya ketika datang berita tentang kematian Ja’far, pada wajah Rasulullah n nampak kesedihan dan beliau duduk serta menerima ta’ziyah dari para shahabat. Namun hal ini tanpa membuat makanan, walaupun tidak mengapa juga kalau sekedar teh, kopi, atau air putih. Dan seorang penuntut ilmu menentang penjelasan ini, sembari mengatakan bahwa tidak boleh duduk untuk menerima ta’ziyah di rumah, dan ini termasuk bid’ah, dan termasuk niyahah (meratapi mayit). Dalilnya adalah hadits dalam Shahih Al-Bukhari: “Dahulu kami menganggap duduk-duduk setelah dimakamkannya mayit serta membuat makanan untuk mereka yang duduk-duduk itu termasuk niyahah.” Kami mengharapkan keterangan dan perincian dari anda, karena telah terjadi problem dan perselisihan antara para penuntut ilmu dan orang-orang awam dalam masalah ini.

Jawab:
Niyahah atau meratapi mayit termasuk perkara-perkara jahiliyah. Dan telah shahih dari Nabi n, bahwa beliau mengatakan:

“Dua perkara pada umat manusia yang dengan keduanya mereka kufur, yaitu mencela nasab dan meratapi mayit.”
Meratapi mayit termasuk perkara jahiliyah. Namun hal yang penting adalah, apa gambaran meratapi mayit? Meratapi mayit yang ditafsirkan oleh ulama salaf –yang saya maksud adalah para shahabat– memiliki beberapa gambaran. Dan di antara gambaran niyahah dalam bentuk berkumpulnya manusia untuk melakukan ta’ziyah adalah perkumpulan yang mengandung dua perkara:
1.    Ada perkumpulan untuk ta’ziyah dan duduk-duduk dalam waktu yang lama di sana
2.    Di sana terdapat pembuatan makanan dari keluarga mayit untuk memuliakan orang-orang yang duduk-duduk tersebut, dan berbangga dengan banyaknya orang yang tetap di situ untuk menampakkan musibah pada mayit itu. Inilah yang dikatakan oleh Abu Ayyub z:

“Kami menganggap duduk-duduk di keluarga mayit dan pembuatan makanan yang mereka lakukan, termasuk niyahah.”
Jadi, niyahah atau meratapi mayit adalah yang tekumpul padanya dua hal secara bersamaan, yaitu duduk-duduk dan pembuatan makanan. Adapun sekedar ta’ziyah, maka saya tidak mengetahui seorangpun dari ulama salaf yang mengatakan bahwa hal itu saja termasuk niyahah, atau bahwa hal itu dilarang.
Bahkan dalam Shahih Al-Bukhari disebutkan bahwa apabila seorang kerabat ‘Aisyah x meninggal maka para wanita berkumpul kepada ‘Aisyah x. Dan apabila datang waktu makan, ‘Aisyah x meminta untuk didatangkan bejana kemudian dipersiapkan (hidangan) sehingga mereka –yakni orang yang sedikit yang merupakan kerabat Aisyah x– minum atau makan dari-nya. Dan ini menunjukkan bahwa berkumpul dan duduk-duduk, bila tidak disertai perkara-perkara mungkar yang lain, maka tidak apa-apa.
Dan ketika para ulama dari kalangan imam-imam Ahlus Sunnah dan ahlul hadits melarang (dari hal ini), mereka melarang dari dua perkara ini secara bersamaan. Mereka mengatakan bahwa sunnahnya adalah tidak duduk-duduk untuk berta’ziyah. Namun untuk dikatakan bahwa duduk saja disebut niyahah walaupun tanpa pembuatan makanan, tidak semestinya dikatakan demikian. Dan sepantas-nya tidak pula hal ini dinisbatkan kepada salah seorang imam, atau shahabat Nabi n, atau tabi’in.
Duduk-duduk itu sendiri diperselisihkan hukumnya, apakah boleh (disyariatkan) atau tidak disyariatkan. Dan hal ini tidaklah termasuk niyahah, kecuali bila dibarengi dengan pembuatan makanan dari keluarga mayit untuk berbangga-bangga, agar mereka (orang-orang yang ta’ziyah) tetap berada di keluarga mayit setiap hari, (agar dikatakan) betapa banyaknya orang yang suka dengannya, lihatlah rumahnya, setiap hari mereka menyembelih. Sehingga hal ini menjadi kebanggaan, dan ingin menampak-kannya. Inilah yang dahulu dilakukan orang-orang jahiliyah.
Adapun duduk-duduknya keluarga mayit untuk menerima ta’ziyah, hal ini diperselisihkan oleh para ulama. Mayoritas ulama berpendapat bahwa sunnahnya adalah tidak boleh dikhususkan untuk duduk-duduk, baik itu 3 hari atau 7 hari. Dan ini berkaitan dengan zaman dahulu, yakni dilihat dari sisi zaman mereka, atau desa, atau tempat-tempat yang mungkin dilaksanakannya sunnah ta’ziyah tanpa memerlukan orang yang dita’ziyahi duduk di rumahnya. Kenapa? Karena zaman itu, di daerahnya, bila dia tidak duduk di rumah maka dia akan duduk-duduk di pasar, atau duduk-duduk di masjid. Yakni, bahwa daerah itu dekat, seorang mungkin bisa menemuinya di waktu pagi, atau menemuinya di waktu Ashar. Tempatnya mudah diketahui. Adapun bila dia tidak duduk untuk menerima ta’ziyah akan mengakibatkan terlewatkannya ta’ziyah, maka:

“Sarana-sarana itu memiliki hukum-hukum tujuan-tujuannya secara syar’i.”
Oleh karena itu, orang-orang yang kami lihat tidak duduk menerima ta’ziyah –karena mengambil fatwa sebagian syaikh dalam masalah ini–, membuat manusia kehilangan kesempatan untuk berta’ziyah kepada mereka dan menghibur mereka dalam musibah mereka. Karena dia sedang berada di tempat kerjanya, atau di rumah temannya, atau di pasar, atau pergi tidak diketahui di mana keberadaannya sekarang. Bahkan sebagian mereka sengaja keluar dari rumah untuk tidak duduk di situ menerima ta’ziyah. Ini semua menyelisihi kebenaran, karena ta’ziyah itu disyariatkan dan sarana untuk ta’ziyah hukumnya seperti hukum ta’ziyah.
Apabila duduk untuk ta’ziyah tidak disertai kemungkaran dan tidak ada padanya niyahah atau pembuatan makanan dari keluarga mayit, maka ini masuk di dalam bab bahwa “sarana-sarana itu memiliki hukum seperti hukum tujuannya.”
Dan hadits Al-Bukhari yang saya sebutkan tadi berupa berkumpulnya para wanita di sisi Aisyah x menunjukkan hal ini. Wanita pada asalnya tidak boleh keluar rumah, lalu datang melakukan ta’ziyah kepada ‘Aisyah. Maka keadaan wanita saat itu yang berkumpul di sisi ‘Aisyah menunjukkan bahwa berkumpulnya mereka tanpa pembuatan makanan untuk berta’ziyah, tidak apa-apa. Ini adalah masalah yang penting dalam hal ini.
Sehingga bila ada kalangan ulama yang bersikap keras padanya, maka pendapatnya itu menyelisihi prinsip-prinsip yang saya sebutkan tadi, berupa sunnah, kaedah-kaedah dan pemahaman makna niyahah menurut orang-orang jahiliyah. Dan yang kami lihat dari para ulama kami di negeri ini dan selainnya –para ulama dakwah– mereka dahulu duduk-duduk, Berkumpulnya Keluarga…
Sambungan dari hal 71.
karena maslahat itu tidak akan terwujud kecuali dengan cara itu.1 Bila itu terlewatkan maka ta’ziyah akan terlewatkan dan sunnah ta’ziyah juga terlewatkan.
Di Riyadh sebagai contoh –di kota-kota besar– bagaimana engkau akan menemui orang yang engkau akan sampaikan ta’ziyah kepadanya? Engkau tidak akan bisa menemuinya. Akan terlewatkan darimu sunnah ta’ziyah karena tidak adanya duduk-duduk dari keluarga mayit. Sedangkan duduk-duduk itu sendiri diperselisihkan padanya.
Jadi masalah ini penting, dan ini kembali kepada: Apakah duduk-duduk itu memiliki sifat niyahah, sifat orang-orang jahiliyah atau tidak? Bagaimana duduk-duduk itu memiliki sifat jahiliyah? Yaitu bila duduk-duduk itu jelas padanya ada tangisan-tangisan (di luar kewajaran, pent), jelas padanya kebanggaan-kebanggaan, jelas padanya banyak-banyakan orang ta’ziyah seperti yang dilakukan sebagian kabilah atau sebagian penduduk badui, dan yang semacam itu. Bukan duduk-duduk untuk ta’ziyah saja, tetapi duduk untuk menampakkan kebanggaan dengan banyaknya orang yang datang untuk ta’ziyah atas wafatnya mayit ini. Adapun sekedar duduk saja tanpa niyahah, maka ini tidak apa-apa.
Jadi niyahah yang terlarang yang dijelaskan Sunnah Nabi n, yang dikatakan oleh shahabat tersebut di atas, adalah yang terkumpul padanya dua perkara –ada pada orang-orang jahiliyah– yaitu mereka berkumpul, berbangga dengan banyaknya jumlah yang datang, kemudian membuat makanan dari pihak mayit.

“Kami menganggap bahwa perkumpulan kepada keluarga mayit dan membuat makanan untuk mereka termasuk niyahah.”
Orang-orang duduk dan mereka (keluarga si mayit, red) membuat makanan. Maka jadilah dengan itu niyahah, karena itulah yang dituju yaitu menampakkan kebanggaan dan tangisan terhadap hilangnya orang tersebut.
…Ta’ziyah di mana pun bisa, karena yang dimaksud adalah tempat tersebut, orang-orang mengetahui tempat tersebut. Akan tetapi tidak boleh di kuburan karena kuburan bukan tempat untuk ta’ziyah dan bukan pula tempat untuk duduk-duduk.2
…Apabila keluarga mayit maka tidak mengapa, jangan sampai para penta’ziyah dalam jumlah 20, 30, 50 sehingga menjadi kebanggaan dengan banyaknya jumlah, jika itu dari keluarga mayit. Tapi sesuatu yang telah menjadi kebiasaan maka tidak apa-apa…2
…Pengumuman tentang kematian di koran-koran disebut dengan an-na’yu, bukan niyahah. Niyahah berbeda dengan an-na’yu. An-Na’yu dibenci dengan kebencian yang sangat, sebagian ulama menganggapnya haram. Akan tetapi an-na’yu yang diharamkan adalah yang mengandung tafakhur (berbangga-bangga), dengan menyebutkan kebaikan mayit diiringi dengan niat berbangga, baik sebelum ataupun setelah dikuburkannya.2
Akan tetapi bila ada orang yang memberi tahu kepada orang lain tentang kematian si mayit untuk menshalatinya, tanpa menyebutkan kebaikan-kebaikannya, keutamaan-keutamaannya, dan semacam itu, maka ini bukanlah an-na’yu yang dilarang.
Dan apa yang terdapat dalam kitab Ash-Shahih bahwa Nabi n memberitahukan kepada para sahabat tentang Najasyi yang pada hari itu meninggal, menunjukkan akan hal itu. Dan beliau mengatakan: “Shalatlah atas saudara kalian Ash-himah (yakni Najasyi, pent) karena dia telah meninggal.” Lalu Nabi n shalat bersama mereka dan beliau bertakbir empat kali, yakni melakukan shalat ghaib. Para shahabat mengungkapkan pemberitahuan tersebut dengan istilah an-na’yu, yakni mengabarkan tentang kematian Najasyi yang diiringi dengan kesedihan.
Sehingga apabila an-na’yu –yaitu pemberi-tahuan tentang kematian dan mengandung unsur kesedihan– dengan tujuan mengajak untuk menshalatinya, ini tidak apa-apa. Adapun untuk berbangga-bangga, atau supaya mereka berkumpul untuk melakukan ta’ziyah dan sejenisnya, maka yang seperti ini adalah an-na’yu yang dilarang.

(Diambil dari tanya-jawab pada pelajaran Syarh Al-’Aqidah Ath-Thahawiyyah, no. 34)

Catatan Kaki:

1 Dalam kesempatan lain beliau mengatakan: “Telah terjadi pembicaraan di kalangan ulama tentang hal ini. Dan pembicaraan antara para pemuda (penuntut ilmu) dan sebagian orang di masa ini, adalah karena adanya fatwa dari Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin bahwa sekedar berkumpul saja tidaklah disyariatkan, bahkan yang disyariatkan adalah berpencar-pencar. Sementara ulama kita yang lain, dan pada puncaknya adalah Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz dan yang lain mengatakan tidak apa-apa. Dan ini adalah pendapat yang lebih utama dan lebih kuat.” (Diambil dari pelajaran Syarah Ath-Thahawiyyah, pelajaran ke-42)
2 Tampaknya, di sini Asy-Syaikh menjawab beberapa pertanyaan langsung dari yang hadir, sehingga maksud beliau kurang begitu dimengerti.

Qalbu yang merasa Berat dengan Al-Qur’an

(ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar ZA Lc.)

Allah I berfirman:
“Berkatalah Rasul: ‘Ya Rabbku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur`an ini (mahjuran) suatu yang tidak dihiraukan.’” (Al-Furqan: 30)
Ibnu Katsir t menjelaskan: “Hal itu dikarenakan dahulu kaum musyrikin tidak mendengarkan Al-Qur`an. Mereka, bila dibacakan Al-Qur`an, jutru membikin keributan dan berbicara hal lain supaya tidak mendengarnya. Inilah (makna) menjadikan Al-Qur`an (mahjuran) suatu yang tidak dihiraukan.” (Tafsir Ibnu Katsir:3/329)
Ibnul Qayyim t menjelaskan juga bahwa sikap tak acuh terhadap Al-Qur`an ada beberapa macam:
1.    Tidak mau mendengarkan dan beriman dengannya.
2.    Meninggalkan pengamalannya dan tidak memperhatikan halal-haramnya meskipun membaca dan beriman dengannya.
3.    Tidak mau memutuskan hukum atau berhukum dengannya baik dalam prinsip-prinsip agama maupun cabang-cabangnya. Serta meyakini bahwa Al-Qur`an tidak memberikan sesuatu yang yakin dan dalil-dalil Al-Qur`an hanyalah berupa lafadz-lafadz, tidak menghasilkan ilmu yang yakin.
4.    Tidak men-tadabburi dan memahaminya serta tidak berusaha mengetahui apa yang dimaukan oleh Yang berbicara dengannya.
5.    Tidak mau mencari kesembuhan atas segala penyakit qalbu darinya (Al-Qur’an) atau berobat dengannya, sehingga mencari kesembuhan dari selainnya.
6.    Berpaling kepada selainnya baik berupa syair, perkataan orang, nyanyian, omong kosong, atau metode yang diambil dari selainnya.1
Semua itu masuk dalam firman Allah I:

“Berkatalah Rasul: ‘Ya Rabbku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur`an ini (mahjuran) suatu yang tidak diacuhkan.’” (Al-Furqan: 30)
Walaupun sebagian bentuk ketidakacuhan lebih ringan dari yang lain.

Keberatan Terhadap Al-Qur`an
Demikian pula rasa berat yang ada di dalam dada terhadap Al-Qur`an:
a. Terkadang keberatan itu terhadap turunnya Al-Qur`an dan bahwa itu kebenaran dari Allah I.
b.    Terkadang keberatan pada (keyakinan) bahwa Allah I yang berbicara dengannya.
c. Terkadang keberatan pada cukup atau tidaknya Al-Qur`an, sehingga (menurutnya) Al-Qur`an tidak memadai bagi manusia. Dan mereka membutuhkan teori-teori rasionalis, analogi maupun ide serta gagasan (di luar Al-Qur’an).
d. Terkadang keberatan pada sisi kandungan dalil Al-Qur`an dan esensi yang dimaukannya, yang bisa dipahami dari ungkapannya. Sehingga (mem-berikan kemung-kinan), bahwa yang dimaukan dengannya adalah makna yang menyimpang dari makna asli dan hakikat kandungannya, berupa penafsiran-penafsiran yang jelek.
e. Terkadang menganggap bahwa hakikat isi Al-Qur`an, walaupun itu memang yang dimaksudkan, tapi sebenarnya itu sudah ada (walaupun tanpa penjelasan Al-Qur`an), atau mengesankan bahwa apa yang dimaukan Al-Qur`an itu hanya demi maslahat/kepentingan tertentu saja.
Mereka semua (yang memiliki perasaan seperti itu) memiliki rasa berat atas Al-Qur`an dalam qalbu mereka, dan mereka mengetahui hal itu pada diri-diri mereka serta mendapati hal itu dalam dada-dada mereka. Dan engkau tidak akan dapati seorang ahli bid’ah pun dalam agama ini melainkan dalam qalbunya ada rasa berat atas banyaknya ayat yang menyelisihi bid’ah mereka.
Sebagaimana engkau tidak da-pati seorang dza-lim dan jahat pun melainkan dalam dada mereka ada keberatan terhadap ayat-ayat yang menjadi penghalang antara dia dengan apa yang ia inginkan.
Renungilah makna ini dan pilihlah apa yang engkau suka untuk dirimu sesuai kehendakmu.

(Diterjemahkan dan diringkas dari kitab Al-Fawa`id, karya Ibnul Qayyim, hal. 94)

Catatan Kaki:

1 Untuk poin ini penulis tambahkan dari penjelasan Ibnu Katsir.

Hiasi Rumahmu Dengan Akhlak Terpuji

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah An-Nawawi)

Rumah, merupakan tempat pertama yang sangat menentukan pembentukan kepribadian seorang anak manusia. Jika anak lahir dalam suasana rumah tangga yang baik (agamis) insya Allah ia akan menjadi generasi yang baik. Demikian pula sebaliknya. Bagaimana kita sebagai orang tua meletakkan batu pertama pembangunan kepribadian mereka? Simak bahasan berikut!

Dalam edisi-edisi sebelumnya, khususnya dalam rubrik Akhlak, telah dijelaskan bahwa akhlak merupakan salah satu bagian terpenting di dalam agama ini. Juga didapatkan gambaran bahwa sebuah kehidupan, baik yang bersifat individu ataupun masyarakat akan menjadi indah bila dihiasi dengan akhlak yang baik. Bila ada yang menganggap bahwa persoalan akhlak merupakan persoalan kecil yang tidak perlu dibesar-besarkan, niscaya pada dirinya akan didapati agamanya telah pincang dan menjadi sosok yang penuh tanda tanya.
Benarkah dia jujur? Benarkah dia adalah orang yang amanat? Benarkah dia adalah orang yang penyabar? Benarkah dia adalah orang yang baik pergaulannya? Benarkah dia adalah orang yang murah hati? Benarkah dia adalah orang yang lembut? Benarkah dia adalah orang yang suka senyum? Benarkah dia tidak suka menipu? Benarkah dia adalah orang yang bertanggung jawab? Dan berbagai perta-nyaan akan muncul mengenai dirinya.
Karena akhlak yang tidak baik pada dirinya itulah, orang-orang akan berpikir panjang untuk mendekatinya. Di sinilah akan terlihat nyata kebenaran apa yang telah disabdakan Rasulullah n:

“Ruh itu adalah tentara yang dikelompokkan. Maka apa yang ia kenali, ia akan menyatu dan bila berbeda akan berpisah.”1
Seorang penyair berkata:
Sesungguhnya umat akan kokoh bila mereka berakhlak
Dan akan hancur bila akhlak mereka telah hilang
Individu merupakan asal pembentukan sebuah rumah tangga dan sangat menen-tukan kebaikan rumah tangga tersebut. Bila sebagai individu telah berakhlak baik, niscaya akan melahirkan rumah tangga yang baik pula. Begitu sebaliknya, bila individu itu rusak akan menyebabkan rusaknya rumah tangga. Oleh karenanya, Allah I mengingatkan di dalam firman-Nya:

“Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (At-Tahrim: 6)
Abu Al-Faraj Ibnul Jauzi menjelaskan: “Menjaga diri sendiri dengan cara melaksanakan perintah-perintah dan menjauhi larangan-larangan. Serta menjaga keluarga, maknanya memerintahkan mereka untuk taat dan mencegah mereka dari melakukan kemaksiatan. ‘Ali z mengata-kan: ‘Ajari dan didiklah mereka’.” (Zadul Masir Fi ‘Ilmit Tafsir hal. 1453)
Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Qatadah, ia berkata tentang firman Allah I: “Jagalah diri-diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka”: “Menjaga mereka artinya memerintahkan mereka untuk taat kepada Allah I dan melarang mereka dari bermaksiat kepada Allah I. Serta melaksanakan tugas-tugas sesuai yang telah diperintahkan Allah I kepadanya, lalu dengan itu dia memerintahkan keluarganya dan membantu mereka dalam hal ini. Dan bila melihat mereka melakukan kemaksiatan, dia berusaha mencegah dan melarangnya. Allah I telah berfirman:

“Perintahkan keluargamu untuk melaksanakan shalat dan bersabarlah kamu terhadap mereka.” (Thaha: 132) Artinya, peliharalah dan selamatkanlah mereka dari adzab api neraka dengan mendirikan shalat dan bersabar atas mereka.”
Dan terdapat hadits yang semakna dengan ayat di atas, yaitu hadits yang diriwayatkan Al-Imam Ahmad di dalam Musnad-nya (2/187) dan Abu Dawud di dalam Sunan-nya (no. 495) dari ‘Amr bin Syu’aib, dari bapaknya, dari kakeknya, dia berkata: Rasulullah n bersabda:

“Perintahkan anak-anak kalian untuk melaksanakan shalat ketika mereka berumur tujuh tahun dan pukullah mereka (bila tidak melaksanakan shalat) ketika mereka berumur sepuluh tahun dan pisahkanlah tempat tidur mereka.”
Hadits ini derajatnya hasan. Makna “pisahkanlah tempat tidur mereka” adalah untuk laki-laki atau perempuan. Hal ini termasuk dari menjaga pintu kemaksiatan dan termasuk keindahan syariat Islam yang mulia.
Ibnu Katsir t juga mengatakan: “Demikian juga melatih mereka untuk berpuasa agar mereka terlatih dalam beribadah kepada Allah I. Sehingga ketika mereka beranjak dewasa selalu dalam keadaan beribadah kepada Allah I, menaati-Nya, menjauhi kemaksiatan dan kemungkaran. Semoga Allah I memberikan taufiq.” (Lihat ta’liq atas Zadil Masir hal. 1453)

Membangun Rumah Tangga yang Baik
Sebuah rumah tangga terkadang terdiri dari berbagai individu dengan beragam watak dan perangai. Bahkan sangat mungkin di dalam satu rumah tangga terdapat seribu satu macam perangai dan tabiat. Sehingga akhlak seakan-akan lahir dari sumber yang berbeda-beda. Siapakah pertama kali yang akan mewarnai mereka? Dan siapakah yang pertama kali akan mencetak dan membentuk mereka?
Rasulullah n telah memberikan jawaban di dalam sebuah sabda beliau:

“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci. Kedua orang tuanya lah yang akan menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”2
Kedua orang tuanyalah yang menjadi peletak batu pertama dalam pembangunan kepribadian setiap anak. Orang tua adalah orang pertama kali yang akan memberikan tinta pada lembaran fitrah yang suci setiap anak. Alangkah celakanya bila nahkoda (kedua orang tua) perahu yang sedang berlayar memakai aturan-aturan pelayaran yang dibuat sendiri atau mengambil aturan para pembajak perjalanan, yaitu Iblis dan bala tentaranya. Betapa malang nasib awak kapal dan para penumpangnya jika tidak segera mengubah situasi dan kondisi yang lurus dan stabil.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu kaum sehingga mereka yang mengubah nasib mereka.” (Ar-Ra’d: 11)
Kedua orang tualah yang menjadi tulang punggung perjalanan sebuah rumah tangga dan sebagai akar kebaikan anggota rumah tangga itu sendiri. Mereka berdua yang akan mempertanggungjawabkan hasil perbuatannya dan perbuatan anaknya di hadapan Ilahi yaitu Allah I. Oleh karena itu, mari kita bersama-sama menyimak bimbing-an Rasulullah n menuju keluarga yang diridhai:
Pertama: Sebelum membangun rumah tangga.

“Wanita itu dinikahi dengan empat alasan yaitu karena hartanya, kedudukannya, kecantikannya, dan agamanya. Dan pilihlah yang beragama (dan jika tidak) akan celaka kedua tanganmu.”3

“Dunia ini adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita yang shalihah.”4
Kedua: Setelah melakukan perni-kahan.

“Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (At-Tahrim: 6)

“Dan perintahkan keluargamu untuk melakukan shalat dan bersabarlah kamu atas mereka.” (Thaha: 132)

“Berwasiatlah kalian kepada kaum wanita karena wanita itu diciptakan dari tulang rusuk, dan tulang rusuk yang paling bengkok adalah yang paling atas. Dan jika kamu berusaha meluruskannya, khawatir kamu akan mematahkannya dan jika kamu membiarkannya, niscaya akan terus bengkok. (Oleh karena itu) berwasiatlah kebaikan kepada mereka.”5

“Setiap kalian adalah pemimpin dan kalian akan ditanya tentang kepemimpinan kalian. Seorang imam (penguasa) adalah pemimpin dan akan dimintai tanggung jawab atas kepemimpinannya, seorang kepala rumah tangga adalah pemimpin di keluarga-nya dan dia dimintai tanggung jawab atas yang dipimpinnya, dan seorang wanita adalah penanggung jawab di rumah suaminya dan akan dimintai tanggung jawab, dan seorang pembantu adalah penanggung jawab bagi harta tuannya dan akan dimintai tanggung jawab.’6

“Perintahkan anak-anak kalian untuk melaksanakan shalat ketika mereka berumur tujuh tahun dan pukullah mereka (bila tidak melaksanakan shalat) ketika mereka berumur sepuluh tahun, dan pisahkanlah mereka di ranjang-ranjang mereka.”

Setan Bertujuan Merusak Rumah Tangga
Bagi setan, rumah tangga merupakan urusan yang sangat berharga bila mampu dirusaknya. Karena jika rumah tangga rusak, otomatis akan menampilkan generasi yang rusak. Setiap orang yang telah berkeluarga nicaya pernah merasakan betapa mudahnya timbul gesekan di antara mereka. Permasalahan yang sepele akan bisa tersulut menjadi sesuatu yang besar dan berbahaya. Tidak lain, setanlah yang menjadi dalangnya.
Sudah barang tentu sebaliknya, bila keluarga itu baik niscaya sebuah kehidupan akan menjadi baik dan diridhai. Dengan itu, maka salah satu sasaran Iblis yang besar adalah merusak keluarga. Hal ini telah dipertegas Rasululllah n di dalam sebuah sabdanya:

“Sesungguhnya Iblis meletakkan sing-gasananya di atas air kemudian dia mengutus bala tentaranya. Orang yang paling dekat kedudukannya di sisinya adalah orang yang paling besar fitnah yang ditimbulkan. Datanglah salah seorang dari mereka dan mengatakan aku telah melakukan demikian-demikian, Iblis menjawab: ‘Engkau belum berbuat apa-apa.’ Dan kemudian yang lain datang dan mengatakan: ‘Aku tidaklah meninggalkan dia bersama keluarganya melainkan aku telah memecah belah di antara keduanya’. Lalu kemudian Iblis mendekat-kannya dan mengatakan, ‘Iya, kamu sebaik-baik anak buah’.”7

Bila Rumah Tangga Rusak
Keluarga adalah madrasah yang pertama dan utama di dalam hidup. Seseorang bila tidak memiliki keluarga bisa dikatakan seratus persen hidupnya tidak memiliki arah dan tujuan, kecuali bagi mereka yang memang diridhai Allah I. Begitu juga bila rumah tangga sebagai madrasah pertama bagi seorang anak rusak, bisa dikatakan seratus persen anak itu rusak, kecuali bila dirahmati oleh Allah I sehingga Dia berkehendak lain. Dan begitu seterusnya, akan berakibat sangat fatal dalam kelang-sungan regenerasi.
Karena dari keluarga itulah, akan lahir generasi baru. Generasi baru sedikit banyak membawa cerminan generasi sebelumnya. Generasi baru menjadi baik bila generasi sebelumnya merupakan generasi yang baik. Dan begitu sebaliknya, bila generasi sebelumnya merupakan cermin kejahatan maka generasi sesudahnya akan menjadi cermin keburukan generasi sebelumnya, kecuali bila generasi sesudahnya disambut dengan hidayah Allah I.
Berdasarkan itu semua, maka teramat penting untuk kita berusaha sebagai berikut:
1.    Mencetak Generasi yang Berilmu
Generasi yang berilmu adalah generasi yang memahami agama dengan benar dan mengamalkannya sesuai dengan apa yang dimaukan Allah I dan Rasul-Nya. Generasi yang menempuh jalan Rasulullah n dan para shahabat beliau dalam segala amaliah, baik lahiriah ataupun batiniah. Generasi seperti ini akan menjadi musuh besar Iblis dan bala tentaranya. Bagaimana tidak, dengan ilmu, dirinya akan terpelihara dari segala rayuan Iblis dan bisa membedakan perkara yang haq dan batil. Lebih dari itu, dia akan bisa mengingatkan orang lain untuk tidak tergoda rayuan Iblis dan tidak mengikuti langkah-langkahnya. Rasulullah n mengatakan:

“Barangsiapa dikehendaki oleh Allah kebaikan, niscaya Allah akan memberikan dia kefaqihan (pemahaman) dalam agama.”8
Rasulullah n juga bersabda:

“Barangsiapa berjalan dalam rangka menuntut ilmu maka Allah akan memudah-kan jalannya menuju surga.”9
2.    Generasi yang Berakidah Benar
Akidah merupakan landasan hidup setiap orang dan akan menentukan kebaik-an yang lain. Ia merupakan asas dibangun-nya amalan-amalan di dalam Islam. Bila landasan ini rusak, akan menyebabkan kerusakan yang lain. Akidah merupakan manhaj yang sempurna di dalam kehidupan seseorang. Ini akan terwujud bila mengimplementasikan kemerdekaan total dari perbudakan kepada selain Allah I pada generasinya, membentuk kepribadian yang harmonis dan seimbang di dalam hidupnya, memberikan rasa aman, memberikan keku-atan dalam menghadapi segala tantangan di dalam hidup dan menanamkan persauda-raan di atas keimanan. (diringkas dari kitab Al-Firqatun Najiyah karya Asy-Syaikh Muhammad Jamil Zainu)
Allah I berfirman:

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya menjulang ke langit. Pohon itu memberikan buahnya setiap musim dengan seizin Rabbnya. Allah mem-buat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia agar mereka semua ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang jelek, yang telah tercabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi, tidak ada kekokohan sedikitpun. Allah meneguhkan iman orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. Dan Allah menyesatkan orang-orang yang dzalim dan Allah berbuat apa-apa yang dikehendaki.” (Ibrahim: 24-27)
3.    Generasi yang Berakhlak Mulia
Generasi yang berakhlak rusak tentunya akan menjadi pecundang setan dalam jaring penyesatannya. Ia akan dijadikan sebagai pasukan yang handal untuk memusuhi orang-orang yang taat kepada Allah I, bahkan memusuhi para nabi dan rasul. Allah I berfirman:

“Demikianlah kami menjadikan musuh bagi setiap nabi dari kalangan pelaku masiat.” (Al-Furqan: 31)
Bila akhlak yang mulia menghiasi suatu kaum niscaya akan menjadikan kaum itu baik dan menjadi cermin kemuliaan bagi generasi sesudahnya. Rasulullah n bersabda:
“Sebaik-baik manusia adalah generasi-ku, kemudian generasi setelahnya, kemudian generasi setelahnya.” 10
Pujian yang diberikan Allah I melalui lisan Rasul-Nya n kepada tiga generasi tersebut meliputi pujian lahiriah dan batiniah mereka, dan termasuk di dalam pujian lahiriah adalah akhlak yang terpuji.
4.    Berpendidikan Baik
Rasulullah n telah mencontohkan pengajaran yang baik kepada calon generasi yang baik dengan mengatakan:

“Wahai anak muda, aku akan mengajar-kan kepadamu beberapa kalimat: `Jagalah Allah niscaya Allah akan menjagamu dan jagalah Allah niscaya Allah akan menolong-mu. Jika kamu meminta, maka mintalah kepada Allah dan jika kamu meminta tolong maka minta tolonglah kepada Allah. Ketahui-lah, jika umat ini bersatu untuk memberikan manfaat kepadamu, niscaya mereka tidak akan sanggup untuk memberikan manfaat melainkan apa yang telah dituliskan bagimu. Dan bila mereka bersatu ingin memberikan kemudharatan, niscaya mereka tidak akan sanggup untuk memberikannya melainkan apa yang telah ditulis bagimu, telah terangkat pena dan telah kering lembaran’.”11
Ketika ‘Umar bin Abu Salamah z makan berjamaah dan tangan beliau berseliweran ke sana kemari, Rasulullah n mengatakan:

“Wahai anak muda, bacalah bismillah, makan dengan tangan kananmu dan makan apa yang ada di dekatmu.”12
Dalam satu majelis ada tiga bimbing-an yang diberikan Rasulullah n kepada ‘Umar bin Abu Salamah, dan beliau di saat itu masih kecil.
5.    Lingkungan dan Teman yang Baik
Lingkungan dan teman mempunyai pengaruh yang besar dalam membentuk kepribadian seseorang dan sebuah generasi. Bila salah memilih lingkungan dan salah dalam memilihkan teman, niscaya akan menjadi bumerang bagi diri kita. Rasulullah n menjelaskan:

“Seseorang sesuai dengan agama/perilaku temannya.”13

“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci maka kedua orang tuanya yang akan menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”

“Perumpamaan teman yang baik dan yang jelek seperti berteman dengan penjual minyak wangi dan pandai besi.

bersambung ke hal. 77
Hiasi Rumahmu…
Sambungan dari hal. 67
… Bisa jadi, penjual minyak wangi akan memberimu, atau kamu akan membeli darinya, atau kamu akan mendapatkan bau yang wangi. Adapun (berteman) dengan pandai besi ada kemungkinan dia akan membakar pakaianmu atau kamu akan mencium bau yang busuk.”14
6.    Suri Teladan yang Mulia
Setiap orang membutuhkan teladan yang baik di dalam hidupnya agar dia bisa bercermin dalam hidupnya dan menyesuai-kan amalan, ucapan dan keyakinannya. Generasi yang baik akan mengambil contoh dari generasi sebelumnya yang baik, yang pada akhirnya adalah menjadikan Rasulullah n sebagai suri teladan dalam hidup. Demikianlah bimbingan Allah I:

“ Sungguh telah ada pada diri Rasulmu suri teladan yang baik.” (Al-Ahzab: 21)
Wallahu a’lam.

Catatan Kaki:

1 HR. Al-Imam Al-Bukhari secara mu’allaq dari hadits ‘Aisyah dan Muslim no. 4773 dari shahabat Abu Hurairah
2 HR. Al-Imam Al-Bukhari di dalam banyak tempat dan Al-Imam Muslim no. 4803 dari Abu Hurairah
3 HR. Al-Imam Al-Bukhari no. 4700 dan Muslim no. 2661 dari shahabat Abu Hurairah
4 HR. Al-Imam Muslim no. 2668 dari shahabat Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash c
5 HR. Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim dalam banyak tempat dalam Shahih keduanya dari shahabat Abu Hurairah.
6 HR. Al-Imam Al-Bukhari, kurang lebih pada delapan tempat di dalam Shahih beliau dan Muslim no. 3408 dari shahabat Abdullah bin Umar c.
7 HR. Al-Imam Muslim no. 2813 dari shahabat Jabir bin Abdullah.
8 HR. Al-Imam Al-Bukhari no. 69 dan Muslim no. 1719 dari shahabat Mu’awiyah
9 HR. Al-Imam Muslim no. 4867 dari shahabat Abu Hurairah
10 HR. Al-Imam Al-Bukhari no. 2457, 2458 dan Muslim no. 4603, 4600 dari shahabat Abdullah bin Mas’ud dan ‘Imran bin Hushain.
11 HR. Al-Imam At-Tirmidzi no. 2440 dari shahabat Abdullah bin Abbas
12 HR. Al-Imam Al-Bukhari no. 4957, 4958, 4959 dan Muslim no. 3767, 3768 dari shahabat ‘Umar bin Abu Salamah
13 HR. Al-Imam Ahmad no. 7685, Abu Dawud no. 4193 dan At-Tirmidzi no. 2300 dari shahabat Abu Hurairah

Makna-makna Asmaul Husna (bagian 1)

(ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar ZA Lc.)

Para ulama mengatakan bahwa kemuliaan sebuah ilmu dinilai dari kemuliaan yang dipelajari. Berarti ilmu yang paling mulia adalah ilmu yang mempelajari tentang Dzat yang Maha Mulia yaitu Allah I, tentang hak, nama, serta sifat-sifat-Nya. Tak heran bila Nabi n lalu memberikan motivasi kepada umat ini untuk mempelajari tentang Asma` (nama) dan Sifat Allah I dengan menyebut fadhilah (keutamaan) dari mempelajarinya. Sabda beliau n:

“Sesungguhnya Allah memiliki 99 nama, seratus kurang satu. Barangsiapa melakukan ihsha` padanya maka ia akan masuk ke dalam Al-Jannah.” (Shahih, HR Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah z)
Makna ihsha`, bila kita terjemahkan berarti ‘menghafal/menyebut’, tapi apakah sekedar itu maksudnya? Tentu tidak demikian. Ibnul Qayyim t jelaskan bahwa ihsha` memiliki tiga tingkatan:
1.    Menyebut lafadz-lafadz-Nya dari jumlah yang ada.
2.    Memahami makna dan kandungan-nya.
3.    Berdoa kepada Allah I dengan nama-nama itu, yakni memuji-Nya dengan nama-nama itu dan memohon kepada-Nya dengan menyebut nama-nama itu.
Demikianlah, karena memang setiap nama itu akan melahirkan sikap ibadah tertentu pada diri seorang hamba ketika ia mengetahui maknanya dan memahaminya.
Ibnul Qayyim t menjelaskan: “…Maka setiap sifat Allah I memiliki pengaruh ibadah tertentu, yang merupakan konse-kuensi dari kandungan sifat tersebut dan kemestian dari ilmu tentangnya…”
Penjelasannya, bahwa seorang hamba (misalnya) ketika mengetahui bahwa Allah I sendirilah yang memberikan manfaat dan mudharat, memberikan karunia atau menghalanginya, menciptakan, memberi rizki, menghidupkan dan mematikan, maka itu akan membuahkan sikap ibadah kepada-Nya dengan tawakkal kepada-Nya dalam batinnya, dan akan menimbulkan konse-kuensi dari tawakkal serta buahnya secara lahiriah… Dengan ini maka seluruh ibadah kembalinya kepada konsekuensi kandungan Asma` dan Sifat. (Miftah Daris Sa’adah, dinukil dari Ziyadatul Iman wa Nuqsha-nuhu, hal. 188-189 dengan ringkas)
Atas dasar itu, kami merasa sangat perlu untuk mengisi rubrik ini dengan menerangkan satu per satu makna Al-Asma`ul Husna –yaitu nama-nama Allah I yang berada pada puncak kebaikan– secara berkesinambungan, walaupun mungkin terkadang diselingi dengan pembahasan lain jika diperlukan.
Allah I-lah yang memberi taufiq…
dan
Sebagian ulama mengatakan bahwa nama telah tersebut dalam Al-Qur`an pada 2360 tempat. (At-Tanbihat As-Sunniyyah, hal. 9)
Ibnul Qayyim mengatakan bahwa: “Nama itulah yang meliputi seluruh makna-makna Al-Asma`ul Husna dan sifat-sifat yang tinggi.” (dinukil dari Fathul Majid dengan tahqiq Al-Furayyan hal. 32)
Al-Farra`, Al-Kisa`i dan Ibnu Jarir menjelaskan bahwa kata asalnya dari kata lalu huruf hamzah digugurkan, sehingga huruf lam bertemu dengan huruf lam, kemudian di-idgham-kan, sehingga menjadi lam yang ber-tasydid.
Demikian pula dijelaskan oleh Ibnul Qayyim t, dan ini merupakan pendapat Sibawaih dan mayoritas (ahli bahasa) yang sependapat dengannya. (lihat Fathul Majid dengan tahqiq Al-Furayyan hal. 32, lihat pula Bada`i’ul Fawa`id, 1/22)
Nama Allah diambil dari kata:

yang berarti ibadah, sehingga berarti yang diibadahi. Oleh karenanya Ibnu ‘Abbas mengatakan: “ artinya yang memiliki sifat berhak untuk diibadahi atas seluruh makhluk-Nya.” (Syarh Al-Wasithiyyah, karya Al-Harras, hal. 7-8)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah t mengatakan: “ artinya yang diibadahi dan yang ditaati, karena berarti , dan itu sendiri artinya yang berhak untuk diibadahi. Ia berhak untuk diibadahi karena Ia memiliki sifat-sifat yang mengharuskan untuk dicintai dengan kecintaan yang paling tinggi yang diberikan kepada-Nya dengan penuh ketundukan.”
Ibnul Qayyim t mengatakan: “ adalah yang diibadahi oleh qalbu dengan cinta dan pengagungan, inabah (kembali) dan pemuliaan, pembesaran dan penghina-an diri kepada-Nya, tunduk dan takut, berharap dan tawakkal.” (dinukil dari Fathul Majid dengan tahqiq Al-Furayyan hal. 68)
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di t mengatakan: “ artinya yang diibadahi, yang memiliki hak atas seluruh makhluk-Nya untuk dibadahi. Hal itu karena sifat uluhiyyah (diibadahi) yang Ia miliki, dan itu adalah sifat kesempur-naan.”
Di antara yang menunjukkan makna demikian adalah firman-Nya:

“Dan Dialah Allah (Yang diibadahi), baik di langit maupun di bumi; Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan dan mengetahui (pula) apa yang kamu usahakan.” (Al-An’am: 3)
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin t mengatakan: “yakni yang diibadahi di langit dan di bumi.” (Syarh Al-Wasithiyyah, hal. 28)
Wallahu a’lam.